FF Contest : Blue Romance

Standar

AUTHOR : ELBY

Angin musim gugur berhembus lagi. Dinginnya perlahan mulai merayapi pori hingga ke sendi. Gadis itu merapatkan sweater yang membalut tubuh kurusnya. Bibirnya yang memucat bergetar menahan dingin yang merasuk. Pucuk dedaunan dari pohon di pinggir danau bergoyang perlahan mengikuti hembusan angin yang sama dengan angin yang meniup tubuhnya. Ia berdiri disana. Memandangi kilauan air danau yang meredup tanpa cahaya matahari.

“Dingin sekali…” sebuah suara terdengar di telinganya. Gadis itu tersenyum simpul.

“Kau selalu berkata begitu jika musim gugur tiba,” dia menyahuti. Suara yang menemaninya. Hanya suara tanpa wujud. Hanya halusinasi yang tak kunjung surut. Ia menikmatinya. Bermain dengan halusinasi yang masuk dan menguasai nyatanya. Gadis itu tidak keberatan. Sama sekali tidak. Jika hanya bisa memilikinya dalam halusinasi pun dia akan pernah keberatan. Dia justru menikmati suara bayangan itu.

“Kau terlalu kurus. Angin ini bisa menerbangkanmu…” celetuk suara itu. Si gadis terkekeh.

“Kalau aku terbang terbawa angin, apa kau juga akan ikut terbang bersamaku?” tanyanya. Suara itu mendengus.

“Mau tidak mau. Kalau kau menghilang, aku juga akan sirna. Kau satu-satunya alasan kenapa aku ada,” kali ini gerutuan yang terdengar dari suara itu.

“Kau keberatan?” gadis itu bertanya dengan mata yang masih menatap lurus ke danau. Hening. Tidak ada jawaban. Gadis itu menaikkan alisnya. Suara itu pergi?

“Kau keberatan?” Ah, tidak pergi. Suara itu hanya menayakan hal yang sama.

“Keberatan?” bibir pucat milik gadis itu bertanya.

“Keberatan dengan keberadaanku. Aku mengacaukan otakmu kan?” sahut suara itu. Gadis itu menggeleng.

“Aku tidak bisa memilikimu di nyataku, jadi memilikimu dalam imajinasiku saja tidak masalah,” dia tersenyum. Bibir pucat itu bisa menyunggingkan senyum manis. Senyum Artemis yang membuat musim gugur ingin segera beranjak pergi dan berganti dengan musim semi tanpa perlu bertemu musim dingin dan musm panas.

“Kau tidak bisa melihatku?” kembali suara itu bertanya dan senyum kembali tersungging di bibir pucat itu. Saat warna pucat itu pudar, bibir itu pasti terlihat lebih menawan. Sebuah lengkungan yang sempurna.

“Aku bisa merasakan keberadaanmu,” dia menyahut. Terdengar seperti menyimpan beban puluhan ton di dadanya. Tidak bisa beranjak. Tidak bisa mengalir di bawa air mata.

“Maafkan aku…”bisik suara itu sayup. Angin menerbangkan getaran suaranya melewati pucuk-pucuk daun yang menguning di musim gugur. Tapi angin tidak bisa mengangkat beban itu. Masih kokoh berdiri disana. Sekokoh puncak everest, namun tidak beku, tidak dingin. Hanya saja tidak hangat. Menyesakkan. Dan sosok itu harus berdamai dengan rasa sesak dan menekan di dadanya. Entah sampai kapan.

****************

Eun Kyo POV

“Yha yha…Park Jung Soo! Berhenti memacu mobilmu sekencang itu!” teriakan dan cubitanku di lengannya hanya membuat lelaki ini terkekeh tanpa mengurangi pijakannya pada pedal gas. Mobil itu masih melaju membelah jalanan yang di sinari redup cahaya lampu penerang. Aku tidak berani melirik speedometer. Hanya akan membuatku serangan jantung nanti.

“Kalau tidak cepat sampai, Appa-mu akan membunuhku. Ah, tidak..lebih parah lagi, dia akan membatalkan pernikahan kita,” lelaki di sebelahku ini menyahut santai. Matanya melirikku sesekali.

“Kalau seperti ini caramu mengendarai mobil, bukan Appa yang akan membatalkan pernikahan ini, tapi aku!”seruku kesal. Seruan itu berhasil membuat kecepatan mobil ini berkurang, dan akhirnya berhenti sama sekali. Aku terkejut. Dia berhenti di tengah jalan, bukan di bibir jalan. Cepat ku tolehkan wajahku pada lelaki ini dan memandangnya heran.

“Kenapa berhenti disini?”

