SongFic : I’m Not a Monster

Standar

BIGBANG-Monster

Setelah sekian  lama

Rasanya kau terlihat lebih baik dari terakhir kita bertemu.
Kau pun terlihat lebih cantik

Walaupun kau selalu menawan di mataku

Aku memandanginya yang sedang memeriksa alat-alat yang menusuk dan menempel di tubuhku. Mataku terus mengekori tangannya yang bergerak lincah dan piawai dengan semua keindahan yang ada mengiringi tubuhnya. Entah sejak kapan rasa ini mulia tumbuh dan berkembang. Rasa haus akan dirinya. Dahaga yang sekuat tenaga aku tahan. Menepis rasa ini sama saja dengan melawan setan yang membelenggu jiwaku. Aku bingung harus membiarkannya terus bermutasi atau membasminya.

“Kau sudah mulai stabil.” Ujarnya menyentuh telapak tanganku. Tau kah kau? Saat kau menyentuh kulitku, aku seperti merasakan kehangatan yang sangat nikmat ditengah dinginnya tubuhku, Park Eun Kyo. Kita berbeda, jauh berbeda. Sangat berbeda. Tapi tidak bisa kah perbedaan menjadi satu?

Berbeda bukan kehendakku. Sama sekali bukan keingananku. Aku segelintir makhluk yang mempunyai kelebihan, begitu aku menyebutnya. Tapi atas perbedaan ini, siapa yang patut disalahkan? Aku? Mereka? Atau sang pencipta sendiri? Tidak ada waktu untuk meratapi. Tapi yang aku sesali, kenapa ada cinta yang hadir di tengah perbedaan ini?

“Tapi aku merasa sakit, Noona.” Keluhku. Aku meringis memegangi dadaku. Dia tersentak dan mendekatiku dengan ragu. Matanya melirik kearah rantai yang mengikat seluruh tangan dan kakiku. Antara ragu  dan takut berkecamuk dalam benaknya, aku bisa merasakannya.  Aku memang pantas diperlakukan seperti ini. Seorang pemangsa sepertiku memang pantas diperlakukan seperti ini. Setidaknya itu yang selalu aku dengar sejak aku kecil.

“Tidak perlu mendekat.” Aku memejamkan mataku. Menahan segala perasaan sakit yang yang lebih nyata di depanku.

“Kau hanya perlu injeksi. Sebentar, ini saatnya kau mendapatkannya.” Dia mulai menyedot cairan menyakitkan itu menggunakan spuit berukuran besar dari dalam sebuah botol. Mengerikan, itu yang selalu ada di dalam pikirannya beberapa tahun ini. Aku bisa membaca pikirannya, suatu kelebihan yang aku miliki dan aku sangat menikmatinya. Satu kelebihan diantara seribu kekuranganku. Dia mendekatiku. Aku mencoba menahan monster yang ada dalam diriku untuk meraung. Kwon Ji Yong, kau harus bisa membunuh perasaan menyakitkan ini. Dia mulai menyuntikkan cairan itu ke dalam tubuhku. Keadaanku yang seperti ini, membuatku menjadi sebuah kelinci percobaan di sebuah penelitian ilmiah di Korea. Tapi menurut masyarakat, aku adalah legenda yang lahir kembali. Iblis bersemayam dalam tubuhku. Hingga membuatku terdampar di tempat ini.

“Yeobo, kau sudah selesai?” Park Jung Soo. Aku membenci sosok laki-laki yang menaggilnya dengan manja setiap saat. Dan yang lebih memuakkan, Eun Kyo Noona mencintai lelaki itu. Aku tau seberaap besar cintanya terhadap sosok malaikat yang ada dalam diri Jung Soo. Namun hal itu membuatku benci. Kenapa harus dia yang mewarisi jiwa malaikat. Dan kenapa harus aku yang dikutuk memenjarakan sosok iblis dalam diriku? Apakah aku sekuat itu hingga menerima kutukan ini? Mampukah aku terus  memenjarakannya dalam jeruji jiwaku dan membuatnya lenyap? Aku ingin seperti biasa, aku ingin menjadio normal. Dan aku ingin mencintainya dengan bebas dan berekspresi.

Entah dari mana awalnya. Yang pasti saat aku menginjak dewasa tepatnya 6 tahun yang lalu aku menyadari ada yang tidak beres dengan diriku. Aku sering mendengar bisikan-bisikan aneh, medengar raungan kesakita dan mendengar teriakan yang hampir membuatku gila. Belakangan aku tau darimana berasal semua itu. Karena sebuah kesalahan aku menjadi begini. Karena sebuah perjanjian, aku terjebak di tempat ini. Perjanjian iblis yang dilakukan oleh Eomma yang seorang manusia dan Appa yang seorang, entahlah, aku tidak bisa menjelaskannya. Sejak kecil masyarakat mengucilkanku, hingga aku dan Eomma harus selalu berpindah tempat. Hingga akhirnya aku menjadi setengah gila dan menjadi penghuni di Rumah Sakit Jiwa ini. Setiap minggu Eomma selalu mengunjungiku dan tidak pernah berhenti meminta maaf. Aku tidak perlu maafnya. Aku hanya ingin bebas dari iblis ini.

Aku memandangi wajahnya yang seketika berubah berbinar melihat wajah yang menyembul di ambang pintu.

“Sebentar lagi Oppa.” Jawabnya dengan suara yang sangat merdu terdengar. Aku benci dia menjawabnya dengan nada bahagia seperti itu. Jung Soo melirikku sejenak dan menyunggingkan senyumnya. Apa maksud dari senyummu, Park Jung Soo? Mengejekku? Cih! Aku pastikan aku akan bisa merebutnya darimu. Dadaku bergemuruh, suara bisikan iblis yang terus mendesakku untuk membunuh Jung Soo terus terdengar.

