Love is . . . [Feeling 1]

Standar

7IKHA

Hari itu, Senin. Semua orang mulai terbawa arus rutinitas pagi yang sibuk. Terkecuali gadis berambut panjang yang masih memeluk gulingnya dalam balutan selimut tebal dan bergulung disana seperti kepompong. Ia meringis beberapa kali saat alarm membuatnya tersentak dari tidurnya, kemudian secara reflek tangannya akan keluar dari selimut dan bergerak menuju tombol jam mungil di nakasnya dan membuat deringnya berhenti untuk beberapa menit. Ia melakukan hal itu beberapa kali hingga mungkin saja alarm itu berhenti sepenuhnya karena waktu telah keluar dari rentang yang pemiliknya tentukan semalam.

Bukan alarm yang membangunkannya pagi itu, melainkan suara pesan masuk media sosial ke dalam ponselnya yang justru berada jauh di bawah tumpukan bantal yang ia tiduri. Malas, ia memeriksanya.

‘Yaa! Lee Yeong Seo, aku bersumpah akan membawa seember air ke kamarmu dan menyiramkannya di wajahmu. Minggu telah berlalu, putri tidur, jadi cepat turun dan habiskan sarapanmu!’

Yeong Seo meringis saat mendengar suara si pengirim pesan –yang adalah ibunya di dalam keapalanya. Ia juga sempat membayangkan wajah murka dengan celemek dan spatula teracung juga hentakkan kaki yang membuatnya melakukan hal yang lebih cepat dari biasanya. Kentara, Lee Yeong Seo adalah gadis dengan title pemalas yang kuat sekali dalam auranya.

Usia duapuluh delapan tahun, mereka mengatakan bahwa angka itu terlalu tua untuk status ‘single’ seperti yang ia sandang. Tapi Yeong Seo kerap kali mengabaikannya dan lebih kepada menikmati hidup dalam kesendirian dan dunia kerja yang membosankan.

Ia menguap seperti kucing yang baru bangun dari tidur di atas karpet nyaman di musim dingin lalu keluar dari surganya (yang merupakan kasur empuknya) dan dengan kemalasan yang meningkat, ia meraih kemeja putih lengan panjang  juga rok ketat berwanra darkblue yang ia gantung di depan lemari, ia bawa dalam dekapannya ke kamar mandi.

Lee Yeong Seo siap dalam tiga puluh menit dan bodohnya, ia hanya punya waktu dua puluh menit menuju kantor. Jika ia mampu seharusnya ia menerobos kemacetan pagi dan berlari seperti kijang menuju lantai duapuluh empat tempat dimana seharusnya ia berada.

Antrean kendaraan, antrean lift dan panjangnya garis manusia di mesin kopi di kantornya adalah hal yang pertama ia bayangkan saat ia menginjakkan kaki di atas pedal gas mobilnya, ia mengabaikan sarapannya, lagi. Berusaha sebisanya sampai tepat jam depalan pagi di kantor tempatnya bekerja. Hanya saja, jika ia beruntung maka ia tidak akan di cap lambat oleh atasannya tapi jika tidak maka ia akan menghabiskan satu malam lagi bersama setumpuk berkas membosankan di atas mejanya.

***

“Park Jung Soo memanggilmu, Lee Yeong Seo,” ujar kepala sekertaris yang kebetulan lewat ke depan ruangannya. Dengan sengaja pria paruh baya itu melongokkan wajahnya dan mengerling setelah ia menyampaikan pesan atasannya.

“Sekarang?”

“Kau bisa datang setelah…,” pria itu menggedikkan bahu ke atas tumpukkan berkas di atas meja kerjanya. “Itu selesai kau kerjakkan,” seringainya.

“Perlu kau tahu, Hyungnim sedang dalam mood buruk hari ini. Berdoalah, Lee Yeong Seo. Ini keterlambatanmu yang ketiga,”

Demi Tuhan, kepala sekertaris itu adalah sosok paling memuakkan yang ada didunia menurut pandangan Yeong Seo pagi itu. Ia melirik cermin dan menyadari fakta bahwa ia bahkan tak sempat memoleskan apapun ke wajahnya karena ia terlalu sibuk menarik ulur gas saat menahan kemacetan. Ia hanya memoleskan lipstick merah muda dan menata jalinan longgar rambut hitamnya lalu mendengus dramatis atas berkas yang –Demi Tuhan, ia membencinya.

