Amourette (1st trick)

Standar

amourette part 6

Cintailah aku, jangan lupakan aku.
Meski di belakangmu, aku senang seperti ini
Air mata jatuh lagi, bahkan pada lelucon yang kau buat
Karena aku harus tinggal di sisimu hanya sebagai temanmu yang paling nyaman
Aku hanya harus tetap di sisimu

Disampingmu selama-lamanya

(Angela – Suju)

 

Teukyo’s home

Seorang lelaki bertubuh tinggi sibuk mematut dirinya di depan cermin dan merapikan bajunya, membenarkan letak dasi yang melingkar manis di lehernya, sesekali ia tersenyum di depan cermin yang hampir setinggi tubuhnya.

“Eo.” Sebuah suara mengejutkannya. Lelaki itu menoleh kearah suara, lalu menunduk. Seorang bocah kecil berdiri disampingnya dan menyodorkan sesuatu di tangan kecilnya.

“Gomawo Ryu Jin~a..” jawabnya. Park Jung Soo yang sedang bersiap-siap untuk bekerja mengambil sebuah jam tangan dari tangan Ryu Jin, bocah lelakinya yang lahir sejak 3,5 tahun yang lalu, hasil perkawinannya dengan Eun Kyo. Jung Soo membungkukkan badannya dan menyerahkan pergelangan tangannya pada bocah itu. Kini  anak itu sibuk memakaikan sebuah jam tangan mahal bermerk keluaran Swiss di tangan Jung Soo.

“Sudah.” Seru anak itu yang berhasil dengan sukses. Bocah kecil itu begitu mengagumi sosok Appanya yang berdiri dihadapannya. Terkadang dia menirukan semua gerak Jung Soo untuk sekedar memperlihatkan pada Eommanya bahwa dia benar-benar mirip Appanya.

“Gamsahamnida Ryu Jin~a, kau sudah mandi?” Jung Soo mengangkat tubuh kecil Ryu Jin yang sudah mulai tumbuh besar. Anak itu mengangguk. “Eommamu mana?” tanya Jung Soo lagi sambil membawa Ryu Jin ke bawah menuruni tangga. Anak itu masih memeluk guling kucel dan bau kesayanganya. Eun Kyo menghampiri mereka dan mengambil guling yang dari tadi tak pernah lepas dari dekapn Ryu Jin.

“Eomma…” rengek Ryu Jin protes benda kesayangannya diambil.

“Ini bau! Biar Eomma cuci dulu. Oppa, kau makan saja.” Ujar Eun Kyo sambil berlalu dari hadapan kedua lelaki dalam hidupnya, munuju mesin cuci besar di ruang mencuci miliknya.

“Aku tidak akan makan tanpamu.” Jung Soo meletakkan tubuh kecil Ryu Jin di sebuah kursi makan. Eun Kyo menyembulkan kepalanya melirik ke ruang makan, lalu tersenyum.

“Arasseo, sebentar lagi.” Jawab Eun Kyo. Dia memasukkan guling kesayangan Ryu Jin ke dalam mesin cuci dan menekan tombol lalu meninggalkannya.

“Kau hampir terlambat.” Eun Kyo sibuk menyiapkan sarapan untuk Jung Soo dan juga Ryu Jin.

“Gwaenchana. Tidak perlu tergesa-gesa.” Jawab Jung Soo. Jung Soo mengambil piring berisi makanan yang disodorkan oleh Eun Kyo. Eun Kyo langsung duduk dsamping Ryu Jin dan menyuapinya. Terjadi pergelutan alot antara Eun Kyo dan Ryu Jinyang susah untuk diajak bekerja sama jika di meja makan. Ada saja tingkah anak itu untuk menolak makanan masuk ke dalam mulutnya. Jika kemarin menumpahkan minuman, sekarang bocah itu mengaduk-aduk makanan yang ada di hadapannya.

“Yak! Eomma tidak suka setiap pagi kau seperti ini!” Eun Kyo mulai habis kesabaran, karena sejak pagi-pagi buta dia sudah bangun dan memulai aktifitasnya sebagai seorang istri, belum lagi dia harus mengurus butik kesayanganya yang semua isinya hampir semua rancangannya. Jung Soo dan Ryu Jin segera berhenti dan mematung memadangi wajah Eun Kyo yang mulai memerah dan marah. Ryu Jin sontak terkejut dan melepas sendok yang ada ditangannya. Jung Soo melirik pada Ryu Jin, nampak ketakutan membias diwajah anak itu, dia lalu mengacak rambut Ryu Jin untuk menenangkannya.

“Aku lelah, kau urus anakmu.” Eun Kyo membuang celemek yang tidak sempat ia lepaskan. Jung Soo dan Ryu Jin memandangi Eun Kyo yang menghilang menaiki tangga.

“Yak, Ryu Jin~a..” panggil Jung Soo setengah berbisik dan mendekatkan wajahnya ke telinga Ryu Jin. “Gwaenchana, Eommamu hanya sedang tidak enak badan.” Lanjutnya menenangkan Ryu Jin. Ryu Jin hanya mengangguk, ketakutannya mulai memudar berganti dengan senyuman jahil diwajahnya.

“Dasar anak nakal.” Jung Soo menarik poni rambut Ryu Jin yang sudah mulai panjang dan menutupi matanya. “Rambutmu sudah mulai panjang, nanti kita ke salon, ne?” tanya Jung Soo sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

“Ne, Appa! Noona cantik?” tanya Ryu Jin. Jung Soo langsung menoleh pada Ryu Jin.

“Ye, Noona cantik.” Jawab Jung Soo, sedetik kemudian mereka berdua cekikikan bersama. Ryu Jin hanya mau dibawa ke salon yang disukainya, karena disana ada seorang gadis cantik yang biasa melayaninya.

“Apa yang kalian tertawakan?” Eun Kyo tiba-tiba turun dan melintas di depan mereka.

“Anieyo Eomma, mianhae..” jawab Ryu Jin. Dia mulai memakan makanannya. Eun Kyo berhenti sejenak dan menoleh pada Ryu Jin lalu tersenyum. “Mulai besok aku akan makan sendiri…” sambungnya lirih.

“Ah, Appa sudah selesai.” Jung Soo bangkit dan mendorong kursi yang dia duduki agar dia bisa beranjak. “Aku mau berangkat.” Bisiknya ditelinga Eun Kyo, lalu mengecup dahi Eun Kyo. “Ryu Jin aku serahkan padamu, aku sudah terlambat, hari ini meeting.” Jung Soo bergegas untuk keluar dan berangkat bekerja.

“Ryu Jin~a, kau sekolah diantar Eommamu.” Teriak Jung Soo dari halaman. Ryu Jin yang sejak tadi dengan susah payah menelan makanannya langsung menoleh pada Eun Kyo yang dibalas tatapan tajam olehnya.  Bibir Ryu Jin maju beberapa centi.

“Kau tidak punya pilihan, suruh siapa bangun terlambat? Suruh siapa belum mandi? Suruh siapa makanmu seperti siput?” omel Eun Kyo. Tapi didalam hatinya tertawa, menggoda anaknya yang kini sudah mulai tumbuh adalah kegemarannya, marahnya hanya dimulut saja, dalam hatinya dia sangat mencintai anak yang hampir merenggut nyawanya saat melahirkan.

“Kata Mrs. Kim, siput itu jalannya yang lambat, bukan makannya.” Jawab Ryu Jin, sudut matanya melirik Eun Kyo. Eun Kyo balas melirik Ryu Jin, tak bisa dia sembunyikan senyumnnya untuk anak itu yang sejak tadi dia tahan.

“Ara, sekarang habiskan makananmu dan kita berangkat sekolah, kau sudah terlambat.” Jawab Eun Kyo.

 ^_^

Heewon’s Home

 

Sementara itu di kediaman berbeda, suasana senyap menyelimuti atmosfir rumah besar yang ditinggali sepasang suami istri yang sudah beberapa bulan menikah, Choi Siwon dan Shin Hee Rin. Siwon kelihatan sibuk dengan berkas yang baru saja dia selesaikan beberapa saat sebelum dia mandi. Kini lelaki bertubuh atletis itu sudah siap untuk memulai aktifitasnya di hari ini dengan setelan jas lengkap dan rapi bersiap untuk bekerja. Dia menuruni anak tangga dan menenteng sebuah tas di tangannya.

“Kau tidak sarapan?” tanya seseorang yang duduk manis di meja makan sambil memakan roti dengan selai yang ada dihadapannya. Siwon melirik sekilas lalu melanjutkan langkahnya.

“Aku sudah hampir terlambat, aku sarapan di kantor saja.” Jawab Siwon dengan nada datar.

“Baiklah kalau begitu.” Jawab Hee Rin.

“Aku pulang terlambat hari ini, kau tidak usah menungguku.” Ujar Siwon sambil terus melangkah. Hee Rin menyelesaikan sarapannya dan segera bangkit lalu menjajari langkah Siwon.

“Aku juga pulang  terlambat sepertinya.” Jawab Hee Rin santai.

“Kau mau kemana?” tanya Siwon dengan nada curiga.

“Kau sendiri mau kemana?” balas Hee Rin.

“Aku ada meeting hari ini.” Jawab Siwon.

“Kalau begitu aku ada acara di galery ku.” Jawab Hee Rin. Siwon segera menarik pergelangan tangan Hee Rin, membuat wanita itu terhenti langkahnya.

“Kau selalu sibuk jika aku sedang sibuk.” Siwon menghentak tangan Hee Rin.

“Lalu kau sendiri? Apa pernah dirumah?” Hee Rin mendahului Siwon dan masuk ke dalam mobilnya lalu meninggalkan Siwon yang masih mematung.

Siwon dan Hee Rin menikah memang bukan karena cinta, tapi mereka menikah karena keinginan untuk memperluas bisnis kedua orang tua mereka. Siwon segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya memecah jalanan kota Seoul.

Authhor’s POV

Ryu Jin memainkan kakinya yang menjuntai di jok mobil. Sementara Eun Kyo disampingnya sedang mengemudikan mobil mengantarnya ke tempat penitipan sekaligus tempat belajarnya.

“Eomma, hari ini siapa yang menjemputku?” Ryu Jin bersandar dan menoleh pada Eun Kyo. Eun Kyo tidak menjawab, dia fokus pada jalanan yang mulai padat. Sesekali Eun Kyo membunyikan klakson mobilnya karena ada beberapa pengendara motor yang melintas di depannya.

“Hari ini aku mau ke salon bersama Appa.” Gumam Ryu Jin.

“Gurae?” tanya Eun Kyo.

“Eo, ke salon Noona cantik.”