“Sebentar lagi obatnya aka bereaksi Ji Yong~a. Kau tunggu saja. Aku harap sakitmu akan segera berangsur pulih. Aku tinggal. Tidurlah.” Lagi-lagi dia menyentuh tanganku. Taukah kau, Park Eun Kyo? Setiap kali kau melakukannya, selalu memberiku kekuatan untukku menjadi normal. Tapi mungkinkah? Mungkinkah jika kau menjadi milikku aku akan menjadi normal?

***

Sudah beberapa hari dia tidak tampak dimataku. Diman dia berada saat dinas? Naluriku selalu mencarinya. Sosok polos itu. Tatapan indah itu, aku merindukannya. Tak bisa dijabarkan bagaimana aku mendambakannya. Rasa cintanya terhadap Jung Soo aku yakin tak akan bisa mengalahkan perasaanku terhadapnya. Aku menggerakkan tangan dan kakiku mencoba melepaskan semua ikatan ini. Aku bergerak keras hingga menimbulkan suara gaduh, beberapa petugas mendatangiku.

“Apa yang kau lakukan?” hardiknya dengan keras terhadapku. Aku menatap matanya tajam, membuatnya membeku dan terpaku.

“Jangan tatap aku seperti itu!” dia memukul wajahku dan mengalihkannya dari pandangannya. Jiwaku mendidih, ingin rasanya aku mematahkan lehernya. Jiwa arogannya membuatku muak. Aku benci orang-orang disini yang memandangku berbeda.

“Diam atau aku akan membuatmu tertidur.” Ancamnya. Aku tidak takut sama sekali. Jika saja aku tidak terikat, aku pastikan kau sudah mati ditanganku manusia menjijikkan! Aku kembali menatapnya tajam. Aku senang melakukan hal itu. Melihat lawanku ketakutan adalah sebuah kesenangan tersendiri bagiku.

“Dasar orang gila!” dia menendang kaki tempat tidur. Aku rasa dia mengerahkan semua kekuatannya hingga membuat ranjangku bergeser.

“Kenapa Ji Yong~?” tiba-tiba suara itu terdengar. Mendengarnya bagai mendengar nyanyian surga yang aku kira tidak akan pernah aku dengar, karena takdirku adalah neraka. Tapi lewat suaranya,a ku bisa merasakan hawa surga yang menyejukkan. Wajahnya terlihat cemas, aku senang melihatnya. Membuat sebuah lengkungan di bibriku membentuk sebuah senyuman.

“Ani, Noona.” Aku hanya berbicara dengannya selama 6 tahun ini. Dengan yang lain aku tidak pernah mengatakan sesuatu meski hanya satu kata.

“Kau sakit?” tanyanya lagi. Kali ini lebih datar, tak secemas tadi. Ada yang berbeda dengannya. Aku masih memperhatikan gerak-geriknay seperti biasa. Jas selutut putihnya, kaki jenjangnya, sepatu pantofel yang ia kenakan di telapak kakinya memberikan kesan manis dalam dirinya, membuatnya lincah bergerak. Dia penuh semangat dan aura putih. Dia berbalik menatapku.

“Membuat masalah lagi dengan mereka?” tanyanya. Dia selalu tau jika aku membuat masalah. Aku bahkan tidak mengeluarkan suara, tapi mampu membuat mereka ribut.

“Tidak lelah menyusahkan mereka?” tanyanya menatapku lagi. Kali ini dia duduk di tepi tempat tidurku dan masih menatapku, lekat. Tatapan itu, aku tidak suka. Aku tidak suka kau mengasihaniku, Noona~ya. Aku tersenyum.

“Kau lebih baik jika tersenyum seperti itu.” Hal yang paling aku suka adalah saat dia memegang tanganku. Rasanya ada ribuan palu yang memukul makhluk dalam diriku dan membuatku bebas dari siksaannya. Aku mengalihkan pandanganku dari wajahnya menuju tangannya. Tapi sebuah benda yang ada di tangannya membuatku tersentak. Sebuah cincin. Aku meraih tangannya denganku yang masih terikat.

“Ah, itu dari Jung Soo Oppa. Dia melamarku.” Ujarnya terlihat bahagia, namun berbanding terbalik denganku. Rasa skit itu menjalari semua tubuhku. Semakin nyata.

“Kapan?” tanyaku dingin. Menunduk, tak ingin melihat wajah bahagianya.

“Nde? Kapan? Beberapa hari yang lalu, dan pernikahannya akan dilangsungkan 2 minggu lagi.” Kau terlalu banyak bicara hari ini Noona. Aku tidak suka.

“Kau bahagia?” tanyaku masih dengan nada dingin dan menunduk. Aku merasakan dia menatapku. Aku tidak berani menatapnya kali ini. Entah kenapa aku merasa takut melihatnya. Melihatnya mengasihaniku.

“Kau kenapa Ji Yong~a?” dia meraih wajahku. Hal yang paling berani dia lakukan hari ini. Biasanya dia hanya menyentuh tanganku saja. “Sakit?” tanyanya. Aku menggeleng.

“Mereka menyakitimu?” tanyanya lagi. Aku menggeleng, dan mengangkat wajahku. Kau yang menyakitiku Noona.

Tapi kau terlihat berbeda hari ini

Dirimu terlihat dingin
Pandanganmu yang mengasihani diriku

Di depanmu, aku tampak kecil

Dia kesini seperti biasa. Jadwalnya masih sama, pagi hingga sore, mengawasiku, tapi aku lebih senang menyebutnya menemaniku. Tapi ada yang berbeda dengannya hari ini.

