OCCLUMENCIA (Part 2)

Standar

kjjj

AUTHOR : MISS ELBY

“Dia…sama sekali tidak mau mengikuti terapi. Aku sudah kehabisan cara untuk membujuknya, Jung Soo. Tapi dia bergeming,”

“Dia lebih banyak diam, ah, ani, dia nyaris selalu diam hingga aku bahkan tidak punya kata-kata lagi untuk memancingnya bicara. Tidak mau mengikuti terapi sama sekali padahal kemungkinan untuk bisa berjalan lagi itu sangat besar. Aku bersedia mengeluarkan biaya berapapun. Berapapun asal dia bisa kembali seperti putraku yang dulu,”

 “Aniyo…sedikitpun aku tidak menyalahkanmu Jung Soo. Kau tidak salah. Siwon…dia menyayangimu. Kau hyung yang selalu dia banggakan. Aku juga tidak menyalahkannya karena menolongmu. Meski kau bukan seorang Choi, melainkan Park…aku tetap menganggapmu anakku… kau hyung yang di sayangi Siwon,”

Jung Soo menelungkupkan wajahnya ke atas meja kerja. Hembusan nafasnya terdengar berat. Sebelah tangannya mendekap dada sementara sebelahnya lagi masih memegang amplop berlogo salah satu rumah sakit besar ternama di Seoul yang tadi di lihatnya. Laporan perkembangan kesehatan Siwon. Kilasan-kilasan percakapannya dengan ayah Siwon tadi masih saja mendominasi pikirannya.

Meski lelaki yang juga di anggapnya ayah itu sama sekali tidak menyalahkannya atas kecelakaan yang membuat Siwon harus duduk di kursi roda, hal itu tidak lantas membuat rasa bersalah Jung Soo berkurang. Sebaliknya, malah semakin menjadi. Dia sudah membuat putra tunggal Choi Kiho harus bergantung pada kursi roda setelah sebelumnya Siwon harus mengalami koma.

“Bisakah kau membujuknya Jung Soo? Biasanya dia mendengarkanmu…,”

Hhhhhaaahh… Jung Soo kembali melepaskan nafas berat, Berharap agar helaan nafasnya bisa ikut membantu mengurangi sedikit saja beban yang menggunung, menghimpit pikirannya. Apa yang harus kulakukan? Batinnya resah. Permintaan Siwon masih bisa dia ingat dengan sangat jelas. Masih terputar ulang dalam rekaman memori otaknya. Dia tidak menyalahkan Siwon karena meminta hal sebesar itu. Jung Soo juga tidak bisa membenci Siwon karena menempatkannya pada posisi serba salah. Karena Jung Soo tau yang seharusnya di benci itu adalah dirinya. Bukan Siwon. Sahabatnya yang baik hati itu bisa melontarkan permintaan yang egois tentu bukan tanpa sebab. Pasti ia sudah berada di titik paling rendah. Bahkan sorot mata Siwon yang di tangkapnya tidak lagi hangat dan hidup melainkan datar dan kosong.

‘Kenapa harus Eun Kyo…’ lirihnya dalam hati, ‘Aku harus bagaimana, eoh?’

“Kau memanggilku, sajangnim?” sebuah suara terdengar dari bibir gadis yang kini duduk di hadapan Jung Soo. Lelaki itu mendongak. Sepertinya dia melamun sampai-sampai tidak mendengar kalau gadis ini sudah masuk ke dalam ruangannya.

“Oppa?” kali ini wajah gadis itu tampak cemas, ia mengganti panggilan hormatnya menjadi sapaan yang lebih akrab.

“Ra~ya…” baru itu yang bisa di ucapkan Jung Soo, “Ae Ra… tolong aku…” sambungnya nyaris tidak terdengar. Ae Ra mengangkat sebelah alisnya, matanya kemudian menangkap amplop berlogo rumah sakit yang berada di bawah lengan Jung Soo. Siwon? bibirnya mengguman tanpa suara.

“Dia…baik-baik saja oppa?” tanya Ae Ra pelan. Ragu. Ia tertunduk menghindari tatapan mata Jung Soo yang terlihat sendu, di tambah lagi dengan wajahnya yang kuyu. Ae Ra seperti tidak mengenali lelaki ini. Setelah sekian lama mengenalnya, baru kali ini Jung Soo terlihat menyedihkan.

“Tadi Kiho ahjussi kemari…” kata Jung Soo pelan. Mengalirlah semua cerita tentang kedatangan ayah Siwon tadi dari bibirnya. Makin lama suara Jung Soo makin tersendat. Hingga hanya sepatah demi sepatah kata yang bisa ia sampaikan. Untuk menceritakan semua yang ia rasakan tanpa sedikitpun merasakan tekanan berat didadanya itu adalah hal yang mustahil. Teramat mustahil.

“Aku…aku harus…melepaskan Eun Kyo agar… Siwon…kembali? Haruskah?” Jung Soo masih terus bicara meski nafasnya sudah tersengal dan suaranya kering, “Bagaimana ini Ae Ra~ya…? Aku harus bagaimana, eoh?” lanjutnya.

Ae Ra meringis. Sedikit banyak, dia tau rasa sakitnya. Melepaskan orang yang di cintai tidak pernah menyenangkan. Bahkan kata-kata ‘aku bahagia jika orang yang aku cintai bahagia meski tidak bersamaku’ terdengar seperti omong kosong belaka untuknya. Bagaimana bisa bahagia kalau orang yang jadi faktor utama bisa berbahagia itu justru tidak ada untuknya? Ae Ra mencengkram erat tangannya yang tertumpu di atas meja. Ia bisa merasakan sakitnya kuku menancap di telapak tangannya. Dia sangat mencintainya. Sangat mencintainya sampai jadi begini. Tidak pernah memandangku sedikitpun. Ae Ra membatin pilu.

“Ae Ra… bantu aku…” Jung Soo berujar sendu. Ia menekankan telunjuk dan jari tengahnya ke dada kirinya, tepat di jantung, “Tikam aku tepat disini,” katanya lirih.

Ae Ra tersenyum getir. Kalau bisa, aku sudah melakukan itu sejak dulu, pada diriku sendiri, lagi-lagi ia membatin. “Aku belum mau masuk penjara oppa…” sahutnya singkat.

Mereka berdua terdiam. Membiarkan pikiran masing-masing yang berkelana mencari cara keluar dari belitan yang mengikat. Ae Ra yang berada di luar ikatan itu merasa ikut terseret. Pusaran tanpa ujung ini mengerikan. Dan penyebabnya hanya satu, cinta. Rasa sakit pernah mematikan hatinya dulu, hingga dia imun dengan sakit. Tapi kenapa kali ini ia harus terbawa lagi?

“Kalau tau akan begini, harusnya dulu kau bersamaku saja kan oppa? Bukan bersama Eun Kyo,” kata Ae Ra, ia menarik seulas senyum yang terlihat menyedihkan.

“Aku tidak tau kalau Siwon masih…” Jung Soo menggapai udara untuk mengisi paru-parunya yang terasa kosong. Kalimatnya menggantung begitu saja. Sejak dulu, Siwon tidak pernah mengatakan kalau gadis yang di cintainya itu Eun Kyo. Meski begitu, Jung Soo tau kalau diam-diam Siwon memperhatikan Eun Kyo, meski Siwon tidak pernah mengakuinya. Tapi selama enam tahun berada jauh, sedikit pun Siwon tidak mengungkit masalah Eun Kyo.

