TeuKyo Couple : EGOISTIC (Part 10-End)

Standar

egoistic

AUTHOR : NOVIE (LAVENDER)

Jung Soo menutup pintu dengan perasaan yang campur aduk. Sedih, bahagia dan terluka. Dia yang telah membuat Eun-Kyo menangis sebegitu hebatnya. Melihat sorotan mata Eun-Kyo yang sebegitu terlukanya, membuat Jung Soo hampir saja merengkuh Eun-Kyo kedalam dekapannya yang hangat. Menenangkannya, membisikkan kata-kata yang membuat hati Eun-Kyo tenang untuk sesaat. Bukannya menambah masalah yang pada akhirnya malah membuat Eun-Kyo semakin berat untuk menghadapinya. Jung Soo tahu Eun-Kyo membutuhkan dukungan untuk tegar menghadapi Ryu-Jin. Tapi lihatlah apa yang Jung Soo lakukan sekarang?

Jung Soo memejamkan matanya sesaat, berharap rasa pusing itu sedikit menghilang. Akhir-akhir dia berpikir cukup keras, sehingga tanpa terasa membuat bobot tubuhnya turun sekitar 5 kg. Cukup banyak, tapi masih terlihat proposional bagi seorang Park Jung Soo.

“Anda tidak apa-apa?” Jung Soo menolehkan kepalanya untuk melihat siapa yang telah membuyarkan lamunanannya tersbut.

“Tidak apa-apa sekretaris Kim”

“Apakah Nyonya…” Jung Soo menatap lurus-lurus sekretaris Kim sambil mengernyitkan alisnya, bersiap-siap menjawab pertanyaan yang akan terlontar dari sekretarisnya tersebut. Jujur, untuk saat ini Jung Soo sangat anti dengan pertanyaan yang berkaitan dengan Eun-Kyo. Dia sendiri pusing menghadapi tingkah laku Eun-Kyo yang menurutnya konyol, kekanak-kanakan dan egois. Apa yang diharapkan Eun-Kyo sebenarnya dari sikapnya selama ini? Apakah Eun-Kyo ingin dia menderita? Mengerti bagaimana ditinggalkan oleh orang-orang yang disayanginya? Sadarkah Eun-Kyo jika perbuatannya itu akan mengakibatkan kerugian yang sangat besar, dan menurut Jung Soo, masa itu (masa dimana Eun-Kyo kehilangan sesuatu yang paling berarti dihidupnya, melebihi rasa kehilangan ayah dan cercaan lingkungan di sekitarnya yang menolak kehadirannya) sedang berlangsung. Iya, Ryu-Jin. Anak itu, secara tidak langsung adalah matahari untuk Eun-Kyo. Hanya dialah yang Eun-Kyo punyai saat ini selain Jung Soo. Dan jika Eun-Kyo masih bersikap seperti itu maka Jung Soo pastikan Eun-Kyo akan kehilangan mereka berdua, Jung Soo dan Ryu-Jin.

“Sajangnim.. sajangnim..” Jung Soo mengembalikan kesadarannya kembali, menghilangkan bayangan-bayangan yang berasal dari pulau antah-berantah. Dengan senyumnya yang ramah Jung Soo merespon apa yang ditanyakan oleh sekretarisnya tersebut.

“Iya sekretaris Kim? Apa yang kau tanyakan padaku?”

“Nyonya.. dia.. tidak apa-apa?”

Jung Soo menggelengkan kepalanya sebagai isyarat bahwa Eun-Kyo tidak dalam keadaan baik-baik saja.

“Tidak, dia tidak baik-baik saja. Aku melukainya sekretaris Kim.. aku melukainya sangat dalam. Aku tidak tahu apakah aku akan dimaafkan kali ini atau tidak”

“Bukankah Anda mencarinya selama ini, mengharapkan Nyonya memaafkan Anda. Lalu setelah menemukannya mengapa anda melukainya?”

Jung Soo tersenyum kecut menanggapi pertanyaan yang terlontar dari sekretarisnya tersebut. Mengenaskan.. hanya satu jawaban yang terlintas dipikiran Jung Soo, seakan-akan sisi gelapnya menertawainya dengan bahagia. Dia adalah satu-satunya pria yang mengenaskan. Mulanya dia mencari Eun-Kyo sampai menggila. Berdoa kepada Tuhan setiap saat agar Eun-Kyo yang saat itu menghilang dari jarak pandangnya selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan. Berharap setiap detiknya akan menemukan Eun-Kyo dan mereka akan bahagia seperti dulu lagi. Tapi saat satu-persatu harapannya terkabul yang dilakukan Jung Soo adalah mendorong Eun-Kyo, melukai Eun-Kyo untuk yang kedua kalinya. Dasar bajingan gumam Jung Soo dalam hati menilai dirinya sendiri yang begitu rendah.

“Aku tidak tahu sekretaris Kim. Aku pusing.. Aku ingin menghirup udara luar sebentar, dan mungkin aku tidak akan kembali lagi ke kantor. Jadi katakan pada Eun-Kyo untuk segera pulang. Jika dia tidak mau dan masih keras kepala, biarkan saja dia. Toh jikalau dia lelah dia akan menyerah dengan sendirinya”

“Anda…”

“Aku lelah sekretaris Kim.. aku lelah. Dia bukan lagi seorang Park Eun-Kyo yang aku kenal, dan walaupun dia memintaku kembali padanya. Memaafkan semua kesalahannya,  namun aku terlalu pengecut untuk menerimanya kembali. Aku terluka 2 kali dan aku tidak mau ini menjadi yang ke 3 kalinya dia melukaiku”

Jung Soo memegang organ vitalnya yang merasakan sakit yang begitu parah. Merabanya dan merasakannya “Disini sekretaris kim.. disini.. sakit sekali” lirih Jung Soo dan saat itu pula pertahanan diri Jung Soo hancur. Dia menangis di hadapan sekretarisnya yang sudah dianggap ayah oleh Jung Soo. Sekretaris Kim hanya terdiam, memeluk Jung Soo memberikan bahunya untuk bersandar. Anak ini sudah terlalu banyak menderita karena cinta, sudah saatnya dia merasakan kebahagiaan oleh cinta. Ucap sekretaris kim dalam hati sambil menenangkan Jung Soo yang menangis di depan ruangannya sendiri.

***

Jung Soo berdiri di sebuah apartemen yang cukup luas, tersenyum dalam hati memikirkan reaksi apa yang akan didapatkannya dari putra kesayangannya tersebut. Setelah insiden yang mengharu biru di kantornya pagi tadi yang mengakibatkan Jung Soo mengeluarkan kata-kata yang cukup menyakiti Eun-Kyo. Dan menurut sekretarisnya Eun-Kyo masih berada di ruangannya. Biarkan saja, toh pada akhirnya Eun-Kyo akan menyerah.. dia akan pulang dan menyadari bahwa selama ini sikapnya salah, menyebalkan dan semacamnya. Eun-Kyo terlalu egois.. sangat egois. Hanya memikirkan dirinya dan perasaan terlukannya, dia tidak pernah memikirkan perasaan Jung Soo maupun Ryu-Jin.

Sekali lagi Jung Soo mempererat barang bawaanya. Seharusnya barang tersebut telah berada ditangan sang empunya jika tidak ada kejadian melarikan diri untuk yang kedua kalinya. Jung Soo memasuki apartemen yang telah diketahuinya dari awal dia bertemu dengan Eun-Kyo saat sama-sama disandingkan dalam sebuah proyek. Tersenyum getir kala mengingat memori itu mengalir dengan deras di benaknya, awal mula Jung Soo bertemu dengan Eun-Kyo dan begitu membencinya. Bertambah kadar kebenciannya karena dia dengan seenak pikiran eommanya terpaksa menikahi Eun-Kyo yang berakhir dengan tragis. Sungguh kisah cinta yang dialaminya adalah kisah cinta tersadis, mencintai tapi berani melukai cinta itu sendiri.

Jung Soo tersenyum getir bila mengingat semuanya, dan saat ini dia harus menyelesaikan kekacauan yang Eun-Kyo buat..

***

Ryu-Jin sedang asyik bermain dengan game terbarunya ketika seseorang menjatuhkan badannya diatas tubuh mungil Ryu-Jin. Sontak dia kaget dan menoleh dengan cepat, bermaksud memarahi orang tersebut yang telah membuat tokoh gamenya seketika mati-kalah- game over.

“appa..!!!”

“wae? Kau kaget appa ada disini?”

Ryu-Jin hanya mengeryitkan dahi ketika Jung Soo berbicara. Berpikir maksud dari perkataan yang dilontarkan Jung Soo. Berbeda dengan Ryu-Jin, Jung Soo seolah-olah mengerti kondisi Ryu-Jin saat ini. Tubuh mungilnya tidak bisa menutupi wajah putih pucat karena lelah, namun anak itu seolah-olah tidak merasakan rasa sakit yang dirasakannya. Entah apa yang membuat anak itu terlihat kuat. Jung Soo tersenyum dengan bola mata mengedarkan seluruh pandangannya ke sudut-sudut ruangan, siapa tahu dia bisa menemukan media yang cocok untuk membantunya berkomunikasi dengan malaikat kecilnya. Dan bingo..!!! Jung Soo menemukannya. Bila di telaah dari tulisannya yang mungil dan rapi, ini pastilah note milik Eun-Kyo.

“Eomma biasa menuliskan sesuatu di situ ketika ingin berbicara padaku. Ketika aku bertanya mengapa, eomma menjawab dia sedang sariawan”

Jung Soo mengulum bibirnya agar tidak tertawa dengan keras, walaupun sebenarnya dia ingin sekali menertawai alasan konyol Eun-Kyo. Dasar Eun-Kyo..

