GOLDEN PALACE 319 : 1. Independent

Standar

GP 319

VIKOS

Musim gugur, 2011.

            Deretan gedung bertingkat yang saling bersaing ketinggiannya berdiri dengan kokoh, lengkap dengan fasilitas kolam renang super luas dengan berbagai pilihan air. Pusat perbelanjaan yang seakan tak pernah mati, mewarnai salah satu kota paling gemerlap di Korea.              Jalanan dipagari dengan tanaman yang dedaunannya telah menguning menambah dominasi jingga langit senja kota Seoul. Daun-daun mulai berguguran dan berserakan di trotoar tempat pejalan kaki. Setiap pagi, petugas kebersihan dengan giat membersihkannya. Udara semakin dingin dari hari ke hari. Penjual baju hangat sepertinya akan kebanjiran pelanggan saat memasuki musim gugur.

            Di sebuah apartemen yang terletak di sebuah distrik terkenal di kota Seoul, seseorang duduk di pembatas balkon kediamannya. Dengan secangkir coklat hangat, ia menikmati kegiatan orang-orang yang bisa di jangkau oleh matanya. Ia menyesap coklat hangatnya sambil menghirup aroma dari dalam cangkir. Di sebuah taman kecil di depan gedung apartemen, mata wanita si empunya apartemen tertuju, aktivitas anak-anak yang bermain begitu menggemaskan. Dari mulai berebut bermain perosotan hingga ayunan, entah kenapa selalu membuat wanita itu tersenyum. Beberapa pejalan kaki dengan polah tingkahnya masing-masing, menjadi pesona tersendiri dimatanya. Semua itu, selalu membuatnya betah duduk diatas balkon dan memperhatikan sekelilingnya.

            Sesaat lamanya, ia diam dan terpaku memandangi sebuah baliho besar sebuah iklan smartphone dengan model terkenal sebagai iconnya. Masih mencermati papan iklan yang menampilkan senyuman  menawan, ia mulai berpikir rencana hidupnya ke depan.

Park EUn Kyo

            Park Eun Kyo. Wanita berdarah campuran Korea-Filipina, kelahiran 1986, adalah pemilik mutlak sebuah apartemen mewah yang sebentar lagi akan ia bagi. Wanita yang berprofesi sebagai pekerja seni di sebuah galeri dan sebuah teater berstatus lajang itu akan membagi dua dari tiga buah kamar dalam apartemen yang ia huni untuk disewa. Sebuah keputusan berat yang ia ambil untuk menyambung hidup.

            4 bulan yang lalu, semua fasilitas dari orang tuanya dihentikan. Semua dana subsidi termasuk credit card, dicabut. Komunikasipun seolah terputus. Biasanya orang tuanya akan menelponnya minimal seminggu sekali untuk mengecek keadaannya, tapi sekarang bisu. Hanya karena ia menolak untuk menikah. Menikah di usia 25, baginya itu masih terlalu dini, ia masih belum berniat untuk mengabdikan diri pada suami seperti yang dijelaskan oleh orang tuanya tentang hakikat seorang wanita.

            Itu mimpi buruk. Benar-benar mimpi terburuk yang ia alami selama hidup. Meninggalkan pesta keluarga dan berkata menolak dengan tegas, cukup membuat orang tuanya syok dan harus menerima perawatan intensif dari seorang dokter. Tapi Eun Kyo tidak terlalu peduli, baginya sisa hidupnya terlalu berharga dari sebuah perjodohan yang akan membuatnya mengabdikan diri pada yang namanya seorang lelaki.

            Eun Kyo menarik napas. Bel pintu berbunyi dari depan, ia menarik kaki kanannya dan turun dari pembatas balkon lalu meletakkan gelas bekas coklat hangatnya yang masih tersisa seperempat diatas meja. Eun Kyo membuka pintu.

“Annyeong haseyo,”

Seorang gadis muda membungkuk padanya dengan santun. Ia mengenakan coat berwarna hitam dipadu dengan sacrf merah melilit memenuhi lehernya membuat penampilannya terlihat sangat fresh. Rambut lurusnya tergerai indah tanpa aksesoris apapun.

Shin Hye Kyung

            Shin Hye Kyung. Gadis muda yang baru saja menjalani masa peralihan dari seorang pelajar menjadi mahasiswi di sebuah Universitas di Seoul. Tercatat sebagai penduduk Incheon kelahiran 1993, mencoba belajar mandiri di kota besar dan jauh dari orang tuanya. Membawa sebuah koper super big dan tas kecil yang ia sandang dibahunnya, juga beberapa barang dalam kotak yang diikat dengan tali pada sebuah alat beroda berukuran mini.

“Silakan masuk,” ujar Eun Kyo.

Setelah memandangi gadis itu dari ujung kaki hingga kepala, Eun Kyo menuntunnya untuk masuk dan membantu membawa beberapa barang bawaannya. Gadis itu terlihat polos, sangat menggambarkan remaja yang baru saja tumbuh. Bertubuh sedang namun proporsional, Hye Kyung menarik perhatian Eun Kyo karena wajahnya, disamping karena dia bukan penduduk Seoul asli.

Ahjumma, kau menyewakan apartemenmu dengan harga murah, tapi…,” Hye Kyung berhenti sejenak sembari memandangi interior ruangan. “Untuk apartemen semewah ini…,” kembali berhenti, ia memandangi Eun Kyo.

“Hanya salah satu kamar saja, catat,” ralat Eun Kyo.

Ah, nde, hanya salah satu kamar saja,” jawab Hye Kyung dengan pelan.

“Satu lagi,” Eun Kyo berbalik. “Ahjumma? Apa wajahku sudah sangat tua, kau memanggilku Ahjumma?”

“Ah, nde, Eonni.”

“Itu kedengaran lebih bagus,” ujar Eun Kyo.

“Keundae, Eonni,” Hye Kyung memandangi Eun Kyo dengan tatapan sedikit takut.

“Wae?”

“Apa saja fasilitas yang ada disini?”

“Fasilitas? Fasilitas, eum….”

Belum terpikirkan oleh Eun Kyo untuk hal itu. Ia baru memasang iklan di jejaring sosial  : ‘Menyewakan Kamar’, lengkap dengan gambar kamar dan beberapa sudut ruangan apartemennya yang terlihat menarik.

“Fasilitas? Fasilitasnya sebuah kamar lengkap dengan tempat tidur juga lemari pakaian besar. Kamarmu sendiri. Privasi!” Eun Kyo menekankan kata ‘privasi’. Tentu saja besar, untuk ukuran apartemen mewah, semua furniturnya tentu tidak sembarangan.

“Kamar mandi ada diluar, kecuali di kamarku, tapi letaknya cukup dekat dengan kamar kalian.” Eun Kyo menunjuk kamar mandi  yang terletak hanya kurang lebih 2 meter dari kamaryang rencananya akan ditempati oleh Hye Kyung.

“Ah, nde, Eonni,” jawab Hye Kyung mengangguk.

“Ah, satu lagi, aku memasang beberapa kamera CCTV, jadi kalian akan aman disini.”

“Ah, nde.”

