Freelance : Piece of Heaven (Yong Jin’s Birthday)

Standar

poh1

AUTHOR : MISS ELBY (PARK YOON BI)

Eun Kyo POV

“Eommaaaaa…Yong Jin menggigit bonekanya lagiiiiiiii….”

Lagi. Aku baru saja duduk -setelah membereskan ruang keluarga dari sisa kekacauan yang dibuat kedua putraku itu- dan kembali terdengar jeritan Ryu Jin untuk kesekian kalinya pagi ini. Aku memijit kepalaku yang kembali terasa pusing. Aduh, sepertinya aku sedang tidak enak badan. Jung ahjumma sedang pergi ke rumah eommoni sejak kemarin, itu berarti tidak ada yang membantuku mengurusi kedua buah hatiku hari ini. Oppa juga sudah berangkat pagi-pagi sekali tadi untuk mempersiapkan presentasi dengan teamnya untuk proyek besar akhir tahun. Alhasil, aku sepertinya memang harus mengurus kedua bocah itu seorang diri dan dalam keadaan tidak enak badan. Di tambah lagi hari ini ulang tahun Yong Jin! Dan aku belum menyiapkan apapun. Bahkan kue ulang tahun untuknya pun tidak ada. Aduh, ibu macam apa aku ini. Padahal ini ulang tahun pertama Yong Jin.

“Eommaaaaa….” Lagi-lagi Ryu Jin menjerit. Samar-samar, aku juga mendengar jeritan kecil dari Yong Jin. Sejak tadi Ryu Jin memang menjerit mengadukan tingkah adiknya, sementara sang adik selalu ikut menjerit setiap kali hyung-nya menjerit. Mereka berdua bisa sangat kompak jika sedang membuat kekacauan. Di tambah lagi kalau ada Appanya. Aku jadi seperti mengurus tiga balita sekaligus.

“Eommaaaa… Yong Jin hampir menelan mainannyaaaaa…”

“Mwoya? Nde Ryu Jin~a. Eomma kesana…” aku bergegas berdiri mendengar teriakan Ryu Jin. Aku sedikit terhuyung dan refleks memegang pinggiran meja untuk bergantung. Aduh, rasanya kepalaku seperti berputar-putar.

Aku masuk ke kamar bertepatan dengan teriakan Ryu Jin untuk yang kesekian kalinya. Aku bergegas mendekati baby box milik Yong Jin. Putra kecilku itu memamerkan giginya saat melihatku datang. Pipi bulatnya makin terlihat gembung. Aku berjongkok di samping box khusus untuk Yong Jin yang sedang belajar berjalan agar dia tidak sembarangan melangkah sekeliling rumah dan membahayakan keselamatannya.

“Yong Jin~a…buka mulutmu sayang. Jangan menelan mainan nak…” bujukku sambil menyelipkan jariku kedalam mulutnya. Aku menarik keluar bola-bola kecil berwarna biru yang sudah penuh dengan air liur Yong Jin. Anakku memang sedang dalam masa ‘memasukkan-segala-sesuatu-kedalam-mulut’. Aku harus ekstra hati-hati mengawasinya agar tidak memasukkan barang-barang aneh kedalam mulut.

“Eomma, Yong Jin memakan semuanya…” Ryu Jin mengadu. Ia bertumpu pada pinggiran baby box milik Yong Jin.

“Nde. Makanya kau harus mengawasi adikmu Ryu Jin~a…” sahutku seraya mengacak sayang rambut putra sulungku itu. Ryu Jin mengangguk-angguk dengan wajah serius sambil melipat kedua tangannya didada. Ia memandangi adiknya yang sedang terkekeh dengan wajah memerah menggemaskan.

“Yong Jin~a, kau dengar apa yang dikatakan eomma, eoh? Hyung akan mengawasimu. Kau harus jadi orang keren seperti hyung, arrachi?” ujarnya pada sang adik. Aku tersenyum geli. Siapa lagi yang mengajari anakku ini menjadi narsis kalau bukan Appa-nya. Tapi setidaknya aku bersyukur, Ryu Jin sekarang sudah mulai menyayangi adiknya. Tidak seperti pada awal-awal dulu. Dia kelihatan memusuhi Yong Jin karena Ryu Jin merasa adiknya ini merebut  perhatianku yang dulu hanya tertuju padanya.

Kulirik jam yang di dinding. Sudah jam 11, sepertinya aku harus menyiapkan makanan Yong Jin. Aku bangkit dan kembali terhuyung. Kali ini kepalaku rasanya berdentam-dentam. Pusing sekali. Aku kembali terduduk di samping baby box milik Yong Jin sambil memijit-mijit keningku.

“Eomma? Waeyo?” tanya Ryu Jin heran. Aku tersenyum kecil padanya.

“Sepertinya eomma tidak enak badan sayang,” sahutku.

“Mwo?” Ryu Jin berjinjit dan menempelkan tangannya di kedua belah pipiku.

“Eomma sakit?” tanyanya. Aku meringis. Sepertinya iya. Badanku benar-benar lemas dan suhu tubuhku sedikit naik sepertinya. Kepalaku juga pusing sekali. Aduh, kalau begini bagaimana caranya aku mengurus kedua buah hatiku? Aku juga tadi berniat acara kecil untuk ulang tahun Yong Jin nanti malam. Tapi kalau keadaanku saja tidak sehat begini bagaimana bisa. Aku sungguh merasa bersalah pada si kecil Yong Jin. Kasihan anakku. Setiap ulang tahun Ryu Jin selalu ada acara yang aku dan oppa siapkan. Tapi untuk ulang tahun Yong Jin yang pertama ini benar-benar tidak ada. Aku tidak bermaksud menomor-duakan Yong Jin. Sama sekali tidak. Hanya saja keadaanku kali ini sangat tidak memungkinkan. Mungkin aku keletihan setelah kemarin menyempatkan diri ke tempat latihan untuk membantu Donghae dan yang lainnya mengatur pementasan di sela-sela waktuku mengurus kedua jagoan kecilku ini.

“Kalau eomma sakit, aku dan Yong pergi ke tempat halmeoni saja. Eottohke?” tanya anakku. Eottohke? Bukannya aku tidak mengizinkan Ryu Jin dan Yong Jin ke tempat halmeoni mereka, tapi kalau sudah disana biasanya halmeoni akan menahan mereka beberapa hari. Mana bisa aku hidup jauh dari anak-anakku beberapa hari. Lagipula Yong Jin masih menyusu dan aku tidak mau anakku bergantung pada susu bantu.

Aaah…eottohkeyo? Aku sungguh butuh berbaring, kalau tidak aku bisa sakit berhari-hari.

“Ryu Jin~a, bisa tolong eomma ambilkan telepon nak? Eomma mau menelpon Appa-mu dulu, “ pintaku. Sepertinya aku butuh bantuan Oppa kali ini. Kalau oppa tidak bisa baru aku telepon Kibum. Tapi semoga saja bisa, karena Kibum juga pasti sedang sangat sibuk dengan proyek barunya, atau pacar barunya mungkin.

