TeuKyo Couple : Let This Die (Part 5) *PG*

Standar

lethisdie-x2

Setelah dua hari sejak kepulangan mereka dari Mokpo, keadaan sudah normal kembali. Jung Soo kembali bekerja dan begitupun juga dengan Eun Kyo, mereka disibukkan dengan urusan masing-masing. Jung Soo dengan tugas kantornya dan berbagai jadwal lainnya. Sedangkan Eun Kyo dengan jadwal latihannya yang semakin padat dan beberapa peran yang dia bicarakan dengan pihak Korean Musical Broadway. Hingga keduanya hanya punya waktu malam hari untuk bertemu. Tak banyak komunikasi, hanya sedikit berbagi, bahkan mereka lebih canggung dari biasanya. Eun Kyo yang terkadang pulang lebih awal dari Jung Soo jika tidak ada jadwal panggung, masih tetap tak banyak bicara. Hingga terkadang membuat Jung Soo menjadi gerah berada dalam satu ruangan.

Jung Soo ingin sekali membicarakan tentang malam itu. Tentang pernyataan hatinya yang mulai tertarik. Yang mulai terusik dengan keberadaan Eun Kyo dalam hari-harinya. Tentang semua detakan jantungnya yang mulai tidak karuan jika wanita itu mulai mengacuhkannya. Perasaan cemas saat Eun Kyo mulai tidak memberinya kabar jika pulang terlambat, padahal dia tau pasti wanita itu baik-baik saja karena punya 5 lelaki yang tidak akan membiarkannya terluka sedikitpun. Ingin dia membicarakan itu, tapi tak tau harus memulai dari mana. Akankah Eun Kyo akan mendengarkan semua yang ia katakan, bahwa dia telah terperangkap cinta yang tidak biasa? Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ok, mungkin orang jatuh cinta mempunyai gejala yang sama pada setiap orang. Tapi bagi Jung Soo berbeda rasanya saat ia jatuh cinta pada Yeon Su dan ketika dia mulai merasakan itu pada Eun Kyo. Ada perbedaan yang tidak bisa dia jabarkan dengan berbagai teori ynag selama ini beberapa pakar cinta kemukakan.

“Kau sudah pulang?”

Jung Soo menyeruput minumannya yang sudah mulai dingin karena manunggu Eun Kyo pulang. Dia melirik Eun Kyo yang membawa tas Nike besar di bahunya yang pastinya di dalamnya adalah baju kotor saat dia latihan.

“Nde, maaf terlambat.” Jawab Eun Kyo.

“Gwaenchana. Sebaiknya kau mandi dulu, sudah aku siapkan air hangat.”

“Nde, gomawo.” Jawab Eun Kyo.

Jung Soo menelan habis minumannya dan berjalan menuju kamar. Dia melihat Eun Kyo meletakkan tasnya di atas ranjang dengan resleting yang sepertiganya terbuka. Jung Soo penasaran apa yang selama ini Eun Kyo bawa di dalam tas sebesar itu. Dia membuka perlahan tas itu dan mulai mengacak barang yang ada di dalamnya. Ada sebuah ponsel, sepatu kets yang dibungkus dalam kantong kain, baju ganti tentunya, pakaian dalam, juga dompet berwarna hijau daun. Dan sebuah album kecil. Jung Soo tertarik untuk mengambil abum itu. Dia membuka lembar pertama. Terpampamg sebuah foto yang membuatnya merasa terharu. Foto kedua orang tua Eun Kyo. Dia merasa kembali tertohok rasa bersalah. Tapi rasa yang dia alami sekarang sama sekali bukan karena suatu tanggung jawab itu. Jung Soo ingin mengelak dari perasaan itu tapi dia tidak mampu. Dia membuka lembar foto kedua. Foto perkawinannya sendiri. Jung Soo tidak percaya Eun Kyo membawa fotonya saat menikah dulu. Dia masih tak bisa mempercayai itu. Ada rasa lega namun juga rasa terkejut bercampur aduk. Jung Soo diam-diam tersenyum tanpa disadarinya. Album itu masih tidak penuh. Lembar ketiga dan berikutnya terisi dengan foto teman-temannya yang mulai Jung Soo hapal. Ada Kyuhyun juga Ae Rin, ada Sungmin dan juga Ryeowook, tak ketinggalan pasti Donghae dan Hyukjae berfoto bersama sehabis latihan, tetapi ada lembar foto terakhir yang kembali membuatnya terdiam. Foto Kibum.

Sejak kapan foto itu ada disana Jung Soo tidak tau pasti. Seperti dia tidak mengetahui sejak kapan foto pernikahannya ada bertengger di halaman kedua album kecil itu. Jung Soo menutup kembali album itu. Yang dia tau, foto Kibum pasti baru beberapa hari mengisi album itu. Album kecil berukuran sebesar buku tulis yang setelah dilihatnya dengan seksama kini terasa manis. Baru dia menyadari, Eun Kyo tidak seperti yang ada dipikirannya selama ini. Yang terlihat tegas dan tegar sendirian. Tapi dari dalam tas itu dia menemukan sebuah kerapuhan dari sisi lain Eun Kyo. Wanita itu punya sisi manis yang tidak banyak diketahui orang lain, mungkin. Kecuali teman-temannya yang memang sudah lama mengenal Eun Kyo dengan detail. Jung Soo masih memegangi album itu sambil tersenyum.

“Lembar berikutnya mungkin aku akan isi dengan foto anakku, nantinya. Dan mungkin suami baru.”

Eun Kyo keluar dari kamar mandi dengan handuk di kepalanya. Dia mengeringkan rambutnya dengan sesekali meremas kepalanya. Dia berjalan mendekati Jung Soo dan mengambil album itu.

“Apa saja yang sudah kau periksa?” tanya Eun Kyo penuh selidik.

“Eum… baju kotor, sepasang sepatu, dompet hijau daun, ponsel dan yang ada di tanganmu itu.” Jawab Jung Soo. Eun Kyo mendesis pelan.

“Ah, juga ada kacang yang sepertinya sudah lama menghuni tas itu, dan tidak lupa… pakaian dalam.” Sambung Jung Soo sambil menurunkan nada suaranya saat mengatakan ‘pakaian dalam’. Eun Kyo memukul kepala Jung Soo dengan handuk yang setengah basah yang sejak tadi dipegangnya untuk mengeringkan rambutnya. Jung Soo tertawa lepas. Setelah dua hari dia baru bisa merasakan kebebasan. Eun Kyo baginya sudah tidak sedingin dua hari yang lalu.

“A, chankamman. Tentang album itu… anak? Apa kau berniat punya anak? Baiklah kalau begitu, aku juga sudah siap.”

Jung Soo menarik Eun Kyo ketas ranjang tapi Eun Kyo menarik tubuhnya. Dia mengambil sikap waspada denganmenyilangkan tangannya di dada.

“Dan kau tidak mendengarkan kalimat terakhirku. Dengan suami baru.” Ujar Eun Kyo sambil memukul lengan Jung Soo. Dia berniat ingin beranjak dari pangkuan Jung Soo tapi Jung Soo menahan pinggangnya.

“Mungkin. Aku mendengarnya. Mungkin dengan suami baru. Jadi kemungkinan juga dengan suamimu yang sekarang.” Jawab Jung Soo. Matanya dan mata Eun Kyo saling bertatapan. 5 detik. Lalu Eun Kyo memalingkan wajahnya.

“Sudahlah, aku lelah. Mau tidur. Minggir kau.” Eun Kyo mengakhiri pembicaraannya dengan mendorong tubuh Jung Soo.

“Kau yang ada di pangkuanku, harusnya kau yang minggir.”

“Tapi singkirkan tanganmu dulu.” Ujar Eun Kyo geram.

Jung Soo segera melepaskan tangannya dari pinggang Eun Kyo dan tersenyum. Dia menginginkan suasan seperti ini. Bukan suasana kaku seperti beberapa jam lalu dan juga dua hari yang lalu. Eun Kyo segera beranjak dan merebahkan tubuhnya diatas kasur. Dia berbaring membelakangi Jung Soo. Jung Soo jug amengambil tempatnya dan berbaring menatap punggung Eun Kyo.

Jung Soo masih bisa merasakan lembutnya punggung itu saat dia membelainya dengan kedua telapak tangannya. Dia juga masih bisa mendengar meski samar suara desahan tertahan itu. Jung Soo buru-buru menggelengkan kepalanya untuk menghentikan hayalan liarnya tentang malam pertamanya bersama Eun Kyo di Mokpo. Dia tidak ingin membangkitkan hasratnya yang nantinya akan berujung tuntutan atas dasar nafsu yang menguasainya.

“Jung Soo~ssi, kau masih ingat Dayoung? Aku merindukannya..”

Eun Kyo berbalik dan membawa guling yang sejak tadi depluknya, diletakkannya diantara dia dan Jung Soo sebagai pembatas.

“Anak itu?”

Eun Kyo mengangguk. Dia menghela nafas sambil memejamkan matanya. Mencoba untuk mengenyahkan bayangan gadis kecil yang mencuri perhatiannya itu. Bahkan di tempat latihanpun Eun Kyo dengan semangat menceritakan pertemuannya dengan gadis kecil menggemaskan itu.

“Kenapa kita tidak membuatnya send!”

Perkataan Jung Soo tertahan karena Eun Kyo dengan cepat menutup mulut Jung Soo dengan tangannya. Jung Soo bukannya kesal malah menjilat tangan itu membuat Eun Kyo jijik.

“Yak! Kau menjijikkan!” teriak Eun Kyo. Jung Soo tertawa kecil.

“Eun Kyo~ya. Tentang apa yang aku katakan dan kita lakukan kemarin..”

“Lupakan saja.” potong Eun Kyo cepat.

Jung Soo hanya bisa menghela nafasnya. Mencoba mengerti perasaan Eun Kyo yang masih belum bisa toleransi. Dia memeluk guling pembatas mereka dengan erat.

Bagi Eun Kyo menikah dengan Jung Soo adalah sandiwara paling konyol dalam hidupnya. Tidak pernah ia berperan seburuk ini sebelumnya. Dia merasa gagal telah mengelola hatinya. Karena jika Jung Soo mulai mengungkit tentang malam itu, dia akan merasa gugup. Takut Jung Soo akan berkata ynag menyakitkan hati seperti yang biasa Yeon Su lakukan. Takut jika yang dikatakan Jung Soo adalah sebuah permintaan maaf telah berbuat keliru dengan melakukan hal itu. Eun Kyo membiarkan prasangka itu terpenjara dalam ambang pikirannya. Eun Kyo benar-benar telah merasa bodoh telah menyerahkan semuanya pada Jung Soo yang mana dengan melakukan hal itu, dia tidak akan mendapatkan apapun dari Jung Soo. Meski dia juga menikmati sentuhan itu.

Tanpa terasa jarum jam terus burputar dan pikiran merekapun mulai terlena digelitik rasa kantuk yang bergelayut di kelopak mata mereka. Mereka tidur dengan mebiarkan perasaan masing-masing berkelana tanpa tau kepastian akan ujung dari sebuah perjalanan pikiran mereka.

***

Paginya mereka bangun seperti biasa. Eun Kyo hanya bisa membuat sereal pagi ini karena dia bangun terlambat dan Jung Soo tidak membangunkannya. Eun Kyo sempat kesal saat Jung Soo tidak membangunkannya, padahal ketika Jung Soo terlambat bangun Eun Kyo pasti membangunkannya karena takut suaminya akan terlambat ke kantor. Tapi berbeda dengan Jung Soo, saat melihat Eun Kyo begitu nyama pulas diatas kasur, dia tidak tega membangunkannya dan dia lebih memilih menikmati mengamati Eun Kyo yang tertidur, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk beranjak mandi.

“Aku hanya bisa menyiapkan ini.” Ujar Eun Kyo yang terlihat kelabakan di dapur menyiapkan sarapan pagi mereka. Semangkuk sereal dan roti tawar selai stroberi. “Kenap kau tidak membangunkanku? Eoh? Saat aku bangun kau sudah setengah rapi. tidak adil sekali.” Omel Eun Kyo yang masih kesal bangun terlambat.

“Aku tidak tega membangunkanmu.” Jawab Jung Soo yang memasang jam tangannya di pergelangan tangan. Jung Soo tersenyum tipismelihat Eun Kyo yang nampak panik.

“Aku hari ini ada janji dengan manajer humas Korean Musical Broadway. Aku tidak boleh terlambat.” Eun Kyo melepas apronnya melemparnya ke arah kursi, namun meleset. Alhasil, apron itu tergeletak begitu saja diatas lantai. Jung Soo memungutnya dan menggantungnya.

Jung Soo mengeratkan dasinya dan memandangi apa yang tersedia di meja. Semangkuk sereal dan setangkup roti berselai stroberi di atas piring. Hanya itu. Tak ada yang lain, hanya itu. Bukan karena hidangannya yang membuat Jung Soo mengerutkan dahinya, buakn karena hanya karena roti dan serela, tapi karena komponen yang dihidangkan hanya untuk satu orang.

Beberapa saat Eun Kyo keluar dari kamarnya dengan berpakaian rapi. sempat menoleh pada Jung Soo sebentar dan berpamitan.

“Kau tidak sarapan?” tany Jung Soo.

“Ne, aku nanti saja. sekarang tidak ada waktu. Mungkin akan terlambat lagi hari ini.” Ujar Eun Kyo berteriak sambil berlari keluar rumah.

“Kau! Biara ku antarkan.” Teriak Jung Soo mengejar Eun Kyo.

“Tidak perlu.” Jawab Eun Kyo berjalan cepat menuju halte yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari kediaman mereka. Inilah kenapa dia senang tinggal disini.

“Ani.” Jawab Jung Soo. Dia msuk ke dalam mobil dan mengemudikan mobilnya mengejar Eun Kyo. jung Soo berhenti tepat disamping Eun Kyo.

“Bair aku antarkan. Lagipula tidak terlalu jauh.” Ujar Jung Soo membukakan pintu.

“Ani, nanti Sungmin yang akan menjemputku di halte.” Eun Kyo menolaknya denganberbohong.

“Jangan banyak alasan. Ayo ikut.” Jung Soo membelokkan mobilnya memotong langkah Eun Kyo. mau tidak mau dia masuk dan duduk disamping Jung Soo. “Lagipula masih pagi sekali, bisa ditempuh dengan 10 menit saja.” Jung Soo segera menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya sesuai janjinya, 10 menit sampai.

Eun Kyo segera keluar dari mobil dan berlari kecil tanpa sempat berpamitan pada Jung Soo. Jung Soo hanya bisa memandangi kepergian Eun Kyo yang menghilang dibalik pintu gedung. Dia yakin, pasti wanita itu berlari hingga ke lantai atas. Sebelum Jung Soo kembali keruma, dia tersenyum terlebih dahulu. Memulai hari dengan senyuman seperti ini baru akhir-akhir ini dia lakukan.

Eun Kyo berlari sekuat tenaga. Beruntung dia sudah mempersiapkan peralatannya latihan dalam dua tas, hingga dia bisa mengatasi keadaan seperti ini. Saat dia tidak bisa menyiapkan, dia bisa menarik tas cadangan yang ada di dalam lemari,, di bawah baju-baju yang tergantung.

Eun Kyo berlari kearah lift, menunggu lift terbuka dengan gelisah. Dia takut orang utusan itu sudah lebih dulu datang dan menunggunya. Apa pendapatnya tentangnya saat hari pertama terlambat saja tidak tepat waktu. Bagi Eun Kyo kesan pertama itu sangat menentukan. Dia mengetuk kakinyamenunggu pintu lift terbuka, saking fokusnya pada lift, dia tidak menyadari seseorang berdiri disampingnya dengan wajah bingung. Pintu lift terbuka dan dia buru-buru masuk, begitu juga dengan orang itu. Saat lelaki tinggi itu ingin memencet angka, Eun Kyo mendahuluinya.

“Aku ke lantai 3.” Ujarnya sambil tersenyum pada orang itu.

“Aku juga.” Jawab lelaki itu singkat.

“Ne.” Jawab Eun Kyo lagi. Hatinya masih resah, dia tidak sempat mengirim pesan pada Donghae untuk memastikan apakah orang itu sudah datang atau belum. Bagi Eun Kyo perpindahan dari lantai ke lantai begitu terasa lamban. Dia menggerakkan tangannya dengan gelisah. Terlihat sekali wanita itu sedang buru-buru.

Saat sudah hampir sampai di lantai 3, Eun Kyo mengambil kuda-kuda untuk lari. Tingkah Eun Kyo membuat orang disebelahnya tersenyum.

“Park Eun Kyo.” panggil lelaki itu saat Eun Kyo berlari. Eun Kyo berbalik dan menghentikan langkahnya.

