Love is . . . (Feeling 3)

Standar

7IKHA

Park Corporation in the morning

            Pagi pertamanya di Seoul tidak jauh berbeda dengan hari-hari sebelum Yeong Seo pergi ke Australia. Masih berada pada suhu ekstrem musim dingin dan cuaca yang tidak menentu. Tadi pagi, ia mengabaikan rasa dingin begitu saja hanya demi sebuah misi.

Sampai di kantornya tepat waktu.

Namun ia justru sampai setengah jam lebih awal.

            Ia baru kembali dari Australia kemarin siang dan hanya mendapat jatah tidur kurang dari delapan jam setelahnya, karena begitu ia mengaktifkan ponsel, Sekertaris Kim langsung mengirimkan beberapa e-mail mengenai schedule kantor dan pihak terkait yang harus dia urus satu minggu ke depan.

            Ia berkutat dengan berkas berjam-jam lamanya dan menelpon kesana-kemari untuk membicarakan jadwal pertemuan-pertemuan Jung Soo dengan beberapa kolega di dalam atau luar kota. Selain itu, Yeong Seo juga harus meninjau kembali laporan akhir tahun yang katanya terlihat benar-benar mengecewakan, padahal ia tidak tahu menahu soal itu mengingat ia baru menginjakkan kaki di kantor itu sejak Agustus tahun lalu, yang artinya ia baru bekerja selama kurang lebih enam bulan. Maka tengah malam menjelang dini hari, Yeong Seo baru merangkak ke atas tempat tidur dengan sisa tenaga dan tulang-tulang yang terasa remuk.

            Sebelum mematikan lampu ia sempat melirik ngeri pada kaleng-kaleng kopi instan yang tergeletak naas di meja kerjanya. Jika saja bukan karena cairan berkafein itu mungkin ia sudah terjatuh tidur sejak empat jam yang lalu.

            Kini Yeong Seo mendapati dirinya tengah berada di depan mesin kopi di kantornya, menunggu airnya mencapai batas maksimal gelas kertas yang ia sediakan sebelumnya. Lagi-lagi cairan berkafein itu yang mungkin bisa menolongnya seharian ini. Jika ada cara yang lebih sehat untuk melawan semua kelelahan, mungkin Yeong Seo akan mengambilnya tapi setidaknya ada si hitam pekat di gelasnnya yang bisa menopang sel-selnya agar terus bekerja sebagaimana mestinya.

Ia berharap tubuhnya baik-baik saja setelah meneguk kopi hitam itu.

 ***

“Sekertaris Lee, anda kedatangan tamu,” kata salah satu staf yang tengah berkutat dengan mesin fotokopi di bagian sisi ruangan karyawan yang luas. Lelaki itu kira-kira berusia empatpuluh tahunan dengan kemeja putih dan bertubuh sedikit gempal.

Yeong Seo sempat mengeryitkan kening. Siapa yang datang ke kantor sepagi ini? Dilihatnya beberapa meja belum terlalu terisi penuh. Hanya si pria gempal, dua wanita dan dirinya… juga Jung Soo. Lampu ruangannya menyala terang. Dengan penasaran ia melirik jam. Ia memang tidak salah lihat, saat itu benar-benar jam tujuh lewat tiga puluh menit.

“Nee,” ia menyahut dalam kebingungan lalu dilangkahkannya kaki berbalut stiletto tinggi menuju ruangannya yang berada di bagian sisi lain di lantai itu. Ia harus melewati lorong memutar yang di sisi kirinya adalah pintu-pintu tertutup yang rata-rata adalah milik para sekertaris, bendahara, supervisior atau para petinggi lain. Sementara ruangan Jung Soo berada paling awal deretan panjang itu, berpintu paling besar dengan fasilitas paling lengkap.

 ***

“Bagaimana kau bisa ke sini?!”

Yeong Seo nyaris kehilangan jantungnya saat menemukan Lee Hyuk Jae tengah duduk di sofa empuk di ruangannya dengan posisi menumpangkan sebelah kakinya di atas paha kaki yang lain dan kedua tangan berada di belakang kepala, bersandar seraya memejamkan mata dengan senyum tipis.

“Hanya mampir, untuk berbisnis,” ia menjawab santai.

Yeong Seo berdecak lalu berjalan menuju mejanya, meletakkan gelas kopi, setumpuk berkas dan tas tangannya satu per satu. Selama itu pula ia terus memutar otak dan menduga-duga cara apa yang pria itu pakai sehingga ia bisa sampai di ruangannya.

“Harusnya kau menghubungiku dulu!” kata Yeong Seo sambil mendekat dan duduk di sebelah pria itu. Dari penampilannya, Hyuk Jae terlihat segar dengan kemeja berdasi dan jas berwarna abu-abu.

Pria itu memutar tubuhnya sedikit, memposisikan sikunya di sandaran sofa dan menatap penuh minat pada gadis disampingnya. Tersenyum lebar yang di balas dengan senyum kecil.

“Jadi… apa yang membawamu datang kemari dan… sepagi ini?” tanya Yeong Seo lagi, ia menatap Hyuk Jae serius.

“Untuk berbisnis, aku sudah menjawabnya tadi,”

“Bisnis apa?”

Hyuk Jae terdiam. Gadis itu memang berubah hangat semenjak kejadian malam itu. Tidak terlalu mementingkan profesionalitas kerjanya. Kali ini terlihat lebih santai atau mungkin lebih terbuka. Hyuk Jae berpikir, memangnya apa yang akan ia lakukan hari itu. Ia rela bangun pagi dan datang ke kantor tempat dimana gadis itu bekerja, lalu sekarang apa? Ia bahkan tidak mengetahui secara spesifik ‘bisnis’ apa yang ia maksud.

“Hanya ingin memastikan,”

“Tentang?” tanggap Yeong Seo.

