TeuKyo Couple : Loving U (Part 4)

Standar

loving u

Author : Ikha068

Beijing, August 2012

                Hyuk Jae mengambil sebuah topi dan memakainya, topi adalah benda terakhir yang akan ia kenakan setelah celana jeans dan kaus berwarna putih berlengan pendek. Pria itu berjalan menuju balkon, Eun Kyo berdiri disana menatap ke bawah dimana disana terdapat pertokoan Wangfujjing sudah mulai ramai dengan turis.

                Letak apartemen mereka di Beijing memang berada di pusat kota, Lee Garden Apartemen yang tepat berada di jalanan dekat pusat perbelanjaan elit para turis. Dan letaknya yang berada di lantai 10 memungkinkan untuk selalu menikmati keramaian itu.

“Kita berangkat sekarang?”

Tanya Hyuk Jae sambil menepuk bahu Eun Kyo, gadis itu pun memakai kaus putih dengan celana pendek juga sebuah tas berisikan kamera dan beberapa peralatan lain.

Gadis itu menoleh dan mengangguk.

                Kemarin sore mereka baru menginjakkan kaki di Beijing dan Eun Kyo memaksa Hyuk Jae untuk mengajaknya jalan-jalan dulu sebelum Hyuk Jae kembali bekerja, ia ingin membuang penat. Ia butuh penyegaran. Dan terus terang saja, setiap waktu yang Eun Kyo lakukan adalah meyakinkan diri akan kehadiran pria itu dalam hidupnya yang baru.

Eun Kyo dan Hyuk Jae berjalan menuju menuju stasiun subway terdekat. Eun Kyo menolak untuk memakai mobil, dia bilang agar dia bisa tahu bagaimana ia bisa berpegian sendiri dengan kendaraan umum.

“Kau belum pernah ke Beijing sebelumnya?” tanya Hyuk Jae, tangannya diam-diam meraih tangan Eun Kyo agar mereka berjalan berdampingan dan berpegangan.

“Belum pernah.” Jawabnya singkat.

Hyuk Jae mengangguk. “Dan sekarang kau akan tinggal disini.”

“Benar sekali…baiklah. kita memulai hidup yang baru.” Imbuh Eun Kyo terlihat bersemangat, ia mengeratkan genggamannya ditangan Hyuk Jae.

“Kita naik ini?” tanyanya, semakin jelas, acara jalan-jalan itu memang Eun Kyo yang paling antusias.

“Nee.” Hyuk Jae menarik tangan Eun Kyo masuk ke dalam subway.

Hanya memerlukan waktu sekitar 20 menit mereka sudah sampai di stasiun Tiantan Dongmen. Tujuan mereka adalah kuil Surga. Eun Kyo semalaman terus merengek ingin pergi kesana dan tidak mau tidur sebelum Hyuk Jae mengiyakannya.

Mereka keluar dari gate A dan mulai menghirup udara disana. Sejuk dan sedikit lembab. Eun Kyo mengeluarkan kamera dan mulai membidik beberapa angel yang menurutnya bagus. Pohon-pohon berumur ratusan tahun masih berdiri kokoh menyambut mereka. Objek menarik untuk diabadikan.

“Kyo~ya, ambil gambarku disini!” Teriak Hyuk Jae kemudian berpose menirukan sebuah patung yang ada disana. Eun Kyo berbalik dan membidikkan lensa kameranya ke arah suaminya itu.

“Yak! Satu kali lagi!” teriak Eun Kyo membuat Hyuk Jae berganti pose.

“Saranda!” komentar Eun Kyo mengacungkan jempol setelah mengambil gambar Hyuk Jae, pria itu mendekat dan melihat hasil jepretan istrinya.

“Kita harus beli tiket dulu kalau mau masuk.” Ujar Hyuk Jae saat Eun Kyo menunjuk Kuil Syurga dengan mata berbinar.

Hyuk Jae dan Eun Kyo berjalan menuju sebuah loket pembelian tiket dan memesan dua tiket seharga 40 yuan. Pria itu menyerahkan salah satu pada Eun Kyo yang diterimanya dengan senang hati.

Mereka mulai masuk ke dalam kuil. Suasana lumayan ramai saat kaki mereka mulai menginjak aula doa yang luas, indah, berwarna-warni, bulat, bertingkat tiga, dan juga atap genteng berwarna biru. Kakinya terasa beku saat lantai marmer tiga-tier diinjaknya dengan kaki telanjang.

“Ornamen yang sungguh megah.” Komentar Eun Kyo.

“Hmm…ini bagian dari peninggalan salah satu dinasty China, kalau tidak salah, dinasty Ming dan Qing…ahh aku lupa, yang pasti ini adalah tempat berdoa kaisar.”

Eun Kyo membulatkan bibirnya, sementara matanya terus menyapu seisi ruangan.

“Konon, ini adalah kuil keabadian…doa bisa terkabul, semustahil apapun.” Bisik Hyuk Jae ditelinga Eun Kyo membuat gadis itu menoleh cepat.

“Benarkah?”

“Coba saja! Aku tunggu diluar.” Jawab Hyuk Jae ringan dan mengambil alih kameranya, membiarkan Eun Kyo maju menuju beberapa orang yang sedang khusu berdoa. Gadis itu mulai memejamkan mata. Berpikir keras, hal mustahil apa yang ingin ia wujudkan, dan disaat seperti ini justru terlintas wajah Jung Soo membuatnya menahan nafas beberapa saat dan kembali membuka mata. Kembali menimbnag-nimbang. Apakah harus? Atau tidak?

“Haruskah aku meminta itu Jung Soo~ya?”

Eun Kyo mengulum senyum dan kembali memejamkan mata, memanjatkan suatu kemustahilan yang ia juga tidak yakin apakah akan terwujud atau tidak mengingat ia hanya melakukan suatu ritual yang hanya tersampai dari mulut ke telinga selama puluhan tahun ini.

Eun Kyo menarik nafas dan tersenyum, lalu berbalik berniat keluar dengan hati yang masih berharap.

Tiba-tiba seorang pendeta menghampirinya dengan wajah dingin dan membawa beberapa benda aneh di tangannya. Menatap Eun Kyo dalam dan sesekali menganggukkan kepalanya.

“Pakai ini.” Pendeta tua itu menyerahkan sebuah ikat rambut berwarna hijau ka arah Eun Kyo, gadis itu menyambut dengan tatapan heran.

Tanpa mengatakan apapun lagi, pendeta itu pergi begitu saja seolah iklan yang hanya mampir diantara film dirinya. Eun Kyo mengangkat bahu dan memperhatikan benda itu.

“Semoga terkabul.” Ucapnya pelan seraya memakai ikat rambut itu dan berjalan keluar, kembali memakai sepatu kets nya dan berlari menyusul Hyuk Jae yang masih asyik membidik wajahnya sendiri dengan kamera.

“Hyuk~a, aku mau makan!!!”

 ***

Mokpo, September 2012

“Aigoo…akupun merindukanmu Kyo~ya, pulanglah! Nenekmu ini sudah semakin tua, kau mau menyiksaku terus jika membuatku merindukanmu seperti ini.”

                Jung Soo menoleh ke arah sumber suara. Neneknya tengah menempelkan telpon rumah dan duduk santai di sofa ruang tamu. Pria itu mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Hampir satu bulan telah berlalu semenjak kepergian gadis itu yang bahkan ia ketahui setelah ia kembali dari rumah sakit.