Kulihat Ryu Jin berlari-lari kecil menuju nakas tempat wireless phone terletak. Aku mengawasinya dari tempatku duduk. Ryu Jin terlalu aktif, aku takut dia terjatuh karena tersandung atau apa. Ah, aku sepertinya terlalu khawatir berlebihan pada anak-anakku. Bahkan aku sudah memikirkan agar Ryu Jin tidak bersekolah di sekolah umum saat waktunya dia sekolah nanti. Homeschooling saja agar lebih aman dan tidak jauh dari pengawasanku.

“Eomma, biar aku yang telepon Appa. Boleh?” dia memandangku penuh harap. Aku mengangguk mengiyakan. Dia biasa menekan tombol redial pada telepon itu dan akan langsung tersambung pada nomor Oppa.

Kulihat Yong Jin memperhatikan Ryu Jin menempelkan gagang telepon di telinganya. Si kecil itu seperti mengagumi setiap gerak-gerik hyungnya. Persis seperti Ryu Jin yang begitu mengagumi Appanya.

“Sssstt…hyung sedang menelpon Appa. Kau jangan ribut Yong Jin~a, arra?” dia berkata dengan wajah seriusnya yang menggemaskan sambil memberi kode dengan telunjuk di bibirnya. Yong Jin mengangguk berkali-kali dengan wajah sumringah. Ia terkekeh memamerkan deretan giginya.

“Burrrrrr…bbbrrruuur…haa…,” dia berseru girang. Kedua matanya jadi semakin kecil saat dia tertawa. Aku tersenyum geli dengan tangan yang masih memijit kening. Entah apa yang di tertawakan anakku ini.

“Yosobeyo…” ujar Ryu Jin semangat.

“Yoboseyo nak, bukan yosobeyo,” ralatku. Anakku ini kebiasaan terbalik mengucapkan sapaan itu.

“Yoboseyoyo Appa…” ulangnya lagi, dan masih saja salah.

“Aniyo, aku tidak nakal Appa. Aku membantu eomma menjaga Yong Jin,”dia bercerita dengan semangat. Aku masih memperhatikan. Semoga saja anakku ini ingat untuk memberikan gagang telepon padaku karena aku perlu bicara dengan Oppa.

“Jinjjayo Appa? Minggu depan? Ye…ye…aku beritahu Yong Jin nanti. Dia cerewet sekali Appa. Dia juga memasukkan semuanya kedalam mulut,”

Kalau begini ceritanya kurasa akan lama baru aku mendapatkan kesempatan untuk bicara pada Oppa. Aku menepuk lengan Ryu Jin dan memberinya kode agar memberikan telepon padaku.

“Nde? Eo. Appa…eomma ingin bicara,” ujar Ryu Jin akhirnya seraya menyodorkan telepon padaku.

“Oppa…” sapaku.

“Waeyo yeobo? Sudah merindukan aku, eum?” kudengar suara Jung Soo oppa menyahuti.

“Aniyaaa…Oppa masih sibuk? Hari ini bisa pulang lebih cepat tidak?” aku bertanya.

“Tidak sibuk yeobo. Presentasi sudah selesai dan kami mendapatkan proyeknya. Tapi aku tidak yakin bisa pulang cepat Eun Kyo~ya. Rekan se-team ingin mengajak makan bersama dan sedikit pesta-pesta nanti. Sekalian perpisahan dengan Yoo Ri dan Minho yang mau di pindah ke kantor cabang di Jepang,” jelas Jung Soo oppa.

“Ya. Tidak bisa pulang saja oppa? Aku butuh bantuan mengawasi Ryu Jin dan Yong Jin. Lagipula Yong Jin berulang tahun hari ini,”

“Ye. Aku ingat yeobo. Aku bisa pulang seperti biasa nanti. Sehabis pergi dengan rekan kantor aku pasti langsung pulang dan kita bisa makan-makan untuk ulang tahun Yong Jin, eotte?”

“Oppaaaa, aku butuh bantuanmu sekarang. Memangnya lebih penting pergi dengan rekanmu daripada anak dan istrimu, eoh?” aku merajuk. Aduh, sepertinya tubuhku yang tidak enak mempengaruhi kondisi psikologisku. Kurasa aku terlalu egois. Proyek ini adalah salah satu proyek yang menguras tenaga dan pikiran Jung Soo oppa dan rekan se-teamnya selama hampir 3 bulan penuh. Wajar saja kalau mereka mau merayakan kesuksesan besar akhir tahun ini. Dan lagi, kedua orang yang akan pindah tugas itu –Yoo Ri dan Minho– adalah rekan kerja yang paling dekat dengan Oppa. Aku juga mengenal mereka dengan baik.

“Yeobo…”

“Gwenchana oppa,” potongku cepat, “Mianhae, aku sedang tidak enak badan makanya jadi sedikit memaksa. Eum, aku minta tolong Kibum mengantarku membawa anak-anak ketempat eommoni saja kalau begitu. sampaikan salamku pada Yoo Ri dan Minho ya. Pada yang lain juga,” kataku.

“Tapi yeobo…”

“Eommaaaaaa, Yong Jin menggigit jarikuuuuu…Huweeee…”

Omonaaa, Ryu Jin terpekik dan menangis keras.

“Oppa…sudah ya. Nanti aku hubungi lagi,” aku mematikan sambungan telepon dengan tergesa lalu berjongkok di samping Ryu Jin. Mengusap-usap kepalanya, berusaha menenangkan tangisnya.

“Tidak apa-apa sayang…jangan menangis. Anak laki-laki eomma kuat, eoh?” bujukku.

“Ini sakiiiiit,” Ryu Jin masih saja menangis sambil memegangi telunjuknya.

“Uweeeee….” Satu lagi tangisan muncul dari Yong Jin, aku sontak menoleh.

“Omonaaa, cup…cup…waeyo Yong Jin~a…” aku mengangkat Yong Jin keluar dari baby box. Kepalaku terlalu pusing untuk berdiri, jadi kupangku saja Yong Jin seraya menepuk-nepuk punggungnya pelan untuk menenangkan.

Aku bisa mendengar tangis Ryu Jin mereda. Sekarang dia menatap adiknya yang masih terisak dalam pelukanku. Matanya merah dan basah sisa menangis, tapi dia masih terus memandang adiknya dan aku bergantian. Tidak lama, dia ikut menepuk-nepuk punggung Yong Jin.

“Uljima Yong Jin~a…namja kuat tidak boleh menangis,” bujuknya. Aku tersenyum geli sekaligus haru. Ryu Jin yang kerap bersikap keras kepala ini bisa luluh pada tangisan adiknya.

“Ye…hyung benar sayang…jangan menangis lagi. Lihat hyung sudah tidak menangis lagi,” aku ikut membujuk.

“Hyung tidak menangis. Yong Jin juga tidak boleh menangis. Super hello tidak cengeng,”

“Super hero sayang,” ralatku lagi sambil menahan senyum geli.