“Noona cantik? Eodiya?” tanya Eun Kyo.

“Mollasseo, tapi Appa senang membawaku kesana karena Noona..” Ryu Jin menyadari Eun Kyo menatapnya tajam. Anak itu segera menutup mulutnya.

“Begitu? Jadi Appamu senang kesana?” Eun Kyo mendengus kesal.

“A, ani, ani..” meski masih anak-anak, tapi Ryu Jin tahu betul arti kecemburuan Eommanya. Dia tidak berani lagi menoleh pada Eun Kyo dan lebih memilih memperhatikan jalan melalui jendela. Suasana menjadi hening.

“Sudah sampai Ryu Jin~a..” anak itu segera membuka pintu dan mengambil ancang-ancang untuk berlari.

“Yak! Kau tidak menciumku dulu?” protes Eun Kyo berteriak dengan muka cemberut. Ryu Jin mengurungkan niatnya untuk segera lari tapi kembali menaiki mobil dan meraih pipi Eun Kyo. Dua ciuman hangat berhasil mendarat di pipi Eun Kyo.

“Jangan lupa makan siangmu dihabiskan, ara?!” Ryu Jin mengangguk dan segera berlari sambil membawa tas punggungnya.

“Sayang, hari ini Appa yang menjemputmu!” sesaat sebelum Eun Kyo menginjak gas dia berteriak pada putra kesayangannya.

“Arasseo, Eomma!” jawab Ryu Jin sambil melambaikan tangannya.

“Ryu Jin saranghae…!” teriak Eun Kyo lagi. Ryu Jin yang sudah memasuki halaman sekolahnya langsung menghentikan langkahnya dan berbalik.

“Nado Eomma..!” jawabnya riang. Kalimat yang selalu dia nantikan keluar dari mulut wanita yang melahirkannya. Lalu dia melanjutkan langkahnya dengan santai.

Eun Kyo terus mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju butik yang dia kelola. Lagu kesayangannya mengalun lembut di audio mobilnya. Sesekali wanita itu ikut bersenandung mengikuti lirik lagu yang sedang didengarnya.

“Noona cantik? Nuguya?” Eun Kyo mulai menggumam mengingat apa yang di ucapkan Ryu Jin tadi pagi. “Pegawai salon? Eoh? Cih!” satu pukulan kecil mendarat di kemudi mobil. “Jadi mereka mulai merasa aku tidak cantik begitu?!” omelnya emosi. “Lihat saja! Oppa! Jika kau berani macam-macam, aku akan membunuhmu!” lanjutnya mengomel tanpa dia sadari seseorang melintas di depannya dan hampir ditabraknya.

CIIITTTT…!!!

Eun Kyo segera menginjak pedal rem dengan kuat agar laju kendaraannya berhenti atau paling tidak mulai segera melambat dan tidak mengenai seseorang yang melintas di depannya. Tubuhnya tersungkur di kemudi mobil, dadanya bergemuruh dan mulai merasa takut. Perlahan dia mengangkat wajahnya dan melihat seseorang yang sedang jatuh tepat di depan mobilnya. Eun Kyo membuka pintu mobilnya dengan cepat.

“Oh! Gwaenchana~yo?” Eun Kyo berjongkok dan meraih pergelangan tangan lelaki yang hampir ditabraknya.

“Jweosonghamnida..” Eun Kyo membantu lelaki itu untuk berdiri. “Aku, aku memang ceroboh.” Lanjutnya mengumpat pada diri sendiri. Lelaki itu berdiri dan menatap Eun Kyo, sementara Eun Kyo, sibuk mengibas jas lelaki yang dia tabrak.

“Gwaenchana? Eo? Perlu ke rumah sakit?” tanya Eun Kyo bertubi dengan pertanyaannya. Tangannya masih saja mengibas-ngibas setelan jas yang melekat di tubuh orang yang ada di hadapannya. Merasa pertanyaannya tidak ditanggapi, EU Kyo segera menengadah ke wajah orang itu dan mendapati orang itu sedang menatapnya.

“A, Eo, Mianhae…” Eun Kyo menunduk dan menghentikan tangannya bergerak ditubuh lelaki itu. Dia menunduk sedalam-dalamnya, memainkan jemarinya. Dia lupa bahwa orang yang ada dihadapannya adalah seorang lelaki, tidak sepantasnya dia menyentuh orang itu seenaknya, hal yang biasa dia lakukan pada suaminya.

“Aku baik-baik saja, lain kali perhatikan jalan Agasshi..” jawab orang itu. Eun Kyo mengangguk dan membungkukkan badannya.

“Benar anda baik-baik saja?” tanya Eun Kyo meyakinkan sekali lagi. Lelaki yang hendak melangkahkan kakinya itu berhenti dan menolehkan wajahnya sambil menarik sebuah senyuman menawan.

“Gwaenchana..” jawabnya tegas. Eun Kyo balas tersenyum. Lelaki itu melanjutkan langkahnya, namun beberapa langkah meninggalkan Eun Kyo, dia kembali berhenti. Berbalik arah menuju Eun Kyo, membuat wanita satu anak itu mengerutkan dahinya.

“Siapa namamu Nona?” tanya lelaki itu sambil berdiri tepat dihadapan Eun Kyo.

“Eoh? Eun Kyo, Park Eun Kyo.” Jawab Eun Kyo gugup. Lelaki itu kembali menyunggingkan senyumnya, lalu berbalik meninggalkan Eun Kyo, menyisakan kebingungan yang bertumpuk dibenak Eun Kyo.

“Siwon, Choi Siwon.” Jawab Lelaki itu tanpa menoleh. Eun Kyo mematung beberapa menit lalu kemudian dia masuk ke dalam mobil dan mulai mengendarainya.

“Choi Siwon? Eoh? Begitu kah gaya berkenalan jaman sekarang? Gaya apa barusan tadi? Eoh?” Eun Kyo mengomel sambil terus mengemudikan mobilnya. “dia kira dengan seperti itu dia akan terlihat keren? Yaish!” Eun Kyo menjadi kesal, dia terus menggumam. “Tapi salahku menabraknya, dia tidak menuntutku, seharusnya aku bersyukur.” Lanjutnya. Wanita ini sangat senang menggumam jika mengemudikan mobilnya. 10 menit berlalu, akhirnya dia sampai pada sebuah butik besar terletak di pusat pertokoan yang lumayan terkenal di daerah Myeong Deong. Eun Kyo segera turun dari mobil dan meraih tasnya lalu memasuki ruangan kerjanya tanpa lupa memberi salam pada kedua karyawannya.

^_^

Jung Soo berjalan menuju ruangan rapat yang akan berlangsung beberapa menit lagi. Kakinya melangkah besar agar dia cepat sampai pada tempat itu, hingga dia tidak menyadari seseorang melintas di depannya. Karena tidak bisa mengontrol langkahnya lagi, Jung Soo akhirnya sukses menabrak orang itu dan menyebabkan mereka berdua terjatuh. Cup kopi yang ada ditangan seseorang yang ditabrak Jung Soo berkasil meninggalkan noda di bajunya. Jung Soo tersungkur, begitu juga orang itu.

“Jweosonghamnida, gwaenchana~yo?” tanya Jung Soo khawatir karena orang yang dia tabrak adalah seorang wanita. Wanita itu berdiri, tinggi semampai dengan gaun yang begitu menawan melekat di tubuhnya, terlihat elegan dan berkelas ditambah dengan heels yang mahal terpasang indah di kakinya.

“Sunbae..” jawab wanita itu pada Jung Soo. Mata mereka saling bertatapan, dua teman lama bertemu tanpa sengaja.

“Shin Hee Rin?” tanya Jung Soo tidak percaya. Wanita yang disebut Hee Rin itu tersenyum manis. Mereka saling berjabat tangan.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Jung Soo.

“Ah, aku ada pertemuan di lantai 3.” Jawab Hee Rin.

“Jeongmal? Kantorku ada di lantai 5.” Balas Jung Soo. Mereka berjalan bersama menuju lift.

“Eoh, sangat mengejutkan bertemu denganmu disini Sunbae, sudah 10 tahun lebih.” Gumam Hee Rin, mereka memasuki lift, lalu Jung Soo menekan tombol lift, hanya mereka berdua di dalam sana sehingga percajapan mereka mengalir dengan leluasa. “Kau tidak berubah.” Sambung Hee Rin pada Jung Soo.

“Bagaimana kabarmu sekarang?” tanya Jung Soo.

“Ah, aku baik-baik saja. Bagaimana dengan Sunbae sendiri?” balas Hee Rin bertanya sambil melirik pada Jung Soo. Kembali kedua mata mereka beradu.

“Aku juga baik-baik saja. Aku sudah menikah dan mempunyai anak.” Cerita Jung Soo mengalir dengan cepat.

“Jeongmal? Laki-laki atau perempuan?” tanya Hee Rin antusias.

“Laki-laki.” Jawab Jung Soo singkat sambil tersenyum. Dia teringat Ryu Jin yang benar-benar nakal akhir-akhir ini.

“Laki-laki?” tanya Hee Rin. Mereka terdiam beberapa saat.

“Kenapa tersenyum Sunbae?’ tanya Hee Rin.

“Ani, aku hanya teringat anakku. Dia sangat lucu, sangat pintar membuat Eommanya terlihat cantik saat marah.” Hee Rin memandangi Jung Soo yang memancarkan wajah ceria ketika menceritakan keluarganya, berbanding terbalik dengan rumah tangganya.

“Sepertinya kau sangat mencintai keluargamu.” Komentar Hee Rin.

“Em, mereka hartaku yang paling berharga.” Jawab Jung Soo. Tiba-tiba pintu lift terbuka. Mereka sudah sampai pada lantai 3.

“Kau sudah sampai.” Ujar Jung Soo.

“Ah, ne.” Jawab Hee Rin, dalam hatinya dia sedikit tidak rela jika dia sudah sampai pada tujuan, dia masih ingin mengenang masa lalu bersama lelaki yang baru saja ditemuinya kembali. “Sunbae, kapan-kapan, pertemukan aku dengan jagoan nakalmu.” Ujar Hee Rin sambil melangkah keluar, tak lupa dia menyunggingkan senyumnya pada Jung Soo. Pintu lift kembali menutup, Jung Soo mematung sendiri didalam ruangan kecil itu. Matanya memandangi bajunya yang penuh noda kopi, tapi bibirnya tersenyum.

“Shin Hee Rin.” Gumamnya.

Ting!

Pintu lift terbuka, Jung Soo melangkah keluar, berjalan menuju ruangannya. Beberapa karyawan menyapanya dan Jung Soo membalas degan anggukan.

