TeuKyo Couple : Loving U (Part 5) *PG*

Standar

loving u

Author : Ikha068

Park’s Home. Mokpo, September 2012

Suara televisi yang keras sama sekali tidak membuat pendengaran pria yang tengah menatap gambar didalam benda elektronik itu terganggu. Hatinya yang gamang, terasa sakit namun entah harus melakukan apa selain menikmati gemuruhnya suara musik yang keluar dari audio televisi plasma yang ada dihadapannya itu tanpa benar-benar melihatnya dengan minat.

Eun Kyo yang khawatir dengan kondisi suaminya itu perlahan mendekat dan duduk disampingnya. Pesta barbeque yang masih berlangsung di halaman belakang terdengar sayup dan bodohnya Hyuk Jae justru memutuskan untuk meninggalkan keramaian itu dan menciptakan keramaian yang lain dikamar Eun Kyo.

“Halmeoni bilang sudah waktunya makan, masakan kami sudah siap.” Ujar Eun Kyo hati-hat, ia masih merasa tidak enak atas kejadian tadi sore di pantai. Perasaan bersalah itu seakan mengintimidasinya untuk merendah serendah mungkin didepan pria itu, walau pada kenyataannya ia justru menghujat dirinya agar memberontak akan ketidaksesuaian yang terjadi.

Hyuk Jae masih diam seribu bahasa. Suara Eun Kyo seakan cairan pembasuh perih lukanya yang masih menganga.

“Nanti aku menyusul, kau duluan saja.” Jawabnya terkesan dingin.

“Ayolah, nanti halmeoni menanyakanmu lagi. Aku sudah menyusulmu tiga kali. Kajja!”

Eun Kyo yang kehilangan kesabaran segera menarik lengan Hyuk Jae agar bangkit dari kursi, impulsnya lain. Pria tu memang berdiri hanya saja ia justru melepaskan cengkraman Eun Kyo dengan sedikit hentakan kasar dan menatap wajah Eun Kyo berang.

“Wa…wayeo?”

“Aku bisa berdiri sendiri.” Ujarnya dingin namun masih tetap menatap kedua bola mata Eun Kyo dengan tatapan yang mengerikan.

“Baiklah, sebaiknya kita cepat ke bawah. Mereka menunggu kit…”

“YAK!!!”

Eun Kyo menjerit saat Hyuk Jae menariknya paksa ke dalam kamar mandi, kemudian menghempaskannya didinding, masih dengan kemarahan yang sama.

“Selama ini, aku sudah mencoba sabar. Aku sudah coba untuk mengerti keadaanmu yang sangat labil, aku sudah mencoba menjadi suami yang baik dan selalu menanyakan apa motifmu dibalik pernikahan ini tanpa merasa bosan.”

“Untuk masalah tadi kumohon dengarkan penjelasanku, aku dan Jung Soo tidak seperti apa yang kau pikirkan.”

Hyuk Jae tersenyum dengan menaikan sebelah bibirnya, terlihat memaksa. “Memangnya apa yang aku pikirkan? Memangnya apa yang akan terlintas dibenakku ketika melihat kakak-beradik berciuman, ditempat yang mendukung seperti tadi dan…kalian melakukannya seolah itu sebuah kebiasaan. Apa yang akan aku pikirkan?”

“Yang jelas ini diluar dugaanmu.”

“Tentu saja!!! Kalian membuatku berpikir yang tidak-tidak.”

“Aku dan Jung Soo sangat dekat dari kecil, kami sering bermain bersama.” Eun Kyo mencoba menjelaskannya walau entah apa yang ia ucapkan justru semakin membuat Hyuka Jae naik pitam.

“Lalu setelah dewasa kalian berpacaran. Menyedihkan sekali…” ejeknya dengan tatapan meremehkan.

“Bukan begitu.”

Eun Kyo menatapnya dengan resah. Bingung menjelaskan bagaimana semestinya kasus seperti ini dijelaskan, tidak ada kalimat yang tepat untuk menjelaskan perasaan mereka dan meskipun begitu sepertinya yang Hyuk Jae butuhkan bukan penjelasan karena semuanya sudah terlalu jelas.

“Lalu apa? Aku mengerti sekarang mengapa kau tergesa-gesa untuk menikah denganku. Kau pikir aku apa? Tempat pelarian? Tong sampah?”

“Hyuk Jae, saat aku ingin memutuskan menikah memang itu benar adanya seperti itu.”

“Benar apanya? Benar kaburnya? Kau tidak mungkin kan menikah dengan kakakmu itu?!”

“Memang tidak mungkin tapi saat itu setidaknya aku hanya mencoba melanjutkan hidupku dan…berhenti mencintainya.”

“Apa kau bilang? Berhenti? Kau pikir dengan jalan menikah denganku kau akan berhenti mencintai pria itu?” Hyuk Jae menggeleng. “Itu tidak akan terjadi mengingat kalian tadi sore dan…sungguh membuatku tidak habis pikir.”

“Aku masih berusaha.” Ujar Eun Kyo melemah.

“Berkali-kali aku selalu menanyakan apakah kau punya kekasih sebelumnya, atau telah patah hati, atau berpisah…” Hyuk Jae menarik nafas, mencoba sedikit mengontrol emosinya.

“…tapi ini lebih parah, kau melarikan diri karena melakukan cinta terlarang. Ini jauh diluar pemikiranku selama ini!”

“Kau harus percaya padaku Hyuk~a, ini…ya memang aku yang salah…aku masih mencintai Jung Soo tapi…”

“…Aku tidak mau selamanya hanya jadi tempat pelarianmu Eun Kyo~ya!”

“Lalu kau mau aku bagaimana? Meninggalkannya? Aku bahkan sudah meninggalkannya dengan menikah denganmu…aku…”

Eun Kyo memotong ucapannya sendiri lalu mendongak menatap mata pria dihadapannya yang masih tersulut emosi. Pria itu terdengar sedang mendesah berat kemudian berkata pelan.

“Arraseo, aku tahu apa yang harus aku lakukan padamu.”

Hyuk Jae tiba-tiba membuka kemejanya dengan tergesa-gesa kemudian memeluk Eun Kyo dan menciumi gadis itu dengan paksa. Eun Kyo mencoba mendorongnya dan berteriak sekeras mungkin namun Hyuk Jae membungkamnya dengan ciuman yang sangat kasar. Pria itu merobek gaun Eun Kyo dan berusaha membukanya hingga terbuka sampai batas perutnya.

Merasa diperkosa, Eun Kyo-pun berusaha untuk melarikan diri dan berbagai cara agar ia terlepas dari jamahan suaminya sendiri.

