Amourette (6th Trick)

Standar

amourette part 6

Jangan katakan kau menyesal

Cinta belum berakhir bagiku

Tetapi jika kita putus seperti ini

Apa yang harus aku lakukan?

 

Jangan mengucapkan terima kasih

Aku ingin memeberikan seluruh cintaku padamu

Namun jika kita benar-benar seperti orang asing seperti ini

Apa yang harus  aku lakukan?

 

Aku mencintaimu

Apa yang harus aku lakukan karena aku mencintaimu?

 

Tidak masalah jika itu cinta yang menyakitkan

Bahkan jika aku menghapus cinta terakhir dalam hidupku

Kau adalah seseorang yang tidak bisa di hapus

Bahkan jika itu adalah sebuah takdir yang menyedihkan

Aku tidak bisa membiarkanmu pergi

Aku mencintaimu karena itu adalah dirimu

 

Karena bagiku

Itu adalah dirimu

Author’s POV

Semua berkumpul penuh harap cemas saat satu bulan Eun Kyo tak sadarkan diri di rumah sakit, dan sekarang membuka matanya. Kata pertama yang keluar dari mulutnya yaitu ‘Appa’ dan ‘Appo’ membuat beberapa orang berdiri disana menantikannya bisa sedikit bernafas lega, terutama bagi Jung Soo. Hal itu sudah lama ia nantikan. Begitu juga Ryu Jin, bahkan anak kecil itu menghentikan omelan terhadap Jung Soo dan terdiam seolah mengerti dengan rasa bahagia yang menghinggapinya namun tak bisa ia ekspresikan, dia membisu dan memeluk In Young. Tak hentinya Jung Soo bersyukur atas kejadian ini meski dia juga merasa janggal.

“Yeobo, kau sudah sadar.” Ujar Jung Soo mencoba mengalihkan perhatian Eun Kyo agar dia menyadari  kehadirannya. Eun Kyo menolah, lalu menatap Jung Soo dengan raut bingung.

“Kau.. siapa?” tanyanya. Pertanyaan yang keluar dari mulut Eun Kyo yang terdengar serak dan hampir tidak terdengar, sontak membuat Jung Soo menahan nafasnya. Dalam hatinya bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tiba-tiba Eun Kyo bertanya seperti itu.

 “Eomma… hiks, bogoshipeo…” ujar Ryu Jin dengan serak serta nada yang manja. Menyiratkan dia benar-benar merindukan wanita itu. Airmatanya turun membasahi pipi namun tak bersuara. Ryu Jin ingat sekali kalau Eommanya tidak suka kalau dia berisik saat menangis, hingga saat ini dia mencoba menekan suara tangisnya sampai sesenggukan. Namun reaksi Eun Kyo sangat datar, sama sekali datar.

Orang-orang yang berkumpul kembali menangis, tapi bukan tangisan sedih, melainkan tangisan terharu melihat Eun Kyo yang kembali sadar.

“Appa, apa yang sedang terjadi? Ouwh! Kepalaku sakit.” Eun Kyo memegang kepalanya dan meringis. Rambutnya dipangkas menjadi pendek dan ada bekas luka jahitan dikepalanya.

“Kau jangan terlalu banyak berpikir dan bertanya.” Eun Kyo Appa mengambil tangan putrinya dan menggenggamnya. Semuanya mendekat tak terkecuali Hee Rin dan Siwon.

“Eun Kyo~ya.” Panggil Siwon. Eun Kyo menoleh kearah Siwon dan tersenyum. Senyum tulus seperti pertama bertemu. Siwon balas tersenyum.

“Onnie..” panggil Hee Rin masih dengan rasa bersalah yang menghantuinya selama sebulan ini. Dia memikirkan bagaimana caranya menebus kesalahannya selama kurun waktu itu hingga menyita waktu dan mengorbankan kesehatannya.

“Kalian siapa?” tanya Eun Kyo dengan polos. Siwon dan Hee Rin saling berpandangan, dengan raut bingung namun seolah berkata ada yang tidak beres.

Eun Kyo masih memandangi semua orang yang berdiri di hadapannya satu persatu dengan bingung. Mencoba mengingat satu persatu nama dan wajah orang yang berdiri di hadapannya.

“Onnie..” panggilnya pada In Young yang berdiri berjejer di tepi tempat tidurnya.

“Ye, Eun Kyo~ya.” In Young mendekat dan duduk tepat dihadapan Eun Kyo. Jung Soo dan yang lainnya bergeser, memberi ruang untuk In Young.

“Kau sibuk sekali akhir-akhir ini kan?” ujar Eun Kyo menyapa. In Young tak bisa menjawab apa-apa, airmatanya terus mengalir. “Onnie~ya, kenapa menangis?” tanya Eun Kyo lirih dan serak. In Young menggelengkan kepalanya.

“Sebentar, aku masih pusing, siapa sebenarnya kalian?” tanya Eun Kyo bingung sambil memandangi Appanya dan In Young. Semua orang saling berpandangan, hening beberapa saat tak ada suara.

“Biar aku panggilkan Dokter.” Siwon berinisiatif untuk memanggil Dokter dan beberapa perawat. Karena ia rasa sesuatu telah terjadi. Lagipula sejak Eun Kyo sadar tidak ada yang memeriksa kondisinya.

Beberap saat setelah Siwon keluar, semua orang yang berkumpul masih terdiam, hanya Ryu Jin yang merengek ingin berada di dekat Eommanya. Namun Jung Soo menggendongnya dan berdiri di pojok ruangan. 5 menit berlalu akhirnya Siwon kembali membawa Dokter Lee dan beberapa orang yang mengikutinya. Dokter itu tersenyum menyapa Eun Kyo.

“Kau sudah bangun?” ujar lelaki berjas putih itu sambil memegang pergelangan tanga Eun Kyo. “Tidur yang nyenyak kan?” tanyanya lagi yang dijawab sebuah anggukan oleh Eun Kyo. Beberapa perawat memeriksa tekanan darah dan pemeriksaan lainnya.

“Bagaimana kepalamu?? Sakit?” tanyanya lagi.

“Sedikit pusing.” Jawab Eun Kyo.

“Tentu saja, kau tidur terlalu lama.” Jawab Dokter Lee sambil bercanda.

“Jinjja?” tanya Eun Kyo lirih setengah tidak percaya.

“Arasseo. Semuanya baik, tapi kau perlu pemeriksaan sekali lagi nanti, eoh?” Dokter Le menyentuh tangan Eun Kyo dan tersenyum, Eun Kyo membalasnya dengan senyuman juga.

“Tuan Park, bisa ke ruanganku sebentar?” tanya Dokter Lee saat melintas di hadapan Jung Soo. Jung Soo mengangguk dan menyerahkan Ryu Jin pada In Young. Dia mengikuti Dokter Lee berjalan menuju ruangannya. Benaknya penuh dengan pertanyaan yang ingin ia utarakan. Dokter Lee membuka pintu dan duduk di tempat kerjanya.

“Silakan duduk.” Ujarnya mempersilakan Jung Soo untuk duduk.

“Ah, ye gamsahamnida.” Jawab Jung Soo menarik pelan kursi yang ada dihadapan Dokter Lee.

“Bagaimana keadaannya Dok?” tany Jung Soo tidak sabar. Dokter Lee tersenyum.

“Secara keseluruhan kondisinya baik, tekanan darahnya juga stabil.” Jawab Dokter Lee dengan santai sambil membolak-balik catatan pemeriksaan Eun Kyo.

“Tapi, tapi kenapa, kenapa dia tidak mengingatku, ani, maksudku, dia tidak mengenaliku.” Ujar Jung Soo cepat, seolah pertanyaan itu sudah mengendap terlalu lama dalam benaknya dan ingin segera ia bersihkan dari pikirannya.

“Aku bisa membaca dari raut wajahnya. Wajar kalau dia sedikit bingung. Dia tertidur sudah hampir sebulan. Butuh waktu untuk memulihkan memorinya.”

“Tapi selama ini dia tidak, maksudku dia tidak pernah mengeluh tentang ingatannya. Meski memang sedikit pelupa.” Bantah Jung Soo.

“Tuan Park. Aku harap Anda sabar, kami belum melakukan pemeriksaan lanjutan setelah dia sadar. Jadi aku tidak bisa memvonis apapun dan tidak bisa menjawab pertanyaanmu dengan pasti. Terjadi hantaman besar pada tubuhnya. Dan mengenai otaknya, itu sangat vital. Jadi saat dia bangun dan melupakan sesuatu, itu hal yang wajar, namun akan pulih setelah beberapa hari. Kau tenang saja.” Ujar Dokter Lee memberikan jawaban pada Jung Soo sekaligus membuatnya tenang.

Jung Soo sama sekali tidak tenang dengan jawaban itu. Dalam benaknya masih berkecamuk beberapa pertanyaan. Tapi sepertinya Dokter Lee memang tidak bisa memastikan bagaimana kondisi Eun Kyo setelah ia siuman.

“Arasseo, kalau begitu aku permisi.” Ujar Jung Soo sambil berdiri.

“Aku belum selesai, kau ini tidak sabaran sekali. Dia tidak akan beranjak sedikitpun dari kamar itu dan kami tidak akan memindahkannya. Ada yang ingin aku beritahu padamu.” Sergah Dokter Lee mencegah Jung Soo untuk pergi.

“Ah, ye. Jweosonghamnida.” Ujar Jung Soo kembali duduk. Dokter Lee tersenyum dan mengambil posisi duduk yang nyaman dan santai.

“Mengenai koma yang dia alami. Maaf sebelumnya, catatan medisnya sebenarnya tidak mengalami gangguan apapun, operasi pendarahan di otaknya juga berjalan lancar. Semua kondisi tubuhnya stabil. Tapi…” Dokter Lee tidak melanjutkan penjelasannya dan memandangi Jung Soo dengan serius.

“Tapi apa Dok?” sambar Jung Soo dengan pertanyaan, tak sabar menunggu lanjutan perkataan Dokter Lee.

“Tapi, dia seolah tidak ingin bangun. Seolah ada yang menahannya. Kau.. maaf jika aku menanyakan, sebenarnya bukan wewenangku menanyakan ini. Jika kau menjawab pertanyaanku, aku baru bisa memutuskan untuk melanjutkan pengobatan Eun Kyo.” Lanjut Dokter Lee.

“Apapun akan aku jawab.” Ujar Jung Soo dengan yakin. “Asal Eun Kyo bisa kembali.”  Dokter Lee menghela nafas dan tersenyum. Bermaksud untuk menenangkan Jung Soo dengan senyumannya, namun bagi Jung Soo itu tidak berhasil. Jung Soo merasa ada masalah serius yang akan dihadapinya nantinya.

“Kalian punya masalah sebelumnya? Maksudku, pernah membuatnya shock atau semacamnya? Atau membuatnya marah? Maaf, aku jadi seperti ingin mengetahui permasalahan rumah tanggamu.” Ujar Dokter Lee. Jung Soo terdiam sejenak, antara harus jujur atau berbohong, pikirannya berkecamuk.

“Nde, kami bertengkar sebelumnya. Dia ing!” Jung Soo memilih jujur ketimbang berbohong.

“Cukup. Kau tidak perlu menjelaskannya dengan panjang lebar.” Lagi-lagi senyuman yang tergambar di wajah Dokter berumur setengah abad lebih ini. “Itu mungkin yang membuatnya tidak ingin sadar.” Lanjut Dokter Lee. “Tapi kau tenang saja. Dia sudah kembali, namun mungkin belum sepenuhnya kembali. Tapi setidaknya dia tidak lagi koma.” Dokter Lee mengambil sebuah kertas dan menulis di atas kertas itu.

“Aku memberikan surat rujukan ini pada seorang kenalanku, semoga itu bisa membantu.” Dokter Lee menyerahkan dengan pelan sebuah amplop pada Jung Soo. Di depannya tertulis sebuah nama Psikolog terkemuka di Seoul. Jung Soo memandangi amplop itu dengan gamang. Dia mulai mengerti maksud dari pembicaraan Dokter Lee.

“Apa ini akan berjalan lama?” tanya Jung Soo, dia memandangi Dokter Lee lama, mencari sebuah jawaban yang bisa menenangkannya, karena sejak tadi dia terus dibiarkan menerka tantang nasib Eun Kyo.

“Aku tidak berani memastikan, kau bilang dia melupakanmu atau tidak mengenalimu kan? Ada indikasi kalau dia…” Dokter Lee ragu mengatakannya pada Jung Soo. “Tapi aku belum memeriksanya.” Lanjutnya.

“Kalian boleh membawanya setelah kami melakukan pemeriksaan ulang dan jika dia sudah tidak mengeluh sakit dan makannya tidak bermasalah.” Ujar Dokter Lee.

“Nde, boleh aku keluar sekarang? Aku akan membawa ini secepatnya. Maksudku membawa Eun Kyo kesini.” Jung Soo berpamitan.

“Aku bisa memanggilnya dan melakukan terapi disini sementara.” Jawab Dokter Lee.

“Ah, ye. Gamsahamnida.” Jung Soo membungkuk.

“Kau bisa menyerahkan surat rujukan itu saat dia tiba disini.” Ujar Dokter Lee lagi.

“Ah, ye. Boleh aku??” Jung Soo menunjuk pintu keluar dengan ibu jarinya, menandakan dia sudah tidak sabar untuk keluar, menjenguk keadaan Eun Kyo.

“Hahahaha, ye. Maaf membuatmu tidak sabar.” Ujar Dokter Lee mempersilakan Jung Soo keluar.

Jung Soo setengah berlari menuju kamar inap Eun Kyo. Dalam hatinya berkecamuk berbagai kemungkinan yang mulai menghantui pikirannya. Dia membuka pintu kamar setelah berdiri sejenak di depan pintu. Saat dia masuk ke dalam kamar, orang yang ada didalam sana masih sama. Semua mata tertuju padanya. Mertuanya mendekat padanya.

“Apa yang dikatakan Dokter Lee?” tanya lelaki tua itu pada Jung Soo. Jung Soo berusaha tersenyum.

“Dia baik-baik saja. Jika hasil pemeriksaan ulangnya baik-baik saja, makannya teratur dan sudah tidak sakit lagi..” Jung Soo melirik pada Eun Kyo yang tidak peduli sama sekali, wanita itu terlihat bingung memandangi orang-orang yang ada dihadapannnya. “Kita bisa membawanya pulang.” Lanjut Jung Soo mengalihkan matanya dari Eun Kyo. Tuan Park bisa bernafas lega, sejenak dia tersenyum dan menunduk.

“Syukurlah.” Ucapan syukur keluar dari bibirnya sambil menoleh kearah Eun Kyo, putri kesayangannya. Eun Kyo tersenyum saat Appanya menoleh padanya.

“Tapi kenapa dia hanya mengingatku dan In Young? Yang lainnya dia sama sekali tidak ingat.” Jawab Tuan Park sedikit bingung. Jung Soo menghela nafas. Apa yang dia takutkan akhirnya semakin jelas, berarti memang Eun Kyo melupakannya dan bukan hanya perasaannya saja, itu memang terjadi, bukan mimpi atau sebuah kekeliruan seperti yang ia harapkan. Jung Soo meremas amplop yang ada ditangannya.

“Kat Dokter Lee itu wajar. Karena dia baru siuman dari komanya.” Jawab Jung Soo menyembunyikan ketakutannya. “Itu hanya sementara, beberapa hari juga akan pulih.” Lanjutnya sambil memandangi Eun Kyo. Wanita itu sepertinya mulai lelah dan matanya mulai terpejam, memulai tidurnya.

“Sebaikany biarkan dia istirahat saja.” Ujar Jung Soo Eomma yang sedari tadi duduk disamping Eun Kyo. Ryu Jin terdiam, tak bersuara sama sekali, anak itu seakan mengerti dengan keadaan Eun Kyo, dia diam dan menunjukkan wajah bingung, persis seperti Eun Kyo.

“Kajja, ayo Ryu Jin~a, sini biar bersama Halmeoni. Kau hari ini menginap di tempatku, ne?” ajak Nyonya Park sambil mengambil Ryu Jin dari gendongan In Young, namun Ryu Jin menolak. Dia memeluk leher In Young dengan kuat.

“Shireo.. aku mau disini saja..” ujarnya lirih menahan suaranya, juga menekan rasa sedih yang tiba-tiba menyergapnya dan tak mau lepas darinya. Perlahan rasa sedih itu menyebar membuat airmatanya kembali jatuh. Dia membenamkan wajahnya di bahu In Young dan memeluknya erat seolah tak mau dipisahkan dari tempat ini. In Young memberikan isyarat pada Eommanya, mengatakan biarkan saja Ryu Jin disini tanpa suara. Nyonya Park menepuk dan membelai punggung Ryu Jin.

“Ayo Yeobo, kita pulang. Eun Kyo perlu istirahat. Apa Anda mau ikut bersama kami Oppa?” tanya Jung Soo Eomma pada besannya. Sejenak lelaki itu menoleh pada Eun Kyo yang mulai terlelap kembali.

“Kau pulang saja Abeoji.” Pinta Jung Soo.

“Ani, aku.”

“Jangan, kau harus istirahat.” Tolak Jung Soo. “Biar aku yang akan menjaganya, jika terjadi apa-apa aku akan menghubungi kalian.” Lanjutnya lagi. Tuan Park tidak bsia membantah.

Jung Soo mendekat dan duduk di kursi samping tempat tidur Eun Kyo. Sementara Ryu Jin masih menangis dibahu In Young dan sesekali mendongakkan kepalanya dan memandangi Eun Kyo.

“Eomma…” ujar Ryu Jin lirih. Hanya berani memanggilnya pelan agar tidak mengganggu Eun Kyo. Hee Rin dan Siwon akhirnya berjalan mendekati Ryu Jin.

“Ryu Jin~a, ayo kita cari makan.” Ajak Siwon. Awalnya Ryu Jin menolak, namun setelah Siwon mengambilnya paksa dari In Young, dia tidak bisa menolak.

“Kajja, anak pintar, kita makan yang banyak, setelah itu kembali kesini lagi.”  Hee Rin dan Siwon membawa anak itu ke sebuah rumah makan tak jauh dari rumah sakit.