Jung Soo’s POV

Aku berjalan menuju ruanganku. Pagi ini sepertinya aku sedikit kacau, bajuku penuh noda kopi yang ditumpahkan gadis itu. Gadis itu? Gadis lemah yang beberapa tahun lalu sempat menghiasi pagiku saat berangkat ke sekolah. Gadis pendiam yang sangat manis, aku dan dia selalu berangkat bersama meski diantara kami tidak pernah saling berjanji untuk bertemu di halte bis, tetapi waktu memang tidak bisa bergeser, aku dan dia selalu bertemu di halte bus, menunggu bus yang sama untuk mengantar kami ke sekolah.

“Dia masih mengingatku?” aku menggumam sepanjang jalan hingga sampai pada meja sekretarisku. “Kapan meetingnya di mulai Hyu Ni~ya?” aku bertanya pada Sekretarisku danberhenti sebentar di depan mejanya.

“15 menit lagi Sajangnim.” Bisik Hyu Ni. “Sajangnim, bajumu kenapa?” dia memandangi bajuku yang kotor, aku juga ikut memandangi bajuku.

“Ah, ini, ada insiden sedikit.” Aku mengusap bajuku.

“Mau aku pesankan jas baru?” tawar Hyu Ni. Aku menghela nafas.

“Sempat?” tanyaku ragu. Hyun Ni mengangguk yakin.

“Serahkan padaku!” dia langsung meluncur meninggalkanku. Anak itu, terkadang dia bisa lebih cerewet dibandingkan istriku sendiri. Aku membuka pintu ruanganku dan ingin mengambil nafas sebentar di dalam. Aku memandangi foto Ryu Jin dan Eun Kyo yang terpajang manis di dinding. Memiliki mereka anugerah terbesar dalam hidupku. Tidak berapa lama, Hyu Ni mengetuk pintu dan menyerahkan satu stel jas padaku.

“Dimana kau mendapatkannya secepat ini?” tanyaku bingung. Dia hanya tersenyum.

“Istrimu yang menyediakannya.” Jawabnya mengedipkan matanya.

“Istriku?” aku semakin heran, dia melepaskan pembungkus danmengeluarkan jas itu lalu menyerahkannya padaku. Aku segera mengambilnya.

“Eo, dia selalu menyediakan barang cadangan untukmu dikantor ini, baju, celana, sepatu. Dan banyak lagi.” Cerita Hyu Ni panjang lebar. “Dia memang perhatian.” Sambungnya.

“Siapa yang perhatian?” tanyaku.

“Istri anda Tuan.” Matanya menerawang. “Jika aku laki-laki aku juga pasti akan menikahinya.” Aku memukul kepalanya dengan kertas.

“Kau harus bersaing denganku kalau begitu!” dia mengusap kepalanya dan cemberut padaku. “Sudah sana keluar, aku mau ganti baju, kau siapkan berkas untukku saja.” Mulutnya menggumam, tapi dia segera keluar dari ruanganku.

“Perhatian? Yang benar saja, kerjaannya hanya mengomel dan memerintah, terlalu cerewet, apanya yang perhatian?” aku melepas bajuku dan menggantinya dengan yang baru. Tapi ini memang benar-benar bajuku, baunya juga sama seperti yang dirumah, kapan dia menyiapkannya? Kapan waktunya menyiapkan ini? Bukannya dia sibuk dengan butiknya dan juga dengan ocehannya setiap pagi?

Aku berjalan menyusuri lorong menuju balroom tempat aku mengadakan rapat. Hari rapat dewan direksi tentang keuangan perusahaan. Ada beberapa kejanggalan yang terjadi disini. Aku terus berjalan menapaki satu demi satu keramik yang tersusun rapi berwarna putih susu. Dadaku berdegup tidak karuan, bukan karena aku terlambat hari ini, bukan juga karena insiden kecil saat aku berada dilantai dasar tadi, entah apa yang membuat aku sedikit gugup hari ini, tidak biasanya. Aku mendorong pintu balroom dengan perlahan, terlambat 3 menit, dan semua orang sudah menungguku.

“Ah, jweosonghamnida, aku terlambat.” Kubungkukkan tubuhku sebagai permintaan maaf. Saat aku kembali tegak, aku memandangi satu persatu orang yang ada di ruangan ini. Kim Bok Su, pemegang saham terbanyak di perusahaan setelah aku, nampak memandangku tajam. Lelaki paruh baya itu sedikit menggeser posisi duduknya. Sudah rahasia umum aku sering bersitegang dengannya. Dia adalah orang tua ambisius yang berniat mengambil alih perusahaan yang dirintisnya bersama Appa.

“Baiklah, sebaiknya kita mulai saja rapat hari ini.” Aku membuka pembicaraan. “Coba kau bacakan laporan keuangan terakhir Jang Sang Wo~ssi.” Aku melirik Sang Wo yang selama ini mengurus keuangan. Dia melirik padaku sebentar sebelum akhirnya membacakan dengan detail laporan keuangan yang biasa dia buat dengan sempurna. Tapi kali ini aku tidak bisa mengatakannya sempurna lagi karena ada beberapa kejanggalan yang aku dengar dari pembacaan laporannya.

“Coba kau ulangi sekali lagi Sang Wo~ssi. Pengeluaran bulan ini sepertinya kau keliru.” Aku menopang daguku sambil memperhatikannya dengan serius hingga dia selesai membacakannya. Perusahaan tidak mengeluarkan produk bulan ini, tapi mengapa laporannya membengkak seperti itu?

“Bukan kah bulan ini tidak ada produksi?” sambar Kim Bok Su cepat. Sama seperti pertanyaan yang ada dibenakku. Aku menatapnya, diapun melakukan hal yang sama.

“Tapi, laporan memang seperti ini Sajangnim..” jawab Sang Wo gugup.

“Pasti ada yang tidak beres! Dan kau bertanggungjawab atas ini Park Jung Soo!” Kim Bok Su memukul meja dengan keras menggunakan laporan yang ada ditangannya. Aku sedikit tersentak, namun kemudian sedetik berikutnya bisa menguasai diriku. “Produk kita juga tidak ada penjualan yang berarti bulan ini!” teriak Kim Bok Su. Lelaki ini, aku belum bicara sepatah katapun dia terus saja mengomel. Suasana menjadi tegang.

“Aku harap Anda tenang dulu Kim Bok Su~ssi.” Aku angkat bicara akhirnya melihat beberapa pemegang saham lainnnya menggerutu mendengar ocehan dari Kim Bok Su.

“Kau harus menyelidiki semua ini. Penjualan yang mulai menurun dan keuangan yang semakin membengkak!” Kim Bok Su berdiri dan menghempas laporan diatas meja. Aku hanya bisa mendengus. Hari ini hari yang buruk. Aku menyandarkan tubuhku di kursi, memandangi kepergian Kim Bok Su.

“Apa yang harus kita lakukan Sajangnim?” bisik Sang Wo ditelingaku.

“Aku minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Tapi berdasarkan laporan yanng dibacakan tadi, memang sepertinya ada kejanggalan, aku akan segera menyelidikinya, dan akan kita bahas di rapat selanjutnya.” Putusku akhirnya. Damn! Aku benar-benar tidak tau akan hal ini. Aku kecolongan kali ini. Untungnya beberapa dewan direksi bisa memakluminya meski ada juga beberapa yang menggerutu dan memprotes.

“Jang Sang Wo, apa yang sebenarnya terjadi?” aku menatap tajan pada Sang Wo. Dia mengerutkan dahinya.

“Mianhae Sajangnim. Bukan aku yang membuat laporan ini.” Dia menunduk pasrah. Aku terperanjat.

“Mwo?! Lalu siapa?!” teriakku padanya.

“Aku sedikit punya masalah di rumah, dan Min Jung bersedia membantuku.” Jawab Sang Wo lirih. Min Jung? Manager Produksi? Untuk apa dia mencampuri urusan keuangan, ani, bukan mencampuri, hanya saja, dia juga mempunyai masalah, ada barang yang hampir mirip meluncur di pasaran, 5 menit setelah kami meluncurkan produk baru dengan harga di bawah standar. Hal itu yang membuat pasaran produk kami menurun. Aku mengusap wajahku.

“Tolong panggilkan Min Jung.” Aku memerintah Sang Wo untuk memanggil Min Jung.

^_^

Aku menenggak segelas kopi siang ini untuk menghilangkan kemelut dalam otakku. Begitu banyak kejutan hari ini. Aku beberapa kali menghela nafas. Kuperhatikan satu persatu orang yang ada disini, semua terlihat senang, apa hanya aku yang sedang punya masalah? Aku bahkan menolak Eun Kyo untuk makan siang bersama hari ini. Kuketuk mulut cangkir beberapa kali dengan sendok pengaduk, berharap aku bisa melupakan masalah ini. Benar-benar serius sepertinya kali ini, ada penggelapan uang di perusaaanku, dan aku baru mengetahuinya beberapa jam yang lalu.

“Sunbae, Eo! Kita bertemu lagi.” Aku mendengar suara lembut di belakangku, segera kutolehkan kepalaku mengikuti asal suara. Shin Hee Rin. Sepertinya waktu berputar ke beberapa waktu yang lalu, dimana keadaan seperti ini kerap kali terjadi, pertemuan tidak sengaja.

“Sepertinya kita memang jodoh.” Sahutku sambil tersenyum.

“Kau sendirian?” tanyanya sudah berada dihadapanku. Gadis ini tumbuh dengan baik. Banyak perubahan yang ada pada dirinya, sekarang dia kelihatan lebih cantik dan memang menawan.

“Ne.” Jawabku singkat, menyembunyikan rasa kagumku.

“Boleh aku duduk disini?” dia langsung menarik kursi yang ada dihadapanku. Aku tersenyum, jika aku menjawab tidakpun kau pasti tidak akan beranjak Hee Rin~a.

“Silakan saja.” Jawabku lagi.

“Wae? Mukamu kusut sekali Sunbae.” Komentarnya, dan otakku lebih kusut daripada wajahku.

“Jangan panggil aku Sunbae, terdengar sakit di telingaku. Aku sudah mendengarnya beberapa tahun dari mulutmu.” Jawabku asal.

“Mwo? Jadi kau mau aku panggil apa? Oppa?” tanyanya sambil tertawa. Sejenak aku terpana, tawa renyahnya tidak berubah.

“Begitu lebih baik aku rasa.” Jawabku sambil meliriknya. Dia kembali tertawa.

“Bagaimana denganmu? Kau sudah menikah?” tanyaku setelah tawa kami mereda. Dia seketika terdiam, lalu hening menggantikan kegaduhan kecil kami.

