GOLDEN PALACE 319 : 3. My Mood Booster

Standar

GP 319IKHA

Seoul, 2014

“Eoh, Jisung~a, wae?”

Jae In menguap lebar setelah menempelkan ponselnya di pipi, lalu ia memejamkan matanya kembali sambil mendengarkan ocehan di speaker ponselnya. Ia bebaring dengan perutnya dan menopang pipinya yang lain dengan bantal sofa di atas karpet bersama kertas-kertas tugas dan buku-buku yang terbuka, plastik bekas makanan ringan dan beberapa kaleng minuman yang kosong seolah mengelilingi tubuhnya yang ringkih di pagi hari. Di meja ada laptop yang menyala dan beberapa buku yang bertumpuk, sementara televisi masih menyala dengan suara pelan.

“Aku harus ke tempatmu? Hmmm… dimana? Ah, ya… kerja kelompok, oke….”

“Ya aku tahu, dekat dengan kampus, kau tidak perlu menjemputku. Eoh… wae?”

Jae In membuka matanya dan mengerjap lalu mendesah lega.

“Begitu, ya? Apa tidak bisa transfer saja? Kau tahu rekeningku, kan?”

“Ah, anak kecil tidak punya rekening,” gumam Jae In. “Arra… kkokjeonghajima! Hmm…,” Jae In kembali memejamkan matanya dan menguap untuk kesekian kalinya. “Aku akan terlambat, jam lima sore, oke? Ahni… aku ada ujian jam satu siang ini. Gwenchana, hari ini jadwal privatmu, gwenchana. Eoh… sampai jumpa.”

PLUK!

Ponsel meluncur dari pipinya dan mendarat di karpet begitu sambungan diputus. Jae In mendesah lalu melirik jam tangannya yang masih menempel di pergelangan tangan sejak semalam dan waktu masih pukul lima pagi. Demi Tuham Jisung menelponku sepagi itu? Jae In sedikit mengumpat. Ia baru tidur sekitar dua atau tiga jam dan diatas karpet tanpa alas apapun. Jika ia bergerak ia merasakan pegal di beberapa bagian tubuhnya.

Ia masih tergeletak tak berdaya di atas karpet diantara sampah-sampah ulahnya sendiri saat pintu salah satu kamar terbuka pelan, Jae In sedikit berjenggit padahal ia hendak memejamkan matanya kembali.

“AAA… KKAMJAKKIYA!”

Jae In mendesis dan dengan susah payah ia bangkit dan duduk di atas karpet. Wajah kusam, berkantung mata dan rambut berantakan. Jangan tanyakan pakaiannya, kaus kumalnya terlihat sangat kusut juga celana jins yang sudah menggulung sampai ke lutut.

“Mwohaneungoyaaaaa?!”

Jae In menyibak rambut panjangnya ke belakang dan mendongak melihat siapa yang sudah meneriakinya sepagi ini. Ia terlalu lelah dan mengantuk hingga tak ada energi untuk menjelaskan bagaimana bisa ia terdampar disana.

Baik, sejak kemarin ia dihantui dengan ujian block hari ini dan semalam suntuk ia mempelajari belasan bab yang tingkat kesulitannya membuat ia berubah menjadi zombie di pagi hari.

“Pagi… Eonni,” ucapnya serak dan tersenyum sinting seperti orang mabuk. Padahal ia hanya mengantuk tapi ekspresinya tidak jauh berbeda.

Eun Kyo berkacak pinggang dan nyaris menahan napas melihat ulah penghuni rumahnya—yang dengan ajaib—menciptakan ruangan keluarga menjadi area sampah bebas bercampur perpustakaan. Tak sanggup berkomentar ia hanya mendecak dan mulai memunguti beberapa kaleng bekas.

“Ada apa denganmu, eoh?” suara wanita itu melunak, tangannya terus memunguti beberapa sampah non organik yang berceceran disana.

