Amourette (4th Trick)

Standar

amourette part 6

Andai saja aku bisa melangkah lebih cepat

Atau melangkah lebih lambat

Kemudian kita bisa menghindari pertemuan menyakitkan kita

Tidak akan ada gunanya

Bahkan jika aku mendorongmu keluar

Sekarang aku tidak bisa membiarkanmu pergi

Bahkan jika kau ingin menangis

Menangis dalam pelukanku

Karena aku akan mati tanpamu

 

Hatiku menangis

Hatiku berteriak

Aku membuatmu menangis dan menyakitimu

Tapi sekarang aku tidak bisa melupakanmu maka aku menangis

Cintaku menangis

 

Bahkan ketika dunia berbalik melawanku

Kau tinggal disisiku

Namun satu-satunya hal yang aku berikan padamu adalah bekas luka

Aku bahkan tidak memiliki hak untuk menahanmu

 

Kau tidak tau bagaimana caranya berbohong

Jadi meski kau tersenyum dengan cerah

Aku tau matamu bersedih

 

Cinta memangis

Cinta menyerukan padamu

Karena aku tidak bisa membiarkanmu pergi untuk satu detikpun

Karena senyummu adalah hhidupku

Karena hanya kau yang bisa membuatku hidup

Hatik menangis

Author’s POV

Mendengar panggilan dari luar Eun Kyo segera buru-buru keluar dari kamar meski dalam benaknya berputar dan banyak sekali pertanyaan yang tak berujung. Dia menghapus airmatanya dan segera berjalan dengan cepat diiringi oleh Jung Soo yang juga penasaran dengan seseorang yang mencari istrinya. Sesampainya di halaman depan, Eun Kyo melihat seorang laki-laki sedang berjongkok membantu Ryu Jin untuk menyiram tanaman.

“Eun Kyo~ssi, aku melihat Ryu Jin di halaman.” Sapa lelaki itu pada Eun Kyo. Seketika Eun Kyo menghentikan langkahnya dan terkejut melihat sosok yang ada di hadapannya. “Lalu aku berniat untuk mampir, tidak perlu basa-basi, tim kreatifku tidak bisa datang hari ini, bisa kau membantuku?” tanya lelaki itu pada Eun Kyo. Eun Kyo terlihat linglung.

“Satu hari saja, aku jamin pemotretan ini akan selesai dalam satu hari.” Ujar lelaki itu yang bernama Kim Jin. Salah satu pemegang saham di sebuah perusahaan mode, kompeser serta produser berbakat, juga orang yang ada di depan layar.

“Jung Soo~ssi, boleh aku pinjam istrimu sebentar? Kau dan Ryu Jin boleh ikut jika kau ingin.” Tambah Kim Jin. Eun Kyo menoleh pada Jung Soo seolah meminta ijin padanya, Jung Soo membalas tatapan Eun Kyo.

“Jika Eun Kyo bersedia, aku tidak masalah.” Jawab Jung Soo tanpa melepaskan tatapannya pada Eun Kyo. Eun Kyo juga tak bergeming dari mata Jung Soo. Mereka berdua seolah mencari sebuah kepercayaan dalam diri mereka masing-masing.

“Kalau begitu baiklah.” Jawab Eun Kyo masih menatap suaminya, seoalh dia menerima tantangan Jung Soo. Kim Jin tersenyum.

“Arasseo, besok jam 9 pagi di pantai kita bertemu tadi.” Ujar Kim Jim membuat janji.

“Baiklah.” Jawab Eun Kyo seraya menoleh pada Kim Jin.

“Besok kau juga boleh ikut Ryu Jin~a.” Kim Jin menyentuh kepala Ryu Jin dan mengacak rambutnya. Ryu Jin nampak tidak peduli. Setelah Kim Jin pamit, Eun Kyo segera kembali ke kamar dan melangkah dengan cepat.

“Dia kenapa Jung Soo~ya? Kalian bertengkar?” tanya Jang Ahjumma. Jung Soo salah tingkah, dia tertawa garing, seolah merasa bodoh.

“Ani, Ahjumma, dia hanay kelelahan. Aku permisi, bisa jaga Ryu Jin sebentar? Aku mau mengurus Eommanya dulu.” Ujar Jung Soo meminta bantuan untuk mengurus Ryu Jin selama dia membujuk Eun Kyo.

“Kau tenang saja, Ryu Jin aman ditanganku.” Jawab Jang Ahjumma.

Jung Soo mengetuk pintukamar beberapa kali namun tidak ada jawaban. Dia membuka hendel pintu dan tidak terkunci, segera dibukanya pintu kamar sementara mereka yang terlihat sangat sederhana dan mendapati Eun Kyo duduk di jendela. Jung Soo mendekatinya.

“Kau sedang apa disini?” Jung Soo mendekap Eun Kyo dari belakang, namun Eun Kyo masih tak bergeming seperti biasa. “Bukankah lebih mengasikkan kita di halaman depan bersama Ryu Jin?” sambung Jung Soo sambil mengecup puncak kepala Eun Kyo.

“Jangan merayuku.” Eun Kyo mendorong tubuh Jung Soo tanpa tenaga hingga Jung Soo masih tetap mendekap Eun Kyo.

“Aku tidak merayumu.” Ujar Jung Soo berkilah, dia mengecup leher Jung Soo, daerah paling senditifa dari tubuh Eun Kyo. Eun Kyo sedikit menggeliat.

“Jauhkan bibirmu dati tubuhku.” Ujar Eun Kyo membuat Jung Soo tersentak dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut istrinya. Eun Kyo tidak pernah sekasar itu sebelumnya. “Oppa, aku lelah, kau tidak liat? Eoh? Sementara aku harus membantu Kim Jin besok hari.” Lanjut Eun Kyo dengan sedikit lemah.

“Kenapa kau tidak menolak?” Jung Soo membelai wajah Eun Kyo. Segera Eun Kyo mengambil tangan Jung Soo dan berbalik lalu turun dari jendela. Jung Soo tidak memberinya ruang hingga di terhimpit diantara tubuh Jung Soo dan jendela. Eun Kyo ingin melangkah namun Jung Soo menahannya.

“Oppa…” Ujar Eun Kyo dengan lirih, namun Jung Soo tetap pada posisinya. Jung Soo menatap Eun Kyo dengan lembut, berharap Eun Kyo mengerti bahwa dia sangat mencintainya dan apa yang ada dipikran Eun Kyo yang negatif tentangnya bisa berubah.

“Kau bisa menolaknya kan?” tanya Jung Soo. “Ini liburan kita..” kata Jung Soo lagi. Eun Kyo mengalihkan wajahnya dari Jung Soo namun Jung Soo meraih dagunya dan tidak membiarkan Eun Kyo mengacuhkannnya.

“Lalu mengapa kau bilang ‘terserah padaku’ saja tadi? Eoh? Kau tau dengan pasti aku tidak bisa menolak.” Eun Kyo mengalihkan tangan Jung Jung Soo dari dagunya.

“Aku berharap kau bisa mengerti.” Ujar Jung Soo.

“Oppa, aku lelah berdebat, besok kalian berdua atau seluruh orang dirumah ini boleh ikut, begitu kata Kim Jin kan? Dia tidak akan terganggu.” Eun Kyo mendorong tubuh Jung Soo dan menjauh, Jung Soo meraih pinggang Eun Kyo dan kembali memeluknya.

“Oppa, kau manja sekali. Apa karena kau tidak bisa bertemu lebih lama dengan Hee Rin lalu melampiaskannya padaku?” tanya Eun Kyo. Jung Soo terkejut dengan ucapan Eun Kyo. Ini yang kesekian kalinya Jung Soo menerima jawaban pedas dan sinis dari Eun Kyo.

“Aku tidak ingin kita membicarakan Hee Rin, aku hanya ingin membicarakan tentang kita.” Jawab Jung Soo mencoba mengatur emosinya agar tidak terpancing.

“Wae? Setelah setiapa, ugh!” Eun Kyo mendorong tubuh Jung Soo yang memeluknya. “Sekarang hanya mau bicara tentang kita?.” Eun Kyo menjauh, Jung Soo memandangi Eun Kyo yang ingin keluar dari kamar, tapi dengan segera dia langsung mengunci pintu.

“Oppa, sudah waktunya Ryu Jin mandi.” Ujar Eun Kyo dingin dengan tatapannya yang sayu.

“Dia bisa dimandikan Ahjumma.” Jawab Jung Soo tak kalah dingin. Pikirnya, jika tidak bisa dengan kelembutan dia akan memaksa Eun Kyo untuk bicara dan membicarakan masalah yang tak tau akarnya dan berujung dimana. Jung Soo merasa tertekan dengan sikap Eun Kyo yang kian hari kian berubah dan tidak sehangat biasa. Eun Kyo menghela nafas.

“Apa yang ingin kau bicarakan ‘tentang kita’?” tanya Eun Kyo menekankan kalimat ‘tentang kita’. Jung Soo terdiam, mengambil nafas lalu menghembuskannya perlahan.

“Kau, kenapa akhir-akhir ini berubah?” tanya Jung Soo .

“Berubah?” tanya Eun Kyo balik.

“Kau berubah dingin.” Jawab Jung Soo lirih.

“Oppa,” Eun Kyo menatap suaminya dengan tatapan tajam. “Bukan hanya aku yang berubah, kau juga berubah, jangan hanya menitik beratkan pada masalah perubahanku. Tapi pada sebab kenapa aku berubah.” Eun Kyo mendorong Jung Soo dengan emosi. Jung Soo menunduk, Eun Kyo menghembuskan nafas kasar dan ingin mengeluarkan semua kekesalannya.

“Kau cemburu pada Hee Rin?”

“Nde! Tidak bisa kah kau membacanya? Tidak bisa kah kau mengerti?! Eoh? Cukup sekali aku mengatakan aku tidak suka kau terlalu dekat dengannya, bukan berarti kau tidak boleh dekat! Tapi kau?!” Eun Kyo menunjuk dada Jung Soo dengan kasar. “Kau bahkan tidak menghiraukanku dan lebih memperhatikannya.” Lanjut Eun Kyo. Jung Soo maju beberapa langkah untuk meraih Eun Kyo dalam pelukannya namun Eun Kyo juga mundur beberapa langkah.

“Aku tidak akan luluh lagi denga pelukanmu. Selama ini aku hanya!” Jung Soo mendekat dengan cepat dan memeluk Eun Kyo. Dia merasa jika memeluk Eun Kyo, semuanya bisa diselesaikan, dia bisa menggenggam Eun Kyo dan mengendalikannya.

“Selama ini aku hanya sibuk dengan dunia kau dan aku, tak sempat meikirkan dunia lain!” Eun Kyo berusaha melepaskan pelukan Jung Soo tapi sia-sia. Dia mulai meronta. “Aku benci saat kau memelukku seperti ini!” Eun Kyo mulai berteriak namun Jung Soo segera mengeratkan dekapannya dan suara Eun Kyo tertahan di dadanya. Tidak lucu jika mereka ketahuan bertengkar ditempat ini. “Aku tidak akan luluh lagi dengan kau peluk seperti ini! Tidak akan berkompromi!” Eun Kyo memukul-mukul punggung Jung Soo. “Tidak akan!” teriaknya lagi sampai menangis. Jung Soo menciumi puncak kepala Eun Kyo.

Jung Soo’s POV

Dia menangis. Aku tidak mengerti, begitu terlukanya kah dia saat ini? Aku tidak pernah sekalipun ingin menyakitinya. Sama sekali tidak pernah terpikirkan untuk berpaling darinya, namun Hee Rin memang membuatku membagi perhatianku. Eun Kyo terus menangis dan aku membiarkannya memukul tubuhku, apapun yang ingin dia lakukan, aku tidak akan menghentikannya. Aku tau sekarang dia terluka, tapi aku tidak tau harus emngobatinya darimana. Benar-benar tidak tau.

“Aku ingin kita memulainya dari awal lagi, tolong hapus semua kecurigaanmu, eoh? Bisa?” dia menggeleng, menggeleng dengan kuat. Kuelus rambuutnya saat dia mulai tenang.

“Aku ingin sendiri.” Ujarnya setelah sekian lama diam dan menangis. Aku tidak menjawabnya. “Aku ingin sendiri.” Ulangnya saat tidak ada tanggapan dariku. Dia melonggarkan pelukanku dan menatapku dengan mata sembabnya. Kusapu airmatanya yang tersisa di pipi. Dia menyela tanganku yang ingin menyentuh pipinya sekali lagi dan menghapusnya sendiri.

“Aku akan cari tempat tinggal sendiri.” Ujarnya membuat tercengang dan membeku. Apa maksudnya mencari tempat tinggal sendiri? Ingin berpisah dariku? Begitu maksudnya? Dia menjauh lagi dariku, aku menarik tangannya.

“Apa maksudmu, Yeobo?” tanyaku dengan sedikit keras. Kau benar-benar mempermainkan emosiku, Park Eun Kyo~ya. Dia tidak menjawab.

“Aku tidak akan pernah mengijinkannya.” Aku membuka pintu kamar dan keluar mencari udara segar, jika terus diladeni, akan semakin membuat jarak diantara kami. Aku hanya perlu mengembalikan situasi seperti saat-saat kami belum punya anak, semoga itu dapat membuat rasa yang mengganjal dihatinya mengecil.

“Ryu Jin~a, sedang apa kau?” aku menarik Ryu Jin dan memangkunya duduk di sebuah kursi kayu dibawah pohon. Hari sudah sore, mulai gelap dan langit membiaskan semburat jingga di cakrawala. Hufh, aku menghela nafasku. Baru kali ini aku merasa terbebani dan tidak bisa menyelesaikan segala yang menghimpit kepalaku.

“Kau sudah mandi?” tanyaku pada Ryu Jin, hari ini bocahku lebih banyak diam, apa karena perdebatanku yang terjadi beberapa jam yang lalu?

“Appa… apa Eomma marah?” tanya Ryu Jin padaku sambil memainkan tangannya dan menunduk sedih. Anak ini sering dimarahi Eommanya tapi kenapa baru sekarang dia menanyakan apakah Eommanya benar-benr marah. Dia juga merasaknnya?

“Aish, kata siapa Eomma marah?” tanyaku.

“Ani.” Jawabnya sambil turun dari pangkuanku. Dia berlari memasuki rumah dan aku yakin pasti menemui Eommanya.

“Oppa.” Sebuah suara emmbuatku menoleh, aku tidak asing lagi dengan suara itu. Hee Rin.

“Ah, Hee Rin~a.” Aku terkejut dan langsung berdiri, lalu membungkukkan badanku. Aku jadi merasa canggung saat Eun Kyo mengatakan denan jujur dia cemburu pada Hee Rin.

“Sedang apa kau disini?” tanyaku.

“Aku hanya lewat saja Oppa.” Jawabnya sambil mengambil duduk disampingku. Aku melirik ke dalam rumah, takut tiba-tiba Eun Kyo keluar dan mendapati kembali sedang bersama Hee Rin.

“Annyeonghaseyo, Jung Soo~ya, kenapa tidak dibawa masuk?” tanya Jang Ahjumma kembali membuatku terkejut.

“Ah, iya, silakan masuk Hee Rin~a, kau mau minum dulu?” aku bangkit dan mengajak Hee Rin mamapir, semoga saja jawabannya adalah tidak. Ayolah Hee Rin~a, menolak saja.. Atau aku akan kembali bertengkar dengan Eun Kyo.

“Baiklah.” Hee Rin juga bangkit lalu mengikutiku, aku kehilangan akal saat dia melangkah mengiringiku. Apa yang akan aku jelaskan lagi pada istriku kali ini? Hee Rin tiba-tiba datang dan mampir? Apa dia akan percaya?

Aku mempersilakan Hee Rin duduk di ruang tamu dan menanyakannya mau minum apa. Waktuku bersamanya selalu tidak tepat, benar-benar tidak tepat.

“Suamimu mana Hee Rin~a?” tanyaku sambil membawa baki minuman. Dia menyambut minumanku.

“Ah, aku bosan dirumah Oppa. Selalu ditanyakan tentang anak.” Jawab Hee Rin. Sebenarnya tidak ada yang istimewa diantara kami, Hee Rin hanya kadang-kadang suka bertukar pikiran tentang rumah tangganya. Tapi keadaan Eun Kyo yang sedang tidak baik, hingga banyak kesalah pahaman, lalu dari mana aku harus memperbaiki benang yang terlanjur kusut ini? Tidak mungkin aku memotongnya begitu saja sementara sudah begitu banyak yang kami rajut bersama.

“Sepertinya menarik juga kau punya anak, biar Ryu Jin punya teman.” Jawabku.

“Appa!” teriak Ryu Jin, aku menolehpadanya yang berdiri diambang pintu kamar. Seseorang berdiri mematung dibelakangnya.