Bukan salahku kan? Siwon yang tidak pernah mengakuinya, satu sudut hati Jung Soo membela. Tapi aku bersalah karena membuat Siwon menderita kehilangan yang separah ini. Satu sudut hatinya yang lain membantah.

“Jadi kenapa memanggilku oppa? Aku harus menyaksikanmu bermain-main dengan rasa sakit?” cetus Ae Ra nyaris tanpa emosi apapun dalam suaranya. Jung Soo menggeleng. Ia butuh bantuan Ae Ra. Ia sudah memikirkan hal ini saat mengetahui permintaan Siwon. Hanya saja ia merasa belum cukup kuat untuk mengambil keputusan ini. Sekarang pun, jika ia memutuskan begitu, bukan berarti dia sudah mampu. Keadaan yang memaksa demikian.

“Bantu aku Ra~ya… Kau mau membantuku kan?” tanyanya dengan suara getir membuat perut Ae Ra bergolak tidak nyaman. Gadis itu menggigit bibirnya pelan.

“Apapun…” putusnya. Ia memutuskan untuk membantu Jung Soo. Apapun resikonya untuk ketahanan hatinya ataupun untuk Jung Soo dan Eun Kyo. Juga Siwon.

Ae Ra bangkit dari duduknya, “Aku keluar dulu oppa. Katakan saja nanti apa yang harus aku lakukan untuk membantumu,” ia beranjak keluar. Tidak mau berlama-lama menonton parade sakit hati yang secara tidak langsung juga menyakiti hatinya.

Baru beberapa langkah menuju pintu ruangan Jung Soo, ia mendengar atasan sekaligus sahabatnya itu bergumam lirih.

“Aku mencintainya Ra~ya…” suaranya terdengar serak dan basah, “Aku sangat mencintai Eun Kyo…” ia terisak pelan dengan kepala tertelungkup di atas meja.

Ae Ra tidak menoleh, “Aku tau…” sahutnya singkat. Ia melangkah keluar dari ruangan Jung Soo yang terasa suram dan membiarkan setetes air mata bergulir di pipinya tanpa suara.

~oOo~

Donghae membelalak melihat deretan proyek yang di tanda tangani Jung Soo. Untuk ukuran perusahaan real estate & property manapun, jumlah proyek ini sangat menyita waktu untuk penyelesaiannya.

“Omo, kita harus bekerja nyaris 24 jam kalau begini hyung,” serunya. Jung Soo masih mencoret beberapa poin dalam klausul penawaran.

“Kalau bisa satu hari di tambah menjadi 30 jam maka aku akan menambahkan beberapa proyek lagi untuk di handle,” sahut Jung Soo.

“Mworagoo? Ya! Aish jinjja! Aku tidak bisa lembur setiap hari hyung. Banyak yang butuh perhatianku selain pekerjaan ini,” protes Donghae tidak terima.

“Aku tidak menyuruhmu lembur setiap hari Donghae. Aku bisa mengatasinya. Tenang saja,”

Donghae berdecak kesal. Ia masih bersungut-sungut. “Kalau begini kau yang tidak punya waktu untuk Eun Kyo. Rasakan itu! Jangan salahkan aku,” omelnya seraya berbalik keluar dari ruangan Jung Soo.

Gerakan tangan Jung Soo terhenti. Ia menggigit-gigit bibirnya pelan.

Mianhae…

~oOo~

Eun Kyo melirik jam. Sudah jam makan siang tapi Jung Soo belum menghubunginya. Lagi-lagi Jung Soo mulai melupakan kebiasaan mereka belakangan ini. Lagi-lagi dia menghilang tanpa kabar. Eun Kyo mendengus geram. Dasar. Pasti karena pekerjaannya itu. Mengesalkan sekali kalau harus bersaing dengan tumpukan pekerjaan. Padahal hari ini dia ingin mengahabiskan waktu bersama suaminya. Eun Kyo tersenyum geli. Dulu dia selalu menertawakan Jung Soo kalau memberikan kejutan untuk memperingati  hari pertama mereka berkencan. Konyol, pikir Eun Kyo saat itu. Tapi justru sekarang hal itu terasa manis.

Eun Kyo menekan speed dial di ponselnya dengan tidak sabar. Menempelkan ponsel di telinganya dan menunggu nada sambung berganti dengan suara Jung Soo.

“Yoboseyo…” suara yang sangat di kenal telinga Eun Kyo menyapa.

“Yoboseyo..Oppa, tidak makan siang dirumah?” tanya Eun Kyo cepat.

“Eo? Ah. Ani yeobo. Ada rapat di kantor,”

“Aish. Selalu saja mementingkan pekerjaan,”

“Mianhae Eun Kyo…nanti malam saja, ne? Siang ini benar-benar sibuk dan tidak bisa beranjak,”

“Hm..ne oppa,”

Eun Kyo menutup sambungan teleponnya. Malam? Kenapa rasanya lama sekali kalau harus menunggu malam.? Lagipula waktunya akan lebih pendek. Eun Kyo bersungut-sungut lalu beranjak dari meja kerjanya. Setiba di sana mungkin sudah lewat jam makan siang. Tapi tak apa. Pekerjaan Eun Kyo di kantor juga tidak terlalu mendesak. Ia sengaja menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu dan melimpahkan sisanya pada Hyun Eun, salah satu juniornya di kantor.

“Ada proyek baru ya eonnie?” tanya Hyun Eun ketika Eun Kyo melewati kubikelnya. Kening Eun Kyo berkerut heran.

“Proyek membuat keturunan,” ledek Hyun Eun yang langsung mendapatkan tatapan mendelik dari Eun Kyo. Gadis itu tergelak melihat Eun Kyo mempercepat langkahnya meninggalkan kantor dengan wajah memerah malu.

Keturunan? Anak? Tanpa sadar Eun Kyo mengelus perutnya yang datar. Kalau ia hamil, pasti itu jadi kejutan yang paling menyenangkan untuk suami tercintanya itu.

Eun Kyo berdiri kaku di depan pintu ruangan Jung Soo. Kakinya terpaku di sana. Pintu kaca itu tidak tetutup dan dia bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di sana. Suaminya sedang bersama dengan wanita lain. Tampak intim. Eun Kyo bahkan mengenal wanita itu. Teman kuliahnya yang acapkali di kabarkan mejadi kekasih Jung Soo saat kuliah dulu.

Ae Ra? Wanita itu Kim Ae Ra kan? Kenapa bisa sedekat itu? Kenapa Jung Soo harus mendekap tubuh itu?

Panas. Itu yang di rasakan hatinya saat ini.

Cepat di balikkannya tubuh meninggalkan kantor Jung Soo. Berlari sekencang mungkin. Menenangkan hatinya yang terombang-ambing.

Haruskah aku kembali dan bertanya? Tapi bukankah sudah jelas tadi? Pikirnya kalut. Jung Soo berbohong. Dia tidak sibuk. Dia tidak rapat. Eun Kyo benci di bohongi. Apapun alasannya dia tidak suka di bohongi. Rasanya menyesal sekali sudah datang ke kantor Jung Soo. Mungkin dia lebih memilih untuk tidak melihat suami yang dia cintai bercumbu dengan wanita lain. Tapi kalau tidak melihatnya, mungkin Eun Kyo tidak akan pernah tau apa yang terjadi. Perutnya melilit karena geram yang mengendap.

