MLT Little Story : Our Weekend

Standar

MLT little story

Only look at me.
I only want you to stay pure forever.
I want this with my whole heart, this is my faith in you,
Don’t leave me ’til the day you die.

Pagi ini terlihat lengang di kediaman keluarga kecil Jung Soo. Sinar matahari merengsak masuk melalui celah jendela. Tak ada aktifitas berarti, hanya ada suara ocehan televisi yang membacakan berita hangat. Selain itu tak ada yang terlalu bergerak. Jung Soo masih meringkuk di atas tempat tidurnya. Menarik selimutnya lebih lebih keatas dan menenggelamkan tubuhnya dalam dekapan hangat Eun Kyo. Dalam hitungan detik, dia bisa merasakan aroma tubuh Eun Kyo yang sangat khas di indera penciumannya. Mulutnya menyunggingkan senyum, ketika menyadari Eun Kyo masih tertidur disampingnya. Wanita itu memang selalu bangun lebih siang daripada Jung Soo. Karena pekerjaannya malamnya lebih banyak ketimbang lelaki itu.

“Oppa, jam berapa?”

Suara serak Eun Kyo terdengar di telinga Jung Soo. Sejenak Jung Soo enggan untuk menjawabnya, karena dia tau jika Eun Kyo mendapatkan jawabn itu dia akan segera bangkit dan meninggalkannya.

“Oppa..”

Rengek Eun Kyo lagi. Jika sudah begitu, Jung Soo tidak bisa lagi untuk menghindar menjawab. Dia membuka matanya perlahan. Memandagi wajah Eun Kyo sejenak sebelum menolehkan matanya kearah sebuah jam kecil diatas meja di tepi tempat tidur mereka.

“Jam 7.”

Jung Soo berbisik di telinga Eun Kyo, membuatnya menggeliat menggidikkan bahunya dan menarik kakinya dari belitan kaki Jung Soo.

“Aku harus bangun, sudah saatnya Yong Jin untuk makan bubur.”

Eun Kyo menyahut tapi tak berniat untuk beranjak. Ucapannya hanya seperti sebuah perkataan tak berarti, yang hanya lewat bak angin tak berbekas. Terbukti dia masih betah melingkarkan tangannya di dada Jung Soo. Lelaki itu lagi-lagi tersenyum. Dia dalam kesadaran penuh, namun kini tertular virus malas dari Eun Kyo. Jika Eun Kyo menjadikan ‘lelah’ sebagai alasan, beda halnya dengan lelaki itu, dia menjadikan ‘nyaman’ sebagai dalihnya beranjak dari tempat tidur.

“Tapi mereka berdua masih tidur.” Ujar Jung Soo sambil melirik Yong Jin di box bayinya dan Ryu Jin di tempat tidurnya sendiri.

Eun Kyo menggumam, seperti memprotes perkataan Jung Soo namun tidak terdengar. Dia menghela nafasnya, mencoba mengangkat tangannya dari dada suaminya, tapi rasa begitu sulit. Matanya masih terpejam, dan Jung Soo juga tidak melepaskan dekapannya.

“Oppa! Onnie, ireona!”

Suara gedoran pintu kamar membuat mereka berempat tersentak. Eun Kyo seketika membuka matanya, sedang Jung Soo dengan refleks langsung mengalihkan pandangannya dari wajah Eun Kyo kearah pintu. Ryu Jin langsung terduduk dan mengucek matanya, lalu Yong Jin, terdengar isakan pendek darinya, ingin menangis, refleksi dari keterkejutan. Menyadari hal itu, Eun Kyo langsung bangkit dan melepaskan tangan Jung Soo dan turun dari tempat tidur melangkahi suaminya menuju box bayi Yong Jin yang hampir tidak bisa lagi menampung bayi bulat itu.

“Sssttt.. Uljima Ryu Jin~a, Eomma yeogie.. eoh?”

Eun Kyo menepuk pelan bokong Ryu Jin lalu mengangkatnya. Ryu Jin tidak jadi menangis. Dia memperhatikan wajah Eun Kyo dengan intens, persis seperti yang biasa Jung Soo lakukan. Eun Kyo tertawa, Yong Jin memang seperti Appanya, pikirnya. Anak itu lalu mencoba memasukkan jari kecilnya ke dalam mulut.

“Eiy… Eomma tidak suka kau memasukkan jarimu seperti itu.”

Eun Kyo mengambil tangan Yong Jin, menggantinya dengan ASI. Ryu Jin masih terdiam dalam duduknya, memandang samar kearah Yong Jin. Dalam hatinya merasa kesal. Biasanya Eun Kyo menyapanya terlbih dahulu ketika bangun tidur, tapi akhir-akhir ini Eun Kyo selalu menyapa Yong Jin sebelum menyapanya. Ada sebuah rasa cemburu terbersit di hatinya.

“Onnie, boleh aku masuk?”

Tanpa menunggu jawaban terlebih dahulu Rae Na segera membuak hendel pintu dan menyembulkan kepalanya.

“Annyeong, selamat pagi.” Sapa Rae Na sambil tersenyum tanpa dosa.

Jung Soo menatap tajam padanya namun Rae Na sama sekali tidak perduli. Dia mendekati Eun Kyo dan memperhatikan Yong Jin sebentar.

“Aigoo.. uri Yong Jin, minum dengan kuat.” Rae Na mencubit pipi tebal Yong Jin yang nampak dengan rakus menghisap air susu dari payudara Eun Kyo.

“Kapan kau memiliki bayi? Eoh? Apa Minho kurang…” Jung Soo mencoba menggoda Rae Na. Menyulut emosinya. Akhir-akhir ini mereka jarang berdebat, dan Jung Soo merindukan saat-saat itu. Menggoda Rae Na dan menertawakannya saat gadis itu tak bisa lagi berkutik.

“Yak! Oppa! Aku sudah bilang, aku belum mau punya anak sekarang, 3 atau 4 tahun lagi mungkin akan aku pikirkan.” Teriaknya protes sambil mendesis pada Jung Soo dan memberikan tatapan tajamnya. Jung Soo tertawa, dia beranjak dari tempat tidurnya dan duduk di tempat tidur Ryu Jin lalu meraih kepala anak itu. Mengelusnya perlahan lalu mendekap kepala bocah itu. Ryu Jin hanya diam, dia masih kesal di nomor duakan kali ini.

“Mau apa kau membangunkan kami pagi-pagi sekali?” tanya Eun Kyo sedikit keras, memotong pertengkaran Rae Na dan Jung Soo. “Kau bahkan hampir membuat Yong Jin mengamuk.” Ujarnya lagi sambil mendesis.

“Aigoo! Aku lupa tujuanku kesini! Ah, Ryu Jin~a, kajja. Minho Appa membelikanmu sebuah tenda. Ayo kita lihat.”

Rae Na menarik paksa Ryu Jin dari dekapan Jung Soo. Mau tidak mau Ryu Jin mengikuti langkah Rae Na, meski dalam hatinya menggerutu karena masih tidak terima Eun Kyo belum menyapanya sepatah katapun.

“Kajja, kajja.” Ajak Rae Na tidak sabaran.

“Sabar Noona.” Keluh Ryu Jin. Rambut lurusnya berantakan karena Rae Na menariknya dengan paksa, dan dia harus berlari kecil menjajari langkah Rae Na.

“Tara… Eotte? Eum?” Rae Na nampak berbinar memamerkan tenda kecil yang dia beli bersama Minho beberapa hari yang lalu. Setiap minggu memang sejoli ini menghabiskan waktunya dirumah Jung Soo.

“Aeiy.. Ryu Jin~a, kajja, kita masuk. Sarapan disini.”

Minho melambai kearah Ryu Jin yang sejak tadi terpaku. Antara terkejut dan kagum serta tidak menyangka. Perlahan bibirnya mulai tersenyum dan akhirnya terbahak.

“Kyahahahahaha. Appa! Untukku?” ujarnya sambil berlari menghampiri Minho yang sudah masuk terlebih dahulu. Anak itu duduk dengan manis dihadapan Minho yang sudah menyambar sarapan paginya. Ryu Jin mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tenda yang sangat kecil, bahkan hampir tidak mampu memuat mereka berdua. Rasa kagum tergambar jelas diwajahnya melalui matanya.

“Noona~ya. Kajja.” Ryu Jin melambai kearah Rae Na tapi Rae Na menolaknya dengan gelengan.

“Kalian berdua saja hampir tidak muat. Aku mau ke dapur dulu.” Rae Na melangkah menuju dapur, mendapati sarapan sudah tersedia di atas meja.

“Pantas saja Minho sudah makan dengan lahap.” Gumamnya. Rae Na duduk manis di meja makan. Makan pagi sendirian.

***

Eun Kyo masih berdiri sambil menggendong Yong Jin dan sesekali menepuk paha anak kecil itu. Yong Jin masih lahap menghisap ASI-nya. Seperti tidak makan beberapa hari dia terus menghisap, matanya menatap lurus tepat ke wajah Eun Kyo. Eun Kyo menimang Yong Jin sambil mengayunnya. Suara decapan Yong Jin begitu keras hingga mengundang Jung Soo untuk berbuat usil dan mengganggunya dengan mencubit pipinya. Yong Jin melepaskan mulutnya dan menoleh kearah Jung Soo.

“Guman! Aeiy.. kau, kau seperti pemerah sapi saja, ah? Eoh? Sampai ‘Cup Cup’ begitu.” Jung Soo menirukan suara Yong Jin saat menyusu. Yong Jin memandangnya dan mendengarnya dengan seksama. Jung Soo terus mengoceh dan hal itu membuat bayi besar itu tertawa.

“Ya! Aku bukan melucu, kenapa kau tertawa? Eoh?”

Semakin diteriaki Yong Jin semakin gelak tertawa. Matanya hampir menghilang ditelan gelak tawanya sendiri. Jung Soo akhirnya diam dan memperhatikan Yong Jin.

“Kau tau? Kau hampir mengambil nyawa istriku.” Jung Soo lalu mencium pipi Yong Jin.

“Oppa, sudahlah. Jangan ganggu dia.”

Eun Kyo kembali mengarahkan dadanya ke mulut Yong Jin tapi anak itu menolak. Dia lebih senang memperhatikan Jung Soo ketimbang kembali menyusu.

“Kau sudah kenyang? Eoh?”

Eun Kyo mendekap Yong Jin dibahunya dan menepuk punggungnya. Mulut Yong Jin tepat barada di leher Eun Kyo dan dia menjulurkan lidahnya, menjilat leher Eun Kyo.

“Aigoo… like father like son!” seru Eun Kyo.

Jung Soo terbahak mendengar komentar Eun Kyo yang menatapnya tajam. Beberapa saat kemudian Yong Jin bersendawa dengan nyaring.

