TeuKyo Couple : EGOISTIC (Part 8)

Standar

egoistic

AUTHOR : NOVIE (Lavender)

Hyo-Jin masih sibuk menandatangani berkas-berkas di atas mejanya, ketika suara ribut-ribut berasal dari luar ruangan memasuki indera pendengarannya. Hyo-Jin sudah memprediksi semuanya, bahwa lelaki itu akan kemari. Membuat keonaran di kantornya walaupun titah untuk melarangnya masuk sudah bergaung bagi seluruh security dan karyawannya semenjak pagi tadi. Lelaki itu tidak akan bisa dicegah, apalagi Hyo-Jin tahu bahwa dia akan terluka dalam. Sangat terluka.. Entah mengapa Hyo-Jin sangat sedih bila nanti harus melihat mata itu. Mata itu akan terluka nantinya oleh perbuatan eonninya sendiri.

Pintu itu terbanting terbuka dengan lebar, lelaki itu masuk tergesa-gesa diikuti oleh sekretarisnya yang masih memegang pergelangan tangan lelaki itu, mencegah masuk. Namun sepertinya tidak ada gunanya bagi lelaki itu, dia bisa masuk dengan mudah. Dan lelaki itu sedikit terkejut, marah dengan pemandangan yang ada dihadapannya.

“ah..oppa, ada apa kemari?” tanya Hyo-Jin tenang tanpa masalah apapun.

Jung Soo melirik sekretaris itu dengan pandangan yang sangat tajam, menyiratkan supaya melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Jung Soo, sekretaris itu dengan takut-takut melepaskan tangannya dan undur diri dari hadapan Jung Soo dan Hyo-Jin.

 “dimana eonnimu Hyo-Jin ssi”

“mollaseo…!!” jawab Hyo-Jin dengan bola mata yang memutar, enggan melihat Jung Soo. Hyo-Jin tahu lelaki itu akan marah bila mengetahui sebenarnya dan cukup Il Woo yang membuatnya sakit kepala, tidak dengan masalah Jung Soo dan eonninya. Lagipula Eun-Kyo sudah berhasil membuat Hyo-Jin bersumpah untuk tidak mengatakan apapun kepada Jung Soo. Dan dengan bodohnya Hyo-Jin pun tidak tahu kemana Eun-Kyo membawa Ryu-Jin pergi.

“mwo? Molla, yak aku tahu kau bersekongkol dengan Eun-Kyo untuk melarikan diri kan? Kalian sudah merencanakannya kan? Jinjja Hyo-Jin ssi, kalau kau bukan adik Eun-Kyo aku akan..” Jung Soo meremas kedua tangannya dengan gigi yang berderak menandakan gemas akan sikap Hyo-Jin kepadanya.

Jung Soo tahu Hyo-Jin tidak menyukainya, dan sepertinya percuma saja menanyakan keberadaan Eun-Kyo kepada Hyo-Jin. Toh dia akan menutup mulutnya rapat-rapat untuk melindungi eonni kesayangannya itu.

Hyo-Jin masih diam terduduk di kursinya, mengerucutkan bibirnya kedepan dengan bola mata yang masih enggan menatap Jung Soo. “benar oppa, aku tidak tahu kemana Eun-Kyo eonni dan Ryu-Jin pergi. Aku hanya disuruh menggantikan Eun-Kyo di perusahaan”

“hanya itu..?” tanya Jung Soo menyelidik dengan kedua tangan yang bersedekap di dada

“ne.. hanya itu” jawab Hyo-Jin ketus

“benarkah? Kenapa aku tidak percaya?”

“aishh… oppa, aku memang disuruh menggantikan Eun-Kyo eonni dan membelikan tiket pesawat ke Jerman!!” teriak Hyo-Jin. Mengeluarkan semuanya tanpa memfilter dulu sehingga apa yang diperintahkan Eun-Kyo untuk tutup mulut tidak ada gunanya sama sekali. Dan Hyo-Jin bertambah kesal dengan sikap yang diperbuatnya, walaupun enggan terlihat mengakuinya.

“aaaa.. terima kasih adikku sayang” jawab Jung Soo dengan senyum mengembang dibibirnya. Melangkah keluar dengan bersiul santai, sedikit mengejek akan sikap ceroboh Hyo-Jin.

“aishh… jinjja!! Yak oppa kau menyebalkan!!” teriak Hyo-Jin memenuhi ruangan itu.

***

Jung Soo berjalan cepat sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, menelepon sekretarisnya untuk mencari informasi mengenai keberangkatan pesawat ke Jerman.

“cari penumpang bernama Park Eun-Kyo dan Park Ryu-Jin” titah Jung Soo

“apa anda bermaksud menyusulnya tuan?”

“tidak tahu..”

Jung Soo kembali ke perusahannya dengan perasaan campur aduk yang tidak menentu. Apa salahnya sehingga Eun-Kyo meninggalkannya kembali bahkan ini untuk yang kedua kalinya.

Ketika sampai diruangannya, matanya lansung tertuju pada amplop cokelat yang tergeletak di mejanya. Surat perceraian… lagi.

Kemarahan Jung Soo bertambah ketika sekretarisnya mengabarkan bahwa tidak ada sama sekali penumpang yang bernama Park Eun-Kyo dan Park Ryu-Jin untuk tujuan Jerman pada hari ini. Sama sekali tidak ada.. nihil. Lalu kemana mereka berdua? Setelah menutup ponselnya, Jung Soo melemparnya ke dinding dengan keras mengakibatkan ponsel itu hancur berkeping-keping. Menyisakan sampah yang tidak berguna sama sekali.

“Brengsek kau Park Eun-Kyo! kau membuatku terpuruk hingga seperti ini. Jika ini memang keinginanmu aku akan melakukannya, menandatangani surat sialan ini. Dan satu lagi aku tidak akan pernah mencarimu lagi. Urusi hidupmu dan anakmu itu Park Eun-Kyo, aku tidak akan ikut campur lagi atas hidupmu” ucap Jung Soo lantang

Setelah mengeluarkan amarahnya, tubuh Jung Soo merosot kebawah, menekuk kedua kakinya dan menangis…

Laki-laki itu menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang kehilangan ibunya, seperti manusia yang kehilangan arah. Dia menangis..

“Kyo~ya.. mianhe.. saranghae.. aku mohon pulang Kyo~ya. Apapun akan aku lakukan untukmu, hidupku akan aku abdikan untuk membahagiakanmu Kyo~ya. Jadi aku mohon jangan tinggalkan aku lagi” rintihnya

***

Gudang di dalam persahaan itu gelap, sangat gelap. Hyo-Jin menggerutu kepada karyawannya yang tidak becus sama sekali mencari sebuah dokumen yang Hyo-Jin butuhkan – surat perjanjian. Hyo-Jin membutuhkannya demi memperkuat fakta mengenai perjanjian konyol antara perusahaannya yang telah musnah dan perusahaan Jung Il Woo.

“nona, sudah malam. Kita lanjutkan besok saja” ujar salah seorang pegawainya yang terlihat melelahkan. Keringat mengucur di seluruh tubuhnya. Hyo-Jin melirik arlojinya sebentar, jam 5 waktunya pulang bagi karyawan. Tidak heran dia dan pegawainya berkeringat akibat mengobrak-abrik gudang ini, mereka disini untuk menemukan sesuatu yang terlewat. Salah seorang pegawainya dengan ceroboh memasukan salah satu dokumen Hyo-Jin ke kardus dan melemparkannya ke gudang arsip yang pengap. Hyo-Jin butuh dokumen itu, karena isinya yang berkaitan dengan Jung Il Woo.