Eun Kyo menyandarkan tubuhnya di badan mobil. Nafasnya sesak karena berlari sekaligus karena himpitan rasa gundah. Jadi ini alasan Jung Soo berubah, eoh? Wanita lain? Eun Kyo menggeleng lemah. Tidak mungkin. Jung Soo mencintainya! Eun Kyo bisa merasakan itu. Setidaknya beberapa waktu yang lalu. Eun Kyo mengigit bibirnya. Meski hati kecilnya berkeras kalau Jung Soo mencintainya, tetap saja akal sehatnya mengatakan yang sebaliknya. Yang tadi sudah jelas. Di tambah lagi keanehan Jung Soo beberapa waktu belakangan. Eun Kyo menarik hipotesis dalam benaknya. Jung Soo belum bisa menjaga sebuah komitmen. Pernikahan ini mengikatnya.

Atau malah, diam-diam dia masih menginginkan Ae Ra?

Berbagai spekulasi merayapi pikiran Eun Kyo. Dan seluruh spekulasi itu berujung sama, menyakitkan. Tapi aku mencintainya… Bahkan kalau ada pujangga yang menciptakan kata yang lebih kuat daripada kata ‘cinta’ dengan senang hati Eun Kyo akan memakai kata itu untuk menggambarkan perasaannya pada Jung Soo.

Aku terikat. Pada janji tak kasat mata. Sisi-sisinya melukai kulitku. Tembus kejantungku.Tapi aku tidak apa-apa. Meski berdarah juga tidak apa.Asal jangan kau. Jangan kau yang terluka.

Ini terdengar seperti kalimat picisan yang nyaris tidak punya rasa. Aku tau. Aku tidak pernah hebat merangkai kata. Kau tau kan.

Kalau aku pujangga, aku pasti sudah menemukan kata yang lebih indah dari kata ‘cinta’ untuk ku bungkus dan kuletakkan di pangkuanmu.Tapi aku tidak bisa. Aku melukaimu lagi dan melukai hatiku juga. Luka di hatiku selalu dua kali lipat lebih sakit. Kau tau? Ah, tidak usah. Lebih baik kau tidak tau. Kau tidak boleh tau sakitku. Karena nantinya kau pasti akan memikirkanku lagi. Kau terlalu mencintai aku. Aku tidak mau kau sakit karena mencintaiku. Mencintaiku saat ini bukanlah hal yang mudah. Akan banyak rasa sakitnya.

Kau bertahanlah. Kuatlah. Lalu pergi dan berlari meninggalkanku. Jangan menunggu aku yang pergi. Karena sampai matipun aku tidak akan bisa dan aku tak mau.Jadi kau saja yang pergi. karena di sampingku, kau hanya akan terluka. Dan aku? Aku akan menikmati sakitku sendiri.

“Dia melihatnya,” bisikan lembut itu menghampiri telinga Jung Soo. Pelan, dia melepaskan pelukan lelaki itu dari tubuhnya.

“Gomawo…Ra~ya,” gumam Jung Soo pelan. Ae Ra hanya tersenyum tipis sembari menangkupkan tangannya pada kedua belah pipi Jung Soo.

“Kau baik-baik saja oppa?”

“Tidak,”

Ae Ra menghela nafas berat. Tentu saja tidak baik. Pertanyaan yang kurang cerdas. Kalau Jung Soo baik-baik saja, lelaki ini tidak akan meminta bantuannya sekarang.

“Gomawo Ra~ya…” lagi-lagi lelaki itu mengucapkan terima kasih padanya. Ae Ra tersenyum kecut. Terlalu banyak terima kasih yang tidak pada tempatnya.

“Kali ini terima kasih untuk apa?” tanya Ae Ra. Jung Soo menurunkan tangan Ae Ra dari pipinya dan menghempaskan tubuh ke atas kursi kerjanya.

“Karena kau sudah sudi terlihat seperti wanita perebut suami orang hanya untuk menolongku,” sahut Jung Soo. Wajah letihnya menyiratkan sebersit iba di hati Ae Ra. Dia berdiri kebelakang kursi kerja Jung Soo. Meletakkan tangannya di bahu lelaki itu dan memijatnya pelan. Jung Soo membiarkan sepasang tangan itu bergerak di bahunya. Sedikit tidak nyaman sebenarnya membiarkan wanita lain melakukan hal itu padanya. Sentuhan Ae Ra tentu saja berbeda dengan sentuhan Eun Kyo. Tapi dia terlalu lelah untuk sekedar menepis Ae Ra. Lagipula wanita ini kan bermaksud baik dengan menolongnya. Bhakan membiarkannya terlihat buruk di mata Eun Kyo atas permintaan Jung Soo.

“Apa aku sudah terlihat seperti wanita iblis penggoda sekarang?” tanya Ae Ra retorik. Jung Soo menggeleng pelan.

“Kau terlihat seperti malaikat penolong dimataku,” sahut Jung Soo tulus.

Ae Ra lagi-lagi tersenyum kecut, “Malaikat penolong dengan topeng iblis penggoda? Tetap tidak menarik ya,” desahnya.

“Mianhae…,” gumam Jung Soo. Kening Ae Ra berkerut heran. Mianhae? Untuk siapa? Untuk Eun Kyo atau untuk dirinya? Tapi Ae Ra urung bertanya. Untuk siapapun permintaan maaf itu sepertinya tidak terlalu berpengaruh untuk keberadaanya disini. Diantara ikatan semrawut yang mau tidak mau menyeretnya untuk ikut. Ah, ralat, Ae Ra membawa dirinya sendiri untuk ikut.

‘Jangan menilaiku terlalu tinggi Jung Soo oppa. Aku disini demi kepentinganku sendiri,’ batinnya.

~oOo~

Eun Kyo mendorong kursi roda yang diduduki Siwon mengelilingi taman kecil di belakang Rumah Sakit. Matanya menerawang. Hanya tubuhnya yang berada disini, pikirannya berada di tempat lain. Tertuju pada orang lain. Terpusat pada masalah lain.

“…Kyo…Kyo~ya… Eun Kyo…”

Eun Kyo tersentak sadar saat mendengar panggilan dari Siwon yang samar-samar mampir ketelinganya.

“Nde? Kau lelah? Mau beristirahat dulu?” tanya Eun Kyo sambil membungkukkan tubuhnya kedepan. Siwon tersenyum tipis lalu menggeleng.

“Ani. Kau yang lelah. Aku tidak mau kau letih mendorong-dorong kursi roda begini. Merepotkanmu kan. Aku tidak ringan,”

Eun Kyo ikut tersenyum kecil lalu mendorong kursi roda itu ke tempat yang sedikti lebih teduh. Menurunkan penahan di bagian belakang kursi itu agar tidak meluncur, lalu bergerak ke hadapan Siwon. Eun Kyo setengah berjongkok dan meraih kedua belah tangan Siwon yang terletak di pinggiran kursi rodanya. Menggenggam erat tangan yang memiliki beberapa bekas luka gores itu. Eun Kyo sedikit berjengit iba. Pasti sakit, batinnya.

