OCCLUMENCIA (Part 1)

Standar

kjjj

AUTHOR : MISS ELBY

Gadis itu mengetuk-ngetuk kaca mobil dengan tidak sabar. Matanya memandang keluar, kearah orang-orang yang berlalu lalang dengan payung warna-warni. Beberapa juga ada yang berlari-lari kecil dengan tangan melindungi kepala mereka dari rintik hujan.

“Kenapa lama sekali….” dia mengeluh. Kedua telapak tangannya kali ini di tempelkan di kaca mobil, menikmati dingin yang merayap pelan ke permukaan kulitnya.

Tuk.Tuk.Tuk.

Gadis itu terlonjak kaget mendapati ketukan pelan dari luar jendela. Mata bulatnya semakin membola. Sedetik kemudian senyum merekah sempurna di wajah mahadewinya. Sinkron dengan senyum yang juga merekah dari wajah yang berada di luar mobil. Senyum dengan lekukan kecil di kedua sudutnya.

“Hai..” ujarnya yang hanya terlihat sebagai gerakan bibir tanpa suara dari dalam mobil.

“Hai..” balas gadis itu. Sama. Hanya terlihat sebagai gerakan bibir tanpa suara bagi pria yang sedikit membungkuk di bawah payung putih di luar mobil.

Pria itu kemudian mendekatkan wajahnya ke kaca mobil. Meniupkan nafasnya di sana hingga menimbulkan tumpukan udara yang mengembun di kaca itu. Ia menggerakkan tangannya di sana, di atas tumpukan uap yang membekas di kaca jendela. Menuliskan dua patah kata yang membuat mata indah milik gadis di dalam mobil itu ikut mengembun. Haru menyeruak.

Marry me…

“Park Eun Kyo…will you marry me?” ulangnya. Meskipun suaranya tidak terdengar ke dalam mobil tempat Eun Kyo berada, tapi ia sangat yakin kalau gadis yang memiliki hatinya itu tau. Hatinya sudah melantunkan semua dengan sempurna. Untuk gadis itu. Park Eun Kyo. Hanya dia.

Eun Kyo mengangguk dengan mata yang menghasilkan kristal bening cair yang perlahan jatuh di pipinya.

“Saranghae Park Jungsoo…” bisiknya. Pria di luar tersenyum membaca gerakan bibir itu. Bahagianya membuncah hingga rasanya hati ikut mengembang.

“I love you more…” balasnya. Jung Soo mendekatkan wajahnya ke kaca mobil, memejamkan matanya dan menempelkan bibirnya ke kaca mobil. Begitu juga Eun Kyo. Mereka mengecup cinta hingga tidak peduli ada kaca yang membatasi. Mereka menyesap rasa. Ini bukan sentuhan biasa melainkan luapan rasa yang pekat hingga bisa menembus dimensi padat yang menghalangi. Ini cinta Jung Soo dan Eun Kyo.

~oOo~

“Kita benar-benar akan menikah?” Eun Kyo bertanya pelan. Tubuh ramping itu terbaring di atas sofa empuk di apartement miliknya. Kepalanya berada di pangkuan Jung Soo yang sedang duduk dan asyik mempermainkan rambut Eun Kyo dengan jemarinya.

Jung Soo mengangguk, “Tentu saja Eun Kyo~ya. Kita akan menikah, lalu punya anak, lalu punya cucu, cicit…”

Mata Eun Kyo melotot dan dengan cepat ia mengangkat tubuhnya untuk duduk, “Ya! Cucu? Cicit? Kenapa aku merasa langsung jadi tua seketika…” sungutnya sambil menepuk lengan Jung Soo. Jung Soo terkekeh.

“Kita akan menua bersama. Jangan khawatir,”

Eun Kyo tersipu. Meski terdengar gombal picisan tapi tetap saja wajahnya memeraha. Rona merah yang menjalar di pipinya menarik jemari Jung Soo untuk menyusuri kulit wajah gadis itu. Merengkuh wajah itu dan menariknya semakin mendakat. Jung Soo lagi-lagi tersenyum simpul. Seperti ada daya unik dari lekuk liku wajah Eun Kyo yang membuatnya selalu tersenyum meski hanya dengan memandang Eun Kyo. Gadis ini bukan penyihir, tapi aku merasa seperti disihir, batinnya. Tatapan Jung Soo terus terkunci pada wajah Eun Kyo. Sudah bertahun-tahun ia terbiasa melihat wajah ini dengan segala rupa ekspresinya. Selalu saja ada yang menarik tiap saat, entahlah, bahkan Jung Soo tidak pernah menemukan titik bosan untuk mengagumi segala yang ada pada sosok ini. Bahkan jika harus dengan mata terpejam pun, hatinya tetap akan menyerukan cinta dan kekaguman dalam bentuk pemujaan pada gadis ini. Semua yang ada padanya memikat Jung Soo. Tanpa terkecuali.

“Sedang bermesraan rupanya? Kenapa pintunya tidak di kunci saja?” suara celetukan bernada menggoda terdengar dari arah pintu apartement. Jung Soo dan Eun Kyo kontan menoleh. Seraut wajah dengan cengiran tidak berdosa menyembul dari pintu masuk.

Jung Soo melengos malas, “Lee Donghae, mau apa kemari?” katanya tidak rela. Donghae mengedikkan bahunya sambil bersandar di dinding.

“Mau menjemput atasanku, Park Jung Soo sajangnim. Hari ini ada jadwal peninjauan proyek di beberapa tempat. Tapi sepertinya atasanku sedang sangat sibuk bermesraan dengan calon istrinya. Ah, kalau begini penanam modal akan menarik kembali uang mereka, proyek bisa tertunda, kita bisa kehilangan kepercayaan dari pemilik saham, harga saham menukik, keuangan perusahaan akan morat-marit, terjadi fluktuasi dan… ”

“Jadwalnya lusa Donghae. Tidak usah menipuku. Tujuanmu kesini untuk mengganggu kan?” potong  Jung Soo cepat sebelum Donghae melanjutkan ocehannya tentang hal yang Jung Soo yakin Donghae tidak benar-benar memahami apa maksudnya. Sejak kapan lelaki itu memahami kosa kata seperti fluktuasi? Tidak meyakinkan. Tujuan Donghae memang hanya mengganggu. Itu pasti. Ia bersungut pada Donghae yang merupakan sahabat, rekan kerja di kantor, sekaligus hoobae-nya di kampus dulu.

Donghae mencibir, “Enak saja, aku kemari ingin menyampaikan berita dari calon pendamping pengantin pria. Katanya dia akan kembali dari Inggris lusa,” ujarnya ringan.

“Jinjjayo? Dia memberitahumu tapi tidak memberitahuku? Aishh, anak itu benar-benar…”

“Mungkin dia pikir aku lebih penting dari pada sunbae sepertimu hyung. Bagiamanapun dia kan teman seangkatanku,” Dongahe menyahuti. Ia melangkah mendekati sofa tempat Jung Soo dan Eun Kyo duduk, lalu mengambil tempat di hadapan mereka.

“Tapi dia teman dekatku. Meskipun lebih tua, tapi aku berjiwa muda,” tukas Jung Soo. Tangannya melempar sebuah apel yang dengan sigap di tangkap Donghae.

“Bukan kau yang berjiwa muda hyung, tapi dia yang bernaluri tua,”

“Yak! Lee Donghae…”

Sepertinya hanya Eun Kyo yang tidak paham disini. Ia bergantian membawa pandangannya dari Jung Soo kemudian ke Donghae, lalu kembali ke Jung soo lagi. sesuai siapa yang sedang bicara.

“Pendamping pria? Inggris?” kening Eun Kyo berkerut heran, “bukankah pendamping prianya Donghae?” tanyanya bingung pada Jung Soo. Lagi-lagi Donghae merengut.

“Park Jung Soo tidak mengizinkanku jadi pendamping pria! Dia lebih memilih laki-laki dari Inggris itu yang jadi bestman-nya! Aku cemburu Eun Kyo! Dia lebih memilih lelaki yang sudah 6 tahun di Inggris itu untuk jadi pendamping pengantin di bandingkan aku yang selalu di samping kaliaannn. Aish, jinjja!” lelaki itu bersungut-sungut kesal, “bahkan orang itu tidak tau hubungan kalian kan. Aish, jinjja!!”

Jung Soo menggaruk-garuk belakang kepalanya dengan wajah tidak berdosa, “Mau bagaimana lagi. kami sudah berjanji begitu dulu,” ujarnya. Ingatannya kembali melayang pada sosok sahabatnya yang sudah menghilang selama 6 tahun ini. Lelaki itu akan kembali setelah Jung Soo mengabarkan kalau ia akan menikah. Lelaki itu pasti akan terkejut setengah mati kalau dia tau yang akan di nikahi Jung Soo adalah Eun Kyo. Bukankah dulu lelaki itu pernah mengatakan kalau hanya lelaki bodoh yang akan memacari Eun Kyo? Sekarang Jung Soo akan menikahinya, bukan lagi memacari. Semoga saja lelaki itu tidak pingsan.

“Sebenarnya siapa yang kalian bicarakan? Kenapa hanya aku yang tidak paham, eoh?” Eun Kyo bertanya dengan wajah penasaran. Seingatnya teman terdekat Jung Soo sekaligus teman terdekatnya adalah Lee Donghae. Hey, tunggu dulu. Inggris?

“Apa mungkin ini…orang itu…”

“Tuan Muda Choi Siwon…” seru Jung Soo dan Donghae berbarengan.

~oOo~

Lelaki itu merentangkkan tangannya. Menghirup dalam-dalam udara Seoul. Memenuhi paru-parunya yang sudah 6 tahun terisi udara yang berbeda dengan tempat kelahirannya. Mengganti semua persediaan disana dengan oksigen dari tempat yang paling dia rindukan. Ia menghirup udara yang sama dengan yang di hirup gadis itu. Angin yang berhembus pelan menyapa tubuhnya juga sama dengan angin yang membelai tubuh gadis itu.

Welcome home…” desahnya seraya menyunggingkan senyum. Ia menyadari beberapa mata memperhatikannya. Mata beberapa wanita di bandara. Bukan salah mereka kalau pemandangan seindah ini jadi pusat perhatian. Lelaki ini bahkan terlihat lebih indah daripada patung David buatan seniman luar biasa zaman Reinasans, Michelangelo.