“Kalau yang itu lakie mother like son.” Balas Jung Soo. Eun Kyo memang sering kali tidak bisa menahan sendawa nyaringnya jika selesai makan. Mereka berdua tertawa bersamaan.

Jung Soo mendekap Eun Kyo dari belakang yang masih menggendong Yong Jin. Lama mereka dalam posisi ini sambil memandangi kearah luar. Menghirup udara dalam-dalam, merasakan segarnya pagi yang hampir terlambat mereka sapa.

“Gomawo.” Bisik Jung Soo di telinga Eun Kyo.

“Aku bosan mendengar ucapan terima kasihmu, Oppa.” Jawab Eun Kyo.

“Saranghae.” Bisiknya lagi.

“Apalagi gombalmu yang berlebihan itu.” Eun Kyo melirik pada Jung Soo. Tersenyum manis. Jung Soo lalu menyambar bibir Eun Kyo dan memberikan kecupan hangat.

“Morning kiss.”

Eun Kyo menyandarkan tubuhnya di dada Jung Soo lebih dalam. Menumpukan setengah bobot badannya di tubuh Jung Soo.

“Oppa, kita makan siang diluar hari ini? Mumpung kau sedang libur.”

Eun Kyo memecah keheningan dengan menawari Jung Soo makan diluar. Jung Soo terdiam. Mereka bahkan belum sarapan Eun Kyo sudah keburu mengajaknya makan siang.

“Kita belum sarapa, Yong Jin juga belum mandi. Ryu Jin apalagi.”

Jung Soo melingkarkan tangannya hingga mendekap tubuh Yong Jin juga.

“Ryu Jin biarkan Rae Na yang mengurusnya. Aku akan memandikan Yong Jin dulu, bisa kau urus Yong Jin sebentar?”

Eun Kyo menyerahkan Yong Jin pada Jung Soo lalu melesat ke kamar mandi. Menyiapkan air untuk Yong Jin mandi.

“Oppa, bawa kesini.” Panggil Eun Kyo dari dalam kamar mandi.

Jung Soo membawa Yong Jin ke kamar mandi dan menyerahkannya kepada Eun Kyo. Eun Kyo mulai memandikan Yong Jin. Meletakkan Yong Jin disebuah baskom besar tempat biasa dia mandi yang sudah  diisi dengan air hangat. Kaki Yong Jin bergerak memainkan air, membuat cipratan hinga mengenai wajah Eun Kyo. Anak itu terlihat senang, beberapa kali dia terbahak saat Eun Kyo membasuh wajahnya. Menyabuninya juga membersihkan kepalanya dengan shampoo. Setelah selesai, Eun Kyo membalut tubuhnya dengan handuk.

Jung Soo menempelkan kepalanya di pintu kamar mandi dan menatap mereka. Memperhatikan apa yang Eun Kyo dan Yong Jin lakukan. Seperti anak kecil yang berdiri di depan etalalse sebuah toko roti, memandangi roti yang berjejer dengan perasaan senang ketika Eun Kyo dan Yong Jin saling bercanda.

Aku adalah orang yang sangat bahagia, pikir Jung Soo sambil tersenyum. Ia berpikir seperti itu karena tidak ada lagi yang diinginkkannya di dunia ini selain terus melihat Yong  Jin dan Eun Kyo serta Ryu Jin seperti ini.

“Appa, tolong gendong Yong Jin sebentar.”

Tanpa mendapat persetujuan, Eun Kyo langsung mengarahkan Yong Jin ke tubuh Jung Soo yang mau tidak mau dia harus menyambutnya. Eun Kyo mengambil sepotong baju untuk Yong Jin dan meletakkannya diatas tempat tidur.

“Sini.”

Eun Kyo mengambil kembali Yong Jin dari Jung Soo. Lelaki itu masih terdiam, dia terpaku, seolah kagum melihat Eun Kyo sudah begitu gesit memperlakukan Yong Jin seperti sebuah mainan robot yang biasa Ryu Jin mainkan. Berbeda sekali saat pertama kali dulu dia mengurus Yong Jin tanpa bantuan Halmeoni. Rupanya wanita itu benar-benar menyerap semua pelajaran dari Halmeoni.

“Pakai bedaknya sayang.”

Eun Kyo mendudukkan Yong Jin diatas tempat tidur. Memberinya sebuah mainan tangan kecil yang aman jika dimasukkan Yong Jin sekalipun ke dalam mulutnya. Selagi Yong Jin mengemut mainan itu, Eun Kyo menyapukan bedak wangi khas bayi ke seluruh tubuhnya. Seolah tidak terganggu sama sekali, Yong Jin terus mengemut mainan itu. Sekali lagi Jung Soo tersenyum. Baru kali ini dia benar-benar memperhatikan Eun Kyo mengurus Yong Jin. Biasanya dia langsung bermain dengan Ryu Jin di depan televisi. Entah itu menemani Ryu Jin menonton kartun, ataupun menjadi lawannya bermain gulat. Berguling diatas karpet bulu yang lembut sambil berteriak satu sama lain.

“Selesai, sekarang kau yang mandi, Oppa.” Eun Kyo menoleh pada Jung Soo. Yong Jin sudah siap mengenakan bajunya dengan rapi dalam gendongan Eun Kyo. Jung Soo menatap Eun Kyo dalam.

“Aku mau dimandikan juga seperti Yong Jin.”

Ucapan Jung Soo sungguh membuat Eun Kyo kesal hingga membuatnya menatap Jung Soo dengan tajam. Jung Soo tidak memperdulikannya, bahkan dia bersiul sambil memandang kearah lain.

“ Jika tidak dimandikan, kita tidak jadi makan diluar.”

Jung Soo masih menyanyikan siulannya. Benar-benar tidak peduli dengan tatapan Eun Kyo yang ingin sekali mencekiknya.

“Bagaimana?”

Jung Soo menatap Eun Kyo satu detik lalu kemudian dia kembali bersiul sambil menunduk. Eun Kyo menghela nafas dalam, mendecak kesal sambil berjalan keluar kamar. Jung Soo mengikutinya.

“Rae Na~ya. Tolong jaga Yong Jin sebentar. Min Young sedang keluar kan?”

Rae Na mengangguk. Sebenarnya dia mengiyakan pertanyaan Eun Kyo, bukan menyetujui untuk mengurus Yong Jin. Tapi Eun Kyo sudah berlalu meninggalkan Yong Jin duduk disamping Ryu Jin yang sedang fokus memandangi televisi.

Beberapa waktu berlalu, akhirnya Eun Kyo dan Jung Soo keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi. Rae Na memperhatikan mereka dengan wajah bingung. Dia duduk bersama Minho di atas sofa sambil mengawasi Ryu Jin dan Yong Jin.

“Mau kemana Onnie?”

Rae Na menyapa dan Eun Kyo menoleh padanya, lalu melemparkan senyumnya. Jung Soo merangkulnya mesra.

“Aish, aku benci melihat kemesraan mereka.” Desisnya pelan, membuat Minho terkikik.

“Wae? Kau juga mau?” bisik Minho jahil. Rae Na langsung menatap Minho tajam dan membuat Minho bungkam seketika.

“Aku mau sarapan diluar.” Ujar Eun Kyo sambil berjalan diikuti Jung Soo enuju pintu utama.

“Eit! Yak! Onnie! Jika ingin pergi, bawa bantalanmu itu. Aku tidak sanggup menjaganya.” Teriak Rae Na sambil menunjuk Yong Jin. Anak kecil itu memandangnya tidak mengerti.

“Aish! Gwaenchana Noona~ya, biarkan saja Yong jin disini. Kalian berkencan saja.”

Minho membungkam mulut Rae Na dengan tangannya lalu mengedipkan matanya pada Jung Soo. Eun Kyo cemberut. Dia segera berjalan kearah Yong Jin dan menggendongnya. Jung Soo segera mengambil kereta dan meninggalkan mereka. Ryu Jin sama sekali tidak perduli, anak itu masih kesal dengan Eun Kyo tanpa Eun Kyo ketahui.

“Eomma bahkan tidak menyapaku.” Gumam Ryu Jin sepeninggal Eun Kyo. minho mendengar gumaman Ryu Jin dan mendekatinya.

“Ah, Ryu Jin~a, bagaimana kalau kita main Play Station saja, eoh? Eotte?” Minho berusaha menghibur Ryu Jin. Dia bisa mengerti perasaan anak itu yang merasa diabaikan.

“Shireo.” Jawab Ryu Jin malas.

“Aish, tanpa Eomma, kan masih ada Minho Appa, eo? Rae Na Noona? Eo?”

“Tapi Eomma melupakanku.” Ujarnya cemberut.

“Aniya… bukan begitu. Hanya saja sekarang Yong Jin harus lebih diprioritaskan. Eum…” Minho mencari kata yang tepat untuk menjelaskan kepada Ryu Jin. “Eum, begini. Saat kita punya anak anjing yang sudah sebesar ini.” Minho memberikan contohnya dengan tangan. “Dan bayi anjing yang sekecil ini..” dia kembali mencontohkan sekecil apa anak anjing itu dengan tangannya. “Mana yang harus dibantu jika anjing itu berjalan?”

Ryu Jin memandangi Minho tidak mengerti. Sedangkan Minho dengan penuh harap menanti jawaban Ryu Jin. Sebenarnya mereka berdua tidak saling mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.

“Aish! Kau terlalu sulit menjelaskannya.” Rae Na memukul kepala Minho dengan koran. “Ryu Jin~a, karena kau sudah besar. Jadi kau tidak perlu dibantu lagi. Maksudku, kau tidak perlu dibangunkan lagi. Tidak perlu dimandikan lagi, karena kau sudah besar. Bukankah itu yang kau inginkan? Eoh? Menjadi lelaki dan bekerja seperti Appamu?” Ryu Jin mengangguk. “Tapi bukan berarti Eommamu tidak menyayangimu, tapi dia bangga padamu, eoh?” sekali lagi Ryu Jin mengangguk.

Dering telpon tiba-tiba saja berdering dan menyela pembicaraan mereka. Ryu Jin segera berlari dan mengangkat gagang telpon dan memberikan salam.

“Ye, yeoboseyo?”

Dia memainkan kabel telpon sambil memandangi Rae Na dan Minho. Rae Na tersenyum. Tanpa Ryu Jin ketahui, dia sudah mengirim pesan kepada Eun Kyo dan menyuruhnya menelpon Ryu Jin karena anak itu sekarang sedang merajuk.

“Ye, Eomma.” Ujar Ryu Jin lirih. Mulutnya masih cemberut. Anak itu terlihat mengangguk beberapa kali, lalu menyunggingkan senyum lalu menjawab dengan riang sambil menutup telponnya.

“Nugu~ya?” tanya Rae Na berpura-pura tidak tau.