“Eun Kyo Onnie.” Hee Ri berdiri dan menyapa Eun Kyo. Istriku hanya membalasnya dengan senyuman, aku tau dia terpaksa tersenyum. Terkadang ingin tertawa melihat sikapnya. Dia cemburu, terkadang seperti anak kecil, tapi ada rasa yang berneda melihatnya seperti itu, diluar dari sikapnya yang sulit sekali dikendalikan saat ini. Ada sesuatu yang aku yakini dari sikapnya. ‘Dia sangat mencintaiku’.

“Ayo, Ryu Jin~a, biar Eomma mandikan.” Eun Kyo menangkap Ryu Jin yang berlari ke pelukanku.

“Ani, aku mandi bersama Appa saja.” Jawab Ryu Jin, aku mengambil tangan kecilnya dan menggiigitnya.

“Eum, sejak kapan kau suka mandi denganku?” dia tertawa nyaring.

“Ah, kalau begitu aku pulang saja Oppa.” Hee Rin berdiri setelah meminum minumannya sedikit. Aku tau banyak yang ingin dia ceritakan, mianhae Hee Rin~a, sekarang waktunya sedang tidak tepat. Aku ikut bangkit dan mengantarnya sampai di depan, begitu juga Eun Kyo setelah Hee Rin benar-benar pulang, aku menoleh pada Eun Kyo. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Aigoo, setan apa yang sedang menghinggapi tubuh istriku?

Aku kembali ke dalam dan anak serta istriku sudah tidak ada. Aku mencari mereka dan mendengar suara gaduh dari arah dapur. Aku memperhatikan Eun Kyo sedang memandikan Ryu Jin yang sibuk menghentakkan kakinya protes untuk diberi shampoo.

“Perih, perih, perih Eomma…” Ryu Jin merengek sambil menghindarkan kepalanya dari Eun Kyo, menolak untuk disentuh.

“Ryu Jin~a, kalau kau enghindar terus tidak akan bersih sayang..” bujuk Eun Kyo sambil masih berusaha menggapai kepala Ryu Jin, namun ditangkis oleh Ryu Jin.

“Arasseo, arasseo, Appa yang melanjutkannya, ne?” Eu Kyo mengalihkan pandangannya padaku, seolah memintaku untuk membantunya.

“Appa..” panggil Eun Kyo padaku. Aku berjalan perlahan mendekati mereka.

“Ryu Jin~a, jangan menyusahkan, atau kau besok tidak akan ikut.” Ancamku, anak itu terdiam lalu menengadah padaku.

“Kemana?” tanyanya cepat.

“Besok Eommamu akan ke pantai lagi, jika kau susah diatur, tinggal bersama Halmeoni saja.” Aku menyentuh kepalanya dan memijatnya, Ryu Jin diam dan tidak protes lagi, hingga aku mengguyur tubhnya dengan air. Setelah selesai membersihkan tubhnya aku melilitkan handuk ditubuhnya. Anak itu diam saja.

“Sekarang saatnya sikat gigi.” Eun Kyo membawa sikat gigi beserta pastanya. Ryu Jin langsung menutup mulutnya dan menyembunyikan wajahnya di dadaku.

“Ryu Jin~a, ya, ya, ya..” aku mencoba menarik tubuhnya. “Itu rasa Strawberry kesukaanmu, ayo.” Aku menrik tubuhnya dan dia menutup mulutnya dengan tangan rapat-rapat.

“Kau mau tinggal disini sendirian besok? Eoh?” ancam Eun Kyo kali ini. Anak ini paling tidak bisa sendiri.

“Aku mau pastanya yang banyak.” Teriaknya.

“Ini sudah banyak.” Jawab Eun Kyo.

“Itu tidak banyak! Bulat-bulat!” protes anak itu lagi.

“Ara! Ini sudah bulat.” Eun Kyo membuat mulut anak itu menganga dengan menarik dagu keciknya hingga mulutnya terbuka, lalu mulai menyikat giginya.

“Ah, ah, ah, Appo..” lagi-lagi protes, ada saja alasannya. “Cukup, cukup. Geumanhae.” Ryu Jin menjauhkan tangan Eun Kyo. Eun Kyo menghela nafas.

“Belum bersih, sayang…” suara Eun Kyo rendah namun dipenuhi emosi.

“Aku mau Appa saja.” Ujarnya sambil menatapku.

“Ara, dengan Appa saja.” Eun Kyo menyerahkan pasta dan sikat gigi kecilnya padaku.

“Banyak-banyak Appa.”

“Eum, buka mulutmu.”

“Ah, Appo, appo, appo…” protesnya lagi. Tapi aku tidak menghiraukannya.

“Pelan-pelan, Appa…” ujar Eun Kyo terus memperhatikan apa yang aku lakukan pada Ryu Jin. “Gigi depannya, dan di belakangnya Oppa.” Eun Kyo masih memperhatikan pekerjaanku. Aku menatapnya, dia balas menatapku. Sudah meredakah emosinya?

“Iya, selesai, sudah hentikan saja, Oppa.” Aku yang menatap Eun Kyo sambil membersihkan mulut Ryu Jin, berhenti seketika.

“Kumur-kumur, lalu pakai pakaianmu sendiri.” Eun Kyo bangkit dan mengambilkan baju untuk Ryu Jin. Lalu dia yang masuk ke dalam kamar mandi. Lihat? Bukankah kami partner terbaik? Apa jadinya Ryu  Jin jika tidak ada aku? Atau tidak ada Eommanya?

^_^

Aku menggelar tiga buah kasur di lantai untuk kami bertiga tidur. Eun Kyo mengambil tempat di tengah dan sibuk bersenandung membuat Ryu Jin tertidur. Matanya hampir terpejam namun masih bersikeras untuk membuka. Dia mengelus pipi Eun Kyo sambil menggumam. Aku disamping Eun Kyo berbaring menyamping sambil sesekali tersenyum memandangi mereka. Saat Ryu Jin tak lagi menggumam baru aku berani berbicara.

“Ryu Jin sudah tertidur?” Bisikku di dekat telinga Eun Kyo. Dia mengangguk.

“Sudah dan kau jangan berisik.” Eun Kyo erbaring telentang dan menarik selimutnya menutupi tubuhnya. Aku juga ikut dalam selimutnya. Tanganku menyusup di lehernya menopang kepalanya. Kudekatkan tubuhku dan mengecup dahinya. Dia menghela nafas cepat lalu memejamkan matanya. Tidak memperdulikan perlakuanku.

“Yeobo..” panggilku. Dia tidak menjawab. 5 menit berlalu tidak ada jawaban darinya. Aku menengok wajahnya, dia memejamkan matanya.

“Yeobo…” panggilku sekali lagi.

“Hem..” jawabnya dengan gumaman saja.

“Mianhae.” Ucapku sambil menatap wajahnya. Dia membuka matanya perlahan.

“Untuk apa?” tanyanya datar.

“Mian, mian, mian. Aku membuatmu…” aku tidak melanjutkan kalimat.

“Sudahlah, aku ingin tidur, besok harus membantu Kim Jin dengan pemotretannya.” Ujarnya membelakangiku dan memeluk Ryu Jin. Aku mendekatinya.

“Bisakah kau menolak tawaran itu? Kita pergi bersama lagi.” Pintaku, ini liburan kami, kenapa harus ada laki-laki itu dan memintanya membantu pekerjaannya.

“Aku sudah setuju Oppa, tidak mungkin mengecewakannya.” Jawabnya, menggeser tubuhnya semakin merapat dengan Ryu Jin.

“Tapi kan…”

“Oppa.. aku sudah bilang kau boleh ikut, hem? Jadi mau apa lagi? Tidak ada alasan untuk menolak.”

“Tapi kan ini liburan kita..” aku masih berusaha membujuknya untuk tidak perlu pergi besok.

“Kita pergi bersama lagi, lalu bertemu Hee Rin lagi, tidak sengaja. Lalu kau mengacuhkanku lagi, lalu aku harus mengurus Ryu Jin. Terpaku melihatmu bersamanya, itu yang kau inginkan?” ujar Eun Kyo meninggi.

“A, aniyo..”

“Lalu? Kalian selalu berjodoh bertemu dimanapun, dan aku harus mengikutinya?” ujarnya lagi.

“Arasseo, besok aku ikut bersama Ryu in.” Putusku akhirnya.

“Bagus, sekarang kau tidur.” Dia mengusap kepalaku.

“Tapi aku tidak bisa tidur.” Aku melepaskan pelukanku. Dia berbalik menghadapku.

“Mau aku nyanyikan seperti Ryu Jin?” tanyanya dengan mata terpejam dan meraih kepalaku. Aku tertawa. Sepertina wanita ini mulai memaklumiku. Setidaknya dia tidak emosi lagi seperti tadi.

“Besok jam beraap kita berangkat?” tanyaku masih ingin berbicara dengannya.

“9” jawabnya sambil mendekatkan tubuhnya padaku.

“Apa Ryu Jin bisa dibangunkan? Dia terlalu lelah hari ini.”

“Oppa, aku ingin tidur..” dia membuka matanya. “Bisakah kita melanjutkannya besok saja?” dia menatap mataku begitu juga aku. Arasseo, aku akan diam, tapi aku tidak bisa tidur Eun Kyo~ya, benar-benar tidak bisa tidur. Harus membayangkanmu bekerja bersama lelaki itu dan mengacuhkanku. Seperti yang dia lakukan akhir-akhir ini bersama Key.

^_^

Diluar dugaanku, Ryu Jin bangun lebih cepat hari ini, mandi sendiri dan minta digosok giginya. Aku hanya memandangin anak istriku yang sedang sibuk, duduk dengan malas dengan mata setengah terbuka, tapi aku masih bisa melihat antusiasme mereka akan hari ini. Ryu Jin nampak senang sambil menyisir rambutnya, sedang Eun Kyo menyapu wajahnya dengan bedak. Dia terlihat cantik hari ini, sedikit lebih ceria, apa karena senang bertemu dengan rekannya? Entah kenapa aku tidak terlalu menyukainya. Hey, Park Jung Soo sejak kapan kau menyukai seseorang dekat dengan Istrimu? Jika saja In Young Noona bukan saudaramu, kau juga pasti tidak akan menyukainya. Aku menghela nafas pelan.

“Sudah siap ternyata.” Sapaku pada mereka, Eun Kyo menoleh kebelakang mentapku.

“Kau tidak mau ikut?” tanyanya padaku.

“Apa yang kau lakukan disana?” aku balik bertanya.

“Em, aku juga belum pernah melihat atau terlibat dalam pemotretan, tapi yang pasti mungkin memilih baju untuknya.” Jawabnya. Aku kembali merebahkan tubuhku dan menutupinya dengan selimut.

“Yak! Oppa! Kalau kau tidak ikut siapa yang akan menjaga Ryu Jin?!” Eun Kyo menarik tanganku, berusaha membuatku berdiri. Aku berpura-pura tidur, sementara Eun Kyo menarikku sekuat tenaga. Dia menarik dan menahan tubuhku agar tidak kembali terbaring dikasur, hal itu aku manfaatkan untuk memeluknya dan melingkarkan tanganku dilehernya. Kutarik dan kubuat dia terbaring diatas tubuhku.

“Oppa! Ay! Ah! Ayo bangun!” teriaknya di telingaku. Dia berusaha melepaskan pelukanku dan belitan kakiku, sementara aku memejamkan mataku menikmati semua pukulannya ditubuhku. Dia berhenti meronta, tangannya menggapai tepi meja dan berusaha menarik tubuhnya dariku dengan tangan bertahan di kaki meja yang tingginya tidak lebih dari setengah meter. Aku tersenyum, silakan saja Yeobo, aku tidak akan melepaskanmu. Pelukanku menguat seiring dengan tarikan tangannta di kaki meja. Aku bisa melihat Ryu Jin terlihat bingung melihat kami. Eun Kyo menarik meja itu terlalu kuat hingga membuat meja itu bergeser dan menjatuhkan beberapa botol dan benda lain yang ada diatasnya, memberikan bunyi gadus dari jatuhnya benda tersebut kelantai.

“Aigoo, wae gurae?” aku mendengar derap langkah berlari dari luar dan pintu seketika terbuka. Jang Ahjumma ternganga di depan pintu. Dia menutup melihat keadaan kamar dan menatapku yang sedang memeluk Eun Kyo.

“Yak! Kalian! Jangan didepan anak!” Jang Ahjumma segera menyambar Ryu Jin dan mengangkatnya tubuh anak itu yang sedang terpaku.

“Oh! Omo! Ahjumma, bukan, bukan.” Aku melepaskan pelukanku dari Eun Kyo dia bangkit dan mencoba menjelaskan pada Jang Ahjumma namun, wanita setengah baya itu sudah berlalu sambil membawa Ryu Jin.

“Silakan dilanjutkan!” teriaknya dari luar membuatku tertawa.

“Berhenti tertawa!” dia memukul dadaku dengan keras.

“Omo! Appo..”

“Ayo cepat bangun, atau kau akan aku tinggal.” Dia ingin keluar dari kamar namun aku segera menutup pintu.

“Temani aku mandi.” Aku menggodanya yang segera dibalasnya dengan sebuah injakan keras di kakiku.

Author’s POV

Eun Kyo bergegas turun sambil membantu Ryu Jin turun dari mobil. Setelah memastikan Ryu Jin sudah turun dari mobil dan berdiri dengan benar dia segera berlari menghampiri beberapa orang yang sedang mempersiapkan sebuah pemotretan di pantai.

“Ah, mianhae, sepetinya aku terlambat.” Eun Kyo membungkukkan badannya sambil menyapa orang yang ada disekitarnya.

“Ah, Eun Kyo~ssi, kau sudah datang. Bagaimana menurutmu?” Kim Jin menyapanya dan memperlihatkan penampilannya.

“Eum, bagus.” Jawab Eun Kyo sambil memeperhatikan Kim Jin, dalam hatinya dia memuji penampilan lelaki yang adal dihadapannya yang selalu terlihat santai ini.

“Harusnya kau datang lebih awal.” Ujar Kim Jin.

“Ah, mianhae, anakku sulit sekali dibangunkan.” Jawab Eun Kyo berbohong. Jung Soo yang ada di belakangnya berdiri tidak jauh dari Eun Kyo tertawa geli, dia mendengar pembicaraan Eun Kyo. Eun Kyo menoleh ke belakang mendengar cekikikan Jung Soo.

Eun Kyo terlihat sibuk membantu kegiatan pemotretan itu mulai dari pemilihan kostum sampai make-upnya. Padahal dia sama sekali tidak pernah berdandan.

“Kau bosan Ryu Jin~a? Appa bosan.” Ujar Jung Soo mengajak Ryu Jin bicara.

“Ne.” Jawab Ryu Jin malas. “Appa, ayo kita mandi.” Ajak Ryu Jin pada Jung Soo.

“Kau saja duluan.” Jawab Jung Soo, matanya tak lepas dari gerak-gerik Eun Kyo yang terlihat sangat sibuk tak mau diam.

Setengah jam berlalu Ryu Jin di pinggir pantai. Dia bermain air dan menceburkan tubuhnya di air hingga basah kuyup. Sesekali Jung Soo meliriknya untuk memastikan anak itu baik-baik saja, namun hanya beberapa detik, matanya sibuk mengawasi Eun Kyo yang sibuk bekerja. Jung Soo mengeluarkan kamera yang ada di dalam tasnya dan memotret istrinya saat berjalan di pantai.

BIGBANG-Monster fullsizephoto138401

“Mana Ryu Jin Oppa?” Eun Kyo menghampiriku tanpa aku sadari sejak kapan dia sudah ada di hadapanku.

“Nde? Dia ada disan..” aku menunjuk pinggir pantai tempat Ryu Jin tadinya bermain sambil berenang. Eun Kyo menoleh ke arah tunjukan tangan Jung Soo.

“Dimana?” tanya Eun Kyo sambil menajamkan penglihatannya. Ryu Jin tidak ada ditempat itu dan membuat Jung Soo sedikit panik dan berlari.

“Ryu Jin~a!” teriak Jung Soo nyaring. Eun Kyo yang mulai sadar bahwa ada yang tidak beres iky berlari mengikuti Jung Soo, membuat para kru dan yang lainnya yang tengah membereskan peralatan mereka.

“Ryu Jin.” Panggil Eun Kyo setengah menggumam. Dia mengedarkan pandangannya seluas lautan menghampar di depannya. Seperti orang linglung dia mencari dan bertanya kepada orang yang di laluinnya.

“Oppa, kau mengawasinya kan?” tanya Eun Kyo keras. Jung Soo tidak menjawab, matanya terus mencari Ryu Jin dengan cermat.

Eun Kyo’s POV

Hari ini sangat melelahkan, membantu Kim Jin menyelesaikan pemotretan untuk album barunya. Sebenarnya aku tidak keberatan ditengah liburanku diganggu oleh pekerjaan seperti ini. Namun yang aku khawatirkan adalah Ryu Jin, sejak tadi dia masih terlihat duduk bersama Appanya sambil bermain pasir. Aku tau Jung Soo Oppa mengawasiku selalu, tapi aku berusaha fokus dengan pekerjaanku agar cepat selesai, lalu membawa Ryu Jin yang sudah terlihat bosan.

