Amourette (8th Tricks)

Standar

cats

The Shadow – following me, looking at me

Your line of vision, your eyes, everything makes me freeze

The Shadow – embracing me, protecting me

Your image, your existence, everything makes me live

When the lights shine on me, I dance with you

All of my expressions approach you

When I’m trapped in darkness, you come inside of my body

We slowly spread into each other as one light

 

Author’s POV

Eun Kyo masih terpaku disebuah kursi. Duduk di pojokan sebuah rumah makan. Dia terlihat shock dengan memegang sendok dan garpu tanpa menyentuh makanannya sama sekali. Sudah 20 menit Kim Jin meninggalkannya disini, tapi dia masih tak bergeming. Pikirannya semakin kalut ketika dengan sekuat tenaga dia mengumpulkan kata demi kata yang keluar dari mulut Kim Jin, menceritakan sebuah kejadian yang tidak ada sama sekali dalam memorinya.

‘Suamimu berselingkuh’

‘Kau kecelakaan karena mengetahui hal itu.’

‘Kau hilang ingatan karena terlalu shock dengan permasalahanmu.’

Tak satupun kalimat itu membuatnya mengingat sesuatu. Yang ada dipikirannya adalah ‘Jadi benar aku adalah istrinya? Ibu dari Ryu Jin?’. Disamping itu dia juga berpikir, benarkah dia serapuh itu? Ada perasaan bersalah yang kini menyusup dalam relungnya, namun detik berikutnya dia kembali mencerna apa yang telah dikatakan Kim Jin. Perselingkuhan, kecelakaan, amnesia. Tak ada satupun kata merujuk pada memorinya yang hilang. Meski mungkin Kim Jin tidak menceritakannya secara gamblang, tapi setidaknya ada yang membuatku ingin ingat sesuatu. Eun Kyo membatin.

Tersadar telah membiarkan makanannya dingin tak tersentuh, dia mulai mengaduk dan menyuap nasi dan juga daging serta menyendok sup kimchi. Hambar, itu yang dia rasakan. Jiwa seakan semakin hampa ketika menyadari ingatannya memang benar-benar kosong terhadap anak dan suaminya. Eun Kyo terus menyuap makanan itu ke dalam mulutnya tanpa merasakan citarasanya. Seolah itu hanya sebagai syarat untuk tidak membuatnya ambruk dengan kenyataan.

Diluar sana berjalan seorang wanita berpakaian rapi dan berjalan dengan langkah cepat menggunakan sepatu heelsnya yang dibeli di luar negeri. Wanita itu terdiam sejenak di depan sebuah restoran berdinding kaca. Dia mencoba memastikan seseorang yang ada di dalam sana apakah benar-benar dikenalnya atau tidak. Setelah dia yakin, aia mendorong pintu kaca dan menghampiri seseorang yang dikenalnya itu.

“Onnie…” sapanya. Hee Rin menyapa Eun Kyo yang sedang duduk sendiri. Eun Kyo menoleh pada Hee Rin, awalnya dia terkejut. Namun tidak menunjukkan sebuah ekspresi terkejut yang berlebihan. Wajahnya terlihat datar, tapi dalam hatinya dia tersentak. Raut wajahnya malah bukan menunjukkan sebuah keterkejutan, tapi lebih kepada raut bingung dan gelisah.

“Hee Rin~a..” sahutnya sambil seraya menundukkan kepalanya memandangi makanannya yang tak kunjung habis meski dia sudah secepat mungkin memasukkannya tanpa ampun ke dalam mulutnya.

“Kenapa makan sendiri? Mana Oppa? Eoh? Naik apa kemari? Aku temani? Makananmu terlihat sudah dingin, ayo dimakan.” cecar Hee Rin dengan pertanyaan yang ada dalam benaknya. Eun Kyo makan sendirian, dengan wajah yang terlihat resah, itu sedikit  membuat Hee Rin cemas akan wanita itu. Dia menarik kursi dan duduk dihadapan Eun Kyo tanpa persetujuannya. Meskipun Eun Kyo tidak terima, dia akan tetap memaksa untuk menemaninya. Pikirnya, daripada Eun Kyo maka sendirian, lebih baik ditemani.

“Kau kenapa Onnie?” tanya Hee Rin setelah dia menunggu lama tak juga kunjung keluar jawaban dari mulut Eun Kyo.

“Eoh?” jawab Eun Kyo masih dengan raut bingungnya, karena dia sama sekali tidak mendengarkan pertanyaan Hee Rin yang sepanjang rel kereta api.

“Kau kenapa? Mana Oppa? Biar aku telpon untuk menemanimu disini, dia pasti juga belum makan kan?” Hee Rin mengambil ponselnya tapi segera dicegat oleh Eun Kyo.

“Jangan, jangan. Aku ingin sendiri.” Cegah Eun Kyo terdengar lirih. Hee Rin mulai membatin kembali. Dia mulai merasakan ada yang tidak beres dengan keadaan Eun Kyo. Hobby barunya kini mulai kembali. Mencemaskan hubungan orang lain.

“Kau kenapa? Kau boleh cerita adaku.” Hee Rin meghirup sup kimchi yang ada dihadapan Eun Kyo dengan cueknya.

“Owh, hambar. Kutambahkan cabe?” tanya Hee Rin.

“Ani, aku tidak bisa makan pedas.” Eun Kyo menolak dan menahan tangan Hee Rin yang hampir saja membubuhi cabe pada sup kimchinya.

“Hehe, kalau begitu ceritakan padaku.” Ia mengurungkan tangannya dan menopang dagunya bersiap mendengarkan cerita Eun Kyo.

“Aku lagi tidak semangat Hee Rin~a..” jawab Eun Kyo masih dengan lirih. Dia mengalihkan pandangannya keluar. Memandangi jalanan. Mendengus lalu menunduk.

“Kenapa tidak semangat? Eoh? Ayolah Onnie, ceritakan saja padaku.” Desak Hee Rin dengan nada yang sedikit memaksa. Hee Rin berubah menjadi pribadi yang berbeda didepan Eun Kyo. Berbeda sekali jika berhadapan dengan orang lain. Eun Kyo mendongak dan memandangi Hee Rin dengan tajam, seolah mengatakan ‘aku belum mau menceritakannya, dan tolong jangan ganggu aku.’

“Em… kalau begitu baiklah. Kau makan Onnie.. ini sudah dingin.” Dia menyuap kembali sup kimchi yang terasa hambar baginya. Eun Kyo bergelut dengan pikirannya yang semakin berkecamuk. Melihat sepasang suami istri berjalan dengan menuntun anak kecil, dia teringat Ryu Jin. Rasa bersalah itu kembali menyelimuti dirinya. Terbayang tangis Ryu Jin, cerita Ryu Jin tentang Jung Soo, dan banyak hal lagi yang tidak bisa diingatnya. Pikirannya kini tak lagi bertumpu pada kecemburuannya seperti pra amnesianya, tetapi lebih kepada kenyataan dia melupakan orang-orang yang mencintainya.

“Onnie..” panggil Hee Rin membuyarkan lamunan Eun Kyo. Eun Kyo segera menoleh pada Hee Rin dengan wajah bingung.

“Makananmu dingin. Ayo dimakan.” Eun Kyo mulai menyendok kembali makanannya. Menyuapnya dengan perlahan, seolah tak selera makan, tapi sejak Kim Jin meninggalkannya dengan cerita yang sama sekali tidak ia mengerti, ia sudah kehilangan selera makannya.

“Akan ada saatnya kau mengerti Onnie.” Ujar Hee Rin menatap Eun Kyo iba. Sebenarnya ia tidak ingin memberikan tatap kasihan seperti itu, karena ia sama sekali benci dikasihani. Tapi tak bisa dipungkiri, ia sangat berempati terhadap Eun Kyo, mengingat semua ini terjadi melibatkannya juga. Meski mereka sudah menemukan dalang dari semua rentetan kejadian ini.

Eun Kyo kembali menghela nafas, dia merasa Hee Rin menyembunyikan sesuatu darinya, apapun itu, dia tidak ingin mengetahuinya. Meski sangat ingin mengetahuinya, tapi dia menekan semua itu karena hari ini begitu membuatnya pusing.

“Bagaimana kabar Ryu Jin Onnie?” tanya Hee Rin mengalihkan pembicaraan. Dia merasa memang ada yang tidak beres dengan Eun Kyo dan mencoba membuat Eun Kyo hanya mengingat anak itu. Karena Ryu Jin lah yang menurutnya membuat Eun Kyo bertahan.

“Dia baik-baik saja. Sudah akan masuk kelas A.” Jawab Eun Kyo masih mencoba memasukkan makanannya sampai habis.

“Jika sudah kenyang hentikan saja Onnie, jangan dipaksakan. Kau seperti Ryu Jin saja.” Uajr Hee Rin menyentuh tangan Eun Kyo.

“Seperti Ryu Jin? Sepertinya kau sangat mengenal anak itu.” Eun Kyo merasa tidak suka jika ada seseorang yang merasa lebih mengenal Ryu Jin daripada dirinya. Meski dia menyadari bahwa memang dia melupakan Ryu Jin.

“Ah, ani. Aku dan Siwon terkadang mengunjunginya di sekolah.” Jawab Hee Rin seadanya, takut menyinggung Eun Kyo.

“Ah, Onnie, aku punya rencana. Tapi ini masih rencana.”

“Apa?” tanya Eun Kyo acuh.

“Aku ingin bekerjasama denganmu. Mengadakan event seni. Itupun jika kau bersedia.” Tawar Hee Rin pada Eun Kyo. Sejenak Eun Kyo terdiam, menatap Hee Rin. Lama terdiam, Hee Rin juga merasa kikuk saat melihat Eun Kyo tidak bereaksi.

“Mungkin kau tidak tertarik Onnie.” Ujarnya lirih. Eun Kyo masih terdiam . membuat Hee Rin juga melakukan hal yang sama.

“Kau kenal kami sudah lama? Maksudku kau mengenal Jung Soo Oppa dan aku sudah lama?” tanya Eun Kyo tiba-tiba, membuat Hee Rin sedikit tersentak. Dia mendongak menatap Eun Kyo, wanita yang sejak tadi enggan menyentuh makanannya.

“Maksud Onnie?” tanya Hee Rin memperjelas. Dia sudah merasakan gelagat tidak baik dari respon Eun Kyo, hanya saja wanita itu mencoba menghalau pikiran negatifnya.

“Apa Jung Soo Oppa benar selingkuh dariku?” gumam Eun Kyo. dia berkata sangat pelan tapi mampu terdengar di telinga Hee Rin. Hee Rin terdiam, apa yang dia pikirnya tidak sepenuhnya meleset.

“Onnie, jangan terlalu percaya dengan asumsimu.” Ujar Hee Rin menenangkan. Eun Kyo hanya terdiam tak menjawab. Dalam hatinya dia begitu gelisah.

“Aku sudah selesai.” Eun Kyo berdiri tiba-tiba dan mengambil tasnya. Hee Rin menatapnya heran. Ia ingin mencegah Eun Kyo dan berniat untuk mengantarnya ke rumah, tapi melihat raut wajah Eun Kyo yang sedikit tidak baik, dia mengurungkan niatnya itu.

Eun Kyo berjalan meninggalkan restoran itu berjalan kaki. Dia masih memikirkan ucapan Kim Jin beberapa saat lagi. Yang dia pikirkan bukan bagaimana suaminya berselingkuh darinya. Yang dia pikirkana dalah keadaan setelahnya, apa benar dia sangat terpukul dengan hal itu? Sementara bagi dirinya sendiri, dia adalah wanita yang kuat menurutnya. Eun Kyo menggoyangkan kepalanya menghalau semua pikiran buruk yang bergelayut menggelitik rasa ingin tahunya. Tanpa ia sadari dia telah berjalan jauh dan sampai pada sebuah tempat penitipan anak. Sekolah Ryu Jin.

“Eomma…!”

Seoarang anak kecil meneriakinya dan berlari kearahnya. Dia menenteng tas punggungnya dan berlari dengan  kencang. Saat sampai dihadapan Eun Kyo, anak itu menabrakkan tubuhnya hingga membuat Eun Kyo mengaduh.

“Ya… pelan-pelan.”

Eun Kyo mengusap kepala Ryu Jin dan berjongkok menjajari anak itu. Ryu Jin terlihat senang sekali. Untuk pertama kalinya dia tidak menunggu seseorang yang menjemputnya.

“Eomma, Eomma mau menjemputku, benarkan?” tanya anak itu antusias. Eun Kyo mengangguk sambil merapikan baju Ryu Jin dan menepuk pahanya. Ryu Jin melompat senang. Tentu saja Eun Kyo ingin menjemputnya, meski tidak berniat seperti itu, karena tau-tau dia sudah berapa di depan sekolah Ryu Jin.

“Kita makan es krim?”

Eun Kyo mengajak Ryu Jin untuk makan es krim di kedai es krim tak jauh dari sana. Dia mengambil tangan kecil anak itu dan menuntunnya berjalan. Seolah ingin menebus kesalahan karena telah melupakan anak itu, Eun Kyo ingin membuat banyak senyum di wajah bocah kecil itu, darah dagingnya yang terabaikan.

Ryu Jin melangkah menjajari langkah Eun Kyo yang sedikit lebih lebar darinya. Awalnya ia memperhatikan Eommanya berjalan sambil mengikuti langkahnya, kiri dan kanan bergantian. Hal itu membuat Eun Kyo berhenti dan memandangi Ryu Jin.

“Apa yang kau lakukan?”

Ryu Jin menoleh menatap Eun Kyo dan tertawa sambil menutup mulutnya. Anak itu berubah menjadi manis hari ini. Menggeleng lalu melanjutkan langkahnya.

“Eomma, apa Appa juga ikut bersama kita?” tanyanya sambil berhenti.

Eun Kyo masih mematung, dia memandangi Ryu Jin dengan tatapan yang sulit dia artikannya sendiri. Seolah ada rindu yang ingin dia sampaikan, rindu yang tak tau sebabnya.

“Ani, hanya kita berdua saja.” Jawab Eun Kyo akhirnya.

Ryu Jin tertawa lebar. Merasa dirinya telah menang dari Appanya sendiri. Memiliki Eun Kyo sehari adalah kebahagiaan besar baginya. Dia berlari semakin mendahului Eun Kyo menuju kedai es krim. Dan memesan es krimnya sendiri.

“Kau suka?”

Sudah satu jam mereka duduk di kedai itu. Entah sudah berapa gelas yang sudah Eun Kyo habiskan selama duduk disana. Tak jauh berbeda dengan Ryu Jin. Dia memakan es krimnya dengan lahap, selagi mendapat ijin hari ini. Besok belum tentu Eomma yang overprotected terhadapnya itu mengijinkannya.

Ponsel yang ada di dalam tas Eun Kyo berdering. Eun Kyo meliriknya sebentar, namun ia enggan untuk mengangkatnya. Dibiarkannya saja ponsel itu konser di dalam tasnya dengan suara teredam. Ia tau siapa yang memanggilnya. Jung Soo. Karena dia sudah memasang ringtone berbeda untuk lelaki itu, agar ia tau ketika Jung Soo memanggilnya. Karena beberapa hari terakhir, dia sering merindukan suaminya, tanpa bisa dia mengerti sejak kapan rasa itu mulai menghinggapinya. Tapi perkataan Kim Jin tadi siang membuatnya sedikit enggan dan malas untuk mendengar suara lelaki itu.

“Eomma, ponselmu berisik.” Protes Ryu Jin.

Eun Kyo masih ragu untuk menjawab, namun ponsel itu tak berhenti meraung minta diangkat. Akhirnya Eun Kyo meraih tasnya dan mengeluarkan ponselnya. Benar sekali, itu panggilan dari Jung Soo.

“Yeoboseyo?” sapa Eun Kyo malas. Suara di seberang sana langsung berbicara dan menanyakan dimana keberadaannya karena dia tidak menemukan Eun Kyo di butiknya. Eun Kyo menjawab dengan jujur lalu mematikan ponselnya. Dia mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya.

“Kau masih mau es krim sayang?” tawar Eun Kyo. Ryu Jin menggeleng. Dia merasa perutnya sudah terlalu dingin dan mulutnya sudah terlalu dingin untuk menerima es krim lagi.

“Appa akan menjemput kita disini.” Kata Eun Kyo lirih.

Ryu Jin memainkan kakinya yang menjuntai. Tak ada yang berbicara, suasana menjadi kaku. Ryu Jin terlihat bingung melihat Eommanya mematung.

“Eomma…” panggilnya akhirnya. “Kau bertengkar lagi dengan Appa?” lanjut Ryu Jin bertanya.

Pertanyaan Ryu Jin membuat Eun Kyo tersentak. Rupanya anak ini suka memperhatikan tingkah Eun Kyo dulunya. Perubahan itu, dia bisa merasakannya.

“Ani.” Jawba Eun Kyo acuh.

“Jangan pernah bertengkar lagi, kalian membuatku takut.” Ujar Ryu Jin sunggu\uh-sungguh. Dia menatap wajah Eun Kyo dengan tulus. Eun Kyo tak bisa menjawab apapun atas permintaan Ryu Jin. Haruskah ia mengabulkannya? Sementara kini emosinya sedang labil? Pikirannya tentang ingatannya, juga tentang berita yang disampaikan Kim Jin padanya. Biasakah dia menghindar untuk tidak bertengkar dengan Jung Soo tentang masalah ini?

“Disini kalian rupanya.”

Jung Soo datang dengan senyuman cerah diwajahnya. Menemukan kedua orang yang dicarinya dalam waktu bersamaan sungguh membuatnya lega. Dia tidak perlu menjemput Ryu Jin lalu mencari Eun Kyo, karena keduanya sudah ada di depan matanya.

“Kalian tidak mengajakku.” Ujarnya lagi tanpa memperdulikan suasana yang sedang kaku.

“Oppa.” Sapa Eun Kyo lirih.

