Love is . . . (My Pain 2)

Standar

7

VIKOS

Lalu lintas di area bandara terlihat ramai, banyak para penumpang maskapai yang baru mendarat sibuk membawa barang bawaannya masing-masing. Begitu juga Jung Soo dan Eun Kyo yang baru saja tiba di Bandara Internasional Melbourne.

Matahari di kota Melbourne siang ini terasa terik. Awal tahun adalah musim panas di negeri kangguru tersebut. Di Australia, negeri empat musim yang iklimnya sedikit berbeda dari kebanyakan negeri empat musim lainnya. Jika di negara lain sedang musim dingin maka di Australia sedang musim panas, berkebalikan. Meskpun sedang terik, tetapi angin berhembus pelan membawa kesegaran.

Sebelum mereka berangkat dari Seoul beberapa jam yang lalu, Eun Kyo sempat searching di internet, mengecek keadaan kota tujuannya. Saat ini sedang musim panas di Melbourne. Mini dress beberapa centi di atas lutut tanpa lengan yang longgar dipilihnya untuk untuk penampilannya kali ini. Berbeda dengan Jung Soo yang terlihat sangat rapi dengan balutan coat hitam, dipadu dengan celana bahan bercorak sama dengan coat yang dikenakannya.

Jung Soo menarik kopernya berjalan menyusuri area bandara diiringi oleh Eun Kyo. Ia mendapati seorang lelaki tinggi berkulit putih dengan pakaian rapi sedang menunggunya di samping Mercedes Benz dengan senyum simpul yang mengembang. Jung Soo mengenalnya, tentu saja. Ia melepaskan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.

“Samuel Alexander Kim,” kata Jung Soo balas tersenyum.

“Yah,” lelaki itu menyahut dan mengulurkan tangan, “Enjoy your flight, Mr. Park?” mereka berjabat tangan.

“Selamat datang Mrs. Park,” Samuel juga menjabat tangan Eun Kyo. “Aku harap perjalanan kalan tadi menyenangkan, di sini sedang musim panas, jadi sedikit… yeah, you know,” ujarnya membukan pintu untuk Eun Kyo. Lelaki berdarah campuran Korean-England itu terdengar fasih berbahasa Korea meskipun terdengar sedikit aneh dengan aksen Australianya.

Gwaenchana,” jawab Eun Kyo.

“Aku akan mengantar kalian ke hotel, kalian pasti lelah,” ujar Sam -sapaan akrabnya, sambil mengemudikan mobil keluar dari bandara.

Beruntung Jung Soo tidak menunggu lama, karena sekarang Eun Kyo terlihat benar-benar lelah, karena begitu masuk ke dalam mobil, ia langsung menyandarkan punggugnya. Ia merasa lega, beberapa jam perjalanan di atas langit membuatnya sedikit pusing, dan saat melihat daratan, ia bisa menarik napas nyaman.

“Bagaimana perjalanan kalian? Bagaimana kabar Korea? Sudah lama aku tak kembali kesana,” ujar Sam membuka pembicaraan setelah mobil yang membawa mereka mulai melaju meninggalkan bandara.

“Kau perlu kesana untuk memastikan perubahannya,” jawab Jung Soo sambil tertawa kecil.

“Kau bisa saja,” balas Sam lagi.

Pembicaraan hangat terjadi. Kadang-kadang Jung Soo dan Sam tertawa sambil bernostalgia, Eun Kyo menyimaknya tanpa mau ikut terlibat dalam pembicaraan tersebut, sesekali ia menjawab pertanyaan yang dilontarkan Sam.

 Rupanya Sam dan Jung Soo adalah teman lama saat mereka duduk di bangku kuliah. Mereka berdua sering membicarakan beberapa teman mereka yang sudah tak lagi terdengar berita keberadaannya. Jung Soo dan Sam terlihat begitu akrab untuk ukuran dua orang pemilik perusahaan yang akan menjalin kerjasama. Kejadian konyol dan beberapa hal yang terjadi di masa lalu menunjukkan keduanya bersahabat sangat dekat. Dan satu hal yang bisa Eun Kyo pastikan, Jung Soo tidak pernah hangat seperti ini dalam beberapa waktu terakhir.

Tiba-tiba saja perasaan kecewa merambati dadanya, menjalar hingga membuat rasa sakit semakin nyata dalam hatinya. Ia menggeser tubuhnya, dan membuat Jung Soo menoleh padanya.

Wae, Yeobo? Sebentar lagi kita sampai,” Jung Soo menyentuh dahi Eun Kyo dan mengelus rambutnya.

Eun Kyo hanya membalasnya dengan tersenyum. Semoga yang kau lakukan tadi bukan hanya sekedar pura-pura, Park Jung Soo, ujar Eun Kyo dalam hati.

Jung Soo memang tidak seperti ini sebelumnya, mereka selalu terlihat mesra, hingga semua itu perlahan sirna. Eun Kyo masih ingat bagaimana Jung Soo memanjakanya dengan penuh cinta dulunya. Sebelum akhirnya ia dikalahkan oleh tumpukan file dan beberapa meeting penting.

“Kita sampai,” ujar Jung Soo sambil menyentuh pundak Eun Kyo dengan lembut.

Mata Eun Kyo membuka seketika, tadinya hampir terpejam. Ia mengerjap, bingung. Suara dan sentuhan Jung Soo membuatnya sedikit terkejut. Ia merapikan baju dan rambutnya sebelum turun dari mobil. Mereka berhenti tepat di depan hotel yang berdiri kokoh dan terlihat sangat mewah.

Eun Kyo menarik napas, sebelum akhirnya langkahnya berjalan mengikuti Jung Soo hingga ke depan resepsionis hotel, lalu berpisah dengan Sam setelah mendapatkan kunci kamar.

Eun Kyo tidak bersuara, ia diam cukup lama, yang dilakukannya hanyalah mengikuti kemanapun langkah Jung Soo pergi. Hingga menaki lift, Eun Kyo masih masih, mungkin lama sekali jika dihitung perjalanan dari bandara tadi. Jung Soo sempat melirik, tapi tak bisa berkata apapun karena raut wajah Eun Kyo menunjukkan tak ingin berbicara saat ini.

Langkah kakinya gontai saat berjalan melewati koridor sejuk dengan interior berwarna silver menuju kamarnya. Begitu sampai di dalam kamar, Eun Kyo langsung menuju kamar mandi. Lagi-lagi tanpa bicara.

***

Pagi harinya Eun Kyo bangun dengan mendapati Jung Soo sudah rapi berdiri di depan sebuah kaca. Setelan jas membalut tubuhnya, sudah mandi dan bau parfum maskulin menyeruak. Eun Kyo menarik napas, ia masih enggan untuk beranjak. Perjalanan semalam benar-benar melelahkan bagi Eun Kyo, terlebih lagi untuk hatinya. Ia masih betah memandangi apapun yang dilakukan Jung Soo, hingga akhirnya mata mereka berpandangan melalui cermin.

Jung Soo berbalik, “Good Morning,” sapanya dengan aksen Korea kental. Ia berjalan menghampiri Eun Kyo dan merundukkan tubuhnya, mengecup dahi Eun Kyo. “Aku ada meeting, sebentaaaar saja, eum? Setelah itu kita jalan-jalan,” ujarnya lagi seraya mengacak rambut Eun Kyo mesra.

Eun Kyo tidak menjawab, ia menarik selimut dan turun dari tempat tidur, melangkah perlahan menuju kamar mandi. Menyadari raut Eun Kyo yang sedikit tegang, Jung Soo menarik tangannya, “Yeobo, kau marah?” tanya Jung Soo.

“Aku mau mandi,” jawab Eun Kyo malas.

Untuk kesekian kalinya ia merasa bodoh. Sampai sebelum bertemu dengan Samuel, ia masih berkeyakinan bahwa Jung Soo mengajaknya liburan adalah demi dirinya, tapi saat melihat Jung Soo yang sudah rapi pagi ini, keyakinannya berubah dan berada pada titik paling rendah, semua ini bukan untuknya, tapi untuk perusahaannya. Dan, dia kembali menempati posisi kedua.

Ting tong!

Suara bel berbunyi. Jung Soo dan Eun Kyo menoleh bersamaan. Keduanya masih mematung, hingga akhirnya Eun Kyo berinisiatif untuk membuka pintu. Saat melihat seseorang yang berdiri di hadapannya, Eun Kyo memejamkan matanya sejenak.

Oppa, kenapa harus aku? Eoh? Kenapa bukan Sekretaris Kim saja? Argh! Ini menyebalkan,” Yeong Seo datang dan tiba-tiba mengomel. Berpenampilan tak kalah rapi dari Jung Soo, menyeruak masuk menyenggol pundak Eun Kyo.

“Karena kau lebih berpengalaman saat berhadapan dengan pihak asing,” jawab Jung Soo tegas.

“Tapi kau berjanji saat kau pergi, aku bisa istirahat sebentar,” ujarnya lirih.

“Aku tidak pernah bilang begitu.”