“pulanglah.. aku akan mencarinya”

“sebaiknya anda juga pulang nona, ini sudah hampir malam. Dan anda terlihat lelah”

Hyo-Jin hanya melihatnya dan tersenyum kemudian kembali lagi melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.

“aku akan pulang sebentar lagi, jika kau lelah pulanglah. Lagipula ini memang sudah jam pulangmu kan?”

Pegawai itu hanya diam, bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Kembali membantu Hyo-Jin atau pulang? Dia tahu ini kesalahannya, walaupun Hyo-Jin sama sekali tidak memarahinya namun terlihat dari sorot matanya bahwa Hyo-Jin sangat kesal. Dia ingin bertanggung jawab atas keteledorannya namun disisi lain tubuhnya sangat lelah.

“pulanglah..” ucap Hyo-Jin sekali lagi. Paham akan rasa kelelahan yang menguar dari pegawainya.

“aku tidak apa-apa sendirian disini..” ucap Hyo-Jin sekali lagi, meyakinkannya. Walaupun sebenarnya Hyo-Jin sangat.. sangat takut gelap. Hyo-Jin memberanikan diri karena di gudang tersebut ada penerangan lampu kurang lebih 5 watt. Cukup untuk membantunya untuk melihat dalam kegelapan.

“baiklah jika seperti itu, saya pulang terlebih dahulu nona. Permisi” sambil membungkukkan sebagian badannya menyatakan untuk undur diri, dengan bersemangat pegawai itu melangkah keluar dari tempat terisolasi itu.

“hufftt… dasar” Hyo-Jin memutar matanya melihat tingkah yang dilakukan pegawainya. Pegawainya sangat terlihat senang sekali ketika Hyo-Jin menyuruhnya pulang. Berbeda dengan sebelumnya yang memasang wajah kusut karena harus membantu Hyo-Jin mencari dokumen yang tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan Hwang.

Hyo-Jin lupa dimana dia menaruhnya, dia pikir dokumen itu terangkut ke gudang saat Hyo-Jin menyuruh salah seorang pegawainya untuk membereskan berkas-berkas yang tidak penting sama sekali. Dan sepertinya dokumen Hyo-Jin tanpa sengaja tenggelam bersama dokumen-dokumen yang lain, terlempar di tempat gelap seperti ini.

***

Sepeninggal pegawainya Hyo-Jin masih sibuk dengan kegiatannya. Peluh yang meluncur dari dahinya dan menetes membasahi lantai tidak diperdulikannya sama sekali, bahkan perutnya yang kelaparan dibiarkan saja. Malam semakin pekat, Hyo-Jin kelelahan luar biasa. Jiwa dan raganya lelah hanya untuk 1 buah dokumen sialan. Hyo-Jin menyerah.. dia tidak kuat lagi dan meutuskan untuk pulang saja.  Esok dia akan mencarinya kembali.

Ketika hendak keluar dari ruangan itu, entah mengapa hendel pintu yang telah karatan tiba-tiba tidak bisa dibuka. Hyo-Jin terperangkap di dalamnya. Matanya melebar ketika suara petir bergemuruh menyebabkan satu-satunya penerangan di ruangan tersebut berkedip-kedip menandakan lampu tersebut akan mati, menggelapkan ruangan tersebut hingga Hyo-Jin tidak bisa melihat apapun. Dan benar saja lampu itu tiba-tiba padam.

Hyo-Jin merogoh kearah celananya, mencari ponsel yang selalu dibawa kemana-mana. Namun nihil dia tidak membawa ponselnya, ponselnya masih tertinggal di atas. Lalu bagaimana dia keluar dari tempat menakutkan seperti ini? bagaimana dengann Il Woo? apakah dia akan mencari keberadaan Hyo-Jin? Apakah Hyo-Jin harus menunggu besok untuk keluar dari tempat ini, iya jika Hyo-Jin memang keluar besok tapi kalau tidak? dia akan berada disini dalam waktu jangka yang cukup lama.

Hyo-Jin mengalihkan pandangannya ke sekitar ruangan tersebut. Cukup besar untuk ukuran gudang. Sekali lagi suara petir menggelegar dari luar dengan kerasnya. Hyo-Jin berusaha menutup kedua telinganya agar suara itu tidak mencemari telinganya. Sesaat kemudian mata Hyo-Jin membelalak liar, ketika terpaan angin dingin masuk melalui ventilasi udara menerpa tubuhnya.

Tubuh Hyo-Jin gemetar ketakutan, nafasnya berubah menjadi pendek-pendek dan terkesan terburu-buru seakan pasokan oksigen di udara telah habis hingga Hyo-Jin tidak bisa bernafas seperti biasanya. Kedua kakinya tidak bisa lagi menompang bobot tubuhnya hingga Hyo-Jin terduduk di depan pintu, memeluk kedua kakinya rapat.

“oppa… eomma..” rintihnya tiba-tiba sambil memejamkan mata dengan erat menghalau semua ingatan masa lalu terburuknya yang begitu saja terlupakan. Ingatan itu seperti air yang mengalir dengan derasnya membanjiri pikirannya membuat Hyo-Jin semakin gemetar ketakutan.

***

Flashback

“HHHHUUUAAAAAAA… APPA…APPA… HUAAAA… APPA..APPA..!! buka pintunya, aku mau ketemu eomma appa” teriak seorang anak kecil, lengkap dengan pakaian seragam sekolahnya. Airmatanya bercucuran. Tangan mungilnya memukul-mukul pintu yang telah tertutup itu, menyembunyikan sosok lelaki paruh baya disana. Lama-lama tangan mungil itu merah dan perlahan-lahan pukulan itu semakin pelan dan hilang. Tangisannya pun hilang digantikan dengan isakan-isakan kecil. Anak perempuan itu sambil menangis sesegukan menatap ruangan yang cukup luas namun gelap. tidak ada lampu diruangan tersebut dan dia sendirian. Biasanya ketika malam datang dan lampu tiba-tiba mati, eommanya selalu ada disisinya. Memeluknya dengan erat, mengatakan kepadanya untuk tidak takut dengan hal apapun karena wanita paruh baya itu ada disisinya, selalu dan akan selamanya disisinya.

Namun beberapa bulan lalu, anak perempuan itu melihat lelaki paruh baya yang biasa di panggil appa memasukkan sesuatu ke dalam minuman yang akan dibawa salah seorang pelayan untuk diberikan kepada eommanya yang tengah terbaring lemah di ranjang kamarnya. Anak perempuan itu mendengar dan melihat semuanya, dia adalah saksi mata pembunuhan berencana itu.

“jika wanita brengsek itu mati, tidak ada yang menghalangiku untuk mendapatkan perusahaan itu. Bahkan anak ingusan sepertimu sekalipun tidak akan bisa menghalangiku. Kau dengar itu Hyo-Jin!!”

Hanya diam, hanya itu yang dapat Hyo-Jin lakukan ketika dirinya tertangkap basah oleh ayah yang selama ini dikaguminya tersebut. Hyo-Jin tidak tahu apa-apa, dia tidak mengerti apa yang akan terjadi bahkan ketika ayahnya mengancamnya Hyo-Jin hanya mengangguk, mengiyakan semua perkataan ayahnya.

Yang Hyo-Jin tahu adalah ayahnya berbeda, semenjak penyakit ibunya semakin parah dan ditambah dengan kedatangan lelaki tua – pengacara- beberapa hari menjelang kematian ibunya. Saat itulah ayahnya berubah drastis, sangat drastis hingga Hyo-Jin tidak bisa mengenali ayahnya yang lembut seperti dulu.