“Jung Soo~ya, aku ada siaran. Boleh aku tinggal?” In Young menggamit lengan Jung Soo, mau tidak mau Jung Soo mengalihkan pandangannya dari Eun Kyo. Mereka semua pergi meninggalakn Jung Soo dan Eun Kyo. Seolah mengerti mereka berdua harus mempunyai waktu bersama, terutama bagi Jung Soo. Semua tau bagaimana keadaannya sepeninggal Eun Kyo koma.

“Ah, nde. Gomawoyo Noona.” Ujar Jung Soo pelan, agar tidak membangunkan Eun Kyo.

^_^

Siwon membuka-buka buku menu dan memesannya. Sesekali lelaki itu melirik Ryu Jin yang terdiam tanpa kata, tak seperti biasanya.

“Semua ini karena aku, Siwon~a..” ujar Hee Rin berkata lirih sambil memandangi Ryu Jin. Ada kesedihan berbeda yang membias di wajah kedua orang itu. Satu sedih karena bersalah, yang satunya lagi sedih bercampur bahagia.

“Kau jangan berkata seperti itu.” Ujar Siwon. “Kau mau makan apa, Ryu Jin~a?” tanya Siwon sambil mendekatkan wajahnya kearah anak itu membuyarkan lamunannya.

“Pasta.” Jawab Ryu Jin lirih.

“3 Pasta dan jus jeruk saja.” Siwon memesan makanan.

“jus stroberi.” Sergah Ryu Jin tanpa ekspresi dan masih seperti tadi. Hatinya mengharu biru bercampur rasa bahagia dan bingung saling bercampur dan mendominasi silih berganti.

“Kalau begitu 2 jus jeruk 1 jus stroberi. Kau mau es krim?” tanya Siwon. Ryu Jin menggeleng.

“Eomma tidak suka aku makan es krim, dia akan pergi jika aku makan es krim.” Jawab Ryu Jin polos. Anak itu masihmengingat apapun larangan Eun Kyo. Menghindari semua ynag dibenci Eun Kyo agar ia bisa cepat memeluk tubuh wanita itu. Dalam benaknya, jika ia menjadi anak baik, Eommanya akan cepat sadar. Itu yang ditanamkan Jung Soo selama ini, agar harapan terhadap kesadaran Eun Kyo bertambah besar dan tidak akan putus.

“Nde, aku mengerti.” Ujar Siwon. Dia menyerahkan buku menu pada pelayan dan mereka akhirnya terdiam bersama.

“Anak ini yang jadi korban.” Ujar Hee Rin kembali lirih.

“Jangan bicarakan hal itu disini, Hee Rin~a, kasian anak ini.” Ujar Siwon menatap tajam pada Hee Rin. Hee Rin terdiam, rasa bersalah dalam dirinya semakin besar melihat wajah murung Ryu Jin.

“Ada kabar tentang Jin Hye?” tanya Siwon mengalihkan pembicaraan. Hee Rin yang sejak tadi menatap Ryu Jin kini mengalihkan pandangannya pada Siwon.

“Gadis itu seolah hilang ditelan bumi.” Jawab Hee Rin malas.

“Aku punya bukti yang belum aku perlihatkan pada kalian.” Ujar Siwon.

“Jinjja? Tentang apa?” tanya Hee Rin lagi-lagi dengan nada yang seolah enggan untuk mengetahuinya. Dia terus memandangi Ryu Jin yang tertunduk sambil menggoyangkan kakinya.

“Kau lapar Ryu Jin~a?” tanya Hee Rin mensejajarkan wajahnya dengan Ryu Jin. Ryu Jin menggelengg lemah.

“Tentu saja kau tidak lapar.” Hee Rin membelai rambut Ryu Jin dengan lembut.

“Tentang ‘malam itu’.” Jawab Siwon menghentikan belaian tangannya dari kepala Ryu Jin.

“Mwo? Mana? Kenapa baru memberitahunya sekarang? Eoh?” Hee Rin mencecar Siwon dengan beberapa pertanyaan karena keterkejutannya. Ryu Jin ikut menoleh pada Siwon.

“Tenang dulu, apa kau pernah melihat Jin Hye sebelumnya?”

“Aku sudah bilang dia hilang ditelan bumi! Dan aku memang berharap seperti itu!” teriak Hee Rin emosi membuat Ryu Jin tersentak. Tubuhnya bergetar beberapa saat karena terkejut. Siwon segera merangkul anak itu.

“Aigoo… Ryu Jin~a, Imo seperti nenek sihir saja.” Siwon memeluk Ryu Jin dan mendekatkan kursinya kearah Ryu Jin. Ryu Jin tertawa beberapa detik.

“Yak! Apa kau bilang?!” teriak Hee Rin lagi.

“Aigoo Ryu Jin~a, sepertinya kita harus mencari perlindungan.” Ujar Siwon lagi, kini tawa Ryu Jin semakin keras.

“Dia seperti Eomma. Eoh! Tapi Eomma lebih menyeramkan.” Ujar Ryu Jin menirukan wajah Eun Kyo saat marah. Mulut dan matanya dia miripkan dengan Eun Kyo saat marah, membuat Siwon dan Hee Rin tercengang beberapa saat.

“Jinjja? Berarti lebih cantik Imo dong kalau sedang marah-marah?” Hee rin bertanya.

“Ani, Eomma lebih cantik.” Jawab Ryu Jin cepat.

“Kau benar sekali, Ryu Jin~a.” Sela Siwon sambil mengangkat tangannya menunggu Ryu Ji menepuknya. Ber’high-five’ sebagai tanda kemenangan. Hee Rin menunjukkan wajah cemberutnya membuat Ryu Jin tertawa senang. Mereka akhirnya tertawa bersama sebelum melahap pasta sebagai santapan makan malam.

^_^

“Kau sudah bangun?” Jung Soo membuka pintu kamar inap Eun Kyo dan menanyakan keadaannya. Eun Kyo hanya diam saja. Sudah setengah bulan dia masih terbaring disini, tanpa boleh pulang. Kondisinya semakin baik karena sekarang dia sudah makan dengan teratur, juga sudah mulai mengingat untuk pulang, hanya satu hal yang tidak pernah ia ingat sama sekali, keluarga kecilnya.

“Nde.” Jawab Eun Kyo pelan. Jung Soo membawa beberapa buah untuknya. Hari ini dia tidak membawa Ryu Jin bersamanya, karena saat beberapa kali Ryu Jin diajaknya kemari, anak itu selalu memaksa Eun Kyo mengingatnya yang berujung dengan tangisan dan kondisi Eun Kyo yang terpuruk.

“Cemberut saja, tidak suka aku kemari?” tanya Jung Soo dengan nada bercanda sambil menaruh buah dan keranjangnya itu diatas meja.

“Entahlah, sedikit.” Jawab Eun Kyo ketus.

“Wae?” tanya Jung Soo balik.

“Apa kau tidak bosan mengunjungiku setiap hari? Eoh? Aku bosan melihatmu.” Ujar Eun Kyo dengan nada sedikit lebih tinggi dan menarik tubuhnya yang tadinya bersandar menjadi posisi tegak. Jung Soo menghela nafas.

“Aku tidak akan pernah bosan.” Jawab Jung Soo datar. Jung Soo mengambil sebiji apel dan mengupasnya.

“Kau mau makan ini? Biar aku kupas.” Ujarnya sambilmemainkan pisau yang ada ditangannya.

“Shireo. Aku sudah memakannya tadi pagi.”

“Kalau begitu buah pir saja.”

“Shireo.” Jawab Eun Kyo lagi, menolak. Jung Soo menoleh padanya dan menatapnya tajam. Ini adalah kesekian kalinya Eun Kyo menolaknya.

Jung Soo’s POV

Aku terus memainkan pisau yang ada ditanganku dengan gesit. Dia paling suka buah apel, beberapa kali kami ke kebun apel bersama sambil memetiknya, saat pacaran dulu.

“Kau mau makan ini? Biar aku kupas.” Tawarku padanya. Dia masih bersandar sambil memainkan bantal yang sejak tadi ada dalam dekapannya. Matanya menerawang jauh ke jendela luar rumah sakit. Entah apa ynag dia lihat dan apa yang dia pikirkan. Gadisku benar-benar berubah.

“Shireo. Aku sudah memakannya tadi pagi.” Jawabnya acuh. Sama sekali tidak melihatku bagaimana mungkin dia menolaknya? Dia sangat suka apel.

“Kalau begitu buah pir saja.” Ujarku memberikan alternatif lain untuknya.

“Shireo.” Jawabnya pelan, menolak lagi. Aku menatapnya tajam, ini kesekian kalinya dia menolak, sama sekali tidak ingin berhubungan denganku. Dia masih menatap jendela. Eun Kyo~ya, begitu bencinya kah kau padaku? Hingga ketika kau melupakanku pun kau enggan untuk memberiku kesempatan.

“Mana anak itu?” tanyanya datar.

“Anak yang mana?”

“Anak yang selalu menangis saat kesini.” Jawabnya.

“Ryu Jin?” tanyaku mendekat padanya.

“Entahlah, jadi namanya Ryu Jin?”

“Yeobo, kau tidak ingat apapun? Tentangku?” aku meraih wajahnya dan memaksanya untuk menatapku. Tak ada jawaban yang aku temukan dari tatapan lurusnya.

“Atau tentang Ryu Jin? Kau tidak mengingatnya?” benarkah dia melupakanku? Dan Ryu Jin juga? Jika dia melupakanku, aku bisa terima, tapi saat melihat Ryu Jin menangis karena Eun Kyo sama sekali tidak mengenalinya, aku tidak bsia terima. Ini semua salahku, kenapa harus anak itu yang menerima hukumannya juga? Dan ketika melihat wanita yang aku cintai ini kesakitan, itu sangat menyakitiku.

“Aku tidak tau.” Jawabnya singkat.

“Kau lupa saat kita menikah dulu? Peristiwa kehilangan cincin kita? Eoh?” aku mencoba membuka kembali memorinya, mengajaknya untuk mengingat. Eun Kyo menggeleng polos, sepertinya memang dia sudah melupakanku.

“Saat aku hampir kehilanganmu ketika melahirkan Ryu Jin?” dia masih menggeleng.

“Atau, atau… atau saat Ryu Jin  berumur 1 tahun, kita menjatuhkannya di atas tempat tidur dan tengah malam buta kita membawanya ke ruamh sakit?” dia masih menggeleng, tidak ada memori yang tersisa untukku dan juga Ryu Jin. Dia mengerutkan dahinya dan memegangi kepalanya.

“Wae? Kau sakit?” tanyaku sambil memegang kepalanya.

“Rasanya berputar. Dan aku…” dia memejamkan matanya. Seolah meredamm rasa sakit yang kini menyerangnya. Eun Kyo~ya, mianhae. Aku menekan bahunya membuatnya terbaring.

“Sudah, jangan pikirkan. Kau istirahat saja.” Dia sudah berbaring dan memiringkan tubuhnya menghadapku.

“Jung Soo~ssi.. benarkah aku menikah denganmu?” tanyanya tiba-tiba. Aku menoleh mendengar pertanyaannya. Mungkinkah ia mengingatnya, atau mencoba mengingatnya tanpa aku ingatkan? Kuambil potongan apel yang ada dipiring dan menyuapinya. Dia membuka mulutnya dan mengembalikan tubuhnya menjadi telentang.

“Jangan pikirkan itu.” Jawabku sambil terus menyuapinya.

“Tapi kata Appa kita sudah menikah, kenapa aku tidak mengingatnya?” sungguh aneh. Sejak tadi dia seolah menahan semua memorinya ke dasar otaknya tapi sekarang dengan mudah dia menanyakannya.

“Eum, kita sudah menikah dan mempunyai anak.” Jawabku santai agar tidak berusaha membuatnya berpikir.

“Ryu Jin maksudmu?” tanyanya. Aku mengangguk. “Em… dia memang terlihat seperti aku. Tapi, kenapa aku tidak ingat pernah melahirkannya?” tanyanya lagi pelan, seolah bertanya pada dirinya sendiri. Tanpa terasa potongan apel yang ada dalam piring sudah hampir habis. Aku tersenyum dalam hati.

“Annyeong, Nyonya Park. Eum, kau sudah makan. Sepertinya selera makanmu bertambah setiap harinya.” Dokter Lee tiba-tiba masuk dan menyapa Eun Kyo. Eun Kyo tersenyum manis.

Ne.” Jawabnya polos. “Aku suka apel.” Ujarnya. Aku menoleh pada Eun Kyo, bukankah dia bilang tadi sudah memakan buah ini? Dan tidak ingin lagi?

Dokter Lee memeriksa keadaan Eun Kyo. Eun Kyo terdiam saat Dokter Lee memeriksa keadaannya.

“Kau sudah boleh pulang besok. Keadaanmu sudah semakin baik.” Ujarnya memberikan angin segar padaku. Aku sudah lama ingin membawanya pulang dan kembali bersama kami. Setiap hari Appa dan Eomma juga Abeoji bergantian menjenguknya.

“Tapi Tuan Park. Aku menyarankanmu untuk terus tetap konsultasi pada Cha Dong San. Ara?” Dokter Lee mengingatkanku untuk selalu membawanya kepada Psikolog terkenal itu, agar bisa mengembalikan ingatan Eun Kyo.

“Tanpa kau ingatkanpun aku akan selalu membawanya.” Jawabku sambil tertawa. Eun Kyo kini berbaring dan tidak berbicara lagi, sepertinya dia sudah lelah.

“Bagaimana dengan anakmu?” tanya Dokter Lee mengenai Ryu Jin.

“Anak itu masih belum mengerti, dan setiap hari dia memintaku untuk membawanya kesini.” Jawabku lirih, aku teringat anak itu menangis setiap malam.

“Aku harap kau sabar.”

“Aku akan selalu sabar. Selagi masih ada harapan.”

“Bagus, semuanya berawal dari harapan.” Dokter Lee mencoba memberiku ketenangan. Aku selalu berharap setiap hari. Lebih dari harapan siapun di dunia ini. Aku sangat mencintainya, jika ini adalah hukuman bagiku, aku akan menerimanya. Tapi lebih suka menganggap ini sebagai kesempatan kedua bagiku. Aku tidak akan menyia-nyiakannya lagi. Apapun yang dia minta akan selalu aku penuhi. Asal jangan pernah ada lagi yang mencoba mengambilnya dariku, aku tidak mengijinkannya, sama sekali tidak mengijinkan Eun Kyo terenggut dari kami. Aku dan Ryu Jin.

^_^

“Appa, pulang Ryu Jin~a..”

Aku memasuki rumah yang sudah tidak terurus hampir 2 bulan ini. Ryu Jin sedang duduk di depan televisi. Anak itu sibuk menonton kartun kesayangannya. Anakku, akhir-akhir ini dia terlihat murung. Kartun yang bagiku lucu, tapi dia sama sekali tidak tertawa seperti biasanya.

“Aigoo… kau serius sekali.” Aku menyentuh kepalanya dan mengacak rambutnya. Tapi Ryu Jin tidak bergeming. Matanya tetap menatap layar televisi.

“Sayang, kau kenapa?” tanyaku khawatir. Tidak biasanya dia tidak menyambutku seperti ini. “Kau sakit?” aku meraba dahinya. Tidak panas, dia baik-baik saja.

“Sayang… kau kenapa?” aku mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya di pangkuanku. Ryu Jin masih menatap lurus ke depan.

“Ya, ya, ya…” aku meraih wajahnya, menatap matanya.

“Appa jahat. Eomma jahat.” Ujarnya. Aku terkejut, tidak pernah dia belajar kata seperti itu. Dia mulai menangis, airmatanya membasahi pipi gembilnya.

“Ya… kenapa berkata seperti itu?”

“Eomma… eomma… Aku merindukannya..” ujarnya lirih sambil menyapu airmatanya dan cairan yang meleleh di depan lubang hidungnya.

“Besok Eomma pulang, kau tenang saja…”

“Jinjja?” tanyanya dengan nada setengah tidak percaya. “Jeongmal?” tanyanya lagi. Aku mengangguk. Seulas senyum mengembang diwajahnya.

“Keundae… Eomma… dia, hiks! Dia..” antara tidak bisa menjabarkan sikap Eun Kyo kepadanya dan tidak ingin mengingat sikap Eommanya, Ryu Jin tidak melanjutkan kalimatnya. Aku membelai kepalanya.

“Dia baik-baik saja Ryu Jin~a, kau harus menjadi anak yang lebih baik lagi, ara?” aku mencoba menahan airmataku.

“Ne, arasseo.” Ujar Ryu Jin tidak semangat. Aku tau kesedihannya. Sangat mengerti perasaan gundah yang dia alami.

“Sekarang kau tidur, tapi cuci kakimu dulu.” Aku mengangkat tubuh Ryu Jin membuatnya berdiri.

“Ingat, saat Eomma kembali. Jangan menyusahkannya, kau harus menadiri, ara?” anak itu mengangguk semangat. Ryu Jin sama seperti Eun Kyo, dia mudah bersedih, namun juga mudah berubah dalam hitungan detik. Aku menuntunnya ke kamar mandi dan membasuh kakinya serta menggosok giginya.

“Sudah, sekarang kau tidur.” Aku membawanya ke dalam kamar dan membaringkannya, mencoba menidurkannya.

“Aku mau Eomma…” ujar Ryu Jin merengek. Setiap malam memang dia seperti ni, namun biasanya dia tidak serewel ini. Setelah lelah merengek dia akan tertidur, tapi malam ini, dia tak kunjung terpejam.

“Besok Eomma akan pulang sayang, kau tidur supaya pagi-pagi kita bisa menjemputnya, dan kau bisa bangung pagi, ayo, tidur.” Aku menepuk pantatnya dan memeluknya. Ryu Jin awalnya tidak suka, namun aku memaksanya, setelah beberapa menit, akhirnya dia tertidur. aku terus memperhatikan wajah polosnya yang terlelap, sampai kapan keadaan akan terus seperti ini? Haruskah Ryu Jin yang menjadi korban? Aku tidak menyangka, masalahnya akan sebesar ini. Aku dan Hee Rin benar-benar tidak mempunyai hubungan apapun. Tapi malam itu.. aku kembali teringat akan malam itu. Seseorang mengirimiku MMS dengan foto Hee Rin sedang mabuk, aku hanya tidak ingin membiarkan wanita itu seperti itu. Tapi kenapa harus berujung seperti ini?