                Selama dua bulan kedepan seharusnya Jung Soo  mengambil cuti untuk penyembuhan tulang rusuknya, seharusnya, tapi hari ini ia memaksa pergi ke kantor dengan alasan bosan dan sudah merasa lebih baik. Tidak ada yang bisa membantah, sikapnya kini jadi berbeda, lebih dingin, lebih sensitif dan lebih sering marah-marah.

“Keuraeyeo? Baguslah…bawa suamimu kemari. Lusa kami akan menjemputmu ke Seoul.”

“Nee? Tidak usah dijemput? Baiklah, biar pembantu akan menyiapkan kamar untuk kalian.”

Jung Soo berdesis dan kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Kalau dulu ia merasa bahagia karena kedatangan Eun Kyo, kali ini ia merasa benci. Mungkin karena gadis itu tidak datang sendirian. Tapi ada embel-embel suami yang terdengar sangat memuakan bagi pria itu.

Sudah hampir sebulan ini hidupnya seperti itu, tanpa gairah, tanpa rasa, seperti mayat hidup. Ia merasa sebagian dirinya telah mati suri dan ia tidak tahu kapan akan hidup kembali. Bahkan Jung Soo menolak untuk menikah, ia tahu…akan ada saat dimana ia dan Eun Kyo akan kembali, menjalaninya tanpa ada embel-embel sepupu dalam kisahnya walau entah kapan tapi Jung Soo yakin semuanya akan indah pada waktunya.

 ***

                Jung Soo merasa ia baru saja memejamkan mata beberapa saat yang lalu, tahunya matahari sudah kembali naik ke atas langit. Matanya mengerjap dan tangannya meraba-raba mencari jam weker terdekat diatas nakasnya. Sudah jam 10 pagi dan dia baru bangun tidur, kebiasaannya saat libur bekerja adalah mempercepat harinya agar tidak banyak waktu yang ia gunakan untuk sekedar berdiam diri. Kalau dulu ia akan merasa senang jika hari Minggu datang karena ia akan menghabiskan waktu bersama Eun Kyo tapi sekarang tidak lagi, bahkan sepertinya tidak akan lagi.

                Tak bisa ia pungkiri, kemanapun ia pergi apapun yang ia lakukan selalu saja membandingkannya dengan keadaan dulu dan sekarang tanpa ia sadari. Mungkin lebih mengarah kepada suatu kebiasaan yang terhenti secara paksa. Itu menyebalkan untuk Jung Soo.

Tok. Tok. Tok.

Jung Soo meyipitkan mata menatap pintu kamarnya yang diketuk, suara ketukan itu terdengar akrab, tidak ada orang yang mengetuk pintu seperti itu selain…

“Jung Soo~ya…” panggilnya terdengar sayup dari luar sana.

“Park Eun Kyo?” Gumamnya dan segera menendang selimut dan berjalan cepat menuju pintu.

Perlahan kenop pintu ia putar setelah ia membuka kuncinya, derit engsel bahkan ikut meramaikan tegangnya. Jung Soo membuka lebar pintu dan mendapati seseorang yang sudah menyiksanya selama ini dengan senyum tanpa dosa sembari membawa sebuah nampan sarapan berisi roti bakar isi keju juga susu coklat hangat.

“Tamu kehormatan sudah datang!” Serunya nyaring dan menerobos masuk ke kamar diikuti tatapan heran dari Jung Soo.

Gadis itu meletakkan nampan diatas meja kerja Jung Soo dan berbalik mendapati Jung Soo yang berdiri kaku dengan celana dan kemeja kerja kusut juga rambut yang berantakan. Pria itu menatapnya datar tanpa ekspresi yang berarti.

‘Sekarang kau kembali lagi. Datang dan pergi semaumu, masuk dan keluar dalam hidupku…Kini setelah kau menyiksaku, membuatku menanggung rindu sendirian, kau kembali seolah tak terjadi apapun diantara kita, sebelumnya…bahkan sata ini. Kau kembali lagi seakan menawarkan kembali hatimu yang sempat kita gores sama-sama. Kejutan apa lagi sekarang Park Eun Kyo? Setelah kau datang dengan tidak begitu baik lalu kau pergi membawa sebagian dari jiwaku, sekarang kau datang lagi…apalagi yang akan kau curi? Apa kau benar-benar tidak berniat memilikiku hingga kau hanya datang dan mencuri, begitu seterusnya…mungkin sampai aku kehilangan semua keseimbangan rasa dalam hidup baru kau akan puas. Mungkinlah kau?’

“Adikmu sudah kembali.” Seru Eun Kyo ceria yang hanya dibalas dengan senyum tipis memaksa dari Jung Soo.

“Yak! Kau tidak senang aku datang?” gadis itu cemberut dan beralih menuju tempat tidur dan membereskannya tanpa disuruh.

“Aigoo…lain kali buka dulu baju kerjamu baru tidur. Sampai kapan kau tidur dengan jas yang kau lempar semaunya seperti ini…dan ini, sepatu…kau tahukan diamana menyimpan sepatu?”

Eun Kyo terus mengomel saat membereskan hampir seisi ruangan yang kacau balau itu hingga terlihat kembali rapi.

“Dan ini…” Eun Kyo meraih botol wine dari atas meja yang sudah tak bersisa setetespun.

“YAK! SEJAK KAPAN KAU MINUM INI?”

Gadis itu menatap tajam ke arah Jung Soo lalu melemparkan botol wine ke tong sampah dengan keras. Namun Jung Soo masih tak mengindahkannya.

“Kau tidak suka aku disini. Baiklah…aku sudah melakukan kejutan dan berbaik hati membuat sarapan. Membereskan kamarmu yang kacau ini dan…aku pergi sekarang.”

Eun Kyo berniat pergi dengan membawa setumpuk pakaian kotor namun Jung Soo mencegahnya dengan buru-buru menutup pintu kamarnya dan menguncinya.

Menarik lengan Eun Kyo hingga mau tidak mau tumpukan cucian  itupun jatuh ke lantai. Jung Soo terus menariknya dan menghempaskan tubuh Eun Kyo ke dinding, tangan sebelah kiri Jung Soo bertumpu didinding, mengurung Eun Kyo diantara tubuhnya. Mata Jung Soo berkilat marah, menatap tajam ke arah Eun Kyo yang kebingungan dengan sikap Jung Soo yang tiba-tiba seperti itu.

“Untuk apa kau kembali?” tanya Jung Soo setengah berbisik membuat Eun Kyo mengerjap dan semakin kebingugan. Gundah itu kembali lagi, tadinya Eun Kyo berharap ia akan membuat suasana baru tapi sayangnya romansa itu kembali lagi dan menghajarnya dalam kondisi segenting itu.

“Kau kenapa?” balas Eun Kyo terdengar lirih.

“Setelah kau pergi tanpa penjelasan…menikah tanpa pemberitahuan…sekarang datang seolah tidak terjadi apa-apa. Setelah kita melaluinya bersama, lalu kau pergi begitu saja. Kau pikir aku akan senang menerima kedatanganmu?”

“Jung Soo~ya…”

“Asal kau tahu, aku belum pernah sedalam ini saat mencintai.”

