FF Contest : The Sweetest Curse

Standar

Author : @meta_mine

***

Eun Kyo kembali melirik jam tangannya. Sudah jam 7 lewat. Malam ini ia berjanji akan makan malam di tempat Min Rin, adik sepupunya yang tinggal tepat disebelah apartemennya. Seharian tadi Min Rin terus merecokinya dengan telepon dan beberapa pesan. Memastikan bahwa Eun Kyo bisa benar-benar akan makan malam dengannya, lebih tepatnya menjadi kelinci percobaan untuk hasil masakannya yang kadang terlihat menggoda tapi rasanya seperti racun serangga. Min Rin sedang belajar memasak, dan Eun Kyo selalu menjadi kelinci percobaannya, sebenarnya ada untungnya untuk Eun Kyo, ia sendiri bisa menghemat uang makan, hanya saja, akan berakibat fatal kalau ternyata masakan Min Rin itu gagal. Eun Kyo harus rela mengorbankan mulut dan perutnya.

Setelah beberapa menit menunggu, Eun Kyo bersama beberapa orang yang lain masuk ke dalam lift yang sudah terbuka, Eun Kyo harus merelakan tubuhnya berdesakan dengan beberapa orang yang turut masuk ke dalam lift itu.

“TUNGGUUUUUUU!!!” teriak seseorang begitu dramatis saat pintu lift hampir tertutup. Semua penghuni lift menengok ke arah manusia yang sebelah kakinya sudah berada di lift, membuat pintu lift berhenti bergerak dan akhirnya membuka lagi. Seorang lelaki dengan bawaan yang cukup banyak hingga menutupi wajahnya itu akhirnya masuk, dan pintu lift akhirnya tertutup.

Lelaki itu berdiri tepat disebelah Eun Kyo, kedua tangannya memegangi kardus berisi barang-barangnya yang terlihat penuh. Eun Kyo sama sekali tak berniat memperhatikan lelaki yang mengambil cukup banyak ruang di dalam lift itu. Tapi sudut matanya menangkap bahwa lelaki itu sedang mengamati dirinya.

“Eun kyo! Park Eun Kyo?!”pekik lelaki itu, membuat seluruh orang yang ada dalam lift itu melirik ke arah Eun Kyo.

Eun Kyo menoleh saat mendengar namanya disebut. Lelaki itu, lelaki yang membawa kardus itu memiringkan badannya, kepalanya menoleh, memastikan Eun Kyo bisa melihat wajahnya. Lelaki itu tersenyum cerah, menunjukkan senyum termanisnya pada Eun Kyo. Sementara Eun Kyo hanya menatapnya, mencoba mengingat-ingat lelaki itu.

Beberapa detik kemudian, Eun Kyo menyadari siapa lelaki yang ada di dekatnya itu hanya dengan memperhatikan senyumnya, dimple smilenya yang mendadak membuat Eun Kyo ingin melempar sepatunya ke wajah lelaki itu.

“Kau masih mengingatku? Aku Park Jungsoo, teman sekelasmu dulu saat SMA. Kau ingat?”Ujar Jungsoo masih tersenyum riang,  tak ada yang bisa menggambarkan betapa senangnya ia bisa bertemu lagi dengan Eun Kyo.

Eun Kyo menghembuskan nafas beratnya, mencoba mengontrol emosi yang mendadak ingin meledak. Tidak, sekarang Eun Kyo bukan lagi remaja SMA yang begitu membenci Jungsoo sampai ke ubun-ubun. Sekarang, ia adalah wanita dewasa yang harus menjaga sikap meskipun sesungguhnya ia ingin sekali melempar kepala Jungsoo ke tembok agar Jungsoo amnesia dan tak mengingatnya lagi.

“Ooh, Annyeong haseyo.” Ujar Eun Kyo terdengar sedikit dipaksakan. Ia menganggukkan kepalanya sedikit untuk memberi salam. Jungsoo balas menunduk walau sedikit kesulitan ditengah barang bawaan dan keadaan lift yang penuh.

Lift berhenti tepat di lantai 9. Eun Kyo buru-buru keluar dari lift, mimpi apa ia semalam bisa bertemu lagi dengan makhluk itu?

“Apa kau tinggal disini? Wah kebetulan sekali, aku juga tinggal disini. Oh iya sekarang kau kerja dimana?”

Eun Kyo hampir saja terjatuh karna kaget ternyata Jungsoo masih mengikutinya dari belakang. Dan apa katanya? Jungsoo tinggal disini? Oh gedung apartemen, runtuhkan saja bangunan ini!

“Aku sepertinya tidak harus menjawab pertanyaanmu Jungsoo ssi, lagipula kita tak pernah akrab sejak dulu.” Jawab Eun Kyo ketus, sambil masih terus berjalan.

Astaga! Jangan bilang, ia juga tinggal di lantai ini? batin Eun Kyo mulai was-was. Apalagi dengan langkah pasti Jungsoo mulai mengikutinya dari belakang.

“Astaga! Ternyata bukan hanya satu apartemen, kita juga satu lantai Eun Kyo-ya” ujar Jungsoo lagi, ia tertawa senang, sementara Eun Kyo hampir saja mati kaget. Ia? Harus berdekatan lagi dengan lelaki mesum itu? Astaga! Dosa apa yang telah kuperbuat sampai aku harus bertemu lagi dengan makhluk ini? rutuk Eun Kyo dalam hati, ia masih diam tak menanggapi ocehan Jungsoo.

“Kau tinggal di nomor berapa? Aku tinggal di nomor 094.”oceh Jungsoo lagi. Eun Kyo menghentikan langkahnya, selain karna memang tepat di depan pintu apartemennya, ia juga kaget mendengar ucapan Jungsoo.

“Oh, kau di 095? Bersebelahan denganku?” Jungsoo tersenyum lebar. Sementara Eun Kyo ingin pingsan, tidak hanya satu apartemen, satu lantai, Bahkan tempat tinggal mereka pun bersebelahan?

“Sepertinya kita memang berjodoh, Aku akan merapikan barang-barangku dulu, setelah itu kau boleh mengundangku makan malam ditempatmu,”celoteh Jungsoo lagi melewati Eun Kyo, menuju tempatnya.

Eun Kyo menggeram kesal, “ Aku sama sekali tidak berniat mengundangmu, Jungsoo-ssi.”

Jungsoo tersenyum lagi, memandang Eun Kyo. “Kalau begitu, kau boleh mengundangku lain kali.”

“Orang gila.” Desis Eun Kyo, tangannya cekatan membuka pintu ruangannya dan buru-buru masuk dibawah tatapan Jungsoo yang siap menerkamnya kapan saja.

***

Eun Kyo sudah membersihkan diri dan bersiap ke tempat Min Rin yang tinggal tepat disebelahnya, 096.

Min Rin langsung menyeret Eun Kyo ke ruang makannya dan menunjukkan hasil karyanya hari ini. Eun Kyo menatap nanar seluruh makanan yang ada di meja, bukan jenis makanan yang lazim ia lihat di Korea, pasti masakan asing lagi.

“Kali ini apa?” Tanya Eun Kyo lalu menempatkan diri, duduk di depan Min Rin.

Min Rin tersenyum lebar, “ Masakan Indonesia, tara…lihatlah aku memasak  soto dan nasi goreng ala Indonesia.”

Eun Kyo mengamati makanan di depannya. Sebuah mangkuk besar berisi sayur-sayuran dengan warna yang tidak bisa didefinisikan, antara coklat atau hitam dan  sepiring besar nasi goreng.

“Cih, masakan Korea saja rasanya masih tidak karuan, berlagak masak masakan Negara lain.” Gerutu Eun Kyo mengambil piring dan mengambil makanan yang disebut nasi goreng itu. Sementara Min Rin beranjak dari tempat duduknya, menuju pantry.

Setelah piringnya terasa penuh dengan nasi goreng, tangan Eun Kyo bergerak menyendokkan soto dan menuangkannya diatas nasi goreng. Sempat merasa aneh dengan bentuknya, tapi Eun Kyo berusaha menepisnya, baunya lumayan menggoda.

“Yak! Min Rin-a, rasanya kenapa seperti ini?” protes Eun Kyo setelah makanan itu masuk kedalam mulutnya, benar kan? Ia harus merelakan lidahnya untuk merasakan masakan Min Rin yang kadang‘ajaib’.

Mendengar namanya disebut dan dari nada suara Eun Kyo, Min Rin buru-buru mendekati Eun Kyo. Min Rin kemudian meletakan satu lagi ‘hasil karyanya’ di meja dan menyodorkan air putih pada Eun Kyo.

Min Rin melirik piring Eun Kyo yang tergeletak malang di mejanya, dan mulai menyadari mengapa Eun Kyo protes.

Aigoo, Eonni, kenapa kau campur nasi goreng dengan sotonya? Jelas saja rasanya aneh.” Ujar Min Rin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Eun Kyo melirik lagi piringnya. Dari bentuknya saja memang sudah tidak meyakinkan.

“Ya! Mana aku tahu kalo mereka bukan pasangan.” Jawab Eun Kyo asal. Min Rin tertawa.

Aigoo, Eonni, soto dimasak bukan untuk dimakan dengan nasi goreng tapi dengan nasi biasa.” Jawab Min Rin lagi, tangannya lincah memindahkan piring dari hadapan Eun Kyo dan menggantinya dengan piring baru.

“Lalu untuk apa kau masak nasi goreng kalo tidak bisa dimakan dengan soto?”

“Aku hanya ingin masak saja. Lagipula memang hanya itu yang diajarkan temanku yang dari Indonesia. Sudah sini, kau ingin masak nasi goreng atau soto? Atau kau tergoda dengan ini?” tawar Min Rin menunjukkan lagi piring berisi daging berwarna coklat tua yang baru saja ia ambil dari pantry.

“Apa itu?”Tanya Eun Kyo penasaran. Baunya sedap.

Rendang dari Indonesia! Aah kau tahu, sulit sekali mendapat bumbu-bumbunya disini.”

Eun Kyo menatap makanan itu dengan tatapan tak yakin.

“Ayo cicipi ini, termasuk dalam 50 masakan terlezat di dunia,” kata Min Rin lagi, promosi.

Eun Kyo menatap lagi makanan itu, memang terlihat menggoda, baunya juga. Seperti dimasak dengan banyak rempah-rempah.

“Tapi aku tidak percaya kalau kau yang masak.”ujar Eun Kyo mencibir.

“Yak!Cicipi dulu baru berkomentar,” Sungut Min Rin lalu menyendokkan rendang ke piring Eun Kyo.