“apa itu appa?” tanya Ryu-Jin sambil menunjuk dengan rasa penasarannya yang tinggi ke sebuah benda yang terbungkus rapi  di pinggir ranjang Ryu-Jin. Karena Jung Soo terlalu asyik dengan pengamatannya terhadap notes mungil itu, dia hampir saja lupa dengan tujuannya datang ke apartemen ini. Memberikan hadiah yang tertunda.. Jung Soo dengan segera meletakkan bungkusan itu ke hadapan Ryu-Jin

“untukku?” tanya Ryu-Jin takjub dengan sinar mata yang begitu bahagia. Jung Soo hanya menganggukan kepalanya dan dengan cekatan pula Ryu-Jin membuka bungkusan tersebut. Setelah melihat isinya Ryu-Jin berteriak histeris, melompat bahagia mengeluarkan semua ekspresi bahagianya untuk kemudian memeluk Jung Soo erat-erat dan mengatakan…

“terima kasih appa”

***

“Bakar semua foto ayahku, beserta ibuku. Aku ingin ketika aku kembali sudah tidak ada lagi foto-foto itu menghiasi rumah ini”

Para pelayan hanya membungkuk dan pergi dari hadapan Il Woo ketika titah itu terlontar dari bibir Il Woo. Dia harus melakukannya, melindungi Hyo-Jin isterinya dari masa lalu yang sangat kelam. Semalam sehabis percintaannya yang hebat Hyo-Jin menceritakannya semua.. semuanya tanpa satu hal yang ditutupinya. Memaklumi rasa takut Hyo-Jin akan ayah kandung Il Woo yang telah mengancamnya. Il Woo sendiri bisa melihat kesedihan ayahnya ketika ibunya meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Walaupun ayahnya terlihat tegar dan kuat namun setiap malam Il Woo selalu melihat ayahnya memandangi lukisan ibunya di atas perapian rumah mereka setiap malam dan kemudian menangis. Membuat Il Woo mengutuk seseorang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecil mereka.

Dan ketika Il Woo mengetahui kebenarannya dia bingung.. apakah dia harus mengkhianati cintanya kepada Hyo-Jin untuk membalaskan dendam kepada Hyo-Jin? Atau melupakannya? Bahkan semalam dia telah mencetuskan gagasan untuk membuat Hyo-Jin melupakan traumanya, menjaganya, dan membuka lembaran baru. Tapi mengapa saat ini diri Il Woo seakan-akan goyah akan keputusannya yang semalam?

***

“Hei sayang, kau sudah bangun? Bagaimana tidurmu?” tanya Il Woo yang baru saja memasuki kamar mereka berdua. Hyo-Jin tersenyum menatap Il Woo yang mendekatinya, duduk di tepi ranjang.

“Nyenyak..” jawab Hyo-Jin dengan suara yang sedikit parau, suara khas seseorang ketika bangun dari tidurnya.

“Minum?” tawar Il Woo yang dibalas dengan anggukan dari Hyo-Jin. Dengan segera Il Woo melangkah ke ke nakas yang berada di seberang ranjang, menuangkan segelas air putih dan kembali lagi di posisi awal. Hyo-Jin memperhatikan semua gerak-gerik Il Woo yang begitu memukau, dan secercah perasaan hangat melingkupi hatinya.

“Ayo.. aku bantu kau untuk minum”

“Aku bisa sendiri”

“Tidak apa-apa”  gumam Il Woo pelan.

Dengan penuh kasih sayang Il Woo membantu Hyo-Jin untuk duduk, menyodorkan segelas air putih dan dengan rakus Hyo-Jin meminumnya. Setelah habis Hyo-Jin menatap Il Woo dengan bingung, apa yang akan dikatakan Il Woo mengenai kejadian masa lalu. Apakah Il Woo akan membencinya? Karena menyelamatkannya, ibunya mati di tangan ayahnya yang seorang bajingan. Atau melupakannya? Mengubur semua kenangan itu? Seperti mengetahui semua hal yang berkecamuk di pikiran Hyo-Jin, Il Woo tersenyum dengan senyuman yang semanis mungkin.

“Jangan dipikirkan, semua akan baik-baik saja”

Hyo-Jin kaget dengan perkataan yang terlontar, seolah Il Woo tahu apa yang berkecamuk didalam hatinya. Namun Hyo-Jin masih perlu untuk meyakinkan dirinya sendiri, sebegitu mudahnya kah Il Woo menghapus kenangan itu? semudah itukah Il Woo memaafkannya? Ayahnya saja membenci Hyo-Jin setengah mati bahkan bisa dikatakan mengutuk Hyo-Jin bila dirinya berani datang kembali ke rumah mereka, ke keluarga mereka, bahkan menemui Il Woo.

Il Woo tahu semua yang berkecamuk dalam pikiran Hyo-Jin. Apa yang dipikirkannya saat ini, seolah-olah semua itu tertulis dengan jelas di kening Hyo-Jin. Dia sendiri ingin menghindari topik yang sangat sensitif baginya saat ini. Il Woo bingung bagaimana dia harus bersikap kepada Hyo-Jin. Satu sisi dia sangat mencintai Hyo-Jin, sahabat kecilnya. Begitu besar dan kuat keinginannya untuk menjaga Hyo-Jin namun disisi lain – alter egonya – menginginkan Hyo-Jin mengalami apa yang dia rasakan kehilangan ibu beserta ayahnya. Tapi, sebegitu dendamnya kah Il Woo kepada seseorang yang secara tidak langsung menghancurkan keluarganya? Sebegitu teganya kah Il Woo, padahal dia tahu sendiri bahwa yang menjadi korban adalah Hyo-Jin.. yang tersakiti adalah Hyo-Jin. Dan yang patut disalahkan adalah ayah Hyo-Jin. Pria brengsek yang saat ini telah membusuk di dalam tanah. Il Woo berharap tuhan tidak akan memberikan pengampunan bagi manusia terkutuk seperti dia.

***

Hyo-Jin menuruni tangga secara perlahan-lahan. Dia tidak lagi berada di apartemen Il Woo tapi di rumah keluarga Jung. Sudah berapa lama dia tidak menginjakkan kakinya di rumah ini? Hyo-Jin tersenyum getir membayangkan salah satu kenangan manis itu. Rumah itu sepertinya masih sama dengan terakhir kali Hyo-Jin berkunjung, saat kematian ibunya. Bibi Jung dengan penuh kasih sayang memeluknya. Dan Il Woo yang duduk berada di sebelahnya memegang tangannya, berjanji akan menjaganya seperti kakak yang menjaga adiknya. Semua masih tampak sama, kecuali…

“kemana lukisan yang berada di sana?” tanya Hyo-Jin pada salah seorang pelayan yang sedang membersihkan ruangan tersebut.

“Tuan muda tadi pagi menyuruh untuk menyingkirkan seluruh foto-foto Nyonya dan Tuan besar”

Hyo-Jin tertegun mendengar pengakuan salah seorang pelayan yang bekerja di rumah Il Woo. Mencerna setiap perkataan yang terlontar dari mulut pelayan tersebut. Untuk apa Il Woo memberikan perintah seperti itu? Untuk dirinya kah? Agar Hyo-Jin tidak perlu mengingat-ingat memori yang menakutkan itu? Seharusnya Il Woo tidak perlu melakukannya, toh ini kelemahannya, traumanya, dia akan mengatasinya sendiri. Dia harus berbicara mengenai masalah ini kepada Il Woo.

***

Hyo-Jin memasuki ruangan itu dengan tidak sopan. Untuk apa dia harus bersopan santun, toh ini rumahnya. Il Woo yang sedang menekuri pekerjaannya, mendongak ketika melihat siapa yang masuk ruangannya secara tidak sopan dan tersenyum ketika dilihatnya wajah yang dirindukannya selama ini.

“Untuk apa kau menyuruh membakar semua foto keluargamu?” cecar Hyo-Jin langsung.

“Kau sudah tahu iya” jawab Il Woo dengan cuek, Il Woo sengaja mengalihkan pandanganya kembali lagi pada kertas-kertas yang berada di meja.

“Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan Jung Il Woo” gertak Hyo-Jin

“Aku tidak mengalihkan pembicaraan”

“Kalau begitu tatap aku” paksa Hyo-Jin walaupun terdengar seperti nada merajuk.

“Apa kau tidak melihat, aku sibuk sayang. Dan untuk masalah foto-foto itu, bisakah kita membicarakannya nanti?” pinta Il Woo

Dengan dengusan Hyo-Jin melangkah keluar ruangan itu. Dia tidak melihat pandangan merana Il Woo.

“Apa yang harus aku lakukan kepadamu Hyo-Jin” gumam Il Woo. Lebih kepada dirinya sendiri.

***

Hari menunjukkan semakin siang, dan Eun-Kyo masih berlutut di tempatnya. Sekretaris Kim sudah memintanya untuk duduk di sofa saja bila masih berniat menunggu Jung Soo. Bahkan Sekretaris Kim menyuruhnya pulang, karena Jung Soo tidak akan kembali lagi. Tapi entah mengapa Eun-Kyo merasakan Jung Soo akan kembali lagi. Entah untuk membantunya atau mengusirnya.

“oppa.. mian” gumam Eun-Kyo

Suara pintu terbuka untuk kesekian kalinya. Eun-Kyo sudah hafal siapa yang masuk. Dan jika Sekretaris Kim memintanya mengakhiri acara permintaan maaf kepada Jung Soo. Jangan harap dia akan menang begitu mudah, dia akan terus menolak permintaan Sekretaris Kim sampai Jung Soo mau menolongnya. Kalau Sekretaris bodoh itu tetap keras kepala, Eun-Kyo juga tidak mau menyerah dengan percuma. Semua ini demi Ryu-Jin. Kalau Eun-Kyo menyerah, siapa yang menolong Ryu-Jin. Terlebih untuk menolong hatinya. Dia butuh hatinya, kalau tidak bagaimana dia bisa menemani Ryu-Jin tumbuh hingga dewasa kelak.

Sekretaris Kim berdiri di samping Eun-Kyo, Eun-Kyo bisa melihat kalau Sekretaris Kim membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan.