Dan saat ibunya telah tiada, saat baru saja mereka pulang dari pemakaman ibunya, Ayahnya bertambah buruk, Hyo-Jin selalu dipenjara dalam ruangan yang gelap. Ayahnya selalu memukul serta membentak Hyo-Jin dengan keras ketika Hyo-Jin melakukan perbuatan yang selalu salah dimata ayahnya.

Dan puncaknya adalah hari ini, 2 bulan setelah eommanya meninggal keluarga Jung bermaksud membawa Hyo-Jin ke makam ibunya selepas sekolah dan diam-diam membawa Hyo-Jin pergi dari kuasa ayah kandungnya yang kejam, yang hanya mementingkan warisan dan saham perusahaan yang ditinggalkan ibunya dan entah bagaimana semua kekayaan ibu Hyo-Jin jatuh ke tangannya. Ayahnya hanya sebagai perantara belaka, tidak ada peran apapun karena semua tindakan yang diambil untuk perusahaan di kendalikan penuh oleh orang kepercayaan eomma Hyo-Jin. Namun ada yang luput dalam surat wasiat itu, setelah Hyo-Jin berumur 25 tahun dan dia meninggal maka warisan jatuh ketangan ayahnya namun sebelum Hyo-Jin berumur 25 tahun dan dia meninggal maka warisan jatuh ke panti asuhan disekitar rumah mereka.

Namun kenyataannya bukan Bibi Jung yang menjemputnya tetapi sekelompok pria berpakaian hitam. Hyo-Jin dipaksa masuk ke mobil dan sampailah dia disini, di ruangan gelap yang tidak ada sedikitpun celah sama sekali untuk melarikan diri. Hanya lubang berukuran 8×10 cm saja dan itu hanya cukup untuk pertukaran udara.

Hyo-Jin melangkah menjauhi pintu yang masih tertutup dengan rapat itu. Terlihat di sudut ruangan terdapat kardus dan koran-koran bekas. Hyo-Jin duduk disana sambil menekuk kedua lututnya merapat ke arah tubuhnya. Hari beranjak malam dengan suara petir yang bergemuruh di langit, Hyo-Jin belum makan sedikitpun sama sekali sejak siang tadi. Hyo-Jin teringat akan bekal makanan Il Woo oppa yang diberikannya di sekolah pagi tadi sebelum Il Woo oppa berangkat ke sekolah. Anak lelaki sahabat ibu Hyo-Jin tersebut sangat menyayangi dan melindungi  Hyo-Jin layaknya adik perempuannya sendiri begitupun sebaliknya.

“ini bekal untukmu, jangan lupa dimakan”

“tapi oppa, aku sudah membawa bekal. Untuk apa aku harus menerimanya?”

“pokoknya ambil saja, aku tidak tahu mengapa hari ini aku ingin sekali menyiapkan makanan yang banyak untukmu Jin~ah”

“tapi oppa, bekal oppa bagaimana?”

“hei bodoh, aku sudah membawa bekalku sendiri” Il Woo mengambil tangan Hyo-Jin dan meletakkan bekal makanannya di sana “ ini ambillah, aku harus pergi sekarang. Dah.. Hyo-Jin” ucap Il Woo sambil melambaikan tangan dan masuk ke mobil.

Hyo-Jin membuka kotak tersebut dan memakan isinya perlahan-lahan. Setelah kenyang dia melihat ke sekeliling. Gelap.. sangat gelap. Hyo-Jin semakin rapat memeluk dirinya sendiri melindungi dari kerasnya angin malam akibat hujan yang turun dengan derasnya dan pekatnya gelap, tiba-tiba tubuhnya menggigil kedinginan.

“oppa… eomma.. aaa..aaku takut eomma. Oppa tolong aku, disini sangat dingin” rintihnya

***

Seminggu telah berlalu dan belum ada seorang pun yang mengeluarkan Hyo-Jin dari ruangan tersebut. Hyo-Jin terlihat semakin lemah dan dia sangat lapar.. sangat lapar. Hingga apapun yang ditemukan terpaksa dimakannya hanya untuk mengganjal perutnya yang berteriak kesakitan. Hyo-Jin tidak perduli sama sekali dengan apa yang dimakannya, bila pada akhirnya tetap saja perutnya akan sakit.

Ruangan tempatnya di kurung sepertinya bekas gudang penyimpanan makanan, terlihat dari kardus-kardus yang saat ini menjadi alasnya untuk duduk dan tidur merupakan kardus makanan.

Ketika sedang berbaring di sudut ruangan yang beralaskan kardus kotor terdengar bunyi dari arah pintu. Perlahan dengan pasti pintu itu terbuka dengan lebar, mengeluarkan sosok wanita yang sudah dikenalnya. Hyo-Jin langsung berlari kearah wanita itu dan memeluknya.

“bibi.. bibi aku takut bibi”

“sayang, tenanglah disini ada bibi. Semua pasti akan aman. Kau dengar itu semua akan baik-baik saja.”  Sambil melepas pelukan Hyo-Jin, bibi Jung mengusap air mata Hyo-Jin yang meluncur dipipinya. Berkali-kali Bibi Jung mencium kedua pipi Hyo-Jin layaknya seorang ibu yang telah lama tidak berjumpa dengan buah hati tercintanya “ maaf bibi lama mengeluarkanmu dari tempat yang menakutkan ini” ucap Bibi Jung sambil menangis, air mata bibi Jung tidak bisa di bendung lagi. Dia sangat menyayangi anak perempuan sahabatnya tersebut seperti Il Woo anak laki-lakinya.

“ayo sayang kita keluar dari sini” ucap bibi Jung sambil tersenyum. Dengan gembira  Hyo-Jin meraih tangan bibi Jung untuk membantunya berjalan.

“kau pikir kau bisa keluar dari ruangan ini bersama bocah itu nyonya Jung yang terhormat?” tiba-tiba suara berat yang telah lama tidak didengar oleh Hyo-Jin memasuki indera pendengarannya. Seketika tubuh Hyo-Jin menegang kaku sama seperti wanita yang berdiri disebelahnya saat ini, tubuhnya menegang.  Hyo-Jin hanya bisa menelan ludahnya ketika mereka berdua berbalik kearah sumber suara tersebut.

Ada perasaan takut yang tergambar dari raut wajah bibi Jung. Tangan bibi Jung dengan cekatan menyembunyikan tubuh mungil Hyo-Jin di belakang tubuhnya, melindungi Hyo-Jin dari lelaki kejam tersebut yang sudah tidak pantas lagi dipanggil sebagai ayah.

“kau tega mengurung anakmu sendiri di tempat yang tidak pantas di sebut ruangan ini. bahkan tikus sekalipun tidak layak tinggal di tempat yang menjijikkan ini”

Lelaki itu hanya tersenyum miring menanggapi pernyataan wanita tersebut. Matanya beralih menatap tubuh mungil di belakang wanita itu. Hyo-Jin sangat ketakutan dipandang seperti itu.

“apa kau senang tinggal di sini sayang?” tanya lelaki itu kepada Hyo-Jin dengan sorot mata yang bengis. Hyo-Jin terpaku akan tatapan mata tersebut dan dia hanya bisa mengangguk lemah sebagai jawaban atas pertanyaan ayahnya. Lelaki itu mengangkat kedua alisnya, menunggu jawaban dari mulut Hyo-Jin.

