MLT Side Story : Yong Jinie~ya.. Eomma Mianhae

Standar

Jung Soo’s HouseYong Jin birthday, 4 Desember 2012 02.16 KST

Ddrrrrtttt

Suara ponsel Jung Soo bergetar tak jauh dari tempatnya tertidur pulas. Telinganya mendengar bunyi gesekan antara barang elektronik yang sering dibawanya kemana-mana tersebut dengan permukaan kayu. Ia berat untuk membuka mata.

Ddrrrttttt

Untuk kedua kalinya ponsel tersebut bergetar setelah berhenti beberapa detik. Jung Soo sempat mendecak kesal hingga akhirnya ia membuka matanya. Sekilas ia memandangi Eun Kyo yang masih tertidur pulas disampingnya, bernafas teratur mengundangnya untuk membuat nafas itu memburu dengan sebuah ciuman. Jung Soo menghela sebelum akhirnya mengambil ponselnya dan menerima panggilan tersebut di tengah malam buta yang masih gelap.

“Yeoboseyo?”

Sebelum ia menyahut, sebuah sapaan serak terdengar dari arah seberang yang terdengar oleh telinganya. Seorang wanita, dan ia tau suara siapa yang sedang mengajaknya berkomunikasi. Jung Soo ingin menjawab, tapi wanita itu sudah lebih dulu berbicara.

“Jung Soo~ya, ke Seoul Medical Center sekarang juga, Halmeoni jatuh di kamar mandi.” Ujarnya.

Jung Soo Eomma yang menelpon. Yang baru saja mengabari Halmeoninya tengah berada di rumah sakit. Belum bisa dipastikan apa penyebab Beliau hingga harus dibawa ke rumah sakit. Tapi jatuh di kamar mandi, sudah membuat Jung Soo khawatir. Sudah mampu membuatnya menerka-nerka apa yang sedang terjadi. Halmeoni memang tidak terlalu fit beberapa waktu belakangan. Sering bepergian untuk acara sosial.

“Nde?” jawab Jung Soo bingung.

“Apa Eun Kyo masih tidur?”

“Ne.”

“Kedua anakmu?”

“Mereka juga masih tidur.”

“Serahkan saja mereka pada Min Young, atau kau bisa telpon Minho dan Rae Na untuk mengurus mereka.”

“Mereka sedang ada di Jepang Eomma.” Jawab Jung Soo lagi jujur. Dia masih bingung, apa yang sebenarnya sedang terjadi. Halmeoni? Masuk rumah sakit? Parah kah? Batinnya terus bertanya.

“Kalian berdua kesini sekarang juga!”

Suara Eomma Jung Soo sedikit meninggi, terkesan memaksa. Geram karena Jung Soo tak juga mengerti.

“Nde, arasseo. Kau tut.”

Sebelum Jung Soo mengakhiri kalimatnya. Eommanya sudah memutuskan jaringan telpon dan membuat Jung Soo semakin bingung. Tapi saat ingat kata ‘rumah sakit’ darahnya berdesir pelan, menyebabkan beberapa bulu kuduknya meremang. Ia memandangi Eun Kyo , dan kemudian menyentuh lengan wanita itu pelan.

“Yeobo?”

Jung Soo merunduk dan berbisik di telinga istrinya. Eun Kyo sempat menggeliat dan menggidikkan bahunya saat mendengar bisikan JungSoo ditelinganya yang memanggilnya. Jung Soo kembali menyentuh lengan Eun Kyo dan kali ini menggoyangnya pelan dan lembut.

“Eun Kyo~ya, ireona, Yeobo~ya.” Ulangnya mencoba membangunkan Eun Kyo.

Mata Eun Kyo perlahan membuka dan mengerjap perlahan, mendapati wajah suaminya tepat di depan matanya, ia tersenyum tipis, lalu berniat berbalik. Pikirnya, jika Jung Soo membangunkannya di tengah malam buta seperti ini, biasanya tidak lain adalah untuk meminta ‘jatah’nya. Eun Kyo merasa lelah setelah seharian menemani Yong Jin dan Ryu Jin bermain. Kedua anak itu akhir-akhir ini tidak mau ditinggalkan bermain berdua. Mereka ingin Eommanya ikut terlibat juga.

“Yeobo, kau harus bangun, Halmeoni masuk rumah sakit, Jagi~ya.” Bisik Jung Soo pelan.

Berbisik perlan agar tidak membangunkan Ryu Jin yang menggeliat merubah posisi tidurnya. Sementara Yong Jin tertidur pulas dengan mainannya. Jung Soo melirik kedua anaknya, lalu setelah itu kembali kepada Eun Kyo. Ia sempat terkejut, karena Eun Kyo kini sudah menatapnya dengan wajah tegang.

“Mwo?!”

Jung Soo membungkam mulut istrinya dengan tangannya, “Jangan keras-keras, nanti kedua setan kecilmu bangun.” Ujar Jung Soo.

“Oppa, ulangi perkataanmu.”

“Halmeoni masuk rumah sakit, baru saja Eomma mengabariku.”

Tanpa aba-aba dan harus disuruh, Eun Kyo langsung turun dari tempat tidur dan bergegas menuju lemari, melepaskan gaun tidurnya, menggantinya dengan kaos longgar dan celana panjang serta selembar mantel tebal untuk tubuhnya.

“Ayo, kita berangkat segera.”

Eun Kyo nampak panik. Ia memang selalu panik dan sedikit tidak terkendali jika sesuatu terjadi, apalagi itu menyangkut jiwa dan keselamatan. Mau tidak mau Jung Soo bangkit dan mengganti baju dan celananya, seperti yang Eun Kyo lakukan dan mengenakan sweater untuk melindungi tubuhnya dari rasa dingin.

“Apa yang terjadi pada Halmeoni? Eoh?” tanya Eun Kyo panik setelah meninggalkan kamarnya. Ada sesuatu yang ia lupakan, Ryu Jin dan Yong Jin masih tertidur pulas. Dan waktu masih menunjukkan pukul 02.16 KST.

”Sebentar Yeobo, aku menitip anak kita pada Min Young dulu.” Ujar Jung Soo.

“Aku lupa Oppa.” Ujar Eun Kyo pelan.

Eun Kyo adalah tipe wanita yang tidak bisa menggunakan otaknya untuk beberapa hal dalam satu waktu bersamaan. Seperti pada saat ini, prioritas otaknya adalah Halmeoni, dan nyaris melupakan kedua setan kecil dalam hidupnya.

“Min Young~a..”

Jung Soo mengetuk pintu kamar Min Young beberapa kali dengan pelan, berharap Min Young bangun secepatnya.

“Min Young~a, ireona.” Ujar Jung Soo lagi sambil mendekatkan mulutnya ke pintu. Sedikit lebih keras agar Min Young mendengarnya.

Tak berapa lama pintu kamar gadis itu terbuka. Nampak seorang gadis dengan piyama pink dan gulungan roll di rambutnya, ia mengucek matanya sebelum memandangi wajah Eun Kyo dan Jung Soo bergantian dengan bingung.

“Oppa, Onnie, waeyo?” tanyanya serak. Ia masih mengantuk. Berbeda dengan Eun Kyo dan Jung Soo yang rasa kantuknya sudah lenyap beberapa menit lalu.

“Kami harus ke rumah sakit, Halmeoni masuk rumah sakit. Aku minta kau jaga Yong Jin dan Ryu Jin, mereka masih tidur, arasseo?” jelas Jung Soo pada Min Young yang mengangguk angguk tapi tidak bisa dipastikan apakah dia mengerti.

“Mereka bagung biasanya jam 4 pagi, Yong Jin itu pasti. Ryu Jin jam 6. Tolong mandikan mereka jika aku belum datang, Yong Jin tidak suka air dingin, jadi mandikan dia dengan sedikit campuran air hangat. Untuk Ryu, biarkan guyur dia dengan air dingin, biar dia bangun. Arasseo?” kini Eun Kyo yang memberikan peringatan dan pesan untuk Min Young.

“Onnie, setiap hari kan aku memang menjaga mereka. Meski hanya mengawasi saja, kau tidak membiarkan aku menyentuh anakmu.” Ujar Min Young protes dengan suara pelan.

“Sudah, sudah. Aku harap kau bisa diandalkan, kami harus pergi sekarang juga.” Ujar Jung Soo sambil berjalan kearah Eun Kyo dan menarik pinggangnya dan membawanya melangkah.

“Youngie~ya, kau…”

Jung Soo buru-buru mengalihkan wajah Eun Kyo yang menoleh ke belakang. Membuat Eun Kyo mengurungkan niat untuk meninggalkan beberapa wasiat lagi pada Min Young.

“Yeobo, kau harus mempercayainya. Dai tidak mungkin melukai mereka.”

Eun Kyo cemberut saat Jung Soo mengatakan itu padanya. Ia hanya merasa was-was saja meninggalakn kedua anaknya pada orang lain, bahkan untuk orang yang sudah bersamanya sejak Yong Jin masih ada dalam kandungannya. Gadis itu sudah banyak belajar, hanya saja, Eun Kyo terlalu protektif. Ia biasanya meninggalkan kedua anaknya pada Minho, karena lelaki itu lebih bisa dipercaya dibandingkan suami dan kedua gadis yang selalu membuatnya panik.

***

Seoul Medical Center, 4 Desember 2012 02.45 KST

Dalam perjalanan pikiran mereka dipenuhi dengan berbagai kemungkinan tentang keadaan Halmeoni. Eun Kyo terdiam seribu bahasa. Mengingat rumah sakit membuat hatinya sedikit sedikit tersentil dengan beberapa kejadian beberapa waktu lalu. Saat ia keguguran dan hampir mati saat melahirkan Yong Jin.

Begitu sampai di depan rumah sakit, Eun Kyo langsung turun dari mobil begitu juga dengan Jung Soo, ia melempar kunci mobilnya pada salah satu penjaga parkir rumah sakit. Mengabaikan kemungkinan bahwa mobilnya bisa saja dibawa lari, dia tidak peduli, karena Eun Kyo sudah mendahuluinya beberapa langkah dengan cepat. Ia pikir tidak mungkin petugas parkir itu tidak mengenalnya, jadi tidak ada alasan untuk tidak mempercayainya. Jika terjadi apa-apa, ia bisa menuntut.

Mereka berdua bergegas berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang terlihat lengang, karena hari masih begitu pagi dan tidak siap disebut pagi karena matahari saja belum menampakkan dirinya. Eun Kyo menutup mulutnya ketika mendapati kedua mertuanya sedang duduk di depan ruangan gawat darurat dengan wajah cemas.

“Eomma.” Sapa Jung Soo.

Wanita yang dipanggilnya langsung berdiri dan menghampiri Jung Soo juga Eun Kyo. Sebuah pelukan hangat ia berikan untuk Eun Kyo, yang dibalas oleh Eun Kyo.

“Halmeonimu jatuh dikamar mandi. Kepalanya terus mengeluarkan darah. Aku sangat khawatir.” Suara Jung Soo Eomma bergetar menahan tangis yang ia hentikan dengan paksa. Eun Kyo mengelus punggungnya. Dia tidak bisa menenangkan dengan kalimat, hanya tepukan ringan sebagai ganti kata penenang. Karena dadanya juga kini bertalu menahan emosi yang sangat ingin membuatnya menangis.

“Sebaiknya kalian duduk dulu.” Jung Soo Appa mempersilakan Jung Soo dan Eun Kyo untuk duduk agar sedikit lebih tenang.

Tangan Jung Soo menggenggam jemari Eun Kyo yang terasa dingin. Eun Kyo menoleh dan menghembuskan nafas pelan. Halmeoni adalah orang pertama yang menerima kehadirannya tanpa sebuah alasan apapun. Tak peduli asalnya dan bagaimana dirinya. Meski ternyata alasan itu sangat kuat pada akhirnya, karena sebuah janji.

“Rae Na mana? Belum kembali?” tanya Jung Soo Appa.

“Ne, dia bilang masih harus mengerjakan beberapa negosiasi lagi dengan Tuan Yamada.” Ujar Jung Soo.

“Begitu?” tanya Jung Soo Appa.

“Bukannya kau yang menyuruhnya bekerja hingga sekeras itu?” istrinya langsung mengarahkan tatapan tajam padanya, saat orang tua laki-laki Jung Soo berpura-pura tidak tau agar ada pengalihan suasana.

“Ne, mianhada.” Sahutnya merasa bersalah.

“Kalian menghubunginya?”

“Belum, sebaiknya jangan dulu. Biarkan dia fokus.” Ujar Jung Soo.

“Eum.” Timpal Eun Kyo.

Ketika mereka berdiskusi tentang Rae Na dan Minho yang berada di luar negeri. Seseorang membuka pintu ruangan gawat darurat, dan keluar seorang berjubah hijau dengan masker yang menutupi mulut dan hidungnya.

“Aku sudah menghubungi Ahli Saraf, Nyonya harus ditangani lebih intensif di ruang ICU.” Ujar orang tersebut. Di sebuah papan nama kecil di bajunya tertulis, dr. Han Jung Min.

“Nde, apapun asal Eomma bisa baik-baik saja.”

Eun Kyo melirik pada Jung Soo. Tiba-tiba rasa takut mulai menggelitiknya, yang bukannya membutanya geli tapi malah merinding. Jung Soo memberikan tatapan menenangkan. Berusaha mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja melalui matanya. Mereka berempat mengikuti brankar yang di dorong oleh beberapa orang perawat berpakaian serba putih.

Selang infus terpasang di tangan wanita tua itu. Wajahnya terlihat pucat dan lelah. Entah karena kehilangan banyak darah atau karena memang sudah terlalu lelah menahan sakitnya. Selang oksigen juga terpasang di hidungnya melalui tabung yang di dorong oleh seorang perawat pria.

“Kami akan mengambil alih perawatannya, kalian tidak perlu cemas. Tidak ada yang boleh menunggui, jika terjadi apa-apa kami akan mengabari kalian. Boleh satu menunggu, tapi bukan disini, dikamar yang sudah kami sediakan, tapi tentunya anda harus membayar biaya tambahan.” Seorang perawat menjelaskan tentang tata tertib yang ada di rumah sakit.

