FF Contest : My Little Angel

Standar

AUTHOR : Kim Hyun Eun

Apa kau tau?

seberapa sakitnya hati ini saat kau tinggalkan aku sendiri?

Kau tinggalkan beban dalam hidupku.

Apa kau tau?

aku selalu mengharapkan kau kembali?

Kembali kedalam pelukanku.

Aku selalu berharap seperti itu,

Setiap hari…

Aku merindukan suara lembutmu,

merindukan sentuhanmu,

merindukan hembusan nafasmu.

Bahkan aku merindukan pelukan dan ciumanmu.

Aku masih mencintaimu!

Sangat!

Lalu bagaimana dengan dirimu?

Apa kau juga sama seperti diriku?

-oOo-

“Kita akhiri saja sampai disini!“  ucap seorang namja dengan nada datar. Tatapan matanya tidak pernah sedikit pun terlepas dari wajah cantik seorang gadis yang ada dihadapannya saat ini. Gadis itu memandang nanar amplop berwarna coklat yang tergeletak di atas meja. Gadis itu tersenyum miris.

“Ige mwoya?“  pertanyaan yang sangat bodoh memang. Jelas-jelas Ia sudah mengerti apa maksud dari ucapan namja tersebut.

“Aku ingin kita bercerai.“  akhirnya kata-kata keramat itu keluar juga dari mulut namja tersebut.

“Apa kau begitu mencintainya? sampai kau rela melakukan ini?“  lagi-lagi gadis itu tersenyum miris. Dadanya terasa sesak, seakan ada ribuan ton batu yang menghimpitnya.

“Tandatangani saja. Kita bertemu seminggu lagi di ruang pengadilan.“  ucap namja itu dingin. Kemudian beranjak dari duduknya dan melangkah pergi begitu saja.

Sedangkan Gadis itu tidak sedikit pun bergeming dari posisinya. Matanya masih menatap amplop coklat itu. Surat cerai . yang masih tergeletak tidak berdaya. Sama seperti keadaannya saat ini. Perlahan cairan bening dan hangat keluar dari sudut matanya meluncur dengan cepat melewati pipi mulusnya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sesak dan perih di bagian dada kirinya. Tangan halusnya mengelus pelan bagian perutnya yang terlihat rata.

“Mianhae.“  ucapnya lirih.

 

-oOo-

Seoul, 06 September 2012  06.35 KST

“Ryu Jin~ah, ireona. Sayang!“  ucap lembut seorang yeoja berusaha membangunkan putra semata wayangnya yang masih bergumul di atas tempat tidur dengan selimut dan bantalnya. Masih menikmati mimpi indahnya.

“Eomma, aku masih ngantuk.“  jawab bocah kecil itu. Tubuh kecilnya menggeliat pelan dengan Mata yang masih terpejam rapat.

“Kau akan terlambat kesekolah, Ryu Jin~ah. Kau mau dimarahi Lee seonseangnim lagi, eo?“  masih dengan suara lembutnya yeoja itu masih berusaha membujuk putranya. Kali ini ucapannya direspon dengan baik. Ryu Jin perlahan membuka matanya, mengerjapkannya beberapa kali untuk menyesuaikan matanya yang masih terasa berat itu dengan sinar matahari yang menerobos masuk melalui jendela kamarnya.

“Arasseo, aku sudah bangun, Eomma.“  ucap Ryu Jin dangan  malas.

“Eomma sudah membuatkan sarapan untukmu. Sakarang kau mandi dulu, ne?“  yeoja itu tersenyum sambil mengelus sayang rambut Putranya.

“Eumhh….“  gumam Ryu Jin, kemudian beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.

Park Eun Kyo –nama yeoja cantik itu –mulai merapikan tempat tidur putranya. Ia juga menyiapkan seragam sekolah untuk Ryu Jin. setelah selesai Eun Kyo memperhatikan kamar putranya itu. Kamar yang didominasi dengan cat berwarna biru dan putih. Pandangan Eun Kyo tertuju pada tembok di samping tempat tidur Ryu Jin disana tegantung dengan rapi foto-foto Ryu Jin saat Ia masih bayi. Eun Kyo tersenyum mengingat pertama kali malaikat kecil itu datang kedalam hidupnya.

“Oppa, aku takut. Aku sudah tidak kuat lagi.“  ujar Eun Kyo lirih. Peluh mulai membanjiri pelipis dan keningnya. Nafasnya juga tersenggal-senggal menahan rasa sakit dibagian perutnya yang besar.

 

“Kau pasti bisa Kyo~ya. Kau yeoja yang kuat. Oppa akan selalu menemanimu, eum?“  ucap seorang namja berusaha menenangkan Eun Kyo yang terlihat panik. satu persatu lelehan air mata keluar dari pelupuk mata Eun Kyo, sejenak mengaburkan pandangannya. Hatinya seperti diiris-iris terasa sangat perih melebihi rasa sakit yang mendera perutnya saat ini. Seharusnya yang ada disampingnya dan menemaninya saat ini adalah suaminya, Appa dari bayi yang dikandungnya. Bayi yang sebentar lagi akan melihat dunia ini.

 

“Nyonya Park, tinggal sedikit lagi. Aku hitung sampai tiga kau harus mendorongnya dengan kuat, ne?“  ucap seorang dokter yang menangani persalinan Eun Kyo.

 

“Kau dengar! sebentar lagi Dia akan lahir jadi besabarlah dan bertahanlah demi malaikat kecilmu.“  Namja itu. Lee Sungmin. Terus menyemangati Eun Kyo.

 

“Hana… dul… set… dorong!“  dokter itu memberi instruksi. Eun Kyo menarik nafasnya panjang mengerahkan sisa-sisa tenaga yang masih Ia punya, sebelum akhirnya mendorong dengan kuat sesuatu yang ada di dalam perutnya.

 

“Aakkkhhhh….“  teriakan Eun Kyo mengema di ruangan serba putih itu. Disusul dengan suara tangisan bayi yang memekakan telinga. Nafas Eun Kyo makin terputus-putus. Dadanya terasa sesak seakan pasokan oksigen diruangan itu mulai menipis. Samar-samar Ia mendengar suara Sungmin memanggil namanya sebelum akhirnya semuanya menjadi gelap.

“Eomma.“  suara Ryu Jin membuyarkan lamunan Eun Kyo. menariknya kembali kedunia nyata.

Dihapusnya air mata yang sudah menganak sungai di pipinya. Kemudian berbalik mendapati putra kesayangannya tengah menatapnya dengan wajah bingung.

“Kau sudah selesai mandinya, sayang.“  Eun Kyo menghampiri Ryu Jin. berjongkok didepannya untuk menyamakan tinggi badannya. Tercium aroma Strobbery dari rambut Namja kecil itu. Eun Kyo menatap lekat-lekat wajah putranya itu.

“Eomma, waeyo?“  tanya Ryu Jin bingung.

“Ani, Eomma hanya tidak menyangka ternyata putra Eomma semakin tampan.“

“Jinjja?“  mata Ryu Jin berbinar-binar mendengar ucapan Eommanya barusan. Eun Kyo menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

“Kajja, sekarang pakai seragammu.“

-oOo-

Apa kau bisa merasakan kehadirannya?

Kehadiran malaikat kecil kita.

Malaikat yang kau tinggalkan bersamaku.

Apa kau tau?

sekarang dia sudah tumbuh besar?

Dia sangat merindukanmu dan ingin bertemu denganmu

Bisakah kau merasakannya hal itu?

10.22 KST

“Eommaaa.“  suara khas anak kecil itu menggema di ruang tengah. Memaksa Eun Kyo mengalihkan pandangannya dari layar laptop.

“Eoh, putra Eomma yang tampan sudah pulang. Siapa yang menjemputmu, sayang?“  Eun Kyo merentangkan tangannya untuk memeluk tubuh kecil Ryu Jin.

“Sungmin Ahjussi.“  jawab Ryu Jin polos.

“Geurae, bekal yang Eomma buatkan sudah Kau habiskan, eo?“  Eun Kyo menciumi wajah putranya gemas.

“Tentu.“

“Aigooo…. Lagi-lagi Kalian melupakan Aku.“  suara merdu seorang namja mengalihkan mereka. Namja itu melipat kedua tangannya di depan dada kemudian bersandar di tembok tidak jauh dari mereka.

“Oppa.“  Eun Kyo menghampiri namja tersebut.

“Gomawo sudah menjemput Ryu Jin. Kau sudah makan, Oppa?“  namja itu. Lee Sungmin. Hanya menganggukan kepalanya.

“Kau belum menyelesaikan tulisanmu?“  tanya Sungmin. Matanya melirik sebentar Laptop putih milik Eun Kyo yang masih menyala di atas meja kerjanya. Selain bekerja di restoran dan toko bunga miliknya sendiri, Eun Kyo juga punya Hobby menulis. Ia sangat suka menuangkan isi hati dan imajinasinya kedalam sebuah tulisan. Merangkainya dan menjadikannya sebuah cerita.  Bahkan Ia berencana untuk menjadikan cerita-ceritanya itu menjadi sebuah buku atau novel.

“Belum. Aku sedang tidak ada ide Oppa.“

“Bagaimana dengan malaikat kecilmu ini? Kau tidak ingin mencoba menuliskan cerita tentangnya?“  Sungmin memberikan sebuah ide untuk Eun Kyo.

“Ah, Kau benar Oppa. Itu ide yang sangat bagus.“  Eun Kyo mulai membayangkan apa yang akan Ia tulis tentang Ryu Jin. Malaikat kecilnya.

“Aku harus kembali kekantor, Kyo~ya. Masih banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan.“  ucap Sungmin setelah melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Eun Kyo hanya bisa tersenyum. Namja berwajah imut ini adalah orang yang paling dekat dengan Eun Kyo. Mereka sudah seperti saudara, karena sejak kecil mereka bertetangga dan Sungminlah yang selalu menemani dan menjaga Eun Kyo. saat kedua orang tua Eun Kyo meninggal. Jadi Eun Kyo sudah menganggap Sungmin seperti Oppa kandungnya sendiri.

“Ryu Jin~ah, Ahjussi kembali kekantor dulu, ne? kau tidak boleh nakal, arra?“  Sungmin mengecup kedua pipi Ryu Jin. Mengacak rambutnya dengan lembut.

“Arraseo, Ahjussi.“  Bocah kecil itu tersenyum lebar.

Setelah mengantar Sungmin kedepan rumah. Eun Kyo menghampiri Ryu Jin di kamarnya. Eun Kyo berdiri di ambang pintu kamar Ryu Jin. tersenyum melihat putranya sedang sibuk dengan mainan barunya yang minggu lalu baru dibelikan Sungmin.

“Kau belum mengganti bajumu sayang?“  anak itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan Eommanya. Ia masih asik dengan mainannya. Eun Kyo melangkah masuk, mengambil baju ganti Ryu Jin di dalam lemari kemudian menghampiri Ryu Jin. Duduk di pinggir ranjang.

“Hey, kau mengacuhkan Eomma, eum?“  Eun Kyo menggelitik Pinggang Ryu Jin membuat anak itu menggeliat. Menahan rasa Geli.

“Eommaaa.“  perotesnya. Ia Tidak suka acara mainnya diganggu.

“Ayo ganti bajumu dulu. Kau bahkan belum melepas sepatumu.“  Eun Kyo menarik Ryu Jin menyuruhnya berdiri. Ryu Jin menggembungkan pipinya kesal. Dengan cepat Eun Kyo mengganti baju Ryu Jin.

“Eomma, Sungmin Ahjussi bilang besok itu hari ulang tahunku. Apa itu benar?“  tanya Ryu Jin dengan wajah polosnya.