“Jika kau kesini untuk membujukku untuk pergi, jawabannya masih sama. Aku tidak akan kemana-mana selagi Jung Soo oppa belum menemuiku”

“Maaf. Saya tidak menyuruh Nyonya untuk pergi. Saya hanya ingin mengantarkan makan siang untuk anda”

“oh.. begitu. Taruh saja dimeja, jika sudah selesai pergilah” jawab Eun-Kyo dengan sedikit rasa panas yang mulai menjalar ke wajahnya. Eun-Kyo hanya bisa menunduk untuk menutupi wajahnya yang diyakininya saat ini sudah merah seperti tomat.

“Saya harap Nyonya mau beristirahat terlebih dahulu”

“Aku akan memakannya, pergilah”

Setelah melakukan hormat, Sekretaris Kim  beranjak keluar ruangan. Untuk beberapa saat Eun-Kyo masih betah berlutut. Dia menundukkan kepalanya, melihat ke pergelangan tangannya dimana jarum jam menunjukkan waktu makan siang. Tiba-tiba dia ingat akan Ryu-Jin. Dia sudah terlalu lama meninggalkan Ryu-Jin. Secepat kilat Eun-Kyo berdiri melangkah kakinya menuju pintu. Baru beberapa langkah hantaman itu mengenainya, pusing akan gerakannya yang terlalu cepat. Semakin cepat hantaman itu menderanya hingga Eun-Kyo tidak fokus lagi dan semuanya gelap.

***

“Hmmm..!!!”

Enak?

“Massita..!!”

Ryu-Jin tersenyum dengan riang, seharian ini dia ditemani oleh Jung Soo. Mulai dari bermain game terbaru hingga jalan-jalan di taman hiburan yang berakhir dengan makan ice cream kesukaannya.

Tidak jauh berbeda dengan Ryu-Jin, Jung Soo juga menunjukkan hal yang sama. Seharian dia tertawa bersama Ryu-Jin. Melupakan sejenak masalah yang menderanya. Jung Soo menyodorkan sesendok penuh ice cream yang disambutnya dengan antusias. Ryu-Jin juga tidak mau ketinggalan, dia menyuapi Jung Soo dengan sendok ice cream yang dipegangnya dengan sangat penuh dan kemudian mencium pipi Jung Soo.

“Aku sayang appa”

Jung Soo tersenyum bahagia atas tindakan spontan yang dilakukan Ryu-Jin untuknya. Dia mengambil pena yang berada disampingnya, menulis sesuatu di atas tisu yang diambilnya dari tempat tisu yang berada di depannya. Menuliskan sesuatu yang membuatnya bahagia tidak terkira saat bertemu Ryu-Jin. Perasaan bangga akan statusnya yang berubah menjadi ayah, memikul tanggung jawab. Apalagi Ryu-Jin adalah seorang laki-laki, mau tidak mau Jung Soo lah yang berperan penting bagi tumbuhnya kepribadian Ryu-Jin. Ryu-Jin melihatnya, dialah yang menjadi contoh bagi Ryu-Jin. Dan Jung Soo mau Ryu-Jin menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Bukan seperti Jung Soo yang dulu hingga melukai Eun-Kyo sampai saat ini.

“appa menulis apa?” tanya Ryu-Jin penasaran. Setelah selesai Jung Soo memberikan tisu itu kepada Ryu-Jin, sesuatu yang sederhana namun bermakna bagi Jung Soo. Bahkan kata-kata yang terukir di atas tisu tersebut belum mewakili rasa sayangnya untuk Ryu-Jin.

Appa juga menyayangimu, melebihi sayang Ryu-Jin

“Ani, aku yang melebihi appa” Jung Soo tertawa dengan lebar mendengar respon yang diberikan Ryu-Jin. Sangat lucu sekali anak ini.

***

“Wah.., appa ini kamarku?” tanya Ryu-Jin sumringah. Seharian ini Ryu-Jin sangat bahagia, awalnya dia sangat kesepian dan kesal karena Eun-Kyo pergi untuk mengurus sesuatu dan akan kembali siang nanti. Namun kekesalan Ryu-Jin sirna seketika melihat Jung Soo berada di kamarnya. Dan seharian mereka menghabiskan waktu berdua, waktu ayah dan anak.

Diawali dengan bermain game terbaru, pergi ke taman hiburan, makan ice cream dan sekarang mereka berada disini, di rumah Jung Soo. Rumah yang mana dahulu ditinggalinya dengan Eun-Kyo sebelum Eun-Kyo pergi meninggalkannya 5 tahun lalu. Rumah ini tidak berubah sedikit pun, masih sama seperti dahulu. Bahkan tata letak barang-barang yang berada di dalam rumah pun masih sama. Eun-Kyo yang mengatur setiap ruangan ini tanpa campur tangan Jung Soo, dia juga yang mendesain kamar bahkan bisa dibilang rumah ini adalah rumah Eun-Kyo karena setiap jengkal rumah ini adalah hasil tangan Eun-Kyo. Disinilah mereka tertawa dan disinilah mereka menangis.

Jung Soo melihat Ryu-Jin yang berlari kesana-kemari melihat-lihat setiap sudut kamarnya yang telah penuh berisi beraneka ragam mainan keluaran terbaru.

Ryu-Jin telah Jung Soo tangani, dia juga sudah menghubungi Kim Heechul. Dokter yang akan menangani Ryu-Jin, dan saat ini dokter itu akan kembali ke korea untuk putranya. Jung Soo optimis Ryu-Jin akan sembuh, dia akan bisa mendengar lagi seperti semula.

Selagi mengamati Ryu-Jin yang bermain dengan salah satu mainan terbarunya, di temani salah seorang pelayan. Ponsel Jung Soo berbunyi, panggilan dari Sekretaris Kim. Jung Soo mengernyit apakah ada yang penting?

Tanpa basa-basi Jung Soo mengangkatnya.  Bahkan sebelum Jung Soo menyapa Sekretaris Kim mendahuluinya berbicara. Seolah-olah berita yang disampaikan sangat penting. Jung Soo tidak bisa mendengar ucapan Sekretaris Kim lebih lanjut. Yang ada di benaknya saat ini adalah Eun-Kyo.. Eun-Kyo nya

***

Jung Soo tiba di kantornya 15 menit kemudian. Dengan mobil yang dikemudikannya sedikit tidak tahu aturan, jika Jung Soo mendapatkan pelanggaran akan lalu lintas dia akan mengurusnya nanti yang terpenting adalah keadaan Eun-Kyo.

Dalam ruangannya tersebut hanya ada Sekretaris Kim dan seorang dokter klinik perusahaan. Salah satu fasilitas yang diberikan di perusahaan milik Jung Soo adalah adanya klinik bagi seluruh karyawannya.

Dokter itu telah selesai memeriksa Eun-Kyo. Kemudian tersadar bahwa Jung Soo berdiri di muka pintu ruangan. Dokter itu menjabat tangan Sekretaris Kim untuk kemudian pergi. Saat Jung Soo berhadapan dengan dokter itu entah mengapa dokter itu tersenyum, seakan-akan sebentar lagi sebuah berita bahagia akan di dengarkannya.

“Selamat Sajangnim, Isteri anda sedang mengandung 3 bulan”

Mata Jung Soo terbelalak kaget mendengarnya. Benarkah Eun-Kyo hamil dan dia pingsan karena kelelahan. Bodohnya kau Jung Soo. Gumam Jung Soo.

Eun-Kyo masih terlelap. Mungkin karena lelah berlutut menunggunya. Jung Soo duduk mengamati Eun-Kyo yang terlelap. Cantik.. Eun-Kyo nya memang sangat cantik. Apalagi ketika dia hamil.

Jung Soo mngelus perut Eun-Kyo yang tertutup gaun. Jika dilihat sekilas memang Eun-Kyo tidak seperti wanita yang sedang hamil namun Jung Soo merasakan perut itu sedikit membuncit. Anaknya sedang tumbuh disini. Dan rasa posesif itu hadir, dia ingin merasakan menjaga wanita hamil, menemani saat melahirkan nanti. Kelopak mata itu bergerak sedikit demi sedikit kemudian terbuka sepenuhnya. Jung Soo mengamati semuanya dengan tegang, dia bingung apa yang akan di ucapkan kepada Eun-Kyo. Sebagai gantinya dia mengamati sebuah lukisan yang tergantung di salah satu sisi dinding ruangan kerjanya, tidak benar-benar mengamati lukisan itu sebenarnya.

Eun-Kyo yang melihat Jung Soo mengalihkan tatapannya dari Eun-Kyo yakin bahwa dia sudah menutup pintu maaf untuk Eun-Kyo. Yakin bahwa Eun-Kyo sudah tidak bisa lagi memperbaiki semuanya. Apalagi surat perceraian itu sudah ditanda tangani Jung Soo, apalagi yang bisa diharapkannya dari pernikahan ini?

“Oppa..”

Jung Soo masih tidak merespon panggilan Eun-Kyo. Eun-Kyo menggigit bibirnya untuk menahan pedih yang entah mengapa sangat sakit.

“Oppa.. aku bisa menerima tentang perceraian itu tapi Ryu-Jin..”

“Dia di rumah, aku sudah menghubungi dokter itu dan mengatakan untuk segera pulang ke korea”

Eun-Kyo tersenyum. Setidaknya Jung Soo masih perduli dengan anaknya. Eun-Kyo mencerna kata-kata Jung Soo barusan. Rumah? Apa maksudnya dengan rumah adalah..

“Ryu-Jin di rumah? Rumah mana maksudmu Park Jung Soo”  tanya Eun-Kyo dengan sedikit perasaan was-was. Apakah Jung Soo akan mengambil Ryu-Jin darinya? Jika itu terjadi maka langkahi dulu mayatku, ucap Eun-Kyo dalam hati.