“Tentang…,” Hyuk Jae menghela napas berat. “Hubungan kita,” lanjutnya dengan suara rendah. Ia terdiam dengan wajah serius begitu juga Yeong Seo yang tiba-tiba saja menurunkan tatapannya dan terlihat berpikir.

“Simpel saja,” mulai Yeong Seo setelah jeda yang cukup panjang. “Aku akan bekerja keras untuk bersungguh-sungguh, begitu juga kau.” Kalimat terakhir itu merupakan suatu penegasan, sebenarnya mereka sudah sama-sama tahu bahwa ada sesuatu yang mengikat mereka, namun Hyuk Jae terlalu takut untuk dikatakan terlalu percaya diri hanya karena gadis itu membalas ciumannya. Itu saja belum cukup, mengingat Lee Hyuk Jae adalah manusia penganut komitmen sejati.

Senyum di bibir pria itu tahu-tahu terkembang dan nyaris meledakkan tawa. Semacam reaksi berlebihan. Mungkin ia akan melakukannya nanti, jika sudah di luar sana. Ia memilih menahannya di tenggorokan.

“Pergilah bekerja, ini sudah jam masuk kantor!” ujar Yeong Seo sengaja di buat ketus namun Hyuk Jae menangkap nada gugup di antara suaranya. Gadis itu bangkit dan menyibukkan diri dengan beberapa berkas di atas meja. Hyuk Jae ikut bangkit dan merapikan pakaiannya.

“Kau bawa mobil?” tanyanya.

“Ya, kenapa?”

“Tadinya aku akan menjemputmu sepulang kerja,”

“Tidak perlu,”

“Makan siang?”

“Aku ada meeting jam duabelas,”

“Selesai meeting?”

“Aku masih harus mengirim beberapa dokumen melalui e-mail, jumlah kliennya tidak tanggung-tanggung, mungkin akan selesai jam tujuh malam,”

Hyuk Jae mengerucutkan bibirnya kesal lalu berpikir keras.

“Kalau begitu beri aku ciuman sebelum aku pergi!” putusnya tanpa ada keraguan. Yeong Seo langsung berbalik dan memelototinya.

“Kau gila?! Ini kantor!”

Yaa! Tapi kau sekarang pacarku,”

“Kau mulai lagi?!”

Hyuk Jae menanggapinya dengan tawa dan berjalan perlahan menuju meja dimana Yeong Seo tengah melipat kedua tangannya di depan dada dengan raut kesal.

“Satu kali, aku janji langsung pergi,”

Hyuk Jae menurunkan lipatan tangan Yeong Seo lalu menjulurkan wajahnya sambil menahan tawa karena ekspresi bodoh gadis di depannya, sementara itu Yeong Seo menahan napas dan merasakan jantungnya menghentak satu kali.

Gadis itu menyerah dan menghembuskan napas berat lalu terpaksa menempelkan bibirnya satu detik di bibir pria itu.

“Kka!” seru Yeong Seo sambil menunjuk pintu dengan dagunya, tidak menyadari perubahan warna wajahnya yang kini merah padam.

Yaa! Kau bercanda denganku?!”

Ahni… cepat pergi, aku kan sudah menciummu, tuan!” Yeong Seo berusaha sabar dan menggunakan suara rendahnya untuk sedikit mengancam.

Sementara Hyuk Jae masih menatapnya penuh seringai namun sedetik kemudian ia sudah menempelkan bibirnya di atas bibir Yeong Seo. Awalnya mengejutkan, tapi Yeong Seo buru-buru memejamkan matanya dan ikut terhanyut untuk kedua kalinya oleh sentuhan pria itu.

“Seperti ini bisnis yang aku maksud, Yeong Seo~ssi,” ujarnya pelan lalu mundur satu langkah setelah mengakhiri ciumannya. Yeong Seo mendecak dan menggeleng, kembali berkacak pinggang.

“Dasar mesum!”

“Besok pagi aku akan datang lagi,”

“Jangan ngawur! Cepat pergi kau sudah terlambat,”

Hyuk Jae nyengir dengan senyum gusinya yang menawan sebagai tanda pamit pada kekasihnya dan melenggang pergi menuju elevator dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.

Sementara Yeong Seo merasa dongkol sekaligus senang atas kedatangan tak terduga pria sialan itu. Ia menggeleng, menghapus bayangannya sendiri dengan Hyuk Jae beberapa saat yang lalu, kemudian tertawa, merasa konyol dengan hubungan ini.

“Dasar bodoh!” ia menyerapahi Hyuk Jae atau mungkin dirinya sendiri. Ia tidak tahu.

            Pagi pertamanya di Seoul sedikit berbeda dengan adanya pria itu. Jika saja pria itu tetap ada, Seoul tidak akan semembosankan ini, pikirnya dalam diam dan kembali hanyut dalam pekerjaan yang menunggunya sabar demi sebuah urusan cinta yang baru ia selesaikan.

Kajja, kau harus tidur jam sembilan malam hari ini, Lee Yeong Seo!”

 ***

1 week later. Siheung Company, lunch time

            Hyuk Jae berjalan memasuki elevator untuk turun ke lobi gedung tempat kantornya berada. Ia sudah lengkap dengan coat tebal dan juga kunci mobil yang berputar-putar di jari telunjuknya. Beberapa kali ia harus tersenyum sebagai kesopanan ketika beberapa kerabatnya menyapa atau bawahannya membungkukkan badannya sedikit untuk menyapanya.

            Tidak sulit untuk menemukan mobil putihnya yang elegan di barisan mobil mewah lain. Ia mengeluarkannya dari area parkir dan melaju di jalanan yang mulai menghangat.