“Bukankah kau yang marah padaku Jung Soo~ya, lagipula…kau akan menikah jadi mana mungkin aku tetap bertahan sementara kau melanjutkan hidupmu!”

Jung Soo terbahak, tertawa…namun terdengar getir. “Aku? Menikah?” tunjuknya pada wajah sendiri kemudian menggeleng.

“Sudah kubilang kan aku hanya akan menikahimu?!”

“Jangan gila!!!” Teriak Eun Kyo mulai terpancing dengan pembicaraan lama yang selalu tertunda. Mata Jung Soo semakin menatap tajam.

“Bagaimana jika kegilaan ini memang benar adanya?”

“Bulshit!!!” cibir Eun Kyo seraya berpaling lalu kembali menatap Jung Soo. “…Lalu kita gila bersama-sama? Melawan takdir lalu mati dalam kehancuran? Begitu?”

Jung Soo mendekatkan tubuhnya semakin merapat di tubuh Eun Kyo. “Aku sah menikahimu!” tandasnya pelan namun tegas.

“Kumohon, apa yang harus aku lakukan agar kau menghentikan ini. Kau tahu, aku lelah…” desah Eun Kyo, suaranya mulai bergetar, ia mencoba menurunkan lengan Jung Soo yang menghalanginya, tapi tidak bisa. Atau mungkin Eun Kyo tidak berniat benar-benar melarikan diri dari posisi itu.

“Tidak akan pernah ada yang bisa menghentikanku Kyo~ya…Karena sebenarnya kita…”

“Eun Kyo~ya!!!” Jung Soo memotong ucapannya sendiri kemudian berdecak kesal, suara dari luar kamar terdengar nyaring, seorang pria tengah mengetuk pintu kamar dan berharap Eun Kyo akan membukanya secepat mungkin.

“Nee Hyuk~a…aku akan segera keluar!”

Eun Kyo mendorong tubuh Jung Soo dan cepat-cepat memungut baju kotor yang sempat berceceran dilantai. Tanpa menoleh Eun Kyo segera membuka pintu dan bergegas menuju dapur.

 ***

                Hari pertama ia datang ke Mokpo tetap tidak membuat hubungannya dengan Jung Soo membaik. Pria itu bahkan menampakan sisi lain dirinya, lebih banyak diam dan mengurung diri atau keluar rumah dan pulang larut dari kantor.

“Jadi dia kakakmu itu?” Tanya Hyuk Jae setelah mengunci kamar Eun Kyo. Mereka berdua memutuskan untuk tidur dikamar bekas Eun Kyo saat tinggal disana dulu.

“Hmm…” jawab Eun Kyo tanpa menoleh, tangannya sibuk menyisir rambut panjangnya. Sekilas bayangan kesan pertemuan kembali dengan Jung Soo berkelebat bagaikan angin.

Hyuk Jae memilih merebah ditempat tidur dan menjadikan kedua lengannya sebagai bantal, menatap langit-langit kamar itu.

“Ngomong-ngomong…apa kau tidak berniat melakukannya denganku?”

“Tidak!” jawab Eun Kyo cepat tanpa berfikir. Impulsnya terlalu cepat jika sudah berbicara masalah itu.

Hyuk Jae kembali bangkit dan berjalan menuju meja rias diamana Eun Kyo masih menyisir rambutnya.

“Arraseo…tapi, kita sudah dua bulan menikah kau selalu menolak.” Cecar Hyuk Jae dan menarik Eun Kyo agar berdiri.

“Aku belum siap Hyuk~a…mianhae.”

Hyuk Jae memegang bahu Eun Kyo dan menatap matanya lembut.

“Gwenchana…aku tidak akan memaksa. Tapi…aku juga tidak bisa menunggu lama.”

Eun Kyo mengangguk dan berjalan menuju tempat tidur. Merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur lamanya diikuti Hyuk Jae yang merebah disampingnya.

“Biarkan malam ini aku tidur memelukmu lagi seperti biasa.”

Eun Kyo tidak bergeming, memilih menarik selimut dan membiarkan Hyuk Jae memeluk tubuhnya dari belakang, seperti malam-malam sebelumnya selama ini.

 ***

                Sementara itu Jung Soo terlihat gelisah dan beberapa kali berniat membuka kunci teralis balkon dan masuk ke kamar Eun Kyo seperti kebiasaannya dulu, tangannya sudah berkeringat dan ia belum juga memutuskan.

                Hatinya melemah, ia terduduk di tempat tidur. Sebelah tangannya memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut. Perasaan ini yang membuatnya menjadi lebih arogan seperti ini. Lalu jika tidak begini maka selamanya ia akan kehilangan gadis itu.

                Jung Soo bangkit dan membuka laci meja kerjanya disudut ruangan, ia mengeluarkan surat wasiat yang masih belum ia kembalikan pada tangan yang lebih berhak.

“Haruskah…aku segera memberikan ini untuk menyadarkanmu Eun Kyo ssi?” gumamnya namun didetik berikutnya ia kembali memasukan benda itu kedalam laci dan menguncinya.

“Tidak bisa…dia sudah menikah. Lalu apa yang harus kulakukan agar kau kembali. Pura-pura bunuh diri? Haaasssshhhh…itu juga tidak mungkin!!!”

Jung Soo masih mondar-mandir, ketika ponselnya berdering di atas meja ia baru menghentikan langkahnya.

“Kim Seera ssi calling…”

Jung Soo meraih ponselnya dan dengan berbagai pertimbangan akhirnya ia memutuskan untuk mengangkat panggilan Seera.

“Yeoboseo.” Ucapnya dingin.

“Nee…Jung Soo ssi, mianhae aku menelponmu malam-malam.”

“…”

“Aku sedang berada disekitar pantai Mokpo, kantorku sedang mengadakan party tapi aku merasa bosan, bisakah kau kemari? Tempatnya tidak jauh dari rumah halmeoni.”

Jung Soo melirik jam dinding. Sudah jam setengah sepuluh malam. Apakah harus?

“…Hotel disini penuh dan aku harus mencari hotel lain tapi jika halmeoni mengijinkan aku ingin menginap disana saja, bisakah kau jemput aku sekarang?” Nada gadis itu terdengar mengiba.

Jung Soo menarik nafas dan membuangnya kasar, sebenarnya ia tidak mau tapi mengingat gadis itu sudah terlalu dekat dengan keluarganya jadi Jung Soo memutuskan untuk memenuhi permintaan gadis itu. Walaupun pernikahan itu ia batalkan tapi gadis itu tetap bersikeras untuk mendekatinya, mungkin dengan berbagai modus seperti ini contohnya.

“Baiklah…kau dimana sekarang?”

                Setelah Seera menyebutkan posisinya Jung Soo segera menutup telponnya. Ia meraih coat berwarna coklat tua yang tergantung di atas kursi dan bergegas keluar. Bersamaan dengan ia membuka pintu kamar, kamar tetanggapun ikut terbuka. Seorang lelaki yang lebih muda darinya keluar dengan membawa gelas kosong.

                Sesaat mereka berpandangan hingga Hyuk Jae terlebih dulu menyapanya.

“Jung Soo…hyung?” tanya pria itu ragu seraya tersenyum dan hanya dibalas anggukan malas oleh Jung Soo.