“Tapi tetap saja jika tidak ada kau, aku bisa bernapas lega,” Yeong Seo menjatuhkan tubuhnya di atas sofa empuk.

“Anggap saja ini hukuman karena kau kalah tender dari Donghae kemarin, kau ingat? Itu sangat memalukan,” ujar Jung Soo.

“Itu bukan hanya kesalahanku saja! Lagipula, aku sudah berusaha, bahkan dengan penawaran diluar perjanjian,” Yeong Seo masih membela diri.

Memang bukan kesalahan Yeong Seo, hanya alasan Jung Soo saja agar Yeong Seo bisa lebih bertanggung jawab. Penawaran lebih rendah dibandingkan penawaran perusahaan Donghae, mau tidak mau project itu dimenangkan oleh Donghae, dan Jung Soo harus menerimanya.

“Kau mau ke mana?” tanya Yeong Seo saat Eun Kyo hendak keluar.

Mata Jung Soo beralih pada Eun Kyo yang sejak tadi tak beranjak dari pintu. Ia lelah, ia jengah. Mendengar semua pembicaraan tadi, ia merasa dilempar ke dunia lain.  Eun Kyo tak mampu berbuat apapun, ia hanya ingin pergi jauh-jauh dan tak ingin mendengar pembicaraan bisnis mereka lebih lanjut.

“Mau keluar,” jawab Eun Kyo ketus.

“Dengan pakaian seperti itu?” tanya Yeong Seo lagi.

Eun Kyo urung melangkah, matanya memandangi dirinya sendiri, masih mengenakan piyama. Namun ia tidak peduli, bahkan jika hanya mengenakan pakaian dalam sekalipun, dia akan tetap keluar dari kamar itu, secepatnya, tak ingin menunggu lagi. Dan ia menarik napas sebelum akhirnya melangkah, dengan langkah cepat dan lebar.

“Dia marah,” desis Yeong Seo pada Jung Soo.

Awalnya Jung Soo hanya terpana memandangi kepergian Eun Kyo, tapi setelah mendengar ucapan Yeong Seo yang mengatakan bahwa Eun Kyo sedang marah, ia baru menyadari hal itu, dan buru-buru berlari mengejar Eun Kyo.

Yeobo,” teriaknya saat Eun Kyo menutup pintu lift.

Seperti gerakan slow motion, Jung Soo masih bisa mengamati gurat kecewa di wajah Eun Kyo. Tatapan lelah itu begitu nyata hingga dadanya langsung berdegup kencang, mulai dilanda rasa takut. Jung Soo berlari ke tangga darurat setelah melihat lantai tujuan Eun Kyo. Tak peduli kakinya nyeri, ia terus berusaha menuruni anak tangga, secepat mungkin.

Sampai di lantai dasar, ia tidak menemukan Eun Kyo. Bertanya kesana-kemari, tapi tetap tak ada yang melihat. Tidak mungkin tak ada yang melihat jika Eun Kyo keluar dengan masih mengenakan piyama tidurnya, itu pasti terlihat aneh, dan sangat mencolok, tapi nyatanya, tak seorangpun yang melihatnya. Apa Eun Kyo bersembunyi?

“Dapat?” tanya Yeong Seo.

Jung Soo menoleh pada Yeong Seo yang sudah ada di hadapannya. Ia hanya bisa menggeleng pasrah menjawab pertanyaan Yeong Seo. Tenggorokannya tercekat, rasa bersalah menghampirinya. Semarah apapun Eun Kyo, ia tidak pernah lari dari situasi. Meskipun tak pernah merespon Jung Soo saat sedang marah, tapi tak pernah meninggalkannya seperti ini.  Rasa takut itu mulai menjalar, hingga membuatnya sedikit gemetar.

“Bagaimana? Aku saja yang meeting hari ini?” tanya Yeong Seo memberkan saran.

Jung Soo berpikir sejenak. Dadanya mulai sesak, “Aku ikut, dia pasti tidak akan jauh,” jawab Jung Soo yakin sambil memandang keluar. “Kita hanya beberapa jam saja, mungkin dia ingin sendiri beberapa jam.”

So? Pergi sekarang?” tanya  Yeong Seo lagi.

“Eum, kajja.”

Jung Soo tidak menyadari, Eun Kyo berdiri di balik sebuah pohon di dalam pot setinggi tubuhnya. Eun Kyo mengamati Jung Soo sejak tadi, mendengar semua percakapan mereka berdua. Ia bisa melihat Yeong Seo menyerahkan kunci kamar mereka pada resepsionis, dan bergitu Jung Soodan Yeong Seo berlalu, Eun Kyo berjalan menuju resepsionis.

Tidak mungkin jauh? Memang, tapi satu hal yang tak disadari Jung Soo, hati Eun Kyo mulai berani melirik dunia luar.

***

Sepeninggalnya Jung Soo dan Yeong Seo tadi, Eun Kyo kembali ke kamarnya dengan kunci yang dititipkan oleh Yeong Seo pada resepsionis. Ia duduk di tepi tempat tidur setelah merapikannya. Eun Kyo masih bingung, ia hanya terdiam. Ada perasaan lucu yang mulai membuatnya tersenyum sendiri.

Setelah dipikir-pikir, ini adalah yang terbodoh yang pernah dia lakukan. Bagaimana mungkin ia sembunyi dari suaminya seperti tadi. Meninggalkannya di dalam kamar dengan seorang sekretaris cantik dan keluar dengan mengenakan piyama, itu hal terkonyol dalam hidupnya.

Eun Kyo merebahkan tubuhnya, setelah mandi dan mengeringkan rambutnya. Beberapa saat kemudian, ia mengacak rambutnya yang sudah rapi, menatap lurus selama beberapa detik lalu akhirnya menarik napas berat. Sekarang ia bingung, apa yang harus dilakukannya sendirian di tempat asing ini? Ia bahkan tidak bertanya kapan Jung Soo kembali. Satu jam? Dua jam? Tiga jam? Sebentar menurut versi Jung Soo tidak bisa diprediksikan.

Tetapi ketika ia teringat sekretaris yang pergi bersama Jung Soo tadi adalah Yeong Seo, hatinya menggeram. Kekonyolan yang ia tunjukkan tadi, tak seharusnya ia lakukan di hadapan Yeong Seo. Itu kesalahan besar, Yeong Seo pasti merasa lebih unggul, dan Eun Kyo tidak suka itu. Rasa kesal itu membumbung saat ia ingat Yeong Seo dengan elegan melangkah pergi meninggalkannya bersama Jung Soo.

“ARGH!” Eun Kyo kembali mengacak rambutnya sendiri dan menendang angin dengan frustasi.

Menatap lagit-langit dan berbaring beberapa saat di tempat tidur tak juga mampu membuat Eun Kyo memutuskan apa yang akan ia lakukan. Menunggu lagi? Sudah berapa lama ia menunggu dalam hidupnya untuk Jung Soo? Ia kembali menarik napas, seolah-olah itu adalah hal paling berat ia lakukan hingga desahannya terdengar nyaring.

Serpihan-serpihan kenangan mulai mengapung di benak Eun Kyo. Rentetan kejadian yang menyenangkan, emosi yang tak tersampaikan, serta harapan-harapan yang pernah terucap perlahan mengendap. Eun Kyo emosi, ia merasa tertekan, bahkan saat liburanpun Jung Soo lebih memikirkan pekerjaannya. Lalu apa gunanya ia di sini? Mungkin jika dia tidak di sinipun, tak mengapa.

“Ugh!” Eun Kyo bangkit dan mulai meyakinkan diri setelah mulai jemu memandangi ruangan kosong yang membosankan. Ruangan asing, ia tak pernah menyukainya. Jika saja bisa memilih, ia akan lebih memilih berada sendirian di rumahnya ketimbang disini.

Ia menepuk bajunya, menarik tas lalu pergi keluar kamar. Rasa sebal masih  menjalari hatinya saat mengingat rasa kecewanya karena Jung Soo lebih mementingkan meetingnya daripada memperbaiki hubungan seperti yang dikatakan Jung Soo diawal keberangkatannya kesini. Ia terus berjalan keluar tanpa tujuan.

Matahari mulai terik. Angin sesekali menerpa wajah Eun Kyo dan meniup anak rambutnya. Setelah menoleh ke kiri dan ke kanan memandangi orang yang berlalu-lalang, akhirnya ia memutuskan menaiki trem, sebuh angkutan gratis untuk para wisatawan. Ia tidak benar-benar menyimak apa yang dikatakan oleh seorang tour guide saat menjelaskan tempat-tempat wisata yang dimiliki Melbourne. Tapi satu hal yang ia sadari, Melbourne adalah kota yang eksotik.

Tiap sudutnya begitu menarik untuk dinikmati. Eun Kyo akhirnya berhenti di salah satu pemberhentian dan berjalan kaki menuju sebuah jalan kecil  yang membuatnya penasaran. Ia terus menapakkan kakinya di sebuah lorong sempit yang tersembunyi dari jalan utama. Sambil berjalan, ia terus mengamati sekelilingnya. Menakjubkan. Hanya satu kata itu yang kini ada dalam benaknya, menyingkirkan emosi dan rasa kecewanya.