“Ne?” ujar Eun Kyo menjawab. dia menatap bingung kearah lelaki itu , namun detik berikutnya Eun Kyo pikir berbicara dengan lelaki itu hanya menyita waktunya. Jadi dia memutuskan untuk berlari menuju ruang latihan. Dia membuka pintu ruangan dengan sedikit keras hingga membuat semua mata tertuju padanya.

“Mian, aku terlambat.” Ujar Eun Kyo sambil melempar tasnya dan mencari-cari Donghae. “Donghae mana?” tanya Eun Kyo.

“Di ruangannya Noona.” Jawab Ryeowook. “Kau sudah sarapan?” tanyanya lagi sambil mendekati Eun Kyo. Ryeowook mengarahkan sendok berisi makanan ke arah EUN Kyo dan Eun Kyo menyambutnya. Dia memang lapr, karena belum sarapan.

“Eoh, apa pembawa kontrak itu sudah datang. ani, maksudku, orang yang akan tanda tangan kontrak dengan kita. Dia sudah datang?” tanya Eun Kyo pada Ryeowook.

“Molla, jika dia datang juga mungkin akan ke ruangan Donghae terlebih dahulu.” Jawab Ryeowook kembali menyuapkan makanan ke mulut Eun Kyo. “Kau lapar Noona?” tanyanya lagi saat melihat wajah Eun Kyo yang nampak menikmati makanannya.

“Nde, Ryeowook~a, aku terlambat bangun!” ujarnya mengambil kotak makanan dan melahap sendiri makanan yang tersisa di dalam kotak itu. Dalam hitungan menit kotak itu sudah bersih tidak bersisa. Kyuhyun sampai tertawa memperhatikan Eun Kyo. Ae rin menyikutnya.

“Yak! Sakit tau! Kemarin hari kau menendang kakiku! Sekarang menyikut tanganku! Noona! Sepertinya kau harus memberinya kandang agar tidak selalu menyiksa orang!” teriak Kyuhyun.

“Anjing dan kucing mulai beraksi.” Gumam Sungmin.

“Mwo?! Apa kau bilang? Menyiksa?! Kau yang sering menyiksaku!” balsa Ae Rin berteriak. Dia ingin menendang Kyuhyun tapi Hyukjae menahannya.

“Yak! Biarkan aku me, ah! Lepaskan aku!”

Emosi Ae Rin memang memuncak sejak kejadian beberap waktu lalu saat Kyuhyun mendatanginya di taman bacaan miliknya. Dia merasa memang Kyuhyun sengaja membuat masalah padanya, bahkan saat di hari libur sekalipun.

“Kau dengar dia?! Eoh?! Menyiksanya?! Dia yang menyiksaku! Yang selalu menggangguku! Yak! Lihat saja wajahnya!” Ae Rin terus mengomel sambil meronta dari pelukan Hyukjae. Dia menatap tajam mata Kyuhyun yang sedang menantang Ae Rin dengan seringai khasnya. Ae Rin semakin geram dan berusaha melepaskan tangan Hyukjae.

Aish! Gadis kecil ini ternyata kuat juga. Ujar Hyukjae dalam hati yang mulai kewalahan menangkap Ae Rin.

Sungmin terlihat acuh sambil memainkan pianonya. Ryeowook sibuk meminta pendapat pada Eun Kyo tentang masakannya pagi ini, dia mencoba resep baru. Ae Rin memperhatikan mereka dengan ekor matanya satu persatu, saat sadar tidak ada ynag memperhatikannya dia berhenti meronta dan mendengus keras. Tapi sepertinya Ae Rin menyadari sesuatu.

Sungmin Oppa, Ryeomook Oppa, Eun Kyo Onnie, Donghae Oppa pasti sedang dalam ruangannya mengurus kontrak kami, Kyuhyun. Ae Rin mengabsen satu persatu orang yang biasanya hadir setiap pagi. Jika mereka semua ada dalam jarak pandangku… omo!

Ae Rin perlahan mengalihkan matanya pada sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya. Dia menoleh sedikit demi sedikit seperti adegan slow motion dalam film laga untuk mendramatiris keadaan. Dan matanya menemukan sosok yang hampir saja membuat jantungnya jatuh ke lantai.

“Omo! Oppa!” ujar Ae Rin menjauhkan diri dari Hyukjae dengan refleks. Dia tidak menyangka, karena yang biasa menenangkannya adalah Donghae, bukan Hyukjae.

“Selamat pagi semuanya.”

Donghae membuka pintu dan masuk bersama seseotang yang asing bagi mereka. Semuanya menoleh pada Donghae dan orang itu. Eun Kyo hampir saja melempar kotak makanan Ryeowook saat orang itu menolehkan wajahnya pada Eun Kyo dan tersenyum.

“Aku perkenalkan, ini Choi Siwon. Dia pemilik Gedung biru.” Ujar Donghae menyebutkan Teather besar di Seoul.

Eun Kyo membeku, matanya masih tidak bsia lepas dari lelaki tinggi bertubuh atletis yang mempunyai senyum menawan itu. Bukan karena ketampanannya. Yah, memang lelaki itu menarik, sangat meatik, tapi dia bukan terpesona, hanya tidak menyangka orang yang dihindarinya untuk menemukannya terlambat latihan ternyata tau semuanya. Eun Kyo terlambat 20 menit dari waktu latihannya.

“Ne, benar sekali. Aku yang akan mengurus kontrak kerjasama kita. Aku tidak ingin mempersulit semua ini, aku menyukai kalian jadi mengundang kalian untuk meramaikan dunia Teather Musical kami. Aku juga berharap kalian mau melakukan kerjasama dengan kami.” Ujar Siwon. Setelah menyelesaikan kalimatnya, dia tersenyum pada Eun Kyo. Eun Kyo membalasnya dengan senyuman kaku.

“Kau terlambat 15 menit Eun Kyo~ya.” Ujar Donghae melirik Eun Kyo sambil menertawakannya. Karena Eun Kyo benci jika terlambat.

“20 menit.” Ralat Eun Kyo sendiri pelan.

“Aku akan memerikan kalian script drama yang akan kalian mainkan.” Donghae berjalan menuju Eun Kyo berdiri. “Kau belum sempat sarapan?” bisiknya disela-sela penjelasannya. “Akan memberikan beberapa naskah, terserah kalian akan mengambil yang mana. Jadi nanti kita akan merundingkannya bersama-sama. Siwon disini akan mengawasi kita latihan. Jadi aku harap kalian tidak mengecewakannya.” Donghae melirik Siwon dan tersenyum. Siwon membalasnya.

“Aku sudah mempelajari kontraknya…”

“Aku percaya padamu.” Potong Eun Ko yang tidak sabar karena Dongahe terlalu bertele-tele. Sementara dia tau semua ini adalah obsesi Eun Kyo, bagaimanapun kontraknya,dia pasti menyetujuinya.

“Bukan hanya kita ynag mengambil peran ini. Tapi juga bekerjasama dengan beberapa artis yang sudah di seleksi dan memang berkompetensi untuk panggung semegah itu.” Lanjut Donghae tidak memperdulikan Eun Kyo. Yang lainnya menyimak dengan baik apa yang disampaikan Donghae.

“Aku meminta kalian hanya akan latihan bersama mereka selama 3 hari saja. selebihnya kit alatihan disini.” Ujar Donghae lagi.

Eun Kyo tidak terlalu mendengarkan penjelasan Donghae. Dia malah terinagt sereal dan sepotong roti yang ada diatas meja untuk Jung Soo. Akankah Jung Soo akan kembali ke rumah dan memakannya. Pertanyaan itu melintas dipikiran Eun Kyo. Jika Jung Soo tidak memakannya maka keterlambatannya akan benar-benar sia-sia. Dia meraih ponsel dari dalam tasnya dan mengirimkan sebuah pesan pada Jung Soo.

Kau kembali ke rumah?

Kau harus kembali ke rumah.

Karena aku tidak ingin keterlambatanku sia-sa!

Kau harus memakannya habis!

Selesai mengirimkan pesan, Eun Kyo kembali menaruh ponselnya ke dalam tas. Dia mengheal nafas. Aku tidak suka seseorang tidak memakan makananku. Dia berjalan gontai kearah barisan latihan gerak. Membuat Hyukjae yang sejak tadi memperhatikannya menatapnya heran.

“Kau kenapa?” tanya Hyuk.

“Ah? Ne? Aku? Kenapa denganku?” tanya Eun Kyo terlihat bodoh.

“Mukamu terlihat aneh.”

“Ah, gwanchana, sekarang cepat latihan.”

Musik masih menggemadi telinga dan seluruh ruangan. Semuanya bergerak dengan semangat. Siwon memperhatikan gerak mereka dengan seksama dan sesekali berbincang bersama Donghae menanyakan semua nama-nama aktor yang mereka miliki.

“Donhghae~a, sepertinya kerja kerasmu ada hasilnya juga.” Ujar Siwon.

“Hem? Semua kerja keras pasti berhasil.” Jawab Donghae.

Dia membaca beberapa naskah yang diberikan Siwon padanya. Pilihan pertama adalah naskah drama Secret Garden yang ingin mereka gubah menjadi drama musical. Naskah kedua, ada di angkat dari film Titanis yang fenomenal itu. Tapi Donghae lebih tertarik pada naskah drama ketiga, A Midsummer Night’s Dream.

Mimpi Pertengahan Musim Panas. Karya William Shakespeare.

Dia membaca naskah itu dengan jeli hingga tidak memperhatikan lagi Siwon yang mengajaknya berbicara. Terkadang senyum simpul keluar dari wajahnya. Tidak bisa membayangkan jika teman-temannya akan memainkan peran yang ada dalam naskah itu. Siwon melirik apa yang dibaca Donghae.

“Aku lebih suka Drama itu daripada yang lain.” Komentar singkat keluar dari mulut Siwon saat tau apa yang membuat Donghaemengacuhkannya.

“Nado.” Jawab Donghae.

Mereka kembali diam. Dan Siwon terkejut mendengat keributan antara AE Rin dan Kyuhyun yang kembali terjadi. Kyuhyun menginjak dengan sengaja, dan Siwon bisa melihat itu. Gadis itu sontak marah dan mendorong Kyuhyun dari barisan. Tapi anehnya, yang lain terus bergerak.

“Jika mereka diam berati ada yang tidak beres salah satunya.” Ujar Donghae.

Siwon tertawa, melihat wajah Kyuhyun yang tidak merasa bersalah samasekali, dan Ae Rin yang terus saja mengomel, tidak menyadai mereka sedang dipantau seseorang.

“Karena mereka aku senang disini.” Ujar Donghae. Siwon menoleh.

“Baiklah kalau begitu. Aku permisi, aku harap kalian memilih naskah yang benar.” Siwon bangkit dan menepuk pundak Donghae. “Kapan-kapan berkeunjung ke rumahku.” Ujar Siwon. Donghae ikut bangkit dan mengantar Siwon. Siwon melambaikan tangannya dan dibalas dengan senyuman oleh mereka.

***

Sementara di tempat lain. Jung Soo masih ingat isi pesan Eun Kyo tadi pagi. Keterlamabatan yang sia-sia jika dia tidak menghabiskan sarapannya. Benar juga, karena membuatkan sarapan untuknya Eun Kyo terlambat. Dan Jung Soo tidakmembangunkannya saat dia sudah terjaga. Jung Soo sudah tiba di kantornya beberaap  menit yang lalu. Dia membuka file-file penerimaan trainee baru di perusahaannya. Memilih-milih kira-kira yanga mana yang berbakat dan akan direkrutnya.

“Oppa.” Senuah suara tak membuatnya bergeming saat tau siapa ynag masuk. Dia hapal siapa yang baru saja masuk dan akan mengganggu ketenangannya.

Aneh, biasanya Jung Soo aka senang jika Yeon Su menemaninya bekerja. Setiap hari Yeon SU merecokinya bekerja dulunya, tapi sekarang dia merasa berbeda. Sekarang dia merasa Yeon Su adalah pengganggu di hidupnya.

“Aku tau Oppa tidak suka aku kemari.” Ujar Yeon Su lirih.

Jung Soo tidak menjawab.

“Tapi Oppa, apa kau benar-benar sudah jatuh cinta padanya? Aku ingin tau.”

Jung Soo tetap diam.

“Jika kau jatuh cinta padanya. Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Mungkin benar- hubungan kita memang tidak bisa diteruskan seperti yang dikatakan Eommamu. Dia punya pilihan sendiri, dan kini kau pun mencintainya. Untuk apa lagi aku harus berjuang.” Ujar Yeon Su panjang lebar.

Kini Jung Soo tak lagi bisa diam. Dia menoleh perlahan kearah Yeon Su. Melihat gadis itu menangis membuatnya merasa bersalah. Dia menarik nafas dan mencoba mengeluarkan kata-kata.

“Mianhada Yeon Su~ya. Tadinya aku kir aku juga tidak akan jatuh cinta padanya. Tapi entahlah.”

“Aku sudah tau. Tidak ada alasa untuk tidak jatuh cinta padanya. Dia lebih baik dariku. Chukkae Oppa.” Yeon Su mendekati Jung Soo. “Tapi bolehkah aku meminta pelukan terakhir darimu? Eoh?” dia merentangkan tangannya minta sebuah pelukan.

Jung Soo mendekat dan memeluk Yeon Su. Mengecup kepalanya dan benar-benar merasa bersalah. Dia tidak menyangka hubungan mereka berakhir seperti ini. Bukan maksudnya mengkhianati Yeon Su, tapi mau tidak mau Jung Soo harus melepaskannya.

“Maafkan aku.” Ujar Jung Soo lagi. Dia melepaskan pelukan Yeon Su. Gadis itu tersenyum simpul. Manis dan Jung Soo merasa dia menemukan Yeon Sunya lagi. Gadis manis yang polos.

“Sekarang kau kembali bekerja.” Jung Soo mengacak rambut Yeon Su dan mendorongnya pelan agar keluar.

“Oppa, kapan-kapan ajak aku ke rumahmu, ne?” Yeon Su memberikan senyum manisnya pada Jung Soo.

“Ne.” Balas Jung Soo sambil tersenyum.

Hatinya merasa lega. Sekarang dia merasa bebas. Tanpa harus membuat Yeon Su mengerti, dia sudahmengerti keadaannya. Itu membuatnya sangat lega. Dia takut melukai gadis yang mudah tersinggung itu, itulah mengapa dia ragu untuk mengatakan cinta pada Eun Kyo. tapi sekarang dia bisa mengataka dengan tegas bahwa dia memilih Eun Kyo. Tak perlu banyak waktu untuk menyadari bahwa dia telah berpindah haluan. Sejak dia melihat Eun Kyo bersama Eommanya di hari itu, hari pertama pernihannya, dia sudah bisa merasakannya tapi menyangkalnya dengan keras. Karena Yeon Su.

Yeon Su berjalan perlahan meninggalkan Jung Soo yang masih terkejut dengan perkataan Yeon Su barusan. Dia seolah baru saja mendapat angin segar. Saat berada di depan pintu, Yeon Su membalikkan badannya.

“Oppa. Apa kau bahagia aku mengatakan seperti itu?”

Yeon Su tiba-tiab menyeringai. Wajahnya berubah sinis memandangi Jung Soo, dia tersenyum kesut dan kembali berjalan mendekati Jung Soo lalu mendekatkan wajahnya tepat di hadapan Jung Soo. Mensejajarkannya dengan mendongak agar Jung Soo bisa melihatnya dengan jelas.

“Oppa, kau bahagia? Tidak akan lagi karena aku akan pastikan kau tidak akan bahagia dengannya.” Ujar Yeon Su tajam. Terdengar menakutkan tapi Jung Soo mencoba untuk bersikap dingin dan diam.

Yeon Su kembali berjalan menuju pintu keluar dan benar-benar pergi. Kepergian Jung Soo membuat Jung Soo lemas, dia tidak habis pikir kenapa Yeon Su berubah sedemikan rupa hingga dia seakan tidak mengenalnya lagi.

“Yeon Su~ya, mianhae.” Jung Soo berucap lirih.

Dia kembali duduk ke tempatnya dan kembali membuka beberapa file dan beberapa proposal yang tidak semapt di periksanya. Jung Soo tidak fokus dan tidak sampai beberapa menit dia kembali bangkit.

“Aku akan makan siang di luar. Jika ada yang mencariku. Katakan aku mungkin akan kembali sore hari.” Jung Soo menghampiri dan memberitahukan pada Sekretarisnya. Dia berniat untuk membawakan Eun Kyo makan siang hari ini di tempat latihannya. Jung Soo menyambar kunci mobil segera melesat pergi.

***

Jung Soo memencet nomor lantai yang ada di dinding lift dengan kelingkinganya. Kedua tangannya penuh dengan kotak makanan. Dia membawakan makan siang untuk Eun Kyo dan juga untuk yang lainnya. Melihat Eun Kyo dan candaan teman-temannya mungkin akan sedikit menenangkan hatinya.

