FF Contest : ALways Be Mine

Standar

Credit pict by Alfi AdiztYa aka Lee Jin ah

“Perhatikan baik-baik ne reader. Aku cuman mau bilang kalau ada beberapa warna huruf dalam penulisan FF ini. Yang berwarna Hitam, tu berarti saat sekarang, yang merah itu berarti masa lalu. Soalnya aku males pake flashback-flashback. Silahkan membaca….ah… bagi yang muslim, jangan lupa awali dengan bismillah.hehehe^^”

Author
Nishihara Shin

===
Cinta adalah sebuah kebodohan.
Alasan mengapa aku tidak bisa membencimu
Meski merasa dikhianati
===

Seorang gadis menatap miris ke arah sebuah kursi panjang yang berada di bawah pohon maple. Kursi itu menghadap langsung ke arah danau. Sebuah kursi tempat gadis itu menungggu seseorang berjam-jam yang lalu. Tepat di depan pintu sebuah villa gadis itu berdiri. Menyandarkan punggungnya, seolah hanya itu yang bisa gadis itu lakukan untuk menekan kekecewaannya ke titik terendah.
Kepalan tangannya yang sedari tadi menukuli permukaan pintu berulang kali dengan membabibuta, kini mulai memelan, seiring dengan air matanya yang entah sejak kapan jatuh, membuat make upnya yang agak berantakan semakin tak berbentuk. Dan merasa setengah yakin bahwa keadaan jemari tangannya mungkin lebih buruk dari keadaan make upnya. Mengingat seberapa lama gadis itu dengan bodohnya rela menyiksa dirinya sendiri hanya untuk meruntuki kekecewaannya. Bahkan gadis itu merasa tidak perlu lagi peduli dengan keadaan jemari tangannya yang mungkin sudah memerah, atau bahkan memar sekalipun. Dia terlalu sibuk merenungi kebodohannya. Kebodohan yang membuatnya merasa sakit untuk yang kesekian kalinya dengan alasan yang sama. Bahkan kerinduan dan rasa gugup bercampur senang yang sempat gadis itu rasakan, sebelum datang ke tempat itu, serasa menguap entah ke mana. Digantikan oleh benci yang dulu sempat tumbuh, semakin berakar kuat.

“Cih~ kau benar-benar bodoh Park Eun Kyo, untuk apa kau menunggunya? Dia tidak akan pernah datang. Dia… mungkin sudah melupakanmu.” Gumam gadis itu miris. Sebuah pernyataan yang dia tujukan lebih pada dirinya sendiri.

“Kau tidak pantas menangisinya. Dia bukan orang yang… pantas untuk kau tangisi.” Lanjutnya. “Dan kau… bukan yang orang yang cengeng.” Setelah mengucapkan kalimat itu, sesegera mungkin Eun Kyo menghapus air matanya dengan sedikit kasar, membuatnya sedikit meringis saat mendapati jemari tangannya yang ternyata lecet bersentuhan langsung dengan air matanya. Eun Kyo terpaku, menatap jemari tangannya yang sedikit terasa perih.

“ Berapa banyak lagi luka yang akan kau berikan Park Jung soo? Kau benar-benar Brengsek. Dan aku…” ujar Eun Kyo sakartis. ”…aku benar-benar membencimu.” Putusnya. Eun Kyo berbalik, membuka pintu, dan masuk ke dalam villa, berniat mengemasi barang-barangnya. Tidak ada lagi gunanya dia berada di sana. Sudah cukup dia menyia-nyiakan waktunya untuk menunggu pria itu. Dan sekarang, adalah batas penantiannya yang terakhir.

***

Eun Kyo melangkah masuk ke dalam rumahnya. Sebuah rumah mewah yang lima tahun terakhir dia tempati bersama ayahnya. Park Sang Jun. Mereka memutuskan menetap di rumah itu, tepat 1 minggu setelah kematian Ibunya. Istri Park Sang Jun. Hanya ada tiga orang pelayan yang tingggal bersama mereka. Eun Kyo berjalan dengan tempo yang sangat lambat, menciptakan suara gesekan tidak beraturan antara roda koper yang dia tarik dengan permukaan lantai rumahnya. Cengkraman jemari-jemari tangannya pada pangkal koper yang dia genggam di tangan kananya terlihat sangat kuat. Berbanding terbalik dengan raut wajahnya. Bahkan orang bodoh saja pasti tahu bahwa gadis itu sedang terluka.

Langkah kaki gadis itu terhenti di depan anak tangga. Berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dan menghembuskannya dengan kasar. Seolah-olah apa yang dia lakukan dapat mengurangi sesuatu yang tiba-tiba menjadi beban pikirannya. Eun Kyo mulai melangkah menaiki anak tangga. Sebuah kegiatan yang tiba-tiba terasa begitu sulit baginya. Ditambah dengan bobot koper yang harus diaangkat, seiring dengan langkah kakinya. Dan bersyukur saat mendapati dirinya berhasil mencapai anak tangga terakhir. Eun Kyo mulai melangkah menuju kamarnya yang berada di lantai dua, dan sudah berniat membuka pintu kamarnya ketika sebuah suara menghentikan gerakan tangannya, tepat di handel pintu.

“Eun Kyo~ya, apa yang kau lakukan di sini? Kau sendirian? Mana Jung Soo?Bukankah seharusnya kau bersama dengannya sekarang? Di mana suamimu eo?”

Pertanyaan-pertanyaan itu, terdengar begitu sarat akan kebingungan. Namun, terdengar begitu menuntut di telinga Eun Kyo, seperti peluru yang berulang kali melesat dan menembus tempat yang sama. Jantungnya. Hanya dengan memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu saja, benar-benar sudah sukses membuatnya kembali terluka.

“Appa tidak suka aku ada di sini?” ujar Eun Kyo serak. Merasa terlalu begitu sulit untuk berbalik. Menatap langsung wajah ayahnya. Gadis itu tidak ingin ayahnya tahu, bahwa dia sedang terluka. Sangat. Meskipun pada kenyataannya, pria itu sudah bisa menebak-nebak dari bagaimana cara gadis itu berbicara.

“Bukan begitu, appa hanya…”
“Dia tidak datang.” Sergah Eun Kyo cepat. “ Dan aku benci menjadi orang yang selalu menunggunya.” Sambungnya. Kemudian melangkah masuk ke dalam kamarnya. Dan detik itu juga pria itu tahu, bahwa anaknya benar-benar sedang terluka. Dan parahnya lagi, alasannya adalah orang yang sama. Menantunya. Park Jung Soo.

***

“YAK!!!! PARK JUNG SOO!!! APA YANG KAU LAKUKAN HAH??? DASAR ANAK KURANG AJAR.” Triak Nyonya Park dengan penuh emosi.

*PLAKKKK*

“Aaa…appo Eomma.” Ringis Jung Soo

“ANAK BODOH”

*PLAKKKK*

“TIDAK BERTANGGUNG JAWAB”

*PLAKKKK*

“BOCAH NAKAL,,, RASAKAN INI”

*PLAKKKK*

*PLAKKKK*

*PLAKKKK*

“Eomma, Geumane, Jebal.” Pinta Jung Soo dengan wajah memelas, meringis menahan rasa sakit yang mulai menjalari setiap inci tubuhnya. Dia tidak tahu, apa sebenarnya kesalahan yang sudah dia perbuat, ingga membuat ibunya mengamuk dan memukulinya tanpa alasan dengan stik golf saat dia baru saja memasuki ruang tamu rumahnya. Pria itu, baru saja pulang dari bekerja. Jadi, bukankah seharusnya ibunya menyambutnya dengan hangat. Setidaknya memberikan ciuman selamat datang di kedua pipinya, atau sekedar pelukan hangat. Mengingat betapa lelahnya dia seharian berada di kantor dan hanya berkutat dengan berkas-berkas yang bertumpuk setinggi hampir setengah meter setiap harinya. Bukannya malah mendapatkan serangan yang terasa begitu tidak berperikemanusian di sekujur tubuhnya. Pria itu mengelus-ngelus pelan lengannya yang juga menjadi korban. Berharap hal itu dapat segera mengurangi rasa sakitnya. Saat,,,

“ Kemana saja kau seharian ini eo? Kau tidak menemui Eun Kyo kan?”

Akhirnya dia tahu alasan dari tindakan tidak berprikemanusiaan itu. Gadis itu, selalu saja dia yang menjadi alasan perdebatannya dengan Nyonya Park beberapa minggu terakhir ini. Membuatnya merasa muak dan melupakan rasa sakitnya begitu saja. Dia benar bosan mendengar nama itu.

“ Bekerja. Memangnya apa lagi? seharian ini aku di kantor, dan aku tidak punya waktu untuk menemuinya.” Ujarnya dengan suara sesantai mungkin. Pria itu kemudian melepaskan jas kerjanya, dan melemparnya sembarangan ke atas sofa. Meraih remot TV dan menyalakannya. Karena dia tahu dengan pasti, bahwa dia tidak akan mungkin berhasil mencapai kamarnya sebelum ibunya puas mengintrogasinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya sama sekali tidak penting.

“Aigoo, jawaban macam apa itu? Dia itu istrimu Park Jung Soo. Istri yang bahkan belum kau temui selama hampir 16 tahun. Tapi dengan santainya kau bilang tidak punya waktu hanya sekedar untuk menemuinya? Sebenarnya apa yang kau pikirkan, hah?” ujar Nyonya Park Sedikit emosi.

Pertanyaan sekaligus pernyataan dari ibunya benar-benar terdengar bodoh bagi pria itu. Istri? Cih~ bahkan pria itu saja merasa belum pernah tertarik dengan gadis manapun. Jadi, bagaimana caranya dia bisa menikah dan mempunyai seorang…istri? Bukankah itu terdengar sangat konyol?

“Eomma, berhenti mengatakan kalau dia istriku.”
“Wae?”
“Karena aku merasa belum pernah menikah. Jadi bagaimana mungkin aku punya istri?” ujar Jung Soo dengan sedikit gusar.
“Tapi dia memang istrimu Park Jung Soo. Suka tidak suka itu adalah kenyataan. Meskipun pernikahan kalian belum sah secara hukum, tapi secara adat dan agama Eun Kyo adalah istrimu yang sah. Lagi pula, kau sendiri yang dulu menginginkan pernikahan ini. Jadi jangan pernah mengatakan kalau kau merasa belum pernah menikah.” Jelas Nyonya Park panjang lebar dengan sedikit kesal. Membuat Jung Soo mau tidak mau menoleh ke arah ibunya.
“Tapi Eomma, dia….”
“Dia punya nama Park Jung Soo, dan namanya Park Eun Kyo. Kau harus ingat itu baik-baik. Arasso?”

“Tks. Terserah Omma. Aku lelah, ingin istirahat.” Ujar Jung Soo sedikit frustasi. Pria itu berdiri dan melangkah, berniat meninggalkan ruangan itu. Ck. Dia benar-benar bisa gila jika lebih lama berada di tempat itu dengan ibunya. Namun, langkahnya terhenti di depan anak tangga pertama. Mendadak teringat sesuatu yang sudah lama ingin dia katakana. Pria itu berbalik, menatap ibunya dengan tatapan serius, dan..

“Tapi Eomma, aku pastikan aku tidak akan pernah tertarik dengan seseorang yang Eomma sebut sebagai istriku itu. Jadi kelak….jangan salahkan aku jika dengan tiba-tiba aku merasa harus menceraikannya….di detik pertama pertemuan kami.” Nyonya Park tersenyum tipis mendengar deklarasi singkat anaknya itu, membiarkannya melangkah lebih jauh menaiki anak tangga. Hingga sebuah kalimat lolos begitu saja dari bibir tipisnya.

“Dan Eomma bersumpah, kau akan dengan senang hati menarik kata-katamu di detik itu juga, Park Jung Soo sayang.”

Kalimat itu sukses menghentikan langkah Jung Soo tepat di anak tangga ketiga. Terkejut. Sama sekali tidak pernah menyangka kalimat seperti itu akan dia dengar langsung dari ibunya sendiri. Sementara Nyonya Park merasa puas dengan reaksi anak sulungnya itu. Perlahan tapi pasti, Nyonya Park berjalan mendekati anaknya, mencoba menyejajarkan diri dan membisikkan sesuatu yang membuat seluruh sistem syaraf Jung Soo serasa berhenti.

“ Hidup Omma taruhannya. Jadi bersiap-siaplah untuk kalah.”

***

===
Kau adalah takdir. Sebuah alasan,
Mengapa Tuhan mempertemukan kita.
Dan membuatku tergila-gila
===

Eun Kyo berjalan dengan gontai memasuki sebuah restoran. Gadis itu menatap kosong sketsa-sketsa gaun yang ada di tangannya. Pikiran gadis itu sebenarnya masih sangat kacau. Tapi, pekerjaannya menuntutnya untuk bersikap professional sebagai seorang disigner. Hari ini dia ada janji dengan Key, asistennya. Mendiskusikan tentang sebuah proyek yang cukup besar, sebelum mereka menemui orang yang memberikan proyek itu siang ini.
“Nuna!!!! Nuna!!!” triak seseorang yang tidak lain adalah Key. Eun Kyo mengalihkan pandangannya. Mencari sumber suara itu.
“Nuna!!!! di sini…!!!” triak Key. Melambaikan tangannya. Eun Kyo yang melihat tingkah laku Key, refleks tersenyum, di saat-saat seperti ini key memang selalu bisa membuatnya tersenyum dengan sifat kekanakan-kanakannya. Setidaknya dia merasa memiliki orang yang tanpa sadar, bisa menghiburnya setiap saat. Eun Kyo mulai melangkah mendekati Key yang duduk di sudut restoran. Namun tiba-tiba…

BRUK!!!!!!

Seseorang menabraknya dari arah samping. Membuat pinggangnya terbentur pinggiran meja. Eun Kyo meringis, menahan rasa sakit di pingganya.
“Cheoshahamnida, jeongmal choeshahamnida. Saya tidak sengaja agasshi.” Ujar orang yang menabraknya itu. Seorang pria. Dan pria itu sedang berjongkok, memunguti sketsa-sketsa Eun Kyo yang jatuh berserakan di lantai.
“Gwaenchana.” Jawab Eun Kyo. Ikut berjongkok, memunguti sketsa-sketsanya.
“ lain kali saya akan lebih berhati-hati. Saya benar-benar minta ma..” Ujar pria itu penuh penyesalan. Mendongak. Menyodorka sketsa-sketsa yang telah dia kumpulkan. Dan terpaku, menatap siapa pemiliknya. Mendadak merasa seluruh pasokan oksigennya berhenti begitu saja, membuat debaran jantungnya tiba-tiba tak beraturan. Wajah gadis itu terasa begitu sempurna tanpa cacat di matanya. Bukan karena sangat cantik, bahkan menurutnya sekertarisnya mungkin jauh lebih cantik dari gadis yang ada di hadapannya itu. Tapi setiap lekuk sudut wajah yang kini ada di hadapannya, membuatnya merasakan sesuatu yang berbeda. Mata, hidung, pipi, dan…bibir. Sesuatu yang mendadak ingin dia miliki. Ya Tuhan…mungkinkah pria itu sedang terkena sindrom ‘jatuh cinta pada pandangan pertama?’ benar-benar konyol.

Sementara Eun Kyo, merasakan sesuatu yang tidak jauh berbeda dengan pria itu. Mendadak merasakan sesuatu yang menurutnya sama sekali tidak wajar…. Rindu? Eun Kyo merasa sangat merindukan orang yang kini ada di hadapannya. Berharap bisa memeluknya dan…menciumnya? Entah apa alasannya….dan perasaan itu membuatnya merasa frustasi. ‘Tidak Park Eun Kyo…. Kau sudah punya suami. Jauhkan pikiran bodohmu itu.’ Runtuk Eun Kyo dalam hati.

Tatapan mata mereka sarat akan perasaan membutuhkan satu sama lain yang tiba-tiba muncul. Keinginan untuk selalu melihat satu sama lain. Dan hidup bersama dalam waktu yang sangat lama. Mereka benar-benar larut dalam dunia mereka sendiri, melupakan bahwa di restoran itu bukan hanya ada mereka berdua. Hingga…

“ Nuna,,, Gwaenchaneyo?? Eo? Nuna tidak terlukakan?” suara Key menyadarkan mereka dari dunia mereka. Bahkan Eun Kyo tidak tahu, sejak kapan Key sudah berada di sampingnya. Memegang pundaknya dan menelusuri setiap sisi tubuh Eun Kyo dengan matanya.
“Pinggang Nuna…”
“Tenanglah Key, aku tidak apa-apa.” Sergah Eun Kyo cepat, menyadari betapa khawatirnnya asisten sekaligus sahabat yang sudah dia anggap sebagai dongsaeng itu. Tidak menyadari tatapan tidak senang dari pria yang tadi menabraknya, keakraban mereka-Eun Kyo dan Key- di hadapannya membuatnya emosinya tiba-tiba tersulut tanpa alasan. Mimikirkan beribu cara untuk menarik gadis di hadapannya agar menjauh dari pria yang bernama Key itu. Tapi, semuanya hanya imajinasinya, karena dia tidak mempunyai alasan yang cukup kuat untuk melakukakannya. Dia bahkan tidak mengenal gadis itu. Jadi, alasan seperti apa yang harus dia pakai untuk menyeret gadis itu pergi.
“ jeongmaliyo? Nuna benar-benar baik-baik sajakan?”
“Ne, aku baik-baik saja Key, tapi….sketsanya sedikit kotor.” Ujar Eun Kyo sedikit khawatir.
Key mngalihkan pandangannya ke arah sketsa yang dipegang oleh Eun Kyo.
“Gwaenchanayo, nanti biar aku gambar ulang.”
“Aniyo, biar aku saja.” Tolak Eun Kyo. Tersenyum ke arah Key. Melupakan sesseorang yang sejak tadi berada di antara mereka. Mereka baru menyadari keberadaan pria itu, ketika mendengar langkah kaki orang itu. Berjalan menjauh dari mereka. Eun Kyo menatap punggung pria itu dengan tatapan tidak rela. Mendadak meruntuki kebodohannya karena sempat mengacuhkan pria itu.
“ Nuna kenal dengan pria itu?” Tanya Key tidak bisa menutupi rasa penasarannya.
“Anhi, wae?”
“Anhi, hanya saja. Aku merasa kalau orang itu sedang…marah?” ujar Key lirih. memusatkan pandangannya pada tangan pria itu yang terlihat terkepal kuat.
“Muosun suriya?” Tanya Eun Kyo bingung.
“Anhi, lupakan saja.”
Eun Kyo hanya bisa mengangguk mendengar perkataan Key, tapi dia masih bingung dengan apa yang diucapkan Key sebelumnya tentang pria yang menabraknya tadi. Marah? Kenapa pria itu harus marah? Bukannya pria itu yang tadi menabraknya? Lalu untuk apa pria itu marah? Dan apa alasan pria itu harus marah?
***

“Silahkan duduk agasshi. sebentar lagi manager Cho datang.” Ujar seorang sekertaris kepada Eun Kyo dan Key.
“Gamshamnidha Nona Shin.” Ucap Eun Kyo dan Key bersamaan. Sekertaris itu kemudian beranjak pergi. Meninggalkan Eun Kyo dan Key di ruangan Manager Cho. Sebenarrnya Eun Kyo merasa sedikit was-was berada di Park Corporation ini. Gadis itu meruntuki kebodohannya karena bersedia bekerja sama dengan perusahaan itu. Pada awalnya semua terasa baik-baik saja, Eun Kyo malah dapat dikatakan sedikit bangga, karena karya-karyanya di lirik oleh perusahan besar seperti Park Cotporation. Tapi, semuanya berubah sejak beberapa jam yang lalu. Saat untuk pertama kalinya dia tahu, bahwa ternyata pemilik dari Park Corporation adalah seseorang yang bernama Park Jung Soo dari mulut Key. Dia memang cukup tahu, bahwa keluarga Jung Soo adalah keluarga yang dapat dibilang cukup berkuasa di pasar saham Korea Selatan. Keluarganya memiliki kekayaan yang tidak terhingga di segala bidang. Kekayaan yang tidak akan habis 7 turunan meski ketujuh turunannya itu hanya menggunakannya untuk hura-hura. Tapi, dia juga tidak menyangka kalau perusahaan Jung Soo ternyata juga sudah mulai menggeluti bidang fashion. Karena yang dia tahu, perusahaan suaminya itu lebih dominan di bidang perhotelan dan resort.

