GOLDEN PALACE 319 : 4. Confusion

Standar

GP 319VIKOS

Awan hitam menyelimuti lagit menjelang sore. Kota Seoul menjadi gelap hingga beberapa orang lebih memilih untuk pulang lebih cepat untuk menghindari badai yang sepertinya sebentar lagi menyapa. Udara dingin yang menusuk membuat orang yang berjalan di jalan raya merapatkan jaket tebal mereka.

Dalam sebuah ruangan, Eun Kyo yang tertidur pulas tidak menyadari keadaan di sekitarnya.

“Hhak!”

Ia terbangun dari tidurnya dan langsung duduk dengan tegak, tenggorokannya tercekat. Eun Kyo bermimpi seperti jatuh dari tempat yang tinggi dan hal itu membangunkkannya, membuatnya langsung bernapas cepat. Dadanya bergemuruh, ia bisa merasakan adrenalinnya berpacu menciptakan ritme jantung yang dua kali lebih cepat dari normal.

Saat ia mengambil napas untuk menenangkan diri, ia baru menyadari keadaan di sekelilingnya gelap. Seketika bau cat lukis yang masih belum kering menusuk hidungnya. Eun Kyo bangkit dan mencari saklar untuk menyalakan lampu. Saat ia menyalakannya, ruangan masih tetap gelap. Ia lupa, lampu di ruangan kecil tempatnya melukis sudah tak bisa digunakan sejak seminggu yang lalu, sudah harus diganti.

Ck! Penyakit pelupaku sangat tidak berguna.

Ia merutuk dalam hati. Seharusnya ia segera mengganti lampu sebelum kejadian seperti ini menyusahkannya. Eun Kyo berjalan dengan perlahan sambil meraba apapun yang bisa disentuhnya, ia mencoba mencari pintu keluar.

Noona, aku selalu merasa aneh saat berada dalam ruanganmu, seperti ada aura gelap yang menyelimutinya. Membuatku selalu merinding.

Tiba-tiba perkataan Jaehyun satu bulan yang lalu terngiang kembali, saat anak itu kemari dan meminta uang jatah. Jaehyun adalah adik sepupu Eun Kyo yang paling dekat dengannya, selain karena sering membajak Eun Kyo hampir disetiap akhir bulan, anak itu juga sering melarikan diri ke tempat Eun Kyo saat terjadi suatu masalah padanya. Masalahnya kebanyakan karena nilai sekolahnya yang menurun karena waktu luangnya lebih sering digunakannya untuk bermain game online.

Eun Kyo terdiam sejenak, membeku. Bulu kuduknya tiba-tiba saja berdiri ketika perkataan Jaehyun terngiang-ngiang di telinganya berulang-ulang. Lalu detik berikutnya ia mengambil langkah seribu berlari menuju pintu. Tak peduli gelap dan menendang beberapa barang, ia harus segera menemukan pintu keluar. Bagaimanapun caranya, sebelum ia kehabisan oksigen karena paranoid terhadap kegelapan. Saat menemukannya, ia baru bisa bernapas lega.

Eun Kyo membuka pintu dan segera menutupnya setelah ia keluar dari ruangan yang dipenuhi dengan lukisan setengah jadi itu.

“Akhirnya aku bisa keluar,” gumamnya. “Eoh? Kenapa sepi sekali?” tanyanya, ditujukan untuk dirinya sendiri. Ia kebingungan, lampu ruangan saat ini sudah menyala, padahal jarum jam di dinding masih menunjukkan pukul 5 sore.

Eun Kyo mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan galeri. Sunyi senyap hanya ada suara hembusan angin yang terdengar nyaring. Soorim sudah pulang sejak jam 4 tadi, ia meninggalkan secarik pesan di meja kerjanya. Perlahan Eun Kyo berjalan menuju meja Soorim dan memungut kertas pesan yang ditindih dengan sebuah penghapus.

Eonni, aku pulang lebih cepat. Dilluar sepertinya sebentar lagi badai.

Kau sepertinya terlalu asik di ruang keramatmu, aku tidak ingin mengganggu.

Hati-hati saat pulang Eonni~ya…

“Chah!”

Eun Kyo mendecah. Dia bukan menikmati kegiatannya melukis seperti yang disangkakan oleh Soorim, dia menikmati tidur siangnya dengan pulas. Jika saja bukan karena mimpi buruk Eun Kyo mungkin masih meringkuk nyaman di sofa putih panjang miliknya.

Eun Kyo berjalan menuju pintu keluar dan berhenti di tepat di depannya. Dinding yang didominasi kaca memungkinkannya untuk melihat keluar dengan bebas. Awan hitam berarak menyelimuti langit, hujan gerimis dan angin yang berhembus kencang membuat Eun Kyo merinding, membayangkan betapa dinginnya diluar sana.

Ia masih menimbang apa harus pulang sekarang, atau nanti saja, melihat diluar sana sudah terlihat sunyi. Deretan toko yang ada di depan galerinya pun sebagian besar sudah tutup.

“Ah, kenapa Soorim tidak mengecekku di ruangan gelap sana tadi, ugh!” keluh Eun Kyo. “Dia bisa mengetuk pintu atau membuka pintu untuk memastikan keadaanku, kenapa ditinggal begitu saja?” lanjutnya lagi mengoceh sendiri.

Bukan seperti itu, sebenarnya Soorim sama sekali tidak meninggalkannya. Gadis itu sudah beberapa kali mengetuk pintu ruangan Eun Kyo tapi tak ada sahutan. Seminggu yang lalu, ia mendapat omelan plus-plus dari Eun Kyo karena mengganggunya menyelesaikan pesanan sebuah lukisan replika. Dan Soorim tak ingin hal itu terulang kembali. Eun Kyo sewaktu-waktu bisa berubah menyeramkan melebihi kejamnya siksaan ibu tiri hanya dengan tatapan marahnya. Soorim sering kali bergidik jika hal itu terjadi, biasanya hal itu terjadi karena dia kesal dengan pelanggan -terutama pada lelaki- dan akan mengomel seharian. Namun selebihnya, Eun Kyo sangat ramah.

Tok tok tok!

Pintu kaca diketuk dari luar, Eun Kyo segera menoleh. Seorang lelaki muda dengan masih menggunakan seragam sekolah mengetuk dinding kacanya di sudut kanan.

Saat menyadari orang tersebut adalah Jaehyun, adik sepupunya, Eun Kyo langsung membuang pandangannya. Jaehyun berjalan menuju pntu masuk.

Noona,” sapa Jaehyun setelah berada di dalam ruangan.

“Tidak ada uang jatah,” sahut Eun Kyo, ketus dan cepat.

“Aku tidak minta uang jatah, he he. Aku tau kau sedang kesulitan uang hingga kau menjual apartemenmu,” ledek Jaehyun.

Pemuda yang genap berumur 18 tahun itu mengembangkan senyum jahilnya, membuat Eun Kyo mendengus kesal. Bertemu Jaehyun selalu mengingatkannya akan hal-hal terburuk dalam hidupnya. Beberapa saat tadi ia dibuat merinding karena teringat perkataan Jaehyun, dan sekarang anak itu mengingatkannya tentang apartemen, yang ingin dijual orang tuanya.

Eun Kyo merasa sesak napas. Ia teringat kembali pesan yang ia baca dari orang tuanya dua hari yang lalu.

Jika kau masih ingin tinggal di rumah itu, pulang dalam waktu dua hari!

Atau kau memang ingin apartemen kesayanganmu itu jatuh ke tangan orang lain.

Begitu bunyi pesan dari orang tuanya. Eun Kyo uring-uringan selama dua hari ini. Ia panik, bimbang dan kesal. “Jangan mengingatkanku tentang hal itu!” ujar Eun Kyo ketus. Ia mengambil air minum dari lemari es, menuangnya lalu menenggaknya dengan sekali minum.