“Aku baru melihatmu sejak pagi kami kemari. Eo, kenalkan…aku Lee Hyuk Jae, suaminya Lee Eun Kyo. Adikmu!” Hyuk Jae mengulurkan tangannya, nadanya terdengar informal namun juga banyak penekanan disetiap kata yang keluar dari kalimat perkenalan itu.

                Jung Soo hanya tersenyum dan menjabat tangan itu sekilas lalu pergi dengan terburu-buru. Ia muak melihat wajah itu secara jelas, mengingat sepanjang hari ini ia hanya menatap suami Eun Kyo itu dari kejauhan dan ia merasa pria itu terlalu lumayan untuk dijadikan saingan. Bukan itu masalahnya sekarang, tapi keyakinan Eun Kyo yang akan membuat dirinya tersingkir.

 ***

                Jung Soo berjalan menuju sebuah kursi besi yang dipasang permanen dipinggir pantai, seorang gadis berambut lurus tengah duduk disana. Ia menggoyangkan kedua kakinya terlihat bosan dan beberapa kali juga ia mengecek ponselnya.

“Sudah lama menunggu?” sapa Jung Soo lalu menepuk bahu Seera membuat gadis itu sedikit terlonjak antara terkejut juga senang.

“Ahni…” jawab Seera sambil menggeleng, ia menggeser duduknya memberikan Jung Soo ruang agar duduk disampingnya.

Jung Soo masih berdiri, tujuannya hanya untuk menjemputnya dan membawanya pulang seperti permintaannya tanpa ada niat untuk menghabiskan waktu dengan duduk disana menikmati indahnya pantai malam dengan sinar purnama.

“Duduk saja dulu, tidak apa-apa kan?” tawar Seera sambil tersenyum, ia menarik lengan Jung Soo hingga mau tidak mau pria itu duduk disana.

“Aku datang untuk menjemputmu saja, lagipula kalau kau mau aku bisa mengantarmu mencari hotel yang masih kosong disekitar sini.” Ujar Jung Soo sambil menatap kosong ke arah laut.

“Maksudku…sebenarnya ingin menginap dirumah helmeoni. Dia menelponku siang tadi, katanya sepupumu yang dari China sudah datang ya? Beliau bilang besok akan ada pesta kecil dirumah jadi ya…kebetulan aku ada acara disini dan menyetujuinya.” Jelas Seera panjang lebar membuat Jung Soo mengangguk mengerti.

Jung Soo masih diam.

“Oh ya, aku baru tahu umurmu…ehem…maaf, sudah…nyaris 30 tahun dan aku selalu memanggil namamu, mulai sekarang bolehkah aku memanggilmu Oppa saja?”

Jung Soo kali ini menoleh dan tersenyum kecut. “Terserah kau saja.” Ia lalu teringat Eun Kyo, gadis itupun tidak pernah sudi memanggilnya Oppa, rasanya ada sedikit tidak rela ketika gadis yang tidak ia sukai memanggilnya seperti itu.

“Kalau kau ada masalah sebaiknya kau ceritakan, tapi…kalau kau keberatan karena kau menolak menikah denganku dan…”

“Bisakah kau tidak membahas itu?” Potong Jung Soo sengit dan menoleh dengan wajah berang, ia tidak suka masalah pembatalan itu diungkit, hari pertama ia kembali menginjakkan kaki dirumah dan ia dengan membabi buta mengamuk dan menolak menikah, bagaimana tidak, ia baru tahu bahwa Eun Kyo sudah tidak ada di Korea.

“Ani, ani…aku hanya ingin menanyakan alasannya saja. Jika terus bungkam seperti itu maka, mianhae…aku akan tetap memaksamu.” Seera mencoba meraih tangan Jung Soo namun dengan cepat ditepisnya kasar.

“Aku mencintai wanita lain.” Jawab Jung Soo singkat. “Dan selamanya akan mencintainya.” Imbuhnya penuh keyakinan.

Seera mendengus dan tersenyum getir, ia ditolak lagi.

“Siapakah wanita beruntung itu Oppa?”

Jung Soo kali ini yang mendengus, ia menarik nafas dan bersiap bicara.

“Dia…seorang gadis yang rumit.”

Jung Soo tersenyum, ia kembali membayangkan wajah Eun Kyo dibenaknya.

“Mengapa kau tidak menikah dengannya saja? Dan apakah dia pacarmu? Bagaimana mungkin halmeoni sampai tidak tahu kalau dia pacarmu, mungkin kau tidak akan dijodohkan, aish!”

Jung Soo tertawa mendengar itu, ia berdiri dan maju satu langkah semakin mendekat ke arah laut.

“Molla, aku tidak tahu dia siapa.”

Seera berdesis, pria itu terlihat seperti orang gila jika ditinjau dari ucapannya yang aneh.

“Lalu?”

“Lalu kami saling mencintai.” Sambung Jung Soo.

Seera mengikuti jejak lelaki itu dan membalik badan Jung Soo dengan cepat agar menghadap ke arahnya.

“Lalu mengapa kau tidak menikah dengannya dan malah menolakku? Jelas-jelas wanita itu entah siapa tapi kau malah menolakku. Aku ini REAL…bukan seperti gadis yang kau ceritakan itu Oppa!”

“Dia juga nyata…” balasnya.

“Oppa, jika gadis khayalanmu itu hanya tercipta dalam anganmu agar kau bisa menolakku sebaikanya pikirkan lagi. Eomma dan Appa ku sangat ingin kita menikah dan aku juga…”

Seera menatap lekat mata Jung Soo. “Menyukai Oppa!” sambungnya lirih.

Jung Soo menahan nafas saat kalimat itu terlontar lancar dari mulut kecil Seera. Jung Soo berpikir keras, sebenarnya apa yang kurang dari gadis itu? Jika dari segi fisik, gadis itu nyaris seperti model dengan wajah menawan seperti bidadari. Dia dewasa dan juga pengertian, sabar dan juga penyayang. Tapi…ada yang tidak ia miliki, dan hal itu hanya ada pada Eun Kyo walau sampai saat ini Jung Soo belum bisa menyimpulkan apa, tapi yang jelas, hal itu memang ada dan Eun Kyo adalah satu-satunya wanita yang berhasil membuatnya jatuh cinta hanya dia…Park Eun Kyo.

Tanpa Jung Soo tahu, Seera tiba-tiba menubruk Jung Soo dan memeluknya, membenamkan wajahnya didada pria itu kemudian menangis.

“Oppa…Aku menyayangimu…” isaknya.

Jung Soo kebingungan, ia harus melakukan apa sementara pelukan gadis itu semakin rapat hingga tidak mungkin Jung Soo mendorongnya.

“Yak! Uljima…” hanya itu yang keluar dari mulut Jung Soo, walau enggan ia mencoba mengelus rambut Seera yang tergerai namun reaksinya gadis  itu semakin menangis.

“Kau membuatku putus asa.” Ujarnya masih menangis, kali ini hati Jung Soo mengiba. Ia membalas pelukan gadis itu, longgar.

“Mianhae.” Ucapnya tulus, pelan bahkan terkalahkan suara ombak dan angin malam.

“Kumohon mengerti, kau sudah dewasa bagaimana mungkin kau seegois ini Oppa?”

Jung Soo menarik nafas dan melepaskan pelukan Seera, menatap manik mata gadis itu kemudian berkata.

