Let This Die Fan Fiction : If Only

Standar

LTD another story

AUTHOR : MISS ELBY

an upside down story behind stories…

 

“Bagaimana kalau latarnya di sekitaran Namsan Tower saja? Itu landmark Seoul. Menarik kan Oppa?”

“Namsan Tower? Aish, itu sudah terlalu sering di pakai Eun Kyo~ya. Menarik memang, tapi yah…akan lebih menarik lagi kalau memakai sesuatu yang berbeda.Seperti Myeong~dong ini.”

“Tapi kata Donghae…”

“Ya. Kenapa tanya Donghae lagi…”

“Siwon juga…”

“Ya. Kenapa bawa-bawa Siwon?”

“Ah, terserah kau sajalah oppa. Aku hanya memberi saran. Keputusan ada di tanganmu,”

Lelaki dengan DSLR tergantung di lehernya itu terkekeh kecil, ia terus mengarahkan kameranya untuk membidik beberapa spot menarik di kawasan Myeong~dong yang ramai. Kali ini lensa kameranya terarah pada sosok gadis yang sejak tadi menemaninya. Hasil bidikan yang di tampilkan layar kamera itu memberikan aliran yang berbeda pada pembuluhnya. Ia mengangkat wajahnya dan menangkap sosok gadis itu dengan pandangan mata.

“Jung Soo oppa?” gadis itu berkerut heran karena mendadak lelaki yang di panggilnya Jung Soo berdiri terpaku dengan tatapan lekat padanya.

Dua pasang mata itu bertatapan di tengah hiruk pikuk Myeong~dong yang kini terasa bagai kedap suara. Detik berlalu begitu saja tanpa suara. Stimulus merayap menjejaki setiap pembuluh, menghantar getaran yang pelan namaun pasti mulai menggerakkan jantung dengan ritme yang jauh dari gerakan normalnya.

Gadis itu, Eun Kyo, tersentak. Cepat ia membuang pandangan saat debaran jantungnya makin menggila. Ia memutar tubuhnya membelakangi Jung Soo yang tadi masih terpaku memandangnya. ‘Lagi-lagi begini. Aku tidak boleh begini terus. Ini salah,’ batin Eun Kyo.

Sementara di belakangnya, Jung Soo menekan dadaya perlahan, mencoba menahan debaran jantung yang menghentak gila di rongga dadanya. Ia menggigit bibir perlahan saat matanya menagkap sebentuk cincin yang melingkari jari manisnya. ‘Ada yang salah disini. Harusnya aku menyadari ini sejak lama,’

~oOo~

Lelaki itu menatap pantulan dirinya di cermin dengan wajah putus asa dan enggan. Wajah kusutnya tampak kontras dengan outfit rapi yang di kenakan. Setelan kemeja putih yang rapi serta dasi berwarna broken white, senada dengan pantofel yang digunakannya, sudah melekat sempurna dan terlihat pas melengkapi penampilannya malam ini.

“Kau benar-benar tidak bisa ikut ke acara ulang tahun Eomma?” masih terdengar sedikit pengharapan di nada putus asanya.

“Aku tidak bisa, Jung Soo oppa. Aku tidak mau jadi pusat perhatian di acara itu,” terdengar sahutan dari wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi. Wanita itu melangkah mendekat dan Jung Soo melihat pantulan lekuk sempurna dari tubuh istrinya itu. Tubuh ramping dengan lekuk liku yang membuat darah lelaki manapun berdesir itu hanya terbalut jubah satin tipis selutut. Rambutnya yang ikal di bagian ujung di ikat tinggi dan menonjolkan leher membuat sensualitas penampilannya makin menggoda.

Kedua lengan halus dan ramping itu melingkari pinggang Jung Soo, memeluknya dari belakang.

“Tidak apa-apa kan? Aku juga tidak suka acara seperti itu, Oppa. Lagipula Eommonim pasti akan menceramahiku panjang lebar tentang keturunan dan segala macam yang tidak penting itu,” katanya manja seraya menyandarkan wajahnya di punggung Jung Soo.

Wajah Jung Soo mengeras demi mendengarkan perkataan dari bibir istrinya, “Tidak penting?! Keturunan bukan hal penting bagimu?! Eoh?! Begitu?!” Jung Soo menyentakkan tangan yang melingkari pinggangnya hingga tubuh wanita itu sedikit terhuyung. Jung Soo membalikkan tubuhnya menghadap wanitanya. Ia bisa mendapati wajah cantik itu telihat kaget.

“Oppa…” rengek wanita itu manja seraya meraih lengan Jung Soo. Tapi Jung Soo terlanjur terluka mendengar kata-kata yang terdengar santai itu. Harga dirinya terluka. Emosinya tersulut. Rengekan istrinya itu tidak lagi mempan untuk menyurutkan semua perasaan marah yang merambat naik memenuhi seluruh system syarafnya. Bahkan penampilan seduktif sang istri tidak lagi menarik minatnya untuk sekedar memberikan sentuhan di beberapa bagian yang bisa membuat lelaki normal manapun menahan nafas karena desakan nafsu. Jika sekarang Jung Soo sama sekali tidak terbawa nafsu, bukan berarti ia lelaki tidak normal yang melewatkan sentuhan-sentuhan surga. Bukan dia yang tidak normal, tapi pernikahan mereka yang tidak lagi normal dimatanya. Hubungan mereka, entah sejak kapan, menjadi sesuatu yang tidak nyaman. Untuk Jung Soo, ketidaknyamanan itu terasa kuat.

“Aku sudah terlambat,” ia berkata dingin dan bergerak keluar dari kamar tanpa menghiraukan panggilan-pangilan manja di selingi rengekan dari mulut istrinya yang memintanya untuk tidak pergi saja. Jung Soo menutup pintu tepat ketika rengekan istrinya berubah menjadi teriakan frustasi.

Prangg!!

Terdengar bunyi benda membentur pintu dan suara berisik yang menandakan bahawa benda tersebut adalah kaca yang jatuh berderai ke lantai setelah menghantam permukaan pintu.

Jung Soo menggeretakkan rahangnya menahan emosi.

Apa ini pernikahan yang dia perjuangkan hingga menentang Eomma-nya? Abeoji-nya? Kenapa rasanya hampa? Apakah hanya dalam waktu 7 bulan saja sebuah pernikahan bisa jadi sehambar ini?

Jung Soo memejamkan matanya. Mencoba menggali sisa-sisa perasaan yang dulu dia kenali sebagai cinta. Tapi tidak ada yang berhasil dia dapatkan. Sedalam apapun ia menggali, yang ia dapatkan hanya rasa hambar tak berkesudahan dan hampa tanpa ujung.

Kali ini wajah itu berubah sendu. Menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa mempertahankan perasaan yang harusnya ia jaga baik-baik. Terlebih lagi, ia mengutuki hatinya kali ini. menyesali keputusan gegabah dan sok idealisnya dengan menolak perjodohan dari orang tuanya dan memilih menikah dengan kekasih yang bahkan dia tidak tau sekuat apa landasan cinta mereka untuk bisa bertahan dalam satu ikatan pernikahan.

Pesta ulang tahun Ny. Park baru saja berakhir. Ruangan sudah sepi setelah para tamu undangan, yang notabene adalah keluarga besar dan rekan bisnis keluarga, serta beberapa sahabat baik keluarga Park, mulai beranjak pulang. Jung Soo masih berada di rumah keluarganya. Duduk berhadapan dengan ibunya di halaman belakang yang sepi, sementara ayahnya masih bercengkrama dengan beberapa tamu dan kerabat jauh.

“Aku tidak peduli dia artis terkenal ataupun top model atau apapunlah itu, aku tidak peduli. Aku tidak bangga sama sekali mempunyai menantu terkenal yang di puja-puja banyak orang, tapi tidak bisa menjadi istri yang baik untuk putraku!” sergahan kasar dari Ny. Park hanya di sambut tundukan dalam dari lelaki yang duduk di hadapannya. Putra tunggalnya, Park Jung Soo.

“Kau tau, tanpa memasang kamera CCTV di rumahmu pun aku tetap bisa tau kalau rumah tangga kalian tidak baik-baik saja. Iya kan?” tusuk Ny. Park dengan tatapan tajam pada Jung Soo.

“Eomma…”

“Sudah…tidak usah di jawab. Aku tidak mau penjelasan bertele-tele,” potong Ny. Park, “Jung Soo, apa pernikahan seperti ini yang kau pertahankan?” tanya Ny. Park. Jung Soo memandang ibunya kaget.

“Tidak. Tidak. Aku bukan mendukung kau bercerai atau akan memisahkanmu dari istri tercintamu itu. Sama sekali tidak Jung Soo,” Ny. Park menyahut cepat saat mendapati wajah kaget putranya itu.

“Aku ini ibu biasa. Aku hanya ingin anakku bahagia. Aku hanya ingin anakku memiliki seseorang yang bisa mengurusnya dengan baik. Bisa jadi ibu yang baik juga untuk anakmu. Ah, aku bahkan tidak yakin istrimu itu terpikir untuk memberikan cucu untukku,”

Ny. Park meletakkan cangkir teh di tangannya ke atas meja dengan gusar.

“Apa alasannya belum mau mengandung? Takut kalau melahirkan tubuhnya akan rusak? Tidak menarik lagi begitu? Atau dia masih ingin menikmati tatapan memuja dari para penggemarnya di luar sana yang kurasa kebanyakan lelaki. Apa kau tidak sakit hati Jung Soo? Apa sebegitu besarnya kepedulianmu pada management artistmu di banding dengan kehidupan rumah tanggamu sendiri? Apa…hhhahh” nafas Ny. Park tersengal karena emosi dan rentetan kalimat beruntun yang di lontarkannya tanpa jeda. Jung Soo buru-buru menyodorkan kembali cangkir teh ibunya itu. Ny. Park meneguk isi cangkirnya perlahan seraya mengatur kembali nafasnya yang tadi memburu karena emosi.

“Eomma…jangan terbawa emosi begitu. Tekanan darahmu bisa naik. Ingat Kim Uisa bilang apa? Eomma harus mengontrol emosi,” tegur Jung Soo mengingatkan ibunya. Ia ingat bagaimana Yoori songsaenim, dokter keluarga mereka, mewanti-wanti agar kondisi emosi Ny. Park harus selalu stabil.

“Istrimu itu yang selalu membuatku naik darah,” dengus Ny. Park sembari bangkit dari duduknya. Jung Soo mengikuti ibunya dengan tatapan mata saja. Ia tidak ikut berdiri. Baru beberapa langkah, Ny. Park berhenti dan berbalik memandang Jung Soo yang masih tercenung di tenpatnya duduk.

“Kau tau Jung Soo, bahkan sampai detik ini aku tetap berharap kalau istrimu itu Park Eun Kyo, bukan model terkenal bernama Kim Yeon Su,” kata wanita paruh baya itu, sedetik kemudian dia berbalik dan berlalu meninggalkan Jung Soo yang semakin terhenyak ke dalam dudukan kursi.

Ibunya mengungkit masalah itu lagi. Park Eun Kyo, nama gadis yang di tolaknya mentah-mentah saat kedua belah keluarga mengusulkan perjodohan keduanya. Di balik embel-embel proses akuisisi perusahaan ayah Eun Kyo, Jung Soo tau, ibunya memang sangat mengharapkan gadis itu yang jadi menantunya, jadi istri Jung Soo. Terlihat jelas dari bagaiamana cara Ny. Park memuji-muji Eun Kyo, sekaligus juga latar belakang keluarga meraka. Ibunya sudah mengenal keluarga itu dengan baik. Jung Soo juga sebenarnya, Eun Kyo adalah teman kecilnya. Tapi usulan pernikahan, itu tidak termasuk dalam ingatan masa kecilnya. Ia tidak pernah sampai ke titik dimana ia berpikir untuk menikah dengan Eun Kyo, terlebih saat perjodohan itu di usulkan, ia sedang menjalin hubungan serius dengan model dari perusahaannya. Model cantik bernama Kim Yeon Su. Jung Soo menolak perjodohan itu mentah-mentah. Alih-alih menikah dengan Eun Kyo, dia malah melakukan pernikahan mendadak dan rahasia dengan Yeon Su. Rahasia dari publik, tapi tidak dari keluarganya. Bukan hal yang bagus untuk mengumumkan pernikahannya dengan Yeon Su di saat karir gadis itu tengah berada di puncak.

“Hhhhhaaahh..” Jung Soo menghela nafas panjang, berusaha melepaskan beban berat yang menghimpit dadanya. Mungkin eomma benar. Tidak perlu memasang CCTV ditempat tinggalnya untuk tau kalau rumah tangga mereka bermasalah. Ia yakin eomma bisa melihat semua dari raut wajah Jung Soo.

Jung Soo berdiri, memasukkan tangannya kedalam saku celana. Dengan tersenyum, dia mengeluarkan dua helai tiket pertunjukan dari dalam saku celananya.

“Sepertinya Eun Kyo dan teaternya bisa membantu,” gumamnya pelan. Bukan hanya sekali, tapi hampir setiap kali menghabiskan waktu dengan Eun Kyo, baik itu urusan pekerjaan terkait dengan teaternya ataupun urusan di luar pekerjaan, rasanya seperti kenangan masa kecilnya yang di ulang dalam keadaan yang lebih dewasa. Masa kecil yang tanpa beban bisa di hadirkan kembali oleh Eun Kyo dalam kondisi mereka yang sudah dewasa sekarang.

Jung Soo tersenyum lebar, menikmati perasaan senang yang mendadak mengalir menggeser beberapa himpitan yang tadi menekannya. Tapi senyum itu memudar seketika, saat dia menyadari ada yang salah disini.

Ada perasaan untuk Eun Kyo. Rasa yang berbeda dari sebelumnya.

“Ah, mungkin karena aku terlalu banyak menghabiskan waktu dengannya belakangan ini, jadi… jadi…” Jung Soo tampak bingung lalu mengusap wajahnya dengan gusar.

“Aku pasti sudah gila,” dengusnya.

~oOo~

Senja merangkak naik, meninggalkan jejak jingga di kaki langit. Gadis itu tercenung dengan mata yang memandang lurus ke riak-riak halus permukaan sungai Han. Ia mencoba menenangkan gejolak emosinya dengan mengikuti pergerakan halus air dengan tatapan sendunya.

“Kalau tidak suka, maka tidak perlu di iyakan. Jangan jadi orang yang selalu mengiyakan karena hanya tidak mau menyakiti perasaan orang lain Noona,”

Suara yang biasanya terdengar datar itu kini terasa sarat emosi.

Gadis itu melenguh dan mendesah berat dalam hati. Hanya dalam hati. Dia tidak pernah sudi membiarkan orang tau betapa rapuhnya dia. Betapa penakutnya dia menghadapi tekanan. Dia lebih memlih bersembunyi di balik wajah ‘tidak-ada-masalah-aku-bisa-mengatasi-semuanya’ yang menjadi andalannya.

“Noona,” lelaki di sampingnya itu kembali mendesaknya dengan intonasi yang mulai naik setengah oktaf. Suara beratnya memberi kesan tidak sabar menanti sahutan seperti apa yang akan meluncur keluar dari mulut noona-nya, kakaknya.

Gadis itu kali ini membiarkan helaan nafasnya terdengar, “Aku sudah memikirkannya matang-matang. Kurasa tidak ada yang salah dengan keputusan itu. Aku mengenalnya dengan baik, sangat baik malah. Dia bukan lelaki jahat yang akan melukai aku, jadi berhentilah menghawatirkan aku seakan aku akan menikah dengan pembunuh berdarah dingin Kibum~a,” ucapanya tegas.