“Menurutmu?” dia mengaduk minumannya dan menoleh padaku dengan muka penuh tebakan yang harus aku jawab.

“Em, aku tidak ingin menjawab.” Ujarku tidak ingin menebak. Dia menarik bibirnya dan seolah menghela nafas berat.

“Aku sudah menikah Oppa.” Jawabnya dingin.

“Kau tidak mengundangku.” Jawabku.

“Kau juga tidak mengundangku, kau bahkan sudah memiliki putra dan aku tidak tau sama sekali.” Balasnya protes. Aku tertawa sejenak, begitu banyak yang terlewatkan darinya.

“Oppa, kapan-kapan kita bertemu lagi, aku harus pergi.” Dia bangkit dari duduknya dan merapaikan gaunnnya lalu melangkah disamping mejaku, tapi dia berhenti sejenak dan menepuk bahuku.

“Apapun masalahmu, pikirkan keluargamu, Oppa. Maka kau akan bisa melewatinya dengan mudah.” Dia memberikan senyum paling amnis yang pernah aku lihat.

Aku benar-benar berada di puncak masalah sekarang. Penggelapan uang dalam jumlah besar? Dan semua tertuju padaku, penjualan mengalami kegagalan dan kini masalah keuangan. Ada beberapa berkas dengan tanda tanganku yang entah untuk apa. Aku menghela nafas, kepalaku serasa berputar, tak tau lagi harus berbuat apa. Aku bangkit dari dudukku dan meninggalkan beberapa lembar uang disana. Saat aku berada diambang pintu, tiba-tiba ponselku berdering, aku mengangkatnya, istriku.

“Yeoboseyo?” jawabku.

“Oppa, aku pulang terlambat hari ini, ada pesanan gaun dan harus diselesaikan hari ini.” Ujarnya tanpa basa basi, kebiasaannya jika sedang terdesak, bahkan mngucapkan salampun tidak.

“Apa tidak bisa ditunda? Karyawanmu?” tanyaku, aku ingin melihatnya hari ini, meski memang kerjanya juga sibuk akhir-akhir ini, bisnisnya mulai merangkak, tapi saat ini aku membutuhkannya, namun saat ini sepertinya dia sangat sibuk.

“Tidak bisa Oppa, mereka juga harus menyelesaikan pekerjaan mereka. Key sudah mulai mengerjakan sketsanya, dan sepertinya kami berdua akan lembur.” Ujarnya. Key? Bocah itu? Masih bekerja disana? Bukannya dia sudah tidak lagi disana? Aku sedikit tidak suka jika dia bersama anak itu.

“Key hanya membantuku.” Seperti tau apa yang ada dipikiranku, dia menjawab semua pertanyaanku. “Tapi sepertinya aku akan merekrutnya.” Sambungnya. Aku menghela nafas. Aku akui, Key memang berbakat, tapi haruskah dengan anak itu dia bekerja sama? Aku tidak suka cara dia memperlakukan istriku, seolah mereka sudah mengenal lama dan tidak terpisahkan. Eun Kyo memang terkadang kekanak-kanakan dan tidak akan ada yang bisa mengira jika mereka terpaut selisih umur 5 tahun.

“Begitu?” tanyaku pasrah.

“Oppa…” panggilnya lirih, lebih tepatnya merengek.

“Arasseo, aku percaya padamu.” Aku tidak bisa terus berada dalam kecemburuanku mengingat dia sangat senang dengan pekerjaannya.

“Gomawo~yo Oppa, saranghae.” Ujarnya cepat.

“Na!” telponnya sudah ditutup dan aku tidak sempat menjawabnya. Park Eun Kyo, tidak mengertikah kau aku membutuhkanmu? Biasanya kau akan sangat peka terhadap perasaanku, tapi sekarang? Pekerjaanmu kendalanya? Aku lebih senang kau berada dirumah seperti saat pertama kau melahirkan Ryu Jin, bukannya aku melarangmu bekerja, tapi waktu kita berdua hanya malam, itupun terkadang sudah kelelahan, bahkan tidak punya waktu untuk bercinta.

Aku berjalan menuju kantorku, menunggu di depan pintu lift hingga pintunya terbuka, beberapa detik berlalu, aku tidak fokus dengan pikiranku. Pakaianku kini sudah tidak rapi lagi, aku dapat menyadarinya.

TING!

Pintu lift terbuka, dan betapa terkejutnya aku. Didalamnya sudah berdiri gadis itu, Shin Hee Rin.

“Kita memang benar-benar jodoh Oppa.” Sambutnya saat aku melangkah ke dalam. Aku hanya bisa menyunggingkan senyumku, hanya kami berdua.

“Kau mau kemana?” tanyaku.

“Aku? Ingin menemanimu.” Ujarnya. Aku langsung menoleh padanya tidak percaya. “Ani, aku bercanda, aku mau ke atas. Mencari udara segar.” Ujarnya.

“Boleh aku temani?” tawarku, sekatrng dia yang menoleh refleks padaku dengan tatapan heran. “Tidak boleh?” tanyaku.

“A, ani. Boleh.” Jawabnya singkat. Kami terdiam dalam hening. Sudah 3 kali aku bertemu dengannya hari ini.

Eun Kyo’s POV

Hari ini benar-benar sibuk, tiba-tiba dapat order gaun yang dipakai untuk menghadiri perkawinan, dan dia memintanya selesai besok pagi. Kalau saja itu bukan pelangganku, mungkin akan aku tolak, tapi dia sudah menjadi pelanggan tetapku disini, aku tidak ingin mengecewakannya. Menelpon dan meminta bantuan Key menurutku keputusan yang tepat, asalkan meminta ijin pada Oppa aku rasa tidak masalah. Aku tau Oppa tidak senang dengan Key, bukan karena Key yang selalu menempel padaku, tapi aku rasa karena aku yang meminta Key.

“Noona, eotte?” Key menyerahkan beberapa sketsa gaun yang digambarnya sejak tadi. Lelaki yang selalu dipanggil bocah oleh suamiku ini memang berbakat, lulusan sekolah mode Paris membuat goresan tangannya tidak pernah mengecewakan, ditambah lagi dengan bakatnya yang memang mencintai mode.

“Aku rasa lumayan.” Jawabku meliriknya. Sebenarnya bukan lumayan, tapi itu sangat indah, aku berusaha menahan rasa puasku terhadap karyanya. “Kita pakai itu saja, dan sebaiknya kita kerjakan sekarang.” Aku bangkit dari dudukku. Tapi Key menahanku.

“Ani, aku tidak mau jika kau merasa tidak puas.” Ujarnya tajam menatapku. Wajahnya sejajar denganku dan tepat menatap mataku karena dia sedikit membungkuk.

“Hufh!” aku meniup matanya. “Aku sangat puas, kau mengerti?” aku mendorong tubuhnya. Key kerap kali melakukan hal-hal yang diluar dugaan dan membuatku sedikit.. terkejut mungkin. Bocah yang terpaut umur 5 tahun denganku ini,  jika aku tidak salah tafsir, dia menyukaiku. Dia memang orang yang sangat menarik, untuk ukuran anak seumurnya, dia memang luar biasa, tidak mungkin tidak ada gadis yang mengejarnya, tapi kenyataannya sampai sekarang dia tidak pernah menggandeng seorang gadis dihadapanku sejak 2 tahun lalu dia mulai ada disini.

“Noona, kau bahagia?” tanya Key tiba-tiba. Aku yang dari tadi bangkit dan memilih bahan segera berpaling padanya. Anak itu sedang menggigit pangkal pensilnya dan menatapku.

“Mwo? Kenapa bertanya seperti itu?” tanyaku acuh.

“Ani, sepertinya kau lebih senang disini daripada di rumahmu.” Jawab Key sambil duduk di sofa. Aku kembali berpaling padanya. Benar juga, akhir-akhir ini aku sedikit bosan dirumah, mengurusi kedua jagoanku benar-benar melelahkan meski juga sangat menyenangkan.

“Apa aku terlihat seperti itu?” aku berjalan kearahnya dan menyerahkan bahan baju yang akan kami buat. “Kira-kira bisa selesai untuk besok pagi?” tanyaku pada Key dengan nada raggu. Anak itu mengangguk yakin.

“Pasti bisa! Nama besarku kupertaruhkan!” ujarnya sambil mengepalkan tangannya padaku dan mengangguk dengan pasti. Kami tertawa bersamaan. Hal ini yang tidak aku dapatkan dirumah, semangat ini. Jika dirumah aku menjadi sedikit temperamen menghadapi jagoan kecilku yang semakin sulit untuk diatur. Makannnya, mandinya bahkan tidurnya, susah sekali diatur, persis seperti Appanya. Tapi kehangatan yang diberikan mereka memang tidak bisa tergantikan.

“Jangan melamun, ayo kita mulai bekerja.” Key mencubit pipiku, aku mengelus pipiku yang sedikit sakit. Aku teringat Oppa, biasanya dia aka menelponku, tapi hari ini tidak ada sama sekali, hingga menjelang sore.

“Fuh!” aku meniup rambut yang ada didahiku. “Ayo kita kerjakan, potong bahannya dulu.” Ujarku.

“Aku sudah memotongnya dari tadi Noona~ya, kau sejak tadi melamun.” Dia mengelus rambutku. Key akhir-akhir ini mulai berani melakukan skinship padaku, tidak ada orang lain yang berani selain Oppa. Aku tertegun sejenak, anak ini… sejenak kami bertatapan.

“Aku akan memanggil Chanie untuk menjahitnya.” Aku melepaskan tatapannya. Semakin hari, perasaanku menjadi semakin aneh di dekat anak ini, aku melangkah keluar untuk mencari Park Chan Chan.

“Chanie~ya… kau sibuk?” aku memanggilnya, dia menoleh padaku lalu menggeleng.

“Bagus, tinggalkan pekerjaanmu sebentar. Bantu aku menjahit baju yang akan di ambil besok pagi, hanya kau yang jahitannya paling rapi.” Ujarku.

“Onnie, spesialis menjahit kan memang aku, memangnya ada yang lain?” aku hanya bisa menyunggingkan senyumku. Benar juga, disini aku hayan punya satu penjahit, satu desainer dan satu orang bagian promosi.

“Tidak ada. Haha.” Chanie mengikutiku ke ruangan menjahit.

“Memangnya siapa yang pesan Onnie?” tanya Chanie. “Sepertinya istimewa sekali.” Sambungnya.

“Kim Nara, kau tau? Anak pengusaha terkenal itu akan menghadiri pernikan temannya, dan aku yang dia percayakan untuk mendesain gaunnya. Semoga saja dia suka.” Jelasku pada Chanie.