Hyuk Jae yang marah dan bernafsu kini semakin menghimpit gadis itu didinding dan mengunci setiap gerakan pemberontakan yang dilakukan gadis itu.

“Tolong!!! Yak! Hmmmfff… Jung….hmmmfff…”

Hyuk Jae melepas bra Eun Kyo dan melemparnya sembarangan. Disaat yang sama Eun Kyo mencoba menutupi bagian dadanya yang ter-ekspose juga mempertahankan gaunnya agar tidak melorot ke bawah. Ia seakan kehabisan nafas, mencoba berteriak dalam tangisannya.

 ***

“Eun Kyo lama sekali.” Komentar Nyonya Park seraya menatap makanannya tanpa minat, semuanya sudah duduk didepan meja makan yang sengaja diangkut ke taman belakang rumah namun disana masih tersedia dua kursi kosong milik Eun Kyo dan Hyuk Jae. Lima belas menit yang lalu Eun Kyo berpamitan untuk memanggil suaminya karena makanan sudah hampir selesai namun ia belum juga kembali.

Jung Soo yang baru kembali dari toilet sedikit bingung dengan kebisuan yang terjadi di meja makan. Seluruh keluarganya menanti dengan raut tidak sabar dan ia tahu siapa yang sedang mereka tunggu hingga akhirnya Jung Soo memutuskan untuk naik ke atas menyusul mereka. Ia tahu persis apa yang terjadi tidak akan jauh dari masalah dipantai sore tadi.

Jung Soo berjalan cepat menaiki tangga dan ia mencoba masuk ke dalam kamar Eun Kyo.

“Sial, terkunci.” Rutuknya kemudian masuk kekamarnya dan membuka teralis balkon.

Ia mendapati televisi yang menyala juga keadaan yang terlihat baik-baik saja tapi samar ia mendengar suara berisik dari arah kamar mandi, pria itu mendekatkan telinga ke daun pintu dan setelah beberapa saat ia memutuskan untuk mendobraknya. Menendang pintu hingga terbuka dan ia melihat fenomena yang sangat langka juga membuat darahnya naik ke ubun-ubun.

Eun Kyo bersimpuh dilantai dengan keadaan yang sangat tidak baik, pakaiannya sobek dan keadaannya berantakan. Gadis itu menangis dan masih terus berusaha menutupi seluruh bagian tubuhnya yang terbuka juga yang semakin membuat Jung Soo marah yaitu ia melihat ada noda darah diujung bibir gadis itu. Juga Hyuk Jae yang tidak jauh berbeda, ia masih menggunakan celana jeans nya dan berdiri dengan nafas memburu, dengan kemeja yang sudah tanggal.

Hyuk Jae mencoba untuk mendekati Eun Kyo dengan wajah menyesal tapi Jung Soo mendorongnya dan menghujamkan satu kali pukulan dirahangnya. Hyuk Jae tidak bergeming hanya melenguh kemudian diam dan menutupi mulutnya yang berdarah.

“Apa yang kau lakukan dengan Eun Kyo?” suara Jung Soo terdengar nyaring ia mengeraskan rahangnya menahan emosi dan menutup kemungkinan ia akan membunuh Hyuk Jae saat itu juga.

“Mianhae…” Hyuk Jae ikut terduduk dilantai kemudian menutup wajahnya dan menangis tanpa suara.

Sementara Eun Kyo, tangis gadis itu sudah pecah sejak tadi. Jung Soo menghampirinya dan membuka kemeja yang membalut kaus yang ia pakai untuk menutupi tubuh Eun Kyo dan membangunkannya.

“Gwenchana?”

Eun Kyo hanya mengangguk kemudian melirik Hyuk Jae yang masih terdiam diujung kamar mandi didekat bathub, tubuh pria itu terlihat bergetar, Eun Kyo membuang wajah dan berjalan mengikuti Jung Soo yang memapahnya kembali kekamar. Jung Soo membawanya keluar balkon dan masuk kekamarnya sendiri lalu mendudukan Eun Kyo di atas tempat tidur.

“Minum dulu dan tenangkan dirimu.” Jung Soo memberikan segelas air dan Eun Kyo meminumnya seperti orang kehausan.

Jung Soo duduk disebelah gadis itu lalu merangkul bahunya. Masih terdengar isakan kecil dari mulut Eun Kyo membuat hati Jung Soo semakin miris, ia sudah bisa menebak apa yang terjadi hanya saja ia tidak sudi mengakuinya.

“Aku takut!” Ucap Eun Kyo pelan disusul pelukan erat Jung Soo dan membenamkan tangisan yang berubah keras dari mulut gadis itu didadanya.

                Jung Soo sebenarnya tahu, itu bukan urusannya bahkan itu urusan Eun Kyo dengan suaminya, ia bahkan sama sekali tidak mempunyai hak untuk melakukan pembelaan. Jika suaminya meminta hubungan suami istri atau apapun, Jung Soo sebenarnya tidak boleh tahu, tidak boleh ikut campur, tapi yang ia lihat justru lebih mengarah pada pemerkosaan, walaupun ia tahu mereka sudah sah melakukan apapun tapi baginya ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.

“Kau tunggu disini biar aku jelaskan pada halmeoni bahwa kau tidak enak badan. Eo? Dan jangan buka kunci apapun, aku akan segera kembali.”

Jung Soo menakup pipi gadis itu dan menatap matanya, meyakinkannya bahwa ia akan baik-baik saja.

                Kurang lebih sepuluh menit Jung Soo sudah kembali dan membawa kain juga semangkuk es batu untuk mengobati luka Eun Kyo.

“Halmeoni mengerti dan mereka sudah mulai makan. Apa kau lapar?”

Ujar Jung Soo seraya membersihkan sudut bibi Eun Kyo yang memar dan mengeluarkan sedikit bercak darah. Gadis itu sedikit meringis dan membiarkan Jung Soo mengobatinya hingga ia merasa ngilunya berganti perih.

Eun Kyo menggeleng menolak. “Lalu Seera?”

“Dia masih ditempat kerja katanya dia akan menginap dihotel karena banyak pekerjaan. Kau tenang saja.” Jawabnya sambil meletakkan kembali kapas dan mangkuk es di atas meja.

Eun Kyo mengangguk dan menunduk. Trauma itu kembali menyergapnya, ia kembali merasa takut.

“Waeyeo? Apa yang sebenarnya terjadi?”

Jung Soo duduk disebelah Eun Kyo dan menarik dagu gadis itu agar menatapnya tapi Eun Kyo lagi-lagi menggeleng dan kembali menunduk.

