Amourette (5th Trick)

Standar

amourette part 6

Kau cintaku

Aku tidak bisa tertidur di malam yang panjang ini

Aku menarikmu keluar lagi

Hari ini

Aku menahan airmata lagi

Aku mendesah lagi

Kau adalah cintaku

 

Cintaku yang menyakitkan

Aku terluka seolah-olah aku memotong kulitku

Aku mencoba menahannya tapi tanpa bersuara

Ini menyakitkan

Cintaku menyakitkan

Rasanya pahit seperti aku menelan racun

Aku mencoba tersenyum tapi menyakitkan

 

Hari ini aku melihat pagi lagi

Aku menarikmu keluar lagi

Lampiran yang tersisa mendorongku keluar lagi

Aku masih mencintaimu

Kaulah cintaku

 

Cintaku buruk

Aku menelponmu tapi tidak ada jawaban

Aku memohon padamu untuk menahanmu tapi kau berpaling dingin

Cintaku buruk

Kau meninggalkanku seperti uap

Aku mengulurkan tanganku untuk memegangmu

Tapi di beberapa titik

Kau sudah meninggalkanku.

Author’s POV

Eun Kyo masih belum beranjak dari pangkuan Siwon, dia terus menangis menumpahkan semua rasa kesalnya. Membuat Siwon terpaku dan benar-benar tidak tau apa yang harus dilakukan untuk menghadapi Eun Kyo yang terus mengeluarkan airmata. Sesekali wanita itu memukul Siwon dan dibiarkan saja olehnya. Siwon beberapa kali menghela nafas, hingga akhirnya tangis wanita yang duduk di pangkuannya mulai mereda.

“Sudah lega?” tanyanya sambil mengangkat tangannya sekali lagi untuk menyeka airmata Eun Kyo, namun seketika Eun Kyo menangkisnya dan menghapus airmatanya sendiri.

“Nan gwaenchana.” Eun Kyo beranjak dari Siwon dan kembali ke tempat duduknya. Tangisnya tidak benar-benar mereda, masih tersisa senggukan dari mulutnya dan beberapa kali dia mengambil nafas dalam. “AH!” Eun Kyo menoleh dengan cepat kearah Siwon. “Apa aku tadi menciummu?” dia memegang bibirnya dan mengusapnya. “Omo! Lupakan semua itu!” Eun Kyo menatap ke depan dan salah tingkah. “Lupakan, lupakan. Hapus semua itu dari memorimu, ara?” ujarnya sambil mengusap bibir Siwon dengan ujung cardigannya. Siwon awalnya menolak apa yang dilakukan Eun Kyo namun akhirnya dia tidak sanggup menahan Eun Kyo dan membiarkanEun Kyo melakukan apapun, dia tau perasaan wanita ini sedang gundah.

“Ne, gwaenchana..” Siwon mengambil tangan Eun Kyo yang sudah kesekian kalinya ingin menyapu bibirnya lagi.

“Tapi tetap saja, kau, kau, kau sudah mempunyai istri.” Ujar Eun Kyo. Dia tak lagi mencoba meraih bibir Siwon dengan tangannya. Kali ini dia kembali diam. “Dan aku sudah punya suami.” Lanjutnya lirih.

“Kau ini, aku antarkan pulang sekarang?” tanyanya. Eun Kyo mengangguk.

“AH! OMO! RYU JIN!” Pekik Eun Kyo. Dia memukul lengan Siwon dan Siwon lalu menginjak pedal gas dan mengerti apa yang dimaksud Eun Kyo.

Siwon dan Eun Kyo melaju di jalan tanpa berkata apa-apa. Hari sudah malam dan Ryu Jin telah menunggunya. Tak henti Eun Kyo berdo’a dalam hatinya agar anak kesayangannya baik-baik saja. Tak ada kata yang keluar dari mulut Eun Kyo maupun Siwon, mereka sibuk bermain dengan pikirannya masing-masing. Eun Kyo yang memikirkan kejadian beberapa menit yang lalu, saat ia mendapati suaminya sedang di dalam kamar otel bersama istri lelaki yang ada disampingnya. Sedangkan Siwon, tidak terlalu berbeda dengan isi otak Eun Kyo, hanya saja dia lebih menitik beratkan pada kejadian yang terjadi setelah dia mendapati istrinya terbaring dan masih tidak sadarkan diri disamping seorang lelaki yang sudah mempunyai anak. Kenyataan bahwa dia menyentuh wanita lain, meski bukan dia yang memulai. Waktu seakan melambat, dan perjalanan seakan semakin jauh bagi mereka berdua, hingga deheman demi deheman menggantikan komunikasi mereka tanpa bisa berkata sepatah katapun.

“Kit asudah sampai.” Ujar Siwon saat mereka sudah berada di depan sebuan dan mendapati Ryu Jin memang berada disana, dibawah sebuah lampu taman bersama seorang gadis. Eun Kyo segera turun dari mobil dan meraih tubuh kecil itu.

“Kau sudah lama menunggu? Omo, mianhae Ry Jin~a.. Eomma, Eomma banyak pekerjaan.” Ujar Eun Kyo menyesal telah melupakan menjemput Ryu Jin. Meski sekarang bukan tugasnya lagi karena memang sekarang mereka hanya memeilki satu alat transportasi, tapi karena Eun Kyo tau Jung Soo tidak mungkin menjemputnya setelah kejadian itu. Jung Soo mungkin bahkan belum bisa beranjak dari sana.

“Kau mau membuang anakmu Ahjumma?” tanya seorang gadis yang berdiri disamping Ryu Jin sambil menyandang tas dipunggungnya, masih berseragam sekolah.

“Mwo?” balas Eun Kyo sengit tidak terima dikatakan membuang anaknya. “Apa kau bilang?” ujar Eun Kyo tersulut emosi, Siwon segera menghalangi Eun Kyo.

“Kau meninggalkan dia disini sendirian, bagaimana kalau tidak ada aku?” balas gadis itu. Cho Hyun Ah, gadis sekolah yang beberapa hari terakhir menemani anak kesayangannya.

“Ak!” Siwon segera membekap mulut Eun Kyo yang ingin kembali menjawab argumen Hyun Ah.

“Ah, mianhae, kami akan segera membawa Ryu Jin. Terima kasih telah menemani dan menjaganya.” Ujar Siwon mengakhiri pembicaraan mereka dan menyeret Eun Kyo kedalam mobil.

“Bukannya Appamu bukan itu Ryu Jin~a?” tanya Hyun Ah pada Ryu Jin, anak itu menjawabnya dengan sebuah anggukan.

“Jadi Appa dan Eommamu bercerai?” gumam Hyun Ah tanpa merasa berdosa memberikan kesimpulan seperti itu. “Aigoo, kasian sekali kau Ryu Jin~a, tapi aku akan selalu menemanimu disini, ara?” Hyun Ah menyentuh kepala Ryu Jin dan membelai rambutnya. Ryu Jin tidak mengerti apa yang dikatakan Hyun Ah dan hanya diam saja.

“Ayo sayang, kita pulang.” Siwon meraih tangan Ryu Jin dan mengangkat anak itu membawanya ke dalam mobil.

“Terima kasih sudah menemani uri Ryu Jin.” Siwon memberikan salam perpisahan dan berterima kasih pada Hyun Ah.

“Keunde Ahjussi, boleh aku minta tumpangan untuk puang?” tanya Hyun Ah.

“Ah, tentu saja.” Jawab Siwon. Hyun Ah berlari kecil masuk kedalam mobil Siwon. Mereka berempat pergi dari tempat itu, mennju rumah Hyun Ah terlebih dahulu baru meluncur ke kediaman kelarga kecil Park Jung Soo.

^_^

Jung Soo masih merasakan kepalanya yang terasa sakit akibat sebuah pukulan di tengkuknya. Saat dia membuka matanya, dia telah mendapati istrinya dan seorang lelaki berdiri di belakangnya. Choi Siwon. Yang lebih membuatnya terkesiap adalh sosok gadis yang terbaring tanpa sadarkan diri disampingnya dengan keadaan setengah telanjang. Jung Soo mash belum bisa mencerna apa ynag sedang terjadi. Yang dia ingat hanya seseorang memukul terngkuknya saat dia memasuki sebuah bar, seseorang mengabarinya bahwa Hee Rin sedang mabuk. Dia menatap Hee Rin yang masih belum membuka matanya. Perasaannya gundah, bingung antara harus bernajak sekarang atau menunggu Hee Rin sadar.

“Eungh.” Sebuah lenguhan keluar dari mulut wanita itu. Jung Soo segera bangkit danmembenahi bajunya. Marta Hee Rin terbuka saat Jung Soo sudah merapikan bajunya.

“Jung Soo Oppa..” Hee Rin memicingkan matanya karena kepalanya terasa pusing. “Ini dimana?” tanya Hee Rin lagi. Jung Soo tak mampu untuk menjawab. Hee Rin mulai bisa mengumpulkan kesadarannya. Dan saat dia sudah bisa menggunakan pikirannya, dia terperanjat mendapati dia yang hanya menggunakan ‘underwear’ saja.

“Oppa! Sebenarnya ini ada apa?” Hee Rin menarik selimut dan menutupi tubuhnya lalu menggenggam ujung selimut itu seolah ada yang akan mengambil selimut itu. Jung Soo menghela nafa sberat.

“Aku jug atidak tau, tiba-tiba saat aku bangun aku sudah ada disini. Disampingmu.” Ujar Jung Soo sambil duduk di sofa. Menunduk.

“Apa maksudmu?” tanya Hee Rin. Jung Soo tidak menjawab, hanya menatap Hee Rin penuh arti. Hee Rin mengangkat alis kanannya tanda tidak mengerti.

“Oppa, jangan katakan kalau, kalau kalau…” Hee Rin tidak sanggup melanjutkan perkiraan ynag berseliweran di benaknya.

“Aish!” dia menghamburkan benda ynag ada diatas meja hingga terjatuh.

“Dan parahnya tadi Eun Kyo dan Siwon ada disini.” Ujar Jung Soo lemah seolah benar-benar putus asa dan menyesali keberadaanya disini.

“MWORAGO?!” kembali Hee Rin terperanjat. Dadanya benar-benar sakit dan bergemuruh oleh rasa bersalah. Entah kenapa sekarang rasa bersalah itu menghinggapainya padahal jelas-jelas dia juga adalah korban.

“Lalu kenapa kau masih ada disini tidak mengejarnya dan memberi penjelasan?!” teriak Hee Rin.

“Aku tidak mungkin meningglkanmu disini.” Ujar lirih.

“Oppa! Kau gila! Dia istrimu!” Hee Rin mengambil bajunya dan melesat ke dalam kamar mandi. Tak ada waktu untuk berbenah, saat dia merasa sudah mengenakan bajunya dengan benar, dia segera keluar dari  kamar mandi.

“Apa yang dia katakan?” tanay Hee Rin cepat dan merasa cemas.

“Dia tidak berkata apa-apa. Hanya membuatku bangun dan setelah itu pergi.” Jawab Jung Soo.

“Lalu kau diam saja?” tanya Hee Rin. Jung Soo mengangguk.

“Oppa kau bodoh!” teriak Hee Rin marah.

“Tapi dia bersama Siwon, aku rasa dia akan menenangkan Eun Kyo.” Jawab Jung Soo lagi.

“Yapi dia istrimu! Bukan istri Siwon, dan kau yang harusnya menjelaskan dan membuat Eun Kyo mengerti, bukan Siwon.” Ujar Hee Rin lagi.

“Tapi bagaimana denganmu?” ujar Jung Soo khawatir.

“Kau gila! Rumah tanggamu diujung tanduk kau masih memikirkan orang lain!”

“Tapi biar bagaimanapun aku menjelaskannya dia tidak akan percaya.” Jawab Jung Soo semakin pasrah.

“Apa kau bilang?”

“Aku sudah bertengkar beberapa kali dengannya karena ini.” Terang Jung Soo.

“Karena ini? Apa maksudmu dengan ‘ini’? kau pernah berselingkuh sebelumny?” tanya Hee Rin cepat. Jung Soo menggeleng kuat.

“Mana mungkin aku bisa berselingkuh, aku sangat mencintainya.” Ujar Jung Soo lirih.

“Untuk persoalan ini, aku tidak tau bagaimana awalnya. Tapi akurasa kau harus memprioritaskan Eun Kyo Onnie terlebih dahulu Oppa..” Hee Rin semakin bingung. “Apa karena aku kalian bertengkar?” tanya Hee Rin penasaran.

“Bukan, bukan karena kamu, aku saja yang tidak bisa membuatnya mengerti.” Kilah Jung Soo.

“Hufh, semua sudah terjadi.” Ujar Hee Rin.

“Apa yang harus aku lakukan?”

“Kau harus pulang dan menjelaskan semua ini. Ini, ini, ini salah. Minta maaf padanya.”

“Bagaimana denganmu?” Jnug Soo menatap Hee Rin.

“Jangan khawatirkan aku. Istrimu aku rasa lebih terguncang.” Hee Rin menepuk lengan Jung Soo. “Jangan khawatirkan aku, jika kau berpisah, aku akan sangat merasa bersalah.” Lanjut Hee Rin.

“Tapi bagaimana?”

“Tidak ada tapi-tapian.” Potong Hee Rin. “Pulang sekarang juga, kau harus minta maaf, aku akan menemuinya besok.” Hee Rin meraih tasnya dan mennggalkan Jung Soo yang masih bimbang.

“Biar aku antar kau pulang.” Jung Soo menyusul Hee Rin mereka pulang bersama. Tak ada bedanya seperti Siwon dan Eun Kyo, Hee Rin dan Jung Soo juga tenggelam degan pikirannya masing-masing.

Jung Soo’s POV

Aku mungkin memang bodoh. Silahkan kalian semua mencaci makiku. Atas apa yang terjadi hari ini, akumemang benar-benar sudah gila sepertinya. Aku terbangun dengan nyeri di tengkukku dan mendapati Hee Rin disampingku tanpa pakaian. Apa yang telah kami lakukan? Aku tidak ingat sama sekali. Yang aku ingat saat ini hanya kilatan kemarahan dari Eun Kyo. Aku tau sekarang dia seang kacau, itu pasti. Dan aku harap Siwon mengantarnya ke rumah. Tak ada kata yang keluar dari mulutku hingga dengan tidak sadar aku sudah sampai di depan rumah Hee Rin. Pagar terbuka secara otomatis, mungkin sseseorang memonitor kami dari dalam rumah. Mungkinkah itu Siwon? Hee in keluar dari mobil dan ingin melangkah.

“Mianhae Hee Rin~a..” untuk apa maaf itu, aku juga tidak tau, aku hanya merasa perlu minta maaf padanya.

“Jangan minta maaf padaku Oppa.” Ujar Hee Rin bergetar. Ada kesedihan dalam nada suaranya. Aku melihat sosok yang ada di depan pintu sedang memperhatikan kami. Aku membuak pintu mobil dan berjalan menghampirinya.

“Siwon~a, mianhae.” Hanya kata maaf yang mampu keluar dari mulutku. Mungkin itu juga yang akan aku katakan pada Eun Kyo nantinya. Siwon nampak menatapku tajam. Aku tau dia marah, aku mungkin telah lancang padanya. Menyentuh istrinya.

“Eun Kyo ada dirumah. Kau sebaiknya cepat pulang sebelum dia kalap dan meninggalkanmu.” Ujarnya membuatku tersadar. Aku segera berbalik tanpa memberikan salam pada mereka dan buru mengemudikan mobilku melaju kembali ke rumah. Aku teringat Ryu Jin, dia , bagaimana dengannya? Aku rasa Eun Kyo sudah menjemputnya, semoga saja, ini sudah larut.

Saat sampai di depan rumah, aku segera berlari ke dalam rumah tanpa memperdulikan posisi mobilku. Aku berlari ke ruang tengah, rumah terasa lebih senyap dari biasanya. Tidak ada suara televisi, tidak ada suara teriakan Ryu Jin menyambutku, tidak ada ciuman lagi. Aku semakin takut, jangan-jangan Eun Kyo benar-benar pergi karena marah dan sakit hati padaku. Aku tidak bias membayangkan itu, sungguh tidak bisa. Rasa sesal menggumpal dalam dadaku. Benar apa yang dikatakan Hee Rin, rumah tanggaku selama ini memang diujung tanduk, tapia ku membiarkannya seolah ini  hanya masalah kecil saja dan aku bisa mengatasinya. Tapi kenyataannya aku tidak bisa membuat kesalahpahaman ini menjadi benar.

“Eun Kyo~ya..” panggilku putus asa. Tidak ada jawaban, hening.

Aku terus mencari ke seluruh sudut rumah, tak ada tanda-tanda keberadaannya dan Ryu Jin. Mungkinkah dia pergi? Jika itu benar, tapi kemana? Aku teringat sebuah ruangan yang belum aku periksa. Kamar Ryu Jin.

Aku berjalan mendekati kamar itu dan membukanya perlahan. Rasanya sangat melegakan, melihat sosok kecil ynag terbaring disana sudah terlelap dan seorang wanita berbaring disampingnya sambil memeluk anak itu.

“Eun Kyo~ya..” panggilku lirih. Dia tidak menjawab, mungkin dia sudah tertidur. Aku tidak ingin mengganggunya. Jik adia teritdur, berarti mungkin dia baik-baik saja, karena kebiasaan jika punya masalah dia akan insomnia. Tidak, tidak mungkin, tidak mungkin ini bukan suatu masalah. Aku menyentuh lengannya. Perlahan aku merasakan getaran halus dari tubuhnya. Dia menangis. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Tuhan apa yang harus aku lakukan? Minta maaf saja aku rasa tidak cukup. Aku telah menyakitinya. Aku bersimpuh dibelakangnya.

“Aku tau kau belum tidur Yeobo..” ujarku. Aku tidak bisa menahan airmataku. Apa ynag harus aku katakan?

Eun Kyo menghela nafas kasar dan langsung bangkit lalu menoleh dengan cepat kearahku. Aku menatapnya dengan tatapan bersalah, bukan bersandiwara, tapi aku benar-benar merasa bersalah.

“Kita bicara dikamar!” dia segera bangkit dan menarik bajuku. Tidak pernah dia sekasar ini. Aku tau sekarang dia diliputi amarah. Kakinya melangkah cepat dan setengah menyeretku kedalam kamar. Setelah sampai di kamar kami dia langsung mendorongku dan melepaskan tangannya dari bajuku. Melipat tangannya di dada dan terdiam, hanya menatapku.