            Ia sempat menelpon Yeong Seo sebelum jam makan siang tapi hanya di balas dengan rentetan alasan yang memusingkan. Gadis itu mengomel karena ia menelponnya di tengah-tengah meeting sengit dan gadis itu terpaksa harus pura-pura ke toilet untuk menerima telepon darinya.

            Kecewa? Ya, ia harus kecewa. Tapi di sisi lain ia juga harus memaklumi keadaan. Ia kehilangan tunangannya hanya karena tidak ada koordinasi yang baik antara pekerjaan dan juga urusan asmara. Ia payah dalam membagi waktu, mungkin mencoba dengan gadis yang sama dengannya, sama sibuknya, sama mementingkan urusan pekerjaan sepertinya, mungkin, jika perkiraannya tidak meleset jauh, mereka akan cocok satu sama lain.

            Seperti gerakan reflek yang sering dilakukan berulang kali, Hyuk Jae membelokkan mobilnya ke daerah Apgyujeong yang akhir-akhir ini sering dikunjunginya. Beberapa kedai dan restoran sudah mulai ramai, mengingat jam makan siang sudah dimulai sejak duapuluh menit yang lalu. Ia sempat tergiur dengan restoran Cina namun lagi-lagi secara reflek mobilnya tahu-tahu terparkir di sebuah coffe shop yang sudah tak asing baginya.

            Lonceng berbuyi saat ia memasuki pintu utama lalu sambutan hangat ia dengar begitu saja. Matanya mencari-cari sesuatu, ah… atau mungkin seseorang, lalu bibirnya tertarik membentuk senyum kecil saat mendapati Eun Kyo yang tengah berbicara dengan wanita paruh baya di pojok ruangan, ia menunggu wanita itu pergi lalu menghampirinya.

“Buatkan aku kopi!”

Eun Kyo mendecakkan lidah dan berkacak pinggang melihat si anchovy sialannya dengan santai mengacak rambutnya sambil lalu dan duduk di kursi terdekat.

“Kopi apa? Black? Tiramissu? Espresso?”

“Robusta, aku ingin yang sedikit pahit, tapi pakai cream dan bubuk coklat,”

“Aku baru dengar yang seperti itu,” omel Eun Kyo namun tetap berlalu menuju dapur dan berusaha membuat pesanan pelanggan spesial yang selalu mengganggunya itu dengan telaten lalu lima menit kemudian minuman itu sudah tersaji dengan waffle di atas meja dan ia mengambil kursi di depan Hyuk Jae.

“Kau tidak makan siang?” tanya Hyuk Jae memulai percakapan. Ia menatap Eun Kyo sambil menyeruput robusta dingin di gelasnya.

“Sudah,” jawabnya pendek, nyaris tanpa ekspresi. “Kau jauh-jauh datang kesini hanya untuk minum kopi? Memangnya di sekitar kantormu tidak ada kedai kopi atau kafetaria?”

“Ada, tapi tidak ada teman sepertimu disana,”

“Ah, jinjja Lee Hyuk Jae. Neol pabbo aniya? Butuh duapuluh menit dari pusat kota menuju ke sini,” Eun Kyo mendecakkan lidah lagi. “Mungkin dengan kemahiran menyetirmu kau bisa menyortir waktu jadi….,”

“Sepuluh menit,” tandas Hyuk Jae dengan tawa.

“Kemahiran yang mengerikan,”

“Kadang diperlukan jika sedang terburu-buru. Donghae selalu terlambat karena dia menyetir seperti kura-kura,”

“Dia yang menyetir seperti kura-kura atau kau yang kerasukan setan saat menginjak pedal? Rasanya aku ingin mencekikmu. Yaa! Perhatikan keselamatanmu, bodoh! Kau belum menikah,” Eun Kyo menggerutu sambil memukul kepala sahabatnya itu geram.

Mian… mian… Kapan kau akan berhenti ceramah masalah kebiasaanku?”

“Tidak akan, sebelum kau tahu betapa buruknya hidupmu itu, eoh?!”

Hyuk Jae tidak membalas makian Eun Kyo, hanya terkikik sendiri dan membuat wajah Eun Kyo semakin dongkol. Mereka saling melempar senyum, isyarat kebodohan karena melakukan pertengkaran untuk hal yang sama sekali tidak elit untuk diperdebatkan. Jika saja Eun Kyo sadar bahwa sahabat bau amisnya itu sudah tumbuh menjadi pria dewasa, dan jika Hyuk Jae sadar bahwa sahabat cerewetnya sudah menikah bahkan sudah empat tahun lamanya. Mungkin seharusnya mereka sadar juga, pertengkaran mereka itu benar-benar tidak dewasa.

            Kadang… usia, keadaan, lingkungan, status, tak ayal membuat mereka tetap berada pada titik di mana persahabatannya yang lampau mendominasi hidup mereka dari apapun. Merasa bahwa teman adalah satu-satunya sumber semangat, bukan pekerjaan yang mereka miliki, bukan juga kehidupan sempurna yang mereka dapat.

            Seperti halnya burung, ia belum tentu merasa bahagia sekalipun berada di dalam sangkar emas. Burungpun jauh lebih menikmati hidup jika dilepaskan di alam bebas.

Hyuk Jae dan Eun Kyo adalah dua burung yang sama-sama merasakan kebebasan dan juga kebahagiaan tanpa adanya tekanan dari sudut manapun.

“Ngomong-ngomong, bagaimana dengan kisah cintamu itu?” tanya Eun Kyo setelah Hyuk Jae menghabiskan sepotong waffle porsi besar yang ia hidangkan dalam diam.

“I got it,” jawabnya dengan senyum lebar. “Kami pacaran,”

“It so hard for you, right?” ejek Eun Kyo yang diakhiri dengusan tawa.

“Tidak ada wanita yang sulit untukku,” ujar Hyuk Jae membanggakan diri.

