Love is . . . (My Pain 1)

Standar

7VIKOS

Menuju penghujung hari, langit Seoul terlihat gelap. Di sebuah Coffee Shop bernuansa soft brown, Eun Kyo duduk di sudut ruangan sambil menyeruput orange juice. Sesekali ia melirik pintu masuk seolah sedang menunggu seseorang. Ditemani dengan suara alunan musik jazz yang pelan dari aplikasi ponselnya, ia masih betah duduk meskipun matanya masih mengantuk. Beberapa jam yang lalu, ia menerima sebuah pesan singkat dari Jung Soo, suaminya, menyuruhnya untuk menunggu dia menjemput malam ini. Tapi ini sudah 3 jam ia menunggu, Jung Soo tak kunjung menampakkan siluet bayangannya diremang lampu yang sudah mulai dimatikan.

Eun Kyo mencoba untuk tenang kendati hatinya masih gelisah. Tiga jam menunggu masih tak seberapa dibandingkan sebulan yang lalu, ia menunggu semalaman dan tidak pulang, ketika bangun, sebuah pesan ada dilayar ponselnya tertanda jam 2 pagi, mengabarinya agar tidur saja dan tak perlu menunggu. Jadi hari ini, malam ini, masih belum ada apa-apanya.

Masih harus menunggu?

Beberapa menit lagi, mungkin Eun Kyo akan terlelap. Ia sudah beberapa kali menguap. Tangannya menutupi seluruh wajahnya dan otaknya mulai berpikir. Haruskah ia menyerah untuk menunggu? Perlahan namun pasti, tingkat kesadarannya sudah diambang batas. Matanya mulai turun lalu terpejam.

Noona, kau tidak pulang?”

Sayup Eun Kyo mendengar suara dan refleks ia membuka mata. Ia mengerjap dan bingung. Tae Hwa berdiri setengah berjongkok tepat dihadapannya, ia bahkan sudah mengganti seragamnya denga baju casual, bersiap untuk pulang.

“Tidak pulang?” ulang Tae Hwa bertanya.

Eun Kyo mendongak dan mengucek matanya. Ia menggeliat pelan dan mengambil tasnya, lalu bangkit.“Aku pulang,” jawabnya. “Mau memberiku tumpangan?” lanjutnya lagi sambil membenahi bekas minumannya.

Ia memandang ke seluruh ruangan, gelap dan semua kursi sudah naik ke atas meja. Lalu matanya kembali pada Tae Hwa, Eun Kyo tersenyum. “Hanya tinggal kita berdua, sudah jam 11 malam. Dan aku–” Tae Hwa tak melanjutkan perkataannya, namun matanya melirik kearah samping, seorang gadis mungil berdiri sambil tersenyum.

“Ah, aku mengerti, aku pulang dengan taksi saja,” ujar Eun Kyo mengerti. Tidak mungkin Tae Hwa memboncengnya bertiga diatas motor.

Mian Noona,” ujar Tae Hwa dengan nada sedikit menyesal. Selama ini memang Tae Hwa yang mengantar Eun Kyo pulang ke rumah. Tapi kali ini, gadisnya menjemputnya ke tempat kerjanya, dan tak ada pilihan lain selain menolak permintaan Eun Kyo.

“Eiy… gwaenchana. Jung Soo Oppa  juga sebentar lagi akan menjemputku.” Eun Kyo berbohong, dia tau pasti di malam selarut ini, Jung Soo tidak akan menjemputnya. Jung Soo pasti mengira Eun Kyo sudah tertidur pulas malam ini.

“Tapi….” Tae Hwa memandang ragu kearah Eun Kyo. Sudah berjam-jam Eun Kyo menunggu, apa Jung Soo akan datang menjemput setelah selarut ini?

“Kau pulang saja, ini sudah larut, terlambat mengantar gadismu bisa dapat surat peringatan dari Appanya. Kajja Kha.” Eun Kyo mendorong Tae Hwa menyuruhnya untuk segera pulang dan mengakhiri rasa malunya karena Tae Hwa sudah beberapa kali mendapatinya seperti ini. Diacuhkan Jung Soo.

Ah, nde… aku… aku pulang, keundae, Noonagwaenchana? Aku tinggalkan sendirian disini, baik-baik saja?” Tae Hwa benar-benar mencemaskan Eun Kyo. Nada cemas dari bicaranya itu tak bisa disembunyikan.

Eun Kyo tertawa pelan, “Yaa! Memangnya kenapa jika harus sendiri disini? Bangunan ini milikku, siapa yang berani menggangguku di daerah kekuasaanku sendiri? Eoh?!

Aani, aniya,” jawab Tae Hwa ragu, namun ia melangkah keluar sambil menarik tangan gadis yang sejak tadi diam.

“Setengah jam lagi dia tidak menjemput, aku bisa panggil taksi, menjemputku disini, Kkokjeonghajima!

Akhirnya Tae Hwa pergi.

Eun Kyo mash berdri di ambang pintu memandangi kepergian Tae Hwa, hingga menghilang di persimpangan jalan. Setengah jam lagi ia akan menunggu. Ya, setengah jam.

***

.

Tidak sampa setengah jam, kakinya langsung melangkah meninggalkan Coffe Shop miliknya, setelah memastikan tempat itu aman ia tinggalkan. Eun Kyo memilih untuk menunggu bus saja ketimbang menunggu jemputan Jung Soo yang masih belum tentu kebenarannya. Tak berapa lama berdiri, sebuah bus melintas dan berhenti tepat di depannya.

Bahkan supir bus saja tau apa yang aku inginkan.

Eun Kyo membatin. Hidup terasa semakin sempit, seolah ada sekat yang membuat tak sebebas dulu. Perasaannya semakin terhimpit. Terhimpit rasa tidak nyaman dan jenuh yang belum diketahui penyebabnnya. Pernikahannyakah? Apa pernikahan yang membuat perasaanya seperti ini? Perasaan apa ini?

Di dalam bus, Eun Kyo duduk di kursi paling belakang, dan mengambil tempat paling ujung. Matanya sibuk memandangi deretan gedung bertingkat yang dilaluinya, tapi pikirannya sama sekali jauh menerawang.

Eun Kyo menarik napas, ia mulai membawa pikirannya pada zona nyaman dan berpikir rasional serta positif.

Tapi haruskah selalu toleransi?