 ***

Saat Yeong Seo masuk ke ruangan atasannya, entah mengapa ia merasa begitu pengap dengan adanya empat atau lima orang yang tengah memasang foto keluarga dengan frame besar di belakang meja kerja atasannya. Lama ia menunggu mereka keluar dan menyelesaikan urusannya hingga akhirnya ia berkesempatan untuk duduk di sofa dan menghadap meja persegi panjang didepannya, ia meletakkan berkas di atas meja lalu bersiap untuk mendengarkan wejangan membosankan atau mungkin saja kali ini ada surat peringatan dan bisa saja ini adalah kali dimana ia akan di pecat. Yeong Seo terlalu lelah untuk sekedar berspekulasi lebih mengenai apa-apa yang akan terjadi berikutnya.

Bukan karena Park Jung Soo adalah saudaranya dan itu berarti pria itu akan memberikan toleransi atau semacamnya, hal itu jarang terjadi mengingat ia adalah pimpinan anti nepotisme yang dikenal profesional di kantor. Mereka menyebutnya begitu jika saja Yeong Seo lupa bahwa anak dari kakak ibunya itu terlahir dan ditakdirkan menjadi seorang atasan yang penuh ambisi menjadikan perusahaan keluarga mendunia melalui tangannya. Itu bukan hal bodoh untuk dimimpikan, terang saja, jika Park Jung Soo menginginkan suatu proyek maka sekerasnya ia akan bertarung mempertaruhkan segalanya yang mana hal itu sering disebut berlebihan dan mereka menyebutnya… apa itu yang dinamakan ‘gila kerja,’ Yeong Seo tidak yakin.

Satu hal mengenai fakta bahwa kini Park Jung Soo dengan kemeja putih dan lengan yang tergulung tengah duduk tepat didepannya, tanpa mengabaikan senyum cerah meskipun hari sudah larut malam. Ada helaan napas saat pria itu maraih berkas di atas meja, ia memeriksanya dalam diam dan justru menyisakkan ketegangan dalam benak Yeong Seo.

“Seperti biasa,” mulainya. “Aku tidak pernah kecewa dengan hasil kerjamu,” imbuhnya dengan senyum tipis dan meletakkan kembali semua proposal hasil keringat Yeong Seo seharian itu. Tapi bukan itu intinya.

“Terima kasih,”

Jung Soo menurunkan alisnya dan berdeham untuk mencairkan suasana.

“Yeong Seo~ya,” Jung Soo berkata pelan. “Sepuluh tahun yang lalu saat Hyungku menduduki jabatan yang kini sedang kupegang, ada banyak hal tidak menyenangkan terjadi di perusahaan. Semacam perebutan kekuasaan karena merasa sama-sama berada di tingkat yang sama,”

“Lalu?”

“Itu masa terpuruknya keluarga kita, kau ingat? Saat itu mungkin kau masih SMA dan masih terlalu muda untuk tahu bahwa perusahaan keluarga kita sempat di jual,” tuturnya terdengar prihatin.

Yeong Seo tidak merespon. Selalu saja, Jung Soo memaparkan ini itu sebelum ia masuk ke dalam intinya. Sebenarnya Yeong Seo ingin sekali Jung Soo langsung meneriakinya karena selalu terlambat dan berada di urutan terakhir daftar kehadiran saat meeting mingguan atau semacamnya, tapi Jung Soo malah menciptakan ketegangan lain di ruangan luasnya itu.

“Itu sebabnya, saat ayahmu turun tangan dan kita bersama-sama mengambil kembali yang menjadi hak kita dan memulainya dari nol, saat itulah dimana kita benar-benar profesional. Kami tidak pernah memasukkan keluarga dalam daftar pemegang saham grup kita,”

“Lalu…” Yeong Seo menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.

“Tapi kau membuatku melakukannya lagi,”

“Melakukan apa?”

“Nepotisme kekeluargaan,”

“Aku masuk ke perusahaan melalui seleksi dan wawancara,”

“Ya, itu yang kau tahu,” desahnya sambil mengusap wajah. Lelah. “Saat kau masuk beberapa bulan yang lalu, aku tidak sampai hati menyimpan kau di bagian teknis data di gudang,” Jung Soo menatap Yeong Seo, mengintimidasi.

“Oppa menyesali menerimaku sebagai salah satu sekertaris yang bekerja di belakang meja di dalam ruangan ber-AC dan diberi kendaraan pribadi?”

“Hei,” Jung Soo terkekeh. “Bukan itu maksudku,”

Yeong Seo terengah, menahan teriakannya. Ia kesal atas putaran pembicaraan yang Jung Soo lakukan.

