Love is . . . (Feeling 2)

Standar

7IKHA

Yeong Seo’s Home, Gangnam, Seoul

            Sabtu tiba lebih cepat dari yang Yeong Seo bayangkan. Sabtu yang indah dengan matahari terbit di ufuk timur sebagai awal harinya. Tak ada lagi alarm jam enam pagi dan tak ada lagi sikap terburu-buru pagi itu. Ia bisa datang ke kantor jam sepuluh pagi untuk mengisi daftar hadir staf dan menghadiri meeting dan briefing mingguan jam sebelas siang, lalu menyerahkan jadwal perjalanan bisnis Jung Soo yang sudah selesai ia susun seharian kemarin hingga ia lupa diri berada di kantor hingga jam sepuluh malam yang mana hal itu sangatlah langka mengingat jam tidurnya yang begitu cepat juga jam bangunnya yang lambat.

                       Ia memeriksa luka di lutut akibat kecelakaan atau ya… semacam insiden kecil dua hari yang lalu. Luka itu berbekas, tentu saja dan satu minggu lagi mungkin akan menghitam dan ia butuh menemui spesialis kulit untuk mengambil resep obat penghilang bekas lukanya. Ia mendesah. Perkataan pria itu ada benarnya, penampilannya adalah asetnya, bahkan ia tidak percaya bahwa menjaga semua itu adalah hal bodoh yang sangat menyusahkan sepanjang masa. Walau tidak tampak kentara, tetapi ia tetap harus memakai stocking untuk menutupi plester kecil yang ada di lutut dan ia membenci memakai benda transparant itu di kaki. Ya, lagi-lagi si pria itu membuat segalanya lebih sulit dari yang ia bayangkan.

            Jam sembilan pagi Yeong Seo baru menendang selimut tebalnya dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk mengganti pakaian tidurnya. Hari ini ia tidak akan memakai rok ketat atau kemeja dengan kerah elegan dan semacamnya. Ia mengambil gaun terusan berwarna tosca dengan blazer hitam juga stiletto yang tidak terlalu tinggi ia pasang di kakinya berikut stocking hitam transparant ia pasang susah payah hingga pangkal kakinya.

            Park Corpoation selama beberapa tahun ini membebaskan hari sabtu bagi semua staf untuk memakai pakaian semi formal yang tidak membosankan, apalagi ini adalah musim panas, akan ada banyak warna yang mereka pakai nanti, tidak rok ketat-pendek-berwarna-gelap dan kemeja putih atau putih tulang yang sama-sama membosankan. Ia akan melihat gaun-gaun semiformal selutut pada karyawan wanita dan kemeja berwarna pada pria. Itu membuat harinya semakin membaik.

            Saat sarapan ia tak melihat ayahnya, ibunya mengatakan bahwa ayahnya sudah berangkat jam enam pagi ke bandara untuk mengambil pesawat ke New York untuk mengurusi bisnis lain. Yeong Seo hanya mengangguki cerita ibunya untuk yang satu itu. Setelah ayahnya dan keluarga dari ibunya mengelola Park Corporation hingga kembali ke keadaan semula, pria itu memutuskan untuk kembali mengurusi bisnisnya dan hanya berperasn sebagai salah satu pemegang saham, ia bahkan menolak untuk menjabat sebagai direktur, menurutnya itu adalah beban. Maka ketika perusahaan stabil dalam lima tahun pria itu kembali sering pergi ke beberapa negara dalam setahun untuk mengurusi bisnisnya. Ia juga mengabaikan anak dan istrinya untuk beberapa waktu karena itu ketika Yeong Seo mendapat kabar itu ia tak akan bereaksi lebih atau semacamnya.

“Cheon Hee menelpon pagi sekali,” beritahu ibunya saat ia menuangkan air ke dalam gelasnya. Meja makan terasa sepi saat hanya ada mereka berdua menikmati roti masing-masing di meja.

“Apa yang dia katakan? Aku sengaja menonaktifkan ponsel,”

“Ya aku tahu, kau lembur semalam,” tukas ibunya dan tersenyum maklum. “Dia menyuruhmu untuk datang menemuinya jam lima sore di tempat biasa. Apa mungkin… dia menyediakan pria untuk kencan butamu lagi? Kuharap kali ini berhasil,” Nyonya Park berseri dan melahap rotinya sumringah.

“Eomma….” Yeong Seo mendesah. “Dia hanya membuang waktuku setiap weekend,” cetusnya sambil cemberut.

“Itu karena kau terlalu pemilih. Pergilah dan kali ini jangan buat masalah dengan pria yang ia kenalkan padamu. Kalau bisa langsung pacaran saja dan kenalkan padaku kemudian,”

Eomma, apa kau pikir berpacaran semudah itu?!” Yeong Seo berseru. “Bagaimana kalau aku tidak suka cara dia berbiacara, cara dia berjalan, cara dia makan, cara dia hidup, bagaimana jika kepribadian kita tidak cocok. Apa dia Aries? Aku takut dia tidak cocok dengan Taurus,”

“Demi Tuhan Lee Yeong Seo,” Nyonya Park memutar bola matanya. “Kau masih percaya horoskop, setua ini? Lihat dirimu?!” beliau menunjuk putrinya.

“Apa?!” raung Yeong Seo dengan menajamkan mata. “Eomma, biarkan saja aku seperti ini,”

“Baiklah, baiklah… aku menyerah denganmu, aku menyerah dengan urusan percintaanmu,”

“Yah, begitu lebih baik. Aku berangkat,” Yeong Seo meraih tas bertali panjangnya serampangan sementara Nyonya Park menarik napas lebih dalam dan memanjat berbagai doa dalam benaknya untuk putri keras-kepala-semata-wayangnya yang—

“Ah, jjam,” Yeong Seo berbalik di pintu dan menyeringai, “apa boneka Garfield pesananku sudah sampai?”