“Ah, benar. Eomma hampir saja lupa. Kau mau hadiah apa dari Eomma, eum?“  Eun Kyo mengelus pipi Ryu Jin.

“Mmmhh.. aku boleh memintanya lebih dari satu?“  Eun Kyo mengerutkan keningnya. Bingung. Tapi detik berikutnya Ia tersenyum dan menganggukan kepalanya.

“Geurae, kau boleh memintanya lebih dari satu.“  wajab Eun Kyo yakin.

“Jinjja Eomma?“  pekik Ryu Jin senang.

“Ne, Marhae, kau menginginkan apa?“

“Aku ingin pergi ketaman bersama eomma dan Sungmin Ahjussi besok.“  Ryu Jin mengucapkan permintaan pertamanya. Lagi-lagi Eun Kyo menganggukan kepalanya.

“lalu?“

“Mmhh… aku… aku ingin makan es Krim. Apa boleh eomma?“  Volume suaranya langsung mengecil. Matanya menatap takut kearah Eun Kyo. Ia tau benar bahwa eommanya ini tidak akan pernah mengijinkannya untuk yang satu ini. Tapi diluar dugaan, Eun Kyo justru tersenyum. Membelai rambut Ryu Jin.

“Kau boleh membelinya besok. Bukankah tadi eomma sudah bilang kau boleh meminta apapun.“  Ryu Jin tersenyum lebar. Tangan kecilnya memeluk leher Eun Kyo erat.

“Gomawo Eomma. Aku mencintaimu.“  sebuah kecupan diberikannya di pipi Eun Kyo.

“Eomma juga sangat mencintaimu, sayang.“  Eun Kyo membalas pelukan putranya. Saat itu juga matanya terasa menghangat. Cairan bening mulai menyelimuti matanya. Mengingat kembali bagaimana Ia berjuang sendirian untuk mempertahankan malaikat kecil ini. Tanpa seorang pendamping di sisinya.

“Eomma. Ada satu lagi yang aku inginkan.“  Eun Kyo menghapus air mata yang sempat jatuh di pipinya sebelum melepaskan pelukannya.

“Apa?“  Eun Kyo menatap wajah Ryu Jin yang terlihat ragu-ragu untuk mengucapkannya.

“Aku ingin…“  kalimatnya terputus. Ryu Jin menundukan kepalanya sambil memaikan jari tangannya. Eun Kyo masih menunggunya untuk melanjutkan kalimat bocah itu.

“Bisakah aku… bisakah bertemu dengan… Appa?“  lanjutnya dengan lirih. Kalimat itu seketika membuat Eun Kyo membeku ditempat. Rasa sesak memenuhi rongga dadanya, Ia bingung mau menjawab apa atas permintaan anak kesayangannya ini. Eun Kyo menggigit kuat bibir bawahnya menahan tangis yang mungkin sebentar lagi akan pecah.

“Eomma.“  panggil Ryu Jin pelan. Eun Kyo tidak dapat lagi membendung Air matanya. Tumpah begitu saja membasahi wajah cantiknya. Wajah Ryu Jin menegang melihat eommanya mulai terisak. Tubuh Eun Kyo bergetar mencoba menahan tangis.

“Eomma mianhae.“  tangan mungil Ryu Jin terulur mengusap air mata yang masih saja terus mengalir. Padahal Eun Kyo sudah menahannya mati-matian. Dengan cepat Eun Kyo menarik tangan Ryu Jin. Mendekap erat tubuh anak itu dalam pelukannya.

“Mianhae sayang, Jeongmal mianhae Ryu Jin~ah.“  ujar Eun Kyo di sela-sela tangisnya. Ryu Jin hanya diam di dalam pelukan eommanya dengan wajah Bingung.

-oOo-

Seoul, 07 September 2012  07.22 KST

Pagi ini Eun Kyo dan Sungmin terlihat sedang sibuk didapur. Mereka sibuk menyiapkan kue untuk  Ryu Jin. Mereka ingin memberikan kejutan kecil untuk Ryu Jin dihari ulang tahunnya yang ke-4. Eun Kyo tersenyum puas melihat hasil Kue buatannya dan Sungmin. Tidak lupa Ia menambahkan 4 buah lilin kecil diatasnya.

“Kelihatannya enak. Apa boleh aku mencicipinya?“  baru saja Sungmin berniat untuk mengulurkan tangannya untuk mencolek cream yang ada diatas kue. Tapi dengan cepat Tangan Eun Kyo mengambil kue itu. Menjauhkannya dari jangkauan Sungmin.

“YAK! Oppa. tidak boleh! Ini hanya untuk Ryu Jin.“  dengan santai Eun Kyo melangkah menuju kamar Ryu Jin yang ada di lantai dua. Meninggalkan Sungmin di dapur.

“Yaa! Kau ini pelit sekali, Kyo~ya.“  Sungmin memajukan sedikit bibirnya sebagai tanda protes. Eun Kyo yang baru saja menaiki beberapa anak tangga menoleh kearahnya sambil menjulurkan lidahnya. Mengejek Sungmin.

“YAK! Kau sangat menyebalkan!!“  omel Sungmin kesal. Tapi kemudian Ia menyusul Eun Kyo yang sudah lebih dulu sampai didepan kamar Ryu Jin.

“Buka pintunya Oppa.” bisik Eun Kyo, Sungmin hanya mengangguk. Tangannya menekan pelan Handle pintu sampai sedikit terbuka. Mereka melihat Ryu Jin masih asik tenggelam dalam mimpinya di atas tempat tidur. Eun Kyo tersenyum melihatnya kemudian melirik Sungmin. Dengan kompak mereka mulai bernyanyi.

“Saengil Chukka Hamnida… Saengil Chukka Hamnida… Saranghanen Uri Ryu Jin… Saengil Chukka Hamnida…“

Ryu Jin yang mendengar suara Eun Kyo dan Sungmin langsung membuka matanya. Buru-buru Ia bangun dari posisi tidurnya. Duduk di atas tempat tidur sambil tersenyum lebar.

“Eomma. Sungmin Ahjussi.“  panggilnya senang.

“Saengil Chukka Hamnida, sayang. Ayo tiup lilinnya.“  Eun Kyo menyodorkan Kue yang dibawanya dihadapan Ryu Jin. Dengan semangat Ryu Jin meniup lilin yang ada di atas Kue sampai padam.

“Gomawo Eomma.“  Ryu Jin memeluk Eun Kyo erat dan tidak lupa mencium pipi dan bibir Eommanya.

“Ryu Jin~ah, Kau melupakanku, eo? Mana ucapan terimakasih dan pelukan untuk Ahjussi.“  Sungmin merentangkan kedua tangannya. Dengan senang hati Ryu Jin menghambur kepelukan Sungmin.

“Gomawo Sungmin Ahjussi.“ Sungmin mengecup pelan kepala Ryu Jin sambil berbisik lirih.

“Semoga Tuhan selalu melindungimu Ryu Jin~ah.“  air mata Eun Kyo mulai menggenang dipelupuk matanya mendengar ucapan Sungmin. Tapi dengan cepat tangannya menyeka air mata yang hampir jatuh itu.

“Jja, ayo kita makan kuenya. Setelah itu kau harus siap-siap berangkat kesekolah, sayang. Nanti siang kita pergi ketaman.“ ujar Eun Kyo mengalihkan rasa sedihnya.

Ditempat lain seorang Namja tampan juga sedang memandangi sebuah kue yang ada di tangannya. Mata Namja itu mulai mengeluarkan bulir-bulir bening yang perlahan jatuh membasahi kedua pipinya.

“Saengil Chukka Hamnida, Adeul.“  ucap Namja itu lirih sambil meniup lilin berbentuk angka 4 berwarna merah.

-oOo-

15.40 KST

Di sebuah taman di pinggiran kota. Eun Kyo tidak bosan-bosannya menyunggingkan senyumnya. Sejak tadi Ia terus memandangi Ryu Jin yang sedang bermain dengan bola kesayangannya tidak jauh dari tempatnya duduk.

“Eun Kyo~ya, Apa Kau masih tidak ingin mempertemukan Ryu Jin dengannya?“  ucap Sungmin tiba-tiba. Mendengar ucapan Sungmin perlahan senyum di bibir Eun Kyo mulai luntur. Ia langsung menatap tajam kearah Sungmin yang duduk disampingnya.

“Tidak akan pernah.“  jawab Eun Kyo dingin. Matanya berubah menjadi sendu.

“Kyo~ya….“

“Aku bilang Tidak akan pernah Oppa!“  Potong Eun Kyo cepat dengan suara sedikit keras. Sungmin hanya bisa menundukan kepalanya dan menghembuskan nafasnya berat.

“Arraseo.“

“Aku mohon jangan membahasnya lagi, Oppa.“  lirih Eun Kyo.

“Mianhae.“

 

Mianhae Kyo~ya. Mianhae, Aku sudah mengingkari janjiku. Aku sudah menceritakan tentang keberadaan Ryu Jin kepadanya.

“Hey, siapa namamu sayang?“  suara lembut seorang yeoja mengalihkan Eun Kyo dan Sungmin. Mereka menoleh secara bersamaan kearah Ryu Jin.

“Ryu Jin. Namaku Park Ryu Jin, Ahjumma.“  Jawab Ryu Jin polos.

“Aigooo… kau sangat pintar dan menggemaskan sayang. Benarkan Oppa?“  yeoja itu mencubit  gemas pipi Ryu Jin. Namja yang ditanya, yang sejak tadi ada disampingnya itu hanya diam menatap Ryu Jin dengan tatapan sulit diartikan. Terkejutkah? Senangkah? atau Kagumkah? . Entahlah. Yang jelas Dia terus menatap Ryu Jin.

Detik itu juga mata Eun Kyo membulat sempurna begitu melihat pasangan Namja dan Yeoja itu. Tubuhnya mematung ditempat. Nafasnya tercekat ditenggorokan, Dadanya pun terasa begitu sesak. Sejenak Ia bahkan lupa bagaimana caranya untuk bernafas. Dengan susah payah Eun Kyo mengontrol emosinya yang mulai menjalari sekujur tubuhnya. Kedua tangannya mencengkram erat besi dibawah bangku yang sedang Ia duduki. Hingga sedikit menimbulkan rasa nyeri ditelapak tangannya tapi Ia tidak memperdulikan hal itu. Yang ada dipikirannya saat ini adalah segera menjauhkan Ryu Jin dari mereka.

“Ryu Jin~ah.“   panggil Eun Kyo sedikit berteriak. Ryu Jin menoleh kearah Eun Kyo. Diikuti dengan kedua orang itu.

“Park Eun Kyo?“  Gumam yeoja itu pelan. Ia juga sama halnya dengan Eun Kyo. Terkejut. Sedangkan si Namja hanya menatap Eun Kyo sendu. Tatapan matanya penuh dengan rasa kerinduan yang sangat.

“Kajja, kita beli es Krim sekarang.“  ucap Eun Kyo sambil berdiri menghampiri Ryu Jin. Sebelum menarik Ryu Jin pergi dari tempat itu Eun Kyo sempat menatap dingin kearah kedua orang itu.

“Chamkkaman, Eun Kyo~ya…“  panggilan yeoja itu sejenak menghentikan langkah Eun Kyo. Dengan enggan Eun Kyo membalikan badannya.

“Maaf, aku sedang buru-buru “  ucap Eun Kyo dingin kemudian kembali melangkahkan kakinya sambil mengandeng tangan Ryu Jin. Sungmin dengan cepat bangun dari tempat duduknya. Beranjak menyusul Eun Kyo dan Ryu Jin.

