FEBRUARY 7th

Standar

lee donghae

IKHA

Donghae memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam. Disandarkannya tubuhnya yang lelah ke sandaran kursi mobil seakan ia ingin menenggelamkan diri disana. Tak banyak yang ia lakukan selama setengah jam terakhir selain menatap ke luar jendela mobil dan memeriksa ponselnya. Ia hanya melakukan dua hal itu berulang-ulang.

Ia gusar, hujan sebentar lagi akan turun tapi gadis itu tak kunjung datang.

            Langit New York yang mulai menguning membawanya dalam satu keadaan yang begitu jauh dan lampau, dan disaat itu pula Donghae mendadak menyadari posisinya saat tiba-tiba saja ia terhanyut dalam angannya.

            Entah dunia ini yang begitu mahir memutar balikan keadaan atau waktu itu memang dirinyalah yang bodoh. Donghae tidak tahu. Dia tidak tahu mengapa hari itu ada, mengapa situasi itu datang, mengapa ia berbalik memunggunginya dan membiarkan egois diri memimpin. Ia tidak tahu. Ia bersumpah ingin menghapus tanggal 7 Februari dalam kalendernya, jika saja itu memungkinkan.

Tapi hari ini ia kembali bertemu dengan 7 Februari namun di tahun yang berbeda.

Donghae membuka matanya. Serentetan kalimat cacian sudah akan meluncur namun tiba-tiba ponselnya berbunyi.

Di mana mobilmu?

Singkat saja, namun nyaris membuat Donghae kehilangan akal sehatnya. Ia kembali menengok ke jendela dan… dia sudah ada disana. Dengan koper ukuran sedang, tas kecil yang tersampir di bahu seonggok tubuh manusia berbalut mantel tebal yang nyaris sempurna berdiri cemas di lobi bandara. Ada waktu yang ia sisihkan hanya untuk memandangi gadis itu dari kejauhan, diantara lalu lalang pria dan wanita pirang yang menghalangi pandangannya, menatapnya dengan senyum kecil meliputi, hal yang mungkin tak akan bisa ia lakukan jika sudah berada terlalu dekat. Memalukan! Itu jelas akan memalukan!

Ia membuka jas hitamnya dan melempar ke kursi belakang lalu keluar hanya dengan kemeja putih untuk menantang udara yang sangat dingin di luar sana. Anehnya, ia melakukan hal itu karena ia memang berkeringat, dingin. Ia gugup, sangat gugup.

            Lama ia berjalan dari sudut mobilnya menuju lobi. Tak menyadari sejauh kakinya berpijak sejauh itu pula senyum simpulnya terkembang dengan alami. Reaksi natural pria jika melihat wanita yang ia cintai. Sesaat seperti mengagumi, sesaat seperti merutuki, kebodohan, betapa terpesonanya ia dalam waktu singkat hanya dengan menatap bayangan manusia sialan itu dikejauhan, dadanya bergemuruh dan spontan saja, ia merasa ingin mati berdiri. Apa itu berlebihan?

Donghae tepat dihadapannya dengan senyum yang berganti canggung. Menatap wajah datar dan sedikit tekukan karena menunggu terlalu lama. Ia menelan ludah dan menipiskan bibir.

“Sudah lama tidak bertemu… Park Eun Kyo,”

Setahun. Setahun tidak bertemu. Apa itu logis? Park Eun Kyo, kau terlihat baik-baik saja.

 ***

            Rendezvous. The first rendezvous. Bagi Donghae, pertemuannya kembali dengan gadis itu adalah hal sakral yang berlebihan, sedikit istimewa tapi juga melankolis. Setelah setahun lamanya berlalu, ia mengingat kembali bagaimana gadis itu mengejarnya hingga ke bandara dan Donghae yang egois hanya bisa memeluknya dan berakhir dengan tangis tanpa kata lalu pergi begitu saja ke Amerika, meninggalkan segala kenangan pahit-manis, suka-duka, atau apapun itu dengan gadis itu.

            Ia ingat, saat itu, 7 Februari. Saat kaki-kakinya melangkah pasti untuk hal yang selama ini ia mimpikan, untuk hal yang baginya berlebihan dan Donghae rela meninggalkan gadis itu hanya untuk satu ambisi tak terelakkan. Dia bodoh, jika dipandang dari sudut asmaranya yang sembrono tapi juga pintar jika ditinjau dari sudut dunia yang lain, mengingat Donghae melarikan diri ke New York untuk hal sialan itu. Bisnis. Bisa disimpulkan ia berada di antara keduanya, kan?

Di mata Park Eun Kyo. Donghae tetap bodoh untuk urusan percintaan. Dan si bodoh itu harusnya sadar kebodohannya.

Lalu kini si bodoh Donghae tengah mencoba membuka passcode pintu apartemennya dengan serius. Hari sudah mulai larut dan hujan sudah mengancam turun ketika bunyi bip yang sangat panjang tanda kode diterima baru saja terdengar.