“Eomma, dia bilang aku harus jaga rumah dengan baik. Dan Eomma minta maaf tidak menciumku hari ini. Tapi dia juga bilang… dia bangga padaku.” Ujar Ryu Jin sambil duduk malas diatas sofa memainkan PSP-nya. Minho dan Rae Na tertawa.

“Kau yang memberitahu Noona, kan?” bisik Minho ditelinga Rae Na, membuat gadis itu bergidik.

“Eum.” Jawabnya ingin beranjak. Namun Minho menahan tangannya dan menarik tubuhnya hingga dia terduduk tepat diatas pangkuan Minho. Sebelum Rae Na kembali bangkit, Minho dengan gesit membuat Rae Na terbaring diatas karpet dan menindihnya.

“Yak! Minho~ya!”

Belum sempat dia mengomel, Minho sudah menyambar bibirnya dan melumatnya pelan. Rae Na berusaha berontak namun sia-sia. Saat Minho mencuri nafas, Rae Na memanfaatkan itu untuk melepaskan ciuman Minho. Dia mendorong tubuh Minho hingga terpental disampingnya. Dialangsung duduk dan mengusap bibirnya dengan punggung tangannya. Minho tertawa senang.

“Kau ini! Ada Ryu Jin!” teriaknya akhirnya.

“Wae? Kalau tidak ada Ryu Jin, berarti kau mau melanjutkannya?” goda Minho. “Ayo kita ke kamar kalau begitu.” Minho menarik tangan Rae Na.

“Andwae!” teriak Rae Na sambil berteriak. Dia menoleh pada Ryu Jin yang tidak terusik sama sekali. Anak itu sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini, hingga dia tidak terlalu memperdulikannya.

“Wae? Bukannya kau iri dengan kemesraan Onniemu?” lanjut Minho menggoda. Rae Na mengibaskan tangannya saat Minho membantunya berdiri.

“Ck! Aku tidak mau!” teriaknya lagi.

Saat dia berdiri, dai segera memegangi perutnya yang terasa sakit. Menunduk dan akhirnya terduduk. Minho mengira itu hanya sebuah alasan Rae Na untuk menghindarinya. Tapi ketika dia menunduk dan memeriksa keadaan Rae Na, dia menjadi panik. Wajah gadis itu pucat pasi dan berkeringat dingin.

“Ya.. kau jangan bercanda. Kau kenapa? Eoh?” Minho memegangi wajah Rae Na.

“Molla, tiba-tiba perutku sakit. Sepertinya tukak lambungku kumat.” Jawab Rae Na terbata. Dia benar-benar sakit dan berkeringat dingin.

“Mwo? Bukannya tadi kau sarapan? Eoh?”

Minho semakin cemas saat Rae Na kembali terduduk di lantai. Ryu Jin mendekatinya, memegang kedua pipinya. Tergambar kebingungan saat anak itu memandangi keadaan Rae Na. Rae Na berusaha tersenyum dan ingin berkata ‘gwaenchana’ pada Ryu Jin, namun wajahnya bukanya tersenyum malah meringis.

Minho mengangkat tubuh Rae Na dan membawanya ke kamar. Membaringkannya diatas tempat tidur. Rae Na meringkuk seketika menahan sakitnya. Minho berlari keluar kamar mengambil air hangat. Ada hal yang ingin membuatnya tertawa di tengah kepanikannya. Ryu Jin mengekorinya berlari sambil memandangi apa yang dilakukan Minho. Saat dia mengamil air panas dalam dispenser, memasukkannya ke dalam botol, hingga kembali ke kamar. Ryu Jin berlari mengikutinya.

“Coba pakai ini.”

Minho meletakkan botol air panas yang dibalutnya dengan baju kaosnya, tergeletak diatas meja saat dia melepasnya tadi malam. Ryu Jin berlari kecil dan menaiki tempat tidur, duduk disamping Rae Na.

“Masih sakit?” tanya Minho. Rae Na mengangguk.

“Ryu Jin~a, dimana Eommamu menyimpan obat-obatan?”

Ryu Jin segera turun dari tempat tidur dan berlari keluar kamar. Minho mengikutinya dan Ryu Jin menunjuk sebuah box yang ada di dinding kamar Eun Kyo, kotak P3K. Minho segera membuka kotak itu dan mengambil beberapa obat-obatan dan membaca brosur yang ada di dalam. Obat apa kira-kira yang cocok untuk Rae Na. Setelah mendapatkannya dia segera kembali ke kamar itu dengan segelas air. Minho meletakkan gelas itu diatas meja dan membantu Rae Na untuk bangun. Rae Na meminum obatnya lalu berbaring. Ryu Jin ikut berbaring disampingnya.

“Kau makan apa hingga seperti ini? Eoh?”

Minho mengusap kepala Rae Na tapi di hindari Rae Na dengan tangannya. Minho memaksa untuk mengelus kepalanya. Karena tidak bisa mengelak lagi, Rae Na akhirnya membiarkan Minho.

“Molla.” Jawab lemah.

“Bukannya tadi hanya ada nasi goreng kimchi. Bukannya kau sudah biasa memakannya?” tanya Minho penasaran tentang apa yang menyebabkan Rae Na sakit.

“Onnie, Eun Kyo Onnie kemana? Yong Jin?”

Suara Min Young tiba-tiba mengejutkan mereka sehingga ketiga kepala itu menoleh bersamaan ke arah pintu.

“Mereka sedang keluar.” Jawab Minho.

“Onnie, kau kenapa?” tanya Min Young heran. Karena biasanya Rae Na tidak mungkin betah berlama-lama di tempat tidur, kecuali sakit atau sedang marah.

Rae Na tiba-tiba bangkit dan berlari dengan susah payah ke dalam kamar mandi. Dia memuntahkan semua makanan yang dia santap tadi m=pagi. Hal itu sontak membuat kaget ketiga orang yang memandangnya terpaku. Ryu Jin segera bangkit dan duduk diatas tempat tidur. Minho berdiri dari duduknya. Dan Min Young mengikuti Rae Na ke kamar mandi. Sedang Minho melangkah mendekatinya dan berdiri diambang pintu bersama Ryu Jin.

“Onnie kau kenapa? Sakit? Eoh?” tanya Min Young khawatir. Rae Na masih muntah dan tidak bisa menjawab. Min Young mengelus punggung Rae Na yang membungkuk di depan closet.

“Onnie, kau hamil?”

Pertanyaan Min Young seketika membuat perut Rae Na bertambah mual. Minho menganga mendengarnya. Hamil? Pernah terlintas hal itu dipikirannya, namun dia merasa sangsi.

“Yak! Apa-apaan kau!”

Rae Na memukul tangan Min Young yang memegangi kedua lengannya. Dia mendesis, tapi Min Young masih merecokinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin membuatnya pusing.

“Minho! Jauhkan ‘penyakit’ ini dariku.” Seru Rae Na pada Minho. Minho segera mengerti dan mengambil alih pekerjaan Min Young.

“Oppa, apa aku salah? Mungkin saja Onnie hamil. Idak menutup kemungkinan kan? Eoh?” masih saja Min Young menanyakan hal yang tidak ingin Rae Na dengar.

“Eum, tapi tolong kau buatkan teh hangat saja, bisa?”

Minho mengusir Min Young secara halus dengan menyuruhnay membuatkan teh hangat untuk Rae Na. Ryu Jin yang kebingungan memilih mengikuti Min Young ke dapur.

Setelah mulai merasa perutnya sudah bisa diatasi. Rae Na meminta Minho untuk membawanya ke tempat tidur. Dia kembali berbaring.

“Sudah merasa baikan?”

Rae Na mengangguk. Dia merasa memang sudah merasa sedikit baikan setelah dia mengeluarkan semua isi perutnya.

“Apa benar memang kau… hamil” Minho memelankan kata terakhirnya, takut Rae Na mengamuk. Karena sejak awal mereka sudah memiliki perjanjian, bahwa dalam waktu dekat, mereka tidak akan memiliki bayi dulu. Disamping karena kesibukan, Rae Na juga sedikit susah mengurus bayi. Dia terlalu kikuk. Tapi bagi Minho, jika memang Rae Na hamil dan mereka akan mempunyai bayi, dia tidak masalah sama sekali.

“Kau jangan bercanda.” Rae Na membelakangi Minho.

Beberapa menit berlalu akhirnya Min Young kembali dengan secangkir teh hangat. Ryu Jin masih membuntutinya dengan diam dan muka bingung.

“Ini tehnya.”

“Min Young~a, kau masak apa tadi pagi?” tanya Minho.

“Aku? Aku masak nasi goreng kimchi, wae Oppa?”

“Ani, apa kau menambahkan sesuatu selain bahan yang biasa kau pakai?”

“Eum…” Min Young terlihat berpikir.

“Bawang bombay..”

“Kimchi..”

“Rempah..”

“Sosis..”

“Tuna..”

“Juga udang..

“Lalu..” Min Young mengabsen semua bahan yang dia masukkan ke dalam masakannya. Tapi belum sempat dia melanjutkan, Rae Na bangkit duduk dan meneriakinya.

“UDANG!” ujarnya nyaring.

“Kau mau membunuhku?! Eoh?”

Minho mencoba menenangkan Rae Na. Dia menekan pundak Rae Na yang ingin bangkit.

“Memangnya kenapa Onnie?” ujar Min Young kebingungan.

“AKU ALERGI UDANG!” teriaknya nyaring hampir menangis. Merutuki kebodohannya sendiri sebenarnya, kenapa tidak memilah terlebih dahulu apa yang dia makan. Tapi dia tidak ingin disalahkan. Dia harus punya seseorang untuk dijadikan kambing hitam atas kecerobohannya.

“Ah, mianhae Onnie~ya..” Min Young meminta maaf dengan lirih penuh rasa sesal. “Aku tidak tau, dan udang adalah kesukaan Eun Kyo Onnie..” lanjutnya masih dengan lirih.

“Itu kesukaan Onnie, tapi belum tentu aku.”

“Sudah jangan bertengkar.”

Minho menengahi, meraih tubuh mungil Ryu Jin yang terlihat tegang. Memeluk anak itu dan mengusap kepalanya.

“Kau membuat Ryu Jin takut.”

“Aku minta maaf Onnie..” sekali lagi Min Young meminta maaf.

“Sudahlah Min Young~a, sekarang kau sebaiknya keluar saja dan kerjakan pekerjaanmu.” Ujar Minho lagi.

Wajah Rae Na terlihat kesal. Minho bisa membayangkan bagaimana kesalnya gadis itu. Membuatnya kesakitan dan hampir pingsan karena muntah. Dan dengan polosnya Min Young bertanya apakah gadis itu sedang hamil.

“Bukan salah dia sepenuhnya. Dia kan tidak tau kau alergi udang.”

“Kau membelanya? Cih!”