Kibum mendengus pelan mendengar jawaban kakaknya itu, “Bukan dia yang aku khawatirkan akan melukai dirimu Noona. Aku justru lebih khawatir kau yang akan melukai dirimu. Kau itu punya kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri. Semacam masochist,

Kali ini mata gadis itu membelalak mendengar pilihan diksi yang di ucapkan adiknya. Masochist? Apa separah itu? Masochist yang ada di pikirannya adalah orang yang menyakiti dirinya hingga berdarah namun malah menikmati setiap deraan rasa sakit itu. Tentu saja dia tidak begitu.

Masochist itu gangguan psikologis, Kibum~a. Seseorang tidak bisa dikatakan masochist jika hanya mengalami 10% dari simtom. Aku bahkan tidak mengalami lebih dari 5%.”

Kibum menggeleng putus asa menanggapi penuturan kakaknya ini. Gadis itu tidak menangkap perumpamaan dengan baik. Daya cerna kalimatnya kadang bisa berada di level paling rendah. Kibum memilih untuk tidak menanggapi protes dari kakaknya ini. Dia lebih terfokus pada keputusan yang di pilih gadis itu terkait masa depannya. Pernikahan.

“Kau yakin noona? Menikah dengan orang lain padahal hatimu jelas-jelas masih tertambat pada sosok lain sejak lama. Apa itu tidak kejam?” Kibum bertanya.

Gadis itu tidak menyahut, tangannya mencengkram kuat cangkir plastic berisi espresso hangat di tangannya. Kejam ya? Tapi ini permintaan ayahnya. Bukankah lebih kejam kalau mengabaikan permintaan dari ayahnya yang tengah sakit? Lagipula, dia mengenal dengan sangat baik orang yang akan menjadi suaminya itu. Ia menyayangi orang itu. Sangat. Hanya saja, ia mengakui ada sosok lain yang menerima bentuk cinta yang lebih besar. Sosok yang sama sekali tidak boleh di harapkannya. Orang itu sudah menolak perjodohan dengannya dan memilih menikah dengan kekasih hati pilihan dia sendiri.

“Eun Kyo noona…” Kibum menolehkan wajahnya untuk memandang gadis yang berdiri di sebelahnya yang tidak kunjung memberikan tanggapan atas pertanyaannya tadi.

“Kurasa hatiku tertambat di tempat yang salah. Jadi aku akan kembali menemukan tempat yang seharusnya. Dia akan membuatku mencintai dirinya lebih daripada orang itu,” sahut Eun Kyo.

“Menggantikan Park Jung Soo dengan Lee Donghae, apa kau yakin?”

Eun Kyo merasakan ada yang menggeliat tidak nyaman di perutnya. Jantungnya juga terasa di sentil dengan keras, meninggalkan sensasi ngilu yang tidak terjelaskan. Nama yang di sebutkan Kibum membuatnya kembali terlempar jauh pada hari dimana lelaki bernama Park Jung Soo itu menolak dengan tegas untuk menikah dengannya. Jung Soo menolak usulan keluarganya untuk menikah dengan Eun Kyo. Ia memiliki gadis lain, dan itu bukan Eun Kyo. Bukan dia yang sejak kecil menginginkan lelaki itu.

“Bisakah kau tidak mengacaukan keputusanku Kibum~a? Aku sudah memutuskan menerima usulan Appa. Aku juga mengenal Donghae. Aku menyayangi Donghae, jadi tidak ada alasan bagiku untuk menolak,” kata Eun Kyo.

Kibum baru hendak membuka mulutnya lagi, tapi Eun Kyo sudah lebih dulu bersuara, “Jangan membawa-bawa nama Jung Soo lagi. Tidak mempan,” tandasnya.

Kibum urung bicara. Dia hanya menatap tajam Eun Kyo. Setelah dirasanya Eun Kyo tidak bisa lagi di goyahkan, ia hanya tersenyum datar lalu meraih lengan gadis itu dan menariknya kedalam pelukan. Eun Kyo membalas pelukan Kibum dengan melingkarkan tangannya di pinggang adiknya itu. Menghirup dalam-dalam aroma mountain mint yang maskulin dan menenangkan dari Kibum.

“Dia sudah menikah. Kau pasti tidak mau kan kalau aku jadi wanita perusak rumah tangga orang? Kalau terlalu sering berada di dekatnya begini, aku akan semakin sulit melupakan dia Kibum~a. Parahnya lagi, aku pasti akan jatuh semakin dalam padanya. Itu tidak bagus kan Kibum~a?” Eun Kyo mengeluhkan penat pikirannya. Tidak pernah bisa dia menolak ajakan bertemu dengan Jung Soo, entah itu untuk urusan kerjasama manejemen artis Jung Soo dengan teaternya, ataupun di luar itu. Bahkan untuk ulang tahun ibunya pun, Jung Soo mengajak Eun Kyo.

Jangan berpikir kalau Eun Kyo tidak menolak. Hanya saja penolakan Eun Kyo selalu kalah keras dari pemaksaan Jung Soo. Lelaki itu punya kekuatan tak kasat mata yang bisa membuat Eun Kyo terikat makin erat, ingin lepas tapi tidak bisa. Ia hanya mencumbui bayang semu. Jung Soo tidak akan pernah bisa jadi miliknya. Terus bersama dengan Jung soo dalam kondisi tidak pasti begini malah akan semakin membenamkannya dalam-dalam. Lelaki itu sudah menikah dan Eun Kyo berada jauh di luar frame keluarga mereka. Terjebak dalam labirin yang tidak berujung itu sakit rasanya.

“Noona, saranghae. Jangan biarkan apapun menyakitimu, eum?” bisiknya pelan. Eun Kyo mengangguk. Semua kata-kata rasanya tersangkut di tenggorokannya sesaat setelah Kibum memeluknya begini. Mungkin Kibum benar, kadang kala ia membiarkan rasa sakit berulang kali menggoresnya. Kalau dia memang penikmat rasa sakit, pastilah semua kesakitan dan luka yang bisa dia nikmati hanya berasal dari orang itu. Park Jung Soo.

~oOo~                                     

Suasana pertunjukan kali ini terasa riuh rendah karena tawa dan sesekali menyeruak atmosfer sendu yang meningkahi. Teater ini sedang menampilkan drama Goong sesuai permintaan dari pihak sponsor mereka. Pertunjukan tunggal spesial untuk peringatan ulang tahun perusahaan yang selalu jadi sponsor tetap bagi tiap pertunjukan teater ini.

Jung Soo tergelak lepas saat ada adegan dimana Kyuhyun, yang berperan sebagai Pangeran Lee Shin dalam pertunjukan kali ini, bertingkah menyebalkan pada Ae Rin yang menjadi Shin Chae Kyung. Lee Donghae tampak sangat pas sekali membawakan karakter Lee Yul, yang tenang. Hanya saja konsentrasi Jung Soo cenderung terfokus pada sosok yang memerankan Min Hyo Rin. Dia Eun Kyo. Terlihat betapa anggunnya wanita itu dalam balutan kostum panggungnya. Mata Jung Soo enggan beranjak setiap sosok itu muncul di panggung. Terpusat padanya.

Jung Soo menggigit bibir bawahnya pelan. Kenapa sosok Eun Kyo malah semakin memperkuat alasannya untuk melayangkan gugatan cerai yang sudah di persiapkannya seminggu ini? Surat gugatan yang sekarang masih tersimpan rapi di laci meja kamarnya itu hanya memerlukan tanda tangan dari Yeon Su.

Jung Soo mengusap wajahnya, mencoba menemukan cara yang tepat untuk bicara pada Yeon Su itu sulit. Meski begitu, ia tau Yeon Su sudah mengatahui perihal rencana perceraian ini. Tapi seperti biasa, wanita itu tidak mau ambil pusing. Ia seakan menutup telinga atas semua keluhan Jung Soo tentang kelakuannya, dan tutup mata pada semua masalah yang jelas terlihat dalam rumah tangga mereka. Rumah tangga paling rapuh. Yeon Su tidak pernah mau mendengar siapapun, hanya mementingkan pendapatnya sendiri.

Riuh rendah tepuk tangan dan standing applause dari audience menyadarkan Jung Soo dari pusaran lamunan yang tadi membawanya. Ia ikut berdiri dan tersenyum serta bertepuk tangan menyambut bungkukan hormat dari para pendukung acara pertunjukan tadi.

“Luar biasa! Pertunjukan tunggal ini membuatku bersemangat sekali!” seru Ae Rin berapi-api. Ia masih merasakan euphoria suasana panggung tadi. Sungmin menyodorkan sebotol air minum pada gadis yang masih mengenakan hanbok itu.

“Minum dulu, kau sudah nyaris meledak,” katanya. Ae Rin baru saja meraih air minum yang di sodorkan itu tapi jari-jari panjang milik Kyuhyun sudah lebih dulu menggapainya dan dalam sekejap sudah meneguk isinya hingga tersisa separuh.

“Ya! Cho Kyuhyun!” dia berseru marah.

“Apa?” Kyuhyun berujar datar tanpa rasa bersalah sama sekali. Ae Rin menggeram marah hingga alisnya tampak menyatu.

“Aish, tidak bisakah kalian berdua bersikap akur seperti di panggung tadi, eoh?” keluh Yesung.

“Nde. Chemistry kalian di panggung tadi sungguh berbeda dengan atmosfer saat ini,” tambah Ryeowook. Ae Rin mencibir sementara Kyuhyun membuang muka.

“Akting Kyuhyun~ssi bagus sekali. Suaranya juga luar biasa. Tidak salah kalau aku menjadi fans-nya,” celetuk Jang Mi yang sejak tadi bersandar tidak jauh dari tempat Ryeowook duduk. “Tapi acting paling keren tetap milik Eun Kyo eonnie. Luar biasa! Eonnie menguasai sekali akting menjadi pengganggu rumah tangga orang lain. Ekspresi dan gesture Eun Kyo benar-benar tepat rasanya,” sambung Jang Mi panjang lebar. Eun Kyo yang tengah tersenyum mendadak berubah ekspresinya mendengar kalimat Jang Mi. Serasa ada yang menyetilnya kali ini. Kata-kata pengganggu rumah tangga orang terus berputar-putar di kepalanya.

“Ish kau ini, bicaramu seperti orang yang mengerti urusan acting saja. Kau kan hanya mengerti urusan boxing itu, jadi jangan sok mengomentari urusan acting Jang Mi~ssi,” tandas Kyuhyun, “Eun Kyo noona itu hanya kebetulan saja berakting tanpa cela. Biasanya dia pembuat kesalahan paling banyak,” ejek Kyuhyun. Eun Kyo memaksakan bibirnya untuk mengukir seulas senyum. Perasaannya masih tidak nyaman. Ia tidak lagi mendengar perdebatan antara Kyuhyun dan Jang Mi serta suara-suara teman-temannya yang lain. Donghae yang menangkap perubahan wajah Eun Kyo menyentuh bahu gadis itu lembut.

“Mau?” tanyanya sembari menyodorkan segelas cha hangat pada Eun Kyo. Gadis itu meraihnya, meneguk isinya pelan, membiarkan hangat minuman itu mengaliri tenggorokannya. Wangi cha  memberikan sensasi menenangkan yang di butuhkannya saat ini.

“Aku sedikit tersentuh dengan ucapan pengganggu rumah tangga orang itu Donghae~ya,” ujarnya lirih. Donghae menyunggingkan senyum mendengar pemilihan kata Eun Kyo yang menggunakan kata ‘tersentuh’ alih-alih tersinggung atau tersentil.

“Kau bukan pengganggu rumah tangga siapapun Eun Kyo. Jadi berhentilah berpikir seperti itu,” tegasnya. Mereka berdua berbicara pelan di antara riuh rendah obrolan teman-teman yang lain.

“Tapi kau tau kan kalau Yeon Su…”

“Tidak usah dengarkan dia,” potong Donghae cepat, “kalaupun rumah tangga mereka sedang bermasalah, itu tidak ada hubungannya denganmu Eun Kyo,” sambungnya. Ia merasa emosinya merangkak naik ke ubun-ubun saat Eun Kyo mengungkit nama Yeon Su. Wanita itu dengan tidak sopannya menuduh Eun Kyo mengacaukan pernikahannya dengan Jung Soo hanya karena Eun Kyo kerap kali menghabiskan waktu bersama Jung Soo akhir-akhir ini.

“Setelah proyek kerjasama teater kita dengan perusahaan Jung Soo oppa selesai, aku tidak akan menemui lelaki itu lagi. resikonya besar,” gumam Eun Kyo lelah. Donghae memandangi gadis ini dengan ekspresi tidak terbaca. Salah satu sudut hatinya meyakini dengan sangat kalau keputusan untuk menjauh dari Jung Soo, pastilah sangat berat untuk gadis ini. tapi kalau Eun Kyo sendiri sudah memutiskan begitu, Donghae yakin, meski sakit sekalipun, Eun Kyo akan tetap pada pendiriannya.

“Ya…bagaimana kalau kita merayakan kesuksesan kali ini dengan pesta kecil-kecilan di rumah Kyuhyun?” seru Yesung tiba-tiba. Beberapa pasang  mata berkilat senang, hanya Kyuhyun yang tampak terkejut mendengar rumahnya di jadikan tempat pesta yang kata Yesung ‘kecil-kecilan’ tanpa berunding dulu dengannya.

“Aku? Kenapa rumahku?” serunya.

“Karena aku sudah memutuskan demikian,” sahut Yesung santai, “lagipula, rumahmu yang luas itu sangat pas kalau di jadikan tempat acara. Koleksi minumanmu juga lengkap kan, Kyuhyun~ah…”

Kyuhyun bersungut-sungut amun tidak menolak, “Ya sudah, nanti aku pesankan wine tambahan. Asal jangan menyentuh wine koleksiku,” putusnya.

“Wuooaaa… Kyuhyuuuun~ssi jjang!!” seru Jang Mi. beberapa suara sekaligus teredam karena teriakan itu. bahkan Ryeowook yang duduk di sebelahnya menutup telinga saking kagetnya.

“Sedang apa? Kenapa terdengar seru sekali?” Jung Soo yang baru saja tiba di belakang panggung terlihat antusias dengan kehebohan para pemain. Eun Kyo meringis melihat sosok itu berjalan mendekat, bukan ke arahnya, melainkan ke samping Sungmin. Tapi dari posisi itu, Jung Soo dan Eun Kyo berdiri berhadapan. Spontan Eun Kyo mendekatkan tubuhnya ke dekat Donghae seakan meminta perlindungan dari deraan rasa yang menyerangnya bertubi-tubi. Entah pesona lelaki itu terlalu kuat entah Eun Kyo yang terlalu terikat padanya. Yang jelas, sebagian akal sehatnya gagal berfungsi sebagaimana harusnya kalau lelaki ini berada dalam jarak nafasnya, dalam jarak pandangnya.

“Aaaa, Jung Soo hyung. Tepat sekali kau datang. Kajja, kita mau berpesta di rumahku. Kau ikut, eoh? Pasti ikut tentu saja. Yak. Bersiap! Kita berangkaaaat…” seru Yesung.

Eun Kyo memilih duduk sendirian di pinggir kolam renang di pekarangan belakang kediaman keluarga Kyuhyun. Kakinya bergerak-gerak pelan di dalam air yang dingin. Sementara taman-temannya yang lain tengah sibuk mempersiapkan pesta barbeque dadakan yang, lagi-lagi, di usulkan Yesung. Beberapa tampak sibuk modar-mandir membawa bungkusan berisi daging dan juga minuman. Eun Kyo seakan tidak tertarik untuk bergabung di keriuhan itu saat ia mendapati Jung soo juga berada disana. Jadi ia lebih memilih duduk menyendiri disini.