Ibunya menggeleng dan mendesah. ‘Yang Demi Tuhan… Kenakana-kanakan,’

“Tidak heran kau belum menemui jodohmu, Nak!” imbuh Nyonya Park saat audi Yeong Seo keluar dari gerbang rumahnya.

***

Cafe in the Sat-night, Hongdae Street, Seoul

“Kim Joon, Lim Siwan, Kang Tae Suk, Andrew Choi, Zhang Xui Li, Ferdinan—”

“Cukup Cheon Hee!” desah Yeong Seo dan memijat pelipisnya. “Aku menyerah,”

Cheon Hee—yang duduk di sebrang meja Yeong Seo—menurunkan beberapa foto berukuran 4R ditangannya ke atas meja kayu, tepat di samping dompetnya. Ia menatap Yeong Seo, —sahabatnya sejak ia kuliah—dengan lekat, tanpa mengabaikan rasa prihatin yang meliputi perasaannya.

“Baik, setidaknya ini yang terakhir. Aku janji, oke?”

            Yeong Seo menaikkan pandangan dan menatap sahabatnya dengan wajah paling lelah yang pernah ia miliki. Ia merasa ia memang… selelah itu, padahal ia tahu persis bahwa itu adalah hari Sabtu, hari dimana segala macam kemerdekaan pekerjaan gadis itu dapatkan di kantor.

“Aku hanya peduli padamu, kawan. Oh, ayolah…,” Cheon Hee menatap Yeong Seo prihatin. “Aku janji, dan… maaf, sudah confirm,” putus gadis berambut ikal bernama Cheon Hee itu. “Makanlah dulu, lasagna baik untuk malam secerah ini,” imbuhnya dan ia sendiri memotong tenderloin miliknya.

Perlahan Yeong Seo mengambil pisau di tangan kanan dan garpu di tangan lain. Menyuapkan makanannya enggan ke dalam mulut. Disaat itu Cheon Hee gunakan kesempatan itu untuk menyodorkan sebuah foto lain berukuran sedang ke arah Yeong Seo. Seorang pria yang tampak tampan dengan balutan jas resmi dan senyum menawan.

“Tidak bisa cancel, maaf,” ujar Cheon Hee begitu Yeong Seo menatapnya kesal.

Ada jeda lumayan lama hingga Yeong Seo menelan kunyahannya sampai akhirnya ia mengangkat foto yang diserahkan sahabatnya dan menatapnya dalam jeda yang panjang.

“Lee Hyuk Jae,” gumamnya bahkan tanpa ia sadari. Menatap foto itu dalam seakan mengingat sesuatu yang sebenarnya sudah lumayan lama ada dalam otaknya.

“Kau kenal dia?” mata bulat Cheon Hee melebar diserati senyum bahagia yang terkembang begitu sahabatnya itu mengangguk pelan, masih dalam ambang kesadaran minimal.

“Dia…,” tiba-tiba wajah putih bersih dan rambut kecoklatan juga gummy smile milik pemuda itu terlintas begitu saja. Sedikit melankolis ketika Yeong Seo membayangkannya, seperti sederetan gambar yang direkam otaknya beberapa waktu yang lalu, saat dia berbicara, cara dia minum, tersenyum, tertawa, menatapnya dan terakhir… menabraknya, hampir membunuhnya dan membuat kakinya terluka dan tulang pinggulnya hampir patah dan… Yeong Seo hanya melebih-lebihkan.

Ia terperanjat sendiri dari lamunannya, saat terbayang kembali bagaimana Porsche elegan berwarna putih membuatnya tersungkur dan berakhir dengan pendarahan cukup banyak di lutut. Ia mengedip dan menggeleng.

“Ah, ya… si pria menyebalkan ini,” gerahamnya merapat. Ingat bahwa ia demam semalaman akibat inflamasi luka kecil sialan itu. Ia menatap sebal foto di tangannya.

“Dia….?” Cheon Hee memiringkan wajahnya dan tatapannya penuh selidik.

“Tidak, tidak… dia… hanya rekan bisnis. Saudara dari temannya-rekan-kerja-lama-Jung Soo Oppa. Ah, apalah itu namanya. Pengusaha, kaya, rapi, tampan, sibuk dan… ya, seseorang yang seperti itu,” Yeong Seo mengibaskan tangan seolah topiknya memang tak penting untuk di bahas lebih lanjut dan meletakkan foto begitu saja.

Baik. Tunggu! Tampan? Yeong Seo bergidik ngeri dan melanjutkan makannya dalam mood yang tiba-tiba naik turun tanpa alasan.

            Yeong Seo tidak peduli jika memang pria itu tampan. Memangnya siapa yang akan mengenang pria brengsek yang membuatnya terluka dan berakhir dengan setumpuk hukuman tanpa ampun dan wajah masam Jung Soo sepanjang hari? Ditambah lagi ia harus menahan kaki di atas tumit tinggi berikut denyutan yang saling bersahutan seperti hendak membuat kakinya patah jadi dua dalam waktu kurang lebih sepuluh jam dalam seharian itu.

            Tapi ia hanya cukup membayangkan tatapan mata pria itu ketika ia meringis di dalam lift sendirian. Ya, tatapan matanya yang tajam seperti ingin menembus hingga membaca apa isi otaknya, membaca apa yang sedang dipikirkannya. Bukan hanya itu, dalam waktu bersamaan pemuda itu memiliki tatapan seperti seorang ayah, hanya dengan menatapnya Yeong Seo merasa terlindungi dari apapun. Lalu, mungkin Yeong Seo menyukai tatapannya, menyukai bagaimana ia merasa aman hanya dengan melihatnya. Lalu, untuk merasakan perasaan itu, Yeong Seo tahu-tahu menginginkan menatapnya lagi.