“Yeobo..” aku memanggilnya, aku benar-benar tidak tau harus berkata apa jika dia tidak menanyakannya. Mulai dari mana aku menjelaskan semua ini? Dai masih diam tak mau bicara.

“Maafkan aku.” Sebuah kalimat akhirnya keluar dari mulutku setelah beberapa menit membisu.

“Maaf? Maaf?” ujarnya dengan lemah. Dia duduk di tepi tempat tidur dan segera mengambil guling lalu melemparnya padaku. Bantal dan semua yang ada ditempat tidur semua melayang kearahku. Semuanya berserakan dilantai. Aku maju selangkah demi selangkah dan memeluknya. Dia memberontak dan memukulku sekuat tenaga.

“Silakan saja, pukul aku sebanyak-banyaknya, sampai puas. Tapi aku mohon maafkan aku. Tapi aku rasa itu bukan seperti apa yang kau pikirkan Yeobo…” aku memeluknya erat dan tanpa terasa airmata membasahi pipiku. Dia terus memukulku dan berusaha melepaskan diri.

“Jangan sentuh aku.” Ujarnya terdengar putus asa ditelingaku. Aku tidak ingin melepaskannya.

“Aku ingin membunuhmu! Aku ingin membunuhmu.” Dia memukuliku membabi buta. Aku tidak ingin melawan, aku tau rasa sakitnya melebihi pukulan ini. Setelah beberapa menit berlalu dan kami sama-sama menangis, akhirnya dia mulai tenang, tidak lagi meronta. Aku masih memeluknya dan mencium ujung kepalanya. Aku sangat menyayanginya, benar-benar menyayanginya. Tidak pernah terpikir sedikitpun menyakitinya seperti ini. Dia terisak sambil mencoba menghentikan tangisnya.

“Aku mau duduk!” ujarnya sambil mengusap airmatanya. Aku tidak ingin melepaskannya tapi tetap menuruti keinginannya.

Dia duduk dengan gontai. Aku memandanginya dan menurunkan badanku duduk dihadapannnya bersimpuh dilantai. Aku mencoba menghapus airmata yang sesekali masih keluar namun dia menolak dan menahan tanganku.

“Bagaimana mungkin kau bisa melakukan itu? Eoh?” tanyanya dengan tatapan kosong tanpa menatapku.

“Jika tidak menginginkan aku lagi setidaknya pikirkan Ryu Jin. Kau ta u aku tidak benar-benar marah!” dia memukul pundakku. “Aku hanya ingin disayangi!” sekali lagi dia memukul pundakku. “Saat aku merajuk aku hanya ingin dibujuk!” lanjutnya lagi tanpa melewatkan pukulannya. “Hiks! Setidaknya kau harusnya memikirkan Ryu Jin!” dia kembali menangis, suaranya kini semakin meninggi. Aku benar-benar tidak tau harus berbuat apa, seperti orang bodoh duduk dihadapannya.

Lama kami terdiam dan dia terdiam, mengatur nafasnya dan menghentikan tangisnya. Hatiku miris melihatnya seperti ini. Aku benar-benar tidak pernah bermaksud membuat keadaan seperti ini. Perasaanku terhadap Hee Rin kini benar-benar jelas setelah malam ini. Rasa sukaku padanya dulu, tidak seperti perasaanku terhadap wanita ini. Dulu dan mungkin sekarang, aku mungkin menyukai Hee Rin, tapi bukan cinta. Sedikit cemburu pada gadis itu mungkin benar. Tapi aku hanya ingin membantunya. Sedangnkan terhadap Eun Kyo, melihatnya terluka seperti ini membuatku lebih tersayat hati.

“Kau ingat saat dulu aku hampir mati melahirkan Ryu Jin? Hiks! Kau sangat ketakutan. Aku ingin dirimu yang seperti itu. Meski tidak ingin membuatmu takut.” Ujarnya meracau.

“Kau ingat saat masa pacaran dulu yang penuh tawa? Aku merindukan saat-saat itu.” Lanjutnya. “Kau ingat insiden cincin kita saat menjelang pernikahan? Aku ingin saat termanis itu.” Lanjutnya, airmatanya mengalir, suaranya bergetar. Namun tak sedikitpun dia memandang kearahku. Ini sangat menyakitkan, seolah dia sengaja menghukumku dengan ketidak peduliannya.

“Kita bisa mengulangnya kembali. Kita bisa membuat momen itu lagi.” Aku meraih kedua pipinya dan mengarahkan matanya menatapku. Dia menolak, lebih memilih memandangi dadaku daripada wajahku.

“Tidak akan bisa Oppa. Aku belum bisa. Dan sepertinya, sepertinya…” dia tidak melanjutkan perkataannya dan menatapku. Park Eun Kyo, jangan katakan kau ingin berpisah dariku.

“Aku rasa kau tau maksudku.” Dia bangkit dan mencoba untuk meninggalkanku namun aku menahannya dengan pelukan.

“Andwae, shireo. Aku tidak mau.” Aku memeluk punggungnya dan membenamkan wajahku dilehernya. Tak kuasa aku menahan rasa sedih dan bersalahku yang mengeluarkan airmata, lagi.

“Kau melukaiku. Dan aku tidak bisa hidup dengan bekas luka itu.” Ujarnya. Shireo, aku tidak mau, sungguh benar-tidak mau.

“Jangan, aku tidak mengijinkanmu. Jika kau ingin pergi, bagaimana dengan Ryu Jin?” tanyaku. Dia terdiam. Sekali lagi kami menangis bersama.

“Ryu Jin biar ikut bersamaku agar tidak menyusahkanmu.” Jawabnya.

“Ani, tidak sama sekali. Kalian tidak pernah menyusahkanku.”

“Oppa! Kau mengkhianatiku! Tidak berhak menahanku untuk pergi! Aku tidak bisa percaya padamu.” Sakit. Serasa ada yang menumbuk dadaku dengan keras dan aku tidak bisa bernafas. Tenggorokanku terasa kering seketika dan aku merasa sangat haus.

“Aku tidak mau!” kueratkan pelukanku pada tubuhnya. Tak peduli meski dia susah bernafas.

“Aku lelah, aku ingin tidur.” Dia mencoba melepaskanku.

“Ini kamar kita, kau harus tidur disini.”

“Hahaha.” Dia tertawa lirih.

“Setelah kau tidr bersamanya, kau ingin tidur bersamaku? Serakah sekali kau Oppa.” Dia memaksa melepaskan dekapanku. Dan aku tidak ingin menyulitkannnya lagi. Kubiarkan dia keluar dari kamar dan tidur bersama Ryu Jin.

^_^

Aku tidak bisa tidur hingga pagi. Terjaga sepanjang malam bersama rasa sakit yang melilit hingga ke seluruh tubuhku. Aku berbaring di tempat biasanya dia berbaring. Masih belum percya dengan semua kejadian yang terjadi belakangan. Eun Kyo mungkin sudah bangun, aku bisa mendengar kegaduhannya di dapur. Anakku juga bangun lebih pagi hari ini. Aku bangkit dan keluar dari kamar.

“Kau sudah bangun?” aku menyapa Ryu Jin yang duduk di meja makan dan belum mandi. Dia memperhatikan Eun Kyo mengerjakan pekerjaan rumah. “Mau mandi bersama Appa?” ajakku pada Ryu Jin.

“Ani, sebentar lagi aku akan memandikannya, sedikit lagi selesai.” Ujar Eun Kyo menyela. Aku terdiam, begitu juga Ryu Jin. Tidak seperti biasanya anak ini diam. Setelah Eun Kyo selesai dengan pekerjaannya dia  segera menggendong anak itu dan membawanya kekamar mandi. Ryu Jin sedikit pprotes saat dimandikan.

“Eomma… dingin, dingin, dingin.. aku mau Appa saja!” teriaknya. Eun Kyo tidak mau memperdulikan protes anak kecil itu, dia terus mengguyur tubuh Ryu Jin dengan air.

“Appa…” panggil Ryu Jin dengan keras.

“Jangan memanggilnya! Biasakan kau harus selalu bersamaku tanpa Appamu, Ryu Jin~a!” teriak Eun Kyo tak kalah keras.

“Shireo! Shireo! Shireo!” anak itu terus berteriak. Aku menghampiri mereka dan mencoba mengambil selang shower dari Eun Kyo namun dia menghalanginya.

“Tinggalkan kami.” Ujarnya dengan nada dingin.

“Appa, aku mau mandi bersama Appa saja.” Ryu Jin melangkah kearahku namun ditahan oleh Eun Kyo.

“Sebentar lagi jug aselesai Ryu Jin~a!” Eun Kyo mulai emosi dan menyabuni tubuh anak itu dengan sedikit kasar. Yeobo~ya, aku tau kau marah padaku, tapi tak seharusnya kau memperlakukan anak kita seperti ini.

“Sudah selesai.” Eun Kyo meletakkan shower pada tempatnya dan berjalan melewatiku tanpa menghiraukanku.

“Yeobo. Aku tau kau marah padaku. Tapi janganmelimpahkannya pada Ryu Jin.” Aku berjalan menjajarinya, dai terus mengikuti Ryu Jin sampai ke kamar.

“Tidak perlu mencampuri urusan kami. Oppa, besokaku akan berkemas.” Ujarnya tegas. Aku mencengkram lengannya. Tidak peduli sekarang Ryu Jin melihatnya atau tidak.

“Kau jangan main-main! Aku tidak mengijinkanmu keluar dari rumahini!” teriakku emosi. Eun Kyo menatapku tajam.

“Aku tidak butuh ijinmu! Sejak aku tidur dengan wanita itu kau tidak berhak atas kami lagi!” teriaknya meninggi. Ryu Jin mulai bingung. Dia berhenti berjalan dan memperhatikan kami. Ini pertama kalinya kami bertengkar di depan anak.

“Kau masih dalam tanggunganku! Jadi aku berhak mengaturmu!” aku semakin erat mencengkramnya. Mengisyaratkan aku benar-benar tidak main-main.

“Besok aku akan mengurus surat cerai itu dan setelahnya kau tidak berhak atas kami lagi! Aku tidak meminta apapun darimu kau tenang saja, aku akan segera keluar dari sini, bersaa Ryu Jin terntunya!” teriaknya lagi.

“Kau tidak bisa keluar dari rumah ini!” aku balas berteriak.

“Wae? Aku ingin kita berpisah dana ku sudah memikirkannya sejak tai malam.”

“Ini benar-benar konyol! Kau kira setelah kita berpisah semua berjalan dengan baik begitu? Kau bilang harus memikirkan Ryu Jin, tapi apa yang kau lakukan sekarang?! Kau bahkan lebih egois Park Eun Kyo!” kata-kata keras dan teriakan beradu dari mulut kami, hingga membuat Ryu Jin menangis.

“Park Jung Soo! Setelah kau menyakitiku, baru kau bisa memikirkan tentang kita, kemana pikiran ‘tentang kita’ saat kau melakukannya, eoh?!” mata kami saling beradu menyiratkan kemarahan.

“Eomma…!” panggil Ryu Jin disela tangisnya.

“Diam kau Ryu Jin~a!” teriak Eun Kyo sambil menatapku tajam. Eun Kyo~ya, aku memang lebih suka kau mengekspresikan marahmu ketimbang kau diam. Tapi jika keadaannya seperti ini, kit amenyakiti anak kita. Aku menghirup nafas dalam-dalam dan berjalan menghampiri Ryu Jin dan mengangkatnya.

“Ssssttt… uljima… mianhae.. kami tidak marah padamu Ryu Jin~a..” aku menepuk punggung Ryu Jin dan berusaha meredakan tangisnya yang berubah menjadi sesenggukan.

“Eomma…” panggil Ryu Jin.

“Sini sama Eomma saja.” Eun Kyo merebutnya dari gendonganku.

“Ssstttt berhenti menangis sayang. Eomma tidak marah padamu.”

“Kau hanya terbawa emosi Eun Kyo~ya.” Aku menurunkan nada bicaraku mencoba berkompromi dengannya. Aku tau aku salah, juga tidak berhak meminta maaf darinya. Tapi bisakah dia memikirkan anak kami? Aku tau aku egois, tapi tidak bisakah orang egois diberi kesempatan? Eun Kyo membawa Ryu Jin ke kamar. Dan mencarikan baju sekolah Ryu Jin. Akuhanya bisa memperhatikan mereka. Tidak pernah terbayangkan hidup terpisah dari 2 orang yang sangat aku lindungi selama ini.

Saat makan pagi pun tak kalah sama dari insiden kamar mandi tadi. Hanya saja kali ini Eun Kyo diam seribu bahasa dan msaih melayani sarapanku dengan kebisuan.

“Nikmati saja, mungkin ini terakhir kali aku melayanimu.” Ujarnya. Perkataannya membuatku emosi dan membanting sendokku hingga membuat Ryu Jin terkejut dan kembali menangis.

“Aigoo, Ryu Jin~a.. jangan menangis, ayo makan sarapanmu, nanti sakit.” Eun Kyo membujuk Ryu Jin untuk diam.

“Eomma, apa benar Appa tidak bersama kita lagi? Eoh?” aku yang semula ingin beranjak dari ruang makan, menghentikan langkahku  apa dia mengerti semua yang kami ributkan? Aku berbalik perlahan.

“Kalau kau nakal Eomma akan pergi saja. Kalau kau tidak menghabiskan sarapanmu, kau tidak bisa melihat Eomma lagi. Kalau kau membantah Eomma, kau ikut bersama Appa saja, dan jangan mencari Eomma.” Ujar Eun Kyo dingin. Aku menatapnya.

“Ani, ani, ani. Hiks! Aku akan menghabiskan makananku.” Ujar Ryu Jin dengan nada bergetar sambil menangis dan menyuap makanannya ke mulutnya secara paksa.

“Aku tidak pernah nakal disekolah, Eomma…” ujarnya menangis tanpa suara. Hatiku miris melihatnya. Ini kesalahanku, tidak bisa kah aku dimaafkan demi anak itu?

“Dan aku, aku, aku tidak akan membantahmu lagi Eomma.. tidak akan makan es krim lagi…” ujarnya masih menangis. Aku tak bisa menaha tangisku. Bahkan anak itu tidak ingin membuat kami berpisah karenanya.

“Appa…” dia menoleh padaku. Aku segera memeluknya. Tidak bisa, aku tidak bisa kehilangan mereka. Aku tidak ingin.

“Bisakah kau memaafkan aku demi anak ini Eun Kyo~ya?” aku memandanginya yang masih angkuh dengan semua keinginannya. Rahangnya mengatup kuat. Aku tau dia sedang menahan tangisnya. Aku mohon Eun Kyo~ya, katakan ini hanya gertakan, katakan ini hanya peringatan saja untukku. Janganbenar-benar ingin pergi.

“Kau sudah terlambat Ryu Jin~a, cepat habiskan makananmu.” Eun Kyo bangkit dan Ryu Jin dengan cepat menyambar makanannya. Anak nakal ini sekarang berubah penurut? Aku tidak tau lagi harus berbuat apa.

Siwon’s POV

Aku memandangi Hee Rin yang duduk di meja makan. Sejak tadi malam dia tidak bicara sama sekali. Aku juga tidak tau harus memulai pembicaraan darimana. Aku mungkin sedikit marah padanya. Benarkah yang dilakukan tadi malam? Aku kecolongan? Atau mataku yang salah? Tapi aku yakin itu benar-benar dia. Ini masalah, tapi aku rasa,tidak sebesar yang dialami Jung Soo. Aku karena kami adalah pasangan yang tidak saling mencintai? Entahlah. Namun yang pasti, ada sedikit rasa tidak rela dalam diriku. Apa ini cinta? Tapi rasa kasihanku terhadap Eun Kyo lebih besar daripada rasa sakitku ada sebuah rasa bersalah dalam diriku. Apa Hee Rin juga merasakan hal yang sama? Mungkin jika saja rumah tangga kami tidak sedingin ini, tidak akan menyeret persoalan ini lebih dalam. Tapi aku hanya benar-benar tidak mengerti dengan perasaanku sendiri. Beberapa kali Hee Rin menghela nafas. Dia menyuap makanannya dengan enggan.

“Kau sakit?” tanyaku membuak pembicaraan dengannya. Bodoh! Kenepa pertanyaan itu yang keluar dari mulutku? Haruskah aku bertanya apa yang terjadi tadi malam? Hee Rin menggeleng lemah.

“Siwon~ssi, mengenai tadi malam…” dia menatapku.

“Jangan minta maaf padaku, minta maaf pada Eun Kyo.” Jawabku. Hee Rin terdiam, aku melanjutkan makanku dan segera menghabiskannya. Apa aku terlalu dingin? Apa semua ini kesalahanku? Entahlah. Terlalu banyak ketidakjelasan dalam pikiranku. Setelah menghabiskan makanku, aku bangkit dan bersiap untuk berangat bekerja.

“Kenapa semua orang hanya memperhatikannya. Bahkan suamiku sendiri lebih menjaga perasaannya darpipada istrinya sendiri.” Hee Rin mulai berbicara. Aku yang semula ingin melangkah pergi kini mengurungkan langkahku, menolehnya ke belakang.

“Bukankah tidak hanya aku yang salah? Aku juga korban! Aku bahkan tidak tau kenapa aku berada disana. Kenapa sepertinya titik kesalahan hanya bertumpu padaku?” nadanya datar. Seolah menyimpan kepedihan yang dalam. Aku berbalik dan memperhatikannya.

“Aku tidak perlu minta maaf padamu? Aku memang tidak akan pernah meminta maaf padamu.” Dia bangkit dan membereskan peralatan makan kami.

“Apa maksudmu?” tanyaku. Gadis ini sedikit misterius, terkadang aku merasa sangat asing dengannya, namun juga dekat diwaktu yang bersamaan.

“Kau yang menciptakan keadaan menjadi seperti ini.”

“Kenapa menjadi menyalahkanku?”

“Bukankah memang karenamu? Kenapa kau terlalu dingin? Apa aku tidak lebih menarik dari Eun Kyo? Eoh?” aku berjalan dan kembali duduk di kursi makan.

