Freelance : Saengil Chukkae Uri Yong Jin

Standar

saengil

AUTHOR : KIM HYUN EUN

Pyeongchang – Seoul, 04 Desember 2012 05.32 KST

 

Pagi yang lembab di awal musim dingin, musim yang paling dibenci tapi juga musim yang sangat dinanti-nantikan banyak orang. Dibenci karena angin yang berhembus dengan lembut saja dapat membawa udara dingin yang mampu menusuk tulang dan dinanti-nantikan karena natal akan segera tiba.

“Yaaa… Eonni, apa kalian yakin mau melakukan hal nekat seperti ini, eo?” Suara nyaring seorang gadis menghentikan sejenak keheningan di dalam mobil Hyundai Tucson putih, yang sejak tadi sudah terpakir manis di depan sebuah rumah mewah di kawasan Pyeongchang itu.

“Omo… Yak! Kim Hyun Eun, kacamata macam apa yang kau pakai itu, eoh? Kau terlihat sangat konyol!” sahut gadis yang duduk di kursi depan dengan nada terkejut. Terkejut karena tiba-tiba saja gadis yang duduk di belakang-nya muncul dengan menggunakan kacamata hitam yang aneh.

“Ish, Eonni. Ini adalah salah satu cara untuk penyamaran kita.” Jawab gadis itu Santai.

“Tapi tidak dengan menggunakan itu juga, bodoh!” Kali ini gadis yang duduk di kursi pengemudi ikut menyahuti sambil memukul kepala gadis bodoh itu.

“Aakhh… Yoon Eonni, Appo.” Gadis bernama Hyun Eun itu meringis memegangi kepalanya.

“Lepaskan kacamata bodoh-mu itu.” Ujar Yoon Bi sambil menarik paksa kacamata yang masih dipakai Hyun Eun lalu melemparnya ke kursi balakang.

“Yoon Bi Eonni, Jae Hyun Eonni. Kalian benar-benar wanita paling sadis.” Teriak Hyun Eun tepat di telinga Yoon Bi dan Jae Hyun.

PLETAK

Dua buah pukulan mendarat mulus di kepala Hyun Eun, membuat gadis itu berteriak kesakitan, “Sekali lagi Kau berteriak, Aku akan menyumpal mulut-mu dengan kaos kaki.” Ucap Jae Hyun dengan sadisnya, tapi Ucapan-nya itu justru mendapat kekehan geli dari Yoon Bi.

“Jae Hyun~ah, kau terlalu kejam.” Ujar Yoon Bi dengan tawa yang mulai meledak.

“Ish, sudahlah Eonni! Kajja, Kita masuk sekarang. Aku yakin mereka belum bangun.” Ucap Jae Hyun sambil mengikat rambut panjang-nya lalu menutupinya dengan menggunakan topi baseball.

“Yaa… Eonni. Kalian benar-benar yakin?” pertanyaan yang sama dan dari orang yang sama juga. Kim Hyun Eun langsung mendapatkan tatapan tajam dari dua gadis yang duduk di depannya.

“Kalau kau tidak mau ikut jangan turun.” Ucap Yoon Bi tajam.

“Arraseo, aku ikut.” Jawab Hyun Eun cepat.

“Jangan pakai kacamata konyol-mu itu.” Jae Hyun memperingatkan Hyun Eun. Ani, lebih tepatnya mengancam dan Hyun Eun hanya menganggukkan kepalanya. Pasrah. Ikut turun dari dalam mobil. Tidak berapa lama mereka bertiga pun sampai di depan pintu pangar rumah itu.

“Ya Tuhan, kita sangat mirip dengan kawanan penjahat.” Desis Yoon Bi sambil meringis melihat keadaan mereka saat ini, yang mencoba berusaha memanjat pagar rumah tersebut.

“Ini semua kan ide gila-mu, Eonni.” Sahut Jae Hyun yang sudah lebih dulu berhasil masuk.

“Kalian berdua kan memang sudah gila.” Sambung Hyun Eun dengan wajah tidak berdosa-nya.

“YAK!” Teriak Jae Hyun dan Yoon Bi bersamaan.

“Yaaa… tidak perlu berteriak seperti itu. Kalian bisa membangunkan mereka.” Hyun Eun menunjuk ke arah rumah mewah itu dengan wajah bodoh-nya.

“Ish, aku menyesal mengajak gadis babo ini ikut dengan kita.” Jae Hyun semakin kesal dengan tingkah Hyun Eun.

“Sudahlah! Yak! Babo ayo cepat kau naik sekarang.” Perintah Yoon Bi. Kedua tangan gadis itu sibuk membantu Hyun Eun memanjat pagar rumah yang tidak terlalu tinggi itu.