            Tapi pria itu membuat satu hari naas itu semakin sial saat di malam hari Jung Soo mengomel soal jadwal perjalanan bisnisnya ke Australia yang memang… Demi Tuhan, hanya berupa soft file dan karena keterlambatannya jadwal itu masih menggantung setengahnya di dalam komputernya dan malam itu ia berakhir dengan menggeluti jadwal keparat milik kakak-sepupunya-yang-super-duper-cerewet itu, sendirian. Sialnya, itu semua karena Lee Hyuk Jae brengsek itu.

“Jadi… kau setuju untuk membuat pertemuan dengan klien baruku?” Cheon Hee rupanya belum ingin mengubah topik dan membuat Yeong Seo hampir melemparkan pisau ke wajah putihnya.

Klien? Tunggu!

“Klien?! Maksudmu?” Yeong Seo mengambil kembali foto yang dicampakkannya beberapa detik yang lalu, kemudian ia baru sadar dan matanya terbelalak. “What are—”

“Yes, he is my client. And he is here,” kata Cheon Hee dengan tenang dan tersenyum puas melihat wajah tercengan sahabatnya.

“HERE?” teriak Yeong Seo dengan mata melotot. Sahabatnya hanya tersenyum lebih manis lagi. Ia membereskan barang-barangnya berikut foto yang masih dalam tangan Yeong Seo ia masukkan ke dalam tas kecilnya, kemudian mencondongkan tubuh ke arah Yeong Seo. “Absolutely here. Bersikaplah baik, Yeongie~a,” tegasnya dengan suara berbisik diikuti kerlingan mata menyebalkan setelahnya.

Cheon Hee menunjuk ke parkiran cafe dengan dagunya lalu seseorang itu—yang sedang mereka bicarakan itu—mungkin baru saja turun dari mobil dan memasuki cafe dengan langkah santainya. Dengan blazer semi formal yang membalut kaus putih pas badan di dalamnya, ia berjalan penuh percaya diri. Yeong Seo masih melongo dan kesadarannya belum kembali setelah beberapa saat yang lalu ia dipaksa menyadari suatu kenyataan bahwa teman kencan butanya minggu ini adalah Lee Hyuk Jae sialan itu.

Cheon Hee menghampiri tepat di pintu dan berbicara sebentar dengan pria itu lalu menunjuk Yeong Seo di mejanya.

Tak terduga, kan? Malam ini, habislah kau Lee Yeong Seo.

Cheon Hee cekikikan saat ia masuk ke dalam mobil dan meninggalkan sahabatnya lalu mendesah penuh harap agar malam ini adalah malam akhir pekan terakhirnya merecoki sahabatnya dengan laki-laki. Ia berharap Lee Hyuk Jae pilihan yang tepat.

Kembali ke cafe, Yeong Seo hampir menahan napas saat Lee Hyuk Jae menghampiri mejanya dengan senyum cerah.

“The bastard is here!” bisik Yeong Seo pada dirinya sendiri dengan suara tercekat saat Hyuk Jae mengabil kursi yang tadi di duduki oleh Cheon Hee.

Really Here…

***

            Entah bagaimana ceritanya, Yeong Seo tidak ingat, yang jelas kini sahabatnya menghilang dan ia baru sadar semuanya terjadi begitu saja. Orange juice yang ia habiskan bersama lasagna telah berganti teh hijau dengan cangkir putih yang masih mengepul asapnya juga meja kotor bekas tenderloin milik sahabatnya berganti espresso yang tersaji dalam cangkir hitam dan Lee Hyuk Jae yang duduk dengan senyum kini tepat berada di hadapannya pula.

“Kau sering ke sini?” pria itu berkata, basa basi atau serius ingin tahu, Yeong Seo tidak yakin. Ia menelan ludah yang hampir selalu membuatnya terdesak itu dalam-dalam. Ia tidak langsung menjawab, malah menggumamkan sesuatu yang lain.

“Kebetulan macam apa ini?”

Hyuk Jae tertawa dan menatapnya namun tidak menanggapi lebih jauh. Di dunia ini jarang sekali yang namanya kebetulan. Baginya, mencari informasi seorang Lee Yeong Seo bukanlah hal yan sulit dilakukan. Setelah ia menerima profil Yeong Seo siang ini dari sahabatnya yang juga bekerja di Park Corporation dan mendapat nomor telepon Cheon Hee sekaligus, Lee Hyuk Jae tidak memilih mengulur waktu dan dengan cepat melakukan tindakan yang seolah-olah… semacam kebetulan. Maka disinilah dia. Menyamar sebagai klien agen biro jodoh amatiran seperti Cheon Hee dan menemui Yeong Seo selayaknya klien yang sama terkejutnya dengan gadis itu. Padahal, siapa yang tahu, dia sendiri sutradaranya.

Jika mereka bertanya mengapa, tidak diragukan, Lee Yeong Seo menarik perhatiannya lebih dari sekedar sekertaris yang menemani bosnya bekerja. Sialnya, Yeong Seo menjelma bukan sebagai wanita semacam itu, tapi wanita yang membuatnya penasaran setengah mati.

Hyuk Jae kembali hanyut dalam  udara di sekitar mereka. Lalu ia baru menyadari suara-suara di sekitarnya, denting sendok dengan piring, suara penyanyi Bruno Mars yang diputar dengan volume kecil juga suara pembicaraan samar dari beberapa sudut meja lain.

“Bagaimana dengan… lututmu?” Hyuk Jae hampir melongokkan kepala ke bawah meja tetapi Yeong Seo buru-buru mencegahnya.

“Wait!”

Hyuk Jae menegakkan kembali tubuhnya.

“Yah, lumayan. Tapi cairan anti radang itu perih sekali,” ujarnya berlebihan.

Hyuk Jae tersenyum masam dan meneguk kopi di gelasnya seolah meredakkan kecanggungan yang ada.