“Kau….kenapa kau bilang akan membatalkan pernikahan kita?” mata dengan sorot lembut dan menyejukkan itu menatapku dalam-dalam seakan menembus retinanya dan terus menuju otakku seakan ingin membaca semua yang tertulis disana. Tidak ada senyum dengan cerukan kecil di sudut bibirnya. Hanya ada wajah serius yang sama sekali tidak mengurangi pesona pemilik wajah ini. Wajah serius ini, wajah yang sama dengan wajah di saat dia meminta hatiku dan seluruh hidupku. Dia tunanganku, Park Jung Soo.

“Kalau kau membawa mobil ini secara serampangan, bisa saja kita menabrak atau apa. Belum lagi jantungku, kau mau jantungku berhenti berdetak karena kau tiba-tiba mengerem mendadak?” omelan yang keluar dengan lancar dari mulutku ini hanya untuk menenangkan debaran jantungku yang meletup-letup setiap kali mendapatkan tatapan dalam dari matanya.

“Bagaimana mungkin aku ingin jantungmu berhenti berdetak? Detakan jantungku ada padamu. Dan selama kau hidup, aku akan tetap hidup Eun Kyo~ya. Jadi aku tidak akan membiarkan hal yang buruk terjadi pada satu-satunya alasanku untuk hidup,” kalimat yang meluncur dari bibirnya singgah di telingaku menyerupai dentingan piano yang memainkan alunan nada milik Beethoven, Bach, Mozart, dan Vivaldi secara bergantian. Indah. Menghanyutkan….

“Baiklah…karena Ny. Park ingin menghabiskan waktu lebih lama denganku di dalam mobil ini, maka aku mengabulkan keinginannya untuk menyetir pelan-pelan. Your wish my command, Lady….” Senyum simpulnya menarik tanganku untuk mendarat pelan di lengannya. Bibirku tertarik untuk ikut mendaratkan kecupan ringan di sudut bibirnya. Tepat pada cerukan kecil yang terukir sempurna saat dia tersenyum.

“Saranghae…” bisikku. Dia meringis.

“Aish, jangan menggodaku di saat begini Ny. Park. Aku bukan malaikat. Bisa-bisa kita tidak sampai kerumahmu nanti,”

“Jangan macam-macam! Cepat jalan..”

Sudut bibirku tertarik saat mengingatnya. Selalu begitu. Semua kenangan tentangnya tercetak dengan jelas di setiap sudut otakku. Semua kata-katanya tergrafir sempurna dalam memoriku. Aku meraba dadaku dan merasakan jantungku masih berdetak di sana.

“Jung Soo~ya…jantungku masih berdetak. Aku masih hidup,” aku berucap pelan. Hembusan angin menyapa lembut di pipiku. Membawa wangi mountain mint yang selalu tercium dari tubuhnya.

“Aku juga. Aku akan tetap hidup, selama kau masih hidup Eun Kyo~ya….” sahutan itu mampir di telingaku. Aku tersenyum kecil.

“Ne, aku akan tetap hidup. Aku sudah berjanji padamu untuk tetap hidup….. Untukmu….”

Kilasan kejadian itu kembali menyerang otakku. Janjiku. Kalau bukan karena janji itu, aku pasti sudah menghentikan detakan jantungku dan aliran darahku saat itu juga. Saat melihat dia mengerang kesakitan. Saat nafasnya mulai menyerah dan detak jantungnya melemah. Saat tubuhnya terbujur bersimbah cairan kental berwarna merah di jalanan, dan aku tidak bisa melakukan apapun. Aku hanya bisa mendengarkannya berbisik membuatku terhenyak. Namun tidak ada yang bisa kulakukan selain mengangguk.

Kepalaku di serang nyeri hebat tak berkesudahan. Bau bensin meyeruak menumpulkan indraku namun tetap tidak bisa menutupi bau amis yang mampir di hidungku. Dan yang membuat aku melumpuh adalah ketidak berdayaanku untuk menariknya dalam pelukanku. Aku terlalu lemah. Kesadaranku menghilang, menyisakan bayangannya yang masih menyunggingkan senyum menenangkan untukku.

Dadaku kembali sesak. Kecelakaan itu. Mobil berputar-putar. Tubuhku terhempas. Tubunya terbaring. Itu satu-satunya kenangan dengan dia yang ingin aku hapus tapi tidak bisa. Tidak pernah bisa. Karena itu kenangan terakhir yang aku punya tentang dia. Wajah terakhirnya yang bisa aku ingat. Aku selalu ingin menangis. Tapi bahkan tidak ada satu tetes air matapun yang mampu aku hasilkan. Air mataku mengkristal. Satu-satunya yang aku punya saat ini hanyalah suaranya dan kenangannya.

“Eun Kyo~ya….” suara itu menyadarkanku. Suara Jung Soo yang selalu muncul di sekitarku. Di otakku. Mungkin dari alam bawah sadarku.

“Hm?”

“Kau masih bisa mengingat janji itu?”