“Tentu saja rumah kita yang dulu Park Eun-Kyo sayang”

“Mworago? Kau..!! tidak aku tidak mau”

“Ckck.. keras kepala. Suka atau tidak kau pulang bersamaku ke rumah itu”

“Kau bilang kau sudah menceraikanku, jadi untuk apa kita tinggal bersama. Atau jangan-jangan kau membohongiku” cecar Eun-Kyo. Seringai muncul dari wajah Jung Soo yang membuat Eun-Kyo menciut seketika.

“Untuk apa aku membohongimu, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan Ryu-Jin”

“Maksudmu aku tidak becus merawat Ryu-Jin, begitu?” Teriak Eun-Kyo. Jung Soo mendekatkan wajahnya kepada Eun-Kyo yang membuat wajah Eun-Kyo seketika berubah menjadi merah tomat.

“Benar, kau tidak becus merawat Ryu-Jin. Bahkan merawat dirimu saja tidak bisa”

“A..aku bisa merawat..”

“Tidak, kau tidak bisa. Aku yakin kau tidak tahu bahwa saat ini kau sedang hamil”

“Aku tahu bahwa aku sedang.. Mwo?” dengan cepat Eun-Kyo mendorong tubuh Jung Soo dan terduduk. Seakan-akan tidak percaya dengan apa yang didengarnya, sambil mengerjapkan matanya berulang kali Eun-Kyo kembali lagi menanyakan pertanyaan yang sama kepada Jung Soo.

“Kau hamil, 3 bulan. Mengerti..”

Eun-Kyo menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa. “Aigoo.. bagaimana mungkin aku bisa hamil lagi untuk yang ke dua kalinya. Ini semua gara-gara kau” keluh Eun-Kyo

“Tentu saja ulahku, memangnya dengan siapa lagi kau bercinta selain denganku?” hening, mereka terdiam untuk sesaat, lebih senang dengan jalan pikiran masing-masing.

“Aku tidak mau tahu, mulai saat ini kau tinggal denganku Park Eun-Kyo. Jika kau pergi lagi, aku akan mengambil Ryu-Jin. Setelah bayi itu lahir dan kita bercerai, bayi itu untukku”

“Egois sekali kau..!!!” bentak Eun-Kyo tidak terima

“Aku belajar darimu sayang”  balas Jung Soo sengit kemudian melangkah ke pintu. Meninggalkan Eun-Kyo dengan sejuta kejengkelan di wajahnya.

“KAU MENYEBALKAN OPPA..!!!” teriak Eun-Kyo sambil melampiaskan kekesalannya pada sofa yang di dudukinya.

***

Beberapa hari ini Hyo-Jin merasa Il Woo menghindarinya. Il Woo hanya ada di rumah saat jam makan malam hingga Hyo-Jin tertidur. Bahkan ketika Hyo-Jin tertidur sepertinya Il Woo bangun dan mengungsi ke tempat lain hingga pagi menjelang. Karena setiap Hyo-Jin terbangun di tengah malam atau ketika membuka mata di pagi hari, Il Woo sudah tidak ada disisinya. Pria itu menghindarinya? Apakah karena dia yang telah menyebabkan kehancuran bagi keluarganya? Jika memang benar seperti itu, untuk apa Hyo-Jin berada disini? Untuk apa dia menjadi isteri seorang Jung Il Woo. Mungkin benar apa yang dulu dikatakan oleh paman Jung, seakan-akan perkataanya adalah sebuah kutukan. Bahkan saat orang yang mengucapkannya telah pergi untuk selama-lamanya sekalipun, ancamannya seakan-akan masih bergaung di sekelilingnya.

Jika Il Woo tidak bisa mengambil keputusan, maka Hyo-Jin lah yang mengambil keputusan.

***

Seperti biasa malam itu mereka makan bersama dengan sangat sunyi. Tanpa obrolan ataupun tatapan penuh cinta.

“Sayang, mungkin aku akan tidur malam. Kau tidurlah dulu”

“Apa pekerjaanmu belum selesai, oppa?” tanya Hyo-Jin dengan muka yang menunduk, menyembunyikan raut wajah sedihnya dari Il Woo. Dan yang bisa dilakukan Il Woo adalah melihatnya dengan mata yang penuh penyesalan, penuh dengan maaf karena telah menyakiti Hyo-Jin.

“Maaf..”

Setelah mendengar kata-kata Il Woo yang terdengar lemah di telinganya, seketika Hyo-Jin mengangkat kepalanya dengan penuh senyuman. Seakan-akan dia menyembunyikan kesedihannya.

“Tidak apa-apa oppa, aku mengerti” Jawab Hyo-Jin dengan senyuman yang masih terukir di wajahnya. Hyo-Jin memandangi Il Woo beberapa saat, menunggu respon yang akan ditunjukkan Il Woo kepadanya. Namun sepertinya Il Woo tidak berniat merespon Hyo-Jin, dia terlalu hanyut dalam pikirannya sendiri. Hingga tidak menyadari bahwa Hyo-Jin telah duduk di pangkuannya. Memeluk lehernya dengan erat, sesekali mencium lehernya dan menghirup aroma tubuh Il Woo yang menguar dari leher tersebut.

“Oppa, jangan terlalu dipikirkan. Jika oppa menginginkan aku pergi, maka aku akan pergi. Jika oppa menginginkan aku tinggal, maka aku akan disini. Selamanya dihatimu dan selamanya cintaku walau sulit tapi aku akan tetap bertahan..”

Reflek Il Woo merangkulkan kedua tangannya di sekeliling tubuh Hyo-Jin. Setelah kata-kata Hyo-Jin yang menyuruhnya memilih. Suatu pilihan yang selama ini dipikirkannya, memilih menjauhi Hyo-Jin atau membuatnya bertahan disisinya.

“Hyo-Jin aku mencintaimu dan harus kau tahu sejauh apapun aku melangkah kau akan selalu dihatiku. Semua apapun yang terjadi aku persembahkan hanya untukmu. Maaf Hyo-Jin aku bukanlah yang terbaik untukmu”

Inilah akhirnya. Semuanya telah berakhir, Hyo-Jin memeluk Il Woo dengan erat dan Il Woo seakan-akan tidak ingin Hyo-Jin pergi, memeluk Hyo-Jin lebih erat. Merapatkan tubuh mungil itu menempel ditubuhnya. Mungkin inilah yang terbaik untuk mereka berdua. Pilihan dan jalan ini yang saat ini memungkinkan untuk mereka berdua. Berjalan di jalan masing-masing, tidak seperti ini berjalan dalam satu koridor namun terasa menyakitkan bagi mereka berdua.

“Oppa, bolehkah aku memohon satu permintaan terakhir?”

“Apa?”

“Bercintalah denganku oppa, bercintalah denganku dengan cinta. Hanya untuk pertama dan terakhir kalinya” ucap Hyo-Jin dengan airmata yang entah darimana meluncur di sudut matanya. Hancur sudah pertahanan Hyo-Jin, sekuat tenaga di menahan rasa sakit itu dan sekarang… benteng itu telah hancur lebur.

“Aku mohon oppa, bercintalah denganku. Biarkan aku menyimpan kenangan terindah tentangmu malam ini”

“Hyo-Jin.. aku..”

“Aku mohon oppa..” ucap Hyo-Jin yang kali ini dengan tangisan yang tersedu-sedu. Hyo-Jin tidak pernah meminta apapun dari Il Woo selama menyandang status isteri Jung Il Woo. Hanya ini yang dia minta. Hyo-Jin ingin Il Woo tahu betapa dia sangat mencintai Il Woo, selamanya. Dan seakan tidak tahan melihat bulir airmata yang membasahi pipinya, Il Woo mencium bibir itu dengan khidmat. Menikmati setiap kecupan di setiap detiknya. Berharap waktu akan berhenti untuk mereka.

Il Woo benci harus berpisah dari Hyo-Jin. Selama ini dia berjuang penuh untuk mendapatkan Hyo-Jin, lalu setelah mendapatkannya dengan mudahnya Il Woo akan melepaskan Hyo-Jin. Apalagi setelah dirinya tahu bahwa Hyo-Jin mencintainya. Tidak mungkin Hyo-Jin menawarkan sebuah perjanjian seperti itu jikalau Hyo-Jin tidak mencintainya.

Percintaan mereka begitu cepat dan intens. Seakan-akan mereka tidak memiliki waktu lagi. Seakan-akan dunia akan kiamat esok hari. Dan setelah semuanya selesai, Il Woo tidak benar-benar tidur dia masih melihat wajah pulas Hyo-Jin. Melihat dan merekamnya di memorinya yang terdalam. Esok hari dia yakin, ketika Il Woo membuka matanya di pagi hari Hyo-Jin sudah pergi dari hadapanya, pergi dari sisinya. Dan kali ini Hyo-Jin pergi atas keputusan mereka berdua. Perpisahan ini pilihan mereka berdua. Baik Hyo-Jin maupun Il Woo harus menghormatinya, tidak ada yang egois. Tidak ada.. dengan pikiran seperti itu Il Woo jatuh tertidur ke alam mimpinya.

***

“Appa, kau tahu beberapa pagi ini aku senang sekali. Ketika aku bangun dan bersiap untuk berangkat sekolah appa dan eomma duduk di meja makan. Appa akan mengantarkan aku sekolah, dan eomma membuatkanku bekal makanan yang enak.. malam harinya appa akan membacakan dongeng untukku. Dan setiap akhir pekan kita pergi ke taman hiburan. Lalu ….”

Pagi ini Ryu-Jin megoceh dengan riang gembira, menyuarakan pikirannya yang sangat bahagia melihat Ryu-Jin sama seperti anak-anak lain. Memiliki keluarga, appa dan eomma. Jung Soo dan Eun-Kyo hanya tersenyum antusias mendengar cerita yang keluar dari mulut Ryu-Jin yang penuh akan roti isi tersebut. Berkali-kali Eun-Kyo menuliskan sesuatu di kertas yang berisi “Makanlah pelan-pelan sayang” namun Ryu-Jin sepertinya tidak mengindahkan perkataan yang tercetak rapi di atas kertas tersebut. Dengan bertambah semangat dia menceritakan kejadian-kejadian yang dialaminya di sekolah kemarin, bahkan cerita yang telah di ceritakannya pun kembali di ceritakan ulang.