“Lagi, fasilitas internet gratis dengan kecepatan super? Eoh? Biasanya anak remaja seperti kalian akan suka,” ujar Eun Kyo tersenyum penuh arti.

“Ah, nde.”

Antara bersikap sopan dan takut, Hye Kyung terus mengangguk mendengar penjelasan dari Eun Kyo. Ia menerima saja apa yang dijelaskan oleh wanita yang akan menjadi ‘ibu asuh’ selama ia tinggal di Seoul.

Eonni, kamar mandinya dimana?”

Wajah seseorang menyembul dari balik pintu kamar yang tidak jauh dari kamar Hye Kyung. Kelihatannya gadis itu baru saja bangun dari tidurnya.

Lee Jae In

            Lee Jae In. Gadis kedua yang diijinkan oleh Eun Kyo untuk menggunakan separuh dari barang-barang privasinya, terutama kamar. Mahasiswi kelahiran 1992 ini adalah orang kedua yang dipilih  Eun Kyo untuk menempati apartemennya. Setelah melalui seleksi ketat selama 5 hari, akhirnya pilihannya jatuh pada gadis muda yang terlihat santai ini, berperawakan sedang dan berkaki jenjang dengan rambutnya yang coklat bergelombang dengan poni di dahinya, Jae In terlihat sangat menarik.

“Aku sudah bilang, kamar mandi kalian ada diluar, aigoo kemana saja telingamu saat aku menjelaskan tadi?”

Jae In datang sebelum Hye Kyung, tepatnya 3 jam sebelum Hye Kyung. Ia mahasiswi Psikologi di sebuah universitas di Seuol. Memilih apartemen Eun Kyo dan keluar dari rumah sewaannya karena biaya sewa di apartemen Eun Kyo lebih murah. Itu alasan logis, mungkin. Tapi, semua orang pasti akan melakukannya, karena walau bagaimanapun pada hakikatnya manusia lebih mementingkan sesuatu yang menguntungkan, bagus tapi tidak membuat finansialnya merugi. Termasuk gadis itu.

“Ahahahaha, aku lupa,” ujar Jae In dengan tawanya.

Ia berjalan menuju kamar mandi sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, tapi lebih dikarenakan oleh salah tingkah.

Eun Kyo memandangi Jae In sampai menghilang dibalik pintu kamar mandi. “Dia… ahahahaha, dia teman satu apartemenmu. Lee Jae In.” Eun Kyo memperkenalkan Jae In pada Hye Kyung. Gadis itu hanya mengangguk tanpa mengalihkan matanya dari pintu kamar mandi. Otaknya langsung menganalisa ‘gadis aneh’, pikirnya.

 ***

            Malam harinya, ketiga gadis itu berkumpul di ruang tengah dan makan bersama di depan televisi. Masih canggung. Ketiga gadis yang baru bertemu beberapa jam itu masih belum bisa untuk memulai pembicaraan, hanya bisa mengunyah makanan dan berpikir keras di dalam otak mereka masing-masing, mengenai bagaimana caranya keluar dari situasi ini.

“Ah, mungkin aku akan menjelaskan bagaimana peraturan apartemen ini,” Eun Kyo memulai bicara. Ia mengangkat kedua kakinya keatas sofa.

“Peraturan pertama, kalian harus selalu lapor kemanapun kalian pergi. Minimal mengirimiku pesan jika kalian berada di luar rumah. Aku tidak suka mencemaskan orang lain ketika berada di rumah.”

“Nde,” seperti tadi Hye Kyung dengan sopan menjawab.

“Kedua, aku tidak terima jika kalian terlambat membayar sewa kamar.”

“Nde,” kali ini keduanya menyahut dengan keras.

“Ketiga, tidak mencampuri urusanku, semua yang terjadi padaku, bahkan untuk memasuki area kamarku tanpa seijinku.” Untuk yang ini, Eun Kyo sangat tegas dalam menyampaikannya. Ia tidak suka dikomentari, apalagi itu menyangkut hidupnya.

“Nde,”

“Keempat, dilarang membawa masuk lelaki lebih dari dua jam di ruangan ini. Itu membuatku gerah dan kehilangan energi.”

Tak ada sahutan. Hye Kyung dan Jae In saling pandang dengan kerutan di dahi mereka. Di jaman yang sudah serba instan seperti ini, masih ada orang yang membatasi diri dengan lelaki? Sungguh wanita aneh.

Pemikiran tentang wanita fleksibel dan kalem dalam otak keduanya terhadap Eun Kyo tiba-tba buyar. Diganti dengan predikat ‘wanita aneh’ yang kelihatannya alergi dengan makhluk yang bernama ‘LE-LA-KI’.

Tetapi, meskipun ingin protes, sepertinya tidak etis jika mereka tidak terima dengan peraturan keempat. Mereka bahkan belum menjalaninya. Hye Kyung bahkan kelihatan tidak terlalu piawai bergaul dengan lelaki.

Golden Palace lantai 5 kamar 319, disanalah mereka tinggal. Saling berbagi. Dan dari sinilah berawal.

***

Seoul, 2014

“Aaaaarrrgghhh aku terlambat!”

Eun kyo menggeram marah. Alarm yang dia pasang tak mampu menembus gendang telinganya yang tertutup bantal dan membangunkannya. Alhasil, ia langsung melompat dari tempat tidur dan langsung ke kamar mandi.

Hari ini Eun Kyo ada janji dengan salah satu klien yang berencana untuk membeli sebuah lukisan dari sebuah galeri kecilnya.

“Ini harus berhasil. Ini harus berhasil.” Eun Kyo terus bergumam sembari mengguyur tubuhnya dengan air.

Setelah berpakaian rapi dengan tas selempang dibahunya, ia keluar dari kamarnya. Di meja makan, Hye Kyung dan Jae In sudah menyantap sarapan paginya.

“Kalian sudah bangun?” sapa Eun Kyo.

“Selamat pagi, Eonni,” sapa Hye Kyung.

“Sepertinya terburu-buru, Eonni?” tanya Jae In.

“Aaargh, aku ada janji jam 9 pagi dengan salah satu calon pembeli lukisanku,” jawab Eun Kyo sambil melirik jam tangannya, “Omona! 15 menit. Kyaaaaaaaa michigetta. Eomma!” Eun Kyo panik dan langsung menyambar sepatu pantofelnya dan memakainya sambil berlari keluar dari apartemen. Bagaimanapun caranya ia harus datang tepat waktu.

Di luar gedung dia langsung berlari menuju halte terdekat. Dalam otaknya ia terus mencari akal, apapun itu, kendaraan apapun yang melintas, dia harus menghentikannya, agar bisa tiba sesegera mungkin di galerinya. Setelah 2 menit lamanya menunggu, Eun Kyo kelihatan sangat tidak sabar, ia meremas tangannya cemas, dan waktu terus berlalu.

Dari kejauhan, Eun Kyo meliihat sebuah sepeda motor melaju di pinggir jalan dengan kecepatan sedang, ia segera memutar otak agar bisa mengehentikan motor tersebut. Eun Kyo turun ke jalan raya dan merentangkan tangannya, menatap dan memastikan  kendaraan itu harus berhenti tepat d depannya, bukan menabraknya.