Lorong bernuansa gotik yang sangat kental bercampur dengan bangunan-bangunan tua di sepanjang jalan yang ia tapaki, membuat Eun Kyo berdecak kagum. Ia terus berjalan menyusuri deretan toko, kafe dan beberapa butik yang sangat menarik. Eun Kyo mulai penasaran, hal ini sangat mengejutkan dan memberi sensasi yang luar biasa. Ledakan rasa bahagia yang membuncah membuatnya bersemangat. Rasa frustasinya benar-benar sirna. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat menangkap pantulan dirinya sendiri di kaca. Seorang wanita dengan pakaian seadanya –kaos besar dan celana jins serta sendal jepit-.

Ia mendorong pintu masuk dan sebuah lonceng berbunyi.

Tak ada pengunjung, sepertinya butik ini baru saja buka beberapa menit yang lalu, penjaganya pun tak sempat menyambutnya.

“Selamat datang,” ujarnya sambil berlari menghampiri Eun Kyo. Wanita tinggi berkulit putih dengan hidung mancung berdiri di hadapannya. Rambut pirangnya ia kuncir kuda, dan mengenakan pakaian yang mirip dengan salah satu pakaian yang terpajang di sana.

Cantik, itu komentarnya dalam hati saat melihat wanita yang ada di hadapannya. Eun Kyo mengangguk dan tersenyum sambil mengamati beberapa pakaian.

Wanita itu meraih sebuah gaun katun bercorak bunga-bunga yang tergantung di dekatnya. Menatapnya beberapa detik lalu mengarahkannya pada Eun Kyo, menyuruhnya untuk mencoba.

“Bagus,” ujar Eun Kyo.

“Iya sangat bagus, koleksi musim panas terbaru kami,” jawab wanita itu. Aksen Australia yang kental dipadu dengan suara lembut terdengar sangat nyaman di telinga Eun Kyo. Hampir saja ia terbius dan meraih gaun itu.

“Tapi ini… sepertinya…” Eun Kyo ragu-ragu untuk berkomentar, “Terlihat terlalu ramai untukku,” lanjutnya dengan pelan seperti menggumam. Corak bunga-bunga baginya sangat menarik, tapi hatinya sedang dalam keadaan buram, hingga pakaian warna-warni itu terasa tidak tepat untuknya.

“Anda tidak akan tau sebelum mencobanya,” wanita itu mendorong Eun Kyo hingga ke kamar pas dan bersedekap menunggu Eun Kyo meyakinkan diri.

Ruangan ganti yang sempit dan tanpa cermin membuatnya sedikit kesusahan untuk mengganti baju. Hari ini rasanya sangat kacau, dan kenapa ia harus menerima paksaan seorang wanita untuk mencoba pakaian yang sesungguhnya menurutnya sangat tidak cocok untuknya? Setelah selesai mengganti bajunya, ia keluar dengan perasaan tidak yakin, namun wanita itu menariknya ke depan sebuha cermin besar setinggi tubuhnya.

“Sangat sempurna,” ujar wanita itu lengkap dengan tatapan kagum.

Tak jauh berbeda dengan wanita itu, Eun Kyo tak kalah terkejut. Ia mematut dirinya di depan kaca, hampir tidak percaya dengan penampilannya sendiri. Sehelai gaun paling sederhana sekaligus paling seksi yang pernah dikenakannya. Gaun itu sangat sempurna membalut dengan pas di tubuhnya. Kerah lebar hingga menampilkan bagian seksi dada dan punggung yang terekspos hingga setengahnya, Eun Kyo benar-benar terlihat sempurna dengan sepasang tungkai jenjang. Ia meraih rambut dan menaikkannya serta memandangi punggungnya.

“Itu sangat seksi.”

Sebuah suara terdengar, suara seorang laki-laki. Eun Kyo menoleh, takut kalau-kalau komentar itu bukan untuknya dan ia terlalu percaya diri. Saat matanya bertemu dengan sosok lelaki yang berdiri dengan tegap di belakangnya, Eun Kyo terhenyak. Lelaki itu mengamatinya dengan seksama. Pandangan sedikit terkejut bercampur takjub.

“Sejak kapan kau disini?” tanya Eun Kyo acuh, kembali mengamati tubuh indahnya.

“Sejak kau keluar dari hotel tadi,” jawab Hyuk Jae santai. Ya, lelaki tu adalah Lee Hyuk Jae.

“Kau membuntutiku?” ujar Eun Kyo dengan suara tinggi.

“Percaya diri sekali,” ejek Hyuk Jae.

Ish,” Eun Kyo mendesis. Ia tidak peduli, mematut dirinya sendiri di depan cermin, ia masih betah.

Tiba-tiba saja ia merasa antusias. Saat menatap dirinya di cermin, Eun Kyo merindukan warna-warni dan keceriaan. Juga rasa percaya diri dan kecantikan yang dulu ia miliki. Dulu? Bukan berarti sekarang tidak. Saat ini bahkan lebih, pesona itu sangat sempurna.

“Mau jalan-jalan bersamaku?” ajak Hyuk Jae.

Hyuk Jae mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan credit card pada wanita itu. Eun Kyo yang melihatnya buru-buru berjalan ke ruangan ganti dan berniat melepaskan gaunnya.

Andwae, tidak perlu, aku sudah membelinya,” cegah Hyuk Jae.

Wajah Eun Kyo terlihat bingung, namun tak berkutik saat Hyuk Jae menariknya keluar dari butik itu setelah berpamitan.

“Bagaimana kalau segelas anggur? Atau kopi? Hotdog? Hamburger spesial?”

Beberapa makanan yang disebutkan Hyuk Jae tadi membuat perut Eun Kyo keroncongan, ia memegangi perutnya. Sejak tadi pagi, perutnya belum terisi.

Kajja,” Hyuk Jae menarik tangan Eun Kyo dan meraih tasnya.

Kembali, rasa hangat menjalari relung jiwa Eun Kyo, seperti dulu.

***

Jung Soo terpaku saat tiba di kamar hotelnya yang kosong melompong. Sepi tak ada suara, ia berjalan menyusuri sudut-sudut ruangan hingga ke kamar mandi, mungkin saja Eun Kyo ada di dalamnya. Tapi tak ada, Eun Kyo tak berada di sana. Lalu Jung Soo berhenti di depan cermin, ia melihat jepit rambut Eun Kyo tergeletak begitu saja diatas meja rias. Sepertinya Eun Kyo terburu-buru melepasnya tadi.

“Kau kesini,” desahnya pelan. Ia mendekat ke arah tempat tidur lalu menjatuhkan dirinya disana. Tentu saja Eun Kyo kembali kesini, bekas dia berbaring pun masih tertinggal di tempat tidur berukuran besar tersebut, tidak mungkin dia mengenakan piyama kemana-mana.

Ada kegetiran yang ia rasakan di dalam dada, tiba-tiba saja rasa itu menusuk perih. Baru lima menit ia menunggu disini, sekaligus menyadari kepergian Eun Kyo, rasanya sudah sesakit ini. Bagaimana jika Eun Kyo pergi selamanya? Sedetik kemudian ia merasa ngeri. Ngeri membayangkan hal itu, dan ngeri menyadari betapa jahatnya ia selama ini.

Eun Kyo kesepian, ia bisa merasakan itu di ruangan dingin nan sepi ini. Tatapan mata redup Eun Kyo tadi kembali terbayang di benaknya. Tatapan itu menusuknya seolah ingin membunuhnya dengan rasa bersalah. Namun ketika berhadapan dengan jadwal padatnya, semua seakan terlupakan. Rasa bersalah itu terseret semangatnya dan tenggelam.

Ddrrrrtt!

Ponselnya bergetar. Ia langsung mengambil dan menerima telepon tersebut.

Yeoboseyo? Yeobo, kau di mana?”

“Ini aku, Yeong Seo, adikmu,” jawab suara dalam telepon dengan nada kesal.

Jung Soo menjauhkan benda itu dari telinga dan melihat sebuah nama tertera di layar. Memang Yeong Seo. Dan harapannya sirna, ia berharap Eun Kyo yang menghubunginya.

Kenapa harus Eun Kyo?

Bukankah selama ini selalu Eun Kyo yang menghubunginya?

Kenapa bukan dirinya?

Eum, wae gurae? Mau pulang?” tanya Jung Soo dengan nada datar.

“Eun Kyo belum kembali?” Yeong Seo balik bertanya dengan topik yang berbeda. “Sebentar, aku akan ke kamarmu.”

Selang beberapa menit, Yeong Seo sudah ada di kamar Jung Soo dan menggelengkan kepala memperhatikan saudara sepupunya dengan raut sendu. Baju yang tadinya rapi kini sudah tak beraturan. Kancing kemejanya sudah terbuka beberapa buah, dan dasi itu, menggantung, antara ingin dilepas dan dibiarkan.

“Dia belum kembali?”

Jung Soo menggeleng, “Sepertinya dia kembali, tapi pergi lagi,” jawabnya lirih. Jung Soo terhenyak seperti dihimpit beban berat.