“Sebentar lagi, kau masih bisa fokus kan?” tanya Kim Jin di belakangku. Aku tersentak dan maju beberapa langkah lalu menoleh ke belakang.

“Ah, ne. Gwaenchana.” Jawabku terbata.

“Anak serta suamiu terlihat sudah bosan.” Komentarnya sambil menoleh pada Jung Soo Oppa dan Ryu Jin. Kim Jinmembungkukkan badannay kearah Jung Soo Oppa yang dibalasnya dengan anggukan. Aku tau kau tidak suka Oppa, tapi mau bagaimana lagi?

Setengah jam berlalu, akhirnya aku bisa menyelesaikan ini. Semua kru tampak meregangkan otot mereka setelah sesi pemotretan berakhir.

“Gamsahamnida..” Kim Jin berjalan dan menyapa setiapa orang ayang ada disana, hingga dia sampai dihadapanku.

“Eun Kyo~ssi, kau boleh istirahat, ah, dan jangan lupa malam in aku mengundangmu ke pesta. Kau mungkin boleh mengajak suamimu.” Lagi-lagi Kim Jin menoleh pada Jung Soo. Dan sejujurnya aku tidak suka tatapannya itu pada suamiku. “Tapi untuk namja kecilmu, sepertinya tidak cocok.” Lanjutnya.

“Ah, ye, aku usahakan datang.” Jawabku sambil mencari Ryu Jin dengan mataku.

“Tapi sebaiknya kau datang sendiri saja.” Aku sudah tidak memperdulikan ucapan Kim Jin lagi saat aku melihat Jung Soo Oppa tidak bersama Ryu Jin. Aku berjalan cepat dan menghampirinya.

“Mana Ryu Jin, Oppa?” tanyaku padanya. Dai mengangkat kepalanya dan menatapku.

“Nde? Dia ada disan..” jawabannya menggantung dan menunjuk suatu tempat. Aku mengikuti tangannay yang menunjuk bibir pantai. Wajahnya terlihat bingung, Oppa, jangan kau katakan Ryu Jin hilang!

“Dimana?” aku memicingkan mataku dan mengangkat tanganku untuk menutupi sinar matahari yang kian terik dan membiaskan penglihatanku.

“Ryu Jin~a!” tiba-tiba Jung Soo Oppa bangkit dan berlari kearah pantai  sambil berteriak memanggil Ryu Jin. Aku menjadi gugup, Jung Soo Oppa berlari kencang dan terus meneriaki Ryu Jin.

“Ryu Jin.” Gumamku tak mampu berteriak sambil mengikuti Jung Soo Oppa berlari. Saat berpapasan dengan beberapa orang, aku menanyakan apa mereka melihat anak kecil berumur 3 tahun yang bermain sendiri, mereka semua menjawab dengan jawaban ‘tidak’.

“Oppa, kau mengawasinya kan? Eoh?” Jug Soo Oppa berhenti mencari dan hanya mengedarkan padangannya di laut lepas. “Oppa! Kau menjaganya kan? Eoh?” dia memandangku dengan tatapan yang sulit kuartikan.

“Ryu Jin~a…” aku mendorong tubuh Oppa dan berteriak emmanggil Ryu Jin.

“Jangan katakan Ryu Jin hilang 2 kali Oppa! Haliang di sekolah masih bisa membuat tenang! Tapi jika di tempat seperti ini? Eoh?” aku memegang pergelangan tangan Jung Soo Oppa, rasanya aku sudah tidak bisa menopang tubuhku sendiri yang terasa semakin berat seketika. Dia menahanku agar tidak terjatuh.

“Ada apa?” Kim Jin menghampiri kami, aku sudah tidak bisa menjawab apa-apa lagi.

“Kau melihat Ryu Jin?” tanya Jung Soo Oppa padanya.

“Bukannya dia bersamamu?”

“Hufh, Ryu Jin menghilang.” Sahut Jung Soo Oppa lirih. “Bisa kau jaga Eun Kyo sebentar?” Jung Soo Oppa melepaskan tanganku dan menyerahkannya pada Kim Jin.

“Oppa, aku ikut.” Aku menolak tangan Kim Jin yang ingin memegangku.

Beberapa menit kami mencari Ryu Jin, namun tidak menemukannya. Aku tidak boleh menangis, sama sekali tidak boleh menangis. Kim Jin dan beberapa orang membantu kami mencari  anak nakal yang sangat aku cintai.

“Ryu Jin~a..” aku berhenti berlari saat melihat seorang anak kecil tanpa baju dan hanya memakai celana pendek saja duduk disamping penjual es krim. Yak! Anak itu, aku hampir mati mencarinya tapi dia dengan santai menjilat es krim yang ada di tangannya.

“Ryu Jin~a!” teriakku kencang. Anak itu menoleh padaku.

“AH! Eomma!” jawabnya sambil tertawa padaku, kakinya menjuntai di kursi dan digerakkannya seolah tidak peduli dengan kekhawatiranku. Aku berlari menghampirinya.

“Eomma sudah bilang kau tidak boleh makan es krim!” aku ingin memerahinya tapi malah memeluknya dengan menangis. Sungguh, tidak bisa dibayangkan bagaimana menyesakkannya saat Jung Soo Oppa mengatakan anak ini hilang lagi.

“Ah, Onnie..” aku berbalik dan mendapati Heerin sedang membawa makanan ditangannya. Aku bingung, kenapa gadis ini ada disini? Dibelakangnya berdiri seorang lelaki yang tersenyum padaku. Tak berapa lama Jung Soo Oppa dan Kim Jin kemari.

“Ryu Jin~a..” panggil Jung Soo Oppa dengan putus asa. Wajahnya terlihat lelah dan cemas.

“Ah, apa Ryu Jin menghilang lagi?” tanya Siwon sambil mengusap rambut Ryu Jin. “Mianhae, membuat kalian cemas lagi, aku bertemu anak ini, dia bilang dia haus dan lapar. Aku membawanya kesini, dia bilang Appanya ada disana.” Siwon terlihat menyesal, sementara Hee Rin hanya diam saja.

“Ah, ani.” Jawab Jung Soo Oppa. “Mianhae Ryu Jin menyusahkan kalian.” Sambungnya, aku menatap tajam Jung Soo Oppa. Apa maksudnya anak ini tidak menghilang? Jelas-jelas dia seperti orang gila mencari Ryu Jin. Hufh, menjaga perasaan wanita itu lagi? Aku hanya diam dan menggendong Ryu Jin.

“Kalau begitu kami permisi saja.” Pamitku menyela pembicaraan Jung Soo Oppa, Siwon dan Hee Rin tentang Ryu Jin, entah apa yang mereka bicarakan aku tidak terlalu ingin mendengarkan, benar kan? Aku tidak bisa mengikuti alur pembicaraan mereka sama sekali. Dan secara tidak sadar aku memang tidak dihiraukan. Entah karena aku tidak bisa mengikuti pembicaraan atau memang aku tidak ingin, aku juga tidak tau.

“Ah, ye, hari sudah hampir sore.” Ujar Jung Soo Oppa mengakhiri pembicaraan mereka, aku hanya tersenyum dalam hati. Jika aku tidak menyelanya, kau juga pasti masih betah hingga malam Oppa.

“Jangan lupa nanti malam.” Ujra Kim Jin, aku hanya menjawabnya dengan mengangguk.

Di perjalanan, kami menjadi canggung. Aku tidak ingin bicara lebih dulu. Ryu Jin di jok belakang masih asik menjilati es krim yang meleleh di tangannya. Sesekali aku menoleh ke belakang dan memberikan senyumku padanya. Anak ini benar-benar senang membuatku sport jantung. Dia memang sangat nakal terkadang, namun juga membuatku takut kahilangannya setengah mati.

“Senang hari ini?” tanyaku padanya, dia mengangguk dengan kuat.

“Main apa saja hari ini?” tanyaku lagi.

“Aku bermain air..” jawabnya sambil menjilat es krim nya dan sesekali menggigit burgernya pemberian dari Siwon.

“Lalu?”

“Lalu aku mandi..” dijilatnya lagi es krim yang meleleh di tangannya.

“Lalu aku melihat es krim..”

“Dan kau membelinya?”

“Ani, aku bertemu Siwon Samchon, dan dia membelikanku.”

“Appamu mana?” aku melirik Jung Soo Oppa yang diam saja di belakang kemudi setirnya.

“Dia tidak peduli padaku.” Jawabnya cepat. Jung Soo Oppa langsung menoleh pada Ryu Jin.

“Apa kau bilang? Aku tidak peduli? Mana mungkin aku begitu?” protes Jung Soo Oppa.

“Ne, Appa tidak menyahut aku memanggilnya, dia tidak mau aku ajak ke pantai. Aku berteriak aku lapa dia tidak mendengarkanku.” Cerita itu keluar dengan lancar selancar Jung Soo Oppa biasanya kalau lagi memprotes sesuatu. Aku hanya mengangguk.

“Em.. begitu?” tanyaku. Ryu Jin mengangguk tegas, membenarkan pertanyaanku. Sementara Jung Soo Oppa hanay diam saja.

“Kita sudah sampai.” Ujar Jung Soo Oppa menhentikan mobilnya. Ahjumma membukakan pintu untuk Ryu Jin dan mengajaknya keluar. Jung Soo Oppa berlari mengitari mobil dan membukakan pintu untukku.

“Aigoo, melelahkan sekali.” Aku menggumam sambil berjalan memasuki rumah. Sebenarnya aku suka di tempat seperti ini. Tapi jika harus tekanan batin mengingat Jung Soo Oppa dan Hee Rin, dimanapun rasanya tidak tenang sama sekali.

“Kau mau air hangat? Biar aku siapkan.” Jung Soo Oppa menawariku.

“Ani, aku bisa sendiri.” Jawabku datar.

“Ani, biar aku siapkan.” Jung Soo Oppa berlari ke dalam dan entah apa yang dia lakukan di dalam sana, aku menghampiri Ryu Jin dan Jang Ahjumma yang duduk di bawah pohon.

“Kemana saja kalian?” tanya wanita setengah baya itu.

“Kami berjalan-jalan Halmeoni..” jawab Ryu Jin.

“Ahahahaha, ne. Dan aku ada pekerjaan sedikit Ahjumma.”

“Begitu? Aku tau kalian liburan disini Eun Kyo~ya, tapi masalah tadi pagi, aigoo, bisakah kalian menahannya saat ada Ryu Jin? Eoh?” Jang Ahjumma berbicara dengan serius. Aku membelalakkan mataku saat dia kembali mengungkit masalah tadi pagi.

“Ahjumma itu tid!”

“Ah… aku mengerti. Kalian masih muda, gejolak seperti itu masih menyala. Tapi jika si kecil ini melihat apa yang dia pikirkan?” dia menyela pembicaraanku.

“Ahjumma itu tidak sep!”

“Lagipula Ryu Jin mungkin juga menginginkan adik, benar kan Ryu Jin~a?” Ryu Jin mengangguk. Aku yakin anak itu tidak mengerti sama sekali.

“Laki-laki.” Jawab Ryu Jin. Aku semakin terperangah. Dia sekalipun tidak pernah mengungkap keinginannya mempunyai adik laki-laki.

“Hem, Halmeoni juga ingin menimang cucu lagi.” Ujar Jang Ahjumma. Wanita ini memang sudah lama menikah, namun tidak dikaruniai anak. Makanya saat kami datang kemari dia sangat senang. Ryu Jin dimanjakannya setiap saat.

“Ahjumma…” protesku.

“Kau masih muda, saatnya mempunyai anak, jangan menunggu tua.” Jang Ahjumma menyentuh pipiku. Aku mengerti yang dia rasakan, meski aku tidak bisa merasakan kesepiannya. Tapi aku bisa membacanya dari matanya.

“Nde.. tapi mungkin nanti, 1 atau 2 tahun lagi.” Jawabku sambil menunduk.

“Kalau kau mengandung, aku bersedia tinggal di rumah kalian untuk mengurusmu dan Ryu Jin.” Dia meraih daguku. Matanya berkaca-kaca.

“Nde, Ahjumma.” Jawabku tak tega menjawab tidak.

“Airnya sudah siap Yeobo.” Teriak Jung Soo Oppa di pintu rumah sambil melambai.

“Ah, Oppa, sudah aku bilang tidak perlu.” Aku bangkit dari duduk dan bersiap melangkah.

“Biarkan saja, laki-laki kadang memang seharusnya melayani kita sewaktu-waktu.” Jang Ahjumma tertawa sambil mencubit pipi Ryu Jin.

^_^

Aku terdiam di dalam taksi sendirian, yang membawaku ke pesta yang di adakan oleh Kim Jin malam ini. Jung Soo Oppa merajuk tidak mau ikut dan membiarkanku pergi sendiri dengan taksi ke hotel tempat pesta itu digelar. Aku tidak pernah ke pesta semacam itu sebelumnya. Setelah memasuki pintu hotel, Kim Jin langsung menyapaku dari belakang, membuatku tersentak.

“Kau datang rupanya.” Sapanya dari belakang. Aku menggeser langkahku sejajar dengannya.

“Ah, ne. Tapi mungkin tidak bisa lama.” Jawabku. “Ryu Jin.” Sambungku.

“Ah, ne. Aku mengerti.” Jawabnya. Dia menarik tanganku berjalan dengan cepat. Susah sekali aku menjajari langkah besarnya.

“Eun Kyo~ssi.” Sapa seseorang lagi. Aku menoleh ke sumber suara. Seorang lelaki melambaikan tangannya padaku. Siwon?

“Kau pasti bingung kenapa aku ada disini kan?” tanyanya setengah berlari. “Ini hotelku.” Sambungnya lagi. Kim Jin hanya diam.

“Kau? Sedang…” dia menunjuk padaku dan melirik tanganku yang dipegang oleh Kim Jin. Aku segera melepaskannya.

“Ah, ada sedikit pesta.” Jawabku tidak nyaman.

“Ah, gurae.. pesta itu. Ara, selamat bersenang-senang. Ryu Jinmu sudah jinak sekarang?” tanyanya sambil tersenyum.

“Ah, ye. Dia bersama Appanya. Sedikit marah aku pergi, jadi Appanya tidak ikut.” Jawabku berbohong.

“Eum, arasseo. Tapi sepertinya Hee Rin bisa membantunya. Tadi Suamimu ke rumah, sebelum aku kesini. Wajah Ryu Jin sedikt…” dia menekuk mukanya dan tertawa. “Sepertinya memang dia marah padamu.” Lanjutnya.

“AH, ye?” tanyaku terkejut.

“Baiklah, kalau begitu selamat bersenang-senang. Kalian pasti sudah ditunggu.” Siwon menyentuh pergelanganku sebentar dan menepuknya.

“Ah, ye.” Pikiranku kacau. Untuk apa Jung Soo Oppa membawa anak itu berkunjung ke rumah mereka? Dia ingin membalasku begitu? Eoh? Gurae.

Aku berjalan mengikuti Kim Jin dan memasuki sebuah ruangan. Semuanya sudah berkumpul disana, aku menyapa mereka.

“Annyeonghaseyo.” Ujarku sambil menunduk.

“Ah, Eun Kyo~ya, silakan duduk, seseorang menjawab.

“Ah, kau sudah ditunggu.” Yang lain menimpali, aku tidak bisa menoleh siapa yang berbicara karena disini sangat riuh. Ada banyak makanan dan minuman. Aku mengambil duduk dan mulai mencoba menikmati suasana ini.

“Kau bersama Kim Jin?” tanya salah seorang yang aku lupa namanya.

“Ah, ani. Aku pergi sendiri.” Jawabku.

“Aku kira kau bersama Kim Jin.” Jawab yang lain.

“Ani, kami bertemu di lobi.” Jawab Kim Jin.

“Bertemu di lobi atau memang kau menunggunya?”

“Ah, anieyo.. aku memang tidak sengaja bertemu dengannya.” Kilah Kim Jin.

“Kebetulan yang disengaja mungkin.” Aku terlalu pusing dengan pembicaraan mereka. Sebagian aku juga tidak kenal. Aku hanya mengenal Daniel dan Hyunjae yang memang satu tim denganku yang sering mencarikanku bahan untuk rancanganku. Aku sempat berselca dengan mereka berdua.

Pesta semakin meriah, sebagian dari mereka ada yang mabuk. Sebenarnya aku takut dengan situasi seperti ini. Tidak pernah sama sekali terlibat dalam keadaan seperti ini sendirian, biasanya bersama Jung Soo Oppa dan itupun dengan penjagaan ketat olehnya.

“Silakan minum.” Kim Jin memberikanku segelas anggur. Aku ragu-ragu untuk menerimanya.

“Segelas saja tidak akan membuatmu mabuk.” Aku yang awalnya ragu-ragu akhirnya tidak enak untuk menolak. Aku meminumnya, rasanya sangat aneh. Tidak seperti yang aku minum saat acara reuni Jung Soo Oppa.

“Apa ini?” tanyaku pada Kim Jin, dia hanya tertawa.