Jung Soo tahu, butuh waktu untuk Eun Kyo agar ia bisa menjelaskan kronologisnya.

“Arraseo, sebaiknya kau tidur disini saja.”

Eun Kyo mengangguk dan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur Jung Soo. Ia sudah memakai kemeja Jung Soo yang kebesaran dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal berwarna putih.

Jung Soo tersenyum dan hendak beranjak pergi sebelum Eun Kyo menahan tangannya dengan ekspresi memohon.

Lama Jung Soo menimbang hingga akhirnya ia berbaring disebelah gadis itu dan memeluknya, menepuk-nepuk punggung gadis itu seperti anak kecil.

“Tidurlah dan tenangkan hatimu. Kalau kau masih belum mau bicara aku tidak apa-apa…”

“…Jung Soo~ya.” Panggil Eun Kyo pelan kemudian mendongak menatap Jung Soo. “…Ini salahku.”

Jung Soo mengeryit heran, merefleksikan kecamuk dibenaknya. ‘Kenapa kau bicara seperti itu?’

“Seandainya aku tidak jatuh cinta maka…tidak akan banyak orang yang terluka. Termasuk diriku sendiri.”

Jung Soo masih diam.

“…dan Hyuk Jae, aku mengerti seberapa marahnya dia. Dia sudah cukup sabar denganku tapi…”

“Semuanya sudah berlalu, tidak ada yang benar dalam hal ini. Biar nanti kita bicarakan dengan kepala dingin, bagaimana?”

“Aniyaa…ini salahku, murni salahku!”

“Jangan menyalahkan dirimu terus. Besok, kau putuskan semuanya. Dan sekarang kau tidur…aku akan temani sampai kau tidur. Eo?”

Eun Kyo terdiam dan menatap Jung Soo kecewa namun akhirnya mengangguk dan mulai memejamkan matanya, menghirup aroma maskulin pria itu dan mulai terlelap dalam ritme tepukan lembut ditubuhnya juga hembusan nafas teratur di dahinya. Ia semakin nyaman dan semakin dalam memasuki alam bawah sadarnya.

 ***

Mokpo. September 2012

                Hyuk Jae membuka matanya perlahan, suara alarm pagi itu yang membuatnya terjaga lebih awal. Ia melirik ponselnya, ada beberapa email yang masuk dari sekertarisnya di China. Waktu liburannya sudah berakhir hari ini.

                Pria itu terduduk di tepi tempat tidur dan menatap kosong sebuah koper berwarna hitam yang sudah berisi pakaian juga peralatannya yang ia siapkan semalaman. Dengan atau tanpa Eun Kyo pria itu akan kembali ke China hari ini juga.

                Pintu kamar terdengar berderit pelan, Eun Kyo masuk dengan pakaian yang rapi juga rambut yang sedikit basah. Ia menatap Hyuk Jae sebentar lalu menutup pintu. Hyuk Jae sengaja tidak menguncinya agar Eun Kyo bisa masuk dan mengambil keperluannya dikamarnya.

“Aku mau mandi dulu.” Ucap Hyuk Jae terdengar pelan lalu bangkit dan bergegas ke kamar mandi.

                Pria itu terhenyak mengingat kembali kejadian tadi malam, ia seolah berubah jadi orang lain dan memaksa gadis itu ‘melayaninya’, sesuatu yang seharusnya ia lakukan sejak dulu. Dadanya menyesak, tanpa ia sadari ia hampir saja jadi seorang pemerkosa. Ia tidak tega melihat gadis itu menjerit-jerit saat ia membuka paksa seluruh pakaiannya, menamparnya dan menghempaskannya berkali-kali ke dinding hingga ia  memutuskan untuk mundur dan membiarkan gadis itu melorot ke lantai dan menangis sejadi-jadinya.

Hyuk Jae menggelengkan kepalanya berkali-kali mengusir cuplikan-cuplikan itu dari benaknya. “Mianhae Eun Kyo~ya, aku tidak bermaksud seperti itu.”

Pria itu berjalan menuju bathub dan merendam tubuhnya dengan air hangat, sejenak menghempaska masalah yang berkecamuk dalam pikirannya. Berharap saat ia keluar dari sana keadaan akan kembali lebih baik.

 ***

                Eun Kyo menatap nanar koper Hyuk Jae yang sudah penuh. Dengan hati yang sakit ia menyiapkan pakaian yang akan dikenakan pria itu kembali ke China. Dalam hati, ia terus menyalahkan diri, kalau bukan karenanya pria ini tidak akan berubah menjadi seperti ini.

                Hyuk Jae keluar dengan handuk yang hanya membalut tubuh bagian bawahnya, Eun Kyo menunduk sembari menyerahkan baju ke arah pria itu dan Hyuk Jae hanya menerimanya dan kembali ke kamar mandi.

“Aku akan ikut ke China. Kita selesaikan masalah ini bersama.”

Hyuk Jae yang baru keluar terlihat terkejut dengan pernyataan Eun Kyo. Gadis itu tidak menoleh, sibuk mengemas pakaiannya sendiri ke dalam koper.

“Maafkan aku atas kejadian semalam. Aku…benar-benar menyesal.” Balas Hyuk Jae mengalihkan pembicaraan.

Eun Kyo diam, sekuat tenaga ia berusaha agar tidak menangis dan memilih terus menyibukan dirinya.

“Aku banyak sekali pekerjaan. Kalau kau masih ingin disini aku tidak apa-apa pulang sendiri, lagi pula…”

Eun Kyo menghentikan gerakan tangannya yang sibuk, menatap pria itu dengan wajah lelah.

“…aku sudah mengurus surat perceraian kita.” Sambung Hyuk Jae terdengar lirih. Ia membuang wajahnya, tak sanggup melihat tatapan gadis itu.

Eun Kyo menelan ludahnya mendengar kalimat dari mulut Hyuk Jae, kembali ia berkutat dengan barangnya.

“Baiklah…tapi aku akan tetap ikut denganmu sampai semuanya selesai.” Balas Eun Kyo terdengar lantang namun tanpa menoleh sedikitpun.

“Untuk masalah semalam, sekali lagi kumohon maafkan aku…” Ucap Hyuk Jae sekali lagi, kali ini Eun Kyo mendongak, ia telah selesai dengan pekerjaannya.

“Kita lupakan saja!” jawabnya terkesan dingin dan benar-benar tidak ingin membahasnya.

Hyuk Jae hanya mengangguk seraya memakai jam tangannya.