Setelah semuanya berhasil masuk ke dalam halaman, mereka pun melanjutkan kegiatan konyol yang sedang mereka lakukan. Berjalan mengendap-endap layaknya seorang pencuri.

“Eonni~ya, aku merasa kita seperti seorang Shinobi.” Celetuk Hyun Eun ketika mereka sudah sampai di pintu depan rumah itu dan hal tersebut membuat Yoon Bi dan Jae Hyun menahan tawa-nya mati-matian.

“Lebih tepatnya kita seperti seorang pencuri.” Sahut Yoon Bi.

“Sepertinya kita memang berbakat menjadi pencuri.” Ujar Jae Hyun asal.

“Yak!”

“Pencuri hati para Namja maksud-ku.” Lanjut Jae Hyun cepat sebelum mendapatkan protes.

“Ish, khayalan-mu sangat mengerikan, Eonni.” Hyun Eun menginjak kaki Jae Hyun cukup keras.

“Yak!” Umpat Jae Hyun kesal.

“Aish, kalian berhentilah bertengkar!” suasana hening sejenak.

“Lalu bagaimana caranya kita bisa masuk ke dalam, eo?” tanya Yoon Bi dengan wajah bingung.

“Itu hal yang sangat mudah…” Ujar Jae Hyun santai, tangan kanan gadis itu bergerak mengambil sesuatu dari dalam saku celana jins-nya. Yoon Bi dan Hyun Eun hanya memperhatikan saja, menebak-nebak benda apa yang akan di keluarkan gadis sadis itu.

“Tadaaa…” sebuah Kunci menggantung di tangan gadis itu dan seulas senyum bangga terukir di wajah cantik-nya.

“Yaaa… kau dapat dari mana kunci itu, eo?”

“Kau sudah mempersiapkan semuanya, Eonni? Jinjja, kau benar-benar Daebak!”

“Tentu saja. Kita harus berhasil kali ini.” Jawab Jae Hyun dengan semangat.

“Kalau begitu ayo cepat kita masuk. Aku ingin cepat pulang, di luar sangat dingin.” Dengan gerakan cepat Hyun Eun menyambar kuci itu lalu membuka pintu rumah tersebut.

-oOo-

07.15 KST

Sinar lembut matahari mulai masuk menembus celah-celah tirai tipis yang membingkai jendela kaca di sebuah kamar, sinar hangatnya menerangi setiap sudut kamar itu. Tidak terlalu menyengat memang, hanya saja sinar lembut-nya mampu mengusik ketenangan penghuni kamar tersebut.

“Oppaaaa…” Teriakan mengejutkan itu menabah rasa terusik seorang Pria yang masih terlelap dalam mimpinya. Bukannya langsung mendatangi sumber teriakan, Pria itu justru manarik sebuah bantal untuk menutupi wajah-nya. Berusaha menghalau suara nyaring itu.

“Yak! Park Jung Soo!” lagi. Teriakan itu semakin nyata terdengar di telinganya, semakin menyakiti pendengaran.

“Waeyo, Yeobo?” Jawab pria itu dengan nada malas, bahkan Ia menjawabnya dengan mata masih setengah terpejam.

“Oppa… Yong Jin…”

“Ryu Jin… mereka tidak ada di kamar! Mereka tidak ada di mana pun!” Suara teriakan itu berubah menjadi tangisan histeris dan itu sukses membuat mata pria itu terbuka lebar.

“Mwo?” Dengan cepat pria itu turun dari atas tempat tidur lalu menghampiri sumber suara.

“Yeobo!” panggilnya panik ketika mendapati seorang wanita cantik tengah terduduk lemas di samping sebuah box bayi.

“Waeyo, eoh?”

“Oppa… Yong Jin… kemana Yong Jiiinn..?” teriak wanita itu di sela-sela tangisnya.

Park Jung Soo dengan keadaan masih setengah sadar, mengecek keadaan box bayi itu dan ternyata memang benar kosong. Begitu juga dengan tempat tidur kecil yang ada di sebelahnya, sama-sama kosong tidak ada malaikat kecil-nya di sana. Malaikat yang selalu menyambutnya di pagi hari.

“Eun Kyo~ya, kau sudah mengecek ketempat lain, eoh?” Tanya Jung Soo semakin panik. Di saat seperti ini perasaan menyesal merayapi hati-nya. Menyesal karena sudah menolak saran Eomma-nya untuk mempekerjakan pengasuh untuk anak-anak-nya. Setidaknya jika ada pengasuh pasti tidak akan terjadi hal seperti ini.

“Aku sudah mencarinya di seluruh tempat Oppa! Eothokkae? Yong Jin~ah… Ryu Jin~ah…” Tangisan wanita itu –Park Eun Kyo– semakin kencang.