“Masuklah,” gumam pria itu.

Eun Kyo masuk dan menyalakan lampu, meningalkan Donghae yang kesulitan dengan kopernya dan tengah kembali menutup pintu.

“Lumayan juga,” komentar Eun Kyo, matanya menyusuri interior dalam ruangan itu. Tidak terlalu luas, hanya ada sofa panjang berwarna merah hitam dan meja kaca yang menghadap televisi plasma besar yang digantung di dinding. Ia melihat ada jalan menuju dapur kecil nan bersih seakan tak terjamah dan kamar mandi yang lampunya menyala. Dengan santai Eun Kyo masuk ke kamar Donghae. Ada tempat tidur luas, dengan cat dinding serba abu-abu dan aksen wall sticker bergaris berwarna biru langit di belakang kepala ranjang, selain itu ada jendela yang terhubung dengan balkon, bukan jendela, itu adalah pintu berkaca yang besar.

Kembali ke dalam kamar yang penuh dengan hiasan dinding di sudut kanan. Lukisan besar dan beberapa bingkai foto yang cukup menarik perhatian di sudut kiri. Beberapa diantaranya adalah foto Donghae dan juga orang tuanya, namun ada satu foto dengan bingkai simpel tergantung paling atas dan diantara view yang lain foto itu merupakan hiasan paling mencolok karena ukurannya paling besar.

Seorang gadis berambut panjang ikal dan berwarna coklat tengah berdiri  dengan memegang seikat balon gas berwarna warni. Eun Kyo yakin itu adalah foto candid terbaik yang pernah ia lihat. Gadis itu tertawa begitu lepas dan nampak tak sadar bahwa seseorang tengah mengabadikannya. Jika saja ia tak melihatnya hari ini, Eun Kyo tidak akan tahu kalau gambarnya tergantung sebagai pajangan di kamar Donghae.

“Aku tidak tahu kau mengambil gambar ini? Ini saat….” Eun Kyo mengerutkan alisnya, berpikir keras.

“Tujuh Februari, di lotte world, satu tahun sebelum aku pergi ke New York. Di hari yang sama kita berciuman setelah aku mengambil foto itu,” jawab Donghae yang juga sudah masuk ke dalam kamar.

Eun Kyo mengulum senyum simpul dan mendenguskan tawa kering. “Ya, kau memang ahli dalam mengingat,” racau gadis itu, entah pujian atau sindiran. Tapi kalimat Donghae sempat membuat wajahnya memerah.

Ya, benar. Hari itu. Eun Kyo ingat. Teman sepermainan yang menjelma jadi pria romantis sedunia lalu menyatakan perasaannya di taman bermain dan manciumnya di hari yang sama lalu entah bagaimana mereka lalu menjadi sepasang kekasih tanpa komitmen hingga hari itu tiba, setelah hampir setahun berlalu dan Donghae meninggalkannya demi pekerjaan yang sangat mendesak. Harusnya hari ini adalah aniversarry atau apalah itu namanya, harusnya, jika saja Eun Kyo ingat, tepat hari ini pula pria itu meninggalkannya, setahun yang lalu.

“Berarti foto ini diambil dua tahun yang lalu?”

Donghae hanya mengguman, sementara Eun Kyo masih memperhatikan foto itu dengan seksama.

“Kau pintar juga mengambil gambar,”

“Dulu aku ingin jadi fotografer, tapi tidak terlaksana,”

“Aku tahu….” Eun Kyo berbalik dan terkejut ketika melihat Donghae tepat berada di belakangnya.

“Kau juga pasti tahu aku masih mencintaimu,” Donghae menatapnya begitu dalam seakan dipenuhi satu emosi yang sangat complicated didalamnya, mungkin rindu, kesal, jengah, risau, semuanya berampur jadi satu, lalu tanpa kata didetik berikutnya Donghae mungkin  menarik gadis itu ke dalam pelukannya lalu entah bagaimana, ia menangis.

“Maaf meninggalkanmu,” gumamnya. Sementara Eun Kyo terdiam, tak melakukan apapun, tak berbicara sepatah katapun. Ia terlalu terkejut atau mungkin terhanyut, Eun Kyo tidak tahu.

Memang. Eun Kyo sempat merasa hancur saat pria itu meninggalkannya tanpa alasan yang pasti. Tapi hanya sesaat, hanya sesaat saja. Ia yakin, itu hanya sesaat.

“Donghae~ya… bisakah kau menunda keberangkatan? Jebbal…,” pertama kalinya Eun Kyo memohon hari itu. Ia menguntit kekasihnya hingga ke bandara dan berakhir tidak bisa masuk dan memilih untuk menahan Donghae di lobi.