“Eum, begitu.” Chanie duduk di kursi dan mulai mengerjakan gaun itu dan aku membantunya memberikan sentuhan akhir. Kami terdiam dalam fokus pekerjaan masing-masing. Key bahkan tidak bicara sama sekali.

“Akhirnya selesai juga.” Ujar Chanie sambil berdiri. “Sekarang tinggal giliranmu Onnie, aku harus pergi, ini sudah malam.” Ujarnya. Key menoleh padanya, begitu juga aku. “Tidak apa-apa kan aku tinggal?” tanyanya lagi. “Aku takut ketinggalan bus Onnie..” sambungnya.

“Gwaenchana, kau mau diantar oleh Key?” aku melirik Key, dia menatapku. Aku tau Key tidak suka aku perintah, tapi sepertinya Chanie mengerti.

“Ani, aku pergi sendiri saja, sepertinya Key Oppa juga masih ada pekerjaan.” Chanie melirik Key yang memang sibuk dengan sketsanya. Aku hanya bisa menghela nafas.

“Tidak apa-apa pulang sendiri?” tanyaku meyakinkan mengingat dia pulang malam dan lagi dia seorang anak gadis.

“Ani Onnie, gwaenchana.” Dia mengambil tasnya lalu berpamitan padaku dengan melambaikan tangannya. Aku masih ada pekerjaan, menyelesaikan sentuhan akhir dari gaun ini, menjahit beberapa batu yang disematkan di gaun itu.

“Kau tidak pulang?” tanyaku pada Key. Bocah itu duduk di sofa sambil masih menggoreskan pensilnya sambil bersantai. Sesekali dia menggigit ujung pensil dan mengerutkan dahinya.

“Aku menunggumu.” Jawabnya tanpa menoleh padaku, matanya masih fokus pada benda yang ada ditangannya dari tadi.

“Key, kau tidak mempunyai pacar? Hampir setiap akhir pekan aku lihat kau ada disini.” Komentarku menghilangkan jenuh karena deadline gaun ini.

“Aku menunggumu bercerai.” Jawabnya ketus masih dengan sikap acuhnya. Tapi kali ini aku tidak bisa mengikuti sikap acuhnya. Jawabannya mampu membuat sebuah tusukan kecil di jariku.

“Ah!” aku meringis dan memandangi darah yang mulai keluar dari permukaan kulit jariku. Key segera membuang kertas dan pensilnya lalu menghampiriku.

“Kau kenapa?” dia segera mengambil tanganku dan memasukkannya ke dalam mulutnya, menghisapnya pelan lalu meludah ke bak sampah yang ada disampingku.

“Kau ceroboh sekali Noona…” sejenak aku tertegun dengan apa yang dia lakukan. Segera kutarik tanganku dan membuatnya tersentak.

“Sini biar aku yang bereskan.” Dia mengambil jarum dan gaun yang hampir rampung di tanganku. “Gaun kilat dan hasilnya lumayan.” Komentar Key. “Untuk gaun yang jadi dalam setengah hari, ini luar biasa.” Sambungnya. Aku tidak bisa menjawab, masih terkejut dengan apa yang dia lakukan tadi. Wajah anak itu hanya beberapa senti dariku. Mungkinkah aku terpesona? Aish! Jinjja! Tidak mungkin. Park Eun Kyo! Kau sudah mempunyai suami dan seorang anak. Mereka sangat mencintaimu.

“Em, tiba-tiba aku merindukan Jung Soo Oppa.” Ujarku menetralisir hatiku. Key langsung berhenti dan memandangku.

“Bisakah tidak menyebutnya di tempat kerja?” ujar Key. Aku memundurkan kursiku menjauh darinya. Sepertinya pembicaraan ini akan panas jika aku teruskan.

“Aku akan mengerjakan hal lain saja.” Aku menarik kursi di belakan mejaku dan mulai menyalakan laptopku, mengerjakan apa saja untuk mengalihkanku dari Key. Aku tidak bisa mengerjakan apa-apa. Otakku tertuju pada suamiku. Sedang apa dia sekarang? Masih bekerja? Atau sudah pulang. Aku terus memandangi layap ponsel yangterletak disamping keyboard laptop. Sesekali mendengus kesal. Aku menantikan pesannya, mengajakku makan malam mungkin? Kutopang daguku dengan tlapak tanganku menatap layar laptop, lalu kutolehkan lagi pada layar ponsel bergantian.

“Menantikannya?” tanya Key.

“Eoh?” aku menoleh pada Key yang masih menjahit gaun itu. Tapi kali ini anak itu tidak menoleh padaku. “Ah, ani.” Elakku.

“Tidak perlu kau sembunyikan.” Ujar Key, dia melepaskan gaun yang ada di tangannya lalu mendekat padaku. “Semua tergambar jelas disini.” Anak itu mengitari wajahku dengan telunjuknya. “Rasa bosanmu menunggu terlukis jelas, bahkan lebih jelas dari sketsa usang yang aku buat.” Sambungnya sambil menatapku. Beberapa detik kami saling bertatapan, setelahnya kudorong kursiku ke belakang menjauh dariku. Terdengar lirih Key tertawa ringan, tangannya bertumpu di meja dengan posisi setengah berdiri mensejajarkan wajahnya denganku. Aku berdiri dan berjalan ke belakangnya untuk mengambil segelas air. Key menoleh padaku.

“Kau terlihat cantik saat tersipu Noona.” Ujar Key. Dia menggodaku? Eoh?

Key’s POV

Aku senang sekali menggodanya akhir-akhir ini. Wanita cantik yang menggemaskan yang berdiri di belakangku sedang mengambil air. Aku menengoknya tanpa mengubah posisiku yang bertumpu di meja.  Kupastikan sekarang dia sedang tersipu. Wanita ini? Mungkinkah aku mencintainya?

Dia masih saja memperhatikan ponsel yang ada ditangannya, sebelum dia menghindariku dia terlebih dahulu menyambar ponselnya. Menantikan telpon suaminya lagi? Tidak cukupkah mereka setiap malam bersama? Sesekali bercinta? Eoh? Akukembali duduk ke sofa dan melanjutkan pekerjaanku yang tadi tertunda karena menggodanya tapi lebih tepatnya gerah karena melihatnya gelisah. Sedikit lagi pekerjaanku selesai.

Dia kembali duduk ke kursinya dan kembali menatap layar laptop yang ada dihadapannya. Sesekali menggerutu sendiri dan memukul kepalanya. Begitu rindunya kah dia dengan suaminya? Ada segelintir rasa cemburu yang menyelip dalam hatiku. Beberapa menit kemudian dering ponsel menggema dalam ruangan yang hanya ditempati oleh kami berdua. Eun Kyo Noona segera mengangkatnya, nampak berseri saat wajahnya menatap layar ponselnya.

“Yeobose~yo?” jawabnya cepat. “Oppa…” panggilnya manja, dia melirik padaku. Aku berusaha mengindahkan pembicaraan mereka, tapi telingaku masih normal. Dengan jarak yang hanya beberapa meter tidak mungkin aku bisa menghidari pembicaraan mereka dari indra pendengarku.

“Menjemputku? Jinjja? Arasseo.” Dia menutup telponbnnya dan berakhir sudah penderitaanku harus mendengarkannya berbicara dengan suaminya. Dan penderitaan baru akan dimulai.

“Dijemput?” tanyaku dingin. Dia mengangguk. Aku kembali pada pekerjaanku.

“Biar aku yang kerjakan.” Dia mengambil gaun itu, sudah kembali bersemangat sepertinya. Aku membiarkannya mengambil pekerjaanku. “Kau boleh pulang, ini sudah malam.” Dia melirik jam dinding. Enak saja menyuruhku pulang dan membiarkanmu di ruangan ini bersamanya.

“Aku akan menunggumu sampai dijemput.”

“Ani, tidak perlu, sebentar lagi aku juga di jemput, tidak perlu repot-repot.” Tolaknya mentah-mentah.

“Gwaencana, aku mengkhawatirkanmu, mungkin saja nantinya kau diganggu setan penunggu butik ini. Lagipula, disekitar toko sudah banyak yang tutup, diluar sedikit sepi.” Wajahnya berubah kecut. Aku tau dia sangat penakut.

“Jangan coba menakutiku Key..” ancamnay dengan tatapan tajam.

“Baiklah, kalau begitu aku pulang saja.” Aku melangkah menuju pintu keluar.

“Yak! Jangan tinggalkan aku!” teriaknya garang, hampir saja gendang telingaku pecah. Aku menutup telingaku dengan telunjuk, menandakan teriakannya sangat kencang.

“Kau bilang tidak apa-apa aku tinggal sendiri.” Aku melangkah lagi.

“Yak!” teriaknya lagi. “Aku tidak mau ditinggal sendiri!” sambungnya. Seiring dengan berakhirnya teriakan dari Eun Kyo Noona, seseorang berdiri dihadapanku dan menatapku.

“Kau bisa pulang sekarang.” Ujar orang itu.

Jung Soo’s POV

Hari sudah gelap, aku teringat Eun Kyo. Masalah dikantor belum terselesaikan. Ada penyelewengan dana dan memalsukan tanda tanganku, itu sudah pasti. Aku letih, berdebat dengan dewan direksi beberapa saat tadi, genderang perang sepertinya telah ditabuh oleh Kim Bong Suk padaku. Aku masih tidak mengerti, apa sebenarnya yang dia inginkan dariku? Perusahaan itu? Jika dia menginginkannya, kenapa harus membuat perusahaan itu hancur? Usaha yang dia rintis bersama Appa dulu sebelum Appa pensiun. Aku tadi berniat menjemput Eun Kyo di Butiknya, dan sekarang aku dalam perjalanan menuju butiknya, namun ditengah perjalanan, aku melihat sesosok bayangan yang aku kenal, aku menepikan mobilku.

“Kau kenapa?” kubuka kaca jendela mobilku dan mendapati Hee Rin sedang kebingungan.

“Mobilku mogok Oppa. Padahal sudah aku servis beberapa waktu lalu.” Ujarnya pasrah sambilmenyeka keringat yang ada di dahinya.

“Sudah telpon bengkel?” tanyaku.

“Sudah.” Jawabnya. Aku keluar dari mobil dan melihat mesin mobilnya.

“Aku tidak terlalu mengerti tentang otomotif, tapi kau sudah memanggil jasa dderek bengkel kan?” Hee Rin Mengangguk. “Kalau begitu aku temani kau menunggu.” Aku bersandar di pintu mobilnya.

“Ah, ani Oppa. Aku telpon suamiku saja.” Wanita itu meraih ponsel di dalam tasnya dan mulai menelpon. Beberapa menit berlalu tidak ada jawaban sepertinya dari orang yang dia tuju.

