TeuKyo Couple : Loving U (Part 1)

Standar

Author : Ikha068

 

Mokpo, January 2012

                Jung Soo menerima telpon yang datang ke ponselnya dengan enggan, tertera disana neneknya yang menelpon. Hari itu ia sedang begitu sibuk sampai-sampai ia malas untuk diganggu siapapun.

“Yee halmeoni?” jawabnya malas, semalas-malasnya. Ia berharap neneknya itu sadar akan kelelahannya.

“Jung Soo~ya…apa kau sudah selesai bekerja?” jawab disebrang dengan nada yang lembut dan memanjakan telinga. Jung Soo mengeryit, namun tetap saja nada lembut itu hanya ia jawab dengan gumaman.

Ia mendengarkan apa yang neneknya bicarakan itu dengan seksama, awalnya biasa saja namun beberapa detik kemudian ia terkejut dan sedikit terukir senyum disudut bibirnya walaupun tidak terlalu kentara.

“Arraseo, aku akan pulang sebentar lagi.”

Pria itu menarik nafas kemudian menutup telponnya dan meraih jas yang tersampir di kursi lalu pergi meninggalkan tempat kerjanya, bergegas pulang, menyambut sesuatu yang sebenarnya ia tunggu entah sejak kapan.

 ***

                Halaman luas rumah yang dihuni 9 orang bersaudara itu terlihat ramai. Ada seseorang yang tampak dikerumuni. Seorang gadis yang sejak tadi disebut-sebut neneknya. Dia, Park Eun Kyo.

Pria itu mendekat dengan wajah dingin, jas yang sejak tadi tergeletak di kursi belakang mobil kini berpindah ke bahunya. Sadar dengan kehadiran Jung Soo, beberapa saudara yang lain menjauh dan membiarkan Eun Kyo dan Jung Soo terdiam cukup lama, mensyukuri kehadiran masing-masing.

‘Akhirnya kau kembali ke rumahmu yang sebenarnya Eun Kyo-ya…’

 ***

                Satu alasan yang cukup kuat yang membawa Eun Kyo kembali ke rumah masa kecilnya, kembali pada rumah neneknya bersama beberapa sepupu yang lain. Satu hal sangat menoreh hatinya cukup dalam. Perpisahan. Ada perasaan tak terrelakan sebenarnya saat ia datang kesana, mungkin lebih kepada keterpaksaan karena sebenarnya ia tidak tahu mengapa Mokpo dijadikan termpat peristirahatannya setelah ia mengalami masa terapi di suatu panti rehabilitasi selama 1 tahun kebelakang.

                Eun Kyo mencoba bangkit dari semacam keterpurukan yang tidak seharusnya ia rasakan. Ia gadis yang tegar, gadis yang kokoh dan gadis sekuat itu tiba-tiba merapuh hanya karena perpisahan tak berarti dengan kekasihnya, Cho Kyuhyun.

                5 tahun bagi Eun Kyo bukan waktu yang sesaat, terhitung ia menjalinnya dari mulai lulus sekolah menengah atas dengan pria itu dan kandas hanya karena adanya perbedaan sudut pandang namja itu dengan orang tuanya terhadap dirinya. Terpaksa harus berakhir dengan tiba-tiba. Dia syok, dan setelahnya kerap kali tak terkendali mencoba mati dengan berbagai cara. Oleh karena itu pihak keluarga setuju untuk membawanya ke panti rehabilitasi. Dan setahun ini, hasilnya sudah cukup baik. Eun Kyo tidak lagi menangis meraung-raung, tidak lagi membanting-banting barang dan tidak lagi trauma dan sering tergagap-gagap dengan suatu hal yang sangat ia benci, terutama sesuatu yang terlalu dekat dengan mantan kekasihnya, Cho Kyuhyun.

                Eun Kyo mencoba melakukan apapun yang terbaik untuk dirinya termasuk menyetujui untuk tinggal di Mokpo, bersama nenek dan para sepupunya. Meninggalkan Seoul, meninggalkan hiruk pikuk kota itu dan terutama meninggalkan kenangannya yang terpaksa menjadi masa lalu semata, pria itu. Cho Kyuhyun yang kini dikabarkan akan dijodohkan dengan gadis pilihan orang tuanya.

                Eun Kyo menutup mata dan telinga atas apapun mengenai pria itu. Kini yang ia butuhkan adalah penyegaran. Proses pemulihan dan kalau perlu…cinta yang baru. Hanya saja, sejauh ini ia belum memikirkannya lebih jauh. Eun Kyo hanya berfikir, jika ia kembali menjalin cinta maka ia harus siap patah hati lagi. Eun Kyo takut resikonya jika ia harus patah hati dan akan kembali sehancur dulu. Yang ia butuhkan adalah seseorang yang akan mencintainya, selamanya.

 ***

Mokpo, Maret 2012

                Eun Kyo masih duduk di pasir tepi pantai. Udara sore kian membuat bulu kuduk meremang. Eun Kyo masih tak bergeming, dia suka. Berlama-lama di pantai, sendirian, menantikan lembayung yang memerah digantikan bulan yang terang-benderang.

                Dari kejauhan, tampak lelaki berusia sekitar 29 tahun berjalan pelan menghampiri Eun Kyo, seperti biasa jas hitam ia sampirkan dibahunya, hanya tersisa kemeja putih yang agak lusuh juga lengannya yang kini menggulung di sikutnya. Kakinya telanjang, dan sesekali rambut yang sedikit pirang itu bergoyang tertiup angin. Pria itu menepuk bahu Eun Kyo sebelum akhirnya memutuskan untuk duduk disebelah gadis bergaun putih itu.

“Sudah hampir malam. Kau bisa masuk angin, Eun Kyo~ya…” Pria itu berkata lembut, matanya mengikuti arah tatapan Eun Kyo. Menatap lautan yang menghampar.

Gadis itu sedikit lambat dalam menerima impuls pembicaraan. Masih terdiam hingga beberapa detik berikutnya ia menoleh dan tersenyum.

“Aku sudah biasa dengan udara malam disini, aku akan pulang…10 menit lagi.”

Pria itu balas menatapnya. Tatapan penuh harap sekaligus kagum bercampur haru. Ada satu pertanyaan, mengapa senyum itu selalu membuat perasaannya campuraduk seperti itu padahal ia tahu persis bahwa Eun Kyo adalah sepupunya. Anak dari ajhumanya sendiri.

“…Ah yee, Jung Soo~ya…kau tidak lelah, pulang kantor kerap kali langsung datang kesini?” Eun Kyo melanjutkan perkataannya, kali ini ia sibuk memainkan pasir dengan jemarinya.