“Kami ambil satu kamar, jadi saat terjadi sesuatu, kami bisa lebih cepat memeriksanya.”

“Ne, dan silakan anda semua ke ruangan dr. Jang. Beliau sudah menunggu. Hanya dua orang saja.” ujar perawat itu kembali menjelaskan dan menunjuk salah satu ruangan yang bertuliskan dr. Jang Jae Wook. Ahli saraf otak. Jung Soo mulai berpikir, agar tidak terlalu terkejut saat mendengar penjelasan dari dr. Jang lagi. Ahli saraf otak, itu artinya apa yang dialami oleh Halmeoni bukan hanya kecelakaan biasa. Jika tidak kenapa harus dirujuk ke ICU dan ditangani ole ahli saraf.

“Silakan duduk.”

Dr. Jang yang duduk di kursinya mempersilakan Jung Soo dan Appanya untuk duduk di hadapannya. Ada dua kursi dan itu kini ditempati Jung Soo salah satunya.

“Jadi, begini, aku sudah membaca hasil CT Scan dan keadaan dari Nyonya Besar. Kau bisa lihat disini.” Dr. Jang menunjukkan hasil CT Scan di sebuah tempat, hingga membuat kertas kelabu itu terlihat jelas.

“Disini, pembekuan darahnya sudah mencapai sini hingga sini. Diperkirakan sudah mencapai 3 cm. Berapa lama kalian menemukan beliau tergeletak di kamar mandi?” tanya dr. Jang.

“Kami tidak tau tepatnya, tapi saat ingin makan malam, beliau sudah bersimbah darah.” Jung Soo Appa menjelasnya.

Dr. Jang mengangguk, “Begitu, jika hal ini terjadi pada kita, mungkin sudah tidak terselamatkan. Tapi pada kasus manula seperti Nyonya, yang volume otaknya sudah mulai mengecil, ada kemungkinan Beliau masih bisa diselamatkan.” Ujar dr. Jang lagi.

“Berapa persen kira-kira kemungkinannya, Sajangnim?” tanya Jung Soo.

“Kami tidak bisa memastikan, lebih cepat lebih baik, sebelum pembekuannya melumpuhkan semua organ vitalnya.” Jelas dr. Jang.

“Lakukan saja, lakukan apa yang menurutmu baik, kami percaya, kami percaya sepenuhnya.” Ujar Jung Soo cepat. Tiba-tiba saja ia teringat proses persalinan Eun Kyo setahun yang lalu, yang hampir saja membuatnya kehilangan wanita itu.

“Baiklah kalau begitu, aku hanya ingin persetujuan dari kalian.”

Dr. Jang berdiri diikuti oleh Jung Soo dan Appanya. Mereka akhirnya keluar dari ruangan itu dan mendapati wajah Eun Kyo dan seorang wanita disampingnya sedang memeluk tubuh Eun Kyo. Wajah mereka kurang lebih sama, menyiratkan kecemasan dan terlihat tegang. Takut mendengar vonis yang mungkin saja akan membuat mereka lebih takut.

Jung Soo dan Appanya sama-sama menghampiri istrinya masing-masing. Menarik sama-sama, dan mengambil alih pelukan yang tadinya dilakukan oleh Eun Kyo dan mertuanya, berpindah ke pelukan mereka.

“Oppa, Halmeoni bagaimana? Apa dia baik-baik saja? baik-baik saja kan?” cecar Eun Kyo tidak sabar. Suaranya lembut tapi penuh penekanan dan sarat kekhawatiran.

“Yeobo. Bagaimana keadaan Eomma? Eoh? Apa yang dikatakan Dokter Jang? Eoh?” Jung Soo Eomma tak kalah panik dengan berbagai pertanyaan yang ia lontarkan.

“Sebaiknya kita istirahat dulu. Jung Soo bawa istrimu pulang.” Jung Soo Appa menyuruhnya untuk membawa Eun Kyo pulang.

“Ani, kalian saja yang pulang, pasti lelah sejak tadi kan? Kenapa tidak mengabariku lebih cepat? Sudah berlalu beberapa jam.” Jung Soo mendongak memandangi jam dinding.

“Maaf, kami kira tidak akan seperti ini.” Jawab Jung Soo Eomma lirih. Ia merapatkan jaketnya. Semakin mendekat kepada suaminya.

“Aku akan menginap disini. Bersama Eun Kyo, kalian pulang saja.” ujar Jung Soo.

Kedua orang tua itu memandangi Eun Kyo dan Jung Soo bergantian. Mencari sebuah keyakinan dalam tatapan mereka. Selama beberapa detik berpandangan, akhirnya Tuan Park menarik istrinya untuk beranjak dan membiarkan Jung Soo dan Eun Kyo menunggui orang tuanya.

“Besok pagi-pagi kami akan kesini.” Ujarnya lagi sambil berlalu.

Jung Soo dan Eun Kyo masih terpaku beberapa saat sepeninggal orang tua mereka. Benak mereka menggambarkan kecemasan yang sama, tapi tak mampu mengungkapnya dengan sebuah kalimat bahkan kata sekalipun.

“Dia orang pertama yang menganggapku keluarga selain Rae Na.” Gumam Eun Kyo pelan. “Dia orang pertama yang menyukaiku menjadi bagian dari keluarganya.” Lanjutnya lagi sambil menepis tangan Jung Soo yang mengajaknya untuk melangkah. Perlahan Eun Kyo berjalan kearah ruangan dimana seorang wanita tua terbaring tak berdaya di dalamnya.

“Yeobo, aku meminta satu ruangan VVIP untuk perawatan Halmeoni, kita bisa beristirahat disana.”

Eun Kyo tidak bergeming, ia terus melangkah, bahkan langkah yang tadinya terseok pelan kini semakin cepat. Otaknya terasa pusing, dadanya terasa sakit. Meski bukan orang terdekatnya, tapi ingatannya tentang wanita tua itu membekas begitu kuat. Bagaimana ia diperlakukan di rumah itu, saat yang lain terutama saat mertuanya bersebelahan dengannya pada awalnya, wanita itu yang selalu bijaksana memberikan ruang masing-masing agar tidak berbenturan satu sama lain. Hingga tragedi keguguran yang ia alami, ia masih ingat tentang wanita itu.

Jung Soo mau tidak mau mengikuti langkah Eun Kyo yang meskipun cepat, ia masih tetap bisa mengimbangi langkahnya. Menarik lengan istrinya cepat saat tangan Eun Kyo ingin membuka pintu ruangan ICU. Dengan sekali tarikan saja, Jung Soo sudah bisa menghentikannya. Eun Kyo menoleh dan matanya berkaca-kaca serta memandang bingung bercampur protes pada Jung Soo.

“Aku hanya ingin melihatnya.” Ujar Eun Kyo mencoba melepaskan tangan Jung Soo yang berada di lengannya. Saat ia mulai melepaskan, tangan itu semakin erat mencengkram. “Aku hanya ingin melihatnya…” bulir airmata yang keluar dan mengalir di pipinya membuatnya berhenti berkata, “Oppa…” lanjutnya kemudian dengan serak.

“Arasseoyo, keundae Yeobo, kita tidak boleh mengganggunya jika ingin dia selamat.” Ujar Jung Soo penuh penekanan.

“Memangnya dia kenapa? Eoh? Hanya jatuh kan? Kenapa harus dibawa kesini? Eoh? Hanya, hanya jatuh, dia hanya jatuh saja.” ujar Eun Kyo mulai tidak terkontrol. Matanya tidak fokus, berair dan bernafas putus-putus. Jung Soo menariknya menjauh, menuju ruangan yang sudah disediakan. Eun Kyo tidak bisa menolak hingga mereka sampai pada ruangan yang telah dipesan Jung Soo.

Sebuah ruangan VVIP yang harusnya ditempati oleh pasien. Kini Jung Soo dan Eun Kyo yang ada di dalamnya. “Jika ingin menangis, menangislah disini.” Ujar Jung Soo.

Eun Kyo memukul lengan Jung Soo. “Ani, aku tidak ingin menangis.” Eun Kyo menyapu airmata yang keluar dari matanya dan mengalir di pipinya dengan kasar menggunakan tangannya. Ia teringat kematian Appanya. Kehilangan itu menyakitkan, ia tidak ingin mengalaminya lagi. Terduduk di lantai dan kembali menangis.

“Aku merindukan Appa, Oppa…”

Jung Soo berjongkok mencoba membuat Eun Kyo bangkit namun ditolak oleh wanita itu. lalu akhirnya ia memilih untuk mengikuti Eun Kyo duduk di lantai.

“Bagaimana keadaan Ryu Jin? Yong Jin? Eoh? Omo!Kau sudah menelponnya? Apa Min Young menjaganya dengan benar?” cecar Eun Kyo lagi dengan pertanyaan yang berbeda, diluar keadaan yang ada di rumah sakit.

Jung Soo hampir saja terbahak saat mendengar pertanyaan Eun Kyo. Baru saja wanita itu mengkhawatirkan Halmeoni tanpa menghiraukan yang lain. Bersikeras ingin melihat keadaannya. Pada saat ia membawanya untuk beristirahat, tiba-tiba wanita itu merindukan Appanya. Dan detik berikutnya, ia langsung mengingat kedua anaknya yang sekarang dalam pengawasan Min Young. Jung Soo sempat tersenyum simpul sebelum menenangkan Eun Kyo.

“Bisa kau tidak memenuhi pikiranmu dengan anakmu beberapa jam saja, eoh?” Jung Soo mengarahkan tangannya ke kepala Eun Kyo dan mengusapnya dengan lembut.

“Halmeoni, bagaimana keadaannya? Apa yang dikatakan Dokter?” tanya Eun Kyo lagi mengganti pertanyaannya. Ia persis seperti pasien rumah sakit jiwa jika sedang panik. Pikirannya berubah-ubah.

“Dokter Jang bilang ada pembekuan di kepala bagian belakang Halmeoni, sekitar 3 cm. Tapi besok sudah bisa di operasi, kau tenang saja.” ujar Jung Soo.

Eun Kyo bernafas lega. Seperti keluar dari ruang hampa udara. Begitu banyak yang dipikirkannya dalam otaknya, Halmeoni, Appanya, dan anak-anaknya tentunya yang lebih sering mendominasi. Sebesar apapun masalah yang dihadapinya, ujung-ujungnya biasanya ia pasti mengingat anaknya. Dalam keadaan apapun jika kedua buah hatinya itu jauh darinya.

“Kau ingin memastikan keadaan Yong Jin? Kita bisa pulang sekarang. Lagipula Halmeoni harus istirahat. Kita tidak bisa apa-apa disini. Aku menginap agar memudahkan para petugas menghubungi kita saja.” ujar Jung Soo sambil menyentuh pipi Eun Kyo.

Jung Soo mengernyit. Setelah memegang pipi Eun Kyo, ia memgang pipinya sendiri, lalu beralih kembali memegang pipi Eun Kyo, begitu beberapa kali.  Dia juga menyentuh dahinya dan dahi Eun Kyo secara bergantian.

“Yeobo, kau sakit? Eoh? Badanmu panas.” Ujar Jung Soo sambil mencoba membuat Eun Kyo menatapnya.

“Ani, aku tidak sakit.” Ujar Eun Kyo.

“Jangan berbohong, badanmu panas, sebaiknya kita periksa saja.” ujar Jung Soo bangkit dan menarik tangan Eun Kyo.

“Ani! Aku tidak sakit, aku hanya terkejut, lalu kepalaku pusing, hanya pusing sedikit. Dan hanya panas sedikit saja, istirahat saja sudah cukup.” Tolak Eun Kyo. Ia tidak terlalu suka jika Jung Soo menganggapnya sakit. Ia juga tidak suka jika tubuhnya benar-benar sakit. Akan ada banyak pemaksaan jika lelaki itu menganggapnya sakit. Memaksanya minum obat, memaksanya minum susu, dan memaksanya untuk makan. Ia benci. Dan benci tubuhnya sekarang lebih sering menolak untuk sehat.

“Sebaiknya kita periksa, agar lebih jelas.” Paksa Jung Soo.

Ini yang Eun Kyo benci, Jng Soo selalu berlebihan jika menyangkut kesehatannya. Tepatnya sejak ia melahirkan Yong Jin setahun yang lalu. Tidak bisa mengeluh sedikit dia pasti memanggil dokter. Alasannya untuk mencegah hal yang lebih parah. Padahal yang merasakan sakit adalah dirinya, bukan Jung Soo, bagaimana mungkin lelaki itu yang memutuskan akan keadaan dirinya sementara dirinyalah yang merasakannya.

“Oppa, aku lelah, ingin tidur saja.” Eun Kyo berjalan ke tempat tidur.

“Baiklah kau tidur, akan kupanggil perawat agar bisa memeriksamu.” Ujar Jung Soo.

“Oppa! Aku ingin kau disini!” teriak Eun Kyo nyaring membuat Jung Soo berhenti melangkah dan menoleh ke belakang. “Pijit aku…” ujar Eun Kyo manja sambil mengulurkan tangannya.

Bersikap manja. Hanya itu yang bisa menghentikan Jung Soo, meski setelahnya dia harus menerima resiko dari apa yang telah ia perbuat. Bersikap manja sama saja memancing Jung Soo untuk melakukan hal yang lebih jauh dari bermanja.

“Benar kau tidak apa-apa? Aku cemas Yeobo…” ujar Jung Soo. Ia berjalan kembali mendekati Eun Kyo. “Cukup Halmeoni saja yang sakit, aku tidak ingin dirimu juga. Andwae. Maldo andwae.” Ujar Jung Soo setelah sampai dihadapan Eun Kyo.

Mereka berdua bertatapan begitu Jung Soo tepat berada di hadapan Eun Kyo, wanita itu menengadahkan wajahnya untuk membalas tatapan Jung Soo. Mereka saling melempar senyum.

“Saranghae…” ucap Jung Soo pelan.

“Nado…” jawab Eun Kyo.

Jung Soo mendekatkan wajahnya perlahan merunduk mencoba meraih bibir Eun Kyo dengan bibirnya. Namun sebelum bibir keduanya saling bertemu, Eun Kyo sudah memukul dahi Jung Soo dengan jarinya. “Aey! Halmeoni sedang sakit, kau masih mesum seperti biasa.” Gerutu Eun Kyo.