“ne.. aa..appa, aku senang tinggal disini” jawab Hyo-Jin terbata-bata. Lelaki itu kembali mengalihkan pandangannya kepada wanita yang masih melindungi Hyo-Jin.

“kau dengar kan Nyonya Jung. Anakku sangat senang tinggal disini”

“kau adalah lelaki brengsek yang pernah aku kenal” geram wanita tersebut.

 Ayahnya hanya tersenyum sinis menanggapi ucapan Bibi Jung tersebut. Dengan santai dia memandangi tubuh Bibi Jung dari atas ke bawah dengan tatapan seduktif yang penuh akan nafsu.

“well Nyonya Jung, kau tahu sudah lama sekali aku tidak mencumbu seorang wanita semenjak penyakit isteriku kambuh”

“apa maksudmu?”

“kau masih muda, wajahmu cantik dan ya.. tubuhmu terlihat menggiurkan”

“brengsek kau!!” teriak Bibi Jung

Secepat kilat tangan ayah Hyo-Jin mencekal tangan Bibi Jung dengan kasar dan menciumnya dengan buas. Hyo-Jin memegang dengan kuat tangan Bibi Jung yang masih menggenggam erat tangannya.

“lepaskan tangan Bibi Jung Hyo-Jin~ah, jika kau tidak ingin Bibi Jung bernasib sama seperti ibumu”

“tapi appa..” jawab Hyo-Jin dengan air mata yang telah jatuh membasahi pipinya

“jadi kau yang membunuh sahabatku? Pembunuh, anak ini tidak akan aku lepaskan” timpal wanita tersebut.

“aku tidak membunuhnya, aku hanya mempercepat kematiannya. Aku tahu dia akan berterima kasih padaku karena telah melepaskan penderitaannya. Jadi Hyo-Jin sayang lepaskan tangan Bibimu ini dan lihat apa yang akan appa lakukan terhadap Bibimu yang cantik ini. Nanti ketika umurmu cukup, kau akan membantu appa mendapatkan uang lewat tubuhmu itu”

“kau memang laki-laki brengsek, kau akan menjual putrimu kelak?” geram Bibi Jung marah

“cerewet.. ayo kita mulai bersenang-senang”

Dengan kasar lelaki itu melepaskan tangan Hyo-Jin dari genggaman Bibi Jung dan mendorongnya hingga punggungnya terbentur dinding. Rasa sakit dengan segera menyergap seluruh tubuhnya.

Kejadian itu terjadi, salah satu penyebab Hyo-Jin membenci lelaki. Ayahnya memperkosa Bibi Jung di hadapannya dengan kasar. Bibi Jung hanya teriak kesakitan… dan Hyo-Jin yang masih terlalu kecil untuk meihat semuanya hanya bisa menangis dan berusaha menutup kedua telinganya rapat-rapat agar suara kesakitan yang bersumber dari Bibi Jung itu tidak masuk mencemari telinganya.

***

Beberapa jam kemudian kegiatan itu berhenti. Tubuh wanita itu sudah tidak berdaya, lelah akibat perbuatan yang dilakukan ayah Hyo-Jin. Pakaian mereka berdua tergeletak di lantai. Ayah Hyo-Jin bangkit dari tubuh Bibi Jung dengan nafas yang masih terburu-buru, seringai puas akan perbuatannya menghiasi wajah bengisnya.

Dengan sorot mata yang sedih dan kosong Bibi Jung berusaha bangkit dari keterpurukannya, mengulurkan tangannya ke arah Hyo-Jin kecil yang duduk gemetaran di sudut ruangan tersebut. Namun belum sempat Bibi Jung menggapai apa yang diinginkannya timah panas terlebih dahulu merangsek masuk ketubuhnya tepat di jantungnya. Membuat alat vital terpenting pada tubuhnya berhenti berdetak seketika. Darah merah segar keluar dari tubuh wanita yang disayangi Hyo-Jin dan perlahan-lahan fokusnya hilang..

“bibi..”rintih Hyo-Jin

Belum semenit Hyo-Jin menyaksikan bibi tersayangnya mati akibat ulah ayahnya, tiba-tiba suara itu terdengar kembali. Ayahnya ambruk di samping mayat Bibi Jung, merintih kesakitan memegangi kakinya yang mengeluarkan begitu banyak darah.

“arrghhh… brengsek kau!!” rintih ayah Hyo-Jin sambil menoleh untuk melihat siapa yang telah menghunuskan timah panas dikaki telanjangnya. Rasa sakit dan panas yang menjalar ditubuhnya tetap ditahannya, walaupun dia tidak bisa menyembunyikanraut wajahnya dari rasa sakit akibat timah yang bersarang di kakinya.

Laki-laki tua kira-kira seumuran ayah Hyo-Jin dengan memakai jas lengkap masuk secara perlahan, masih memegangi sebuah benda yang menyebabkan kaki ayahnya terluka sekaligus Bibi Jung mati mengenaskan. Mata lelaki itu berubah menjadi bengis ketika melihat isteri yang dicintainya sudah tidak bernyawa lagi dalam keadaan tanpa busana. Refleks lelaki itu memukul ayah Hyo-Jin bertubi-tubi, menyalurkan semua amarah dan rasa sakit hatinya atas perbuatan biadab tersebut.

Hingga ayah Hyo-Jin sudah tidak mampu berdiri lagi, luka memar menghiasi seluruh tubuhnya dengan darah yang keluar banyak sekali. Dengan pasti laki-laki itu mengarahkan pistol yang menjadi alat untuk membunuh isterinya dan dorr…!!!

Hyo-Jin menyaksikan semuanya, semuanya.. cinta itu berubah menjadi benci hanya akibat keserakahan harta. Jika tidak, mungkin kedua orangtuanya dan kedua orangtua Il Woo sampai sekarang masih hidup dan mungkin tetap akan menjadi sahabat.

Bukan hanya sekali saja senjata itu mengeluarkan suara yang menggeleggar tapi berkali-kali. Walaupun ayahnya sudah mati, paman Jung tetap menembakkan senjatanya seakan-akan hukuman yang diberikannya untuk kematian isterinya belum cukup. Setelah puas paman Jung menoleh kepada Hyo-Jin dan menembakkan peluru yang terakhir ke arahnya, namun sayang peluru itu meleset.

“pergilah Hyo-Jin, aku tidak ingin merawat atau melihatmu lagi. Kau mengingatkanku pada ayah biadabmu itu” ucap paman Jung tajam

Dengan segera Hyo-Jin bangkit dari duduknya, dan berlari dengan sisa kekuatannya. Hyo-Jin berlari, saat tepat berada di pintu Hyo-Jin menoleh dan melihat lelaki itu memeluk tubuh isterinya yang sudah tidak bernyawa lagi. Menangis dan berkali-kali mengucapkan kata maaf. Dan saat Hyo-Jin keluar dia menyadari bahwa dia selama ini dikurung di perusahaannya sendiri.

Ketika jaraknya telah cukup jauh dari perusahaan, Hyo-Jin menoleh kebelakang dan dia melihat paman Jung keluar dari perusahaan tersebut dan api.. iya Hyo-Jin melihat gemulan asap yang berasal dari perusahaan tersebut.

Paman Jung melihatnya masih berdiri tidak jauh dari perusahaan yang terbakar, Hyo-Jin mendengar sirene akan bahaya kebakaran yang terpasang di perusahaan tersebut. Namun sepertinya paman Jung tidak terpengaruh bahkan tidak perduli sama sekali dengan perusahaan tersebut, seolah-olah perusahaan tersebut terbakar memang karena ulahnya sendiri.. atas perbuatannya sendiri.