“Kau mau jika menikah denganku kau tidak bahagia? Aku sudah bilang kan, aku mencintai gadis lain. Masalahnya…mungkin hanya pada waktu saja. Bukannya aku tidak mengerti Seera~ya, aku mengerti bahkan aku memikirkannya, maumu, mau orang tuamu, halmeoni, keluargaku juga keluargamu…tapi disisi lain, akupun harus memikirkan aku, perasaanku. Bukan aku yang harus mengerti, kita yang harus saling mengerti.”

Seera terdiam, ia menelan ludah dengan susah payah sembari tetap menatap wajah Jung Soo yang lebih terlihat sedang memohon. Lalu sekarang apa? Apakah ini sebuah penolakan dengan jalan lebih halus lagi?

“Bagaimana kalau aku tidak mengerti?” Seera tergugu, ia menggigit bibirnya membungkam isakan membiarkan air matanya saja yang membanjiri kedua pipinya.

Jung Soo menggeleng dan menghapus air mata Seera dengan ibu jarinya kemudian tersenyum seakan menguatkan gadis itu. Jiwa malaikat seakan memang benar-benar tertanam diraga pria itu.

“Hanya perlu waktu untuk mengerti. Aku tahu…diluar sana masih banyak yang berharap berdiri disampingmu.”

Seera memasang ekspresi bosan diwajahnya. “Itu pernyataan klasik, lelaki selalu mengatakan itu dalam situasi perpisahan, bedanya…kau melakukan penolakan.”

“Aniya…aku jujur, kau sempurna dan aku tidak memungkiri hal itu jadi jangan takut untuk tetap mencari cinta yang sesungguhnya. Kau hanya perlu sedikit waktu. Kau masih jauh lebih muda, itu tidak akan terlalu sulit.”

Seera menunduk, suaranya seakan mengering, tubuhnya melemas. Apa yang salah sebenarnya? Ia terus mengutuk diri. Sampai kapan Jung Soo akan memberinya petunjuk yang jelas mengenai masalah itu. Dia tidak main-main saat hatinya memilih Jung Soo tapi hasilnya…selalu sama. Perasaan pria itu tidak berubah dari waktu ke waktu.

“Kajja, sudah malam. Kau perlu istirahat.”

Jung Soo meraih koper milik Seera dan menarik lengan gadis itu agar berjalan mensejajarkan langkah dan bergegas pulang. Jung Soo bosan dengan suasana dramatis yang telah terjadi, ia merindukan sesuatu yang dulu, gadis yang dulu yang tidak pernah membuatnya bosan.

‘Kyo~ya, andai malam ini kita sedang bersama…’

 ***

                Pagi-pagi sekali Eun Kyo sudah terbangun dan segera membangunkan suaminya. Gadis itu mengguncang tubuh Hyuk Jae pelan.

“Ireona… palliwa… Kau bilang mau mengantarku ke pasar ikan. Yak!!!”

Mata Hyuk Jae terbuka setengah, ia hanya menggumam mengiyakan lalu mengucek matanya.

“Sudah pagi lagi?” tanyanya sambil bangkit dan berjalan kekamar mandi.

“Aku tunggu diluar dan jangan lama-lama.”

Hyuk Jae hanya mengacungkan jempolnya dan masuk ke kamar mandi, sementara Eun Kyo keluar dari kamarnya, selalu sama…kamar sebelahpun ikut terbuka dan Jung Soo keluar dengan wajah mengantuk.

                Eun Kyo berjenggit dan terpaku menatap pria itu, begitupun sebaliknya. Sama-sama menahan nafas dan terdiam. Ada kecanggungan yang merongrong diantara keduanya,perlahan Eun Kyo melanjutkan langkahnya menuruni tangga yang memang harus melewati kamar pria itu. Belum tiga langkah ia berjalan, dari tangga muncul seorang gadis membawakan nampan berisi sarapan kesukaan Jung Soo. Gadis yang ia lihat beberapa waktu yang lalu, dan terus terang saja kali ini Eun Kyo benar-benar menahan sesak saat melihatnya, lukanya kembali berdarah.

“Oppa, aku membawakan sarapan untukmu.” Gadis itu muda, ceria dan Eun Kyo merasa yakin bahwa Jung Soo tidak akan mengabaikan gadis seperti itu.

Eun Kyo kembali bergegas menuruni tangga, sebagai tujuan utamanya, keluar rumah secepat yang ia bisa.

“Eo? Ini untukku? Gomaweoyeo Seera~ya.” Sayup terdengar nada manis Jung Soo yang seakan dibuat-buat agar Eun Kyo mendengarnya walaupun ia sudah berada diundakan tangga paling bawah.

“Gomaweoyeo Seera~ya…” cibir Eun Kyo dengan bibir yang dibuat-buat. Tanpa ia sadari Jae In memperhatikannya kemudian bibi termudanya itu tertawa membuat Eun Kyo menghentikan langkahnya dan menoleh.

“Ajhuma…”

“Eish…masih saling cemburu, masih saling suka…masih saling gengsi juga. Keputusan kalian berdua benar-benar salah.” Komentar wanita itu sambil lalu membawa handuk ditangannya. Eun Kyo ternganga, apa maksudnya tadi?

“Kajja!” Eun Kyo kembali terkejut, Hyuk Jae sudah terlihat segar dengan stelan olah raganya.

“Ah…yee? yee…” Eun Kyo terlihat gugup dengan wajah aneh, pikirannya terlalu berkecamuk sehingga ia tidak fokus dengan kehadiran Hyuk Jae.

 ***

                Jung Soo mengantarkan Seera ke hotel tempatnya akan berkerja. Selain party, gadis itu juga mendapat tugas untuk memeriksa laporan di hotel itu dari kantor pusat di Seoul, gadis itu menambah waktu di Mokpo selama dua hari.

“Oppa, pulangnya aku bisa sendiri. Kau tidak usah khawatir.” Ujar gadis itu percaya diri, Jung Soo hanya mengangguk dan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hari masih pagi dan ia membelokkan mobilnya ke arah pasar, menyusuri keramaian itu untuk memperlambat harinya.

                Samar ia melihat dua manusia yang tengah tertawa dengan membawa sebuah keranjang yang sudah terisi penuh. Mereka berjalan berdampingan seraya tertawa-tawa dan terlihat penuh cerita. Jung Soo geram, rasa cemburu itu menggerogoti hampir seluruh pertahanan dirinya. Pria itu memalingkan wajah dan menginjak pedal gas lebih dalam, meninggalkan mereka yang tidak menyadari apapun.

                Jung Soo memarkirkan mobilnya dan bergegas masuk ke dalam kantor. Kembali berkutat dengan sejumlah proposal dan juga berkas membosankan yang harus ia tanda tangani. Sebenarnya ia jenuh, ia butuh refrershing apalagi orang-orang dirumahnya bisa dibilang membuatnya semakin berpotensi darah tinggi. Kesehatannya seakan menurun tanpa sebab yang pasti.

                10 jam kemudian, setelah Jung Soo menghabiskan semua kerjaannya. Makan siang yang terlambat, rapat dua kali dan meneguk dua gelas kopi tiap satu jam sekali akhirnya ia bisa merenggangkan semua otot tubuhnya.

