TeuKyo Couple : Should I Smile or Cry

Standar

cats

Aku kembali dengan Songfic. Mian ini gaje banget. Aku ambil dari lagu Electro Boyz yang featuring Baek Ji Young. Ada yang tau? Should i smile or cray? Aku suka banget lagu itu. Maaf kalo ga nyambung ceritanya sama lagu. Tapi kadang-kadang sebuah lirik dan MV nya kan sedikit berbeda. Anggap aja ini Shuold I Smile or Cry versi drama.

 

Jung Soo’s POV

Girl you know I’m lost without you

I miss your kiss

Because I’m in too deep

oh my girl

 

“Jangan menikah dengannya!”

Setelah lama membisu. Aku akhirnya bisa mengatakannya. Tak ada sepatah katapun sebelumnya. Aku yang menyuruhnya untuk datang, tapi aku yang tak mampu untuk berkata. Ku tatap matanya penuh keyakinan bahwa dia akan tersenyum. Ayolah Park Eun Kyo, aku tau kau hanya mencintai aku. Dan aku mohon jangan menerima lamarannya.

Wajahnya masih menegang, mungkin tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Aku tau kenapa dia menunjukkan ekspresi seperti itu. Itu semua salahku, aku ynag membimbingnya untuk berbuat seperti itu, bukan karena aku tidak mencintainya, hanya saja, hanya saja mungkin aku bodoh? Adakah lelaki sebodoh aku yang menolak seorang gadis sepertinya? Arasseo, dia mungkin bukan wanita yang sangat mempesona. Tidak semua lelaki mungkin akan menyukai wanita ceroboh seperti itu. Tapi aku pikir hanya aku yang menyadari semua pesonanya, tapi aku salah, ada orang lain yang menyadarinya, dan aku terlambat untuk meruntuhkan egoku lagi. Aku lelaki bodoh yang egois.

Masih menati jawaban dari mulutnya yang menganga. Tatapannya sungguh membuatku ingin menangis. Antara tatapan tidak percaya dan tatapan ‘apa hakmu menyuruhku seperti itu’.

“Eun Kyo, aku mohon jangan menikah dengannya.” Ulangku untuk memastikan bahwa dia tidak salah dengar sama sekali. Untuk membuatnya percaya bahwa akulah yang memintanya seperti itu.

Dia mulai mengontrol sikap dan emosinya. Menggerakkan kepalanya dan sebagian kakinya untuk melepaskannya dari keterkejutan ini. Dia mulai berdehem kecil dan menunduk lalu menatapku.

“Jangan menikah dengannya.” Sebelum dia memulai perkataannya aku kembali memintanya untuk tidak menikahi lelaki yang bukan dicintainya. Ini adalah permintaan ketigaku, mungkin tidak akan cukup membalas pernyataan cintanya yang setiap hari dia utarakan padaku. Aku tau kau hanya mencintaiku Eun Kyo~ya. Donghae hanya pelarianmu saja, aku tau itu. Tidak mungkin kau melupakanku dalam sekejap.

“Apa maksumu berbicara seperti itu?” matanya berkaca-kaca menatapku. Aku merasakan sakit melihatnya hampir menangis. Aku tidak tau seberapa banyak dia menangisiku, tapi aku rasa sekarang dia menahannya untuk tidak menangis. Hal itu membuatku sakit, seolah dia tidak ingin lagi menangis untukku.

“Aku tidak ingin kau menikah dengan Donghae.” Aku menatap lurus matanya. Dia terdiam. Akupun sama, beberapa menit tak ada suara, senyap. Saling berpandangan. Detik berikutnya da melepas kontak mata kami dengan berbalik. Lalu melangkah. Kutarik tangannya untuk menghentikannya.

“Eun Kyo aku mohon, aku tau kau tidak mencintainya. Kau hanya mencintaiku” Aku tau ini adalah vonis yang terlalu kejam untuknya. Tapi aku tidak ada cara lain. Dia berbalik, kembali menampakkan tatapan tidak percayanya, tapi kali ini disertai ilatan kemarahan dari matanya.

“Tau apa kau tentang aku? Eoh?” dia mencoba melepaskan tanganku yang mencengkram kuat lengannya. Kekuatan tubuhnya hanya sebagian kecil dari kekuatanku.

“Aku tau kau hanya mencintaiku. Jadi jangan menikah dengannya. Kau tidak akan bahagia.” Aku meyakinkan keputusannya. Memberikan segala macam alasan agar dia mengurungkan acara itu. Aku tidak ingin itu terjadi, sama sekali tidak ingin.

“Peduli apa kau dengan kebahagiaanku? Eoh?” dia tak mampu membendung air matanya yang mulai menyeruak membasahi pipinya, bermuara di dagu indahnya dan jatuh ke lantai. Aku tidak bisa menjawab, aku sama seklai tidak ada jawaban tentang pertanyaan yang keluar dari mulutnya.

“Tau apa kau tentang aku, Park Jung Soo~ssi?” ujarnya lirih. Aku merasa sakit saat dai mengatakannya sesinis itu. Terdengar pelan tapi menyakitkan. Membuatku semakin tidak berarti dan semakin membuatku sadar, selama ini aku telah menyakitinya.

“Aku, aku, aku. Eun Kyo~ya, aku tau, aku tau kau tidak akan bahagia dengannya. Kaupun tau itu.” Belaku atas semua prediksiku tentang hidupnya. Alasan yang tidak berguna dan sama sekali tidak berdasar. Kecuali karena kini telah mulai mencintainya. Mulai menyadari kemana arah jalan hidupku sekarang. Menatapnya.

Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan penuh. Hari ini pengumuman hasil tender proyekku di Jepang. Aku memacu mobilku tanpa memikirkan apapun. Yang ada di pikiranku hanya bagaimana caranya cepat sampai ke tempat itu. Tempat penentuan karierku. Aku tidak menyadari sosok yang melintas di depanku. Aku segera menekan kuat-kuat pedal rem dan menghentikan mobilku. Naasnya, sosok itu tidak mampu menghindar, akupun begitu. Dia dia sukses menabrak bagian depan mobilku. Aku terpana seketikan, dengan wajah shock aku terdiam di belakang kemudiku. Orang mulai berdatangan hingga aku tersadar, aku telah menabrak seseorang. Kubuka pintu mobilku dengan cepat dan menghampiri sosok yang bagaikan hantu tersebut melintas di depanku.

“Bawa dia ke mobilku.” Aku menyuruh orang-orang untuk mengangkatnya ke mobil. Lukanya tidak terlalu parah, masih dalam keadaan sadar. Namun darah segar mengalir dari kepalanya dan lengan penuh dengan lecet, hingga bajunya robek. Gadis itu terpental beberapa meter dari mobilku, dan hebatnya dia masih sadarkan diri. Tak ada hal lain dalam otakku selain ‘Rumah Sakit’. Aku kini mengemudikan mobilku kembali dengan cepat namun disertai kehati-hatian. Tak lagi mengingat tujuan awalku, Hotel Ramada, tapi berbelok arah ke rumah sakit terdekat.

“Agasshi, gwaenchana?” aku menanyakan keadaannya. Dia masih bisa menoleh padaku, namun dengan sebuah desisan.

“Apa kau tidak punya mata?” pertanyaan bernada sarkastik ditujukannya padaku sambil memegangi kepalanya?

“Kau masih bisa sadar kan? Jangan pejamkan matamu.” Aku mulai panik melihat ceceran darah yang ada di tangannya. Aish! Bagaimana mungkin aku bisa seceroboh ini?

“Aku tidak selemah itu.” Jawabnya lirih sambil terpejam. Aku semakin memacu mobilku sambil sesekali melirik GPSku untuk mencari jalan mana ynag paling cepat menemukan Rumah Sakit.

Aku membelokkan mobilku saat menemui sebuah klinik dokter yang buka. Kuparkir mobilku sembarangan saja dan membuak pintunya lalu memapah gadis itu keluar.

“Tolong!” aku memanggil beberapa perawat jaga disana. Mereka dengan sigap menarik brankar dan mengangkat tubuh gadis itu keatasnya lalu mendorongnya.

 

Aku menungguinya dengan duduk di kursi depan ruang tunggu. Hatiku merasa tidak tenang, kakiku bergerak mengetuk ubin berirama seiring berjalannya waktu. Aku tidak mengenal gadis itu dan sama sekali tidak tau apapun tentangnya. Dimana rumahnya, siapa orang tuanya, tidak tahu sama sekali.

“Apa anda kerabatnya?” seseorang berjubah putih keluar dari ruangan dan menghampiriku. Aku segera bangkit berdiri menyambutnya.

“Ne.” Jawabku.

“Dia baik-baik saja, hanya robek sedikit dibagian kepalanya. Tapi sudah kami tangani.” Ujarnya menjelaskan tentang keadaan gadis itu. Aku hanya bisa mengangguk tanpa bisa mengusir rasa resah yang menyelimutiku.

“Apa aku bisa melihatnya sekarang?” tanyaku tidak sabar. Sejak tadi orang ini hanya mengoceh, tanpa bisa aku pastikan dengan mata kepalaku sendiri.

“Ah, ye. Tentu saja.” Jawabnya. Tanpa memperdulikannya lagi, aku segera masuk ke dalam kamar itu dan mendapati gadis itu dengan lilitan perban di kepalanya. Dia masih sadar, apa dia dijahit dalam keadaan sadar?

“Gwaenchanasseyo?” tanyaku padanya. Dia tidak menjawab hanya diam. Pasti dia merasa sakit. Aku jadi merasa kikuk. Dia sama sekali tidak menjawab dan aku menjadi canggung dibuatnya.

“Kau mau sesuatu? Biaya rumah sakit tidak perlu kau cemaskan.” Aku membuka pembicaraan dengannya.

