TeuKyo Couple : Let This Die (Part 14)

Standar

lethisdie-x2

Eun Kyo terbangun dalam senyap yang masih merambati hari yang berangsur pagi. Ia terjaga pagi-pagi sekali, ketika semuanya masih terlelap, bahkan Jung Soo masih terlihat nyaman dengan tidurnya, entah bermimpi apa. Eun Kyo mengalihkan pandanganya pada Jung Soo, lalu memandangi tubuhnya sendiri yang sudah rapi dalam bungkusan selimut. Tadi malam dia masih ingat, selimut itu masih rapi diujung kakinya. Tapi ketika matanya terbuka, tubunya sudah hangat dalam dekapan selimut dan pelukan Jung Soo tentunya. Seingatnya, setelah ia menikah dan berbagi kamar, bisa dihitung dengan jari lelaki itu membiarkan Eun Kyo tidur tanpa pelukannya.

Desahan berat keluar dari mulutnya. Ia masih belum percaya sekarang dalam keadaan hamil. Masih belum ada dalam pikirannya, meski pernah berjanji pada mertuanya agar secepatnya memberikan cucu. Tapi saat semua itu terwujud, ia masih belum menerima,  sama sekali belum. Tanpa persiapan mungkin lebih pantas untuk menjabarkan apa yang dialami Eun Kyo, karena kalimat ‘belum bisa menerima’ sedikit terdengar ekstrim. Eun Kyo menyukai anak kecil, hanya saja, prioritasnya sekarang bukan itu, bukan pada saat drama musikal miliknya sedang naik daun. Bahkan beberapa pejabat setempat sekarang menjadi member tetap di kursi VIP.

Bukan juga karena keadaan tubuhnya yang harus berubah saat mengandung. Eun Kyo sadar, sangat sadar akan hal itu. Lagipula, biasanya juga dia tidak terlalu memperhatikan bahkan tidak pedulii dengan perubahan tubuhnya. Mau itu kurus ataupun gemuk, baginya sama saja. Daya tarik manurutnya tak hanya dari tubuh. Eun Kyo tersenyum tipis. Dia mulai berpikir daya tarik, sebenarnya daya tarik apa yang dia lihat dari Jung Soo sejak dulu? Yang tak mampu membuatnya lari dari semua itu, bahkan resikonya merendahkan harga dirinya saat meminta Jung Soo tetap menikahinya. Bukan hanya demi Appa, hati kecilnya terus mendesaknya untuk melakukan itu, meski lebih dari separuh nuraninya merasa bersalah, tapi secuil perasaan itu tak mampu ia indahkan, tanpa alasan.

Sinar matahari diluar sana masih mengintip malu-malu, enggan untuk menampakkan diri Mungkin sama halnya seperti yang Eun Kyo alami saat ini. Ragu untuk terbit dan memilih bersembunyi dibalk mendung. Eun Kyo mendesah sekali lagi, menarik selimutnya lalu meletakkannya ke tubuh Jung Soo. Ia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Sebenarnya ia terbangun karena ingin buang air kecil. Desakan itu akhir-akhir ini sering terjadi.

Setelah keluar dari kamar mandi, Eun Kyo berniat untuk kembali tidur, karena rasa kantuk masih bergelayut di kelopak matanya. Ia menarik tali celananya lalu menyimpulnya. Rasa terkejut membuatnya terhempas nyaris berlari, ketika melihat Jung Soo sudah duduk diatas tempa tidur dan menatapnya tajam.

“Oppa! Kau mengejutkanku!” teriak Eun Kyo setengah putus asa bercampur lega. Ia memegangi dadanya yang tiba-tiba beroperasi semakin cepat memompa, menimbulkan dentuman keras yang membuat adrenalinnya terpacu.

“Aku kira kau pergi.” Jawab Jung Soo sambil bangkit. Ia berjalan kearah Eun Kyo dan menarik tubuh Eun Kyo dalam dekapannya.  “Aku bermimpi.” Ujar Jung Soo lagi.

Eun Kyo mengernyitkan dahinya sambil mendongak menatap Jung Soo dengan wajah heran. Perasaan ia tadi melihat Jung Soo begitu tenang dalam tidurnya, tak ada tanda-tanda ia bermimpi buruk atau gelisah dalam tidurnya. Ia bahkan mengira Jung Soo sedang bermimpi dalam surga.

“Bermimpi apa?” tanya Eun Ko malas, ia mendorong tubuh Jung Soo pelan, berniat berjalan menuju tempat tidur. Sekilas ia melrik jam dinding, “Jam dindingnya mati, Oppa?” tanya Eun Kyo. Jung Soo tidak menjawab, juga masih tidak melepaskan pelukannnya dari Eun Kyo, hingga wanita itu hanya bisa pasrah dalam dekapan erat nan hangat dari Jung Soo mendorongnya berjalan menuju tempat tidur. Ia terus melangkah mendesak Jung Soo hingga ke tepi tempat tidur.

“Aku masih mengantuk, Oppa, jadi minggir sekarang.” Eun Kyo menggidikkan tubuhnya menyuruh Jung Soo melepaskannya.

“Aku akan mendaftarkanmu senam ibu hamil, agar kau selalu sehat dan terlihat bugar. Juga mendaftarkanmu di kelas untuk calon ibu, akan aku cari info tentang itu. Lalu mengajakmu jalan-jalan seminggu sekali, lalu berburu peralatan bayi setiap bulan, meski tidak membelinya, tapi mungkin kita bisa melihat-lihat dulu, lalu  kit..” Jung Soo terhenti saat mendapat tatapan tajam dari Eun Kyo yang mendongak menatapnya. “Kau…” Jung Soo tau terdiam beberapa saat, “Kau masih mengantuk, aish, jinjja, kau harus banyak istirahat, kajja, ayo kita tidur lagi.” Seolah tersadar telah membuat kesalahan Jung Soo menuntun Eun Kyo berbaring di tempat tidur.

Dengan gerak sigap Eun Kyo menepis tangan Jung Soo yang mencoba membaringkannya dengan pelan, ia kembali bangkit dan membuat Jung Soo terpaku, tubuhnya masih merunduk saat Eun Kyo sudah berdiri tegap di belakangnya. “Aku tidak jadi mengantuk.” Ujar Eun Kyo sambil berjalan kearah pintu keluar kamar mereka.

Saat menyadari Eun Kyo hampir keluar dari kamar, Jung Soo bergerak cepat mencegahnya. “Wae? Ada yang salah?” tanyanya.

Jika Eun Kyo tiba-tiba berubah sikap, Jung Soo tau pasti ada yang membuatnya tidak nyaman. “Apa aku salah bicara? Eoh?” tanyanya dengan tatapan lembut pada Eun Kyo.

Sejenak Eun Kyo terpaku, ketika melihat Jung Soo yang menatapnya seperti itu, badannya lemas, terpana. Belum pernah Jung Soo seperti ini. Tatapan seperti rasa bersalah dan khawatir itu, baru kali ini dia melihatnya. Seolah ada sejuta pengertian dan permintaan maaf dari tatapan itu. Biasanya, dalam hal apapun, Jung Soo selalu tidak ingin terlihat lemah dan selalu ingin memimpin. Apa karena aku hamil? Pertanyaan itu terbersit dalam benak Eun Kyo dan membuatnya nyaris tertawa karena semakin ia bersikap dingin, tatapan Jung Soo semakin merasa bersalah dan terlihat cemas.

“Aku ingin minum.” Eun Kyo melepaskan tangan Jung Soo yang berada di wajahnya, ingin berbalik namun lagi-lagi Jung Soo menahannya.

“Biar aku ambilkan.” Ujarnya cepat, lalu setengah berlari keluar kamar.

Beberapa menit kemudian Jung Soo kembali dengan segelas air putih di tangannya. Berhenti tepat dihadapan Eun Kyo, menatapnya sebentar lalu menyodorkan air minum itu pada Eun Kyo, tepat dimulutnya.

Wajah Jung Soo terlihat bersemangat, “Apa aku bilang ingin air putih? Aku ingin minum teh.” Eun Kyo menghindar, seraya melangkah mencoba meninggalkan Jung Soo.

“Biar aku saja, kau mau teh?” tanya Jung Soo antusias. “Aku buatkan teh, aku buatkan teh, tunggu disini? Eoh? Akan aku buatkan.” Ia mengacungkan tangannyamenyuruh Eun Kyo untuk tetap diam dan membiarkannya mengurus keinginan Eun Kyo. “Tetap disini, ara?” Masih terdengar nafasnya yang terengah sekembalinya dari dapur tadi, tapi sekarang dia melesat kembali ke dapur, menyiapkan secangkir teh untuk Eun Kyo.

Sedetik Eun Kyo sempat tercengang memandangi pintu yang menelan kelebat sosok Jung Soo seketika.  Ia mengerjapkan matanya setengah tidak percaya, biasanya Jung Soo tidak seperti ini. “Memangnya aku mau kemana? Aish! Dia berlebihan sekali.” Gumamnya kesal. Ini yang mulai dia tidak suka, dan memilih untuk diam saat mengetahui dirinya hamil. Meski tidak mungkin selalu menyembunyikannya, karena lambat laun dan pasti, perutnya akan semakin membesar. Sekarang saja sudah terlihat besar, tapi sedikit tertutupi karena bobot badannya yang juga bertambah beberapa kilo.

Eun Kyo berjalan kearah jendela dan membuka kerainya. Membuka jendela sekalian dan menghirup udara pagi yang dingin. Ia mengeratkan pelukan tangannya pada tubuhnya sendiri. Eun Kyo mematung di jendela kamarnya memandangi rumput hijau samping rumahnya. Tercium aroma pagi yang khas menyeruak di indra penciumannya, basah dan segar. Bau rumput hijau memenuh hidungnya.

Matahari benar-benar terlihat ragu untuk menampakkan wajahnya. Mendung semakin meraja, dan perlahan gerimis turun menambah dinginnya pagi dan Eun Kyo semakin menginginkan hangatnya teh di lidahnya, “Kenapa berdiri disana?” tanya Jung Soo, ia meletakkan cangkir teh diatas nakas samping tempat tidurnya, lalu menarik tubuh Eun Kyo.

Eun Kyo tak bergeming, dia tetap mempertahankan posisinya ketika Jung Soo mencoba menariknya. Saat menyadari Eun Kyo tak ingin beranjak, Jung Soo merapatkan tubuhnya dipunggung Eun Kyo, berdiri di belakangnya dan ikut melihat kearah luar.

“Kau terlihat tidak senang.” Jung Soo menambatkan tangannya dipinggang Eun Kyo dan merapatkannya ketubuhnya, meneghilangkan jarak diantara mereka.

“Eoh?” Eun Kyo menolehkan wajahnya ke belakang tepat saat Jung Soo menunduk menatapnya. Mereka saling bertatapan. “Maksudmu?”

“Apa kau tidak senang, hamil? Kau terlihat tidak senang.” Ujar Jung Soo. Ia melepaskan pelukannya dan berjalan mengambil secangkir teh yang tadi ia buat untuk Eun Kyo, kembali pada Eun Kyo dan menyerahkan gelas itu.

Sebelum meminumnya, Eun Kyo terlebih dahulu menatap isi cangkir baru setelahnya menyesap minuman itu, “Kurang manis.” Komentar singkat keluar dari mulut Eun Kyo.

“Jinjja?” tanya Jung Soo tidak menyangka. Ia merasa manisnya sudah cukup, bahkan baginya itu terlalu manis. “Biar aku tambahkan gula.” Ujar Jung Soo menyambar gelas di tangan Eun Kyo.

“Tidak perlu, Oppa.” Cegah Eun Kyo. “Tidak perlu, ini sudah cukup. Aku bukan bilang tidak manis, cuma kurang manis saja.” Lanjut Eun Kyo.

Jung Soo berhenti, tadinya ia ingin menambahkan satu balok gula lagi, tepi Eun Kyo mencegahnya. “AH.. pagi ini dingin sekali, aku ingin dipeluk saja, mungkin akan terlambat latihan hari ini.” Ujar Eun Kyo mendekat kearah Jung Soo yang masih terdiam. Dia menyusupkan tangannya dipinggang Jung Soo dan memeluknya. “Aku senang, sangat senang. Hingga kebingungan harus memberika ekspresi seperti apa, Oppa.” Eun Kyo membenamkan wajahnya dalam dekapan Jung Soo, berpelukan.

“Sebaiknya hari ini ijin latihan saja.”

“Shireo. Aku tidak mau.”

“Tapi kau harus banyak istirahat. Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu.”

“Istirahat bukan berarti harus meninggalkan latihanku kan?”

“Eun Kyo~ya..”

“Aku akan tetap latihan, akan tetap ada di panggung setiap minggu, kecuali kalau aku bilang tidak baru boleh ada yang menggantikanku.”

“Aku tidak akan membiarkannya. Kau hamil dan harus menjaga kehamilanmu. Apalagi dengan dramamu sekarang. Membuat, itu, menari, dan kadang..”

Perdebatan mulai menghangat. Jung Soo baru berhenti setelah mendengar dentuman keras pintu kamar mandi diikuti hilangnya Eun Kyo dari hadapannya. Ia menarik nafas berat lalu menghembuskannya. Eun Kyo terkadang memang keras kepala, itu ia sudah tau sejak kecil, tapi kali ini benar-benar tidak bisa ditoleransi. Dia masih ingin melanjutkan perdebatannya tapi harus menunggu Eun Kyo keluar dari kamar mandi.

Sembari menunggu Eun Kyo selesai mandi, ia duduk diatas tempat tidur sambil menghabiskan sisa teh yang diminum Eun Kyo tadi. Dia hanya mengkhawatirkan Eun Kyo, itu saja. Sejak mengetahui Eun Kyo hamil semalam, rentetan kegiatan ibu hamil memenuhi kepalanya, dia bahkan sudah merencanakan untuk konsultasi pada Ae Ra setiap minggu, dan bertanya hal apapun yang ia tidak tau. Mencari info di internet dan berbagai macam hal yang berkaitan dengan kehamilan. Dia juga berencana untuk ikut dalam ‘Club Suami Peduli’ yang ada di dunia maya. Jung Soo merasa sangat senang hingga setengah tidak percaya beberapa bulan lag ia akan menjadi seorang Appa, dan setengahnya lagi ia tidak mempercayai tanggapan Eun Kyo hanya seperti itu.

“Kau tidak senang?” tanya Jung Soo lagi mencoba untuk tenang. Emosinya tersulut oleh ketidak pedulian Eun Kyo.

“Aku senang.” Jawab Eun Kyo datar.

“Lalu kenapa reaksimu hanya seperti ini? Eoh?” suara Jung Soo meninggi.

“Oppa, aku sedang tidak ingin bertengkar.” Eun Kyo merapikan handuknya yang basah, menggantungnya di dekat pintu kamar mandi. Mengeringkan rambutnya dengan handuk yang baru.

“Tapi ini kehamlan pertamamu..” ujar Jung Soo lirih.

“Lalu, jika ini kehamilan pertamaku memangnya kenapa?”

Sebenarnya Eun Kyo mengerti antusiasme Jung Soo, dia bahkan berubah dalam semalam. Eun Kyo tau Jung Soo hanya ingin melindunginya, tapi dia merasa tidak ada yang perlu dilindungi, dia baik-baik saja. Bahkan tidak muntah sama sekali, hanya pusing dan sering buang air, itu saja, selebihnya tidak mengganggu sama sekali, kecuali rasa lapar.

“Biasanya wanita, mereka, kalian, bertindak lebih manja, seperti…” Jung Soo menatap Eun Kyo. Membaca raut wajah wanita itu, meraba reaksi yang akan diberikan Eun Kyo jika dia meneruskan kalimatnya.

Eun Kyo menunggu lanjutan kalimat Jung Soo dengan menghentikan kegiatannnya mengeringkan rambutnya. “Yeon Su.” Lanjut Jung Soo pelan, sangat pelan nyaris tidak terdengar tapi sayangnya Eun Kyo bisa mendengar Jung Soo menyebutkan nama itu.

Jung Soo mengalihkan pandangannya segera dari Eun Kyo. Reaksi Eun Kyo masiih datar. “Jadi kau ingin aku seperti Yeon Su? Yang menghiba perhatianmu? Begitu?” tanya Eun Kyo.

Dalam hati, Jung Soo membenarkan apa yang dikatakan Eun Kyo. “A, anhi, anhi. Bukan begitu. Tapi setidaknya wanita, biasanya…” dia kembali tidak melanjutkan kalimatnya. Kenapa jadi aku yang berubah manja seperti ini? Keluh Jung Soo dalam hati. “Sedikit lebih manja.” Lanjutnya lagi pelan.

“Aku bukan Yeon Su. Jadi aku tidak perlu bersikap seperti dia.” Jawab Eun Kyo. “Sudahlah, Oppa. Aku lapar. Sa…….ngat lapar.” Ujarnya lagi dengan senyuman mencairkan suasana karena Jung Soo nampak seperti seorang yang bersalah dan meminta permintaan maafnya. “Aku mau makan.” Eun Kyo meninggalkan Jung Soo di dalam kamar sendirian.

Jung Soo kebingungan sendirian. Dia merasa menjadi orang yang berbeda, orang yang aneh. Awalnya merasa sangat senang, lalu bertekad melakukan apapun yang diinginkan Eun Kyo. Dan sedikit merasa emos saat reaksi Eun Kyo hanya datar tak seantusias dia, tapi begitu kembali melihat Eun Kyo, emosinya perlahan mereda. Entah hilang kemana.

“Aku hanya ingin memanjakanmu, Yeobo. Memberikan apapun yang kau minta. Bukan begitu seharusnya calon Appa? Siaga kapanpun dan dimanapun. Tapi jika kau tidak membutuhkanku, bagaimana aku bisa menunjukkan aku adalah suami yang baik?” gumam Jung Soo sendirian sambil menggaruk kepalanya. “Aish! Daripada pusing sebaiknya aku mandi saja.”

Jung Soo menarik handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi.

***

Sarapan pagi Eun Kyo hampir selesai ketika Jung Soo keluar dari kamar dan bergabung. Eun Kyo sempat menoleh, namun kembali menikmati makanannya saat Jung Soo menarik sebuah kursi di hadapannya dan duduk disana. Ia memandangi Eun Kyo yang makan dengan lahap, nyaris tak berkedip.

“Kau tidak makan?” tanya Eun Kyo disela makannya.

Jung Soo segara mengambil makannya, tak ingin ketinggalan dari Eun Kyo. Dia hanya mengambil porsi seperlunya saja, lalu memakannya menyusul Eun Kyo yang kembali mengambil beberapa sendok lagi ke dalam piringnya.

“Apa rencanamu hari ini? Kita ke rumah Eomma?” tawar Jung Soo.

“Anhi, hari ini aku harus latihan, setidaknya aku harus disana mengawasi mereka. Menghilangkan bosan.” Ujar Eun Kyo.

“Lalu kapan kita memberitahu Eomma?”

“Nanti saja, jangan sekarang.”

Eun Kyo sudah menyelesaikan makannya, lalu bergegas bangkit dan kembali kekamar. Melihat hal itu, Jung Soo tak kalah cepat, ia meletakkan sendok dan garpu, membiarkan makanannya berakhir tanpa dimakan lebih dari setengah.

“Habiskan makanmu, Jung Soo~ya.” Tegur Jung Ahjumma.

“Aku sudah tidak lapar, Ahjumma.” Tukas Jung Soo cepat. Ia menyusul Eun Kyo ke dalam kamar.

Begitu sampai dikamar, dia melihat Eun Kyo mengemas beberapa potong pakaian ke dalam tas besarnya. Ucapannya tadi tidak bohong sama sekali. Wanita itu tetap berkeras meski Jung Soo sudah melarangnya dan menyuruhnya istirahat saja.

Sebenarnya Jung Soo sangat emosi, tapi ia menahannya. Eun Kyo yang keras kepala, tak bisa ditoleransi sedikitpun kecuali benar-benar bisa mematahkan keinginannya. Bahkan terkadang harus terpaksa rela tetap membiarkannya keras kepala, kecuali dengan kekerasan. Tapi untuk kekerasan, Jung Soo rasa untuk saat ini tidak tepat, meski ingin sekali ia mengunci kamar ini dan membiarkan Eun Kyo tetap disini.

“Yeobo…”

“Eum..” sahut Eun Kyo bergumam, seolah tak peduli.

“Bisa kali ini mendengarkanku?”

“Aku mendengarkanmu.” Jawabnya. Ia sudah selesai mengemasi barang-barang yang ia perlukan saat latihan. Baju ganti, pakaian dalam, handuk dan barang lain seperti charger, ponsel dan beberapa buku.

“Aigoo.. maksudku bukan begitu..” ujar Jung Soo. Eun Kyo menoleh, “Cha, duduk disini.” Jung Soo menepuk tempat yang ada di sebelahnya.

Eun Kyo menarik nafas lalu mengambil langkah mendekat kearah Jung Soo, memposisikan diri tepat di hadapan lelaki itu. “Wae gurae?” tanya Eun Kyo, ia meaikkan alis kanannya.

“Duduk dulu.” Jung Soo menarik pinggul Eun Kyo.

Dari wajahnya, Eun Kyo tau bahwa sekarang Jung Soo sedang serius. Tapi jika ini adalah masalah kehamilannya dan segala tetek bengek larangan yang harus dia patuhi, Eun Kyo rasa itu hanya sebuah kesia-siaan belaka. Dia merasa dia baik-baik saja, bahkan hingga melewat minggu ke-13, ia masih baik-baik saja. Dan dia pikir bayinya mengerti keinginan dirinya, ia tidak mengalami morning sicknes selama 3 bulan terakhir. Bukankah itu berarti sang bayi benar-benar mengerti keinginannya. Yah, meskipun Eun Kyo juga sadar benar dia harus menjaga kehamilannya. Tapi apa harus berlebihan?