“Naega halke,” Jae In mulai membantu membereskan kertas-kertas yang masih utuh disana dan memasukannya ke dalam tas folder khusus. Sesekali ia menguap lebar dan terkantuk-kantuk. Eun Kyo memergokinya dan mendesah berat.

Kka, pergi tidur, akan kubereskan ini. Eeyy… sebenarnya apa yang kau lakukan semalam?” sambil mendorong tubuh Jae In yang lemas, Eun Kyo mendumal. Menjebloskannya ke dalam kamar dan setelah terdengar bunyi debuman di atas kasur ia menutup pintu dan kembali ke ruang keluarga untuk membereskan sedikit kekacauan yang dibuat gadis itu.

Saat Eun Kyo hampir selesai dengan buku di atas karpet, tanpa sengaja kakinya nyaris menginjak iPhone milik Jae In yang tertinggal di atas karpet. Nyatanya ponsel itu berdering tepat saat Eun Kyo mengambilnya. Seseorang menelpon, lalu ia melirik kamar Jae In yang tertutup. Baru lima menit yang lalu ia masuk dan ada rasa tidak tega untuk membangunkannya kembali.

Jadwalnya memberikan les privat kadang membuat gadis itu sering pulang malam. Juga tugasnya yang tumbuh seperti jamur karena sering ditinggalkan untuk pekerjaannya tak jarang pula membuat gadis itu begadang semalaman dan Eun Kyo sering memergokinya ketika ia hendak mengambil air tengah malam.

Entah kenapa Jae In sangat menyukai berita tengah malam. Ia rela membawa beberapa buku tebalnya ke depan televisi dan membuat tugas disana, bukan dikamarnya. Ia juga mengangkut isi kulkas ke sana dan membuat ruangan itu begitu mengenaskan.

Biasanya ia akan membereskan kembali ulahnya setelah belajar semalaman, tapi pagi ini Eun Kyo memergokinya terlalu pagi dan wajahnya dua kali lipat terlihat jauh lebih kacau dari pada malam-malam sebelumnya. Ia tidak tega untuk mengomel dan menyuruhnya membereskan sampah.

Sementara ponsel masih bergetar dan berdering di genggamannya. Eun Kyo menimbang. Haruskah mengangkatnya?

“Yeobose—”

“Jae In~a! Neo jigeum eodiya?”

Eun Kyo sedikit tersentak dan menjauhkan ponselnya lalu memeriksa nama pemanggil yang ada di layar.

Donghae Oppa Jjang’s Calling

Eun kyo berdecih namun memilih tak menjawab. Ia menempelkan kembali ponsel itu ditelinganya.

“Oppa… sekarang ada di Seoul. Kuliah lapanganku sudah selesai. Kau senang?” suara berat itu terdengar girang. Eun Kyo hanya menggumam sebagai jawaban pertanyaannya.

“Yaa! Kau masih tidur?” pria di sebrang terkekeh. “Eoh, aku akan menjemputmu setelah kuliah, eoh?! Atau kau mau ke fakultasku?”

“Hmmm….” Eun Kyo menggumam lagi.

Keurae, aku tunggu. Tidur yang nyenyak. Jaljja~”

Eun Kyo memandangi iPhone itu sekali lagi dan tertawa. “Igeo mwoya?” gumamnya dan menggeleng lalu meletakkan ponsel itu di dekat laptop yang sudah ia matikan sebelumnya dan baru saja ia hendak beranjak untuk membuang sampah, ia mendengar suara pesan masuk Kakao Talk ke dalam ponsel Jae In berulang-ulang kali.

Kali ini Eun Kyo mengabaikannya.

 ***

Jam delapan pagi. Jae In keluar dari kamar. Wajahnya sudah lumayan cerah dibandingkan tiga jam yang lalu. Ia merangsek ke ruang keluarga dan menemukan ponsel, laptop dan buku-bukunya sudah rapi di atas meja. Ia menyambar ponsel terlebih dulu.

“Eoh…?!” Ia memeriksa log panggilan. “Eun Kyo Eonni, apa kau menerima telepon dari Donghae Oppa?” teriaknya pada Eun Kyo yang sedang menghidangkan makanan bersama Hye Kyung ke atas meja.

