FF Contest : The Marriage

Standar

AUTHOR : HIZWANI

Eun Kyo terbangun dari tidurnya yang cukup nyaman saat merasakan deruan nafas seseorang tepat didepan wajahnya. Dengan enggan dia membuka matanya pelan membiasakan diri dengan cahaya matahari yang menerobos retina matanya. Gadis itu mengerjap, mendapati wajah malaikat didepannya. Astaga, aku sudah menikah sekarang! Gumamnya dalam hati. Eun Kyo tersenyum mengulurkan tangannya untuk menyentuh lekuk wajah tampan suaminya. Bahkan gadis itu tak menyadari keadaan mereka yang masih berpakaian acak-acakkan.

Jung Soo, nama pria itu tersenyum dalam hati saat mendapati istrinya tengah menatapnya sambil menyentuh lekuk wajahnya. Dia sudah bangun tentu saja, tapi mengingat ini hari pertama mereka sebagai pasangan suami-istri dia ingin bermalas-malasan sedikit untuk menikmati pagi baru dalam hidupnya.

“Morning, Mrs.Park.”

“Morning, Mr. Park.”

Jung Soo mengeratkan pelukannya, sambil merapatkan wajahnya ke leher sang istri. Menghirup aroma favoritnya. Eun Kyo menggeliat, menyadari keadaan mereka yang sebenarnya. Bahkan Jung Soo pun tidak memakai baju. Eun Kyo ingin menghindar, tapi hati kecilnya mengatakan tidak dan siapa yang bisa menolak pelukan hangat dari seorang malaikat benama Park Jung Soo yang sekarang notabenya adalah suami dari Park Eun Kyo?

Eun Kyo membalas perlakuan suaminya dengan mengelus kepala Jung Soo kemudian turun ke punggungnya. Menenggelamkan jari-jarinya ke rambut tebal milik Jung Soo. Jung Soo melonggarkan pelukannya, tidak benar-benar melepaskan hanya menjauhkan wajahnya sedikit untuk menatap wajah istrinya itu. Mereka bertatapan sambil tersenyum tipis, menyalurkan semua perasaan bahagia hanya dengan tatapan sederhana.

“Give me a morning kiss?”

“Remember, a morning kiss.”

Jung Soo tertawa pelan, sambil memajukan wajahnya. Bibir mereka bertemu. Awalnya Jung Soo hanya diam tanpa menggerakkan bibirnya, tapi lama kelamaan dia mengecupnya berkali-kali, memiringkan wajahnya dan menangkupkan wajah istrinya untuk memudahkan kegiatannya itu.

Eun Kyo terlena menerima kecupan-kecupan kecil dibibirnya. Tanpa sadar diapun mengalungkan tangannya ke leher Jung Soo dan mulai membalas “sebuah” ciuman selamat pagi mereka.

Jung Soo menggila, gerakan bibir gadis itu membuatnya kehilangan konsentrasi. Dia bergerak memposisikan tubuhnya diatas tubuh Eun Kyo. Eun Kyo terkejut, semakin membuatnya memeluk leher Jung Soo yang dipikir Jung Soo adalah lampu hijau untuk melakukan kegiatan selanjutnya. Tapi, belum sempat dia melakukan gerakan lain, Eun Kyo melepaskan tautan mereka membuatnya menatap sang istri dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Oppa, aku mau mandi.” Rengek Eun Kyo

“Tidak, sebelum aku selesai.”

“Oppa, INGAT hanya sebuah ciuman. Ara?”

Jung Soo hanya tersenyum manis dan mengecup lembut bibir Eun Kyo. Tidak perduli semua penolakan yang dilakukan Eun Kyo. Dia semakin memperdalam ciumannya, membuat Eun Kyo tidak dapat menolak dan membalas semuanya. Eun Kyo membelai dada Jung Soo yang memang tanpa pelindung -sisa permainan semalam- membuat Jung Soo mengerang pelan dan memperlakukan hal yang sama terhadap Eun Kyo. Jung Soo memulai ulang semua kejadian malam pertamanya tadi malam di pagi ini. Dan Eun Kyo, tidak akan pernah bisa menolak semuanya, bukan?

***

Eun Kyo terbangun untuk kedua kalinya dihari yang sama, masih dengan kemeja kebesaran yang sama serta di ruangan yang sama. Dia mengerjap pelan sambil menggerakkan tangannya mencari tubuh Jung Soo disampingnya. Nihil, Jung Soo sudah bangun. Dia bangkit dari tempat tidur, dengan jalan sedikit lemas menuju balkon kamar mereka dan mendapati Jung Soo sedang membelakanginya.

Eun Kyo berdiri tepat dibelakang Jung Soo sambil tersenyum penuh arti. Gadis itu menggerakkan tangganya untuk melingkari pinggang sang suami. Menenggelamkan wajahnya kedalam punggung Jung Soo yang selalu hangat.

Jung Soo sedikit tersentak saat merasakan sepasang tangan mendarat disekitar pingangnya. Dia mencium aroma herbal favoritnya. Eun Kto, istrinya sudah bangun. Jung Soo membalas pelukan itu dengan meletakkan lengannya di atas lengan Eun Kyo tanpa berbalik. Lama mereka terdiam, samapai akhirnya Eun Kyo melepaskan tangannya, dan Jung Soo pun berbalik.

“Kau sudah lama bangun?”

Eun Kyo hanya menjawab dengan gelengan.

“Lelah?’ tanya Jung Soo lagi.

Eun Kyo menjawab dengan anggukan semangat sambil memajukan bibirnya. Memasang wajah imutnya itu. Jung Soo tersenyum dan mengelus lembut pipi istrinya. Menyadari betapa egoisnya dirinya, melakukan hubungan itu berkali-kali. Tapi, bukankah itu wajar dilakukan pasangan baru seperti mereka? Pikirnya lagi.

“Kau, terlalu bersemangat oppa. Aku tidak bisa mengimbangimu.” Ujar Eun Kyo lagi.

Jung Soo terkekeh mendengar kalimat polos yang diucapkan Eun Kyo. Tidak memperdulikan tatapan marah sang istri, dia malah mengecup bibir Eun Kyo pelan. Dengar, hanya sebuah kecupan bukan ciuman mengingat Eun Kyo yang masih kelelahan.

“Siapa yang menyangka kau terlalu menggoda, Eun Kyo~ya?”

“Oppa, kau menyebalkan.” Balas Eun Kyo sambil meninggalkan Jung Soo.

Jung Soo hanya tersenyum mendapati tingkah Eun Kyo. Manja, salah satu sifat yang dimiliki Eun Kyo yang terkadang membuatnya kewalahan dan merindukan istrinya itu. Jung Soo berjalan santai menyusul Eun Kyo, menyetarakan jalan mereka dan merangkul pundak istrinya.