“Kau sudah menghubunginya?”

Lagi-lagi Jung Soo menjawab dengan gelengan. Hampir saja Yeong Seo melemparnya dengan bantal dan mencekik leher saudara sepupunya itu karena jengkel. Bagaimana mungkin Jung Soo berdiam diri disini meratapi kepergian Eun Kyo tanpa berbuat apa-apa?

“Sini, mana ponselmu?”

Saat melihat ponsel Jung Soo diatas tempat tidur ia lengsung meraihnya. Dan mencari nomor Eun Kyo di dalam phonebook. Ia mengarahkan ponsel itu ke telinga dan menunggu Eun Kyo menjawabnya.

“Tidak diangkat,” ujar yeong Seo lagi, menyerah menunggu jawaban. “Mungkin dia ingin sendiri, kau tenang saja,” ia menepuk pundak Jung Soo.

Oppa, boleh aku katakan sesuatu?” tanya Yeong Seo. Mengambil duduk di samping Jung Soo dan kembali menepuk pundaknya.

Oppa, aku tau di dunia ini, tak akan pernah ada wanita yang sebanding dengan Eun kyo-mu, tapi pernahkah terpikir olehmu, bagi Eun Kyo, adakah lelaki yang lebih menyakitinya seperti yang kau lakukan?” Yeong Seo menoleh pada Jung Soo, bertepatan saat Jung Soo mengangkat wajahnya. Mereka perpandangan.

“Kau habiskan sebagian harimu untuk bekerja, lalu kau pulang, dan di rumah, bukankah itu waktumu untuk beristirahat? Lalu, kapan waktumu untuknya?”

Pertanyaan datar yang keluar dari mulut Yeong Soo menohok Jung Soo, memojokkannya ke sudut paling gelap dan membuatnya gemetar. Bibirnya kelu, tak bisa berucap.

“Kau seperti tak punya hati jika berhadapan dengan pekerjaanmu.”

“Beberapa kali aku melihatnya mengunjungimu di kantor, tapi tak jarang kau menyuruhnya untuk pulang. Dan kau tau?” Yeong Seo menarik napas, “Aku melihat luka dimatanya.”

Tanpa bisa dicegah, butiran hangat menyeruak keluar dari kelopak mata Jung Soo. Ia menangis menyadari betapa egoisnya dirinya. Kembali rentetan-rentetan kegiatannya saat mengabaikan Eun Kyo terbayang di benaknya. Jung Soo menatap kosong ke depan beberapa saat, kemudian ia membenamkan wajahnya di tangan dan terisak. Jung Soo merasa, semua tenaganya berada di titik paling rendah, energinya terkuras habis.

“Baiklah, jika kau sudah mengerti, sebaiknya kau mencarinya sebelum terlambat. Aku pergi dulu, aku harus memanjakan diriku sendiri, mungkin mencoba melepaskan lelahku dengan.. spa?” Yeong Seo mengedipkan matanya, “Dan.. aku ada janji malam ini,” lanjutnya.

“Ck, kenapa sepertinya aku berpihak pada Eun Kyo? Eish! Harusnya tadi aku diam saja,” guman Yeong Seo kesal sebelum keluar dari kamar Jung Soo.

***

Hyuk Jae dan Eun Kyo duduk di sebuah kafe yang terletak di pinggir jalan, sambil menenggak secangkir cappucino dingin dan hamburger spesial yang hanya tinggal remahnya saja. Mereka memperhatikan beberapa orang yang berlalu-lalang di tengah teriknya matahari musim panas.

Hyuk Jae sebenarnya ada janji malam ini, dan seharusnya dia mempersiapkan janji makan malamnya bersama Yeong Seo saat ini. Tetapi, saat ia melihat Eun Kyo keluar dari hotel dan berwajah masam, ia pikir ia harus menemani Eun Kyo sejenak. Tanpa terasa, sudah berjam-jam mereka di sini. Dan Eun Kyo, sama sekali tak berbicara.

Hyuk Jae terus saja tersenyum memandangi Eun Kyo, ia tau, wanita yang telah menghabiskan 2 buah hotdog besar dan 1 buah hamburger yang tengah duduk berhadapan dengannya tersebut sedang gundah. Sudah sejak tadi ia menunggu Eun Kyo berbicara, namun tak kunjung bersuara. Bagi orang lain, mungkin Eun Kyo terlalu pintar menyembunyikan masalah yang dihadapinya, dengan aksi diam dan senyumnya, tak akan ada yang menyangka wanta itu sedang dihimpit masalah. Tapi tidak bagi Hyuk Jae, sepintar apapun Eun Kyo menyangkalnya, Hyuk Jae masih bisa merasakan, bahkan setelah berpisah lama, ia masih bisa membaca, ada yang tidak beres dengan diri Eun Kyo.

“Mau tambah lagi?” tawar Hyuk Jae.

Kembali membisu, Eun Kyo hanya menggeleng sebagai jawaban dari tawaran Hyuk Jae. Mulut Hyuk Jae sudah sangat ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada wanita berwajah muram di hadapannya ini, tapi ia harus menahan rasa penasarannya. Semakin didesak, Eun Kyo pasti semakin bungkam.

“Sudah empat tahun.”

Satu kalimat yang sangat ditunggu-tunggu akhirnya keluar juga dari mulut Eun Kyo. Wajahnya menunduk, tangannya sibuk meremas ujung baju yag labelnya baru saja dilepaskan Hyuk Jae di balik punggungnya.

“Tapi semuanya seperti ini.”

Tarikan napas berat seolah mengisyaratkan apa yang dilalui Eun Kyo selama ini begitu menyiksa. Menyakiti dirinya.

“Setiap hari pulang larut. Setiap hari aku menunggunya. Tapi setiap hari juga aku kecewa. Dia seperti hidup di dunianya sendiri. Aku seperti bayangan kasat mata yang tak pernah diliriknya.”

Cerita itu mengalir dengan deras seperti aliran hujan dari langit, dan hal itu membuat Hyuk Jae menjadi lega. Cerita yang seperti ini, Hyuk Jae yakin hanya orang tertentu saja bisa mendengarkannya.

“Apa memang semua lelaki seperti itu? Hyuk~ah?”

Eun Kyo mengangkat wajahnya, dan Hyuk Jae tersentak, ia melihat bulir airmata mengalir di pipi Eun Kyo. Selama ini, seberat apapun masalah yang dihadapi Eun Kyo dulunya, tak pernah ia terlihat selelah ini, seperti tak punya haapan. Hyuk Jae tak  mampu berkata apa-apa, yang ia lakukan sekarang hanya mengambl tissue dan menyeka airmata Eun Kyo.

“Dia seperti tak punya hati, tapi terkadang penuh kasih. Dia bilang membawaku kesini berlibur untuk mengembalikan keadaan menjadi hangat seperti dulu, tapi nyatanya?”

Itu bukan pertanyaan untuk Hyuk Jae, Eun Kyo hanya ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dilakukan Jung Soo tak sesuai dengan harapan mereka.

“Dia melakukan perjalanan bisnis. Dan membawaku kesini hanya sebuah penebusan dosa, agar tak merasa bersalah. Nyatanya, aku tetap sendirian. Sama seperti di rumah.”

Eun Kyo mengambil tissue dan menyaka air matanya sendiri. Beberapa detik kemudian ia tertawa, “Ha ha ha ha,” Eun Kyo terkekeh, “Kenapa aku harus menangis? Eun Kyo phabo~ya,” dia memukul kepalanya sendiri dengan pelan.

Keundae, Hyuk~ah… Kapan kau menikah? Umurmu sudah semakin tua,” ejek Eun Kyo.

Awan hitam perlahan bergeser dari wajah Eun Kyo, perlahan berubah cerah. Hyuk Jae semakin lega, Eun Kyo tidak berubah, masih sama seperti dulu. Setelah bercerita dia pasti akan mengarahkan pikiran positif mengontrol dirinya, hingga senyuman itu mengembang kembali di wajahnya.

“Kau sangat cantik dengan baju itu,” balas Hyuk Jae membalas ejekan Eun Kyo, “Jika saja kau belum menikah, mungkin aku akan melamarmu,” lanjutnya lagi sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, membuat suasana menjadi lebih santai.

“Tentu saja, jika aku melepaskan Jung Soo sekarang, pasti akan banyak yang mengantri untuk menikahiku,” kepercayaan diri Eun Kyo mulai bangkit, perlahan rasa terpuruk itu mulai menipis.

“Aku mungkin di urutan kedua, setelah Jung Soo,” Hyuk Jae menyesap cappucino hangatnya yang kini sedikit lebih hambar, karena terlalu lama dibiarkan dan telah melebur dengan bongkahan es.

“Kau ini,” Eun Kyo mendelik, “Sejak tadi aku terus menceritakan tentangku, bagaimana denganmu?” tanya Eun Kyo penasaran. Apa yang membuat Hyuk Jae kesini? Tidak mungkin karena membuntutinya, ia tau pasti.

