GOLDEN PALACE 319 : 2. Part Time Job

Standar

GP 319

VioletTa

“Pesanan 1 Hazel Frost, 1 Choco Pearl, 1 Spanish Chocolate dan 1 Hot Chocolate,” Hye Kyung menyebutkan beberapa pesanan yang tertulis di sebuah kertas kecil putih di tangan kirinya. Wanita berbaju merah di depannya mengangguk sambil menggumamkan kata ‘Nde’  dengan pelan. Jari-jari tangan kanannya dengan lincah menekan beberapa angka di keyboard mesin kasir yang berwarna putih di hadapannya.

“Semuanya 15 ribu won,” lanjutnya menyebutkan hasil akhir dari penjumlahan yang baru saja dia hitung. Wanita di depannya itu membuka dompet merahnya, mengeluarkan dua lembar uang sepuluh ribuan kepada Hye Kyung. Dia memasukkan uang tersebut ke dalam laci mesin kasir dan mengambil beberapa lembar uang kertas lainnya untuk kembalian.

“Terima kasih sudah berkunjung.” Ia menyerahkan uang kembalian 5 ribu won kepada pelanggan dengan sedikit membungkuk dan tersenyum manis. Setelah memastikan pelanggan itu pergi, Hye Kyung mendudukkan tubuhnya di atas kursi di belakannya. Sekilas gadis itu menolehkan kepalanya ke kiri dan melirik sebuah jam berbentuk lingkaran yang menempel pada dinding bata yang dicat kehitaman. Jam berwarna keemasan yang berdiameter sekitar 30 centi itu berdenting beberapa kali. Dua jarum jam yang berwarna coklat membentuk sudut 90 derajat menunjuk pada angka 9 dan 12 yang ditulis dalam angka romawi. (Kunonya aku hapus : Apa bedanya angka romawi dan romawi kuno masalahnya). Hye Kyung menghitung dalam hati mengikuti suara dentingan lonceng jam yang berbunyi. Tepat setelah dentingan ke sembilan berhenti ia kembali menolehkan kepalanya sejajar dengan arah tubuhnya.

Sudah jam sembilan,  bisiknya dalam hati.

Kedua bola matanya berputar lucu mengamati beberapa pengunjung kafe yang masih asik dengan kesibukan masing-masing. Beberapa pengunjung asik mengobrol dengan rekan semejanya, beberapa lainnya memilih asik menikmati minuman hangat yang disajikan. Hujan yang turun sejak sore membuat kafe tempatnya bekerja cukup ramai. Kafe minimalis yang memiliki dua lantai itu cukup menarik banyak pengunjung akhir-akhir ini. Bukan hanya karena interior perancis yang sangat khas pada bangunan kafe, tetapi beberapa dessert  yang di sajikan di kafe tersebut–pun cukup menarik banyak pengunjung.

Golden Chocolate And Coffe adalah sebuah kafe yang terletak di Garosu-gil street Sinsan-Dong—salah satu distrik di Seoul—yang mengusung gaya Eropa dalam semua hal. Baik bangunan, menu sajian maupun interior-interiornya, hampir semuanya berkiblat kepada beberapa negara terkenal di Eropa. Bangunan yang khas di kota mode Paris itu memang cukup menarik pengunjung.

Sedangkan menu utama yang di sajikan adalah Waffle—yang merupakan dessert terkenal dari Belanda dan Coklat yang berasal dari Belgia. Beberapa menu lain seperti Coffe Latte, Esspresso, Tiramishu, puding juga diadaptasi dari negara-negara lain di Eropa.

            Sudah hampir 6 bulan Hye Kyung bekerja di Golden Choco Cafe (sebutan singkat untuk Golden Chocolate And Coffe), kecintaannya akan coklatlah yang membawanya sampai pada kafe tersebut. Kafe yang berdinding kaca tersebut sudah menjadi incarannya sejak lama, sejak ia pertama kali menginjakkan kakinya di Seoul. Letak kafe yang cukup strategis dan yang selalu Hye Kyung lewati setiap kali dia pergi kekampus sampai 6 bulan yang lalu saat ada sebuah pengumuman di depan kafe yang tengah mencari seorang pegawai tanpa fikir panjang Hye Kyung langsung melamar. Awalnya memang sulit melamar di Golden Choco Cafe, mengingat dua orang pendiri kafe bertentangan pendapat. Salah satu diantara mereka menerima Hye Kyung karena melihat kecakapan Hye Kyung berkomunikasi dan latar belakanganya, sedangkan yang lainnya menolak mentah-mentah dengan alasan ‘Tidak menerima pegawai Part Time’. Saat itu Hye Kyung hampir menyerah karena kemungkinannya kecil, mengingat dia sendiri baru memasuki tahun ke dua menjadi seorang mahasiswi dan pengalaman kerja yang masih sangat buruk membuatnya semakin di ragukan.

“Kami tidak bisa menerima seorang yang tidak memiliki pengalaman dalam bekerja. Apalagi seorang mahasiswi baru yang seharusnya masih fokus kuliah. Kau hanya akan menghancurkan masa depanmu dengan bekerja Part Time di kafe ini. Fokus saja kepada kuliahmu!” Begitu ucap salah seorang pendiri kafe yang menentangnya dulu.

Berbeda dengan salah satu lainnya yang menerima “Justru karena dia masih muda semangatnya pasti masih menggebu-gebu. Apalagi dia seorang mahasiswi jurusan Ekonomi. Saat ini kafe kita memang memerlukan mahasiswi Ekonomi untuk mengatur keungan.”

Meski sedikit, harapan itu masih disimpannya. Sampai pada pengambilan voting yang dilakukan mereka kepada dua orang pegawai lainnya membawa Hye Kyung berada di tempatnya saat ini. Hari itu entah karena karena nasib baiknya atau karena takdir Tuhan, kedua pegawai itu dengan kompak setuju menerimanya.