“Aku siapkan sarapan dulu. Kau mau makan apa?” tanya Eun Kyo bangkit dan bersiap keluar.

“Seperti biasa saja. Aku akan turun sebentar lagi.” jawab Hyuk Jae kemudian tersenyum, begitu tulus. Senyuman itu sekaligus menyadarkan Eun Kyo pria itu yang memang selalu menjadi pelampiasan segalanya dan sebentar lagi mereka akan berpisah.

Eun Kyo membalas senyumnya lalu bergegas keluar, menyiapkan sarapan.

“Gomaweo!”

Eun Kyo yang hendak menutup pintu mendadak berhenti dan menoleh kemudian tersenyum tipis setelah itu ia kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur.

“Mana suamimu Eun Kyo~ya?” tanya nenek tua yang sudah siap dengan piring dan serbetnya.

“Itu…dia sedang turun halmeoni.” Tunjuk Eun Kyo ke arah Hyuk Jae yang sedang menuruni tangga. Pria itu sudah siap dengan celana jeans dan juga kemeja biru tua berlengan pendek. Lalu bergabung dimeja makan.

“Yak…cucu menantu, semalam Jung Soo bilang kau tidak enak badan. Memang cuaca disini sedang tidak baik, kau harus menjaga kesehatanmu. Padahal semalam itu sama sekali tidak ramai tanpa kalian.”

Hyuk Jae melirik Jung Soo disebelahnya yang sibuk mengoleskan selai coklat di rotinya, Jung Soo pura-pura tidak peduli dengan tatapan Hyuk Jae.

“Ah yee halmeoni, mianhae membuatmu kecewa.” Sesalnya lalu menundukkan kepalanya sedikit.

Eun Kyo menyerahkan setumpuk roti dengan selai kacang ke depan Hyuk Jae, pria itu tersenyum dan menyambutnya.

“Gomaweo yeobo.” Ucapnya membuat Eun Kyo membatu. Sementara Jung Soo langsung menoleh dengan tatapan meminta penjelasan disertai dengan mulut penuh, hampir tersedak.

“Eo, halmeoni…kami jadi pulang hari ini. Dari China sudah menelpon Oppa agar dia cepat ke kantor, masa liburannya sudah habis.”

“Uhhhuukk!!!” Jung Soo benar-benar tersedak. ‘Yeobo? Oppa? Menggelikan!’

“Oppa, minum dulu.” Seera menyerahkan segelas air putih ke arah Jung Soo dengan raut khawatir.

“Baiklah, aku mengerti…tapi lain kali kalau pulang lagi ke Mokpo kalian harus sudah bertiga, nee?”

“MWOYA?” teriak Eun Kyo, Hyuk Jae dan Jung Soo bersamaan. Seisi meja langsung diam, mereka ternganga dengan reaksi ketiga bocah itu.

“Waeyeo? Sudah hampir dua bulan menikah itu wajar saja!”

“Tapi halmeoni…” Sela Hyuk Jae ingin protes.

“Kami akan memikirkannya.” Eun Kyo menginjak kaki Hyuk Jae dibawah meja kemudian menyela pembicaraan.

“Arraseo.”

“Sepertinya aku sudah selesai, kajja! Kita berangkat.” Jung Soo menarik Seera yang masih menelan bulat-bulat rotinya untuk segera berdiri dan bergegas menarik koper gadis itu keluar rumah.

“Halmeoni aku juga pamit kembali ke Seoul, anyeong…ah semuanya khamsamnida…Yak Oppa!!! Aku belum selesai pamitan! Yak!!! Aku akan kembali…anyeong…”

Seera berjalan terburu karena Jung  Soo menariknya cepat, hingga gadis itu kewalahan.

Jung Soo sudah tidak tahan dengan pembicaraan itu, padahal ia tahu persis apa yang terjadi diantara hubungan Eun Kyo dan Hyuk Jaae, sama sekali tidak baik-baik saja. Pria itu hanya menantikan apa yang akan terjadi setelahnya.

‘Teruslah terlihat baik-baik saja Eun Kyo~ya…tapi kau tidak akan bisa menipu aku. Kalian pikir aku tidak mendengar apa yang kalian bicarakan pagi ini. Kita lihat saja!’

 ***

                Eun Kyo kembali menaikkan kaca jendela mobilnya dan memakai seat belt dengan rapi. Mobil yang ia tumpangi yang dikendarai langsung oleh Hyuk Jae itu sudah keluar dari halaman luas rumah neneknya. Pria itu terlihat kalem saat mengendarai, menarik ulur pedal dengan teratur. Hanya suara alunan musik jazz yang terlantun samar dari audio mobil sedan hitam itu, sisanya bungkam. Eun Kyo lebih memilih menatap keluar jendela sebagai distraksi, membunuh kemungkinan ia akan tiba-tiba meledak-ledak atau malah menangis tidak karuan. Itu perasaan aneh yang sering ia rasakan, mungkin akhir-akhir ini.

                Berbeda dengan Hyuk Jae, pria itu terlihat sangat menikamati perjalanan. Hanya kelihatannya saja, faktanya perasaannya jauh bertolak belakang dengan senyum tipis yang mengembang sejak tadi. Hatinya seakan remuk, ia yang berharap, terlalu berharap dan kini harapan itu hanya sekedar harapan tanpa nama yang tak jelas  dimana berlabuhnya. Keinginannya berumah tangga dengan baik akan kandas dalam waktu dekat ini.

                Yang ia sayangkan bukan karena wanita yang ia nikahi tidak mencintainya, tapi karena ia sudah merasa terjebak dalam perasaanya sendiri. Malah yang ia pikirkan bukanlah bagaimana ia akan melanjutkan hidupnya setelah berpisah dengan gadis itu, tapi bagaimana gadis itu akan melanjutkan hidupnya setelah berpisah darinya. Sesaat terlintas untuk tetap mempertahankannya saja dan menghentikan prosesi cerai berai yang sudah ia urus sejak semalam, namun apa daya, Hyuk Jae juga tidak ingin selamanya hanya sebagai sekat transparan bagi gadis itu untuk melarikan diri minimalnya dari cemooh orang karena bisa saja gadis itu dianggap abnormal karena mencintai sepupu yang bahkan terlalu dekat untuk dinikahi.

                Eun Kyo berdehem pelan, ia kembali meluruskan tatapannya kearah jalanan. Dua jam terlewati tanpa bicara membuat tenggorokannya kering dan tanpa sadar, didepan matanya sudah terlihat jalan menuju bandara dan itu artinya ia akan segera pergi lagi meninggalkan Korea, untuk sementara. Eun Kyo tidak sabar untuk kembali menginjakkan kaki disana, sebagai seorang wanita lajang dan kembali merajut asa, menuai mimpi dan melukis kisah kembali dengan Jung Soo. Walau ia berusaha menyembunyikannya tapi keinginan itu serasa semakin menggebu.