“Kau kenapa Noona?” rasa ingin tahuku mendorongku untuk memulai pembicaraan dengannya. Dia menoleh padaku, tersenyum. Dipaksa.

“Ani, aku hanya lelah.” Jawabnya. Tapi dimataku kau tidak lelah sama sekali, kau hanya malas. Aku bisa merasakannya.

“Ada masalh denganmu?” tanyaku ingin tau.

“Ani, kenapa bertanya seperti itu?” tanyanya sengit. Ups! Apa aku menyinggungnya.

“Aku hanya ingin tau saja. Tidak lebih.” Jawabku acuh. dia terdiam, seolah menyadari kekeliruannya. Dia menganggapku ingin mencampuri urusannya. Haha, benar kan Noona? Kau punya masalah, aku tau itu. Rasa bersalah mulai menyelinap di dalam relungnya.

“Mian, aku terbawa emosi.” Jawabnya. Lama kami terdiam. Aku membiarkan keheningan ini terjadi untuk menikmati semua gerakannya tanpa di interupsi oleh sebuah percakapan. Aku memandangi tubuhnya yang duduk sambil mengerjakan sesuatu diatas meja.

“Noona, apa ruangan ini terkunci?” tanyaku. Dia menoleh, lalu melanjutkan pekerjaannya.

“Ne.” Jawabnya singkat.

“Noona. Boleh aku meminta suatu permintaan?” dia kembali menoleh. Menungguku mengatakan sesuatu. “Lepaskan aku beberapa saat.”pintaku padanya penuh harap. Dia terdiam sejenak. Bergelut dengan pikirannya.

“Sebentar saja, aku tidak akan lari. Pintu terkunci.” Aku meyakinkannya agar mau melpaskanku.

“Aku tidak akan menyakitimu. Kau satu-satunya temanku di tempat ini.” Ujarku lagi. Dia terlihat berpikir keras, memandangi dengan seksama, terkada keraguan terbias di wajahnya.

Dia berjalan mendekatiku dan melepaskan rantai yang membelengguku selama 6 tahun ini. Dia memandangiku.

“Ah, senangnya bisa bebas.” Aku menggumam dan meregangkan otot-otot tanganku.

“Duduk disini.” Aku menepuk tempat di sebelahku. Mengajaknya duduk bersamaku. Dia mendekat dengan ragu.

“Aku tidak akan menyakitimu.”akhirnya dia mendekat dan duduk di dekatnya. Ingin rasanya seketika aku mendekap tubuhnya, tapi itu tidak mungkin aku lakukan.

“Aku hanya gugup tentang besok lusa.” Ujarnya. Pernikahannya. Bukankah lusa adalah hari pernikahannya? Aku kembali menangkap cincin tempo hari yang ia pakai. Entahlah, melihat itu darahku seolah mendidih, berdesir hebat. Hampir saja aku lepas kendali, namun dengan sekuat tenaga.

“Noona, ikat kembali aku.” Aku menyuruhnya dengan tiba-tiba, membuatnya terlonjak kaget. Namun dengan sigap mengambil kembali rantai yang ia letakkan di lantai dan mulai membelengguku lagi. Aku sudah hampir hilang kendali, namun aku menahannya. Saat terdengar bunyi ‘klik’ dan aku terkunci sempurna. Aku segera membalik tubuhku dan mulai mencoba mengatasi rasa sakit ini.

“Arrrggggghhhhh!!” aku meredam teriakanku dengan membenamkan wajahku di bantal. Dia memang membelengguku kembali, tapi iblis dalam diriku menginginkan hal yang lebih. Aku hampir saja menodainya, jika tidak aku tahan. Berbuat dosa adalah hal yang paling dia sukai. Dan cinta itu memberinya celah untuk melakukan disa melalui media tubuhku. Ani, cintaku bukan sebuah dosa.

“Ji Yong~a..” Aku yakin dia sekarag ketakutan melihat keadaanku. Aku terus menggerakkan tubuhku menahan semua keinginannya.

“Gwaenchana?” tanyanya lagi dengan bergetar. Ada kekhawatiran yang aku tangkap namun juga ada rasa kasiahn yang menyelip diatas rasa itu. Aku benci itu. Aku benci rasa kasihan dari manusia.

Aku terlihat baik-baik saja, aku mencoba mengubah pembicaraan
Aku memiliki banyak pertanyaan tetapi kau selalu menyela.
Rambutmu yang ditiup angin menyapu pipiku dan pergi

Kau berbalik dan pergi begitu saja

Apakah aku akan terlihat konyol bila berusaha  menghentikanmu?
Aku tak dapat memikirkan apa yang akan kukatakan

Gentar, kau mundur dua langkah
Perkataanmu bahwa kau takut akan diriku

Kau satu-satunya yang membuatku gila

“Noona, sebaiknya kau keluar.” Aku ingin mendorongnya agar keluar namun aku tidak bisa menyentuhnya.

“Ji Yong, kau kenapa?” tanyanya lagi sambil mendekat.

“Berhenti, berhenti Noona.” Aku melaranganya untuk mendekat. Jika tidak dosa ini akan semakin besar dan menguasaiku.

“NOONA PERGI DARI SINI!” aku berteriak keras membuatnya terlonjak kaget. Mematung namunsegera mundur.

“Ji Yong~a…” sebelum keluar dia masih sempat memanggilku. Ingin rasanya aku menangis. Ini sangat tidak adil, kenapa aku harus berakhir seperti ini? Bukankah itu sangat tidak adil?