“Hye Kyung-ah,” Hye Kyung mengerjap saat seseorang menyikut pelan lengannya. Laki-laki berwajah cantik dengan rambut blonde coklat pendek berdiri di sampingnya. Seorang lelaki paruh baya yang tengah berdiri di depan laki-laki itu meliriknya sekilas sebelum mengeluarkan dompetnya.

“Semuanya 24 ribu won,” kata laki-laki di sampingnya kepada lelaki paruh baya yang tengah membuka dompetnya. Hye Kyung tersadar laki-laki paruh baya itu adalah pelanggannya yang akan membayar. Hye Kyung menyingkir sambil membungkuk membiarkan laki-laki dengan seragam yang sama sepertinya mengambil alih.

“Josongeo,” ucapnya pelan saat pelanggan sudah meninggalkan meja kasir menyisakan dirinya dan laki-laki yang masih sibuk dengan mesin kasir di hadapannya. Laki-laki itu memutar tubuhnya mengunci pandangan Hye Kyung dengan matanya yang tajam. “Mianhae oppa,” maafnya. Wajah putihnya di buat sepolos mungkin guna menghadapi laki-laki itu. Seorang yang teramat cantik untuk ukuran laki-laki dan juga tampan itu menggelengkan kepalanya sebentar. Dia duduk di atas kursi yang baru ditinggalkan Hye Kyung, menyibakkan pelan celemek coklat yang dipakainya untuk membersihkan beberapa remukan kayu manis yang menempel.

“Kau melamun?” Laki-laki itu bertanya tegas. Mata hitamnya menyusuri Hye Kyung lekat seperti mencari sesuatu yang ada dalam pikiran gadis itu. “Kau melamunkannya?” dia bertanya jahil. Saat kedua mata gadis itu membesar, seringai licik muncul begitu saja dari senyumnya membuat Hye Kyung bergidik ngeri. “Changmin-ah Hye Kyung melamunkan mu,” teriakan lembutnya menerobos pintu setinggi dada orang dewasa yang membatasi ruang kasir dan ruang dapur.

“Hee Chul  oppa!” Hye Kyung merajuk dengan memanyunkan kedua bibirnya dan menatap kesal. Hee Chul—laki-laki itu—terkekeh puas.

“Aku tidak melamun, aku hanya sedang berfikir,” sanggah Hye Kyung.

“Ya ya ya,” Hee Chul mengangguk,“ berfikir agar bagaimana caranya Changmin menemanimu disini?”

Nampaknya Hee Chul benar-benar ingin membuat Hye Kyung kesal. “Aku heran, padahal dulu dia sangat menolak kehadiranmu disini,” cibir seorang laki-laki berwajah cantik sekaligus tampan itu. Dia merupakan salah satu dari pendiri Golden Choco Cafe. Laki-laki yang sangat mencintai kulitnya itu rela menjadi seorang peracik coklat dan makanan lainnya untuk kafe Coklat rintisannya.

“Hye Kyung-ah, Hee Chul oppa, aku pamit pulang.” Hye Kyung dan Hee Chul serempak menolehkan kepalanya ke samping kiri tepat di depan sebuah pintu yang bertuliskan ‘Staf Only’ seorang gadis yang mengenakan coat abu-abu  tengah berdiri disana dan tersenyum kecil. Rambut pirangnya yang bergelombang nampak sedikit berantakan. “Aku sudah meminta ijin kepada Changmin. Eommaku datang jam 10 nanti,” lanjutnya.

Nde eonni hati-hati,” Hye Kyung hanya melambaikan tangan dari tempatnya. Dia sedikit merasa iri saat gadis itu menyebutkan kata ‘Eomma’, dia teringat sudah hampir empat bulan dia tidak pulang ke Incheon. Dia merindukan sang ibu, sangat.

“Soo Youngie, Chamkaman!”

Saat Hye Kyung menoleh ke arah Hee Chul, laki-laki itu sudah beranjak dari duduknya. “Biar ku antar sampai depan, diluar hujan,” lanjutnya kemudian pergi mengambil sebuah payung berwarna biru muda yang berada di bawah meja pantry.

Hye Kyung mendesah malas, kemudian dia menarik kursi yang baru saja di tinggal Hee Chul ke arahnya dan mendudukinya.

Choi Soo Young. Seorang gadis cantik yang memiliki tinggi badan diatas rata-rata wanita Korea pada umunya itu, memiliki kulit putih dan lekuk wajah yang sempurna, kadang membuat Hye Kyung berfikir keras ; ‘Kenapa Soo Young mau bekerja di kafe? Seharusnya gadis cantik sepertinya menjadi seorang model, aktris atau member Girlband!’ Yang jelas menurut Hye Kyung, Soo Young lebih cocok berkiprah dalam dunia Entertainment. Soo Young bekerja di Golden Choco Cafe sejak kafe ini berdiri. Meskipun gadis itu bukan pendiri mutlak kafe, namun dia termasuk seseorang yang cukup berpengaruh dalam kafe. Selain terampil di dapur, Soo Young juga terampil menangani pelanggan. Soo Young adalah adik sepupu dari sahabat Hee Chul, yang Hye Kyung tahu, Soo Young seperti sedang berada dalam keadaan cinta yang sulit bersama Jin Ki—salah satu koki handal kafe yang berwajah imut.