“Aku tidak akan bicara,” ujar Jaehyun menutup mulutnya.

Eun Kyo mendelik tajam. Dimana ada Jaehyun disana ada masalah, jadi ketika melihat anak itu, mood Eun Kyo turun drastis.

“Aku akan menginap di tempatmu selama satu minggu,” Jaehyun kemudian bicara karena Eun Kyo nampak acuh akan keberadaannya.

“Apartemenku bukan tempat penampungan.”

“Tapi aku akan membayar uang sewa selama satu bulan, bagaimana?”

Eun Kyo terdiam sejenak karena Jaehyun mengatakan akan membayar uang sewa selama satu bulan. Lumayan, tapi aku harus waspada, batin Eun Kyo dilema. Park Eun Kyo, sejak kapan kau jadi matrealistis seperti ini? Ia kembali membatin, sejak aku menyadari uang begitu berharga aku rasa.

Eun Kyo masih menatap Jaehyun, mencari kesungguhan di sana. Karena bisa saja anak itu mengelabuinya hanya untuk mendapat tumpangan gratis dan menghindari masalah di rumahnya.

Harus aku terima?

Kalau aku terima, apa aku tidak keterlaluan? Dia saudaraku sendiri.

Ah, sekali-sekali mungkin tidak apa-apa, toh, selama ini anak itu juga selalu meminta uang jatah padaku.

Tapi apa anak itu punya uang?

Batin Eun Kyo beradu, ia berdebat dengan dirinya sendiri. Jaehyun tersenyum memandangi wajah Eun Kyo yang berubah setiap detiknya, membuatnya tergoda untuk menjahilinya. Tetapi saat melihat cuaca diluar, ia mengurungkan niatnya, ditariknya tangan Eun Kyo dan dibawanya berjalan menuju motornya.

“Besok aku memerlukanku, mewakili orang tuaku,” ujar Jaehyun sambil memakaikan helm pengaman ke  kepala Eun Kyo. “Sehari saja Noona, ada pertemuan wali murid, aku tau Eomma tidak akan sempat,” ujar Jaehyun lagi.

“Kenapa harus aku?” tanya Eun Kyo heran. Ia menaiki motor Jaehyun dan merapatku tubuhnya.

“Karena hanya kau yang memenuhi kriteria untuk mewakili, yang mirip dengan orang tuaku. Mukamu lebih pantas,” jawab Jaehyun sambil mengulum senyumnya.

Yaak! Sialan kau!” umpat Eun Kyo. Sebuah pukulan keras mendarat di punggung Jaehyun. Membuat anak itu mengerang tertahan.

Jaehyun mengendarai motornya melaju di jalan raya, menembus rintik-rintik hujan dan membawa Eun Kyo bersama.

***

Tik tok tik tok!

Suara jam dinding terdengar nyaring. Suara klasik itu kini terdengar jelas di telinga Jung Soo. Sesaat dia masih terdiam sambil mendengarkan irama soundtrack dari lamunannya tersebut. Jung Soo duduk dengan tenang sambil memandangi sebuah kontrak perjanjian. Huruf-huruf yang tercetak jelas dan membentuk barisan kalimat yang teratur dibacanya berulang-ulang meskipun tak ada satupun kalimat yang melekat di otaknya.

Pikiran Jung Soo melayang ke tempat lain. Tepatnya pada kejadian seminggu yang lalu saat matanya menangkap sosok yang mampu membuatnya membisu dan terpaku sejenak, seorang gadis. Dan sudah seminggu ini pikirannya terganggu, bayangan gadis itu menyita perhatiannya. Jung Soo menarik napas dalam.

Beberapa kali ia kembali ke kafe itu, saat melihat gadis itu pertama kali. Hari ketiga ia kembali ke kafe itu, ia kembali melihat gadis tersebut yang sedang memasuki sebuah galeri. Galeri yang tepat berhadapan dengan kafe tempat biasa Jung Soo kunjungi.

Cukup lama Jung Soo bergelut dengan lamunannya tentang gadis itu. Ia memanggilnya dengan sebutan ‘gadis itu’ karena belum tau nama gadis tersebut. Saat ia bertemu kembali dan membuntutinya. Masuk ke dalam sebuah galeri mengikuti langkah gadis itu. Setengah jam berdiri, sambil mengamati beberapa lukisan, meskipun tak tertarik, ia harus berpura-pura berminat. Apa yang dilakukannya tidak sia-sia, seseorang memanggil Park Eun Kyo, dan gadis itu menoleh. Sejak saat itu, saat mengeja nama tersebut, Jung Soo tersenyum bahagia tanpa sebab, hanya merasakan sesuatu yang berbeda pada perasaannya.

Pertemuan singkat tanpa aksi apapun mampu membuat Jung Soo terperangkap dalam pikirannya sendiri tentang gadis itu. Ada banyak pertanyaan dalam benaknya dan hal itu terkadang membuatnya jantungnya berpacu lebih cepat.

“Park Eun Kyo.”

Dia menyebut nama gadis itu, lagi. Seketika bayangan wanita tinggi berambut panjang dengan kulit putih susu melayang di benaknya. Seorang gadis yang mampu membuatnya berhenti bernapas sejenak. Sambil tersenyum, ia memandangi kembali sebuah kontrak yang sejak tadi ia cermati, sebelum lamunan mengambil alih kesadarannya.

Jung Soo bangkit dan mengambil coatnya, memasangnya dengan cepat lalu melesat pergi sambil terburu-buru.

***

“Tambah pesanan?”

Jung Soo mengangkat tangannya sebagai pengganti kata ‘tidak’ dan tersenyum untuk memberikan kesan ramah. Sudah setengah jam ia duduk disini sambil menyesap secangkir coklat hangat. Udara yang dingin dan gerimis diluar memang sangat tepat ditemani secangkir coklat hangat.

Ia duduk sendirian. Matanya terus tertuju pada sebuah toko di seberang jalan. Sebuah galeri. Berharap seseorang keluar dari sana dan menghentikan rasa penasarannya. Penasaran? Bukankah ini sebuah rasa rindu? Yang menggelitik sudut hatinya dan terus mendorong perasaan Jung Soo pada sebuah rasa gelisah tak berujung.

Jung Soo masih menanti. Hingga coklat hangat itu tak bersisa, ia masih menunggu.

Sepertinya dia sudah pulang, batin Jung Soo berbicara.

Langit mendung, sebentar lagi sepertinya akan ada badai, tidak mungkin dia masih disana. Gadis penjaga galeri juga tampaknya sudah pulang. Tak ada tanda-tanda ada orang di seberang sana.

Tapi tidak mungkin. Galeri itu belum tutup, bahkan tanda ‘Open’ masih tergantung di pintu kaca itu. Dia masih disana.

Jung Soo terus mencermati. Jalan pikirannya memberikan beberapa argumen yang lalu disanggah sendiri oleh hati kecilnya. Beberapa menit lamanya ia menunggu, akhirnya Jung Soo bangkit, ia menyerah. Harus segera pulang karena cuaca sangat tidak bersahabat. Ia berjalan ke meja kasir dan meminta tagihannya. Jung Soo keluar setelah membayar.

Saat hendak masuk ke dalam mobil, Jung Soo menoleh kembali beberapa saat ke arah galeri, beraharap Eun Kyo keluar dan menghentikan rasa penasarannya, sekaligus mengakhiri rasa gelisahnya.

Jung Soo langsung terpaku saat melihat Eun Kyo di dalam sana. Gadis itu terlihat bingung, ia menguap dan kelihatan masih mengantuk. Penantiannya di tengah dinginnya cuaca tidak sia-sia.