Eun Kyo sudah sadar dari tidur panjangnya, itu sangat melegakan dan sangat membahagiakan bagi kami. Tapi juga sekaligus memilukan bagiku dan Ryu Jin karena dia menghilangkan sebagian memorinya tentang kami. Tidakkah dia merindukan kami? Ani, jika dia membenciku, kenapa tidak membuang aku saja dari memorinya? Kenapa harus mengikut sertakan anak tidak berdosa ini? Park Jung Soo, harusnya kau sadar dengan semua resiko kedekatanmu dengan Hee Rin, kau memang bodoh dan pantas dihukum. Tapi Ryu Jin? Kuputuskan untuk tidur disini menemani Ryu Jin hingga pagi.

“Ireona…”

Seseorang mengguncang tubuhku. Aish! Ini kan hari minggu, kenapa membangunkanku sepagi ini? Aku menggulingkan tubuhku dan menghindari pukulan ditubuhku sambil menutup wajahku dengan bantal. Seseorang itu terus memukulku bahkan sekarang dia menindihku.

“Yeobo… aku masih mengantuk, ini kan hari minggu.” Aku mencoba menurunkan ‘benda’ yang menindih tubuhku. Dia menarik bantalku, kututup wajahku untuk menghalau cahaya dengan kedua lenganku.

“Appa!” teriaknya ditelingaku membuatku terlonjak dan langsung bangkit. Aku membuka mataku seketika dan menoleh padanya. Apa aku tadi menyebut ‘Yeobo’?

“Cisisisisihahahahaha.” Ryu Jin menertawakan wajah bodohku yang terkejut. Aish! Setan kecil ini. Aku menangkap tubuhnya dan memelintirnya. Mendekapnya erat sampai suara teriakannya hanya tertahan di dadanya.

“Aaaaa…..!!! Appa! Appo…” teriaknya merengek minta di lepaskan. Aku tidak ingin melepaskannya. Ini pertama kalinya dia bangun tanpa menangis. Aku ingin menikmati momen ini.

“Shireo! Siapa suruh membangunkan Appa pagi-pagi buta begin? Eoh? Ini kan hari minggu sayang.” Kuciumi semua bagian wajahnya dan berakhir dengan gigitan kecil ditelinganya membuatnya menggeliat hebat.

“Kita menjemput Eomma.” Ujarnya setelah tawanya reda. Aku langsung terdiam. Benar, hari ini aku harus membawa Eun Kyo pulang. Gadis itu sepertinya sudah bosan berada di rumah sakit. Tapi bisakah dia pulang kesini? Mungkinkah dia bersedia? Sementara dia tidak mengingat apapun tentang kami.

“Ayo!” Ryu Jin menarik tanganku, membuyarkan lamunanku. Aku segera bangkit.

“Ayo, kita berangkat, tapi kita harus mandi dulu. Nanti Eomma tidak mau diajak pulang kalau kita bau seperti ini.” Aku menciumi tubuhku dan tubuhnya lalu menutup hidung.

“Benar juga. Ayo kita mandi.” Sekarang Ryu Jin menarik tanganku mengajakku ke kamar mandi. Sebelum melesat ke kamar mandi, aku menyempatkan tanganku untuk meraih handuk yang tergantung di dekat kamar mandi.

^_^

Ryu Jin terlihat senang saat aku mengatakan akan menjemput Eun Kyo hari ini. Sepanjang perjalanan dia terus bersenandung sambil mengoceh sendiri. Anak ini kalau sedang senang, mulutnya tidak berhenti berbicara.

“Kita sampia Ryu Jin~a. Ayo turun.” Ryu Jin turun dari mobil, lalu aku menurunkan kaca jendela mobil.

“Kau tinggu disini, jangan kemana-mana, ara? Appa mau memarikir mobil sebentar.” Aku memperingati Ryu Jin. Anak itu mengangguk.

Setelah beberapa waktu, aku kembali ke halaman rumah sakit dan anak itu terlihat setia menunggu sambil tersenyum saat melihatku.

“Kajja, ayo kita jemput Eomma.” Aku menuntun tangan kecilnya dan dia berjalan dengan penuh semangat menyusuri lorong-lorong rumah sakit.

“Annyeong Ryu Jin~a..” beberapa orang menyapanya. Saat berada di rumah sakit, anak ini senang bergaul dengan orang-orang yang ada disini. Apalagi perawat yang sedang merawat Eun Kyo.

“Noona, aku akan menjemput Eomma hari ini.” Teriaknya bangga.

“Jinjja? Wa.. Chukkae Ryu Jin~a, tapi kau tidak akan kesini lagi?” tanya seorang perawat padanya.

“Em…” dia terlihat berpikir dan mengetk jari telunjuknya dimulutnya. Anak ini.

“Ani, aku akan kesini lain kali.” Jawabnya asal. Aku hanya tersenyum. Akhirnya kami sampai di depan pintu masuk kamar Eun Kyo.

“Kajja, kita masuk.” Ujar Ryu Jin tidak sabar. Aku membuka pintu kamar perlahan. Tapi saat pintu terbuka, aku sangat terkejut. Disana sudah ada 2 orang yang mengunjungi Eun Kyo. Jin Hye dan Kim Jin. Aku merasa bingung dan canggung. Gadis yang sering datang ke tempatku bekerja dan mengatakan hal yang tidak-tidak kini ada dihadapan istriku?

“Oppa…” panggilnya manja. Aku tidak suka dia memanggilku seperti itu.

“Ryu Jin~a..” sapa Kim Jin sambil menggendong Ryu Jin. Aku terdiam, tak bisa mengeluarkan kata-kata.

“Kalian sudah kenal?” tanya Eun Kyo. Memandangku dan Jin Hye bergantian. Jangan katakan ini adalah awal sebuah kehancuranku lagi. Aku tidak bisa menerima sebuah kenyataan buruk lagi.

“Ne.” Jawab Jin Hye.

“Kau mengenalnya?” tanya Eun Kyo tidak percaya. Jin Hye juga menunjukkan raut wajah bingung. Aku tidak bisa menjelaskannya. Aku membuka lemari dan meletakkan tas besar di dekat kaki Eun Kyo. Jin Hye mulai beranjak ke kursi dan duduk disana.

“Eun Kyo~ya, mian aku baru megetahui ini. Jika tidak aku akan mengunjungimu setiap hari.” Ujar Jin Hye dengan nada yang dibuat-buat. Apa lagi yang ingin dia rencanakan? Setelah secara terang-terangan mengatakan padaku kalau dia menyukaiku.

“Gwaenchana, Jin Hye~ya.” Jawab Eun Kyo. Aku mendekati Eun Kyo dan berdiri dihadapannya. Menghalangi pandangannya pada Jin Hye.

“Yeobo, kita pulang hari ini.” Aku berbisik pelan. Dia mengangkat kepalanya menatapku, bingung.

“Jin Hye~ssi, kami sedang sibuk mempersiapkan barang yang ingin dibawa. Eun Kyo akan pulang hari ini. Bisakah kau pulag saja?” terdengar kasar mungkin, aku tidak peduli. Aku harus bicara dengan Eun Kyo mengenai kepulangan ini.

“Ah, mian, mengganggu.” Ujarnya sambil bangkit. Kenapa aku merasa ia hanya pura-pura saja? Bukankah dia dan Eun Kyo memang teman waktu sekolah? Mungkin saja mereka akrab dulunya. Aku tidak peduli, yang penting sekarang aku ingin berbicara dengan Eun Kyo.

“Kalau begitu aku permisi saja.” Kim Jin menurunkan Ryu Jin dari gendongannya ke kursi. Sambil beranjak pergi.

“Semoga cepat sembuh Eun Kyo~ya.” Kim Jin ingin menyentuh tangan Eun Kyo namun dia menolaknya. Sambil mengangguk tegang.

“Ye, gamsahamnida.” Jawabnya.

Sekarang hanya tinggal aku dan Ryu Jin juga Eun Kyo di ruangan ini. Ryu Jin merebahkan tubuhnya di sofa, mungkin dia masih mengantuk karena bangun terlalu pagi.

“Sepertinya dia masih mengantuk.” Ujarku sambil memandangi mata Eun Kyo. Tidak percaya kalau hari ini aku boleh membawanya pulang. Seperti mimpi. Semoga saja ini awal dari mimpi indah. Meski hanya mimpi, setidaknya itu mimpi indah. Meskipun tidak menolak jika itu adalah kenyataan indah.

“Aku boleh pulang hari ini?” tanya Eun Kyo. Aku menarik wajahnya membuatnya menatapku.

“Nde, kau senang?”

“Mana Appa? Kenapa bukan dia yang menjemputku?” aku tidak bisa menjawab. Juga tidak bisa menjelaskan. Takut membuatnya berpikir dan sakit lagi.

“Yeobo. Kita sudah menikah jadi kau harus pulang kerumah kita.”

“Tapi aku tid!” aku menempelkan telunjukku di bibirnya, menghentikannya bicara.

“Aku mohon, meski kau tidak mengingatnya. Aku mohon lakukanlah demi anak itu.” Aku menggerakkan kepalaku menoleh pada Ryu Jin yang mulai terlelap sambil memeluk boneka kesayangannya. Lalu kupandangi wajah Eun Kyo memintanya untuk maklum.

“Dia anakku?” tanyanya lagi sambil memandangi Ryu Jin, lalu beralih padaku. Mata ini, mata teduh ini yang selalu aku rindukan. Yang sempat menghilang darinya beberapa bulan terakhir. Tatapan sayangnya.

“Dia anak kita.” Jawabku pelan sambil menahan airmataku. Terharu.

“Aku tidak mengingat kalian. Aish! Ibu yang bagaimana aku ini!” dia memukul kepalanya, membuatku terkejut setengah mati.

“Eit, kau tidak boleh menyentuh kepalamu.”

“Kenapa tidak boleh?” tanyanya bingung.

“Bukankah kau sering sakit kepala?” dia mengangguk. “Sudahlah, tidak usah dipikirkan, apa Dokter Lee tadi pagi kesini?” tanyaku.

“Ne, dia memeriksaku dan bilang padaku aku boleh pulang hari ini. Awalnya tidak percaya, Appa tidak menjemputku?” tanyanya kembali. Wajahnya benar-benar polos seperti Ryu Jin. Selang infus ditubuhnya sudah dilepas, berarti dia siap untuk pulang.

“Nanti di rumah saja aku beritahu.”

“Kita pulang kemana?” tanya Eun Kyo sambil turun dari tempat tidur. Aku membantunya.

“Ke rumah kita.” Jawabku. Dia mengangguk beberapa kali, sepertinya dia kembali mencoba mengingat.

Eun Kyo’s POV

Aku memandangi wajah Ryu Jin yang tertidur di atas sofa, sementara Jung Soo membereskan semua pakaianku. Sesekali aku menoleh padanya. Banyak juga yang aku bawa kesini? Berapa lama sebenarnya aku disini? Melihat dari barang bawaan yang ada, sepertinya cukup lama. Aku terus memandangi wajah kecil ini. Tubuhnya menggeliat. Aku duduk berjongkok di hadapannya, masih dengan baju kebesaranku, baju dari rumah sakit. Anak ini, dia sangat menggemaskan, aku tersenyum mamandangi ekspresi wajahnya saat tidur. Dia menyunggingkan senyumnya, aigoo, sepertinya sedang bermimpi, cepat sekali dia memasuki alam bawah sadarnya.

“Sepertinya dia memang terlalu cepat bangun tadi pagi.” Ujar Jung Soo. Aku menoleh padanya.

“Jam berapa dia bangun?” tanyaku setengah berbisik, takut membuatnya bangun.

“Jam 4 pagi. Biasanya dia bangun jam 6.” Jawab Jung Soo.

“Jung Soo~ssi, apa rumah kita jauh dari sini?” tanyaku. Masih dengan suara pelan.

“Ani, hanya beberapa menit saja.” Jawabnya. Aku masih senang memandanginya. Sepertinya aku merasa dia bagian ynag penting dari hidupku, tapi aku tidak bisa menjelaskan, bagian apakah itu? Hufh, rasanya kepalaku mulai sakit lagi. Aish! Aku benci dengan rasa sakit ini.

“Jangan panggil aku begitu, panggil aku Oppa, ara?” Jung Soo protes saat aku hanya memanggil namanya tanpa embel-embel ‘Oppa’.

“Ne, arasseo.” Jawabku malas. Rasanya aku ingin memeluk anak ini. Ada rasa sedih dan penasaran yang bercampur aduk dalam sanubariku. Aku benar-benar tidak bisa mengingatnya, anakku? Mengapa aku lupa telah melahirkannya? Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Yang membuatku berada di tempat ini.

“Sudah selesai, ayo kita pulang. Ganti bajumu.” Jung Soo Oppa menarik tanganku dan menyerahkan satu baju padaku dan mendorongku pelan ke kamar mandi, aku sedikit menolak.

“Atau mau aku yang menggantikannya?” dia menarikku ke kamar mandi.

“Yak! Aku bisa ganti sendiri!” aku langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya dengan cepat. Kusandarkan tubuhku di pintu kamar mandi. Memegangi dadaku. Kenapa jagi gugup seperti ini? Ada rasa malu yang riba-tiba menyelinap dalam diriku. Aku cepat-cepat mengganti bajuku dan keluar dari kamar mandi.

“Sudah selesai? Tungu disini, aku mau menyelesaikan administrasi terlebih dahulu.” Dia mengelus kepalaku. Aku terdiam. Lagi-lagi jantungku berpacu cepat. Yaish! Park Eun Kyo, kau sebenarnya ada apa?

Aku kembali memandangi anak kecil ini. Ada sebuah rasa tenang yang tiba-tiba menyelimutiku saat melihatnya. Seperti ada sebuah kekuatan besar dalam diriku tentang perasaanku terhadapnya. Mungkinkah memang kami benar-benar ada ikatan? Seperti yang dikatakan orang-orang? Omona… apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar melupakan semuanya.

Jung Soo Oppa telah kembali, dia tersenyum padaku. Aku membalasnya sambil berdiri. Dia mengambil tas besar dan ingin membawanya keluar.

“Sudah selesai?” tanyaku. Tiba-tiba aku merasa benar-benar canggung, merasa asing namun juga merasa dekat dengannya. Setiap hari menemaniku hingga aku hampir bosan dibuatnya. Beberapa yang lain juga mengunjungiku, tapi yang aku kenal hanya In Young Onnie dan Appa. In Young Onnie adalah teman saat kuliah. Dia mengambil jurusan yang berbeda namun masih satu universitas denganku. Dia sudah hampir lulus saat aku memulai kuliahku.

“Sudah, aku mau memasukkan ini dulu ke mobil, setelah itu baru kita pulang.” Aku mengangguk. Dia kembali keluar.

Saat kembali kesini, dia segera bersiap membangunkan Ryu Jin, namun aku mencegahnya.

“Ani, jangan, angkat saja, kasian dia.” Aku melarangnya.

“Tapi dia sangat berat.” Tolak Jung Soo Oppa. Aku menatapnya penuh harap. Beberapa detik Jung Soo Oppa terdiam namun akhirnya tersenyum.

“Baiklah. Jika kau mau aku juga bisa menggendongmu.” Jawabnya sambil tertawa. Aku menendang kakinya membuatnya meringis.

“Yeobo, sakit.” Dia duduk sambil memegangi kakinya. Aku awalnya tidak peduli, tapi melihatnya terus meringis dan mendekap kakinya, aku segera mendekatinya.

“Gwaenchana?” tanyaku sedikit khawatir. Dia tidak menjawab. Aku memegangi kakinya namun dia meraih tengkukku dan menciumku dengan cepat. Aku tidak bisa menghindarinya. Mataku terbelalak dan sangat terkejut. Meski hanya menempel saja, tapi rasanya membuat jantungku berhenti untuk beroprasi. Aku terdiam beberapa detik, namun setelahnya aku mendorong tubuhnya dengan kuat.

“Aku sangat merindukanmu.” Ujarnya. Aku bangkit dan langsung membelakanginya, memegangi bibirku. Saat aku berbalik, Jung Soo Oppa sudah menggendong Ryu Jin dan mengajakku untuk pulang. Sebelah tangannya menggendong Ryu Jin yang tertidur di bahunya, sebelahnya lagi memegangi tanganku dan menuntunku. Beberapa kali dia menyapa orang-orang yang ada disana. Aku bahkan tidak kenal, tapi dia juga menyapa Ryu Jin yang masih terlelap. Begitu lamakah aku disini hingga Ryu Jin dan Jung Soo Oppa sudah begitu kenal dengan orang-orang disini? Entahlah. Aku terus berjalan, rasanya semua ini sangat asing bagiku.

^_^

Kami sudah sampai pada apa yang disebut Jung Soo Oppa ‘rumah kita’. Aku berjalan mengitari seluruh ruangan. Saat masuk ke pintu utama, aku melihat kursi tamu merah terletak rapi ditengah ruangan. Ada beberapa keramik dan beberap lukisan di dinding juga beberapa foto. Fotoku sedang mengenakan gaun pengantin dan disebelahnya berdiri seorang lelaki berjas putih sedang tersenyum. Aku dan Jung Soo Oppa. Aku terus berjalan memasuki rangan tengah, ada sofa panjang di depan televisi serta karpet bulu berwarna putih di lantai. Sepertinya menyenangkan  berada disini. Dan seperti yang ada di ruang tamu, banyak sekali foto yang menempel di dinding, foto Ryu Jin. Hampir semuanya foto anak itu. Aku terus berjalan memasuki dapur. Meja makan serta peralatan dapur tertata dengan rapi, ada sebuah meja yang di tata seperti bar di pojok ruangan itu. Aku berjalan kearah sana dan menyentuh mejanya. Tempat yang sedikit nakal. Aku tersenyum.

“Kau ingat sesuatu?” seseorang membuatku tersentak. Jung Soo Oppa sudah melingkarkan tangannya di pinggangku. Aku perlahan melepaskannya. Merasa canggung.

