Payphone on the Street

Standar

PAYPHONEEE

AUTHOR : Hyuna

 

Hari itu adalah hari pertama di bulanMaret.Salju menutupi jalan dan nyaris segalanya hingga kota London terlihatseperti Kutub Utara. Padahal seharusny akota paling sibuk se-Inggris ini sudah memasuki musim semi.

Sepanjang jalan, Jungsoo hanya dapat melihat orang-orang merapatkan jaket super tebal mereka, memasang earmuffs, dan menggosok lengan dengan telapak tangan yang telah terbalut sarung tangan.Udara yang nyaris melewati minus 1 derajat-lah penyebabnya.Jungsoo menggenggam erat dasar kantung jaketnya, berusaha sebisa mungkin untuk menahan dinginnya musim semi kali ini.

Jungsoo sedang berada di London, menyelesaikan studi master-degreenya di London School of Economics. Meninggalkan segalanya di Seoul hanya untuk membanggakan orang tuanya sekali lagi. Ia masih haus akan ilmu pengetahuan sekalipun sudah menjadi calon pemimpin salah satu perusahaan berkaliber nasional milik keluarganya di ibukota Korea Selatan.

Ia memilih berjalan kaki dari rumah profesor-nya menuju flat tempat ia tinggal dibanding menaiki Double-decker bus –bus tingkat berwarna merah trademark kota London–

Jungsoo berjalan dengan langkah pelan di trotoar ketika matanya menagkap bayangan kotak telepon umum yang tidak asing lagi di seberang jalan.Tiba-tiba ia merindukan Seoul; keluarganya, rumahnya, bahkan anjing peliharaannya. Lelaki itu melirik lampu lalu lintas yang sebentar lagi akan berubah menjadi warna merah, lalu berlari dengan cepat ke seberang.

Dia membuka pintu kubikel merah itu dan meraba setiap kantong di jaket, kemeja, dan celana bahan-nya. Hanya tersisa beberapa koin 50 sen. ‘Mungkin cukup untuk menelpon kerumah’ pikirnya.Setelah memasukkan satu koin, ia menunggu telponnya tersambung. Ia tersenyum lembut ketika mendengarsuaralembutibunya.

Yoboseyo?”

Eomma!” sapanya sambil setengah tertawa. “Ini aku, Jungsoo,”

“Jungsoo-ya!” kali ini terdengar suara ibunya yang terdengar seperti diredam sesuatu. Jungsoo berasumsi ibunya terlampau kaget dan menutup mulutnya dengan tangan kanan. “Apa kau baik-baik saja? Bagaimana kedaan di London?”

“Aku baik-baik saja. Ah, London sedikit dingin sore ini, eomma. Bagaimana kabar kalian disana?” tanyanya

“Kami baik-baik saja.”Jawab ibunya. “Ayahmu sedang meeting dengan Tuan Lee di kantor. Omo! Aku rindu sekali padamu, nak. Kapan kau akan pulang? Usahakan pulang sebelum eonni-mu menikah, eo?” katanya sambil tertawa lepas, yang membuat Jungsoo mau tak mau tertawa juga.

“Mugkin musim panas tahun ini.Tunggu aku sebentar lagi, ya, eomma?”

Jungsoo memang sangat dekat dengan ibunya. Ketika ia memutuskan untuk meninggalkan Seoul, ibunya tidak melarang. Tapi sebenarnya ia tahu bahwa ibunya tidak ingin anak laki-laki satu-satunya ini pergi jauh.

Ah, ya. Jungsoo tentu saja ingat pada Eunkyo.Gadis spesialnya yang sudah lebih dari setengah tahun tidak dikabarinya. Bukan tanpa alasan, tetapi karena dia memang  sibuk. Tugas menumpuk dari profesornya selalu menuntut untuk dikerjakan, belum lagi penelitian di lapangan. Ia memang terobsesi dengan nilai sempurna, jadi, nyaris setiap detik ia belajar. Tidak ada waktu untuk bersenang-senang.Sebagai tambahan, ia juga tidak bisa pulang pada libur tiap musimnya karena ia memilih untuk bekerja paruh waktu di café.

“Bagaimana kabar Eunkyo?” tanyanya pelan.Ibunya diam selama beberapa detik dan tidak menjawab sama sekali. Selah memikirkan jawaban yang tepat. “Eomma?” panggilnya sekali lagi.