Hubungan Jung Soo dan Eun-Kyo sudah membaik, walaupun tidak berjalan layaknya suami isteri pada umumnya. Sikap Eun-Kyo sudah berubah sepenuhnya, mencintai dirinya dan keluarga kecilnya. Laki-laki tangguh di dalam hidupnya, Eun-Kyo sangat mencintai mereka. Tidak bisa kehilangan salah satu dari mereka. Sikap Jung Soo terhadap Eun-Kyo juga baik, namun Eun-Kyo berpikir bahwa semua sikap yang ditunjukkan oleh Jung Soo kepadanya adalah rasa khawatirnya akan anak yang di kandungnya. Anak yang akan di asuh oleh Jung Soo ketika dia lahir kelak. Sungguh kejam namun inilah akibat yang akan diterimanya. Tapi memisahkan ibu dari anaknya? Benarkah Jung Soo akan membawa anak yang saat ini dikandungnya pergi, membuat Eun-Kyo tidak bisa melihat, menggendong bahkan menciumnya? Jika benar kenyataanya sungguh kejam hati seorang Park Jung Soo.

“Appa, Eomma, aku sudah selesai. Aku berangkat eoh”

“Aku juga sudah selesai” suara mereka menarik Eun-Kyo dari lamunanya. Kedua laki-lakinya menghunjaninya dengan ciuman kasih sayang di kedua pipinya. Begitulah kebiasaan yang di jalani Eun-Kyo ketika mereka akan pergi, mereka akan mencium kedua pipinya secara bersama-sama. Ryu-Jin kiri dan Jung Soo kanan.

“Jaga dirimu dan bayi kita baik-baik sayang”

Pesan Jung Soo kepada Eun-Kyo sambil sekilas membelai perut Eun-Kyo yang terlihat agak membuncit.

“Appa  cepat, nanti aku terlambat!!” teriak Ryu-Jin

Jung Soo terkikik geli mendengar Ryu-Jin yang terlihat tidak sabaran “Anakmu benar-benar” ucap Jung Soo sambil menyapukan kecupan ringan di bibir Eun-Kyo “Anakmu juga” balas Eun-Kyo sengit setelah terbebas dari bibir manis Jung Soo.

“Arrrgghhhh… APPA..EOMMA sakittt…!!!!”

Serentak mereka bergegas menuju sumber suara tersebut. Dan mata Eun-Kyo terbelalak lebar, oh tidak. Ryu-Jin terduduk menahan kesakitan, salah satu tangannya memegang telinganya yang mengeluarkan darah. Bukankah dokter itu mengatakan sudah tidak apa-apa? Darah itu sudah dibersihkan dan tidak akan mengganggu lagi? Walaupun Ryu-Jin masih belum bisa mendengar sepenuhnya tapi itu bukanlah suatu masalah yang pelik. Dengan perlahan-lahan Ryu-Jin akan bisa mendengar kembali. Lalu sekarang, apa yang sebenarnya terjadi?

***

Sudah sejam semenjak Ryu-Jin masuk keruang operasi, dan sudah satu jam lamanya Eun-Kyo gelisah menunggu dengan ketidak pastian. Bagaimana keadaan Ryu-Jin di dalam? Apakah dia akan selamat? Bagaimana kalau Ryu-Jin tidak kembali lagi ke dalam pelukan Eun-Kyo dan Jung Soo? Eun-Kyo begitu gelisah memikirkan berbagai kemungkinan yang sedari tadi berkecamuk di kepala cantiknya. Jung Soo terlihat melangkah bolak-balik tak tentu arah, Eun-Kyo yakin Jung Soo dalam keadaan yang sama sepertinya.

Derap langkah yang terburu-buru mendekati mereka, Eun-Kyo menolehkan kepalanya. Keadaan seperti ini membuatnya siaga setiap saat, dia takut jika itu suster yang akan masuk ke ruang operasi. Tapi syukurlah, ternyata itu Hyo-Jin. Dia terlihat begitu cemas, Hyo-Jin tadi menghubunginya di saat yang tidak tepat. Padahal Eun-Kyo ingin sekali menghujani Hyo-Jin dengan seribu satu macam pertanyaan tentang dimana dia selama ini? Apakah dia baik-baik saja? Bagaimana dengan Il Woo? Apakah dia memperlakukan Hyo-Jin dengan sangat baik? Mengapa Hyo-Jin tidak menghubunginya? Kemana saja Hyo-Jin waktu menghubunginya? Tapi yang ada adalah Hyo-Jin memeluknya, menyediakan bahunya untuk Eun-Kyo. Mereka selama ini selalu bersama, jika ada masalah mereka akan memberi semangat dan membantu. Mereka di besarkan untuk menjadi tegar bersama-sama, saling melindungi. Hyo-Jin maupun Eun-Kyo tidak akan bisa jika kehilangan satu dari mereka. Dan Ryu-Jin merupakan suatu anugerah, anak kecil yang hadir diantara berbagai masalah yang ada. Dia layaknya sebuah oase di padang rumput, sungguh tidak terkira jika mereka kehilangan Ryu-Jin. Bukan saja Eun-Kyo dan Jung Soo yang jelas-jelas merupakan orang tua kandung Ryu-Jin, namun Hyo-Jin juga merasakan kesedihan yang sama bila Ryu-Jin tidak bisa kembali di tengah-tengah  mereka.

lampu ruang operasi sudah berganti, dan pintu itu terbuka menampakkan seorang dokter yang terlihat begitu lelah, Eun-Kyo hanya bisa duduk diam di kursi tunggu, dia tidak berani mendekat dan mendengarkan hasil dari operasi tersebut. Biarlah Jung Soo yang mendengarnya, dia akan mendengarnya dari Jung Soo. Di sampingnya Hyo-Jin menggenggam tanganya dengan erat, menyalurkan energi untuk menompangnya dengan kuat. “ Eonnie, aku mohon jika itu merupakan kabar buruk, kau tetap menjadi wanita yang tegar. Aku masih disini dan ingat pada kandunganmu”

Eun-Kyo menolehkan pandangannya ke arah Hyo-Jin tepat setelah dia selesai dengan ucapannya. Seakan-akan Hyo-Jin tidak percaya bahwa Ryu-Jin akan kembali lagi. Eun-Kyo yakin Ryu-Jin selamat, yakin dengan Ryu-Jin yang kuat. Dia tidak akan meninggalkan Eun-Kyo begitu saja. Jika Ryu-Jin kembali ke dalam dekapannya, Eun-Kyo berjanji akan mengabulkan seluruh permintaan Ryu-Jin, termasuk kembali lagi kepada Jung Soo. Eun-Kyo akan mengeluarkan seluruh upayanya untuk menarik kata perceraian dari Jung Soo. Semua itu demi Ryu-Jin nya, malaikatnya.

“Sayang…” Suara Jung Soo yang begitu dekat seketika mengalihkannya dari tatapan Hyo-Jin yang terlalu menakutkan, seakan-akan dia sudah siap jika hasil operasi ini gagal dan Ryu-Jin meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Dan Jung Soo entah bagaimana, raut wajah itu. Oh tidak..

“Bagaimana dengan Ryu-Jin oppa?” tanya Eun-Kyo. Dia tidak bisa tenang lagi, hatinya bergemuruh membayangkan kemungkinan terburuk itu. Jung Soo menundukkan tubuhnya hingga dia bisa melihat wajah Eun-Kyo yang begitu pucat. Dia tidak ingin memberitahukan keadaan Ryu-Jin yang sebenarnya, apalagi mengingat kandungan Eun-Kyo yang masih begitu rawan. Dia tidak ingin kehilangan bayi itu.

Jung Soo mengulurkan tanganya, menyapukannya pada wajah Eun-Kyo yang begitu pucat. Berusaha tersenyum, walau Jung Soo yakin Eun-Kyo dapat membacanya dari raut wajahnya.

“Oppa , mengapa diam? Bagaimana dengan Ryu-Jin? Dia selamat kan?” tanya Eun-Kyo dengan lirih. Hyo-Jin sudah tidak bisa membendung airmatanya lagi. Dia terisak namun masih tetap memegang sebelah tangan Eun-Kyo. Jung Soo menggenggam kedua tangan Eun-Kyo, menyalurkan kekuatan kepada Eun-Kyo. Mengecup kedua tangan itu dengan khidmat. Tangan yang dikaguminya.

“Aku mohon, kau harus kuat dan tegar menerima ….”

“TIDAK.. TIDAK.. “ Eun-Kyo bangkit dari duduknya berusaha berlari ke ruang operasi dimana Ryu-Jin masih berada di dalam. Namun dengan cepatnya Jung Soo menghalagi jalan Eun-Kyo untuk masuk. Air mata yang sedari tadi di tahan oleh Eun-Kyo akhirnya keluar juga. Usaha Eun-Kyo untuk masuk dan melihat sendiri keadaan Ryu-Jin tidak berjalan dengan baik. Jung Soo mencengkeram kedua lengannya begitu kuat. Memeluknya..

“Aku mohon Kyo~ya tenanglah”

“Sayang, jangan tinggalkan Eomma. Eomma disini Ryu-Jin, Eomma mohon bangunlah.” Isak Eun-Kyo. Tiba-tiba rasa sakit itu datang, rasa sakit yang berasal dari perut bawahnya. Eun-Kyo mencengkeram perut bawahnya.

“Oh, tidak Eonnie!!” Jerit Hyo-Jin. Eun-Kyo melihat darah yang keluar dari kewanitaanya. Tidak..tidak.. batin Eun-Kyo. Rasa sakit itu kembali menghantamnya, kali ini tidak main-main Eun-Kyo harus menompangkan seluruh tubuhnya kepada Jung Soo. Eun-Kyo menggigit bibir bawahnya menahan nyeri yang amat sangat. Dan sekali lagi rasa sakit itu menghantam dirinya,  dan kali ini mengambil kesadarannya.