Dia tertidur, ujarnya dalam hati menjawab perdebatan batinnya tadi. Tubuhnya terasa ringan seketika.

Jung Soo masuk ke dalam mobil dan memutuskan mengamati gadis itu dari dalam mobil. Melihat wajah itu, membuat perasaannya sedikit lebih lega. Ingin rasanya ia berlari ke seberang dan menghampirinya, tapi tak dilakukannya, itu hanya hayalan liarnya saja. Jika ia lakukan, tentu itu akan sangat janggal, dan bisa-bisa membuat gadis itu takut.

Tak berapa lama, ia melihat seorang lelaki muda memasuki galeri dan kelihatan berbincang-bincang dengan Eun Kyo. Kedua mata Jung Soo terus mengamati hingga akhirnya mereka berdua pergi setelah menutup galeri menggunakan sebuah motor.

Jung Soo menarik napas. Saat satu rasa penasarannnya terbayar, datang kembali rasa penasaran yang lain. Saat secuil rasa rindu terbayar, datang kembali rasa rindu yang lebih besar. Rasa itu terus menuntut dan membuatnya hampir menjadi gila dalam sekejap. Jung Soo menggeleng, ia tersenyum kemudian.

“Park Eun Kyo.”

***

“Aku pulang…”

Eun Kyo menyapa kedua temannya saat memasuki apartemen. Ia bisa merasakan kehangatan di dalam sini setelah diselimuti rasa dingin yang menusuk di luar sana. Saat motor Jaehyun melesat kencang menembus gerimis.

Eonni,” sapa Hye Kyung singkat tanpa menoleh. Matanya sibuk dengan buku-buku yang berserakan di hadapannya. TV menyala, mengoceh nyaring tanpa sedikitpun menarik perhatian Hye Kyung, TV menyala itu menonton Hye Kyung mengerjaklan soal ujian.

“Ada ujian?” tanya Eun Kyo.

Hye Kyung menjawab dengan mengangguk. Dahinya berkerut sambil membolak-balik buku tebal sambil membaca sekilas.

Eun Kyo berjalan menuju Jae In yang sedang memandangi ponselnya sejak tadi. Ia duduk di kursi sambil bertopang dagu di atas meja. “Kau sendiri? Ada ujian?” tanyanya. Jae In tidak menjawab, bahkan menolehpun enggan, ia masih betah memandangi ponselnya.

Beberapa hari ini Jae In terlihat lebih banyak diam. Lebih senang berinteraksi dengan teman-temannya di dunia maya ketimbang Hye Kyung maupun Eun Kyo. Saat ditanyapun, ia hanya menjawab dengan mengangguk atau menggeleng, terkadang hanya menggidikkan bahunya tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.

Hal itu lebih tepatnya terjadi semenjak Donghae mengantarnya pulang ke apartemen, dan saat lelaki itu menatap Eun Kyo dengan tatapan aneh saat mereka berpapasan. Jae In menafsirkannya itu adalah tatapan terpesona, tatapan seorang lelaki pada seorang wanita, bukan tatapan pada seorang gadis kecil yang sering kali didapatinya ketika Donghae menatapnya. Dan, Jae In terganggu dengan momen tersebut, hingga rasanya ia ingin marah, tapi tak tau harus marah pada siapa. Saat memikirkan hal itu, ia merasa sebal, dan chatting adalah cara yang ampuh untuk mengusir rasa kesalnya.

“Donghae Oppa,” desahnya pelan, sambil beberapa kali membuka layar kunci ponselnya. Wajahnnya cemberut, menelan kekecewaan. Ia menantikan sebuah pesan atau apapun dari lelaki itu, tapi tak kunjung tiba. Ponselnya tetap silent tanpa suara.

Eun Kyo memilih tak ngin ikut campur, tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu dan hal itu menahan langkahnya saat hendak beranjak, “Jae In~ah, beberapa hari yang lalu, kau pulang bersama seseorang, nuguya?” tanya Eun Kyo saat mengingat seorang lelaki yang berpapasan dengannya ketika ia hendak keluar. “Saudaramu?”

Wae?!” tanya Jae In dengan nada tinggi, kilatan matanya membuat Eun Kyo berkedip bingung. Raut wajah Jae In berubah tegang seketika. Ini yang dia cemaskan, selama ini Eun Kyo tidak pernah tertarik dengan lelaki, tapi saat Jae In melihatnya berpapasan dengan Donghae kemarin, ada perasaan yang berbeda dari tatapan mereka, hal itu langsung membuat Jae In uring-uringan saat mengingatnya.

Ani, aku hanya bertanya,” jawab Eun Kyo santai, ia menggidikkan bahunya. “Keundae… berapa menit dia di sini? Melebihi jam besuk?” tanya Eun Kyo lagi.

“Jam besuk? Memangnya aku sakit,” gumam Jae In pelan. “Dia pulang setelah mengantarku! Kau tenang saja!” lalu ia menjawab ketus.

Eum, geurae..” Eun Kyo berlalu ke dalam kamarnya.

Saat melihat ekspresi Eun Kyo yang biasa saja, Jae In sedikit lebih tenang, belum tentu tatapan itu berarti. Tapi terkadang tetap membuatnya khawatir. Ia menyukai Donghae sejak dulu, yang hanya menganggapnya seorang gadis kecil dan memperlakukannya seperti layaknya seorang adik. Jika saat ini Donghae menyukai wanita itu, ia belum bisa terima.

“Annyeong, Noonim.”

Jaehyun menunduk sopan pada Jae In yang mengacuhkan secara terang-terangan keberadaannya. Ia memainkan ponselnya dan tidak menghiraukan sapaan Jaehyun. Saat Jaehyun membungkuk lebih rendah sambil melirik Jae In, baru gadis itu menjawab sapaannya.

Annyeong!” dengan nada sedikit keras Jaehyun menunjukkan raut wajah tak bersahabat.

“Noona… Naneun…”

“Aku sedang sibuk, sebaiknya kau pergi saja,” Jae In langsung memotong pembicaraan Jaehyun, “Noona, aku tidak punya adik seperti dirimu,” lanjutnya bergumam, wajahnya benar-benar tidak nyaman untuk dilihat. Anak muda itu hanya bisa menggaruk kepalanya, saat sikap sopannya dibalas dengan sedikit kasar. Baru kali ini Jaehyun ditolak seperti ini, padahal biasanya pesonanya bisa membius para gadis, terlebih lagi yang lebih tua. Tapi saat ini pesonanya tak berguna.

Noona…” Jaehyun tidak menyerah, ia berjalan mendekati Hye Kyung.

Argh! Semalam aku baca di bab ini, tapi kenapa tidak ada!” teriak Hye Kyung gusar. Sejak tadi dia mencari rumus untuk menyelesaikan solanya.

Jaehyun menganga saat melihat Hye Kyung dengan tambut acak-acakan dan wajah terlihat begitu kesal. Ia tidak menyangka, seingatnya, saat pertama datang tadi, wajah gadis itu kelihatan sangat polos dan manis, kenapa tiba-tiba berubah menjadi kacau dalam sekejap? Jaehyun menggeleng, kemudian akhirnya selangkah demi selangkah, ia menjauh. Jaehyun tidak habis pikir bagaimana Eun Kyo bisa hidup dengan dua gadis aneh seperti mereka.

Noona…” panggilnya saat memasuki kamar Eun Kyo. Dilihatnya Eun Kyo berbaring di tempat tidur, ia berjalan mendekat dan menghempaskan tubuhnya di samping Eun Kyo.

“Kenapa kau tidak pulang, sekali saja Noona…” ujar Jaehyun pelan, bernada membujuk. Jaehyun lalu memiringkan tubuhnya menghadap Eun Kyo.