“Coba lagi, enak kan?” dia menuangkan minuman itu lagi ke dalam gelasku dan mengarahkanku untuk meminumnya. Beberapa gelas aku menenggaknya. Akutidak bisa lagi mengingat apa yang aku lakukan,kepalaku terasa berat dan berputar. Hingga aku tidak bisa melihat apa-apa lagi dan tidak lagi merasakan pusing namun keadaan menjadi gelap.

Author’s POV

Satu persatu orang yang ada di pesta itu menghilang untuk pulang atau sekedar istirahat di kamar mereka masing-masing. Eun Kyo tak sadarkan diri dalam dekapan Kim Jin. Lelaki itu tersenyum penuh arti. Saat semuanya pulang dan hanya tinggal mereka berdua, Kim Jim merebahkan Eun Kyo di sofa panjang dan memperhatikan wajahnya.

“Sayang kau sudah menikah, jika tidak, kau pasti menjadi milikku.” Dia menyusuri lekuk wajah Eun Kyo dan menatapnya lekat. Kim Jin mencium aroma tubuh Eun Kyo dan menghirupnya.

“Punya anak satu, tidak terlihat sama sekali. Kau bahkan terlihat belum punya suami.” Tangan Kim Jin semakin turun dari dagu hingga leher Eun Kyo,, membuat wanita itu  menggelita dan menahan tangan Kim Jin. Kim Jin sedikit terkejut mendapati Eun Kyo ynag mulai membuka matanya.

“Oppa… ini dimana? Ryu Jin sudah tidur? Aish! Kenapa kepalaku sakit sekali?” Eun Kyo menciba bangkit dan dibiarkan oleh Kim Jin. Kim Jin mundur beberapa langkah saat Eun Kyo mencoba bangkit. Saat Eun Kyo menjejakkan kakinya di lantai, dia sedikit merasa pusing, dipegangnya kepalanya yang serasa berputar.

“Bawa aku ke kamar mandi Oppa.” Dia masih tidak menyadari siapa yang ada di hadapannya hingga dia berhasil berdiri sendiri namun tubuhnya limbung seketika. Kim Jin dengan gesit meraih tubh Eun Kyo yang hampir terjatuh.

“Arasseo, aku bawa kau ke kamar.” Kim Jin memapah Eun Kyo keluar dari ruangan tempat mereka berpesta menuju sebuah kamar di hotel itu. Kamarnya sendiri. Eun Kyo tidak menyadari, dia masih setengah sadar karena pengaruh alkohol dengan kadar tinggi. Namun saat Kim Jin membawa Eun Kyo dalam lift, seseorang melintas dan mengawasi mereka. Dia setengah berlari menuju tangga darurat, namun sebelumnya dia berhenti di resepsionis terlbih dahulu.

“Nomor kamar Kim Jim.” Teriaknya pada seorang resepsionis. Resepsionis itu sibuk mencarikan data yang bernama Kim Jin dengan cepat.

“Lantai 5 nomor 209.” Jawabnya. Lelaki itu segera berlari dengan kencang menujju tangga darurat denganlangkah besar. Dinaikinya tangga itu dengan cepat dan melewati 2 anak tangfa sekali langkah.

***

Kim Jin merebahkan tubuh Eun Kyo yang sudah tidak berdaya keatas tempat tidur. Kembali di amemandangi denganlekat tubuh Eun Kyo dari ujung kaki hingga wajah. Eun Kyo menarik sedikit tungkai kakinya dan menyebabkan gaunnya sedikit tersingkap. Kim Jin berjalan mendekati Eun Kyo dan melepaskan dasi yang ada di lehernya. Dibukanya kancing kemejanya hingga dua buah dan menyingsing lengan kemejanya. Dia berbaring disamping Eun Kyo dan mendekatkan wajahnya. Eun Kyo tidak sadar sama sekali saat bibirnya di kecup, dia tidak merasakan apa-apa, namun saat Kim Jin mulai melumatnya dengan sedikit panas, baru dia merasakan. Perlahan dia membuka mataya dan mendapati Kim Jin sudah berada diatas tubuhnya tanpa kemeja dan menindihnya. Mata Eun Kyo membelalak dan dia mencoba mendorong Kim Jin.

“Eumph! Eumph!” Eun Kyo mencoba melepaskan Kim Jin yang semikin menghimpitnya.

“Tolong!” teriaknya saat ia berhasil melepaskan ciuman Kim Jin. Tapi dengan segera Kim Jin mencoba meraih bibir Eun Kyo lagi, namun Eun yo menutup mulutnya dengan tangan.

Sementara diluar seseorang yang tadi mengawasi mereka menunggu dan memencet bel dengan cemas. Dia mendengar teriakan dari dalam dan semakinmembuatnya kalut.

“Tolong ambil kunci kamar nomor 209!” perintahnya di telpon pada seseorang. Dia menunggu seseorang dengan cemas sambil terus memencet bel. Saat seseorang itu menyerahkan kunci cadangan kamar yang dia minta, dengan cepat dia membuka kamar itu dan segera masuk tanpa permisi diikuti 2 orang pelayan, satu orang laki-laki dan satunya lagi perempuan. Saat melihat pemandangan yang ada dihadapannya.

“Siwon~ssi.” Teriak seseorang dari dalam sana yang meminta pertolongan. Siwon langsung menarik lengan Kim Jin yang mencoba memperkosa Eun Kyo. Dipukulnya wajah Kim Jin dan membuat Kim Jin roboh dan terjatuh. Siwon mengambil selimut dan menutupi tubuh Eun Kyo. Ada banyak airmata yang keluar dari pelupuk mata wanita itu.

“Bawa dia keluar.” Siwon mendorong Eun Kyo pada seorang pelayan perempuan, dan pelayan itu segera membawa Eun Kyo.

“Siwon~a.. aku tau kau juga menginginkannya kan?” Kim Jin tersenyum sinis dan memegangi rahangnya yang sakit karena pukulan Siwon.

“Kau!” Siwon ingin kembali memukulnya namun tidak jadi.

“Akui saja, aku mengenalmu sejak lama, dan aku apa yang matamu katakan.” Kim Jin bangkit dan memandangi Siwon dengan tatapa meremehkan lengkap dengan senyum mengejeknya.

“Kau, jauhi dia atau aku akan lapor polisi tentang kejadian ini.” Ancam Siwon.

“Kau mengancamku? Tidak akan bisa.” Jawab Kim Jin.

“Sekali lagi kau melakukan ini, aku akan membuat sepupu kesayanganmu sama seperti apa yang kau lakukan pada Eun Kyo.” Jawab Siwon tak kalah sinis.

“”Coba saja kalau kau berani.” Kim Jin meraih kerah baju Siwon dan menghempasnya keras ke dinding.

“Maka sebaiknya kau jauhi wanita itu.” Siwon melepaskan tangan Kim Jin dan merapikan bajunya lalu meninggalkan Kim Jin sendirian.

***

“Kau tidak apa-apa?” Siwon menghampiri Eun Kyo yang duduk di kursi lobi hotel sambil menangis tanpa suara. Dia menyeka airmatanya.

“Gwaenchana. Gomawoyo, Siwon~ssi.” Eun Kyo berdiri dan memberikan hormat pada Siwon.

“Ini sudah malam, sebaiknya aku antar kau pulang.” Siwon menggandeng Eun Kyo dan membawanya pulang.

Jung Soo’s POV

Aku sengaja membawa Ryu Jin ke tempat Hee Rin agar dia tidak lagi mengamuk melihat Eommanya pergi. Sulit sekali membujuk anak ini jik asedang marah, sama seperti Eommanya. Sudah sangat larut namun Ryu Jin masih betah bermain disini bersama keluarga Siwon.

“Kau kapan memiliki anak Hee Rin~a?” tanya Halmeoni. Hee Rin nampak pias memandangi Halmeoni. Aku mengerti posisinya.

“Anak kecil seperti ini sangat lucu sekali, akusudah tidak sabar menimang cucu lagi.” Ujarnya lagi.

“Ne, Halmeoni.” Jawabnya lirih.

“Perlu sdikit usaha lagi, Halmeoni.” Kukedipkan mataku pada wanita tua itu dan dia tertawa nyaring.

“Andai saja cucuku sehangat dirimu.” Dia menepuk bahuku. “Kau tidak membawa istrimu?” tanyanya.

“Dia sedang ada acara, makanya aku yang mendapa tugas menjaga anak nakal ini.” Kubelai rambut Ryu Jin yang asik memakan pie yang disediakan Choi Halmeoni.

“Sekali sekali bawa dia kesini.” Pintanya.

“Ah, ye.” Aku mengangguk. Mungkinkah Eun Kyo mau dibawa kesini? Aku rasa dia tidak akan mau.

“Ryu Jin~a, bagaimana kalau kita pulang saja? Eommamu pasti sudah pulang.” Ryu Jin mendengar kata ‘Eomma’ langsung bangkit. Hee Rin tertawa.

“Eun Kyo Onnie memang idola pertamanya Oppa.” Ujar Hee Rin.

“Eoh, benar sek kali!” aku terputus berbicara karena terjangan Ryu Jin.

“Kajja kita pulang!” dia mengajakku untuk pulang.

“Beri salam pada Halmeoni.”

“Halmeoni, kami pulang dulu.” Ujarnya manja.

“”Mana ciuman untukku?” tanya Halmeoni. Dia mendekat pada Halmeoni dan mencium pipinya.

“Untukku mana?” tanya Hee Rin. Ryu Jin berlari kearah Hee Rin dan menciumnya.

“Kalau begitu aku permisi.” Aku berpamitan pada mereka dan masuk ke dalam mobil

Sepanjan perjalanan ke rumah, aku memikirkan Eun Kyo. Mungkin kah dia sudah pulang? Tapi dengan siapa? Gadis itu memang terkadang pemberani dalam situasi tertentu. Namun malam ini? Apa dia akan baik-baik saja? Aku marah padanay saat dia bersikeras pergi ke pesta itu.

Aku memarkir mobilku dihalaman rumah, namun saat aku berhenti dan mematikan mobilku. Satu mobil mengarah masuk ke dalam halaman. Aku turun dari mobil dan menggendong Ryu Jin yang sudah mulai mengantuk saat perjalanan pulang tadi. Aku menunggu mobil itu berhenti dan mematung. Siwon keluar dari mobil itu diikuti Eun Kyo. Wajahnya terlihat lelah, matanya sembab. Aku langsung menghampirinya.

“Aku mengantarnya pulang, tadi bertemu di tempat pestanya, kebetulan pest aitu ada dihotelku.” Ujar Siwon menjelaskan tentang kedatangannya bersma Eun Kyo. Aku menatap wajah Eun Kyo yang menunduk. Ada bau sesuatu yang tidak beres disini.

“Ah, ye. Gamsahamnida.” Jawabku.

“Kalau begitu aku permisi, dia kelelahan, sebaiknya istirahat.” Siwon menyentuh pundak Eun Kyo sejenak dan mendorongnya pelan, seolah menyerahkannya padaku.

“Eomma..” sapa Ryu Jin dengan suara serak. Eun Kyo segera mengambil Ryu Jin dari gendonganku dan membawanya ke dalam rumah tanpa berkata apa-apa, bahkan pada Siwon sebagai ucaran terima kasih. Aku memandang Eun Kyo dan Siwon bergantian.

“Ada apa dengannya?” tanyaku. Siwon tersenyum.

“Dia sedikit lelah mungkin, dan kau tau jika sedang lelah emosi wanita sedikit…. labil.” Dia bebisik padaku saat menyebut kata ‘labil’. Aku semakin bungung, namun apa yang dia ucapkan ada benarnya juga. Pasti sangat lelah setelah seharian bekerja dan malamnya harus ke pesta. Tapi itu rasanya bukan seperti Eun Kyo yang kelelahan, dia tidak pernah mengeluh lelah sebelumnya. Saat Siwon berlalu, aku menyusul ke dalam rumah.

“Ahjumma, Ryu Jin sudah tidur. Bisa dia tidur dengamu?” aku melihat Eun Kyo sedang mengetuk pintu kamar Jang Ahjumma. Beberapa detik kemudian Jang Ahjumma membukakan pintu dan tersenyum menggoda.

“Boleh sekali. Ini kan malam terakhir disini. Semangat!” jawab Jang Ahjumma penuh keceriaan.

“Oppa, bisa angkat Ryu Jin ke kamar sebelah?” Eun Kyo menoleh padaku yang berdiam mematung memandanginya. Aku berjalan menuju kamar dan memindahkan Ryu Jin dengan perlahan agar tidak membuatnya bangun.

Saat aku kembali ke kamar. Eun Kyo sudah ada diatas kasur dengan selimut lengkap. Aku mendekatinya dan berbaring disampingnya.

“Kau kenapa?” aku memeluk tubuhnya yang terbungkus selimut.

“Oppa jangan sentuh aku.” Jawabnya dingin. Aku tidak menghiraukannya.

“Oppa jangan sentuh aku!” teriaknya lebih nyaring membuatku sontak melepaskanpelukanku. Ada apa dengannya? Dia menatapku tajam. Dia tidak ingin ada Ryu Jin disini, bukan kah itu berarti…

“Sssttt, ada apa denganmu? Pelankan suaramu, jika anakmu terbangun sia-sia aku membawanya ke kamar sebelah.” Aku menutup mulut Eun Kyo. Dia menangis.

“Aku tidak mau disentuh!” ujarnya pelan tapi penuh penekanan.

“Ada apa denganmu?” kubelai pipinya dengan cemas. Ada ketakutan yang tergambar diwajahnya. Bukan seperti Eun Kyoku. Dia menghindar.

“Aku lelah, ingin tidur saja. Jangan dekat-dekat.” Dia menggeser posisi tidurnya dan merapatkan selimutnya. Aku hanya bisa menatap punggungnya yang membelakangiku. Ku belai rambutnya namun dia mengibas tanganku. Sebenarnya apa yang terjadi denganmu Eun Kyo~ya?

“Kenapa jadi berubah emosional seperti ini Yeobo?” tanyaku penasaran tentang perubahan sikapnya akhir-akhir ini. Eun Kyo tidak menjawab, aku mendekatinya.

“Aku tau kau belum tidur.” Kusentuh bahunya dan memang aku tau dia belum tidur, nafasnya tidak teratur seperti biasanya dia tidur.

“Mianhae, mian jika au menyusahkanmu akhir-akhir ini.” Jawabnya memecah keheningan malam kami yang semakin terasa dingin seiring dengan sikapnya ynag memang tidak hangat.

“A, ani. Bukan seperti itu, aku senang kau cemburu tapi!

“Aku tidak akan cemburu padamu lagi.” Jawabnya memotong pembicaraanku. Aku tidak ingin menjawab lagi, jika aku menjawab maka akan semakin panjang rentetan perdebatan ini.

Siwon’s POV

Sepulang mengantar Eun Kyo yang hampir membuatku membunuh seseorang mengingat kejadian sebelumnya. Aku memarkir mobilku di halaman dan segera masuk ke dalam rumah. Hee Rin menyambutku di balik pintu. Di belakangnya Halmeoni sudah duduk dengan melipat tangannya di dada.

“Aku ingin bicara dengan kalain berdua, duduk Siwon~ah!” ujarnya tegas. Aku memandangi Hee Rin dan dia hanya mengangkat bahunya.

“Apa yang kalian lakukan selama ini? Kenapa belum jug apunya anak? Eoh? Besok kau tidak boleh pulang, aku akan memanggil ahli kandungan besok siang kesini.” Halmeoni bangkit tanpa membiarkan aku menjawab atau setidaknya menjelaskan membela diriku. Aku ikut bangkit dengan mulut menganga tak bisa mengeluarkan kata-kata lagi. Aku menoleh pada Hee Rin dan menghela nafas pasrah.

“Kau sebaikny amandi dulu, kau terlihat lelah, aku siapkan air hangat” ujarnya. Aku mengikutinya ke dalam kamar. Duduk di tepi tempat tidur menunggunya menyiapkan air hangat untukku. Beberapa saat dia kembali dari kamar mandi.

“Air hangatnya sudah siap.” Ujarnya sambil mengambilkan handuk untukku.

“Gomawo~yo.” Aku bangkit dari dudukku dan menuju kamar mandi dan merendam tubuhku, melemaskan ototku sejenak. Terngiang kembali apa yang dikatakan Kim Jin beberapa waktu tadi. Mungkinkah aku menyukai wanita itu? Entahlah, aku juga tidak tau. Dan mampukah aku berbuat jahat pada istriku sendiri? Seperti ancaman yang aku katakan pada Kim Jin tadi. Aku benar-benar ingin mebunuhnya saat dia menyentuh wanita itu!

Aku bangkit dari bathtub, tidak ingin terhanyut dari perasaanku sendiri. Au mengambil handuk dan melilitnya di tubuhku lalu membuka pintu kamar mandi.

“Sudah mengantuk?” tanyaku pada Hee Rin dan mencari piyama untukku.