Nasi goreng, soto dan rendang dimakan secara terpisah, kalau dijadikan satu jadinya aneh.”lanjut Min Rin menaruh nasi goreng dalam piringnya dan mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.

“Ck, kau saja yang aneh,” sahut Eun Kyo mulai membagi daging rendang menjadi bagian lebih kecil dengan sendok dan garpunya kemudian memasukkannya dalam mulutnya.

“Eehm…enak.”komentar Eun Kyo, ia lalu menambahkan nasi putih kedalam piringnya.

“Kau tahu, aku memasaknya sejak siang, lama sekali prosesnya ternyata.”

Jinjja?”

Min Rin mengangguk pasti. Mereka kemudian melanjutkan makan dengan saling diam, Min Rin bahkan makan 3 kali dengan menu berbeda, pertama nasi goreng, lalu soto, kemudian rendang. Sementara Eun Kyo hanya puas dengan rendang, masakan yang menurutnya paling manusiawi.

Eonni, kau tau? ada yang penyewa apartemen baru disebelahmu.” ujar Min Rin setelah menyelesaikan piring ketiganya.

“Uhuk,” Eun Kyo tersedak saat meminum air putih seusai menghabiskan makannya.

“Ya! Eonni, gwenchana?” Tanya Min Rin khawatir, Eun Kyo melambaikan tangannya, pertanda tak terjadi apa-apa, ia hanya kaget, ia tahu benar siapa penyewa yang dimaksud Min Rin.

Eun Kyo tak menjawab pertanyaan Min Rin, ia kembali menegak air putih sekedar untuk melegakan tenggorokannya.

“Tadi pagi aku bertemu orangnya, tampan dan ramah pula,” oceh Min Rin lagi.

“Uhuk,” Eun Kyo tersedak lagi, Tampan? Ramah? Bunuh saja aku! Jerit Eun Kyo dalam hati.

Melihat Eun Kyo tersedak, Min Rin buru-buru beranjak dari kursinya mendekati Eun Kyo dan menepuk-nepuk punggung Eun Kyo.

“Ya! Kau itu kenapa? Aigoo…aku agak trauma dengan orang tersedak,” protes Min Rin, tapi raut wajahnya menunjukkan raut wajah yang amat khawatir, yah….. ia trauma dengan tersedak. Kakaknya, Park Ae Rin, sempat masuk rumah sakit karna tersedak. Kejadian itu sempat menjadi legenda. Eun Kyo dan Min Rin bahkan menyebutnya dengan ‘tragedi tersedak lamaran’, hal itu terjadi saat Eun Kyo, Ae Rin, Min Rin, dan Heerin -sahabat mereka- tengah merayakan pesta atas kenaikan jabatan Ae Rin di kantornya. Saat pesta tersebut, Kim Jong Woon –yang sekarang menjadi suami Ae Rin—datang dan langsung meminta Ae Rin untuk menikah dengannya minggu depan, karna segalanya sudah dipersiapkan. Ae Rin yang sama sekali tidak siap –mengingat mereka tidak pernah pacaran dan bahkan Jong Woon tidak pernah mengatakan cinta pada Ae Rin—langsung tersedak seketika, sampai di bawa ke rumah sakit. FYI, sampai sekarang Ae Rin masih sering mengutuk Jong Woon yang membuatnya pertama kali masuk Rumah Sakit sebagai pasien.

“Aku tidak apa-apa,” jawab Eun kyo akhirnya. Eun Kyo menatap Min Rin dalam diam, ia tidak seharusnya menceritakan tentang penyewa baru itu. Min Rin memang tidak tahu apa yang terjadi pada Eun Kyo dan Jungsoo beberapa tahun silam, yang membuat Eun Kyo masih kesal berlipat-lipat sampai sekarang.

***

Sudah 3 minggu semenjak Jungsoo tinggal bersebelahan dengan Eun Kyo, dan selama itu pula Jungsoo tetap mencari cara untuk membuat Eun Kyo ingin benar-benar memutilasinya. Ada saja yang membuat Jungsoo beralasan untuk berkunjung ke dalam apartemen Eun Kyo, mulai dari alasan kehabisan air sampai kelaparan. Dan itu bisa terjadi setiap hari, bahkan sampai berkali-kali dalam sehari, contoh saja minggu lalu, pagi-pagi sekali Jungsoo sudah menggedor pintu Eun Kyo.

Mwoya?!”Tanya Eun Kyo galak setelah membuka pintu dan mendapati wajah Jungsoo dihadapannya.

“Aku ingin menumpang buang air besar. WCku rusak.” Ujar Jungsoo dengan wajah menyedihkan sambil memegangi bagian perutnya.

Eun Kyo melotot, tapi secepat kilat Jungsoo menerobos masuk dan langsung menuju kamar mandi yang sangat ia hapal letaknya, dua hari yang lalu ia juga menumpang mandi disana dengan alasan airnya mati.

Aigoo, Jungsoo-ssi, kau membeli apartemen rusak ya? Kemarin air mu yang mati, sekarang WC mu yang rusak, besok apa lagi?” sungut Eun Kyo kesal dari luar kamar mandi.

Mol-la, aaaahhh….” Dengan suara teredam dan sedikit menjijikkan itu Jungsoo berusaha menjawab.

“Lebih baik kau pindah saja sana!” sahut Eun Kyo lagi secara jujur mengusir Jungsoo agar jauh-jauh dari lingkungannya.

Eo, benar juga kau,”

Eun Kyo tersenyum licik, mulai berpikir barangkali Jungsoo akan benar-benar angkat kaki dari apartemennya.

“Apartemenmu fasilitasnya bagus, apa sebaiknya aku pindah kemari saja?” lanjutan Jungsoo tersebut akhirnya dibalas dengan tendangan Eun Kyo di pintu kamar mandi, membuat Jungsoo terkikik.

***

Esok paginya,

Jungsoo : “ Kyo-ya, kopiku habis, aku ingin minum kopi, boleh aku minta kopi?”

3 menit kemudian,

“Kyo-ya, gulaku ternyata habis, aku tadi tidak mengeceknya, boleh aku minta?”

Lima menit kemudian,

“Kyo-ya dispenserku rusak, aku tidak punya air hangat.”

“KENAPA TIDAK SEKALIAN OTAKMU YANG RUSAK!” teriak Eun Kyo pagi itu sebelum akhirnya mengijinkan Jungsoo masuk kedalam apartemennya dan justru menikmati sarapan bersama. Dan tentu saja masih banyak episode episode lain yang membuat Eun Kyo harus berpikir bahwa Tuhan sedang mengujinya lewat makhluk bernama Park Jungsoo.

***

Pagi ini Jungsoo kembali merusuh di apartemen Eun Kyo setelah Eun Kyo bangun tidur.

“Apalagi?”

“Selai rotiku habis, aku belum sempat membelinya.” Ujar Jungsoo menunjukkan deretan giginya. Sok imut.

“Aku tidak punya.” Jawab Eun Kyo malas bergegas menutup kembali pintunya, tapi sedetik kemudian, ia membukanya kembali, Jungsoo bahkan belum beranjak dari sana.

“YAK! PARK JUNGSOO! KENAPA KAU SELALU MENGANGGUKU SETIAP PAGI, HUH?!”nafas Eun Kyo sedikit tersengal karna harus berteriak dalam satu tarikan nafas. Jungsoo hanya mengerjap pelan, butuh waktu beberapa detik untuk membuatnya menjawab pertanyaan Eun Kyo.

“Karna aku ingin melihatmu sebagai orang pertama yang aku lihat setelah bangun tidur, tapi aku tidak pernah menemukanmu di apartemenku, makanya aku selalu kemari tiap pagi.”jawab Jungsoo polos, kemudian lagi-lagi ia menunjukkan wajah dan senyum tak berdosanya.

“Orang gila!”desis Eun Kyo.

“Kau terganggu?”

“Tentu saja!” bentak Eun Kyo kesal, pertanyaan macam apa itu?

“Kau mau tau caranya agar aku tidak ke apartemenmu tiap pagi?”

Eun Kyo menatap Jungsoo gamang, sedikit tak percaya dengan solusi yang mungkin disampaikan Jungsoo, tapi toh mulutnya terbuka, dan malah balik bertanya, “Mwoya?”

“Jadi istriku. Dengan begitu tiap pagi aku bisa melihatmu saat bangun tidur, dan aku tidak akan ke apartmenmu lagi, karna kita akan tinggal serumah.”jawab Jungsoo datar.

Dan sebagai jawabannya, sandal Eun Kyo terlempar ke tubuh Jungsoo, meskipun dengan bonus cengiran khasnya Jungsoo bisa menghindar.

***

Sabtu malam, Shin Heerin, yang baru pulang dari tugas kerjanya selama satu bulan di Macau datang untung mengunjungi Eun Kyo, sahabatnya sejak SMA. Min Rin juga ikut serta dalam obrolan kedua sahabat itu di ruang tamu apartemen Eun Kyo.

“Min Rin-ah tadi aku melihatmu melewati tangga darurat, padahal liftnya tidak mati, waeyo? Kau tidak mengidap claustrophobia seperti Kim Joo Won kan? Hahahaha,” Tanya Heerin, saat ia baru sampai di lantai 9, ia memang sempat melihat Min Rin dari arah tangga darurat, tapi Eun Kyo yang sudah memanggilnya, membuat Heerin tidak menyempatkan diri untuk sekedar menyapa Min Rin, dan siapa sangka begitu tahu Heerin datang, Min Rin langsung menyusulnya ke tempat Eun Kyo.

Min Rin tak menjawab, ia hanya tersenyum lebar.

“Lewat tangga darurat dari lantai 8 menuju lantai 9 tiap jam 7 malam memang sudah menjadi ritual Min Rin sejak 5 bulan yang lalu,” sahut Eun Kyo sambil melirik Min Rin.

Mwoya? Ritual apa?” Tanya Heerin menatap ke arah Eun Kyo kemudian kembali menatap Min Rin.

“Ritual mencari jodoh, Eonni, hehehe,” jawab Min Rin santai.

“Jo-jodoh?”Tanya Heerin sedikit ternganga. Ia baru tahu kalau ada ritual seperti itu, sepertinya ia juga perlu mencobanya.

“Ia sedang menaksir pria yang tinggal di lantai 8. Pria itu sering menyendiri di tangga darurat saat jam malam,” sahut Eun Kyo lagi.

“…Err…siapa namanya?”Tanya Eun Kyo mencoba mengingat nama pria yang sedang diincar adik sepupunya itu.

“Nickhun, Nickhun Buck Horvejckul.”

“Mwo?” Tanya Heerin tak begitu jelas, ia ingin mengulangnya, tapi terlalu sulit di lafadzkan.