“Siapa yang mengijinkanmu  untuk berbaring di sini?” tanya Eun Kyo sambil berbalik, membelakangi Jaehyun. Ia malas jika Jaehyun mengungkit tentang sikapnya terhadap orang tuanya.

“Aku,” jawab Jaehyun sambil tersenyum.

Kka…!” Eun Kyo mencoba mendorong tubuh Jaehyun tapi sia-sia, Jaehyun lebih kuat dibandingkan dirinya. “Kau tidur di sofa bukan disini…” Eun Kyo masih mencoba mendorong Jaehyun tapi  tetap saja Jaehyun tak bergeming. “YAK! KAU BANGUN ATAU INI AKAN MENANCAP DI PERUTMU!” Eun Kyo mengambil sebuah gunting kecil di atas nakas, lalu menatap Jaehyun dengan mata berapi-api.

Ara, arasseo, aku tau aku tidur di sofa, arasseo, arasseo, arasseo…” Jaehyun menutupi rasa terkejut bercampur takutnya dengan tersenyum manis, ia perlahan bangkit dan berjalan meninggalkan En Kyo yang terlihat sangat murka padanya, “tapi, Noona, aku hanya akan bayar setengahnya saja kalau begitu.” Setelah mengatakan hal itu Jaehyun lari terbirit-birit keluar kamar, hingga lemparan bantal dari Eun Kyo meleset darinya.

“Kau tidur di luar!” Eun Kyo berteriak kesal sambil sekalian menegaskan.

“Aku tau! Tapi lihat mereka! Bagaimana aku bisa istirahat!” teriak Jaehyun dari luar kamar tak kalah nyaring. Matanya menatap Jae In dan Hye Kyung bergantian.

Jae In masih dengan kegiatannya tadi, memandangi ponselnya seperti seorang yang sedang stres menunggu pesan yang tak kunjung datang. Dan satu gadis lainnya, Hye Kyung, kini tak lagi berkutat dengan bukunya, ia berbicara dengan seseorang di dalam telepon.

EommaEommaEomma bogoshipeo…” ujarnya merengek. Anak itu menangis sambil menghentak kecil di atas karpet. Jaehyun langsung melebarkan bola matanya, terbelalak. Bagaimana mungkin di jaman sekarang yang serba instan masih ada gadis -yang tidak bisa dikatakan anak kecil itu- menangis merengek merindukan orang tuanya. Jaehyun mengalihkan pandangannya dan menatap kamar Eun Kyo, ia melihat Eun Kyo berdiri di ambang pintu dan keadaannya tak jauh berbeda dengannya, bingung mengerjapkan mata. Jaehyun menarik napas, mereka berdua bertolak belakang sekali, pikir Jaehyun. Eun Kyo yang terus menghindari orang tuanya dan Hye Kyung sangat merindukan mereka sampai menangis tak kenal tempat.

“Aku- aku… aku ingin menyerah saja, ini sangat berat…” rengekan Hye Kyung bercampur tangis masih terdengar, dan Jaehyun lebih memilih pergi dari apartemen mencari udara segar. Entah dia bisa betah atau tidak di sini, jika bukan karena bayaran tinggi dari orang tuanya Eun Kyo, dia rasa tidak akan bisa bertahan di tempat perempuan-perempuan aneh seperti itu, apalagi harus tidur di sofa.

“Tidak boleh ada lelaki yang berkunjng lebih dari dua jam. Cih! Peraturan yang sangat menggelikan. Dia sendiri yang membawa lelaki menginap.”

Celetukan Jae In masih bisa didengar oleh Jaehyun meskipun rengekan Hye Kyung yang sering terjadi menjelang test terdengar nyaring. Ia berhenti dan menoleh, lalu pintu kamar Jae In dibanting dengan keras. Jaehyun hanya bisa tersenyum kaku saat merasakan atmosfir yang sangat tidak menyenangkan itu. Eun Kyo balas membanting pintu. Jaehyun sadar, ia akan terjebak di dalam sini dalam waktu yang lama.

***

Jung Soo berdiri cukup lama, memandangi sebuah pintu apartemen yang ada di hadapannya. Sudah sepuluh menit ia berdiri di sini, tapi tak juga memencet bel. Pikirannya jauh melayang, otaknya berpikir keras mengenai baik buruknya keputusan yang ia ambil saat ini. Angka 319 di pandanginya dengan seksama.

Ceklek.

Pintu terbuka. Seseorang keluar dari sana dan membuat Jung Soo panik seketika, ia belum memutuskan kalimat sapaan yang bagaimana yang harus ia ucapkan pertama kali saat bertemu dengan Eun Kyo. Yah, ia berdiri di depan apartemen milik Park Eun Kyo.

A- ahjussi…?” sapa Hye Kyung sambil memasang sepatunya dengan tergesa, “kau mencari seseorang?” tanyanya lag memandangi raut wajah Jung Soo.

“Ah, aku…” Jung Soo kebingungan, ia benar-benar belum siap. “Ah, ye, aku mencari pemilik apartemen ini, kau… Park Eun Kyo?” tanya Jung Soo berpura-pura, ia tahu pasti, gadis manis berambut panjang ini bukanlah Park Eun Kyo yang ia maksud.

“Oh, bukan. Bukan aku, aku… hanya seseorang yang tinggal di apartemen ini,” jawab Hye Kyung. Senyuman manis Hye Kyung mampu membuat Jung Soo sedikit lebih tenang. “EonniEonni… ada yang mencarimu!” teriak Hye Kyung, membuat Jung Soo menutup telinganya.

“Sebentar aku panggil, Ahjussi,” Jung Soo melangkah mengikuti Hye Kyung, “tapi kau, kau bisa menunggu di sini,” Hye Kyung langsung mencegah langkah Jung Soo. Mau tak mau Jung Soo menurutinya, ia menunggu di depan pintu.

Eonni ada yang mencarimu,” suara Hye Kyung masih terdengar. Gadis itu, kelihatan polos tapi suaranya benar-benar…

Nugu?” Eun Kyo menjawab, Jung Soo bisa melihat wanita itu keluar dari kamarnya sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Wajahnya bertanya-tanya.

Molla, seorang lelaki, mungkin… pacarmu? Ah! Ani, ani, tidak mungkin, kau belum punya pacar. Tapi dia…” Hye Kyung meletakkan telunjuknya di bibir lalu menggigitnya pelan, “dia kelihatan menarik untuk dijadikan pacar. Cocok denganmu,” lanjut Hye Kyung. Jung Soo hanya tersenyum mendengar pembicaraan di dalam.

“Sebaiknya kau temui aku harus berangkat kuliah, ada test hari ini.” Hye Kyung berjalan meninggalkan Eun Kyo yang masih kelihatan bingung. “Ahjussi, kau tunggu saja, di dalam, masuk saja.”

Jung Soo masih bisa merasakan situasi tergesa-gesa Hye Kyung saat lari terburu-buru sambil memasang sepatunya kembali, seperti lift akan meninggalkannya saja. Gadis itu lalu menghilang saat pintu lift tertutup.

Nugu…seyo?”

Suara Eun Kyo yang serak dan terdengar menggantung terdengar, sambil berpikir tentang siapa sosok lelaki yang berdiri di hadapannya mengenakan setelan rapi dari ujung kaki hingga kepala. Pantas saja Hye Kyung memanggilnya Ahjussi.

Jung Soo mengalihkan pandangannya dari bayangan Hye Kyung yang sejak tadi sudah tak terlihat. Sejenak ia terpana. Melihat Eun Kyo yang masih mengenakan pakaian rumah, memberikan rasa tersendiri bagi Jung Soo. Kecantikan alami? Ah, itu terlalu berlebihan. Tetapi ketika cinta menyapamu, semuanya terasa berlebihan. Senyum berlebihan, detak jantung berlebihan, bahkan rindupun berlebihan.