Jung Soo tertawa kecil. Entah mengapa berada di dekat istrinya, semakin hari semakin membuatnya gila. Tak peduli dimanapun, ia ingin selalu membuat wanita itu menjadi miliknya. Bahkan di rumah sakit sekalipun seperti sekarang ini.

“Anggap saja ini hotel.” Canda Jung Soo membuat Eun Kyo tidak tahan untuk tidak mencubitnya.

“Ish..! sebaiknya telpon Min Young saja, ini sudah waktunya Baby Yong bangun.” Ujar Eun Kyo. ia mendorong Jung Soo pelan agar memberinya ruang gerak. Jung Soo menolak untuk beranjak, membuat Eun Kyo menengadah kembali.

“Wae?” tanya Eun Kyo bingung.

“Ani, aku hanya berpikir, ini seperti bulan madu saja. Tidak ada anak-anak.” Ia memandangi setiap sudut kamar VVIP dengan berbagai macam fasilitas di Rumah Sakit ini.

“Yak! Park Jung Soo! ini rumah sakit  dan Halmeoni sedang sekarat!” teriak Eun Kyo nyaring menyadarkan Jung Soo.

“Benar juga, sebaiknya kau istirahat. Tidur, jika ada kabar terbaru dari Halmeoni aku akan membangunkanmu.” Jung Soo mendorong pelan tubuh Eun Kyo membuatnya berbaring.

***

Jung Soo’s Home, 4 Desember 04.38 KST

“Anak-anak… ayo bangun…”

Suara Min Young terdengar nyaring. Ia bahkan menepuk tangannya untuk membangunkan Yong Jin dan Ryu Jin yang masih pulas tertidur di tempatnya masing-masing. Yong Jin dalam Baby Box-nya sedangkan Ryu Jin, Min Young mengerutkan dahinya begitu melihat Ryu Jin tidak berada pada tempatnya. Ia kini tertidur menungging di tempat tidur orang tuanya yang berukuran besar. Anak itu pasti mengigau dan mencari Eommanya, tapi tidak sadar jika kedua orang tuanya sudah tidak ada.

“Aigoo… uri Yong Jin sudah bangun? Eoh?”

Min Young berjalan menghampiri Yong Jin yang sudah berdiri diatas tempat tidurnya sambil memandangi Min Young dengan mata kecilnya. Min Young segera meraih anak itu dalam gendongannya

“Beum… bambambambam.” Ujar Yong Jin menggumam.

“Ne, Hyungmu masih tertidur, biarkan saja dia.” Ujar Min Young sambil membawa anak itu keluar dari kamarnya.

“Mammammamammamaaaammm.” Ujarnya kembali memainkan mulutnya dengan menggunakan bahasa yang tidak dimengerti oleh orang lain.

“Kau lapar? Sini biar Noona buatkan kau bubur, eo? Kau suka?” ujar Min Young. Ia kemudian mendudukkan Yong Jin diatas lantas beralaskan karpet bulu tebal.

Tak berapa lama, Ryu Jin keluar dari kamar sambil mengucek kedua matanya, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Berlari kecil mengitari semua ruangan sambil menolehkan kepalanya.

“Noona, Eomma eodiya? Appa eodiya?” tanya Ryu Jin nyaring sambil berteriak. Larinya berhenti tepat di hadapan Yong Jin yang sedang duduk diatas karpet. Ryu Jin kemudian berguling disamping Yong Jin dan mengajak adiknya bercanda.

“Saengi~ya, Eomma eodiya?” tanyanya pada Yong Jin.

Anak kecil itu hanya mengerjapkan mata sipitnya kearah Ryu Jin menanggapi pertanyaan Ryu Jin tadi. Ia kemudian tersenyum dan menjawab. “Mammammammammammamaaaammm.” ujarnya mengulang perkataannya tadi.

“Aish! Hyung bertanya kemana Appa dan Eomma? Eoh? Kenapa hanya tinggal kita berdua saja? Noona……!!” teriak Ryu Jin memanggil Min Young.

“Eung?” jawab Yong Jin sambil menoleh, tapi tak membuat Ryu Jin mendapatkan jawabn dimana sekarang orang tuanya.

“Ne Ryu~ya, Noona sedang membuat bubur untuk adikmu. Sebentar..” sahut Kim Young dari dapur.

“Eomma……!!!!” teriak Ryu Jin memanggil Eun Kyo. Ia terus berteriak meskipun tau Eommanya sekarang tidak ada dirumah. Ia jelas tau karena ia sudah memeriksa beberapa tempat dan tidak menemukannya.

“Yong Jin~a, sini aku ceritakan buku cerita.”

Ryu Jin bangkit dan mengambil sebuah buku cerita yang ada di atas meja tumpukan beberapa buku cerita miliknya. Yong Jin merangkak mengikuti Ryu Jin yang berlari. Saat ia berhenti di sebuah meja kecil. Tangannya meraih tepian meja dan mencoba untuk berdiri. Sekuat tenaga ia berusaha hinga akhirnya ia bisa mengangkat pantat besarnya dan berdiri dengan bertumpu diatas meja yang hanya setinggi pusarnya. Ia mengangkat kakinya dan mencoba melangkah. Sesekali ia menoleh kepada Ryu Jin yang sibuk mencarikan buku cerita untuknya. Setelah memberanikan diri, ia mengambil beberapa langkah dan berjalan menuju Ryu Jin.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah

Hingga beberapa langkah ia lakukan. Dia terus berusaha agar bisa menyusul Hyungnya. Ryu Jin berbalik dan sangat terkejut mendapati Yong Jin berjalan kearahnya.

“Noona….!!! Yong Jin berjalan sendiri….!!” teriak Ryu Jin nyaring. Ia terpaku pada tempatnya berpijak, tidak mampu untuk melangkah. Hanya menoleh kearah Min Young dan Yong Jin bergantian.

Bayi kecil yang hari ini tepat berumur satu tahun itu terus melangkahkan kakinya meski terlihat susah, tapi ia terus berusaha. Saat melihat Min Young berlari dengan cepat kearahnya, ia kehilangan keseimbangan tubuhnya dan sukses terduduk dilantai. Min Young menutup mulutnya dan sangat terkejut. Jika terjadi apa-apa pada anak ini, ia belum siap untuk mati ditangan Eun Kyo.

“Omo! Yong Jin~a, gwaenchana? Eoh? Sakit? Dimana yang sakit Yong Jin~a? Sini bisar Noona tiup. Eoh?” Min Young terlihat panik, sedangkan orang yang dicemaskannya malah tertawa tanpa suara kearahnya. Memamerkan kelima giginya yang mulai tumbuh. Sedang Ryu Jin, setelah Min Young mengangkat Yong Jin, baru dia bisa beranjak dari tempatnya. Kakinya menjadi kaku saking terkejutnya. Dalam benaknya, Eommanya bisa mengamuk jika adiknya terluka, itu ia sudah hapal. Ryu Jin yang masih kecil saja hapal apalagi Min Young.

“Kheeekkkkhhh.”

Yong Jin terkikik saat melihat Ryu Jin berlari kearahnya. Dia mengira Ryu Jin ingin mengajaknya bercanda, padahal Ryu Jin hanya ingin melihat keadaannya.

“Ayo makan dulu sayang. Noona buatkan kau bubur sayuran dan buah, eoh? Kau suka kan? Eum?”

Min Young mengarahkan sesendok makanan berbahan palstik yang tidak membahayakan untuk bayi. Yong Jin membuka mulutnya menerima suapan dari Min Young.

“Noona, Eomma…” tanya Ryu Jin. Ia belum mendapatkan jawaban dimana Eun Kyo sekarang, oleh karena itu ia mengulangi pertanyaannya tadi.

“Ah, Eommamu sedang ke rumah sakit, sebentar lagi juga pulang.” Ujar Min Young.

“Mwo? Rumah sakit? Adik kecil lagi? Aku akan dapat adik kecil lagi?” tanya Ryu Jin antusias sambil memandangi wajah Min Young. Yong Jin mengikuti Ryu Jin memandangi Min Young.

“Aish, bukan, Halmeonimu sakit.” Ralat Min Young.

“Ah… geurae…” Ryu Jin kembali tenang tidak seantusias tadi. Ia masih belum mengerti arti rumah sakit, dan kenapa orang harus ke rumah sakit. Yang ia tau, saat Eommanya dibawa ke rumah sakit, besoknya dia sudah dapat seorang adik bayi.

“Kapan mereka kembali?” tanya Ryu Jin di sela-sela Min Young pekerjaan Min Young menyuapi Yong Jin.

“Sebentar lagi juga kembali…”

“Lama sekali, aku ingin melihat Eomma…” rengek Ryu Jin.

“Eomma…” sahut Yong Jin.

“AH!” Ryu Jin dan Min Young saling perpandangan dengan cepat begitu mendengar satu kata ynag keluar dari mulut Yong Jin. Yong Jin sudah mulai bisa mengucapkan kata, bukan hanya sekedar menggumam tidak jelas.

“Yong Jin~a… kau banyak belajar hari ini, eoh? Eomma? Coba katakan sekali lagi, Eomma… Yong Jin~a ayo katakan lagi…”

Yong Jin tidak terlalu perduli dengan kehebohan Ryu Jin dan Min Young yang terkejut mendengarnya belajar bicara.

“Kau juga berjalan beberapa langkah. Aigoo… Uri Yong Jin pintar sekali…” Min Young memeluk Yong Jin yang masih tidak peduli. Ia malah lebih asik menarik-narik ujung bantal yang ada disofa tempatnya duduk kini.

“Uri Yong Jin sangat pintar…” ulang Ryu Jin mengikuti sambil ikut berpelukan.

“AH, nanti kita ceritakan pada Eommamu, adikmu bisa memanggil Eomma hari ini, eoh?” ujar Min Young pada Ryu Jin. Ryu Jin mengangguk.

“Katakan dia juga berjalan, whooooaaaaa aku sangat senang.” Ujar Min Young berbinar. Ia tau dirinya ahli dalam hal engurus anak, Eun Kyo saja yang menutup mata akan hal itu. Buktinya sekarang Yong Jin pintar meski ditinggal Eun Kyo. Sambil terus menyuapi Yong Jin makanan, batinnya terus membanggakan diri atas apa yang ia lihat hari ini.

Setelah selesai memberi makan Yong Jin, kini giliran Ryu Jin yang harus ia urus. “Ryu Jin~a, jaga adikmu sebentar, eoh? Noona akan menyiapkanmu makan. Eoh?” Min Young menunjuk Ryu Jin memberinya perintah, lagi-lagi Ryu Jin hanya mengangguk.

“Kau mau makan kan?” tanya Min Young.

“Ne.” Jawab Ryu Jin singkat.

“Tidak perlu disuapi?”

“Ne.”

Min Young kembali dari dapur dengan membawa mangkuk makanan untuk Ryu Jin yang disambut anak itu tanpa ekspresi. Ia tau Ryu Jin sulit untuk makan. Tapi mendengar jawabannya tadi, Min Young bisa sedikit memaksanya dengan berbekal jawaban persetuan dari Ryu Jin tadi.

“Sekarang makan, Noona memandikan adikmu dulu, jangan nakal, ne?” tanya Min Young. Tapi seperti biasa, jawaban Ryu Jin hanya sebuah anggukan kepala.

Min Young membawa Yong Jin ke kamar mandi dan meletakkannya di sebuah baskom kecil. Anak itu nampak bingung. Biasanya Eommanya yang memandikannya, tapi kali ini orang lain. Ia belum terbiasa. Dipandanginya semua gerak-gerik Min Young yang menyiapkan peralatan mandi untuknya.

1a

Min Young kembali menghampiri Yong Jin dengan sekeranjang peralatan mandi untuk Yong Jin termasuk handuk yang ada dibahunya. Yong Jin mengambil salah satu sikat gigi dan menggigitnya.

“Ya… pintar sekali, kau mau sikat gigi dulu? Eiy… good boy..” Min Young mengusap kepala Yong Jin dan mengeluarkan sikat gigi dari mulut Yong Jin ynag kini penuh dengan air liurnya. Ia membasuhnya lalu meletakkan pasta gigi bayi diatasnya.

1b

Selesai memandikan Yong Jin, Min Young membawanya keluar kamar mandi dan memakaikan anak itu baju. Memberikannya bedak dan cologne bayi seperti yang biasa Eun Kyo lakukan. Yong Jin bukan bayi lagi, sudah mulai bisa menolak saat Min Young mencoba memberikannya bedak di beberapa tempat ditubuhnya. Setelah itu ia membawa Yong Jin keluar.

“Hyungi~ya, sekarang giliranmu untuk mandi, eoh?” tanya Min Young menghampiri Ryu Jin. “Ya… kenapa belum habis juga? Palli, palli palli habiskan.” Ujar Min Young mengambil sendok yang ada diatas meja, ia menyenndok makanan dan menyuapkannya ke mulut Ryu Jin. Anak itu sibuk mengatur robot-robotnya dantidak menolak saat Min Young memberinya makan. Dan Yong Jin masih dalam pangkuannya.

“Bukannya kau bilang bisa makan sendiri? eoh? Kau sudah besar Ryu Jin~a…” Min Young terus memasukkan makanan kemulut Ryu Jin.

“Cha… Buzz siap bertempur diluar angkasa.” Ia mengarahkan salah satu robot karakter kartun terkenal kearah Yong Jin. Anak kecil itu hanya tersenyum dan mencoba meraih mainan yang ada ditangan Ryu Jin.

“Palli, satu suapan lagi, setelah ini mandi.”

“Shireo, aku mau mandi dengan Eomma saja.” tolak Ryu Jin.

“Hyung…”

“Sebentar lagi Eomma pulang kan?”

“Hyung… Eommamu masih lama…” jawab Min Young pelan.

Ryu Jin berhenti memainkan robotnya, lalu mengarahkan wajahnya memandang Min Young. “Kau bilang sebentar saja, Noona…” Ryu Jin protes. Wajahnya cemberut.