“ Nickhun Buck Horvejckul” sahut Min Rin lagi dengan fasih, Heerin mencoba memonyong-monyongkan bibirnya ingin mengucapkan nama itu, tapi tetap tak bisa.

“Astaga! Namanya aneh sekali?tidak jelas.” sungut Heerin akhirnya. Eun Kyo hanya mengangguk-angguk membenarkan ucapan Heerin.

“Ah, tak apa namanya tak jelas, yang penting wajahnya jelas. Jelas tampannya, hehehehe,”

“keluar dari wajahnya yang kau bilang jelas itu, kebiasaannya juga aneh, mana ada orang suka menyendiri di tangga darurat? Biasanya orang akan merenung di atap gedung atau di pingggir danau atau di lapangan, tapi ini?”

Eun Kyo tertawa keras sekali, “Hehehe wajar saja kalau yang ditaksir aneh, kau tidak lihat yang menaksir juga tak kalah aneh?”

“Yak! Eonni!” sungut Min Rin kesal sambil cemberut, tapi detik berikutnya ia ikut tertawa bersama Eun Kyo dan Heerin.

***

Park Jungsoo. Mendadak Heerin ingin sekali mencekik pria itu. tadi, saat Eun Kyo sedang dikamar mandi, Min Rin sempat berbisik padanya bahwa ada tetangga baru yang sedang mengejar-ngejar Eun Kyo. Mata Heerin langsung melotot lebar saat Min Rin menyebut nama Park Jungsoo, dan Heerin melihat dengan mata kepalanya sendiri saat ia pulang dan bertemu dengan Jungsoo di lobby, hanya saja Heerin tak bisa melaksanakan misinya karna Jungsoo sudah menghilang.

Jungsoo menipunya, itu yang membuat Heerin kesal setengah mati. Tepat satu bulan lalu, malam sebelum Heerin berangkat ke Macau, ia bertemu dengan Jungsoo. Seperti dugaan Heerin, Jungsoo menanyakan keberadaan Eun Kyo. Tentu saja Heerin tidak mau memberitahukan keberadaan sahabatnya itu, mengingat betapa Eun Kyo ‘antiJungsoo’, bisa-bisa ia yang dibunuh Eun Kyo kalau sampai Jungsoo tahu keberadaan Eun Kyo dari mulutnya.

Sialnya Jungsoo tau kelemahan Heerin, gadis itu akan dengan jujur mengatakan apa saja saat sedang mabuk, dan malam itu Jungsoo membuat Heerin mabuk. Heerin baru mengingatnya sekarang, menurut Eun Kyo, ini hanya sebuah kesialannya bertemu lagi dengan Jungsoo. Kebetulan? Tentu saja tidak. Jungsoo mengerjainya untuk mendapatkan alamat Eun Kyo, dan bukan tidak mungkin, tinggal disebelahnya itu semua adalah rancangan Jungsoo.

Dibalik semua kekesalan Heerin terhadap Jungsoo, ia menyimpan kekaguman besar atas pria itu, sejak SMA tak pernah menyerah mengejar Eun Kyo, sebenarnya Jungsoo pria yang baik, hubungan mereka bertiga saat SMA sangat baik, sebelum insiden itu terjadi. Sampai saat ini pun, Heerin masih berhubungan baik dengan Jungsoo, sekali lagi, ia hanya kesal dengan Jungsoo.

Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam saat ada seseorang yang memencet bel di rumah Heerin, sedikit sempoyongan, Heerin bergerak menuju pintu rumahnya, samar-samar ia dengar seseorang meneriakkan namanya. Astaga! Untung saja tetangganya tidak keluar dan melemparkan kulkas pada pria tidak tau sopan santun yang berteriak memanggilnya malam-malam begini.

“SHIN HEE RIN!!”

“ASTAGA PARK JUNGSOO! BERHENTI BERTERIAK, AKU TAK SETULI ITU!” teriak Heerin setelah membuka pintu sedikit kasar.

Mwoya?! Teriakanmu bahkan lebih berpotensi menulikan telingaku, aish,” protes Jungsoo, ia bergegas hendak masuk kedalam rumah Heerin, tapi Heerin menghalanginya dengan tatapan ‘berani masuk, kubunuh kau!’

“Mau apa kau?” Tanya Heerin galak.

“Hehehehe,” jungsoo hanya tersenyum lebar sambil menggaruk bagian belakang kepalanya. Heerin menatapnya sebal.

“Kau baru memutihkan gigimu? Aku tidak perlu gigimu!” ujar Heerin lalu bergerak untuk menutup pintunya, tapi Jungsoo buru-buru menahannya.

“Eeh chankamman! Aish, kau itu,” gerutu Jungsoo. Heerin mengurungkan niatnya untuk menutup pintu , dan kembali bersandar di pintu, matanya sudah sangat mengantuk.

“Makanya cepat katakan….., kalau kau kemari hanya untuk pamer gigi, tak perlu mengangguku malam-malam begini,” sungut Heerin kesal, sudah beberapa kali ia menguap.

Aish, yak! Kau itu kenapa masih tetap galak huh?”

Not your bussines, mister.” Jawab Heerin mengibaskan sebelah tangannya, dengan mata hampir terpejam.

“Heerin-ah. Bantu aku mendapatkan Eun Kyo,”

MWO?!”pekik Heerin langsung membelalakan matanya, tak mengantuk lagi.

“Hehehehe,”lagi-lagi  Jungsoo hanya tersenyum tanpa dosa. Ia sudah menduga Heerin menolaknya, tapi kali ini ia punya senjata ampuh untuk membujuk Heerin.

Shirreo!” tolak Heerin tegas, ia sudah pernah membantu Jungsoo dulu saat mereka masih SMA, dan setelah itu Eun Kyo mendiamkannya selama satu minggu.

Wae? Bukankah kau mak comblang yang handal? Aku tahu Ae Rin dan Jongwoon kau yang menjodohkannya,” Tanya Jungsoo. Yeah, ia meminta bantuan Heerin bukan tanpa alasan, selain bersahabat dengan Eun Kyo, Heerin adalah mak comblang terkenal sejak zaman mereka SMA, dan Heerin masih terbukti mempunyai bakat tersebut, mengingat Jongwoon, teman SMA mereka juga akhirnya mendapatkan Ae Rin atas campur tangan Heerin.

“Dan mereka adalah klien terakhirku. Okay? Aku sudah cukup tua untuk mengurusi kisah cinta orang lain Jungsoo-ya. Sekarang saatnya aku memikirkan kisah cintaku sendiri,” jawab Heerin malas, lagipula pernikahan Ae Rin dan Jongwoon sudah hampir 2 tahun yang lalu, mengapa masih dibahas?

“Ayolah Heerin. Ku mohon. Tambahlah satu klien lagi, euh?!”bujuk Jungsoo lagi.

Shirreo!”

“Bagaimana kalau kau kukenalkan pada teman lelakiku? Kita saling silang, kau bantu aku mendekati Eun Kyo, lalu kau kukenalkan pada temanku yang suuuupeeer tampan?”

“Cih, kau kira aku percaya dengan pilihanmu?” cibir Heerin, Jungsoo hampir putus asa, ia tak percaya Heerin masih begitu kukuh meskipun ia memberi penawaran yang cukup menarik, ia tahu benar Heerin menyukai pria-pria tampan.

“Berikan aku pemuda yang tampan, kaya, dan taat agama. Eothe?” ujar Heerin lagi, Jungsoo tersenyum lebar, ternyata memang tak sekukuh itu, hehehehe.

“Siap!” jawab Jungsoo dengan sikap tegak dan mengangkat sebelah tangannya, bertingkah seolah-olah militer yang menerima perintah dari atasannya.

“Sekarang kau bisa pulang kan? Aku sudah sangat mengantuk kalau kau tahu,”

“Aaaaa gumawooo Heerin-ah,”ujar Jungsoo lagi, lalu memeluk Heerin erat, meluapkan rasa bahagianya mendapat dukungan lagi.

Aish, yak! Kau membuatku tidak bisa bernapas Jungsoo-ya!”teriak Heerin tepat ditelinga Jungsoo, membuat pri aitu reflek melepaskan pelukannya.

***

Eun Kyo semakin mempercepat langkah kakinya saat menyadari Jungsoo berusaha menjajarinya. Tapi Jungsoo tak mau menyerah, dengan kakinya yang lebih panjang, ia mampu menjajari Eun Kyo, lagi dan lagi.

“Selamat pagi, Kyo-ya,” sapa Jungsoo yang kini sudah bersebelahan dengan Eun Kyo.

“Pagi.” Jawab Eun Kyo singkat dan tetap berjalan cepat meskipun hari masih pagi, bahkan kalaupun ia tak langsung mendapat bus saat di halte nanti, ia tak akan terlambat.

“Naik bus lagi? Tidak dijemput pacarmu?” pancing Jungsoo, ekor matanya melirik Eun Kyo yang mendadak berhenti dan menatapnya tajam. Jungsoo ikut berhenti balas menatap Eun Kyo.

“Sebenarnya apa maumu, Eo?” Tanya Eun Kyo akhirnya, selama satu bulan ini ia memang membiarkan Jungsoo merecokinya dan tetap berusaha datar seolah tak terjadi apa-apa. Bukan apa-apa, ia hanya ingin menanggapi tingkah Jungsoo dengan sedikit lebih dewasa, bukan lagi seperti anak SMA yang bisa memukuli Jungsoo dan memarahinya dengan sangat labil. Sayangnya, Jungsoo menganggapnya sebagai lampu hijau.

Jungsoo mengkerutkan dahinya.

“Kau masih menginginkanku, Eo? Mengejarku? Ingin mendapatkan cintaku, Eo?”cerca Eun Kyo. Ini sudah lebih dari 10 tahun, dan sangat konyol kalau ternyata Jungsoo masih menyimpan cintanya pada Eun Kyo. Bahkan sejak dulu, Eun Kyo tak pernah memperdulikannya.

“Kau? Ingin kukejar lagi?” Tanya Jungsoo dengan wajah datar, membuat Eun Kyo benar-benar ingin melepas sepatu haknya dan memukulkannya tepat dikepala Jungsoo. Memangnya selama ini apa yang sedang dia lakukan? Merecoki Eun Kyo, menarik perhatian Eun Kyo dengan segala cara. Hampir sama seperti saat SMA dulu, saat Jungsoo mengejar Eun Kyo. Seharusnya Eun Kyo tidak salah menebak bahwa lelaki konyol ini sedang berusaha mengambil hatinya, lagi.