Perasaannnya campur aduk. Sejak Jung Soo duduk beberapa detik lalu, pikirannya erus melayang. Benarkah Jung Soo telah mengkhianatinya? Melihat dari sikapnya yang sangat menjaganya beberapa bulan terakhir, membuatnya sedikit sangsi. Cinta lelaki itu sangat besar, dia bisa merasakannya. Tapi perkataan Kim Jin juag tidak bisa dia abaikan sama sekali. Kenyataan bahwa ia kehilangan ingatannya, membuatnya sedikit percaya pada lelaki itu.

Eun Kyo terus memandangi Jung Soo, membuatnya sedikit risih saat ekor mata Eun Kyo terus membidik apapun yang dia kerjakan. Menyuapi Ryu Jin, menyapu kedua sudut mulutnya, semua itu tak luput dari perhatian Eun Kyo. Jung Soo menoleh padanya.

“Wae, Yeobo?”

Eun Kyo menggeleng dan mengalihkan pandangannya kearah luar. Detik itu juga Jung Soo bisa merasakan bahwa ada yang tidak beres dalam diri Eun Kyo.

Jung Soo’s POV

Selama perjalanan pulang, Eun Kyo hanya diam saja. Jalanan mulai padat di jam seperti ini. Kenapa Seoul sekarang jadi berubah sepadat ini? Pemilik kendaraan pribadi semakin bertambah setiap harinya, mengakibatkan jalanan jadi seperti ini. Aku melirik Eun Kyo yang duduk disampingku, tidak biasanya dia melamun seperti itu. Ryu Jin duduk di belakang dalam diam, masih memakan es krimnya yang dia minta bawa pulang. Dan ini sangat tidak biasa, Eun Kyo biasanya melarang Ryu Jin untuk jajan, dengan dalih tidak baik untuk kesehatan. Dia biasanya melarang apapun bentuk cemilan yang dimakan Ryu Jin, terlebih lagi es krim. Terkadang aku berpikir Eun Kyo sedikit keterlaluan, dia sangat protektif, meskipun aku memang juga tidak setuju jika Ryu Jin jajan sembarangan, tapi setidaknya dia bisa membuat antibodinya dengan memakan jajanan itu meski harus dibatasi.

“Appa, aku tadi main perosotan.”

Ryu Jin memecah keheningan dengan cerita khasnya. Biasanya dia menceritakan itu saat dirumah dan berkumpul, tapi sepertinya anak itu menyadari aura berbeda di dalam mobil dan berinisiatif untuk bercerita. Dia menjilat es kirim yang ada dalam gelas plastiknya.

“Nde? Kau senang?” tanyaku menanggapinya. Aku bisa melihat anggukan kepala anak itu melalui kaca spion. Dia tersenyum. Sekali lagi aku melirik Eun Kyo, dia sama sekali tidak bergeming.

“Appa, aku punya guru baru di sekolah.” Ujar Ryu Jin lagi.

Aku bingung harus menanggapi cerita Ryu Jin seperti apa, sementara otakku terus penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Eun Kyo. pemeriksaan rutinnya berjalan lancar setiap minggu, dia kadang bahkan memintaku untuk menemaninya untuk konsultasi jika aku lupa.

“Cantik?”

Aku sengaja menanyakan itu, memancing reaksi Eun Kyo. Dan benar sekali, dia buyar. Ekor matanya melirikku dan mendengus. Aku mendapatkan sedikit perhatiannya sejak lebih dari dua pertiga jalan tadi hanya diam. Dia kembali ke alam nyata, seperti Eun Kyo biasanya. Seperti istriku, meski memorynya sekarang sedang dalam proses recovery.

“Eum….”

Ryu Jin terlihat berpikir, anak itu memutar bola matanya sebelum kemudian kembali mengangguk. Dia tersenyum dan menyuap es krim terakhirnya.

“Besok tidak akan ada es krim lagi.”

Peringatan Eun Kyo membuat Ryu Jin cemberut seketika. Anak itu terlihat kecewa, namun juga sebenarnya dia beruntung hari ini. Bisa dengan puas memakan es krim, anggap saja itu persediaan untuk esok-esok hari.

Setelah beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya kami sampai di rumah. Memarkir mobilku di pekarangan rumah lalu membukakan pintu untuk Eun Kyo. Dia mengulurkan kaki kanannya terlebih dahulu. Langkahnya terlihat gontai dengan menenteng tasnya di tangan, yang harusnya diletakkan di bahu.

Aku berjalan menjajarinya. Meraih pinggangnya dan membawanya sedikit lebih laju dari langkahnya. Ryu Jin sudah terlebih dahulu berlari. Anak itu melempar tasnya ke arah sofa dan melepas sepatunya lalu melemparnya ke sembarang arah. Eun Kyo hanya memandanginya dengan menghembuskan nafas berat. Dia tidak berkomentar apalagi berteriak memarahi Ryu Jin, anak itu berlari ke kamarnya. Aku yakin dia pasti mencari robot-robot kesayangannya.

“Kau mau mandi, Oppa?” tanya Eun Kyo lirih. Dia berhenti berjalan, akupun sontak mengikutinya.

“Eum, sebentar lagi.”

“Biar aku siapkan air hangat.”

Dia mulai menjauh namun aku menarik tangannya. Langkahnya terhenti, namun dia sepertinya enggan untuk menghadap kearahku. Aku menariknya perlahan hingga tepat berada di hadapanku. Helaan tanpa semangat itu lagi yang aku terima.

“Kau kenapa, Yeobo? Sakit?” dia menggeleng.

“Lalu, kenapa diam seperti ini?” dia kembali menggeleng.

Aku menarik pinggangnya dan menghadapkan tubuhnya kearahku. Dia menunduk. Aku tidak suka melihatnya diam seperti ini, membuatku cemas dan bertanya-tanya.

“Aku baik-baik saja.”

Sekilas dia menatap mataku. Hanya satu detik, dan setelahnya dia kembali menjatuhkan pandangannya pada lantai yang tak berbicara sama sekali, seolah susunan ubin-ubin itu lebih menarik ketimbang menatapku beberapa menit saja.

Dia meraih leherku dan melonggarkan dasi yang melilit. Melepasnya lalu memeganginya di tangannya tanpa melepasnya. Aku membuka kancing kemejaku dan melepaskan jasku.

“Aku mau kekamar.”

Dia melepaskan kedua tanganku yang memegangi pinggangnya. Aku tidak bisa menahannya lagi, meski yang aku inginkan adalah memeluknya dan menciumnya. Aku tidak suka dia diam seperti ini. Aku membiarkannya berjalan menuju kamar kami. Masih mematung di tempatku berdiri.

“Appa…”

Ryu Jin berlari kearahku membawa robotnya. Benar kan? Hal yang pertama Ryu Jin lakukan adalah menyapa robotnya setelah mencari ibunya. Aku adalah pilihan terakhir dalam hidupnya.

“Wae?”

Aku menyambutnya dengan menggendong tubuhnya. Berjalan menuju sofa.

“Kenapa Thom tidak bergerak lagi?”

Anak ini senang memberi nama pada semua mainan yang dia miliki. Thom, Lee, Jonathan. Entah siapa lagi. Dan aku tidak tau darimana dia dapat nama itu.

“Mana? Sini coba Appa lihat.”

Aku mengambil robot yang diberi nama Thom itu dari tangannya. Mencoba menekan tombol ‘ON’, tapi benar, tidak mau bergerak sama sekali. Aku menekannya beberapa kali hingga akhirnya membongkar Thom dan aku rasa dia kehabisan energi.

“Apa kau sering bermain bersamanya?”

Ryu Jin menoleh padaku. Mata kecilnya mengerjap menatapku, lalu mengangguk. Badannya menghadap kearahku, duduk dipangkuanku dengan melingkarkan kedua kakinya di pinggangku. Aku tersenyum. Anak ini terkadang menyebalkan, tapi juga membuat bahagia.

“Dia terlalu lelah bermain denganmu. Kau harusnya mengajak Lee juga ikut bermain dan biarkan Thom istirahat.”

“Tapi aku lebih senang bermain dengan Thom, Appa.” Dia merebut Thom dari tanganku. “Thom bisa menembak, dan menggunakan lasernya. Tapi Lee, hanya bermain bersama pedangnya saja. Tidak asik.” Jawabannya membuatku tercengang. Siapa sangka jika beberapa bulan yang lalu dia terguncang. Melihat dari nada bicaranya, dia terlihat selalu bahagia. Tidak akan menyangka jika beberapa bulan lalu dia pernah menjadi sangat dewasa.

“Sayang, ayo mandi. Ini sudah malam, sudah gelap. Eomma sudah siapkan kau air hangat.”

Eun Kyo berjalan kearah kami sambil membawa handuk putih Ryu Jin bergambar jerapah. Sepertinya dia sudah mandi, sudah mengenakan piyamanya dan sangat wangi. Anak itu tidak menghiraukannya, dia terus memandangi Thom dan mencoba menggerakkannya.

“Dia kehabisan energi karena kelelahan. Biarkan Thom istirahat dulu, dan kau turuti apa kata Eommamu.” Aku mengarahkan daguku pada Eun Kyo yang sudah menunggu Ryu Jin.

Anak itu turun dari pangkuanku dan berjalan gontai menghampiri Eun Kyo. Eun Kyo menggendongnya ke kamar madi.

Aku hanya bisa terdiam, terkadang aku menikmati keadaan seperti ini. Namun juga terkadang cemas, karena aku tidak bisa memprediksi apa yang akan Eun Kyo lakukan jika dia sudah mengingat segalanya. Dengan diam seperti ini saja sudah membuatku kalang kabut menghadapinya. Aku tau dia menyembunyikan sesuatu dariku.

Aku bangkit dari dudukku, dan saat berjalan menuju kamar, aku sudah mendapati Ryu Jin keluar dari kamar mandi luar. Dia ada dalam gendongan Eun Kyo. diam. Itu yang dia lakukan, sementara mungkin Ryu Jin tidak menyadari perubahan Eun Kyo, tapi aku bisa. Aku bisa menyadarinya. Karena bertahun-tahun hidup dengannya maka aku bisa menyadarinya, meski dia kehilangan ingatan dan menjadi pribadi yang sedikit berbeda, aku bisa menyadarinya.

“Sekarang cari bajumu sendiri.”

Eun Kyo menurunkan Ryu Jin dan menepuk pantatnya menyuruhnya masuk ke dalam kamarnya sendiri. Aku berhenti di hadapannya, menatapnya dengan lekat. Park Eun Kyo, andai kau tau betapa kalutnya aku sekarang. Apa kau sudah mengingat segalanya? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?

“Oppa, kau belum mandi biar aku siapkan air hangat di dalam kamar.”

Eun Kyo menarik tanganku dan menyeretku masuk ke dalam kamar. Jika dia tidak sabar ingin membawaku ke kamar, aku tau ada maksud lain dari perkataannya tadi.

“Oppa, aku mau bertanya.” Ujarnya langsung.

Benar kan? Aku hapal betul dengan gelagatnya. Dia pasti ingin membicarakan sesuatu jika sudah tidak sabar membawaku ke kamar dan menarikku. Aku tidak menjawab, hanya menatapnya saja. Aku menunggu pertanyaannya.

“Kau, kau… kau… mencintaiku?”

Dia terlihat salah tingkah dan ragu-ragu dengan pertanyaannya. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Melangkah maju mendekatinya namun dia mengambil sikap waspada dan menahanku dengan meletakkan tangannya di dadaku.

“Stop, jawab saja pertanyaanku.”

Kurasa dia juga mulai hapal apa yang akan aku lakukan. Memeluknya. Dan dia sudah mengantisipasi itu dengan menahanku. Sikapnya yang seperti ini, mengundangku untuk menggodanya. Aku melangkah lagi mencoba mendekatinya, tapi tangannya semikin kuat.

“Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?”

“Jawab saja.”

Dia terlihat lebih dingin. Dan sepertinya aku mulai merasa pembicaraan ini serius. Dia menatap mataku, aku membalasnya.

“Tentu saja aku mencintaimu.” Jawabku tegas, tak ingin terdengar seperti sedang bercanda karena sepertinya dia juga tidak ingin bercanda.

“Lalu kenapa aku tidak mengingatmu sama sekali? Kenapa kecelakaan itu terjadi? Kenapa aku tidak mengingat Ryu Jin? Eoh? Aku, aku, aku.”

Eun Kyo memegangi kepalanya. Saat dia melepaskan tangannya dari dadaku aku dengan cepat mendekatinya, mencegahnya untuk memukul kepalanya. Hal yang kerap kali dia lakukan jika tidak mengingat sesuatu. Kutahan kedua tangannya sebelum sampai ke kepalanya. Memeluknya dan dia membeku seketika.

“Apa kau pernah berselingkuh dariku?”

Pertanyaannya semakin menjurus kepada percobaan pemulihan ingatan yang dia lakukan. Tapi aku tidak suka jika dia menyakiti dirinya sendiri.

“Sebaiknya kita tidur.”

Aku menariknya ke tempat tidur. Dia tidak menolak. Merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Aku melepaskan kemejaku dan masuk ke dalam kamar mandi. Mandi dengan cepat.

Apa kau pernah berselingkuh dariku?

Pertanyaan itu tiba-tiba mengusikku. Apa dia sudah mengingat semuanya? Ani, apa dia sudah mulai ingat? Perselingkuhan? Apa aku pernah berselingkuh? Apa bertemu Hee Rin dan makan bersamanya serta berbagi cerita itu adalah kategori selingkuh? Baiklah, dulu aku memang menyukainya. Tapi aku sama sekali tidak berniat untuk berselingkuh sedikitpun.

Aku berdiam sejenak di depan pintu. Mandi ternyata tidak mampu membuat rasa khawatirku lenyap. Aku mengusap wajahku. Ya Tuhan, jangan biarkan hal buruk terjadi lagi, aku rasa aku tidak kuat lagi menerimanya. Kubuka pintu kamar mandi. Dia masih berbaring di tempat tidur dan membelakangiku. Aku berbaring disampingnya.

“Ryu Jin sudah tidur?”

“Eum.” Jawabnya.

Aku semakin mendekat padanya. Dia tidak bergeming saat aku mulai menyusupkan tanganku di pinggangnya. Lama kami terdiam dan dalam posisi seperti ini. Harum tubuhnya masih sama, aku semakin mendekatinya dan menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi lehernya dan menciumnya.

“Oppa, kau belum jawab pertanyaanku, apa kau pernah berselingkuh dariku?”

Pertanyaan itu rupanya masih membekas di hatinya.

“Wae? Kau meragukanku?”

Dia berbailk menghadapku dan kami saling bertatapan. Mata bertemu mata, hanya berjarak beberapa centi saja. Park Eun Kyo, andai kau tau betapa gilanya aku tanpamu. Aku tidak akan berusaha untuk dekat dengan Hee Rin lagi. Lebih memilih untuk tidak dipertemukan kembali dengannya jika aku tau ujungnya seperti ini. Hampir kehilanganmu.

“Oppa…” panggilnya manja. Merengek minta dijawab. Dia mengusap wajahku. “Ya sudah tidak mau menjawab. Berarti aku bisa mengambil kesimpulan sendiri.”

Eun Kyo langsung berbalik memunggungiku. Kesimpulan sendiri?

“Ayo kita bicara tentang masalah ini.”

Aku membalik tubuhnya. Kupandangi wajahnya yang menyiratkan kekecewaan itu. Dia menatapku dengan enggan. Seolah pembicaraan ini sudah tak lagi menarik baginya. Eun Kyo memang orang yang mudah penasaran, tapi jika tidak ditanggapi dia akan lebih dingin dari biasanya.

“Apa bertemu teman lama, lalu  makan bersama. Apa itu disebut perselingkuhan?”

Matanya mengerjap menatapku. Tergambar kebingungan disana. Aku menarik senyum di wajahku.

“Jika itu adalah kategori perselingkuhan, benar. Aku telah selingkuh.”

“Tapi apa kau menyukainya?”

Aku terdiam sejenak. Antara ingin berkata jujur dan bohong.

“Dulu aku menyukainya.”

Dia langsung memukul dadaku dan membuatku benar-benar terkejut. Tidak mengira dia kan melakukan itu. Aku menyentuh dadaku, jantungku berpacu seketika.

“Sudah, cukup! Hentikan saja, aku tau jawabannya seperti itu.” Ujarnya ketus sambil membelakangiku. Haha, cemburu lagi? Kenapa akhir-akhir ini dia sering cemburu? Maksudku, dulunya dia tidak pernah segamblang ini menyampaikan sikap cemburunya. Tapi sejak beberapa bulan lalu…

Andai saja waktu itu aku lebih bisa menahan diriku untuk tidak terhanyut dengan kenanganku sendiri, mungkin tidak akan seperti ini jadinya.

“Kau bilang ingin bertanya. Ayo bertanya lagi.”

“Aku tidak mau bicara dengan pengkhianat sepertimu!” teriaknya. Dia menutup wajahnya dengan bantal. Masih tetap kekanak-kanakan, dia kembali seperti saat aku pacaran dengannya.

“Dengarkan aku.”

Eun Kyo semakin erat menutup wajahnya dengan bantal. Enggan mendengarkanku. Tapi aku merebut bantalnya dan menghadapkan tubuhnya lagi padaku.

“Tapi aku mencintaimu. Sekarang dan di masa depan nanti.”

Dia memandangiku, mencari kebenaran dalam ucapanku. Aku hapal sikapmu yang seperti ini, Park Eun Kyo. Silakan cari celah kebohongan dari ucapanku, aku jamin kau tidak akan menemukannya. Karena aku sama sekali tidak berdusta.

“Kau tidak percaya? Eum?”

Kudekatkan wajahku dan menyentuh bibirnya dengan bibirku. Dia tidak membalas juga tidak menolak. Aku mengecupnya dan kembali menatapnya. Tatapannya masih sama, tatapan selidik.

“Kau boleh tidak percaya. Tapi aku bisa membuktikannya.”

Aku bangkit dan menuju meja kerjaku. Mengambil sebuah rekaman.

“Apa itu?” tanyanya penasaran.