“Oh. Eunkyo?Ya… dia baik-baik saja. Coba telpon dia ketika kau ada waktu, ya?” jawab ibunya dengan nada antusias palsu, diikut itawa pahit. Hal ini sangat mengganggu pikiran Jungsoo; pasti ada hal buruk yang terjadi pada Eunkyo.

“Jungsoo, jangan lupa makan sekalipun kau sibuk.Minum vitamin agar badanmu selalu sehat, dan jaga kesehatan!” ibunya mulai berceramah lagi.Ceramah kesehatan yang sangat dirindukannya selama ini. “Eomma sangat merindukanmu…” Jungsoo bahkan dapat mendengar ibunya terisak menahan tangis.

“Eomma, jangan menangis. Eomma harus jaga kesehatan juga. Dan jangan lupa minum vitamin juga,”  dan setelah itu Jungsoo dan ibunya berbicara cukup lama, hingga ia harus memasukkan koin ekstra beberapa kali. Ibunya bercerita tentang hal apa saja yang mungkin dirindukukannya dari Seoul. Satu hal yang tidak diberitahukannya; berita tentang Eunkyo. Nyonya Park selalu menghindari topik yang berhubungan dengan Eunkyo.

Di akhir pembicaraan, Jungsoo menutup telpon dengan satu pertanyaan besar yang memenuhi kepalanya; ada apa dengan Eunkyo?

Jungsoo mengecek nomer telpon Eunkyo di handphonennya sambil memegang beberapa koin yang tersisa. Ia menggenggam gagang telpon lagi, tapi merasa ragu untuk menekan nomernya. Terakhir kali ia bicara dengannya, mereka sedang bertengkar tentang lamanya Jungsoo tidak memberi kabar. Eunkyo sering mengatakan bahwa ia merindukan Jungsoo tapi tidak direspon dengan baik oleh Jungsoo, dan ia masih merasa bersalah hingga sekarang. Ditambah lagi sekarang Jungsoo merasakan sesuatu yang buruk telah terjadi.

Pada akhirnya, ia memutuskan untuk benar-benar menghubungi Eunkyo.

Yoboseyo?” bukan suara lembut Eunkyo yang menyambutnya. Bukan pula suara Heerin, sepupu Eunkyo yang tinggal bersamanya. “Yoboseyo? Apakah ini benar rumah Eunkyo?”

“Ya, ini siapa?”

“Kau siapa?” bukannya menjawab pertanyaaan yang diberikan lawan bicaranya, Jungsoo malah balik bertanya. “Aku Youngwoon, tunangan Eunkyo.”

“Tunangan?” aku pasti salah dengar –batinnya. “Dimana Eunkyo? Bolehkah aku bicara dengannya?”

Chakkaman,”

 “Yoboseyo?” suara malaikat terdengar di seberang.

“Eunkyo, ini aku, Jungsoo…” Jungsoo berusaha untuk menjaga nada suaranya terdengar senang, tapi ia menyadari bahwa caranya berbicara terdengar penuh kerinduan yang mendalam. “Bagaimana kabarmu?”

Eunkyo tidak langsung menjawab, tapi Jungsoo mendengar nafasnya memburu dan tertahan, seolah sedang menutup mulutnya tanda dia shock. “Jungsoo? Kau Jungsoo?”

“Ya,” sebelum Eunkyo sempat mengatakan apapun, Jungsoo menyela, “Aku merindukanmu.” Ya, Jungsoo sangat merindukannya. Sementara Eunkyo masih shock. “apa kau merindukanku juga?” tanyanya, “Siapa dia?” Jungsoo menanyakan banyak pertanyaan padanya.

“Dia tunanganku. Ibuku mengatur perjodohan untukku dengan laki-laki lain lima bulan lalu. Aku selama ini telah bersama orang lain, Jungsoo-ya. Kami akan menikah dalam dua bulan.” Eunkyo mengatakannya seolah tanpa beban, tanpa dosa. Sementara Jungsoo merasa dirinya bisa kolaps kapan saja.

“Kau berbohong?”

“Tidak, Jungsoo.” Jungsoo menutup kedua matanya, mendengar isakan kecil yang berusaha sebisa mungkin ditahan Eunkyo.

“Kenapa? Apa salahku?” ia sebisa mungkin berusaha tidak menangis. Bagaimanapun juga ia pria, ia tidak bisa menangis semudah itu–apalagi ini tempat umum.