“Kenapa, kenapa tidak ada yang berdiri disampingku selain Jung Soo Oppa.” Ujarnya sambil memandangi piring kotor. Dia menalngkah dan meletakkannya di tempat pencucian. Aku terdiam.

“Jika memang kau tidak mencintaiku, sebaiknya kita akhirir saja, Siwon~ssi.” Ujarnya.

“Dan membiarkanmu menghancurlan rumah tangga orang lain?” tanyaku.

“Kenapa berpikiran seperti itu? Eoh? Apa aku terlihat sejahat itu dimatamu? Bukankah kau mengatakan padaku kau menyukai Eun Kyo? Bukankah itu akan menguntugkan posisimu? Eoh?!” ujarnya. Memang benar, aku memang menyukainy, tidak suka melihatnay seperti tadi malam. Tapi kejadian tadi malam menyadarkanku bahwa dia memng sangat mencintai suaminya.

“Aku juga sudah bilang aku juga tidak tau kenapa aku berada di tempat itu. Yang aku tau. Yang aku tau, aku, aku menemani..” Hee Rin terdiam dan menyebut sebuah nama.

“Kim Jin Hye.” Ujarnya lemah. Dia segera mengambil ponsel dan terlihat menghubungi seseorang.

“Aish! Sejak kapan aku pernah menyimpan nomornya!” dia membanting ponsel dan aku memungutnya.

“Apa maksudmu?” tanyaku tidak mengerti.

“Malam itu, maksudku semalam sore saat aku ingin pulang..” cerita mulai meluncur dari mulutnya. “Aku bertemu teman lama saat aku kulaih di luar negeri dulu. Namanya Kim Jin Hye. Dia, dia adalah, haish! Aku bukan orang yang suka menceritakan keburukan orang lain. Dia mengatakan padaku, kalau dia menyukai Jung Soo Oppa.” Lanjutnya bercerita.

“Lalu kau cemburu saat dia mengatakan itu?” tanyaku memancing.

“Aku belum selesai bicara Siwon~ssi.” Jawab Hee Rin. “Dia mengajakku untuk minum, bukan, dia memaksaku.” Ujarnya. “Setelah itu aku tidak tau lagi apa yang terjadi padaku dan tiba-tiba bangun aku sudah ada dikamar itu.”

“Apa kau melakukannya dengan Jung Soo?” tanyaku to the point.

“Mollasseo. Tapi aku rasa , aku rasa Jin Hye ada dibalik semua ini.” Hee Rin meraih tasnya dan begegas meninggalkanku yang masih merasa bingung.

***

Aku mengemudikan mobilku di jalanan kota Seuol yang sudah mulai ramai. Perkataan Hee Rin terngiang dalam benakku. Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan kejadian tadi malam. Meski mungkin aku tidak terlalu mengenal Hee Rin, tapi aku rasa Jung Soo tidak akan berbuat sebodoh itu. Dan aku pikir Hee Rin juga demikian. Meskipun aku hanya beberapa bulan mengenalnya, tapi dia bukan orang dengan mudah terjatuh dalam hal seperti itu, meski kadang cinta memang membutakan. Tapi sepertinya dia orang ayng berpendidikan. Selain memeikirkan kejadian tadi malam, aku juga memikirkan Eun Kyo, ciumannya. Dasar, tapi selama aku mengenalnya belakangan ini, dia memang unik. Bagaimana mungkin dia marah pada suaminya lalu mencoba untuk membalasnya tapi merasa bersalah sendiri?

Aku mengemudikan mobilku tanpa sadar dan melewati sekolah Ryu Jin. Aku penasaran, apa yang anak itu lakukan sekarang? Bolehkah aku bolos bekerja hari ini? Aku mengambil ponselku dan menghubungi kantor.

“Fay, aku hari ini tidak masuk.” Setelah mengatakan itu aku langsung mematikan ponselku. Mobilku berhenti di halaman sekolah Ryu Jin. Aku turun dari mobil dan masuk ke area sekolah anak-anak itu. Banyak sekali anak kecil membuat aku tersenyum dan melambaikan tanganku sebagain ganti kata sapaan.

“Ah, permisi. Apa Ryu Jin ada?” aku bertanya pada seorang yang mengajar, lebih tepatnya yang mengasuh anak-anak ini.

“Anda siapa?” tanya guru muda itu.

“Aku keluarganya.” Jawabku, belum sempat aku menjelaskan, Ryu Jin sudah berlari dan menghambur ke pelukanku.

“Siown Samchon~a!” teriaknya nyaring. Aku berbalik dan menyambutnya. “Sedang apa disini?” tanyanya.

“Aku kesini…” mataku meliriknya dengan nakal. Ryu Jin tersenyu sambil mendesis. “Mengunjungimu, boleh kan Seonsangnim?” tanyaku. Wanita itu mengangguk.

“Dia hanya dititipkan kan? Bukan mengikuti kurikulum?” tanyaku lagi.

“Nde.” Jawabnya. “Jika anda membawanya boleh saja biar aku telpon orang tuanya.” Tawarnya lagi.

“Ani, tidak perlu, aku ingin disini saja ebrsama Ryu Jin.” Aku membawa Ryu Jin ke sebuah taman kecil dan mengajaknya bermain. Duduk bersamanya sambil tertawa riang.

“Samchon~a, apa itu cerai?” tanya anak ini membuatku sedikit terperangah. Aku terdiam dan memandangi anak kecil ini.

“Darimana kau dapat kata itu?” tanyaku. Dia diam. Darimana anak kecil belajar kata itu? Bukankah di tempat penitipan anak tidak mengajarkan kosa kata itu?

“Eomma… Eomma bilang akan pergi bila aku tidak menghabiskan makanku.” Jawabnya. Menunduk dengan sedih. Kakinya dimainkannya yang menjuntai bebas.

“Ah… kau ini. Jangan pikirkan,  Eommamu tidak sungguh-sungguh mengatakannya.” Jawabku. Pasti gara-gara insiden tadi malam.

“Tapi Eomma benar-benar marah. Hiks! Dia menangis… hiks, hiks, Appa.. Appa.” Aku memeluknya sebelum pikiran polosnya terus berjalan dan berpikiran buruk.

“Uljima Ryu Jin~a, tidak akan terjadi. Kau tenang saja.” Aku mencoba menenangkannya. Sepanjang hari aku menemaninya disini dengan tawa. Aku harap anak ini tidak menjadi korban.

Author’s POV

Hari menjelang sore. Matahi mulai tenggelam dan semburat jingga mulai terlihat. Siwon masih menemani Ryu Jin disini. Seharian penuh tanpa terlewat sedikitpun bersama anak ini. Ada sedikit rasa bersalah dalam hati kecilnya. Seandainya rumah tangganya seperti tidak sedingin ini, mungkin  tidak akan membuat anak ini cemas terhadap kedua orang tuanya, Siwon membatin.

“Ryu Jin~a!” seseorang meneriaki Ryu Jin dengan nyaring. Ryu Jin yang tadinya asik bermain bersama Siwon menoleh dengan cepat mencari asal suara.

“Noona!” balasnya sambil tertawa. Tawa yang khas dan benar-benar tulus. Ada rasa bahagia menyelimuti relungnya.

“Kau sudah dijemput?” tanya Hyun Ah kepada Ryu Jin. Ryu Jin melirik Siwon.

“Belum.” Jawabnya.

“Ah, orang tuamu payah.” Mulut Hyun Ah biasa selalu frontal. Siwon menmukul kepala gadis itu.

“Kau ini jangan sembarangan.” Hyun Ah langsung menatap Siwon dengan marah.

“Ah, Ahjussi, yang tadi malam?” pekik Hyun Ah.

“Hem.” Jawab Siwon singkat.

“Ah, suami Eomma Ryu Jin?” tanyanya lagi.

“Kau ini! Jangan bicara sembarangan.”

“Aku tidak bicara  sembarangan. Memang benar kan? Eomma dan Appa Ryu Jin dan Eumph!” Siwon dengan cepat membungkam mulut Hyun Ah yang mulai berbicara tanpa berpikir.

“Jangan ungki itu.” Bisik Siwon ditelinga Hyun Ah. “Kau membuat Ryu Jin sedih, lagipula, aku bukan suami Eommanya Eun Kyo, dan juga bukan pacarnya.” Sambung Swion. Hyun Ah mengangguk tanda mengerti, sebenarnya bukan karena mengerti, hanya saja dia ingin lebih cepat lepas dari bungkaman Siwon.

“Sudah saatnya pulang, ayo kita pulang Ryu Jin~a.” Siwon bangkit dari bangku dan meraih tangan Ryu Jin.

“Ah, kami belum beli es krim, Ahjussi.” Ujar Hyun Ah.

“Aku tidak boleh makan es krim , Noona. Nanti Eomma pergi.” Tolak Ryu Jin dengan suara pelan. Ada rasa sedih yang terdengar dari kalimat itu. Hyun Ah bis amerasakannya.

“Uang Appamu masih banyak, bagaimana kalau kiat beli makan saja?” tawar Hyun Ah. Ryu Jin menggeleng. Hyun  Ah menoleh pada Siwon, seolah bertanya, adapa denagn Ryu Jin? Siwon mengangkat bahunya.

“Jangan tanyakan itu. Kau mau aku antar plang?” tawarSiwon pada Hyun Ah. Gadis itu mengangguk dengan kuat. Mereka pulang bertiga, tapi terlebih dahulu Siwon menghubungi Eun Kyobahwa dia yang menjemput Ryu Jin dan diijinkan oleh Eun Kyo.

“Aku mau ke suatu tempat terlebih dahulu, kau mau aku antar atau ikut denganku?” tanya Siwon pada Hyun Ah.

A”ku ikut saja.” Jawabnya.

“Tidak dimarai orang tuamu?” tanya Siwon lagi.

“Ani, aku memang lagi melarikan diri dari mereka.”

“Baiklah, aku tidak tanggung jawab kalau kau dimarahi.” Ancam Siwon.

“Nde..” ujar Hyun Ah pasrah. “Keundae, Ahjussi. Aku lapar, bisa kita makan dulu? Hehe.” Siwon meliriknya.

“Kau lapar Ryu Jin~a?” tanya Siwon, Ryu Jin mengangguk.

“Arasseo, kita makan dulu.” Siwon membawa mereka ke sebuah Hotel.

“Ahjussi, ini dimana?” tanya Hyun Ah sambil celingak celinguk saat turun dari mobil.

“Aku ada urusan disini.”

“Hotel? Ahjussi! Aku masih anak-anak!” teriak Hyun Ah sambil mengambil sikap siaga. “ kau jangan macam-macam, aku mengambilkelas taekwondo kecil-kecil begini.”

“Kau ini! Sejak tadi pikiranmu selalu buruk! Aku juga mengambil kelas taekwondo dulunya. Lagipula aku ada urusan penting, sementara aku mengurusnya, kau bawa Ryu Jin makan!” ujar Siwon pada Hyun Ah.

Siwon berjalan ke resepsionis setelah mengantar Hyun Ah dan Ryu Jin ke restoran yang ada di Hotel bintang 5 ini. Dia meninggalkan mereka untuk bertanya pada resepsionis tersebut.

“Maaf, boleh bertanya sesuatu?” tany Siwon.

“Ah, Tuan.” Jar seorang resepsioni sdengan hormat. Siwon sudah terkenal dikalangan pengusaha Hotel di Korea. Bahkan untuk seluruh jajaran pegawainya pun tidak mungkin ada yang tidak mengenalnya.

“Siapa yang menyewa kamar 3025 tadi malam? Bisa aku memperoleh informasinya?” tanya Siwon penuh wibawa. Awalnya resepsionis itu ragu, namun setelah beberapa lama berpikir, dia mengeceknya di komputer dan melirik Siwon.

“Tuan, sebenarnya ini rahasia dan kami tidak oleh memberitahunay kepada siapapun, tapi karena Anda yang meminta, saya rasa tidak ada salahnya. Tapi Tuan, janji tidak memberitahukannya aku yang mengatakannya?” Siwon mengangguk.

“Kamar 305….” resepsionis itu melihat layar monitor. “Ah, dapat. Kamar 3025 semalam dibooking oleh Nona Kin Jin Hye.” Ujarnya. Siwon sekarang mulai mengerti permainan apa yang sedang berlangsung dibalik kejadian tadi malam, meski memang dia belum yakin akar persoalannya.

“Ah, ye. Kalau begitu terima kasih.” Siwon kemabli pada Hyun Ah dan Ryu Jin yang hampir menghabis kan makannya.

“Sudah selesai?” tanya Siwon. Ryu Jin makan sendiri tanpa dibantu Hyun Ah. Anak itu makan dengan lahap.

“Enak Ryu Jin~a?” tanyanya pada Ryu Jin. Ryu Jin mengangguk sambil terua menyuap makanannya.

“Kalau begitu habiskan makan kalian, kita pulang.” Siwon mengacak rambut Ryu Jin.

Eun Kyo’s POV

Aku masih terasa pusing dengan semua persoalan yang terjadi akhir-akhir ini. Aku tidak mengerti dimana letak titik dari permasalahan ini. Pekerjaanku menjadi runyam. Semua yang terjadi tadi malam membekas dalam benakku. Bagaimana mungkin Jung Soo Oppa bisa melakukan itu? Apa dia sama sekali sudah melupakan kami? Apa yang dia pikirkan saat itu? Argh! Rasanya aku ingin membunuhnya saja. Tapi, hufh, itu tidak mungkin. Tapi semua itu melukaiku, rasany seperti ah sulit sekali dijelaskan, aku merasa sudah tidak ada gunanya meneruskan semua ini. Maaf? Mudah sekali dia minta maaf. Cih! Dia sama sekali sudah tidak berhak atasku ataupun Ryu Jin.

“Noona, sudah selesai?” Suara Key mengangetkanku.

“Eum, sudah selesai. Ini.”

“Sini, biar dipotong dan dijahit Chanie.” Ujar Key. Aku menyerahkan pekerjaanku pada Key.

“Key, aku mau pulang lebih cepat, tidak enak badan.” Baru setengah hari tapi rasanya sudah berabad aku disini, penuh dengan tekanan persolan.

“Nde, kau tenang saja.” Ujar Key. Aku mengambil tasku dan segera pulang dengan menggunakan taksi. Mungkina ku sebaiknya berneah saja. Rasanya sudah tidak ingin tinggal dirumah itu. Terlalu menyakitkan.

Setelah sampai dirumah, tempat ini terasa sangat sepi. Tak ada Ryu Jin, tak ada Jung Soo Oppa. Hening tidak ada aktifitas. Aku berjalan menyusuri ruang tamu, beberaap foto terpajang disana. Foto Ryu Jin dan juga fotoku bersama Jung Soo Oppa. Terlihat bahagia, tidak menyangka semua menjadi seperti ini. Aku berjalan ke kemar dan kembali memandangi tempat prbadiku dengan lekat. Begitu banyak kenangan disini. Mampukah aku beranjak dari tempat ini dengan memulai hidup di tempat berbeda? Tanpa aku sadari, airmataku menggenang di pipi.

“Yeobo..” sebuah suara mengejutkanku. Aku langsung menoleh ke belakang. Jung Soo Oppa. Cepat-cepat aku mengalihkan pandanganku dan menghapus airmataku. Dia berjalan mendekatiku.

“Berhenti disana.” Aku tidak ingin dia memelukku lagi danmembuatku semakin sakit hati dan merasa dikhianati. Dia tidak mengindahkan perkataanku dan terus melangkah lalu memelukku. Aku tidak kuasa untuk menolaknya.

“Aku mohon jangan pergi. Kau hanya main-main kan? Tidak benar-benar ingin pergi kan?” tanyanya di telingaku. Aku berdiri mematug dalam pelukannya.

“Apa tadi malam kau juga hanya main-main?” tanyaku dingin sedikit menyinggung tentang kejadian tadi malam. Rasanya tidak pernah puas aku membicarakan persoalan tadi malam. Rasa sakit itu terus mendesakku untuk terua marah dan emosi.

“Yeobo.. mianhae, aku bersalah.” Ujarnya meminta maaf. Semudah itu?

“Semudah itu?” tanyaku lagi. Rasa sakit itu menggorogoti jiwaku.

“Ani, maksudku. Yeobo.. aku benar-benar minta maaf.” Dia semakin erat memelukku. “Tadi malam, aku sudah saudah menjelaskannya padamu. Aku tidak yakin dengan semua itu.” Ujarnya. Apa maksudmu Oppa? Apa maksudmu dengan tidak yakin? Jelas-jelas aku melihatmu!

“Sudah lah Oppa, aku tidak ingin mendengarnya.” Aku mencoba melepaskan tangannya yang memeluk buhku dengan erat. “Kau menyukainya kan? Kalian saling menyukai dulunya, semua itu mungkin saja terjadi.”

“Tolong percaya padaku.”

“Lalu kau mau apa? Apa yang akan kau lakukan? Eoh? Terus bersamaku? Lalu bagaimana dengan Hee Rin? Apa yang akan kau lakukan?” suaraku meninggi, emosi kembali naik ke permukaan batas sadarku.

“Kit apindah dari sini saja. Nanti aku akan menyelesaikannya dengan Hee Rin. Yeobo, peristiwa tadi malam aku tidak yakin, maksudku aku… aku tidak merasa melakukannya dengan Hee Rin.”

“OPPA! Jelasjelas kau sudah salah! Mau menghindar apa lagi? Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dan maaf, kali ini aku percaya dengan mataku.” Aku melepas pelukannya dengan paksa.

“Andwae, mari kita bicara dengan kepala dingin.” Dia menarikku duduk di tepi tempat tidur.

“Aku bersalah, aku tau. Tapi aku tidak mungkin meninggalkanmu Eun Kyo~ya, kau tau itu. Itu akan menyakiti anak kita.” Dia menatapku dalam. Aku juga merasa dia benar, tapi rasanya rasa sakit hatiku lebih besar hingga menolak bagian kenyataan itu.

“Kau mungkin memang tidak akan meninggalkanku, tapi aku yang akan meninggalkanmu.” Ada rasa sakit yang terrasa saat aku mengatakan itu. Tidak bisa dipungkiri, aku memang asngat mencintainya, tapi sepertinya kesalahan ini tidak bisa ditoleransi.

“Shiroe, aku tidak mau. Aku tidak mengijinkannya.”