“Strawberry.” Sekotak Strawberry tersodor di hadapan Hye Kyung, tanpa menolehpun Hye Kyung tahu siapa yang menyodorkannya. Dia mengambil kotak strawberry dengan semangat. Selain tergila-gila dengan coklat, Hye Kyung juga sangat maniak dengan strawberry. “Di mana Hee Chul hyung? Sepertinya tadi aku mendengarnya memanggilku dari sini,” Hye Kyung memajukan dagunya ke luar kafe dimana seorang laki-laki tengah mengantar seorang gadis menuju sebuah Taxi dengan payung. “Lee Jin-Ki pasti akan marah melihat adegan ini.” Hye Kyung menoleh saat sebuah suara jepretan kamera tertangkap indra pendengarannya. Laki-laki yang tengah menyandarkan sebagian tubuhnya pada meja pantry di samping Hye Kyung sambil tersenyum senang dengan hasil jepretannya.

“Oppa,” Hye Kyung menggeleng kemudian mendesah malas. Changmin (nama laki-laki itu) tersenyum polos. Kemudian dia mengambil sebuah strawberry dari kotak yang masih di pegang Hye Kyung dan memakannya. “Berhentilah mengadu domba mereka dan membuat mereka salah paham lalu Soo Young eonni dan Jin Ki oppa tidak kunjung jadian!” Hye Kyung memperingatkan.

Sudah lebih dari sering Changmin membuat kesalah pahaman antara Jin Ki dan Soo Young. Memanas-manasi Jin Ki saat Soo Young sedang berhadapan ramah dengan pelanggan atau bahkan menggoda Soo Young dan Hee Chul di hadapan Jin Ki, padahal Changmin tahu persis antara Hee Chul dan Soo Young tidak ada hubungan apa-apa.

“Aku janji ini yang terakhir,” ucapnya membuat Hye Kyung berdecak. Changmin selalu berkata seperti itu setiap Hye Kyung mengingatkan.

“Hye Kyung-ah tanganku pegal sekali. Hee Chul hyung menyuruhku memotong banyak buah di dapur sejak tadi. Kau mau memijatnya?” Changmin mengulurkan tangannya ke arah Hye Kyung berharap gadis itu melakukan keinginanya. Hye Kyung membuat ekspresi malas diwajahnya kemudian memutar tubuhnya menghadap meja kasir dan meletakkan kotak strawberry di atas meja.

“Hye Kyung-ah kau tidak kasihan kepadaku? Eoh?” Changmin berucap manja membuat Hye Kyung berdecak sebal. Ekspresi apa itu? Changmin tidak cocok membuat hal manja seperti itu, fikirnya. Kendati demikian, Hye Kyung menuruti keinginan Changmin menarik tangan laki-laki itu mendekat dan memijitnya pelan. Changmin tersenyum, ada beberapa hal yang selalu dia coba pungkiri beberapa waktu ini. Dulu dia adalah satu-satunya orang yang menentang Hye Kyung bekerja di kafenya. Alih-alih mengatakan ‘Tidak menerima pekerja Part Time,’ sebenarnya Changmin sudah merasakan keganjilan itu. Senyumnya yang tiba-tiba merekah saat melihat Hye Kyung, gempa-gempa kecil di dadanya saat gadis itu tertawa, bahkan hal sekecil apapun yang menyangkut Hye Kyung tak luput dari pengamatan Changmin. Awal-awal Hye Kyung bekerja Changmin masih menjaga jarak membiarkan perasaan-perasaan aneh yang menyelimutinya menghilang, tetapi semakin dia mencoba perasaan itu bukan semakin hilang, malah semakin aneh mengejarnya. Changmin tahu ada yang salah dengan dirinya begitu juga dengan kali ini.

“Aku fikir kita harus menutup kafe,” Hee Chul berhenti sejenak di ujung meja pantry melihat pemandangan yang membuat perutnya terasa seperti digelitik geli. Changmin tengah memandangi Hye Kyung yang sedang memijit tangan kanannya.

“Shim Changmin berkediplah!” Changmin mengerjap saat mendapat teguran. Hee Chul sepertinya tahu dia tengah memperhatikan Hye Kyung tadi.

Hee Chul terkekeh puas. “Ayo kita tutup kafe setelah pelanggan pergi! Aku fikir sudah tidak akan ada pengunjung lagi.” Hye Kyung dan Chang Min memutar kepalanya ke meja pengunjung. Disana hanya tersisa 5 orang pengunjung yang duduk menjadi 2 meja. 1 meja berisi 2 orang pengunjung laki-laki dan perempuan, 1 meja lainnya berisi 3 orang gadis remaja yang tengah mengobrol hangat.

“Di lantai atas juga sudah tidak ada orang sejak 25 menit yang lalu.” Tambah Hee Chul. Hye Kyung dan Chang Min saling pandang, kemudian menarik kedua alis mereka masing-masing mendekat membuat ekspresi bingung dan tanya yang cukup besar di benak mereka. Kim Hee Chul meminta menutup kafe lebih awal? Setan apa yang menghampirinya? Bukankah selama ini Hee Chul yang selalu meminta menutup kafe lebih malam? “Aku hanya berfikir, tidak akan ada yang keluar saat salju pertama turun.” Seolah bisa membaca pikiran Hye Kyung dan Chang Min, Hee Chul menjelaskan maksudnya.

“Salju?!” Hye Kyung berteriak histeris, membuat pengunjung yang tersisa menatapnya aneh. Tangan Chang Min yang tengah di pijatnya di lepaskan begitu saja. Dia tersadar saat Changmin mengaduh. Tangan nya membentur sisi meja dengan cukup keras. “Ah, josongeo,” ucapnya tersenyum bersalah. Karena terlalu bersemangat Hye Kyung melupakan tangan Changmin dan melemparnya begitu saja.