“Sepertinya dia sibuk.” Ujar Hee Rin. Aku meliriknya. Sibuk? Dan membiarkan istrinya sendirian disini? “Dia memang sibukakhir-akhir ini.” Ujar Hee Rin memberikan penjelasan, lebih tepat terdengar seperti sebuah pembelaan untuk suaminya.

“Biar aku temani.” Sahutku. Kami sama-sama terdiam beberapa saat.

“Kau tidak apa-apa terlambat?” tanya Hee Rin dengan nada cemas.

“Ani, istriku sepertinya memang lagi banyak pekerjaan.” Jawabku.

“Istrimu bekerja?” tanyanya lagi. Pembicaraan mulai hangat dengan pertanyaan-pertanyaan dasar seorang kawan lama yang kembali bertemu.

“Dia mempunyai butik di sekitar Myeong Deong.” Jawabku.

“Ah, desainer?”

“Ani, dia hanya mengelola saja, dia punya disainer sendiri dan beberapa pekerja.” Beberapa pekerja? Dia hanya mempunyai tim, 3 oarang yang membantunya.

“Ah, begitu?” timpal Hee Rin.

“Bagaimana denganmu?” tanyaku berbalik.

“Aku? Aku belum mempunyai anak Oppa. Suamiku direktur perusahaan. Kami baru saja menikah beberapa waktu lalu.” Jawabnya sambil emnunduk.

“Sepertinya suamimu sangat sibuk.” Komentarku. Mengingat dia tidak bisa mengangkat telpon dari istrinya sendiri. Jika aku berada pada posisinya, itu sebuah jackpot Eun Kyo memanggilku.

“Begitulah.” Sahut Hee Rin. “Ah, mobil dereknya sudah datang.” Sambungnya. “Terima kasih Oppa sudah menemaniku.” Dia membungkukkan badannya. “Lain kali kita minum kopi bersama lagi.” Aku mengangguk. Sekarang aku masuk ke mobilku dan mengendarainya menuju Myeong Deong.

Sesaat setelah sampai pada tempat tujuan, aku segera melangkah menuju ruangannya. Terdengar suara gaduh dan teriakan Eun dari dalam. Entah apa lagi yang mereka ributkan, Eun Kyo dan bocah itu.

“Yak! Aku tidak mau ditinggal sendiri!” suara nyaring Eun Kyo singgah di telingaku. Aku melihat Key baru saja mengambil ancang-ancang untuk keluar dari ruanga. Wajahnya terlihat sumringah menggoda Eun Kyo.

“Kau bisa pulang sekarang.” Ujarku dingin saat berada tepat dihadapannya. Kutatap wajahnya tajam, namun sedetik kemudian aku menggeser kepalaku menengok Eun Kyo yang terhalang oleh bocah itu.

“Oppa..” panggil Eun Kyo lirih.

“Kau masih sibuk?” tanyaku. Ku lalui bocah itu yang mematung di ambang pintu. Dia tidak bergeming sama sekali. Terkejut aku datang?

“Ani, sedikit lagi.” Ujarnya dengan senyuman. “Key kau bisa pulang sekarang.” Ujar Eun Kyo, aku berbalik sebentar mengarah pada Key. Key tidak menoleh sama sekali dan berlalu begitu saja.

“Selama apapun akan kutunggu.” Kududukkan tubuhku disampingnya yang sedang menjahit. Aku memperhatikan tangannya memainkan jarum dang benang dengan lincah. Menyusun beberapa batu dibagian dada gaun itu.

“Gaun untuk siapa?” tanyaku bbasa-basi.

“Kim Nara.” Anak dari Kim Bok Su, kenapa harus berurusan dengannya lagi? Aku sudah muak mendengar nama musuh dalam selimutku. Tunggu sampai aku bisa menguak segalanya Kim Bok Su.

“Oppa, kenapa melamun?” tanya Eun Kyo. Aku menoleh padanya.

“Ani.” Jawabku cepat. “Masih lama?” tanyaku, dia menggeleng. “Berapa hari kau mengerjakannya?”

“Hem, sejak tadi pagi, semuanya dipesan terburu-buru jadi hasilnya juga terburu-buru.” Jawabnya.

“Ani, ini bagus.” Aku menyentuh kain gaun yang ada di pangkuan Eun Kyo. Lembut. Aku mendekat padanya dan menyadarkan kepalaku dibahunya.

“Aku lelah Eun Kyo~ya.” Keluhku padanya, hari ini benar-benar membuatku pusing.

“Wae?” tanyanya tanpa menoleh, masih sibuk dengan pekerjaannya.

“Ani, hanya lelah saja.” Jawabku putus asa. Aku tidak bisa menceritakannnya pada Eun Kyo, ini terlalu dini, dan aku tidak ingin membuatnya panik. Eun Kyo menoleh padaku.

“Jangan seperti itu, aku tidak suka.” Ujarnya sambil menyentuh wajahku dengan jemarinya. Aku mengambil tangannya dan membiarkanya menyentuh wajahku lebih lama. Menghela nafasku berat berharap semua bebanku juga keluar dari pikiranku seiring hembusan nafasku.

“Kau kenapa Oppa?” Eun Kyo melepaskan pekerjaannya dan menghadap padaku, sebelumnya dia menggidikkan bahunya dan membuatku mengangkat kepalaku dari pundaknya.

“Katakan padaku. Palli.” Dia menangkupkan kedua tangannya di wajahku. Eun Kyo~ya, aku sangat mencintaimu, apapun yang terjadi. Kudekatkan wajahku dan semakin dekat hingga bibirku dan bibirnya bersentuhan. Kulihat dia memejamkan matanya dan segera kugerakkan bibirku melumatnya perlahan. Sejenak aku terbuai, tanganku kini bergerak menuju ujung bajunya dan menyusup ke dalam. Tangannya juga tak kalah diam, jemarinya lembut menyentuh wajahku danyang lain menyusup disela rambutku.

“Ehem, ini masih dikantor.” Interupsi dari seseorang mengejutkan kami. Eun Kyo refleks mendorong tubuhku dan menyapu bibirnya dengan punggung tangannya. Key. Aku mendengus kesal.

“Mian menggangu, aku ketinggalan pensilku.” Ujarku segera meraih pensilnya yang tergeletak di meja. Eun Kyo tak berani menatap Key dan hanya menunduk, seketika ruangan menjadi tegang sepeninggalnya Key, keterkejutan itu masih terasa, dadaku masih bergemuruh.

“Aku menyelesaikan ini dulu, baru kita pulang.” Ujarnya lirih, guratan malu masih tersisa di wajahnya. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya.

“Oppa, Ryu Jin bersama siapa?” tanya Eun Kyo. Ryu Jin? Ryu jin? RYU JIN?! Aku melupakan anak itu!

“Oppa?” Eun Kyo menoleh padaku, mukaku berubah tegang. “Oppa! Jangan katakan kau lupa menjemput Ryu Jin!” teriak Eun Kyo.

“Mianhae…” jawabku setengah berbisik bercampur menyesal. Eun Kyo segera melepas pekerjaannya dan bangkit dengan cepat.

“Aish! Oppa! Bagaimana mungkin kau bisa melupakan anakmu sendiri?! Eoh? Ryu Jin~a.. sedang apa kau nak?” Eun Kyo segera berlari keluar dan menuju parkiran.

“Pakai mobilku saja, mobilmu biar disni.” Ujarku mengikutinya. Raut cemas tergambar jelas diwajahnya. Bagaimana tidak cemas, ini sudah malam, dan ini kesalahanku. Anak itu, sedang apa dia sekarang? Bersama siapa?

“Ryu Jin~a..” panggil Eun Kyo meneteskan airmata, jika situasi seperti ini baru terlihat dia begitu mencintai anak itu, meski dirumah Ryu Jin selalu dapat omelan dari Eomma yang sangat dicintainya ini. 15 menit berlalu dengan kecepatan diatas rata-rata, aku sampai pada tempat penitipan Ryu Jin. Eun Kyo membuka pintu dengan kasar dan tergesa, lalu berlari ke dalam.

“Ryu Jin~a!” teriaknya sambil berlari kencang hingga hampir menabrak pemabatas yang ada di dekat pintu. Tidak ada siapapun, dan kemana Ryu Jin. Eun Kyo terduduk di halaman yang dipenuhi dengan berbagai arena permainan, dia tersedu.

“Oppa, semua ini salahmu!” aku mengikutinya berjongkok dan meraihnya. Dia berdiri mengikutiku. “Eottokhae? Eoh? Dimana dia sekarang?” tanyanya disela isaknya.

“Tenang dulu, aku akan menghubungi pengasuhnya dulu.” Aku masih memapah tubuh Eun Kyo yang mulai lunglai, sambil menghubungi pengasuh yang bertanggung jawab atas Ryu Jin. Wajahku menegang saat mendengar jawaban dari pengasuhnya. Dia bilang Ryu Jin sudah pulang sejak sore tadi. Aku menoleh pada Eun Kyo, tidak mungkin aku mengatakan padanya bahwa Ryu Jin benar-benar hilang.

“Ah, ye. Arasseo.” Aku menutup telpon dan membawa Eun Kyo ke dalam mobil, tapi Eun Kyo menolak. Dia menghempas tanganku yang mencoba memaksanya.

“Dimana Ryu Jin sekarang? Mereka bilang apa?” tanya Eun Kyo tidak sabar. Dia bahkan menolak untuk aku sentuh.

“Ryu Jin sudah pulang sejak sore tadi, anak itu berpamitan pada pengasuhnya dan mengatakan dia harus menunggu kita di taman, seperti biasa.” Jelasku padanya.

“Kalau begitu ayo kita ke taman.” Eun Kyo menyeretku menuju taman yang tidak jauh dari sini. Aku bukannya pesimis, tapi aku rasa Ryu Jin tidak mungkin berada disana. Tubuh Eun Kyo lunglai mendapati taman itu sunyi senyap dan gelap. Ryu Jin benci gelap sama seperti Eommanya.

“Oppa.. apa yang harus kita lakukan? Lapor polisi?” Eun Kyo meraih ponselnya dan menelpon polisi. Aku mengikutinya, dia memintaku untuk membawanya ke kantor polisi terdekat.

^_^

Hari ini benar-benar hari yang tidak beruntung bagiku. Berbagai masalh datang bertubi, dan sekarang aku harus kehilanan anakku? Tapi aku yakin, Ryu Jin anak yang pintar, dia pasti tidak mewarisi kecerobohan Eommanya, dia sepertiku.