 Aku tidak menjawab. Pertanyaan bodoh Jung Soo.. Tentu saja. Aku mengingat janji itu. Janji yang jadi satu-satunya alasan aku mempertahankan keberadaanku di dunia setelah sumber hidupku hilang. Janji padamu Park Jung Soo…

“Apapun yang terjadi nanti, tetaplah hidup untukku Park Eun Kyo. Berjanjilah kau akan tetap hidup…” kata-kata terkahir yang aku dengar sebelum kesadaranku memudar saat itu.

**************

“Bagaimana keadaannya dokter?”

Pria itu bertanya pada sosok berjas putih yang berdiri di kanannya. Tapi matanya sama sekali tidak memandang dokter itu, melainkan lurus ke depan. Tertuju pada gadis bergaun putih yang sedang duduk sendirian di ayunan.

“Dia…menciptakan dunianya sendiri. Terjebak antara halusinasi dan realita. Tidak bisa membedakan yang mana yang nyata ataupun tidak. Alam bawah sadarnya seakan menolak untuk melihat yang sangat ingin dia lihat Tuan Park,” sang dokter menyahut. Dia juga memandang gadis cantik itu. Gadis cantik yang terlihat baik-baik saja. Dia terlihat berbeda dengan pasien lain yang pernah di tanganinya selama menjadi psikiater.

“Dia…tidak melukai dirinya sendiri kan Dokter Choi…?” wanita di sebelah kiri pria itu ikut bertanya. Dokter Choi menggeleng.

“Sama sekali tidak. Dia meminum obatnya dengan teratur. Tidak melakukan hal-hal yang berbahaya. Dia menjaga dirinya dengan baik. Diluar ketidak mampuannya memilah halusinasi dan realita, dia terlihat sangat normal,” jelas Dokter Choi.

Pria itu mengangguk mengerti.

“Dia terikat dengan janji itu,” ujarnya pelan. Wanita di sampingnya menoleh dan tersenyum getir.

“Janji…” desah wanita itu pedih.

***************

Eun Kyo POV

Aku melangkah pelan menyusuri tepian danau ini lagi. Aku suka disini. Teduh. Mengingatkanku pada keteduhan yang bisa kudapatkan dari Jung Soo-ku.

“Sebentar lagi musim dingin…” gumam suara Jung Soo.

“Ne..sepertinya aku akan berhibernasi di kamar,” sahutku.

“Aku akan menemani hibernasimu…”

Tentu saja. Mana boleh dia meninggalkan aku sendirian. Aku sudah terbiasa hidup di temani suaranya. Aku melangkahkan kakiku menyusuri tepian danau ini. Dia masih saja berceloteh tentang ini dan itu. Aku hanya tersenyum. Tidak peduli apa yang di katakannya. Mendengar suaranya saja sudah cukup bagiku.

Hm? Biasanya aku sendirian disini, tapi sekarang ada sosok yang ikut duduk di kursi kayu favoritku. Sekilas wajahnya membuatku terlonjak kaget. Wajah itu? Kenapa bisa terlihat seperti Jung Soo? Cepat ku gelengkan kepalaku. Wajahnya terpatri terlalu kuat dalam ingatanku. Segala rupa akan terlihat seperti dirinya.

Seketika wajah sosok pria yang sedang duduk itu mengabur. Blur. Entahlah. Mataku menangkapnya seperti itu.

“Hai…” tanpa sadar aku menyapa pria ini. Aku memang tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tapi aku merasakan wajah itu menyiratkan kepedihan yang amat sangat. Dia menoleh.

“Kau bicara dengan siapa?”

Kudengar suara itu bertanya.

“Ssst…” bisikku pada suara favoritku itu. Memintanya diam sejenak.

“Kau? Kau bisa melihatku?!” orang yang kusapa tadi bertanya dengan nada kaget. Apa maksudnya? Tentu saja aku bisa melihatnya, dia kan bukan hantu.

“Tentu saja aku bisa melihatmu. Memangnya kenapa kau berpikir orang tidak bisa melihatmu?” aku bertanya heran. Dia menggeleng dengan ekspresi sedih dan sakit yang dalam.. Sekali lagi kukatakan, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tapi aku bisa merasakan ekspresi yang apa yang muncul dari orang di hadapanku ini. Jangan tanya kenapa. Aku juga tidak tau. Mungkin selain kejiawaanku yang terganggu, indraku juga mulai ikut mengalami pemerosotan fungsi. Tidak masalah. Bukankah aku masih tetap hidup.

“Entahlah, aku mulai khawatir dengan eksistensi nyataku.” dia bergumam pelan. Hatiku ikut ngilu mendengar nada pedihnya. Kenapa orang ini? Apa kisahnya begitu menyakitkan?

“Kau juga tinggal disini? Di tempat ini?” aku duduk di sebelahnya.

“Kau tinggal di tempat ini?” dia tidak menjawab melainkan balik bertanya padaku.