Kekecewaan mulai menyeruak di dadanya, yang ia sendiri tidak tau bagaimana menanggapi perasaannya. Dia hanya merasa Min Young berbohong dan itu membuatnya kesal hingga ingin menangis. Dia hanya ingin Eommanya, tidak ingin orang lain. Ryu Jin tidak terbiasa sehari saja tanpa Eun Kyo. pertama kali saat bangun yang ia cari pasti Eomma, saat ingin tidur juga begitu, jadi saat Eommanya tidak ada seperti sekarang, dia merasa sedih.

Sama halnya dengan Yong Jin, meski tidak bisa mengungkapnya rasa rindunya akan wanita itu, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain megikuti arahan Min Young. Dia merasa bingung, perutnya masih lapar menski sudah dijejali makanan oleh Min Young. Apa yang ia makan berbeda dengan apa yangdiberikan Eun Kyo. biasanya saat bangun tidur, ia akan langsung mencari ASI dan Eun Kyo selalu memberikannya.

“Saengi~ya, apa kau juga mencari Eommamu?”

“Mamamaamamaamamama.”

Min Young bingung, Ryu Jin mulai merajuk. Ia berlari ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Saa Min Young mencoba membuka pintu, ia tidak bisa membukanya. Yong Jin yang ada dalam gendongannya pun merasa kebingungan.

“Eng? Nganganganganganganga.” Ujarnya lagi mencoba berbicara. Menggedor-gedor pintu dengan telapak tangannya yang kecil.

“Lihat Ryu Jin~a, adikmu minta ditemani bermain, ayo buka pintunya sayang…”

“….”

Tidak ada jawaban, saat Ryu Jin merajuk, itu sama persis seperti Eun Kyo, hingga ingin membuat Min Young tertawa. Setelah satu setengah tahun bersama mereka, membuat Min Young sedikit banyaknya hapal larakter-karakter orang yang ada dirumah ini.

“Hyung, apa yang kau lakukan di dalam?”

5 menit berlalu, tak ada jawaban dari Ryu Jin. Hal itu membuat Min Young khawatir. Ia berjalan ke ruang tengah dan meletakkan Yong Jin diatas karpet. “Yongi~ya, tunggu sebentar disini, ne? Aku akan mengurus Hyungmu dulu, eoh? Arasseo?”

Yong Jin hanya menatap tidak mengerti, hingga Min Young berjalan dan berhenti di depan kamar kedua orang tuanya, ia masih memandangi Min Young, setelah itu dia mengalihkan wajahnya, meraih beberapa mainan yang ditinggalkan Ryu Jin.

“Ryu Jin~a! Kalau kau tidak membuka pintunya aku akan mendobrak pintunya! Ayo buka!” teriak Min Young emosi. “Hana! Dul!” ia mulai menghitung dan menunggu Ryu Jin untuk membuka pintu. Belum sampai hitungan ketiga, pintu sudah terbuka.

“Eomma… HUWA… aku aku hanya ingin Eomma, Eomma, Eomma….. Huwa…”

Merasa takut, Ryu Jin akhirnya keluar kamar tapi disertai dengan tangisan untuk membuat orang iba padanya. Saat terdesak, anak itu kerap melakukan hal yang tidak diduga, entah itu menangis atau merajuk.

“Sssssttt uljima, uljima, jika kau menangis, nanti adikmu ikut menangis. Dan kau tau jika adikmu menangis, Eommamu pasti akan marah? Eoh? Kau tidak mau kita dimarahi Eommamu kan?”

Mendengar bujukan Min Young, Ryu Jin menghentikan dengan paksa tangisannya, berganti dengan senggukan-senggukan pendek.

“Kita bermain saja agar tidak terasa terlalu lama menunggu, eotte?” tawar Min Young.

“Main apa?”

“Ya… terserah kau saja. bagaimana kalau bermain toko daging saja? eoh? Kau jadi penjualnya, aku dan Yong Jin jadi pembelinya. Bagaimana? Kau setuju?” tanya Min Young. Ryu Jin mengangguk kuat.

“Cha, kita bermain saja.” Min Young meraih tangan Ryu Jin mengajaknya bergabung dengan Yong Jin.

Beberapa mainan berserakan di lantai sebagai barang dagangan Ryu Jin yang disusunnya secara acak. Ia menikmati menata barang dagangannya. Sekarang ia menjadi seorang pedagang.

“Kau duduk disana Noona…” Ryu Jin menunjuk salah satu sudut.

“Nde, kau sudah siap? Daganganmu sudah buka?” Tanya Min Young.

“Ne.” Jawab Ryu Jin mantap.

“Annyeong haseyo, Ahjussi…” ujar Min Young.

“Annyeong.” Jawab Ryu Jin acuh sambil terus berpura-pura sibuk dengan mainannya.

“Ahjussi, kami ingin membeli sayur dan daging.”

“Nde? Ige? Ige. Daging dan sayur.” Ryu Jin menyerahkan beberapa mainan kepada Min Young. Yong Jin tertawa.

“Eolmana?”

“1 juta.”

“Whoooaaaaa barang dagangan disini sangat mahal Yong Jin~a, bagaimana kalau kita belanja ditempat lain saja?” ujar Min Young.

“Yak, itu tidak mahal.” Protes Ryu Jin. “Yak! Yong Jin~a! NO! NO! Yong Jin, NO! Noona, Yong Jin memasukkan pedang-pedanganku.” Teriak Ryu Jin. Anak kecil itu memasukka pedang-pedangan milik Ryu Jin kedalam mulutnya. Saat Min Young melihatnya, dia terlihat panik dan langsung mengambil mainan itu.

Rasa terkejut karena diteriaki Ryu Jin dan tiba-tiba saja Min Young mengambil mainan dari tangannya membuat Yong Jin menangis. Wajahnya cemberut dan menangis keras, membuat Min Young kelabakan.

“Ya, ya, ya, bukan begitu, Yong Jin~a.. jangan menangis… aish! Hari sudah mulai siang, aku belum melakukan apapun, dan rumah ini seperti kapal pecah. Yong Jin~a, uljima. Ryu~ya, bantu Noona menghentikan tangis adikmu.” Min Young menggendong Yong Jin dan membawanya berjalan sambil menepuk punggungnya.

“Yong Jin~a, whoa…”

Ryu Jin bersembunyi dibalik tubuh Min Young lalu muncul tiba-tiba dihadapan Yong Jin. Hal itu membuat tangisan Yong Jin mulai mereda. Ryu Jin melakukannya beberapa kali, hingga membuat Yong Jin tertawa.

“Akhhhhkkkeeekkkkk…”

Yong Jin tertawa gelak saat bermain bersama Ryu Jin, ia masih didalam gendongan Min Young yang membawanya kearah dapur.

“Ryu Jin ~a, aku harus memasak, apa kau bisa diandalkan untuk menjaga adikmu?”

“Serahkan saja padaku, Noona.” Ryu Jin menepuk dadanya.

Min Young akhirnya pergi ke dapur dan mengerjakan pekerjaannya. Ia melirik jam dinding. Hari menjelang, tapi Eun Kyo dan Jung Soo tak kunjung pulang, ia khawatir jika kedua orang itu belum pulang, akan kewalahan membuat Ryu Jin dan Yong Jin untuk tidur siang. Anak kecil itu terbiasa minum ASI sebelum tidur siang.

“Aish! Dia belum minum susu.”

Min Young mengambil botol susu dan membuat dua botol susu formula untuk Yong Jin dan Ryu Jin. Kedua anak itu menerimanya, Ryu Jin langsung melahapnya, tapi Yong Jin menolak.

“Aish, Yongi~ya, ayo minum sayang, setelah ini kau tidur, eo?”

Yong Jin masih menolak, mulutnya tidak menutup rapat saat Min Young mengarahkan botol susu ke bibirnya. “Ash! Masakanku.” Min Young meletakkan botol susu di lantai dan kembali ke dapur mengurus masakannya.

“Noona… Yong Jin memakan gambarku… Noona….!” teriak Ryu Jin nyaring, membuat Min Young tersentak.

6a

“Yong Jin~a, jangan sayang…”

Min Young menarik kertas yang ada di mulut Yong Jin, membersihkan sisanya dengan memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut Yong Jin. “Ya.. Ryu~ya, Noona bisa menangis jika kalian seperti ini, Eommamu kapan pulang…”

Min Young hampir putus asa. Ada saja yang diperbuat anak itu hingga membuatnya panik. Jika saja itu adalah anaknya, mungkin ia tidak akan sepanik ini, tapi ini anak Eun Kyo, wanita yang begitu protektif terhadap anaknya, jika terjadi sesuatu pada kedua anaknya, bukan hanya dipecat, dia juga bisa kehilangan nyawanya.

***

Seoul Medical Center, 4 Desember 2012  12.59 KST

Sudah 3 jam Eun Kyo dan Jung Soo duduk di bangku ruang tunggu di depan ruang operasi. 3 jam yang lalu Halmeoni masuk ke ruang operasi. Mereka terdiam, Eun Kyo bersandar dibahu Jung Soo dan lelaki itu merangkulnya. Mereka belum mandi sejak pagi tadi, dan sekarang sudah siang. Tergambar jelas kekalutan di wajah keduanya.

“Oppa, bagaimana dengan Ryu Jin dan Yong Jin? Apa kau sudah menelpon mereka?” tanya Eun Kyo tiba-tiab teringat anak-anaknya.

Ia menarik kepalanya dari bahu Jung Soo dan menoleh menatap Jung Soo, “Apa mereka sudah makan? Mandi? Minum susu? Tidur siang?” tanya Eun Kyo lagi.

“Mau memastikannya? Kau mau kit apulang? Sebentar lagi Eomma dan Appa akan kesini.” Ajak Jung Soo, ia khawatir melihat keadaan Eun Kyo, sejak tadi pagi ia menolak untuk makan dengan alasan tidak lapar. Wajahnya pucat, jika saja sekarang berada dirumah, dia akan memaksa Eun Kyo untuk makan.

“Jung Soo~ya, bagaimana?”

“Belum selesai Eomma, aku belum dapat kabar apapun dari dalam. Sudah 3 jam.” Jawab Jung Soo.

“Ya Tuhan, semoga tidak terjadi apapun.” Ujar Jung Soo Eomma. “Kau sakit sayang?” Jung Soo Eomma menyentuh dahi Eun Kyo.

“Dia tidak makan sejak tadi pagi, badannya panas.” Jawab Jung Soo mendahului. Atas jawabannya itu, Jung Soo menerima sebuat cubitan keras dipinggangnya.

“Mwo?! Dan kau diam saja? aish! Suami macam apa kau?! Eoh?! Sekarang ayo Eomma bawa kau ke tempat makan, ke kantin Eun Kyo~ya.” Ajak mertuanya sambil menarik tangan Eun Kyo.

“Eommoni, aku bersama Jung Soo Oppa saja.” tolak Eun Kyo halus.

“Jika denganku dia pasti tidak mau makan Eomma.” Ujar Jung Soo acuh, kembali ia mendapatkan cubitan gratis dari Eun Kyo. Eun Kyo menunduk.

“Kajja, ayo kita ke kantin.” Jung Soo bangkit dan menarik tangan Eun Kyo mengajaknya ke kantin untuk mengisi perutnya.

Begitu sampai di kantin, jUng Soo menarik sebuah kursi untuk Eun Kyo dan memesan makanan. Awalnya Eun Kyo menolak, tapi karena Jung Soo bersikeras menyuapinya, akhirnya ia mau memakan makanannya.

“Aku telpon Min Young dulu.”

Jung Soo merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel dari dalam saku. “Yeoboseyo? Min Young~a?” ujar Jung Soo.

Eun Kyo berhenti memakan makanannya, matanya kini mengarah pada Jung Soo, menyimak percakapan yang Jung Soo lakukan dengan Min Young melalui telpon.

“Dia bilang apa? Sini biar akuynag bicara.” Eun Kyo merebut paksa ponsel Jung Soo. “Youngi~ya, na~ya… bagaimana dengan Yong Jin? Makannya? Sudah minum susu? Apa mereka sudah tidur siang? Kenapa ribut sekali? Eoh?”

Eun Kyo mendengar keributan dari seberang yang mampir di telinganya. Ryu Jin terbahak sementara Yong Jin seperti biasa mengikuti Hyungnya berteriak jika keduanya sedang asik bermain, terjadilah teriakan saling bersahutan.

“Biarkan aku bicara dengannya. Serahkan pada Ryu Jin.” Pinta Eun Kyo. “Ryu Jin~a, ini Eomma, kau baik-baik saja sayang? Sudah makan? Sudah mandi? Eoh?” cecar Eun Kyo kemudian.

“Eomma… i miss you..” ujar Ryu Jin.

Beberapa hari ini dia sering menyaksikan acara anak di televisi yang mengajarkan berbahasa inggris. Sesekali ia mengucapkannya ketika dia ingat, mulai dari ‘Good Morning’, ‘Goodbye’, ‘I love you’, dan sekarang ‘I miss you’.

“Miss you too, sayang. Kau sudah makan? Kau belum menjawab Eomma.”

“NO! NO! NO! Yong Jin~a, Eomma… Yong Jin menggigit bantal…” adu Ryu Jin tentang apa yang dilakukan Yong Jin.

“Berikan ponselnya pada Noona.”

“Yong Jin~a, itu kotor, andwae! Andwae! No! No!” ujar Ryu Jin masih melarang Yong Jin. “Eomma.. kapan kau pulang?” tanya Ryu Jin manja. Ia menolak memberikan ponselnya pada Min Young. Min Young jug aterlihat sedang sibuk mengambil bantal yang digigiti oleh Yong Jin.

“Sebentar lagi sayang, setelah kau makan, tidur siang, maka setelah itu Eomma akan datang.” jawab Eun Kyo. Dia mengaduk makanannya yang tidak lagi dimakannya. Jung Soo menghela nafas melihat kelakuan Eun Kyo.

“Kita pulang sekarang saja.” Jung Soo mengambil ponselnya dan memutuskan sambungan dengan Min Young.

“Shireo, aku masih ingin memastikan keadaan Halmeoni.” Tolak Eun Kyo dengan menepis tangan Jung Soo yang ingin menariknya.

Jung Soo berkacak pinggang berdiri disamping Eun Kyo, “Sebaiknya kita menyusul Eomma saja.” Eun Kyo bangkit dan mengajak Jung Soo kembali ke dalam.

^^^

“Sudah keluar?”

