OCCLUMENCIA (Part 3)

Standar

kjjj

AUTHOR : MISS ELBY

For a split moment, I wonder if I was next to you when you with him.

That’s how much I love you.

More than I love anything.

Although I want you (my love for you).

I hope this farewell is easier for you, hoping you will forget sooner than me.

Living comfortably and happily. I will end this for you.

( Tei-Poisonuos Tongue)

Mobil putih itu berhenti di depan sebuah bangunan universitas. Tidak seramai pada hari-hari biasanya. Tapi cukup ramai juga mengingat ini hari minggu, bukan hari-hari kuliah.

Jung Soo terpaku di balik kemudi. Entah apa yang membuatnya mendatangi tempat ini sepulang dari mengantar Ae Ra tadi. Dia hanya berputar-putar dan mobilnya mengarah ke tempat ini tanpa sadar. Bibir itu tersenyum tipis. Ia menghitung-hitung berapa lama dia sudah meninggalkan kampus ini. 6 tahun? Ya. Sudah lebih dari 6 tahun yang lalu dia dan Siwon lulus dari universitas dengan jurusan yang sama. Donghae dan Eun Kyo menyusul di tahun berikutnya.

Banyak sekali cerita yang bisa di ingat dari tempat ini. Ingatan Jung Soo menghitung kembali berapa banyak kenangan disini. Tersenyum lagi, ia mengingat Eun Kyo. Kenangan tentang Eun Kyo muncul bersamaan dengan kenangannya dengan Siwon. Tidak bisa di elakkan. Karena ia mulai ‘memandang’ Eun Kyo justru karena Siwon. Karena sahabatnya itu lebih dulu memandang Eun Kyo. Mata Jung Soo tertambat pada tangga lebar-lebar di bagian pintu masuk kampus. Kenangan membawanya pada saat dimana Eun Kyo mulai ‘terlihat’ oleh matanya.

“Ya. Tidak ikut rapat senat? Pantas saja sejak tadi aku tidak melihatmu diruang rapat. Sedang bermalas-malasan disini rupanya,” Jung Soo duduk di samping lelaki berkemeja coklat yang sedang mencoret-coret notes di tangannya.Lelaki itu, Siwon, tampak terburu-buru memasukkan notesnya kedalam tas.

“Aku bosan. Yang dibahas pasti masalah kemarin kan hyung?” sahut Siwon. Jung Soo mengangguk.

“Tapi lumayan juga bisa duduk-duduk di ruang senat dan melihat-lihat…”

“Melihat-lihat…atau melihat…” mata Siwon berkilat menggoda, “Kim Ae Ra, eoh? Hoobae itu?” sambung Siwon sambil menyikut rusuk Jung Soo. Mata Jung Soo memutar malas.

“Kau juga mengira begitu? Kupikir kau mengenalku dengan baik, Siwon~a. Ae Ra dan aku hanya teman. Tidak lebih,” ia bersungut-sungut. Jung Soo memutar lehernya, hingga wajahnya tertoleh pada Siwon, “Ya. Kau masih memperhatikan hoobae yang sering bersama Donghae itu? Siapa namanya? Park Eun Kyo?” tanyanya.

“M-mwoo? Yaish. Ani-aniyaa. Hanya orang bodoh yang tertarik padanya,”sahut Siwon cepat.Ia mengalihkan tatapannya dari pandangan menyelidik yang di lemparkan Jung Soo.

“Jinjjayo?” ledek Jung Soo. Siwon menggaruk-garuk belakang kepalanya dan terlihat gugup. Jung Soo justru terkikik melihat sahabat, sekaligus teman kecilnya ini, kelihatan kikuk. Para gadis di kampus yang menggilainya tentu akan tertarik melihat ekspresi Tuan Muda tampan yang ramah ini.

“Kau lihat wajahmu itu, Siwon~a? Menurutmu, kalau aku memotret wajahmu saat sedang gugup begitu, lalu kujual pada para yeoja-yeoja penggemar beratmu akan laku berapa? Apa cukup untuk membeli mobil baru untukku?” godanya. Siwon merutuk panjang pendek.

“Tutup mulutmu Park Jung Soo,” Siwon bergegas berdiri ketika pada saat bersamaan matanya menangkap sosok Donghae dan gadis yang mereka bicarakan berjalan beriringan memasuki kawasan kampus. Tawa Jung Soo makin lebar ketika melihat kedua orang itu yang melangkah mendekat.

“Mengaku sajalah Choi Siwon. Aku berjanji akan membantumu mendapatkannya,”

Siwon melengos, merunduk mengambil bukunya di tangga beton itu, “Hanya orang bodoh yang memacari Park Eun Kyo,” katanya pendek sebelum melangkah meninggalkan Jung Soo yang masih duduk di tangga lebar pelataran kampus itu. Beberapa langkah, Siwon berhenti.

“Tapi janjimu menarik juga. Kupegang janji itu Jung Soo hyung. Ingatkan? Hanya pengecut yang ingkar janji,” senyum Siwon sebelum berlari masuk ke dalam gedung.

“Cih,” Jung Soo mencemooh, “Aku tidak pernah ingkar janji,” ujarnya. Eh? Mata Jung Soo mendapati sehelai kertas tergeletak di dekat tempat Siwon duduk tadi. Ah, salah bukan sehelai, tapi tiga helai. Jung Soo meraih kertas itu. lagi-lagi ia salah, itu bukan kertas melainkan 3 lembar foto.

“Ini… Gadis itu? Park Eun Kyo?” gumamnya.

“Hyuuungggg…” terdengar seruan dari Donghae yang sudah melangkah mendekat. Tatapan Jung Soo terkunci. Bukan pada Donghae, tapi pada gadis yang sedang bersungut-sungut di sebelah Donghae. Untuk sesaat, waktu seakan berhenti. Semua gerak melambat. Dan segala sesuatu mengabur. Yang tertangkap jelas oleh mata Jung Soo hanya gadis itu. Park Eun Kyo.

Mata Jung Soo mengerjap beberapa kali. Janji lagi? ia baru menyadari bahwa sebelumnya ia juga pernah berjanji pada Siwon. Janji untuk memberikan Eun Kyo pada Siwon. Nyaris identik. Jung Soo mengacak rambutnya dengan geram.

“Kupikir waktu 6 tahun sudah membuatnya melupakan Eun Kyo…” gumam Jung Soo pelan pada dirinya sendiri. Siwon nyaris tanpa kabar selama 6 tahun di Inggris dan Jung Soo tidak sekalipun mendengar nama Eun Kyo lagi. Yang Jung Soo tau, Siwon menyukai seorang gadis yang akan di lamarnya di hadapan Jung Soo. Itu saja. Jung Soo tidak berpikir kalau gadis yang dimaksud Siwon itu masih Eun Kyo. Bukankah dia sendiri yang bilang kalau hanya orang bodoh yang memacari Eun Kyo. Aish, sial. Kali ini dia baru menangkap maksudnya. Hanya orang bodoh yang memacari Eun Kyo karena orang pintar seperti Siown akan langsung menikahinya. Begitu kan? Kenapa dia tidak bilang langsung saja, alih-alih mengucapkan kalimat bermakna ganda begitu.