“Aniya…aku selalu senang membuang penatku setelah seharian bekerja, disini, dan…bersamamu.” jawabnya, dan Jung Soo masih memperhatikan apapun yang Eun Kyo lakukan. Gadis itu menghentikan gerakan jemarinya dipasir dan mendongak, menyelipkan beberapa anak rambut dibelakang telinganya. Rambut panjang itu menari tertiup angin, membuat kadang-kadang wajahnya tertutupi.

“Denganku?” gadis itu menoleh cepat.

Jung Soo mengangguk dan tersenyum. Sudah dua bulan semenjak gadis itu tinggal disini, ditempat kelahirannya, ditempat nenek mereka, dan…disaat yang sama ia merasakan adanya kesalahan yang ia buat. Ia merasakan jatuh cinta, sayangnya pada sepupunya sendiri, sepupu yang bahkan sangat dekat jika ia harus jatuh cinta…terlalu dekat untuk merasakan perasaan itu.

“…kau, hanya akan buang-buang waktumu saja. Aku masih dalam tahap pemulihan, dan hanya boleh melakukan kegiatan yang ringan dan…kegiatan membosankan ini kau anggap akan membuang penatmu. Harusnya…”

“…Laut dan pasir akan menyerap energi negatif dari tubuh kita. Karena itu aku senang jika berada dipantai setelah seharian bekerja.” Jung Soo segera meluruskan ucapannya, walau pada teorinya seperti itu, tapi logikanya ia datang bukan sekedar untuk membuang energi negatifnya itu tapi…melihat wajah Eun Kyo dan ingin menghiburnya adalah tujuan yang sebenarnya.

“Eo keurae, kau benar… Ah, sudah hampir gelap. Aku ingin pulang…masih mau disini atau…”

“…Kita pulang sekarang, Eun Kyo~ya!

 ***

                Eun Kyo baru saja mengganti bajunya dengan baju tidur saat ia membuka pintu balkon kamarnya ia sedikit berjenggit karena mendapati Jung Soo sudah b

0erada disana dengan pakaian tidur dan ia membelakangi pintu menuju balkon, kedua tangannya berpegangan erat pada pagar pembatas.

“Jung…Soo~ya, apa yang kau lakukan di balkon kamarku?”

Pria itu menoleh dan tersenyum, sadar seharusnya ia meminta ijin terlebih dulu pada pemilik kamar kalau dia akan menghabiskan waktu sebelum tidurnya dengan gadis itu.

“Aku sudah mengetuk pintu kamar beberapa kali dan halmeoni bilang kau sedang mandi dan dia mengijinkanku menunggumu disini, jadi ya…”

Eun Kyo mendelik sedikit kesal, namun karena terselip nama ‘halmeoni’ pada kalimat Jung Soo, gadis itu memilih kesal sendiri saja. Dia tahu persis bagaimana sifat neneknya itu dan selama ini tidak ada yang bisa membantah apapun peraturan neneknya itu, setidak logis apapun.

“Kau belum mau tidur memangnya?” tanya Eun Kyo, dia mensejajarkan dirinya dengan Jung Soo dan matanya menerawang.

Jung Soo menggeleng kuat. Ia tahu, kalau dia mengatakan lelah atau mengantuk saat bersama Eun Kyo, maka gadis itu akan sekuat tenaga menyuruhnya untuk beristirahat detik itu juga.

“Boleh kan aku disini? Kebetulan besok aku masuk kantor siang karena semua orang kantor sedang menyiapkan pesta ulang tahun perusahaan, jadi…malam ini aku tidak mau tidur cepat.” Ujar Jung Soo, pria itu duduk di sofa balkon diikuti Eun Kyo yang masih kebingungan dengan sikap pria itu.

Ia lagi-lagi tersadar, setengah dari waktu pria itu selalu dihabiskan bersamanya, tanpa peduli alasan apa yang membuat Jung Soo sampai seperhatian itu padanya, padahal Eun Kyo sudah bilang berkali-kali bahwa keberadaannya disana sama sekali tidak ingin membuat waktu siapapun terganggu. Ia selalu meminta neneknya untuk mengingatkan para sepupunya untuk tidak terlalu khawatir padanya.

“Memangnya kapan ulang tahun kantormu?”

“Lusa malam, tapi entahlah…aku hanya ingin memberikan pesta yang maksimal sehingga persiapannya jauh-jauh hari selama seminggu ini, bahkan kegiatan kantorpun akan dihentikan dua hari menjelang hari H…Eo, kau mau kan datang ke pesta nanti?”

Jung Soo menoleh, senyumnya mengembang penuh harap. Eun Kyo balas menatapnya datar.

“Aku? Memangnya aku siapa?”

Jung Soo terkekeh mendengar ucapan Eun Kyo. Memang benar, apa perannya diperusahaan, memang tidak ada, hanya saja Eun Kyo sangat berperan dalam hidup seseorang yang mengendalikan perusahaan itu.

“Kau…kau sepupuku. Kita semua akan datang, halmeoni, eomma ku, appa, semua sepupu dan bahkan aku akan menghubungi ayah dan ibumu, ya…kalau mereka sempat. Jadi kau harus datang.”

Sepupu? Iya benar sepupu…kau memang tertera dalam daftar nama para sepupuku, hanya saja aku lebih senang kalau kau bukan sepupuku.

Eun Kyo tersenyum tawar. Kemudian menoleh ke arah Jung Soo. “Benar, kita sepupu. Aku hanya tidak tahu seberapa penting peran seorang sepupu dalam acara kantormu itu Jung Soo~ya…lagipula aku tidak punya gaun bagus untuk pergi ke pesta besar itu. Ahh…aku tidak janji akan datang. Dan aku juga hampir lupa bagaimana pesta itu, yang aku ingat hanyalah…sebuah panti dengan berisikan orang-orang yang putus harapan. Aku merasa bodoh masuk kesana karena masalah asmara…” jelasnya panjang lebar dan berhenti di kalimat terakhir yang terasa menggantung. Matanya menerawang tidak jelas, luka itu memang belum pulih benar hingga puluhan kali ia mencoba melupakan tapi saat ingat sakitnya nyaris sama seperti sedia kala.

“Ssssttt…jangan mengingat itu lagi, kau sudah cukup baik menjalani terapi. Sekarang, kau hanya tinggal membuka lembaran baru, menorehkan tinta dengan warna yang berbeda.”

Jung Soo menarik kepala Eun Kyo agar bersandar dibahunya, sebelah tangannya menggenggam tangan Eun Kyo erat dan Jung Soo merasakan ada debaran aneh saat melakukannya.

“…aku tidak tahu seberapa penting peranmu, hanya…” Jung Soo memotong ucapannya sendiri membuat Eun Kyo mendongak tanpa melepaskan kepalanya dari bahu Jung Soo, membuat jarak wajah mereka terlalu dekat.