***

3 Tahun Kemudian…

Musim panas baru saja tiba, rumah itu terlihat begitu sibuk. Rumah yang asri yang berada di pinggir pantai, rumah yang besar yang dikelilingi bunga-bunga yang cantik. Rumah itu masih sama seperti sebelum pemiliknya pergi, hanya catnya yang selalu diperbaharui. Rumah itu menyimpan sejuta kenangan, mungkin jika bukan karena pemiliknya yang begitu baik kepada mereka, mereka tidak akan seperti sekarang. Menjadi sebuah kelurga yang besar.

Hari ini rumah itu ramai, karena kedua puteri angkat pemilik rumah tersebut akan pesta barbeque. Sudah lama mereka merencanakan pesta ini. Dan baru kali ini mereka bisa meluangkan waktunya untuk berkumpul bersama.

“Hai Sayang, kau cantik sekali hari ini” ucap Jung Soo dengan nada menggoda. Eun-Kyo dan Jung Soo tidak pernah bercerai. Sangat bodoh untuk Eun-Kyo yang mempercayai begitu saja kalimat Jung Soo waktu itu. Dia masih ingat bagaimana tanpa sengaja Eun-Kyo menemukan surat perceraian yang dikirimkannya dulu setelah kelahirannya yang kedua. Eun-Kyo sangat panik seminggu setelah kelahirannya, berpikir bagaimana jika Jung Soo benar-benar membawa anaknya pergi. Saat itu Eun-Kyo berusaha menjadi isteri yang baik, bukan setelah melahirkan saja Eun-Kyo bersikap layaknya isteri yang baik. Hanya saja setelah melahirkan dia terlihat menjadi lebih lebih memerankan isteri yang baik. Setiap pagi dia akan bangun pagi yang di luar kebiasaanya untuk membuatkan kopi untuk Jung Soo, kemudian membangunkan suami tercintanya itu dengan sangat romantis. Bahkan setiap pagi Jung Soo mendapatkan jatah “sarapan” yang sebenarnya membuat Eun-Kyo jengkel. Jung Soo sangat manja ketika anak kedua mereka lahir. Bahkan bertambah manja, dia akan merajuk kepada Eun-Kyo bila perhatiannya tercurahkan seharian kepada anak mereka. Membuat Eun-Kyo jengkel. Seakan rasa kekesalannya terkumpul pada saat menemukan surat itu Eun-Kyo meledak. Dia marah, karena dengan bodohnya masuk dalam permainan konyol Jung Soo. Seharusnya dia sadar jika mereka sudah bercerai, mereka tidak boleh bersetubuh. Dan dengan konyolnya Jung Soo hanya menjawab bahwa dia tidak bisa berakting lagi jika menginginkan sesuatu untuk kemudian pergi begitu saja.

“Appa.. Eomma.. Yong Jin nakal!!” Eun-Kyo tersadarkan dari lamunannya. Jung Soo dan Eun-Kyo segera berlari ke kamar mereka, disana ada Ryu-Jin yang sedang asyik bermain dengan mainan terbarunya dan Yong Jin putra kedua mereka yang sedang asyik memainkan bedak eommanya. Mencampurkan minyak kayu putih, bedak dan parfum menjadi satu. Membuat meja rias yang begitu bersih terlihat berantakan dan tentu saja kotor.

“Aigoo.. kau bermain apa sayang” tanya Eun-Kyo sembari mengangkat Yong Jin dari laboratorium dadakannya tersebut.

“Aku pikir dia akan jadi ilmuwan hebat” ucap Jung Soo sembari melenggang ke arah Ryu-Jin yang sedang asyik memaikan game terbarunya.

“Hei kenapa masih bermain. Sepertinya kemarin appa mendengar ada yang menginginkan pesta?” goda Jung Soo

“Arasseo.. Arraseo.. aku akan turun dan memulai membakar daging. Dan hanya aku yang memakannya. Tidak Eomma, appa, Hyo-Jin noona, Yong Jin ataupun si kembar”

“Yong Jin kau dengar, Hyung mu pelit sekali” goda Eun-Kyo sembari mengganti baju Yong Jin yang kotor dengan yang bersih.

“Ne…!!” seru Yong Jin. Anak usia 3 tahun yang baru belajar berbicara itu terlihat sangat lucu apalagi dengan tubuhnya yang gempal, dan yang paling menggemaskan adalah saart melihatnya berlari. Pipi bakpau itu akan bergoncang seirama hentakan kaki mungilnya.

“Aku tidak pelit. Ayo appa kita mulai pestanya” ucap Ryu-Jin dengan semangat sambil menarik-narik salah satu tangan Jung Soo.

“Hyo-Jin noona dan si kembar sedang membeli sesuatu. Tunggu mereka sayang” ujar Eun-Kyo

“Kalau begitu kita siapkan yang perlu disiapkan appa, ayo appa” rengek Ryu-Jin tidak mau kalah. Ryu-Jin berlari ke arah taman belakang dimana pesta itu akan dilaksanakan. Meninggalkan Jung Soo di belakang.

“Anakmu memang benar-benar keras kepala Kyo~ya”  ujar Jung Soo

“Dia anakmu juga oppa” sahut Eun-Kyo

“Ah, benar” dengan cepat Jung Soo mencium pipi Eun-Kyo dan membisikkan kata-kata yang membuat wajah Eun-Kyo berubah memerah semerah tomat.

Terima kasih karena kau masih berada disisiku, terima kasih karena kau mau melahirkan anak-anakku dan terima kasih kau kembali mempercayaiku sekaligus mencintaiku

***

Dua orang anak laki-laki kembar identik, mengendap-endap turun dari kereta bayi yang ditinggalkan saja oleh sang ibu. Sang ibu sedang asyik memilah bahan-bahan makanan untuk keperluan pesta barbeque hingga tidak menyadari bahwa sang buah hati telah lenyap dari pengawasannya.

Ketika keduanya berjalan perlahan-lahan sesekali menoleh kanan kiri untuk menemukan stand ice cream dan coklat yang mereka lihat saat masuk di pusat perbelanjaan tersebut. Selagi asyik menoleh mereka tidak sadar bahwa ada seseorang yang berjalan teramat cepat sehingga tanpa sengaja  menyenggol salah satu dari mereka berdua, hingga jatuh. Karena terkejut akhirnya dia menangis, si kembar yang lain karena melihat si kembar terjatuh dan menangis akhirnya menangis pula. Sesekali melihat kanan kiri untuk menemukan eommanya yang lenyap dari pandangannya.

tiba-tiba seorang laki-laki entah datang darimana menghampiri mereka, menolong si kembar yang terjatuh. “Hei jagoan, sudah jangan menangis kalian tidak apa-apa”  ucap laki-laki tersebut dengan senyum yang secerah matahari.

Namun usahanya membujuk si kembar diam tidak membuahkan hasil, mereka malah memeluknya erat seperti seorang anak yang takut kehilangan ayahnya.

“Sudah jangan menangis, bagaimana kalau kita membeli ice cream kemudian mencari eommamu?”

Mendengar kata-kata ice cream, mereka langsung terdiam. Laki-laki tersebut terdiam kemudian beranjak berdiri dan mengaitkan kedua tangannya untuk menggandeng si kembar menuju stand ice cream.

“Siapa nama kalian?” tanya laki-laki tersebut

“Ken..”

“Kaz..” jawab mereka silih berganti. Laki-laki tersebut tersenyum melihat kelucuan dari anak kembar tersebut yang mengaku bernama Ken dan Kaz. Mereka terlalu sibuk makan ice cream, dan laki-laki tersebut sibuk memperhatikan mereka berdua.

“Lalu siapa nama eomma kalian?” tanya laki-laki tersebut lagi

“Hyo-Jin, Jung Hyo-Jin” jawab Kaz singkat bahkan tanpa melihat raut wajah laki-laki tersebut yang  berubah menjadi terkejut. Iya laki-laki itu cukup terkejut mendengar penuturan dari salah satu si kembar. Jika Jung Hyo-Jin yang itu adalah eomma mereka berarti anak ini adalah..

“Pengumuman.. di beritahukan kepada seluruh pengujung yang menemukan dua orang anak kembar laki-laki yang berciri…..”

“Ayo, eomma kalian sudah mencari kalian”

Mereka mematuhi ucapan laki-laki tersebut, laki-laki tersebut menurunkan mereka dari kursi tempat mereka duduk untuk kemudian menggandeng kembali menuju pusat informasi. Perasaan laki-laki itu bercampur aduk, seperti apakah Hyo-Jin sekarang? Benarkah Hyo-Jin nya adalah eomma mereka? Apakah anak-anak ini adalah anaknya atau bukan? Semua pertanyaan berkecamuk dalam pikiran laki-laki tersebut hingga pandangannya jatuh pada sosok wanita yang begitu panik. Wanita yang dikenalinya selama ini, wanita yang dicintainya.

“EOMMA..!!!” teriak si kembar sambil berlari ke arah wanita tersebut, melepaskan begitu saja tautan tangan laki-laki tersebut. Laki-laki itu karena terkejutnya melihat wanita itu dihadapannya apalagi dengan kemungkinan kedua anak kembar itu adalah anaknya membuat di semakin terkejut.

Wanita itu memeluk mereka dengan begitu erat, menanyakan sesuatu dan tiba-tiba melihat arah yang ditunjuk sang anak kepada laki-laki yang masih berdiri disana. Wanita itu tidak kalah terkejutnya, laki-laki itu ayah dari buah hatinya berdiri tegap disana. Masih seperti yang dulu,tampan.

***

“Apakah mereka putraku?” tanya Il Woo setelah mereka berada di mobil dengan bagasi yang begitu penuh dengan belanjaan Hyo-Jin. Si kembar asyik bermain dengan robot yang baru di belikan Il Woo.