Aku bisa melihat dari wajahnya, raut ingin tahu yang besar, tapi dia sembunyikan dengan mengatur nada bicara yang keluar dari mulutnya.

“EOMMA!”

Seseorang menggedor pintu kamar kami dan aku juga Eun Kyo menoleh bersamaan.

“Ryu Jin.”

Tanpa babibu lagi Eun Kyo langsung turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamar. Saat dia membuka pintu, seorang anak kecil sudah berdiri di depan kamar kami sambil membawa guling kesayangannya yang sangat kusam. Itu adalah benda transisinya. Ia akan mengamuk jika guling kesayangannya yang bau dan jarang dicuci tidak ada di dalam kamarnya menjelang tidurnya. Terlebih lagi saat Eun Kyo terbaring lemah tak berdaya di rumah sakit.

“Eomma, boleh aku tidur bersama kalian saja? Aku takut.” Ujarnya manja.

Aku menimang salinan rekaman kaset yang di berikan Siwon padaku. Karena kehadiran Ryu Jin, aku jadi mengurungkan niatku memperlihatkan rekaman itu pada Eun Kyo. Menggerakkannya lalu meletakkannya kembali ke dalam laci, sepertinya ini bukan waktu yang tepat.

“Wae? Bukannya kau punya kamar sendiri?”

Aku berjalan mendekari Ryu Jin juga Eun Kyo yang sudah mengambil tempatku. Dia berbaring dengan manis disamping Eun Kyo, mencabuti jahitan-jahitan guling baunya.

“Shireo, aku mau tidur disini, boleh kan Eomma?”

Eun Kyo membelai sambil meniup rambut Ryu Jin. Terlihat sekali dari matanya, dia sangat menyayangi anak itu, sama seperti dulu. Tidak pernah berubah, menatap anak itu dengan sayang. Eun Kyo mengangguk mengijinkan Ryu Jin untuk tidur disini malam ini.

“Arasseo, malam ini saja? Eoh?”

Aku ikut bergabung dengan mereka di tempat tidur. Berbaring disamping Ryu Jin, karena hanya itu daerah yang tersisa.

“Tapi, kau tidak seharusnya disini, minggir.”

Kuangkat tubuh Ryu Jin semakin ke tepi dan aku berbaring diantanya dia dan Eun Kyo. Ryu Jin menampakkan wajah garangnya, mencoba menggertakku. Yak! Aku tidak akan takut denganmu.

“Eomma…” dia merengek.

Aish! Anak ini, jika sudah memelas seperti itu, aku sudah bisa menebak akhirnya akan seperti apa. Eun Kyo berdehem pelan. Selama dia tidak berkata apa-apa untuk membela Ryu Jin, aku sebaiknya berpura-pura tidak mengerti saja. Ryu Jin menatapku marah, lalu menatap Eun Kyo menghiba.

“Oppa…”

Aku memejamkan mataku mencoba untuk tidak mendengarkannya saja. Yah, sepertinya itu lebih baik untuk mempertahankan posisiku.

“Appa…” panggil Ryu Jin.

Aku bisa mendengar Eun Kyo menghela nafas keras, aku tau itu artinya dia sangat kesal. Aku bergeser sedikit demi sedikit dengan tidak rela.

“Tapi jauhkan benda bau ini dariku!”

Aku merebut gulingnya dengan kasar dan melemparnya. Ryu Jin mendongak ke arah guling yang aku lempar, menatapku tajam lalu turun dari tempat tidur dan memungut gulingnya. Eun Kyo memandangiku dengan tajam. Wae? Apa aku salah? Bukannya dia sudah punya kamar sendiri? Kenapa harus kembali merecokiku seperti waktu bayi? Mengambil tempatku dan mendepakku di tepi tempat tidur.

“Arasseo, aku di tengah.”

Eun Kyo bergeser lalu menepuk tempat kosong disampingnya menyuruh Ryu Jin untuk segera tidur. Ryu Jin menurut dan berbaring disamping Eun Kyo.

“Eomma, menghadap kearahku saja.”

Tiba-tiba Ryu Jin menarik Eun Kyo dan membuat Eun Kyo memunggungiku.

“Ani, menghadap padaku saja.”

Aku mengembalikan posisi Eun Kyo seperti biasa, tidur memelukku.

“Eomma…”

Terjadi tarik-menarik antara aku dan Ryu Jin memperebutkan Eun Kyo. Entahlah, mungkin aku memang terlalu keras padanya. Tapi aku juga tidak rela jika Ryu Jin terus menerus merongrong daerah kekuasaanku, aku merasa terjajah.

“Kalu begitu aku tidur di luar, kalian tidur disini!”

Eun Kyo bangkit tiba-tiba dan ingin keluar dari kamar.

“Ani, kami tidak akan bertengkar lagi!” teriakku dan Ryu Jin bersamaan.

Eun Kyo’s POV

Sudah beberapa hari aku menerima beberapa pesan misterius yang juga tidak bisa dianggap misterius. Aku tau dan pernah bertemu dengan pengirim pesan. Lelaki itu. Bertubuh tinggi dan atletis, aku merasa pernah mengenalnya sebelumnya, tapi dimana? Sebelum bertemu dengannya di rumah sakit, sebelum bertemu dengannya di restoran waktu itu, aku pernah mengenalnya. Kehilangan memori seperti terkadang membuatku sedikit frustasi jika sendirian seperti ini.

Bunyi detak jam di dinding terasa nyaring terdengar di telingaku. Diluar terlihat ramai dengan beberapa pengunjung yang dilayani oleh Channie, tapi dalam ruanganku aku serasa membeku dan hening dalam bisu. Tak ada yang bersuara selain bunyi jarum jam dan ketukan jariku memainkan pensil diatas kertas bekas. Mencoba merancang beberapa gaun baru, tapi hasilnya selalu tidak memuaskan. Aku kehilangan semangat bekerjaku.

Mengingat-ingat lelaki itu dan terkadang bayangan Jung Soo terbersit di benakku. Park Jung Soo, nama itu begitu familiar dalam ingatanku, tapi aku tidak bisa menjelaskan kenapa nama itu sangat akrab di telingaku. Surat catatan pernikahan itu tidak mungkin berbohong. Tapi yang membuatku frustasi kenapa aku sangat asing dengannya? Tak ada memori sedikitpun hingga saat ini. Begitu juga dengan Ryu Jin. Bocah kecil yang hampir berumur 4 tahun itu, aku juga sangat merasa dekat dengannya, hanya saja, hanya saja aku tidak bisa menjabarkan kami dekat karena apa. Mungkin naluri seorang ‘Eomma’ dalam diriku masih bisa mengontrol emosiku terhadapnya. Tapi kenyataan aku tidak mengingatnya terkadang membuatku terhempas ke dasar paling dalam dari inti bumi. Semua cerita sedihnya pasca kecelakaanku benar-benar membuatku merasa bersalah. Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan di kehidupan sebelumnya, hingga hidupku rumit seperti ini? Eoh? Aku ingin mengingatnya, aku ingin mengetahui memori tentang Ryu Jin, semuanya, sejak dia masih kecil. Kadang-kadang aku membuka beberapa album untuk membangkitkan ingatanku, tapi hasilnya selalu sama, aku menjadi pusing. Dan hal itu yang membuatku sedikit paranoid untuk mengingat mereka.

“Noona, ada yang mencarimu.”

Tiba-tiba kepala Key menyembul di pintu yang terbuka setengahnya saja. Aku menoleh padanya. Tanpa menyuruh Key untuk mempersilakan tamu itu masuk, dia sudah menyerobot masuk ke ruanganku. Hee Rin.

“Onnie, maaf mengganggumu. Tapi ini benar-benar mengusikku.”

Hee Rin duduk di depan meja kerjaku, sebuah kursi tamu yang aku beli beberapa hari yang lalu. Aku rasa tidak ada salahnya menambahkan sebuah kursi tamu baru sebagai penyegaran.

“Katakan saja.” Jawabku acuh.

“Eum… begini.” Hee Rin duduk dengan menopang paha kanannya diatas paha kirinya. Wajahnya terlihat serius. “Eum, sebenarnya aku bosan. Aku ingin mengadakan pagelaran seni di galeryku. Tapi tidak akan seru jika hanya barang koleksiku yang di pajang. Aku… hehe, ingin mengajakmu bekerjasama, kau dengan semua koleksimu.” Ujarnya bercerita panjang lebar. Aku yang tadinya tidak ingin memperhatikannya sedikit tertarik dengan penawarannya.

“Jadi bukan hanya pengamat seni yang datang Onnie, para pengamat mode dan Entertainer juga bisa datang, bagaimana? Kau tertarik?”

Aku menghela nafas mendengar penawarannya lagi, bukannya aku tidak tertarik, hanya saja, hanya saja aku tidak percaya diri untuk event selevel Hee Rin yang sudah punya nama.

“Aku akan memikirkannya.” Jawabku akhirnya. Wajahnya sedikit kecewa mendengarkan jawabanku. Aku tau, wanita seperti Hee Rin yang selalu tampil sempurna tidak suka di tolak.

“Kau tidak tertarik?” tanyanya dengan nada kecewa.

“Bukan begitu. Tapi apa mereka tertarik dengan karyaku? Haha, aku rasa tidak terlalu tertarik. Kenapa kau tidak mencari designer yang lebih punya nama? Dengan branded ternama, itu akan lebih ramai jika kau ingin eventmu ramai.”

Aku berjalan menuju pintu, membukanya dan meneriaki Channie untuk meminta dua gelas minuman.

“Kau mau minum apa? Hangat? Dingin?”

“Aku minta air putih saja.” Jawabnya. Aku kembali meneriaki Channie meminta dua gelas air.

“Ya.. Onnie, aku kan ingin mengajakmu, bukan orang lain.” Jawabnya cemberut.

Aku memperhatikan gerak-gerik Hee Rin. Bukankah ada yang aneh dengan gadis ini? Aku tidak mengenalnya, kenapa dia hampir setiap hari merecokiku, entah itu makan siang atau pada saat-saat tertentu. Apa aku terlalu percaya diri jika menyebutnya mendekatiku?

“Memangnya kapan acaranya dimulai? Maksudku kapan kau merencanakannya?”

Channie datang dengan dua gelas minuman di tangannya. Satu gelas air putih, satu gelasnya lagi secangkit coklat hangat. Dia meletakkan minuman itu diatas meja. Keadaan hening sejenak.

“Gomawo, Channie~ya.”

Setelah Channie keluar baru kami melanjutkan pembicaraan. Hee Rin terlebih dahulu menenggak minumannya yang tanpa rasa sama sekali, hingga setengahnya.

“Mau kan Onnie? Eoh?”

Aku terdiam. Memikirkan antara iya dan tidak. Jika aku menerimanya memang ada untungnya juga buatku, desainku mungkin akan lebih banyak di kenal orang lain. Tapi aku juga tidak ingin repot dengan menjadi terkenal. Bukankah aku meminta pada Jung Soo Oppa saat pertama kali membuka butik ini hanya sebagai hobby saja?

‘Kau boleh menyalurkan Hobbymu, tapi ingat kau seorang istri dan seorang eomma, tempatmu ada dirumah.’

Aku ingat perkataan Oppa yang itu. Bukan kemarin, bukan beberapa hari yang lalu, ataupun beberapa minggu yang lalu. Itu dulu, dulu sekali, sebelum aku…

Aku segera menyambar ponselku yang tergeletak diatas meja. Tak kupedulikan raut wajah Hee Rin yang berubah kaget. Aku berlari menuju pintu diikuti Hee Rin.

“Onnie, waeyo?” tanya Hee Rin berlari mengikutiku.

Aku tidak ingin menjawab, yang aku inginkan saat ini adalah bertemu dengan Jung Soo Oppa. Aku harus bertemu dengannya dan menanyakan sesuatu. Kuhentikan taksi yang melaju di depanku lalu membuka pintu dan duduk di jok belakang, menyebutkan tempat yang aku inginkan dan meminta supir taksi itu untuk bergegas.

“Onnie bagaimana dengan tawaranku?” dia menghentikan taksiku beberapa saat.

“Kau siapkan saja. Aku akan ikut, tapi sekarang aku ada urusan, nanti kita bicarakan lagi.” Aku menurunkan kaca mobil saat menjawab pertanyaannya, tapi beberapa detik saja. Setelah itu, aku menaikkannya kembali dan menyuruh supir taksi untuk segera melaju.

Langkahku kuusahakan agar lebih lebar dari biasanya. Ingin rasanya aku sampai ke ruangan Jung Soo Oppa sekali langkah saja. Beberapa karyawan dan para pengunjung memandangiku yang berlari menuju pintu lift. Berdiri menunggu pintu terbuka dan membawaku ke lantai atas, ruangan Jung Soo Oppa. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, aku langsung membuka pintu dan masuk tanpa permisi.

Saat aku berada di dalam, aku mendapati Jung Soo Oppa. Dan bersama seorang wanita, wanita yang sudah beberapa kali aku temui. Dan sangat aku kenal.

“Oppa…”

Langkahku terhenti saat menatap mata Jin Hye yang melihatku dengan tatapan menantang. Seolah dia menang atas sesuatu. Apa yang dia lakukan disini? Lagi? Park Eun Kyo, bukan saatnya kau memikirkan itu. Kau hanya akan mengkorfirmasi ingatanmu yang kau ingat secara random.

“Bisa kau keluar sebentar, Jin Hye~ssi?”

Jung Soo Oppa segera meminta Jin Hye untuk keluar. Bagus, sebelum aku mulai mengamuk. Tadinya ku ingin menyeretnya keluar dan mengunci pintu ruangan ini.

“Tapi, pembicaraan kita belum selesai.” Jawabnya ketus.

Sepertinya Jin Hye masih belum ingin keluar. Aku lebih memilih untuk mematung ketimbang melemparnya keluar, meski hal itu sangat ingin aku lakukan. Tak bisa kubayangkan betapa muaknya aku melihat wanita angkuh ini.

“Cukup sampai disini. Aku tidak menerima tawaranmu.” Jawab Jung Soo Oppa.

Dia berjalan menuju pintu dan membukanya. Mempersilakan Jin Hye untuk keluar. Aku mengamati Jin Hye yang menatapku dengan tajam beberapa menit, setelah itu dia keluar dengan mengangkat dagunya lebih keatas. Aku senang dengan perlakuan tegas Jung Soo Oppa seperti ini.

“Wae gurae? Sepertinya penting sekali.”

Perkataan Jung Soo Oppa membuyarkan perasaan senangku atas perlakuannya terhadap Jin Hye. Aku menggelengkan kepalaku menghalau semua cercaaanku terhadap Jin Hye yang melintas di benakku. Melihatku menggeleng, Jung Soo Oppa mengerutkan dahinya.

“Yeobo…”

Tanpa sadar, dia sudah berada dihadapanku membuatku mundur dua langkah darinya. Bukan karena menghindarinya, tapi rasa terkejutku yang membuatku refleks melakukan itu.

“Ah, aku hampir lupa. Oppa, kapan aku membuka butikku?”

Pertanyaan yang aku lontarkan semakin membuat Jung Soo Oppa mengerutkan dahinya. Aku mengerti dengan kebingungannya.

“Apa dulu kau pernah melarangku? Maksudku melarangku membuka butik itu?”

Jung Soo Oppa tersenyum. Sepertinya dia mulai mengerti arah pembicaraanku. Dia menarikku mendekat padanya. Aku hanya bisa menatapnya, menanti jawaban darinya.

“Kau mengingat sesuatu? Eoh?”

Tangannya menggenggam tanganku erat, lalu menurunkan kepalanya dan mensejajarkan wajahnya dengan wajahku. Untuk kesekian kalianya mata kami saling bertemu. Dan perasaan asing itu berangsur menguap entah kemana. Aku mengangguk, seolah terhipnotis dengan tatapannya.

“Kau boleh menyalurkan Hobbymu.” Aku menggulang perkataan Jung Soo Oppa yang tadi berkelebat di benakku.

“Tapi ingat kau seorang istri dan seorang eomma, tempatmu ada dirumah.” Jung Soo Oppa menyambung perkataan yang sama persis seperti yang aku ingat. Aku menatapnya, kami berdua terdiam sejenak, menyelami perasaan haru yang tiba-tiba menyeruak. Aku merasa menemukan titik terang dari kegelapan yang aku alami.

“Oppa, aku ingat. Tapi hanya itu yang aku ingat.”

Sepertinya rasa asing itu kembali menyergapku. Memasungku tanpa bisa terlepas. Hanya meningat penggalan kata itu tak mampu mengembalikan kisahku bersamanya yang seolah tersembunyi. Aku yakin file itu hanya di hidden. Sementara aku belum menemukan anti virus yang terbaru, aku harus bersabar.

“Tenang saja. Pelan-pelan kau akan mengingatnya.”

Jung Soo Oppa meraih tubuhku dan mendekapku. Aku, aku tidak bisa. Aku tidak bisa hidup dengan perasaan asing seperti ini. Aku menyilangkan tanganku di depan dadaku sebelum Jung Soo Oppa beberapa detik lalu memelukku.

“Ah, tadi malam sepertinya kau ingin menunjukkan sesuatu padaku.” Aku mendongak menatap wajahnya. Dia menunduk dan mendaratkan ciuman kilatnya di bibirku.

“Rekamannya ada di rumah. Nanti malam kita lihat.” Jawabnya. Aku memanyunkan bibirku.

“Mau apa lagi Jin Hye kemari?”

Pembicaraan kami bergeser ke permasalahan hati. Bukan lagi tentang masalah memoriku yang sedang corrupt. Jung Soo Oppa tersenyum. Aku sebal melihatnya tersenyum seperti itu, seolah mengejek kecemburuanku yang sedang menanjak. Dia tidak menjawab dan semakin membuatku kesal.

“Oppa…”

Aku tidak sabar untuk mendengar jawabannya. Apa yang akan ia jelaskan tentang keberadaan Jin Hye di ruangannya, berduaan. Seperti waktu itu. Bosan melihatnya hanya tersenyum, aku berjalan mundur kearah pintu.