“Ye? Super reho eomma?”

“Aniyo…Super he-ro,”

“Ye..ye..ye..aku dan Yong Jin super…” dia terdiam sejenak dan memperhatikan aku, “hero?” tanyanya ragu. Aku tersenyum dan mengangguk membenarkan.

“Ryu Jin dan Yong Jin super herooooo,” dia berseru, membuat adiknya mengangkat kepala dan tertawa girang meskipun masih dengan air mata masih basah di pipi bulatnya.

Oppa, sayang sekali kau tidak ada disni dan melihat betapa menggemaskannya anak-anakmu ini, anak kita.

Ah, iya. Aku harus menelpon Kibum dulu. Spertinya aku harus rela kedua anakku menginap di tempat eommoni hari ini.

Jung Soo POV

“Jae Hyun~a, kurasa aku tidak bisa ikut pesta kali ini,” ujarku pada Jae Hyun yang masih sibuk membereskan berkas-berkas sisa presentasi di depan klien tadi. Tanganku terulur meletakkan ponsel ke atas meja kerja.

“Oke sajangnim,” jawab Jae Hyun masih fokus dengan urusannya, dia terdiam sejenak sebelum kemudian membelalak kaget, “Mwo? Tidak jadi ikut? Wae? Waeyo sajangnim?” serunya heboh. Aku dan beberapa rekan team yang masih berada di ruang rapat meringis mendengar teriakannya.

“Istriku sedang tidak enak badan,” jawabku singkat. Aku terdiam sejenak. Kalau sampai berfikir untuk menitipkan anak-anak di tempat eomma berarti Eun Kyo memang benar-benar sedang tidak sehat. Biasanya serepot apapun istriku itu pasti akan tetap memilih mengurus sendiri kedua buah hati kami. Aku sangat faham dan sangat tau kalau Eun Kyo selalu keberatan kalau harus jauh dari Ryu Jin dan Yong Jin.

“Kalau begitu kita undur saja acaranya bagaimana? Kita menjenguk Eun Kyo~ssi saja,” saran Yoo Ri. Aku menoleh pada wanita yang duduk di sebelahku ini. beberapa rekan terdengar bergumam menyetujui.

“Tidak usah. Kalian lanjutkan saja. Lusa Yoo Ri dan Minho sudah berangkat ke Jepang. Kapan lagi bisa berkumpul,” cegahku cepat. Jangan karena aku acara ini sampai batal. Aku yakin mereka sudah sangat-sangat menunggu kesempatan berkumpul begini setelah berbulan-bulan tertekan karena memikirkan proyek.

“Nanti kan masih bisa berkumpul saat pernikahanku dan Yoo Ri noona. Jadi sekarang lebih baik kita ikut menjenguk Eun Kyo~ssi saja dulu,” sahut Minho yang segera mendapat lemparan spidol oleh Yoo Ri ke mukanya.

“Memangnya siapa yang mau menikah dengan anak kecil sepertimu, eoh?” gerutunya. Minho hanya tersenyum-senyum kecil sambil mengusap bekas lemparan Yoo Ri tadi.

“Ye. Kita jenguk istri sajangnim saja. Aku setuju itu. Yang setuju angkat tangan,” Hyun Eun, salah satu rekan di team-ku mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Aku menggaruk belakang kepalaku dengan wajah bingung. Kenapa jadi dia yang menyimpulkan? Kulirik wajah-wajah yang sama-sama memasang raut bingung. Yoo Ri dan Jae Hyun saling pandang dan Minho yang melongo.

“Kenapa tidak ada yang angkat tangan?” keluh Hyun Eun sambil menurunkan tangannya bingung. Jae Hyun menggeleng-geleng.

“Aku mau angkat kaki saja,” dia menyahut seraya bangkit dari kursinya, “Sajangnim, kajja. Kita sama-sama ke rumahmu,” ajak Jae Hyun. Yoo Ri, Minho dan Hyun Eun –yang masih berwajah bingung– ikut berdiri dari tempat duduk masing-masing.

Mereka mau ikut ke rumah? Dalam hati aku tersenyum senang. Seperinya istriku ini sudah membuat rekan-rekan kerjaku jadi sangat peduli padanya. Tidak di pungkiri, Eun Kyo seperti punya daya magis dan kekuatan alami untuk membuat orang menyayanginya. Dan untukku, kekuatan itu berpengaruh sangat besar. Aku mencintai dia dengan semua warna-warni yang dia bawa masuk ke duniaku.

Aku sekali lagi melihat wajah-wajah para pembuat kerusuhan yang berkeras ingin menjenguk Eun Kyo. Ah, ya sudahlah. Aku hanya berdoa dalam hati agar mereka nanti tidak membuat keributan yang malah membuat Eun Kyo makin tidak enak badan. Aku ikut berdiri.

“Kebetulan hari ini Yong Jin berulang tahun. Sepertinya aku harus cepat-cepat membeli kue untuk anakku dan segera pulang sebelum Eun Kyo pergi ke rumah Eomma,” kataku.

“Yong Jin ulang tahun? Aaahh, kalau begitu kami juga menyiapkan makanan dan minumannya. Pestanya kita pindahkan kerumah sajangnim saja,” ujar Jae Hyun.

“Tapi tidak boleh ada keributan,” sela Minho, “Eun Kyo~ssi sedang sakit,” matanya menatap Hyun Eun dan Jae Hyun bergantian seakan member peringatan agar kedua biang ribut itu tidak berisik nanti.

“Kenapa tidak hubungi Eun Kyo~ssi saja dulu sebelum dia berangkat Jung Soo~ssi?” tanya Yoo Ri.

Aku tersenyum, “Ingin memberi kejutan,” ujarku singkat. Lagipula Eun Kyo tidak akan bisa pergi ke rumah Eomma dengan cepat. Ia pasti menunggu Kibum menjemput. Jarak dari kantor Kibum ke rumahku cukup jauh jika di bandingkan dengan jarak dari kantorku ke rumah. Kalau di hitung-hitung, aku tetap akan sampai lebih dulu. Aku bisa mampir membeli cake di jalan menuju ke rumah nanti. Cake and Bakery favorit Ryu Jin tidak jauh dari kantorku.

“Kalau begitu, kita bertemu di rumah anda saja ya sajangnim. Kajja, Hyun Eun~ah, kita belanja,” Jae Hyun menarik tangan Hyun Eun. Diikuti oleh Minho dan Yoo Ri mereka semua meninggalkan ruang rapat.