“Kau lapar? Kita makan diluar, ne?” tanya Jung Soo.

“Aku tidak lapar.”

“Kau kenyang hanya karna ciumanku, eoh?”

“OPPA” ucap Eun Kyo sambil memukul lengan Jung Soo.

“Ne, mianhamnida. Miahae. Kita damai, oke?”

“Ice cream?” tanya Eun Kyo

“Kajja. Cepat mandi dan kau boleh makan ice cream sepuasnya, setelah makan nasi tentu saja.”

“Kajja, oppa.” Jawab Eun Kyo semangat.

***

Mereka kembali kerumah milik keluarga Jung Soo. Pasangan itu, masih harus tinggal dirumah keluarga besar Park atas permintaan Nyonya Besar Park. Setelah menikah kemarin, mereka diberikan libur selama tiga hari di villa pribadi Jung Soo. Menunda bulan madu mereka, mengingat Jung Soo masih banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikannya.

Pasangan itu cukup disambut dengan kehangatan, kecuali sang Nyonya Besar. Nyonya Park, memang tidak pernah merestui hubungan mereka. Dia terpaksa menyetujui pernikahan ini, karna Jung Soo hampir depresi saat Nyonya Park mengirimnya ke Amerika yang bertujuan untuk menhindarkan Eun Kyo dari anak bungsunya itu.

Eun Kyo yang mengetahui sikap mertuanya itu, hanya bisa bersabar menerima semua tatapan sinis darinya. Itu sebabnya dia tidak nyaman berada dirumah keluarga besar Park itu, merasa asing hanya karna satu orang yang tidak menginginkan kehadirannya dirumah itu.

Saat ini Eun Kyo sedang dikamar menata dengan malas barang-barangya saat Jung Soo masuk dan langsung menarik gadis itu kedalam pelukannya. Eun Kyo sudah biasa dengan itu, walaupun jantungnya tetap berdetak tak karuan saat Jung Soo memeluknya.

“Yak, Oppa! Kau mengejutkanku.” Protesnya.

“Tapi aku merindukanmu.”

“Kau sangat berlebihan.”

Jung Soo pun melepaskan pelukannya dan duduk disamping Eun Kyo. Mereka berbincang, melontarkan candaan, kalimat godaan, semuanya. Semua perasaan mereka saat ini. Mereka bahagia? Tentu saja. Walaupun mereka belum genap setahun menjalin hubungan, tapi mereka selalu merasa cocok dan tidak mau kehilangan satu sama lain. Tiba-tiba pintu kamar mereka terbuka, menampakkan kepala bibi Jung –pengurus rumah tangga-.

“Maaf Tuan Muda, Nyonya Besar meminta Anda untuk menemuinya sekarang.” ucapnya.

“Ah, ne ajhuma. Dimana Eomma?” tanya Jung Soo.

“Nyonya ada ditaman belakang, Tuan.”

“Baiklah, aku akan kesana. Gomawo, ajhuma.”

“Ne, Tuan Muda.”

***

Nyonya Park duduk dengan tenang sambil membolak-balik majalah yang ada ditangannya. Dia tidak habis pikir melihat menantu yang paling dibencinya itu ada dihadapannya, dirumahnya. Eun Kyo, sebenarnya gadis yang cantik tapi status social keluarganya tidak diketahui oleh Nyonya Park. Belum lagi, hubungannya dengan Jung Soo masih terlalu cepat, dan sudah beranjak ke jenjang pernikahan. Hal inilah salah satu yang membuat Nyonya Park berfikiran buruk tentang menantunya itu.

Selain itu, alasan utamnya adalah Jung Soo sudah dijodohkannya dengan putri salah seorang sahabatnya. Gadis yang menurutnya cantik, pintar, kaya dan Nyonya Park sangat mengetahui latar-belakang seluruh keluarganya.

“Eomma…” sapa Jung Soo dengan senyuman.

“Jung Soo, aku tidak akan berbasa-basi lagi.” Jawab Nyonya Park langsung.

Jung Soo mengerutkan keningnya, mendengar kalimat dari sang ibu. Dia mengetahui arah pembicaraan ini, pasti tentang pernikahannya. Dia sudah sangat kelah, menjelaskan perasaannya, tapi sedikitpun ibunya tak pernah mau mengerti. Bahkan, saat Jung Soo ingin menyebutkan nama Eun Kyo, ibunya langsung pergi dari hadapannya. Saat penikahannya, ibunya bahkan sampai tidak hadir. Tapi, itu semua tidak menyurutkan  niatnya untuk tetap mempertahankan Eun Kyo, istrinya.

“Wae?” tanya Jung Soo.

“Dari dulu, aku sudah menjodohkanmu. Dan sampai sekarang akau belum membatalkannya. Gadis itu sedang berada di Jeju, dan aku mau kau menemaninya selama dia di Jeju.”

Penyataan ibunya itu membuat Jung Soo menganga lebar, tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh ibunya.

“Eomma, aku sudahn menikah.” Bantahnya.

“Dan aku tidak pernah perduli dengan itu.”

“Eomma, tolonglah. Apa kau tidak mengerti persaanku terhadap Eun Kyo?” tanyanya lagi.

“Lalu, apakah kau  mengerti persaanku terhadap Eun Kyo?”

Jung Soo terdiam. Bingung, apa yang harus dijawabnya. Satu sisi, dia harus menghormati ibunya, tapi mana mungkin dia merendahkan istrinya sendiri.

“Baiklah, aku beri kau satu pilihan. Bertemulah dengannya, bersikap baik. perlakukan dia sebagai gadismu, gadis impianmu. Hanya tiga hari, setelah itu jika kau memang tidak ada perasaan apapun terhadapnya aku akan membatalkan perjodohan kalian.”

“Bagaimana mungkin aku menganggapnya sebagai gadis impianku, eomma?”

“Itu resikomu, Jung Soo. Aku yakin kau akan tertarik dengannya. Dia jauh lebih baik dari istrimu itu.”

“Apa untungnya untuk eomma? Apa eomma tidak ingin melihat aku bahagia?” tanya Jung Soo lemah.

“Justru karna aku menginginkan kau bahagia, Jung Soo~ya. Aku menyayangimu tentu saja. Aku mengetahui semua yang kau inginkan, dan Eun Kyo hanya sementara. Aku yakin itu.”

Jung Soo hanya menggeram dalam hati mendengar semua perkataan ibunya. Ingin berteriak sekuatnya, mengatakan bahwa dia hanya mencintai Eun Kyo, hanya Eun Kyo.