“Ya ya ya, kau memang playboy bau amis yang menaklukan hati wanita dengan cara murahan. Paling-paling kau datang dengan bunga lalu…, ‘Menikahlah denganku!’, seperti itu,”

“YAA! PARK EUN KYO! Darimana kau belajar cara mengejek, huh?”

“Terserah… kau memang, ya… begitulah,” cibir Eun Kyo lagi, kali ini dengan wajah yang dibuat jijik.

“Aku sempat bertunangan dengan Marilyn, itu menunjukkan bahwa aku serius,”

“Oh benarkah? Hahaha…. Tapi, bagaimana kabar si pirang itu?”

“Entahlah, aku sudah lama tidak berhubungan lagi dengannya,”

“Kubilang juga apa,” kata Eun Kyo. “Wanita itu bukan wanita baik-baik. Coba saja dia tahu posisimu saat itu, kau sibuk, kau pekerja keras. Berhubungan dengan model memang tidak akan bertahan lama,”

“Yang ini berbeda, Park Eun Kyo, kau harus tahu,”

“Benarkah?”

Eung… dia memang bukan model tapi tubuhnya seperti model,” saat mengatakannya, Hyuk Jae mencondongkan tubuh ke arah Eun Kyo lalu berbisik pelan. “Seksi,” lanjutnya.

“Ck! Uri Hyuk Jae masih mesum saja ternyata,” Eun Kyo mencibirnya lagi.

Belum sempat Hyuk Jae membalas cibiran temannya, pintu kafe sudah terlanjur terbuka dan bunyi lonceng menyusul kemudian.

“Selamat datang….”

“Aku mencari Park Eun Kyo,” terdengar suara seorang gadis dengan suara nyaring dan tegas, ia berbicara dengan salah satu pegawai di sana. Sontak Eun Kyo maupun Hyuk Jae menoleh ke arah sumber suara.

Ada reaksi yang tak terbaca di wajah Hyuk Jae mendapati kekasihnya tengah berdiri menunggu di dekat pintu, sementara Eun Kyo mendengus jengah dan bangkit untuk menghampiri.

“Ada apa?” tanya Eun Kyo tanpa ingin basa basi.

Gadis di depannya menghela napas lalu memasang ekspresi bosan yang biasa ia lakukan, kemudian berkata. “Hari ini Oppa akan pergi ke Jeju untuk bertemu dengan klien dari luar negri dan… karena sekarang dia ada meeting yang sangat penting, jadi dia tidak akan sempat pulang dulu nanti malam. Hmm… kau bisa ikut kalau kau mau. Aku akan menyiapkan tiketnya. Penerbangannya sore ini dan kembali ke Seoul besok jam depalan pagi,”

Eun Kyo tidak langsung menjawab, ia menghela napas, mendadak kembali ke dalam sangkar emas ketika melihat gadis berpakaian mini di didepannya membawa kabar yang kurang bagus untuknya. Jung Soo benar-benar mengirim Yeong Seo untuk mengabarkan ini.

“Hey, kalian terlihat serius sekali. Ah, Yeong Seo~ya, kita bertemu lagi,” Yeong Seo hanya berjenggit sedikit saat melihat Hyuk Jae kini berada di antara mereka, dan lagi pria itu justru mengalungkan lengannya di sekeliling bahu Eun Kyo. Itu membuatnya mendengus secara terang-terangan.

“Ini Park Eun Kyo, sahabatku saat sekolah menengah atas. Your sister in law. Dan Park Eun Kyo, ini kekasihku, Lee Yeong Seo. Ah, jjam, kebetulan macam apa ini?”

Yeong Seo mendenguskan tawa sinis dari mulutnya, menatap tak percaya pada rangkulan pria itu di bahu Eun Kyo. Sesaat ia benar-benar menyesali dan mengutuk bahwa ‘mengapa dunia begitu sempitnya mempertemukan mereka dalam situasi semenyebalkan itu?’ Harus cemburu atau bahkan benci? Yang pasti Yeong Seo ingin sekali melemparkan hak tinggi sepatunya ke wajah tanpa dosa milik pria itu sekarang juga.

“Kudengar kalian satu kelas saat kuliah. Berarti tidak sulit untuk kalian saat menjalin kekeluargaan. Kalian benar-benar teman satu kelas, ya?” Hyuk Jae berbinar, sendirian, karena gadis di dalam rangkulannya justru tengah merasa risau juga jengah, sementara Yeong Seo menatapnya penuh ancaman.

“Jadi… bagaimana, Park Eun Kyo, kau ikut suamimu atau tidak?” tanya Yeong Seo, mengabaikan Hyuk Jae yang masih penasaran dengan hubungan mereka.

“Aku tidak akan ikut,” jawab Eun Kyo dengan yakin membuat Yeong Seo mengangguk.

“Ya, memang lebih baik kau tidak ikut,” selorohnya. “Aku datang ke sini hanya untuk menyampaikan perintah atasanku saja,”

Eun Kyo hampir mendengus kesal. “Kau bisa pergi kalau begitu,”

            Sementara itu Hyuk Jae mengamati dengan seksama percakapan singkat itu lalu otaknya mendadak sulit bekerja sama, ia lambat-lambat menyadari ketegangan yang tercipta, mungkin sejak ia datang kesana, mungkin Yeong Seo cemburu, mungkin Eun Kyo tidak setuju, mungkin mereka memang bersitegang sejak sebelum ia menghampiri dua gadis itu, atau mungkin ini sudah berlangsung sejak lama. Hyuk Jae menambahkan spekulasi terakhir untuk alasan yang sama sekali tak ia mengerti. Mereka saling mengenal dan hubungan mereka kurang begitu baik. Hyuk Jae menebak.