“Aku tidak mengingat semua ini. Apa aku pernah disini sebelumnya?” tanyaku sambil membalik badanku dan melepaskan pelukannya.

“Nde.” Ujarnya menarik pinggangku. Membuat tubuhku mendekat padanya. Aku benar-benar merasa asing dengannya, kenapa dia terus menyentuhku seolah aku memang benar-benar miliknya? Bukannnya aku berada disini demi Ryu Jin? Bukan untuknya? Dia mencoba menciumku sekali lagi, tapi aku menahannya.

“Kau gila! Tolong jangan sentuh aku seenaknya. Aku ada disini karena Ryu Jin, bukan untukmu. Minggir! Aku mau pulang.” Aku mendorong tubuhnya dan ingin beranjak, namun dia menarikku.

“Mianhae, aku tidak akan melakukannya lagi. Tapi aku mohon jangan pergi.” Aku memandangi tangannya yang menggengam tanganku dengan erat, seakan benar-benar tidak ingin aku beranjak.

“Cish! Tapi ak!”

“Aku tidak akan melakukannya lagi, aku janji!” dia langsung motong pembicaraanku. Aku terdiam lama. Aku suka dengan rumah ini, mempunyai rasa suka yang besar terhadap tempat ini, aku juga tidak mengerti apa sebabnya.

“Aku mohon. Aku tidak bisa membiarkan anak itu bersedih lagi.” Ujarnya lagi meyakinkanku. Aku masih terdiam.

“Aku akan!”

“Baiklah, aku akan tinggal disini.” Kini aku yang memotong perkataannya dan melangkah dari sana. Jung Soo Oppa melepaskan tanganku setelah mendapat jawaban dariku. Aku berjalan mengitari rumah ini lagi. Sangat suka dengan interiornya yang menurut aku sangat manis, dia ruang tengah ada beberapa foto yang membuatku ingin tertawa dan merasa senang saat melihatnya. Benarkah itu aku?

“Jug Soo~ssi.. dimana kamarku?” tanyaku berteriak. Aku yakin dia masih berada di dapaur saat ini. Tidak ada jawaban. Aku kembali ke dapur dan memang dia ada disana. Mematung sendiri.

“Kau.. kau..” aku membuatnya terkejut dan aku lihat dia mengusap pipinya. Hey? Apa dia baru saja menangis? Apa aku yang membuatnya menangis?

“Kau, aku, aku, aku haus, kau mau minum apa?” tanyanya gugup. Aku berdiri di depan pintu dapur.

“Ani, aku hanya ingin kau menunjukkan kamarku.” Jawabku. Dia membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral lalu meminumnya.

“Baiklah, aku akan menunjukkan kamar kita.” Dia menarik tanganku dan membawaku ke sebuah kamar dilantai atas. Aku merasakan atmosfir berbeda dari kamar itu. Bulu kudukku merinding. Tidak jauh beda, dikamar ini juga penuh dengan berbagai foto, hanya saja bukan di dinding, tapi di sebuah lemari kaca besar dan isi lemari itu penuh dengan foto aku dan Jung Soo. Aku menoleh padanya setelah lama memandangi foto itu.

“Istrimu… mirip sekali denganku.” Dia menatapku dalam. Aish! Apa aku salah bicara? Aku memukul mulutku.

“Boleh aku memelukmu? Sekali saja.” Ujarnya mendekat. Aku diam dan dia perlahan melangkah hingga sampai dihadapanku dan menarikku dalam dekapannya. Terasa hangat. Awalnya dia memelukku dengan lembut tapi setelah beberapa saat pelukannya semakin erat dan tubuhnya bergetar.

“Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu.” Dia masih memelukku erat, aku mencoba melepaskannya namun dia menolak. Akhirnya aku membiarkan memelukku sedikit lama. Aku terdiam, sedikit terlena dengan pelukannya, hingga saat dia semakin lama dia memelukku aku menjadi menikmatinya.

“Eomma…” Ryu Jin berdiri di depan pintu dan segera berlari menghampiri kami. Dia memeluk kakiku, sangat erat. “Aku kira Eomma pergi lagi.” Ujarnya.

“Appa!” dia memukul paha Jung Soo Oppa hingga membuat Jung Soo Oppa terlonjak dan melepaskan pelukannya dariku. “Kenapa tidak membangunkanku dan memberitahu kita sudah dirumah?!” wajahnya terlihat lucu saat marah. Bibirnya cemberut dan maju beberapa centi. Matanya menatap tajam Jung Soo Oppa. Aku mundur selangkah, terlalu dekat berdiri di hadapan Jung Soo Oppa membuat perasaanku campur aduk.

“Mianhae.” Jawab Jung Soo Oppa pelan, seolah dia benar-benar merasa bersalah.

“Eomma, kau sudah pulang.” Ryu Jin lagi-lagi memeluk kakiku. Dia terlihat sangat manja dan benar-benar menantikanku. “Bogoshipeo..” ucapnya lagi. Entah kenapa sepertinya aku tersentuh dengan ucapannya. Aku berjongkok dan menjajari tubuhnya.

“Jeongmal?” tanyaku sambil mencubit pipinya, dia mengangguk kuat. Aku menciumnya. “Arasseo, aku sudah kembali.” Aku mengangkat tubuhnya dan membawanya keluar kamar. Dia menunjuk kamarnya dan aku membukanya. Kembali semua itu membuatku tercengang. Fotonya dan dekorasi kamarnya sangat lucu. Aku mengelilingi kamar kecilnya. Wallpaper anak-anak. Tap mataku tertarik pada sebuah benda berbingkai tergantung di dinding, sebuah telapak kaki kecil, terbuat dari emas.

ryu

baby leo

“Itu tapak kaki Ryu Jin saat dia lahir dulu.” Aku menoleh ke belakang. Jung Soo Oppa. Aku kembali menatap kaki kecil itu. Aigoo, sangat manis.

“Kau yang memintanya untuk membuat itu.” Lanjutnya lagi bercerita. Jeongmal? Ternyata aku manis juga. Bukankah ini sangat lucu?

Kami bertiga tersentak saat bel di depan rumah berbunyi nyaring. “Biar aku yang buka.” Aku menyerahkan Ryu Jin pada Jung Soo Oppa dan segera menuju pintu depan. Aku terkejut saat membuka pintu, begitu banyak orang di depan sana, tapi aku hanya mengenali dua orang saja, Appa dan In Young Onnie.

“Appa, Onnie.” Aku memanggil keduanya sambil menatapnay satu persatu. Aku pernah melihat mereka. Mereka mengunjungiku di rumah sakit. Dua orang adalah orang tua Jung Soo Oppa, yang mereka bilang mertuaku dan dua orang lagi adalah Siwon dan Hee Rin. Aku tidak tau itu temannya oleh siapa, tapi aku rasa adalah teman Jung Soo Oppa.

“Ayo masuk.” Aku mempersilakan mereka masuk. Eomoni menggandeng lenganku, memegangi tanganku dengan lembut.

“Bagaimana keadaanmu, Eun Kyo~ya? Kau sudah merasa baik?” tanyanya dengan perhatian.

“Ne, Eomoni, aku baik-baik saja.” Jawabku. Mereka duduk di ruang tamu.

“Kenapa tidak masuk kedalam saja?” tanya Jung Soo Oppa menyuruh mereka masuk. Aku membawa mereka ke ruang tengah.

“Aku yang mengundang mereka.” Bisik Jung Soo Oppa di telingaku. Aku menoleh heran padanya, bukannya kami baru saja kembali ke rumah, jika dia mengundangnya, lalu apa yang harus aku suguhkan?
“Aku sudah memesan makanan di Restoran langganan kita.” Ujarnya sambil menarikku ke dapur. Aku mengikuti langkahnya ke dapur, dan benar saja, dia sudah membeli makanan.

“Kapan kau memesannya?” tanyaku heran.

“Jangan tanya kapan. Yang penting bantu aku untuk menyiapkan ini di ruang makan.” Aku masih memperhatikan gerak-geriknya yang menaruh makanan di dalam piring.

Cup!

Sebuah ciuman mendarat di pipiku. Membuatku terkejut.

“Yak! Kau bilang!” dia menutup mulutku dengan telunjuknya.

“Ada yang bisa aku bantu Onnie?” seseorang berdiri di depan pintu dan sedang memandangi kami. Hee Rin.

“Bantu dia menyiapkan ini di ruang makan.” Jung Soo Oppameninggalkanku dengan Hee Rin. Aku terdiam dan melanjutkan apa yang telah di lakukan Jung Soo Oppa. Memasukkan makanan yang masih ada di dalam kotak dan plastik ke dalam piring.

“Onnie, kau sudah baikan?” tanyanya. Aku menoleh padanya.

“Ne.” Jawabku singkat. Entah kenapa dengan gadis ini aku merasa sangat canggung. Dadaku bergemuruh saat berada di dekatnya.

“Onnie…” panggilnya lagi, aku menoleh padanya. Dia terdiam, aku bingung, saat melihatnya, dia, dia seperti ingin mengatakan sesuatu namun ragu.

“Ne?” balasku menatapnya. Dia terdiam dan mata kami saling menatap lama. “Wae?” tanyaku membuka pembicaraan lagi.

“Ani Onnie, Ryu Jin sekarang sudah mulai pintar.” Jawabnya mengalihkan pembicaraan.

“Ah, aku mau bertanya. Berapa lama aku di ruamh sakit?” tanyaku. Hee Rin menghentikan tangannya yang ingin mengambil piring tapi tertahan di udara. Mengurngkan nitanya untuk mengambil piring dan mendekatiku.

“Onnie, kau sama sekali tidak ingat apapun?” tanyanya dengan serius. Aku menggeleng.

“Onnie, kau di rumah sakit… hampir 2 bulan.” Ujarnya.

“Mwo? Aku merasa hanya tinggal 3 minggu disana.” Jawabku, itu sudah sangat membosankan, tidak bisa kemana-mana dan tidak bisa makan makanan sesukaku.

“Onnie, kau koma 1 bulan.” Jawabnya. Jawabannya membuatku lebih tercengang. 1 bulan? Koma? Maksudnya aku tidak sadarkan diri?

“Jeongmal?” aku menatapnya, mencari sebuah kebenaran disana. Tapi sepertinya dia tidak berbohong. “Apa kau tau kenapa aku ada di tempat itu?” tanyaku lagi semakin penasaran dengan jawabannya.

“Em… kau… kau kecelakann.” Jawabnya sedikit meragukan.

“Kalian sudah selesai, Ladies?” sebuah suara memotong pembicaraankami.

“Ne, sudah selesai.” Hee Rin segera menjawab dan mengambil beberapa piring dan membawanya keluar. Siwon tertawa padaku. Aku balas dengan senyuman.

“Biar aku bantu.” Dia mencoba membawa piring makanan tapi aku mencegahnya. Aku merebutnya dari tangannya, tapi tanganku tidak benar-benar kuat mengambilnya hingga piring itu hampir terjatuh, namun Siwon menahannya.

“Aish! Mian.” Makanan itu sebagian tumpah ke bajuku. Siwon mengambil piringnya dan meletakkannya di meja, lalu mengambil tissue untuk membersihkan bajuku.

“Gwaenchana, tidak perlu.” Aku mengambil tangannya dan mengalihkannya dari bajuku. “Aku bisa mengganti bajuku.”

Hee Rin’s POV

Aku meletakkan piring makanan di atas meja makan yang di tata di ruang tengah rumah ini.

“Sudah semuanya?” tanya Jung Soo Oppa. Aku menggeleng.

“Masih ada beberapa piring di dapur.” Jawabku.

“Biar aku bantu.” Ujar Jung Soo Oppa. Kami menuju ke dapur bersama. Park Ahjumma dan Park Ahjussi sedang bermain di halaman depan bersama Ryu Jin. Sepertinya anak itu sangat bahagia hari ini. Beberapa kali teriakannya terdengar nyaring di telinga.

“Aish! Mian!” suara Eun Kyo Onnie membuatku menoleh. Jung Soo Oppa sudah terlebih dahulu mematung di depan pintu melihat kearah Eun Kyo Onnie. Makanan tumpah ke bajunya dan Siwon sedang sibuk membersihkannya dengan tissue. Mereka berdua tidak menyadari kehadiran kami.

“Gwaenchana, tidak perlu.” Eun Kyo Onnie mencegah Siwon membersihkan bajunya. “Aku bisa mengganti bajuku.” Lanjut Eun Kyo Onnie. Tangannya masih memegang tangan Siwon. Aku menoleh pada Jung Soo Oppa. Matanya menatap tajam tangan Eun Kyo yang memegang tangan Siwon.

“Ehem.” Aku berdehem untuk membuat mereka melepaskan tangannya. Sepertinya Jung Soo Oppa cemburu, terlihat dari raut wajahnya. Siwon terlihat salah tingkah, sementara Eun Kyo Onnie dengan santainya berjalan melewati kami.

“Aku mau ganti baju dulu.” Ujarnya sambil tersenyum. “Ah, Oppa. Aku tidak tau dimana kau meletakkan bajuku.” Eun Kyo Onnie berhenti.

“Biar aku tunjukkan.” Jawab Jung Soo Oppa dingin. Demi Tuhan, aku tidak ingin membuat mereka terpisah lagi. Meski mereka tidak pernah berpisah sebelumnya. Tapi aku merasa, akulah sumber dari masalah ini.

“Aish! Kau ini! Harusnya hati-hati!” aku menginjak kaki Siwon. Tidakkah dia melihat Jung Soo Oppa cemburu padanya?

“Ck! Aku kan tidak sengaja, siapa suruh dia merebut piring ditanganku.” Bela Siwon.

“Kau hampir saja membuat suasana kembali memanas.” Aku mencubit lengannya.

“Wae? Memangnya kau cemburu?” tanya Siwon padaku.

“Siapa? Siapa yang cemburu? Aku? Cih! tidak akan!” aku kembali mendaratkan tendanganku di tungkainya membuatnya sedikit berteriak tertahan.

“Yak!” teriaknya saat aku berlalu pergi dengan santai.

Kami makan siang bersama hari ini. Yang paling terlihat bahagia adalah Ryu Jin. Masih ingat dulu saat aku dan Siwon membawanya makan di rumah makan, dia terlihat murung. Tapi hari ini, tawa dan senyuman seolah tidak ingin beranjak dari wajah polosnya.

“Makan yang banyak Ryu Jin~a..” aku dan Eun Kyo Onnie bersamaan mengatakan itu dan meletakkan makanan di piring Ryu Jin. Anak itu tertawa.

“Gomawo, Eomma… Imo~ya..” ujarnya berterima kasih. Ryu Jin makan dengan lahap, tapi Eun Kyo Onnie melirikku, seolah tidak rela ada yang memperhatikan Ryu Jin selain dirinya. Aku tersenyum padanya.

“Siwon makan yang banyak.” Ujar Eun Kyo Onnie pada Siwon, tapi tanpa aku sadari dia juga meletakkan makanan di piring Siwon, bersamaan denganku. Aku meliriknya, lalu kembali tersenyum. Semua orang jadi terdiam. Entah kenapa suasana menjadi kaku. Kali ini aku yang tidak rela dia memberikan perhatian terhadap Siwon. Rasanya, rasanya seperti, entahlah. Ada rasa sakit yang kemudian menyempilku.

“Oppa, kau suka ini kan?” aku berdiri dan meletakkan makanan di piring Oppa. Aish! Jinjja! Ini terlihat seperti sebuah persaingan. Lagi-lagi kami berdua, -aku dan Eun Kyo Onnie-, melakukan hal yang sama dan bersamaan. Dia melirikku, mati kau Shin Hee Rin. Kami sama-sama terdiam dan ada sebuah rasa terkejut dalam diriku. Hanya gemerincing sendok dan piring yang berbuyi menggantikan percakapan kami.

“Aku mau kimchi, Eun Kyo~ya.” Ujar Park Ahjussi memecah keheningan. Eun Kyo Onnie berdiri dan mengambilkan makanan untuknya. Suasana kembali mencair seteah Park Ahjussi memulai pembicaraan hingga kami menyelesaikan makan.

***

Hari menjelang sore saat aku dan Siwon kembali kerumah. Sangat menyenangkan berada di keluarga yang hangat itu. Berbeda sekali dengan keluarga kami yang penuh dengan aturan ynag konyol dan membuatku tertekan.

“Menyenangkan sekali mempunyai keluarga seperti itu. Onnie sangat beruntung.” Aku mengguman saat kami baru saja sampai ke rumah dan baru keluar dari mobil.

“Kita juga bisa membuat keluarga seperti itu.” Siwon menjajari langkahku. Aku terus berjalan memasuki rumah.

“Sepertinya banyak yang sayang dengan Eun Kyo Onnie.” Komentarku lagi.

“Aish! Tidak perlu iri padanya. Kau hanya perlu mensyukuri hidupmu.” Ujar Siwon menggandengku.

“Ah, sebentar. Kau bilang aku tidak bersalah pada malam itu, kenapa kau mengatakan seperti itu?” aku bertanya tentang pembicaraannya di telpon tempo hari, yang mengatakan aku tidak bersalah. Siwon menghentikan langkahnya.

“Benar kau mau tau?” tanya, membuatku berhenti melangkah.

“Ye, kau punya bukti?” tanyaku curiga. Dia tersenyum penuh misteri.

“Kau harus berjanji jangan terkejut ataupun gegabah.” Siwon membawaku ke ruangan kerjanya dan menyalakan layar televisi. Aku duduk di kursi kerjanya, sementara dia berdiri di belakangku.

Hey, aku mengenal tempat itu. Itu kamar dimana aku dan Jung Soo Oppa ditemukan oleh Eun Kyo Onnie. Untuk apa Kim Jin Oppa ada disana? Dan tunggu! Bukankah itu Jin Hye?!

“Sebentar!” aku mencoba meraih remote yang ada ditangan Siwon namun dia menjauhkannya.

“Perhatikan dengan seksama apa yang mereka lakukan.” Aku memperhatikan adegan tiap adegan. Memperhatikannya dengan seksama, bagaiman mereka membuatku dan Jung Soo Oppa seolah melakukan hal yang tidak pantas. Argh! Jeongmal! Wanita gila itu melepas bajuku! Sementara Kim Jin Oppa melepas baju Jung Soo Oppa. Apa-apaan ini? Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Jika Jin Hye melakukan ini untuk memisahkan Eun Kyo Noona dan Jung Soo Oppa, akalku masih bisa menerima. Tetapi apa kepentingan Kim Jin Oppa akan hal ini?