Toleransi mengerti saat suami lebih mementingkan semua tumpukan berkas yang harus dia kerjakan?

Harus saling memahami?

Memahami saat posisimu sekarang tidak lebih berharga dari persen saham yang menanjak naik?

Harus toleransi dan saling memahami. Eun Kyo mulai muak dengan semua kata-kata itu. Harus dibatasi dengan kata toleransi dan memahami, Eun Kyo mulai lelah.

Cinta. Eun Kyo merasa kosong. Perasaannya mulai kebas dan mati rasa, inikah awal memudarnya cinta yang dulunya penuh gairah? Antiklimaks dari semua perasan yang dulunya dia rasakan. Perasaannya benar-benar berkecamuk.

“Mau?”

Eun Kyo mendengar seseorang bersuara dari telinga kanannya, ia menoleh dan seseorang duduk disampingnya sambil memegangi 2 buah hotdog besar ditangannya. Eun Kyo terdiam, masih belum yakin orang itu menawarinya. Setelah memastikan sekelilingnya, dia mulai yakin, karena hanya mereka berdua yang ada di dalam bus tersebut.

“Mau?”

Tanya orang itu lagi sambil menoleh pada Eun Kyo. Seorang lelaki berkulit putih susu dengan rambut kecoklatan bergaya masa kini tersenyum padanya dengan pandangan bersinar. Lelaki muda yang tampan.

Eun Kyo menelan ludah, seketika perutnya keroncongan. “Ka-kau, menawariku?” tanya Eun Kyo sambil menengok ke sekeliling.

“Eum, aku membelinya dua. Tadinya ingin aku berikan pada seseorang, tapi ternyata, dia tidak menungguku, sudah pulang saat aku menjemputnya,” jawab lelaki itu sambil menunduk.

Eun Kyo mengambil hotdog itu dan mulai memakannya, tanpa bicara. Bahkan saat lelaki itu memandanginya dengan tatapan senang, seperti seorang anak kecil dermawan yang sangat bangga dan senang saat pemberiannya dihargai oleh orang lain.

Meninggalkanmu? Aku bahkan tidak djemput sama sekali. Eun Kyo membatin seraya mengunyah makanan yang ada dimulutnya dengan nikmat.

Noona, Eun Kyo Noona.” Sambil melihat ke dada Eun Kyo, lelaki itu mengeja nama yang tertera di baju Eun Kyo. Ia lupa melepaskan nametagnya. “Aku sering minum kopi di tempatmu, saat pulang kuliah,” ujarnya lagi.

Eun Kyo mendelik. Sambil mengunyah, dia memandangi lelaki itu, tampak heran. “Geurae? Ah, ye, gamsahamnida,” jawab Eun Kyo acuh.

Banyak orang yang datang ketempatnya silih berganti. Tidak mungkin dia mengingat semua pelanggan yang datang berkunjung.

***

Keesokan paginya, semuanya berjalan seperti biasa. Malahan Jung Soo bersikap sangat biasa, seperti tak terjadi apapun semalam. Ketika Eun Kyo pulang larut dan yang membukakan pintu saat tiba dirumahnya adalah suaminya sendiri, Jung Soo bahkan merasa tidak ada yang janggal. Kalimat ‘Aku kira kau sudah pulang’ meluncur begitu saja dari mulutnya dengan ringan. Tak ada emosi, Eun Kyo hanya menjawabnya dengan kata ‘Aku mengantuk’ tadi malam.

“Kau… menungguku….,” jeda. “Lama?” tanya Jung Soo ragu.

“Tidak sampai tertidur,” Eun Kyo menjawab sambil memasukkan nasinya ke dalam mulut. Sarapan paginya.

“Nanti, saat aku tidak menjemputmu, kau pulang duluan saja!” Jung Soo juga menyuap nasinya ke dalam mulut. Matanya memandang lurus kearah Eun Kyo yang sedang menyibukkan diri dengan makanannya tanpa sedikitpun mengindahkan Jung Soo.

Siapapun pasti akan merasa kecewa saat mengalami kejadian seperti Eun Kyo. Bukan yang pertama kali, tapi sudah yang kesekian kalinya saat saham Park Coorporation meningkat pesat. Intensitas pertemuan mereka semakin jarang meskipun terikat dalam sebuah pernikahan dan terdaftar memiliki rumah bersama.

Gwaenchana. Saat kau mungkin lupa menjemputku, aku bisa pulang dengan bus atau taksi.” Adrenalinnya berpacu saat ia menjawab perkataan Jung Soo. Ada getir yang ia rasakan menjalari dadanya.

Pulang? Begitu saja? Kenapa dia tidak menjawab ‘Aku akan memberitahumu saat aku sibuk dan tidak bisa menjemputmu’? Bukankah seharusnya Jung Soo berkata seperti itu? Eun Kyo menarik nafas dan sekuat tenaga mengontrol perasaannya. Ia biarkan emosinya mereda dengan diam beberapa saat.

Hening beberapa detik, hanya ada bunyi peralatan makan yang saling beradu.

“Tapi aku akan terlihat seperti suami yang jahat!”

Eun Kyo tak ingin menjawab, ia rasa Jung Soo tau bagaimana keadaanya sekarang, dimana posisinya. Suami yang baik kah? Atau yang jahat kah?

Keadaan sepertinya sekarang sudah mulai berubah.

***

“Lee Yeong Seo,” panggil wanita berperawakan sedang berambut pirang. Rambutnya digulung rapi ke belakang. Ia menyapa Yeong Seo yang meringis kesakitan memegangi lututnya.

Mendengar namanya dipanggil, Yeong Seo mendongak. Matanya bertemu dengan wanita itu, yang baru saja selesai membersihkan lukanya dan sekarang ia mulai mengambil perban dan membalut luka yang ada dilutut Yeong Seo.

“Sudah selesai Lee Yeong Seo~ssi,” ujar wanita itu. Di dadanya tertera nama Kim Yoojin.

“Aw! Aw aw aw!” Yeong Seo berteriak saat seseorang memegangi lututnya. “Masih sakit,” ujarnya lagi dengan suara keras. “Aku bisa dapat ceramah lagi kalau terlambat hari ini,” keluh Yeong Seo. Ia meniup lututnya dan menurunkannya dengan perlahan.