Tanya Eun Kyo sambil berlari kearah mertuanya yang sedang mengikuti brankar dimana Halmeoni terbaring diatasnya dengan beberapa selang ditubuhnya.

“Ne, akan dibawa ke ICU lagi, setelah membaik, baru akan dibawa ke ruang inap.” Jawab Jung Soo Eomma.

Jung Soo dan Eun Kyo mengikuti ke ruangan kemana Halmeoni dibawa.

***

 

Jung Soo’s House, 4 Desember 18.19 KST

Min Young baru saja ingin memejamkan matanya saat mendengar suara gelak tawa dari kedua saudara yang hari ini ditinggalkan kedua orang tuanya. Setelah mendapat telpon dari Eun Kyo, kedua saudara itu lumayan bisa dikembalikan. Mereka sudah makan, juga sudah tidur siang. Tapi saat Min Young ingin istirahat, mereka kembali membuat keributan. Saat mereka tidur, Min Young sibuk merapikan rumah dan mengerjakan pekerjaannya. Badannya sudah seperti dipukul-pukul, tapi ketika ingin beristirahat, para setan kecil itu kembali berulah.

“Yong Jin~a, Hyung sedang belajar, kau jangan mengganggu.” Ujar Ryu Jin dengan suara beratnya. Min Young menoleh. Yong  Jin tengkurap disamping Ryu Jin yang sedang sibuk dengan buku cerita bergambarnya. Sedangkan sikecil sibuk meraih apapun yang ada di dekatnya.

8d

“Sini, aku ceritakan saja.”

Ryu Jin akhirnya menurunkan buku yang sejak tadi ai buka-buka dan memperlihatkannya pada Yog Jin. Bayi kecil yang hari ini tepat berumur satu tahun itu awalnya tidak tertarik, dia hanya tertarik dengan gumpalan kertas yang sejak tadi ia mainkan, tapi saat melihat Ryu Jin membuka-buka buku tersebut, akhirnya dia mulai tertarik dan melihat kearah buku.

8b

8c

8a

“Induk ayam akhirnya menemukan anak-anaknya yang disekap oleh musang. Cha… sudah selesai.” Ujar Ryu Jin mengakhirinya.

“Noona, aku sudah makan, aku sudah tidur, tapi kenapa Eomma belum juga datang?” teriak Ryu Jin mulai gerah.

Sudah banyak hal yang ia lakukan setelah bangun dari tidur siangnya. Bermain dengan Buzz, dengan pororonya, juga menggambar hingga membaca ulang ceritanya. Ryu Jin mulai tidak nyaman karena seharian ini belum melihat Eommanya. Hingga menjelang malam dan ia sudah mandi, belum juga Eomma menampakkan batang hidungnya.

Min Young menghampiri Yong Jin yang sudah lama tengkurap, anak itu mulai merangkak kemana-mana dan mengambil beberapa barang yang dihampirinya. Min Young terus mengawasinya namun tetap membiarkan apapun yang dilakukan Yong Jin asal jangan memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya lagi.

“Kau anak yang aktif, Eommamu saja yang terlalu protektif Yongi~ya.”

Satu ciuman mendarat di pipi bakpao milik Yong Jin. Anak itu tersenyum dan membenturkan dahinya ke dahi Min Young.

“Sudah saat kau minum susu, eoh? Kau pasti haus, benar kan?”

Min Young mengajak Yong Jin ke dapur dan menemaninya membuatkan susu untuknya. Mata Yong Jin terus mengamati apa yang dilakukan Min Young dengan tangan kanannya, karena tangan kiri Min Young menahan bobot tubuh Yong Jin dalam gendongannya.

“Mamamamamamama.” Ujar Yong Jin.

“Nde, mamam.” Ujar Min Young menanggapi.

Setelah selesai membuatkan susu untuk Yong Jin, bel di depan rumah berbunyi. “Ryu Jin~a… bisa bukakan pintu?” pinta Min Young.

“Ne, Noona…” jawab Ryu Jin.

“Eomma…!”

Pekikan Ryu Jin sangat nyaring hingga mampu membuat Yong Jin menoleh. Terdengar keributan dari luar, Min Young bisa pastikan Ryu Jin sekarang sedang bermanja dengan Eommanya. Ia membawa Yong Jin keluar.

“Onnie, kau sudah pulang? Bagaimana keadaan Nyonya Besar?” tanya Min Young.

“Dia baik-baik saja, hanya saja belum sadar.” Jawab Jung Soo.

Eun Kyo langsung menurunkan Ryu Jin dari gendongannya dan langsung mengambil Yong Jin dari Min Young.

“Aigoo… Yongi~ya, Eomma bogoshippeo…” diciuminya pipi Yong Jin beberapa kali, hingga membuat anak itu gelak tertawa.

“Eomma..” ujarnya.

Eun Kyo berhenti seketika dari kegiatannya mencium Yong Jin. Semuanya saling berpandangan, “Mwo? Eomma? Eomma? Kau sudah bisa mengucapkan Eomma? Eoh?” tanya Eun Kyo dengan anda sangat terkejut.

“Eommamamamamamamam.” Oceh Yong Jin lagi terlihat tidak peduli. Ia memasukkan botol susu ke dalam mulutnya dan meminumnya.

“Aish! Coba ulangi lagi sayang…” ujar Eun Kyo memaksa dengan mengambil botol susu dari tangannya.

Yong Jin merengek meminta botol susunya. “Sini, minum bersama Eomma saja.” ujar Eun Kyo melengos pergi tanpa memperdulikan Ryu Jin yang cemberut melihat kemesraannya bersama adiknya.

“Appa…” Ryu Jin juga merengek minta digendong, lalu Jung Soo mengangkatnya.

“Appa, tadi pagi, Yong Jin bisa berjalan sendiri.” adu Ryu Jin lagi, tapi nadanya terdengar lemah dan tidak bersemangat. Padahal tadinya dalam pikirannya ia akan menceritakan apa yang dilakukan mereka berdua tanpa kedua orang tuanya dengan antusias. Mulai dari Yong Jin yang bisa berjalan beberapa langkah hingga kegiatan mereka membaca cerita.

“Gurae? Jinjja? Whooaaaa kau Hyung yang hebat bisa mengajari adikmu.” Ryu Jin menjentik-jentikkan jarinya dengan tidak semangat.

“Appa, dia juga terjatuh.”

“Nde?”

“Tapi tidak apa-apa…” ralat Ryu Jin.

“Terduduk setelah berjala beberapa langkah.” Min Young menambahkan. Ia tidak ingin mengambil resiko dimarahi jika cerita itu hanya sepotong-sepotong saja tanpa menjelaskan yang sebenarnya.

“Lalu?”

“Lalu dia memakan gambarku..” adu Ryu Jin lagi.

“Whoaaaa kau menggambar apa?” Jung Soo mengedipkan matanya pada Min Young tanda bahwa ia baik-baik saja dan Ryu Jin sekarang ia ambil alih. Mereka berdua berjalan kedalam kamar.

“Appa, apa Eomma tidak menyayangiku?” bisik Ryu Jin di telinga Jung Soo.

“Mwo? Kenapa bertanya seperti itu?” tanya Jung Soo pelan.

“Apa yang kalian bicarakan?” celetuk Eun Kyo yang sedang berbaring diatas tempat tidur bersama Yong Jin. Ia menyusui Yong Jin.

“Ani, tidak ada apa-apa.” Balas Ryu Jin cuek.

Eun Kyo mengalihkan wajahnya pada Jung Soo, lalu Jung Soo menjawabyan dengan sebuah kata dari mulutnya tanpa suara. Me-ra-juk. Itulah kata yang keluar dari mulut Jung Soo yang bisa dimengerti dengan cepat oleh Eun Kyo. mereka tersenyum saling berpandangan.

“Ryu~ya.. sayang, apa yang kau lakukan hari ini? Bisa ceritakan pada Eomma?” taanya Eun Kyo memancing Ryu Jin. Tapi anak itu tidak menjawab.

Jung Soo membawa Ryu Jin ke tempat tidur tapi anak itu menolak. Menolak untuk diturunkan dari gendongan Appanya. “Sekarang sudah saatnya kau tidur, dsudah makan kan? Eoh? Atau Noona belum memberimu makan? Tunggu disini, biar Appa ambilka makananmu.” Jung Soo mencoba menurunkan Ryu Jin tapi anak kecil itu bersikeras untuk tetap di dalam gendongan Jung Soo.

“Sini sama Eomma sayang.” Eun Kyo menepuk tempat disebelahnya. Ryu Jin tidak menjawab, bahkan menolehpun dia enggan.

“Ah, Ryu Jin~a, kau tau? Hari ini Yong Jin ulang tahun.” Ujar Eun Kyo.

Mendengar kata ‘ulang tahun’ Ryu Jinpun menoleh. Dalam benaknya, saat ulang tahun akan ada banyak hadiah seperti beberapa bulan yang lalu saat ia ulang tahun.

“Mwo? Ulang tahun?” Ryu Jin akhirnya menoleh.

“Ne, ulang tahun.” Ujar Eun Kyo.

Sama seperti Ryu Jin, Jung Soo juga mengalami keterkejutan yang sama. Ia membulatkan matanya pada Eun Kyo. jung Soo benar-benar lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahun anak keduanya.

“Sini duduk bersama Eomma.”

Ryu Jin akhirnya mau turun dari gendongan Jung Soo dan berbaring disamping Eun Kyo. “Tapi kenapa tidak ada pesta Eomma? Tidak ada hadiah? Aku kapan ulang tahun?” cecar Ryu Jin dengan pertanyaan.

“Eum… kapan kau mau? Beberapa hari ini mungkin tidak bisa, bagaimana kalau hari minggu? Kita buatkan Yong Jin kue ulang tahun? Eoh?” tanya Eun Kyo.

“OK! OK!” teriak Ryu Jin nyaring sambil mengepalkan tanganya sambil tertawa. Hal itu mampu membuat Yong Jin melepaskan mulutnya dari payudara Eun Kyo dan berhenti menyusu beberapa detik, memandangi Ryu Jin dengan bingung, namun setelahnya ia tersenyum memamerkan gigi-gigi kecilnya dan kembali dengan kegiatannya.

“Eomma, kenapa Yong Jin menyusu? Kenapa aku tidak?” tanya Ryu Jin lagi.

Jung Soo mengambil tempat disamping Ryu Jin, memeluk anak itu setelahmengganti bajunya dengan piyama tidur. “Karena dia masih kecil, ayo tidur, besok kita kerumah sakit menjenguk Halmeoni.” Ujar Jung Soo.

“Eomma, Eomma ke rumah sakit, kanap tidak membawa pulang adik kecil?” tanya Ryu Jin lagi.

“Adik kecil?” tanya Eun Kyo bingung.

“Dulu saat Eomma ke  rumah sakit, pulang membawa Yong Jin.” Jawab Ryu Jin polos.

Jung Soo dan Eun Kyo sama-sama terdiam, tak mampu menjawab pertanyaan Ryu Jin ynag polos dan menjebak. Mereka salin berpandangan, lalu Jung Soo menarik Ryu Jin dan memeluknya denga erat hingga membuat anak itu memberontak.

“Appa! Appo!” teriak Ryu Jin.

“Akan aku lepaskan jik akau berhenti bertanya dan tidur.” Ujar Jung Soo

“Arra, arra. Aku, Appa….!” protes Ryu Jin karena Jung Soo kini mengunci semua pergerakan Ryu Jin. Yong Jin yang mendengar keributan segera kembali melepaskan mulutnya. Ia berdiri dengan bertumpu ditubuh Eun Kyo. Tertawa melihat apa yang dilakukan Jung Soo dan Ryu Jin.

Ryu Jin mulai membenarkan tubuhnya disamping Jung Soo, mengangkat kakinya dan meletakkannya di pinggang Jung Soo yang berbaring miring menghadapnya.

“Aigoo…! rakus sekali, tidak diberi makan Noonamu Yong Jin~a?” ujar Jung Soo pada Yong Jin yang masih betah menghisap susunya.

“Ck! Jangan diganggu Oppa.” Ujar Eun Kyo. ia meniup wajah Yong Jin yang sudah mulai mengantuk.

“Appa, kalau Yong Jin ulang tahun aku juga mau hadiah.” Ujar Ryu Jin.

“Ne.”

“Robot baru?”

“Eum.”

“Puzzle baru?”

“Eum.”

“Buku baru? Sepeda?”

“Yak! Yang ulang tahun itu adikmu kenapa kau yang memborong hadiahnya?” teriak Jung Soo.

“Hahahahahahahaha.” Tawa Ryu Jin nyaring membahana, membuat Yong Jin ikut tersenyum tanpa suara.

“Sudah ayo tidur, Eomma sudah sakit kepala.” Ujar Eun Kyo.

“Sssssttt, Eommamu sedang sakit, jangan ribut, ayo tidur.” Ujar Jung Soo.

“Eomma..”

Saat sedang hening, sebuah suara membuat mereka tersentak. Yong Jin sedang belajar berbicara.

“Mwo? Mworago? Yong Jin~a? Apa yang kau katakan? Coba katakan lagi?!” Eun Kyo terlihat antusias menantikan ulangan kata yang diucapkan oleh Yong Jin barusan. Diam beberapa detik tak kunjung Yong Jin mengulang, dia malah asik kembali mengisi perutnya dengan ASI. Saat orang lain ribut, ia melepaskan mulutnya dan berbaring sambil memegangi hidungnya lalu tertawa. Seolah mengejek yang lain.

9

***

Jung Soo’s House, 5 Desember 07.03 KST.

Di kediaman Jung Soo saat pagi hari terlihat legang. Jung Soo memutuskan untuk kembali mengambil ijin hari ini. Dia ingin membawa istri dan anak-anaknya ke rumah sakit untuk menjenguk Halmeoni. Subuh tadi ia menerima pesan kalau Halmeoni sudah dipindahkan ke ruang inap, itu artinya kondisi Halmeoni sudah melewati masa kritisnya. Beliau masih belum sadarkan diri tapi setidaknya sudah bisa membuat anggota keluarga yang lain lebih tenang.