“Onnie..” ujarnya menoleh ke belakangku. Aku mengikuti arah pandangannya. Seorang gadis memasuki kamar ini dan langsung menghampirinya.

“Aigoo, Rae Na~ya, kau kenapa? Eoh? Sakit? Kau pasti tidak hati-hati saat menyeberang jalan. Membutakan matamu dari lampu merah lagi kan? Kau ini ceroboh sekali! Aku sudah bilang jaga dirimu baik-baik!” aku tercengang melihat seseorang ynag baru saja datang ini. Dia samasekali tidak melihat kearahku, sibuk memeriksa keadaan gadis satunya lagi yang terbaring di tempat tidur.

“Aigoo, gwaenchanayo Onnie. Kau tenang saja.” Jawabnya.

“Maaf, ini semua salahku. Aku sudah akan mengurus biaya rumah sakit.” Aku bangkit dari kursi dan mencoba menyapanya.

“Ah, ye. Eoh?” wajahnya beragam ekspresi saat menatapku, antara terkejut dan bingung.

“Aku yang menabraknya. Aku minta maaf.” Aku membungkukkan badanku dengan sopan.

“Ah, ye.” Jawabnya.

Itulah pertemuan pertamaku dengannya. Park Eun Kyo. Seorang gadis polos nan ceroboh yang hidup bersama adiknya yang sedikit sulit diatur. Aku masih disini, duduk sendiri pasca kepergian Eun Kyo. Semua ini salahku. Aku yang membuat semua ini terjadi, awalnya aku kira aku tidak mungkin menyukainya.

“Sendirian?” seseorang membuat tersentak dan duduk disampingku. Aku menoleh padanya dan tersenyum sebentar. Terdiam lama hingga mungkin membuatnya gerah.

“Pernikahannya sudah ditetapkan, kau tidak mungkin mencegahnya.” Ujarnya lagi. Lee Hyukjae, jika kau kemari hanya untuk membuatku semakin terpuruk dengan keadaanku, sebaiknya kau pergi saja. Aku tidak sanggup mendengar kalimat-kalimat memojokkanku lagi.

“Mau mengatakan aku bodoh? Sudah cukup, aku tidak ingin mendengarnya.” Aku berdiri dan hendak meninggalkannya, tapi dia mengikutiku dan merangkulku.

“Tenanglah, dunia tidak sesempit apa yang ada dipikiranmu.” Dia menunjuk dahiku dan mencoba menghiburku dengan senyumnya. Aku tak mampu tersenyum Lee Hyukjae.

“Sendirian?” suara gadis terdengar di telingaku. Aku menoleh ke belakang. Gadis berperawakan tinggi dengan gaun terusan longgar sejengkal di atas lutut berdiri di belakangku dengan gaya menggoda. Dia mengambil sedikit rambutnya dan mencoba menggodaku. Aku hanya terdiam. Dia memelintir rambutnya dan mendekatiku.

“Eum, dia sendirian. Sebaiknya kau temani.” Hyukjae mendorongku ke arah gadis itu, lalu meninggalkanku. Gadis itu tertawa menggoda. Tubuhnya dibuat semenggoda mungkin mendekatiku. Aku sedang tidak ingin ditemani. Gadis ini membuatku jijik.

“Siapkan berkasku. Temani aku rapat.” Aku menghampiri Eun Kyo di mejanya. Gadis itu langsung bangkit dan membungkuk tanda setuju. Aku masuk ke dalam ruanganku dan bersiap. 15 menit kemudian aku keluar dan melihat Eun Kyo sudah siap.

Aku memandanginya dari atas hingga bawah. Kemeja putih melekat di tubuhnya. Dengan rok selutut yang pas membalut bagian perut hingga lutut. Dan sepatu pantofel abu-abu terlihat manis di kakinya. Aku tau dia memang terlihat gesit dengan penampilan seperti ini. Tapi aku butuh seseorang yang sedikit terbuka untuk menemaniku ke sebuah club menemaniku bertemu dengan beberapa klien. Aku tidak ingin mereka menyediakan wanita yang terlihat murahan untuk menemaniku. Jadi aku putuskan untuk membawa Eun Kyo saja. Dia terlihat canggung saat aku memandanginya dengan lekat.

“Sudah siap? Kalau begitu kita berangkat.” Aku meliriknya yang berjalan menjajari langkahku. Sebelum aku benar-benar meninggalkan ruangan ini, aku melirik Donghae di meja kerjanya. Wajah lelaki itu terlihat tidak suka aku membawa Eun Kyo. bukan rahasia umum lagi jika Manajer bagian pemasaran itu melirik gadis yang berjalan bersamaku. Tapi sayangnya dia lebih memilih menyukaiku. Aku tersenyum emnang padanya.

“Kita mau kemana Park… Sangnim?” tanyanya ragu.

“Aku ada pertemuan di sebuah club.” Jawabku singkat.

Dia tidak berusaha bertanya lagi. Hanya mengikutiku hingga ke mobil. Tangannya mendekap erat berkas di dadanya. Sesekali aku meliriknya ynag duduk dengan tegang di sebelahku. Aku membelokkan mobilku untuk parkir di sebuah butik. Eun Kyo menatapku. Matanya bertanya-tanya.

“Aku ingin kau mengganti bajumu. Acaranya jam 9 malam.” Aku keluar dari mobil tanpa menoleh padanya. Dia hanya bisa mengikutiku. Beberap penjaga butik menghampiri kami. Aku meminta mereka untuk memilihkannya baju yang pantas untuk acaraku malam ini.

 

Aku menunggunya duduk di sofa sambil membuka-buka majalah yang sudah tidak update lagi. Membuak tanpa membacanya sementara Eun Kyo mencoba gaunnya. Setelah setengah jam menunggu, dia akhirnya keluar dengan mengenakan gaun putih selututnya. Aku memandanginya, dia terlihat manis dengan gaun itu.

“Aku tidak suka. Itu terlalu kekanak-kanakan. Aku ingin dia terlihat dewasa.” Aku mengalihkan pandanganku darinya ke majalah yang ada di tanganku. Waktu cepat berlalu, ini kali ketiga dia mencoba gaun yang akan dipakainya malam ini. Dia keluar dari ruang ganti.

“Bagaimana Tuan?” penjaga butik itu menarik Eun Kyo untuk keluar dari ruangan kecil berukuran 2×3 meter. Eun Kyo berdiri sambil memandangi kearah lain. Aku memperhatikannya dari ujung kaki hingga kepala. Rambutnya memang sekarang sudah tidak serapi tadi. Ikatan dan gulungannya terlihat melonggar. Beberapa helai rambut bahkan terlepas dari ikatannya. Dia mengenakan gaun pink soft yang mengekspose bahunya. Pilihan yang tepat. Kaki jenjangnya terlihat sempurna, leker putihnya juga terlihat seksi namun terkesan mains dengan sebua pita berukuran besar dengan posisi menyilang di dadanya. Ujung pita besar itu membelit hingga ke pinggangnya sedangkan ujung yang lain menutupi bahu kanannya. Dia terlihat… sempurna.

Aku bangkit seketika. “Aku suka yang ini.” Aku mengambil kartu kreditku dan menyerahkannya pada pelayan itu lalu menarik Eun Kyo untuk pergi. Eun Kyo terdiam, dia terlihat kikuk dengan gaunnya. Aku mebawanya ke salon untuk merapikan make-upnya. Untuk rambutnya, dia terlihat seksi dengan rambut yang sedikit berantakan seperti ini. Park Jung Soo, sejak kapan kau memperhatikannya? Kau bahkan menilainya seksi sekarang.

 

Acara rapat telah usai. Sekarang dilanjutkan dengan acara minum-minum dan wanita penghibur berdatangan. Aku tidak perlu ditemani wanita-wanita ini lagi karena Eun Kyo sudah duduk manis disampingku dengan melipat kedua kakinya.

“Kau sangat pintar Jung Soo~ssi, membawa manita pendamping sekaligus merangkap sebagai sekretarismu.” Aku memperkenalkan Eun Kyo sebagai Sekretarisku, padahal itu tidak benar sama sekali. Dia hanya pegawai biasa.

Aku melihat Eun Kyo beberapa kali menengak wine yang dituangkan oleh Tuan Kim. Sepertinya lelaki hidung belang itu sedang melirik Eun Kyo. aku tau maksudnya merecoki Eun Kyo dengan wine. Kupandangi wajah Eun Kyo yang sudah memerah. Ais! Gadis ini sudah mabuk!

“Sepertinya kami harus pergi, ini sudah malam.” Aku menarik Eun Kyo untuk bangkit. Tubuhnya lunglai, dan alkohol mulai menguasainya.

“Mau melanjutkannnya Jung Soo~ssi?” tanya Tuan Kim dengan nada merendahkan. Aku ingin sekali menampar wajahnya namun aku tahan. Aku berkonsentrasi untuk membawa tubuh lunglai Eun Kyo pergi dari sini.

 

Setelah sampai di area parkiran, aku menghempas Eun Kyo ke mobil. Aish! Aku salah membawa gadis ini. Hal itu malah menyusahkan diriku sendiri. Sekarang aku harus mengantarkannya pulang dalam keadaan mabuk. Apa dia tidak pernah berpikir dia akan mabuk jika terus-terusan menerima tuangan wine dari Tuan Kim.

“Apa acaranya sudah selesai?” tanyanya parau. Dia setengah bergumam setengah meracau. Aku mulai naik emosi melihatnya seperti ini. Gaun yang dikenakannya naik beberapa centi memperlihatkan paha putihnya. Aku melepaskan jasku dan menutupinya. Dia duduk dengan posisi yang tidak sempurna di jok depan, tapi setidaknya posisinya aman. Aku menarik save-belt yang ada di kepalanya dan ingin memasangkannya. Tapi saat aku membelitkan tali selebar 3 jari itu ke tubuhnya, tiba-tiba saja dia meraih wajahku dan menempelkan bibirny di bibriku. Aku sanat terkejut dengan apa yang dia lakukan. Aku membeku, dia menciumku.