NO!” jawab Eun Kyo kesal, lalu berbalik berjalan lagi meninggalkan Jungsoo menuju halte bus.

Jungsoo tersenyum geli, lalu bergegas mengejar Eun Kyo dengan sedikit berlari, menjajari langkah Eun Kyo lagi.

“Kau ingat taruhan kita dulu?”Tanya Jungsoo menarik perhatian Eun Kyo.

“Taruhan? Taruhan apa?” Tanya Eun Kyo, sudah lebih dari 10 tahun sejak mereka lulus SMA, ia tak pernah bertemu lagi dengan Jungsoo.

Aigoo….kau masih pelupa ternyata,”

Eun Kyo melirik Jungsoo tajam,”jawab saja pertanyaanku, taruhan apa?”Tanya Eun Kyo galak. Mereka sudah sampai di halte bus, tak terlalu ramai. Hanya ada 2 orang siswi SMA yang juga menunggu bus sambil mengobrol. Eun Kyo duduk, dan Jungsoo mengikutinya, duduk disebelah Eun Kyo.

“Kau benar-benar lupa?”

“Kalau tidak mau jawab ya sudah!” ujar Eun Kyo ketus.

“Hehehe, aniya, tentu saja aku akan memberitahumu. Kau ingat? Dulu kau pernah bertaruh padaku,” Eun Kyo melirik Jungsoo yang masih menatapnya dari samping.

“Kalau kita masih tetap lajang sampai kita bertemu lagi di usia 30 tahun, maka kita akan menikah.”sambung Jungsoo. Eun Kyo menoleh, melebarkan pupil matanya, tersentak kaget.

Benar, taruhan itu. Eun Kyo menatap tajam ke arah Jungsoo yang tampak serius. Eun Kyo merutuki dirinya sendiri mengapa dulu ia bertaruh seperti itu. Ayolah, saat itu, saat mereka mulai saling mengenal di tahun pertama SMA, ia tahu sifat Jungsoo. Pria itu tak bisa jauh dari yang namanya gadis sejak mengenal apa itu pacaran.

“Kau sedang tidak punya pacar, kan? Aku juga.”Ujar Jungsoo lagi dengan nada menyebalkan.

Eun Kyo mendengus kesal,

“30 tahun kan? Sekarang usia kita baru menginjak 28 tahun, aku bisa pastikan aku sudah menikah saat usia kita 30 tahun. Jadi, jangan sia-siakan usiamu, Jungsoo-ssi.” Ujar Eun Kyo sinis.

“Park Eun Kyo. 2 tahun itu bukan waktu yang lama, aku sudah menunggumu lebih dari 10 tahun. Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja?”

“Kau mengancamku?”

“Kau merasa terancam?”

“Sama sekali tidak!” jawab Eun Kyo ketus, mengalihkan pandangannya. Dulu, Jungsoo bukan jenis pria yang suka mengancam, semoga saja ucapannya tadi hanya untuk menggertak Eun Kyo.

Aniy, hanya mengingatkanmu, akan selalu ada hasil di setiap usaha seseorang.” Jawab Jungsoo tenang, tanpa terkesan mengintimidasi. Bersamaan dengan berakhirnya kalimat Jungsoo, bus yang ditumpangi berhenti tepat di depan mereka. Eun Kyo berdiri, sementara Jungsoo masih duduk.

“Berharap saja kau, Park Jungsoo.” Ujar Eun Kyo dingin sebelum berjalan meninggalkan Jungsoo menaiki bus.

Bus itu melaju setelah Eun Kyo dan 2 siswi SMA dihalte tersebut masuk, meninggalkan Jungsoo yang masih terdiam di bangku halte.

“Aku tak akan lelah berharap Park Eun Kyo, karna harapanlah yang membawaku sampai kesini.” Lirih Jungsoo sambil tersenyum.

***

Malam ini Eun Kyo dan Min Rin di undang Ae Rin, makan malam di rumah mungil mereka. Heerin juga mendapat undangan itu sebenarnya, tapi karena pekerjaannya ia tidak bisa hadir. Eun Kyo, Heerin, dan Jongwoon adalah teman satu angkatan, bersama dengan Jungsoo juga mereka sekolah di SMA yang sama. Sementara Ae Rin dan Min Rin adalah sepupu Eun Kyo. Ae Rin yang usianya 2 tahun dibawah Eun Kyo mengikuti jejak Eun Kyo, menempuh pendidikan di Seoul. Sejak itulah ia mengenal Jongwoon, sunbae sekaligus teman Eun Kyo. Sementara Min Rin, sudah tahun ketiga ia menempuh pendidikan di salah satu Universitas swasta di Seoul.

Eun Kyo dan Min Rin asyik melihat kembali foto-foto pra wedding antara Ae Rin dan Jongwoon, sementara pasangan suami istri itu membereskan bekas makan malam mereka. Eun Kyo dan Min Rin tersenyum geli dan sesekali bergosip membahas foto pra wedding pasangan itu yang cukup aneh. Biasanya, foto pra wedding itu dilakukan di tempat-tempat yang indah seperti pantai, taman, atau mungkin jembatan yang indah. Tapi, Ae Rin dan Jongwoon justru memilih tempat-tempat aneh untuk melakukan pemotretan, seperti lampu merah, rel kereta api, jalan tol, dan tempat-tempat lain yang berhubungan dengan transportasi. Mengapa? Karna mereka pasangan aneh, itu alasan sebenarnya, jauh dari alasan utama mereka, yaitu karena Ae Rin seorang pegawai di dinas perhubungan dan Jongwoon yang sangat menyukai otomotif.

“YA! Apa yang sedang kalian tertawakan, huh?” Tanya Ae Rin yang datang dengan membawa sepiring buah-buahan yang sudah dipotong potong dan meletakannya di meja, ia kemudian duduk kemudian mengelus perutnya yang membuncit, yah ia sedang hamil, menginjak 7 bulan, bulan ini. Jongwoon yang berjalan dibelakangnya turut meletakan satu piring lagi buah-buahan. Ia kemudian duduk di samping Ae Rin.

“Apalagi? Tentu saja foto kalian yang aneh!” jawab Min Rin, meletakkan album foto di meja, dan tangannya meraih buah-buahan yang disajikan. Eun Kyo mengangguk membenarkan.

“YA! Itu tidak aneh, itu unik!” sahut Jongwoon kalem, disambut anggukan pasti dari istrinya.

Min Rin mencibir sambil menikmati makanannya. Belum sempat Eun Kyo menyahut mereka, ponsel disakunya bergetar. Bergegas ia mengambil ponselnya, ternyata Eommanya.

Eun Kyo sedikit menjauh dari mereka bertiga, memilih berdiri di pojok ruangan.

Yobboseo,

“Kau dimana?”

“Aku? Baru saja selesai makan malam di rumah Ae Rin, Waeyo?”

“Eun Jo hamil, kau harus menikah, setidak-tidaknya bulan depan.”

MWO?!” Pekik Eun Kyo, membuat Ae Rin, Jongwoon, dan Min Rin bisa mendengarnya dengan jelas dan menoleh ke arah Eun Kyo. Eun Kyo mengibaskan tangannya memberi tanda bahwa tidak terjadi apa-apa. Meskipun sebenarnya ia sangat syok. Pertama, tentu saja adiknya yang belum menikah itu tiba-tiba hami, dan yang kedua, mengapa Eommanya tiba-tiba menyuruhnya menikah?

“Ya! Eomma! Kau gila? Eun Jo yang hamil mengapa harus aku yang menikah?”bantah Eun Kyo, nada marah tapi memelankan suaranya.

“Memangnya kau pikir Eun Jo hamil gara-gara siapa, Eoh?”

“Tentu saja gara-gara lelaki yang menidurinya? Aku mana mungkin bisa membuatnya hamil?”

Aish, jangan pura-pura bodoh Kyo-ya, kau pikir gara-gara siapa semua bencana ini terjadi? Eo? Eun Goon yang tak kunjung diberi anak, Usaha ayahmu yang bangkrut, aku yang sakit, kemudian sekarang? Eun Jo hamil. Perlukah kuingatkan bahwa ini semua karna kutukan itu, Huh?” omel ibunya panjang lebar. Eun Kyo menghembuskan nafas beratnya, topic itu lagi. Kutukan, ya…sebuah kutukan yang harus diterima seluruh keturunan perempuan keluarga besar mereka, termasuk Eun Kyo, Ae Rin, dan Min Rin. Keturunan yang konon dicetuskan oleh nenek moyang mereka yang dilarang menikah di usia muda. Ia kemudian bunuh diri dan mnegutuk seluruh keturunannya, Apabila keturunan perempuan mereka belum menikah sampai usia 24 tahun, maka keluarga dari perempuan itu akan tertimpa musibah. Saat ini usia Eun Kyo sudah menginjak 28 tahun, 4 tahun berlalu sejak usia yang ditentukan itu memang banyak yang terjadi dalam keluarga Eun Kyo. Kakak iparnya, istri dari Eun Goon, kehilangan janinnya saat dalam usia 5 bulan, itu terjadi sehari setelah ulang tahun Eun Kyo yang ke 25, dan sampai saat ini mereka belum juga dikaruniai seorang putra. Tahun berikutnya, usaha ayahnya mengalami kemunduran, tahun berikutnya lagi, ibunya di diagnosis mengidap kista dan harus di operasi. Dan sekarang, Eun Jo, adik perempuannya hamil dengan status belum menikah.

Eomma! Sudah kubilang kutukan itu tidak ada!Oppa, belum dikaruniai seorang bayi, karna Tuhan mungkin memang belum ingin memberinya. Usaha Appa juga tidak sepenuhnya bangkrut, hanya sedang dalam masalah saja, dan aku yakin akan terselesaikan. Masalah sakitmu? Bukankah sudah dioperasi? Dan masalah Eun Jo, itu karna kebodohannya sendiri,” balas Eun Kyo berargumen, ia mulai tidak bisa mengontrol suaranya, membuat ketiga orang dalam ruangan yang sama itu dapat dengan jelas mendengar suaranya.

Kau masih mau mengelak, Eoh? Kau tidak perlu kuingatkan kan, sejak kapan semua ini terjadi? Setelah usiamu 24 taun Eun Kyo. Haruskan kuingatkan lagi tentang kutukan itu, Eo?

Eomma! Sudahlah, aku malas berdebat denganmu tentang masalah ini.”

Kalau kau tak ingin berdebat denganku, cepat sana menikah!

Eomma!”

“Dengar! Terserah padamu mau percaya pada kutukan itu atau tidak. Aku tidak peduli lagi! Toh semuanya sudah terjadi. Yang jelas, kau harus menikah paling lambat bulan depan! Kalau kau tak mau keponakan pertamamu lahir tanpa seorang ayah. Eun Jo tak mau mendahuluimu menikah. Seorang perempuan yang mendahului Eonninya menikah, akan terkena kutukan!”