“Apa kau kesini untuk mencari gadis-gadis muda yang tersisa?” tanya Eun Kyo penuh selidik.

Tawa Hyuk Jae meledak, “Yaa.. ha ha ha ha ha, tersisa?” Hyuk Jae masih tertawa, ia memegangi perut, tak bisa menahan tawanya hingga membuat perutnya sakit. “Kau belum aku kencani.”

“Berhenti bercanda, aku serius…” rengek Eun Kyo.

Hyuk Jae masih tertawa, dan itu membuat Eun Kyo kesal. Sejak tadi ia terus bercerita tentang masalahnya hingga lupa menanyakan kapan Hyuk Jae datang kemari, kenapa ia kemari.

Palli~ katakan padaku,” ujar Eun Kyo lagi dengan suara manja setengah memaksa.

“Biarkan aku minum dulu, ah, pesan makanan.”

Andwae, kita sudah terlalu lama di sini, kau makan siang di tempat lain saja. Palli! Katakan padaku!” desak Eun Kyo tidak sabar.

“Mwo?!”

“Palli, palli, palliwa..”

Arasseo, arasseo. Jadi aku datang kemari memang sedang mengejar gadis.”

“Bukan aku, kan?” jawab Eun Kyo cepat.

“Bukan,” jawab Hyuk Jae dengan senyuman misterius, “Mau dengar ceritaku?” Eun Kyo mengangguk kuat dan menurut. “Aku memang mengejarnya, dia… gadis yang berbeda,” lanjut Hyuk Jae. “Eum… darimana aku harus bercerita?”

“Kalian sudah pacaran? Kau sudah menyatakan perasaanmu? Bagaimana tanggapannya? Apa dia menjawab ‘iya’? Lalu, apa kau berniat mengajaknya menikah?” Hyuk Jae diberondong pertanyaan oleh Eun Kyo yang berada di puncak rasa penasaran. Ia senang menilai gadis yang disukai Hyuk Jae. Dan biasanya, Hyuk Jae menurut apapun yang dikatakan Eun Kyo, jika Eun Kyo bilang mereka tidak cocok, berarti hubungan Hyuk Jae nantinya hanya akan bertahan satu bulan saja, tidak lebih. Hyuk Jae hanya sekedar bermain-main saja. Dan tidak ada gadis yang cocok untuk Hyuk Jae di mata Eun Kyo selama ini. Karena dia yakin, tak akan ada gadis yang tahan menghadapi penyakit ‘cepat akrab’ Hyuk Jae. Itulah sebabnya kenapa Hyuk Jae terlihat seperti lelaki yang senang mempermainkan wanita.

Bukan karena Hyuk Jae senang bermain hati, tetapi karena ia mudah akrab dengan orang lain, hingga terkadang menimbulkan kesalahpahaman. Kebanyakan gadis salah menafsirkan sifat Hyuk Jae dan mengira Hyuk Jae menyukai mereka. Padahal pada kenyataanya tidak, memang naluri semua lelaki senang bermain hati, tetapi Hyuk Jae tidak demikian, dia hanya terlihat seperti itu saja. Hanya terlihat, bukan berarti itu benar.

“Apa aku mengenalnya?”

Pertanyaan Eun Kyo barusan hampir membuat tawa Hyuk Jae meledak lagi, tapi ia tahan. Tidak mungkin Eun Kyo tidak mengenal Yeong Seo, adik iparnya sendiri. Dan saat ini, Eun Kyo satu hotel dengan gadis yang disukai Hyuk Jae.

“Dari senyumanmu, aku tau dia bukan gadis sembarangan.”

Memang bukan, batin Hyuk Jae menjawab. Senyumannya terus mengembang jika mengingat pertemuan pertama kalinya dengan Yeong Seo. Dia tidak menyangka Jung Soo mengirimkan adik sepupunya untuk bertemu dengannya, biasanya, para lelaki akan memprotect saudara perempuannya, terlebih lagi jika bertemu dengan lelaki muda, sekalipun itu adalah rekan bisnis.

Ia juga ingat awalnya menolak permintaan Donghae untuk menggantikan, namun belakangan, ia sangat mensyukuri hal tersebut. Hyuk Jae merasa hal itu adalah takdir. Kekana-kanakan memang, tapi saat jatuh cinta, hal itu terkadang sering terjadi, hal yang sangat kekanak-kanakan.

“Dia…”

“Ah, jangan dijawab dulu!” Eun Kyo langsung berdiri dan membungkam lulut Hyuk Jae dengan tangannya, mencegahnya menjawab, “Kita pindah ke tempat lain saja, jangan bercerita di sini, kita sudah terlalu lama di sini,” Eun Kyo menarik lengan Hyuk Jae dan mengajaknya untuk keluar.

Tanpa mereka sadari sepasang mata tak pernah berpindah dari mereka. Sepasang mata yang mengamati mereka dengan cermat. Sepasang mata yang setengah tidak percaya, melihat istrinya saat ini sedang bersama lelaki lain. Tertawa dan bercanda bersama.

***

Alunan musik jazz yang memanjakan telinga mengalun di sebuah restoran mewah di jantung kota Melbourne. Hyuk Jae duduk sendiri sambil menikmati secangkir anggur menunggu kedatangan Yeong Seo. Ya, mereka berjanji di sini untuk makan malam.

Para pengunjung mulai berdatangan memenuhi restoran ini. Suara saxofon yang sensual membuat HyukJae terhanyut hingga tanpa sadar tubuhnya ikut bergoyang mengikuti irama. Ketika ia memejamkan mata, ia bisa merasakan dentuman keras dadanya yang keluar dari nada saxofon yang dimainkan oleh seorang pria berkulit hitam dengan rambut gimbal. Tetapi detik berikutnya, ia mencium parfum yang beberapa hari ini membuatnya terbuai dan seperti mencandu terhadap keharuman ini.

Hyuk Jae membuka mata, dan seorang gadis dengan gaun seksi selutut berdiri di hadapannya, tepat berdiri di hadapannya.

Neo wasseo.”

Hanya itu yang keluar dari mulut Hyuk Je menyambut ke datangan Yeong Seo. Ia langsung berdiri dan menarik kursi untuk Yeong Seo, serta kembali ke tempat duduknya. Gejolak di dadanya semakin meraja saat ia memandangi wajah Yeong Seo yang terlhat datar. Ia kebingungan, kalimat yang biasanya mengalir begitu saja entah menghilang kemana.

“Sudah lama menungu?” tanya Yeong Seo sambil merapikan bajunya.

Gwaenchana,” jawab Hyuk Jae serak, ia berdehem kemudian.

Tak lama kemudian, seorang pelayan menghampiri mereka, menyerahkan buku menu dan menunggu mereka dengan sebuah pulpen di tangannya juga lembaran kertas kecil, untuk mencatat pesanan mereka.

Tak ada kalimat yang keluar, hening sejak Yeong Seo duduk tadi. Keduanya menjadi kaku, bergantian membuang wajah saat salah satunya kedapatan sedang mencuri pandang. Hingga makanan datangpun mereka masih tak bergeming dari situasi canggung.

“Jika perlu yang lain, Anda bisa memanggilku, Tuan,”seorang pelayan itu membungkuk pada Hyuk Jae.

“Bagaimana dengan meetingmu hari ini?” tanya Hyuk Jae membuka pembicaraan. Akhirnya.

Eum? Darimana kau tau aku ada meeting hari ini?”

“Aku tau apapun yang kau lakukan.”

“Apa kau membuntutiku?” tanya Yeong Seo penuh selidik.

Nde, aku memasang satelit untuk memata-mataimu,” balas Hyuk Jae bercanda.

“Oh, geurae,” jawab Yeong Seo tenang.

Ia mengambil segelas anggur yang dituangkan oleh pelayan beberapa saat lalu, disaat yang bersamaan, Hyuk Jae melakukan hal yang sama, ia mengarahkan gelasnya hingga bersentuhan dengan gelas milik Yeong Seo dan menimbulkan bunyi ‘cring’.

Combine,” ujar Hyuk Jae sambil tersenyum. Memamerkan deretan giginya yang sangat rapi dan hari ini, bagi Yeong Seo, Hyuk Jae terlihat berbeda dari biasanya. Senyuman khas itu mengembang menunjukkan pesonanya.

“Mengenai pertanyaanmu kemarin..”

Yeong Seo kali ini yang membuka pembicaraan -yang lebih menjurus, tetapi saat melihat mata Hyuk Jae yang sedikit membesar mendengar perkataanya, Yeong Seo langsung kebingungan, apa ia terlalu percaya diri membicarakan ini kembali?

“Donghae menang tender,” potong Hyuk Jae.

“Ah, nde, kami kalah,” Yeong Seo ikut memotong sebelum Hyuk Jae berbicara lebih banyak.