“Oppa, Gwenchana?“  tanya yeoja itu dengan hati-hati. Namja itu masih saja tetap bungkam. Matanya masih betah mengekori Eun Kyo, Ryu Jin dan Sungmin yang semakin menjauh dari tempat itu.

-oOo-

“Kyo~ya, gwenchana?“  lagi. Pertanyaan yang sama yang sungmin lontarkan kepada Eun Kyo. Sejak kejadian tadi sore Eun Kyo hanya diam memeluk Ryu Jin dengan erat. Ia sama sekali tidak membiarkan Ryu Jin lepas dari dekapannya. Sungmin menatap Eun Kyo dengan lembut.

“Nan, Gwenchana Oppa.“  jawab Eun Kyo singkat tanpa menoleh sedikit pun kearah Sungmin. Ia lebih memilih menatap keluar jendela mobil. Memperhatikan pohon-pohon yang berjajar rapi dipinggir jalan. Sesekali tangannya mengusap pelan matanya yang mulai berair dan bibirnya mengecup  lembut rambut Ryu Jin yang sudah tertidur pulas dalam pelukannya.

 

Eomma akan selalu menjaga dan melindungimu, sayang.

Sungmin melirik Eun Kyo sebentar kemudian menghela nafasnya pelan. Ia tau benar jika saat ini Eun Kyo tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ia juga lebih memilih diam berkonsentrasi pada jalanan. Ia ingin membiarkan Eun Kyo lebih tenang saat ini.

“Oppa, gwenchana?“  pertanyaan yang sama tapi dari orang yang berbeda. Kim Yoon Rin menatap Jung Soo dengan khawatir. Sama seperti Sungmin, Ia juga didiamkan dengan lawan bicaranya. Jung Soo sedikit pun tidak menatapnya. Namja itu hanya diam memandang lurus kedepan memperhatikan jalanan. Entah apa yang sedang Ia pikirkan. Yoon Rin meremas kuat ujung tas yang ada dipangkuannya. Dadanya terasa perih. Ada ribuan bulir air mata yang mendesak ingin segera dikeluarkan dari pelupuk matanya.

 

Jadi ini alasannya kau mengajakku pergi ketaman Oppa? Kau ingin melihat anak itu? Oppa Mianhae. Bisakah kau bersabar sebentar lagi? Aku mohon jangan tinggalkan aku Oppa!

Dengan cepat Yoon Rin mengambil ponsel dari dalam tasnya kemudian tangannya dengan lincah mengetik sebuah pesan di sana dan mengirimkannya keseseorang.

-oOo-

Seoul, 08 September 2012  19.15 KST

 

Eun Kyo menghembuskan nafasnya pelan. Entah ini sudah yang kebarapa kalinya Ia lakukan. Matanya sedari tadi menatap layar ponselnya. Membaca berulang kali pesan singkat itu. Pesan yang Ia terima kemarin malam. Eun Kyo mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, terasa sangat sepi karena memang toko bunga miliknya sudah tutup sejak 15 menit yang lalu. Dengan ragu Ia mengambil tasnya yang ada di atas meja. Beranjak dari duduknya, Kemudian berjalan keluar dari toko. Sebelum pergi Ia mengunci terlebih dulu tokonya. Selanjutnya melangkah menuju parkiran. Dengan cepat Ia masuk kedalam mobil dan melajukannya menuju kesuatu tempat.

 Eun Kyo Menatap ragu pintu kaca sebuah café yang ada dihadapannya saat ini. Lagi-lagi Ia menghembuskan nafasnya untuk mengontrol rasa nyeri di dadanya. Perlahan didorongnya pintu kaca itu. Begitu masuk kedalam Ia dapat melihat seorang yeoja cantik yang sangat dikenalnya tengah menatapnya sambil tersenyum. Yeoja itu duduk di pojok dekat jendela. Berbeda dengan yeoja itu Eun Kyo justru menatapnya dengan dingin. Eun Kyo menghampirinya dan duduk dikursi berhadapan dengan yeoja itu.

“Aku senang kau mau datang Eun Kyo~ya.“  ucap yeoja itu lembut.

“Langsung katakan saja, apa yang ingin kau bicarakan, Yoon Rin-ssi.“  balas Eun Kyo dengan dingin. Yoon Rin menghela nafasnya. Menundukan kepalanya sejenak dan Tersenyum kecut.

 

Tatapanmu sangat menakutkan Eun Kyo~ya. Kau bisa langsung membunuhku dengan tatapanmu itu.

“Tidak bisakah kau  berbasa-basi terlebih dahulu, Eun Kyo~ya? Tidak bisakah kau menanyakan bagaimana keadaanku selama 4 tahun ini?“  Eun Kyo tidak menjawabnya. Ia tetap menatap tajam kearah Yoon Rin. Terlihat  jelas ada kilatan kebencian dari sorot mata Eun Kyo. Yoon Rin bisa merasakan itu, tapi Ia juga bisa melihat dengan jelas ada rasa kecewa dan terluka yang dalam dari mata Eun Kyo.

 

Mianhae, Eun Kyo~ya.

“Baiklah, akan aku katakan…“  Yoon Rin mengambil nafas sebentar sebelum bicara. Hanya ingin sekedar menghilangkan rasa takutnya.

“Bisakah kau mengembalikan anak itu kepada Jung Soo Oppa?“   ujar Yoon Rin tenang. Eun Kyo yang mendengarnya mendengus pelan dan tersenyum sinis.

“Neo, Michoseo?“  ucap Eun Kyo sedikit bergetar tapi Ia berusaha untuk tetap tenang. Jujur saja Ia sangat terkejut mendengar  ucapan Yoon Rin. Bagaimana Yoon Rin bisa tau tentang Ryu Jin?

“Ne, aku rasa aku memang sudah gila. Aku gila karena selalu melihat suamiku menangis karena merindukan anaknya. Ingin bertemu dengannya.“  jawab Yoon Rin dengan nada sedikit Emosi. Dan lagi Eun Kyo menanggapinya dengan tersenyum sinis. Dadanya terasa perih begitu mendengar kata ‘Suamiku’ meluncur dengan indahnya dari bibir yeoja itu.

“Anak? Siapa yang kau sebut anak suamimu, Huh?“  ujar Eun Kyo tajam.

“Aku sudah mengetahui semuanya, Eun Kyo~ya. Anak itu… Park Ryu Jin. Dia anak Jung Soo Oppa kan?“  Cecar Yoon Rin.

“Ani, kau salah besar bila mengambil kesimpulan seperti itu, Yoon Rin-ssi. Dia bukan anak Park Jung Soo… Tapi Dia anakku.“  ucap Eun Kyo tegas.

“Eun Kyo~ya….“  lirih Yoon Rin. Matanya Menatap Eun Kyo dengan tatapan sendu.

“Berhenti menatapku seperti itu Kim Yoon Rin-ssi.“  nada suara Eun Kyo mulai meninggi. Dadanya juga mulai terasa sesak. Ingin rasanya Ia meneriaki dan memaki yeoja yang ada dihadapannya ini. Yeoja yang sudah membuat hidupnya hancur berantakan. Yeoja yang sudah memporak-porandakan kehidupan rumah tangganya. Yeoja yang sudah berani merebut orang yang paling berarti dalam hidupnya. Yeoja yang telah memisahkan seorang anak dari Appanya. Dan sialnya bagi Eun Kyo, yeoja ini. Kim Yoon Rin . adalah sahabat terbaik yang pernah Ia miliki. Sahabat yang sudah dianggapnya saudara sendiri. Tapi itu dulu sebelum semua ini terjadi dan kenyataan itu semakin menambah rasa sakit dan perih dalam hati Eun Kyo.

“Kau boleh mengambil Jung Soo Oppa dalam hidupku… Memiliki Dia sepenuhnya. Hajiman….“

“ Jangan harap kau bisa mengambil Ryu Jin dariku. Karena Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyentuh ANAKKU. Termasuk Jung Soo Oppa.“  ucap Eun Kyo dingin, Ia sengaja menekan kata ‘Anakku’. Seolah Ia ingin menegaskan kepada Yoon Rin bahwa Ryu Jin itu hanya miliknya. Sebelum akhirnya Ia beranjak dari duduknya dan melangkah keluar café. Meninggalkan Yoon Rin yang masih duduk mematung ditempatnya.

Yoon Rin menatap nanar kepergian Eun Kyo. Dadanya pun tidak kalah sesaknya dari wanita itu. Begitu banyak perasaan yang ada didalam hatinya. Ingin rasanya Ia menangis sekeras-kerasnya, menumpahkan segalanya. Ia ingin Memeluk Eun Kyo dan Meminta maaf kepadanya atas semua kesalahan yang telah Ia perbuat. Kesalahan yang mengharuskannya mengedepankan egonya sendiri. Ia hanya ingin merasakan sedikit kebahagian. Hanya itu. Walau itu mengharuskannya menghancurkan kehidupan sahabatnya sendiri. Ia melakukan itu Sebelum semuanya berakhir.

 

Aku mohon bersabarlah, setelah semuanya selesai aku berjanji, aku pasti akan mengembalikan semuanya kepadamu. Mengembalikan keadaan seperti semula. Aku janji!

Yoon Rin menggigit kuat bibir bawahnya, menahan rasa sakit itu. Sejenak Ia Memejamkan matanya. Tubuhnya mulai bergetar menahan tangis, tapi apa daya Perlahan air matanya menetes satu persatu dan membentuk anak sungai dengan cepat di pipinya.

-oOo-

20.23 KST

Eun Kyo berjalan gontai masuk kedalam rumahnya. Pikirannya masih saja melayang-layang mengingat ucapan Yoon Rin di café tadi. Ia terus melangkahkan kakinya melewati ruang tamu dan ruang tengah menuju kamarnya tanpa melihat sekelilingnya. Ia bahkan tidak menyadari bahwa ada orang lain yang sedang memperhatikannya sejak Ia masuk kedalam rumah. Lee Sungmin. Yang sejak tadi duduk di sofa ruang tengah Menatap Eun Kyo dengan tatapan penuh tanda tanya. Ia menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan wanita itu.

“Kyo~ya…“  panggilan lembut Sungmin menyadarkan Eun Kyo dari lamunannya. Eun Kyo yang sedikit terkejut menghentikan gerakan tangannya menekan Handle pintu. Dengan cepat Ia membalikan tubuhnya dan menoleh kearah Sungmin.

“Oppa..“  lirih Eun Kyo, suaranya terdengar serak tapi masih terdengar jelas. Sungmin menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya mengisyaratkan Eun Kyo untuk tidak bersuara. Diliriknya Ryu Jin yang ada di pangkuannya. Bocah itu terlihat sudah tertidur pulas memeluk bantal gulingnya dengan sengat nyaman. Eun Kyo yang mengerti segera menganggukan kepalanya.

Perlahan Sungmin mengangkat tubuh kecil Ryu Jin. Tubuh bocah itu sedikit menggeliat didalam gendongan sungmin. Mencari posisi yang nyaman, sepertinya Ia sama sekali tidak merasa terganggu. Setelah Ryu Jin kembali tenang Sungmin membawanya kelantai atas memindahkannya kedalam kamarnya. Eun Kyo hanya mengekori punggung Sungmin yang mulai menghilang diujung tangga.

Dengan hati-hati Sungmin meletakan Ryu Jin diatas tempat tidurnya, menarik selimut bergambar beruang untuk menutupi tubuh kecilnya.

“Jaljayo Ryu Jin~ah.“  bisik Sungmin pelan sambil mengecup kening Ryu Jin.

