Amourette (2nd Trick) *PG*

Standar

amourette part 6

Berkata tanpa suara

Sebuah babak baru

Bulan telah naik tinggi dan disini aku pergi lagi

 

Kau memberiku sebuah tanda

Bahwa cintamu masih milikku

Dan aku merasa sebuah kobaran api membakar diriku dari dalam

 

Katakan sekali lagi

Katakan untuk meyakinkan

Aku mendengar hatimu memanggil namaku

Seperti berbisik

Panjang dan lembut

Membuatku hidup di dalam matamu lagi

 

Bagaimana aku bisa berharap aku bisa mencoba melarikan diri dari kekuatan ini

Kekuatan cinta terlarang

Bagaimana aku bisa berharap aku bisa mencoba mematikan volume dari suara-suara ini

Suara-suara cinta terlarang

Aku berharap untuk bisa menutup mata pada semua godaan ini

Godaan cinta terlarang

(Forbidden Love – Anggun)

Author’s POV

Eun Kyo terpaku melihat sosok kecil dalam gendongan suaminya. Ryu Jin. Rasanya sudah berabad dia tidak melihat anak itu, rasa tidak percaya bercampur bahagia membuncah dalam dadanya. Menciptakan gemuruh yang membahana mengiang di telinganya sendiri tanpa seorangpun mendengarnya. Jung Soo membawa Ryu Jin ke hadapan Eun Kyo yang masih membeku. Hingga anak itu memeluk lehernya dan mencium pipinya, Eun Kyo masih tak bergeming sama sekali dari tempatnya. Tak menolak tapi juga tak membalas perlakuan Ryu Jin, mematung.

“Eomma..! Bogoshipeo..!” bisik Ryu Jin lirih di depan muka Eun Kyo. Mata kecilnya tepat menatap mata Eun Kyo yang dengan tatapan kosong beberapa detik. Saat Ryu Jin menyentuh dan membelai pipinya dengan lembut, baru wanita itu tersadar. Wanita itu tersenyum dan mengecup pipi kenyal Ryu Jin lalu menggeser kepalanya dan menengok ke belakang suaminya, menatap sepasang lelaki dan wanita yang berdiri memperhatikan mereka dengan tersenyum.

“Kau..” Eun Kyo berkata lirih sambil membesarkan pupil matanya karena terkejut. Terkejut mendapati seseorang yang berdiri dibalik tubuh suaminya adalah seseorang yang ditabraknya kemarin. Choi Siwon. Berbagai kejadian berkelebat di benaknya. Mulai dari kakinya yang dengan  sekuat tenaga menginjak rem, mobil yang berhenti tiba-tiba hingga lelaki yang tersungkur didepan mobilnya sampai ke sebuah perkenalan aneh versi Eun Kyo berputar kembali bak sebuah film dalam otaknya.

“Kau..” Choi Siwon membalas sapaan Eun Kyo dengan mengerutkan dahi sambil menunjuk dengan jari telunjuknya. Siwon tak kalah terperanjat dari Eun Kyo. Tak mengira akan bertemu lagi dengan seorang wanita yang membuatnya kesal di pagi hari namun juga membekas dalam memorinya.

“Hee Rin~a..” Jung Soo juga membuat saapan terhadap seseorang yang berada dibalik punggungnya yang tidak dia sadari. Pertemuan itu kembali terjadi.

“Oppa..” sapa Hee Rin mengganti panggilannya dari ‘Sunbae’ menjadi ‘Oppa’ yang terdengar lebih mesra. Keempat orang itu dipertemukan kembali di sebuah ruang yang sama. Tak seorangpun dari mereka memulai pembicaraan hingga membuat Ryu Jin bingung dan menoleh satu persatu ke wajah orang dewasa yang ada dihadapannya.

“Kalian yang membawanya?” tanya Jung Soo memecah keheningan diantara mereka. Tiba-tiba sebuah kecanggungan terjadi menyelimuti mereka, Eun Kyo bergelut dengan pikirannya tentang ‘betapa bahagianya dia kembali melihat Ryu Jin’, yang selama beberapa jam ini mengusik hidupnya bak seratus tahun lamanya. Siwon yang merasa kecolongan padahal beberapa jam yang lalu dia mengenal wanita yang ada dihadapannya, dan tidak menyangka bahwa ibu dari anak yang dibawanya semalam adalah orang yang hampir saja membuat nyawanya melayang dan Ryu Jin menyebutkan nama wanita itu dengan ‘Park Eun Kyo’. Perkenalan singkat mereka tak mampu membuat Siwon mengingatnya dengan jelas. Hee Rin yang seperti terpana, hal yang dulu terjadi kini terulang kembali dalam hidupnya, membuat perasaan itu kembali remang.

“Ah, Ye.” Jawab Siwon sambil membungkukkan badannya. “Maaf, jika membuat kalian cemas.” Tambahnya. Eun Kyo memandangi Siwon dengan lekat, antara tidak percaya dan kesal.

“Bukan cemas lagi, tapi hampir mati.” Gumam Eun Kyo. Dia mengambil Ryu Jin dari gendongan suaminya dan sekali lagi mencium pipi anak itu

“Mian.” Ujar Siwon dengan raut menyesal dan suara rendah. “Aku melihatnya sendirian di taman dan aku, aku membawanya.” Cerita Siwon tentang kejadian semalam. Tidak ada jawaban dari Eun Kyo, padahal dalam benaknya dia ingin berbicara.

“Tapi aku tidak berniat jahat, aku hanya kasian melihat anak itu.” Sambung Siwon. Bukan kasihan, tapi ada sebuah ketertarikan dalam diri Siwon terhadap anak itu, entah apa, dia juga tidak tau.

“Sudah lah, yang penting Ryu Jin sudah kembali.” Ujar Jung Soo menengahi, menyela cerita Siwon yang akan panjang dengan pembelaannya. “Aku berterima kasih pada kalian berdua.” Lanjutnya. Jung Soo melirik Siwon. “Suamimu?” tanyanya lagi. Hee Rin mengikuti arah lirikan mata Jung Soo dan bertemu tepat diwajah Siwon.

“Ah, ye. Dia suamiku Oppa, kenalkan.” Siwon menjulurkan tangannya, begitu juga dengan Jung Soo.

“Choi Swon.”

“Park Jung Soo.”

Keduanya saling menyebutkan nama dan berjabat tangan. Heerin hanya mengangguk-angguk melihat kejadian itu, sementara Eun Kyo, dia tidak peduli sama sekali hingga bunyi suara ponsel dalam saku bajunya membuatnya tersentak. Dia langsung mengambil ponsel itu dengan tangan kanannya sedang tangan kirinya menahan bobot tubuh Ryu Jin agar tidak terjatuh.

“Yeoboseyo?” Eun Kyo mengucapkan salam pada orang yang sedang mengajaknya berbicara ditelpon. Dia kesulitan antara memegang ponsel dan menggendong Ryu Jin, namun akhirnya Eun Kyo mendekati Jung Soo dan menyerahkan anak itu kepada suaminya. Dia mengucapkan kata ‘Key’ dengan isyarat mulut tanpa suara dan mulai menjauh dari suaminya.

Jung Soo hanya bisa memandangi apa yang dilakukan Eun Kyo dengan sudut matanya. Tidak mungkin dia memperlihatkan rasa cemburunya ditengah-tengah orang banyak seperti ini. Mengenai Key, Jung Soo memang selalu tidak bisa memaklumi hatinya.

“Dia istrimu?” tanya Hee Rin sambil menunjuk kearah Eun Kyo. Jung Soo menoleh sebentar kearah Eun Kyo lalu menjawab sambil memandang Hee Rin.

“Benar sekali. Maaf dia memang sibuk akhir-akhir ini.” Jawab Jung Soo sambil tersenyum, ada perasaan tidak nyaman dalam hatinya mengingat Eun Kyo sejak tadi hanya acuh.

“Dia memang sibuk.” Gumam Siwon. Membuat Jung Soo dan Hee Rin menoleh padanya dengan bingung. Tanpa Jung Soo dan Hee Rin ketahui, Siwon sudah mencari tau tentang seseorang yang menabraknya semalam.

“Kau mengenalnya?” tanya Hee Rin penasaran. Itu juga pertanyaan yag bergelayut dibenak Jung Soo menanggapi gumaman Siwon.

“Eh? Ani, dia memang terlihat sibuk kan?” jawab Siwon cepat, salah tingkah. Matanya terus tertuju pada Eun Kyo yang memang tepat ada dihadapannnya, namun berjarak beberapa meter.

“Ah, ye, siang nanti aku akan kesana, kau tenang saja.” Sayup terdengar pembicaraan Eun Kyo dengan seseorang di telpon. Membuat Jung Soo menajamkan pendengarannya.

“Kalian sendiri?” tanya Siwon. Hee Rin tersentak. “Kau memanggilnya Oppa.” Lanjut Siwon, Hee Rin tersenyum manis.

“Dia Sunbaeku saat sekolah, em, bukan satu sekolah, namun sekolahku dan sekolahnya memang dalam satu gedung.” Jelas Hee Rin yang juga dibenarkan oleh Jung Soo dengan sebuah anggukan. Mereka meman tidak satu sekolah, umur mereka terpaut 4 tahun. Ketika Hee Rin duduk di bangku Junior High School, Jung Soo ada di Senior High Scool, tapi masih dalam satu yayasan.

“Oh, begitu.” Sahut Siwon, dia masih mengamati Eun Kyo yang terlihat masih senang berdebat di telpon. Beberepa saat kemudian akhirnya Eun Kyo mengakhiri pembicaraannya dan kembali bersama mereka.

“Kalian sudah makan? Oppa, kau pergi ke kantor hari ini?” tanya Eun Kyo.

“Ani, aku minta ijin sampai siang.” Jawab Jung Soo. Dia meninggalkan beberapa masalah di kantornya, dan dia sadar benar jika dia tidak menampakkan batang hidungnya dikantor hari itu, orang akan beranggapan dia memang bersalah.

“Kalian sendiri?” tanya Eun Kyo menatap sepasang suami istri yang berdiri di hadapannya. Hee Rin menggeleng.

“Arasseo, bagaimana kalau kita makan sebentar? Aku belum sempat sarapan pagi.” Ujar Eun Kyo tanpa rasa bersalah, dia mengambil Ryu Jin dalam gendongan Jung Soo yang sejak tadi bingung dan hanya memaninkan jemarinya.

“Ide bagus.” Sahut Siwon yang langsung dihadiahi sebuah tatapan tajam oleh Hee Rin. ‘Bukankah kau sedang sibuk?’ begitulah kira-kira pertanyaan yang tersirat dari tatapannya.

“Baiklah, kita makan di dekat sini.” Jawab Jung Soo.

^_^

Suasana hangat tercipta sepanjang mereka makan. Dan seperti biasa, Ryu Jin sangat sulit untuk diajak kompromi jika sedang dalam situasi seperti ini, makan, adalah hal yang paling menyebalkan menurutnya, palagi harus dipaksa Eun Kyo meski tidak sekeras di rumah. Makan diluar melongggarkan sedikit penyiksaan yang biasa Eun Kyo lakukan dengan teriakan kecil dan wajah marahnya. Kedua hal itu tidak ada disini, dan membuat hati Ryu Jin sedikit lega.

“Dimakan sayang, jangan hanya dipandangi.” Ujar Eun Kyo. Ryu Jin menoleh pada Eun Kyo, lalu kepada Jung Soo bergantian yang mengapit duduknya.

“Atau mau aku suapi seperti waktu itu?” potong Siwon. Membuat Hee Rin tercengang takjub, namun Siwon tidak memperdulikannnya, dia menyunggingkan senyumnya pada Ryu Jin. Anak itu menggeleng dan mulai menyuap makanannya. Eun Kyo terdiam sejenak melihat kejadian yang telah terjadi. Tidak ada paksaan, hanya sebuah tawaran juga senyuman dan itu membuat anak nakalnya tak berkutik dan mulai makan. Jung Soo tertawa.

“Anak ini selalu susah untuk makan.” Ujar Jung Soo.

“Seperti kau dulu Oppa, selalu membagi kotak makananmu.” Jawab Hee Rin. Kembali mereka bernostalgia dengan kenangan dan tidak membawa serta Siwon dan juga Eun Kyo.

“Aku kan berbaik hati.” Jawab Jung Soo membela diri.

“Berbaik hati setiap hari dan saat ketahuan kau dapat omelan dari In Young Onnie. Dia sudah susah payah membuatkan bekal untukmu.” Balas Hee Rin.

“Hem, yang penting orang lain senang.” Jawab Jung Soo lagi. Mereka berdua tertawa tanpa menyadari dua pasang mata memandangi mereka dengan heran. Eun Kyo berusaha mengindahkan pembicaraan hangat antara dua teman lama yang sedang mereview kembali kejadian tentang mereka. Tapi dalam hatinya, sedikit meradang, ada letupan api cemburu dalam dadanya dan dia berpikir, malam ini Jung Soo harus menjelaskan semuanya.

Siwon memandangi wajah Eun Kyo yang membiaskan kecemburuan tanpa Eun Kyo sadari sama sekali. Menikmati gerak-gerik wanita yang sedang makan meski matanya beberapa kali melirik Jung Soo dengan tajam. Siwon tersenyum, ada kesenangan tersendiri melihat berbagai ekspresi Eun Kyo dalam diam namun menyampaikan beribu bahasa.