“Lalu apa? Apa maksudmu? Tidak bisakah kau langsung saja? Marahi aku atau yah… kau bisa melakukan itu padaku seperti yang kau lakukan pada Hwang Rae-Na, sekertarismu yang lain yang sering kau teriaki hingga suaramu sampai di ujung koridor. Lakukan hal itu juga padaku, aku memberimu keleluasaan sebagai atasan disini, itu perjanjian kita, kan?”

“Tenang dulu,” Jung Soo tertawa kali ini. “Kau baru terlambat tiga kali. Wajar saja,” senyumnya. “Inti dari pembicaraan ini adalah… lakukan dengan baik Lee Yeong Seo! Kau satu-satunya yang membuatku melakukan kesalahan seperti sepuluh tahun lalu, nepotisme. Memarahimu hanya akan berbekas sementara dan wejanganku hanya akan berakhir diujung makianmu di rumah,”

“Yeah… aku mengerti,” Yeong Seo bergumam.

“Sebagai hukumannya,” Jung Soo kembali berujar tegas setelah hening untuk berapa lamanya. “Lakukan pertemuan dengan pihak sponsor kita jam depalan pagi besok dan lakukan dengan baik, jangan sampai kau menghilangkannya lagi,”

“Oppa…” Yeong Seo merengek. “Kau tahu aku paling tidak suka…,”

“Kau pikir pekerjaan itu tentang kau suka atau tidak, eoh?”

“Bukan itu maksudku, itu biasa dilakukan sekertaris Kim dan besok kau tahu aku harus mengurusi jadwal perjalanan bisnismu ke Australia. Oh, ayolah…”

“Jam depalan pagi di Seoul Hotel, temui sponsor itu dan pergi ke Namsan untuk menemui media partner. Kau tidak perlu kembali ke kantor setelahnya,” Jung Soo bangkit dan mengambil sesuatu berupa tumpukan berkas dan sebuah kartu nama.

“Temui di Seoul Hotel, Lee Donghae, teman lamaku,”

Dan sekali lagi, Yeong Seo menyalahkan profesionalitas Jung Soo dalam hal kegilaannya pada dunia pekerjaan. Selagi Yeong Seo mengutuk pria itu dalam hati ia memeriksa berkas itu dalam diam, sementara Jung Soo kembali larut dalam tanda tangan di atas materai yang sempat tertunda karena kedatangannya.

“Oppa lihat, mereka bahkan hanya memilih platinum place di spanduk acara kita bulan depan, kau biasanya mengabaikan yang seperti ini,” dengus Yeong Seo berharap kakaknya berubah pikiran.

“Lee Donghae adalah penyumbang terbesar, hanya saja dia tidak ingin menyombongkan perusahaannya dan memasang besar-besar Siheung Company di spanduk kita,”

“Tapi Oppa,”

“Kau boleh keluar, Lee Yeong Seo, pulang dan beristirahatlah, aku tidak ingin kau menggunakan alasan pertemuan kita agar kau bisa bangun jam tujuh pagi dan berakhir dengan wajah pucat polos tanpa memakai riasan saat meeting dengan pihak sponsor besok, itu memalukan,” ujarnya dengan cepat tanpa menoleh sedikitpun.

Yeong Seo menyerah mendebat dan ia hanya mengangguk dan menurut. Tapi sebelum ia menutup pintu ia melirik frame berisi foto keluarga yang ada dibelakang kursi kerja Jung Soo dan matanya terpatri untuk waktu yang sangat lama pada sosok wanita tinggi di sebelah Jung Soo, istrinya.

Setelah ia bekerja selama empat tahun di Amerika dan baru kembali ke Seoul beberapa bulan yang lalu, ia belum pernah bertemu secara resmi dengan istri saudaranya itu. Hanya melihat sekilas dari beberapa artikel di koran atau media sosial dan selebihnya ia tidak terlalu peduli. Lebih kepada menyangkal fakta bahwa istri saudaranya adalah teman sekelasnya saat ia kuliah dulu. Satu dari sekian banyak saingan yang memperebutkan gelar mahasiswa kehormatan dengan indeks prestasi tinggi. Yeong Seo sempat memenangkannya beberapa kali, begitu juga dengan wanita itu.

Tidak banyak yang Yeong Seo ingat, empat atau enam tahun yang lalu tepatnya kejadian itu, hanya saja ia terlalu hanyut dalam hidupnya yang baru dan melupakan begitu saja bagian-bagian penting bagaimana pertemanannya dengan wanita itu dimulai dan diakhiri ketika ia memakai seragam wisuda dan berakhir tinggal di perusahaan luar negri di Amerika.

Hingga saatnya ia kembali untuk tinggal dan bekerja lebih dekat dengan keluarganya, ia baru tahu bahwa dia, Park Eun-Kyo telah menikah dengan kakak sepupunya, Park Jung Soo.