Eun Kyo menuruti keinginan Jung Soo, duduk disampingnyaa. Tepat dimana Jung Soo menepuk tadi. “Eum, katakan.” Ujar Eun Kyo menatap Jung Soo. Mencoba mengerti, bahwa Jung Soo adalah seorang calon Appa yang ingin melindungi bayinya.

“Aku bukan ingin melarangmu. Hanya saja…”

“Aku mengerti, tapi bukankah aku terlihat tidak bertanggung jawab? Sudah sering kali kau memutuskan suatu hal sendirian, menelpon Donghae dan meminta pengertian darinya.” Eun Kyo menunduk.

“Tapi aku..”

“Oppa, jika kau jadi aku, apa kau akan menurut begitu saja?” Eun Kyo menengadah, membuat mata mereka bertatapan lagi.

Selang beberapa detik, tak ada suara. “Aku rasa kau tidak akan menurut begitu saja.” Jawab Eun Kyo sendiri.

Ia menarik tasnya dan mencoba keluar dari kamar, hampir saja berhasil jika saja Jung Soo tidak menutup pintu lebih cepat dari langkahnya. Entah sudah berapa kali kamar ini jadi saksi keadaan mereka yang seperti ini.

“Oppa, aku tidak akan menyakiti anakku. Aku hanya ingin menyegarkan otakku! Aku bosan! Bahkan beberapa menit saja aku disini  aku sudah sangat merasa bosan.” Ujar Eun Kyo mengoceh.

Dari sikap Jung Soo yang seperti ini, Eun Kyo merasa Jung Soo seolah menuduhnya ingin mencelakai bayinya sendiri. “Baiklah kalau begitu aku antar.” Jung Soo menyentuh tangan Eun Kyo. “Tunggu aku bersiap dulu, jangan kemana-mana, eum?”

Eun Kyo memandangi tangan Jung Soo yang memegangi kunci kamar. Dia tak akan kemana-mana karena Jung Soo memegangi kunci kamar mereka.

“Aku hanya sebentar saja.” Ujar Jung Soo.

Dan memang benar, tak sampai berlalu 10 menit, dia sudah terlihat rap dengan setelan jas membalut tubuhnya. Seperti eksekutif muda kebanyakan, setelan jas dengan dasi yang rapi di lehernya, Jung Soo terlihat sangat tampan hari ini dimata Eun Kyo. Tapi entah kenapa, ada yang kurang, Eun Kyo merasa ada yang kurang dari Jung Soo detik ini.

“Mendekatlah, biar aku rapikan.” Eun Kyo melambaikan tangannya pada Jung Soo, menyuruhnya mendekat. Eun Kyo merapikan dasi yang ada di leher Jung Soo. Beberapa kali ia membenarkan letak dasi itu, tapi tak jug aterasa pas dimatanya.

“Ehem.” Deheman Jung Soo membuat Eun Kyo berhenti menggerakkan tangannya. Jung Soo merasa tercekik.

“Sudah, biar aku rapikan sendiri.” Ujar Jung Soo.

Eun Kyo tersenyum, ia bukan sengaja membuat Jung Soo hampir tercekik,ia sendiri terkejut saat Jung Soo berdehem saat ia menarik dasinya.

“Aku tunggu di depan Oppa.” Ujar Eun Kyo.

Jung Soo mengikuti Eun Kyo, karena sejak tadi dia sudah merasa rapi, siap untuk berangkat.

Dalam perjalanan, Eun Kyo hanya diam. Apa yag harus ia katakan? Mengatakan dirinya hamil kepada teman-temannya? Entah kenapa Eun Kyo merasa itu sedikit memalukan. Sejak tadi otaknya terus berpikir, kian lama kian pusing dan membuatnay kembali lapar.

“Kau ikut ke kantor saja hari ini, bagaimana?” ajak Jung Soo.

Eun Kyo menggeleng, “Ani, shireo.” Jawab Eun Kyo masih dengan gelengan. “Aku ingin ke tempat latihan hari ini.” Lanjutnya.

Tak ada yang bisa dilakukan Jung Soo selain membelokkan mobilnya ke halaman parkir gedung latihan Eun Kyo saat wajah datar itu terlihat tidak ingin ada yang berubah dari rencananya.

“Tunggu, biar aku antar.”

Jung Soo bergegas membuka pintu mobilnya dan  keluar, karena Eun Kyo bahkan tidak menunggunya membukakan pintu terlebih dahulu seperti biasa. Wanita itu terlihat takut Jung Soo melarangnya untuk keluar.

“Yeobo, pelan-pelan..” ditariknya lengan Eun Kyo, yang membuat wanita itu memperlambat kecepatan langkanya. “Ini masih pagi, aku yakin sebagian dari mereka belum datang.” Ujar Jung Soo.

Eun Kyo terlihat tidak sabar, entah apa yang membuatnya seperti ini, Jung Soo tidak habis pikir.

“Kau boleh pergi.” Ujar Jung Soo ketika mereka sudah sampa di depan pintu tempat biasanya Eun Kyo latihan.

“Ani, aku mau berbicara sebentar dengan Donghae.”

Jung Soo menerobos masuk setelah membuka pintu. Tapi setelah masuk dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, dia tidak menemukan Donghae. Tak ada Donghae, hanya ada Hyukjae, Ae Rin dan Ryeowook.

“Mana Donghae?” tanya Jung Soo.

“Dia belum datang Hyung.” Sahut Ryeowook saat Jung Soo ingin pergi ke ruangan Donghae. Langkahnya berhenti.

“Eoh? Belum datang?” tanya Jung Soo heran.

Biasanya lelaki itulah yang paliing pertama datang, kenapa sekarang dia belum menampakkan batang hidungnya? Memang hari masih pagi, hanya saja, biasanya Donghae jarang terlambat. Jung Soo menoleh pada Eun Kyo. Wanita itu menunjukkan raut bingung yang sama sepertinya.

“Arasseo, aku pergi. Kau jaga dirimu baik-baik, heum?” Jung Soo menyentuh kepala Eun Kyo dan membelainya pelan. Setelah mendapat anggukan Eun Kyo, baru dia beranjak.

“Donghae belum datang?” tanya Eun Kyo sekali lagi.

“Eum, dia tidak masuk hari ini.” Jawab Hyukjae.

“Onnie!” pekik Ae Rin nyaring.

Eun Kyo menoleh. Wajah Ae Rin nampak tegang dengan sebuah posel di tangannya. Matanya membulat memandangi layar ponsel yang ada di tangannya.

“Wae?” tanya Eun Kyo acuh. “Kyuhyun mana?” Eun Kyo mengabsen para temannya yang belum datang. Meski ini adalah hal biasa, tapi kali Eun Kyo merasa beda.

Sebenarnya bukan Kyuhyun yang ia cari keberadaannya tapi Donghae. Eun Kyo baru saja ingin memeriksa ruangan Donghae, mungkin saja lelaki tu sudah datang tanpa mereka ketahui, namun Ae Rin menahannya.

“Onnie, kau hamil?”  tanya Ae Rin nyaring.

Eun Kyo terdiam. Dalam hati iamengumpat. Pasti ini adalah ulah Jung Soo Oppa. Ia berbalik dan menyunggingkan senyuman kaku pada teman-temannya yang berawajah bingung dan terkejut tidak percaya.

“Aku mau mencari Donghae.” Ujar Eun Kyo berlalu.

“Hamil? Ah, aku sudah menduganya.” Ujar Hyukjae santai.

Dalam hatinya mencelos. Masih tidak percaya ternata orang yang dia kagumi sekaranmg sudah menikah seaat bertemu dengannya. Dalam bayangannya dia masih bisa berdekatan dengan wanita itu meski dari gelagat Donghae, ia tau laki-laki itu menyukai Eun Kyo.

“Aish! Jinjja! Jung Soo Oppa bilang sudah 3 bulan.” Tmpal Ae Rin. “3 bulan? Ti-ga bu-lan?!” pekiknya lagi dengan suara nyaring. “Kenapa Onnie tidak menyadarinya? Aish!terlambat datang bulan? Atau merasa mual? Atau merasa ada yang beda? Yak! Kenapa tidak memberitahunya padaku!” Ae Rin mengomel sendiri.

“Ada apa ini ribut-ribut?”

Tiba-tiba Kyuhyun datang dengan membawa sebuah tas besar. Yang sudah bisa dipastikan isinya adalah peralatan untuk membuatnya nyaman dan menghilangkan bosan. Game.

“Kau tau? Eun Kyo Onnie hamil? Aku baru saja dapat pesan dari Jung Soo Oppa. Untuk menjaganya baik-baik. Karena Onnie kan sedikit keras kepala.” Ujar Ae Rin.

Kyuhyun yang mendengarnya hanya mengangguk-angguk saja. “Kau tidak senang?” tanya Ae Rin mendekati Kyuhyun.

“Ani, memangnya bagaimana kelihatannya?” ujar Kyuhyun balik bertanya.

“Kelihatannya datar saja.” Ae Rin berjalan menjauhi Kyuhyun yang dimatanya terlihat tidak antusias.

“Annyeong haseyo…”

Koor suara anak-anak yang ikut latihan hari ini terdengar bersemangat. Je In dan teman-teman datang seperti gerombolan yang siap untuk beraksi. Mengenakan pakaian santai ala remaja kebanyakan, mereka terlihat fresh dan penuh energi. Kyuhyun tersenyum melihatnya.

“Ya… pagi sekali kalian datang.” Sapa Kyuhyun mendekat.

“Seminggu ke depan kami libur, Oppa.” Sahut Je In bersemangat.

“Kalian tidak ingi bersantai? Liburan bukannya bersama keluarga?” tanya Kyuhyun lagi. Akhir-akhir ini Kyuhyun lebh senang bergabung dengan anak-anak itu dan tertawa bersama dibandingkan mengganggu Ae Rin.

“Lebih senang disini, pentas setiap minggu dan dapat uang jajan tambahan.” Jawab Ji Hoon acuh. Bocah lelaki itu memangperhitungan, setiap seminggu sekali, ia selalu menagih siapapun untuk mentraktir mereka makan. Minggu kemarin Sungmin yang dirampok mereka, entah kali ini siapa yang ia todong.

“Oppa.” Panggil Soo Rim.

Tak tau pasti siapa yang dipanggilnya. Hingga Ryeowook, Hyukjae, juga Sungmin terlihat acuh menanggapi panggilan Soo Rim.

“Sungmin Oppa.” Teriak Soo Rim lebih nyaring.

Sungmin refleks menoleh, tepat memandangi Soo Rim dengan tatapan bingung. “Kau memanggilku?’ jawabnya.

“Nde.” Jawab Soo Rim dengan wajah cemberut karena sejak tadi tidak digubris oleh Sungmin. Sejak tadi lelaki itu bingung menentukan pilihan undangan mana yang harus dia pilih dari beberapa penawaran pihak WO.

“Nde.. Wae gurae, My Little Girl?” jawab Sungmin sok manis. Wajahnya dibuat lebih imut dari biasanya saat melihat Soo Rim semakin cemberut saat Sungmin menggodanya.

Soo Rim mengambil nafas, “Boleh aku yang menjadi pengiring pengantinnya?” tanya Soo Rim. Ia menanti jawaban Sungmin dengan penuh harap.

Sejak dulu Soo Rim mengidolakan Sungmin. Menonton setap pertunjukannya kapanpun. Dan sejak pertemuannya dengan Sungmin d tempat sauna beberapa bulan lalu, ia tau Sungmin sudah mempunyai pacar. Tapi ketika Sungmin mengumumkan berita rencana pernikahannya, tetap saja membuat Soo Rim sedih. Tak jarang ia kehilangan konsentrasinya saat latihan, untungnya saa pertunjukan, kesalahan itu bisa dia minimalisir.

“Eum… bagaimana yah…” ujar Sungmin semakin menggoda. Bola matanya memutar seolah sedang memikirkan permintaan Soo Rim.

Gadis kecil itu masih belum merubah mimik wajahnya, masih menggigit bibir atasnya, cemberut. “Kalau tidak boleh juga tidak apa-apa.” Jawab Soo Rim cepat sambil berbalik.

“Ya..k Han Soo Rim, tentu saja boleh.” Jawab Sungmin, saat melihat Soo Rim merajuk. “Han Soo Rim, kau pengiring pengantinp ertama.” Ujar Sungmin menambahkan untuk membujuk Soo Rim, namun dia tetap tidak beranjak dari duduknya, otaknya dipenuhi desain undangan yang harus ia putuskan malam ini, untuk dicetak.

“Kau ini, anak kecil digoda.” Hyukjae memukul kepala Sungmin sebagai balasan.

Perlu keberanian untuk meminta sebagai pengiring pengantin bagi Soo Rim, namun Sungmin tidak menyadari hal itu. Gadis kecil itu sudah dia anggap seperti adik kecilnya sendiri, meskipun tau Soo Rim mengidolakannya sangat. Dia pikir, itu hanya sebatas idola saja, tidak lebih. Tapi bagi Soo Rim, meski tau tidak mungkin membuat Sungmin mencintainya, tapi tetap saja ia ingin danggap istimewa oleh Sungmin.

“Aku bingung memilih yang mana.” Ujar Sungmiin tidak peduli, ia menggaruk kepalanya.

“Bukannya biasanya ini adalah tugas pengantin wanita?”

“Dia sedang sibuk, tidak mungkin aku menyuruhnya.”

“Oppa, aku masih tidak percaya Onnie hamil.” Ae Rin mengajak Sungmin dan Hyukjae membicarakan kehamilan Eun Kyo. Kyuhyun sibuk mengatur anak-anak itu latihan, dia bingung harus berbicara dengan siapa, hingga akhirnya ia mendekati Sungmin dan Hyukjae yang nampak berbicara.

“Kenapa harus tidak percaya?” tanya Sungmin mencoba menanggapi.

“Tapi benar juga, bukannya mereka menikah saat Yeon Su masih menjalin hubungan dengan Jung Soo Hyung? Itu artinya…” ujar Hyukjae.

“Sudah dikonfirmasi, itu hanya sandiwara. Jung Soo Hyung hanya tidak bisa mengatakannya saat itu.”

Hanya Ae Rin, Donghae, Kyuhyun dan Sungmin yang tau keadaan pernikahan Eun Kyo dan Jung Soo yang sebenarnya seperti apa. Tapi yang paling tau adalah Donghae, sayangnya orang itu sekarang tidak ada disini. Dan belum mengetahui tentang berita ini.

“Tapi, kapan mereka melakukannya? Ya… aku penasaran sekali.” Ujar Hyukjae mulai berpikir yang tidak-tidak. Mendengar hal itu, Ae Rin bersemu merah, ia terngat saat kejadian beberapa bulan lalu di pulau Jeju. Malam dimana dia tdak bisa tidur karena Jung Soo dan Eun Kyo sangat berisik.

“Aish! Oppa, Yadong!” Ae Rin memukul paha Hyukjae diiringi pekikan keras Hyukjae yang menahan sakit di pahanya.

“Yak! Kau ini! Appo!” teriaknya. Ia mengelus pahanya. “Ah, kau ini, seperti anak kecil saja. Kau sendiri, apa yang sudah kau lalukan bersama Kyuhyun? Bukannya beberapa hari yang lalu kau pulang bersama? Ke apartemennya? Lalu…” Hyukjae mendelik dengan senyuman setengah menggoda dan mengejek.

“Nde? Aku? Aku tidak melakukan apapun!” protes Ae Rin sambil refleks memegangi mulutnya. Tiba-tiba saja ia ingat ciuman itu. Hyukjae semakin gencar menggodanya.

“Kau berciuman? Eoh? Whoooaaaaaa kau sudah tumbuh dewasa.” Tambah Hyukjae lagi melirik dada Ae Rin.

Menyaksikan wajah Hyukjae tepat menatap ke dada, ia segera menyilangkan tangannya, “Yak! Oppa!” teriak Ae Rin lagi.

“Ayo kita mulai latihannya, kalian kenapa duduk-duduk saja?” tanya Kyuhyun nyaring. Wajahnya sudah penuh dengan keringat, begitu juga yang lainnya.

Mereka bertiga segera bangkit dan bergabung.

***

Eun Kyo berdiri di depan pintu apartemen Donghae, menghela nafas, lalu memencet bel. Ketika benar-benar tidak menemukan Donghae di ruangannya, ia memutuskan untuk mendatangi Donghae ke apartemennya. Tidak biasanya Donghae tidak menghubunginya jika tidak ke teater, dan ia merasa ada yang tidak beres dengan lelaki itu.

Tiga kali ia memencet bel hingga akhirnya ia memencet bel itu lama dan tiadk melepaskannya, hingga Donghae keluar. Setelah beberapa detik ia menunggu dengan tangan diatas bel, barulah pintu terbuka. Donghae membukakan pintu untuknya.

“Donghae~ya, wae gurae?” tanya Eun Kyo. Saat ia masuk ke dalam, ruang tamu sekaligus tempat bersantai Donghae terlihat berantakan. Banyak kaleng cola berserakan, juga beberapa cangkir bekas kopi yang kotor.

“Kau tidak latihan?” tanya Donghae. Ia menundukkan kepalanya.

“Kau kenapa?” tanya Eun Kyo sambil berjongkok memungut kaleng-kaleng yang berserakan dibawah meja dan menggelinding tak sengaja ia tendang ringan.

Donghae duduk di sofanya, memjit kepalanya, “Gwaenchana, aku hanya kurang enak badan.” Jawab Donghae.

Eun Kyo menoleh, tidak biasanya Donghae seperti ini. Biasanya meskipun sakit, ia pasti akan tetap menemani mereka latihan, lalu menyeduh teh ginseng, lalu setelah itu ia akan istirahat sebentar, dan besoknya, dia akan kembali seperti sedia kala.

“Jeongmal~yo?” tanya Eun Kyo tidak percaya.

Donghae hanya diam. Tdak bisa menjawab karena sekarang dia benar-benar tidak biak-baik saja. Ia sedang resah sekarang. Pertemuannya dengan Eommanya beberapa waktu lalu membuatnya gelisah. Ia mulai bertanya-tanya tentang kebenaran perilakunya terhadap orang yang sangatia rindukan selama ini. Dia hanya memiliki wanita itu sekarang ini. Di satu sisi ia ingin memeluk wanita itu, tapi disisi lain egonya masih tersisa.

Sebenarnya permasalahannya sekarang bukan rasa bencinya. Dia sama sekali tidak benci, bahkan ia terlampau mencintai wanita itu, yang sekarang hidup bersama orang lain, demi perusahaan Appanya. Kenapa harus selalu demi perusahaan? Eun Kyo juga demikian, apa semua ini hanya tentang perusahaan? Bukankah anggota keluarga lebih penting? Itu yang selalu Donghae tanyakan pada dirinya sendiri. Tidak bisakah Eommanya saat itu memahaminya? Memahami anaknya yang baru saja kehilangan sosok Appa dalam hidupnya? Lalu tak berapa lama ia harus memahami pernikahan Eommanya, dan tak cukup hanya itu, ketika perusahaan mereka kembali goyah, dia yang harus berkorban. Bukankah itu terlalu banyak? Ia tidak terima hal itu, dan memutuskan untuk pergi.

“Aku tau kau sedang hamil. Ayo duduk sini. Nanti aku yang bersihkan sendiri. Atau nanti Ahjumma saja yang mengurusnya.” Donghae menarik lengan Eun Kyo memaksanya untuk duduk disampnngnya. Donghae menekan remote televisi.

“Duduk disini.” Donghae menepuk tempat disebelahnya. Ia menarik Eun Kyo untuk duduk saat Eun Kyo hanya mematung meresponnya.

“Darimana kau tau aku…” tanya Eun Kyo heran. Donghae hanya senyum-senyum saat Eun Kyo bertanya dengan wajah berkerut. “Aish! Pasti dia yang bilang!” desis Eun Kyo.

“Dia hanya khawatir denganmu.” Donghae mencoba memahami sikap Jung Soo saat ini. Jika dia ada dalam posisi Jung Soo, pasti akan melakukan hal yang sama. Terlebih lagi Eun Kyo adalah wanita yang ia cintai.

“Tapi apa perlu harus memberitahukan semua orang untuk menjagaku?”

“Darimana kau tau kalau dia memintaku untuk menjagamu?”

“Memangnya tidak?” tanya Eun Kyo tidak yakin.

“Anhi. Dia hanya bilang Eun Kyo hamil, aku harus memberikan hadiah untuk itu.” Canda Donghae. Pikirannya sudah mulai tenang sejak kedatangan Eun Kyo. A selalu bisa bersikap tenang disamping wanita ini, entah kenapa. Padahal saat sekarang, hal itu berkebalikan.

“Bohong. Dia bukan orang yang seperti itu. Pasti banyak larangan untukku. Aku tidak suka di larang. Ya….. Donghae~ya, eottokhae? Eoh? Bagaimana dengan teaterku?” tanya Eun Kyo dengan nada cemas. Terdengar takut dan bingung.

“Wae? Mau bagaimana lagi, kau harus menemaniku saja mengawas mereka, dan mengurus administrasinya. Bagaimana?” songhae menjulurkan tangannya, meletakkannya di sandaran sofa dibelakang badan Eun Kyo.

“Shireo. Itu tidak menyenangkan sekali. Aku tidak suka.” Tolak Eun Kyo.

“Memangnya apa yang kau suka?” tanya Donghae.

Eun Kyo bangkit dari duduknya dan berjalan kearah pantry dapur milik Donghae. Membuka beberapa makanan yang tersisa disana.