“Itu Eomma dan Appa!” tunjuk Eun Kyo setelah mobilnya terparkir di depan bandara. Eun Kyo segera turun dan menyambut orang tuanya itu. Sesaat ia kembali teringat beberapa kalimat Jung Soo yang menohoknya, ‘wanita itu bukanlah ibu kandungnya’. Eun Kyo mengurungkan niat untuk memeluk dan mencium wanita itu dan memilih diam saat jarak mereka hanya beberapa langkah saja.

“Eun Kyo~ya…” panggil Hana dengan suara lirih, ia memeluk putrinya dan hanya dibalas dengan senyum tipis, pagi ini sebelum mereke berangkat Eun Kyo sudah mengabari secara garis besar apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi.

“Anyeonghaeseo eommonim, terima kasih telah meminjamkan ini.” Hyuk Jae memecah lamunan Eun Kyo, ia menyodorkan kembali kunci mobil yang ia pakai ke Mokpo.

“Nee, eoh…apa kalian tidak akan ke rumah dulu?” Hana masih terlihat sedikit panik, ia menoleh suaminya meminta pertolongan.

“Ahni, pesawat kami take off setengah jam lagi Eomma.” Sergah Eun Kyo cepat.

“Aish…sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan. Dan mengenai perceraian kalian…kami menyerahkan semuanya pada kalian.”

Eun Kyo dan Hyuk Jae mengangguk hampir bersamaan, itu memang yang ingin mereka dengar sekarang.

“Ahh sepertinya kita harus pergi dulu, Eomma, Appa…kami pergi.”

Sesaat Hana menatap tak rela pada Eun Kyo dan Hyuk Jae, wanita itu memeluk Hyuk Jae, erat dan cukup lama, tak hentinya ia mengucapkan kata maaf disetiap isakan tangis kecil yang tercipta. Berbeda dengan Tuan Park yang terlihat tegar dan menguatkan menantu yang akan menjadi mantan menantunya itu.

 ***

Beijing, China. September 2012

“Ambil keputusan yang terbaik.”

                Begitulah kira-kira yang Eun Kyo dengar terakhir kali dari mulut kedua orang tua angkatnya. Ia kini tengah bersiap melandas di Beijing dan hatinya masih tak mau diam, terus berkecamuk dan berkicau seperti burung. Berbagai klise ia putar terus menerus hingga dua jam perjalanan di udara terasa begitu cepat. Ia telah kembali menapakkan kaki di China dengan satu alasan yang sama. Perpisahan.

                Hyuk Jae menekan beberapa digit kode pintu masuk apartemennya. Kemudian terdengar bunyi ‘bip’ dan pintu terbuka, mereka masuk dengan langkah lelah. Mereka butuh istirahat, setidaknya sebelum memulai hari yang sesungguhnya. Hari dimana gugatan dibacakan dan semuanya akan selesai setelah itu semua.

“Kau lapar?” tanya Hyuk Jae seraya membuka kulkas yang hanya berisi susu dingin dan juga beberapa beberapa buah-buahan yang masih sedikit segar. Eun Kyo menggeleng dan merbahkan diri di sofa, kekuatannya hanya sampai membuka sepatu dan menyimpan koper sisanya ia hanya butuh tidur.

“Baiklah kau istirahat dulu saja.”

Eun Kyo tidak menjawab, matanya sudah membuka dan menutup dengan kecepatan rendah dan didetik berikutnya matanya benar-benar tertutup dan tertidur. Sementara Hyuk Jae hanya menengokkan kepalanya dan tersenyum kecil saat gadis itu tertidur. Belum sempat ia beranjak, getaran gedget di saku celananya sedikit membuatnya tersentak, ia merogoh benda elektronik itu kemudian menempelkannya ditelinga kanan.

“Hallo…”

“Hyuk, apa kau telah sampai di Beijing. Aku baru bisa menghubungimu. Ponselmu sama sekali tidak aktif. Menyebalkan sekali…”

Hyuk Jae berjalan menjauhi Eun Kyo dan memilih menuju balkon. “Baru saja aku sampai. Wae?”

“Sidang perceraianmu besok siang. Aku harap kau mempersiapkan diri. Hanya itu…”

Hyuk Jae menarik nafas berat. “Aku mengerti. Terimakasih Pheilin.”

Seorang wanita China yang merupakan orang terdekat Hyuk Jae menjawabnya dengan tawa ringan. Gadis itu yang ia hubungi untuk mengurusi masalah perceraiannya dengan Eun Kyo.

“Kau ini bagaimana Hyuk Jae? Pernikahanmu belum seumur jagung kau memilih bercerai… Ckckck… Aku sarankan kau kembali memikirkannya! Aku takut kau menyesal nanti.”

Kali ini Hyuk Jae yang tertawa. “Wo bu hau hui , zhe shi wo de jiao xun…(“Aku tidak menyesal, ini pelajaran untukku”). Sperti biasa, pria itu akan berbicara dalam bahasa Mandarin dengan Pheilin, gadis itu tidak terlalu fasih berbahasa Korea.

Pheilin tertawa, dia tidak habis pikir mengapa pria itu terlihat begitu siap saat menjelang perceraian. “Arraseo…yeo.” jawabnya terdengar kaku. Hyuk Jae kembali tertawa kali ini lebih keras, Pheilin begitu payah berbahasa Korea.

“Baiklah, sampai ketemu besok.”

Hyuk Jae menutup ponselnya dan kembali ke kamar. Ia berjenggit, Eun Kyo sudah ada dibelakangnya dengan wajah kusam.

Gadis itu tersenyum. “Apa malam ini kau bisa mengantarku berjalan-jalan, setidaknya untuk terakhir kali?”

Eun Kyo memiringkan wajahnya sedikit, menunggu jawaban Hyuk Jae. Pria itu terlihat sedang berfikir.

“Kita pergi ke Lotus, disana tempat favoritku. Sekarang lebih baik kau mandi. Kita makan malam dulu sebelum pergi kesana.”

 ***

Mokpo. September 2012

“Halmeoni…kumohon…”

Jung Soo mengatupkan kedua telapak tangannya dengan wajah memelas. Sejak satu jam yang lalu ia merengek pada neneknya itu untuk menikahi Eun Kyo namun nenek tua itu masih bungkam dan bahkan tidak melihat wajah Jung Soo sama sekali.