Tiga jam yang lalu, terjadi kecelakaan kecil menimpa Yeong Seo. Beberapa meter setelah ia keluar dari pagar rumahnya, seseorang menyerempetnya. Sekali lagi ia mengumpat dalam perjalanan ketika lelaki–yang menabraknya itu–membawanya ke rumah sakit. Begitu sampai di rumah sakit, umpatan kecil itu berubah dengan teriakan kesakitan.

Hancur sudah semua pencitraan yang ia bangun beberapa waktu lalu saat pertama kali ia bertemu dengan lelaki yang kini duduk dengan wajah cemas di hadapannya. Lee Hyuk Jae.

Andai saja mobilnya tidak di bengkel mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Hari ini benar-benar hari yang naas. Ia bangun dari tidurnya dan keadaan rumah sunyi senyap. Hanya ada pesan singkat dari Eommanya, menyuruhnya untuk bangun lebih pagi lain kali. Dan ketika ia sudah siap untuk bekerja, mobil kesayangannya tiba-tiba saja tak bersahabat. Mesin mobilnya mogok. Ada supir tapi tak ada mobil, sama saja nol besar. Terpaksa ia harus keluar dan menunggu taksi di depan rumahnya.

Karena bosan menunggu, Yeong Seo bermaksud untuk berjalan kaki untuk mengusir rasa tidak sabarnya. Bukan berjalan kaki ke tempat kerjanya, ia hanya berjalan beberapa meter dan kembali ke tempatnya berdiri tadi, cara itu biasanya ampuh saat rasa tidak sabar menggerogotinya. Tapi sial, baru saja ia melangkahkan kaki, seseorang dengan mobilnya melintas kencang dan membuat Yeong Seo tersungkur ke aspal.

Mianhae, mian. Aku tidak sengaja,” ujar Hyuk Jae dengan nada penuh rasa bersalah.

Yeong Seo menatap Hyuk Jae, “Ah, yang terjadi biarkanlah terjadi,” ujar Yeong Seo sambil mengibaskan tangannya, “Sekarang antarkan aku ke kantorku!”

“Sekarang?”

“Ya! Sekarang.”

“Tapi kau masih sakit, apa tidak sebaiknya kau istirahat saja disini beberapa saat?”

Yeong Seo memandangi sekelilingnya. Ruangan gawat darurat dengan beberapa brankar yang penuh dengan orang sakit, apa bisa membuatnya lebih tenang?

“Sebaiknya? Apa disini terlihat lebih baik? Kau gila!” Yeong Seo mencoba turun dan baru saja kakinya menyentuh lantai, ia terjerembab dan hampir terjatuh, jika saja Hyuk Jae tidak menahannya.

“Hati-hati, Agasshi. Kecantikanmu adalah asetmu, kau tau?”

“Kecantikanmu adalah asetmu,” Yeong Seo mengulang perkataan Hyuk Jae dengan nada mengejek, “Harga diriku adalah segalanya! Dan kau mencoreng harga diriku dengan membuatku terlambat bekerja lagi pagi ini!” teriak Yeong Seo sesudahnya, “Kau tidak tau seberapa mengerikannya dia saat menyindirku? Eoh? Menyebutku sebagai pemicu nepotisme kekeluargaan? Aigoo jinjja, jika saja dia bukan keluargaku, mungkin aku sudah membuatnya seperti ikan dalam kemasan,” Yeong Seo terus mengomel dan membuat Hyuk Jae menganga. Dan ketika sadar, Yeong Seo langsung menutup mulutnya, “Ah, mian,” ujarnya sambil merapikan rambutnya. Ia lalu melepaskan tangan Hyuk Jae yang erat memegangi lengannya ketika ia hendak terjatuh tadi.

“Aku terlalu banyak bicara,” ujarnya lagi dengan lirih, matanya berusaha menghindar dari tatapan Hyuk Jae, menyembunyikan salah tingkahnya. “Kau bayar administrasi, lalu antar aku ke kantor, Hyuk Jae~ssi. Aku masih ingat denganmu.”

“Eum, baiklah. Aku akan mengantarmu ke kantor. Keundae, apa aku harus menabrakmu lagi nantinya, untuk membuatmu duduk disampingku, di dalam mobilku, Lee Yeong Seo~ssi?”

***

Banyak persiapan yang Eun Kyo lakukan untuk malam ini. Ia tidak ingin terlihat tidak pantas menyandang predikat sebagai istri seorang Park Jung Soo yang sudah beberapa kali menjadi cover majalah bisnis ternama. Gaun tanpa lengan ia pilih untuk penampilannya kali ini, dengan sepatu pantofel berwarna senada. Soft blue. Rambutnya digulung kebelakang dengan membiarkan beberapa helai rambut yang pendek tergerai. Riasan minimalis dengan lipstik merah menyala dibibirnya, menimbulkan kesan elegan dan lebih berani. Eun Kyo nampak percaya diri saat tangannya bertengger dilengan Jung Soo ketika memasuki sebuah restoran mewah.

Ini adalah pertemuan pertama kalinya dengan Yeong Seo setelah ia menikah dengan Jung Soo. Setelah beberapa tahun membiarkan hubungan mereka membeku, saat di universitas dulu. Fakta bahwa Yeong Seo adalah adik sepupu suaminya, membuat Eun Kyo mau tidak mau harus berhadapan kembali dengan Yeong Seo. Meski sekeras apapun ia menghindarinya, tetap hal itu tak dapat terelakkan. Ia sekarang memiliki ‘hubungan karena pernikahan’ dengan Yeong Seo.

Makanan pembuka sudah dihidangkan diatas meja, namun hanya Jung Soo yang kelihatan berselera untuk makan. Acara makan malam ini dijadwalkan Jung Soo sebagai perkenalan dan penyambutan secara khusus untuk Yeong Seo yang baru kembali dari Amerika. Beberapa kali ia merencanakan, namun selalu gagal karena jadwalnya yang padat. Dan hari ini, hal itu baru terlaksana.

Eun Kyo terlihat canggung dengan sesekali melirik Jung Soo yang terlibat pembicaraan dengan Yeong Seo. Pembicaraan mereka seperti kertas yang masuk dalam mesin penghancur di dalam otak Eun Kyo, tak berbekas dan hancur tak berbentuk.

Dalam pikirannya, Eun Kyo terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini adalah awal yang bagus. Untuknya, juga Yeong Seo. Tapi perasaan lain memojokkan keyakinan yang baru beberapa detik ia bangun. Ketika matanya beradu dengan Yeong Seo. Keyakinan itu runtuh. Letupan perasaan aneh melandanya.