“Aku suka makan.” Jawab Eun Kyo berjalan kearah rak piring dan mengambil satu yang bersih untuknya. Ia mengambil makanan itu dan melahapnya, tak peduli makanan itu sudah dingin.

“Hey, itu makanan tadi malam. Biar aku buatkan yang baru saja.”

Donghae menarik piring makanan Eun Kyo, namun wanita itu menahannya. Bersikeras untuk tetap melahap makanan sisa itu. “Buatkan saja, aku akan menunggunya.” Ujar Eun Kyo menyuap makanannya dengan cepat. Takut Donghae mengambilnya kembali.

“Kau ini. Jika terjadi sesuatu denganmu. Matilah aku.” Keluh Donghae. “Kau mau pesan apa? Biar aku telpon restoran terdekat saja.”

“Aku mau bibimbab dan bulgogi…” pekik Eun Kyo nyaring sambil mengacungkan sumpitnya.

“Aish! Kau ini.” Donghae mengambil ponselnya dan segera menghubungi restoran langganannya.

Disaat bersamaan, ketika Donghae sedang memesan makanannya melalui telpon, bel apartemennya kembali berbunyi. Awalnya dia tidak menggubrisnya, dia menoleh pada Eun Kyo ynag masih semangat memakan makanannya, dan menggidikkan bahunya saat Donghae menaruh curiga padanya. Mungkinkah Eun Kyo kembali memboyong teman-temannya kemari?

“Bukan aku.” Bela Eun Kyo ketika Donghae menatapnya seperti itu.

Donghae meletakkan ponselnya di meja ruang tamunya dan berjalan menuju ke pintu depan. Sebelum membukanya, ia meniliknya terlebih dahulu. Donghae mencondongkan tubuhnya kearah pintu, menempelkan matanya. Begtu melihat siapa yang ada dibalik pintu, Donghae terdiam sejenak. Tiba-tiba saja ia ragu untuk membuka pintu.

“Nugu?” tanya Eun Kyo dari dalam. Ia setengah berteriak agar Donghae mendengarnya.

Donghae diam dan perlahan membuka pintunya. Ia menarik nafas ketika harus berhadapan dengan Siwon dan Yoon Bi yang pasti akan meminta penjelasannya.

“Boleh kami masuk?” tanya Siwon.

Donghae masih terdiam memaku, setelah mengalihkan matanya kearah Yoon Bi, baru dia bergeming. “Boleh, silakan.” Donghae bergeser, membiarkan Yoon Bi dan Siwon masuk.

Langkah Yoon Bi dan Siwon sempat terhenti bersamaan ketika mendapati Eun Kyo duduk di sofa ruang tamu dengan piring makanannya. Mereka saling berpandangan, sementara Eun Kyo tersenyum menyambut mereka.

Ddrrrttt

Ponsel Eun Kyo bergetar, tapi ia sama sekali tidak peduli. Benar-benar tidak peduli karena mulutnya sibuk mengunnyah, dan matanya fokus ke depan televisi. Ia sempat melihat nama di layar ponselnya, dan tertera nama suaminya. Dia pikir Jung Soo pasti hanya akan membuat daftar pertanyaan yang tidak perlu dia jawab.

“Annyeong.” Sapa Eun Kyo saat mereka berdua duduk di hadapannya.

Tak berapa lama, Eun Kyo bangkit dari duduknya dan berjalan ke dapur. Meletakkan piring kotor bekas ia makan, serta mengambil beberapa piring kotor yang belum sempat dicuci oleh Donghae. Sepertinya Donghae terlhat sangat kacau hingga membiarkan piring kotor bertumpuk. Biasanya dia selalu tampil rapi.

“Tidak perlu dicuci, sebaiknya kau istirahat saja. Aku panggil Kibum kemari? Menjemputmu?” teriak Donghae.

“Sedikit saja, tidak apa-apa.” Sahut Eun Kyo dari dapur.

“Donghae~ya, pulanglah sebentar saja. Eomma sakit.” Ujar Siwon tanpa basa-basi.

Sepertinya Donghae juga tidak ingin berlama-lama berbicara dengannya. Donghae diam. Dia menatap cangkir bekas kopi baru.

“Kau minum kopi?” tanya Donghae pada Eun Kyo.

“Sedikit saja.” Jawab Eun Kyo tak kalah nyaring.

“Yak! Jung Soo Hyung bisa membunuhku jika sakitmu kambuh.” Ujar Donghae lagi.

“Kau mendengarkanku?” sela Siwon.

Terlihat sekali Donghae sedang tidak ingin diganggu olehnya. Siwon menatapnya tajam. “Tolonglah jangan kekanak-kanakan Lee Donghae! Apa kau tidak punya perasaan sama sekal? Eoh?!” Siwon mulai lepas kendali. Ia menjadi emosi saat melhat Donghae yang nampak tidak perduli dengan keadaan Eommanya yang sekarang terbaring sakit. Beliau terus meminta Siwon untuk menjemput Donghae kembali.

“Kalau aku tidak punya perasaan sama sekali, memangnya kenapa?” tanya Donghae dingin.

Siwon mengepalkan tangannya. Mengumpulkan emosinya agar tidak meledak dan mengendalikannya. “Kau suda bebas dari rencana pernikahan itu, jadi pulanglah. Itu yang kau tidak suka kan?” tanya Siwon. Donghae tersenyum sinis.

“Choi Siwon, setahulu kau bukan orang yang senang mencampuri urusan orang lain.” Ujar Donghae.

Mereka bertatapan tajam. Membuat Yoon Bi yang duduk disamping Siwon bergidik dan serba salah. Ia bingung harus melakukan apa. Dan merasa keputusannya menemani Siwon kemari adalah keputusan yang keliru. Dia hanya seperti badut yang tidak lucu sama sekali. Tak mampu mencairkan suasana, apalagi membuat orang tertawa.

“Aku yang bertunangan dengan Yoon Bi. Bukan kau.” Ujar Siwon.

“Chukkae.” Sahut Donghae.

“Jadi sekarang pulang.”

“Ini rumahku.”

“Setidaknya kau pulang sebentar.”

“Aku bukan anak kecil lagi.”

Mereka saling bersahutan dalam pembicaraan dingin dan penuh penekanan. Lalu suara getar ponsel Eun Kyo menyela pembicaraan mereka. Donghae mengambil ponsel milik Eun Kyo danmelihat nama Jung Soo tertera disana.

“Yeoboseyo? Hyung?” sapa Donghae.

Eun Kyo berlari kearah Donghae dan mengambil ancang-ancang untuk merebut ponselnya. Tapi tangan kiri Donghae menahannya. Donghae menjauhkan ponselnya yang masih menempel di telinganya dari Eun Kyo.

“Yak! Berikan padaku.”

Donghae tidak bersedia memberikan ponsel itu pada Eun Kyo. Dia tau Eun Kyo sedang malas menanggapi Jung Soo sekarang ini.

“Nde, dia bersamaku dan aku kerampokan dibuatnya. Permintaan makannay banyak sekali.” Ujar Donghae berbicara dengan Jung Soo melalui telpon.

“Yak! Yak! Yak! Kau sendiri yang menawariku.” Protes Eun Kyo. Dia masih berusaha merebut ponselnya hingga sofa mungil yang diduduki Donghae bergeser.

“Nde, kkokjeongmal.” Ujar Donghae mengakhiri pembicaraannya dengan Jung Soo.

Eun Kyo menatap Donghae emosi. “Kenapa mengangkatnya? Tidak sopan mengangkat ponsel orang lain!” teriak Eun Kyo marah.

Saat Donghae ingin membela diri, bel apartemennya kembali berbunyi. Donghae banyak kedatangan tamu hari ini.

“Ah! Itu pasti pesanan kita.” Ujar Eun Kyo girang. Wajahnya yang terlihat marah tadinya berganti ceria dan berlari kearah pintu. Membuakanya tanpa pikir panjang.

“Masukkan dalam tagihanku saja, Gun Woo~ya..” sahut Donghae dari dalam.

“Jadi, Lee Donghae…” suara Siwon masih terdengar membujuk.

Donghae menoleh, lalu tertawa. “Ya… kenapa kita jadi seperti ini. Kau membuat tunanganmu ketakutan.” Ujarnya lagi sambil melihat kearah Yoon Bi. Orang yang dimaksud hanya terdiam.

“Dia memang sakit Donghae~ssi.” Ujar Yoon Bi membenarkan perkataan Siwon.

“Aku akan makan dikamarmu saja, tidak akan mengganggumu.” Ujar Eun Kyo berlalu tanpa perduli perdebatan yang kembali dimulai.

“Aku akan memikirkannya. Tidak perlu dijemput. Aku akan kesana atas kemauanku sendiri. Kalian tidak perlu repot kemari.” Ujar Donghae bangkit dari duduknya.

“Kau tidak bekerja? Bukanya kau sibuk dengan perusahaanmu itu? Dan kau juga, Uisa~nim, bukannya kau biasanya sibuk dengan pasienmu?” Donghae memandang sinis kearah Yoon Bi. Membuat gadis itu semakin serba salah.

“Benar kau akan pulang?”

“Aku akan menjenguknya, atas kemauanku sendiri. Dan tidak dijemput seperti anak kecil.” Ujar Donghae membenarkan.

“Ah, nde. Arasseo.”

Donghae belum pernah seperti ini sebelumnya. Biasanya dia penuh pengertian, tidak pernah keras kepala seperti ini. Membuat Siwon kebingungan menghadapinya. Di satu sisi dia mengerti perasaan Donghae, tapi disisi lain, orang tua tidak bisa diabaikan begitu saja. Seandainya dulu Donghae berbicara baik-baik bukan dengan cara kabur seperti ini, mungkin tidak akan seperti ini keadaannya.

“Aku masih seperti dulu, chinggu~ya.” Siwon memeluk Donghae erat dan menepuk-nepuk punggungnya.

“Eum, aku juga.” Jawab Donghae. Dulu mereka begitu dekat, hingga perginya Donghae dari rumah merubah segalanya.

“Aku kira kau menyukai Eun Kyo.” Ejek Donghae setelah melepaskan pelukan mereka.

“Kau ini.” Siwon memukul perut Donghae. Mereka tertawa bersama.

Tawa yang keluar dari mulut Siwon dan Donghae membuat Yoon Bi sedkit lega dan tidak lagi terlalu tegang seperti tadi. Ia takut Siwon akan lepas kendali dan berkelahi. Dalam pikirannya, Siwon tidak setenang itu menghadapi Donghae, dilihat dari cara kerasnya pada beberapa anak buahnay dikantor. Tapi semua dugaan itu meleset. Siwon menjadi orang yang berbeda kali ini. Dan dia sedikit shock dan terkejut atas pernyataan terakhir Donghae sebelum mereka tertawa tadi. Siwon menyukai Eun Kyo? Kenapa harus selalu wanita itu? Tanya Yoon Bi dalam hati.

“Sudah tidak mungkin, dia sekarang haml.” Patah Donghae. Siwon tertawa, dia merasa konyol telah menjatuhkan perasaannya terhadap wanita itu.

“Minggir.”

Lagi-lagi Eun Kyo menyela mereka, dia mendorong Donghae, menyuruhnay memberikan jalan. “Kau mau kemana?” tanya Donghae.

“Nde? Aku?” tanya Eun Kyo.

“Siapa lagi?”

“Bukannya kau tidak sudi menampungku yang sudah merampok isi dapur dan dompetmu? Eoh? Sebaiknya aku pergi saja.” Jawab Eun Kyo merajuk.

“Kemana?”

“Memangnay kau siapa harus tau apa yang aku lakukan.”

“Tidak bisa. Kau harus tetap disini sampai Kibum atau Jung Soo Hyung menjemputmu.” Ujar Donghae menarik Eun Kyo.

“Yak! Kau dibayar berapa olehnya? Eoh?”

“Aku suka relawan.” Ujar Donghae sambil tertawa ditahan.

Eun Kyo terlihat lucu, dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Membentak dan bicara nyaring sarat emosi seperti ini baru kali ini dia lihat. Apa mungkin karena pengaruh kehamilannya? Entahlah, yang pasti, wanita itu sekarang mudah sekali berteriak kesal mengutarakan perasaannya. Berbeda engan Eun Kyo yang dulu yang cenderung diam meskipun masalah besar sedang melandanya.

“Ah, Yoon Bi~ssi, aku ikut denganmu saja.” Ujar Eun Kyo meraih lengan Yoon Bi.

“Dia bersama Siwon.” Ujar Donghae.

“Mo? Kau pasti mau ke rumah sakit kan? Aigoo.. omona, kepalaku sakit sekali.” Ujar Eun Kyo berlagak kesakitan memegangi kepalanya.

“Geotjimal.” Ujar Donghae sambil menarik Eun Kyo.

Siwon dan Yoon Bi yang melihat adegan dua sahabat itu tertawa tanpa suara. Eun Kyo masih  berusaha melepaskan diri dari cengkraman Donghae dan merapatkan dirinya pada Yoon Bi.

“Yak! Aku sedang hamil, seharusnya kau tidak boleh menggunakan kekerasan seperti ini.” Ujar Eun Kyo.

“Sebaiknya kau istirahat saja… Onnie.” Ujar Yoon Bi sedikit kaku saat memanggil Eun Kyo dengan sebutan ‘Onnie’.

“Kau dengar? Dokter menyuruhmu untuk istirahat, bukan keluyuran.”

“Aku sakit kepala, harus ke rumah sakit!” Eun Kyo masih bersikeras.

“Kau minum kopi, makanya sakit kepala. Aigoo… aku heran kenapa Jung Soo Hyung tahan denganmu yang cerewet seperti ini.” Ujar Donghae mengeluh. Andai saja dia berada di posisi Jung Soo sekarang. Dia akan mengurung Eun Kyo seharian dirumah. Wanita ini cenderung suka keluyuran jika sedang bosan. Dan pasti dia merasa berbeda ketika mendapati dirinya hamil.

“Dia lebih cerewet makanya tahan.”

Jawaban Eun Kyo membuat mereka bertiga tertawa. Dan Siwon yang tertawa paling keras. Hilang sudah image Eun Kyo yang terlihat dingin dan berwibawa dimatanya. Wanita itu punya sisi lain yang baru ia ketahui. Sayangnya, saat ia mengetahui hal itu, wanita ini sudah menjadi milik orang lain.

“Kenapa tertawa?” tanya Eun Kyo bingung.

“Sudah, kau masuk saja.” Siwon mendorong Eun Kyo dan Donghae masuk ke dalam. Lalu ia menarik Yoon Bi untuk pulang.

Mereka dalam perjalanan ke rumah sakit. Yoon Bi harus dinas beberapa jam lagi. Dan Siwon harus mengantarnya.

“Kau lapar? Kita makan siang dulu?” tanya Siwon.

“Tidak perlu, aku makan di rumah sakit saja.” Ujar Yoon Bi.

“Baiklah kalau begitu.”

“Jika aku adalah Eun Kyo, kau pasti bersikeras untuk meminta makan siang, benar kan?” tanya Yoon Bi tiba-tiba.

“Wae? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanya Siwon sedikit terkejut.

“Anhi, semua ini tentangnya.” Yoon Bi menjawab.

“Kau terganggu dengan ucapan Donghae tadi?”

“Sedikit.” Jawab Yoon Bi jujur.

“Tapi memang aku menyukainya. Seandainya dia belum menikah…”

“Aku turun disini saja.” Ujar Yoon Bi tiba-tiba memotong.

“Kau cemburu?”

“Untuka apa aku cemburu?” tanya Yoon Bi menoleh kearah Siwon.

“Sudahlah. Yoon Bi~ya, kita tidak saling mencintai.” Ujar Siwon jujur. Meski tak sepenuhnya benar, yang pasti ia memang tidak mencintai gadis yang duduk disampingnya ini. Masih belum bisa, karena ia terlanjur tidak bisa.

***

Hari sudah malam. Para karyawan yang bekerja pada Jung Soo pun sudah pulang. Tapi kini Jung Soo masih belum berniat untuk pulang. Ia melajukan mobilnya ke sebuah rumah sakit. Ada yang ingin ia diskusikan dengan salah Dokter disana. Tadi siang dia sudah membuat janji, dan sengaja datang lebih larut agar lebih leluasa.

Dan benar apa yang diperkirakan Jung Soo. Ruang tunggu para pasien sudah mulai sepi. Sebagian sudah pulang. Hanya tinggal beberapa yang menunggu giliran.

“Tuan Park?” tanya seorang perawat yang bertugas memanggil para pasien.

“Nde?” sahut Jung Soo.

“Giliran Anda setelah ini. Sudah sejak tadi.”

“Tinggal berapa orang lagi?” tanya Jung Soo.

“Ada 3 lagi.”

“Aku yang terakhir saja.”

Jung Soo duduk diam di bangku panjang di ruangan tunggu. Sudah 20 menit dia duduk disana, satu pasien sudah keluar. Memilih yang terakhir karena dia pikir wanita hamil dengan perut besar akan berbahaya pulang terlalu larut. Dia hanya ingin berdiskusi dengan Ae Ra seputar kehamilan Eun Kyo. Dia sangat penasaran.

“Aish! Kenapa tidak diangkat!” sungut Jung Soo kesal.

Ia mengetukkan jadinya di paha dan menempelkan ponselnya di telinga, menunggu Eun Kyo menjawab panggilannya.  Tak ada sahutan kecuali bunyi ‘Tut Tut Tut” yang konstan tiap beberapa detik.

“Ayolah, Eun Kyo~ya, aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja.”

Satu sambungan terputus dan Jung Soo tidak putus asa, dia menekan kembal nomor Eun Kyo, mencoba menghubunginya.

“Paling tidak aku mendengar suaramu saja. Itu sudah cukup.”

Kali ini buakn jemarinya lagi yang bergerak. Kakinya kini mengetuk-ngetuk lantai sembari mendengarkan bunyi ‘Tut Tut Tut’ yang iia rasa mulai membosankan.

“Satu kata saja, Yeoboseyo, jebal…”

Kini Jung Soo bangkit dan berjalan bolak-balik menunggu Eun Kyo mengangkat telponnya.

“Park Jung Soo~ssi. Giliran Anda.” Panggil perawat yang tadi sudah sekali memangilnya.

Jung Soo menoleh, “Nde? Ah, ye.” Ia memutuskan panggilannya dan menaruh ponselnya disaku, lalu berjalan menuju pintu masuk ruangan seorang Dokter Kandungan.

“Sunbae~nim?” sapa Ae Ra. Ia bangkit dan berdiri mengambil sebuah berkas dalam lemarinya, lalu kembali duduk.

“Apa yang ingin kau tanyakan? Dia sudah bilang padamu?”

“Apa dia baik-baik saja? Catatan kesehatannya? Ada masalah?”

“Wae? Apa dia terlihat aneh? Dalam catatanku dia baik-bak saja.” Ujar Ae Ra santai.

“Ani, hanya saja dia terlalu keras kepala. Aku menyuruhnya untuk istirahat dan menghentikan kegiatannya di teater. Aku mencemaskannya, apa aku salah? Tapi dia menganggapku berlebihan.” Keluh Jung Soo panjang lebar.

“Begitu?”

“Eum.” Jawab Jung Soo.

“Bagaimana dengan kondisinya? Apa dia terlihat sakit? Atau terlihat lelah?”

“Aku tidak terlalu memperhatikannya.” Jawab Jung Soo.

“Aish! Kau ini. Jangan terlalu khawatir.” Ae Ra mencoba menenagkan.

“Tapi kau pernah melihat pertunjukannya? Kali ini sangat berbahaya. Geraklan kombiinasi menari, entahlah apa namanya. Apa itu tidak akan mengganggu? Dia akan baik-baik saja?” tanya Jung Soo cemas.

“Sedikit berbahaya. Tapi tergantung keadaan ibu dan janin.”

“Dia terlihat percaya diri sekali.” Gumam Jung Soo teringat Eun Kyo yang masih terlihat gesit tanpa terganggu dengan kehamilannya.

Akhir-akhir ini memang dia mengeluh sakit kelapa saat pagi, tapi setelah mandi, dia terlihat lebih segar dari biasanya.

“Ah, bagaimana dengan… ish, bagaimana membicarakannya? Begini, dengan kehamilannya, apa aku… dia…” Jung Soo menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Ia bingung harus menjelaskan bagaimana kepada Ae Ra. Gadis ini sudah menikah atau belum, dia belum tau. “Maksudku, kami…”

“Tidak masalah. Aku mengerti yang ingin kau tanyakan. Hahahahahahaha.” Ae Ra terbahak. Membuat Jung Soo tersipu. “Kau kesini ingin menanyakan hal itu kan? Kau tau jawabannya pasti baik-baik saja, hanya saja kau terlalu khawatir.” Lanjut Ae Ra. Dia masih tertawa sampai mengeluarkan airmata.

“Yak, bukan begitu. Yak, hentikan tertawamu. Bukan begitu maksusku.” Protes Jung Soo.

“Ne, ne. Aku mengerti.” Tapi Ae Ra sama sekali masih tidak bisa menghentikan tawanya.

“Kau sudah menikah?” tanya Jung Soo.

“Eum, aku sudah menikah. Dan aku tau apa yang kau rasakan. Hihihihi.” Ae Ra masih terkekeh. Melihat wajah Jung Soo yang putih menjadi merah padam baginya sangat menggelikan.

“Kenapa tidak mengundangku?”

“Kau juga tidak mengundangku.”

“Kau sudah punya anak?”

“Belum.”

“Jadi tidak apa-apa kan?” tanya Jung Soo meyakinkan.

“Eum, gwaenchana. Banyak yang keliru dengan hal ini. Baik-baik saja asal dilakukan dengan benar.”