“Disini dingin, kau bisa masuk angin,” sebuah sentuhan yang terasa hangat melingkupi bahu Eun Kyo dan sebagian tubuhnya. Mantel tebal itu baru saja di sampirkan Jung Soo di bahu Eun Kyo.

“Ah,” Eun Kyo tersentak kaget saat melihat orang yang paling ingin di hindarinya justru berada di dekatnya sekarang, “G-gomawo… Oppa…” gagapnya.

Jung Soo tersenyum, “Cheonmaneyo. Bagaimana keadaan Ahjussi? Sudah tiga hari ini aku tidak menjenguk beliau di rumah sakit,”

“Membaik. Sudah cukup membaik. Team Dokter juga mengatakan kalau Appa sudah jauh lebih baik,” Eun Kyo menjawab cepat-cepat. Ia merasa dua rasa yang bertolak belakang. Nyaman dan tidak nyaman di saat yang bersamaan. Matanya berputar-putar gelisah.

“Eung. Yoori Uisa~nim dan teamnya bisa di andalkan, kau jangan khawatir,” ujar Jung Soo seraya merengkuh pelan bahu Eun Kyo membuat gadis itu mendadak kaku.

“A-aku mau membantu yang lain,” Eun Kyo buru-buru berdiri.

Brukk!

Ketika berbalik, tulang keringnya malah menabrak kursi kayu dan membuatnya meringis menahan sakit.

“Gwenchana? Aish, kenapa tidak hati-hati Kyo~ya…” Jung Soo berjongkok memeriksa kaki Eun Kyo, tapi gadis itu cepat mundur hingga tangan Jung Soo hanya menyentuh angin. Namun lagi-lagi sial, telapak kaki Eun Kyo yang basah membuat langkahnya menjadi licin. Gadis itu oleng dan nyaris terjatuh membentur lantai di tepi kolam renang yang licin kalau saja tangan Jung Soo tidak menangkapnya dengan sigap.

“Hati-hati…” ujar Jung Soo kaget. Mantel yang tadi di pasangkan Jung Soo di tubuh Eun Kyo jatuh begitu saja ke lantai tepi kolam renang yang licin.

Eun Kyo menelan ludah saat wangi tubuh Jung Soo menguasai indra penciumannya. Wangi tubuh itu menguasai paru-parunya sedangkan hangat yang menguar dari tubuh Jung Soo dengan cepat melingkupi tubuhnya. Lelaki itu memeluk erat pinggang Eun Kyo hingga tubuh mereka menempel rapat pada tubuhnya. Wajah yang berjarak dalam hitungan beberapa centimeter itu tampak kosong seakan mengalami trance. Untuk beberapa saat lamanya, tidak ada akal yang berfungsi. Semua seakan bergerak oleh insting. Bahkan saat perlahan bibir Jung Soo menyapu permukaan lembab yang dingin bibir Eun Kyo, tetap saja akal sehat tidak kunjung mampir. Bibir Jung Soo yang lebih hangat, seperti menyalurkan rasa hangat bagi Eun Kyo. Gadis itu dengan refleks memejamkan matanya menikmati gerakan pelan namun intens dari Jung Soo. Instingnya yang berpengaruh saat dengan pelan namun pasti, bibirnya ikut bergerak meningkahi lumatan hangat dari Jung Soo. Membuka dan menutup pada ritme yang sama. Bergerak memberikan lumatan pelan pada bagian atas, bergantian dengan bagian bawah bibir mereka. Semua terasa pas, seakan sepasang bibir itu memang di ciptakan untuk melengkapi satu sama lain. Dengan mata terpejam, mereka menikmati sensasi getaran yang merayapi setiap jengkal syaraf.  Memabukkan. Lengan Jung Soo semakin merapat memeluk tubuh Eun Kyo.

Tidak pernah begini sebelumnya. Bahkan saat dengan Yeon Su rasanya tidak segila ini, dadanya tidak pernah berdebar sekencang ini, padahal dengan Yeon Su ia bisa melakukan yang lebih dari sekedar ciuman. Tapi dengan Eun Kyo, rasanya setiap gerakan pelan saja mampu mengalirkan jutaan respon yang menggila pada system tubuhnya. Semua system tanpa terkecuali. Ini bahkan jauh lebih luar biasa dari ciuman pertamanya. Jung Soo memejamkan matanya rapat-raoat menikmati setiap sensasi yang di timbulkan, enggan melewatkannya meski hanya sepersekian detik pun.

Tiba-tiba Jung Soo merasakan lembut bibir Eun Kyo berhenti bergerak, seiring dengan tubuh Eun Kyo yang mendadak kaku. Jung Soo membuka matanya saat merasakan bibir itu di tarik menjauh dengan paksa. Ia seakan kehilangan bagian tubuhnya.

“Eun Kyo…” desahnya kaget saat mendapati mata Eun Kyo terbelalak dengan tatapan horror seakan baru saja melihat pemandangan mengerikan. Bibir gadis itu, yang sekarang tampak basah memerah dan semakin menggelitik hasatnya, terlihat menganga kaget.

“A-..a..” hanya suara-suara yang keluar dari bibir Eun Kyo yang menunjukkan betapa terkejutnya ia akan apa yang barusan dia dan Jung Soo lakukan. Lelaki di hadapannya ini bukan orang bebas. Sebaliknya, Jung Soo lelaki yang mempunyai ikatan dan Eun Kyo malah melakukan kontak fisik yang berlebihan dengannya. Eun Kyo mendorong tubuh Jung Soo yang mendekap erat tubuhnya. Tapi lelaki itu justru menahannya. Jung Soo tersenyum lembut dan menatap bening bola mata Eun Kyo dalam-dalam.

“Aku mencintaimu,” katanya singkat. Lagi-lagi Eun Kyo di tampar dua rasa yang kontras. Senang sekaligus juga sakit. Orang yang kau cintai mengatakan kalau dia mencintaimu, tapi kenyataannya dia tidak bisa dimiliki. Mata Eun Kyo mendadak di liputi kabut dan mengabur.

“Kyo~ya…ak-…”

“Aku bertunangan dengan Donghae… Akan segera menikah,” potong Eun Kyo dalam satu tarikan nafas. Jung Soo membeku saat otaknya mencoba mencerna kalimat Eun Kyo barusan. Bertunangan? Menikah? Apa-apaan itu? Disaat dia memutuskan untuk melepaskan ikatan yang dia punya, Eun Kyo malah membuat ikatan baru, dan itu bukan dengannya.

“Tidak boleh…” Jung Soo mencengkram erat lengan Eun Kyo hingga gadis itu meringis, “Kau tidak boleh menikah dengan orang lain. Tidak boleh,” dia bicara dengan suara rendah yang dalam. Eun Kyo memandang Jung Soo dengan tatapan ngeri.

“Kau yang tidak boleh melarangku begitu! Aku berhak menikah dengan siapapun yang aku mau tanpa perlu repot-repot meminta persetujuanmu kan?!”

“Eun Kyo dengar, aku akan bercerai dengan Yeon Su. Setelah itu kita menikah. Aku mencintaimu, aku menginginkanmu dan…”

Plakk!

Sebuah tamparan mendarat telak di pipi kiri Jung Soo. Telapak tangan Eun Kyo yang tadi terayun sekarang bergetar. Tubuhnya ikut bergetar hebat dan berguncang karena emosi. Pedih terasa menyentak di talapaknya yang kini memerah. Bisa di pastikan, pipi Jung Soo pun juga mulai menunjukkan cetak jemari berwarna merah. Jung Soo diam meski rasa sakit bekas tamparan Eun Kyo masih terasa di pipinya.

“Mudah sekali, eoh? Menceraikan istrimu, lalu mengajak wanita lain menikah?! Mengajakku menikah?! Hah! Tidak ada jaminan kalau kau tidak akan melakukan hal yang sama padaku nantinya,” Eun Kyo berujar dengan nafas memburu dan dada turun naik menahan emosi. Namun ia berhasil menjaga nada suaranya agar tetap rendah.

“Aniya! Mungkin ini terlambat, tapi aku menyadari kalau yang aku inginkan itu kau, bukan Yeon Su,” Jung Soo berucap tegas.

“Apa kau berpikir begitu saat menolak perjodohan denganku? Tidak kan?! Kau mempertahankan hubunganmu dengan Yeon Su, eoh? Kau mempertahankan hubunganmu dengan dia, menikah dengan dia, lalu sekarang kau dengan seenaknya ingin menceraikan dia? Eoh? Kau…”

“Karena orang itu kau, makanya aku memutuskan begitu. Aku mau kau, Eun Kyo. Aku sudah bilang kalau aku terlambat menyadari apa yang aku inginkan,” tukas Jung Soo cepat. Ia menarik pergelangan tangan Eun Kyo saat gadis itu menunjukkan tanda-tanda akan beranjak pergi.

Eun Kyo menyentakkan tangan itu dengan kasar, “Kalau begitu, aku dengan senang hati bilang kalau kau sudah sangat terlambat Jung Soo~ssi. Sangat…sangat terlambat,” Eun Kyo menekankan setiap kata lalu berbalik cepat meninggalkan Jung Soo. Hatinya terasa sakit. Bukankah dengan begini, Jung Soo semakin membuatnya terlihat seperti perusak rumah tangga orang lain? Lelaki itu ingin menceraikan istrinya dan berbalik meminta Eun Kyo menjadi miliknya, Eun Kyo yang dulu di tolaknya mentah-mentah. Tidak ada kebanggaan sedikitpun menjadi wanita yang diinginkan kalau konteksnya begini. Rasanya Eun Kyo malah menjadi rendah, dan Jung Soo terlihat sangat egois. Sangat sangat egois. Eun Kyo membenci keegoisan Jung Soo yang begini, karena keegoisan itu bisa dengan pintar menyusup ke sela-sela pikiran setannya, membujuk dan merayu agar ikut terseret menjadi orang egois yang mementingkan diri sendiri. Tidak. Bukan begini yang dia impikan.

Mata Eun Kyo mencari-cari sosok yang selalu di butuhkannya setiap kali penat. Sosok yang bahkan menurut Eun Kyo tidak punya rasa egoisme sedikitpun. Lee Donghae. Lelaki itu sedang tertawa kecil di dekat pemanggang daging. Eun Kyo mempercepat langkahnya mendekati Donghae.

“Donghae~ya…” ucapnya dengan nafas masih memburu cepat. Donghae, Ryeowook dan Jang Mi yang berada di dekat sana sedikit kaget dengan kehadiran Eun Kyo yang tiba-tiba, terlebih wajahnya terlihat sedikit pucat.

“Nde?” sahut Donghae, ia menyodorkan air mineral pada gadis itu yang langsung meneguknya tandas, “Gwenchanayo?” tanya Donghae. Eun Kyo mengangguk. Ia berusaha mengatur nafasnya. Matanya memandangi wajah-wajah yang sangat di kenalnya. Kyuhyun, Yesung, Ae Rin, Ahra, Hyukjae, Sungmin, Min Yeon, Ryeowook, Jang Mi, lalu Donghae. Ia sengaja melewati wajah lelaki yang baru saja ikut bergabung dengan kumpulan orang-orang ini. Enggan menatapnya karena hanya akan membuat setan di kepalanya berseru senang dan membuat kekacauan.

Eun Kyo meraih gelas champagne yang tinggal berisi separuh.

Ting! Ting!

Ia memukulkan garpu pada tepi gelas tersebut untuk menarik perhatian teman-temannya. Wajahnya di buat sedatar mungkin.

“Aku mau memberikan pengumuman penting,” katanya, kali ini dengan senyum yang tersungging di wajah cantik itu. Senyum yang justru membuat Jung Soo bergidik ngeri.

Eun Kyo menarik nafas dalam sebelum membuka mulutnya, “Aku akan segera bertunangan dan menikah…dengan Donghae,”

Hening.

Kalimat Eun Kyo barusan memberikan sentakan kejut yang luar biasa. Donghae yang berdiri di sampingnya mematung kaku. Donghae tau kalau Eommanya bermaksud menjodohkannya dengan Eun Kyo. Tapi yang tidak dia ketahui adalah gadis ini sudah menerimanya. Eun Kyo belum membicarakan hal ini. Mereka berdua sama sekali belum mendiskusikan akan di bawa kemana rencana Eomma Donghae dan Appa Eun Kyo. Sekarang tiba-tiba saja Eun Kyo mengumumkan hal ini.

“Ini…serius?” suara Kyuhyun lebih dulu memecah keheningan. Eun Kyo mengangguk tegas.

“Tentu saja serius Kyuhyun~a. Kau pikir ini naskah drama, eoh?” dengusnya.

“Kalau begitu buktikan,” celetuk Yesung. Beberapa mata kali ini berbalik memandang Yesung dengan tatapan tidak mengerti.

“Apanya yang di buktikan?” tanya Hyukjae bingung.

“Yaaah, buktikan. Cincin? Ataaaauuu…ciuman mungkin?” Yesung angkat bahu.

Bukan hanya Donghae yang tersentak kaget mendengar saran bodoh dari Yesung, tapi Jung Soo juga. Tubuh itu menjadi kaku seketika. Kalau saja gelas di tangannya tidak di letakkan ke atas meja, Jung Soo yakin gelas itu bisa remuk kapan saja.

Ciuman? Eun Kyo dan Donghae? Demi Tuhan, Jung Soo tidak rela ada orang lain yang menyentuh bibir gadis itu. Ataupun menyentuh sedikit saja tubuh itu. Eun Kyo miliknya! Ingin sekali Jung Soo meneriakkan kata-kata kosong seperti itu. Kosong. Karena Eun Kyo sama sekali bukan miliknya.

Donghae angkat bicara mengisi kekosongan “Eun Kyo… aku tidak tau kalau…”

“Aku kebetulan mendengar usulan perjodohan itu dari Appa, kau keberatan?” tanya Eun Kyo mulai cemas. Gila, dia belum membicarakan hal ini dengan Donghae tapi malah dengan seenaknya mengumumkan hal sepenting ini. Dia tidak tau Donghae akan menyetujuinya atau tidak. Dia bahkan tidak tau Donghae memiliki kekasih atau tidak. Yah, kalau untuk masalah yang satu itu, mungkin Eun Kyo bisa memastikan tidak ada gadis lain yang dekat dengan lelaki itu selain dia dan Ae Rin. Tapi…bisa saja ada kan? Eun Kyo menggigit-gigit bibirnya dengan cemas.

“Ani…bukan itu…” Donghae memijit keningnya dengan bingung. Perasaannya pada Eun Kyo bukan perasaan dangkal yang bisa di jabarkan dengan mudah. Dia dan Eun Kyo terlalu rumit untuk di jelaskan. Yang Donghae tau dengan pasti adalah, lelaki yang sampai detik ini di cintai Eun Kyo adalah Jung Soo. Ah, bodohnya. Kenapa Donghae bisa melupakan ada Yeon Su. Donghae mulai menemukan benang merahnya. Gadis ini sedang menjadikannya tameng agar bisa keluar dengan aman dari lingkup masalah apapun yang terjadi antara Jung Soo dan Yeon Su.