“Kudengar kau tidak mengikuti terapi. Kenapa?” tanya Eun Kyo. Siwon menggeleng.

“Belum berminat.” Sahutnya pendek.

“Jangan begitu. Kau pasti bisa berjalan lagi,”

Siwon menatap Eun Kyo lekat-lekat. Selalu sama, sejak dulu hingga sekarang pun, Eun Kyo masih mampu membuat ribuan kupu-pupu mengepak dalam perutnya. Dadanya bisa berdebar dengan semarak. Tidak ada yang berubah dari hatinya.

“Kau mau melihatku bisa berjalan lagi?” tanya Siwon ragu.

Eun Kyo mengangguk tegas, “Tentu saja Siwonnie. Tidak hanya berjalan, aku yakin kau pasti akan bisa berlari lagi,”

Siwon tersenyum antara manis dan risau, “Mungkin akan kupikirkan,” sahutnya. Satu-satunya yang dia ingin raih saat kembali bisa berjalan adalah Eun Kyo. Satu-satunya yang ingin ia tuju saat berlari adalah Eun Kyo. Tidak ada gunanya kalau tujuannya tidak menyediakan tempat untuknya berhenti dan singgah. Tapi melihat Eun Kyo yang mengharapkan langkahnya kembali, Siwon bahkan tidak punya alasan untuk menolak selain memberikan sepotong jawaban tidak pasti.

Eun Kyo tersenyum manis untuk Siwon, membuat lelaki itu menarik tangannya dari genggaman Eun Kyo dan menempelkan telapak tangan itu ke kedua sisi pipi Eun Kyo.

“Kau bahagia?” mata Siwon memandang kedalam mata Eun Kyo, “Dengan Jung Soo, apa kau bahagia?” tambahnya dengan menahan getar suaranya hingga seminim mungkin.

Eun Kyo menelan ludahnya. Bingung memberi jawaban atas pertanyaan Siwon. Bahagia? Pasti bahagia jika bersama Jung Soo. Tapi kalau keadaannya begini, Eun Kyo semakin ragu. Lelaki itu tidak bisa berkomitmen dan menjaga komitmen mereka. Itu yang ada di kepala Eun Kyo sekarang. Di tambah lagi sikap Jung Soo yang angin-anginan. Belum lagi sosok wanita lain yang sempat Eun Kyo tangkap keberadaannya di sekitar Jung Soo. Rasanya kata bahagia semakin jauh dari kamusnya.

“Kau tidak bahagia?”

Eun Kyo semakin tercekat mendengar pertanyaan ini dari Siwon. Ia pernah mendengar pertanyaan ini sebelumnya. Dari Donghae. Hatinya menggeliat nyeri. Betapa dua lelaki ini begitu memikirkan dia bahagia atau tidak. Dua temannya ini peduli, padahal yang harusnya mempedulikannya adalah lelaki itu, suaminya.

“Aku…” Eun Kyo menarik nafas dalam, “bahagia…” dustanya diantara hembusan nafas. Siwon tersenyum getir. Rasa getir yang tidak tertangkap mata Eun Kyo karena gadis itu sudah lebih dulu tenggelam dalam getirnya sendiri.

“Baguslah. Kalau kau bahagia…itu sangat bagus,” Siwon berujar pelan dengan mata masih memandang wajah cantik yang berada dalam dekapan hangat kedua belah telapak tangannya. Kepalanya perlahan tertunduk untuk mengecup puncak kepala Eun Kyo, membuat gadis itu terlonjak kaget. Siwon yang menyadari keterkejutan Eun Kyo mengangkat wajahnya.

“Tidak apa kan? Anggap saja itu hadiah pernikahan dariku,” kata Siwon. Mau tidak mau Eun Kyo tersenyum meskipun jujur saja dia merasa risih. Tapi raut tulus dari Siwon menepiskan ketidaknyamanan di hatinya.

“Gomawo…” bisik Eun Kyo pelan sambil menyentuh kedua belah tangan Siwon yang berada di pipinya.

Terima kasih…dan maaf. Harusnya Siwon tidak begini.

Jung Soo berdiri di salah satu koridor Rumah Sakit. Matanya menatap lurus kearah dua orang yang sedang bercengkrama akrab di halaman belakang Rumah Sakit. Wajahnya tampak sendu. Dia berdiri dengan menyandarkan punggungnya ke dinding dan kedua belah tangan terselip dalam kantung celananya.

Nafas Jung Soo tercekat di tenggorokan saat ia melihat sosok lelaki itu menyentuh pipi milik wanitanya. Iya. Eun Kyo wanitanya. Seharusnya ia yang menyentuh pipi itu dan menenangkannya. Jung Soo tersenyum getir. Menenangkan badai yang ia buat sendiri di wajah itu. Hah, dia merasa seperti orang yang sangat tolol sekarang.

Deg.

Kali ini bukan hanya nafasnya yang tercekat. Jantungnya terasa ikut berhenti beberapa saat. Matanya membulat kaget. Wajahnya menegang sekaligus memucat bersamaan. Ia menahan kakinya kuat-kuat ke lantai agar tidak kelepasan berlari dan menarik Eun Kyo pergi menjauh.

“Jangan dilihat,” sebuah tangan halus bergerak menutupi pandangannya dari pemandangan menyesakkan yang menyiksa hatinya.

Jung Soo menurut. Ia mengikuti ketika tubuhnya di giring menjauh dari tempat itu. Tidak memilik daya untuk berontak. Rasanya tulang belulang di tubuhnya di tarik dengan paksa meninggalkannya hingga untuk menahan tubuhnya tetap berdiri tegak rasanya jadi teramat sulit.

“Eun Kyo…” sebuah nama keluar dari bibir tipis itu setelah beberapa saat dia terdiam tanpa suara. Jung Soo bahkan baru menyadari kalau sekarang ia sudah berada di kursi penumpang mobil miliknya. Orang ini yang menyeretnya pergi dari koridor Rumah Sakit tadi. Mobil itu belum bergerak, masih tegak di lapangan parkir Rumah sakit.

“Aku tau. Aku juga melihatnya tadi. Siwon mencium kepala Eun Kyo,” sahut orang yang sedang duduk dengan wajah tenang di kursi kemudi. Jung Soo meringis kesakitan.

“Ra~ya…” rintihnya jeri. Mendengar Ae Ra bicara begitu tanpa beban membuat Jung Soo merasa ada yang menumpukkan kontainer besar di atas dadanya. Terhimpit dan sesak.

“Maaf,” kata Ae Ra datar.

Jung Soo tertunduk. Bukan salah Ae Ra sampai gadis itu harus meminta maaf. Yang memulai semua ini Jung Soo. Bukan Ae Ra. Ae Ra hanya orang yang ia libatkan dalam rencananya.

“Entah kenapa aku merasa kau bersikap sok kesatria dengan membuat Eun Kyo berpikiran buruk terhadapmu hanya agar dia bisa meninggalkanmu oppa. Tapi jadinya malah kau yang sakit sendiri kan? Kalau kau tidak kuat menyerah saja,”

Jung Soo terbelit ragu. Ia sudah tau akan sakit, tapi yang tidak ia tau adalah sakitnya bisa semenyiksa ini. Melihat Siwon menyentuh Eun Kyo-nya, rasanya Jung Soo ingin berlari dan menarik Eun Kyo menjauh. Sejauh-jauhnya.