“Aku mohon, Jung Soo~ya. Berangkatlah ke Jeju, dan lakukan apa yang kukatakan tadi. Jika memang kalian tidak cocok, aku akan merestui penikahanmu dan akan mencoba menerimanya sebagai menantuku. Aku berjanji.” Ucap Nyonya Park tegas.

Akhirnya Jung Soo menyetujui kemauan ibunya untuk mengenal gadis yang diamksud dengan ibunya itu. Dengan syarat, dia harus merahasiakan statusnya sebagai seorang suami. Jung Soo masuk ke kamar dan mendapati Eun Kyo sedang tertidur dengan nyaman diranjangnya.

Jung Soo berbaring menyamping disamping Eun Kyo, menatap wajah cantik istrinya. Menggerakkan tangannya untuk menyingkirkan rambut-rambut halus yang menutupi sebagian wajah cantik itu. Jung Soo mengecup kening Eun Kyo dalam, menyalurkan kehangatan untuk istrinya itu.

Eun Kyo terbangun, merasakan kehangatan dikening kecilnya. Menggerakkan tangannya memeluk Jung Soo yang masih mencium keningnya. Jung Soo melepas ciuman kehangatan itu, dan memeluk istrinya lama. Menyalurkan permintaan maaf yang akan dilakukannya besok, untuk menuruti kemauan ibunya itu.

Jung Soo melakukan itu, semata-mata untuk menyelamatkan Eun Kyo dari ketidaksukaan ibunya. Dia yakin, secantik atau sebagus apapun gadis yang akan ditemuinya nanti, tidak akan pernah merubah persaannya yang sangat dalam tanpa batas untuk Eun Kyo.

“Oppa, ada apa?” tanya Eun Kyo.

Jung Soo melepaskan pelukan mereka dan berbaring telentang disamping Eun Kyo menatap langit-langit kamar mereka dengan tatapan kosong. Tidak pernah dalam benaknya untuk melakukan ini dalam pernikahannya yang masih dalam jangka wakatu satu minggu.

“Oppa…”

Jung Soo menoleh, dan tersenyum tipis dambil mengelus pipi Eun Kyo.

“Ani, eomma meneyuruhku untuk ke Busan besok. Mianhae, aku harus meninggalkanmu.”

“Ah, ani. Aku akan baik-baik saja. Kau juga sudah libur seminggu, mungkin perusahaan di Busan sedang membutuhkanmu.”

Eun Kyo menarik tangan Jung Soo yang masih membelai pipinya, lalu mengecupnya pelan. Setelah itu, meletakkan tangan itu diatas perutnya sambil memejamkan mata. Jung Soo tersentuh, bagaimana mungkin ibunya sangat membenci wanita sebaik Eun Kyo? Jung Soo bergerak mengambil posisi memeluk Eun Kyo, kebisaan mereka saat akan tidur.

***

Keesokan harinya, Eun Kyo tinggal sendiri dirumah itu tanpa sosok Jung Soo disampingnya. Sedikit gugup memang, tapi dia harus beradaptasi. Tidak mungkinkan dia selalu berdiam diri didalam kamar setiap hari?

Sementara itu, Jung Soo yang baru sampai di Busan langsung disambut oleh seorang gadis berparas cantik dan anggun. Kim Luna, nama gadis itu. Jung Soo tersenyum dalam hati saat melihat gadis ini, sedikitpun perasaan suka tidak ada dihatinya, hanya menghargai bahwa gadis didepannya ini adalah tamu yang harus dihormati.

Hari berlalu, hingga malam menghampiri kawasan South Korea itu. Jung Soo sedang berbaring terlentang sambil memejamkan mata, membayangkan wajah Eun Kyo yang sedang tersenyum dengannya. Dengan tidak sadar dia ikut tersenyum masih dengan mata terpejam, hanya dengan membayangkan wajah istrinya itu. Jung Soo merindukan Eun Kyo, sangat merindukannya.

Ditempat lain, Eun Kyo sedang berbaring diranjang besar kamarnya. Dia berguling kesegala arah, mencari tempat nyaman yang bisa membuatnya tertidur. Gadis itu, sudah terbiasa tidur dalam pelukan hangat Jung Soo. Dia memejamkan mata sambil menghirup nafas dalam untuk menenangkan pikirannya. Bukan tentang Jung Soo, tapi tentang ibu mertuanya. Yang jelas-jelas sedikitpun tidak ingin melihat wajahnya.

Eun Kyo menghembuskan nafasnya kasar, saat mendengar ringtone lagu dari handphonenya. Dia mengambil ponsel kecil itu masih dalam keadaan setengah berbaring. Tanpa membuka mata, Eun Kyo menekan tombol hijau pada ponsel itu.

“Yeoboseo..” sapanya.

Diam, belum ada balasan dari penelfon tu. Hanya deruan nafasnya saja yang terdengar samar oleh Eun Kyo.

“Kyo~ya.”

Park Jung Soo, suaminya.

“Oppa..”

“Hmmm, kau belum tidur?”

“Aku baru akan tidur. Kau sendiri?”

“Sebentar lagi. Apa yang kau lakukan hari ini?”

“Tidak ada apapun yang menarik tanpamu.”

Terdengar suara kekehan pelan dari Jung Soo.

“Aku tahu itu, bersabarlah. Dua hari lagi aku pulang, ne?”

“Ne, aku tahu.”

Mereka berdua terdiam, masih dalam keadaan tersambung melalui ponsel masing-masing.

“Oppa..”

“Hmm..”

“Peluk aku.”

“Aku sudah memelukmu. Kau merasakannya?”

“Hmm, hangat.”

“Tidur sekarang, ne?”

“Ne. oppa.”

Mereka berdua pun memejamkan mata dengan masih berhubungan melalui handphone. Terlelap dengan mendengar deruan nafas masing-masing. Kedua orang itu terlalu merindukan masa-masa kebersamaan mereka, walalupun baru satu hari terpisah.

***

Hari ini, sudah hari kelima dan Jung Soo belum juga pulang. Meleset dari permintaan izin Jung Soo kemarin, yang hanya akan pergi tiga hari. Eun Kyo mengetahui itu, dan Jung Soo mengatakan dia akan pulang jika urusannya di Busan sudah selesai. Mungkin, dua hari lagi. Dan dirumah itu, Nyonya Park sedikitpun belum membuka celah untuk Eun Kyo masuh dalam kehidupannya.

Di tempat Jung Soo, gadis berparas cantik itu sedang memilih baju di sebuah mall besar dengan menggandeng tangan Jung Soo. Jung Soo sudah kemabli dari Busan, tapi masih haris menemani gadis ini sampai hari ini untuk memenuhi janjinya yang terakhir. Kim Luna, hari ini berulang tahun dan gadis itu memohon pada Jung Soo untuk tetap menemaninya sampai hari ini. Karna kebaikan hati Jung Soo, dan menghargai siapa Kim Luna akhirnya Jung Soo menyetujui permintaan gadis jodohan ibunya itu.