“Aku tidak perlu ijin darimu Oppa. Apa kau pernah berpikir Ryu Jin yang akan terluka atas semua ini? Bukan hanya Ryu Jin Oppa…” aku menoleh padanya. “Aku juga.”

“Maka dari itu aku mohon, beri aku kesempatan lagi. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku berjanji.”

“Oppa, aku tidak bisa berpikir, biarkan aku sendiri.” Aku mendorongnya pelan. Aku memang sangat mencintainya. Haruskah aku memberinya kesempatan? Bukankah aku sudah memberinya beberapa peringatan dengan semua sikapku selama ini? Tidakkah dia mengerti? Atau dia meremehkanku? Aku bukan orang yang bisa mengutarakan bahwa aku cemburu dengan jelas. Tapi saat itu aku sudah mengakuinya. Tidak bisa kah dia menjaga sikapnya sejak itu?

“Aku yang salah. Jangan enyalahkan Hee Rin.” Ujarnya. Aku terkejut, gadis itu lagi.

“Pernahkah aku menyalahkannya? Kenapa kau selalu melindunginya? Tidak cukupkah semua sikapku selama ini sebagai peringatan? Oppa! Kau tau aku orang tidak bisa mengatakan langsung bahwa aku cemburu! Tapi saat itu aku mengatakannya, aku tidak suka kau berdekatan dengannya! Apa kau lupa? Atau kau meremehkanku? Eoh?!” aku yang awalnya ingin tenang kini kembali tersulut emosi.

“Bukan begitu maksudku Eun Kyo~ya.” Ujarnya mencoba meredakan emosiku.

“Sudahlah Oppa, kau memang lebih senang menjaga perasaan gadis itu ketimbang menjaga perasaan Ryu Jin.” Ujarku.

“Bu, bukan begitu..” aku menutup mulutnya yang masih ingin membela diri. Kupandangi matanya. Sungguh Oppa, aktidak ingin mendengar apapun lagi, pembelaanmu atau rasa bersalahmu. Mengingatnya saja sudah membuatku hampir gila, apalagi harus mendengarnya lagi dari mulutmu.

“Cukup, aku akan pertimbangkan, jadi hentikan pembicaraan ini. Kau tidak masuk kerja? Bukannya kau masih jadi sorotan? Sebaiknya kau kembali bekerja.” Ku dorong lagi tubuhnya keluar dari kamar, namun saat aku ingin menutup pintu dia menahannya.

“Kau pasti belum makan, kau mau makan?” tanyanya.

“Ani, aku tidak lapar.” Jawabku berkilah. Sebenarnya aku lapar, mana mungkin aku bisa menahan rasa lapar. Itu hal yang tidak mungkin terjadi.

“Kau jangan berdusta.”

“Aku bisa cari makan sediri.”

“Ani, biar kit amakan bersama.” Dia menarik tanganku dan membawaku ke sebuah rumah makan di dekat rumah kami. Saat mencicipi makanan itu, tidak ada selera sedikitpun. Baru kali ini semua makanan terasa hambar di lidahku.

***

“Eomma…!” suara teriakan Ryu Jin dari luar halaman terdengar memecahkan kebisuan yang tercipta antara aku dan Jung So Oppa. Seharian ini aku hanya berdua saja di rumah tapi hanya sedikit kami terlibat dalam sebuah pembicaraan.

“Ryu Jin?” tanya Jung Soo Oppa. “Ah, aku lupa dengananak itu.” Gumamnya. Sejak kapan kau ingat menjemput Ryu Jin Oppa? Kau hanya sibuk dengan persoalanmu sendiri.

“Siwon yang memintaku untuk menjemputnya.” Ujarku sambil berjalan menuju pintu utama. Setelah aku membuka pintu dia menghambur ke pelukanku.

“Aku sudah makan.” Ujarnya sambil menciumku.

“Nde? Jinjja? Aigoo, pintar.” Aku balas menciumnya. “Siwon~ssi, gomawo. Anak ini susah sekali diajak makan padahal.” Aku membungkuk pada Siwon. “Ayo katakan terima kasih.” Aku menyuruh Ryu Jin untuk berterimakasih.

“Gomapseumnida Samchon~a.” Ujar Ryu Jin lirih sambil melirik Appnya yang kini sudah ada disampingku. Siwon membungkuk memberi salam pada Jung Soo Oppa yang dibalasnya dengan hal yang sama.

“Aku permisi dulu, mengantar seseorang.” Seorang gadis berdiri di belakang Siwon dan terkejut memandangku. Gadis itu!

“Ah, Ahjussi!” gadis itu menunjuk Jung Soo Oppa.

“Hyun Ah.” Balas Jung Soo Oppa.

“Kau, kau masih disini? Maksudku, omo! Kisah cinta yang rumit.” Gumamnya. Anak ini memang mulutnya selalu bicara sembarangan. Siwon langsung menutup mulutnya.

“Yak! Ahjussi! Apa-apaan kau!” ujarnya sengit sambil melepaskan tangan Siwon dan mendesis.

“Kalau bicara pikir dulu.” Siwon memukul kepalanya pelan.

“Kau memang suka menumpang.” Ujar Jung Soo Oppa.

“Eoh? Biarkan saja, daripada orang yang lupa menjemput anaknya!” kali ini Hyun Ah sedikit keras bicaranya. Jadi Jung Soo Oppa juga pernah bertemu dengan anak ini? Siwon kembali membekap mulut gadis yang bernama Hyun Ah itu. Lalu menyeretnya.

“Sebaiknya aku lebih cepat pulang.” Ujar Siwon berpamitan. “Annyeong Ryu Jin~a..” Siwon melambaikan tangan kirinya sementara tangan kanannya memegangi Hyun Ah.

“Annyeong Ryu Jin~a, lain kali kita bermain lagi.” Hyun Ah juga mengucapkan salam perpisahannya. Ryu Jin melambaikan tangannya setelah mobil Siwon beranjak pergi.

“Kau bermain apa saja seharian ini?” tanyaku pada putra kecilku.

“Eummm..” dia terlihat berpikir dan memutar bola matanya. “Hari ini aku bersama Siwon Samchhon seharian. Dan makan bersamanya.” Jawab Eun Kyo.

“Jinjja? Menyenangkan?” tnyaku lagi. Ryu Jin mengangguk kuat.

“Arasseo, sekarang waktu mandi dan tidur.” Aku membawa Ryu Jin ke kamar mandi lalu menidurkannya.

***

Hari ini hari libur. Aku tidak jadi pergi dari sini. Oke, mungkin itu hanya emosi sesaat. Kenyataannya aku masih berta meninggalkan tempat penuh kenangan ini. Aku bangkitdari tempat tidur, baru kali ini aku bangun terlambat. Saat hari libur mungkin tidak akan apa-apa. Jung Soo Oppa sudah bangun lebih dulu, bau harum masakan tercium di hidungku, memaksaku untuk menengok ke dapur.

“Eomma! Aku sedang memasak.” Ujar Ryu Jin ketika melihatku di ambang pintu dapur. Di berdiri diatas kursi dan membantu Jung Soo Oppa memasak sesuatu.

“Jinjja? Kau sedang masak apa?” tanyaku sambil mendekati mereka dan mencium aromanya.

“Masak apa Appa?” bisik Ryu Jin  di dekat telinga Jung Soo Oppa.

“Em.. ramyeon sayur ala Ryu Jin.” Balas Jung Soo Oppa berbisik di telinga Ryu Jin. Anak itu tertawa sambilmenutup mulutnya.

“Geli Appa! Ramyeon sayur ala Ryu Jin, Eomma!” jawab Ryu Jin.

“Eum.. kelihatannya enak… Boleh Eomma mencicipinya?” pintaku.

“Andwae!” anak itu terjun dari kursi dan melarangku. Dia menarik tanganku dan mendudukkanku di kursi di depan meja makan. “Eomma tunggu disini saja, kami akan menyiapkannya.” Ryu Jin kembali ke depan kompor dan memasukkan beberapa sayuran ke dalam panci.

“Jangan dekat-dekat Ryu Jin~a.” Aku memperingatinya sekaligus memperingati Jung Soo Oppa agar hati-hati dan memperhatikan apa yang Ryu Jin lakukan.

Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka selesai dengan acara memasak mereka. Pagi ini hatiku sedikit lega melihat momen ini, meski sikap Jung Soo Oppa menunjukkan seperti tidak pernah terjadi apa-apa, tidak apa lah. Aku juga sudah lelah dengan bebanku. Tapi dengan seperti ini bukan berarti aku memaafkannya. Setelah selesai makan Ryu Jin berlari keluar rumah.

“Terima kasih tidak mengungkitnya lagi pagi ini.” Ujar Jung Soo Oppa terdengar tulus. Mungkin jika aku berada di posisinya aku akan lebih stres dari dia. Sedikit demi sedikit aku mencoba mengerti, mungkin itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Tapi aku masih belum memutuskan apakah aku harus memaafkannya atau tidak.

“Jangan ungkit itu dulu biarkan aku tenang dan berpikir jernih atau aku akan mengambil keputusan yang salah.” Ujarku. Aku benar-benar tidak bis aberpikir jika terus direcoki dengan kata maaf dan penyesalan serta penjelasannya.

“Kyahahahaha!” suara Ryu Jin membuat kami terkejut anak itu tertawa sambil berteriak. Aku segera bangkit dan mendorong kursi ke sembarang arah. Begitu juga dengan Jung Soo Oppa. Berlari ke halaman melihat apa yang terjadi dengan Ryu Jin. Saat tiba di halaman, aku kembali terkejut.

“Appa..” panggilku lirih. Beliau sedang duduk di halaman sambil mencabuti rumput yang ada di halamanku.

“Kalian ini, apa terlalu sibuk bekerja? Hingga rumput setinggi ini kalian tidak memeperhatikannya?” Appa berbicara sambil terus mencabuti rumput. Kini cucu kesayangannya membantunya disampingnya menaruh rumput itu ke dalam keranjang sampah. Aku mendekati Appa.

“Appa.. kenapa tidak bilang akan kemari? Dan, aigoo.. berhenti, nanti biar aku yang menyuruh orang untuk mencbutnya.” Jung Soo Oppa memapah Appa untuk berdiri dan berhenti dari pekerjaannya.

“Dan kau Eun Kyo~ya, kau perempuan, harus lebihbisa memperhatikan hal sekecil ini.” Appa mulai dengan ceramahnya. Aku hanya terdiam, ada apa tiba-tiba Appa datang jauh-jauh kesini?

“Ah, bukan salahnya.” Jung Soo Oppa selalu membelaku.

“Kau selalu membelanya hingga dia menjadi manja seperti itu!” appa memukul kepala Jung Soo Oppa dengan keras, membuatnya meringis.

“Appa.. biar aku buatkan makanan untukmu, ayo kita masuk ke dalam.” Aku memegangi tangannya danmemaksanya masuk.

“Aku kesini bukan untuk mengemis makanan, aku hanya ingin bermain dengan cucuku.” Ujarnya melepaskan pegangan kami. Aku tak berani mebantah. Beliau mendekati Ryu Jin dan mengajaknya bermain. Aku melangkah meninggalkannya sambil sesekali menoleh pada mereka. Sedikit cemilan mungkin akan membuat mereka senang. Aku mengambil beberapa kue kering di dalam rumah.

“Kau yang menyuruhnya kemari?” tanyaku pada Jung Soo Oppa yang mengambil minuman di dalam kulkas.

“Ani, aku tidak memanggilnya. Tidka mungkin aku memintanya kemari tanpa menjemputnya.” Jawab Jung Soo Oppa, benar juga. Jung Soo Oppa orang yang span dengan orang tua.

“Aish! Jinjja! Kenapa Appa ada diwaktu yang sulit seperti ini?” aku mengeluh, bagaimana mungkin dia ada di waktu aku bertengkar dengan Jung Soo Oppa. Aku sedang tidak niat untuk terlihat mesra di hadapannya dan berpura-pura baik-baik saja.

Kubawa beberapa kue kering dan secangkir teh untuk Apap ynag sedang beristirahat di halaman depan bersama Ryu Jin. Ryu Jin terlihat riang dan seang bertemu dengan Kakeknya.

“Ini makanannya. Sepertinya enak jika bercanda sambil makan kue.” Aku meletakkannya di hadapan mereka.

“Ah, nanti saja. Sini Ryu Jin~a, duduk di pangkuanku.” Appa memangku Ryu Jin. “Dan kau Eun Kyo~ya, duduk disini. Aku ingin bicara.” Ujarnya terdengar mengerikan. Appa jikasedang serius seperti ini terlihat seperti seorang hakim.

“Jung Soo~ya, aku mendengar tentang perusahaanmu, sedang kesulitan?” tanya Appa pada Jung  Soo Oppa.

“Bukan begitu, bukan perusahaan, tapi aku yang bermasalah Abeoji.” Jawab Jung Soo Oppa. “Aku tidak merasa menandatangain berkas-berkas itu. Tapi anehnya aku tidak dipecat, hanya ganti rugi dan aku dimutasikan ke perusahaan cabang.” Lanjut Jung Soo Oppa.

“Begitu? Apa kau tidak mencrigai seseorang?” tanya Appa lagi sambil menyuap makanannya. Aku menjadi risih mendengar pembicaraan mereka.

“Appa, jangan membicarakan itu disaat seperti ini.” Aku mencoba menyela pembicaraan mereka. Appa menatapku tajam.

“Dan kau Eun Kyo~ya, bukannay kau bilang butik itu hanya sebagai sampingan dari hobbymu saja? Kenapa harus kerjasama dengan perusahaan besar? Kau seharusnya mengurus Ryu Jin.” Aku kini yang jadi sasarannya.

“Appa, itu hanya 3 bulan, dan kontraknya hampir berakhir. Kau tenang saja.” Aku mengambil Ryu Jin dalam pangkuannya. “Haish! Pembicaraan ini menjad serius dan menegangkan, lihat cucumu tidak mengerti sama sekali.” Aku mencium Ryu Jin. Wajahnya memang terlihat bingung. Sejak tadi dia sibuk memainkan kue yang ada didalam piring.

“Ahahahahaha, benar juga. Aigoo… Harabeoji lupa Ryu Jin~a, hari aku kemari kan untuk bermain denganmu. Kajja, kita masuk ke dalam.” Ajak Appa pada Ryu Jin sambil mengulurkan tangannya.

“Ani, kita bermain air saja.” Tolak Ryu Jin sambil turun dari pangkuanku dan berlari mengambil selang air. Anak itu menyalakan air dan bermain sambil tertawa.

Hee Rin’s POV

Ini sudah beberapa hari berlalu, namun aku tidak juga menemukan gadis itu. Dia pasti yang berada dibalik semua ini, aku yakin. Saat itu aku hanya minum dan tidak mengingat apapaun setelahnya, hanya dia yang berada disana bersamaku, yang lain aku tidak kenal sama sekali. Aish! Kim Jin Hye! Awas kau!

“Kau sudah makan?” seseorang menepuk bahuku. Siwon, akhir-akhir ini dia sedikit berubah, rajin mengajakku makan siang.

“Aku masih belum pesan.”

“Maaf sedikit terlambat.” Dia menrik kursi dihadapanku dan mulai mengambil buku menu dan memilihnya. Seorang pelayan menghampiri kami.

“Menu seperti biasa saja, benar kan?” Siwon menatapku meminta jawaban.

“Ye, seperti biasa saja, tapi lebih pedas.” Aku menambahkan.

“Untukku jangan pedas.” Ujar Siwon. Aku baru tau, orang sesempurna dia ternyata tidak tahan dengan rasa pedas. Aku ingat saat aku membuatkan ramyeon untuknya dan menuruti seleraku. Baru sesuap dia memakannya, mukanya langsung memerah aku tersenyum mengingat itu.

“Kenapa tersenyum?” tanyanya. Aku tidak sadar, bibirku menyungingkan senyum.

“Ani, aku hanya ingat ramyeon super pedas itu.”

“Jangan mengingat hal itu.” Ujarnya. “Kau lebih cantik saat tersenyum.” Lanjutnya tanpa melihatku, sibuk membuka buku menu.

“Kau menggodaku?”

“Ani, aku berkata jujur. Saat tersenyum seeprti itu kau terlihat lebih cantik.” Jawabnya.

“Padahal aku berharap kau menggodaku.” Suaraku lirih terdengar di telingaku. Sejak saat itu, aku jadi lebih sering memperhatikan lelaki yang duduk dihadapanku ini. Bukan karena rasa bersalah ynag menyebabkan aku lebih sering mengamatinya. Tapi lebih pada sebuah kesadaran dan seolah hatiku terbuka lebar, merasa lega. Dia tiadk mengungkit hal itu dan tidak marah sedikitpun. Itu mungkin saja karena dia tidak mempunyai perasaan padaku. Tapi aku, sepertinya aku mulai memikirkannnya. Dia terlihat lebih tampan akhir-akhir ini. Buakn berarti dia dulunya tidak tampan, aku yakin banyak yang mengejarnya dulu. Harusnya aku bersyukur menikah dengannya. Tanpa aku sadari dia selalu membelaku dan berada disampingku dengan masalah apapun, aku saja ynag terlalu fokus dengan kesakitanku dan sikap tidak menerimaku dengannya.

“Baiklah, nanti aku belajar dulu pada Jung Soo, bagaimana caranya menggoda.” Jawabnya sambil tertawa mengejek, dan anehnya aku tidak merasa dihina.

“Mengenai malam itu…” aku kembali ingin menjelaskan padanya.

“Aku sudah mendatangi Hotel itu dan menemukan beberapa informasi.” Ujarnya masih dengan sikap acuhnya.

“Apa yang kau dapatkan?” tanyaku antusias.

“Penyewa Hotel itu bukan kau ataupun Jung Soo. Jin Hye terlalu bodoh untuk melakukan permainan ini.” Ujarnya. Jawabannya tidak membuatku terlalu terkejut karena sejak awal aku sudah mencurigainya.

“Aku sudah menduga dia yang melakukannya.”

“Tapi kau tidak menemukan petunjuk apa-apa selain mencarinya seperti orang gila.” Jawabnya dingin.

“Yak! Kau mengejekku?” aku menjadi emosi. Sekarang aku yakin aku yang menjadi korban.