“Maksudmu Donghae Oppa Jjang?” jawabnya dari dapur.

“Kenapa tidak membangunkanku? Aish….” gerutu Jae In saat menuju ruang makan sambil terus memeriksa beberapa pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Ia kadang berhenti berjalan dan tersenyum seperti orang gila lalu mengambil kursi di meja makan.

“Menurutmu aku harus membangunkanmu bahkan saat porsi tidurmu menyedihkan? Begitu?”

Aniya… tapi—”

“Dia sudah pulang ke Seoul. Dia menyuruhmu ke fakultasnya jika kuliahmu sudah selesai,” papar Eun Kyo masih sibuk dengan beberapa gelas dan juga mangkuk. Ia mengatakannya tanpa menoleh.

“Jinjja?” Jae In memekik. “Aaaa… chukketta,” seru Jae In sambil menempelkan ponselnya di pipi dan memasang aegyeo.

“Yaa! Eonni-neun mwoya?” gumam Hye Kyung merasa mual dengan ekspresi wajah gadis didepannya. Ia sekilas berpandangan aneh dengan Eun Kyo—yang entah sejak kapan sudah duduk di kursi.

“Ngomong-ngomong jam berapa Eonni bekerja?” tanya Hye Kyung pada Eun Kyo, mereka membiarkan Jae In yang masih tersenyum girang dengan ponselnya dan membuka diskusi baru.

“Jam sembilan, wae?”

“Ah… tidak, hanya bertanya dan mengingatkan kalau saja kau punya janji dan melupakannya lagi,” jawab Hye Kyung sambil tersenyum.

Eoh, Daebak! Aku yang pertama dihubungi oleh Donghae Oppa,” cetus Jae In. Sepasang matanya masih memelototi iPhone di tangannya.

“Yaa! Jae In! Habiskan sarapanmu!”

Jae In mengintip dari ponselnya menatap Eun Kyo yang sedang melotot ke arahnya dan nyengir.

“Akan ku makan dengan baik,” serunya dan dengan cepat melahap makan paginya membuat Eun Kyo lagi-lagi mendecak. Ia kerap kali melihat Jae In sibuk sendiri dengan ponsel bahkan disela makannya, kadang membuat waktu makannya berubah menjadi satu jam lamanya. Kali ini ia melihat Jae In begitu bersemangat. Jauh berbeda dengan tiga jam yang lalu saat Eun Kyo mengira Jae In adalah zombie yang tersesat di rumahnya.

“Donge Oppa nuguya?” tanya Hye Kyung setengah berbisik dan mencondongkan tubuhnya ke arah Eun Kyo.

“Donghae… It is Dong Hae… Lee Dong Hae!” ralat Jae In memekik dengan dialek khasnya.

“Ah, mian,” ucap Hye Kyung. “Geundae nuguya?” ia berbisik lagi pada Eun Kyo dan melirik takut-takut pada Jae In—yang sepertinya—sudah kembali larut dalam chatting media sosialnya.

“Lee Jae In’s Mood Booster of the year.” Balas Eun Kyo dan menggeleng-gelengkan kepalanya lagi.

Beruntung pria itu menelpon beberapa jam sebelum gadis itu ujian. Pikir Eun Kyo dan tersenyum.

 ***

Fast Food Resto, Jae In’s campus

“Aaaa… ngantuknya,” Jae In menguap lebar sambil membawa nampan makan siangnya menuju salah satu kursi kosong. Ia meletakkan nampan dan mulai mencomot kentang gorengnya dengan tangan kanan dan tangan yang lain ia gunakan untuk mengirim pesan pada sahabatnya.

Yeongie, kau sudah selesai dengan ujiannya?

SENT!

Jae In meletakkan asal ponselnya di meja sementara ia melajutkan makan dengan nasi dan ayam goreng lalu menyeruput cola sesekali. Belum ada jawaban hingga ia selesai menghabiskan makanannya selama lima belas menit, ponselnya baru berdering, buru-buru ia memeriksanya.