“Nde..aku tinggal di sini…” jawabku.

“Kau terlihat normal. Seharusnya kau keluar dari tempat ini.” dia bergumam. Memang. Aku terlihat normal. Hanya terlihat normal. Karena sebenarnya aku sakit. Tidak ada orang normal yang mendengar suara-suara tak berwujud terus menerus sepertiku.

“Aku hanya bisa berada di tempat ini… Di luar sana, terlalu banyak kenangan dengan tunanganku. Kota ini menyimpan semua ceritaku dengannya di setiap sudut. Aku takut hancur…” jelasku.

“Kau tidak akan hancur…Aku akan melindungimu.” suara itu menimpali lagi. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Tidak lucu kalau aku harus berdialog dengan halusinasiku di depan orang yang baru kukenal.

“Lalu kenapa tidak pindah saja ke tempat yang baru. Ke tempat yang bersih dari bayangan kenanganmu,”

“Dan menghirup udara yang berbeda dari yang pernah dia hirup? Tidak. Aku akan tetap di kota ini. Menghirup udara yang sama dengannya dan mengurung diriku di tempat ini,”

Aku diam, suara Jung Soo diam dan dia, lelaki yang kusapa ini, pun ikut terdiam. Hening. Tapi tidak mencekam. Auranya menenangkan. Mirip dengan Jung Soo. Hey, Jung Soo, kenapa kau tidak mengoceh? Batinku. Tidak ada jawaban.

“Oh iya… Aku Park Eun Kyo. Dan kau?” aku baru ingat kalau aku belum tau nama orang yang duduk di sebelahku ini. Dia mengangkat kepalanya.

“Kau tidak mengenalku?” tanyanya yang lagi-lagi membuatku heran. Kami belum berkenalan tentu saja. Dan aku tidak bisa mengingat wajahnya. Ah, bukan, wajahnya terlihat tidak fokus dalam pandanganku.

“Tidak. Siapa namamu?” tanyaku. Dia tertunduk dalam diam. Kenapa? Apa nama pun dia tidak punya?

“Kenapa kau harus menanyakan namanya? Apa perlu?” suara Jung Soo terdengar lagi di telingaku. Aku mengabaikannya kali ini.

“Bukankah aku sudah bilang kalau eksistensiku sudah mulai mengabur Eun Kyo~ssi?” lagi-lagi orang ini bertanya kembali padaku. Eksistensi mengabur? Kehilangan keberadaan? Dia ini, pasti sangat terpukul sekali. dan entah apa yang menarikku untuk peduli padanya.

“Kalau begitu, aku akan membantumu membangun kembali eksistensimu. Di mulai dari nama. Hm, bagaimana kalau…. Leeteuk….” Kataku semangat. Leeteuk. Spesial. Dia akan jadi orang yang spesial untuk dunianya.

“Leeteuk? Bagus sekali… Gomawoyo Eun Kyo~ssi,” katanya pelan.

“Cheonmanneyo…” jawabku senang. Dia ini pasti orang baik.

“Apa? Kau kenapa? Orang itu bilang apa?” suara Jung Soo berebutan muncul dalam kepalaku.

“Aniya.. aku hanya iba. Dia kelihatan menderita sekali. Aku tau rasanya menderita. Kehilangan. Hampa dan rasa sakit,” sahutku. Kulirik lelaki ini. dia tidak terganggu dengan aku yang terlihat seperti sedang bicara sendiri. Dia masih tertunduk menatapi ujung-ujung rerumputan yang mongering di antara kedua belah kakinya yang terjulur ke tanah.

“Begitu ya…”

“Ne. Aku mungkin tidak waras karena mendengar suara-suara darimu. Tapi aku suka. Dan aku membutuhkannya. Setidaknya aku ingin orang ini memiliki teman juga…” tambahku.

Tidak ada jawaban.

*************

Pria itu mengikuti setiap langkah kaki kecil gadis bergaun putih. Syal dengan warna sama membalut lehernya untuk membantu menghilangkan rasa dingin dari musim gugur. Dia Park Eun Kyo. Gadis yang sudah hampir setengah tahun lebih berada di tempat ini. Tempat terapi bagi orang dengan gangguan psikologis yang cukup berat.

Pria di dekatnya itu juga selalu mengikuti kemana dia pergi. Dengan ekor matanya mengiringi setiap langkah-langkah Eun Kyo. Selalu begitu. Setiap hari selama 2 bulan ini. Tidak pernah membiarkan gadis itu sendiri. Meskipun gadis itu bersikap seakan dia tidak ada. Bahkan saat gadis itu mulai bicara sendiri, dia tetap berada di sampingnya. Tanpa protes apapun. Dia hanya ingin gadis itu menyadari keberadaanya dengan terus bicara.