Rae Na menarik selimutnya dan memunggungi Minho dan juga Ryu Jin. Ryu Jin mendongak menatap Minho.

“Gwaenchana. Noonamu hanya sedang sakit. Ayo kita keluar, biarkan dia istirahat.”

Minho menggendong Ryu Jin keluar dari kamar, dan menutup pintu dengan pelan. Dia tau Rae Na msaih kesal, namun tidak ada gunanya dia didalam sana, hanya akan menambah rentetan perdebatan mereka yang tak berujung, karena Rae Na sama sekali tidak mau disalahkan, dia tau betul akan hal itu.

***

Jung Soo merangkul pundak Eun Kyo membawanya masuk ke dalam sebuah rumah makan yang sudah ramai dengan pengunjung. Matanya menyapu seluruh ruangan, memeriksa meja mana yang kosong dan bisa mereka tempati. Seorang pelayan menghampiri mereka dan menggiring mereka ke sebuah meja kosong. Jung Soo membungkuk dan mengucapka terima kasih. Eun Kyo dan Jung Soo menempati tempat duduk mereka masing-masing.

Yong Jin yang masih ada dalam gendongan Eun Kyo. menoleh kearah beberapa orang yang melewatinya. Beberapa pengunjung nampak memandanginya dengangemas, namun segan untuk menyapanya.

“Oppa, kau mau pesan apa?” tanya Eun Kyo tiba-tiba.

“Terserah kau saja.” Jawab Jung Soo acuh.

Dia sibuk memperhatikan Yong Jin yang asik menghisap jari-jarinya. Jika Eun Kyo mengetahuinya, dia pasti akan marah. Hal itu yang sempat membuat Ryu Jin dulu merajuk, karena Ryu Jin menghisap jarinya. Eun Kyo memesan beberapa makanan dan juga bubur untuk Yong Jin. Anak itu belum sarapan setelah dia meminum susu.

Lama mereka menunggu, makanan belum juga datang. perut Eun Kyo sudah meronta minta diisi, apalagi Jung Soo yang memang sudah lapar sejak tadi. Jung Soo memandangi sekitar, pengunjung memang sangat banyak, dan rata-rata adalah keluarga. Mereka memesan begitu banyak makanan disetiap mejanya. Akhir pekan memang waktunya untuk seperti ini, pikir Jung soo. Lagipula ini adalah rumah makan yang terkenal enak, jadi wajar saja pengunjung membludak.

Beberapa pelayan terlihat sibuk membawa nampan makanan. Sebagian ada yang setengah berlari melayani pesanan para pelanggan. Tampak dari luar mereka sangat sibuk, apalagi jika membayangkan keadaan di dapur. Jung Soo jadi teringat dengan restoran miliknya. Hal itu juga terjadi jika sedang ada orderan sebuah perhelatan besar, tapi dia menyiasatinya dengan menyewa beberapa karyawan tambahan untuk melayani para tamu, yang di kontrak hanya untuk saat waktu tertentu.

“Omo, Yeoppuda..”

Tiba-tiba seorang gadis kecil menghampiri mereka dan mencubit pipi Yong Jin gemas sambil tertawa. Eun tersentak namun berusaha untuk tenang.

“Ahjumma, siapa namanya?” tanya gadis kecil itu polos sambil mendongakkan kepalanya kearah Eun Kyo.

7

“Yong Jin. Park Yong Jin.” Jawab Eun Kyo. “Kau sendiri?” tanya Eun Kyo balik.

“Dayoung.” Jawabnya sambil memperhatikan Yong Jin. “Ahjumma, sepertinya dia lapar. Sebentar aku ambilkan makanan.”

Dayoung segera berlari kearah sebuah meja dan kembali dengan sepotong kue kecil ditangannya. Dia menyuapi Yong Jin. Eun Kyo tersentak, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Sedang Jung Soo hanya tertawa, dia tau seberapa protektifnya istrinya jika menyangkut kedua anaknya. Karena yang melakukannya adalah seorang anak kecil, dia tidak bisa mengelak. Yong Jin juga terlihat menyukai makanan yang dimasukkan Dayoung ke dalam mulutnya. Dia menerima dengan membuka lebar mulutnya. Dayoung melirik kearah Eun Kyo terlebih dahulu, seolah meminta persetujuan, tapi meskipun wajah Eun Kyo mengatakan tidak, tetap saja tangan mungilnya sudah menjulur ke mulut Yong Jin.

8

“Enak?” tanya Dayoung melihat Yong Jin mengecap mulutnya. Tergambar jelas keceriaan diwajah Dayoung saat Yong Jin menerima  makanan pemberiannya. Dia tertawa pelan.

“Kau sudah makan Dayoung~a? Eo?”

Jung Soo menarik tangan Dayoung dan memeluknya. Gadis itu terlihat malu dengan senyum manisnya yang khas. Eun Kyo memperhatikan Dayoung dengan seksama. Bagaimana dia tersipu saat Jung Soo memeluknya. Tentang bagaimana Dayoung tersenyum dengan manis. Dia terlhat seperti anak yang sangat penurut. Ada ketertarikan dalam diri Eun Kyo.

“Jangan menatap Dayoung seperti itu, aku jadi takut.” Ujar Jung Soo membuyarkan keterpanaan Eun Kyo. tatapannya sama seperti dia menatap Ryu Jin dan menginginkan anak itu.

“Wae? Dayoungie~ya. Kau kesini bersama siapa?” tanya Eun Kyo tanpa melepaskan pandangannya dari gadis kecil berkepang  yang sangat menarik dimatanya. Dia seolah melihat refleksi dirinya saat melihat Dayoung. Gadis kecil yang terlihat pemalu, namun hangat, dia teringat masa kecilnya dulu.

“Bersama Appa.”

Dayoung menunjuk seseorang yang duduk di sudut ruangan, nampak sibuk dengan seorang gadis kecil yang lebih besar dari Dayoung.

“Wae? Jika dia tersesat sendirian, kau akan kembali membawanya?” tembak Jung Soo.

“Oppa..” panggil Eun Kyo lirih. Protes dengan komentar Jung Soo. Dia merasa Jung Soo mengatainya penculik anak-anak.

“Dayoungie~ya… palli, makanannya sudah siap.”

Seseorang berteriak pada Dayoung. Dia menoleh kearah suara. Suara Appanya yang memanggilnya untuk makan. Dayoung segera melepaskan pelukan Jung Soo dan berlari, namun ditengah larinya dia berhenti dan berbalik.

“Annyeong, adik kecil.”

Dayoung melambaikan tangannya pada Yong Jin, yang tidak dibalas apa-apa oleh Yong Jin, hanya menatapnya bingung. Beberapa saat kemudian pesanan mereka pun datang. eun Kyo memulai makan paginya menjelang siang dan sesekali menyuapi Yong Jin dengan bubur.

“Oppa, aku… ingin anak perempuan.”

Perkataan Eun Kyo seketika mmembuat Jung Soo tersedak. Dia menatap Eun Kyo tidak percaya. Dia memang senang menyentuh Eun Kyo, tapi jika membuat Eun Kyo hamil, hal itu dihindarinya sementara. Dia masih sedikit ngeri dengan tragedi saat Eun Kyo melahirkan dulu. Hal yang melibatkan nyawa tersebut, dia masih trauma.

“Aku bersedia di operasi.”

Eun Kyo bisa membaca kecemasan Jung Soo. Karena dia jug amasih ingat saat dia berdebat dulu, tapi keputusan dirinyalah yang diambil.

“Aku belum bisa memikirkannya.” Jawab Jung Soo sambil menyuap makanannya. Belum sempat menghabiskan makanannya, tiba-tiba datang seorang wanita berdiri di samping meja mereka dan menyapa Jung Soo.

“Anyyeonghaseyo, Sajangnim.” Ujarnya menyapa.

Jung Soo segera menoleh dan nampak sedikit terkejut. Tidak disangka, dia bertemu dengan  seorang sekretarisnya. Eun Kyo segera menatap siaga. Melirik Jung Soo tajam, tapi saat wanita itu menoleh padanya dia berpura-pura acuh.

“A, annyeonghaseyo.” Dia menunduk ragu pada Eun Kyo. eun Kyo hanya membalas dengan anggukan.

“Sajangnim, aku, aku permisi.”

Gadis itu tidak mau berlama-lama mengganggu Jung Soo dan segera pamit. Dia memang hanya berniat menyapa Jung Soo, tidak bermaksud untuk bergabung seperti yang dipikirkan Eun Kyo. eun Kyo berpikir seperti itu bukan tanpa alasan, mengingat mereka masih memiliki bangku kosong di depannnya.

“Jadi itu sekretaris barumu itu?” tanya Eun Kyo dengan nada skeptis.

Jung Soo hanya tertawa mendengar pertanyaan Eun Kyo yang bernada mencurigainya bercampur cemburu. Dia mengambil gelas berisi air dan menenggaknya.

“Cantik.”

“Yeobo, kau mau kita berdebat disini untuk hal sepele seperti itu?”

Mendengar hal itu Eun Kyo langsung menaruh Yong Jin ke dalam keretanya dan memajukan badannya mendekati Jung Soo.

“Mwo? Sepele? Oppa!”

Eun Kyo menahan nada suaranya menjadi sebuah bisikan dengan setengah menggeram. Jung Soo sangat menikmati hiburan di depannya. Kecemburuan Eun Kyo adalah hiburan diatas segala hiburan di hidupnya.

“Cepat habiskan makananmu, kita bahas ini di rumah saja.”

Eun Kyo memakan makanannya dengan cepat. Dia ketinggalan beberapa lankah dalam memakan makanannya karena harus mengurus Yong Jin.

“Hyung.”

Seseorang kembali menghampiri mereka. Eun Kyo tidak sempat menoleh, karena fokus dengan makanannya. Disamping itu, dia juga tidak merasa berkepentingan karena jelas-jelas orang itu memanggil Jung Soo.

“Tae Jun~a..”

Suara Jung Soo kontan membuatnya berhenti menyuap makanan dan langsung menoleh. Tae Jun tersenyum padanya. Matanya menatap Eun Kyo sejenak lalu beralih pada Yong Jin.

“Dia sudah besar ternyata.”

Yong Jin hany menatapnya, menggoyangkan tubuhnya kedepan dan kebelakang seolah ingin melepaskan tali yang menahannya agar tidak terjatuh.

“Ryu Jin mana?” tanya Tae Jun lagi.

“Dia ada diruah, bersama Rae Na.” Jawab Jung Soo.

“Anak itu nakal?”

“Ani, dia sangat pintar.”

Eun Kyo sudah benar-benar menghabiskan makanannya. Dia menyapu kedua sudut bibir dan melap mulut kecil Yong Jin dengan tissue basah.

“Kau sudah makan?” tanya Jung Soo.

“Belum.” Jawab Tae Jun.

“Datang bersama siapa?”