Ae Ra ingin menjelaskan lebih lanjut tapi bunyi dering ponsel Jung Soo menghentikannya. Jung Soo mengarahkan tangannya pada Ae Ra untuk menghentikan pembicaraan. Menjauh beberapa meter dari tempat duduknya.

“Nde? Kau dimana?” tanya Jung Soo begitu ia menerima panggilan Eun Kyo. “Mwo? Tidak perlu dijemput? Wae? Kau dimana?” Jung Soo bingung. Eun Kyo mengatakan dalam pembicaraan melalui telpon bahawa Jung Soo tidak perlu menjemputnya, tanpa mengatakan dimana keberadaannya sekarang.

“Yak! Yeobo. Aish! Kenapa ditutup.”

Jung Soo mendesis kesal. Eun Kyo memutuskan sambungan secara sepihak. Ketika ia mencoba menghubungi Eun Kyo kembali, ponselnya sudah tidak aktif.

“Yaish! Kenapa dia berubah aneh seperti ini?!” Jung Soo setengah berteriak menahan kesalnya.

“Hubungi temannya saja. Mungkin ada dirumah temannya.” Ujar Ae Ra.

“Aku tidak akan memaafkannya jika dia menginap di rumah Donghae. Ae Ra~ya, aku harus pulang sekarang juga.” Jung Soo berpamitan pada Ae Ra. Tanpa basa-basi dan menunggu jawaban dari Ae Ra, ia segera meninggalkan ruangan Ae Ra.

Jung Soo melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Ia mengemudikan mobilnya menuju rumah orang tua Eun Kyo yang kini ditempati Kibum, berbeda dari rencana awalnya yang ingin menjemput Eun Kyo di tempat Donghae. Setelah ia menelpon, lelaki itu mengatakan Eun Kyo dijemput Kibum beberapa jam yang lalu. Meskpun masih tidak terima, tapi setidaknya Jung Soo tidak harus cemuru terlalu lama lagi. Eun Kyo pulang ke rumahnya sendiri, bukan di tempat lelaki lain.

Jung Soo mematikan mesin mobilnya ketika sampai di tempat tujuan. Di depan sebuah rumah besar yang masih terlihat terang benderang. Ia membunyikan klakson mobilnya, menunggu seseorang membukakan pintu pagar. Setelah beberapa waktu menunggu, pintu pagar terbuka, ia kembali menyalakan mobil dan memarkirnya di halaman rumah.

Jung Soo menapakkan kakinya di atas batako yang tersusun rapi membentuk sebuah jalan kecil menuju pintu utama rumah. Hampir seluruh halaman ditutupi oleh rumput dan susunan batako berbagai bentuk dan corak.

“Apa Nona besarmu ada disini?” tanya Jung Soo pada salah seorang pelayan. Ia belum begitu hapal nama dari beberapa orang yang mengurus rumah ini.

“Nde, sejak beberapa jam yang lalu, Tuan Muda.” Jawabnya.

Jung Soo sudah memasuki rumah, disambut oleh senyuman Kibum yang masih mengenakan pakaian kantornya. Lelaki itu  terlihat lelah, menggulung lengan kemejanay hingga pergelangan tangannya.

“Hyung.” Sapanya datar. “Dia ada dikamarku.” Ujar Kibum menghilangkan gundah Jung Soo.

Tanpa pikir panjang lagi Jung Soo setengah berlari menapaki tanggga dan dan menghentikan langkahnya di depan pintu kamar. Ia menarik nafas lalu menghembuskannya pelan-pelan dan membuka pintu. Entah kenapa, seharian bekerja tanpa mendengar suara Eun Kyo, rasanya itu sangat berat. Padahal biasanya tidak seperti ini. Letihnya sama seperti ini, tapi perasaannya merasa berbeda. Begitu pintu terbuka, ia mendapati Eun Kyo sudah tertidur. Jung Soo berjalan mendekatinya. Berdiri di tepi tempat tidur, lalu berjongkok sejajar dengan Eun Kyo.

“Annyeong, Yeobo.” Sapa Jung Soo berbisik.

Ia memandangi wajah Eun Kyo dengan seksama. Nafas yang teratur dan wajah yang terlihat tenang, membuatnya sedikit lega. Eun Kyo nampak nayaman dalam tidurnya, dan hal itu setidaknya membuat Jung Soo tenang.

“Apa kabarmu hari ini?”

Jung Soo merapikan anak rambut yang jatuh diwajah Eun Kyo, menyelipkannya ke belakanga teliinga wanita itu.

“Kau tidak menjawab telponku hari ini. Bahkan hanya untuk kata ‘Yeoboseyo, pun kau tidak membiarkan aku mendengarnya.”

Jung Soo memandangi wajah Eun Kyo dengan lekat, yang masih nyaman dalam tidurnya. Ia memang terlihat lebih berisi dari biasanya, dan bodohnya, Jung Soo tidak pernah berani untuk meyakini jika istrinya sedang hamil saat itu meskii sudah beberapa kali menanyakannya.

“Kau ingin menyembunyikannya dariku, tapi kau tau itu  tidak akan pernah biisa, gadis pintar.”

Setelah beberapa menit bertahan untuk tidak menyentuh, akhirnya Jung Soo mendaratkan bibirnya di permukaan bibir Eun Kyo.hanya bersentuhan saja, tapi sudah lebih dari cukup bagi Jung Soo unatuk mengisi energinya kembali.

Eun Kyo terusik, ia menggeliat pelan dan lenguhan lecil keluar dari mulutnya. Membuat Jung Soo melepaskan bibirnya dan kaku menegang. Ia terdiam.

Dengan kepala yang masih terasa berat dan mulai berdenyut, Eun Kyo perlahan membuka matanya. Ciuman Jung Soo membuatnya terganggu dan menariknya dari tenangnya tidur. Ia mengerjapkan matanya dan mengumpulkan fokus untuk mengenali wajah siapa yang ada di hadapannya.

“Oppa…” panggilnya serak. Ia berbali membelakangi Jung Soo. “Kenapa kau tidak pulang? Aku bilang jangan menjemputku.” Lanjutnya. Ia meraih guling dan memeluknya erat. Jung Soo bangkit dan mendesah pelan.

“Aku akan tidur disini.” Putus Jung Soo.

Eun Kyo tidak menjawab, sepertinya sudah mencoba untuk kembali tidur. Ia naik keatas tempat tidur, mengambil tempat disamping Eun Kyo.

“Ah… mandi dulu jika ingin tidur, kau bau.” Protes Eun Kyo mendorong Jung Soo.

“Arasseo.” Jawab Jung Soo setengah ragu.

Meski harus mandi terlebiih dahulu. Setdaknya ia tidak diusir dan diperbolehkan untuk bersamanya. Jung Soo merasa Eun Kyo mulai menghindarinya.

“Yeobo, besok kita akan pergi belanja, bagaimana? Kau perlu suplemen dan susu untuk ibu ha,il.” Ujar Jung Soo.

Eun Kyo tidak menjawab. Hanya dengusan kasar yang terdengar. Dan Jung Soo tersenyum mendengarnya.

***

Eun Kyo berjalan disamping Kibum saat memasuki koridor perkantoran miliknya. Ia berjan dengan langkah pasti. Untuk pertama kalinya Eun Kyo menapaki tempat ini untuk urusan pekerjaan. Masih melayang dalam ingatannya, beberapa sudut dari tempat ini mengingatkannya akan kenanganmasa kecilnya. Saat bermain dan bersenmbunyi, membuat orang tuanya khawatir, itu sangat menyenangkan baginya dulu. Eun Kyo tersenyum mengingat hal itu.

“Waeyo? Noona?” tanya Jung Soo bingung.

“Ani, aku hanya teringat, masa lalu.” Jawab Eun Kyo.

Ia menggandeng tangan Kibum dan melangkah bersamaan. Andy berjalan mengikuti mereka di belakang. Beberapa karyawan menunduk pada mereka. “Tak aku sangka, pengaruhmu begitu besar, Noona.” Bisik Kibum dingin. “Aku menyiapkan rapat kecil untuk menyambutmu. Beberapa dewan direksi. Tidak akan lama, heum?”

Eun Kyo mengangguk. Pasrah pada apa yang dilakukan Kibum kali ini. Toh, ia hanya sebagai tameng saja, tak sepenuhnya terjun langsung di perusahaan. Ia akan mengawasi semua pekerjaan dari rumah. Dan semua laporan akan sampai padanya. Lalu Andy mennganalisanya, dan seperti itu saja, sangat mudah dalam pikirannya. Tapi sekarang, dia harus berakting telah menguasai segalanya, untuk mematahkan anggapan beberapa ‘oknum’ yang ingin ‘memanfaatkan’ hubungannya dengan Kibum saat ini.

“Kau istirahat dulu di ruanganku, Mi ran sedang menyiapkan ruangan kalian. Aku akan memerikasa ruangan rapat.” Ujar Kibum.

“Eum.” Jawab Eun Kyo malas.

Dia masih ingat ruangan ini. Ini adalah ruangan tempat Appanya bekerja dulunya. Ia berjalan mengitari tiap sudut ruangan. Lukisan itu masih tergantung ditempat yang sama seperti dulu. Lemari yang sama, foto yang masih terpasang di dinding juga sama, foto kedua orang tuanga, dan sebuah foto besar saat ia bermain di padang rumput ketika ia berumur 5 tahun.

Eun Kyo tersenyum engingat hal itu. Saat berumur 5 tahun adalah masa-masa paling indah baginya. Ada begitu banyak kenangan yang ia ingat ketika itu. Saat betapa cemasnya Eommanya ketika ia terjatuh dari mobil saat berlari dan tidak sabat untuk mencoba arena permainan sebuah tempat bermain anak.

“Teringat sesuatu?” tanya Andy.

“Eum.” Jawab Eun Kyo singkat.

“Aku juga sering seperti itu.” Ujar Andy lagi.]eun Kyo yang memandangi foto kedua orang tuanya berbalik menoleh pada Andy, “Kau masih punya keduanya?” tanya Eun Kyo.

“Masih.” Jawab Andy singkat.

“Bagus kalau begitu. Jika kau menikah dengan Kibum nantinya, setidaknya Kibum punya orang tua.”

“Onnie…” rengek Andy.

Kharisma kuatnya hilang seketka saat ia merengek tadi. Andy yang terlihat tegar dan mampu melakukan apa saja dimata Eun Kyo kini berubah. Gadis itu tertawa ringan.

“Wae? Bukannya kau menyukainya?” tanya Eun Kyo yakin.

“Kenapa berkata seperti itu?” tanya Andy.

“Kau tidak akan melakukan semua ini jika bukan karena ada yang membuatmu tertarik.” Ujar Eun Kyo menyeringai. “Disini.” Lanjutnya tersenyum.

Apa yang dikatakan Eun Kyo tidak meleset. Andy memang punya alasan menerima tawaran Kibum untuk bekerja sama. Dia punya karir cemerlang di London, dan rela melepasnya demi megajari seorang wanita yang membutakan diri pada urusan yang seharusnya menjadi tanggungjawabnya.

“Baiklah, kita mulai saja apa yang harus kau lakukanp ertama kali disini. Aku sudah mengecek segalanya. Pencapaian target terakhir hanya mencapai 60 % saja. Padahal dengan anggaran yang ditetapkan, kalian bisa mencapanay lebih dari itu.” Jeas Andy.

“Katakan padaku, apa aku mencintainya?” tanya Eun Kyo.

Andy tidak peduli, “Minta laporan pendapatan terakhir dan berpura-pura sudah mengecek dan mengerti segalanya, lalu setelah beberapa detik kemudian, mintalah laporan audit terakhir.”

“Apa dia juag menunjukkan perasaannya padamu? Bagaimana kalian bertemu pertama kali? Perpustakaan? Aku yakin untuk oran-orang seperti kalian semuany berawal dari perpustakaan.” Lanjt Eun Kyo mengacaukan perhatian Andy.

“Lalu setelah itu, minta laporna kinerja para pegawamu. Hanya itu yang belum aku periksa, belum sempat.” Andy mengakhiri pelajarannya dan mengalihkan matanya dari catatan yang dibawanya learah Eun Kyo.

Eun Kyo mengerjapkan matanya, menunggu jawaban dari Andy. “Onnie, akan aku ceritakan hal itu nanti setelah kau lulus ujian hari ini. C’mon. Let’s start thhe show.” Ujar Andy menyunggingkan senyumannya.

“Apa yang kalian bicarakan? Noona, rapat sudah siap, kita bisa kesana sekarang.” Ujar Kibum.

Eun Kyo berjalan mengiringi Kibum dan Andy yang membawa ke sebuah ruangan rapat.

Opening meeting berjalan singkat. Penjelasan mengenai bergabungnya Eun Kyo di perusahaan dan membahas gambaran singkat tentang permasalahan yang akan dihadapinya kelak. Meski Eun Kyo tidak begitu mengerti, tapi yang ia tau, itu tidak mudah.

***

Dua minggu berlalu sejak kejadian kehamilan Eun Kyo yang baru saja disadarinya. Ia masih tetap tinggal di tempat Kibum dan bersikeras untuk menyuruh Jung Soo pulang menungguo rumahnya. Tentu saja Jung Soo tidak setuju. Dan ada pertengkaran kecil mengawali tidur mereka setiap hari. Meski membiarkan Jung Soo tetap tidur bersamanya, selalu ada saja perdebatan yang mereka lakukan setiap malam. Tentang enis kelamin anak mereka hingga perabotan bayi yang belum mereka beli menjadi topik hangat perdebatan setiap malamnya. Hingga pada pemilihan susu ibu hamil dan sayuran yang harus dimakan Eun Kyo setiap harinya.

Dua minggu tersebut berlangsung sama, tapi tidak untuk malam ini. Hingga jam 11 malam, Jung Soo masih belum pulang, dan hal itu membuat Eun Kyo tidak bisa tidur. Awalnya ia ingin memejamkan matanya, namun masih terusik karena Jung Soo dan juga Kibum belum pulang. Ia keluar dari kamarnya.

“Kibum belum pulang?”

“Belum.” Jawab Min Jung.

“Kenapa belum pulang. Jung Soo Oppa?” tanya Eun Kyo lagi.

“Tidak kelihatan.” Jawab Min Jung acuh.

“Onnie, kira-kira mereka ada dimana? Kenapa selarut ini belum pulang? Eoh?” Eun Kyo menggandeng tangan Min Jung seperti anak kecil sedang bermanja pada ibunya.

“Bukannya kau bertengkar setiap malam? Kenapa sekarang mencarinya, bukankah begini lebih tenang?” goda Min Jung.

“Onnie, aku serius. Aku hanya takut terjadi apa-apa pada mereka.”

Rasa kehilangan tiba-tiba menyergap Eun Kyo. Menariknya pada sebuah ketakutan yang menyudutkannya pada sebuah kegelisahan. Kali ini dia benar-benar gelisah. Otaknya terus tidak tenang. Seolah ada yang mengganggunya.

“Kau tenang saja. Tidak akan terjadi apa-apa.” Min Jung menenangkan Eun Kyo.

Tiba-tiba terdengar suara deru mobil dari arah depan rumah. Eun Kyo segera menghentikan langkahnya. “Itu pasti Oppa.” Ia segera berlari menuju pintu depan dengan menurun tangga.

“Yak! Eun Kyo~ya, hati-hati! Aish! Gadis itu!” Min Jung mengkhawatirkan keadaan Eun Kyo yang berbadan dua menuruni anak tangga dengan berlari.

Eun Kyo berhenti dan mengatur nafasnya yang terengah saat tiba di depan pintu rumahnya. Memegangi dadanya dengan tangan kanan dan menetralisir produksi adrenalin yang memiicu jantungnya. Setelah merasa tenang, baru ia membuka pintu.

“Oppa, kenapa pul…”

Kalimat Eun Kyo terhenti saat mendapati bukan Jung Soo ataupun Kibum yang kini ada dihadapannya. Melainkan sekumpulan gadis yang sudah dikenalnya, dengan tujuan yang belum jelas ia ketahui. Apa maksud mereka bertamu ke rumahnya malam-malam. Ae Rin, Jang Mi, Je In, Soo Rim dan juga Yoon Bi berdiri di hadapannya.

“Ae Rin~a..” panggil Eun Kyo pelan. “Apa yang kalian lakukan malam-malam disini?” tanya Eun Kyo.

“Onnie, pakai jaketmu, dan ganti sendalmu. Ikut aku sekarang juga. Ae Rin menarik lengan Eun Kyo menuju ke mobil.

“Yak! Kalian belum mengatakan maksud kedatangan kalian kesini.” Eun Kyo mengikuti langkah Ae Rin yang menyeretnya ke dalam mobil, sementara Jang Mi berlari kedalam rumah untuk mengambil sweater untuk Eun Kyo.

Setelah Jang Mi kembali, ia melajukan mobilnya tanpa berkata.

“Yak! Tolong seseorang katakan kepadaku, ada apa ini sebenarnya?” tanya Eun Kyo setengah berteriak karena kesal.

Jang Mi mengemudikan mobil dengan sedikit brutal. Bukan Jang Mi namanya jika biasa-biasa saja. Gadis yang penuh ledakan itu menyalip beberapa mobil dengan gesit. Tidak ada yang menjawab pertanyaan Eun Kyo karena tegang mobil mereka hampir saja menambrak pembatas jalan.

“Onnie, hati-hati, aku masih sayang dengan nyawaku.” Ujaer Je In bergetar.

“Aku jug amsih sekolah.” Ujar Soo Rim.

Ada rasa sesal menyelimuti mereka yang telah menerima ajakan Ae Rin untuk ikut. Padahal mereka tau bahwa tempat tujuan mereka sekarang bukanlah tempat untuk remaja umur beasan seperti mereka. Terlebih lagi waktu telah semakin larut.

“Sebenarnya kalian mau kemana? Bisa tolong katakan padaku? Eoh?’ tanay Eun Kyo lagi.

“Kami mau ke Club.” Ujar Yoon Bi akhirnya menjawab.

“MWORAGO?” pekik Eun Kyo terkejut. Ia memandangi Je In dan Soo Rim. Meskpun remaja sekarang sudah familiar dengan tempat yang sejenis club dan hiburan malam, tapi menurutnya tidak untuk kedua remaja yang saling berpengan tangan saling menguatkan.

“Suamimu ada disana.” Ujar Ae Rin.

Eun Kyo mulai mengerti sekarang. Kenapa JungS oo tak kunjung pulang malam ini. Jadi dia pergi ke tempat hiburan? Bagus sekali! Umpat Eun Kyo dalam hati. Tiba-tiba ia merasa emosi.

“Lau kenapa harusada kedua bocah ini? Dan kau? Yoon Bi? Jang Mi?” tanya Eun Kyo bingung.

“Hari ini pulang latihan lebih awal. Aku ke toko buku dan mereka berdua sudah ada disana. Jang Mi Onnie juga sedang disana. Hasil rapat kami, merujuk pada suatu tempat. Aku sangat yakin dengan tempat itu.” Ujar Ae Rin berapi-api.

“Tempat apa maksudmu? Rapat bagaimana?” tanya Eun Kyo semakin bingung.

“Lalu ketika Yoon Bi Onnie membawa mobil aku segera berinisiatif untuk menjemputmu dan menguak semua kebusukan ini.” Ujar Ae Rin lagi.

“Bicara yang aku mengerti saja. Jangan pakai bahasa sastramu yang sulit itu Ae Rin~a.” Ujar Eun Kyo.

“Aku baru saja belajar mengendarai mobil, dan sialnya, harus berujung seperti ini.” Keluh Yoon Bi.

“Sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Apa maksudnya semua ini?” tanya Eun Kyo.

“Onnie, apa kau tidak tau sama sekali? Oh, tentu saja Oppa tidak memberitahukannya padamu.” Ujar Ae Rin.

“Aaaaaaa!!!” Je In dan Soo Rim berteriak bersamaan saat Jang Mi memarkir mobil diparkiran sebuah gedung dan hampir saja menabrak mobil lain yang ingin keluar.

“Mereka mengadakan bachelor party disini!” ujar Jang Mi geram. Ia keluar dari mobil diikuti oleh yang lain.

Bachelor party? Maksudnya?” tanya Eun Kyo masih belum mengerti.

“Aish! Onnie! Kenapa kau bodoh kali ini? Bachelor party. Pesta bujang artinya bersenang-senang dan mereka mabuk-mabukan, dan mereka makan-makan.” Ae Rin meneguk liurnya. Tiba-tiba saja a merasa lapar. “Lalu akan ada penari stiptease menemani mereka.”

Mereka berenam berjalan menuju gedung tempat Jung Soo dan yang lainnya mengadakan pesta. Sebenarnya bukan pesta Jung Soo, melainkan pesta Sungmin yang sebentar lagi melepas masa lajangnya.

“Andy?” sapa Eun Kyo saat mengenali seorang gadis yang berjalan di hadapannya. Gadis itu berbalik, ia masih mengenakan pakaian kerjanya dengan rapi, blouse dan celana kain panjang.

“Onnie, apa yang kau lakukan disini?” tanya Andy.

“Kau sendiri?” tanya Eun Kyo.

“Aku baru saja mengadakan pertemuan dengan seorang relasi.” Ujar Andy.

“Oh..” ujar Eun Kyo ber’oh’ sngkat sebagai ganti kata ‘mengerti’. “Aku ingin menemui seseorang.” Ujar Eun Kyo.

“Jung Soo Oppa?” tanya Andy.

“Kau melihatnya?”

“Mereka sedang ada didalam.”

“Kau bergabung dengannya?

“Onnie, mana mungkin. Mereka semua kan laki-laki. Lagipula aku sendirian.” Ujar Andy. “Kibum juga bergabung setelah usa rapat.” Lanjut Andy.

“Kau mau ikut?” tanya Eun Kyo menawari.