“Namanya Leeteuk. Kasihan sekali. Dia sepertinya selalu sendiri. Aku bisa merasakan kehilangan dan kesakitan darinya. Pasti bebannya berat sekali….” Eun Kyo bergumam. Matanya memandang lurus ke depan. Pria itu mengikuti arah pandangnya. Kosong. Tidak ada siapapun disana. Hatinya mencelos. ‘Kau bisa melihat sosok yang tidak nyata. Tapi kenapa kau menolak untuk melihat aku yang nyata Eun Kyo~ya…..’ batinnya ngilu.

Tidak bisa. Dia tidak bisa memaksa gadis itu untuk melihatnya. Eun Kyo akan tertekan dan itu mengganggu kejiwaannya. Pria itu hanya bisa menunggu. Menunggu sampai alam bawah sadar Eun Kyo mengirimkan sinyal pada kesadarannya dan mengakui keberadaan pria itu sebagai sosok nyata. Bukan hanya halusinasi suara yang selama ini ada di pikiran Eun Kyo.

“Jung Soo~ya…. aku merindukanmu….” Eun Kyo bergumam.

Dada Jung Soo, pria itu, bagai di hantam dengan godam ratusan kilo. Ingin rasanya dia berteriak kalau Jung Soo ada di samping Eun Kyo. Jung Soo selalu ada di dekat Eun Kyo. Tapi Eun Kyo tidak melihatnya. Tidak mau meliriknya sedikit pun.

“Eun Kyo~ya… aku juga merindukanmu…” dia menjawab dengan suara bergetar menahan emosi yang bergolak didadanya. Betapa dia merindukan Eun Kyo yang memandangnya dengan wajah kesal, tersipu, marah, senang. Betapa dia merindukan Eun Kyo yang menatap ke dalam matanya. Bukan Eun Kyo yang sedikit pun tidak menatapnya. Tatapan Eun Kyo selalu melewatinya. Seakan dia transparan. Tembus pandang.

***************

 Jung Soo’s POV

“Tadi dia melihatmu…” Sora, sahabatku, berucap pelan. Aku tau. Aku tau itu. Meskipun sesaat, tadi dia melihatku. Hanya sesaat sebelum pandangan itu seakan melewatiku begitu saja. Seakan aku ini hanya gumpalan angin yang transparan.

“Dia bilang dia merindukanku…” sahutku nyaris tidak terdengar. Dia merindukanku yang bahkan tidak pernah beranjak dari sisinya. Eun Kyo~ya….

Apalagi yang lebih sakit dari ini? Aku berada di samping gadis yang aku cintai tapi bahkan dia tidak tau. Dia merindukan orang yang selalu bergerak di sekitarnya. Bicara padanya. Mendengarnya. Tapi dia hanya menganggap semua suaraku itu ilusi. Hanya permainan halusinasinya. Padahal aku nyata!

Apalagi yang bisa lebih pedih dari ini? Aku masih hidup. Tapi wanitaku, tunanganku, berfikiran kalau aku sudah mati. Semua interaksiku hanya di anggapnya potongan halusinasi yang di cipatakan otaknya. Dunia pribadinya menolak keberadaanku. Ini jauh lebih buruk dari pada mati.

 Apa yang di katakan Dokter Choi benar. Dia mengalami trauma karena peristiwa kecelakaan kami malam itu. PTSD. Post Traumatic Stress Disorder. Eun Kyo-ku menderita. Eun Kyo-ku sakit. Dan sakitku? Tentu saja sakitku dua kali lipat.

Apakah sebegitu terpukulnya dia saat melihatku terkapar tidak berdaya di jalan saat itu? Apakah kejadian itu menarik semua kesadarannya tentang aku? Takut mengakui kalau aku masih hidup? Takut kalau itu hanya harapan semunya, hingga dia memutuskan untuk menerima asumsi kalau aku sudah tidak ada lagi. Dia takut menghadapi kenyataan terburuk dan memilih bersembunyi. Menguatkan hatinya. Menerima aku yang di anggap sudah tidak ada. Padahal aku masih ada Eun Kyo~ya… aku hidup.

“Sampai kapan Jung Soo~ya..” suara di sebelah ku berbisik.

“Apa?”

“Sampai kapan kau akan berdiri di dekatnya?” Sora mengangkat kepalanya menatapku.

“Sampai dia melihatku Sora. Sampai dia melupakan bayangan terakhirku dalam ingatannya. Sampai dia melupakan sosokku yang terkapar tidak berdaya saat itu. Aku masih hidup,” kataku sambil mengepalkan kedua belah tanganku hingga kuku-kukunya menyakiti telapak tanganku.

“Berapa lama?”