Nenek tua itu menghela nafas panjang.

“Eish…bagaimana ini bisa terjadi Jung Soo~ya? Keu membuatku sakit kepala, aigoo…!!!”

“Ayolah, lagipula ini bukan salahku. Kalau saja kau memberitahuku dari awal kalau Eun Kyo bukan keluarga kandung  kita mungkin…”

“…aku tidak suka memilah-milih cucu. Semuanya sama!!!” tandasnya tajam.

Jung Soo bangkit dari kursi, sepertinya ia sudah kehabisan kesabaran. “Halmeoni kau harus menyetujui pernikahan kami!” serunya terdengar mengintimidasi kemudian berjalan tergesa menaiki tangga.

Nenek tua itu hanya diam dan memandangi punggung Jung Soo yang menghilang dibalik pintu kamarnya, kemudian tersenyum. “Semoga ini keputusan yang terbaik. Aku akan menikahkan kedua cucuku… Aigoo, ini benar-benar membuatku sedikit pusing.”

“Jung~a…ambilkan aku aspirin, pallinawaa!!!”

 ***

Lotus, Beijing. September 2012

                Eun Kyo dan Hyuk Jae berjalan berdampingan menyusuri sebuah keramaian malam disebuah tempat wisata yang cukup terkenal di Beijing. Lotus. Orang-orang disana memanggilnya seperti itu, mungkin karena ditempat itu terdapat sebuah danau buatan ditengah keramaian penjual dan pembeli souvenir dan caffe. Danau yang indah yang dihiasi banyak bunga teratai. Biasanya, pasangan kekasih akan pergi kesana untuk berkencan. Bedanya Eun Kyo dan Hyuk Jae datang bukan niat seperti itu. Mungkin semacam perjalanan terakhir.

“Kau suka tempat ini?” tanya Hyuk Jae saat mereka duduk di kursi taman yang ada ditepi danau. Pria itu menyerahkan segelas kopi dalam gelas kertas ke arah Eun Kyo.

“Gomaweo. Ng…tempat ini indah sekali.” Gumamnya dengan mata yang tak lepas dari danau dengan beberapa penerangan disana.

Terdengar samar suara alunan musik dari salah satu caffe terdekat dengan tempat mereka, menjadi backsound dramatis yang seakan menusuk-nusuk.

“Tempat ini tidak akan tutup sampai besok pagi.”

“Eoh? Benarkah? Keren sekali…” puji Eun Kyo tulus yang dibalas dengan kekehan kecil dari mulut Hyuk Jae.

Pria itu menyesap kopinya yang masih mengepul kemudian berujar. “Tadi Pheilin menelponku, dia bilang besok kita sudah mulai sidang di pengadilan.”

Eun Kyo mengangguk dan tersenyum kecut. Dimana-mana yang namanya berpisah tetap saja terasa sakit sekalipun dengan lelaki yang sama sekali tidak ia cintai.

“Mianhae…” Eun Kyo menatap Hyuk Jae yang duduk disamping kirinya, dalam.

Hyuk Jae menurunkan gelas dari bibirnya dan balas menatap wanita itu.

“Untuk apa?”

Eun Kyo menelan ludahnya kuat-kuat, hatinya merasa terlalu bersalah bahkan kata maaf saja seakan tidak cukup untuk mewakili penyesalan yang ada.

“Untuk…kekecewaan yang aku ciptakan. Ini salahku, semuanya salahku…Mianhae, jeongmal mianhata…”

Eun Kyo tidak bisa menahan tangisnya. Tubuhnya sudah bergetar, air asinpun mengalir bergantian dari kedua mata bulatnya. Gadis itu kembali merapuh.

Hyuk Jae meletakkan gelas kosong di sampingnya lalu dengan perlahan menarik tubuh Eun Kyo kedalam pelukannya, membelai rambut panjang gadis itu dengan hati yang gentar. Ia tahu, ini bukan salah siapa-siapa tapi mengapa gadis didepannya harus menangis?

“Zhe shi ni de xuan ze, bu shi ni de cuo!” (“Itu pilihanmu, bukan kesalahanmu!”)

Eun Kyo masih menangis walau dalam diam, ia mencoba membalas pelukan pria itu, erat. “Boleh kan aku memilih untuk bahagia?” tanya nya disela isak yang terdengar pilu masih tetap merasa bersalah.

Hyuk Jae tersenyum, ia mencium puncak kepala gadis itu. “Semua orang punya jalan masing-masing untuk mencapai kebahagiaan. Aku tidak keberatan, mungkin kita bukan orang yang pas untuk saling membahagiakan. Tapi aku sudah merasa cukup karena sempat menjadi suamimu.”

Hyuk Jae menengadahkan kepalanya, mencegah ia-pun sama-sama merapuh dan menangis. Itu bukan tipenya, ia harus tegar, sehancur apapun dirinya. Sesakit apapun hatinya. Seberat apapun melepas. Ia harus tetap berdiri tegak, menantang dunia dan melanjutkan hidupnya sebagaimana mestinya.

“Mianhae…”

“Jangan katakan itu terus. Yak!!! Kau seperti anak kecil saja!”

Eun Kyo melepaskan pelukan Hyuk Jae dengan wajah ditekuk. Sebenarnya pria itu hanya mencoba mencairkan suasana saja.

“Gomaweo Hyuk Jae ssi.”

Keduanya tersenyum lagi dan saling memeluk lagi. “Zhe shi zui hao de xuan ze…” (“Ini adalah pilihan yang terbaik…”)

                Eun Kyo mengangguk. Kurang lebih dua bulan tinggal di China, sedikit banyak ia sudah terbiasa dengan bahasa itu, apalagi Hyuk Jae sering mengajarinya. Dan akhirnya ia sadar lagi bahwa sebenarnya banyak hal yang telah ia lakukan dengan pria itu, namun entah mengapa…apapun itu , kenangan apapun itu, tak ayal membuat Eun Kyo tetap tak bisa melupakan Jung Soo.

                Hyuk Jae melepaskan pelukannya namun tetap memegang kedua bahu Eun Kyo, pria itu menarik nafas dalam dan didetik berikutnya wajahnya mendekat dan memiring, mendaratkan beberapa kecupan diatas permukaan bibir Eun Kyo. Hatinya kembali berdesir, ini ciuman pertamanya dengan Eun Kyo sekaligus ciuman terakhirnya.

Zhu ni xing fu… (Semoga kau bahagia).” Ucapnya lirih setelah berhenti menciumi gadis itu. Sekali lagi Eun Kyo menganggukan kepalanya sebagai jawaban.