Aku meraih ponselku yang tergeletak di atas meja dan memasukkannya kedalam saku celana. Tanganku menyambar jas yang tadi kusampirkan pada sandaran kursi. Aku melangkah keluar dari ruangan dengan kepala yang di penuhi pilihan-pilihan cake dan cemilan apa yang akan ku belikan untuk kedua jagoan kecilku yang tampan itu. Ryu Jin suka semua yang manis-manis. Tapi aku yakin Eun Kyo tidak akan mengizinkanku memberikan itu pada Ryu Jin. Tidak baik untuk kesehatan anakku. Kalau Yong Jin…aku bingung, anak itu masih terlalu kecil untuk kuketahui kesukaannya. Yang aku ketahui sekarang, Yong Jin suka memasukkan segela sesuatu ke dalam mulut. Baik itu makanan atau bukan, dan itu selalu membuat istriku histeris dan ekstra hati-hati mengawasi si kecil itu. Yang aku ketahui dengan pasti, kesukaan Yong Jin adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan eomma-nya. Kalau untuk urusan yang satu itu, Yong Jin satu selera denganku dan aku harus rela berbagi dengannya.

Jung Soo tampak tergesa keluar dari Cake and Bakery. Kedua belah tangannya menjinjing paper bag besar berisi cake sementara sebuah plastic bag di jepit di antara dagu dan pangkal lehernya. Ia berlari-lari kecil menyeberangi jalan menuju mobilnya yang terparkir di seberang Cake and Bakery. Ia berlari ketika melihat lampu hijau berubah kuning, mengejar agar tidak menunggu lampu merah terlalu lama untuk bisa menyeberang. Hanya tinggal beberapa meter dari mobilnya, sebuah bayangan mobil berwarna merah melesat menyambar tubuhnya, menimbulkan bunyi berdebum keras. Sesaat hening menyelimuti sebelum beberapa detik selanjutnya, orang-orang mulai mengerumuni tubuh yang tergeletak di jalan itu.

Eun Kyo POV

“Masih ada yang mau di bawa noona?” tanya Kibum. Aku melongok ke dalam bagasi yang berisi barang-barang Ryu Jin dan Yong Jin. Mainan Ryu Jin, bantal kesayangan Ryu Jin, pakaian mereka dalam tas, selimut tebal milik Yong Jin, dan box penghangat tempat aku meletakkan beberapa botol ASI yang tadi kumasukkan ke dalam botol agar Yong Jin tidak terlalu banyak mengkonsumsi susu formula.

“Sepertinya sudah,” sahutku. Kibum mengangguk lalu menutup bagasinya.

Ia memandangku heran, “Wajahmu pucat sekali noona. Kita ke dokter dulu saja bagaimana? Badanmu juga panas,” Kibum menempelkan tangannya ke pipiku.

“Ani. Nanti saja. Kita antar Ryu Jin dan Yong Jin ke rumah eommoni dulu. Kalau lama-lama bersamaku nanti mereka malah tertular,” ujarku sambil membuka pintu mobil dan mendapati Ryu Jin sedang mengawasi adiknya yang berada dalam pelukan Yoon Bi, asisten Kibum.

“Kenapa sayang?” tanyaku seraya mengambil Yong Jin dari pangkuan Yoon Bi, “gomawo Yoon Bi~ya,” ujarku pada Yoon Bi. Ia hanya tersenyum kecil dan meringis.

“Imo itu mencurigakan eomma. Dia menggendong Yong Jin tidak seperti eomma. Aku takut Yong Jin akan menangis di tangannya,” Ryu Jin menunjuk Yoon Bi. Aku cepat menurunkan tangan Ryu Jin dan memberi pandangan menegur.

“Tidak sopan begitu, nak. Minta maaf pada Yoon Bi imo,” suruhku. Ryu Jin terlihat ragu sebelum kemudian tersenyum manis pada Yoon Bi.

“Mianhaeyo imo,” ujarnya, “Tapi lain kali jangan begitu menggendong Yong Jin. Lihat eomma, begitu cara menggendongnya. Kalau tidak begitu nanti dia nangis,” sambung Ryu Jin lagi.

“Ye Ryu Jinnie, nado mianhae. Imo takut menggendong anak kecil,” Yoon Bi menyahut malu-malu. Aku melirik Kibum yang terseyum tipis mendengar obrolan Ryu Jin dan Yoon Bi.

“Ryu Jin~a, mau duduk di depan bersama Yoon Bi imo tidak? Kalau menggendongmu Yoon Bi imo bisa,” tawar Kibum. Aku tersenyum dan menatap Kibum penuh arti.

“Aku sudah besar Kibum ahjussi. Tidak suka di gendong oleh siapapun, kecuali Appa,” tolaknya, “tapi aku mau duduk di depan. Kajja imo,” ia menarik tangan Yoon Bi yang menatapku untuk meminta persetujuan. Aku mengangguk. Ryu Jin dan Yoon Bi membuka pintu dan berpindah ke kursi penumpang di sebelah Kibum.

Aku teringat untuk mengabari oppa kalau akan berangkat ke tempat eommoni. Kuraih ponsel di saku hoodieku. Baru saja hendak menekan speed dial, ponselku sudah berbunyi. Yoo Ri? Kenapa menelponku?

“Yoboseyo,” sapaku masih dengan nada heran. Aku mendengar Yoo Ri bicara dengan terburu dan tidak jelas. Aku mengerinyitkan kening bingung karena tidak menangkap apa yang di sampaikannya.

“Ye?” tanyaku. Ku dengar bunyi bergemerisik beberapa saat sebelum suara Yoo Ri berganti jadi suara lelaki, ku tebak itu Minho. ia bicara dengan lebih tenang meski nafasnya juga sedikit terengah. Butuh waktu beberapa saat sebelum saraf-saraf otakku menangkap semua yang di sampaikan Minho dan tubuhku memberikan respon.

“Oppa…” ujarku kaget. Jantungku berdebar keras. Teramat keras. Sampai-sampai aku merasakan Yong Jin menolehkan wajahnya memandangku. mataku mengabur, memerah. Refleks aku mendekap Yong Jin erat-erat.

“Noona? Waeyo?” tanya Kibum heran.

“Ki-kita…ke ruamh sakit Kibum~a, Rumah sakit,Samsung medical. Oppa masuk rumah sakit. Di tabrak…” ujarku tidak jelas. Kibum tidak menyahut, dia hanya dengan cepat memutar mobilnya menuju rumah sakit. Sementara Yoon bi memekik tertahan. Tapi ia cepat menenangkan diri dan bicara untuk menenangkan Ryu Jin yang mulai panik dan menangis.

Oppaaaaa…oppaaa… Waeyo? Oppa baik-baik saja? Kenapa? Ini ulang tahun Yong Jin, tapi kenapa semua malah berantakan begini. Aku menangis dan memeluk Yong Jin erat-erat.

Aku tidak tau berapa menit tepatnya perjalanan menuju Samsung medical Center. Semua orang di dalam mobil tadi diam. Aku bergegas menyusuri lorong rumah saki menuju ruangan yang di beritahu oleh Yoo Ri tadi. Langkahku panjang-panjagn setengah berlari dengan Yong Jin dalam gendonganku. Kepalaku yang pusing tadi masih tetap serasa berdentam-dentam, namun rasa khawatirku jauh lebih kuat. Di belakangku. Ryu Jin masih saja menangis, kali ini Kibum menenangkannya dalam gendongan, sementara Yoon Bi memegang kaki Ryu Jin. Aku panik. Aku tau semua juga panik. Harusnya kau tenang, tapi tidak bisa. Sebelum melihat keadaan oppa aku tidak akan bisa tenang.