 ***

Jung Soo memarkirkan Bentley Mansory miliknya di garasi besar kediamanya. Saat itu terjadi waktu secara singkron sudah menunjukkan pukul dua belas lebih lima belas menit dan delapan detik. Pria itu masuk melalui pintu utama dengan kunci cadangan yang ia bawa mengingat ia tidak mungkin mebuat istrinya menunggu lama hanya sekedar menunjukkan wajah lelah dan kantuk dan berakhir cemberut sepanjang malam dan tidur membelakanginya karena Jung Soo terlambat pulang ke rumah.

“Neo waseo?” (Kau sudah datang)

Demi Tuhan Yang Baik, Jung Soo tidak mengharapkan istrinya menyambut dan menunggunya selarut itu.

“Kau belum tidur?” pria itu menjawabnya dengan pertanyaan baru, meletakkan jas dan kopernya di atas meja. Istrinya masih duduk di sofa menghadap televisi yang menayangkan berita tengah malam.

“Aku akan memanaskan sup dan membuat teh,” wanita itu bangkit dan mengabaikan suaminya yang memasang wajah sebiasa mungkin yang mana hal itu sangat sulit Jung Soo lakukan.

Akhirnya, mereka makan tengah malam dalam diam.

“Eun-Kyo~ya?” Jung Soo mendongak dari piringnya.

“Hmm,”

“Sudah kubilang untuk tidak menungguku pulang,” ujarnya kalem setelah diam untuk waktu yang cukup lama.

“Aku akan terlihat seperti istri yang jahat,”

Ahniya… bukan begitu,”

“Lalu apa? Kau akan mengatakan untuk keseratus kalinya bahwa ‘Kau lelah bekerja seharian jangan ditambah dengan bonus menungguku semalaman, itu membuatku merasa bersalah,’.” Eun-Kyo mencibir. “Memangnya kau pikir apa yang aku lakukan? Kau tahu bahwa pekerjaanku hanya sebatas menghitung kredit-debit pengeluaran cafe dan selebihnya aku mengerjakkan sebagian besar pekerjaan rumah,”

“Setidaknya,”

“Sudahlah,” Eun-Kyo mendesah dan mengakhiri makan malamnya dengan meminum segelas air.

“Pergilah mandi, aku akan membereskan ini,”

Helaan napas berat terdengar kentara ketika Jung Soo menarik diri dari meja makan dan beranjak menuju kamarnya untuk bersiap-siap tidur.

Begitulah akhirnya, tidak ada yang lebih menyenangkan dari wajah cemberut dan komplain istrinya setiap malam ketika ia lembur. Jung Soo mematri janji untuk sesegera mungkin pulang esok hari agar kejadian hari ini tak terjadi lagi. Empat tahun berumah tangga bukan waktu yang singkat. Tapi loyalitas dan juga sikap profesional yang ia anut sedikit banyak memberikan jarak yang lumayan jauh dengan istrinya, hanya ia memungkirinya lebih keras ketika istrinya selalu menyangkal bahwa ia baik saja untuk mengayomi sifat kerja kerasnya. Tapi itu dulu, saat keluarganya tak mempermasalahkan keturunan yang belum ia miliki. Eun-Kyo sedikit menaikkan sensitivitasnya akhir-akhir ini dan Jung Soo menduga dalam kecemasannya bahwa mungkin saja hal itu terjadi karena belum ada buah hati dalam pernikahan mereka dan kurangnya intensitas pertemuan panjang setelah jabatan baru ia sandang di perusahaan.

Jung Soo mengakuinya.

Saat ia membaca jurnal hariannya sembari menyandarkan punggung ke ujung ranjang, Eun-Kyo merebah disampingnya, mungkin wanita itu sudah selesai membereskan bekas makan mereka. Ia meringkuk dengan menarik selimutnya sendiri sampai ke bahu dan membelakangi Jung Soo, pria itu tersenyum dan menyimpan bukunya lalu ikut merebah menghadap punggung Eun-Kyo.

“Eun-Kyo~ya?”

Jeda.

“Tidak bisakah kau berbalik dan tidur memelukku seperti biasa?”

“Tidak,”

Dan malam itu, Jung Soo bermimpi buruk.

 ***

Yeong Seo benci saat bunyi alarm jam enam pagi mengusik ketenangan mimpi indahnya. Ia juga mendengar beberapa pesan masuk dari media sosialnya. Kebanyakan berisi dari teman-temannya yang mengajaknya pergi makan malam saat Sabtu tiba minggu ini. Yeong Seo kesal bahkan itu masih hari Selasa dan mengapa mereka terlalu bersemangat untuk melakukan ritual membosankan itu.