Pertemuan kali ini tidak pernah mereka prediksikan akan seperti ini jika mengingat betapa antusiasnya Hyuk jae mempersiapkan semua ini. Mulai dari pemesanan tempat strategis hingga meja paling nyaman serta pelayanan VIP telah ia lakukan. Yeong Seo pun demikian, begitu meeting berakhir, ia langsung memesan layanan spa untuk membuatnya lebih fresh dan nyaman saat ia bertemu dengan Hyuk Jae malam ini. Baju yang dia pilih beberapa kali hingga riasan wajah yang berganti-ganti. Bisa dibayangkan berapa lamanya waktu mereka mempersiapkan pertemuan canggung malam ini, tak seperti pertemuan sebelumnya.

***

Malam harinya di dalam kamar hotel, Jung Soo menunggu dengan gelisah. Hingga jarum jam menunjukkan angka 10, Eun Kyo belum juga kembali. Ia semakin cemas dan khawatir saat ponsel Eun Kyo tak lagi bisa dihubungi.  Jung Soo merutuki dirinya sendiri, kenapa tadi sore dia tidak langsung menghampiri Eun Kyo saja saat melihatnya sedang makan di sebuah kafe.

Rasa penyesalan membuncah dalam dirinya. Rasa bersalah mengikuti membuatnya bergetar hebat ketakutan. Ia baru menyadari tak pernah melihat Eun Kyo semanis dan selepas itu tertawa selang beberapa kurun waktu berlalu. Apakah Eun Kyo sudah benar-benar terbiasa tanpanya?

Maafkan aku.

Kalimat itu berulangkali terngiang dalam benaknya. Ia tak pernah menyadari saat dirinya terseret arus egoisme dan rasa angkuh ketika berhadapan pekerjaan. Jung Soo tersentak saat pintu kamarnya terbuka, dan ia langsung menoleh, berharap orang yang dlihatnya saat pintu tersebut terbuka adalah Eun Kyo.

“Yeobo.”

Eun Kyo berjalan perlahan, tak membalas sapaan Jung Soo. Setelah meletakkan beberapa kantong belanjaan, ia beralih menatap Jung Soo yang sejak tadi tak pernah sedetikpun bergeming dari wajah Eun Kyo.

“Kau sudah datang?” tanya Eun Kyo.

Sungguh terlalu terlambat mengatakan seperti itu. Jelas-jelas Eun Kyo sudah melihat Jung Soo duduk di tepi tempat tidur sejak ia membuka pintu. Tatapan itu, Eun Kyo baru sekali ini melihat tatapan itu. Hampir mirip dengan tatapan putus asa seseorang yang sedang menunggu.

“Sudah sejak tadi.”

Jung Soo bangkit dan mendekati Eun Kyo yang berdiri di depan cermin. Wanita itu melepaskan anting-anting besar berbentuk liingkaran dan meletakkannya di atas nakas. Jung  Soo masih memperhatikannya dengan lekat apa yang dilakukan Eun Kyo. Dalam hati ia merasa cemas, entah karena sebab apa.

Apa karena perubahan Eun Kyo yang begitu tiba-tiba?

Tubuh Eun Kyo dibalut dengan pakaian seksi dengan motif bunga. Ia terlihat sangat mempesona dengan memamerkan kaki jenjangnya serta punggung mulusnya. Kerah leher yang terbuka lebar juga memamerkan dada dan tulang selangka Eun Kyo yang menurutnya bagian paling seksi yang jarang ia perlihatkan kecuali untuk acara tertentu –bersamanya. Tapi hari ini ia bersama orang lain.

Apa karena Eun Kyo bersama orang lain menghabskan waktunya hari ini? Seorang laki-laki yang ia ketahui adalah salah satu relasinya?

Eun Kyo belum pernah mengatakan tentang Hyuk Jae pada Jung Soo. Tak sedikitpun, hingga kedekatan itu terasa sangat janggal di matanya. Seandainya saja Eun Kyo menceritakannya mungkin Jung Soo tidak akan merasa terancam. Yah, itu perasaan terancam. Seolah merasa laki-laki itu akan merebut senyuman indah yang seharusnya hanya untuknya.

Bercerita? Kapan Jung Soo ada waktu mendengar cerita Eun Kyo? Bukankah selama ini ia selalu menghabiskan waktunya di dalam ruangan penuh aura kaku?

Tiba-tiba saja Jung Soo merindukan telepon Eun Kyo, pesan singkatnya, ataupun pesan suara di voicemail-nya. Hari ini, ia tidak mendapat itu. Padahal sebelumnya, ia selalu mengabaikan hal itu.

“Darimana saja kau?” tanya Jung Soo, selembut mungkin.

Eun Kyo berbalik dan Jung Soo meraih pinggangnya lalu merapatkan tubuh mereka hingga tak berjarak. Ia memeluk Eun Kyo. Betapa hari ini dia menyadari, wanita yang ada di hadapannya begitu berharga untuknya.

“Jalan-… jalan? Belanja?” jawab Eun Kyo dengan sedikit ragu bercampur bingung. “Aku ber-“ belum selesai Eun Kyo mengatakan apa yang harus ia katakan, Jung Soo sudah meraih wajahnya dan mendaratkan sebuah ciuman.

Sejenak Eun Kyo terpaku. Membeku. Tak menyangka Jung Soo akan menciumnya. Selagi Eun Kyo masih belum bisa menyambung koneksi antara situasi dan akal sehatnya, Jung Soo sudah membawa bibirnya turun dengan kecupan-kecupan hangat di rahang Eun Kyo, terus turun hingga ke leher. Dan tanpa Eun Kyo sadari, ia mendesah, mengeluarkan suara geraman tertahan dan terhanyut.

***

Gamsahamnida,” Hyuk Jae mendahului Yeong Seo berterima kasih.

Terima kasih masih mau bertemu denganku.

Terima kasih mengijinkanku menemanimu makan malam.

Terima kasih sudah terlihat sangat cantik malam ini.

Dan banyak lagi terima kasih lain yang tak pernah terucap dari bibir Hyuk Jae. Mereka berjalan dari area parkir menuju lobi hotel. Keduanya masih bisu, sisa-sisa kecanggungan itu masih kuat, hanya ada suara sepatu mereka yang beradu dengan lantai. Tap tap tap!

Hyukjae menatap lurus ke depan, jantungnya masih berdebar. Sikap santai yang ia lakukan bersama Eun Kyo tadi siang raib begitu saja. Dalam sekejap, ia berubah menjadi seorang lelaki canggung. Hyuk Jae menarik napas dalam-dalam, melirik Yeong Seo yang tidak menoleh pada dirinya karena melakukan hal yang sama, menatap ke depan.

Mereka menaiki lift dan masih tak bisa melenyapkan situasi yang sedikit tegang. Yeong Seo menekan tombol lantai kamar yang ia tempati, dan kembali berdiam diri.

“Jadi-, jadi kami yang memenangkan tender,” Hyuk Jae berkata sambil berdehem.

“Apa kau menganggap perkataanku semalam serius, Hyuk Jae~ssi?” tanya Yeong Seo menoleh. Tawanya hampir saja meledak saat melihat wajah Hyuk Jae yang kelihatan bodoh.

A- ani-, Ah ha ha, aniya..” sangkal Hyuk Jae mengelak.

Entah apa yang ada di pikiran Hyuk Jae, sejak semalam ia terus saja dihantui perasan gelisah. Harusnya ia senang karena telah memenangkan tender, hal itu sangat berarti untuk kelangsungan perusahaannya. Tapi di sisi lain ia sedikit kecewa. Tadinya ia harap, saat Jung Soo memenangkan project itu, ia bisa menagih janji yang pernah diucapkan Yeong Seo, sekalipun itu hanya bercanda, akan ada celah untuknya mendekati gadis itu.

“Aku bukan wanita yang seperti itu,” jawab Yeong Seo sambil tertawa, “Aku akan memutuskan untuk menerima seorang lelaki dalam hidupku setelah aku benar-benar yakin dengan pilihanku,” lanjutnya.

“Ah, syukurlah,” gumam Hyuk Jae pelan, hampir tak terdengar, tapi telinga Yeong Seo mendengarnya.

Ada letupan-letupan kecil dalam dada Yeong Seo. Bergemuruh dan hampir saja membuatnya melambung tinggi, jika saja ia tidak menyadari mereka berdua sudah berada di depan pintu kamar Yeong Seo.

“Sudah sampai, kau bisa pulang. Maksudku, maksudku ini sudah malam, terima kasih sudah mengundangku makan malam,” Yeong Seo mengakhiri pertemuan mereka dengan senyuman manis.

Yeong Seo masuk  ke dalam kamarnya, ia segera menutup pintu sebelum pikiran gilanya mempersilakan lelaki itu masuk dan menghabiskan malam bersamanya. Ok, itu terlalu berlebihan. Yeong Seo memegangi dadanya yang bergemuruh. Darahnya berdesir, dan ada perasaan lain menjalar dalam dirinya.

Mungkinkah itu perasaan jatuh cinta?

Ting tong!

Suara bunyi bel membuat Yeong Seo terperanjat, tepat 5 menit setelah kepergian Hyuk Jae. “Apa Eun Kyo mash belum kembali? Eo?” gumam Yeong Seo sebelum membuka pintu.

Oppa, apa dia bel..”