Heewon’s home

Sementara itu di kediaman berbeda, seorang anak kecil duduk manis di depan televisi sambil sesekali tertawa nyaring menyaksikan kartun yang sedang tayang di televisi.

“Joa?” tanya Siwon sambil mengusap kepala anak itu. Anak itu mengangguk. Siwon mengambil duduk disampingnya. “Siapa namamu?” tanya Siwon pada anak itu.

“Ryu Jin.” Jawab anak itu tanpa melepaskan matanya dari layar televisi.

“Nama yang bagus.” Sekali lagi dia mengusap kepala anak itu.

“Aku pulang.” Suara perempuan terdengar dari ruangan depan. Siwon dan Ryu Jin menoleh bersamaan. Hee Rin masuk ke dalam rumah dan mendapati seorang anak kecil yang sangat asing baginya.

“Nugu~ya Siwon~ssi?” tanya Hee Rin bingung. Anak itu menatap polos padanya.

“Ryu Jin.” Jawabnya dengan nada polos. Hee Rin mencubit pipi anak itu.

“Ah, bagus sekali.” Ujar Hee Rin sambil berjongkok. Siwon tersenyum tipis.

“Siwon~a, kit aperlu bicara.” Hee Rin menarik Siwon menjauh. “Dariman kau dapatkan anak itu? Eoh?” tanya Hee Rin curiga. “Anakmu?” lanjutnya bertanya. Siwon hanya menjawab dengan tertawa sinis.

“Aku berharap dia anakku.” Jawab Siwon sambil melangkah. Tapi dengan sigap Hee Rin menahan lengan atletis milik Siwon.

“Kau jangan bercanda, anak siapa itu?” tanya Hee Rin tidak sabar.

“Wae? Kau takut itu benar-benar anakku?” ujar Siwon dengan nada dingin.

“Choi Siwon!” teriak Hee Rin, membuat Ryu Jin menoleh pada mereka.

“Dia anak ayang aku termukan di taman, tidak ada yang menjemputnya hingga hampir malam, akhirnya aku memutuskan membawanya kesini dan besok akan aku kembalikan ke sekolahnya.” Siwon menjelaskan.

“Jeongmal?” tanya Hee Rin dengan nada skeptis.

“Kau tenang saja, dia bukan anakku.” Siwon berjalan meninggalkan Hee Rin menuju pada Ryu Jin.

“Bukan begitu masalahnya, bagaiamana jika orang tuanya cemas mencarinya?” tanya Hee Rin dengan nada ditekan sambil menjajari langkah Siwon.

“Aku akan mengembalikannya besok pagi, jadi kau tidak perlu paranoid.” Jawab Siwon tegas sambil menatap Hee Rin tajam. Hee Rin mendahului Siwon menghampiri Ryu Jin.

“Ryu Jin~a, kau sudah makan?” tanya Hee Rin, Ryu Jin mengangguk.

“Ah, kalau begitu Imo mau mandi dulu.” Hee Rin mengacak rambut lurus Ryu Jin yang dibalas Ryu Jin dengan anggukan. Siwon kembali duduk disebelah Ryu Jin.

“Siapa nama orang tuamu, Ryu Jin~a? Dimana rumahmu?” tanya Siwon.

“Eun Kyo. Molla.” Jawaban polos meluncur dari mulut kecil Ryu Jin.

“Kau ingin pulang?” tanya Siwon. Ryu Jin menggeleng. Siwon terlihat bingung dengan jawaban Ryu Jin, bagaimana mungkin anak ini tidak ingin pulang? Tanya batin Siwon. Tidakkah dia merindukan orang tuanya?

“Aku ingin pulang setelah pororo habis.” Sambungnya. Siwon terbelalak mendengarkan jawaban Ryu Jin kali ini. Mwo?

“Kau tinggal dimana?”

“Dirumah.”

“Kau ingat kemana arah pulang?” tanya Siwon lagi, dia menggeleng. Kini kepala Siwon mulai sakit dan menjadi pusing. Bagaimana bisa mengembalikan anak ini? Tanya Siwon dalam hari. Tadi dia terlihat baik-baik saja.

“Sudah selesai, aku ingin pulang.” Ryu Jin beranjak dari duduknya dan menarik tangan Siwon.

“Ahjussi, aku ingin pulang.” Ajak Ryu Jin lagi. Siwon ikut berdiri ketika tangan kecil Ryu Jin mencoba menarik lengan kekar Siwon. Hee Rin keluar dari kamar denga gaun tidurnya dan menghampiri dua lelaki yang sedang tarik menarik.

“Kenapa? Ada apa?” tanya Hee Rin.

“Anak ini mau pulang.” Jawab Siwon. Hee Rin melirik Ryu Jin yang sudah mulai cemberut.

“Eomma…” panggil Ryu Jin lirih sambil memandangi pintu keluar. Sedetik kemudian tangisnya mulai terdengar.

“Yaish! Apa aku bilang? Pasti akan terjadi seperti ini kan?” omel Hee Rin.

“Tapi dia tadi terlihat baik-baik saja.” Kilah Siwon tidak mau disalahkan.

“Ryu Jin~a, Ryu Jin~a..” panggil Hee Rin. Ryu Jin berpaling dari Hee Rin.

“Eomma!” teriak Ryu Jin keras. Hee Rin yang tadinya berjongkok kini bangkit dan menatap Siwon dengan tajam.

“Itu urusanmu.” Hee Rin segera berbalik meninggalkan Siwon dan Ryu Jin. Namun Siwon menahan lengan Hee Rin.

“Ya.. kau kan wanita, biasanya lebih peka terhadap anak-anak.” Ujar Siwon penuh harap Hee Rin bisa membantunya menenangkan anak ini. “Ayolah..” Siwon memelas pada Hee Rin, baru pertama kali Siwon bersikap seperti ini sejak mereka menikah.

“Ryu Jin~a, malam ini kau menginap disini. Eoh? Besok pagi kau sekolah dan dijemput Eommamu. Eotte?” tawar Hee Rin membujuk Ryu Jin. Ryu Jin terdiam. “Harinya sudah malam, diluar gelap kan? Kita tidak bisa pulang.” Hee Rin masih berusaha membujuk Ryu Jin.

“Aku takut gelap.” Ucap Ryu Jin sambil mendekat kearah Hee Rin. Hee Rin segera menarik pinggul anak itu dan membelai pipi Ryu Jin.

“Oleh karena itu, kau tidur disini dulu. Besok kit ake sekolah dan Eommamu pasti menjemput, eoh? Eoh?” tanya Hee Rin. Ryu Jin masih terdiam. Pikirannya berkecamuk, antara takut dan ingin bertemu dengan Eommanya. Namun akhirnya anak itu mengangguk. Senyum mengembang diwajah Siwon. Ryu Jin berjalan masuk ke dalam dan menuju kamar tidur. Siwon dan Hee Rin mengikutinya.

“Gomawo.” Bisik Siwon di dekat telinga Hee Rin.

^_^

Eun Kyo’s POV

Aku rasanya tidak bias bernafas, ada yang menggumpal dan menghalangi jalan masuk oksigen ke paru-paruku. Ryu Jin, dimana anak itu? Sejak tadi aku menangis, gaun yang dari tadi aku kerjakan tidak mungkin aku selesaikan sekarang. Pikiranku sepenuhnya tertuju pada Ryu Jin. Jung Soo Oppa sejak tadi mencoba menenangkanku. Bagaimana mungkin aku bisa tenang jika tidak bisa memastikan Ryu Jin baik-baik saja.

“Mianhae Yeobo~ya, ini salahku.” Jung Soo Oppa menghapus airmata yang mengalir di kedua pipiku, dia duduk diantara kakiku yang duduk di sofa, dia duduk dilantai. Aku menggeleng.

“Aku benar-benar lupa hari ini menjemputnya.” Nada penuh sessal terdengar dari suaranya. Aku menggeleng sambil terus menangis tanpa suara. “Kita sudah lapor polisi, semoga besok kit asudah bisa menerima kabar baik.” Sambungnya.

“Oppa, bagaimana kalau Ryu Jin diculik?” pikiran aneh mulai menyelimutiku. Jung Soo Oppa kembali menyeka airmataku.

“Kau jangan berpikiran seperti itu. Jika dia diculik, sudah pasti penculiknya menghubungi kita.” Jawabnya menenangkanku.

“Tapi bagaimana jika dia tidak ingin uang tebusan dari kita? Tapi mereka menjual Ryu Jin?” aku benar-benar gila, pikiran negatif terus mendesakku.

“Ssssttt, aku tidak suka kau berpikiran seperti itu.” Telunjuk Oppa berada dibibirku, menyuruhku untuk berhenti berpikiran buruk. “Aku akan menelpon Key, untuk menyelesaikan gaunmu, dia boleh menginap disini.” Ujarnya. Disaat seperti ini Oppa masih bisa  memikirkan hal lain? Eoh?! Tapi aku tidak bisa berkata apa-apa lagi saat dia menelpon Key. Dan setelah setengah jam berlalu dan aku masih menangis, Key datang dengan tergesa.

“Wae gurae Noona?” Key terlihat cemas, nafasnya terengah. Aku tidak bisa menghentikan airmataku.

“Ryu Jin hilang.” Jawabku serak, suaraku tercekat.

“Mwo? Bagaimana bisa?” Key menoleh pada Oppa. Tatapan meminta penjelasan.

“Aku lupa menjemputnya.” Jawab Oppa jujur, jawaabn yang sangat jujur tapi sangat menyakitkan bagiku.

“Mwo?!” teriak Key keras.

“Kau tenang saja, tolong selesaikan pekerjaan Eun Kyo saja.” Potong Oppa saat Key hendak berbicara, bukan berbicara, dia hobi marah-marah. Key mengambil gaun itu dan mencoba menyelesaikannya. Aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang.

^_^

Sang surya kini telah menampakkan wajahnya. Aku segera bangkit dan mandi. Tidurku benar-benar tidak nyenyak tadi malam mengingat tidak ada Ryu Jin disampingku. Beberapa kali aku terbangun dan menangis. Membuat Jung Soo Oppa terjaga semalaman.

“Oppa, ayo kita cari Ryu Jin.” Aku menarik tangan Jung Soo Oppa yang sudah terlihat rapi sebelum aku bangun.

“Ne, sebentar, aku ambil kunci mobil.” disambarnya kunci mobil yang tergeletak diatas meja kecil disamping tempat tidur. Aku berjalan cepat keluar dari kamar dan mendapati Key masih tertidur pulas diruang tengah. Aku menghampiri Key.

“Key, ireona, tolong antarkan gaun ini ke Butik, hari ini Nara mengambilnya jam 10.” Aku mengguncang tubuh Key, membuatnya menggeliat namun masih enggan membuka matanya.