Hyo-Jin ingat ayahnya masih berada di dalam sana, sendirian dan Hyo-Jin pikir paman Jung akan menyelamatkan ayahnya juga, bukan mayat isterinya saja. Walaupun ayahnya sudah bersikap salah dan jahat terhadap Hyo-Jin, dia tetaplah ayah Hyo-Jin. Ayah yang selalu mengajaknya bertamasya ke taman bermain ketika libur tiba.

Paman Jung masih berdiri di hadapannya dengan tatapan kebencian terhadap Hyo-Jin dan tiba-tiba saja paman Jung menggertaknya “pergi sebelum aku juga membunuhmu” ucapnya dengan nada penuh akan kebencian.

Karena takut Hyo-Jin berlari lagi tidak tentu arah, hingga berhari-hari. Ketika malam tiba dia akan bersembunyi di sebuah gang kumuh dan tidur.. Hyo-Jin akan melanjutkan perjalanannya kembali ketika matahari muncul. Lalu bagaimana dengan makan? Mudah bagi Hyo-Jin, dia harus mengais sampah hanya untuk menemukan sisa makanan yang berada disana. Tidak apa-apa makanan basi sekalipun bahkan Hyo-Jin harus membagi makanannya dengan tikus dan lalat.. tidak apa-apa yang penting perut Hyo-Jin tidak berontak.

Saat – saat seperti itu Hyo-Jin merindukan eomma dan oppanya. Namun saat dirinya akan menangis kembali dengan cepat Hyo-Jin akan menghapusnya. Dia sebatang kara saat ini. tidak ada yang perduli terhadapnya, tidak akan ada yang melindungi Hyo-Jin lagi, bahkan cinta Hyo-Jin tidak percaya lagi.

Orang-orang disekeliling Hyo-Jin yang awalnya saling mencintai satu sama lain, saling menyayangi satu sama lain berakhir tragis.. berakhir mengenaskan. Saling mencelakai satu sama lainnya hingga rela untuk menghabisi nyawa yang lainnya. Hyo-Jin membencinya.. hanya dengan harta cinta itu musnah..

Setelah selesai dengan suapan terakhirnya Hyo-Jin berjalan  kembali. Bajunya lusuh, mukanya pucat dan badanya kotor. Hyo-Jin berhenti di sebuah sekolah elit, tanpa sadar menolehkan pandangannya untuk melihat suasana sekolah tersebut. Dilihatnya Il Woo bersenda gurau bersama teman-temannya tanpa ada rasa sedih sedikitpun atas kematian ibunya. Hyo-Jin berpikir bagaimana Il Woo yang sangat disayanginya dapat begitu ceria? Tidak seperti Hyo-Jin yang menangis tersedu-sedu memanggil ibunya yang telah pergi. Terlintas di benaknya wajah paman Jung yang mengusirnya, yang membunuh dan memukul ayahnya dengan kejam. Atas pemikiran seperti itu Hyo-Jin memutuskan untuk membenci paman Jung..  Seandainya ayahnya masih ada, Hyo-Jin tidak akan terbuang seperti ini. tidak akan menjadi sebatang kara dan harus berkeliaran tanpa arah di jalanan.

Dengan angin yang berhembus menerpa wajahnya, Hyo-Jin kembali berjalan terseok-seok. Hujan turun dengan derasnya, Hyo-Jin berbelok ke arah gang yang sempit dan kotor untuk berlindung dari hujan. Tubuhnya menggigil kedinginan dan saat dirinya ditemukan oleh seorang wanita, Hyo-Jin tidak ingat siapa dirinya sama sekali, badanya panas dan dia sangat kurus akibat kurangnya asupan makanan. Dan parahnya lagi Hyo-Jin tidak berbicara, itu membuat para polisi kebingungan. Pandangan mata Hyo-Jin kosong tidak menyiratkan kehidupan sama sekali.

Dan selama proses penyelidikan Hyo-Jin berlangsung, dia tinggal di panti asuhan yang dikelola oleh seorang wanita yang menemukannya hingga pada akhirnya dia diadopsi oleh Nyonya Hwang.

***

Il Woo duduk diruang kerja di salah satu ruang di apartemen pribadi miliknya. Hujan diluar masih sangat deras dan dia sedang sibuk memeriksa berkas-berkas yang tidak sempat diperiksanya di kantor. Sesekali dia melirik jam yang berada di sampingnya, seolah-olah jengah menunggu seseorang yang saat ini menjadi tanggung jawabnya. Sudah berulang kali selama 3 jam Il Woo berusaha menghubungi Hyo-Jin, namun selalu tidak dijawabnya.

Jam 11 malam dan Il Woo semakin takut, khawatir dengan keadaan wanita bodoh itu. Il Woo berusaha kembali menghubungi Hyo-Jin namun nihil.. Hyo-Jin tidak mengangkat panggilan teleponnya.

Cukup.. putus Il Woo. Dia tidak bisa terus-menerus seperti ini, dalam kepastian yang tidak menentu atas keadaan Hyo-Jin yang hingga saat ini belum pulang. Il Woo tahu Hyo-Jin tidak memiliki siapa-siapa lagi selain kakak angkatnya tersebut yang ternyata merupakan isteri seorang pengusaha sukses. Dunia memang rumit.. sangat rumit seperti masalahnya dengan Hyo-Jin.

Pikiran buruk itu terus menghantuinya. Sebaiknya dia mencari wanita bodoh itu, putus Il Woo. Awas saja jika dia bersama laki-laki lain, tambahnya.

***

“eomma.. dimana appa?” tanya  Ryu-Jin kepada Eun-Kyo. Eun-Kyo menghentikan aktivitasnya dari membaca majalah untuk melihat malaikat kesayangannya tersebut. Eun-Kyo tersenyum sebelum menjawab pertanyaan itu. Dia harus pintar-pintar memilah jawaban apa yang pantas untuk diberikan kepada Ryu-Jin agar nantinya malaikat kecilnya itu melempar pertanyaan yang lebih jauh sampai Eun-Kyo kewalahan untuk bisa menjawabnya.

“nanti appa akan menyusul kita sayang. Bukankah appa sedang bekerja? Appa sudah bilang kan kemarin kalau dia sibuk, nanti pasti pulang.”

“bagaimana kalau kita telepon appa?” usul Ryu-Jin dengan sumringah

“jangan.. nanti appa malah terganggu dengan telepon kita. Kita doakan saja ne..”

Ryu-Jin mengerucutkan bibirnya tanda dia tidak setuju sama sekali. Ryu-Jin sudah sangat menyukai appanya dan sangat merrindukannya. Apalagi dia baru sebentar bersenda gurau dan bercengkerama bersama appanya. Ryu-Jin sebal, ketika dirinya bebas dari rumah sakit appanya tidak menjemputnya, bahkan sampai sekarang saat tiba di italia beberapa jam yang lalu appanya juga belum menghubunginya.

Sesibuk itukah pekerjaan ayahnya? Batin Ryu-Jin. Eun-Kyo yang mengetahui kemelut di hati putranya tersebut berusaha untuk menghiburnya. Memang ini salahnya, seharusnya Eun-Kyo tidak mempertemukam Jung Soo dengan Ryu-Jin. Jika kecelakaan itu tidak terjadi, Ryu-Jin tidak akan bertemu dengan Jung Soo dan Ryu-Jin tidak akan lebih sakit lagi.