Jung Soo menghitung-hitung sudah berapa tahun rentang waktunya saat pertama kali ia benar-benar ‘melihat’ Eun Kyo hingga saat dimana dia menetapkan kalau hanya melihat saja tidak cukup. Setahun lalu tepatnya ia memutuskan untuk memiliki objek pandangan paling menarik indra penglihatannya itu. waktu yang relative lama. Keputusan untuk memiliki yang diambilnya setalah yakin kalau Siwon tidak lagi menginginkan Eun Kyo. Jung Soo berani bersumpah kalau Siwon sama sekali tidak menyebut Eun Kyo dalam komunikasi mereka. Sahabatnya itu bahkan hanya bertanya tentang kabar Ae Ra. Ia tidak menyangka sama sekali kalau selama bertahun-tahun, masih saja Siwon menginginkan Eun Kyo. Kenapa dia tidak bilang? Dan salahnya juga, kenapa dia tidak bertanya sebelum memutuskan.

“Aishh,” lagi-lagi Jung Soo bergumam sembari mengacak rambutnya yang memang sudah berantakan.

Kalau begini, dia tidak bisa menyalahkan kalau Siwon bersikap egois meminta Eun Kyo darinya. Jung Soo menyalahkan dirinya sendiri yang seenaknya menarik kesimpulan. Ah, tapi rasa ingin memiliki Eun Kyo terlalu kuat. Melihat betapa dekatnya Eun Kyo dan Donghae membuatnya ingin mencukur habis rambut cassanova itu lalu membenamkan kepala Donghae kedalam tumpukan kotoran sapi.

Sebuah senyuman yang berbeda dari senyum getir yang belakangan sering di ukirnya diwajah tampak kembali terulas. Jung Soo mengingat warna-warni yang dia dapat dari Eun Kyo. Lengkap rasa yang di berikan wanitanya itu. Bahkan rasa sakit dan pedih terasa baik-baik saja selama ada Eun Kyo. Melepaskan Eun Kyo pasti merupakan hal yang paling berat yang harus di lakukannya. Cintanya pada Eun Kyo sudah sampai di taraf yang…ah, kata apa yang pantas untuk menggambarkan perasaannya? Cinta saja tidak pernah cukup. Kata cinta rasanya masih terlalu biasa saja.

“Bagaimana kalau aku bersikap sedikit egois? Kali ini saja,” desahnya pelan. Sebentar saja…

.

Eun Kyo melirik jam yang melingkari pergelangan tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul 7 malam, dan ia baru pulang dari bepergian seharian penuh bersama lelaki yang sedang sibuk berceloteh di sebelahnya. Eun Kyo gelisah, harusnya sekarang dia sudah menyiapkan makan malam untuk suaminya dirumah bukannya melenggang santai di dalam lift seperti ini. Ah, tapi sudahlah. Suaminya bahkan tidak mengabarinya sama sekali sejak kemarin. Lagipula hatinya masih terlanjur sakit melihat dua kejadian berturut-turut. Buat apa memikirkan orang yang sama sekali tidak memikirkan aku sama sekali? Dia membatin. Tapi sudut hatinya berkata lain. Ia masih memikirkan suaminya. Selalu, lebih tepatnya.

“Ya…kau melamun lagi Eun Kyo?! Aish, aku menemanimu kesana kemari seharian dan kau masih saja melamun. Sebenarnya ada masalah apa, eoh? Bertengkar dengan Jung Soo hyung? Eoh?” lelaki yang sejak tadi mengoceh kesana kemari ini mulai protes karena entah untuk keberapa kalinya Eun Kyo termenung dan mengabaikan celotehannya. Donghae tidak pernah suka diabaikan. Terlebih oleh seseorang yang terbiasa mendengar ocahan dan berbagi ocehan dengannya.

“Mianhae Donghae~ya. Aku sedang memikirkan ingin memasak apa untuk Jung Soo oppa,” sahutnya, Eun Kyo terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “tapi aku tidak tau dia pulang hari ini atau tidak. Dia tidak mengabariku,” lanjutnya sembari menggigit bibir pelan lalu tersenyum miris.

Donghae baru hendak membuka mulut untuk menyahuti saat getaran ponsel di saku celananya membuat ia urung bicara melainkan mengangkat ponselnya dengan malas.

“Yobeseyo! Wae?!” Donghae berujar sedikit keras dengan ponsel yang menempel ditelinga, “Ya! kenapa kau menelponku?! Minta tolong saja pada orang lain. Bukan urusanku!” sambungnya masih dengan nada gusar.

Eun Kyo mengerutkan keningnya heran karena Donghae yang mengamuk-ngamuk pada orang yang menelponnya. Tapi Eun Kyo memutuskan untuk tidak bertanya sekarang karena lift berdenting menyatakan kalau mereka sudah tiba di lantai yang di tuju. Eun Kyo setengah menarik lengan Donghae yang masih mengggerutu untuk keluar dari lift dan melangkah ke depan pintu apartementnya yang tidak jauh dari lift.

“Siapa?” tanya Eun Kyo tepat ketika mereka sudah mencapai pintu apartement. Donghae sudah memasukkan ponselnya ke dalam saku, masih dengan wajah bersungut-sungut.

“Gadis aneh,” sahut Donghae malas.

Eun Kyo tersenyum sambil menekan password apartementnya, “teman tidurmu yang kemarin mengangkat teleponku, eoh?” ledeknya. Donghae mendengus.

“Aniyo. Ini gadis aneh yang ceroboh dan suka sekali tersesat. Kau tau Eun Kyo? Dia sudah tinggal di Seoul sejak lahir tapi masih tidak hapal daerah Seoul! Bahkan di wilayah Apgujeong-dong tempatnya tinggal pun dia masih bisa tersesat dan lupa jalan pulang! Gadis yang benar-benar aneh,” oceh Donghae berapi-api. Ia mengikuti langkah Eun Kyo memasuki apartement luas nan mewah milik Jung Soo dan Eun Kyo.

“Jinjja? Aneh? Ya… kenapa aku merasa kau jatuh cinta pada gadis itu Donghae? Siapa namanya?” tangan Eun Kyo bergerak melemparkan tasnya ke sofa di ruang tamu, sementara kakinya menendang flat shoes yang membungkus kakinya seharian hingga terlepas dan tergeletak pasrah di karpet bulu tebal.

“Entah siapa namanya. Aku lupa,” Donghae menyahut malas, “dan jangan tuduh aku jatuh cinta pada gadis aneh itu Eun Kyo. Kau kan tau, satu-satunya wanita yang membuatku jatuh cinta itu hanya Park Eun Kyo,”

“Ya! Berhenti menggoda istriku, Lee Donghae!” sebuah teguran keras terdengar dari ruang tengah .

Bukan hanya Donghae yang tersentak kaget, tapi juga Eun Kyo. Dia bahkan nyaris menjatuhkan gelas di tangannya.

“Oppa…”

“Hyung…”

Sosok yang muncul dari ruang tengah itu tersenyum manis pada Eun Kyo dan mendelik saat wajahnya tertoleh pada Donghae.

“Kemana saja kau bawa istriku, ha? Kau berniat merebutnya dariku, eoh? Aish, jinjja…”

“Hyung disini? Kupikir kau masih di Busan,” Donghae menyahut.

“Aku baru tiba tadi sore dan sangat gelisah karena sejak siang tadi istriku tidak bisa di hubungi. Ternyata pergi bersamamu, eoh?”

“Tidak bisa di hubungi?” ulang Eun Kyo. Jung Soo menoleh pada istrinya dan sekali lagi tersenyum manis. Ia mengangguk.

“Sejak tadi siang aku mencoba menghubungimu yeobo, tapi ponselmu tidak aktif,”

Eun Kyo meraih tas tangannya, lalu merogoh ponselnya di dalam sana.