“Apa maksudnya semua ini?” tanpa sadar aku meremas tangan Siwon dengan geram. Menghembuskan nafas degan kasar. Aku benar-benar kesal telah dijebak oleh mereka.

“Mereka menjebakmu.” Siwon menekan tombol dan layar mati seketika. Dia memutar kursi dan berdiri tepat di hadapanmu.

“Jin Hye memang pernah mengatakan menyukai Jung Soo Oppa, aku memang sudah mengenal tabiatnya. Tapi Kim Jin Oppa..” aku tidak berani berprasangka terhadap sepupuku yang terlihat sangat menyayangiku.

“Kau mau membelanya?” tanya Siwon tiba-tiba.

“Dia menyukai Eun Kyo.”jawab Siwon santai. Aku sedikit terkejut. Menyukai Eun Kyo? Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin? Aku tau pasti gadis seeprti apa yang disukai Kim Jin Oppa. Ani, sama sekali tidak ada satu kriteriapun yang ada di diri Eun Kyo Onnie.

“Kau..” aku ingin membantahnya.

“Jangan membantah, aku tau kau pasti tidak percaya begitu saja. Tapi Hee Rin~a, bisa kau lepaskan tanganmu? Itu sakit.” Ujarnya. Aku langsung memandangi tanganku yang ternyata masih meremas tangannya. Segera kulempar tangannya jauh-jauh dariku.

“Oppamu, ah, kau pasti tidak percaya.” Dia ingin keluar dari kamar.

“Kita harus memperlihatkan ini pada Jung Soo Oppa dan Eun Kyo Onnie.” Aku bersemangat ingin kembali ke rumah itu lagi.

“Nanti saja, biarkan mereka tenang. Aku rasa untuk sekarang ini Eun Kyo lebih baik amnesia.” Dia mencegahku untuk keluar dan mencengkaram tanganku. Membuat tubuhku menempel di tubuhnya. Beberapa detik aku terdiam. Ah, kenapa akhir-akhir ini aku sering gugup berada di dekatnya? Bahkan tidak bisa dipungkiri, aku sedikit emosi saat Siwon tadi membersihkan noda yang ada di baju Eun Kyo Onnie. Aigoo, Hee Rin~a, apa yang terjadi padamu? Jangan katakan kau mulai menyukainya.

Author’s POV

Jung Soo membawa Eun Kyo ke tempat praktek seorang Psikiater. Sudah 2 minggu Eun Kyo kembali ke rumah mereka. Namun dia sama sekali mengubur memorinya tentang rumah itu dan orang-orang yang berhubungan dengan tempat itu. Namu ada yang sedikit berubah. Eun Kyo tak lagi sedingin dulu, meski sesekali dia terlihat acuh.

“Ayo, Yeobo. Kita sudah sampai.”

“Oppa, ini tempat apa?” Eun Kyo turun dari mobil, dan dia sempat melirik ke sebuah papan nama. Cha Dong San, seorang Psikiater.

“Kita mengunjungi seseorang.” Jung Soo menarik tangan Eun Kyo memaksanya untuk masuk.

“Annyeong haseyo. Ada yang bisa saya bantu?” seorang berpakaian putih menyambut mereka.

“Aku Park Jung Soo. Sudah membuat janji di telpon pagi tadi.” Ujar Jung Soo.

“Ah, ye. Tunggu sebentar disini.” Orang itu mempersilakan Jung Soo dan Eun Kyo untuk duduk dan menunggu.

“Oppa, aku takut. Mau apa kita disini?” Eun Kyo mulai berkeringat dingin. Jung Soo mencoba menenangkannay dengan menggenggam tangannya.

“Gwaenchana, semua akan baik-baik saja.” Tangannya merangkul bahu Eun Kyo dan Eun Kyo meletakkan kepalanya di pundak Jung Soo.

“Silakan Tuan. Kau boleh masuk.” Seseorang yang tadi menyapa mereka mempersilakan masuk. Jung So bangkit, namun Eun Kyo masih betah untuk duduk.

“Yeobo, ayo kita masuk.” Jung Soo mengajak Eun Kyo untuk masuk dan menarik tangannya,

“Tapi Oppa..” Eun Kyo terlihat ragu namun genggaman tangan Jung Soo membuatnya melangkah dan masuk kedalam ruangan yang lumayan besar itu.

“Silakan masuk Nyonya Park.” Seseorang dari dalam menyapa Eun Kyo. Cha Dong San.

“Ah, ye.” Ujar  Eun Kyo mengambil duduk di dikursi ynag tersedia. Beberapa saat seseorang keluar dari sebuah ruangan bersekat dan duduk di hadapan mereka berdua. Masih muda dan terlihat segar.

“Apa kabar Tuan Park? Tapi bolehkah aku memanggilmu Jung Soo saja?” tanya Doang San pada Jung Soo.

“Baik-baik saja. Panggil apa saja yang membuatmu nyaman.” Jawab Jung Soo ramah.

“Bagaimana denganmu dengan Nyonya Park?” tany Dong San menatap Eun Kyo.

“Ah, ye? Aku? Aku baik-baik saja.” Jawab Eun Kyo terbata.

“Santai saja.” Ujar Dong San tersenyum, mebuat suasana menjadi cair. “Tarik nafasmu dalam-dalam, Nyonya Park.” Lanjutnya. Eun Kyo manrik nafas dan mengisi paru-parunya dengan udara, lalu menghembuskannya.

“Arasseo, sekarang bisa kau duduk di tempat itu?” Dong San menunjuk sebuah kursi berukuran panjang, yang biasa digunakan untuk pasiennya. Di dalam sebuah ruangan kaca. Eun Kyo menoleh pada Jung Soo.

“Oppa..” Eun Kyo memanggil Jung Soo seperti anak kecil yang meminta perlindungan. Dia bangkit dan terus memandangi Dong San dan Jung Soo bergantian.

“Kau boleh menemaninya di belakangku.” Ujar Dong San sambil menepuk bahu Jung Soo. Dia segera menggeser kursinya dan duduk di belakang Dong San.

“Tarik nafasmu, Eun Kyo~ya.” Dong San mencoba lebih dekat dengan memanggil Eun Kyo dengan nama panggilannya. Eun Kyo mengikuti instruksi Dong San. Jung Soo yang duduk di belakang Dong San terlihat tegang.

“Santai saja. Dan pejamkan matamu.” Ujar Dong San memberikan arahan. “Kosongkan semua pikiranmu dan pegang tanganku.” Dong San mengambil tangan Jung Soo dan menyuruhnya mendekat lalu menyuruh Jung Soo menggenggam tangan Eun Kyo, sementara Eun Kyo memejamkan matanya.

“Hanya ada kau dan aku dalam pikiranmu, tidak akan ada orang lain, jadi kau bisa ceritakan apapun tentangmu padaku.” Lanjut Dong San lagi.

“Apa yang kau rasakan Eun Kyo~ya?” tanya Dong San. Lama wakttu berjalan, tidak ada jawaban dari Eun Kyo, matanya terpejam namun mulutnya juga terkunci. Jung Soo mengharap jawaban Eun Kyo dengan sangat. Tapi Eun Kyo tak kunjung membuka mulutnya, bahkan untuk satu katapun. Jung Soo menatap Dong San, Dong San membalasnya dengan senyuman, seolah mengatakan pada Jung Soo untuk bersabar.

“Baiklah, jika kau tidak ingin bercerita.” Dong San melepaskan tangan Jung Soo dari genggaman Eun Kyo. “Sekarang buka matamu.” Eun Kyo membuka matanya dan ingin beranjak.

“Jangan, tolong tetap disini saja.” Dong San mencegah Eun Kyo bangkit.

“Kau mengenal orang ini?” Dong San mengambil sebuah foto.

“Itu… Jung Soo Oppa.” Jawab Eun Kyo sambil melirik Jung Soo yang ada di belakang Dong San.

“Arasseo, seberapa jauh kau mengenal Jung Soo?” tanya Dong San lagi. Eun Kyo terdiam, tidak tau harus menjawab apa. Jung Soo dan Dong San menanti jawaban Eun Kyo dengan ekspresi yang berbeda. Dong San dengan santai sementara Jung Soo terlihat sangat tegang.

“Em…” Eun Kyo berpikir sejenak namun yang keluar dari mulutnya hanya sebuah gumaman saja. Dong San tertawa.

“Tidak ada jawaban ynag salah, Eun Kyo~ya. Ini bukan ujian.” Ujar Dong San sambil tertawa membuat Eun Kyo tersipu. Eun Kyo merasa seperti orang yang diadili, karena dia tidak mempunyai memori apapun tentang Jung Soo, itu membuatnya sedikit merasa bersalah.

“Aku tidak bisa mengingat apapun.” Jawab Eun Kyo sambil menunduk.

“Tapi kau ingat namamu?” tanya Dong San. Eun Kyo mengangguk.

“Baiklah, sekarang ganti pertanyaannya. Siapa saja yang kau kenal selama ini?” tanya Dong San.

“Appa..” jawab Eun Kyo seraya berpikir.

“Eomma… Eomma sudah meninggal.” Jawabnya lagi.

“Teman-temanku sekolah, teman kuliah.”

“Nyonya Jung penjual daging yang sangat enak!” jawab Eun Kyo lag sambil mengenang masa-masa dia sekolah dulu.

“In Young Onnie.” Jawabnya nyaring. “Dia teman yang lucu, aku sering ditraktir makan olehnya.” Jawabnya lagi.

“Aku tidak terlalu suka dengan Jin Hye.” Jawabnya lagi. Jung Soo ingin berbicara namun Dong San menahannya.

“Jin Hye? Nugu~ya?” tanya Dong San.

“Eum.. dia teman sekolahku. Tapi selalu meremehkanku.” Jawabnya. “Sudahlah, aku tidak ingin mengingatnya.” Ujar Eun Kyo.

“Selain itu? Tentang Ryu Jin?” tanya Dong San memancing.

“Ryu Jin?” tanya Eun Kyo. Dia kembali mulai berpikir, membuka kenangannya bersama anak itu.

“Ryu Jin…” ujarnya mengulang menyebut Ryu Jin. Beberapa lama berpikir, Eun Kyo tidak menemukan ingatannya tentang anak itu dan membuatnya sedikit frustasi, mengingat anak itu selalu mengatakan bahwa dia sangat mencitai Eun Kyo. Ada rasa bersalah menelusup dalam diri Eun Kyo karena telah melupakan anak itu. Kepalanya terasa sakit, dia memegang kepalanya.

“Cukup, untuk hari ini, pertemuan kita cukup. Kau istirahat saja dulu disini.” Dong San menepuk bahu Jung Soo. Jung Soo bangkit dan mengikuti Dong San untuk keluar dari ruangan itu. Eun Kyo berbaring sejenak mengistirahatkan pikirannya.

“Silakan duduk.” Dong san mempersilakan Jung Soo untuk duduk. “Em, kondisi kesehatannya memang sangat baik. Tapi sepertinya Eun Kyo mengalami amnesia disosiatif. Kondisi ini merujuk pada suatu kondisi amnesia yang mempunyai kehilangan memori akan suatu peristiwa atau kejadian tertentu yang tidak bisa dijelaskan dengan suatu kondisi kehilangan memori biasa.” Dong San menjelaskan beebraap analisanya.

“Apa yang menyebabkan itu terjadi?” tanya Jung Soo, dia melirik Eun Kyo sedetik yang terbaring dikursi.

“Dia melupakan apa yang ingin dia lupakan, dan biasanya kondisi tersebut terjadi saat seseorang mempunyai sebuah trauma, atau berada pada titik stres yang tinggi. Kecelakaan itu juga bisa memacunya dan memperparah keadaan.” Lanjut Dong San menjelaskan. Jung Soo mendengarkan dengan serius.

“Bagaimana membuatnya sembuh? Apa dia bisa sembuh? Apa yang harus aku lakukan?” tanya Jung Soo lagi.

“Aku akan membantu sebisaku, tapi keinginan dari pasien juga mempengaruhi pengobatan.” Ujar Dong san menjawab.

“Aku sangat berharap dia kembali mengingat kami.” Jung Soo mengatakannya dengan sungguh-sungguh.

“Aku bisa mengerti apa yang kau rasakan. Percayalah, ini butuh waktu dan kau juga harus membuatnya mengingat sedikit demi sedikit. Mengulang kembali apa yang kalian lakukan dulu lebih efektif, namun jika pemicu amnesia ini adalah sebuah trauma, kau juga harus berhati-hati.”

“Baiklah.” Jawab Jung Soo.

“Kalian bisa pulang, sepertinya Eun Kyo sudah mulai bosan.” Dong San menggerakkan dagunya ke arah Eun Kyo yang sudah mulai bangkit dan ingin pergi.

“Sudah selesai? Bisa kita pulang, Oppa?” Tanya Eun Kyo.

“Ye, sebaiknya kita pulang.” Jung Soo dan Dong San segera berdiri. Dong San mengantar Eun Kyo dan Jung Soo ke ambang pintu.

“Eun Kyo~ya, jika kau bermimpi atau mengingat sesuatu, tolong ceritakan padaku, hem?” Dong San menjabat tangan Eun Kyo. Eun Kyo hanya mengangguk.

“Atau jika kau ingin menceritakan hal yang pribadi, kau bisa menghubungiku.” Dong San mengerlingkan matanya. Membuat Eun Kyo tertawa.

“Berbagi rahasia itu menyenangkan, kau mengerti?” tanya Dong San. Eun Kyo tertawa renyah. Jung Soo memandanginya, ini pertama kalinya Eun Kyo tertawa lepas setelah dia siuman.

^_^

“Orang tuamu lupa menjemputmu lagi?” Hyun Ah mendekati Ryu Jin yang duduk dengan setia menunggu jemputan orang tuanya.

“Mau makan ini?” Hyun Ah menawari Ryu Jin sebuah hamburger ukuran kecil. Dengan cepat Ryu Jin mengambilnya.

“Noona, Eommaku sudah kembali.” Ryu Jin membuka mulutnya dan menggigit hamburger gratisnya. Padahal tidak gratis sama sekali, setiap Jung Soo menjemput Ryu Jin, dia selalu memberikan uang kepada Hyun Ah.

“Jinjja?” tanya Hyun Ah. Ryu Jin mengangguk kuat.

“AH, chukkae.” Jawab Hyun Ah pelan. Beberapa lama Ryu Jin menungu, akhirnya apa yang ia nantikan datang juga.

“Eomma!” teriak Ryu Jin nyaring. Dia langsung turun dai kursi dan ingin berlari namun Hyun Ah menarik tangannya.

“Ah, Ryu Jin~a, hati-hati.” Anak itu tidak sabar menunggu mobil Jung Soo berhenti dan ingin menyambutnya. Jung Soo yang melihat hal itu langsung menghentikan mobilnya dengan cepat dan keluar.

“Ryu Jin~a, kau harus hati-hati.” Jung Soo dengan cepat menghampiri Ryu Jin, tapi tidak diperdulikannya.

“Eomma mana?” ujarnya mencari sosok Eun Kyo.

“Ada di dalam, ayo kita pulang.” Eun Kyo yang tadinya tidak ingin keluar akhirnya keluar dari mobil, sejak tadi dia hanya melamun di dalam mobil tanpa berkata apa-apa. Bahkan dia tidak menyadari bahwa mobil sudah berhenti. Jung Soo takut mengganggunya dan membiarkan saja dia dengan lamunannya.

“Ryu Jin~a.” Panggil Eun Kyo, Ryu Jin segera menghambur ke pelukan Eun Kyo dan mereka masuk ke dalam mobi.

“Ahjussi, apa dia sudah sembuh?” tanya Hyun Ah, menanyakan keadaan Eun Kyo. Dia baru bertemu dengan wanita itu setelah 2 bulan lebih hanya Jung Soo yang menjemput Ryu Jin. Memang Hyun Ah hanya beberapa kali bertemu dengan Eun Kyo, itu pun selalu disertai dengan emosi.

“Hem, wae?” tanya Jung Soo. Dia merogoh dompetnya di saku belakang celananya.

“Eit, tidak perlu Ahjussi, hari ini aku yang mentraktir Ryu Jin. Dia terlihat sangat ceria hari ini. Dan menceritakan Eommanya sudah sembuh.” Ujar Hyun Ah menolak pemberian Jung Soo, dia bahkan tidak memperhatikan uang yang ingin Jung Soo berikan, biasanya itu sangat membuatnya bersemangat. Dia terus memandangi Eun Kyo yang duduk manis bersama RyuJin di dalam mobi.

“Ahjussi, tapi istrmu sedikit…” dia masih memandangi Eun Kyo. “Aneh.” Lanjutnya mengalihkan pandangannya pada Eun Kyo pada Jung Soo. Mukanya terlihat serius, seolah dia sedang menyelidiki sesuatu.

“Yak , kau ini!” Jung Soo memukul kepala Hyun Ah.

“Ahjussi, sakit!” keluh Hyun Ah sambil memegangi kepalanya.

“Kau jangan bicara sembarangan.” Ujar Jung Soo. Hyun Ah cemberut, mematung sambil masih memandangi Eun Kyo. Dia heran, kenapa tiba-tiba Eun Kyo terlihat asing. Auranya berbeda, seolah tidak mengenalku. Dua kali bertemu dengannya, wanita itu selalu marah padanku, meskipun dalam keadaan marah, tapi setidaknya dia mengenalku. Hyun Ah membatin. Dia masih mematung.

“Kau mau aku antar atau mau naik bus?” Jung Soo meneriakinya dari dalam mobil. Hyun Ah tidak sadar bahwa mobil Jung Soo sudah siap meluncur.

“Ani, aku ikut.” Jawab Hyun Ah membuka pintu belakang.

“Kau sudah makan? Bagaiamana kalau kit amakan malam bersama?” tawar Jung Soo.

“Aku suka makan.” Jawab Hyun Ah, dia membuka PSP nya dan tidak terlalu memperduikan ocehan manja dari mulut Ryu Jin.