“Yang aku lakukan ini benar tidak? Aku hanya ingin memberikan kesempatan yang harusnya dimiliki Siwon. Aku benar tidak Ae Ra?” Jung Soo bertanya dengan sorot mata letih dan putus asa. Sebuah kombinasi yang sangat buruk.

“Aku tidak dalam posisi yang tepat untuk menjawabnya,” sahut Ae Ra. Dia memalingkan wajahnya keluar. Memandang gerimis yang mulai turun dari balik jendela mobil yang tertutup rapat. Kalau ia jadi Eun Kyo mungkin Ae Ra sudah memaki-maki lelaki ini dengan semua sumpah serapah yang dia ketahui. Tapi dia bukan Eun Kyo. Eun Kyo yang hanya berpura tidak tau apa yang dilakukan Jung Soo di belakangnya. Eun Kyo yang bersikap seakan dia baik-baik saja dengan tingkah Jung Soo yang kembali mengacuhkannya. Eun Kyo yang tetap tersenyum di depan Jung Soo bahkan meski Jung Soo mendadak bersikap dingin padanya. Ae Ra tidak habis pikir, sebenarnya terbuat dari apa hati Eun Kyo. Apa dia begitu besarnya mencintai lelaki ini sampai masih mau bertahan?

“Ra~ya…maaf menyeretmu terlalu jauh. Kurasa aku memang harus melanjutkan apa yang aku mulai,” ucap Jung Soo pelan, nyaris berupa gumaman. Ae Ra kembali mengalihkan pandangannya pada Jung Soo yang sekarang sedang menatapnya penuh harap. Ae Ra menyembunyikan tawa getirnya. Satu lagi pecinta bodoh, pikirnya. Jung Soo memilih untuk membiarkan Eun Kyo pergi dengan menyakiti wanita itu berkali-kali hanya karena dia tidak bisa jika harus meninggalkan Eun Kyo. Dia lebih memilih di tinggalkan? Bodoh. Melihat Siwon menyentuh Eun Kyo saja dia sudah seperti mau mati. Tapi masih saja bersikap sok kuat.

“Kau yakin sanggup kalau melihat istrimu itu bersama Siwon nantinya oppa? Aku yakin Siwon tidak akan membiarkan Eun Kyo menangis sendirian. Kau rela kalau yang menghapus air matanya Siwon, bukan kau? Pikirkan dulu Jung Soo oppa,” tegas Ae Ra.

Jung Soo merapatkan rahangnya. Lalu mengangguk kaku karena dia tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun untuk menjawab pertanyaan dari Ae Ra.

Ae Ra tersenyum datar, nyaris sinis, ‘Bukankah ini mempermudah tujuanku? Kenapa aku harus ikut-ikutan jadi goyah seperti Jung Soo oppa? Aish, Ae Ra, ini akan mudah,’

Eun Kyo tertegun. Matanya menyipit melihat mobil putih yang berada di areal parkir Rumah Sakit. Ia mengenali mobil itu dengan baik. Sebaik dia mengenali pemiliknya.

“Jung Soo oppa disini?” gumamnya ragu. Perlahan mata yang tadi tampak sendu itu berbinar, “Oppa menjemputku…” desisnya senang. Hanya beberapa detik. Karena pada detik berikutnya, senyum itu langusng menghilang berganti dengan gigitan yang cukup kuat dibibirnya. Sakit.

Keringat membasahi telapak tangan Eun Kyo. Jantungnya berdetak tidak nyaman dan perutnya bergolak. Mual menyergapnya mendadak.

“Kim Ae Ra…” lenguhnya pilu saat sosok itu keluar dari pintu kemudi dan bertukar tempat dengan Jung Soo.

~oOo~

Minggu pagi. Hari yang bagus untuk bangun sedikit lebih siang karena tidak ada jadwal ke kantor. Tapi Eun Kyo tetap harus bangun pagi untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya. Mata Eun Kyo mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan dengan cahaya yang menyergap indra penglihatannya. Tangannya meraba tempat tidur. Kosong. Matanya membuka perlahan dan memastikan bahwa tempat disampingnya itu kosong.

Benar-benar kosong. Tidak ada Jung Soo disana.

Dia kemana? Tidak pulang semalam?

Hati Eun Kyo di serang rasa cemburu mengingat kalau kemarin ia sempat melihat suaminya bersama wanita lain di rumah sakit. Apa mungkin ia tidak pulang karena bersama Ae Ra? Atau jangan-jangan terjadi sesuatu pada Jung Soo? Rasa cemburu Eun Kyo dengan cepat berganti dengan rasa cemas.

Tangan Eun Kyo cepat meraih gagang telepon di nakas samping tempat tidurnya. Jemarinya dengan cepat menekan nomor yang sudah dia hapal di luar kepala. Terdengar nada sambung beberapa saat sebelum sebuah suara menyahut.

“Yoboseyo…”

Eun Kyo terhenyak. Tertegun. Tercekat. Terdiam.

Suara itu membuat telinganya mendadak berdengung keras. Menyakiti gendang telinga. Suara serak khas orang yang baru bangun tidur itu  terdengar lembut, suara wanita yang merdu. Iya. Suara wanita. Suara wanita yang baru bangun tidur lebih tepatnya. Bukan suara Jung Soo. Tangan Eun Kyo dengan terburu menghempaskan gagang teleponnya. Memutuskan sambungan tanpa menyapa sepatah katapun untuk suara itu. Dia tidak peduli. Rasa sakit menyerang kepalanya dengan hebat.

Pusing, lirih Eun Kyo. Aku pasti pusing karena lupa makan semalam. Eun Kyo berkali-kali mengulang pemikiran itu dalam otaknya. Tapi hatinya berkata lain. Perasaannya mengirimkan sinyal pada mata untuk menumpahkan tetesan rasa sakit dalam bentuk air mata. Dia menangis tanpa suara.

Air mata itu belum berhenti tapi tangan Eun Kyo sudah terulur meraih ponselnya. Mencari sebuah nama dengan pandangan matanya yang kabur karena air mata. Ketemu. Ia menekan tombol panggil, menunggu beberapa saat sebelum sebuah suara menyahutinya.

“Yoboseyo…”

 Lagi-lagi suara wanita. Suara yang juga serak mengingatkannya pada suara yang tadi terdengar saat menghubungi Jung Soo. Tapi efeknya berbeda. Tidak terasa sakit seperti tadi.

“Bisa aku bicara dengan Donghae?”ujar Eun Kyo. Wanita itu bergumam mengiyakan. Eun Kyo menunggu lagi. Samar-samar ia mendengarkan suara wanita itu membangunkan Donghae. Ia tidak berniat bertanya siapa wanita itu dan apa yang dia lakukan di tempat Donghae sepagi ini. Donghae memang selalu di kelilingi wanita. Bukan hal yang aneh. Tapi kalau seperti Jung Soo tadi, itu jauh dari aneh. Itu mengerikan. Eun Kyo menggigit-gigit bibirnya menahan air mata yang lagi-lagi mendesak turun.

“Kyo~ya? Waeyo?” suara Donghae sudah menyapanya. Suara lelaki itu juga tidak jauh berbeda dengan suara wanita tadi. Serak. Bangun tidur.