“KUTUKAN LAGI? ASTAGA! KENAPA BANYAK SEKALI KUTUKAN DI KELUARGA KITA, HUH?!” pekik Eun Kyo kemudian segera memutusan sambungan teleponnya, dan me non-aktif kan ponselnya segera.

Ae Rin, Min Rin, dan Jongwoon tidak berani berkomentar apa-apa kecuali hanya menatap Eun Kyo iba.

***

Min Rin melirik Eun Kyo yang masih memalingkan wajahnya, menikmati pemandangan jalanan dari kaca bus yang mereka tumpangi. Mereka sedang dalam perjalanan pulang dari rumah Ae Rin. Eun Kyo sempat bercerita pada mereka bertiga tentang pembicaraannya, tentu saja. Pertengkarannya dengan ibunya sudah bukan barang langka lagi gara-gara kutukan itu.

Eonni,”panggil Min Rin pelan.

“Hm,” jawab Eun Kyo malas.

“Tidakkah kau berpikir bahwa sebenarnya kutukan itu cukup menguntungkan kita, setidaknya itu menjamin kita tidak akan menjadi perawan tua, hehehehe, para orangtua pasti sudah heboh mencarikan kita pasangan sebelum usia kita 24 tahun,” ujar Min Rin sambil tersenyum geli. Ia membayangkan betapa repotnya para orangtua di keluarganya yang mempunyai putri yang akan berusia 24 tahun. Seperti halnya orangtua Eun Kyo yang mulai menjodohkannya bahkan sejak usianya 20 tahun. Yang benar saja! Tentu saja Eun Kyo menolak. Eun Kyo cinta kesendiriannya.

“Eun Kyo menoleh ke arah Min Rin,” Ck, kau akan merasakan betapa nikmatnya kesendirian itu saat kau dewasa nanti, kau bisa melakukan apapun tanpa ada yang mengikatmu. Dan itu menyenangkan sekali.”ujar Eun Kyo smabil tersenyum, ia ingat betul mengapa ia masih belum mau berkomitmen sampai sekarang, sendiri itu nikmat, ia bisa benar-benar focus mengejar karir dan cita-citanya serta lebih bebas.

Min Rin tersenyum mendengar pernyataan Eun Kyo.” Aku ini sudah 21 tahun, Eonni, sudah cukup dewasa, dan sekarangpun aku merasakan betapa menyenangkannya menjadi seorang gadis single itu,”

Mereka berdua tersenyum,

“Hanya saja, Eonni, kita tidak mungkin selamanya terus sendiri. Kau tahu kenapa diciptakan lelaki dan perempuan? Karna mereka diciptakan untuk saling berpasangan. Saling melengkapi. Sehebat apapun seorang wanita, ia tetap membutuhkan seorang lelaki disampingnya, begitu pula sebaliknya. Dan kau tau, Eonni, mengapa Tuhan menciptakan sela-sela jari ini?” Min Rin mengangkat tangan Eun Kyo, dan menunjuk pada sela-sela jari Eun Kyo. Perlahan, ia menelusupkan jari-jarinya sendiri di sela-sela jari Eun Kyo, menautkan tangan mereka.

“Karna suatu hari, akan ada yang mengisinya seperti ini,” ujar Min Rin lagi sambil tersenyum. Eun Kyo membenarkan seluruh ucapan Min Rin dan memberi senyumannya sebagai jawabannya.

***

Sesampainya di apartemen, Eun Kyo langsung menghubungi Heerin, selain karna mereka bersahabat juga karena reputasi Heerin sebagai makcomblang handal memungkinnya gadis itu untuk meminta bantuan. Sejujurnya ia mulai memikirkan nasib keluarganya juga ucapan Min Rin.

Anehnya Heerin langsung menyanggupi dan bahkan siap mempertemukan Eun Kyo dengan lelaki yang akan dicomblangkan dengannya itu besok pagi. Eun Kyo yang merasa belum siap meminta Heerin agar mengatur pertemuan mereka malam harinya. Dan disinilah mereka bertiga sekarang, di restoran langganan Heerin dan Eun Kyo. Eun Kyo menatap tajam ke arah lelaki yang ada dihadapannya sekarang ini, hanya terhalang meja bundar yang memisahkan mereka, sementara Heerin yang mengambil posisi duduk di antara mereka berdua hanya mampu menelan ludahnya berkali-kali melihat reaksi Eun Kyo.

“Kau, tidak salah orang, kan? Shin Heerin?”tatapan tajam Eun Kyo kini beralih ke arah Heerin yang langsung menggeleng kuat.

“Hehehehe, tentu saja tidak Kyo-ya.memang dia orangnya.” Jawab Heerin sambil tertawa aneh. Sedikit takut Eun Kyo marah padanya. Tentu saja, lelaki yang sedang dihadapannya ini adalah Park Jungsoo. Sebenarnya, tentu saja ada berbagai pertimbangan sebelum Heerin membawa Jungsoo kehadapan Eun Kyo sebagai calon suami dadakan. Selain karna memang Eun Kyo sedang butuh suami secepatnya, dan Jungsoo yang selalu available, Heerin punya alasan lain, yaitu saat Jungsoo menunjukkannya seorang lelaki tampan bernama Choi Siwon yang akan dijodohkan dengan Heerin, jikalau Heerin berhasil membuat Jungsoo dan Eun Kyo bersatu. Tapi diluar keuntungan pribadinya itu, sesungguhnya Heerin menginginkan Eun Kyo segera menikah dan berbahagia dengan lelaki yang benar-benar mencintainya, lelaki yang entah sejak kapan Heerin meyakini bahwa itu adalah Park Jungsoo. Lelaki yang mencintai Eun Kyo secara tulus, menurut pandangannya.

Heerin dan Jungsoo saling melirik satu sama lain, sedikit was was dengan aksi diam Eun Kyo dan wajahnya yang tampak berpikir. Seperti seorang terdakwa yang duduk di kursi pesakitan menunggu putusan hakim, Jungsoo begitu gugup. Tak pernah ia merasa segugup ini didepan seorang gadis, kecuali Eun Kyo. Eun Kyo memang luar biasa, ia harus mengakui itu. Gadis itu telah membuka hatinya bertahun-tahun yang lalu, dan tiba-tiba pergi tanpa menutupnya kembali, dan sampai saat ini masih terbuka lebar, hanya untuk orang yang telah membukanya, Park Eun Kyo.

“Baiklah, aku mau,” jawab Eun Kyo akhirnya. Rasa lega menjalar di seluruh tubuh Jungsoo dan Heerin sekaligus kaget, tak menyangka.

“Tapi dengan syarat,”lanjut Eun Kyo lagi, membuat Jungsoo dan Heerin kembali tegang. Benar kan? Eun Kyo tak akan semudah itu.

“Syarat?”

“Kau tahu, Jungsoo-ssi pernikahan ini terjadi tidak berdasarkan cinta. Jadi, ” Lanjut Eun Kyo lagi menatap Jungsoo.

“Aku mencintaimu,” jawab Jungsoo cepat.

“Tapi Eun Kyo kan tidak,” sahut Heerin ketus, sedikit sebal dengan aksi Jungsoo yang memotong kalimat Eun Kyo. Padahal Heerin sudah sangat penasaran dengan kalimat yang akan keluar dari mulut Eun Kyo.

Eun Kyo tersenyum tipis mendengar pernyataan Heerin, sementara Jungsoo menatap sebal ke arah Heerin.

Eun Kyo berdehem, berniat melanjutkan kembali kalimatnya.

“Aku tahu bahwa pernikahan adalah sesuatu hal yang sakral yang tidak bisa diberlakukan seenaknya dengan perjanjian konyol tentang kontrak pernikahan. Aku tidak akan melakukan itu, tenang saja.” Ujar Eun Kyo seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Heerin dan Jungsoo.

“pernikahan ini terjadi karna kita saling mmebutuhkan. Aku dengan segala permasalahanku dank au Jungsoo-ssi dengan obsesimu terhadapku,” sambung Eun Kyo lagi.

“Aku tak terobsesi padamu, aku mencintaimu, dan karna itu aku ingin memilikimu.”kilah Jungsoo lagi membuat Heerin sontak melotot padanya karna lagi-lagi memotong kalimat Eun Kyo.

“terserah apa katamu. Yang jelas, aku juga menganut bahwa dalam pernikahan itu harus ada cinta diantara keduanya. Park Jungsoo-ssi, kuberikan kesempatan padamu untuk membuatku jatuh cinta padamu, dengan cara yang benar.” Ujar Eun Kyo akhirnya. Sejujurnya, dalam diamnya tadi, Eun Kyo sedang mempertimbangkan tentang lelaki dihadapannya ini, memang bukan seorang lelaki yang buruk, baik memang, hanya kadang menyebalkan, dan Eun Kyo ingin memberinya kesempatan.

Jungsoo tersenyum lebar, mendengar ucapan Eun Kyo. Kesempatan yang ia tunggu-tunggu selama 10 tahun lebih akhirnya datang juga. Heerin tak kalah senangnya, melihat Eun Kyo akhirnya mau membuka hatinya untuk Jungsoo.

“Hanya sampai Eun Jo menikah dan melahirkan, kalau sampai saat itu kau tidak bisa membuatku jatuh cinta padamu atau setidaknya membuatku bisa menatapmu seorang, maka kita akan bercerai. Aku tidak mau menghabiskan waktu dengan orang yang tidak bisa aku cintai.”

Jungsoo sedikit berpikir, membuat Eun Kyo jatuh cinta? Dengan keinginan Eun Kyo sendiri sepertinya tak terlalu sulit? Sampai Eun Jo melahirkan? Kira-kira 7 bulan lagi, semoga cukup! Dan Jungsoo akan lebih giat lagi membuat Eun Kyo jatuh cinta kepadanya.

“Baiklah.”jawab Jungsoo akhirnya.

“Bagus. Dan kita tidak akan melakukan hubungan suami istri selama proses itu.”lanjut Eun Kyo lagi.

MWO?!” teriak Jungsoo seketika membuat Eun Kyo dan Heerin kaget, begitu pula pengunjung yang lainnya yang langsung mengedarkan pandangannya pada Jungsoo.

“Kyo-ya, kau tahu itu tidak mungkin?” ujar Jungsoo menelan ludahnya. Astaga! Yang benar saja? Tidak menyentuhnya selama 7 bulan. Bagaimana bisa? bagaimanapun Jungsoo adalah lelaki normal, melihat gadis yang begitu diinginkannya berada dalam satu ruangan dengannya bahkan mungkin berbagi ranjang dengannya, dan apalagi berstatus sebagai istrinya dan tidak menyentuhnya?