            Kecanggugan itu memang kentara sekali walaupun semuanya sudah direncanakan. Mereka hanya saling melempar pandang, tersenyum dan meneguk minumannya. Karena itu, merasa bosan, saat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam mereka memutuskan keluar, ya, lebih tepatnya Lee Hyuk Jae yang mencetuskan ide untuk pergi ke luar dan berbicara lebih banyak.

 ***

24th Floor, Central Building, Park Corp

            Sementara ketika malam terjaga di tempat lain. Jung Soo baru keluar dari ruangannya membawa setumpuk berkas di tangan kiri dan kopernya, jas di tangan kanannya. Wajahnya lusuh seperti kertas yang baru saja diremas. Ini memang hari sabtu, tapi pihak acara lelang datang tepat saat Yeong Seo menghilang jam empat sore dan gadis itu mengabaikan panggilanya, jadi Jung Soo menyiapkan rapat dadakan sendirian, dan sekertaris Kim baru datang ketika rapat sudah berlangsung setengah jam. Harinya buruk sekali, bukan?

Ini bahkan hari Sabtu tapi pekerjaannya tidak ingin berlibur sama sekali.

“Perlu bantuan?”

Jung Soo mengulas senyum saat melihat Eun Kyo berdiri tak jauh darinya dan menyandarkan tubuhnya di dinding koridor.

“Kau berjanji pulang jam lima sore untuk mengurusi keperluan kita,” omel gadis itu saat meraih jas dan kopernya. Tak ingin menyentuh berkas sialan yang menjadikannya kadang nomer dua dalam hidup Jung Soo.

“Aku minta maaf,” Jung Soo mengacak rambut belakang istrinya itu lembut dan berjalan beriringan.

“Jangan membuat janji lain kali. Anggaplah setiap hari adalah hari Senin,”

Eun Kyo menekan tombol lift menuju lobi.

“Aku serius. Aku tidak tahu kalau ada rapat dadakan sore ini dan Yeong Seo… anak itu menghilang di jam pulang,”

“Jika sudah jam pulang memang harus pulang,” Eun Kyo mengeryit merasa melakukan sebuah dosa kecil karena membuat dirinya berpihak pada gadis itu. Bukan itu sebenarnya, tapi ia memihak diri sendiri, memberikan peringatan atas apa yang Jung Soo lakukan. “Seperti aku akan peduli saja,” gumamnya, lebih kepada diri sendiri dan Jung Soo sepertinya tidak mendengarnya.

“Ini masih jam delapan, apa kita perlu berbelanja beberapa keperluan seperti pakaian atau—”

“Aku sudah menyiapkan kopermu untuk besok,”

Jung Soo mendesah berat.

“Atau menonton film dan makan malam di luar mungkin?” Jung Soo kembali bertanya hati-hati dan Eun Kyo mendelik saat pintu lift tertutup di depan mereka. Wanita itu terdiam, memandangi bayangan mereka di pantulan dinding lift.

Menonton film?

Ia berpikir lama seolah hal itu sesuatu yang sulit dan otaknya tak mampu mengingat bagaimana saat mereka pergi menonton film. Dan ia berakhir dengan ingatan semu. Kapan terakhir kali mereka melakukannya, Eun Kyo tidak ingat. Saat kencan pertama? Saat pertama berkenalan? Ah, Eun Kyo kesal mengingatnya.

“Apa menurutmu kita harus pergi menonton film?” wanita itu menundukkan wajah melihat sepatu Jung Soo yang mulai kusam. Berpikir tentang hal romantis yang membuatnya geli sekaligus senang dalam waktu bersamaan. Seperti empat tahun yang lalu, kini emosi untuk berkencan sebagai pasangan muda tiba-tiba merasukinya.

Mungkin, jika ia melakukannya, hubungan mereka akan membaik. Harapnya.

 ***

In the other side of sat-night Seoul

“Aku lebih tua dari Donghae, hanya saja dia lahir dari kakak ayahku, aku harus menghormatinya,” Hyuk Jae tersenyum simpul.

“Karena dia memang lahir dengan skill dalam bisnis jadi tidak sulit baginya untuk beradaptasi di kantor kita. Ya, berbeda denganku yang harus menempuh beberapa tahap dan uji coba untuk jabatan penting. Tapi itu bukan soal,” papar Hyuk Jae.

Yeong Seo lagi-lagi mengangguki cerita Hyuk Jae. Kali ini tentang kakaknya yang dulu sempat tak bertemu dengannya karena hal yang tak dimengerti, seperti kemacetan. Setelah Hyuk Jae menceritakan tentang bagaimana ia menggapai jabatannya, jatuh bangun kariernya di kantor dan akhirnya ia menjadi pemegang tetap jabatan wakil direktur sejak dua tahun terakhir.

“Bagaimana denganmu?” pemuda itu bertanya dan menoleh di sela langkah pelan mereka.

“A-aku?”

“Ceritakan tentang dirimu!”

“Ah,” Ia tersenyum pada trotoar di bawah kakinya dan menyelipkan rambutnya, seperti yang sering ia lakukan. “Aku baru kembali dari Amerika beberapa bulan yang lalu,” mulainya.

“Kau baru selesai kuliah atau bekerja dan sekalian menemukan kisah cinta?”

“Tidak, aku bekerja di sebuah perusahaan export-import. Disana membosankan. Aku tidak suka kulit pria berbintik dan bos genit yang sering mengajakku tidur di mensionnya, itu sedikit menggelikan. Aku bukan wanita seperti itu,” Yeong Seo tertawa miris. Mengingat kembali wajah direkturnya. Pria pirang dari New York yang ‘katanya’ mengindamkan gadis Asia. “Aku… hanya bekerja,” tegasnya membuat Hyuk Jae mengangguk, puas.

“Hanya bekerja,” ulang pria itu.