“Tidak, kau tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Akulah yang melakukannya. Aku tidak bisa menjadi gadis baik-baik yang menununggu orang yang dicintainya yang berada di benua lain lebih dari 6 bulan. Aku butuh seseorang disampingku selama kau mengacuhkanku. Dan Youngwoon sunbae sangat baik padaku selama ini. Awalnya, ia mengingatkanku padamu, tapi kalian berdua adalah pria baik yang baik; jadi aku merasa sangat beruntung.” Sekarang Eunkyo tidak bisa lagi menahan tangisnya. “Aku pernah mencintaimu. Tapi aku lebih mencintainya sekarang,”

“Tapi Eunkyo, kupikir kau bisa menungguku sebentar lagi.”

“Kau tidak bisa mengharapkan kesetiaan dari perempuan yang sangat merindukan pacaranya tapi dia tidak bisa memeluknya ketika ia membutuhkannya.” Ucap Eunkyo. “Aku membutuhkanmu hari itu, Jungsoo. Ketika aku tidak lulus wawancara, ketika aku sakit, ketika aku sedih dan ketika aku merindukanmu. Tapi percakapan via telpin memang tidak akan pernah cukup. Aku harus bicara padamu secara langsung. Ingat ketika kau menelponku terakhir kali? Saat itu aku sedang badmood karena lamaranku ditolak di salah satu perusahaan. Kau tidak pernah mendengar cerita apapun dariku; kau hanya ingin aku yang mendengar ceritamu. Segalanya selalu tentangmu dan dirimu.”

“Tolong, berikan aku kesempatan sekali lagi,” pinta Jungsoo. Suaranya merengek; terdengar seperti anak laki-laki yang putus asa ingin bonekanya kembali, tapi dia tidak peduli sama sekali.

“Aku ingin memberikannya, tapi ini sudah terlambat, Jungsoo. Maaf. Bisakah aku menutup telponnya sekarang?” jawab Eunkyo berat hati. “Jaga kesehatanmu.”

Lalu terdengar nada panjang pertanda sambungan telponnya sudah terputus. Jungsoo bahkan tidak sempat mengatakan selamat tinggal. Ini terasa sangat menyakitkan bagi Jungsoo. Dia menggantungkan harapan pada orang yang sebenarnya sudah meninggalkannya sejak awal. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendengar hal semacam itu, ia membayangkan bahwa dirinya dan Eunkyo dapat saling memaafkan setelah kejadian pertengkaran mereka beberapa bulan lalu, bahkan ia sudah dapat membayangkan betapa senangnya Eunkyo saat ia memberitahu ia akan kembali ke Seoul dalam beberapa bulan. Tapi bagaimanapun juga, hal itu tidak akan terjadi.

Jungsoo selalu menonton film tentang kesuksesan hubungan jarak jauh, tapi kisahnya sendiri jauh berbeda dengan film-film itu.tidak ada akhir bahagia untuk dirinya. Padahal, rencanannya adalah melamar Eunkyo sesegera mungkin setelah ia kembali ke Seoul.

Jungsoo lalu keluar dari kubikel telpon umum itu dengan kaki lemas. Marah, sedih, kecewa, dan perasaan lain bercampur aduk menjadi satu di hatinya. Apakah ini rasanya patah hati? Ia bahkan baru mengetahuinya beberapa menit lalu dan itu berada jauh dibawah kemampuannya. Jungsoo menghembuskan nafas panjang lalu mulai berjalan sepanjang trotoar di tengah cuaca ekstrim itu.

 ‘Apakah ini karena aku terlalu sibuh belajar di sini? Aku hanya ingin memberitahu pada dunia bahwa aku bisa menjadi lebih dari seorang kutu buku bernama Park Jungsoo. Aku melakukan smeua ini untukmu, Eunkyo-ya…’ ia lalu menutup matanya dan butiran bening mulai keluar dari sudut matanya.

If happy ever after did exist

I would still be holding you like this

All those fairytales are full of shit

One more fucking love song, I’ll be sick.