Ciiittt. Suara ban motor yang beradu dengan aspal terdengar, Eun Kyo menutup matanya, dadanya bergemuruh hebat, sesaat ia gemetar, tetapi setelah membuka mata, ia bisa bernapas lega.

Eum, chogiyo. Mianhada mengganggu kenyamananmu, keundae bisakah mengantarkanku ke Sunflower galery, jebal?!”

Tanpa persetujuan, Eun Kyo langsung duduk dibelakang lelaki pengendaran kendaraan bermotor tersebut, tangannya langsung memegangi pinggang lelaki yang masih belum membuka helmnya meskipun wajahnya mengarah pada Eun Kyo.

Palli, aku terlambat.” Dengan wajah polos, Eun Kyo mengerjapkan matanya meminta orang yang sedang memegangi setir motor itu untuk menarik gas.

Mau tidak mau lelaki betubuh tegap yang mengenakan jaket kulit itu menarik tangannya dan melaju di jalanan.  Sepanjang jalan diam. Eun Kyo pun mulai sadar akan kecerobohannya.

Bisa saja lelaki ini tidak benar-benar membawanya ketempat tujuan. Bagaimana kalau ia membawa Eun Kyo ke sebuah gedung kosong yang belum rampung, lalu melakukan hal-hal yang—

“AAAAAHHHHHH”

Eun Kyo berteriak dan refleks membuat lelaki itu menghentikan motornya. Ia membuka helm dan menunjukkan wajah kesalnya, “Wae, Agasshi?!” ujarnya sebal. Ia menghembuskan nafas berat.

Lelaki bertubuh atletis berdada bidang dengan garis wajah tegas sedang memandangi Eun Kyo dengan tatapan tajam. Ia menunggu Eun Kyo menjawab. “Kau siapa?! Tiba-tiba menghentikanku lalu menyuruhku untuk mengantarmu ke tempat tujuanmu, eoh? Memangnya kau siapa? Lalu tiba-tiba kau berteriak, ‘AAAAAAAAHHHHHHH’,” Lelaki itu menirukan suara teriakan Eun Kyo, “Kau membuatku hampir terkena serangan jantung, Agasshi!” dengan suara lantang dan sekali nafas, lelaki itu mengomel.

Eun Kyo memasang wajah polos tak berdosa. Dia juga bingung kenapa bisa berteriak seperti tadi. “Aku? A-ku-aku, aku… Park Eun Kyo, hehe.” Jawaban Eun Kyo benar-benar polos.

Untuk pertama kalinya Eun Kyo bersikap se-rileks ini dengan yang namanya lelaki. Ia duduk di belakang, dibonceng seorang lelaki, memegang pinggangnya dan merapatkan tubuhnya, pada lelaki itu, lelaki yang baru dikenalnya.

Jhah! Park Eun Kyo? Yeoboseyo? Apa aku bertanya tentang namamu?” Lelaki itu mengibaskan tangannya di wajah Eun Kyo, ia tersenyum kecut. Ia membungkuk mensejajarkan wajahnya pada wajah Eun Kyo. mereka bertatapan selama beberapadetik.

A-ani, aniya,” jawab Eun Kyo gagap. “Sepertinya aku harus menunggu bus disini saja. Terima kasih tumpangannya,” ujar Eun Kyo. Ia langsung berbalik dan mengambil langkah seribu, menjauh.

Sambil tersenyum dan berkacak pinggang lelaki itu memandangi punggung Eun Kyo yang terus melangkah dan tak pernah menoleh. Tanpa menunggu di halte, apa mungkin ada bus yang berhenti? Apalagi ini jalan tol.

Agasshi, naneun… Young Do, Kim Young Do,” teriak lelaki itu sambil tersenyum. sedikit geli mengingat kejadian yang baru saja menimpanya.

Eun Kyo menoleh beberapa detik dan melambaikan tangannya, “Nde, gomapseumnida, Kim Young Do~ssi.”

Young Do masih terdiam, dia masih tersenyum, sarapan apa dia tadi pagi hingga mengalami kejadian aneh seperti ini. Sedetik kemudian dia berlari mengejar Eun Kyo.

“Eun Kyo~ssi, kuantarkan kau ke tempat tujuanmu. Tak akan ada bus yang berhenti disini.” Young Do menarik tangan Eun Kyo dan membawanya berbalik arah, berjalan menuju motornya.

No, no, no.” Eun Kyo melepaskan tangan Young Do yang menariknya. “Maaf, sebaiknya aku tunggu taksi saja,” tolak Eun Kyo. ia segera berbalik dan kembali melangkah menjauh dari Young Do.

“Disini? Tempat ini?” ujar Young Do mencoba meyakinkan Eun Kyo, mereka sedang dalam jalur tol.

Wae? Tidak boleh?” tanya Eun Kyo dengan nada tinggi. “Omona, aku tidak pernah seperti ini dengan lelaki, ini pertanda buruk,” Eun Kyo menutup mulutnya dengan tangan dan bergumam pelan.

Agasshi, perlu aku beritahu? Ini jalan tol, bukan halte, tak ada  bus yang berhenti disini, taksi pun jika beruntung,” ujar Young Do santai. “Kau sedang tergesa-gesa,” lanjut Young Do dengan tatapan setengah mengejek. “Sepertinya,” ia mencibir Eun Kyo dengan suara pelan.

Cring!

Seolah tersadar, Eun Kyo mengerjapkan matanya (lagi), menatap Young Do. Apa yang dikatakan Young Do masuk akal. Tanpa halte, tak ada bus yang berhenti di jalanan yang tertib lalu-lintas ini. Eun Kyo memandangi sekelilingnya, lalu melirik jam tangannya, 2 menit lagi dia harus ada di galerinya yang masih setengah perjalanan lagi.

Argh! Aku ingin ada kantong doraemon dan mengeluarkan pintu kemana saja!

“Aku antar,” Young Do memakaikan helm yang tadi dikenakannya ke kepala Eun Kyo lalu menyuruhnya menaiki motor.

Dengan sedikit ragu, Eun Kyo mau tidak mau harus menerima ajakan itu, tapi sebelum ia naik, ia berhenti sejenak. “Tapi aku, kau—”

“Aku tidak akan macam-macam, hanya mengantarkanmu saja, eum? Wuusss.. melesat secepat kilat membuatmu sampai dengan selamat tepat waktu,” ujar Young Do dengan tersenyum.

“Tepat waktu? 2 menit lagi aku harus berada disana,” gumam Eun Kyo. “Lagipula, memangnya kau jin? Bisa melesat secepat kilat,” lanjut Eun Kyo bergumam.

“Kalau begitu, pegangan erat. Kita meluncur,” jawab Young Do semangat, “Ehem, aku peri, bukan malaikat, hahaaaa,” canda Young Do.

Keduanya akhirnya melaju dengan kecepatan diatas rata-rata. Eun Kyo tidak henti-henti berdo’a dalam hati agar diberikan keselamatan sampai tujuan dan berharap jantung masih sehat setelah melalui semua kejadian ini.

***

“Soorim~ah, Soorim~ah… Han Soorim, omo, omo, omo! Han Soorim, aku terlambat! Aku sangat terlambat!”