“Empat tahun aku disana dan mengeruk uang banyak, sebenarnya,” Yeong Seo kembali bercerita dan mengakhiri kalimat pembuka dengan tertawa kering, “tapi aku merindukan ibuku, kakakku, temanku dan…  Seoul. Aku memulai semuanya kembali.”

“Ayahmu?”

“Tidak,” Yeong Seo tercekat. “Aku merindukan ibuku lebih banyak,” Ia menatap Hyuk Jae lekat dan menyampaikan semacam kalimat seperti ; ‘bisakah kau tidak membicarakannya?’ atau semacamnya.

“Beberapa bulan semenjak aku datang ke Korea, aku direcoki temanku, Cheon Hee. Dia mengenalkanku dengan berbagai jenis pria dan aku melakukan kencan buta setiap weekend lalu berakhir sia-sia,”

Hyuk Jae menghentikan langkahnya dan memblokade jalan Yeong Seo, ia berdiri tepat di depan gadis itu.

“Apa?”

Pria itu menyeringai namun kata-katanya menghilang begitu saja. Menguap bersama angin yang berhembus di pipinya beberapa saat yang lalu. Ia bingung haruskan ia mengatakan kebenaran bahwa pertemuan mereka bukanlah kebetulan atau ia biarkan saja Yeong Seo menganggap hal itu sebagai takdir semata? Hyuk Jae merapatkan bibir dan memilih pilihan kedua.

“Oh ya, bagaimana kau bisa menganal Cheon Hee?” tembak Yeong Seo tepat ke sasaran.

Hyuk Jae tertawa terbahak hingga beberapa orang yang tengah berjalan menoleh padanya. Gugup sebenarnya, hanya saja ia berusaha menutupinya.

“Dia… temannya temanku… ah, aku mengenal Nona Cheon Hee dari Jonghyuk hyung, ya… kami bertemu di kafetaria kantor kemarin dan yah… kau tahu gadis itu lumayan… supel, cerewet dan—”

“Menyebalkan,” tambah Yeong Seo namun senyum kecilnya tersungging begitu saja.

Haruskah ia berterima kasih?

Hening kembali mengiringi acara jalan-jalan malam mereka.

“Bagaimana dengan kisah cintamu?” Yeong Seo tiba-tiba bicara.

“Aku sibuk, Yeong Seo ssi,” jawab Hyuk Jae disela langkahnya. “Aku belum menemukannya… lagi,” gumamnya dan kali ini ia memberanikan diri mengamit tangan gadis itu dan menyelipkan jemarinya di antara jari-jari kecil milik gadis itu.

“W-wae?!” Yeong Seo bertanya. Entah pertanyaan itu untuk Hyuk Jae karena belum menemukan pasangan lagi atau pertanyaan untuk lengan mereka yang tahu-tahu bertautan. Ia tidak tahu.

Namun Hyuk Jae tetap berjalan dan tidak mempedulikan tatapan heran gadis di sampingnya. Ia hanya mengulum senyum dan merasakan hawa panas di sekitar tulang pipinya. Angin malam harusnya sedingin malam sebelumnya, tapi jemari gadis itu membuatnya bahkan merasa sehangat saat berada dalam sauna.

“Ngomong-ngomong Lee Yeong Seo,” ujar Hyuk Jae.

“Hmm?”

“Bagaimana caranya memulai kisah cinta?”

“Menurutmu?”

Mereka berhenti di pinggir taman kota. Saling berhadapan tanpa senyum meliputi dan serangkaian napas berat berhembus saat udara dingin meniup sesekali.

“Kau suka yang seperti komitmen?”

Yeong Seo meneryitkan mata tanda ia tidak mengerti dengan pertanyaannya.

“Tidak juga. Yah, memang tidak,”

Perlahan. Hyuk Jae melepaskan genggaman itu dengan senyum kecut. Bingung dengan perasaan ganjil yang saling bersahutan. Ia menyentuh lengannya. Lembut! Ia memekik dan hatinya bahagia tapi naluri pria, yah… semacam itu, ia tak mengerti dirinya. Apa Yeong Seo? Bagaimana dia menatap pria? Nyatanya komitmen tidak ada dalam hidupnya.

“Kenapa?” tanya gadis itu menyadarkannya kembali dan Hyuk Jae menatap binar ‘tanpa-dosa’ dari mata besar gadis itu.

“Tidak, aku hanya bertanya,” kata Hyuk Jae setenang mungkin dan mereka kembali berjalan dalam diam.

“Maaf soal dua hari yang lalu,” ucapnya setelah mereka memutuskan duduk di ayunan taman kota yang mulai sepi.

“Aku baik-baik saja,”

Hyuk Jae mengangguk dan ia duduk di ayunan di sebelah Yeong Seo, namun dalam waktu yang lama gadis itu tak kunjung mengayuhkan kakinya untuk membuat ayunan itu bergerak.

“Yeong Seo ssi,”

Gadis itu mengerjap dan menoleh pelan sekali dan ia menemukan Hyuk Jae menyeringai di sampingnya dengan kedua tangan memegang rantai besar yang menjadi tali ayunan mereka.

“Hmm?”

“Ceritakan lagi tentang Amerika, tentang bosmu yang genit, tentang temanmu yang membuka jasa biro jodoh. Atau keluargamu, apapun!”

Yeong Seo mendenguskan tawa kecil. “Kenapa kau tidak ceritakan dirimu saja? Tentang… pacarmu, mugkin?”

“Ah ya, wanita memang—”

Yeong Seo menoleh lagi. “Memang apa?”

“Baiklah, kalau kau memaksa aku akan bercerita sedikit,”

“Ya?”

“Aku batal bertunangan,” Yeong Seo diam, mendengar kalimat pembuka pria di sampingnya. “Lalu aku meneruskan kuliah bisnis sampai strata dua dan masuk ke perusahaan keluarga di tahun yang sama, hanya saja… aku tetap hampa, ya… wanita itu meninggalkanku saat aku sedang, ah kau tahu itu namanya cinta mati?”