“Arasseo, tidak ada yang harus dibicarakan lagi. Aku sebaiknya pergi saja.”

Baru saja selangkah ingin keluar dari ruangan itu tapi.

BLAM!

Jung Soo Oppa mendorong pintu dengan keras hingga tertutup sempurna. Aku mematung di depannya, terkejut. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan selain mengerutkan dahiku dan menoleh padanya.

“Aku belum menjawab. Jin Hye menawariku proyek di China, tapi aku menolaknya. Karena jika aku menerimanya, akan semakin sering dia membuat alasan untuk bertemu. Aku sudah lelah menghadapinya, lebih melelahkan daripada mengurusimu dan Ryu Jin secara bersamaan.”

Aku rasa sekarang aku tidak butuh jawaban itu lagi. Karena biar bagaimanapun, aku juga tidak berhak cemburu, mereka hanya sebatas relasi kerja sepertinya.

“Begitu? Ya sudah, kalau begitu boleh aku keluar?”

Jung Soo Oppa menggeleng dan menarikku, duduk di kursi. Aku menggaruk keningku. Apa lagi yang mau dia lakukan? Aku sudah mulai bosan dengan semua yang terjadi padaku.

“Tidak masalah, jika kau cemburu. Aku tidak akan sering menerimanya lagi di ruangan ini.” Kutolehkan kepalku dengan malas padanya.

“Apa aku terlihat seperti seorang yang cemburu?”

Berhentilah menganggapku cemburu. Meski memang itu ada benarnya, tapi aku sudah mulai jenuh dengan perasaan itu.

“Kau, kau, kau, tidak cemburu?”

Aku menggeleng kuat dan tegas. Bangkit dari dudukku dan bersiap pergi.

“Aku, aku ingin kita memulainya dari awal lagi. Tidak peduli kau lupa padaku, tidak masalah.”

Mudah baginya berbicara memulainya dari awal lagi. Jatuh cinta lalu hidup bersama seolah-olah tidak terjadi apapun padaku. Tapi bagiku, rasa ini benar-benar membuatku gila. Rasa asing itu membatasiku, mengkungkung ruang gerakku. Aku merasa tersesat disebuah labirin tanpa bisa keluar, dan parahnya lagi, aku terjebak dalam sebuah ruangan gelap tak berlentera yang dengan meraba saja tidak cukup, karena aku sudah kehabisan tenaga untuk melanjutkannya. Energiku terkuras mengelilingi setiap ruangan kosong pada labirin itu.

“Untuk hal itu kita bicarakan di rumah saja.”

Aku mengambil langkahku dan dia tak bia lagi menahanku.

***

Aku berdiri di pinggir jalan, menunggu Hee Rin menjemputku. Beberapa hari yang alalu aku menyetujui tawarannay tentang  kerjasama sebuah event. Dia berjanji menjemputku untuk makan siang. Beberapa kali aku melirik jam tanganku. Pukul 1.23 siang. Itu artinya dia sudah terlambat 23 menit lamanya. Aku melipat tanganku di dada, hal yang paling membosankan dalam hidupku adalah menunggu, tapi bodohnya aku terus menungguinya.

TIIIITTT!

Suara klakson mobil mengejutkanku. Mobil Hee Rin, dia menurunkan kaca mobilnya dan aku menyambutnya dengan wajah cemberut.

“Mian, Onnie. Aku terlambat…” dia engangkat pergelangan tangannya memeriksa jam berapa sekarang. “23 menit.” Lanjutnya pelan. Aku bisa membaca raut wajahnya terlihat bersalah, tapi aku sudah terlanjut kesal padanya. Aku langsung masuk ke dalam mobil, duduk disampingnya.

“Jalan.” Ujarku.

“Mau kemana , Onnie?” tanyanya bingung. Aku menoleh padanya. Bukannay dia yang mengajakku makan siang? Kenapa dia harus bertanya padaku? Aku malas menjawabnya.

“Arasseo, kita makan siang di restoran biasa saja.” Dia segera menginjak pedal gas dan membawaku ke sebuah restoran cepat saji untuk mengisi perut.

Waitress sudah mencatat semua pesanan kami. Aku tidak ingin memulai pembicaraan karena sudah terlanjur kesal. Hee Rin menatapku dengan tatapan rasa bersalah.

“Onnie, kau marah padaku?”

“Ani.” Jawabku singkat.” Mengedarkan pandanganku ke seluruh sudah ruangan mampu membuatku sedikit lebih lega. Ada beberapa pasangan duduk makan siang bersama, masih lengkap dengan baju kantornya.

“Onnie, mengenai perhelatan itu. Ini, aku membawa konsepnya.”

Hee Rin mengeluarkan sebuah gulungan kertas dari dalam tube. Dia menggelarnya diatas meja selagi makanan kami belum datang.

“Panggung peragaan busanamu akan ada di tengah-tengah sini, dan mengenai bentuk dan ukurannya jika kau tidak suka kita bisa menggantinya.”

Aku memandangi contoh desain ruangan yang akan di pakai Hee Rin untuk mengadakan acara itu. Cukup menarik. Dia menaruh panggung di tengah-tengah ruangan dan itu akan memudahkan orang-orang untuk melihatnya dari segala arah. Para model akan datang dari arah kiri dan kanan sudut ruangan.

“Dimana kau akan menaruh koleksimu?” tanyaku.

“Dia semua dinding.” Jawabnya.

Dia memakai hall yang ada di Hotel milik Siwon untuk acara ini. Fuih, dasar orang kaya, dia memanfaatkan semua peluang. Tentu saja, Siwon kan suaminya.

“Apa tidak terlihat ini seperti acaraku? Kau menaruh panggung sebesar itu dan sangat mencolok.”

Hee Rin terdiam. Aku rasa dia membenarkan perkataanku. Dan kali ini semakin membuatku yakin bahwa dia ingin mendekatiku, dengan menarikku ke dalam sebuah kerjasama. Aku rasa ini bukan sebuah kerjasama untuk melakukan sebuah pekerjaan bersama-sama, tapi lebih kepada menarik simpatiku.

“Kau tidak sedang mendekatiku kan?”

Aku mengalihkan mataku dari kertas yang terhampar diatas meja ke matanya. Mengintimidasinya dengan tatapanku. Dia terlihat gelagapan.

“A, ani. Untuk apa aku mendekatimu?”

“Lalu kenapa kau membuat acara ini untukku?”

“Bukannya itu acara kita berdua?” jawabnya lagi sekaligus bertanya. Aku menghela nafas.

“Untuk apa kau mendekatiku?”

“Onnie…” ujarnya tidak bisa menjawab.

“Aku tau kau sedang mendekatiku. Tapi untuk acaramu, aku tertarik. Tapi aku tidak mau menggunakan panggung. Hanya akan ada karpet merah yang akan di gelar diatas lantai, buat itu di sepanjang lukisanmu. Biar para modelnya berjalan diatas karpet saja.”

“Onnie, bukankah itu terlihat sangat..”

“Tidak berkelas?” aku melanjutkan perkataannya.

“Jika kau tidak suka, tidak jadi saja.” Aku menggulung kembali contoh desain denah ruangan itu.

“Ani, aku setuju.” Jawabnya cepat sambil menyentuh telapak tanganku. Seakan-akan aku begitu mudah mengubah keputusanku.

Makanan yang kami pesan sudah datang. Daging sapi murni dan beberapa salad yang sebenarnya aku tidak suka, tapi aku ingin mencobanya. Aku memakannya dengan lahap karena sejak tadi aku memang sudah kelaparan, sejak menunggu Hee Rin tadi. Tak ada yang berbicara selama makan.

“Onnie, mengenai aku mendekatimu, mungkin kau ada benarnya. Tapi bukan dalam artian aku ingin mengambil suamimu.”

Perkataan Hee Rin barusan mampu membuat menghentikan suapan ke dalam mulutku. Berhenti mengunyah dan langsung mengalihkan bola mataku padanya. Dia menunduk dan memainkan sumpit di piringnya tanpa mengentuh salad-salad itu.

“Apa aku pernah mengatakan kau ingin mengambil suamiku?” lirikan tajamku kuarahkan padanya. Membuatnya kembali salah tingkah.

“Ani, maksudku… Aku hanya tidak mempunyai banyak teman. Dan sepertinya aku akan cocok denganmu.” Jawabnya. Aku melihatnya dengan malas.

Bukan aku tidak menyukainya. Hanya saja, aku merasa dia menyembunyikan sesuatu dariku. Bukan hanya dia, tapi mereka. Hee Rin, Jung Soo Oppa juga Siwon. Aku benci tatapan iba mereka, dan meraka saling bertatapan seolah aku adalah orang yang sangat menyedihkan. Aku tidak ingin meladeni perkataannya. Dan aku pikir memang tidak perlu menanggapi pembicaraannya.

Hee Rin’s POV

Aku tau Eun Kyo Onnie malas berbicara denganku. Tapi aku berkata jujur. Aku tidak berbohong kalau aku mendekatinya bukan untuk merebut suaminya seperti yang telah dia asumsikan dulu. Aku tau mungkin sekarang dia belum menyadarinya, tapi sebelum ingatannya pulih, aku ingin lebih dekat dengannya. Dan aku juga mengatakan hal yang benar bahwa kau sekarang tidak puya teman. Aku bukan orang yang mudah bergaul, bukan tipe orang yang mudah disukai orang, mungkin, entahlah.

“Onnie, kau marah padaku?”

Aku membuka percakapan lagi saat menyelesaikan makan kami. Suasana mulai lengang, waktu istirahat telah habis, dan aku masih ingin disini, ditemaninya.

“Ani, untuk apa aku marah padamu?”

Perkataan itu. Nada itu, terdengar ketus di telingaku. Apa dia menyadari kami menyembunyikan sesuatu darinya?

“Hee Rin~a…”

Seseorang menyapaku. Aku segera menolehkan kepalaku ke belakang. Kim Jin Oppa. Bukan maksudku untuk mengikutsertakan Kim Jin Oppa dalam hal ini. Tapi untuk hal ini, dia yang lebih berpengalaman. Aku tau mungkin jika Jung Soo Oppa tau, dia akan marah. Tapi menurutku, ini akan membantu mengingatkan memori Onnie tentang masa lalunya.

“Ah, Eun Kyo~ssi.”

Kim Jin Oppa membungkuk pada Eun Kyo Onnie, begitu juga Onnie, dia menganggukkan kepalanya. Dia menatapku tajam, matanya seakan berkata ‘apa yang kau lakukan? Kenapa orang ini ada disini?’, begitulah kira-kira aku mengartikan tatapannya padaku.

“Bagaimana? Acaramu? Jadi?” tanya Kim Jin Oppa. Aku mengangguk, tapi Eun Kyo Onnie sedikit tidak peduli. Dia lebih memilih mengaduk minumannya dan memperhatikannya.

“Aku senang kau mengajak Eun Kyo.”

Terang saja kau senang, Oppa. Aku tau kau menyukainya, dan aku mempertaruhkan nyawaku untuk itu. Apa yang aku lakukan, entahlah, aku hanya ingin lebih dekat saja dengan Eun Kyo Onnie, menarik simpatinya dengan mengajaknya bekerja sama.

“Aku punya beberapa agensi model yang berpengalaman dalam hal ini.” Ujar Kim Jin Oppa, karena kami berdua diam, mungkin dia bingung harus berbicara apa.

“Ani, aku sudah punya relasi untuk itu.” Eun Kyo Onnie memotong pembicaraan Kim Jin Oppa. Sepertinya dia tidak menyukai Kim Jin Oppa. Bagus.

“Sebaiknya aku permisi saja. Aku sudah selesai makan, pembicaraan kita juga sudah selesai kan? Hanya perlu mengganti panggungnya saja. Untuk modelnya..” dia melirik Kim Jin Oppa sejenak, “Aku sudah punya relasi untuk itu.”

Eun Kyo Onnie bergegas untuk pergi meninggalkanku. Aku bangkit.

“Onnie, biar aku antar.”

“Tidak perlu, aku bisa kembali ke kantor dengan taksi.”

Aku melirik Kim Jin Oppa yang tersenyum memandangi kepergian Eun Kyo Onnie. Aku memukul kepalanya dengan pelan.

“Dia sudah milik orang lain.”

Biar bagaimanapun, dia tetap Oppaku, yang selalu menjagaku saat aku di luar negeri dulu. Yang melindungi serta selalu membelaku, apapun yang aku lakukan, kecuali pernikahanku dengan Siwon yang tidak bisa dia batalkan.

“Ahahahahaha, aku tau. Tapi jika mereka berpisah, aku masih bisa memilikinya kan?” ujarnya penuh percaya diri.

“Oppa, aku tau yang di Hotel kemarin kau yang melakukannya.”

Mendengar perkataanku, Kim Jin Oppa sedikit tersentak dan membeku beberapa detik, mungkin tidak akan akan menyangka aku bisa mengetahui itu.

“Jadi sebelum masalah ini melebar, aku mohon berhentilah mengganggu mereka Oppa.”

Kim Jin Oppa menatapku tidak percaya. Aku berharap dia mundur dalam masalah ini.  Yakin dia pasti mendapatkan uang lebih baik dari Eun Kyo Onnie. Jika dipikir-pikir, Eun Kyo Onnie memang harus hidup bersama dengan suami dan anaknya. Tidak akan ada yang bisa mengubah itu.

“Kau tidak akan mengerti, Hee Rin~a.”

“Nde! Aku tidak akan pernah mengerti dirimu. Kau yang seperti ini sangat menyedihkan Oppa.”

Mungkin nada bicaraku terlalu ketus hingga membuat beberapa pasang mata yang masih tertinggal di sekelilingku menoleh padaku secara bersamaan. Aku memejamkan mataku, mencoba menekan emosiku.

Bagaimana mungkin dia bisa mengatakan aku tidak mengerti dirinya? Aku tau, sangat tau jika dia menginginkan sesuatu, dia harus mendapatkannya. Tapi tidak untuk Eun Kyo Onnie, dia sudah unavailable. Dia tau itu, hanya menutup mata saja. Aku bangkit dan meninggalkannya saat dia tak lagi bisa bicara.

***

“Kau sudah pulang?”

Aku mendengar langkah Siwon memasuki ruangan. Aku tau itu dia, dari langkahnya. Lagipula siapa lagi yang bisa memasuki ruangan ini tanpa memencet bel terlebih dahulu. Tak ada sahutan darinya. Aku berjalan mencarinya ke ruang tengah. Dia duduk diatas sofa sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya.

Tadinya aku membuat coklat hangat untuk aku minum sendiri, tapi melihat Siwon dengan keadaan seperti ini, aku menyodorkan coklat hangatku untuknya. Dia mengalihkan tangannya dari wajahnya sendiri dan menatap coklat hangat yang ada ditanganku, lalu beralih menatapku.

“Gomawo.”

Kepulan asap terlihat di atas cangkir ynag ditiup Siwon. Oke, mungkin memang terlalu panas untuk diminum, sebenarnya aku ingin menonton tv sambil membiarkannya dingin lalu meminumnya.

“Biar aku siapkan air hangat.”

“Tumben kau manis seperti ini.”

“Tidak suka? Tidak jadi saja.”

“Yak! Kau ini, mana bisa tidak jadi seperti itu.” Teriaknya. “Siapkan aku air hangat.” Ujar pelan dan terkesan cuek. Dia menyeruput minumannya.

Aku berjalan menuju kamar mandi dan menyiapkan air hanyat untuknya. Awal yang bagus untuk menjadi istri yang baik. Aku banyak belajar dari Eun Kyo Onnie. Dia lagi? Hah, dia memang tokoh utama dalam semua ceritaku. Apapun yang aku lakukan sekarang merujuk pada sikapnya. Dia yang terlihat sangat menyayangi Ryu Jin dan juga Jung Soo Oppa. Aku tau, dia masih punya perasaan terhadap Jung Soo Oppa, meskipun dia melupakannya. Dia bisa mengesampingkan semua ketakutannya demi Ryu Jin. Hidup bersama orang asing itu sungguh membuat takut, tapi dia bisa mengatasinya dengan baik. Menjadi istri yang baik, serta Eomma yang baik untuk Ryu Jin. Itu terbukti, sekarang Ryu Jin dan Jung Soo Oppa lebih ceria. Mungkin kehadiranku ditengah mereka adalah sebuah kesalahan, tapi semua ini pasti ada hikmahnya.

“Sudah selesai Nyonya Choi? Kau sudah 15 menit di dalam sana.”

Suara Siwon membuatku tersentak. Aku melamun tanpa aku sadari. Segera ku bukan pintu kamar mandi dan membiarkannya mandi.

“Kau sudah makan?” tanyaku.

“Sudah tadi di kantor.”

Sayang sekali, padahal aku ingin membuatkannya makanan. Tapi jika dia sudah makan, untuk apa lagi? Aku berjalan dengan gontai.

“Wae?”

“Ani.”

“Kau sendiri? Sudah makan?”

“Sudah.” Jawabku berbohong. Rasa laparku tiba-toba menguap begitu saja entah kemana.

Aku menungguinya diatas tempat tidur. Berguling kesana kemari sambil membuka buku novel tebal yang tidak aku baca. Lama sekali dia mandi? Eoh? Bahkan menyamai lamanya waktu aku madi. Tapi tunggu, Shin Hee Rin. Ani, Choi Hee Rin, kau, kau menunggunya diatas tempat tidur? Eoh? Sudah bergeserkah otakmu, Shin Hee Rin?

Aku menggelengkan kepalaku menghalau semua pikiran memalukan itu. Beberapa saat kemudian Siwon keluar dari kamar, dan…

Omo! Apa yang ahrus aku lakukan? Memalingkan wajahku? Aish! Eottokhae? Dia hanya menggunakan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Dan, dan hal itu membuatku mengingat sesuatu. Yak! Shin Hee Rin, aku mohon lupakan kejadian itu!