“Tuan Choi…” teguran dari seseorang berseragam hitam rapi membuatnya menoleh, “Biar saya bawakan barang-barang anda,”

“Tidak usah Ahjussi. Hanya sedikit. Biar aku saja yang bawa,” tolaknya masih dengan senyum yang belum hilang. Ia menarik sebuah travel bag dengan tangan kanannya. Aku kembali untuk menjemput seseorang dan membawanya pergi, masuk keduniaku. Park Eun Kyo, aku kembali…

~oOo~

“Donghae~ya…bisa bantu aku?” Jung Soo menyikut Donghae yang tengah sibuk dengan ponsel di tangannya.

“Aku sedang sibuk hyung,” tanpa mengangkat wajahnya dari layar ponsel lelaki itu menyahut. Jung Soo menepuk kepala lelaki itu dengan file yang sedang di bawanya.

“Sibuk kepalamu! Kau kan hanya menggombali para gadis malang itu. Sekarang cepat tolong aku, jemput Eun Kyo di kantornya dan antar dia ke café itu…yang di tepi jalan itu…La Carreta?”

“La Carre`tera. Aigo, bahasa Inggrismu perlu di perbaiki hyung,”

“Itu bukan bahasa Inggris. Tapi bahasa Prancis,” ralat Jung Soo.

Donghae mengerutkan keningnya, “Jinjja? Setauku itu bahasa Inggris,” ujarnya sangsi.

“Aniyoo. Babo. Itu bahasa Prancis,” tukas Jung Soo yakin.

“Itu bahasa Spanyol, Soo Oppa…” ralat seseorang yang baru saja memasuki ruangan kerja Donghae dengan senyum manis terukir di wajah anggunnya.

“Jinjja Ae Ra?” tanya Donghae memastikan, Ae Ra mengangguk yakin, “Kau dengar kan hyung? Itu bahasa Spanyol, bukan Prancis,” ledek Donghae. Jung Soo mendengus malas.

“Apa peduliku dengan bahasa-bahasa itu, eoh? Sekarang kau jemput Eun Kyo. Ppali,” paksa Jung Soo sembari mendorong pungggung Donghae. Lelaki iu bangkit dari duduknya dengan wajah bersungut-sungut.

“Arra…Arra…,” ujarnya malas. Tangannya meraih jas yang tersampir di pada sandaran sofa kerjanya dan meraih kunci mobil yang tergeletak diatas meja. “Lama-lama aku akan minta gaji sebagai supir saja. Dasar gila kerja. Urusan jemput menjemput wanitanya saja aku yang melakukan. Menikah saja dengan pekerjaan. Tidak usah dengan Eun Kyo. Biar Eun Kyo menikah denganku saja,” gumamnya pelan dengan langkah-langkah malas keluar dari ruangan.

Pluk.

Sebuah pena yang di lemparkan Jung Soo mendarat di punggung Donghae.

“Yak! Jangan macam-macam kau Lee Donghae,” omelnya pada sosok yang sudah menghilang keluar dari pintu setelah menggumamkan sumpah serapah.

Kim Ae Ra tersenyum kecil melihat perdebatan dua orang ini. Tapi dia cepat teringat pada pekerjaan yang harus dia urus dengan Jung Soo. Beberapa proyek memerlukan persetujuan dari lelaki ini. Ia menyodorkan beberapa map yang tadi dia bawa pada Jung Soo.

“Periksa penawaran ini Oppa,” katanya. Jung Soo menatap malas. Ah iya. Proyek besar ini yang membuatnya tidak bisa segera menjemput Eun Kyo dan menemui teman lamanya yang baru saja kembali. Ia membaca cepat-cepat berkas tersebut lalu membubuhkan tanda tangan pada berkas yang di setujuinya dan menambahkan coretan pada berkas yang tidak sesuai.

“Ra~ya, kau tau tidak, dia sudah pulang,” kata Jung Soo. Ia teringat kalau Ae Ra juga mengenal lelaki itu.

“Nugu?” tanya Ae Ra.

“Siwon. Dia baru saja tiba,” kata Jung Soo dengan mata yang masih saja terpaku pada deretan kalimat di kertas yang sedang ia pegang. Pekerjaan ini harus segera di selesaikan dan dia harus menyusul Eun Kyo. Ia terlalu berkonsentrasi hingga tidak menyadari ada perubahan dari raut wajah Ae Ra.

“Aku akan memberitahunya kabar pernikahanku dengan Eun Kyo nanti, sekaligus memintanya jadi bestman di pernikahanku,” Jung Soo masih terus berceloteh di sela kesibukannya. Ia tidak menyadari raut tegang di wajah Ae Ra.

.

Siwon memandang gadis di hadapannya. Wajah itu berbinar. Cantik. Ah, bukan. Dia menawan. Eun Kyo selalu menawan. Setiap kali melihatnya Siwon pasti akan mendapatkan pesona berbeda yang akan membelitnya. Kali ini wajah itu makin memikat, sekaligus mengikat hati. Sejak hari pertama bertemu di kampus, sosok ini sudah merebut seluruh tempat di hatinya. Bertahun-tahun berada di tempat yang jauh dari rupa ini tidak membuat Siwon begitu saja mengosongkan tempat milik gadis ini. Sampai saat ini masih dia, dan entah sampai kapan lagi, yang jelas dia sangat mengenali cintanya untuk Eun Kyo. Gadis itu sudah memberi cetak permanen atas kepemilikan hatinya.

“Apa makanannya sangat enak sampai senyummu tidak putus-putus Eun Kyo~ya…” ujarnya. Eun Kyo mengangkat wajahnya dan memandang Siwon dengan mata bulat indahnya. Wajah cantik itu tersipu, membuat darah Siwon berdesir cepat dan gerakan ribuan kupu-kupu memenuhi perutnya. Setelah bertahun-tahun pun desiran rasa itu masih sama.

 “Aniyo. Aku…mmh,” wajah Eun Kyo makin memerah, “Nanti saja tunggu Jung Soo oppa,” lanjutnya cepat. Dia tidak bisa menyampaikan kabar manis ini pada Siwon tanpa Jung Soo di sampingnya. Dia bingung harus memulai darimana. Siwon sudah tertinggal banyak episode dalam kisahnya dan Jung Soo. 6 tahun bukan waktu yang sebentar. Teman baiknya ini sudah melewati terlalu banyak cerita.

“Ah, Park Jung Soo itu. Apa pekerjaannya itu jauh lebih penting daripada kita? Sudah jam makan siang begini masih saja di kantor,” keluh Siwon. Dia sungguh ingin Jung Soo segera datang dan menjadi saksi saat dia melamar Eun Kyo. Tangan Siwon menyentuh kotak kecil dalam sakunya. Sudah bertahun dia menunggu untuk kembali betemu dengan Eun Kyo, untuk menyerahkan cincin ini dan meminta Eun Kyo untuk hidup bersamanya. Ia tidak pernah berpikir untuk meminta Eun Kyo jadi kekasihnya meskipun ia sudah memperhatikan Eun Kyo sejak lama. Sejak pertama kali gadis itu lewat di hadapannya di pelataran kampus. Siwon ingin melamar Eun Kyo tepat setelah Jung Soo menemukan pasangannya. Dia sudah menunggu 6 tahun untuk hal ini. Kabar kalau Jung Soo segera menikah, membuatnya makin memantapkan hati untuk melamar Eun Kyo.

“Kau benar. Selalu saja mementingkan pekerjaan. Bahkan lebih daripada dirinya sendiri. Mana ada wanita yang mau jadi istrinya kalau resikonya adalah di abaikan,” Eun Kyo menggerutu panjang pendek dengan sedotan minuman di bibirnya, “bahkan untuk mengantarku kemari saja dia menyuruh Donghae. Keterlaluan,”

Siwon tersenyum simpul mendengar rutukan dari bibir Eun Kyo.

“Memangnya kau tidak mau?” goda Siwon. Eun Kyo tersedak. Lagi-lagi wajahnya memerah. Dia baru akan menyahut ketika ponsel Siwon berbunyi nyaring. Mata Eun Kyo memberi isyarat untuk menanyakan siapa penelpon itu.

“Jung Soo hyung,” ujar Siwon menjawab isyarat pertanyaan Eun Kyo, “Yoboseyo,”katanya setelah mengangkat telepon.

“Siwon~a, Eun Kyo bersamamu? Dia tidak bawa ponsel ya? Kalian di mana? Aku sudah di seberang café. Aku tidak melihat kalian. Di sebelah mananya kalian duduk?” rentetan pertanyaan dari Jung Soo yang di dengarnya di speaker ponsel membuat Siwon memutar matanya dengan gemas.

“Tidak bisa satu-satu hyung?” keluhnya. Terdengar kekehan Jung Soo.

“Nde..di sebelah mananya? Aku bingung mencari begini. Bagaimana kalau kau menjemputku saja? Aku di dekat mobilku di bawah pohon maple di seberang café,” pintanya. Masih dengan rentetan kalimat tanpa jeda.

“Ya sudah. Tunggu disana. Aku dan Eun Kyo akan menjemputmu,” ujar Siwon sambil menutup telepon.

.

Jung Soo bersandar pada mobilnya. Tangannya menyelipkan ponsel ke dalam saku celana. Tidak lama kemudian dia melihat Siwon dan Eun Kyo melambai padanya dari seberang jalan.

Jung Soo melangkah pelan menyebrangi jalan untuk menyusul mereka. Wajah sumringahnya tertuju pada kedua orang di seberang jalan itu. Tidak sabar rasanya ingin menyampaikan kabar gembira pada Siwon. Entah bagaimana reaksi sahabatnya itu nanti. Siwon selalu memintanya untuk menunjukkan siapa gadisnya terlebih dahulu, baru akan memberitahunya siapa gadis yang sejak dulu selalu Siwon bicarakan. Gadis yang akan langsung di lamar Siwon.

Tiba-tiba Jung Soo merasakan getaran dari saku celananya. Arrgh, pasti kantor lagi, batinnya sambil merogoh saku celana tanpa ingat kalau sekarang dia sedang berdiri di tengah jalan.

Siwon berdecak kesal melihat Jung Soo yang tiba-tiba berhenti melangkah. Sedetik kemudian ia terkesiap. Matanya menangkap bayangan mobil yang melaju dengan cepat. Tanpa di komando, tubuhnya reflek berlari menyongsong sahabatnya yang masih belum sadar apa yang terjadi.

“Jung Soo hyung!!”

“Siwon!!”

Semua terjadi sangat cepat. Terlalu cepat. Bunyi hantaman. Suara decitan rem. Teriakan keras. Jeritan nyaring. Terjadi dalam waktu sepersekian detik hingga Eun Kyo bahkan tidak punya kesempatan untuk menganalisa apa yang menjadi apa. Apa yang terkena apa. Siapa yang bagaimana. Eun Kyo hanya bisa mematung melihat pemandangan di hadapannya. Ia masih berdiri kaku ketika beberapa orang sudah mulai mengerubungi dua sosok yang di kenalnya. Dia bisa menangkap warna merah disana. Entah milik siapa. Jung Soo? Siwon? Jangan dua-duanya. Jangan mereka berdua, kalut menyesaki dadanya.