“Sendiri, Hyung.”

“Oppa, sudah selesai.”

Eun Kyo tiba-tiba berdiri dan bersiap untuk pulang.

“Kalau begitu, kami pulang dulu. Jangan lupa mampir.”

Jung Soo menepuk pundak Tae Jun lalu berjalan mendorong kereta Yong Jin. Eun Kyo berjalan mengikuti mereka namun singgah di depan kasir, membayar semua makanannya.

Tae Jun memandangi mereka dengan sedih ketika Eun Kyo menggandeng tangan Jung Soo dengan manja. Mereka saling menatap beberapa detik dengan cara yang sangat tidak mungkin dia lakukan dengan Si Yeon, kekasih barunya.

Aku pasti sudah gila, pikir Tae Jun sambil menatap mereka dengan hati yang sedikit sakit. Ia sudah pasti kehilangan akal jika bertemu dengan Eun Kyo, dia sudah sadar akan hal itu sejak dulu. Eun Kyo tidak akan pernah ia miliki, meski berkata sudah bisa merelakannya, tapi tetap saja rasa tidak rela menghinggapinya. Tadinya dengan memanfaatkan Ryu Jin ia pikir bisa membuat Eun Kyo jadi miliknya tapi kekeliruannya tidak dapat dielak. Ia tidak akan pernah bisa merebut wanita itu. Sekarang lihat saja, hal yang tidak pernah Eun Kyo lakukan pada lelaki manapun, bermanja, kini telah dilakukannya dengan Jung Soo. Berapa banyak waktu yang telah mereka lalui. Semuanya tercermin dari keakraban di depan matanya. Dan dia sadar meski masih ingin menyangkalnya, dia tidak akan pernanh menandingi kekuatan itu, jalinan perasaan mereka, kebersamaan mereka. Dia menggelengkan kepalanya untuk mengusir perasaan tidak rela itu, dan berusaha menggantinya dengan keikhlasan.

***

Ryu Jin tertidur di lantai setelah lelah bermain bersama Minho. Sudah banyak permainan yang mereka lakukan. Mulai bermain PSP hingga berlarian kesana kemari, Ryu Jin bosan menunggu Eommanya yang tidak kunjung datang.

Minho sudah kembali ke kamarnya dan memeriksa keadaan Rae Na yang sudah bengun dari tidurnya. Membiarkan Ryu Jin sendirian di ruangan tengah tanpa alas.

“Kau sudah baikan?” tanya Minho lembut.

Rae Na mengangguk, perutna sudah tidak lagi sakit, tapi kepalnay masih berat untuk bangkit. Dia hanya menatap Minho yang duduk di tepi tempat tidur. Mengusap kepalanya perlahan. Kecemasan itu tak lagi tergambar di wajah Minho, berganti denga tatapan lembutnya.

“Ahahahaha, bodohnya aku sempat mengir akau hamil. Tapi tidak ada salahnya juga kita memeriksakannya.”

Ucapan Minho berbuah pukulan di pahanya. Meski lemah tak berdaya, tapi jika menyangkut masalah hajar menghajar, kekuatan tangannya tidak bisa disepelekan. Minho menahan tangan Rae Na dan membuatnya tenang. Mereka menghentikan adegan pukul-pukulan mereka ketika mendengar sedikit suara gaduh dari arah luar. Minho menatap Rae Na, begitu juga sebaliknya. Rae Na mencoba bangkit. Mereka berjalan memeriksanya.

1

Minho segera berlari kearah Yong Jin yang duduk di dekat Ryu Jin yang sedang tertidur. bingung mengapa bantalah bulat itu tiba-tiba sendirian, bukannya menangis malah anak itu tertawa senang.

“Aigoo, kenapa disini, mana orang tuamu?”

Ryu Jin terbangun dan duduk dengan cemberut. Kesal ada yang mengganggu acara tidur siangnya. Minho mengangkat Yong Jin dan membawanya keluar halaman. Rae Na berjalan menuju Ryu Jin dan duduk di sofa. Terdengar sedikit kegaduhan dari dalam kamar Eun Kyo dan Jung Soo. Ryu Jin menghampirinya dan duduk disampingnya.

Eun Kyo duduk di tepi tempat tidur sambil melipat tangannya dan wajah yang cemberut. Sementara Jung Soo berdiri tidak jauh darinya. Mengusap dagunya dan menatap Eun Kyo malas.

“Semuanya sudah berlalu, lagipula dia hanya menyapa kita kan? Tidak lebih!” teriak Jung Soo sedikit keras. Eun Kyo diam membisu. Perdebatan tentang ‘Sekretaris Cantik’ itu ternyata benar-benar berlanjut. Eun Kyo merasa kesal karena ia merasa gadis itu terlalu genit. Sedangkan Jung Soo menganggap itu hal yang wajar, menyapa bosnya sendiri. Eun Kyo sadar itu hanya kecemburuannya saja. Tapi akhir-akhir ini dia memang tidak bisa mengontrol emosinya, entah karena faktor lelah. Dia terlalu lelah mengurus Yong Jin, meski dibantu oleh Min Young, tapi tetap saja anak itu tidak bisa tanpa Eommanya. Belum lagi Ryu Jin yang merecokinya, memberinya pertanyaan-pertanyaan yang tdak bisa dijawabnya.

“Kau keterlaluan!”

Jung Soo keluar dari kamar, meninggalkan Eun Kyo sendirian, yang bergelut dengan pikirannya sendiri. Dia berasumsi bahwa Sekretaris itu pekerjaannya melirik pria-pria berduit, meski dia pernah di posisi itu, tapi setidaknya waktu itu dia sudah mempunyai pacar. Eun Kyo frustasi sendiri dengan pikiran bodohnya. Sedikit menyesal telah membesar-besarkan masalah ini hingga membuat Jung Soo marah.

“Apa aku keterlaluan?”

Dia merebahkan tubuhnya dengan kasar. Mulai bisa berpikir dengan otaknya ynag bekerja sedikit lebih normal. Dia mengacak rambutnya saat kekeliruan itu semakin jelas.

“Aaaaaaahhhhhhh”

Dia duduk dan berdecak kesal.

Jung Soo berjalan menghampiri Minho dan Ryu Jin serta Yong Jin yang sedang duduk dan rebahan di ruangan tengah, televisi masih menyala tapi tak ada satupun yang menonton karena Rae Na sudah melanjutkan tidurnya di sofa. Yong Jin sudah berganti baju, bajunya tadi bau dengan makanan, begitu juga dengan Ryu Jin. Yong Jin sedang tidur disamping Minho dan Ryu Jin mendekatinya. Tidur telungkup sangat menggemaskan, benar-benar seperti bantal.

5

“Ryu~ya, jangan ganggu adikmu.”

Minho menegur Ryu Jin yang ingin menjahili Yong Jin yang sedang tidur. Bayi besar itu tak terusik sama sekali, masih asik tidur. Sepertinya dia kelelahan dibawa orang tuanya berjalan-jalan sebentar hari ini.

“Appa, biar dia tidur disini saja. Ayo…” pinta Ryu Jin manja. Ingin ingan memangku Yong Jin seperti yang biasa Jung Soo lakukan, membiarkan Yong Jin tidur di dadanya. Takut Yong Jin terbangun karena Ryu Jin yang berisik, akhirnya Minho memenuhi permintaan Ryu Jin, mengangkat Yong Jin dan meletakkanya di dada Ryu Jin. Tapi tanpa Ryu Jin duga, Yong Jin bergerak, dan bayi itu hampir terjatuh.

4

“Appa! Appa! Eottokhae?”

Ryu Jin menjadi panik, saat Yong Jin hampir terjatuh. Jung Soo hanya tertawa melihatnya, tidak berniat untuk bergabung, dia berjalan menuju pintu depan, meninggalkan rumah.

***

Hari sudah malam, Rae Na sudah kembali ke apartemen mereka, tapi Jung Soo belum juga pulang. Dan hal itu membuat Eun Kyo curiga. Padahal Jung Soo hanya pergi ke rumah orang tuanya dan menenangkan dirinya, tidak ingin bertengkar lebih lanjut dengan Eun Kyo, karena menurutnya itu hanya sia-sia saja. Dia membantu Halmeoni menata kebunnya.

Saat pulang ke rumah, tubhnya terasa sangat lelah. Eun Kyo memandangnya dengan kosong, tak ada sapaan ataupun pertanyaan. Keadaan semakin canggung. Eun Kyo hanya berlalu sambil sesekali memeriksa Yong Jin yang diletakkannya diatas tempat tidur.

Jung Soo merebahkan tubuhnya di tempat tidur Ryu Jin, dia sudah mandi sejak tadi di rumah Halmeoni, jadi tidak masalah jika dia langsung tidur. Tapi saat matanya mulai terpejam, dia terhenyak saat beban berat menimpa tubuhnya. Dia membuka matanya.

“Ugh! Ryu Jin~a, Appa lelah…” ujar Jung Soo sambil mencoba menurunka Ryu Jin dari tubuhnya.

Bukannya beranjak Ryu Jin malah menggoyangkan tubhnya mengajak Jung Soo untuk bermain, sama sekali tidak membaca guratan lelah di wajah Appanya, karena memang dia tidak mengerti.

“Ryu~ya.. gumanhae..” pinta Jung Soo lagi. Tapi Ryu Jin tidak mengindahkannya. Akhirnya Jung Soo mulai marah dan kesal, karena Ryu Jin tidak bisa diajak kompromi.

“Ryu Jin! Appa lelah! Jadi hentikan! Kau bermain bersama yong Jin saja!” teriak Jung Soo nyaring. Hal itu sontak membuat Ryu Jin terkejut setengah mati. Dia tidak menyangka Appanya akan marah, karena dia biasa bercanda seperti ini dengan Appanya. Tubuhnya membeku beberapa saat sebelum beranjak dari tubuh Jung Soo danmenaiki tempat tidur yang lebih besar. Tersak sambil menyembunyikan wajahnya di dinding.

“Aish! Jinjja!” ujar Jung Soo. Dia tidak bermaksud untuk membuat Ryu Jin menangis, dia hanya ingin membuat anak itu mengerti kalau dia sedang lelah, tapi nyatanya dia telah membentak anak itu dan membuatnya menangis.

Mendengar kegaduhan, Eun Kyo segera melepaskan cuciannya dan segera berlari ke dalam kamar. Sebenarnya bukan karena Ryu Jin yang membuat Jung Soo sedikit kehilangan kontrol atas emosinya, tapi suasana hatinya sedang tidak nyaman karena pertengkarannya dengan Eun Kyo tentang masalah sepele. Dia terus memikirkan perkataan Halmeoni sejak di perjalanan tadi.