“Aku dengar, kalian dulunya satu universitas?” tanya Jung Soo. Ia melirik dan menggamit lembut lengan Eun Kyo.

Eun Kyo sedikit terperanjat, saat tangan Jung Soo ada dilengannya, seolah Jung Soo telah memergokinya sedang melakukan kesalahan. Kesalahan kecil tentunya ketika pikirannya berjalan kemana-mana saat acara yang menurut Jung Soo penting seperti ini.

“Ah? Ye. Kami satu universitas,” jawab Eun Kyo.

“Satu jurusan,” timpal Yeong Seo.

Ah jinjja? Kau tidak pernah cerita.”

Hening.

Ketiganya terdiam. Ada aura aneh yang menyelimuti Eun Kyo dan Yeong Seo sejak bertemu tadi. Terlebih lagi Eun Kyo, ia benar-benar tidak tau harus berbuat apa saat kembali bertemu dengan Yeong Seo.

“Tidak ada yang perlu diceritakan, Oppa. Kami tidak akrab.” Seolah membalas Yeong Seo, Eun Kyo mengatakan apa adanya seperti Yeong Seo. Tidak ingin terlanjur berpura-pura.

Jung Soo menatap tajam kearah Eun-Kyo seperti tidak percaya. Selama ini Eun Kyo tidak pernah berbicara dengan nada seperti itu, meski menyidir sekalipun, ia akan lakukan dengan halus. Tapi tadi, nadanya sungguh terdengar sumbang di telinga.

Nde, tapi kita bisa memulainya dari sini, mungkin, Park Eun Kyo?” balas Yeong Seo.

“Bukan ide yang buruk.” Eun Kyo menatap tegas kearah Yeong Seo.

Pertemuan mereka kembali saat ini, tak mampu menyembunyikan aura tak bersahabat yang terpancar dari mereka sejak dulu. Kalimat demi kalimat keluar dari mulut Eun Kyo dan Yeong Seo bernada menyindir dan tak mampu Jung Soo cegah. Saat ia mulai masuk dalam pembicaraan Eun Kyo dan Yeong Seo, keduanya seolah membuat Jung Soo seperti kasat mata.

“Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian?” tanya Jung Soo di dalam mobil, setelah makan malam itu berakhir.

Eun Kyo hanya menjawab dengan helaan nafas berat. Ia tidak tau harus menjawab apa. Tatapan Yeong Seo tadi sungguh membuatnya tersinggung. Makan malam yang dalam bayangan Jung Soo bisa mengakhiri dinginnya sikap Eun Kyo akhir-akhir ini menguap begitu saja, seperti embun yang lenyap ketika sinar matahari mulai terik.

Sebenarnya semuanya berawal sebuah nilai akademik. Persaingan ketat yang terjadi antara keduanya, seolah memberi sekat meskipun mereka tidak bermusuhan. Tanpa disengaja, keduanya berlomba menjadi yang lebih unggul. Eun Kyo punya alasan tersendiri kenapa dia harus unggul dalam segala hal, terlebih lagi dalam hal akademik. Tanpa nilai yang bagus, ia tidak akan punya pilihan untuk masa depannya. Kedua orang tuanya berharap banyak padanya, sebagai contoh untuk saudara-saudaranya, agar kedua orang tuanya bisa membanggakan putrinya di depan seluruh kerabatnya. Itulah yang orang tuanya lakukan saat ada pertemuan keluarga. Semuanya saling membanggakan. Harta, kedudukan, prestasi yang diraih, bahkan anak-anak mereka.

Yeobo~ya, aku bertanya padamu.”

Eoh? Eum, kau tanyakan saja pada Yeong Seo,” jawab Eun Kyo malas.

“Aku tidak punya stok sabar untuk bertanya pada Yeong Seo besok.”

Eun Kyo menoleh, menatap Jung Soo. “Tidak ada apapun,” jawab Eun Kyo lagi, tenang.

“Kau bohong. Siapapun akan mengira kalian bermusuhan sejak kehidupan sebelumnya, jika nada dan pembicaraan kalian seperti tadi.”

“Tidak ada apapun, aku hanya tidak berteman dengannya. Mencoba jujur sejak awal, daripada berpura-pura mengenalnya,” jelas Eun Kyo.

“Berpura-pura kenal tidak ada salahnya.”

“Tapi aku memang tidak berteman dengannya, mau bagaimana lagi? Eoh?”

“Apa kalian punya masalah dulunya? Mungkin? Karena sesuatu dan lain hal?”

“Apa maksudmu sesuatu dan lain hal?” tanya Eun Kyo dengan nada tidak suka.

“Mungkin? Mungkin karena… lelaki?” pancing Jung Soo.

Eun Kyo merubah posisi duduknya, serong kearah Jung Soo, “Apa kami terlihat seperti tertarik dengan lelaki? Eoh?”

Jung Soo menoleh sebentar kearah Eun Kyo yang terus memandanginya, ia salah langkah kali ini. “Ah, aniya. Kau kelihatan hanya tertarik padaku selama ini,” jawab Jung Soo. “Dan Yeong Seo…,” lanjutnya “Yeong Seo? Dia sepertinya lebih tertarik bermalas-malasan daripada lelaki. Aigoo, gadis itu. Dia sudah cukup umur untuk menikah.”

Mereka tidak melanjutkan pembicaraan sampai mereka tiba dirumah.

***

“Eun Kyo~ya?!”

“Eun Kyo! Park Eun Kyo!”

Suara keras Hyuk Jae membuat beberapa pengunjung di Coffee Shop milik Eun Kyo menoleh padanya. Tapi seperti dulu, Hyuk Jae tidak memperdulikan hal itu, bahkan saat Eun Kyo sibuk melayani pelanggannya, Hyuk Jae dengan senang hati mengikuti langkah Eun Kyo seperti kucing peliharaan.

“Ya… sudah berapa tahun? Kita tidak bertemu? Eoh?” Hyuk Jae menghitung dengan jarinya, “10 tahun? Atau 11 tahun?” ujarnya lagi.

Lee Hyuk Jae dan Park Eun Kyo sudah kenal sejak lama. Mereka tumbuh bersama dan bermain bersama, sebelum akhirnya Eun Kyo memutuskan untuk kuliah di London. Tak akan cukup dengan beberapa sequel novel untuk menceritakan kisah mereka.