Begitu memasuki galeri yang terletak di kawasan pertokoan Cheongdamdong—miliknya sendiri—Eun Kyo bergegas untuk menghampiri Soorim yang baru saja keluar dari ruangan pribadinya. Ia melempar tas yang ada di tangannya dan memegangi dadanya yang bergemuruh hebat.

Eonni, kau terlambat 20 menit. Aku hampir saja mati pingsan karena kau tak kunjung datang,” ujar Soorim. Han Soorim adalah gadis berusia kira-kira 20 tahunan yang bekerja di galeri Eun Kyo.

“Dia sudah lama menunggu?”

“Menurutmu 20 menit apa waktu yang sebentar untuk seorang pengusaha sepertinya?”

Ani, itu sangat sangat lama. Ah, micighetta!” Eun Kyo mengelus dadanya, membuat dirinya sedkit lebih tenang. Setelah menarik napas dalam, ia kemudian mengambil hendel pintu, lalu membukanya.

“Si Yoon~ssi, maaf membuatmu lama menunggu,” sapa Eun Kyo dengan senyuman semanis mungkin. Programmer di perusahaan game terkenal Korea itu berdiri saat Eun Kyo masuk ke dalam ruangan.

“Ah, Annyeong haseyo. Ani, tidak terlalu lama,” ujarnya menjawab. Ia mengulurkan tangannya pada Eun Kyo dan menjabat tangan Eun Kyo erat.

Senyuman khas dengan deretan gigi yang rapi, sesaat membuat Eun Kyo lebih tenang, lelaki ini terilhat menyenangkan. Dan mempesona. Eun Kyo memandangi lelaki bertubuh tegap dan berambut ikal di hadapannya sesaat. Lelaki menarik yang mampu membuat matanya menatap.

“Ah, anda sudah disuguhi minuman? Mau tambah?” Eun Kyo sedikit salah tingkah saat sadar lelaki itu menjabat tangannya. ia pelan-pelan menyentuh punggung tangan Si Yoon dengan tangan kirinya dan melepaskannya.

“A…. “ Si Yoon terlihat berpikir sejenak sambiil mengangkat telunjuknya, “Ah, Ani, tidak perlu, sepertinya aku ingin langsung saja,” lanjutnya memutuskan.

Ahnde.. eum.. aaa… sudah menentukan pilihan?” tanya Eun Kyo sedikit gagap.

Nde, tentu,” jawab Si Yoon cepat.

Keurom,”

Tears of Angels,” Si Yoon momotong, menyebutkan salah satu judul lukisan yang terpajang di galeri Eun Kyo.

Ah, nde, itu… itu…” raut wajah Eun Kyo sedikit berubah, seperti terkejut.

“Tidak dijual?” ujarnya menebak, tetapi tatapan mata Si Yoon menyiratkan harapan Eun Kyo akan menjawab dengan kata ‘tidak’.

Ah ani, aniKeugae maksudku….”

“Apa itu sangat berharga untukmu?” ujar Si Yoon lagi menebak.

Eun Kyo sedikt ragu, “Eum… kira-kira seperti itu,” jawab Eun Kyo. Tapi setelah melihat raut kecewa di wajah Si Yoon Eun Kyo segera berkata, “Ah, maksudku bukan begitu, nde, itu sangat berharga untukku, tapi itu memang dijual, nde, ah, ye, itu dijual. Ya, benar, itu dijual. Harus dijual.” Eun Kyo mengangguk beberapa kali dengan tegas.

Si Yoon bernapas lega, “Syukurlah kalau begitu, aku akan membayar berapapun untuk lukisan itu, berapapun. Untuk lukisan tangan seorang wanita cantik.” Si Yoon melirik Eun Kyo sejenak, menatapnya dalam. “Itu lebih dari sekedar berharga,” lanjutnya sedikit menggombal. Dengan senyuman sejuta pesona tentunya.

“Kau bisa saja, ahahahahaha, ingin aku bungkus sekarang?” tanya Eun Kyo. Ia tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan lelaki ini. Secepatnya saja melakukan transaks dan menerima hasilnya.

Eum… boleh. Ahahahahahaha,” Si Yoon ikut tertawa.

Setelah sepakat mengenai harga, Eun Kyo membawa custumernya itu keluar dan menyuruh Soorim untuk membungkus lukisan itu dengan rapi. “Soorim~ah, kirim lukisan itu ke…,” Eun Kyo menatap Si Yoon.

“Biar aku bawa sendiri. Aku akan menunggu,” jawab Si Yoon cepat.

“Ah baiklah kalau begitu. Anda bisa menunggunya sebentar,” ujar Eun Kyo. “Soorim~ah, cepat bungkus lukisan itu, tidak harus rapi, palli, aku merinding jika dia berlama-lama disini,” bisik Eun Kyo pada Soorim, “Energiku menipis, EKKHH!” lanjutnya lagi berbisik.

“Ah, Ye, Eonni.” Soorim berlari kecil dan segera menurunkan lukisan itu dari dinding. Ia mengerti apa yang dikatakan Eun Kyo tadi, dan paham benar maksudnya. Eun Kyo tidak suka berlama-lama berhadapan dengan seorang lelaki, apalagi lelaki seperti Yoon Si Yoon. Lelaki mempesona lebih berbahaya.

Soo Rim membungkus lukisan itu serapi mungkin dan dengan cepat menyerahkannya pada Si Yoon. Ia sudah mahir mengemas lukisan, dengan cara cepat dan kelihatan rapi. Yoon Si Yoon memang sudah beberapa kali menyambangi galeri kecil milik Eun Kyo tersebut, beberapa kali meminta Soorim untuk mengatur jadwalnya bertemu dengan Eun Kyo tapi selalu saja tidak pernah tepat. Tak pernah bertemu.

Si Yoon berpamitan tak berapa lama setelah itu. Sebelum pergi, lagi-lagi memamerkan pesona senyumannya yang seperti tak akan habis. Menurut Soorim itu wajar, tapi Eun Kyo berpendapat berbeda.

“Ah.. akhirnya…”

Eun Kyo menjatuhkan wajahnya di meja resepsionis. Menarik napas dalam beberapa kali. Rasanya hari ini olah raga jantungnya benar-benar dahsyat. Mulai dari mulai terlambat bangun, tak sempat sarapan, mencegat seorang lelaki yang tidak pernah ia kenal dan memaksa lelaki itu mengantarnya. Dan setelah sampai di galerinya, ia bertemu (lagi) dengan lelaki yang hampir saja membuat jantungnya jatuh karena senyuman lelaki itu sangat menawan. Tetapi, begitu lelaki itu menunjukkan sikap ketertarikan dengan pujian manis, Eun Kyo benar-benar merasa ngeri.

“Ah, Soorim~ah, aku tidak ingin bertemu dengan yang namannya lelaki lagi hari ini. Energiku habis.” rengek Eun Kyo sambil memijat kepalanya.

Dia memang tidak terlalu suka berdekatan dengan lelaki pada waktu yang lama. Baginya lelaki hanya makhluk yang hanya ingin dilayani dan egois. Ia tidak ingin menjadi korban. Selain bersama Appanya, Eun Kyo selalu tidak betah ketika para lelaki ada di dekatnya dalam waktu yang lama. Ia mati kutu.