“Appa, aku tidak mau menonton itu…” rengek Ryu Jin yang duduk antara kedua kaki Jung Soo. begitu juga dengan Yong Jin ynag duduk disampingnya. “Ani, NO! Ini punyaku, Yong Jin~a..” Ryu Jin menyembunyikan mainan yang ada di tangannya ketika si kecil Yong Jin terlihat memandangi benda itu dengan pandangan yang sangat menginginkannya.

2a

Yong Jin masih memperhatikan mainan yang ada di tangan Ryu Jin dengan seksama, ia ingin meraihnya, tapi tangannya dipegang erat oleh sang kakak, hingga akhirnya dia hanya bisa pasrah dengan memandangi Ryu Jin.

2b

“Ryu~ya, tidak boleh begitu, harus berbagi dengan adikmu…” ujar Jung Soo sambil mengarahkan remote tv mengganti channel news yang tadi diganti Ryu Jin dengan acara kartun. Anak itu mendongak memandangi Jung Soo.

2c

“Appa.. aku mau nonton kartun…” rengek Ryu Jin pelan.

“Appa… biarkan dia menonton apa yang diinginkannya.” Eun Kyo menyela.

“Aku ketinggalan beberapa berita hangat akhir-akhir ini Yeobo…”

“Tapi kan kau bisa melihatnya di tempat lain? Internet mungkin?” ujar Eun Kyo lagi. “Sebentar lagi kita berangkat, tolong mandikan Ryu Jin Oppa.”

“Shireo, aku tidak mau, NO! Dingin.” Tolak Ryu Jin.

“Kalau begitu kau tinggal saja dirumah sendiri.” ujar Eun Kyo.

“EOMMA!” teriak Ryu Jin marah.

“Kalau kau tidak mau mandi ya sudah tinggal saja.” ujar Eun Kyo.

“Ryu Jin~a, Eommamu sedang sakit, jadi jangan membantahnya.” Bisik Jung Soo di dekat telinga Ryu Jin. “Kau sudah minum obatmu, Yeobo?”

Tak ada jawaban dari Eun Kyo, artinay dia belum meminum obat yang dia beli sebelum pulang dari rumah sakit. Eun Kyo nampak sibuk dengan kegiatan rutin paginya, mengerjakan beberapa pekerjaan rumah.

“Aku mau dimandikan Eomma saja…” ujar Ryu Jin manja.

“Appa saja. Eomma memandikan Yong Jin.”

Eun Kyo mengambil Yong Jin dan membawanya ke kamar mandi. Ryu Jin cemberut sambil memandangi Appanya, “Bersama Appa juga tidak buruk kan? Eoh? Kajja, kita mandi bersama saja.” ajak Jung Soo.

“Eomma tidak sayang.” Rajuk Ryu Jin.

Setelah bersiap, mereka akhirnya pergi ke rumah sakit. Kedua bersaudara itu nampak senang dibawa berjalan keluar rumah. Yong Jin dan Ryu Jin duduk di jok belakang.

4a

Jung Soo mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang karena kini didalamnya ia membawa dua orang anak. Eun Kyo menoleh ke belakang setiap 3 menit sekali memeriksa keadaan Yong Jin dan Ryu Jin.

“Eomma, Yong Jin menggigit botol minumanku…” Ryu Jin kembali mengadu.

“Sayang, jangan dimakan…” Yong Jin menoleh pada Eun Kyo dan melepaskan gigitannya lalu tertawa. “Kau haus? Sini, sama Eomma, minum susu.” Eun Kyo meraih tubuh Yong Jin yang semakin hari semakin besar saja, hingga rasanya dia sudah mulai kewalahan mengangkat anak itu. Akhirnya Yong Jin mengganti botol minuman itu dengan minuman kesukaannya. ASI.

4b

4c

***

Seoul Medical Center, 5 Desember 15.13 KST.

Sudah beberapa jam mereka semua berkumpul di ruangan tempat Halmeoni menginap. Yong Jin dan Ryu Jin bahkan mengangkut beberapa mainan dari rumahnay untuk mengusir bosan. Kedua bersaudara itu terus bermain sejak tadi tanpa menghiraukan kecemasan para orang tua yang menunggu Halmeoni siuman.

“Halmeoni… cepatlah sadar..”

Eun Kyo mendekat ke tempat tidur orang tua yang sedang terbaring lemah tak sadarkan diri. Ia memegangi tangan kanan wanita tua itu yang terhubung dengan selang infus.

“Halmeoni, jika aku menjanjikan seorang cicit lagi untukmu apa kau akan sadar? Eoh?” ujar Eun Kyo lagi.

“Yeobo, kau jangan sembarangan, dua saja sudah kewalahan.” Protes Jung Soo yang duduk bersama Appanya.

“Ani, aku tidak masalah.” Ujar Appanya menyela.

“Appa!” teriak Jung Soo.

Sementara di sudut ruangan, Ryu Jin dan Yong Jin terlihat sedang bermasin dengan robot yang dibawanya dari rumah. Ryu Jin sedang memamerkan sebuah robot miliknya pada Yong Jin. Selalu saja, ia senang memamerkan apapun yang dia punya pada Yong Jin.

“Ireoke, ireoke..”

Ryu Jin nampak memainkan robot itu yang diperhatikan oleh Yong Jin dengan seksama.

3a

3b

3c

“Cha… sudah selesai.” Ia mengarahkan robot itu pada Yong Jin. Adik kecilnya bersorak riang saat Hyungnya memainkan robot yang sejak tadi sangat ingin ia pegang.

“Kau tidak boleh mengambilnya.” Ryu Jin menunjukkan wajah marahnya saat Yong Jin ingin mengambil mainan itu. tapi lucunya, Yong Jin menanggapinya seolah itu adalah sebuah lelucon untuk membuatnya tertawa. Dan dia memang tertawa saat Hyungnya tidak mau berbagi mainan dengannya.

3d

3e

“Tidak boleh begitu Ryu Jin~a, sebentar lagi kita pulang.” Ujar Jung Soo.

Merasa Halmeoni tak ada tanda-tanda siuman, akhirnya saat sore tiba, mereka berempat pulang kerumah dan beristirahat. Eun Kyo masih sakit dan sedikit kurang fit, ia tau, tapi wanita itu menyangkalnya.

***

Jung Soo’s House, 9 Desember 17.29 KST

Minggu sore di dapur rumah Jung Soo terdengar sibuk dengan kegiatan orang-orang yang ada disana. Ada Eun Kyo dan juga Min Young yang sedang memasak, juga Ryu Jin yang nampak senang me,buat sesuatu dalammangkuk besar. Mereka mempersiapkan sesuatu untuk ulang tahun Yong Jin seperti yang dijanjikan oleh Eun Kyo beberapa hari yang lalu.

Semalam Halmeoni sudah siuman dan keadaannya sekarang sudah mulai membaik. Kemarin juga, Eun Kyo sudah tidak lagi merasa demam dan pusing. Hingga hari ini ia bisa menunaikan janjinya pada Ryu Jin juga Yong Jin yang berulang tahun 5 hari yang lalu.

“Eomma, ini diapakan lagi?” tanya Ryu Jin.

“Terus aduk, ireoke, ireoke.” Eun Kyo menghampiri Ryu Jin dan membantunya mengaduk adonan kue yang sejak tadi ia lakukan. Kini tangan kecilnya sudah mulai pegal.

Ryu Jin mengibaskan tangannya, “Eomma, samapai kapan aku harus mengaduk?” tanya Ryu Jin terlihat sudah lelah.

“Sini Eomma lihat. Ah… ini sudah.” Eun Kyo mengambil alih pekerjaan Ryu Jin dan menuangkan adonan kue itu ke dalam sebuah cetakan kue, lalu memanggangnya di oven.

Min Young nampak sibuk dengan masakannya. Membuat Bulgogi dan kepiting rebus lalu dibumbui pasta dan Ramyeon hasil karyanya sendiri. sedang Eun Kyo, dia membuat sup rumput laut dan bubur rumput laut untuk Yong Jin. Mereka pesta besar hari ini.

Saat orang-orang di dapur hampir menyelesaikan pekerjaannya, dari arah luar terdengar ribut. Ryu Jin yang mendengarnya berlari kearahluar, lalu berteriak.

“Harabeoji…” teriaknya nyaring.

Eun Kyo dan Min Young saling berpandangan. Tamu-tamu mereka sudah mulai berdatangan. Eun Kyo melirik jam dinding, sudah jam 7 malam tanpa terasa. Ia menghela nafas.

“Biar aku selesaikan, kau temui mereka, Onnie, anakmu belum ada yang mandi satupun.” Ujar Min Young.

“Ah, benar juga, sebaiknya aku memandikan mereka dulu.”

Eun Kyo bergegas keluar. Lalu mengangkat Yong Jin. “Ayo kita mandi dulu sayang, Hyung… ayo mandi bersama.” Ajak Eun Kyo. “Mereka belum mandi Abeoji..” ujar Eun Kyo menyapa mertuanya. Mertua lelakinya itu nampak duduk bersama Jung Soo diatas kursi. Sedang mertua perempuannya kini berjalan ke dapur.

“Apa yang kau buat Eun Kyo~ya?” teriaknya.

“Aku membuat kue ulang tahun, Eomoni..” sahut Eun Kyo sambil membawa Yong Jin dan Ryu Jin ke dalam kamar mandi.

Satu jam berlalu. Akhirnya mereka siap memulia pesta. Makanan yang tadi disiapkan kini sudah di tata rapi diatas meja makan. Acara pembukaan ulang tahun Yong Jin dilakukan di lantai depan televisi. Semua duduk mengelilingi meja kecil yang masih kosong. Mata Yong Jin melihat ke sekelilingnya dengan bingung, menatap satu persatu orang yang mengelilinginya. Dari semua orang berkumpul, yang paling terlihat antusias adalah Ryu Jin.

“Halmeoni, aku yang membuat kuenya.” Ujar Ryu Jin.

“Whoa, jinjja? Uri Ryu Jin sangat pintar.” Puji Halmeoninya.

“Aku dapat hadiah juga kan Appa?” tanya Ryu Jin pada Jung Soo.

“Ne.” Jawab Jung Soo.

“Mana?” ia mencari-cari kado yang sejak tadi tidak ia lihat satupun.

“Tara… ini kuenya.”

yongi

Min Young membawa kue yang sejak tadi ia siapkan di dapur dengan susah payah. Eun Kyo tersenyum, “Kau yang menghiasnya? Lucu sekali, mana lilinya Oppa?” tanya Eun Kyo. jung Soo mengambil sebatang lilin di dekat televisi dan menyerahkannya pada Eun Kyo.

Lilin itu ditancapkan diatas kue, lalu semuanya menyanyi setelah Eun Kyo menyalakan lilin tersebut. Yong Jin nampak semakin bingung, tapi ketika koor suara nyanyian semakin nyaring, ia ikut tertawa dan menepuk tangannya.

Saengil chukka hamnida

Saengil chukka hamnida

Saranghaneun Uri Yong Jin

Saengil chukka hamnida

“Eomma, english.” Pinta Ryu Jin

Happy birtday to you

Happy birtday to you

Happy birtday to you

Happy birtday to you

Happy birtday Yong Jin…

“Yeay…. ayo tiup sayang.” Eun Kyo menyuruh Yong Jin untuk meniup lilin, tapi anak lecil itu tidak mengerti, dia menatap wajah Eommanya dengan bingung. “Kalau begitu Ryu Jin saja.” ujar Eun Kyo. sejak tadi padahal Ryu Jin ingin meniupnya, tapi ia tidak berani, stelah Eun Kyo mengijinkannya, dengan sekali tiup keras akhirnya lilin itu padam.

“Ya….”

Semuanya bersorak. Semunya tertawa. Semuanya gembira. Semuanya merasa bahagia. Yong Jin, anak itu sekarang genap berumur satu tahun. Makanan yang tersedia hampir ludes tak bersisa, pesta ulang tahun Yong Jin berakhir dengan meriah. Banyak hadiah untuknya, banyak cinta yang ia dapat.

“Appa, hadiahku mana?” tagih Ryu Jin.

“Kau ini, ingat saja. ini untukmu.”

Ryu Jin mengambil bungkusan hadiah dari tangan Jung Soo dengan cepat. Merobek bungkusnya dan langsung memeriksa apa isi di dalamnya. Saat melihat isinya, dia tersenyum senang.

“Hahahahahahahahahaha.” Ia tertawa nyaring setlah mendapatkan sekotak mainan dari dalam hadiah yang diberikan Jung Soo. yong Jin yang merangkak mendekatinay pun ikut tertawa, tanpa tau apa sebab Hyungnya tertawa gembira.

10

“Hari ini Minho Appamu juga ulang tahun.” Ujar Eun Kyo.

“Ne? Jinjja?” tanya Ryu Jin tidak terlalu menghiraukan, ia sibuk mengeluarkan bagian-bagian robot mainannya dan mencoba merakitnya.

“Telpon Appamu dan berikan selamat.”

Eun Kyo mengambl ponsel dan menghubungi Minho. Hari ini hari minggu, tidak mungkin mereka masih berkerja pada hari ini, kecuali mungkin mereka sedang berbulan madu. Tepat sekali, sekalian bekerja, sekalian berbulan madu bersama, tepat di hari ulang tahun.

“Minho Appa.. saengil chukkae.” Ujar Ryu Jin ketika Eun Kyo mengarahkan ponsel ke telinga Ryu Jin.

“Gomawo Ryu Jin~a.”

“Ne.” Jawab Ryu Jin acuh. Eun Kyo mengambil kembali ponselnnya.

“Dia sedang sibuk membuka kado. Kami merayakan ulang tahun Yong Jin hari ini.” Ujar Eun Kyo.

“Wah, pantas saja. kalian tidak menunggu kami.” Ujar Minho.

“Kau tidak bisa ditunggu. Ah, bilang pada Rae Na, beberapa hari yang lalu Halmeoni sakit, di rumah sakit, tapi sekarang sudah tidak apa-apa lagi.” ujar Eun Kyo.

“Ne, nanti aku katakan padanya, dia sedang mandi. Kami baru saja turun dari gunung Fujiyama.” Ujar Minho.

“Aigoo.. sepertinya ada yang berbulan madu.”

‘”Hehehehehe.” Kekeh Minho.