Aku masih berusaha menahan keinginan monster yang bersemayam dalam diriku. Semakin menahannya aku semakin sakit. Rasa sakit ini menggerogiku hingga saluruh jantungku seakan berhenti berdetak. Aku menendang dan memukul serta menggigit apapun untuk menghentikannya. Aku terlihat menyedihkan sangat menyedihkan. Setelah beberapa lama, aku mulai tenang.

***

“Kau baik-baik saja?” suara itu mengusikku. Kenapa kau kembali Noona? Aku menoleh padanya. Dia kembali masuk. Kenapa dia kembali? Bukankah aku menakutkan?

“Noona, aku menyukaimu.” Aku mengatakan perasaanku, yang selama ini aku tahan. Aku mengatakannya untuk membuatnya berpaling dari Jung Soo. Egoiskah aku jika berharap seperti itu? Dai terhenyak mendengar pernyataanku.

“Aku menyukaimu, Noona.” Ulangku lagi agar dia mengerti. Dia hanya dia, lalu mundur.

“Apa aku salah?” tanyaku lagi. Ini adalah hari dimana aku banyak mengeluarkan kata dan perasaanku sendiri. Perasaan milik jiwaku, bukan perasaan penuh dosa dari sesuatu yang selama ini bersemayam dalam diriku.dia menolehpadaku seakan tidak percaya. Aku balas menatapnya, membuatnya mengerti akan apa yang aku sampaikan.

“Egoiskah aku jiak menginginkanmu? Aku juga manusia Noona..” ujarku lemah, terdengar seperti sebuah apresiasi rintihan jiwaku. Dia terus mundur hingga ambang pintu. Seakan menyadari sesuatu, dan ketakutan menyelimutinya.

“Noona, saranghae.” Ujarku setelah dia pergi meninggalkanku.

“Saranghae.” Ujarku lagi, atpi aku tau dia tidak akan mendengarnya. Karena dia sudah berlalu. Meninggalkanku.

“Yeobo, hati ini kita mencoba bajunya.” Suara itu. Suara yang aku benci. Park Jung Soo. Aku berjelan perlahan mendekati pintu yang terkunci rapat dan melihat lelaki itu memeluk tubuh Eun Kyo Noona.

Dunia tanpa dirimu adalah hukuman terberat
Dunia tidak berputar semestinya bila tanpamu
Keberadaanmu merupakan penyakit yang kronis bagiku

Hari ini waktunya. Hari ini waktunya. Dan aku tidak merelakannya. Dia menjadi milik orang lain. Aku tidak ingin. Otakku berpikir bagaimana caranya menghentikan semua ini.  Haruskah aku berkompromi dengan seseorang yang lain dalam diriku? Entahlah, jika aku melakukannya, aku tak ada bedanya dengan Eomma.

***

Aku terus berlari sekua tenaga. Beralari dan berlari sekencang-kencangnya. Aku yakin orang yang ada di rumah sakit itu pasti sibuk mencariku. Aku menerobos keluar dengan menghancurkan dinding yang selama ini mengurungku. Tidak akan ada yang menyangka aku bisa melakukan itu. Lagipula ynag berani dan benar-benar mau dekat denganku hanya Eun Kyo Noona saja. Yang lainnya lebih senang menghindariku kecuali Profesor Jung. Tidak akan menyangka karena ini semua diluar nalar manusia. Aku mengorbankan jiwaku satu-satunya untuk menghentikan pernikahan itu.

Setelah berlari dengan kuat dan kencang. Aku menemukan gereja itu. Perlu keberanian yang besar untuk menorobos masuk kesana. Aku berhenti sejenak di pintu masuk gereja. Sesuatu dalam jiwaku menolak untuk mesuk ke dalam sana, tapi perasaanku begitu kau mendorongku untuk melakukannya. Tuhan, aku tau yang aku lakukan salah, tapi biarkan aku sekali saja dalam hidupku merasakan bahagia.

Semua orang mungkin akan melihatku dengan mata yang menghakimi
Tetapi yang paling menyakitiku adalah kenyataan dimana kau menjadi seperti mereka

Aku mendobrak pintu masuk gereja dan membuat semua mata tertuju padaku dan tercengang. Aku tida bermaksud menakuti mereka namun kenyataannya meski aku tidak mebuat mereka takut karena dia tidak mengetahui siapa sebenarnya diriku, tapi setidak nya aku membuat mereka terkejut.

“Hentikan semua ini!” teriakku lantang. Aku mengambil kursi dan mematahkannya. Aku tau sebagian iblis dalam diriku kini menguasaiku. Kuambil potongan kayu dari kursi yang aku patahkan dan memukulkannya kearah orang yang ada disana. Dua orang lelaki maju dan ingin mencegahku. Cih! Kau sama sekali bukan lawanku. Aku menatap mereka tajam. Ketakutan mulai membias diwajah mereka dan beranjak mundur.

“Panggil polisi.” Aku mendengar seseorang bicara.

“Silakan panggil polisi, aku tidak perduli!” teriakku. Aku berjalan menuju altar dan merampas tangan wanita yang aku ingin dari lelaki yang ingin mempersuntingnya.

“Ji Yong~a..” panggilnya pelan. Langkahnya terseok menjajari langkah besarku yang menyeretnya. Jung Soo hendak mengambilnya kembali namun aku mengancamnya.