                Pria itu bangkit dari kursi yang sejak satu jam yang lalu ia duduki tanpa bangkit. Menoleh jam dinding besar yang tergantung diruangannya. Sudah jam lima sore. Ia meraih jas dan tanpa memakainya kembali ia berjalan keluar ruangan, karyawan sudah pulang setengahnya, sisanya para pekerja yang memang sengaja lembur, pria itu hanya tersenyum dan menyapa.

                Kantor cabang yang tidak terlalu besar itu sudah ia kelola selama bertahun-tahun, ia dipercayakan sebagai direktur utama disana, neneknya sendiri yang meberikan kepercayaan padanya untuk mengurusi beberapa hotel keluarganya di Mokpo. Namun kecintaannya pada pekerjaan justru membuat Jung Soo lupa tugasnya untuk menjadi pria dewasa, menikah. sebelum akhirnya Eun Kyo kembali dan semuanya berubah.

                Jung Soo keluar dari tempat kerjanya menuju rumah yang berjarak hanya sekitar 20 menit saja. Kadang ia menguap menahan kantuk yang berkepanjangan. Akhirnya Jung Soo memutuskan untuk melewati jalur pantai menuju rumahnya.

                Awalnya ia berpikir karena ia terlalu mengantuk hingga ia melihat Eun Kyo berjalan-jalan sendiri di tepi laut dengan gaun putih selutut yang sering ia kenakan dulu, baju kesayangannya. Jung Soo mengucek matanya dan menghentikan mobilnya di tepi jalan yang tidak jauh dari pantai. Ia melonggarkan dasinya dan bergegas keluar dari mobil menuju ke arah gadis yang sendirian diujung sana.

“Eun Kyo~ya!!!” panggil Jung Soo terdengar menghilang karena angin membuat gadis itu menoleh dan menghentikan kegiatannya bermain air dengan kakinya.

Jung Soo tiba dihadapannya dengan sedikit terengah. “Sendirian?” tanyanya kemudian.

“Seperti yang kau lihat. Iya…” jawab Eun Kyo sambil tersenyum. “Kau belum pulang?” lanjutnya, Jung Soo menggeleng.

“Niatnya iya, tapi melihatmu disini…” Jung Soo tidak melanjutkan dan sepertinya Eun Kyo pun mengerti.

“Aku merindukan saat aku masih tinggal disini, membayangkan kembali betapa depresinya aku.” Ujarnya seraya menatap laut, dan bayangan itu kembali menjajah pikirannya.

“Jangan mengingat itu lagi!” cegah Jung Soo lalu membalik tubuh Eun Kyo, menatap wajah gadis itu, dalam. Kerinduan membuatnya terharu akan pertemuan itu.

“Ahni, aku hanya menyesal…”

“Mungkin disini aku yang lebih menyesal karena membuatmu pergi.” Sesal Jung Soo, kedua tangannya mencengkram bahu Eun Kyo. Gadis itu menyipitkan matanya.

“Bukan kau yang membuatku pergi.” Jawab Eun Kyo beralasan, sudah jelas ia memutuskan pergi karena pertengkaran dengan Jung Soo dan…rencana pernikahan namja itu.

“Aku tahu, kau bukan tipe penipu yang bisa membohongi semua orang, salah satunya aku.”

Eun Kyo menajamkan tatapannya. Apa maksudnya itu?

Jung Soo menarik nafas lalu membelai rambut gadis itu, rambut yang diikat kuda, selalu diikat akhir-akhir ini dan Jung Soo tidak suka. Dengan pelan ia melepas ikatan rambut Eun Kyo sampai rambut panjangnya kembali tergerai, kemudian menari tertiup angin.

“Kenapa membukannya?” protesnya sambil merapikan rambutnya dan mencoba meraih kembali ikatan rambut dari tangan Jung Soo dan pria itu selalu menjauhkannya. “Aku tidak suka kau mengikat rambutmu.”

Ia memperhatikan ikatan simple berwarna hijau itu, ada tulisan kecil disana.

“Kuil Surga.” Jung Soo membacanya pelan lalu menatap Eun Kyo meminta penjelasan.

“Itu…seorang pendeta yang memberikannya saat aku dan Hyuk Jae berjalan-jalan di Beijing.” Eun Kyo menunduk sambil menjawabnya pelan. Tapi reaksi Jung Soo lain, matanya justru berbinar-binar.

“Kau benar-benar kesana? Apa yang kau minta disana?” tanyanya antusias.

Eun Kyo terlihat bingung, belum sempat ia menjawab, rintik hujan yang memang ia rasakan sejak datang kesana kini berubah menjadi hujan deras. Mereka berdua menengok kesana kemari mencari perlindungan dan Jung Soo melirik sebuah terumbu karang besar yang membentuk lekukan sehingga bisa untuk berteduh sementara.

“Kajja!” Jung Soo menarik tangan Eun Kyo berlari menuju tempat itu namun tetap saja, jarak yang cukup jauh membuat pakaian mereka basah karena air hujan. Mereka duduk dipasir dibawah naungan karang besar yang menyelamatkannya dari serbuan buliran air hujan.

“Mobilmu dimana?” tanya Eun Kyo sambil memeluk lututnya kedinginan.

“Lumayan jauh…apa perlu aku bawa mobil kesini dan…”

“…terserah kau saja!” sela Eun Kyo  sambil menempelkan dagunya di atas lutut. Ucapan pencegahan secara halus.

Jung Soo malah ikut duduk dipasir dan mendekatkan tubuhnya pada Eun Kyo, mencari kehangatan diantara derasnya hujan. Gadis itu dengan cepat menoleh.

“Wae?”

“Memangnya tidak boleh aku dekat-dekat denganmu? Kita hampir ‘melakukannya’ saja kau tidak marah, kenapa sekarang berubah jadi sangat protektif?”

“Aah, jangan bilang karena kau sudah menikah, itu tidak ada pengaruhnya untukku Eun Kyo~ya. Eoh, ngomong-ngomong soal ini…” Jung Soo membuka genggaman tangannya dan menyerahkan ikatan rambut ke arah Eun Kyo.

“Kenapa lagi?” tanya Eun Kyo meraih benda itu.

“Kau sungguhan pergi kesana?” Tanya Jung Soo mengulangi pertanyaannya.

“Nee, wae?”

“Kau tahu kan disana itu tempat dikabulkannya doa-doa para kaisar zaman dinasty dulu, lalu apa yang kau minta?”

“Iya, aku tahu…memangnya kenapa?”

“Yak! Jawab saja!” Seru Jung Soo tidak sabar.

Eun Kyo mengulum senyumnya sambil mengingat ucapan-ucapan mustahil yang ia panjatkan tempo dulu di hari pertamanya menikmati China.

“Molla.” Jawabnya sambil senyum-senyum sendiri.

“Aish!!!” Jung Soo mengacak rambutnya frustasi dan menghembuskan nafas kesal.

“Wae? Sangat ingin tahu?” goda Eun Kyo menoleh ke arah Jung Soo, suara mereka masih teredam suara hujan yang semakin deras.

Jung Soo hanya mendelik tanpa menjawab pertanyaan Eun Kyo membuat gadis itu terbahak.

“Arraseo, aku minta…minta…” Eun Kyo mengulur waktu masih dengan tersenyum sementara Jung Soo menatapnya antusias dan penuh dengan rasa penasaran.

“…minta anak!” lanjutnya membuat Jung Soo merenggut kecewa.