“Ya, aku tahu,” Yeong Seo menyahut dan tetap terlihat antusias.

“Bertahun-tahun dan… aku bertemu denganmu. Kau… well, kau berbeda, kau lugas, polos, jujur dan profesional,”

“Kau tahu image sekertaris itu buruk sekali, kan?”

“Bosmu itu kakakmu, aku tahu. Dan bosmu di Amerika itu… bukan tipemu, ya, kan?”

“Jadi kau mengambil kesimpulan aku wanita baik-baik?”

Hyuk Jae melompat dari ayunan, adrenalinnya mendadak membuncah dan darahnya memompa. “Kau wanita baik-baik, aku tahu,” pria itu tersenyum penuh arti lalu ia berjongkok didepan Yeong Seo yang masih duduk di ayunan. Dengan senyum tipis, ia menarik dan menahan napas dalam dan memberanikan diri menggenggam kedua tangan gadis itu. Yeong Seo sempat tersentak tapi ia tetap membiarkan pria didepannya melanjutkan pembicaraannya.

Ada helaan napas dan jeda lama, mungkin angin yang penasaran membuat aksi dengan menyapu wajar putih Yeong Seo dan menerbangkan sebagian rambutnya hingga tampak dua kali lebih menarik di mata pria itu.

“Lee Yeong Seo, kau adalah gadis baik-baik.” ujarnya mengulang kalimat sebelumnya.”Aku tahu ini terlalu cepat tapi… kuharap kau adalah orangnya. Ng… maksudku,” Hyuk Jae berdeham, salah tingkah dan ia sadar bahwa ia baru pertama kali ditatap begitu dalam oleh seorang wanita. “Aku… aku serius, ya, aku serius, sungguh,” gagapnya dengan keyakinan. Yeong Seo masih menatapnya kosong.

“Bisakah kita memulainya saja? Ya, kau sudah tahu cinta mati dan kau tahu patah hati pasti kau tahu juga—”

“Love at first sight?” gumam Yeong Seo dan wajahnya terasa memanas dari tulang pipi hingga ke telinga.

“Ya,” Hyuk Jae mengangguk yakin. “Kau tahu, kau tahu persis, bisakah kita… jalani… umm…,” pria itu mendadak gugup dan salah tingkah lagi.

“Pacaran?” Yeong Seo berkata pelan.

“Yah,” seru Hyuk Jae. “Pacaran atau menikah?” lanjutnya tanpa berpikir lalu mereka sama-sama tertawa, meredakkan kecanggungan yang begitu kuat terus berada disana hingga hampir membuat kedua anak manusia itu mati kutu karenanya.

“Kau pilih mana… Lee Yeong Seo?”

Mereka terdiam, bertatapan dalam jeda yang cukup panjang. Ekspresi dan emosi mereka sama-sama tidak terbaca satu sama lain, hingga akhirnya Yeong Seo yang mengerjap lebih dulu dan menipiskan bibirnya kemudian mendesah, berat.

Utkijima! (Jangan bercanda!)” desis Yeong Seo dan kembali menatap laki-laki itu, datar. Wajah Hyuk Jae berubah wajah melongo dan keheranan.

“Aku…,” Hyuk Jae ikut bangkit saat Yeong Seo berdiri dari ayunan dan gadis itu mengulas senyum tipis namun juga sinis.

It’s oke. Kita hanya perlu melakukan beberapa pertemuan lagi,” ujar Yeong Seo. “Mungkin bisa kupertimbangkan,” lanjutnya dengan nada kaku, lalu melenggang pergi meninggalkan Hyuk Jae yang mematung di taman. Sesaat ia merasa tertohok hingga ke dasar bumi, sesaat ia merasa melayang ke angkasa. Perasaannya terombang-ambing.

Dari semua gadis di dunia yang pernah ia temui, sekertaris termasuk ke dalam nominasi gadis yang mudah dikencani dan bahkan di ajak tidur bersama. Tapi sekertaris yang satu ini jauh diluar ekspektasinya selama hidup dua puluh delapan tahun. Ia baru ditolak dengan cara yang memuaskan, dalam artian harapan yang akan terwujud sesuai usahanya di masa mendatang.

Kau pikir aku menyerah Lee Yeong Seo?

Yeong Seo menyadari Hyuk Jae masih mematung di titik terakhirnya lalu ia berbalik lagi dan tersenyum lebar.

“Kupikir aku akan menerimamu jika kau mengatakan pada sepupumu untuk mengalah pada tender bulan depan untuk Park Jung Soo!” teriak Yeong Seo dan membuat Hyuk Jae terhenyak.

Pria itu mengulas senyum lebar dan mendekati Yeong Seo. Mereka kembali berjalan menuju dimana mobil mereka terparkir. Dan hingga Hyuk Jae memarkir mobilnya di garasi rumah, senyum itu belum menghilang.

Yah, jika cinta memang sesulit memenangkan tender, kupikir kau gadis yang berharga, Lee Yeong Seo.

***

Yeongsan Cinema, the other side sat-night, Seoul

“Terima… kasih,” gumam Eun Kyo saat mereka menyusuri parkiran untuk mencari mobil Jung Soo. “Terima kasih untuk waktunya.” Ia melajutkan.

            Mereka baru menyelesaikan acara nonton mereka, mid-night film. Film roman picisan yang mungkin membosankan. Eun Kyo hampir tertidur di dalam teater, tapi berulang kali Jung Soo membangunkannya dengan alasan bahwa ada satu adegan yang sangat langka dari film itu. Mungkin adegan dimana tokoh pria itu menurunkan gengsinya dan menyatakan bahwa pria itu merindukan kekasihnya atau ketika Jung Soo melihat tokoh wanita yang terlebih dulu memeluk tokoh pria.