Setelah selasai Sungmin pun meninggalkan kamar Ryu Jin, menutup pintu kamarnya pelan. Kemudian beranjak menuruni anak tangga. Sungmin menghentikan langkah kakinya dianak tangga terakhir. Matanya sibuk memperhatikan Eun Kyo yang sekarang sedang duduk di sofa yang didudukinya tadi. Ia melihat Eun Kyo yang menyandarankan kepalanya di sandaran sofa dengan mata terpejam. Tangan kanannya sibuk memijat keningnya yang mungkin terasa pusing. Sungmin menghela nafasnya pelan kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur. Ia berniat untuk membuatkan Eun Kyo segelas coklat hangat. Mungkin itu bisa mengurangi rasa penat Eun Kyo.

Tidak berapa lama Sungmin kembali menghampiri Eun Kyo dengan membawa segelas coklat hangat ditangan kanannya. Meletakannya diatas meja yang ada didepan Eun Kyo, kemudian duduk di samping wanita itu.

“Minumlah.“  ujar Sungmin pelan, membuat Eun Kyo perlahan membuka matanya dan menoleh kearahnya.

“Gomawo Oppa.“  Eun Kyo pun menegakkan tubuhnya dan meraih gelas yang ada dihadapannya. Hanya memegangnya saja tanpa berniat untuk meminumnya. Wajahnya menunduk lesu, matanya memandang kosong kedalam gelas yang berisikan cairan coklat itu.

“Waegeurae, eo?“  Sungmin menyentuh lembut punggung Eun Kyo, mengusapnya pelan. Membuat Eun Kyo merasa nyaman.

“Dia sudah mengetahuinya Oppa.“  ucap Eun Kyo tiba-tiba, Sungmin menautkan kedua alisnya. Bingung dengan ucapan Eun Kyo barusan.

“Nugu?“  tanya Sungmin hati-hati. Eun Kyo menggigit bibirnya. Rasa nyeri itu mulai menjalar lagi.

“Kim Yoon Rin. Dia sudah mengetahuinya, Oppa.“  jawab Eun Kyo lirih dengan suara yang bergetar hebat. Air mata yang sejak tadi ditahannya perlahan keluar dari persembunyiannya. Menetes dengan deras diatas pipinya. Dengan sigap Sungmin merungkuh Eun Kyo kedalam pelukannya, menarik pelan kepala Eun Kyo agar bersandar dibahunya, Ia membiarkan wanita itu menumpahkan segala beban yang ada dihatinya.

Cukup lama Eun Kyo menangis dibahu Sungmin. Membuat bahu kemeja yang dipakai namja itu basah oleh air mata Eun Kyo. Tangisan Eun Kyo mulai mereda hanya terdengar isakan kecil dari bibirnya. pelahan Eun Kyo mengangkat kepalanya dari bahu Sungmin tangan kirinya sibuk menghapus sisa-sisa air mata di pipinya sedangkan tangan kanannya masih memegang gelas. Sungmin yang melihatnya hanya mengelus lembut rambut Eun Kyo, merapikan anak rambut Eun Kyo yang keluar dari ikatannya menyelipkannya kebelakang telinga. Eun Kyo menatap Sungmin dengan mata sembabnya. Sungmin membalasnya dengan tersenyum lembut.

“Oppa, Bukan kau kan yang sudah memberi tau mereka?“  lirih Eun Kyo, Pertanyaan itu sangat monohok dada Sungmin. Perasaan bersalah mulai menghantuinya lagi. Eun Kyo masih terus menatap wajah Sungmin yang mulai berubah menjadi tegang itu.

“Bukan kau kan Oppa?“  sekali lagi Eun Kyo melempar pertanyaan itu. Sungmin menundukan kepalanya menghindari tatapan Eun Kyo. Ia benar-benar tidak sanggup untuk melihatnya saat ini. Dengan cepat Eun Kyo meletakan gelasnya keatas meja.

“Oppa, lihat aku…“  kini kedua tangannya yang terasa hangat menangkup kedua sisi wajah Sungmin. Memaksanya untuk menatap matanya.

“Jawab dengan jujur Oppa. Bukan kau kan?“  suara Eun Kyo mulai bergetar lagi. Perasaan takut mulai merasuki relung hatinya. Sungmin hanya bisa membalas tatapan Eun Kyo dengan sayu.

“Mianhae.“  hanya kata itu yang bisa keluar dari bibir Sungmin. Tenggorokan benar-benar terasa tercekat saat ini. Lidahnya sangat kelu tidak dapat Ia gerakan.

Tangan Eun Kyo yang berada di wajah Sungmin bergetar dan terlepas begitu saja. Tubuhnya terasa sangat lemas mendengar ucapan maaf dari Sungmin. Dan lagi. Air matanya keluar begitu saja mengiringi rasa perih yang kali ini bertambah menjadi 1000 kali lipat dari sebelumnya.

“Eun Kyo~ya, aku….“  Sungmin berniat untuk menjelaskannya. Tapi…

“Cukup!!!“  Teriakan nyaring dari Eun Kyo menghentikan niat Sungmin. Eun Kyo menatap tajam kearah Sungmin. Tangannya meremas kuat bantal sofa yang ada disampingnya. Ingin rasanya Ia melemparkan bantal itu kewajah Sungmin saat ini juga. Tapi Ia berusaha menahan emosinya yang sudah hampir meledak itu.

“Cukup! Aku mohon kau keluar dari sini Lee Sungmin-ssi. Aku tidak ingin melihatmu lagi.“  teriak Eun Kyo cukup keras. Ia tidak memperdulikan dampak dari teriakannya itu akan membangunkan Ryu Jin.

“Eun Kyo~ya..“  Sungmin masih berusaha menenangkan Eun Kyo, walau Ia tau bahwa usahanya itu akan sia-sia saja.

“Keluar!!“  nafas Eun Kyo mulai tersenggal-senggal, dadanya naik turun karena menahan emosi. Dengan berat hati Sungmin beranjak dari duduknya dan berjalan menjauhi Eun Kyo. Sebelum keluar Ia sempat menoleh kearah Eun Kyo yang mulai tergugu menahan tangis. Membekap mulutnya dengan tangan kanannya.

 

Mianhae. Jeongmal mianhae, Eun Kyo~ya.

Setelah mendengar bunyi pintu tertutup. Eun Kyo menyingkirkan tangannya dari mulutnya. Ia berteriak sekeras-kerasnya,  meluapkan emosinya. Melemparkan bantal sofa yang sejak tadi diremasnya kesembarang arah membuat beberapa barang terjatuh. Ia juga melempar gelas yang masih berisi coklat hangat yang ada dihadapannya kedinding membuat gelas dan beberapa bingkai foto yang ada di dinding itu hancur berkeping-keping. Eun Kyo menangkupkan kedua tangannya di wajah. Berusaha untuk menghentikan tangisnya.

“Eo…Eo-mma.“  suara Ryu Jin yang terdengar ketakutan menyadarkan Eun Kyo. Bocah kecil itu tengah menatap Eun Kyo dengan perasaan takut. Eun Kyo dengan segera menghampirinya dan memeluk Ryu Jin dengan sangat erat sambil tetap menangis.

“Eomma, A-aku… sesak.“  ucap Ryu Jin dengan susah payah. Dekapan Eun Kyo terlalu erat di tubuh kecilnya hinga Ia kesulitan untuk bernafas. Eun Kyo yang mendengarnya langsung melepaskan pelukannya.

“Mianhae, sayang. Apa Eomma membangunkan mu?“  tanya Eun Kyo sambil menghapus air matanya. Berusaha mengontrol emosinya.

“Eomma, ka-kau… sangat menakutkan tadi.“  ujar Ryu Jin polos. Eun Kyo mengecup kedua pipi Ryu Jin dan membelai rambutnya.

“Mianhae, Ryu Jin~ah.“  jawab Eun Kyo lembut. Kedua tangannya mengangkat tubuh Ryu Jin, menggendongnya dan membawanya kembali kedalam kamar. Ia merasa sangat bersalah terhadap anak ini karena sudah membuatnya ketakutan dan melihat semua kejadian mengerikan itu.

-oOo-

Sungmin menyandarkan kepala serta punggungnya di depan pintu rumah Eun Kyo. Tubuhnya merosot kebawah, matanya terpejam rapat. Sejak tadi Ia tidak beranjak sedikit pun dari rumah Eun Kyo. Ia bisa Mendengarkan teriakan dan tangisan memilukan dari Eun Kyo. Rasa bersalah dihatinya semakin besar. Hatinya pun terasa perih mendengar wanita yang sangat disayanginya itu harus menangis karena dirinya.

 

Mianhae, seharus aku tidak mengingkari janjiku padamu Eun Kyo~ya. Kalau tau akan begini jadinya, aku

tidak akan pernah menemuinya.

Sungmin mengusap kasar wajahnya. Ia juga ingin berteriak sama seperti Eun Kyo. Tapi dengan cepat Ia mengurungkan niatnya itu. Ia lebih memilih menangis dalam diam.

Dreeett…dreettt

Getaran ponsel yang ada di dalam saku celananya memaksa Sungmin menghentikan tangisnya. Dengan enggan Ia mengambilnya dan langsung menekan tombol hijau dilayar ponselnya. Tanpa melihat nama ‘si penelpon’

“Yeoboseyo?“  sapa Sungmin dengan suara agak serak.

Oppa, gwenchana? Ada apa dengan suaramu, eoh?“  terdengar suara lembut seorang Yeoja disebrang sana. Setelah mendengar suara itu Sungmin menjauhkan ponselnya dari telinganya, Ia melihat kelayar ponsel. Setelah memastikan siapa ‘si penelpon’ itu Sungmin kembali menempelkan ponselnya ketelinga.

“Nan gwenchana. Ada apa kau menelponku?“  jawab Sungmin tidak bersemangat.

Oppa, bisakah kau membantuku?“  suara itu terdengar ragu.

“Marhaebwa?“

Oppa…..“

Sungmin menghala nafasnya berat. Perkataan yeoja itu –2 menit yang lalu –terus saja terngiang di telinganya. Ia bingung harus membantunya atau tidak. Tapi tangisan Eun Kyo dan suara tangisan yeoja itu memenuhi kepalanya. Sungmin meremas rambutnya frustasi. Frustasi menghadapi masalah ini.

“Apa yang harus aku lakukan?“  gumam Sungmin tidak jelas.

10.30 KST

Eun Kyo melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata, perasaan cemas dan takut mulai menghinggapinya. Mengingat percakapannya di telepon dengan Lee seonsaengmin –Guru Ryu Jin disekolah – 5 menit yang lalu. Eun Kyo memarkirkan mobilnya sembarangan di depan halaman sekolah Ryu Jin. Dengan sedikit tergesa-gesa Ia turun dari dalam mobilnya. Melirik sekilas jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia segera berlari kecil menghampiri seorang gadis yang sedang berdiri gelisah di depan pintu masuk.

“Ryu Jin Eomma, mianhae. Mianhe, seharusnya aku tidak sembarangan menijinkan siapapun untuk menjemput Ryu Jin.“  Sergah gadis itu penuh penyesalan setelah Eun Kyo berdiri dihadapannya. Eun Kyo menatapnya tidak percaya dengan nafas sedikit tidak beraturan.

“Katakan siapa yang membawanya?“  tanya Eun Kyo tidak sabaran dengan sedikit emosi. Ia benar-benar akan menjadi sangat sensitif dan mudah terbawa emosi bila itu mengenai anaknya. Ryu Jin.