Dirumah keluarga besar Park, Eun Kyo sedang duduk diruang keluarga sambil menatap TV dengan bosan. Dengan tiba-tiba, Nyonya Park duduk disampingnya sambil menatap TV yang sama. Eun Kyo tertekisap, baru ini dia duduk berdampingan langsung dengan ibu mertuanya itu.

“Kau bisa menolongku?” tanya Nyonya Park langsung.

“Ne, eomma.”

“Aku sedang malas keluar, tapi tadi petugas toko berlian menelfon dan memberitahu jika kalung yang kupesan sudah selesai dan bisa diambail. Bisakah kau mengambilnya?”

“Ne, eomma. Aku akan segera kesana.”

Eun Kyo merasa senang. Tidak perduli apapun itu, azas manfaat atau apa yang penting ibu mertuanya iru sudah mau berbicara bahkan sampai meminta tolong padanya. Dia merasa sedikit dibutuhkan sekarang.

Selepas kepergian Eun Kyo, Nyonya Park tersenyum penuh arti sabil mengetikkan sebuah pesan singkat di ponselnya. Begitu melihat tulisan Delievered di ponselnya itu, senyumnya semakin mengembang menampakkan sebuah lesung pipi seperti milik Jung Soo.

Jung Soo berjalan gontai mengikuti kemauan gadis ini. Dia tidak bertenaga sekarang. seperti tidak ingin mati dan tidak ingin untuk hidup. Ini semua karna Eun Kyo, dia terlalu merindukan gadis itu. Tidak cukup hanya dengan mendengar suaranya di setiap malam, tapi dia juga ingin menatap, memeluk, mencium, bahkan meniduri gadis itu jika perlu.

Eun Kyo memasuki toko berlian di kawasan mall terbesar di Kota Seoul. Dia memberikan sebuah catatan kecil kepada petugas di toko itu. Sambil menunggu, Eun Kyo berkeliling melihat-lihat koleksi berlian yang tersedia di toko itu. Pandangannya terhenti saat melihat sepasang manusia yang baru saja masuk ke toko itu, sambil bergandengan tangan. Park Jung Soo, suaminya.

Jung Soo berjalan malas masuk ke salah satu toko berlian di kawasan mall. Sedari tadi dia hanya diam mengikuti kemana gadis itu mengajakknya pergi. Tidak terlalu perduli lagi dengan sikap gadis itu yang dengan seenak hati menggandeng lengannya pada saat mereka berjalan. Fikirannya kali ini hanya berpusat pada Eun Kyo. Entahlah, ada perasaan lain yang menganjal dihatinya tentang istrinya itu.

Matanya melebar saat tiba-tiba Kim Luna menyematkan sebuah cincin dijari manisnya. Sebelumnya, cincin pernikahnnya memang dilepas untuk menutupi status pernikahannya di depan Kim Luna ini. Belum sempat dia hendak protes, sebuah suara menyadarkannya dan membuat matanya semakin melebar.

“Park Jung Soo?”  tanya Eun Kyo.

Jung Soo terkejut mendapati Eun Kyo berada disampingnya. Dia tersenyum manis, melupakan apa yaNg baru saja dilihat Eun Kyo. Jung SoO terlalu senang bisa melihat Eun Kyo lagi sampai melupakan Kim Luna yang masih berada disampingnya juga. Baru saja Jung Soo ingin memeluk Eun Kyo, sebuah suara menghentikannya.

“Oppa, apa kau mengenalnya? Kalian rekan kerja?” Tanya Kim Luna sambil memandang Jung Soo dan Eun Kyo bergantian.

Baik Eun Kyo dan Jung Soo tidak ada yang bisa menjawab, mereka hanya bertatapan. Eun Kyo dengan tatapan bingung bercampur marah dan Jung Soo dengan tatapan yang merasa bersalah.

“Aku Kim Luna, calon tunangan Jung Soo Oppa. Senang berkenalan denganmu.” Sambung Kim Luna sambil mengulurkan tangan kearah Eun Kyo.

Jung Soo mendesis, kebingungan untuk melakukan apa. Jantungnya serasa berhenti saat Eun Kyo menerima uluran tangan Kim Luna dan mengeluarkan sebuah kalimat yang menghujam jangtungnya.

“Ne, kami adalah rekan kerja. Aku Park Eun Kyo.”

Uluran tangan itu terlepas ketika petugas ditoko itu memberikan sebuah bungkusan kecil kepada Eun Kyo. Setelah mengucapkan salam apa adanya Eun Kyo pergi dari toko itu tanpa memperdulikan panggilan kecil dari Jung Soo.

Terlalu cepat dia mengetahi semuanya, masih dua minggu usia pernikhannya dengan Jung Soo, dia sudah harus menerima pukulan mematikan berkali-kali. Saat dia tidak dirterima oleh ibu Jung Soo,  dia masih mencoba untuk bertahan karna ada Jung Soo disampingnya. Tapi sekarang? Bukankah Jung Soo secara tidak langsung sudah melepaskannya? Lalu, apa yang harus dilakukannya? Tetap bertahan pada posisi ini? Tentu saja tidak.

Jung Soo kehilangan fokusnya, baha\kan untuk berjalanpun dia bingung. Dia ingin mengejar Eun Kyo dan menjelaskan semuanya, tapi sudah terlambat. Tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk menjelaskan ini semua. Belum lagi dia sudah ketahuan berbohong dengan mengatakan urusannya di Busan masih dalam dua hari lagi. Sekarang? Dia bahkan bertemu Eu Kyo di Seoul.

Eun Kyo masuk kerumah keluarga besar Nyonya Park dengan wajah datar. Dia menghampiri Nyonya Park yang sedang membaca majalah dengan santai.

“Eomma, ini pesananmu.”

“Ne, gomawo Eun Kyo.” Ucapnya sambil tersenyum.

Eun Kyo  tertegun dengan senyuman itu. Senyum pertama yang dilihatnya dari sang ibu mertua. Apakah sebegitu senangnya dia dengan kalung baruya itu?

“Apa kau bertemu dengan Jung Soo? Bagaimana menurutmu mereka berdua, cocok?”

Skakmat. Eun Kyo serasa terbanting dari atas gedung kelantai dasar mendengar semua kalimat yang baru saja terlontar dari bibir mertunya. Jadi ini semua sudah direncankan oleh keluarga mereka? Dan Nyonya Park tersenyum bukan karna kalung itu, tapi karna berhasil menjalankan misinya.

“Dia Kim Luna, satu-satunya gadis yang kuinginkan menjadi menantuku.” Sambungnya lagi.