Donghae tersenyum tipis. Tidak masalah kalau Eun Kyo hanya menjadikannya pelindung. Bukankah prioritasnya adalah untuk memastikan Eun Kyo baik-baik saja? Kalau dengan begini Eun Kyo akan baik-baik saja, maka tidak ada masalah baginya.

“Hanya ciuman kan?” ujar Donghae seraya meraih dagu Eun Kyo. Mata teduhnya menatap kedalam mata Eun Kyo seakan menenangkan dan mengatakan kalau semua akan baik-baik saja. Eun Kyo nyaris menangis mendapati Donghae yang memahaminya hingga ke titik dimana Eun Kyo sendiri tidak bisa paham.

Eun Kyo bisa merasakan hembus aroma laut yang hangat saat wajah Donghae sudah berada dalam radius sangat dekat dengannya. Ia reflek memejamkan mata dan menulikan pendengarannya dari semua suara riuh. Namun hatinya tetap saja bisa menangkap tarikan nafas tertahan dari lelaki yang berdiri di sudut meja. Lelaki itu harus melihatnya. Harus. Jung Soo harus tau kalau Eun Kyo bisa lepas darinya.

Dua sentuhan yang berbeda dari dua orang yang berbeda pula dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama. Jung Soo bergerak dengan penuh kejutan dan mendesaknya agar memberi kejutan serupa, tapi Donghae, gerakan bibirnya terlalu lembut, seakan Eun Kyo adalah lapisan tipis air beku yang bisa retak jika ia bergerak terlalu banyak.

“Dia pergi,” bisik Donghae di sela kecupan yang di berikannya pada Eun Kyo. Gadis itu membuka matanya dan mendapati mata Donghae sedang memandangnya intens. Detik berikutnya kembali sebuah kecupan ringan mendarat di bibir Eun Kyo sebelum kemudian Donghae menarik wajahnya menjauh.

Terdengar sorakan dan siulan riuh dari teman-temannya. Tapi semua seperti lewat begitu saja di telinga Eun Kyo. Seruan Kyuhyun, jerit tertahan dari Ae Rin, pekik menyemangati dari Hyukjae dan Yesung, hingga siul-siulan Jang Mi terdengar namun tidak mampir di telinganya. Matanya menyapu sekeliling dan tidak mendapati sosok itu disana. Donghae benar, Jung Soo pergi, tanpa ada satu orang pun diantara teman-temannya menyadari. Andai saja. Andai semudah itu Jung Soo beranjak dari benaknya, dari hatinya. Rasa itu pasti tidak akan semenyiksa ini.

~oOo~

Brakk!

Suara benturan kertas beradu dengan dinding kamar terdengar di susul oleh suara seruan penuh emosi dari Yeon Su.

“Aku tidak akan tanda tangan!! Kau dengar?! TIDAK AKAN!!”

Jung Soo menggeretakkan giginya menahan emosi yang kalau tidak di kendalikan bisa meledak kapan saja. ia sudah cukup penat beberapa hari ini. Berita pertunangan Eun Kyo yang segera disusul dengan pernikahan sungguh membuat perasaannya kacau balau. Di tambah lagi tingkah Yeon Su belakangan ini yang membuat amarahnya bisa tersulut dengan mudah. Ia sudah berusaha mempertahankan eksistensi Yeon Su di hadapan kedua orang tuanya, tapi istrinya itu malah menghancurkan sendiri imej baik yang sudah berusaha Jung Soo bangun dengan bersikap angkuh dan meremehkan pada pendapat keluarga Jung Soo, terutama Eomma. Jung Soo tidak tau lagi bagaimana cara meyakinkan Eomma untuk tetap menerima hubungannya dengan Yeon Su sedangkan Jung Soo sendiri saja sudah tidak memiliki kekuatan untuk bertahan.

Rasanya tekanan untuk rumah tangga mereka datang dari dua belah sisi. Luar dan dalam.

“Aku sudah tidak bisa bertahan lagi Yeon Su. Ini sudah pada batasnya. Aku lelah,” desahnya putus asa. Mata Yeon Su yang tadi memerah karena amarah kini basah. Emosinya mengembun dan menetes diam-diam dari sudut matanya.

“Wae? Kau tidak mencintaiku lagi, eoh? Oppa? Eoh?” isaknya.

Jung Soo memejamkan matanya dan menarik nafas. Ia kemudian membuka mata lalu berjalan pelan mendekati Yeon Su. Tangannya terulur merangkum kedua sisi pipi istrinya.

“Kau mencintaiku?” ia bertanya.

“Sangat. Kau tau aku sangat mencintaimu kan? Aku menggilaimu oppa! Aku menginginkanmu!” ia kembali berseru dengan suara keras. Tangannya terangkat memukul dada Jung Soo berkali-kali.

“Bagaimana kalau kau tidak bisa mendapatkanku?” tanya Jung Soo.

“Tidak ada yang boleh memilikimu selain aku,” jawabnya sengit, “Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka yang lain juga tidak akan kubiarkan memilikimu. Aku akan mati-matian membuatmu tetap berada di sampingku. Aku mencintaimu sebanyak itu Oppa!” Yeon Su menjerit histeris.

“Tidak. Kalau begitu caramu mencintaiku, aku tidak rela menyebutnya sebagai cinta. Itu obsesimu. Kau terobsesi padaku. Dan aku…” Jung Soo menelan ludahnya kelu, “maafkan aku… Yeon Su…maafkan aku…” mata Jung Soo memerah menahan luapan emosi yang sarat rasa bersalah. Ia tertunduk dalam di hadapan Yeon Su. Tangannya yang tadi merangkum pipi wanita itu, kini jatuh perlahan dan kembali ke samping tubuhnya. Lelaki itu lunglai. Rasa bersalah serasa menyumbati hingga kerongkongannya. Membuatnya sulit untuk sekedar bernafas.

“Maafkan aku Yeon Su~ya. perasaanku tidak sedalam itu. Maafkan aku… tolong, lepaskan aku. Aku tidak mau menyiksamu lagi dengan tetap bersamaku begini,” pintanya dengan suara tercekat di tenggorokan.

Yeon Su mencengkram lengan Jung Soo dengan kuat. Kuku-kukunya menyakiti kulit Jung Soo. Tapi lelaki itu bahkan tidak menepisnya. Dia membiarkan saja cengkraman Yeon Su meninggalkan jejak dalam di lengannya.

“Kalau kau terus bersamaku, kau akan kehilangan kesempatan untuk menemukan orang yang benar-benar cinta sejatimu. Lepaskan aku Yeon Su,”

“Aku tidak mau. AKu mencintaimu Park Jung Soo. Sangat mencintaimu!”

“Cinta saja tidak cukup,” Jung Soo memukas dingin, “Kau bahkan tidak bisa mengorbankan egomu sendiri kan? Kau bertahan dengan keangkuhanmu. Kau bersikap tidak peduli pada apa yang menjadi keinginanku,”

Yeon Su menghempaskan tangan Jung Soo, “Masalah anak lagi? Eoh? Kau sangat ingin punya anak, eoh? Eommonim juga ingin punya punya cucu darimu, eoh? Eoh?! Keluargamau juga menuntut itu?”

“Itu salah satunya,” Jung Soo berucap pelan. Hanya salah satu dari banyaknya ketidak cocokan yang selama ini hanya dia paksakan. Ia menilik kembali alasan menikahi wanita ini. Bukan cinta? Entahlah. Jung Soo hanya merasa egonya menang saat ia menolak perjodohan yang di anggapnya konyol dan menikahi wanita cantik yang banyak diminati para pria. Sampai di titik ini Jung Soo merasa ia lelaki brengsek.

“Kau tidak bisa menunggu sebentar saja? Karirku sedang di puncak dan kehadiran anak hanya akan mengacaukan semuanya oppa. Kau juga tidak mau kan kalau…”

“Sudahlah,” potong Jung Soo. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan kalau pemikiran mereka memang tidak sejalan begini. Rasa hatinya sudah tawar. Hambar.

“Aku tidak bisa menemukan satu titik dimana kita punya tujuan yang sama Yeon Su~ya. Ini terlalu di paksakan. Aku tau ini egois. Tapi…maaf…”

Jung Soo beranjak mundur. Ia melangkah meninggalkan wanita itu yang masih membeku di tempatnya berdiri tadi.

“Karena Eun Kyo kan? Kau menggugat cerai aku karena Eun Kyo!” Yeon Su menjerit lagi. Kali ini ia melemparkan vas bunga di atas meja hingga benda itu berderai membentur dinding.

Eun Kyo bukan penyebab. Eun Kyo adalah jawaban untuk rasa janggal yang terus melingkupiku. Sayangnya aku terlalu bersikap sombong dan pada akhirnya keegoisanku malah menyakitimu Yeon Su. Menyakiti Eun Kyo terutama. Aku rela, kalau pada akhirnya dia tidak bersamaku, aku rela. Aku hanya ingin mengikuti perasaan yang sudah didukung logika. Bukan perasaan yang didominasi egoisme dan harga diri tinggi yang tidak jelas seperti sebelumnya.

~oOo~

Jung Soo’s POV

Bagaimana kalau aku menemukan cinta sejatiku justru di saat aku sudah terikat pernikahan?

Aku sudah pernah mendengar kalimat itu sebelumnya. Dan sekarang, aku mengalaminya. Mungkin tidak tepat seperti itu. Aku sudah menemukannya sejak lama, sejak sangat lama. Namun aku terlambat menyadarinya.

Keterlambatan yang menyesakkan karena aku harus melihat dia tidak untukku. Aku hanya bisa melihatnya dari tempatku berdiri sekarang. Aku tau aku bodoh. Membiarkan hatiku sakit dengan melihat lelaki lain mulai mengikatnya.

Cincin itu di sematkan disana. Setan di kepalaku berusaha menghibur dengan embal-embel pertunangan. Hanya pertunangan dan ini bisa di putus, begitu bisik makhluk-makhluk bertanduk yang belakangan kerap menghuni kepalaku. Tapi ada sisi putih yang mencegahku. Aku tidak boleh mengacaukan hidupnya lagi. Aku tidak bisa melihat dia terluka lagi. tanpa dia katakan pun aku tau dia sakit karena aku. Untuk kali ini, bolehlah aku berbangga hati karena rasa sakitnya itu datang dari rasa cinta yang ia punya untukku. Aku mencintainya dan dia mencintaiku. Sayangnya, seperti yang sudah aku pernah bilang, cinta saja tidak cukup. Karena kadang cinta tidak dan takdir tidak berjalan di satu jalur.

Aku tetap saja bertahan disini dan melihat dia menyematkan cincin ke jemari Donghae. Mereka sudah terikat pertunangan sekarang.

Eun Kyo dan Donghae membuat ikatan baru dan aku memutuskan ikatanku yang lama. Aku tidak menyesali ikatanku yang terputus. Karena meski aku tidak mendapatkan Eun Kyo, tapi aku tau apa yang hatiku benar-benar inginkan.

~oOo~

Eun Kyo’s POV

Disinilah aku sekarang setelah ‘melarikan diri’ dari after party acara pertunanganku dengan Donghae. Aku tidak bisa menjabarkan detail perasaanku ataupun detail acara tadi. Kesadaranku sempat menatap kehadirannya sebelum kemudian menghilang. Kewarasanku juga ikut menghilang. Aku mengikuti instingku saja hingga akhirnya membawaku ketempat ini.

Aku berdiri terpaku meski rintik hujan pelan-pelan mulai jatuh dan membasahi aku. Aku belum merasakan dinginnya. Mungkin karena terlalu banyak alkohol yang sedari tadi kuminum. Tapi aku masih sadar tentu saja. Kalau tidak, mana mungkin aku bisa menyetir mobilku dan tiba di tempat ini. Di depan rumah kayu di tepi danau tempat aku kerap bermain dulu saat masih kecil. Rumah ini masih terlihat kokoh dan terawat. Aku meneliti setiap sudut bagian depan rumah ini dengan mataku. Berusaha memutar kembali memori masa kecil di tempat ini. Saat memori itu terputar kembali, aku mendapati betapa banyaknya sosok dia memenuhi tiap jejak kenanganku di tempat ini.

“Dingin. Kau bisa sakit,”

Aku tersentak kaget ketika kurasakan ada jas yang menutupi bahuku yang terbuka. Benda itu membungkus hangat tubuhku yang tadi terbalut gaun yang mulai basah. Namun yang membuat seluruh aliran darahku merasa hangat adalah aroma khas yang aku sukai ini. Wangi tubuhnya menyergap indraku. Semua indra tanpa terkecuali.

“Oppa? Kau…disini?”

Dia tersenyum. Manis sekali. Hangat. Senyum paling indah yang menarikku dalam pesonanya dan mengikatku kuat-kuat tanpa bisa berpaling apalagi lari. Park Jung Soo berada disini juga, bersamaku.

“Harusnya aku yang bertanya kan? Kenapa kau berada disini. Bukankah malam ini acara pertunanganmu?”

“Acara itu, hanya tinggal after party. Kurasa aku tidak perlu ikut. Kebanyakan laki-laki,” sahutku menajawb pertanyaannya. Tidak ada lagi sahutan. Dia hanya berdiri di sebelahku, di bawah rintik hujan yang makin lama makin banyak. Makin basah. Entah dimana letak nilai estetik dari kondisi kami sekarang. Hujan, dan mematung di depan sebuah rumah kayu. Tapi dia indah sekali. Air hujan yang turun satu-satu menjejaki kulit wajahnya dan tubuhnya juga. Hanya dengan melihatnya saja aku merasa hangat. Padahal jelas-jelas pakaianku lembab karena tetesan hujan.

“Mau masuk?” dia bertanya, “Rumah ini bersih, aku sudah meminta orang membersihkannya. Lagipula disini dingin,”

Kali ini saja, bolehkah aku bertindak egois? Hanya untuk kali ini saja, aku ingin melupakan beberapa batas yang ada. Aku lelah, sungguh lelah berlari dari sesuatu yang bahkan tidak benar-benar bisa aku hindari begitu saja.

“Kalau kau tidak mau masuk, aku bisa mengantarmu pulang. Kau bisa sakit kalau terus berdiri di tengah hujan begini,”

“Aku mau masuk,”

Kudapati ia menatapku bingung, karena saat berkata begitu, jemariku meraih telapak tangannya dan menggenggamnya erat. Kali ini, hanya kali ini saja. Mianhae… Appa… Mianhae…Donghae~ya…

~oOo~                                                                      

Eun Kyo mengerapkan matanya perlahan. Rasa pusing yang luar biasa menyerang ketika matanya terbuka. Ia memijit perlahan keningnya sebelum kemudian ia terkesiap kaget.

“Jung Soo oppa?” desisnya tertahan. Lelaki itu tengah tidur nyenyak. Wajah polosnya saat tertidur membuat jemari Eun Kyo seakan terhipnotis untuk menyusuri lekuk wajah lelaki yang kini berada di hadapannya dan tengah memeluknya. Bahu telanjang lelaki itu bergerak pelan seirama dengan nafasnya.

Mata Jung Soo bergerak perlahan mengerjap dan membuka. Matanya menangkap wajah wanita yang bisa membuat hatinya menggelepar karena cinta dan sakit. Wanita itu kini tengah berada di hadapannya. Jung Soo menahan tangan Eun Kyo ketika wanita itu hendak menarik tangannya dari wajah Jung Soo. Ia menempelkan punggung tangan Eun Kyo, mengecupnya lembut, sebelum kemudian menempelkan telapak tangan itu ke wajahnya.