Aku tiba di depan kamar nomor 149 yang di beritahu Minho tadi. Jantungku berdebar tidak nyaman. Yong Jin seperti memahami kegelisahanku. Ia menggeliat-geliat tidak nyaman, namun tidak menangis. Aku melangkah semakin dekat dan beberapa sosok yang sedang berkumpul di depan kamar. Ada Yoo Ri, Minho, Jae Hyun, Hyun Eun –yang sedang bersandar dengan wajah letih di bahu seorang lelaki, mungkin kekasih atau suaminya, aku tidak tau–, dan bahkan Ae Ra. Aku sedikit tidak terima melihat Ae Ra lebih dulu tiba di sana. Bagaimanapun, dia pernah dekat dengan Oppa, tapi aku sedang tidak punya tenaga untuk bersikap antipati. Pikiranku terkuras oleh Jung Soo oppa. Aku mencemaskannya setengah mati. Bahkan rasa tidak enak badanku aku abaikan begitu saja.

Ae Ra yang pertama kali menyadari kedatanganku. Ia tersenyum lalu melangkah mendekat.

“Jangan khawatir. Jung Soo baik-baik saja,” katanya sambil menepuk bahuku dan mengelus kepala Yong Jin. Aku tersenyum kaku.

“Aku belum menelpon Ny.Park, Eun Kyo~ssi,” Yoo Ri berujar pelan sambil menyodorkan air mineral padaku. Aku meraihnya dan meneguk isinya. Aku baru sadar kalau selain paru-paruku yang membutuhkan oksigen, tenggorokanku juga sangat kering dan butuh air minum.

“Oppa bagaimana?” tanyaku. Masalah menelpon eommoni, mungkin nanti saja setelah aku mengetahui keadaan oppa. Aku tidak mau beliau terkejut.

“Dokter bilang tidak parah Eun Kyo~ssi. Sajangnim juga sudah sadar. Tadi hanya pingsan karena terkejut,” jelas Jae Hyun. Aku mengangguk.

“Sudah bisa di jenguk?” tanyaku. Jae Hyun mengangguk.

“Aku mau lihat Appa,” isak Ryu Jin dalam gendongan Kibum.

“Nde Ryu Jin~a. Kita liat Appa,” ujarnya menenangkan, “Kajja Noona,” Kibum merangkulku dan masuk kedalam ruangan tempat Jung Soo oppa. Langkah kakiku terasa kaku. Meski Jae Hyun dan Ae Ra mengatakan kalau Oppa tidak apa-apa, tetap saja aku masih cemas memikirkan keadaannya di dalam sana.

Pintu kamar terbuka. Aku menarik nafas dalam dan memeluk Yong Jin untuk sekedar meminta penenangan.

Jung Soo oppa disana. Sedang setengah berbaring pada bagian atas tempat tidurnya yang di naikkan. Kepalanya di temple perban putih sementara aku bisa melihat kakinya di balut perban yang cukup tebal. Firasatku mengatakan kalau itu di gips. Suamiku itu sedang membaca majalah ketika aku –dengan Yong Jin dalam gendongan–, Kibum, dan Ryu Jin yang juga dalam gendongannya masuk kedalam.

“Yeoboooo….” Serunya sembari meletakkan majalah yang tadi di bacanya keatas meja di sebelah tempat tidur. Senyumnya mengembang, terlebih saat melihat dua jagoan kecilnya.

“Ryu Jin~a…Yong Jin~a…,” lambainya semangat, “Aigo, ada Kibum juga, eoh?” serunya tanpa beban. Aku mendesah lega meskipun juga tidak lega sepenuhnya. Bagaimana bisa lega kalau melihat suamiku terluka begitu.

Aku duduk di samping tempat tidurnya dengan wajah bersungut-sungut. Yong Jin melihat Appa-nya lalu lagi-lagi anakku ini tersenyum lebar.

“Bbbrrr..bbbrruurrr..pha..pha..cha..” kekehnya sambil menjangkau-jangkau Jung Soo oppa dengan jemari munginlnya yang montok.

“Aaah, anakku hari ini ulang tahun. Saengil chukkaeyo Yong Jin~a,” ia mengelus-elus pipi tembam Yong Jin.

“Appaaaaa…” kali ini Ryu Jin yang merengek. Matanya masih memerah dan pipinya masih basah. Kibum mendudukkannya di samping tempat tidur Jung Soo oppa.

“Omo, super hero Appa menangis, eoh? Namja keren tidak boleh menangis Ryu Jin~a,” katanya sambil mengusap pipi Ryu Jin.

“Appa kenapa di bungkus…” rengeknya. Aku melihat Kibum dan Jung Soo oppa tersenyum geli. Aku ikut tersenyum di buatnya.

“Appa sakit sedikit Ryu Jin~a. Bukan di bungkus, tapi di perban,” jelasku. Ryu Jin mengangguk-angguk paham dam menunduk mencium pipi dan kening Appanya.

“Hati-hati Ryu Jin. Kening Appamu luka,” tegur Kibum.

“Tidak apa-apa Kibum~a. hanya tergores sedikit,” sahut Jung Soo oppa, tangannya bergerak merangkul Ryu Jin.

“Hyung nyaris membuat jantungku copot. Sukurlah tidak terlalu parah,” kata Kibum, “Ya sudah, aku keluar dulu hyung, noona,” Kibum menepuk kepala Ryu Jin pelan dan mencium pipi Yong Jin sekilas. Ia keluar ruangan meninggalkan kami.

Beberapa saat setelah Kibum keluar, Jung Soo oppa masih sibuk menjawab pertanyaan Ryu Jin tentang alat-alat yang ada di ruangan perawatannya. Ia melirikku, lalu tersenyum.

“Kenapa lagi yeobo? Aku kan tidak apa-apa. Tidak parah sayang,” ujarnya dengan suara lembut menenangkan.

Aku menggeleng pelan. Tidak apa-apa apanya? Meskipun tidak parah, tetap saja aku tidak merasa tenang melihat suamiku terbaring dengan kaki yang terbalut perban tebal. Melihat komposisi ketebalan perban itu aku yankin kalau kakinya di gips. Kalau di gips, berarti ada yang patah kan? Dimana letak tidak parahnya itu?

“Sedikit retak. Tapi tidak sampai patah. Aku minta digips agar tidak terlalu nyeri saja. Jangan khawatir yeobo,” katanya sambil mengusap pelan pipiku.

Kuhela nafas panjang, “Nyaris saja aku kehilangan nafasku tadi oppa. Tidak tau kan bagaimana cemasnya aku tadi. Bisakah lain kali berhati-hati?” kataku. Ia tersenyum.