“Aku sudah selesai.” Ujar Eun Kyo, membuat pembicaraan Jung Soo dan Hee Rin terhenti seketika. “Ryu Jin tidak usah masuk hari ini, biar dia ikut bersamaku.” Lanjutnya. “Bagaimana dengan kalian, sudah selesai? Jika belum, maaf, aku harus berangkat, ada beberapa klien sudah menunggu.” Dia mengambil tasnya dan mulai memeriksa isinya, memastikan tidak ada yang tertinggal. “Key tidak bisa menunggu lebih lama.” Lanjutnya dengan menekankan kata ‘Key’ pada Jng Soo, dibalas dengan senyuman kecut dari suaminya itu.

“Kau ke daerah Myeong Seong kan?” tanya Siwon ikut bangkit. Eun Kyo berhenti sebentar dan meyampirkan tas dibahunya.

“Benar sekali.” Jawab Eun Kyo sambil merapikan baju Ryu Jin dan mengangkat tubuh anak itu turun dari kursi.

“Boleh aku antar? Kita searah.” tawar Siwon. Jung Soo terdiam.

“Boleh, aku berangkat dengannya Oppa.” Ujar Eun Kyo dengan santai. Jung Soo mencelos mendengar Eun Kyo menerima tawaran Siwon. Tidak pernah sekalipun Eun Kyo menerima tawaran pria selain dirinya, bahkan Key sekalipun, Jung Soo tau kerap kali Eun Kyo menolak ajakan Key.

“Kau, kita searah kan?” tanya Jung Soo tak mau kalah pada Hee Rin. Hee Rin diam dan bingung lalu mengangguk.

“Biar aku yang mengantarmu.” Ujar Jung Soo pada Hee Rin. Eun Kyo melirik tajam seolah mengatakan ‘apa yang kau lakukan Oppa?’. Jung Soo tidak peduli, dia terlanjur panas melihat Eun Kyo menerima tawaran Siwon, orang yang baru dikenalnya.

“Arasseo, kita berpisah disini.” Eun Kyo bersiap untuk pergi. Tidak ingi berlama-lama melihat suaminya bercengkrama dengan teman lamanya. “Ah, Oppa, nanti sore jemput Ryu Jin. Kalian mau ke salon kan? Noona cantik?” tanya Eun Kyo sambil berlalu. Jung Soo tersenyum, dia mengerti kecemburuan Eun Kyo. Sejenak Jung Soo terpaku memandangi kepergian Eun Kyo hingga dibalik pintu kaca restoran. Saling berpegangan tanga dengan Ryu Jin dan melangkah meninggalkannya bersama Siwon, orang yang benar-benar baru dikenalnya.

Siwon’s POV

Aku mengemudikan mobilku dengan kecepatan rata-rata. Hari ini pekerjaanku tidak terlalu padat, bukan tidak terlalu padat, hanya saja entahlah, aku ingin hari ini berjalan santai. Aku melirik seseorang yang duduk manis sambil memangku anak kecil diatas pangkuannya tepat disebelahku. Wanita itu lebih memilih memperhatikan pemandangan jalanan yang sama sekali tidak banyak perubahan ketimbang mengobrol denganku. Aku juga hanya terdiam, tak tau harus memulai pembicaaan dengan topik apa.

“Dia istrimu?” tanyanya memecah keheningan. Aku menoleh padanya beberapa detik.

“Ye, dia istriku.” Jawabku membenarkan.

“Dia cantik.” Komentarnya, aku kembali menoleh padanya. Ryu Jin menyodorkan sebiji permen padaku, sebelum aku menanggapi pernyataan Eun Kyo terlebih dahulu aku menerima permen dari Ryu Jin. “Eo! Darimana kau mendapatkan permen ini?” tanya Eommanya cepat, dia melirikku tajam.

“Pasti dalam toples di meja makanku.” Jawabku, membela Ryu Jin.

“Tapi gigimu..” Eun Kyo menatap tajam Ryu Jin dengan tatapan tidak suka.

“Jangan marah padanya, dia tidak memakannya, dia bahkan memberikannya padaku.” Aku membuka mulutku dan memperlihatkan permen yang diletakkan Ryu Jin di lidahku. Begitu banyak larangan untuknya.

“Arasseo, tapi kau harus..” dia tidak melanjutkan omelannya karena Ryu Jin menunduk. Eun Kyo tersenyum melihat reaksi Ryu Jin. “Aish! Jinjja! Apa aku terlihat seperti ibu yang jahat Si..?” dia kembali tidak melanjutkan ucapannya. Mengerutkan dahinya.

“Choi Siwon, panggil saja Siwon.” Ulangku menyebutkan namaku.

“Ah, Siwon~ssi..” ujarnya melanjutkan perkataan yang tadi sempat terpotong karena tidak mengingat namaku.

“Ani. Kau tidak terlihat jahat, hanya terlihat cerewet.” Komentarku yang disahut dengan desisan olehnya. Aku tersenyum. Belum pernah aku menemukan wanita sepertinya, apa adanya dan tidak menutupi apapun. Dengan artian, dia tidak terlalu kaku.

“Ah, mengenai istrimu. Sepertinya mereka mengenal lama.” Ujarnya lagi melanjutkan pernyataan yang sempat tertunda karena sebuah permen.

“Ye, teman lama mungkin.” Aku menanggapinya tidak terlalu antusias, kenapa harus membicarakan mereka?

“Sepertinya dekat.” Ujarnya lagi sambil membelai rambut Ryu Jin. Aku menghela nafas berat. Ada segurat kejenuhan jika membicarakan wanita yang setiap malam menemaniku.

“Mungkin.” Jawabku malas.

“Kau tidak cemburu?” cecarnya. Ah, aku mengerti sekarang, apa dia cemburu? Aku tersenyum dalam hati. Wanita ini.. aku menoleh padanya dan tersenyum.

“Aku percaya pada istriku.” Jawabku menenangkannya.

“Dia terlihat sangat cantik, apa kau sama sekali tidak cemburu? Eoh? Mungkin saja banyak pria yang mengejarnya.” Ujarnya antusias dengan pertanyaannya. Senyumku mengembang menjawab pertanyaannya.

“Seperti suamimu mungkin.” Jawabku menggodanya.

“Andwae! Tidak mungkin.” Protesnya cepat. “Dia tid!” aku langsung menutup mulutnya yang ingin melanjutkan opininya.

“Ada anak kecil, jangan membicarakan hal itu disini.” Cegahku. Eun Kyo menunduk menatap Ryu Jin yang tidak mengerti apa-apa, hanya mengerjapkan matanya mendengar pembicaraan kami.

“Ah, aku berhenti disini saja, sudah dekat.” Serunya saat tanpa aku sadari aku sudah memasuki kawasan Myeong Deong.

“Aku antar sampai ke depan butikmu, yang mana?” tanyaku sambil melihat satu persatu toko yang berjejer disepanjang jalan ini.

“Yang itu.” Dia menunjuk sebuah toko beberapa meter dari posisi kami. Toko keenam dari tempat kami sekarang. “Darimana kau tau aku bekerja disini?” tanyanya. Aku tersenyum.

“Aku tau.” Jawabku. Dahinya berkerut heran, namun tidak bisa lagi bertanya karena kami sudah sampai di depan butiknya.

Teukyo Collection.

 

Aku membaca papan nama yang terpasang diatas pintu dalam hati. Sepertinya koleksinya lumayan. Eun Kyo membuka pintu dan menurunkan Ryu Jin terlebih dahulu.

“Ah, Ryu Jin~a..” teriak seseorang menyambut Ryu Jin. “Kau lama sekali Noona.” Lanjut lelaki itu pada Eun Kyo terdengar hangat dan sedikit.. boleh aku menyebutnya manja? Eun Kyo tidak menjawab.

“Gomawo Siwon~ssi..” Eun Kyo turun dari mobilku dan menutup pintu. “Terima kasih juga telah menjaga Ryu Jinku, meski hal itu membuat tidurku tidak tenang.” Lanjutnya di jendela mobilku sambil membungkuk.

“Gwaenchana, lain kali kita bisa bertemu lagi.” Jawabku.

“Ah, ye jika berjodoh.” Ujarnya.

“Pulangnya mau aku jemput?” aku terkejut dengan pertanyaan yang meluncur tanpa bisa aku pilah dari mulutku. Aku bertanya seolah aku boleh menjemputnya sementara dia sudah mempunyai suami. Lelaki di belakang Eun Kyo melirikku.

“Ani, mobilku ada disini, semalam aku tinggal.” Jawabnya menolak.

“Ah, gurae, kalau begitu aku pergi. Annyeog Ryu Jin~a..” Aku melambai pada Ryu Jin yang dibalasnya juga dengan lambaian tangan, lalu mulai menginjak pedal gas perlahan, melajukan mobilku dan membunyikan klakson tanda aku benar-benar pergi. Aku menghentikan injakanku pada pedal gas dan berhenti.

“Ah, mengenai pembicaraan tadi..” aku mengambil selembar kartu nama dari saku jasku dan menyerahkannya padanya. “Kita bisa berkompromi mungkin suatu saat, berbagi cerita.” Ujarku, dia mengambil kartu namaku. Aku membunyikan klakson untuk yang kedua kalinya dan benar-benar pergi. Dari kaca spionku aku bisa melihatnya melambaikan tangan.

Aku tidak mengerti, rasanya aku tertarik dengannya. Choi Siwon, yang benar saja, dia sudah tidak lagi sendiri. Buang pikiranmu, kau memiliki istri yang sempurna, benar-benar sempurna, bahkan dari sudut pandang wanitapun tidak bisa memungkiri kesempurnaannya. Hanya saja getar itu belum terasa. Aku menyebutnya belum karena takut jika suatu saat nanti aku menyukainya, perasaan siapa yang tau.

Ponselku berdering dan aku segera mengangkatnya sambil memecah jalanan yang mulai terik.

“Yeobseyo?” aku menyapa orang yang ada diseberang sana.

“Ne, sebentar lagi aku sampai.” Aku menutup telponnya. Rapat lagi, persiapan untuk proyek selanjutnya. Aish! Bisakah hidupku tidak hanya sekedar bekerja? Aku memang senang bekerja, tapi sekarang aku mulai lelah, lelah dengan berbagai tuntutan. Tuntutan pekerjaan hingga hal-hal kecil yang harus aku lakukan dengan sempurna. Aku tidak suka terlihat tidak sempurna. Belum lagi tuntutan Eomma dan Eomoni untuk memberi mereka cucu. Bagaimana mungkin aku bisa memberi mereka cucu jika selama berbulan-bulan aku sibuk dengan pekerjaanku yang mulai melebar. Semua bertumpu padaku, Appa dan Abeoji hanya bekerja dibalik layar sekarang.

Key’s POV

“Bagaimana dengan pesanan Nara, Key?” tanya Eun Kyo Noona sambil menepuk punggung Ryu Jin dan menyuruhnya berjalan. Anak itu cemberut saat bertemu denganku. Aku memang kerap kali menggodanya jika dia ikut bekerja bersama Eommanya.

“Ryu Jin~a, ayo kita menggambar.” Aku menarik lengan kecil Ryu Jin, anak itu menurut. “Ayo bermain bersama Key Appa.” Lanjutku sambil memegangi tangannya, menuntunnya ke ruangan biasa aku menggambar.

“Key Hyung!” koreksi Eun Kyo Noona. Dia tidak suka aku menyuruh Ryu Jin memanggilku ‘Appa’, dengan alasan aku masih terlihat muda.

“Wae? Aku sudah pantas menjadi Appanya. Hanya terlambat saja.” Protesku menggodanya. Dia menatapku dengan tajam.

“Arasseo, Key Hyung.” Tambahku.

“Hyung, dimana peralatan melukisku?” tanya Ryu Jin. Aish anak ini sangat menggemaskan, tidak kalah menggemaskan dari Eommanya.

“Ah, diatas, kau mau bermain bersamaku? Eo?” aku meluncurkan jurus muka manisku padanya yang disambut dengan sebuah anggukan darinya, namun tanpa ekspresi sama sekali.

“Kajja, kita naik keatas.” Aku menuntun Ryu Jin menaiki tangga menuju gudang yang ada di atap. Ryu Jin perlahan menaiki tangga dan saat sampai diatas, dia tercengang sambil menoleh ke kiri dan kanan mencari benda yang dia inginkan.

319px-Recipon_William_Leo6 320px-Recipon_William_Leo5

319px-Recipon_William_Leo6

Setelah mendapatkan yang dia inginkan, wajahnya terlihat berbinar. “Kajja, kita turun, melukisnya dibawah saja. Disini panas.” Aku mengambil peralatan lukis milik Ryu Jin dan membantunya menuruni tangga.

“Noona, siapa yang mengantarmu tadi?” aku melihat Eun Kyo Noona sedang berada di depan laptop sambil memainkan jarinya dan sesekali meng’click’ mouse yang ada ditangannya.

“Teman.” Jawabnya singkat, matanya fokus pada layar laptop.

“Ah! Penjualan online kita meningkat!” serunya nyaring dengan wajah tidak percaya. Terus memandangi layar laptop dengan takjub.

“Ye, kau kemana saja saat kami kebanjiran order.” Jawabku malas. “Noona, kau tidak menjawab pertanyaanku.”