“Tapi saat kau tidak sadar, mungkinkah…” Siwon mendekatkan wajahnya padaku. “Melakukannya?” pertanyaannya membuatku terkejut setengah mati. Aku langsung memukul kepalanya.

“Yak! Kau ini bukannya menjawab, malah memukulku.” Protesnya.

“Mana aku tau.” Jawabku bingung.

“Kau yakin?” tanyanya, kali ini dengan nada menggoda bukan nada menyelidiki.

“Yak!” teriakku. Aku merasa jijik jika memngingat itu.

“Kalau begitu itu perlu dibuktikan.” Jawabny algi sambil tertawa menang. Aku menginjak kakinya dan menendangnya.

“Aish! Appo..”

“Salah siapa membicarakan hal itu saat makan begini? Membuatku kelhilangan selera makan saja.” Pelayan datang membawa nampan makanan.

“Silakan Tuan, Nyonya.” Ujar pelayan itu menghentikan pertengkaran kecil kami.

“Ah, ye, gamsahae.” Jawabku. Siwon segera mengambil makannya dan memakannya, sepertinya dia sudah lapar sekali.

“Hee Rin~a..” seseorang memanggilku dari belakang. Aku menoleh padanya. Ah, Kim Jin Oppa. Aku melambai padanya.

“Oppa..” panggilku sambil mencoba menelan makananku. Aku tersedak dan meraih minumanku lalu meminumnya. Kim Jin Oppa mengelus punggungku.

“Pelan-pelan…” uajrnya masih mengelus punggungku.

“Sedang apa kau kemari Oppa?” tanyaku. Kim Jin Oppa jarang datang ke tempat seperti ini.

“Aku hanya jalan-jalan.” Jawab Kim Jin Oppa sambil memandang Siwon dengan tatapan yang tidak biasa, aku menjadi bingung. “Siwon~ssi” sapa Kim Jin Oppa terlebih dahulu. Siwon mendongak dan hanya tersenyum tipis menjawab sapaannya. Aish! Harusnya dia balsa menyapa!

“Ayo duduk makan dulu Oppa.” Ajakku sambil menarik tangannya.

“Ani, Hee Rin~a.. aku harus pergi, aku hanya mampir untuk menyapamu, kebetulan aku tadi lewat sini. Aku pergi dulu..” tolaknya.

“Sayang sekali, padahal kit ajarang bertemu Oppa.. kau sibuk sekali sekarang.” Kim Jin Oppa mengelus rambutku lalu beranjak pergi.

“Lain kali kita atur jadwal lagi.” Ujarnya sebelum benar-benar pergi. Aku menghela nafas, dia adalh sepupuku. Orang yang paling akrab denganku setelah Jung Soo Oppa.

“Kenapa sambutanmu dingin?” aku menatap Siwon dan meminta penjelasan padanya.

“Ani, aku memang tidak terlalu kenal dengannya kan?”

“Tapi setidaknya katakan sesuatu, jangan hanya tersenyum tidak ikhlas seperti itu.”

“Aku tidak terlalu menyukainya.” Jawab Siwon. “Sudahlah janganmembicarakannya.”

“Hem.” Aku menyuap makananku.

“Kau sudah pernah menemui Eun Kyo?” pertanyaannya membuatku berhenti mengunyah makananku. Eun Kyo? Bertemu dengannya? Tidak pernah terpikirkan olehku menemuinya. Rasa bersalah itu masih membuatku merasa sedikit takut bertemu dengannya.

“Belum.” Jawabku malas. Bukan malas, hanya saja aku sedikit segan.

“Sebaiknya kau menemuinya sebelum menyesal.”

“Menyesal?” tanyaku.

“Eum, beberapa hari yang lalu aku bertemu Ryu Jin dan mengajaknya bermain. Dia menanyakan arti ‘cerai’ dariku. Apa anak sekecil itu sudah mempelajari kosa kata itu di sekolahnya?” pertanyaan dan cerita Siwon membuatku tersentak. Andwae! Tidak mungkin itu terjadi. Jika itu terjadi, aku semakin merasa bersalah.

“Mwo?” tanyaku menekan keterkejutanku.

“Meskipun kau tidak bersalah, tidak ada salahnya kau menemuinya dan membuatnya tenang.”

“Membuatnya tenang? Aku mungkin akan semakin dibencinya.” Jawabku pesimis.

“Kita tidak akan tau jika tidak melakukannya. Sebelum masalah ini semakin berlarut-larut.” Ujar Siwon. Apa yang dia kataakn ada benarnya. Meski aku tidak bersalah, aku juga seorang korban meski aku belum isa membuktikannya, tapi setidaknya aku harus meminta maaf padanya. Mianhae Jung Oppa. Keadaan rumah tanggamu sepertinya berbanding terbalik dengan rumah tanggaku yang semakin menunjukkan peningkatan.

Author’s POV

Sementara di tempat lain seorang anak kecil sedang asik bermain. Tidak perduli dengan permasalahan yang dihadapi oleh orang dewasa.

“Mrs. Kim, ajari aku bermain ini.” Ryu Jin membawa gitar kecil dan menyerahkannya pada Mrs. Kim.

“Kau mau belajar bermain ini? Sini aku ajari..” Mrs. Kim menarik Ryu Jin dan mendudukkannya disebuah kursi. Mereka bermain musik bersama meski iramany terdengar sumbang, tapi Ryu Jin terlihat sangat senang. Sesekali Mrs. Kim mengajaknya bercanda disela-sela pelajaran gitarnya yang terasa memekakkan telinga.

1

2

“Ah, aku sudah lelah!” Ryu Jin meletakkan gitar kecil itu dengan kasar dan menyapu keringatnya. Nafasnya mulai terswengal karena sejak tadi kerjanya hanya tertawa dan berteriak sambil memetik gitarnya.

“Aku mau dibacakan cerita saja.” Kali ini Ryu Jin mengambil sebuah buku dan duduk dipangkuan Mrs. Kim.

“Sini aku bacakan.” Ujar Mrs. Kim sambil membuka buku itu. Cerit ademi cerita keluar dari mulut Mrs. Kim. Sesekali Ryu Jin bertanya dan Mrs. Kim menjawab.

“Apa keluarga singa itu akan hidup bahagia?” tanya Ryu Jin sambil menengadah menatap Mrs. Kim.

“Nde, mereka hidup bahagia selamanya tidak akan terpisah.” Jawab Mrs. Kim yakin.

“Anak singa juga? Eomma singa tidak akan pergi? Tidak akan marah?” tanya Ryu Jin memberondong Mrs. Kim. Mrs. Kim terlihat bingung, meski memang Ryu Jin terkadang pertanyaannya aneh dan lugu, tapi kali ini Mrs. Kim merasakan ada tafsir yang berbeda dari pertanyaan Ryu Jin.

“Nde, tidak..” Mrs. Kim berhenti sebentar. “Akan.” Lanjutnya. Ryu Jin terlihat murung.

“Kau kenapa? Sebaiknya kita bermain yang lain saja. Kita main tebak-tebakan gambar, eotte?” ajak Mrs. Kim mengalihkan perhatian Ryu Jin dari dongeng itu.

“Eo! Baiklah.” Jawab Ryu Jin berubah bersemangat.

“Ini apa?”

“Pisang. Aku suka pisang.” Jawab Ryu jin saat Mrs. Kim memengangkat kartu bergambar pisang.

“Kalau in?”

“Stroberri.” Jawab Ryu Jin lagi. “Appa suka stroberri.” Tambahnya.

“Kalau ini?”

“Anggur.”

“Ini?” tanya Mrs. Kim mengacungkan gambar seekor binatang. Ryu Jin belum terlalu hapal dengan binatang selain singa dan dan jerapah serta dinosaurus.

“Itu…” jawabnya lirih sambil memainkan kakinya seraya berpikir.

“Dom..” Mrs. Kim memberikan bantuan.

“Dom…” Ryu Jin mengulangnya namun tidak mampu menjawabnya.

“Domba.” Jawab Mrs. Kim.

“Kalau yang ini?”

“Itu Jerapah!” Ryu Jin menjawab sambil berteriak dan sangat semangat karena dia hapal betul ciri-ciri gajah.

“Yang ini?” Ryu Jin kembali terdiam.

“U…”

“U..” Ryu Jin kembali mengulang dan tak mampu melanjutkan.

“Ular.” Jawab Mrs. Kim.

“Ular.” Ulang Ryu Jin kembali tidak semangat.

3

4

“Mrs. Kim aku lelah, aku lapar..” Ryu Jin bangkit dan memegangi perutnya.

“Aigo.. sekarang sudah siang, tidak terasa Ryu Jin~a..” ujarMrs. Kim. “Ini makananmu…” Mrs. Kim membawa kotak makanan untuk Ryu Jin dan menyuapinya. Sesekali Ryu Jin menolak.

“Aigo.. kau bilang lapar, kenapa menolak?”

“Aku haus.” Jawabnya tanpa memperdulikan Mrs. Kim yang hendak menyuapinya.

“Ini minumanmu, ayo kita bersulang.” Mrs. Kim dan Ryu Jin mengangkat minumannya. Ryu Jin dengan sebotol susu sedankan Mrs. Kim dengan minuman kotaknya.

5

6

***

Sementara itu, seseorang nampak gelisah duduk disebuah restoran.  Saat seseorang menepuk bahunya, baru dia merasa lega.

“Jin Hye~ya.” Ujar orang itu menyapa Jin Hye yang sudah lama menunggu duduk dengan gelisah.

“Aish! Kim Jin Oppa! Lama sekali!” keluh Jin Hye pada Kim Jin.

“Hahahaha, santai saja.” Kim Jin mengambil duduk berhadapan dengan Jin Hye.

“Bagaimana? Apa kau sudah memantaunya. Aish! Aku sudah tidak sabar mendengar mereka berpisah.” Ujar Jin Hye dengan licik. Dia membawa kucingnya dan emmbelainya.

“Sabar, aku rasa Eun Kyo bukan orang terburu-buru.”

“Tapai bagaimaan kalau mereka tidak jadi berpisah?” tanya Jin Hye khawatir.

“Kenapa kau bersemangat sekali membuat mereka berpisah?” tanya Kim Jin.

“Bukannya kau juag seperti itu?”

“Ahahahahaha, aku memang menginginkannya. aku membutuhkannya juga di perusahaanku.” Jawab Kim Jin. “Kalau kau, aku tau motifmu atas semua ini.” Lanjut Kim Jin.

“Ahahaha. Aku serius kali ini Oppa.” Jawab Jin Hye dengan yakin.

“Semoga saja, dan tidak menghambat rencana kita. Aku sudah mengorbankan rumah tangga adik kesayanganku.” Kim Jin menyeruput kopi yang baru saja datang.

“Bagaimana dengan kameranya Oppa?” tanya Jin Hye.

“Kamera?”

“Kamera otomatis dengan sensor gerak dan wajah.”

“Kamera? Aish! Aku melupakannya!” Kim Jin menepuk dahinya.

“Oppa! Kau ini bagaimana? Tidak mungkin! Bagaimana kalau ada yang menemukannya?” tanya Jin Hye.

“Tenang saja, besok aku akan mengambilnya.”

“Kau ini, kalau itu sampai ke media, bisa hancur nama baik kita, bukankah kita jug aterekam di dalamnya? Oppa! Saat kita meletakkan mereka di atas tempat tidur!” teriak Jin Hye.

“Bisa kau tenang sedikit? Eoh?! Aku juga sedang memikirkannnya!”

“Oppa! Kenapa bisa sebodoh itu?!”

“Yak! Kau juga melupakannya!”

“Aku kan hanya fokus pada posisi mereka dan melepas bajunya saja! Setelah mereka pergi harusnya kau kembali atau setidaknya kau menungguinya!”

“Aish! Jinjja! Aku kira kau yang mengambilnya karena saat aku kesana, kamar itu sudah terkunci dan dibersihkan para pelayan Hotel.” Jawab Kim Jin membela diri.

“Yak! Bagaimana mungkin! Argh!” jin Hye terlihat sangat emosi hingga kucing yang ada di pangkuannya menegang.

***

“Sajangnim.. ada yang ingin bertemu dengan anda.” Siwon memencet loudspeaker pada pesawat telponnya dan menjawabnya.

“Nugu?” tanyanaya.

“Seseorang dari Hotel Ramada. Dia bilag ada yang ingin dia bicarakan.” Jawab Sekretaris Siwon, Fay.

“Hotel Ramada?” gumam Siwon pelan, sepertinya dia tidak pernah punya permasalahan apapun dengan Hotel itu. Sesaat kemudian dia teringat sesuatu.

“Ah, persilakan dia masuk.” Putus Siwon akhirnya. Beberapa detik berlalu pintu ruangan Siwon diketuk oleh seseorang.

“Silakan masuk.” Sahhut Siwon. Seseorang masuk dengan menggunakan pakaian lengkap rapi.

“Maaf, sebelumnya Tuan. Aku datang tanpa membuat janji dengan Anda.” Ujarnya.

“Ah, gwaenchana, katakan apa ada sesuatu yang penting?” tanya Siwon.

“Ini… ini mengenai.. maaf jika aku lancang.” Seseorang menyerahkan amplop besar di meja tamu Siwon. Siwon melirik amplop itu.

“Silakan Tuan periksa sendiri.” Ujarnya.

“Apa ini?” siwon mengambil amplop itu dan membukanya, dia mengambil isinya. Sebuah kaset. Dia menyalakan televisi dan memutar isi dari kaset tersebut.

Disana terpampang jelas kejadian dimana Jung Soo dan Hee Rin pada malam itu. Siwon memperhatikannay dengan seksama, bukan pada kejadian saat Jung Soo dan Hee Rin di atas tempat tidur, namun pada orang yang sebelumnya membawa mereka ke dalam kamar itu. Emosi Siwon memuncak, rahangnya mengatup kuat.

“Aku rasa in sesuatu yang penting untukmu Tuan.” Ujar seorang lelaki yang juga ikut memperhatikan kejadian itu.

“Ada yang melihatnya selain dirimu?” tanya Siwon sambil memainkan pena yang ada di tangannya.

“Tidak ada Tuan, hanya aku saja. Aku ingat Tuan menanyakan kamar itu beberapa hari yang lalu.” Jawab lelaki itu.

“Siapa namamu?”

“Jung In Suk.” Jawabnya.

“Terima kasih sudah menyerahkan ini padaku. Ini sangat penting.” Siwon merangkul In Suk dan memasukkan sebuah cek di dalam sakunya.

“Ani, Tuan. Aku tidak mengharapkan ini. Kau tenang saja, aku juga tidak akan mengatakanya pada siapapun.” Ujar In Suk membuat Siwon terperangah. Masih adakah orang sebaik itu di jaman seperti ini? In Suk tersenyum.

“Jika kau jadi Tuan, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Tapi maaf, aku tidak bisa menerimanya. Seandainya aku yang berada di posisi Tuan pasti akan sangat bingung.” Ujarnya lagi seolah mengerti apa yang Siwon rasakan.

“Kalau kau tidak menerimanya, aku yang akan merasa tidak enak. Kau sudah menikah?” tanya Siwon.

“Ye, aku memiliki seorang anak.” Jawab In Suk.

“Orang yang ada di dalam video itu juga memiliki seorang anak. Aku mewakilinya untuk berterima kasih padamu.”

“Ah, ye, Tuan. Aku hanya ingin membantu menyelesaikan kesalah pahaman ini. Ani. Lancang sekali aku mengatakan ini kesalah pahaman seolah aku tau apa yang terjadi.” In Suk memukul mulutnya.

“Tindakanmu memang benar. Aku sangat berterima kasih, tapi aku titip ini untuk anakmu.” Siwon kembali menyelipkan cek itu ke dalam saku jasnya In Suk. Awalnya In Suk menolak.

“Aku bukan memberikannya untukmu, tapi pada anakmu, untuk bekalnya menjadi orang baik dan sukses.” Cegah Siwon, mau tidak mau In Suk menerimanya.

“Tuan, aku tidak bermaksud untuk.”

“Sudah lah, aku tau maksudmu. Aku sangat berterima kasih.” Siwon memotong pembicaraan In Suk dan memaksanya menerima cek itu.

“Ah, ye. Gamsahamnida Tuan. Sebaiknya aku permisi.” In Suk pamit dan meninggalkan tempat itu. Siwon memegang kaset video itu dengan tersenyum.

“Sekarang sudah jelas.” Ujarnya sambil meraih gagang telpon.

“Hee Rin~a, kau temui Eun Kyo segera, katakan padanya bahwa ini hanya kesalah pahaman saja. Kau tidak benar-benar melakukannya. Tidak ada yang terjadi antara kau dan Jung Soo.” Ujar Siwon tanpa basa-basi. Membuat Hee Rin yang menerima telponnya menjadi terkejut dan bingung.

“Nde? Apa maksudmu?” tanya Hee Rin tidak mengerti.

“Katakan saja begitu, jangan banyak tanya.” Ujar Siwon memutus telponnya.

Eun Kyo’s POV

Aku masih di tempat ini, demi Ryu Jin. Aku mengesampingkan segala ego dan sakit hatiku demi anak itu. Meski setiap melihat Jung Soo Oppa aku seperti disiram air panas. Jung Soo Oppa juga terlihat lebih ramah padaku, bukan karena dulunya dia tidak ramah. Aku tau dulu dia sangat mencintaiku. Tapi saat ini entah kenapa sebagian hatiku menyangkal keyakinan itu. Aku tidak tau mana ynag harus kau pegang.

“Eomma…” suara itu, panggilan itu yang membuatku bertahan meski sedikit sakit. Aku tidak ingin kehilangan tawanya dan melihatnya murung, apalagi menangis seperti pagi itu.

“Nde?” dia memeluk leher saat aku duduk di tepi tempat tidur.

“Hari ini hari libur, ayo kita jalan Eomma..” ajaknya.

“Tapi Appamu sedang tidak bisa sayang.. dia banyak pekerjaan yang harus di kerjakan.” Aku melirik Jung Soo Oppa yang masih berkencan dengan laptopnya di ruang kerjanya yang hanya terpisah kaca transparan dengan kamar kami. Ryu Jin melirik Jung Soo Oppa dengan kecewa.

“Bagaimana kalau kita pergi bersama Siwon samchon saja? Eoh? Ne? Eomma.. eotte? Eoh?” Ryu Jin merengek mengajakku.