Setelah selesai melayani pelanggannya, baru Eun Kyo bisa meladeni Hyuk Jae yang berdiri dihadapannya dengan senyum khasnya.

Tak banyak yang berubah dari Hyuk Jae, selain rambut dan gaya berpakaian, kini, Lee Hyuk Jae jauh lebih menarik dibandingkan 10 tahun yang lalu dimata Eun Kyo. Jika saja, Hyuk Jae tidak menyapanya lebih dulu, mungkin Eun Kyo tidak percaya yang berdiri di hadapannya ini adalah Lee Hyuk Jae, teman masa sekolahnya dulu yang sering mengikutinya kemanapun ia pergi.

“Haha, kau lebih tampan sekarang, Lee Hyuk Jae,” ujar Eun Kyo berkacak pinggang sambil memandangi Hyuk Jae dari ujung kaki hingga kepala. “Ya… jinjja.”

“Tentu saja,” jawab Hyuk Jae bangga. “Kau masih terlihat cantik, Park Eun Kyo, masih sama seperti 10 tahun yang lalu.” Hyuk Jae mencubit pipi Eun Kyo gemas, hal yang sering kali ia lakukan. “Kau sudah menikah, aku melihat berita pernikahanmu di media,” lanjutnya sambil melepaskan tangannya dari pipi Eun Kyo, “Dan kau tidak mengundangku? Menyedihkan sekali Lee Hyuk Jae.”

Wae? Kau kecewa? Hahahahaha,” balas Eun Kyo bercanda, “Kau hilang seperti diculik alien.”

“Eum… sedikit. Tapi aku masih bisa mencuri cubitan seperti ini saat suamimu tidak ada.” Hyuk Jae kembali mencubit pipi Eun Kyo, kali ini lebih keras hingga membuat Eun Kyo meringis dan balas menendang kaki Hyuk Jae, baru lelaki itu melepaskan tangannya.

“Bagaimana kabarmu selama ini?” tanya Eun Kyo.

“Bak-baik saja seperti yang kau lihat sekarang ini, kau sendiri?” balas Hyuk Jae bertanya.

“Seperti yang kau lihat sekarang.”

“Kau bekerja disini?”

Eiy, Phaboya… aku pemilik tempat ini, sembarangan saja.” Eun Kyo menarik rambut Hyuk Jae, menariknya sambil berjalan, dan mau tidak mau Hyuk Jae mengikuti langkah Eun Kyo, sampai mereka berhenti di tempat yang lebih privasi. Ruangan Eun Kyo.

“Mau minum apa?” tawar Eun Kyo.

Moccachino hangat saja,” jawab Hyuk Jae.

Dalam hitungan detik, mereka larut dalam pembicaraan hangat penuh nostalgia, diselingi candaan dan tawa hangat, layaknya dua orang teman lama. Hyuk Jae dan Eun Kyo, memang dulunya sedekat ini, dan saat mereka kembali bertemu, mereka masih sedekat dulu.

***

Eun Kyo baru saja mengambil kunci dari dalam tasnya ketika sebuah tangan menyentuh lengannya. Hal itu membuatnya sedikit terperanjat dan adrenalinnya berpacu dengan cepat. Ia menoleh dan mendapati seorang lelaki dengan senyuman manis yang khas berdiri tak lebih dari 1 meter darinya. Lee Hyuk Jae.

“Kau?” tanya Eun Kyo.

Eum, na~ya. Aku ingin minum kopi buatanmu.”

“Ya.. Ahjussi, ini masih terlalu pagi.”

Ahjussi? Apa orang setampan aku terlihat seperti Ahjussi?”

“Eish.. aigoo, kau masih sama seperti dulu, membanggakan dirimu sendiri.” Eun Kyo memasukkan kunci dan mulai memutarnya, “Lagipula kau memang seorang Ahjussi.”

Nuguya? Naega? Ya.. aku memang setampan ini dulunya.” Hyuk Jae memenyentuh wajahnya dan melihat pantulan dirinya di depan dinding kaca, merapikan rambutnya. “Aniya, aku masih Oppa. Oppa~ya, Oppa.”

Aigoo, aigoo..” ejek Eun Kyo.

Ia membuka pintu dan masuk ke dalam. Mengambil afron lalu memakainya. Tae Hwa dan yang lainnya masih belum datang. Kursi-kursi masi berada di atas meja, Eun Kyo berjalan mendekati meja dan berniat menurunkan kursi, tapi Hyuk Jae lebih dulu melakukannya.

“Mereka semuanya belum datang?” tanya Hyuk Jae.

“Apa mereka terlihat sudah datang?”

Ani. Hanya ada kau dan aku. Haha, kau dan aku. Hanya berdua saja, nde, berdua,” gumam Hyuk Jae sambil memamerkan deretan giginya pada Eun Kyo.

“Haish! Kau ini, masih sama seperti dulu!” Eun Kyo menarik rambut Hyuk Jae dan memporak porandakannya. Hyuk Jae kini terlihat berantakan seperti orang yang belum mandi. “Dasar otak mesum.”

“Yak! Yak! Kau ini, siapa yang mesum? Kau saja yang berpikiran berlebihan,” omel Hyuk Jae, “Sebaikanya kau suguhkan aku kopi saja daripada mengusikku. Aish, jinjja, kau juga tidak berubah.” Hyuk jae merapikan rambutnya dengan tangannya seadanya.

“Yak! Mengusik? Siapa yang mengusik? Kau yang mengusikku, aku belum buka,” balas Eun Kyo mengomel. “Keundae, senyumanmu itu…” Eun Kyo menunjuk bibir Hyuk Jae dengan telunjuknya, “Aku masih ingat senyuman seperti yang kau lakukan tadi, otak mesum.”

“Tapi aku pelangganmu, pelanggan, pelanggan… custumer, arha?”

“Baru sekali kesini, pelanggan apanya.”

Ya… tapi setidaknya kau adalah temanku. Hehe.” Hyuk Jae merangkul Eun Kyo, mengunci gerakan Eun Kyo dan kembali tersenyum.

Hampir saja Eun Kyo muntah dibuatnya. Jika saja sekarang ada orang lain, mereka pasti mengira keduanya punya hubungan lebih dari sekedar teman biasa. Memang bukan sekedar teman biasa, Eun Kyo dan Hyuk Jae lebih dari teman biasa.