Ada dua hal yang membuat Yeong Seo membenci acara makan malam setiap weekend bersama teman kantor atau teman kuliahnya dulu. Pertama, mereka akan membawa suaminya atau paling tidak saat ia sendiri menegakkan peraturan untuk tidak membawa suami mereka akan di antar sampai tujuan oleh suaminya, kedua mereka akan mejadikan dirinya sebagai prioritas utama pembicaraan. Bagaimana tidak, mereka dengan senang hati menciptakan suasana riang dalam olok-olok tololnya mengenai status lajang yang ia sandang beberapa tahun lamanya.

“Lee Yeong Seo, cepat temukan pacar atau suami, kau kelihatan menyedihkan, kau tahu?”

“Lihat dirimu, cantik, tubuhmu bagus, tapi mengapa kau selalu larut dalam berkas-berkas membosankan, pergilah bernkencan, aku akan memaklumi absenmu jika alasanmu untuk menemui pria,?”

Dan berbagai cemoohan lain seperti. “MOVE ON!”

Demi Tuhan, Yeong Seo ingin mencekik siapa penemu pertama phrase MOVE ON di dunia. Menyiratkan betapa menyedihkannya dia selagi status lajang itu masih menjerat hidupnya.

Baru saja ia keluar dari selimut, ekor matanya menangkap bayangan kartu nama di atas nakas di samping jam weker biru miliknya. Ia meraihnya sambil menguap.

Lee Donghae

CEO Siheung Company

033-650-100-455

Maka ia mengambil gedget-nya dan menekan serangkaian angka di ponselnya, menunggu nada sambung berupa lagu Fate (Like a Fool) yang di nyanyikan oleh aktor Seo In Guk. Lagu lawas yang sering ia dengar dalam season drama Love Rain, drama picisan klasik –yang baginya, membosankan.

“Hallo,”

Suara berat nan khas terdengar begitu nyanyian merdu itu terhenti dan Yeong Seo nyaris tersedak ludahnya sendiri.

“Maaf menelpon sepagi ini,” ia menyesal saat melihat waktu masih pukul enam lima belas. “Saya Yeong Seo, Lee Yeong Seo, salah satu sekertaris dari Park Corporation,”

“Ah ya. Jung Soo sudah menghubungiku semalam. Kita ada pertemuan hari ini, kan?” entah mengapa suara itu terdengar bersahabat dan ramah.

“Ya, jam delapan pagi di Seoul Hotel,” Yeong Seo berdeham. “Saya sudah menyiapkan beberapa berkas dan kwitansi untuk anda,”

“Aku akan mengaturnya agar bisa datang tepat waktu,”

Setelah Yeong Seo menyetujui tempat dimana mereka akan bertemu ia menutup teleponnya dan meminta maaf berkali-kali atas gangguan yang ia buat. Hanya Lee Donghae menjawabnya dengan tawa dan mengatakan bahwa ia bahkan sudah bangun pukul lima pagi. Itu membuatnya lega.

Pagi itu Yeong Seo memakai pakaian terbaiknya. Rok berwarna safir dan kemeja modern dengan kerah besar berwarna kuning pupus. Sepatu berhak tinggi dan memoles wajahnya seperlunya. Ia tidak mengerti mengapa sekertaris selalu saja membawa image sebagai wanita kosmopolitan yang seksi, bahkan Park Jung Soo pun menegaskannya dalam setiap briefing untuk para staf di akhir pekan, tentang pentingnya make-up, dan tinggi rok dan sepatu yang kau pakai. Itu sedikit tidak masuk akal namun hasilnya selalu bagus. Mata jalang para pengusaha tua atau muda tak ayal mengabaikan pemandangan tubuh para sekertaris yang mendampingi bos mereka dalam sebuah kerja sama, hasilnya memang tak pernah gagal.

Yeong Seo menerima pesan singkat dari temannya untuk makan malam sore itu saat ia memasang jepitan diantara rambutnya yang terjalin. Ia mendengus, tidak menggubris ajakan itu karena ia yakin, temannya, Han Cheon Hee hanya akan memberikannya foto-foto pria dan menyuruhnya berkencan. Itu membuat statusnya terasa lebih hina dina.

Jam tujuh tepat Yeong Seo sudah berada di meja makan dan menghabiskan roti dan susunya dalam waktu kurang dari lima belas menit. Ia berpamitan pada ayahnya yang sedang membaca koran pagi dan mengatakan bahwa ayahnya akan pergi ke kantor jam sembilan dan ibunya yang sibuk memeriksa tagihan rumah yang baru datang. Maka Lee Yeong Seo memacu gas mobilnya menuju tempat pertemuannya dengan Lee Donghae.