“Ye yeobo. Mianhaeyo. Aku membuatmu cemas, eoh?” sahutnya, “Aku kan di tabrak Eun Kyo. Baru sekali ini kan. Kau saja sering menabrak. Menabrak meja, menabrak kursi, menabrak pintu, menabrak…”

“Oppa…” aku melotot. Dia terkekeh sambil mengelus-elus kepala Ryu Jin yang mulai terkantuk-kantuk di sebelahnya. Sementara di gendonganku Yong Jin sudah tertidur tenang. Jung Soo oppa memberikan kode padaku untuk meletakkan Yong Jin di sebelahnya. Aku menurut. Lumayan juga rasanya setelah menggendong Yong Jin sejak tadi. Karena panik, aku sempat tidak merasakan pegal-pegal, sekarang baru terasa kalau ototku kaku.

“Kasihan anakku. Ulang tahun pertamanya, aku malah membuat kekacauan,” desahnya menyesal.

“Ani oppa. Yang penting oppa baik-baik saja,” kataku. Jung Soo oppa tersenyum. Lagi-lagi ia meraih pipiku dengan sebelah tangannya, membuat aku sedikit merunduk. Ia kemudian mengecup pelan bibirku.

“Tubuhmu panas. Masih pusing?” tanyanya. Aku menggeleng. Tidak sepusing tadi pagi.

“Nanti ulang tahun Yong Jin kita rayakan disini saja. Kalau aku sudah bisa jalan, kita berlibur dengan anak-anak,” katanya.

Aku tersenyum. Apa saja, asal bersama mereka, asal ada mereka maka aku akan baik-baik saja. Eh, apa tadi? Merayakan ulang tahun Yong Jin di rumah sakit??

Oppaaaa….

Eun Kyo membelalak melihat berapa banyak massa yang datang menjenguk Jung Soo. Ada rekan team Jung Soo di kantor yang sejak tadi siang tidak beranjak dan menghabiskan waktu di rumah sakit. Ae Ra baru datang dengan membawa plastic bag penuh dengan makanan ringan dan soft drink. Teman-teman dari teaternya juga datang beramai-ramai. Ada Donghae, Kyuhyun, Sungmin, Ryeowook, juga Jang Mi. Kibum juga baru datang kembali di temani asistennya, Yoon Bi, sambil membawa pakaian milik Eun Kyo.

“Oppa…” bisik Eun Kyo pada Jung Soo.

“Nde yeobo. Ramai sekali. Untung saja Eomma dan In Young noona sudah pulang eoh,” balas Jung Soo sambil berbisik lagi.

“Apa tidak di marahi pihak Rumah sakit kalau begini?” Eun Kyo berbisik lagi. Jung Soo menggeleng.

“Tidak tau. Semoga saja tidak apa-apa,” sahutnya pasrah.

“Eun Kyo noona. Jung Soo Hyung, mana Yong Jin? Kami membawa blackforest untuknya!” Kyuhyun berseru sambil menenteng cake berlapis coklat tebal.

“Aku juga bawa cheesecake,” Jae Hyun ikut mengangkat kue di tangannya. Sekilas kedua orang ini bertatapan sinis.

“Kita semua bawa kue untuk Yong Jin,” Sungmin cepat-cepat melerai sebelum terjadi keributan.

“Untukku tidak ada?” Ryu Jin berseru protes.

“Ada. Imo bawa kue untukmu Ryu Jin. Ini, kau suka Angry Birds tidak?” Yoon Bi menyodorkan kue yang berada dalam kotak bening, menunjukkan cake berwarna merah berbentuk karakter burung dalam game.

Ryu Jin berseru senang. Sementara Eun Kyo bergidik ngeri. Gula, manisan, coklat, krim, dan semua yang manis-manis. Apa anaknya akan di sodori semua makanan manis ini?

“Tidak apa yeobo. Sekali-sekali. Yang harus kita khawatirkan itu Kyuhyun. Jangan sampai otaknya itu terpikir membawa wine kemari,” bisik Jung Soo saat mendapati wajah panic Eun Kyo.

“Kalau dia berani membawa wine kemari, kubunuh dia,” desis Eun Kyo.

“Cha…sudah ramai eoh? Kita mulai pestanya!” Jang Mi berseru. Semua mata menoleh kaget. Hyun Eun dan Yoo Ri, serta Minho bergantian saling pandang. Mereka tidak menyangka ada yang lebih berisik dari pada teriakan Jae Hyun.

“Yong Jin~a…saengil chukka hamnida…” kata Donghae seraya mengambil Yong Jin dari gendongan Eun Kyo.

“Saengil chukkae Yong Jin…”

happy birthday lil boy,”

“Saengil chukkae…”

Ucapan ulang tahun silih berganti di sertai kecupan-kecupan hangat di pipi Yong Jin yang sedang berada dalam dekapan Donghae.

Jung Soo tersenyum, “Lihat yeobo. Banyak yang menyayangi uri Yong Jin,” katanya pada sang istri.

“Tapi aku lebih menyayanginya,” sahut Eun Kyo. Jung Soo melirik Eun Kyo yang memasang wajah tidak rela saat melihat putra mereka jadi rebutan. Bukan hanya Yong Jin yang sedang berulang tahun, tapi juga Ryu Jin. Eun Kyo bahkan merengut saat melihat tubuh anaknya berpindah dari satu gendongan ke gendongan yang lain.

Jung Soo tersenyum paham. Eun Kyo sangat protektif pada kedua putra mereka dan Jung Soo sangat mengagumi sifat protektif itu. Eun Kyo-nya yang manja bisa jadi seorang ibu yang melindungi anaknya dengan baik. Sangat baik dan telaten.

“Gomawoyo yeobo..” bisik Jung Soo sambil menggenggam erat tangan Eun Kyo. Istrinya menaikan alis dengan wajah bingung.

“Terima kasih sudah memberikan aku kebahagiaan lebih dari apa yang aku bisa bayangkan. Terima kasih sudah memberikan aku Ryu Jin, Yong Jin. Terima kasih sudah jadi milikku,”

Eun Kyo tersipu. Sama. Ia juga berterima kasih. Jung Soo sudah berada dalam hidupnya. Memberi warna-warni dalam kanvas hidupnya. Memang tidak hanya cerita cinta yang bahagia dari awal mereka bersama, tapi setidaknya mereka bisa bersama meski harus ada rasa lain di luar cerita-cerita yang indah. Tidak masalah, untuk bahagia tida di perlukan semua rangkaian kisah indah jadi satu. Untuk bahagia hanya di perlukan tempat untuk berbagi rasa bahagia itu. dan mereka menemukannya satu sama lain. Mungkin sejak awal ada orang berpikiran kalau kisah mereka hanya penggalaman roman picisan belaka. Tapi mereka tidak peduli. Picisan seperti apapun akan jadi penggalan mahakarya sastra selama ada mereka disana.

“Ehhm, eum..sepertinya Ryu Jin ingin main main keluar. Kita main kembang api bagaimana?” ujar Minho pada Ryu Jin.

“Mau…mau…aku mau…” Ryu Jin melonjak-lonjak girang. Yong Jin yang kali ini sedang berada dalam gendongan Yoon bi ikut bergelinjang riang, membuat Yoon Bi yang masih kaku menggendongnya jadi sedikit kewalahan. Tangan Donghae dengan cepat membantu menahan anak berumur satu tahun itu.