Berapa lama? Tidak berbatas waktu. Tidak ada batas waktu untuk menunggunya. Selamanya. Selamanya akan mencintainya. Bukan karena aku berjanji akan mencintainya selamanya. Tapi karena aku, dan seluruh eksistensiku, hanya menginginkan dia. Aku tidak bohong mengatakan kalau aku akan terus hidup selama dia masih hidup. Tuhan memberikanku kesempatan untuk itu. Meskipun harus terbaring koma selama sebulan, aku masih tetap bisa bangun. Meskipun kakiku harus di pasangi logam, aku masih tetap bisa berjalan. Bahkan dengan lempengan logam juga di tengkorak kepalaku, aku masih akan tetap bertahan hidup untuknya.

“Dia tidak bisa melihatmu Jung Soo… dia bahkan tidak tau mana yang nyata mana yang tidak. Kau tidak takut kalau kau benar-benar akan kehilangan keberadaanmu?” Sora memandangku dengan tatapan sedih.

“Meskipun pada akhirnya  aku harus mengabur dan benar-benar menghilang. Aku akan tetap di sampingnya. Menunggunya. Agar saat dia kembali menatapku, aku bisa memberikan senyumku padanya. Bahkan meski itu hanya senyum terakhir yang bisa aku berikan,” kataku mantap.

Dan meskipun nanti dia tidak pernah menyadari keberadaanku, aku tetap tidak akan beranjak. Menghilang pun aku tidak peduli. Asal bisa tetap di dekatnya. Asal bisa mendengarkan detak jantungnya. Asal bisa mendengarkan suaranya. Maka aku akan tetap hidup.

Sora’s POV

Ku pandangi wajah letih di sampingku. Park Jung Soo. Sahabatku. Dia masih membaca laporan perkembangan kesehatan tunangannya yang di berikan oleh Dokter tadi. Aku tidak tau apa yang ada disana.

Bukannya aku tidak peduli pada Eun Kyo. Tapi sifat egois alamiku sebagai manusia menginginkanku untuk menarik hatinya. Aku mencintainya. Sejak lama aku mencintainya. Sudah lama aku bersabar menunggunya. Tapi hanya patah hati yang aku terima setiap kali.

Aku harus tetap tersenyum saat dia mengatakan kalau dia jatuh cinta pada gadis lain. Tersenyum dan menekan sakit hatiku dalam-dalam saat dia mengenalkan gadis itu padaku. Gadis bernama Eun Kyo yang ternyata juga sangat mencintai Jung Soo. Aku jatuh terpuruk. Dan semakin terpuruk saat dia mengatakan akan menikah dengan Eun Kyo dengan wajah berbinar bahagia. Aku harus menikam hatiku sendiri dan ikut tersenyum bersamanya.

Kecelakaan itu. Aku terus berada disampingnya. Tidak sedikitpun meninggalkannya. Hingga saat dia tersadar, yang pertama di ingatnya adalah Eun Kyo. Hatiku nyeri lagi. Dan semakin bertambah nyeri saat melihat dia berusaha membuat gadis itu menyadari keberadaanya. Aku tau dia sakit. Jung Soo menahan sakitnya. Sakit yang sama dengan yang kurasakan.

Aku didekatmu Jung Soo. Kau bisa melihatku. Kau bisa mendengarku. Kau bisa menyadari keberadaanku. Tapi kenapa matamu seakan mengabaikan hatiku. Melewati perasaanku begitu saja. Apa aku harus menunggumu juga? Atau apa aku harus menarik keluar hatiku dan menunjukkan memarnya padamu? Jung Soo~ya… apa aku mulai tidak terlihat juga?

Epilogue

Spring.

“Sudah musim semi….” Gumam suara pria yang memakai kemeja putih berjeans biru laut. Di sebelahnya gadis itu berdiri dengan gaun putih kesayangannya.

“Ne..musim semi yang cantik…” dia menyahut tanpa sedikit pun menatap pria di sampingnya.

“Kita pernah ingin menikah di musim semi…” pria itu tersenyum kecil menampakkan cerukan kecil di sudut bibirnya. Gadis di sebelahnya mematung. Kata-kata dari pria itu seakan menariknya dalam pusaran memori yang berayun kencang. Memutar balikkan semua kepercayaan yang selama ini ia tanam baik-baik di kepalanya. Mengobrak-abrik semua kepercayaan yang ia genggam. Terasa begitu nyata. Ia terseret.

“Aku ingin menikah saat musim dingin saja….” pria itu membuka-buka koleksi busana pengantin di majalah.

“Musim panas saja…” wanita di sampingnya menarik majalah itu.

“Tidak. Musim panas itu sangat panas Eun Kyo~ya. Lebih baik musim dingin saja, supaya kita bisa berbagi kehangatan,”

“Mwo? Yhaa kau mesum Jung Soo….” Eun Kyo memukulkan majalah ke tubuh Jung Soo, tunangannya. Jung Soo hanya terkekeh tanpa menghindari serangan dari Eun Kyo. Setelah beberapa pukulan, dia berhenti sambil memelototi Jung Soo yang masih tersenyum memamerkan cerukan kecil di wajahnya,lesung pipi yang membuat Eun Kyo terpikat.