“Namja itu yang sering menjemput Ryu Jin. Dia bilang kau sedang sakit dan Ia ingin membawa Ryu Jin pulang lebih cepat. Jadi aku mengijinkannya untuk membawanya pulang.“  jelas gadis itu panjang lebar. Eun Kyo melebarkan matanya setelah mendengar penjelasan itu. Ia memerlukan waktu sekian detik untuk mencerna ucapan gadis itu.

“Ryu Jin~ah, apa kau senang hari ini?“  Tanya seorang Namja dengan antusias.

“Mmhh…“  Gumam Ryu Jin sambil menganggukan kepalanya semangat. Tangan kecilnya sibuk menjejalkan es Krim kesukaannya kedalam mulutnya. Namja itu –Park Jung Soo – tersenyum senang. Ia merasa sangat bahagia hari ini karena dapat mendekap tubuh putranya. Berinteraksi secara langsung dengannya. Putra yang selama ini sangat dirindukannya. Putra yang sama sekali tidak pernah Ia sentuh, bahkan Ia nyaris tidak mengetahui keberadaannya. Ia sangat bersyukur kepada Tuhan karena masih memberinya kesempatan untuk bertemu dengan anaknya ini. Walau itu dengan cara yang sedikit ekstrim tentunya. Bisa dibilang Ia sedang menculik anak itu saat ini. Sebenarnya bukan Jung Soo yang menculiknya lebih tepatnya Lee Sungmin dan Kim Yoon Rin yang melakukannya. Tapi Ia tidak memperdulikan hal itu, karena Ia sangat menikmati kebersamaan ini. Ia juga ingin mengucapkan terima kasih kepada sahabatnya. Lee Sungmin. Yang selalu rela mengabarinya tentang perkembangan anaknya dan juga mantan istri yang masih sangat Ia cintai.

Semua ini berawal dari rencana Yoon Rin, Karena Ia sudah merasa putus asa memikirkan bagaimana caranya untuk mempertemukan Jung Soo dengan Ryu Jin, Ia ingin membuat Jung Soo tersenyum lagi. Ia sangat ingin melihat senyum itu sebelum semuanya berakhir. Ia sengaja meminta bantuan Sungmin malam itu dan menceritakan semua apa yang Ia ketaui. Awalnya sungmin menolak tapi Ia terus membujuknya. Sampai akhirnya kemarin siang Sungmin menelponnya, mengatakan bahwa Ia bersedia untuk membantu Yoon Rin  ‘menculik Ryu Jin’.

“Ryu Jin~ah, kau mau menambah es Krimmu lagi?“  kali ini suara lembut seorang yeoja yang menanyainya. Tangan yeoja itu –Kim Yoon Rin – sibuk membersihkan sisa-sisa es Krim yang masih menempel di mulut Ryu Jin. Bocah kecil itu menggelengkan kepalanya cepat.

“Ani, aku tidak mau lagi Ahjumma. Aku takut kalau Eomma tau aku banyak makan es Krim hari ini. Dia akan memarahi dan menghukumku.“  ujar Ryu Jin polos. Jung Soo yang mendengarnya tersenyum sambil mengelus lembut kepala Ryu Jin.

“Eommamu tidak akan mengetahuinya Ryu Jin~ah. App.. Ah, Ahjussi akan merahasiakannya dari Eommamu.“ ucap Jung Soo gugup. Yoon Rin menatap Jung Soo dengan sendu. Ia tau benar bahwa Jung Soo ingin sakali mengucapkan kata ‘Appa’, Ia juga ingin mendengar Ryu Jin memanggilnya dengan sebutan itu.

“Baiklah kalau begitu, kau mau mencoba permainan apa lagi?“  Yoon Rin berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba saja terasa canggung. Ryu Jin menatapnya polos.

“Yoon Rin~ah, apa tidak sebaiknya kita pulang saja dan mengantarkan Ryu Jin kembali? Aku takut Eommanya akan panik  karena mengetahui putranya menghilang.“

“Lagi pula kau harus istirahat. Wajahmu sangat pucat. “  ujar Jung Soo khawatir. Ia menatap wajah Yoon Rin yang semakin memucat saja setiap harinya.

“Aku baik-baik saja Oppa.“  Yoon Rin tersenyum lemah. Tangan kanannya menyentuh lembut punggung tangan Jung Soo. meremasnya pelan, mengisyaratkan bawa Ia baik-baik saja. Sebenarnya sejak tadi kepala sudah terasa pusing, begitu pula dengan dadanya mulai terasa sesak dan rasa mual yang sejak tadi menggangunya. Tapi Ia mencoba bertahan, Ia tidak ingin merusak kebahagian Jung Soo dan Ryu Jin. Ia tidak mau melihat kesedihan lagi diwajah Jung Soo.

“Apa kau yakin?“  Jung Soo memindahkan Ryu Jin kepangkuannya. Ia sedikit menggeser tubuhnya merapat kesamping Yoon Rin. Ryu Jin hanya menatap mereka dengan bingung. Ia lebih memilih diam dipangkuan Jung Soo. Memperhatikan sekeliling taman hiburan yang terlihat ramai.

“Kau tidak perlu khawatir, Oppa.“  jawab Yoon Rin dengan masih tersenyum. Jung Soo menyeka peluh di leher wanita itu dengan lembut. Membuat Yoon Rin sedikit tersentak dan menatap lekat wajah Jung Soo yang tersenyum lembut kearahnya.

 

Jangan lakukan itu Oppa. Kau semakin membuatku sulit untuk melepaskanmu. aku mohon!

Yoon Rin mengalihkan pandangannya kearah lain. Ia tidak sanggup berlama-lama menatap mata Jung Soo yang selalu saja berhasil membuat jantungnya berdetak tidak normal.

-oOo-

Eun Kyo mengatur nafasnya sejenak. Mondar-mandir dengan gelisah, menunggu dengan tidak sabar nada panggilannya terjawab.

Yeoboseyo?“  jawab suara disebrang sana.

“Katakan dimana Ryu Jin sekarang? Kau membawanya kemana, hah?“  sembur Eun Kyo langsung tanpa membalas sapaan orang itu.

Kyo~ya…“

 

Sungmin Oppa, tolong jawab aku. Kau membawanya kemana?“  Suara Eun Kyo mulai terdengar putus asa. Ia terlalu lelah untuk mengeluarkan emosinya saat ini. Lelehan air matanya mulai turun satu persatu dan  Terdengar helaan nafas disebrang sana.

Mianhae, Eun Kyo~ya. Mian, aku telah mengingkari janjiku…“  Baru saja Sungmin memulai penjelasannya tapi dengan cepat Eun Kyo menyelanya.

“Kau membawanya menemui Jung Soo Oppa?“

Ne. aku membawa Ryu Jin untuk menemuinya…“  Sungmin memberi jeda sebentar sebelum melanjutkanucapannya.

 

“Tapi Eun Kyo~ya, apa kau tau apa alasan Jung Soo Hyung menceraikanmu dan memilih untuk menikahi Yoon Rin?“  tanya Sungmin hati-hati.

“Aku tidak peduli dengan alasan mereka. Yang aku pedulikan saat ini hanya anakku.“  jawab Eun Kyo datar.

 

“Yoon Rin sedang sakit….“  Sebelum Sungmin menyelesaikan kata-katanya Eun Kyo sudah memutuskan panggilannya terlebih dulu. Ia tidak mau membuang-buang waktunya untuk mendengarkan hal tidak penting itu.

 

Sejenak Eun Kyo menatap layar ponselnya ragu. Tapi detik berikutnya tangannya dengan cepat  mengetik sebuah nomer. Nomer yang sudah sangat dihafalnya. Ia menghembuskan nafasnya pelan sebelum menempelkan benda persegi itu ketelinganya. Beberapa detik Ia menunggu dan Akhirnya Ia bisa bernafas sedikit lega karena mengetahui bahwa nomer itu masih aktif.

Yeoboseyo?“ 

“Kemana kau membawa anakku?“  Todong Eun Kyo.

Eun Kyo~ya, apa itu kau?“  suara disana terdengar memekik tertahan.

“Aku akan melaporkanmu kepolisi, jika kau tidak mengatakan di mana anakku sekarang juga.“  ucap Eun Kyo dengan nada penuh ancaman.

Kau tidak perlu khawatir. Aku akan mengantarkannya kembali padamu. Mian bila caraku terlalu kasar seperti ini, aku hanya ingin merayakan ulang tahunnya, Eun Kyo~ya. Dan…“

 

“Ahjumma!!! Kau kenapa?“  suara teriakan nyaring dari Ryu Jin menghentikan percakapan Jung Soo dan Eun Kyo.

“Ryu Jin~ah!!“  teriak Eun Kyo panik. Ia takut terjadi apa-apa dengan anaknya itu.

Yoon Rin~ah!!!“  Jung Soo juga ikut berteriak. Eun Kyo yang tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di sana hanya bisa berteriak memanggil nama Ryu Jin. Sebelum akhirnya panggilan itu terputus. Dengan kalap Eun Kyo masuk kedalam mobilnya dan melajukannya cepat. Detik berikutnya Ia baru tersadar. Kemana Ia harus menyusul Ryu Jin? Bahkan Ia belum sempat menanyakan ke Jung Soo tadi. Tapi Eun Kyo tetap melajukan mobilnya, berusaha berpikir kemana Jung Soo membawa anaknya dan tidak berapa lama Kebingungannya itu langsung terjawab, setelah sebuah pesan masuk keponselnya. Dengan cepat Ia membuka dan membacanya.

“Rumah Sakit Seoul?“ gumam Eun Kyo, perasaannya semakin panik. tanpa berpikir panjang Eun Kyo memutar arah mobilnya, Berbalik menuju Rumah Sakit Seoul.

Perjalan yang hanya membutuhkan waktu setengah jam saja untuk sampai di Rumah Sakit Seoul menjadi sangat lama karena jalanan di kota mulai macet. Eun Kyo mulai gelisah, berulang kali Ia menekan klakson mobilnya dengan tidak sabaran. Ia berdo’a dalam hati semoga tidak terjadi apapun pada anaknya.

Setelah berperang dengan kemacetan selama hampir satu jam lebih akhirnya Eun Kyo sampai juga di Rumah Sakit. Ia langsung melangkahkan kakinya menuju Ruang UGD. Langkah Eun Kyo memelan begitu sampai disana. Ia bisa melihat Ryu Jin duduk dalam pangkuan Sungmin –Yang entah sejak kapan sudah ada disana – tangan kecilnya memeluk Sungmin dengan erat, tubuhnya begetar dan sedikit terdengar isakkan kecil yang teredam karena bocah itu membenamkan wajahnya didada Sungmin. Sedangkan Sungmin mengelus lembut kepala Ryu Jin. Eun Kyo juga melihat Jung Soo yang terduduk lemas di depan pintu ruangan itu. Kedua tangannya menutupi wajah tampannya, Tubuhnya Juga sama seperti Ryu Jin. Bergetar, menahan tangis.  Eun Kyo tersentak kaget begitu melihat kemeja putih yang dipakai Jung Soo penuh dengan bercak darah. Tiba-tiba saja Lututnya  melemas dadanya juga terasa sesak. Entah mengapa tapi Ia memiliki perasaan yang buruk.

 

Yoon Rin sedang sakit….

Kata itu yang pertama kali muncul di otaknya. Kata yang Sungmin ucapkan sebelum Ia memutuskan panggilannya tadi.

“Eomma.“  panggilan Ryu Jin menyadarkan Eun Kyo. Anak itu segera turun dari pangkuan Sungmin dan berlari menghampirinya. Eun Kyo berjongkok kemudian mendekap Ryu Jin.