 ***

Butuh lebih dari tiga puluh menit untuk bisa sampai menuju Seoul Hotel dari kediamannya. Lee Donghae menyerah dengan kemacetan pagi yang panjang padahal waktu sudah menujukkan bahwa ia akan terlambat. Ia memukul stir berulang kali dan hampir meneriaki para pengendara yang ada di depannya.

“Kau dimana sekarang?”

Terdengar suara berisik di speaker teleponnya. Setelah ia mengira ia akan terlambat, ia menghubungi saudaranya agar menemui pihak partenrnya dan menandatangani beberapa berkas untuk suatu kerja sama.

“Kantor,” jawab disebrang singkat. “Sedang senam pagi,”

“Oh ya, aku lupa,”

“Ada apa, bung?” suara berisik itu menjauh, sepertinya lawan bicaranya menghargai penggilan itu dan mencari tempat aman nan sepi.

“Aku akan ada pertemuan dengan pihak Park Corporation,”

“Ya?”

“Tapi aku terjebak macet dan berkasku ada di kantor. Bisakah kau mengambil map cokelat di atas mejaku dan pergi ke Seoul Hotel, temui Sekertaris Lee di Coffee Break?”

“Dia dari pihak penyelenggara lelang bulan depan itu?”

“Hmm… ada waktu lima belas menit, kau bisa datang tepat waktu, kan?”

 ***

Jam delapan kurang lima menit saat Yeong Seo memasuki Coffee Break dan ia memesan moccachino panas tanpa cream dan duduk di salah satu kursi kosong di dekat jendela. Ia menatap keluar, dimana rutinitas saling menyeret satu sama lain. Para pejalan kaki yang terburu-buru dan pengendara yang memarkirkan mobilnya di depan kantor. Beberapa lansia baru pulang dari olah raga paginya juga satu mobil sejenis Porsche terparkir di lobi dan pemuda pengendaranya keluar sembari menenteng koper dan melempar kunci mobilnya pada petugas hotel.

Tak sengaja ia megikuti kemana pemuda itu berjalan dan berakhir masuk ke ruangan yang sama dengannya. Mengingat Coffee Break berada tepat di muka hotel, Yeong Seo bisa melihat semuanya.

Masih memperhatikan bagaimana pemuda itu celingukan mencari seseorang dan dari sekian banyak pengunjung hanya Yeong Seo yang memperhatikannya, itu artinya pemuda itu mencarinya.

Ada senyuman cerah saat Yeong Seo berdiri dan membuat pemuda itu sadar bahwa wanita berparas cantik bersurai panjang dan berpakaian khas itu adalah orang yang menunggunya, ia berjalan mendekat dan mengulurkan tangan.

Tak bisa dipungkiri ia terlihat tampan dengan senyum gigi putih dan gusi sehatnya itu. Yeong Seo mempersilakannya untuk duduk disebrang kursinya. Saat tak berapa lama pesanan mereka di antar. Dari baunya, Yeong Seo mencium tiramisu bliss coffee dari gelas si pemuda dan itu membuatnya mengingatkan tentang karakter penyuka jenis kopi tersebut. Mungkin kalem dan kadang tegas. Yeong Seo tidak yakin, dari view-nya yang meyakinkan, pemuda tampan berdasi didepannya itu adalah jenis spesies yang sama dengan Jung Soo, pekerja keras.

“Senang bertemu dengan….,”

“Lee Yeong Seo,” gadis itu melanjutkan dan tersenyum. Senyum terlatih khas sekertaris perusahaan yang bisa meluluhkan hati para rekan kerja bosnya.

“Aku Lee Hyuk Jae, kakakku terjebak macet dan aku menggantikannya. Rasanya tidak enak untuk membicarakan hal penting yang menjadi urusannya, hanya dia mempercayaiku karena aku salah satu divisi penting di perusahaan,”

Yeong Seo mengangguk, mengerti.

“Bisa kita langsung saja? Ada beberapa berkas yang harus di tanda tangani dan apa anda membawa proposalnya?”

“Ya,”

“Kami akan mebawanya kembali, dan silakan tulis disini nama perusahaan dan nominal donasi untuk acara kami pada kolom ini, ah… berkas yang satu ini bisa dimiliki perusahaan sebagai bukti peran serta anda,”

“Tanda tangan disini?”