“Eun Kyo~ya, tenanglah dulu. Aku akan mencari mereka! Eoh?”

“Aku mau mereka Oppa! Aku mau anak-anak-ku!” teriak Eun Kyo sambil terus memukul-mukul dada Jung Soo.

“Yeobo…”

“Temukan mereka sekarang juga! Aku tidak mau tau! Aku mau melihat mereka sekarang!” dengan kalut Eun Kyo beranjak dari duduknya. Berjalan keluar kamar, Jung Soo yang belum mengerti keadaan ini sepenuhnya pun hanya bisa mangikuti kemana pun istri-nya melangkah.

“Eun Kyo~ya, kau mau kemana, eo?” Jung Soo menarik lengan Eun Kyo, menghentikan langkah wanita itu.

“Lepaskan! Aku mau mencari anak-anak-ku.” Jawab Eun Kyo sambil menatap Jung Soo tajam.

“Kau mau mencari kemana, eo?”

“Kemana pun! Aku akan mencari mereka!” lagi-lagi Eun Kyo berteriak dan menangis. Jung Soo mengerang frustasi, mangacak kesal rambut-nya sendiri. Ia masih belum mengerti kenapa ini bisa terjadi.

“Arraseo, Ayo kita cari mereka.” Ucap Jung Soo akhirnya. Menarik Eun Kyo keluar rumah, membawanya masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan rumah. Perasaan bingung masih saja menyelimuti dirinya.

“Aku akan menelpon Eomma. Siapa tau dia yang membawa anak-anak!” ucap Jung Soo lembut, berusaha menenangkan Eun Kyo yang masih saja terus menangis.

“Yeobo, mereka akan baik-baik saja.” Jung Soo membelai lembut pipi Eun Kyo tapi wanita itu seperti tidak mendengarkan dan memeperdulikannya. Ia tetap saja menangis dan terus memanggil kedua anak-nya. Jung Soo menghela nafas berat, kemudian mengambil ponsel dalam saku piyama yang masih di kenakannya, menekan beberapa angka di layar ponsel itu.

“Yeoboseyo? Eomma…”

-oOo-

 

Star Light Café, Seoul 09.12 KST

 

“Yoo Ri Eonni!” panggilan nyaring itu menghentikan kegiatan seorang gadis yang tengah sibuk di balik meja kasir.

“Yak! Apa yang sedang kalian lakukan, eo?” tanya Yoo Ri bingung, saat melihat ketiga gadis yang baru saja masuk ke dalam café milik-nya itu.

“Ae Ra Eonni tolong bantu aku!” seorang gadis lainnya pun ikut manghentikan kegitannya mengelap meja.

“Yaaa… kalian benar-benar melakukannya?” mata gadis itu melotot sempurna dengan mulut sedikit menganga.

“Nanti saja bertanyanya. Anak ini benar-benar berat!” ucap gadis itu –Cho Jae Hyun– sambil menyerahkan seorang bayi laki-laki ke dalam gendongan Ae Ra.

“Omo, anak ini semakin berat saja!” Ae Ra sedikit kualahan saat menggendong bayi gendut itu. Sedangkan yang di gendong nampak tidak peduli, bayi itu lebih memilih sibuk mengemut jari tangannya.

“Yaaa… kalian mau cari masalah dan cari mati dengan Eun Kyo Eonni, eo?” Omel Yoo Ri, gadis itu ikut bergabung dengan gadis-gadis lainnya.

“Salahkan Yoon Eonni dan Jae Hyun Eonni. Mereka yang merencanakan ini semua.” Jawab Hyun Eun cuek. Tangan gadis itu mulai menaruh barang-barang yang di bawanya ke atas salah satu meja.

“Yak! Kau juga ikut terlibat dalam rencana ini.” Sahut Jae Hyun dengan nada kesal.

“Kalian semua salah!” Ucapan Yoo Ri membuat semuanya terdiam,

Gadis itu menghampiri anak laki-laki lainnya. Bocah berumur 4 tahun yang masih mengenakan piyama hijau bergambar Pororo, bocah itu berdiri tepat di samping Yoon Bi, terlihat bocah itu hanya mengerjap-ngerjapkan matanya, menatap bingung kearah gadis-gadis bawel itu. Tangan mungilnya menggenggam erat ujung cardigan yang Yoon Bi pakai.

“Ryu Jin~ah, apa kau lapar, sayang?” tanya Yoo Ri dengan lembut.

“Eomma…” Gumam bocah itu pelan, mata beningnya mulai berkaca-kaca.

“Ish, ini semua salah kalian. Coba sekarang liat, Ryu Jin jadi ketakutan kan?” ucap Yoo Ri semakin marah.

“Eonni. Kau tidak perlu berteriak juga.” Ujar Jae Hyun.