.

Jung Soo menyandarkan tubuhnya di dinding, di salah satu koridor rumah sakit. Bau obat menyakiti rongga pernafasannya. Dadanya bergerak naik turun seirama dengan nafasnya yang masih belum juga teratur. Kemeja putih yang di kenakannya berbekas noda darah di beberapa bagian. Merah, kontras dengan warna putih itu. Bau amis masih tercium dari bercak noda itu meski samar.

Matanya terpejam. Kepalanya terus memutar kejadian tadi meskipun tidak ada yang menekan tombol replay. Bergerak begitu saja. Kilasan kata-kata dan tatapan Siwon tadi, saat terbaring di jalanan.

“Jung Soo hyung, kalau… a- aku ti-tidak ter-bangun la-gi, t-tolong… katakan… p-pada Eun Kyo ka-lau…a-aku mencintainya. Ta-tapi k-kalau a-aku m-masih hid-up, t-tolong j-jag-a d-dia u-untuk-ku. S-sampai a-aku b-bang-un..berjanjilah…”

Jung Soo menekan dadanya kuat-kuat. Kata-kata Siwon tadi menempatkannya dalam dilema terbesar sepanjang umurnya. Bibirnya mengucapkan janji pada Siwon. Dia terjepit. Siwon, sahabatnya mencintai Eun Kyo. Eun Kyo mereka. Eun Kyo-nya. Itu saja sudah cukup buruk. Di tambah lagi, Siwon nyaris kehilangan nyawanya. Siwon menggadaikan nyawanya untuk menjaga nyawa Jung Soo. Kali ini Siwon meminta sesuatu. Meminta nyawanya lagi. Eun Kyo nyawanya. Nyawa Jung Soo. Takdir macam apa ini, batin Jung Soo sesak.

“Minum?”

Teguran itu membuat kepala Jung Soo tertoleh. Eun Kyo. Dia menyodorkan sebotol air mineral pada Jung Soo. Jung Soo menggeleng lemas. Matanya tertuju pada gadis itu. Sejak tadi Eun Kyo tidak menangis. Tapi justru itu membuat Jung Soo makin khawatir. Wajah Eun Kyo masih terlalu kaku.

Jung Soo menyentuh pipi Eun Kyo perlahan. Dingin. “Eun Kyo~ya..” bisiknya. Detik itu juga, wajah tegang Eun Kyo berganti jadi wajah paling rapuh yang pernah di lihat Jung Soo. Air mata satu-satu menetes dan dalam hitungan detik menganak sungai di pipinya yang memucat.

Jung Soo menarik tubuh itu dalam dekapannya, “Gwenchanayo… Siwon baik-baik saja. Dia baik-baik saja,” bisiknya menenangkan. Ia merasakan gadis itu menggeleng.

“Mianhae..maafkan aku..aku egois,” isaknya di dada Jung Soo. Tidak peduli masih ada noda darah nan amis di sana. Dia bisa merasakan aroma Jung Soo dengan sempurna meski tersuruk di antara aroma lain sekalipun.

Jung Soo membelai pelan rambut Eun Kyo yang kusut, “Tidak, kau tidak egois…Tidak apa-apa.. Siwon baik-baik saja…”

“Aku egois! Aku tidak memikirkan keadaaan Siwon sejak tadi. Di kepalaku hanya ada kau. Aku takut terjadi sesuatu padamu. Sangat takut sampai-sampai aku melupakan kondisi Siwon. Aku egois Oppa. Padahal dia yang menolongmu, eoh…” ujarnya diantara isakan.

Jung Soo mengeratkan dekapannya saat mendengar rentetan pengakuan dari Eun Kyo. Hatinya didera dua rasa yang berbeda. Senang dan sesak.

“Bahkan hati kecilku ikut bersyukur saat tau bukan kau yang terluka. Aku ini jahat sekali Oppa. Bagaimana bisa aku tidak memikirkan Siwon … Tapi aku sungguh sangat takut terjadi sesuatu padamu. Oppa…jangan membuatku takut lagi…”

Jung Soo merasakan rasa bersalah mengendap di dadanya. Rasa bersalah yang berbeda. Untuk Eun Kyo. Juga untuk Siwon. Kali ini mungkin dia akan mengabaikan janji pada Siwon. Atau mungkin menghempaskan janji pada Eun Kyo?

“Kau tidak akan kehilangan aku Eun Kyo…” bisiknya. Isak Eun Kyo mereda.

“Kita akan segera menikah kan? Segera menikah agar kau tidak pergi dariku Oppa, ne…”

Tatapan penuh harap di mata Eun Kyo menjatuhkannya ke dalam jurang dalam. Terjebak antara janji yang sama dahsyat daya ikatnya. Untuk memenuhi satu janji dia harus mematahkan sebuah janji. Ini tidak mudah.

“Jung Soo oppa…Aku tidak mau kehilanganmu. Kita menikah kan? Kita percepat saja, eum?” mata Eun Kyo yang basah kembali berkabut. Lengannya mencengkram erat kedua belah lengan Jung Soo, yang meski terbalut kemeja, tetap bisa merasakan betapa dinginnya telapak tangan gadis ini. Hati Jung Soo menggeliat ngilu melihat sorot mata penuh rasa takut dan wajah putus asa milik Eun Kyo.

Menyiksa. Ini sungguh menyiksa hatinya hingga tembus ke raganya. Menyakiti tiap sendi tubuhnya. Matanya berembun, hingga tanpa bisa di cegah, bibirnya menggumam kata yang menghancurkan satu janji.

“Hm..”

Hanya gumaman yang mampu meluncur dari pita suaranya, bibirnya terkatup. Siwon, mian. Mian. Satu janji ku patahkan dengan sempurna. Siwon. Mianhae.

~oOo~

Kau bisa mendengarku? Aku mencintainya. Aku tidak bisa melihatnya ketakutan begitu. Tolong, maafkan aku. Kumohon. Aku menikahinya. Sesuai janjiku padanya. Aku tidak mau dia takut kehilanganku, Tolong berhenti menyiksaku dengan rasa bersalah begini Siwon~a. Bangunlah. Aku lebih suka kau bangun dan memukulku karena sudah merebutnya. Kau boleh memusuhiku, asal kau bangun, kau boleh membenciku sedalam-dalamnya. Kalau aku masih tertidur begini, aku tidak tau apa aku cukup kuat untuk bertahan membahagiakan dia. bagaimana aku bisa menjaganya kalau setiap saat aku di siksa rasa bersalah padamu?

~oOo~

Jung Soo memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menahan gejolak untuk tidak berlari dari tempat ini. Wajah Siwon yang terbaring pucat membuatnya tidak berdaya. Menggoyahkan keyakinannya untuk mematahkan satu janji. Bagaimana bisa dia menikah sedangkan sahabatnya tengah terbaring koma? Bagimana dia bisa melanjutkan semua ini sedangkan Siwon, yang membuatnya masih tetap berdiri di tempat ini, sedang terkapar koma di rumah sakit? Bagaimana pernikahan ini terus berlanjut jika mempelai wanitanya adalah gadis yang sama dengan yang inginkan Siwon? Ya Tuhan… Bahkan alunan musik pernikahan itu terasa bagai musik pemakamam di telinga Jung Soo.

“Hyung, kau mencintainya?” suara Donghae berbisik di sebelah Jung Soo.

“Iya,” jawaban singkat yang mampu keluar dari bibir Jung Soo.

“Kalau begitu berhentilah memasang wajah seperti narapidana yang akan di hukum mati. Kalau kau merasa keberatan dengan pernikahan ini, sebaiknya kita hentikan. Aku akan membawa Eun Kyo pergi dari sini,” bisikan tajam itu kembali menusuk telinga Jung Soo. Dia mendesah pelan tanpa menoleh pada lelaki yang berdiri di sebelahnya, tempat yang seharusnya di isi Siwon.

“Kau tidak tau masalahnya Donghae~ya,”

“Aku memang tidak tau hyung. Tapi kalau kau berniat menyakiti Eun Kyo, aku tidak akan memaafkanmu. Siwon juga pasti tidak akan membiarkanmu meneruskan pernikahan ini kalau kau memasang wajah ragu begitu,”

Jung Soo mengerang. Lalu apakah Siwon akan memaafkannya jika pernikahan ini di lanjutkan? Jung Soo menghela nafasnya sekali lagi. Ia memandang satu persatu wajah orang-orang terdekatnya yang berada di tempat ini. Orang tuanya, orang tua Eun Kyo, beberapa teman dekat, dan berakhir di wajah cantik yang sedang melangkah pelan ke arahnya. Park Eun Kyo. Berapa hati yang akan di kecewakannya jika sekarang ia kabur dari tempat ini?

Jung Soo tidak tau, apakah ini setan atau malaikat yang tengah membisikkan kata kalau Eun Kyo miliknya. Abaikan saja. Lupakan Siwon. Abaikan saja.

~oOo~

Jam kayu yang berdiri di sudut ruangan berdentang sebelas kali tepat saat langkah Jung Soo memasuki ruang tamu apartement. Langkah kaki itu terhenti di samping sofa, tempat sesosok tubuh berbalut kemeja kerja berwarna putih sedang terbaring bersandar pada pinggiran sofa.

Jung Soo menyunggingkan seulas senyum. Matanya menyorotkan rasa lelah dan rindu bersamaan. Sosok itu, hanya Jung Soo yang tau betapa inginnya dia menarik dan mendekapnya erat. Tapi setiap kali menyentuh Eun Kyo, selalu saja ia didera perasaan bersalah yang menghantam setiap bagian tubuhnya seperti hantaman palu godam yang tak kasat mata. Kilasan dan bayangan tubuh yang terkapar tidak berdaya di rumah sakit itu seakan memberi tatapan menyakitkan yang bisa menusuk setiap porinya. Ngilu tak terperi. Ia sekan berdiri di garis tipis yang membutuhkan keseimbangan luar biasa agar tidak terjatuh pada dua kubangan di kedua belah sisinya. Meskipun salah satu sudut hatinya berkeras untuk jatuh ke kubangan dan berlumpur, namun otaknya tetap memaksa agar dia terus fokus berada di lintasan. Memberikan tanda kepemilikan yang berlebihan atas Eun Kyo hanya akan menyiksa semua orang nantinya.