“Berhenti, diam disana. Atau salah satu dari kita tidak akan pernah memilikinya.” Jung Soo menatap mata Eun Kyo tajam. Aku benci tatapan penuh cintanya. Harusnya hanya aku saja yang boleh melakukannya. Aku terus menyeret Eun Kyo Noona berjalan keluar dari area gereja. Dia mengenakan gaunpengantin. Berkali-kali lebih cantik dari biasanya. Aku menghentikan taksi dan membawanya pergi jauh dari sini.

***

“Turun Noona, kita sudah sampai.” Dia sampai tertidur dipundakku. Aku ingin sekali menciumnya, naum aku tahan. Takut makhluk yang ada di dalam diriku menyertainya dan menghembuskan nafsu yang memancing angkara. Dai bangun dan mengangkat kepalanya.

“Kita dimana?” tanyanya, aku tidak menjawab, namun membawanya ke dalam sebuah rumah kecil tak berpenghuni dan terlihat suram. Tempat tinggalku dulu. Tempat pengasinganku sebelum aku sampai di tempat yang dinamakan Rumah Sakit Jiwa.

Aku menarik tangannya dan membawanya ke sebuah kamar. Dia sedikit menolak namun aku memaksanya dengan menyeretnya.

“Ji Yong~a..” panggilnya lagi.

“Apa hanya itu yang bisa kau katakan?” aku berhenti menyeretnya dan memandangnya tajam. Dia terpaku.

“Aku…” dia terdiam. Menunduk dan setitik airmata terdengar menetes di lantai yang penuh debu. Aku terhenti dari aktifitasku yang menrapikan tempat tidur untuknya. Kutolehkan wajahku melihatnya.

“Noona…” panggilku. Aku menyakitinya. Aku membuatnya menangis. Kudekati dirinya, namun dia mundur beberapa langkah darinya. “Mianhae.” Aku mengatakan permintaan maafku padanya, namun tidak disertai rasa sesal. Aku tidak ingin menyesal karena aku sudah memutuskan.

“Kau, kau seperti orang asing Ji Yong~a.” Aku berjalan mendekatinya namun dia semakin menjauh. Aku terus mendekatinya hingga dia terdesak di dinding dan tidak bisa menghindar.

“Noona, sehari saja, sehari saja aku bersamamu. Aku mohon.” Aku merengkuhnyadalam pelukanku. Dia awalnya mnolak dengan reaksi tubuhnya yang kaku dan menegang. Tapi beberapa menit berlalu akhirnya dia mulai bisa menerima. Hal ini yang paling nantikan, aku memeluknya, merengkuhtubuhbnya. Bukan hanya dalam hayalanku selama ini. Aku menyentuhnya, benar-benar menyentuhnya.

“Kau mau makan apa Noona?” tanyaku setelah beberapa menit mendekapnya. Dia menangis. Entah apa yang ia tangisi. Aku menunduk dan mendekatkan wajahku padanya.

“Kau kenapa? Aku menyakitimu?” tanyaku mulai diliputi rasa cemas. Dia menggeleng.

“Aku hanya minta waktu sehari saja.” Ujarku lagi. Dia mengangguk. Aku menyapu airmatanya. Setelah itu dia tersenyum.

“Bagaimana kau bisa lolos dari pengamanan itu?” tanyanya. Aku tertawa.

“Katakan padaku.” Dia menarik bajuku. Aku masih memakai baju putih pasien penyakit jiwa.

“Aku menghancurkan dindingnya.” Jawabku. Dia terbelalak tak percaya. “Sudahlah, jangan pikirkan bagaimana aku bisa lolos.” Ku belai pelan rambutnya dan menariknya lalu menekan bauhnya agar dia duduk di tempat tidur.

“Kau pasti lelah, sekarang istirahat.” Kusentuh puncak kepalanya dan mengacak rambutnya. Aku berjalan menuju bungkusan plastik yang aku bawa dari rumah sakit tadi dan aku taruh di saku. Aku membawa kapas dan beberapa obat serta injeksi.

“Noona, jika aku mulai tidak terkendali, kau bisa menggunakan ini.” Aku mengacungkan bungkusan itu dan menyerahkannya padanya. Dia mengangguk. Aku beranjak keluar kamar dan mencari air. Aku mengambil air dengan baskom yang ada di dapur dan membawanya ke kamar.

“Ji Yong~a.. apa sebenarnya yang kau inginkan?” tanyanya saat aku memasuki kamar. Aku tidak menjawabnya dan mengambil bungkusan yang ada di pangkuannya dan mengambil kapas. Mencelupnya ke dalam air dan menyapukannya di wajahnya yang penuh dengan nada make up sambil berjongkok di hadapannya.

“Aku hanya ingin bersamamu. Malam ini saja.” Jawabku.

“Setelah ini kau akan kembali ke rumah sakit?” tanyanya lagi. Aku menghentikan tanganku di wajahnya. Aku menatapnya tajam. “kau akan kembali kan?” tanyanya lagi. Aku tidak ingin menjawab.

“Ji Yong~a..” pangggilnya manja.

“Ne.” Jawabku berbohong.aku tidak akan pernah kembali ke tempat itu Noona.

Hari menjelang malam. Kegelapan mulai menggantikan terang dan bintang mulai siap menyapa. Dia sudah membersihkan dirinya mengenakan baju yang ada di lemari. Milik Eomma.

“Kau sudah lelah?” tanyaku. Dia mengangguk dan menarik selimut. Merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Merehatkan ototnya. Aku tau dia sangat lelah hari ini, perjalanan yang panjang dan peristiwa yang sangat membuat shock. Aku yakin semua orang pasti mencarinya. Silakan saja, tapi aku tau hingga besok pagi Noona masih akan bersamaku. Aku mengambil tempat disampingnya, menarik selimut yang sama dengannya. Dia mengangkat tubuhnya, merubah posisinya menjadi duduk.