Lamunanku buyar saat gadis yang ada bersamaku tiba-tiba melepas kancing kemejaku. Aku menatapnya tajam. Namun dia membalasnya dengan senyuman menggoda. Dicondongkannya tubuhnya padaku dan berusaha menciumku.

“Aku tidak butuh teman. Aku ingin pulang.” Kudorong tubuhnya pelan agar menjauh dariku. Lalu aku meninggalkannya. Seketika aku merindukan ciuman itu. Ciuman Eun Kyo. Aku baru menyadari, gadis itu begitu dalam masuk dalam kehidupanku.

***

 

Should I smile or should I cry, what should I do?

Do I need to let you go because you found another person?

I’m so shocked for a moment that I wander the night streets

I toss and turn, toss and turn and lose all sleep till morning baby

Duduk sendirian di apartemen mewahku yang ada di lantai 7. Dengan menggenggam segelas anggur di tanganku, menatap kearah jendela dan menerawang jauh. Haruskah hidupmu berakhir disini Park Jung Soo? Aku rasa kau sudah melakukan yang terbaik dalam hidupmu, tapi mengapa disaat sekarang kau merasa itu sia-sia? Aku melangkah beranjak dari jendela berdiri di samping meja. Menyandarkan tubuhku di tepian meja. Rentetan kejadian kembali mengambang ditas pikiranku.

“Apa lagi yang harus aku kerjakan?” nafasnya memburu karenalelah. Sudah banyak yang ia lakukan disini, jadi pembantuku selama sebulan sebagai balasan karena aku menyelematkannya dari sebuah kesalahan yang hampir saja membuatnya di pecat dari pekerjaannya. Gadis ini, aku tau dia menyukaiku.

“Tidak ada, kau boleh pergi.” Jawabku sambil menoleh padanya sekilas, setelahnya aku kembali dengan layar komputer.

“Ah, belum. Bajumu untuk besok.” Dia berlari ke dalam kamar. Selama seminggu disini, dia menjadi pembantuku namun bertindak seola-olah aku adalah suaminya. Bahkan sebelum dia pulang dia menyiapkan baju untuka ku ke kantor besok harinya. Aku tidak terlalu memperdulikannya. Fokusku tetap pada proyek yang akan aku kerjakan di Jepang.

“Sudah selesai. Bajumu aku gantung deretan nomor dua. Lengkap dengan dasinya. Ne?” ujarnya sambil tersenyum cerah. Aku tidak menjawabnya.

“Baiklah kalau begitu aku pulang dulu. Eum?” dia membungkuk lalu pergi dari hadapanku. Aku masih berkutat dengan pekerjaanku. Aku tidak boleh gagal mengerjakannya. Sekalipun itu harus membuatku seperti ini sepanjang malam.

Aku memandangi sebuah undangan yang tergeletak diatas meja. Seminggu lagi. Seminggu lagi. Mampukah aku menjalani hidupku setelah seminggu. Rasanya dadaku mulai sesak. Rasa aku ingin waktu berhenti dan membiarkannya seperti ini saja. Ponselku berdering, aku enggan untuk mengangkatnya. Itu pasti Hyukjae lagi. Ringtone dari ponsel terus mengalun dan akhirnya aku mengangkatnya. Benar kan? Lee Hyukjae. Dia mengajakku ke cafe.

***

“Hyung, disini.” Hyukjae melambaikan tangannya padaku. Aku berjalan kearahnya dan duduk di hadapannya. Tanpa berkata sepatahpun aku langsung menenggak minuman yang ada dihadapanku. Rasanya aku ingin mati saja. Ini tidak mungkin, aku tidak menyangka aku serapuh ini.

“Aku mulai menyadari menyukainya saat melihatnya makan berdua Donghae.” Aku mulai meracau, sepertinya aku sudah mulai dikuasai alkohol, namun aku tidak perduli. “Aku melihatnya tersenyum, dan dia tidak lagi makan bersamaku sejak itu.” Lanjutku. Kutuang botol anggur itu hingga habis, lalu dalam sekali teguk aku menghabiskannya.

“Wanita bukan hanya dia Hyung.” Ujar Hyukjae.

“Tapi tidak ada yang seperti dia.” Jawabku tidak menerima pendapat Hyukjae. Hyukjae mendengus dihadapanku. Aku mungkin terlihat seperti ‘loser’ dimatanya. Tapi aku tidak akan menyangkalnya, aku memang pecundang. Aku meletakkan kepalaku diatas meja. Perutku sudah mulai mual.

@“Boleh aku makan bersamamu. Park Sangnim?” dia dengan santai duduk dihadapanku tanpa memperdulikan aku setuju atau tidak. Aku membiarkannya dan diam saja.

“Park Sangnim. Terima kasih telah membantuku kemarin. Aigoo, kalau bukan karena kau, aku tidak akan selamat!” ujar dengan semangat. Aku hanya menghela nafas. Yang ada di pikiranku adalah tentang pembukaan cabang perusahaan di Jepang yang aku garap bersama Donghae.@

“Aku tidak mungkin membiarkannya pergi begitu saja Hyukie~ah, tidak mungkin.” Aku tau aku mulai meracau dan mulai tidak sadarkan diri.

Kubuka mataku perlahan yang masih sangat berat. Kepalaku terasa berputar. Aku sadar aku terlalu banyak minum tadi malam. Dan sekarang aku menerima konsekuensinya. Terkapar di dalam kamar sendirian dengan beban ynag semakin berat. Entah kapan Hyukjae membawaku kesini. Aku melirik jam weker yang ada diatas meja. Sudah jam 11 siang.

***

 

How can love change so easily for you like this

You push me away so easily

You don’t seem like the person I once knew

In front of other good conditions, even love (is so sly)

“Kau mau makan siang?”

Aku mendengar seseorang berbicara. Baiklah ini memang sudah waktunya makan siang dan aku baru menjejakkan kakiku di kantor. Para pegawai ada beberapa ynag melirikku, ada juga yang berbisik-bisik. Terdengar seperti sebuah dengungan di telingaku. Terserah mereka mau berbicara apa, daripada aku tidak masuk sama sekali, lebih baik aku terlambat.

“Belum.” Jawab seseorang lagi sambil berlalu di sampingku. Eun Kyo. Dia berjalan menuju kantin untuk makan siang bersama tanpa memperdulikanku. Akupun berusaha untuk tidak memperdulikan mereka. Donghae sekilas melirikku namun setelah itu dia kembali memandangi Eun Kyo. aku merasa gelisah, benar-benar gelisah.

Kudorong kursi kerjaku dan mencari posisi ynag enak untuk mengerjakan proposalku. Tapi ynag ada dipikiranku kini hanya Eun Kyo. kenapa aku memikirkannya setelah dia hampir menjadi milik orang lain? Kenapa aku menginginkannya saat dia sekarang mengacuhkanku? Begitu mudah dia melupakan semua tentangku. Meski belum ada cerita tentang kami, tapi setidaknya di apunya cerita tentangku. Diama dia letakkan memori tentang itu? Sudah terhapuskah? Aku tau aku memang egois.

Beberap menit berlalu, aku menunggu waktu makan siang berakhir dan memanggilnya untuk menghadapku. Sungguh sekarang aku benar-benar ingin melihat wajahnya. Waktu terus bergulir, hingga saat makan siang dan istirahat berakhir.

“Eun Kyo~ssi. Bisa ke ruanganku sebentar?” aku memanggilnya lewat telepon dan diresponnya hanya dengan satu kata. ‘YE’. Meski hanya satu kata tapi mampu membuatku sedikit merasa lega.

Pintu ruanganku di ketuk dua kali dan setelah itu dia masuk dengan menunduk sambil menutup pintu.

“Anda memanggil saya?” Eun Kyo berdiri di depan pintu. Bahasany berubah formal, tidak lagi semanja dulu. Aku merindukannya mengejarku seperti dulu. Bukan mengejarku, tapi aku merindukan saat-saat dia memandangku seperti dulu.

“Duduk.” Aku mempersilakannya duduk di kursi. Dia menariknya dan bersiap untuk duduk dengan mengusap rok bagian belakangnya. Memastikan roknya rapi saat duduk.

Dia terdiam menungguku untuk bicara dengan menundukkan wajahnya. Aku tau peristiwa beberapa hari yang lalu yang membuatnya seperti ini. 15 menit berlalu tanpa suara. Aku membiarkannya hening untuk bisa memandanginya lebih lama. Dia mulai gelisah namun tak juga mengeluarkan suara. Aku ingin tau seberapa tahan ia dengan keadaan ini. Dia tetap bersikukuh untuk tidak memulainya. Kau berubah Eun Kyo~ya. Dulu kau tidak tahan tanpa menyapaku beberapa menit saja.

“Mengenai proyek di Jepang yang kalian kerjakan. Maksudku kau dan Donghae kerjakan, aku rasa aku akan membatalkannya. Mian.” Ujarku akhirnya tidak tahan.

“Apa maksud Anda?” tanyanya, tanpa mendongakkan kepala, seolah pasrah namun ingin protes.

“Aku tidak mungkin membiarkanmu bersamanya.” Aku bangkit berdiri dan bersandar di tepi meja. Dia menghela nafas.

“Kau harus profesional. Bukankah itu yang selalu kau tekankan?” dia ikut berdiri. Aku suka saat dia seperti ini, meresponku.

“Maaf, tapi kali ini aku rasa kau tidakberkompeten dengan relasi yang ada di Jepang.” Dia terdiam dan masih berdiri. Menatapku tidak percaya. Beberapa saat kami saling berpandangan.

“Hufh, nde. Aku memang tidak berkompeten.” Dia berbalik dan menuju pintu keluar. Jawabnannya membuatku dilema, namun juga sedikit lega.