“Eomma… Hikss.. Hikss.. Yoon Rin ahjumma… Dia… Hikss..“  Ryu Jin tidak lagi meneruskan kalimatnya karena Ia lebih memilih untuk menangis dalam pelukan Eun Kyo.

Dreettt…dretttt

 

Jung Soo mengeluarkan ponselnya yang bergetar dari dalam saku celananya. Melihat sebentar nomer yang tertera dilayar.

 

“Yoon Rin~ah, aku jawab telepon sebentar, ne?“  ucap Jung Soo sambil mengangkat Ryu Jin dari pangkuannya, mendudukannya di samping Yoon Rin. Jung Soo berjalan sedikit menjauh dari mereka.

Sementara  Jung Soo menjawab teleponnya. Yoon Rin mengajak Ryu Jin membeli permen kapas. Tapi baru beberapa langkah menjauhi tempat duduknya. Rasa pusing yang dirasakannya sejak tadi bertambah parah. Matanya mulai berkunang-kunang, pandangannya sedikit kabur. Genggaman tangannya dilengan Ryu Jin terlepas. Karena tangannya sekarang memegangi kepalanya yang terasa sakit.

 

“Ahjumma, kau baik-baik saja?“  Ryu Jin menatap wajah Yoon Rin. Khawatir. Darah segar mulai keluar dari hidung Yoon Rin dengan deras. Yoon Rin menutupinya menggunakan tangannya yang lain.

 

“Oppa….“  gumam Yoon Rin sebelum akhirnya Tubuhnya ambruk, jatuh ketanah.

 

“Ahjumma!!! Kau kenapa?“  suara teriakan nyaring dari Ryu Jin menghentikan percakapan Jung Soo di telepon. Segera Ia menoleh kearah suara Ryu Jin.

 

“Yoon Rin~ah!!!“  teriak Jung Soo begitu melihat tubuh Yoon Rin terkapar di tanah. Jung Soo berlari menghampiri mereka dan langsung mengangkat tubuh Yoon Rin.

 

“Yoon Rin~ah, Ireona. Yoon Rin.“  Jung Soo berteriak panik. menepuk-nepuk pipi Yoon Rin, darah terus saja keluar dari hidungnya. Ryu Jin yang ada di sampingnya Jung Soo menangis memanggil-manggil nama Yoon Rin. Jung Soo menggendong Tubuh Yoon Rin menuju mobilnya. Sedangkan Ryu Jin mengekorinya dari belakang. Anak itu sedikit kualahan mengikuti langkah besar Jung Soo.

 

“Ryu Jin~ah, kau temani Yoon Rin Ahjumma dibelakang, ne?“  ujar Jung Soo sambil menuntun Ryu Jin masuk kedalam mobil juga. Anak itu hanya menurut saja. Duduk didekat Yoon Rin, tangan kecilnya memegang erat tangan Yoon Rin.

 

“Ahjumma… Hikss…“  ucap Ryu Jin masih sambil menangis.

 

Jung Soo langsung melajukan mobilnya menuju Rumah sakit. Di dalam perjalanan Ia menyempatkan diri untuk menelpon Sungmin dan juga mengirimi Eun Kyo pesan.

-oOo-

Tidak berapa lama pintu ruangan itu terbuka, terlihat seorang pria paruh baya berjas putih keluar dari dalam ruangan itu. Wajahnya terlihat sendu. Jung Soo dan Sungmin yang melihatnya langsung berdiri dari tempat duduknya masing-masing.

“Kim Seonsaeng, Bagaimana dengan keadaan Yoon Rin?“  tanya Jung Soo panik. Dokter itu hanya menggelengkan kepalanya dan menepuk beberapa kali punggung Jung Soo.

“Dia ingin bertemu denganmu, Tuan Park dan juga nyonya Park Eun Kyo. Apa Dia ada disini?“  begitu mendengar nama Eun Kyo, Sungmin dan Jung Soo menoleh bersamaan kearah Eun Kyo yang masih berdiri mematung dengan Ryu Jin yang masih terisak dalam pelukannya. Eun Kyo menatap mereka semua bergantian, Ia masih enggan untuk menghampiri. Sampai akhirnya Sungmin melangkahkan kakinya menghampiri Eun Kyo. Mengambil alih Ryu Jin ke dalam gendongannya. Walau dengan sedikit paksaan karena anak itu sempat menolak.

“Masuklah, temui Dia.“  Ujar Sungmin lembut. Eun Kyo menatapnya sekilas, wajahnya masih terlihat datar. Dengan ragu akhirnya Eun Kyo pun menuruti ucapan Sungmin. Berjalan menghampiri Jung Soo dan dokter itu.

“Aku Park Eun Kyo.“  Dokter itu mengangguk dan mempersilakan Jung Soo dan Eun Kyo masuk kedalam ruangan itu. Sebelum masuk Eun Kyo menoleh kearah Sungmin dan Ryu Jin. Sungmin tersenyum lembut dan menganggukan kepalanya. Meyakinkan Eun Kyo.

Jung Soo yang terlebih dulu masuk, hanya berdiri mematung sambil menatap Eun Kyo yang ada di belakangnya. Udara dingin dan bau Obat-Obatan yang kuat, bau khas Rumah Sakit mulai menyeruak menusuk indra penciuman Eun Kyo. Membuat kepalanya sedikit berdenyut nyeri. Langkah Eun Kyo memelan begitu melihat kearah sudut ruangan serba putih itu. Entah mengapa matanya mulai terasa memanas. Di sana terlihat seorang yeoja cantik tengah terbaring lemah dengan beberapa selang yang menempel di tangannya. Matanya menatap sendu kearah Eun Kyo kemudian tersenyum lemah. Eun Kyo sedikit mendongakan kepalanya. Berusaha menghalau air mata yang mendesak ingin dikeluarkan.

“Kemarilah, Eun Kyo~ya.“  ucapnya lemah. Sangat lemah. Bahkan suaranya hampir tidak dapat Eun Kyo dengar. Sejenak Eun Kyo terdiam, mengumpulkan keberaniannya untuk meneruskan langkahnya menghampiri yeoja itu. Sedangkan Jung Soo memilih membalikan tubuhnya menghadap ke jendela memunggungi kedua wanita itu. Ia tidak sanggup melihat keadaan yang menyakitkan ini.

Eun Kyo duduk dikursi yang ada samping ranjang Yoon Rin. Tubuhnya terasa kaku, sulit sekali untuk digerakan. Bahkan untuk menyapa atau sekedar menanyakan keadaan yeoja ini pun Ia tidak sanggup. Bibirnya terkunci rapat. Terlalu banyak yang Ia pikirkan. Yoon Rin masih saja menyunggingkan senyum manisnya. Yeoja ini masih terlihat sangat cantik walau wajahnya terlihat mengurus dan pucat.

“Eun Kyo~ya. Mianhae… jeongmal mianhae.“  ucap Yoon Rin. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku tidak tau harus mulai menjelaskannya dari mana kepadamu. Terlalu banyak yang ingin aku sampaikan, Eun Kyo~ya.“  perlahan air mata Yoon Rin mulai turun, sedikit mengaburkan pandangannya.

Eun Kyo menggigit bibir bawahnya dengan kuat untuk menahan tangis. Biar bagaimana pun Ia tidak akan pernah tega melihat sahabatnya terbaring tidak berdaya seperti ini.

“Maafkan atas ke egoisanku. maafkan aku, yang telah merebut Jung Soo Oppa darimu….“  Eun Kyo mulai terisak. Begitu juga dengan Jung Soo. Wajah tampan namja itu sudah banjir dengan air mata. Ia menangis dalam diam.

“Aku yang memaksanya dan memohon kepadanya untuk tetap disisiku, Menemaniku. aku hanya ingin sedikit egois dihari-hari terakhirku, Eun Kyo~ya. Hanya itu…“

“Kanker darah… itu yang menyebabkan aku berbuat egois kepada kalian.“ Eun Kyo tidak dapat lagi membendung air matanya. Perasaan sakit, marah dan kesal sedang mengaduk-aduk hatinya saat ini.

“Aku pikir setelah Jung Soo Oppa menikahiku, aku akan bahagia. Tapi pada kenyataannya tidak, karena ke egoisanku, aku justru merasa menjadi wanita yang sangat kejam dimuka bumi ini. Aku menyiksa perasaan kalian berdua dengan tetap mempertahankannya disisiku…“

“Aku sengaja menutup mata dan telingaku. Berpura-pura tidak mengetahui rasa sakitnya…“

“Apa kau tau? Dia tidak pernah sekalipun menganggapku sebagai istrinya. Dia selalu memperlakukanku sama seperti dulu. Sebagai sahabatnya. Dia tidak pernah menyentuhku, Eun Kyo~ya.“

“Setiap malam aku selalu mendengar dan melihatnya menangis, memandangi foto pernikahan kalian. Aku tau Dia selalu merindukanmu. Dia Masih sangat mencintaimu, Eun Kyo~ya.“

“Aku juga tau kalau selama ini Jung Soo Oppa mencari informasi tentangmu dan Ryu Jin melalui Sungmin Oppa. Dia selalu bersama kalian. Saat kau melahirkan Ryu Jin Dia ada di sana menemanimu. Selalu berdo’a untuk kalian.“

“Aku tau semuanya. Tapi aku tetap berpura-pura tidak mengetahuinya…“  Nafas Yoon Rin mulai tidak teratur. Membuat Eun Kyo khawatir. Eun Kyo mengulurkan tangannya, meraih tangan kanan Yoon Rin. Menggenggamnya dengan erat.

“Cukup! Kau sudah terlalu banyak bicara, Yoon Rin~ah.“  untuk pertama kalinya Eun Kyo bersuara. Yoon Rin tersenyum disela-sela tangisnya.

“Aku senang kau masih mau memanggilku seperti itu, Eun Kyo~ya. Aku selalu merindukannya…“

“Aku benar-benar minta maaf, Eun Kyo~ya.“  Air mata mereka sama-sama mengalir dengan deras. Hanya isak tangis yang terdengar di ruangan itu. Yoon Rin mengalihkan pandangannya kearah Jung Soo berdiri.

“Hey, Namja cengeng. Kau tidak ingin melihatku, eum?“  Jung Soo menggelengkan kepalanya dengan tetap memunggungi kedua wanita itu.

“Oppa, aku ingin melihatmu.“  Panggil Yoon Rin sekali lagi. Jung Soo menghapus air matanya dengan kasar, kemudian membalikan tubuhnya. Menatap Yoon Rin sambil tersenyum. Berjalan kesisi ranjang Yoon Rin dan duduk di tepinya. Yoon Rin meraih tangan Jung Soo dengan tangan kirinya.

“Mianhae, Oppa.“  bisik Yoon Rin lirih. Dan lagi. Jung Soo menggelengkan kepalanya. Air mata yang tadi sempat berhenti kini meyeruak kembali.

“Aku sangat mencintaimu, Oppa.“  ucap Yoon Rin lemah.

“Arra.“  jawab Jung Soo.

“Gomawo, kau sudah mau menjadi malaikat dalam hidupku…“

“Gomawo sudah mau menemaniku dan bertahan disisiku.“  Jung Soo menganggukan kepalanya sambil mengecup lembut punggung tangan Yoon Rin. Eun Kyo membekap mulutnya sendiri. meredam tangisnya yang semakin menjadi-jadi. Ia sangat menyesal tidak pernah mencari tau kenyataan ini.

“Aku senang kalian berdua, ada di saat-saat terakhirku.“  Yoon Rin mengerjapkan matanya yang mulai merasa berat.