Mati? Benar. Ponselnya mati. Berarti bukan Jung Soo tidak menghubunginya, tapi dia tidak bisa di hubungi. Eun Kyo salah sangka untuk masalah satu ini. Tapi masih ada yang mengganjal. Panggilannya tadi pagi. Kenapa bukan Jung Soo yang mengangkat teleponnya, melainkan seorang wanita. Eun Kyo baru hendak membuka mulutnya untuk bertanya, namun batal, karena masih ada Donghae disana. Sedekat apapun hubungannya dengan Donghae, tetap saja, masalah keluarga bukanlah hal yang akan di bicarakannya di depan orang lain.

“Waeyo yeobo?” Jung Soo sudah berada di dekatnya dan menyentuh kedua belah pipi Eun Kyo lembut. Lembut dan hangat.Wajah Eun Kyo terangkat untuk memandangi wajah suaminya. Matanya mengerjap-ngerjap pelan. Wajah lembut suaminya ini, senyum hangatnya, tatapan tulusnya…Eun Kyo tidak tau bagaimana Jung Soo bisa merubuhkan satu per satu kecurigaan Eun Kyo hanya dengan memandang wajahnya saja. hanya dengan melihat sorot mata Jung Soo yang terasa menembus retina matanya. Menjejaki system sarafnya, dan memberikan impuls penenang kalau semua baik-baik saja. Tidak ada hal buruk yang terjadi. Jung Soo menatapnya penuh dengan pandangan memuja, seakan sikap kaku Jung Soo beberapa hari belakangan ini tidak pernah ada. Dan entah untuk yang keberapa kalinya, lelaki ini melemahkan rasa marah dan kesalnya yang sejak tadi sudah merayap hingga ke ubun-ubun. Sekaligus juga perlahan menghapus curiganya.

“Ya…aish, jinjja. Kalian berdua tidak melihatku disini, eoh? Apa aku tidak kelihatan ha? Aish, dasar suami istri kelebihan hormon,” Donghae berseru keras mengacaukan tatapan saling mengunci antara Jung Soo dan Eun Kyo, membuat kedua orang itu menoleh padanya. Jung Soo mendelik geram.

“Kau karung hormon! Pulang sana!” usir Jung Soo sembari mengibas-ngibaskan tangannya.             Eun Kyo mau tak mau ikut tersenyum mendengar suaminya menyebut Donghae dengan sebutan ‘karung hormon’. Panggilan itu di berikan oleh Eun Kyo semenjak sikap cassanova Donghae makin parah selulus kuliah.

“Nde? Pulang? Omo, manis sekali kau hyung. Setelah seharian aku menemani istrimu yang sedang sedih memikirkanmu, sekarang kau mengusirku begitu saja? Ya sudah. Aku pulang,” Donghae bersungut-sungut pada Jung Soo, lalu dia menoleh pada Eun Kyo, “Jagiya, aku pakai mobilmu ya…” senyumnya pada Eun Kyo dan membuat Jung Soo naik darah.

“Pakai mobilku saja!” ia melemparkan kunci mobilnya yang tadi tergeletak di atas meja pada Donghae. “aku tidak tenang kalau kau sering-sering meminjam milik Eun Kyo. Pasti ada saja alasanmu untuk menemuinya nanti,” Jung Soo menggerutu.

Donghae tergelak, “Kau benar hyung. Aku pulang,” ia melambai dan membalikkan badannya.

“Ya… Donghae. Jangan lupa kalau eomma dan appa menyuruhmu datang ke rumah. Lusa,” Eun Kyo berseru pada Donghae sebelum pintu apartementnya menutup otomatis. ia tidak medengar respon dari Donghae, entah lelaki itu mendengarnya atau tidak, sudahlah, yang penting dia sudah menyampaikannya. Eun Kyo kembali memtura tubuhnya bdan mendapati Jung Soo berdiri tepat dihadapannya sekarang.

“Eun Kyo~ya…berhentilah sedekat itu dengan Donghae. Aku cemburu…” ujar Jung Soo dengan bibir sedikit tertekuk. Eun Kyo memasang wajah angkuh dan tidak peduli meski sebenarnya dia merindukan Jung Soo yang posesif begini. Ia menginginkan Jung Soo yang menginginkannya utuh seperti ini.

“Donghae punya waktu untuk memikirkan aku, jadi kurasa tidak masalah kalau aku menghabiskan sedikit waktu bersama orang yang peduli padaku. Iya kan oppa?” katanya dengan nada menyindir yang samar. Di tepisnya tangan Jung Soo yang tadi bertengger lembut di bahunya dan berlalu.

“Ya…yeobo…” Jung Soo berseru sambil menyusul Eun Kyo yang melangkah cepat ke kamar mereka.

Eun Kyo membuka bolero yang di kenakannya dan menyisakan kaos putih tanpa lengan dengan bagian leher yang lebar memerkan sedikit bahunya. Lehernya terekspose sempurna dengan anak-anak rambut halus jatuh berantakan di sekitar leher dan tengkuknya.

Jung Soo bersandar di pintu masuk. Menikmati pemandangan Eun Kyo yang membelakanginya. Senyum pahit tersamar di bibirnya, namun cepat berganti dengan senyum manis. Ia sudah memutuskan untuk bersikap egois kali ini. Perlahan ia melangkah mendekati Eun Kyo yang masih sibuk di depan lemari pakaian mereka untuk mengambil pakaian ganti. Jung Soo semakin dekat dan saat Eun Kyo sudah berada dalam jarak jangkauan tangannya, Jung Soo menyelipkan kedua belah tangannya ke pinggang ramping Eun Kyo.

“Ya! Oppa apa yang kau…”

Seruan kaget Eun Kyo terpotong seiring dengan kecupan Jung Soo di lehernya. Mengecup, lalu mengirup udara dari lekukan leher Eun Kyo, membuat wanita itu sedikit bergidik menahan sensasi geli yang menderanya.

“Mmmhh, bogoshippoyo…” bisik Jung Soo dengan bibir yang masih menempel di leher Eun Kyo. Gerakan bibir itu semakin membuat Eun Kyo tercekat menahan nafas. Sensasi baru menguasainya.

“Le-lepaskan…” desisnya parau, Eun Kyo menarik nafas dalam, “Lepaskan aku oppa,”lanjutnya.

“Tidak mau…” sahut Jung Soo. Ia malah semakin mengeratkan pelukannya hingga punggung Eun Kyo menempel erat di dadanya. Kepala Jung Soo masih tetap bertahan di wilayah leher yang jadi favoritnya, dengan bibir yang terus mencecap setiap jengkal kulit leher hingga bahu Eun Kyo.

Eun Kyo mengumpat dalam hati menyalahkan dirinya yang terlalu mudah di baca oleh Jung Soo. Suaminya ini pasti tau betapa wilayah leher yang jadi favoritnya adalah juga area yang membuat Eun Kyo lemah. Terseret hasratnya sendiri yang mulai menyala-nyala sejak awal bibir Jung Soo mendarat disana. Menyebalkan, saat harusnya ia bersikap angkuh demi harga diri, dia malah harus berjuang mati-matian menahan hasratnya yang tidak kenal situasi. Eun Kyo mengumpulkan sisa-sisa pertahanan dirinya dan menyentakkan tubuhnya dari dekapan Jung Soo. Sayangnya terlalu pelan, ia hanya berhasil menjauhkan lehernya dari bibir Jung Soo.