Jung Soo tak sanggup berbicara, semua aura yang diberikan oleh wanita yang berdiri sambil mengerutkan dahinya, membuat bibirnya terasa kelu, dingin dan kaku. Ini jelas bukan kondisi normal, beberapa hari dililit dengan rasa penasaran, tetapi saat bertatap muka, tak juga mampu membuat Jung Soo merasa lebih lega.

Chogiyo…” Eun Kyo mengibaskan tangannya di depan wajh Jung Soo.

Senyuman manis mengembang di wajah Jung Soo tanpa sadar. Rasa bahagia itu membuncah membuat kesadarannya berada di ambang batas. Ia terlalu senang saat berhadapan langsung dan mendengar sebuah kalimat keluar dari mulut Eun Kyo, hingga membuat terlihat sedikit bodoh.

“Sepertinya Anda salah alamat.”

Eun Kyo bersiap untuk menutup pintu sebelum Jung Soo mencegahnya dengan menarik tangan wanita itu, ia lalu menyodorkan sebuah berkas di dalam amplop besar berwarna coklat. Eun Kyo memandangi amplop yang ada di tangan Jung Soo itu dengan dahi berkerut. Ia ragu-rag untuk menyambut, namun akhirnya berkas itu sampai ke tangannya setelah memandangi Jung Soo. Pandangan yang membuat Eun Kyo yakin.

Amplop itu perlahan dibukanya, dengan mata yang tak lepas dari mata Jung Soo, seolah meminta penjelasan. Beberapa lembar kertas ia keluarkan, dan ketika membaca kalimat yang tertera di sana, Eun Kyo menahan napas. Dengan cepat ia langsung mengembalikan berkas tersebut ke dalam amplop.

“Eonni! Nuguya? Jisungie?” teriak Jae In dari dalam.

Eun Kyo menoleh ke belakang, lalu menjawab, “bukan, bukan siapa-siapa!” Sekilas Eun Kyo nampak syok. Wajahnya berubah tegang.

Tangan Eun Kyo sigap menarik lengan Jung Soo, tanpa berkata sepatah katapun, ia menyeret Jung Soo menjauh. Langkah lebar Eun Kyo bisa diimbangi Jung Soo hingga mereka berhenti dalam lift.

Museun suriya ige?!” Eun Kyo mengacungkan berkas yang ada di tangannya. Kilatan tajam matanya menyiratkan sebuah tanda tidak terima.

Belum sempat Jung Soo menjawab Eun Kyo sudah kembali bicara dengan nada tinggi. “Aku tidak akan pernah menjualnya, tidak akan pernah! Never! No! No! No! Maldo andwae!” tangannya menyilang kokoh tepat di depan wajah Jung Soo. Kemarahan tergambar jelas di wajah Eun Kyo.

Jung Soo mundur satu langkah, tidak menyangka reaksi Eun Kyo akan seperti ini. Masih terasa rasa sakit di lengannya saat Eun Kyo menyeretnya tadi, meskipun terlihat lemah, ternyata cengkraman Eun Kyo tidak bisa diabaikan rasa sakitnya.

“Sebaiknya kita bicara di tempat yang lebih nyaman?” ajak Jung Soo dengan sopan.

“Jawabannya tetap sama! Aku tidak akan meninggalkan tempat itu apapun yang terjadi!” sambil berkacak pinggang, wajah Eun Kyo memerah menatap Jung Soo dengan amarah.

Dia tidak terima. Hanya  karena belum mengurus balik nama berkas, bukan berarti orang tuanya bisa seenaknya menjual tempat tinggal putrinya begitu saja, lagipula Eun Kyo yang membayar semua tagihannya perbulan, itu tidak manusiawi. Disamping menahan gemuruh emosinya, ia juga harus menahan bulir airmata agar tidak keluar dari pelupuk matanya.

Ting!

Pintu lift terbuka, Eun Kyo kembali meraih lengan Jung Soo dan menariknya. Membawa lelaki itu keluar dari gedung dengan cepat dan berhenti di bawah pohon besar.

Pagi-pagi Eun Kyo sudah dibuat emosi.

“Maaf, mungkin membuatmu terkejut di pagi buta seperti ini,” ujar Jung Soo berbasa-basi, yang sejak tadi tak sempat dia lakukan.

“Bukan hanya terkejut, tapi kau juga mengusikku!” jawab Eun Kyo ketus.

Bukan reaksi seperti ini yang Jung Soo inginkan, ini jauh dari perkiraannya. Sejak tadi ia terus memikirkan kalimat pembuka yang bagaimana yang harus ia ucapkan agar pembicaraannya bersama Eun Kyo terasa hangat. Mengingat kedatangannya tersebut adalah mengambil alih tempat yang ditinggali oleh Eun Kyo selama ini. Alih-alih hangat, sekarang keadaan menjadi panas.

Naik-turun dada Eun Kyo menarik nafas menahan gelegak amarah. Jung Soo terdiam tenang memperhatikan wanita yang ada di hadapannya ini. Ia bisa memaklumi sikap Eun Kyo saat ini, tapi saat wanita itu meledak emosi, ia jadi ragu dengan keputusannya. Jelas hal ini sangat membuatnya terlihat seperti orang jahat yang akan merampas hak orang lain.

Aku harus menjual tempat itu, aku harap kau bisa membantuku.

“Aku tidak akan menyerahkannya,” suara Eun Kyo terdengar lemah setengah pasrah dan tidak percaya. Ancaman orang tuanya bukan hanya sekedar ancaman.

Masih saja Eun Kyo melontarkan kalimat penolakan meskipun belum tentu Jung Soo akan mengambil tempat tinggalnya. Eun Kyo merasa terancam. Seolah detik itu juga Jung Soo mengusirnya dari apartemennya. Ia menarik napas dalam. Secepat ini ancaman orang tuanya berlaku.

Jung Soo masih memandangi Eun Kyo dengan tatapan yang sulit diartikan. Antara merasa bingung dan merasa lega. Ini pertama kalinya ia berani menampakkan dirinya setelah berhari-hari membuntuti Eun Kyo seperti penguntit. Rasa simpati itu menariknya pada sebuah kubangan perasaan aneh yang menderanya. Detik ini juga Jung Soo mengambil kesimpulan, ia telah jatuh cinta.

“Ini dokumen sah.”

“Tapi tetap aku tidak terima. Aku membayar tempat itu dengan hasil keringatku sendiri, hanya karena aku belum mengurus dokumen balik nama, kau ingin mengambilnya? OWH JINJJA!”

“Tandatangan pemilik dan dokumen semuanya sudah ada di tanganku. Telah terjadi transaksi jual beli antara pihak pertama dan pihak kedua. Apartemenmu, resmi menjadi milikku, semalam,” ujar Jung Soo penjang lebar, matanya terus menatap wajah Eun Kyo. Ekspresi marah wanita itu, Jung Soo menyukainya.

Appa… nappeun,” umpatan pelan yang ditujukan untuk orang tuanya, keluar dari mulut Eun Kyo. Tidak menyangka sama sekali orang tuanya akan benar-benar menjual apartemen yang di tempati putri tunggal mereka. Hampir saja ia menangis, menyesal tak berguna. Harusnya kemarina ia menurunkan sedikit saja egonya dan mendatangi orang tuanya, sedikit menghiba atau merengek seperti yang sering dilakukan oleh Hye Kyung, mungkin keadaan takkan berujung seperti ini.

“Bagaimana kalau kita buat kesepakatan?” tawar Jung Soo. Mencari celah agar bisa lebih lama berkomunikasi dengan Eun Kyo.