“Hyung, bagaimana gambar bebek?” tanya Ryu Jin menyela pembicaraan kami sambil membawa sketsa lukisannya ditangan kiri dan kuas ditangan kanannya.

“Sini, biar aku ajari.” Aku mulai menorehkan kuas keatas kertas yang sudah hampir penuh dengan coretan buah tangan Ryu Jin. Hampir tidak muat lagi bahkan untuk seekor anak bebek kecil. “Anak bebek.” Ujarku setelah selesai.

“Ahahahahahaha.” Tawa anak itu terdengar riang ditelingaku.

“Noona!” teriakku melihat dia tidak sedikitpun merespon pertanyaanku tentang siapa yang mengantarnya tadi. Lelaki gagah yang berada di belakang kemudi Porsch-nya.

“Wae?” jawabnya, lagi-lagi dengan nada acuh.

“Pertanyaanku belum kau jawab!” teriakku sedikit keras, menyebabkan Ryu Jin menoleh padaku. Aku menoleh padanya sejenak dan membelai pipinya.

“Pertanyaan yang mana? Kemana saja aku saat kalian kebanjiran job?” tanyanya lagi.

“Ani!” jawabku setengah merajuk.

“Terus yang mana?” dia mengalihkan pandangannya dan melirikku sambil memiringkan kepalanya kesamping.

“Tentang siapa yang mengantarmu? Teman? Teman yang mana? Setauku kau tidak punya teman lelaki sepertinya.” Lanjutku ketus.

“Memangnya dia terlihat seperti apa?” tanyanya lagi masih dengan nada yang sama. Datar dan acuh.

“Dia, dia, dia terlihat sempurna. Bukankah dia seorang pengusaha kaya?”

“Jadi aku tidak pantas berteman dengan pengusaha kaya?” tatapn tajamnya seolah memprotes opiniku tentangnya.

“Bukan begitu, hanya saja, hanya saja, hanya saja kau tidak pernah memiliki teman sepertinya!”

“Sekarang aku punya teman sepertinya.” Jawabnya lagi. Membuatku bertambah kesal.

“Darimana kalian kenal?” tanyaku penasaran.

“Kenapa bertanya seperti itu? Aigoo, Oppa saja tidak pernah menanyakannya.” Protesnya sambil mendesis.

“Ck! Dia hanya belum tau saja.”

“Belum tau? Kami bahkan sarapan bersama tadi pagi.” Jawabannya membuatku tercengang.

“Bagaimana bisa?” gumamku lirih.

“Bisa saja.” Ujarnya. “Ah! Ada pesanan lagi!” serunya. Aku bangkit dan meninggalkannya. Menuju pantry dan menyeduh teh hangat.

“Bagaimana mungkin? Dia termasuk orang yang sulit untuk bergaul dengan lelaki. Bagaimana bisa?” gumamku masih tidak bisa terima. Aku saja susah untuk mendekatinya, kenapa orang itu sepertinya dekat dengan Noona, hanya dalam beberapa saat, aku bisa melihatnya dari tatapan lelaki itu, tajam dan tegas.

“Aish! Jinjja! Itu hanya pikiran negatifmu Key~ah.. jangan dipikirkan.” Aku memukul pelan kepalaku mengusir semua pikiran buruk tetang kejadian pagi tadi. Tapi sepertinya mereka terlihat akrab, dan bisa aku pastikan mereka baru saja berkenalan, aku melihat lelaki itu yang entah siapa namanya aku lupa, Eun Kyo Noona menyebutkannya sekali, menyerahkan kartu nama padanya. Atau itu adalah teman lama? Yang bertemu kembali? Mungkin saja. Aku menggeleng kuat.

“Waeyo, Oppa?” Chanie berdiri di ambang pintu sambil melipat tangannya di dada.

“Eoh, sejak kapan kau ada disana?” tanyaku salah tingkah.

“Sejak kau mulai menyesap tehmu.” Jawabnya

“Oh, mau apa kau kemari? Minum teh?” tanyaku.

“Ani, aku hanya ingin mengambilkan air putih untuk Ryu Jin.” Jawabnya.

“Oh, kalau begitu ambil saja.” Aku menyingkir dari depan kulkas beberapa langkah.

“Kau terlihat bodoh Oppa.” Dia meninggalkanku dengan sebuah rasa malu yang merayapi wajahku. Aku terdiam, aku memang bodoh. Apa ini sebuah perasaan cemburu? Eoh? Tidak mungkin! Aku bahkan lebih mengenal Noona daripada lelaki itu, lalu apa yang aku takutkan? Tapi dia menyerahkan kartu nama pada Noona, apa mereka akan bertemu kembali? Ah entahlah, sudah lah Key, jangan terlalu dipikirkan.

Jung Soo’s POV

“Suamimu? Yang super sibuk itu?” tanyaku saat Hee Rin berada di jok samping kemudiku. Dia tertawa kecil sambil menutup mulutnya. Tawanya masih sama seperti dulu.

“Ne, tapi mengapa harus ada embel-embel super sibuk Oppa?” tanyanya masih dengan sisa tawanya.

“Ani, kau sendiri yang bilang padaku kan?” kilahku. Suaminya memang terlihat sangat sibuk juga mempesona, mereka terlihat seperti pasangan yang sangat serasi. Aku memperhatikan wajah Hee Rin. Masih cantik, meski sekarang guratan cantik lebih tampak dan lebih sedikit matang. Aku meliriknya sesekali.

“Kenapa diam Oppa?” tanyanya memecah keheningan kami beberapa menit.

“Ani, aku hanya teringat kita dulu. Selalu satu bus, dan duduk bersebelahan seperti ini.” Aku masih sangat senang mengenangnya.

“Itu masa lalu Oppa, sekarang kau sudah mempunyai anak, aku tidak menyangka.” Tawanya mereda, wajahnya menjadi datar. Aku menoleh padanya, wajahnya berubah.

“Ne, anak yang sangat nakal.” Ujarku.

“Ani, dia sangat pintar, meski memang sedikit susah diatur.” Hee Rin membenarkan bajunya yang sedikit tersingkap. Lagi-lagi aku meliriknya. “ Kau tau bagaimana perjuanganku membuatnya tidur? Eoh?” tanyanya antusias.

“Kenapa? Dia memang sangat susah diatur.”

“Aku harus membujuknya agar tidak membawanya pulang. Dia bilang dia ingin Eommanya, sementara aku dan Siwon benar-benar tidak tau alamat rumah dan siapa orang tuanya. Dia hanya menyebutkan Park Eun Kyo, tidak menyebutkan namamu.” Dia menjelaskan semua kelakuan anak nakal semata wayangku. “Dan ternyata, dia anakmu, aku tidak menyangka.” Ujarnya kembali lirih.

“Aish! Anak itu, meski setiap hari dimarahi Eommanya, tapi yang dia ingat hanya sosok ibunya saja disaat genting seperti itu.” Desisku sambil membelokkan mobilku di perempatan.

“Sepertinya dia sangat menyayangi Eommanya. Memang terlihat seperti Eomma yang tangguh.” Lanjut Hee Rin. Aku melirik wajahnya.

“Oppa, ceritakan padaku bagaimana kau bertemu dengan Eun Kyo.” Dia memberikan ekspresi wajah seperti 10 tahun yang lalu saat meminta sesuatu dan aku tidak bisa menolaknya sama sekali.

“Apa yang ingin kau tau?” aku memfokuskan mataku pada jalanan.

“Em, bagaimana kau bertemu dengannya?” dia menghadapkan setengah tubuhnya padaku.

“Bagaimana yah, aku bertemu dengannya saat perusahaanku bakti sosial, bertemu karena dia salah satu sukarelawan disana.” Ceritaku mengulang kejadian aku bertemu dengan Eun Kyo. Sikap acuhnya membuatku sedikit penasaran, disamping wajahnya yang menarik.

“Lalu kau jatuh cinta padanya?” tanyanya lagi.

“Aku menyukainya.” Koreksiku.

“Kau tidak mencintainya?”

“Saat itu, tapi setelah mengenalnya lebih jauh, aku memutuskan untuk mencintainya.” Ujarku lagi.

“Apa yang membuatmu jatuh cinta padanya?” pertanyaan ini sangat sulit aku jawab. Aku juga tidak mengerti apa yang membuatku jatuh cinta pada wanita itu. Aku hanya menuruti intuisiku, merasa dia cocok untukku dan memang benar-benar untukku, itu saja. Apa cinta perlu alasan? Bagi sebagian lelaki, mungkin menyukaiya karena dia memang cantik, meski tidak secantik orang yang duduk disampingku. Tapi ada sesuatu yang  menarikku ke dunianya dan merasa nyaman di dekatnya, waktu itu. Waktu itu? Bagaimana dengan sekarang? Mengapa kau bertanya seperti itu Park Jung Soo?

“Dia, dia, entahlah, aku hanya merasa dia orangnya.” Jawabku asal.

“Mana mungkin bisa begitu.” Protes Hee Rin manja.

“Bisa saja. Sekarang giliranku. Kenapa kau menikah dengan Siwon?” tanyaku berbalik. Dia terdiam dan menunduk. Aku menanti jawabannya.

“Shin Hee Rin? Gwaenchana?” aku menunduk mengintip wajahnya, dia mengangkat wajahnya perlahan.

“Aku dijodohkan.” Jawabnya terdengar pilu.

“Begitu? Tapi dia pria yang sangat tampan. Kau sangat cocok dengannya.” Ujarku. Ada sedikit rasa iba dalam hatiku tiba-tiba menyentilku. Aku tidak suka melihatnya murung, mengingatkanku pada keadaannya dulu yang memang serba diatur, oleh orang tuanya.

“Apa terlihat seperti itu?” dia membuang pandangannya keluar jendela dan menghela nafas kasar.

“Memangnya kenapa Hee Rin~a? Kau ada masalah?” apa-apaan kau Park Jung Soo? Tidak seharusnya kau menanyakan itu. Bukan koridormu sama sekali, dan kau baru bertemu dengannya.

“Ani Oppa.” Jawabnya rendah.

“Jika ada masalah, ceritakan saja padaku.” Aku menyentuh punggung tangannya. Tanda aku benar-benar mengkhawatirkannya. Tidak bisa aku pungkiri, hatiku sedikit nyeri melihat dia murung. Aku sama sekali tidak bisa melihatnya murung, gadis kecil yang dulu aku sukai.

“Gomawo~yo Oppa, aku sampai disini saja. Itu galeryku.” Dia menunjuk salah satu gedung, tepat disebelah gedung kantorku. Aku  menepikan mobil dan dia turun dari mobilku.

“Oppa, kapan-kapan kita makan bersama lagi.” Dia ingin melangkah memasuki gedungnya tapi aku mencegahnya.

“Hee Rin~a, bisa minta nomor ponselmu?” dia berhenti seketika dan berbalik badan, lalu tersenyum.

“Itu yang aku tunggu Oppa.” Ujarnya. Dia mengambil ponsel yang aku sodorkan padanya dan menulisnya nomornya di kontakku. “Sudah, kapan-kapan sms aku.” Ujarnya lagi sebelum benar-benar menghilang dibalik pintu. Aku terdiam sejenak, gadis itu tetap menarik seperti dulu, tidak ada yang berubah, dan dia tidak bisa sama sekali menyimpan sesuatu dariku. Hatiku bergetar.

^_^

Aku membuka-buka file yang menurutku membantu untuk penyelidikan berbagai masalah dikantorku. Memandangi dengan seksama tabel pengeluaran dan dokumen yang aku tanda tangani. Aku tidak pernah merasa menandatangani berkas yang mengeluarkan 100.000 dolar Amerika, untuk keperluan produksi. Meski aku menyangkalnya, tapi ini terlihat seperti tanda tanganku. Dan siapa yang membubuhinya disini? Aku tidak bisa menuduh orang sembarangan, tapi yang aku tau, ada orang yang berkhianat di perusahaan ini. Aku menghela nafas dan mengusap wajahku, tiba-tiba aku teringat anak dan istriku. Mengiriminya pesan, untuk memastikan apakah mereka baik-baik saja.

To : Ryu Jin’s Mom

Yeobo, apa Ryu Jin baik-baik saja? Dia nakal?

Aku baru saja menyentuh kata ‘sent’ dilayar ponselku. Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi peringatan balasan darinya

From : Ryu Jin’s Mom

Ani Oppa, dia sedang melukis bersama Key.

Balasan darinya membuatku sedikit meradang. Key? Bersama anakku? Melukis? Aish! Jinjja! Jangan katakan kau mendekati anakku bocah tengik! Tidak akan aku biarkan! Aku tidak fokus pada pekerjaanku melihat kata ‘Key’ pada layar ponselku dan itu pesan dari istriku.

“Sajangnim, aku menemukan sedikit bukti.” Sang Wo masuk kedalam ruanganku, aku tidak merasa dia mengetuk pintu, tapi berita yang dia bawa sedikit melegakanku.

“Laporan disini pengeluaran terjadi saat kau liburan bersama keluargamu. Saat kau cuti.” Ujarnya. Aku baru ingat, benar juga, bagaimana mungkin aku bisa tandatangan sementara aku cuti.

“Tapi tetap saja meski itu bukan tanda tanganku, tetap saja kita punya masalah.” Ujarku.

“Benar Sajangnim, tapi setidaknya bukan kesalahanmu.” Bela Sang Wo. Dia memang karyawan terbaikku.