Tks….harusnya Eun Kyo sadar, saat pertama kali ayahnya menawarkan diri untuk membantunya mencarikan perusahan penanam modal. Bukan berarti orang tuanya tidak mampu memberinya modal. Hanya saja, dia sedang berusaha mengepakkan sayap bisnisnya tanpa campur tangan dari ayahnya. Dalam hal modal tentunya. Dan saat itu, dia harus dengan agak terpaksa menerima tawaran ayahnya untuk membantunya mencarikan penanam modal dari perusahaan kenalannya.

Eun Kyo mendadak gugup tanpa alasan yang jelas. Merasa suhu tubuhnya mulai panas dingin, dan perutnya tiba-tiba terasa diaduk-aduk. Membuatnya sakit perut. Eun Kyo memutuskan untuk ke toilet lebih dulu, mencoba meminimalisir rasa gugupnya. Gadis itu pamit kepada Key, dan memintanya untuk mendiskusikan segala sesuatunya dengan manager Cho, jika nanti manager Cho datang lebih dulu darinya. Eun Kyo keluar dari ruangan itu, menanyakan letak toilet pada sekertaris Manager Cho letak toilet di tempat itu. Gadis itu merasa cukup lega, karena ternyata tempatnya tidak terlalu jauh dari ruangannya manager Cho.

Eun Kyo segera masuk ke dalam toilet saat ia sudah berhasil menemukannya. Sesegera mungkin membasuk wajahnya dengan air kran yang ada di westafel. Berharap efek air itu juga mampu mengurangi perasaan tak karuannya. Gadis itu menatap pantulan wajahnya pada cermin di hadapannya. Berusaha mengumpulkan segala keberaniannya yang perlahan ciut. ‘Tidak Park Eun Kyo, kau tidak akan bertemu dengannya. Kau hanya akan membicarakan urusanmu dengan manager Cho saja. Jadi cepat selesaikan urusanmu. Jadi, kau bisa segara angkat kaki dari tempat ini.’ Batin Eun Kyo dalam hati. Tapi tetap saja, tiba-tiba Eun Kyo merasa sesak mengingat kejadian kemarin, saat di mana dia menunggu Jung Soo hampir satu hari. Tanpa sadar air mata Eun Kyo jatuh. Gadis itu menagis tanpa suara. Mesipun saat ini hanya a ada dia di toilet itu. Tapi tetap saja, dia merasa tidak boleh menangis di tempat umum. Itu terlihat sangat…menyedihkan.Setelah merasa cukup. Eun Kyo berjalan ke arah pintu toilet. Melangkah meninggalkan ruangan woman private itu.

“Agasshi.!!! ” seru sebuah suara, membuat langkah Eun Kyo terhenti. Merasa di panggil, Eun Kyo berbalik ke sumber suara yang berada di belakangnya. Mendadak terpaku melihat seseorang yang berjalan mendekatinya. Orang itu adalah pria yang menabraknya tadi agi di restoran. Eun KYo tidak mungkin melupakan pertemuannya dengan pria itu. Pertemuannya yang menurutnya sangat…special? Tapi, apa yang pria itu lakukan di tempat ini.

“Chogi anda memanggil saya?” Tanya Eun Kyo memastikan. Berusaha mengontrol pita suaranya. Pria itu kini berada di hadapannya, dalam jarang kurang dari 1 meter. Dan itu membuat Eun Kyo harus mengerahkan seluruh rasa gugupnya yang tiba-tiba meningkat berkali-kali lipat. Sementara pria itu, juga melakukan hal yang tidak jauh berbeda dengan Eun Kyo. Pria itu sedang berusaha mengontrol keinginanya untuk menarik gadis itu ke dalam dekapannya dan menciumnya sesegera mungkin. Pria itu tidak menjawab. Hanya menatap Eun Kyo dengan tatapan intens. Mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya membuatnya tertarik setengah mati pada gadis yang ada di hadapannya kini.
“Chogi.. apa anda memanggil saya?” suara gadis itu membuyarkan konsentarsinya.
“Ne? ah… iya, aku memanggilmu agasshi emmm… aku…aku… kau habis menangis?”Tanya pria itu mengalihkan pertanyaannya, mendadak sikap gelagapannya berubah menjadi cemas melihat kantung mata gadis yang kini ada di hadapannya. Perlahan tapi pasti, tangan pria itu terulur, mengusap kantung mata Eun Kyo, memberikan sensasi yang menyenangkan saat kulit mereka bersentuhan. Sementara Eun Kyo, hanya diam terpaku. Matanya melotot. Sementara tubuhnya berusaha menahan sengatan-sengatan kecil yang dia rasakan saat jemari pria itu mengusap lembut kulitnya. ‘Astaga… ini salah Park Eun Kyo.’ Runtuk Eun Kyo dalam hati.
“Matamu bengkak agasshi … Auchwww…” ringis pria itu saat tiba-tiba Eun Kyo menepis tangannya dengan sedikit kasar.
“Jangan menyentuhku Tuan.” Ujar Eun Kyo dengan penuh penekanan. Mendengar kalimat itu, membuat Jung Soo tersadar akan kesalahannya.
“Ah, mianhamnida agasshi. Saya hanya…”
“ nugu seoyo?” sergah Eun Kyo cepat.
“ Nega? Kau tidak ingat denganku? Tadi pagi aku…”
“ Aku ingat, anda orang yang menabrakku tadi pagi di restoran. Tapi bukan itu, maksudku anda siapa? Dan ada perlu apa anda memanggil saya.” Potong Eun Kyo cepat. Tidak menyadari kalau pria di hadapannya kini sedikit kesal dengan sikap Eun Kyo yang satu ini.
“ Neo Gwaecanha? Apa pinggangmu masih sakit. Aku hanya ingin….”
“ Bisa langsung ke inti? Anda siapa dan ada perlu apa?” Dan kali ini, sikap Eun Kyo benar-benar membuat Emosinya memuncak. Tidak bisakahan gadis di hadapannya itu menunggunya sampai menyelesaikan kalimatnya. Dia sudah ingin meminta maaf dengan senang hati untuk kesekian kalinya saat melihat gadis itu melintas di hadapannya. Bahkan dia menunggui gadis itu di depan toilet dengan sabar. Berharap bisa memiliki kesan yang baik di pertemuan kali ini, dibanding dengan pertemuan pertama mereka di restoran tadi pagi. Pria itu benar-benar tida habis pikir. Apa sebegitu bencinyakah gadis itu kepadanya, sampai-sampai hanya menunggunya untuk bicara saja gadis itu terlihat tidak rela.

“Kalau tidak ada yang penting, saya permisi.” Eun Kyo mulai melangkah meninggalkan Pria itu, tapi Pria itu sesegera mungkin menarik lengan Eun Kyo dengan kasar pada langkah ketiga dan menhempaskan tubuh gadis itu ke dinding, membuat Eun Kyo sedikit meringis merasakan benturan pada punggungnya. Pria itu mencengkram ke dua pergelangan tangan Eun Kyo dengan satu tangan dan menguncinya di atas kepala. Dia benar-benar tidak bisa lagi mengontrol emosinya. Gadis itu, benar-benar memporak-porandakan segala sitem saraf dan geraknya. Tangannya yang bebas, ia gunakan untuk menelusri pipi Eun Kyo dengan punggung tangannya. Sedangkan matanya tertuju pada satu bagian wajah Eun Kyo yang membuatnya serasa hilang akal. Bibirnya.
“ k-kau.. APA YANG KAU LAKUKAN. LEPASKAN AKU?” triak Eun Kyo. Eun Kyo hanya bisa meronta di bawah kuasa pria itu akan dirinya. Dia tahu benar bahwa perlawanannya hanya sia-sia. Perasaan takut, kini benar-benar menjalari fikirannya.
“Agashi…tidak bisakah kau diam? Dari tadi, kau selalu saja memotong kalimatku. Apa itu hobimu eo? Atau… aku harus menciummu untuk menghentikan kebiasaanmu burukmu itu?” ujar Jung Soo. Pria itu tersenyum puas, melihat reaksi Eun Kyo. Perkataanya benar-benar sukses membuat Eun Kyo menegang.
Dan mendadak serasa ada bongkahan batu yang menyumbat saluran oksigennya.

“A-apa maksudmu?” suara Eun Kyo terdengat begitu sarat akan ketakutan. Sementara Jung Soo lebih memilih menelusuri bentuk bibir Eun Kyo dengan ibu jarinya, tanpa melepas tatapan pada bibir gadis itu. Memilih mengabaikan pertanyaan gadis itu.

“Sebenarnya kau siapa? Dan apa maumu?” ujar Eun kyo setenang mungkin. Berusaha menguasai dirinya sendiri. Tidak. Dia tidak boleh menunjukkan sisi ketakutannya pada pria yang kini ada di hadapannya. Jika dia ingin terbebas dengan pria itu, maka ia tidak boleh terlihat takut. Melihat perubahan sikap Eun Kyo, membuat Jung Soo mengalihkan tatapannya ke mata Eun Kyo. Pria itu menyunggingkan senyum tulisnya. Dan itu, terlihat benar-benar membuat Eun Kyo hampir tidak bisa berkedip. ‘menawan’ pikir Eun Kyo. Sangat berbeda dengan senyumnya tadi.
“ Aku? Tadinya aku ingin ingin minta maaf karena tadi pagi sudah menabrakmu, dan membuat pinggangmu membentur pinggiran meja. Tapi sikapmu saat ini, membuatku jangkel dan menginginkan hal yang lain.” Ujarnya pelan
“…” Eun Kyo berusaha diam menelan ludahnya dengan susah payah. Berada dalam jarak sedekat itu benar-benar membuat pita suaranya hilang entah ke mana. Pria itu semakin mendekarkan wajahnya, Eun Kyo bahkan bisa dengan jelas merasakan deru nafas pria itu di permukaan kulit wajahnya. Sementara pria itu tersenyum mengejek ke arah Eun Kyo. Tidak merasa cukup dengan kata-katanya tadi, pria itu membisikan sesuatu yang membuat Eun Kyo semakin menegang dengan mata melotot.

“Dan…aku menginginkanmu agasshi.” Eun Kyo tidak tahu sejak kapan bibir pria itu berada di atas permukaan bibirnya. Bergerak dalam tempo yang lambat. Seperti keong, begitu basah dan..memabukkan. memberikan lumatan-lumatan kecil disetiap gerakan bibirnya. Rasanya seperti ada sengatan listrik ribuan volt yang menjalari seluruh sistem tubuhnya. Shock. Itu yang Eun Kyo rasakan. Eun Kyo tidak membalas perlakukan pria itu. Otaknya masih mencerna apa yang terjadi. Merasa tidak mendapat respon, pria itu menjilati bibir bawah Eun Kyo, membuat Eun Kyo memekik tertahan dengan perlakuan pria itu. Dan saat itulah, celah di mulut Eun Kyo sedikit terbuka. Membuat pria itu merasa tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan untuk memperdalam ciumannya. Tapi…

*PLAKKK*

Eun Kyo mendorong pria itu dengan sekali dorong dan menamparnya tepat di pipi kanannya. Membuat pria itu sedikit meringis dengan tamparan Eun Kyo. ‘Bodoh, harusnya aku mencengkramnya lebih erat.’ Runtuk pria itu pada dirinya sendiri.

“Neo Michoseo.” Pekik Eun Kyo tertahan. Gadis itu masih berusaha mengatur nafasnya akibat tindakan pria tadi. Sebenarnya dia merasa kalau ciuman pria tadi benar-benar membuatnya berdebar, dan menginginkan lebih. ‘Ya Tuhan….apa yang Kau fikirkan Park Eun kyo. Kau itu sudah punya suami’ runtuknya dalam hati. Sementara pria di hadapannya tersenyum, menunjukkan evil smirk-nya, memperlihatkan sisi yang berbeda dari yang tadi dan itu membuat Eun Kyo sedikit…merinding. Pria itu mundur beberapa langkah dari hadapan Eun Kyo, menyandarkan punggungnya di dinding dan melipat kedua tangannya ke depan dadanya, memfokuskan pandangannya pada mata Eun Kyo. Pria itu bahkan tidak peduli, kalau seandai ada orang yang melihat perdebatan mereka berdua. Sedangkan Eun Kyo sedikit besyukur karena di tempat itu hanya ada mereka berdua. Jadi, dia bisa dengan leluasa mendebat orang yang menurutnya benar-benar sudah gila itu.

“ Wae?” ujar pria itu enteng
“SIAPA YANG MEMBERIMU IJIN UNTUK MELAKUKAN TADI EO?” triak Eun Kyo setelah berhasil mengembalikan seluruh kesadarannya.
“ Aku tidak merasa membutuhkan ijin dari siapa pun.” Ujar pria itu santai, membuat Eun Kyo sediki geram. Gadis itu, memgigit bibir bawahnya, menyipitkan matanya pada pria di hadapannya.
“ YAK!!! Neo…”
“ Mulai sekarang kau milikku, dan… aku berhak melakukan apa saja yang aku mau.” Omongan pria itu sukses membuat Eun Kyo melotot. Membuatnya berusaha mencari kesimpulan dari semua ini. Dan kesimpulan yang dapat dia temukan hanya ada 1. Pria itu, benar-benar sakit jiwa.
“ Cih~ kau fikir kau siapa? Seenaknya saja mengatakan hal gila semacam itu. Aku bahkan tidak mengenalmu.” Ujar Eun Kyo sinis.
“ Nega? Kau tidak tau siapa aku?” Ujar pria itu memastikan. Eun Kyo mencibir kea rah pria itu. Apa pentingnya mengenalnya, dia fikir dia itu artis hingga semua orang harus kenal dengannya.
“ Aku merasa tidak punya alasan mengapa aku harus mengenalmu. Dan tuan, kau harus tau… I have a marriage.”
Bagai disambar petir. Mendadak tubuh pria itu menegang mendengar perkataan gadis di hadapannya itu. ‘Marriage… jadi…dia…’

“Jadi…jangan pernah menyentuhku dan berfikir bahwa aku milikmu.” Tambah Eun Kyo

‘Ya Tuhan…apa yang aku lakukan. Kenapa aku sebodoh ini’ runtuk pria itu…melanjutkan pemikirannya yang tadi sempat terpotong oleh suara Eun Kyo. Entah bagaimana menggambarkannya, tapi Eun Kyo sedikit merasa tidak tega melihat reaksi pria di hadapannya kini. Di satu sisi dia merasa bersalah. Tapi di sisi lain, dia merasa harus memberitahun fakta itu.

“Jeongmal…aku…aku…” Tks. Bahkan dia kehilangan kata-katanya. Perasaannya kini benar-benar hancur. Ini adalah pertama kali untuknya merasa tertarik dengan seseorang, dan ketika dia merasakannya, dia harus terluka dalam waktu yang sama. Pria itu tersenyum kecut, menahan rasa sakit yang tiba-tiba menjalari hatinya. Berusaha setenang mungkin menerima kenyataan yang menurutnya tidak adil.
“ Kalau begitu selamat.” Ujar pria pada akhirnya. Suaranya sangat lirih, begitu sarat akan kekecewaan.
“ Dan aku minta maaf untuk….”
“ Presdir Park!!!!” sebuah suara memotong kata-katanya. Mereka berdua-Eun Kyo dan Pria itu- menatap ke arah sumber suara, terlihat seorang lelaki setengah baya yang berlari menuju tempat mereka, dan membungkuk 45° di hadapan pria yang di panggil Persdir Park tadi.
“ Wae ajjhusi?”
“Tuan Katsumoto, sudah tiba. Beliau menunggu anda di ruangan anda. Sebaiknya anda segera menemuinya.” Ujar pria itu. Sementara Eun Kyo hanya terpaku, berusaha mencerna satu kata yang menggangu pikirannya. ‘Presdir Park? Apa jangan-jangan dia lelaki itu? Park Jung Soo’
“Geuresso, ayo kita kesana.” Ujar Presdir Park yang tidak lain adalah Jung Soo. Berusaha mengidahkan kehadiran Eun Kyo.
“ Park Jung Soo-ssi.” Jung Soo yang tadinya sudah melangkah seketika berhenti ketika mendengar Eun Kyo menyebut namanya. Suara itu begitu lirih. tapi bukan itu yang Jung Soo pikirkan, melain sebuah pertanyaan… bukankah gadis itu tadi mengatakan bahwa dia tidak mengenal Jung Soo, jadi, dari mana dia tahu pria itu. Jung Soo berbalik menatapa Eun Kyo, menunggu kata-kata seperti apa yang Eun kyo keluarkan selanjutnya.
“ Kau….presdir?” Tanya Eun Kyo, memastikan.
“ Ne, wae?” Jung Soo merasa heran dengan pertanyaan Eun Kyo. Untuk apa gadis itu bertanya seperti itu.
“Jadi, kau pemilik perusahaan ini?” sinis Eun Kyo. Sedikit tersenyum kecut. Sementara Jung Soo semakin merasa heran dengan gadis itu. Hingga akhirnya, ada satu kesimpulan yang muncul dalam otaknya. Gadis itu, mungkin saja…matrealistis. ‘Cih~ semua wanita sama saja. Ternyata aku menyukai orang yang salah.’ batin Jung Soo.
“ Ne, aku Presdir sekaligus pemilik perusahaan ini. Wae?”
“ Anhi, aku hanya ingin memastikan apa kau…”
“ Kaya maksudmu. Kau mau berubah pikiran aggashi?” cibir Jung Soo, tidak bisa menahan rasa kesalnya yang muncul tiba-tiba. Sementara Eun Kyo hanya mengerutkan keningnya. Pertanda dia tidak mengerti sama sekali dengan pertanyaan Jung Soo.
“ Kau…mungkin saja kau berniat menarik kata-katamu setelah tahu siapa aku sebenarnya. Bisa sajakan kau bilang kalau kau belum menikah atau kalaupun sudah, mungkin saja kau brencana menceraikan suamimu dan… berpaling padaku.”

Eun Kyo mengepalakan kedua tangannya di kedua sisi tubuhnya, berusaha menekan amarahnya yang tiba-tiba mencuat. Dia benar-benar tidak habis fikir. Bagaimana bisa seorang Park Jung Soo bisa mengatahan hal yang di luar batas seprti itu dengan begitu santai. Cih~ alasan apa yang membuat pria itu berfikir bahwa dia adalah yang gadis matrealistis. Gadis yang akan dengan suka rela mempertaruhkan status pernikahannya hanya demi lembaran uang. Benar-benar tidak bisa dipercaya.

Melihat Eun Kyo yang tidak meresponnya sama sekali, membuat Jung Soo bertambah kesal. Pria itu kemudian berbalik namun belum sampai pada langkah kedua. Suara Eun Kyo kembali menghentikan langkahnya.