Eun Kyo tersadar dari pemikirannya yang kosong dan menatap ibu mertuanya itu dalam. Tidak melihatkan tatapan pembunuh yang sedang dirasakannya.

“Lalu, apa eomma ada alasan lain untuk memisahkan kami?” tantang Eun Kyo.

“Tentu saja. Dari awal Jung Soo sudah mengetahui semua perjodohan ini. Dan dia ingin mengenal gadis itu. Tapi sanyangnya kau datang dan menghancurkan semuanya. Sampai akhirnya kalian menikah dan gadis itu kembali dari Amerika. Aku meminta Jung Soo menemaninya ke Busan selama tiga hari, jika Jung Soo tidak tertarik dengan gadis itu, perjodohan ini akan batal dan pernikahan kalian akan selamat.”

Nyonya Park menjelaskan itu semua kepada Eun Kyo yang sedang menahan semua air matanya untuk tidak tumpah dihadapan seorang wanita tua yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri. Berharap dengan menikah, dia bisa mendapatkan ibu baru, menggantikan ibunya yang sudah meninggal. Namun sayang, kehadiarannya tidak pernah diharapkan. Dan sekarang posisinya sudah teramat bawah, menjadi seseorang yang djadikan sebuah cadangan untuk istri Jung Soo.

“Tapi kau mengetahuinya Eun Kyo, Jung Soo bertahan sampai lima hari. Bahkan dia bilang akan pulang dalam dua hari kedaepan. Bukankah itu semua sudah dangat jelas? Semua berjalan terlalu lancar, akupun tidak menyangka semuanya akan merambat jauh melebihi rencana. Jadi, sekarang semuanya ada padamu.” Ucap Nyonya Park sambil tersenyum.

Eun Kyo menatap wajah Nyonya Park yang sedang tersenyum, menenangkan. Dia pun membalas senyuman itu, senyuman tulus untuk ibu mertunaya.

“Tenanglah, aku tidak akan pernah mengganggu keluarga kalian lagi. Aku akan pergi, dari kehidupan keluarga ini, kehidupanmu, dan kehidupan Park Jung Soo.”

Masih dengan senyuman tulus Eun Kyo mengatakan itu, membuat Nyonya Park sedikit mengakui ketabahan gadis ini. Nyonya Pak tau, Eun Kyo sedang menahan tangisnya, dapat terlihat dari sorot matanya yang berkaca-kaca.

“Tapi bolehkah aku meminta sesuatu darimu, Nyonya Park?” sambung Eun Kyo lagi.

Nyonya Park tertegun. Ada perasaan aneh saat mendengar Eun Kyo menyebutnya dengan panggilan Nyonya, sakit yang entah mengapa timbul dihati kecilnya.

“Kau ingin apa?”

“Sebuah pelukan. Darimu. Apakah boleh aku memelukmu, Nyonya?”

Tanpa takut adanya penolakan, Eun Kyo menmajukan tubuhnya untuk memeluk Nyonya Park. Mendekap tubuh wanita tua itu dengan kasih sayang dan kehangatan tulus dari dirinya. Hanya sebentar, dia sudah melepas pelukan itu. Bahkan, tidak ada rasa kecewa saat mengetahui Nyonya Park sedikitpun tidak membalas pelukannya.

Eun Kyo tersenyum lalu meninggalkan Nyonya Park yang masih terdiam. Dia masuk ke kamar dan sedikit membereskan barang-barangnya. Tidak terlalau banyak, karna pakaiannya memang masih berada ditas besar berbentuk travel bag itu –belum dipindahkannya kelemari-. Dia turun kebawah sambil tetap tersenyum, menghampiri Nyonya Park.

“Aku pergi. Maaf sudah mengganggu ketenangan keluarga ini. Sampaikan salamaku pada semuanya, Nyonya. Selamat tinggal.” Ucap Eun Kyo sambil membungkuk.

Nyonya Park tersentak, tidak tau mau berbuat apa. Ada perasaan bersalah pada Eun Kyo tapi ada perasaan senang, karna memang ini yang diinginkannya. Langkah Eun Kyo terhenti saat Nyonya Park memanggilnya.

“Eun Kyo~ya..”

Eun Kyo berbalik dan mendapati Nyonya Park sedang menatapnya dengan tatapan sendu.

“Gomawo, Eun Kyo~ya..” sambung Nyonya Park sambil membungkuk ke arah Eun Kyo.

Eun Kyo bergetar saat melihat sikap Nyonya Park. Sebegitu parahnyakah kebencian Nyonya Park kepadanya? Eun Kyo membalas ucapan terima kasih itu dengan balik membungkukkan badan ke arah Nyonya Park. Tepat saat dia menegakkan tubuh dan menatap wajah Nyonya Park, satu tetes air mata mengalir dari matanya membentuk aliran kecil di pipi mulusnya.

Disisi ruangan lain, juga ada seorang gadis yang menyayangi Eun Kyo, Park Chan Chan. Park Chan Chan adalah sepupu dari Park Jung Soo yang memang tinggal dirumah kediaman keluarga besar Park. Gadis kecil ini sedang menuntut ilmu di Seoul Unniversity dan dia cukup dekat dengan Eun Kyo. Gadis itu tidak menyangka wanita tua yang biasa dipanggillnya eomma itu bisa memperlakukan seorang gadis berhati malaikat seperti Eun Kyo dengan perbuatan yang sangat kejam. Park Chan Chan hanya bisa menangis tanpa suara menyaksikan kepergian kakak ipar tersayangnya itu.

Jung Soo sampai didepan rumah keluarganya dan langsung turun dari mobil saat melihat taksi pergi membawa seorang wanita dengan travel bag besar yang dikenalnya. Travel bag itu milik Eun Kyo, berarti Eun Kyo yang pergi. Pikirannya kacau, dia mengejar taksi itu dengan berlari sambil berteriak memanggil Eun Kyo. Tapi usahanya gagal. Eun Kyo pergi, dan kehancuran baru saja datang menghampirinya.

***

Sebulan berlalu dan keadaan Jung Soo terpuruk. Setiap hari dia ditemai oleh Kin Luna yang berusaha mendekatinya. Gadis itu bahkan tidak perduli jika Jung Soo mengusirnya secara terang-terangan. Dan hubungannya dengan ibunya, sedikit merenggang. Dia hanya berbicara seperlunya, berbeda dengan Jung Soo yang dulu yang penuh dengan tawa dan kehangatan. Satu-satunya yang hanya bisa berkomunikasi dengan baik adalalah sepupu kecilnya, Park Chan Chan.