Tapi, tapi, tapi, aku benar-benar bingung apa yang harus aku lakukan, sejak tadi aku hanya berpura-pura membaca selagi menungguinya mandi, dan sekarang, apa aku harus kembali berpura-pura membaca buku, aku benar-benar tidak fokus. Tiba-tiba saja jantungku berubah drastis. Aku yakin jika aku memeriksakannya ke Dokter, mungkin dia mengira aku kelainan jantung. Ok, ini terlalu berlebihan Shin Hee Rin. Tenang saja, kau pasti bisa melaluinya. Melaluinya? Apa yang harus aku lalui? Malam ini? Memangnya apa yang akan terjadi malam ini?

“Jadi mengajak Eun Kyo untuk acaramu?”

Suara Siwon kembali membuyarkan lamunanku. Sepertinya sejak tadi aku lebih sering melamun, hingga tidak menyadari dia sudah mengenakan piyamanya dan berbaring disampingku.

“Eum, tapi dia punya konsep sendiri untuk panggungnya. Meminta hanya menggunakan karpet merah saja untuk lintasan model yang mengenakan bajunya.” Aku menoleh pada Siwon dan menutup novelku. “Eum, menurutku dia itu unik, pantas saja Jung Soo Oppa menyukainya. Ani, sangat mencintainya.” Sambungku. Siwon tertawa kecil mendengarkan ceritaku dan menarik selimut.

“Terkadang aku iri padanya, banyak sekali yang menyukainya. Jung Soo Oppa, Kim Jin Oppa, dan… mungkin kau juga menyukainya.” Tembakku. Bukan tidak mungkin dia juga menyukai Eun Kyo, buktinya, sebelum tragedi itu, Siwon selalu bertemu dengan Eun Kyo secara tidak sengaja, dan paling membuatku tercengang saat dia mendapatiku di kamar hotel bersama Jung Soo Oppa. Apa sebutannya jika mereka datang bersamaan dan dekat?

“Kau cemburu?” tanya Siwon. Aku langsung menoleh padanya dan menatapnya tajam. Apa hatiku terlalu transparan hingga dia bisa membaca perasaanku dengan mudah?

“Ani, siapa yang cemburu? Aku hanya bilang aku iri pada Eun Kyo Onnie, dan aku ingin sepertinya. Punya suami yang menyayanginya, juga anak yang sangat lucu seperti Ryu Jin. Meski aku sedikit bingung mengurus anak-anak, tapi jika seperti Ryu Jin aku mau.”

Ceritaku mengalir seperti air kran yang bocor, tak berhenti. Siwon sepertinya mendengarkannya dengan baik, kepalanya mengangguk-angguk dari tadi.

“Kau tidak perlu terlihat seperti Eun Kyo jika menginginkan hal yang sama.” Perkataannya diakhiri dengan tawa kecil, mengejekku.

“Wae? Kenapa tertawa seperti itu?”

Apa aku terlihat bodoh saat mengutarakan keinginanku? Atau terlihat seperti anak-anak. Aish! Itulah sebabnya aku tidak suka dekat dengan orang lain, aku tidak ingin orang mengetahui keinginan bodohku jika aku melihat hal bagus dari seseorang.

“Kau tidak perlu menjadi seperti Eun Kyo. cukup menjadi dirimu sendiri saja, sudah cukup menarik bagiku.” Dia mengusap kepalaku dan menurunkannya agar aku terbaring. “Sekarang tidur, kau tidak lelah, hari berikutya kau harus mempersiapkan acaramu.”

“Tapi aku masih belum mengantuk, kau tau, tadi Eun Kyo Onnie bertemu dengan Kim Jin Oppa, sepertinya dia tidak menyukai Kim Jin Oppa.”

“Terang saja dia tidak menyukainya.” Potong Siwon cepat.

“Ani, bukan begitu. Kalau tidak dengan koneksi Kim Jin Oppa, bagaimana acaraku bisa sukses?”

“Itulah bedanya kau dengan Eun Kyo, kau selalu menganggap dirimu tidak mampu. Seharusnya kau optimis. Aku tidak mengerti masalah apa yang terjadi di masa lalu yang membuatmuselalu pesimis dalam hidup. Masa lalu adalah masa lalu Hee Rin~a, kau harus bisa melupakannya.”

“Memangnya masa laluku seperti apa? Kau sok tau!” aku memukul kepalanya dengan novelku lalu  membelakanginya.

“Aish! Sakit!” teriaknya protes.

Aku mendekap gulingku dengan erat. Dia benar, aku selalu pesimis dalam hidup. Tapi bukan tanpa sebab. Semua itu berawal dari Eomma, dia selalu menganggapku tidak mampu dalam hal apapun kecuali nilai akademisku. Selain itu, dia selalu mengaturku, mengatur teman-temanku, dan semua yang harus aku lakukan. Itu yang membuatku seperti katak dalam tempurung. Gelap dan tidak menyadari keberadaan diri sendiri.

“Yeobo, mau bercinta lagi? Kau mau anak seperti Ryu Jin?”

Bisikannya membuatku terkesiap membeku. Setelahnya aku mendegarnya tertawa tertahan. Aish! Choi Siwon, kau mempermainkanku! Aku memukul kepalanya sekali lagi dengan guling. Tawanya pecah seketika. Hubunganku dengannya mulai mencair, tak lagi dingin seperti dulu.

Siwon’s POV

Semakin hari memang hubunganku semakin membaik dengan Hee Rin, dia tak lagi sedingin dulu. Mungkin bukan maksudnya untuk bersikap seperti ini, hanya saja kami mungkin dulunya kurang terbuka.

Dia mulai tertidur, dan aku hanya bisa memandangi punggungya yang membelakangiku. Terkadang aku tersenyum sendiri memperhatikan tingkahnya beberapa waktu terakhir. Eun Kyo yang selalu dia bicarakan, seolah wanita itu adalah topik yang selalu hangat untuk dia bicarakan. Tentang rasa kasihan, tentang rasa bersalah, dan tetang rasa cemburunya terhadap wanita itu. Bukan sebuah cemburu dalam arti yang buruk, tapi lebih kepada rasa iri. Aku terkadang heran, dia yang tidak menyadari kemampuan dirinya sendiri. Meski mungkin Eun Kyo menarik dengan caranya sendiri, Hee Rin pun mempesona dengan caranya sendiri.

Aku mulai memejamkan mataku berbaring disampingnya. Berharap esok hari keadaan kami semakin membaik. Untuk saat ini, aku mengakuinya, aku memang menyukainya, dan mungkin mulai mencintainya.

***

Pagi menjelang, aku mendapati sekarang berada di tempat tidur sendirian. Kuraba tempat lengang disebelahku, untuk sekedar memastikan bahwa Hee Rin memang benar sudah tidak ada. Kosong, dan dapat dipastikan dia sudah terjaga.

Aku berjalan gontai keluar dari kamar. Sebelumnya aku sempat melirik jam dinding saat aku melintas melalui ruang tengah tadi menuju dapur. Masih jam 5 pagi, dan sepagi ini Hee Rin sudah bangun. Saat sampai di dapur dan mengambil segelas air putih, betapa terkejutnya aku saat sesosok bayangan melintas di belakangku.

“Whoa! Kau mengejutkanku!”

Aku sempat limbung beberapa detik saat melihat Hee Rin memakai apron berwarna merah. Yang baru kuketahui bahwa merah adalah warna kesukaannya selain hitam. Dia tidak memperdulikanku dan berjalan santai menuju microwave.

“Kau sedang apa?” tanyaku penasaran.

“Membuat sarapan.” Jawabnya dingin.

Yak! Kenapa menjadi berubah dingin seperti biasa. Yang tidak biasa mungkin dia bangun lebih pagi dari biasanya dan membuat sarapan yang lebih bervariasi. Sedang membuat pancake meski sedikit aneh bentuknya.

“Kau buat sendiri?”

Bukannya aku tidak percaya, hanya saja. Ah sudahlah, jika aku terus merecokinya, moodnya akan semakin buruk.

“Kalau tidak mau tidak usah dimakan.” Ujarnya dengan nada sedikit kecewa.

“Siapa bilang, aku sedang lapar. Sangat lapar.”

Setelah menyiapkan makanan yang terhidang diatas meja, dia melahap lebih dari setengah makanan yang ada diatas meja. Dan itu artinya dia makan lebih banyak dariku. Aku hanya bisa memandanginya yang makan dengan rakus. Seperti tidak makan 3 hari saja.

“Kau kenapa? Hamil? Biasanya wanita hamil…”

Belum lagi aku melanjutkan perkataanku, dia sudah menatapku tajam. Menghentikan kunyahan mulutnya dan meletakkan pisau dan garpu dari kedua tangannya. Hey, apa aku salah? Aku hanya bertanya.

Dia mendengus kesal dengan mengalihkan wajahnya kesamping lalu menatapku kembali dengan tajam.

“M mw,mwo?! Mworago?! Eoh?! Ha, hamil?!” tanyanya sambil tertawa, antara kesal dan mengejekku. “Yak! Kenapa kau berpikiran seperti itu?! Eum?! Melakukannya sekali bukan berarti, bukan berarti. Aish! Kenapa kita harus membicarakan ini?”

“Bukankah itu lebih baik? Aku tidak harus selalu menghindar dari pertanyaan kedua orang tua kita.” Setelah lama terdiam, dia kembali menatapku, kali ini lebih tenang, kembali seperti Hee Rin yang biasa.

“Ck! Molla, untuk itu nanti saja dipikirkan.” Dia bangkit dan ingin beranjak meninggalkanku, tapi aku menahan tangannya.

“Aku tidak suka makan sendirian, jadi kembali ke tempatmu.”

“Mwo? Bukankah kau biasanya juga makan sendirian?”

“Tidak untuk hari ini dan seterusnya.” Jawabku dingin setengah memerintah padanya. Dia menoleh padaku dengan malas. Aku tidak peduli. Yang pasti sejak saat itu, aku tidak suka makan sendirian, tidak suka tidur sendirian, dan tidak suka dia tidak berada di dekatku.

***

Beberapa hari berlalu, Hee Rin sibuk dengan acara yang akan di selenggarakannya. Kadang-kadang dia pulang larut, tapi untungnya, dia menyelenggarakan acara itu di salah satu Hotelku, jadi aku bisa menungguinya untuk pulang bersama. Perasaan ini, berawal entah darimana.

Hee Rin selalu ingin tampil sempurna, meski dia menyelenggarakan ini untuk menyenangkan Eun Kyo, tapi sepertinya Eun Kyo tidak terlalu antusias. Wanita itu, siapa sangka dulu mencoba bermain-main denganku. Awalnya memang aku ingin membantunya untuk membalas semua perlakuan Jung Soo yang menurutnya mengkhianatinya. Tapi takdir berkata lain, dia dilahirkan kembali dengan cinta itu lagi. Aku bisa merasakannya. Cinta itu sangat besar, hingga dalam keadaan apapun dia akan selalu berbalik pada Jung Soo.

Aku tertawa memandangi kedua wanita itu yang sedang sibuk. Malam semakin larut, tapi mereka berdua masih bersemangat untuk mempersiapkan hari esok. Aku berjalan mendekati mereka.

“Kalian tidak pulang, Nyonya-Nyonya? Kau punya suami Hee Rin~ssi. Dan kau, Eun Kyo~ssi. Kau punya anak yang masih balita.” Ujarku menyela kesibukan mereka.

“Sebentar lagi. Ugh!”

Hee Rin mencoba mengangkat lukisan koleksinya sendirian. Dasar, dia memang selalu ingin tampil sempurna dan ingin melakukannya sendiri. Aku mengambil alih benda yang ada di tangannya.

“Mau di letakkan dimana?” tanyaku. Dia berjalan mendahhuluiku dan menunjuk suatu sudut untuk meletakkan lukisannya.

“Disana, tolong letakkan disana.” Ujarnya. Dia sempat merapikan anak rambut yang berantakan sebelum memegangi punggungnya. Wajahnya terlihat lelah.

“Harusnya kau istirahat, bukan bekerja keras seperti ini.” Aku mengusap kepalanya. “Ada yang perlu diangkat lagi?” dia menggeleng.

“Ani, semuanya sudah selesai. Jam berapa sekarang?” tanyanya. Bahkan dia tidak sempat untuk memeriksa jam. Aigoo, betapa sibuknya.

“Omo! Jam setengah sebelas malam!” pekiknya terkejut. “Onnie, sebaiknya kau pulang! Biarkan semua pagar pembatas ini dikerjakan para pekerja saja.” Hee Rin menarik Eun Kyo, tapi Eun Kyo melepaskannya.

“Ani, sebentar saja.”

“Tapi kau pulang, nanti Ryu Jin mencarimu, Onnie…” Hee Rin menatap Eun Kyo. “Aku tidak ingin membuatmu sibuk dan mengabaikan Ryu Jin Onnie, aku mengadakan ini untuk kita senang-senang saja.” Lanjutnya.

“Gwaenchana, Jung Soo Oppa pasti bisa mengatasinya.” Elak Eun Kyo. Dia masih mengawasi beberapa pekerja yang dia sewa sendiri, tidak ingin campur tangan orang lain, sesekali dia menghampirinya dan membantu para pekerja itu.

“Tapi siapa yang akan mengantarmu? Kalau begitu biar kami bantu. Siwon~a, tolong bantu mereka.”

Aku lagi? Aish! Para wanita ini menyusahkan sekali.

“Ani, tidak perlu. Aku bisa mengatasinya. Kalian pulang saja.” Dia mendorong Hee Rin dan tidak memperdulikannya. Aku hanya tersenyum geli. Eun Kyo sepertinya ingin memastikannya sendiri, dan tidak ingin dicampuri.

“Kita pulang saja.” Ajakku pada Hee Rin.

“Tapi Onnie, tadi aku yang menjemputnya.”

“Eun Kyo biar aku yang mengantarnya.” Seorang lelaki berbadan pada berambut blonde tiba-tiba menghampiri kami. Eun Kyo tersenyum sekilas padanya, begitu juga dengan lelaki itu. Jika saja Jung Soo Hyung ada disini, bisa kupastikan dia akan cemburu setengah mati. Lelaki itu terlihat akrab dan cock dengan Eun Kyo.

“Eum, aku biar diantar Sungmin saja.” Ujar Eun Kyo dengan nada tidak peduli, dia masih mengawasi jalannya pekerjaan.

“See? Kau tidak perlu khawatir. Dia akan baik-baik saja, ayo kita pulang, aku lelah.”

Kuseret tubuh Hee Rin untuk pulang. Dia sedikit enggan dan beberapa kali menoleh ke belakang, memandangi Eun Kyo yang terlihat acuh padanya.

Dalam perjalanan, Hee Rin diam saja. Sepertinya dia tidak ingin pulang, dan memastikan Eun Kyo baik-baik saja. Wanita terkadanga aneh, selalu cemas berlebihan.

“Aku yang menyebabkan dia seperti itu. Dan kali ini, aku tidak ingin membuat kesalahan lagi Siwon~a.” Ujarnya pelan. Matanya jauh menerawang keluar jendela. Jelas sekali dia sedang khawatir.

“Tidak bisakah kau berpikiran positif?”

“Tidak bisa.” Jawabnya pelan. Aku menghentikan mobilku dengan tiba-tiba, dan membuatnya tersentak kehilangan keseimbangan duduknya.

“Tidak bisakah kau lebih memperhatikanku? Aku lelah menungguimu disana. Dan harusnya aku tidak mengijinkanmu melakukan ini. Kau terlalu ikut campur terhadap kehidupan mereka.” Setelah mengeluarkan unek-unekku yang aku pendam sejak tadi, aku langsung menginjak pedal gas dan melajukan mobil dengan kecepatan maksimal, hingga dalam beberapa menit saja, kami sudah sampai ke rumah.

Aku membuka pintu mobil dan menutupnya dengan kasar, hingga membuat Hee Rin terkejut. Berjalan dengan cepat meninggalkan pekarangan dan masuk ke dalam rumah.

Aku bisa mendengar langkah Hee Rin yang berlari kecil mengikutiku. Suara sepatunya terdengar berirama namun tidak beraturan seperti biasanya.

“Kenapa kau marah?” ujarnya sedikit bergetar. Aku menghentikan langkahku tiba-tiba dan membuat Hee Rin menabrakku pelan.

“Kau pikirkan sendiri kenapa aku marah.” Jawabku tanpa menoleh padanya.

“Siwon~a, jangan katakan kau cemburu pada Eun Kyo. yak! Aku masih normal!” teriaknya.

“Jinjja?” aku kembali menghentikan langkahku dan membuatnya juga menghentikan langkahnya dia depanku ketika aku berbalik. Aku melepaskan jas yang melekat di badanku dengan kasar, lalu melepaskan kancing tangan kemejaku lalu melepaskan kancing bajuku sekalian.

“Yak! Apa yang kau lakukan?” dia langsung berbalik tapi aku menarik tangannya. Aku ingin bermain dengannya sebentar malam ini.

“Choi Siwon lepaskan aku.” Gertakannya tak akan menghentikan permainan yang akan aku lakukan malam ini. Haha, aku senang membuatku berubah pucat seperti itu. Matanya menatapku tidak percaya. Memangnya aku akan melakukan apa dalam pikiranmu Choi Hee Rin? Euh? Kau selalu berpikiran berlebihan.

“Aku ingin membuktikan aku masih normal. Kau sebenarnya sudah membuktikannya.” Aku menariknya dengan kuat tapi dia juga memberikan perlawanan yang tidak bisa diabaikan.

“Kau gila!” dia menginjak kakiku dan lari keluar dari kamar. Sebenarnya, permainan ini akan lebih menarik jika berakhir di tempat tidur.

Aku memukul kepalaku sendiri. “Choi Siwon, apa yang sedang kau pikirkan? Eoh? Sejak kapan kau berubah seperti ini?” aku menggumam pada diriku sendiri.