“Hye Kyung-ah ponsel mu berbunyi sejak tadi. Sepertinya ada telepon.” Seseorang menyumbulkan kepalanya dari pintu pembatas. Laki-laki itu berambut cepak yang diwarnai pirang. Mata teduhnya membuat semua orang bisa saja jatuh cinta kepadanya. Belum lagi suara berat nya terkesan lembut di telinga. Lee Jin Ki (nama laki-laki itu) adalah salah satu bagian penting Golden Choco Cafe. Sejak kafe ini berdiri Jin Ki sudah direkrut oleh Chang Min dan Hee Chul untuk menjadi koki tetap. Kemampuan mengolah coklatnya memang sudah tidak di ragukan lagi. Jin Ki yang memang mempunyai senyum ramah kepada siapapun, hal itu menjadi daya tarik tersendiri bagi Hee Chul saat pertama kali bertemu dengannya. Lain halnya dengan Chang Min yang memang sudah mengenal Jin Ki sejak lama.

Saat Hye Kyung kembali setelah mengangkat telponnya, kafe sudah kosong. Pengunjung yang tersisa 5 orang tadipun sudah pergi. Hee Chul mengusirnya secara halus, mengatakan bahwa kafe mereka akan segera tutup karena salju pertama sudah turun. Beruntung mereka semua mengerti dan akhirnya meninggalkan kafe setelah sebelumnya membayar di kasir.

Hee Chul tengah merapikan uang hasil penjualan hari ini di depan mesin kasir, sedangkan Chang Min tengah menata beberapa kursi yang berantakan. Jin Ki memegang sapu, membersihkan lantai yang sebenarnya tidak terlalu kotor. Hye Kyung mendekat ke arah jendela-jendela kaca yang berderet di sepanjang kafe. Ada beberapa jendela yang terbuka sehingga dia harus menutupnya.

“Siapa yang menelpon?” Chang Min sudah berdiri di samping nya. Membantunya mengunci jendela bagian atas yang tidak terjangkau oleh tangannya. Hye Kyung menyingkir, menuju jendela di samping nya yang juga terbuka.

“Kyung Soo,” jawabnya sambil menarik jendela kedalam lalu mengunci bagian bawah dan berusaha mengunci bagian atas. Namun kembali gagal karena jendela kaca itu yang cukup tinggi, sepertinya memang dirancang untuk pekerjaan Chang Min. Karena sepertinya memang hanya laki-laki itu yang mampu menjangkau kunci atas jendela.

“Ada apa dia menelpon?” Chang Min kembali mengambil alih pekerjaan Hye Kyung. membuat Hye Kyung kembali bergeser.

“Hanya memberitahu salju pertama turun,” jawabnya. Do Kyung Soo, adalah sahabat Hye Kyung sejak kecil sehingga dia mengetahui semua hal tentang Hye Kyung termasuk tentang salju kesukaannya. Chang Min mengenal Kyung Soo karena dia beberapa kali datang ke kafe dan beberapa kali itu pula Chang Min merasakan getaran aneh saat melihat Hye Kyung bersama Kyung Soo. Cemburukah ia?

“Ah, Oppa nanti sebelum pulang aku ingin mampir sebentar ke taman didepan apartemen tidak apa-apa, kan? Sebentar saja,” rayunya mengeluarkan ekspresi paling imutnya kepada Chang Min. Selama ini Hye Kyung memang pulang ke apartemen bersama Chang Min. Hye Kyung tidak tahu pasti apa alasan Chang Min selalu mengantarnya pulang, tetapi dia juga tidak mungkin menolak kebaikan Chang Min mengingat jalanan saat malam yang berbahaya.

As your wish, Nona muda,” jawab Changmin dengan nada yang sedikit kesal yang dibuat-buat. Hye Kyung tersenyum lebar dan menggumamkan kata ‘Gomawo’ dengan riang membuat Hee Chul dan Jin-Ki saling pandang heran. Hye Kyung sudah masuk kedalam dapur saat Jin-Ki dan Hee Chul memergoki Chang Min tersenyum samar. Diam-diam ada sebuah rencana yang sama yang muncul diotak Hee Chul dan Jin-Ki. Rencana yang tidak boleh Hye Kyung dan Chang Min ketahui.

– Part Time Job –

Avega silver milik Chang Min menepi di ujung sebuah taman yang tidak jauh dari apartemen tempat tinggal Hye Kyung. Taman kecil yang dikelilingi beberapa pohon palem kuning, Chrysalidocarpus lutescens, setinggi 5 meter dan beberapa rumpun bunga Azalea yang belum bermekaran. Beberapa lampu taman yang memancarkan cahaya keemasan nampak menyinari dari empat titik sudut taman, di bawahnya sebuah kursi taman panjang berwarna coklat tua berjejer rapi. Alas taman di pasang paving block segi enam dengan campuran warna putih dan coklat yang membentuk sebuah bintang di tengah taman.

Jika di musim semi banyak orang-orang berkunjung untuk melihat bunga Azalea bermekaran, atau musim gugur banyak sepasang kekasih yang menghabiskan waktu ditaman sedangkan saat musim panas, taman akan penuh dengan orang-orang yang berolahraga malam. Malam ini, malam salju pertama turun taman sepi, hanya beberapa orang yang memiliki kegemaran sama seperti Hye Kyung yang berada di luar rumah. Menyaksikan salju pertama turun adalah hal yang paling menarik untuk Hye Kyung, berbeda dengan kebanyakan orang lainnya yang tidak tertarik dengan salju yang dingin, Hye Kyung tidak pernah melewatkan salju pertama turun.

IMG_20140203_080929 IMG_20140203_080939

Hye Kyung mengeluarkan ponselnya, setelah sebelumnya menyeret Chang Min keluar mobil untuk menemaninya di taman, memotretnya beberapa kali, mengambil gambar paling indah setiap salju datang. Chang Min tidak terlalu menyukai salju, jika bukan karena Hye Kyung yang memaksanya untuk turun dan menjadi juru kameranya, Chang Min lebih memilih berdiam di dalam mobil atau kembali cepat ke apartemennya dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. Hye Kyung menghentikan kegiatan berposenya saat matanya mendapatkan sebuah objek yang cukup menarik. Seorang laki-laki dalam balutan mantel berwarna biru dongker tengah mengarahkan kameranya pada pohon palem yang daunnya si penuhi bintik-bintik putih. Salju.