Dari Park Chan Chan lah dia mengetahui kabari Eun Kyo. Eun Kyo dan sepupunya itu masih sering berhubungan dan bertemu, membuatnya sedikit merasa tenang bahwa Eun Kyo baik-baik saja. Berbeda dengannya yang masih tetap bernafas tapi tak bertenaga. Eun Kyo masih tinggal di Seoul tapi dia tidak mengetahui dimana tempat tinggalnya. Dia hanya tahu setiap hari Minggu Eun Kyo akan melewati jalan pertigaan didekat Taman Kota. Dan rutinitas baru Jung Soo adalah mengamati Eun Kyo dari jauh setiap hari Minggu dijalan pertigaan itu.

***

Minggu pagi, Park Chan Chan sengaja mengajak eomanya –eomma Jung Soo- ke sebuah gereja di dekat Taman kota. Tapi setelah sampai dia menyuruh eommanya masuk, karna dia ingin menemui temannya yang sedang duduk di Taman Kota itu.

Nyonya Park masuk kedalam Gereja sedehana di dekat Taman Kota. Gereja itu sunyi, hanya ada seorang wanita yang sedang berdoa khusuk dengan mengepalkan tangan didepan dada sambil menunduk, menutup mata. Nyonya Park berdiri disamping wanita itu dan memulai doanya. Doa pun selesai dan Nyonya Park mengucap syukur. Dia menoleh kesamping, dan mendapati wanita itu masih menunduk berdoa.

Dia tersenyum, senang melihat keseriusan wanita itu dalam berdoa. Dia memutuskan keluar gereja untuk mencari keponakannya yang dari tadi tidak muncul untuk berdoa. Nyonya Park mendapati Park Chan Chan sedang duduk disebuah bangku sambil membaca novel romance favoritenya.

“Kenapa tidak masuk, Chan~ah?”

“Eomma~ya, aku diberikan novel baru oleh temanku. Aku jadi lupa untuk ke Gereja. Hehehehe.”

“Aigoo, kau ini. Yasudahlah, ayo kita pulang.”

“Kajja, eomma.” Balas Chan Chna sambil menggandeng eommanya.

Mereka sampai dimobil. Tapi Chan Chan belum melajukan mobilnya, seakan ada moment yang ditunggunya. Dan saat moment itu datang, dia tersenyum tipis.

“Eomma, mianhae.”

Ucapan itu membuat Nyonya Park bingung.

“Aku merancanakan semua ini. aku sudah bosan melihat Jung Soo oppa menderita. Aku mengetahui gereja ini adalah gereja yang setiap hari Minggu selalu didatangi oleh Eun Kyo onnie untuk beribadah. Itu sebabnya aku mengajakmu kesini.”

Nyonya Park tersentak kaget mengetahui maksud sebenarnya dari gadis disampingnya ini. Chan Chna tersenyum dan menggerakkan salah satu jarinya untuk menunjuk kearah gereja.

“Itu, wanita yang kau lihat di Gereja tadi adalah menantumu. Dan disebrang sana adalah mobil anak laki-laikmu yang sedang menatap istrinya dari jauh.”

Sambung Chan Chan sambil menunjuk kearah mobil hitam yang terpakir tak jauh dari keberadaan mereka sekarang. Nyonya Park dapat melihat Eun Kyo berjalan keluar dari Gereja itu dan melewati mobil mereka diikuti dengan tatapan sendu dari Jung Soo yang melihatnya dari dalam mobil.

“Kejadian ini sudah belangsung selama 3 minggu, eomma. Setiap minggu oppa selalu kesini untuk menatap Eun Kyo onnie. Eomma, tidak kah kau merasa kasihan dengan Jung Soo oppa? Bahkan sampai sekarang mereka berdua tidak ada yang mau mengurus perceraian mereka. Apa kau pernah melihatnya tertawa saat bersama Luna onnie?”

Nyonya Park hanya diam, merekam semua kata-kata Chan Chan diotaknya. Apa kau pernah melihatnya tertawa saat bersama Luna onnie? Ingin sekali Nyonya Pak berkata pernah, tapi hatinya menolak. Karna sekali pun dia tidak pernah melihat Jung Soo tertawa lepas saat bersama Luna.

“Eomma, jika ingin mengetahui satu fakta lagi. Ikutlah denganku nanti malam.” sambung Chan Chan lagi.

***

Malam pun tiba, Nyonya Park sedang dalam perjalanan bersama dengan Chan Chan yang ingin menunjukan fakta yang membuat Nyonya Park penasaran. Chan Chan menghentikan mobilnya disebuah jalan yang langsung menghadap kesebuah bangunan kecil terkesan mewah. Cukup banyak mobil terpakir dihalaman bangunan itu. orang yang keluar dari bangunan itu sebagian pasangan yang sedang mabuk atau lelaki tua yang menggandeng gadis remaja. Sekarang, sudah pukul sebelas malam dan mereka masih terdiam didalam mobil.

Tidak ada percakapan sedikitpun dari tadi. Sampai akhirnya, orang yang ingin dilihat pun mucul. Seorang gadis dengan busana yang sangat mini keluar dengan sempoyongan bersama seorang pria yang dengan enaknya memeluk gadis itu bahkan tanpa segan menciumnya didepan umum.

Nyonya Park tersentak melihat pemandangan itu, gadis mabuk itu adalah Kim Luna. Gadis yang selalu dipujinya, ternyata gadis yang tidak bermoral. Nyonya Park hanya dia saat merasakan Chan Chan sudah menggerakkan mobilnya mengikuti mobil yang membawa Luna pergi. Mereka berhenti di sebuah hotel mewah. Luna turun masih dengan pria yang menciumnya tadi dan masuk berdua kedalam hotel itu.

“Eomma, mereka ke hotel. Eomma, mengerti maksudku kan?” tanya Chan Chan.

Nyonya Park masih diam, membuat Chan Chan menoleh kearahnya. Air mata, air mata mengalir dipipi Nyonya Park. Tidak menunggu waktu, Nyonya Park langsung memeluk keponakan yang sudah dianggapnya sebagai putrinya itu. Penyesalan, hanya penyesalan yang sekarang dirasakannya.

***

Setelah kejadian itu, Nyonya Park langsung memutuskan perjodohan dan mencari semua hal tentang Eun Kyo dari Park Chan Chan. Dia juga berusaha mendekatkan diri dengan Jung Soo kembali. Memang sedikit rumit, tapi dia sudah bertekad untuk menebus semua kesalahannya. Bahkan, diam-diam dia sudah mengetahui dimana menantunya itu tinggal.

Hari ini dia sudah berjanji akan bertemu dengan Eun Kyo, dengan bantuan Park Chan Chan tentunya. Dia memasuki sebuah restaurant dan menemukan satu titik dimana seorang wanita terhebat sedang duduk disana sambil menatap sekelilingnya bosan.