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya terkejut.

“Aku ingin tidur disini. Bersamamu. Aku tidak akan menyentuhmu, kau tenang saja.” Aku tidak berani menjamah. Meskipun keinginanku sangat besar untuk menyentuhnya, bukana hanya sekedar pelukan. Tapi aku benar-benar tidak bisa. Aku bisa membunuhnya jika kau melakukan itu. Eun Kyo Noona masih menatapku tak percaya.

“Kau boleh mengikatku kalau kau tidak percaya. Asal aku berada disampingku.” Aku mengambil rantai yang biasa mengikatku.

“Ani, tidak perlu. Aku percaya padamu.” Dia kembali merebahkan tubhnya disampingku. Kini aku yang tercengang. Apa dia tidak takut? Percaya padaku? Dia satu-satunya orang yang berkomunikasi dengan baik padaku dan sekarang dia orang pertama yang percaya padaku.

“Kau tidak takut?” aku menoleh padanya.

“Untuk apa? Aku sudah terlalu lelah untuk memikirkan rasa takut.” Jawabnya. Dia membelakangiku dan mulai terlelap. Aku tidak tidur sama sekali. Yang aku lakukan hanya memadanginya saja. Aku tidak percaya berada disini bersamanya.

“Noona, aku ingin mati tapi bukan mati di tempat itu. Aku ingin mati seperti orang normal. Aku ingin mati di dekatmu.” Aku memejamkan mataku dan mencoba untuk tidur.

***

Aku mencintaimu

Sayangku aku bukan monster
Kau tau diriku yang dulu

begitu waktu berlalu

Aku pun akan menghilang dan kau akan tahu

Aku membutuhkanmu,

Sayangku aku bukan monster
Kau tau diriku

Semua telah berakhir

Tetapi bila kau tinggalkan aku begini, aku akan mati
Aku bukan monster.

Tanpa terasa pagi sudah menyapa. Sinar mentari mulai menyusup masuk pada bangunan tua yang hampir bobrok dan mempunyai beberap lubang di sela-sela kayu yang menjadi dindingnya. Aku membuka mataku, namun tak mendapati wanita yang tadi malam tidur disampingku. Aku bangkit dan mencarinya. Ternyata dia ada di dapur. Saat aku mendekatinya, dia menoleh padaku.

“Apa tidak ada apapun disini?” tanyanya. Aku lupa, aku tidak membawa bekal makanan.

“Kau lapar?” tanyaku. Dia mengangguk lemah.

“Tunggu sebentar. Aku akan membeli sesuatu.” Aku segera ingin pergi mencari toko makanan terdekat. Saat aku mendekati pintu, aku tercekat. Banyak mobil diluar sana. Aku bisa melihatnya dari celah pintu. Aku kemblai berlari ke dalam dan menghampiri Eun Kyo Noona.

“Noona, kau yang menghubungi mereka?” tiba-tiba emosiku mulai naik. Eun Kyo Noona mengangguk polos. Aku menghambur semua barang yang ada di atas meja. Membuatnya terpaku atas apa yang aku lakukan.

“Ji..”

“Jangan panggil namaku. Aku bukan Ji Yong!” emosi membuat belenggu yang selama ini mengurungnya kini terlepas sudah. Aku sudah membuat perjanjian itu, melepaskannya hari ini. Tapi ini semua diluar perjanjian. Dia bialang akan membuagku saat kegelapan menjemput, ini masih pagi, dan dia mengingkari janjinya.

“Argh!” erangku menahan kekuatan yang maha dahsyat yang perlahan mulai menguasaiku.

“Ada apa denganmu?” Eun Kyo Noona menyentuh tanganku dan diluar dugaanku, aku menepisnya kuat hingga membuatnya terpental. Aku menjadi liar dan berlari keluar. Menghadapi orang-orang diluar sana dan menunjukkan kekuatanku.

Semua orang siap siaga menghadangku. Namun aku tak gentar sedikitpun. Aku yang berkuasa kali ini, kalian tidak akan bisa menghentikanku. Aku terus bberjalan mendekati mereka dengan wajah dingin. Sebagian tubuhku membeku sedingin es. Saat aku sampai dihadapan mereka, aku mengambil senjata dan melemparya beserta orang yang memegangnya. Aku hilang kendali. Entah sudah berapa manusia yang aku buat terluka, mungkin bahkan mati. Dan hal yang paling aku sesali dari keadaanku adalah aku menyakiti orang yang mempercayaiku.

“Ji Yong~a!” teriak gadis itu. Aku berbalik menatapnya. Aku bisa melihat airmatanya dan dia menggeleng kuat. Namun aku tak kuasa untuk melawan kekuatan besar yang meinta korban ini. Menginginkan jiwa-jiwa lemah yang tak berkeyakinan. Aku tidak memperdulikan teriakannya. Dia terus meraung memanggil namaku.

Mendengarnya memanggil namaku menambah pilu perasaanku yang mulai diselimuti sesal. Sesal telah melakukan hal ini, hanya demi sebuah ego yang tidak bisa aku kendalikan. Aku berlari cepat saat beberapa detik aku bisa menguasai diriku sendiri. Menarik tangan gadis itu dan membawanya ke hadapan seoarang lelaki. Park Jung Soo.

“Lindungi dia, dan jauhkan dia dariku. Sebelum aku membunuhnya.” Aku mendorong tubuh gadis itu hingga terpental di tubuh Jung Soo. Aku kembali menghampiri orang-orang yang selama ini aku benci. Yang selalu memojokkanku selama 6 tahun ini.