“Ryu Jin~ah, jangan menangis sayang. Ada Yoon Imo di sini, Eum?” Yoon Bi memeluk tubuh kecil Ryu Jin, menenangkan anak itu.

“Eomma…” tapi usahanya sia-sia saja karena Ryu Jin mulai menangis.

“Eomma…”

“Eonni, Eothokkae?” Yoon Bi mulai panik, tangis Ryu Jin semakin keras dan disusul dengan tangisan lainnya. Yong Jin. Bayi gendut yang menggemaskan itu juga ikut menangis.

“Omo, Eonni. Yong Jin juga menangis, Eothokae?” Ae Ra pun ikut panik, tangisan Ryu Jin dan Yong Jin memenuhi Star Light Café pagi ini.

“Kalian urus saja sendiri!” Jawab Yoo Ri sama sekali tidak peduli.

“Yak! Hyun Eun Tolong aku.” Ae Ra semakin kualahan menggedong Yong Jin.

“Eomma.”

“Aish, aku bisa gila kalau seperti ini.”

-oOo-

11.28 KST

“Oppa, kenapa berhenti di sini, eoh? Kita belum menemukan anak-anak!” Protes Eun Kyo ketika Jung Soo menghentikan laju kendaraannya.

“Yeobo, sebaiknya kita istirahat sebentar, Eum? Kau harus makan. Wajah-mu sangat pucat, Kyo~ya.” Ucap Jung Soo lembut.

“Kau fikir aku bisa makan dengan tenang Oppa? Aku tidak mau makan sebelum kita menemukan Ryu Jin dan Yong Jin.” Eun Kyo menatap Jung Soo dengan geram.

“Tapi Eun Kyo~ya…”

“Kalau kau mau makan. Makan saja! Biar aku pergi sendiri mencari anak-anak-ku.” Sela Eun Kyo dengan nada yang dingin. Tangannya berusaha membuka pintu mobil dan hendak keluar tapi dengan cepat Jung Soo menahan siku Eun Kyo.

“Arraseo. Kita cari mereka lagi. Tutup pintunya.” Perintah Jung Soo, kemudian pria itu menghela nafasnya sebelum kembali menjalankan mobilnya.

Fikiran-nya semakin kacau saat ini. Ia mengkhawatirkan keselamatan anak-anak dan juga keadaan istri-nya. Park Eun Kyo. Keadaannya jauh lebih mengkhawatirkan. wajah Eun Kyo sudah sangat pucat, mengingat sejak tadi pagi tidak ada satu pun makanan yang masuk kedalam perutnya. Belum lagi dengan penampilan yang berantakan. Ia masih mengenakan piyama putih, rambutnya yang tergerai sangat berantakan, dan matanya sembab karena terlalu banyak menangis.

Dreett… dreett…

Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel milik Jung Soo, dengan sedikit terburu-buru Ia membuka pesan itu. Sedetik kemudian wajah-nya berubah menjadi kesal.

“Yeobo, aku sudah menemukan anak kita.” Ucap Jung Soo datar, Eun Kyo yang mendengarnya menoleh dan menatap wajah Jung Soo.

“Jinjja? Di mana mereka sekarang, Oppa?”

“Kau akan tau setelah kita sampai.” Jawab Jung Soo masih dengan nada datar.

“Oppa…”

-oOo-

 

Tidak lebih dari 15 menit mobil Audi milik Jung Soo sudah terparkir di depan sebuah café. Terpampang jelas tulisan di depan café itu ‘Star Light Café’.

Star Light? Bukankah ini café milik Yoo Ri?” Eun Kyo bertanya dengan raut wajah semakin bingung.

“Kajja, kita turun!” ajak Jung Soo pelan.

“Oppa, aku sudah bilang, aku tidak mau makan sebelum menemukan anak-anak-ku.” Teriak Eum Kyo cukup nyaring, membuat emosi Jung Soo mulai tersulut, Ia benar-benar sudah lelah dengan masalah ini. Masalah yang telah di buat para gadis-gadis usil itu. Jung Soo mencoba mengontrol emosi agar tidak ikut meledak.

“Mereka ada di dalam.” Jawab Jung Soo dengan sabar.

“Mwo?”

“Aku bilang mereka ada di dalam Eun Kyo~ya.” Nada suara Jung Soo mulai meninggi.

“Oppa, kau membentak-ku, eo?” Geram Eun Kyo, kedua tangan wanita itu meremas kuat jok kursi yang Ia duduki. Menahan tangan itu agar tidak melayang bebas dan mendarat di pipi Park Jung Soo. Suami-nya.

“Minhae.” Ucap Jung Soo akhirnya. Pria itu menghela nafasnya lagi dan Beberapa kali Ia juga mengusap wajah lelahnya.