“Ada apa?” Chang Min mendekat, memperhatikan Hye Kyung yang tiba-tiba saja mengalihkan fokusnya. Mata nya mengikuti arah padang Hye Kyung, mendapati seorang laki-laki berambut blonde yang sedikit kecoklatan. Laki-laki yang jauh lebih pendek daripada dirinya menyita perhatian Hye Kyung?

“Kau mengenalnya?” tanya Chang Min memastikan. Mendapati ekspresi Hye Kyung yang tidak berubah, Chang Min menggeram membuang mukanya guna menahan amarahnya. Chang Min tidak pernah melihat Hye Kyung memandang seseorang dengan tatapan yang dia sendiri tidak bisa mengartikan. Selama mengenal Hye Kyung, ini pertama kalinya Hye Kyung menatap seseorang dengan sorot mata yang penuh akan pujian. Chang Min meremas jari-jari tangannya saat menyadari hal itu.

“Hye Kyung-ah,” dia menyentuh pergelangan tangan Hye Kyung membuat gadis itu terlonjak kaget, “kau baik-baik saja?”

Hye Kyung terkejut saat Chang Min sudah berada di dekatnya. Beberapa saat lalu seingatnya Chang Min berada di jarak 1 meter untuk memotretnya tapi tiba-tiba saja Chang Min sudah berada di dekatnya dan menggenggam pergelangan tangannya? Dia fikir dia tidak selama itu dalam mengamati seorang laki-laki—yang sepertinya—juga tengah menyambut datangnya salju.

“Apa Oppa berbicara denganku?” tanyanya. Chang Min mendengus, apa dia tidak semenarik itu sampai Hye Kyung melupakannya?

Eoh, kemana dia?” Hye Kyung melepaskan tangannya dari genggaman Chang Min, berlari ke arah sebuah pohon palem yang tadi diperhatikannya. Laki-laki yang tadi berada di sana sudah menghilang, hanya beberapa saat Hye Kyung mengalihkan pandangannya tetapi dia sudah menghilang. Hye Kyung berdecak kesal.

Chang Min mendelik, hatinya mencolos seketika saat Hye Kyung berlari menyusul ke arah pohon palem kuning di samping kanannya. Siapa sebenarnya laki-laki itu? Dia menyusul Hye Kyung mempelajari garis wajah gadis itu dalam diam. Ada beribu ekspresi penyesalan dan kekesalan yang nampak dari raut mukanya. Jangan katakan Hye Kyung tengah menyesal atau tengah kesal karena laki-laki itu pergi.

“Kau mencari siapa?” Chang Min bertanya, memutar kepalanya berpura-pura terlihat kebingungan.

“Bukan siapa-siapa. Kajja, kita berfoto lagi!” Hye Kyung menarik tangan Chang Min berpindah ke sebuah kursi taman. Chang Min menurut, meskipun Chang Min masih sedikit penasaran. Siapa laki-laki tadi? Apa hubungannya dengan Hye Kyung? Kenapa gadis itu terlihat sedikit terpesona? Dia yakin Hye Kyung mengenal laki-laki berambut blonde itu.

– Part Time Job –

Malam semakin dingin saat Hye Kyung memasuki gedung apartemennya. Setelah keluar dari lift dilantai 5 Hye Kyung memelankan langkahnya saat dia melihat seorang laki-laki tengah berdiri di depan sebuah pintu apartemen tepat di samping tempat tinggalnya. Laki-laki itu menunduk memandang kaki kanannya yang tengah mengetuk-ketuk lantai koridor apartemen. Kedua tangannya berada di dalam saku mantel biru dongker yang dipakainya. Sebuah kamera polaroid berwarna putih menggantung bebas di lehernya. Pemandangan yang sama seperti sosok yang dilihatnya saat di taman tadi. Hye Kyung melirik sekilas pada jam tangannya, pukul 11 lewat. Sedang apa laki-laki itu berdiri disana? tidak mungkin kan dia menunggu Hye Kyung?

Hye Kyung tersenyum salah tingkah saat laki-laki itu mengangkat kepalanya, sedikit terkejut saat melihat Hye Kyung sudah berada tak jauh darinya. Hye Kyung membungkuk saat melewatinya, sekilas senyum tipis tercipta dari bibir mungilnya.

“Kau baru pulang?” Hye Kyung berhenti, antara yakin dan tidak yakin dengan apa yang baru saja di dengarnya. Laki-laki itu menyapanya? Selama 2 tahun tinggal bertetangga ini mungkin kali ke tiga mereka saling menyapa. Pertama, saat Hye Kyung pertama kali datang ke apartemen dan bertemu laki-laki itu di lift menanyakan nomor apartemen nya yang ternyata berada di samping apartemen laki-laki ini. Kedua saat Hye Kyung mengantarkan Songpyeon—makanan khas korea saat Chuseok—yang dibuat dari adonan tepung kentangn atau tepung ubi jalar atau tepung beras yang diisi dengan kacang merah, chestnut ­dan kenari –  hasil karya Eun Kyo, Jae In dan dirinya saat Chuseok tahun lalu.

Laki-laki yang memiliki tinggi 10 centi diatasnya itu mengeluarkan sebelah tangannya, mengulurkan sebuah foto kepada Hye Kyung. “Untukmu.”

Mata bulat Hye Kyung mengerjap beberapa kali, sebuah foto yang tersodor di hadapannya menampakkan sebutir salju yang hampir jatuh ke daun bunga Azalae. Untuk sesaat Hye Kyung ragu, dia memandang laki-laki di hadapannya lekat seperti menanyakan sebuah pertanyaan tak terucap.