            Jung Soo menghentikan langkah dan Eun Kyo tetap berjalan, menyadari hal itu Eun Kyo memutar badan dan mendapati Jung Soo tengah berdiri dibelakangnya dan menatapnya… dalam.

“Jangan berterima kasih, aku terlihat seperti banyak sekali menyakitimu,”

“Kau sadar itu,” bisik Eun Kyo dengan tercekat.

            Jung Soo menatapnya terkejut, sementara Eun Kyo menarik napas. Penerangan buruk dan hanya remang-reman lampu dikejauhan sehingga Jung Soo tidak menangkap bahwa mata Eun Kyo sudah berkaca-kaca, tapi wanita itu tetap berujar tegas sebagaimana mestinya.

“Dulu, empat tahun yang lalu, kita tidak begini, Oppa,” Ia tercekat, lagi. “Aku minta satu hal saja, malam ini, ketika kau sadar, ketika kau ingat,”

Jung Soo merasakan ada getaran dalam suara gadis itu maka ia mendekat, memegangi bahunya dan sedetik kemudian merengkuhnya.

“Ketika kau sadar maka aku akan memberitahunya,” bisik Eun Kyo pelan.

“Jangan membiarkanku terlalu terbiasa dengan semua ini, terbiasa tanpa pesanmu, terbiasa tanpa teleponmu, terbiasa tanpa sentuhanmu… aku khawatir, aku akan terbiasa tanpamu dan melupakanmu,”

            Jung Soo menghela napas yang amat sangat terasa begitu berat seakan ada jutaan partikel karbon yang membuat jalannya napas terhambat hingga ke paru-paru. Ia membenamkan wajahnya di leher gadis itu. Menyusupkan jarinya diantara rambut dan menempelkan lebih dekat tubuh mereka.

“Tidak akan, mulai sekarang tidak akan. Aku tidak akan melakukannya lagi,” gumamnya dalam hela napas yang terasa semakin pendek.

            Adegan langka yang Jung Soo sukai dalam film yang ia lihat adalah adegan dimana seharusnya ia melakukannya juga. Adegan dimana Eun Kyo mungkin merasa bahwa baru saja menemukan suaminya yang hilang dan adegan dimana seharusnya memang ada dan disadari tanpa harus ada embel-embel ancaman semacam ‘melupakan’ dari mulut gadis itu.

Adegan kembali padanya, adegan kembali merindukannya.

***

            Malam itu mereka tertidur dalam posisi yang seperti seharusnya. Eun Kyo dalam untaian lengan Jung Soo dan memeluk setengah dari bagian tubuh pria itu dan Jung Soo melakukannya dengan baik, berada begitu dekat dengan tubuh wanitanya. Bukan karena hal itu memang pertama kalinya lagi setelah sekian lama, bukan berarti hal itu memang karena jarang sekali terjadi, namun setiap melakukannya, begitu dekat dengan wanita itu memang terasa berpengaruh lahir dan bathin. Ia bahagia dan merasa tidak membutuhkan apapun lagi di dunia.

Jung Soo akan lupa berkasnya.

Ia lupa perjalanan bisnisnya besok ke Australia dan mengingatnya hanya sebagai liburan semata.

Ia lupa rapat pengurus saham.

Ia lupa komplain klien.

Ia lupa ia sering pulang larut.

Ia lupa bagaimana ia meneriaki para sekertarisnya.

Ia lupa bagaimana ia sibuk hingga ia melupakan makan siang.

Ia lupa rutinitas yang menyeretnya menjauh dari Eun Kyo.

Jung Soo hanya ingat, bagaimana caranya untuk tetap mempertahankan semuanya. Hanya ingat istrinya hadir dan ada sekarang. Hanya ingat bagaimana bahagia itu. Hanya ingat, bahagia itu adalah ketika kembali pada pelukannya.

Dan hanya ingat bahwa… malam itu Jung Soo bermimpi indah.

To Be Continued…

 ***

Annyeong… aku kembali… #plaak. Hehehe… Feeling 2, part aku… (Ikha). Terima kasih atas antisipasi menunggu kelanjutan FF ini, ya… Hehehe… Seneng bingiiiit… ^^

Kuharap tetap antusias sampai akhir ya teman-teman.

Oh ya, kita belum tahu Hyuk Jae diterima atau ditolak, haha… saksikan di part selanjutnya, ya. Dan… aku seneng banget di part Feeling 1 ada yang ngarep aku sama Donghae. Dan, yeah… apakah kalian masih berharap? Haha… #diinjekVikosEon. Kkk.

Pokoknya makasih banyaaaakkk… dan hm… ditegasih lagi yah, ini FF kolaborasi ya temen-temen. Penulisnya Vikos Eon dan Aku… eoh?! Got it?! Jadi kalau di part aku jangan terlalu berharap banyak TeukYo momment, itu bagian eonni. Hehe…

Oh ya, bener, kalo Yeong Seo sama Eun Kyo itu temen kuliah dulunya, jadi yah… begitulah… hehe… Tapi in real nggak kok, aku masih 21, #ditendang.

Thanks support-nya, semangatnya, dan antusiasnya, yaaaa…

Wait for next part… MY PAIN 2… ^^

47 responses »

  1. wohoho… eun kyo yg trlpkn😦 kasian..
    gmn eun kyo bs hamil, ketemu aja jarang …
    itu si hyukjae lg fall in love ya.. cie cie.. baru kenal dah ajak pacaran aja tu orang…
    oke oke ditunggu kelanjutannya🙂 seru banget.. apalagi td blng hrs mnng tender kkkk
    wuih.. terbiasa tanpa sentuhanmu sms mu tlp mu itu “ancaman” jungsoo ya ….