“Tidak perlu aku menjawabnya, kau sudah tahu jawabannya” jawab Hyo-Jin dengan wajah menunduk dan tangan yang di sedekapkan di dada. Dia sangat malu sekali, Hyo-Jin terlalu bahagia bertemu dengan Il Woo. Dia masih mencintainya terlebih kedua putra kembarnya mempunyai wajah yang bergitu mirip dengan Il Woo ketika masih kanak-kanak. Membuat Hyo-Jin melihat Il Woo kecil ketika menatap mereka bergantian.

“Hei, bagaimana kalau kita mengulangnya dari awal” ucap Il Woo memecah keheningan dan kecanggungan di antara mereka.

“Apa maksudmu?”

Tiba-tiba Il Woo menepikan mobilnya, menengok ke belakang dan tersenyum melihat kedua putranya telah tertidur karena lelah bermain. Mereka tertidur dengan memeluk robot barunya. Sangat lucu.

“Kau tahu maksudku Hyo-Jin, demi mereka” jawab Il Woo masih betah memandangi putra kembarnya tersebut. Kemudian mengalihkan kepada wajah yang tiga tahun ini telah dirindukannya “Aku ingin mereka tumbuh dalam sebuah keluarga yang sesungguhnya, ayah ibu dan anak. Aku tidak ingin yang terjadi dengan masa kecil kita terjadi juga dengan masa kecil mereka. Aku tidak mau itu terjadi. Cukup kita saja yang merasakannya, tidak mereka” jelas Il Woo panjang lebar

Hyo-Jin terpana mendengar penjelasan Il Woo. Setitik air mata jatuh dari sudutnya. Dia sudah tidak bisa berkata apa – apa lagi. Hyo-Jin tahu selama ini mereka hanya berpisah bukan untuk bercerai, terbukti di antara mereka hingga saat ini tidak ada yang mengirimkan surat perceraian. Il Woo mengulurkan sebelah tangannya, menghapus airmata itu dari wajah cantik Hyo-Jin, isterinya.

“Bagaimana?” tanya Il Woo sekali lagi, dia siap jika jawabannya tidak. Mungkin Hyo-Jin lebih nyaman dengan keadaannya saat ini. Di luar dugaan Hyo-Jin melemparkan dirinya, memeluk tubuh Il Woo yang sudah terlalu lama dirindukannya tersebut, menumpahkan seluruh rasa rindunya dan penantiannya. Doanya terkabul, tuhan tidak  menutup matanya. Dan Hyo-Jin bersyukur atas nikmat yang diberikan tuhan kali ini.

“Aku mencintaimu oppa” ucap Hyo-Jin dengan mantap membuat Il Woo semakin mengeratkan pelukannya di sekeliling tubuh Hyo-Jin, sesekali mengecup ubun-ubun Hyo-Jin. Menghirup kembali aroma shampoo yang sempat menghilang dan dirindukannya.

“Appa..”

Mereka melepaskan pelukan mereka, ketika mendengar suara itu. Suara yang membuat perasaaan Il Woo menjadi hangat dan bahagia. Suara yang berasal dari salah satu putranya yang masih tertidur dengan lelap.

“Appa disini sayang” ucap Il Woo sembari memajukan tubuhnya, mengecup kening kedua buah hatinya.

Ponsel Hyo-Jin berdering dengan kencang menandakan ada panggilan yang masuk hingga membuat si kembar terbangun.

“Ne.. ne eonnie.. aku akan segera tiba. Semuanya sudah aku beli, tidak tidak semuanya ada. Baik annyeong.”

“Oppa, cepat kita harus pulang. Eonnie sudah menunggu kita”

“Baik, anak-anak pegangan yang kuat iya”

“Ne..”

“Yak oppa, kau gila. Aku tidak ingin berakhir di rumah sakit..!!” teriak Hyo-Jin dengan raut muka panik.

***

Pesta itu terlihat sangat sederhana namun keakraban yang tercipta di antara mereka sangatlah terlihat. Si kembar dan Yong Jin berlari kesana kemari yang di kejar oleh Ryu-Jin. Sesekali tawa renyah keluar dari bibir kecil mereka, apalagi ketika Ryu-Jin berhasil menangkap salah satu diantara mereka. Teriakan teriakan khas anak-anak yang bermain menambah suasana keramaian di antara mereka. Para orang dewasa tengah asyik mengobrol layaknya keluarga besar.

HUAAA.. salah satu dari si kembar menangis. Reflek Il Woo menghampiri mereka.

“Ada apa?” tanya Il Woo bijaksana

“Ken mendorongku”  adu Kaz kepada ayahnya

“Aku tidak mendorongmu Kaz, Kau jatuh sendiri” bela Ken.

“Mereka terlihat seperti ayah dan anak” celetuk Eun-Kyo. Hyo-Jin yang sedari tadi mengamati interaksi antara Il Woo dan kedua putranya lamgsung menoleh ke sumber suara tersebut.

“Apa eonnie lupa, Il Woo oppa kan ayahnya” sindir Hyo-Jin akan kebodohan Eun-Kyo yang sudah sangat akut, bagaimana eonnienya lupa jika Il Woo adalah ayah dari kedua putra kembarnya itu.

“Yak, kau..!!” teriak Eun-Kyo

“Eomma aku ingin punya adik kembar seperti Kaz dan Ken. Tapi aku ingin perempuan bukan laki-laki” pinta Ryu-Jin tiba-tiba dengan Yong Jin masih mengikutinya di  belakang dengan menarik-narik ujung baju Ryu-Jin dan mengatakan “Hyung, ayo kejar aku”

“Mwo..??” jawab Eun-Kyo kaget

“Hei bagaimana kalo kita foto. Seperti foto keluarga” usul Jung Soo yang asyik menyuapkan makanan ke dalam mulut Yong Jin dan Ryu-Jin. Alhasil kedua buah hati mereka tertarik akan ide appanya tersebut.

“Foto? Aku di depan” jawab Ryu-Jin

“Ani, aku” jawab Yong Jin

Si kembar yang berada di gendongan Il Woo dan Hyo-Jin tidak mau turun. Mereka sedang merajuk kepada orang tuanya. Mereka baru memalingkan wajahnya ketika kamera dinyalakan dan stand by. Berbeda dengan Ryu-Jin dan Yong Jin yang sangat antusias.

Foto itu merupakan foto yang menampakkan kebahagiaan. Ryu-Jin yang bahagia karena memiliki keluarga dan adik barunya. Eun-Kyo yang dihujani begitu banyak cinta dari suami dan anak-anaknya serta Hyo-Jin adik angkatnya. Keluarga Jung Soo sangat bahagia ketika melihat putranya menemukan Eun-Kyo. Meminta maaf tentang masa lalu yang disambut Eun-Kyo dengan permintaan maaf karena tidak tahu terima kasih. Melupakan masa lalu dan menatap masa depan.

Hyo-Jin yang senang karena bisa menempatkan masa lalunya yang kelam sebagai sebuah takdir, takdir dimana dia bisa bertemu dengan Nyonya Hwang dan Eun-Kyo. Dimana dia di hujani oleh cinta dari seorang ibu angkat yang sama persis dengan ibu kandungnya yang telah tiada. Untuk kemudian bertemu dengan cinta sejatinya, cinta yang tumbuh bersama sejak kecil dan akan menua bersama-sama.

Mereka berdua akan berjalan beriringan hingga tua sebagai keluarga. Mereka berdua akan bertukar informasi tentang mendidik anak. Mereka berdua yang awalnya menderita bersama-sama dan bahagia bersama-sama. Tidak ada egois antar sesama pasangan. Tidak ada kekeras kepalaan, kalaupun ada mereka anggap sebagai alur hidup berumah tangga.  Mereka adalah isteri yang akan menjaga kehormatan suaminya, mereka adalah ibu yang akan mendidik putranya hingga kelak dewasa dan yang terpenting mereka adalah keluarga dan selamanya akan tetap menjadi keluarga..

END

Note : Annyeong.. maaf lama banget iya. Sampai pada nanyain juga di twitter dan facebook. Terima kasih yang udah kasih ide gimana akhirnya, walaupun tersendat-sendat akhirnya selesai juga. Terima kasih buat vika eonnie yang udah mau posting ff aku. Maaf eonnie aku mengecewakanmu kali ini. Sekali lagi maaf dan terima kasih ^^

Vikos Say : Kyaaaaaaaaaaaaaa akhirnya aku dapat kiriman juga setelah sekian lama menunggu dengan rasa penasaran dan tingkat kekesalan yang tinggi. Berakhir bahagia, aku tau pasti begitu, tapi mempermainkan emosi banget ye? Dan emang ye dasar Eun Kyo tu begitu banget ampe kaga tau gitu hamil gitu, kaga ngarti gitu padahal udah punya anak gede. Endingnya lucu dan menggemaskan, ada si kembar? Whoaaaaa pasti sangat menyenangkan… hihihihihihihi. Banyak yang ingin aku komen tapi menguap begitu saja ketika berhadapan ma leppi.  Novie… terima kasih sudah bikinin ini buat aku. Terima kasiiiiiihhh banget. Aku aku aku aku terharu kesal emosi juga berbunga-bunga lengkap jadi satu. Serng-sering bikinin aku ikhlas ko Nov… hehe. Kalo kamu kaga sibuk gituh…

Eum… aku yakin pasti banyak nanya ini kapan Eon? Ono kapan Eon? Jawabannya adalah sabar, kita sama-sama bersabar ye? Aku juga bersabar ditengah prahara yang menimpa dan menggoyang pantatku inih. Haha, ngaco. Maaf yah, aku mungkin tidak bisa menyelesaikan 2 FF bikinan aku dalam waktu dekat *read : Amourette dan LTD* tapi insya Allah akan aku selesaikan. Aku lagi males banget nyentuh leppi entah kenapa, mungkin karena jaringan yang kurang bersahabat juga kali yah. Tapi terima kasih sudah menunggu. Terima kasih udah suka, do’akan saja males aku berangsur pulih. Oke, Gomapta Saranghanda Readerdeul… BRB (Bukan Reader Biasa)-ku.