“Boleh?”

“Tentu saja.” Jabab Eun Kyo. Ae Rin dan Yoon Bi menatap tajam kearah Andy.

Eun Kyo dan yang lain ditambah dengan Andy kembali berjalan. Andy menunjukkan jalan menuju ruangan tempat pesta bujang itu berlangsung, hanya saja gadis tu tidak mengetahui maksud kedatangan para gadis yang berwajah tegang kali ini.

Sementara itu di dalam ruangan private large yang disewa Sungmin untuk memenuhi keinginan teman-temannya yang ingin bersenang-senang terdengar riuh. Semuanya protes ketka Yesung menyanyikan sebuah lagu.

“Niga animyeon andwae

Neo eobsin nan andwae

Na ireoke haru handareul tto illyeoneul

Na apado joha”

“Yak! Yak! Kenapa harus lagu itu…” protes Hyukjae.

“Oppa, sini biar aku yang menyanyi.” HyunA mengambil microphone dari tangan Yesung dengan gerakan menggoda. Membuat semua mata mengarah padanya.

HyunA adalah gadis yang Yesung sewa untuk menemani mereka di bachelor party ini. Ia adalah pekerja di club ini dan memang sering menemani tamu untuk berkaraoke. Gadis itu terlihat seksi dengan mengenakan baju super ketat dengan bahan minim. Badannya meliuk dibuat-buat agar terlihat seksi. Semua mata memperhatikan mereka tak terkecuali Donghae dan Jung Soo.

“Oppan Gangnam Style…”

Hyun Ah memulai lagunya dengan suara seksi diiringi tarian yang benar-benar menggiurkan. Membuat Hyukjae terus mengamatinya, gerakan erotis gadis itu. Bukan hanya Hyukjae, bahkan Jung Soo yang sudah menikahpun terus mengekori gerakan HyunA yang sensual. Sungmin tertawa penuh arti, dan Yesung menelan ludahnya. Donghae diam memperhatikan wajah HyunA. Lalu Ryeowook, lelaki imut ynag terlihat polos itu hanya tersenyum geli. Baru kali ini ia ikut dalam pesta seperti ini. Hanya satu orang yang terlihat tidak peduli, Kibum, dia sudah sering ikut serta dalam pesta seperti ini di London sana. Wajah gadis itu memang cantik, dan Jung Soo bahkan Donghae mengakuinya.

“Whoooaaaa..”

Semuanya berteriak seperti sebuah paduan suara ketika HyunA bergerak meliukkan tubuhnya dan menghampiri mereka satu persatu. Keadaan berubah riuh ketika HyunA menggoda Hyuk, Jung Soo juga Kyuhyun.

Jung Soo nampak terkekeh, sedangkan Kyuhyun hanya tertawa nyaring tidak mampu mengatakan apapun. Dia berdiri dihadapan mereka dengan gerakan penuh godaan. Ruangan menjadi panas dan mereka terlihat sangat menikmati pertunjukan gaids seksi itu.

“Maaf Tuan-tuan. Mengganggu sebentar.” Seorang pelayan masuk ke dalam ruangan mereka. HyunA yang sedang menggoda Hyukjae dan Jung Soo, yang duduk berdampingan menghentikan aksinya. Tangan mulusnya berhenti di wajah Hyukjae dan tubuhnya mendarat dalam pangkuan Jung Soo sementara tangan kiri Hyun Ah memegang tangan Kyuhyun. Gadis itu duduk tepat dipangkuan Jung Soo dengan posisi berhadapan.

“Wae?” tanya Yesung tidak suka. Dia menunggu giliran mendapat pelayanan serupa yang diperoleh Jung Soo dari gadis seksi itu.

“Ada penari tambahan untuk kalian.” Ujar pelayan berbaju rapi itu.

“Mwo? Siapa yang memesannya? Kau, Donghae?” tanya Sungmin.

“Ani, amna mungkin aku. Tanya saja pada Hyuk.” Kilah Donghae.

“Bukan aku.” Protes Hyukjae.

“Ini salah satu pelayanan extra dari tempatkami.” Ujar pelayan itu sambil berlalu.

“Whoa… daebak! Tempat ini daebak!” ujar Yesung.

Masing-masing dari mereka sudah membayangkan penari model Hyun Ah yang akan menemani mereka. Berapa orang lagi yang akan menemani mereka? Satu? Dua? Tiga? Atau lima? Sepuluh?

Semoga tidak kalah seksi dari Hyun Ah, lebih dari satu. Ini sangat menyenangkan.

Hati mereka kurang lebih mengatakan hal yang sama. Donghae, Ryeowook, Jung Soo, Donghae, Sungmin, Kibum, Hyukjae dan juga Yesung. Semuanya bersorak gembira dalam hati. Hal yang seperti ini mampu meregangkan otot mereka, meski tidak melakukan apapun, hanya permanan nakal sedikit saja. Toh tidak tiap hari mereka lakukan. Sekali-sekali sah-sah saja dalam dunia lelaki.

Pintu terbuka. Semua mata terpaku saat satu persatu penari yang dimaksud memasuki ruangan mereka. Je In, Soo Rim, Ae Rin, Yoon Bi, Jang Mi dan juga Andy masuk beriringan. Eun Kyo di tempat terakhir. Keadaan berubah tegang. Hyun Ah bahkan hampir saja terjatuh saat Jung Soo dengan refleks mendorong gadis itu ketika ia menangkap sosok Eun Kyo.

“Kita ganti lagunya Tuan-tuan…” seru Jang Mi nyaring. Ia mengambl remote yang tergeletak begitu saja diatas meja dan mengubah lagunya.

Alunan lagu seriosa yang biasa mengiringi sebuah kematian dalam sebuah adegan film. Semuanya merasa merinding, dan Hyun Ah nampak cemberut tidak suka dengan kedatangan mereka. Ia tidak mengenali satupun dari gadis yang dimaksud oleh pelayan tadi.

“Aish! Mengganggu saja.” Desis HyunA. Ia ingin kembali duduk dipangkuan Jung Soo namun lelaki itu segera bangkt dari duduknya. Terpaku, matanya terkunci dalam tatapan tajam Eun Kyo.

“Mulai darimana?” tanya Eun Kyo melepas sweaternya. “Buka pakaian?” tanyanya lagi.

Eun Kyo yang masih mengenakan piyama tidurnya segera membuka kancing paling atas dari bajunya. Matanya masih menatap Jung Soo yang nampak membelalak.

Jang Mi melepaskan tali sepatunya dengan lambat dan dibuat-buat, membuat Ryeowook bergidik ngeri. Dari gelagatnya, sepatu itu akan mengarah kepadanya.

Ae Rin berkacak pinggang memandangi semuanya, lalu matanya berhenti pada Kyuhyun. Lelaki itu tak dapat berbicara banyak. Ia seperti seolah kepergok melakukan kesalahan sebelum dapat meyakinkan Ae Rin tentang perasaannya.

“Oppa!” Ae Rin mengalihkan tatapan membunuhnya pada Hyukjae. Membuat lelaki itu bingung setengah mati.

Bukannya dia harusnya matah pada Kyuhyun? Kenapa menatapku seperti itu? Tanya Hyukjae dalam hati. Ia menjadi kaku. Siapa yang sebenarnya dipanggil Ae Rin Oppa, dirinyakah, atau Jung Soo. Mengingat tadi dia duduk bersebelahan dengan Jung Soo, dan HyunA duduk dipangkuan lelaki itu. Tapi kenapa tatapan Ae Rin tertuju padanya? Hyukjae semakin bingung.

Tapi Kyuhyun lebih dibuat bingung lagi. Setali dengan pikiran Hyuk. Kenapa Ae Rin seolah marah pada Hyukjae. Apa ada sesuatu antara Ae Rin dan Hyuk? Andwae! Maldo andwae! Kyuhyun menolak mentah-mentah pikiranburuknya sendiri. Gadis itu tidak mungkin menyukai Hyukjae, memang selama ini mereka terlihat dekat, tapi Hyukjae hanya terlihat menganggap Ae Rin seperti gadis kecil saja.

“Nega Wae? Bukannya kau harusnya marah pada Kyuhyun?” tanya Hyukjae kebingungan seolah divonis tersangka oleh Ae Rin.

“Pasti kau otak dari semua ini!” teriak Ae Rin. Kyuhyun merasa sedikit lebih lega.

“Bukan aku! Yesung Hyung yang memberikan ide!” Hyukjae membela dir seperti anak kecil yang tidak terima dituduh nakal.

Soo Rim memandangi Sungmin dengan cemberut. Gadis kecil itu nampak bingung dan memangkebingungan dengan kepentingannya akan hal ini. Ini adalah urusan orang dewasa.

Mata Yoon Bi dan Andy terpaku pada seseorang yang menunduk hampir tertidur dan tidak peduli di sudut sofa. Mereka memandangi Kibum yang tersenyum melihat para teman-temannya sedang diadili.

“Yeobo, Yeobo, aku bisa jelaskan.” Jung Soo mendorong HyunA yang ada di hadapannya lau mencegah Eun Kyo membuka kancing bajunya lebih banyak.

“Wae? Bukankah ini menyenangkan?” tanya Eun Kyo.

Brak!

Suara benda dilempar mengejutkan mereka. Jang Mi sukses meleparkan sepatunay ke dinding dan memantul mengenai kelapa Yesung.

“Yak! Shim Jang Mi teriak Yesung. Yesung bangkit dan berhadapan dengan Jang Mi.

“Wae! Wae?! Kau ingin menghadapiku?” Jang Mi mengambil kuda-kuda. Jang Mi hampir saja melayangkan tinjunya kearah Yesung namun Ryeowook menahannya. Menarik pinggang wnita itu dan memeluknya erat-erat.

“Yak! Yak! Yak! Kalian semua para lelaki sama saja.” Teriak Jang Mi marah.

Semuanya terpaku melihat Jang Mi yang mengamuk bahkan melemparkan sepautunya yang tadinay masih ada dikakinya. Kini sepatu itu melayang keatas dan mendarat diatas meja, tepat diatas semangkuk kacang. Bachelor party para lelaki kacau balau.

“Aish! Sudah, sudah hentikan.” Ryeowook menengahi. Jang Mi menggerakkan badannya dengan keras mencoba melepaskan diri.

“Yak! Hyung, kenapa diam saja? Cepat keluarkan setan dalam tubuhnya sebelum tempat ini benar-benar hancur dibuatnya.” Ujar Ryeowook yang hampir kehabisan tenaga. Donghae dan Kibum bangkit lalu membuat Jang Mi tenang.

“Yeobo, kita pulang.” Jung Soo menarik Eun Kyo membawanya keluar. Eun Kyo tidak melawan. Dia masih takjub dengan amukan Jang Mi yang maha dahsyat. Suara teriakannya dan semua yang dia lakukan benar-benar luar biasa.

“Kau bawa dia pulang, Wookie~ya..” ujar Donghae.

Sungmin terdiam. Dia yang empunya party tak bisa berkata apa-apa. Sebenarnya dia tidak bermaksud menyetujui saat mereka riuh membicarakan tentang seorang gadis yang mereka sewa untuk menemani mereka meramaikan suasana. Tidak juga menyangka sama sekali jika ternyata gads yang mereka sewa seerotis dan seberani itu. Soo Rim mash memandanginya dengan wajah cemberut. Sungmin mengusap wajahnya, ia merasa sangat lelah sekarang.

“Sudah, kita akhiri saja pesta ini. Ayo semuanya pulang. Kalian, Soo Rim dan Je In pulang bersamaku, biar aku antarkan. Tapi sebelumnya kita jemput Min Yeon dulu di tempat keluarganya.” Sungmin merangkul kedua gadis kecil itu keluar ruangan.

“Aku ingin diantar Kyuhyun Oppa saja.” Je In sempat menolak.

“Ani, dia akan mengantar Ae Rin.” Sungmin sengaja berbicara lebih keras agar Kyuhyun dan Ae Rin mendengarnya.

Tak berapa lama Ae Rin akhirnya keluar tanpa menunggu Kyuhyun. Ia berjalan sambil menghentakkan kakinya kesal. Dia tidak suka lelaki-lelaki yang terkesan liar seperti tadi. Kyuhyun yang sempat terpaku, segera berlari menyusulnya.

“Antarkan aku pulang Kibum~ssi.” Ujar Andy mengajak Kibum. “Kau bawa mobil?” tanyanya.

Kibum menggeleng sambil menguap. Dia berniat menumpang Jung Soo jika pulang. Tapi karena Jung Soo dan Eun Kyo sudah pulang lebih dulu, mau tdak mau dia menerima ajakan Andy.

“Jangan terlalu formal begitu. Biasanya juga tidak begitu.”

Kibum menarik tangan Andy dan membawanya keluar mengikuti Kyuhyun. “Kau sudah makan?” tanay Kibum sayup terdengar di telinga Yoon Bi. Gadis itu sempat melirik Kibum yang berlalu disamping dengan wajah dingin dan tidak peduli. Seolah tidak mengenalnya. Catatannya tentang Kibum kali ini nihil. Dia tidak ingin mencatat satu point yang ia dapat dari lelaki itu malam ini. Terlalu acuh dan sedikit mengerikan.

“Kau pulang bersamaku kalau begitu, calon adik ipar.” Ujar Donghae tanpa menatap Yoon Bi. Ia berjalan mendekati gadis itu dan mengajaknya pulang. Tanpa paksaan seperti Ryeowook. Tanpa rangkulan seperti Sungmin. Tanpa kata-kata manis seperti Jung Soo. Tanpa tatapan cemas seperti Kyuhyun. Juga tanpa kata-kata manis rayuan seperti Jung Soo. Dia hanya berlalu disamping Yoon Bi lalu mengajaknya pulang, itu saja.

Sekarang tinggal Yesung dan Hyukjae yang saling berpandangan sepeninggalnya mereka. “Hanya kita yang tersisa.” Ujar Yesung. “Untungnya aku belum punya pacar apalagi menikah, sehingga aku bisabebas melakukan apapun.” Ujar Yesung lagi.

“Aish! Kau menyedihkan Hyung.” Ejek Hyuk sambil menenggak cola.

“Kau sendiri, sama saja.” Yesung tidak terima atas hinaan Hyukjae.

“Aku punya seseorang sekarang. Yang belum aku publikasikan pada kalian.” Ujar Hyukjae sombong.

“Ish! Jinjja! Seperti selebriti saja!” protes Yesung.

“Aku memang selebritis! Para artis dan penyanyi antri untuk berduet denganku.” Kini Hyukjae yang tidak terima Yesung meremehkannya. “Aku sudah punya kekasih.” Tegas Hyuk meninggalkan Yesung.

Yoon Bi mendesah pasrah. Ia berjalan mengikuti Donghae yang berjalan gontai keluar dari tempat hiburan yang penuh dan ramai. Dentuman house music mengalun dengan keras. Membuat dadanya juga bertalu oleh suara hentakan keras speaker di berbagai sudut.

Hay Seksi, ayo temani aku.” Tiba-tiba seoarng lelaki menarik pergelangan tangan Yoon Bi, membuat wanita itu memekik tertahan.

“Maaf, dia milikku.” Ujar Donghae melepaskan pegangan tangan lelaki itu dari pergelangan tangan Yoon Bi.

“Ah, ne. Mianhae.” Lelaki itu mengangkat keduanya tangannya sebagai arti bahwa dia tidak akan mengganggu milik Donghae.

“Kenapa kalian kesini? Bukannya in sangat berbahaya? Dan kau sendiri tau Eun Kyo sedang hamil.” Ujar Donghae terdengar cemas terhadap Eun Kyo.

“Lepaskan aku!” Yoon Bi memaksa Donghae melepaskan tangannya. Donghae berhenti dan memandangi Yoon Bi.

“Kenapa bukan kau saja yang menikahi Eun Kyo? Kenapa harus Park Jung Soo? Kau terlihat lebih perhatian dibandingkan suaminya.” Ujar Yoon Bi sinis.

Donghae terkekeh tak kalah sinis dari sindiran Yoon Bi. “Tidak ada gunanya membicarakan itu. Sudahlah, aku antar kau pulang. Kau bawa mobil?” tanya Donghae.

Yoon Bi tidak menjawab, dia menggiring Donghae ke sebuah parkiran tempat mobilnya berada.  “Harusnya kau tau keadaan wanita haml seperti apa, kau kan dokter.” Timpal Donghae.

“Sudahlah, jangan banyak bicara. Aku mau pulang.” Ujar Yoon Bi terdengar lelah.

“Kau? Atau aku yang menyetir?” tanya Donghae.

“Kau saja, aku baru saja lulus belajar mengendarai mobiil.” Jawab Yoon Bi.

***

“Yak! Lepaskan aku! Oppa!”

Meski bertubuh kecil, ternyata tenaga Ryeowook tidak bsa diremehkan. Terbukti ia mampu menyeret Jang Mi yang mash terlihat emosi dan ingin mengamuk.

“Sebenarnya apa yang membuatmu marah? Eoh?” tanya Ryeowook bingung. “Kalian tiba-tiba marah dan mengacaukan segalanya.” Ujar Ryeowook dengan wajah tanpa dosa.

“Mwo?! Mworago? Mengacaukan segalanya? Yak! Mana mungkin aku bisa membiarkan para lelaki berselingkuh seperti itu.” Teriak Jang Mi protes.

“Aku tidak selingkuh!” bela Ryeowook. “Maksudku, kami tidak berselingkuh” ralatnya saat Jang Mi memandanginay dengan tajam. “Tidak ada…” lanjutnya pelan. “Tidak ada yang selingkuh!” teriaknya lagi. “Kami hanya bersenang-senang.”

“Bersenang-senang? Dengan penari telanjang itu?! Eoh? Ash jinjja!” omel Jang Mi. “Dia, dia meliuk-liuk, ireohke, ireohke.” Jang Mi menirukan gaya HyunA yang seksi dengan gayanya sendiri. Membuat Ryeowook membelalak terkejut.

Jangmi menurunkan kerah bajunya dan mencoba memamerkan pundaknya kepada Ryeowook dengan gaya kaku. Membuat Ryeowook tertawa geli. Lalu dia memutar pinggulnya dan memainkan lidahnya di bibir, bermaksud menggoda seperti apa yang dilakukan HyunA tadi.

“Wae? Kenapa tertawa? Kau menertawakanku? Aku tidak kalah seksi dengannya.”

“Ne, ne…” Ryeowook masih tertawa. “Kau tidak kalah seksi.” Ujar Ryeowook. “Kajja. Sebaiknya kita pulang saja, ini sudah larut.” Ujar Ryeowook menarik Jang Mi dan membawanya ke dalam mobil.

“Yak! Yak! Kau meremehkanku? Aku benar-benar bisa lebih seksi darinya.” Ujar Jang Mi masih mencoba menarik perhatian Ryeowook.

“Ne, kau bahkan lebih seksi.” Ujar Ryeowookmalas berdebat.

“Oppa. Coba lihat aku, begini kan? Gayanya seperti ini?” Jang Mi masih tidak patah semangat untuk tetap menirukan gaya seksi HyunA.

“Eum, kau lanjutkan saja bergaya seksi dirumah, kajja, ini sudah larut.” Ujar Ryeowook.

“Omo! Omo! Jinjja?! Dirumah?” Jang Mi memekik tidak percaya. “Oppa…” panggilnya manja sambil menarik ujung baju Ryeowook. Sebelah tangannya menutupi wajahnya  yang memerah.

“Yak! Apa yang kau pikirkan. Kau harus mengirim sayuranmu besok pagi, aku sudah kehabisan stok bahan makanan. Jadi malam ini kau tidur dengan nyenyak.”

“Oppa, kau memperhatkanku? Oh, aigoo! Omona, aku tidak percaya.” Jang Mi salah tingkah dan bersikap hiper aktif saat mengira Ryeowook memperhatikannya. Ia terus tersenyum dan berlari kecil mengikuti langkah Ryeowook menuju mobil.

“Bagaimana kau sampai kesini?” tanya Ryeowook penasaran.

“Aku? Aku sedang ke tempat Ae Rin sore tadi, lalu dia mengajakku kesini, mengatakan kalian sedang mengadakan pesta.” Jang Mi berujar jujur.

“Eum, jika semua ini adalah rencana Ae Rin, itu masuk akal.” Ujar Ryeoook tersenyum.

“Wae? Memangnya kenapa?” tanya Jang Mi. Dia mencoba menyentuh tangan Ryeowook bermaksud membuat mereka saling berpegangan tangan, tapi pegangan itu melayang begitu saja ketika tangan Ryeowook sebelum sempat Jang Mi menyentuhnya sudah berayun membuka pintu mobil.

“Masuk.” Ujar Ryeowook.

Tangan Jang Mi masih mengambang di udara ketika Ryeowook berbalik mengajaknya masuk ke dalam mobil. Jang Mi salah tingkah dibuatnya. Refleks ia melambaikan tangannay dan tertawa garing. “AH, KANGIN~ssi.” Ujarnya nyaring memanggil seseorang.

Wajah Ryeowook bingung dan menatap kearah lambaian tangan Jang Mi. “Nugu~ya?” tanya Ryeowook saat ia melihat seseorang embalas lambaian tangan Jang Mi.

“Nde? Dia salah satu pegulat idolaku.” Jawab Jang Mi ddengan tawa dan senyuman ceria ia tujukan pada orang itu.

“Oh, begitu.” Respon Ryeowook terlihat biasa saja. Tapi tidak lagi biasa saat Jang Mi tidak berhenti melambai, dan terus tertawa meskipun lelaki itu sudah menghilang dari hadapannya.

“Yak! Dia sudah tidak bisa melihat senyuman seksimu lagi. Jadi berhenti tersenyum.” Ryeowook mengarahkan wajah Jang Mi dari orang itu dan menekan kepalanya agar menunduk dan segera masuk.