“Dan… permintaan terakhirku, aku ingin kalian kembali lagi. Kembali untuk saling mencintai…“

“Kalian mau kan berjanji padaku?“  Nafas Yoon Rin terdengar memburu. Dadanya terasa sesak. Jung Soo dan Eun Kyo serempak menganggukan kepalanya. Yoon Rin menyatukan tangan Eun Kyo dan Jung Soo kemudian menggenggamnya.

“Awas saja Kalau kalian sampai mengingkarinya. Aku akan bangkit kembali dan mencekik kalian berdua.“   Yoon Rin terkekeh pelan.

“Aahh, Aku sudah sangat lelah, boleh aku tidur sakarang?“  Yoon Rin menatap Eun Kyo dan Jung Soo bergantian.

“Mmhhh… Tidurlah bila kau sudah merasa lelah.“  Bisik Jung Soo. tangan kirinya mengusap lembut rambut Yoon Rin.

“Aku sangat menyayangi kalian.“  gumam Yoon Rin, matanya menatap langit-langit ruangan itu dan perlahan mulai tertutup. Nafasnya pun mulai melemah. Tapi genggaman tangannya masih erat.

 

Hey, malaikat tampan? Apa Kau sudah lama menungguku? Mian, aku terlalu banyak bicara sampai melupakanmu. Kajja, aku sudah siap ikut denganmu. Aku sangat lelah dan ingin cepat beristirahat. Apa di tempatmu aku bisa beristirahat dengan tenang?

Perlahan genggaman tangan Yoon Rin mulai melemah dan terasa dingin. Nafasnya juga sudah tidak berhembus lagi. Detak jantung dan denyut nadinya sudah berhenti total. Yang tertinggal di sana hanyalah senyum manis di wajah cantiknya.  Jung Soo dan Eun Kyo menyadari kepergian Yoon Rin. Eun Kyo tetap duduk ditempatnya sambil menangis keras. Sedangkan Jung Soo mencondongkan sedikit badannya kearah tubuh Yoon Rin. Mengecup lembut kening Yeoja itu.

“Kami juga sangat menyayangimu, Yoon Rin~ah.“  bisik Jung Soo tepat di telinga Yoon Rin. Kemudian beralih menatap Eun Kyo. Dengan cepat Jung Soo menarik Eun Kyo ke dalam pelukannya. Mendekapnya erat, membiarkan wanita itu menangis di dadanya.

Diluar Ruangan itu Lee Sungmin juga meneteskan air matanya. Ia melihat kejadiaan itu, Walau Ia tidak mendengar percakapan mereka tapi Sungmin tau kalau Yoon Rin telah pergi meninggalkan mereka.

Aku akan merindukanmu, Yoon Rin~ah!

-oOo-

Terima kasih Tuhan, karena KAU telah mengirimkan, malaikat kecilmu untukku. Dia malaikat kecil yang tumbuh dewasa, yang membuka mataku pada dunia. Tidak hanya sekedar dunia, sisi yang sempat aku butakan dalam diriku, kini terlihat jelas olehnya. Ketika rasa sakit ini terkadang datang kembali, semuanya hilang, ketika melihatnya tersenyum.

 

Tuhan, Engkau juga memberikanku ketenangan lewat kehadirannya dalam kehidupanku. Ketika semuanya terlihat gelap, ada cahaya kecil yang menyinari kegelapan itu. Dia datang seperti malaikat yang Engkau hadirkan dalam hidupku. Ketika aku terjatuh Dia selalu mengulurkan tangan mungilnya untuk ku raih. Ketika aku bersedih, Ia selalu siap menghiburku dengan semua tawa candanya yang begitu polos. Ketika aku berada dalam titik jenuhku, Ia selalu siap datang dengan celotehannya yang lucu dan menggemaskan. Dan ketika aku menangis, Dia selalu ada untuk aku dekap erat dengan kasih sayang. Jika ada orang yang buta, melukainya dengan kata-kata bahkan dengan sentuhan, aku yakin mereka adalah orang-orang yang sakit. Aku selalu berdo’a agar Dia selalu ada dalam lindungan-MU.

 

Tuhan, Aku bersyukur dengan segala pelajaran yang telah Engkau berikan padaku setiap harinya, ketika aku belajar mencoba sesuatu yang belum pernah aku coba. Lalu aku terjatuh dan aku belajar untuk bangkit, lalu aku menyesal, dan aku belajar dari kesalahan-kesalahanku, lalu aku bersyukur atas semua pelajaran yang kau berikan dalam kehidupanku. Sampai Akhirnya Engkau berikan aku Cinta dan seorang malaikat kecil. Malaikat yang sangat aku cintai. Yang kuceritakan disetiap do’a dan curahan hatiku, aku bersyukur Eungkau telah mengijinkan aku untuk menjaganya dalam genggaman tanganku. Engkau ijinkan aku melindunginya dalam pelukanku.

 

Thanks God, I Love My Little Angel, Park Ryu Jin.

22.50 KST

Eun Kyo tersenyum begitu menyelesaikan tulisan terakhirnya, matanya melirik sebentar kearah sofa. Di sana terlihat malaikat kecilnya  sudah tertidur pulas dalam dekapan hangat seorang Namja. Namja yang selalu Ryu Jin tanyakan keberadaannya. Namja yang selalu Ryu Jin rindukan kehadirannya. Namja yang dua bulan lalu baru bisa dipanggilnya dengan sebutan Appa. Park Jung Soo. Namja itu juga  ikut tertidur lelap disamping Ryu Jin. Eun Kyo mematikan laptop miliknya kemudian beranjak dari duduknya, menghampiri kedua malaikatnya itu.

Eun Kyo memperhatikan wajah keduanya, terlihat sangat tenang. Ia Tersenyum lega. Lega karena pada akhirnya semua bisa kembali seperti keadaan semula. Walau Ia juga masih merasa sedih karena harus kehilangan sahabatnya. Tapi Ia tetap merasa bersyukur karena Tuhan masih memberinya kesempatan untuk membahagiakan malaikat kecilnya. Perlahan Eun Kyo membungkukan badannya, Mengecup pelan pipi Ryu Jin.

“Jaljayo, sayang.“  Bisik Eun Kyo lembut.

“Kau tidak ingin menciumku juga, Yeobo?“  suara serak Jung Soo, mengejutkan Eun Kyo.

“Kau belum tidur Oppa?“  tanya Eun Kyo sambil memperhatikan wajah Jung Soo. mata namja itu masih terpejam tapi bibirnya tersenyum tipis.

“Tadinya sudah, tapi… wangi Tubuhmu mengganggu tidurku.“  bisik Jung Soo tepat diwajah Eun Kyo. Matanya sudah terbuka sempurna.

“Benarkah?“  Eun Kyo tersenyum menggoda. Dengan gerakan cepat Jung Soo menarik tengkuk Eun Kyo. Menempelkan bibirnya dipermukaan bibir wanita yang sangat dicintainya itu. Menekannya sedikit kemudian melumatnya lembut.  Hanya beberapa detik saja, perlahan Jung Soo melepaskan ciumannya. Menempelkan dahinya kedahi Eun Kyo, Menatap mata Eun Kyo dalam.

“Saranghae.“  bisik Jung Soo.

“Aku sudah tau, Oppa.“  balas Eun Kyo sambil tersenyum.

Kembali bibir mereka saling tertaut, semakin dalam Menikmati kebersamaan yang indah ini. Sampai…

“Eomma…!!“

BRUKKK

“ Op-Oppa lepaskan, Ryu Jin… “

“Aish..“

 

END

Note      :  Gyahahahhaha…. FF macam apa ini? Entahlah, saya sendiri juga tidak tau!!!  -___- “

 

Fika Onnie, Mianhae kalau ceritanya sangat amat aneh, ngelantur tidak jelas arahnya. Apa lagi Endingnya Noh ANCUR BANGET!! abis ide saya udah mentok, sementok-mentoknya (?) Onn. Saya kan udah pernah bilang ya kalau saya kaga berbakat dalam tulis menulis. Tapi demi Onnie, saya usahakan walau hasilnya bantet (?) begini…. Jahahaha. Mian juga, karena saya udah menyiksa dirimu di sini Onnie dan saya juga sedikit menistakan Jung Soo Oppa. Mianhae, Oppa!! Sepertinya tanpa sadar saya sudah merusak TeuKyo Couple disini *nyengir* Tapi kayanya kaga terlalu menyiksa dan merusak juga sih yah Onn. *plakk* kekekeke~

 

Sebenernya saya kaga berniat buat mengikut sertakan FF ini di kuis Onnie. Karena sangat memalukan. Hajiman…

Berhubung tanggal 7 kemarin ultah Uri Ryu Jin, jadi anggaplah ini hadiah buat Ryu Jin. Hadiah terburuk yang pernah ada yah Ryu? Hehehe. Mianhae, Sayang!! Harap dimaklumi ya, karena ini FF pertama Noona yang bisa Noona tulis sampe selesai  *curcol*.

Noona hanya ingin ikut meramaikan kuis Eommamu saja, sayang. Mau menang atau kalah itu mah urusan belakangan. Biarkan Tuhan yang menentukannya.  Ekh, salah deng! biarkan para Readers dan juri yang menentukan.

Kalau ada yang mau baca ya syukur Alhamdulillah, kalo kaga ya saya mah pasrah sajalah, nanti biar saya sendiri aja yang baca dan juga komen…. Buahahahaha

bolehkan Onnie?! *maksa*

Yaudah deh Onn, saya rasa Notenya udah kepanjangan. *baru nyadar*

 

Bagi yang udah mau baca, saya ucapkan.

 

Gamsahamnida ^ ^

 

Cekup basah dan peluk mesra dari saya, Wanita yang sangat DICINTAI Lee Hyuk Jae. LOL

Jahahahaha

*kabuurrrr*

33 responses »

  1. hi hyun eun onnie…
    aku penggila teukyo disini..
    hihi.. min seul imninda, istri cantik si kyuhyun yang tampan… hihihi… salam kenal ya..😛

    congratz uda menang.. ^^
    yuhuuii.. cd spaii.. hiks, aku jg pgn.. haha..

    aku bgg mo komen apa..
    aku suka ffnya, cm karna akunya yang maruk, aku cm mrasa adegan teukyonya aga kurang.. hihihi..
    tp overall, smua bagus..
    aku suka romancenya.. hihi..
    katakternya eunkyo pas bgt disini,
    cuma jungsoonya kurang dibahas, dan agak lemah karakternya..
    tp aku suka..
    mian komennya ga jelas, ngalor ngidul /plak..
    skali lagi, chukahaeyo uda menang..

    • Ne, salam kenal jg Min Seul~ah ^^
      Ciee…ciiee bini’a bang epil nih?! Klo gitu sya Titip salam deh ych wat si Oppa…kekekekeke

      Gomawo, udh mao baca ^^

  2. cantik^^ ceritanya bener2 mengesankan.. hahh… aku suka bagian dimana eunkyo frustasi takut kehilanga ryujin, disana emosinya bener2 kental, berasa banget perlindungan eomma ke anaknya, dan aku jadi teringat eomma ku..

    ryujin quotes:
    i love my mom
    i love my dad
    and i love happy family.. <3<3

  3. tidaaaak, Lee Hyukjae hanya milikku seorang
    #plak #dikroyokjewels

    ceritanya bikin nyesek,
    sempet mewek juga tdi, untung ada hyuk oppa yg nenangin aku #dilemparsendalmahae

    • YAk! Lee Hyuk Jae, sebenar’a istrimu itu ada berapa, Hah?!
      *cakar2 si monyet*
      Awas kau Oppa, nanti malam tidak akan dapat jatah!! *tutup pintu*
      Hahahahaha
      *sarap*

      Gomawo, yah udh mao baca ^^

  4. eonni… Eonni…. Q berdebar2 baca FFmu. Ckckc…..,, Cerai???? Ya Alloh oppa, cuman gara2 Yoo rin sakit kau mau mnceraikan Eun Kyo Eonni. Huft~ kau itu trllu bodoh atau baik eo??? Atau kau memang menyayanginya???? Ya walaupun mungkin ng’ cinta. Tp sayang sprtimnya ada. Ah… Klo q minta Oppa buat nikahin q krn q sakit keras. Oppa mau ng’????? Kekekeke……

    Hyun Eun Eonni #PLAK… Sok akrab#.