“Keurom,” ujar Yeong Seo dengan senyum kecil. “Aku akan pergi dan menyampaikan pada Oppa.”

Wajah Yeong Seo berpaling menatap Hyuk Jae, masih dengan senyum palsunya. “Geundae Lee Hyuk Jae~ssi,” ia kembali mematri tatapan di wajah Eun Kyo, tajam.“Uri…,” Yeong Seo merendahkan suaranya. “Chingu ahnida.” Ia menggeleng dan tersenyum sinis.

            Tidak menunggu lama, tidak menunggu balasan Eun Kyo ataupun komentar omong kosong Hyuk Jae, Yeong Seo berbalik dan hengkang dari titik terakhir di mana ia berdiri. Menerobos semilir angin siang dan masuk ke dalam mobilnya. Mengabaikan teriakan Lee Hyuk Jae yang berusaha mengejarnya. Ia kesal, kenapa dunia begitu sempit. Kenapa harus Park Eun Kyo. Kenapa gadis itu seolah mengejarnya seperti kutukan. Setelah ia menikah dengan kakak kesayangannya dan ternyata gadis itu juga bersahabat dekat dengan kekasihnya. Gosh, what a stupid she is! Ia memekik dalam hati.

            Yeong Seo membelokkan mobil menuju parkiran kantor dan masuk tergesa-gesa menuju lobi. Ia menyesal, setengah mati ia menyesal. Menyesal karena jatuh cinta pada pria itu, menyesal ia kembali ke Korea dan mengetahui keadaan bodoh yang terpaksa ia terima, menyesal karena ia hidup dalam kebencian tak beralasan.

“Dunia tidak sempit,” ia memotivasi dirinya sendiri sambil menekan angka di elevator, napasnya masih memburu. “Jangan bodoh! Lee Hyuk Jae bukan satu-satunya pria di dunia.”

 ***

            Hyuk Jae mamacu mobil demi mengejar Yeong Seo. Baik, penjelasan singkat Eun Kyo sudah cukup mewakili situasi yang tidak ia pahami. Tentang perang dingin mereka dulu, tentang ketidakakraban mereka kini. Itu sudah sangat cukup.

“Bagiku, Yeong Seo itu seperti scheduller berjalan milik suamiku. Dia mengurus semuanya lebih dari aku mengurus suamiku sendiri. Dan aku muak dengan sikapnya,”

“Yeong Seo tidak cukup dewasa untuk mengerti bahwa seharusnya ia menghandle dengan baik jadwal-jadwal suamiku dengan benar. Dia itu bodoh atau bagaimana?”

“Ya, dia bukan temanku, dia sainganku!”

“Apa? Akrab? Kau lihat sendiri, kan? Tsk! Kau benar-benar bodoh! Sekarang apa? Kau bilang gadis itu adalah pacarmu? Yaa! Memangnya di dunia ini hanya dia satu-satunya wanita cantik?!”

            Hyuk Jae beberapa kali menangkap nada sengit dari cara bicara Eun Kyo. Ia mengerti, sangat mengerti mengapa ia mempunyai perasaan buruk ketika Eun Kyo bertemu dengan Yeong Seo. Seharusnya mereka akrab sebagaimana mestinya teman lama atau saudara ipar, kan? Hyuk Jae menggeram sendiri. Ia tidak mengerti jalan pikiran perempuan. Perempuan itu, sensitif dan kadang merepotkan.

“Aku ingin bertemu dengan Lee Yeong Seo,” ujar Hyuk Jae di resepsionist kantor dan gadis di depannya memeriksa komputernya.

“Dia sedang rapat, baru berlangsung duapuluh menit. Silakan tunggu di ruang visitor, saya akan mengabarinya,”

            Tak sempat menjawab, pria itu pasrah dan memilih menunggu di tempat yang ditunjukkan oleh wanita bertubuh tinggi itu. Bahkan saat ia menghempaskan diri di atas sofa empuk, pikirannya masih seperti benang kusut. Tidak ada yang ia mengerti dari permainan ini. Yang ia tahu, jika memang ia salah satu pihak yang terlibat maka ia akan berusaha untuk mengembalikan keadaan. Ia tidak mungkin berhenti bertemu Eun Kyo sebagai sahabatnya, atau juga membiarkan Yeong Seo berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya.

            Ia tahu, para gadis akan melakukan apa saja demi kebenciannya. Termasuk satu-satunya alasan yang sempat terbersit dan menakutinya hingga kini ia memutuskan berada di sana adalah mengenai… perpisahan. Yeong Seo gadis yang mudah, mungkin jika kebenciannya mendominasi, ia bisa saja melepaskan hubungan mereka karena alasan yang sulit dimengerti laki-laki.

“Lee Yeong Seo sudah pergi ke bandara untuk mengantar Park Sajangnim, kemungkinan ia tidak kembali lagi ke kantor,”

Hyuk Jae memejamkan matanya. Suara wanita yang tadi ia temui memenuhi kepalanya. Ia bangkit dengan raut kecewa.

“Dia pergi ke Jeju?”

Wanita itu menggeleng. “Yeong Seo ssi tidak menemani Sajangnim, dia bilang dia akan pulang,”

Hyuk Jae menghembuskan napas yang sedari tadi di tahannya. “Kalau begitu, berikan alamat rumah gadis itu!”

Sementara gadis tadi menghilang untuk mencari alamat Yeong Seo di dalam data komputer, Hyuk Jae justru memaki diri sendiri. Satu minggu itu lama, bodoh! Dan satu kalipun ia belum pernah menginjakkan kaki di rumah kekasihnya. Ia hanya sering datang ke kantor dan menemui gadis itu di luar sana. Berpacaran selama satu minggu, lalu ini adalah pertama kali ia akan datang ke rumahnya. Lagi-lagi karena kebodohannya.