Jung soo memijit keningnya perlahan. Ia tau kenapa Eun Kyo tertidur disini. Menunggunya tentu saja. Entah sudah berapa kali kali dia memimpikan istri yang akan menungguinya pulang kerja. Tapi saat ini terjadi kondisinya malah sangat jauh berbeda.

Jung Soo dengan cepat mengalihkan pandangannya dan menjauhkan tubuh dari tempat dia berdiri ketika melihat kelopak mata Eun Kyo bergerak pelan. Mata itu perlahan membuka ketika Jung Soo sudah berdiri beberapa langkah lebih jauh dari tempatnya tadi.

“Sudah pulang oppa?” tanya Eun Kyo sambil mengangkat tubuhnya dari sofa. Dia mengucek matanya beberapa kali.

“Hm, baru pulang. Sudah makan?” tanya Jung Soo. Eun Kyo menggeleng dan tersenyum manis.

“Belum oppa. Aku menunggumu. Kajja kita makan. Sepulang dari kantor tadi aku memasak untuk makan malam ini,” kata Eun Kyo sambil berdiri dan menggandeng lengan Jung Soo, menarik lengannya kearah ruang makan.

Tapi Jung Soo menepis pegangan Eun Kyo dengan halus. Dia tersenyum kecil.

“Aku sudah makan dengan klien Eun Kyo~ya. Sudah kenyang. Kau makan sendiri saja ya…” katanya pelan.

“Tapi tadi eommonim mengirimkan sup rumput laut untukku oppa. Aku mau…”

“Kyo~ya…aku benar-benar letih dan mengantuk. Tidak apa-apa ya aku tidur lebih dulu,”

Jung Soo mengecup sekilas kening Eun Kyo dan berbalik memasuki kamarnya tanpa mempedulikan raut wajah Eun Kyo mengeruh. Jung Soo tidak sempat melihat air mata yang menggenangi mata Eun Kyo jatuh satu persatu tanpa suara. Eun Kyo menggigit bagin dalam pipinya untuk menyalurkan pedih yang merayap pelan. Dia tidak diacuhkan. Di abaikan begitu saja.

‘Hari ini aku ulang tahun oppa. Kau lupa? Kau tidak mengingatnya? Waeyo?’

Eun Kyo melirik sekilas meja makan. Ia sudah mempersiapkan semuanya sejak tadi. Makanan kesukaan Jung Soo, makanan kesukaan mereka berdua, semua sudah tersaji di tas meja sejak tadi. Eun Kyo melangkah pelan ke ruang makan itu. Ia mendaratkan tubuhnya di salah satu kursi.

Eun Kyo menghapus air matanya dengan punggung tangan sebelum meraih tart dengan krim putih yang membungkusnya. Sebuah lilin terpasang disana. Tidak menyala. Dan Eun Kyo sama sekali tidak berniat untuk menyalakan api di lilin itu. Semangatnya sudah terlanjur padam.

“Saengil chukkae, Park Eun Kyo,” ujarnya serak. Ia meniup lilin tanpa api itu. Tidak ada api yang padam. Karena memang tidak ada api sejak awal. Air mata lagi-lagi mendesak di kedua bola matanya. Sinkron dengan rasa sakit yang menyesaki dadanya. Penuh. Terasa ada batu yang menghimpit hingga untuk bernafas pun rasanya sulit. Kepala Eun Kyo jatuh tertunduk ke permukaan meja. Ia menangis. Ia terisak. Ia ingin mengutuki lelaki itu yang menghancurkan hatinya hingga nyaris tidak berbentuk. Ingin menukar semua rasanya dengan benci tidak berujung. Tapi tidak bisa. Eun Kyo hanya merutuki dirinya sendiri yang terlalu mencintai orang itu. Orang yang bahkan tidak peduli dengan hari ulang tahunnya. Bagaimana bisa orang yang biasanya menyempatkan diri memberikan kejutan untuk ulang tahunnya sekarang hanya beranjak begitu saja tanpa mengucapkan sepatah ucapan ulang tahun sekalipun? Apakah menikah dan komitmen begitu menakutkan untuknya? Tangis Eun Kyo pecah lagi. Ia menangis sendiri.

Jung Soo tidak melihat Eun Kyo yang menangis disana. Lelaki itu sedang meringkuk sendirian di kamar. Bergelut di dalam selimut diatas ranjang putihnya. Ia memejamkan matanya untuk menghentikan buliran air mata yang mendesak keluar.

“Saengil chukkae, Eun Kyo… Mianhae…Saranghaeyo…”

Tentu saja dia ingat hari ini ulang tahun Eun Kyo. Tentu saja dia tau kalau sekarang Eun Kyo sedang menangis karenanya. Tapi dia tidak bisa melakukan apapun. Melakukan hal yang membuat Eun Kyo makin tidak bisa lepas darinya hanya akan menyakiti semua pihak.

Jung Soo menekan dadanya yang sesak. Ia menangis dalam diam. Eun Kyo menangis terisak. Mereka menangis sendiri-sendiri.

~oOo~

“Dia baik-baik saja? Apa di kantor ada masalah? Atau apapun? Kau bisa beritahu aku Donghae?” desak Eun Kyo. Lelaki di hadapannya menyipitkan mata dengan wajah penuh tanda tanya.

“Sebenarnya ada apa? Kau dan Jung Soo hyung bertengkar?” Donghae balik bertanya. Bertengkar? Eun Kyo menggelengkan kepalanya pelan. Sama sekali tidak bertengkar. Tapi apa yang terjadi antara dia dan Jung Soo sekarang ini bukankah jauh lebih buruk dari sekedar bertengkar?

“Kau tidak bahagia?”

Eun Kyo terdiam mendengar pertanyaan dari Donghae. Bahagia? Aduh. Hanya itu yang bisa hatinya keluhkan. Yang ia takuti sekarang bukanlah dia bahagia atau tidak, melainkan Jung Soo bahagia atau tidak. Bukankah Eun Kyo yang mendesak agar pernikahan ini di percepat beberapa bulan dari rencana? Apa Jung Soo tertekan karena hal itu hingga ia jadi begini?

“Donghae~ya, apa aku egois karena meminta untuk menikah padahal Siwon masih dalam keadaan koma sekarang?” tanya Eun Kyo. Tangannya mengaduk-aduk juice sementara matanya mentapa meja kayu di restoran tempatnya makan siang bersama Donghae. Bayangan Siwon yang terbaring dengan tubuh di pasangi alat bantu pernafasan, alat bantu detak jantung, dan segala macam alat yang membantunya agar tetap hidup.

“Entahlah. Tapi sekarang atau besok, atau kapanpun, kau dan Jung Soo hyung tetap akan menikah kan? Jadi yah, kurasa mungkin Jung Soo hyung masih tertekan karena keadaan Siwon,” Donghae menyahuti.

Eun Kyo menunduk makin dalam, “Tertekan hingga memperlakukanku dengan sangat berbeda dari sebelumnya?” dia bergumam pelan.

“Nde?” Donghae bertanya heran.

“Aniyo,” Eun Kyo memaksakan mengukir seulas senyum di wajahnya, “Temani aku menjenguk Siwon. Kau bisa kan?” ajaknya pada Donghae. Lelaki itu mengangguk setuju.

“Eun Kyo~ya…kalau kau tidak bahagia bersama Jung Soo hyung, lebih baik kau bersamaku saja,” celetuk Donghae yang berhasil membuat Eun Kyo melemparkan tatapan membunuh pada lelaki itu.

“Berhentilah bersikap cassanova dan melamar setiap wanita Donghae. Kau menyebalkan,” rutuknya. Lelaki itu menyeringai geli.

“Anggap saja aku sedang menghibur istri yang sedang putus asa karena suaminya,” sahut Donghae ringan. Eun Kyo tersenyum masam.

“Eun Kyo… Jung Soo hyung mencintaimu. Sangat,”

~oOo~

Eun Kyo menatap foto pernikahan di samping tempat tidurnya. Sudah 2 minggu dia resmi menjadi istri dari Park Jung Soo. Pernikahan sederhana. Sedikit berbeda dari rencana awal mereka memang. Bagaimana mungkin mengadakan resepsi sempurna jika di rumah sakit ada satu nyawa yang terpasung demi menyelamatkan nyawa mempelai pria. Yunho terbaring koma setelah mendorong tubuh Jung Soo sebelum badan mobil sempat menghantam sahabatnya itu.

Eun Kyo mendesah pelan. Pikirannya di gelantungi rasa kecewa dan kalut. Sungguh, bukan karena resepsi yang tidak terlaksana. Bukan resepsi yang jadi tujuan utamanya. Menjadi istri Park Jung Soo sudah jauh lebih membahagiakan daripada apapun. Tapi ini lain. Jung Soo bersikap lain dan itu menyesakkan. Eun Kyo seakan tidak mengenalnya. Tidak ada godaan jahil dari mulut Jung Soo, tidak ada perhatian kecil yang kadang tidak penting, tidak ada sentuhan menuntut lagi, semua sentuhan Jung Soo mengandung ragu. Keraguan yang sangat pekat hingga Eun Kyo bisa merasakan rasa ragu di setiap indranya.

“Kenapa kita jadi aneh begini Park Jung Soo…?” bisiknya pada bingkai foto itu. Matanya menggulirkan setetes kristal cair tanpa suara.

Cklek.

Eun Kyo cepat menghapus air matanya ketika mendengar kunci pintu kamarnya  -kamar dia dan Jung Soo-  membuka. Eun Kyo membenamkan tubuhnya dalam gulungan selimut. Memejamkan matanya. Berpura telah terlelap.

Jung Soo melangkah nyaris tanpa suara. Mendekat ke tepi tempat tidur mereka. Di letakkannya jas begitu saja di lantai lalu duduk di tepi ranjang menghadap kearah Eun Kyo. Dia baru saja pulang dari kantor. Mengabdikan diri secara utuh pada pekerjaan dan menelantarkan seseorang yang menunggunya setiap malam di rumah. Jung Soo tau itu. Tapi dia bersikap seakan tidak tau. Tidak terjadi apa-apa. Selalu begitu selama 2 minggu ini.

Jung Soo memandangi wajah itu lama. Dia mengingat-ingat sudah berapa lama ia begitu menginginkan wanita ini. Betapa dia mengerahkan semua daya untuk menahan gejolak yang selalu meledak saat menyentuh sedikit saja hangat kulit Eun Kyo. Sekarang wanita itu miliknya. Setiap malam tidur di sampingnya dan saat dia terjaga, wajah Eun Kyo lah yang pertama di lihatnya. Tapi hatinya ngilu. Setiap bersama Eun Kyo, saat itu jugalah janji pada Siwon terngiang di telinganya. Janji itu sudah dia patahkan dengan menikahi Eun Kyo.