  2. sesuai jdulny feelny dalam bgr
    sneng deh jd yeon seo dsukai dg tulus oleh seorang pria
    huweee pengenn

    n yg pling mnggmbirakan jung soo oppa dh sadar t klo dy dh ngabaikan eunkyoo

    part selanjutny d tunggu yya eonni..
    pnasaran ma cwo ganteng d bus

  3. haha, hyukjae udh ngatur semua agar terihat kebetulan, tapi tetep aja dia canggung
    gitu ya kalo lagi falling in love ckck ^^
    teukyo ngulang masa2 kencan lagi, tapi kasian bgt mrka jarang bgt bisa b2an, huhu

    lanjut eon^^

  4. Aduh Hyukjae langsung main ungkapin perasaan aja haha tapi suka karakternya di sini hihi…
    Akhirnya Jung Soo sadar juga kalau dia udah mengabaikan EunKyo,itu scan terakhir kata-katanya bikin melting…Pokoknya suka ama dua couple ini…Hyujae Yeong Seo ama TeuKyo hihi…Ditunggu eon lanjutan ff duet mautnya haha fighting😀

  5. hyuk ayo tetap semangat buat dpetin yeong seo lukuhkanlah hati’a, saya sukaaaa part teukyo suit bgt, berkat acara ntn’a teuki jdi sadar kalo dah byk nyakitin dan ngelupain eonni smoga saja tdk berubah lagi

  6. omoo..
    ap hyuk jae bilang “bahkan tidur dengan mereka”, jangan bilang klo hyukjae oppa udh gx perjaka lgi, klo emg bner brarti karakter itu udh harga mati buat hyukjae oppa, krna hmpir setiap ff yg ad dy’a psti karakter’a kya gtu..

    sabar y hyuk jae oppa, q percya ko sift asli mu gx kya gtu..

    q berharap jungsoo oppa bisa mepatin janji’a, n bikin eun kyo oenni hamil, dgn hadir’a anak q yakin intensitas k’bersamaan mreka lebih banyak lgii..

    d’tunggu part selanjut’a oenn..

  7. Ciyeee si hyuk jae love at first sight, cicuiiiit cuiiit

    eunkyo sbar yah, sring ingetin jung soo tuh byar nggak larut sma berkas2nya,

  8. aah liat lamarannya hyukjae lucuu~~ duh kl aku yg dilamar hyukjae gitu tanpa pikir panjang kayanya lgsg jawab iya ㅋㅋㅋㅋ
    dan aku berharap semoga jungsoo-eunkyo cepat kembali normal kekehidupan suami istri yg harmonis o:)

  9. So sweet bgt sih hyukjae, aku suka pas yang d taman hyukjae nembak + melamar yeong seo.. smoga hyukjae dn yeongseo bisa bersama kkkk.

    Kasian eunkyo, krna sifat profesionalitasnya jung soo dy jdi kesepian, mm yg tabah uah eunkyo

    But i like it, next partnya d tggu..

  10. ahhh,itu pas bagian teukyo nya nyesss banget.
    Mereka bkan cast utama tpi menarik.
    Dan hyk jae duh tinggal nembak aja susah bgt😀
    jgn lama2 next part nya.
    dan maap baru sempet baca.

  11. Kalau yang my pain bikin nyesek, trus kalo feeling bikin senyum-senyum gaje😎
    hmmm… Teukyo couple sdah mengambil hati ku dari dulu. Untuk seohyuk couple, kayaknya mereka lagi usaha… :p
    fighting!!

    • sejak kapan?
      kan arti cinta berbeda2 kan…
      mereka lagi berusaha… KERJASAMA! KERJASAMA! *ngawur dari tadi gara2 mo donlot ternyata belum update… huweeeeeeee exo showtime ada link yang HD kaga? yg engsub? nemunya cm yg buram… #nangis

  12. kasian bener eunkyo slalu d lupakan.
    aku suka bagian ini
    “Jangan membiarkanku terlalu
    terbiasa dengan semua ini, terbiasa
    tanpa pesanmu, terbiasa tanpa
    teleponmu, terbiasa tanpa
    sentuhanmu… aku khawatir, aku
    akan terbiasa tanpamu dan
    melupakanmu,”

    gara” kata” itu akhir.a jung soo sadar.. ^_^

  13. ahahahah. * ngakak kenceng. Seneng banget blog eonni sekarang sering share. Setiap hari aku stalker bolak balik loh eonni. Tapi hahahha….. jarang komen ^^v tapi janji dah komen teroos soalnya hp udah naik pang!kat eon !
    Eunkyo itu sabar ya, ya allah semoga aku jadi calon istri yang kaya gitu. Kalo aku jadi eunkyo mah gak usah lama-lama, bakar aja itu berkas kan beres.
    Ditunggu lanjutannya eon ! Keep writing ya oen, aku bakal keep reading heheh. ♡♥

  14. Lee hyukjae emang akhir-akhir ini pesona nya naik jadi level tertinggi😀 akhirnya enkyo mengutarakan apa yang mengganjal hatonya lega rasanya🙂 oke aku reader di blog nya caden park histoire juga hehehe dan menemukan ada ff nya kaloboradi sama author favourite aku alias vika oenni🙂 it’s a great story🙂

  15. aaaaa…. aku nangis baca kisah teukyo… tp aku terharu juga akhirnya jungsoo oppa peka juga (?) hehehe…

    yeongseo sama hyukjae juga so sweet kkk.. xD jd envy sama yeongseonnya..

    keren keren ^^

  16. gaya bahasa dan penyampaian cerita dr eonni emang keren, gk salah lah kalo updatetanya slalu ditunggu.
    keep writing eonni ya~~ ditnggu kry2 slnjtnya(:

  17. jungsoo knp workholic bgt sihvkadian eunkyo y jd merasa jauh n ngak dipeduliin lagi….
    yeong seo buat hyukjae penasaran dia,,,, n kencan itu yg ngatur n minta si hyukjae sendiri…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s