“Aku sudah menyiapkannya.” Dia bangkit dari rebahnya dan melirik baju yang ada disampingnya. Aku mendekat dan mengambilnya lalu memakainya.

“Aku, aku, aku merasa tertekan disini Siwon~a.” Ujarnya sedikit bergetar. Aku menengok padanya. Aku mengerti posisinya. Apa aku terlalu jahat padanya? Bukannya wanita memang tidak ingin disentuh oleh orang yang tidak mencintainya ataupun dicintainya? Hey, kami belum saling mencintai meski aku menyukainya.

“Hufh.” Aku mengusap wajahku juga merasalan apa yang dia rasakan. “Lalu kau mau bagaimana? Tidak mungkin kita bercerai dan mengatakan pada mereka kita tidak saling mencintai kan? Jawaban mereka pasti kalian hanya perlu waktu.” Aku merebahkan tubuhku disampingnya.

“Lalu butuh waktu berapa lama lagi?” tanyanya.

“Molla.” Jawabku sambil mengambil selimut. Apa aku tidak normal? Eoh? Berbaring dan tidur setiap hari dengan seorang gadis yang begitu cantik disampingku tanpa aku sentuh sama sekali? Terkadang aku juga merasa heran dengan diriku sendiri.

“Tapi…” dia tidak melanjutkan perkataannya.

“Apa kau masih bersedia menunggu?” tanyaku, memiringkan tubuhku memandanginya yang mulai memejamkan matanya.

“Menunggu? Menunggu cinta itu datang? sampai kapan?” tanyanya terdengar putus asa.

“Lalu apa kau bersedia..”

“ANI!” jawabnya cepat. Dia terlalu canggung dan aku bisa memahami itu semua. Kami terdiam, dia sudah memejamkan matanya dan aku sama sekali tidak bisa tertidur. Masih mengingat kejadian yang menimpa Eun Kyo beberapa jam tadi. Aku bisa saja melakukannya seperti yang dilakukan Kim Jin dan seperti ancamanku tadi. Tapi aku… dia tidak tau sama sekali. Tidak tau apa yang terjadi antara aku dan Kim Jin dulunya, dan tidak seharusnya dia menjadi korban.

“Menunggumu mengatakan cinta padaku? Sangat menakutkan hidup dengan orang asing Siwon~ssi.” Ujarnya. Aku terkejut mendengar apa yang baru saja dia katakan.

“Nde?” tanyaku meminta penjelasan. Dia diam dan tidak menjawab.

“Lupakan saja.” Jawabnya.

“Bagaimana Ryu Jin dan Jung Soo kemari? Kau senang?” tanyaku.

“Em, mereka sangat lucu.” Jawabnya.

“Nde.” Jawabku, pikiranku lagi-lagi melayang pada wanita yang ketakutan sambil menangis duduk disampingku di dalam mobil.

“Apa yang harus kita lakukan besok? Jika Halmeoni memanggil dokt…ter..” ujarnya lirih.

“Serahkan saja padaku. Ikuti apa yang dia inginkan, setelah itu kita pulang. Sederhana kan?” aku mencoba menenangkannya.

“Begitu? Baiklah.” Dia berbalik membelakangiku dan aku mulai memejamkan mataku.

^_^

Aku melihatnya pucat pasi berbaring di atas tempat tidur. Sejak memasuki ruangan Dokter Han tadi, wajahnya berubah semakin putih. Dia menunggu seorang Dokter perempuan keluargaku untuk memeriksanya. Halmeoni menungginya duduk di kursi dekat tempat tidur.

“Maaf Nyonya Choi.” Dokter Han mulai meraba beberapa organ Hee Rin. Aku menungguinya dengan was-was. Sesekali Hee Rin melirik padaku.

“Halmeoni, mau makan sesuatu?” tanyaku mengalihkan perhatian Halmeoni. Tatapannya seolah menghakimi Hee Rin membuatku risih. Halmeoni bangkit dan keluar dari ruangan itu tanpa berkata.

“Bisa angkat kakimu Nyonya?” lagi-lagi Hee Rin melirikku. Aku hany bisa memnadangnya dengan tatapan ‘aku mohon lakukan saja dan kita akn cepat pulang’ padanya. Dokter Han memakai Handscheon dan membuatku tersentak saat dia ingin meraba bagian senditif Hee Rin.

“Tunggu! Bisa lakukan itu dengan USG saja?” aku menginterupsi apa yang ingi Dokter Han lakukan. Hee Rin hanya diam dan memejamkan matanya. Bagaimana mungkin dia ingin menyentuh bagian itu sementara aku belum menyentuhnya sama sekali?!

“Tap.”

“Lakukan saja Dokter Han, sebelum Halmeoni kembali. Tidak ada yang yang sakit di antara kami berdua. Bagaimana mungkin kami bisa memiliki anak jika aku selalu pulang malam karena pekerjaan?” Dokter Han terdiam sejenak.

“Baiklah, aku ingin memeriksa… sudah lah lupakan saja.” Dokter Han akhirnya melepaskan saung tangannya dan mulai memeriksa Hee Rin lebih lanjut. Beberapa lama aku menunggu akhirnya serentetan pemeriksaan lengkap itu sudah selesai dilakukan.

“Bisa pulang sekarang?” tanyaku terus terang.

“Nde, silakahkan.”

“Kirim hasilnya pada Halmeoni saja.” Aku menarik tangan Hee Rin dan keluar dari sana, namun sebelumnya aku menelpon Halmeoni, ternyata dia sudah pulang sejak tadi.

Jung Soo’s POV

Sudah beberapa hari sejak kepulangan kami dari Busan, Eun Kyo dan aku semakin berjarak. Dia lebih senang tidur bersama Ryu Jin ketimbang aku. Seperti malam ini, juga dia lebih banyak diam sekarang, hanya berkutat dengan pekerjaannya. Apa lagi kesalahanku kali ini? Aku rasa frekwensiku bertemu Hee Rin sudah berkurang, ada apa lagi dengannya?

“Yeobo.. kau tidak tidur?” aku menghampirinya yang sedang menggambar di meja kerjaku.

“Ah, ye. Aku belum mengantuk.” Jawabnya acuh. Dia terlihat kurus dan dimatanya ada garis hitam dibawahnya. Aku meremas pundaknya.

“Oppa, kau tidur duluan saja.” Ujarnya.

“Kau sedang apa?”

“Aku membuat desain untuk presentasi 2 hari lagi.”

“Kau masih betah bekerja di tempat itu?” tanyaku.

“Mungkin akan berhenti saat kontrakku habis Oppa, sudah berjalan 2 bulan, tinggal 1 bulan lagi. “ jawabnya.

“Aku tidak suka melihatmu kurus seperti ini.” Aku mengecup kepalanya.

“Jangan sentuh aku! Maksudku jangan ganggu aku..” dia mendorongku pelan. Aku terhunyung 3 langkah ke belakang.

“Kau kenapa Yeobo? Kau bilang kau tidak akan cemburu lagi pada Hee Rin tapi kenapa masih bersikap seperti ini?” tanyaku protes, dia masih tidak berubah. Melihatnya seperti ini membuatku semakin tidak bisa berbuat apa-apa, seolah-olah di amenghukumku dengan kesibukannya. Aku tidak mengerti, apakah bertemu dengan teman lama itu sebuah kejahatan?

“Siapa bilang aku cemburu?” Dia meletakkan pensilnya dan menoleh padaku. “Apa aku pernah mengatakan itu?” tanyanya lagi.

“Entahlah, tapi kau..” dia memandangiku sambil menunggu kata yang keluar dari mulutku, namun aku memotongnya. Melihatnya memandangku seperti itu membuatku ingin menciumnya. Aku mencium kilat bibirnya dengan gerakan cepat. Dia hanya diam dan terpaku, seolah tidak memberikan efek apapun padanya. Padahal dulunya saat aku menciumnya, dia akan terlihat senang, namun kali ini hanya datar saja tanpa ekspresi darinya.

“Baiklah, jangan tidur larut.” Aku menyentuh pipinya dan membelainya. Reaksinya tetap sama. Dingin.

^_^

“Kau masak apa hari ini?” tanyaku mendekatinya saat dia memasak pagi ini. Aku tau dia selalu bangun pagi, dan mengurus semuanya. Terkadang melihatnya bekerja seperti itu membuatku sedikit tidak suka. Bukankah lebih nyaman jika dia hanya mengurus saja? Sementara aku mencari uang untuk mereka?

“Minggir Oppa, kau menghalangi jalanku.” Dia menyikutku pelan membuatku mundur darinya. Aku duduk di meja makan dan memperhatikannya yang gesit bekerja.

“Bukannya kita harus menyewa pembantu? Kau terlihat lelah akhir-akhir ini.” Aku terus memperhatikan wajahnya dengan seksama yang semakin tirus saja.

“tidak perlu, sebentar lagi juga akan habis kontrakku. 3 bulan saja.” Jawabnya. Aku segera bangkit mendengar ucapannya.

“Jinjja? Kau berhenti dari perusahaan itu?” tanyaku tidak percaya. Dia membawa panci ke tempat pencucian piring.

“Aku habis kontrak, bukan berhenti.” Ujarnya sambil melirikku tajam.

“Arasseo,arasseo. Apapun sebutannya.” Aku tersenyum memandangnya. Berarti dia tidak harus tidur larut malam lagi, tidak perlu meninggalkanku di tempat tidur lagi, dan aku tidak akan bosan lagi menunggunya di tempat tidur.

“Aku merindukanmuyang seperti dulu.” Kupeluk tubuhnya dari belakang dan mengecup lehernya seperti biasa. Dia menggidikkan bahunya membuat daguku sedikit sakit.

“Jangan sentuh aku, aku lagi sibuk.” Dia melepaskan pelukanku darinya. “Sebaiknya kau bangunkan Ryu Jin saja, Oppa..” pintanya lembut sambil tersenyum dipaksa lalu kembali melipat wajahnya.

Aku berjalan menuju kamar Ryu Jin dan mencoba membangunkan anak itu. “Ryu Jin~a.. ireona..” aku menggoyang kakinya, membuatnya menggeliat dan memeluk gulingnya. “Ryu Jia~a..” panggilku lagi mencoba membangunkannya. “Ayo mandi, kau harus sekaloh dan bangun sekarang juga!” uajrku sedikit keras agar dia terjaga.

“Shireo Appa… Aku masih mengantuk!” dia membalik tubuhnya dan merapat ke dinding. Aku menaikitempat tidurnya dan mencoba sekali lagi membangunkannya.

“Ryu Jin~a, ayo bangun!” suara Eun Kyo terdengar nyaring dan melemah. Dia melewati kamar Ryu Jin sambil membawa pakaian kotor dan menyempatkannya membangunkan Ryu Jin dengan teriakannya yang khas.

“Ne, Eomma.” Jawab Ryu Jin sambil duduk dan mengusap matanya. Terlihat sekali dia enggan untuk bangkit, tapi aku tau kenapa dia memaksakan dirinya bangun. Pasti tidak ingin dibawa paksa oleh Eun Kyo dan digguyur dengan air dingin.

“Appa, mandi air hangat?” pintanya manja. Aku mengangguk.

“Jangan bilang Eomma aku mandi air hangat.” Bisiknya di telingaku.

“Eum, ini rahasia kita.” Balasku membalas berbisik di telinganya. Dia berdiri dan meraihku dalam pelukannya minta digendong.

“Kita mandi di kamar mandi luar saja Appa..” pintanya. Saat perjalanan membawanya dari kamar ke kamar mandi, dia sempat-sempatnya untuk tertidur. sebenarnya aku tidak tega padanya. Dia sangat mirip denganku, bisa tidur dimana saja.

“Kajja, kita mandi.” Aku menurunkannya dan dia masih memejamkan matanya.

“Air hangat Appa…” pintanya dengan mata tertutup.

“Eum, akan aku siapkan.” Jawabku sambil melepaskan piyamanya.

^_^

“Sajangnim, klien kita ada diluar dan ingin bertemu dengan anda.” Aku menoleh pada sekretarisku dan menghentikan pekerjaanku.

“Ah, biarkan dia masuk.” Aku mempersilakannya masuk dan menunggunya.

“Annyeonghaseyo Park Jung Soo~ssi. Maaf baru bisa menemuimu sekarang.” Seorang wanita berperawakan tinggi dan anggun serta terlihat sedikit angkuh berdiri di hadapanku sambil membawa seekor kucing di tangannya. “Kita belum sempat berkenalan sebelumnya.” Ujarnya sambil berkeliling melihat-lihat ruanganku.

“Aku sudah memperhatikanmu dari media.” Lanjutnya dan berhenti di depan sebuah foto yang terpajang di dindingku.

“Istri dan anakmu?” tanyanya.

“Ne.” Jawabku singkat. Aku memperhatikan gerak-geriknya sejak tadi. Apa yang sebenarnya ingin dia lakukan?

“Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku kesini kan? Aku klien dari perusahaanmu, ani, maksudku keluargaku.” Ujarnya sambil menolehkan kepalanya namun tubuhnya masih menghadap foto keluargaku.

“Ah, aku belum menyebutkan namaku. Kim Jin Hye imnida.” Dia membungkuk dan memperlihatkan dadanya yang terbuka, saat dia sadar aku memperhatikannya, dia melirikku dengan seduktif dan menutup bagian dadanya.

“Kau pasti tidak tau kan? Aku teman sekolah istrimu dulunya.” Ujarnya berbalik dengan gaya menggoda. Sebenarnya apa yang diinginkan gadis ini? Dia mendekat padaku dan semakin dekat hingga tubuhku dan tubuhnya hanya berjarak tak lebih dari 20 cm.

“Kapan-kapan, boleh aku ke rumah kalian.” Ujarnya sambil memandangku dengan tatapan menggoda. Aku tidak suka gayanya.

“Sekarang cukup dulu perkenalan kita.” Dia memegang dasiku dan mencoba membenarkannya. Aku hanya diam. Sejak tadi aku tidak berkata apa-apa selain kata ‘Ne’ untuk membenarkan pertanyannya tentang anak dan istriku.

“Jung Soo~ssi, seandainya kit abertemu lebih cepat, mungkin kita kan cocok.” Ujarnya penuh percaya diri sambil melangkah pergi dari pintu. Aku menghela nafas, ada apa lagi ini? Teman istriku? Aku tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya, namun dia tiba-tiba saja datang seperti angin dan menghembuskannya padaku membuatku sedikit bergeser. Aku mencium ‘badai’ dari aroma tubuhnya. Dering ponsel mengejutkanku, membuyarkan kebingunganku. Aku mengangkatnya.

“Yeoboseyo?” jawabku tanpa melihat siapa yang memanggilku.

“Oppa, bisa kita bertemu sekarang? Aku akan menjemputmu.” Itu suara Hee Rin. Aku mengenalinya. Lembut tapi tegas.

“Ye, bisa saja.” Jawabku.

Setelah beberapa lama menunggu Hee Rin , akhirnya dia datang juga.

“Oppa! Aku sedang dalam masalah, Halmeoni tiba-tiba saja meminta anak dariku. Aku harus bagaimana? Sementara aku, dia belum menyentuhku sama sekali!” aku terkejut dengan pembicaraan Hee Rin, belum sempat aku menyapanya, dia sudah memberondongku dengan berbagai pertanyaan dan kalimat yang aku tidak mengerti sama sekali.

“tenang, tenag Hee Rin~a, kau minum dulu.” Aku mengambil air minum dari dispenser dan menyerahkannnya padanya. Dia langsung menggak semua minuman itu sampai habis.

“Sekarang ceritakan padaku.” Aku berdiri di hadapannya.

“Oppa, sebenarnya aku tidak yakin menceritakan ini padamu. Tapi aku sudah tidak kuat lagi..” dia menunduk dan terlihat putus asa.

“Jika kau membutuhkan pendengar, aku bersedia.” Aku menyentuh bahunya.

“Oppa.. Eottokhae? Halmeoni meminta cucu..” ujarnya lirih.

“Lalu?”
“Tapi aku belum siap.” Jawabnya.

“Tapi kan wajar orang tua ingin seperti itu.”

“Tapi aku… Molla! Ini tidak seperti dalam bayanganku. Pernikahan ini sama sekali tidak terbayang olehku. Dan dia…” dia tidak melanjutkan ucapannya. Aku menaikkan alisku.

“Dia..” dia kembali menggantungkan perkataannya, membuatku semakin penasaran.

“Dia kenapa? Siwon?” Hee Rin mengangguk.

“Dia tidak pernah menyentuhku sama sekali.” Jawabnya sambil berpaling dariku. Aku terperangah mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya.

“Apa maksudmu?” tanyaku meyakinkan.

“Dia.. dia.. dia..” jawab Hee Rin ragu.

“Maksudmu Siwon tidak pernah menyentuhmu, begitu? Kalian tidak tidur bersama?” tanyaku lagi.

“Ani, ani. Kami tidur bersama, tapi, tapi, hanya saja..”