En Kyo tak lantas menjawab. Ia tak bergeming, dahinya berkerut, kelihatan sekali dia sedang berpikir. Sempat terlintas ide untuk membawa masalah ini ke ranah hukum, tapi pikirnya itu sangat konyol, dia pasti akan kalah. Eun Kyo benar-benar bingung.

Park Jung Soo, sebagai pengusaha real estate yang berpengalaman, permasalahan seperti ini merupakan permasalahan kecil baginya. Masalah sebesar apapun dapat ia hadapi dengan tenang, tapi kali ini, ia harus berpikir keras agar terlihat tetap terjaga harga dirinya. Sebenarnya dia tidak terlal menginginkan apartemen itu, sejak Park Yong In menawarinya dan mengatakan bahwa yang tinggal di sana adalah putri keras kepalanya, Park Eun Kyo, Jung Soo mulai tertarik. Dan sekarang, masalah kecil ini jadi melebar karena yang ia hadapi adalah Park Eun Kyo, bukan rival bisnisnya seperti biasa.

“Beri aku kesempatan,” akhirnya Eun Kyo kembali bicara. Membuat lamunan dan pandangan Jung Soo menjadi buyar. Sejak tadi Jung Soo sangat menikmati ekspresi Eun Kyo yang kelihatannya tertekan.

Ia mengernyitkan dahi sebagai tanda meminta penjelasan, kesempatan seperti apa yang Eun Kyo inginkan? Mengingat ia juga mempunyai sebuah kesempatan yang ingin ia manfaatkan.

“Beri aku waktu satu bulan.”

“Satu bulan?” Jung Soo masih mengangkat sebelah alisnya. “Maksudnya?’

“Beri aku waktu satu bulan, aku akan angkat kaki dari tempat itu, tapi beri aku waktu satu bulan. Aku punya dua orang tanggungan, mereka masih kuliah, menyewa 2 buah kamar yang aku miliki di sana. Beri mereka waktu satu bulan saja, untuk mereka bersiap-siap untuk pindah,” dengan cepat dalam satu tarikan nafas, ia memberikan penjelasan.

Jung Soo tidak menjawab, hanya tersenyum dan meletakkan tangannya di saku celananya, mengambil posisi lebih santai saat berdiri. Aku memegang kendali. Hati kecilnya bersorak, kesempatan berpihak padanya.

“Kau belum mendengar kesepakata yang ingin aku tawarkan,” ujar Jung Soo dengan nada datar dan santai, terdengar mendominasi. “Jika kau mau, aku bisa memberimu kesempatan yang lebih bagus,” lanjutnya masih dengan nada santai.

“Kesempatan seperti apa?” Eun Kyo merasa was-was.

“Kau bisa tetap tinggal di sana asalkan kau-“

“Satu malam bersamamu? One night stand? Atau menikah kontrak? Seperti yang terjadi dalam drama-drama? Lalu kita saling jatuh cinta dan hidup bersama selamanya? Penawaran seperti itu maksudmu? Atau kau menjadikanku pembantumu? Selama setahun? Dua tahun? Dan lagi-lagi akhirnya kita jatuh cinta? Ah, itu terlalu mudah ditebak, Park…” Eun Kyo melirik berkas yang ada ditangannya, “Jung Soo~ssi,” lanjutnya mengeja nama Jung Soo. “Aigoo, nama yang sangat kuno,” desisnya mencela.

No! Tidak akan! Beri waktu aku satu bulan, aku akan mengambil kembali apa yang menjadi milikku, jika aku tidak bisa, aku akan angkat kak dari sana, tapi berikan mereka waktu.”

Hampir saja tawa Jung Soo meledak, tapi ia bisa mengelolnya hingga akhirnya senyuman menawanlah yang menghiasi wajahnya. Jung Soo tak habis pikir dengan semua pola pikir wanita yang tepat berada di hadapannya ini. Belum sempat ia menjelaskan penawaran miring yang ingin ajukan, Eun Kyo sudah memotongnya dengan asumsi-asumsi yang konyol dan kekanak-kanakan.

Sebenarnya siapa yang berkhayal liar dalam hal ini? Jung Soo yang membayangkan hari-harinya nanti akan dipenuhi oleh Park Eun Kyo, atau Park Eun Kyo yang membayangkan imajinas-imajinasi ekstrim dan tidak masuk akal?

Agasshi…” Jung Soo memegangi kedua sisi lengan Eun Kyo dan berniat membuat wanita itu sedikit lebih tenang.

“Aku pasti akan bayar.”

Eun Kyo mendahului pembicaraan Jung Soo. Lagi-lagi Eun Kyo berasumsi sendiri, dan Jung Soo hampir kehilangan kendali untuk tidak tertawa. Wajah wanita itu benar-benar lucu sekaligus menawan baginya. Ingin sekali ia mencium wanita itu menghentikan pikiran-pikiran konyolnya.

“Dua kali lipat?” seringai jahil Jung Soo mengembang. Tak ada cara lain selain mengikuti pola pikir Eun Kyo.

“Dua kali lipat? Yaa! Kau lintah darat!” protes Eun Kyo keras.

Ia menatap Jung Soo dengan garang, dan satu kini yang ia sadari, posisi mereka sangat dekat. Wajah Eun Kyo mendongak menatap lurus ke arah Jung Soo, dan itu hanya beberapa jengkal saja. “Omo! Kau terlalu dekat, menjauh dariku!” Eun Kyo menepis tangan Jung Soo dari lengannya dan mendorong tubuhnya dengan keras, menyebabkan lelaki itu terhunyung beberapa langkah ke belakang. Tiba-tiba dadanya merasa sesak, tatapan mata Jung Soo membuat energinya tersedot kuat.

“Jaga jarak, tiga meter!” Eun Kyo memberi batas dengan merentangkan tangannya, lalu mengambil posisi. “Aku tegaskan kembali, aku akan bayar apartemen itu dua kali lipat seperti yang kau inginkan, seandainya pun aku tidak bisa memenuhinya, aku akan keluar dalam waktu satu bulan. Aku menyewakan kamarku pada dua orang mahasiswa, tidak mungkin mereka mencari kontrakan dalam sekejap! Tapi jika aku tidak mampu membayar uangmu kembali, biarkan mereka berdua tinggal di sana hingga habis kontrak, aku akan membayar biaya sewa mereka.” Pendirian Eun Kyo berubah-ubah.

Eumgeurae… tapi penawaranku lebih mudah,” jawab Jung Soo.

“Tidak perlu! Aku akan bayar dua kali lipat!”

Eun Kyo melangkah meninggalkan Jung Soo, tak berniat mendengarkan penawaran atau apapun itu yang disebutkan Jung Soo. Sementara Jung Soo, terus memikirkan cara untuk membuat Eun Kyo berhenti dan tertarik dengan usulannya.

“Berkencanlah denganku selama satu bulan! Hanya satu bulan dan kau dapatkan kembali apartemenmu!” akhirnya satu gagasan gila keluar dari mulutnya, dan dia yakin jawaban seperti apa yang akan ia terima. Tapi terlepas dari penolakan, ia merasa ini akan menyenagkan, memburu Eun Kyo dengan berbagai macam penawaran hanya demi sebuah pendekatan, terdengar sangat menantang. Cinta terkadang memang diluar nalar.

Eun Kyo berbalik dengan wajah garang, “MICHIENNEOM! Aku tidak segampang itu!” teriaknya berang.

Seperti perkiraan Jung Soo, jawabannya pasti tidak jauh-jauh dari penolakan. Dan ia mendapatkannya, mendapatkan sensasi itu. Saat memandangi wajah Eun Kyo.

“Hanya sekedar makan, jalan dan menghabiskan wekeend bersama!” teriak Jung Soo lagi yang dibalas Eun Kyo dengan lambaian tangan.