“Maaf,” hanya itu yang Donghae ucapkan lalu memeluknya sesaat kemudian meninggalkannya tanpa berbalik lagi. Tanpa menoleh lagi. Lalu membiarkan Eun Kyo keluar dari bandara tanpa kata. Beberapa saat kemudian saat ia hendak menaiki taksi, pesawat menuju New York melewati langitnya.

Pria itu benar-benar pergi.

 ***

“Aku datang bukan untuk ini,”

Eun Kyo melepaskan perlahan pelukan Donghae dan tersenyum, berusaha tegar dan tidak membuat hatinya ikut mengiba. “Bukan untuk kembali,”

“Aku tahu,” Donghae menelan ludahnya dan melapaskan lengan dari pinggang gadis itu lalu memeriksa ponselnya yang bergetar di saku celana. Ia tersenyum miris lalu menatap Eun Kyo dengan senyum masam.

“Jung Soo hyung sudah mengirim pesan, ia akan menjemputmu  lima belas menit lagi. Baru selesai meeting,”

Eun Kyo tersenyum dan menarik diri dari dalam kamar, memilih duduk di sofa di ruang keluarga untuk menunggu pria itu menjemputnya.

Pria yang tiga bulan terakhir sudah mengganti posisi Donghae. Park Jung Soo, suaminya.

 ***

“Donghae~ssi, terima kasih sudah menjemput istriku dan membiarkannya beristirahat. Aku tidak tahu harus menghubungi siapa lagi, karena kalian teman lama jadi… maaf, dan yah, aku menghubungimu,”

Jung Soo tertawa saat memasukkan koper milik Eun Kyo ke dalam bagasi mobil.

“Tak apa, pekerjaanku sudah selesai,” Donghae tersenyum.

Tak lama setelah Jung Soo dan Eun Kyo meninggalkan apartemennya, Donghae masih tak kunjung meninggalkan titik terakhir ia berdiri. Masih memandangi jalanan sepi yang mulai dituruni salju dan lampu remang jalanan yang mulai menyala otomatis.

Ia tersenyum, pahit.

Jika saja hari itu ia tidak meninggalkannya, jika saja hari itu ia tidak mengejar mimpinya, jika saja 7 Februari satu tahun yang lalu tidak pernah ada di kalender, mungkin ia masih memiliki gadis itu… sepenuhnya.

Nyatanya, 7 Februari itu tetap ada dan masih akan datang tahun depan dan tahun-tahun selanjutnya. Ia tidak bisa menghapus 7 Feruari dari kalender ataupun menghapusnya dari dunia ini. 7 Februari masih akan tetap ada dan nyata, seperti perasaannya.

~FIN~

Cuma buat ngasih semangat Onneh yang lagi nulis FF Love Is… dan sekaligus nyemangatin buat Golden Palace gilirannya setelah punyaku publish. Semoga terpacu ya oneehhhhhh… :* #CipokGolok. #Plaaakk

21 responses »

  1. onneehh emg tujuh februari tahun lalu itu ada apa dgn eunkyo onn sm donghae ppa? apa ada ff sebelumnya?
    onniedeul coba kasih tau aku . jebal *mukamemohon

  2. Nahhh bang onge ama q aja, eun kyo eonnie uda jatahnya teuki ahjuhsi..
    Hihi
    daebak eonnie, sderhana tp ngena bgt.,
    Selalu ada pengorban untuk mencapai suatu hal. Dan penyesalan karena pengorbanan yg kita lakukan adalah resikonya

  3. The bang is when you love a second lead man yes and i love lee donghae….. kapan donghae di kasih pasangan astaga kasian seorang pria cassanova yang sendiri siapapun tolong beri dia pasangaaaan🙂

  4. Finally bisa mendamparkan diri disini *setelah hampir -atau bahkan lebih- 1 minggu wifi kosan nyala-mati muncul-tenggelam* dan Fika eonn tolong berkenan dengan komen ku ini.😀

    Kyaaaaaaaaaaaa apa ituuuuu!!!! pertama baca aku fikir ‘Ikha eonn mau ngajarin Fika eonn selingkuh ini. mentang-mentang Teuk oppa lagi wamil terus maksudnya apa? -__-‘ tapi well, itu hanya fikiran sesaat ku, sirna saat tiba-tiba ending nya Teuk oppa nongol ‘baiklah Ikha eonn, kau tidak jadi menodai mereka berdua.’

    selanjutnya, bener di baca lebih dari 1 kali rasanya berbeda tapi rasa nyeseknya sama. Oh Donghae oppa, saake banget sih awakmu -,- dan actually aku nggak rela kalau ada yang menyakiti Donghae, seperti aku nggak rela kalau ada yang deket-deket Changmin u,u

    last, Ikha eonn, eonn tidak ingin membuatkanku Ficlet juga? aku-pun sedang stres karena jadwalku setelah FF fika eonn terbit *baiklah yang ini boleh diabaikan kok*

    sekian komen panjang saya, semoga nggak ada typo dan maaf jika EYD tidak sesuai *kembali tidur*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s