Wae? Aish, sudah kuduga kau memang semesum itu, Park Jungsoo.” Desis Eun Kyo.

“Bukannya begitu, hanya saja….kau tidak tahu saja betapa sulitnya pengendalian diri seorang lelaki terhadap gadis yang dicintainya dan apalagi sudah berstatus sebagai istri sahnya.” Ujar Jungsoo jujur.

“Eum, Jungsoo ada benarnya, Kyo-ya.” Ujar Heerin menatap iba pada Jungsoo.

Andwae-yo. Tetap tidak bisa, ini kan masih masa percobaan, bagaimana kalau nanti aku tidak bisa mencintaimu? Kita akan bercerai, sementara kau sudah meniduriku?”

“Aku menikahimu bukan untuk kuceraikan.”

“Tetap saja perjanjian kita seperti itu, tapi kalau kau tidak mau ya sudah!” jawab Eun Kyo tak peduli, ia memang butuh tapi tak terlalu butuh. Ia masih bisa menunda pernikahannya beberapa tahun lagi sebenarnya.

Andwae-yo! Baiklah! Baiklah! Aku mau.”jawab Jungsoo akhirnya.

***

Pernikahan Jungsoo dan Eun Kyo dilakukan secara sederhana. Direncanakan bulan berikutnya baru Eun Jo yang akan menikah, saat Eun Kyo bertanya mengapa tidak disegerakan saja, mengingat semakin bertambah bulan semakin bertambah buncit pula perut Eun Jo. Dan ibunya menjawab bahwa dalam satu keluarga tidak dibolehkan ada pernikahan 2 kali dalam 1 bulan, bisa mendatangkan kutukan. Nah kan, kutukan lagi?

Malam setelah acara resepsi, Eun Kyo dan Jungsoo pulang ke apartemen Eun Kyo. Mereka memutuskan untuk tinggal disana. Setelah membersihkan diri, Eun Kyo segera merebahkan dirinya di ranjangnya yang nyaman, sementara Jungsoo membersihkan dirinya. Beberapa menit kemudian, Jungsoo yang hanya memakai kaus pendek dan celana pendek masuk ke dalam kamar Eun Kyo dan berniat tidur disebelah Eun Kyo. Eun Kyo yang sudah terpejam, terbangun kembali saat merasakan ada seseorang yang menaiki ranjangnya. Saat menoleh, ia sudah melihat Jungsoo yang sudah merebahkan diri disampingnya.

“Sedang apa kau?” Tanya Eun Kyo waspada. Bukannya tanpa alasan, sesungguhnya Jungsoo memang sudah berhak menyentuhnya sejak ikrar janji suci tadi, dan bukan tidak mungkin Jungsoo melanggar janjinya sendiri, mengingat betapa dulu dia tidak setuju untuk tidak menyentuh Eun Kyo.

“Tentu saja tidur. Memangnya mau apa? Menidurimu?”jawab Jungsoo santai, matanya mulai memejam.

“Kenapa disini?” Tanya Eun Kyo lagi.

“Kau mau aku tidur dimana? Di sofa? Di lantai? Jangan berharap! Aku tidak sudi tidur ditempat seperti itu. Lagipula dalam perjanjian, aku hanya tidak boleh berhubungan suami istri denganmu, bukan berarti aku tidak boleh tidur seranjang denganmu, kan? Dan kuperingatkan kau tidak usah sok tidur di sofa atau dilantai juga. Aku tidak mau istriku sakit, arra?” Jungsoo teteap mengoceh dalam keadaan mata terpejam.

“Cih, siapa juga yang mau tidur disofa! Aku hanya waspada!”sahut Eun Kyo.

“Aku memegang janjiku, kecuali kalau kau yang menginginkannya sekarang,” jawab Jungsoo lagi lalu menyunggingkan senyum simpulnya.  Eun Kyo terpana sejenak, senyuman itu seolah membawanya ke masa lalu. Masa dimana ia sempat mengagumi pria itu, dulu, sebelum insiden itu. yah insiden yang membuat Eun Kyo ilfeel setengah mati pada Jungsoo.

Mereka adalah teman sekelas sejak kelas 1, bersama dengan Heerin. Awalnya Eun Kyo mengagumi Jungsoo sebagai ketua kelasnya yang sangat bertanggung jawab dan ramah, ia mengagumi bagaimana cara Jungsoo mengatur kelas, cerdas sekali. Jungsoo cocok menjadi pemimpin, itu kesan pertamanya. Semuanya berubah saat Jungsoo tiba-tiba memutuskan untuk mengincarkan dan bahkan menyatakan cintanya pada Eun Kyo dengan cara menjijikan—yaitu membawakan puisi buatannya sendiri—di acara ulang tahun sekolah, dimana saat itu Eun Kyo bukan merasa terharu seperti gadis-gadis lain yang iri setengah mati padanya, Eun Kyo justru merasa dipermalukan didepan umum. Baginya, pernyataan cinta tidaklah perlu seheboh itu, berdiri dipanggung membacakan puisi dan mengutarakan perasaan didepan orang banyak. Setelah itu Jungsoo tak kenal lelah mengejar Eun Kyo, gadis itu hampir saja  memaafkan Jungsoo kalau saja tidak ada insiden yang lebih memalukan lagi.

Pagi itu, saat upacara rutin sekolah, Eun Kyo yang sama terlambatnya dengan Jungsoo berlari bersama menuju lapangan yang sudah dipenuhi barisan murid-murid serta staff guru. Jungsoo bisa dengan mudah mendahului Eun Kyo, namun saat ia sudah berlari beberapa meter di depan Eun Kyo dan hampir mendekati lapangan itu, Jungsoo menyadari bahwa gadis yang baru saja ia dahului itu adalah Eun Kyo. Jungsoo berbalik, dan tersenyum pada Eun Kyo, memperlambat larinya dan tetap menghadap Eun Kyo, bisa dikatakan dia berlari mundur.  Sialnya, jungsoo tersandung batu dan membuatnya jatuh terlentang. Eun Kyo yang terlanjur panic tidak bisa mengerem langkah kakinya turut ambruk tersandung kaki Jungsoo dan akhirnya menindih Jungsoo. Yang lebih parahnya lagi, bibir mereka menempel satu sama lain. Berciuman. Itu adalah hal paling memalukan dalam sejarah hidup Eun Kyo. Ratusan murid dan para staff guru pagi itu menjadi saksi bagaimana ia kehilangan ciuman pertamanya.

Mengingat hal itu, Eun Kyo mendadak kesal lagi pada Jungsoo.

“Cih, jangan berharap!” sahut Eun Kyo ketus lalu membalik tubuhnya memunggungi Jungsoo.

***

“Sepupumu itu gila,” ujar Jongwoon pada Ae Rin yang tengah menikmati rintik hujan melalui jendela rumah mereka, Jongwoon memeluknya dari belakang, tangannya terulur kedepan, membelai perut buncit Ae Rin.

Nugu?” Tanya Ae Rin, ia menyandarkan kepalanya pada dada Jongwoon, tangannya diletakan diatas tangan Jongwoon yang melingkari perut buncitnya.

“Park Eun Kyo, siapa lagi?”

Ae Rin tersenyum tipis, “ Wae?”

“Persyaratan yang di ajukan pada Jungsoo itu, tidak masuk akal!” ujar Jongwoon lagi, selain Heerin, Ae Rin, Min Rin dan Jongwoon adalah orang-orang yang tau tentang sesuatu dibalik pernikahan Eun Kyo dan Jungsoo.

“Apanya yang tidak masuk akal? Menurutku sangat masuk akal.”

“Kau pikir mudah bagi seorang pria untuk tidak menyentuh wanita yang dicintainya, apalagi setelah mereka menikah. Dan bukankah itu yang membedakan antara pacaran dan pernikahan?”

“Hey, Jungsoo Oppa tidak semesum kau.” Ujar Ae Rin sambil terkekeh geli.

“Ck, Jungsoo itu lebih mesum daripada aku,” kilah Jongwoon, membuat Ae Rin kembali terkekeh pelan.

“Kupastikan dalam waktu tidak lebih dari satu bulan, Jungsoo sudah berhasil meniduri Eun Kyo.” Lanjut Jongwoon lagi, yakin.

Eonni, tidak akan semudah itu menyerah. Kau tidak tahu seberapa besar kekuatannya bertahan pada gengsinya.” Sahut Ae Rin.

“Dan kau tidak tahu betapa tekunnya usaha Jungsoo untuk mendapatkan sesuatu. Berani bertaruh?”

Ae Rin menengokkan kepalanya pada Jongwoon. “Apa?”

“Kalau dalam satu bulan Jungsoo berhasil meniduri Eun Kyo, kau memberiku morning kiss dua kali lipat dari biasanya. kalau Jungsoo tidak bisa meniduri Eun Kyo dalam kurun waktu satu bulan, aku yang akan memberimu jatah morning kiss dua kali lipat dari biasanya.”

Ae Rin terkekeh mendengar taruhan suaminya, ia kembali menghadap jendela. “ Ya! Mana ada taruhan seperti itu?”

“Ada. Aku baru saja membuatnya,”

Mereka berdua tertawa bersama, bahkan anak yang sedang dikandung Ae Rin sepertinya mengerti kalau mereka sedang bercanda, karna detik berikutnya, bayi mungil itu langsung menendang perut ibunya, membuat Jongwoon dan Ae Rin kembali tertawa.

***

Satu bulan sudah mereka menikah. Jungsoo akhirnya tahu apa yang membuat Eun Kyo menghindarinya, dan setelah itu Jungsoo selalu meminta maaf pada Eun Kyo, ia bahkan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya mempermalukan Eun Kyo didepan umum dan ia berjanji bahwa ia akan mengulangi berkali kali untuk mencium bibir Eun Kyo lagi, dan itu sukses membuat dahinya benjol karna langsung dilempar Eun Kyo dengan remote TV mereka.

Sejujurnya, Eun Kyo sudah mulai merasa nyaman dengan kehadiran Jungsoo, dengan segala tingkah polahnya, rayuan-rayuannya, serta perhatian-perhatian kecil yang selalu didapatkannya. Sejauh ini, Jungsoo bisa mengendalikan dirinya dengan baik. sesekali mereka berkencan dan entah mengapa itu membuat Eun Kyo, senang? Apalagi saat tangan hangat Jungsoo mengenggam tanganya, pelukannya yang menenangkan atau bahkan cara Jungsoo mengacak rambutnya dengan sayang. Perasaan aneh mulai menjalari Eun Kyo saat Jungsoo lupa mengirim pesan padanya saat pulang terlambat atau saat Jungsoo tak kunjung pulang karna pekerjaan kantornya. Mungkinkah Eun Kyo sudah mulai menatap Jungsoo sebagai suaminya? Atau justru sudah jatuh cinta pada pria itu?