Noona, kau…” Tae Hwa tiba-tiba datang dan langsung menganga.

Eun Kyo buru-buru melepaskan tangan Hyuk Jae dari pundaknya, mencubit pinggangnya dan saat Hyuk Jae ingin berteriak, Eun Kyo langsung menginjak kakinya, teriakan itu otomatis langsung teredam oleh rasa sakit.

“Ta Tae Hwa, neo, neo wasseo. Ah ye, kita punya pelanggan pertama hari ini. Pelanggan paling menyebalkan,” ujar Eun Kyo terbata.

Tae Hwa masih menganga, bola matanya masih menatap takjub. Eun Kyo belum pernah seperti ini sebelumnya, sedekat itu dengan lelaki, seperti yang dilihatnya tadi, belum pernah ia lihat, bahkan dengan Jung Soo sekalipun, suaminya.

“Sebaiknya kau turunkan kursi-kursi itu Tae Hwa~ya…” Eun Kyo berjalan mendekati Tae Hwa dan menyentuh dagunya, menutup mulut Tae Hwa.

Siapapu akan bereaksi sama. Seperti yang Tae Hwa lakukan tadi jika berada di posisinya. Sejak Tae Hwa bekerja paruh waktu hingga sekarang sudah menjadi pegawai full, ia belum pernah melihat Eun Kyo ‘seberani’ itu bersentuhan dengan lelaki.

“Tae Hwa~ya, sadar Tae Hwa~ya..” Eun Kyo memukul keras perut Tae Hwa dengan punggung tangannya, membuat lelaki itu batuk tertahan.

“Akh. Ye, Noona, akan aku lakukan. Tuan… Tuan..” ujar Tae Hwa memanggil Hyuk Jae.

“Lee Hyuk Jae,” jawabnya.

“Ah, Tuan Lee Hyuk jae, Anda mau pesan apa?”

“Aku ingin apapun buatan wanita itu,” Hyuk Jae menunjuk Eun Kyo, yang dibalas dengan cibiran oleh Eun Kyo.

“Tenang saja Tae Hwa~ya, dia pelangganku. Aku saja yang mengurusnya. Dia teman lamaku.” Eun Kyo tersenyum. Menjelaskan dengan singkat tentang kejadian yang membuat Tae Hwa hampir mengeluarkan bola matanya.

Ah, ye, Noona,” jawab Tae Hwa. Ia mengangguk berpura-pura mengerti meskipun akal sehatnya masih belum menerima.

***

Eun Kyo tidak menunggu sampai tokonya tutup malam ini, ia berinisiatif untuk menjemput Jung Soo menggunakan taksi. Tanpa memberitahu Jung Soo, ia sudah hampir sampai di gedung bertingkat tempat Jung Soo bekerja dan mengahabiskan waktu lebih dari separuh hari.

Ia masuk ke dalam lift dan memencet tombol 24 dan menunggu di dalam lift sendirian. Karyawan kebanyakan sudah pulang, hingga tak terlalu banyak yang menggunakan lift.

Ting!

Pintu lift terbuka dan Eun Kyo segera keluar. Tetapi baru saja ia melangkah keluar, matanya melihat Jung Soo keluar dari ruangan disertai beberapa orang yang berpakaian rapi sama seperti Jung Soo. Jung Soo sempat melhat Eun Kyo tapi kemudian tetap melanjutkan langkahnya sambil berbicara dengan orang-orang yang bersamanya.

Kaki Eun Kyo berhenti melangkah, tubuhnya kaku seperti baru saja melihat hantu. Dia tidak habis pikir, bagaimana mungkin Jung Soo hanya meliriknya beberapa detik lalu melanjutkan langkahnya, mengindahkan kehadiran Eun Kyo, bahkan senyumanpun tak tersungging diwajahnya. Seperti diremas, perasaan Eun Kyo terhimpit sesak yang tiba-tiba menyerangnya.

Yeobo, kenapa kau kemari? Eoh? Bukannya ini sudah malam? Kau sudah makan?”

Suara Jung Soo terdengar, Eun Kyo menoleh, mencari sumber suara. Ia melihat Jung Soo berlari kecil kearahnya. Aku kira kau sudah tidak mengenali istrimu sendiri, Park Jung Soo. Batin Eun Kyo sedikit lega.

Oppa..” sapanya. Tidak tau harus berkata apa lagi.

“Ini sudah malam, kenapa kemari, eoh? Kau tidak membaca pesanku? Aku ada meeting mendadak malam ini.”

“Pesan? Heum?” Eun Kyo merogoh tasnya dan mengambil ponselnya. “Tak ada pesan, tak ada pemberitahuan,” gumam Eun Kyo.

Nde? Tidak ada pesan?” Jung Soo langsung mengecek ponselnya. “Ah, belum aku kirim, mian. Sebaiknya kau pulang saja. Eum? Tunggu aku dirumah saja.” Jung Soo mengambil dagu Eun Kyo dan mengecup bibir itu beberapa detik, baru kemudian melangkah meinggalkan Eun Kyo yang masih terpaku.

Keadaan ruangan hening. Seluruh lorong sepi. Tak ada aktifitas dan suara apapun, sesunyi perasaan Eun Kyo saat ini. Dia baru saja membayangkan pulang bersama Jung Soo malam ini dan mampir di salah satu warung Tteokbokki langganan mereka. Saat mereka pacaran dulu. Hari ini tepat 5 tahun mereka bertemu.

“Ah.. jinjja. Kenapa harus aku yang menyampaikan ini? Kenapa bukan dirinya saja. Menyusahkan saja.” Yeong Seo berjalan mendekati Eun Kyo, ia lalu bergumam sambil membolak-balik brosur yang ada ditangannya, “Dan kenapa aku harus melihat adegan menyedihkan tadi. Oppa jinjja, dia ternyata tidak hanya menyiksaku di kantor, tapi juga menyiksa istrinya sendiri.”

Eun Kyo yang masih mematung itu mengamati selagi Yeong Seo berjalan menuju kearahnya. Kakinya kemudian mengambil langkah dan berniat meninggalkan Yeong Seo.

“Ya, Park Eun Kyo. Kau mau kemana? Kebetulan sekali kau ada disini, Oppa menyuruhku untuk menyerahkan ini padamu, brosur paket liburan.”