Benarkah ini untukku?

Dia tersenyum, sudut bibirnya terangkat sempurna membuat garis-garis rahangnya terlihat tegas dan berwibawa. Mata coklatnya menatap teduh kemudian laki-laki itu mengangguk sekali. Hye Kyung tersenyum lebar, tentu saja dia menerima foto itu dengan senang. “Terima kasih, Kim Ryeo Wook-shi.”

Laki-laki yang bernama Ryeo Wook itu tersenyum, tangan kanannya terangkat mengelus leher belakangnya pelan.

“Kalau begitu selamat beristirahat, selamat malam.” Setelah membungkuk, Ryeo Wook masuk kedalam apartemennya, meninggalkan Hye Kyung yang masih terpesona dengan hasil jepretan Ryeo Wook.

Butuh beberapa detik untuk membuat Hye Kyung sadar Ryeo Wook sudah beranjak. Dia mencibir pelan ‘Tidak sopan!’ rutuknya dan kembali berjalan menuju apartemennya.

Hye Kyung sudah membuka pintu apartemennya saat pintu apartemen Ryeo Wook terdengar membuka pelan. Hye Kyung memutar sedikit kepalanya, sebagian badan Ryeo Wook terlihat menyembul dari dalam “Semoga kau bermimpi indah Shin Hye Kyung-shi,” ucapnya lirih. Sebelum sempat Hye Kyung menjawab, Ryeo Wook sudah kembali menutup pintu apartemennya.

“Kau juga, semoga bermimpi indah.” Bisik Hye Kyung sambil memandang pintu apartemen Ryeo Wook yang sudah tertutup.

“Siapa yang bermimpi indah?” Hye Kyung mengerjap saat foto ditangannya terlepas. Jae In sudah berlalu mengamati foto yang baru saja dirampasnya dari tangan Hye Kyung.

Eonni, kembalikan itu fotoku!” Hye Kyung mengejar Jae In saat gadis itu berlari ke ruang tengah dan menyerahkan foto milik Hye Kyung kepada Eun Kyo yang tengah duduk di sofa di depan televisi dengan mengunyah beberapa cemilan. Hye Kyung mendengus, tamat sudah riwayatnya malam ini. Kedua teman satu apartemen yang lebih tua dari nya itu pasti akan menginterogasinya.

“Hye Kyung menerimanya dari seseorang, aku yakin itu seorang laki-laki.” Jae In menjelaskan. Dia duduk di samping Eun Kyo, mengambil sebuah snack diatas meja. “Dia bahkan mengucapkan ‘Kau juga, semoga bermimpi indah,’ dengan suara yang sangat lembut.” Jae In menirukan gaya bicara Hye Kyung.

“Jinjja?!” Eun Kyo mendelik tertarik, sementara Hye Kyung tidak tertarik mendengar ocehan Eun Kyo maupun Jae In. Dia berjalan ke dapur, membuka lemari es dan mengambil sebotol minuman dingin dan meminumnya.

“Aku yakin itu pasti Chang Min,” ujar Eun Kyo membuat Hye Kyung tersedak. Bagaimana mungkin Eun Kyo bisa menyangka itu Chang Min.

“Atau teman kampusnya Do Kyung Soo?”

“Ah atau Lee Jin-Ki? Koki kafe?”

“Bisa jadi itu dari Kim Hee Chul.”

Jae In dan Eun Kyo terus berdebat mengira-ngira dari siapa foto itu berasal.

Yaa! Hye Kyung-ah itu pasti Shim Chang Min, benar, kan? Laki-laki yang selalu mengantarmu pulang dari kafe?” tebak Eun Kyo dengan yakin.

“Bukan, Eonni. Itu pasti Do Kyung Soo, laki-laki yang selalu bersamanya saat di kampus.” Sanggah Jae In.

“Bukan keduanya, Eonnideul.” Hye Kyung mendesah malas. Kemudian dia mengambil foto miliknya. “Ini dari Kim Ryeo Wook,” ucapnya dan kemudian berlalu menuju kamarnya.

“Kim Ryeo Wook?” Eun Kyo dan Jae In berucap kompak. Keduanya saling pandang sesaat. Hye Kyung buru-buru menutup pintu kamarnya sebelum serbuan pertanyaan keluar dari Eun Kyo dan Jae In.

“Kim Ryeo Wook tetangga sebelah kita itu?”

“Bagaimana ceritanya dia bisa memberimu foto itu?”

“Yaa! Shin Hye Kyung kau berkencan dengannya?”

“Atau dia menyukaimu?”

“Kau menyukainya?”

“Kalian membicarakan apa?”

Hye Kyung menyumpal kedua telinganya dengan headset purple miliknya. Membiarkan lagu-lagu kesukaannya memenuhi telinganya. Setidaknya itu lebih baik daripada harus mendengar teriakan Eun Kyo dan Jae In di luar. Oh, ini hari yang cukup melelahkan, haruskah dia masih di berondongi pertanyaan-pertanyaan tidak penting seperti itu?

Sedangkan di luar kamarnya, tanpa sepengetahuan Hye Kyung, Eun Kyo dan Jae In terus menggosipkannya. Sesekali berdebat kecil karena pendapat mereka yang terkadang berlawanan.

– Part Time Job –

Kim Ryeo Wook tengah disibuk kan dengan kertas gambar di hadapannya saat ponsel miliknya berdering. Nama cher frère menari-nari dilayar ponselnya. Ryeo Wook tersenyum diliriknya sekilas jam yang tergeletak di meja kerjanya, masih pukul 6 pagi ada apa dia menelpon sepagi ini, pikirnya.

“Ya, ma soeur,” Ryeo Wook menjauhkan ponselnya saat suara keras yang terkesan manja terdengar.