“Aish! Bagaimana bisa begitu Ryu Jin~a? Eoh? Appa bagaimana kalau kita tinggalkan?” dia kelihatan berpikir.

“Biarkan saja, salah sendiri libur seperti in masih sibuk.” Jawabnya dengan cemberut. Jung Soo Oppa melirik kepada kami sebentar. Dengan tatapan meminta maaf, memandang kami dengan menyesal.

“Begini saja, kita tunggu Appamu selesai saja, bagaimana?” aku memberikannya jalan tengah untuk membuatny berhenti merengek.

“Shireo… bagaimana kalau tidak selesai?” Ryu Jin masih merengek, dia hampir merajuk.

“Kalau beitu tanya saja Appamu, sana.” Aku menurunkannnya dari tempat tidur dan menepuk pantatnya menyuruhnya untuk mendatangi Jung Soo Oppa. Rengekan demi rengekan terdengar di telingaku, aku meninggalkan mereka berdua untuk mencuci baju. Entah Ryu Jin berhasil atau tidak.

Aku menunggui cucianku yang masih berada di dalam mesin cuci, namun sekali lagi Ryu Jin mengejutkanku.

“Eomma. Kit aberangkat!” rupanya anak ini berhasil membujuk Appanya. Aku diam saja dan tersenyum. “Kajja, Eomma…” Ryu Jin menarik tanganku dan membawaku kembali ke kamar. Jung Soo Oppa sudah tidak lagi berada di ruang kerjanya, tapi sedang mengganti  bajunya.

“Memangnya kalian mau kemana?” tanyaku malas.

“Kita arena bermain saja.” Jawab Ryu Jin. Aku menoleh pada Jung Soo Oppa. Dia mengangguk.

“Bagaimana mungkin aku bisa menolaknya.” Ujar Jung Soo Oppa. “Eoh? Eoh? Eoh? Aigoo, permintaan itu sungguh tidak sanggup aku tolak.” Ujar Jung Soo Oppa menirukan rengekan Ryu Jin. Aku hanya tertawa.

“Kalau begitu cepat ganti bajumu.” Aku menyyuruh Ryu Jin mengganti bajunya sendiri.” Jung Soo Oppa mendorong anak itu keluar.

“Terima kasih.” Ujar Jung Soo Oppa.

“Untuk apa?”

“Karena kau mau pergi bersama kami, aku tau kau malas.” Jawabnya.

“Seperti katamu, aku tidak bisa menolak rengekannya.” Ujarku. Jung Soo Oppa mendekatiku.

“Jangan mendekat.” Aku memberikan peringatan padanya. Oppa, aku belum memaafkanmu jadi jangan coba-coba menyentuhku.

“Aku belum memaafkanmu.” Ujarku dingin.

“Nde, arasseo.” Jawabnya.

 “Mainhae.” Ujarnya lagi. Aku langsung menatapnya tajam dan segera membekap mulutnya.

“Bisakah kau berhenti mengatakan kata itu? Eoh?! Kau membuatku kesal Oppa!” aku mendorong tubuhya hingga terhempas ke atas tempat tidur. Aku mendengus kesal, tiba-tiba aku teringat cucianku. Aku pergi meninggalkannya.

***

“Ryu Jin~a, hati-hati.” Aku memperhatikannya yang sedang mencobamenaiki sebuah arena permainan. Ryu Jin terlihat senang, bersama Appanya. Aku jadi bimbang untuk meneruskan semua keinginanku. Park Eun Kyo! Jika kau lemah seperti ini apa yang dikatakan para istri di dunia ini? Kau terlalu lemah.

“Yeobo, kau mau makan sesuatu?” suara Jung Soo Oppa menawariku. Aku menggeleng.

“Biar aku belikan sesuatu.” Jung Soo Oppa berlalu dariku. Aku terus mengawasi Ryu Jin kemanapun dia pergi aku mengekorinya dengan mataku. Hari  ini lumayan padat, banyak keluarga yang berlibur disini. Darimana anak itu tau ada tempat seperti ini. Ryu Jin nampak berlari ke arahku.

“Ryu Jin~a, kenapa kau tau tempat ini? Eoh?” tanyaku memangku anak itu yang terlihat sangat lelah, nafasnya tersengal. “Aigoo… sepertinya sangat melelahkan.”

“Ahahahahaha. Tapi menyenangkan Eomma, minggu depan kita kesini lagi, ne?” ujarnya sambil terus menganguk mengajakku mengangguk. Aku mencubit pipinya.

“Kau belum menjawab pertanyaan Eomma, darimana kau tau tempat ini?” hem?” kucium bibirnya dengan menahan kepalanya menggunakan kedua tanganku.

“Siwon Sanchon.” Jawabnya menyebutkan sebuah nama. Hufh, betapa aku telah lalai terhadap anak ini. Kemana saja aku selama ini? Bahkan sekalipun tidak pernah membawanya ke tempat ini. Dia bahkan tau tempat ini dari orang lain.

“Mau bermain apa lagi? Ayo naik bersama Eomma.”

“Aku mau roller coaster!” teriaknya sambil mengangkat kedua tangannya.

“Ah, bukannya itu berbahaya?” tanyaku sedikit ngeri. Terakhir kali aku naik rollecoaster bersama Jung Soo Oppa, aku menangis dan seluruh tubuhku bergetar dan harus dipapah Jung Soo Oppa saat berjalan. Itu pertama kalinya aku naik roller coaster sekaligus yang terakhir, aku benci permainan yang memacu adrenalin.

“Ada dis ediakan untuk anak-anak.” Ujar Jung Soo Oppa. Aku dan Ryu Jin menolah padanya. Jung Soo Oppa membawa bugkusan makanan dan minuman di tangannya. Aku menyambut minumannya dan menyodorkan sedotannya ke mulut Ryu Jin. Sepertinya dia sangat kehausan.

“Kau saja Oppa yang temani dia naik itu.” Aku menyerahkan Ryu Jin pada Jung Soo Oppa, tapi Ryu Jin memeluk leherku dengan erat.

“Aku belum pernah naik bersama Eomma. Appa shireo!” ujar Ryu Jin menolak. Aku menatap Jung Soo Oppa meminta pertolongan padanya.

“Oppa…”

“Lakukan saja, itu sebentar saja dan tidak secepat untuk orang dewasa.” Ujar Jung Soo Oppa setengah berbisik.

“Tapi…”

“Kajja, Eomma…” lagi-lagi Ryu Jin merengek padaku, dan sungguh aku tidak akan pernah bisa menolak permintaan anak ini. Meskipun ini mempertaruhkan keberanianku dan harus berhadapan dengan ketakutanku.

“Baiklah.” Ujarku akhirnya.

“Yey…!” Ryu Jin berteriak girang. Aku menuju antrian roller coaster itu dan duduk di sebuah kereta seukuran anak-anak. Saat benda panjang itu bergerak, aku sempat menoleh pada Jung Soo Oppa. Dia memberiku semangat. Aku mengumpulkan segala keberanianku.

“Kau taku Eomma?” tanya Ryu Jin menyentuh tanganku.

“Eoh? A, ani. Hanya saja Eomma lagi tidak enak badan.” Jawabku terbata.

“Ahahaha, ini menyenangkan Eomma..” ujarnya tertawa saat alat itu membawa kami sedikit lebih cepat. Aku berpegangan kuat. Aish! Jika saja bukan karena Ryu Jin aku tidak akan pernah menaiki benda ini! Aku berteriak begitu juga Ryu Jin saat benda itu naik keatas.

“Whooooooaaaaaaa….” teriak Ryu Jin. Aku menutup mulutku agar tidak lebih keras berteriak. Ck! Meski tidak sengeri waktu itu tetap saja aku takut. Ryu Jin terlihat senang, beberapa kali dia melambai kepada Jung Soo Oppa.

***

Aku masih berkutat dengan desainku saat ponselku berdering beberapa kali. Awalnya aku mengacuhkannya namun setelah yang kelima kali berdering, aku tak bisa lagi mengacuhkannya. Aku mengambilnya lalu menarik kata ‘answer’ kearah kanan. Meletakkan ponsel itu di telinga.

“Yeoboseyo?” ujar suara diseberang sana. Seorang perempuan.

“Ne, Yeoboseyo?” balasku.

“Eun Kyo Onnie?” tanyanya.

“Benar, ini aku sendiri.”

“Onnie, aku tau mungkin kau sedang sibuk. Tapi Onnie, bisakah kita bicara sebentar saja?” ujarnya langsung tanpa menyebutkan namanya.

“Maaf, ini siapa?” tanyaku sekali lagi.

“Mian Onnie. Ini… Hee Rin.” Jawabnya lemah. Aku terdiam beberapa saat. Gadis ini, untuk apa menemuiku?

“Onnie? Kau masih disana?” tanyanya memecah keheningan kami.

“Ah, ne. Waeyo? Ada apa ingin bertemu denganku?” ujarku mencoba ramah, tapi aku tau itu sama sekali tidak ramah, nada suaraku berubah.

“Maaf, bisa kita bicarakan secara langsung saja? Di restoran kita bertemu terakhir kali.” Ujarnya. Aku terdiam.

“Onnie, diammu kuartikan ‘iya’. Aku akan segera kesana. Aku tunggu kau disana. Anyyeong.” Ujarnya memutus percakapan kami. Ais! Gadis ini! Dia memaksaku? Itu artinya pemaksaan kan?

“Apa maksudnya aku tungu kau disana? Yak! Aku belum mengatakan iya!” teriakku sambil mencoret desain yang sejak tadi tidak bisa aku selesaikan. Aku mengambil jaket tebalku dan meluncur ke tempat itu. Sebenarnya apa yang ingin dia jelaskan? Malam tu lagi? Aku sudah mulai tenang dia kembali mengungkitnya!

***

Aku menunggunya sudah satu jam disini. Tapi batang hidungnya tidak terlihat sama sekali! Aish! Menyebalkan! Mana buktinya dia menungguku?

“Aish!” aku tidak tahan lagi, aku sudah menghabis dua gelas jus melon tapi dia sama sekali tidak menampakan dirinya.

“Eun Kyo~ya..” seseorang memanggilku dari belakang.

“Benar kau Eun Kyo?” tanya wanita itu saa aku menoleh padanya. Aku tidak merasa mengenalnya, wajahku terlihat bingung.

“Aish! Kau sudah berubah sekarang. Aku Kim Jin Hye, kita pernah satu kelas saat sekolah dulu.” Aku mengingat-ingat wajah gadis ini. Dia membawa kucing di tangannya. Dandanannya seperti bukan gadis sembarangan.

“Jin Hye, aku ingat.” Jawabku pelan. Dia adalah gadis populer di sekolah dulu. Tapi banyak sekali yang berubah darinya, dia terlihat berpuluh kali lipat dibandingkan sekolah dulu.

“Untunglah kau ingat padaku. Bagaimana kabarmu?”

Author’s POV

Eun Kyo dan Jin Hye terlibat pembicaraan hangat. Sebenarnya dulunya mereka berdua tidak pernah bertegur sapa. Sangat jauh berbeda, Jin Hye berubah menjadi sosok yang ramah di hadapan Eun Kyo, padahal dulunya dia menganggap Eun Kyo remeh karena memang mereka tidak berteman sama sekali. Eun Kyo masih bingung tapi mencoba untuk akrab denga Jin Hye mengigat Jin Hye lah yang menyapanya terlebih dahulu.

“Kau sudah berkeluarga?” tanya Jin Hye.

“Ye, aku sudah punya anak.” Jawab Eun Kyo.

“Omo, Eun Kyo~ya, kau masih terlihat masih single.” Jawab Jin Hye menyanjung. Eun Kyo tersipu malu.

“Kau ini berlebihan.” Jawab Eun Kyo.

“Beraap umur anakmu?”

“September ini 4 tahun.”

“Pasti sedang lucu-lucunya.”

“Saat-saat ingin ingin tahu lebih.” Jawab Eun Kyo. “Bagaimana denganmu sendiri?”

“Aku masih sendiri.” Jawab Jin Hye. “Tapi mungkin tidak lama lagi jika sudah saatnya, akan menyusulmu.” Jin Hye mendekat pada Eun Kyo dan tertawa.

“Onnie, maaf aku terlambat, kaupasti sudah lama menunggu kan? Aigoo Onnie, mianhae.” Ujar Hee Rin tiba-tiba datang dan menunduk sebagai tanda permintaan maafnya yang tulus. Jin Hye tersenyum sinis pada Hee Rin. Hee Rin terkejut saat dia mengangkat kepalanya dan mendapati Jin Hye duduk di hadapan Eun Kyo. Dadanya berdebar keras, apa yang dilakukan penyihir ini disini? Tanya Hee Rin dalam hati.

“Shin  Hee Rin…” panggil Jin Hye angkuh. “Ah, ani, Park Hee Rin.” Lanjutnya masih dengan nada angkuhnya. Hee in ingin sekali menampar wanita ini.

“Bagaimana hubunganmu dengan Park Jung Soo, pengusaha muda itu Hee Rin~a?” pertanyaan Jin Hye membuat emosi Eun Kyo kembali menyeruak, namun dia diam saja.

“Apa maksudmu Jin Hye~ssi?” tanya Hee Rin dengan geram.

“Bukankah skandalmu selalu menjadi headline news dikalangan terbatas, Shin Hee Rin?” Jin Hye bangkit dan Hee Rin mendekatinya, dia sudah melayangkan tangannya ke udara, bersiap untuk memukul wajah Jin Hye namun Eun Kyo menahannya.

“Kalian ini apa-apaan?” Eun Kyo menengahi. “Kalian sudah saling kenal?” tanya Eun Kyo bingung, karena sejak Hee Rin datang suasana berubah menjadi panas. Jin Hye sengaja membuat suasan menjadi keruh.

“Siapa yang tidak kenal dengan Shin Hee Rin, seorang gadis yang selalu mengalihkan kekasih orang lain. Aku mengenalnya di luar negri, saat kuliah dulu. Sebaiknya kau hati-hati Eun Kyo~ya.” Ujar Jin Hye sambil beranjak pergi dari sana, menyisakan emosi di dalam diri Hee Rin dan pertanyaan di benak Eun Kyo.

“Apa benar itu  Hee Rin?” tanya Eun Kyo tajam.

“Benar apanya Onnie?’ tanya Hee Rin masih memandangi kepergian Jin Hye dengan kesal.

“Bahkan orang lain sudah mengetahui hubungan kalian.” Eun Kyo meraih tasnya dengan kasar dan meninggalkan Hee Rin yang belum sempat untuk duduk. Untung saja tempat makan itu sepi.

“Onnie, Onnie, tunggu sebentar, biar aku jelaskan.” Ujar Hee Rin menarik tangan Eun Kyo. Namun Eun Kyo melibasnya.

“Aku tidak butuh penjelasan.” Ujar Eun Kyo terus melangkah hingga di tepi jalan. Hee Rin menahannya.

“Arasseo, aku minta maaf aku salah. Tapi Onnie, aku mohon jangan tinggalkan Jung Soo Oppa. Aku, aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Aku tidak mau Ryu Jin yang jadi korban.” Jelas Hee Rin pada Eun Kyo.

“Lalu apa kau pernah berpikir tentang Ryu Jin saat melakukan itu?” Eun Kyo mendorong Hee Rin, membuat anita itu mundur beberapa langkah.

“Onnie, aku mohon.. tolong maafkan Jung Soo Oppa.” Ujar Hee Rin.

“Memangnya kau siapa menyuruhku memaafkan Jung Soo Oppa? Heoh?”

“Onnie, aku tidak tau harus berbuat apa, tapi benar-benar hanya sebuah kesalah pahaman Onnie..” suara Hee Rin memelas namun tidak dipedulikan Eun Kyo. Dia berbalik dan melangkah turun ke jalan raya. Eun Kyo tidak melihat bahwa disaat bersamaan dia melangkah, sebuah bus besar melintas di depannya. Hee Rin mencoba menarik tangan Eun Kyo.

“Onnie!” teriaknya sambil mencoba menarik Eun Kyo. Tapi Eun Kyo memberikan reaksi berlawanan, hinngga mereka berdua saling mendorong, dan bus itu sukses menghantam tubuh Euun Kyo dengan sangat keras.

“Onnie….!!” Hee Rin berteriak keras memnggil Eun Kyo, namun semuanya tidak bisa di cegah lagi dengans ebuah teriakan. Orang-orang berlarian menolong Eun Kyo yang bersimbah darah.

***

Hee Rin tergesa-gesa berlari mengikuti brankar yang membawa tubuh lunglai Eun Kyo yang penuh darah. Kakinya sudah telanjang, heels yang tadinya ada dikakinya kini melayang entah kemana, dalam pikirannya hanya ingin Eun Kyo selamat agar megurangi rasa bersalahnya.

“Onnie, bertahanlah.” Hee Rin berhenti di pintu masuk ruang operasi. Dan menangis. Dia menghubungi Siwon dan Jung Soo Oppa mengabari berita duka ini.

Jung Soo’s POV

Aku menerima telpon dari Hee Rin yang menangis sesenggukan. Dia mengatakan Eun Kyo kecelakaan dan sekarang lagi ada di ruang operasi. Aku tersentak tidak percaya. Mana mungkin? Bukannya di jam seperti ini biasanya dia sibuk? Kenapa harus terjadi? Kenapa ada Hee Rin? Jangan katakan mereka bertemu dan..

Aku terus berlari di sepanjang koridor rumah sakit yang terlihat sepi. Aku terus berlari dan mencari ruang operasi. Saat berlari aku melihat di ujung sana duduk seorang wanita bersama seorang pria di kursi tunggu di depan ruang operas yang tertulis diatas pintu.

“Hee Rin~a, bagaimana keadaannya?” tanyaku sambil mendekat ke pintu masuk ruangan dimana Eun Kyo sedang ditangani.

“Dia masih ditangani, kita hanya bisa berdo’a.” Uajr Siwon sambil merangkul Hee Rin yang terlihat menangis. Pipinya basah oleh airmata.

“Oppa, maafkan aku, jika saja aku tidak meminta untuk bertemu dengannya, tidak akan terjadi seperti ini.” Ujarnya dengan menangis.

“Sudahlah, bagaimana keadaannya sekarang?”

“Aku tidak tau, tapi sejak aku mebawanya, dia tidak sadarkan diri.” Hee Rin menjelaskan sambil sesenggukan, Siwon mencoba menenangkannya. Baru kali ini aku bertemu dengannya kembali setelah kejadian itu.