Tanpa melihat wajah Eun Kyo, Yeong Seo langsung menyerahkan brosur itu padanya dan menghela napas. “Tugasku sudah selesai, dan aku bisa pulang lebih dulu tanpa ikut meeting hari ini.” Ia kemudian masuk ke dalam lift, tanpa menunggu Eun Kyo.

Eun Kyo memilih tangga darurat, dan mulai berjalan menuruni tangga. Sebuah pesan masuk ke dalam inboxnya dan bergetar.

Yeobo, lusa kemasi barang-barangmu, kita berlibur.

Pesan singkat itu berlalu saja dalam pikiran Eun Kyo. Ia terus berjalan menuruni anak tangga yang tak terhitung jumlahnya. Letih dari otak hingga tumit menderanya.

Kenapa harus menyuruh Yeong Seo menyerahkan brosur jika Jung Soo sudah memutuskan sendiri.

TBC

Note : Selesai. Keut. Huft, setelah sekian lama, akhirnya aku kembali menulis, mian LTD dan Amourette kepending lagi. Aku membawa ff kolaborasi dengan salah satu teman aku, mencoba memicu ide dan rangkaian kata yang sempat lenyap karena vakum beberapa waktu. Semoga kalian suka dan aku bingung mau nulis apa lagi, berdo’a ini bisa selesai dengan baik. Amin… *Tidak ada yang selesai dalam hidupku, semuanya tanpa akhir*

Buat Ikha, semoga kita bisa saling melengkapi, sayang. Terima kasih suntikan semangatnya. Ga papa ko, tiap hari diingetin, “Eonni, bagaimana dengan ff mu?” haha, aku ga marah, Cuma malu doang, hahahahaha.

FFLove is.. akan terbagi menjadi dua bagian, jadi gini, untuk Feeling, berarti itu tulisan Ikha, kali nanti yang My Pain berarti itu aku, ngerti kan? Ngerti dong pasti. habis ini Love is Feeling lagi, nanti lanjung Love is My Pain lagi, gitu selanjutnya.

Tapi ngomong-ngomong? Siapa lelaki muda yang sangat menarik di dalam bus? Nantikan cameo itu kembali di part selanjutnya *lagi negosiasi kontrak sama yang bersangkutan* #plak

76 responses »

  1. eonniiiii
    kembali nulis juga akhirnya…
    eon sampe segitunya kah hubungan persaingan eun kyo eonni n yeong seo?? masalah akademik atau ada masalah lain kah??
    ada apa dgn rumah tanggamu eon?? dingin gitu??*kayacuacaja*
    ada apa dgnmu n jung soo oppa??
    cirinya eonni tiap nulis ff itu eun kyo eonni tetep suka ambil kesimpulan sendiri, semua dpendem sendiri, selalu sukses bikin jung soo oppa cemburu n org lain salah paham kalo dah ketemu temen namja😀
    next part dtunggu ya
    #komensusahmasuk’a😦

  2. jung soo oppa knpa kau sperti itu, kasian sma eun kyo oenni..
    untung eun kyo oenni’a sbar bgd..
    coba klo gx psti udh cerai mreka…
    klo cameo, berdasarkan ciri” yg d’sebutin ku rasa dy si evil maknae..

    ttg LTD udh d’bhas sma oenni, gpp lh agak lma, yg penting oenni msih inget sma LTD’a..

    gomawo oenn udh k’kbarin lgii..

  3. bete juga iih baca ff jungsoo nya workaholic banget, gemes. kalo disuruh cere ntar hbis dong critanya bkan hqppy end.
    yyaaah tp terserah authornya deh, semangat nulisnya yah!!

  4. Baca ini konflik batinnya menguras perut dehh eon..
    Sakitnya kek diremes”.. Hdehhhh itu si angel knpa jd evil disini?? Tp jd gk sabar pengn ngerti lanjutannya..
    Semangat dehh buat ini, LTD dan amourettenya😀

  5. oooh iya ngerti-ngerti eon. ku pikir td maksudnya ada love is feeling, sm love is my pain itu emg judul chapternya ky gitu ><a
    rasanya aku juga ngalamin yg di rasain sama eunkyo.. dan itu menyebalkan😦 tp kl ga nunggu rasanya bersalah jd kepikiran sendiri haah namanya jg wanita😡

    • jadi aku perjelas lagi
      kalo sub judulnya Feeling, itu berarti couple SeoHyuk.
      terus kalo sub judulnya My Pain itu berarti bagian Teukyo. nanti kali udah beberapa part pasti bakalan ngerti.

  6. hwahahahaha🙂
    eonni hidup kembali *plak*
    wes, meskipun dah lama gak nulis, tp eonni tetep aja kece, ceritanya mengharukann,knp eun kyo sengsara bgnt di sini. pdhl di ff sebelum”ya eun kyo yg cuek u.u…
    kasian.. tp tetep semangat eon, bagus kokeon…

  7. jdi gitu ea hbngn eonng ama yeong seo dulu’a, ea eonni kasian bgt d cuekin ama teuki terus, suruh nikahin aja tuh dokumen’ eon hehehe wah nanti jangan’ teuki jeles ama hyuk scara mereka dket bgt, untng ada hyuki jdi’a bleh buat hbrn eon q mau nebak jangan’ namja yg ada dlm bus itu kyuhyun, bener gag? kyk’a c bner dri ciri’nya *sok tau* smoga aja c bener

    • hiburan banget jambak2 rambutnya Hyuk, hohoooooo
      Kyuhyun?
      Teeettt salah! coba lagi lain waktu, kita berkan kesempatan lain lagi untuk yang ingin mencoba? di line 75D59D00… ayo siapa lagi?