“Bisa kau ulangi lagi, ma soeur aku tidak bisa mendengar karena kau berteriak?!” Kemudian Ryeo Wook terkekeh saat suara di ujung sana semakin berteriak kesal. Ryeo Wook bangkit dari tempat duduknya menuju jendela kaca di sampingnya. Matanya menangkap sesuatu, ‘Sepagi ini?’ bisiknya dalam hati. Seorang gadis tengah membersihkan seekor kucing yang berada di pinggir jalan dari butiran salju yang hampir menyelimuti seluruh tubuh kucing dengan bulu coklat bercambur putih.

“Kemarin aku benar-benar sibuk, ma soeur.” Jawab Ryeo Wook singkat. Konsentrasinya sudah terbagi saat ini antara mendengarkan seseorang yang tengah mengomel di balik telepon atau memperhatikan seorang gadis yang tengah menolong seorang kucing yang kedinginan.

Gadis berambut sepunggung itu mengelus sang kucing dengan sayang, kemudian merogoh saku coat merah yang dipakainya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan handuk lalu menyelimutkannya kepada sang kucing. Beberapa saat kemudian gadis itu terlihat tengah berbicara—yang Ryeo Wook tidak tahu apa yang dibicarakannya—lalu menggendong si kucing sedikit menjauh dari jalanan dan meletakkannya di sebuah rerumputan yang cukup lebat.

Tanpa sadar Ryeo Wook tersenyum mengacuhkan begitu saja seorang gadis yang berada di ujung telepon.

“Ya, ma Soeur kau bisa mengulanginya lagi? Aku? Aku sedang berada di apartemen. Sedang menerima telponmu tentu saja. Hahahaha… Ya, aku tidak sedang melakukan apapun. Tentu saja aku mendengarkanmu.” Ryeo Wook terkekeh, tiba-tiba saja dia teringat wajah gadis dalam telepon, membayangkan saat gadis itu tengah merajuk kesal sangat lucu. Saat Ryeo Wook kembali menghadap jendela kacanya gadis tadi sudah bersama dengan seorang laki-laki. Laki-laki yang dilihatnya semalam bersama gadis itu di taman dekat apartemen. Ryeo Wook kembali tidak fokus dengan telponnya, dia lebih memilih memperhatikan dua orang yang tengah bersama di depan gedung apartemennya. Shin Hye Kyung dan seorang laki-laki berambut wavy kecoklatan. Ryeo Wook merasakan darahnya berdesir hebat, sama dengan keadaannya semalam saat melihat Hye Kyung bersama laki-laki yang sama. Sejak semalam dia terus berfikir, ‘Siapa laki-laki itu? Apa hubungannya dengan Hye Kyung?’

Ryeo Wook mengerjap, saat suara di ujung sana mengelukan namanya dengan lantang.

“Aku masih disini, ma soeur, apa?” Ryeo Wook nampak berfikir keras, meskipun dia tidak yakin dia masih bisa berpikir setelah melihat pemandangan yang membuatnya hampir down diwaktu sepagi ini.

“Terserah kau saja. Ya, kau atur ulang lagi saja. Ndeeeeee….” Ryeo Wook menutup teleponnya dan kembali menatap ke luar jendela. Mobil laki-laki itu sudah tidak ada di sana, Hye Kyungpun sudah tidak ada. Dia menghela napas pelan benar, kenapa dia harus memikirkan mereka? Memangnya siapa mereka sampai membuatnya merasa sesak seperti itu. Ucapan-ucapan gadis di telepon tadi seketika terngiang di telinganya.

“Baiklah, aku akan melakukannya, ma soeur.” Ucap Ryeo Wook, yakin.

TBC

Note : Daaaaan akhirnya bisa nulis TBC juga! *lap keringet* Wakakakakak *ngakak cantik* duh, maaf banget buat Fika eonn yang sudah dibuat rempong oleh saya hahaha. Ikha eonn yang mungkin kesel gara-gara ff saya gg jadi-jadi. Kekekekek udah lama nggak nulis FF, *semenjak sibuk kuliah mungkin* hahaha jadi maaf kalo ceritanya aneh, bahasanya amburadul, ancur, nggak dapet fell atau apalah semacamnya kekurangan yang kalian dapatkan di FF ini ><. Makasih buat Fika eonn yang dengan setianya selalu memberikan semangat “ayo opi kamu pasti bisa” , “semangat opi ayok semangat” hahaha itu sesuatu banget eonn duh jadi terharu *lap ingus* okee untuk part berikutnya saya usahakan secepat mungkin xdxd mudah-mudahan mood bagus, ujan aja tiap hari biar mood bagus. Wkwkwk. Lasssssstttttttttttt terimakasih atas perhatiannya😀😀

53 responses »

  1. Aku masih penasaran sama part kemaren (misteri perempuan yang membuat Park Jung Soo terpesona), siapakah itu? aku kira bakal di jelaskan di part 2, tapi nyatanya nggak….jadi penasaran

    Dan keliatannya bakal ada cinta segi 3, di kisah Hye Kyung, atau bahkan segi empat( soalnya banyak banget laki-laki dideketnya) dan semuanya laki-laki yang manis…oho

    • Annyeong~ pertama terimakasih sudah membaca dan menyempatkan komen di ff ini😀
      iya emang konsep FF colab kita kali ini 1 part, 1 author yang publish tiap minggu bergantian, jadi kalo penasaran sama partnya Eun Kyo dan Jung Soo tunggu 2 minggu lagi. hehee

  2. Kirain masih lanjutin jungsoo kmrn eon,ternyata ini part hye kyung jadi pas awal baca rada bingung juga…
    wah si hye kyung jadi buat rebutan nih hehe,ayo changmin ryeowook berjuang ㅋㅋㅋㅋ
    Next chap aku tunggu😉