“Park Jung Soo-ssi….kau fikir aku gadis murahan yang akan melakukan tindakan sekeji itu eo? Keunde, terima kasih atas saranmu. Bercerai maksudku. Hubunganku dengan suamiku, selama ini memang sedang tidak berjalan dengan baik. Awalnya aku memutuskan untuk mencoba memperbaiki hubungan kami. Tapi setelah mendengar saranmu, entah kenapa, aku merasa kalau perceraian bukan jalan yang buruk. Padahal selama ini aku bahkan tidak pernah sedikit pun berfikir tentang perceraian. Jadi, aku akan mempertimbangkannya.” Jelas Eun Kyo.

Suara gadis itu terdengar sedikit bergetar. Entah mengapa emosinya tadi tiba-tiba berganti dengan rasa kecewa terhadap Jung Soo. Suaminya. Meskipun dia mungkin sangat membenci Jung Soo. Tapi, sebenarnya, selama ini tidak bisa dipungkiri bahwa dia juga selalu mengharapkan pertemuan yang manis dengan Jung Soo suatu hari nanti. Dan berharap saling jatuh cinta pada pandangan pertama seperti dulu. Lalu hidup bahagia selamanya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Cinta, entah perasaannya saat pertama kali dapat di sebut cinta atau bukan. Tapi, yang pasti, pertemuannya dengan Jung Soo kali ini, membuatnya benar-benar hancur berkali-kali lipat dari sebelumnya. Eun Kyo tidak bisa lagi menahan air matanya yang sejak tadi sudah mendesak keluar. Tubuh gadis itu bergetar. Gadis itu menangis tanpa suara. Merasa muak dengan dirinya sendiri. Eun Kyo memutuskan untuk segera pergi. Berlari meninggalkan Jung Soo yang menatap kepergiannya dengan pandangan heran. Bingung. Benar-benar tidak mengerti dengan sikap gadis yang membuatnya sempat tertarik setengah mati. Ah, anhi….mungkin ini sudah masuk dalam tahap tergila-gila.

***

Eun Kyo menatap pantulan dirinya di depan cermin yang ada di hadapannya. Gadis itu mengenakan gaun selutut tanpa lengan berwarna biru sapphire. Gaun itu terlihat sangat pas di tubuhnya, ditambah dengan sabuk berbentuk pita biru transparan yang melinggkar di pingganya. Terjalin membentuk lipatan-liptan kecil seperti tali sepatu di pinggang bagian kirinya. Membuatnya terlihat sangat….anggun? Polesan makeup di wajahnya juga terlihat tipis. Memberikan kesan natural tersendiri terhadap inerbeauty-nya. Rambutnya yang panjang, dijalinnya dengan sedikit longgar, menyisakan beberapa helai di bagian sekitar wajahnya. Jalinan rambutnya ia sampirkan ke pundak sebelah kanannya. Mengekspos dengan jelas leher jenjang nan putihnya yang di sebelah kiri.

Eun Kyo tersenyum kecut melihat penampilannya di depan cermin besar. Bukan karena ia merasa tidak puas dengan hasil karyanya sendiri yang membuatnya sedikit berbeda malam ini. Tapi karena mengingat alasan mengapa ia sampai harus tampil berbeda dari kesehariannya. Suaminya. Park Jung Soo. Orang yang tadi sore menyarankannya untuk menceraikan suaminya. Ah tidak, pria itu tidak menyarankannya, tapi mempertanyakannya. Mungkin. Terserah apa namanya. Tapi bagi Eun Kyo, itu tetap saja terdengar seperti suggestion. Bahkan gadis itu sudah mengatakan akan mempertimbangkannya pada suaminya sendiri. Ck. Tidakkah ini semua terlihat begitu rumit.

Drtttttt…..drttttt…drttttt…..

Ponsel Eun Kyo yang ada dia atas meja rias yang terletak tepat di sebelah cermin besar itu bergetar. Dia memang selalu memasang profil getar pada malam hari. Menurutnya, memasang profil umum di malam hari itu sangat menggangu.

‘Key’ gumam Eun Kyo setelah melihat nama yang muncul di layar ponselnya. Gadis itu segera menekan tobol hijau yang ada di layar ponselnya.

“Yeoboseo..”
“ Yeoboseo.Nuna, tadi siang manager Minho meminta kita untuk menyiapkan beberapa design lagi. tapi kali ini dia meminta design baju musim dingin. Aku tadinya ingin memberi tahu nuna secepatnya, tapi karena ada urusan penting setelah rapat tadi, aku jadi lupa dan baru memberi tahu nuna sekarang.”
“Ah, Geure, jadi dia menerima design gaun kita sebelumnya.”
“Ne,dia bilang disignnya bagus dan sangat layak untuk di keluarkan sebagai trend baru. Manager Minho bilang kalau dia merasa, model gaun itu pasti akan cepat menjadi incaran kaum wanita apalagi para fashionista yang sudah pasti sangat menggilai model gaun terbaru. Kau benar-benar daebak nuna. Sayang sekali kau tadi tidak mendengar langsung, pujian itu dari Maneger Minho” Jelas Key penuh semangat.
“Ah itu, mian. Mendadak tadi ada urusan penting dan aku lupa memberi tahumu.” Ujar Eun Kyo penuh penyesalan.
“Gwaenchana nuna, yang penting sekarang perusahaan Park Corporation merasa puas dengan design kita. Ah, kalau begitu aku tutup dulu nuna. Tadi Eomma memintaku untuk mengantarnya ke rumah Ah Young Nuna. Annyeong nuna.”
“Ne. Nado Annyeong Key.” Setelah mengakhiri percakapan tadi, Eun Kyo meletakkan ponselnya kembali ke atas meja rias. Dia sedikit merasa bersalah karena siang tadi, setelah insiden dengan ‘suaminya’ itu, dia langsung pergi meninggalkan Park corporation dan lupa dengan tujuannya datang ke tempat itu.

“ Eun Kyo~ya, mereka sudah datang. Kau sudah siap?” suara itu membuyarkan pikirannya. Eun Kyo berbalik dan mendapai ayahnya berada di ambang pintu kamarnya.”
“Ne Appa. Aku siap.” Jawab Eun Kyo dengan senyum terpaksanya.
“Neomu yeppounda.” Puji ayah Eun Kyo.
“Gomaweo.”
“ Ayo turun, jangan sampai mereka menunggu terlalu lama.”
Eun Kyo melangkah mengikuti ayahnya yang berjalan lebih dulu. Mendadak jantungnya serasa berdebar tak beraturan. Ya Tuhan….kelihatanya dia benar-benar gugup saat ini. Perlahan tapi pasti, Eun Kyo mulai berjalan menuruni anak tangga. Menciptakan debuma-debuman kecil antar kali highlestnya dengan lantai. Membuat para tamu yang sedang duduk di lantai bawah seketika berdiri dan menatap kagum ke arahnya. Eun Kyo tersenyum geli melihat reaksi Jung Soo. Mungkin ekspresinya terlihat seperti orang yang sedang…bingung? Kagum? Atau mungkin terkejut? Entahlah, tapi yang pasti dia benar-benar tidak bisa melepas pandangannya sedetikpun dari sosok Eun Kyo. Dia bahkan tidak menyadari sejak kapan Eun Kyo sudah berada di depannya.

“ Annyeong haseo Abeonim, Eomonim .Naneun Park Eun Kyo imnidha. Mannaseo bangapseumnida.” Ujar Eun Kyo ramah pada ayah dan ibu mertunya. Eun Kyo membungkuk, sebagai tanda hormat dan tersenyum tulus ke arah mereka. Menyadari kehadiran Jung Soo di tempat itu, Eun kyo mengalihkan pandangannya ke arah Jung Soo. Tersenyum saat mendapati pria yang tidak lain adalah suaminya itu tengah menatapnya dengan intens tanpa berkedip.
“Annyeong haseong Oppa.” Sapa Eun Kyo, dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya.

Deg.

‘Oppa?’..Ya Tuhan… apa gadis itu tidak salah ucap, dia baru saja memanggil Jung Soo Oppa. Dan itu sukses membuat pria di hadapannya diam mematung. Entahlah. Rasanya, sudah berkali-kali mendengar sebutan ‘Oppa’ dari banyak yeoja yang akrab dengannya. Tapi, entah kenapa kali ini sebutan itu terasa begitu…manis. Tanpa sadar. Jung Soo tersenyum. Berusaha menahan desiran-desiran aneh yang menyelimuti hatinya. Membuat kekesalan atas paksaan ibunya untuk datang ke sini sebelumnya, menguap begitu saja.

“Oppa, Neo Gwaenchana?” Tanya Eun Kyo karena merasa tidak mendapat respon.
“ N-ne. N-nan Gwenchana.” SHIT. Kenapa di saat seperti ini dia harus gugup tak jelas. Benar-benar memalukan. Dan, sejak kapan jemari gadis itu bertengger manis di lengannya. Apa gadis itu tidak tau kalau sikapnya benar-benar membuat pria itu kelabakan…? Ah tidak, bagaimana gadis itu bisa tahu. Kalau sebenarnya libody pria itu bisa saja naik bila berada dalam jarak dekat dengan gadis itu. Dan sekarang yang dilakukan gadis itu benar-benar membuat libodynya memuncak. Pria itu benar-benar bisa merasakan dengan jelas, betapa halusnya jemari Eun Kyo yang saat ini bertengger manis di lengannya. Bagaimana tidak? Sekarang pria itu hanya menggunakan kemeja lengan panjang tanpa jas, yang lengannya dia lipat sebatas 3 senti mencapai siku.

“Aigoo…uri Jung Soo sedang gugup rupanya.” Ujar ibu Jung Soo dengan senyum mengejek. Membuat pipi Jung Soo tiba-tiba memanas menahan malu. “ Eun Kyo~ya, Neomu Yeoppunda. Kau benar-benar sangat cantik. Kau tidak mau memelukku?” lanjutnya. Eun Kyo tersenyum mendengar perkataan ibu mertuanya. Gadis itu berenser dari Jung Soo dan memeluk Ibu mertunya.
“Khamsahamnida Eominim.”
“ Ah… Eun Kyo~ya, buat suamimu itu bertekuk lutut eo? Dan buatkan cucu yang banyak untukku.” Bisik Nyonya Park. Eun Kyo hanya tersenyum menanggapi kalimat itu. Entahlah….kalimat itu sepetinya tidak membuatnya risih. Sebuah keinginan yang wajarkan dari seorang ibu?
“emmm… Ne, Eomonim. Aku akan berusaha.”
“ Ehemmm…. Keureo, lebih baik kita makan malam dulu. Jung Ahjuma tadi sudah menyiapkan banyak makanan untuk makan malam kita. Khaja.” Suara Ayah Eun Kyo menghentikan kegiatan mereka.

Akhirnya keluarga besar Park menjalani makan malam itu dengan kehangatan. Salaing bercerita satu sama lain tentang kisah mereka sejak mereka berpisah. Ditambah celoteh, candaan-candaan antara Eun Kyo dan Nyonya Park. Sementara Jung Soo hanya diam memperhatikan gerak-gerik Eun Kyo, seolah pemandangan yang ada di hadapannya kini lebih menarik dari pada makanan-makanan yang berjejer di atas meja. Dia bahkan belum menyentuh makanannya. Eun Kyo sesekali melirik kea rah Jung Soo. Tersenyum dalam hati saat tahu bahwa Jung Soo sedari tadi memperhatikannya. Dia menibang-nibang untuk memberi pelajaran pada Jung Soo atas sikap Jung Soo tadi siang. Kejadian tadi siang, benar-benar membuatnya sakit. Tapi dia harus menjaga sikapnya di depan para orang tua mereka. Eun Kyo benar-benar tidak mau membuat ayahnya ataupun orang tua Jung Soo terluka. Meskipun mungkin, suatu saat itulah yang dia lakukan. Tapi untuk saat ini, dia akan berusaha menyenangkan mereka.

Selesai makan malam, dua keluarga satu marga itu berkumpul di ruang tamu. Membicarakan tentang maksud sebenarnya dari pertemuan keluarga itu.
“ Eun Kyo~ya kau pasti taukan maksud dari pertemuan ini? Dan appa Juga yakin kalau Nyonya Park juga pasti sudah memberi tahu pada Jung Soo tentang maksud dari pertemuan ini.” Jelas Park Sang Jun. Ayah Eun kyo, memulai pembicaraan.

“Keuronnika, ayah dan orang tua Jung Soo sudah mempersiapkan berkas-berkas yang kalian butuhkan untuk pendaftaran pernikahan kalian secara hukum. Kalian hanya perlu menandatangani berkas-berkas ini, dan kami yang akan mengurusnya. Appa yakin, kau pasti sudah paham betul posisimu sebagai seorang istri, Eun Kyo~ya. Kalau kalian berencana untuk mengadakan resepsi ulang untuk pernikahan kalian, kami juga tidak keberatan. Mengingat saat itu usia kalian masih sangat kecil. Bagimana?” Lanjutnya.

Eun Kyo menggigit bibir bawahnya, berusaha mencari kata-kata dan keputusan yang tepat untuk menjawab pertanyaan ayahnya.

“ Keunde appa, apa tidak sebaiknya appa bertanya dulu pada Jung Soo oppa. Bukankah yang nantinya akan menjalani kehidupan pernikahan kami bukan hanya aku.” Jelas Eun Kyo berusaha bersikap bijak.

Mendengar argumentasi dari Eun Kyo, kini mereka semua mengalihkan pandangannya kepada Jung Soo. Merasa mendapat tatapan dari berbagai mata membuatnya seketika merinding. Terlebih melihat tatapan ibunya yang seolah mengatakan ‘jadi-apa-jawabanmu-Park-Jung-Soo-sayang’..

“Aku, terserah kalian saja.” Ujar Jung Soo datar. Sebenarnya dia ingin bertriak setuju saking senangnya. Tapi, bukankah itu akan terlihat… memalukan.

“Oppa, pernikahan itu bukan sesuatu yang main-main. Tapi sebuah ikatan yang akan membuat kita terikat seumur hidup dengan pasangan kita. Jujur saja, sejak kecil aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Jadi, aku sangat tidak siap jika suatu saat nanti dengan tiba-tiba oppa berniat untuk menceraikanku. Maka dari itu, aku harap oppa bisa mempertimbangkan segala sesuatunya terlebih dulu.”

Kata-kata Eun Kyo, benar-benar serasa menusuk. Mendadak membuatnya teringat dengan kejadian tadi siang.

“ Eun Kyo~ya, Eominim yakin Jung Soo akan setuju. Lagi pula selama ini Eominim tidak pernah melihatnya kencan ataupun tertarik dengan wanita manapun setelah 16 tahun yang lalu berpisah denganmu. Jadi, kau tidak perlu khawatir dengan kemungkinan dia akan menceraikanmu.” Jelas nyonya Park, berusaha untuk meyakinkan Eun Kyo.

“Benarkah? Tapi, tadi siang saat aku sedang melakukan pertemuan dengan seorang manager di Park Corporatian, aku melihatnya sedang….mencium seorang yeoja, Eomoni. Mungkin saja Jung Soo Oppa sudah punya kekasih. Aku hanya tidak ingin menjadi orang ketiga di antara hubungan mereka.” Ujar Eun Kyo dengan nada lirih, namun masih terdengar oleh orang-orang yang ada di ruangan itu.

‘DAMN…kena kau Park Jung Soo.’ Sinis Eun Kyo dalam hati.

Pernyataan Eun Kyo membuat semua orang yang ada di ruangan itu melongo tak percaya. Sementara Jung Soo mendadak pucat pasi. Terlebih melihat tatapan membunuh dari ibunya. Aigo, apa yang harus dia katakana sekarang? Gadis itu, benar-benar sedang menjebaknya.

“Jung Soo~ya, bisa kau jelaskan maksud dari perkataan Eun Kyo ? lalu siapa yeoja yang kau cium itu? Benarkah dia kekasihmu? Eo? Kenapa kau tidak pernah memberi tahu Eomma?.” Tanya Nyonya Park. Pertanyaan itu lebih seperti tuntutan bagi Jung Soo. Ayolah Park Jung Soo….. berfikir….berfikirlah sekarang juga. SHIT.

“ Park Jung Soo.” Pekik Nyonya Park dengan penuh emosi. Rasanya wanita itu benar-benar ingin mencekik anaknya itu sekarang juga. Sementara Jung Soo berusaha berfikir, jawaban apa yang harus dia berikan.

‘Ah, Geure!! kau mau bermain-main denganku Park Eun Kyo. Lihat saja, siapa yang akan kalah.’ Batinnya setelah merasa mendapat jawaban yang tepat.

“ Aigoo.. Yeobo~ya, apa yang kau katakan Eo? Kau tidak malu membicarakan hal seperti itu pada orang tua kita.” Ujar Jung Soo pada akhirnya. Perkataan Jung Soo membuat semua mata yang ada di ruangan itu, mengernyit. Bingung.

“Yak!! Apa maksudmu?” Tanya Eun Kyo bingung.

“Ah, kau menginginkan seperti yang tadi siang, arasseo aku pasti akan melakukannya, terlebih saat ini aku tahu, kalau ternyata kau adalah anaeku, jadi aku tidak perlu khawatir jika ingin melakukan lebih. Keunde, jangan mengatakannya di depan orang tua kita. Itu benar-benar membuatku malu.” Tambah Jung Soo

“YAK!!! Neo micheosseo? Sebenarnya apa maksudmu?” Tanya Eun Kyo emosi.

“ Micheo? Tentu saja tidak, aku hanya…”

“Yak yak yak… apa yang sedang kalian bicarakan? Jung Soo~ya sebenarnya apa yang ingin kau katakan.” Sergah Nyonya Park. Jung Soo menunjukkan evil smirknya pada Eun Kyo, membuat Eun Kyo merasakan aura yang benar-benar buruk. Pria itu melangkan memutari meja yang memisahkan antara keluarganya dan keluarga Eun Kyo. Perlahan tapi pasti, pria itu berjalan memutari sofa tempat Eun Kyo duduk, berdiri tepat di belakang Eun Kyo, sedikit mencondongkan badannya untuk merangkul pundak Eun Kyo dari belakang. Pria itu menopang dagunya pada bahu Eun Kyo bagian kanan, membuatnya dapat menghirup dengan jelas bau tubuh Eun Kyo, yang menurutnya sangat menenangkan. Seketika tubuh Eun Kyo menegang. Membuatnya serasa membeku di tempat. Jung Soo menatap orang tuanya yang ada di duduk di hadapannya. Menyunggingkan senyumnya, dan…

“ Dia kekasihku.” Perkataan Jung Soo sukses membuat keempat pasang mata lainnya melotot tak percaya. “ tadinya aku sudah berencana melamarnya. Tapi syukurlah, ternyata kami bahkan sudah menikah.” Lanjutnya.
“ jadi gadis yang dimaksud Eun Kyo itu…”
“ Itu Eun Kyo Eomma.” Serga Jung Soo cepat, benar-benar tidak peduli dengan kemungkinan bahwa gadis itu-Eun Kyo- bisa saja membunuhnya.
“ Aku rasa, dia hanya bermaksud memberi tahu kalian kalau kami sebenarnya sudah berhubungan sebelum pertemuan ini diadakan. Hanya saja. Caranya yang menurutku sedikit memalukan. Iyakan Yeobo?”

Konsentrasi Eun Kyo benar-benar buyar. Dia bahkan tidak pernah berfikir bahwa jebakannya akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Ditambah dengan perlakuan Jung Soo yang tengah membelai rahang kanannya. Membuat desiran-desiran aneh muncul begitu saja.