“Hanya apa?” selidik Eun Kyo, sebenarnya ia tahu, sudah cukup lama tahu, selama ini Jung Soo memperlakukannya bukan sebagai sepupu. Lebih kepada seorang wanita yang dispesialkan. Bagi Eun Kyo, perbedaan itu sangat kentara, mengingat dulu mereka tidak pernah sekedat ini. Lima tahun lebih sudah cukup bagi Eun Kyo untuk melupakan Jung Soo yang dulu. Ia bahkan tidak ingat, bagaimana Jung Soo sebenarnya, sebelum akhirnya mereka tinggal di tanah yang sama, dirumah yang sama, Eun Kyo baru berani memutuskan bahwa Jung Soo lebih terlihat…menyukainya daripada menganggapnya saudara sepupu.

Jung Soo tergagap, kesalahan yang ia buat adalah menoleh kesamping dan dengan begitu hidung mereka nyaris beradu karena didetik berikutnya seluruh tubuhnya seakan melemas karena jantungnya tiba-tiba berpacu cepat.

“A…aku, aku…tidak tahu mengapa aku seperti ini. Ahh…maksudku, mengapa…” Lagi-lagi Jung Soo tidak bisa melanjutkan ucapannya membuat Eun Kyo semakin curiga. Gadis itu menegakkan kepalanya dan berdiri dari sofa.

“Aku tahu, tapi…kuharap kau juga tahu dan menghafalkannya bahwa…secara biologis aku adikmu Jung Soo~ya.” Eun Kyo berkata lembut dan berniat pergi sebelum Jung Soo bangkit dan mencekal lengannya.

“Tapi aku lebih senang kalau kau bukan adikku.”

Jung Soo kehilangan kesabaran dan mencengkram kedua lengan Eun Kyo erat. Matanya menatap tajam bola mata Eun Kyo, berusaha menembusnya, mencari sesuatu yang sama dengan apa yang ia rasakan, tapi Jung Soo justru menemukan keterkejutan yang sangat dalam mata Eun Kyo.

“Jung…Soo, apa yang kau katakan?” Mata Eun Kyo mulai berkaca-kaca, ia merasa ucapan Jung Soo terlalu menohoknya.

“…Kau tega sekali berkata seperti itu padaku Park Jung Soo ssi.” Eun Kyo buru-buru melepaskan cengkraman Jung Soo dan berbalik secepat mungkin masuk ke kamarnya dan segera mengunci pintu balkon, tanpa peduli bagaimana nantinya Jung Soo bisa keluar dari sana.

Jung Soo terhenyak, ia sadar, ia terlalu keras dan frontal, seharusnya ia tidak mengatakan apapun, ia harus menahannya sampai ia tidak bisa lagi menahannya.

“Kyo~ya…” panggilnya lembut didaun pintu, ia tahu Eun Kyo tengah menangis didalam sana. Gadis itu segera mematikan lampu kamarnya dan mengurung diri dalam selimut, tanpa sadar ia segera terlelap.

 ***

                Tepat pukul 1 dini hari, hujan deras mengguyur Mokpo. Termasuk kediaman keluarga Park. Rumah yang berisikan kurang lebih 10 orang itu terlihat sepi, hanya Jung Soo yang berusaha menyelamatkan diri dari percikan air, ia masih terkunci di balkon kamar Eun Kyo, padahal ada sebuah pintu jeruji menuju balkon kamarnya, hanya saja pintu itu kini terkunci rapat dan neneknya sendiri yang menguncinya. Ada sesuatu yang neneknya ketahui hingga ia tidak akan membiarkan Jung Soo keluar masuk kamar Eun Kyo tanpa sepengetahuannya melalui pintu itu.

Kilatan petir serta merta membuat Eun Kyo mengerjap dan bangun dari tidurnya. Ia menoleh ke arah jendela menuju balkon, siluet Jung Soo masih ada disana. Ia terkejut dan segera menendang selimutnya dan membuka pintu.

“Jung Soo~ya…gwenchana?”

Jung Soo menoleh ke arah pintu, Eun Kyo mematung dengan rambut agak berantakan disana dengan wajah khawatir. Pria itu terlihat menarik nafas lega, bukan karena akhirnya ia tidak akan kehujanan lagi, tapi karena ia tahu Eun Kyo sudah tidak marah lagi. Harusnya ia ingat, emosi Eun Kyo bahkan masih sangat labil.

“Cepat masuk, kau bisa sakit!”

Gadis itu menarik tangan Jung Soo masuk ke kamarnya dan cepat-cepat memberikan handuk kecil untuk mengeringkan sebagian dari tubuhnya yang terkena cipratan air.

“Gomaweo…” ucap Jung Soo seraya duduk di sofa dan mengeringkan rambutnya.

“Mianhae, ini gara-gara aku…aku…masih belum bisa mengontrol emosi, ahh…sebaiknya kau jangan terlalu dekat denganku, aku terlalu tempramen, kau bisa…”

“…Aniya, aku mengerti. Jangan bicara seperti itu.”

“Tapi aku selalu menyusahkan semua orang dan kau…”

“Aku tidak apa-apa, kumohon jangan menyalahkan dirimu terus!”

Eun Kyo tidak berhenti mondar-mandir seraya sesekali meremas jarinya panik. Hingga akhirnya Jung Soo meraih tangannya dan menghentikannya.

“Aku tidak akan pernah menyalahkan apapun yang kau lakukan padaku. Sekalipun kau tidak pernah memanggilku Oppa, kau tidak pernah tahu apa isi hatiku yang sebenarnya…”

“…Jung Soo~ya, jangan mulai lagi!” Eun Kyo mulai berang, ia berusaha melepaskan tangannya, tapi tidak bisa.

Mata Jung Soo kembali menatapnya, dalam. “…Kumohon berhenti berpura-pura tidak tahu, Eun Kyo~ya!”

“Mwo? Aku memang tidak tahu apa-apa.” Bantahnya berdusta.

“Kumohon, aku tahu kau sudah tahu…sudah cukup lama tahu. Dan kau juga membiarkan aku tanpa menolakku selama ini. Aku tahu, kau tahu sesuatu, hanya saja kau terlalu takut untuk mengakuinya. Kumohon…mengertilah.”

Mata Jung Soo mulai sayu dan terlihat lelah. Lelah memendam ini semua. Sendirian.

Eun Kyo masih diam, dia bingung antara harus mengakui atau tetap berpura-pura tidak tahu. Karena jika pilihan pertama ia lakukan maka semuanya akan semakin jelas, mengingat ia sudah terlanjur nyaman dengan kesalahan yang meraka buat. Lebih mengarah pada, sama-sama saling jatuh cinta.