 ***

Gangnam, Seoul

            Tengah malam. Jika saja Yeong Seo benar-benar pusing dengan acara pelelangan saham yang sedang ia pelajari malam itu. Atau jika Yeong Seo harus memeriksakan kesehatan matanya dan menerima kenyataan bahwa matanya mengalami minus atau semacamnya karena berkas-berkas sialan itu. Tapi kali ini ia bersumpah bahwa matanya baik-baik saja dan ia sehat-sehat saja saat melihat dengan jelas jarum jam di dinding kamarnya.

Orang gila mana yang bertamu malam-malam? Mungkin jika ayahnya sedang berada di rumah, beliau akan menggantung tamu itu hidup-hidup karena mengganggu jam istirahat orang lain.

            Mungkin saja sepupunya dari Incheon atau ibunya yang baru pulang arisan. Tapi itu mustahil. Pertama, sepupunya hanya akan datang akhir bulan dan selalu meminta di jemput di stasiun. Kedua, ibunya selalu membawa kunci cadangan dan tidak akan menekan bel seperti pencari masalah. Dan Yeong Seo benar-benar mengumpat dan menyalahkan tebakan bodohnya saat menemukan Lee Hyuk Jae tengah berdiri di depan pintu dengan rambut kusut dan mata mengantuk.

“Di sini kau rupanya,” pria itu bergumam dan menatap penuh rasa lelah pada Yeong Seo.

“Aku sibuk,” balas gadis itu dan berniat menutup pintu namun pria itu sudah terlanjur mencegahnya dan menarik tangan Yeong Seo agar sepenuhnya keluar dari pintu rumah.

“Kenapa kau menghindariku seharian ini? Kau tidak mengangkat teleponku? Kau menghilang dari kantor? Lalu aku harus bertanya ke sana ke mari untuk mendapatkan alamatmu yang sulit ini?”

“Memangnya ada apa?”

“Aku hanya butuh penjelasan. Karena Park Eun Kyo?”

Yeong Seo terdiam. Sepasang matanya menatap wajah Hyuk Jae yang terlihat frustasi dan kembali ia menimbang, alasan apa yang melandasi pelariannya hari ini. Apakah benar karena wanita itu?

“Sudah malam, sebaiknya kau pulang!” Yeong Seo memalingkan wajah.

“Tidak, sebelum kau mengatakan kebenarannya. Ada apa dan… mengapa?”

Hyuk Jae berusaha mengadu pandang dan mematri tatapan setajam mungkin demi sebuah informasi dari teka-teki dua wanita yang saling melempar granat namun kemudian menyembunyikan tangannya di belakang punggung. Ia sudah mendapat satu jawaban tapi ia butuh meyakinkan kekasihnya agar tak melakukan hal sembrono seperti bermusuhan apalagi dilandasi hal yang benar-benar tidak ada dewasa-dewasanya.

“Lee Yeong Seo, kau tidak menjawabku?”

Hyuk Jae sedikit menurunkan suaranya. Ia masih membutuhkan sedikit penjelasan yang lebih pasti. “Lee Yeong Seo!”

“Keurae!” Yeong Seo akhirnya menjawab. “Neottamune!” Ia menjerit dan menatap dengan tatapan mengerikan yang selama ini ditahannya.

“Aku benci Park Eun Kyo! Aku membencinya sampai aku kesulitan untuk bernapas karena terlalu banyak menahan untuk tidak menamparnya, kau tahu? Lalu sekarang ternyata kau… Lee Hyuk Jae, pria keparat yang ternyata bersahabat dekat dengannya? Kau pikir aku harus bagaimana? Tetap menerima semuanya lalu kau menganggap ini salahku karena keterlaluan?! Kau tidak tahu apa-apa tentang aku dan dia tapi kemudian kau datang dan melibatkan diri!”

Yeong Seo memekik, ia merasakan dadanya naik turun. Hyuk Jae berusaha untuk meraih tangannya bermaksud menenangkannya namun segera ia menepisnya dan menjerit penuh amarah.

“Yeong Seo~ya…,”

“Berhenti bersikap bodoh dan pergi dari rumahku sekarang juga! KKA!”

Hyuk Jae masih berusaha untuk meraih tangan gadis itu namun… “GEUNYANG KKARAGU!” gadis itu menutup pintu tepat di wajah kebingungan Hyuk Jae. Tidak ada yang ia dapat selain kemarahan gadis itu dan sebuah kebimbangan baru.

Sementara Yeong Seo secepat kilat mengunci pintu dan berlari ke kamarnya, menghempaskan diri di atas kasur dan masuk ke dalam selimut. Secepat yang ia bisa, ia merapatkan matanya seiring dengan suara deru mobil keluar dari pelataran rumahnya.

Yeong Seo mendesah… lega atau mungkin beban, yang pasti Yeong Seo ingin membunuh pria itu secepat mungkin.

“Sial!” umpatnya kemudian.

Jung Soo’s home, in the morning

            Jung Soo mengecek ponsel saat ia dalam perjalanan menuju ke rumahnya. Ia sudah menelpon asistennya untuk memberi kabar bahwa hari ini ia akan beristirahat dan tidak akan masuk kerja karena tepat satu jam yang lalu ia baru saja tiba di bandara dan menempuh perjalanan yang lumayan lama karena berbagai kemacetan di beberapa tempat juga beberapa urusan yang harus ia atasi sepanjang perjalanan. Dan hal itu melelahkan sekaligus merampas moodnya pagi itu.

            Jam sepuluh lewat lima belas menit ia sudah berada di depan gerbang rumahnya. Terlihat sepi, seperti biasa. Hanya ada suara kendaraan yang lewat sesekali di depan rumahnya. Tanpa banyak bicara karena kelelahan, Jung Soo mengeluarkan kunci lalu membuka pintu utama untuk kemudian ia masuk dan memeriksa rumah dengan hati-hati.