“Hati-hati. Eun Kyo bisa mengamuk kalau terjadi apa-apa pada anaknya,” kata Donghae pelan sambil tersenyum kecil. Yoon Bi meringis takut-taku.

“Nde…mianhae..mianhae…”

“Sini biar aku saja yang gendong,” ujar Kibum sambil mengambil alih tubuh Yong Jin dari Yoon Bi, “Kajja, kita keluar,”

Semua orang yang tadi berada di ruang perawatan Jung Soo berangsur keluar. Eun Kyo melongo beberapa saat setelah menyadari kalau ruangan yang tadi penuh sesak sekarang justru lengang.

“Ya! Anakku…”

“Sssttt…yeobo…tenanglah. Tidak apa-apa. Ada Donghae dan Kibum yang mengawasi. Lagipula Yoo Ri dan Ae ra terbiasa dengan anak kecil,” Jung Soo menenangkan.

Eun Kyo merengut mendengar nama Ae Ra di sebut, “Ae Ra? Aku tidak mau dia dekat-dekat dengan Ryu dan Yong, oppa,” sungutnya. Jung Soo tergelak.

“Omo, Ae Ra tidak akan mengambil Ryu Jin dan Yong Jin yeobo. Tidak akan mengambil aku darimu juga. Dia sudah bertunangan. Dan dia tidak tertarik padaku. Itu hanya desas-desus tidak penting dari rekan kerja,” kekeh Jung Soo. Eun Kyo melengos. Dia memang sempat mendengar kalau Ae Ra dekat dengan Jung Soo. Memang sudah lama dia mendengar desas-desus begitu, tapi tetap saja rasanya sedikit kesal setiap kali melihat Ae Ra.

“Kau tau yeobo, kalau sedang cemburu begitu, kau jadi jauh lebih cantik. Berkali lipat lebih cantik dan aku menrasa hanya aku satu-satunya yang kau pandang,” sambung Jung Soo.

Eun Kyo mengangkat bahunya, “Sudahlah oppa. Berhenti merayu begitu. Sekarang minum obatmu dulu,” Eun Kyo hendak berdiri meraih obat di atas meja stainless tapi tangan Jung Soo lebih dulu menahannya.

“Apa?” Eun Kyo memandang bingung. Jung Soo memberi isyarat agar Eun Kyo mendekat, ia lalu menarik tubuh Eun Kyo hingga wajah istrinya itu berada tepat di hadapannya. Sebelum Eun Kyo sempat berkedip, bibir mereka berdua sudah bersentuhan. Hal pertama yang di lakukan Eun Kyo secara insting adalah menutup kedua belah matanya saat lembut dan hangat bibir itu menyentuh bibirnya. Membebaskan tubuhnya bereaksi  terhadap setiap aksi Jung Soo. Darahnya berdesir saat bibir Jung soo membuka dan menekan bibirnya lembut. Sementara lidahnya secara terlatih menggelitik pelan bibir bawah Eun Kyo, menggodanya tanpa ampun.

Eun Kyo menumpukan tangannya pada pinggiran tempat tidur. Ia berdiri setengah merunduk sementara Jung Soo berbaring dengan bantal yang di tumpuk tinggi menyangga punggung dan lehernya. Jemari Jung Soo menyelinap masuk ke sela rambut Eun Kyo. Menarik wajahnya agar lebih dekat, sementara sebelah tangannya lagi menyusup masuk ke dalam blouse Eun Kyo. Membelai pelan rusuk Eun Kyo. Tangan Jung Soo merasakan kulit istrinya yang suhunya masih cukup tinggi. Jung Soo menarik wajahnya sedikit menjauh.

“Rasa kepemilikanku selalu meningkat drastis jika itu menyangkut dirimu yeobo,” bisiknya pelan. Sebelum Eun Kyo sempat menjawab, bibir Jung Soo kembali membungkam bibirnya dengan ciuman-ciuman dalam. Kembali menekan bibir Eun Kyo. Menciumnya penuh-penuh.

“Eommaaaa…” teriakan dari luar menyentakkan tubuh Eun Kyo seketika. Ia menari wajahnya menjauh.

“Ryu Jin,” serunya tertahan. Matanya membelalak lalu bergegas berlari menyongsong pintu.

Jung Soo tertawa geli mendengar keributan di luar. Ia yakin kalau istrinya tengah mengamuk pada para tersangka yang membuat Ryu Jin menjerit tadi. Cepat sekali suasana hatinya berubah. Bukankah beberapa saat tadi mereka sedang berciuman? Sekarang istrinya sudah mengamuk-ngamuk di koridor rumah sakit. Apa Eun Kyo tidak sadar kalau rambutnya sedikit berantakan dan bibirnya terlalu basah dan merah? Jung Soo menggaruk kepalanya. Sudahlah, setidaknya dengan begitu, orang-orang di luar sana tau kalau Eun Kyo miliknya. Ia sudah membuat tanda kepemilikan yang permanen atas Eun Kyo.

‘Aku merasa Tuhan melemparkan sepotong bagian surganya dan memberikannya padaku dalam bentuk kalian. Ini sudah lebih dari apa yang bisa kuminta,’

FIN

a/n: Sebenarnya ini untuk ultah Yong Jin si pipi bantalku tersayang, tapi tetep aja saya nyempilin skinship buat Bapak sama Emaknya. Apa daya saya terlanjur suka kalau ada skinship antara TeuKyo. Mianhae Yong Jin~a, imo kadang mesum. Tapi ini tanda sayang imo buat kamu nak. Saengil Chukka hamnida uri Park Yong Jin. Jadilah keren seperti Ryu Jin dan Appa serta baik hati seperti eomma dan imodeul, arrachi?

Mianhae eonni~ya, ceritanya jadi ngalor ngidul ngelantur. Ceritanya juga datar banget, nyaris tanpa konflik. Settingnya saya pake LTD, MLT, dan imajinasi saya yang liar. *bakbukplak. Saya juga menyempilkan makhluk-makhluk yang kagak ada gunanya dimari. Cuma buat ngerame-ramein ajah. Siapa saja mereka? Cukup kita dan Tuhan saja yang tau.