Rasa bersalah mengelayut kuat di benaknya. Jika bukan karena Siwon, mungkin saat ini dia tidak bisa terjaga dengan Eun Kyo di sampingnya. Jika bukan karena Siwon, dia mungkin tidak akan bisa menyatakan kalau Eun Kyo adalah istrinya. Istri yang bahkan tidak pernah di sentuh layaknya sepasang suami istri. Bagaimana bisa dia menyentuh Eun Kyo sedangkan orang yang membuatnya bisa tetap berada di dunia sedang terbaring koma? Bagaimana bisa di menyentuh Eun Kyo jika penyelamat nyawanya juga menginginkan Eun Kyo? Ini dilema terberat. Bahkan Jung Soo terpikir, apa lebih baik Siwon tidak menyelamatkan nyawanya saja saat itu hingga dia tidak perlu menghadapi hal ini?

Desah nafas berat meluncur dari sela bibirnya. Wajah lelahnya selaras dengan lelah hati. Dan mungkin lebih. Ia berdiri lalu mengecup pelan kening Eun Kyo sebelum beranjak keluar kamar. Jung Soo bahkan tidak tau kalau ada bulir-bulir bening yang jatuh di sudut mata Eun Kyo saat tubuh pria itu menghilang di balik pintu.

Kenapa jadi begini Jung Soo~ya? Kau kemanakan Jung Soo-ku?’ batinnya pedih. 

~oOo~

Eun Kyo menarik keluar pakaian yang ada di dalam lemari di apartement milik Jung Soo tempat mereka tinggal hampir sebulan ini. Tangannya dengan cepat memasukkan pakaian-pakaian miliknya ke dalam travel bag berukuran besar. Masuk begitu saja tanpa disusun.

Emosi menjadi ratu di pikirannya. Satu bulan! Jung Soo mengacuhkannya selama itu. Mungkin tidak benar-benar mengacuhkan. Jung Soo masih bicara padanya, terkadang mengecup keningnya, masih tersenyum seperti biasa. Tapi bukan begitu yang Eun Kyo bayangkan dalam pikirannya. Eun Kyo menginginkan pernikahan seperti cerita-cerita yang mengalir dari angan Jung Soo dulu. Kisah pernikahan yang jauh lebih indah dari happily ever after milik Cinderella. Tapi nihil!

Jung Soo sibuk. Terlalu menyibukkan diri hingga waktu untuk bertemu terkikis. Suaminya itu seakan menghindari bertemu dengannya. Hati Eun Kyo sakit. Apa Jung Soo menyesal sudah menikah dan terikat padanya? Jangan salahkan Eun Kyo jika mulai meragu. Bahkan Jung Soo sama sekali tidak menyentuhnya dengan sentuhan yang biasa bagi suami istri.

“Eun Kyo?” Jung Soo berseru tertahan ketika memasuki kamar mereka. Pakaian kerja masih melekat di tubuhnya. Eun Kyo sama sekali tidak menoleh mendengar teguran itu. Untuk apa? Apa semua akan membaik kalau dia tetap bertahan di samping orang yang bahkan tidak menyadari dia ada? Kalau sejak awal mengenalnya Jung Soo bersikap seperti ini, mungkin hatinya bisa tahan. Tapi Jung Soo berubah. Bukan Jung Soo yang dia kenal dulu. Bahkan mungkin bukan Jung Soo yang mencintainya dulu.

“Eun Kyo~ya..apa yang kau lakukan?” Jung Soo menyentuh pelan lengan Eun Kyo.

Eun Kyo menepis dengan kasar, “Aku mau kembali ke apartement-ku saja. Tidak ada yang menunggui tempat itu,” sahut Eun Kyo dingin. Dia menyembunyikan tangis. Sudah banyak air mata yang di alirkannya setiap malam. Saat Jung Soo pulang tengah malam, lalu pergi lagi pagi-pagi.

“Mwoya?” Jung Soo menahan tubuh Eun Kyo dan membaliknya agar mereka berhadapan. Ia menatap lurus-lurus pemilik wajah yang dia cintai.

“Waeyo Eun Kyo~ya? Any problem?” ucapnya pelan tanpa melepaskan pandangan pada Eun Kyo. Eun Kyo menantang tatapan Jung Soo. Bibirnya menyunggingkan senyum sinis yang sarat luka dan mampu membuat hati Jung Soo mencelos.

“Tidak. Tidak ada masalah apapun. Hebat sekali kan? Saat banyak pasangan suami istri bertengkar, kita bahkan tidak mengeluarkan terlalu banyak kata-kata satu sama lain. Kita tidak bertengkar sama sekali Jung Soo. Bukankah pernikahan kita hebat sekali? Pasti suami istri lain akan iri,” tembakan Eun Kyo tepat mengenai jantung Jung Soo. Betapa dia telah bersikap seenaknya dengan mengabaikan istrinya hingga Eun Kyo bisa mengatakan hal yang menunjukkan rasa penatnya, rasa sakitnya karena Jung Soo. Wajah itu menyiratkan rasa putus asa yang amat sangat. Jung Soo paham. Kalau Eun Kyo tidak putus asa itu justru lebih aneh.

“Eun Kyo~ya…”

Mata Eun Kyo memerah sebelum kemudian basah, “Kita kenapa Parj Jung Soo? Kenapa jadi begini? Apa kau menyesal menikah denganku?” ujarnya dengan suara bergetar menahan isak. Jung Soo tersentak. Seakan kesadaran baru menghampirinya. Apa yang di lakukannya hampir sebulan ini telah membuat Eun Kyo menarik kesimpulan seperti itu.

Jung Soo mengerang pedih, “Tidak sedikitpun Eun Kyo~ya. Tolong jangan menuduhku menyesal. Dan tolong…tolong jangan menyesal menikah denganku. Kumohon Eun Kyo,” mata Jung Soo ikut memerah.

Eun Kyo meledakkan emosi di wajahnya, “Lalu kenapa kita jadi begini? Kau seperti menghindariku Park Jung Soo. Kemana Jung Soo-ku? Ada apa dengan Jung Soo-ku? Aku seperti tidak mengenalmu. Aku seperti tersisih. Aku ini apa Oppa? Aku…”

Ucapan Eun Kyo terpotong saat tangan Jung Soo sudah menarik tubuhnya ke dalam dekapan. Memeluknya erat. Seakan berbagi rasa sakit dan penat.

“Mianhae..Mianhae..Mianhae…” ucap Jung Soo dengan suara bergetar menahan sakit. Jantungnnya menggeliat ngilu. Permintaan maaf itu justru semakin membuat Eun Kyo terisak di dada Jung Soo. Ia sudah letih. teramat letih harus berpura baik-baik saja padahal sama sekali tidak. Hatinya ngilu, nyaris kebas.

“Aku sakit oppa…sakit sekali…sungguh sakit sekali,”

Air mata Jung Soo ikut menetes ke bahu Eun Kyo. Seberapa dalam dia melukai hati wanitanya ini? Menyibukkan diri di kantor untuk menghindari rasa bersalah pada Siwon setiap kali melihat wajah Eun Kyo. Tapi itu justru melukai satu hati lagi. Hati Eun Kyo-nya. Hanya untuk berusha menjaga janji, dia malah mengahancurkan semua janji yang sudah dia buat.

“Tolong jangan meninggalkanku Park Eun Kyo. Jangan pergi. Kumohon,” bisiknya seraya mengeratkan pelukan di tubuh Eun Kyo. Betapa dia sudah sangat bodoh jika nafasnya ini pergi. Sama saja dengan mati nantinya. Rasa bersalahnya hanya menyiksa Eun Kyo yang bahkan tidak tau apa-apa tentang hal ini. Bukan Eun Kyo yang egois, tapi dia. Jung Soo meninggikan rasa bersalah yang justru jadi pisau yang menyayat Eun Kyo semakin dalam setiap harinya.

Cukup sudah. Dia tidak boleh menoreh luka lagi. Rasa sakit Eun Kyo memberikan sakit yang serupa di dadanya.

Perlahan Jung Soo mendorong tubuh Eun Kyo lepas dari pelukannya untuk memandang wajah wanitanya itu. Wajah Eun Kyo yang basah dengan air mata menarik Jung Soo untuk memberikan sebentuk kecupan di mata sembab Eun Kyo. Menyusul kecupan-kecupan lain di setiap inchi kulit wajahnya. Berlama-lama di bibir, menggoda, menuntut dengan manja.

Eun Kyo sedikit terkaget namun tak urung membalas kecupan itu. Kapan terkhir Jung Soo mengecupnya begini? Rindu. Eun Kyo merindukan rasa Jung Soo yang begini. Dia hangat. Tidak lagi merasa ada ragu di sana. Kecupan dan lumatan yang makin lama makin intens. Menarik keduanya ke atas ranjang kokoh yang menampung kedua tubuh itu.

Kembali Jung Soo merasakan desakan kuat di tubuhnya meski masih ada rasa bersalah yang turut muncul. Hanya saja kali ini ia menekan rasa bersalah pada Siwon kuat-kuat. Semua rasa untuk Eun Kyo jauh lebih menuntut. Jung Soo akan menebus setiap tetes air mata yang jatuh karena dia.

“Oppa…” Eun Kyo menahan tangan Jung Soo yang bergerak menyusup ke balik blouse yang dikenakan Eun Kyo. Jung Soo menatap istrinya lekat-lekat. Cantik. Bahkan jika tidak secantik ini pun, dia akan tetap menginginkannya. Jung Soo mendaratkan kecupan di dahi Eun Kyo, di puncak hidung lalu kembali menyesap manis bibir Eun Kyo.

“Saranghae..” bisik Jung Soo tanpa menjauhkan wajahnya. Kedua tangannya tetap melingkari tubuh wanitanya ini. Menindih Eun Kyo namun tidak menopangkan bobot tubuhnya di atas tubuh ramping itu.

“Nado…” ujar Eun Kyo setengah mendesah dan mengigit bagian bawah bibirnya. Jung Soo meringis. Darahnya seakan di pompa hingga berkumpul di satu titik. Di pusat tubuhnya. Betapa dia selalu merasakan desakan seperti ini setiap kali menyentuh Eun Kyo. Betapa dia menginginkan Eun Kyo setiap detiknya. Di surukkannya wajah ke lekukan leher jenjang milik Eun Kyo. Menghirup wangi tubuh istri tercintanya. Bagaimana dia bisa bertahan hidup tanpa wangi ini? Belakangan dia seakan tidak bernafas dengan baik.