“Ya,”

Satu jam lamanya, mereka terlarut dalam atmosfer kerja sama yang kaku dan dingin, tak sehangat kopi yang mereka teguk sesekali. Kadang ada tawa di sela-sela pembicaraan penting mereka. Yeong Seo salah mengenai kepribadian Hyuk Jae. Ternyata pria itu adalah sejenis pria humanis dan harmonis namun ia serius dalam bekerja. Senyumnya juga membuat siapapun dapat meleleh dalam sekali lihat namun Yeong Seo tetap mengabaikannya.

Detik dimana pemuda dan gadis itu menyelesaikan urursannya adalah tepat ketika waktu menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Mereka melemaskan punggung dan duduk lebih santai dari sebelumnya.

“Terima kasih atas kerja sama anda, Ketua akan senang menerima ini,” Yeong Seo tersenyum cerah. Kali pertama kerja sama seperti ini membuahkan hasil yang memukau. Ia membayangkan Jung Soo yang berbinar dengan kerja kerasnya dan pria itu takkan mengoceh yang tidak-tidak lagi setidaknya untuk seminggu ini.

Pria itu lagi-lagi memberikkan senyum gusi yang cerah dan Yeong Seo hanya membalasnya dengan senyum kecil.

“Sama-sama, kami sudah bekerja selama… tiga tahun dengan Tuan Park Jung Soo, dia teman Donghae hyung,”

“Ya, aku mendengarnya dari beliau,” senyum Yeong Seo dan ia mebenahi berkasnya menunjukkan tanda-tanda ia akan undur diri.

“Aku harus pergi, masih ada pekerjaan lain,” ia pamit dan wajah Hyuk Jae terlihat menggelap namun tetap tersenyum.

“Ah ya, kau sibuk sekali.” komentarnya, tak yakin saat ia bertemu pandang tepat ketika kalimatnya berakhir. “Lee Yeong Seo sshi, senang bertemu denganmu,”

 ***

Hyuk Jae sempat menawarkan diri untuk mengantar Yeong Seo menuju kawasan Namsan namun gadis itu menolak dengan alasan ia membawa kendaraan dan pria itu menyesalinya lalu sebagai gantinya ia menawarkan makan malam di akhir pekan dan kembali Yeong Seo menolaknya dengan alasan yang tidak terlalu masuk akal.

Demi apapun di dunia ini, Yeong Seo ingin ia bekerja dengan baik dan mengabaikan fakta bahwa secara tidak sengaja ia membuat hati seseorang terketuk karena dirinya dan ia sendiripun sebenarnya merasa telah membuka kesempatan bagus namun hal itu sekali lagi ia abaikan.

Kesendirian selama bertahun-tahun membuatnya terbiasa, namun setelah ia berada di mobil dan berhenti di lampu merah dan kebetulan melirik pasangan di kedai pinggir jalan, ia baru merasakan kehampaan itu, ia baru tahu arti pentingnya membuka hati lebih lebar agar ada yang mengisi kekosongan hidupnya yang terasa semakin bosan dari waktu ke waktu.

Lee Hyuk Jae itu, bukan hal yang buruk untuk tak ia terima kedatangannya.

TBC

Note :

Annyeonghaeseo ^^

Aku Ikha, ya… author amatiran, dan ini kolaborasi fanfic pertama ku dengan Vikos eon. Yehet! Sulit memang menyatukan dua isi kepala dalam satu tulisan dan dengan tujuan yang sama. Tapi berkat kerja keras kita berdua, akhirnya part 1 selesai. #Bingung mau bilang apa. Antara bahagia dan gak yakin. Kenapa? karena yeah, tulisan ini begitu… apa ya namanya, sebut saja terlalu picisan, klasik dan mainstream. I know and we know too, but… we proud, actually. Haha…

Mian bgt buat Vikos Eon, aku gaptek dan aku lelet dan aku pemalas bgt dalam proses semua pekerjaan ini. Setiap kali Vikos eon BBM aku pasti ada PING!!! Segede gaban dan aku pasti lagi tidur. Haha… Mian.

Readernim… mohon komentar dan dukungannya buat kolaborasi pertama kami…

Oh ya, FF ini juga bakalan aku publish di blog aku. Kalau kalian sempet dan berkenan boleh main lain kali, aku author Kyu sebenarnya, #plaak.