Jung Soo menarik nafas sebelum akhirnya ia kembali berucap. “Halmeoni bilang, tahun ini atau maksimal tahun depan aku harus sudah menikah…Awalnya aku setuju saja saat aku mendengar akan dijodohkan dengan pilihan halmeoni tapi…dua bulan ini, terus terang saja…kau membuatku merubah keputusanku. Kau membuatku justru ingin…menikahimu!”

Mata Eun Kyo terbelalak. Yang ia pikir bukan masalah perasaan lagi, tapi, jika itu terjadi akan sangat-sangat terlarang.

“Jung Soo~ya, jangan gila!” Eun Kyo membuang wajahnya ke arah lain seraya mendengus.

“Kumohon akui apapun yang kau tahu!” Jung Soo memohon dengan wajah putus asa.

Eun Kyo menunduk. Ia benci mengakuinya. Ia pun benci kalau kenyataannya Jung Soo adalah kakaknya, ia benci mengapa disaat hatinya mulai pulih justru hatinya salah memilih.

“Lebih baik aku tidak tahu apa-apa.” Bisiknya pelan. Kemudian ia mendongak menatap Jung Soo dengan sorot yang sama-sama lelah, sama-sama frustasi. Memang, cinta sulit diucapkan, bukan karena lidah terlalu kelu…tapi, cinta yang sekarang justru terasa lebih kepada sebuah kesalahan fatal.

“Tapi…” Jung Soo kembali mencengkram kedua lengan Eun Kyo. Sorot matanya kini terlihat memaksa. “…Kau tahu kan?” serunya lagi, kini mengguncang tubuh kecil itu.

Eun Kyo memejamkan matanya seraya menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar. “Yang aku tahu, yang kita lakukan adalah sebuah kesalahan besar Jung Soo~ya.” Ucap Eun Kyo lemah, ia menurunkan kedua tangan Jung Soo dan berbalik memunggunginya.

Jung Soo menautkan alisnya. Ia mendengar kata KITA terselip dalam kalimat Eun Kyo, dan itu menunjukkan bahwa bukan hanya dia yang merasakan perasaan terlarang itu, tapi juga gadis itu. Jung Soo merasa lega, beban beratnya seakan terangkat. Walaupun tetap tidak ada benarnya, tapi kali ini ia merasa kuat mengingat ia tidak berjalan sendirian memikul perasaan itu. Selama ini.

“Kita sudah sama-sama tahu kan, dan aku memang sudah cukup lama tahu. Tapi…aku menutup mata dan telinga, karena aku tahu ini salah. Awalnya, aku merasa…kau hanya berbaik hati karena kasihan padaku, tapi…kau membuat kesalahan karena…”

Eun Kyo kembali menarik nafas berat. “…karena kau membuatku menatapmu. Terlalu lama menatapmu, hingga akhirnya aku sadar, aku bukan hanya sekedar menatapmu saja.”

Jung Soo tersenyum getir, ia mendekat dan segera memeluk Eun Kyo dari belakang, membenamkan wajahnya dileher gadis itu dan…menangis. “Maafkan aku…”

Mau tidak mau, Eun Kyo ikut terisak. Dadanya sesak, dan lidahnya sudah terlalu kelu untuk mengucapkan kalimat selanjutnya. Baginya, itu saja cukup…perasaan itu tidak selamanya harus diungkapkan. Bahkan ada kalanya jika terungkap akan terasa sakit jika kenyataannya seperti ini.

“Aku mencintaimu Eun Kyo~ya…”

Hati Eun Kyo semakin terasa teriris, ia melepaskan pelukan Jung Soo dan berbalik, menubruk pria itu dan membenamkan wajahnya didada Jung Soo, menangis tertahan disana. Membagi rasa sakit dengan mengeratkan kedua tangannya yang melingkar di pinggang pria itu. Jung Soo balas memeluknya, mengelus rambut panjang gadis itu seraya terus mengecup puncak kepalanya, meluapkan apapun yang bergejolak dalam benaknya. Apapun itu.

“Kenapa kau membuatku tidak bisa terlalu jauh darimu Jung Soo~ya?” isak Eun Kyo parau, sebelah tangannya memukul pelan dada Jung Soo.

Lama dalam posisi seperti itu hingga Jung Soo merasakan tubuh Eun Kyo oleng karena mengantuk. Pria itu masih menahannya dalam pelukannya.

 “Kau istirahat ya…aku akan kembali ke kamar sebelum halmeoni tahu aku semalaman disini.”

Jung Soo menakup kedua pipi Eun Kyo, menghapus air matanya.

Keduanya merasa tidak rela jika harus berpisah. Ini bukan saat yang tepat sebenarnya, Jung Soo bahkan masih ingin memeluknya. Ini suatu hal yang sangat langka.

Eun Kyo terpaksa  mengangguk dan ikut menggenggam tangan Jung Soo. “Arraseo…”

“Oh ya, besok pagi sebelum aku kekantor kita pergi ke butik Eomma untuk mencari gaun untukmu. Sekarang tidurlah!”

Jung Soo menuntun Eun Kyo menuju tempat tidurnya, waktu masih terlalu malam untuk terjaga sampai pagi.

Setelah Jung Soo menyelimuti tubuh Eun Kyo ia sempat-sempatnya menyapukan bibirnya sebentar dipermukaan bibir gadis itu. Entah apa yang mendorongnya untuk memberikan ciuman itu, tapi…mereka tetap menikmatinya, apapun itu.

“Akan ku usahakan kunci teralis balkon kita kembali ke tanganku.” Bisiknya ditelinga Eun Kyo membuat gadis itu mendelik tajam.

“Ahahaha…baiklah, aku tidak akan mencurinya kalau kau tidak mau. Kalau begitu, aku pergi.”

Jung Soo nengacak pelan rambut Eun Kyo dan berjalan mengendap menuju daun pintu, masuk kekamar sebelahnya, kekamar tidurnya, dan masih dengan senyum mengembang diwajahnya.

Malam ini, walaupun tidak akan ada yang berubah, setidaknya Jung Soo tahu bahwa ia tidak akan sendirian lagi.

***

                Suara denting sendok yang beradu dengan pring terdengar lebih mendominasi pagi itu. Meja besar yang diisi 10 orang itu justru terdengar hening, hanya dua bocah kecil yang kadang-kadang saling beradu mulut. Eun Kyo dan Jung Soo duduk berhadapan, mereka tidak bicara dari mulai mereka duduk disana hingga acara sarapan pagi hampur selesai, hanya sesekali saling menatap dan kembali makan.

“Jung Soo~ya, bagaimana kalau sore ini kau pulang cepat. Ada yang ingin aku kenalkan denganmu.”

Jung Soo menaikan wajahnya dan menatap neneknya datar.

“Eo, bisa saja. Siapa memangnya?” tanya Jung Soo dengan wajah tidak peduli. Ia sempat melirik Eun Kyo, gadis itu terlihat tidak bergeming, padahal Jung Soo berharap Eun Kyo akan memberikan reaksi berlebihan.