“Ish, i yeojaga jinjja,” umpatnya setelah memeriksa pesan.

Sambil bersungut-sungut ia memasukkan ponsel ke dalam tas selempangnya lalu berjalan menuju toilet untuk merapikan dirinya yang terlihat berantakan. Selama dua jam ia bergelut dengan soal dan beberapa contoh kasus yang harus dipecahkan secara tidak langsung membuat—mau tidak mau—penampilannya tidak jauh berbeda dengan orang yang baru saja bangun tidur di pagi buta.

Ia menatap pantulan dirinya. Rambut dikepang longgar hasil karya Hye Kyung sebelum ia pergi kuliah dan kemeja pendek berwarna putih tulang yang dibalut dengan coat tebal berwarna coklat tua. Ia juga mengenakan jins ketat berwarna biru gelap. Secara keseluruhan ia nampak seperti mahasiswa yang tidak terlalu buruk dan itu kenyataan, jika saja orang belum terlalu mengenal dirinya dari segi kepribadian.

Lalu ia membasuh wajahnya yang kusam dan mengeringkannya dengan tissue. Ada kesegaran yang menyergap beberapa syaraf di wajahnya. Ia tersenyum pada dirinya sendiri.

Mengenai Lee Donghae. Lelaki tampan—yang ia kenal sebagai senior dan kini mengambil strata dua di jurusan akuntansi itu—tak ubahnya seperti teman lama, lelaki itu mengenal Jae In luar dan dalam. Memahaminya dan begitu dekat dalam kurun waktu dua tahun semenjak pertama Jae In menapakkan kaki disana.

Berkenalan dengan Lee Donghae adalah anugrah tersendiri, berkat dia Jae In bisa beradaptasi di Seoul dengan baik. Ia juga meninggalkan sikap western yang selama ini ia anut. Semuanya karena Lee Donghae. Secara tidak langsung, Lee Donghae manarik perhatiannya juga, luar dan dalam.

Sayangnya, pria itu hanya membuka dirinya sebagai teman, tak ubahnya sebagai kakak yang kenal-tak-kenal. Tidak pernah membuat harinya bersemu, hanya Jae In saja yang (mungkin) terlalu berharap berlebihan.

Lee Jae In, aku di perpustakaan! Cepat kemari, 5 menit?!

Jae In mendengus sebal menatap pesan sahabatnya dan buru-buru melesat dari tempat itu menuju perpustakaan.

 ***

At the Library

“Yaa! Apa yang membuatmu begitu lama?”

Jae In disapa dengan gerutuan oleh sahabatnya saat ia bergabung di meja pojok dekat jendela. Ia hanya nyengir dan mengacungkan tangan sebagai tanda minta maaf pada gadis berwajah Eropa-Asia didepannya. Temannya itu duduk berhadapan dengan seorang pria yang tampaknya seperti—

“Cho Kyuhyun?” Jae In hampir memekik dan menghambur duduk disebelah pria itu.

“Ah ya, kau? Kyuhyun seonbae?” katanya lagi dengan binar mata. “Nice to meet you,”

“I’m not nice to meet you.” Pria tinggi, dengan kemeja putih dan rambut coklat berantakan menjawab malas.

“I namjaga

“Namjaga mwol?”

Jae In menggeleng dan merapatkan bibirnya.

Oppa, kau mengenal Jae In?” Yeong Seo, sahabat Jae In yang duduk di fakultas Ekonomi bertanya pada Kyuhyun—yang merupakan seniornya yang sudah duduk di strata dua jurusan management.

“Tentu,”

“Tidak,” ralat Kyuhyun dan melirik Jae In malas. “Pertama kali melihatnya,” gumamnya dengan nada ketus meliputi. Pertama kali melihatnya, secantik ini. Lanjutnya dalam hati sambil memalingkan wajahnya dari Jae In, kembali fokus pada tablet ditangannya.

“Eeyy, musseun suriyaa?” Jae In meninju lengan Kyuhyun.