“Dia sa…….ngat hebat! Bisa mengalahkan lawannya dalam beberapa kuncians aja. Seperti ini, seperti ini.” Jang Mi kali ini memperagakan bagaimana Kangin bergulat saat d arena dengan sebuah bonek di dalam mobil Ryeowook.

“Ne, ne. Di rumah saja.”

“Dia sangat hebat, aku selalu menantkan pertunjukannya lagi. Dia sudah kembali dari cederanya, dan akan comeback dalam waktu dekat. Kita harus menontonnya.” Uajr Jang Mi berapi-api.

“Ani, kau saja yang menontonm, aku malas.” Jawab Ryeowook benar-benar malas.

“Eiy… kau cemburu? Eoh? Eoh?” Jang Mi menggamit lengan Ryeowook yang sednag menyetir.

“Ani.” Jawab Ryeowook dingin.

“Mengaku saja Oppa. Kau cemburu kan?” kali Jang Mi mencodongkan badannya kearah Ryeowook dan mendekatkan wajahnya ke wajah Ryeowook untuk menggodanya.

“An, ani.” Jawab Ryeowook terbata saat menyadari wajah Jang Mi ternyata begitu dekat dengan wajahnya.

“Mengaku saja.” Jang Mi bersikeras.

“Nde, nde, nde. Aku cemburu kau puas? Aish! Seperti anak kecil saja meminta pengakuan seperti itu.” Jawab Ryeowook akhirnya demi mengakhiri rengekan Jang Mi yang membuat telinganya merasa panas

“Aku tau. Aku tau kau pasti cemburu. Aku tau kau cemburu Oppa.” Ujar Jang Mi bangga.

***

Suasana mencekam selama perjalanan pulang terasa di dalam mobil yang dikendarai Jung Soo. Eun Kyo diam seribu bahasa, dan semua penjelasan sudah Jung Soo utarakan untuk membela diri. Tapi Eun Kyo tak menolak, tak juga menerima alasannya. Sebearnya dia hanya ikut-ikutan pergi ke pesta itu. Menghilangkan penat yang begitu terasa dua minggu terakhir. Ketika perdebatan kecil sebelum tidur selalu terjadi di antara. Jung Soo sebenarnya jenuh. Niatnya memanjakan Eun kyo selalu ditolak oleh wanita itu. Perhatian kecilnya tdak dianggap sama sekali semenjak Jung Soo berubah cerewet mengenai hal apapun yang dilakukan Eun Kyo. Dia sebenranya ingin dipuji sekali saja sebagai suami yang baik dan perhatian ketika istrnya tengah hamil. Tapi Eun Kyo tidak melakukannya, bahkan menganggap Jung Soo berlebihan.

“Mianhae.” Ujar Jung Soo.

“Untuk apa?” Eun Kyo balik bertanya.

“Kejadian tadi.”

“Aku mengerti.” Jawab Eun Kyo dingin.

Semua ini sama sekali diluar dugaan Eun Kyo. Dia sebenarnya tidak bermaksud mengacuhkan Jung Soo selama dua minggu terakhir, hanya saja, dia merasa Jung Soo terlalu berlebihan. Eun Kyo mengerti Jung Soo hanya berusaha melakukan yang terbaik sebagai suami. Menyuruhnya minum susu dan suplemen untuk ibu hamil. Memaksanya untuk makan sayuran dan segala macam larangan yang dianggap lelaki itu membahayakan nyawanya. Tapi ketika dilarang untuk terlalu banyak beraktifitas dan selalu disuruh istirahat, bukankah itu berlebihan? Eun Kyo merasa Jung Soo menganggapnya seperti seorang pesakitan saja.

“Mengerti apa?” taya Jung Soo.

“Mengerti bahwa aku tidak lebih darinya.”

“Darinya? Nugunde?” tanya Jung Soo.

“Gadis itu.” Jawab Eun Kyo pelan. Sangat pelan. Ia menunduk.

Jung Soo mengulurkan tangannya meraih kepala Eun Kyo sementara tangan satunay masih berpegangan pada kemudinya. Jung Soo tertawa dalam hati. Eun Kyo menghindar dan menyandarkan kepalanya di kaca jendela. Mengetukkannya perlahan. Lalu menghela nafasnya.

Tak berhasil meraih kepala Eun Kyo, Jung Soo mendaratkan tangannya di perut Eun Kyo. Mengelusnya pelan. Namun tak sampai berapa detik, tangan Eun Kyo menjauhkannya.

“Itu kecelakaan. Dia duduk di pangkuanku sama sekali bukan kemauanku.” Jung Soo membela diri.

“Tapi kau menikmatinya kan? Ah…… dimana-mana lelaki sama saja.” Ujar Eun Kyo. Dia buru-buru membuka pintu mobil ketika Jung Soo berheti di halaman rumah mereka. Rumah mereka sendiri, bukan rumah yang mereka tempati semalam, rumah Kibum, begitu Jung Soo menyebutnya.

Eun Kyo memencet bel rumah dan menunggu Jung Ahjumma membukakan pintu untuknya. Dan Jung Soo berdiam diri sebentar di dalam mobil menenangkan diri sambil memperhatikan tingkah Eun Kyo selama menunggu Jung Ahjumma membukakan pintu untuknya. Wanita tu menendang-nendang kecil piintu dan menundukkan kepalanya. Sesekali ia menolehkan wajahnya ke samping rumah. Jung Soo tersenyum. Ia membuka pintu mobilnya dan berjalan menuju kearah Eun Kyo.

“Ahjumma. Bogoshipeo.” Eun Kyo memeluk wanita itu ketika pintu terbuka. Jung Ahjumma terlonjak kaget saat menerima  pelukan tiba-tib dari Eun Kyo.

“Eun Kyo~ya, aku hampir jantungan dibuatmu.” Ujar Jung Ahjumma.

“Aku sudah lama tidak pulang.”

“Eum, kau melupakanku.”

“Eiy, mana mungkin aku melupakanmu.” Eun Kyo merangkul Jung Ahjumma sembari masuk ke dalam rumah.

“Bagaimana keadaanmu sekarang? Kau sakit? Bagaimana dengan kehamlanmu?”

“Eo? Darimana Ahjumma tau aku hamil? Perasaan aku tidak menceritakannya. Atau aku lupa telah menceritakannya? Aish atau aku sekarang sudah demensia?”

“Aku punya radar untuk mengetahui keadaanmu.” Canda Jung Ahjumma. “Kenapa malam sekali kau pulang? Eoh? Kau bau alkohol.” Ujar Jung Ahjumma.

“Aish, penciumanmu masih saja seperti dulu.”

“Kau minum?” tanya Jung Ahjumma cepat.

“Anhi, Jung Soo Oppa yang minum.” Jawab Eun Kyo menyalahkan Jung Soo.

“Kalian darimana? Eoh? Kenapa berantakan seperti ini?” Jung Ahjumma mengancing baju Eun Kyo yang masih terlepas selepas Eun Kyo melepasnya tadi.

“Tidak kemana-mana.” Jawab Jung Soo.

“Sebaiknya kalian istirahat saja, kau bawa dia istirahat.” Ujar Jung Ahjumma.

Jung Soo menggandeng Eun Kyo menuju kamar, tapi Eun Kyo menghindar. Jung Ahjumma melihat hal itu, dan Jung Soo mendelik kearahnya. Jung Ahjumma hanya tersenyum penuh pengertian. Seolah mengetahui segalanya hanya dari bahasa tubuh Eun Kyo, dan berusaha mencoba memberikan kekuatan pada Jung Soo bahwa semuanya akan baik-baik saja dengan senyuman itu.

Jung Soo dan Eun Kyo sudah berada di dalam kamar mereka dan menguncinya. Jung Soo menarik nafasnya dan mencoba menyentuh Eun Kyo. “Yeobo, dengarkan aku. Jangan marah…” Ujar Jung Soo.

“Aku tidak mara.” Ujar Eun Kyo. “Sebaiknya kau mandi, bau.” Eun Kyo menutup hidungnya.

“Tapi berjanji tidak akan marah lagi padaku?”

“Eum.” Jawab Eun Kyo singkat.

“Jinjja?” tanya Jung Soo tidak yakin.

“Untuk apa aku marah?”

Ia menatap Jung Soo dengan tatapan yang berbeda dengan pernyataannya bahwa dia tidak marah. Klatan matanya tidak mengatakan seperti itu. Dan Jung Soo merasakan itu. Memang sedikit ekstrim mendapati suami sendiri di dalam sebuah private room bersama seorang gadis berada dalam pangkuannya. Meski banyak orang bersamanya dan gadis itu terlihat tidak hanya menggoda Jung Soo, tetap saja itu sangat mengenaskan.

“Saranghae.” Ujar Jung Soo tiba-tiba meraih wajah Eun Kyo dengan tangannya dan memaksa wanita itu bertatapan dengannya.

Eun Kyo menghindari kontrak mata dengan Jung Soo tapi tidak bisa. Ia malah semakin intens menatap Jung Soo. Mencari kebenaran dari pernyataan Jung Soo yang baru saja didengarnya. Ia menghela nafas.

“Itu hanya, itu hanya man-main, kami tidak serius.” Ujar Jung Soo kembali menjelaskan apa yang telah ia jelaskan panjang lebar sewaktu dalam perjalan pulang tadi.

“Aku, aku, aku mungkin akan memahaminya jika gadis itu adalah Yeon Su.” Eun Kyo akhirnya mulai berbicara.

“Ani, ani. Meskipun itu adalah Yeon Su, aku, aku benar-benar tidak berniat seperti itu. Kau,kau tau maksudku. Aku hanya ingin bergabung bersama mereka saja bersenang-senang sebentar. Itu saja, mereka menyewa gadis itu, aku sama sekali tidak tau.”

“Sudahlah, kau mandi saja.”

“Ani, aku ingin kau mengerti, aku ingin kita tidak ada pertengkaran lagi setelah ini. Tidak ada kesal lagi.”

“Aku mengerti aku… tidak menarik lagi.” Ujar Eun Kyo pelan. Wajahnya cemberut antara pasrah dan tidak rela.

No, no, no. Bukan karena itu, sama sekali bukan karena itu. Sebenarnya ini karena… karena kau mengacuhkanku, akhir-akhir ini. Me-reject panggilanku.”

“Mianhae. Entah kenapa akhir-akhir ini aku bosan melihatmu.” Eun Kyo menundukkan kepalanya.

“Wae?” tanya Jung Soo.

“Molla.” Jawab Eun Kyo pelan. “Aku selalu kesal ketika kau melakukan sesuatu untukku. Tapi aku juga tidak ingin diacuhkan seperti tadi. Apa harus mencari wanita lain untuk menghilangkan jenuhmu? Eoh?” wajah Eun Kyo meberengut menatap Jung Soo.

Jung Soo tertawa, Sudah aku katakan itu tadi adalah kecelakaan.” Jelas Jung Soo berkali-kali. Dia kebingungan menggunakan kosa kata untuk menjelaskan insiden jatuhnya HyunA ke pangkuannya. “Aku tidak akan melakukannya lagi, yakso.” Jung Soo mengacungkan jari kelingkingnya ke wajah Eun Kyo.

Eun Kyo masih cemberut namun  balas mengacungkan kelingkingnya dan mengaitkannya. Jung Soo menarik tubuh Eun Kyo merapat, mendekapnya. Mereka saling berpelukan.

“Oppa, kau bau. Aish!” Eun Kyo mengendus tubuh dan pakaian Jung Soo. “Parfume gadis itu pasti. Yak! Mandi dan bersihkan semuanya!”

***

“Apa sepeti itu cara lelaki melepaskan masa lajangnya? Bermain-main bersama gadis lain sebelum mengikat diri dalam pernikahan?” ujar Ae Rin tajam.

“Mwo? Apa maksudmu melepas masa lajang?”

“Kau dan yang lainnya. Bahkan Jung Soo Oppa nampak menikmatinya. Aish! Itu menyebalkan.” Gumam Ae Rin terdengar sangat menguasai emosinya. Kata-katanya yang meluncur dari mulutnya tajam dan datar, namun terkesan memvonis.

“Sebenarnya ini ahnay bersenang-senang saja. Hahahahahaha. Tidak menyangka ternyata gadis itu sepanas itu.” Kyuhyun tertawa mengngat kejadian tadi. “Jung Soo Hyung bahkan merah padam dibuatnya.”

“Kau juga! Yaish! Janganmenyalahkan orang lain.”

“Yak, ya ya ya. Tapi kau liat ekspresinya tadi? Saat Eun Kyo Noona datang? Bahahahahahaha, itu sangat menggelikan.” Kyuhyun tertawa sambil memegangi perutnya.

“Kau juga sama saja.” Balas Ae Rin.

“Eum.. Ae Rin~a.. jika kita menkah nanti, aku boleh mengadakan pesta seperti itu kan? Eum?” Kyuhyun sama sekali tidak merasa bersalah. Ia bahkan menggoda Ae Rin dalam perjalanan pulangnya.

“Memangnya siapa yang mau menikah denganmu? Terserah saja kau mau melakukan apa.” Ujar Ae Rin menolehkan wajahnya keluar jendela. Ia menyembunyikan semburat merah yang tiba-tiba saja merona di wajahnya. Juga menekan gejolak ynag tiba-tiba melandanya setiap kali Kyuhyun membcarakan tentang pernikahan dengannya.

Bukannya Ae Rin matrealistis, tapi ketika melihat prospek project Kyuhyun yang menurutnya cerah. Tiba-tiba saja tipe suamii ideal satu persatu mulai mengarah pada Kyuhyun tanpa haus ia arahkan. Suami yang seperti teman, saling menghangatkan suasana dengan sedikit pertengkaran, dan bertanggung jawab pada dirinya sendiri tidak bergantung dengan orang lain, semua itu mulai mengarah pada Kyuhyun. Meski Ae Rin tidak mengerti jalan bisnis ynag digeluti Kyuhyun saat ini, tapi melihat antusiasmenya akan hal itu bersama team-nya, Ae Rin rasa itu sudah cukup dari sekedar bertanggung jawab.

“kau yang akan menikah denganku selanjutnya.” Ujar Kyuhyun. Ae Rin terdiam. “Diam berarti iya.”

“Kapan aku mengatakan iya?” protes Ae Rin.

“Baru saja kau mengatakannya.” Ujar Kyuhyun sambil tertawa.

Suasana menjadi hangat kembali. Ae Rin mengerti bahwa yang Kyuhyun dan yang lainnya lakukan hanya bersenang-senang saja. Tidak terlalu serius dan bukan memprioritaskan ‘kesenangan’ saja. Tapi mereka benar-benar pure bersenang-senang tanpa embel-embel ‘kesenangan’. Tapi jika tidak dihentikan bisa saja berenang-senang itu berlanjut pada kesenangan, itu yang Ae Rin takutkan. Dan sebenarnya bukan Kyuhyun yang ia takutkan mendepatkan kesenangan itu, meski sedikit tidak rela, tapi ketika mereka belum terikat apapun, baginya sah-sah saja Kyuhyun mencari kesenangan. Karena selama ini Kyuhyun terlihat tidak pernah membawa seorang gadispun, hingga ia khawatir Kyuhyun terpuruk pasca pernikahan Eun Kyo kemarin, karena hanya wania itu yang terlihat sangat dekat dengannya. Jadi jika tiba-tiba Kyuhyunmencari kesenangan, itu artinya Kyuhyun masih normal.

Tanap terasa Kyuhyun dan Ae Rin sampai pada gang rumah Ae Rin. Mereka berjalan seperti biasa menyusuri gang sepi itu untuk sampai kerumah. Tak ada percakapan dalam perjalanan mereka menuju rumah kali ini. Seolah semua kata terkuras habis ketika meraka mengobrol sepanjang dalam perjalan d mobil tadi. Dan saat mereka menapa jalan yang sepi ini, mereka menjadi kaku.

“Ah, aku dapat email.” Ujar Kyuhyun segera membuka email dari ponselnya.

Ia terdiam sejenak, fokus oada layar ponsel dan menyimak isi email tersebut dengan seksama. Setelah selesai membaca email tersebut, dia segera menoleh pada Ae Rin, mengalihkan fokus pandangnya.

“Aku dapat kontrak besar!” bersamaan dengan itu tangannya segera memeluk tubuh Ae Rin dengan erat sebagai reflesi dari kesenangannya.

Ae Rin terpaku dalam dekapan erat Kyuhyun. Meski dia  tidak terlalu mengerti kenapa Kyuhyun memeluknya. Tapi dia merasa Kyuhyun begitu senang dan dia mendengar gemuruh dada Kyuhyun yang menggebu.

“Akhirnya aku mendapatkannya. Aku sudah menantikan ini selama 2 tahun.” Ujar Kyuhyun. Bukannya mengendutkan pelukannya, dia malah melakukan yang sebaliknya. Hingga membuat Ae Rin merasa sakit.

“Ehem. Sudah selesai dramanya. Tunggu setelah kalian menikah saja.”

Ae Rin segera mendorongtubuh Kyuhyun yang masih ingin memeluknya ketika telinganya mendengatr suara Eommanya dibalik tubuh Kyuhyun. Ia mengintip, dan memang benar Eommanya sedang berdiri di depan pagar kayu.

“Annyeong haseyo, Eomoni.” Kyuhyun berbalik dan membungkukkan badannya.

“Darimana saja kalian hingga larut begini baru pulang?”

“Kami, kamii baru saja dari pesta teman yang ingin menikah.” Jawab Kyuhyun cepat memberikan alasan karena Ae Rin sama sekali tidak bisa menjawab. Janagnkan menjawab, membuka mulutnya saja ia merasa tidak sanggup.

Nde, sekarang sebaiknya kalian masuk.” Ajak Ae Rin Eomma.

“Nde, tidak perlu, Eomoni. Iini sudah larut. Aku hanya perlu memastikan Ae Rin pulang dengan selamat.” Ujar Kyuhyun.

“Aigoo.. bocah ini pintar sekali bermulut manis.” Ae Rin menggumam.

“Sebaiknya kau masuk. Aku akan pulang.” Ujar Kyuhyun manis. Ia mendorong pelan tubuh Ae Rin. “Annyeongi giseyo, Eomoni.” Pamit Kyuhyun.

***

Senyum bahagia terurai dari wajah kedua mempelai yang sibuk melayani ucapan selamat dari para tamu undangan. Seperti keinginan Sungmin, pesta ini berlangsung secara besar-besaran. Para tamu undangan berdatangan terus menerus, hingga dia merasa kewalahan sendiri menghadapinya. Bahkan para penonton setia mereka pun datang memberikan selamat. Tak sedikit para pejabat dan seniman yang datang.

Pesta ini masih terasa semarak meski sudah berlangsung beberapa jam lamanya. Tamu undanganbukannay berkurang malah semakin banyak. Sungmin mengubah atap gedung teater mereka menjadi tempat pesta mewah, dengan lantai rerumputan hijau buatan. Berpadu dengan kain bercorak pink memagari tempat pesta dan sebagian menggantung di beberapa sudut.

“Kau lelah?” tanya Jung Soo ketika melihat Eun Kyo memegangi punggungnya. Eun Kyo menggeleng.

Jung Soo mengenali beberapa dari tamu undangan yang sebagian besar adalah rekan kerja dan para Produser, hingga ia llarut dalam beberapa pembicaraan hangat lalu lupa dengan keadaan Eun Kyo yangs edang hamil. Ini adalah pesta pertama dimana Eun Kyo sebagai pendampingnya.

“Atau kita pulang saja? Kau nampak pucat.” Jung Soo menyentuh pipi Eun Kyo.

“Ani, aku masih mau disini.” Ujar Eun Kyo menepis tangan Jung Soo.

“Kau yakin?” tanya Jung Soo.

“Aku yakin.” Jawab Eun Kyo meyakinkan.

Sekarang ia mengerti bagaimana rasa tidak dhiraukan. Sebenarnya Eun Kyo ingin lebih banyak makan lagi, tapi tidak bisa karena tempat makan penuh dengan kerumunan orang dan tidak mungkin ia ikut bersama gerombolan itu. Dan Jung Soo tengah asik berbincang denagn beberapa temannya, rasa tidak sopan menyelanya hanya untuk sekedar minta diambilkan makanan. Eun Kyo menjauh dari Jung Soo.

“Kau lapar?” tanya sebuah suara di belakangnya.

Eun Kyo berbalik, “Siwon~ssi.” Panggilnya.

“Boleh aku ambilkan makanan?” tawarnya.

“Boleh.” Jawab Eun Kyo cepat.

Eun Kyo memandangi Siwon yang mengambil makanan untuknya. Beberapa kali Siwon menunjuka sebuah menu makanan, sekedar menanyakan apakah Eun Kyo ingin makanan itu. Sebagian besar makanan yang ditunjuk Siwon, selalu mendapat anggukan dari Eun Kyo.

“Ya.. selera orang hamil ternyata mengerikan.” Komentar Siwon sambil tertawa.

“Kau baru datang?” tanya Eun Kyo.

Ne, aku menunggu Yoon Bi lepas dinas terlebih dahulu.” Jawab Siwon.

“Dia juga datang?” Eun Kyo mencari sosok gadis yang beberapa kali ditemuinya itu, namun sedikit bicara degannya. “Eodi~ya?”

“Tuh, bersama Donghae.”

Eun Kyo mengarahkan matanya pada telunjuk Siwon yang mengarah pada dua sosok orang yang sedang berdir bersampngan tanpa bicara. Eun Kyo tertawa.

“Kenapa tertawa?” tanya Siwon.

“Ani.” Jawab Eun Kyo mash dengan tertawa.