“Yeobo~ya”
“A, Ne.” Tanya Eun Kyo linglung. Pertanyaan itu, bahkan lebih terdengar seperti pernyataan.
“Aigoo… kalian benar-benar romantis.” Puji nyonya Park. senang. “Eommamu pasti akan bahagia di alam sana Eun Kyo~ya.”

Eun Kyo hanya tersenyum di paksakan, mendengar perkataan Nyonya Park. Gadis itu bahkan benar-benar tidak bisa berfikir sekarang.

“ Kau kalah Park Eun Kyo.” Bisik Jung Soo tepat di telinga Eun Kyo, bibir pria itu beralih keleher Eun Kyo dan mengecupnya sekilas. Membuat Eun Kyo benar-benar merinding. “ Dan sebagai hukumannya, kau harus menjadi tawanan seumur hidupku atas kekalahanmu…..otthe? tawaran yang menarik bukan?” Tambahnya.

***

===
Kau tahu???
Ciptaan terindah yang pernah Tuhan Ciptakan adalah dirimu.
Takdirku

====

Eun Kyo berjalan dengan malas memasuki Park Corporation. Gadis itu mendengus kesal mengingat telfon Key pagi ini. Bukan karena Key yang menelfonnya. Melainkan berita yang Key sampaikan lewat telfon pagi ini. Sahabat sekaligus asistennya itu mengatakan bahwa pihak Park Corporation ingin menemui Eun Kyo, mengingat karya-karya Eun Kyo-lah yang menjadi proyek fashion mereka saat ini. Tapi sialnya,orang yang akan ia temui kali ini, bukan maneger Minho. Melainkan, Presdir Park. Dan itu berarti, dia akan menemui suaminya sendiri. Eun Kyo tidak habis fikir, bagaiaman caranya pria itu mendapat alasan harus menemui designernya secara langsung. Mengingat selama ini, Pria itu selalu menyerahkan urusan sepele seperti ini pada orang kepercayaannya saja. Choi Minho. Atau yang lebih dikenal dengan Maneger Minho.

Ayolah, gadis itu tidak cukup bodoh bukan, untuk tahu maksud dari keinginan pria itu untuk bertemu dengannya pagi ini dengan alasan pekerjaan. Dia hanya merasa belum siap bertemu pria itu lagi setelah insiden semalam yang membuatnya malu setengah mati. Lagi pula, apa pria itu tidak cukup puas mengerjainya semalam. Gadis itu bahkan harus merelakan waktu tidurnya hanya karena memikirkan kejadian itu semalaman. Dan sekarang, pria itu dengan sesenaknya memintanya untuk datang ke perusahaanya. Benar-benar sama persis dengan Ibunya yang semalam-setelah penandatanganan berkas regristasi pernikahan- dengan seenaknya memutuskan akan mengangkut barang-barang Eun Kyo ke rumah Jung Soo hari ini. Sampai mereka menemukan apartemen yang tepat untuknya dan… suaminya. Bedanya, menurut Eun Kyo, Jung Soo sama sekali tidak memiliki sisi manis seperti ibunya. Yang bisa pria itu lakukan hanya membuatnya merasa kesal setengah mati saat mereka saling berdebat.

Eun Kyo melangkah keluar dari lift yang tadi ia naiki. Gadis itu berjalan dilantai 15, mencari ruangan orang yang akan dia temui. Presdir Park. Suaminya. Setelah beberapa kali bertanya pada karyawan-karyawan yang dia temui, akhirnya gadis itu menemukan tempat yang dia cari. Eun Kyo melangkah menuju meja sekertaris Jung Soo yang berada tepat di sebelah pintu masuk ruangan Jung Soo.

“ Annyeong, Sekertaris Han, saya ingin bertemu Presdir Park.” Sekertaris Jung Soo yang tadinya tengah mengetik beberapa data, menghentikan aktifitasnya. Berdiri, menatap sosok gadis yang ada di depannya, gadis dengan gaun santai selutut berwarna putih tulang tanpa lengan, makeup tipis yang membuat kesan natura padal wajah gadis itu tidak hilang, dan rambut panjang tergerai sepinggang yang membuatnya terlihat begitu…mempesona. Di tambah dengan highlist bermerek yang tidak terlalu tinggi. Memberikan kesan elegan pada kaki jenjang gadis itu. Terlebih lagi, gaunnya yang selutut, membuat betis kakinya yang mulus seputih susu terkspos jelas. Penampilannya benar-benar sederhana, tapi terlihat memukau. Membuatnya bertanya-tanya maksud dari kedatangan Gadis itu menemui Presdir Park. Dan, kenapa dia bisa memanggilnya sekertaris Han? Padahal dia merasa tidak pernah bertemu dengan gadis yang kini ada di hadapannya.
“ sekertaris Han” panggil Eun Kyo lagi, karena merasa tak kunjung mendapat respon.
“ Aa, choeseohamnida, apa anda sudah membuat janji?” Responnya.
“ Ne, katakan pada Presdir Park kalau saya sudah datang.”
“ Nama anda siapa nona?”
“ Eun Kyo, Park Eun Kyo.”
“Ah, Ne, sebentar saya sampaikan.” Sekertaris Jung Soo tadi, sesegera mungkin mengangkat ganggang telfon yang ada di hadapannya dan menempelknnya di telinga kanannya. Menekan angka 1 dari 9 digit nomer yang ada.
“ Oppa, Ada seseorang yang ingin menemuimu.”
“ Han Chairin, sudah berulang kali aku bilang, jangan memanggilku Oppa kalau kita sedang di kantor.” Respon Jung Soo di seberang telfon.
“Ah, arraso. Mianhe, aku lupa. Hehehe…”
“Geure, ya sudahlah. Tapi, ngomong-ngomong siapa yang ingin menemuiku?”
“ Seorang gadis. Namanya Park Eun Kyo.”
“ Jeongmal.!!! Suruh dia masuk.” Seru Jung Soo sumringah. Sementara Chairin yang mendengar nada sumringah itu merasa sedikit heran dan…kesal.
“Ah, Ne.”

Chairin meletakkan ganggang telfonnya dengan sedikit kesal. Membuat Eun Kyo merasa heran dengan tingkah laku sekertaris Jung Soo itu. Terlebih lagi saat Chairin memanggil Jung Soo dengan sebutan Oppa. Itu membuatnya sedikit tidak mencibir. Oh, ayolah…. Tidak bisakah gadis itu bersikap lebih formal saat bekerja. Apalagi, ini perusahaan besar. Mengenyampingkan kalau Chairin dan Jung Soo memang sudah saling mengenal. Karena yang Eun Kyo dengar-dengar, mereka berdua-Chairin dan Jung Soo- sudah berteman sejak kecil, menurut cerita Key. Tapi, tidak bisakah mereka bersikap layaknya atasan dan bawahan. Panggilan ‘sajhanim’ atau ‘presdir’sepertinya juga terdengar keren, kecuali jika Jung Soo sendiri yang meminta gadis itu memanggilnya dengan panggilan ‘oppa’.

“ Nona!”
“ Ah, ne. mian, tadi anda bilang apa?” respon Eun Kyo, tersadar dari pikirannya.
“ Presdir Park menunggu anda di ruangannya.” Ulang Chirin.
“ Ne. Khamsahamnida.” Balas Eun Kyo. Gadis itu kemudian melangkah menuju pintu Presdir Park dengan pikiran yang masih berpetualang ke mana-mana .’ Ayolah Park Eun Kyo, itu bukan urusanmu jika memang benar Jung Soo yang memintanya memanggilnya Oppa. Yah, meskipun dia memang suamimu. Tapi tetap saja itu haknya, Park Eun Kyo.’ Batin Eun Kyo. Merasa tidak perlu mengetuk pintu, Eun Kyo langsung masuk ke ruangan Jung Soo. Tapi…dimana pria itu?

“ Presdir Park.” Panggil Eun Kyo. Tapi gadis itu tidak mendapat respon. “ Sajanim.” Panggil Eun Kyo lagi.

‘Kemana pria itu, apa mungkin ada di sana.’ Batin Eun Kyo saat melihat toilet yang ada dalam ruangan Jung Soo. Tapi pikirannya seketika buyar, saat merasakan sepasang tangan memeluk erat pinggannya dari belakang. Membuatnya tersentak kaget dan terpaku.

“ Yeobo~ya, kenapa kau memanggilku seformal itu?” bisik jung Soo, tepat di telinga kiri Eun Kyo. Pria itu mengecup leher jenjang Eun Kyo. Membuat Eun Kyo menggelinjang kegelian, efek dari sensasi basah dan lembut dari bibir pria itu di permukaan kulit lehernya. Oh Gosh !!! sepertinya gadis itu menikmatinya. Dia bahkan sama sekali tidak berniat mendorong tubuh Jung Soo, atau kalau perlu, menginjak kaki Jung Soo agar dia bisa terlepas dari dekapan Jung Soo. Gadis itu bahkan tanpa sadar mendongakkan kepalanya, memberi celah lebih luas bagi Jung Soo untuk menjelajahi setiap inci lehernya. Bukan hanya kecupan, tapi Juga hisapan-hisapan yang membuatnya sedikit menahan erangannya. Diam-diam Jung Soo tersenyum puas melihat reaksi Eun Kyo atas perlakuannya. Pria itu membalik tubuh Eun Kyo menghadap kearahnya dan tanpa aba-aba mencium bibir tipis istrinya itu. Awalnya Eun Kyo hanya diam saja, tapi lama-kelamaan, Eun Kyo terhanyut dengan lumatan-lumatan lembut Jung Soo di bibirnya, membuatnya turut serta mengikuti permainan Jung Soo, membalas tiap kecapan lidah suaminya yang tengah menjelajahi rongga mulutnya. SHIT. Jung Soo mengerang tertahan. Merasakan setiap balasan Eun Kyo terhadap gerakan bibirnya, berbeda dari ciuman pertamanya, baginya kali ini. Ciumannya seperti wiski bercampur madu. Begitu manis dan memabukkan. Pria itu bahkan sudah mendorong tubuh Eun Kyo hingga membentur dinding. Menghimpit tubuh ramping milik istrinya itu dengan tubuhnya, bertumpu dengan kedua tangannya yang mencengkram erat pinggang Eun Kyo.

Eun Kyo sedikit meronta karena merasa sudah kehabisan oksigen. Memukuli pundak Jung Soo dengan pukulan-pukulan ringan. Memahami hal itu, Jung Soo menurunkan ciumannya ke leher Eun Kyo yang tiba-tiba saja menjadi bagian faforitnya setelah bibir. Sementara Eun Kyo hanya bisa menerima perlakuan Jung Soo dengan pasrah. Efek dari ciuman Jung Soo tadi, benar-benar membuatnya pusing. Gadis itu berusaha mengontrol saluran pernafasannya. Membuat pundaknya naik turun secara berirama.

“ Apa ini…tujuanmu…memintaku…datang…ke sini?” Tanya Eun Kyo dengan nafas yang masih terengah-engah. Setidaknya, kesadarannya perlahan-lahan mulai terkumpul. Jung Soo menghentikan kegiatannya di leher Eun Kyo. Mengangkat kepalanya, agar dapat dengan jelas melihat wajah Eun Kyo. Wajah dengan pipi merona merah dan mata yang indah. Sebuah wajah yang sudah menjadi pemandangan faforitnya di pertemuan pertama mereka. Jung Soo tersenyum manis, membuat Eun Kyo sedikit terpesona. Pria itu mengulurkan jemarinya untuk menyelipkan anak rambut Eun Kyo yang menutupi wajah gadis itu ke belelakang telinga. Memberikan sentuhan-sentuhan lembut pada pipi Eun Kyo dengan punggung tangannya. Dan menatap tepat di manik-manik matanya.

“ Tadinya bukan, tapi saat aku melihatmu, tiba-tiba saja hormonku meningkat.” Jawabnya santai. Membuat Eun Kyo melotot tidak percaya.

“Mwo?”

Jung Soo tertawa melihat ekspresi Eun Kyo. Mata gais itu melotot dengan sempurna, membuat Jung Soo setengah yakin, bahwa bola-bola kecil yang indah itu bisa saja keluar dari tempat yang seharusnya.

“ Wae?”
“ Neo Michoseo. Yak!!! Lepaskan aku, dasar prevent.” Bentar Eun Kyo. Berusaha memberontak dan mencoba melepaskan diri dari dekapan kedua tangan Jung Soo di pinggannya, meskipun sebenarnya dia tahu pasti bahwa perlawanannya hanya akan berujung dengan kesia-siaan. Gadis itu sekarang benar-benar kesal. Eun Kyo berhenti melawan. Membuat Jung Soo berusaha meredam tawanya, mengubahnya menjadi senyuman tulus di lengungan bibirnya. Pria itu sadar, bahwa istrinya sedang kesal. Dan dia tidak mau mengambil resiko menerima kekesalan Eun Kyo. Pria itu mengulurkan kembali jemarinya kewajah Eun Kyo, membuat Eun Kyo menatap ke mata Jung Soo. Tatapan pria itu saat ini, terasa begitu teduh. Dan itu membuat Eun Kyo perlahan-lahan merasa begitu nyaman.

“ Yeobo~ya, boleh aku bertanya?”

Suara lembut Jung Soo dan tatapan matanya, serasa membuat Eun Kyo terhipnotis. Eun Kyo hanya bisa mengangguk. Tanda meng-iya-kan permintaan Jung Soo.

“ Sejak kapan kau tahu bahwa aku suamimu?”

Eun Kyo tertegun mendengar pertanyaan Jung Soo, mendadak membuatnya kejadian kemarin siang.

“ Wae?”
“Aku hanya…ingin tahu.”

Eun Kyo berfikir sejenak. Memikirkan jawaban apa yang harus dia berikan.

“Sejak pertemuan kita kemarin siang di perusahaan ini.”

Deg.

Jawaban Eun Kyo membuat Jung Soo menghentikan belaian punggung tangannya di pipi Eun Kyo. Pria itu berusaha dengan susah payah menelan ludahnya. Perdebatan hebat kemarin siang, antara dirinya dengan Eun Kyo kembali dengan jelas terbayang diingatannya.

“Dan… aku juga sudah mulai mempertimbangkan saranmu.” Tambah Eun Kyo. Sebenarnya Eun Kyo hanya ingin membully Jung Soo. Jadi, dia harus berakting se-perfec mungkin.

Jung Soo mengerutkan keningnya. Mencoba mengingat-ngingat dengan jelas maksud dari perkataan Eun Kyo. Saran? Pria itu merasa tidak pernah memberi saran. Hingga, ingatannya tertuju pada satu hal.

“ Perceraian maksudku.” Ujar gadis itu pada akhirnya, karena merasa tidak mendapat respon dari Jung Soo.

DAMN…. Ternyata benar dugaan Jung Soo. Tidak. Gadis itu tidak boleh melakukan itu pada Jung Soo. Tidak pada saat Jung Soo tahu bahwa ternyata suami gadis itu adalah dirinya sendiri. Pria itu, tidak mau mengambi lresiko apapun yang berkemungkinan besar merusak seluruh kehidupannya dengan melepaskan gadis itu. Dia tidak sebodoh itu. Dan dia, tidak ingin memberikan kesempatan apapun pada gadis itu menimbang-nimbang tentang perceraian. Cih~ bukankah gadis itu sendiri yang bilang. Bahwa dia hanya ingin melakukan pernikahan sekali seumur hidup dengan seseorang. Dan itu berarti perceraian berada pada urutan pertama hal yang harus dia hindari.

“Aku akan mmpppfffttttt…”

Jung Soo mencium Eun Kyo dengan kasar. Melumatnya dengan tidak sabaran. Sedikitpun tidak memberi kesempatan untuk Eun Kyo melanjutkan kalimatnya. Pria itu, tidak ingin mengambil resiko dengan kemungkinan kalimat yang bisa saja lebih menyakitkan dari kata cerai. Sementara Eun Kyo berusaha memberontak sekuat tenaga. Memukuli dengan keras permukaan dada Jung Soo. Tapi itu sama sekali tidak membuat Jung Soo bergeser dari tempatnya, atu sekedar melepas ciumannya yang terasa kasar dan menuntut. Gadis itu akhirnya menyerah, menerima perlakuan Jung Soo meskipun dia sebisa mungkin menahan diri untuk mebalas setiap ciuman suaminya. Jung Soo memperlembut gerakan bibirnya di bibir Eun Kyo, membuatnya sedikit terhanyut dengan kelembutan pria itu. Eun Kyo mulai membalas ciuman Jung Soo, membuat Jung Soo tersenyum dalam di sesla-sela ciumannya. Pria itu baru akan menyelinapkan lidahnya ke rongga mulut Eun Kyo, saat tiba-tiba…

CEKLEKK!!!

“ Oppa, data yang kau minta sudah se….lesai.” Suara Chairin terdengat sarat akan keterkejutan.

Eun Kyo dengan refleks mendorong Jung Soo, membuatnya bisa sedikit bernapas lega karena sedikit terbebas dari dekapan pria itu. Berusaha mengontrol debaran jantung dan saluran pernafasannya. Sementara Chairin hanya bisa melongo di depan pintu. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Park Jung Soo. Presdir Corporation. Sedang…berciuman panas. Di ruang kerjanya. Benar-benar tidak bisa dipercaya.

“ Apa yang kalian lak….”
“Ah, Sekertaris Han. Ada apa? Apa data yang aku minta sudah selsai?” potong Jung Soo mengalihkan pandangannya kea rah Chairin. Chairin hanya mengangguk, tidak bisa berkata apa-apa lagi. “ Geureo. Simpan saja di meja.” Gadis itu hanya bergeming di tempatnya. Masih shock dengan apa yang tadi dia lihat.

“ Han Chairin.”
“Ah, Ne.” suara Jung Soo memulihkan kesadarannya. Gadis itu berjalan ke arah meja Jung Soo dan meletakkan berkas-berkas yang Jung Soo minta di atasnya. Lalu keluar, berniat kembali ke meja kerjanya, sesekali melirik dengan ekor matanya, ke arah pria dan wanita yang tadi menampilkan tayang mengejutkan baginya.

“SHIT. Memalukan.” Umpat Eun Kyo. Mendengar Umpatan Eun Kyo, membuat Jung Soo memfokuskan tatapannya pada Eun Kyo kembali. Pria itu tersenyum puas melihat bibir Eun Kyo yang sudah sedikit membengkak karena perlakuannya. Membuat tangannya yang masih di pinggang Eun Kyo terulur secara refleks membelai bibir bawah Eun Kyo dengan ibu jarinya. Membuat Eun Kyo sedikit tertegun menerima skinship yang kesekian kalinya dari pria di hadapannya. Pria itu mencondongkan tubuhnya lebih dekat dengan Eun Kyo. Membuat jarak antara wajah mereka semakin menyempit. Dan membisikkan sesuatu… tepat di depan wajah Eun Kyo. Membuat wajah Eun Kyo yang sudah menegang menjadi pucat pasi.

“ Itu balasannya jika kau berniat membuatku patah hati. Kau fikir akau akan melepaskanmu begitu saja. Setelah aku tahu dengan pasti bahwa kau…selama ini ternyata sudah menjadi milikku. Tidak. Aku tidak sebodoh itu Yeobo. Cerai kau bilang? Cih~, aku pastikan itu tidak akan pernah terjadi. Meski kau mengancam untuk membunuhku atau bunuh diri sekalipun. Jadi, jangan pernah mengatakannya lagi, atau aku…akan memberimu balasan yang lebih parah dari ini. Kau faham?” Bisiknya dengan nada penuh ancaman.