“Ahni gotteun!”

“Sudah jangan bertengkar! Ada yang ingin aku bicarakan denganmu Lee Jae In,”

“Eoh, tentang apa?”

“Adik sepupuku, dia ingin privat denganmu,”

Jae In menjilat bibirnya dan menimbang. “Bisa saja, tapi… mugkin hanya di hari Minggu, bagaimana?”

“Bukan masalah,” senyum Yeong Seo. “Tapi, adikku sedikit… bermasalah. Dia—”

Belum sempat Yeong Seo melanjutkan kalimatnya tiba-tiba ponsel Jae In berdering dan ia terkejut ketika melihat ID pemanggil di layarnya. Lalu mengacungkan telunjuk untuk memberikan isyarat menunggu pada temannya.

“Oppa?”

“Aku di perpustakaan, wae?”

Aigoo… Jinjja? Kau di bawah?” Jae In melongokkan kepala melalui jendela kaca dan melihat dari ketinggian lantai dua, seorang lelaki tengah menunggunya didepan parkiran perpustakaan.

“Aku akan turun, tunggu sebentar. Nee….

Buru-buru Jae In mengemasi barangnya dan berpamitan.

“Lee Yeong Seo, nanti kutelpon, ya? Aku ada urusan,” Jae In mengerling memberi tanda.

“Aaaaa… Oppa jjang?” tebaknya. Jae In mengangguk (kelewat) bersemangat.

“Cho Kyuhyun seonbae, annyeong... jangan merindukanku,” lambainya saat keluar dari pintu perpustakaan dan Kyuhyun hanya berdecih menanggapinya. Lalu tak lama kemudian ia dengan enggan melirik jendela kaca disampingnya dan memfokuskan pada sosok Jae In yang sudah berada di bawah sana, menemui pria keren dengan kegirangan bukan main. Dari sudutnya, Kyuhyun hanya bisa mengukir senyum kecut.

“Kyuhyun Oppa, terima kasih sudah meminjamkan bukumu. Hyuk Jae sudah menjemputku, aku permisi,”

Kyuhyun berjenggit saat suara Yeong Seo membuatnya kembali ke alam nyata.

Eoh, ya… sama-sama,”

Kyuhyun kembali menatap ke bawah jendela menuju ke parkiran dan Jae In sudah masuk ke dalam mobil pria itu. Kyuhyun kembali mendesah. Setelah dua tahun belalu, pertemuannya kembali dengan Jae In tidak disangka akan berlangsung seperti ini. Gadis aneh yang ia temui kembali saat masa orientasi mahasiswa itu sudah tumbuh sedemikian rupa. Ia mengenalnya dengan baik karena Kyuhyun dan Jae In sama-sama berasal dari Songnam dan rumah mereka satu komplek dulunya. Ia juga tidak menyangka gadis pemalas itu akan terdampar di universitas yang sama dengannya. Itu kebetulan atau takdir, Kyuhyun tidak yakin. Ia hanya berterimakasih pada Si Pengatur Hidup yang kini mempertemukannya kembali dengan—cinta pertamanya.

 ***

Tea House, Hongdae, Seoul

Jae In masih belum melepas senyum ketika ia melihat-lihat menu yang ada didepannya. Ia sudah makan siang dan kali ini Donghae mengajaknya untuk sekedar minum teh dan makan kue pie untuk menu jalan-jalan sorenya. Pria itu masih belum menentukan ia akan memesan apa, tatapannya tertuju pada gadis didepannya, menunggu gadis itu memilih lebih dulu.

“Oppa, aku mau hot cake dan tea cream,” Jae In memberikan buku menu pada Donghae.

Geundae Oppa, apa yang membuatmu berbaik hati hari ini dan mengajakku kemari?” tanya Jae In kemudian di sela-sela heningnya cafe. Donghae mendongak dari buku menu, tidak langsung menjawab, ia memanggil pelayan terlebih dulu dan menyebutkan pesanannya, lalu setelah pelayan itu pergi ia berdeham.