Sebenarnya mereka bukan sengaj berdekatan, hnaya kebetulan saja ternyata Yoon Bi berdiri di dekat Donghae. Lalu Sungmin melihat mereka berdua dan melambai kearah Donghae dan Yoon Bi. Awalnya Yoon Bi kebingungan saat Sungmin menunjuknya. Ternyata Sungmin mengajakl  mereka untuk berfoto bersama.

“Kau sebelah sana.” Ujar Sungmin menyuruh Donghae.

“Kau disini..”

“Yoon Bi.” Sahut Yoon Bi.

“Yoon Bi~ssi.” Ujar Sungmin.

“Uisa~nim. Aku kira kau tidak datang.” Ujar Min Yeon.

“Jangan panggil aku seperti itu, panggil Onnie saja.” Yoon Bi menyunggingkan senyumannya saat lensa kamera mengarah padanya.

“Chukka dereumnida, MinYeon~a..” Yoon Bi memberikan selamat pada Min Yeon lalu Sungmn bergantina. Begitu juga dengan Donghae.

Setelah Donghae dan Yoon Bi, kini giliran Kyuhyun dan Ae Rin yang Sungmin panggil untuk berfoto. Kyuhyun menarik Ae Rin kearah Sungmin karena gadis itu sempat menolak.

“Oppa, tidak perlu repot-repot berfoto denganku, nanti semua memorynya corrupt.” Ujar Ae Rin.

“Bagaimana bisa? Kita harus membiasakan diri mulai sekarang. Setelah ini giliran kita Jag~ya.” Ujar Kyuhyun. Ae Rin mati kutu dibuatnya. Hingga lensa mengarah fokus pada merekapun AeRin nampak tegang.

Saat melihat Jung Soo menatap kearahnya, Sungmin segera melambaikan tangannya, “Hyung, mana istrimu?” tanya Sungmin nyaring. Eun Kyo yang merasa dirinya dipanggil, melambaikan tangannya ke arah Min Yeon.

“Tolong pegang sebentar. Nanti aku akan kembal.” Ujar Eun Kyo menyerahkan piring makanannya pada Siwon.

Eun Kyo buru-buru mengambil tempat. Tidak biasanya dia antusias seperti inii saat berfoto, sampai-sampai tidak memperhatikan masih ada noda disudut bibirnya.

“Kau makan apa hingga berantakan speerti ini?” Jung Soo mengambil sebuah sapu tangan dari dalam saku celananya lalu membersihkan wajah Eun Kyo.

“Disaat seperti ini kalian masih saja memamerkan kemesraan. Aish! Menyebalkan sekali. Hyung! Kali ini aku tokoh utama, bukan kau.” Ujar Sungmin.

Lensa mengarah kerash mereka,Eun Kyo bersiap memberikan senyuman tercantiknya untuk pernikahan Sungmin, begitu juga dengan Jung Soo. Yang nampak berbeda kali ini adalah Sungmin, wajahnya sedikit cemberut.

“Hyung, tidak bisakah sekali saja kau membiarkanku menjadi cast utama? Eoh? Satu scene saja, jebal.” Canda Sungmin.

“Kau ini.” Ujar Jung Soo salah tingkah. Eun Kyo kembali pada Siwon dan mengambil alih piring makanan miliknya yang ia titipkan pada Siwon.

Tak mau kalah, Jang Min juga menarik Ryeowook untuk berfoto bersama sang pegantin. Tapi niatnya tidak berjalan mulus. Yesung mengikuti mereka, bersama dengan Hyukjae.

“Aku ikut.” Ujar Yesung.

“Yak! Ini untukku dan Ryeowook Oppa saja. Kau setelahnya.”cegah Jang Mi.

“Mwo? Mworago?” tanya Yesung. “Ryeowook Oppa? Yak! Dasar tidak sadar umur! Kau lebih tua darinya, bagaimana mungkin kau memanggilnya Oppa? Eoh?”

Klik!

Bunyi kamera membidik mereka, semua dengan tampang berantakan dan tempang terkejut. Jang Mi mengerjapkan matanya tidak percaya. Tdak percaya Yesung membuka masalah umur disaat seperti ini. Akhirnya mereka bubar dengan wajah bingung, sementara Yesung hanya menunjukkan wajah datarnya.

Semuanya kebagian berfoto bersama pengantin. Orang-orang terdekat mereka semuanya sama rata, bahkan Jung Soo dan Eun Kyo sudah 5 kali berfoto. Kyuhyun dan Ae Rin 3 kali. Siwon dan Yoon Bi satu kali. Donghae dan Yoon Bi satu kali. Andy dan Kibum juga ambil bagian. Semuanya penuh dengan keceriaan. Kecuali Ryeowook dan Jang Mi yang berapa kali ambil[un, wajahnya mereka tetap sama. Tetap tegang.

“Soo Rim~a. Ayo kemari. Kalian belum berfoto.” Ujar Sungmin memanggil Soo Rim. “Mana mungkin pengiring pengantin tidak berfoto sama sekali.”

Je In dan Soo Rim. Kedua gadis itu nampak diam di sudut ruangan memperhatikan orang berpesta, yang rata-rata umurnya adalah setara dengan orang tua mereka. Mengenakan gaun putih selutut dengan pita di dada, mereka terlihat sangat manis. Mereka berdua mendekat kearah Sungmin dan Min Yeon. Memberikan selamat lalu berfoto bersama dalam berbagai pose. Foto mereka nampak fresh. Mereka berempat terlihat kompak dalam beberapa pose, khas anak remaja yang imut.

“Aku juga ingin berpose seperti itu.” Ujar Yesung dan Hyukjae bersamaan. “Ayo kita berfoto sekali lagi.” Ujar Hyukjae.

“Andwae, gaya seperti khusu untuk akami!” protes Je In dan Soo Rim. Semua tertawa riuh. Penuh dengan canda tawa dan kebahagiaan.

***

Pesta sudah usai. Malampun semakin larut, menyisakan penat yang begitu membelit pinggangnya. Serasa patah rasanya,meski dia belum pernah merasakan bagaimana rasa patah punggung. Ia ingin berbaring segera secepatnya, melepaskan ras lelahnya, tapi ia menyadari masih belum mandi, rasanya belum segar.

“Siapa yang mandi lebih dulu?” tanya Jung Soo.

“Kau saja.” Ujar Eun Kyo.

Jung Soo mengambil handuk dan mandi secepatnya. Begitu ia selesai mandi, pikirnya baru dia mengurus Eun Kyo yang terlihat sangat kelelahan.

Sementara menunggu Jung Soo mandi, dan menunggu giliran, Eun Kyo berjalan menuju cermin besar dan berdiri di hadapannya. Dia melepaskan gaunnya hingga menyisakan pakaian dalam saja. Menghadap kesamping dan memperhatikan berntuk perutnya sendiri.

“Ternyata memang besar. Aku saja yang tidak menyadarinya.” Gumamnya sendiri sambil mengelus perutnya yang sudah terlihat jelas sekali membesar.

“Ugh! Punggungku sakit sekali. Apa kau juga merasa lelah? Eoh?” ajak Eun Kyo bicara pada janinnya. Ia terperanjat saat melihat dicermin bagian perutnya bergerak. “Kita makan hari ini, bersenang-senang, apa kau senang? Eoh?” ia kembali berbicara sendiri. “Kau terlalu senang makanya sekarang kau bereaksi, Eomma benar kan?”

“Eomma…” panggil Eun Kyo pada dirinya sendiri sambil menerawang keasat langit-langit.

“OPPA!” teriak Eun Kyo nyaring.

Jung Soo yang masih berada di dalam kamar mandi tersentak. Ia sudah mengenakan handuknya dan mengeringkan tubuhnay sebagian, tapi begitu mendengar pekikan Eun Kyo ia segera keluar dari kamar mandi. Wajahnya berubah cemas saat melihat Eun Kyo berada di depan cermin.

“Wae? Kau kenapa? Sakit? Eoh? Lelah? Bagian aman yang sakit? Eum? Kita ke ruamah sakit sekarang?” pertanyaan meluncur deras seperti air mengalir.

“Kesini.” Panggil Eun Kyo.

“Lihat, dia bergerak.” Serunya sambil menutup mulutnya tidak percaya. Baru kali ini ia merasakan hal ajaib seperti ini, karena ini memang pertama kalinya ia hamil.

Jung Soo berdiri di belakang Eun Kyo dan memeluknya. Mengelus perut Eun Kyo dengan pelan dan selembut mungkin. Lagi-lagi sang janin memberikan reaksi.

“Whoah! Dia menendang tanganku!” kali ini Jung Soo yang memekik tidak percaya.

Mereka berdua larut dalam kesenangan yang baru pertama kali mereka rasakan, sensasi menjadi orang tua sedang menghinggapi mereka. Tidak bisa digambarkan degan kata-kata betapa mereka sekarang merasa mendapat sebuah keajaiban. Sentuhan dan belaian untuk sang bayi terjadi dengan intens, hingga Eun Kyo lupa sekarang ia belum mandi.

“Aw! Nyeri Oppa.”

“Nde? Dibagian mana? Agoo.. kau nakal, ne? Jangan membuat Eommamu sakit, sayang.” Jung Soo mengelus bagian perut bawah Eun Kyo sebelah kanan yang ia keluhkan nyeri. Perlahan nyeri itu berangsur hilang.

“Namja~ya, Yeoja~ya?” tanya Eun Kyo, tangannya memegangi wajah Jung Soo yang ada dipundaknya, dengan mata mereka berdua fokus pada perut Eun Kyo.

Pertanyaan ini yang selama ini ditunggu Jung Soo keluar dari mulut Eun Kyo, Yeoja.” Jawab Jung Soo.

“Aku mau namja Oppa.” Ujar Eun Kyo.

“Ya sudah, namja kalau begitu, Keundae, Aegi~ya, kau harus menjaga Eommamu kapanpun dan dimanapun saat aku tidak ada, ne?” ujar Jung Soo. Mereka berdua terdiam, merasakan gerakan demi gerakan yang ditimbulkan oleh sang bayi sebagai respon dari elusan kedua orang tuanya.

“Eomma, sangat lucu jika aku dipanggil Eomma.” Ujar Eun Kyo terkekeh geli. Ia merasa aneh saat Jung Soo memanggilnya Eomma. “Dan kau dipanggil Appa.” Ujarnya menoleh kesamping menatap Jung Soo. Pelukan mereka semakin erat.

“Tapi itu terdengar hebat.” Ujar Jung Soo bangga.

TBC

Note : Sepertinya saya terlalu lebay di bagian akhir. Tapi sangat menyenangkan, kyaaaaaaaaaaaa membuatku seperti mengalaminya sendiri *plak*. Akhirnya selesai juga meski penuh perjuangan menyelesaikannya. Terima kasih pada semua teman-teman yang mendukung saya dan menyumbangkan ide untuk LTD… buat yang menunggu dengan sabar dan setia. Sebenernya si seneng ditagih, membuat keinginan sedikit terpicu, tapi terkadang rada terintimidasi juga kalo lagi sedikit sensi… aku tidak tau harus berkata, terima kasih sudah mau menunggu dengan sabar. Readerdul sekalian, you all my epriting. Typonya dimaafkan saja yah? Aku males ngedit sepanjang jalan kenagan begini, dengan suasana hati yang lelah dihimpit beberapa tekanan, fuih. Maklumi jikakadang-kadang ada huruf yang ketinggalan, karena keyboard saya mulai lepas satu persatu, kyaaaaaa gimana memperbaikinya klo kaya gini, geli mencet g ada keyboardnya, astaga, kebanyakan dipake buat ngetik, makanya lepas begini coba.

Ah, satu lagi, pesta bujang itu ternyata bahasa kerennya bachelor party masa, kyahahahahahahaha, Febby, gomawo sudah memberitahukan kata yang keren buatku *lebay*. Meta, apa sudah lucu ini bisa membuatmu kaga bete lagi? Ehem, produser keren itu aku putuskan untuk part depan saja, kyahahahahahaha, bertebaran yang mempesona mungkin part depan, ye? Semoga saja. Don’t miss it!

Aku tambahkan satu note lagi. Banyak yang tanya, apa janin umur 15 bulan sudah bisa gerak? Kayanya ga mungkin deh, teorinya begini begini begini. Atau si anu perasaan tidak begini, si itu perasaan tidak begitu. Ini mungkin sedikit melenceng pada teori. belum tau pasti juga, karena aku belum merasakannya sendiri. tapi menurut observasi yang aku lakukan, seorang ibu merasakan gerakan itu sejak umur 10 bulan. Eun Kyo mungkin tidak merasa waktu itu, pas umur 13 minggu dan tau bahwa dirinya hamil, jadi baru dia memperhatikan dan merasa. Mungkin ada orang lain yang berbeda, pada umur 5 bulan masih belum merasakan apa-apa. Kondisi orang kan beda-beda yah? Teori tak akan sama persis dengan kenyataan. Seperti aku bekerja, seyogyanya pasien diberikan penjelasan rinci tentang pemakaian obat, itu teorinya. Tapi yang aku dapati, ga sama, bahkan terkadang pasien males dijelaskan. Sama mungkin seperti itu. Ada ibu hamil yang pada umur 7 minggu masih rata, tapi ada yang udah mulai kaga muat itu celana kerjanya. Itu temen yang aku amati setiap harinya, satu ruangan aku dan ruangan lain, ternyata satunya melebar kesamping, satunya ke depan. dan pas aku tanya, kapan A’ ngerasain dedenya mulai gerak2, dia bilang umur 10 minggu udah kerasa gerak-gerak. Aku tanya-tanya duu si sebelumnya sama yang udah pernah ngalamain, juga buka rubrik tanya-jawab bunda sebelum nulis. Ada banyak cerita disana, kapan bayi mulai terasa, dan kenapa tidak menyadarinya, dan memang berbeda-beda setiap ibu. Eum, jadi begini saja, anggap aja TeuKyo adalah pasangan yang sedikit bego dan tidak mengerti dengan semua perkembangan itu, lalu dengan begonya gitu bilang janinnya nendang-nendang kaya pemain bola. Kan itu cuma perasaan saja, euforia dari sepasang suami isitri yang lagi seneng-senengnya tu hamil. jadi berasa berkhayal yang tidak-tidak. Jung Soo juga mana tau perkembangan janin istrinya. Pan baru diperiksa. Jadi anggap aja gitu Teukyo lagi kesenengan, hingga dengan bodohnya mengira janinnya udah bisa main bola dalam perut.

71 responses »

  1. Ini part favorit sayaaaa. . :* :*
    SJ-H!
    Sy suka Teukyo yg romantisan unyu bgni. Eun Kyo jg jd lbh sarap. Kyaaa sy suka. Soo oppa jg unyuh. Protektip bnget masa. Skalian aj gt bkin pngumuman di website resmi PJS Ent. Woi bini gue hamil woi!! gtu. . . -___-
    Dan apa itu yg di tanya ke Ae Ra?? ‘itu’ y eon? Aish! Jinjja! Tetep ye Oppa mesum epritaim.

    Ae Ra udah kaweeen?? Knapa sy kagak di undang😥

    Bachelor party-nya sumpah bkin sy ktawa2 gaje. LOL!
    JangWook shipper sy mah. Jangmi lempar2 spatu masa. sumpah yah sy ngbyangn t cewe2 pd heboh ngamuk sm namja2. .
    Kyu-Rin gk branteman lg ni? Akur kyknya.

    Eonnn. . .mana momen romantis hae-yoon, mbum-yoon, ato won-yoon??
    kesian bnget masa di kelilingi namja2 tampan tp kagak rmantisanx.
    etapi, sy deg2an pas hae blg “dia milikku”
    Andy ska sm mbum?! hiks, kasian kamu YB.

    Sungmin kawen! asek!
    oh iya. kagak ad Ys di part ini eon. pantes aman tentram.
    lnjt eon! Saranghae. .

  2. malam minggu galau+ujan…tpi ga galau lgi pas baca LTD.
    eon aq ktawa ga brhenti” pas baca bgian para lelaki d’serang ma yeoja”a.
    mkin seru ajj ni cerita’a.
    yesung+eunhyuk oppa ma aq ajj,,ga bkalan nolak ko.

  3. ga lebay ko, scene terakhirnya..wajar teukyo lan lg menikmati jd ortu pertama kali y,,
    pling seneng scene d klub itu, pengen liat muka2 cwo yg kepergok lg pesta bujang sama para yeoja y..pasti tadi y merah langsung berubah jadi ungu..hehehe

  4. Aigooo…… Part pertama jung soo yg dilema… Pas pesta melepas masa lajang eun kyu yg dilepa… Ya meskipun jung soo oppa jg smakin frustasi….

    Aku kira juga… Eun Kyo tdk suka, tp sukurlah, ternyata dia sebenarnya juga senang saat dia hamil. Aku jadi penasaran, brapa piring porsi makannya setiap hati…

    Tp eonn…. Tdk bisakah sekali2 Eonni yg mengatakan “saranghae”… Pasti itu akn trdengar romantis.

    Aku paling suka bagian pas namja ngadain pesta pelepasan masa lajang…., bukannya apa2… Lucu ja pas ngedenger… Para yeoja mengamuk pada mereka… Hahahaha… Tp, rada sedikit ng’ rela saat HyunAh duduk dipangkuan jung soo oppa? Apa menariknya sih??? Kan masih banyak namja yg lain yesung oopa juga cakep. Tp kenapa di pangkuan jung soo oppa??? Apa setia pria yg sudah menikah itu akn memancarkan aura tampan tersendiri eo????

    Bicara soal Yesung oppa…., knp aku ngara klo julukan the king of yadong dlm FF ini, lebih potensial untk dia sandang dibanding Hyuki Oppa.. Eo?

    Semangat ya Eonn… Aku yakin kandunganmu pasti kuat, tapi seenggaknya bersikaplah manja seperti ciri wanita hamil pada umunya, itu pasti bs lebih membuatmu merasa… Emmm… Senang? Ok!!

  5. whooaa…
    Daebakk.. Eonni…

    Aku ngakak bacanya apa lagi pas yg bachelor (apalah itu tulisannya aku gtau) party… Itu kocak bgt… yeoja2nya pada ngamuk tau namjanya pada main cewe(?) wkwkwkkw…
    Apalagi Jungsoo oppa aduhh… Udh kaya suami2 takut istri jadinya wkwk…

    Aku juga suka part terakhirnya eonn.. itu gk lebay kok eonn… itu so sweet bgt… :’D

    Pokoknya part selanjutnya aku tunggu eonni…
    Eonni fighting!! We love you *lope2 diudara(?)*

  6. Speechless eonn baca ni part…

    Eunkyo jadi kekanakan bgt,jungsoo jadi protektif…

    Ngakak baca pas jang mi play lagu seriosa kematian pas bachelor paty…wkwkwk..kasian amat tu ryewook oppa kalo sama jang mi..kekeke

    eonn,penasaran ma love storynya yoon bi..ntar dpt sapa tu?feelnya dpt ma donghae oppa..hehe

    endingnya bikin ngilu eunkyo lucu bgt…

    Next part ditunggu eonn…annyeong

  7. Onnie tanggung jawab, part ini buat aku mesem-mesem gaje dan ngakak nyaring tengah malam.

    Aku suka part ini,
    eunkyo khas ibu-ibu hamil yang emosinya labil. Naik turun.
    Jungsoo juga unyu-unyu, perhatian overload. Kekekekeke
    aku agak kehilangan kyuhyun di part ini, ga tahu kok kayaknya ditenggelam ya #plak
    ae rin, ciye, ciye, yang cemburu ampe instingnya jalan,

    yoon bi suka ma kibum ya?? Trus kibum naksir siapa, onnie??? Kepooooooo.

    Bwahahahaha, pesta bujangnya asoyyy geboi. Apalagi penarinya hyuna, pas banget sama image seksinya dia. Aku kebayangin wajah member suju yang cengok bin mesum pas hyuna lagi nari, sumpah ngena banget, onnie. Dan wajah santai kibum yang biasa dengan hal itu, ga tahu kok manis banget si kibum. Dan paling seru serta menegangkan pas ibu-ibu komplek datang demo #plak maksud aku eunkyo en rombongan, aku ngakak abis, onnie.