“Sekarang kita turun. Temui mereka, tapi kau harus janji. Apa pun yang terjadi jangan marah pada mereka, Arra?” suara Jung Soo mulai melembut.

“Apa maksud-mu Oppa? Mereka siapa, eo?” tanya Eun Kyo semakin penasaran. Bukannya menjawab Jung Soo hanya tersenyum lalu mengelus lembut pipi Eun Kyo.

“Kita masuk.” Ucap Jung Soo sebelum keluar dari dalam mobil.

Eun Kyo mendorong pelan pintu kaca café itu, Ia sedikit bingung saat masuk kedalam karena café itu terlihat sepi, tidak ada pengunjung yang datang. Tulisan di depan pintu tadi juga menunjukan kata ‘Tutup’ tapi kenapa pintunya tidak terkunci? dan kenapa pula anak-anak-nya bisa ada di sini? Berbagai pertanyaan terus bertebaran di kepalanya.

“Eommaaa.” Teriakan nyaring itu menghentikan langkah Eun Kyo, Suara itu suara yang sangat di hafal-nya. Suara manja kesayangan-nya.

“Ryu Jin~ah…” tanpa memperdulikan Jung Soo yang masih menggenggam tangannya, Eun Kyo langsung menghabur memeluk tubuh Ryu Jin. Tangis Eun Kyo pun kembali pecah, semakin erat memeluk Ryu Jin seakan Ia takut kalau anak itu akan menghilang lagi dari jangkauan matanya.

“Eonni…” saapan itu menghentikan aksi dramatis antara Eun Kyo dan Ryu Jin. Eun Kyo melepaskan pelukannya lalu mendongkan kepalanya untuk melihat suara siapa itu.

“Kalian…” tangisan Eun Kyo berhenti begitu saja, tergantikan rasa kesal yang teramat bagitu melihat lima orang gadis dengan satu orang bayi di gendongan salah satu gadis itu.

“Jadi kalian yang melakukan semua ini, Hah?” amarah Eun Kyo mulai meledak, tatapan membunuh di berikannya kepada gadis-gadis itu.

“Yeobo…” panggil Jung Soo lembut, berniat untuk menenangkan Eun Kyo.

“Eonni Minhae… ”

“Cukup! Kalian benar-benar sudah keterlaluan! Kalian fikir ini lelucuan, Hah?” Terikan Eun Kyo cukup membuat Ryu Jin dan Yong Jin merasa ketakutan. Bukan hanya kedua anak itu yang merasa takut tapi juga kelima gadis itu. Kim Yoo Ri, Park Yoon Bi, Kim Ae Ra, Cho Jae Hyun dan Kim Hyun Eun. Sama-sama menelan Ludah mereka pelan, saling menatap satu sama lain. Perasaan bingung, menyesal dan takut tengah menyelimuti mereka.

“Eun Kyo Eonni, maafkan perbuatan adik-adik-ku, ne? mereka tidak bermaksud seperti itu, mereka tidak bermaksud untuk menyakiti anak-anak-mu. Mereka hanya…” belum selesai Yoo Ri menjelaskan, Eun Kyo sudah lebih dulu berjalan menghampiri mereka dengan wajah yang sangat menakutkan.

“Eonni, aku takut.” Gumam Hyun Eun, gadis itu menyembunyikan tubuh-nya di belakang tubuh Jae Hyun.

“Kembalikan anak-ku, aku tidak pernah mengijinkan kalian untuk menyentuh mereka!” Ucap Eun Kyo dingin, tangan-nya mengambil alih Yong Jin dari Yoon Bi kedalam gendongan-nya.

“Aku Tidak suka dengan cara konyol kalian seperti ini.”

“Yeobo, niat mereka sebenarnya baik.” Suara Jung Soo menyela ocehan Eun Kyo.

“Yang begini kau bilang baik, Oppa? Yak! Park Jung Soo apa yang ada di otak-mu sampai kau bilang kalau ini baik, hah?” Jung Soo pun ikut kena amukan mengerikan dari Eun Kyo, pria itu menghela nafas-nya mencoba untuk bersabar. Karena Ia tau benar sifat Eun Kyo yang seperti ini, tidak akan mudah untuk mereda dalam sekejap.

“Mereka hanya ingin membuat kejutan untuk-mu dan Yong Jin, Ani mungkin juga untuk kita sekeluarga.” Jelas Jung Soo dengan lembut, pria itu menggendong Ryu Jin yang sejak tadi sudah memegangi kakinya, bocah itu merasa takut dengan teriakan Eun Kyo.

“Mwo?” Eun Kyo menatap semakin bingung.

“Eonni Kau lupa kalau hari ini ulang tahun Yong Jin?” Tanya Ae Ra dengan hati-hati.