  8. eleh kak, pake negosiasi segala wkwk
    weh, aku kira eunkyo temen yeongseo waktu sma. dan baru ngeh ternyata mereka teman kuliah wjwjwj
    miris ya kehidupan nikah teukyo😦
    ah jungsunya jg sih yg terlalu workaholic. Sian eunkyo nya

  9. Laki laki itu pasti Mas KYUHYUN….
    Jiah….comeback juga akhirnya neng…
    Ah ya….eun kyo di ff ini dewasa banget ya,beda banget sma ff sebelumnya biasanya sedikit manja hehe…..*penulisnya juga keke….
    Komen dari tadi gak masuk2….kenapa ini….
    Next part di tunggu ya neng,,,,,nunggu aktor favoriteku juga ryu jin n young jin
    Thanks^^

    • salah bunda Al… hahaaaaayyy bukan Kyu dong..
      dewasa? dewasa yeh? masa si? iya si biasanya manja… ho…
      klo penulisannya banyak dibantu sama Ikha Bunda Al.. jadinya lebih bagus… ada yang ngoreksiin.. hihihihihiryu? ohooooo ada g yah pangeran kecil ituh…

  10. eonni…ni aq coment^^

    kq kq jungsoo ny gtu s g perhatian
    eonni km kmanakan karakter uri oppa yg biasany perhatian??eonni mank pling bsa yy bkin readers galauu

    ehmn t cwo yg bus kyakny s abang epil deh hhe
    kn eonni kasih clueny kulit putih ma tampan kkekke

    okey eonni mskipn agak nyesk but d tunggu next part
    pnasaran jg t knp sepupu jungsoo ma eonni g cocok

    hayyoo eonni nyembunyiin apa???

  11. waaahh… seneng banget akhirnya bisa ada update ff lagi… lama banget eon, nunggu2…
    daebak Eon ceritanya…. TeuKyo emang selalu bikin geregetan. feelnya dapet banget, Eon😀

    Still waiting for your stories,
    apalagi LTD n Amourette….
    Hwaiting, Eonni-ya!!!

  12. Ini nih.. Suka sebel banget sama Eonni kalau d TBC-in pas lagi kepo.. #garuk-garuk aspal
    Semoga segera publish lanjutannya.. Hiihii..
    Mian kalau tampat memaksa Eon.. Aku hanya penggemar tulisanmu.. #bukan penggemar Eonni ya.. ~kabuurrrrrrrr~ ^^

  13. Aahh another ‘nyesek’ story… Ini jungsoo kelewat grrrr g bisa diungkapin dg kata kata.
    Di bilang cuek, juga enggak sih, setidaknya mereka msh ngobrol dikit-dikit.. Tapi tapi tapi eun kyo kasian bgt~ lanjutannya ditunggu!!!

    LTD sama ammourete juga dinanti :3

    Syemangaat ngetik Love is-nya yaa, semoga g lama” bikin kami penasaran😀

  14. Oenni akhirnya keluar juga ff buatan mu aku kangeeeen kangen kangen banget sama tulisanmu kangen sama teukyo kangen sama ryu jin kangen tingkat dewa brahmana pokonya🙂 welcome back oenni #bighug
    Ga tau mesti komen apa pain nya terasa banget jung soo oppa yg bener – bener sibuk bikin eun kyo kesepian dan iya siapa itu yg di bis yg nawarin hot dog???? Evil maknae kah ? Baby hae ? Atau Cool siwon????? Penasaran sama lanjutannya fighting oenni🙂

    • kangen banget? woah… terima kasih udah kangen sama aku yang rada2 transparan ini…
      epil? bukan.
      hae? deng!
      siwon? aniya!
      semuanya salah… 3 orang itu kan yah yang sering nyempil di ff aku? tapi sayang bukan itu…
      lanjutannya tinggal publish, sminggu sekali…

  15. eon kmana rmantisnya rmah tanggamu..knapa skarang eunkyo yank cuek..biasanya kan oppa yank nguber2 =,=

    tetep smngat nlis eon…eon niat lanjut LTD ajj udah seneng🙂 ditunggu lanjutannya🙂😉

  16. senangnya unni nulis lagi
    yah..kasihan napa sama eunkyo di buat semerana gytu
    dasar oppa jahat ..

    pokoknya ff unni jjang*-*
    aku tunggu kelanjutannya
    bye^_^

  17. annyeong onnie,maaf baru coment,kmaren laptopnya susahh.:)
    onnie yg ini tambah rumit ea?*Plak
    tapi kayaknya bakalan ada air mata di ff ini:o/
    ada penyasalan ama ada kesalah pahaman..*plaaaak.sok tau

    #moga sukses selalu…:)

  18. eonni akhirnya update lagi, udah sekian lama…..dari judulnya aja emang udah keliatan kalo bakalan banyak sadnya#menurut aku doang sih#hehehe
    moga2 aja konfliknya ga berat2 amat, kasian ama Eun Kyo
    Kalo liat sekilas disini, sebenernya masalah Yeong Seo sama Eun Kyo, kemungkinan besar karena memang persaingan nilai, tapi apa ada alasan lebih besarnya kah, eonn?

  19. annyeong onnie…
    mian baru mapir kemaren mau sms abis pulsa^_^
    onnnie ciri2 diatas itu sapa,kyuhyun?slah? kalau aku tebak key salah ndx?:)
    buat joong soo ama eun kyo nya dicapter depan kayaknya ribut?*pegang dagu gya ngramal*pletak
    buuat onnienya hwating…:)

  20. aaaaa itu kenapa sih ama Jung Soo makin workaholic gitu kasihan EunKyo ya T.T dan itu siapa yang di bis?Aduh penasaran ini eon…Konfliknya makin meruncing dan complicated aja,apalagi judulnya Love is…Pain huhu bakal sedih-sedihan ini huhu

  21. la la la la,,, Eun Kyo olala,,, (pake nada lagu Bad Romance-nya Lady Gaga,,,)

    Yaaakkk Park Jung So,,, bisa2nya kau bersikap seperti itu eoh,,,,

    Eonnie yg manis,,, tolong kasih pelajaran sama Pria itu ya (lirik Jung Soo) 😀

    good good,,, ff eonnie emang selalu dapet feel-nya,,😀, ulun hadangi kisah selanjutnya,,,,🙂

  22. la la la la,,, Eun Kyo olala,,, (pake nada lagu Bad Romance-nya Lady Gaga,,,)

    Yaaakkk Park Jung So,,, bisa2nya kau bersikap seperti itu eoh,,,,

    Eonnie yg manis,,, tolong kasih pelajaran sama Pria itu ya (lirik Jung Soo) 😀

    good good,,, ff eonnie emang selalu dapet feel-nya,,😀, ulun hadangi kisah selanjutnya,,,,🙂

    #^.^

  23. leeteuk oppa kok.kau cuek bebek bgt sih sama eun kyo,,, kasian tuh eunkyo y di cuekkin…
    ntar jgn2 eun kyo y mau minta cerai lagi…
    padahal lg kesemsem sama keeteuk oppa yg baru kekuar wamil bukan.makin tua malah nakin muda aja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s