“YAK! MWOYA!!! Jangan bilang kau sudah melakukannya!!!” Teriak Jung Soo nyaring membuat Eun Kyo menjauhkan kepalanya.

“Aku belum selesai…” keluh Eun Kyo sambil memegangi telinganya yang nyaris memerah. “…aku minta anak darimu!” lanjutnya pelan tanpa menoleh.

Jung Soo membalik badan Eun Kyo menghadapnya. “Apa kau bilang?”

“Yee…aku hanya meminta kita dipisahkan dari persaudaraan dan bisa menikah denganmu. Itu mustahil kan…makanya aku meminta itu, ahhh…jangan harap itu terjadi!!!” jawab Eun Kyo malas dan menurunkan tangan Jung Soo dari kedua lengannya.

“Aniya…itu sudah terkabul!” Serunya penuh penekanan dan keyakinan yang dibalas dengan senyuman mencibir dari Eun Kyo.

“Benarkah? Aish! Jung Soo, pengusaha kaya, sudah mapan dan tua masih saja berlaku seperti anak-anak yang terlena dengan dongeng. Menggelikan sekali!”

“Aku serius Lee Eun Kyo!!!”

Eun Kyo menoleh cepat dan tersenyum lebar. “Wah wah…hebat sekali, kau mengakui aku sudah menikah sekarang, kau bilang apa tadi? Lee…Eun Kyo? Istrinya Lee Hyuk Jae. Ckckck…”

Jung Soo menarik nafas dan membuangnya kemudian menggeleng frustasi. “Doamu terkabul, sebenarnya kita bukan sepupu. Kau anak angkat dari Hana Ajhuma…dan aku punya bukti surat adopsi-mu saat kau lahir dulu.”

Mata Jung Soo berbinar namun juga sarat suara. Itu bukan pernyataan bagus, tapi juga sesuatu yang akan membawanya pada suatu keajaiban yang benar-benar mereka inginkan.

Suara petir menggelegar seiring dengan ucapan Jung Soo terhenti, tubuh Eun Kyo menegang, senyumnya perlahan berubah jadi senyum getir yang memilukan. Dada Eun Kyo menyesak. Nafasnya mulai pendek-pendek. Setiap kata yang diucapkan Jung Soo bagaikan hantaman godam yang menghujamnya bertubi-tubi. Semua yang ia dengar hari ini, berada di luar kesiapannya. Otaknya kembali berputar, kembali ke saat-saat itu, saat terpenting dan tak terlupakan dalam hidupnya. Kelahirannya, yang bahkan tanpa ia ketahui ia terlahir dari ibu yang berbeda dengan ibu yang membesarkannya.

“Jadi…” Eun Kyo menjilat bibirnya lalu menatap dalam mata Jung Soo yang bodohnya masih tidak menyadari reaksi Eun Kyo yang berkebalikan dari dirinya. “…aku dan Eomma, dan…Appa…” Kerongkongan Eun Kyo seakan tercekat, ia telan ludahnya kuat-kuat dan mengerjapkan mata menahan air matanya yang menumpuk dipelupuk mata.

“Tapi mereka dan kami sangat menyayangimu…” Jung Soo cepat-cepat memeluk erat gadis itu dan benar saja, tubuh Eun Kyo bergetar hebat rupanya ia sudah tidak bisa menahan tangisnya.

“Aku…Eomma-ku siapa?” isaknya terbenam didada Jung Soo.

Jung Soo memeluk Eun Kyo semakin erat, mengalirkan kekuatannya pada gadis itu. Jika tidak sekarang maka selamanya kau akan menganggapku sebagai kakakmu, memang sebaiknya kau tahu meskipun ini menyulitkan bagimu…

“Katakan kalau ini hanyalah lelucon bodohmu saja Jung Soo~ya…”

“Ssssttt!!! Aku tahu ini sulit tapi kumohon mengertilah, kau anak angkat atau bukan, Hana ajhuma tetap menganggapmu anak kandungnya dan kau tahu kan artinya apa…kita sah menikah!”

Eun Kyo berhenti terisak dan menghapus air matanya kemudian melepasan pelukan Jung Soo.

“Ini lebih sulit dari yang kubayangkan Jung Soo~ya…” Eun Kyo mencengkram jemari Jung Soo, membagi sakit yang ia rasakan.

“Apapaun yang terjadi…aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku percaya kita akah bahagia…”

 ***

Park’s Home, September 2012

“Masuklah dulu, kau bisa sakit Hyuk~a!”

Samar ia mendengar beberapa orang yang mengatakan kalimat yang sama sejak setengah jam yang lalu ia berada di teras rumah mondar-mandir menantikan kedatangan istrinya yang entah terjebak hujan dimana.

“Yee ajhu…” pria itu menghentikan ucapannya saat menoleh ternyata bukan salah satu ajhumanya yang berbicara namun seorang gadis cantik yang menyodorkan payung besar yang masih tertutup ke arahnya.

“Eun Kyo mungkin saja masih dipantai, halmenoni menyuruhmu menjemputnya!!!”

“Ah yee gomaweo, dan…kau siapa?”

Gadis itu melipat tangannya didepan dada dan tersenyum. “Aku calon istri Jung Soo, kebetulan menginap disini karena ada dinas dari kantor. Ahh…hujannya sudah hampir reda, sebaiknya kau cepat pergi.”

Hyuk Jae mengangguk cepat dan membuka payung kemudian berlari kecil menuju pantai, menyusuri sepanjang hamparan pasir basah itu dan berhenti disebuah gua ketika pemandangan yang ingin ia lihat justru terlalu mengejutkannya. Aneh, fenomenal dan…mustahil.

‘Apa yang kau lakukan dengan istriku, hyung?’

                Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat istrinya berciuman dengan Park Jung Soo, seseorang yang dikenalnya sebagai kakak dari gadis yang ia nikahi dua bulan yang lalu. Ciuman yang baru ia lihat, secara langsung, begitu mesra, begitu saling menuntut dan seakan-akan sudah saling memiliki begitu lama dan Hyuk Jae yakin itu bukan ciuman pertama mereka. Pria itu merasakan seluruh persendiannya lemas dan bahkan payung yang ia kenakan kini jatuh dan membuat dua orang yang sama sekali tidak menyadari kehadirannya terkejut dan saling menjauhkan diri.

“Hyuk~a…” suara Eun Kyo serak dan ia segera berdiri dan setelah itu ia bingung harus melakukan apa, Hyuk Jae sudah basah dengan hujan yang entah sejak kapan sudah berubah gerimis.

Eun Kyo mencoba mendekat dengan sorot mata seolah berkata. ‘Ini-tidak-seperti-yang-kau-pikirkan.’

                Hyuk Jae mengerjapkan matanya menyadarkan diri  bahwa kini ia dalam situasi yang sangat sulit lalu menatap Eun Kyo dan Jung Soo bergantian, merekapun bungkam seperti dirinya bak patung manekin dengan ekspresi kesulitan berbicara. Tanpa kata Hyuk Jae menggeleng lalu melangkah pergi, meninggalkan kebisuan yang  dialami dua manusia yang ia tinggalkan. Kakinya terus melangkah meredam suatu emosi yang seharusnya memang teredam tanpa ada kata ataupun tindakan yang mampu mengekspresikannya.