“Baiklah. Musim semi saja. Aku suka udara musim semi. Aku bisa berlari-lari bersama anginnya sampai kau tidak bisa melihatku,” ujar Jung Soo.

“Aku akan selalu melihatmu Jung Soo~ya. Meski kau menyamar menjadi udara sekalipun aku tetap akan bisa melihatmu,” Eun Kyo mencibir.

“Yakin sekali kau. Kita buktikan. Saat musim semi, aku akan jadi pusaran angin yang melewatimu. Kau harus bisa mendeteksi keberadaanku,”

“Yha..kenapa kata-katamu jadi seperti drama begitu. Sudahlah. Kita menikah di musim semi,” Eun Kyo memalingkan wajahnya menghindari tatapan mata Jung Soo yang membuat dadanya seakan mengadakan pesta kembang api. Meledak-ledak dan semarak.

Jung Soo meraih wajah itu dengan kedua tangannya, Menatap ke dalam matanya.

“Kau harus tetap bisa melihatku meskipun aku benar-benar menjadi angin….” Bisiknya.

“Menikah… Musim semi…” bibirnya bergetar setelah putaran memori itu mengembalikannya ke tempat dia berdiri tadi. Pria itu menoleh. Dia mendapati gadis itu tengah gemetar. Cepat di balikkannya tubuh gadis itu untuk menghadapnya. Dia memegangi lengan Eun Kyo dengan lembut untuk menenangkannya.

“Eun Kyo~ya…” katanya pelan. Perlahan gadis itu mengangkat wajahnya. Memandangi wajah di hadapannya dengan ragu. Perlahan matanya menatap lurus kedalam manik mata pria di hadapannya. Seketika air mata memenuhi kedua matanya. Jatuh satu persatu tanpa suara dan isakan. Potongan-potongan memori membentuk sebuah rangkuman cerita dalam ingatannya.

“Eun Kyo~ya. gwenchanayo….?” Pria itu terlihat cemas dan gugup. Gadis itu tadi memandangnya. Menatap matanya. Sudahkah dia menyadari keberadaanya? Sudahkah dia terlihat nyata? Dari banyak hari yang di lewatinya dengan menjadi bayangan, baru kali ini Eun Kyo menatap langsung ke matanya. Dadanya bergemuruh kencang. Harapan demi harapan muncul memenuhi rongga dadanya. Perlahan bibir gadis itu bergerak. Menyampaikan kata yang membuat kabut yang menutupi pria itu tersibak.

“Jung Soo….kau masih hidup…” ucapnya dengan bibir bergetar.

*fin*

Done!

Ini fanfic di luar writing style-ku. Ecieeh, kayak punya writing style beneran yak. Yang jelas aku gak pernah bikin fanfic serius begini. Baru pertama kali! Biasanya cerita-cerita dengan narasi dan dialog sableng yang aku tulis. Aku pengen memenuhi ‘tantangan’ dari Fika Eonnie tercinta yang suka tulisan yang ‘berasa’. Jadi apa ini berasa Eon?

Idenya dapet dari nonton The Notebook, Memento, 50 first date, dan denger lagu Blind- Trax. Gak tau gimana pendapat yang baca. Tapi aku puassss sudah bisa keluar dari mainstream aku sendiri. *tepok tangan bangga*

Eniwei, cerita ini juga aku publish di www.wattpad.com dengan akunku @misselby (numpang promosi eonnie…:p). Tapi, gak pake TeukKyo dan mengalami beberapa perubahan Eon, cuma dikit bedanya. Kenapa gak pake TeukKyo? Karena aku takut mengecawakan TeukKyo couple kalo cerita ini di ‘cabein’ di wattpad sana.

Makasih eonnie atas ajakannya ikut lomba ini. Tapi aku gak yakin fic ini layak diikutkan. Aku cuma pengen di komentarin sama Fika Eonnie. Saranghae Eonnie yang paling baik dan ramah serimba raya… *kisshug betubi-tubi*

15 responses »

  1. jujur bingung ma alur cerita’ya.tpi klo otak ku dputer” *kyk es puter
    aku bru bisa sdkit ngerti mksud dr crita’y cuma gk puas baca ff’y soal’y masih gantung banget nie ff.coba ajj ini ff chapter yg ada part 1 n’ slnjuty
    pasti bkal dpet respon baik pas baca dr awal smpe akhir.

    ywdh ahh…bnyak omong sya
    annyeong… ~

  2. Q akan melihatmu Jung Soo~ya,,, meski kau menyamar menjadi udara sekalipun aku akn tetap melihatmu….. Hwooooooooo…….. Apa cinta mang kya’k gitu ya???? Ckckck…. Jung Soo n Lee Teuk. Kau mau pilih yg mana Eonni???? Eh q pangl Eonni ja ya. Cz q yakin kok klo q yg paling muda di blog ini. Ehem…. Q kan reader dengan Umur di bawah rata2 reader roman teukyo yg lain… Kekekeke….. Cayo!!!! FFmu bagus kok Eonni… Tp, klo q boleh nyaranin. Nhy ky’knya lbih co2k di bikin FF part.>.<" FITHING!!!