“Baiklah, kalau begitu kita cari rumah makan.” Jung Soo memutar balik mobilnya menuju rumah makan. Eun Kyo masih tidak menyapa Hyun Ah. Gadis itu sangat penasaran.

“Ahjumma, kau tidak menyapaku.” Ujar Hyun Ah menyapa. Eun Kyo menengok ke belakang.

“”Kau masih marah padaku?” tanya Hyun Ah.

“Nde?” tanya Eun Kyo terlihat bingung.

“Kau, kau terlihat aneh, kau masih marah padaku? Ayolah Ahjumma, ini sudah 2 bulan lebih kau masih marah?” celoteh Hyun Ah tanpa henti dan acuh, tapi juga berharap tau sesuatu.

“Marah? Aku? Ani.” Jawabnya.

“Syukurlah, kalau begitu. Aku kira kalian bercerai waktu itu.” Jawab Hyun Ah.

“Bercerai?” tanya Eun Kyo semakin bingung.

“Ani, lupakan saja.” Jawan Hyun Ah lagi, melihat Eun Kyo bingung, dia merasa tidak perlu mengungkit hal itu lagi.

“Tapi kau siapa? Kenapa bisa bertemu dengan Ryu Jin?” tanya Eun Kyo polos.

“Mwo?” Hyun Ah semakin bingung, dia menoleh pada Jung Soo.

“Ahjumma, hanya karena kau marah padaku, tidak perlu berpura-pura tidak mengenalku.” Jawabnya lirih, namun tidak berniat untuk mendebat Eun Kyo. Jung Soo menatap Hyun Ah, menyuruhnya untuk berhenti berbicara.

“Ahjumma? Apa aku sudah setua itu?” protes Eun Kyo.

“Memangnya harus memanggil apa lagi?” Hyun Ah kembali dengan PSP nya dan tidak memperhatikan mereka lagi.

“Panggil Onnie saja.” Eun Kyo mnoleh ke belakang melihat Hyun Ah.

“Ne, Onnie.” Jawab Hyun Ah acuh. dia masih berkutat dengan PSPnya. Ryu Jin yang ada di dalam pangkuan Eun Kyo sebenarnya tergiur, namun berada di pangkuan Eun Kyo dirasanya lebih nyaman. Dia mendongak menatap Eun Kyo dengan polos.

“Wae?” tanya Eun Kyo sambil mencium bibirnya. Jung Soo melirik mereka berdua. Ada rasa lega yang tiba-tiba dia rasakan.

Jung Soo’ POV

Beberapa hari tidak masuk kerja karena harus memulihkan keadaan rumah dan mengajari Eun Kyo tentang seluk beluk rumah membuatku sedikit asing saat kembali ke kantor ini. Beberapa orang menyapaku dan aku membalasnya.

“Ada masalah?” tanyaku berhenti di meja sekretarisku. Aku memilih sekretaris laki-laki untukmenghindari kesalah pahaman lagi.

“Ani, Sajangnim, hanya saja ada beberapa berkas yang harus di tanda tangani dan ada sedikt masalah, namun tidak terlalu besar.” Jawabnya.

“Baiklah. Ada di atas mejaku kan?” tanyaku menanyakan tentang berkas yang harus aku tanda tangani. Dia mengangguk dan mengikutiku masuk ke dalam.

“Tanda tangan disini.” Da mengarahkan tangannya untuk menyuruhku tanda tangan.

“Ah, ye. Sebentar. Aku mau baca dulu.” Aku khawatir nantinya aku salah tanda tangan lagi. Jadi aku memilih lebih teliti sekarang. Aku membaca dengan seksama. Ini perjanjian kerjasama dengan Jin Hye. Dia ingin membuat perjanjian rapat setengah bulan sekali dengan pihaknya. Apa-apaan ini? Bukan kah dia juga sering kemari? Tanpa ada rapat pun dia tetap kesini tanpa di undang!

“Aku tidak bisa tanda tangan ini.” Aku sedikit melempar perjanjain itu dengan kasar ke tas meja membuat Jae Suk sedikit tersentak.

“Tapi Sajangnim..” ujarnya.

“Bukan kah dia selalu kesini setiap hari? Eoh? Tidak perlu membuat perjanjian, itu akan menyusahkanku. Aku rasa kau tau maksudku.” Aku tidak suka di dikte.

“Tapi dia pemegang saham.”

“Aku juga pemegang saham Jae Suk~ssi!” potongku cepat. “Sekarang kau keluar. Aku tidak mau semua pekerjaanku menyulitkan rumah tanggaku.” Aku terburu tersulut emosi jika menyangkut wanita itu!

“Ah, ye, Sajangnim. Tapi, ada sedikit masalah. Tapi sepertinya Anda sedang..”

“Katakan saja!” aku berkata ketus. Jae Suk terlihat ragu untuk mengatakannya. “Katakan saja..” aku merubah nada bicaraku menjadi lebih pelan dan dia mengangguk sejenak.

“Supermarket kita yang ada di Daerah Daegu ada sedikit maslah. Pengunjungnya menurun  dari tahun lalu.” Jawabnya. Aku menghela nafa sejenak.

“Begitu?” tanyaku.

“Nde.”

“Nanti temani aku kesana sebentar. Kita cek apa masalahnya.” Jawabku.

“Nde.” Dia mengangguk kuat. Aku meliriknya sebentar, apa aku membuatnya takut?

“Tunggu aku beberapa menit. Kita berangkat sekarang juga. Aku tidak ingin menginap.” Ujarku. Dia kembali mengangguk lalu kemudian keluar.

***

Aku sudah sampai di Daegu. Namun sebelumnya aku menelpon ke rumah terlbih daulu menghubungi Eun Kyo jika aku terlambat pulang hari ini dia tidak perlu menungguku. Dia hnya berkata iya. Sebenarnya ada rasa cemas saat aku meninggalkannya di rumah sendirian. Takut dia berpikir macam-macam dan itu membuat keadaannya tidak bagus. Aku tidak mungkin menyuruh Ryu Jin untuk bolos sekoalha hanya untuk menemani Eommanya di rumah. Aku berjalan mengelilingi Pasar modern yang dibangung beberapa tahun ini. Beberapa sayuran membusuk karena mungkin tidak laku.

“Kenapa sampai seperti ini?” tanyaku. Semua pekerja terdiam. Aku memperhatikan mereka satu-persatu. Mereka semu menunduk.

“Cek harga pasar tradisional. Dan jangan mematok harga terlalu tinggi dari mereka.” Aku meletakkan sayuran hijau itu ke dalam keranjang.

“Tapi, harga dari pemasok kita sudah tinggi.” Ujar seseorang yang berani bicara. Aku berhenti di hadapannya.

“Sayuran ini kualitas tinggi dan tidak mungkin menjualnya murah.” Tambahnya pelan.

“Tapi membusuk di dalam sini, apa gunanya?” tanyaku sengit. Aku heran, mereka ini bodoh atau sedang lagi tidak punya otak? Semuanya kembali menunduk.

“Tidak akan ada ynag beli jika harganya terlalu mahal. Hanya kalangan atas yang bisa membelinya. Aku ingin target kita sekarang adalah para pedagang pinggiran. Ajak mereka untuk tertarik memakai bahan baku di tempat kita, kau mengerti?” mereka semua terdiam.

“Aku masih banyak pekerjaan.” Aku menepuk bahu Jae Suk dan mengajaknya pulang. Tapi tanpa aku duga, aku bertemu lagi dengan gadis itu disini. Sial!

“Oppa, tidak menyangka bertemu disini.” Jin Hye mendekatiku. Jae Suk mengerti dengan keadaanku akhir-akhir ini. Aku hanya mengangguk menanggapi sapaan Jin Hye.

“Nona Muda.” Jae Suk menyapa. Tapi tidak dihiraukan oleh Jin Hye.

“Oppa, mumpumng bertemu disini, bagaimana kalu kita makan bersama?” ajaknya. Aku terdiam.

“Maaf Nona Muda. Kami masih banyak pekerjaan.” Jawab Jae Suk membelaku.

“Aku tidak bicara padamu!” ujar Jin Hye ketus. Aku menatap tajam pada Jin Hye tidak memperdulikannya. Dia tetap bertingkah manja dan sedikit angkuh.

“Bagaimana Oppa?” tanyanya mengulang ajakannya.

“Jae Suk sudah bilang kami sedang sibuk.” Aku berjalan meninggalkannya namun dia mengejarku.

“Oppa, Oppa. Sekali saja. Kau selalu menolak ajakanku selama ini.”

“Untuk apa aku menerima ajakanmu.” Jawabku acuh. aku benar-benar ingin menghilang dari sini. Tingkahnya membuatku muak.

“Oppa… sekali saja…” bujuknya lagi.

“Ani, aku harus cepat pulang. Eun Kyo sendirian dirumah.” Tolakku. Wajahnya terlihat kecewa. Aku benar-benar ingin cepat pulang. Beberapa kali aku menghubungi Eun Kyo untuk menanyakan keadaannya. Memastikannya baik-baik saja. Aku terlalu khawatir.

“Kita pulang sekarang saja.” Ajakku pada Jae Suk. Dia mengagguk patuh. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku segera merogohnya di saku celanaku, takutnay itu dari Eun Kyo dan dia sedang kesulitan.

“Yeoboseyo?” sahutku cepat.

“Jung Soo~ssi.” Suara lelaki menyahut. Aku menjauhkan ponsel itu dari telingaku dan memeriksa siapa nama yang ada di layar. Siwon.

“Ah, ye. Wae Siwon~a?” tanyaku.

“Bisa kita bicara dan bertemu sebentar?” tanyanya. Aku berpikir sejenak. Sebenarnya aku ingin cepat pulang saja, ini sudah sore.

“Memangnya ada apa?” tanyaku.

“Ada hal yang ingin aku tunjukkan.”

“Tentang?”

“Lebik baik kau melihatnya langsung. Sulit mengatakannya di telpon.” Jawab Siwon membuatku sedikit penasaran. Aku kembali berpikir untuk menerima ajakannya.

“Dimana?” tanyaku.

“Sekarang kau ada dimana?” tanyanya balik bertanya.

“Aku sedang dalam perjalanan. Sebentar lagi mungkin akan sampai.” Jawabku.

“Dirumahku saja.” Jawab Siwon.

“Baiklah kalau begitu.” Jawabku mengkhiri pembicaraan. Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba memintaku untuk bertemu? Tidak biasanya. Aku akan menemuinya sebentar lalu pulang ke rumah. Ah! Ryu Jin! Aku melupakannya. Aku kembali mengambil ponsel dan menelpon telpon rumah.

“Yeoboseyo?” suara lembut menjawab telponku. Aku tersenyum mendengarnya. Entah kenapa akhir-akhir ini Eun Kyo terkesan lebih cantik dari biasanya. Senang tak ada lagi emosi dalam dirinya. Sekarang lebih tenang tapi terkadang jug amenakutkan dengan diamnya.

“Yeobo.. Ryu Jin aku yang akan menjemputnya. Kau tidak usah menj!”

“Dia sudah disini. Tadi Key yang menjemputnya.” Jawab Eun Kyo memotong pembicaraanku. Aku terdiam sejenak. Key? Kenapa harus Key? Apa sekarang dia ada di rumah? Bukankah Eun Kyo..

“Key?” tanyaku tidak percaya.

“Hem, dia juga mengantarkan beberapa berkas sketsa pola untukku.” Jawabnya. Nde? Apa dia sudah mengingatnya?

“Begitu? Apa dia sekarang ada dirumah?” tanyaku.

“Nde. Dia ada dirumah, tapi mungkin sebentar lagi akan pulang.” Ujar Eun Kyo. Aku terdiam lagi.

“Begitu?”

“Aku senetar lagi akan pulang Hyung! Au tidak perlu cemas!” suara teriakan Key terdengar samar namun aku bisa mendengarnya. Yaish! Anak itu.

“Apa dia datang sendirian?” tanyaku pada Eun Kyo.

“Ani, dia bersama Chanie.” Jawaban Eun Kyo kini lebih membuatku tenang. Jika datang sendirian, maka akan berurusan denganku.

Tanpa teras aku sudah sampai di halaman rumah Siwon. Menghentikan mobilku dan menyuruh Jae Suk untuk menunggu sebentar.

“Kau mau masuk atau menunggu disini?”

“Ani,a ku disini saja.” Jawabnya. Dia menurunkan sandaran kursi dan merebahkan tubuhnya. Dia terlihat lelah.

“Baiklah kalau begitu aku masuk.” Aku berjalan emnuju pintu rumah Siwon, dan sebelum aku mengetuk, Siwon sudah terlebih dahulu membukakan pintu. Aku sedikit terkejut.

“Aku sudah menunggumu.” Sapanya tanpa basa-basi. Dia menarik tanganku.

“Kau sepertinya sudah tidak sabar.”

“Buakn begitu. Aku tidak ingin membuatmu gelisah terlalu lama meninggalkan Eun Kyo dirumah.” Haha, ternyata dia mengerti keadaanku.

“Gomawo.” Ujarku.

“Mwo? Untuk apa?” tanyanya sambil membulatkan matanya. “Hyung, kau ini. Santai saja.” Ujarnya memukul lenganku pelan.

“Kau sudah banyak membantu selama ini.” Ujarku padanya. Dia memang sangat benyak membantu.

“Kau ini. Ini juga menyangkut istriku.” Ujarnya dengan tertawa.

“Mwo? Jadi kau mengakui bahwa Hee Rin adalah istrimu?” tanyaku bercanda.

“Memangnya siapa lagi? Aku tidak punya istri lain selain dia.” Jawabnya acuh.

“Ah, tunggu. Apa kau mencintainya?” tanyaku iseng. Dia berhenti melangkah dan menatapku.

“Wae? Kalau aku tidak mencintainya kau mau merebutnya?” tanyanya lagi membuatku tak berkutik.

“Aish! Kau ini seperti Eun Kyo saja. Selalu berpikir yanng tidak-tidak.”  Jawabku tersipu.

“Kalau begitu mungkin aku dan Eun Kyo.”

“Yak!” teriakku agar tidak melanjutkan semua omongan konyolnya.

“Hahahahahaha.” Balasnya tertawa. “Kau ini. Kau harus melihat ini dan membenarkan semua keadaan ini.” Dia menarikku memasuki sebuah ruangan.

“Sebentar aku nyalakan.” Dia menyalakan layar besat yang ada di hadapanku dan memasukkan sebuah kaset.

“Memangnya ada apa?” tanyaku penasaran.

“Lihat saja.” Layar mulai berputar. Awalnya aku tidak mengerti, namun setelah beberapa detik berlalu aku baru menyadarai.

“Jangan berkomentar. Lihat saja.” Siwon menyelaku ynag ingin berbicara. Aku akhirnya diam dan menyaksikan apa yang ada dihadapanku dengan hati emosi. Menghela nafasku saat film pendek duras 25 menit itu selesai, dengan aku sebagai pemeran utamanya. Tanpa bayaran uang tapi sebuah masalah yang hampir memporak porandakan rumah tanggaku. Jadi semua ini hanya permainan Jin Hye dan Kim Jin.

“Kenapa baru memberitahuku sekarang?!” tanyaku sedikit emosi dengansikap Siwon yang menyembunyikan ini semua.

“Hee Rin juga baru tau beberapa hari yang lalu.” Jawabnya.

“Aku akan membawa perkara ini ke pengadilan. Ini pencemaran nama baik.” Aku bangkit dari duduku. Benar-benar merasa di bodohi, dan bodohnya aku diam saja dengan kekonyolan ini, menyangka aku yang bersalah.

“Mian Hyung.” Jawab Siwon. Aku dan dia sudah lebih dekat setelah insiden Eun Kyo kecelakaan. Siwon dan Hee Rin kerap memberiku semangat untuk tidak menyerah dengan keadaan.

“Aku meras asangat bersalah selama ini! Bodoh sekali!” aku memukul kepalaku sendiri.

“Mian.” Ujar Siwon lagi.

“Kau tau? Kau tau?!” suaraku semakin tinggi. “Aku hidup dengan rasa bersalah selama ini! Merasa bersalah pada Eun Kyo! Padamu! Dan juga pada Hee Rin!” teriakku. Siwon mendekatiku dan merangkulku.

“Aku sudah tau dan aku tidak menyalahkanmu.” Jawabnya. “Dan mian, sebenranya saat Eun Kyo kecelakaan. Saat Hee Rin menemui Eun Kyo, aku sudah ingin memberitahunya. Tapi terlambat.” Jelas Siwon. Ada rasa sesal terdengar dari suaranya. Aku bisa merasakan keadaannya saat itu.

“Sudahlah. Aku harus menyelesaikan ini. Dan menunjukkannya pada Eun Kyo.” Jawabku sambil meminta kaset itu pada Siwon.

“Ani, Hyung. Aku rasa keadaannya lebih baik seperti ini. Untuk memulihkan keadaan rumah tanggamu. Jika Eun Kyo melihat ini danmembuatnya shock kembali, bagaimana? Sebaiknya sebelum kau memperlihatkannya pada Eun Kyo, bawa dulu ke Psikiaternya. Minta pendapatnya.” Ujar Siwon. Aku terdiam. Apa yang dia katakan ada benanya juga. Dengan begini, aku bisa menjadi lebih dekat dengan Eun Kyo.memulianya dari awal lagi, mengisi semua memori barunya dengan hal yang lebih indah.

“Kau benar juga.” Aku menepuk dada Siwon.

“Bukan kah lebih menyenangkan jika Eun Kyo seperti ini?” dia mengedipkan matanya padaku. Aku tersenyum dengan godaannya. Memang menyenangkan, aku bisa kembali melihatnya seperti pertama kali bertemu. Tapi untuk menyentuhnya lagi, sepertinya terburu-buru.

“Yaish! Kau ini. Jangan hanya memikirkan rumah tanggaku. Rumah tanggamu sendiri?”

“Ah, tenang saja. Jangan mencemaskannya. Dia milikku!” tangannya mencengkram kerah bajuku.

“Arasseo.” Ujarku seolah mengalah.

“Baiklah, sudah selesai. Ini aku berikan salinannya.”