Krriuuukk…

Suara perutnya. Ia baru sadar hari ini belum sarapan.

“Soorim~ah, telpon restoran delivery! Aku lapar,” rengeknya lagi.

***

Sepulang dari galerinya, Eun Kyo merendam tubuhnya dengan air hangat. Air rendaman aroma terapi, sedikit membuatnya lebih tenang dan nyaman. Ia mencoba merefresh kembali otaknya setelah seharian menemani beberapa pengunjung di galerinya—yang sekedar melihat-lihat. Eun Kyo memejamkan matanya, menghirup dalam-dalam aroma jeruk ke dalam paru-parunya. Sensasi rileks seketika memanjakannya.

Setelah 5 menit, ia kemudian membuka matanya, meraih ponsel yang tergeletak begitu saja di atas lantai porselin. Eun Kyo membuka sebuah email yang ada dalam kotak pesan. Membacanya beberapa kali dalam hati.

Transaksi berhasil. 13 juta won berhasil berpindah ke rekeninganya. Penjualan hasil karya pertama yang ia lukis. Tears of Angel. Adalah lukisan penuh emosi yang pernah ia buat. Lukisan sarat makna yang ia gores untuk mewakili  luapan perasaannya tatkala hidupnya kembali ke titik nol. Mobil serta aset kekayaan atas namanya semuanya diambil alih orang tuanya, sebagai hukuman. Eun Kyo tak bisa berbuat apapun kala itu. Hanya apartemen mewah ini yang tersisa sepertinya orang tua Eun Kyo juga tidak ingin anaknya menjadi tunawisma dalam sekejap. Selama ini tak pernah ada yang melirik lukisan itu. Tapi Yoon Si Yoon menatapnya penuh perasaan.

Eonni, kau tidak makan?”

Bersamaan dengan gedoran pintu keras, suara Jae In terdengar dari luar. Eun Kyo masih malas untuk menjawab, apalagi beranjak. Ia masih tersenyum memandangi pemberitahuan akumulasi saldo yang ia terima melalui email. Terlalu bahagia hingga sejak tadi senyuman tak pernah pudar dari wajahnya, meskipun tak ada yang melihat senyuman termanisnya. Hanya ada dinding dan cermin kaca sebagai saksi.

“Eonni~ya!” teriak Hye Kyung juga.

Eun Kyo akhirnya bangkit. Berdiri di bawah shower lalu membersihkan tubuhnya. Mengambil handuk lalu melilitkannya di badannya. Eun Kyo membuka pintu dan keluar dari kamarnya.

“Harum sekali, kalian masak apa?” tanya Eun Kyo.

Keduanya, Hye Kyung maupun Jae In, tidak menjawab. Eun Kyo mengambil sumpit lalu mengambil nasi yang sudah disediakan di atas meja makan. “Whoa! Ganjang Gejang daebak!” Eun Kyo mencicipi masakan Korea yang cocok untuk dimakan di musim gugur itu. Kepiting biru yang dipotong dan direndam dalam kecap asin dan adonan pedas berwarna merah. Biasanya kepiting mentah, tetapi karena mereka tau Eun Kyo tidak terlalu suka makanan mentah, maka kepitingnya mereka rebus sebentar baru direndam dalam kuah kecap asin dan adonan pedas saus. “AAAHHHH! Neomu mashitta..”

“Siapa yang membuatnya?” tanya Eun Kyo.

Hye Kyung dan Jae In masih tidak menjawab, hingga membuat Eun Kyo menoleh ke belakang. Apa yang sebenarnya mereka lakukan. Tetapi begitu menoleh ke belakang, ia dikejutkan oleh seorang bocah lelaki yang duduk di sofa dengan mulut menganga memandanginya.

“Yak! Nuguya?!” Eun Kyo terkejut. Menyadari tubuhnya hanya berbalut handuk dari dada hingga sejengkal di atas lutut, ia segera membungkukkan badannya dan bersembunyi dibalik kursi yang sebenarnya tidak menutupi badannya.

Mian, mianhae Eonni, aku belum memberitahunya. Anak ini… anak ini apa, ya? Anak ini, dia… dia les privat padaku, nde, anak didikku,” sahut Jae in memberi penjelasan. Tidak menyangka Eun Kyo akan keluar dari kamar dengan kondisi seperti itu. Ini kali pertama ia membawa murid lesnya ke apartemen.

“Tidak boleh lebih dari 2 jam!” teriak Eun Kyo sambil masih berusaha menutupi badannya. Itulah satu dari sekian ribu alasan kenapa Eun Kyo jarang mengijinkan seorang lelaki ada di apartemennya, bahkan meskipun itu seorang bocah sekalipun. Ia sering mengenakan pakaian minim tanpa sadar keluar dari kamarnya.

Ara… arayo… dia baru saja belajar 45 menit disini.”

“Tapi, tapi ini sudah malam,” ujar Eun Kyo lagi.

“Dia tetangga kita, kau tidak ingin berbuat baik pada tetanggamu?”

“Yak! Hye Kyung~ah, kau sedang apa? Palli ambilkan bajuku!” Eun Kyo berkata geram pada Hye Kyung yang hanya memandanginya bersembunyi dibalik kursi makan.

“Ah, nde. Nde, nde, Eonni.” Gadis itu berlari kearah kamar Eun Kyo namun menghentikan langkahnya tepat saat ia berdiri di depan pintu, “Eonni… ini….”

“Masuk saja! Palli, atas ijinku.”

“Ah, ye.”

Setelah mengenakan bajunya, ia duduk bersama Jae In dan bocah tetangga—yang disebut oleh Jae In tadi. Eun Kyo memandangi anak lelaki itu dengan seksama.

“Annyeong haseyo, Ahjumma,” sapa anak itu.

Jae In yang sedang mencoba mengajari anak itu beberapa soal mengulum senyum. Eun Kyo paling tidak suka dipanggil Ahjumma, jadi ketika ada seseorang yang dengan wajah polosnya memanggil Eun Kyo dengan sebutan itu, wajahnya sedikit menegang.

“Ahjumma?” tanya Eun Kyo.

“Panggil dia Noona!” bisik Jae In disampingnya.

“Ah, Annyeong haseyo Noona,” ujar anak itu lagi mengulang sapaannya, kali ini dengan sebutan berbeda.

“Namamu? Siapa?”

“Jisung,” jawab bocah itu singkat, kacamata bulat bertengger di hidungnya. Bocah berusia 11 tahun itu terlhat konsen dengan penjelasan yang Jae In berikan.

Aigoo, aigoo… lihat betapa sopannya bocah ini,” omel Eun Kyo.

Ia beranjak dari sofa menuju meja makan, melanjutkan makan malamnya yang sempat tertunda karena insiden kecil.

“Hari ini hidupku penuh dengan lelaki. Argh! Itu menyebalkan,” geram Eun Kyo.

Eonni, boleh aku tanya sesuatu?”

Mwo? Bertanya? Silakan saja,” jawab Eun Kyo sambil menyantap makannya.