  3. Inii partnya hyekyung🙂
    Duhh changmin ma ryeowook barengan suka ma hyekyung.. kkkk bakalan srru nihh.. tpi aq msh penasarn dgn partnya eunkyo ma jungsoo? ?
    So ilike it, next.nya d tggu dgn senang hati🙂

  4. eoh tiap authorny pegang 1 karakter y??

    fika eonni eunkyo
    ikha jae in
    untuk part ini untuk haekyung mian g tau nma authorny

    bacany prlu konsentrasi pnuh yahh banyak castny

    haekyung buat rebutan nih ye cie cie antara ryeowook ma changmin tapi kykny hae kyung ska ma ryeowook deh
    kyaknya…kkekeke

    next partny d tunggu

  5. kya.. knpa d’part ini gx ada jung soo oppa’a sma sx..
    qrain mw ngebahas ttg jung soo oppa..
    bukan’a d’part sblum’a sblum tbc ngebahas jung soo oppa..

    ju2r ajj q msih blum dpet feel n mengerti ttg ff ini, ap krna stiap part berbeda..

    semoga ajj part selanjut’a q bisa nemuin feel n mengerti ttg ff ini..

  6. Akhirnyaaaa kbaca juga.. Fiuhhh
    Bgus eon, mnis gmana gitu dan ceritanya rapi🙂 bkal ada cinta segitiga khh?? Tp cp yg telponan ama wooki oppa?? Bkin pnasaran..
    Hmm baru nyaut ini otak, ternyata 1couple author tohh #ehh iya gk sihhh?? Hmm jd gk sabar pengn ngerti ama couple terakhir #lirik jae in
    tp eon bkannya klo buat kucing itu seekor y?? Kann kucing bukan org??
    Tp suka ama ceritanya, di tunggu next part nya😀

    • bener manis? aku udah bawa gula loh takut kurang manis *lo pikir vi -__-*😀
      siapa hayo yang telpon? kekekekk. Yupssssss tepat sekali 1 author 1 bintang utama dengan cerita masin-masing. eh iya kah? aku salah nulis berarti x_x terimakasih sudah teliti cintah :* siaap selamat menunggu, dan terimakasih sudah membaca😀

  7. Readersnya pada kecele nih….nungguin momentnya teukyo kemaren e….malah nongol couple baru keke…
    Tapi keren kok,,,siapa yg telp wookie ya,,jgn2 maminya nyuruh wokie kencan buta…:-D
    Brarti part selanjutnya jae in donk???
    Ditunggu buat next partnya
    Buat fika thanks berrrat utk inponya

    • hooh onn pada kecele, padahal fika jelasin perasaan udah jelas banget di note kemaren, tapi malah banyak yang kaga ngerti, atau mereka kaga baca kali yah? kaga penting juga sih notenya cuap-cuap belaka, tapi biasanya bagi fika, note itu yang palng penting…

    • tapi berasa tulisan eonn nggak berharga banget udah ngomong panjang lebar #Plak* xd

      yeah Al *kaya nama anaknya Ahmad Dhani* ppffttt. siapa hayo yang telpon?? well, biar itu menjadi misteri untuk sementara -_-
      terimakasih sudah membaca

  8. baca’a hrs bner’ fokus soal’a byk bgt cast namja’a,,, aku kira nanti hye kyung ama changmin, eh ternyata gag nyangka kalo ada namja lain yg ternyata wookie bner’gag nyangka, tpi kyk’a c hye kyung ama wookie dan konflik’a nanti pasti bkal seru… nunggu teukyo moment

  9. eh? kupikir chap ini jelasin momen terakhir si abang sama perempuan yg buat dia terpesona *manyun*

    ternyataaaa…

    hihihihi…

    tapi tetep keren kok…
    aku mulai ngerti sama alur GP… kayak Love Is….
    1 part 1 author… hihihihi
    ditunggu lagi TeuKyonya eonni😀

  10. kayaknya bakal ada cinta segitiga haekyung changmin sma wookie. . .
    yang nelpon wook siap sih? trus sia nyruh apa y?

    oy eon, maaf kritik dikit : harusnya seekor kucing, bukan seorang, bunyinya jadi aneh
    hehe

  11. nah loh…
    syukurin aja tu changmin…
    hyekyung deket sm ryeowook no…
    itu knp si heechul jd evil bngt kkk…
    oke krn sy trll bingung mau comen apa kkkk…jd sikian trimakasih😀

  12. Kerenn ceritanya bagus, sukaaa banget.. Meskipun agak bingung2 di awal2 tapi lama-lama aku ngerti juga hehehe
    Aku kira ini lanjutan chapter 1 kemarin, taunya bukan ya hehehe
    Aku tunggu lanjutannya teukyo couple yaaa ;;) yang ini juga kokk hehehe ;;)

  13. sela tinggalin jejak dulu deh. sela baru baca setengh. maaf y eon blm smpt baca senua.. eh eh.. ada nampyeon ku d sini hehehe (jinki). tp cm jd figuran aja ya eon.. ^_^

  14. Aku pkr akan dilnjtin part-a jungsoo dng gadis y membuat-a terpesona..ternyta eh ternyata part-a hae kyung y mncl.tp g pa2 ttp seru kok.
    Next…

  15. aaaaa… keyennn
    apa lgi itu ada namkor q yg jd OC nya :v walau beda marga…
    kurang panjang author😀 #digampar authornya
    gemes sama changmin, dan sedang menunggu kpn si mulut pedas -hee chul oppa- mengeluarkan kepedasan mulutnya d ff ini.

    dan maaf buat fika eonni karna jrang bls notice smsnya dan baru bisa baca+komen sekarang #membungkuk90derajat karena ip smester kmren jelek pkek bnget dan bkn down yg berakibat g semangat ngapa2in #malahCurcol😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s