“Good morning,” bisik Jung Soo. Apa dia pernah menemukan pagi seindah ini sebelumnya? Membuka mata saat terbangun di pagi hari dan mendapati wanita ini tengah berada dalam pelukannya. Terkubur dalam hangat selimut bersamanya. Baru hari ini, tapi entah kenapa Jung Soo merasakan ada banyak hari-hari seperti ini sebelumnya. Wangi yang familiar, hangat yang di kenali tubuhnya. Hasrat yang bergerak liar tidak terkendali. Pernahkah hal ini terjadi sebelumnya? Atau di kehidupan sebelumnya?

“Good morning,” sahut Eun Kyo pelan. Dadanya bergemuruh hebat saat mata Jung Soo menatapnya dalam-dalam. Ia bisa merasakan tangan Jung Soo bergerak menarik tubuhnya merapat. Kilasan-kilasan kejadian semalam terputar dalam memorinya. Setiap sentuhan dan gerakan yang membuatnya melenguh, mengerang dan merintih. Ledakan luar biasa melambungkannya berkali-kali lalu menghempaskan tubuh lelahnya hingga tertidur.

“Saranghaeyo…” Jung Soo berbisik, seiring dengan hembus nafasnya yang menyapu permukaan wajah Eun Kyo. Saling meghipnotis dan terhipnotis. Bibir Jung Soo kembali merengkuh kehangatan bibir Eun Kyo. Menyesap permukaannya dengan lembut. Menggodanya habis-habisan, membuat Eun Kyo ikut bergerak dengan harmonisasi yang indah bersamanya.

Hanya beberapa detik, ada sengatan yang menyentak kesadaran Eun Kyo. Saat telapak Jung Soo membelai lembut pinggangnya di balik selimut yang menutupi tubuh mereka, seakan ada dering lonceng berdenging di telinganya. Mata Eun Kyo yang semula terpejam mendadak membelalak. Ia menyentakkan tubuh Jung Soo hingga setiap sentuhan yang terjadi terputus begitu saja.

Jung Soo menatapnya heran. Mata Eun Kyo yang mendadak memerah membuat nafasnya tercekat.

“Ini salah…” getar suara Eun Kyo. Ia bergegas bangkit. Menarik ujung selimut lalu menutupi tubuhnya. Di raihnya helai pakaian yang tercecer di lantai dengan mata kabur karena berkabut. Tergesa ia memakai penutup tubuhnya yang semalam dengan mudahnya bisa di lucuti Jung Soo. Alkohol sialan! Brengsek! Batinnya marah. Tapi jauh di dasar hatinya, ia menyadari kalau alkohol hanyalah faktor minor dalam hal ini. Peristiwa semalam terjadi karena akal sehatnya sudah di tiup jauh entah kemana.

“Eun Kyo~ya…” Jung Soo menyentuh pelan bahu Eun Kyo yang baru saja mengenakan kembali gaunnya. Eun Kyo berbalik, menatap lelaki yang kini sudah mengenakan celananya dan bertelanjang dada di hadapannya. Eun Kyo bisa melihat beberapa bekas goresan kukunya yang menghiasi dada Jung Soo. Apa yang sebenarnya semalam dia lakukan? Kenapa dia bisa hilang akal sehat sampai segila ini?

“Lepas oppa,” katanya pendek. Melepaskan Eun Kyo? Padahal ia sudah membatukan hati untuk menahan sakit saat memutuskan untuk merelakan Eun Kyo. Tapi hanya dengan melihat Eun Kyo saja, kekerasan hatinya bisa meleleh seperti batu es yang mencair. Ia tidak rela. Tidak bisa merelakan Eun Kyo mengikat janji dengan orang lain selain dia. Beginikah yang dirasakan Eun Kyo sebelumnya? Saat dia dengan sombongnya memutuskan untuk menikah dengan Yeon Su? Kalau begini rasanya, Jung Soo benar-benar angkat topi untuk ketangguhan Eun Kyo. Wanita ini kuat sekali untuk tetap bisa berdiri, sedangkan Jung Soo, saat ini rasanya seluruh tulang belulangnya di lucuti. Ia seakan menderita osteoporosis mendadak hingga untuk tetap berdiri pun goyah rasanya.

“Kita pergi saja, eottohke?” ucap Jung Soo.

“Pergi?”

Jung Soo mengangguk, “Pergi ke tempat tidak ada orang yang mengenali kita. Pergi jauh dari semua ini. Kita hidup berdua,”

Ajakan yang menggiurkan. Pergi jauh ke tempat dimana tidak ada orang yang menegnali mereka. Pergi jauh tanpa mempedulikan apa yang tertinggal. Kemana? Alaska? Antartika? Bermuda? Kemana saja Eun Kyo merasa ia akan mengiyakan.

Dering ponsel mengejutkan Eun Kyo dari pikiran-pikiran gila yang menghinggapi benaknya sesaat tadi. Ia melepaskan kontak mata dengan Jung Soo yang bisa saja membuatnya kehilangan kewarasan. Matanya mencari-cari letak tas dimana ia menyimpan ponselnya.

“Yoboseyo…” sahutnya saat melihat nama Kibum tertera di layar, “Nde? Mwoya?! Ye..ye..arraseo..”

Wajah Eun Kyo terlihat panik, ia memasukkan ponselnya kembali kedalam tas dengan tergesa.

“Waeyo?” tanya Jung Soo.

“Appa, serangan jantung…” katanya dengan wajah tegang.

~oOo~

Donghae duduk di depan salah satu kursi di depan kamar sebuah Rumah Sakit. Di sebelahnya Kibum tampak sedang berbicara dengan salah satu dokter.

“Kuharap hanya serangan jantung ringan. Tim dokter akan segera mengambil tindakan,” ujar Kim Yoori, Dokter senior yang memang menangani keadaaan Tuan Park, pada Kibum. Dia tampak memberi arahan dengan cekatan pada dokter-dokter yang berada di tim yang sama.

“Kim Hyun Eun~ssi, tolong panggilkan Cho Jae Hyun~ssi kemari, aku butuh bantuannya untuk menangani Tuan Park,” perintahnya pada salah satu perawat.

“Nde, Kim Songsaenim,” Hyun Eun mengangguk.

“Oo, Park Yoon Bi~ssi juga. Pasien yang di tanganinya sudah membaik. Cukup Ae Ra~ssi saja di sana,” tambahnya sebelum masuk ke dalam ruangan.

Wajah datar Kibum tidak mampu menutupi gurat cemas yang hinggap disana. 3 dokter sekaligus di kerahkan untuk menangani keadaan Abeojinya. Apa separah itu? Seingatnya tadi malam Abeoji masih tersenyum saat berada di acara pertunangan Eun Kyo dan Donghae.Kibum melirik wajah Donghae yang sedang memasang wajah dengan ekspresi tidak terbaca. Lelaki bermata teduh itu tampak memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket yang dia kenakan.

“Hyung,” baru saja Kibum angkat bicara. Dua dua sosok tampak tergopoh-gopoh menyusuri lorong rumah sakit dan berhenti tepat di depan kedua lelaki ini.

“Eun Kyo noona…Jung Soo hyung…” desisnya. Matanya menyipit melihat Eun Kyo yang masih mengenakan gaun yang sama dengan gaun yang di kenakannya semalam pada pesta pertunangan.

“Appa bagaimana, Kibum~a?” tanya Eun Kyo dengan nafas memburu. Ia mencengkram erat lengan Kibum.

“Sedang di dalam noona. Semoga saja tidak apa-apa,” sahut Kibum. Ia menangkap bahu Eun Kyo agar wanita itu tidak terjatuh.

“Permisi. kami mau masuk,” tampak dua orang mengenakan jubah putih khas dokter bergegas menyelinap masuk ke dalam kamar tempat Tuan park terbaring. Salah satu dari mereka tampak terdiam sejenak menatap Jung Soo.

“Yoon Bi eonnie, ppalli,” rekannya setengah berseru mengingatkan.

“N-nde Jae Hyun sunbaenim…” ia mengikuti langkah rekannya dan menutup pintu dengan cepat.

Beberapa menit berselang hanya keheningan yang melingkupi mereka yang berdiri disana. Eun Kyo tampak duduk dan bersandar pada bahu Donghae. Tangan lelaki itu menggenggam erat telapak tangan Eun Kyo yang dingin. Jung Soo berdiri tanpa suara dengan bersandar pada dinding di hadapan mereka. Kibum yang juga berdiri, bersandar di samping pintu sesekali mengangkat wajahnya, menilai ekspresi yang di tunjukkan oleh tiga orang ini.

Kibum yakin, Donghae tau sesuatu. Tapi lelaki itu tidak banyak bicara. Bahkan untuk menanyakan kenapa tunangannya bisa bersama dengan lelaki pun tidak di lakukannya. Donghae hanya diam dan tersenyum menenangkan Eun Kyo.

“Jung Soo hyung, bisa ikut aku sebentar,” kata Kibum. Tanpa suara, Jung Soo mengangguk. Ia mengikuti langkah Kibum yang berjalan meninggalkan tempat itu di iringi tatapan heran dan was-was dari Eun Kyo. Wanita itu mengangkat kepalanya yang tadi tersandar di bahu Donghae.

“Mereka mau kemana?” tanya Eun Kyo. Sedetik kemudian ia mengutuki dirinya habis-habisan saat melihat senyum lembut yang di berikan Donghae padanya. Di lihat darimanapun, penampilannya saat ini sungguh sangat tidak wajar. Meninggalkan pesta pertunangan semalam dan sepagi ini muncul di rumah sakit bersama lelaki lain.

Eun Kyo menggigiti bibir bawahnya dengan raut wajah penuh rasa bersalah.

“Mungkin beli minuman. Kau sudah makan, eum? Wajahmu pucat sekali, Eun Kyo,” tanya Donghae.

“Belum…aku belum makan…” jawabnya dengan lidah kelu.

“Aku belikan makanan dulu, eoh. Kau tunggu disini saja,”

“Andwae,” Eun Kyo dengan cepat menahan tangan Donghae yang hendak beranjak, “Jangan kemana-mana. Kau disini saja Donghae~ya. Aku…aku membutuhkanmu…disini,” dia tergugu. Matanya lagi-lagi mengabur dan penuh dengan air mata yang siap jatuh. Donghae urung berdiri, sebaliknya ia malah menarik tubuh Eun Kyo kedalam pelukannya.

“Gwenchana… semua baik-baik saja. Tidak apa…” bisiknya seraya mengeratkan pelukan pada tubuh Eun Kyo yang berguncang dalam dekapannya. Ia tau tunangannya itu sedang menangis di dadanya.

“Mianhae…jeongmal mianhae…” isak Eun Kyo. Donghae mengusap punggung Eun Kyo dengan lembut.

“Jangan meminta maaf. Aku merasa seperti orang yang di sakiti,” sahut Donghae dengan gumaman pelan.

Tangis Eun Kyo teredam. Rasa bersalah menekannya semakin dalam. Rasa sesak seperti ini justru membuatnya sulit menangis bahkan bernafas. Ia sudah menyakiti orang sebaik ini, tapi Donghae malah melarangnya minta maaf. Ah, iya. Kata maaf saja tidak cukup. Bagaimana bisa ia jadi manusia yang tidak punya hati begini? Mungkin serangan jantung yang di alami Appa adalah peringatan untuk sikap egoisnya dan tidak bertanggung jawabnya.

~oOo~

“Keadaan Tuan Park sudah tidak terlalu menghawatirkan. Tapi tetap masih butuh perawatan intensif. Aku harap tidak ada hal-hal yang jadi beban pikiran ataupun mengejutkannya lagi,” ujar dr.Yoori.

“Sudah boleh di jenguk, Yoori Uisa~nim?” tanya Kibum.

“Belum. Rekan dokter yang lain masih memeriksa perkembangannya. Kalau sudah stabil, kalian bisa menjenguk,” jawabnya, “Tapi maksimal dua pengunjung. Jangan terlalu ramai,” tambahnya. Kibum mengangguk mengerti.

“Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu. kalau ada masalah kalian bisa langsung menghubungiku,” pamitnya, seraya tersenyum pada Kibum, Eun Kyo, dan Donghae. Yoori juga terlihat menepuk lengan Jung Soo dengan akrab. Dokter yang juga merangkap sebagai dokter keluarga Jung Soo itu berjalan melewati lorong rumah sakit yang memang tidak terlalu ramai. Kamar tempat Tuan Park di rawat adalah jajaran ruangan kelas satu yang memang tidak mengizinkan terlalu banyak pengunjung yang berlalu lalang.

Eun Kyo terduduk lemas namun juga lega. Lengan kokoh Kibum dengan sigap merangkulnya.

“Sudah tidak apa-apa noona. Jangan khawatir,” tenangnya. Eun Kyo mengangguk-angguk. Ia merasa letih, sangat letih sekali saat ini.

“Pakai ini Kyo~ya…” Jung Soo menyodorkan jasnya pada Eun Kyo karena wanita itu hanya mengenakan gaun dengan potongan leher yang rendah. Suasana sontak canggung. Kibum memandang Eun Kyo sementara Eun Kyo menatap jas dan wajah Jung Soo bergantian. Ia menarik nafas sebelum kemudian berdiri dan melangkah melewati Jung Soo untuk menghampiri Donghae yang bersandar di dinding.

Eun Kyo meraih jaket Donghae yang tersampir di lengan, lalu memasangkan jaket milik lelaki itu ke tubuhnya. Jung Soo tertegun. Apa ini cara Eun Kyo menyampaikan padanya apa yang Eun Kyo mau? Donghae. Bukan dia. Senyum pedih dan raut luka tergurat di wajahnya.

“Aku benar ternyata. Kau disini oppa? Tidak pulang semalaman dan sekarang berada disini?” kalimat yang terlontar dengan nada sinis itu membuat empat pasang mata menoleh.

“Yeon Su?” desis Jung Soo. Ia melihat wanita itu tengah berdiri dan memandangnya dengan wajah angkuh.

“Nde? Kenapa terkejut? Harusnya aku yang terkejut oppa. Suamiku berada disini, masih dalam pakaian yang sama dengan semalam ia pergi. Omooo, bisa jelaskan padaku apa yang terjadi?” ujarnya tajam. Jung Soo menggeram marah. Apa mau wanita ini? Bukankah mereka sudah bercerai? Mantan suami, bukan suami.

“Yeon Su…” tegurnya.

Tapi wanita itu mengabaikan peringatan Jung Soo, “Kalau kau lupa bagaimana cara menjelaskannya, bagaimana kalau aku bantu mengingatkanmu oppa? Donghae, kau juga tau kan apa yang terjadi? Keberatan tidak menunjukkan fotonya pada mereka berdua? Supaya mereka ingat dan berhenti berpura-pura seakan tidak terjadi apa-apa,”

“Foto? Foto apa?” Eun Kyo memandang Yeon Su dan Donghae bergantian. Donghae menggeleng.

“Tidak ada, tidak usah dengarkan dia Eun Kyo,” Donghae meraih kedua sisi wajah Eun Kyo. Telapak tangannya berada di telinga Eun Kyo seakan menutupi pendengaran Eun Kyo dari semua perkataan Yeon Su. Wanita itu menghentakkan kakinya dengan kesal.

“Kau melindunginya?! Kau masih tetap mempedulikannya begitu padahal dia sudah menyakiti hatimu?! Eoh?! Yak! Lee Donghae!” desak Yeon Su tidak sabar.

“Yeon Su, ikut aku pulang,” Jung Soo menarik pergelangan tangan Yeon Su.

“Andwae!” sentak Yeon Su. Matanya nyalang menatap Jung Soo lalu mengalihkan pandangannya pada Donghae dan Eun Kyo. “Mau sampai kapan kau membiarkan dia menyakitimu ha? Tunanganmu itu tidur dengan suamiku!!”