Jung Soo’s POV

Sejak tadi Ryu Jin terus menanyai dimana keberadaan Eommanya. Kapan Eommanya akan kembali? Hampir setiap 5 menit sekali dia menanyakan itu. Andai ia tau aku bahkan lebih cemas dari yang dia tau, hanya mencoba utuk tenang. Meski aku tau sekarang Eun Kyo ada dimana, tapi cemas itu tak mampu aku hindari. Ryu Jin belum memejamkan matanya dan waktu menunjukkan pukul setengah 12 malam. Andai aku tau jika dia akhirnya akan seperti ini jadinya, aku tidak akan mengijinkannya waktu itu.

Ryu Jin berguling diatas sofa dan meletakkan kepalanya di pangkuanku, berbaring, lengkap dengan guling kesayangannya. Sudah beberapa kali dia mengubah posisi, tapi tetap gelisah tak bisa ditutupi dari wajahnya.

“Kau tidur saja, saat Eomma datang, aku akan membangunkanmu.” Aku mencoba menenangkan Ryu Jin, tapi anak itu keras kepala, dia tak juga memejamkan matanya.

Saat mendengar deru mobil di halaman rumah, Ryu Jin segera bangkit dan berlari menuju pintu depan. Aku mengikutinya, setelah pintu terbuka, aku melihat Eun Kyo keluar dari mobil, dan di depan pintunya keluar, berdiri seorang lelaki yang tadi membukakannya pintu. Dia membungkuk padaku.

“Eomma…!”

Tanpa bisa ditahan, Ryu Jin berlari menghambur ke pelukan Eun Kyo. Aku tidak terlalu memperhatikan aksi dramatis kedua ibu dan anak itu, tapi aku lebih memilih menatap tajam lelaki yang berdiri disamping Eun Kyo. ini sudah kedua kalinya aku melihat Eun Kyo diantar laki-laki lain setelah kemarin Siwon. Dan Key yang tidak masuk dalam hitungan.

“Ayo ucapkan salam padanya.” Eun Kyo menyuruh Ryu Jin menyapa laki-laki itu. Senyumnya terlihat sangat bersahabat, tapi aku merasa tidak menyukainya. Tentu saja, aku tidak akan menyukai siapapun yang dekat dengan Eun Kyo. apalagi terlihat akrab. Aku memang lelaki egois. Tidak akan membiarkan siapapun menyentuh milikku.

“Annyeonghaseyo, Ahjussi.” Ryu Jin mengangguk dalam pelukan Eun Kyo. terlebih lagi jika dia mendekati anakku, karena aku tau, satu-satunya kelemahan Eun Kyo adalah Ryu Jin.

“Annyeonghaseyo, Ryu Jin~a..”

Dia bahkan sudah tau nama anak kami. Aku melihatnya mengacak rambut Ryu Jin sekilas. Aku merasa jengah melihat adegan yang ada di hadapanku. Seolah aku kasat mata, mereka tidak memperdulikanku.

“Kalau begitu aku pulang dulu.” Ujarnya berpamitan. Untunglah, cepat-cepat saja kau enyah dari sini.

“Eoh? Tidak mampir dulu?” tawar Eun Kyo.

“Ani, ini sudah malam. Besok juga kita harus bersiap-siap kan?”

Dia melirikku sekilas lalu tersenyum. Aku sebenarnya tidak ingin membalas senyumannya, tapi apa boleh buat, aku harus melengkungkan kedua sudut bibirku saat Eun Kyo menatapku. Dia pasti akan mempermasalahkan sikapku yang tidak ramah terhadap temannya.

Eun Kyo berjalan memasuki rumah sambil menggendong Ryu Jin. Anak itu terus mengoceh menanyakan kemana sebenarnya Eommanya hari ini.

“Eomma, bekerja, kau mengerti?” jawab Eun Kyo akhirnya setelah Ryu Jin menghentikan protesnya. “Dan Kau, kenapa belum tidur?” tanya Eun Kyo balik pada Ryu Jin.

“Eomma, aku menunggumu. Tidak bisa tidur jika tidak ada kau.” Eun Kyo berhenti berjalan dan tersenyum lalu mencium bibir Ryu Jin dengan cepat. Sekali kecupan, tapi mampu mengubah wajah cemberut itu menjadi tawa.

“Sekarang kau harus tidur, besok kau harus sekolah kan? Eiy.. besok kau sudah masuk Play Group, punya lebih banyak teman.”

Mereka berdua berjalan menuju kamar. Eun Kyo masih tidak sempat mandi, bau cologne dan keringatnya bercampur menjadi satu, dan itu sangat khas di hidungku. Sepertinya dia memang bekerja keras hari ini.

“Sekarang kau tidur.”

Sebenarnya Ryu Jin sudah sejak tadi ingin tidur, tapi dia menahannya. Matanya sudah merah, tapi dia berusaha kuat untuk tidak tidur dengan beberapa kali mengubah posisinya membuatnya selalu terjaga, demi menunggu Eun Kyo.

Tidak butuh waktu lama menidurkan Ryu Jin, karena memang sejak tadi dia mengantuk. Eun Kyo keluar dari kamar Ryu Jin dan menutup pintu dengan pelan. Aku menungguinya di depan kamar.

“Sudah tertidur?”

Eun Kyo mengangguk menjawab pertanyaanku. Dan semua diluar dugaanku, dia tidak masuk ke kamar tapi memilih membelokkan kakinya menuju dapur. Aku masih berdiri di depan kamar dan membiarkannya ke dapur. Kusiapkan air hangat untuknya mandi. Pasti segar setelah seharian bekerja, berendam di air hangat.

Aku masuk ke dapur. Eun Kyo terlihat memasukkan kopi bubuk dan air hangat kedalam coffee maker. Long dress dibawah lutut berwarna soft blue terlihat cantik di tubuhnya. Dia menyisir rambutnya dengan jari dan membiarkannya tergerai. Bekas ikatan masih membekas di rambutnya membuat gelombang. Dia menyesap coffe dari cangkir dan berbalik mendapatiku.

“Eum, Oppa.” Ujarnya menyapaku.

Dia melirikku sekilas namun kembali pada kopinya. Hal yang dia lakukan terkesan menghindariku. Aku tau akhir-akhir ini dia sibuk, tapi tidak seharusnya kami jarang berbicara seperti ini. Sejak menanyakan ingatannya beberapa waktu lalu, mulai saat itu dia terasa menghindariku. Aku berjalan mendekatinya, merangkul bahunya. Dia sedikit bergidik dan membeku sedetik.

“Ada yang kau sembunyikan?”

“Ani.” Jawabnya cepat.

“Kau mengingat sesuatu selain hal yang kau tanyakan kemarin?”

“Ani..” jawabnya dingin.

“Eun Kyo~ya, aku..”

“Aku ingin tidur, besok pasti melelahkan.” Dia meletakkan cangkir kotor bekas kopi begitu saja diatas meja lalu berjalan meninggalkanku. Aku tidak ingin memaksanya, padahal beberapa hari ini aku sangat merindukannya.

Lama aku terdiam di dapur tapi Eun Kyo tidak mencariku seperti biasa. Dan saat aku kembali ke kamar aku sudah mendapatinya berbaring di tempat tidur dengan posisi miring membelakangiku. Aku tidak yakin dia sudah tertidur.

“Yeobo, kau sudah tidur?”

Aku menempelkan tubuhku dipunggungnya. Memeluk pinggangnya dan mengecup lehernya seperti biasa. Dia mendengus pelan, benar kan? Dia belum tidur.

“Oppa, hentikan saja sandiwara ini.”

Ucapannya, aku tidak mengerti. Apa maksudunya dengan sandiwara.

“Apa maksudmu?” tanyaku. Dia berbalik menghadapku.

“Aku pasti sudah gila sudah membiarkanmu menyentuhku.”

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”

“Oppa, ani. Park Jung Soo~ssi. Aku tidak ingin terhanyut lebih jauh. Sebaiknya kita jalani permainan ini seperti perjanjian awal kita, aku akan tidur di kamar Ryu Jin mulai besok.”

Dia kembali berbaring membelakangiku. Aku memeluk tubuhnya lebih erat.

“Arasseo, kau boleh sesukamu malam ini. Tapi mulai besok, tidak akan ada seintim ini lagi.”

Aku menghela nafas, menahan rasa sakit atas ucapannya. Bagaimana mungkin hukumannya seberat ini,sangat tidak sebanding dengan apa yang aku lakukan. Aku hanya terbuai masa lalu, tapi akhirnya mengacaukan masa depanku seperti ini. Bukan hanya aku yang menjadi korban dari kekacauan ini, tapi Ryu Jin juga istriku sendiri. Apa jadinya jika aku benar-benar mengkhianatinya? Meski tidak pernah sedetikpun terlintas tentang itu. Tapi terbayang hal itu, membuatku merasa ngeri. Mungkin Tuhan masih berbaik hati, sebelum aku melakukannya lebih jauh. Tapi tetap saja ini sangat tidak adil. Sangat sulit membuatnya jatuh cinta lagi, dia terlihat sangat waspada dengan hatinya.

Aku membalik tubuhnya, dan pikiranku sekarang sangat kalut membayangkan hari esok. Aku mencium bibirnya, dia tersentak dan ingin mendorongnya, tapi aku menahannya.

“Aku boleh melakukan sesukaku malam ini.” Disela ciumanku dan rontaannya, aku menjelaskan apa yang aku lakukan. Dia tidak bisa menjawab karena aku sudah menciuminya tanpa jeda sedikitpun, tak peduli hal ini menyakitinya. Hal ini terlintas untuk membuatnya terus bersamaku. Mianhae.

***

Pagi ini kami terlambat bangun, dia segera bangkit setelah membuka matanya. Aku sebenarnya terjaga lebih dulu, tapi memilih berpura-pura tidur saat dia mencoba membuka mata. Aku tidak sanggup menjelaskan apa yang telah aku lakukan tadi malam terhadapnya. Kata maaf tidak akan cukup. Kemarahan adalah hal yang setimpal aku terima, tapi aku takut jika dia membiarkannya begitu saja, seolah tidak terjadi apa-apa itu sangat mengerikan bagiku.

Dia bergegas menuju kamar mandi dan mandi lebih cepat dari biasanya. Saat dia berada dalam kamar mandi baru aku membuka mataku. Dan sekarang duduk di tepi tempat tidur, aku menatap baju piyamaku yang tergeletak diatas lantai. Sejak keluar dari kamar mandi dia hanya diam dan mengenakan bajunya dengan cepat.

“Eun Kyo~ya…”

Dia tidak menggubris panggilanku. Merias wajahnya seadanya di depan cermin, aku bisa melihatnya melirikku sejenak tapi setelah itu tidak peduli.

“Mianhae.” Ujarku pelan saat dia meninggalkan kamar.

Author’s POV

Eun Kyo terlihat sibuk mengamati persiapan yang sebentar lagi akan di buka. Beberapa tamu kehormatan sudah mulai berdatangan. Hee Rin juga mengundang beberapa media, baik cetak maupun elektronik. Salah satu stasiun TV juga menayangkannya secara langsung. Mengingat koleksi Hee Rin adalah barang yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Sudah terkenal di beberapa kolektor seni baik Korea, maupun beberapa negara Asia lainnya.

Hee Rin sibuk menemani beberapa undangannya untuk menjelaskan semua koleksinya. Dia juga menjualnya jika da yag berminat serta sesuai dengan harga seninya. Siwon juga harus merelakan waktu kerjanya demi menemani Hee Rin di acaranya.

“Sepertinya acaramu sukses…” Siwon berbisik di telinga Hee Rin, “Yeobo?” lanjutnya berbisik. Hee Rin segera memalingkan wajahnya dan menatap Siwon heran. Biasanya Siwon memanggilnya dengan embel-embel –ssi, pada Hee Rin, tapi sore ini berbeda. Membuat Hee Rin bersemu merah saat menatap mata Siwon. Mereka saling berpandangan sejenak lalu tersenyum bersama.

Beberapa lukisan reflika dari tangan berpengalaman seniman Korea terpajang di dinding, hampir mnyamai karya aslinya. Mulai dari lukisan fenomenal Monalisa hingga Portrait of Adele Bloch-Bauer milik Gustav Klimt yang kini dimiliki oleh pemerintah Austria.

Berbeda halnya dengan Eun Kyo, dia terlihat sedikit kewalahan mengatur semua model yang harus mengenakan rancangannya. Tidak menggunakan panggung dan hanya menggunakan karpet saja sebagai lintasan mungkin sedikit lebih sederhana, tapi terkesan lebih dekat dengan pengamat. Para penonton bisa melihat bahkan meraba bahannya jika mereka mau.

“Kajja. Palli, palli, palli.”

Eun Kyo mengatur semua modelnya, sementara Sungmin hanya bisa memandanginya. Dia bahkan tidak melakukan apa-apa sejak tadi, harusnya dia ynag mengatur acara, bukannya Eun Kyo. harusnya Eun Kyo yang ada di posisinya sekarang mengamati.

“Nyonya Park, kau mengambil alih kendaliku.” Ujar Sungmin saat Eun Kyo semakin kalang kabut.

Bangun terlambat membuyarkan semua rencananya. Apalagi tadi malam juga malam yang tidak biasa baginya. Dia terus berusaha mengenyahkan sentuhan Jung Soo yang masih terasa di tubuhnya, tidak munnafik. Meski hatinya berkata tidak, tapi tubuhnya merespon beda akan sentuhan itu.

Berkali-kali dia menggelengkan kepala untuk mengamputasi pikirannya tentang tadi malam. Dia sedikit tidak fokus dan beberapa kali tersandung sesuatu yang dilewatinya.

“Kau baik-baik saja Eun Kyo~ssi?” tanya Sungmin. Sungmin memang tipe lelaki yang perhatian dan peduli terhadap wanita, oleh sebab itu temannya kebanyakan perempuan dibandingkan lelaki. Hal itu juga menguntungkan bisnisnya, yang banyak berinteraksi dengan perempuan berprofesi model meski tidak sedikit lelaki juga ambil bagian dalam profesi itu.

Eun Kyo menggeleng menjawab pertanyaan Sungmin. Dia berbohong, bagaimana mungkin dia baik-baik saja jika yang ada di otaknya sekarang adalah bagaimana Jung Soo mencumbunya tadi malam. Sedikit kasar dan mendominasi, tapi membuatnya tidak bisa berkutik. terasa nikmat, lebih dari biasanya.

“Sebaikanya kau ke depan saja. Mengawasi yang sedang perform, sekalian melihat antusiasme pengunjung.” Sungmin mendorong Eun Kyo untuk keluar dari ruang ganti. Sungmin menemaninya. Saat Sungmin menggandeng Eun Kyo memasuki ruangan utama acara, Siwon dan Hee Rin memandangi mereka dengan bingung. Hanya perlu beberapa hari saja membuat Eun Kyo dan Sungmin terlihat dekat seperti itu. Siwon bahkan Hee Rin tidak menduganya sama sekali.

“Siwon~ssi.” Hee Rin menggapai tangan Siwon dan matanya tidak lepas dari memperhatikan Sungmin dan Eun Kyo.

“Oppa.” Ralat Siwon. Hee Rin segera menolehkan kepalanya.

“Sejak kapan kau berubah seperti ini?” Hee Rin memperhatikan Siwon dari ujung kepala hingga kaki.

“Kau kan ingin dianggap seperti Eun Kyo, dia memanggil suaminya ‘Oppa’, harusnya kau juga memanggiku Oppa. Dan Jung Soo Hyung memanggilnya  dengan sebutan ‘Yeobo’, makanya mulai sekarang aku akan memanggilmu Yeobo.” Ujar Siwon mengejek.

“Kau ini!” Hee Rin mencubit pinggang Siwon. “Ah, sekarang bukan itu masalah, sepertinya aku membuat kesalahan lagi. Kenapa mereka menjadi akrab seperti itu? Jika Jung Soo Oppa melihatnya aku bisa dibunuh.” Ujar Hee Rin bergidik.

“Sudah aku bilang jangan terlalu mencampuri urusan orang lain.” Siwon menarik Hee Rin menjauh, mengajaknya untuk melihat beberapa gaun yang diperagakan oleh beberapa model.

“Aku rasa semuanya terlihat simpel, tapi terkesan kelas atas. Bahan yang digunakannya juga pas dengan modelnya.” Siwon menyentuh beberapa gaun yang diperagakan model.

“Bagus bukan berarti karena modelnya cantik kan?” tanya Hee Rin.

“Wae? Kau cemburu?”

“Ani.” Sahut Hee Rin cepat. Siwon tersenyum senang.

“Kau mau salah satunya?”

“Em… aku rasa aku suka yang berwarna merah.”

Eun Kyo memperhatikan beberapa model yang melenggok diatas karpet merah. Memperhatikannya dengan awas setiap gadis ynag mengenakan baju rancangannya.

“Apa menurutmu ini lumayan?” tanya Eun Kyo pada Sungmin.

“Ini lebih dari sekedar lumayan.” Jawab Sungmin, tangan mereka berdua masih bertaut. Tanpa menyadari siapa yang memperhatikan mereka. Tiba-tiba headset Sungmin berbunyi, ada percakapan di seberang sana.

“Mwo? Sebentar, aku kesana.” Sungmin segera berjalan dengan cepat menuju ruang ganti.

“Wae gurae, Sungmin~ssi?” tanya Eun Kyo sambil mengikuti Sungmin. “Ada masalah?” lanjut Eun Kyo, dia menikuti Sungmin hingga ke belakang.

“Ada 3 model kita yang berhalangan datang, untuk sesi kedua. Tidak mungkin menggunakan mereka lagi, harus bagaimana?” tanya seseorang pada Sungmin. Sungmin terlihat tegang. Selama ini tidak pernah ada masalah seperti ini sebelumnya, dan dia benar-benar bingung dengan hal yang diluar dugaannya.

“Coba telpon beberapa agensi untuk menggantikan mereka yang tidak bisa hadir.”

“Aku tidak akan memberitahumu jika masalahnya bisa aku atasi sendiri.” Jawabnya lagi.

Eun Kyo nampak bingung, tidak terlalu mengerti dengan masalah yang terjadi, karena pikirannya benar-benar tidak fokus. Sungmin mengamati Eun Kyo sejenak.

“Tidak ada pilihan lain, kau, Eun Kyo~ssi. Bisa sekaligus jadi modelnya.”