***

===
Biarkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri
Seperti waktu yang menyimpan sebuah cerita dalam ingatan
seperti air yang tak paham dengan kesejukan

====

Dua hari telah berlalu sejak kejadian ciuman panas di ruang kerja Jung Soo. Saat itu, setelah Jung Soo mengancamnya dengan ancaman yang menurut Eun Kyo sedikit. Ah ralat, sangat berbahaya, Jung Soo langsung mengumumkan pernikahannya mereka pada seluruh karyawannya demi menjaga citranya sebagai seorang Presdir. Selain untuk menjaga nama baiknya di mata karyawan karena telah ‘berciuman’ dan hampir melakukan ‘itu’ di perusahaannya, Jung Soo juga bermaksud untuk mempublikasikan pada semua orang, bahwa gadis yang bernama Park Eun Kyo itu adalah miliknya yang sah. Dan itu berarti, tidak ada celah bagi pria manapun untuk mendekati istrinya. Mengingat Eun Kyo adalah gadis yang cukup menarik dan…cantik. Bukannya tidak mungkin jika banyak pria di luar sana yang menginginkan gadis itu. Banyak karyawan yang memberinya selamat, dan mengatakan bahwa mereka adalah pasangan yang serasi. Termasuk sekertarisnya. Han Chairin. Yang menyaksikan secara langsung tindakan yang memalukan itu.

Untung saja, Tuan Park. Ayah Jung Soo. Menugaskan Jung Soo ke Jeju selama empat hari sepulang jam kerja pada hari itu juga. Jadi Eun Kyo bisa merasa tenang malam harinya. Mengingat hari itu adalah hari kepindahannya ke rumah Jung Soo. Tapi sekarang, gadis itu merasa benar-benar merindukan Jung Soo. Hari ini adalah hari ketiga dia tidak melihat suaminya. Perasaan bencinya dulu dan dan rasa kesalnya akhir-akhir ini, kita berganti dengan rindu yang mendalam. Eun Kyo hanya memandangi pigur foto-foto Jung Soo yang menghiasi setiap sudut rumah yang kini dia tempati untuk lebih intim merasakan kehadiran suaminya. Berharap Jung Soo juga melakukan hal yang sama dengan apa yang dia lakukan saat ini. Merindukannya. Sangat. Itu yang Eun Kyo rasakan. Dan Eun Kyo sedikit berharap, bahwa Jung Soo juga merasakan hal yang sama.

Gadis itu tengah duduk di sofa kamarnya. Dengan kedua kaki ditekuk di atas sofa. Menjadikan kedua lututnya sebagai penopang dagunya. Kedua tangannya melingkar, memeluk kedua betis kakinya yang putih. Matanya, sedari tadi hanya tertuju pada foto di atas meja yang ada di hadapannya. Memandang figur foto seorang pria yang tidak lain adalah suaminya. ‘aku merindukanmu Park Jung Soo-sshi. Kenapa empat tahun terasa seperti empat abad.’ Batin Eun Kyo. Gadis itu melirik ke arah telfon genggamnya, sedikit berharap bahwa pria itu mungkin akan menelfonya. Sekedar menyapa mungkin. Tapi tidak, Eun Kyo tahu dengan pasti bahwa harapannya hanya sia-sia, mengingat semenjak Jung Soo pergi, Eun Kyo tidak pernah sekali pun menerima telfon dari Jung Soo. Bukan itu keterlaluan. Apa pria itu sebegitu sibuknya dengan pekerjaannya di luar kota, hingga bahkan untuk menyempatkan diri menyapa istrinya sendiri tidak pernah dia lakukan. Bukankah itu terdengar sangat….menyedihkan?

Eun Kyo menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya secara kasar. Sebuah usaha yang selalu di lakukan untuk mengurangi sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak.

Tok…Tok…Tok…

Suara ketukan pintu menyita perhatian Eun Kyo. Membuatnya beranjak untuk bergegas membuka pintu. Dan tersenym ramah saat mendapati ibu mertuanyalah yang kini ada di hadapannya.

“ Ada apa Eomonim?” Tanya Eun Kyo ramah. Berusaha menyembunyikan suasana hatinya.
“ Anhi, kau sedang apa Eun Kyo~ya, apa aku mengganggumu?”
“ Anhi, aku tidak sedang apa-apa Eomonim. Hanya sedikt merasa…kesepian.” Jujur Eun Kyo pada akhirnya.
“ Eo? Ahhhh…itu, mian. Harusnya Eomma tidak membiarkan Jung Soo menginap terlalu lama di luar kota. Tapi apa boleh buat, suami Eomma bilang kalau masalah ini hanya Jung Soo saja yang bisa menyelesaikannya. Padahal, kau baru saja pindah.” Jelas Nyonya Park penuh sesal.
“Gwaenchana Eomonim. Aku tidak apa-apa. Besok Jung Soo oppa juga sudah pulang.” jawab Eun Kyo lembut. Gadis itu sedikit menyesal dengan keluhannya yang membuat ibu menantunya terlihat seperti merasa bersalah. “ Jadi, apa ada yang ingin Eominim bicarakan denganku.” Tanya Eun Kyo, berusaha mengalihkan topic pembicaraan.
“ Ah, igo. Kau masih ingatkan?” ujar Nyonya Park sembari menyodorkan sebuah cincin. “ sebenarnya, Jung Soo ingin memberikannya saat malam pertama kau pindah ke rumah ini. Tapi, sepertinya dia tidak sempat, jadi dia menitipkannya padaku.” Tambahnya. Eun Kyo tersenyum menerima cincin itu dan mengulurkan tangannya untuk mengambilnya dari telapak tangan Nyonya Park yang terbuka.

“ Geuresso, istirahatlah. Aku juga harus kembali ke kamar.” Eun Kyo tersenyum dan mengganggu sebagai jawaban. Tapi belum ada sesuatu yang mendadak ingin dia tanyakan.
“Chakamman Eomonim,,, apa Jung Soo Oppa mengingat tentang cincin ini?” Tanya Eun Kyo pada akhirnya, saat melihat wanita paruh baya itu hampir berbalik dan meninggalkannya. Nyonya Park tersenyum tipis mendengar pertanyaan Eun Kyo. Sebelum akhirnya menggeleng sebagai jawaban.

“Jung Soo mengalami amnesia. Dua minggu setelah kepergianmu dan keluargamu ke Jepang 16 tahun yang lalu, Jung Soo mengalami kecelakaan. Dan kepalanya terbentur batu besar yang ada di pinggir jalan. Kata dokter, Jung Soo mengalami geger otak ringan. Itu yang membuatnya lupa ingatan. Tapi anehnya, dia…” jelasnya Nyonya Park. Berusaha menimbang-nimbang untuk melanjutkan ceritanya atau tiak.

“ dia kenapa Eomonim?” tuntut Eun Kyo dengan tidak sabar.
“ dia…dia hanya lupa padamu saja. Dia ingat semua hal sejak sebelum dia kecelakaan. Kecuali dirimu. Mianhe Eun Kyo~ya, Eomonim tidak bermaksud menyak…”
“Gwaenchana Eomonim. Tapi, kenapa hanya aku yang Jung Soo Oppa lupakan?” Ujar Eun Kyo berusaha menahan tangisnya.

“ Eomma lupa nama amnesianya, tapi kata Dokter itu sejenis amnesia yang hanya akan membuat Jung Soo lupa pada hal-hal yang memang ingin dia lupakan sebelum kecelakaan itu terjadi. Atau hal-hal yang membuatnya sangat terluka. Jujur saja, dalam waktu dua minggu sebelum kecelakaan itu, keadaan Jung Soo memang sangat terlihat kacau setelah kepergianmu. Anak itu jadi lebih pendiam dan jarang makan, bahkan aku sering sekali mendengarnya menangis saat melewati kamarnya tengah malam. Anak itu, terlihat seperti tidak punya semangat hidup sama sekali. Dia lebih terlihat seperti mayat hidup. Bahkan Eomonim sendiri tidak menyangka, bagaiman mungkin anak sekecil itu bisa merasakan penderitaan begitu dalam hanya karena kehilangan seseorang. Bukankah itu terdengar tidak wajar. Dia seperti kehilangan seluruh jiwanya.” Ujar Nyonya Park dengan suara sedikit bergetar. Berusaha menahan air matanya.

“ Berbagai usaha kami lakukan untuk membuatnya kembali menjadi putra kecil kami yang ceria. Meluangkan waktu lebih banyak untuk menemaninya belajar dan bermain, mengajaknya jalan-jalan ke berbagai tempat wisata ataupun taman hiburan. Semuanya sudah kami lakuakan Eun Kyo~ya. Tapi semuanya sia-sia. Tidak ada kemajuan yang diperlihatkan oleh Jung Soo kecil kami. Lalu kami, mengajaknya berlibur ke Jeju. Sedikit berharap Jung Soo bisa sembuh bila kami membawanya kesana.”

“Hingga di suatu sore, saat Eomonim mengajaknya berbelanja di supermarket. Kejadian tragis itu menimpanya. Jung Soo tertabrak sebuah mobil van saat tengah menyebrang jalan. Kau taukan restoran di dekat Villa kalian yang bersebrangan dengan supermarket? Restoran tempat kalian…pertama kali bertemu. Jung Soo berjalan ke arah restoran itu tanpa melihat kanan kiri terlebih dulu Eun Kyo~ya. Di sana… di tempat itulah tubuh Jung Soo terhempas. Saat itu…hiks..saat itu… Eomonim merasa jantung Eomonim serasa berhenti berdetak. kami takut kehilangan putra kami satu-satunya. Kami…hiks..hiks…”Kali ini Nyonya Park benar-benar tidak bisa menahan air matanya. Eun Kyo mendekap erat tubuh ibu mertunya itu juga dengan cucuran air mata. Gadis itu benar-benar tidak tahu bahwa kepergiannya akan menyebabkan tragedy setragis itu. Dan yang paling menyakitkan adalah. Kejadian itu membuat Jung Soo sama sekali melupakan masa lalunya.

“ Mianhe Eomonin…mianhe…jeongmal mianhe…ini semua salahku.” Ujar Eun Kyo dengan suara serak.
Nyonya Park menggeleng di pundak Eun Kyo sebagai tanda, bahwa wanita itu sama sekali kalu ini bukan salah Eun Kyo.
“Anhi…bukan salahmu…ini semua takdir Eun Kyo~ya. Aku tidak pernah sekalipun menyalahkanmu.” Ujar Nyonya Park dengan terisak di bahu menantunya.
“Anhi….ini semua salahkan Eomonim…aku yang salah….seandainya dulu aku tidak memutuskan untuk pergi. Seandainya dulu aku menerima tawaran Eomonim untuk tinggal bersama kalian. Semua ini pasti tidak akan terjadi….aku yang salah Eomonim….mianhe…aku…aku…”
“ Jangpan pernah lagi meninggalkannya…Jangan pernah lagi meninggalkan uri Jung Soo… apapun alasannya… Eomonim mohon…. Jangan pernah lagi meninggalkannya Eun Kyo~ya.” Pinta Nyonya Park dengan suara memelas. Eun Kyo membelai punggung Ibu mertunya dengan penuh kelembutan. Berusaha menyalurkan kekuatan untuk menenangkan ibu mertuanya itu. Meskipun pada kenyataannya, dia juga butuh seseorang untuk menenangkannya. Tapi, dia harus kuat. Air matanya, hanya akan membuat nyonya Park semakin merasa bersalah. Isakan wanita berusia setengah baya itu perlahan-lahan mulai menghilang. Membuat Eun Kyo sedikit bisa bernafas lega. Eun Kyo mengendurkan pelukannya. Mendorong pelan bahu ibu mertunya. Membuatnya bisa dengan jelas melihat bulir-bulir ait mata di permukaan pipi ibu mertuanya. Menatap tepat di kedua bola mata Ibu mertunya yang sudah memerah dengan tatapan penuh ketulusan dan keseriusan.

“Aku berjanji Eomonim…aku berjanji… aku tidak akan pernah meninggalkannya lagi… aku berjanji. Bahkan jika perlu, aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk terus bertahan di sisinya.” Ujar gadis itu, berusaha menyunggingkan senyum tulusnya.

***

Eun Kyo duduk di atas tempat tidurnya, dengan posisi kedua kaki terjuntai ke bawah ranjang. Gadis itu mentap cincin yang di berikan oleh ibu mertuannya beberapa menit yang lalu. Dia masih ingat dengan jelas, jawaban terakhir yang diberikan oleh ibu Jung Soo atas pertanyaannya, sebelum ibu mertuanya itu kembali ke kamarnya dengan mata yang cukup membengkak. Jawaban ketika dia menanyakan pada ibu Jung Soo alasan mertuanya itu mempertahankan pernikahan anaknya. Padahal secara tidak langsung. Eun Kyo-lah yang membuat semua tragedy itu terjadi. Tapi Nyonya Park selalu saja mengelak dan mengatakan bahwa itu adalah takdir.

“ Karena aku yakin. Kau satu-satunya orang yang bisa mengembalikan sifat manusiawinya. Eun Kyo~ya. Keadaanya selama ini memang jauh terlihat lebih baik dari saat sebelum kecelakaan itu terjadi. Tapi, sejak saat itu Jung Soo berubah menjadi orang yang benar-benar menutup dirinya pada orang lain, terutama wanita. Mungkin dia tidak menyadari alasannya kenapa merasa harus melakukan itu. Tapi Eomma tahu dengan pasti Eun Kyo~ya. Jauh di lubuk hati dan ingatannya, dia sangat merindukan kehadiranmu. Meyakini bahwa ada seseorang yang tidak lebih bisa membuatnya tertarik selain dirimu. Meski dia tidak tahu siapa orang itu. Aku yakin, meskipun anakku itu saat ini lupa segalanya tentangmu. Tapi ingatannya saat bersamamu dulu, tidak akan pernah benar-benar hilang. Eomonim hanya sudah lelah melihat Park Jung Soo yang bersama Eomma 16 tahun ini. Park Jung Soo yang acuh dengan apapun di sekitarnya. Park Jung Soo yang tidak pernah tertarik dengan apapun yang ada di sekitarnya. Park Jung Soo yang dingin pada semua orang kecuali keluarganya. Park Jung Soo yang menghabiskan 18 jamnya di perusahaaan. Park jung Soo yang tidak pernah memikirkan kehidupan pribadinya. Eomonim lelah Eun Kyo~ya. Emonim hanya ingin anak Eominim bersikap sedikit lebih manusiawi. Dan…hanya kau yang bisa melakukannya.”

Seperti itulah jawaban yang dia dapatkan. Jawaban yang membuatnya sedikit merasa tidak percaya. Membuatnya perlahan-lahan membawanya dalam ingatan masa lalunya. Masa lalu yang mempertemukannya dengan Jung Soo. Masih melekat jelas dalam ingatannya. Saat awal pertemuan mereka di restoran yang berada di dekat Villa milik keluarganya di pulau Jeju. Sebuah restoran yang menjadi saksi bisu pertemuan hangat mereka. Tempat mereka saling merasa tertarik dan jatuh cinta. Perasaan yang sangat tidak wajar dimiliki oleh bocah seumuran mereka pada saat itu. Bahkan dengan polosnya Jung Soo meminta Eun Kyo untuk tinggal bersamanya selamanya.

“Eomma, Eun Kyo bolehkan tinggal di rumah kita. Aku ingin bersama-sama dengannya sampai tua, seperti Harabojhi dan halmoni.” Ujar Jung Soo kecil pada ibunya.

“Tidak bisa sayang. Eun Kyo punya rumah sendiri. Jadi dia tidak akan bisa tinggal dengan kita.” Jelas Ibu Jung Soo.

“Eomma dan appa juga punya rumah sendiri-sendiri. Kenapa Eomma bisa tinggal dengan appa.” Tanya Jung Soo kecil memasang wajah kecewanya.

“itu karena Eomma dan Appa sudah menikah. Jadi, kami harus tinggal bersama-sama.” Jelas Ibu Jung Soo selembut mungkin.

“Kalau begitu aku juga mau menikah dengan Eun Kyo.” Putus Jung Soo dengan nada serius. Membuat lima orang lainnya yang ada bersama dengannya sedikit merasa terkejut. Tapi akhirnya tertawa memikirkan kepolosan Jung Soo. Sementara Eun Kyo, hanya tersenyum mendengar permintaan Jung Soo yang sedikit menjurus kea rah kedewasaan. Tapi, apa bocah itu sudah bisa merasakan Jatuh Cinta seperti yang orang dewasa rasakan?. Atau pria itu memang memiliki pemikiran yang lebih dewasa dari umurnya.? Atau malah, pria itu hanya maing-main? Entah apappun alasannya. Yang pasti, perasaan tidak ingin kehilangan yang paling mendominasi dalam benar Jung Soo saat ini.

“Eomma, aku serius…. Aku mau menikah dengan Eun Kyo. Aku…aku…mau selalu bersama dengannya. Eo? Jebalyo. Aku janji tidak akan jadi anak nakal lagi dan akan menjadi anak penurut.” Ujar Jung Soo. Bocah itu bahkan hampir menangis karena merasa merasa di acuhkan. Dia…benar-benar ingin selalu bersama dengan gadis kecil yang kini ada di hadapannya. Menjadikannya orang yang mengisi hari-harinya. Apa itu keinginan yang salah?

“ Aigoo… Jung Soo~ya. Kau masih kecil sayang. Nanti kalau kau sudah dewasa, kau boleh menikahi uri Eun Kyo.” Bujuk Ibu Eun Kyo.

“Tapi, aku mau menikah.” Jawabnya lirih. Pria itu menundukkan kepalanya dengan perasaan kecewa.. air matanya kini bahkan sudah jatuh membentuk sungai kecil di permukaan pipinya. Eun Kyo yang sedari tadi duduk di hadapannya dengan meja sebagai perantara, turun dari kursinya. Berjalan mendekati Jung Soo. Memengan kedua sisi wajah Jung Soo dengan kedua tangannya. Mengangkatnya, dan menyejajarkan wajahnya dengan wajah sembab bocah kecil itu. Eun Kyo mengulurkan kedua tangan mungilnya untuk menghapus sisa-sisa air mata di pipi Jung Soo. Tersenyum. Dan mengatakan sesuatu yang membuat Jung Soo ikut tersenyum.
“Aku juga mau selalu bersama Oppa.” Ujar gadis itu dengan suara kecilnya. Suara yang membuat hati Jung Soo seolah di tumbuhi jutaan bunga lili yang bermekaran.

Eun Kyo mencium kita bibir Jung Soo, membuat kelima pasang mata lainnya melotot tidak percaya terutama Jung Soo. Bocah kecil itu mendadak membeku, seolah baru saja terkena sengatan listrik yang menghentikan seluruh system kerja tubuhnya. Dan baru tersadar saat…

“ Ayo kita menikah.” Suara Eun Kyo menyadarkannya. Sedangkan orang tua mereka hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku putra-putinya yang terbilang sedikit. Ah…anhi, sangat tidak wajar itu.

Eun Kyo tersenyum mengingat saat-saat itu. Saat-saat di mana dia merasa sangat senang karena memiliki seseorang yang selalu bersamanya, menjaga dan melindunginya. Menemaninya jalan-jalan dan bermain. Membuat hari-harinya serasa lebih menyenangkan setiap harinya. Tapi itu hanya berlangsung selama sekitar 1 bulan. Karena Eun Kyo dan keluarganya harus pindah ke Jepang. Saat itu ayah Eun Kyo harus mengurus sebuah proyek besar yang akan membuatnya menetap di jepang dalam waktu yang tidak di tentukan. Awalnya Eun Kyo menolak, tapi akhirnya dia setuju. Padahal pada saat itu, Eun Kyo bisa saja menerima tawaran ibu Jung Soo untuk tinggal bersama di Seoul. Mengingat ayah Jung Soo juga sudah menyelesaikan pekerjaannya di pulau Jeju. Sama seperti orang keluarganya. Keluarga Jung Soo berada di Jeju juga karena masalah pekerjaan. Karena itu, mereka akan kembali ke Seuol bertepatan dengan hari keberangkatan keluarga Eun Kyo ke Jepang.