Ting!

Pintu lift terbuka dan dia segera menggerakkankakinya menuju ruangan biasa mereka latihan. Dia membuka pintu dengan susah payah, harus meletakkan satu kantong plastik sebentar di lantai dan mendorong pintu baru dia bisa membukanya, setelah pintu terbuka dia kembali mengambil plastik yang berisi kotak makanan itu dan membawanya ke dalam bersamanya.

“Kalian sudah makan?”

Jung Soo berusaha nampak akrab meski selama ini dia tidak terlalu banyak berdialog dengan mereka. Biasanya dia hanya diam memperhatikan mereka. Hanya Ae Rin yang terkadang mengajaknya bicara. Tapi sejak kejadian waktu itu, dia jarang berkomunikasi dengan mereka, terliebih lagi bersama Kyuhyun. Anak itu seakan menjaga jarak dengan Jung Soo bahkan terkadang dia terkesan menantang. Tatapannya yang tajam dan menusuk benar-benar membuat Jung Soo terkadang merasa salah karena Eun Kyo terlihat lebih senang berada di dekat anak itu.

“Kau bawa apa, Oppa?”

Ae Rin berlari menghampiri Jung Soo, tepat seperti perkiraannya. Gadis kecil itu tidak ingin membuat suasana kaku saat dia berada disana. Ae Rin mengambil kantong plastik yang ada di tangan kanan Jung Soo. Tidak berapa lama Ryeowook juga menghampirinya dan mengambil satu lagi kantong plastik yang ada di tangan kiri Jung Soo.

“Aku membawakan kalian makan siang. Semoga suka. Daging iga bakar.” Ujarnya.

Eun Kyo menelan lidah saat Jung Soo menyebutkan menu makan siang apa yang dibawakannya. Eun Kyo menyembunyikan senyumnya dan bangkit dari duduknya dengan bertumpu di paha Hyukjae yang duduk bersila.

“Cepat jika tidak ingin kehabisan.” Bisik Eun Kyo di telinga Hyukjae. Hyukjae juga bangkit dan segera mengambil satu kotak makanan lalu melahapnya di sudut ruangan.

“Donghae mana?” tanya Jung Soo.

“Dia ada di ruangannya mungkin.” Jawab Sungmin yang mengambil satu kotak makanan. “Kau sedang bahagia Hyung?” sambung Sungmin bertanya. Sungmin memilih duduk disamping Jung Soo menemaninya.

“Tidak makan?” tanya Sungmin lagi.

“Aku tidak lapar. Kalian saja yang makan.” Jawab Jung Soo.

Setelah mengambil satu kotak makanan, Eun Kyo melirik Kyuhyun yang tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya. Tetap berbaring tanpa menoleh sedikitpun. Dia bahkan memansang headphonennya di telinga saat tau Jung Soo yang datang. Eun Kyo tau Kyuhyun masih kesal. Dia mengambil satu kotak lagi dan berjalan mendekat kearah Kyuhyun.

“Kau pasti lapar.”

Eun Kyo sengaja membuka kotak makanannya agar Kyuhyun bisa mencium aroma bumbu iga bakar yang mampu membuat produksi air liur meningkat.

“Kyuhyun~a..” panggil Eun Kyo dengan melepaskan benda yang menutup telinganya. “Apa yang kau dengarkan?” Eun Kyo memasang benda itu di telinganya dan menatap pada Kyuhyun saat ia mendengar apa yang ada di telinganya. Kyuhyun merekam semua dialognya dan mendengarkannya disaat luang.

“Caramu keren juga. Kenapa tidak terpikir olehku. Ayo bangkit, kita makan!”

Eun Kyo mencoba membuat Kyuhyun bangkit, tapi anak itu terlihat enggan. Tapi karena Eun Kyo memaksa akhirnya dia bangkit dan duduk.

“Aku tidak lapar Noona, aku lelah.” Ujar Kyuhyun.

“Ani, kau harus makan.”

Eun Kyo mengarahkan satu rusuk iga yang diapathnya dengan tangan ke mulut Kyuhyun. Kyuhyun awalnya menjauh, tapi saat matanya bertatapan dengan Jung Soo yang juga menatapnya tajam, dia meneriam suapan Eun Kyo dan tersenyum.

“Enak kan?” tanya Eun Kyo.

Kyuhyun menjawabnya dengan mengangguk sambil menyapu sudut bibirnya dengan tangan. Sebenarnya dia tidak sudi menerima makanan dari Jung Soo, tapi mau bagaimana lagi, dia tidak bisa menolak Eun Kyo. sebenarnya dia juga tidak mengerti mengapa dia begitu marah pada Jung Soo padahal Eun Kyo sudah menceritakan tantang hubungan mereka -Jung Soo dan Eun Kyo- yang tidak lebih dari sekedar hubungan perjodohan tanpa cinta. Tapi tetap saja Kyuhyun kesal. Terlalu menyayangi Eun Kyo mungkin benar, karena terhadap yang lainnya dia juga begitu.

“Lagi, sini aku suapi.”

“Aish! Manja sekali.” Gerutu Ae Rin mendekat.

Jung Soo disudut sana memperhatikan dengan lekat bagaimana Eun Kyo memeperlakukan Kyuhyun. Sesekali dia juga menyuapi Ae Rin dan Ryeowook yang mendekat. Sungmin makan sendirian. Ada rasa iri yang besar terselip disela perasaan kagum yang ada di hati Jung Soo. Disini dia bisa melhat dengan jelas sisi lain Eun Kyo selain bersikap dingin padanya.

“Aku akan mengantar ini pada Donghae, dimana ruangannya?”

Jung Soo bangkit dan bertanya pada Hyukjae. Dia menepuk pundak Hyukjae pelan dan Hyukjae menoleh padanya.

“Kau berjalan saja ke ujung, pintu paling ujung sejajar dengan ruangan ini.” Jawab Hyukjae sambil menikmati makanannya.

“Baiklah. Gomawo.” Jung Soo menepuk pundak Hyukjae sekali lagi dan berlalu menuju ruangan yang dimaksud Hyukjae dengan membawa sekotak makanan.

Saat tiba di depan pintu, dai terdiam lebh dahulu. Berdiri beberapa detik mematung disana. Jung Soo memikirkan percakapan apa yang harus dia ulai bersama Donghae nantinya. Dia tau Donghae pasti akan menyalahkannya atas kejadian kemarin. Tapi Jung Soo ingin menghadapinya, karena dia tidak pernah  membela apapuan tentang dirinya di hadapan Donghae. Sebenarnya dia tidak ingin membela diri, tapi hanya ingin memastikan bagaimana pandangan Donghae terhadapnya. Jung Soo mengetuk pintu 3 kali. Setelah mendengar kata ‘masuk’ dari dalam, dia memberanikan diri membuka pintu. Terdiam beberapa detik sebelum dia melangkah masuk.

“Aku membawakan makan siang untukmu.” Ujar Jung Soo. Donghae menoleh dan mempersilakan Jung Soo masuk dengan isyarat senyumnya.

Jung Soo masuk dan meletakkan kotak makanan itu diatas meja Donghae. Mengamati ruangan kecil berukuran 4×6 yang minimalis. Hanya ada meja dan kursi yang sekarang ada di pakai Donghae, sebuah laptop di depanya serta sofa panjang sedikit usang namun masih terlihat bagus ada di hadapannya.

“Duduk.” Ujar Donghae. Jung Soo memilih duduk di sofa. Dia memperhatikan raut wajah Donghae ynag terlihat serius.

“Kau sedang apa?”

“Eoh? Aku sedang membaca beberapa kontrak mereka yang masih belum di tanda tangani.” Jawab Donghae sambil menutup map. Dia mengambil kotak makanan dan membukanya. “Iga panggang, hem, favorit Eun Kyo.” ujar Donghae.

“Jinjja?” tanya Jung Soo. Ada kebanggan tersendiri mendengar ucapan Donghae tadi, berarti dia tidak meleset membelikan makanan. Memang yang disukai Eun Kyo. Donghae mendongak bingung.

“Dia suka yang berbau daging.” Ujar Donghae lagi.

“Kau juga suka?” tanya Jung Soo. Dia seperti menghadapi perempuan saja, canggung. Donghae memakan makanannya dan Jung Soo menemaninya dalam diam.

“Donghae~ya. Mengenai hari itu…”

Mendengar ucapan Jung Soo tentang malam itu, Donghae menghentikan makannya. Dia menoleh pada Jung Soo menanggapi perkataan Jung Soo.

“Aku, aku.. aku tidak tau apa yang harus aku katakan. Aku tau mengatakan ini sebenarnya tidak akan berpengaruh apa-apa. Tapi aku ingin mengatakannya padamu, aku tidak bermaksud berbeuat seperti itu sama sekali malam itu. Dia menyeretku ke toilet dan tahu-tahu berbuat seperti itu.” Cerita itu meluncur begitu saja dari mulut Jung Soo tentang kejadian yang dilihat Donghae. Donghae dengan fokus mendengarkan Jung Soo.

“Eun Kyo sudah tau?”

“Kau sudah menceritakannya kan?”

“Eum.” Jawab Donghae.

“Apa tanggapannya?” dengan penuh antusias Jung Soo menunggu jawaban Donghae.

Lama Dongahe tidak menjawab. Menimbang terlebih dahulu jawaban apa yang harus dia jawab.

“Dia diam saja. malah lebih menyalahkan dirinya sendiri.” Jawab Donghae bersikap netral dan jujur.

“Begitu? Ini bukan salahnya, aku yang salah.” Ujae Jung Soo.

Mereka kembali terdiam dan Donghae melanjutkan makannya. Jung Soo membiarkan Donghae hingga makanannya habis baru kembali mengajaknya bicara lagi.

“Bagaimana perasaanmu terhadapnya?” tanya Donghae tiba-tiba.

Pertanyaan itu membuat Jung Soo membeku beberapa saat. Dongahe menunggu jawabannya dengan terus menatap Jung Soo.

“Entahlah.” Jawab Jung Soo terdengar sedikit pasrah.

“Kau menyukainya? Wajar, banyak lelaki yang menyukainya. Tapi apa kau pernah berpikir mengapa Eun Kyo menerima begitu saja perjodohan itu?”

Jung Soo terdiam sesaat, bingung.

“Karena… terjepit.” Jawab Jung Soo sekenanya. Dia memang merasa seeprti itu. Terjepit keadaan, dan harus menerima perjodohan itu, demi orang tuanya. Demi Appanya.

“Dan sekarang setelah Appa tidak ada, apa yang membuatnya masih bertahan?”

“Eomma, dia tidak bisa meninggalkan Eomma.” Jawab Jung Soo lagi.

“Tapi aku rasa Eun Kyo adalah pembicara yang baik. Dia bisa membuat orang lain mengerti meski terkakdang dia harus bersikap keras.” Jawab Donghae semakin bingung arah pertanyaan Donghae kemana.

“Lalu?”

“Apa kau tidak pernah berpikir dia bertahan karenamu?” tanya Donghae. Pertanyaan itu sontak membuat Jung Soo ternganga dan membesarkan mata.

“Aku tidak berani.” Jawab Jung Soo.

“Haha, itu terserah padamu.” Jawab Donghae mengakhiri pembicaraan.

“Tapi dia selalu meminta cerai padaku. Meski aku selalu menolaknya. Aku aku takut kehilangan Eomma.” Jawab Jung Soo.

“Bukannya lebih tepatnya takut kehilangan Eun Kyo?” Seperti peramal yang baru saja membaca nasib pasiennya. Donghae menatap lurus pada Jung soo. Mematikan langkahnya karena apa yang dikatakan Donghare 60% nya adalah kebenaran. Donghae tersenyum. Jung Soo sebaliknya, dia berubah kaku.

“Dia… dia adalah tamu  yang tidak di undang. Memaksakan diri masuk ke dalam kehidupanku setelah puluhan tahun menghilang. Merubah hidupku dan membuatku bingung mengambil keputusan.” Perkataan Jung Soo cukup bisa disimpulkan oleh Donghae.

“Dan sampai sekarang kalian masih belum mengurus cerai kan?” tanya Donghae.

“Aku melarangnya.” Jawab Jung Soo.

“Dan bagaimana dengan gadismu?” tanya Dongahe mengenai Yeon Su. Dia bertemu dengan gadis itu beberapa hari yang lalu. Dan sepertinya memang sulit untuk lepas dari gadisitu seandainya Jung Soo ingin melepaskannya. Jung Soo tidak menjawab. “Sudah aku duga.”

“Kau menduga apa?” tanya Jung Soo was-was.

“Ani. Kusarankan kau menjauhinya sedikit demi sedikit.”

“Tapi bagaimana caranya?”

“Itu kau sendiri yang harus mengurusnya. Kau yang lebih mengenalnya.”

“Ah, aku hampir lupa. Tanggal 5 nanti Eun Kyo ulang tahun. Biasanya kami makan-makan bersama jika ada yang ulang tahun. Kau boleh ikut jika mau.” Ujar Donghae.

“Boleh.” Jawab Jung Soo.

***

Hari masih terlalu pagi saat Eun Kyo mendengar teriakan ponsel yang mampu membuatnya terbangun. Mulutnya mendesis tanda kesal dan dia merutuk dalam hati kenapa dia meletakkan ponsel di dekat telinganya. Jung Soo masih teridur pulas disampingnya, tidak memperdulikan Eun Kyo yang kesal karena tidurnya terganggu. Eun Kyo tidur cukup malam karena harus latihan untuk pementasan terakhirnya. Dia harus memberikan performa terbaik untuk penampilan terakhirnya. Setelah ini, tuga syang lebih berat sudah menanti.

“Yeobo, angkap telponnya.” Ujar Jung Soo samar karena dia masih mengantuk.

“Eum.” Jawab Eun Kyo. dia meraba ponselnya dan menggeser tanda hijau di touchscreennya kearah kanan lalu mendekatkannya ke telinga.

“Yeoboseyo?” sapa Eun Kyo. orang disebelah sana menyahut.

“Noona, besok malam kau jangan lupa untuk pestanya. Aku tidak mau sendirian.” Suara Kibum terdengar masih nyaring dan Eun Kyo bisa tau, anak itu sedang begadang.

“Ne, aku mash ingat. Tidak akan membiarkanmu pergi sendirian, tapi sekarang biarkan aku istirahat. Eum? Hoam.. aku masih mengantuk Kibum~a.” Eun Kyo menutup mulutnay yang menguap lebar. Dia melirik Jung Soo yang masih manutup mata. Tubuh lelaki itu menggeliat dan mengarahkan tangannya untuk memeluk Eun Kyo. tapi sayangnya Eun Kyo menghindar dan menyudutkan dirinya di pinggir tempat tidur.

“Aish! Selalu mengambil kesempatan, bahkan dalam tidurpun dia selalu mencari celah.” Eun Kyo menggerutu sambil meraih bantal agar lebih leluasa menopang kepalanya. Dia kembali tidur dan tidak memperdulikan Jung Soo yang semakin merapat memeluknya. Rasa kantuknya tidak bisa ditoleransi.

Paginya mereka bangun saat bunyi alarm nyaring terdengar. Eun Kyo memulai aktifitasnya sebagai seorang istri. Dia mulai terbiasa melayani suaminya sebegaimana mestinya. Tak lagi  memperhatikan gengsinya. Lagipula dia menyiapkan hal yang wajar saja, tak ada yang istimewa. Meyiapkan sarapan lebih banyak karena mereka makan berdua. Menyiapkn baju bekerj,a sekalian dia juga menyiapkan bajunya. Hanya itu, selain pelayanan diatas tempat tidur yang tidak pernah lagi dia lakukan. Semua berjalan dengan lancar dan tanpa beban.

“Aku dengar kau berbicara di telpon tadi malam.”

Jung Soo menenggak segelas air putih saat Eun Kyo menyiapkan sarapannya. Dia melirik Eun Kyo saat masih meneguk air dari gelas.

“Kibum. Dia ada undangan pesta dan memintaku untuk menemaninya.” Jawab Eun Kyo.

“Kapan? Dimana?”

“Aku tidak menanyakannya.”

“Apa dia tidak punya pacar?”

“Jika dia punya dia tidak akan mengajakku.”jawab Eun Kyo. Dia selesai menyiapkan makanan dan mulai mmelahap senri makanannya.

“Kenapa tidak menungguku?”

Jung Soo mencegah tangan Eun Kyo yang hendak menyuap makanan, menyuap itu ke dalam mulutnya sendiri.

“Yak! Kalau mau makan ambil sendiri.” Protes Eun Kyo.

Jung Soo mengambil piring dan makan bersama Eun Kyo. kadang-kadang pikirannya berkelana jauh memikirkan apa yang diucapkan Dongahe tempo hari. Alasan Eun Kyo tetap bertahan.