‘Wanita itu seringkali berasumsi, dan terkadang intuisi seorang wanita lebih tajam. Tapi tak jarang asumsinya keliru, kau harus bisa memahaminya. Kecemburuan itu tidak salah, asal kalian bisa mengontrolnya dengan baik. Kau tau dia hanya cemburu, dan kebenarannya itu hanya kekeliruan. Sebuah asumsi yang salah. Tapi kau juga harus bisa menyikapinya. Ingat Jung Soo~ya, kalian berada dalam kapal yang sama. Jika karam, kalian karam bersama-sama.’

Dia ingin memperbaiki keadaan tapi malah semakin membuatnya runyam dengan membuat Ryu Jin merajuk. Jung Soo  sebenarnya ingin tertawa melihat Ryu Jin menangis seperti itu.

“Ada apa ini?”

Ryu Jin yang mendengar tiba-tiba Eommanya datang, seperti mendapat angin segar, dia bisa bermanja. Karena seharian ini Eommanya sedikit mengacuhkannya.

“Eomma…….” panggilnya sambil menangis dengan keras. Yong Jin yang berada disampingnya dengan posisi terngkurap nampak tidak perduli. “Appa!” dia menunjuk Jung Soo. Jung Soo langsung terkejut.

“Apa yang kau lakukan Oppa?” tanya Eun Kyo dingin. Seperti Jadis, penyihir jahat dari dunia fantasi, yang bisa membekukan apapun dengan mantra dan tongkatnya. Eun Kyo berdecak kesal.

“Urus Yong Jin dulu, sini sayang, ikut Eomma.” Eun Kyo melambaikan tangannya pada Ryu Jin dan menggendongnya. Ryu Jin menyambutnya dengan senang, sambil memandangi Jung Soo dengan cemberut, dia berlalu meninggalkan Jung Soo.

Butuh waktu satu jam untuk menenangkan Ryu Jin dan membuatnya percaya bahwa Appanya tidak benar-benar marah, setelah mendengar cerita Ryu Jin. Anak itu awalnya merajuk dan tidak terima dimarahi Appanya seperti itu. Tapi EUN Kyo berhasil meyakinkan bahwa Appanya hanya kelelahan dan tidak ingin diganggu. Dan dia telah mengganggunya. Ryu Jin telah tertidur dan Eun Kyo menggendongnya menuju kamar. Meletakkan anak itu di tempat tidurnya.

Dia berjalan menghampiri Yong Jin yang sudah terlelap bersama Jung Soo di atas tempat tidur. Ia menghela nafas, hari ini begitu melelahkan baginya. Dia mengangkat tubuh Yong Jin dan meletakkannya di tempat tidurnya sendiri.

Jung Soo membuka matanya saat menyadari Eun Kyo mengangkat Yong Jin dan meletakkannya di baby box. Dia memperhatikan Eun Kyo dengan seksama, meskipun akhir-akhir ini wanita ini sering sekali cemburu, tapi dia tetap mempesona, pikir Jung Soo. Setelah meletakkan Yong Jin, Eun Kyo berjalan melangkah menuju pintu. Jung Soo segera bangkit dan mencegahnya.

“Yeobo, mianhae.”

Jung Soo memeluk erat tubuh Eun Kyo dari belakang, membuat langkahnya terhenti. Eun Kyo tidak menjawab, hanya membuang nafas kasar. Jung Soo bisa membaca betapa lelahnya wanita ini dari helaan nafasnya.

“Aku tau kau masih kesal. Meski kau keterlaluan menc.. cemburuiku.”

Saat Jung Soo mengatakan itu, Eun Kyo berusaha untukmelepaskan pelukan Jung Soo, tapi Jung Soo semakin erat memeluknya.

“Ani, aku yang salah, lain kali aku tidka akan membiarkan wanita lain menyapaku di depanmu, eoh? Bagaimana?”

“Hanya di depanku?” tanya Eun Kyo emosi.

“Ani,ani. Kapanpun dan di depan siapapun.” Jawab Jung Soo cepat. Eun Kyo cemberut.

“Bohong sekali.” Jawab Eun Kyo lirih sambil tersenyum akhirnya. Seberapapun cemburunya dia, tetap saja Eun Kyo tidak bisa betah berlama-lama merajuk pada lelaki ini.

“Ani, aku berjanji!”

Jung Soo melepaskan pelukannya dan mengacungkan jari tengah dan telunjuknya sebagai tanda dia bersumpah. Eun Kyo berbalik menghadap Jung Soo, menatapnya sejanak dan tertawa melihat wajah serius Jung Soo. Jung Soo jadi kebingungan.

“Tidak perlu, aku percaya.” Eun Kyo menurunkan tangan Jung Soo.

“Kau tidak mau tau kemana saja aku seharian ini?” Jung Soo mengiringi Eun Kyo yang berjalan menuju tempat tidur.

“Aku pergi ke!” ucapa Jung Soo terputus karena Eun Kyo sudah mencium bibirnya. Mengunci semua perkataan yang ingin keluar dari mulutnya. Awalnya Jung Soo terkejut, tapi menyadari Eun Kyo telah menciumnya, dia membalasnya dengan melumat bibir istrinya, memegangi kepalanya agar ciuman mereka semakin dalam. Eun Kyo melepaskan ciumannya untuk mengambil udara.

“Oppa, aku mau anak seperti Dayoung.” Mata Eun Kyo mengerjap penuh harap. Membuat mata Jung Soo membulat, terkejut.

FIN

 

Missing Scenes

 

‘Aw! sakit Appa! Kau mencubitku terlalu keras, aku kan masih bayi. Harus bayak minum ASI. Dan kau tau? ASI Eomma lebih nikmat daripada anggur paling nikmat di seluruh dunia, slurp!’

“Guman! Aeiy.. kau, kau seperti pemerah sapi saja, ah? Eoh? Sampai ‘Cup Cup’ begitu.”

‘Hahahahahahahahaha, pemerah sapi? Aku lebih hebat dari itu. Aku bisa sepuluh kali lebih cepat dari pemerah sapi. Nyam nyam..’

“Ya! Aku bukan melucu, kenapa kau tertawa? Eoh?”

‘Appa, kau lebih cocok sebagai pelawak. Hahahahahahaha.’

“Kau tau? Kau hampir mengambil nyawa istriku.”

‘Jinjja? Kau tidak pernah menceritakannya padaku Appa.’

“Oppa, sudahlah. Jangan ganggu dia.”

“Kau sudah kenyang? Eoh?”

‘Sangat kenyang, eum… tapi sepertinya leher Eomma juga terasa nikmat, aku mau jilat ah!’

“Aigoo… like father like son!”

‘AAGH, ups! Aku kelepasan Eomma, maaf.’

“Kalau yang itu like mother like son.”

“Gomawo.”

 “Aku bosan mendengar ucapan terima kasihmu, Oppa.”

“Saranghae.”

“Apalagi gombalmu yang berlebihan itu.”

“Morning kiss.”

‘Aish! Aku benci mendengar gombalanmu seperti itu Appa, Eomma… jangan percaya, ne? Eoh? Kau harus percaya aku lebih mencintaimu, sampai kapanpun! Keundae, Eomma, kenapa jantungmu tiba-tiba berbunyi seperti suara drum Ryu Jin Hyung? Eoh?’

 

***

“Rae Na~ya. Tolong jaga Yong Jin sebentar. Min Young sedang keluar kan?”

‘Eomma shireo… kau tau Rae Na ahjumma membiarkan popokku penuh dengan kotoran beberapa waktu lalu? Eoh? Eomma… Kajima..’

Aish! Tidak ada yang memperhatikan aku. Ck! Hyung! Apa acara itu sangat menarik? Aku tidak mengerti sama sekali. Hyung~a, palli, lihat aku.

Ah, sepertinya aku menemukan sesuatu.

Ige mwoya? Apa bisa dimakan? Aku makan ah!

 2

 

 3

***

 

“Omo, Yeoppuda..”

‘Aku rasa Noona lebih menarik. Omo! Rambut dikepang dua, dengan senyuman yang cantik. Neomu yeoppuda Noona~ya.’

“Ahjumma, siapa namanya?”

‘Mwo? Nugu? Kau menanyakan namku Noona?’

“Yong Jin. Park Yong Jin.”

“Kau sendiri?”

“Dayoung.”

“Ahjumma, sepertinya dia lapar. Sebentar aku ambilkan makanan.”

‘Omo! Noona kau mau kemana? Disini saja menemaniku…’

‘Eum? Apa yang ada ditanganmu itu? Boleh aku mencicipinya?’

“Enak?”

‘Eum… enak sekali. Nyam nyam nyam!’

 9

10

 

 ***

6

 

‘Aku sudah bilang Hyung~a, jangan mengganggu Appa, mereka sedang bertengkar, kau tau? Aish! Kau terlalu naif Hyung~a… dan apa-apaan itu gaya menangis seperti itu? Kauterlihat jelek sekali! Berhenti menangis, kau berisik. Iya kan semut? Ayo bermain denganku saja.’

“Eomma…….”

‘Eoh? Eomma? Eomma, bawa aku dari sini, Hyung berisik sekali!’

“Apa yang kau lakukan Oppa?”

‘Eomma, itu sama sekali bukan salah Appa, bukan sama sekali! Sini biar aku ceritakan.’

“Urus Yong Jin dulu, sini sayang, ikut Eomma.”

‘Yak! Yak! Eomma! Eomma dengarkan aku, harusnya kau membawaku bukan Hyung…! Eomma….!’

“Baiklah kalau begitu, kita tidur saja Yong Jin~a, biarkan duamakhluk pencemburu dan suka merajuk itu keluar, kita bisa tenang untuk tidur.”

‘Mwo? Pencemburu? Siapa? Eomma? Eum… benar juga sih, arasseo. Denganmu juga tidak buruk Appa, aku jug asudah lelah, Jaljayo.’

 

***

 

Minho dan Rae Na sedang dalam perjalanan menuju apartemen mereka. Rae Na masih terlihat lemas duduk disamping Minho.

“Ck! Yang benar saja, apa dia mencoba membunuhku! Eoh?!” tanya Rae Na sambil memandangi Minho dengan kesal.

“Sudahlah, kenyataannya kau masih hidup kan? Jangan membesar-besarkan masalah.” Jawab Minho.

Mereka terdiam sesaat. Rae Na masih menyisakan kekesalannya terhadap Min Young yang menambahkan udang ke dalam masakannya. Sedangkan Minho lain lagi, dia memikirkan Min Young tapi bukan kesal seperti Rae Na. Dia memikirkan perkataan Min Young.

“Jagi, apa sebaiknya kita periksa ke Dokter saja?” tanya Minho. Rae Na menoleh kearah Minho. Mulai merasa perkataan Minho ada benarnya.

“Eum… mungkin tidak perlu. Mungkin jika aku sudah sekarat aku bisa memintamu memanggil Dokter.” Ujar Rae Na. Pikiran mereka sama sekali berbeda. Rae Namegira bahwa Minho ingin mengobati alerginya terhadap udang. Tapi Minho mempunyai pikiran yang berbeda.