Malam itu, Jungsoo pulang membawakan bunga mawar kesukaan Eun Kyo. Nah, lihatlah salah satu bentuk perhatiannya saja.

Eun Kyo masih asyik memandangi bunga yang kini menghiasi nakas di kamar tidurnya saat Jungsoo selesai mandi dan kembali ke kamar. Setelah itu mereka menonton TV bersama didalam kamar, sambil sesekali membahas pekerjaan mereka.

“Jungsoo-ya, keningmu kenapa?” Tanya Eun Kyo saat menyadari ada yang berbeda dengan kening suaminya. Sedikit memar.

“Eo, ini? membentur meja saat aku mengambil pulpen yang terjatuh tadi.” Jawab Jungsoo.

Mereka merubah posisi duduk mereka. Tangan Eun Kyo tergerak menyentuh luka memar Jungsoo, dan mendekatkan wajahnya untuk sekedar memastikan keadaan luka itu.

Gwencana?” Tanya Eun Kyo khawatir.

“Eum, kau tenang saja.” Jawab Jungsoo.

Eun Kyo tersenyum. ia kembali menegakan tubuhnya, menatap Jungsoo.

“Kyo-ya,”

“Hm?”

“Aku tidak bisa lagi,”

Eun Kyo menatap Jungsoo bingung. Tangan Jungsoo terulur membelai pipi Eun Kyo dan menatap Eun Kyo dengan tatapan yang tidak bisa diartikan Eun Kyo.

“Ijinkan aku memperlakukanmu selayaknya seorang istri. Bolehkan aku……menyentuhmu?” Tanya Jungsoo sedikit frontal, membuat Eun Kyo mengerjap. Pipinya memanas, dan akhirnya Eun Kyo menganggukkan kepalanya. Dan malam itu mereka melewati malam terindah yang seharusnya sudah mereka lewati sejak beberapa minggu lalu.

***

Wajah Eun Kyo kembali memerah saat mengingat kejadian semalam. Hubungannya dengan Jungsoo memang terlalu drastis peningkatannya, tapi mau bagaimana lagi bila cinta sudah bicara.

“Terima kasih sayang, terima kasih telah memaafkanku, dan mau menerimaku,” ujar Jungsoo semalam sebelum mereka benar-benar tertidur.

Eun Kyo kembali tersenyum, ia mengingat kembali kekonyolan diantara mereka selama ini. Astaga! Tidakkah ini memalukan sekali? Ia seperti menelan ludahnya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi. Toh pada kenyataannya Jungsoo memang berhasil membuatnya terpesona dan bahkan jatuh cinta. Bukankah perjanjian mereka batal kalau pada akhirnya Eun Kyo jatuh cinta pada Jungsoo.

Eun Kyo melirik ponselnya, mendadak ia teringat pada seseorang. Setelah memilih salah satu contact name di listnya, Eun Kyo segera menghubunginya.

Yobboseo, Eun Jo-ya,”

Eonni, waegure?”

“Bagaimana kabar kalian? Dan bagaimana persiapan pernikahanmu?”

“Huh? Eh, kabar kami baik Eonni, kau sendiri? Bagaimana keadaan kakak ipar?”

“Kami baik. bagaimana persiapan pernikahanmu? Jadi kapan kalian akan menikah?”

“Itu, Eh…Ehm….entahlah,”

“Jangan bercanda Eun Jo-ya, kau tau semakin lama perutmu semakin membesar. Aku tidak mau keponakanku lahir tanpa seorang ayah,”

“Hehehe, Ne, Gumawo Eonni, sudah perhatian denganku. Eung…apa Eonni bahagia?”

Eun Kyo mengernyitkan keningnya, sedikit merasa aneh dengan Eun Jo. Ada yang tidak beres. Eun Jo paling tidak bisa berbohong.

“Eun Jo-ya, ada apa sebenarnya?” tembak Eun Kyo langsung.

“Ada apa, Eonni?”Tanya Eun Jo bingung.

“Tidak usah berpura-pura lagi, ada yang tidak beres, Marhaebwa!”

“Eonni,…..”

“Katakan padaku, atau aku akan marah kalau aku mendengarnya dari mulut orang lain,”

Eonni, Sebenarnya,….”

***

Eun Kyo mendengus tak percaya setelah mendengar penjelasan adiknya. Mereka menipunya,  Eun Jo jelas-jelas tidak hamil. Dan Eun Jo bilang, bahwa sesungguhnya kutukan itu menghilang 3 tahun setelah kutukan itu ditetapkan, yaitu saat usia Eun Kyo 27 tahun. Tapi, jika setelah 27 tahun Eun Kyo tak kunjung menikah, maka selamanya Eun Kyo tidak akan menikah. Ibunya yang merasa khawatir akan nasib Eun Kyo, mulai merancang ini semua untuk menekan Eun Kyo, mengingat bahwa alasan kutukan tak akan mudah menekan Eun Kyo. Sejujurnya Eun Kyo mulai percaya dengan kutukan itu, mengingat kondisi ibunya yang makin membaik, serta usaha ayahnya yang mulai membaik lagi setelah bekerjasama dengan orangtua Jungsoo. Semua membaik pelan-pelan, bahkan 2 hari yang lalu Eun Goon mengatakan bahwa istrinya sudah hamil 4 minggu. Tapi, setelah mendengar penjelasan adiknya, Eun Kyo sepertinya harus berhenti mempercayai hal yang memang tidak patut dipercayai.

Eun Kyo masih meledak-ledak saat ia makan siang bersama Jungsoo. Jungsoo tersenyum kalem saat mendengar cerita Eun Kyo. Eun Kyo marah pada keluarganya, dan Jungsoo berusaha menenangkannya.

“Tapi sebenarnya niat mereka baik, kan? Setidaknya hal itu membuat kita bersama,” ujar Jungsoo sambil menautkan jari-jarinya pada jari-jari Eun Kyo di atas meja, Jarak mereka yang sebenarnya terhalang meja berisi sisa makan siang mereka itu seolah menghilang saat Jungsoo menatap mata Eun Kyo penuh kasih, mau tak mau Eun Kyo tersenyum.

“Tapi kan tidak harus menipuku? Kalau kita memang berjodoh, pasti kita juga akan tetap bersama,” ujar Eun Kyo, mulai memainkian jari-jarinya yang bertautan dengan jari-jari Jungsoo, terasa pas, sepertinya apa yang dikatakan Min Rin dulu benar .

“Mungkin Tuhan mempercepatnya dengan cara ini. atau memang harus dengan cara ini kita bersatu. Anggap saja Tuhan sedang bercanda dengan kisah cinta kita.”ujar Jungsoo lagi.

“Begitu?”

Jungsoo mengangguk pasti, “ Week end depan kita kerumah orangtuamu,”

“Untuk apa?”

“Tentu saja mengunjungi mereka, buktikan juga bahwa kau sudah tidak marah dengan mereka,”

“Tapi aku masih kesal dengan mereka,”

“Minggu depan pasti sudah tidak,” ujar Jungsoo meyakinkan, Eun Kyo hanya menatap datar ke arah Jungsoo yang terus mengembangkan senyumnya. Dan lihatlah bagaimana indahnya cara Jungsoo tetap berusaha menjaga hubungan mereka dengan keluarga Eun Kyo maupun Jungsoo. Masih adakah alasan Eun Kyo untuk tidak segera bertekuk lutut pada lelaki itu?

***

Setelah pulang dari kampung halaman Eun Kyo, mereka berdua masih mesra, meskipun sesekali masih sering berdebat. Bahkan Min Rin yang bertugas sebagai mata-mata untuk mengawasi mereka selama masa percobaan ini, harus mulai mereguk keirian melihat pasangan baru itu. mata-mata? Ya…Min Rin memang ditugaskan Heerin untuk menjadi mata-mata hubungan Eun Kyo dan Jungsoo. Karna sesungguhnya, kelanjutan hubungan Eun Kyo-Jungsoo akan berbanding lurus dengan kelanjutan hubungannya dengan Siwon. Lalu? Kenapa Min Rin akhirnya mau menerima pekerjaan absurd itu? tentu saja dengan kredibilitas yang dimiliki Heerin sebagai makcomblang handal, akan mencomblangkannya dengan Nickhun. Tawaran yang lumayan menarik, kan? Mengingat pasangan-pasangan yang ‘jadi’ ditangan Heerin.

Malam itu Jungsoo  pulang kantor dengan membawa rekaman pertandingan sepak bola antara Korea-Jepang yang tidak sempat mereka tonton saat berada di kampung halaman Eun Kyo. Sekedar info, Eun Kyo menjadi maniak bola sejak menikah dengan Jungsoo. Ia bahkan lebih heboh dibanding Jungsoo saat tim kesebelasannya menang. Seperti malam itu, saat Korea Selatan menang atas Jepang dengan skor tipis 3-2. Mereka terlonjak-lonjak bahagia diatas ranjang mereka saat menonton pertandingan itu melalui dvd di kamar Eun Kyo. Dan alhasil, ranjang mereka rusak setelahnya.

Pagi harinya, Eun Kyo langsung membeli Ranjang baru dan langsung diantara ke apartement Eun Kyo. Min Rin menyempatkan diri untuk keluar saat mendengar suara Eun Kyoseperti mengarahkan sesuatu. Saat ia membuka pintu, terlihat beberapa orang laki-laki mecoba memasukkan sebuah ranjang ke dalam apartemen Eun Kyo melalui pintu masuknya. Setelah beberapa menit dan beberapa teknik, akhirnya ranjang itu bisa lolos melewati pintu apartemen Eun Kyo.

Eonni, kau beli ranjang baru?” Tanya Min Rin.

“Eum, ranjang kami semalam rusak karena….”

Min Rin sudah siap mendengar penjelasan Eun Kyo, saat ucapan Eun Kyo terpotong karna teriakan salah satu pria yang membawa ranjang itu dari dalam apartement Eun Kyo.

“Nyonya, ini harus diletakan dimana?”

“Eo, sebentar Ahjussi,” jawab Eun Kyo setengah berteriak,” Aku ke dalam dulu,” ujar Eun Kyo pada Min Rin yang akhirnya hanya menganga hebat sepeninggal Eun Kyo.