“Jika kau berminat, telepon aku. Aku meninggalkan kartu namaku pada adikmu, lelaki itu,” ujar Jung Soo masih dengan berteriak. Merasa tak mendapatkan jawaban, ia akhirnya berlari menyusul Eun Kyo. Mengacak rambut wanita itu dan memberikan senyuman tulusnya.

Eun Kyo sontak menghentikan langkahnya. Saat tangan Jung Soo menyentuh kepalanya, ia seperti mati rasa dan langkahnya terhenti seketika. Saat Jung Soo tersenyumpun, ia masih bisa melihatnya, tapi tak mampu merespon.

Deg!

Jantungnya yang bereaksi. Ada rasa nyeri yang membuatnya membeku. Kembali ia merasa dadanya sesak, energi dan asupan oksigen yang harus ia terima terkuras habis.

Jung Soo tak menghiraukan Eun Kyo yang  mematung di tempatnya. Ia merogoh sakunya dan mengambil sebuah ponsel.

Yeoboseyo… Soo Jung~ah, Oppa akan menikah, dalam waktu dekat.”

Lawan bicara Jung Soo masih belum memberikan tanggapan, ia sudah memutuskan sambungan. Berjalan dengan langkah pasti dan percaya diri. Senyum sumringah mengembang di wajahnya.

***

Eun Kyo kembali ke apartemennya dengan langkah gontai. Kali ini energinya benar-benar telah habis. Sebelum membuka pintu ia memejamkan matanya sejenak dan menarik napas. Dia merasa lemah, baru pertama kalinya ia merasa tidak bisa berbuat apa-apa.

Yaa! Siapa yang memakai sikat gigiku sampai seperti ini?!” suara Jae In melengking dari kamar mandi. Ia membuka pintu dan menyembulkan kepalanya. “Yaa, hakseung! Kau yang melakukannya?!” ujarnya pada Jaehyun yang tengah asik menikmati sereal sambil menonton berita pagi.

Yak! Hakseung! Aku bicara padamu!” Jae In terlihat sangat marah. Ia mengacungkan sikat giginya yang basah.

“Aku lupa bawa pasta gigi, jadi aku pakai,” jawab Jaehyun tanpa rasa bersalah.

“Aku tidak suka ada orang yang menggunakan barang-barangku! Eonni! Kau bilang tidak akan membiarkan lelaki berada di sini lebih dari dua jam! Dia sudah sehari di sini, itu sangat menyebalkan!” Jae In mengomel. Dentuman keras pintu kamar mandi menggema. Eun Kyo hanya terdiam.

Tatapannya kosong memandangi Jaehyun yang masih nampak acuh. Sekali lagi ia menarik napas berat, menunduk lalu berjalan lunglai ke dalam kamar.

Noona, gwaenchana?” Jaehyun mengkuti Eun Kyo ke dalam kamar. Sebenarnya sejak Eun Kyo kembali tadi ia melirik dan memperhatikannya. Tak biasanya air muka Eun Kyo seperti itu.

Nan gwaencahana,” jawab Eun Kyo serak.

“Biar aku tebak,”

“Tidak perlu, aku akan baik-baik saja jika kau cepat-cepat pergi dari sini. Kau dengar sendiri kan? Laki-laki dilarang ada disini lebih dari dua jam. Kau menyulitkanku, Jaehyun~ah.”

Keundae, Noona…”

“Aku akan menjelaskan semuanya pada orang tuamu. Kau tenang saja.”

Noona…”

“Aku sepertinya kurang enak badan, kau keluar saja.”

Eun Kyo menyuruh Jaehyun keluar dari kamarnya. Saat ini ia ingin menangis, dan tak ngin seorangpun melihat airmatanya. Dadanya sudah terasa begitu sesak, ia sulit untuk menarik napas.

Saat pintu tertutup dan Jaehyun menghilang dari pandangannya, Eun Kyo terisak. Sepertinya saat ini dia menyesal. Andai saja ia tidak bersikeras, mungkin permasalahannya tidak akan melebar seperti ini.

Beginikah rasanya menyesal? Rasanya aku di ambang kematian. Maju salah, mundur salah.

Eonni!”

Suara Jae In memanggil Eun Kyo sambil menggedor pintu membuat Eun Kyo terkesiap. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan membuka pintu setelah menyeka airmatanya.

“AKU INGIN ANAK INI KELUAR DARI SINI!” Jae In menunjuk Jaehyun, matanya menatap marah.

“Tenang saja, aku akan sekolah sebentar lagi…”

Berbeda dengan Jae In yang meledak-ledak, Jaehyun sebaliknya terlihat sangat santai dan tidak terlalu menghiraukan ocehan Jae In yang mengomelinya. Sejak kemarin dia memang senang menjahili Jae In. Mulai dari memakai sikat gigi gadis itu hingga mengambil ponselnya dan mengecek beberapa chat pribadi. Jadi, sejak kemarin Jae In sudah kesal pada Jaehyun.

“Aku ingin kau selamanya enyah dari hadapanku!” ancam Jae In dengan tatapan membunuh.

Ugh… itu sangat membuatku takut,” Jaehyun membalas dengan wajah takut yang dibuat-buat, lebih kepada mengejek.

“JAEHYUN!” teriak Jae In marah.

“Begitu lebih bagus, akhirnya kau memanggil namaku,” Jaehyun tertawa puas.

Eun Kyo yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua semakin pusing. Dia sudah benar-benar stres, ditambah lagi degan teriakan-teriakan Jae In, setelah kemarin diam tanpa alasan. Dan sekarang ia tak tau harus berbuat apa. Meskpun mengerti beberapa hari ini mood Jae In sedang down, tapi saat ini moodnya juga berada pada titik paling rendah.

Geuman! Cukup! Hentikan!”

Jae In dan Jaehyun menoleh pada Eun Kyo yang wajahnya sudah merah padam. “Jaehyun, kau sudah berjanji padaku tidak akan membuat masalah! Dan kau Jae In!” Eun Kyo menarik nafas, “aku bingung apa yang harus aku lakukan, setelah berhari-hari kau mengacuhkanku, sepertinya kau sudah tidak nyaman di sini, kau bisa habiskan sisa kontrakmu, dan aku-“ Eun Kyo berhenti, menarik napas dan memejamkan matanya lalu kembali bicara, “aku akan keluar dari sini, kau juga Jaehyun, kita keluar dan berhenti mengganggu mereka.”

Jae In dan Jaehyun saling melempar pandangan, mengerutkan dahi mereka, dan saat ingin menanggapi, Eun Kyo sudah masuk kembali ke dalam kamar. Lalu suara dentuman pintu menggema,

BLAM!