“Calon istrimu.” Jawab wanita tua itu kemudian meminum air digelasnya.

Mendadak ruangan semakin hening, bahkan kedua bocah yang saling berceloteh itu ikut terdiam, kedua ibu mereka kelihatannya sudah terlanjur tertohok dengan ucapan neneknya, satu lagi keponakan laki-laki mereka yang akan dijodohkan oleh nenek tua itu.

“Aigoo, Jung Soo~ya…kau akan menikah lebih cepat daripada anakku ternyata.” Jira, anak kedua dari Nyonya Park berseloroh, disusul tatapan tajam dari Min~Gi, anak gadisnya yang usianya tidak beda jauh dengan Eun Kyo.

“Jung Soo sudah dewasa Eomma, ada baiknya biarkan saja dia mencari pilihannya sendiri.” Ujar Jae In sedikit kesal, ia terus menatap Eun Kyo, yang ia tahu dan yang ia inginkan, Jung Soo menikah dengan Eun Kyo, dimatanya mereka terlihat serasi walaupun rentang usia mereka 5 tahun, tapi Eun Kyo sudah cukup dewasa untuk Jung Soo.

“Aniya…lihat saja dulu, dia cantik, cucu dari teman sejawatku dulu Jung Soo~ya… Namanya Kim Seera, baru saja lulus kuliah di Jepang. Aku yakin kau pasti akan menyukainya.”

Semua orang dimeja tidak ada lagi yang bicara, termasuk Jung Soo, ia hanya menatap neneknya kemudian mengakhiri makannya. Setelah itu, satu per satu dari mereka mulai beranjak, pergi ke kantor, ke sekolah, ke kampus, ada juga yang kembali ke kamar. Tinggal Eun Kyo dan bibinya, Jae In yang kebetulan pagi itu kebagian membereskan bekas sarapan.

“Eun Kyo~ya, tumben kau sudah rapi, mau kemana?” Tanya Jae In menyikut lengan Eun Kyo.

“Ikut dengan Jung Soo ke butik Ibunya, aku mau mencari gaun untuk ulang tahun kantor besok malam, ajhuma.” Jawab gadis itu tanpa menoleh, tangannya sibuk membasuh piring kotor.

“Ish, anak itu…kenapa hanya kau saja yang diajak membeli gaun, kenapa aku tidak? Jung Soo~ya, katakan pada Eonni, aku mau dibuatkan gaun juga, nee?”

Eun Kyo menoleh, ia pikir Jung Soo belum kembali dari kamar tapi pria itu sudah siap dengan jas dan kopernya.

“Arraseo, asal…ada imbalannya.” Jung Soo menarik pinggang Eun Kyo yang sedang mengeringkan tangannya, lalu mencium pipi Eun Kyo didepan bibinya itu kemudian terbahak.

“Yak! Anak nakal!!!”

“Aku pergi ajhuma, nanti aku sampaikan pada Eomma. Ingat ya, kau harus memenuhi imbalannya.”

Jung Soo sedikit berteriak, ia menarik tangan Eun Kyo menuju keluar rumah dengan wajah sumringah.

“Ishh, kenapa menciumku didepan Ajhuma, dia bisa melaporkannya pada halmeoni!” Eun Kyo menyilangkan kedua tangannya didepan dada, masih berdiri didepan pintu mobil Jung Soo.

“Gwenchana, aku hanya mencari orang-orang yang akan mendukung kita. Jae In ajhuma sudah tahu tentang perasaanku dan…kurasa dia tidak ada masalah. Sudahlah, cepat masuk Eun Kyo~ya!” Jung Soo membukakan pintu mobil dan mendorong tubuh Eun Kyo masuk ke dalam mobil.

“Menyebalkan sekali kau!!!”

 ***

                Eun Kyo dan Jung Soo berjalan memasuki sebuah aula hotel berbintang dikawasan pantai wisata di Mokpo. Hampir seluruh ruangan sudah ditata sedemikian rupa, para karyawan sendiri yang sedang sibuk berlalu lalang menyiapkan semuanya.

“Sudah hampir selesai bos, tinggal catering dan group musik nya saja yang akan datang besok siang.” Seorang wanita cantik yang diyakini adalah sekertaris pribadi Jung Soo memberikan sebuah map cokelat berisikan laporan keuangan untuk pengeluaran pesta.

Jung Soo memeriksanya, menandatanganinya dan kembali menyerahkannya pada sekertarisnya itu.

“Kau sudah menghubungi sisanya?” tanya Jung Soo, tangannya ia masukan kedalam saku celananya.

“Sudah bos, termasuk kerabat bos yang di Seoul dan Incheon.” Jawab gadis itu.

“Oke, kau boleh pergi. Telpon aku mengenai perkembangan selanjutnya!”

Gadis itu mengangguk dan segera berlalu, mengurusi segala hal mengenai pesta itu. Sementara Jung Soo terlihat kebingungan, Eun Kyo sudah tidak ada dibelakangnya. Ia berjalan tergesa menuju beberapa sudut ruangan dan mendapati gadis itu tengah berbincang dengan salah satu pegawai Jung Soo.

“Eun Kyo~ya, aku mencarimu kemana-mana.”

Eun Kyo dan lawan bicaranya menoleh ke arah Jung Soo yang datang tiba-tiba.

“Selamat siang sajangnim,” Pria itu sedikit membungkuk dan dibalas senyum tipis oleh Jung Soo.

“Aku bosan menunggumu mengurusi laporan jadi aku memutuskan untuk melihat-lihat. Eo, Jung Soo~ya, apa kau tahu…Lee Donghae ini temanku waktu kecil, dia bilang dia mengingat wajahku, sayangnya aku lupa.” Eun Kyo terlihat senang.

“Benarkah?” tanya Jung Soo dengan nada tidak peduli.

“Yee sajangnim, adik anda ini sangat manis dulunya, bahkan sekarangpun masih terlihat mirip saat dia kecil.”

Jung Soo menoleh cepat. “Yak! Dia bukan ad…aww!” Eun Kyo menyikut dada Jung Soo.

“Nee sajangnim?”

“Ah yee, dia bukannya lupa padamu, dia sudah terlalu lama tinggal di Seoul. Dia bahkan tidak memanggilku Oppa, dia bilang dia lupa berapa rentang usia kami. Ahh…sudahlah, kau lanjutkan pekerjaanmu!”

“Yee sajangnim.” Donghae membungkuk sekali lagi dan berbalik lagi, “Eun Kyo~ya, nanti aku telpon ya?!” bisiknya pelan membuat Jung Soo mendelik tajam.