“Ah, kepiting itu Jisung yang membawanya, katanya Appanya dapat kiriman dari kampung halamannya. Sangat lezat, itu hasil tangkapan,” ujar Hye Kyung.

“Aku tidak bertanya, sepertinya kau yang ingin bertanya,” dengan sedikit cuek Eun Kyo terus menyantap makanannya dengan lahap.

“Eonni… apa kau menjual apartemen ini?” tanya Hye Kyung.

Menjual? Eun Kyo menangkap kata itu dengan sedikit bingung. “Menjual?” tanyanya dengan dahi berkerut.

Nde, seseorang tadi datang kesini, tadi siang. Aku tidak masuk kuliah, dia bilang, apartemen ini dijual.”

Penjelasan Hye Kyung membuat Eun Kyo sejenak hilang ingatan. Kosong. Ia terlalu syok mendengarkan cerita Hye Kyung. Ia hanya ingat menjual lukisan kebanggaannya hari ini, tetapi untuk menjual apartemennya, dia sama sekali tidak ingat.

“Kau jangan bercanda Hye Kyung~ah. Apartemen ini milikku, milikku sendiri, benar-benar milikku. Aku membayar sisa cicilannya selama 3 tahun penuh. Dengan hasil keringatku sendiri!” Eun Kyo sedikit emosi. “Siapa yang mengatakan apartemen ini dijual?” tanya Eun Kyo lagi.

Mollaneunde… Tapi Eonni, jika apartemen ini dijual, aku akan tinggal dimana?” tanya Hye Kyung dengan wajah memelas.

“Bukan hanya kau, Bocah Polos. Aku sendiri tinggal dimana? Ini pasti ada kesalahpahaman. Besok atau lusa akan aku cek ke bagian pemasaran gedung ini, eoh? Kau jangan cemas!”

“Hehe… aku tidak akan cemas.”

Saat Hye Kyung menjawab dengan tersenyum, Eun Kyo mengelus kepala gadis itu. “Gadis pintar. Ayo habiskan makanan ini, whoah… ini sangat lezat!”

“Satu lagi, Eonni… aku mau bertanya.”

“Bertanya apalagi, Hye Kyung~ah?!”

“Kenapa ketika kau berhadapan dengan lelaki, kau selalu bilang kehabisan energi, apa dia  menyerap energimu?”

Pertanyaan itu membuat Eun Kyo ingin terbahak. Sebenarnya itu hanya kiasan saja. Ia hanya tidak terlalu suka berhadapan dengan lelaki. Baginya itu sangat merepotkan. Apalagi saat lelaki mulai menggodanya, itu sangat membuatnya gerah.

“Eonni!”

“Apalagi?”

“Sudah hampir 2 jam,” Hye Kyung melirik Jae In dan Jisung yang belajar bersama, ia juga tersenyum jahil.

“Yak! Jae In~ah… hampir 2 jam!” teriak Eun Kyo dari ruang makan.

Belum cukup ternyata hari ini ia berhadapan dengan 2 lelaki, kini seorang bocah kecil sedang berada di ruang tamunya, menduduki sofa putih kesayangannya.

***

            Lalu lintas masih ramai di kawasan Cheongdamdong. Mobil Jung Soo terparkir di depan sebuah cafe. Suasana malam yang gemerlap di kota Seoul selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi Jung Soo. Dia duduk di dalah satu meja di dalam cafe, sambil sesekali menyeruput hot chocolatte. Jung Soo nampak sedang menunggu seseorang.

            Saat Jung Soo mengangkat gelasnya, seseorang tiba-tiba menutup matanya. “Tebak, siapa?’ ujar orang tersebut berbisik di telinga kanan Jung Soo, mesra dan manja.

“Jung Soo Jung,” jawab Jung Soo sambil tersenyum. Ia meletakkan kembali gelas chocolatte yang hendak ia minum tadi.

“Kenapa kau tidak pernah berpura-pura tidak tau, atau sesekali bertanya balik, ah, Oppa, ck, kau menyebalkan. Heol.”

Soo Jung duduk mendaratkan tubuhnya di atas kursi dengan kasar, wajahnya bertekuk cemberut. Lalu tanpa pikir panjang, ia mengambil gelas Jung Soo dan meminumnya.

“Yaa! Anak ini kebiasaan. Pesan sendiri jika kau mau.”

“Aku tidak akan lama, Oppa. Aku hanya ingin mengatakan gadis yang kau tolak kemarin mendatangiku dan menjambak rambutku. Lihatlah, rambutku rusak seperti ini,” keluh Soo Jung sambil mengelus rambutnya. Seolah itu adalah bagian paling berharga dari tubuhnya.

Mianhae, Soo Jung~ah… setelah aku menikah nanti, kau tidak perlu lagi repot-repot menemaniku untuk menolak wanita-wanita itu.” Jung Soo ikut mengelus rambut Soo Jung.

Wajah gadis itu masih cemberut, namun rasa kesalnya berangsur hilang saat Jung Soo mengelus kepalanya dengan sayang. “Mereka mengira aku adalah kekasihmu, aihs! Jinjja, memangnya aku mau berpacaran dengan Ahjussi sepertimu? Eoh?”

Aigoo, kau ini…”

Soo Jung adalah gadis remaja yang sangat disayangi Jung Soo seperti adiknya sendiri, meskipun mereka tidak mempunyai hubungan darah. Mereka bertetangga sejak kecil, hingga orang tua Jung Soo memutuskan untuk berpisah, mereka akhirnya terpisah. Jung Soo memutuskan untuk ikut bersama ibunya.

“Jadi, kapan kau akan menikah? Aku saja yang menjadi pendamping wanitanya,” Soo Jung berkata dengan antusias. Wajahnya yang cantik sangat menggemaskan. Membuat orang ingin selalu mencubit pipinya.

“Menikah?”

Jung Soo mengaduk minumannya. Menikah? Belum terpikirkan olehnya, meskipun usianya yang sudah kepala tiga ini sudah sangat pantas untuk menikah. Sejenak ia berpikir, siapapun pasti ingin menikah. Lelaki normal manapun pasti menginginkan seorang wanita untuk menemaninya, tapi kondisinya sekarang masih belum bisa untuk mewujudkan hal itu. Ia terlalu sibuk, waktu seolah tak mengijinkannya untuk mengabulkan keinginannya, yang juga merupakan keinginan orang tuanya tersebut. Meskipun orang tuanya tidak pernah mengatakannya secara langsung, tapi rengekan Soo Jung yang selalu bertanya tentang pernikahannya, seolah menjadi penyambung lidah kedua orang tuanya yang kini tak lagi hidup bersama.

Disamping itu, Jung Soo masih ragu. Nasib pernikahan kedua orang tuanya menjadi momok dan trauma tersendiri baginya. Mungkinkah pernikahannya nanti berlangsung untuk selamanya?

Disaat ia memikirkan itu, tanpa sengaja matanya menatap keluar. Dinding yang terbuat dari kaca memungkinkannya untuk melihat semua aktivitas orang yang ada diluar, bahkan meskipun itu adalah aktivitas seekor anjing yang sedang berjalan dipinggir jalan sendirian. Matanya terkunci pada seseorang yang berdiri di seberang jalan, seorang wanita yang berbalut sweater abu-abu dengan celana hitan dan dipadukan dengan sepatu boots hitam tengah berdiri di samping tiang lampu jalanan. Sorot lampu yang kekuningan memberikan refleksi wanita itu, yang begitu sempurna di mata Jung Soo.