    Onnie, kayaknya LTD masih panjang ya, gpp deg, asal onnie semangat aja nulisnya, aku mah santai aja bacanya plus komen #modus ke hyukjae
    *cipok onnie* #plak *ditabok jungsoo*

  8. Bwahahaaa…sayah numpang ketawa sejenak…part ini gokiiiiillll…unyuh nistah meraba2…wkwkwk…

    Yak eonni-ya…entu si mbak kyo kenapa jd begitu amat sekarang coba…pas d apartemen donghae…gilaaaakkk…ampe si Yoon jeles begitu…mana niatnya SMP (Setelah Makan Pulang) pulak…bangkrut bangkrut dah si donghae dipalakin makanan mulu ma kyo…

    Daaaann…si Yoon gajeh yah…*lirik tajem febby*
    Semua diembat masa…sama donghae cemburu, siwon cemburu, mbum jg cemburu…ish ish ish…dasara wanitah jaman sekarang suka begitu masa…

    Hihihiii…aku suka kata2 mbak kyo pas bilang “aku tahu aku sudah tidak menarik lagi”…rasanya miris banget masa…wkwkwk…tapi bikin ngakak…
    Si oppa juga diem ajah masa pahanya dipake bwt mangku wanitah macam tutul begitu…diiiiihhh…hajar si oppa dah mbak kyo…sembranganan tuuuu…pengen nusuk pantat hyunah juga ni eyke…:D

    Bwahahaaa…sayah jangmi shipper deh teteup…gokil gila wanita itu…dan keyen si wookie…kuat gtu narik si jangmi yg kekuatannya kayak buldoser…wkwkwk…pasangan aneh,ajaib tp unyuh mreka…kyaaaa…

    Dan apa itu kyurin pake peluk2an d gang begitu…bener tu eomma aerin…larang tuuu…belum muhrim…ckckck…

    Kyaaaa…ditunggu kelanjutannya y eon…aku akan selalu menagih…jd jangan bosen2 denger ocehanku tentang LTD…uyeeeee…:p

  9. memang ya kyo eon ltd tuh selalu aja buat perasaan campur aduk, kadang tegang, ketawa, nangis, bahkan malu ngeblushing sendiri padahal yang jadi tokohnya siapa kalo baca ini itu euphoria*bener gak tuh* nya berasa banget..
    sempet ketawa geli pas pesta lajangnya.. serius deh gak ngebayangin itu tempat jadi kayak apa setelah pergulatan yang dilakukan sama jang mi. sempet wanti2 juga sama nasib jungsoo, oh ya tetep ya di part ini jiwa mesumnya jungsoo bermain.. haha.. tapi emang diakhir ff ini itu selalu bikin nagih daebakk!^^

  10. seneng deh onn, soal’y part ini panjaaang🙂
    Jung soo oppa langsung berubah jadi suami siaga nih setelah tau eun kyo hamil. Hehe
    Tapi sayang, knp eun kyo menganggap itu berlebihan. Scene terakhir g lebay kog onn, menurut q itu romantis🙂
    kpn nih onn, eun kyo ngidam. Kan jung soo oppa udh siap tuh jadi suami siaga😀
    Yg bikin jung soo oppa jd uring2an kan krn eun kyo g kayak ibu2 hamil lain’y. Pengen tau aja gmn kalo eun kyo tiba2 ngidam yg bikin pusing jung soo oppa. Wkwkwk
    Lucu kali ya liat jung soo oppa pusing sendiri🙂
    Aaa… penasaran nih onn sama lanjutan cerita yoon bi diantara tiga cowok. Sebenar’y pasangan’y siapa? Donghae? Kibum? siwon? berharap benget ada adegan romantis yoon bi dg salah satu diantara mereka. Lebih berharap lg dgn donghae.
    Iyeee… Kyurin makin romantis aja nih. Sekarang pembicaraan’y sering nyenggol masalah pernikahan nih🙂
    Sungmin oppa chukkae : )
    Jangwook couple wooow… Hebat, teriakan jangmi+lemparan sepatu’y bikin namjadeul diam seketika😀 seneng sama couple ini, selalu bikin ceria suasana.
    Dan tentu saja, scene favorit saat pesta bujang. Yg paling bikin ngakak saat lagu’y di ganti dgn lagu seriosa yg biasa mengiringi kematian. Wkwkwk semakin mendramatisir suasana.
    Q suka part ini, fighting onn🙂

  11. Pas sceen para namja ketauan ntu saia jd keinget film gentelman dignity xD
    kocak sangat! Si HyunA jg ngeksis. Eonni pny dendam pribadi ama dia ea? #PLETAK!

    Saia salut sama jung ahjumma yg selalu sabar dan pengertian sangat xD

    email yg didapat kyu ttg apa tuh? Game? #sotoy

    perjalanan kisah asmara(?) yoobin masih membingungkan dan menegangkan!

    Ngomong-ngomong dipart ini g ada sikap mesum teuk oppa >w<

  12. Yaaaahhh masa udahan sih pdhl kan lg seru2 nya (-___-) …

    Eon lama gak publish kelanjutannya kkkkk..gak sabar..tp kenapa eunkyo gak mau ksh tau ke keluarga jungsoo yaa klo dia hamil???

    Ditunggu secepatnya yaa eon kelanjutan ceritanya hehhehe

  13. yeeeah.. publish publish publish…!! ^^
    sumpah eon baca bagian terakhir merinding disko.. kkkkk^^
    kyyaa ga ke bayang gimana tuh.. *plak*
    ga sabar pengen ngbca lanjutannya..
    ditunggu eon..^^

  14. Annyeong haseo Eonnie…
    Ekhm-ekhm pertama-tama aku mau minta maaf karena selama ini udah jadi silent readers.
    Hehehe, sebenarnya udah lama baca ff eonie yang judulnya Let This Die Part. Aku sukaaaaaaa

    Bagian part ‘Pesta Lajagnya’ bikin ngakak. Ngebayangin muka jungsoo kepergok Eunkyo, fufufufu. Di part itu bener-bener LOL. Tapi dibagian akhirnya.. heheheheh sukaaaaaaaaa

    Oke, eon. Salam kenal!😀

  15. huaaaaa
    part ini bikin cengengesan eonn
    apalagi pas di club itu yg hyunA .. hiyaaa para namja mati kutuuuu liat para yeoja dateng
    wwkkwkwk
    gak kebayang muka jungsoo yg merah padam .. inget hyuna yg di mv oppa gangnam style
    kyaaaa~
    tinggal yoon-bi yg masih jadi tanda tanya besar antara kibum,donghae dan siwon
    lucu juga pas kyo eonni ke rumah donghae .. ibu hamil emang sensitif bangettt

    kekekkeke
    kerennnn~

  16. Akhirnya publish ni ff…

    Sumpah ngakak q baca pas bachelor party lgsg bubar semua gr2 eunkyo and kawan2 datang…wkwkwk…

    Pokoknya q tmbh suka ama ni ff…LANJUT fika…

  17. onni….
    pesta bujangnya, buat q ngakak. knp harus hyuna?
    masih bingung q Onni. c yoon bi itu suka sama donghae gag sih?
    trus c jangmi udh sama wook?
    kayaknya q tw deh pacarnya hyuk, ahra y?
    next tar kyu ma aerin yg nikahan..
    ditunggu y onn

  18. yeay publish jugaa !!
    pas sama waktu saia dalam keadaan kebosanan..
    onn fika bener2 daebak !!
    Eun Kyo hamil malah jadi hiburan ya,,haha
    ngebayangin HyunA di ‘Ice Cream’ tuh pas adegan di club,,hehe
    next part jangan kelamaan yaa

  19. aerin – kyuhyun kayaknya bakal nyusul sungmin nih (y)

    siapa unn pacarnya hyukjae??? ;A; penasaran tauk u_u (dalem hati: jangan jangan aku *plak!*) hahahaha

    eunkyo unni agak sensitif ya kkkk~ maklumlah lg hamil.. yg terakhir itu kaayaknya gak lebay deh unn,wajarlah begitu kan pengalaman pertama ;)))

    bachelor party? baru denger yg kayak bejituan😄 pas acara itu sukses bikin ngakak apelagi lagunya diganti sm lg seriosa,kematian huahahaha jang mi nya jg gak kalah heboh😄

  20. Buahahahaha aku ngakak wktu bayangin Hyuna grepe2in namjadeul..
    Bayangin ekspresi Hyuk,Kyu yg lumayan trknal mesum.. Ebuseeeh mangap ngiler kali tuh….
    Uuuuh aku jd pen hamil jugak >.<

  21. Wahh wahh
    eon.. Masa kehamilan pertama sifat mue lebih hiperaktif..
    Hahah
    eonn mau ngidam apa nh d LTD..
    Yg macem” ya pasti.a.. Biar si laki mue lebih repot..
    Seneng liad dy nelongso..
    *peace oppa..

    Eonn aku mau anak.a langsung keluar dua.. Ryu jin ma yong jin sayang..
    Haha
    *digampar vikos eon
    #kaburrrrr

  22. Aaaa~ Jang Mi bikin aku gemes. aku suka banget sama karakternya di sini, lucu banget😄
    aku juga suka banget, banget, banget sama endingnya! kyaaaaa~ romantis banget. gimana rasanya ya? pasti menyenangkan banget. DAEBAK eonni-ya!!😀

  23. Daebaaak aku suka part ini eoniii
    Penuh dengan keromantisaan *ajigilee huhuhu
    Jungsoo oppa nakal niii eh semuanyaa pada nakal ga bisa tahan sama cewe sexy dikit aja hihihihi
    Next part I will waiting eonnn
    Fightiing ^0^

  24. kyaaa~ LTD publish..
    Iseng buka wp eooni, kali aja ada yang publish dan ternyata bener LTD part 14 publish .
    Sukaaaa! apalagi pas diending, kyaa romantis bgt!😀
    Oh ya, aku fikir si ae rin bakal ngambek berat sama kyu gara gara party itu, tp trnyata ga..
    Cepet bkin merka berdua jadian eonn.. haha
    Okee, yang pasti next chapter ditunggu . Kalo bisa ga terlalu lama kayak part 14 ini ya eonn.. hehe

  25. BUAHAHAHAHA. . sumpah eon, aq ga bsa byangin pesta bujang yg berakhir ricuh. . apalagi d tambah dgn jang mi yg tiba2 lempar sepatu dan ngamuk2 o.0 dan hebatnya ryeowook bsa menghentikan aksi anarkisnya jang mi?? padahal kn bdnnya kecil ya. .
    dong hae. . gmn ini nasib dong hae. . kasian amat luntang lantung msh blum dpt jodoh. .
    dan bgian akhirnya. . teukyo couple bner2 bkin iri. . !!!!!!!
    aaahhhh. . itu so sweet bgt. .

  26. kyaaa…awalx te2p sweet sm alur eunkyo pas ditengah-tengah…omo…omo…q ikut shock pas pesta lajangx diterjang sama eunkyo dkk kekekek….

    huwaaa…q suka endingx ntu baby ryujin gerak-gerak pengen keluar y?*plak

  27. syalalalala im comiiiiiing, sekedar inpo, mood saya alhamdulillah sudah membaik dan lepinya juga *lompat tali*
    meskipun saya agak lupa dengan apa yang mau saya komenkan, tapi gpp yah, yang pasti saya jangwook shipper, terus ehm….itu rahasia usia jangmi belum terkuak sesungguhnya. terus apalagi ya, oiya adegan kyurin pelukan saya bayangin kek changkyu pas smt just the way you are itu masa, kyu nya sampe lompat2. ah manis bgt. saya suka peluka2 gitu. eyyy, hyuk punya seseorang? nugunde? ahra kah? huahahaha *ngarep. oiya kyo hamil apa kesurupan sih -______- jadi unyu gitu hahahaha suka pas berantem unyu sama onge. btw ga ada momen andy-bum yah? penasaran sama mereka deh, terus abis ini ada moment yoon-hae nggak eon? saya mau mereka debat unyu deh. ish, kenapa saya kebanyakan pake unyu sih? udah ah eon,

  28. Kynya d part ini lg adem2 aja y tuk smuanya.. Waa kynya kehamilan eun kyo bikin jung soo oppa makin cinta plus over protective y.. Akhirnya sungmin menikah jg, tggal kyuhyun ma ae rin yg nyusul. Fika, kynya koq yoon bi lebih pas ma donghae y dr pd ma siwon, tar mereka d jadiin couple aja y. Hehe. Slalu d tunggu y fika next partnya..

  29. senng maasa2 hamil y eun kyo n ti.gkah y eun kyo jd naik turun gt,,, q mikir diawal tadi y eun kyo emang ngak begitu senng ma kehamilan y tapi pas dia di cuekkin ma jungsoo secara ngak langsung n sikap y eun kyo yg jd manja n mau dapet lebih perhatian dari jungsoo ternyata itu kyk y bawaan hamil yg uring2an……
    bingung ma perasaan y yoon Bi nih dia sebener y lebih kesiapa sih,,, siwon? donghae? kibum? sikap y yoon bi ke tiga cwo tu nunjukin sikap yg sesuatu gt…..
    kasian bgt nih para namja pesata y digagalin sama para yeoja hahahahahaha…
    yeon su y kemana nih kok ngak keliatan dia y??? gmn sama nasib dia n yg hamilin aja blm ketauan….

  30. kyaaa kyaaa tengah malem baca ff favorite tambah segerrr hahaha..
    lah aku jadi penasaran sama pasangan kyu & aerin muehehe..
    selamat deh ya.. semoga anaknya kembar, cewek-cowok muehehe .
    part selanjutnya ditungguuuuu..
    tengkyu untuk vika eonnie udh sms, tp maaf jrg aku bls. aku ngga punya pulsa T.T *cium park jung soo* ehehe ^^v

  31. awal2nya keliatan eun kyo gk menikmati kehamilannya eon
    Kaya belum pengen
    Heheh
    Si jungsoo selaluuu jd suami siaga
    Hahaha
    tp makin kesini eun kyo kayanya sadar
    Rezeki gk boleh dtolak
    Yaitu si bayi
    Haha kebayang gmn over protektifnya jungsoo
    Pengen eun kyo muntah2,trus gk mw mnum susu
    Biar dpaksa jungsoo kan unyuuu
    *inget MLT

  32. onnie kau mengobrakabrik perasaanq bwahaha…
    lagi dibuat galau,lagi kocak,lagi iri aarrgghhh…
    pas bagian akhir itu lho serasa gmna gt..bangga rasana jdi eomma!!peenggeennn🙂
    q juga suka onni pas bagian party ngelepas bujang tu..
    kakakakakakak..luucuu abiiss..!!
    setiap part onnie punya aja ide2 baru yang buat aku love..love deh ama tiap part!!
    adduuhh bahasa apaan itu…abaikan hihihi..
    part selanjutnya datanglah..datanglahh…!!:D

  33. Kyaaaaa…. saya lom komeng masa….
    *bakbukplak*

    Hadeeehhhh… LTD tampa YS, damai bgt ya eon…. *kipas2*
    part nie penuh sm k’Unyuan masa…
    hamil’a EunKyo eon membawa k’bahagiaan… *plak

    Buwahahahaha… pesta bujang’a Umin jd kacau masa, para panglima wanitah datang untuk mengacau…

    Kyaaaa… JangWook unyu bgt sih, saya seneng pas part mereka… slalu pengen ngakak sm tingkah’a Jang Mi…

    Ish, Yoon eon nasib’a kesian amat yak, d’kelilingin cwo2 ganteng tp dingin semua masa…. -___-
    pd nyuekin gitu!
    Ae Ra eon dah nikah masa…. *ngakak*
    nikah’a sm Kang Hodong ya eon? *plak*
    Uyeeee…. bagian akhir’a saya suka bgt, ntu yg paling sweet eon…
    saya jd pengen hamil kya EunKyo eon jg pan jd’a! -____-

  34. Kya,.
    endingx unyuh-unyuh..
    tp tu kn br 3bln jln 4 y unn?
    mang d umur kandungn sgtu,de2kx dh bs gerak?
    ky’x blm bs de unn..*sok tau saia*
    Oya,saia dh g masalain soal typo,msh bs dmengerti gn..
    tp ad part yg typox g saia pahamin unn..
    Td yg para cwek2 mw nyamperin cwok2 ke club tu sbnrx sapa yg nyetir?
    Yoon Bi apa Jangmi?
    soalx unn 2x blng Bi,2x blng Jangmi..
    saia jd bingung dah..
    tp dr cr ngebutx,ky’x Jangmi y unn?
    Td ngakak bgt dah tiap pas part Jangmi.
    saia jd bnrn ngepen ne m dy!hahaha
    Kangin dh muncul,tinggal sapa y yg blm?
    Shindong udah blm unn?
    Yasud,dtnggu kelanjutanx y unn..!
    tetep Semangadt demi keluarx Ryujin…!hehehe

  35. LTD kali ini bikin merinding, ngakak mulu saya~
    apalagi part bachelor party noh, pake ada hyunAh jadi inget gayanya dia di MV trouble maker,

    sungmin nikah,
    kyu juga udah ngebet bgt tuh kayaknya pengen nikah,
    yesung ama siapa nih, hyuk jae juga?
    Next part ditunggu

  36. Fika Eonni…..annyeonng *lambai-lambai
    Ini aku ngakak sama hyuna nya ntah kenapa kepikiran yuki hihihi :p

    Eonni,aku sebel sama eonni,bener kata oppa,eonni kayak engga seneng sama aegy😦 tapi aku suka ama yg di endingnya,hihhiiii kembali ke ciri khas eunkyo yg ke-ibu’an.

    Any way.. Aku suka sama yoon bi,mau dia sama siwon,ato sama donghae,aku tetep suka,aku suka couple ini,kyaaaaaa !!!!
    Oiya,Andy-bum juga Ơ̴̴̴̴̴̴͡.̮Ơ̴̴͡

    Yeonsu,ntah kenapa walopun sebel sm nih org,tapi aku tetep penasaran sama nih orang,

    Oke deh,ditunggu lanjutannya eonni-ya :*

  37. waaa eonni ini keren banget

    apalagi pas di club itu, rasanya pengen ketawa terus liat tingkah cewek” itu😀

    trus gemana sama donghae ? siapa jodohnya yg sebenarnya ?😮

    aku pengen si kyu cepet nikah sama ae rin =D

  38. uwaaaa akhirnya eonni hamil juga. chukkae eonni…
    dan demi apa, aku suka banget part Teukyo disini.
    aku jadi pengen punya suami kaya Jungsoo oppa😀
    eonni ayo part selanjutnya cepet publish, aku selalu menantikan kelanjutannya dengan kejutan-kejutan yang eonni suguhkan😀

  39. Oenni aku kangen dengan tulisanmu , dan akhirnya LTD publish🙂
    Oenni itu siwon emang punya feel ya buat eunkyo ? Sejak kapan? Emang ada ya di ceritain di LTD sebelum2 nya ?
    Itu kasian yoon bi pas di mobil bareng siwon , oppa jahat banget ngomongnya😦 ae ra udh nikah ya sama siapa oenni ? Yoon su kemana ? Trs itu Andy siapa ? Banyak sekali pertanyaan mian hahaha di tunggu jawabannya di LTD selanjutnya oenn

  40. kenapa para cowok-cowok ngadain pesta lajang segala buat sungmin…hyuna ngapain juga da disitu sok sexy nyanyi opa gangnam style gak bisa ngebayangin aku…
    ditunggu next partnya…

  41. akhirnya bisa baca LTD lagi~~~
    selalu suka dengan ‘episode’ eunkyo hamil kalo nggak pas ngerawat anak di cerita eonni… berasa real banget!

    dan kenapa juga mereka susah-susah cari masalah (?) dengan pesta lajang sementara jelas sekali mereka udah nggak lajang #plak *cuma lirik jungsoo kok* *uhuk*
    lanjutannya ditunggu~

  42. yakkk
    onnie apa ini?
    barchelor party? pesta bujang?
    mn ada psta spt itu?
    itu jungsoo oppa konsultasi apa?
    eunkyo onnie hamil tetep aja nafsu ? keterlaluan bgt hahaha
    sabar dlu napa ampe 9bln aja oppa keke
    onnie sgtu aja eoh? ini jga numppang hehehe

  43. Unnie mianhae aku bru komen. Hihi
    hahaha aku ngakak bacanya, duh kesian bgt lg enak pesa lajang eh malah ketauan ama wanita2 mereka hahaha eh jang mi itu lebih tua dr ryewook yaa unn ato gmana? Hihi sungmin udah nikah kyu kapan nyusul ni? Wook juga? Apalagi dongeh kapan move on dari eunkyo eh? Eunkyo nya aja uda mau punya baby.. Eumm buat moment teukyo yg terakhr ga lebai saa suka malah, hahahaha.
    Okelah unn next chapter aku tunggu.

  44. Aigoo..part ini bener2 keren lah:-)
    Kyaa Eun Kyo beneran hamil#doa Jung Soo akhirnya terkabul#hohoho makin protektif aja dia

    Dan aku masih bingung sama kisah cinta Donghae, Siwon, Kibum, Yoon Bi, Andy? bakalan rumit nih kayaknya

    Kyuhyun! ayo langsung aja tancap, nikahin si Ae Rin..dan selamat buat Sungmin oppa yang sudah melepas masa lajang disini, meski harus ada keributan dulu di pesta mengakhiri lajangnya…

    Dan itu kok Ryeowook sama Jang Mi malah diem2an?

  45. Annyeong eonni.. Aku pembaca baru di sini,,maaf baru bisa tinggalin jejak ne..soalnya aku ol pake hp jadi kuota limit xD (a.k.a gak ada pulsa)..bangapta chingudeul😀

  46. ecieee calon orang tua baru.. Ahay
    Kyknya excited bgt nih… Jd pengen ngerasain #plakkk

    Dan perubahan eun kyo yg doyan makan… Err daebakk

    Dan cie uri umin udh married dsini… Yuhuu
    Chukae…

  47. lama tidak berkomentar di blog ini,,,
    hehehe..
    sorry onn, kagak sempat..
    biasa dosen aak napsu ngasih tugas..

    ff onnie makin lama makin seru..
    tak terbayangkan lah..

    oia, aku penasaran baget ama ff egoistic..
    itu kayak gimana akhirannya on ??

  48. baca note nya unni.
    aku baru tau kalo pergerakan janin mulai kerasa sejak 10minggu._. kirain kaya di sinet2. 7 bulan baru kerasa pergerakannya. hehe.

    secara keseluruhan ceritanya aku tetep suka!! tp mungkin karena bias aku teuk-kyu,
    jd pas bagean wook-sungmin banyak dilewat2._. alesannya pen buru2 ke bageannya teukyo/kyurin.-. hehe mian.
    tp tetep suka

  49. hahahaha eun kyo mw ngapain tuch buka kancing baju d’club ???

    jdi ngebayangin gmna rsa’a hamil n aegi’a gerak”..
    senyum” sendiri jdi’a nich oenn

  50. hahahaha eun kyo mw ngapain tuch buka kancing baju d’club ???

    jdi ngebayangin gmna rsa’a hamil n aegi’a gerak”..
    senyum” sendiri jdi’a nich oenn…
    tpii gmna kabar’a yeon su y..
    d’part ini dy gx muncul sma sx,, cuma muncul nma’a doank

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s