“Dan bulan depan aku akan menyerahkan surat pengunduran diriku.” Dia membungkuk. Kali ini aku yang memandangnya tidak percaya.

I feel bad enough as is,

but I didn’t know you’d say that

Why did you leave, leaving me all alone

I am lonely and walking on this rainy street

(I can’t take it anymore) my unknown feelings

 

Should I smile or cry, do you know this pain?

It feels like I’ve been shot by a gun

Somebody call the doctor

Setiap hari aku melihat pemandangan yang membuat mataku sakit. Meski mereka tidak mengumbar kemesraan. Tapi aku tau Donghae jenis lelaki seperti apa. Hanya dengan melihatnya memandangi Eun Kyo saja semua orang sudah tau bahwa lelaki itu sangat melindungi Eun Kyo. hanya dengan mendengarnya menanyakan makan siang itu saja mampu membuat darahku berdesir hebat. Harusnay aku yang ada di posisinya, menanyakan hal itu pada Eun Kyo. dia mencintaiku. Gadis itu mencintaiku.

“Hyung.”

Hyukjae menepuk pundakku. Membuatku mengalihkan mataku dari Eun Kyo dan Donghae. Mereka tidak melakukan apa-apa. Mengerjakan pekerjaan masing-masing di meja kerja mereka. Tapi mengapa aku selalu berpikiran bahwa mereka sedang.. ah, molla.

“Kau sudah makan?” Hyukjae merangkulku. Aku tidak menjawab. Aku sama sekali tidak lapar Hyuk.

“Ayo kita makan siang.” Dia menarikku untuk makan siang.

***

Berjalan menyusuri trotoar ini. Mengingatkanku saat aku bersamanya. Hal ini benar-benar membuatku gila. Memikrkannya menikah dengan orang lain benar-benar membuatku gila. Perlahan aku menitikkan airmata. Park Jung Soo, kini kau menangis. Aku tertawa disela tagisku. Menangisi keadaanku, dan menertawakan kebodohanku.

“Kau tidak pulang?”

Aku menoleh. Hyukjae, lagi-lagi dia. Apa dia tidak punya kerjaan lain selain mengikutiku? Aku malah merasa sekarang dia seperti perempuan yang terus memperhatikan aku. Dia seperti… Dia seperti Eun Kyo saat dulu.

“Aku tau kau berharap ini bukan aku.” Dia duduk disampingku memegangi payung. Aku hanya diam. “Tidak ada gunanya kau seperti ini Hyung, hanya membuatmu terlihat… bodoh.” Lanjutnya. Tidak perlu kau katakan aku juga suda tau Hyukkie~ah.

“Sebaiknya aku antarkan kau pulang, istirahat. Besok hari minggu kau bisa tidur sepuasnya.” Hyukjae memaksaku untuk berdiri dan setengah menyeretku. Membawaku pulang.

***

 

Did you forget me already?

I’m a key that can’t get into your lock

Am I some kind of eraser?

To erase you at anytime whenever I want you?

Aku menyibak selimut yang menutupi tubuhku. Udara pagi mulai masuk melalui celah jendela kamar apartemenku yang terbuka. Aish! Siapa yang membiarkannya terbuka?  Aku? Atau Hyukjae? Entahlah, tapi sekarang dinginnya benar-benar membuatku menyesal telah membuang selimutku. Kuraba kembali kain tebal itu dan kembali kubungkus tubuhku dengannya. Baju kerjakupun belum aku ganti, aku masih memakai jas.

“Aku buatkan sup kimchi untuk menghangatkanmu.” Aku mendengar suara dari arah dapur. Terdengar samar, apa aku bermimpi? Aku mendengar suara Eun Kyo. Atau akrena aku terlalu putus asa hingga sekarang aku berhalusinasi tentangnya.

Aku berusaha mengabaikan suara itu, namun hidungku tak mampu di dustai. Aku mencium bau aroma masakan. Apa Hyukjae masih disini? Tidak mungkin. Jika dia disini dia pasti sudah merecokiku dengan ocehannya dan menyuruhku bangun.

“Supnya sudah siap.” Kembali suara itu terdengar di telingaku. Namun kali ini lebih dekat dan lebih jelas. Aku mulai erpikir ini bukan halusinasi. Kubuka perlahan kedua mataku. Aku tidkaingin mempercayainya. Sosok itu berdiri di tepi tempat tidurku, menungguku untuk bangun. Eun Kyo?

“Sampai kapan kau mau meringkuk disini? Bajumu.” Dia membuka selimutku dan membuka jasku. Lalu melepaskannya. Aku meraih tangannya dan menggenggamnya. Awalnya dia ingin menariknya tapi aku tahan. Aku merindukannya. Aku merindukan saat-saat dia meggangguku disini. Seperti dulu.

“Supmu sudah siap.” Ulangnya lagi. Sejak kapan dia ada disini? Aku memandanginya dengan seksama. Antara bahagia dan tidak percaya.

“Aku ingin ke apartemen Donghae, tapi Hyukjae menahanku dan membawaku kesini.” Ujarnya menjelaskan. Seperinya pertanyaan itu terpampamg jelas di wajahku hingga dia mengerti dan jawabannya sangat tepat. Tapi hal itu benar-benar menusukku. Jawabannya tepat menghujam jantungku. Sakit.

“Jika kau sudah bangun aku akan pergi.” Dia menarik tangannya dari genggamanku. Tapi aku tidak mengijinkannya.

“Tolong lepaskan aku.” Ujarnya datar tapi sangat membuatku sakit. Dia mencoba menarik tangannya tapia ku juga melakukan hal yang sama. Tubuhnya kini terjatuh tepat di tubuhku.

“Batalkan pernikahan itu. Aku mohon.”

Kupeluk tubuhnya hingga dia benar-benar tidak bisa berkutik sama sekali. Awalnya menolak namun akhirnya menyerah dan membiarkan aku memeluknya. Aku tidak tahan dengan semua gejolak jiwaku. Ini benar-benar sakit. Apa seperti ini dulu dia mencintaiku? Tapi setidaknya aku tidak akan menikah dalam waktu dekat, dan itu pasti tidak sesakit ini.

“Sudah cukup? Aku benar-benar harus pergi dari sini. Donghae menungguku.” Ujarnya lagi tanpa menjawab permohonanku.

“Kau adalah tamu tak di undang. Datang padaku tanpa permisi. Tapi sekarang ingin pergi begitu saja? Tidak bisa. Aku tidakmengijinkannya. Aku ingin kau merecokiku seperti dulu.” Aku memeluknya erat. Hingga dia sulit untuk bernafas. Aku tidak perduli. Beberapa kali dia terhenyak. Tapi aku tidak berniat untuk melepaskannya.

Apa sekarang kau benar-benar melupakanku?

“Eun Kyo~ya, maafkan aku.” Tanpa terasa aku telah menangis. Aku tidak bisa membendung perasaanku lagi. “Aku mencintaimu, dan lupakan semua yang telah aku lakukan padamu.”

“Bisa kau berhenti melakukan ini? Kau bertindak seolah-olah aku adalah suamimu.” Aku memperhatikannya ynag sedang memasak dan membersihkan rumahku. Ini sudah 3 bulan. Melewati batas perjanjian kami.

“Semua mengira kit ada apa-apa. Dan aku terganggu.” Dia tidak memperdulikanku, tetap dengan aktifitasnya. Aku lelaki normal, bisa merasakan sinyal itu. Dia menyukaiku. Tapi aku belum memerlukan seorang kekasih, sama sekali belum. Apalagi terikat dengannya, bisa membuatku gila sepanjang hari dia memperhatikan aku. Memasak, mencuci, membersihkan rumah, bahkan bekal untuk dikantor.

 

Aku sudah memperingatinya tapi dia  tetap saja bertindak semaunya. Seolah-olah dia paling mengerti aku. Hingga pada suatu hari, aku benar-benar membuatnya berhenti berjuang.

“Berhentilah bersikap seperti ini. Ini akan melukai dirimu sendiri,Eun Kyo~ya. Saat aku menemukan wanita lain, maka kau yang akan terluka.” Aku kembali memperingatinya saat dia seperti biasa ada di rumahku. Dan sejak saat itu dia benar-benar tidak lagi kesini, hingga terdengar kabar dia mempunyai hubungan dengan Donghae dan akan segera menikah. Sejak saat itu pula aku tiba-tiba merindukannya.

“Lepaskan aku.”

Suaranya membangkitkanku pada kenyataan. Tubuhnya masih dalam pelukanku. Aku tidak memperdulikannya, masih tetap tak mau melepaskannya.

“Donghae sudah menungguku, kalau bukan karena Hyukjae ynag memaksaku, aku tidak mungkin menjejakkan kaki disini lagi, seperti keinginanmu.” Ujarnya dingin. Sangat dingin hingga membuatku membeku dan sangat takut. Perkataannya berpotensi membunuhku. Hanya dengan berkata seperti itu aku sudah hampir mati, apalagi harus melihatnya tertawa bersama orang lain. Aku terlambat menyadari perasaanku.

***

Will I die like this?

No medicine will work

You were my light, lighting up the darkness in my heart

Without you, my life is an endless question mark

Baby girl I miss you, yeah I miss you

Can’t I see you?

Aku sama sekali tak bergeming dari tempat tidur. Meringkuk disini sudah tiga hari, aku tidak ingin hari terus bergulir. Aku ingin menghentikan waktu. Tolong seseorang hentikan detik yang berdetak, dan sadarkan aku dari kebodohannya. Selamatkan aku dari penyesalan ini.

Aku memandangi botol-botol wine yang berserakan diatas lantai, beberapa botol masih tersisa. Aku ingin meraihnya tapi tubuhku membeku. Menegang seakan tidakbisa bergerak. Aku merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhku. Baiklah, aku memang sakit, kepalaku berputar. Ini hanya mimpi, aku berharap ini adalah mimpi burukku. Aku ingin segera terjaga, aku tidak ingin mati seperti ini. Tapi rasanya ini lebih menyakitkan. Aku mati rasa.