“Yeobo, apa Yeon Su tidak pernah mengganggumu lagi?” tany Jung Soo. Eun Kyo menoleh.

“Kau berharap dia menggangguku?” tanya Eun Kyo.

“Ani, bukan begitu.”

“Terima kasih sudah menjaganya dariku.” Jawaban Eun Kyo membuat lega sekaligus was-was. Yeon Su bukan tipe orang yang bisa begitu saja melepaskan lawannya. Apalagi perkataan Yeon Su yang membuatnya merinding beberapa hari yang lalu membuatnya cemas akan Eun Kyo.

“Baguslah kalau begitu.” Jawab Jung Soo.

“Sepertinya kau menjaganya dengan baik.”

Sebenarnya Jung Soo tidak bertemu dengan Yeon Su beberapa terakhir. Sejak pertemuannya yang berujung ancaman kecil dari Yeon Su.

“Aku sudah selesai.” Eun Kyo bangkit dari duduknya dan meninggalkan Jung Soo yang makan dengan labat karena terlalu banyak berpikir.

“Kau ada jadwal apa hari ini?” tanya Jung Soo.

“Aku ada pertemuan mengenai drama baru.” Jawab Eun Kyo dari dalam kamar. Dia harus bertemu dengan beberapa pemeran yang akan bermain bersama di drama itu. Saling mengenal sebelum selanjutnya latihan bersama.

“Perlu kuantarkan?” tanya Jung Soo saat melihat Eun Kyo keluar dari kamar.

“Ani, Donghae dan lainnya akan menjemput.”

TIN!

Suara klakson dari luar rumah nyaring terdengar,

“Itu mereka sudah menjemput. Aku berangkat dulu, jika aku pulang terlambat, berarti aku langsung ke pesta menemani Kibum.” Ujar Eun Kyo berpamitan.

Dia berjalan cepat keluar dari rumah dan segera masuk ke dalam mobil. Selama perjalanan mereka semua terdiam. Kyuhyun dengan PSP ditangannya, Ae Rin dengan buku, Sungmin berdiam diri, begitu juga dengan Ryeowook. Donghae membawa mereka melaju menuju tempat yang telah dijanjikan. Sebuah restoran untuk membicarakan peran mereka.

Sesampainya di tempat tujuan mereka berlima plus Donghae segera masuk ke dalam restoran mewah di ruangan private. Pelayan mengantarkan mereka ke tempat  yang telah di pesan Siwon. Tak ada yang bicara selain derap langkah yang terdengar. Hari Eun Kyo mengenakan rok selutut bercorak bunga dengan baju kaos pas pas dibadannya. Tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Rambutnya di gulung tidak terlalu rapi tapi terkesan formal. Yang lainnya memakai pakaian yang hampir sama, celana kain semata kaki dengan kaos di dalam tas. Sedangkan Ae Rin tidak jauh berbeda dengan Eun Kyo hanya saja dia memadukannya dengan jas putih yang melekat pas di tubuhnya.

“Silakan kalian masuk.”

Selain Siwon tentunya, yang membuat janji pertemuan ini, ada beberapa orang yang membuat jantung Eun Kyo berdebar kencang. Disana di sebuah meja panjang dengan banyak kursi disisinya, duduk beberapa orang yang dikenal Eun Kyo. jantungnya berbdebar hebat, tidak menyangka orang-orang yang duduk di deretan itu ada disana.

“Annyeong haseyo.” Donghae meawakili mereka mengucapkan salam, hinggamereka hanya perlu menundukkan kepala sebagai tanda sapaan yang lebih hormat.

“Silakan duduk. Kalian pasti terkejut, aku tidak sendirian.” Jawab Siwon mempersilakan mereka untuk duduk. Orang ada disana berdiri dan saling berjabat tangan satu persatu.

“Ah, ahjusshi. Ahjusshi. Aku penggemar beratmu.” Celetuk Ae Rin saat berdiri tepat di depan seorang lelaki kurus nan tampa yang sedang berjabat tangan dengannya. “Ahjusshi?” Ae Rin heran dengan perkataannya sendiri. “Aish! Aku tidak sopan sekali.” Dia memukul pelan mulutnya.

“Gwaenchana, panggil aku begitu saja biar lebih akrab.” Jawab lelaki itu. Song Seung Hoon.

Eun Kyo hampir saja berhenti bernafas saat menyadari orang-orang yang sudah akrab dimatanya itu duduk disana bersama mereka. Dia bukannya tidak percaya, hanya saja dia tterlalu senang menyadari siapa yang akan menajdi rekannya nanti saat berada di panggung.

“Aku sudah menjelaskannya pada Donghae, bahwa yang bermain bukan hanya kalian. Aku mengajak beberapa artis untuk bergabung. Tentunya juga dengan beberapa pertimbangan, sama seperti kalian.” Ujar Siwon menjelaskan.

Eun Kyo menginjka kaki Donghae, Donghae sempat meringis. “Kenapa kau tidak bilang padaku?” desisinya berbisik. Eun Kyo tidak habis pikir, kenapa Donghae merahasiakan ini darinya. Padahal biasanya tidak pernah sedikitpun Donghae menyimpan sesuatu darinya. Kejutan Donghae benar-benar membuat Eun Kyo kehilangan akal hingga tidak bisa mendengarkan penjelasan Siwon dengan benar. Yang dia tangkap hanya mereka akan memainkan drama teather lawas karya William Shakespeare. A Midsummer Night’s Dream.

Drama teater komedi yang ringan namun menggelitik dan di bumbui dengan percintaan yang rumit. Tentang takdir yang tertukar dan jawaban hati.

Dia duduk berhadapan aktor kawakan sekaliber Jo Min Gi, yang duduk bersebelahan dengan Le Kyung He dan Song Seung Hoon. Eun Kyo benar-benar kelimpungan duduk berhadapan dengan mereka.

“Aku sudah membagi peran kalian. Maaf tidak memberitahu sebelumnya. Yang akan menjadi pemain utama adalah kua, Park Eun Kyo~ssi. Kau berperan sebagai Hermia. Park Ae Rin kau akan memerankan Hermia. Kyuhyun memerankan Demetrius. Sungmin sebagai Oberon…”

Perkataan Siwno yang panjang lebar hanya ditangkap setengahnya oleh Eun Kyo. Dia sibuk memainkan kukunya saking groginya. Eun Kyo benar-benar tidak bisa mengatur tngkahnya. Di atidak bisa bersikap biasa saja saat idolanya berada di hadapannya.

Berbeda dengan Ae Rin yang sejak tadi tersenyum selalu pada Song Seung Hoon. Membuat lelaki itu terkadang salah tingkah saat ada adis kecil bersikap seperti itu padanya. Dan Kyuhyun pasti memandanginya dengan tatapan sinis dan mengejek, membuat mereka berdua saling melemparkan desisan.

“Aku sudah siapkan Scropt kalian. Dan sudah di tulis ulang oleh Donghae. Sebenarnya ada beberapa lagi yang belum datang. Tapi nanti sebagian akan bertemu saat latihan saja. sebagai pemberitahuan, Song Hye Kyo dan..”

“Annyeong. Maaf terlambat.”

Seseorang membuka pintu dengan leras dan bernafas terengah-engah saat dia sampai di tempat itu. Sudah bisa dipastikan dia berlari hingga sampai ke tempat itu.

“Joong Ki Oppa.” Sapa Ae Rin.

Gadis kecil itu berdiri dan menghampiri Joong Ki dengan membawa segelas air putih di tangannya. Dia menyerahkan gelas itu pada Joong Ki yang disambut dengan cepat olehnya dan dia meminumnya hingga habis.

“Maaf, aku terlambat, aku baru saja pulang dari pemotretan. Aku janji, ini tidak akan terulang lagi.” Perkataannya terputus-putu skarena masih terengah.

“Untuk kali ini kau kumaafkan.” Ujar Siwon.

“Oppa, kau, kau juga ikut dalam drama ini?” tanya Ae Rn mengikuti Joong Ki duduk di kursi. Tanpa sadar dia berpindah duduk menjadi di sebelah Joong Ki.

“Donghae~a, sudah aku bilang janganmengajaknya.” Ujar Kyuhyun pada Donghae.

“Sudahlah. Wajar saja dia seperti itu.”

Eun Kyo menutup mulutnya tidak percaya. Banyak kejutan hari ini dan ingin rasanya dia protes sekarang juga pada Donghae namun ia tahan. Dia ingin protes kenapa Donghae tidak menceritakan bahwa Song Joong Ki pun ikut dalam drama ini. Song yang hebat, begitulah dia memanggil bebrapa idolanya yang bermarga Song. Song Joong Ki, Song Seung Hoo, Song Hye Kyo. mimpi apa dia semalam hingga bisa satu panggung dengan mereka.

“Ah, kalian. Kalian dari Dream Maker Teather bukan? Whoah… aku belum sempat melihat drama musikal kalian. Tapi tiket hari terakhir, sudah ada di tanganku. Mohon bimbingannya dalam hal ini.” Song Joong Ki memang pribadi yang ramah dan supel, hingga Eun Kyo maupun Ae Rin sangat yakin mereka bisa berbaur dengan mudah dengannya.

“Benar sekali. Aku jug abaru dalam hal ini, mohon bimbingan kalian.” Ujar Min Gi dengan suara beratnya.

“Eoh? Untuk aktor sekaliber anda. Kami tidak bisa dibandingkan sedikitpun dengan Anda. Kami yang harusnya banyak belajar.” Ujar Sungmin.

Makanan yang dipesan Siwon sudah datang. Beberap pelayan sibukmengatur letak makanan yang mereka hidangkan. Ryeowook memandangi makanan itu dengan cermat.

“Hey, apa ini bumbu jae?’ dia mencium aroma jahe pada ikan yang terhidang di hadapannya. Pelayan itu mengangguk. “Sepertinya aku bisa mencoba ini. Noona, kau harus mencobanya, jika kau suka, aku akan membuatnya untukmu.” Ujar Ryeowook. Eun Kyo haya tersenyum mendengar perkataan Ryeowook.

Pertemuan mereka dihiasi dengan obrolan hangat yang tidak teralu penting. Berbagi kisah lucu dan saling mengenal untuk membangun hubungan agar mereka tak lagi canggung saat latihan. Donghae dan Siwon saling melirik. Sebenarnya ada harapan besar dari Swon maupun Donghae tenatng perhelatan ini. Yang tidak banyak diketahui oleh orang lain bahkan Eun Kyo sekalipun. Perbedaan umur dan pengalaman tak menyurutkan mereka untuk bercanda. Mereka cepat berbaur dan seperti sudah mengenal lama. Terlebih lagi Ae Rinyang tidak sungkan memuji Joong Ki maupun Seung Hoon bergantian.

***

Eun Kyo menggerutu saat taksi yang ditumpanginya terjebak macet karena seratus dari tempatnya kini terhenti, ada kecelakaan mobil yang menyebabkan antrian panjang. Dia sesekali melirik jam yang melingkar manis dipergelangan tangannya. Jam 7.45 malam. Dia berjanji akan menemani Kibum dipestanya. Pesta peluncuran produk baru Perusahaan. Sebenarnya mesi Kibum tidakmemintapun, dia pasti akan menghadiri acara itu. Karena itu juga merupakan acaranya dan dia mendapat undangan VIP untuk itu.

“Ahjusshi, bisa cepat sedikit? Atau kita potong jalan saja?” tanya Eun Kyo sedikit cemas.

“Tidak bisa agasshi. Kita terjebak.” Jawab supir taksi itu menoleh ke belakang.

“Omona, bagaimana ini. 15 menit lagi acaranya akan dimulai dan aku belum menyiapkan apapun..” keluh Eun Kyo duduk di belakang jok. Dia menyandarkan kepalanya dan mengenggelamkannya di bantalan empuk belakang kepalanya.

“Agasshi. Mian, aku tidak bisa tepat waktu mengantarmu.” Ujar supir taksi itu lagi.

“Gwaenchana. Aku yang salah. Hampir saja lupa.” Ujar Eun Kyo tidak enak.

Dia melihat seseorang mengendarai sepeda dengan menyusup di sela-sela mobil yang berjejer mengantri untuk jalan.

“Ahjusshi, aku sampai disini saja. tempatnya sudah dekat.” Eun Kyo mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya, menyerahkannya pada lelaki paruuh baya yang duduk di belakang kemudi.

“Agasshi. Jaraknya masih satu setengah kilo lagi.” Teriak lelaki itu dari jendela mobil.

“Tidak akan sampai jika aku terus di dalam mobilmu!” balas Eun Kyo berteriak sambil melambaikan tangannya.

“Tapi kau belum mengambil kembalian uangmu Agasshi.” Teriak supir taksi itu lagi.

“Ambil saja.” suara nyaring Eun Kyo beradu dengan deru dan klakson mobil yang saling bersahutan.

Eun Kyo berlari hingga sampai seratus meter. Dia harus mengambil jalan lain yang bebas macet. Malam semakin larut, dan dia masih belum bersiap-siap. Bahkan belum mengenakan gaunnya. Dia lupa membawa tasnya saking tergesa-gesanya, tertinggal di mobil Donghae saat pulang dari pertemuan itu. Dia berhenti di depan sebuah butik dan berjalan menuju penjaga butik.

“Tolong carikan gaun ynag pas dengan tubuhku.” Ujarnya meminta.

“Ne.” Jawab seorang pelayan, berjalan menuju deretan baju yang tergantung.

“Hey, apa kalian punya kamar mandi?” tanya Eun Kyp. Pertanyaannya itu membuat gadis pelayan toko mengerutkan dahinya.

“Ada.” Jawabnya ragu.

“Ada sabun mandinya juga? Boleh aku menumpang mandi?” tanyanya.

Beruntung Eun Kyo selalu bersedia pakaian dalam dalam tas kecilnya yang dobawanya kemana-mana. Itu dia lakukan karena dia suka sering berganti pakaian dalam.

“Ada. Boleh, biar aku antarkan.” Ujar pelayan itu.

“Ah, ani. Aku bisa sendiri, kau tunjukkan saja tempatnya. Ah, aku titip ini.” Eun Kyo menyerahkan tasnya pada gadis itu dan mengambil pakaian dalamnya terlebih dahulu.

“Kau ikuti saja jalan ini. Setela itu belok kanan.” Pelayan itu memberikan instruksi.

“Ah, ne. Gomawo. Sebaiknya kau carikan saja gaun untukku. Aku harus cepat, sudah terlambat.” Ujarnya.

Pelayan itu menggelengkan kepalanya. Heran melihat Eun Kyo yang bertingkah aneh. Dia memilih-milih gaun yang akan direkomendasikannya pada Eun Kyo.

15 menit berlalu. Eun Kyo keluar dari kamar mandi dan mencari gadis yang tadi ditugasinya untuk mencarikan gaun untuknya. Dia berjalan mengelilingi toko yang lumayan besar.

“Agasshi, ponselmu sejak tadi berbunyi. Sepertinya penting.” Gadis itu menyerahkan tas Eun Kyo ke tangannya. Eun Kyo buru-buru mengambil ponselnya dan menelpon balik Kibum yang sudah 7 kali memanggilnya.

“Yeoboseyo. Kibum~a. Mianhae, tadi macet. Aku juga ada pertemuan. Ini aku masih di butik. Tasku ketinggalan di mobil Donghae.” Eun Kyo langsung mencecarnya dengan alasan ketika Kibum mengangkat telponnya.

“Mungkin 15 menit lagi aku akan sampai. Jika aku ngebut.” Eun Kyo menunjuk salah satu baju dari tiga baju yang disodorkan pelayan toko.

“Aku ambil yang hitam.” Ujarnya kepada dagis itu sambilmenjauhkan ponselnya. “Kibum~a, nanti jemput aku di depan gedung, ne? Aku siap-siap dulu.” Eun Kyo menutup telponnya dan meletakkannya di dalam tas.

“Aku ambil yang ini, aku coba sekarang. Kalau pas aku beli.”

Eun Kyo menyambar salah satu dan melesat pergi ke kamar ganti dan melepas bajunya. Dia mematut dirinya dicermin dengan cepat. Memperhatikan tubuhnya dari sudut kiri dan kanan. Gaun hitam selutut dengan belt besar di pinggangnya terlihat pas ditubuhnya. Tidak perlu dibungkus, dia langsung keluar dengan baju itu dan membayarnya. Sebelum keluar dari butik dia melepas label yang masih ada lalu membuangnya, pelayan toko yang sejak tadi memandanginya hanya menggeleng.

“Onnie.” Sapa seseorang saat dia hendak meninggalkan butik. Eun Kyo berhenti dan memandangi orang itu. Dia merasa tidak mengenal gadis yang berdiri di hadapannya itu yang baru saja menyapanya.

“Kau pasti tidak mengenalku. Aku Min Yeon.” Gadis itu mengulurkan tangannya untuk berjabatan.