“Nde? Donghae, kau ada acara? Ada yang ingin kubicarakan. Bisa kita bertemu hari ini? Jam 10 di La Carre`tera,”

“Aish, seperti aku bisa menolak saja. Nde. Perlu kujemput?”

“Ani. Tidak usah. Gomawoyo. Thanks. Bye,”

“You’re welcome Eun Kyo. See you…”

Sambungan terputus. Eun Kyo melemparkan ponselnya dan menghempaskan kembali tubuhnya ke tempat tidur. Ia merasa letih.

Ae Ra bangkit dari posisi tidurnya di atas ranjang berukuran besar berlapis sprei hijau pupus. Ia duduk lalu melirik sosok yang sedang tertidur di sampingnya tadi. Tubuh itu masih terbalut kemeja putih dan pantolan hitam. Dasinya sudah tidak terpasang dengan baik. . Beberapa kancing teratas sudah terbuka memerkan bagian atas tubuhnya

Ae Ra mendesah pelan memperhatikan wajah lelah itu. Jemarinya bergerak menyusuri liku wajah lelaki yang masih terlelap dan sama sekali tidak terganggu dengan gerakan ujung jari Ae Ra di wajahnya. Jari Ae Ra terhenti di bibir tipis milik lelaki itu. Ae Ra tersenyum tipis sebelum kemudian merunduk dan mengecup pelan bibir lelaki itu. Terasa sisa aroma wine yang samar disana. Tidak ada respon apapun dari pemilik bibir. Ae Ra mengangkat wajahnya menjauh. Matanya tetap terpancang pada wajah tidur itu.

“Kalau begini, apa aku sudah terlihat seperti iblis penggoda, eum?” bisiknya kecut. Tidak ada jawaban. Ae Ra mendesah panjang. Ia menengadah memandangi langit-langit kamar hotel tempat mereka menginap.

‘Aku sedang memanfaatkan keadaan untuk kepentinganku sendiri. Kuharap kau tidak membenciku Jung Soo oppa. Kuharap kau mengerti,Kumohon…’ batin Ae Ra gelisah.

~oOo~

Eun Kyo menatap Donghae lekat-lekat. Mencari satu saja kebohongan disana. Tidak ada. Lelaki ini berkata jujur. Sepertinya dia benar-benar tidak tau.

“Jangan memandangku begitu Eun Kyo. Kau bisa jatuh cinta padaku nanti,” celetuk Donghae dengan wajah jahilnya. Eun Kyo tidak tersenyum. Otaknya sedang tidak dalam frekuensi yang pas untuk bercanda dengan Donghae. Kepalanya merangkai-rangkai kepingan puzzle seputar apa yang di ketahuinya tentang Jung Soo. Semakin kepingan itu masuk kedalam susunan yang pas, semakin dadanya sesak. Disatu sisi dia ingin tau keseluruhan cerita yang di sembunyikan Jung Soo darinya. Tapi disisi lain, hatinya, juga otaknya, tidak sanggup menahan kemungkinan-kemungkinan terburuk.

Sudah dua kali ia mendapati Jung Soo dengan wanita itu. Dengan Kim Ae Ra. Ditambah lagi tadi pagi, Ae Ra yang mengangkat ponsel Jung Soo saat dia menelpon. Ia memastikan kalau yang mengangkat telepon itu Ae Ra.

“Ya…kau tidak percaya pada Jung Soo hyung, eoh? Setauku memang sejak kemarin dia pergi ke Busan. Dia bilang begitu juga padamu kan?” wajah jahil Donghae ikut berubah serius melihat wajah Eun Kyo.

Dia tidak ke Busan. Jung Soo ada di Seoul. Kemarin Eun Kyo melihatnya di Rumah Sakit. Sepertinya Jung Soo ingat kalau Donghae dekat dengan Eun Kyo sampai-sampai dia juga berbohong pada rekan kerjanya ini.

Eun Kyo menghela nafas panjang. Entah untuk yang keberapa kalinya.

“Donghae, lelaki itu makhluk yang paling sulit memegang komitmen kan? Mereka pasti tidak mau terikat pada satu wanita saja sepanjang sisa umurnya,” kata Eun Kyo. Kening Donghae berkerut mendengarnya.

“Kau mencurigai Jung Soo hyung berselingkuh?” tambak Donghae langsung. Eun Kyo terdiam sejenak.

“Eun Kyo, pada dasarnya lelaki akan menjaga komitmen dan ingin menghabiskan sisa umurnya dengan satu wanita saja. Dan untuk Jung Soo hyung, kurasa aku bisa memastikan kalau wanita itu adalah kau,” Donghae berucap meyakinkan Eun Kyo. Eun Kyo tersenyum, nyaris meringis. Bagaimana kalau bukan aku? Batinnya was-was.

“Kau dibayar berapa untuk bicara begini padaku?” kata Eun Kyo mencoba bercanda. Sejak tadi dia terlalu banyak merasakan tekanan dan perlu sedikit merilekskan pikirannya.

Donghae mencibir, “Solidaritas antar teman dan sesama lelaki,” sahutnya. Eun Kyo tersenyum tipis.

“Setia kawan sekali Lee Donghae. Aku terharu,”

“Kau harus tau kalau rasa setia kawan antar lelaki itu sangat kuat Park Eun Kyo. Bahkan kalau kau adalah wanita yang aku inginkan untuk menghabiskan sisa umur bersama, aku lebih memilih untuk tidak bersamamu. Kau milik Jung Soo hyung, dan aku sangat tau berapa besar Jung Soo hyung mencintaimu,” kata Donghae panjang lebar. Eun Kyo meringis. Lagi. Kenapa Donghae yakin sekali kalau Jung Soo mencintainya sedangkan Eun Kyo tidak bisa seyakin itu? Bagaimana bisa yakin kalau yang di hadapainya sekarang adalah Jung Soo yang berbeda. Apa Jung Soo bersikap seakan semuanya baik-baik saja di hadapan Donghae? Kepala Eun Kyo di penuhi teka-teki yang makin lama makin membingungkan. Perubahan Jung Soo terlalu cepat dan nyaris drastis.

Untuk kesekian kalinya, Eun Kyo kembali menarik nafas panjang.

“Donghae~ya…temani aku menjenguk Siwon ne,” pintanya. Donghae mengangguk pasti.

Ae Ra melangkah menuju ruang tempat Siwon masih di rawat untuk pemulihan. Di depan pintu, ia berpapasan dengan lelaki yang baru saja keluar dari sana. Ia menganakan kemeja berwarna biru laut dengan lengan kemeja yang di gulung hingga hampir mencapai siku. Rambut hitamnya tampak rapi. Ae Ra mengenali kalau lelaki itu adalah orang yang mobilnya menabrak Siwon. Jung Soo sempat mengenalkannya.

“Annyeong hasimnikka…” lelaki itu membungkuk.

“Annyeong…” Ae Ra ikut membungkuk, “Jong Woon~ssi?”

Lelaki itu tersenyum, “Nde. Senang kau masih mengingatku, Kim Ae Ra~ssi,” katanya, “Aku sangat takut kalau orang-orang terdekat Siwon akan menyalahkanku karena… kau tau…” dia berjengit sambil mengedikkan kepalanya kearah pintu. Ae Ra mengangguk dan tersenyum tipis.