“Tetap masalahku Sang Wo~ya, aku direkturnya dan bertanggung jawab penuh atas kejadian disini.” Sang Wo mengangguk.

“Aku hanya tidak terima kau disalahkan.” Gumam Sang Wo sambil menunduk. Aku tersenyum, begitu setianya kah dia padaku? Sampai sakit hati seperti itu jika aku difitnah.

“Kita pasti akan menemukan orang yang menyelewengkan dana itu, kau tenang saja. Kau sudah makan?” tanyaku padanya.

“Belum, Sajangnim.” Jawabnya penuh hormat dan menundukkan badan.

“Aish! Kau tidak perlu seformal itu. Ayo kit amakan siang bersama.” Aku merangkul pundaknya dan membawanya keluar ruangan menuju restoran di dekat gedung perusahaanku. Setelah sampai disana, aku mengambil duduk, begitu juga dengan Sang Wo.

“Kau mau makan apa?” tanyaku padanya sambil membuka buku menu.

“Terserah saja Sajangnim.” Aku meliriknya, apa dia diciptakan untuk selalu menurut padaku? Aku tersenyum padanya. Tapi sosok yang berlalu dibelakang Sang Wo membuatku sediki t tercengan, Hee Rin. Kenapa kebetulan selalu menghampiri kami? Bahkan disaat seperti ini.

“Baiklah, aku pesan menuku biasa saja.” Aku melambai pada pelayan dan dia mencata semua pesananku, seperti biasa. Hee Rin duduk dihadapanku, aku bisa melihat wajahnya dengan jelas, sesekali dia  melihat kearahku. Dia bersama Eommanya.

Tak berapa lama pesananku datang dan kami melahapnya bersama. Tapi lagi-lagi aku tidak fokus hari ini. Aku memperhatikan wajah Hee Rin yang menegang, sepertinya dia berdebat dengan Eommanya. Hal yang kerap kali terjadi sejak dulu. Terlihat Hee Rin mendengus kesal, tapi sama sekali tidak dipedulikan oleh Shin Ahjumma. Aku memang tidak pernah mengenal Eommanya secara langsung, karena waktu itu memang Hee Rin tidak diperbolehkan bergaul sembarangan. Namun takdir memberikan jalan untuk kami selalu bersama. Aku tidak bisa memungkiri, dulu memang aku menyukainya. Aku menoleh pada Sang Wo yang telah menyelesaikan makannya.

“Kau sudah selesai?” tanyaku sambil menyuap makanan  ke mulutku.

“Ne, Sajangnim.” Dia menyapu pinggiran mulutnya dengan sapu tangan.

“Kalau begitu kau duluan saja, aku masih ada urusan.”

“Ah, ye Sajangnim.” Ujarnya. Urusan? Urusan Hee Rin membuatku tertarik. Aku memperhatikan gerak-geriknya yang terlihat kesal, tak bisa mengalihkan pandanganku padanya, rasa penasaranku menggebu. Beberapa saat berlalu, Shin Ahjumma bangkit dan meninggalkan Hee Rin sendirian yang terlihat sayu. Aku mengangkat alisku untuk seolah menayakan ‘Apa yang terjadi’. Dia mengangkat bahunya dan mengambil ponselnya. Ponselku berdering, ada pesan masuk.

From : Hee Rin

Gwaencha Oppa.. ^_^

Pesan darinya, aku segera membalasnya.

To : Hee Rin

Jeongmal? Kau terlihat kusut.

Dia tertawa melihat pesanku. Aku ikut tertawa, senang melihat senyuman mengembang di wajahnya. Dia bangkit dan mendekat padaku.

“Mengapa kau ada disini juga Oppa?” tanyanya.

“Aku yang lebih dulu kesini.” Aku memasukkan sisa makanku yang tinggal sedikit. Dia menarik kursi dan duduk dihadapanku.

“Oppa, boleh aku mengajakmu jalan-jalan?” tanya. Aku membiarkan sendok berada dalam mulutku dan menatapnya.

“Wae?” tanyaku heran

“Ani, aku hanya ingin santai saja.” Dia bersandar dikursi.

“Geurae, baiklah, kau mau kemana?” tanyaku.

“Atap atas gedungmu.” Jawabnya. Aku tertawa mendengar jawabannya.

^_^

Aku telah berada di atap ini bersamanya sejak 30 menit yang lalu. Tapi dia hanya diam membisu, sepertinya memang ada masalah yang melilitnya hingga membuatnya diam seperti ini, aku tidak ingin mengusiknya.

“Oppa, dulu aku tidak pernah menyangka menikah dengan orang asing seperti Choi Siwon.” Dia mulai membuka mulut dan bercerita. Aku tidak ingin menyela pembicaraannya.

“Dia, dia sulit sekali ditebak.” Hee Rin Memainkan jemarinya di pembatas, sambil memandangi beberapa gedung yang tinggi menjulang.

“Apa Eun Kyo juga terkadang sulit ditebak? Apa dia benar-benar mencintaimu?” pertanyaan Hee Rin kini menohokku. Pertanyaan yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam benakku. ‘Apakah istriku mencintaiku?’. Aku terdiam tak menjawab.

“Tentu saja dia sangat mencintaimu, aku bisa melihatnya dengan jelas dari matanya.” Sambungnya lagi. Selama ini memang hanya aku yang menyampaikan rasa cintaku. Aku tidak pernah mendengarnya mengatakan dia mencintaiku.

“Aku iri padanya.” Dia masih tidak bisa menghentikan ucapannya. Aku menoleh padanya. Iri? Apa yang dia perlu lagi?

“Kau dan dia punya kelebihan yang berbeda.” Aku akhirnya bisa menanggapinya saat dia mulai berhenti bicara.

“Ne, seperti halnya kau dan Siwon.” Dia menoleh padaku, begitu juga aku, mata kami saling beradu.

“Kau tau Oppa? Dulu, bodohnya aku, hahahahaha.” Dia mulai tertawa, beban yang tadi menghimpitnya perlahan memudar berganti dengan tawa.

“Bodohnya dulu aku berharap kita berjodoh.” Lanjutnya membuatku tersentak.

“Kau meninggalkanku.” Aku memukul pelan kepalanya yang kuakhiri dengan sebuah belaian di rambutnya.
“Ne, aku meninggalkanmu, ke London.” Dia menunduk. Aku mengacak rambut, hal yang dulu sering aku lakukan.

“Jangan seperti itu, pembicaraan ini jadi membosankan, akhirnya kita bertemu lagi kan? Kita memang berjodoh.” Aku berjalan melangkah mundur.

“Ayo kita pulang, ini sudah sore, mau kuantar pulang?” Hee Rin menggeleng, dan mengikutiku berjalan, melalui lift. Aku menekan tombol lantai dasar. Keheningan terjadi selama kami di dalam lift.

“Oppa, boleh aku memelukmu?” tanyanya, aku tercengang, namun tanpa menunggu jawaban dariku dia sudah memelukku.

“Aku merindukanmu.” Ujarnya dalam dekapanku. Sejenak aku terbuai. Hingga tidak menyadari pintu lift telah terbuka. Hee Rin masih memelukku, dia menangis. Namun seseorang dihadapanku membuatku terkejut dan tersentak seketika. Key.

Aku melepaskan pelukan Hee Rin, dan dia menghapus airmatanya. Key memandangku tajam, menusuk bagai belati yang siap mencabikku. Aku tidak bisa berkata apa-apa, bahkan untuk menyapanya.

“Aku pulang sendiri Oppa, aku bawa mobil.” Ujar Hee Rin membuatku melepaskan tatapanku pada Hee Rin. Key menatap Hee Rin juga, tapi gadis itu tidak menyadarinya.

“Aku mengantarkan pesanan.” Ujar Key tiba-tiba setelah Hee Rin berlalu, seolah tau pertanyaan dalam otakku. Aku mati kutu dibuatnya. Apa yang dia lihat tidak seperti apa yang dia pikirkan.

“Itu semua tidak seperti apa yanga da dipikiranmu, Key.” Aku membela diri.

“Memangnya apa yang aku pikirkan?” jawabnya ketus balik bertanya. Aku tidak bisa menjawab, hanya bisa memandangi kepergian Key dengan nanar. Tiba-tiba rasa bersalah menyeruak dalam dadaku. Semburat rasa takut mulai merambati hatiku. Dan aku merasa salah satu bagian kecil jiwaku menghilang, serta tertinggal satu langkah dari Key. Entah langkah apa yang kami perlombakan.

Eun Kyo’s POV

Beberapa hari berlalu. Bisnisku mulai merambat ke luar daerah dan beberapa pemesan dari luar. Aku rasa itu adalah teman-teman Key saat dia di Paris, karena pesanan dari luar kebanyakan dari Paris. Hem, tidak ada salahnya merekrut anak itu kembali, meski aku tau Oppa tidak suka, tapi sekarang dia tidak mempermasalahkannya seperti dulu.

“Noona, kau sudah makan?” tanya Key menyembul dibalik pintu. Aku menggeleng. “Bagaimana kalau kita makan diluar?” ajaknya. Aku kembali menggeleng.

“Aku sudah pesan makanan dan diantar kesini, Oppa akan makan bersamaku.” Key mendengus kecewa. Mianhae Key. “Kau bisa makan bersama kami kalau kau mau.” Aku masih fokus pada rancanganku.

“Ani, terima kasih, aku tidak ingin mengganggumu.” Ujarnya dan keluar dari ruanganku. Aku mengambil ponsel dan mencari nomor Oppa lalu menelponnya.

“Oppa, jadi makan disini?” tanyaku setelah dia mengangkatnya tanpa basa-basi.

“Ye, sebentar lagi aku kesana.” Jawabnya. Aku menutup telpon setelah mendengar jawabannya, lalu melanjutkan pekerjaanku. Seseorang mengetuk pintu.

“Silakan masuk.”

“Diletakkan dimana Nyonya?’ jasa pengantar makanan telah datang.

“Letakkan saja di meja. Uanganya juga ada dsana. Terima kasih.” Aku mendongak sejenak dan memberikannya senyuman sebelum dia berlalu.

Aku masih berkutat dengan desainku. Kali ini harus terlihat sempurna, aku tidak ingin mengecewakan klienku. Aku dikejutkan oleh suara telpon yang membuat sketsaku sedikit ada coretan. Aku mengangkatnya, Jung Soo Oppa.

“Ne, Oppa. Waeyo?” sambarku setelah menggeser  tanda answer.

“Mengapa mematikan telpon tiba-tiba?” protesnya sedikit keras.

“Kau kan akan kesini? Buat apa berlama-lama di telpon?” tanyaku. Aku bersandar pada kursi dan mengambil posisi lebih santai, meregangkan otot.

“Aku belum selesai bicara tadi.” Ujarnya.

“Geurae, apa yang ingin kau bicarakan?” aku merengangkan ruas-ruas jariku yang terasa penat.

“Aku sangat mencintaimu.” Ujarnya. Aku terdiam, dia juga terdiam. “Kenapa tidak menjawab?” tanyanya. Aku hanya tertawa.

“Aku tau Oppa, aku tidak meragukannya.” Jawabku. Seseorang membuka pintu ruanganku. Jung Soo Oppa telah berdiri di hadapanku dengan ponsel ditelinganya lengkap bersama senyuman menawan dari wajahnya, yang selalu membuatku tenang dan jatuh cinta setiap detiknya.

“Tapi kau tidak pernah mengatakan kau mencintaiku.” Kami masih berbicara di telpon dan saling berhadapan. Oppa semakin mendekat dan berdiri di belakangku. Aku masih menempelkan ponsel ditelingaku, sama sepertinya. “Aku ingin mendengar kau mengatakannya.” Dia berbicara di telpon sambil berjongkok dan berbisik di telingaku. Aku menoleh padanya, wajahnya begitu dekat. Mataku dan matanya sejajar saling menatap. Aku mendekatkan wajahku dan mengecup bibirnya.

“Saranghae Park Jung Soo.” Ujarku seraya melepaskan ciumanku. Dia tersenyum dan melumat bibirku, beralih ke rahangku dan mendarat di leherku.

“Nado saranghae, Mrs. Park.” Ujarnya melepaskan ciumannya. Lalu menutup telponnya.

“Kapan kita makannya?” tanyaku. Dia memelukku dan mengecup bahuku. Membuatku berdiri dan mendorongku berjalan.

“Aku masih tidak lapar.” Ujarnya.

“Lalu? Makanannya sudah hampir dingin Oppa.” Aku merengek meneruskan rontaan perutku yang sudah semakin terasa karena menunggunya terlebih dahulu.

“Kau sibuk sekali akhir-akhir ini, hingga melupakan jadwal bercinta kita.” Tangannya menggelitik perutku, menyusup dan membelainya dibalik bajuku.

“Oppa, kau jangan macam-macam, aku ingin makan.” Dia mendorongku hingga ke sofa mini yang biasa Key gunakan untuk menggambar sketsa dan sekedar beristirahat. Aku terdesak. Saat dia ingin menciumku, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu. Refleks kami langsung menoleh kearah pintu bersamaan.

“Noona, pesanan Angel ada di kotak nomor berapa? Aku ingin mengirimnya.” Teriak Key dari luar. Dia pasti tau Jung Soo Oppa bersamaku, makanya memilih tidak masuk.