Beberapa anak buah Jung Soo menembakiku, tapi semua itu sia-sia. Aku sama sekali tidak terkalahkan, karena bukan aku yang sebenarnya yang kalian hadapi, melainkan iblis yang ada dalam diriku yang haus akan jiwa.

“Hentikan! Jangan bunuh dia!” dari sudut mataku aku bisa melihat gadis itu meronta dan ingin menghampiriku. Dia terus meneriakiku. Aku tidak ingin mendengarnya dan menutup telingaku. Kwon Ji Yong, kau salah telah menempuh hidup seperti Eommamu. Sekarang aku bisa mengerti bagaimana perasaan terjepit yang dialami Eomma selama ini. Melangkah salah, mundurpun semakin salah. Tubuhku penuh dengan luka tembak tapi tak menyurutkan iblis itu untuk berburu. Setelah dia membunuh orang-orang dia segera menghisap jiwanya dan membuatnya semakin kuat. Aku tidak bisa meati seperti ini. Aku tidak mau mati sebagai monster mengerikan seperti ini. Saat beberapa detik dia melepaskan tubuhku aku berlari pada Eun Kyo dan Jung Soo.

“Ambil vaksin yang ada didalam dan buat aku tidak berdaya!” teriakku sebelum iblis itu kembali. Eun Kyo Noona dan Jung Soo mematung.

“Palliwa!” teiakku. Mereka segera tersadar dan segera berlari ke dalam rumah. Iblis itu kembali bersemayam di dalm tubuhku dan mengejar mereka berdua. Dia tau apa yag aku rencanakan dan sial! Dia mencoba membunuh Eun Kyo. Aku berusaha sekuat tenaga untuk mencegahnya namun kekuatannya bertambah berkali lipat.

Dia yang ada dalam diriku sempat mebghempas Eun Kyo hibngg aterpental beberapa kali, namun gadis itu lebih kuat. Dia terus bangkit dan mencari benda itu. Kini ‘dia yang ada dalam diriku’ mulai menyerang Jung Soo. Membuatnya terluka dan memukulinya tanpa ampun. Beberapa orang menahanku dan mencoba menghentikan aksiku terhadap Jung Soo. Aku diamdan tidak lagi meronta. Meringkuk mendekap tubuhku sendiri.

“Tahan aku!” teriakku pelan. Jung Soo menatapku dengan bingung.

“Tahan aku!” teriakku nyaring. Bodoh! Aku sudah sekaut tenaga menahan agar tidak membuanuhnya dia malah diam saja. Dai mulai sadar dan mulai menahn tubuhku.

“Bantu aku.” Teriaknya pada beberapa orang yang tadi mencoba menahanku. Mereka bergerak cepat dan memegangi tubuhku. Bagus, aku bisa sedikit tersenyum. Tapi tidak disangka kekuatan iblisku kembali dengan cepat dan melempar 7 orang yang sedang menahanku. Haish! Perlu dari awal lagi menaklukkan makhluk ini! Aku merutuki diriku sendiri.

“Oppa, pegangi dia!”  teriak Eun Kyo Noona sambil menenteng plastik itu, bagus! Aku menoleh padanya dan bersiap menerjangnya. Tapi dengan sigap Jung Soo menahan tubuhku hingga membuatku terjatuh dan dipegangi olehnya.

“Sek ka rang, Noona.” Pintaku. Aku dan Jung Soo menahan tubuhku dengan sekuat tenaga. Eun Kyo Noona mendekat dan  mulai memasukkan vaksin itu ke dalam spuit. Lalu mengarahkannya padaku. Aku melihat keraguan dimatanya.

“Sekarang!” teriakku. Dia langsung menacapkan injeksi itu ke tanganku dan mendorong cairan itu masuk. Tubuhku perlahan mulai melemah, dia tidak bisa memanfaatkanku saat tubuhku tidak berfungsi.

“Noona, lakukan satu hal lagi untukku.” Dai menangis, airmatanya membanjiri pipinya.

“Ji Yong~a, bertahanlah.” Ujarnya.

“He he he.” Aku terkekeh terputus. “Mianhae Noona, sudah terlambat.” Injeksi itu sudah mulai bereaksi. Membuat semua organ pentingku mulai menghentikan tugasnya.

“Tolong tancapkan ini di dadaku. Tepat dijantungku.” Aku meraih tangannya dan menyerahkan benda yang selama ini aku simpan. Anak panah perak yang sudah patah.

“Apa yang kau kata!” aku menutup mulutnya. Dia terisak.

“Jang.. akh! Jangan menangis. Aku bahagia.” Ujarku membujuknya untuk berhenti menangis. “ Aku ingin me..” aku memegangi dadaku yang terasa sakit. “Melihatmu tersenyum.” Lanjutku. Kuhapus airmatanya yang masih mengalir. Dia mendekapku dalam pelukannya. Tubuhku sudah mulai tidak berfungsi. Aku bahagia, sangat bahagia sekarang.

“Noona, saranghae. Aku..” aku melepaskan pelukannya.

“Aku bukan monster.” Lanjutku. Dia semakin keras menangis. Kuraih wajahnya dan kutarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Aku ingin melihatmu tersenyum Noona. Aku bahagia, diakhir hidupku aku mati di pangkuan orang yang mempercayaiku meskipun dia tidakmencintaiku.