Sehari sebelum keberangkatan mereka, Eun Kyo berusaha menemui Jung Soo. Eun Kyo kecil itu menunggu Jung Soo di bawah pohon maple pinggir danau tempat mereka biasanya menghabiskan waktu sore untuk melihat sun set. Jung Soo berjanji akan menemuinya di tempat itu. Tapi hampir seharian Eun Kyo menunggu. Jung Soo tak kunjung datang. Padahal langit sudah terlihat mendung, dan akhirnya memnumpak tetesan air hujan yang membasahi tubuh Eun Kyo. Seluruh tubuh Eun Kyo sudah basah kuyup, sampai tubuhnya menggigil kedinginan. Tapi Jung Soo tak Juga datang. Hingga perlahan-lahan kepalangnya mulai pusing dan akhirnya kehilangan kesadarannya. Saat Eun Kyo terbangun. Dia sudah berada di rumah sakit. Sepertinya ayah atu ibunyalah yang menemukannya. Karena hari itu Eun Kyo hanya pamit pada orang tuanya. Sedangkan tempat Eun Kyo menunggu adalah tempat yang cuckup jarang di datangi oleh orang lain. Sejak saat itulah Eun Kyo memutuskan untuk ikut ayahnya ke Jepang. Membawa kekecewaan yang begitu besar akan kebohongan Jung Soo. Kebohongan atas kedatangannya. Andai saja saat itu Jung Soo benar-benar datang. Eun Kyo bisa saja merengek pada orang tuanya untuk membiarkannya tinggal bersama keluarga Jung Soo. Dan sejak saat itu pula, dia benci dengan seseorang yang bernama Park Jung Soo. Suaminya. Eun Kyo bahkan tidak mau lagi pulang ke korea setelah ke pindahannya. Hingga saat lima tahun yang lalu ibunya meninggal. Memaksanya, mau tidak mau harus kembali ke korea atas permintaan terakhir ibunya.

Eun Kyo sempat bersyukur karena selama lima tahun dia tinggal di korea, dia tidak pernah bertemu dengan Jung Soo. Meski gadis itu sering mendengar kalau Jung Soo saat itu sudah menjadi pengusaha sukses dan cukup terkenal di Korea. Bahkan berbagai media sering meliput tentang pria itu. Tapi dia terlalu enggan untuk mengetahui apapun tentang lelaki itu. Jadi sebisa mungkin, dia menghindari hal apa pun yang berkaitan dengan Jung Soo. Ia bahkan tidak tertarik untuk tahu seperti apa wajah Jung Soo.

Yang dia tahu saat berada di korea, adalah bagaimana caranya mengembangkan memperluas usaha butiknya dengan Key. Anak dari teman ayahnya. Key cukup berbakat, meskipun dia seorang pria, tapi dia mempunyai skill untuk menjadi seorang design. Dan itulah yang membuatnya menjadikan key sebagai asistennya.

Kehidupannya selama ini terasa lancar-lancar saja. Sebelum beberapa hari terakhir ini, ayahnya kembali membahas tentang Jung Soo. Ayahnya mengatakan bahwa dia selalu bermimpi bertemu dengan ibunya, yang meminta Eun Kyo untuk mengesahkan pernikahan Eun Kyo dan Jung Soo secara hukum. Dan itu, membuat Eun Kyo benci. Tapi, Eun Kyo juga tidak bisa memungkiri, bahwa sejujurnya Eun Kyo juga sangat ingin bertemu dengan pria itu.

Huft~

Mengingat itu semua,benar-benar membuat Eun Kyo pusing. Gadis itu mengalihkan pandangannya dari cincin di telapak tangannya ke sebuah laci meja di samping sisi atas tempat tidur. Mengambil seutas benang dan menelusupkannya kedalam lubang cicin itu. Membuatnya menjadi sebuah kalung. Tidak, gadis itu tidak akan memakainya sendiri. Dia ingin Jung Soo yang memakaikannya. Jadi, sebelum waktu itu tiba. Gadis itu akan menjaga cincin pernikahannya dengan caranya sendiri.

***

Kriiiinnnngggggg….. Kriiinnngggggg…..!!! Kriiinnggggg…… Kriiinnggggg…..!!
Dering telfon rumah bergema di seluruh ruangan Eun Kyo. Gadis yang baru terlelap itu mengeliat lambat. Dengan sangat malas, mengulurkan tangannya untuk meraih gagang telfon itu. Astaga…. Orang gila mana yang menelfon orang lain tengah malam begini.
“ Yeoboss…”
“Nuna~ya…hiks…Nuna…bisakah kau kesini…Eomma…Eomma…” triak orang lain di sebrang telfon.
“ Key~ya… tenanglah ada apa? Kenapa kau menangis eo? Apa yang terjadi?” Tanya Eun Kyo tidak bisa menutupi kecemasannya. Suara yang tadinya dia anggap orang gila, ternyata adalah suara Key. Dan yang lebih membuatnya tidak mengerti adalah suara pria itu terdengar begitu sarat akan ketakutan. Membuat rasa kantuk yang tadi masih menjalari kedua kelopak matanya, serasa lenyap begitu saja. Berganti rasa cemas, khawatir, dan bingung yang bercampur aduk.
“ Eomma…. Nuna. Eomma…hiks….hiks….”
“Wae? Apa yang terjadi? Kenapa dengan Ahjumma. Palli malhebwa.” Sergah Eun Kyo gusar. Benar-benar tidak bisa bersabar menunggu jawaban dari pria yang sudah dia anggap sebagai dongsaengnya itu.
“ Eomma…. Ireona…ireona Eomma….. EOMMAAAA.….”

Tut tut tut…

Eun Kyo hanya terpaku mendengar triakan Key. Membuat kekhawatirannya semakin memuncak saat sambungan terlfon itu tiba-tiba saja terputus. Menambah prasangka akan kemungkinan yang sangat buruk tengah di alami pria itu saat ini. Gadis itu tanpa piker panjang beranjak dari tempat tidurnya, menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja riasnya, dan sesegera mungkin berlari keluar kamar. Hanya satu yang gadis itu fikirkan saat ini. Bagaimana cara agar dia bisa cepat sampai di rumah Key, memastikan bahwa keadaan pria itu baik-baik saja. Dia bahkan tidak peduli dengan fakta bahwa dia hanya mengenakan sepasang baju tidur bermotif buah apel kesukaannya. Yang dia tahu saat ini adalah pria itu sedang menangis. Ketakutan. Dan itu cukup untuk membuatnya khawatir.

***

BLAM!!! Eun Kyo membanting pintu mobilnya dengan kasar, menimbulkan debuman yang cukup keras antara pintu dengan badan mobil. Gadis itu berlari dengan sangat tergesa-gesa menuju pintu rumah Key. Menggedornya dengan tidak sabaran. Dan langsung menerobos masuk saat Shin Ahjumma membukakan pintu dengan mata yang cukup sembab. Membuat kekhawatiran Eun Kyo semakin bertambah. Gadis itu semakin terpaku saat dia sampai di depan kamar Nyonya Kim – Eomma Key- yang terbuka lebar. Menampakkan pemandangan yang membuatnya sukses terpaku di depan pintu.

Key. Pria itu benar-benar menangis. Begitu terlihat menyedihkan dan berantakan. Sementara Nyonya Kim tengah terbaring lemah di atas tempat tidurnya dengan seorang uisa di sampingnya. Tapi bukan itu, bukan hanya itu yang membuatnya tidak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya. Melainkan juga fakta bahwa wanita paruh baya itu, bukan hanya harus terbaring dalam keadaan tak sadarkan diri. Tapi juga harus menerima berbagai tusukan selang di kedua pergelangan tangan dan hidungnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah wanita itu baik-baik saja beberapa hari yang lalu.

“ Nuna~ya.” Seru Key yang melihat Eun Kyo hanya diam terpaku didepan pintu. Pria itu berdiri, sedikit berlari kearah Eun Kyo dan memeluk erat gadis itu. Seolah-olah, dia benar-benar butuh pegangan agar tidak jatuh saat itu juga.

“ Eottokhe…???? Eotthoke Nuna??? Ini semua salahku. Ini salahku Nuna.” Isak Key. Bahkan tangisannya begitu sarat akan rasa sakit. Dan itu membuat Eun Kyo juga merasa sakit. Mengingat Key adalah orang yang kuat. Dia bahkan nyaris tidak pernah melihat Key menangis. Tapi sekarang, pria itu terlihat begitu rapuh. Bahkan mungkin lebih rapuh dari sebatang lidi.

Eun Kyo membalas pelukan Key. Mengusap-ngusap punggung pria itu dengan lembut. Berharap mampu sedikit menenangkan pria itu, meskipun sejujurnya dia juga sedang merasa kalut. Sama halnya dengan Key, Kim ahjumma adalah wanita yang sudah dia anggap seperti keluarganya sendiri. Meskipun wanita yang kini terbaring lemah itu tidak dapat menggantikan sosok ibu kandungnya. Namun gadis itu, Kim ahjumma adalah wanita yang luar biasa, karena mampu membesarkan Key sendirian sejak kematian suaminya 11 tahun yang lalu. Meskipun Eun Kyo hanya mengenal keluarga Key –Key dan ibunya- selama kurang lebih 5 tahun, tapi gadis itu yakin bahwa keluarga Key adalah keluarga yang sangat hebat. Dan itu membuatnya sangat bersyukur karena bisa mengenal mereka.

Eun Kyo berusaha bersikap setenang mungkin. Menyembunyikan kekhawatirannya. Gadis itu mengerakan pelukannya.

“ Tenanglah Key~ya, ini semua bukan salahmu. Kim Ahjumma pasti akan baik-baik saja. Lebih baik kita keluar. Biarkan uisa memeriksa keadaan Kim ahjumma dengan tenang.”

Suar Eun Kyo yang sarat akan kelembutan hanya bisa membuat Key mengenggung dalam isaknya yang sedikit memelan. Berada dalam pelukan gadis itu, bisa sedikit membuatnya tenang.

Eun Kyo menuntun Key keruang keluar rumah Key. Selama beberapa jam mereka hanya duduk diam menanti kabar dari uisa. Eun Kyo terlalu segan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Sementara Key merasa takut menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Meskipun gadis di hadapannya itu mengatakan bahwa itu bukan kesalahannya. Tapi Pria itu tetap merasa bahwa itu adalah kesalahannya. Dan Key yakin bahwa Eun Kyo pasti akan berubah pikiran setelah mendengarkan alasannya. Gadis itu bisa saja membencinya. Dan dia tidak mau mengambil resiko sebesar itu.

Merasa bahwa Key membutuhkan ketenangan. Gadis itu mengajak Key ke suatu tempat. Key tidak bisa menolak, meskipun sejujurnya pria itu tidak ingin meninggalkan ibunya dalam keadaan seperti itu. Tapi genggaman tangan Eun Kyo di tangannya, entah mengapa serasa mengisyaratkan bahwa ibunya akan baik-baik saja. Gadis itu menggengnggam jemari tangannya dengan begitu hangat. Membukakan pintu mobil untuknya dan tersenyum ke arahnya, mengisyaratkan agar dia tidak perlu khawatir.

Eun Kyo membawa Key ke tepian sungai Han, tempat yang sering di jadikan pelarian oleh sebagian besar orang yang merasakan kesedihan. Entahlah. Sepertinya tempat itu adalah salah satu tempat faforit bagi sebagian besar warga kota Seoul. Mereka duduk di sebuah kursi panjang yang ada di tepi sungai, memandang ke tengah sungai yang membiaskan cahaya dari lampu-lampu perumahan kota Seoul. Sementara hawa dingin di tempat itu, sepertinya tidak berpengaruh banyak bagi mereka.

“ Mianhe.” Ujar Key memecah keheningan. Membuat Eun Kyo menoleh ke arahnya.
“ Wae?”
“ Karena aku melibatkan Nuna. Harusnya tadi aku tidak menelfon Nuna. Hanya saja, saat itu yang ada dalam ingatanku hanya Nuna. Jadi, mianhe karena telah melibatkan Nuna.” Ujar Key dengan penuh penyesalan tanpa mengalihkan pandangannya.
“Gwaenchana. Lagi pula, kau dan Kim ahjumma sudah aku anggap sebagai keluargaku sendiri.” Aku Eun Kyo, menyunggingkan seutas senyum di bibir tipisnya.
“ Nuna~ya, aku akan pergi ke New York.”
Eun Kyo mengerutkan keningnya. Pertanda bahwa dia sama sekali tidak mengerti. Key monoleh ke arah Eun Kyo dan melanjutkan omongannya.
“ Aku dan Eomma akan tinggal di sana untuk kesembukan Eomma.” Jelas Key. Membuat Eun Kyo tersenyum akan maksud dari kepergiannya.
“ berapa lama?” tanya Eun Kyo
“ Entahlah, aku juga tidak tahu. Bisa satu minggu, tapi juga bisa satu bulan, atau mungkin setahun. Aku tidak bisa memastikannya Nuna.” Jelas Key. Mengalihkan pandangannya dari Eun Kyo
“ Benarkah?”
Pertanyaan itu terdengar begitu sarat akan kekecewaan. Eun Kyo menyenderkan kepalanya di pundak Key. Memejamkan kedua matanya. Berusaha untuk merilekskan sejenak pikirannya. Malam ini, entah mengapa serasa menjadi malam yang sangat melelahkan untuknya. Masalah kerinduannya dengan Jung Soo belum teratasi, dan sekarang Key yang sudak dia anggap sebagai dongsaeng juga akan pergi meninggalkannya.
“ mmm… Keuresso… ada yang ingin aku katakan padamu. Tapi, jangan membenciku karena hal ini. Dan jangan melarangku untuk berhenti melakukankan.”
“Marhaebwa!!”
“ Saranghae.” Aku Key
Refleks Eun Kyo menarik kepalanya dari pundak Key, duduk dalam posisi tegak. Menunjukkan ekspresi syok yang luar biasa. Cinta? Tidak, gadis itu pasti salah dengar.
“ Key~ya.” Ujar Eun Kyo lirih
“ Kau tidak asalah dengar Nuna, aku mencintaimu. Jeongmal saranghandago. Dan itu yang membuat Eomma sekarat.” Aku Key
“ Key. Aku…”
“Gwaenchana. Aku tahu Nuna sudah punya Jung Soo hyung. Dan aku juga tidak akan berusaha merebut Nuna. Aku hanya ingin nuna tahu perasaanku. Hanya itu. Eomma,,,sebenarnya Eomma mengidap penyakit Jantung. Dan, kami sempat berdebat saat sebelum Eomma pingsan. Aku,,, aku membentak Eomma karena terus memaksaku untuk menerima gadis pilihannya. Sementara Eomma tahu, bahwa aku sangat mencintaimu.” Jelas Key dengan suara serak menahan air mata. Eun Kyo yang tahu hal itu segera merangkul Key dalam pelukannya. Membuat Key tidak bisa lagi membendung air matanya.
“ aku tidak bisa nuna. Aku… aku… tidak bisa mencintai orang lain, aku ingin menjadi orang yang membuat nuna bahagia.” Isak Key.
“ sstttt….Key. Kau tahu, Kim ahjumma hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu. Mian…jeongmal mianhe… karena aku semuanya menjadi seperti ini.” Ujar Eun Kyo, berusaha sebisa mungkin untuk tidak menangis. Key menggeleng dalam pelukan Eun Kyo, mengisyaratkan bahwa itu bukan salah Eun Kyo. Eun Kyo menarik kepala Key dari pelukannya. Menangkupkan kedua tangannya ke kedua sisi wajah Key. Membuat wajar mereka sejajar. Keadaan lampu yang berada tepat di samping kursi yang mereka duduki, member akses lebih bagi Eun Kyo untuk melihat wajah Key yang basah oleh air mata.
“ Kau harus bahagia. Ara. Dan aku bukan orang yang tepat untukmu. Mianhe, karena aku semuanya jadi begini, mianhe karena aku tidak punya perasaan yang sama sepertimu, dan mianhe karena aku telah membuatmu terluka. Mianhe…jeongmal mianhe Key.” Mohon Eun Kyo. Gadis itu sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. Menangis bersama mungkin akan membuat segalanya terasa lebih baik.
“ Anhi Nuna..!!! jangan salahkan diri nuna. Aku…. Aku….yang salah. Karena itu aku harus pergi. Aku tidak bisa lagi berada terlalu dekat dengan nuna. Meskipun aku sendiri tidak yakin bisa melupakan perasaan ini, tapi setidaknya aku sudah berusaha. Jai kelak, jika aku benar-benar tidak bisa melupakan nuna. Aku harap nuna tidak akan marah dan membenciku.”
“ anhi,,,,,aku tidak akan marah.” Jawab Eun Kyo berusaha tersenyum dalam tangisnya.
“ Gomaweo. Keunde, jangan pernah menangis lagi. kau terlihat seperti halmeoni-halmeoni saat sedang menagis” Ujar Key tulus. Key itu mengapus air mata Eun Kyo dengan sedikit tertawa di paksakan karena ucapannya sendiri. Membuatnya mendapatkan pukulan ringan di kepalanya. Gadis itu. Orang yang mengaggapnya sebagi donsaeng. Bagaimanapun ekspresinya. Selalu saja terlihat cantik di mananya. Hanya saja. Dia terlalu benci melihat aliran air mata menetes dari sepasang mata indah milik orang yang dia cintai. Park Eun Kyo. Dia hanya ingin gadis it bahagia. Tertawa lepas, seperti sekarang ini. Tapi tanpa mereka sadari. Sepasang mata tengah menatap nanar ke arah mereka. Tatapan yang sarat akan kemarahan dan kebencian.

***

Jung Soo melangkah dengan tergesa-gesa keluar dari bandara Incheon. Di depan bandara telah ada salah satu karyawan kantor yang menjemputnya. Pria itu, berusaha menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat saat di Jepang. Membuatnya bisa kembali ke korea lebih awal dari yang sudah dijadwalkan. Tapi, masih ada beberapa berkas lagi yang harus dia urus di kantor. Membuatnya mengurungkan niat untuk langsung kembali kerumah dan menemui istrinya. Ya Tuhan…. Kapan dia bisa libur dari pekerjaannya…??? Saat sebelum Eun Kyo menyusup ke dalam hidupnya. Semua terasa biasa baginya. Bahkan menghabiskan waktunya di kantor sekalipun seras tidak akan menjadi masalah untuknya. Tapi, saat gadis itu datang dalam kehidupannya, semua pekerjaannya serasa begitu melelahkan, di tambah dengan kebutuhan untuk melihat dan bertemu dengan istrinya. Membuatnya berfikir bahwa semuanya tidak akan pernah baik-baik saja tanpa melihat gadis itu. Sudah cukup, sudah cukup dia menderita dan hampir sekarat karena tidah bisa melihat gadis itu selama beberapa hari. Bahkan untuk menlfon gadis itu saja benar-benar tidak sempat baginya. Haruskah dia berhenti mengundurkan diri dari jabatan presdir untuk lebih bisa lebih lama bersama gadis itu? Sepertinya bukan ide yang terlalu buruk.