“Ahh..” sepatah desahan meluncur keluar dari bibir Eun Kyo ketika bibir basah milik Jung Soo menyentuh salah satu titik sensitive di lehernya. Desahan itu seperti candu bagi Jung Soo. Membuatnya menyentuh setiap bagian yang bisa menghasilkan desahan dan lenguhan tertahan dari bibir Eun Kyo. Membagi desahan itu bersama. Bergerak dengan hasrat yang bicara bahasa cinta. Saling bergerak dengan tautan paling indah yang pernah ada. Hingga di puncak gerakan itu mereka merasakan ledakan yang melontarkan mereka setinggi-tingginya kemudian menghempaskan keduanya dari ketinggian hingga jatuh ke lautan yang hangat dan nyaman. Menikmati sisa-sisa sensasi tautan cinta dengan tubuh berpeluh basah namun tetap saling mendekap.

“Gomowoyo… saranghae……Park Eun Kyo..” bisik Jung Soo di telinga Eun Kyo. Kembali mendekapnya erat.

~oOo~

Mianhae…

Apa itu cukup?

Aku memutuskan untuk memilikinya dengan utuh. Maafkan aku. Aku mencintainya. Sangat. Aku menginginkannya. Sangat. Sangat.

Kau tau, aku sempat melukainya. Sangat dalam sepertinya. Tapi dia tidak berbalik menikamku. Dia hanya menangisi kesakitannya seorang diri. Dan itu ternyata jauh lebih menyakitkan di banding jika di benar-benar menikamku tepat di jantung.

Aku melihatnya menangis. Karena aku. Aku tidak kuat. Kau tau kan kalau aku tidak pernah bisa kuat. Aku menariknya dalam dekapanku. Bukan aku yang menguatkannya. Sebaliknya, dia yang menopang aku. Aku limbung, kau tau. Tangan-tanganku meraihnya untuk berpegangan. Bolehkah aku membuatnya sebagai penopang? Apakah dia penopang yang tepat?

Hey, bisakah kau bangun dan memberitahu apakah yang aku lakukan ini benar atau salah?Jangan tertidur terlalu lama. Aku takut kalau kau tidak juga bangun. Kalau kau tertidir terlalu lama rasa bersalahku akan semakin menumpuk. Bangunlah dulu. Berikan aku tanda, aku harus bagaimana? Jujur saja aku makin tidak bisa lepas darinya. Aku bahagia. Maaf. Aku memang egois. Apa aku brengsek? Aku berbahagia sedangkan kau tertidur disana karena aku. Tolong bangunlah.

Jung Soo menyentuh pelan pinggiran ranjang tempat tubuh itu terbaring. Selang, tabung, masker, jarum infus, penyangga leher, perban, ah, otaknya sudah mulai tidak mengenali alat-alat yang memenuhi tubuh lemah lelaki itu. Pucat. Disatu sisi Jung Soo sangat ingin bercerita kalau Eun Kyo, miliknya. Ia sangat berharap kalau sosok itu bisa mengerti nantinya kalau mereka bahagia, lalu merelakan Eun Kyo untukknya. Menghapus janji mereka saat itu. Tapi disisi lain dia tidak yakin kalau sosok itu akan merelakan dengan mudah. Bukan karena dia egois, tapi karena tidak mudah berada dalam posisi seperti sosok ini. Tertidur tanpa daya. Tidak tau apakah bisa hidup lagi atau malah tertidur selamanya. Dan sekali lagi, secara tidak langsung Jung Soo lah penyebabnya. Ini dilema.

~oOo~

 

 “Oppa… ireona..ppalliwa..” Eun Kyo menarik-narik tubuh Jung Soo yang masih terbalut selimut. Jung Soo menggeliat malas. Dia malah menarik tubuh Eun Kyo kembali ke atas ranjang.

“Yak Oppa…aku sudah mandi. Cepat bangun,” Eun Kyo memukul-mukul lengan Jung Soo yang mendekapnya.

“Shireo,” bisik Jung Soo dengan serak. Ia terbiasa terbangun dengan Eun Kyo dalam pelukannya selama seminggu belakangan ini.

Eun Kyo meronta, “Wake up darl. Kita harus ke Rumah Sakit sekarang juga,” desaknya. Jung Soo sedikit tersadar mendengar kata Rumah Sakit. Matanya mengerjap-ngerjap membuka. Dia baru sadar kalau sudah hampir 2 minggu ini juga dia tidak menjenguk Siwon. Lagi-lagi, rasa tidak enak menyerangnya. Sudah hampir 3 bulan kan Siwon belum tersadar? Ia sempat mendengar kalau keluarga Siwon mulai merelakan kalau Siwon tidak lagi bangun. Pencabutan alat bantu detak jantung dan pernafasan juga sudah di bicarakan. Apa hari ini hal itu akan di laksanakan? Mencabut alat-alat itu berarti membiarkan Siwon tidak terbangun lagi kan? Iya kan? dada Jung Soo berdebar kencang. Sangat kencang.

“Cepatlah Park Jung Soo..yeobo… Siwon sudah menunggu kita,”

Jung Soo mengerutkan keningnya. Dia menangkap wajah tersenyum milik Eun Kyo yang duduk di tepi ranjang tempatnya tidur. Tersenyum? Siwon menunggu?

“Siwon bangun! Dia sudah bangun. Ahjumma menelpon tadi pagi-pagi. Siwon bangun Oppa!” Ujarnya dengan rasa senang yang tidak bisa di sembunyikan. Sahabatnya, sekaligus orang menyelamatkan nyawa suaminya sudah tersadar dari koma. Tentu saja dia bahagia.

Jung Soo tersentak.

Siwon?

Siwon sudah bangun?

Lalu apa yang harus dia jelaskan pada Siwon tentang janjinya?

~oOo~

Jung Soo berjalan kaku di sebelah Siwon. Sahabatnya itu menggerakkan kursi roda tempat dia mempercayakan pergerakan tubuhnya. Kedua belah kakinya tidak bisa di gerakkan seperti sebelumnya.

“Kau..tidak..jadi ikut terapi untuk bisa berjalan lagi?” tanya Jung Soo kaku. Sekaku ekspresi wajahnya.

“Tidak. Bukankah aku lumpuh? Jadi terapi itu untuk apa?” sahut Siwon datar namun menimbulkan riak bersalah di hati Jung Soo. Siwon begini karena dia. Jung Soo tidak akan lupa itu. Tidak akan pernah.

“Tapi Dokter bilang kau masih bisa berjalan jika rutin mengikuti terapi,” Jung Soo berucap pelan.

Siwon mendengus, “Aku sudah cukup menyedihkan. Jadi tidak perlu lagi menambahnya dengan ikut terapi untuk orang lumpuh begitu,” tukasnya kasar.

“Kesempatan untuk bisa berjalan masih ada Siwon,” Jung Soo berkeras.

“Berapa lama?! 1 tahun?! 10 tahun?! Aku hanya tertidur beberapa bulan saja semua sudah berubah!” sergahnya. Wajah Siwon memerah. Jung Soo tercekat. Seakan ada yang menyumpal tenggorokannya. Jung Soo tau apa yang di maksud Siwon. Sangat tau. Kembali rasa bersalah melingkupinya.

“Maafkan aku…karena aku kau jadi begini..”

“Bukan salahmu,” sahut Siwon getir, “Aku yang berlari menyongsongmu dengan refleks saat itu. sama sekali bukan salahmu,” ujarnya pelan. Jung Soo merintih dalam hati. Benarkah bukan salahnya? Ia tidak yakin. Ini salah Siwon kan? Harusnya dia tidak menolong Jung Soo saat itu sampai-sampai ia harus berhutang segini besar. Tapi kalau Siwon tidak menolongnya, apa dia akan mati? Atau mungkin lumpuh? Bagaimana dengan Eun Kyo nantinya? Apa gadis itu sanggup kalau terjadi hal buruk pada Jung Soo? Terlalu banyak pertanyaan yang tidak terjawab dalam benak Jung Soo.

“Harusnya aku tidak usah bangun saja. Agar kau bisa menyampaikan perasaanku pada Eun Kyo. Mungkin lebih baik aku tidak bangun dan menerima rasa pahit bertubi-tubi,” ucapan Siwon memecah keheningan antara mereka berdua.

Jung Soo menelan ludahnya mendengar kalimat Siwon. Rasa bersalah sudah naik sampai ke tenggorokannya dan menghalangi semua penjelasan yang hendak di sampaikannya. Rasa sakit membuatnya merasa ingin memuntahkan semua isi perutnya. Perutnya diaduk-aduk perasaan tidak enak.

“Aku berhutang nyawa padamu Siwon~a. Apa yang bisa kulakukan untuk menebusnya?” ucap Jung Soo nyaris tidak terdengar. Siwon menoleh. Memandang Jung Soo. Mereka sudah berteman bertahun-tahun. Tidak pernah sekalipun Siwon menyimpan iri pada Jung Soo. Meskipun setiap kali selalu berada di bawah bayang-bayang Jung Soo, baik saat di kampus, ataupun saat mereka sudah bekerja. Jung Soo selalu selangkah di depannya. Tapi tidak sekalipun dia iri. Sedikitpun tidak. Hanya saja kali ini, Jung Soo mendapatkan apa yang paling Siwon inginkan. Berada di samping Jung Soo membuatnya terlihat menyedihkan. Kondisinya kali ini pun semakin memperburuk keadaan.

“Kau ingin menebusnya?” ulang Siwon. Jung Soo mengangguk yakin.

Siwon menampilkan senyum sinis, “Bagaimana kalau aku meminta Eun Kyo sebagai penebus?” katanya tajam. Sangat tajam sampai Jung Soo merasa kata-kata itu berhasil menghujam ke jantungnya. Serasa memutus pergerakan jantung dalam rongga dadanya.

Eun Kyo?

Park Eun Kyo?

Siwon menyelamatkan nyawanya dan meminta kembali nyawa Jung Soo untuk penebus. Park Eun Kyo adalah nama lain dari nyawa untuk Jung Soo. Semua kehidupannya ada disitu. Denyut nadi, detak jantung, desah nafas. Semua ia titipkan pada Eun Kyo. Haruskan ia menyerahkan nyawanya untuk menebus hutang nyawa?

“Sudahlah. Aku tau kau tidak akan menebusnya. Lupakan saja,” Siwon membuang pandangannya. Rasanya brengsek sekali meminta orang lain menghancurkan pernikahan mereka hanya untuk dia. Meskipun keegoisan Siwon berkata lain. Jika tidak dalam kondisi menyedihkan begini, mungkin dia bisa mendapatkan hati Eun Kyo. Mungkin saja kan? batinnya.