P.S: eonni~ya jaga kesehatan, kalau sakit gimana mau ngurus Ryu Jin, Yong Jin, sama Appa-nya. Get well soon ya eon. We love you…

Vikos Say : Yang ini bikin mewek masa…. you know me so well By… aku potongan surga itu sudah pasti. Bersuara malaikat yang penuh cinta pastinya…. bahahahahahahahaha. Tunggu suara indah saya mengalun beberapa hari lagi… ya udah, terima kasih sayang, udah mau bkinin… ini lebih dari cukup. Aku tau kalian mencintaiku, so, i love you too… all of u…

24 responses »

  1. yong jin-ah kecup basah ponakan noona…
    hwaaaaaa….ada sy masa…
    *jgn bunuh sy*
    sy kgak ada apa2 sma oppa eon…
    *ciyus…cumpah malah*wkwk
    sy udah tunangan ma ecung eh dah nkah malah skrg!
    untung oppa gak apa2*elus pipi oppa*lol
    *kabuuuuur*

  2. saya mao ninggalin jejak cinta! (lg) -__-

    nih epep paling kelabu d’ultah Yong tp akhir’a unyu bgt, si Oppa ttp mesum ye lg sakit jg! -__-

    daannn d’RS rame bgt…. untung kga d’usir satpam ye? -_-
    ada Jang Mi masa *emot siyok*
    bwahahaa JangMi lebih ribut dr pd JaeHyun eon ya?
    HyunEun d’mna2 ttp aja baboh! kga cape apa HyunEun? *plak
    caelah Yoon eon deket sm mbum nih? nasib Ongek gmna tuh eon? *duagh

  3. Haaaahh…ada yoomin d mari…hoyeeeee…sayah seneng masa sayah ma laki ngeksis….febby aku padamuuuuu…hahay…

    Ini yah dasar miss kelabu sukanya bikin kelabu2…untung akhirnya hepi ending coba…dan ryu jin unyuh sekali…kaka dah pinter jagain dede masa…

    Sayah terhura ma kalimat terakhirnya masa…bener2 bikin iri…kapan minho ngmg romantis begitu ma sayah…*brb mikir*

    Dan uedaaaannn…pesta d RS…???*emot siyok*
    ide siapa itu…???sembarangaaaaannn…kagak tau berisik apa…apalagi ada jangmi ma jaehyun…double J yg bikin berisik…oh no…untung kagak dikejar satpol PP padaan…*plak

    eh sayah baru sadar…yoomin lebay amat yah waktu beritain oppa kecelakaan ampe kyo eon segitu paniknya…sembarangan ni…ckckck…

    Eonni-ya…get well soon…jangan sakit2 terus…kasian jin’s brother…apalagi kl ntar oppa yg ngurus mreka…andwaeee…mending eonni ajah yg urus mereka…
    Jdi eonni jaga kesehatan yah…jangan sakit2 mulu…lope u…

  4. Buahahaha
    modus bner dah ya yg bkin nie epep!
    epep bwt ultah ank2 koq malah PG gn status!
    Dasar NiNa,!*emot kringet
    emak,Jaehyun n smw NiNa BaBoh’s family ngeksis jg masa dimari!
    uri satwa liar dan si Evil jg nyempil!
    suka bgt dah!
    Ps bwt kyo unn: Unn,kalo mw nyanyi lg jngan dkrm pas tngah mlm n suarax yg kerasan dkit!
    jngn bkin saia merinding lg ky smlm!*plak
    *Kabuuur

  5. hiwww… yong jin saengil chukkae chagiya.. noona kasih kecup sayang aja deh buat si pipi bantal buat super hero keren juga kok..*lirik ryu jin hehe..
    skinship teukyo itu emang udah seperti candu.. kaya sayur tanpa garam kalo gak ada*jiahh

  6. Hahaha saya ngakak bacanya #pukpuk jungsoo appa..
    Yongjin ah saengil chukkae sayang *cipok* cepet gede sayang.. Dan jadilah lelaki tertampan karena eomma dan appmu itu cantik dan ganteng. Jadi kamu harus tampan luar biasa. #tsaah

    eh iya buat vika unnie cepet sembuh yaa unnie sayang *peluk*

  7. Hah ini bener deh.. Tadi aku kira jungsoo appa cuma pura2 kecelakaan ato cuma keserempet dikit. Biar ada kejutan diultah yongjin.. Saya suka ryujin ah dia jadi hyung yg baik. Skinship eunkyo? Itu saya suka *plak*

  8. Walau acara ultahnya hampir berantakan gegara appanya masuk RS, tapi tetap seru. Ais, aku kok gemes banget ya sama si pipi bakpau itu, bener-bener pengen nyubiiiit.

    Skinshipnya moduuuuuus bangettt. Saengil chukkahae, yongjin, pipi bakpao.

  9. Rame banget yg ikut ngrayain ultah yong jin kalau ngrayain drumah sich ga masalah tp inikan lagi drumah sakit untung aja ga di usir ama satpam…ckckck…

  10. gemes deh am tingkahnya ryu jin…
    ngmong dbulak-balik..bersikap dwasa pula,luucu ngbayanginnya!!
    aduudduu..aadduuhh…ada ksempatan langsung sambar mnyambar ajaahh!!
    psangan yg romantis !!
    ultah prtama drmah skit…sungguh brkesan (?)pllaakk!!
    Saengil chuka hamnida Youngjin🙂

  11. kirain aku awalnya jungsoo kecelakaannya boongan, cuma mau bikin surprise party. taunya beneran ya -___-
    ryujiiin, noona gemes sama kamu!😀
    buat yongjin, happy birthday. semoga cepet gede ya :*
    oiya diending eunkyo udah bisa ngamuk2, sepertinya udah sembuh setelah berbagi virus melalui kecup basah hahaha >////<

  12. aaaa….
    Saengil chukkae Park Yong Jin ^o^
    Kalo udah besar jgn makanin mainan lagi ya sayang… Kalo gusinyanya gatel pingin gigit2 sesuatu, minta biskuit regal (?) ke eommanya xD *merknya sensor*
    Kalo gk dikasih minta ke appanya yg keren itu kkkk…. Enggak di kasih minta ke noona nnti kalo ada uang (?) noonya beliin wkkw… #abaikan

    Aduh.. Terharu sama Ryu Jin.. Bijaksana bgt sih dia.. Udah kyk appanya… Best of leader…😀
    Dy bisa bantuin eommanya jagain adenya hebat😀

    Sekali lagi selamat ulang Tahun Park Yong Jin😀

  13. sooo sweeet banget ceritanyaaaa🙂 aku ampe terharu waktu di akhiiir gmn klo vika eoniiii yaaa .-.
    hehehehe
    tapi bikin nyelek waktu oppa jungso ketabrak ga relaa banget😦 haha
    but so fine….aku suka😀

    n saengil cukkaee yong jin`aaaa saranghaeeeeeee:*

  14. Sweeeetttt…..

    Nyempil skinsip yg bkin merinding err…
    Haah..tdix q ampet ngira jungsoo oppa g ada eh ternyata tu hanya dugaan salahku hehehe😀

  15. saengil chukkae yong jin sayang …..
    aissshh makin chubby ajee nihh ..
    si oppa klo uda dket” sm kyo eonni bwaa’n a pngn skinship mulu
    tapi itu yg di tunggu” wkwkwk
    selain cerita’a yg emang sweet
    ktwa pas si ryu jin bilang appa’a di bungkuss … makin lucu ajee kaliannn
    peluk yong jin

  16. banyak yang comment kirain itu celakanya beneran, aku juga berpikiraan sama. Eh trnyata beneran aigoo poor you oppa -____- skinshipnya modus banget hahahaha
    ceritanyaa seru author c:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s