Masih ada suara berisik dari arah dapur dan suara musik pelan dari ruang televisi, hal itu membuatnya tersenyum kecil. Eun Kyo belum pergi ke kafe pagi itu dan itu membuatnya lega.

            Jung Soo memutuskan untuk menyandarkan bagian sisi tubuhnya di pintu dapur sambil terus mengamati istrinya yang sedang memasak dengan celemek dan peralatan memasak lain, ia terlihat sibuk di dalam sana. Sebenarnya Eun Kyo sudah menyadari kedatangan Jung Soo namun ia berpura-pura tidak tahu dan menahan diri agar ia tidak berbalik dan memasang ekspresi kesal yang ditahannya semalaman.

“Yeobo,” Jung Soo memanggilnya. Lalu dengan enggan Eun Kyo berbalik dan menatapnya nyaris tanpa ekspresi.

“Maaf membuatmu menunggu,”

Eun Kyo tidak langsung menjawab, wanita itu memilih meletakkan semangkuk sup di atas meja makan dan kembali berkutan dengan masakan yang lain di depan kompor.

“Yeobo!”

“Makanlah, setelah makan kau boleh kembali bekerja!” Eun Kyo dengan berat hati akhirnya menyahut dan mengambil dua mangkuk nasi untuk Jung Soo dan dirinya sendiri.

Dihelanya napas berat dan Jung Soo akhirnya memutuskan untuk mengambil tempat duduk di depan Eun kyo yang sudah duduk dan menyuapkan nasi tanpa menunggu dirinya terlebih dulu.

“Kau tidak pergi ke kafe?” Jung Soo bertanya di sela acara sarapan pagi bersama mereka, yang memang sangat… sangat langka.

“Tidak, aku akan pergi ke tempat lain. Ada urusan,”

“Urusan?”

Eun Kyo hanya menjawab dengan gumaman pelan tanpa ingin berbicara lebih banyak. Ia juga sempat mendengar dengusan Jung Soo tapi ia mengabaikannya. Ia baru sadar, selama ia makan, ia sama sekali tidak menatap wajah Jung Soo. Ia sulit menggambarkan situasi hatinya saat itu. Mungkin kesal atau mungkin bebal dengan segala ketidakharmonisannya sampai-sampai ia benar-benar jengah dengan wajah suaminya sendiri.

“Mengenai pembicaraan kita di Australia…,” Jung Soo memulai namun kembali berhenti di tengah kalimat. Sontak gerakan sumpit Eun Kyo berhenti di udara dan ia memberanikan diri untuk mendongakkan wajah melihat Jung Soo. Laki-laki itu tengah menatapnya juga dengan sejuta eskpresi yang tak terbaca. Lelah? Pasrah? Sedih? Eun Kyo benar-benar tidak bisa membacanya.

Eun Kyo meletakkan sendok dan sumpitnya lalu meneguk air. Memilih bangkit dan meninggalkan meja makan tanpa banyak bicara. Ia berlalu menuju kamarnya lalu tak lama kemudian debuman pintu depan terdengar hingga ke telinga Jung Soo dan laki-laki itu kehilangan selera makannya seketika.

Terdiam dalam keheningan rumahnya sendiri. Jung Soo menatap nanar pada kursi kosong di hadapannya lalu menghela napas berkali-kali. Berharap beban di pundaknya menguap bersama udara yang berhembus dari hidungnya.

Ia masih belum mempercayai apa yang ia rasakan. Sesak? Setelah sekian lama ia tidak pernah merasakannya lagi. Kini ia menyadari, betapa sesaknya ruangan luas ini jika ia hanya sendiri, seperti yang Eun Kyo rasakan. Akhir-akhir ini atau mungkin… selama ini.

Karenanya… semuanya karenanya.

 ***

To Be Continue…

Annyeong… fiuh, I’m so glad, part ini kelar juga pemirsa. Huhuhu. Maaf terlambat jauh banget, yahh… pertama pasti ngumpulin mood, kedua karena aku rempong udah masuk kuliah lagi. So, it is here… jadilah seperti ini, part Feeling 3. But, aku sudah bekerja keras. Hihihi… Aku harap kalian suka… #hope

Dan untuk respon yang kemarin, jinjjaaaa…. makasih banyak atas respon yang sangat luar biasa sekali #plaakk. Haha…

Kadang, entahlah, tapi kadang-kadang, aku merasa takut kalian bakalan bosen dengan cerita klasik roman picisan FF ini. Yaahhh… Aku khawatir aja aku tidak menulis dengan baik. #diinjek. Aku juga khawatir terlalu diktator dan segala macem mengenai FF ini. Dan tentang Yeong Seo disini. Yeah, well… dia memang karakternya seperti itu dari awal; egois, kekanakan, dan sedikit emosional, dan… lari dari masalah, memilih menenggelamkan diri dalam kesibukan. Adapun kelihatannya dia sangat buruk karakternya, gwenchana… karena kita sudah terlalu banyak menemukan tokoh utama dengan karakter cewek cantik, kaya, baik, sempurna. But in real, memangnya ada cewek seperti itu? Mungkin ya, tapi kita tidak ada yang tahu. Semua orang punya kelemahan dan kesempurnaan hanya milik Tuhan (mendadak ngasih ceramah), haha… Oleh sebab itu, don’t bash her. Jangan karena dia jahat or sifatnya buruk, kalian membash Yeong Seo-ku, haha… She is not antagonist here, I’m sure… ini hanya masalah dinamika cerita. Kemudian Lee Hyuk Jae disini aku tegaskan dia adalah pemuda yang cinta mati dengan Yoeng Seo namun tidak bisa melepaskan begitu saja sahabatnya. So, banyak pria yang mengalami hal ini, kan? hehe… Soal ini, hanya masalah dengan waktu.