Prangg!!

Botol Coke melewati wajah Yeon Su dan membentur dinding rumah sakit. Percikan Coke menciprati pipi wanita itu. Tidak ada suara karena semua yang ada di sana tersentak kaget.

“Silahkan pergi dari sini,” kalimat singkat dan dingin yang keluar dari mulut Kibum membuat Yeon Su bergidik ngeri. Wajah lelaki itu tampak datar tanpa ekspresi, namun tatapan matanya tajam sekaligus dingin. Kibum meraih segelas Coke lagi untuk menggantikan Coke yang tadi di lemparkannya ke dinding.

“T-tidak m-mau,” Yeon Su masih berkeras meski kini suaranya terdengar bergetar takut. Tatapan Kibum serasa mengulitinya.

“Kalau begitu tutup mulutmu,” ujar Kibum masih dengan nada datarnya yang dingin.

“Kau mengancamku? Eoh? Mengancam aku?”

Cklek.

Pintu ruang perawatan terbuka dan sejenak membungkam keributan. Tubuh berjubah putih keluar dari sana.

“Kalau ada yang ingin membesuk, silahkan. Tapi pasien masih tidur,” ujarnya, “Yeon Su eonnie? Kau juga disini? Pantas saja aku tadi melihat suamimu,” sambung dokter itu saat melihat sosok yang di kenalinya berada di antara keluarga pasien yang sejak tadi berada di luar ruangan.

“Yoon Bi? Kau? Aaa, kau dokter yang merawat ayah Eun Kyo, eoh?” Yeon Su menyahut antusias. Yoon Bi mengerutkan kening heran.

“Eun Kyo? Nugunde?”

“Aku pernah menceritakan padamu di telepon tentang wanita yang merusak rumah tanggaku, kau ingat? Eun Kyo. Orang itu ada disini. Bersama suamiku pula,” jawabnya dengan lirikan sinis pada Eun Kyo yang masih terdiam di dekat Donghae.

“Yeon Su!” bentak Jung Soo.

“Kau lihat kan Yoon Bi? Bahkan suamiku sekarang membelanya. Bahkan lelaki itu,” Yeon Su menunjuk pada Donghae yang masih mendekap Eun Kyo, “lelaki itu namanya Donghae. Dia tunangan Eun Kyo. Dia masih tetap membela Eun Kyo padahal jelas-jelas wanita itu menghianatinya! Tidur dengan laki-laki lain, dengan suamiku!”

“Diam!” sentak Donghae, ia menarik nafas dalam lalu menoleh pada Eun Kyo yang tersentak di pelukannya tadi, “Mau melihat abeoji, eoh? Masuklah,” katanya dengan nada lembut yang kontras dengan sentakannya barusan.

“Donghae, dengar aku…”

“Nanti masih ada waktu kan? Sekarang lihat abeoji dulu. kau tidak ingin tau keadaannya?” Donghae dengan pelan mendorong Eun Kyo untuk masuk ke dalam ruang perawatan.

Eun Kyo masih terlihat gamang. Segala macam asumsi simpang siur di kepalanya. Banyak, sangat banyak yang ingin dia sampaikan. Tapi Donghae benar, yang harus dia lakukan sekarang adalah melihat kondisi Appa.

“Kibum~a,” ajaknya.

“Duluan saja noona, aku menyusul,” jawab Kibum. Ia mendorong Eun Kyo dan menutup pintu kamar tempat ayah mereka terbaring.

Hening beberapa saat. Hanya ada tatapan tajam Donghae pada Yeon Su, tatapan letih Jung Soo, dan sorot mata dingin dari Kibum. Yeon Su sendiri sedang menatapi Jung Soo yang berdiri di sebelahnya.

“Aku bingung. Aku tidak mengerti, sebenarnya ada apa ini? Kalian terlalu ribut. Ini rumah sakit,” kalimat dari Yoon Bi yang masih berdiri terpaku memecah keheningan.

“Baguslah kalau kau tidak mengerti. Masalah disini agak sulit di mengerti memang. Apalagi kalau kau sudah mendengar semua dari mulut Eonniemu itu,” sahut Kibum datar. Ia kembali sibuk meneguk Coke di tangannya membuat Yoon Bi ingin merebut kaleng itu dan melemparkannya ke tong sampah. Ia gusar karena lelaki ini masih dengan tenangnya berdiri dan minum padahal suasana sedang setegang ini.

“Yoon Bi~ssi, kau bisa menyuruh Yeon Su pulang?” tanya Donghae. Yoon Bi menoleh pada lelaki itu. ia mengenalnya. Beberapa kali sempat bertemu di tempat bacaan gratis milik Ae Rin, temannya.

“Nde?”

“Kalau ada Yoon Bi mungkin aku bisa tenang. Kau merawat ayah wanita itu, eoh? Bisa lakukan sesuatu kan Yoon Bi? Lakukan apa saja yang bisa memperpendek umur ayahnya. Campurkan obatnya dengan racun, beri suntikan yang melebihi dosis, atau…”

Plak!

Telapak tangan Yoon Bi mendarat tepat di pipi kiri Yeon Su. Membungkam wanita itu seketika dan membuatnya merasakan sengatan pedih. Tangan Yoon Bi nyaris saja menjambak rambut Yeon Su kalau saja Kibum tidak dengan sigap menarik pinggang wanita itu. wajah gadis itu memerah terbakar amarahnya sendiri. Nafasnya memburu.

“Kau bicara apa ha?! Kau gila? Kau gila Kim Yeon Suuuu?!” ia meronta-ronta dari pegangan Kibum, “Lepaskan aku! Biarkan aku yang membunuh Kim Yeon Su! Lepaskan aku! Aku mau membunuhnyaaaaa….!!”

“Jung Soo hyung, bawa istrimu pergi,” tegas Kibum. Jung Soo menurut, ia menarik lengan Yeon Su dengan paksa. Wanita itu menurut tanpa perlawanan. Ia masih shock karena respon yang di dapatnya dari Yoon Bi, teman yang sudah seperti adik baginya.

Kibum melepaskan lengannya dari pinggang Yoon Bi ketika ia merasakan gadis itu sudah tidak lagi meronta. Nafas gadis itu masih memburu. Ia menempelkan kedua belah telapak tangannya untuk menutupi wajahnya. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.

“Yoon Bi eonnie? Kau kenapa?” tanya seorang dokter lagi yang baru saja keluar dari kamar Tuan Park. Ia berkerut bingung melihat Yoon Bi yang sedang berdiri di tengah koridor. Sepi dan hening.

“Nan…gwenchana Jae Hyun sunbaenim,” sahut Yoon Bi masih dengan tangan menutupi wajahnya.

“Aku boleh masuk?” tanya Kibum tanpa mempedulikan tatapan bingung Jae Hyun. Gadis itu tergagap, lalu mengangguk. Ia menggeser tubuhnya sedikit agar Kibum bisa lewat.

“Kalau begitu aku pergi dulu,” pamit Jae Hyun. Ia melangkah meninggalkan Yoon Bi yang masih berdiri terpaku dan satu lelaki lagi yang sedang bersandar di dinding dengan wajah tenang seakan tidak ada yang terjadi.

Beberapa saat berlalu tanpa suara, hingga akhirnya Yoon Bi menurunkan tangannya dari wajah dan bergerak pelan untuk duduk di salah kursi yang berada di depan ruangan. Ia mencoba membuat nafasnya kembali teratur.

“Minum?” Donghae menyodorkan sebotol air mineral yang tadi di beli Kibum. Yoon Bi meraih air minum itu tanpa suara dan meneguk isinya.

“Jadi, kau tunangan dari wanita yang di tuduh Yeon Su eonnie? Tunanganmu itu tidur dengan Jung Soo~ssi? Begitu?” tanya Yoon Bi pada Donghae yang duduk di sebelahnya.

“Yeon Su mengirimkan foto padaku. Foto semalam, Eun Kyo dan Jung Soo hyung sedang berdiri di depan sebuah rumah kayu. Hujan. Pakaian mereka basah. Dan sebagainya…dan sebagainya…” jawab Donghae.

“Lalu?”

“Lalu apa?”

“Lalu kau tidak mau menanyakan kebenarannya pada tunanganmu? Bagaimana kalau mereka memang tidur bersama?”

“Aku rasa foto yang sama di kirimkan Yeon Su pada abeoji hingga abeoji terkena serangan jantung pagi ini. Ck, entah bagaimana cara dia mendapatkan kontak Abeoji,” ujar Donghae mengabaikan pertanyaan Yoon Bi.

“Dia gila. Kim Yeon Su itu. Aku tidak tau kalau dia bisa segila itu,” gumam Yoon Bi terkejut.

“Kau tau sesuatu? Tentang masalah rumah tangga Jung Soo hyung dan Yeon Su? Apa mereka benar-benar akan berpisah?” tanya Donghae. Yoon Bi menggeleng.

“Aku tidak tau. Aku tidak mau mencampuri urusan rumah tangga mereka,” sahut Yoon Bi, “memangnya kenapa? Kalau mereka mau bercerai, kau akan melepaskan tunanganmu untuk Jung Soo~ssi? Eoh? Donghae~ssi?”

“Donghae tersenyum tipis, “Kalau memang harus begitu, tidak masalah…” jawabnya. Yoon Bi terbelalak kaget.

“M-mwoyaa? Kau gila? Kau tidak mencintai tunanganmu itu, eoh?” seru Yoon Bi.

“Bukan begitu. Aku dan Eun Kyo, sedikit sulit menjelaskannya. Perasaanku pada Eun Kyo, tidak seperti yang orang bayangkan. Lebih luas. Aku mencintainya tentu saja. Tapi aku tidak mengikatnya dalam kotak ataupun bulatan atau bentuk apapun yang kusebut duniaku. Cintaku membebaskannya untuk kembali kapan saja, ataupun menemukan tambatan yang lain. Ia masih berada dalam lingkup cintaku yang luas, kau mengerti?”

“Tidak,”

Donghae tertawa, “Ya sudahlah. Memang sulit di pahami kalau kau tidak merasakannya sendiri. Yang jelas, aku berusaha melindunginya dari apapun yang bisa membuat dia hancur. Dan itu cukup untukku,”

Yoon Bi mengangguk-angguk, “Gamsabnida, Donghae~ssi,” katanya pelan.

“Eum? Untuk apa?” tanya Donghae heran. Yoon Bi mengangkat bahunya seraya menyunggingkan seulas senyum.

“Entahlah, aku hanya merasa perlu berterima kasih,” jawabnya sebelum kemudian berdiri, “Aku permisi dulu. Sepertinya aku menemukan ide untuk membunuh Yeon Su eonnie,” sambungnya dan melenggang santai meninggalkan Donghae yang termenung menatap punggungnya.

Bibir Donghae tertarik untuk kembali mengukir senyum, “Gadis itu…”

~oOo~

Eun Kyo tertegun di depan pintu ruangan tempat ayahnya di rawat. Pintu itu tadi tidak tertutup, hingga pembicaraan antara Donghae dan Yoon Bi yang harusrnya tidak terdengar ke dalam ruangan perawatan yang kedap suara itu justru terdengar oleh Eun Kyo.

Ia menggigit bagian dalam pipinya. Banyak yang bergelayutan dalam kepalanya. Obrolan Donghae dengan Yoon Bi tadi membuatnya merasa di tampar dengan telak. Jadi Yeon Su mengirimkan foto pada Appa? Dari mana dia mendapatkan kontak Appa? Pertanyaan yang sama muncul di kepalanya. Dengan Yeon Su mengirimkan foto itu, Eun Kyo makin menyalahkan sikap egoisnya semalam. Kalau saja semalam ia tetap berada di pesta atau langsung pulang kerumah. Atau kemana saja asal jauh dari keberadaan Jung Soo, pasti hal itu tidak terjadi. Yeon Su tidak akan mendapatkan foto, dia dan Jung Soo tidak… Eun Kyo memukul dadanya pelan. ia pasti sangat menyakiti Donghae. Ia seenaknya saja memakai Donghae sebagai tameng agar bisa lepas dari Jung Soo. Tapi ia tidak benar-benar pergi dari lelaki itu. Eun Kyo mengakui, semalam dia berjudi dengan datang kerumah kayu itu. Entah kenapa dia terpikir kalau Jung Soo juga akan datang ke sana. Dan benar…lelaki itu ada disana.

“Noona?”

Eun Kyo menoleh, “Nde?”

“Gwenchanayo?” tanya Kibum yang kini sudah berdiri di sampingnya. Eun Kyo mengangguk pelan lalu tersenyum kecut pada Kibum.

“Kibum~a, Appa sepertinya belum bisa bangun, maukah kau jadi penggnati Appa? Mengantarkan aku ke altar, eum?” pintanya.

“Pernikahanmu masih bulan depan Noona, kurasa tidak Appa sudah sembuh dan bisa mengantrakanmu,”

“Aniyaaa. Appa belum bisa melangkah dalam dua hari ini, eoh?”

“Nde?”

“Lusa Kibum~a. aku mau pernikahanku dengan Donghae dimajukan menjadi lusa,”

~oOo~

Eun Kyo’s POV

Aku berdiri di depan cermin besar yang memantulkan bayangan tubuhku yang terbalut gaun pengantin berwarna putih gading sepanjang beberapa centi di atas lutut. Aku hanya bisa mendeskripsikan kalau gaun ini terlihat bagus. Terlalu banyak deskripsi lain hanya akan membuat kepalaku makin berat.

“Kau cantik,”

Aku tertegun. Suara itu? Dengan takut aku melirik pantulannya di cermin. Benar itu dia. Dalam balutan kemeja putih dengan lengan yang di gulung asal-asalan hingga siku. Aku merutuk dalam hati, menyesali keputusanku yang tadi meminta Ae Rin, Jang Mi,dan Min Yeon meninggalkan aku sendirian. Sekarang aku harus kembali menyusun tumpukan keteguhanku yang aku yakin bisa di rubuhkannya hanya dengan sekali tiupan. Pengaruh lelaki ini terlalu kuat untuk system pertahananku.

“Sakit sekali rasanya Eun Kyo. Apa begini yang kau rasakan saat aku menikah dulu? Rasanya ingin menikam jantungku sendiri. Agar aku berhenti bernafas. Agar aku tidak hidup. Kalau aku bernafas dan hidup, yang ada di kepalaku hanya keinginan untuk membawamu dari tempat ini. Aku gila Eun Kyo… Eottohkeyo?”

Meski aku membuang pandanganku dari pantulan wajahnya di cermin, tapi tetap saja aku masih bisa mendengar suaranya. Kenapa dia harus bbicara dengan nada memilukan begitu?

“Aku akan menikah…dengan Donghae. Hari ini. Aku tidak tau saran apa yang bisa aku berikan padamu oppa. Mungkin kau bisa duduk di kursi undangan?” ujarku menyembunyikan getaran pada suaraku dan desakan emosi yang seenaknya berusaha memenuhi kantung air mataku lagi. Aku tidak akan menangis.

“Aku mencintaimu…”

Aku tergugu. Lalu aku harus bagaimana? Mengatakan kalau aku juga mencintainya? Lalu berlari kepelukannya? Aku tidak bisa begitu. AKu akan menyakiti banyak orang, terlebih Donghae.

“Eun Kyo~ya…”

“Hmm…”

“Kau mencintaiku kan? Masih mencintaiku kan?”