~oOo~

Note : Setelah berusaha mengedit, dan ternyata tidak berhasil, tetap saja hasilnya jadi gak karu-karuan begini eon. Alur masih lompat-lompat dan ngebut. Banyak bagian yang bolong-bolong. Feelnya gak kerasa. Membingungkan. Entah deh. Dan seperti biasa, saya selalu menyempilkan adegan kecelakaan. Bwahahaha, anggap saja itu ciri khas saya ya eon.

Eon, bingung bacanya? Okesip. Beginilah kalau orang sarap kayak saya di suruh menghayal. Seperti yang eon bilang, “Febby gila!!”, Yup benar sekali eon, saya gila. /senyum ikan

p.s

 Occlumency adalah mantra di novel Harry Potter yang di gunakan untuk menutup pikiran agar tidak bisa di baca. Jadi anggap saja judulnya ini punya filosofi, kalau saja para karakternya tidak menutup pikiran masing-masing, maka tidak akan ada salah paham. Ngaco? Maksa? Bwahahaha. Iya banget. Tapi saya suka judulnya eon. Kekekeke. /plak

Vikos Say : berapa kalipun membacanya aku selalu menangis setiap kalinya. Hufh, kemarin di tempat Dede, sekarang disini, dulu sempat berhenti baca karena argh! Menyesakkan. Kalau aku yang bikin, aku bikin Eun Kyonya yang mati saja *plak* hufh. Argh, mash sakit… huwe… gomawo Febby udah bikinin aku meski dengan tagihan setiap kalinya untuk lanjut… dan seperti biasa… nelangsa… hohohohohohoho. Tapi yang lucunya, apa Jung Soo selalu selangkah lebih maju dari Siwon? Tidak yakin saya, bahahahahahahahaha. Tapi bagiku tetap Oppa, jauh di depan Siwon, karena saya kan cinta matinya Oppa, hahahahahahahahaha. Ok sip! Beri semangat untuk saya mengerjakan LTD dan pekerjaan lain, huweeeeeeeeeeeeeee. Sekian.

57 responses »

  1. sy nangis masa baca nya…hiks..hiks…
    ksian oppa..dilema…*puk puk oppa*
    truz knp Aera tegang ya wkt dgr siwon plg twin….jgn2 dia suka siwon….*emot siyok* * tp jgn buat tepuk sblah tangan ya twin….*
    *plak*
    donghae…cassanova bgt masa….wkwkwk

    • Twiiin, sy kangen! T_T
      Msh kebanjiran, eoh?
      Byk request ni Ae Ra. Kalo sy pnjem nama brarti siap2 ternistakan. -___-
      Sy pengen bkin Donghae yg gemesin. Jiahaha.

      Eh, sy knpa nungul dimari y? Sy kan misterius. *geret koper blik ke WA

    • haura eon rajin ye jd yg pertama….
      *lempar gelas kembang k’haura eon*
      haura eon, sya kangennnnn….T___T
      cepet blik ya eon…. *kecupjauh*

      feb eon, apaan deh….-____-”
      hobby bgt jd Shinobi nyasar masa…
      -____-*

      hah? saya nyampah lg masa d’marih.. *emotsiyok*
      kaburrr dlu ah!

      • mari kita nyampah Di!!
        *di kejar Fika eon pake golok.

        Saya mau nyampah ya eon. Mau balesin yang udah sudi komen FF yang saya bikin. *kecup eon

  2. ko ada nm yunho yg nyelip d bgian siwon.. jgn author y pas nulis sambil ngedengerin lgu DBSK mka hrs y nulis siwon jd nulis yunho, y????
    dilema bgt ini cerita y, hrs ada yg tega ngasih tw siwon klo eunkyo udh nikah sm jungsoo.. aku ampe bingung hrs berpihak sama siapa..heee

  3. Okesip! saya bnran nangis bc ini….

    Hweeeeee…. trlalu sakit dan perih, sangat! bnr2 menghujam… dilema brkepanjangan…. TT___TT
    *bakbukplak*

    Bru kali ini Abang Iwon nyempil d’antara TeuKyo, *biasa’a pan Onge yg jd langganan tetap…. -_____-”
    langsung d’sadisin masa bang Iwon, dah ktabrak, koma, lumpuh, patah hati pula…. yaoloh…. sadis bnr2 sadis… feb eon! *geleng2*
    Bang Onge banting stir ye eon? tengil bgt masa gaya’a!
    bwahahahaha… jd suka ngarayu cwe masa…
    saya jg mao dong bang d’rayu…
    wkwkwkwkwk…
    dannn…. ada apa noh sm Ae Ra eon? jangan2 Ae Ra eon suka sm Iwon lg yak? *emotSiyok*
    ckckck…..
    masih menjadi misteri…

    aduuuhhhh…. saya jd makin penasaran sm k’lanjutan’a pan eon… feb eon, saya bole bc dluan kga lanjutan’a? *plakplak*

  4. Nangis bacanyaa:'(((

    Gilaaaa…teukyo disini.. auh…biasanya yg ngeganggu teukyo tuh donghae.. sekarang siwon yak..
    Authornya febby onnie kah?
    Daebak onn:) suka banget ceritanyaaa

  5. Terharu.

    Setelah febby somplak buat LTD ff if only, dan sekarang dia buat ff lagi yang mengharuskan air mata mengalir, heeeeek. Sedih, tapi suka ceritanya.

    Biasanya yang paling sering jadi korban patah hati pasangan teukyo tuh donghae dan kai, terus nambah hyukjae dan sekarang nambah lagi ‘komunitas patah hati teukyo’, choi siwon. Selamat bergabung, tuan muda choi. Hehehehe, #plak *ditimpuk hyuk pake kisssue* #maubanget

    febby, dari awal baca udag seru, romantis dan terharu. Nah pas agak ke akhir, nama siwon jadi Yunho, kekekekeke. Aku jadi ketawa bacanya.

    Jungsoo selangkah lebih dari siwon? Ga salah? Langkahnya siwon kan lebih panjang, secara dia lebih tinggi dari jungsoo, buehehehhehe #pluuuuk *dimpuk fika onnie pake sungmin* #maudong

    aaaaahhhhh, aku suka banget adegan lamarannya, romantis tis tis….

    Note buat fika onnie: onnie, semangat!!! Aku tunggu lanjutan LTD.

    • Idih, kejam ah. Masa aku di bilang somplak. Aku kan unyu munyu.😥

      Nah, aku ngditnya gak tliti t. Awalnya pke Yunho, tp kok rasanya datar gt. Ku gantilah dgn Siwon. Bru enak nulisnya. Mianhae! ^^

      Hwaiting buat Pika eon! Ltd, proyek, dan smuanya dah!

    • Wae??? Kenapa se nyesekkk ini..T,T hiksss… Klo aq jdi Jung’Aoo, bkal q bwa tuh Eun-Kyo lari.. Pagi buta dpet sms dri Eun-Kyo Eonnie.. Lngsung cuz ke RomanTeuKyo.. Wkwkwkwk… Eun-Kyo Eon.. LTD part slnjutnya ada NC nya lgi gg?? Wkkwkwwk..#yadong conected.. Klo kgak, y gpp sih.. Heheheh.. Pkoknya Dae To The Bak.. Q tunggu part slnjutnya…..:*

  6. Idih, kejam ah. Masa aku di bilang somplak. Aku kan unyu munyu.😥

    Nah, aku ngditnya gak tliti t. Awalnya pke Yunho, tp kok rasanya datar gt. Ku gantilah dgn Siwon. Bru enak nulisnya. Mianhae! ^^

    Hwaiting buat Pika eon! Ltd, proyek, dan smuanya dah!

  7. Tapi lebih unyu hyukjae dibanding febby, #puuuk *dilempar febby pake donghae* #ikhlasduniaakhirat

    ini part duanya udag adakan? Ga harus nunggu sampe seabad?

  8. Ya ampuuun itu pas awal-awal romantis bangeeeet aaaaaaaaaa unik banget cara ngelamarnya pengeeeeeeeeeeeeennn
    Hmmmh pas di tengah2 enkyo nya kasian banget sedih dalem banget pas bacanya apalagi pas enkyo bilang “kemana jung soo ku ?”
    jung soo oppa udh kan dr awal ketemu siwon emang mau bilang kalau oppa sama enkyo mau married jd ga usah ngerasa bersalah biarin aja siwon walaupun siwon lumpuh kaya gitu aku yakin masih banyak yg ngantri buat jd istrinya siwon *iyakansiwonest??
    Waah itu ae rin ada apa sama siwon biasanya sama kyuhyun couplenya hehe Trs itu typo nya dr siwon jd YUNHO hahahhaa
    Penasaran sama kelanjutan nya di tunggu part selanjutnya🙂
    Fika oenni semangat semangat semangat !!! Di tunggu tulisan2 mu oenni *pelukpeluk

    • Kbetulan saya di lamar pake cara begitu. *plak
      Ae Rin emang sama Kyuhyun, yang disini Ae Ra, sayang. Dia demennya kalo gak ama Siwon ya sama Soo oppa. Hehehe.
      Nah, itu typo parah amat. Sebenarnya awal-awal nulis pake Yunho, tapi gak dapet feelnya. Pas di ganti Siwon, baru deh bisa nulis lagi. tapi masih ada nama Yunho yang belum keganti. Gomawo udah sempat baca ni ff. terharu saya. *lap ingus.

  9. g kebayang kalo ada di posisi jung soo. Itu bener2 bikin dilema.
    gmn kelanjutan’y.. Sangat bikin penasaran.
    Donghae, aku suka karakter’y.
    Tumben yg jadi orang ketiga abang siwon, biasa’y kan donge.
    Oya.. Knp Ae ra jd tegang saat denger siwon. Ada hubungan’y kah? Bikin penasaran.
    Next part di tunggu ya🙂

  10. Cerita’a cukup menguras air mata,tp sangat keren,aaaaah..aku jadi ingin membuat ff juga…kekekeke..pokonya ceritanya keren and low eunkyo ga bisa di dapetin,siwon ke aku aja.}Dijewerchulie{ pokonya low bisa nex parta’a ga boleh lama2..oke.oke..

  11. huaaaaaaa nyeseekkk angett si oppa
    di lema antara sang belahan jiwa dan sahabat yang hampir mati gara” nolong’n diaa
    dan ironis’a sang sahabat suka sm belahan jiwa’a
    it’s soo hurt*Plakplok
    baru kali inii si oppa sabar buat touch kyo eonni .. dan Q bner” nyeseek liat part inii .. pertama lagii

    ohh siwonppa kau menderita di sini *pukpuk
    sini sma akuu aja*hahhaha
    itu aerin knpa muka’a kaya gitu pas jungsooppa bilang itu eoh ??
    huaaa dan haeppa di sini jadi playboy
    wkwkwk
    semangat

  12. JungSoo Oppa Andilau (antara dilema n galau), n aq ikutan galau… how pity oppa…😦

    Ada Yunho nyempil…🙂

    Seperti’y kl ada flashback masa kuliah Teuk-Kyo-Won cerita akan lebih seru (just my opini)

    fighting!!!