“Eun Kyo?” sapa Nyonya Park.

Eun Kyo tersentak jauh saat mendengar suara itu, membuatnya melebarkan mata untuk memastikan bahwa dia tidak sedang salah melihat orang. Hari ini, dia ada janji dengan Park Chan Chan, tapi kenapa yang datang Nyonya Park?

Belum habis keterkejutan Eun Kyo, Nyonya Park menariknya kedalam pelukannya. Lama mereka berpelukan sambil saling mengusapkan punggung memberikan ketenangan. Nyonya Park menceritakan penyesalannya kepada Eun Kyo masih dengan berpelukan sambil menangis. Tidak perduli pada orang-orang yang menatap mereka, Nyonya Park hanya ingin menebus kesalahnnya.

Setelah Nyonya Park sedikit tenang, Eun Kyo mendudukan Nyonya Park dan memberikannya minum. Membuat Nyonya Park benar-benar merasa bodoh telah mengabaikan menantu sebaik Eun Kyo. Mereka banyak berbincang, seakan-akan tidak pernah ada masalah didalam diri mereka. Hanya ada rasa rindu yang membuncah antara seorang anak dan ibunya.

“Jadi Eun Kyo~ya, maukah kau kembali denga Jung Soo?” tanya Nyonya Park penuh harap.

Eun Kyo menunduk , terlalu takut untuk menatap wajah wanita yang akan dibuatnya kecewa nanti. Nyonya Park menyentuh tangan Eun Kyo, mengenggamnya pelan membuat gadis itu mau tidak mau menatap Nyonya Park. Nyonya Park tersenyum, sesuatu yang membuat Eun Kyo merasa sedikit tenang.

“Mianhae. Aku masih perlu waktu.”

Dan Nyonya Park hanya tersenyum sambil mengangguk kecil.

***

Jung Soo berbaring didalam kamar yang pernah ditempatinya dengan Eun Kyo. Bahkan dia masih ingat jelas, saat dia menginjakkan kaki kerumah ranjang ini adalah tempat pertama kalinya dia memeluk Eun Kyo saat tertidur sekaligus untuk terakhir dia melakukannya. Jung Soo memejamkan mata sambil mengingat wajah Eun Kyo yang sedang tersenyum, kegiatan yang selalu dilakukannya saat dia merindukan gadis itu. Biasanya, dia akan ikut tersenyum ketika melihat Eun Kyo ada dipikrannya, tapi semenjak gadis itu pergi tanpa mau mendengarkan apapun penjelasannya, tidak ada lagi senyuman itu. Senyuman itu sudah berganti menjadi aliran air mata yang terus mengalir dipipinya sampai dia tertidur.

Seperti saat ini, Jung Soo sedang berbaring sambil mengeluarkan air mata. Menagis tanpa suara untuk meredam rasa sakit dihatinya. Semuanya bukan kesalahan Eun Kyo, tapi kebodohannya dan inilah yang pantas didapatkannya. Jung Soo dengan cepat menghapus air matanya saat mendengar pintu kamarnya terbuka. Dia membuka mata dan mendapati eommanya berdiri didepan pintu.

Entah setan apa yang memasukinya di bangkit dan langsung memeluk eommanya. Menangis dalam pelukan eommanya. Membemankan wajah tak semangatnya dibahu wanita yang selalu menjadi prioritas utama dalam hidupnya. Jung Soo mencurahkan semua isi hatinya, mengeluarkan semua perasaan yang selama ini dipendamnya.

Jung Soo tidak mengetahui sampai mana pembicaraannya tadi dengan eommanya. Dia tersadar saat sudah memasuki sebuah apartment yang didindingnya banyak tergantun fotonya dan foto Eun Kyo. Sesaat dia menyadari, tadi eommanya memberikan sebauh alamat yang harus segera ditujunya. Dan beruntunglah dia, menemukan gadis itu. Park Eun Kyo, istrinya. Jung Soo masuk ke salah satu ruangan yang ada disitu dan menemukan Eun Kyo sedang tertidur diatas sofa. Dia mendekat, duduk tepat dihadapan wajah itu. Wajah yang sangat dirindukannya, wajah istrinya. Park Eun Kyo.

Jung Soo memindahkan Eun Kyo kedalam kamar dan membaringkannya diranjang. Dia ikut berbaring sambil memeluk gadis itu, menciumnya pelan takut membuat Eun Kyo tersadar dari tidurnya. Tapi semua diluar kuasanya, dalam tidurnya Eun Kyo menyebukan nama Jung Soo dan membalas pelukan yang diberikan Jung Soo, masih pelukan yang sama saat mereka tidur bersama. Melihat itu membuat Jung Soo tersentuh, tersenyum, dam menagis. Entah apa yang akan dilakukannya besok, jika malam ini dia tidak bertemu dengan Eun Kyo.

***

Pagi pun tiba. Eun Kyo masih tidur dalam pelukan Jung Soo dan Jung Soo masih tertidur dalam posisi memeluk Eun Kyo. Matahari yang menampakkan sinarnya menyadarkan Eun Kyo dari tidurnya. Eun Kyo berteriak histeris saat mendapati Jung Soo ada dihadapannya. Dan hal ini tentu saja membuat Jung Soo terbangun.

“Sedang apa kau?” tanya Eun Kyo datar.

“Eun Kyo~ya, dengarkan aku. Ini semua salah paham dan kau harus mendengarkan semua penjelasanku. Ara?”

Eun Kyo hanya diam menatap Jung Soo. Saat ini dia hanya ingin memeluk laki-laki yang masih berstatus sebagai suaminya itu menyalurkan rasa rindu yang benar-benar sudah bersarang tanpa batas dihatinya. Dan Jung Soo dia juga ingin melakukan hal yang sama, bahkan lebih dari itu. sampai akhirnya Jung Soo menarik Eun Kyo dalam pelukannya, memeluknya saat erat tidak perduli itu akan membuat Eun Kyo merasa sesak. Mereka berdua menangis, mencurahkan kekesalan masing-masing dengan sebuah pelukan pilu yang hangat.

“Bogoshipo Eun Kyo~ya…”

Eun Kyo tidak membalas, masih menikmati pelukan hangat dari Jung Soo.

“Nado bogoshipo, Oppa..” Jawabnya akhirnya.

Jung Soo tersenyum sambil melepaskan pelukan mereka dan kembali menatap wajah istrinya itu.

“Mianhae, ne?”

“Bagaimana jika meminta maafnya dengan semangkuk ice cream besar?”

Jawaban Eun Kyo membuat Jung Soo terkekeh dan mengelus puncak kepala Eun Kyo dengan penuh kasih sayang.