“Kalaupun aku mencintaimu, tidak akan ada yang berubah oppa. Tidak ada bedanya. Aku akan menikah dengan Donghae,” sergahku putus asa. Entah apa maunya dia ini. Kenapa tidak berhenti menyiksa aku?

“Beda Eun Kyo. Setidaknya aku punya alasan untuk menunggumu,”

Aku menggigit bibirku dengan keras untuk mengalihkan rasa sakit dihatiku. Apa dia tidak berpikir efek dari kalimatnya itu untuk pertahanan diriku? Nyaris runtuh tidak bersisa. Tapiaku tau, aku masih ingat untuk memakai akalku. Aku berjuang agar satu-satunya sistem yang bisa kuandalkan ini tidak mengkhinati aku kali ini.

“Kau datang dan pergi sesukamu. Kau tidak berfikir kalau kau itu egois oppa? Eoh?” aku berucap dingin, “Kau ingin mendengarku mengtakan aku mencintaimu kan? geurae. Aku mencintaimu Park Jung Soo. Kau akan menungguku, eoh? Kau bilang begitu, eoh? Nde. Mungkin lebihbaik kau menungguku di kursi undangan,” tandasku. Kali ini akalku benar-benar bisa di andalkan. Meski hatiku remuk dan nyaris tidak lagi berbentuk, tapi aku tidak akan membiarkan dia menguasaiku lagi. Tidak boleh.

“Aku menunggumu di rumah itu. kau tau tempatnya. Atau kalaupun kau melupakannya, hatimu akan mengingatkanmu untuk kembali kesana,”

Aku tidak menyahut lagi. Semakin banyak aku bicara, akan semakin banyak juga keraguan yang menjajahiku. Aku bergeming hingga tubuhnya beranjak pergi.

Aku melihat punggungnya menjauh. Dan satu tetes air mata jatuh di pipiku. Terakhir?

~oOo~

Kibum menggandeng lengan Eun Kyo menyusuri altar bertabur kelopak mawar. Musik pernikahan mengiringi langkah pelan Kibum yang mengantarkan Eun Kyo ke altar. Donghae sudah berdiri disana. Terlihat tampan dalam setelan tuxedo hitam.

“Dalam dua hari saja resepsi bisa disiapkan. Kau memang penuh kejutan noona. Tidak bermaksud membuat kejutan lagi, eum?” Kibum berbisik perlahan.

“Nde?” Eun Kyo menyahut bingung.

“Kau yakin akan berdiri di altar sana. Menikah dengan orang lain, sedangkan ada orang lain yang kau inginkan sedang menunggumu di tempat lain,”

“Kibum~a,” Eun Kyo terhenyak kaget.

“Aku hanya mengingatkanmu noona, jangan sampai kau menyesalinya. Kalau kau yakin, maka aku akan mendukungmu,”

Tepat ketika Kibum selesai berkata demikian, langkah mereka berdua tiba di depan altar. Dengan tersenyum, Kibum menyerahkan tangan Eun Kyo pada Donghae.

“Titip noonaku hyung. Dia ini wanita cengeng yang sok kuat,” kata Kibum. Donghae tersenyum.

“Nde,” sahut Donghae singkat dan mengambil tangan Eun Kyo.

Donghae terus mennggenggam tangan Eun Kyo. Di hadapan mereka sudah ada lelaki paruh baya yang sedang membacakan segala macam kalimat tentang pernikakahn yang sama sekali tidak ada yang berhasil membuat Eun Kyo menghentikan debaran jantungnya. Kalimat Kibum tadi kembali menggoyahkannya. Meski kini tangan Donghae yang tengah menggenggmanya erat, tapi hatinya tetap berdebar untuk sosok lain. Bukan Lee Donghae, tapi Park Jung Soo.

“Kau tau Eun Kyo, aku tidak pernah mengegenggam tanganmu terlalu erat,” bisik Donghae pelan.

“Nde?” bisikan Donghae membawanya kembali ke kesadarannya.

“Aku tidak menggenggam tanganmu terlalu erat karena tidak ingin kau merasa sakit, dan juga…” mata teduh Donghae menerobos retina Eun Kyo, seakan sedang membaca isi kepala wanita itu, “agar kau bisa pergi kapan saja,” tambahnya.

“N-nde?”

Bicara seperti ini saat pemberkatan pernikahan sedang di lakukan? Eun Kyo merasa kalau dia sedang berhalusinasi kalau saja Donghae tidak kembali mengulang pernyataannya.

“Jangan melakukan hal sejauh ini yang nantinya akan membuatmu menyesal seumur hidup. Cukup Jung Soo hyung saja yang sudah merasakan penyesalan begini. Kau jangan. Jadi, pergilah selagi aku belum mengikatmu terlalu kuat,” bisik Donghae lagi.

“Tapi…”

“Matamu mengatakan kalau kau mau pergi Eun Kyo~ya,”

Donghae melepaskan tangannya dari Eun Kyo. Ia terseyum menatap wajah bingung gadis itu.

Pergi? Eun Kyo tidak tau sejak kapan ia memutuskan untuk pergi, tapi tubuhnya sudah lebih dulu bergerak maju meninggalkan kecupan ringan di pipi Donghae lalu berlari meninggalkan altar. Seluruh pasang mata tamu undangan membelalak kaget.

“Pengantin wanita sedang mencari pengantin pria yang asli. Kurasa pernikahan ini di tunda dulu sampai pengantin pria di temukan. Gamsanabnida,” Donghae membungkuk pada lelaki paruh baya yang tadi membacakan pemberkatan dan berbalik membungkuk pada beberapa tamu undangan yang notabene adalah orang-orang dekat saja.

“Ini seru,” celetuk Kyuhyun yang duduk di barisan paling depan.

“Eun Kyo eonnie hwaitinggg!!” seru Jang Mi tiba-tiba.

~oOo~

Jung Soo’s POV

Aku berdiri disini. Menunggunya. Aku tidak tau dia akan datang atau tidak. Tapi tidak ada salahnya kan aku menunggu? Dia saja sudah menungguku untuk menyedari perasaanku. Panantianku ini tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan penantian yang dia jalani. Kalaupun pada akhirnya dia tidak datang, aku tidak menyesal. Karena aku tau dia mencintaiku.

Eum? Sepertinya aku terlalu gila memikirkan dia akan menemuiku atau memang dia ada disini?

Aku melihat Park Eun Kyo dalam balutan gaun pengantin yang sama dengan yang aku lihat tadi. Ia berdiri di seberang jalan. Menatapku?

“Eun Kyo?” aku berucap antara tidak percaya dan antusias.

Dia tersenyum manis. Cantik sekali. detik itu juga aku menyimpulkan kalau aku tidak bermimpi. Dia memang wanitaku. Park Eun Kyo-ku.

Dia terlihat kesal karena lalu kendaraan yang tidak berhenti lalu lalang. Aku bisa melihat bagaiaman dia menghentak-hentakkan kaki dengan tidak sabar.

“Ya Park Jung Soo!” teriaknya dari seberang jalan.

“Ndeee,” aku menyahut tidak kalah keras.

“Bagaimana aku bisa kesana, Oppa? Ramai sekaliii,” serunya lagi.

“katakan kalau kau mencintaiku, maka mobil-mobil itu akan berhenti,” saranku jahil. Dia tidak terdengar menyahuti untuk beberapa saat.

“Jung Soo oppa…” kali ini seruannya terdengar lagi, “Aku mencintaimu…”

Aku tersenyum lebar, selebar yang bibirku mampu.

“Aku juga. Aku mencintaimu lebih lagi,” sahutku. Entah keajaiban darimana gerakan mobil sedikit demi sedikit berkurang. Ah, tololnya aku. Ada lampu merah di persimpangan sana. Kebetulan saja saat sekarang kendaraan-kendaraan itu sedang terjebak di lampu merah sehingga tidak lagi hilir mudik.

Aku bisa melihat Eun Kyo yang melangkah mendekat. Ia tersenyum. Aku mengagumi setiap gerakannya hingga tanpa aku sadari sekelebat bayangan bergerak cepat dan detik berikutnya terdengar bunyi keras saat bayangan itu menyambar tubuhnya.

“Eun Kyoooooo….”

~oOo~

Jung Soo tersentak dengan kening dan tubuh basah oleh keringat. Matanya membelalak den nafas memburu. Dadanya menghantam-hantam keras di rongga dadanya.

“Eun Kyo…” desahnya di sela-sela nafas yang belum teratur. Debaran jantungnya perlahan kembali normal saat ia mendapati sosok yang dicarinya tengah terlelap di sebelahnya.

“Mimpi?” Jung soo tersenyum kecut. Meskipun hanya mimpi tapi rasanya menyesakkan sekali. Melihat tubuh Eun Kyo di hantam mobil? Aish, jinjja. Bahkan dalam mimpi saja rasanya bisa semengerikan itu. Jung Soo menarik tubuh Eun Kyo ke pelukannya.

Eun Kyo menggeliat pelan. ia membuka matanya.

“Oppa? Waeyo? Kau terbagun?” tanyanya.

Jung Soo mengangguk, “Nde yeobo. Aku mimpi,” sahut Jung Soo. Tangannya semakin erat merengkuh pinggang Eun Kyo saat bayangan buruk itu kembali kepikirannya.

“Mimpi buruk?” tanya Eun Kyo lagi. ia menempelkan telapak tangannya di dada Jung Soo, merasakan masih ada denaran yang kencang di sana. Jung Soo mengingat kilasan mimpinya. Menikah dengan Yeon Su, Eun Kyo yang nyaris meniklah dengan Donghae, Eun Kyo yang di tabrak…buruk? Itu jauh dari sekedar buruk. Batinnya.

“Oppa?”

“Hanya mimpi. Menegangkan sekali Kyo~ya,” jawab Eun Kyo.

“Jinjja? Mimpi seperti apa?” tanya Eun Kyo penasaran.

“Panjang sekali ceritanya, tapi yang jelas benar-benar mimpi yang mendebarkan sekaligus menengangkan, yeobo,” Jung Soo menyahut. Tangannya bergerak naik mengelus punggung Eun Kyo yang di lapisi piyama sutra yang lembut. Hasrat Jung Soo kembali tergelitik mengingat salah satu bagian dari mimpinya yang sungguh menggoda. Dia yakin, di kenyataan Eun Kyo bahkan lebih indah daripada mimpinya tadi.

“Yeobo, mau aku menunjukkan salah satu bagian dalam mimpi tadi?”

“Nde?”

Belum sempat Eun Kyo mneyadari maksud ucapan Jung Soo, lelaki itu sudah bergerak cepat menindihnya. Lampu menyala di kepala Eun Kyo.

“Ya oppa? Apa maksudmu? Aihs, jinjja! Mimpi begini yang kau bilang mendebarkan? Kau mmppfff…”

Jung Soo membungkam omelan Eun Kyo dengan ciuman dalam.

FIN

Bwahahaha. Apa ini?! Dunnooooo. Aduh saya tau saya gila eon. Bener deh. Fanfic macam apa ini?! Niatannya saya mau bikin fanfic untuk LTD. Kayak Fanfic2 dari HarPot atao Twilight atao novel2 gitu dah. Kagak tau dah ini kenapa jadi begini. Saya Patrick…saya Patrick…

Okesip, membingungkan? Sama. Saya juga bingung. Well, ini buat konsumsi pribadi saja ya eon, eottohke? Saya takut di bunuh karena udah bikin fanfic yang bikin Jung Soo nikah sama Yeon Su. Gara-gara pilem Om Saruk yang kita tonton noh eon. Untuk sementara saya kabur dulu dah dari WA, takut di buru Pika eon. *lambai-lambai sirip ikan*

Vikos Say : Dan yang paling menyebalkan dari semua ini adalah… ITU SEMUA TERNYATA HANYA MIMPI BURUK BELAKA! Ehem, Febby minta ditabok sepertinya neh. Pembalasan lebih kejam dari perbuatan… *Menyeringai ala Dede*. Tapi aku suka ko By… tapi ko semua pada bikin TeuKyo nelangsa banget yak? Apa imej kami memang seperti itu? Reader pada ngerti ga yah? Ini Febby bikin FF di dalam FF. Ane, aku juga bingung. Setiap ditanya itu FF LTD… klo LTD kan FF nya teukyo, nah dia bilang ini FF nya LTD, nah loh pada bingung pasti, dikira LTD nyata apa dibikin FF masa… Tapi terlepas dengan nelangsa yang bercampur mesumnya, aku sangat sangat suka FF ini. Terima asih untuk semua yag udah mau bikinin aku, Febby, Meta, Novie, Ikha, Diah, Mita, Puput, Rae Na, Indah Onn, dan semuanya lagi yang dulu pernah ikut FF contes, aku sangat tersanjung dibikinin seperti in, sering-sering aja bikinin aku, wahahahahahahaha. dan Patrick itu adalah saya.

41 responses »

  1. Apaaaaahh…???Soo Oppa ama YS…???lebih baik bunuh ajah febby…sayah g rela dunia akhirat y oloh…*walaupun hanya dlm mimpi

    Dan d sini peran malaikat tanpa sayap diambil oleh Donghae…okesip…peran Hae d sini bener2 menawan hati…emaaaakk…sayah mau Hae dengan badan Minho…*abaikan sajah sayah

    Pokoknya sayah suka ni epep…walaupun resiko sayah bilang bagus adalah dibilang otak sayah lengser…*lirik tajem febby
    Orang genah2 bagus gini dibilang kagak bagus dan malah otak sayah yg dah lengser dibilang lengser (lg)…terus minho suruh gantiin jokowi bilang wow gtu…ish…

    Fika eon…dengan adanya epep ini,sayah sebagai dokter jantung Appa Eun Kyo meminta dengan sangat…LTD segera dilanjuuuuttt…dan Eun Kyo segera hamiiiiiilll…amiiiiinn…hahahaa…
    Udah ah…banyak omong sayah…sekian dan terima kasih sayah ucapkan…*bow bareng yoogeun

  2. Hweee….. Ongeeeee….. TT_____TT *maen ujan2an*

    yaoloh meski dh bc ttp saya bc lg! kga ampe nangis kek pertama bc sih, tp ttp aja sesek….
    Ongeeeeee….. seperti’a takdirmu harus manjadi yg slalu terluka bang! *peluk Onge* saya siap buat merawat lukamu bang! *lirik Yoon eon*
    saya pan suster… *kalem
    ish, saya ampe bosen komen kek gini terus masa! *emot keringet*
    untung cm mimpi aja, saya kga bisa byangin klo ltd ampe kek gini dah!
    ini epep kebalikan dr ltd ye eon?
    ini knpa setiap ada YS slalu aja ada perang ye? -____-”
    Suram bgt tuh orng! *plak*

  3. Onnie, mari kita tabok si febby berjamaah. #plakplak aku uadag deg-degan aja bacanya, masa cuma mimpi, beneran gerem abissss. Yaissss, aku kirain ini beneran.

    Bwahahahahaha, onnie bener kayak eunkyo dan jungsoo nelangsa banget ya, tapi walau cuma mimpi, ffnya seru, bener-bener seru. Apalagi mimpinya jungsoo direalisasikan *lirik endingnya* mau banget eunkyo-nya hehehhehe #ditabok fika onnie

    aaaaaaaaaa, ada hyura couple, suka-suka, walau cuma sekelebat bayangan yang penting ngeksis, #cipok basah hyukjae, tapi ampun deg sama suara histerisnya jangmi, asooooy. Haeyoon, tetep ada juga ya momentnya mereka berdua, hahahaha, jadi berasa FF dalam LTD(?) #nah loh

    hhmmmm, aku kapan ya bisa buat ff???? #nangis dipojokan

    donghaeeee, aku padamu.