TBC

Note : Terlambat berapa hari? Masih ada yang menantikan ini? Maaf, jika seandainya membuat menunggu, aku lagi kehilangan banyak energi kerena merindukan teuki sangat banyak *plak* engga ding, aku lagi diburu kerjaan dan dipepet sama rasa males, hahahahahahahaha. Semoga ini membuat kalian puas… meskipun bagiku ini tidak memuaskan. Beberapa kali aku mengubah alur, bingung sendiri aku, hahay…

Eum, ini berarti part Eun Kyo, okey ganti, ini part Teukyo, part depan giliran Hye Kyung, lalu Jae In, seterusnya bergantian. Aku harap tak ada lagi yang keliru mengingat part uang sudah di tentukan gilannya, oke? Hehe, berulang-ulang aki menjelaskan. Sepertinya ini saja yang bisa aku sampaukan disini, dan selamat berkomen ria aja deh setelah membaca note ini. Yeorobeun saranghanda. Park Jung Soo, saranghamnida…

35 responses »

  1. Akhirnya sempet juga ngobrak-ngabrik blog eonnie lg.. #fiuhh
    ewww.. Teuki maennya gitu y dsini?? Tp tambah pnasaran bkal ditrima ato nggak klo reaksinya eun kyo kgag gitu.. Semangat oppa..
    Ada typo eon dkit, but Im still love this n waiting for the next part😀

  2. wadduh… jung soo terlalu berani😀 kencan 1 bulan & menikah dlm wkt dkt kkkkl…jung soo emg bener” buat eun kyo memporakporandakan petasaan eunkyo =))
    eun kyo cie” yg jth cinta tp gak sadar hhhh
    mau aja cmn mkn mlm, kencan dan mnghbskn weekend brsm tp eun kyo kan elergi cowok.. bisa pingsan mnddk kkkkk….

    oke, sekian dr saya,, ditunggu kelanjutannya fighthing eon😉

  3. hwaaa… apa itu td… jung soo ngsh syarat kencan 1 bln plus blng menikah dlm wkt dekat kkkk ada” aja…
    cie” yg lg jth cnt tp gk sadar =))
    penasaran kisahnya apa ditrima ato nggak kkkk pdhl eun kyo kyk elergi cowok giitu😀
    hadduh tu 2jj brantem mulu tp melongo jg bebarengan…lucu”..
    dan hye kyung mnggl jungsoo dg sbtn ahjussi kkkkkk gak trimaaaaa =-O

    oke sekian dr saya, ditunggu kelanjutannya😉

  4. yeyeye gomawo Fika eonni yg sdh sms… hahaha ngakak pas baca yg eonni ngehina nama jung soo, tpi emang bner c nama’a rada kuno hehehe *dibom teuki, eonni knapa jdi u yg b’pikiran yg bkn’? tpi bner jga c klo eonni gag blang kyk gtu pasti teuki yg blng msl jdi pembantu’a mgkn hehehe pokok’a saya suka saya suka… kyk’a eonni bkal nerima penawaran teuki deh *sok tau hehehe, eonni kyk’a kta “haksaeng” yg bnar itu “hakseung” yg arti’a pelajar, mian eonni kalau sok tau, tpi setau q si begitu aku gag b’maksud apa’ kok eon sekali lagi mianhae fika eonni tpi eon q tetep suka ama smua critamu

    • emang sangat sangat kuno, tapi aku suka…
      sebelum di duluin di tembak duluan mending, saya bukan gadis kemarin sore teman… yang bisa di kelabui… bisanya dikelambui *plak
      nerima kaga yah… hahay… tunggu aja evi..
      gomawo sayang udah dikoreksi… udah aku edit, koreksinya sangat berarti… *nari hula2*

  5. omo itu Jung Soo yakin bener 1 bulan Eun Kyo bakalan luluh dan mau diajak nikah🙂 ckckck
    Si Jae In bad mood semua orang kena batunya#salahkan abang ikan yang kepincut sama tuan rumah..
    puas aku di part ini scene Jung Soo, Eun Kyo banyak..

    • engga sebetulnya bukan kepincut hanya tertambat hatinya mel… bukan ding, ga tau jg aku, itu areanya si jae in kalo donghae, bukan aku…
      1 bulan, iya, jangan terlalu percaya diri bung, belum tentu juga saya mau *gandeng donghae*

  6. Mihihihihihi cie cie jungsoo mainnya cepat, tanggap, akurat, dan maksa wkwkww
    Ngebet bener, bang udah mau nikah aja, padahal persyaratan kencan sebulan aja blm tentu disetujui xD

    Jaein kasian itu, nggak tau apa-apa kena semprot begitu, ntar klo eunkyo pergi beneran tanpa ngasih penjelasan ke para ‘kontrakers’ malah jaein yg merasa bersalah itu😮

  7. Eonnnnn 😀

    aku suka couple ini,,,😀,,, “hidup Teukyo” 😀,,,,

    bingung mau komentar apa 😀,,,

    pokoknya ulun hadangi part Teukyo-nya 😀, jangan lawas Ka’ lah 😀 #plaaaakkkk ditabok eonni,,,

  8. pasti diterima,,,ga sbar nunggu scene mereka kalo udh kencan. Apa itu nikah dalam waktu dekat?? ckck bang bang diterima kencan aja blum udh bilang gitu.
    Jangan lama2 lanjutannya🙂

  9. Akhirnya. Eunkyo, jungsoo ktemu jga.. yah walaupun dalam keadaan yg sangat.sangat tdk tepat, dmna jungsoo mngambil alih apartemen eunkyo, ditambah jungsoo bkalan balikin apartemen eunkyo dgn syarat kencan selama sebulann.. parahnya jungsoo nelpon soojung klo dia bkalan nikah secepatnya, nikah dgn.eunkyo mksudnya?? Yahh eonn bkin penasaran.. next jgn lama2 yahh, but i like it

  10. lumayan banyak typo yh oenn, tapii masih bisa aku tanganilah typo itu..
    gx rela jung soo oppa d’panggil ahjushi, org masih muda begtu ko di panggil ahjushi, apalgi klo udh liat lesung pipi’a, tambah muda ajj dh..
    seneng ma karakter’a jaehyun, santai bgd. emg harus bgtu jaehyun klo ngadepin org yg lgi emosi, klo qta ngebales emosi juga, wah bisa tambah kacau..
    qra” di terima gx yh sma eunkyo tawaran itu, di lihat dri sikap’a sih spertinya…
    d’tunggu part selanjut’a oenn..

  11. annyeong eonni…*toel pipi jung soo eh salah toel pipi eonni mksdnyaa

    bljr drmn t jung soo berpikir licik gtu eo??ckcckckk
    d liat dr sifat eun kyo kyakny bkl d tolak t …

    aigoo jae hyun jahil bgtt yahh hhehe
    cie jae in*lirik ikha
    lg bad mood yee gra2 abang ikan???

  12. Perasaan si Ahjumma ini ngeSMSin aku dari abad yang lalu…. baru sempet nih baca >_<

    Ehm… EHm… tes tes 1.2.3.4.5… dst,,,,,
    KYAAAAAAA!!! AHJUSSIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII kau kenapa begitu sipatmuuuu??? Puahahahahahha… nih Ahjussi model baru kek gini… AKU DUKUNG AKU DUKUNG… AYooo berjuaaaaaang! Iyaaa.. pasti kau mau nikahin si Ahjumma kan? Ya Kan? Iyaaa ayooo ngakuuu #sarap *histerisakugegaraAhjussiituuuuu*

    Ah ah ah…. yah… pokoknyaaaa LOST COMMENT dah…

    Next, EONNIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII!!!! BURUAAAAAAAAAAAAAANNNNN!!! Has has has…. #tampolDonghaek😀

  13. seperti biasa teukyo mengalihkan duniaku hahahaha ini semua gara2 kamu eonni, gara2 eonni aku jadi terobsesi sama park jung soo dan park eun kyo >< wkwkwkwkwk next chptr di tunggu . keep writing buat para authornya :)) hwaiting!!!!

  14. haduh jung soo. orang yg d sukai.a lagi kesusahan, panik, bingung. dia malah seneng mlihat ekspresi eunkyo ky gitu.. hehehe..
    poor eunkyo. cobaanmu berat sekali. kasian bgd apartemen.a d jual sm ortu.a. padahal yg bayar cicilan.a dia.. hehehe.
    kaya.a jae in sm jaehyun bakal ada rasa tuh. tiap hari berantem terus.. kkkkkkkkk
    d tunggu kelanjutan.a..😀

  15. Hati2 kyoya….benci bisa berubah jdi cinta loh…:-D
    Gak taulah neng mo komen apa,,,aku suka couple ini,,mo gimanapun versinya keke….*yg part ini versi tom-jerry yak??^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s