“Aku akan membelikan pabrik ice cream untukkmu.” Jawab Jung Soo santai.

***

One week later ..

Bulagun, Islandia

Eun Kyo dan Jung Soo baru saja sampai disebuah hotel mewah. Mereka sedikit lelah karna baru saja menempuh perjalanan beberapa jam dari Korea terbang ke Islandia. Honey Moon, mereka mendapat hadiah ini dari ayah Eun Kyo. Dan disinilah diketahui bahwa Eun Kyo adalah pewaris tunggal dari seorang Pengusaha Ternama di Islandia. Selama ini hanya Jung Soo yang mengetahui hal itu, Eun Kyo gadis yang sederhana dan tidak terlalu ingin orang mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

Mereka baru saja memasuki kamar hotel pada pukul delapan malam setelah romace dinner yang disiapkan oleh ayah Eun Kyo. Eun Kyo masuk kekamar dam langsumg merebahkan diri ke ranjang tanpa melepaskan sepatu high hells yang menghiasi kakinya. Disusul dengan Jung Soo yang dengan seenaknya menindih Eun Kyo dan langsung menghujamnya dengan ciuman bertubi-tubi.

Eun Kyo memprotes dan itu hanya membuat Jung Soo terkekeh pelan. Sampai akhirnya Jung Soo berhenti dibibir Eun Kyo, mengecupnya perlahan dan mulai melumatnya. Semakin lama semakin dalam dan Eun Kyo mulai menikmatinya. Eun Kyo memeluk leher Jung Soo dan membelitkan kakinya dipinggang Jung Soo. Ciuman itu merambat panas dengan saling membelit lidah serta tangan mereka yang liar sudah merabai lekuk tubuh pasangan masing-masing.

Ciuman Jung Soo turun ke leher Eun Kyo, menghirupnya kuat lalu menciumnya dengan ciuman basah, kegiatan itu dilakukan Jung Soo kesemua sisi leher Eun Kyo sambil berusaha melepaskan gaun yang digunakan Eun Kyo. Gaun pun terlepas dan kemeja Jung Soo pun sudah dicampakkan Eun Kyo entah kemana. Ciuman Jung Soo turu ke bahu Eun Kyo naik lagi untuk menjilati daun telinganya. Eun Kyo menggeliat saat Jung Soo membisikkan kata-kata itu tepat dikupingnya.

“Saranghae Eun Kyo~ya…”

Dan desahan itu tidak tertahan lagi saat kegiatan  Jung Soo sudah sampai didadanya.

“Eughhh” lenguhan pertama Eun Kyo.

Jung Soo semakin turun kebawah menciumi perut rata milik sang istri dan menemukan hal tersensitve bagi wanita itu. Dia mengecupnya lembut dan melewatinya begitu saja turun ke kaki jenjang Eun Kyo untuk melepas sepatu istrinya. Setelah terlepas, dia menciumi ujung kaki Eun Kyo, naik ke betis, lutut, hingga paha pun tak luput dari bibir Jung Soo yang basah.

Eun Kyo hanya menjerit tertahan saat merasakan bibir Jung Soo menyapa organ tersensitivenya, Desahan-desahannya tak tertahankan lagi dan malah membuat Jung Soo semakin bersemangat. Eun Kyo memekik tertahan saat Jung Soo memasukkan satu jarinya, menggerakkannya pelan. Sampai rasa puncak itupun hampir dirasakan Eun Kyo.

“Oppa, jebal..” pinta Eun Kyo

Jung Soo tersenyum melihat wajah Eun Kyo memerah, dia memajukan tubuhnya dan menekankan bibirnya diatas bibir gadis itu sebentar. Lalu kembali konsentrasi dengan jarinya yang masih tertanam ditubuh Eun Kyo.

“Ouh Oppa, aku mohooonn..”

“Mohon apa , Yeobo?”

Jung Soo memperlambat gerakannya, menikmati permohonan Eun Kyo. Eun Kyo yang menyadari itu dengan sekuat tenaga menarik Jung Soo mendekat dan menciuminya tanpa ampun. Dan berhasil, Jung Soo tergoda dan mempercepat proses hubngan mereka. Eun Kyo dan Jung Soo saling menyatukan tubuh diwarnai dengan penyatuan hati, perasaan dan cinta mereka.

THE END

Note : Kenapa harus menang? Sederhana aja onn, karena aku mau jadi yang terbaik. Dalam setiap perlombaan, pemenang selalu dianggap terbaik. Dan dikuis ini aku sudah semaksimal mungkin dan aku berharap untuk menang. Tapi, kalau emang aku gak menang berarti ada yang lebih baik dari aku, dan aku harus nerima kekalahan aku dong. Special Thanks for Fika onnie yang sudah membuat kuis ini, semoga semua reader disini suka dengan karnya aku. Ghamsahamnida .. ^-^

16 responses »

  1. waahhh ..
    FF aku yang pertama ya onn, gomawo uda diizini buat partisipasi ya ..
    walaupun aku ga dapet juara yang penting aku udah coba, mana tau nanti jadi FF tervaforite .
    aminnnn, hahhaha
    walaupun banyak typo, tetep eksis dong .
    jadi buat para reader ayo komen banyak2 , jangan lupa like nya juga ya ..
    jeongmal ghamsahamnida :*

  2. Nhy Nc????? Ya Allah… Oppa… Knpa setiap dgn Eun Kyo Eonni,,, kau sllu jd mesum???? Ckckc…. Benar2 keterlaluan.

    Dan apa2an itu???? Kau ijin brapa hari perginya brapa hari eo??? Nyonya Park Jg. Apasih alasan anda membenci nae Eun Kyo????? Ckckcc… Benr2 tdk bs diprcaya. Dan kim luna. Tunangan??? Kpn kalian tunangan??? Kok q ng’ diundang??? Tp syukurlah… Krna ceritanya Happi Ending>.<" jd ng' sia2 q nganut slogan 'semua akan indah pada waktunya'

  3. Kebanyakan yg ikut ff contest-nya menyiksa Eun Kyo . Seneng deh liat Fika eonnie di aniaya begitu. *di jitak Fika eonnie*

    NC lagi? Yaoloh eon. . . Lihat! Lihat! Pembaca Roman Teukyo jd yadong! Sekarang jd suka nulis yadong tu Itu gara-gara eon lho. Keren kan?

    Anyway, ceritanya simpel dan di ceritakan dgn manis. True love conquer anything ya.🙂 Good job author!

    Setelah baca deretan ff yg ikt lomba, aku jd pengen memprovokasi para author buat menggulingkan kekuasaan Fika eonnie dari sini.
    Pensiun aj ya eon. . . *di tikam Fika eonnie*
    brcnda eon. Mianhae. . saranghae. .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s