  4. astaga stelah d bca smpai hbis ternyata smua kejadian yg membingungkan ini adalah sbuah mimpiiiiiiiiiii…………
    huuuwaaa….. knpaa nasib x donghae oppa jdi mrip sma pangeran yul d drama goong….😦
    donghae oppa daebak
    suka……suka…..sukaa…. nie FF x😀
    d tggu y eonni lanjutan LTD x😀

  5. Wahhahahaaa in the first part I think this is just a dream and BINGO !
    Dr awal ada part yang bikin ngira ini mimpi dan aku bener ..
    Tapi sempet setelah baca seperempat bagian jd bingung ini sebenernya apa tapi di akhir bener ternyata hehe🙂 nice story

  6. ehh sumppahh kirain itu beneran😮 dr td pas baca menegangkan bangt lho !! kasian tuh donghae dimimpinya :” dia baik banget🙂 yeon su jahat

    tp yg jelas ini ff bagus banget😀 sempet bingung sih kok jung soo nikahnya sama yeonsu, eh ternyata cuma mimpi😀

  7. Aiiiishhhh!!!! Ternyata ini cuma MIMPI!!
    Sampai2 aku baca setengah langsung sms fka oenni.hhhhh kalau tau ini mimpi dari tadi aku g bakal nangis!!!
    Hah aku bodoh!
    Sudah jangan buat FF yg beginian lagi! Kmrn loving u dan skrg ini..
    Bikin serangan jantung aja!
    Tapi smuanya bagus, sangat bagus malah!😀

    • Hah aku melupakan donghae. Tolong jangan sakiti dia lagi jeballl!!kemarin eunhyuk sekarang donghae. Jebal jangan bawa tumbal klo mau nyatui cinta eunkyo oenni sama jungso ahjussi. Heheheehehe
      sudah2 aku akan berhenti komen, berhenti nangis, berhenti sms aneh2 ke fika oenni,berhenti protes dan berhenti semuanya!
      Dan saya masih shock dengan kat2 “Itu cuma MIMPI”.
      Oke sudah.
      Fika oenni,, LTD ditunggu dan ceritanya harus bahagia! Bikin kyuhyun hamilin si ae rin! Heheehe😀
      my wife dan egoistic jg ditunggu :*

  8. Hah aku melupakan donghae. Tolong jangan sakiti dia lagi jeballl!!kemarin eunhyuk sekarang donghae. Jebal jangan bawa tumbal klo mau nyatui cinta eunkyo oenni sama jungso ahjussi. Heheheehehe
    sudah2 aku akan berhenti komen, berhenti nangis, berhenti sms aneh2 ke fika oenni,berhenti protes dan berhenti semuanya!
    Dan saya masih shock dengan kat2 “Itu cuma MIMPI”.
    Oke sudah.
    Fika oenni,, LTD ditunggu dan ceritanya harus bahagia! Bikin kyuhyun hamilin si ae rin! Heheehe😀
    my wife dan egoistic jg ditunggu :*

  9. Mwooooooo…………. INI MIMPI……….???????
    syukurlah kirain jung soo nikah ma yeon su, eun kyo ketabrak……….ga kebayang……….
    #sempet bingung diawal ini lanjutan FF yg mana, ternyata……….
    Chukae uda bikin ak deg2an………..🙂

  10. Jinja..
    pngen bnuh feb unn bgt masa!
    baguuuus…!*cipok Hae
    pilx dpt bgt,karakterx jg sm yg d LTD!

    td mang smpt bingung m judulx!
    ff dlm ff ye?*plak
    Td dh tau kalo mimpi (kt diah m haura unn),tp q pkr mimpix ntu sblm TeuKyo nikah,pas msh pcrn m YS..,
    jd ky mimpi ptunjuk gt bwt Jungso kalo YS bkn plhn yg tpat!
    eh tenyata mimpi biasa,bkn mimpi bis istikharah gt!*plak

    Td smpt bekaca2 pas m altar Hae nglepas Kyo!
    Yaoloh,nie orng pa malaekat ce,baek bgt!
    tp trus perasaan melo jd ilang n brbh ngakak pas TeuKyo djalan bis blng Cinta eh mobil bnrn brenti,tnyata lmpu merah!wkwkwkwkwk

    Hasek,NiNa baboh pd ngeksis masa!
    tp kpn qt debut unn?*plak
    wkwkwkwkwk

  11. ige mwoya…cuma mimpi ternyata…ckckck…

    aq pikir ni ff beneran cerita tentang jungsoo lbh milih nikah ama yeon su ketimbang ama eunkyo ga taunya cuma mimpi buruk…ffiuuuhhh tp lega jg sich klu itu cm mimpi, ga rela klu teukyo ga bersatu…

  12. hah…. Untunglah cuma mimpi #tariknafas
    Rasa’y td bener2 g rela jung soo nikah sama yeon soo.
    Seandai’y bener2 ada cowok kayak donghae. Bener2 masuk surga tuh cowok. Kekeke
    Cerita boleh nelangsa, tapi… Kemesuman tetap terjaga. Wkwkwkw
    V eon🙂
    Dan… Aku suka ff ini. Tentunya🙂

  13. Hahhhh…sampai sesak nafas baca ini…..
    Awalnya sempet punya pikiran mau WA fika onnie buat nanyain maksd LTD yg satu ni apa -_- ternyata hanya mimpi!!

    Syukurlah yahhhh…ff ini betul2 cetar membahana badai sandyl ulala..

    Teukyo jjang!!

  14. aiish!! aku kira beneran Jungsoo oppa sama Yeonsu menikah dan Eunkyo eonni sama Donghae oppa tunangan. ternyata CUMA MIMPI! ceritanya bikin deg-degan. daebak!!😀

  15. aaaaaaa~
    apa iniii , Q kiraaa beneran si YEon su nikah sm jungsoo untungg ini cuma mimpiiii
    horeeeeeee
    ff’a campur adukk eonn . nyesekkkk pula
    wae ?
    2 bias Q kna nelangsa mulu , kmren hyukk sekarang dongeee *Plakk
    dongeee oppa knpa di alam mimpi pun kau menjadi orang baik eoh ? knpa ?*di serang
    tapi tenang aja masih ada Q koQ oppa hehehe
    daebakkk ff’a eonn
    *komen gak jelas*
    #di tendang#

  16. pertamanya saia baca tak kira ini cerita lain dari series LTD gitu eeeeh ternyata cuma mimpi dan lebih hebohnya lagi mimpinye ntu huweeeee om jung soo nikah sama yeon su dan pakai acara tarak tabrakan segala, sumpaaaaaaaah keren jaya daaah
    dan lebih sepekelesnye mau akhir ternyata tau itu sebuah dari atas hingga paragraf akhir M I M P I hiyaaaaaa wis pokoknya daebakkkk dah authornye ^_______^

  17. Salam kenal ya author,

    Pertama baca judul udah tertarik+penasaran akut.
    Kedua aku terkejut, kan yg di awal kagak dijelasin kalo ‘wanita’ itu yeon su.
    Sip, nyampe tengah saya udah menduga kalo kemungkinan besar ini mimpi, tapi bawa’an nyeseknya yg jadi ngerasa ga yakin sendiri.
    Kedua, waktu eonni mau nyebrang, aku juga udah menduga kalo bakal ketabrak,
    tapi weits. . .ternyata otak saya fungsi juga kalo ini bener2 mimpi. .

    Karyanya daebak. . .
    TeuKyo emang ga ada matinya,
    aku jadi cinta mati ama kyuhyun*eh teukyo maksudnya

  18. Cckckck.
    Authornya emg minta di tbok ni.

    Donghae~ya, kajja kita pulang yeobo. Biarkan TeuKyo membuat kisah mereka dan kita buat kisah kita berdua. Okesip!
    *kabur!*

  19. Wahh kerren,,, versi terbalik LTD troublenya ( Yeon Su nikah samma Jung Soo )
    Untung Cuma mimpi, hahahaha….benar-benar FF yang mengejutkan,,,,suka suka>>>
    Yadongnya gak di detailkan..wkwkwkwk
    Ohh, jadi intinya kalaupun Yeon Su nikah sama Jung Soo, tetap aja gak akan bahagia, hatinya tetap tertambat di Eun Kyo onnie….
    Dan Kyuhyun disini gak ngamuk2 ya ama Jung Soo oppa,,,hehe
    Tapi siiplahhh… keren

  20. Ini berapa halaman? Aku ngerasa lamaaaa bgt bacax.
    Dan pd akhirx itu hanya mimpi. MIMPI, astagaaaa…
    Tp aku mau coment dr kesan prtama aku baca, okeeh
    awalx aku ngira istri jungsoo tuh eunkyo, eh trnyata mlh yeon su, aku mlh eneg *PLAK!* trs2 slnjutx hub. Jungsoo n yeon su gk baik, dan ujungx pengen bareng eunkyo!
    Itu wkt di altar, mataku mengabur krn air mata yg menggenang dipelupuk mata, aku hampir mau nangis wkt dongek blg “pengantin wanita sedang mencari pasangan pengantin priax, dan pernikahan ditunda utk bbrpa saat”
    astagaaaa itu dongek baikx kelewatan deh, dan aku heran cinta dongek ke eunkyo itu cinta yg kyk gmn sih? bnran deh aku gk ngerti ama cinta dongek pd eunkyo?? ato akux yg lemot *mikir keras*
    oya ada degan wkt jungsoo ngajak eunkyo pergi jauh, ketempat yg tdk ada yg mengenal mrk. tiba2 aku inget adegan drama nice guy, wkt kang maru ngajak eun gi prgi ktmpat yg tdk ada yg mengenal mrk, dan sukses bikin aku lagi2 mikirin joongki. Emaaakkk pesona joongki bikin aku ngecess *oke ini knp mlh curhat?* hihihii mian..

    Ff ini keren! Beneran deh, buat authorx tengkyu and salam kenal

  21. surprice!!! bener2 menegangkan. aku kira itu LTD lanjutan kemaren, tapi kok beda?? sepanjang baca ini pemikiran ku itu kesana terus, merhatiin para pemainnya masih sama tapi ternyata this is just dream and i’m very shock!! haha..

  22. Kyeaaaaaaaaaaa…….aku kira beneran ternyata cuma mimpi sukurlah,aku tidak bisa menerima jungsoo atau eunkyo menikah dengan orang lain itu mengerikan…tapi sukurlah itu cuma mimpi,jadi lega…haaaaaah…ceritanya bagus benar2 mampu membuat jantung saya hampir copot…kekekek..okay eonni fika yang cantik super caem..silahkan membuat cerita yang lebih membuat hati saya berdebar2 lagi..muach..muach..to kiss you…

  23. ini kyk sisi ff yg cerita y ngak ada di dlm cerita LTD gitu kan maksud y,,,, tadi y q juga mikir ni kok LTD kyk beda gt kan chapter or side story gt n pas baa kok jungsoo nikah ma yeonsu n mikir mungkin ini LTD versi lain y tau y cuma mimpi n menuru q ya itu ni ff cerita LTD yg tersembunyi gt ya…..
    ini perasaan q setelah abis baca ff ini,,,, sumoah q agak sebel ma TeuKyo selepas mereka emang couple n seharus y emang pasti bersatu n saling cinta tapi baru kali ini q agak sebel sama cast utama y,, kenapa?????? tu karna saru karakter DONGHAE kenapa dibuat sebegitu mulia y donghae y mpe q ngelirik ke donghae n ninggalin jungsoo sesaat,,,,, karakter y donghae daebak bgt mpe q bingung mau ngomentarin apa,,,,pa lagi kata2 hae yg pas dia ngejelasin ke yoon Bi……
    iya nih rata2 ff TeuKyo yg udah q baca tuh perasaan kejam bgt nyesek y pa lg yg ini eunkyo y dibuat menderita bgt n trus jungsoo….
    daebak…. q mpe nangis mikirin sengsara y TeuKyo n malang y donghae….

  24. Sumpah ini keren dan daebak banget.
    FF dalam FF belum ada pernah buat dan diluar dugaan. aku kira mah cerita sampingan atau di luar LTD jadi diandaikan gimana klo jungsoo gak jadi nikah ama eunkyo ternyata cuma mimpi dan masih bagian LTD. buuaaah daebak.
    pemilihan katanya juga bagus, hampir rasa frustasi jungsoo dapet dengan diksi yg sempurna gini.
    tetep yg jadi frontman nya si akang Donghae :p
    ini authornya suka nulis FF lain juga kah?

  25. aaaaa..aku mw teriakkk lebih kencang……
    serius bgt q bacana,awalna menegangkan,tengah menyedihkan,pas akhir kocak..
    ketawa am ucapan kyuhyun”ini seru”dasar tu orang ya..trus kendaraan yg tiba2 mw menipis q kira beneran kyk drama2 di tv gt,trnyata ad lampu merah wakakaka..
    dan trnyata eh ternyata in cma mimpi,
    awalna q kira ini versi jika jungsoo menolak perjodhan itu,ceritana bakalan jdi kyk gini.
    aahh..keren deh pkoknya..
    bner neh tak kusangka ini trnyata cuma mimpi milik park jung soo..😀

  26. Iyah. Nulis jg kalo lg mood. ^^ Lagian sy orgny minderan. Tkut tlisan sy malu-maluin.
    😥
    Gomawo udah sudi menyukai ff gila sy ini. Buat yg lain juga. *tunjuk2 komen reader* makasih udah suka. Terhura saya. Srott /lap ingus

    Yg mau nabok sy gr2 mslh ‘Mimpi’ itu, sy rela. Nih tabok. /sodorin badan Fika eon
    /kalem

  27. Untung semuanya cuma mimpi , padahal td udah sedih banget liat jungsoo oppa patah hati waktu eun kyo sama donghae oppa nikah , terus jungsoo oppa ngeliat eunkyo ketabrak , tp syukurlah semuanya hanya mimpi🙂

  28. sy bru bc ampe slesai…*tarik nafas dlm2*
    sharusnya ini seru kalo saja diah gak sruh sy bc komen dlu sblum sy bc crta nya dan akhir nya sy tau ending nya sblm sy bc crt nya…hiks..hiks
    hae-ya…knp km d buat semenderita itu…*tragis* *pukpuk hae*tp km tnang za krn habis gelap terbitlah terang…*plak
    teruz itu nina baboh kerja d rmh skit smua?????*emot siyok*
    *brb bayangin gmn nti pasien nya*
    wkwkwk

  29. Oh..oh …oh..
    Pas bgian akhir dah dag dig dug..’kyknya bkal kclakaan’ eh tba2 #duarrr just dream..
    Ommo,, aq lngsung lega ,, trnyata oh trnyata.. Mimpi boo…
    Kekeke,, daebakiya…

  30. Ouuuw ternyata ni mimpinya teukppa tho. Mimpi yg lumayan panjang jg… Memang teukppa y, klo ma eunkyo bwannya mesum aja. Masa dr segitu panjang mimpi yg d ksh twnya, pas bagian yg d sensor.^^V.

  31. Sumpahhhhh…… Lega banget pas tau tu cuman mimpis…… Tau ng’ 1 hal yg selalu menjadi fikirabq dr pertama pas tau jung soo tu suami dar YS…., aq berfikir…. Bagaimana kira2 caranya Jung Soo nanti bs membuat YS mau nerima gugatan cerainya…. Ckckc…. Bener2 deh…., untung bukan sad ending. Because…. It’s only bad dream…..fu fu fu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s