Aku mencoba untuk bangkit, tapi yang ada aku terkapar diatas lantai. Botol wine yang aku injak menggelinding ke bawah meja dan menyentuh dinding lalu berhenti. Tubuhku terjatuh menimpa beberapa botol wine lainnnya hingga pecah. Pergelangan tanganku sobek terkena pecahan kaca, namun aku masih belum jug atersadar meski rasa sakit mendera.

Rasa sakit ini terasa lebih sempurna setelah aku tak lagi melihat wajahnya. Dan belakangan, beberapa bayangan dia akan menikah membuatku semakin membuatku putus asa.

“Kau kenapa Hyunng? Aish! Kau semakin kacau. Aku tidak pernah melihatmu seperti ini.”

Hyukjae berusaha mengangkatku, tapi aku menolak. Dia berjongkok dan memandangiku. Aku telah kalah. Tatapan kasihannya menyempurnakan kekalahanku.

“Hyuk~ah, aku tidak rela.” Aku berkata lirih. Mungkin terdengar seperti sebuah keluhan di telinganya, tapi bagiku itu adalah hal terjujur yang pernah aku katakan. Itu adalah rintihan jiwa yang ringkih ditelan rasa sesal yang memenuhi rongga tubuhku.

“Kau, kau, kau.. Yak! Sudah berapa hari kau tidak mandi?” Hyukjae menutup telinganya dan mengangkatku. Aku tidak ingin berusaha bangkit.

“Hyuk~ah..” aku tidak sempet berkata-kata karena Hyukjae sudah membungkam mulutku dengan tangannya. “Jangan mengatakan apapun, kau mandi lalu kita pergi makan. Aku akan mendengarkan ceritamu sambil makan.” Dia sekuat tenaga mengangkatku ke kamar mandi dan memutupnya. Aku terdiam di pintu kamar mandi. Berpikir sejenak tentang tawaran Hyukjae untuk makan dan mendengarkan ceritaku. Mendengarkan kisahku yang berulang-ulang.

***

Aku mengenakan baju yang santai saat keluar dari rumah. Kaos putih dan jeans putih lamaku. Berjalan menyusuri jalanan kota tanpa berkata apapun. Hyukjae juga tidak mencoba emngajakku bicara, mungkin dia menjaga privasiku.

“Kita makan disini?” dia menepikan mobilnya di depan sebuah rumah makan kecil.aku hanya mengangguk. Aku tak kuasa untuk melangkah hingga Hyukjae yang tadinya menungguku untuk turun kuni berlari kecil menghampiri. Membukua pintu mobil dan memapahku keluar. Hufh, entah sudah berapa hari aku tidak makan, aku sudah lupa.

“Kau sakit Hyung, nanti setelah makan aku bawa kau ke dokter, mengganti perban lukamu.” Dia menunjuk lenganku yang dililit perban. Sebelumnya di apartemen, dia membalut lukaku dengan perban yang ada di kotak P3K seadanya. Hanya untuk menghentikanpendarahannya dan menghindarinya dari debu. Aku tertawa. Dia seperti Eun Kyo, memperhatikanku hingaga detail terkecil. Bahkan memilih baju untukku. Aku memandangi Hyukjae dengan seksama. Tersenyum kecil mengiringi langkahnya.

“Aku bukan Eun Kyo, Hyung.” Ujarnya tanpa melepaskan tangannya dari lenganku. “Jika bukan karena kau pewaris harta kekayaan berlimpah dari Appamu, aku akan membiarkanmu mati konyol karena cinta. Tapi aku masih peduli dengan Appamu.” Lanjutnya dengan muka terlihat kesal. Kini aku mengeluarkan tawa kecil mendengar semua ocehannya. Dia memapahku hingga duduk di kursi.

“Sup Kimchi hangat dengan daging sapi.” Hyukjae memesan menu. ‘Sup Kimchi?’ Salahkah aku jika aku kembali mengingat wanita itu? Aku diam menunduk. Tanpa berkata apapun, kini relung jiwaku yang tadinya mulai hangat berubah menjadi lorong gelap dan membuatku tersesat kembali.

“Sekarang ceritakan, aku akan mendengarkan semua keluhan sadarmu.” Hyukjae menopang kedua tangannya di dagu. Aku meliriknya sebentar dan tersenyum.

“Sudahlah, lupakan saja. Kau juga pasti sudah bosan dengan ceritaku.” Aku melempar pandanganku ke luar. Melalui kaca putih yang jadi penyekat antara rumah makan kecil ini dengan jalanan. Tapi pandanganku tertuju pada sepasan laki-laki dan wanita di seberang jalan. Dengan meneteng beberapa bungkusan di tangan, dan sang wanita menautkan tangannya di lengan laki-laki itu. Eun Kyo dan Donghae.

“Tuan, kita sudah mengitari komplek ini beberapa kali.” Eun Kyo memegang lututnya dan menunduk. Aku memandangi kaki jenjangnya yang memekai high heels. Sepatu itu pasr=ti menyiksanya. Tapi aku tidkapeduli. Rasa kesalku tentang rapat yang sedikit memojokkank tadi membuatku sedikit egois.

“Jika kau sudah lelah, silakan pulang saja.” Aku berjalan melangkah sati persatu perlahan meninggalkannya. Sekilas aku mendengar dia mendesis . aku tidak peduli.

“Aku tidak lelah. Aku juga belum menyiapkan bajumu untuk besok.” Dia berlari kecil mengiringiku. Tapi aku masih berjalan melangkahlebar meninggalkannya. Setelah berlari sambil terseok dia akhirnya tiba disampingku.

“Aku akan menemanimu sampai kau pulang.” Ujarnya. Tangannya perlahan menyusup di lenganku, lalu merapatkan tubuhnya. Aku berhenti dan memandangi apa yang telah dia lakukan. Dia terdiam dan mengedarkan pandangan kearah lain. Wanita ini!

“Lepaskan!” aku berkata tegas padanya. Dia seolah tidakmemperdulikanku, berpura-pura tidak mendengarnya. “Park Eun Kyo.” panggilku nyaring membuatnya tersentak. Perlahan dia menarik tangannya dan menaruhnay di belakang punggungnya sendiri.

“Akan terlihat aneh jika kita berjalan berdua tanpa berpegangan tangan. Aku rasa itu hal yang wajar.” Ujarnya.

“Tapi kita bukan sepasang kekasih. Kita relasi kerja, bahkan atasan dan bawahan.” Ucapku tajam. Hal itu membuatnya sedikit terbelalak. Menatapku tidak percaya. Beberapa detik dengan ekspresi itu lalu dia tersenyum.

“Haha, benar. Aku lupa, kita adalah atasan dan bawahan.” Dia menunduk. Aku tidak bermaksud untuk merendahkannya. Aku hanya tidak suka dia bertindak manja seenaknya padaku.

“Tapi kau juga lupa. Bawahan sepertiku juga mempunyai perasaan. Dan aku mencintaimu.” Dia berbalik meninggalkanku, berjalan sendiri menyusuri jalanan sepi. Aku memandangi kepergiannya. Dia mengatakannnya. Akhirnya dia mengatakan kata itu padaku. Jadi apa yang aku sangkakan selama ini benar.

“Supmu sudah hampir dingin.” Suara Huykjae membuyarkan semua bayangan ynag kembali berputar di otakku. Aku menarik diriku dari hayalan. Tapi sebelum aku kembali pada makananku. Aku melihat Eun Kyo terpeleset dan hampir jatuh, tapi tangan Donghae dengan sigap meraihnya. Aku urung untuk melahap makan siangku. Selera makanku lenyap entah kemana. Heels sepatunya patah dan membuatnya kesulitan untuk berjalan. Donghae masih pinggang Eun Kyo dan membantunya berjalan, memapahnya untuk duduk di kursi. Aku memperhatikan mereka. Terlihat sekali Donghae memang sangat melindungi wanita itu, dia sampai melepas belanjaannya agar tidak membiarkan wanita itu terjatuh. Aku bisa melihat dari matanya, dia sangat menjaga wanita itu. Melihat hal itu aku menjadi sedikit emosi, tapi juga masih mencoba berpijak pada kenyataan. Setidaknya Donghae tidka akan melukainya. Aku ingin merelakannya, tapi tidak bisa.

“Supmu dingin Hyung.” Hyukjae kembali menyapmu. Aku menoleh pada Hyukjae tapi matanya kini tertuju pada Eun Kyo dan Donghae yang duduk tepat di seberang sana. Hyukjae menghela nafas.

“Kalian bertiga memang selalu berjodoh.” Dia kembali melahap makanannya. Begitu juga aku. Sup ini terasa hambar, sehambar hidupku. Tak ada lagi rasa asin itu. Wanita itu seperti garam. Jika aku makan akan terasa tidak enak. Tapi jika dimasukkan ke dalam masakan, maka akan terasa gurih. Begitu juga dengannya, terasa asin saat dia terus merecokiku dengan sikapnya. Tapi saat tanpanya kehidupanku terasa hambar. Dia kombinasi penting dalam hidupku, dan aku mencoba menghilangkannya.

Author POV

Eun Kyo terlihat gugup duduk di depan cermin. Wajahnya sudah selesai dirias. Disamping kiri dan kanannya duduk dua orang gadis. Rae Na dan Ae Rin. Yang memandangnya dengan pandangan yang berbeda. Rae Na dengan wajah yang ceria, sedang Ae Rin berwajah tegang.

“Onnie…” keduanya bersamaan memanggil Eun Kyo. Eun Kyo hanya memandangi mereka satu persatu melalui refleksi cermin. Dala hatinya merasa kalut.