Yeong Seo membelalak, saat perkiraannya meleset. Tadinya ia mengira Jung Soo yang memencet bel kamarnya, tapi ternyata bukan. Orang itu adalah Hyuk Jae, dengan ekspresi yang sulit diartikan.

“Jadi, apa jawabanmu?” tanya Hyuk Jae.

Sebenarnya, Hyuk Jae sejak tadi sama sekali belum beranjak. Ia ingi kepastian.

“Jawaban?” Yeong Seo balik bertanya.

Ia masih belum bisa menangkap maksud pertanyaan Hyuk Jae barusan. Bagaimanapun, ia tidak ingin dianggap terlalu percaya diri. Meski jika diperbolehkan menebak, ini adalah tentang kejadian beberapa waktu lalu. Saat Hyuk Jae melamarnya tiba-tiba, dan merupakan penyebab utama keadaan menjadi canggung saat makan malam tadi. Jadi saat ini, Yeong Seo lebih memilih diam daripada salah tafsir.

“Mau kah kau menikah denganku?”

Pertanyaan seperti itu lagi. Meskipun bukan yang pertama kali keluar dari mulut yang sama, tetap saja membuat Yeong Seo terkesiap mendengarnya.

“Atau setidaknya, kita bisa mengawalinya dengan berpacaran?”

Terdengar seperti sebuah penawaran, namun lebih tegas, menuntut sebuah jawaban. Secepatnya.

Apa yang harus aku jawab? Apa aku harus menjawab iya? Oh, Yeong Seo~ya, kau gila jika mengatakan hal itu, atau aku harus mengangguk? GOD! I think i love him!

Batin Yeong Seo berkecamuk. Ia terlalu bingung, terus berpikir jawaban apa yang sebaiknya dia lontarkan, atau paling tidak sikap apa yang harus dia lakukan. Damn! Aku rasa aku ingin mengatakan iya! Rutuk Yeong Seo dalam hati.

Merasa tak mendapat reaksi apa-apa dari Yeong Seo, Hyuk Jae akhirnya memberanikan diri untuk mendekat. Langkahnya berhenti tepat saat berhadapan dengan Yeong Seo yang hanya berjarak beberapa centimeter saja. Wajahnya merunduk dan ia memiringkan kepalanya. Dan entah sejak kapan, bibirnya kini sudah berada tepat di bibir Yeong Seo. Mengecup, mereka berciuman.

Tak ada perlawanan. Malah sebaliknya, Yeong Seo memberikan reaksi. Bibir Yeong Seo bergerak mengikuti, mereka saling mengecap. Mata saling terpejam. Menikmati sensasi ciuman yang masih belum ingin mereka akhiri.

Aku milikmu. Seperti itulah kira-kira jawaban yang ingin Yeong Seo katakan melalui ciuman itu.

***

Paginya harinya di hotel, Eun Kyo terbangun lebih dulu dan membiarkan Jung Soo tertidur pulas di atas tempat tidur. Ia membuka jendela dan membiarkan udara kering musim panas yang masih bisa dikatakan sejuk masuk ke dalam kamar. Membuka pintu dan berdiri tepat di pembatas balkon.

Sambil membawa segelas air putih, Eun Kyo memandang ke sekellingnya dengan tercengang. Berada di negara orang selalu membuatnya merasa asing, sekaligus antusias. Banyak hal baru yang ia temukan di sini. Tapi perasaan asing itu, tak mampu mengalahkan perasaan asingnya ketika ia bersama dengan Jung Soo selama ini.

Eun Kyo menimbang dan terus berpikir sejak tadi, langkah apa yang akan ia lakukan ketika nanti kembali ke Seoul. Kembali pada kehidupan asingnya lagi? Hingga akhirnya sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya membuatnya tersentak, menariknya dari lamunan.

“Kenapa tidak membangunkanku?” Jung Soo meletakkan dagunya di pundak Eun Kyo dengan manja. Memeluk tubuh ramping yang hanya berbalut lingerie tipis itu di dadanya. Ia masih bisa membayangkan kejadian tadi malam yang menurutnya malam paling indah yang pernah ia lalui. Meskipun diawali dengan emosi lalu perasaan marah, rasa bersalah, dan kemudian gelisah serta takut bercampur aduk menjadi satu, namun hal itu justru menimbulkan sensasi berbeda.

Eun Kyo terdiam sejenak merasakan kecupan-kecupan hangat bibir Jung Soo di lehernya, hingga sedetik kemudian ia menarik diri dari perasaan terlena. Ia harus mengatakan sesuatu.

“Uri…” perkataan Eun Kyo menghentikan Jung Soo, ia menarik wajahnya dan memandangi Eun Kyo yang menatap gelas airnya yang masih terisa, “Geumanhaja,” lanjut Eun Kyo. Bersamaan dengan itu, ia menoleh pada Jung Soo.

Jung Soo membeku. Tenggorokannya tercekat. Biasanya dia bisa memprediksikan apa yang akan dilakukan lawannya dalam berbisnis, tapi perkataan Eun Kyo tadi, itu sama sekali diluar nalarnya.

TBC

Note : Arrrgghhh, akhirnya selesai juga. Stres aku ngerjain ini bermain dengan perasaan, entahlah ini perasaannya tersampaikan atau engga, namun yang pasti, aku berusaha dan terus berusaha. Sekarang sudah pada ngerti kan gimana aturan permainan kami… berharap mendapat banyak dukungan untuk kami, yang menulis dengan sepenuh hati hanya untuk menyuguhkan cerita *plak* ngawur aku. Eum.. sebenarnya aku sudah merasa rada-rada enek bikin konflik, berpengaruh pada kehidupan nyata aku juga uring-uringan, dan kadang bingug sendiri menyelesaikannya. Tapi semoga permasalahan rumah tangga ini selsesai dengan baik-baik. Ikha sudah menyemangatiku dengan bikinin ficlet, eeerrrrrr itu ficlet bikin saya menangis 5 kali, pertama baca di kantor, berkaca-kaca, langsung ngacir ke tempat sepi. Gomawo, Ikha.. semua yang kau lakukan, sangat berarti. Termasuk rela mata jereng ngedit, terus lagi harus meladeni pertanyaan-pertanyaan aku, ngajarin aku juga.

Ga ngerti aku bicara apaan, tapi yang pasti, terima kasih udah menyempatkan diri untuk membaca. Terima kasih sudah memberikan komentar, itu sangat berarti untuk kami… dan pada akhirnya, nantikan kelanjutan Golden Palace part 3 beberapa hari lagi. Yeorobeun… annyeong.

69 responses »

  1. Hahhhhh???
    Nahen nafas liat tulisan TBC itu.
    Kalo teukyo story pasti bikin nysek aja… Dan kisah seohyuk belum bisa mengimbanginya…
    Untuk couple seohyuk, q belum bisa terlalu masuk dalem ceritanya. Mungkin karena belum terbiasa kali yah???

    • hembuskan nafasnya jangan lupa…
      engga juga ah, ga selalu nyesek… ada ehem2nya juga *plak*
      tau neh lagi feel begini…
      belum terbiasa… kan baru pertama kali… next ditunggu yah seohyuk or yeongjae… supaya mengerti…

  2. Kyaaaaaaaaaaaaaaaa!!! Aku gak tega sebenernya sama Eun-Kyo begitu… ahjussi… knpa kau begituuu… seolah pekerjaanmu itu adalah nyawamu bukan Eun-Kyo. Sedih bgt pas… Eun-Kyo merasa terasingkan gegara ahjussi bicarain pekerjaan.
    Dan sumpah demi apa pun aku gak suka kata-kata Eun-Kyo paling terakhir…
    GAK BOLEH ADA KATA CERAI! TITIK EONNI!!! KAU KUANCAM SEKARANG =,=

    RInduku terbalaskan oleh TeuKyo, meski nyesek tapi tetep kutunggu momen mereka.
    My Pain 3… PPALLIIIIIIIIIIIIIIIIII
    AH berasa pen buat TeuKyo lagi, menghadirkan mereka di rumahku. Eonni ntr kudu mampir ke sono, kalau aku buat cerita mereka lagi. Meski cuma OneShot ataupun TwoShot…
    teringat A Fact yang tak seberapah itu jadinya…🙂

    • buadoh buadoh! baru sekarang saya di ancam… *sembunyi di ketek ciumin*
      rindu terbalaskan, uhuy mesra banget…
      my pain 3 masih lama…
      tunggu feeling 3 dulu baru my pain 3…
      ayo bikin lagih! aku menuggumuh, hahahahahahaha
      nanti aku mampir *plak*
      a fact aku suka, bikin aku terkecoh.

      • Aish…. kagak boleh GEUMANHAJAAAAAAA!!!!!