Tolong ingat diriku yang pernah berada disampingmu
Tolong jangan pernah melupakan diriku

FIN

Note : lah lah lah, kenapa aku bikin begini? Entahlah, lagi galau dan males ngetikin Omelet.. hehehehehehe, mian yah ceritanya gaje banget.. ini ide muncul pas liat MV  Big Bang yang baru noh! Gila keren sumpah! Langsung dah uri Ji Yong yang merajai otakku dan mengendalikan imajinasiku. Terima kasih sudah membaca… terima kasih klo amu komen.. tapi ini FF bener-bener ga jelas, juga mungkin ga ngefeel kali yah di kalian, tapi bagi aku, itu ide muter aja gitu ngalir kaya film… maaf mengabari kalian untuk ff yang gila ini. Ga jelas banget gitu genrenya, cinta bukan, yadong bukan, fantasi bukan… lalu apa dong? Terserah lah, anggap aja ini MV versi dramanya Big Bang Monster *elah ditabok VIP neh aku seenaknya aja* udah ah fika  ga usah banyak bacot… eum, untuk Omlelet alias Amouette yang pada nungguin, mian yah itu di pending dulu, aku lagi ga nge feel… nanti malah amburadul lagi… hehehehe, susah dimengerti entar… *padahal kayanya ff yang ini lebih parah*

41 responses »

  1. first kah? oke saya bangga. tsaaahh
    saatnya komen~~
    Ini emang plotless, aku jujur.__. tapi kok keren sih?! Aku aja jarang lho bisa dapet ide dari sebuah MV. Jidi jadi monster…. oke ini samting. Aku emang jarang baca ff soal dia. Tapi ini lumayan kok.
    Cuma….itu di dalem badan Jidi ada iblis apa? .__. ini aku yg kelewatan baca atau apa?

    okedeh segitu aja paypay~

  2. semalam bca setengah trus ktduran, dah cap kaki kuda seh semalam,hahaha
    onnie, ih keren neh, monster GD, qraen dy sodaraan ma oppa,hehehe
    itu endingnya q ngebayangin film hulk, hihihi

  3. Seruu..seruu.. Eonii ^^
    tp aku gak terlalu suka sama sifat teukie oppa nya, kayak nya gak trlalu ngelindngin eunkyo eoni gtu!! Hehehe

    • ini tentang Jidi… jadi Teukyo cm sekedar numpang aja… Jung Soo? klo km di posisi Jung Soo pilih mana? membiarkan Eun Kyo mati atau hidup? dan lagi Jung Soo juga tau kedekatan Jidi ama Eun Kyo. setiap hari jemputin EUn Kyo.

  4. Aku bacanya….spechless…

    Pengkarakteran jiyong nya keren onnie😀
    Dia bagai monster, tapi bukan monster terus bisa suka sama eun kyo..
    Keren…

  5. eonni ceritanya seru bgt!!!aku bysanya gak terlalu suka cerita yg kyak gini tp ini bisa baca sampe selesai aku sukaaaa banget!!!!
    eonni daebaaaak!!!

  6. I love you baby, I’m not a monster!! *nyanyi breng bigbang*
    sya dah liat Mv’a bneran keren eonni!!

    Sya byangin Ji yong d’sni ntu kya Naruto d’cmpur Hulk, *nah loh kya apaan tuh jd’a?!*
    jahahaha
    tp keren eonni crita’a, sya bisa ngrsain kpdihan sm sakit’a si Ji Yong!!
    Pokok’a daebak lah eonni…^^

    • bnr2… aku bkn liat hulk, tp kaya naruto… sumpeh itu MV nya keren….
      terus si top ama seung ri yah ky dracula…
      nah si tae yang, dia ky hellboy! aku langsung melongo liat tae yang….
      daesung ky kartun…

      • Wat sya Mreka ntu monster yg sngat mempesonaaa, eonni!!
        Seungri ama jidi waaww, fantastic baby *kena virus bigbang*
        TOP ama Taeyang mreka cocok jd monster!! *d’cekek Tabi,d’jitak Taeyang*
        wkwkwk

      • mempesona banget! mereka multi talented banget, udah gitu berkarakter banget!!
        banget! apalgi top! sumpeh, tatapannya mampu membekukan diriku…

  7. Haduh unn, keren bangett. Kasian bang jiyoung, unie jjahatt !! Bikin abangku kesakitan seperti itu.
    Ceritanya menarik, pas banget sama mv.a.
    Pokok.a 2 jempol buat unie. Hebat.
    Suka kwon ji young.

  8. huwaaaa terhuraaa kenapa jiyoung sy harus matiii… Gk relaaaa
    Sumpah ini bkin nangis eon… Ampun dah…
    Ini mengharukan feelnya dpt beud dah eon…
    Aduh uri jiyoung syg mianhe *loh?*
    Hehe

    Omelet ttp ditunggu eon… Kabar2i pkknya eon… Hehe

  9. Setuju bgt eonn emang nohh mv BigBang yg itu keren bgt aku bengong liatnya, GD sama TOP nya mancapppppp😀
    keren kok eonn ff nya aku suka karna ada GD nya juga jd nambah keren😛

  10. Eonnie-Yaaaaaaaaaa…….!!!!!!
    astajim,, *tariknafas* *hembuskan*
    OhMyGD…..!!!
    ga tau kenapa, aku paling jarang nemu FF yg castnya bigbang, ya ampun….
    dan pas nemu ini FF…………
    PPoing……….
    pengen mati eon…. :’)
    seriusan….
    ah udah lah, kepanjangan…..
    risih bgt komen pajang kayk gini….
    dah eon…
    *bboing….bboing* *cipok*

  11. Nangis,
    oh my soo man*eh
    gD keren bgt,
    tapi ga tau aku malah bayangin Taeyang atau sesekali TOP gitu,
    keren kali eon ini FF,
    Aku aja nangis bacanya, sakit bgt kalo ada diposis GD,Nyesek T.T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s