“Marah padaku, eoh? Mianhae…” kali ini Jung Soo memilih untuk menumpukan dagunya di bahu Eun Kyo.

“Aniya. Aku hanya mau mengganti pakaian, lalu tidur. Aku mengantuk oppa…” sahutnya seakan tidak peduli pada sentuhan Jung Soo. Padahal ia sedang berusaha mengendalikan detak jantungnya yang mulai tidak sopan. Berdebar kencang sekali. Lagi-lagi Eun Kyo hanya bisa memaki dalam hati.

“Tidak makan malam dulu?” tanya Jung Soo. Ia masih berkeras enggan melepaskan lingkaran tangannya di tubuh Eun Kyo.

“Tidak. Aku kenyang oppa,” masih Eun Kyo menjawab acuh tak acuh. Tanganya meraih sembarang pakaian dalam lemari. Sial. Lingerie, dia membatin gusar dan cepat-cepat melemparkan kembali benda itu kedalam lemari. Jung Soo hanya tersenyum kecil.

“Tapi aku lapar,” kata Jung Soo.

“Di kulkas ada kimchi. Nanti kupanaskan untukmu oppa. Sekarang aku mau ganti pakaian dulu. Jadi tolong lepaskan tanganmu, aku tidak bisa bergerak leluasa,” eun Kyo menggeliat. Percuma. Jung Soo bahkan tidak sedikitpun mengendurkan pelukannya, malah semakin erat.

“Aku tidak mau makan kimchi,”

“Kalau begitu aku telepon restoran saja. Bisa deliver,”

Jung Soo menggeleng-geleng masih dengan dagu yang tertumpu di bahu Eun Kyo. Gerakan itu menimbulkan rasa menggelitik yang menjalar turun dan berputar-putar di perut Eun Kyo. Seperti serbuan ulat bulu yang menggeliat di lambungnya. Gelid an menggoda.

“Aku tidak mau itu,” katanya, “Aku mau makan kau,” lanjut Jung Soo sambil menggigit pelan cuping telinga Eun Kyo. Lenguhan tidak bisa di cegah lolos dari bibir Eun Kyo. Dia cepat-cepat menutup bibirnya. Tapi terlambat. Suara itu sudah membangunkan hal yang lebih kuat dalam diri Jung Soo. Dalam hitungan detik saja Jung Soo sudah membalik tubuh Eun Kyo menghadapnya, dan dalam detik berikutnya, Eun Kyo merasakan kalau tubuhnya sudah terdesak ke pintu lemari kayu. Sementara di hadapannya, Jung Soo menempel erat masih dengan tangan yang melingkari pinggangnya.

Jung Soo tersenyum memandang raut kaget istrinya. Ia mendekatkan wajahnya pada Eun Kyo lalu mencium lembut kening Eun Kyo. Turun ke mata, menuju hidung, lalu menempel pada pemukaan bibir Eun Kyo. Tidak ada gerakan. Ia hanya terpejam dan menikmati manis bibir Eun Kyo tanpa gerakan. Beberapa detik bertahan dalam posisi itu sebelum ia mengangkat wajahnya menjauh sedikit.

“Tadi pagi itu, sekretarisku Yoo Ri~ssi yang mengangkat teleponmu yeobo. Ponselku tertinggal padanya saat peninjauan proyek,” jelasnya tanpa diminta. Eun Kyo menyipitkan matanya. Entah kenapa masih ada sepotong curiga. Ia mengenal itu.

“Itu…bukan Kim Ae Ra?” tanyanya curiga. Jung Soo lagi-lagi tersenyum, lalu menggeleng.

“Kenapa kau berpikir kalau itu Ae Ra, eum?”

“Suaranya…seperi Kim Ae Ra. Aku…melihatnya di kantormu seminggu yang lalu. Lalu kemarin, di rumah sakit…dia bersamamu juga kan oppa…” tanya Eun Kyo ragu.

“Aaah, itu. Nde yeobo. Itu Ae Ra. Dia sedang ada masalah dan cerita padaku, lalu saat di rumah sakit itu, aku dan dia menjenguk Siwon sebelum berangkat ke Busan. Kebetulan dia ada proyek di sana juga. Kurasa sekarang dia masih di Busan,” Jung Soo menjelaskan. Eun Kyo masih memasang wajah antipati. Tidak percaya pada penjelasan Jung Soo. Bagaimanapun, perubahan sikap Jung Soo benar-benar membuatnya bingung. Dari Jung Soo yang kaku, kembali menjadi Jung Soo yang manis yang di kenalnya, lalu berubah lagi jadi Jung Soo yang sedikit menjaga jarak. Ini terlalu aneh. Jung Soo berubah-ubah lebih cepat tanpa dia ketahui penyebabnya. Bahkan bunglon saja tidak secepat ini berganti warna, batin Eun Kyo.

“Omo, istriku cemburu pada Ae Ra, eoh? Kyeopta. Sudah lama tidak melihat raut wajah cemburu Park Eun Kyo. Jinjja kyeopta…” senyum Jung Soo lebar. Eun Kyo merengut masam dengan wajah memerah. Malu.

“Aku tidak cemburu. Sama sekali tidak. Wajar saja kan kalau aku bertanya begitu oppa,” elaknya. Dia bisa saja menceritakan kecemburuannya pada semua orang di luar sana. Tapi tidak pada Jung Soo.

Jung Soo tersenyum licik, “Jinjjayo? Tidak cemburu atau tidak mau mengaku kalau sedang cemburu?”

“Tidak cemburu,” sahut Eun Kyo cepat, “sudah oppa, berhenti main-mainnya. Aku lapar. Mau makan,” lanjutnya gugup.

“Bukannya tadi kau bilang sudah kenyang Eun Kyo~ya?”

Skakmat. Alasannya mengada-ada. Lapar? Aish, jinjja! Tidak ada alasan lain yang lebih bagus, eoh? Eun Kyo merutuki kebodohannya. Dia tidak ingat kalau tadi dia bicara begitu. Ingatan Jung Soo bagus sekali.

“A-aku…mendadak aku me-merasa lapar lagi. tadi makanku sedikit oppa,” ujarnya. Eun Kyo mendorong dada Jung Soo agar menjauh. Untuk kesekian kalinya lelaki itu bergeming. Tidak berniat melepaskan pelukannya pada Eun Kyo barang sedikitpun.

“Aku juga lapar Eun Kyo,” Jung Soo berbisik, matanya meredup memandangi istrinya. Eun Kyo menelan ludah. Nafasnya kemudian tercekat di tenggorokan saat bibir Jung Soo mendarat dibibirnya. Bermain-main dengan gerakan pelan, sedikit manja, membuat Eun Kyo terlena dan bergerak pelan mengimbanginya. Perlahan, gerakan bibir Jung Soo makin terasa cepat. Menuntut. Mendesak untuk akses yang lebih jauh dan lebih dalam. Jemari Eun Kyo naik dari dada Jung Soo, terus keleher dan kemudian jemarinya menyusup ke helai-helai rambut Jung Soo. Mencengkramnya saat merasakan lidah Jung Soo bergerak di langit-langit mulutnya. Sensasi kuat dan berputar-putar menggelitik perutnya. Membuat Eun Kyo merapatkan tubuhnya pada Jung Soo. Lelaki itu menarik tengkuk Eun Kyo untuk memperdalam ciumannya. Bertahan cukuplama dengan gerakan cepat dan lambata dalam tempao yang tidak tertebak namun harmins dan tentu saja…menggairahkan.