Dan Jung Soo, he is just try to comeback but Eun Kyo is not welcoming him back. Got it? (Sorry, kalo masih ada yang nanya kenapa TeukYo-nya dikit, hehe, ini part YeongJae yaaa… ^^)

And, the last… thanks for vikos eonni yang masih suka nagih utang, eh nagih FF maksudnya. Hahaha… Dia gak nagih sih sebenernya cuma ngingetin pake cara halus. “Gak papa kok, gak papa belum juga…,” tapi aku tahu diri, ngaret satu minggu itu bukan ‘gak papa’ lagi namanya. Hehe… thank you vikos eon, aku jadi meluangkan waktu banyak for this. #BigHugMyEonni

And for readersnim… leave comment dan tolong tetap antusias dengan FF kami, juseyeo… ^^

Silakan tinggalkan kritik dan saran yang membangun, kami akan menerima dengan senang hati. J

Saranghanda,

Ikha

40 responses »

  1. Yaaah udah dikasih peringatan nggak boleh ngebash Yoengseo, padahal mau tak komen sifatnya huahahaha /pis\

    Yaudah aku komen yg ngga penting aja deh /lah\
    Serem bayangin konsumsi kopinya yoengseo, pekerjaannya berat bgt yak :”

    Pasti hyukjae kena dilemma lagi deh disiniii… Mungkin ntar klo eunkyo udh akur dan *cough* romantis lagi *cough* ama jungsoo, hubunganny sama yoengseo bisa membaik juga xD

  2. annyeong^^

    publish jg yah akhirnyaaa
    makin rumit aje konflikny

    aq kira klo sesama wanita bkal sling mengrti keadaan ma ksulitan msing,apalgi eun kyo ma yeong seo kn ipar y…
    tpi kyakny konflik d antara mreka beratt bgt smp segitu bnciny….

    trs gmn dgn hyuk yg bru aj berbunga2??ap layu lgi??

    teukyo couple bkal jadi pisah???
    entah lah hany fika eonni ma ikha yg tau^^

    d tunggu next partny…

  3. Ehem….saya senyum2 baca note soal yeon seo,,,emang ya kdang wanita tuh suka aneh,,,jujur aja ya…aku pernah mengalami juga,gak suka sma seseorang tanpa alasan yg jelas,,pokoknya ya gak suka ajah…hehe
    Gak perlu ngebash yeon seo,,,karna klo kita mau jujur sma diri sendiri,kita pernah mengalami masa spt itu,,,iya gak??
    fikaa….aku kangen ryu jin ma young jin….:'(

    • fika juga pernah bun… hihhihihihihihi, cm karena kecentilan, enek bgt liat tu org masa… jadi, Yeong Seo itu wajar…
      yeong seo bun.. yeong… klo yeon mah itu rival fka mantan Oppan…
      nanti yah…mereka akan kembali…

  4. Sepertinya Hyukjae bener-bener galau, mau mihak Yeongseo atau Eunkyo…
    semoga aja hubungan Hyukjae sama Yeongseo baik-baik aja..
    Jungsoo udah mulai sadar ya kesalahannya? bagus deh.. semoga hubungan teukyo juga baik-baik aja..

    aku tunggu kelanjutannya eonnideul ^^

  5. Wahh parah nih antara eunkyo dan yeong seo ada pertegangan #appasihh😀
    Yahh bru pacaran seminggu dgn hyuk jae.. yeongseo langsung mutusin hyuk gegara hyuk sahabatnya eunkyo..
    Duuhh hub. Eunkyo dan jungsoo jadi renggang gegara pkerjaan jungsoo.. ckckckck.. but i like it, nextnya d tggu yahh.. #gambatte eehh’

  6. Haduuh…konfliknya rumit bgt kyknya..
    Eunkyo kpn damainya sama jungsoo??yeong seo jg sama eunkyo kpn damainya??
    Pling suka bagian yeong seo sama hyuk jae yg di kantor itu..so sweet2 gmna gtu hahaha

  7. Aku suka suka banget sama karakter enhyuk di sini🙂 suka suka suka hahahaha ntah lee hyukjae amat mempesona sama sikapnya itu:) dan konflik teukyo yang bikin greget bener deh bikin dag dig dur bacanya hahaha oke di tunggu oenni ika buat part 4 dan vika ornni juga di tunggu part 3 nya🙂

  8. wuuhhhh.. deg degab bcny..
    kasian hyukjae, jd serbasalah u.u

    bnran ak jd dag dig dug sendiri.. mulai perkenalan nada sengit keduanya dan gmn teukyo wuuuhhh…
    panas dingin kkkk *kayak apa aja*

    ditunggu kelanjutannya ikha eonni &
    ditunggu kelanjutan kisah asmara teukyo dr vika eonni

  9. Annyeong !!!! *preeet preeeet eonnn
    hahahhahaha. Yoeng seo itu aku banget -_-
    Sering sih bolak balik blog eon nunggu postingan. Tapi beberapa minggu ini gak ada pulsa dan didompet isinya kartu pelajar doang.
    akhirnyaaa… sangking seriusnya maca posisi gak berubah ampe kesemutan eon. Semangat buat om hyuukk!! *om?
    Papa jungsoo! Hahaha

  10. jungsoo rubah kebiasaab kerja y dong kan kasian eunkyo ngerasa terabaikan gt…
    nanti jgn2 eunkyo krn udah lama jungsoo kyk gt ngak tahan minta cerai lg…
    n urusan yg mau diurus eunkyo itu lg perceraian…
    eunkyo ma young seo ternyata musuhan
    ada apa sih diantara mereka alasan kuat n jelas kno mereka bisa jd saingan n ngak saling suka gt…………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s