“Ah, ne. Aku ingat. Maksudku, aku tau. Kau teman dekat Sungmin bukan? Maaf, kita jadi bertemu disini. Dasar Sungmin. Tidak pernah mengajakmu berkenalan dengan kami.” Ujar Eun Kyo.

“Ani, bukan salahnya. Aku yang terlalu sibuk. Mianhae. Belum sempat menyapa kalian.”

“Ah, kau ini. Santai saja. mau apa kau kemari?” tanya Eun Kyo. Min Yeon terlihat seperti gadis yang senang ke butik. Terlihat dari pakaian casual yang di kenakannya.

“Ah, aku baru saja pulang dinas. Dan mengambilkan pesanan Eomma disini. Onnie sendiri mau kemana?” tanya Min Yeon.

“Ah, aku ada acara. Tidak punya baju dan membelinya disini. Barusan labelnya baru aku lepas. Hihihihi.” Ujar Eun Kyo tertawa.

“Kau ini. Ah, kau mau aku antarkan? Aku tau kau tidak pandai menyetir. Tidak bawa mobil kan?” tanya Min Yeon.

“Ah, boleh?” tanya Eun Kyo.

“Boleh, sebentar. Aku mengambil pesnan dulu.”

Min Yeon segeran mengambil pesanan Eommanya dengan cepat lalu kembali pada Eun Kyo. Mereka pergi berdua ke tempat yang disebutkan Eun Kyo. Lebih lambat 15 menit dari perkiraan Eun Kyo. karena mereka harus memutar dari macet,

“Sudah sampai Onnie.” Ujar Min Yeon.

Eun Kyo turun dengan cepat dan hampir tidak sempat berterima kasih pada Min Yeon. “Ah, Mi Yeoni, gomawo.” Ujar EUN Kyo sambilmelambai.

“Onnie. Kau tidak membeli sepatu?” tanya Min Yeon memandangi kaki Eun Kyo yang masih mengenakan sepatu pantifel kucelnya.

“Ah, tidak sempat. Lagipula aku tidak punya banyak koleksi sepatu. Aku hanya memakai yang aku suka.” Jawab Eun Kyo sambil berlari melambaikan tangannya.

Kibum sudah menunggu Eun Kyo dengan gelisah. Dia takut terjadi apa-apa terhadap kakak perempuannya satu-satunya yang baru saja didapatnya. Kibum menunggu EUN Kyo di luar ruangan dan bersandar didinding. Saat melihat Eun Kyo berlari kearahnya, Kibum menarik tubuhnya dan menghadap Eun Kyo. menayambutnya.

“Maafkan aku. Maafkan aku, aku aku, aku lupa mengambil tasku. Ada kecelakaan dan jalanan macet dan aku”

“Stop.” Kibum memotong pembicaraan Eun Kyo dan menariknya. Dia melihat Eun Kyo dari ujung kaki hingga kepala. Rambutnya sedikit berantakan. Make-upnya sangat minimalis hingga seperti tidak dipoles apapun, bahkan pakai lipgloss pun tidak. Hanya memakai bedak saja.

“Kau tidak berdandan?” tanya Kibum berbisik.

“Tidak sempat. Aku juga menumpang mandi di butik orang.” Jawab Eun Kyo, tentunya dengan berbisik pula.

Mereka berdua sudah memasuki ruangan pesta. Eun Kyo menggandeng mesra tangan Kibum, hingga beberapa pasang mata memandangi mereka. Sebagian ada ynag berbisik, namun Eun Kyo tidak memperdulikannya. Dia tidak merasa salah menggandeng adiknya sendiri. Juga tidak merasa canggung.

Dari sudut sana ada sepasang laki-laki dan perempuan sedang memandangi mereka. Pesta peluncuran produk baru ini mengundang banyak tamu terhormat. Termasuk Jung Soo yang datang di temani Yeon Su. Jung Soo memandangi Eun Kyo tanpa sedetikpun melepaskan matanya dari wanita itu. Dia merasa sedikit emosi saat tidak bisa mengenalkan wanita itu pada banyak orang, karena sebuah perjanjian. Itu salahnya sendiri. Dia mulai merasa apa yang dilakukannya dulu adalah sebuah kesalahan. Kesalahan terlalu banyak tuntutan terhadap wanita itu, hingga sekarang mengantarkannya kepada secuil penyesalan yang mulai mengisi relung hatinya. Dipaling sudut.

Yeon Su tersenyum sinis saat melihat Eun Kyo dengan manis melemparkan senyumannya pada beberapa orang yang menyapanya. Eun Kyo mengenalkan Kibum pada orang dikenalnya sebagai adiknya, begitu juga dengan Kibum mengenalkan Eun Kyo sebagai kakannya pada orang yang dia kenal.

“Oppa, apa benar mereka saudara? Tidak mirip sama sekali.”

Komentar sinis keluar dari mulut tajam Yeon Su. Jung Soo tidak senang mendengarnya dan dia beranjak untuk meninggalkan Yeon Su karena sudah merasa gerah di dekat gadis itu.

“Oppa, mau kemana? Eoh? Tunggu aku.”

Yeon Su berlari kecil mengejar Jung Soo hingga tanpa sengaja mereka berdua berhadapan dengan Kibum dan Eun Kyo. eun Kyo mengeratkan tangannya pada Kibum yang dibalas Kibum dengan remasan lembut di punggung tangan Eun Kyo yang mengait lengannya.

“Hyung.” Sapa Kibum pada Jung Soo.

Jung Soo terlihat canggung saat Yeon Su bergelayut manja di tangan Jung Soo. Para wartawan dan awak media langsung berlari menghampiri mereka untuk mencari berita. Berbagai pertanyaan meluncur dari mulut mereka dengan berbeda.

“Ah, mengenai hubunngan kami. Kami mungkin akan memikirkannya beberapa bulan ke depan lagi. Tunggu saja berita selanjutnya. Kami tidak akan menyembunyikannya dari kalian jika kami menikah.” Yeon Su melirik Eun Kyo dan tertawa. Jung Soo hanya membeku dengan wajah kaku saat beberapa kamera menyorotnya dan mengambil gambar mereka, dia tdiak bsia lagi menghindar. Dan dia yakin Eommanya ppasti akan mengamuk jika melihat berita ini. Bahkan Eun Kyo dan Kibum sempat tertangkap kamera juga.

Kibum yang melihat Eun Kyo sedikit berubah membawanya berjalan. Menjauh dari media dan pasangan yang sangat menyebalkan itu. Eun Kyo sempat tersenyum saat Kibum meliriknya.

“Jangan meledekku.” Ujar Eun Kyo mencubit Kibum.

“Ahahahaha, aku tidak meledek. Aku hanya ingin memastikan apa kau cemburu atau tidak.” Jawab Kibum.

“Kau ini.”

“Noona, kita makan saja. kau mau makan apa? Biar aku ambilkan. Kau tunggu disini.” Ujar Kibum meninggalkan Eun Kyo si sudut ruangan yang yang tidak terlalu banyak orang.

Beberapa lama menunggu, Eun Kyo memperhatikan Kibum yang mengambil makanan untuk mereka berdua di sebuah nampan. Kibum meminta Eun Kyo mengangguk jika dia setuju dengan makanan yang diambilkan Kibum saat dia mengangkatnya dan mengarahkannya pada Eun Kyo.

“Kit aharus bicara.”

Jung Soo menarik tangan Eun Kyo dan membawanya ke tempat yang lebih sepi. Maatnya awas memandangi sekitarnya takut ada yang menangkap kebersamaan mereka.

“Kau ini apa-apaan. Kita bicara di rumah saja. lepaskan aku. Mau semua orang melihat kita?” ujar Eun Kyo mencoba melepaskan cengkraman tangan Jung Soo.

“Aku tidak peduli. Kita harus bicara.” Ujar Jung Soo terus menarik Eun Kyo.

“Jung Soo~ssi. Kau mau aku lebih ditekan Yeon Su jika dia melihat hal ini?” mendengar hal itu Jung Soo langsung melepaskan tangan Eun Kyo.

“Aku tunggu kau malam ini di rumah. Aku tidak mau kau terlambat!” Jung Soo menatap tajam pada Eun Kyo sebelum dia pergi meninggalkan istrinya yang tidak bisa dia kenalkan pada orang lain selain teman dekatnya.

“Kenapa Noona?” tanya Kibum melirik Jung Soo yang baru saja meninggalkan Eun Kyo.

“Ani, dia memintaku untuk tidak pulang terlambat.” Jawab Eun Kyo.

“Eum, 15 menit lagi kita pulang. Aku akan mengantarmu tepat waktu sebelum jam 10m malam..” ujar Kibum. Eun Kyo mengambil makanan yang dibawakan Kibum dan mulai melahapnya.

Pesta belum berakhir namun Eun Kyo dan Kibum sudah kembali ke rumah. Seperti perkiraan Eun Kyo, yang terlambat bukan dirinya tapi justru Jung Soo yang harus membujuk Yeon Su dulu agar mau ditinggal. Yang sebelum pulang Eun Kyo bisa melihatnya, gadis itu banyak mengambil anggur dan meminumnya dengan sekali tenggak saja.

“Akan ku temani kau sampai dia datang.”

Kibum duduk disamping Eun Kyo yang masih belum mengganti bajunya. Mereka menonton tv bersama dan memakan puding ayang ada di dalam kulkas.

“Jika saja kamar satu itu tidak terkunci. Kua bisa menginap disini saja Kibum~a..” ujar Eun Kyo.

“Gwaenchana, masih belum terlalu malam jika sebentar lagi Hyung datang.” ujar Kibum

Mereka berdua tidak menyadari bahwa Jung Soo sudah di belakang mereka tak jauh dari sofa yang mereka duduki. Menguping.

“Andai saja masih ada Appa..” ujar Eun Kyo menyandarkan kepalanya di bahu Kibum. Kibum membalasnya dengan menyentuh kepala Eun Kyo.

“Kau merindukannya?”

“Sangat.” Jawab Eun Kyo.

Lama mereka terdiam setelah itu dan Jung Soo juga masih terdiam di tempatnya. Memperhatikan mereka, lebih tepatnya tidak ingin mengganggu. Karena saat Eun Kyo mengatakan sangat merindukan Appanya, ada sedikit rasa bersalah menyeruak dalam dadanya.

“Mengenai Yeon Su, bagaimana perasaanmu?” tanya Kibum. Pertanyaan Kibum mewakili pertanyaan dan rasa penasaran Jung Soo akan jawaban Eun Kyo.

“Wanita itu? Terkadang dia sangat menakutkan. Tapi jika dipikir-pikir, dia yang lebih ketakutan padakku.” Jawab Eun Kyo sambil tertawa kecil.

“Kau sudah mulai menyukai Jung Soo Hyung?” tanya Kibum memancing. Jung Soo yang mendengar hal itu serasa berhenti bernafas.

“Kenapa menanyakan hal itu?” ujar Eun Kyo meraih puding yan yang sejak tadi hanya dimakan setengah. Dia menyuap sepotong puding di sendoknya.

“Ayolah ceritakan padaku. Aku bisa mendengarkanmu.” Ujar Kibum memaksa.

“Eum… aku tidak tau.” Jawab Eun Kyo.

“Tidak tau berarti kau sedang bingung.” Tebak Kibum. Dia tersenyum saat memandngi wajah Eun Kyo yang membeku.

“Kau ini, aku tidak bingung.”

“Kalau tidak bingung kenapa harus tidak tau. Aku bisa merasakan kau emosi saat melihat Jung Soo Hyung dengan wanita itu, tapi kau menyembunyikanya. ” Debat Kibum yang tidak puas dengan jawaban Eun Kyo.

“Kibum~a.. kau sok tau! Tapi sayangnya tebakanmu benar da..”

Eun Kyo mematung saat melihat Jung Soo yang berdiri di belakangnya tanpa bergerak. Kibum menoleh ke belakang saat melihat Eun Kyo dengan wajah pucat seolah melihat hantu.

“Hyung, kau sudah pulang. Kalau begitu aku pulang saja. Aku harus istirahat.” Kibum bangkit. “Lain kali kita lanjutkan pembicaraan kita.” Kibum mengelus kepala Eun Kyo. “Tidak usah diantar.” Cegah Kibum pada Eun Kyo yang hendak bangkit.

Sepeninggalnya Kibum, Jung Soo dan Eun Kyo terlihat kikuk. Mereka masih terdiam di tempat masing-masing tanpa bicara. Eun Kyo merasa Jung Soo telah menguping pembicaraannnya seperti biasa dan itu memang benar. Sedangkan Jung Soo masih bingung harus berkata apa.

“Kau sudah pulang?” tanya Eun Kyo berjalan ke dalam kamar. “Kau bilang ada yang harus dibicarakan, apa itu?” tanya Eun Kyo lagi dari dalam kamar.

Jung Soo mengikuti Eun Kyo dan langsung memeluk wanita itu saat dia hendak melepaskan bajunya. Tidak menyangka Jung Soo akan melakukan itu Eun Kyo hampir terjatuh tapi Jung Soo menahannya. Dia memeluk wanita itu dengan erat. Seolah tidak akan ada lagi kesempatan untuk melakukan hal itu.

“Jung Soo~ssi, kau kenapa?” tanya Eun Kyo sambil menggerakkan tubuhnya mencoba lepas dari pelukan Jung Soo. Tapi semakin Eun Kyo bergerak pelukan Jung Soo semakin rapat. Hingga akhirnya Eun Kyo membiarkan Jung Soo memeluknya begitu saja.

“Mengenai hal tadi, aku minta maaf. Aku tidak mengira media akan seperti itu. Dan perkataan Yeon Su, dia hanya memancing marahmu saja. terima kasih untuk tidak emosi.”

“Aku tidak mempermasalahkannya. Tenang saja.” jawab Eun Kyo malas. Dia sudah terlalu lelah, menunggu Jung Soo juga membuat tulang pinggangnya serasa kaku.

“Tapi sesungguhnya. Aku ingin kau mempermasalahkan itu Eun Kyo~ya. Aku ingin kau marah.” Uja Jung Soo.

“Kau ini kenapa?” tanya Eun Kyo heran. ‘Kau tidak mabuk seperti kekasihmu itu kan?” tanyanya lagi. Jung Soo menggeleng.

“Katakan kau mempermasalahkannya.”

“Apa yang harus aku permasalahkan kalau memang tidak ada masalah sama sekali?”

“Kau tidak terkejut aku ada disana bersama Yeon Su?”

Eun Kyo meggeleng. “Aku tau kau salah satu undangan disana. Dan Yeon Su, semua orang juga sudah tau.” Jawab Eun Kyo.

“Kau tidak marah?” tany Jung Soo lagi.

“Untuk apa aku marah? Sudahlah, aku mau mandi. Gerah sekali malam ini, kau juga bau.” Eun Kyo melangkah ke kamar mandi.

“Padahal aku ingin kau cemburu Eun Kyo~ya.” Ujar Jung Soo lirih.

***

“Kira-kira aku harus memerikan kado apa untuk Eun Kyo?”

Sungmin berjalan sambil menggandeng Min Yeon. Sesekali dia melongok ke dalam etalase yang ada di sepanjang jalan kawasan Myeongdeong. Pusat perbelanjaan terkenal di Seoul.

“Entahlah. Aku tidak pintar memilih barang untuk hadiah.”

“Hari ini dia ulang tahun. Tapi aku bingung harus memberi kado apa.”

Min Yeon berhenti di sebuah toko sepatu yang di kelilingi oleh cermin sebagai dindingnya. Dia tertarik dan melangkah ke dalam untuk melihat0lihat. Hari ini gadis itu off dari kerjanya dan bersedia menemani kekasihnya untuk membeli kado untuk Eun Kyo yang berulang tahun hari ini.

“kau mau membeli sepatu?” tanya Sungmin.

“Ani, aku hanya ingin membelikan Onnie sepatu saja. dia jarang bergonta-ganti sepatu kan?” tanya Min Yeon.

“Darimana kau tau? Dia hanya memakai yang dia suka saja, hingga terkesan tidak punya apapun selain sepatu yang sama yang dipakainya tiap hari.” Jawab Sungmin.

Min Yeon teringat pertemuannay dengan Eun Kyo beberapa waktu lalu. Yang mengatakan bahwa dia tidak mempunyai banyak koleksi sepatu hingga hanya memakai pantofel usang di kakinya.

“Ini sepertinay bagus.”

Min Yeon berhenti di sebuah sepatu biru lembut dengan pita kecil disampingnya. Pantofel biru dengan pita kecil lebih tepatnya. Sederhana tapi terlihat manis.

“Pasti bagus di kakinya.” Uajr Min Yeon mengambil sepatu itu.

“Kita-kira berapa ukuran kakinya yah?” tanya Min Yeon.