“sebaiknya kau tidur sayang, nanti jika appa menelepon, eomma akan membangunkanmu. Kau harus banyak istirahat. Jika nanti appa pulang dan mengajakmu bermain kau sudah sehat Ryu-Jin”

“benar.. aku harus istirahat” timpal Ryu-Jin. Ryu-Jin memajukan tubuhnya untuk mencium kedua pipi Eun-Kyo. Sudah menjadi aktivitasnya sebelum tidur dan saat bangun tidur mencium kedua pipi Eun-Kyo. “jangan tidur malam-malam eomma” nasihat Ryu-Jin. Eun-Kyo hanya tersenyum sambil mengusap-usap rambut Ryu-Jin hingga berantakan. Anak itu hanya tertawa diperlakukan seperti itu sebelum melangkah dengan tertatih-tatih menuju kamarnya.

***

Selang oksigen dan jarum infus saat ini melingkupi tubuh mungil Hyo-Jin. Beberapa saat lalu Il Woo menemukannya tidak sadar diri di gudang perusahaan dengan keringat dingin bagaikan mayat hidup. Jika pegawai yang bersama Hyo-Jin tidak kembali ke perusahaan maka Il Woo tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Hyo-Jin saat ini. Dulu dia tidak tahu mengapa tiba-tiba Hyo-Jin pergi dari rumahnya. Il Woo kehilangan Hyo-Jin pada saat itu, Il Woo sedih namun dia berusaha menutupinya. Bahkan saat ibunya mati sekalipun Il Woo tidak menangis, dia hanya terdiam tidak mengeluarkan ekspresi apapun.

Awalnya dia membenci Hyo-Jin karena tidak berperasaan. Il Woo ada saat Hyo-Jin sedih bahkan saat ibunya meninggal, Il Woo meminjamkan bahunya untuk tempat Hyo-Jin bersandar. Dia tidak mengerti mengapa Hyo-Jin pergi bersama ayahnya dan Il Woo tidak berani menanyakan alasan kepergian Hyo-Jin kepada ayahnya. Il Woo takut karena ayahnya terlalu sibuk dengan perusahaannya dan selalu membawa wanita jalang pulang kerumah. Il Woo pernah menanyakan perihal kepergian Hyo-Jin dan tidak mengirimkan kabar papun kepadanya, ayahnya seketika berubah menjadi marah menjawab pertanyaan Il Woo dengan penuh kebencian bahwasanya jangan pernah mencari atau menanyakan mengenai Hyo-Jin, Hyo-Jin lah yang membunuh ibunya. Hyo-Jin lah yang menyebabkan ibunya terbunuh dan jika bukan karena Hyo-Jin ibunya masih akan hidup bersama mereka berdua hingga saat ini.

Il Woo menggenggam salah satu tangan Hyo-Jin, dan menciumnya perlahan. Dia tidak ingin kehilangan Hyo-Jin lagi. Cukup satu kali dia kehilangan Hyo-Jin tidak sekarang. Pikiran Il Woo kembali kemasa dimana saat-saat dia pertama kali bertemu dengan Hyo-Jin. Dia hanya menganggap Hyo-Jin seperti wanita-wanita yang pernah ditemuinya, habis manis sepah dibuang. Namun Il Woo tahu dengan pasti bahwa Hyo-Jin bukanlah wanita sembarangan. Hyo-Jin sangat susah untuk ditaklukan dan Il Woo sadar kebutuhan fisiknya meningkat drastis tidak seperti biasanya..

Kemudian hari-harinya dilalui dengan mengamati gerak-gerik Hyo-Jin. Apapun yang dilakukan Hyo-Jin tidak luput dari pengamatan Il Woo hingga Il Woo menemukannya di bar. Dan setelah menyelidiki siapa Hyo-Jin sebenarnya, Il Woo semakin ingin memiliki Hyo-Jin. Sahabat yang saat ini telah membencinya.. yang  menyalahkan kepada keluarganya atas kebakaran perusahaan miliknya beberapa tahun lalu. Il Woo tahu semuanya yang tidak dia tahu adalah bagaimana Hyo-Jin sampai disebuah gang kecil yang kotor sebelum dirinya dibawa ke panti asuhan tersebut? Apakah Hyo-Jin menjadi korban penculikan? Lalu bagaimana ayahnya tewas hangus terbakar di gudang perusahaan miliknya? Ada apa sebenarnya? Batin Il Woo.

“oppa.. oppaa Il Woo oppa” igau Hyo-Jin. Il Woo hanya tersenyum mendengar panggilan itu bagaikan suara surga memasuki telinganya. Akhirnya setelah sekian lama tidak mendengar panggilan itu keluar dari bibir Hyo-Jin. Il Woo sudah lama mendamba panggilan tersebut.

“iya sayang, oppa disini. Menjagamu” ucapnya dengan tulus.

***

“ARRRGGHHHHH… EOMMA.. EOMMA…!!! EOMMAA…SAKIITTT… SAKIITT EOMMA!!”

Eun-Kyo terbangun kaget ketika mendengar suara Ryu-Jin merintih kesakitan memanggil namanya. Dengan segera Eun-Kyo turun dari ranjangnya dan berlari kekamar Ryu-Jin. mata Eun-kyo terbelalak kaget ketika dilihatnya Ryu-Jin tengah kesakitan di lantai dengan darah membanjiri lantai dan dirinya. Salah satu tangannya menutup telinganya menahan sakit sekaligus darah yang terus menerus keluar dari sana.

Eun-Kyo menangis, raut wajahnya terlihat begitu panik. Dia takut akan keadaan Ryu-Jin. ada apa dengan Ryu-Jin, apakah dokter itu benar? Apakah benar anaknya tidak akan bisa mendengar lagi? Oh.. tuhan jangan berikan penderitaan yang begitu besar kepada Ryu-Jin.

***

“dia harus segera di operasi, namun setelahnya perkembangannya harus dipantau dengan sangat ketat. Kami menyarankan anak ibu untuk ditangani oleh salah satu dokter kenamaan di korea”

“apakah dia akan baik-baik saja? Maksud saya dia, apakah bisa mendengar lagi?”

Dokter itu hanya diam seribu bahasa. Oh tidak.. pikir Eun-Kyo, dia harus kembali ke korea. Kembali kesana untuk kesembuhan putranya tersebut. Eun-kyo beranjak keluar, dilihatnya putra semata wayangnya tersebut duduk dengan perban yang melingkari telinganya. Sudah tidak ada darah lagi yang keluar dari sana, namun gumpalan darah yang masih berada di telinganya harus segera di keluarkan.

“eomma, apa yang dikatakan dokter? Apakah aku bisa mendengar kembali?” tanya Ryu-Jin dengan senyum terkembang dibibirnya. Anaknya kuat, batin Eun-Kyo. Walaupun dalam keadaannya sakit dia tetap berusaha tersenyum. Eun-Kyo tidak rela kehilangan senyum itu.. tidak rela bila kehilangan malaikat penyemangat hidupnya.

Eun-Kyo mengeluarkan selembar kertas dan pena untuk menulis, percuma saja dia berbicara dengan Ryu-Jin saat ini. Toh telinganya tidak bisa mendengar apa-apa.. Eun-Kyo menulis sesuatu disana sebelum menunjukkannya pada Ryu-Jin

Kau akan baik-baik saja sayang. Dan kau akan bisa kembali mendengar suara eomma yang merdu ini.  Satu hal lagi, kita akan pulang ke Korea. Apa kau senang?

Mata Ryu-Jin terbelalak kaget setelah membaca tulisan Eun-Kyo. Rasa bahagia tidak bisa disembunyikannya lagi.. Ryu-Jin senang dia akan pulang ke korea. Bertemu dengan Hyo-Jin noona, Kirei dan appanya.