“Ada dikotak 159.” Jawabku setengah berteriak. Jung Soo Oppa merapikan bajunya yang sedikit berantakan, begitu juga aku yang membenarkan rokku yang sedikit tersingkap akibat tangan usil Oppa.

“Kita makan sekarang.” Aku membuka pembungkus makanan dan menyipakan makanan untuknya. Aku teringat Ryu Jin dan menelpon tempat penitipannya.

“Maaf Nona Jung, apa Ryu Jin sudah makan?”aku menanyakan keadaan Ryu Jin sambil menyuap makananku.

“Dia baik-baik saja Nonya.” Jawab suara di seberang sana.

“Makannya?” tanyaku mengingat dia susah sekali untuk makan.

“Makannnya lumayan banyak hari ini karena ada yang mengunjunginya.” Jawabnya lagi.

“Mengunjunginya? Nugu~ya?” Jung Soo Oppa menoleh padaku, kebingungan terukir jelas diwajahnya, dia menghentikan makannya.

“Dia bilang itu pamannya.” Jawab Nona Jung.

“Maaf, tolong jangan biarkan dia berbicara dengan orang yang baru dikenalnya.” Aku merasa sedikit was-was mengenai Ryu Jin.

“Ye, Nyonya. Dia sekarang sedang tidur.”

“Dan jangan biarkan siapapun menjemputnya selain aku atau Appanya.” Aku ngeri jika megingat anakku satu-satunya itu hilang kemarin. Dan aku tidak mau itu terulang kembali.

“Ah, ye Nyonya.” Jawabnya lgi.

“Kalu begitu terimakasih.” Aku menutup sambungan telponnya dan memandangi Oppa.

“Bagaimana dengan Ryu Jin?” tanya Jung Soo Oppa.

“Dia sedang tidur siang, dan Nona Jung bilang, dia makan banyak hari ini karena ada yang menemaninya.”

“Menemaninya? Nuguya?”

“Entahlah, Nona Jung bilang itu pamannya.”

“Paman? Ryu Jin belum mempunyai Paman.” Protes Jung Soo Oppa sedikit keras.

“Oppa, tenanglah, dia sedang tidur sekarang.” Jung Soo Oppa sedikit bernafas lega.

“Yeobo, akhir pekan ini kau sibuk?” tanya Jung Soo Oppa mengakiri makannya.

“Aku belum tau Oppa.” Jawabku, jika aku menyelesaikan semua pesananku, aku bisa santai.

“Minggu ini ada reuni alumni sekolahku dulu. Kau harus ikut, atau aku tidak akan hadir.” Ujarnya, aku menghentikan makanku mendengar ucapannya.

“Em, akan aku usahakan.” Putusku, aku juga telah menyelesaikan makanku.

“Aku ingin kau ikut.” Dia mengambil duduk disampingku dan merangkulku. Ck! Lagi-lagi membuatku terkejut. Untungnya aku sudah menyelesaikan makanku, kau ingin bermain? Arasseo, aku akan meladenimu karena perutku sudah kenyang.

“Wae? Baiklah, aku bilang kan aku akan usahakan.”

“Aku ingin kau pasti ikut.” Dia mulai mendekatkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya di leherku. Oppa! Ini masih ditempat kerja.

“Ara, ara. Aku akan ikut.” Aku menjauhkan diriku darinya. Dia mengikutiku dan mulai menindihku.

“Oppa, kau gila, kau belum sikat gigi dan yaish! Kau bau!” wajahnya berubah cemberut dan mulai mencium dirinya sendiri. Hal itu aku manfaatkan untuk melepaskan diri darinya.

“Ani, aku masih wangi.” Aku tersenyum melihat kekecewaan ynag terbias di wajahnya. Memangnya hanya aku yang sibuk hingga melupakan ‘jadwal’ kami? Dia juga ikut adil dalam hal ‘melupakan’ itu. Akhir-akhir ini di ajarang makan bersamaku seperti dulu. Ponselnya berdering dan dia mulai mengangkat telponnya dengan sedikit menjauh dariku, aku meliriknya. Beberapa menit berlalu akhirnya dia kembali padaku dan berpamitan.

“Yeobo, aku harus pergi sekarang.” Dia memelukku dan mengambil bibirku, melumatnya beberapa detik, saat aku mencoba melepaskannya karena kehabisan nafas, dia malah menekan kepalaku agar ciuman kami tidak terlepas. Terdengar bunyi decapan halus ditelingaku saat dia melumat bibirku.

“Mmmpphh!” aku benar-benar kehilangan nafas, dan 3 detik kemudian dia baru melepaskanku. Aku menyapu bibirku, dia tertawa.

“Kita lanjutkan malam ini.” Sebelum dia pergi dia mencium dahiku sekali lagi dengan lembut.

^_^

Aku memilah-milah baju yang ada di butik dan menjadi koleksiku. Dua hari lagi aku harus menyiapkan diri untuk acara reuni Jung Soo Oppa. Mematut diri di depan cermin sambil menilai diriku sendiri. Em, sedikit berlebihan, gaun-gaun ini terlalu seksi, Oppa pasti marah.

“Aku bingung.” Ujarku pada diri sendiri. Dari cermin, aku bisa Key bersandar di pintu sambil melipat tangannya di dada.

“Kau mau kemana Noona?” tanya Key sambil memperhatikanku. Dahinya berkerut.

“Ani, aku tidak kemana-mana.” Jawabku sambil meletakkan baju yang aku coba tanpa memakainya, hanya meletakkan di depan badanku.

“Lalu untuk apa mencoba baju-baju itu?” Key melirik tumpukan baju yang ada disofa, omona! Aku tidak sadar mengambil begitu banyak baju sejak tadi, hampir menghabiskan semua koleksiku.

“Ah, ahahahahaha. Ani, aku hanya mencobanya saja, apa aku pantas mengenakannnya seperti orang lain.” Kilahku sambil mengayunkan tanganku ke udara, salah tingkah. Key masih mengerutkan dahinya.

“Tapi semuanya terlihat seksi, dan aku tidak pantas memakainya.” Aku memunguti baju itu dan mengembalikannya pada tempatnya. Key mendekatiku dan mengambil salah satu gaun yang hendak aku gantung kembali.

“Aku rasa yang ini cocok untukmu.” Ujarnya.

“Jinjja? Tapi aku, aku tidak akan kemana-mana.” Aku menghindarinya, tapi tangannya menahanku. Aku terhenti melangkah.

“Akan aku buat ini cocok untukmu.” Key berbisik di telingaku dengan pelan. Aku menggidikkan bahuku. Dia senang sekali membuatku tercekat seperti ini. Seringai menggoda terlihat dari wajahnya. Aku hanya bisa terdiam.

“Tunggu beberapa jam, paling tidak besok kau bisa mencobanya. Bukannya acaranya 2 hari lagi?” tanyanya. Aku tercengang. Bagaimana dia tau tentang acara itu?

“Acara apa memangnya?” tanyaku penasaran, untuk memastikan apakah dia benar-benar tau acaraku?

“Reuni Jung Soo Hyung.” Jawabnya singkat sambil melangkah meninggalkan pintu namun berhenti sejenak dan berbalik. “Kalendermu penuh tanda.” Dia menunjuk kalender yang terpasang di dinding. Aku melihat arah tunjuknya. Benar juga, semua acara ada disana.

“Arasseo.” Jawabku tak mampu mengelak.

“Aku kubuat kau menjadi cantik Noona.” Dia mengedipkan sebelah matanya dan berlalu, menyisakan kebingungan di benakku.

“Noona, besok pagi kita ke salon!” teriaknya dari luar. Apa aku harus tampil berlebihan seperti itu? Salon? Aku jarang ke salon, bahkan untuk memotong rambutku. Tapi aku rasa ajakan Key tidak terlalu buruk.

“Ne!” sahutku nyaring dari dalam.

^_^

Aku ke salan pagi harinya sebelum berangkat malam ini. Oppa sudah menelponku beberapa kali untuk memastikan aku benar-benar bisa menghadirinya. Cerewet sekali, apa yang sebenarnya dia inginkan? Bukankah tanpa aku acara itu tetap berlanjut? Kenapa aku mendadak jadi aspek penting dalam kehadirannya dalam acara itu?

“Key, menurutmu, apa aku akan bisa berbaur disana?” kami menjalani perawatan bersama. Anak itu senang merawat dirinya. Kadang-kadang dia mengajakku namun selalu aku tolak. Tapi kali ini, menyenangkan bisa bersamanya. Dia mengerti apa yang aku butuhkan yang aku tidak mengerti, aku hanya mengikuti saja.

180403_1485513112374_1670305001_1001859_7036226_n

“Menurutmu, bagaimana aku seharusnya disana?” tanyaku penuh tanda tanya. Kali ini aku tau aku sedikit cerewet padanya.

“Aku yakin kau bisa mengatasinya Noona.” Ujar Key sambil memejamkan matanya berbaring disampingku.

“Jinjja? Semoga saja.” Aku menaruh harapan besar pada ucapan penuh keyakinan Key. Menghela nafasku dan menikimati sisa waktuku mendapat pelayanan yang sedikit membuatku santai.

Selesai merawat diri,a ku ingin segera pulang dan mengakhiri kekhawatiran Jung Soo Oppa yang setiap jam menelponku, menanyakan aku sedang apa dan bersama siapa. Aku tentu tidak menjawabnya sedang di salon, apalagi sedang bersama Key. Bukannya malah pergi ke acara tapi mungkin kami akan berdebat.

“Kita jangan pulang dulu, kau harus mencoba gaunnya.” Key menarikku yang hendak keluar dari pintu salon besar ini. “Bisa pinjam kamar ganti?” tanya Key pada seorang pegawai salon. Orang itu menunjukkan padaku sebuah kamar.

“Kau ganti bajumu. Tidak sempat lagi untuk kau pulang dan menyiapkan dirimu.” Key mendorongku masuk kedalam ruangan itu, mau tidak mau aku harus masuk dan mengganti bajuku. Benar apa yang dia katakan, tidak cukup waktu untuk bersiap dari rumah. Aku mengganti bajuku dan memperhatikan diriku di depan cermin. Siluet bayangan memantul dari kaca. Membiaskan tubuhku disna, berbalut gaun sederhana, namun aku menyukainya. Aku tersenyum memandangi diriku. Tapi mungkin ini sedikit pendek menurutku. Aku tidak terbiasa dengan penampilan seperti ini di depan orang lain, kecuali di depan suamiku sendiri.

Aku perlahan membuka pintu dan menyembulkan kepalaku.

“Key, sepertinya ini sedikit…” aku membuka pintu dengan sangat perlahan dan memperlihatkan badanku, “Terlalu pendek?” Key memandangiku dengan seksama, teliti dari kaki hingga kepalaku.

“Sempurna, ayo kita pulang sekarang,a ku antar kau pulang.” Key menarik tanganku dan bergegas meninggalkan salon itu.

“Ah, chankkamman!”Key tiba-tiba berhenti. “Biar aku mengambil satu saja fotomu, biar kita pajang di wabsite.” Ujarnya. Aku berdiri dan sedikit dan sedikit senyum.

amourette party

Jung Soo’s POV

Aku sudah menunggunya sekian lama. Ryu Jin sudah aku titipkan ke rumah Eomma. Tapi yang paling membuatku cemas adalah Eun Kyo, ini sudah hampir waktunya, dan dia tidak menampakkan batang hidungnya. Belum lagi dia berdandan dan sebagainya, mandi? Aish! Meski wanitaku itu tidak memakan waktu lama untuk berdandan, tapi dia membutuhkan waktu ekstra saat mandi. Aku bolak –balik ruang tamu dan halaman depan, berharap dia muncul bak jin ynag bisa muncul kapan saja. Kupandangi jam dinding yang tak hentinya berdetak dan terus berputar, bagai bom waktu yang siap membuatku meledak. Park Eun Kyo, kau beanr-benar membuatku takut. Entahlah, aku merasa dia sangat penting untuk acara ini. Aku mendengar sayup-sayup bunyi deru mobil berhenti di depan pagar. Aku segera berlari dan membuka pintu pagar besar dan tinggi. Saat aku membukanya, aku tercengang. Mengucek mataku dan kembali memandangi sosok yang ada di hadapan.

“Oppa, kita berangkat? Ryu Jin mana?” Eun Kyo. Dia sudah rapi lengkap dengan gaunnya, aku baru tau dia sangat cantik memakai gaun, tidak seperti biasanya. Eun Kyo menengok kearah dalam dan ingin masuk. Aku menarik tangannya.

“Ani, kita langsung berangkat.” Aku menariknya dan memasukkannya ke dalam mobil. Dia sedikit kesulitan karena memakai gaun dan high heels. Aku meliriknya yang duduk disampingku. Bajunya memang terlihat sedikit lebih seksi. Paha jenjangnya terekspos sempurna. Aku merasa memang itu berlebihan, apalagi jika harus dilihat oleh orang lain.

“Rancanganmu sendiri?” tanyaku padanya, memecah kecanggungan. Tiba-tiba aku merasa kikuk di hadapan istriku sendiri.

“Eom, tapi dimodifikasi oleh Key.” Jawabnya menarik ujung gaunnya agar bisa menutupi pahanya. Aku meliriknya, Eun Kyo, kau mencoba menaikkan emosiku? Key lagi! Haish! Aku tau ini bukan seleramu, dan benar saja, itu memang ulah Key.