  3. Pada bingung ni kayaknya. Hoho.
    Jadi gini, di sini Eun Kyo nya trauma gara2 liat Jung Soo yg terkapar di jalan. Pas dia sadar, dia gk ktmu Jung Soo, soalny Jung Soo msh koma. nah, jd krn trauma itu, dia jd mikir Jung Soo udh mati. Pdhal Jung Soo msh idup. Pas Jung Soo ad di dkt Eun Kyo, si Eun Kyo mikirnya itu cm halusinasi. Pdhal itu emg nyata. Kan Eun Kyo gk bs bdain mana yg nyata mn yg halusinasi krna pnykit psikologis itu. Sosok yg asli itu Jung Soo, sdngkan Leeteuk it sosok halusinasi Eun Kyo. gtu. .
    msh bngung kah?
    chapter ya? gk sanggup kykny. Hehe.

  4. Aahhh… Sya ngerti nih cerita’a, EunKyo ini jiwa’a agak terguncang gitu yah gegara liat kecelakaan ntu?! Jd Yg ad d’otak’a EunKyo, Jung Soo tuh udh meninggal pdahal masih hidup, trus Krna penyakit ntu Jd EunKyo berhalusinasi suara’a Jung Soo?!
    EunKyo kga bisa liat Jung Soo karna otak’a ketutup (?) Sm halusinasi’a sndiri!!
    *halah bahasa apa ini?!*
    Hahahaha

    Tp Ide cerita’a beneran cakep dah, apalagi bahasa’a sya ampe harus muter otak bca’a!!
    Kekekeke
    Keren,keren!!

    • Diah! ternyata ini dirimu ya. . .
      Gak bingung? Yakin? Huhuhu. Aku udah bikin byk pembaca kebingungan ni. Fika eon sih, aku kan gk jd mw ngkut lomba.
      Tp gk apa2. Terhru y bisa liat tulisan kita mejeng disini. Hehe.

  5. Huh,, ff ny bgus ay..
    Smbil bca, smbil brjlan otak bwt ngetiin alur critany..
    Daebak,
    awl ny aq kra jungsoo bneran dah death, tau2 ny eunkyo yg brnggapan soo oppa dah death..
    Hem,, dramany dpetlah, fill, ok, pkok e ska deh..
    Kekekek

    • @Dee_sungie : Aku pake back forth sm blur jg t. Emg
      bikin bngung sih kalo gk konsen. Hihi.
      Blum lg diksinya yg aku puter2
      seenaknya. Berasa bisa mainin diksi kyk
      Andrea Hirata. Pdhal asli, aku bego.
      uwah, aku terharu kmu bs ngerti. Bner
      deh. Terharu bgt fic ini di blang bgus. Di
      bca aj aku udh sneng. Thanks yak.

  6. Aku pake back forth sm blur jg t. Emg bikin bngung sih kalo gk konsen. Hihi.
    Blum lg diksinya yg aku puter2 seenaknya. Berasa bisa mainin diksi kyk Andrea Hirata. Pdhal asli, aku bego.
    uwah, aku terharu kmu bs ngerti. Bner deh. Terharu bgt fic ini di blang bgus. Di bca aj aku udh sneng. Thanks yak.

  7. Aaaaa, baru baca sekarang *nyesel
    alhamdulillah saya nggak bingung 😀
    ini cerita bagus lho, apa lagi dibikin chapter gitu kan jadi lebih detail ceritanya. Ini kecepetan menurutku -.- tp bagus, akuuuu sukaaaaaaaaa 😀

  8. bner2 bth konsentrasi bcx biar bs ngerti unn!hehehe
    q sk bgt,ne epep mang brat bhsa tp bkualitas!
    brasa bc slh stu adgan dlm novel kls brat (?) aj de!hehehe
    tp endingx krng greget unn,cb dpanjangin dkit lg aj!
    plng ga ampe gmn reaksix Teukpa pas tau Kyo dh sadar!trus gmn jg reaksi Kyo pas tau txata slma ini dy stres n nganggep Teukpa dh meninggal!
    tp yasudlah,gwenchana unn!
    q cm bdoa,unn mw nglanjutin after storyx!hehehe
    yuk dadah babbay!

  9. Baguussss ceritanya.. gaya tulisannya agak berat *bahasanya* -_-‘ tapi aku udah ngeh kok dari awal baca *soksokan* 😀

    Tapi kurang puas ama endingnya. . bkin after story nya donk.. Huu~ *disorakin* -,-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s