Sungmin menyeret Eun Kyo dan mendudukkannya di meja rias.

“Kerjakan wajahnya sesuai tema.” Ujar Sungmin. Dia keluar meninggalkan Eun Kyo yang sedang menggerutu, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Sungmin berjalan keluar dan mengawasi orang satu-persatu. Saat dia mendapati Hee Rin dan Siwon berdiri di pojokan, dia segera menghampirinya.

“Aku pinjam istrimu sebentar.” Sungmin merebut Hee Rin dari tangan Siwon. Sesaat Siwon terpana, tapi setelah itu dia mengikuti kemana arah Sungmin membawanya. Dia tidak rela Sungmin membawa Hee Rin begitu saja tanpa persetujuannya. Saat sampai di belakang, dia meminta seseorang mengurus Hee Rin seperti Eun Kyo.

“Mian, model kami sedang berhalangan, dan acara ini tidak akan bisa berjalan lancar jika kami tidak menutupi kekurangan itu.” Jelas Sungmin seadanya pada Siwon. Meski sedikit tidak rela, tapi Siwon lebih banyak penasaran daripada tidak rela. Dia menungggu aksi dadakan Hee Rin dalam memperagakan gaunnya.

Beberapa menit berlalu, akhirnya giliran Hee Rin dan Eun Kyo tiba untuk keluar. Dada mereka berdegup kencang. Meski senang berpenampilan menarik, tapi Hee Rin tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang model dan berjalan diatas catwalk, meski bukan catwalk sungguhan, setidaknya karpet merah itu tidak terlalu formal, dan itu warna kesukaannya, sedikit membuatnya lebih tenang.

Berbeda halnya dengan Eun Kyo. dia sama sekali tidak suka dengan ini. Tapi mau apa lagi? Ketimbang acara yang sudah dipersiapkannya dengan matang hancur begitu saja, dia lebih memilih memakai heels yang sangat dibencinya.

Hee Rin dan Eun Kyo berjalan bersamaan, hingga akhirnya mereka berpisah di persimpangan. Sebelum melangkah Hee Rin sempat berbisik pada Eun Kyo.

“Onnie, bagaimana ini?” tanya Hee Rin.

“Mana aku tau? Kau bertanya padaku!” jawab Eun Kyo.

“Jangan jauh-jauh dariku, Onnie.”

Mereka akhirnya berpisah, tapi Hee Rin tidak mau berlama-lama di sudur kiri, dia berjalan menghampiri Eun Kyo dan melangkah bersama. Langkah mereka sudah mulai santai dan terkendala, jug alami, sesekali mereka saling melempar senyum sehingga terlihat seperti dua orang sahabat. Para penontonpun terkesima, Eun Kyo dan Hee Rin benar-benar menonjol dengan sikap alami mereka yang tidak pernah melenggak menjadi model. Sorotan kamera lebih banyak ditujukan pada mereka.

Satu jam kemduian setelah aksi Eun Kyo dan Hee Rin berakhir, mereka bersantai sejenak di restoran hotel. Eun Kyo terlihat puas, terlebih lagi Hee Rin, acara mereka sangat sukses. Beberapa wartawan sudah membuat janji pada Eun Kyo yag tertarik dengan sosok Eun Kyo. Dia sangat senang melihat Eun Kyo tersenyum.

“Sayang, Jung Soo Oppa tidak ada. Tapi setidaknya dia bisa melihatnya di televisi.” Ujar Hee Rin. Eun Kyo tidak menjawab, baginya lebih baik memang Jung Soo tidak ada agat tidak memporak porandakan perasaannya. Saat mereka menikmati makanan mereka, tiba-tiba saja ponsel Eun Kyo berdering. Dia mengangkatnya.

“Yeoboseyo?” jawab Eun Kyo.

Wajah Eun Kyo terlihat tegang dan membeku menerima telepon itu. Airmatanya keluar tanpa bisa dia tahan, Hee Rin dan Siwon terlihat bingung.

“Wae gurae, Onnie?” tanya Hee Rin khawatir. Eun Kyo bangkit dan berlari tanpa menjawab. Saat tiba di depan hotel, dia segera melambai pada taksi.

“Seoul Hospital, palli!” teriak Eun Kyo disela tangisnya. Dia mengambil ponsel dan menghubungi Jung Soo.

“Oppa, hiks!” Eun Kyo terbata. “Oppa, ke Seoul Hospital segera. Ryu Jin kecelakaan.” Ujaranya akhirnya setelah beberapa detik menangis membuat Jung Soo khawatir.

“Hyun Ah, Hyun Ah menelponku, dia bilang mereka sedang dalam ambulance menuju rumah sakit.” Sambung Eun Kyo, lalu menutup ponselnya. Tidak sanggup lagi untuk bercerita.

Eun Kyo berlari dengan cepat menuju ruangan gawat darurat. Sesampainya disana, Jung Soo dan Hyun Ah sudah disana menenangkan Ryu Jin ynag menangis kesakitan. Eun Kyo tidak kuasa lagi berpijak, langkahnya gontai seketika, dan Jung Soo segera memapahnya. Eun Kyo menghalau Jung Soo yang mencoba membantunya berjalan.

“EOMMA….!!!” teriak Ryu Jin kesakitan. Dahinya robek dan mengeluarkan darah segar. Eun Kyo benci darah, tubuhnya lemas melihat Ryu Jin dalam keadaan seperti itu. Ryu Jin terus menangis mengeluh sakit, tangannya menggapai Eun Kyo. Eun Kyo tidak kalah menyakitkan dari Ryu Jin. Seketika tubuhnya merasakan sakit yang amat sangat melihat tubuh kecil Ryu Jin penuh luka lecet.

“Dia, dia melihatmu di layar LED yang menampilkanmu Ahjumma, kau masuk TV, dia berlari untuk melihatmu lebih dekat, dan aku, aku terlambat untukmencegahnya.” Hyun Ah menangis dan Jung Soo menenangkannya. Eun Kyo sama sekali tidak mendengarkan penjelasan Hyun Ah. Dia terus memandangi Ryu Jin ynag mengaduh kesakitan.

Ryu Jin sulit ditangani karena sejak tadi dia terus meronta meminta Eun Kyo. saat Eun Kyo ada disana, Ryu Jin sudah mulai bisa dikendalikan, dan beberapa perawat bisa menanganinya.

“Ryu Jin~a, Eomma disini..” ujar Eun Kyo bergetar disela tangisnya. Dia menggenggam tangan kecil Ryu Jin.

“Sayang, kita bersihkan lukanya sebentar, tidak akan sakit.” Ujar seorang perawat mendekati Ryu Jin. Ryu Jin tidak meronta seperti tadi. Yang dia lakukan hanya mengeluh sakit pada Eun Kyo. Eun Kyo bergeser memberi ruang untuk beberapa perawat agar lebih leluasa.

Saat dijahit, Ryu Jin berteriak sakit. “Oppa, apa mereka tidak memberi anastesi? Eoh? Dia masih kecil, dia masih kecil…” Eun Kyo tidak bisa utuk tidak mengomentari apa yang dilakukan beberapa orang terhadap anaknya. Ryu Jin berteriak pilu.

“Mereka sudah memberinya sejak tadi, tapi anak kecil terkadang ketakutan berlebihan.” Jung Soo memeluk Eun Kyo yang semakin lemas melihat Ryu Jin.

“Bagaimana mungkin?” Eun Kyo lunglai terduduk di lantai dan Jung Soo membawanya duduk diatas kursi. “Dia masih kecil tidak bisa menahan sakit.” Eun Kyo menghentakkan kakinya seolah merasakan sakit itu. “Kenapa tidak aku saja! Kenapa tidak aku saja!” dia memukul-mukul tubuh Jung Soo. Dan Jung Soo tidak menghalanginya. Dia sangat paham dengan keadaan ini.

“Ahjumma, mianhada…” ujar Hyun Ah terisak. Eun Kyo tidak mendengarkannya. Hingga Ryu Jin selesai dikerjakan, Eun Kyo masih lemas.

Ryu Jin sudah berada di ruangan, dan tertidur karena efek obat. Jung Soo bisa bernafas lega. Eun Kyo jga tertidur di atas sofa. Mereka mengambil ruangan VVIP untuk Ryu Jin. Hyun Ah masih mematung merasa bersalah.

“Ahjussi, mianhada.” Hyun Ah terus mengatakan itu. Jung Soo tersadar dia mengacuhkan Hyun Ah dari tadi.

“Gwaenchana Hyuna~ya.” Dia sentuhnya ujung kepala Hyun Ah, untuk sedikit melepaskannya dari rasa besalah.

“Tapi Ryu Jin..” dia memandangi Ryu Jin yag tertidur pulas. Tapi dalam tidurnya, dia bisa memanggil Eun Kyo.

“Dia sudah melewatinya, kau tenang saja.” Jung Soo mendekati Ryu Jin dan memegang tangannya. Menciumnya dan sebutir airmata keluar lagi dari pelupuk matanya.

“Ryu Jin~a..”

Tidak jauh berbeda dengan Ryu Jin, Eun Kyo pun dalam tidurnya masih bisa memanggil Ryu Jin. Jung Soo menoleh pada Eun Kyo, menatapnya iba. Eun Kyo terlihat menggigil dan Jung Soo segera berlari menghampiri Eun Kyo. menyentuh dahinya dan sepertinya Eun Kyo demam.

“Hyuna~ya, tolong panggilkan Dokter.” Ujarnya pada Hyun Ah, gadis itu segera berlari dan memanggil dokter.

***

“Kau sepertinya harus ekstra lebih hati-hati menjaga mereka berdua.” Ujar Dokter Lee. Eun Kyo sempat tak sadarkan diri karena demam tinggi dia terus meracau dalam kondisi tidak sadarnya. “Tapi mereka sudah terkendali.” Lanjut Doker Lee sambil meninggalkan ruangan itu.

Jung Soo menunggui mereka hinga menjelang fajar. Tidak tertidur sama sekali. Eun Kyo tiba-tiba membuka matanya dan memanggil Ryu Jin.

“Ryu Jin~a..” dia menoleh pada Ryu Jin. Jung Soo segera menghampirinya.

“Bagaimana keadaannya, Oppa?” Eun Kyo mencoba bangkit tapi Jung Soo melarangnya. Dia tidak terima Jung Soo menahannya.

“Oppa, aku bisa kehilanganmu, tapi tidak untuk Ryu Jin.” Tangannya memukul Jung Soo tanpa tenaga.

“Kau mengkhihanatiku.”

TBC

Note : aduh, akhirnya ff ini slesai juga… entah sampai kapan ini END, aku belum bisa menentukan, karena ini jauh berbeda dari bayangan aku. Udah sebulan lebih yah aku g update ini? Mian yah… aku benar-benar diserang virus malas inih… maaf juga hasilnya tidak memuaskan, dan ini, apa ini? Sama sekali kaga ada feelnya, emosinya benar-benar porak poranda… tapi sedikit mendekati akhir lebih ngefeel gara-gara liat aksi Oppadeul jadi James Bond! Kyaaaaaaaaaaa cakep banget! Awalnya aku memasukkan Hyukjae disini sebagai EO itu, tapi berubah jadi Sungmin, karena liat umin unyu banget…

Untuk Putri, mian Heewon jadi begini, aku tidka bisa menggambarkan Siwon… putus asa dengan karakternya, bingung orang perfect itu mau diapain…

Ok lah, tidak berpanjang kata. Part berikutnya juga aku g janji bakalan cepat… aku sudah mulai males banget menulis, entah kenapa. Bukan karena sebab sebenarnya, tapi  musabab itu hanya aku yang boleh tau… maaf diksinya juga amburadul sumpah acak-acakan, alurnya kemana-mana… hufh, ini mungkin part paling mengecewakan *Fika lebay berlebihan*

Terima kasih yang udah komen…

112 responses »

  1. Eonniiiiiiiiiiiiiiii…aku udh selese baca hehehe.. .
    Ecieeee…smuanya udh mulai berkmbng *?* lgii kkeke…
    Heewon Teukyo❤ akuuuu sukkaaaaaa… Apalagi ps bgian bang kuda ngegodain puueonn..eh salaahh heerin trus hihihi
    Eunkyo udh mulai inget sdikit" huaaa alhamdulillah yah😀
    Daaaannn abang umiiiiiiinnnn lo eksis lg bang hehehe

    Aku jg lg mnggila hbs nnton perform oppadeul jd tmn.y saras 008 *?* /abaikan/ hahaha
    Eonniiiiii…aku setiaaaa dehhh nungguin omelet post lgiii uyeee…bye bye :*🙂

    • wow! baca tengah malam nara??
      tapi ini part paling bingung tau… paling aneh nar…
      cocok g si siwon penggoda gitu? aku jadi kebayang teuki oppa…
      bang umin emang bener dah di SPY… aku melongo…

  2. eoniiieeeeee ga mau tau cepetan endingnya haha,kalo bs bikin side story-nya heewon dongg,aku malah lebih tertareik sm mereka hehe soalnya disitu lebvih keliatan feelnya sih
    hee rin dibuat hamil aja lah biar gmn gitu :))))

  3. onnie, akhirnya update jg~~
    kenapa ada sungmin, pengganggukah jg dia disini?? yaampun, jangan~~~
    itu kenapa itu?? Bangun bangun, eunkyo langsung marah2? sudah ingatkah dia??
    Makin kasian aja teuki -__-
    Onn, scene siwon-heerinnya kedikitan, banyakin lagi dong, hehehe
    Cepet update ya, onn, jgn kelamaan lg ^^v ditunggu lho🙂

    • engga… umin cm cameo dong.. entar jug ailang sendiri kaya Key… hehehehehehehehehe
      aye sedikit males sekarang nulisnya… hohohohohohohohoho
      jadi mungkin bulan depan lagi bakalan publish…

  4. uniyaaaaa…
    setelah lama menunggu.akhirnya ff ini keluar. aj bingung mau komen apa..
    suka ama heewon yg ud lbh prhtian satu sma lain..hahhaha
    jungsoo jhat noh.. mbcumbu dgb ksr.ck
    it beneran ud inget y? aaaaagh parah.. mana blm smpet liatin it video..

    btw..ak tereak2 pas tau ada sungmin. ahm.senangnya sungmin ad dsini.. :*

  5. Sempat lupa ama part 7 akhirnya , jadi mulai bingung baca yg part 8 ini . Penasaran nih unn sama hae rin dan jungsoo kalo tau eunkyo udah bisa ngingat . Apa mungkin eunkyo makin marah yah krna mereka gak mau jujur atas perbuatan yg udah mereka laluin . Pokoknya penasaran sekali lah . The celebrity nya ditunggu .

  6. onnieeee…
    kasian ryujin..
    hiks..
    cepet baikan donk..
    ga tahan aku teukyo berantem terus..

    jungsoo babo..
    ga mau nyeritain semua secara jelas.
    hugh…
    cpt sembuh amnesianya eunkyo..
    biar cpt kelar masalahnya..

  7. Huaa eonnie , ada apa dgn mu ? Knp jd sperti ini ? Wkwkwk ,
    kayanya bkalan panjang bgt ni eon😀 ,
    Aku suka sama alurnya, bgus bgt !
    Next chapter pokonya ga boleh lama2 d publish ya eon😀
    fightinggg \o/” ,

    • molla, kenapa aku jadi seperti ini? tanyakan pada rumput yang bergoyang, hahahahahahaha.
      alurnya bagus? *darimananya? orang ini part paling ancur lebur*

      engga, part berikutnya bakalan lama, jadi g bisa janji…

  8. akhirnya update juga part 8nye, setelah ditunggu tunggu😀
    noh ntu kenapa eunkyo, kok tiba2 jadi bahas ‘keu menghianatiku” lagi, huwaaa gak mau ayooo eonni bikin mereka bersatu lagi.
    kenapa tiba2 saia jadi suka sama pasangan Heewon.

    ditunggu kelanjutannya unni ^^

  9. Ciiaaattt ciiaatt!!
    Bahasa yg eonni pke makin asik aja nih wat d’bca!!

    Aahhh HeeWon couple makin sweet aja sih, suka deh sm mreka!!
    Oppa?! Yeobo?! Kkkkk~ mreka pengen menirumu eonni!!
    Heerin d’buat hamil aja eonn, biar Ryu Jin ad tmn’a!!

    Haayyoo Kyo eonni d’apain tuh smlm sm si oppa?! Smpe k’bayang2 gitu…
    Sedikit kasar?? Terasa nikmat?? Lebih dari biasanya?!
    Gyahahahahaha

    Caahh akang umin nyempil d’sini, *biasa’a kan bang onge* tp kira” peran’a bakal brlanjut kga tuh, eonn?!

    Kyaaaaa Ryu kecelakaan?!
    Aigoooo cepet smbuh ych sayang!! *peluk Ryu*
    Roman2’a ingtan Eun Kyo eonni dh balik tuh, gegara demam!!
    CK! Semoga saja bner, pngen cepet liat mreka bahagia eonn!!

    • emang ada adegan silat yah?
      ah kamu, biasa aja… solany akemaren leppi aku rusak, wifinya g konek, jd kepikiran mikirin kata-kata yang berhubungan dengan itu… memory leppiku corrupt… sempet ngehang…

      diapain yah kira2? ayolaj kamu pasti paham…

      gantian dong… ntar nyempil satu2, cuman heecul sm wookie aja yag belum pernah nyempil… yesung, kyu, shindong, onge, kunyuk, siwon, mbum umin, udah pernah kan?