Ciuman Jung Soo beranjak kesudut bibir setelah marasakan pasokan udara yang di hirup mulai berkurang. Bibirnya bergerak perlahan melewati dagu, turun kebawah hingga kembali menjejaki kulit leher Eun Kyo. Eun Kyo menggigit bibirnya menahan desahan yang seakan mendesak keluar saat kecupan demi kecupan yang di berikan Jung Soo menyerang kulit lehernya, memberikan sensasi kembang api yang meledak-ledak di perutnya, lalu kemudian rasa hangat menjalari sekujur tubuhnya yang masih terperangkap dalam pelukan Jung Soo.

Jung Soo mencecap halus kulit leher Eun Kyo, awalnya perlahan, namun kemudian ia menghisapnya kuat, memberikan tanda kemerahan disana. Eun Kyo masih bertahan untuk tidak mengeluarkan suara apapun. Nafasnya tersengal. Namun, pertahanannya jebol saat ia merasakan jemari Jung Soo menyusup masuk ke balik blouse yang di kenakannya. Jemari itu mengelus lembut rusuknya. Membuat Eun Kyo bergidik dan mendesah dalam waktu bersamaan.

Eun Kyo bisa merasakan kalau Jung Soo tersenyum di bahunya. Tapi dia tidak peduli. Sudah terlanjur mendesah, terserah kalau Jung Soo menilainya kalah kali ini. Eun Kyo benar-benar menikmati gerakan tangan Jung Soo yang membelai titik-titik sensitive di balik pakaian yang di kenakannya. Sementara itu, bibir Jung Soo masih bergerak mengecup dan mencecap di bagian leher hingga bahunya. Eun Kyo tersesat. Ia lupa kalau Jung Soo pernah bersikap kaku dan tidak manis. Yang ia ingat sekarang adalah sentuhan-sentuhan Jung Soo pada dirinya. Menuntut dan memaksa. Membuatnya mengalah pada hasrat menyala-nyala yang membakar hangat dirinya.

“Aku lapar…” lagi-lagi Jung Soo berbisik pelan di telinganya sementara jari lelaki itu bergerak melepaskan pengait di punggung Eun Kyo. Aku juga lapar, aku lapar, Eun Kyo terengah dalam hatinya. Tapi saat Eun Kyo menduga kalau Jung Soo akan kembali menyentuhnya, lelaki itu malah menjauhkan bibirnya dari leher Eun Kyo, mengeluarkan tangannya dari balik blouse Eun Kyo.

Jung Soo tersenyum melihat sorot kecewa dari mata Eun Kyo. Entah wanitanya ini terlalu mudah dibaca atau dia yang terlalu memahami Eun Kyo. Jung Soo memilih jawaban kedua. Ia mengenal Eun Kyo dengan baik.

“Aku lapar. Kita makan di luar ya,” katanya dengan senyum menggoda. Mata Eun Kyo membola.

“Di luar? Di luar ruangan?!” serunya tertahan. Jung Soo terkekeh kecil melihat ekspresi shock Eun Kyo. Ia mengelus pipi Eun Kyo dengan ibu jarinya.

“Bukan ‘makan’ yang itu yeobo. Tapi makan dalam arti sebenarnya. Aku lapar,” kata Jung Soo. Eun Kyo bisa merasakan hangat yang menjalari kulit wajahnya. Berani bertaruh, kini pasti wajah putih itu memerah malu. Bisa-bisanya ‘makan’ yang dia pikirkan tadi itu ‘makan’ yang seperti itu. Eun Kyo, sudah beraa kali dia mempermalukan diri sendiri begini sejak tadi. Ah, tapi kalau dengan mempermalukan dirinya bisa membuat Jung Soo-nya kembali, kenapa tidak?

“Ah? Nde. Ar-arrasseo,” ujarnya gugup, “aku mandi dan ganti baju dulu oppa,” lanjutnya seraya cepat-cepat mendorong tubuh Jung Soo menjauh. Kali ini Jung Soo tidak menahannya. Ia membiarkan Eun Kyo mneyambar bathrobe dan melesat ke kamar mandi.

Sesaat setelah tubuh Eun Kyo menghilang di balik pintu kamar mandi. Jung Soo mengusap wajahnya. Ia menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur. Matanya memantap nanar langit-langit kamar lalu mendesah berat.

‘Jangan pikir ini mudah untukku. Menahan agar tidak mengikatmu terlalu erat itu tidak mudah. Melihatmu saja aku merasa ingin memilikimu hanya untukku sendiri Eun Kyo~ya. tapi aku tidak boleh kan…’

.

Eun Kyo tersenyum lebar melihat menu yang di hidangkan waitress ke atas mejanya. Ia menusuk kacang polong yang jadi garnish di tepi piringnya dengan garpu. Matanya benar-benar berbinar melihat menu utamanya. Wagyu steak lada hitam. Makanan favoritnya.

“Wajahmu sudah senang ya sekarang. Tidak kecewa lagi karena batal ‘makan’ yang tadi,” Jung Soo nyengir jahil dan mkenekankan suaranya pada kata ‘makan’.

Eun Kyo merengut. Tangannya terulur mencubit lengan Jung Soo sekuat tenaga hingga membuat suaminya itu meringis. Cubitan Eun Kyo sungguh sakit.

“Berhentilah mempermalukan aku oppa,” sungutnya.

“Nde..nde…” Jung Soo mengelus-elus bekas cubitan Eun Kyo. Ia masih berwajah dengan cengiran untuk beberapa detik, sebelum kemudian matanya menangkap sosok lain yang sedang memandangnya. Tidak memandang tajam, hanya saja untuk Jung Soo, tatapan itu sekan menusuk jantungnya. Ia kembali meringis.

‘Ae Ra…’ batinnya galau.

.

Gadis itu memandang pantulan wajahnya di cermin untuk beberapa saat sebelum kemudian menunduk, membasuh tangannya pada aliran air hangat di wastafel putih gading milik restoran itu.

“Ra~ya…” tegur sebuah suara dari arah belakangnya. Ae Ra mengangkat wajahnya dan mendapati seraut wajah yang  dia kenal terpantul dari cermin di hadapannya. Gadis itu tersenyum tipis.

“Nde? Jung Soo oppa…” sahutnya. Jung Soo mendekat lalu berdiri di sebelah gadis itu.

“Kau mengikutiku?” tanya Jung Soo lugas. Ae Ra menggeleng.

“Tidak. Aku baru saja ada meeting dengan klien disini. Kebetulan aku melihatmu dengan…istrimu…” sahutnya.

Jung Soo mengangguk-angguk. Tangannya menghidupkan keran dan membiarkan air mengaliri telapak tangannya. Ae Ra melirik pantulan Jung Soo di cermin. Ia tersenyum iba. Baru saja tadi dia melihat wajah Jung Soo yang berseri-seri saat sedang bersama Eun Kyo, tapi sekarang, wajah itu terlihat sangat kontras. Yang Ae Ra lihat saat ini adalah wajah Jung Soo yang biasa di tangkap matanya. Raut lelah, juga gelisah. Pasti sakit sekali sampai-sampai rasa sakit itu tercetak jelas diwajahnya. Menyakitkan melihat yang begini. Hanya mengingatkannya pada pantulan serupa dari wajahnya dulu.