“Apa dia gila?” mulutku menganga mendengar penuturan dari Hee Rin. Apa dia tidak normal? Eoh? Dia mempunyai istri secantik ini tapi tidak menyentuhnya sama sekali?

“Apa aku tidak menarik? Ah…!! Oppa! Sepertinya aku sudah gila!” nada suara Hee Rin meninggi namun terdengar putus asa.

“Ani.. kau cantik. Tapi…” aku ragu untuk menanyakan sesuatu tantang perasaannya. Ada rasa sebuah rasa lega menyerangku saat dia dan Siwon.. omo! Aku pasti sudah gila? Kenapa ada rasa senang menyelinap di relungku?

“Apa kau menyukainya?” tanyaku hati-hati. Hee Rin menoleh padaku. Dia menatapku lama dan menggelengkan kepalanya.

“Entahlah.” Ujarnya. Gelengan kepalanya sempat membuatku terkejut, namun kata ‘Entahlah’ seolah sedikit mencubitku. Mungkin saja dia menyukainya.

“Mungkin saja aku menyukainya, tapi sepertinya dia tidak menyukaiku.” Hee Rin duduk di sofa. Aku baru sadar, sejak tadi kami berbicara sambil berdiri.

“Kau ingin tau perasaannya?” tanyaku. Dia mengangguk lemah.

“Jika dia menyukaiku, ani, ani. Jika dia mencintaiku. Mungkin ada alasan untukku bertahan. Tapi jika dia tidak ada perasaan padaku, sebaiknya aku mengakhirinya saja.” Ujarnya.

“Apa kau pernah menanyakan perasaannya?” tanyaku lagi. Hee Rin menggeleng.

“Eum.. bagaimana ya? Aku punya sedikit solusi. Tapia ku tidak tau apa ini akan berhasil atau tidak.”

“Apa itu Oppa?” tanya Hee Rin antusias.

“Eum, kau harus membuatnya cemburu.” Jawabku.

“Cemburu?” tanya Hee Rin menatapku dengan bingung.

“Hem, jika dia cemburu padamu, maka itu artinya dia punya perasaan padamu.”

“Tapi bagaimana membuatnya cemburu?” tanya Hee Rin semakin bingung. Aku tersenyum penuh arti. Awalnya Hee Rin mengerutkan dahinya, namun akhirnya sepertinya dia mengerti apa yang aku maksud.

“Permainan seperti dulu?” tanyanya. Aku mengangguk.

“Apa istrimu tidak akan marah?” tanyanya.

“Aku usahakan agar dia tidak marah.”

“Ah! Gomawo~yo Oppa! Apa rencana kita?” tanya Hee Rin.

“Eum, mungkin keluar bersama saat dia juga ada ditempat itu. Kau harus mengetahui semua jadwalnya.” Ujarku.

“Arasseo! Kapan kita mulai?”

“Minggu depan!” jawabku yakin.

Author’s POV

Ryu Jin terlihat bosan duduk di sebuah kursi taman tempat dia biasa menunggui jemputan. Seseorang yang dia nantikan tak juga kunjung menjemputnya. Mungkin kah Appa lupa lagi? Tanyanya dalam hati. Rasa was-was mulai menghinggapi perasaannya.

“Eomma..” panggilnya lirih.

“Adik kecil, sedang apa disini?” tanya seorang gadis berseragam mendekatinya. Ryu Jin mulai mengambil sikap siaga. Dia ingat saat dia dimarahi Eun Kyo saat dia menghilang beberapa waktu lalu karena ajakan Siwon, dia tidak ingin melihat wajah wanita itu sedih karena kehilangannya lagi.

“Aku menunggu Appa.” Jawab Ryu Jin.

“Belum dijemput?” tanya gadis itu. Ryu Jin mengangguk.

“Siapa namamu?” tanya gadis itu lagi.

“Park Ryu Jin.” Jawab Ryu Jin.

“Ah, aku Cho Hyun Ah.” Jawabnya.

“Menunggu Appa juga?” tanya Ryu Jin polos.

“Ahahahaha, aku bukan menunggu Appa, tapi sedang menghindarinya.” Jawab Hyun AH. Ryu Jin menatap gadis itu bingung.

“Aigoo, kau lucu sekali dengan wajah bodohmu seperti itu.” Hyun Ah mengacak rambut Ryu Jin membuat anak itu cemberut.

“Aku sedang bolos les. Kau mau es krim?” tawar Hyun Ah pada Ryu Jin. Ryu Jin mengangguk cepat.

“Ayo ikut aku.” Ajak Hyun AH.

“Anni, nanti Appa mencariku.” Tolak Ryu Jin.

“Aish kau ini! Baiklah, aku akan membelikannay kau tunggu disini, ne? Jangan kemana-mana!” Hyun AH mengacungkan jarinya memberikan peringatan pada Ryu Jin, lagi-lagi Ryu Jin mengangguk. Ryu Jin menunggu Hyun AH dengan senang, karena akan mendapatkan es krim. Beberapa menit berlalu, Hyun Ah kembali dengan 2 es krim ditangannya.

“Mau yang mana? Stroberry atau coklat?” tanya Hyun Ah.

“Stroberry!” jawab Ryu Jin sambil menunjuk es krimnya.

“Arasseo.” Hyun Ah menyerahkan salah satu es krim yang ada ditangannya dan mereka memakannnya bersama-sama sambil menggerakkan kaki mereka yang menjuntai di bangku dan sesekali tertawa.

“Massitha..” ujar Ryu Jin.

“Jinjja? Kau suka? Bagaimana kalau kita tiap hari bertemu disini dan makan es krim bersama?” Tanya Hyun Ah. Ryu Jin mengangguk senang.

“Ah, Appa!” teriak Ryu Jin sambil turun dari bangku dan menghampiri Jung Soo. Jung Soo menyambutnya.

“Kau terlambat Ahjussi, anakmu sudah mulai bosan menunggu.” Sela Hyun Ah.

“Ah, ye. Aku sedikit sibuk.” Jawab Jung Soo tidak enak. “Kau makan es krim? Aigoo, nanti dimarahi Eommamu.” Lanjut Jung Soo mengajak Ryu Jin bicara.

“Daripada dia bosan?” uajar Hyun AH kembali menyela.

“Ah, ye. Terima kasih sudah menjaganya. Dan kau Ryu Jin~a, cepat habiskan es krimnya baru kita

pulang.”

“Setiap hari kami janjian disini Ahjussi dan makan es krim bersama.” Ujar Hyun AH dengan cueknya.

“Ah, jangan makan setip hari.” Jawab Jnug Soo.

“Akan aku belikan makanan, tapi berikan uangnya padaku.” Hyun Ah menadahkan tangannya pada Jung Soo tanpa ekspresi dan membuat Jung Soo bingung namun tetap memberikan uang untuk Hyun Ah.

“Gomawo, Ahjussi, anakmu aman bersamaku.” Jung Soo meninggalkan Hyun Ah sendirian di taman.

“Ahjussi, bawa aku bersaamu saja.” Teriak Hyun Ah nyaring. Dia mencegat mobil Jung Soo dan Jung Soo dengan cepat menginjak rem dan berhenti.

“Kau! Kau bisa membahayakan dirimu sendiri!” teriak Jung Soo.

“Bawa aku bersamamu.” Ujar Hyun Ah santai sambil membuka pintu mobil Jung Soo dan membuatnya bingung.

“Aku bolos les, heheheehe.” Dia tertawa sambil mengemut lolipopnya.

Eun Kyo’s POV

Aku masih ingat kejadian beberapa waktu lalu. Tidak ada yang tau dan ini sudah berjalan 1 bulan sejak kejadian itu. Aku yang salah, aku yang bodoh, aku yang ceroboh, aku yang terlalu egois. Aku berusaha untuk bersikap biasa, tapi tidak bisa. Saat Jung Soo Oppa ingin menyentuhku, aku teringat kejadian itu lagi. Dan sebagian otakku berpikiran jahat. Mungkinkah Jung Soo Oppa juga melakukannya dengan Hee Rin? Atau aku hanya pelampiasannya saja saat perasaanya terhadap gadis itu tidak tersampaikan? Aku menjadi lebih banyak murung, dan aku tau itu dari tatapan Key yang seringkali memandangku dengan tatapan kasihan dan bertanya-tanya.

“Aku tidak ingin melanjutkan kontrak di perusahaan itu.” Aku mengajak Key bicara saat kami menggarap desainku bersama dengannya.

“Wae?” tanyanya bingung.

“Aku tidak suka bekerja dibawah tekanan seperti itu.” Jawabku. Tekanan? Tekanan apa yang kau maksud Park Eun Kyo? Aku merasa terancam disana. Merasa kejadian itu mengintaiku setiap saat. Dan tidak pernah sekalipun aku pergi ke tempat itu tanpa Key. Merasa di dekat bocah itu lebih aman.

“Baiklah kalau itu yang kau inginkan, aku juga merasa seperti itu. Kau sakit Noona?” Key meraba dahiku. Aku memang berkeringat dingin, dan merasa tidak enak badan karena 2 hari tidak tidur dengan cukup.

“Ani, aku hanya sedikit pusing.” Jawabku sambil mengalihkan tangan Key dari dahiku.

“Sebaiknya aku temani kau ke rumah sakit.” Key menarikku dan membuatku bangkit.

“Ani, aku harus menyelesaikan ini dulu. “tolakku.

“Ani, itu bisa dikerjakan Chanie. Chanie~ya..” dia memanggil Chanie dan beberap menit kemudian Chani datang.

“Ada apa Oppa?” tanya Chanie.

“Bisa kau selesaikan contoh baju ini? Aku ingin membawa Noona ke rumah sakit.” Key memapahku, namun aku mencoba melepaskannya.

“Kau kenapa Onnie?” tanya Chanie khawatir.

“Ani, aku tidak apa-apa. Lepaskan aku Key.” Perintahku menatap Key tajam. Namun dia bersikeras memegangiku dan sedikit menyeretku ke mobil.

“Apa yag suamimu lakukan hingga kau sakit seperti ini, eoh? Tidak bisakah dia sedikit saja memberikan perhatiannnya. Bukan hanya pada wanita cengeng itu!” ujarnya sedikit geram. Aku menghentak tangan dan melepaskan pegangannay dari tubuhku.

“Apa maksudmu, Key?! Dan berhenti memberiku perhatian seolah kau yang paling pantas melindungiku.” Aku ingin berbalik tapi dia menarik pinggungku dan mendekapnya lalu memaksaku untuk masuk ke dalam mobil aku tidak suka pemaksaan! Mengingatkanku akan suatu kejadian!

“Lepaskan aku! Aku baik-baik saja!” teriakku nyaring padanya.

“Kau harus ke rumah sakit!” balasnya berteriak.

“Aku bisa ke rumah sakit bersama suamiku. Buka pintunya!” aku semakin emosi.

“Mwo? Suamimu? Mana suamimu?” tanyanya sengit. Aku mengambil ponselku dan ingin menghubungi Jung Soo Oppa. Tapi Key merebutnya.

“Kau ingin tau dimana suamimu? Biar aku beri tahu!” dia menginjak pedal gas dengan cepat dan membuatku terpental ke belakang. Key mengemudiakan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata dan membawaku ke sebuah tempat.

“Kau mau tau dimana suamimu? Tunggu saja disini.” Dia duduk dengan tenang di belakang kemudi. Setengah jam berlalu tidak ada tanda-tanda Jung Soo Oppa akan muncul.

“Mana? Kau terlalu mencampuri urusanku, ayo kita kembali.” Aku menatapnya marah. Dia menggerakkan matanya ke suatu sudut yang membuatku penasaran. Aku menoleh kearah yang dia tatap. Bisakah ini hanya mimpi saja? Aku terpaku melihat dua orang sosok yang aku kenal terlihat mesra keluar dari mobil menuju sebuah restoran.

“Aku mau pulang!” seruku pada Key. Key hanya diam, seolah menang dengan pikirannya selama ini.

“Key! Aku mau pulang!” aku tidak bisa lagi membendung airmataku dan kepalaku jadi berputar. Key membunyikan mesin mobilnya dan membawaku pergi dari sana.

^_^

Sejak kejadian beberapa waktu lalau, saat aku melihat Hee Rin dan Jung Soo Oppa bergandengan mesra, aku menjadi tidak tenang, selalu curiga. Aku tidak pernah tidur nyenyak. Melihat Jung Soo Oppa tertidur nyenyak membuatku sakit hati. Mataku tertuju pada ponselnya yang tergeletak diatas meja. Aku mengambilnya dan mengecek isi pesannya serta emailnya. Ada beberapa pesan dariku dan membuatku tersenyum sedniri membacanya. Tapi saat aku menggesernya ke bawah. Ada sebuah pesan ynag membuat ulu jantungku kembali sakit.

“Kau belum tidur Yeobo?” suara Jung Soo Oppa mengejutkanku. Aku segera menyembunyikan ponselnya ke bawah bantalku.

“Ah, ani, aku terbangun Oppa.” Kilahku.

“Ayo tidur, ini sudah…” Jung Soo Oppa melirik jam dinding. “Jam 2 malam.” Lanjutnya sambil mengacak rambutku. Mereka masih bertemu setiap hari? Bahkan di kotak pesan Oppa pun pesannya lebih banyak dariku.

“Eum.” Aku menarik selimutku dan berbaring di sampingnya. Pernahkah kau merasa takut, tapi tidak tau karena apa? Takut kehilangan? Takut sendirian? Dan aku merasakannya sekarang.

“Oppa, besok kau ada waktu? Kita makan malam bersama? Bersama Ryu Jin?” ajakku.

“Eum? Besok aku banyak yang harus diselesakan, tidak bisa, Yeobo…” jawabnya dengan nada tidak jelas karena sambil memejamkan matanya.

“Begitu? Sayang sekali. Padahal besok aku sedang tidak banyak pekerjaan.” Jawabku lirih. Dia menarikku dalam pelukannya dan mencium kepalaku.

“Mian.” Ujarnya lalu dia kembali terlelap.

^_^

Aku terbangun lebih pagi dari biasanya. Rasanya aku sudah tertidur puluhan tahun tapi saat aku memandangi jam yang ada di meja. Jam 3 pagi, dan itu artinya aku hanya tidur satu jam saja. Aku bangkit dan menyibak selimut lalu turun dari tempat tidur. Memulai aktifitasku  mulai dari memasak, mencuci hingga membersihkan rumah. Tak ada rasa lelah, yang ada hanya rasa sakit. Entahlah, apa aku terlalu berlebihan? Sebelumnya aku tidak pernah seperti ini. Saat aku mengepel lantai, tiba-tiba Ryu Jin membuka pintu kamarnya dan berdiri di ambang pintu. Menggaruk perutnay adalah kebiasaannya setelah bangun tidur.

“Aigoo, anak Eomma pintar sekali tidak perlu dibangunkan…” aku menyapanya. Dia mengucek matanya dan menyahutku.

“Ne, Eomma. Eomma… aku pusinng…” keluhnya sambil memegang kepalanya. Aku segera melepas kain pel yang ada ditanganku.

“Mwo? Wae? Kau sakit?” ku pegang badan Ryu Jin dan tidak panas.

“Pusing?” anak itu mengangguk. “Arasseo, biar Eomma telpon Key Hyungmu. Eomma tidak perlu bekerja saja hari ini.” Aku bergegas menuju telpon namun anak itu berlari mengejarku dan merebut telponnya.

“Ani, Eomma bekerja saja. Aku mau sekolah. Aku, aku sudah tidak pusing lagi.” Ujarnya sambil menyembunyikan telpon dariku dibalik tubuhnya.

“Wae?” tanyaku bingung. “Kau kan sedang sakit?” aku mencoba mengambil telpon namun dia menghindar.

“Aku ada janji dengan Noona.” Jawabnya.

“Mwo? Nuguya?” tanyaku lagi dengan heran.

“Hehehehehehe.” Ujarnya tertawa. Dia lalu berlalu dari hadapanku dan menuju kamar mandi. Aneh sekali anak itu, biasanya sulit sekali diajak kerjasama, tapi sekarang?

^_^

“Key, aku tidak ingin melanjutkan kontrak itu. 3 bulan sudah cukup.” Aku memotong kain untuk dijadikan sebuah gaun sebagai sampel untuk presentasiku.

“Wae? Bukankah hasilnya lumayan? Rancanganmu juga jadi kandidat kuat untuk dilempar ke pasaran oleh mereka. Bukankah itu menguntungkan? Mereka mengajakmu bekerja sama mendirikan perusahaan Mode bersama Kim Jin Hyung.” Ujar Key. Mendengar nama lelaki itu membuatku merinding. Teringat kembali kejadian beberapa waktu lalu dan hal itulah membuatku memutuskan untuk tidak melanjutkan pekerjaan ini.

“Ani. Aku hanya tidak suka bekerja dibawah tekanan.” Kilahku, tak ingin mengatakan alasan yang sebenarnya yang mengusikku.

“Sayang sekali, padahal bagus untuk karirmu.” Ujar Key sambil menatapku.

“Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak perlu rasa kasihanmu!” aku melempar kotak tisseu yang ada di atas mejaku.

“Permisi, apa aku menggangu?” seseorang membuka pintu dan aku terkejut dengan seseorang yang berdiri di depanku. Kim Jin.

“Aku kesini hanya untuk membicarakan rencana membuka perusahaan itu.” Seperti biasa, dia berbicara langsung pada intinya, tanpa basa-basi. Dia melirik Key, dan hey! Apa maksudnya? Key bangkit danmeninggalkanku dengannya. Hanya berdua saja diruanganku.

“Aku tidak suka basa-basi. Mengenai ajakanku itu dan juga tentang malam itu. Aku minta maaf. Kau yang mengajakku.” Ujarnya dengan nada percaya diri. Bagaimana mungkin dia bisa berkata seperti itu? Jadi maksudnya aku yang menggodanya? Eoh?

“Aku tidak tertarik. Dan aku akan menghabiskan kontrak itu tanpa memperpanjangnya.” Jawabku sambil menggoreskan pensilku pada sebuah kertas, berpura-pura tenang padahal dalam hatiku sangat takut. Aku tau karakter lelaki ini, keras dan pemaksa.

“Dan mengenai malam itu. Lupakan saja.” Ujarku dingin. Aku ingin dia tau, masa itu ingin aku lupakan dan ingin aku hapus, jadi jangan sekali-sekali mencoba mengingatkannya.

“Ani, aku tidak suka berbasa-basi Park Eun Kyo. Aku menginginkanmu!” ujarnya tegas. Ketegasan dari suaranya membuatku sangat takut, berkali-kali lipat lebih takut dari malam itu.

“Kau jangan main-main Kim Jin~ssi.” Aku mencoba memberanikan diri melawan ketakutanku sendiri. Key! Aish! Kenapa anak itu tidak muncul disaat seperti ini? Malah dia selalu muncul saat momenku bersama Jung Soo Oppa.

“Sebaiknya kau keluar dan sepertinya pembicaraan kita tidak ada gunanya. Aku tidak tertarik untuk bekerjasama denganmu. Dan aku juga tidak berniat melanjutkan kontrakku yang tinggal beberapa minggu lagi.” Aku membuka pintu, mengusirnya secara halus. Dia mendengus kesal namun beranjak juga dari posisinya, membuatku sedikit lega.

“Aku tidak akan menyerah mendapatkan sesuatu.” Ujarnya saat berada tepat dihadapanku. Bulu kudukku seketika meremang. Aku dilanda ketakutan, oke, mungkin berlebihan. Tapi pernahkah kau merasa takut dan tidak tau harus berpegangan pada keberanian siapa? Hanya berdiri sendiri menelan perasaan itu tak tau bagaimana keluar darinya? Sepertinya aku sudah gila. Aku mnutup pintu dengan keras. Aku tau ini mengejutkan Chanie, aku bisa mendengar pekikannya meski lemah.

***

Aku bekerja sekuat tenaga menyelesaikan beberapa pekerjaan akhirku dengan beberaap gaun yang harus dipakai untuk pemotretan. Perasaan yang mengungkungku membuat imajinasi dan kreatifitasku seakan terhenti. Aku tidak bisa melanjutkan menggoreskan pensilku dan ini sangat memuakkan!  Belum lagi setengah dari otakku memikirkan Jung Soo Oppa dan kemungkinan hubungannya bersama Hee Rin.

“Kau terlihat pucat Noona..” suara Key tiba-tiba mengagetkanku. Dia mengambil kertasku dan memandanginya. Benar sekali, sudah hampir pulang, namun aku tidak bisa menggambar apapun.

“Tidak bergeser setitikpun sejak aku tinggalkan tadi.” Komentarnya saat melihat pekerjaanku. Aku menghela nafas. “Biar aku selesaikan.” Dia mengambil pensil dari tanganku danmeneruskan pekerjaanku. Aku di kelilingin beberapa orang aneh. Key yang selalu ada saat aku membutuhkan, Kim Jin yang terlihat misterius. Dan sosok Siwon yang tiba-tiba masuk dalam hidupku sebagai penyelamat. Hidupku berubah seketika.

Hee Rin’s POV

Aku baru saja keluar dari galeriku dan hendak berjalan menuju mobilku. Hari ini terasa membosankan, tak ada makan siang bersama Jung Soo Oppa. Membuatku seperti tidak bersemangat. Hufh, enathlah, apakah ini hanya perasaanku saja atau hanya karena masalah itu, aku benar-benar merasa nyaman dengannya. Meski aku tau, aku menepikan perasaan Eun Kyo Onnie. Dia terlihat dingin padaku, kelihatannya tidak suka, aku bisa merasakannya, namun, apa salahku? Bukankah aku mengenalnya lebih dulu sebelum dia?

“Ah, Shin Hee Rin? Ah, bukan, Choi Hee Rin?” sebuah suara menyentakku. Aku beralih memandanginya. “Sudah lama sekali, kita tidak bertemu.” Lanjutnya terdengar angkuh. Kim Jin Hye.

“Tidak disangka, sekarang kau sudah menikah dengan seorang pengusaha kaya.” Dia masih melanjtkan perkataannya dengan nanda yang sangat membuatku ingin mengeluarkan isi perutku. Dia temanku saat aku study di luar negri. Bukan, bukan temanku sama sekali, bisa dibilang kami tidak pernah berteman namun saling mengenal dengan sebuah tali kebencian. Gadis ini selalu menginginkan milik orang lain.

“Siapa lagi yang kau incar disini?” tanyaku. Dia tertawa.

“Kenapa pertanyaanmu seperti itu?” tanyanya mengejek. Benar-benar membuat emosi. Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi?

“Ayo temani aku minum.” Dia menarikku dan memaksaku untuk masuk ke dalam mobilnya aku tidak bisa menolak sama sekali.

“Aku tidak suka minum.” Ujarku.

“Tidak bisa, kau harus merayakannya denganku.” Ujarnya dengan angkuh. Apa lagi yang direncanakan orang ini? Mobil berhenti di depan sebuah bar. Dia menarikku dengan paksa dan membawaku ke meja sebuah bartender.

“Aish! Aku tidak tau Korea semenyenangkan seperti ini sekarang.” Ujarnya sambil menenggak minumannya.

“Kau haus minum.” Dia mengarahkan segelas minuman padaku, lalu memaksaku untuk minum, awalnya terasa pahit, namun manis pada akhirnya.

“Aku menemukan mangsa baru.” Ujarnya melirikku. Gaya centilnya tidak berubah.

“Milik siapa lagi yang kau inginkan?” tanyaku, sebenarnya aku tidak tertarik, namun basa-basi aku rasa tidak ada salahnya.

“Seorang pengusaha, sekarang sedang ada sedikit masalah. Tapi dia menarik.” Jawabnya sambil tersenyum licik memandangi biir gelasnya.

“Park Jung Soo.” Dia mengucapkan sebuah nama yang membuatku tersentak dan tidak percaya. Aku membelalakkan mataku dan menaruh gelasku dengan kasar.

“Aku tau dia sudah punya keluarga, tapi sekarang akurasa aku bisa memasuki celah dari rumah tangganya dengan bantuan seseorang.” Dia melirikku dan tertawa.

“Apa maksudmu menceritakannya padaku?” tanyaku tidak suka.

“Karena aku tau kau dekat dengannya. Jadi, Nyonya Choi, dia sasaranku.” Dia menyentuh pipiku dan menelusuri wajahku.

“Tidak bisa!” aku mengalihkan tangannya dengan kasar dari wajahku.

“Kenapa tidak bisa? Kau juga menyukainya?” tanyanya.

“Ani!kau tidak bisa menghancurkan keluarga orang lain, aku tidak akan membiarkannya, Kim Jin Hye!” aku ingin sekali menampar wajahnya. Dia kira hidupnya hanya untuk merebut milik orang lain? Naif sekali pemikiran gadis ini, terlalu sempit! Dia kira dia tidak akan tua dan akan selalu menarik? Dia tertawa menang saat aku meninggalkannya. Tapi beberapa langkah aku berjalan darinya, kepalaku terasa pusing dan rasanya seperti berputar-putar hingga akhirnya semua pandanganku menghitam.

Author’s POV

Eun Kyo tergesa-gesa keluar dari ruangannya dan menabrak beberapa meja serta manekin yang ada di dalam butiknya. Ditangannya ada sebuah ponsel, dan dia baru saja membuka sebuah MMS dari ponselnya tersebut dan menunjukkan sesuatu yang membuatnya terhenyak dan beberapa detik tidak bisa bernafas.

“Onnie, kau mau kemana?” tanya Chanie bingung melihat Eun Kyo berlari. Setelah sampai di depan jalan, Eun Kyo berusaha menghentikan taksi namun tidak ada yang berhenti. Dia tidak menyerah dan melambaikan tangannya pada semua mobil yang lewat di hadapannnya namun tak juga ada yang berhenti. Namun sebuah Porsch melintas di depannnya, tapi berhenti beberapa meter dari Eun Kyo lalu mundur. Kaca mobil itu diturunkan oleh pemiliknya.

“Eun Kyo~ssi?” seseorang menyapa Eun Kyo dari dalam mobil.

“Siwon!” pekik Eun Kyo melihat sosok yang duduk di belakang kemudi. Dia segera membuka pintu mobil Siwon dengan paksa, namun tidak bisa karena memang dikunci oleh Siwon.

“Sebentar.” Siwon membuka kunci otomotais dan segera Eun Kyo menyambar pintu dan duduk dengan tergesa disamping Siwon. Siwon terlihat bingung.

“Bawa aku ke Hotel Ramada.” Ujar Eun Kyo sambil mendang lurus ke depan.

“Cepat bawa aku ke tempat itu!” teriak Eun Kyo tidak sabar. Siwon tersentak dan segera menginjak pedal gasnya dan melajukan mobilnya ke tempatyang diinginkan Eun Kyo.

“Sebenarnya ada apa?” tanya Siwon hati-hati di tengah perjalanan mereka.

“Jangan tanya sekarang. Sebaiknya naikkan kecepatanmu sebelum terlambat!” ujar Eun Kyo dingin. Membuat Siwon semakin bingung. Siwon terdiam dan mengikuti apa yang diinginkan Eun kyo hingga mereka sampai pada tempat tujuan. Sedetik mobil Siwon berhenti, Eun Kyo langsung membuka mobildan berlari ke dalam hotel. Dia memencet tombol lift dan menunggu pintunya terbuka. Siwon mengikutinya dari belakang. Dia tau ada yang tidak beres dengan wanita yang berdiri disamping dan dia merasa harus mengikuti wanita itu.

“Lantai 7, lantai 7, lantai 7.” Eun Kyo terus bergumam di sepanjang mereka berdua di dalam lift, untungnya hanay ada mereka berdua di dalam lift, jika tidak, orang mengira Eun Kyo orang gila. Pakaiannay terlihat berantakan dengan rambut yang diikat tidak teratur dan tidak rapi. Setelah pintu lift terbuka. Eun Kyo setengah berlari tanpa arah.

“Kamar 3025, kamar 3025, kamar 3025.” Dia terus menggumam sepanjang dia melewati beberapa kamr yang ada di Hotel itu. Saat dia berdiri di hadapan kamar yang dia tuju. Sejenak Eun Kyo terdiam dan mengambil nafas dalam. Eun Kyo memegang handel pintu dan mendorongnya perlahan. Siwon berada di belakangnya dengan setia.

Setelah pintu itu terbuka, Eun Kyo terpaku melihat siapa yang ada didalamnya. Dia hampir saja menangis namun dia menahannya. Seperti keterkjutan yang dialami oleh Eun Kyo, Siwon tidak jauh berbeda saat dia mengikuti langkah Eun Kyo memasuki kamar itu. Sejenak Eun Kyo mematung namun akhirnya dia berbalik.

“Minggir!” Eun Kyo mendorong Siwon untuk memberinya ruang untuk berjalan. Siwon mengikutinya, lebih tepatnya mencemaskannya. Eun Kyo melangkah besar sambil dengan sekuat tenaga menahan gejolak amarahnya.

“Andwae! Aku tidak bisa membiarkan ini.” Eun Kyo berbalik lagi dan kembali ke kamar itu. Siwon masih mengikutinya. Disibaknya kasr selimut orangyang terbaring diatas tempat tidur.

“Oppa! Bangun!” Eun Kyo memukul orang itu dengan keras. “Jung Soo Oppa!” teriaknya lagi. Membuat Jung Soo terkejut dan bangun sambil memegang kepalanya.

“Bau alkohol! Aku tidak suka!” teriak Eun Kyo lagi. Eun Kyo terpaku ditepi tempat tidur dengan Siwon di belakangnya.

“Apa yang terjadi ini dimana?” tanya Jung Soo sambil menyipitkan matanya. Matanya terbelalak kaget mendapati sosok yang ada disampingnya.

“Hee Rin~a..” panggilnya lemah. Hee Rin tak berdaya terbaring disampingnya. Eun Kyo menampar keras pipi Jung Soo dua kali dan segera berlari meninggalkan Jung Soo dan juga Hee Rin. Seperti ayam Siwon berlari mengikuti Eun Kyo.

“Eun Kyo~ya..” panggil Siwon namun Eun Kyo tidak menghiraukannya. Lift sedang dipakai dann Eun kyo berlari menuruni tangga, mau tidak mau Siwon mengikutinya.

“Eun Kyo~ya!” panggil Siwon lagi, dan tetap tidak dipedulikan Siwon. Saat sampai dilantaidasar, Siwon mengambil langkah besar dan mempercepat larinya hingga tangannya bisa meraih lengan Eun Kyo.

“Lepaskan aku.” Pinta Eun Kyo.

“Aku antar kau pulang.” Ujar Siwon tak kalah dingin dan setengah menyeret Eun Kyo. Eun Kyo sepertinya tidak punya tenaga lagi untuk menolak, dia mengikuti langkah Siwon. Dibukakannya pintu untuk Eun Kyo dan dia mengemudikan mobilnya.

“Aku tidak ingin pulang, berhenti!” teriak Eun Kyo. Kali ini Siwon yang tidak memperdulikan Eun Kyo.

“Aku bilang hentikan!” teriak Eun Kyo, Siwon masih tidak peduli.

“Atau aku melompat dari sini.” Ujar Eun Kyo membuat Siwon terpaksa menepikan mobilnya di tempat sepi.

“Menangislah jika ingin menangis.” Siwon memecah keheningan mereka.

“Aku tau kau sedih, begitu juga aku.” Ujar Siwon lagi. Eun Kyo masih diam, sekuat tenaga dia menahan bulir bening dipelupuk matanya. Siwon masih mengoceh dengan segala perkataan yang menenangkan namun Eun Kyo sama sekali tidak mendengarkannnya. Dia sibuk menata hatinya yang terasa sangat sakit.

Eun Kyo mendekati Siwon dengan cepat dan meraih bibir Siwon dan melumatnya dengan kasar, memaksa Siwon untuk tidak menolak dengan segera memposisikan dirinya duduk dipangkuan Siwon. Siwon terperanjat dengan apa yang dilakukan Eun Kyo.

“Eunmph!” Siwon ingin menjauhkan Eun Kyo namun tidak bisa. Tubuh Eun Kyo tepat menempel pada setir mobilnya.

“Apa rasanya bercinta dengan orang lain? Seperti ini rasanya?” Eun Kyo melepaskan ciumannya dan seketika airmatanya merebak. Dia masih tidak bisa beranjak dari Siwon dan terus menangis. Siwon bingung apa yang harus dia lakukan. Dia masih terkejut atas apa yang telah dilakukan Eun Kyo beberapa detik yang lalu. Eun Kyo masih menangis dan Siwon mencoba mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Eun Kyo lalu membelainya sambil menghapus airmata yang terus mengalir di pipi Eun Kyo.

“Uljima…” Ujar Siwon sambil terus menyeka pipi Eun Kyo.

TBC

Note : aku tau ini gila! Aigoo! Putri, mianhae, jangan salahkan aku merebut Siwonmu, siapa suruh kamu menebar piku-piku berbahaya… eoh?? Hahahahahahaha, sempet bete tingkat dewa dengan diri sendiri… tapi akhirnya ini selesai dengan TBC.. Ryu Jin~a, Mianhae, Eomma lagi sensi… baiklah, aku tidak akan bercuap-cuap dengan lama, aku ga protek lagi, tapi ini sangat memalukan untuk umum… kenapa otakku jadi begini? Kenapa emosi masih bertengger di otakku? Kenapa akhir-akhir ini aku sering bosan? Aku males ngedit… jadi klo komen itu ada typo tidak akan aku hiraukan…

90 responses »

  1. onniee .. baca ini makin sebel sama hyerinn
    part ini penuh dengan gejolak emosi banget .
    fans nya eun kyo banyak juga .. perlu dibuat fans club tu xixixi

  2. Eonny…
    Bener” daebak bikin galaunya yg part ini..
    Waaghhh…
    Kenapaa coba tu Heerin sama Jungsoo?
    Trs knp eunkyo coba” segala? Omg..
    Ryujin sini” sama eonny, sementara 2pasang itu biar perang.. Hihi

    Lanjutannya jgn lama” ya eonny..