        *bawagolok*

        kudu kuat Eonni…. namanya jugak rumah tangga.. yang sebenarnya gak ada tangga di dalamnya *ngawur*

        Iya… aku tetap nunggu semuanya kok eonni…
        momennya kueceeehh kueceeehhh…

        Aku bakalan bikin lagi Eonn… *kecupTeuKyo*
        Pen ngelahirin Ryu Jin di sonoooohhhh…. *gubrak*
        Maskudnya dirimu lah yang ngelahirin tuh anak ajaib… =,=

        Hehehe… nanti aku buat yang sweety-sweety kayak imonya Ryu Jin *nunjukdirisendiri* #preeeetttttt

  3. Oh no, itu kata-kata yang aku paling takutin keluar dari mulut Eun Kyo dan beneran kejadian, Jung Soo pasti kaget banget dan nggak nyangka secara malemnya mereka sangat baik2 aja, tapi keputusan Eun Kyo buat bilang itu cukup lah buat jadi tamparan paling keras pertama kalinya buat Jung Soo(karena aku nggak yakin kalo Eun Kyo bakal mudah dibujuk) apalagi Jung Soo salah paham sama kedekatan Eun Kyo-Hyuk Jae..eonni aku tunggu semua serial ffmu

    • serial FF? berasa drama. tapi ini drama banget yah? iya bener-bener ini serial…
      tentu saja kaga bsa dibujuk, kasih duit banyak baru aku mau *plak*
      eun kyo-hyuk tapi cuma temenan aje…
      tunggu yah… tunggu feeling 3 dlu baru my pain 3 nyambung…

  4. aduuuh konfliknya seru bgt ini ;((((
    sekali-kali emg jungsoo harus dikasih “tau” biar ga seenaknya aja sama eunkyo..

    bagian eunkyo-eunhyuk ketemu itu entah knp kyk adem gitu(?)

    kkk semoga happy ending ya kak~
    fighting!!!!

  5. ANDWAEEEEE!!!!, oh no eunkyo ya geumanhae, jngan blang mau pisah sma jung soo,
    eonni critamu bner2 daebak, slalu bkiin pnasaran sma part slanjutnya

  6. yaaaakkk, eunkyo jgn gitu dong. . . . jangan sampai ada kata pisahhhhh
    padahal teuk udh mulai sadar walaupun telat *tapi mending dari pada gk sma sekali
    pkoknya mereka jangan sampai pisah . . huhuhuhu😦
    seohyuk moga makin cepet2 jadian #wkwkwk

    pensaran sama lanjutannya, jangan lama2 y eon^^

  7. eonniiiiii feel’a dpet bgt… eonni kenapa suka sekali menyiksa diri sendiri dan membiarkan teuki terus menyakitimu??? tapi ini keren bgt, nyesek liat tbc’a… pnasaran dgn apa yg akan dikakuin teuki membiarkan eonni pergi ato mempertahankanmu eon… kalo story’a hyuk ama yeong seo feel’a kurang dpet msh rada’ bingung mian eon hehehe

    • untuk selanjutnya kita nantkan saja…
      feel dapet? aku enek bikinnya… cape hati aku bikin…
      tapi salah aku jg ngangkat tema ini…
      seohyuk itu cerita sepasang pemuda pemudi yang baru merasakan cinta… masa ga dapat… jangan fokus ke teukyo aja bacanya.. teukyo udah bisa ditebak… seohyuk yang belum bs ditebak…

  8. ya iyalah istri mana yg mau dijadiin no sekian,sedangkan pekerjaan no 1.
    jungsoo udh mulai sadar waktu enkyo udh mulai ga sabar sama sikap dia.
    nyesek itu yg terakhir😥
    jgn lama2 next nya🙂

  9. Bgt eonnie..
    Kerasa pengen ngarungin teuki oppa klo uda kencan ama file” perusahaannya..
    Huaaaa.. Knn kian eun kyo nya klo di gitu in mulu..
    Dan buat Tn. Lee the best dehh cara nagih jawabannya😉 hihihi

  10. Oh Tidaaaaaa itu kata-kata terakhir dari eunkyo ?????? Janvan jangan dan jangan sampe ayo jung soo oppa perbaiki kesalahnmu kasian enkyo😦😦 di sini kerasa banget pain nya oenni bener baca nya dag fig dug apalagi pas enkyo cerita sama hyukjae sediiiiiiih. ….. di tunggu oenni lanjutannya

  11. hy fika eonni…mkasih bnyak atas tiap pmberitauanny klo ad ff baru n makasih krn dh aktf nulis lg
    sbg reader aq ngerasa snang eonni peduli ma kmi…

    untuk part ini feelny berasa ngt deh eon..alurny rapi

    jd ikut galau aq…
    klo dh lelah mank susah
    q kira jung soo bkal brubah tapi apa dy sama skli g ad perhatiannya….
    eunkyo dh trbiasa tnpamu oppa

    wat hyuk jae ma yeong seo chukae..mga awet yah^^

    • iya vie.. selalu… selalu saya sms tanpa pilh2…
      tp kadang readernya ynag pilih2 *plak*
      alurnya rapi karena dirapihin Ika dong… jereng matanya ngerapihin.. tau sendiri kan EYD aku ancur2an… haaaaaa
      semoga awet, do’akan aja… haaaaaakkk nantikan kisah cinta Seohyuk alias Yeong Jae *yang punya couple protes aku namain seohyuk hiiiiii*

  12. kebayang gmn rasanya jd eunkyo itu emg gaenak bgt. dianggep gaada, kalah sama kerjaan, bahkan pas mau ketemuan di kantor malah d usir jungsoo. keterlaluan. dan uri geumanhaja… kata itu bikin aku seketika tahan nafas eon T-T feelnya dapet bgt gitu ><a

  13. Aduh enkyo, knpa stlah brcinta mlah minta ptus??? Pasti jungsoo akn trus memperthankannya. . .walau dgn pmaksaan. Low gak bisa, bsa2 jungso mncba bnuh dri . . .tuh gmana reaksix low gtu. . .
    Wah, lanjtanx yeong seo ma hyuk td, brkhir dranjang gak y. . ? Kwkw:-*

    • stelah bercnta? buahahahahahahaha ada yang nyadar ternyata sodarah2…
      kira2 dipertahankan ga yah? *mikir* pemaksaan? oh no! saya ga mau dipaksa…
      jangan bunuh diri jug ah,,, jangan ngikutin cara penyelesaian abeonim… itu membuatku terluka… *nangis Abeonim…*
      buahahahahahahahahahahaha, diranjang? kira2 dimana yah? tunggu kelanjutan yeong seo sama hyuk part depan…

  14. .andwee unnni
    nyesek baca yang akhir

    unni jjang buat part ini aku tunggu part selanjutnya!!!!
    karena unni semangat buat ffnya.para reader harus lebih semangat bacanya

    faithing!!!^_^

    • part selanjutnya segera… tapi part selanjutna feeling 3 jad jangan nangih2 teukyo…
      semangat dong aku… kan dibantuin ka… berterima kasih lah karena saya kambek karena ada yang ngebantu dibelakng…
      ayo kita bersemangat!

  15. annyeong onnie..
    #aku gemes banget ama joong soo ooppa,karna ndx sdr2 kalau eun kyo juga butuh perhatian..
    awas oppa nanti eun kyo ilang nyesel looooo,

    *dikt aja kalau nuruti manya puuuuaanjng banget,karna aku cukup esmoni bca ff ini apalagi waktu eunkyo dicampakan ama oppa🙂 hehehe…..

  16. jungsoo knp telat sih menyadari kalo eunkyo itu berharga?😦
    aaaaa… mewek lagi bacanya unniee…
    feelnya dapet bgt…

    hyukjae yeongseo semoga perjalanan cinta kalian bisa sukses😀

    ditunggu kelanjutannya unn ^^

  17. nyiahahahahahaha (ketawa setanrasakan itu Park Jung Soo,,,, bagus eon,,, bagusssssss,,,, biar jera pria itu,,, xixixixixi,

    tapi JANGAN SAMPAI CERAI !!!!! *ngancem

    yaaah cukup berikan sedikit rasa sakit karena “menyesal” 😀,,, semangat nulisnya ya eon,,,😀,

    ngemeng-ngemeng si Hyuk Jae ama Yeong Seo manis juga mereka ^.^

  18. Oh maaf onnie,,
    ternyta critanya salng brkaitan ya…
    Dan aku baru ngeh loh,, dasar rindy pabo…
    Aduh sedih bnget eun kyo, emang paling gak enak klo d abaikan dan d nmor 2kn onnie.
    Hyuk nggak tau hrus blng apa…caranya itu loh OMG!!

  19. ternyata aku blm baca yg ini.. ketiggalan deh.
    yeong seo sebener.a baik. tp klw ktemu eunkyo knp jadi sinis bgd y.. menyedihkan kehidupan.a teukyo

  20. Tuhkan g ditakutin terjadi eunkyo mau ngeakhirin semuanya….
    giliran jungsoo y udah mulai sadar malah wun kyo y kan yg udah nyerah sama aituaai mereka,,, jungsoo sadar y telar…
    apa yg bakal dilakuin jungsoo ya…
    kasian juga sama wun kyo yg diperlakuin kyk gt….
    hyuk jae tancap terus deh ngegaet yeong seo n ternyata yeong soo ngak jahat2 bgt ke eun kyo buktibya dia nyasarin jungsoo….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s