“Onnie, kau yakin dengan keputusanmu ini? Apa kau akan merasa bahagia? Eoh?” Ae Rin mendahhului Rae Na yang ingin bicara.

“Tentu saja dia bahagia!” sergah Rae Na. “Setidaknya dia tidak akan menangis lagi.” Tambahnya. Ae Rin tidak sependapat dengan Rae Na. “Tapi Onnie, jika kau masih menyukai Jung Soo Oppa, masih tidak terlambat untuk menghentikannya, sebelum tamu semakin banyak.” Sambungnya.

“Aigoo, Rae Na Onnie, apa yang kau katakan?” tanya Ae Rin.

Eun Kyo menatap mereka, lalu kemudian menunduk. Airmatanya mulai basah.

“Aku, aku tidak yakin.” Dia mengangkat wajahnya dan menatap Rae Na dan Ae Rin.

“Onnie. Donghae Oppa datang!” tiba-tiba seseorang membuka pintu dan membuat ketiga gadis yang sedang bergelut dengan pikirannya masing-masing tersentak. Eun Kyo cepat-cepat menghapus airmatanya. Eye linernya kini sudah meluber kemana-mana. Hee Rin langsung mematung di depan pintu melihat Eun Kyo menangis. Ae Rin dan Rae Na keluar dari kamar rias.

“Aigo, wae gurae Onnie~ya?” Hee Rin mendekati Eun Kyo dan duduk dihadapannya, namun sebelumnya dia menarik kursi Eun Kyo membelakangi cermin.

“Ah….. eottokhaji? Eoh? Aku harus bagaimana? Sebelumnya aku sangat yakin aku bahagia. Tapi sekarang?” Eun Kyo menyapu airmata yang ada di pipinya.

“Ada apa denganmu? Kau jangan gila Onnie, sudah cukup kau dibuat gila dengan sikap Jung Soo Oppa padamu.” Hee Rin membantu Eun Kyo merapikan riasannya. Eun Kyo tidak bisa menghentikan tangisnya. Airmatany terus menyeruak keluar. Sedang Hee Rin terus sibuk membenahi make-up Eun Kyo hingga dia lelah dan membiarkan Eun Kyo menangis. Mungkin membiarkanya menangis akan membuatnya tenang, begitu batin Hee Rin mengatakan.

“Sudah siap?” suara Donghae membuat Hee Rin dan Eun Kyo menoleh. Donghae sedikit tersentak melihat mata Eun Kyo yang terlihat sembab. Donghae  mendekatinya. Hee Rin menyingkir dan membiarkan Eun Kyo dan Donghae bersama mencuri waktu.

“Kau kenapa?” Donghae berjongkok sambil mengusap pipi Eun Kyo dengan ibu jarinya. Eun Kyo tidak bisa menahan airmatanya, dan menghapusnya dengan tangannya sendiri.

“Ani, aku tidak apa-apa. Aku hanya sedih meninggalkan Rae Na di apartemen kecil itu sendirian.” Eun Kyo berbohong. Donghae hanya tertawa. Wanita ini tidak pandai berbohong sama sekali. Tetapi Donghae tidak berusaha untuk mengungkit perasaan Eun Kyo saat ini. Lelaki itu sungguh mengerti apa yang dirasakan Eun Kyo.

“Uljima, waktunya sebentar lagi.” Donghae berdiri. Tapi matanya tak lepas dari wajah Eun Kyo yang menunduk. Membiarkannya hening beberapa saat hingga akhirnya Donghae memutuskan utuk melangkah meninggalkan Eun Kyo. Tapi tanpa dia duga Eun Kyo meraih tangannya dengan erat. Menggenggamnya sangat erat hingga terasa sakit.

“Jangan pergi, tolong disini sebentar lagi.” Pinta Eun Kyo tanpa melepaskan tangannya. Donghae berbalik dan mata mereka saling beradu. Donghae ingin sekali merengkuh tubuh Eun Kyo dalam pelukannya. Tapi dia tidak melakukannya. Dengan melakukan hal itu dia akan semakin melihat luka pada diri wanita itu. Dia tidak ingin semakin menyadari perih yang dirasakan Eun Kyo meski dia tahu betul akan itu. Dia membiarkan Eun Kyo menggenggam tangannya dan tanpa dia duga wanita itu bangkit dan memeluknya, sambil menangis.

“Kau tau? Sebenarnya mempelai laki-laki tidak boleh menemui mempelai wanita seperti ini.” Ujar Donghae sambil tertawa. Eun Kyo bukannya tertawa dengan gurauan Donghae malah semakin menangis dan semakin memeluknya. Donghae mengambil nafas pendek dan menghembuskannya lembut.

“Baiklah, 5 menit lagi.” Donghae membalas pelukan Eun Kyo. menciumi kepala wanita itu. Mencoba mengerti keadaannya. “Karena tidak ada Appa, maka yang akan membawamu ke altar adalah Ahjussi tetangamu.” Bisik Donghae di telinga Eun Kyo. membuat wanita itu tertawa kecil dan mendongak menatap wajah Donghae. Mereka kembali bertatapan. Dalam. Donghae meraih pinggang Eun Kyo, semakin merapat ke tubuhnya.

“Neomu Yeoppuda.” Mereka kembali berpelukan dan tersenyum.

“Aku yakin Onnie akan bahagia.” Komentar Rae Na pada Ae Rin yang mengintipnya di pintu yang sedikit terbuka. Ae Rin hanya mengangguk, tapi dalam hatinya terbersit keraguan. Hee Rin hanya terdiam memandangi apa yang dilakukan Eun Kyo dan Donghae. Memang terlihat sangat serasi. Bahkan Donghae terlihat sangat extra hati-hati dalam mengurus semua pernikahannya agar membuat Eun Kyo senang.

“Tapi ini salah.” Hee Rin angkat bicara. Ae Rin dan Rae Na berbalik memandangi Hee Rin. Rae Na terlihat tidak terima.

“Apanya yang salah Onnie? Eun Kyo Onnie terlihat sangat bahagia.” Ujar Rae Na dengan tegas meski dalam hatinya memang ada keraguan. Ragu karena setiap malam dia melihat Onnienya merenung sendirian di depan jendela kamarnya. Ragu karena surat yang ditulis Eun Kyo pada Jung Soo dan tidak pernah sampai setiap malam tidak pernah berhenti. Bahkan tadi malampun rutinitas itu masih terjadi. Begitu banyak rahasia yang Eun Kyo simpan dari Donghae, apa itu akan membuat mereka bahagia? Itu yang ada di benak Rae Na sekarang. Tapi dia menginginkan Onnienya bahagia, tidak ingin melihatnya seperti kehilangan kesempatan hidup setiap malam.

“Seharusnya bukan Donghae.” Timpal Hee Rin. Dia mendengus pasrah. “Tapi setidaknya Onnie mencoba untuk bahagia. Daripada dia terus terpuruk dengan hidupnya. Ini jug ademi kau!” Hee Rin memukul pelan kepala Rae Na dengan tas tangan kecilnya.

“Yak! Onnie! Kenapa menyalahkanku?” ujar Rae Na sengit. Dia mengusap kepalanya dan menampakkan wajah cemberut pada Hee Rin. Hal itu membuat Eun Kyo dan Donghae menoleh kearah mereka. Mereka saling bertatapan.

“Hehehehe, Onnie, tamunya sudah banyak. Berpelukannya nanti malam saja.” Ae Rin tiba-tiba berbicara. Dan mendengar perkataan Ae Rin, Rae Na menginjak kaki Ae Rin.

“Onnie, kau yang membuat mereka terganggu.” Ae Rin menggeram sambi memegangi kakinya. Donghae tersenyum dan melepaskan pelukannya dari Eun Kyo. dia perlahan berjalan melangkah keluar.

“Acara akan segera dimulai.” Ujar Donghae pada ketiga gadis yang berdiri di ambang pintu. Hee Rin segera berlari kecil menghampiri Eun Kyo.

“Biar aku saja yang merapikannya.” Ujarnya sambil menoleh pada Ae Rin dan Rae Na. “Kalian keluar saja.” Lanjutnya.

Dia menyapu mascara yang terlah meluber di pipi Eun Kyo. eun Kyo hanya pasrah dengan apa yang dilakukan Hee Rin padanya.

“Neomu yeoppuda? Aish! Laki-laki memang pembual.” Gerutu Hee Rin disela aktifitasnya merapikan make –up Eun Kyo. wanita itu hanya tersenyum. Sebenarnya Hee Rin ingin menanyakan tentang perasaan Eun Kyo sekali lagi mengenai Jung Soo, tapi melihat Eun Kyo tersenyum lebar, mengurungkan niatnya untukmenanyakan itu.

“Sudah selesai. Kajja. Donghae Oppa sudah menunggumu.” Hee Rin menarik tangan Eun Kyo danmenyerahkannya pada lelaki setengah baya yang berdiri di ambang pintu.

“Kau terlihat cantik Eun Kyo~ya.” Ujarnya sambil memegangi tangan Eun Kyo yang gemetar. Lelaki tua itu sudah menganggap Eun Kyo seperti anaknya sendiri. Jik ada masalah, dialah yang pertama kali membantu dua bersaudara yang terkadang sering berdebat.

“Benafaslah.” Bisiknya. Eun Kyo meletakkan tangannya di lengan lelali itu. “Bernafaslah, tapi pelan-pelan. Tenang dan kau akan baik-baki saja.” Ahjussi itu membawa Eun Kyo melangkah memasuki ruangan yang dihadiri banyak para tamu undangan.

Pintu dibuka. Eun Kyo dan Kim Ahjussi berhenti sebentar. Suasana mendadak hening seolah menyambut Eun Kyo dengan tegang. Diedarkan pandangannya ke seluruh tamu undangan. Tapi tak ada satupun yang diingatnya kecuali Hyukjae yang duduk di barisan kelima, tepat di sisi jalan yang akan di laluinya. Dadany tiba-tiba bergemuruh. Dimana Hyukjae biasanya ada Jung Soo. Mungkinkah lelaki itu datang?