Mendengar itu Eun Kyo seperti mengingat sesuatu yang Ia lupakan, matanya mengedar kesetiap sudut ruangan café itu dan betapa terkejutnya Ia saat membaca tulisan besar di atas selembar kain panjang yang tergantung di tembok café itu ‘Happy Birth Day Uri Yong Jin’ detik itu juga tubuh Eun Kyo melemas.

“Ya Tuhan, aku melupakan-nya.” Gumam Eun Kyo pelan, wanita itu baru menyadari akan kebodohan-nya. Bagaimana mungkin seorang ibu bisa melupakan hari ulang tahun anak-nya, sedangkan teman-teman-nya saja masih mengingat-nya.

“Mianhae, sayang. Eomma melupakan ulang tahun-mu.” Ujar Eun Kyo penuh rasa bersalah, diciumi-nya wajah Yong Jin yang ada didalam gendongannya itu. Jung Soo yang melihatnya pun tersenyum lega, Ia pun ikut mengecup kepala Yong Jin.

“Untunglah, semuanya bisa selesai.” Celetuk Jae Hyun menarik nafas lega.

“Selesai kau bilang? Yak! Aku tetap tidak terima kalian melakukan ini pada anak-anak-ku.” Ucap Eun Kyo masih emosi.

“Eonni, kita kan sudah minta maaf.” Jawab Yoo Bi pelan.

“Tidak semudah itu aku akan memaafkan kalian.” Eun Kyo menatap tajam gadis-gadis itu satu persatu.

“Eonni!!” seru mereka bersamaan, Eun Kyo menghela nafasnya sedikit kasar.

“Kalau kalian melakukan hal konyol seperti ini lagi, akan aku pastikan! Aku akan membunuh satwa liar kesayangan kalian itu. Tanpa terkecuali ‘Katak, Ikan, Kura-kura dan Monyet’ aku akan menghabisi mereka semua.” Ucap Eun Kyo mengancam.

“Eun Kyo Eonni, kau sangat menakutkan.” Ujar Hyun Eun ketakutan.

“Kau baru tau kalau aku menakutkan, Huh?” Eun Kyo memelototi-nya, membuat Hyun Eun semakin merapat di belakang Jae Hyun.

“Selamat! Untung, kekasih-ku bukan satwa liar.” Lagi-lagi Jae Hyun menyeletuk.

“Kau juga tidak akan selamat. Aku akan menyewa pemburu hantu untuk memusnahkan ‘Setan-mu’ itu.”

“Eonni…”

“Yeobo, sudahlah. Mereka benar-benar sudah ketakutan.” Sela Jung Soo sambil menahan tawa-nya.

“Ah, ngomong-ngomong bagaimana caranya kalian masuk kedalam rumah kami, eo? Aigo… Kalian sangat berbakat menjadi seorang pencuri.” Cibir Jung Soo.

“Itu Rahasia Kami, Oppa.” Yoon Bi menyeringai menakutkan, melirik Jae Hyun dan Hyun Eun yang ada di sampingnya. Kedua gadis itu juga ikut tersenyum misterius.

“Sudahlah Oppa, Eonni lupakan kelakuan usil adik-adik-ku, ne? Ah, kami sangat menyayangi kalian.” Ucap Yoo Ri sambil memeluk Eun Kyo sekaligus Yong Jin yang ada di dalam gendongan. Di ikuti yang lain-nya juga.

“Eun Kyo Eonni kami menyayangi-mu.”

“Yong Jin~ah, Saengil Chukka Hamnida, sayang!” teriak Ae Ra dan Hyun Eun, mencubit gemas pipi tebal bayi itu.

“Yak! Hentikan! aku tidak bisa bernafas!”

“Eomma, Imo… aku juga mau di peluk!” Ryu Jin yang sejak tadi hanya diam ikut berteriak.

“Ah, Uri Ryu Jin Imo juga sangat menyayangi-mu.” Yoon Bi mengambil Ryu Jin dari gendongan Jung Soo, memeluk anak itu dengan sayang.

“Kalian tidak mau memeluk-ku juga?” tawar Jung Soo dengan wajah memelas yang di buat-buat.

“TIDAK AKAN!” Teriak gadis-gadis itu kompak, dan tentu saja Eun Kyo juga ikut berteriak tidak terima.

 

Flashback

 

“Yaaa… Yoon Eonni, kau yakin kalau ini kamar mereka, eo?” Bisik Jae Hyun.

“Ish, kau tenang saja. aku sudah hafal di mana tempatnya.” Jawab Yoon Bi, perlahan tangan kanan-nya memutar knop pintu yang ada di hadapan mereka saat ini.