Jung Soo mendesah lega saat berhasil menyelesaikan berkas-berkas sialan yang membuatnya terhambat bertemu istrinya. Huft~ memikirkan reaksi gadis itu saja sudah membuatnya tersenyum geli. Kira-kira, apa reaksi istrinya itu saat melihatnya datang. Tanpa membuang waktu, Jung Soo segera melangkahkan kakinya untuk pulang ke rumahnya. Menaiki mobilnya, dan mengendarainya dengan bersenandung kecil. Sesekali bercermin di kaca spion yang tergantung di hadapannya. Senyumnya benar-benar tidak pernah pernah lepas. Membuat debaran jantungnya tiba-tiba berpacu lebih cepat tanpa alasan yang jelas saat dia melihat gerbang rumahnya. Tapi tiba-tiba pudar berganti dengan dahi yang mengerut saat di dapatinya mobil BMW merah keluar dari dalam gerbang. Mobil itu, yah. Tidak salah lagi. mobil itu adalam milik istrinya. Istri yang sangat dia rindukan. Park Eun Kyo. Tapi untuk apa gadis itu keluar rumah tengah malam begini?

Jung Soo mengikuti mobil Eun Kyo dari belakang. Berusaha menjaga jarak, agar tidak ketahuan. Entah kenapa pria itu malah bersikap seperti itu. Bukannya menghampiri Eun Kyo dan menanyakan apa yang terjadi secara langsung. Tapi malah membuntuti istrinya seperti seorang penguntit. Selang beberapa menit. Mobil Eun Kyo berhenti di sebuah rumah. Dan terlihat begitu tergesa-gesa saat keluar dari dalam mobil. Dan langsung menerobos masuk saat pintu rumah dibukakan oleh seseorang. Sekitar 2 stengah jam Jung Soo menunggu istrinya keluar dari rumah itu. Tapi nihil, belum ada tanda-tanda bahwa gadis itu akan keluar. Jung Soo memutuskan untuk menghubungi ponsel Eun Kyo. Tapi berulangkali dia menelfonnya. Berulangkali pula tidak ada jawaban.

“Shit. Apa yang dia lakukan di tempat itu?” Umpat Jung Soo. Pria itu membanting ponselnya ke kursi penumpang yang ada di sebelahnya. Mengusapkan kedua telapak tangannya pada wajahnya yang terlihat begitu frustasi. Sepertinya pria itu harus sedikit lebih sabar menunggu. Beberapa menit kemudian, sepasang manusia yang tengah bergandengan tangan keluar dari rumah itu. Terlihat jelas bagaiman si wanita yang tidak lain adalah istrinya memperlakukan pasangannya dengan sangat lembut. Bahkan Eun Kyo membukakan pintu dan tersenyum manis untuk orang itu. Membuat Emosi Jung Soo tiba-tiba tersulut begitu saja. Gadis itu, bahkan tidak pernah memperlakukan suaminya dengan begitu lembut. Lalu bagaimana bisa dia memperlakuakn pria lain jauh lebih baik disbanding dengan suaminya sendiri.

Jung Soo mengikuti Eun Kyo dari belakang. Lagi. dengan emosi yang berusaha dia tekan serendah mungkin. Berusaha menebak-nebak, kemana dia akan membawa kekasihnya itu? Cih~ kekasih? Benar-benar sebuatan yang membuatnya ingin muntah. Jung Soo menghenikan mobilnya. Saat mobol Eun Kyo berhenti di tepian jalan. Gadis itu keluar dari mobilnya bersama denga pria itu. Seorang pria yang dia ketahui bernama Key. Orang yang sama dengan orang yang dia dapati di restoran bersama Eun Kyo dipertemuan pertama mereka. Mereka berjalan kearah sungai Han. Dan duduk di sebuah kursi panjang yang ada di tepi sungai. Pria itu tidak ingin mengambil resiko untuk membunuh orang yang dia anggap sebagai kekasih istrinya saat melihat mereka bermesraan. Meskipun ada kenyataannya dia masih bisa melihat dengan jelas apa saja yang bisa mereka lakukan di tempat itu. Mengingat penerangan di sekitar sungai cukup jelas.

DAMN!!!

“Apa yang mereka lakukan di tempat itu??? Cih~ benar-benar pasangan memuakkan. Apa mereka tidak malu berpelukan seperti itu?” umpat Jung Soo saat melihat istrianya memeluk Key. “ Shit. Sebaiknya pergi dari tempat ini.” Putus Jung Soo. Menyalakan mesin mobilnya kembali dan langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pria itu bahkan tidak peduli jika aka nada polisi yang mengejarnya. Yang ada difikirannya saat ini adalah gadis itu. Gadis yang berhasil membuat emosinya mencapai titik paling puncak yang dia miliki. Dan itu benar-benar membuatnya serasa hampir gila. Jung Soo menyalip setiap kendaraan yang ada di hadapannya. Membuatnya semakin menambah kecepatannya saat brhasil melewati setiap mobil. Hingga….

“ AAAaaaaaa…..”

CIIIITTTTT……BRAKKKK….. BRUKKKK…… mobilnya menabrak mobil lain yang juga berusaha menyalipnya dari arah depan. Hantaman kedua mobil itu membuat kepala Jung Soo terbentur stir mobil. Membentuk beberapa sungai kecil berwarna merah yang turun dari pelipisnya. Memenuhi hampir setiap sisi wajahnya. Kelopak mata pria itu mengerjap pelan merasakan perih yang hebat di kepalanya. Seketika ingatannya tertuju pada seorang gadis kecil dan bocah laki-laki di sebuah restoran. Bocah kecil yang sangat mirip dengan dirinya. Mereka terlihat begitu akrab dan bahagia. sebuah Ingatan yang membuatnya tanpa sadar tersenyum. Namun tiba-tiba pandangannya serasa menggelap. Menghilangkan wajah kedua bocah itu. Hingga akhirnya pria itu benar-benar kehilangan kesadarannya.

***

Eun Kyo berlari tergesa-gesa menelusuru koridor rumah sakit. Beberapa menit yang lalu, saat dia pulang ke rumah. Salah satu pelayan member tahunya bahwa Jung Soo ada di rumah sakit, dan ibu mertua serta ayah mertunya sudah pergi lebih dulu. Eun Kyo yang tadinya ingin mandi, membatalkan niatnya. Dan sekarang…. Gadis itu menjadi tontonan yang cukup aneh karena masih mengenakan baju tidur kesayangannya yang belum dia ganti. Ditambah dengan rambutnya yang acak-acakan dan air mata yang tidak berhenti mengalir dari matanya. Membuatnya benar-benar terlihat seperti…orang gila. Eun Kyo berusaha menambah kecepatan langkahnya saat mendapati kedua mertunya tengah duduk di depan sebuah ruangan. Dan sepertinya itu ruang operasi.
“ Eommonim…. Jung… Jung Soo Oppa eodiga?” tanya Eun Kyo sebisa mungkin menahan isakannya. Sementara Nyonya Park hanya memeluk menantu kesayangannya itu sebagai jawaban.
“ Eommonim…. Aku… aku tidak mau kehilangan Jung Soo oppa…. Aku….aku..”
“ Gwaenchana, semuanya akan baik-baik saja.” Ujar Nyonya Park berusaha menenangkan enantu kesayangannya. Nyonya Park tau pasti, bahwa gadis yang ada di pelukannya kini pasti sedang sangat frustasi. Dia tahu dengan pasti, bahwa menantunya sangat mencintai anaknya. Seperti anaknya yang mencintainya.

Eun Kyo semakin menguatkan pelukannya pada ibu mertuanya itu. Berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri. Tidak. Dia tidak akan pernah kuat jika menyangkut tentang suaminya. Dia tidak akan pernah bisa menjai kuat jika hal itu berkaitan dengan suaminya. Park Jung Soo. Dan gadis itu sangat sadar denga apa yang dia rasakan. Park Jung Soo, adalah kekuatan skeligus kelemahan terbesarnya.

Eun Kyo melepaskan pelukannya saat seorang dokter keluar dari ruang operasi Jung Soo. Sesegera mungkin mencecarnya dengan berbagai pertanyaan dengan keadaan Jung Soo. Sementara dokter itu hanya tersenyum melihat keadaan Eun Kyo. Dokter itu mengatakan bahwa Jung Soo telah melewati masa kritisnya dan akan segera dipindahkan ke ruang perawatan. Membuat Keluarga Jung Soo terutama Eun Kyo mulai bisa bernapas lega.

Eun Kyo berniat masuk ke ruang rawat Jung Soo, saat pria itu sudah dipindahkan. Tapi, langsung dicegat oleh ibu mertunya, dan memintanya untuk pulang dan membersihkan diri terlebih dahulu. Membuat Eun Kyo mendesah kecewa karena tidak bisa melawan.

***
Sudah lima hari setelah kecelakaan Jung Soo. Keadaan pria itu juga sudah mulai membaik. Tapi, ada yang berubah dari sikapnya terhadap Eun Kyo. Dan Eun Kyo sama sekali tidak mengerti dengan perubahan itu. Pria itu bersikap begitu dingin. Bahkan tidak jarang dia menganggap Eun Kyo seperti tidak ada di sekitarnya. Awalnya Eun Kyo menyengka itu adalah efek dari kecelakaan saat pertama kali Jung Soo bersikap dingin padanya. Tepat di mana pria itu sadar. Tapi ternyata duagaannya salah. Gadis itu merasa ada sesuatu yang sedang di sembunyikan suaminya itu. Pria itu. Park Jung Soo kini benar-benar dingin. Sama sekali tidak posesif terhadap Eun Kyo. Jangan posesif, bahkan untuk meliht Eun Kyo beberapa detik saja sepertinya tidak mau. Jika ditanya dia akan menjawab seadaanya, yang paling parah pria itu bahkan sering kali tidak meresponnya sama sekali. Jung Soo hanya bersikap biasa saat ada kedua orang tuanya ataupun sepupunya, Han Cahirin. Itu pun tidak seperti dulu. Hanya sekedar kalmia-kalimat biasa yang menurut Eun Kyo sama sekali tidak penting. Seperti keadaannnya saat ini. Di mana Eun Kyo membawakan makan siang untuk Jung Soo.

“ Oppa, kau belum makan siang. Ayo makan. Aku sudah memasakkan telurgulung untukmu.” Saat memasuki ruang rawat Jung Soo. Gadis itu duduk di kursi yang ada di pinggir tempat tidur Jung Soo dan membuka kotak bekal yang dia bawa. Sementara Jung Soo sama sekali tidak memperdulikan kehadirannya. Pria itu lebih memilih fokus pada majalah yang dia baca.

“ Oppa!!”
“….”
“ kau mau aku suapi? Jottha…!!!! Aaa….” Ujar gadis itu, sembari mengacungkan sesendok nasi di hadapan Jung Soo.
“ Aku tidak lapar.” Ujar Jung Soo dingin.
“ Tapi Oppa…kau harus makan. Tadi pagi kau juga tidak mau makan. Kalau kau sekarang juga tidak makan. Kau bisa tambah sakit. Aku hanya…”

Brak!!!!!

“ AKU TIDAK MAU MAKAN. APA KAU TULI HAH?” triak Jung Soo setelah berhasil membanting majalahnya ke lantai. Membuat mata Eun Kyo tiba-tiba memanas. Dan dengan pelan tapi pasti butiran-butiran bening jatuh dari pelupuk matanya. “ Chi~ kau tidak malu menangis di hadapanku? Dasar cengeng. Kau pikir itu berguna? Kau dengar baik-baik Park Eun Kyo-ssi, meskipun kau menangis darah sekalipun aku tidak akan pernah kasihan padamu. Dan satu lagi aku tidak akan pernah memakan makanan apapun yang dibuat oleh wanita murahan sep…”

PLAK!!

Refleks Eun Kyo menampar Jung Soo. Perkataan pria itu. Kali ini benar-benar membuat kesabarannya habis.

“ Geumane… hentikan semuanya Park Jung Soo-ssi. Kau.. kau pikir siapa dirimu? Selama ini aku sudah cukup bersabar menghadapi sikapmu. Pertama, kau memperlakukanku begitu posesif, seolah-oleh aku adalah milikmu, dan satu-satunya hal yang tidak ingin kau begi dengan orang lain. Membuatku sedikit berharap bahwa kau mencintaimu. Dan beberapa hari terakhir ini, Kau selalu bersikap dingin padaku, bertingkah seolah aku tidak ada di hadapanmu dan membuatku merasa hina dengan setiap kata-kata tajammu. Kau piker kau siapa? Dengan seenaknya mempermaikan perasaanku. Membuatku melayang tinggi dengan segala tingkah manismu, dan mengehempaskanku hingga menjai serpihan-serpihan tak berguna saat aku mulai berusaha membuka hatiku. Kau bosan dengan eo? Atau malah mungkin kau benci dengan kebedaraanku? Kau menyesal menikahiku Park Jung Soo-ssi?”
“ Keure, aku juga sudah tidak kuat lagi berada di sampingmu. Kalau memang kebedaanku membuatmu terganggu. Aku akan pergi dari kehidupanmu. Kau… dengar baik-baik. Aku tidak akan mengulangi kalimatku ini. Kalimat yang mungkin akan sangat terdengar begitu menyenangkan bagimu, tap menyakitkan bagi seorang wanita sepertiku. Kita bersecerai Park Jung Soo-sii. Dan aku akan memastikan semuanya selesai dalam minggu ini.”

Putus Eun Kyo. Sebuah keputusan yang bisa saja menghancurkan hidupnya. Tapi, jika memang itu yang diinginkan oleh pria itu. Gadis itu akan melakukannya.

***

Dua hari setelah kejadian pertengkaran di rumah sakit itu. Surat Cerai dari Eun Kyo benar-benar Jung Soo terima. Tapi pria itu sama sekali enggan untuk memperdulikannya. Gadis itu. Gadis itu adalah hidup baginya. Dan itu berarti, ia harus melepaskan hidupnya jika dia menuruti permintaan Eun Kyo. Semua memang berawal dari dirinya. Sebuah kesalahan yang membuatnya sangat menyesal. Saat itu, amarahlah yang menguasai dirinya. Amarah yang tiba-tiba muncul saat mengingat kejadian di sungai Han. Dan setiap kali dia melihat Eun Kyo, yang dia ingat adalah peristiwa di sungai Han. Harusnya dia bisa bersikap lebih dewasa. Dan berusaha menyelesaikan masalahnya dengan baik-baik. Bukannya malah mendiamkan dan bersikap dingin pada gadis itu. Dan sebagai akibatnya, dia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa gadis itu menginginkan perceraiaan. Pikirannya sudah cukup kalut, saat mengetahui bahwa Eun Kyo kembali ke rumah ke dua orang tuanya tepat pada hari di mana dia dan gadis itu ribut. Dan sekarang, gadis itu mengingkan perceraian. Sesuatu yang tidak akan pernah mungkin bisa dia berikan.

***

Setelah menerima surat cerai dari Eun Kyo, sikap Jung Soo benar-benar berubah drastis. Pria semakin gila kerja bahkan sampai melupakan jadwal makannya. Setiap malam pulang dalam keadaan mabuk. Berbagai cara pria itu lakukan untuk membuatnya melupakan Eun Kyo. Sedetikpun dia tidak ingin membuat ingatannya terbayang akan kehadiran gadis itu. Keadaannya benar-benar kacau. Hal ini sudah berlangsung selama hampir satu minggu. Nyonya Park bahkan seringkali meminta Eun Kyo untuk menemui pada Jung Soo di apartementnya, saat mengetahui keadaan putranya itu. Karena tepat, hari dimana Eun Kyo mengirimkan surat cerai itu. Jung Soo memutuskan untuk pindah ke rumah barunya. Sebuah rumah yang sudah dia persiapkan untuk masa depannya dengan orang yang akan hidup bersamanya kelak. Dan Eun Kyo selalu menolak untuk melakukannya dengan alasan sehalus mungkin. Tapi kali ini, gadis itu menyerah. Dia benar-benar harus menemui lelaki itu. Dan memintanya sesegera mungkin menandatangani surat cerainya.

Eun Kyo berjalan masuk ke rumah Jung Soo. Sebuah rumah modern yang benar-benar terkes mewah, klasik dan…nyaman. Hampir setiap sudut didingnya berwarna putih. Namun ada benerapa ruangan yang dindingnya berlatar ungu dan biru, warna yang sangat dia sukai. Benar-benar rumah masa depan yang sangat sempurna. Gadis itu mendapati beberapa pelayan saat memasuki rumah itu. Ibu mertunya bilang, pelayan-pelayan itu hanya bekerja sampai jam 7 malam. Dan itu berarti setengah jam lagi mereka akan meninggalkan rumah ini. Setelah selesai membantu para pelayan menyiapkan makan malam, para pelayan itu pamit pulang pada Eun Kyo. Kini. Eun Kyo hanya sendiriian, di temani dengan berbagai hidangan yang ada di hadapannya. Melihat semua makanan itu, membuat Eun Kyo kembali teringat dengan kejadian di rumah sakit.

“ Eommonim bilang, Jung Soo selalu pulang larut malam? Lalu untuk apa semua masakan ini? Benar-benar menggelikan. Apa ini semua di masak hanya untuk di buang?” gumam Eun Kyo.
Hampir 3 jam eun Kyo menunggu. Tapi Jung Soo belum juga datang. Membuatnya berusaha melakukan apaun untuk membunuh rasa bosannya. Gadis itu, merapikan semua makanan yang sudah dingin ke lemari pendingin. Terlalu sayang rasanya jika makanan sebanyak itu di buang dengan Cuma-Cuma. Sementara dia, tidak akan mungkin bisa memakan semuanya. Tepat saat eun Kyo menyelesaikan pekerjaannya. Terdengar suara pintu yang dibuka oleh seseorang. “Itu pasti Jung Soo.” Pikir gadis itu, Eun Kyo segera beranjak ke arah suara. Dan menemukan Jung Soo tengah berjalan sempoyongan. Pria itu, sepertinya mabuk berat. Tapi bagaimana caranya dia bisa mengendarai mobil dengan selamat dalam keadaan seperti itu? Bukankah itu sangat berbahaya? Benar-benar gila.

Jung Soo hampir saja ambruk, jika Eun Kyo tidak segera menangkapnya. membuat Jung Soo menyadari keberadaannya.

“ Eun Kyo~ya. Kau…huks…di sini…huks? Eo?” rancau Jung Soo.
“….”
“ Yeobo~ya…huks…kau…huks…tidak akanpergi lagikan?”
Eun Kyo sedikit kesusahan saat menaiki anka tangga, di tambah dengan rancauan-rancauan Jung Soo yang membuatnya harus berusa lebih keras untuk berkonsentrasi melangkah.
“ Park Eun Kyo..huks…kenapa…kau..diam saja?”

Ceklek!!!