Tiba-tiba Eun Kyo merasa sesak. Tangannya bergetar hebat. Dia ingin berlari dari sini. Bayangan  kehidupan yang terikat tanpa perasaan kini membuatnya takut. Dia menoleh pada Kim Ahjussi yang dibalas dengan senyuman bijak darinya.

“Ini sangat wajar, ayo kita melangkah.” Kim Ahjussi setengah menyeretnya dan mulai melangkah. Eun Kyo ingin menangis memandangi punggung seseorang yang sudah berdiri di hadapannya, membelakanginya. Eun Kyo melangkah berat. Heels tinggi yang dipakainya seolah menancap ke lantai dengan dalam dan semakin membebaninya.

“Eun Kyo~ya, kau harus bahagia!” terdengar bisikan tajam dari arah samping. Eun Kyo ingin menoleh namun tulang lehernya terasa kaku. Hyukjae, itu suara Hyukjae. Dia mengenalinya. Bahagia? Harus bahagia? Eun Kyo yakin Hyukjae sudah mengetahui setengah dari rahasia besarnya. Dan itu membuatnya sedikit merasakan sakit yang menusuk penghujung jantungnya. Perkataan Hyukjae seolah menyemburkan kekuatan besar yang mampu membuat Eun Kyo sedikit tenang. Harus bahagia, yeah, aku harus bahagia.

Eun Kyo kembali berjalan dan mencoba yakin, dia mulai bisa menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang ia lemparkan untuk meyakinkan para undangan bahwa dia memang bahagia. Langkahnya semakin banyak, namun rasanya altar itu semakin jauh. Eun Kyo sedikit pusing namun Kim Ahjussi memeganginya dengan erat. Hingga akhirnya tugas lelaki setengah baya itu berakhir. Dia menyerahkan tangan Eun Kyo pada lelaki yang menunggu Eun Kyo berdiri di hadapan altar. Eun Kyo tak berani menengok kearah Donghae. Di atakut akan memberikan tatapan yang tidak seharusnya untuk lelaki itu. Biarlah orang mengira aku malu. Begitulah kira-kira keputusan yang diabuat Eun Kyo dengan sikapnya. Acara segera dimulai. Dia samasekali tidak mendengarkan apa yangpendeta bicarakan. Hingga sebuah remasan ditangannya membuatnya tersentak. Dia segera mendongak menatap Pendeta yang akan menikahkannya.

“Park Eun Kyo. Apakah kau bersedia menerima Park Jung Soo untuk menjadi suamimu, dalam suka maupun duka, dalam susah maupun senang hingga maut memisahkan?”

Apa yang di dengarnnya membuatnya sedikit linglung. Eun Kyo menatap Pendeta itu dengan tatapan tidak percaya. Dia menolehkan kepalanya perlahan kesamping. Tubuhnya limbung, saat melihat seseorang yang ada disampingnya. Tatapan tidak percaya itu kini terlihat seperti tatapan ketakutan. Jung Soo meraih pinggang Eun Kyo agar wanita itu tidak terjatuh.

“Dia pasti bersedia.” Ujar seseorang yang duduk di barisan para tamu, paling depan. Dia berdiri dan memandang Pendeta dengan tajam.  Lee Donghae.

“Jawabannya pasti bersedia.” Ulang Donghae. Eun Kyo menoleh padanya. Lagi-lagi tatapan itu. Tatapan tidak percaya juga dia tujukan pada Donghae. Donghae mengangguk. Mata teduhnya memandangi Eun Kyo dengan lembut. Seolah memberikan begitu banyak pengertian pada wanita itu. Eun Kyo menitikkan airmata. Dia merasa ini sebuah lelucon. Hampir saja dia berlari, namun suara Pendeta mengejutkannya.

“Park Eun Kyo. Apakah kau bersedia menerima Park Jung Soo untuk menjadi suamimu, dalam suka maupun duka, dalam susah maupun senang hingga maut memisahkan?”

Jung Soo menggenggam tangan Eun Kyo erat. Menatap wanita it dengan penuh harap. Tangan kirinya penuh dengan perban, Eun Kyo melihatnya.

“Aku bersedia.” Ujarnya tanpa melepaskan tatapannya dari tangan Jung Soo. Apa yang dia lakukan? Batin Eun Kyo bertanya-tanya. Apa dia mencoba bunuh diri? Beberapa lama hening, hingga sebuah ciuman di keningnya membuatnya  keluar dari semua dugaan yang ada dalam benaknya. Dia tersadar lalu menengok kebelakang. Kursi yang tadi didududkinya. Eun Kyo menjadi panik. Dia mencari Donghae denga menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, hingga akhirnya dia menemukan Dsosok Donghae sedang berjalan meninggalkan gereja, memaliu kaca jendela.

“Sebentar. Acaranya sudah selesai kan?” Eun Kyo melepaskan sepatunya dan bersiap berlari. Namun sebelum berlari dia menatap Jung Soo. “Sebentar saja.” Ujarnya. Diangkatnya gaun pengantin yang dikenakannya agar memudahkannay untuk lari. Para tamu undangan berdiri menyaksikan sesuatu yang tidak biasa. Pengantin wanita meninggalkan mempelai prianya setelah acara pernikahan selesai dan mereka resmi menjadi suami istri.

Eun Kyo terus berlari mengejar Donghae. “Donghae~ah!” Panggil Eun Kyo nyaring, namun Donghae tetap melangkah tanpa memperdulikan Eun Kyo. eun Kyo terus mengejarnya hingga dia mampu meraih tangan Donghae.

“Apa yang kau lakukan? Eoh? Apa aku terlihat sepert mainan kalian?” Eun Kyo mulai menangis dan menyapu airmatanya segera sebelum jatuh ke tanah. “Kau jahat!” Eun Kyo medorong tubuhnya kearah Donghae dan menjatuhkannya dipeluakn lelaki itu.

“Aku tidak ingin seperti ini Donghae~ah, aku tidak ingin melukaimu. Aku baik-baik saja. Dengan sikapmu yang seperti ini aku akan merasa bersalah selamanya padamu.” Eun Kyo memukul dada Donghae dan terus menangis. Jung Soo memandangi mereka tak jauh dari Eun Kyo dan Donghae berdiri.

“Aku baik-baik saja. Aku baik-baik saja.” Donghae mengelus punggung Eun Kyo dengan lembut. Eun Kyo terus menangis. Dia merasa bingung apa yang harus dilakukannya. Dongahe terlalu baik untuk diperlakukan seperti ini. Dan Jung Soo, dia benar-benar tidakbisa menolak lelaki itu. Eun Kyo merasa sangat jahat.

“Jangan memberiku pengertian lagi. Aku sangat terbebani denganpengertian ynag kau berikan.” Ujar Eun Kyo terbata, masih sambilmemukul dada Donghae. Beberapa kali dia sesenggukan dan meremas sisijas Donghae.

“Aku tidak memberikan pengertian. Kau tidak meninggalkanku, aku yang meninggalkanmu. Jadi tidak perlu merasa bersalah seperti ini.” Donghae mencoba menenangkan Eun Kyo yang mulai lemas. “Uljima, kau membuat kit amenjadi pusat perhatian Eun Kyo~ya. Dan itu tidak baik untukku. Bisa-bisa aku tidak menemukan istri jika kau terus seperti ini.” Perkataan Donghae membuat Eun Kyo kembali memukul dadanya.

“Benar kau baik-baik saja?” Eun Kyo mendongak memandangi Donghae. Donghae menjawabnya dengan anggukan.

“Sampai detik ini aku baik-baik saja. Sekarang kembali pada suamimu.” Donghae mengalihkan pandangannya pada Jung Soo. Namun Eun Kyo tidak juga melepaskan pelukannya.

“Kita jangan bertemu lagi. Aku takut perasaanku akan membuatku egois dan merebutmu darinya.” Lanjut Donghae. “Pesawatku akan berangkat 2 jam lagi. Aku harus check in.”

“Kau mau kemana?” tanya Eun Kyo.

“Tidak akan aku beritahu agar kau tidak mencariku.” Jawab Donghae. Dia mengangkat Eun Kyo dan membawanya ke hadapan Jung Soo.

“Jung Soo~ssi. Bawa istrimu sebelum aku berubah pikiran.” Donghae menyerahkan Eun Kyo dan mau tidakmau Eun Kyo melepaskan pelukannya dai tubuh Donghae. Sebelum pergi, Donghae mengelus kepala Eun Kyo untuk terakhir kalinya.

“Kalian harus bahagia.” Kata perpisahan meluncur dari mulut Donghae dengan senyuman. Eun Kyo dan Jung Soo menatap Donghae dengan lekat. Sebelum melangkah, Donghae menepuk bahu Jung Soo dengan 2 kali tepukan, lalu beralih menyapu airmata Eun Kyo dan mengusap kepalanya. Setelah itu Donghae berbalik danmeninggalkan mereka, dengan langkah pasti dan goresan luka yang dia yakin akan sembuh seiring waktu.

“Donghae~ah, Gomawo.” Gumam Jung Soo mengiringi kepergian Donghae. Jung Soo merangkul Eun Kyo yang masih menangis. Dalam hatinya dia sangat berterima kasih dengan Donghae. Apapun yang dia lakukan itu sangat berpengaruh besar dengan hidupnya. Dan Jung Soo berharap Donghae mendapatkan seseorang jauh lebih baik dari dirinya. Seseorang yang bisa memberikan kebaikan dalam hidupnya.

Should I smile or cry?