 ***

“Sudah kubilang aku hanya menganggapnya teman masa kecil saja Jung Soo~ya, kau ini cemburuan sekali.” Eun Kyo mencubit lengan Jung Soo, saat ini mereka sudah dalam perjalanan menuju ke rumah.

“Tetap saja aku tidak suka pria itu. Kau jangan mengangkat telponnya, mulai besok HP mu aku sita!”

Jung Soo berpura-pura fokus pada jalanan.

“Yak! Kau ini kenapa, lagipula Donghae itu satu-satunya temanku yang tersisa di Mokpo, kebanyakan dari mereka bekerja di Jepang. Tidak usah cemburu seperti itu, yang dia tahu kau itu Oppa ku.”

“Andwae, aku tidak mau jadi Oppamu!”

“Kau memang Oppa-ku!”

Jung Soo memutar bola matanya, sia-sia saja ia mendebat Eun Kyo, pada kenyataannya mereka memang sepupu yang sangat dekat.

“Baiklah…tapi aku mencintaimu!”

Eun Kyo menoleh cepat, ia tidak sadar, mobil Jung Soo sudah terparkir dihalaman dan pria itu bergegas turun dan meninggalkan Eun Kyo didalam mobil, masih dalam keadaan menganga.

“Namja itu, aish!!!”

 ***

Jung Soo baru saja membuka pintu rumah langsung disambut beberapa orang yang tengah duduk disofa ruang tamu, dua orang suami istri paruh baya yang tidak ia kenal dan seorang gadis berambut panjang lurus, tinggi dan berkulit putih pucat, juga neneknya.

Jung Soo tersenyum kikuk.

“Ahh, akhirnya dia datang. Jung Soo~ya, kemarilah, kenalkan mereka ini keluarga Kim, yang aku ceritakan tadi pagi. Dan ini Kim Seera, anaknya. Cepat kemari!” Suara bergetar neneknya sontak menyadarkan Jung Soo, dengan langkah ragu Jung Soo berjalan menuju sofa dan mengambil tempat duduk yang kosong sebelah neneknya.

“Ah, Tuan dan Nyonya Kim, ini dia cucuku yang workaholic itu, Park Jung Soo.”

Jung Soo hanya membungkuk sedikit dan tersenyum simpul. Tidak berapa lama ia melihat Eun Kyo baru saja masuk membawa tas dari butik Eomma nya, Eun Kyo menoleh sebentar dan dengan langkah terburu bergegas menaiki tangga, ekor mata Jung Soo terus memperhatikan Eun Kyo hingga terdengar gadis itu mengunci pintu kamarnya.

“Cucumu tampan sekali Nyonya, ah yee, Seera~ya kenalkan dirimu!”

Gadis itu terlihat sedikit gugup dan canggung, ia hanya mengulurkan tangan ke arah Jung Soo dan tersenyum, “Aku Kim Seera.” Ucapnya malu-malu.

Jung Soo ikut tersenyum, gadis itu memang manis hanya saja dia bukan tipe Jung Soo. Ia bahkan sama sekali tidak berfikir kalau Seera akan menikah dengannya.

Lama mereka berbincang, terlalu asyik hingga mereka berlima tidak mempedulikan beberapa penghuni rumah yang simpang siur karena terlalu banyak yang tinggal disana. Tapi Jung Soo mulai bosan, ia sempat melirik Eun Kyo sedang menuruni tangga seraya menempelkan ponselnya ditelinga dan sudah berpakaian rapi. Neneknya pun menyadari Eun Kyo akan pergi keluar, wanita itu segera berdiri.

“Kyo~ya, kau mau kemana?”

Eun Kyo menoleh dan tersenyum. “Pergi ke pantai halmeoni, temanku mengajak bertemu. Aku pergi dulu ya.”

“Hati-hati!” Nenek itu kembali duduk, dan ia melirik Jung Soo juga hendak bangkit. “Kau mau kemana Jung Soo~ya?”

Jung Soo tersadar matanya tak lepas dari Eun Kyo bahkan saat gadis itu sudah menghilang dibalik pintu.

“Ahni…” Jung Soo menggeleng, pikirannya tidak tenang, ia tahu kalau Eun Kyo akan menemui Donghae.

“Ah Nyonya Park, aku rasa dirumahmu yang besar ini terdengar ramai sekali. Apa Seera juga akan tinggal disini kalau sudah menikah nanti?” Nyonya Kim bertanya ramah dan tersenyum, dalam hati ia takut jika putri semata wayangnya akan tinggal diantara orang-orang aneh dirumah itu, dia menginginkan privasi untuk Seera dan Jung Soo.

“Tentu saja, semua cucuku akan tinggal disini. Rumah ini masih cukup untuk tiga keluarga lagi. mungkin setelah Jung Soo menikah, Min~Gi dan Eun Kyo akan menyusul. Mereka paling muda disini, cucuku ada empat yang sudah besar tapi belum menikah, ah…satu lagi. Park Yoochun kakaknya Min~Gi masih sibuk di London, mungkin tahun depan ia kembali.”

Nyonya Kim menarik nafas berat dan menoleh pada Seera, gadis itu terlihat baik-baik saja mendengarnya, hanya mungkin Nyonya Kim saja yang terlalu khawatir.

“Memangnya siapa saja yang tinggal disini?” kali ini Tuan Kim yang bertanya, suara berat itu terdengar bersahabat.

“Setelah suamiku meninggal, aku meminta tiga anakku tinggal disini beserta suami atau istrinya. Anak pertamaku, Ibu nya Jung Soo, mereka tinggal di Mokpo namun terpisah dan membuat rumah tidak jauh  dari butik dan kantor, dan Jung Soo bersedia tinggal disini. Dia senang berada dekat pantai, ya…anak ini terlalu sibuk sehingga kadang-kadang lupa merefresh dirinya sendiri. Anak kedua ku, Park Eun Soo, dia menikah dengan Kim Jira dan anaknya Park Yoochun, Park Min~Gi, usianya sudah 28 tahun tapi masih mencari calon suami, dan adiknya…aish, cucuku yang masih kecil itu siapa namanya Jung Soo~ya?”

“…Park Insa.” Jung Soo menimpali, kadang-kadang neneknya itu memang sudah terlalu pikun.

“Ah benar, Park Insa, dan anak ketiga ku Park Hana, dia tinggal di Seoul bersama suaminya, perusahaan disana butuh orang dari pihak keluarga agar tidak terjadi lagi penyelewengan dana. Anaknya Park Eun Kyo, yang tadi baru saja keluar. Dia cucu kesayanganku setelah Jung Soo.” Wanita tua itu terkekeh ditengah ceritanya.