“Kau pulang dengan taksi?” tanyaku lagi.

“Ani, Key yang mengantarku.” Mobilku sedikit oleng mendengar jawabannya. Aku tidak tau apa yang sedang direncanakan bocah itu! Mencoba membuatku marah? Begitu?

“Begitu?” tanyaku dengan nada tinggi.

“Eum, kau tidak marah kan?” tanyanya dengan wajah polos. Sambil memajukan bibirnya. Aku tersenyum.

“Aku tidak marah, kau terlihat cantik.” Komentarku tentang penampilannya hari ini. Aku tidak mungkin marah saat seperti ini.

“Goma..wo Oppa.” Ujarnya lirih sambil membuang senyum kearah luar. Aku melajukan mobilku menuju gedung pertemuan tempat acara itu dilangsungkan. Beberapa menit berlalu. Hatiku sibuk merangkai kata demi kata mengungkapkan rasa kagumku padanya. Seorang wanita yang sudah mempunyai seorang putra, dan sangat acuh terhadap penampilannya, terlihat begitu mempesona malam ini.

“Kita sudah sampai.” Ujarku sambil keluar dari mobil. Mengitari mobilku menuju pintunya dan membukakannya. Aku menjulurkan tanganku pada Eun Kyo dan dia menyambutnya. Perlahan dia berdiri. Aku tau dia kekusahan dan sangat takut memakai heels, sesuatu yang sangat dia hindari.

“Oppa, apa aku akan berhasil dengan ini?” dia menunduk kebawah menatap heelsnya.

“Kau pasti bisa.” Aku menggenggam tangannya memberinya kekuatan. “Hanya perlu berhati-hati.” Lanjutku yang langsung dijawab dengan sebuah cubitan di pinggangku, aku meringis dan membawanya masuk. Gedungnya terlihat luas. Sekolah ini banyak sekali perubahan, apalagi gedung aulanya. Ada banyak lukisan dan ukiran di atapnya. Aku menatap kagum. Beberapa orang menyapaku dan aku memperkenalkan istriku dengan bangga. Reuni besar, banyak alumni berkumpul disini, aku hanya mengenali beberapa.

Si kutu buku Lee Young Hae. Dia masih sama, memakai kacamata tebalnya. Hey, bukankah sekarang sudah ada kontak lens?

“Dia kutu buku dikelasku.” Aku berbisik di telinga Eun Kyo. Dia mengulum senyumnya. Sepertinya yang ada dipikiranku sama dengan apa yang ada dipikirannya hingga membuatnya tersenyum.

Trouble maker Lee Ji Sun. Dia masih terlihat seperti seorang preman, tetapi preman yang tampan dengan semua pesonannya.

“Dia pembuat masalah.” Aku menunjuk dengan mataku pada Lee Ji Sun, memberitahu pada Eun Kyo. Dia menoleh padaku.

“Jinjja? Dia terlihat keren.” Komentar Eun Kyo.

“Lebih keren mana dibanding denganku?” tanyaku membandingkan sambil mengeratkan pelukanku di pinggangnya. Eun Kyo melepaskan tanganku di pinggangnya dan berganti dia menautkan tangannya di lenganku dengan manja.

Kim Min Kyong. Primadona sekolah. Dia memang terlihat lebih cantik, apalagi jika menggandeng seorang pengusaha kaya disampingnya seperi itu.

“Arah jarum jam ke 9. Kim Min Kyong, most wanted di sekolah. Incaran para pria.”  Aku kembali berbisik di telingaku. Aku senang sekali menceritakan kehidupanku dan orang-orang di masa laluku pada istriku, itulah maksudku membawanya kesini.

“Apa kau dulu juga mengejarnya?” tanyanya. Membawanya ke masa laluku agar kami menjadi lebih saling mengerti. Hanya masa laluku bersama sosok gadis yang sedang berdiri dengan seorang lelaki disampingnya yang tidak terlalu ingin aku bagi bersama Eun Kyo.

“Ani.” Jawabku singkat. Mataku dan mata Hee Rin saling beradu. Dia berjalan membawa Siwon, suaminya, ke arahku.

“Oppa..” sapa Hee Rin padaku, Siwon mengangguk padaku, aku membalasnya. Dan Eun Kyo segera membalik tubuhnya menghadap kearah mereka.

“Ah, Hee Rin~ssi. Siwon~ssi.” Ujar Eun Kyo menyapa. Hee Rin terlihat cantik dengan gaun hitamnya. Siwon menatap Eun Kyo, lalu beralih padaku. Apa maksud dari tatapannya? Aku menangkap sinyal dari seringai senyum lesung pipinya.

“Semalam aku yang mengunjungi Ryu Jin.” Ujar Siwon. Hee Rin segera menoleh pada Siwon, seolah tidak percaya. Namun mata Swion tertuju pada Eun Kyo.

“AH, ye, Ryu Jin bercerita dengan antusias.” Aku mengambil dua buah orange jus untuk Eun Kyo dan Hee Rin saat pelayan membawa nampan minuman, lalu mengambil untukku dan Siwon.

“Gamsahamnida.” Siwon berterima kasih. Pembicaraanku bersama Hee Rin sangat hangat,mengingat orang-orang dengan segala memori saat sekolah. Meski kami terpaut beberapa tahun, namun kami masih mengenal beberapa diantara teman kami masing-masing. Terlalu asik membicarakan kejadian masa lalu hingga melupakan Eun Kyo yang terpaku. Saat aku menyadarinya, Eun Kyo sudah tidak lagi disampingku. Dia bersama Siwon, dan… aku sedikit membesarkan pupil mataku, berharap mataku salah lihat, atau mengalami gangguan. Key!

“Ada apa Oppa?” tanya Hee Rin membuyarkanku lamunanku.

“Ani, aku hanya mengenali seseorang.” Hee Rin mengikuti arah penglihatanku.

“Sepertinya kita melupakan mereka, hingga mereka membuat cerita sendiri.” Hee Rin melangkah mendekati mereka.

“Ah, Oppa.” Ujar Eun Kyo, hanya beberapa detik menoleh padaku lalu membuang pandangannya.

“Kau mau makan?” tanyaku padanya. Eun Kyo menggeleng. Ada yang tidak beres dari tatapan matanya. Key menatapku tajam melihatku bersama Hee Rin. Anak ini, aku tidak menyangka bertemu dengannya disini.

“Aku juga alumni sekolah ini.” Seperti seorang peramal dia selalu bisa membaca pikiranku.

“Kau baik-baik saja?” aku memegang pipi Eun Kyo, dia menepisnya.

“Gwaenchana Oppa.” Ujarnya. Aku melihat disampingnya terdapat gelas bekas minuman tergeletak diatas meja.

“Kau minum?” tanyaku. Dia mengangguk lemah.

“Sedikit.” Jawabnya. Aku tidak suka jika dia minum, benar-benar tidak suka!

“Sakit kepala pasti kan?” dia mengangguk. “Ayo kita pulang.” Aku menarik tangannya dengan sedikit kasar. Dia terhunyung saat aku menariknya. Dia menuruti langkahku.

“Kami permisi dulu.” Aku berpamitan pada beberapa orang yang ada di ruangan. Eun Kyo hanya diam saat aku sedikit menyeretnya kedalam mobil. Saat aku menjalankan mobilkupun, dia hanya diam membisu. Mungkinkah Key menceritakan apa yang dilihatnya beberapa waktu lalu? Setengah perjalanan dia membisu.

“Kenapa kau minum?” tanyaku. “Aku melarangmu minum dimanapun.” Seruku keras padanya. Dia masih diam, aku juga diam hingga kami sampai di depan rumah. Aku menghentikan mobilku dan keluar untuk membuka pagar. Tapi tanpa aku duga, Eun Kyo sudah turun dari mobil dan berjalan masuk ke halaman, aku menatapnya, dia marah? Atas apa? Aku segera memasukkan mobil ke dalam garasi dan mengikuti Eun Kyo masuk ke dalam rumah. Dia masuk kedalam kamar tapi aku mencegahnya.

“Kau kenapa? Kenapa tiba-tiba berubah? Eoh?” aku mencengkram tangannya yang ingin melepaskan tanganku.

“Aku tidak suka kau bersamanya.” Ujarnya lirih, tanpa memandangku. Aku menarik dagunya dan melihatnya berkaca-kaca.

“Bersama siapa?” tanyaku untuk meyakinkan kecurigaanku bahwa dia tidak suka aku bersama Hee Rin tadi. “Hee Rin?” tanyaku meminta penjelasan dari dugaanku. Dia mngangguk. Aku tertawa. “Aish! Kau cemburu? Eoh?”

“Ani, aku hanya tidak suka.” Jawabnya mengelak. Aku kembali tertawa. “Kau melupakanku selama 2 jam!” teriaknya. Sepertinya dia benar-benar marah. Aku menghentikan tawaku.

“Yeobo…” panggilku sambil meraih wajahnya dengan tanganku.

“Kalian terlihat akrab.” Ujarnya melepaskan tanganku dari lengannya. Membuka pintu kamar dan masuk meningglkanku. Dia melepaskan bajunya dan mengambil baju di lemari.

“Kami hanya berteman.” Aku mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Dia tidak bergeming masih mencari-cari bajunya. Aku menyentuh perutnya, membelainya dengan lembut serta mencium pundaknya.

“Aku hanya mencintaimu.” Bisikku di telinganya. Aku yakin, sangat yakin saat ini aku sangat mencintainya. Rasa terhadap Hee Rin hanya sebuah rasa sayang dan tidak rela melihatnya menderita. Eun Kyo masih diam dan seolah tidak memperdulikan pelukanku. Biasanya dia akan luluh saat aku memeluknya, tapi kali ini tidak.

“Aku juga hanya mencintaimu.” Jawabnya, kembali melepaskan tanganku dan menyibak selimut, lalu merebahkan tubuhnya, membelakangiku. Aku melepaskan bajuku dan menggantinya dengan piyama, berbaring disampingnya. Aku memeluk punggungnya dan menciuminya. Memberinya sebuah rasa yakin, bahwa aku benar-benar hanya mencintainya.

Heewon’s Home

Sanga surya mulai terasa terik dan menyilaukan. Membuat tempat duduk di teras rumah kediaman Hee Rin dan Siwon berubah menjadi sebuah panggangan. Hee Rin membuka pintu dan menatap halaman rumahnya. Terapa sangat sepi, rumah besar itu terlihat lengang.

“Jika ada anak-anak mungkin tidak akan sesepi ini.” Siwon tiba-tiba berada di belakang Hee Rin. Membuat Hee Rin mengalihkan pandangannya.

“Hem, seperti Ryu Jin meungkin.” Jawab Hee Rin malaas.

“Apa Eomma pernah memintanya padamu?” tanya Siwon. Hee Rin mengangguk.

“Tentang memberi mereka cucu, kan?” tanya Hee Rin. Siwon menyesap kopi yang ada ditangannya.

“Benar sekali, bagaimana menurutmu?” tanya Siwon.

“Menurutmu bagaimana?” tanya Hee Rin balik. Dia memandang Siwon. Laki-laki yang tampak sempurna di hadapannya, tapi belum pernah menyentuhnya sama sekali sejak mereka menikah. Dengan alasan Siwon tidak ingin menyakiti Hee Rin karena hubungan mereka tidak dilandasi atas dasar cinta.

“Apa kita perlu memberi mereka cucu? Agar tidak selalu di tuntut? Bukankah itu sangat menyebalkan?” tanya Siwon. Hee Rin terkejut, dia menatap Siwon tidak percaya. “Jika kau bersedia dan siap.” lanjut Siwon. Dia berbalik masuk ke dalam meninggalkan Hee Rin dengan rasa tidak percayanya.

“Sepertinya boleh juga.” Jawab Hee Rin sambil mendahuli Siwon, dia tidak ingin terlihat takut dan kalah. Siwon kini terdiam dan berhenti melangkah.

“Malam ini?” tanya Siwon, mendahului langkah Hee Rin. Saling bergantian mereka berhenti dan mendahului hingga sampai ke kamar tidur.

“Bagaimana kalau sekarang?” tanya Siwon, menarik tubuh Hee Rin dan menghimpitnya di dinding, mensejajarkan wajahnya dengan wanita itu. Hee Rin mematung, dia merasa sangat gugup namun menutupinya agar tidak terlihat lemah. Siwon semakin mendekatkan wajahnya hingga sampai bibir mereka saling bersentuhan. Siwon mulai menggerakkan bibirnya diatas bibir Hee Rin. Hee Rin masih terpaku, sebenarnya dia belum siap sama sekali. Tubuhnya kaku membeku. Siwon masih melumat bibirnya dan dia masih tidak bergeming hingga akhirnya Siwon melepaskannya.

“Sepertinya nanti malam saja.” Dia menyapu bibir Hee Rin dengan ibu jarinya dan keluar dari kamar. Membuat Hee Rin benar-benar tidak berkutik dan tidak menyangka Siwon akan melakukan hal itu.