Wanita itu menarik perhatian Jung Soo. 5 menit lamanya wanita itu berdiri disana, 5 menit pula Jung Soo tak mampu mengalihkan pandangannya. Ocehan-ocehan Soo Jung tiba-tiba menjadi samar. Jung Soo terpesona.

TBC

***

Note : Selesai part 1. Ah, akhirnya. FF ini mampu membuatku kembali bersemangat, entah kenapa. Aku seperti kembali memulai menulis seperti dulu, belajar dan sebagainya. Hanya bedanya sekarang aku lebih terbuka. Terbuka? Apanya yang terbuka? Itu hanya aku yang tau *Mehrong*

Tapi pertama-tama, aku ingin kembalii meminta maaf, Amourette sama LTD nya kembali ngadat, tapi disela-sela menulis ini, aku berusaha untuk meneruskan LTD meskipun itu hanya satu paragraf doang, ga papa kan?

Aku kembali dengan FF kolaborasi keduaku. Kali ini membernya bertambah, kita bikinnya bertiga, aku sendiri, Ikha sama Opi. Kaya trio kwek-kwek yah, atau Lunafly girls version, wahahahahahaha, ngaco, nah kan, selera humorku juga perlahan kembali. Hahay, FF ini digarap dengan penuh pertimbangan *gaya* setelah seharian ngajakin 2 author cerewet yang selalu rebutan cwo itu, akhirnya aku berhasil membujuk mereka. Dari yang awalnya ga ada ide sama sekali bahkan temanya aja nihil. Sampai akhirnya diskusi diskusi diskusi diskusi, dipilihlah tema ini. Ini menceritakan tentang penghuni apartemen Golden Palace kamar 319. Kenapa kamar 319? Ada yang tau kaga kenapa aku pake angka keramat itu? Kalo ada yang bener jawabnya, aku kasih nyempil di FF yang aku bikin selanjutnya untuk part aku deh. Hahaaaaa. Jadi ini nanti gantian, insya Allah akan publish tiap minggu, do’akan saja kami menulisnya sampai tamat. Keut.

Mengenai sempil menyempil, jangan heran kalo kita bikin banyak cameo disini. Lagi banyak kontrak sama cowo dan cewe kece soalnya, hahahahahahaha. Ayo siapa yang tau sama Jisung? Aku kasih peran juga deh yang bener jawabanya… kasih fotonya sama aku di watsap 085787919883 atau BBM 75D59D00. Silakan bagi yang berminat..

Dan pada akhirnya, terima kasih untuk yang sudah berkunjung dan sudi membaca tulisan aku yang rada-rada aneh ini. Sedikit menyimpang dari FF aku yang sebelumnya, anggap aja aku lahir kembali, ok? Baiklah, aku memang terlahir kembali, tapi tetap menjadi takdirnya Jung Soo, berapa kalipun kehidupan berganti aku tetap takdirnya, kalian suka ataupun tidak *OK aku mulai ngaco*. Akhir kata, terima kasih untuk semua yang sudah baca, yang cuma buka aja, terlebih lagi untuk yang komen. Klik kalian sangat berarti, komen kalian sangat berharga, Gamsahamnida…

65 responses »

  1. eonni….aq tertipu kkeke
    dr jdulny kirain sjenis ff bertema kerajaan2 gtu eh…ternyata t nma apartmen eunkyo hhaaaaa

    part 1 dh bnyak konflik yya udah bnyak cast bermunculan
    t cwe yg d liat jung soo oppa eunkyo yya??

  2. hwaaaa…..
    seneng bngt bs bc ff vika eonni lagi😀
    semangat eon kkkkk biar ak bs bc ff terus hhhh
    stlh sekian lm..vika eon bangkit lg *plak.apaan nih*

    ok, itu jung soo trpesona smg sp?? eun kyo kah..tentu saja, eun kyo kan mempeson utk jung soo kkkk

    jisung itu smrookies bukan kkkk *kepo+sok tau* kkkk

    ok.. kpnjngn deh kykny.. ckp sekian dan terima kasih…
    LTD di tunggu eon😉

    • bangkit? bangkit dari kubur? *plak*
      kamu udah aku kasih cap!
      fotonya jisung benar. kamu akan nyempil d ff berikutrnya, entah ff yang mana, perlu dicatet juga, yang nyempil cuma gigi kamu kena kuas aku doang *plak*

  3. Omo, aku suka ide cerita ini, kayaknya bakalan menarik banget..apalagi kondisinya Eun Kyo tinggal di apartemen sama dua perempuan, nggak begitu suka ketemu laki2..lantas siapa itu perempuan yang dilihat Jung Soo? apakah Eun Kyo eonni?

  4. Wha….ada young do juga,,,saia jd ikutan kebat kebit bacanya^^
    Dan yeah….akhirnya eun kyo kembali,,,aku suka karakter eun kyo yg spt ini….rame!!
    Next part aku tunggu neng….
    Thanks^^
    *ini jisung yg mane??? Next part yoochun jd cameo ya,,,jdi OB di galerynya eunkyo jg gapapa😀

  5. sma ky ff kmren, ini yg k’5 x’a q halman tdk d’tmukan..
    d’ff ini eunkyo beda bgd karakter’a dri biasa’a, tpii ttep ok..

    klo bleh ksih sran, mngenai cast, aq krang mmahami cerita’a klo trlalu bnyak cast, krna buat memahami sbuah crita qta hrus tw nma cast’a n krakter msg”. jdi klo 1 cast ajj blm tw karakter’a udh muncul cast baru itu agak jdi beban buat q, krn hrus hapal karakter baru lgi, jdi kurang fokus ma jln cerita, inti’a sich jgn terlalu bnyak cast oenn, tpi itu cm sran q ajj, slanjut’a trsrah oenni

    • waduh kasian… tapi akhirnya dapat kan…
      iya sarannya terima kasih…
      ceritanya akan buanyaaaaaaaakkk sekali castnya, tapi yang harus kamu inget fokus saja pada Eun Kyo, Jae In dan Hye Kyung, selebihnya itu hanya cameo… selain itu, cerita mereka bertiga akan dibuat secara terpisah, ga kaya LTD nyampur, jadi kamu akan lebih gampang membaca, lbh gampang menganalisa masing-masng masalah mereka dan akan lebih gampang membedakan…
      kami bikn bergantian, untuk part ini lebih dominan…
      part depan mungkin Hye Kyung yang lebih dominan
      besoknya lagi Jae In
      setelah itu balik lagi ke eunkyo… gitu seterusnya, jadi akan lebih gampang, ga keroyokan kaya LTD… semoga penjelasan aku bisa dimengerti…

  6. Daebak, ff bru yg pnting teukyo msh couplean, smpat was2. . .blum ktmu jung so, e. . . Sdah ktmu ma 3 cwok. . . Huft, , , low bsa jga da anak mreka ryujinie. . .ha ha
    eonni, fighthing LTDny slalu dtnggu;-)cpet y. . . He he