“…dan Park Haneul, janda muda beranak satu masih kecil. Dia ditinggal suaminya tiga tahun lalu, juga anak bungsuku Park Jae In dan masih belum menikah. 10 orang dan tiga orang pembantu, dua sopir dan satu orang tukang kebun, rumah ini lumayan ramai. Apalagi ditambah kau Seera, pasti aku akan sangat senang kalian berdua tinggal disini daripada di apartemen.” Paparnya panjang lebar membuat lagi-lagi Nyonya Kim menarik nafas.

“Ahh bukannya lebih baik tinggal di Seoul saja, dengan begitu Seera tidak akan kesulitan menuju kantor.” Usul Nyonya Kim masih mempertahankan keinginannya agar tidak jauh dari anaknya.

“Gwenchana Eomma, aku bisa datang setiap hari, sekarang banyak kereta dari Mokpo.” Seera berujar lembut, ia menatap lekat ibunya kalau dia akan baik-baik saja tinggal disana.

“Anakmu sudah setuju Nyonya Kim. Eo, bagaimana denganmu Jung Soo~ya?”

Jung Soo yang terlihat sedang panik mendongak cepat. “Aku…aku…terserah halmeoni saja.”

“Ahh…semuanya sudah jelas Nyonya dan Tuan Kim. Kalian saja yang menetapkan tanggal pertunangannya, nee? Biar satu minggu setelahnya langsung saja menikahkan mereka, bagaimana?”

“Aku sangat setuju Nyonya, tapi masalah tempat tinggal biar nanti kami membicarakannya lagi.” Tuan Kim kembali berujar lugas membuat Nyonya Park mengangguk mengerti.

“Eo…Seera~ya, Jung Soo~ya, kalian pergilah ke pantai atau kemana saja, kalian perlu mendekatkan diri, terlihat kaku sekali.”

Nenenknya itu lagi-lagi memerintah. Kedua orang yang disebut berpandangan sejenak, Jung Soo bangkit. “Baiklah, kajja!” serunya sedikit acuh diikuti Seera yang terlonjak kegirangan.

 ***

TBC

HAHAHA…OTHE???

JELEK??? BANGET? BANGET BANGET BANGET?

EONNI, SETELAH BACA PART INI SEGERA SMS AKU SEBERAPA PARAH TINGKAT KEJELEKAN FF INI YAHH… AKU TINGGU COMMENTNYA BARU SETELAH EONNI SMS AKU AKAN MENGIRIM PART 2 DAN 3 ATAU…TIDAK KEDUANYA KALAU EONNI TIDAK SUKA. HEHEHE…
#HUG KISS EONNI.

*Ikha

Vikos Say : Siapa bilang jelek?? Ini bikin penasaran. Semua yang kalian bikin FF hampir semuanya nists, huweeeeeeeeee. Apa kita berdua begitu nista?? Tapi aku suka konflik, jadinya yah  it’s okay! Aku senang sensasi penasaran dan emosi naik turun saat baca, bahahahahahahaha. Dan kamu sukse bikin aku nagih. Dulu ada yang nyuruh saya bikin FF kalo teuk sama Eun Kyo yang sepupuan, tapi aku ga bisa bikin, eh ternyata kamu yang bikin, asoy anget dah! Met, ini met udah dibkinin…

Ini seperti film Jang Dong Gun yang baru, tapi versi kamu. Ngambil tema sepupu jauh itu… tapi alur dan latar belakang yang sangat berbeda, asik banget! Dibumbui skinship yang saya suka! Ringan tapi berasa…

Oke, udah cukup.  Aku gaje gila kalo masalah komen, intinya aku suka! Dan menurut yang lain, silakan komentar  yang lain…

36 responses »

  1. hmmmmm sepupuan yak, bakal konflik lahir batin kayaknye😀
    mau koment apa lagi yak, bingung saia, berhubung masih part 1 ok lah ditunggu part selanjutnya n saia tunggu pas bagian konflik lahir batinnya #jiaaah bahasanye ^^
    daebakkk

  2. Keren pake banget, ceritanya seru.
    Bikin emosi naik turun n geregetan bgt, penasaran lanjutannya gimana.
    Bayangin karakternya Leeteuk oppa ama Eunkyo eonnie bikin deg-degan. . .

  3. Annyoooooong🙂 aku udh baca dan mau komen dulu .. Aku suka sama ff nya tp kalau sepupuan gimana ? Emang boleh ya ? Wahahahaha hmmmmmmh dr tadi baca bener kata oenni fika emosi naik turun karna sepupuan kayanya konfliknya bakal lebih berat ya waaaaah kasian enkyo jung soo sama seera kalau ada cinta segitiga eh segiempat sama donghae😀 jd penasaran ,tp takut baca part selanjutnya takut sad story buat mereka tp penasaran *kacau gue

  4. waduhhh pasti masalh’a berat nihhhh
    huhu sepupuan ,, Q blom pernah baca ff yg cerita a sepupuan …
    jadi semangatttt buat part selanjut’a hahaha

    part kedepan nguras esmosi nih*plakkk
    Q tunggu lhooo
    semangattt

  5. ko mereka jadi sodara??? tapi mereka saling suka?? aku masih ga engeh ama cerita ya,,
    btw rumah ya halmonie ni sebesar apa c, ampe anak cucu ya ngumpul di situ semua???
    mau diapain juga cerita ya yg penting ending y hrs teukyo happy ya🙂

  6. baru tau aku eunkyo eonni mantannya kyuhyun kkkkk… ._.v
    Konfliknya dahsyat nih bkin penasaran….

    Pasti kisah cinta TeuKyo rumit deh… *sotoy marotoy*
    semoga suatu saat nenek bisa mengerti… Kkk…

    Di tunggu next partnya😉

  7. sepupuan yah? Pasti konfliknya bakal ribet nih :3
    aigoo eotteohkae? jungsso oppanya mau dijodohin, penasaraaannnn pake banget!
    ditunggu next chapternya author!🙂
    Oh ya salam kenal ya~

  8. Wah jungsoo dan eunkyo sepupuan plus punya nenek yang otoriter, hhmmmmm, bisa nyiksa lahir batin ne.

    Eunkyo patah hatinya parah banget ampe direhab, ntar kalau patah hati lagi bisa lebih parah lagi ne.

    Ini ceritanya bagus, lanjut ya.

  9. Kasian bgt jungsoo di kunci.in di balkon.
    Kayaknya neneknya udah punya firasat kalo jungsoo suka sama eunkyo…
    Tiap kali ada ff baru pasti jungsoo sama eunkyo dibikin sengsara…
    Poor them…

  10. rada deg degkan baca’a secara kisah cinta sepupuan bingung juga gimana cara’a supaya bersatu,,,
    mungkiin kalo bukan saudara sepupu kandung bisa kali ya,,,
    pokok’a eun kyo eonni sama jung soo oppa harus bersatu!!!!

    okey next part ku nanti
    tapi jangan bikin yang sedih” ya kesian sama eun kyo eonni’a,,,

  11. konfliknya mantep ni..
    Kebayang dah gmana menjalin hbungan ma sepupu,pst ad kluarga yg setuju and menentang.
    tenang onnie q mendukung,q ad dipihak yg setuju dgn hubungan kalian^o^
    Kacian onnie kisah cintanya selalu berliku” tp itulah yg membuat menarik..
    Lanjut..lanjut..part berikutnya..