^_^

Hee Rin duduk di tepi tempat tidur, memandangi Siwon yang baru selesai mandi, dalam benaknya berkelebat berbagai pikiran. Benarkah Siwon akan melakukannya malam ini? Sepertinya iya. Batin Hee Rin berkata. Dia masih memandangi Siwon yang hanya mengenakan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Perlahan Siwon mendekat kearah Hee Rin dan mencodongkan tubuhnya membuat Hee Rin sedikit mudur dan terdesak. Siwon semakin mendesak Hee Rin dan membuat Hee Rin terhimpit diatas ranjang. Kembali Siwon meraih bibir Hee Rin dan tangannya mulai membelai tubuh Hee Rin. Tapi beberapa menit berlalu, Hee Rin masih belum bisa membalas perlakuan Siwon, dia masih membeku, membuat Siwon menghentikan aksinya.

“Kau belum siap.” Siwon menarik tubuhnya dari Hee Rin dan mengacak rambut wanita cantik itu, lalu tersenyum. Siwon mengambil baju mandinya dan berjalan menuju balkon. Berdiri disana memandangi komplek elit tempat tinggalnya yang penuh dengan penerangan, dari balkon atas kamarnya, view dari saa terlihat sangat indah. Hee Rin masih terdiam diatas ranjang dengan posisi yang tidak berubah. Dadanya bergemuruh. Dia meraih ponsel dan mengetik sebuah pesan.

Eun Kyo’s POV

Aku baru saja selesai merapikan meja makan. Kami baru saja selesai makan malam. Ryu Jin terlihat membawa guling kucelnya ke depan tv. Bersantai. Begitu juga dengan Appanya, sepertinya waktu para lelaki bersantai. Aku memandangi mereka yang duduk di sofa dengan posisi yang sama, dasar, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Selesai membersihkan meja makan, aku bergabung dengannya dan duduk di pangkuan Oppa. Ryu Jin menatap tajam padaku. Dia bangkit dari duduknya dan duduk dipangkuanku.

“Yak! Ryu Jin~a, berat!” teriak Jung Soo Oppa. Aku dan Ryu Jin cekikikan sambil berpelukan.

“Biar saja, Ryu Jin~a.” Bisikku di telinganya. Oppa menggelitik pinggangku membuatku menggeliat. Namun aku tak mau bergeming darinya.

“Yeobo, kau membuatku bergairah.” Bisiknya di telingaku. Ck! Oppa, aku tidak suka main-main di depan anak kita. Aku segera bangkit dari pangkuan Oppa sambil memangku Ryu Jin.

“Hem, kartunnya sudah selesai, sekarang saatnya kau tidur sayang.” Aku menggendong Ryu Jin menuju kamarnya. Meski dia protes, aku akan tetap membuatnya teridur.

“Setelah Ryu Jin, aku yang ditidurkan.” Ujar Oppa, aku menginjak kakinya saat melintas di depannya. Tawanya menggema seketika.

Setelah setengah jam berusaha membuat Ryu Jin tidur dengan nyanyian dan juga dongeng, akhirnya jagoanku memejamkan matanya. Aku berjalan perlahan meninggalakn Ryu Jin, sebelumnya aku mengecup pipinya dan memandangi wajahnya saat tidur, dia benar-benar malaikatku yang paling berharga, aku tidak tau hidupku akan sesepi apa jika tidak ada dia, sungguh. Kututup pintu kamar Ryu Jin dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara.

“Ryu Jin sudah tidur?” tiba-tiba Oppa sudah ada di belakangku dan menyeret pinggangku menuju kamar kami. “Saatnya waktumu bersamaku.” Dia menciumku. Aigoo, sulit sekali melayani dua lelaki dalam hidupku ini, tapi selama hidup 5 tahun bersamanya, sejauh ini aku masih bisa mengatasinya.

“Ne, ne. Tapi biarkan aku bernafas sejenak.” Aku menutup mulutnya setelah sebelumnya melepaskan ciumannya dari bibirku.

“Arasseo, di tempat tidur?” bisiknya di telingaku. Aku menjauhkan wajahnya dan berbaring di tempat tidur. Jung Soo Oppa mengikutiku berbaring tepat disampingku.

“Mau bercinta malam ini?” tanyaku sedikit malas. Dia mengangguk.

“Tentu saja.” Jawabnya yakin, aku meniup wajahnya. Dia tersenyum menggoda. “Kau diatas.” Ujarnya lagi. Aku merangkak diatas tubuhnya dan mulai melepas kancing bajunya. Jung Soo Oppa menyingkap baju terusan tidurku hingga pangkal paha dan membelai pahaku yang duduk di atas perutnya. Aku mulai turun dan meraih bibirnya. Tangan Oppa menyingkap bajuku hingga melepaskannya melalui kepalaku. Kini aku hanya mengenakan pakaian dalamku. Kuteruskan mencium bibirnya. Tangan Oppa menggerayangi punggungku hingga melepaskan tali braku. Sesuatu menginterupsi kegiatan kami. Sebuah dering pesan dari ponsel yang ada di meja samping tempat tidur, membuat aktifitas kami terhenti. Awalnya aku tidak mengindahkannya, tapi pesan itu beberapa kali berdering. Aku melepaskan ciumanku dan mengalihkan tangannya dari dadaku. Meraih ponsel itu dan membuka pesan terakhir.

From : Hee Rin

Oppa, sepertinya aku membutuhkanmu, kau ada waktu besok?

Isi pesan itu membuatku merasa melayang. Merasa jiwaku seperti terlepas dari tubuhku, entahlah, merasa sakit dan tidak percaya. Jung Soo Oppa memandangku, tapi aku tidak bisa berkata apa-apa.

“Nugu~ya? Apa isinya?” tanyanya. Aku tidak bisa menjawab. Apa yang harus aku jawab? Bertanya apa dia ada waktu besok? Begitu? Menyampaikan pesan Hee Rin? Begitu yang harus aku jawab?

Aku mengarahkan isi pesan itu pada wajah Jung Soo Oppa. Wajahnya menegang seketika, dia langsung bangkit dan menatapku lekat. Aku beranjak dari pangkuannya. Dan memungut pakaianku.

“Eun Kyo~ya…”

TBC

Note : hufh, sedikit menjurus kali yah? Eoh? Hahahahahahaha, harus kelar soalnya, maaf jika ceritanya kembali terburu-buru. Soalnya aku besok mau pulang, dan pasti tidak akan bisa OL. Maaf jika cerita ini sedikit beracun, tapi aku tau ko sebagian besar dari otak kalian sama sepertiku *ditimpuk* oke lah, selamat membaca yah, jangan lupa komen.. sekali lagi, hati-hati membaca ff aku, don’t try this at home, arasseo? Buat Hee Rin, mian yah jikamenyakitimu. Dan aku tegaskan, disini tidak akan ada peran antagonis, oke??

ah, mengenai komen, ada beberapa yang smsin aku, susah banget komennya, ga mau masuk. kemon di WP hanya salah satu dari sekian banyak cara untuk komen, jika kalian memang benar-benar ingin komen, kalian bisa sms aku, seperti beberapa reader lainnya, ada yang hanya komen lewat sms. gwaenchana, aku akan menghargai semua komen kalian dimanapun, danttidak pernah sekalipun memaksa kalian untuk komen… mengerti? dan kalian yang benar-benar ingin komen, bisa sms aku… pasti aku balas…

91 responses »

    • aishh~~ Heerin bner” deh… ganggu bnget sih!! ck! #ketauan yadong.y heheh ^.^
      si Key nyebelin deh… knpa sih oppa??

      ngeliat TeuKyo sm HeeWon jdi tegang sndri.. mereka itu couple yg hobi bkin jelous stu sma lain.. hahah Teuk sm Heerin trus Eunkyo mlah sma Siwon, eh *?* gmna sih??
      bkalan jd skandal nih kyak.y
      penasaran next part.y eonn.. d tunggu ^^

      • jangan tegang sodara-sodara… next part lagi digarap, tapi aku mau pulkam dulu, jadi paling lambat minggu depan baru bisa post lagi… *hohohohoho*

  1. Eonny ya.. Kenapaaaa tbcnyaaaa pastiii bikin nyesek…..
    Hufff…
    Aku stress bacanya, keki aku ama eeteuk, pgn aku jadiin eeteuk bacem..
    Masaaaaaa peluk” gitu?
    Ga trimaaa.. Hikss..
    Sukurin tuh, uda minta jatah, dikasi, dpt sms gitu..
    Kkyaa kkyaa~..
    Kasian bgt.. Hehe..

    Aku komen juga, sms juga, ngeribetin eonny biar cpt nulis cpt publish..
    Aku sungguh sungguh bahagia eonny updatenya cepet gini,
    Cerita yg bagian 1 kmrn masi membekas dikepala, jadi,
    Baca yg ini juga lancaaarr..

    Semogaa, part selanjutnya cepet kuar,
    Nga lamaa”, jangan sampe kelamaan trs bikin aku nge galau..
    Oke eon? Jangan lamaaa yaa.. Muaaachhhh.. *cipok teukie*

    • kenapa yah? mungkin karena aku suka bikin kalian tertekan, wahahahahaha
      selancar air ledeng dong jadinya…
      part berikutnya lagi digarap tanpi ga janji bakalan cepet yah…

  2. OENNI mashaAllah ini seru banget hahahah ah tapi menjurusnya kurang nih huhu n.n
    oen…. sepertinya siwon oppa akan bermain mata nih hfd aku sebelsebelsebel😦

  3. Eonnnnnnnnnnniiiiiiiii*aku suka menjurusnya (?)*dibakar
    ya elah eonn,,teeukippa sama eunkyo banyak banget yang suka,,lha padahal udah nikah,,bang siwon pula masi ksemsem ma isteri orang,,bang teeuki juga pesonanya harus dikurangi #plakkk

    “Kita lanjutkan malam ini”
    kenapa kata-kata ini terus mengiang ditelingaku yah eonn ==”
    eonn…kok bisa selesai dengan cepat ya part ini??? bagaimana caraya membuat ff yang cepat dan berkesan trus dapet fellnya?? daebakkkk….

    masih penasaran ama apa yang direncanakan siwon,,ini juga full ma cemburu-cemburuan eonn,,bwahahahhaa
    iya eonn,,aku juga kadang ngerasa “males” miann eonn….miann juga sudah merecokimu dengan sms2ku yang lebay setap hari….berasa sms pacar aja (?)
    next part….gak pake nagih ah,yang penting kita menunggumu alwayss!!
    ,eonni mau mudik??? oleh-oleh yah ==”
    yahhhh…kalau mudik,,aku nitip salam dong eonn ma foto anak kecil yang pernah eonn post di “mudik lebaran” itu….trus slam ma eomma-appanya eonni,,syapa lagi yah,,tetangga juga boleh,,
    udah ah,,jadi ngelantur gini kan….chuuuuuu~

    • aku tau kamu suka, wahahahahahaha
      siwon? suka sama aku? yakin dia suka sama aku? hahahahaha
      si oppa mah udah dari orok mempesona, kaga bisa dikurang-kurangi lagi…

      ih, kamu yadong banget ih… *kaga sadar diri yang bikin lebih yadong*
      em… bagaimana yah? molla, dikerjakan dengan hati mungkin, suasana hati enak, ide lancar, jaripun menari dengan indah, ceileeeeeehhhhh songong banget aku. ini ngalor ngidul tau ceritnya, ga tau juga kenapa bisa begini… dipikirin banget si engga, cuman yah semuanya datang dengan sendiri.

      apa yang direncanakan Siwon emangnya? hahahahahaha
      engga papa, aku senang direcoki… dan tidak akan marah….

      itu? si ahza? anak nakal itu? ahahahahahaha, tapi itu anak belakangan berubah jadi pinter banget, tapi pelit minta ampun sumpah. udah dibeliin es krim sama aku, eh melirik punya aku, padahal dia punya sendiri, udah tau punya aku coklat, dia ga suka coklat, tapi saking ga maunya aku seneng, punya aku diambil, meski ujung2nya dia balikin karena ga suka coklat. diminta tukeran kaga mauuuuu

      • Ya robbi eonnn!!!
        aku jatuh cintanya sama ahza aja,, boleh ya??*ahjumma2 gila*
        tapi beneran eonn,, salamku udah disampein belum?? ah…kenapa aku jadi terpesona melihatnya eonn….>.<
        dia kayak kyu versi kecilnya,, senang melihat orang mendrita =="

        ya ela,, eonn…kayak baru tau aja aye yadong,,kan kita love at first sight(?)-nya di korean NC#plakkk
        bwahahhaaa

        yahh…aku mah setiap bikin epep baru dua paragraf udah bikin muntah padahal ngerjainnya dengan spenuh hati,ikhlas tujuh turunan…tp tetep saja,,mungkin bakat saya memang jadi reader ya eonn??

        eonni udah balik dari mudik??oleh-olehnya mana?? chuuuu~

      • baru nyampe rumah…
        oleh-olehnya keringat kering…
        dia tu anak paling nyebelin sekaligus paling ngangenin…
        waktu kerja disini aku sempet nangis gegara kangen ama diaaaaa
        tapi sekarang dia udah tumbuh besar dan bener2 cerewet…

  4. Hohohoho….apa itu yang bagian terakhir
    panas dingin sayaaaaaa….
    Ryujiiiiiiinnnn sygggggggg
    ahjumma dataaaaaaannggg*peluk ryujin*
    keeeyyy noona suka gayamu sayannggg
    ayooo rebut eunkyoooo*digetok oppa*
    Msih part 2 tpi konflik udah klihatan,,
    Ga da antagonis ya fik,,gmn klo eonni aja yg jdi antagonis perusak cerita…kkkkkkkk#abaikan
    tpieonni suka key dsini,,,like lah pokoknyaaa

    • *sodorin onnie kipas dan selimut*
      jangan Onnie, onnie tega ah ama adik sendiri…
      onnie mau jadi peran antagonis? jangan onn, mending jangaaaaaaannnn
      onnie mah selaaaaaaaalu suka daun muda…

  5. jiaaaahhh,,, kenapa key selalu jadi perusak suasana,,, dy kan,,, hmmm,,, menggemaskan,,,

    N kenapa pula tu ciwon,,, pengen punya anak,,, hueee,,, kasian bangat istri na,,, kok bisa2 sesuju buat anak,,, kan gak cintrong,,,

    lo menurutku sie pisah aja,,, #saranku keren kan#
    biar ciwon ma aq aja,,, hahhahahhha,,, ketawa setan,,

  6. Yee bagus dong gak ada peran antagonis. .hehe

    eon, kapan siwon oppa mulai cinta sama hee rin??
    Cepet eon, supaya gak ganggu adegan romantisnya TeuKyo hihi

    • aku takut ada yang ngebash nantinya…
      kapan ya? kapan-kapan deh *plak*
      ga ganggu romantisnya Teukyo?
      hey, bukankah Teukyo selalu romantis? eoh? dalam keadaan apapun? *menurut aku aja apa yah?*

  7. Onnie, bagus cerita..
    Ryu bikin gemes.
    Kirain siwon bakalan jd tokoh antagonis..
    He2.

    Key kasian ga dapet pasangan on. T.T.
    Klo dy terus ngarepin onnie, gmn ma masa depannya dy.. Nanti cariin pasangan bwt key ya on..😀

    Banyak rated scene yg trtunda d part ini ya on.. Hihihihi.