Khaonkyuteuk.wordpress.com

Jangan heran disana sepi banget karena aku pemalas bgt, jarang publis FF, jarang promoin blog, jarang interaksi, tapi ada beberapa FF yg masih bisa dibaca diantara sarang laba-laba yang makin numpuk, haha… termasuk FF ini akan aku publish nantinya. Haha… ^^

Oke, thanks for everyone… Happy reading and leave your comment. Thank you… :*

 

71 responses »

  1. Yayyyy akhirnya ada publish an baru,🙂
    Hmm 2 couple y?? Jd pnasaran ntar bakal ama cp ending nya si yeong seo, hyukie khh hae khh??
    Dan konflik nya teuk ama eun kyo knpa brasa dalem gitu pdahal ngomongnya dikit??
    Hmhhh di tunggu next partnya eonniedeul..😀

  2. ini udh yg k’5 x’a aq ketik komen, stiap aq klik komentar psti hasil’a halaman tdk d’tmukan, sngt menyebalkan, smoga ajj skrg bsa.
    d’awl crta aq qra yeongseo bklan sm jungso oppa, eh trnyta jungso oppa udh nikah, tpi syang kluarga’a krg harmonis gra” jungso oppa yg workholic n blm ad’a bayi d’antara mreka, smoga ajj jungso oppa mw ngurangin kerjaan’a, kasian eunkyo psti jdi bban krn blm punya anak..

    gomawo buat oenni teukyo yg ksih kbar klo ad ff bru, gx pernah nemuin author kya gni.

    d’tunggu LTD part 16.

    • selamat anda beruntung setelah ngetiknya 5 kali, beri aplos sodara2…
      eonni teukyo? setelah ada yang manggil aku dengan sebutan mimin, untung kaga mumun, klo iya pocong dong gue.
      insya allah LTD 16 tamat, tapi masih belum punya waktu buat ide itu. dtunggu ajah.

  3. seru kisah hyuk sma yeong seo..pnsran lnjutanya🙂
    jungsoo oppa sllu sjja gila kerja sampe2 udah nikah tapi belom punya anak.!!
    Smngat lanjutinya eonideul😀

    vika eon kangen LTD😉

  4. Ada yg bru ni…
    Ahh syng yeong seo gk jd ktmu sma dongek… Dan keknya pesona unyuk msh kurng mknya d tolak yeong seo.
    Gk berblit2 jd enak bcnya,, dlanjutin ya…

  5. pagi-pagi di sela kesibukan mau psikotes dpet sms kalo ada ff bru,rasanya pgn tiduran lg trus bca ff nya.kekeke
    Wah ada apa tuh sama teukyo,bru part 1 tpi udh ada konflik gtu,biasanya mesra??
    ditunggu next nya🙂
    eon ff amourette nya juga di tunggu bgt,sama LTD nya juga😀

  6. Kangen teukyo moments sih, tapi sayang disini cuman dikit. Tapi gwaenchana.
    Senang melihat ada postingan baru di blog ini.
    Bakal ada couple baru. Hae ato hyuk ya??

  7. ga nyangka ceritanya panjang juga ya…ngarep Lee Yeong Seo ketemu donghae… situasi dunia kerja sama dunia kerjaku bnr2 mumet n memusingkan heheh..*malah curcol heheh.
    mian ga bisa komen panjang hehehe, ditunggu ya part berikutnya

  8. Yuhuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu…..
    dongsaeng paling unyuk sejagat per-sujuan— #muntah DATANG! #ditendang

    Eonn? Ni baru part 1… tapi kok kerennya? #jambakrambutteuki
    rumah tangganya TeuKyo kagak harmonis… #miris

    sedikit terobati sama momennya mereka yang cuma secuil itu. Part dua kudu update cepet… kangen TeuKyo TT__TT

  9. huaah aku baru baca ff ini hihi kereen eon duet maut ini namanya>< ah iya jd ini tokoh utama nya itu bkn teukyo ya? tp lebih fokus ke kehidupan yeong seo. atau malah dua2nya? ahaha maafkan kesoktauanku eon ^^a tp kereen ;))

  10. annyeong eonnnn,,,
    udd lama ga mampir k WPmu,,pas buka ada epep baru.
    keren eon cerita’a, d’sini kasian eunkyo’a kesepian trus jungsoo’a ga peka.
    dan aku suka banget sama pasangan hyukjae-young seo,,,

  11. aduh eon lama banget aku gak mampir ke blog mu jadi kagak tahu udah publish beberapa story pan hihi huwaaah ini dua couple ta ternyata…Keliatannya ceritanya fokus ama Lee Yeong So dan Hyukjae deh hihi TeuKyo masih dikit,tapi keliatannya kedepannya bakal seru ini ama dua couple nih…Apalagi ada Donghae yang ikut nyempil hihi

  12. akhir y ada cerita ff lg setelah sekian lama n saya dah hampir lupa sama teukyo tapi akhir y ketemu lg blog y…..
    eunkyo y kok sama jungsoo agak2 ada jarak gt yah… eunkyo y kyk ada sesuatu gt….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s