“Omo… dalam keadaan tidur saja mereka terlihat sangat mesra. Aku iri.” Celetuk Hyun Eun begitu pintu terbuka dan melihat pemandangan di atas tempat tidur yang sangat membuat iri siapapun yang melihat-nya.

“Kalau kau iri, cepatlah menikah dan buat adegan romantis seperti itu setiap hari.” Cibir Jae Hyun.

“Ish, Aku tidak akan membiarkan kalian menikah lebih dulu dari Aku.” Yoon Bi ikut menyahuti.

“Aigo… kalian berdua sudah sangat ingin menikah, eo?” tanya Hyun Eun tanpa memperdulikan suara-nya yang nyaring.

“Yaa… Jangan berisik. Cepat masuk bodoh!” perintah Yoon Bi.

Dengan masih mengendap-endap dan melangkah pelan-pelan, ketiga gadis itu melangkah menghampiri sebuah box bayi  dan tempat tidur kecil di sedut kamar itu.

“Omo… Yong Jin~ah, kau sudah bangun sayang?” ucap Yoon Bi sedikit kaget melihat bayi laki-laki gendut yang sedang duduk di dalam box bayi itu.

“Aigo… ternyata Yong Jin lebih rajin dari pada Eomma dan Appa-nya.” Ujar Hyun Eun.

“Saengil Chukka Hamnida, sayang!” Jae Hyun mengecup pipi Yong Jin gemas lalu menggendong-nya.

“Jangan menangis, ne?” yang di tanya hanya menatap bingung gadis-gadis itu.

“Yoon Imo…” panggilan serak itu, mengalihkan mereka. Satu lagi anak laki-laki yang sudah duduk di atas tempat tidur-nya menatap bingung kearah mereka.

“Omo… Ryu Jin juga bangun, Eothokkae?” Ujar Hyun Eun panik. Buru-buru Yoon Bi menghapiri Ryu Jin dan duduk di samping bocah itu.

“Ryu Jin~ah, kita pergi ketaman bermain, ne? apa kau mau?” tanya Yoon BI berbisik di telinga Ryu Jin. Sejenak bocah itu hanya diam memperhatikan wajah Yoon Bi kemudian melirik kedua orang tua-nya yang masih tertidur pulas.

“Aku mau ikut, Imo.” Jawab Ryu Jin yakin,

“Bagus, ayo kita pergi.” Yoon Bi beranjak dari duduk-nya lalu menggendong Ryu Jin.

“Tapi Eomma, Appa?” tanya Ryu Jin polos.

“Mereka akan menyusul kita nanti.” Jawab Yoon Bi cepat.

“Hyun Eun~ah, kau sudah membereskan baju ganti mereka?”

“Sudah aku lakukan.” Jawab Hyun Eun santai, tangan kiri-nya mengacungkan tas kecil yang berisikan keperluan Yong Jin dan Ryu Jin.

“Bagus. Kajja, kita harus pergi sebelum mereka bangun.”

“Eun Kyo Eonni, Jung Soo Oppa. Mianhae, kami culik sebentar anak-anak kalian.” Ucap Hyun Eun dengan nada penyesalan yang di buat-buat.

“Yak! Cepat keluar.” Jae Hyun manarik paksa Hyun Eun.

“Jaljayo Eonni, Oppa.” Ucap mereka kompak dengan menahan tawa. Perlahan Hyun Eun menutup pintu kamar itu.

“Kita berhasil.”

FIN

 

Note      : Emak! Kado macam apa ini? *emot siyok*

Fika Eonni, sebelumnya saya mau minta maaf karena udah bikin TeuKyo panik seperti ini! *saya takut di bunuh masa* -__-“

Saya juga mau minta maaf kalo hasil hadiah ini berantakan bgt, tapi kaga napa-napalah ya eon? Buat konsumsi pribadi ini! *plak*

Maaf (lg) karena saya memasukan nama-nama kaga penting di sini *lirik Eonnideul*kita mao numpang eksis dikit kaga apa-apa kan fika eon? *bakbukplak*

 

Yasudlah saya kaga mau banyak cincong!

 

Buat Uri buntelan, Saengil Chukka Hamnida, Sayang! *emot kecup*

 

Ryu Jin    : “Telat kali, Ahjumma!”

Me           : “Iya, Mianhae, sayang!” T_T

Yong Jin  : *Bodo deh! Suka-suka situ!* -___-“

Vikos Say : huwaaaaaaaaaaaaa kalian mau saya bunuh yah nyulik anak aye? EOH?! Diah spesialis ff nyebelin coba! menyiksaku sangat! aku aku aku enek gila bacanya, meski tau diculik orang-orang autis itu, tapi bayanginnya engga banget coba! sampe hampir siang dia belum minum susu! tapi, terima kasih sayang udah mau bikinin… aku sukaaaaaaaa banget.