“Aku dan dia sedang janji bertemu di suatu tempat, tapi aku terlambat. Tapi saat aku sampai disana, sudah ada Jin Hye dan berbicara yang tidak-tidak dengan Onnie.” Ujar Hee Rin mencoba menjelaskan kejadian yang membuat Eun Kyo seperti ini.

“Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan, tapi saat aku datang, dia langsung menanyakanpadaku bagaimana hubunganku denganmu Oppa..” terus Hee Rin bercerita.

“Nugu?” tanyaku masih tidak mengerti, aku tidak bisa mengerti pembicaraan Hee Rin karena otakku dipenuhi oleh Eun Kyo.

“Jin Hye.” Jawab Hee Rin. “Pertanyaannya mungkin membuat Onnie marah dan dia meninggalkanmu. Aku berusaha menjelaskannya tapi kami malah berdebat di pinggir jalan dan sebuah bus menabraknya.” Lanajut Hee Rin terbata. Siwo mengelus punggungnya. Aku mengerti wanita ini sanga takut, hingga kakinya tak berralaskan sepatu.

“Aku mengerti, tidak perlu minta maaf, aku bisa membayangkan kejadiannya.” Ujarku menenangkan Hee Rin. Tapi aku mengerti bagaimana Eun Kyo saat marah.

“Mana keluarga dari Nyonya Park Eun Kyo?” seseorang keluar dari ruang operasi.

“Aku, aku suaminya.” Aku langsung mendekati orangyang berpakaian serba biru itu.

“Kami perlu darah sekarang juga, dia kehilanganbanyak darah. B” ujar orang itu.

“Apa persediaan disini habis?” tanyaku. Keman aaku mencari orang bergolongan darah B?

“Tadinya ada tapi sudah dipakai oleh pasien lain.” Jawabnya.

“Aku B. Ambil punyaku saja.” Siwon menyingsingkan bajunya dan berjalan mengikuti perawat yang ingin memeriksanya. Terima kasih Tuhan.

“Kau tenang saja.” Siwon menenangkanku.

Beberapa jam berlalu serasa ribuan tahun lamanya. Detik demi detik bedetak semakin lamban. Aku tersiksa dalam penantian keputusan keadaan Eun Kyo. Aku tidak ingin kehilangannya saat ini. Kehilanganya karena kesalahnku saja aku menolaknya, apalagi karena sebuahkematian. Beberapa orang keluar dari ruangan operasi itu, aku langsung bangkit dan menghampirinya.

“Bagaimana keadaannya?” tanyaku tidak sabar.

“Masa kritisnya telah berlalu, tapi dia…” orang itu menatap beberapa orang disampingnya. “Kita bicara di ruangan saja.” Dia mempersilakanku untuk mengikutinya. Aku melirik sebuah papan nama ynag terpampang di pintunya. Dr. Lee So Jung. Ahli bedah.

“Silakan duduk.” Dia mempersilahkan aku untuk duduk, aku duduk di hadapannya.

“Anda..” dia membuka pembicaraan.

“Park Jung Soo, suaminya.” Jawabku.

“Tuan Park, semuanya sudah kami lakukan dengan penuh perjuangan. Istri Anda sekarang lagi koma.” Ujarnya. Koma? Apa maksudnya dengan koma.

“Kami sudah mengusahakannya dengan maksimal. Tapi ada pendarahan dalam otaknya. Benturan keras itu membuatnya koma. Dan kami akan mengoperasinya sekali lagi, untuk menangani pendarahan di otaknya.” Ujarnya. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.

“Lakukan yang terbaik Dok, aku bisa bayar berapa saja.” Aku menjabat tangannya.

“Baiklah, besok jam 9 akan kami lakukan oprasi yang kedua. Sementara aku akan memindahkannya ke ruangan ICU.” Aku bangkit dan keluar dari ruangan dokter Lee. Tak berapa lama Dokter Lee keluar.

“Boleh aku menengoknya? Di ruangan ICU?” pintaku.

“Tentu saja boleh, silakan ikuti saya.” Aku berjalan mengikuti Dokter Lee menuju ruangan ICU. Setelah sampai disana. Siwon dan Hee Rin suda erdiri di depan ruangan kaca Eun Kyo berada. Aku mendekatinya sambilmenguatkan hatiku. Aku masih mendengar Hee Rin menyalahkan dirinya.

Saat sampai di ruangan kaca itu. Aku melihat tubuhnya lunglai dan pucat tanpa darah. Putih bersih dengan kepala penuh dengan perban. Besok pagi dia harus menjalani sejumlah oprasei lagi. Rasany atidak sanggup melihatnya seperti itu. Aku juga masih mendengar Hee Rin meminta maaf, tapi aku fokus memandangi Eun Kyo dengan beebrapa selang di badannya.

^_^

Ini sudah berjalan sebulan setelah kececlakaan itu,dan Eun Kyo masih belum sadarkan diri. Dokter Lee bilang, keadaan psikologis memperngaruhi keadaannya. Aku tau masalah itu. Aku menyiapkan beberapa peralatan sekolah Ryu Jin. Setiap hari In Young Noona berusaha menyempatkan diri untuk mampir kesini dan menengok Ryu Jin disela padatnya jadwal siarannya.

“Ayo Ryu Jin~a, berangkat sekolah, sepulang dari sekolah kita menengok Eomma.” Ujarku. Saat mendengar ingin mennengok Eommanya, Ryu Jin selalu lebih bersemangat, meski saat sampai di rumah sakit dia selalu menangis meminta Eommanya untuk bangun. Aku tidak bisa untuk tidak membawa Ryu Jin karena aku tau Eun Kyo pasti merindukannya.

“Baiklah. Aku akan cepat pulang dan menengok Eomma.” Ujarnya.

“Bagus.” Aku mencium kepalanya.

“Keundae Appa, kapan Eomma akan bangun?” ituentah portanyaan yang keberapa yang selalu dia ucapkan, entah yang  kesepuluh, keseratur, keseribu atau yang sejuta kalinya dia menanyakan itu.

“Kalau kau tidak nakal Eomma pasti bangun.” Jawabku sambil mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya di mobil. Kami meluncur mengawali hari dengan harapan yang sama. Kesadaran Eun Kyo.

***

Aku berjalan menuju ruangan Eun Kyo. Dia masih terbaring lemah dengan berbagai selang infus di tangannya.

“Yeobo,aku datang.” aku menemuinya disaat jam makan siangku. “Aku datang tanpa Ryu Jin.” Lanjutku. “Kau pasti merindukannya kan?” tanyaku lagi. “Aku, aku takut membawanya kesini hari ini. Takut dengan semua pertanyaannya tentangmu.” Aku mengenggam tangan hangatnya. “Aku merindukanmu Yeobo..” lanjutku. Airmataku kembali jatuh meski aku menahannya.

Sudah bebearap jam aku disini mengajaknya untuk bicara. Aku sudah ijin di kator tidak kembali dan meminta In Young Noona untuk menjemput Ryu Jin dan dia menyanggupinya. Aku mendengar seseorang mengetuk pintu dan aku menoleh pada pintu tersebyut. Perlahan pintu terbuka dan In Young Noona serta Ryu Jin yang ada dalam gendongannya masuk. Tidak hanya itu. Appa dan Eomma, Abeoji dan  Halmeoni, Jang Ahjumma dan suaminya serta Hee Rin juga Siwon ikut di belakangnya.

“Appa! Kau membohongiku!” Ryu Jin tiba-tiba marah dan mengomeliku. Dia memarahiku karena menyuruh In Young Noona ynag menjemputnya. Semua berkumpul disini. Ada apa ini? Seolah ingin melepaskan kepergian Eun Kyo saja. Abeoji mendekatiku. Beliau merangkulku dan duduk disampingku, di depan putrinya.

“Eun Kyo~ya, maaf Appa tidak sering mengunjungimu.” Ujarnya membuka pembicaraan dengan Eun Kyo. “Tapi kau pasti tau aku sangat mengkhawatirkanmu. Eoh? Sejak kecil kau selalu membuatku khawatir. Aigoo.. Putriku yang tidak bisa apa-apa dan selalu ceroboh..” Abeoji meraih tangan Eun Kyo dan membelainya dengan sayang. Bulir airmata sesekali turun di sudut pipinya dan dia segera menghapusnya.

“Aku mohon bangunlah, kami semua menantikanmu. Apapun yang terjadi padamu kami selalu menyayangimu dan menantikanmu, tidak akan meninggalkanmu sendirian.” Ujarnya seolah memberi Eun Kyo semangat untuk kembali. Sesaat kami terdiam, larut dalam pemikiran masing-masing tapi ada satu hal yang kami lakukan bersam, menangis.

“Aku akan lebih sering mengunjungimu, tidak akan sampai rumput di halamn rumahmu meninggi, aku akan selalu mencabuti rumputnya, tapiaku mohon bangunlah Nak, semua menantikanmu, ini sudah sebulan kami tanpamu, tapi rasanya sudah sekian tahun.” Curahan hati dan harapan seorang ayah. Abeoji menggengam tangan Eun Kyo erat.

“Appa… Appo..” ujar Eun Kyo serak. Itu suaranya. Aku yakin itu suaranya meski terdengar sangat pelan bahkan tidak terdengar.

“AH! Eun Kyo~ya, kau kah itu?” aku menyentuh tangannya dan merebutnya dari genggaman Abeoji.

“Appa..” panggilnya lagi sambil berusaha membuka matanya. Aku menantikannya dengan penuh harap. Menunggu matanya terbuka sempurna.

“Appa..” dia memanggil Abeoji sekali lagi dan sama sekali tidak menghiraukanku.

“Eun Kyo~ya..” ujar Abeoji menyahut.

“Appa, apa yang terjadi padaku?” dia memegang kepalanya dan meringis.

“Jangn berpikir telalu keras. Tolong panggilkan Dokter.” Pintaku pada orang yang berdiri di belakanku, terserah siapa saja. Aku mengambil tangannya dari kepalanya. Dia menatapku.

“Kau…. siapa?”

TBC

Note : ahahahahahahaha, aku tau ini part paling menyebalkan kan? Hahahahaha, aku senang membuat orang penasaran, ada kepuasan tersendiri bagiku, buahahahahaha *ketawa setan* akhirnya aku menyelesaikanpart ini dengan susah payah dan dengan berbagai gangguan. Mulai dari gangguan di kantor yang sangat membuat aku stres sampai di rumah, tamu saat tidak tepat, saat ideku lancar berimajinasi. Hufh, tapia khirnya selesai. Senangnyah… aku cape.. seharian ngetik. Sejak kenal FF hidupku hanya dihabiskan untuk imajinasiku dan mengetik saja. Terima kasih sudah menghargai corat-coretku dengan komen kalian. Hehe, aku lagi gangguan jiwa neh. Sekian penutup dari aku, silakan komen diakhir kegiatan membaca kalian. Dan lagi, ceritanya ga jelas banget yah, aku tau… banyak typo, aku tau… aku paling males banget ngedit… jadi maaf… kalo typo silakan perbaiki sesuai dengan mau kalian… gamsahae.. *bow*

138 responses »

  1. oke eonni…tangan saya udah gatel pengen ngasih koment sesingkat-singkatnya(?)
    huuft ngga tau harus mulai dari mana. satu…typo eonni……*oke, abaikan
    terus….dari awal aja yah…itu aaaarrrghhh kesel kesel kesel….kenapa si jungsoo cuma bilang maap-maap doang!seneng deh sama siwon sama heerin, ee cie udah ada yang kena VMJ a.k.a virus merah jambu niyeee….suit suit…
    terus apalagi yah…oke, siwon lagi, dia pinter deh. idih cubit abang….
    terus oh iya, hyun ah, set dah ni anak…hahaha saya bayanginnya bener2 hyunah yang pake jilbab tapi tingkahnya seajaib itu loh eon,hahahaha eh hyuna bukannya ikut karate ya?kenapa jadi taekwondo? ngga apalah yg penting bela diri ya hyun *toel hyuna
    ryu jin ryu jin ryu jin. omo! itu anak saya culik aja ya eon? huahahaha digeplak eonni.
    apa ini eeonnnn???acak rambut hilang ingatan? baaaah…
    tau apa yang ada dipikiran saya setelah baca eunkyo hilang ingatan?
    1. dia pura-pura hilang ingatan, buat cari tau kebenaran (halah apa ini?)
    2. dia beneran hilang ingatan, dan jungsoo memanfaatkannya buat baikan. hehehe jadi keinget 18 vs 29 nih eon, yang istrinya hilang ingatan jadi gadis polos, sementara suaminya penggeeeen banget kontak fisik sama bininya, ngebayangin deh kalo eunkyo ma jungsoo kek gitu.gyahahahaha
    oiya eon, hampir lupa, saya nyesek banget pas adegan jungsoo sama eunkyo berantem didepan ryu jin, aigoo….huaaaaa ikutan sedih, liat uri ryu jin nangis gitu. aigoo eonni-ya kalo berantem jangan didepan anak dong, separah apapun, kesian tau. kalo ryu jin trauma gimana??huweeee…….
    eh, koment saya udah singkat kan ya?

    • yaallah eonn. itu komen apa resensi buku? GYAHAHAHA aku emang manusia ajaib. Tapi penggambaran Fika eonn disini….kenyataan. aku emang ceplas ceplos *kibas rambut* Dan satu lagi, aku sangat beruntung mulutku pernah bersentuhan dengan tangan siwon lalalala yeyeye~

    • garuk aja met kalo gatel… ato kasih bedak gatal…
      cie cie… mari kita sorakin heewon…
      knapa jd cubit siwon? ati2 istrinya marah loh… km kali neh CLBK…
      hyun ah? aku berusaha neympilin dia tapi mesti punya karakter yg kuat…
      taekwondo kan emang dari korea? jadi milih taekwondo aja…
      kaga boleh nyulik ryu!! enak ajaaaaaaaaaa
      ayo tebak…
      apakah saya pura2 amnesia? atau bener2 amnesia? jawabannya ada di part besok… ditunggu yah,,,
      18v29 aku pernah liat beberap episode… tp blm terpikir… tapi ide si ada, g tau itu sama apa engga ama 18vs29…

  2. Syuuu~~ akhirnya selesai baca~

    TBC-nya!! Yaampun bener bener niat bikin orang penasaran ye.
    Astaga. Jin Hye nyebelin itu kenapa.muncul lagi? Trus si Kim Jin itu juga…. aish, kirain dia gak bakal muncul lagi *garukaspal* mereka itu trlalu licik sekaligus rada oon deh-_-

    Kenapa yg nabrak harus bus? Kenapa bukan ferarri, biar kecelakaannya elit gitu /plak

    Sungguh malang nasib Heerin. BWAHAHAHA *evillaugh* *ditampol heerin* Dan….aku kok demen bgt numpang mobil orang ganteng yak? Dan mereka mau aja. Emang susah ya nolak tawaran orang cantik~ tsaahh~

    Gamau tau cepet lanjut. penasaran apakah eun-kyo itu lupa ingatan beneran atau pura pura/plak

  3. Eonnyyyyyy..
    Knpaa.. Semakin ruwet.. Grrrr..
    Tp aku suka eon! Bener..
    Duh ci Hyuna nongol jdi anak yg labil gitu.. Hihih ((‘▿^)♉ Hyuna)
    Aku emosii sama tu satu pasang setang.. Huhh!!
    Sebeelll~..
    Eunkyo bnr” amnesia?
    Atoo cuma keki ama jungsoo?
    Tambahhh heboh part ini.. Hihihi
    Tambah bikin galauu.. Omg~~..
    Part 6 jangan lama” ya eon.. Hihihi.. =P

  4. Ishhhh~ si Jinhye sm KimJin bnar” menyebalkan sumpah bkin esmosi tngkat dewa nih makhluk 2… /ambilgolok!
    Aigoo~ mslah.y tmbh rumit nih kyk.y,, ksian si Ryu Jin hrus jd korban😦 mna kyoeonni pke amnesia lgi..mkim rumit dahh nih mslah.y /hihi
    Ehhh~ si hyunnn ikutan nyempil lagi kkeke..
    Next part.y omelette d tnggu yah onn /plakk/😀

  5. onnie, itu q baca komen anak” mu yg yadong gak ketulungan bkin kesel + envy, blm bsa bca alnya, huhuhuhuhuhuhuhuhu,,,,
    bru bca awalnya, itu onnie npa betah bgt duduk dpangkuan siwon, sadar onnie, da ryu jin tuwh drumah,hehehehe
    onnie ilang yak,? jgn suka ma ayank iwon yak,hahahaha

  6. Dia yang nawarin lho~ memang susah bagi suamimu untuk menolak pesonaku, eonn. Bahkan aku diajak ke hotel tadi…. ㅋㅋㅋ

  7. kyaaaa
    onnie knpa konflik.a jadi rebet lagi…
    mana eun kyo onnie gx inget jung soo oppa lagi…
    kan kasihan jung soo oppa.a…
    haduh oppa sabar ya…
    coba’an keluarga kalian pasti akan cepat selesai…
    onnie lanjut cerita.a…
    aku bnr2 gereget sama crta.a….
    pokok.a lanjut onnie …

  8. Onnie, aq nangis baca part ini..
    apalgi td pas baca aq lupa klo sblumnya aq abis makan makanan pedes (makan pake tangan) terus ga sengaja ngucek mata pas nangis, malah tambah kluar ni air mata ga bisa di stop. Padahl udh cuci tangan tp tetep ja perih..
    #plakk#

    Wah, rumit bgt part ini on.. Baru nemuin titik terang, eh masalah baru muncul lg.. Padahal siwon udh dapet bukti soal malam itu, yach malah kyo onnie kecelakaan..
    Kasian ryu jin on, pas ryu jin bgl sama hyuna kalo dy tidak boleh makan es krim tu benar2 menyentuh hati..
    Kasihan juga hee rin sama jung soo oppa. Mereka juga hanya korban.

    Jadi penasaran onnie beneran amnesia ga sich?😀

    • lah elah aku g nyediain tissue loh yah…
      lah itu mah karena kamu makan pedes… bukan karena cerita…
      aku suka masalah, karena hidupku memang bermasalah… hahahahahahaahaha
      iya, g mau lagi Ryu makan es krim gegara aku ancam, kyahahaahahahaahah jurus ampuh itu…

      ayo amnesia apa engga??