“Eum… dia punya kaki yang kecil.” Jawab Sungmin.

“Aku ambil ukuran ini saja, sepertinay pas di kakinya.” Ujar Min Yeon.

“Sebenarnya yang mau mengasih kado ini siapa? Aku atau kau?” protes Sungmin saat Min Yeon secara sepihak memutuskan membeli sepatu itu.

“Sepatu yang indah akan mengantarkan seseorang ke tempat yang indah pula.” Ujar Min Yeon mengedipkn matanya pada Sungmin.

“Boys Over Flower.” Ujar Sungmin tersenyum. Dia akhirnya menyetujui pilihan Min Yeon dan membungkusnya dengan manis.

“Kau saja yang bawa, nanti malam kami mengadakan acara dia atas gedung. Kau harus datang.” ujar Sungmin. Min Yeon hanya tersenyum mengangguk.

***

Selesai latihan Ae Rin mengajak Eun Kyo untuk ke lantai atas. Mereka sudah menyiapkan semuanay diatas atap gedung. Panggangan dan tung untuk membuat api unggun sudah mereak siapkan. Kyuhyun dan Donghae serta Hyukjae sudah ada diatas. Sungmin mengambil kue tart sedangkan Ryeowook mengambil bahan makanan yang akan mereka panggang malam ini. Daging sapi segar dan beberapa biji kentang serta paprika merah dan hijau.

“Kalian ini sedang menyiapkan apa? Aku bilang tidak usah.”

“Tidak apa-apa Onnie. Hanya sedikit saja seperti biasa.” Ujar Ae Rin menarik Eun Kyo ke lantai atas.

Dia mendorong Eun Kyo agar cepat menaiki tangga. Eun Kyo mau tidakmau menuruti apa yang diinginkan Ae Rin. sebenarnyaEun Kyo was-was, takut kalau-kalau mereka berbuat yang macam-macam seperti beberapa tahun yang lalu dia diguyur dengan air abu.

Kalian tidak macam-macam kan?” tanya Eun Kyo khawatir.

“Eum, tidak akan apa-apa.” Jawab Ae Rin dengan mendorong Eun Kyo.

Sementara di tempat lain Ryeowook dan Sungmin bergegas measuki lif, dan berharap mereka lebih dulu sampai daripada Eun Kyo.

“Wook~a, jangan mendorongku, nanti tart nya hancur!” Sungmin menegur Ryeowook yang berdiri tidak karuan.

“Ah, mianhae Hyung.” Jawab Ryeowook.

Mereka berdua akhir sampai lebih dulu daripada Eun Kyo. sungmin meletakkan kuenya diatas meja dan menancapkan lilin diatasnya.

“Aish! Banyak sekali, diana lagi yang belum ditusuk lilin?” tanya Sungmin.

“Kau memesannya terlalu kecil Sungmin~a.” Protes Kyuhyun.

“Kita hanya bertujuh, memangnya mau ynag sebesar apa?” tanya Sungmin tidak teriam dikatakan terlalu kecil membeli tart yang kecil.

“Akan ada Kibum dan Jung Soo mungkin, mereka kan juga bagian dari Eun Kyo.” Kyuhyun enggan untuk menyebutkan Jung Soo sebenarnya, tapi mau tidak mau.

“Ah, benar juga. Aish! Mana Min Yeon dia bilang mau ikut!” Sungmin menggerutu.

“Yak! Tidak ada yang ingin membantuku?!” teriak Ryeowook yang sibuk menyalakan api.

Setelah selesai menancapkan lilin, lalu Sungmin serta Hyukjaeberlari kearah Ryeoowok untuk membantunya. Tapi Kyuhyun lebih memilih membantu Donghae untuk menyalakan api di dalam tong bekas.

Tidak selang waktu berlalu Eun Kyo dan AE Rin tiba. Eun Kyo awalnya mematung waspada, takut ada yang mengerjainya. Dia melirik Ae Rin, tapi Ae Rin menariknya mendekat kearah mereka.

“Apa yang kalian lakukan?” tanya Eun Kyo.

Semua yang ada disana sebenarnya belum siap. Api belum sepenuhnya menyala, mereka belum menyanyikan koor lagu selamat ulang tahun dan Eun Kyo sudah muncul dihadapan mereka.

“Noona… saengil Chukka.” Ryeowook memulai untuk menyapa. Dia berjalan dan memeluk Eun Kyo. “Aku membuatkanmu daging bakar, eum… enak sekali.” Ujar Ryeowook berbisik.

Yang lain mendekat dan memberika selamat dan pelukan satu persatu. Dimulai dari Kyuhyun hingga yang terakhir Donghae.

“Noona, aku ingin kau selalu bahagia. Jangan biarkan kau d!” Eun Kyo menutup mulut Kyuhyun. Dia tau kalimay lanjutan itu pasti pesan tentagn berhati-hati terhadap suaminya.

“Sampai bahagia saja cukup Kyuhyun~a, aku tidak berharap lebih.” Ujar Eun Kyo.

“Kau harus bahagia. Jika dia meninggalkanmu,a ku siap menampungmu dirumah sebagai istriku.” Hyukjae berbisik di telinga Eun Kyo dan untungnya yang lain tidak mendengarnya. Eun Kyo mencubit pinggang kurus Hyukjae.

“Ya, aku serius.”

“Jangan berharap.” Eun Kyo menarik rambut Hyukjae.

“Lain kali kita ke salon bersama Eun Kyo~ya.” Sungmin kali ini yang memeluk Eun Kyo. “Supaya kau terlihat lebih cantik.” Sambungnya.

“Memangnya selama ini aku tidak cantik?” protes Eun Kyo.

“Ani, kau selalu cantik. Tapi berdandan sedikit, boleh lah. Kubawa kau ke salon terbaik!”

“Baiklah, nanti kapan-kapan.” Balas Eun Kyo.

“Onnie… aku tidak tau apa yang harus aku katakan. Tapi aku selalu mendo’akan yang terbaik untukmu.” Ae Rin tidak ingin melepaskan pelukannya saat yang terakhir memberikan selamat adalah Donghae.

“Hanya sebentar saja Oppa, ne?” Ae Rin memperingatkan Donghae. Lelaki itu tersenyum.

“Eun Kyo~ya, saengil chukkae.”

Saat Donghae menatap Eun Kyo dalam, ada seseorang yang memperhatikannya dari ujung sana. Yang baru saja meniki tangga terakhirnya dan sampai dilantai paling atas dari gedung ini. Park Jun Soo. Dia masih ingat ucapan Donghae yang mengajaknya untuk bergabung malam ini.

“Aku ingin kau selalu sehat.” Donghae memeluk Eun Kyo. “Dan selalu aktif di setiap pertunjukan, dan selalu bahagia. Dan selalu dalam lindungan-Nya.” Ujar Donghae memeluk erat Eun Kyo. Eun Kyo balas memeluknya erat.

“Terima kasih sudah menemani kami selama ini.” Ujar Eun Kyo.

“Terima kasih telah mmepercayaiku.” Balas Donghae.

“Tuh kan! Pasti lama. Sudah hentikan. Makanannya hampir gosong.” Teriak Ae Rin. Eun Kyo dan Donghae melepaskan pelukan mereka.

“Saengil chuka hamnida.. Saengil chukka hamnida… saranghaneun uri Eun Kyo… saengil chukka hamnida..”

Sungmin membawa tart dengan nyala lilin diatasnya ke hadapan Eun Kyo. Eun Kyo berdiam sejenak untuk berdo’a lalu meniupnya.

“Gomawo..” ujarnya.

“Ah, ini tidak seberapa.”

“Gomawo tidak ada air aneh lagi yang mengguyur tubuhku dimalam buta seperti ini.” Ujar Eun Kyo lagi. Semua tertawa mendengar ucapan Eun Kyo.

Masing-masing dari mereka teringat kejadian itu. Saat Eun Kyo diguyur dengan air abu dengan mengelabuinya mengatakan Ryeowook terkunci di gudang atas atap.

“Aku mungkin melewatkan awal pestanya, tapi tidak ingin melewatkan akhir pesta.” Jung Soo akhirnya bergabung dan menyapa mereka satu persatu.

“Saengil chukkae, Yeobo.” Jung Soo mendekat kearah Eun Kyo dan merangkulnya.

Semuanya terdiam, untuk pertama kalinya mereka merayakan ulang tahun dengan orang yang sedikit asing dengan mereka. Meski Hyukjae juga orang baru, tapi Jung Soo lebih asing ketimbang Hyukjae yang bertemu dengan mereka setiap hari. Terlebih lagi Kyuhyun, yang masih tidak terima saat beberapa waktu yang lalu dia melihat berita infotainment tentang Jung Soo. Membuatnya semakin membuatnya geram.

“Sudah selesai Noona.” Ryeowookbekerja sendirian memanggang daging dan juga kentang serta paprika yang ditusuk-tusuknya menjadi satu.

“Ah, baunya harum.” Ujar Hyukjae mendekat.

Semuanya mendekat dan mengambil masing-masing satu tusuk dan melahapnya. Tiba-tiba mereka kembali dikejutkan oleh kedatangan seseorang.

“Maaf, sepertinya aku melewatkan bagian yang penting.” Seorang lelaki menghampiri mereka.

“Kibum~a..” panggil Eun Kyo.

“Noona, saengil chukkae…” ujar Kibum memeluk EUN Kyo dan mengecup kepalanya.

“Gomawo Kibum~a.” Jawab Eun Kyo. dia tidak bisa berkata apa-apa. Dia mendapatkan anggota keluarga baru dan merasa sedikit canggung. Ada rasa haru menyeruak dalam dadanya hingga tanpa sadar menitikkan airmata. Dia merindukan pelukan Appa.

“Bahkan tubuhmupun baunya seperti Appa.” Ujar Eun Kyo disela isak yang dia sembunykan didada Kibum. Kibum mengelus pelan punggung Eun Kyo. dia mengisyaratkan dengan mulutnya, mengatakan bahwa EUN Kyo menangis.

Semua terdiam dalam haru. Baru setelah Eun Kyo melepaskan pelukannya mereka kembali memanggang daging bersama-sama.

“Ah! Tinggi sekali!” seseorang berteriak.

Semua mata menoleh padanya. Heran ketika ada seorang gadis terlihat memegangi lututnya dan bernafas putus-putus.

“Onnie, saengil chukkae!” teriaknya sambil menenteng sebuah kado di tangannya. Sungmin tersenyum saat melihat tingkah Min Yeon yang memegangi dadanya karena lelah menaiki tangga.

“Siapa suruh naik tangga.” Ujar Sungmin mengomeli dan berjalan menghampiri Min Yeon

“Min Yeon.” Gumam Eun Kyo.

“Ah, Onnie, jadi itu gadisnya Sungmin Oppa?” tanya Min Yeon.

“Aku juga tidak tau.” Jawab Kyuhyun. Mata mereka tidak lepas dari sosok Min Yeon yang selama ini hanya mereka dengar dari mulut Sungmin tanpa pernah melihat bagaimana sosok Min Yeon yang sebenarnya.

“Aku tidak bertanya padamu.” Ujar Ae Rin ketus. Kyuhyun membalasnya dengan menarik rambut Ae Rin.

“Onnie, kami membawakan ini untukmu. Silakan buka. Coba dulu, kalau tidak cukup akan aku tukar.” Ujar Min Yeon menyerahkan kado yang ada ditangannya. Eun Kyo membukanya dan tersenyum saat melihat sepasang sepatu manis ada di dalam kotak tersebut.

“Wo…yeoppeuda.” ujar Eun Kyo mengeluarkan sepatu itu dan memakainya. “Eoh! Min Yeoni~ya, apa kau dulunya seorang pangeran yang mencari cinderella yang hilang hingga sepatumu pas di kakiku?” celetuk Eun Kyo. semua tertawa.

“Jadi cukup? Ah, baguslah kalau begitu. Aku tidak harus repot mengembalikannya dan menukarnya dengan size yang berbeda.” Ujar MinYeon.

“Lagipula siapa yang menyuruhmu untuk membeli sepatu, tanpa persetujuanku pula.” Ujar Sungmin.

“Tapi kan ternyata memang pas. Sepatu yang indah mengantarkan seseorang ke tempat yang idah pula.”

“Ah, kau terlalu mendramatisir.” Sungmin merangkul MinYeon dan semuanya tertawa.

“Wook~a, kau kapan membawa gadismu? Eoh?” eun Kyo menyenggol lengan Ryeowook. Lelaki dengan tubuh kecil itu tersenyum tersipu. Hanya Ryeowook yang selama ini tidak peduli dengan hal yang berbau perempuan. Dia mengatakan memiliki seorang yang spesial tapi tidak pernah membawa apalagi mengenalkannya pada temann-temannya. Entah itu hanya alibinya saja, atau memang benar-benar dia memang memiliki seseorang, entahlah, tak ada yang tau.

“Kenapa hanya menanyakannya padaku? Kenapa Donghae Hyung tidak?” protes Ryeowook.

“Donghae? Ah, jangan salah. Dia sudah punya seseorang.” Ujar Hyuk menjawab. donghae menginjak kaki Hyukjae.

“Benar kan? Kalau marah berarti benar.” Jawab Hyuk lagi.

“Ah, jinjja? Oppa? Kenapa tidak membawanya pada kami? Eoh?”

“Tidak ada Ae Rin~a.” Ujar Donghae.

“Dia berbohong.” Ujar Hyukjae menertawakan Donghae.

“Aish! Hyuk! Kau ini!” Donghae menatap tajam pada Hyukjae.

“Akulah kekasihnya.” Lanjut Hyukjae yang membuat Donghae tertawa.

Mereka semau melewatkan setengah malam mereka dengan bercanda. Kyuhyun dan Ae Rin seperti biasa Tom and Jerry versi korea, selalu bertengkar disetiap keadaan. Donghae dan yang lainnya hanya menertawakannya, Eun Kyo terdiam dan terharu saat menyadari begitu banyak orang yang berharga dalam hidupnya. Meski ada yang meninggalkannya tapi juga ada ynag datang menggatikannya. Malam semakin larut, juga semakin dingin. Pesta mereka juga hampir berakhir. Tartnya sudah habis, dagingnya juga hanya tinggal tusuknya saja.

“Hufh, sebaiknya Ae Rin dan Min Yeon pulang saja, ini sudah malam.” Ujar Hyukjae berdiri.

“Kau antarkan Ae Rin Kyuhyun~a.”

“Shireo! Aku tidak mau diantar olehnya.” Tolak Ae Rin. “Kalau denganmu, boleh Oppa.” Sambung Ae Rin sambil tersenyum.

“Tidak bisa, aku saja yang mengantarmu.” Kyuhyun menyeret Ae Rin dan Hyuk dengan jahil melambaikan tanganya pada Ae Rin dan Ae Rin menunjukkan wajah cemberutnya.

“Kau juga Sungmin~a, antarkan Min Yeon pulang sebelum dia membeku. Dan kau Nona yang cantik. Suamimu pasti sudah menyiapkan sesuatu dirumah.” Hyukjae mengedipkan matanya pada Jung Soo yang dibalasnya dengan senyuman. Hanya Jung Soo yang terlihat diam malam ini. Selai Kibum yang memang tidak banyak bicara.

“Dan aku akan mengantarkan kekasihku ini sampai tujuan.” Hyukjae merangkul Donghae.

“Aish! Hyuk, aku masih normal!” teriak Donghae.

“Aku juga.” Ujar Hyukjae. “Biarkan Kibum dan Ryeowook yang membereskannya.” Lanjut Hyukjae.

“Yak! Hyung, tidak bisa! Aku yang menyiapkannya! Kenapa harus aku juga ynag memeberskannya? Itu tidak bisa dibiarkan.” Prites Ryeowook.

“Baiklah kalau begitu kami bantu. Kalian silakan pulang saja. ayo..” Hyukjae mendorong Eun Kyo dan juga Jung Soo untuk pulang. Akhirnya mereka berjalan menuruni tangga dan pulang.

Malam semakin larut, pesta telah usai. Seperti kegelapan yang mengantarkan hiruk pikuk kota Seoul menuju tempat peristirahatan. Eun Kyo dan Jng Soo masih betah berada dalam mobilnya saat berada di halaman rumahmereka. Sudah 5 menit yang lalu mereka sampai. Seolah enggan untuk beranjak. Mereka hanya berdiam diri sambil memandangi rumah yang terlihat gelap tak berpenghuni.

“Sudah larut. Kita masuk?” ajak Jung Soo.

Eun Kyo hanya diam saja. dia tidak ingin masuk. Ada rasa sesal yang menggumpal dalam dadanya yang tidak bisa dia utarakan. Dia sedang merindukan seseorang.