“Kenapa tidak aslinya saja?” protesku.

“Ini untukku.” Jawabnya.

“Sudah jangan bercanda. Istrimu mungkin sudah menungggu.” Shit! Aku baru ingat, ini sudah malam. Dan eun Kyo bersama Key! Aku tidakbisa membiarkannya bersama bocah itu dan mengisi memoro Eun Kyo dengan tingkah sok tau dan sok melindunginya!

“Baiklah kalau begitu aku pulang saja!” aku berpamitan pada Siwon. Kembali ke rumah dengan kekhawatiran baru. Dia baru saj abertemu dengan bocah itu.

Eun Kyo’s POV

Key baru saja berpamitan pulang. Suasana menjadi sepi kembali. Baru saja aku merasakan rasa senang itu tapi harus kembali kesepian. Dia bilang aku mempunyai butik di daerah Myeong Deong, karena kejadian ini aku jadi tidak bisa menjalankannya dan di ambil alih olehnya. Dia menyerahkan buku rekening usaha kami. Hasilnya lumayan, dia hanya meminta uang gajinya, tanpa meminta lebih. Dia juga menceritakan bahwa aku sebelumnya menandatangani sebuah kontrak besar dan dia menyerahkan buku rekeninga hasil kontrak itu. Itu bukan sekedar lumayan, tapi lebih dari lumayan. Ryu Jin asik menonton televisi, kartun kesayangannya masih tidak bisa di ganggu gugat. Terkadang tawanya pecah membuatku sedikit tersentak. Aku masih memikirkan tentang ‘kejadian’ yang disebutkan Key tanpa ada kronologis dtailnya. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu. Aku bisa merasakannya. Kepalaku kembali berputar, memikirkan hal itu menguras semua energiku. Apa ‘kejadian’ itu yang membuat aku kini harus menjalani terapi? Aku hilang ingatan? Tapi kenapa aku mengingat Appa dan yang lainnya. Hanya tidak mengingat Jung Soo Oppa dan Ryu Jin serta mertuaku. Aku mengingat Key, bekerja dengannya, aku juga ingat Channie, penjahit terbaikku. Hanya itu yang aku ingat, orang lain tidak ingat sama sekali. Key kerap kali menggodaku jik asedang bekerja, aku masih ingat itu. Tapi kenanganku bersama Ryu Jin yang dikatakan Key sering ketempat kerjaku untuk mengganggu pekerjaannya, aku tidak ingat sama sekali. Memang aneh.

“Eomma!” teriakannya mengiang di telingaku diikuti tubuhnya yang kini duduk dengan santai di pangkuanku.

“Aish! Kau mengejutkan Eomma.” Aku mencubit pipinya. Dia tertawa, aku memandangi anak ini. Bagaimana mungkin aku melupakan anak semanis ini? Dia juga sangat penurut. Matanya menatapku lama. Hanya orang bodoh yang bisa melupakannnya, dan itu adalah aku.

“Eomma, saranghae.” Ujarnya membuatku terkejut.

“Aigoo, darimana kau belajar kata itu?” tanyaku sambil meemluk pinggangnya dan mendekapnya. Dia balas memelukku.

“Eomma dan Appa sering mengatakannya. Lalu Appa mencium bibirmu, seperti ini.” Dia mencium bibirku kilat. Aku benar-benar terkejut saat bibir mungilnya mendarat di bibirku. Sejenak aku membeku. Aku memegangi bibirku. Omo! Apa benar aku dan Jung Soo Oppa sering seperti itu?

“Jeongmal~yo?” tanyaku. Dia mengangguk. Dimainkannya pita baju tidurku dengan jarinya lalu mengangguk. Aku ingat jika ingin sesuatu aku suka memainkan baju Appa, entah itu kancingnya atau apapun yang ada di bajunya. Dia terlihat mirip aku. Lama kami berpandangan, membuatku sedikit usil untuk mengorek apapun darinya.

“Ceritakan pada Eomma, saat Eomma di rumah sakit. Apa yang kalian lakukan?” tanyaku memancing. Aku tertarik mendengar cerita tentang aku dan Jung Soo Oppa dari mulut manis Ryu Jin yang polos.

“Em…” dia memutar bola matanya. “Darimana yah?” lanjutnya lagi memutar bola matanya.

“Apa kau menangis saat aku dirumah sakit?” tanyaku padanya.

“Eum! Aku menangis setiap hari.” Jawabnya plos sambil menggigit bajunya. Aku mengalihkan gigitannya dari bajunya.

“Kotor sayang. Lalu apa yang dilakukan Appamu?” tanyaku lagi. Aku sangat penasaran dengan apa yang dilakukan Jung Soo Oppa selain menjagaku setiap hari di rumah sakit.

“Appa? Appa… Appa tidak menangis Eomma.” Jawabnya dengan wjah yang lucu. Aku ingin sekali menggigit hidungnya. Anak ini sangat menggemaskan.

“Jinjja? Appamu tidak sedih sama sekali?” ada rasa kecewa mendengar jawaban anak polos ini, yang sarat akan kebenaran.

“Tapi Appa sering berkata seperti ini.” Anak itu turun dari pangkuanku dan berdiri di depan sebuah foto besar. Melipat satu tangannya di dadanya dan yang satunya lagi ada di dagunya. Ekspresinya dibuat sesedih mungkin dan memandangi fotoku dengan serius.

“Yeobo, aku mohon kkembalilah. Maafkan aku.” Ujarnya membuatku tak mampu menahan tawaku. Ekspresinya benar-benar menggemaskan. Dia menoleh padaku.

“Aku belum selesai Eomma.” Protesnya saat dia memperagakan apa yang dilakukan Jung Soo Oppa. Tetapi aku benar-benar tidak bisa menghentikan tawaku.

“Ahahahaha, sebentar Ryu Jin~a. Benar Appamu seperti itu?” tanyaku sambilmemegangi perutu yang sakit karena terlalu banyak tertawa.

“Apa yang kalian tertawakan?” suara Jung Soo Oppa menghentikan tawaku seketika. Aku menoleh padanya. Dia terlihat datar sambil memandangi Ryu Jin yang masih mencoba memperagakan apa yang dilakukan Jung Soo Oppa.

“Ani.” Ryu Jin berlari ke arahku. Lalu memelukku.

“Apa yang kalian tertawakan? Ayo ceritakan padaku.” Jung Soo Oppa duduk di sampingku sambil mencoba meraih Ryu Jin dalam pelukannya namun anak itu menolak.

“Tidak ada.” Jawabku sambil berpandangan dengan Ryu Jin. Saling melemparkan senyum penuh arti. Melihat hal itu Jung Soo Oppa menatap kami curiga.

“Ayo ceratakan! Atau kalau tidak, aku akan memberikan ini untuk Bubu saja.” Ancam Jung Soo Oppa sambil menentang sebuah kantong plastik.

“Apa itu?’ tanya Ryu Jin ingin meraihnya.

“Eit. Tidak bisa, ayo cerita dulu!” Jung Soo Oppa menjauhkan kantong plastik itu dengan tangannya. Dia mengancam akan memberikan kantong plastik itu pada Bubu, kucing peliharaan Ryu Jin.

“Ani, Appa. Tidak ada.” Kilah anak itu. Aku hanya tersenyum saja, anak dan Appa ini saling berebut kantong plastik.

“Oppa..” aku memandangi Jung Soo Oppa. Menyuruhnya mengalah saja dengan isyarat mataku. Wajahnya terlihat tidak rela namun menyerahkan bungkusan itu pada Ryu Jin.

“Es Krim!” pekik Ryu Jin keras. Namun detik berikutnya dia langsung menatapku. “Boleh? Eomma?” tanyanya pelan, sedikit takut. Aku mengangguk.

“Yey! Setelah ini aku akan tidur.” Dai turun dari pangkuanku dan melompat berulang kali. “Setelah ini aku akan membersihkan gigiku! Ah, aku bisa gosok gigi sendir!” teriaknya lagi, terlalu senang sehingga perkataannya sedikit terputus ditengah bahagianya.

“Arasseo, arasseo..” anak itu segera melesat ke dapur dan mengambil gelas untuk es krimya dan memakannya sambil duduk di antara aku dan Jung Soo Oppa.

“Eomma, a!” dia menyuruhku untuk membuka mulut. Aku membuka mulutku dan dia menyuapiku. Dai juga melakukan hal yang sama terhadap Jung Soo Oppa. Hingga es krim itu habis. Setelah itu dia langsung berlari ke arah dapur dan sepertinya dia membersihkan mulutnya. Lama kami terdiam dan Ryu Jin kembali dari kamar mandi.

“Sudah selesai?” tanyaku. Dia mengangguk.

“Sudah jam 9, waktunya tidur.” Ujarnya. “Eomma, aku bisa tidur sendiri. Kata Mrs. Kim, anak lelaki harus pemberani.” Lanjutnya lagi membuatku sedikit menganga mendengar ucapan dari anak kecil itu.

“Nde, tapi Eomma..”

“Aku bisa tidur sendiri Eomma. Karena aku laki-laki.” Dia menepuk dadanya sendiri dan terlihat bangga. Tinggal aku yang terpaku setelah bangkit dari dudukku memandanginya yang menaiki tangga sendirian menuju kamarnya. Aku segera mengikutinya, begitu juga dengan Jung Soo Oppa. Dia mengikutiku di belakang. Tapi diluar dugaanku, anak itu membuka kamarnya sendiri dan dia langsung menutup pintunya tanpa memperdulikanku. Ryu Jin~a, jika aku tidak tidur denganmu, lalu aku?

Aku berbalik dan mendapati Jung Soo Oppa yang tidak kalah berbeda raut wajahnya denganku, terlihat bingung. Namun beberapa detik kami berpandangan. Dia tersenyum.

“Lalu aku tidur dimana?” tanyaku ling lung.

“Kau tidur bersamaku.” Jawabnya santai. Berjalan melewatiku dengan santai, meninggalkanku yang mematung dengan rasa shock danmembuatku merasa sakit kepala.

“Kajja.” Dia menarik tanganku dan aku mengikutinya seperti orang bodoh.

“Oppa! Ini tidak ada dalam perjanjian kita.” Aku menghentak tangannya yang masih memegangiku, tapi ternyata pegangannya lebih kuat.

“Tapi kita kan suami istri..” jawabnya semaki membuatku mendidih dengan muka pura-pura acuhnya. Aku menggigit tangannya.

“Aw! Appo, Eun Kyo~ya!” teriaknya sambil mengibaskan tangannya lali meniup bekas gigitanku.

“Siapa suruh bicara sembaranga?!” aku menginjak akkinya dan membuatnya kembali berteriak.

“Arasseo! Aku tidur di sofa itu saja kalau begitu.” Teriaknya sambil memegangi kakinya.. “Aku mau mandi, dan kau jangan mengintip!” ujarnya menatap mataku tajam.

“Yak! Biar kau telanjangpun aku tidak akan peduli.” Jawabku dengan suara keras.

“Benarkah begitu?” dia segera melepas kemejanya dan semua pakaiannya. Bersamaan dengan itu aku segera menutup mataku dan berpaling darinya.

“Yak! OPPA!” teriakku protes. Haish! Aku kan hanya bercanda.

“Wae? Kau bilang… ahahahahaha.” Tawanya meledak dan bunyi pintu ditutup membuatku sedikit lega. Aku kembali membalik badanku memastikan dia benar-benar sudah ada di dalam kamar mandi.

“Oppa! Kau benar mau tidur di sofa?” tanyaku dari luar. Suara air mengalir terdengar dari dalam kamar mandi. Dia pasti sedang mandi.

Aku berjalan mendekati sebuah tempat tidur besar dan membaringkan tubuhku disana. Menarik selimutnya dan mulai merehatkan badanku. Hari ini terasa sangat lelah, padahal aku tidak terlalu banyak aktifitas hari ini. Tanpa terasa ternyata Jung Soo Oppa sudah selesai dari mandinya.

“Kau sudah tidur?” tanyanya. Aku tidak berani menoleh, mungkin saja dia kembali usil saat aku berbalik melihatnya.

“Eum.” Jawabku singkat.

“Tadi Key kesini?” tanyanya lagi.

“De.”

“Dia bicara apa?”

“Ani.”

“Lalu? Setelah mengantar Ryu Jin dia melakukan apa lagi?”

“Dia menyerahkan buku rekening padaku.” Jawabku singkat.

“Kenapa Ryu Jin dijemput olehnya?” tanyanya lagi. Aish! Kenapa dia banyak sekali bertanya. Aku berbalik menghadap kearahnya setelaha ku yakin dia sudah mengenakan bajunya.

“Kau bilang akan pulang terlambat. Jadi saat Key mengatakan ada perlu denganku, sekalian saja minta dia menjemput Ryu Jin.” Jelasku padanya.

“Kenapa menyuruhnya? Apa kau yakin dia bukan orang jahat?” tanyanya lagi sambil duduk di sofa.

“Dia memang orang baik kan? Aku tau itu.” Jung Soo Oppa yang tadinya ingin merebahkan tubuhnya mengurungkan niatnya.

“Kau ingat dengannya? Ani, maksudku kau mengingatnya? Kau mengenalnya?” tanyanya cepat seraya mendekatiku. Menatapku penuh harap.

“Nde, aku mengenalnya. Wae?” tanyaku. Dia membelalakkan matanya seolah tidak percaya.

“Aish! Sudahlah. Aku ingin tidur.” Aku menjauhkan wajahnya yang semakin mendekat. Hufh. Dia berjalan gontai menuju sofa lalu merebahkan tubuhnya. Dia melirikku beberapa detik tapi aku membelakanginya.

Sejenak aku terpaku melihat foto yang terpajang di di dalam lemari. Benar kah Jung Soo Oppa melakukan itu? Memintaku kembali saat aku koma di rumah sakit? Perasaanku berkecamuk. Hingga akhirnya aku merasa lelah dan mulai terlelap.

***

Aku masih memejamkan mataku. Terasa malas untuk membukanya. Aku yakin sekali hari sudah menjelang pagi, namun rasanya aku tidak ingin beranjak dari lelapku. Terasa sangat hangat dan nyaman. Namun sebuah ketukan pintu membuat alam bawah sadarku perlahan buyar. Aku mulai mencoba membuka mataku meski terasa engga.

“Eomma…” suara itu. Aku tau suara itu suara Ryu Jin. Aku mencoba bangkit namun tidak bisa. Rasanya berat untuk bangkit, seperti ada yang menahanku. Aku mengusap mataku, dan betapa terkejutnya aku, tubuhku dipeluk seseorang.

“OPPA!” aku berteriak di depan wajahnya yang ada diatas kepalaku. Dagunya tepat berada di ujung kepalaku. Aku mendongak. Omo! Aku berada diatas tubuhnya!

TBC

Note : akhirnya selesai dengan tidak jelas arah ceritanya. Emang selalu tidak jelas sih cerita yang aku bikin. Selalu melenceng dari ide semula. Selalu saja, ide spontan yang menggantikannya, dan merubah semua arah cerita. Yaish! Heran deh, padahal kemaren clue nya udah ada, dan keren banget… huweeeeeeeee. Tidak bisa memakai ide itu, mungkin buat lain kali. Hem, awalnya ga terlalu ngefeel lagi sama FF ini. Tapi kasian sama yang nagih. Aku mikir lagi, minggu ini dan minggu depan aku bakalan sibuk. Ff yang udah aku ketik 20 lembar ga mungkin ga aku terusin, kasian yang menunggu. Padahal yang ditunggu mengecewakan, mian…

Yang udah nyasar dan baca. Mian yah, aneh yah, hehehehe. Tapi sudah berusaha sekuat  tenga. Buat Heewon dan HyunAh, mian juga, porsi kalian segini segini aja… aku dilanda virus malas… *ada beberapa alasan juga sih, yang bikin aku males.* Aku sudah belajar mengedit FF, dan mian kalo masih ada yang typo, aku sudah sekuat tenaga baca ff ini lagi dari awal gitu, 27 halaman. Ya sudah sekian saja. Terima kasih udah berkunjung… *bow bareng Ryu Jin* Dan mengenai gammbar kaki kecil itu. itu benar-benar tapak kaki uri Ryu Jin~a… aigoo… dia anakku yang paling hebat! juga sangat menggemaskan! siapapun boleh merebut Teuki dariku, tapi anak itu? tidak akan aku biarkan! *emosi ibu2 yang menggebu* perasaan dari kemaren aku emosi mulu yak?!