12 responses »

  1. sy ngakak bc nya…Nina ngeksis bgt masa!wkwkwk
    bc ini jd inget film baby days out,untung kagak d culik bneran…
    d jamin kalo bnran buntelan d culik,kyo eon pasti bkalan depresi dah…
    ultah yong jin culik yong jin,jgn2 nti ultah oppa trio shinobi culik oppa lg..
    *bae2 ya eon jgain oppa* wkwk
    saengil chukkae keponakanku buntelan unyu…muach..

  2. Bwahahaaa…dasar shinobi NiNa Baboh somplak semua…masya Allah…nista bener yah kita ampe main culik2 anak orang masa…
    Ide siapa ini…???*plak
    Untung sayah d sini cool kagak somplak kayak adek2 sayah…
    Emaaaakkk…kita dibilang autis masa ma emak Ryu Jin…tp emang bener sich yah…wkwkwk…
    Y oloh diah…idemu bener2 brilian d ni epep…kamu berhasil menistakan kita semua lebih dalam…sudah tak ada lagi jalan keluar dari dunia kenistaan ini…
    Yong jin-ah saengil cukkae…semoga tambah ganteng kayak kaka…tmbh cool kayak om Minho…dan tambah keren kayak tante YooRi…yang penting jangan kayak appamu yg mesum dan membahayakan itu…hahaa…
    Pokoknya tante YooRi padamu sayaaaaaaang…*emot cium*

  3. buahahaha..
    NiNa BaBoh’s Family eksis bgt masa dimari!
    qt ahir berhasil nyulik Jins bersodara ye!wkwkwkwkwk
    tp tu np Yoo Ri unn jd sok bijaksana gt ya?*emot smirk
    pdhl aslix dy yg plng nistah!huft
    Uri buntelan Yongjin,Saengil Chukkae Ne..
    maafkan imo2mu yg punya ide2 nistah begitu!hehehe

  4. Emang dasar t orang2 autis
    Marahin aja eon!
    Masa nyulik Ryu sm Jin! Emang bisa ngurusnya??
    Kalo mereka kenapa-kenapa matik ntar di bunuh emaknya. Emak Ryu-Yong wanita bersamurai! Di tebas ntar.
    Ckckck. *geleng2

    saengil chukka hamnida uri Yong Jin! Jd anak baik ne. Imodeul syg kamu.
    Eomma dan Appa mencintai kalian berdua.

  5. emak! fika eon ampe enek masa bca! *emot siyok*

    ckcckckck…. ide’a bener2 nistah dan keterlaluan ye? bunuh aja mereka eon!
    berani2’a nyulik Jin’s Bro, kga punya ide yg laen napa ya? kga kreatip! *plakplokduagh
    -_____-

    udh ah! saya mao ngucapin (lg)!
    Saengil Chukka Hamnida Uri Yong Jin! Noona menyayangi-mu nak! *emot kecup*

    TeuKyoJin’s Bro Jjang!

  6. buakk.. cakep2 berbakat jadi penculik semua ini eomma! imodeul! tangan saya bersih kyo eon*emang kaga ada di sono* yahh aku hanya bisa bantu lewat doa ya semoga kakian selamat dari pertunjukan kyo eon nanti*brb kabur

  7. 3 orang autis yang membuat keributan di pagi hari di kediaman keluarga park. Somplak abis, kocak. Buat aku ketawa.

    Aakkkkh, uri yongjin, onnie boleh cubit plus cium pipimu, sayang? Ya ampun, bener-bener ngegemesin itu anak. Badannya makmur banget ya.

    Seru ceritanya, yang adegan penculikan kocak, mau nyulik tapi ribut dulu. Paling ngeri pas eunkyo onnie ngamuk, semuanya kena tak terkecuali suami tercinta, park jungsoo.

    Hmmmm, apalagi ya?? Akh, iya ikan=donghae, monyet=hyuk, kura-kura=yesung, setan=kyu, trussss katak siapa?

    Yongjin, happy birthday

    • Otak lemotku kumat, typooooooooo. Harusnya manggil noona malah jadi onnie, #plakplak

      buahahahhahahaha, maafkan noona yongjin, sayang. Noona khilaf.

  8. huahahaha…itu lucu kta2’na..
    nyewa pembru hantu??wkwkwk..saaddiiss
    Saengil Chukka Hamnida Yong Jin!moga makin gendut haha..
    telat yaa?? ;(
    ampura(maaf).
    onnie ampe lupa ultah yong jin..
    ngurusin jungso oppa trs ya ampe klupaan..nayoo ktauan!!qiqiqi
    idenya mantep..buat kjutan pke culik2an..sungguh jail..!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s