47 responses »

  1. Akk, setelah lama nunggu akhirnya nongol lagi ceritanya.

    Happy ending.

    Ish, aku kirain Il woo sama hyojin beneran pisah. Sukur ketemu lagi dan punya baby kembar lagi. Manisnya.

    Pengen banget cium si pipi bakpao. Ish, dia punya emak kok oon aku gitu ampe ga nyadar lagi hamil yongjin yang unyu..
    Suka banget sama akal bulusnya jungsoo yang bilang udah tanda tangan surat cerai dan bakal mau ambil ryujin dan yongjin, lucu, kocaknya eunkyo yang berbaik-baik sama jungsoo. Kakakakakaka

    thank you novie for the great story. Onnie, makasih dah mau publis cerita ini. #kecupfikaonnie

  2. perasaan ku naik turun ,d ubek2.seprt permen nano*korbniklan
    eonnie kau DEABAkkkkkk alur crt and kata2nya aq sukaaaaa
    *hugandkiss*

  3. kya.a.a.a…….
    akhirnya publis….. pnsrn tingkat dewi.. huh…. seru, tp bkn deg-degan saat eun kyo pendarahan apa lagi saat ryujin sakit… huhuhu….

    wah keluarga yg bhgia…
    tp udah end…. buat ff yg baru y eon hihi… 😉
    pokoknya DAEBAK!!!!!

  4. Waaaa akhirnya publish jg ni lanjutannya..
    Seneng sm akhirnya yg happy ending, akhir mereka mengalahkan k egoisan mereka jg..
    Tp koq pas bc part balikannya teukyo kurang ada emosinya menurut tp, tp te2p sweet. Coz teukyo couple memang sweet ^^. Sempet kecewa jg pas partnya il woo ma hyo jin memutuskan pisah, tp ternyata mereka d pertemukan kembali lg..
    Tuk fika Keep Fighting Writing yo..

  5. Happy Ending jugaa,,,,setelah sekian lama menanti,,,,,, whoa,,,,gak keitung para readers yang nanya sama Onnie Vika, termasuk aku,,,, hehe…memang Onnie Vika sabarrr.>>>

    Onnie Novie,,,,ceritanya seru n happy ending…. whoaaa seneng bangettss,,, karena terlalu lama hruz bca dlu part seblumnya supaya feelnya dapet,,,hehe makasih

  6. Kyaaa kemarin pertama .. Sekarang yg k sepuluhhh apa sebelas yahh ?? Lupa *gg penting*
    author novi saya panggil eonni aja ya soalnya saya masih sekolahhh.. Baiklah novi eonni .. Ini ciyusss lho keren bgt … Kirain sad and ternyata happy end saya suka …menguras emosi sangatt. Ff ini beda bgt sama ff eunkyo yg lain.. Coz untuk pertama kali saya baca ff di blog ini eunkyonya di tindas dan mengemis ngemis ke jungsoo kan biasannya kebalik.. Tapi gpplah saya ttp sukaa… Romance nya kerasa banget kata katanya euhhh buat saya melelehhh .. Pokoknya daebak dehhhh …
    Ini saya kasik kecupan hangat buat novi eonni salam kenal ne… Han hyein imnida:D
    selalu berkarya!

  7. aku langsung comment di part akhir…
    dan…. untuk keseluruhan bner” DAEBAK!!

    tapi… ko’ kesannya ending aga kyk d.percepat? apa hanya perasaan saya aja???

    aish sudahlah… yg jelas FF ini sudah brhasil bkon saya jempalitan dan melupakan suami saya sesaat… GILAK!!! harus minta ampunan nih ama Yesung #eh??

  8. Ahh akhirnya keluar !!
    setelah menunggu hampir kurang lebih 1bulan. ffiuhh.. happy ending😀 tp aku mash bingung yg pas ryujin dirumah sakit, itu jungsoo akting apa beneran ? -_- tp biarlah tetap smangat nulis ya!! =D dan buat vikos eonni aku tetap setia menunggu kok :))

  9. akhirnya muncul updatean…tiap hri buka ini wp..eunkyo oh eunkyo tetep aja dy gtu…gak tau udah hamil 3 bulan..tp d part ryu-jin slsi operasi bwt tegang aja…
    suka endingnya..happy ending semuanya dan ada si kembar…
    thank authornya..

  10. akhir y di WP ini nonggol sebuah ff setelah bualak balik n ngak ada ff,,, padahal kabgen ma leeteuk oppa tp kgk ada ff y n tp sudah terobati sekarang….
    tp q semoet nangis pas ryu jin di rmh sakit tu q pikir ryu jin meninggal n eun kyo keguguran tau y pas baca lanjutan y.mereka selamat n bahagia n bikin pesta ditambah hyo jin yg punya anak kembar n balik.lg ke il woo…. berarti air mata sia2 nih oadahal.mereka bahagia….
    seneng mereka bahagia,,, n sempet sebel ma jungsoo yg disini tuh dia marah y ngerjain eun kyo ja gt n buat eun kyo ngak oernah menang dlm bertengkar or berdebat,,, walaupun eun kyo y pergi to nabti balik lg mohon2 n takhluk ma jungsoo….
    JungSoo daebak…. happy ending…

  11. Suka endingnya.Akhirnya happy ending juga.Huwaa Il Woo ama Hyo Jin so sweet,anaknya kembar dan Ryu-Jin ama Yong Jin juga lucu.Feel nya berasa di dukung penjabaran kalimatnya.Eun Kyo tetep aja kalah debat ama Jung Soo kkk

  12. Akhirnya berakhir dg manis.
    Sempet bikin kepala, ama jantungku cenut2, ngilu.

    Tapi sukses bikin aku terharu. . .
    Il woo noh kebayang dah kerennya,

    ini juga pengobat kangen ama si ahjussi,
    cepet pulang ye dari wamil,

  13. ini udahh q tunggu lamaaaa.
    & akhir’a… taraaaa..😉

    keren Onnie ^.^
    semoga ff yg laen update jg yahh.
    ikut senang dheh, bs happy ending. Slamat buat Teukyo. hha..
    fighting Onnie

  14. akhirnya selesai juga…
    ceritanya bkin org penasaran, kesel, terharus.. pokoknya campur aduk deh..
    serius ini keren bgt…
    dan aku suka banget akhirnya…
    walaupun di awal2 aku kesel sama teukyonya yg egois…
    akhirnya memuaskan bgt…

    ahh.. pokoknya 10 jempol deh buat FF ini… ‘-‘)b

    buat vika eonni… kapanpun eonni siap bkin ff aku akan selalu menunggu FF2 buatan eonni hehehe…😀

  15. kyaaa akhirnya sumpah kangen berat ama ini
    kirain mau sad ending ehh ternyta ga *amin*

    fufufufu gak kebayang klw teukkyo punya anak kembar perempuan hahahahahahah semeraut rumahnya nti

  16. ending… ending… ending… gak sia2 nunggu lama tpi lega. mreka harus bhagia memang, egois kdang memang perlu tpi jka berlebihan malah bkin nyerang balik blom lgi nyeseknya. one of the best ff from this blog, love it. tetep berkarya yah :))

  17. Akhirnyaa..happy ending..
    Tp qo jung soo blg gt smpi eun kyo pendarhan…emang jung soo blg apa ya…pdhl ryu jin msh hdp.
    Mimpikah?????

  18. Anyeong eonni author^^
    aku reader bru nih,tp ga bru2 jg sh.. Aku mantan siders.. Mianhae..
    Tp udah insyaf ko:Dsblum’y kenalin nama ku daeni eon,.
    aku suka bgd sama ff2 yg ada di sini. . Apa lg sama karakter’y suamiku#read: park jungsoo:)~kkk
    karakter’y bkn gmNa a a gtu u u u. .
    poko’y semua ff’y like like like. .i like this blog..
    Uh tbkn aku bnr nh d ff egoistic,trnyta pas end’y eunkyo hamil. .

  19. huwaa finally bisa coment dan mampir d blog ini lagi.
    nih FF nguras emosi bgt tpi untung dah happy ending🙂
    untuk eon fika maap y ak bru bisa coment skrg😦

  20. wah akhir’ya udah ending…
    Q dah bc smua ff EGOISTIC…
    Keren bgt
    Eh main nyrocos j nie * g tau malu nie reader*
    Perkenalkan reader baru nich…..
    Q suka suka bgt malah..
    Dah g bs ngomen p lg
    Abs keren bgt

  21. Yeaaaay akhirnya happy ending🙂
    Untung eunkyo mau merendahkan ego demi ryu jin ,
    Untung juga jungsoo oppa mau maafin kesalahan eunkyo

    Bener2 suka sama endingnya🙂

  22. Waaah…daebak daebak daebak =)

    eonnie..mian bru bsa kmen soal.ny aq gak bsa kmen ini aja bru cba ^_^

    #happy ending =)

  23. Aaaaahhh,,,,bikin emosiku teraduk2….
    Miapaaaaa,udah nangis dluan gara2 ngirain ryu jin meninggal n eun Kyo eonnie keguguran ><
    Epilog nya Ga ad? Msh pnsrn apa yg trjd d ruang operasi😀

  24. Happy ending..Happy ending..Happy ending..dan berakhir ryujin minta adek lagi yang kembar..
    Bener2 keluarga bahagia
    jungsoonim saranghaeyo(?)

  25. sempet shock kalau ryujin ga bisa ditolong,, pikiran udh macem2,, takudnya kyo marah lagi, dan mreka bertengkar lagi dan akhirnya cerai,, bad dreammm
    tapi syukurlah happy ending,, heheh
    hyojin punya anak kembar?? ilwoo oppa makmur deh,, jatuh tapi ketiban emas dianya,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s