“Terima kasih sudah datang di pesta kami.” Ujar Eun Kyo tanpa menoleh pada Jung Soo. “Semuanya, waktumu, pengertianmu, dan penerimaanmu.” Lanjut Eun Kyo. kini ia menole pada Jung Soo. Lelaki itu heran dengan perkataan Eun Kyo yang seolah menyiratkan sesuatu.

“Memang harusnya seperti itu kan? Aku suamimu. Memang sepantasnya aku berada di tempat itu, tadi.” Ujar Jung Soo. Dalam hatinya dia sangat berteriam kasih pada Donghae yang telah memberitahu semuanya padanya. Hingga dia tidak terlihat seperti seorang suami ynag tidak perhatian dengan istrinya. Meski mereka semua tau, Eun Kyo dan Jung Soo menyembunyikan sesuatu. Tapi mereka acuh dan tidak mempermasalahkannya.

“Hanya akan bertahan sebentar lagi. Yeon Su juga sudah mengisyaratkan jenjang hubungan kalian akan kemana, dan semua orang sudah tau.” Eun Kyo membuka pintu mobil dan berjalan menuju umahnya. Memencet kombinasi angka lalu membuka pintunya dan masuk sendirian tanpa memperdulikan Jung Soo yang masih mematung.

Aku harus menentukan pilihan, begitu keinginan Jung Soo. Namun hingga detik ini, dia sulit untuk memutuskan. Dia terlalu takut untuk terlihat tegas di depan media. Hingga dia terperangkap dengan perasaannya sendiri. Yang mulai mendua. Eun Kyo dan Yeon Su. Dua wanita yang ada di hidupnya dengan segala perbedaannya. Mengantarkannya pada pergolakan batin yang sungguh tidak bisa dibayangkannya. Dan hatinya kini mulai menekankan, bahwa dia harus meninggalkan Yeon Su.

Jung Soo keluar dari mobil dan masuk. Melepaskan jasnya lalu meletakkannya diatas kursi begitu saja. dibukanya dua buah kancing kemejanya untuk membuat gerah yang tadinya mendekap tubuhnya menghilang.

“Kau mau kubuatkan teh juga?” tanya Eun Kyo dari dapur.

“Boleh.” Jawab Jung Soo sambil meletakkan tubuhnya diatas sofa empuk di depan televisi. Dia mengambil teh yang tadi diseduh Eun Kyo dan meminumnya. Saat Eun Kyo kembali dari dapur dan melihat cangkir tehnya sudah habis setengahnya, dia menghentikan langkahnya.

“Kau ambil yang itu saja.” ujar Jung Soo.

Mau tidak mau Eun Kyo meminum teh yang ada di tangannya. Padahal maksudnya dia ingin mendinginkan terlebih dahulu minumannya sementara dia menyeduh teh untuk Jung Soo.

“Aku tidak suka yang panas.” Ujar Eun Kyo cemberut.

“Ah, mianhae. Sini biar aku tiup agar cepat dingin.” Jung Soo meniup secangkir teh yang ada di tangan Eun Kyo agar cepat dingin. Eun Kyo memegangi cangkir itu dengan ke sepeluh jarinya. Menghangatkan tubuhnya sekalian.

“Ini ulang tahun pertamaku tanpa Appa.” Ujar Eun Kyo.

Jung Soo refleks berhenti meniup kearah minuman panas yang yang ada di tangan Eun Kyo. dia menaikkan bola matanya menatap Eun Kyo. ada perasaan bersalah, lagi, mulai merasukinya. Dan janji itu, janji untuk tidak menyia-nyiakan Eun Kyo membuatnya harus mengambil keputusan dengan cepat. Namun tidak bisa dia lakukan.

“Dan ulang tahun pertamaku menjadi seorang istri. Haha, meski hanya sebagai istri yang, entahlah.” Ujar Eun Kyo melirik Jung Soo.

Jung Soo menelan ludah. Menghembuskan nafas serasa sulit baginya. Suara tawa Eun Kyo terdengar pilu di teliganya. Seolah dia telah mengalami banyak hal namun memaksakan diri untuk tertawa.

“Aku berbohong telah merelakannya pergi. Aku masih tidak rela. Tidak akan pernah rela.” Ujar Eun Kyo menyeruput tehnya. Jung Soo terpaku dengan perkataan Eun Kyo.

“Ah, enaknya. Malam-malam seperti ini terasa hangat minum teh.” Ujar Eun Kyo. “aku tadi berbicara apa? Lupakan saja semuanya.” Eun Kyo mengusap wajah Jung Soo dengan tangannya. Saat Eun Kyo menarik tangannya, Jung Soo menahannya.

“Temani aku sebentar disini.” Jung Soo menarik Eun Kyo memaksanya untuk duduk. Awalnya Eun Kyo menolak tapi jika harus tidur sendirian dengan perasaan yang tidak karuan seperti ini, Eun Kyo tidak bisa. Dia perlahan menyandarkan kepalanya dibahu Jung Soo.

“Sampai kapan kita harus seperti ini Jung Soo~ya?”

Pertanyaan Eun Kyo begitu menyakitkan baginya. Itu artinya Eun Kyo secara tidak langsung menanyakan posisinya sekarang.

“Aku tidak ingin menyakiti siapapun, terlebih lagi kaumku sendiri. Tapi…” Jung Soo langsung menutup mulut Eun Kyo dengan tangannya dengan lembut. Membuat Eun Kyo menghentikan pembicaraanya.

“Tapi sepertinya aku terperangkap dengan perasaanku sendiri.” Lanjut Eun Kyo saat dia mengalihkan tangan Jung Soo dari mulutnya.

Setelah mendengar lanjutan dari kalimat yang ia coba untuk hentikan, Jung Soo mematung. Dia tidak menyangka Eun Kyo akan mengatakan seperti itu. Tidak pernah terpikirkan jika Eun Kyo selama ini benar-benar bermain dengan perasaan.

Perlahan Jung Soo menarik tubuhnya, membuat EUN Kyo tak lagi bersandar di bahunya. Dia menatap Eun Kyo dengan lembut. Mendekatkan tubuhnya pada Eun Kyo dan menatap bibrinya. Sinyal untuk meminta ciuman telah diberikannya dan sepertinya Eun Kyo tidak menolak. Perasaan mereka tumbuh dengan alami. Cinta yang mulai hinggap seperti kupu-kupu ynag singgah di bunga mekar, seperti itulah perasaan mereka kini menyatu tanpa disadari satu sama lain. Ruang itu telah terisi, tak bisa diganggu gugat. Menyingkirkan segala penghuni yang dulunya telah singgah.

“Eumph!”

Lenguhan Eun Kyo kini mulai terdengar. Ciuman mereka tak lagi lembut seperti diawal tadi. Posisipun telah berubah. Eun Kyo sepenuhnya telah menyerah didalam pengaruh sentuhan Jung Soo yang kian lama kian menuntut. Menyusuri setiap jengkal tubuhnya meski masih tertutup kain.

Sesekali mereka mencuri nafas saat mereka mengubah posisi bibir. Nafas saling menderu dan tak lagi bisa dikontrol. Ledakan perasaan yang tak tau apa pemicunya kini mulai tak bisa dikendalikan.

Eun Kyo menghentikan ciuman mereka dengan menjauhkan tubuh Jung Soo yang setengah menindihnya diatas sofa. Teh yang belum habis mereka minum sudah mulai dingin. Sadar wajahnya kini sudah merah padam, Eun Kyo memalingkan wajahnya. Ia melirik Jung Soo yang menatapnya tajam seolah tak ingin melepaskan Eun Kyo.

“Cukup. Kita mulai terlalu jauh.” Ujar Eun Kyo.

“Kita sudah terlalu jauh.” Ralat Jung Soo menghilangkan kata ‘mulai’ dengan kata ‘sudah’. Karena memang mereka sudah benar-benar berada di seberang, sulit untuk mereka kembali. Eun Kyo mulai mendorong Jung Soo untuk menjauh dari tubuhnya namun Jung Soo menolak. Dia tidak bisa menghindari perasaannya.

“Mereka boleh memelukmu bahkan menciummu, kenapa aku tidak boleh?” protes Jung Soo benar-benar menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh Eun Kyo dan membuat wanita itu terhenyak.

Tak ada jalan lain. Eun Kyo sudah mulai merasa dia tidak bisa berbalik atau berbelok. Jalan buntu itu harus ditembusnya. Meski dia harus mengorbankan dirinya sendiri.

“Oppa..” dia mulai membelai rambut Jung Soo yang menenggelamkan kepalanya di dada Eun Kyo.

“Em?” sahut Jung Soo.

“Aku mulai merasa seperti pendosa.” Ujar Eun Kyo mengecup kepala Jung Soo. Dia tidak bisa lagi menghindar, mempunyai perasaan itu membuatnya tersudut dilema. “Mengambilmu dari orang lain.” Lanjut Eun Kyo.

Jung Soo tidak ingin mendengarkan perkataan Eun Kyo. Dia tidak ingin terbebani dengan perasaannya sendiri, meski memang dia merasa begitu.

“Berhentilah merasa bersalah.” Ujar Jung Soo.

“Pada akhirnya aku tetap akan menyerahkanmu padanya. Meski aku tidak mau.” Ujar Eun Kyo.

“Tapi aku ingin bersamamu saja.” Jung Soo mendongak. “Aku yang harus memutuskannya, karena aku yang melibatkan kalian dalam masalahku. Harusnya aku sudah bisa memutuskan saat Eomma hanya menginginkanmu. Malah terus bertahan dengannya dan memintanya untuk bertahan, sementara aku tidak bisa setia.” Ujar Jung Soo jujur. “Eun Kyo~ya, aku mencintamiu.” Ujar Jung Soo lagi. Bangkit dari sofa dan mengangkat Eun Kyo masuk ke dalam kamar. Beristirahat.

***

“Kita harus bicara.” Kata Jung Soo. Ia menarik Eun Kyo yang kebingungan dengan sikap Jung Soo yang tiba-tiba saja datang lalu menyeretnya keluar dari tempat latihan. Eun Kyo mengikuti langkah Jung Soo yang lebar dengan susah payah. Dia mulai mengerti kemana arah Jung Soo membawanya. Tapi yang ia tidak mengerti adalah kenapa Jung Soo tiba-tiba menyeretnya, dengan wajah merah padam dan bengis, menyiratkan emosi.

“Kit amau kemana?”

Pertanyaan meluncur dari mulut Eun Kyo setelah Jung Soo menghempasnya masuk ke dalam mobil. Dia menatap wajah Jung Soo yang masuk ke dalam mobil dan membunyikan mobilnya. Tapi dia tidak menginjak gasnya dan tidak menjalankannya. Dia memukul setir mobil dengan kesal. Kesal harus menerima berita bukan dari mulut istrinya sendiri.

“Aku tidak setuju jika kau melakukan adegan ciuman!” teriak Jung Soo geram. Taidak terlalu nyaring, namun mampu membuat Eun Kyo terkejut dan mengurut dadanya.

“Mwo? Siapa ynag mengatakan itu?”

“Tidak perlu tau siapa ynag mengatakannya padaku, aku tidak setuju!” ujar Jung Soo lagi penuh penekanan.

“Kau boleh mencium siapapun, aku tidak pernah melarangnya. Bahkan jika kau mencium Yeon Su dihadapanku sekalipun. Sudah lah, aku mau melanjutkan latihanku.” Eun Kyo membuka pintu mobil namun tidak bisa. Jung Soo menguncinya. Eun Kyo menoleh pada Jung Soo dengan wajah berang.

“Park Jung Soo~ssi. Perjanjian kita hanya tidak boleh mencampuri urusan asmara. Dan ini urusan pekerjaanku, kau tak berhak melarangnya!”

Eun Kyo mencoba membuka pintu mobil sekali lagi, namun tidak bisa. Beberapa kali dia membukanya namun nihil, tetap tidak bisa dibuka. Nafasnya berhembus kasar menahan emosi.

“Aku melarangmu bersentuhan dengan lelaki manapun.” Ujar Jung Soo dingin.

Permainanku kini benar-benar berubah arah.

Tak lagi bermain dengan nyawa.

Tapi berujung pada perasaan yang tidak bisa aku kendalikan.

Aku terjerat cerita kusut yang sulit untuk diluruskan kembali.

Terperangkap pada apa yang disebut cinta.

Yang tak pernah bersanding dengan akal sehat.

Dan hanya berpegang pada sebuah rasa.

Tumbuh dengan alami meski aku tidak menginginkannya sekalipun.

TBC

Note : aku tau ini aneh. Ah aku lagi ga ngefeel Teukyo, tapi masa teukyonya dikit banget. Jadilah begini, seperti dipaksakan kebersamaannya. Tak ada emosi dan chemistry sama sekali *tapi bisa panjang*. Karena aku bikinnya g jelas juga ini. Maaf, Meta silakan nilai sendiri. Ada yang kurang dari tulisanku, aku tau, tapi aku belum menemukan jawaban kehilangan itu. Semoga saat aku telah menyadari, aku tidak kehilangan moodku. Bahkan untuk bercuap disini pun aku malas. Maaf. Ku males ngedit, tar kalo mood aku perbaiki.

Terima kasih udah ngucapin selamat dan do’ain aku… terima kasi, ku ga bisa balas apa-apa.

96 responses »

  1. akhirnya setelah menunggu, eonni fika sms part 5 wis publish langsung ke KTP
    eonni kenapa gak mood ?? (pertanyaan yg gak perlu dijawab😀 ), tapi meskipun eonni gak mood bikin part ini, tetep aq ngefell banget baca LTD ini ^^
    semoga mood eonni kembali lagi

    semangatttt !!!! ^^d

  2. Setuju ama @ lala chan (y)
    Mskipun gag mood ttp ada fell.
    Tangan ampek gemeteran. (*lebay)
    Eonnie, makasih bwt info ttg publish.nya FF ini😀
    Ditunggu part selanjutnya.
    (*keep writing)

    #poppoeonnie :*

  3. Eonni~ kenapa kau kejam sekali*nangis dipojokan*menyiksa perasaan mu sendiri..apalagi wkt eonni bilang”lembar berikutnya aku akan isi dg foto anakku,nantinya dan mngkn suami baru”tp untung oppaku kebal eon(?).Q bener” gemes deh ama si yeon su kirain dia uda bener” relain oppaku,eh ternyata?*berapi-api(?).pokoknya dilanjut eon,fighting!

  4. seorang wanita yang bahkan terlihat dingin,cool dan cuek jg memiliki sisi rapuhnya jg.
    terharu liat karakter eunkyo dsne..
    ne bnr2 beda dr crta sebelum2nya oenni..
    bener2 bagus! wlopun oenni nulisnya g mood tp bg q yg baca menurutq feelnya dapet dan g ngrasa klo d paksaiin.
    smoga oenni g males lg dan cpt dpt ide bwt nglanjutin crtanya..
    haahhh nunggu kpn NCnya keluar..hihiiiiiii
    unt ahjussi kau bnr2 lamaaa!

  5. Kyaaaaaa eonniiiiiiii. Bwahahahahahahaha…..
    Aduh tuh kaan, kalo baca aja bwaannya pengen komeng, tapi begitu komeng, ngek -___-
    Ih eonni, ngapain minta maaf? Saya sukaaaaaaa. Asal eonni tau, kyu n ae rin, mengingatkan saya pada hyuk n ahra di mate, saling berantem tapi sohib setia. Huwooooo. Sy ngga tau sih nih akhirnya nih mereka ‘jadi’ apa kagak, tapi yang jelas disini sy ngerasa kyu lagi’modusin’ ae rin, buahahaha. Kyaaa itu joongki….seunghoon…..yg migi sama yang satunya lagi itu sy ngga kenal *ngga Tanya.
    Aaah suka sama karakter kyo disini, ngga ketebak. Aduh2 apa lagi yaa…yang ngeteh bersama itu…uhuyy sekali…dan setelahnya lebih uhuy lagi. Hahahahaha.Iiih saya suka momennya kalo jungsoo dah ngegodain eun kyo, bikin cengar cengir sendiri, hihihihi. Apalagi kalo udah mulai cari cari kesempatan. Hahaha sumpah suka sayaaaaaa, abaaaaaaang teukiiiiiiii……pinter deh cari kesempatan, jangan lupa gombalannya bang *wink
    Daaaan yeon su…..saya menunggu sisi malaikatnya, tsaaaaaah….
    Dan abang ongeeeeee, kyaaaaa ngga tau kenapa, knp kau buat misterius gitu sih eooooooon, jadi tambah penasaran aye. Ih gatau kenapa saya tuh malah penasaran sama donghae sama yeon su. Hihihihi. Aneh yaaa….
    Ada yang ilang? Apa yah? Mungkin yang scene akhir itu bukan? Tapi nggak tau juga deng.
    Ini nggak panjang kan? Ngga ada satu lembar, ngga bakal sampe jadi ff oneshoot ko….disini jaringan agak lemot eon, jadi males ngenet via modem. Jadi mian kalo komeng di wpnya jarang.
    Udah dulu ah, mau ngeteh juga sama yesuuuung ;-* siapa tau selanjutnya bisa lebih uhuy lagi dri eunkyo, wakakakakaka
    Babay cup cup muach2. Eeh ngegombal dulu deh…
    Ini kisah sebelum teukyo nikah ya
    Teuki : Kyo-ya, dulu kita teman sepermainan kan?
    Eun Kyo: Nde Oppa, waeyo?
    Teuki : Nggak papa, kalo dulu teman sepermainan, besok kita jadi teman sepelaminan ya? *kedip2 #bedatipis

  6. ga tau kenapa ada bagian yang buat q nangis terharu benar2 mau nangis . q bener2 suka sifat eunkyo bener lembut jd banyak yang sayang ma dia . bener2 murka ma youn su bener2 egois dan bagiku jungsoo kurang tegas, bener2 sdikit menyebalkan tapi q seneng bgt teukyo dah buka hati masing2 walau masih ada penghalang. tapi harus tetep semangat buat nyingkitin tuh mahluk . q jg senang ada kibum di sisi eunkyo jd buat eunkyu ga sendiri serasa ada appa nya dan kibum bener2 keliatan dewasa. oh kyuh ma ae rin kapan akur nya???? wah jangan2????? next di tnngu^^

    • lah? ini kenapa jadi malah nangis??
      klo langsung tancep aja berarti kaga seru dong! kaga ada main2nya….
      mbumku sayang… blm tau disini posisinya begimane, tapi ga tau yah, lanjutnya aja entar.