  8. Iyaa eon,makin kesini agak kasian juga sama heewon couple ☹

    Si dedek bandel bgt ya eon,yg diinget eomma nya aja,ama appanya lupa dia hahaahaaahaa dasaaar dedeeek :p

    • anak itu dalam keadaan apapun pasti inget eomma, bukannya dirimu juga begitu? nangis yang dipanggil siapa coba? eomma…
      kalo sakit manggil siapa? eomma kan?
      takut yag diteriakin siapa coba? eomma…
      klo kaget yang disebut siapa coba? eomma…
      jadi kita sadar ataupun tidak akan selalu ingat eomma…

  9. kyaaaa akhhiirrnyaa akuu bisa comment laggii.. hiiks semiguu sakkiit gag enakk rasanyaa unniiii….
    haduuhh unn pertama bacaa FF iniii akuu berharaapp gag banyakk konflik yang muncuulll.. tappiii kok jadii beginniii..? perasaan jungsoo oppa kokk gag tetep ke eun kyoo yaa.. kan kasihaann eun kyoo.. aku gag setuju klo eun kyo ma siwonn.. haruuss ke jungsoo kan ntar kasihaan ryuu jiinnn…

  10. eunii .. aku akhirnya baca cerita ini .. biar katanya gak ada peran antogonis entah kenapa aku ndak suka sama hae rin ..
    kayak makin terus konfilknya makin banyak. mudah-mudahan jungsoo gak selingkuh. amin #praying .
    ditunggu kelanjutannya ya euni ^^

    • kita tunggu saja kelanjutannya.
      hee rin posisinya sama kaya Eun Kyo juga…
      jadi memang bnar2 g ada antagonis disni… aku cuman pengan kita memposisikan diri pada tokoh masing-masing,pasti bisa mengerti…

  11. bru 2 part tp udh psti ngebkin pnasarn bngt.onnie postnya jngn lama” yh keke.ak sbnernya suka” aja sm alur konflik kya gni.tp g stju kl cinta sgiempat gni soalnya mrka udh pny rmh tngga sndri..kasian ryu jin jg onnie.please tmbhin scene romance heewon sm teukyo jg onnie.please jngn dibuat cemburu mulu.keke

  12. huwaaaa hee rin ganggu tuh #plakk
    Hehe

    Omaigad… Heerin msh cinta ya ama jungsoo oppa? Aigoo… Key untuk aku aja eoni #jedug
    Wkwkwk

    Ampun dah bkal perang dunia 10 nih… Jgn ampe deh.. Mia demen teukyo klo lg mesra2an tw, cemburu2an tp gk beneran marahan…
    Eoni ditunggu next story nya…

    • 10? 1-9nya mana??
      mesra2an aku juga suka mia.. tapi disini sepertinya rating naik deh.. terlalu dewasa, aku harus mengurangi jika tidak ingin dapat peringatan dari badan sensor…

      next partnya sepertinya lama deh, eh tp g tau juga, sebenernya ide lg jalan tp waktu yg g ada….

  13. Yaelah tuch sms sm tnda TBC ganggu aja cie, pdhal lg asik *yadong akut*
    sya suka ryu jin yg unyu2 bqin gemes, “ryu jin~ah sini peluk noona sayang”
    jahaha
    key dr pd km kesel mulu liat teukyo couple mnding sm aq aja sini qt bqin eunkey couple, *sarap*
    *d’pelototin kyu*
    ayoo siwon sm hee rin bruan bqin de2 biar kga ganggu2 kluarga teukyo lg klian slalu jd pngganggu tau!!
    #pletaakk
    *d’jitak heewon couple*

  14. Hahahahahaha ini nyerempet semua ya. Ga teukyo ga heewon. Tapi it’s ok lah hahahahahaha.
    Hayo salah paham ya si eomma. Hihihihih.

  15. eonnniiii yaaa……daebak ff nya. kesien tuh si teuk, padahal udah mupeng beud malah ngga jadi, mo ditinggal pergi lagi, ckckckc. itu si heerin ngapain ganggu-ganggu siiii???
    seperti biasa, saya selalu suka marriage life ff, hehehe
    jadi ceritanya cinta saling silang gitu? ck ini yang goyah mah siwon sama heerinnya doang, teukyo mah engga ya. engga kan?
    okelah ditunggu ff selanjutnya kapan nih keluar eon?
    oiya visit my blog juga eon. kalo yang suka marriage life ff cocok, hehehe

  16. yakk jumma kau mau buat aku sebel ma ajjusi imut itu ha???
    kenapa dy selingkuh terus???

    btw jjumma aku komen.a sekalian ya.. hehehe abis kemarn agy sibuk khehehehe
    juma kenal aku kan??? awas kalo ga kenall

    itu ryu jin lucu bgettt aduh jangan ampe c’ ajussi selingkuh lagi.. kenapa ajumma cantik satu ini demen bgt bikin suaminya selingkuh…
    hilang sudah image angel yang dia buat selama ini. ckckckckc

    binguna mau komen aph.. pokoknya di tunngu lanjutannya

  17. Aaaahhhh… oennnie miaann bru bisa ngunjungin TeuKyo lagii… oennie FF muuu kereeennn,, Quu sukaaa alur critanyaaaa,,, penasaraaannn….. ditunggu oenn lanjutaannyaa jngan lama2 yeaa???

  18. pas masih awal2 kayanya siwon dan istrinya bakal mengancam kelangsungan rumah tangga teukyo
    ditambah jungsoo yg kaya masih ragu sama perasaanya
    untung pas makin kesini makin yakin dia cuma cinta sma eun kyo
    smga siwon dan istrinya bahagia sndiri deh
    ketar ketir liat eunkyo cemburu
    gyahaha

  19. hahaha ga bisa bayangin mukanya teuki pas part terakhir udah tegang” gtu malah aku yg ngakak .
    Eonie are u married ?

  20. dasar SMS pengganggu..
    padahal dah konsentrasi penuh untuk nunggu kegiatan “olahraga”nya Teukyo eh malah keganggu deh..hahahaha….

    semoga part yg diprotec bisa melanjutkan imajinasi dikepala aku,,hag,,hag,,hag,,,
    *yadong mode on*

  21. gyahahahaaaaa…..ntu sms heerin ganggu sajo😀
    bang wonwon belum cinta yak unn sama istrinya ? ayoooo bang wonwon bikin istrimu jatuh cinta padamu, biar kayak ganggu teukyo #plakkkk

    untung wis ada kelanjutannya, meskipun tbcnya bikin penasaran tingkat tower, kan wis ada part selanjutnya, lanjuuuuuuuttt ^^

  22. Haha iya eon semua couple sedikit menjurus ke hal-hal yang ‘iya-iya’ (?). Tapi suka ko! Malah suka banget!
    Konfliknya mulai keliatan nih? *
    Eun kyo salah paham yaa..
    Hua makin seru eon ><
    Lanjut dulu deh~

  23. kalau aku jadi eunkyo mungkin juga bakalan marah sama teukie yah walaupun teukie cuma sekedar mengenang masa lalu sama heerin tapi itu udh berlebihan banget kasian eunkyo
    kayaknya cinta sama pasangan orang lain.aaa kasian key nambah saingan sama siwon ckck
    kayaknya siwon mau nyari perhatian eunkyo,ingat bang dia udh punya laki sama anak -.-
    nyesek banget adegan terakhir gara2 sms hancur deh semua ckck
    mau lanjut baca deh

  24. yaaa gagal lagi dech olahraga malamnya*yadong gila*…gara2 heerin sich nganggu orang aja dia sendiri di ajak ama siwon g mau…
    gemeees ama heerin…

  25. bener onnie,mang susah bgt kalo mw komen,min hrus 2x lah br bs msk!hiks,.
    Q akuin mang ff yg nie bgus bgt onn!
    aduh,koq q ngrasa Jungso g setia yah!bda m jungso d ff sblmx yg q bc!tp tu yg bkin menarik-
    mdh2n Kyox g gt jg,g tertarik m pesona maut Siwon!
    HeeWon..gmn yah?
    Siwonx blm cinta tp koq mw becinta ce?
    dasar cowok!
    tp mang bener ce,”tidak butuh cinta untuk bercinta”,itu yg pnah q bc!huft..><
    yasud,q mw lnjt bcx onn!

  26. Unnie….
    Panjang bauanget, ceritanya
    Tapi keren buanget deh
    Perlu kesabaran EXtra dari Teuki Oppa Buat ngadepin Eun kYo, Pa Lagi Eun Kyo Ngadepin si Bapak ma anak yang sama” Childish

  27. Aigoo…. Heerin eonnie mengganggu aja… Untuk apa dia mengirim sms dg bahasa seperti itu, apalagi di saat teukyo sedang bercumbu… Aish…
    Siwon urus istrimu dong #gak rela sebenernya

  28. awwwww aku menunggu moment dimana heerin ama siwon romantis romantisan.. ini orang berdua bikin bingung deh.. sangat mencintai suami dan istri masing2 tapi hatinya bergetar didekat yg lain *PLAK*😄

  29. kok emosi ya baca part ini -_-

    aigoo.. Sampai moment teukyo romantis2an aja kaga berasa kak, buyar pisan😐

    sumpah jadi sebel bener aku sama heerin, si jungsoonya pula meladeni aja lagi, ck aduh siwon iket tuh istrimu biar kaga bergantung sama jungsoo. -.-

    ini si eunkyo sebenernya karakternya cocok sama siapa aja loh kak, sm siwon ayok, jungsoo ayok, key juga boleh.kkekek
    mane si siwon kesemsem pula sama eunkyo, kenapa ga si eunkyonya yang di bikin selingkuh sm siwon kak? :pv

  30. hmmm… Konflik udah mulai terasa.
    Kenapa aku rada g’ suka akan keberadaan hee rin.. Meskipun dia cuma tmn jung soo, tp ttp saja bukan berarti harus selalu meminta jung soo ada di samping’y saat dia ada masalahkan?
    Aku suka key, meski dia suka eun kyo tp dia tidak mencoba untuk merusak rumah tangga teukyo. Semoga saja dia selalu menjadi tokoh penengah diantara teukyo couple. Lelaki manja yang bisa menjadi bijaksana🙂
    Dan aku harap ada bagian key+chanie di part selanjut’y🙂
    Next part🙂

  31. ahhhh sebel nih padaha jungsoo n eun kyo lagi asik2 y itu buat ngelepas stres malah ada pengganggu gt Hae rin,,,, agak ngak suka ma hubungan jungsoo n hae rin pa lg perasaan jungsoo yg agak menjurus itu,,, klo dibiarin bisa kebablasan itu n hae rin y jadi ketergantingan n jungsoo jd larut deh ma hubungan y dia n hae rin….
    q baca part ini otak q jadi fokus ke teukyo haerin ug terganggu gt….
    konflik y mulai keliatan,,, jungsoo banyak saingan key j blm selesai ini nambah siwon…

  32. Aku udah pernah membacanya..sudah 2x ini aku membacanya dan masih terasaa wooowww!!
    Ne cerita yg beda dr crt2 oenni yg ada..masalah hati jung so yg terbelah mjd 2. Itu keeereeennn oenni! Pengkhianatan Park Jung so.hahahaaa
    aishh Heerin ganggu aja sih!! Ck

  33. bru lnjtn bca’a stlh tadi siang mati lampu ampe sore, huft rasa’a pengen bgt mukul teuki, itu heerin jga gag nyadar apa dgn status mereka? pnsrn ama rencana siwon, ayo key buat teuki jeles biar dya tau rasa, teuki egois eun kyo gag bleh dket’ ama key dya sendiri?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s