Don’t make me wonder and make me smile girl

Note : akhirnya selesai juga. Buahahahahahaha, ige mwoya? Alur tidak jelas, plot tidak rapi, diksi amburadul, ide loncat-loncat. Lengkap kekacauannya disempurnakan dengan typo. Assa… itu ciri khas tulisanku. Awalnya pengen bikin cerita komedi, tapi malah jadi bikin ga jelas begini. Ya oloh, kesian Onge, kenapa aku tega bikin dia seperti ini? *geplak Teuki* Oppa noh gara-garanya ga rela banget aku bermain sebentar dengan Onge.. maaf yah, ini ff galau ditengah surutnya ide. Hufh, untuk Omelet, nanti yah… bunuh aku neh yang ga menemukan ide untuk Omelet… Entah kenapa akhir-akhir ini aku sering uring-uringan. Banyak draft yang tidak lengkap, Omelet 2 lembar, Songfic TOP 2 lembar, Pak Family 6 lembar. Dan sekarang ide MLT Other Moment berkeliaran di otakku setengah –setengah. Aduh memang otak setengah ini susah yah… buat yang menantikan ff yang lain, sabar yah… muah muah.

Eh tapi tau ga lagu apa yang aku pake disini? Hem? Itu lagunya Kim Jin yang kalian benci itu loh! Suaranya jinjja daebak! Keren banget sumpah! Dapet kerennya dapet sedihnya… pokonya assek banget apalagi dipadu dengan suara seksi Tante Baek Ji Young, lengkap lah lagu ini dahsyatnya… ada yang tau lagunya? Pasti udah tau dong…

54 responses »

  1. fyuh selesai baca juga. Aku kayaknya harus baca ulang karna ga konsentrasi. Yaiyalah gimana mau konsen, baca 5 ff sekaligus wkwkwk.
    Syuuu total galau dari paragraf awal sampe akhir. Cuma paragraf terakhir yang nggak #plakplak
    Onge jadi orang ketiga lagi. Cupcup jan nangis, ama aku aja sini bang. Dan ceelah, Park Keran err maksudnya Park AeRin a.k.a Meta Eonn ngeksis lg disini. Hehehehe

    FYI, donge pergi menemuiku ya :3 fufufufu
    Udah ah aku mau nonton jaksa kim dulu~

  2. Yaaakk!! Eonni~ya ige mwoya?!
    Knpa akhir2 ini bang onge hadir d’antara kalian, eoh?!
    Aiigooo bang onge mentang2 wajahmu sendu slalu aja jd pihak yg trsakiti!!
    Oppa Aku brsdia ko jd pnggati eunkyo eonni d’hatimu, dgn snang hati malah!!
    *peluk onge oppa*
    tp sya seneng si jung soo oppa d’buat mendrita d’sni, tp kurang sadis eonni…jahahaha
    d’bgian akhir sya udh nebak2 tuh klo jung soo yg ad d’altar, trnyata bener kn!!
    S’cra onge kn slalu mngalah!! Ya kga bang?! *toel dagu onge*

  3. Pas ngebaca, feel nya dpt banget. Ksian tuh eun kyo eonni awalnya ga di peduliin sma abang teuki.. Eeh ujung2 nya mah di kejar2 jga sma si abang. Ngeliat donghae, ksian jga dia yah, kaga beruntung tuh dapetin eun kyo. Soal nya eun kyo udah jodoh dunia akherat sama abang teuki.

  4. romantis bngt . . . .
    bnr2 romantis onnie . .
    feel.a dpt bngt . . .
    donghae oppa baik bngt ngerelain eun kyo onnie bwt jung soo oppa . . .
    klw gtu donghae oppa sama aku aja ya . . . .
    ^_^
    pokok.a daebak onnie . .
    lgu.a jga romantis , suka sma lagu.a . .

  5. eonny…
    kasian amat donghae.. /pukpuk
    sini donghae ama aku ajah..

    Eunkyo sbnrnya mau tpi jual mahal.. hihi..
    keren onnie ffnya..
    ad meta nyempil disitu.. hihi..
    pas eeteuk terpuruk, aku hampir nngis…
    untung bacanya d kamar, kl ga org ruma bs tny knp mata memerah.. hoho..

    aku tggin omelete sama mltnya..

    • ih…
      jd pada pengen onge…
      mau? aku mau sama keduanya sebenarnya.
      ini kan aku ditolak dia awalnya…
      hampir aja kan? g ampe nangis??

      omelet belum… mlt jg belum…
      ini hayalan lagi liar…

  6. padahal chemistry antara kyo-hae itu lebih kerasa dari pada teukyo . Trus pas adegan di depan pendeta , aku udah bisa nebak banget kalo calon pengantinnya pasti udah di ganti . Tapi kurang suka sih ama sikap nya teuk disini , serasa egois sekali . Dari semua ff yg couple nya teukyo , aku paling gak suka ama sikap teuk yg disini eon . Biasa kan si teuk itu bawaan nya romantis ama mesum #plak . Tapi overall bagus kok , walopun di setiap ff onnie gak lepas dari TYPO . Genre seperti ini udah sering banget , cinta segitiga . Hahaha

    • nah ini lagi. asik banget liat komen kalian macam-macam..
      banyak persepsi atas cerita yang aku sampaikan, unik… inilah makanya aku suka baca komen dan sangat menghargai komen kalian…

      gak suka? iyalah kan oppa jahat disini…
      cinta itu seputar itu aja, tinggal bagaimana kit amencari kata yang tepat untuk menjabarkannya dan menceritakannya.. meski sudah sangat biasa, tapi terkadang yang biasa jadi luar biasa *ngelantur banget*

  7. eonni~ ini knp si ikan mndrita mulu yahh ckckck, ini psti krn mukamu yg sendu mulu abang..mnta dicium :* hahaha /ketularan yadong metaeonn/plakk😀
    dr paragraf awal udh sukses bkin galau dan serasa pngen makan teuk,,aing~si oppa mah /plakk
    hae~ knp kau sllu jd orng ketiga diantara teukyo /pukpuk.oppa/ sni abang blik ke plukanku terbka lebar kok jiahaha :p
    hyukkk..suamikuuuuu :)) apa yg kau lkukan?!! knp mlah menyodorkan wnita aneh pd ahjussiku tercintahhh /digeplak fikaeonn/
    jiaahhh~metaeonn & puueonn eksis lgii hihihi😀 psti lg pd joget india tuh /plakk.abaikan/ .__.V psang watados ala hyuna
    fikaeonn,,ini ep ep kren sumpah galau😀 hihi

    • iya kayanya… hahahahahahahahah
      makan? ih nara serem ih sekarang…
      kenap ayo nge km selal jadi orang ketiga? jangan tnya aku tanya onge dong nar…

      suamimu?? sejak kapan hyuk? kok kaga ngundang aku??

  8. Eonnie~ya, aku suka.
    Akhirnya Eunkyo sama Jungsoo juga.
    Ending nya mirip sama Stolen Kiss nya karya Hyena Eonnie.
    Tapi tokohnya Yesung.
    Over all, aku suka ff ini walopun aku ngga tau lagunya.😀

  9. Huaaa
    kasian onge sayang.
    Sini sama tante nak. Eh…
    Hahahhaha
    nah kan makanya si ahjusi jgn sok nolak deh awalnya. Sampe ga mau makan segala

  10. terharu bca ini, kalo ada yg blg jungsoo egois? menurut aku itu adalah hal yg lumrah, toh aku juga akan kayak gitu kalo ada diposisi jungsoo, tp sifat ini terimbangi dgn adanya donghae yg hadir membawa sbuah ketulusan dan kerelaan.. so, adakah kata yg lbh tinggi dari ddaebak? kalo ada aku akan cap cerita ini dgn kata itu.🙂
    gomawo ne eon udah mau menumpahkan segala pemikiran mu dan membaginya kpd kami..🙂

    • nah ini pikirannya berlogika…
      aku jg mungkin akan bersikap begitu meski ga seekstrim ini…
      terima kasih juga udah baca….
      suatu kepuasan trsendiri klo tulisan aku dibaca…
      dan suatu penghargaan yang besar jika dikomen…

  11. eonnieeeee
    Maaf baru komen skrg
    Kmptr aku rusak dr berminggu2 lalu
    Susah mau komen dr hp T.T
    Dsni teukie sok keren amat digila gilai eun kyo
    Kasian donghaeeeeee
    Mending dia nikah sama aku
    Hahaha

  12. Eonni kenapa donghaenya menderita mulu, ga kesian apa? *peluk donghae*
    Ah ini ceritanya bikin aku galau, hampir nangis loh Eon aku -_-
    Nyentuh banget Eon ceritanya, emosi nya dapet. Keren!

  13. hwuaaa…kasian onge gagal nikah lg, onge kok baik bnget sich gmn ceritanya kok jungsoo bs gantiin onge di altar…
    *sini pelukan ama aq aja ya onge*…

  14. donghae oppa,,,,,,,,,,,,,,,,,,,sini sama aku!!!!!!!!!!!!!*tarik donghae ke penghulu*

    hahaha…

    oen,, teuki kurang disiksa tuh,,
    coba bikin lebih menderita tuh ajussi,,kekekekekkkk…..

  15. y tuhan, demi apa ini abang ikan saya baek bgt
    sini bang, ke bdg aja nti nikah ma aq, aq janji ga akan mengecewakanmu beib wkwkwk
    arghhhhh…. ini ff mu yg pertama yg aq baca stlh terdampar g jls cr2 ff yg cast nya ikan nemo
    tp tp tp knp isinya galau…???tidakkkkkkkk
    #kecup basah buat donghae, gigit teukpa

  16. Sumffeh.. Bener bener ser2an bacanya. Gengsinya itu lhooo.. tapi romantis, sweet bingitz. Saat ini adalah saat dmana aku lebih suk HaeKyo kapel, eon. Tapi ikan mokpoku kesian *puk2 Hae. Overall, daebak eonn! Keep writing ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s