“Hanya… merayakan keberhasilanku. Kau satu-satunya yang menungguku,”

“Jinjja?”

“Setelah aku wisuda dua bulan lagi aku akan ke Santorini untuk mengurusi cabang perusahaan. Mulai bulan depan aku akan sangat… sibuk,”

Senyum Jae In hilang seketika. Jika Donghae sudah mengatakan bahwa ia akan sangat sibuk maka itu artinya tidak akan ada waktu baginya untuk bertemu atau sekedar ber-chatting ria.

“Begitu, ya?” katanya dengan suara pelan. Lalu tahu-tahu Donghae mengacak rambutnya gemas.

“Jangan khawatir, aku akan tetap membalas pesanmu,”

“Benarkah? Tapi Oppa, apa kau… benar-benar tidak berpacaran?” tanya Jae In, mungkin untuk ke-seribu kalinya dan jawaban Donghae selalu sama. Tertawa dan kemudian menggeleng. Jae In lega, tentu saja, hanya… ia selalu menjerit untuk bertanya : Jadi apa artinya hubungan kita selama ini? Namun Jae In tidak berani.

Tak ada pembicaraan serius saat mereka menghabiskan teh dan makanan ringan di kedai itu. Hanya pertanyaan basa-basi yang sebenarnya sangat jauh dari kata penting namun Jae In menikmatinya dengan begitu baik, momen itu tidak boleh terlewatkan, walau bagaimanapun, Lee Donghae adalah Mood Boosternya hari ini.

“Telepon aku kalau kau sudah selesai mengajar, oke? Aku akan menjemputmu,”

Oppa, kenapa hari ini kau begitu baik padaku?”

Donghae hanya tersenyum dan entah kenapa Jae In merasa bahwa senyuman itu hanyalah sebagai tatakrama kesopanan semata. Ia tidak tersenyum tulus dengan emosi yang seperti ia lakukan selama ini.

“Telepon aku, jangan pulang sendiri!”

Donghae meninggalkan Jae In tepat di depan sebuah rumah tempatnya mengajar dan mobil Donghae melesat di jalanan. Tak ada kata lain, tak ada kalimat lebih. Hanya teman, teman yang menjaganya sebagai kakak, tidak lebih. Jae In tersenyum, masam.

 ***

Golden Palace Apartment, Seoul

Lee Jae In dan Lee Donghae meniaki lift dan mereka keluar menuju tampat dimana Jae In tinggal. Suasana malam itu sudah lumayan sepi. Mereka berjalan dalam diam melewati pintu-pintu yang tertutup di kanan kirinya juga lantai marmer yang sesekali berdecit karena sepatu Jae In atau Donghae yang bergesekkan. Mereka beriringan dalam diam hingga tiba di sebuah pintu.

“Mau masuk?” tawar Jae In saat ia hendak menekan passcode pintu utama. Donghae menimbang dan menggelng.

“Sudah malam,” jawabnya dengan senyum. Ia melepas kacamata hitamnya dan melirik jam di pergelangan tangan. “Sebaiknya kau istirahat,”

Tiba-tiba pintu apartemen terbuka diiringi suara gerutuan panjang wanita yang sepertinya terburu-buru. Melihat Jae In dan Donghae berdiri di luar pintu ia berjenggit kaget.

“Jae In~a,” ujarnya masih setengah sadar. Ia mengelus dadanya. “Kkamjakkiya,” lanjutnya dengan bergumam, gugup.

Ada jeda cukup lama saat wanita itu keluar dari apartemen. Tanpa di sangka mata wanita itu bertemu dengan mata Donghae dalam hening yang cukup panjang. Coklat hazel, mata tajam, tatapan lembut… Berbagai kesan pertama terlontar dalam hati masing-masing. Mereka menahan napas, begitu juga Jae In yang berada di tengah-tengah tatapan mereka dan suasana tahu-tahu berubah canggung.

“Eun Kyo eonni, kau akan pergi ke… mana?”