Buru-buru ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang,

Heerin Eonni, menurutmu sehebat apa permainan mereka semalam sampai membuat ranjang mereka rusak, Eoh?”

“MWO?!”

***

 END

Note: huaaa finally, setelah berhari-hari mencoba nulis dan akhirnya justru selesai dalam waktu semalam. Ini di note harus dikasih alasan kenapa saya layak harus menang ya? Karna saya menginginkan Kim Jongwoon*eeh ngelantur, buahahaha. Karna saya menginginkan albumnya/plak jujur amat. Hahahaha tapi diluar itu karna pengen ngerayain ultah ponakan tercintaaaaaah *ngaku-ngakuu, uri Ryu Jiiiiiiiiiiinnn…saranghaaaaaeeeee……hehehehe *cium Ryu.

Eh tapi sy boleh ngasih note yang lain kan yah? Hehehe, jadi..uhuk uhuk ehem. Adakah yang merasa tidak asing dengan ide cerita ini? *iyelah pasaran. Hahahaha. Engga deng, sejujurnya saya membuat ini karna saya terinspirasi sama salah satu couple di novel 9 weddings and a wishes karya ifa avyanti. Sop and Jules. Hahahaha. Saya kangen sama tuh couple(padahal baru baca sekuelnya) dan nggak tau kenapa malah kecampur sama ide gila saya, bawahahaha jadilah gaje seperti sini. FYI, ini ff pertama saya yang mencantumkan diri sendiri sebagai cast bersama suami saya Kim Jongwoon *uhuk. Buar Min Rin dan Heerin, gimana?kita jadi ‘Rin sister’ pengganggu Teukyo,  Bwahahaha, dan maaf dapet peran gaje seperti authornya. Buat Teukyo fam love you all. Ryu I love more, *ccccuuuuuuup dadah.

18 responses »

  1. metaaaaaaaaaaa….
    ngikik aku bacanya..
    hohoo..
    lucuu.. tp kok aku baca ga ada pernyataan cinta kyo ke teuk sih?
    ato aku ga kliatan…?
    hihi..
    aku mau squel + nc *maklum pembaca yadong*
    hihihi..
    aga kecepetan dikit sih alurnya, jadi aku bacanya kyk terburu”gt..
    tp critanya asik.. komedi khas meta bgt..
    trus, aku suka karakter heerin onnie disini..
    dan pertama kali baca couple aerin ama bapaknya kura” itu… hahaha…

    met, kl kamu dpt albumnya, traktir aku makan” ya..
    okai?hihi..
    bye meta.. aku tggin karya kamu selanjutnya, apa lg ff ncnya ya… hihihi

  2. Buahahahahaha
    Ya oloh, nih cerita’a bnran bikin ngakak, ampe sakit perut bca’a!!!

    Aye jd ngbayangin Kyo eonni sm Jung Soo Oppa wktu jaman SMA dlu,pasti tampang’a masih polos2 gmna gitu….kekekekekeke
    Cerita’a kerennn!!

    Caelah pasangan Ae Rin sm Joong Won oppa sweet bgd cie… Jd iri aye,
    Hee Rin eonni makcomblang handal?! Sya jg mao dong Onn, d’comblangin sm Hyuk Oppa *plaakk* hahahaha
    Dan ending’a kocak bgd noh, sumpah!!
    Nie bakalan jd FF favorit sya lah pokok’a mah!!
    Kereenn!! ^^

  3. bwahahahahahahahahahahahahahahaha,,,
    ampyun dueh meta, ini ff ngocol bgt, kyk baca lupus *eh?
    siap” met, aq bakal komen panjang inih,,,*regangin otot…

    awal cerita bikin ngiler ma nasgor rendang ma soto, jd inget dlu pas kuliah semester 1 ada tmn dr padang masak rendang trus dbwa kkampus, jdnya pas dosen ngejelasin ddepan qt sibuk makan rendang dbelakang,hahahahaha

    ngakak maksimal pas baca alasan” jungsoo biar bsa berkunjung tiap pagi k apartemen eunkyo, y ampyun, klo aq nemu cwo kyk geto, bakal aq masukin plastik trus buang k sungai amazon biar hidup ma piranha dsna,,

    aq jauh banget yah dinasnya, k macau, untung g’ ngilang dbermuda,hihihihi
    min rin ah, kau meningatkanQ pas msa” suka ngecengin tetangga depan rumah dlu, selalu duduk ddepan rmh tiap jm 7 pagi ma jm 4 sore cuma buat liat dy prg n pulang krja,hahahaha n aku merana tiap sabtu minggu gra” dy pulkam *plak

    oppa tau ajah dueh kelemahan aq, g’ bsa nolak cwo ganteng, pa lg cwonya si ayank iwon,hihihihihi
    aq sejak kpn ye jd mak comblang,? si meta bsa ajah ne, aq trmasuk org paling cuek klo dah menyangkut kisah cinta org lain, kisah cinta sndiri ja kagak beres mw ngurus kisah cinta org laen,kkkkk

    itu kutukan aneh” aja dueh, untung dkeluarga aq g’ da kutukan geto, bsa berabe urusannya klo smpe da kutukan kyk geto, g’ da cwo yg ngejar aq kyk jungsoo seh, jd g’ bsa nikah cpt”,hahahaha *ngawur

    ah lupa, itu taruhan eunkyo ma jungsoo kyk prjanjian sahabat aq ma tmn cwo.nya, mrk bkin prjanjian klo dalam waktu 2 thun mrk g’ dpt pacar maka si cwo bakal datang ngelamar dy, tp prjanjian tuwh hangus alnya mrk dah punya pcr msing”,kkkkkk

    aq suka filosofi sela jari tangan tuwh met, tangan aq cocoknya ma spa yah,,?? tangan ayank iwon kegedean, tangan kyu kepanjangan, tangan hyukjae kli yah *plak,hahahahaha

    aq lg ngebayangin, seheboh apa acara nonton bolanya eunkyo smpe bkin ranjang rusak geto,ckckckck

    ngomen apa lagi yah,,??
    ah y, itu foto prawedding aerin ma jongwoon bnr” mencerminkan keabsurdan mrk, unik ma aneh tuwh mang beti met,hahahaha

    ini kyknya komen aq bsa djadikan drable dueh, panjang bgt alnya,hahahaha
    udah ah, segitu aje, tar si meta ngamuk lg komen aq lbh panjang dr ff.nya hahahaha

  4. Bwahahahahahahahahaha,
    sumpah, aku ngakak tengah malam, autis tambah parah gegara ne ff.
    Meta, saya suka dngan smua ff kamu.
    Aku jagoin ne sebagai terfaforit.

  5. haduoduoduoduoooo chingu sumpaah ini ff mu bikin ane ngakak se ngakak ngakaknya sampai guling guling sambil meluk guling #hiyaaaaalebayamatlu -_-v
    tapi overall aq suka gaya penulisanmu bener2 bagaimana yak wis pokok e fellnya bener2 ngena deeh.

    ff nya semoga menang !!! hwaiting

  6. wow.. walaupun ide dan konfliknya sederhana, tapi FF ini sangat menarik karena tatabahasa yang sangat menarik ditambah lagi sedikit komedi.. wakakaka fighting ya thor^^

  7. dear meta ..

    annyeong,author meta,long time no see
    *padahal tiap hari chat di WA*

    aaah met,ff kamu bacanya bikin aku ngakak sendiri met,aku suka banget banget banget met sama ff kamu,baru baca dari awal udah senyum-senyum senidiri ada min rin disitu dah eh eh ternyata ada khunnie juga,hihiii ntah kenapa aku ngerasa semua karakter nya pas aja semuanya,cuma si oppa yg dibuat agak berbeda disini tapi tetap engga bikin aku ngurangin poin dr ff kamu,

    hmm klo alur emg serada kecepetan tapi menurutku wajar sih,namanya juga oneshoot,

    eh iya anyway nasgor,soto sama rendang ya,emng masakan indonesia tuh susah tau,banyak banget bumbu nya beda banget sama masakan luar,jadi wajar lah tuh yah si min rin masakannya ancur begonoh hahhahha

    met,met,sumpah ya kamu ama ecung emang beneran pasangan paling ajaib deh yang pernah ada hahahaha aku beneran ngebayangin itu foto-foto nya xD

    aahhh klo heerinie jd mak comblang paling ampuh aku mau dong dicomblagin beneran sama khuniie,klo ga bisa ya tabi boleh lah *diguyur bensin* xD

    met..met.. biasanya aku kurang suka sama ff yg ngocol,lebih suka sama ff yg serius,angst,dan semacemnya lah tapi pas baca ff kamu aku sukaaa bgt bgt bgt met,
    sebenrnya kadang banyak banget ide cerita di benak aku tapi ga pernah bisa aku ungkapin,ga pernah bisa aku tuangin dalam tulisan,*ga bakat kali ya ??* hahahaha jadi aku mau sumbang-sumbang ide aja deh buat para penulis-penulisku tercinta hehehehe

    ini aku sebenernya udah kepengen coment dr kemaren udah ngetik panjang2 di hanphone eh,malah gagal,,alhasil begini deh jadinya,nunggu modem kelar

    jadi,sekian aja coment aku buat kamu ya uthor meta,aku dukuung banget banget banget ff kamu biar jd favorit deh pokonya,
    sampai ketemu di lain ff ya author meta,

    salam dangdut !!!

    (park min rin)

  8. bwahahaha…tumben q baca ff selucu ini..
    dri awal ampe akhir ad ja adegan lucuna..
    cucok ni untk menang crtana bguss menghibuur bgt..kata2na jg ga trllu ribet..
    jdi ff favorit q ni..
    moga menang..^^

  9. huwahahahaaaaaaa…….cuteeeeeeee…..
    biasanya kan eun kyo yg cinta mati ma teuki….tp d epep ni kebalikannya……teuki cinta mati ma eun kyo ampe2 sikapnya ajaib gtu….ngejar2 eunkyo mulu ampe berpuluh2 tahun….huwahahaaaa…..#lebay

  10. huahahhahahahha
    baru baca ff yg kya gini ..
    terhibur pake sangattt

    senyum” pas teukki bilang ini
    “Karna aku ingin melihatmu sebagai orang pertama yang aku lihat setelah bangun tidur, tapi aku tidak pernah menemukanmu di apartemenku, makanya aku selalu kemari tiap pagi….
    huaaaaaaa

    tapi kokoh ya eunkyo uda berpuluh tahun (?) di kjar teukkippa…
    salut buat perjuangan’a teukki slma bertahun” ..

    kutukan yang membahagiakan#di depak

    huaaa kereeeeennnnn

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s