“Ah, keundae, baiklah. Saengil chukkae Minho~ya. Aku harap kembalinya kau kesini, Rae Na sudah berbadan dua.” Ujar Eun Kyo.

“Semoga saja, Noona.”

“Aku tutup telponnya, ini sudah malam, kedua anak itu harus tidur.” Ujar Eun Kyo mengakhiri pembicaraannya. Setelah menutup telon, ia memandangi Ryu Jin dan Yong Jin yang sibuk membuka hadiah yang mereka dapat dari oarang-orang yang menyayangi mereka. Rata-rata hadiahnya adalah mainan anak-anak.

“Sudah cukup, sekarang saat kalian tidur, hap!” Eun Kyo mengangkat Yong Jin. “Oppa, bawa Hyung kedalam kamar.” Eun Kyo membawa Yong Jin masuk ke dalam kamar dan menyuruh Jung Soo membawa Ryu Jin juga.

“Eomoni, maaf, aku menidurkan mereka dulu.” Ujar Eun Kyo.

“Ani sayang, kami pulang saja, ini sudah malam.”

“Kalian tidak menginap? Kamar Rae Na kosong.” Ujar Eun Kyo.

“Ani, kami pulang saja, kajja, Yeobo.”

Sebelum pulang mereka mencium cucu-cucu kesayangannya terlebih dahulu, setelah itu berpamitan pulang.

Eun Kyo menaruh Yong Jin diatas tempat tidurnya dan merebahkan tubuhnya disamping Yong Jin. Begitu juga dengan Ryu Jin dan Jung Soo. empat hari terakhir mereka tidur bersama dalam satu ranjang.

“Sekarang tidur.” Eun Kyo mencoba menutup mata Yong Jin agar tidak terus menatapnya dan tersenyum. Sepertinay anak itu masih belum mau tidur. ia malah duduk sekarang.

“Kau belum mau tidur? aku juga Yong Jin~a… aku terlalu senang dapathadiah, kapan aku bisa bermain dengan mainan baruku, Appa?” oceh Ryu Jin bertanya pada Jung Soo. tidak jelas sekarang dia mengajak bicara siapa.

Yong Jin mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh Eun Kyo dan mulai mengigit-gigit dada Eun Kyo.Ia jug amenyelipkan tangan kecilnya disela-sela kacing baju Eun Kyo.

“Kau haus?” Eun Kyo merebahkan Yong Jin disampingnya dan membuka 3 buah kacing bajunya. Yong Jin terlihat lahap menghisap.

“Eomma, boleh aku mencicipinya? Eoh?” pinta Ryu Jin. Ia kini bertumpu di tubuh Eun Kyo yang sedang menyusui Yong Jin. Tidak ada jawaban dari Eun Kyo.

“Yong Jin~a, apa itu enak? Eo? Sepertinya enak.” Ryu Jin menelan ludahnya. Eun Kyo melirik, tapi tidak menjawab.

“Sedikit saja boleh?” tanya Ryu Jin lagi menatap Eun Kyo.

Setelah beberapa detik saling bertatapan akhirnya Eun Kyo melepaskan mulut Yong Jin dari dadanya. “Arasseo, sedikit saja.” Eun Kyo berbalik menghadap Ryu Jin.

Dengan perlahan Ryu Jin mendekati Eun Kyo dan mulai menghisap sepertinya yang dilakukan oleh Yong Jin dengan kuat. Tapi hanya dengan sekali hisapan kuat saja, ia sudah berheti dan melepaskan mulutnya.

Eun Kyo bingung, “Wae?” tanya Eun Kyo.

‘CUIH! Yak! Itu tidak enak!” Ryu Jin meludahkan air susu yang ia telah sedikit ke baju Jung Soo yang berbaring disampingnya. Membuat Jung Soo sontak terkejut.

“Yak! Ryu Jin~a! Kenapa meludah pada Appa?” tanya Jnug Soo.

“Itu tidak enak, kenapa Yong Jin suka sekali?” ia mengelap lidahnay dengan tangan beberapa kali, lalu dengan baju Jung Soo untuk menghilangkan rasa aneh di lidahnya.

“Aish! Yeobo, kenapa memberikannya?”

“Dia sendiri yang minta, kau juga sering menggodanya.” Ujar Eun Kyo tertawa. Yong Jin berdiri dan mencari-cari payudara Eun Kyo untuk menyusu. Setelah mendapatkannya, ia menungging sambil menyusu. Tidak peduli dengan posisinya sekarang, tetap tidak mengurangi rasa nikmatnya menyusu.

“Kenapa rasanya tidak Eomma? Kenapa Yong Jin sangat suka?” tanya Ryu Jin penasaran.

“Itu karena…” Eun Kyo kebingungan memberikan jawaban. “Uri Ryu Jinie.. aegy anhijana…” jawab Eun Kyo. “Uri Ryu Jin…” ia kembali berpikir. “Namja~ya namja…” lanjut Eun Kyo.

“Hanya adik bayi yang suka menyusu dari Eomma, kau kan sudah besar seperti Appa, makanya tidak minum seperti Yong Jin.” Tambah Jung Soo.

“Sekarang kalian tidur.”

Setelah mengganti bajunya dan Yong Jin juga sudah selesai dengan acara makan malamnya seperti biasa bersama Eun Kyo, Jung Soo emngajak Ryu Jin tidur, dan berhenti mengoceh.

“Hyun, ayo tidur, jika kau tidak tidur, adikmu tidak akan tidur.” ujar Jung Soo.

“Hyung…”

Sebuah suara memanggil Ryu Jin. Semuanya terdiam, tak terkecuali Yong Jin, yang baru sajamengeluarkan kata tersebut. Semua mata mengarah padanya dengan penuh keterkejutan.

“Ya! Dia memanggil Hyung!” ujar Jung Soo terkejut sekaligus senang.

“Ne, di juga belajar berjalan Appa.” Cerita Ryu Jin. “Memanggil Eomma juga.” Ujar Ryu Jin lagi.

“Yong Jin~a, sayang, katakan Appa, AP-PA! Palli, palli katakan, AP-PA.” Pinta Jung Soo. Hanya dia yang belum disebut Yong Jin.

Tapi seperti malam sebelumnya, Yong Jin cuek setelah menimbulkan kehebohan serupa seperti ia mengucapkan kata ‘Eomma’.

“Ya… Yong Jin~a, tidak boleh tidur sebelum kaumenyebut Appa, ayo sayang. Katakan Appa.” Jung Soo mulai frustasi, Ryu Jin dan Eun Kyo tertawa mengejek Jung Soo.

“Dia memanggil Eomma, juga memanggilku Hyung, tapi Appa tidak. Tidak sayang.” Ejek Ryu Jin.

“Aish! Mana bisa begitu… ayo sayang katakan Appa, jangan tidur. yak!”

“Ani, Yong Jin~a, Hyung saja.” protes Ryu Jin.

“Aish! Shikkereo!” ujar Eun Kyo nyaring. Jung Soo dan Ryu Jin yang berdebat langsung terdiam. “Dia sedang tidur, kalian juga tidur.” ujar Eun Kyo.

Ia mulai melantunkan sebuah nyanyian untuk mengantarkan Yong Jin ke alam mimpi. Dengan lembut dan pelan sambil menepuk pantat besar milik ong Jin.

Eommaneun Yongie neomu saranghae

Eommaneun Yongie neomu saranghae

Saranghae, saranghae, Yongie~ya saranghae

Eommaneun Yong saranghae

“Yong Jin~a, cepatlah besar sayang. Eomma menyayangimu. Neomu neomu saranghae.” Ujar Eun Kyo setelah Yong Jin dan juga Ryu Jin tertidur. ia menoleh pada Ryu Jin di sisi kirinya.

“Ryu Jin~a, jadilah anak yang baik. Eomma juga mencintaimu.” Ia mengecup pipi Ryu Jin penuh cinta.

“Yeobo, Yong Jin sudah, Ryu Jin sudah. Sekarang gilirnaku.” Ujar Jung Soo sambil menatap Eun Kyo dengan tatapan menggoda.

“Mwo?” Eun Kyo memulatkan matanya.

“Slurp.” Jung Soo menggoda Eun Kyo dengan menjilat bibir atasnya lalu mengigit bibir bawahnya. Terlihat lucu namun menjijikkan bagi Eun Kyo.

“AISH!” desis Eun Kyo kesal.

FIN

Note : akhirnya selesai. Uri Yong Jin, ulang tahun 4 desember kemaren… udah banyak yang bikinin di aFF, tapi aku baru kear sekarang. Mianhae Yong Jin~a… FF ini, mungkin setengah nyata. Setengah nyata? Apaan deh, hahahahahahahaha. Jadi emang bener Nenek aku masuk rumah sakit dan di operasi sehari sebelum Yong Jin ulang tahun. Itu sebabnya aku tidak bisa membuat sesuatu untuk Yong Jin. Selain itu juga fokusku pecah dengan pekerjaan juga keadaan tubuhku yang tidak fit. Membuat ideku kabur. Tapi sekarang sudah selesai…

Park Yong Jin, anakku, lahir 4 Desember, dipenghujung tahun. Cepatlah besar nak, aku selalu memantau perkembanganmu. Saranghaeyo. Aduh, aku tiba-tiba kehilangan kata-kata *nangis* terlalu menghayati dan aduh, jadi bingung sendiri. pokoknya tetap berlaku, aku bisa kehilangan Jung Soo, tapi tidak untuk anak-anakku. Meski kehilangan jung Soo juga membuatku kaya orang gila. Lagi dengerin lagu western sky neh makanya jadi mellow begini. Tadinay mau bikin minssing scenenya, tapi aduh, aku lagi mellow, dan ini udah sangat panjang, udah 25 halaman… klo ditambah lagi bisa ga selesai-selesai aku nulisnya…

Pokonya selamat ulang tahun uri Yong Jin, semg asehat selalu, Eommaneun Neomu saranghae…

Ada yang penasaran dengan lagu Yong Jin Eomma saat menidurkannya? aku kasih linknya buat yang mau mendownload… silakan dengarkan suara emas malaikat saya disini atau bisa juga di akun 4shared aku… silakan klik disini, disarankan untuk memakai headset atau pengeras suara jika ingin mendengarkannya. ini kado saya untuk uri yongie…

53 responses »

  1. Huwaaaa…sayah terhura masa…terhura karna perasaanmu pd anak2mu eonni-ya…*emot berkaca2*
    Eonni bisaan masa…cerita tentang nenek ma eonni yg sakit dimasukkin…kereeeennn…hahay…

    Sayah suka foto2nya jin’s brother…unyuh sekaliiiii…dan yong jin ama bang ryu ko gedenya kagak beda jauh y…*doenk*
    Abang ryu tmbh ganteng ajah…dedek yong tmbh endut ajah…y oloh eonni…pasti pegel y gendong yong k mana2…

    Dan si oppa tetap sajah mesum apapun yg terjadi sodara2…untung pas yong nyusu kagak ikutan jg dynya…wkwkwk…

    Ish…tp sayah jealous masa d mari…minho bukan punya sayah…huwaaaa…minho-ya…*abaikan*

    Haaahh…sayah sudah tdk bisa berkata2 eonni-ya…pokoknya teukyo dan jin’s brother jjang…
    Ditunggu segera LTDnya…dan semoga segera nongol jin’s brother seperti harapanku…*slap*

  2. Wooah…uri yongjin udah bsa jalan ..yeeay..
    Tapi tambah besar kok tambah kurus eon? udah bukan buntelan lagi tuh.. hihihi

    Teukyo masih mesra2aja tuhh.. jadi iri..
    Buat jin’s brothers… ahhh tambah lucu onn:D

    Nunggu jin’s brother come back di LTD. Hihihi

  3. SAENGIL CHUKKAEHAMNIDA uri yong jin…
    Smoga badannya tmbh endut & tmbh pintar bicara jg bisa berjalan…

    Kyo kok janji knenek klu sembuh dia ngasih baby lg emangnya udah siap ya 2 anak aja udah rempong gmn klu tmbh satu puyeng tu jungsoo g dpt jatah…hahaha…

  4. Saengil chukae yong jin.. Semoga makin imyut, makin ndut, makin pintar, dan semoga nanti bisa bilang kata “appa” ya.😀
    Semoga neneknya unni cepat diberikan kesembuhan dan kesehatan.
    Keakraban dua bersaudara ryu jin-yong jin lucu banget. Hyung-nya marah, tapi dongsaeng-nya malah ketawa. Mereka juga ngga berantem.🙂

  5. Unnie satu kata buatmu ‘keren’🙂
    paling suka sama genre ff yg family,,apa lagi tiap baca ff unnie berasa nyata dah,,hehe
    dari kemaren aku pengen komen tapi gak bisa2,,eh ternyata ada yg gak bener -…-‘
    tapi sekarang udah bisa mungkin,,hehe

  6. ini beneran perasaan emak ke anak. Eun Kyo emak yg protektip! Meski kadang Eun Kyo kekanakan dan gak fokus, tapi kalo untk urusan anak, selalu dah jd prioritas.

    Uyee! Suka dah piku2nya eon. Suka bnget! Omo, pipi bantal, panggl imo coba. Biarkan Appamu emosi krn blum di panggl.
    Cepet bisa jalan ya, ntar imo ajarin jd shinobi yg jago manjat pagar.
    Ryu Jin udh pinter jg adek y. . Mau adek kecil lg syg? Biar imo yg ksh sini. *bakbukplak
    Saengil chukkae Pipi bantal. Imoneun saranghae.

    smga nenek fika eon baek2 aj ya. Gk ada hal buruk yg trjadi. Amin.
    Eh! Ada fika eon nyanyik.
    Lingsir wengi mah kt Mey. Wkwk.
    Terharu deh liat Eon syg sm Jins.

    Okeh, pengen liat Jins di LTD. Kapan Eun Kyo hamil?? Ah semoga LTD sgera publish.

  7. Yongjin, baby tambun nan makmur dengan pipi bakpaonya. Aku suka banget foto jin brothers, lucu dan unyu-unyu.

    Kebayangin yongjin ngoceh ala anak umur 1 tahun, aishh pasti lucu banget. Aku jadi kangen ponakanku.

    Kasian lihat min young yang ngurusin yongjin, dia pasti kewalahan gendongnya. Akkkk, beneran deg aku gemes banget lihat anak itu.