Suara Jae In mendadak membuat Donghae maupun Eun Kyo tersadar dari fantasy masing-masing. Eun Kyo buru-buru menarik diri dari kecanggungan dan beranjak.

“Ke mini market, ada yang harus ku beli. Ng… urgent. Masuklah….” lalu ia pergi tergesa-gesa.

Jae In menyelipkan rambutnya ke belakang kepala dan memaksakan diri untuk tersenyum. Sementara Donghae masih mengikuti kemana Eun Kyo pergi dengan ekor matanya.

“Mau… masuk—”

“Yang tadi itu… siapa?”

Jae In menjilat bibirnya dan menahan napas beberapa saat. Tahu dan merasakan atmosfer ganjil yang menyergap Donghae, dirinya maupun Eun Kyo, padahal wanita itu sudah pergi.

“Pemilik apartemenn ini,” jawab Jae In datar, nyaris tanpa ekspresi.

Donghae bergumam ‘O’ tanpa suara.

“Umm… kalau begitu, aku masuk dulu,” kata Jae In gugup, entah untuk alasan apa.

Donghae sepertinya baru kembali dari sisa angannya, ia menatap Jae In, menyadari perubahan air mukanya, ketegangan di beberapa bagian wajahnya yang memucat dan sikap gugupnya yang sangat… langka.

“Umm… yah, masuk dan istirahatlah,” Donghae hendak maraih kepala Jae In bermaksud mengacak rambutnya tapi gadis itu mundur dan memalingkan wajah.

“Hati-hati,” ucapnya sebelum benar-benar menutup pintu.

Setelah pintu apartemen terkunci, Jae In bersandar disana dengan tubuh yang terasa begitu lemas. Konyol! Bodoh! Ia mengumpat dan setelah berapa saat lamanya ia baru menyadari satu hal. Dipaksa untuk menyadari satu hal. Ia berjalan menuju kamar dengan langkah berat dan mengunci pintu, hal yang tak pernah ia lakukan semenjak tinggal disana.

Jae In hanya butuh tidur segera dan melupakan semuanya.

Lee Donghae not only My Mood Booster, but also My Mood Broker.

 ***

HALLO… Aku Ikha, you know, who? Ini FF kolaborasi lagi pemirsaaaa… Hehe… perlu diketahui aku megang Lee Jae In disini… ^^ artinya kalian akan menemukan banyak scene just Lee Jae In disini, oke? Don’t ask about other couple yaaa… Kita satu apartemen, dan kisah kita berbeda tapi saling berhubungan. So, aku menceritakan kisah Lee Jae In. Otthe? Bisa diterima, kan? Oke siip bingiit… ^^

Terima kasih komentar part sebelumnya. Vikos Eon dan Opii yang nulis manteman… hehe… disana kalian juga menemukan Lee Jae In, kan? Cuma sebagai cameo, tapi di part ini, Lee Jae In adalah main cast. Begitu… hehe… #udahNgertiKaleesss… hehe.

Oh ya, tunggu part selanjutnya ya, dan mohon komentar, kritik dan sarannya… Buat kesalahan, typo atau secene yang memang sangat… apalah namanya, hha.. mohon maaf bingit. Dimaklum yaaa…

Give me your feeling, saranghae :* Give me your feeling for the story too…

Regard, IKHA.

52 responses »

  1. Masih awal-awal perkenalan, jadi masih bingung sama keganjilan antara eunkyo, jae in, donghae.. Hmmm tapi sepertinya cerita cintanya jae in bakal seru juga hahahaha
    Curiga ane ama si kyuhyun :3

  2. Donghae kayaknya punya kesan beda sama Eun Kyo, apa jangan2 jatuh cinta pada pandangan pertama#kejauhan kali ya mikirnya# kalo Eun Kyo kan kagetnya karena dia punya fobia sama cowok…

    Kayaknya bakal ada cinta segi empat lagi nih, antara Jae In, Kyuhyun, Donghae, Eun Kyo, cukup rumit…Jae In ama Kyuhyun aja deh#hehe