“Maksudku kita ke Dokter kandungan.” Jawab Minho santai. Rae Na yang baru saja menenggak minuman kaleng ke dalam mulutnya segera menyemprotkan semua air yang ada di mulutkan ke wajah Minho.

 

 

Bener-bener FIN

 

Note : Hufh, ff spontan kedua setelah FF nc itu. Entahlah, sekarang aku lagi males banget nulis dan mikir, bikin ini adalah cara untuk me-refresh kembali imajinasi aku, tapi hasilnya tetap ga bisa. Ini ff gaje setengah gila kaya yang bikin. Bagi yang minta Yong Jin, noh ydah lumayan banyak kan Yong Jinnya? Bonus fotonya pula, 10 foto.

Dayoungie~ya, astaga anak itu bener-bener membuatku jatuh cinta beberapa bulan yang lalu. Dia kaya aku waktu kecil, pas banget, dulu aku punya sepupu blonde kaya Lauren. Aku jadi inget masa kecil aku yang suka diem gitu, trus kadang-kadang si suka ngomong tergantung situasi. Kalo sepupu aku itu dia suka mengalah, iya banget Lauren, suka nyanyi juga ga yah? Aku lupa. Tapi yang pasti klo liburan sekolah, dia pasti nginep tempat aku. Sekarang juga kerjanya di tempat mama, menggantikanku, huhuhuhuhu. Sedih, malah dia yang deket mami, aku yang deket maminya dia, jadi tukeran.

Udah ah, bagi yang baca ff aneh ini, silakan tinggalkan jejakmu.

117 responses »

  1. aigoooo yongjin.ah, neomu kyeopta, *cubit pipi yongjin,,,itu buntelan lucu bgt seh onnie, ayolah onnie, ksi aq ne, tar onnie bkin lgi ajah, kan mw anak perempuan tuwh,kkkkkk

    ini eunkyo mang bnr” egois yak, msa suaminya g’ blh dspa,ckckck, trlalu pencemburu g’ baik onnie,hahaha

    itu adegan menyusuinya aq ska,hihihi

    • siapa dulud dong? anak appa… *tepuk jidat lebar yongjin*
      engga bisa engga bisa sama sekali…. dia buntelan aku… klo pisahpun buntelan itu aku bawa…

      cemburu itu bumbu cinte… org oppa seneng2 aja tuh…
      meenyusui? pengen bilang p****g ato p****l, tp g tega…

  2. Huaaaaa seneng banget akhirya MLT publish makin seru n menarik ceritanya….
    Tp apakah eun kyo bnr2 mau nambah anak cwe????
    Wahhh bakal seru nh kelanjutanyaaa

  3. uwooooh hari ini kenyang FF😀
    akhirnya MLT ada lagi, ya ampyun uni ntu pipi yong jin pengen tak makan aje, subhanallah…..unyu unyunya kelewatan apalagi pas bareng ryu jin terlentang ntu huwaaaaa pengen nyulik rasanye😀
    daebak daebakkk

    ditunggu karya karya lainnya unni ^^

    • mereka kan emang duo ynag bisa meruntuhkan hati dan menggantinya dengan cinta dan terpesona…
      jangan diculik bisa mati berdiri aye jadinya….
      iya tunggu moment2 sweet dari kami yah…

  4. Ryujin cemburu sm yongjin, biasa kalo anak kecil dah punya adek pasti ada aja yg dilakukan utk menarik perhatian.
    Yongjin gemesin seperti bantalan dan pemerah sapi ya ampun oppa…
    Dan seperti biasa eunkyo masih suka cemburu.
    Rae na ga dibuat hamil ya ?

    • emang, aku pernah d posisi ryu soalnya, krna aku dua bersodara aja…
      dia amat2 sangat menggemaskan…
      aku suka cemburu? masa sih?
      kalo rae na, tanya suaminya noh… hihihihihihi

  5. Wkwkwkwk,. Knapa yong jin jadi kaya kyuhyun ya sifat.a??,, terus kenapa yong jin jadi genit kaya bapaknya??

    Haha ryu jin imut bgt pas nangis,, sini, sini sama noona,, kita main sama mut-mut,,

    jumma~a.. Kau tambah cemburuan aja,, kasian tuh ajussinya,,

    aduh aku bingung mao bilang apalagi,,
    kayaknya sekian komen aku

    _choi sung young_

  6. gemes bgt liat jongjin….haha eunkyo tetep cemburuan aja…kirain cuma bawaan saat hamil…next partnya y ditunggu…fighting!!

  7. Gyaaaaaa eonni,
    astaggaaa dua bocah kecil itu makin menggemaskan,
    *cium Yong Jin* trutama Yong Jin noh makin gede makin bule aja tuh bocah pdhal wktu bayi agak iteman ya eonni?!
    Tp knpa tuh anak jd mesum kya Appa’a yaa?! -____-v
    *d’jitak jung soo oppa*
    ntu Ryu Jin cumburu, pasti gegara ktularan emak’a tuh!! Gyahaha
    wiihh Rae Na klo dah ngamuk nyerimin bgd yaa, tp lebih nyeremin Eun Kyo eonni cie!!
    *d’cekek eonni*

    wadoohh Eun Kyo eonni pngin pnya anak prempuan?!
    Udeh oppa turutin aja, kga susah kan bikin’a!! Hihihihi

    Eonni~ya, ko si lauren Hanna kga ikutan d’tongolin (?) kn klo ada dia Hello baby jd lengkap tuh!! Jahaha

    • iya, cakep bener… sumpah pngn cium2 aku….
      iye, pas bayi item g menarik banget, beda bgt sm ryu jin bayi…
      mesum? kan anak oppa? ya oloh sprtinya salah neh aye…
      buahahahahahahaha, oppa kan udah blg ryu jin ntu eun kyo bgt…
      belum nemu lauren yg sama yong… tp aku lbh cinta sama dayoung si soalnya…

  8. Onnieeeeeeeeee…aku mau young jin aaaaaaa itu anak bkin gemesssss sumpahhh….ff gaje apaan cba..ini ff yg brhasil bkin aku ketawa ngakak bcanya…
    Raena eonni serem yah hihihi #digeplak.raenaeonni
    Aku jatuh cnta ih liat dayoung…mauuuuuuu…ayo sayang sni eonni :p
    Ryujin~ah,,sni sm noona aj yukk drpd kmu dicuekin #dicekik vikaeonn :))
    Taejun oppa btpa malangnya dirimu..poor u oppa sm aku aj sniii… Ini knp aku mau smua yah #maruk bner dahh hahaha..

    • engga boleeeeeehhhhh
      ketawa ngakak? katanya rae na bulan puasa bikin komedi aja, berarti berhasilkan, meski komedi mesum jg *ups*
      kyaaaaaaaaaa dia anakcadangan saya, calon mantu aye….
      engga ko, g dicuekin…
      mau km sama tae jun?
      cakep bnr deh ah ntu oppa satu…

  9. Annyeong~ lama tak brjumpa.. moga komen yg ini bs msuk..hufh

    hahaha *ngakak dlu* uri yongjin~a, kau benar” bulat.. d’kase makan apa sm eommamu eoh? ga ryujin, ga yongjin, jg oppa, semua ga ada yg bs pisah sm eonnie.. pke minyak nyong” yah eon? #buagh
    itu, yongjin mesum pas missing scene.. bnr” anak teukyo sejati *sejati mesum’a* #lol
    eonnie, klo mau bkin anak lg,boleh.. asal gedein dlu yongjin.. *ga mau dititipin si bantelan tembem* hbs susah ganti popok’a.. ga bisaaa *lempar k’minho*

    • dikasih ASI dong… iya kan nak? kekekekekkeeekeke
      oh, aye pake minyak jelantah! makanya g bisah dari aku…
      anak teukyo sejati? astagaaaaaaaa
      aye mau punya cewe dong ky dayoung…
      uri dayoungie~ya… kyeopta… huweeeeee

  10. onnie aku keki uda ketik banyaakk eh ga masuk.. wpnya mnt di keplak..
    hihihi..
    aku suka ffnya.. santai dan simple..
    onnie jgn cemburuan donk.. kasian oppa.. hihihi..
    kyunya kok ga ada on..?
    eh.. aku masakin onnie.. knp raena ikut makan..? kok aku yang kena.. hihihi..

    onnie bikin lagi ff yang spcial bwt mlt..
    apa lg yang ada ncbya.. kan onnie pgn anak cewek tuh.. hihi

    • keki? wp emang bikin keki…
      hihihihihihihi
      kasian oppa? jd g kasian aku?? efek lelah itu…
      kyunya lagi mancing…
      itu deritamu, buahahahahahahaha

      aku bikin lagi entar, kalo ada moment2 yang terlintas dan perlu aku bagi sama kalian…
      nc? wah wah wah… mesum ah!

  11. Dan eonnie.. kau jgn trlalu berlebihan.. cemburu jgn dipiara nenk.. makan ati.. susah mengobati’a..wkwk #beuhsokbanget *ga tau aja yg ngomong lbh parah* XDD

    MWO ? Na HAMIL ??? ANDWAE !! *getok pala minyoung* *lirik minho sbg tersangka utama* ops! salah.. udang trsangka utama’a.. –‘
    Aku belum mau hamil pemirsa, blm siap lahir batin..whahahaa
    dan tidak akan kubiarkan kau menghamiliku Choi Minho.. andwae !! *kabur k’pelukan byungari*
    aku belum siap pkok’a! n kami bru 1x, jd itu tdk mgkin.. arra?!