    Happy yongjin day. Noona kasih hadiah kiss aja ya. Soalnya hyukjae ahjjusimu yang pelit belum kasih uang belanja sama noona. #plak *ngayal ke langit ke tujuh*

    Hei, saengil chukkahae, flamming charisma, choi minho.

  8. Jadi kangen baca MLT lg ni…

    Ceritanya simple tp keren bgt eonn,kasian bgt tu si min young..hahaha..ditinggal sehari aj dah kelabakan…

    Aigooo,baby yong jin dah pinter eo??

    Gemes liat baby yong ma ryu jin main bareng…

  9. Waaaaaaa oenni baca ff ini jd pengen cepet cepet nikah punya malaikat2 kaya ryu jin sama young jin pasti seneng banget mereka lucu lucu banget ngegemesin pengen nyubit pengen meluk pengen gendong aaaaaaaaaaaa .. O iya oenni ini keren banget ceritanya berasa real🙂

  10. Kyaaaa eonni.. Gara baca ff ini aq jd kepikiran bwat nambah anak lg sm kyu #plakk
    saengil chukkae uri young jin.. Jd lah anak baik sprt appa mu nak (?).. Kereeennn eon aq suka.. N semoga cpet sembuh nenek’a ^^

  11. Eonni sumpah demi apa, aku makin cinta ama dirimu…
    Berharap di masa depan bakal punya keluarga kecil kayal gitu.
    Suami dengan otak yg sedikit yadong ternyata gak buruk… Wkwkwkwk….

    Ah.. Buntelan kentut saengilcukae… Nuna sayang pada mu…. Udah bisa jalan lagi.. Ah… Aqu jg ponakan nanti januari dia ultah yg pertama. Aku sodorin deh buat uri young jin.. Itung2 tmen bermain..^^

    Ah.. Dan terakhir selalu jaga kesehatanmu eonn… Salju udah turun ne….*gayanya
    Yg mencintau bukan hanya jungsoo oppa, tp kita juga…*ciyeeee bahasanya…

  12. Kyaaa akhirnyaaa keluar juga unnie hahaha. Ish aku seneng bgt tau, padahl dari td pagi aku nge-stalk wp kamu. Hahaha yap ini adalah salah satu ff paporit saya MLT..,

    tu kan bener kan iya kan jung soo appa emang prevet bgt. Uda gitu pikun pula, ulang taun anaknya sendiri masa iya lupa -___- haha ryujin nya makin pinter aja ih mintanya english-an mulu.. Aku kira bakalan sekalian ngerayain ultahnya minho juga unnie. Ga ada MinNa scene-nya….

    Unnie buat halmeonie nya cepet sembuh yaa ^____^ unnie jg harus sehat biar bisa nulis lg *slapped*

    nanti aku donlod unn lagunya kalo on di PC. Hihi hp saya ga bisa donlod.

    Uri yongjin ama minho~ya saengil chukka hamnida sayang #CHU hahahahahaha

  13. kyyyyaaaa
    saenggil chukahamnida uri young jin
    sehat selalu walaupun sedang dtggal appanya wamil plakk #digetok onnie

    kyaa onnie itu bnran suara onnie?
    suaranya kecil tpi lumayan juga hehe
    #di smirk onnie
    onnie knp ga rekaman aja mungkin aja onnie bs jd pnyanyi.😀 lah pkerjaan sampingan onnie gtuh hahaha itu juga kalo ada yg nerima suara onnie tpi klo aku produsernya langsung saya orbitin onnie tp sayangnya aku bkn produser onnie hehehe

    ya ya udah ngaler ngidul comen saya🙂
    maaf onnie d atas cmn candaan dianggap serius aja #mnta ditendang
    wkwkwkw

  14. saya lom komeng ya? *emot siyok*

    hwaaaaaa. . .cerita nenek’a fika eon masuk d’marih masa! yaoloh saya bnran kaget bgt pas dnger brita kecelakaan ntu eon, tp skrng dah bae2 aja pan nenek’a eon? udh d’oprasi pan ya?
    semoga cepet sehat ya eon nenek’a! amin. . .

    ish, moment TeuKyoJin’s Bro sedikit bgt masa eon malah bnyakan moment YeongJin’s Bro masa! *plak
    ya, secara yg trlibat sm Jin’s Bro sharian ntu si Min Yeong! kasian jg dia ampe repot sndirian ngurus dua mahluk menggemaskan ntu!

    daaannnn Yong Jin, makin bulet aja tuh bayi! yaoloh saya gemes bgt masa jd’a eon. . .
    Yong Jin~a kpn2 maen k’rmh Noona ya sayang! *emot kecup*

    saengil chukka hamnida uri yong Jin! (lg)
    buat Minho jg Saengil chukka hamnida kakak ipar-ku! *emot kecup*
    buat fika eon jngn telat2 lg mkn’a, jaga kesehatan dan istirahat yg cukup ya eon! *plak* saya jd brasa kya perawat masa! -____- *abaikan*

    saya suka ending’a masa eon sweet bgt klo TeuKyoJin’s Bro lg sama2! *emot mata lopelope* bikin iri! *plakplok*

    hah? lagu yg kemaren jd d’pasang masa! *emot siyok* /plak
    saya suka suara unyu’a fika eon yg sangat manghayati ntu!

    okehsip! saya mao nunggu kelanjutan LTD deh eon! semoga cepet publish, saya masih penasaran sm k’hamilan YS! *duagh -____- kga penting bgt ya komeng saya! ish. . . *brb ngilang pke jurus shinobi*

  15. ya Allah eon, bahagia banget punya 2 anak yg ngegemesin begitu.
    tambah lagi dong eon anaknya, ryujin juga pengen punya adik baru sepertinya. walau bapaknya engga mau, tp tetep aja kayanya bikinnya semangat *plak*
    buat nenek eonni semoga cepet sehat ya eonni🙂
    buat yongjin happy birthday, semoga cepet besar. noona mendoakan yg terbaik untukmu :*

  16. bagus eonn FFnya…😀
    Saengil chukkae YongJin ^^

    Speechless aku…

    Eonni lagunya enak… Bukan yongjin aja yg bisa tidur denger lagunya… Aku juga pengen tidur denger lagunya kkkk….

    Keren keren…😀

  17. saengil chukkae uri yong-jin ..
    sekarang uda besarrrr yaa uda bisa ngmong eomma sm hyung ..
    lhaa truss kpan panggil appa’a ? kasian jungsoo oppa kaga di sebut wkwkwk

    dari dulu ryu jin pngen coba’n susu baru sekarang kesampean ?
    gimana rasa’a hayoo hahahha

  18. Uwow.. saengil chukhaee yongjin~na… #telat xp smga km tamba endut ne *plakk
    ah,always healthly,imut,pintar n tumbuh bsar dgn baik,jg smg km tmba cakep kaya appa mu xp *diinjek*
    Pict jin’s brothernya cute unyu unyu *?*
    Pokonya syuka d!
    aaa.. aku pengen punya bayi kaya yongjin *cubitpipiyongjin* #pletak
    Eo,gws untuk nenekmu eon.. n keep healthly jg utk drmu! #Hwaiting xD

  19. huaaaah cukkhaee yong jin`aaa kau sudah besar sekarang😉
    jadi anak yang baik yaa buat eomaa muuu dan nanti kalo sudah besar ayo kita diet bersama
    hehehehehe tambah gemesin aja kamu yong jinaaa

    eoniii aku request side story rena ma minho dong….aku kangen ama mereka hehehehe
    apa rena sekarang sudah berubahkaah??? hehehe yayaya please eoniii

    sekali yongjina nuna saranghae :* #ciumpipi
    oh ya cepet sembuh juga buat halmoeni🙂

  20. wah saengil chukkae yong jin, ga kerasa udah besar aja, udah bisa jalan, udah bisa panggil eomma dan hyung
    dan itu piku.a lucu2🙂
    pipi Yong Jin chubby bener jd gemes pengen cubit..

    jadi kangen sama part Jung Soo dan Eun Kyo, mereka sedikit disini

  21. sangeil chukkae uri Yong jinnie! uri Ryu jin makin pinter sekarang.. jadilah hyung yg baik buat yong jin. eonni eunkyo makin protektif aja sama anak2nya

  22. saengil chukkahae uri yong jin :-*
    eonni beneran deh aq baca ni ff berasa nyata bgt, cara eonni nyeritainnya x ya brasa kyk kehidupan pribadi eonni gtu, gara2 MLT side Story ini aq sampe baca ulang eon semua MLTnya😀
    aigooooo skarang aq malah uda jatuh cinta sama yong jin, dulu kan gara2 MLT jg aq jatuh cinta sama ryu jinnya😀
    pokoknya aq syukaaaaaaaa bgt eon *cium eonni*

  23. eonnieee
    Kangen ff2 mu
    Cpt sembuh utk neneknya yaaa
    Dan smga eonnie sehat2 aja dan gk sakit lg

    Ahahah kasian bgt jungsoo
    Ngenes bgt dsni cuma dia doang yg gk dpanggil yong jin
    Hahah
    Yongjin unyu2
    Itu ada nyempil minho
    Aku jd kangen MinNa
    Hahha

  24. huwaaaaa eoni aku ngakak sumpah kocak bgt kelakuan jin’s brothers
    Uri yong jinnie saengil chukae!!!
    Cpet gede yah… Tambah gemuk deh… Hehehe

    Senengnya udah bs ngelangkah dan ngomong…
    Yah biar sempet deg2an gara halmoni yg sakit tp untung udah baikan…. Syukurlah

  25. saengil chukae yongjin~a ^^
    ngebayangin yongjin ama ryu jin itu lucu bgt, gemes bgt liatnya, anak2 fika onnie lucu2😀
    wah, semoga halmeoni cpt sembuh yaa . .
    jungsoo, ya ampun, bayangin pas di bagian terakhir, kocak bgt, xixixi

  26. Saengil chukkahae Yong Jin~ah semoga Yong Jin jadi anak yang pintar, ga bandel biaar ga nyusahin Eun Kyo eonnikkk~ makin sehat, makin lucu , pokonya yg baik baik >3< kangen MinNa couple :3 Kangen Ryu Jin :3

  27. poor Jungsoo,
    yong Jin belum bisa manggil appa,
    ahahhaha
    kasihna Minyoung ya, ngurus 2 anak yang hiper kayak merka.
    ahahhha
    aku tunggu kabarnya Minho dan rae Na.
    hohohoho

  28. komen juga aku dmari,,,
    hah…
    “URI YONG JIN SAENGIL CHUKAE”

    Ultahnya yong jin sama kaya keponakan akuuuuu # ga ada yang nanya

    uri yong jin makin pinter ajah ni kaya’a,,,
    langsung dibabat kepinterannya jalan n bilang eomma/hyung,,,,
    lucuuuu banget c
    apa lagi liat pipi’a Aigooo eonni anak mu pipinya pengen aku gigit rasa’aa…
    gemes banget

    teuk oppa sabar ya belom dipanggil appa sama yong jin,,,

    min young pasang mental baja ya buat nanganin JIN’s Brother yg super aktif,,,

  29. aaa..bru dpt bca…
    onnie suarana baguss..
    tp kecil q dengerinna pake speaker volume full bwahahaha..
    fto2na lucuu bgt..
    yong jin ultahnya special ya..!!
    ampe dbuatin lagu am eomma..
    ryu jin jgn ngiri yaa..lagu untuk ryu jin suruh aj appa yg nyanyi..hehe..
    saengil chukae yong jin..^^

  30. Yeay,ahirx bs komen jg!
    Uri buntelan,unyu bgt ce!
    ahirx dy bs ngmong n jln jg wlpn msh satu2!
    Halmonie gwenchana kn?
    fika unn,unn bkin crt ini dr pngalaman nenek unn yg kmrn meninggal jth dkmar mandi yah?
    saia ikt sedih bgt masa!
    mdh2n halmonie sembuh total!
    Ehem,Minho m Rae Na bln madu ya?*lirik prihatin m mit unn*
    Skali lg Saengil Chukkae Uri Yong Jin!
    syng bgt m Jins bsodara!*cium2

  31. Askum… Maaf telat baca FF Unn..
    apa dayaQ… revisi Q buanyak bagt
    Eventhogh very late i want to say Happy Birth Day to Young Jinnie
    Ha ha ha ya ampun Ryu jIn kok bisa buanget mirip ma eun kyo ya???

  32. Yongjin makin hari makin lucu..
    makin buntal aja.. wkwkwk..
    Yongjin cepat besar yaa.. biar jungsoo appa nya bisa cepat2 nambah anak satu lg..
    trus biar rivalnya jungsoo bertambah deh.. hahaha..

  33. wkwkwkwk yongjin masih kecil aja udah berani ngerjain appanya :p
    kereeen banget sih eon penggambarannya kalo pas ngerawat yongjin..bener-bener real deh jadi berasa ‘liat’ sendiri… omonaaa udah beneran kayak bantal aja itu yongjin :p

    ryujin jadi hyung keren banget~ ditunggu MLT story yang lain ^^

  34. Selamat ulang tahun yongjin-ah..cpt besar ya,,biar main sm hyungnya,,tau klo hyungnya suka pamer mainan..hahahaa..

    Satu kluarga sm sifatnya,,harus rata dptnya,,klo gak iri2an..hahahaa,,

  35. ff ini bukan cuma menghibur readers, tpi juga menambah pengetahuan reader ttg bgemna cara merawat anak yg bner, mendiamkan anak yg sedang merajuk hmm.. pokok’a msih bnyak lgii,,

    pkok’a daebak dh oenn ff’a..

  36. ff ini bukan cuma menghibur readers, tpi juga menambah pengetahuan reader ttg bgemna cara merawat anak yg bner, mendiamkan anak yg sedang merajuk hmm.. pokok’a msih bnyak lgii,,

    pkok’a daebak dh oenni ff’a..

  37. ff ini bukan cuma menghibur readers, tpi juga menambah pengetahuan reader ttg bgemna cara merawat anak yg bner, mendiamkan anak yg sedang merajuk hmm.. pokok’a msih bnyak lgii,,

    pkok’a daebak dh oenni ff’a..
    keep writing fika oenni..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s