  12. sepupuan… Hmmm
    emg kalo di korea nikah sama sepupu g’ bisa ya???
    Donghae akan berperan banyakkah disini? Moga aja iya, tp jangan jadi tokoh antagonis ya eon. Hehe
    Semoga teukyo bisa bersatu🙂 harus😀
    Fighting ^^

  13. Wah abang kyuu ninggalin eunkyoo eonni buat nikah sama saya kekeke * d kroyok sparkyu*..suami saya memang top bgt bisa ng buat eunkyo frustasi dan harus d rehabilitasii… Qiqiiqiiq* d tendang*
    tinggalkan dulu si abang kyu…. Kembali k ff .. Sebenarnya saya heran sangat sangat heran kenapa ya.. Semua author yang ff nya d publish di sini keren keren abis.. Penggunaan bahasa… Cara mendskripsikan perasaan tokohh.. Itu wowww bgt kata katanya kerenn … Saya sampe ngirii kapan ya bsa bikin yg begitu.. Awalnya niat mau ngirim ff k fika eonni tapi gg jadi.. Saya minderr karya saya gg sebagus authorr author lain … Kayaknya saya harus belajar lbih banyak .. Buat author author yang nulis ff ( maaf saya pake author habisnya gg bsa nyebut satu satu) trus berkaryaa
    daebak pokoknya ..

  14. Unnnie….masih bingung ma jalinan keluarga *eleh bahasanya*..jd eunkyo bener2 sepupuan ama jungso??? Trus klo 2 org tuh saling cinta…gmna seera yah??? Ngarepnya sih…eunkyo ma jungso..

  15. Apaaaaa…???teukyo sepupuan…???OMO…emaaaakkk…pegimane itu…???kenapa teukyo disiksa mulu karna jenis hubungan yg rumit…hehehee…
    Entu entu entu…sayah bingung ma silsilah keluarga Park masa…y oloh…banyak orang tinggal bareng…kagak kebayang sayah…puyeng ye apalin keluarganya…hehee…

  16. Hah? Jung Soo Oppa sm Eun Kyo Eonni sepupuan? *emot siyok*
    Baru pertama kali’a nih dlm sejarah Teukyo! *plak*
    Rada ribet jg ya cinta sm sepupu sendiri, kaya’a bakalan berat konflik’a apa lg nenek’a seperti’a kaga setuju sama hubungan mereka!

    Yaoloh saya ampe melongo loh pas bc Kyo eon depresi gegara putus dr Kyu! Wkwkwkwkwk
    Agak aneh sih tp abaikan saja saya! -_-
    Ada Ongek jg? *emot siyok* (lg) nambah rumit deh (lg) apa lg d’tambah ada calon bini’a Jung Soo! Hadeh!
    Keluarga Park banyak ye? Saya ampe puyeng bc nama2’a masa! Rame bgd! -___- tp menarik!

    Yasudlah d’tunggu part selanjut’a!

  17. Sepupuan gt bs y jth cnta?*emot syok
    g bs bayangin saia m sepupu slng suka!
    tmbh gde breng gt pan!
    dan itu mantanx Eunkyo Kyuhyun masa!
    dy skrg djodoing emang,djodoin m saia!*plak
    Crtx g biasa,jd lmyn bda m crt TeuKyo yg sblmx!
    dtnggu klanjutanx!

  18. Komen di atas bejejer dr Mit eon, Diah, sm Mey. Sayah ngkut ah.
    Eum, sepupu ya. Aduh. Sayah rada bngung ngebayangnya.
    Terus fika eon putus dr Kyuhyun? *emot siyok*
    Ada Donghae jg? *emot siyok rangkap 3*
    Donghae~ya, sini pulang. Kita maen aer aj di pantai. Kagak ush dket2 Eun Kyo eonnie. Sayah cemburuh entar.*bakbukplak

    Chara-nya byk ya. Mungkn harus lbh fokus lg biar gk bngung. Itu chara-nya mw di pke semua y? harus ekstra keras t mkirnya.
    Bingung mw kmen apa. Part 1 udh ngsh konflik yg byk ya. Okehsip. Di tnggu aj next partnya. 🙂

  19. oaaaaa daebak!!!! aku suka…… suka… aku nikmatin banget baca nih ff dari awal sampe akhir..
    woaaa ternyata mereka emang saling mencintai.. aku pikir cuman jungsoo doang.. ><
    kalo kek gini rumit ya.. gimana nikahnya nih nanti?
    penasaran… buruan part selanjutnya ya chingu^_^

  20. baxa ff TeuKyo lagi….
    wahhhh ff imi TeulKyo y sepupuan n mana sepupu deket lagi,,,, bener ini ff bikin penasaran pas tau mereka sepupu q jadi mikir gmn nanti mereka bersama y pake cara apa??? mereka sedarah y masi kentel bgt….. bukan sodara jauh n jungsoo y mau dinikahin n mikir klo bener nikah ma seena gmn ma eun kyo nanti….
    tu jgn2 nenek y udah tau lg dari gelagat2 y jungsoo n eun kyo klo merwka saling suka jd nenek y jagain eun kyo bgt sampe pintu2 menuju balkon y dikonci….????

  21. idih cho kyuhyun ampe bikin orang hmpir gila ya?? *daebaak! di korea nganut sistem apa ya?? knpa ga boleh nikah sma sepupu? kan yg sodaraan dri pihak ibu mereka… ah itu si nenek sudh tau jung so naksir eunkyo eh mlh djodoh2in lgi *sewot. abang ikan sya jdi phak ketiga? idih ksian amat *elus2 pala ikan. salam kenal buat authornya ya sya mau lanjut baca yg part2 brikutnya dlu🙂 *triing#ilang

  22. tnggalkan jejak dulu. . .

    keren,bkn pensaran dan menggalau. .
    d part 1 ja udah kelihat bnget bkalan menggalau,.
    buat authrnya daebk. . .

    q jd pnasaran gmana skp jung so, knp dia cuma iya iya tok ma semua kptsan dr halm0ninya. . .
    jung soo. . . kmana skp tegasmu

    drpd trlalu panjang2 ngocehnya mendng q k part slanjtnya. .

    daebak thor. . .

  23. sepupuan? Masih sedarah ga tuh? Gak kebayang konfliknya gimana nanti. Pasti seruu.
    Dan ternyata banyak ya keluarga park yg tinggal dirumah nenek. Lanjuutt eon.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s