“kapan kita pulang eomma?” tanya Ryu-Jin antuasias.

Eun-Kyo kembali menulis balasan untuk Ryu-Jin.

Segera sayang.. kita akan pulang ke Korea segera

TBC

Note : Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaa anakku kenapa itu? Eoh? Aish, Eomma babo~ya… *nangis* kaga tega liat anakku begitu… cepat sembuh ya Nak… aku masih belum begitu ngerti hyojin sama ill woo ini, lelet banget yak? Jadi penyebab kematian orang tuanya, apa? Okelah, Nov… aku menunggu part 9 nyayah… katanya 2 part lagi tamat...

91 responses »

  1. serem bgt masa lalu hyojin.. tp ampe skrg hyojin blm tw ilwoo yg skrg tu tmn y yv dlu y???
    ky y eunkyo kna akibat dr sifat egois y, klo dy g egois bwa kabur ryujin lg pasti y ryujin msh dpt perawatan d rmh sakit.. cb ilangin sifat egois y, ryujin g bkal tu ngalami ky gni..

  2. masih penasaran ama hyo jin

    setuju ama vik oenni kasian ryu jin kok tega buat ryu jin sakit…
    kalo ryu jin balik ke korea ntar bisa jumpa sma jung soo appa

    ditunggui part selanjutnya

  3. Jiaaah,il woo hyojin bikin gigit jari penasaran bgt…

    Nah lho,ryu jin kenapa tu??teuk oppa jd stres tu ditinggal eunkyo…hehe

    next part ditunggu eonn…

  4. uwah.. sumpah nangis liat gimana kilasan perjalanan hidup hyo-jin ternyata kekejaman dunia hadir dihidup hyo-jin bermula dari keserakahan ayahnya yang psikopat itu!
    ryujin.. kenapa lagi denganmu sayang? nunna berdoa semoga kamu cepat sembuh, biar bisa main sama appa lagi ne.. jagoan.. hwaiting!^^

  5. Wihh, ngeri nian masa kecilnya hyo jin. Saat masih kanak-kanak dia harus menyaksikan hal yang tak sepatutnya dia lihat.

    Ehhh, itu ryu jin kenapa? Aissh, eun kyo apa-apaan coba ngejauhin bapak sama anak. Ujung-ujungnya balik lagikan ke korea.

    Ohh, bentar lagi mau tamat ya? Ditunggu deg part selanjutnya.

  6. Oennii aku g mudeng.
    Serius -,-
    knp alurnya jd jauh bgt sm part 7??? Perasaan meledak2 pas aku baca jg g muncul😦
    ok tp aku ttp menunggu part slanjutnya!! Jgn buru2 oennii..pelan2 aja. Oke🙂

  7. Argghhh rumit sekali kisah cinta il wo dan hyo jin,,, aiih itu ryu jin skit apa? Jgn smpe parah bgt, kasihan ryu jin, jungsoo babo itu anakmu sakit, cari tau donk keberadaan mereka,, hmmm campur aduk ne perasaan,,,

  8. aku gak begitu ngeh sama masa lalu hyojin,tp masih penasaran banget gimana klnjutan hyojin – il woo nya..
    kayaknya disini feelnya krg dpet gak spt biasanya😮 *mnurutku sih*

    ryujin telinga nya knp? kasiaaaan;;; tp kalo kembali kekorea bisa ketemu ayahnya lagi dong?😄

    ditunggu next partnya ^^

  9. masa lalu nya hyojin serem bgt -.- tp aku blum ngeh #plak
    cepetan balik ke korea eonnie, noh mas ganteng udh marah2 muehehe.. part 9 nya ditungguuuuu… :))))

  10. Ryujin kenapa jadi gitu? Jangaaan di kasih sakit yg berat dongg apalagi sampe tuli, kasian😦

    Masa lalu hyojin kasian banget, nggak nyangka masa lalu dia kayak gitu…

    Next part ditunggu~

  11. astaga masa lalu hyojin kelam bangett ,,
    pantess dia kurang suka sm laki”
    dan dia kunci utama kasus pembunuhan eomma’a sendiri yang di racun sma appa’a pas di RS
    bibi jung yg gara” di pe****a sm appa hyo jin dan meninggal di bunuh
    dan appa hyo jin sendiri meninggal di tembak sm appa ilwoo ,, iya kan ??(bner gak ngmong’a)

    huaaa uriii ryujin knpa ??
    moga gak parah dan bisa diobati

  12. setelah dapet sms dari Fika eonni dan dengan keterbatasan sinyal, akhirnya bisa baca Egoistic juga!! \(^-^)/
    makin kesini makin complicated aja sepertinya. tapi udah mulai terkuak sedikit demi sedikit.
    Ryujin sakit apa?
    jadi engga sabar nunggu part selanjutnya….

  13. Hahaha iseng2 buka teukyo, eh egoistic publish.
    Ahh apa itu ryujin sakit? Hiyaaa jangan dong. Kasian dia dari awal dia kan yg uda menderita, masa iya sdkarang mau dikasih cobaan lg. Ah iya, jangana2 nanti pas eunkyo balik dia uah nerima surat cerai dari jungso. Jangan dongg. Jungso jgn nyerah gitu aja. Aku penasaran ama kelanjutannya ilwoo hyojin. Ihh kasian bgt hyojinnyaa. Tapi
    Sama kaya vika onnie, aku rada nga ngerti ama masa lalu ilwoo ma hojin. 2part lg ya? Aku tunggu ya. Semangt!

  14. Aduh eunkyo benar2 deh,membuat jungsoo prustasi,tp itu balasanya buat jungsoo..kekeke..aku juga sama ma fika eonn ga terlalu ngerti masalah ilwoo ma hyujin,tp cerita’a makin keren low bisa habis ini jangan pisah-pisahan lagi deh jungsoo ma kyoa’a kasihan ryujin..,dan ada apa denga uri ryu~jin aduh jangan sampai ga bisa mendengar donk..!oke di tunggu nex part’a….

  15. gak sabar part 9 nya, huaaaa tega bener eonni! kasian ryujin pliss jangan egois donk >,<
    tapi kok aku agak seneng aja maksudnya dengan ryu jin kek gitu mestinya dia sadar dengan sikapnya yang menyiksa ryujin -___- plisss eonni berubah lah
    terus oppa jangan setujui surat perceraian itu ya ya ya..
    eonni makasih ya udah sms ngasih kabar ada updatean baru :*

  16. Tragis banget masa lalu hyo jin………😦
    Bener2 ga nyangka ternyata krn itu dia benci laki2
    Uri ryu jin knp lagiiii………..
    Eun kyo tega sekali misahin anak ma appa nya

    Ngga sabar part berikutnya……..🙂

  17. benar2 seperti judulnya… Kyo egois, eomma, cepatlah sadar, demi kbaikan n kebahagiaan semuanya… n yg buat penasaran, apa yg buat Kyo bsikap egois (???)

    penasaran dgn kisah couple Hyo – Il..

    Ryu Jin~ah, cepet sembuh ya, ne… n teruslah merengek2 mminta appa, eh~
    biar eomma cepat sadar

  18. Ya Allah… masa lalu hyojin parah bgt yatuhan… serem.. semoga berending manis deh..
    kasian bgt ryujin.. semoga cepat sembuh yaaa u.u

  19. Ryu jin y ngak bisa denger,,,kasian n lagi eun kyo knp kabur lagi itu egois nama y padahal kan Ryu jin y seneng ketemu ma appa y lagi ya walaupun sikap y jungsoo agak nyebelin tetep ja salah bawa kabur ryu jin gotu aja n mana sakit y parah lagi….
    hyo jin ternyata teman kecil y il woo n ortu y sahabat deket,,,,serem bgt masa lalu y hyo jin menderita gitu mpe dikurung n makan apa ja yg ada ngeri ngebayanginy…
    Lanjut…..