‘Semoga kau juga bahagia Lee Hyuk Jae ssi…’

 ***

To Be Continue…

 

Oke fine, rempong ini mah… bertele-tele banget gue ya Eon? Hahaha….

Mianhae atas keterlambatan part ini dan mianhae karena menambah satu part dari yang aku janjikan. Hahaha…dan yaa…aku sibuk banget dengan praktek yang tidak ada hentinya. Ya mending satu praktikum selesai tiga jam, lhaaaa ini waktu luangku terampas dan tidak bisa cepet2 ngirim FF nya…jeongmal mianhae. #bow.

Baiklah, aku tidak tahu penasaranmu sampai sebegitu kronisnya Eon… dan buat readernya bilangin makasih banget dari aku…thanks for comment yaaa… #kecupSatu-satu.

Entah ini bagus atau nggak, aku hanya memberikan yang terbaik…:) gomaweo…

Vikos Say : OK baiklah, saya tercengang dengan hasil kali ini. Emak! Ikha kamu gila! Bikin aku berhenti bernafas beberapa saat! Tegang gila! Aku suka alur kamu, konflik kamu yang tidak biasa, cara penulisan juga yang gampang dimengerti aku suka…. kyaaaaaaaaaaaaaa aku gila! Aku gila! Apaan itu dikamar mandi coba, otakku jadi mikir itu mulu. Kasian Hyuk… *emot nangis* aku salah aku salah aku salah *spongebob banget* ok lah, pasti pada banyak yang nunggu ini kan? 1 part lagi tamat, jadi. Silakan komen yang ini dulu.

38 responses »

  1. huaaaaaa yang pertama kah ? LOL

    hyukkie Q kasian sm dia eonn*sini Q pelukk hyukkppa
    dannn jungsoo oppa berhasil meyakinkan nenek’a buattt cpt nikah ma eunkyo eonni

    masih kepikiran yg di kamar mandiiiiiii .. kasiaaaann hyukkppa

  2. 1 part lagi tamat ???? Jinja ?
    Aaaaah itu kasian banget enhyuknya sini sini sama aku aja , demi langit dan bumi kalau ada cowo kaya enhyuk udh aku ajak ke KUA aja hahahahaa
    Enkyo nya jg kasian demi mendapatkan kebahagian sama jung soo hrs gituu dulu😦
    Iya bener kata fika oenni ini keren ceritanya bagus bahasanya jg mudah di mengerti ..

  3. Pertamanya sih gak rela eunkyo ma hyukjae…tp moment perpishan mereka bikin sesak nafas..huhhhuuuuhhuuu…*mewek*..kasiannya nasibmu hyukjae…merelakan eunkyo…supaya tak ada yg tersakiti..

  4. wuahhhhh
    kyaaa adegan di kamar mandi itu apa? #wajahpolos

    kasian eunyuk.
    eunyukkkkmm mending sm aku sajja. dr pada sm eunkyo onn yg berujung dgn kesakit hatian mu kekeke😀

    dtggu buat part selanjutnya😉

  5. aaaa…jalan terang telah terbukaa…
    teukyo akan bersatu..yyeeaahh..
    Hyukjae baekna dirimuu..
    Org baek sllu disakiti(?)..
    Tinggal 1 part lgi??
    Eemm cpt ya endingna..ntr klo ud ending buat crta baru lgi ya..^^
    Hbbiss q suka sii🙂

  6. tinggal 1 part lg. Ok
    Aiiii… Gak tega liat hyu jae. Meski q penduking teukyo, ttp aja g tega liat eun kyo pisah sama hyu jae. Hyuk jae, kenapa engkau terlalu baik? Hyuk jae semoga mendapatkan pengganti eun kyo secepat’y🙂
    Lucu deh liat jung soo maksa nenek’y supaya merestui pernikahan’y dengan eun kyo, kayak anak kecil🙂
    Hah… Gak sabar liat teukyo nikah🙂
    Di tunggu part terakhir eon.
    Fighting🙂

  7. Aigoo. . . Ini mah keren bgt, kerennn. . .
    Kasian hyukkie,
    ama aku aja gmana oppa?#plak,kyu gw kemanain

    aiihh yang mau balikan nih*lirik TeuKyo couple*
    semoga part terakhir ga di protect ya,
    aku kan belum pernah minta pw ke eunkyo eonnie,
    masih malu2 kalo mau sms eonnie,hehe

  8. Whoaaa udh dtng lg lanjutannya,, ini mo final tho.. Waah serem jg y hyuk jae, mpe bikin eun kyo histeris. Untung eun kyo nya g trauma lg.. Hyuk jae nya d jadiin ma seera aj chingu,, dr pd sendirian kasian. Hehehe.. D tunggu last partnya..

  9. Eunkyo eonni, kau memang sudah takdirnya Jungsoo oppa. jangan sakitin Hyuk lagi, ne? Hyukjae oppa, kau sama diriku saja. huwaa~ kasian Hyuk T-T

  10. adegan pas dkamar mandi sukses bikin aq deg2an*emangnya adegan apaan ya…pura2 polos*
    takut aja klu hyuk jd perkosa eunkyo walaupun status hyuk suami kyo….tp kasian jg sich ama hyukjae dia rela bercerai demi kebahagiaan eunkyo…

  11. Hyukjaeeeee:””sini sini buat aku aja..

    Dimana2 teukyo ya tetap teukyo yah,aaahhh karakter hyuk disini, tegar banget… suka banget..
    Teukyo, cepetan kawin gih, spy gk banyak yg tersakiti… hehehe

  12. Hyukie knp km muncul d sini kalau cuman untuk menderita,, #plakk,, tp aq juga gk yakin bakal ikhlas kalau eunkyo tetep sm hyuk,, entahlah semoga akhir’a baik.. Aq suka ff’a,, tp adegan d kamar mandi bikin aq tegang,, hyuk gk bakal senista itu aq yakin,, ok,, semoga ending’a semua bahagia,,

  13. 1 part lagi end.

    Hyuuuuuuuk, sini aku peluk. *ngrep mode on*
    akkk, kok malang nian nasib hyuk, sini deg sama aku aja. *ditabokin jewels*

    sukur deg neneknya setuju kalau jungsoo nikah ma eunkyo.