  12. Ya ampun yong jin imut banget seeehhh :* yong jin emang anak appa banget yach hhheee,,,
    seru sekali keluarga ini…
    Itu eun kyo pengen pnya anak perempuan tp teukppa gk mau,,, ckck
    rae na tetep galak yach hhheee
    keren oen🙂

  13. omooo… yong jin makin bulet ajah eon… akuuu geeemmeeeeeeeeeeeeeessssssssssss*cubit pipi yong jin*

    eh..eon,, kenapa gak ada MLT side story-nya MInna couple lagi eon ??
    .
    eon mah makin cemburuan yahh sekarang..hoho

    • sangat sangat menggemaskan pastinya…
      side story? entar kalo ada momen… MLT itu komponennya teukyo, minna sama jin’s brother plus min young, jadi mesti ada semua komponen itu, klo g bkn MLT namanya… tinggal siapa yang lbh ditonjolkan…

  14. ich . .
    bayi jungsoo oppa lucu bngt . .
    pipi.a tembem . .
    itu rae na hamil gak tuch . . ?
    pst jwbn.a enggak . .
    onnie aku pngn crt mereka doank . .
    abis mereka psngn yng lucu abis . .
    ayo, bkn crt yng lain.a onnie . .
    hwaiting . . ^^

  15. Aigoo…
    ini keren onnie~ya .
    aku suka ceritanya, ringan tapi menarik ..
    sepertinya MLT selanjutnya NC, proses pembuatan adik buat Jin’s brother .
    heheheheh

    onnie, aku mau req, ne?
    buatin cerita rae na dan min ho juga dong, tapi mereka sedikit akur gitu .
    rae na nya sedikit sadar dengan perasaannya sama Minho .
    yayayyaayya??
    hahahah

    • ada lagi g yah lanjutannya? g janji… kecuali momen ultah…
      rae na itu sampe mati g bakalan ngaku secara gamblang…
      waduh… jelasin lagi deh, MLT itu komponennnya Teukyo, minna, jin’s brother sm min young… g ada khusus2an, kcuali one shoot sendiri…
      liat aja semua side storynya, pasti ada semua kan? nyempil semua meski dikit? kcuali part NC yg sendiri itu…

  16. Ya ampun eonni. Anakmu bener2 kayak bantal. Pipinya… Ihh pengen tak gigit…

    Nah hlo pengen punya anak cewek.
    RaeNa dulu aja yg hamil.

  17. OMO! Adikku bener bener persis bantal! Coba panjang dikit, aku jadiin guling deh~ #plak Jidatnya kaya lapangan old trafford ya… *dibuang kelaut*

    Eonni…. kenapa kamu cemburuan sekalihhh? Kan cuma disapa…. berarti kalo aku gelendotan dilengan oppa, eonni jg bakal marah? .___.
    Oh, soal Raena eonni…… CEPET PUNYA ANAK YAHHHH /digebuksekomplek/

  18. eoniiee
    Akhirnya bsa komen dsni
    Kmrin mau komen hrus masukin surel
    Apaan coba dah
    Haha

    Dsni pas bagian awal eun kyo nenangin young jin eon salah ketik ya
    Youngjin jdi ryu jin
    Huaa sumpah kangen bgt sma MLT
    Sma khdupn jungsoo n keluarga dgn 2 anak yg lucu2
    Apalagi ttg raena
    Aku ngarep bgt dia bnrn hamil
    Tp klo eun kyo yg hamil gk bsa dbayangin eon
    Ngurus anak 3
    Wiiihh

    Eon kpan2 bkin MLT lg yaa
    Hehe
    Tp pas lg mood aja
    Nulis kan hobby eon,bukan paksaan
    Jdi kapan lg santai n mood aja bkin ff biar gk jdi beban
    Aku suka ff2 eonnie
    Hehhehe
    Maaf panjang komennya

    • kmrn wp emang lg sarap…
      betul sekali, padahal aku udah edit, tapi kenapa publisnya jd masih begitu, tau ah, pas waktu publish tu pas gangguan susah banget publish…
      jangan dibayangin… aku ngambil baby sitter lagi satu, wahahahahahahaha, meski jadi pajangan lagi, soalnya tetep aku g bisa orang lain yang ngurus, harus aku..
      iya kapan2… pas lgi mood aku pasti bikin…
      yg pasti si klo aku lagi kangen sm yong sm ryu…
      aku suka ko yg panjang *?*

  19. Hahaha daebak eon..🙂
    yong jin,, neomu kyeopta.. *lol
    kekekke
    senyum2 gaje pas bca ni ff,, hehehe
    pkok e jjang
    ryu udah tmbah dwasa
    #brharap rae na hmil.. #😀

  20. DAEBAK…
    omo yongjin bikin pengen cubit tu pipi apa bakpau ya…
    eunkyo g capek ya ngurus 2 anak kok skrg pengen punya anak lagi jungsoo aja msh mikir2…ckckck…

  21. Onnie mlt side story minna couple dong onn.Jarang bngt dibkinin pdhl ak nunggu” bngt storynya mreka.Klo bs pg yh onn?Soalnya jrng bngt mereka mesra Hehehe

    • itu ntar pas moment tertentu juga, dan g mungkin juga isinya minna aja. soalnya mlt komponennya itu teukyo, minna, jin’s brother sm min young *nah lo brp kaliaku jelasin ini*
      klo mesra bkn minna, mereka mesra dgn cara mereka sendiri…

      dan g akan ada khusus teukyo atau khusus minna, yang ada itu semua harus ada…

  22. Ada dayoung,,,,
    Fika kalo mau masukin lauren harus ijin ke eomma nya dulu..ank ku tdk boleh di publikasiin
    ntar seungho appa nya marah..
    Ryujin sayanggg..klo eommamu tdk syang lgi
    msih ada ahjumma yg akan menyayangimu..
    *peluk ryujin*
    Yongjin ndut bgttttt..

  23. kyaa.. Yong jin ngegemesinnnn sumpahh *cubit pipi yong jin* pas banget tu anak di jadiin bantal #plakk
    apanya yg gaje onn,ini mah ff daebakk😉
    aa.. teukyo nambah anak satu lg seru dech kayaknya.. tambah rameee (?)

  24. Eon? Itu ullzang babynya punyaku!!! Leo is mine, Ryu Jin is mine /tereak pake toa mushola/ /peluk teuk ahjussi/ /yadongin/ *eh puasa neng
    Yak!! Keep writing^^ btw itu buntelan kentut buat aku aja yaaaa? Jangan maruk eon._.v

    • Enak aja!!!!! Aku tau leo jauh sblm hello baby!!!! Km pasti taunya hello baby!!! Klopun km mau make ryi jin buat km it’s oke!!!! Tp jgn bw2 klaim ryu d tmpt aku! Krna sejak jmn mlt aku sdh blg k oppa!! Aku bs khilangannya tp untuk ry aku bs mlepas apapun teuki skaliun tp untuk brbagi ryu NO!!! Big no!!!

    • Err, maaf jebe. Aku mau nanya, eonni tau Leo dari kapan? Soalnya yg aku tau sih Fika eonn udh pake Leo buat ulzzangnya Ryu-jin(?) sejak Leo baru bisa jalan; sebelum Leo jadi anaknya Thunder(?)

      • eum? aku lupa chingu tau Leo dari kapan-_- ooh gitu ya? ya aku jg gatau kalo soal vikos eonni awal tau Leo u,u dan bahasa tulisan itukan frase ya? aku ngetik jg biasa aja kok^^ vika eonnie emosi u,u aku jadi sedikit takut…
        mianhae, jeonmal…

  25. Aniyooo~ aku tau Leo bukan dr hello baby eon-_-
    Ne ne ne arraseo kalo gitu mah sip /peluk Leo/ /cium daniel/ /makan lincoln/ *kesian amet lincolnnya._.
    Yaudah pokoknya lanjut!! Hwaiting^^b

  26. Onnieeeee!!! bogoshipeo!!!

    onnie q telpon kok g pernah diangkat sih?? padahal kan pengen conference ma encut -.-

    jujur deh onn, q bingung sama asal muasalnya cerita. soalnya aku g baca ceritanya dari awal sih.. hehee
    mianhe onnie🙂

    onn, ada smtown lho.. onnie pergi nonton lagi g?

    • nadooooo
      bukan begitu put…
      hihihihihihihi, karena e karena… kemaren aku lagi apa yah?
      hihihihihihihihih
      mian….
      aku suka g enak, yang nelpon kamu, eh ynag bercinta malah aku sama encut doang…. kamu ketawa2 aja… aye kan kaga enak… jadinya, km dulu bercinta sama encut…

      • Wkwkwkwk
        onn, bahasanya jgn gtu dunk. merinding aku nya😀

        g papa ah onn,. klo nelpon rame-rame kan seru🙂
        aku sudah terlampau sering cerita-cerita ma encut. kemaren aku telepon meme.
        cuma sayang, encut bulan puasa kagak bisa ditelepon kalo malam.. biasa, jam terbang padat hehee

        tar kapan-kapan kalo aku telepon diangkat ya onn🙂

  27. Mian eonn bru comment!

    Eonnie~ya… itu sii Yong Jin lucuu amatt..
    Boleh nggak kubawa kerumah, hadiehh…. tuh bayi lucu banget.
    Muadah2an ntar punya anak kya gtoe, amiennn.. *sujud bareng kunyuk*

    Ini nihh keluarga yang sakinah mawadah marohmah… hehheehe

  28. aaaaa bru bacaaa dan kangeeeen
    Aigoo
    Keponakan2 makin lucu2 aja…
    Dan ampun dah kelakuan ibu bapaknya, ky bocah smua wkwk
    Tp itu yg bkin seruu

    Ah eoni bikin anak bwt raena ama minho wkwk

  29. aigoo LUCU BENER tuh bayi.. #lirik yong jin
    pipinya itu loh, ih pengen ku cubit2.. *cubit pipi yong jin
    hahahaha aku tunggu lanjutannya !!! ^^

  30. ky’x mang Kyo pngen anak cwe de!
    sama,q jg lbh sk anak cwe ce,lucu!hehe
    tp kalo anak cwokx ky Ryu m Young mah mw bangeeet!><
    Ayo TeuKyo bkin anak cwe aj!
    g sabar eiy!hehehe

  31. raena dbikin hamil kyax minho bakal seneng bgt tu ckckckck….

    huwaa teukyo g da abisx y mo marahan mo berantem te2p berakhir sweet 0.0

  32. ahahah
    Jungsoo ngak cemburu ya lehernya Eun Kyo dijilati ma Yong Ji..
    biasanyakan itu kelakuan Jong Soo.
    kekekekekek
    Happy Family,,,
    dapet yang kayak Dayoung ngak ni kali ini,,,,,
    kekekekekek

  33. Eunkyo nih uda pny anak 2 jg cemburunya gak ilang2..
    Satu keluarga sama smua deh..
    Pada pencemburuan.. wkwkwk..
    Suka baca missing scene itu.. Bagian isi hati Yongjin itu.
    Kecil2 uda pandai jg yaa Yongjin nya.. Sayang belum bisa ngomong..

  34. ya ampun kayaknya yong jin itu lucu banget , sampai dibilang kayak buntelan hahaha😀

    Tp liat eun kyo terlalu cemburu gitu , kasian juga jung soo oppa ya
    Yang sabar ya oppa , pasti eun kyo cemburu kayak gitu terlalu mencintaimu oppa🙂

  35. Ryujin gemesin bngt dehh klo lgi merajuk..hihiihihiHi..pengen liat raena klo lagi hamil gmn ya..eonni bkinkan ff raena yg hamil dung di .MLT..hihihiihihi..eunkyo mau nambah aj lgi 1..hedeuhhh

  36. young jin’a itu loh..
    bkin org pengen gigit pipi’a..

    aigoo,,
    eun kyo young jin msih kecil, masa udh mw punya anak lgi, nanti lh tunggu mreka besar dulu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s