Huft~ akhirnya gadis itu bisa juga mencapai kamar Jung Soo. Mungkin. Di sini ada cukup banyak ruangan. Dan itu membuatnya sedikit bingung di mana letak kamar pria itu. Eun Kyo menjatuhkan tubuh Jung Soo ke tempat tidur. Membukakan sepatunya. Dan membenarkan posisi tidurnya. Kemeja Jung Soo yang basah karena alkohol menarik perhatiaannya. Membuatnya menimbang-nimbang harus menggantinya tau tidak. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengambil air hangat dan membasuk tubuh Jung Soo. Setelah selesai, gadis itu mengambil salah satu kemeja Jung Soo dan berusaha keras memakaikannya. Tapi pada saat tangannya baru berusaha mengaitkan kancing pertama. Sebuah tangan mencenkram kuat tangannya. Membuatnya sedikit terkejut. Dan berusaha menengkan detak jantungngnya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya dengan mata terpejam. Menunggu hal apa selanjutnya yang akan terjadi. Namun benerapa menit tidak terjadi apa-apa, membuatnya memberanikan diri membuka matanya. Dan tersenyum geli saat mendapati pria di hadapannya itu tidur dalam keadaan pulas.
Eun Kyo melihat ke arah jam tangannya. Dan mendesah kesal saat tahu bahwa ini sudah sangat larut. Dia tidak punya pilihan lain selain menginap di sini. Gadis itu tidak membawa mobilnya, karena sopir keluarga Jung Soo-lah yang mengantarnya ke rumah Jung Soo. Eun Kyo melepas cengkaraman Jung Soo. Dan beranjak menuju sofa di kamar itu. Sepertinya cukup besar untuk dipakai tidur. Huft~ padahal dia hanya ingin mengambil surat cerai. Kenapa rasanya begitu susah?

***

Jung Soo mengerjap-ngerjapkan matanya. Saat sinar matahari mengusik tidurnya. Pria itu sedit meringis. Memegangi kepalnya yang sedikit terasa pusing. Ya Tuhan…berapa botol alcohol yang dia minum semalam. Pria itu turun dari tempat tidurnya. Berjalan sedikit sempoyongan menuju kamar mandi. Tapi langkah terhenti saat melihat seseuatu yang sangat mustahil baginya. Pria itu mengucek matanya beberapa kali. Memastikan bahwa apa yang dia lihat bukan mimpi. Membuat kesadarannya sepenuhnya terkumpul. Jung soo melangkah menuju sofa kamarnya. Sebuah sofa sangat terlihat mengagumkan. Karena ada seorang gadis yang tidak lain adalah istrinya tengah terbaring nyaman di atasnya. Jung Soo mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah gadis itu. Dan tersenyum saat mendapati bahwa gadis itu nyata. Bukan ilusinya. Sementara Eun Kyo yang merasa tidurnya terganggu, mengeliat pelan dan mengerjapkan matanya. Terkejut saat mendapati wajah jung Soo berada dalam jarak yang sangat…dekat. Refleks Eun Kyo mendorong jung soo. Membuat pria itu terjelembab kebelakang, tapi tidak sampai jatuh.

“ apa yang kau lakukan?” tanya Eun Kyo dengan nada sarat akan kecurigaan.
“ Yak!!! Harusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan di kamarku?”
“ Nega?” Eun Kyo mengalihkan pandangannya ke setiap sudut ruangan itu. “ ah, iya. Aku lupa, jadi ini benar kamarmu?.” Jawab Eun Kyo, sama sekali tida menyangka kalau kamar itu benar-benar kamar Jung Soo.
“ Ne, ini kamarku. Lalu, kenapa kau bisa sampai ke sini?”
“ Semalam kau mabuk berat, jadi aku mencari ruangan terdekat dari tangga. Mana aku tahu kamarmu yang mana. Dan… Park Jung Soo-ssi kau harusnya berterima kasih. Karena aku sudah mau repot-repot membawamu ke sini dan aku juga sudah berbaik hati menggantikan bajumu.” Nasehat Eun Kyo. Jung Soo hanya mencibir ke arah Eun Kyo, dan tiba-tiba melotot tak percaya mengingat ucapan Eun Kyo barusan. Mengganti baju dia bilang? Itu berarti… pandangan Jung soo beralih ke tubuhnya. Membuat Eun Kyo mengikuti arah pandang Jung Soo. Dan…

“ Yak!! Jangan berfikiran mesum. Aku hanya mengganti bajumu. Bukan yang lain. Hanya B A J U.” jelas Eun Kyo penuh penekanan.
“ Aaa….arasso arasso… ya sudahlah terima kasih kalu begitu.”
“ Cih~ seperti itu caramu berterima kasih?” cibir Eun Kyo
“ Lalu apa yang kau inginkan?”
“ ah…itu… aku…aku..mau..” ujar gadis itu gugup.
“Mwo?” tanya Jung Soo tidak sabaran.
“ Ehem… aku hanya ingin kau segera menandatngani surat cerai itu.” Ujar Eun Kyo mencoba serius. Sekaligus berusaha menahan rasa sesaknya saat tau bahwa ucapan itu keluar dari mulitnya sendiri.

Deg.

Perkataan jung soo sukses membuat Jung Soo diam terpaku. Pria itu mengepalkan kedua tangannya. Entah kenapa kedua emosinya serasa tersulut begitu saja.
“ apa kau sebegitu inginnya terlepas dariku Park Eun Kyo-ssi?” ujar Jung soo dingin. Membuat Eun Kyo menunduk sembari menggigit bibir bawahnya.
“ Jawab!!” triak Jung Soo. Suara itu terdengar begitu sarat akan frustasi. Eun Kyo tersentak kaget saat Jung Soo tiba-tiba saja mendorong tubuh eun Kyo hingga terpojok ke dinding. Mencengkram kedua pundaknya dan mulai menciumi Eun Kyo dengan sangat kasar. Sementara Eun Kyo, entah mengapa tubuh gadis itu serasa tidak mengijinkannya melawan. Seluruh sitem syarafnya serasa berhenti begitu saja. Ciuman itu serasa begitu mematiakan. Manis, kasar tapi juga terasa lembut, dan memabukkan. Tanpa sadar Eun Kyo muli terbuai dan mulai berusaha mengimbangi ciuman jung Soo membuat Jung Soo tersenyum dalam hati. Gadis itu adalah miliknya. Dan sampai kapanpun adalah miliknya. Tidak aka nada satu orangpun yang bisa membuat gadis itu terlepas dari genggamannya. Meskipun itu adalah gadis itu itu sendiri.

***

Eun Kyo mengeliat pelan dalam tidurnya. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya, saat matahari sore masuk keretina matanya. Seketika seluruh kesadarannya terkumpul dan membuatnya tersentak kaget saat mendapati wajah Jung Soo yang hanya beberapa senti berada di depannya. Pria itu tersenyum ke arahnya dan membelai lelbut pipi Eun Kyo. Membuat gadis itu refleks terduduk.
“ Kau sudah bangun, aku kira kau masih akan tidur sampai malam nanti?”
“Sekarang Jam berapa?”
“ Kau fikir aku peduli? Kau lihat saja sendiri.” Jawab pria itu santai. Meletakkan kepalanya di pangkuan Eun Kyo, mencari posisi senyaman mungkin. Dan memejamkan matanya. Sementara Eun Kyo berusaha keras memegangi selimutnya yang membungkus tubuh bagian agar tidak jatuh.
“ Yak!! Kau simpan di mana jam tanganku?” tanya Eun Kyo gusar, saat mendapati jam tangannya tidak melingkar di pergelangan tangannya. Jung soo hanya diam. Berusa menikmati suara Eun Kyo. Suara yang sangat dia rindukan. Dan itu membuat Eun Kyo cukup kesal.
“ YAK!!!”
“ aku lelah, bisakah kau membiarkanku tidur sebentar.” Ujar jung Soo lirih. membuat Eun kyo mau tidak mau menuruti permintaan jung Soo. Pria itu sepertinya memang benar-benar lelah. Apa saja yang dia lakukan selama gadis itu tidak ada?

Jung soo tersenyum manis. Saat Eun Kyo menuruti kata-katanya. Pria itu perlahan-membuka matanya dan menatap wajah Eun Kyo yang sepertinya juga tersenyum ke arahnya. Tatapannya beralih ke leher Eun Kyo. Di mana ada seutas kalung berliontin cincin yang melingkar di lehernya.
“ Kalung itu. Apa kau ingat?” pertanyaan Jung Soo membuat Eun Kyo mengalihkan pandangannya ke lehernya.
“ Kau ingat?” tanya Eun Kyo penasaran. Bukannya pria itu lupa ingatan?
“ emm? Awalnya tidak. Aku bahkan melupakanmu. Apa kau tahu?”
“ Benarkah? Gwaenchana.. aku sudah mendengar semuanya dari Eommonim saat kau pergi ke Jepang. Lalu, sejak kapan kau mengingat semuanya?”
“ Sejak kecelakan beberapa hari yang lalu.”
“ Mwo? Dan kau… malah bersikap dingin padaku?” pekik Eun Kyo
“ emm?? Anhi, sebenarnya aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya bingung harus bersikap bagaimana padamu. Di satu sisi, aku merasa bersalah karena saat itu aku tida datang. Tapi di sisi yang lain aku sedang marah. Karena setiap kali melihatmu, yang aku ingat adalah saat kau bermesraan dengan pria lain di tepi sungai Han. Kau tahu, kau bahkan terlihat begitu lembut padanya. Sedangkan padaku?.” Jelas jung soo.
“ kapan kau melihatku?”
“malam di mana aku kecelakaan. Saat itu aku berniat pulang lebih cepat karena merindukanmu. Tapi yang aku lihat malah kau datang kerumah laki-laki lain. Dan mengajaknya bermesraan di tepian sungai han. Itu sangat menyakitkan Eun Kyo~ya.”
“ ckckck…. Jadi maksudmu Key? Aigooo….benar-benar tidak bisa dipercaya. Kau tahu. saat itu Kim ahjumma, ibu Key terkena serangan jatung. Sebagai sahabat aku hanya berusaha menghiburnya. Karena itu aku mengajaknya ke sungai Han. Tapi ternyata, saat itu juga Key pamit padaku. Karena dia dan Eommanya akan pindah ke New York.”
“jeongmal?” tanya jung Soo antusias.
“emmmm” guman Eun Kyo sebagai jawaban. Membuat Jung Soo refleks terbagun dan memeluk Eun Kyo.
“ Jadi dia bukan kekasihmu?”
“ anhi”
“kau tidak mencintainya kan?”
“ dia dongsaeng yang baik?”
“ Dan…kau tidak akan menceraikanku kan?” tanya Jung Soo hati-hati.
“ aku akan melakukannya kalau itu membuatmu puas.”
“anhi, aku tidak mau. Aku tidak akan pernah mau bercerai denganmu.” Putus Jung Soo
“ jeongmal?” tanya Eun Kyo
“ Ne.” jawab jung soo mantap.
“ Jottha.”
“ kau ingat, janji kita saat membeli cincin itu?” tanya Jung Soo
“ Aku akan mencintaimu, Sampai akhir kehidupanku.” Ujar Eun Kyo, semakin mempererat pelukannya pada jng Soo.
“ dan aku akan menjagamu, hingga akhir waktuku.” Lanjut jung Soo.
“ Oppa.!!”
“ckckck….kau idak konsisten Yeobo~ya. kadang memanggilku Oppa, tapi juga terkadang Park Jung Soo-ssi.” Ejek Jung Soo
“ Oppa…. Aku akan memanggilmu Oppa kalau kau bersikap baik padaku. Jadi ingat baik-baik, saat aku memanggil nama lengkapmu. Itu berarti aku sedang marah padamu. Arasso!!” jelas Eun Kyo.
“ Ne… arasso.”
“Oppa…!!”
“ wae?”
“ Cincin itu, bisakah kau memakaikannya?” pinta Eun Kyo. Jung Soo melepaskan pelukannya. Lalu melepas kalung berliontin cincin milik Eun Kyo dan melepas benangnya. Menyisipkan cincin itu di jari manis kanan Eun Kyo.
“ Pas?” ujar mereka bersamaan. Membuat mereka tertawa renyah.
“ Saranghae.” Ujar Eun Kyo. Kemudian, Mencium bibir Jung Soo kilat. Tersenyum melihat reaksi Jung soo yang terdiam atas tindakannya.
“ Nado saranghae.” Balas jung Soo. Mendekap Eun Kyo dalam pelukannya. Gadis itu, adalah gadis yang pertama yang membuatnya tertarik. Gadis pertama yang membuatnya jatuh cinta berulang kali. Dan gadis pertama yang dia inginkan. Dan selamanya gadis itu akan menjadi gadisnya yang pertama, sekaligus terakhir dalam hidupnya. Cukup gadis itu saja. Dan dia tidak menginginkan yang lainnya.

Epilog

Seorang gadis kecil berlari di pinggir jalan. Gadis itu sepertinya sedang bermain dengan seseorang. Terlihat seorang bocah laki-laki yang mengejrnya. Mereka tertawa senang dan terlihat begitu bahagia. Sementara ke empat orang tua mereka hanya bisa tersenyum melihat keceriaan ank-anaknya. Langkah gadis itu terhenti tepat di depan toko perhiasan. Sebuah took kaca transparan yang memperlihatkan berbagai model perhiasan yang indah. Mata gadis itu tertuju pada sepasang cincin. Yang sangat sederhana. Menyadari hal itu, si bocah lelaki menarik tangan gadis kecil itu masuk ke dalam took. Orang tua mereka hanya bisa mengikuti mereka dengan dari berkerut.
“ Neo Joeha?” tanya bocah itu menunjuk sepasang cincin yang sedari tadi menyita perhiasan si gadis.
“ Yeppunda” guman gadis itu.
“ Eomma… belikan cincin itu untu aku dan Eun Kyo. Aku akan mengganti uang Eomma kalau nanti aku sudah bekerja. Eo?” pinta bocah itu pada ibunya.
“ Keunde, jung Soo~ya, kita tidak akan tahu apa cincin tu akan cocok di pakai Eun Kyo kalu sudah dewasa nanti.” Balas Ibu pria itu dengan lembut.
“ Anhi, cincin itu past akan cocok. Karena Eun Kyo menyukainya.”
Perkataan Jung Soo membuat orang tua mereka geleng-geleng kepala. Sementara pelayan tok0 itu hanya tersenyum geli mendengar kata-kata Jung Soo.
“ Geure. eomma akan membelikannya. Keunde, Eomma akan menyimpannya sampai kalian besar nanti.” Jawab ibu Jung soo.
“ Ne. Gomaweo eomma.” Jawab bocah itu tersenyum puas.
“Gomaweo Eommonim… Gomaweo Oppa.” Ujar gadis kecil itu. Tersenyum manis ke arah jung Soo dan ibunya.

THE END

PS:
Ya Allah, akhirnya selesai juga. Aku bener-puyeng mikirin Endingnya. Maaf ya kalo ngecewain. Biasalah, masih amatiran. Aku bahkan nyaris bisa dibilang ng’ pernah nulis FF. ini adalah FF ke-dua aku. Fika Eonni, mian banget dah ngrepotin sana sini hehehe…. Sampae ngebuat Eonni nelfon segala gara-gara aku ng’ ngerti cara ngirim FF kya’k gimana. Hehehe…

Eeee….alasan aku supaya aku dipilih jadi pemenang. Apa ya? aku juga ng’ tau. Kalu aku bilang karena aku ELF apa itu alasan yang cukup kuat? Huft~ sepertinya bukan. Yang pasti,,,, aku cumin mau bilang…. Buat readers yg ada di sini terutama yang ikut lomba. Semangat Ne…. Good luck buat kalian. Menang kalah ng’ masalah buat aku. Yang penting Happy. So, aku cuman ngarepin kita semua bisa sportif dalam menilai. Inget NO BASHING. N NO PLAGIAT. Ya Emang sih FF aku tu ecek2 hehehe… tapi ini hasil pemikiran aku sendiri lohhh….

Huh…kepanjangan ya???? emm…. Ok deh nhy yg terakhir SEUNGIL CUKKAE NAE EUN KYO EONNI….. seungil Cukkae Na Ryu Jin. Saaranghae….!!!!!!!!!! Eonni…. Jujur ja. Aku ng’ ngarep albumnya SUJU sebagai hadiah yah walaupun aku ELF. Aku nulis FF ini buat Eonni…. Seandainya ja hadiahnya adalah ngabulin 1 permintaan. Q cumin mau minta Next FF dari Can’t stop. Hehehe…. Tapi yang NC Eonni. Hahahaha…… *Mesum*… ya udah ah, kepanjangan. Entar malah nglatur keman-mana lagi.

Satu lagi…. Mian yak lo Feelnya ng’ dapet. Aku dah bilangkan kalau aku mungkin emang ng’ bakat jadi penulis. So, thanks buat yg bersedia ngebaca. N……… Nilailah sebuah kisah itu dengan hati. Arasso!!! Bye^^

>.<” Miss Shin “>.<

19 responses »

    • Ceritanya Teukyo nikahnya umur 7 9….. Eun Kyo 7 Jung soo 9. Jd waktu mrka ketemu dahn sekkitar umur 23 ma 25. Klo yg epilog tu,,, sebenrnya mang flashback, tp q jadiin epilog… Emm… Apa ya????? Karena q lagi pengen da epilog2 kan. Kekeke……. Kisahnya tuntas saat adegan pasang cincin di atas tempat tidur. Hehehe… Mian klo kurang puas ma ceritanya…. Yah sprti nhylah krya seorg amatiran. >.<"

  1. Cerita kereen.
    Romantis and manis #madukaliii
    Tapi sumpah deg, pas dibagian Soo oppa smirk evil yang diotak aku tuh malah muka si magne setan, hahahahahaha
    abisnya wajah Jungsoo oppa terlalu manis kalo harus smirk evil.

    • Iya sih… Jung Soo oppakan Engel without wings…. Jd mang rada aneh klo punya evil smirk. Tp,,, klo dat berkaitan dgn cinta… Aku rasa malikatpun bisa jd iblis….*pisss buat para engel*…. Hohoho…. Makasih udah baca Eonni>.<"

  2. crtana baagguss…menarrikk..
    serius baru 2 kali bikin ff??kyk ud bnyak puna pengalaman..
    bru awal aj ud baguss..
    kkereenn laahh pkokna…
    trs berkarya yaa..”
    hwaaiiting”

  3. Wah, dr skian ff kontes yg k bca, ni ff aq ska bget. Ngobrak-abrik emosi dy..
    N ni ff kntes prtma q komen.
    Krn aq mng ska am critny..
    Hwaiting…😀

  4. Annyeooong haseyo…. ^^

    Uuuughhh seruuuu…. Wlo aku bacanya putus” krn sibuk (?) … Mungkin krn ffnya panjang jg denk!! ^^
    Mereka nikah dari kecil gtuw??!!! Gak nyangka tenyata jungsoo amnesia lupa sama eunkyo,, pantesan dgambarin merasa da keterikatan sama eunkyo pas ketemuw itu.. Kirain aku mereka benar” gak kenal & gak punya masa Lalu.. u_u
    Suka skinshipnyaaa lol *yadong* pas, gak terlalu vulgar jg siy..🙂

    ADakah Ff yg laen selain niy??!! *lomsempatliat”:)*

  5. Annyeooong haseyo.. ^^

    Uugh seruuuu… Wlo aku bacanya putus” krn sibuk (?).. Mungkin krn ffnya panjang jg denk!! ^^
    Mereka nikah dari kecil gtw??? Gak nyangka tenyata jungsoo amnesia lupa sama eunkyo, pantes dgambarin jungsoo ngerasa gak asing pas ketemuw lagi pertama kali itu.. ^^ kirain mang benar” gak kenal & gak da masa Lalu diantara mereka.. ^^
    Skinshipnya suka lol *yadong* pas, gak terlalu vulgar jg siy.. Kkk~
    ‎​Αϑα beberapa typo kayanya..🙂

    ADakah ff laen selain niy??!!
    *lomsempatliat”*

  6. dah bca crita ni beberapa kali, tpi tetep buatku terbuai dan berakhir dgn senyum gaje. palagi saat dbaca pas lgunya 1D litle things kputer. litle things, but makes our love go depest every second, each day countable…!!! mrs author love u

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s