  14. 1 part lg, Teukyo akan bersatu, yeeee yeee yeeee….
    jd ga sabar😀
    oia tumben bgt enyok dpt peran gni di ff😀
    eonni jgn lama2 ya di post lanjutannya *tium eonni* *kabur bareng kyu*

  15. Horree….
    Hyukjae gugat cerai Eun Kyo ( hehehee,,,,,,,,,,)
    Horreee….
    Part berikutnya Happy Ending ( PEDE ,,,,,)
    Horreee…
    Neneknya setujua 2 cucu nya menikah ( ^^)
    Horree,,,,
    Gak matti penasaran lagi….

    Tetap semangattt,,,,,

  16. yahhhh knp q sedikit ngak rel ya hyuk n eun kyo mau pisah,,,,, apa krn kasian sama nasib y hyuk yg kyk gitu mana mereka dah nikah…..
    q bingung sebagian seneng eun kyo mau pisah tapi juga sedih sedikit krn harus pisah sam hyuk,,,,, agak gmn gt pas hyuk maksa mai berhubungan gt sama eun kyo tapi juga paham maksud dari sisi hyuk….
    haduh kyk y komen q amburadul deh pa maksud y jd bingung,,,, q susah ngungkapin y tapi kyk y perasaan q abis baca ini hampir sama sama yg lain y….
    Lanjut…..

  17. Yeeee………. Jung soo ma eun kyo mau nikah khan…… Pasti khan…….🙂
    Poor hyukjae……..
    Satu part lagi? Uda ga sabar…….. Ditunggu ya……
    Daebak………🙂

  18. Kasian hyuk jae dong eonn? -_- ntar endingnya hyuk dikasih bahagia juga dong eonni. Haha, ini endingnya sampe punya anak ga eonn? *banyak tanya* aaaahhh, 1 part lg tamat. Aku menantikan happy ending loh. Keep writing eoon. Hwaiting!😀

  19. Ige mwoyeo???
    Abang onyet pribadiku kasian bgt yeeee.. * saya terisak di pojok meluk pisang* aigoo yeobo yang sabar …. Entak kenapa di ff ini saya lebih prihatinn simpatik ama eunhyuk daripada jungsoo.. Aq ngerasa jungsoo oppa yag jadi orang ketiga … Bahkan saya sangat berharap eunhyuk ama eunkyo.. * di tabok fika eonni *eke jd inget lgu perpisahan termanis ngenaaa bgt dehhh aigoo sabarr ya yeboo.. Masih ada aku disini *di lempar jewels*…
    Buat eunkyo selamat berpisah dan selamat menempuh hidup baru dengan jungsoo.. Saya doakan semoga bahagiaa selamanyaa saya mencintai kalaiannnn … I love you full cium fika eonni .. Hahahaha…
    Oh iya saya mau terimakasih bwt eunkyo sudah merebut ciuman pertama abang onyet * mewek*
    makasih juga jeongmal gamsahamnida sudah menceraikan suamiku .. Kwakakakak . Wadohh udah mulai eror .. Saya cabooott dulu byy

  20. ok saya komen nya di sini aja ya,,saya udh baca Loving U pat 1- 5 nh jd dgabung aja yaw~gpp kan Oennie~~hehehehe

    cek~cok~cek~cok

    huaaaaa~~~ini apaaaaa >.< aku suka ff ini
    awal pertama dpt sms dr Fika Oennie n check ke nh blog cuma save dihp aja lum ada waktu ngebacanya,pas pertama coba mw baca,,kesan pertama ma nh ff kok kurang greget??? jd hmpr bbrp minggu sy abaikan dan hny tersimpan disave page hp~~*mian Oennie*

    tapi~~td,,aku coba buka save page opera mini di hp ku n pertama ku cr tentu ff dr blog oennie,dan cuma ini yg blum sempat sy baca,jd saya baca deh dr part 1 – 5,dan waw~~~~~aku sukaaaaaa~~ini keren~~~bertemakan Jungsoo Oppa n EunKyo oenni y sepupuan~~ ada konflik bathin,antara cinta da keluarga~ditinggal Kyu oppa~Nikah ma Hyuk oppa~dan ini apa Eunkyo Oennie mw cerai ma Hyuk dan balik ke jungsoo oppa~~huaaaa aku suka alur cerita nya,,y wlw udh ketebak Eunkyo oennie emang bakal ma Jungsoo oppa,tp aku suka konflik nya ^^ *nari Gangnam Style* hehehehehe

    tp,,Hyuk oppa kesian gmn nasib ny~~sini bang ama aye,,masih jomblo ting ting neh~~hehehehee

    dan buat authornya~~makasih banget udh buat ff begini,,sy suka~hehehe
    buat fika oennie~~cieeeee~~nikah sebentah ma Hyuk oppa nh *alis mata naik turun*
    kekekekekekeke😛

  21. baru kebaca.. hehe…
    yeayy!!! tinggal selangkah lagi.. kebayar juga akhirnya penantian dua sejoli itu..*jeh bahasanya* aku senang… haha…

  22. Oh God! Hyukjae hampir memperkosa Eunkyo, walopun mrk suami-istri, ttp aja aku gak rela hyuk grepe2 eunkyo, krn eunkyo cuma buat jungsoo. Tubuh eunkyo cuma utk jungsoo, titik!!
    Dan astagaaaa…pd akhirnya mrk akan cerai, CERAI…. Well, memang bagus utk TeuKyo, tp aku jd mikir Hyuk baiknya kelewatan deh, tdinya aku pengen nginjek hyuk gara2 kejadian di kmr mandi, tp skrg aku malah kasian ama dia.
    Oke, semoga hyuk dpt wanita yg baik, yg tulus mencintainya.
    Next ditggu🙂

  23. kasian hyuk. ..
    knp g sama hyuk ja s eunkyo#d pelototin eonni
    kasian bnget km hyuk, q hrap d part slanjtnya ad ket kalo hyuk bakalan bhgia jg,kasian hyuk. . . q jd g tega bngt ma kshnya hyuk pngen T.T

    peluk hyuk,cup cup cup. .

    author daebak,dan lg2 tambh GALAU

  24. Aaaa hyuk jae, semoga dapat yang lebih baik T.T sedih banget
    tapi akhirnya jung soo dan eun kyo bersatu, semoga mereka bahagia.
    Aku suka banget pas halmeoni bilang “Semoga ini keputusan yang
    terbaik. Aku akan menikahkan
    kedua cucuku… Aigoo, ini benar-
    benar membuatku sedikit pusing.” haha lucu ngebayangi ekspresi halmeoni. Next next

  25. Nahh ya ini kyag nya uda hampir ending..
    Sumpahh nyesek bgt. Ksian semuanya pada terluka, apalagi si hyuk..😥
    Huee eonnie, ini kpn di lanjutnyaaa??
    Bner” pengen ngerti endingnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s