  10. DAEBAK…
    wah senangnya bs bc part ni pagi2 pula dpt sms, emangx mimpi apaan fika kok masih pagi udah publish ktmu jungsoo ya…
    he…he…he…

    aduh jungsoo salah ngmg lagi kan akibatnya skrg eunkyo malah menjauh knp g dputar aja tu rekaman biar mslahnya clear…ckckck…

    heewon makin mesra smg aja cpt punya baby…ayo lanjut next part jgn lama2…

  11. akhirnya slse bca jg stlh banyak aral n rintangan melanda saat asik baca, *plak

    itu pas awalnya aq agak kurang fokus yah, tar aq bca ulang lg dueh,
    trus eonniiiiiiiiiiiiiii, aq g’ ska panggil siwon dgn sbutan oppa, agak gmna geto yah, lidahQ kurang bersahabat klo manggil siwon dgn sebutan oppa,hihihihi

    omo ryu kecelakaan, aigo, ryu-ah, cpt sembuh ya, tar imo ma samchon blikan robot thom yg baru, yakshok,,

    hayoooooo itu eunkyo ingatannya dah balik kyknya, hee rin waspada, gunung mw meletus *djitak fika eonni,hahahaha

    • asik banget tuh banyak rintangan… jadi lebih berasa…
      kan lebih tuaan siwon beberapa bulan, buahahahahahaha

      ryu jin keserempet… dikit aja… cuman terpentalnya jauh… hehehehehe

      kamu mesti hati2, karena aku lagi mikirin gimana caranya balas dendam!!!

      thomnya habis batere… tiap ari diajakin main ya iyalah cepet abis….

      • tetep ja aneh geto manggil dy oppa, g’ pas dlidah,hehehe

        keserempet ja teriaknya kyk geto yah eon, pa lg smpe nabrak, meraung kali dy, ryu lebay ih,*dpelototin eonni
        tp tenang ajah, imo ma samchon tetap bkal bliin ryu robot thom yg baru, jd jangan rewel,

        iya tuwh eonni, td lg dgangguin ma keponakan, tumben”nya itu anak mw maen ma aq, biasanya jg ska lari klo liat aq begerak dkit ajah ==”

      • ya kan itu cm amunya siwon…

        ehem, tapi sakit put… ah, anak kecil lagi, harus dijait coba dahinya jadi harry potter deh anakku…
        yak! enak aja bilangin anak aku lebay… orang ada ank kecil yg belum dpegang aja baru juga liatperawat udah meraung2… *pengalaman ngeliat pasien meraung2 aku sampe melongo sendiri.*

        cuciin gulingnya aja, masalah thom itu biar oppa yang ganti batere…

      • cuciin guling lusuh itu,? aigo, dah kbayang gmna parahnya itu guling, butuh brp bungkus sabun n pengharum itu buat bersihin n wangiin itu guling, blm lg perang ma yg punya, pengalaman aq eonni, adk aq geto soalnya, punya bntal susu yg ya ampun itu wrna ma baunya dah kagak karuan, ibu smpe puyeng ngerayu dy biar itu bntal mw dganti, smpe skrg dah mw jd sarjana dy g’ bsa lepas dr bntal susu 3 wrna itu, ckckck

  12. bagaimana ini, bagaimana ini,, ini trlihat seru oennie,wah~aku memang ga salah milh bca ff oenn yg prtama dblog ini,aku suka bgd dgn amourtte,
    ok,ini benar2 mendebarkn ktk adegan Ming dan Eunkyo dkt pas event itu,apa Jungsoo oppa kah yg melihat mrk dr jauh?
    trus,dy blg eunkyo brkhitat?omg~huft~bener2 ngaduk2 prasaan nh,dtunggu next chap.ini partny gantung bgd,kekeke

    • ya engga begimane begimane… negini doang mel…
      amourette tp bikin greget yah? mian menguras emosi yyah? entar g bakal bikin beginian lagi…
      bukan, bukan jung soo ko… ayo tebak siapa?? heheheheheheh

      next chap bulan depan yah…

  13. eon… konfliknya udahan dong,, kasian oppa T,T
    feelnya buat pov oppa kerasa banget. kayak aku yang ngalamin ndiri(?)
    terus buat heewon yang lebih romantis dooong.. ^^

    emm… selanjutnya ditunggu loh eon:) aku harap sih cepetan end biar oppa gak kelamaan disiksa ama eon*diinjek* hehe V

  14. Itu endingx td Kyo yg blng kn?
    berarti dy dh inget dunk?
    aish,onnie ne mang sll sukses bkin reader penasaran!
    itu np pemaksaan yg dlakukan Jungso dskip onn?hahaha*yadongkumat
    kalo q np y pas HeeWon g dpt feelx?
    *mian
    mungkin cz q mang lbh fokus TeuKyox onn!
    Yasud,dtnggu kelanjutanx y onn!
    mdh2n mood bwt nulisx blik lg!hehe
    Gomawo n Hwaitin!^^

  15. Eun Kyo Oenni, apa maksudnya itu??? kau bs kehilangan suamimu tapi tidak anakmu eo????? apa kau sadar saat mengatakannya. kau kira mudah menjadi suamimu hiks… hiks… hiks… selalu kau acuhkan,,,, ani maksudku selalu berusaha kau acuhkan.

    Yak!!!! Vikos Oenni,,,,, kau harus bertanggung jawab karena telah membuatku menangis.

    Eun Kyo Oenni, kau bena2 keterlauan tapi, mengenyampinkan sikap acuhmu…. ternyata otakmu tidak bda jauh dengan jungso oppa. YADONG…. ckckck,,, apa2 itu,,,, mengingat sentuhannya saat bercumbu padahal sedang bekerja…..,,,, tapi q bs sedikit tenang,,,, krn Oppa sudah punya kaset rekaman itu yahhhh mskipun bukan yg asli. dan ntuk siwon Oppa,,,,,, q suka sikapmu yg mulai seperti jung soo oppa. sedikit protektif tapi ttap terihat keren^^ FITHING Oppa!!!

    • eum, aku bisa kehilangan teuk, tapi tidak untuk ryu jin, aku tidak berbohong sama sekali.
      jika harus memilih, aku lebih memilih ryu jin, dan jika harus berpisah, ryu jin sdh tau harus ikut siapa…
      lah? ko nangis? orang ini feelnya datar2 aja…
      apanya yang keterlaluan? kekekekekekeke

      siwon mulai berubah yadong karena udah pernah ngerasain…
      nyesel kan loe won knapa kaga dari dulu…

      • Panya yg datar2 saja???eo???? sesak rasanya memposisikan diri sbg Jung soo Oppa, mskipun kita sama2 wanita, tapi ketika mslh sdg bicara hruznya kita memandang dari sgala sudut pandang. yg membuat q menangis dlh perasaan jung soo oppa. perasaannya bener2 campur aduk, menyesal, sedih dsb… berbaur jd satu. seandanya q ada diposisi jung soo oppa mungkin q tdk hanya akn menags bebrpa hari,,, tapi berbulan2 agar kau percaya kalau q bener2 mencintaimu * Hoeksss*. Oppa,,, tenang ja,,, akn sellu da q yg bersedia mjd sandaranmu *lirik Kyuhyun*

        hehehe^^ piss… ditunggu next parnya ne Oenni….^^

  16. kasian jungso oppa gak tenang trus, sabar ya oppa..
    omo, ryujin kecelakaan! ryujin cepet sembuh ya.. sini onni obatin..hehehe
    oppa, aku bisa kehilanganmu, tapi tidak untuk ryujin.. oh no…
    ending’a bikin penasaran akut!…

  17. ckckckckckckck eonnieya, kau pura2 acuh padahal butuh… aigooo gengsimu itu #plaaaaaaaaaaaak
    ehehehehehe apa mksdnya itu “kau menghianatiku” apa eunkyo udh ingat smuanya?? *pnasaran*

  18. Eonni.. Akhirnya omelet keluar juga yaaa,
    Aku sebel bgt pas si jin couple keluar lagi..
    Grrrr

    Itu si dedek ryu kenapa muncul dulu pas si oppa mau ngunjukin rekamannya,kan jadinya msh salah paham😦 *jitak ryu* hahahaahahah

    Aaahhh aku suka bgt heewon couple,si abang kuda bisa bgt deh ah godain heerinie nya,pengeeen bgt digodain kek bang kuda gitu,hahaahahahAaahhh aku suka bgt heewon couple,si abang kuda bisa bgt deh ah godain heerinie nya,pengeeen bgt digodain kek bang kuda gitu,hahaahahahAaahhh aku

  19. Eonni.. Akhirnya omelet keluar juga yaaa,
    Aku sebel bgt pas si jin couple keluar lagi..
    Grrrr

    Itu si dedek ryu kenapa muncul dulu pas si oppa mau ngunjukin rekamannya,kan jadinya msh salah paham😦 *jitak ryu* hahahaahahah

    Aaahhh aku suka bgt heewon couple,si abang kuda bisa bgt deh ah godain heerinie nya,pengeeen bgt digodain kek bang kuda gitu,hahaahahaha

    Semoga part depan udh ada kabar gembira ya eon,ntah ingatannya eunkyo,ataupun heewon couple “make ryu jin gonna be” nya suksess hahaahahahaha

  20. Wahhhhh akhirnya AMourette innii munculll juga❤❤❤

    Wahhh kerennn Galery Eun Kyo dan Heerin dan mreka juga jadi modelll

    SAyang seKali gaK da Picturenya T__T

    IYa nichhh,,,, knpa Ryu Jin muncul pas rekaman mw ditunjukinnn??????????

    disini Jung So Oppa nya Galauuu truz,,,hehehe

    Wahhh keren HeeWon couple,,,, tak ku sangka si Alim siwon bisa mnggoda seperti itu…

    Eon,,,, semangat ya wt Part selanjutnya…. Ada apa lagi ya??????

  21. aaaaaa eoni aku yg gregetan tw! Hadoh ya mw bru2 eunkyo nya inget… Trus bru dah mulai dijelasin smuanya ampe tuntas..

    Aku tuh geregetan jg ama double jin ntu… Pngen diacak2…wkwk

    Yah nambah dah saingan ajushi mana sungmin lg… Hadoh…

    Aaaaa keponakan kenapaaaaa? Aduuuh tahan ya ryu syang…
    Aigoo
    Lanjuuut eon seruuu

  22. jd dgn kata lain, eun kyo udh ingt smw.a#tnjk part bwah
    dan nampak.a hati.a ms terluka coz bs ngmng sgt tajem.a k teuki T.T

    yang sbar aja dh bwt teuki oppa, mg smw.a bs kmbl ke sedia kala, aku kangen nuansa rmntis mrk…

    bwt pasangan siwon, mkn sweet aja🙂

  23. Assalamualaikum, EONIIIIIIIIIIIIIIIIIII*CAPSLOCKJEBOL
    Heheheh, aah gila, berapa lama saya ngga komeng disini ya, berasa setaun/tsaaaaah.
    Pertama ke blog ini, langsung batin(astaga! Jangan tergoda ffnya nara, jangan tergoda!) pokoknya saya mau nunggu sampe tamat dulu. Hahahaha, sekalian neror nara *lirik nara, hahahha.
    Eeh ko jadi bahas ff nara sih, oke back to amuret.
    Ya Allah….saya kangen ff iniiiiiiiiiiiih…….
    Ah, eonni, pas awal saya baca pemikiran Eun Kyo tentang ucapan Kim Jin, saya seneeeeng banget. Karna respon Eun Kyo jauh dari perkiraan saya. Saya pikir Eun Kyo bakalan langsung ngamuk ke Jungsoo. Alhamdulillah ya engga.
    Teruuuus selalu suka liat moment Ryu-Soo, aah eonni membangkitkan jiwa ingin punya anakku(?). huwaaaaa.
    Terus apalagi yah, iya deng Heewon, haahaha seneng banget ane kalo abang kuda godain Heerin, eciyeeee, hahahaha. Dan siapa bilang Eonni Cuma bisa bikin TeuKyo? Itu Heewon juga berhasil bikin saya cengar cengir. Hahahaha.
    Apalagi ya? Udah ah,oh iya deng, typonya Eonni, hahahaha parah –V. Saya tahu typo itu khas Eonni, tapi yang yang ini lebih parah ketimbang yang lain. Hehehe.
    Dan soal SPY, kau paling tahu perasaanku Eon, Tsaaaaah
    Si Aye(Abang Yesung) sukses membuat saya senyum senyum gaje dari backstage sampe perform, hahahaha
    Aih, makin cinta sama Aye,uwowowowowow
    Oke, ini ngga panjang kan? Soalnya sya lupa lagi mau nulis apa, jadi cukup sekian dan terimakasih.
    -Salam sayang rindu cinta dari istri Yesung-

    • kangen? nadooooo
      hehehehehehehe
      kamu pasti penasaran banget met part akhirnya kan? hihihihihi
      tu kan tu kan, jangan ngelantur deh. hahahahahaha dari kemaren omongannya pengen nikah, ppengen kawin…
      aduh met, aku g bisa balas panjang2 soalnya ini banyak rapelan balasan komen…

  24. Aduh eonni jgn lama2 part selanjutnya, jangan ikut amnesia dong..
    Aq suka banget ceritanya..
    Teukyo maupun haewon aq suka n penasaran sama ceritanya..
    Kereeen eonni

  25. Huaaa si eunkyo jutek bgt deh,, hahaha liat teuki menderita agak kasian juga,, tapi waktu liat ada kata selingkuh,, jadi sebel lagi hihihi,,

    Ryu jin tingkahnya makin imut deh,, eh kamu jadi anak noona aja ya,, daripada dimarahin terus sama ajumma, mending sama noona, nanti noona beliin ice cream,, *dijitak jumma*

    haha tambah ming jadi pemain, jumma sungmin terlalu imut untuk dirimu,, aku jadi agak bingung sebernya yg selingkuh jumma apa ajussi??

    Hihihi, , kayanya aku lagi pendiem nie, jadinya ga banyak komen,, ditunggu karya slanjutnya jumma *culik Ryu jin*

  26. aq jd suka ma couple heewon..unyu2 gtu..hhe
    onnie kpn dirimu ingat lagi sama oppa..jangan lama2 amnesia’y..kasian ma readermu ini..*lohh

  27. uwaa,,, uri ryu jin…
    kenapa bisa kecelakaan,,
    kamu g apa2 kan sayang,,
    sini noona peluk..*sambilkecupryujin*

    haha,,,eun kyo ni pura2 g mau tapi mau(?),,,,,
    btw, ampe kapan ni eun kyo amnesia oen,,kan kasian tuh ryu jin ama soo oppa nya dilupain terus..???

  28. Makin seru nii,, tambah bikin penasaran ma kelanjutan.. Fika,, eun kyonya jngn d bikin ngambek terus ma teukppa donk.. Fika, jngn males nulis donk.. Karya km bnyak yg nunggu tw. ^^. D tunggu deh kelanjutannya.. Fika hwaiting..

  29. huaaaaaaaaaaaaaaaa itu tbc nya bkin dag dig dug eunkyo udah inget semua kah ?

    tetep ga ngebosenin ko’ eon meskipun agak panjang , hahahaha cameonya abang umin berasa envy ma eunkyo slalu di kelilingi cwo” kece’ ( jungsoo oppa sbar ya )

    eoooonnnnnnn kalo bisa part endingnya jangan lama” kalo di bkin konflik lagi , lagi & lagi jadi kurang fellnya tapi” tetep bkin excited eonn

    • inegt g yah??
      aku masih bingung mau ngelanjutinnya gimana… hihihihihihi
      envy sama aku? kan biar seru…

      aku masih bingung… jadi tunggu aja penyelesaiannnya gimana, kalo tiba2 di tamatin juga aneh, tar ada yang bilang alur kecepetan lagi… jadi masih dipikirin lagi.

  30. Amourette….

    Satu kata buat FF ini Eon..

    KEREN!

    SUMPAH PART INI KEREN!
    Alhamdulillah HeeWon couple udah ada kemjuan haha
    Eonni jgn TBC tiba-tiba dong, padahal itu lagi tegangnya2 nya, EunKyo Eonni jangan tinggalin Teuk Oppa😥 Omo jangan2 Eun Kyo udh pulih ingatannya?!! Omo! Omo! Penasaran!!! ><

  31. selalu..
    selalu suka karya onnie😀
    entah mw komen apa..kyk nnton film dah beneer..
    tiap kata bisa ngebayangin kyak gmna situasina..
    lanjut onnie part berikutnya..
    q tunggu..^^

  32. Yaaak warna kesukaan heerin hitam dan merah??? Samaaaaaa dong dg ane…

    Aigo… Ryujin kecelakaan,, tambahlah kerepotan jung soo,,, oh apa yg dikatakan eunkyo? “kau menghianatiku?” apa ini petanda dia sudah ingat?

  33. anyyong onniee,,,,,,,,,,,,,,,,,qhu reader baru nie,,,, aqhu cma pengen tau ajha soal ending nya…. soalnya gantung bnget kata2 eun kyo thu “kau menghiaanati ku” maksud x apa ??? apa eun kyo dah ingat semua x onnie…………………………………

  34. eun kyo sikap y udah mulai beda nih udah agak ngak peduli n ngak mesra2 an kyk biasa y,,,, pa lg dia ngucapin kata2 ‘kau mengkhianatiku’ pa eun kyo y uah mulai terpengaruh sama kata2 kim jin n juga ngerasa org disekeliling y nyembunyiin sesuatu n kyk hae rin yg cob deketin dia padahal eun kyo tau y mereka temen jungsoo????
    eun kyo y mau akhirin semua y gmn nanti nasib jungsoo nih,,,, eun kyo kyk y sekarang bakal cuma peduli ma Ryu jin ja….
    knp sikap eun kyo berubah pa dia udah inget semua y???

  35. Onnie next part dong,,pnasaran nih
    Ayolah onn,,hehehehe
    Pkokny ini daebak,,
    Itu pas eunkyony sadar apa dy udh inget ya??
    kok dy blg,,oppa kau mnghianatiku,,nah abis tu TBC….
    Ya sudhlahh,,ak tnggu onn next partny…
    Hwaiting onnie….

  36. wah ada cast baru nih..
    si imut imut sungmin oppa..
    q berharap dgn ryu jin kecelakaan membuat mreka lebih deket, tpi kya’a gx deh..
    kya’a eun kyo udah mulai inget semua’a,

    oenni cepet donk part 9’a udh lebih dri 1,5 thun gx d’publish..
    LTD juga sma..
    cepet d’publish y oenn mreka b’2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s