                Langkahnya semakin cepat menerobos rintik air hujan, buliran air itu seakan jutaan belati yang menghujamnya, terasa sesak didada tapi juga tak bisa melakukan apapun.

‘Jika ini alasan mengapa kau terburu-buru menikah, maka ini bukan alasan yang baik untukku Eun Kyo ssi…’

 ***

TBC

Well Eonni, it is part 4. Dan part 5 dalam proses…dan entahlah, ini semakin jelas dan seharusnya endingnya juga udah ketebak. Hahahaha…seperti yang eonni mau. #smirk.

Mianhae karena telat satu hari tapi gak papa, FF ku belum ada yang launching satu part pun dan itu membuatku santai ajah ngerjainnya. #diinjek.

Baiklah eonni cantik, sekian aja nanti lanjut di sms aja yaaaa…. :*

Vikos Say : Emak! Aku serasa beneran jalan-jalan di Beijing sumpah!!!! Aku bingung mo komen apa. Sempat file ini ilang gara-gara virus! Juga emailnya mana aku hapus pula… untungnya pas aku telpon Ikha di angkat dan masih ada. Hahahahahahahaha. Kemaren-kemaren nanya aku NC ga ama hyuk? *dibunuh jewels* emak banget! Ini beda… biasanya Ongek, tapi sekarang hyuk aku jadi uwaw banget! Hahahahahahahahahahahahahahaha. Aku dah komen juga sebagian di sms, suka mrengek2 juga, jadi komen aku segini aje ye? Hohohohohohohohoho. Bagi yang lain silakan komen. Oh iya, aduh, aku deg-deg ser di pantai, masa iya kepergok hyuk… huwaaaaaaa

26 responses »

  1. Yeaaayyy akhirnya Eunkyo tau klo dia bukan adik kandung Jungsoo huuffttt *lega*

    Ayo authornya tolong mereka dinikahkan segera yaa kasihan mereka berdua sudah menderita *eaaa kkkkkk

    Buat Eunhyuk oppa dirimu sama diriku aja yaa aku siap terima diri mu apa adanya koq eaaaa #plak

    Ditunggu part selanjutnya yaa eon

  2. Ohh my GOD!!
    Aku g mau Hyuk sm eunkyo!
    Aku orang pertama yang bakal nentang! Pliss jangan bwt eunkyo NC an sam hyuk..
    Pokoknya apapun yang terjadi,mau ada banjir gemba bahkan tsunami eukyo harus ttp sama jung so.TITIK *maksa*
    hahahaaaaa
    pokoknya d lanjut dc..

  3. ciuman di pantai pas hujan2…. Wew🙂 adegan yang paling aku suka, tp kenapa harus kepergok hyuk. Kasian.
    Kalo udh ketahuan, hyuk bakal ngelepasin eun kyo g ya? Hmmm
    di tunggu part 5 eon.
    Fighting🙂

  4. haha..kaciian hyikjae 2bln nikah tp blom dikasik nyentuh!!”eunkyo hnya milik park jung soo”
    n krang ngeliat istrina ciuman ma cwo laen lg haadehh malangna nasibmu..
    Emang ya persoalan cinta tu pst ad pihak yg trsakiti..
    q tunggu part selanjutnya.. ^^

  5. baca cerita ini itu selalu gemes deh.. gergetan akut! kenapa harus selalu terus berusaha buat ngebunuh perasaan masing2 sih? padahal udah ketauan kalo jungsoo sama eunkyo itu gak bisa dipisahin.. u.u
    yeay udah ketauan tinggal nunggu masa2 indah. akhirnyaaa…..

  6. q jug bingung nih mau komen apa krn situasi mereka jadi q bingung mau bicara apa???? q jd kyk org linglung gini abis baca ngeh hin situasi mereka…..
    seneng eun kyo y udah tau tapi sia juga shock ma kebeneran y n kemungkinan TeuKyo bisa bersatu tapi kasian jug sama hyukjae yg posisi y kyk y salah tempat gt n jadi kyk korban…..
    aduh pokok y q pusing n bingung nih mau komen apa part ini,,,,, Lanjut aj deh…..

  7. huaaaaaa omigot omigot… 2 orang ini kembali bersatu… eunkyo doanya mintak anak dri Jungsoo wew.. hebat yaaa.. sepertinya bener2 akan terkabul… tapi tapi kan kasian juga ama hyukjae hiks.. #Langkahnya semakin
    cepat menerobos rintik air hujan,
    buliran air itu seakan jutaan belati
    yang menghujamnya, terasa sesak
    didada tapi juga tak bisa melakukan
    apapun.# ini pasti nyesek overload yaaa.. duuhhh.. ditunggu next part^^

  8. Aihh,ga tau kenapa part ini nyesek banget menurut aku~
    apalagi di part oppa yg waktu eonnie masuk kamarnya, aku nangis bayangin kata2 oppa itu,ngefek bgt buat orang yg galau gitu,
    dan bagian terakhir yg bikin aku sorak2 gaje, tapi kasian jg hyukkie,
    udah ga sabar nunggu part selanjutnya

  9. ahhh tidakkk bisaa ini

    nyeseekk pas eunkyo eonni masuk ke kamar jungsoo oppa..
    kata” itu lhoooo miriss bnget*plakk

    aihhhhhh hyukkie .. maafkan eunkyo eonni ..
    mungkin dia di takdirkan bukan untuk mu ..
    masih ada Q di sini yg menanti mu hyukkie oppa *di rajam jewels

  10. sepertinya Eunkyo eonni emang takdirnya Jungson oppa. gak bisa terpisahkan. huwaaa~ hyuk, kau sama aku saja kalo pisah dari Eunkyo eonni😄

  11. Kasihan liat eun hyuk kayak gitu , pasti sakit banget rasanya😦
    Eun kyu juga sih buru2 nikah sama eunhyuk , kalau udah ginikan kasihan eunhyuknya😦

  12. hyukjae oppa sma seera aja ato sma aku jg gpp *iya kan ikan?? sumpah dah kesannya ga adil bgt buat si monyet, eunkyo jg knp mst bru2 merit?? aah sudahlah yg pst teukyo slamanya sling mencitai😀 *beralih k chap berikut *ilang

  13. 100%kasian hyuk jae.
    abng k sini ja dah bang, sm q ja dah,spert rncn qt smla,abng jd artsnya aku jd managr nya,biar qt bs kaya breng2#dbkar jewels

    kasian hyuk, tga bnget s teukyo#mian eonni,kbw suasana. GALAU

    benerkan kyak dugaan awal q.. kalo hyuk pzt bkal sdkt trbt brkt adanya seera. sempt awalnya q ngra yg bkal jd tnganan x eunkyo it donghae, eh trnyta mlah hyuk. .

    daebak thor, kembli membwa aura dan suasana GALAU😀

  14. akhirnyaaaaa eunkyo tau juga kalo mereka ternyata bukan saudara. Tapi gimana nasib hyuk jae? Kasihan banget dia. Penasaran apa hyuk jae bakalan dengan mudah melepaskan eunkyo? Atau malah mempersulit? Terus bagaimana juga dengan perjodohan jung soo sama seera? Walaupun jung soo menolak tapikan seera dengan jelas menyatakan kalau dia menyukai jung soo. Aduh konfliknya makin-makin nih. Next next.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s