    • ash couple-an dong, masa iye saya sendiri? naas bener…
      ryu jin masih lamaaaaaaaaaaaaaaaaaa bgt, ktmu jug abelum…
      LTD? LTD yang mana yah?
      seru kan ketemu cowo kece… secara eunkyo kan cewe kece banget! *plak

  7. Eonni, aku suka eunkyo deh. Sempet ragu ntar eunkyo sama siapa ya krna ada young do😀 *eh baru jga part 1 tahap perkenalan udh lgsg mikir eunkyo sama siapa =D haha* liat notenya eunkyo takdirnya jungsoo jdi lega deh. Soalnye si jungsu kagak muncul2 eh taunya cuma diakhir doang :’))

    • kira2 udah ga perlu ditebak lagi eunkyo sama sapa… tapi boleh juga tuh rin, mungkin bisa penyegaran sedikt, mungkin bs jadi haekyo? atau kangkyo? kyochul? atau kyukyo? atau… yekyo? nah ayo plih mana? hahahahahahahahaahahaha

  8. unnieee ff nya bagus…masih jarang tema cerita yang kaya gini😄
    seru+lucu aah suka bgt sama ini couple… cepetan publish lagi dongg..kalo perlu langsung 2 chap atau 3 chap hahah/mangkak/

  9. OMONAAAA!!!
    EonniKyu yang paling KECE kembaliiiiiiiiiiiiiiiiii…. #tebarrecehandariGoldenPalace

    Aku udah tebak sih kalau ceritanya bakal apartemenan gitu. Tapi gak nyangka juga bakalan begini alurnya… Puahhahhah somvret… kau reinkarnsai ya Eonn? Takdir Jung Soo? Tsk….

    Suka Eun Kyo yang begini, yang gak kalem seperti biasanya #angkatrokDdangko
    Cerewet… dan yah… mendadak jadi bos dah di GP…. kkkkk
    Eh, Ahjussi baboku… seneng deh kau muncul lagi di sini.. siapa yang kau lihat? Ahjumma itu kah? #dipelototinEunKyoEonni *maapbukkk*
    Moga kau bukan org yang workaholic yang suka mengabaikan cewek dan hl sejenisnya yoooo :p

    319? Pas eonn cemeez aku… gak tahu kenapa aku langsung kepikiran itu tanggal lahirnya Oppadeul..
    3 untuk Kyuhyun akak setan buntalku
    1 untuk Ahjussi baboku
    9 untuk Siwon-ssi~ku😀
    TEbak aja sih?
    Tapi, bisa jadi itu bulan lahirnya tuh 3 yeoja kece…
    aihhhh… mollayooo…
    aku cuma ikutan nebak aja… SERU-SERUAN…..

    Next.. Sms-in aku ya eonn…
    Mian baru bisa baca skrg, Eonn. Baru selesai semesteran soalnya… #fufufufuuff >_<

    • salah tiara… bukan tanggal lahir mereka… uhuy…
      terima kasih udah berkunjung?
      jadi kapan kita memulai project kita? *plak
      aku kalem sebenarnya… bukan begini *pitnah
      siwon tidak masuk dalam daftar…
      ya udinliat aja entar\..

      • Ahahahahahha…. jadi bang won kagak dimasukin…
        kekekekekkeeke…

        Trus apa dong eonni???? #mikir

        Eh? Iya yaaah kapan projek duet kitaaaa??? Belum selesai duetku ama temen itu eonn…

        hehehehheee…
        aku gak sabar menenatikan projek itu, Eonn! #tepokTeukie

  10. ouw nie kirah ttg tiga orang yeoja yg hdp b’sama, eonni baca nama young do jadi inget kim woo bin di ‘the heirs’ soal’a saya suka ama dya keren bgt, apa yg di liat teuki itu eun kyo? moga aja ea, eon jgn buat teuki selingkuh’ lagi ea sekali’ eonni yg selingkuh biar teuki tau rasa hehehe

  11. wahhhh akhir.a aku bisa baca jg.. mian mian mian. baru sempet d baca eonni. bagus cerita.a. memang beda dari yg lain. eun kyo alergi gitu sama cowo. jd ikut geregetan pas eun kyo buru” pngen nemuin klien. tepok jidat pas wktu dia pake handuk doang kluar kamar eh ada bocah laki. kaya.a sdikit lg ketemu jung soo nih. di tunggu klanjutan.a.. ^_^

  12. .unni kembali
    i like it
    .moga tiap minggu rutin publishnya
    amin!!!^_^
    young do~langsung kebayang the heirs
    unni miss u
    jangan lupa yang dulu2 publish,aku sampek baca berulang2 fanficnya unni,tetep ae gak bosen
    jjang buat unni!!!
    faithing buat part 2

  13. Iyaa… Kirain bakal ff dengan tema saeguk. Ide ceritanya keren.
    Suka dengan character kyo yang cerewet kayak emak2 kepada jae in dan hye kyung…
    Untuk 2 karakter lain.a kayaknya belum terlalu di expose.
    Dan untuk pejantan tua kita, jung soo oppa… Senang bisa melihat dia masih mau mengambil bagian dalam cerita mu.
    Selamat menulis untuk vika eonni dan 2 author lain.a,,, fighting!!

  14. onnie yg ini satu ff 3 author sekaligus,pemerannya bnyak.:)
    aku gaxtau mau coment apa,masih belum ngerti#biasa dah ngantuk🙂 tapi besok kalau ada bpulsa aku bca ulng trus aku kirim langsung keno onniee..:)

    #hwaiting onnie,,:)
    semangat trus ea….

  15. pertama baca,dalam hati
    “tumben nama2nya keliatan asing”..
    ternyata
    new comer-nya lebih banyak.
    lebih berkarakter (banyak pemain dengan karakter beda maksudnya).
    keren pokoknya ^-^b
    ayo Eonni, lebih semangat & semangat terus..

  16. Masih menebak2 utk part slanjutnya, pling suka sma ff yang bkin pnasaran sma part slanjutnya, vikos eonni smangat waiting to the next part🙂

  17. Ahhh. . . . So Sweet deh critanya🙂

    ada Young Do nya lagi kkk~😀

    Tebak deh klo Jung Soo trpesona ama Eun Kyo,, Soalnya klo ama yeoja lain,, abis slsai ni ep2 mata jung soo bkal di colok eunkyo wkwkwk😀 *dijambak eunkyo* hahaha. . . .
    nebak dri jdul nya,, kirain gaya Saeguk jaman modern.. kya princess hours gtu . . . . ternyta slah besar.. hihi..

    lanjutkan unnie,, sya sllu mnunggu lanjutannya.. apakah eunkyo bkal mencolok mata jungsoo #plakk.. *apaandeh*😀

  18. Tengah malam mampir ke sini gak sia-sia ada ff baru😄 aku setuju sama dirimu eonni, hdp tanpa konflik bagai taman tak berbunga *plak aku suka kalo om jungsoo sama tante eunkyo *ngek berantem gitu, karna disitulah keromantisan mereka :*
    Kira2 disini ada suamiku tdk eon? ituloh yang hari ini umurnya 27th tua ya #muaahh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s