“Bukan salahmu, Jong Woon~ssi…,” katanya tenang. “Kau sudah berkendara dengan benar saat itu. Hanya saja Jung Soo oppa tidak berhati-hati dan Siwon…terlalu gegabah,” lanjut Ae Ra.

Jong Woon membalas senyum Ae Ra. “Dia pasti bisa berjalan lagi. Hanya saja sepertinya dia belum punya keinginan untuk itu,”

Ae Ra tidak menyahut.

“Kalau begitu, aku permisi…” Jong Woon membungkuk sebelum kemudian berlalu. Ae Ra memperhatikan punggung lelaki itu yang mulai menghilang di balik belokan koridor Rumah Sakit. Ae Ra tersenyum kecut kemudian masuk ke dalam ruangan Siwon.

“Sudah minum obat?” tanyanya pada lelaki yang sedang berbaring dengan punggung di sangga beberapa bantal. Siwon mengangguk.

“Sudah,” jawabnya seraya meletakkan ponselnya ke atas meja di samping tempat tidurnya yang empuk.

“Sedang senang, eoh? Jarang sekali melihatmu tersenyum begitu,” katanya. Siwon mengangkat wajahnya. Kembali senyum manis dengan lekukan di kedua belah pipinya terukir di wajah yang masih pucat dan sedikit tirus.

“Eun Kyo mau kemari,” katanya senang. Ae Ra ikut tersenyum.

“Lain kali kau yang harus menghampirinya, Siwon. Berjalanlah lagi… setidaknya untuk dia,” ujar Ae Ra.

TBC

Note : Satu kalimat aja dari saya. Tulisan saya lebay. Eh, jadi dua kalimat ya itu? Nah lho jadi tiga! Aish, sudahlah, lupakan -____-

Mianhae eon. Hayalan saya lagi kacau-kacaunya.

Vikos Say : huweeeeeeeeeeee bisa ga kite2 dibikin komedi gitu? Suju happy, jangan suju KRY terus… huweeeeeeeeeeeeeee. Berapa kalipun baca tetepa nyesek tetep nangis. Sampe aku jadinya pengen sama Siwon atau sama Donghae aja deh. Rempong banget Jung Soo Oppa neh… nyebelin ah… Sama Siwon aja dah kaga apa-apa akunya ini… sama Ongek akunya ngarep banget, tapi sayang Febby ga bolehin ama Ongek masa. Apa memang laki-laki seperti itu? Toleransi tinggi? Atau kalo kaga aku sama Hyuk aja dah. Sama Umin juga boleh, Kyuhyun kira-kira cocok ga sama aku? Ryeowook sama aku imutan mana? Mbum? Mbum ga boleh dia dede aku. Yesung ga mau ah. Dimana-mana neh Yesung sukanya nabrak orang masa. Kemaren aku, sekarang Siwon. Apaan deh, seret aja ke penjara! Pasal kelalaian dalam berkemudi. *lirik Haura* hihihihihihihi *kecup Haura* udah ah, kebanyakan bacot saya.

33 responses »

  1. Errrrr… Aku stuju tuh sama komenan Vika eonn… Soo Oppa babonya kbangetan yah? Ishhh bkin gmes,jadinya pengen ngasih kecupan. Pake setrika panas tapi!!!!

  2. huwa stengah mati sebelnya. knpa hrus pake pura2. seakan liat drama yg castX nikita willy tpi dlam bentuk tulisan(jg marah ye, tpi ni jjur dri hati).

    tpi tetep msi jauh bgusan ini dri pda ntu drama. eonni aku butuh kejutan donk, buatku sakit jantung saking keren alur brikutX ya.. ya.. ya…
    klo dblang lebay g jga dah ckup pas, g lari2 lagi kek kmaren. mdah2an next partX lbih keren dan mencengangkan dlam arti keren yak. memang sulit membuat crita yg baik tpi eonni dah menyuguhkan sesuatu yg keren, yg bahkan Q sendri g bsa. maaf klo terlalu banyak bcot *bow

  3. jung soo oppa knp kamu terlalu rumit? Huuuft
    Kasian eun kyo g tau apa2, tapi tersakiti.
    Bener kata vika onn, knp sekali2 g bikin cerita yg lebih ringan. Biar g nyesek truzzz baca’y.
    Mungkin cerita nelangsa sudah menjadi ciri khas teukyo couple. Dan itu juga yg bikin q suka. Hehe
    Aku kira Ae ra suka’y sama siwon, ternyata sama jung soo toh. Bakal makin ribet nih! Tp sangat bikin penasaran🙂
    Donghae, aih.. Aih.. Bakal sama siapa nanti’y bang? Cast cewek’y baru dua. Adakah pasangan donghae nanti’y. Berharap ada🙂
    Next part di tunggu.
    Finghting🙂

  4. Mewekk…nyesek bgt bacanya…

    Siwon kebanyakan gaya..jadi sebel gue…

    Jungsoo jg gitu apaan tu bikin eunkyo cemburu…

    Tuh kan jadi emosi g jelas q…huft,

    angst beneran nie…

  5. Di part ini temanya ‘GALAU bareng Febby’, kekekeke, ehh, aku agak kepo sama sikapnya ae ra, dia suka sama siwon atau jung soo sih??? Toleransi cowok itu kadang buat sebel, karena mereka tetap membela ‘sesama jenisnya’ walaupun brengsek. ‘boys’ *niru hermione ngeledek harry dan ron*

    itu jongwoon belum lulus ya tes mengemudi, bawaanya mau nabrak orang terus? Ff yang ono dia nabrak eunkyo, nah ini dia nabrak siwon. Hadeeeh.

  6. .critanx bkin gua nangs di.pojokan,hbs leat film heart is lalu bca nih ff,mlah mkn nangs salut ama sh pengarang bsa buat oppa jung soo merana bnget #poor .au tnggu lnjutjn.x #tebarkisseu

  7. huwaaaaaa iya itu jung soo oppa apa yang kau lakukan ???? aku selingkuh aja kalau ga sama donghae sama kyuhyun aja aku yakin kalau mereka ga bakalan bertindak seperti jung soo oppa itu enkyo di situ nyelek banget kebangetan mengenaskan sekali nasibnyaaaaaaaaaa …

  8. bener tuh yg Vikos bilang nyempilin sedikit SJ H jgn sepenuh y SJ KRY gini…. nyeseeeeeeeeeeeeek baca y
    yg satu berkorban demi ini n sakit sendiri n pasangan sakit hati lrn tinglah yg disengaja…
    ngak sanggup baca y,,, menyedihkan pada nyakitin diri sendiri nih,,, serba salah mau salahin siapa….
    Lanjut…

  9. Argh… q sebel bgt m Jungsoo m Ae Ra jg!
    pantesan dah Fika unn pngen bgt bunuh Haura unn kmrn!wkwkwkwkwk
    Saia pngen nyincang2 Teukpa aj dah!
    jd cwok plin-plan bgt!
    g bs mertahanin pa yg dy cinta!
    Ish,saia bnrn mangkel ini!
    ma yg nulis jg!
    np jd ky Diah yg sk bkin nyesek ank orng ce?*jambak Feb unn

    Fika unn,jngan Kyu…
    setan ky dia kagak pantes sm unn yg lmbt ky unn!
    Ma Ongek aj gih!
    ato m Won skalian!
    bini2x pd ganas tu!wkwkwkwk

  10. 1 kata untuk Miss Elby

    “sakit”

    itu yg aku rasakan. Betwen love and frienship…. Dlh 2 hal yg jarang bs brjalan beriringan selama masih da keegoisan.