Ae Ra kembali fokus pada pantulan wajah cantiknya di cermin. Ia sudah bisa menyembunyikan raut sakit itu sekarang. Ia sudah pintar memasang wajah tenang, nyaris tanpa emosi. Berkat latihan untuk waktu yang cukup lama sebenarnya. Mungkin karena sekarang cintanya sudah berubah bentuk. Patah hatinya sudah berubah rasa. Ia hanya akan patah hati kalau melihat sosok itu terluka. Apa saja akan dia lakukan. Tidak peduli kalau pada kahirnya akan banyak yang sakit karenanya. Meski mungkin dia akan menikan jantungnya sendiri, tidak apa. Ini yang orang itu mau kan? Maka ini yang akan Ae Ra lakukan. Apa saja yang dia minta.

‘Harus berhenti disinikah? Jung Soo oppa sudah tidak bisa berpura-pura lagi? Dia tidak bisa kehilangan Eun Kyo? Apa aku harus berhenti juga?’

Rentetan pertanyaan menguasai benak Ae Ra. Ia merasa enggan. Sudah sejauh ini. ia sudah mengorbankan dan menahan perasaannya terlalu lama. Kalau Jung Soo memutuskan untuk mengakhiri rencananya sendiri, Ae Ra bisa apa? Haruskah dia memaksa Jung Soo untuk melanjutkan sementara Ae Ra bisa melihat dengan sangat jelas kalau Jung Soo tidak bisa bertahan. Yang bisa membuatnya tersenyum seperti tadi hanya Eun Kyo. Yang mampu menghilangkan raut letihnya hanya wanita itu. Istrinya. Park Eun Kyo. Lalu Ae Ra bisa apa? Apa lagi yang dia harapkan kalau Jung Soo sendiri sudah menyerah dari rencana yang dia susun sendiri.

Tidak. Tai ini tidak adil. Ini tidak adil untuk Ae Ra. Padahal dia sudah berharap banyak kalau Jung Soo dan Eun Kyo berpisah. Ia sudah menyusun rencananya sendiri jika mereka berpisah.

“Jadi…kita tidak perlu melanjutkan rencanamu lagi, Jung Soo oppa?” tanyanya enggan.

“Jadi,” sahut Jung Soo, membuat Ae Ra menoleh cepat. Jadi? Yang benar saja. Bukankah tadi sangat jelas terlihat kalau Jung Soo sedang berbahagia bersama istrinya? Apa maksud lelaki ini Ae Ra sama sekali tidak paham. Berniat mempermainkannya? Kalau begitu, dia berhasil. Melakukan hal yang direncanakan Jung Soo saja dia sudah cukup sakit. Menyusun rencananya sendiri saja dia sudah cukup sakit. Ia nyaris kehabisan nafas dan bisa mati kapan saja. Jung Soo egois! Batinnya tidak terima.

Jung Soo mengangkat wajahnya, melihat pantulannya di cermin, Ae Ra mengikuti. Mereka berdua saling menatap mata masing-masing melalui media cermin. Kedua raut sendu bercampur pilu terpantul disana. Cermin tidak bisa menyembunyikan raut-raut luka dan sorot mata hampa begitu.

“Aku…ingin bersikap sedikit egois Ra~ya. Sebentar saja. Aku ingin menikmati beberapa saat saja bersama dia sebelum aku harus melepaskan dia,” kata Jung Soo pelan. Berat.

Ae Ra tersenyum sinis kali ini. Sedikit egois? Apa Jung Soo tidak berpikir kalau dia memang egois? Sangat egois…

“Terserah kau saja oppa. Bukankan aku hanya membantumu? Aku tidak berhak mencampuri apapun urusanmu,” katanya dengan nada wajar. Ia tidak ingin menunjukkan keberatannya. Jung Soo tidak boleh tau apa yang mendasarinya hingga bersedia membantu Jung Soo begini. Membantu? Entahlah. Ae Ra juga tidak yakin kalau kata membantu itu tepat untuk menggambarkan apa yang dia lakukan sekarang. Dia ‘bunuh diri’ mungkin lebih tepat.

“Aku akan tetap melepaskan dia dariku. Janjiku pada Siwon sudah berlipat. Aku tidak mau jadi pengecut yang mengambil apa yang seharusnya jadi milik Siwon. Aku sudah terlalu jauh mengacaukan takdir Siwon dengan mengikat apa yang paling diinginkannya sejak dulu. Dulu sekali,”

Jung Soo menarik nafas dalam. Ia sudah terlalu jauh mengacau takdir Siwon. harusnya dia tidak ada disana dan mengacaukan semua dengan mengambil Eun Kyo. Akibatnya justru dia berhutang makin banyak dan terluka makin dalam. Kalau saja sejak dulu dia tidak ada, maka tidak aka nada cerita kelam ini. Masih banyak gadis lain yang bisa dia dapatkan bukan? Tapi kenapa dia malah memilih Eun Kyo dan menghancurkan semuanya. Jung Soo mati-matian menyesali hal yang di anggapnya kesalahan fatal ini.

Ae Ra menghela nafas panjang, “tapi yang kau lakukan ini…bukankah kalau kau begini, akan semakin menyakiti Eun Kyo jadinya?”

Jung Soo tau itu. Ia seperti memberi harapan pada Eun Kyo. Menerbangkannya tinggi-tinggi hanya untuk kemudian di jatuhkan begitu saja. Mungkin bisa remuk tak berbentuk.

“Kalau hanya untuk pergi dari dia, aku tidak perlu repot-repot menyiksa hatiku sendiri dengan bersikap dingin padanya Ra~ya. Aku hanya perlu menabrakkan diriku ke kereta. Aku mati. Dan selesai,”

Ae Ra bergidik mendengar ucapan yang keluar dari mulut Jung Soo. Lelaki itu bicara seperti ini dengan wajah datar. Sangat datar tanpa emosi.

“Aku tidak masalah dengan mati. Lagipula, tanpa Eun Kyo, esensinya bagiku akan sama saja dengan mati. Tapi aku tidak mau begitu. Aku tidak mau Eun Kyo yang terus menerus mengenangku begitu. Aku bisa menjamin kalau dia akan terus menangisi aku Ra~ya…”

Jung Soo menghela nafas dalam memenuhi paru-parunya, “Aku bisa saja mati. Tapi aku takut Eun Kyo justru semakin terpuruk. Dia sangat mencintaiku. Jadi aku lebih memilih melakukan hal ini agar dia membenciku. Sangat-sangat membenciku, dengan begitu, dia akan selalu mengingat aku kan?”

Jung Soo tertawa hambar kali ini. Ae Ra meringis melihatnya, “ Jung Soo oppa…” Ae Ra menyentuh pergelangan Jung Soo pelan.

“Aku egois sekali ya… Aku tetap ingin Eun Kyo mengingatku. Aku menyakitinya sangat banyak. Sangat-sangat dalam. Aku tau. tapi aku juga tau diri, harusnya mungkin sejak dulu aku tidak ikut masuk dalam hidupnya. Harusnya sejak awal aku menyadari kalau Siwon masih menginginkan Eun Kyo. Aku seperti menutup mata saat itu. Kalau aku tidak ada, maka saat ini pasti tidak akan begini keadaannya,” Suara Jung Soo mengabur, ia terunduk dengan bahu bergetar, “Tapi aku mencintainya Ra~ya…sangat-sangat mencintai dia,” lanjut Jung Soo dengan suara sarat getar menahan emosi yang siap meledak dan tumpah dimatanya.