  3. hihihi aku jadi makin sebel sama heerin *ngakak*
    anw, ini part paling penuh pertengkaran~ jadi sebel sama…..siapa tadi namanya yak. lupa. pokoknya cowok yg bikin pesta itu /plak

    hihihi untung aku gak jadi cewek centil ya~ tapi…… tiba tiba masuk mobil eeteuk? “Bawa aku bersamamu, ahjussi!” ? of korsss, bawa aku ke hatimu, leeteuk oppa 8D /ditabokberjamaah

    oke. part menegangkan ini perlu dilanjutkan segera. Ditunggu ya hihihihi

  4. Eonniiii yaa,astagaaaaaaaaaaaaa
    Itu kenapa bisa begituuuuuuu??

    1.Aku sebel sama Kim jin,rasanya pengen aku makan itu orang!!!

    2.Oppa sama heerinie itu dihotel gara2 si jin hye apa rencana mereka berdua yg pengen bikin tau perasaan siwon ke heerinie ?

    3.Eonni~ kenapa ikut2an nyium siwon jugaa ??? Aigoooooo~

    4.aku geregeeetaaaaannnnn sama si jin hye !! Bisa-bisanya dia nge-godain oppa (•`..΄•”)

    5.Makin panas ya eon ceritanya hahahahaahaa

    6.Fighting eonni yaa \(^▿^)/

    • kenapa yah??
      1. dia orang yg bkin aku senyum sebenernya…
      2. apa coba?? coba tebak kenapa??
      3. aku udah ijin cium siwon…
      4. no comment
      5. part depan bawa es..
      6. semoga bisa lanjut

  5. omoo koq masalahnya makin beribet gini sih!

    huaaa…makiin seeeebeeel sama heerin!!*semoga jung soo eunkyo masalahnya bs terselesaikan…
    heerin cpet2 pnya anak deh!!biar gak dket2 jungsoo lagi huh

  6. Hyaaaaaa…eonni apa2an nie smua?! *emang’a ad apaan ya?!*
    jahahaha

    Kim jin kau sngat menjijikan dan mnyebalkan,
    mulai deh brmunculan orng2 yg mnyebalkn d’sni ad rubah betina lg noh *lirik tajam kim jin hye*
    ryu jin, kau ttp yg pling ngegemesin d’sni nak…>,<
    poppo noona syanggg…^^

    aiigooo… knpa mkin ksni sya mlah jd ksian yaa sm heerin?! *aahh molla*
    sya pngen ktwa pas siwon d'blang kga normal, ksian cie oppa mangkn'a cpet sntuh cie heerin noh wonppa klo kga mao paksa aja…wkwkwk
    *ajaran sesat*
    cie wonppa knpa jd kya ank ayam tuh ngekorin eun kyo eonni keluar masuk!!
    *d'getok wonppa*

    itu, itu, itu apaan lg cba cie eonni maen nyosor2 wonppa sgla!!
    Sabar eonni sabar jngan kbwa nafsu…!!
    Jahahaha

    • ankku emang selalu menggemaskan ky maminya…
      kasian?? lah ini ada lagi yg beda pendapat… sukses bikin karakter hee rin berarti yah??
      emang dia kaga normal kan? masa iya cuman dicium dong istriny? *fikadibakarputri*
      iya, ko jadi ada ayamnya aku juga bingung.

  7. Eonni!!………
    Ige mwoya??!!
    Aduhh jantungku.. Masih berdebar2 ga karuan..

    Itu si Kim Jin sialan pngen saia telen deh.. Nyuebelin amat sihhhh..
    Trus trus itu siaapa lg itu yg dtg?? Kim Jin Hye?? Aigoo.. Pembuat masalah lg kah??!! Dia tuh y yg bkin si Jung soo ma hee rin jd d hotel?? Ihhhhh
    Ciee.. Ryu Jin~a.. Tumben semangat amat mau brangkat.. Pngen ktemu si noona es krim itu y?? Hueheheehehe
    Huwaa.. Eun kyo~a,, tabahkan diri mu.. Miris bgt lihat keadaan mu d ff ni..😦

    ‘Uljima’ => satu kata yg di ucapkan siwon ke eun kyo d bag akhir itu kok aku ngerasa itu adegan jd sweet bgt y.. #gubrakk

    Eonn, part yg ini konfliknya lebih besar yah, tp seruu n saia suka bgt ..🙂 Lucu, gerem, sedih, sebel. Bikin emosi jungkir balik deh..

    • tarik nafas dalam…

      jangan ditelen, dia terlalu keren…
      anakku lagi kesengsem sepertinya… entah kesengsem es atau karna orgnya…
      sweet? eh ini kenapa jd ngomennya pada aku ama siwon? rumah tangga saya….

      jangan jungkir balik tar jatoh…

  8. ingin q bunuh kim jin ma kim jin hye, q cincang” trus ksi k nanda biar dgoreng, aigo, kesel,,

    no coment adegan trakhir *shock…

  9. Wew trnyata cm sya doank yaa yg bilng ksian sm cie heerin, reader yg laen mlah pd sebel sm heerin!!

    Klo mnurut sya mah dy jg lumayan trsakiti d’sni, scra suami’a cuek, mlah mulai suka sm cwe laen lg, dy jg trtkan sm kluarga’a wonppa yg nyuruh cpet2 pnya ank, gmna mao pnya ank?! Wonppa aja lom ngapa2in!!
    Knpa mereka (heewon) kga mulai bljar sling mncintai aje yeee?!
    *molla, bkn sya yg nulis crita’a*
    jahaha
    Yaa dy jg slah cie deket2 mlu sm jungsoo oppa yg udh brkluarga, jungsoo’a kga nolak lg..ckckck
    *aahh sya jd puyeng sndiri* kkkkk~

  10. Yak… Apa-apaan ini???
    Kim jin get out to the hell.. Iih gilaa ni org ngeselin parah.. Pengen dicincang deh rasanya..
    Kim hye jin??nuguya?? Nyebelin bangeeet..ngapain juga dia suka sm jungsoo? Kenapa ga siwon aja tuh yg jauh lbh perfect drpd jungsoo? *ditabok heerin
    trs itu tuh..Kenapa heerin jg msh curhat sm jungsoo??tau eunkyo ga suka ya ga usah dideketin lg lah jungsoo ny.. Aiissshh #esmosi tingkat tinggi
    yak!!! Jungsoo oppa please deh jadi orang jangan baik-baik amat,,lama-lama kamu tuh jd bego tauuu…. Sibuk ngurusin rumah tangga org sedangkan rumah tanggamu sendiri jg masih berantakan?? Aigoo mana sosok jungsoo oppa yg bertanggung jwb ??
    Huwaaaa,,onnie mian jd labil begini,, habisny part yg ini bener2 nguras esmosi..
    Ide ny terlalu bagus ampe bener2 bikin aku naik darah sm kelakuan bodohny jungsoo..

    • ayo cinang rame2 Kim Jin… tapi dia aku suka loh… tapinya ide berubah ini… ada misi tersendiri…
      kan hee rin temenan… biasa lah curhat…
      ksempurnaan bekan berart segalanya… kita aja kenapa cintanya ama teuki coba??
      cwo kan memang kadang2 ga bisa menolak *plak*

  11. haaaaaah……eonni ya…kenapa ini kenapa??? aigoo…sebelumnya mau koment ini dulu ‘ ciyeee deh hyun ah jadi cameo tukang bolos, hyuna na banget ngga siii?’ *toel hyuna
    oke, back to ff
    saya suka adegan kamar mandi ryu jin, eun kyo, dan jungsoo, sweet, kompak, heee
    terus terus terus, aku ngerasa lucu pas si Hee Rin mo di periksa dokter, tapi Siwon nya ngga rela gara-gara dia belum ngrasain(?) aigoo bang, makanya buruan atuh ‘beribadah’ sama istri,hahahaha
    dan sya kesel sama jungsoo- eun kyo, kenapa siiiih? mereka tuh ngga ada yang mau terbuka, haaa???
    padahal suami istri kan harusnya saling berbagi, huhuhu, kenapa eun kyo ngga bilang kalo dia mau diperkosa kim jin, kenapa jungsoo ngga bilang masalah heerin sama siwon, kenapa jungsoo ngga ngomong kalo dia lagi dalam misa ngebuat siwon cemburu, kenapaaaaaaaaaa????
    aaarggghh….jambak eun kyo sama jungsoo. apa susahnya sih saling sharing, ya allooooooooh….
    aduh? kepanjangan ya? hehehe
    yasudlah, cerita saya kembalikan ke fika eon, hehehe
    oia itu pasti yg ngirim foto si jin hye ya???ish…manusia itu…..dirajam aja

    • hyuna bandel? aslinya dia tu pinter….
      aku emang suka masukin momen teukyojin… selalu punya meomen sweet sendiri…
      itu yang km aku introgasi kemaren….
      aku lupa kalo suami istri itu mesti berbagi… hahahahahahaha, akunya juga kebawa emosi… maklum sekarag lagi labil…

  12. eoniiiiiiiii aku gregetan dah sumpah… ini tuh ya…. si jungsoo ajushi minta di cekek… org mah tegas kek… aduh terlalu baik bgt dah…

    lg heerin eoni jg gatel bgt lah *ditabok puu eon* wkwkwkwk
    sbenernya mah hee rin eoni udah demen sam siwon dasar si kuda aja yg ga sadar malah ngelirik istri orang…

    blm lagi si kim jin ampun dah kelakuannya kurang ajar bgt dah… aigooo untung aja ada siwon jadi gk jadi di perkosa dah… untung2….

    eoni si kim jin itu sodaranya heerin eoni y?
    iya gk sihh eon…

    eoni penasaran sama kelanjutannya… palli lanjutin *dicekek fika eon*
    hehehehe

    • geregetan akunya geregetan…
      terlalu baik ko pengen dcekek??

      aku ga ngomporin yah put yah?? ahahahaahaha aku dibakar putri ini menyentuh suaminya…
      sodaraan? hooh dia sepupunya kim jin *nah loh dipanggang lagi tar aku ama putri neh* dia belum tau aj, hahahhahahaha
      lanjutannya kalo rajin hari ini mulai kerja, biasanya 3 hari kalo aku rajin…

  13. onnie, maaf baru komen….
    Aaaaahhh, ga suka sama part ini, complicated banget masalah mereka itu..
    Kenapa sih teuki itu bandel bgt, masih aja ssering ketemu heerin, heerin jg ngeselin, meeenn, suami dia ganteng gitu, kenapa ga sm suaminya ajaa….
    Penasaran. Lanjut, onn…….:)

  14. Eonnie-ah Makinn Penasaran ^^. Udah Eun Kyo Eonnie Tinngalkan Saja Oppa dan Berikan Dia padaku ^^ aaahhhaaaaha. Aku menunggu ide liar dan gila mu di part berikutnya eon ^__^

  15. eonniku mianhe baru komen skarang..
    hueekkk baca part ini bkin aku galau*nangis di pojok*
    itu kok bisa jung soo oppa tidur siihhh
    ahhh makinn gereget dehh..

  16. oen.. kenapa ini galaunya tingkat dewa?????????

    duh itu kim-kim itu jahat atau apa c… iyh,,,
    yg co mau perkosa eunkyo, yg ce mau ngerebut soo oppa…
    aishhhh….

  17. nyeseeekkk bacanya :p
    tapi pengen trus baca ga mau tbc😀
    yaaakkk kesel ma jung soo oppa masa ga ngrti’in perasaanya eunkyo uda tau istrinya jealous malah mau bikin siwon jelous . Heerinnya juga berasa gmana gtu ma jungsoo oppa .

      • hahaha ia eonn today i’m so lucky baru mampir dirumahmu lg uda di suguhin story baru ga nanggung” mpe part 5 :p gomawo eon muuuaaaccccchhhh cap bibirny jungsoo oppa biar eonn ga sensi mlulu :p

  18. Onnie,,, aku nyesek bacanya. On, jangan lama2 dong konfliknya aku ga nahan nyesek bener bcny,,, BTW tetep daebak,,, semangat on!

  19. ya salam bener bener sumpaaah saia gemes liat konfliknye unni, bikin spot jantung wae tak berhenti henti konflik selalu menghadang
    sekarang apa lagi ini aaaaaahhhgfkgjtyrnmjgutkrjg esmoni saia

    daebakk dah unni bikin konflik seperti ini, jadi gemes saia ^^

  20. Hua panaasss *kibas kibas*
    Eonni ini gila eon gila! Part ini bikin emosi tingkat dewa(?)

    Ya itu apa lagi, kim jin hye rayu rayu jung soo oppa?! Ish jinja!

    Terus kenapa jung soo oppa bisa ada di kamar hotel sama hee rin?! Huaaaa ga terima

    Makin memanas nih konfliknya! Oke deh aku lanjut baca dulu~

  21. kasian eunkyo,gara2 kim jin dia jadi takut disentuh jungsoo
    ckck dari awal aku udh gk suka ngelihatnya
    itu nenek lampir jinhye jahat banet,udh dibilangin sama heerin jangan ganggu keluarga teukyo tetep aja dia niat pengen ngancurin
    aaaaakasian eunkyo masa dia ngelihat suaminya tidur dengan orang lain ckck
    itu siwon sebenarnya dia marah juga gk sih?
    kok ekspresinya agak2 biasa aja
    ampun eunkyo parah deh,masa main cium suami orang ckckc

  22. aduh fika knp masalahnya jd runyam kayak gini…

    pasti jungsoo djebak ni, dia g mungkin nglakuin hal senista seperti itu…
    hwuaaa…

  23. Onnie,q nangis!tanggung jawab onn!
    bkn cm nangis,tp q jg gemeter!#lebay
    jeongmal,part ne menguras esmosi m air mataq onn!
    Kim Jin, i wanna kill u!
    Nyesek onn,bener2 nyesek!
    aq harap mslhx cpt kelar!
    q lngsng bc lnjtnx aj biar feelx msh xambung n g ilang!

  24. OMG!!!!!!! gila ini chapter bikin aku SHOCK BERAT…
    OMG…. ikut deg degan juga nih bacanya….
    astagaaaa part ini asli G I L A… WOW O.O
    SHOCK!!! apa lagi endingnya.. ~.~

  25. apa-apaan tuh si kim jin.. Kirain awal muncul orang’y baek, eh ternyata… Malah bikin orang nafsu bunuh dia… Hehe, kebawa emosi siwon ~_^
    tambahan tokoh baru, jin hye! Hmmm… Makin kompleks nih konflik’y.
    Belum reda sebelku sama hee rin, udah nambah lagi 2 tokoh yang menyebalkan. Huuuft…. Tarik nafas, hembuskan…. #apaansih ^^
    tragedi hotel ramanda… Jiah tragedi, kayak apaan aja. Keke
    Kasian eun kyo eonni, tp cieee… dapat kissue siwon oppa ^_~
    Terakhir… Aku selalu suka scene teukyojin🙂
    Ryu jin selalu jadi penyegar di tengah-tengah badai konflik. Good job boy🙂
    Next part🙂

  26. G ngebayangin koq critanya jadi kayak gini…
    Huaaaaa,eonni kau gilaa..jadi begini ceritanya…
    Rumit..rumit..tp bikin penasarn..
    Eonni,daebakk!!

  27. sumpah ini makin nyesekin baca y menyakitkan mau nangis tapi ngak bisa,,, mpe susah nafas krn nahan nafas baca y gara2 tegang ma situasi y…..
    banyak bgt masalah yg masuk,,, jungsoo ada hae rin, eun kyo, n cwe satu lg *jin hye ya??* sedangkan eunkyo ada siwon,Key n kim jin yg berbahaya….jungsoo beneran kah tidur sama hae rin pa itu jebakan doang biar hubungan jungsoo n eun kyo makin runyam,,, tapi q tetep sebel ma jungsoo n pa lg Hae rin knp mereka bgt,,,, jungsoo ngak tau ja masalah eun kyo tentang kim jin yg eun kyo y diperlakuon kyk gt mpe sedikit trauma kali ya…..
    bener2 deh ini komen penuh dgn unek2 q tentang perlakuan jungsoo n kejadian yg ngerugiin eun kyo,,,, rasa y q ikut sakit sama kyk eunkyo….
    eunkyo y kyk kerasukan setan gt kadi y setelah semua masalah yg ada n ditambah ngepergokin jungsoo lg dihotel……

  28. oh God ternyata kim jin orang’a ingin sekali di buang ke laut, untng ada abang siwon, mga aja key jga gag punya niat yg sama, dan apa itu ada yeoja gila yg datang’ mau menghancurkan RT teukyo, aku tau klo itu cuma jebakan utk teuki siap’ dgn apa yg akan eun kyo lakukan padamu, masih pnsrn ama mslh siwon dan kim jin dulu’a, oh my eonni knapa main cium’ abang siwon?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s