  7. akhirnya keluar jg ni part 5…
    waduh typo nya kok tmbh bnyak fika, tp g pa2 dech yg penting msh bs dbaca…

    aq pikir yeon su udah mau nglepasin jungsoo eh g taunya cm mancing jungsoo…

    tuh kan eunkyo udah mulai jth cinta ama jungsoo berarti jungsoo g bertepuk sebelah tangan kan tinggal mslh yeon su hrs dtegasin klu g bs bicara baik2 biar omma jungsoo aja yg beresin…

    jgn lama2 part 6 nya ya fika tiap hari aq buka ni blog nungguin ni ff…

  8. Huaaaa itu knapa ajumma dikelilingi cowok tampan semuaaa huaaa aku iri #manyun…

    Tadinya aku mao bilang “whoa kesambet malaikat apaan yeon su jadi baek” eh ternyata cuma akting…

    Bener-bener dah si ajussi labil bgt.. Tadi katanya milih eunkyo.. Eh bimbang lagi.. Rasanya pengen jambak rambut ajussi ampe rontok smua, biar g usah kesalon botakin rambutnya….

    Jumma makin deg deg an aja ceritanya.. Pokonya ditunggu next partnya..

    Nb. POKOKNYA SAMPEIN SALAM CIUM BASAH AKU KE RYU JIN , POKOKYA RYUJINNYA HARUS SADAR *todong pistol ke jung soo*

  9. ga ada mood, tapi nie ff tetep aja bgus, feelnya dpet kok!!
    tumben onnie g mood ama couple sndri #abaikan
    *ciee jungso oppa ama eunkyo onnie makin cinta nie ye!!*tuitt tuitt* eo,tp knp si yeon2 msih tetep nempel2 gtu *tebasyeon*
    aaa… ada song joong kiii..kya!aku sukaaa,,jd inget film jadul ‘hearty’ !!!
    oy,#hwaiting onnie..smg mood mu cpt membaikk..

  10. kenapa jadi galau begini sih semuanya.. ckckck.
    jungsoo oppa sama eun kyo eonni jangan galau dong, aku tau kalian itu saling mencintai jadi kalian harus bersatu. *sok tau*
    dan aduh si yeon su masih mengganggu aja sih malah mengancem juga lagi. tapi ngga papa deh semakin banyak cobaannya semakin dalam cinta mereka. iya kan eonni?? *kedipin mata*
    eonni kenapa ngga mood gitu?? mikirin jungsoo oppa ya yang sebentar lagi mau wamil??
    walaupun eonni sedang ngga mood tapi tetep dapet feel nya ko eonni.
    pokoknya eonni deabak deh. *angkat jempol buat eonni*
    semoga moodnya eonni balik lagi ya.🙂
    ditunggu part selanjutnya eonni.
    istri kyuhyun pamit. annyeong eonni. *hormat bareng kyuhyun*

  11. Huaa,Jungsoo-ya np km msh ababil gt ce?
    ky ank2 smp yg br jth cnt aj!
    oppa,mestix oppa tu bs tegas m Yeon Su,biar dy g makin ngelunjak!
    tp wkt dy sok manis blng xerah ce q mang g pcaya,txata bnr kn dy cm bhng!
    Oya,Saengil Chukkae y onn!
    Wish U all d’best!
    mdh2n bs cpt2 puxa ank cwe yg lcu de,jg cpt2 bhagia m Jungsoppa!hehe
    Yasud,dtnggu klanjutany y onn!
    mdh2n onnie g keilangan mood bwt nulis jd postx bs cpt!hehehe

  12. eoni fighting! Semangat bwt ngembaliin moodnyaaa

    Ini udah lumayanan kok eon… Paling gak msh beralur #plakk
    Dan aku gemes sendiri masaan mw nakol jungsoo oppa yg gk tegas…

    Aw ada siwon uhuy ada joongki jg manteblah
    Wkwkwk

    Ttp semangat eon! Teukyofam mendukung!

  13. huwaaaaaaaaaa saengil chukkae eonnnnnnniiiiiii
    all the best for you🙂

    wah itu oppa napa jadi overprotective gtu nanti eunkyo lari loh …. Eunkyo kan type cwe yang suka freedom oppa jiahahahahahahaahahahha readers soktaukumat

    nyesek pas eunkyo bilang kalo sebenernya ga rela kehilangan appa nya (smua orang juga sebenernya ga akan rela khlangan seseorang yg kita sayang eoooonnnnnnn )

  14. Sekian lama mnunggu akhirnya kmbali jg *serasa janda*😀
    bisa jg ya eon ga mood sma couple sndiri . Skinshipnya bnyakin donk eon , ksian noh teuki oppa naan hsrat, wkwk😀 *pletakk, d timpuk eunkyo eonni*

    • serasa janda? buahahahahahaahhaahaha
      ga mood dalam artian tu stuck gitu ama couple sendiri, g tau mesti diapain jadinya gusar sendiri…
      skinship? entar… aku jadi berasa murahan kalo dalam situasi yang belum ppenuh cinta disentuh2 begitu..

  15. Idih aye yg pertama tp komen’a belakangan!!!

    wadoohh sperti’a semua member suju bakal tublek (?) jd satu nih d’sni!!
    Kekekekeke
    aaahh sya ampe nyengir2 gaje tau onn pas baca ad Song Joong Ki oppa, Song Seung Hoon Ahjussi sm Song Hye Kyo eonni. Kopel fenomenal nih onn!!
    Brasa nonton drama korea tp tnpa gambar,

    Kyaaaa Akhir’a yaahh Eun Kyo eonni mau jg mngakui perasaan’a tp slagi masih ad si Yeon Su waspadalah onn, dia bisa menggigitmu kpan saja dan d’mna saja!! *Horror*

    ciieee…Kyu sm Ae Rin makin mesra aja dgn cra mereka sndiri tentu’a, udeh Kyu bilang aja suka sm Ae Rin susah amat!!
    Daaann…

    Hey, Lee Hyuk Jae s’enak aja mao jdiin Eun Kyo eonni sbgai istrimu, trus aku mao kau kemanakn, huh?!
    *d’ceburin k’laut*
    *sarap kumat*
    jahahaha

    hayoooo bang onge sm wookie siapa noh kekasih’a?! kga usah d’tu2p”in lah oppa pasangan’a, kasiankan tar kga bisa nafas noh…lol
    masa kalian kalah sm umin!!
    Kibum masih jomblo nih onn?! Aye Mao ngantri aaahh Daftar jd babu’a…kekekeke

    okelah onn, sgitu aje komen’a makin panjang makin sarap aye!! -_-
    d’tunggu part 6’a yaaaa Onn!!

    • nah lgi satu sepanjang rel kereta api… aku suka komen2 panjang…
      emang… kopel fenomenal…
      lee kyung ho dan lee min jung juga couple sarap fav aku….
      seung hoon itu sumpah ku jatuh cinta gilaaaaaa
      siapa ayo kekasihnya… masih rahasia dong… kaga seru….
      mau daftar jadi babu?? emang situ bisa apaan??

  16. knp gak ngfeel Eonni ?? padahal aku yang bacanya ajah ngfeel mudah”han Eonni bisa dapet Feelnya lagi di Next Partnya. di tunggu next partnya Eonn. aku suka banget mah Ff ini suka sama karakter EunKyo yang kuat dan tegar seperti karang(?). kalau buat Yeun So ibaratnya dia adalah ababil tingkat Dewa, dan sikapnya itu di maklumi dan (sedikit) Wajar namanya juga cinta mati sama si Tukie Oppa. tapi dia gak bisa dewasa (ababilnya permanent) hehe😀 jd gak bisa menyikapi hal seperti ini *soktahu*.

  17. eoniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii saengil cukahae😀
    wish u all the best😀
    panjang umur, selalu sehaatt, dan selalu di lindungi olehnya ^^
    dan hidup buat teukyo ^^

  18. Eonni saengil chukahamnida….
    Semoga sehat dan sukses selalu… Maaf aq ngucapinnya telattt … Hahaha..
    Kembali k ff .. Mian aq baru komennya d sinii hah memalukan.. Ini ceritanya mengubek ngubek kubangan emosi aq… Berhasill membuat saya membenci seseorang yang bernama yeon su gadis manja…. Aishhhhh kisah cinta yang sangat rumit.. Yeon su eunkyo jungsoo aigooo sakit kepala memikirkan rumah tangga teukyo … Kapan penderitaan karena cinta berakhirr?? .. Apa susahnya bilang yeon su ya berhenti mengganggu kehidupan ku dan istrikuu aq sudah tidak mencintaimu lagi… Atau eunkyoo ya aq sangat mencintai mu aku tak mau kehilanganmu dan aku tak akan membiarkanmu menanggung semua penderitaan yang aku ciptakan untukmu aku mencintaiumu sangat..sangat mencintaimu…. Hadwehhhh heran saya mengapa harusss bimbangg membuat emosi…. Nyesek.. Dan bencii bercampurrr semuaa..
    Mga happy endingg g rela mereka berpisahhh nextt!! Oh ya jd lupa gomawo udah ngasih info tntng ff yg eonni post…
    Daebakkkk ltd

      • kekekkekekee sangat sangat mirissss
        harus happy end gg mau sad end gg terima gg mau tauuu * behhhh pemaksaan * kalok sampe sad end ryu jin bakal aku culik ntarrr … ryujinn aa tunggu nuna ne!!! nuna akan membawamu ke rumah nuna di BALI mau jalan jalan ke pantai kuta ayokk kemana pun selama masih di baliii ….*promosi * * kayaknya tambah malem aq tambah ngelanturr kaga jelass kaga nyambunggg ..udah dehh
        by by eonni

  19. TBC… Aku membencimu..
    Ceritanya bagus koq eonn.. G ada yg kurang, Eunkyo ttp menjadi Eunkyo yg biasa,hanyaa sedikit romantis di akhirnya.. Huwee pdhl lg tegang2nya malah TBC… *bakar hape*

  20. Whoooaa, jung soo oppa udh mulai melarang2 nih.. Suka deh akhirnya eun kyo g nutupin perasaannya k jung soo oppa, bikin mereka tambah mesra y fika ^^.. Fika tetap Semangat menulis yaaa..

  21. waah..bgus eonni..feel’na dpt..
    Ceritana baguus bbgt..pling seruu pas akhir2na..pass lgi asiik’na baca..yaahh abiiss..
    Lanjutin ya eonni secepatnya..#maksaa
    Penasarann tingkat dewaa ni”leebaahh yaa..
    Jgn lma” bad mood’na eonni..
    Paraa readers pst ga sabar nunggu kelanjutanna..
    ”s’mangat eonni” ^^
    Makccii uda di sms tdi..

  22. huuwwooo. . . galau. . galau. . knp mereka masih za gag mw ngakuin perasaan masing2. . jungsoo jga knp g tegas milih eunkyo za gtu. .
    eh, eon gmn klu c yeon su ama donghae za gtu y. . kekeke. .
    d tgu next part nya ^^

  23. MasyaAllah….
    Garuk tanah.. Lempar panci… Kipas2 pake duit siwon…
    Hadeuh eonnniiii….. Itu ltd kenapa ceritanya seruuu banget…
    Suka..suka .sukaa… Pake banget…
    Aku baru komen sekarang abiz pas eonni kemaren sms aku masih baca MLT…

    Bang teukiii plissss berhenti tebar pesona…
    Mau liat aku mimisan??? *gilaa..
    Hadeuh aku bacanya full dari satu ampe lima, jadi udah kayak baca nevol…

    Ih eonni tanggung jawab, bisa2 aku masuk rumahsakit gara2 situ…..LOL

    Part selanjutnya aku nanti…
    Sms mu pun aku nanti eonni sayang….^^

    • buadoh! jangan main tanah banyak cacingnya sayang…
      duit siwon ku jg mau dooonnngggg
      iya g papa sayang… terima kasih udah komen….

      mimisan? emang teuk ngapain coba???
      novel… nevol…
      iya tunggu update smsku…

  24. onie ku emang bener2 ratu typo..
    typo b’tebaran dimana2,,haha,,,

    duh bikin gemes bacanya oen….
    teuki..teuki…
    cepet ambil keputusan kenapa c,,,??????

  25. eoonnnni, boleh getok kepalany TeuKyo ga? geregetan ih, siapa tau abis di getok sadar mereka berdua hehe
    asli loh baca ini nagih hehe typo eonn typo, banyak bgt. kalo di print trus diliat dosen aku, coretan tangan si dosen muncul dimana2 hehe tp kalo ceritanya mah ofcourse tetep bagus.~~

  26. “Cinta itu adalah tentang menjadi bodoh bersama. Disaat semua orang sadar bahwa mereka saling mencintai, hanya ada dua yang tidak; Sang pria dan sang gadis.”

    Gregetan, Jungsoo udah semi-terang2an tapi Eunkyo seolah2 menutup mata.
    Kyuhyun sama Aerin itu……………….. HAHAHAHA

    Cap rendang, Nadine Lee ^^

  27. seneng moment mereka saat eun kyo ultah🙂 aku suka saat jung soo cembokor… Hehe
    Ehmmm… Malam keduakah? Kekeke
    Q selalu suka moment kyu & ae rin… Bikin penyegar diantara masalah eun kyo dan jung soo yg complicated.
    Next part🙂

  28. Teuk oppa beneran udah terjebak oleh perangkap cinta eunkyo nih xD

    entah apa rencana yeonsu tp aq pengen bgt mitesmites(?) dia *enang yeonsu itu kutu_ _”)
    kyu jahil bgt sih *poke kyu^o^)<

    masak teuk oppa g ngasih kado sih = =v oppa ga so sweet =3= *pout pout*

  29. ini sebener y jungsoo gmn sih mau y tu apa,,,, dia bilabg cinta ma eun kyo tapi kok sikap y malah begitu kyk masi bimbang bgt….
    n mana eun kyo y udah jelas2 tuh kata2 y mebyirat kan klo dia dah mulai suka ma jungsoo tp sikap y jungsoo y kyk gt….
    part ini ngak tau knp selana baca q uring2an jadi y krn tingkah y eun kyo n terutama tingkah y jungsoo pa lg pas yeonsu y nasitau kabara mau menikah ma jungsoo dimedia…
    jungsoo kapan fokus ke eun kyo ja n tinggalin yeonsu…

  30. Terharu sm persahabatan eunkyoo dan kawan2 nya..waahh itu di akhir jungaoo oppa main tarik2 aja…cemburu menguras hati ini oppanya..dan itu yeonsu kirai udah ikhlas taunya ada seringai juga..ngalahin smirknya kyu agaknya itu..okee next partnya lanjut lagi..

  31. Yes!akhirnya mereka jujur ttg perasaan masing2.aq jadi ikt seneng. :$
    Ey,tu jungsoo jealous gara2 eunkyo bakal ngelakuin kissing scene ye?emang ma siapa?song joong ki atau donghae?

  32. Wach,, mian min aku baru nemu ff ini.. pas aku baca part 2-4 sedih bgt… tapi aku suka jalan cerita author. Tulisannya jg bgs.. oh iya utk part selanjutnya aku liat di protect min. Kalo mau minta pw syaratnya gimana nih min..
    Akku suka jalan ceritanya. Tp aku gk nyangka aja teuki oppa bs jahat seperti itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s