    Q suka ma FFmu…. Emmm….. Kata2 pa ya yg tepat. Ah… GEREGETAN….. Sumpah,,, q gregetan banget ma semua tokoh. Tp, seru hehehehe…

    Untung ja Endingnya ttp sma Eun Kyo. Klo tidak….. Wah…… Pasti q akn ngebuat oppaku trsayang tu nyusul istri ke-2nya di alam sama…..

    Ah…. Q tdk bs brkata2 apa2 lagi. Pokoknya FFmu KERENNNNNN bwanget Eonni.>.<"

    • Iya si Oppa kan emang bodoh….kekkekeke *d’cincang fika Onnie*
      Eoh, kamu mao nikah sm Jung Soo Oppa?!
      Gampang Syarat’a cuma satu ko, langkahin dlu mayat’a HeeBum *d’bakar Chulppa*
      Hahahaha

      Gomawo, yah sayang udh mao baca ^^

  5. This story is dedicated to every mom in the world *ngomong pake gaya Leeteuk~ssi di From U*
    Eh, siapa saya yang main dedicate seenaknya ya? fufufufufu
    Really, chemistry paling kuat itu malah antara Ryu Jin sama Eun Kyo. See, kalo punya anak, pasti cintanya lebih ke anak. (sotoy…belum punya suami juga, anak apalagi…)
    Semua karakter disini mengambil tindakan berdasarkan rasa cinta. Eun Kyo, Jung Soo, Yoon Rin, Sungmin, semua yang mereka lakukan atas nama cinta. Beruntung sekali kamu Ryu Jin di cintai oleh orang sebanyak itu. Love them also ya dear. Huahhh, aku suka Sungmin~ssi. (sebenarnya aku juga suka Kyuhyun~ssi, Hyukjae~ssi, Donghae~ssi, Heechul~ssi, oke..aku suka semuanya!)

    Mau ngaku, saya sempat menitikkan air mata bacanya. Nista banget ni pagi-pagi mewek. Di kantor pula. tapi mau gimana lagi, Kim Hyun Eun~ssi bikin cerita ini dramatis. kalau Fika Eonnie gak memenangkan ff ini, biar saya teror beliau dengan message dan surat kaleng bertubi-tubi. Congrats ya Hyun Eun~ssi! You deserve it. This fanfic is AWESOME!

    Love this! Okesip, sepertinya ocehan saya sudah sepanjang ff chapter. kabur dulu.

    • Eo, ini Author Blue Romance yah?!
      aduh terima kasih yah, udh mao nyempetin wat baca FF aneh nie!!
      Padahal sya sndiri lom baca FF kamu, tp tenang tar pasti sya baca ko,

      Gomawo, yah udh mao baca ^^

      • Knp bilang tlisan sendiri aneh Hyun Eun-ssi? Cintai tlisanmu dong, ntar tlisannya ngambek kalo d blg aneh.

        fanfic ini bgus bgt lg. Menceritakan mcm2 cinta dlm 1 cerita. Aku suka bgt!

        eo? Udah bca Blue Romance ya? Haha, pasti bingung t.😀

  6. aih, aq paling g’ ska ma cwe kyk yoon ri itu, menggunakan penyakit untuk bisa mendapatkan semua yg dy mau,
    trus apa”an itu, seenaknya bilang ngembaliin jungsoo ma eunkyo, emang jungsoo barang yg bsa dpinjam n dikembalikan saat dy dah g’ butuh lg, *emosi. kalo aq jd eunkyo neh, aq g’ bkal dgn mudah nerima jungsoo, kmrn dy ninggalin eunkyo trus skrg dgn mudah masuk kehidupan eunkyo lg, cinta mati seh cinta mati, tp g’ segampang itu jg kali *makin emosi

    eh y, bukannya klo seorang istri lg hamil g’ bsa digugat cerai yah,,?? *sotoy

    ah, aq lupa kenalan, hai kim hyun eun, aq puu/putri/heerin istri tercintanya choi siwon,kkkkkk salam kenal ne, kmu punya fb/twitter/whatsapp to aq boleh mnta nope.nya..?? aq mw knal lbh dkt ma teukyo fam,hihihihi….mian klo komen aq kyk geto, maklum klo org lg galau tengah malam mah jd eror geto, tp ff.nya mang bgus bgt, g’ salah milih neh para juri, diksinya keren, emosinya dapet bgt, karakter castnya jg dapet, aq suka suka suka, cba lebih panjang, psti lebih seru,hehehe

    • Waduh, sabar Onnie, sabar!!! Jangan esmosi!!
      Sya jg kga suka sm Yoon Rin tp mao gmna lg ya klo kga ad Dia kan nih FF kga jd…hehehehe

      Oh iya, Salam kenal jg putri Onnie,
      Diah/Hyun Eun imnida, sya gadisnya Lee Hyuk Jae si monyet yadong!!…wahahahaha
      *ngaku2*

      Waaahh hayuuu atuh Onn klo mao kenal lebih deket mah, sya mao bgd!!
      FB Onnie apa?! Nanti biar sya yg add,
      Klo mao WA sm nope sya, jg boleh, twitter jg ada!! Tinggal d’pilih Onn, mao’a yg mna?! kekekekkeke

      Gomawo, yah Onnie udh mao baca ^^

  7. Hiks..hiks… ;(
    aq ampe nangis bnrean bcany..
    Fill ny krasa bgt..
    Daebak..
    Fufufuu komen aj aq msh btuh tisu nih,, hiks,, msh trsa sdhny..
    Huwaaaa,,, bnran sdih,, jinja daebak …
    2 thmb’s up

  8. hiks. hiks. hiks….
    #mewek di pundak Kyu

    kyaaaa…. ini keren sangat….

    tanggung jawab chingu bikin w nangis. gak mau tau pokoknya tanggung jawab,
    g bisa berenti nih air mata kalo lum dibawaain Kyu ke depan w…
    *abaikan. khekhekehe.

    ieh, asli keren gilla ni ff.
    Eun Kyo eonni… kenapa kau hobi sekali menyiksa hatimu eoh ?
    kasian khan jungsoo oppa juga harus merasakan dampaknya

    n jungsoo oppa, hatimu terbuat dari apa sih ? koq bisa baik bangged.
    rela gitu korbanin kebahagiaannya sendiri, demi masa2 sulit sahabatnya..

    pokok’e DAEBAK dah chingu…
    8 jempol buat dirimu.
    #empat jempolnya pinjem jempol Kyu.😛

  9. DAEBAK…

    suka ama ceritanya pokoknya dua jempol buat ni ff…

    awal cerita liat karakter jungsoo bikin gemes pas akhir cerita udah g gemes lg malah salut ama oppa…

  10. hi, aq mao komen nih,,
    ffnya bagus, idenya dapet, sedih bgt bayangain ibu yg besarin anaknya sendiri tanpa seorang suami d saat2 tersulit,, aq nangis bacanya thor,, kasih jempol. tapi ada beberapa poin yg aq kurang setuju sih sm ff inih,,

    ini pendapat pribadi ya, jd tolng jgn tersinggung,, soalnya ini emg murni aqnya aj yg rada egois,, hehe #plaak
    klo aq jadi eunkyo, aq g bakal mau balik tuh ama jungsoo, karena dia udah ninggalin aq ‘dengan alasan apapun’ jg aq ga bakal mau. walau demi kemuliaan (menolong orng yg mau meninggal) tapi ngga gitu dong caranya, klo gw yg mati duluan wkt ngelahirin gmn?klo tb2 bsok ketabrak trus mati gmn? ga mikir tuh si jungsoonya? kan umur orng TUHAN yg tau *emosi*,,,
    yang kedua, ‘saya ini bukan pilihan’ ya, jadi klo dia ninggalin saya, ya berarti dia udah milih orng lain, klo menderita ya itu urusan yg ninggalin dong,, terima aja tuh rasa sakit gr2 udh ninggalin orng seenaknya,,*sebel*
    buat eunkyonya disini, aq kasihan bgt, dia lebih menderita berkali2lipat dr jungsoo, ud 4th lebih jd orngtua tunggal,, cr duit sendiri buat anaknya,, eh, si jungsoo cuman nangis2 aja tiap malem,, hello,, itu salah qmu sendiri ya, siapa yg ninggalin, jd rasakan sendiri penderitaanya,, buat yoonrin, klo qmu nyesel seharusnya ya qmu dr thn2 awal kek tobatnya,, jgn ganggu2 rumah tangga orng lain, inih malah diterusin ampe bertaon2,,

    maav ya thor, klo kebawa emosi, berarti yg bikin pinter nih, sampe bikin aq emosi gini,,abaikan aja komenku yg ga jelas inih,, hahahak,,
    intinya aq suka ama ffnya cuman gemes bgt liat jungsoonya yg bagiku disini pengen bgt saya gampar,, *ditendang ELF*
    sekali lagi gud job buat authornya, teruslah berkarya!! ^^

  11. Sebagai reader saya juga ucapkan terima kasih karena sudah menyuguhkan bacaan yang bagus seperti ini,

    tapi saya tak akan membagi Hyukjae oppa #plak
    kekekekeke

  12. uooo ff pertama ya chingu? tapi ini seperti ff author yg sudah berpebgalama.. ㅋㅋㅋ kau sangat berbakat chingu, idenya cukup keren cara penyajiannya juga.. Hwaiting ya🙂

  13. Emang yah Diah ni kl bikin epep bawaannya bikin orang mewek….
    Huwaaaa…..kagak ngebayangin jd eun kyo…..diceraiin dalam keadaan hamil gr2 cewk lain…..sumpah sakiiiiiitttt hati ini…..
    Dan salut ma karakter eun kyo jg d sini….bisa yah dy maafin mreka…..kl aku mikir seribu kali deh bwt maafin ato balikan lg ma misua macam ntu meskipun ntu cewk mau mati….sory dory mory deh kl akuuuuu….hohooo….#kezam

  14. coba lg ah!
    Diah,sumpah ne epep bkin xesek bgt!
    kalo q jd Kyo mngkn q bkal te2p benci m Yoon Rin!
    shbt mcm pa dy yg tga ngrebut suami shbtx sndiri?
    wlpn dy puxa pexakit mematikan,dy g bhak bsikap jahat ky gt!
    Jungsoo jg,np dy mw ngorbanin istri n ankx dmi cwe lain aplg dy shbt istrix ndri!
    g kbyng de gmn sktx Kyo slma 4th lbh ngebesarin Ryu sndiri aplg suamix nikah m shbtx ndri!
    buktix dy jg g bs bhagia kn,malah bkin smw phk skit tmasuk dy sndiri!
    pdhl dy bs bhagia nglyt shbt m orng yg dy cintai bhagia! that’s a simple live!
    hadeh,koq q jd emosi gn y Di!hahaha
    yasudlah,q mw bc epepx Feb unn dl!
    Bab-bay!
    btw,ne epep mang pnts menang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s