  3. annyeong kha…vievie in here^^
    jae in sukaaa ma dong hae
    kyu suka ma jae in*his first love kkekke

    seruu yah
    yg part 2 kmrn jg seru cast cwony antara ryeowook ma changmin

    trs knp tdi t hae eun kyo ma jae in trjebak dalam suasana canggung??

    d tunggu next part^^

  4. kayak’a si jae in pasangan’a ama kyu… dan ksh cnta mreka pasti bkal seru kyu suka jae in, jae in suka hae, hae suka eun kyo tpi tetep eun kyo suka teuki hehehe*sok tau* next’a pasti seru

  5. Hyaaaa..
    Selalu suka apapun couple yg muncul,
    Ada kyu y dsini.. Hmmm seru”.. Dan knpa aku ngrasa hae malah bakal ngejar eun kyo y?? *garuk jidat
    iya eon ada typo nyempil..
    Tuhan bukan tuham, tp selebihnya ok..!!🙂
    Semangat teruss..😀
    Be waiting for the next part🙂

  6. hadduh… donghae kayaknya suka sm eun kyo.. gmn ni… patah hati dalam 1 apartemen kkkkk

    penasaran sm kisah cinta mereka..bkln gmn.. kyuhyun patah hati kkkkk…sabar ya bang😀

    oke ditunggu kelanjutannya eon.. semangat ya eon…

  7. Ehh? Kyuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu kau masuk jugaaaa??? Puahahhaha…. gak enak bgt dia diselipin di kisahnya dongek kek begini…. asal jangan jadi orang ketiga gpp kok. Suka kesel kalau Kyu jadi orang ketiga di percintaannya dongheeekkk….

    Eonni… lempar sajong si Kyu ke pelukanku *diamukseSeoul*
    >_<

    Si dong emang mood booster… aku juga begituuuu *gaknanyak* :3

    Lanjuuuuuuuuuuuuutttt yaaaaaaaaa!

  8. wow..
    spertinya bakalan ada cinta segi empat nih antara kyuhyun-jae in- donghae-eun kyo..
    truss kpan muncul’a jung soo oppa.. ??
    spertinya permasalahan sudah mulai mencuat kepermukaan nich..

  9. yeyee udah part 3 nih.. masih awal2 paru perkenalan cast2nya hihi asik ada lee donghae oppa jjang sama si evil…ciee knp ada cinta segitiga sih diantara hye kyung sama jae in..jadi iri wkwkwkw
    oke ditunggu part selanjutnya yah😉

  10. ahhhhhh….. alhirnya bisa komen juga…:)
    #kyuhyun itu mantannya jae in ea? ini jae in nyaa suka ama donghae,tapi sepertinya donghae cuma anggap dia itu seperti adik perempuannya sendiri? ,trus itu apa dulu donghae itu pernah buat sakit hati eun kyo dan buat eun kyo trauma mau pacaran lagi….? .*tnnyanya banyk banget ea tapi tetep seru bin bikin gemes ama jae in*cubit pipi jae in,kkkkekeke..:) sudah lah silahkan lanjuuuut,,,…..:)

    #figting ea onnie….

    • Kyuhyun itu seniornya Jae In, bukan mantannya, hehe…
      Donghae baru pertama kali liat Eun Kyo eonni… tidak ada hubungan di masa lalu. hehehe…
      Yap bener banget, Dongek cuma menganggap Jae In sebagai adiknya, hiks… sedih kalo udah bahas ini. huhuhu… #LapIngus
      Thanks for support chingu ^^

  11. tingglin jejak dulu lg aku. kebiasaan nih aku baru baca sedikit , mata g bisa d ajak kompromi nih.. hehehe.. nanti d terusin lg.. ok.. hehehe😀

  12. donghae ky.a suka sm eunkyo. jae in jd cemburu pas eunkyo sm donghae tatapan. kyuhyun suka sama jae in tp jutek bgd.. hahaha. klw udah jauh dah baru d liatin.. kkkk
    keren ff.a.. d tunggu ff slanjut.a.. ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s