Ae Ra mendekat dan merengkuh bahu Jung Soo. Iri. Sungguh dia iri pada Eun Kyo yang mendapatkan cinta sebesar ini. Eun Kyo juga mendapatkan cinta yang sangat Ae Ra inginkan sejak lama. Eun Kyo seperti mendapatkan semua cinta dan dia tidak. Tapi melihat ini, sebersit iba merasuki hatinya. Apa gunanya di cintai sebanyak ini kalau ia malah akan kehilangan. Tidak tau mana yang lebih baik sekarang. Posisinya atau posisi Eun Kyo?

Jung Soo mengangkat wajahnya menatap Ae Ra, “Mianhae Ra~ya Jeongmal mianhaeyo…aku membuatmu terlibat dalam masalahku terlalu banyak. Maaf,” sesalnya tulus. Mata itu merah dan lelah. Ae Ra tersenyum iba. Lalu tanpa di duga Jung Soo sebelumnya, Ae Ra berjinjit dan menempelkan bibirnya di bibir Jung Soo. Menahan tengkuk lelaki itu untuk memperdalam kecupannya. Cepat dan memaksa. Jung Soo hanya tersentak kaku menerima gerakan panas bibir Ae Ra pada bibirnya. Kepalanya kosong. Tidak pernah tau kalau Ae Ra bisa begini. Ae Ra yang dia kenal selalu hati-hati dan penuh perhitungan. Bukan gadis yang dengan nekat bisa menciumnya di tempat umum begini. Pikiran Jung Soo masih sibuk dengan spekulasinya. Matanya membelalak penuh keterkejutan yang bukan kepalang. Ia masih terkesiap kaget ketika Ae Ra menjauhkan wajah sekaligus bibirnya.

Gadis itu tersenyum dengan menarik sebelah sudut bibirnya saja, “Anggap saja latihan Oppa. Bukankah kita akan melakukannya juga nanti?” Ae Ra menepuk bahu Jung Soo.

“Cha. Pergilah. Eun Kyo menunggumu,” ujarnya manis. Jung Soo nyaris bergidik. Mungkin kali ini Ae Ra memang sudah terlihat seperti wanita pengacau dan itu salah Jung Soo. Dia membuat keadaaan dimana Ae Ra harus membantunya hingga begini.

“N-nde…”

Ae Ra memandangi tubuh Jung Soo yang perlahan menjauh dan menghilang di belokan. Ia masih bisa berdiri dengan kaki bergetar sebelum beberapa saat kemudian ia jatuh terduduk. Menangis dengan tubuh bersandar pada pinggiran watafel.

‘Sakit sekali… Aku mengatakan kalau Jung Soo bodoh, tapi nyatanya aku jauh lebih tolol. Demi Tuhan, ini sakit sekali. Yaaa, waeyo? Apa mencintaimu harus sesakit ini, eoh? Sampai kapan, eoh? Aku sakit sekali…,’

.

Jung Soo memandang lekat-lekat Eun Kyo yang masih sibuk dengan makanannya. Ia menikmati pemandangan ini. memenuhi memorinya dengan segala ekspresi yang dimiliki Eun Kyo.

“Ya oppa! Jangan melihatku begitu. Apa aku terlihat sangat rakus, eoh?” protesnya.

Jung Soo menggeleng, “Aniyaaa. Kau terlihat seperti wanita yang sedang hamil muda yoebo. Makanmu banyak sekali,” katanya. Wajah Eun Kyo memerah. Hamil muda? Ia mau. Sangat mau jika ada janin yang mulai tumbuh dirahimnya. Dengan begitu ia bisa bermanja pada lelaki ini. Bisa memaksa agar lelaki itu selalu peduli begini.

Jung Soo memandangi Eun Kyo lekat-lekat. Menikmati semburat merah dari wajah istrinya ini. Cantik. Ia mengukir raut itu baik-baik dalam ingatannya.

Mengkhianati saat manis akan jauh lebih menyakitkan. Kau pasti akan merasa sangat bodoh karena merasa di tipu mentah-mentah. Aku akan membuatmu melihat hal yang menyakiti hatimu. Setelah itu, bencilah aku. Benci aku sedalam-dalamnya. Asal jangan menangis dan terpuruk. Aku lebih memilih kau mengutuk hidupku daripada meratapi hatimu. Aku akan menghancurkan hatimu dan juga hatiku. Ini akan sangat sakit.

Kau harus tau, walaupun aku meninggalkanmu, aku mencintaimu, masih mencintaimu, selalu mencintaimu. Aku hanya jatuh cinta sedalam ini satu kali. Padamu. Di kehidupan kali ini, ataupun  kehidupan selanjutnya. Maafkan aku…

~oOo~

Mianhae eon. Mendadak kena WB.😥 Ini cerita makin lama makin gaje deh ya. )

Vikos : aku jug akena WB LTD lama banget ini aku… aduh ini lagi yang bikin aku nangis pula. Aku ama Siwon aja dah rela… kaga mau ih ama Oppa begituan masa! Yak! Pengen tendang Oppa rasanya. Aku pengen bunuh diri aja biar dia puas gitu. Puas puas puas?! Aish! Jinjja! Sebenarnya aku pengen cepet By ini selesai biar penderitaanku selesai… hiks!

30 responses »

  1. pilihan untuk Jung Soo oppa sulit T-T
    sangat mencintai Eun Kyo eonni, tapi harus melepas belahan jiwa karna sebuah janji. benar-benar sulit

  2. Tambah galau dag bacanya karena diiringi rintik hujan di luar rumah.

    Yaak, pengen jitak pasangan teukyo rasanya setelah pamer kemesraan seenak jidat aja ngatai abang ongek karung hormon.

    Ehhh, tapi ae ra suka sama jungsoo kan?? Ckk, kepo, kepo, kepo.

    Huwwaaaaa, ini strategi apalagi nih yang mau dibuta jungsoo. Dia bermanis-manis dulu gitu??
    Febby, tunggu ya part selanjutnya.

    Ps: fika onnie, LTD-nya jangan lama-lama ya.

  3. Aduh eonni..
    Nyesek banget bacanya..
    Sakiiiiitttt..
    Mohon titik terangnya dipercepat eon..

    Biar bisa senyum klo slsai baca..
    Gak nyesek gini..
    Haha
    tp keren eonni..
    Lnjutkan

  4. Rasa sakit….. saling sayang tp saling menyakiti. knapa eunkyo ga bersikap egois jg??? tapi kalo di perhatiin knapa jd kya saling menyakiti ya???? gmana sma siwon apa dia tau kalo skarng bnyak yg bersikap krna dia??? next di tnggu^^

  5. Hweeee… JungSoo Oppa, makin rumit iihhh… hidup-mu d’marih!
    ribet deh ah ribeettt…. *cakar2aspal*
    Feb eon, jangan buat JungSoo Oppa bunuh diri ya? ato menghilang d’telen bumi gitu! *plak

    Ish, ntu yg nelpon Onge pasti Yoon eon ya? *memicingcuriga*
    sapa lg yg suka nyasar slaen noh wanitah pan… -__-

    Emaaakkk…Ae Ra eon maen nyosor2 aja masa! *syok*
    Kyaaaa…. tumben nih kga ada pertumpahan darah lg, pika eon damai2 aja kek’a… wkwkwkwkwk….
    Ae Ra eon kesian jg eeuuyyyy…. saya baru tau klo dia mendrita jg!
    daaannn saya jg baru tau klo Ae Ra eon…. ehmmm… eh, kga jd deng! tar saya d’tabok feb eon lg! bwahahahaha…
    udh ah, saya mao tunggu kelanjutan’a saja! *kecup pika eon* /kobok2 akuarium feb eon….