  11. part 2 udah keluar ?
    Kyaaa~
    Akhirnya keluar juga..
    Daebak! ff ini bikin aku nyesek..
    aigoo, kasian jung soo oppa. tp aku juga kesel sama keputusannya dia buat pura pura selingkuh sama ae ra, kan kasian eun kyo eonni..
    aku suka banget sama ff ini..
    bikin penasaran dan gregetan!
    aku mau next chapter lebih panjang ya eonn..

  12. *ikut jambak feb eon*
    nie lebih nyesek lg masa…. -___-”

    saya komen d’sini aja ah!
    entah saya mao komen ape, tp ini sungguh… sungguh terlalu…
    *cakar2 JungSoo Oppa*
    idup’a d’bikin rumit sndiri masa, Siwon jg egois bgt ye? ttp pengen milikin EunKyo eon jg… ahhh… saya jd puyeng sndiri pan! -___-
    nih TeuKyo kga bisa napa ya d’bikin dr awal smpe akhir ntu penuh dgn k’romantisan yg unyu gitu? nih yg ada sengsara mulu masa!
    Ish… Ish… Ish…

    diiihhh… Ae Ra eon bikin gemes masa… bnr kta mey eon noh, pantes aja pika eon suka ngamuk2 kga jelas trnyata ini toh pnyebab’a… *ngakak* salahin yg bikin nih cerita eon! *lirik feb eon*

    Fika eon mao sm Hyuk jg masa… -__-
    trus tar saya ama sapa dong eon? Huweeee…. masa iya saya jd janda? tegaaaa…. *peluk dedek Myung*
    EunKyo eon ama Siwon aja ya? ya? Siwon pan kga ada bini’a tuh! *plakplak*

    Yaoloh…kmampuan nyetir Bang Yeye sangat mengkhawatirkan masa, trus gimna kbar Ongek tuh ya, klo Yeye aja suka nabrak2 bgitu? ckckckck… feb eon klo masih sayang nyawa jngan mao naek mobil sm Ongek ye eon! *plak*
    Ish, saya makin ngelantur aja nih!
    udh dlu ah, saya mao nodong part slanjut’a sm feb eon… bwahahaha…

  13. twiiiiiiiiin….knp kau nistakan aku sedemikian rupa…hiks
    aku yg bc sebel sndiri masa ma aera…dia jahat….hwaaaaaaa…hiks
    pntesan aku d uber2 ma fika eon….
    klo aku jd fika eon jg bkal aku mutilasi aera…*plak
    truz itu uri jongwoon knp nungul nya bentar doank dah…cma skilas doang masa…wkwk
    tenang eon….walaupun yesung aneh dan tukang tabrak…pkoknya d hatiku slamanya dah…
    ksian bgt si yesung kgak ada yg mau masa…..

  14. Ceritanya tambah bikin galau aja, knapa jung soo oppa g bilang aja sii ma eun kyo klo dia ngerasa bersalah ma siwon. Truz biar eun kyo nya yg pilih mo sama sapa gitu.. #readersokngatur. Next partnya d bikin ada happy nya donk chingu ^^V

  15. fiuh…nambah rumit ntu c aera tujuan buat pa??buat dpetin siwon gto???
    tp ko malah kya mo ngedpetin c jungso *hadehapaseh

    mending gni z thor, ntu eunkyo dbkin hamil trus sakit nah c abang jungsoo khawatir noh jd dket age deh….*sorakpkepom2kyorggila

    ps: dbikin hamilx jgn sm author py sm jungsu y kekekek…..

  16. hufffttt ..
    hey eonni masa hyukk Q di bwa” eoh ? dia cuma punya akuu -___- *di jambakk
    nyesekk bangettt , Q kasian sm kyo eonni
    si oppa biar Q suruh tobat aja buat gak nyakit’n eunkyo eonni ..
    Q bner” kasian sma mreka
    lahhh yg nabrak’a yeye lagi eohh ? di selalu jadi tersangka tabrakan wkwkkwkwk

  17. Krdubrakk.. Suami gw jdi yg nabrakk?? JongWoon?? Shrusnya Donghae ya yg nbrak.. Scra mrkirin mobil aja acakadul..#Fishy Ngamukk….
    Kgak”,, just Kidding.. Eum.. Nyesek bgt pas JungSoo pkek acra” cma cwek lain.. Huhh.. Klo gw jdi Eun Kyo, gw cekek tuh cwek…
    -emosi mode on……

  18. “̮◦°◦ h̶̲̥̅̊ɑ̤̥̈̊☺h̶̲̥̅̊ɑ̤̥̈̊☺h̶̲̥̅̊ɑ̤̥̈̊ ◦°◦” aku setuju ama eonii udaah enkyo ama siwoon ajaaa н̲̅e̲̅н̲̅e̲̅н̲̅e̲̅˚˚°dн̲̅e̲̅н̲̅e̲̅н̲̅e̲̅˚˚° kali kali gitu
    Mian jungso oppa ^^

  19. Jung Soo oppa baboya! aiish, part ini memang galau. ini mah sama-sama nyakitin hati sendiri. Menjadi Eun Kyo eonni di sini memang harus ekstra sabar

  20. ini miris banget, harusnya jung soo oppa pertahanin eun kyo onnie
    pasti siwon oppa ngerti kok, galau abis beneran dah.
    pas ditanya sama siwon oppa aja sampe eu kyo onnie jadi kayak bohong gitu.

  21. iyaa onnie am siwon aja,,jgn onge,(onge punyaku qiqiqi)tinggalin aj jung soo oppa,dia da buat keputusan yg salah,caranya itu salah,siwon juga ga jelek2 amat kok”ppiissssss”hehehe”cengir kuda”
    part selanjutnya jangan galau lagi yahh!!hehe

  22. Jadi Ae Ra itu suka ama Jung Soo?
    Itu Eun Kyo nasibnya ngeness bgt sih, Jung Soo juga sok2 kuat, pdhl mau meledak tuh liat bininya dkt ama Siwon.
    Trs nanti Siwon mau ngerebut Eun Kyo gitu?
    Setuju tuh ama Kyo onn, kalo dia ama Jung Soo rempong deh. Tapi masa sih laki2 sulit bisa megang komitmen? saya jd rada ragu ama lelaki, hihihi *apaansih*
    okesip, keep writing sist😀

  23. Teukie oppa plinplan ni mau buat eunkyo membenci dia tapi ngelihat eunkyo dket ma siwon udah kebakaran jenggot😦
    EGOIS tapi cinta emang kya gitu kan..
    Semangat buat miss elby

  24. ini teuk oppanya yang bego atau siwon nya yeng terlalu egois ^^^^ #kidding
    teuk oppa cobala menjadi egois untuk mempertahankan milikku terkdang balas budi itu tidak ada untungnya dan SIWON oppa cobalah berpaling dari park eunkyo dan melihat PADAKU, hahaha

  25. oeh ternyata jong woon oppa yg nabrak toh..

    ah ae ra kenapa mengambil kesempatan dlam kesempitan, dasar licik..

    makin pelik aja si masalah’a..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s