 

 

Hyun-ah’s gaje notes:

Another semi-angst dari aku /ketawa laknat/. Maaf, salahkan Adam Levine, please. Payphone terlalu menggoda untuk jadi inspirasi. Dan typo, omg gak bisa dihindari, maaf sekali lagi. And Jennifer, i love you and those infos about London~

Entahlah tapi nickname-ku di kalangan temen-temen author itu; PHO alias perusak hubungan orang ( di fanfic ) karna spesialisasiku angst. Jahat ya wkwkwk. Anw, comment juseyoooo~

Vikos :

Hadeuh, ini ff jaman kapan yah Yuk? Mian sayang baru aku publish, laptop baru balik. Hihihihihihihihihi, sekarang dah baru bisa. Kemaren ada yang nanyain, ga ada yang di publish lagi nih Eon? Nah, aku jadi inget punya Yuki. Ga banyak kata, semoga bisa menjadi pengobat rindu *lebay aku, ada memang yang kangen?* ama teukyo. Sebenarnya aku udah rada males nulis, tapi niatnya masih mo namatin LTD sama Amourette, berdo’a saja aku bisa namatin. Sekian, terima kasih.

19 responses »

    • Bener dehhhh Onn.. Bikin melow aja nih pagi2 hujan gini.. Aku juga LDR..😥 #gak penting
      FF-nya bagussss.. Tapi harusnya lebih banyak lagi biar happy ending.. Hiihii.. Gud lak Onn..

  1. *slse bc lgsg mrenung*
    Jungsoo ditinggalin Eunkyo?
    makanya oppa,jgn ninggalin Kyo eonni jauh2,g tau apa kl diblakang oppa yg ngantri bnyk.
    hihihi
    eonni, apapun yg terjadi,aq ttep nunggu karyamu..
    \(^_^)/

  2. Oh god, setelah sekian lama,, akhirnya ada ‘kehidupan’ juga di blog ini, kkkk~~
    Vika oniie,,, bener2 kangen sama ff mu :*
    Eh,, tp ff ini oke bgt.. Nggak semua cerita selalu berakhir bahagia,, ada kalanya juga cerita berakhir menyedihkan🙂

  3. Yokatta~ akhirnya ada postingan baru di blog ini hehe :9
    Ceritanya bagus, tapi ada sesuatu yg bikin kurang ‘greget’ di angstnya mmmm mungkin karena alurnya cepet kali ya #slap

    Iyaa ayo lanjutin cerita” teukyonya unn.. Udah kangen ini >_<

  4. mau lanjut lg amourette sama ltd????
    ahhhhh,,ga sabarrrrrr!!!!!
    aduh,ini kasian jung soo nya,salah sendiri sih,belajar ko ampe serius gtuh,ampe lupa perhatiin eunkyo,kalo udh di ambil orang sakit kan??
    simple,tpi bikin jlebb!!!!

  5. Astaga,,, sungguh,, angst selalu merusak mood q,, biasanya aq selalu ngehindar crita berunsur angst,,
    Huft,, ga tau month ngomong apa ,, terlalu sulit dijelaskan dengan kata2 *lebeh gw*
    Bwt vika eon,, ditunggu ea lnjutannya,,
    Hehehe,,

  6. Duileh pas bgt baca nih FF dikota cirebon yang sedikit agak mendung *plak*
    Fika eon aku always nunggu FF-FF mu loh.. Kalo bisa ceritanya lebih tegang lagi, yang om jungsoo & eunkyo eonnie berantem mulu *pletak* hahaha

  7. Ninggalin jejak hehe😀
    Aku smgt bgt pas dpt sms dri eon fika.. Lgsg pagi ini aku buka wpnya,
    ff baru keluar ;;).. Bagusss bagusss nii{}
    Sejujur jujurnya ni aku nunggu lanjutan amourette😀. Aku kira gak dlanjut tpi liat note eon fika ternyata dilanjut seneng bgt aku ;;)

  8. ahhh <///3 pagi2 udh dibikin potek .-. jungsoo ya~ kalo eunhyo ga mau mending sama aku aja .-.V wkwkwk keep writing buat authornya, ditunggu karya2 selanjutnya

  9. jangan berhenti nulis eon… msh banyak kog yg merindukan teukyo…
    boleh jujur, ni masih satu2nya blog yg spesial buat eeteuk dan isi ffnya bagus2…
    jangan berhenti nulis eon, walau nanti publis ffnya 1bulan sekali ato 1tahun 2kali gpp dah #ngerayuIniCeritanya🙂

    buat author ato eonni yuki, Gelar PHO memang tetap bnget😀 but Daebak… bang adam emang selalu bkin orang terinspirasi ntah nti ma lagunya ato ma body sekseh punya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s