  9. huuaaaaaaaaa ni si eunkyo dari part 1 mpe part 5 bkin dag dig dug mlulu , amnesia kah si eunkyo ? Kyyyyaaaaaaaaaaaaa kirain heerin yg ketabrak kaya di sinet” gtu loh eonn ? Emang dach eonn mah jagonya bkin org excited :p

    ryujin yg sabar ia eommamu tak kan prnah melupakanmu , itu eunkyo amnesianya berasa masih single lg kah ? Wkkkk kasian de’ jungsoo oppa :p

  10. Eonnnnnnnnnnnniii
    kau bunuh saja aku kalau begini (?)…*nangis di dada kyu*
    aduh aduh…belum slese masalah satu masalah lain pada muncul,,tragis bner hidupmu teeukyo T.T

    astagaaa…ini kapan heerin bisa deket banget ma siwon,,hadoh mereka ini perlu dibeliin lem.,,
    btw,,eonni….mian aku belum koment di part 4nya*kurang ajar banget*,,tadinya mau koment hari ini eh malah part 5 udah ada aja,,eonni author paling cepet nyelesein ff setauku,,Daebakkk!!!

    itu si cho hyun ah,,kenapa gua jadi ngepen ma dia ya,,patut dibinasakan tu bocah,,hahhahaaa
    eonni mau amnesia ceritanya??andweee*benturin kepala eonni lagi* biar kagak jadi amesia -____-”
    tapi baguslah eonn,, paling enggak eunkyo bisa ngelupain masalah yang segitu bejibunnya,,

    ini kenapa penjahatnya sama2 kim jin ya namanya,,jadi tadi aku belum tau kalau kim jin yang sama heerin pas minum itu cewek,,tadinya tak kira om2 yg hampir mau mmprkosa eunkyo,,sempet mikir jadi kalo om kim jin itu maho -__-“,,

    btw(lagi),,eonn,, aku gak pnh smsan ma dirimu akhir2 ini…chuuu~~
    part selanjutnya,,titip lem dah buat pasangan heewon#apaasih!

    • gwaenchana nova…
      belii lem segudang… *tadahin tangan k kyu*
      ngepens hyun ah?? ah pasti kegirangan banget tu anak…
      aku si maunya amnesia….
      apa?? aku baru aja operasi otak masa iya aku dibenturin lagi?? eoh??
      aku baca komen tadi katanya kim jin san jin hye itu keturunan jin ifrit…

      iya g smsan… kangen jg ih…

      heewon lg g punya paket inet… tp tar jg mereka baca…

      • ya elaa…eonni mah hoby banget amnesianya ==” malah gak bagi2 #saraf
        ah mreka jin ifrit gitu amat dajalnya,,addah pengen ngremes2 ampe gak berbentuk…
        btw,,bner2 feelnya menjungkirbalikkan perasaaan reader eonn ==”

        itu si hyun ah kenapa jadi mlejit sekejap kayak sinta jojo bin briptu norman yea ==”

        oke eonn,,aku kyaknya mau nguli dulu,,ada jadwal jam 7…ribet banget dah jadi mahasewa eh siswa,,,eonni met kerja ya…chuuuuu~~~

  11. Ya alloh eonniii knpa jd bgini rumit?!
    *jambak rmbut sndiri*
    mne kta’a ad bonus’a?! Nie mah bkn bonus nma’a tp musibah dan nmbah masalah…>,<

    apa2an nih, eunkyo eonni amnesia??
    *jeeng jeengg*
    *kget ala sinetron*
    wkwkwk
    part nie bner2 mnguras emosi & air mata *lebay*,
    yaakk!! Eonni, oppa knpa brtngkar d'dpan ryu jin sih?! Kn ksian tuh ank msih kecil, tar jd ikut2an stres lg!!
    Ckckckck
    tp, tp tp sya suka sm heewon couple d'sni bgus deh mreka ad pningkatan jd lbih sweet,
    si Kim jin sm kim jin hye sya rasa mreka ntu kturan JIN iprit, sumpah nyeblin bgd dah…
    Trus ntu cie hyuna hobby bgd numpang d'mobil orng yee?!
    Prasaan nih ank sneng bgd kbur2an mulu!!
    *d'lirik hyuna*
    Tp sya suka sm hyuna, cplas cplos bgd ngomong'a!!
    Piisss hyuna..^^
    jahaha

    Yesungdah lah eonni, sya tunggu klanjutn'a, ne?! ^^

    • kasian tau rambutmu tar pada kecabut semua jdi gundul…
      aku amnesia?? kate sape?? *pura2 bego*
      emosi dan airmata?? ah senangnyaaaaaaa
      aku senang bikin org penasaran dan emosi… da kepuasan tersendiri…
      kan sekali doang? oppa noh yg mulai! ko jd nyalahin aku??!!!

      hyun ah itu punya sensor org cakep…

      • sensor orang cakep…. itu bawaan lahir. turunan dari Ah-Ra eonni.

        Aduh please deh aku tau aku lagi eksis sekarang *natap kuku* oh, aku demen kabur karna Kyu Oppa yang ngajarin. Dia kan jarang dirumah jadi aku mau ngikutin jejaknya /plak

  12. Fikaaa eonn,nyebeliiinnn iihhh,itu masa jadi amnesia siihhh ?? Aahhh ga terima.. Ga terima,ga enak bgt eon TBC nya >.<
    Aigoooo,kasiaan bgt uri ryu jin liat mama sama papanya berantem😦

    Hadeuuuhh itu pesonannya si abang wonwon makin jadi bangeet yahhh,diem-diem tapi gerak gituh *apasih nanda* hahahaahaha ƪ(♥ε♥)ʃ

    Eh iya,tadi frigid itu mana ?? Ko ga ada ?

    • hahahahahahah senang bikin kame jejeritan…
      cm sekali doang ah, lagian itu oppa yg mulai…
      diem2 tapi gerak? maksudnya??

      yak! jgn bahas itu disini…!!! itu khusus cm forum pribadi…

  13. sedih banget eon pas eun kyo pengen cerai
    Jangan sampe deh eon
    Gemes banget itu sama siwon-heerin, cepet2 sayang2an gitu loh eon hehee
    Lanjut eon, bagus banget keke~
    Fighting !!!

  14. SAYA TEGASKAN SEKALI LAGI… HAHAHAHAHAHAHA, SENENG BANGET LIAT KALIAN JEJERITAN… ADA YANG NANYA BONUS? KALIAN INI YAH, BILANG ADA BONUS GITU KENAPA PADA MIKIR KE NC SEMUA?? HADUH HADUH… KAGA BIS ADIPANCING DIKIT AJA…

    ITU BONUSNNYA FOTO-FOTO RYU JIN… MEMANGNYA MAU APA? CAKEP BANGET KAN ANAK AKU?? *capslock jebol*

  15. huaaa…masalahnya blm sempet kelar udah tmbah masalah lagi!!!eun kyo amnesia beneran apa egk eon??*tpi kyaknya beneran…huaaa kasian jungsoo sama ryu jin:(

  16. oeniiiiiiiii………nyebelinnnnnnn…
    kenapa TBCnya disitu…

    aigo… makin gregetan ni bacanya…*gigit jung soo oppa*
    agh jangan bilang eun kyo cuma lupa ama soo oppa aja..
    kan kasian ma ryu jin.. kalo ryu jin dilupain juga gimana dong???
    huwaaaa……..

    pokoknya kalo ampe eun kyo lupa ama ryu jin, ryu jin nya aku bawa pulang,,,*ancem eun kyo*

  17. onnie (bner kn nih Q manggil nya onnie..he..)……knp sedih bgt crta ini…….jujur Q bca ini sambil ngawas anak2 murid Q ujian..
    dan smbil nangis…..anak2 smpe ngira Q sakit..he..he
    trz itu knp dah eun kyo amnesia….jawab “eun kyo cuma pura2 kn”…(maksa!!!!!!)
    awal nya Q lebih suka mrka pisah tp kok gara2 bca celotehan ryu jin jg gak tega….hiks..hiks
    oh ya eon Q follow d twitter d follback yah…..

    • bener kali yah? kamu pasti lebih muda dari onge kan??
      lah lah lah?? ko jadi nangis??
      malu ah jadinya…
      kenapa amnesia? tanyakan pada dokter lee…
      apah???!!! ko jadi suka aku pisah?? *cakar Jungsoo* ini begimane ceritanya jadi suka?? ahahahahaha, mngkin bosan liat kita marahan kali yah??

      iya tar pas buka tweet yah…

  18. itu novaeonn? demiapahh? *muka dizoom 5x*
    oke. annyeong nova eonni. Cho Hyun-Ah imnida. Evil yadongsaeng of Cho Kyuhyun *flipshair* rumahku? di dorm suju. kamarnya kyuhyun oppa. tau kan?

    sinta jojo? yang elit dikit dong. Adele gitu atau Nam Gyuri. Tsahh~~
    makasih udah ngefans ama aku. GYAHAHAHA *tawa evil bareng kyu*

  19. Benerann dehh unn darii semua part 1 ampe part 5 akuu sukaa part 5.. soalnyyaa.. lebbiih terasaaasedihh n critnyaaa ituu lebiihh buat aku terharuu n bmuda dipahamii gituu.. gag tau kenapa akuu suka partinii..tapii akhir ceritanya berasa sinetroonn #pastii unii inikorban sinetron *PLAKKK.. cz ada adegan amnesiaa nya..kk lanjut unniii jangan lama2 n slaluu kasihh kabarke akuu..kkk

  20. eonnie kirain udh mulai slesai masalahnya
    eh malah ada yg lbih gawat
    eun kyo ilang ingtan dan yg gk d ingt adlah jungsoo
    jdi ingt jun pyo lupa sma jandi
    ekekke
    tp smga naluri keibuan eun kyo ttp ada y,supaya gk lupa sma ryu jin

  21. Onnie bener2 deh sukanya bikin penasaran, tapi dah mulai da titik terang eh muncul lg masalah. Ga sbr nungg lnjtny. Semangat on?

  22. iiiiiiiiih sebel sebel sebel tingkat watang #lol
    unni ini konfliknya tambah kesini tambah bikin nggreges saia bacanya, ya salam sekarang eun kyo harus kecelakaaan lagi wis lengkaplah seluruh konflik tapi untung ada pasangan heewon yg bikin penenangnya setelah konflik yg bejibun😀

    oia ini yg selalu ingin saia tanyakan pada unni, ntu judulnya amoirette ntu sebenarnya artinya apa yak unn ?? (maklum reader ini lemot) ^^

  23. EH?! Eoni kenapa eunkyo eon lupa ingetan?
    Ah andwe ms lupa ama jungsoo ajushi? Ryujin jg di lupain g? Aduhh omg…
    Poor jungsoo ajushi…

    Ini smua gara2 si jin hye itu tuh! Dasar perempuan jahat #plakk
    Kim jin jg sm jahatnya…

    Berita baiknya hubungan hee rin eon sm siwon udah lumayanan lah., dan kuncinya jg ada di siwon tuh… Ntu ngapa gk diliatin lg si siwon gmana dah…
    Lanjutannya eonii

  24. Hanya cho miara yg driku knal,,
    Widiihhh fika fansnya bnyak ya..
    Hiatus sebulan trnyta bnyk perubahan,,
    Annyeong semuanya Park hyunchan imnida

    tdi di atas ada yg bilang kaki yesungku kecil*lirik tajam fika*,,
    Dia itu cma tangannya aja yg imut,,namjaku itu mempesona sekali,,
    Part ini menguras sisi baik berganti jdi aura pembunuh,,siapa yg mau jdi korbanku??
    Semoga part depan adem ayem,,
    Ryujin syg,,main sma ahjumma yuk sayaaaannngggg

    • ryu jin siapa yang mau jadi orang tua angkat dia? pasti onnie yang paling pertama ngacacungin tangan…
      onnie ah, jangan begitu… bukan fans… tapi keluarga kita nyang nambah noh…
      coba onnie pake watsap kita bisa bikin park family…

      • Eonni ga ngerti bgt2 an,,,
        Bisanya fb doang,,
        Eonni mau jdi ortu angkat ryujiiiinn

  25. Eonnie.. aku beneran nangis loh baca bagian yg ryu jin ny nangis dimarahin eunkyo… nyesek banget… kasian ryu jin,, anak kecil yang ga tau apa-apa malah jadi korban nya..
    Siwon oppa pahlawan banget deeeh… ihiiiy abang-abangan aku emang paling te o pe deh…

    okee.. sekian komen dari saya eon,, udah ga sabar pengen baca yang part 6… *shyiuuuuuung… (meluncur ke part 6 ala supermen)

  26. Eonni miris banget sumpah T.T
    Nyesek banget ngebayangin eun kyo nya eon T.T

    Eun kyo kecelakaan dan koma, terus dia ga inget sama jung soo oppa. Huaaaaaaaaaaa
    Nyesek eon nyesek *sesenggukan*

    Ya! Kim Jin Hye! Aiss neo jeongmal nappeun yeoja! Ais gatel banget nih tangan semacam pen nyekik tuh org!

    Eonni paling hebat bikin galau orang😦
    Ya Eun Kyo eonni, kasian jung soo oppa T.T Kenapa mesti anemsia? Huaa makin rumit konfliknya~

    Tapi eon tapi, aku suka walaupun sukses buat aku galau :$

  27. kyaaaa ryu jin bikin gemes banget unn,boleh gak pinjam sehari aja ntar dia aku kasih eskrim deh
    aku suka sama hyun ah,gak ada angin gak ada hujan tiba2 aja nongol nemenin ryu jin apa lagi karakternya bikin aku penge nabok
    jinhye nenek lampir ada aja akal busuknya pake main tusuk dari balakang lagi
    err boleh gak aku lempar kamu pake sepatu?
    cemana dong itu eunkyo jadi jadi kecelakaan isshh
    pasti jungsoo sama ryujin sedih banget kan
    jangan bilang eunkyo hilang ingatan? aduhhh parah deh

  28. Eunkyo oenni~~aish..napa ketabrak sh???amnesia kan jd ny -,-
    aduuh,,Jungsoo oppa yg sabar yaw.. *puk2 oppa*

    awalny rada-rada sebel ma Heerin, tapi skrg sebelny malah ke JinHye..arrghhh~~gemes dah

  29. waduh…masalah blom selesai ketambah eunkyo ketabrak lg, pusing ya bang…
    ckckck…

    eunkyo beneran ni amnesia g boong, takutnya dia cm akting buat bls dendam sakit ati kjungsoo, iya g…

    kasian tu ama ryu jin masa eunkyo tega g inget ama anak sendiri…

  30. air mataq blm brenti dpart ini terxata!
    ampe sembab nie onn!
    benar2 menguras air mata aplg pas td mrk tengkar ddpn Ryu Jin!:'(
    itu Kyo lupa m Jungso gt onn?
    mungkin saking skt hatix dy m suamix ampe amnesia gt!
    sedih bgt ce!
    q lnjt bcx y onn!

  31. huwaaaaaaaaaa Eun Kyo amnesia???? pdhl kan mslhnya udh jelas….. hikssssss T.T aisshhhh ini sala Park Jung soo… ini SALAHNYA…. *emosi*

  32. yak,br xadar kalo komenq g msk yg smlm!
    huft..dh lp komenx pa cz q br klar bc part 5nya onn!><
    intix,part ini yg plng nguras emosi dan air mata onn!
    plng inget tu pas TeuKyo tengkar ddpn Ryujin!q bnr2 nangis pas bcx!
    yasud,q mw komen part 5nya dl trus siap2 krja!

  33. ikh…part ni q sebel bgt sama jung soo oppa knp g jlasin sjlas2x dan hnya ngungkapin maav?menyebalkan…

    nenek sihirx age ganggu z meuni nghasut g jelas, ni cwe gila xle y cwo udah pny istri maen niat embat z, pke cara lcik pla huhuuuuu….

    q smpet nangis pas ryu jinx ngeliat eunkyo & jungsoo brantem n dg kepolosanx yg berubah murung u.u

  34. Konflik full…..
    Dasar jinhye dan kim jin ternyata mereka dalangnya…
    Tersiksa deh liat eunkyo marah2 trus…
    Aish apalagi sekarang?? Eunkyo ilang ingatan???

  35. Daebak!! Panjang banget kak..
    Ckck awal2nya geregetan ya, soalnya si jungsoo nya nyantai banget ngejelasinnya -.- mana ngebelain hee rin mulu lagi ck.
    Si hee rin nya juga ga tau diri bener -.- bukannya langsung di jelasin malah nunggu2, jadinya begini nih kan. Haduuuhh..

    Kakak bikin karakter si ryu jin ini bikin gemes banget, pinter2 polos.

    Ohh si kim jin itu sepupu si hee rin, aku kira dia saingan bisnis jungsoo/siwon kak.
    Ahh yaampun ini akhirnya amnesia begini, gimana lanjutan eunkyo sm ryu jin nanti? Aigoo

  36. Yahhhhhhhhhhhh eun kyo y hilanf ingatan tuh kayak y,,,, haduh…. kemungkinan y besar sih setelah kecelakaan n pendarahan otak gt n setelah y jadi lupa ingatan,,,, kasian juga setelah masalah bertubi tubi ngehampirin ke kehidupan eun kyo,,,, ternyata emang bener jungsoo n hae rin di jebak ma jin hye n ditambah jinhye y kerja sama ma kim jin,,,,, makin kesel deh nih ma org tapi tetep sebel ma hae rin walaupun ngak sesebel sebelum y tetep ja dia ngerusak keharmonisan TeuKyo cuma si hyejin n kim jin hanya nambahin masalah sampe klimaks y ja…….
    sebel sama sikap jungsoo yg tetep ngebelain hae rin jd ikut ngerasain juga kyk eun kyo y ngerasa ngak diutamain padahal lg berdebat masalah yg serius n jungsoo y nyesel n minta maaf gt ke eunkyo tapi masi sempet2 mikirin hae rin…..
    sekarang jungsoo kena akibat y deh….

  37. sudah ku duga klo kim jin ama tuh yeoja yg mencoba merusak, ksian ryu jin liat appa and eomma’a b’tengkar, aigoo eonni kecelakaan dan gag ingat ama teuki?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s