  6. hhhh…. Cuma bisa menghela napas.
    Ckck, ribeeet. Pada akhir’y semua bakal tersakiti. Kasian eun kyo yg g tau apa2. entahlah, mau nyalahin siap. Karena di sini posisi’y semua pada g enak. Gmn nanti kalo siwon tau banyak perasaan yg tersakiti untuk menjaga perasaan’y.
    Aiiih… Jung soo oppa, posisimy bener2 paling g enak. Kasian.
    Mending sama bang ikan aja🙂 si karung hormon. Wkwkwk
    Di tunggu part selanjut’y🙂

  7. No comment…
    Aku mau pura2 g baca aja..

    Eh idenya Kyo eonnie bgus tuh, bikin sadend ajah.. Kyo eonnie depresi mpe milih bunuh diri gt.. #digeplak
    Enakan si ahjussi tauk kalo mreka balikan lg! Ihhhhhh jadi pengen telen bom d.

  8. .haduh oen nyesek bnget bca ni,kashan amt jung so oppa mlh jdy #galaumania hihihihi oen kalau buat ff jngn sds” amt gua ampek nangs klau bca nih ff …oen jngn lma” publish.x au sehri ghag bca ff dri blog oeni rasa.x gymna gytu…au tnggu kelnjutn.x

  9. lah..kirain aku c ae-ra sukax sama siwon ternyata sama jungsoo??
    *g mudeng dari awal dunk y aku heee,…

    perasaan nasib teukyo malang mulu y, merana semua age py berharap berakhir bahagia dweh ykekeke,,,

    ps: aku mch menantikan eunkyo hamil hahahaha..,*ketawa ala buto ijo /plak

  10. Ehem…sayah bingung mau komen apa masa…ceritanya complicated dan membuat hati berdarah2 masa…

    Ini sayah sebel ama oppa yg pake janji2 gtu sm siwon ih…kan sakit kan hatinya sendiri…mending sakitnya sendiri…lah ini korbanin eunkyo eonni pula…ish…egois masa…
    Kalo emang cinta pertahanin semua donk…egois untuk kebahagiaan diri sendiri kan jg bukan dosa…malah katanya kan seharusnya membahagiakan diri sendiri dulu bru membahagiakan orang lain….
    Malah dosa tu jatohnya kl menyakiti diri sendiri dan orang lain begitu oppa…ish…sayah gemes sama oppa pokoknya…

    Dan oppa modus banget masa…egois untuk yg terakhir kalinya…tp begitu masa…itu sama ajah menyakiti semakin dalam oppa…lama2 bacok diri sendiri juga nih aku saking gemesnya..

    Agak keganggu y sama cewk yg suka nyasar…kenapa nampang ngeksis gtu coba…ih…kagak banget masa…mana malah telpon2nya si hae begitu…modus inih modus…ckckck…

    Aera masih membuatku bingung….skrg dah nangkep dy cinta oppa…tp cerita d balik dy mau bantu oppa apa coba…msh penasaran masa sayah…

    Ih pokoknya sayah pengen cabik2 authornya yg nulis ini…demen banget masa bikin abu2…cerita apapun pasti hasilnya abu2 begini…yg penting kudu hepi ending…awas lo kl kagak…
    Ditunggu lanjutannya febby…emuah dah…

  11. Adoh adoh rasanya sakit bgt bgt bgt. . .aku ga bisa ngebayangin rasa sakitnya. Tapi hatiku ikut sakit bgt,
    huft. . .tarik napas panjang, keren bgt. . .!

  12. nyesek bgt deh….
    apa cinta bgtu menyakitkan?
    huffffhhhhh ternyata bnyk definisi dr cinta yg tidak qta ketahui

    d tunggu part selanjutny
    #keundeu dr pd bkin eun kyo ma jungsoo menderita siwon_nya ma aq aj eotte?🙂

  13. waaa kejam…kejam..kejjamm..
    onnie q ikut nendang,qt tendang barengan yaahh..!! B)
    part selanjutnya jangan lama-lama ya,nnti lama-lama aku jd galau (?) ^^

  14. Benci benci benci…
    Saia sebel bgt m Jungsooppa m Aera jg…
    pa dpkr EunKyo bkal bahagia kalo dy pisah m Teuk n jd m Siwon?
    Ish ish ish..
    g tau mw komen pa lg slaen sebel sebel sebel…><
    (bayangin gmn prasaanx Fika unn)huhuhu

  15. OMG!!!! ini ff super galau yang pernah aku baca.. aduh gimana ya??? kasian bgt eunkyonya.. Jungsoo jugaa siwon juga aera juga.. cuman donghae yg aman2 aja /kayaknya/
    ini authornya demen bgt yaa nyiksa para cast wkwkwk penyiksaan dibagi rata lagi hehehege peace thor ._.v

  16. kasian eunkyo :”””
    jungsoo juga sih beban batin, tapinya itu eunkyo yang paling menderita kalau dilakuin kayak gitu sama jungsoo😦
    udah mending eunkyo sama donghae aja deh yang aman daripada jungsoo siwon rebutan satu cewek dan bikin hati eunkyo ‘rusak’ ._.

  17. Huakssss..
    siang bolong begini kenapa mataku mendung.. tissu donggg *lap* ini teuk pengen bgt aku tendang deh #plak ditunggu selanjutnya dan please jgn bikin mendung lagi T.T huehuehue

  18. sedih tapi kesek juga ma jungsoo knp pake cara kyk gtu buat pusah ma eunkyo kan itu bakal nyakitin walaupun disini dijelasin juga knp jungsoo miluh jalan ini terep ja rasa kesel ma jungsoo ada n ngelupain alesan y dia.. .
    pa lg makin sebel ma Ae ra dia n tingkah y n jd mijir juga knp siwon kyk gt,,, krn q ngedukung Teukyo jd rada sevel ma tinfkah siwon n Ae ra walaupun ngak bis disalahin 100% krn ata nama cinta…
    q jd ikut frustasi nih baca ff ini yg makin kelam ja padahal pengantin baru ada y mesra2 an tp ini malah ydah ada masalah n menuju pisah ja….

  19. Lohaaa aku nongol lgi skaligus di 3 part karna aku br sempet komen..
    Hiks hiks knapa makin ksini teukyo makin mnyedihkan gk rela klo mereka berpisah..
    Oppa gak apa” egois dikit lupakan siwon berbhagialah brsma eunkyo hoho
    smoga part selanjutnya ada ttik terang untuk kelanjutan hubungan teukyo+siwon..
    aku emang suka sad romance tapi gk siap nangis mulu bacanya huahhhh

  20. huah…. ini kenapa jung soo jahat sama eun kyo…
    sebeeel dech…
    eonni mian aku baru baca lagi FF eonni, soalnya aku sibuk sekolah jadi kadang2 baca ff.a…..
    eonni lanjutkan FF.a aku bnr2 pnsrn; )

  21. vikossss eonniiiii… ini ini… siapa authornyaaaaa???
    yak!! wae? Eun Kyo selalu menderita??? datang2 emosi. hehe…
    Ini siapa? why why why KEREN and so sad banget…. hohooho…
    salam kenal buat author yaaaaa…. #kecup. #plakk,

    vikos eonni, i miss you. haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s