  20. ya ampun tragis amat masa kecil hyojin, appa nya bener2 tega ama anak kandungnya sendiri…ckckck…

    ryujin kenapa lagi kok skrg g bisa mendengar…
    next part cptn publish ya tambah penasaran berat ama ni ff…

  21. kasian liat ryu jin, eun kyo eon knp tega misahin anak dengan appa’y lagi.
    Cepet sembuh ryu jin🙂
    Jung soo kelabakan di tinggal eun kyo lagi.. He
    Ternyata kisah hidup hyo jin sangat menyedihkan. Bikin mewek. masih penasaran sama hubungan mereka.
    Next part di tunggu🙂

  22. ok sip, emak ma bpaknya hyo jin ma ilwoo dlu berteman, trus emakX ilwoo yg tau bpakX hyojin bnuh istri dan nyekap anak ndiri mencoba nyelamatin hyo jin malah ‘dpakai’ kmudian dbnuh. krn wajah hyo jin yg slalu ngingetin msa lalu yg pdih itu, membuat bpakX ilwoo mati2an benci ma hyo jin. dan ilwoo yg g tau apa2 cman bsa berbuat sesuka hti. trus2, hyo jin bru ingat krn tekanan yg besar, kdang membuat otak menghapus memori terburuk dlam hdup. akkhh onnie u’r imagination D.A.E.B.A.K!!! boleh minta *puppy eyes

    so, how bot ryujin. how could you made him hurt that much?! even trasa agak maksa(taw feelingku yg terlalu peka yah). tpi lukanya ryujin btuh flashback taw stdakX alasan knapa bsa dmikian yah jebal… tpi bguslah blik ke seoul bsa ktemu jungsoo appa lagi *yippi

    ommona Q ternyata scerewet ini, maaf un klo Q agak bnyak bcot. soalX Q greget ma crita mereka saking sukaX *kiss bsah onnieX

  23. eun kyoo bali k korea segera
    Kasian ryu jin
    Jungsoo pasti bisa nolongg
    Dan smga jungsoo gk jdi cerai sm eun kyo

    Jd ilwoo sama hyo jin sahabt masa kecil
    Tp kayanya hyo jin gk ingt yaa
    Smga next part lebih banyak ilwoo hyo jin moment
    Dan siapa tw eun kyo hamil
    Hahaha

    • wah.. wah.. harapan yang pertama udah kejawab tuh di part 9 yang Eun-Kyo pulang ke korea. walaupun Jung Soo ga bisa nolong Eun-Kyo keke…

  24. Annyeong haseong…. Emmm…. Aq harus panggil apa ya? Eonn? Atau chin gu? Umur km brp????…. Arhhhhh….. Chosahamnidha krn aq jarang komen ti di FF km? Eo? Sebenrnya awal prtama baca part1 aq bingung banget, jd ng’ da niatan buat nglanjutin ke part brikutnya…. Tp menjelang bbrapa minggu ke di depannya pas aq baca eps 3 *klo ng’ salah igt*… Aq brubah fikiran. Tp saat itu dah da smpe 6 episod, jd aq memtuskan bwat baca ja dr eps 3 smpe 6… N gara2 itu aq ng’ sempet komen…. Dan… Jujur saja, aq suka ma FF km…. Hanya saja…. Sepertinya terlalu pendek bagiku…. Hehehe….mian mian, aq ng’ nuntut apa2 kok. Krn aq sadar diri sbg sireder selama ini. Maaf ya chin gu…, tp untk kdepannya aq ng’ akn jd siredar lagi. OK!!!! Tetap semangat ya nglanjutin FFnya…. Dan i hope happy ending…;)…

    • Annyeong ~
      umur aku 21 tahun, cukup tua kan. mending panggil nama aja deh. kalo part 1 emang ancur banget ngalor ngidul, itu mau dibawa kemana ga jelas. tapi atas kritik kalian dan vika eonnie akhirnya aku tahu dimana letak kesalahannya dan dimana harus diperbaiki. aku ga masalah tentang silent reader, toh terkadang aku juga jadi silent reader. sering malah. ga apa-apa jadi silent reader, mau baca aja aku udah makasi bgt. ^^

  25. Kyaaaaa…. ><
    Aku penasaran cerita selanjutnya eonn….
    Kasian RyuJin😥 semoga cepet sembuh ya Ryu….
    Semoga TeuKyo bisa balik lagi…🙂

    Di tunggu.. Sangat di tunggu part selanjutnya😀

  26. Ooouuw jd begitu crita soal keluarganya hyo jin ma il woo. Koq bpknya hyo jin jht bgt y,, sedih jdnya bca masa lalunya hyo jin. Ryu jin knapa jd begitu, kasian bgt sii.. Makanya eun kyo kurangilah kadar ke egoisanmu #apadeh.. D tunggu next partnya chingu,, udh mendekati part terakhir y?! D bikin happy end yua…

    • maslah hyojin ilwoo yang ga ngerti, aku juga yang nulisnya bingung apalagi kamu yang baca. ryujin itu sakit pasca kecelakaan. kayak trauma. nah dia traumanya di telinga, bukan di kepala. kayak gegar otak gitu.

  27. kasian banget ama Jungsoo oppa
    frustasi ditinggal ama Eunkyo T__T
    sabaar ya oppa, jangan cerai kasian Ryujin
    kasian ya HyoJin ternyata masa lalunya mrnyedihkan banget
    Eunkyo pulang dan baikan gih ma Jungsoo
    gak kasian ama Ryujin jadi tuli gtu😥
    moga Ryujin bisa denger lagi
    gomawo cinghu.. lanjutttttt😀

  28. cerita paling ditunggu tunggu..
    ayo kapan post lagi ??
    banyakin tentng hyojin-il woo ya thor..
    Suka banget sama mereka, ff ini bener benr aku tunggu banget next partnya..

    • heheuu aku sudah mulai sibuk sayang..
      part 10 udah aku kirim kok. proporsi sebanding kalo yang ini walaupun sepertinya ga jelas tetap masih mendominasi part 10 . makasi iya udah mau nunggu dan maaf nunggunya kelamaan bgt.

  29. Eunkyo sih pakai acara pergi2 ke italia , udah tau anaknya masih rindu sama appanya .
    Pakai dipisahin lg .
    Tp untung deh mereka bentar lg balik lg ke korea

  30. Part ini bikin nangis… ㅠㅠ
    Ga nyangka kko kisah hyo jin setragis itu…😦
    Trharu banget sm ll woo oppa wktu dy jagain hyo jin d rrmh sakit :’)
    Omoo,,Uri ryu jin knapa??? O.o

  31. oh jdi hyojin sma il wo itu temen msa kecil..
    tpi knpa kya’a hyojin gx inget sma sx..
    truss sbner’a siapa dalang d’balik kematian ayah hyojin..

    ryu jin sayang ko sakit lgi sich..
    baru ngerasain seneng eh ad musibah yg dteng..
    yg sabar y chagi..

  32. Apa salah ryujin autornim?? Dia sudah cukup menderita dengan keegoisan orangtua nya, dan sekarang?? Huaaaa :’)
    kalau hyojin dan ilwoo menikah, apa ortu ilwoo setuju,, masalalu hyojin kelam banget

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s