86 responses »

  1. onni… daebak..
    panjang bgt ff nya..
    aku bener” puas eon.. hihi
    aku ngakak baca bagian si tengil Hyuna.. hihi

    eon.. siwon ama heerin eonny kok ga ada kemajuan..? kasi nc donk eon
    hihi

  2. ekhm. oke saatnya komen. /flipshair/

    Chukae eonn, ga terlalu banyak typo seperti kemarin~~ *lempar permen*
    Clue yang waktu itu kapan-kapan dipake ya? hihihi~ btw aku lagi ngefeel bikin teukyo nih. Seminggu lagi insyaAllah jadi. Kalo punya heewon…. ntar ye .___.V

    Oh, nebeng lagi, bahkan minta makan. Oke, aku cinta makan. Omo, sering-sering aja eonn bikin aku kayak gitu. Hidupku sempurnaa~ enough hyun ah said~

    Sekrang soal Heerin…..dia kok gak nyebelin sih disini? Padahal aku pengen liat hatersnya heerin beraksi. GYAHAHAHA /ditabokheerinnie. Aku pengen HeeWon ada kemajuan. nc sekalian wkwkw peacelove.
    Dan… Jin Hye si paris-hilton-wannabe itu please cepet-cepet masuk penjara~

    Segitu aja deh. hihihihi~

    • ish,,*jitak hyuna, cpk tauk dhujat mulu, ah stress
      aq lg kesel ma siwon gra” wine, jd blm mw NC”an,hahahaha
      tar NC.nya heewon dbkin hot ajah kli yah, scra banyak yg penasaran geto *lirik fika onnie,hihihihi

    • iyalah, kan aku edit… tp 10lembar terakhir g aku edit, buahahahahahaha
      ih kasian lagi ntar nambah teros hatersnya hee rin… kaga tega… padahal cuma mau main2 aja…clue itu mungkin bakalan dipake atau engga aku juga engga tau…

  3. Akhirnya eunkyo sadar juga :’)

    Tapi aku kasian liat ryujin disini huhu

    Ohya eonnie, modus jinhye disini cuma karena suka sama leeteuk yah? Atau gmn? .__,
    ditunggu kelanjutannya~

  4. komen apa yah,? bingung,
    msh blm prcaya klo eunkyo ilang ingatan, *lirik eunkyo onnie,
    adegan heewon drmh mkn dapur rmh eunkyo, ruang krja siwon seru jg, aq emang pengen bgt aniaya siwon, npa g’ sklian da adegan jambak jg onnie,hehehehe
    itu pas ryujin niru gaya appa.nya lucu bgt, aq smpe ktwa ngakak,hahahaha
    plg ska pas siwon blg heerin milikku *poppo ayank iwon :-*
    itu itu si hyuna cwe nebengers nyempil lg, qraen dy g’ da dpart ne, tu anak mulutnya kyk mobil yg remnya blong, nyerocos mulu *nunggu reaksi yg punya nama,hahahaha
    apa lg yah,? si jin hye sok manja bgt seh, npa g’ dtendang kpluto ja tuwh jin iprit *emosi
    onnieeeeeeeeeee, mianhae, tp part ne feelnya kurang dpt, kurang greget, kurang mengaduk emosi, ato aq yg dlm keadaan kurang baik pas bcanya yah,? hihihi
    kyknya dah kepanjangan dueh, *kabur

    • enak aja, itu mah maunya kamu jambakin…
      manis sekaligus asin scene itu *plak* tapi menurut aku si itu yang sangat menarik…
      aku aja negtik scene itu ngakak sumpah sambil ngemil… kaya ngeliat Ryu Jin dgn gaya itu… itu anak gemesin sumpah… aslinya hiper aktif g bs diem, suka berantakin semua ruangan…
      emang lagi dikurangin konfliknya, calm down… km aja lg emosi…
      aku lagi dihinggapi setan romantis, dan sepertinya bakalan kesurupan lagi…

  5. Woahh~ akhir.y ad sdkit kmajuan buat HeeWon.. /tiup konfetti…
    part ini jg ada kmjuan..panjang & typo brkurang haha😀
    Okee kta mulai komen..pertama,,jungsoo & eunkyo..couple ini bnarl deh..soo oppa tmbah romantissss😀 tpi tuh jinhye & kim jn bner” nyebelin tngkat dewa!! terutama itu si jinhye..nih cwe gatel bnget dah!! gk tobat”nya tuh mkhluk dua.. kedua,,bgiannya si Hyuna bner” bkin ngakak..tuh anak emng Nebengers sejati dehh hihi..dpat makanan gratis pula.. Ketiga,,HeeWon couple.y krangggg,,akhir.y puu eonn cemburu hahahaha~ itu bgian akhir’na knp kyo eonni mlah ada d atas soo oppa,,ayo pda ngpain hihi../yadong/ketularan hyuncell nih hihi..
    Omelet next part d tunggu eonn..annyeong~ :p

    • aku udah edit sedikit naraaaaaaaa
      kita lagi romantis kayanya ini yah… g tau kenapa jd begini ah, buat hyun ah dia emang nebengers sejati, trus buat Heewon, aku masih belum menemunkan chemistry ke Siwon… huweeeeee
      ngapain ayo?? memancing ah, jangan diliat.

  6. Woahh~ akhir.y ad sdkit kmajuan buat HeeWon.. /tiup konfetti…
    part ini jg ada kmjuan..panjang & typo brkurang haha😀
    Okee kta mulai komen..pertama,,jungsoo & eunkyo..couple ini bnarl deh..soo oppa tmbah romantissss😀 tpi tuh jinhye & kim jn bner” nyebelin tngkat dewa!! terutama itu si jinhye..nih cwe gatel bnget dah!! gk tobat”nya tuh mkhluk dua.. kedua,,bgiannya si Hyuna bner” bkin ngakak..tuh anak emng Nebengers sejati dehh hihi..dpat makanan gratis pula.. Ketiga,,HeeWon couple.y krangggg,,akhir.y puu eonn cemburu hahahaha~ itu bgian akhir’na knp kyo eonni mlah ada d atas soo oppa,,ayo pda ngpain hihi../yadong/ketularan hyuncell nih hihi..
    Omelet next part d tunggu eonn..annyeong~ :pp

  7. eoniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii~a
    aku tadinya ngerasain sakit banget saat teeukipa nangis hapus aermatanya pas eonni gak mau dipeluk,,astaga…menderita sekali teukkipa T.T,,kau ingin membunuhnya secara perlahan eonn???

    “Ah, tenang saja. Jangan mencemaskannya. Dia milikku!” ..
    aiggohh,,ini perkataan akang siwon,bikin aku deg-degan eonn,,kapan kalian bisa memperlihatkan kalian suami istri heewon`ah???

    “Aku sudah belajar mengedit FF, dan mian kalo masih ada yang typo, aku sudah sekuat tenaga baca ff ini lagi dari awal gitu”
    entah kenapa aku seneng banget baca pernytaanmu ini eon…wkakkakkk

    ini partnya agak pencerahan eonn,,daripada part2 kemaren bejibun masalah,,agak rileks sedikit,,bwahahhaaa
    Ryu-Jin ~a sini tinggal sama ahjumma saja biarkan eomma appamu kembali PDKT ==”

    ditunggu part selanjutnya eonn…chuuuu~

    • apa? hah? aku malah lupa adegan itu…
      membunuhnya secara perlahan? mungkin iya aku akan balas dendam dengan licik! *plak* akan kubuat dia menderita, sederita-deritanya *boong, padahal pngn disayang lagi*
      aku beneran udah edit dan itu rasanya benar-benar sekuat tenaga… soalnya aku orang yg suka illfeel sendiri ama hasil kerjaku sendiri…
      emang dibikin pendnginan ini…
      jangaaaaaaaaaaaaaannnnn
      aku sudah bilang, siapapun boleh mengambil teuki tapi untuk Ryu Jin? bakalan aku kejar sampe ke akherat!!!

  8. Bingung,mo ngomong apaan, hahaahahhaa eunkyo jadi amnesia ada seneng ada engga nya juga sih,bener kata siwon eon,
    Bagusnya .. Yaaaa dia jadi ngulang fari awal,cuma tinggal masuk2in memory yg indah *ceileh,
    Tapi enggaknya yaa.. Padahal kmaren lagi panas-panasnya tuh,hahaahhahahaaha

    Eh eh eon,aku kirain pas dr.Lee nyuruh ke ruangannya trus ngasih tau yang .. “Sebenarnya.. Keadaan eunkyo baik-baik saja..”
    Aku kirain bakalan jadi gini
    “Sebenarnya.. Aku meminta maaf karna kandungannya tidak tertolong” *plaaaaakkk
    Hahahaahahahahahaahahahahaa
    Kan mereka sempet ngelakuin tuh,aduuhh aku pengen bgt deh ryu jin punya adek >.<

    Eonni..
    Kapan bikin NC-annya heerinie ??
    Aaahh ga sabaaaarrr
    Hahahaahahahahahaahahahaa

    Udah ah segini aja comennya
    Buseet,panjang bgt ya eon,hahahaahahahah
    -(‾▿‾)/ \(‾▿‾)-

    • ini dongsaeng durhaka neh, masa seneng aku amnesia?
      panas2an? oh jadi suka aku berantem?? *cekek nanda*
      apa?? ini lagi anak sarap satu… udah ada couple yadong, sekarang ada yang penghayal sarap… buahahahahahaha
      g sabar?? sabar mesti… soalnya dua minggu aku bakalan sibuk jadi mesti nunggu 2 minggu dulu…

  9. Aaaaaaaa kenapa mesti ilang ingetan dah…
    Ampun deh gk tega ama ryujin nyaaa
    Aigoo ryujin kan jd bnyk nangis #pukpukRyujin

    Dasar teuki mesum ttp nyari kesempetan ya nyium2 eunkyo eon… Wkwk

    Dan akhrnya siwon ngasih tw teuk jg kan, ayo basmi jin couple akak

    Eoni aku ngakak dah ama tingkahnya ryujin lucu2 bgt apalg pas niruin jungsoo wkwkwk
    Lanjutin eon….

    • mesum? bukan… dia yadong, hahahaha, engga ah, kan suami istri emang sukanya yang begitu… *aku yg mau*
      ryu jin? iya juga, tapi mau gimana lagi coba??
      harus ngasih tau dong siwon…
      aku juga ngakak nulisnya sambil ngemil…

  10. Jiiaaattt…!!
    akhir’a kelar jg bca’a, kmren smpet kpotong cz kbru tepar dluan,
    mmmhh…mao komen apaan ych?!*garuk2 kepala*

    aaahh yg jelas mah sya sdih liat ryu jin nangis,
    “sini ryu jin~ah, biar noona yg peluk” *peluk ryu jin erat2* ksian jg sm cie oppa, knpa mreka d’lupain cie eonni?!
    Ntu cie JIN iprit couple bner2 sngat m’muakan trutama si Jin Hye tuh, *jambak2 Jin Hye* bgus oppa nolak tuh si iblis mntah2, sya suka bgian ntu!!
    wat Heewon couple, sya kga sbar mao liat mreka brmesraan klo prlu NC-an, eonni!!
    jahahaha
    *yadongers sejati, tos sm hyuk*

    • lah bukan salah aku deh kayanya ngeluain… emang takdir…
      mau liat? banyak yang penasaran ini akujadi takut mengecewakan….
      jin ifrit lagi beraksi…
      dasar… hyuk aku kurung dikamar mandi!

  11. oeeeeeennnnnnnnniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    kenapa dirimu membuatku semakin menginginkan Ryu Jin?????
    aaa,,,ryu jin noona jadi fans no.1 mu… *kecup Ryu jin*

    aku gregetan ama ceritanya oen,,
    sebel banget ama Jin iprit bersaudara itu.. lapor polisi aja itu oen..
    kalo g di arak2 masal aja tuh!!

    itu heewon ada kemajuan deh..
    kirain bakal ada NC nya heewon,,,, *hahaha muka yadong banget ni w…*

    • aaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
      mengingkan ryu jin?
      andwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaeeeeeeeeeeeeeeee
      dia milikku seutuhnya….!!!
      geregetan? banyak yg begitu… hhahaahahahahahah
      NC heewon? terlalu dini…

  12. waaa ayo eon hentikan kegalauan ini
    smuanya mulai kebuka
    jungsoo gk prlu mrasa brsalah amat
    kayanya ryu jin jdi cupid jungsoo sama eun kyo cocok
    hehehehe

  13. Kirain awal nya eunkyo ngerasa lebih ada chemistry ke siwon , karna pas eunkyo bangun dr koma nya , eunkyo tersenyum dengan tulus pada siwon . Aku kirain jg eunkyo bakalan naksir ama siwon . Huuft -_- , ternyata …. Next part jgn lama2 yah onnie🙂

  14. onn, suka bgt sm part ini, rasanya bacanya enak gitu, ga enaknya pas bagian si jin hye doang…
    Makin banyakin bagian heerin-siwon dong, onn, saya suka baca itu..
    Aduh, ryu jin makin lama makin menggemaskan, masa meragain bapaknya si, ckckckc..
    Onn, lanjut trs pantang lama..haha

  15. Aigoooooo…….akhirnya kesampaian juga baca part ini setelah disibukkan dengan berbagai syarat2 yg memusingkan ini itu, bener bener menyita jatah inetanku #plakkk lebayy😀

    waaah eun kyo amnesia, tapi ceritanya kok jadi seru klo eun kyo amnesia yak unni. makin bikin saia penasaran wae sama kelanjutannya. bener2 sukaaaaaa sama part ini. daebak daebak !!
    ditunggu kelanjutannya unni ^^

  16. unniie ayoo wktunyaa heewon buat siwonn kecill,, jangann buat kerusuhann lagii di kluargaa eunkyooo.. huuftt.. tapii unniiee.. ayoo jangan lama2 sii eunkyoo amnesianyaaa.. kasihan jungsoo.. jatahh malamnya terganggu #PLAKK..

    jangan lama2 kelanjutannyaa unniieee.. ayyoo.. gogo semangatt..

    • ko jadi pada semangat ngintipin Heewon si??
      aku malah pengen amnesia selamanya…
      lanjutannya sabar yah, aku lagi ada acar dirumah.. jadi mesti bolak-balik rumah… kakaku mau kawin… hiyaaaaaa

  17. Onnie daebak… Suka bgt neh ma crtny, teukyo berasa kaya pacaran lg dong on? Berdebar2 gmn gtu… Kasihan ryu jin… Dtngg lnjtny…

  18. Demennn ama foto ryujin d atas…PLOK!eonni……ijinkan aku jadi mantumu!!!PLISSS!!!!*peluk ryujin* ahhh…bener sii kata eonni,part ini kurang greget….yahhh bersyukur siii jadii ga usah galau…apalgi kebawa mimpi gara2 baca ini…#eonni hrs tanggung jwb!
    Tapiii DAEBAK ini HEEWON!ahhhh…ayooo dunkk eonn bikin lebii romantis lagii heewonnya…yahhh.???*kedip2* TEUKYO….errr ini giliran kyo yg bikin gemes….pake ilang ingatan sagala siii..???d cerita ini kyo berasa ABG lagi (?) tapii tetepp KEREN!kasian ryu jinnya…eonni tega kali??

    • eits! anak aku masih anak2, aku masih tidak ingin berbagi loh yah…
      emang… greget pas ada ryu jin nya aja…
      heewon romantis? wani piro??
      aku bikin gemes? emang aku menggemaskan…
      bukan berasa ABG… hanya rasanya tidak pernah menikah dengan Jung Soo *plak*

  19. oppa ayo gunakan kesempatan dalam kesempitan haha
    mumpung eukyo eonni lgi hilang ingatan, tambah lagi romantisnyaa haha #plakk

  20. baca langsung tanpa liat part sblmnya, alhamdullilah aku ngerti alurnya, berarti authornya hebat bisa buat readernya paham dalam sekali bca..
    bca karyanya eon th sama aja kaya baca novel, bkan fanfic puas bgt.. ^_^

  21. Muehehe eonni ceritanya dabak! Beneran! Hahah sekrang ga galau lagi!
    Aissh eun kyo lucu, sikapnya itu loh eon bikin aku senyum senyum ga jelas haha

    Pokonya DAEBAK eon! kkk~

  22. ikut seneng ngelihat ryu jin yang tau waktu eommanya mau pulang dari rumah sakit,sampai2 ngebangunin jungsoo subuh2 begitu wkwk
    aahh aku kasian lihat eunkyo dia ngelupain orang yg paling penting buat dia juga semua memori tentang orang itu ckck
    jin hye nenek lampir kenapa dia selalu ada,manja2 an lagi sama jungsoo tabok nih rrr
    akhirnya siwon ngasih tau jungsoo tentang video itu
    lucu si eunkyo malu2 gitu sama jungsoo
    wkwk itu kenapa dia bisa tiudur diatas jungsoo?

  23. dr bbrp ff Amourette punya oenni,aku puas semuanya,,soale panjang-panjang,,kekekekeke
    #ok abaikan
    kekekekeke😛

    huft~~akhirnya Eunkyo oenni siuman jg,,y wlw masih amnesia,lebih tepatnya amnesia ke Jungsoo oppa Ryujin,,oh~~sgtu tertekannya prasaan Eunkyo oenni mengenai rumor bahwa Jungsoo oppa berselingkuh dgn Heerin??aish..ini gara2 si kompor Kim bersaudara :.<
    hehehe~~gemesin dh si RyuJin ini,,sini..sini.. noona kissue :**
    hehehehe

  24. makin seru aja ni ff…
    seneng liat eunkyo udah pulang krumah biar abang jungsoo bs makin deket ama istri*nyrempet trs aja bang*…
    heewon udah ada perkembanganx tp kok dikit amat, g pa2 dech yg penting berkembang g menyusut…he3x…

  25. Q jg g mw kalo Teukix onn,kalnw Ryujin br q mw!hahaha*plak
    part ne msh bs bwt q ngangis tengah mlm cz q bcx ampe jam12!
    imbasx skrg q msh ngantug!hehe
    tp gp2,mang gt ce kalo dh keasikan bc jd jp wkt!
    kasian bgt ce Jungso oppa!
    br xadar dy kalo dy cm korban!
    tp lbh kasian lg m Ryujin,dy kn g tau p2 tp jg dlupain m ibux!huft..
    yasud,q mw brngkt krja dl onn!
    mdh2n ntar pasien g bxk,jd q bs lnjt bcx!hehe
    oya,sms onnie smlm soal the celebiritist mian g bls cz ntu q lg konsen n berurai air mata!hehe
    q jg blm bc ff ntu sm skali,mungkin bis ne hbis!

  26. omooo… Si eunkyo amnesia -.- kasihan si cilik ryu jin di lupain.
    Tapi sampai part ini kisahnya si heerin sama siwon makin menarik kak. Hheheh
    harus ekstra sabar si jungsoo, gara2 dia juga si eunkyo begitu:/

    aku penasaran itu hyun ah itu anaknya siapa kak? Muncul2 terus gt, anak SD apa TK? Cocok gitu jadi adenya siwon disini Ehh/plakk

  27. q puas bgt baca ff y panjang bgt q mpe ketiduran baca y n baru lanjutin hehehehehe…
    bingung mau komen apa krn hanyut ma cerita n merhatiin eun kyo yg udah sadar n tau y dia lupa ingatan gt,,,,, q sedih sih bukan sma jungsoo y klo eun kyo ngak inget sama sekali tapi ma Ryu jin kasian anak iti mpe nahan rindu gt pengen ketemu eomma y pa lg kenyataan yg eun kyo ngak inget sama sekali….
    hyejin kim jin masi berani ja ya nhedeketin eun kyo walaupun tau eun kyo kecelakaan n mana sekarang hye jin juga pemegang saham di peeusahaan jungsoo……

  28. sebener’a hyun ah itu anak’a cpa c? gemes ama omongan’a, heewon tmbh dket cie, teuki jga udah tau yg sebener’a gag tau mau ngomong apa lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s