  13. Nyeseeeeeeeeeek banget..
    Ih kalo aku jd Eun Kyo, aku udh minggat sjak sminggu nikah.. Tapi… Tapi.. G kebayang prasaan Soo oppa yg nanggung beban seberat itu.. T.T #puk2ChoiSiwon

  14. huuaa…cinta segitiga lgi..
    tp dgn jalan,alur,langkah(?)crta yg berbeda..
    Awalna mikir judulna rada2 aneh,hehe..”piiss”
    ap sih artina,trnyata mengandung arti gtuu..menarik,kreatif..
    Laannjuutt..lgii..suka ma critana..

    Onnie semangat..lanjutin ltd’na lg seru2na ituu..
    Q sllu menantikanna..dan menanti crita2 yg laen jga😀
    Mian komenna sedikit..

  15. Mewekkk T^T
    jung soo dilema… ak juga dilema.
    pasti berat deh di posisi jung soo u_u

    Aku suka bgt sama konfliknya
    cinta segi3 lagi.
    Penasaran dah ama kelanjutannya.

    Buat Kak Elbi semangat ya nulisnya😀 ck, #SokKenal

  16. haaaaaaaaa ini nyesekin baca y,,, baca ini tuh rasa y perasaan di dada ngengumpul semua n tangisan ngak keluar tu bikin mgak sanggup nyesek y…..
    diawal dahikirin bakal kaya apa ff y n permasalahan kyk apa yg bakal disuguhin kali ini n padahal dah happy bgt pas baca diawal TeuKyo mau nikah n q pikir mungkin kali ini konflik y dibeberapa part kedepan tau y ditenggah2 udah muncul ja masalah y n langsung nancep didada,,,, td y q pikir siapa yg bakal ma eunkyo duluan pa siwon ngerelain setelah dikasi tau mau nilah or jungsoo mundur gt n nyata y jungsoo tetep nilagin eunkyo dgn rasa bersalah yg besar ma siwon n untung cepet sadar jungsoo y klo dia nyakitin eun kyo padahal eun kyo lan ngak tau apa2 masalah y….
    q jd takut siwon kan lumpuh n nanti jungsoo nurutin kata siwon deh bat nyerahin eun kyo buat nebus semua yg siwon lakuin ke jungsoo….
    ff y eunkyo emang seperti biasa bikin gundah gulana n merana,,,,
    Lanjut…..

  17. OMG!!!! sumpah ini cerita nyesek banget.. dan bikin dilema bngeeeettt.. yaampun bacanya sampe nyesek.. awalnya lumayan manis tapiii gak diduga ditengahnya ya Ampuuuunnn nyesek bgt. tapi aku suka cara penulisannya yg dramatis(?) hiks.. ditunggu next part

    ditunggu juga LTDnya eon hiks.. /lap ingus/

  18. blum nyampe nyebut nama yg akan dtang. Q dah bsa nebak, pasti si pangeran sempurna alias mr. choi. entah knapa jdi mrasa kurang greget, mungkin krn terbwa prasaan pribdi yg g gtu suka yg sempurna2 (i love bad boy). knpa bukan jung yunho yg punya tampang ambisius, taw choi senghyun(TOP big bang) yg punya mata yg menuntut. well tak bsa dsalahkan memang soal pemilihan cast, cuman saran yak.

    rasa bersalah yg menuntut, mematikan rasa mereka dri dalam, menggerogoti hingga sum-sum hingga hanya sesal jawabanX. daebak dtunggu lanjutanX onnie….

    • Already picked Jung Yunho, tapi malah gak berasa. datar amat rasanya dan gak bisa lanjut nulis. pas di ganti Siwon, baru saya bisa ngayal dengan bebas. Hehehe. thanks for advice, but for the cast, I can do nothin since it deals with my imagination. ^^
      Sbenarnya saya juga gak terlalu nge-feel kalo nulis pake cast di luar SJ dan Shinee. Hohoho.
      Ada kritikan selain dari cast? Saya suka di kritik lho. Udah sering makan kritikan juga. Bwahaha. Maklum amatiran. Gomawoyooo. *popo

  19. hua bikin nangis ini😦
    jangan biarin jungsu ngasihin eunkyo ya unni,
    kenapa harus ada siwon coba-_-
    ditunggu next partnya’-‘)b

  20. Ga tau mau komen apa buat ff ini,
    nyesek bgt, perasaan ‘bersalah’ memang sulit dihilangkan dan bikin hidup ga tenang.
    Berhubung saya juga dilingkupi rasa ‘bersalah’, jadi seluruh tubuh rasanya ikut nyeri waktu baca ini,

    keren bgt ff ini

  21. hahaha g nyangka akan dblas commentku (peyuk abang Tabi). boleh nambahin selain cast khan yak. ok bot tanda baca jga mnurtku, ada bberapa kalimat yg hrusnya dpet tanda koma, tpi g dpet jdi agak ngos2an bcanya. msalah alur yg mungkin ckup (gak maksud yah, ini cman saran) sdkit dseret satpam spaya lbh cepat. yg lainnya dah pas menusuk hati, menguras (jolang) air mata saking nyesekX. Daebaklah pokoknya. makasih dah mau memperhatikan saranku *kiss bsah onnieX*

    Vika onnie LTDnya donk, khan dah mau ada ryu jin jdi g sabar *maksa, bentar lgi dbanting* yg pasti love u both un hehehe

  22. Huwa..kereen..!
    nyesek bgt masa!
    smw jd serba slh bgt ya!
    kalo q dsuruh mlih,q g bs mlh!*plak

    Dan apa itu,np Kyo jd ky Mello yg sk nempelin muka ke kaca mobil?wkwkwkwkwkwk

    typo yg ehem—> Yunho?buahahahaha
    ketauan dah!wkwkwkwkwk

  23. akhirnya bisa baca juga setelah sinyal yang bener2 engga lancar..
    ini ceritanya kenapa nyesek banget? pas baca awal cerita kayanya engga akan ada konflik yang hebat, ternyata diluar dugaan. aaah ayo putar kembali waktu, biarkan Teukyo hidup bersama…

  24. Ehm ehm…*tes suara*
    Untuk mengawali komen sayah pengen bilang “gila lu y by” (logat ala kasino bwt indro) entu entu entu lamarannya mauuuuuu…unyuh munyuh begitu ujan ujan dinin dinin empuk dilamaaaaarrr…emaaaakkk…kapan minho rela tulus ikhlas begitu ngelamar sayah…aaarrgghh samting banget masa…
    Dan ish…tetep ye kebiasaan dirinya sendiri nempel d kaca jendela mobil dibawa k mana2…kagak d mari kagak d piksi…mending nempel2 d Soo Oppa…jelas angetnya…*plak*

    Yak febby sekali2 bikin teukyo tu yg unyuh munyuh napa…kenapa slalu abu2 burem begitu…bikin nyesek masa…ish…dan selalu dan selalu…ciri khas seorang febby, ada kecelakaan mautnya dan ada korban cacat…untung kagak cacat mental kayak sayah…*plak*

    Pdhl sayah dah baca sebelum ini ye…tp berasa belum pernah baca aja deh…
    Keyeeeennn by…dulu sblm diedit karakter ae ra cukup menjadi sangat misterius sekali banget karna cm nongol pas hampir TBC…tp sekarang ditambah d bagian awal…jd lebih paham lah hubungan ae ra ma soo oppa…meskipun kemisteriusan ae ra jg msh ada…dan skrg sayah bertanya2…entu ae ra kenapa siyok denger tentang siwon coba…???jangan jangaaaaannn…???
    Ah sayah g mau nebak2…kagak asik lg ntar…tp satu yg pasti…sayah siap jd beta readermu by…wkwkwk…:p

    Udah ye…komennya dah kepanjangan…sesuai requestmu by…sayah berasa bikin drabble d mari…i lop u pull…:*

    Note : Fika eon…sayah menunggu LTD dan projectmu yg lain…trus jg nunggu sayah dinikahin ma minho d LTD season 2…bwahahaaa…i lop u pull jg…:*

  25. Astagaaa di part 1 saya udh mewek bacanya T.T
    dan itu Siwon udh tau yaa kalo Jungsoo udh merit ama Eunkyo?

    Jd judul ff ini mantra sihir di harry potter, buahahahaha kirain tadinya itu bahasa latin or bahasa apa kek, dan ternyata… xixixixi,
    Suka suka suka

  26. Waaa,, another teukyo story.. Br sempet bca part 1 nya, eh part 2 nya udh ada. Cepet aja ya.. Kasian ma jung soo oppa d sini, dilema dia. Siwonie jg kasian d sini, tp jangan bikin karakter siwonie jd jahat d sini y chingu.. #knapa jd kasian smua??

  27. hutang nyawa? miris😦
    tapi aku nemu nama Yunho, serahusnya Siwon kan bukan Yunho? hayo kepikiran sama Yunho :p
    ceritanya bikin aku nangis yg dibagian Eun Kyo eonni dan Jung Soo oppa saling nangis. padahal sebelum menikah romantis banget T-T
    DAEBAK!! lanjut!

  28. Aneyong febbi salam kenal lee rara imida dpet rekomendasi dr fika oen ttg ff ini dan trnyta emng bgus sukaaa jdi ktgihan bca walaupun teukyo couple menderita banget dsni tapi Kyaaaaaaaa >-< suka pake banget ma ceritanya bikin terharu nangis bombai bacanya baru awal cerita aja konfliknya udah rumit kaya gini SUKA banget pokoknya…

  29. Salam Kenal NR,,,,,,,,,,
    Gw bingung disni siapa yg salah dan siapa yg bener, menurut sudut pandang saya (cielah so) harusnya teuk gx harus buat janji seperti itu, pokoknya ff nya kerannnnnnnnnnnnnnnnnnn ^^^
    #but please don’t make my SIWON suffer ^_^

  30. Sayah nangis… apalagi inget sipenulisnya…
    Fika eonni… FFnya seperti katamu, keren….
    buktinya aku nagis saat bacanya. Terlalu mendalami kalimat yg dibuat…

    Aish… aku gak tau harus ngomong apa… masih sedih sumpah…
    huft #pelukKyu

    Saranghae aja buat authornya…” Febby Eonn :)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s