“Ne, Noona.” Jawabnya malas.

“Kim Kibum! Aku tidak suka melihatmu seperti ini!” Key yang terkejut langsung bangkit dan mengucek matanya. Maaf Key, emosiku tidak terkontrol.

“Yeobo, tenanglah, Key tidak mungkin melupakannnya.” Oppa menarik pinggangku dan setengah menyeretku keluar.

“Key, jangan lupa!” teriakku masih memperingatkan Key. Key hanya mengangguk. Kami meluncur menuju tempat penitipan dan belajar Ryu Jin. Setelah sampai disana aku segera berlari dan sesekali menghentikan anak yang kurasa mirip dengan Ryu Jin.

“Eomma!” teiakan itu, aku mengenalnya. Aku terdiam mematung.

“Eomma..! appa!” teriaknya lagi. Tidak salah lagi, aku tidak berhalusinasi, itu Ryu Jin! Aku segera berbalik dan memang mendapati Ryu tengah berlari kearahku. Aku terpaku, sementara tubuh kecilnya berlari menghampiriku, rambut lurusnya berayun disapa angin. Senyum sumringahnya memang benar-benar Ryu Jinku! Jung Soo Oppa meraih tubuh anak itu dalam dekapannya dan mengangkatnya lalu menciumnya hingga sampai ke hadapanku. Ryu Jin memeluk kepalaku dan menciumiku.

“Eomma, bogoshhipeo.” Ujarnya. Aku masih tidak percaya. Bagaiaman mungkin Ryu Jin bisa kembali kesini dengan benar. Aku melirik ke belakang Jung Soo Oppa. Sepasang lelaki dan wanita tersenyum kepadaku lalu membungkuk.

“Kau…” aku menunjuk salah satu orang yang membawa Ryu Jin.

“Kau..” dia juga melakukan hal yang sama. Jung Soo Oppa berbalik.

“Hee Rin~a..” ujar Jung Soo Oppa.

“Oppa..” seru wanita itu.

TBC

Note : akhirnya selesai juga part 1 nya, pembukanya sedikit lebih pendek, ga papa yah? Ini ff yag aku sms kemaren.. udah tau siapa yang nongol kan? Tidak penasaran lagi dong kan yah? Oke, awalnya memang ingin mencari selingkuhan, tapi kenapa jadi pilihanku berbelok menjadi ke bocah tengik nan menawan itu? Selalu saja… karena yang daftarnya kebanyakan Siwon biased, ya sudah Siwon aja, padahal pengen cari yang Yunho atau ga TOP, tapi Siwon ga papa lah, dia sosok yang perfect kan yah? Ada yang kangen sama aku? Eoh? Maaf ff pengobat kangennya mengecewakan… aku sudah berusaha sekuat tenaga menguras keringat *lebay* dan aku lagi menghadapi Audit eksternal dan internal. Dan selalu saja ide muncul disaat deadline pekerjaan, itu selalu saja terjadi… jadi buat semuanya, selamat menikmati, semoga suka… seperti biasa, tanpa edit, jadi kalo ada yang janggal yah dibenerin sendiri yah…

107 responses »

  1. Eoonnyyyy……..
    Akhirnya setelah beribu-ribu hari ga ngepost..
    Hufff..
    Aku sukaaaa eonnnn..
    Tapi jadiin eeteuk’ku pria yg setia donkk..
    Siwon oke juga, kenapa ga kyuku yg babo jelek ituuu?
    Heheh..

    Eeteuk bener” udah tua ya, anak sndr dilupain,
    Babonyaa teukiieeku.. Hehe
    Kapan hayoo lanjutannya? “Paling lama 2mgg lagi”kata Eunkyo =P
    *ngaraanng bgt*
    Awas kalo lama” eon, aku lupain ffmu ntar.. Hehe
    Kiss kisss~

  2. oenni i’m so curious yeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee /edisi shinee/
    in the name of anything finally ada Choi Siwon kyaaaaa ;_)))))))))) seneng banget bhahahaha
    oen ini seru banget konflik awal sudah mulai muncul kkkkkk ^^
    ditunggu lanjutannya oen😀

  3. Eonni…
    well~ apa ini yang dibiliang 13 page?? ini sudah benar-benar menguras keringat eonn….feelnya dapet,,walopun menurut eonni ini pendek tapi full ama fell,,so gak ada kata mengecewakan untuk usaha orang…kekekeke~

    sepertinya ini akan menjadi cerita cinta segi banyak (?) yah eonn??
    btw,,eonni suka baca novel mira W??
    seperti biasa,,ffnya eonni sangat manusiawi, sangat seperti kehidupan sehari-hari tidak berlebihan,walaupun teuki ma eunkyo cinta mati dan tidak terpisahkan tapi sisi manusiawi tetap ada dari cara teeukipa mengingat teman kecil masa lalunya,rasa kagumnya ama shin hee rin yang kadang2 muncul,, dari eunkyo yang harus canggung dengan key…aku suka —–*ketjup2 eonni

    kan disuru koreksi sendiri nih yah eonn,,,typo ada dikit,dan yang bikin nyesek,,kenapa abang key sempet-sempetnya gangguin itu ciuman…astagaaa*yadongisme(CUKUP)!!!!

    Part selanjutnya tidak usah terburu-buru,,cukup diingat aja eonn,,yang pasti kita tetap menunggu…wkkakakk
    chuuuuu~~~*apaan pngenn kecup2 terus ini ==’

    • bukan syg, ini 17 page… terima kasih u dah suka…
      segi berapa ayo tebak…
      aku ga prnh baca mira w…
      em… yg sprti khidupan nyata lbh gampang dceritain…
      typo dmna2 bukan dikit lg…
      kekekeke, klo g ada Key bs jd NC noh…
      knp km brubah jd bgtu? cium2 itu bgian akuuuu

      • Eonnniiiiiiiiiiii
        aku kembaliii…tarrraaa~
        kenapa eonni gak pnah sms aku lagi (nagih)*krang ajar bgt ne org nyuruh2*,,aku takut sms eonni,,ntar gak dibales ==”

        iya itu,,segi banyak eonn……tp pastinya bakalan berujung jadi cinta gak bersegi(cuma punya teeukippa sama eonni)
        NC?? sepertinya ide bagus *plakkk

        aku kan tertular eonni ==”,,kisseu2…

      • kenapa? kangen sama aku? kekekekeke, aku memang sibuk semalam, menyiapkan dokumen untuk audit, dan pas jam istirahatnya aku kadang-kadang ketiduran *plak*

  4. Sumpaahh, keren nii FF nya oenn, walaupun mata dah pedes banget buat baca FF soalnya dah mantengin lepi dari sore, tapi aku belain baca nii FF seru abis oenn, Eehh~ ada suamiku jgga #nunjuk siwon… hehehe.
    Oenn jujur, aku suka sama scene yg nyerempet-nyerempet ke yadong, pertahankan oenn !
    #ketularan mantan suami #nengok Unyuk.
    kekekekek….
    Aku tunggu part selanjutnya oenn,
    Fighting !

  5. Akhirnya terbit juga ff baru eun eonnie aku dah kangen banget ma ff buatan eonn^^,ceritanya bagusssssssss…banget>_< eunkyo eonn mang the best^^teuki jngn slingkuh yah ksian eun eonnie..key mang handsome tp eunkyo eonnie jngn smpai k pincut ma dia,nnti low sm2 slingkuh gmn ryujinnya low siwon buat aku aja buat slingkuhan,ç#dikejarsiwonestkaburrrrrrrr#,lanjutttttt..jngn lm2 lanjutanya ya eonn di tunggu nih,,hehehehe….

  6. spertinya seru ni..konflikx pasti lama..wah emg bener ya eeteuk dah pikun,anakx masa dlupain g djemput dri sklahx…jgn2 ntr eeteuk slngkuh ma hee rin trus onnie ma siwon??..dtunggu lanjutannya..

  7. eonni ..
    baru chap pertama udh gereget..
    ahh eonni please jangan ada perselingkuhan.. haha#plakk

    di tunggu chap berikutnya yaa ^^

  8. ehhh,, aku nongol jga ternyata… hahah😀 yeyeyey.. ^^
    anak.y Kim Bok Su?? siapa itu eonn?//plakk.. ini appaku yah??o_O
    spertinya crita.y bkalan seru nih… akan ada b’bgai masalah deh…
    woah~~ jd gak sabar…
    next part d tungguin eonn😀

  9. asikk.. akhirnya ada ff baru juga disini ..
    seperti biasanya kok onnie ceritanya daebak
    gak sia-sia tiap hari mantengin blog ini .. hehheh

    ditunggu kelanjutannya ^^

  10. Aduuhhh…onn…baru baca ampe selesai barusan…hoho…
    Itu ada aku nongolllll………yeaaayyyyyyyyyyyy!!!!!!
    lumayan lah jadi sekretarisnya Leeteuk…aiiiihhhhh SENENGNYAAA!!!!!gomawo ya onn…*nunduk 90derajat*
    semoga keluar lg di part berapa gituu…*ngarep*
    Itu Heewon sebenernya nii pasangan kasian…harus happy ending inii couple..*maksa*agak miris kalo d bandingin ama keluarganya jungsoo…hoho…
    UUUhhhh…ditunggu lanjutannya ya onn…semoga cepet..amieenn..

  11. Eoniiiiiiiii
    Long time no see
    Miss yuu deehhhh😀

    Anyway.. Nice ff eon for the first chapter and I like it so much >̴̴̴̴̴͡.̮Ơ̴͡

    Eonni disini beda bgt ya sama yg di MLT,klo di MLT kan keibuan bgt,tapi klo disini,mungkin karna pengaruh eonni wanita karir ya,jadinya agak sedikit cuek ke oppa ama si dedek :p

    Itu pernikahannya kan udh 3.5th
    Ryujinnya ceritanya umur brp eon ?? Udh sekolah ?apa cuma dititipin aja ??
    Berati skitar umur 3tahunan ya umurnya ??

    Eonni lanjutanya jgn lama-lama yaaaaaa
    Hehehe
    Fighting !!!
    \(^▿^)/

    • udah nikah 5 taon… ryu jin tu lahir sm bulannya sama aku, tahun 2008… saat diriku umurnya 22, ceileh…
      3,5 tahun yg lalu itu Ryu Jin dilahirkan, bukan pernikahan kami… kaminya nikah 2007… ini knpa jd ngomong bgini yak?

  12. yeyy akhrnya sempet bc jg… Mian eoni aku bru kelar uts jd bru bs bc
    Hehe

    Loh loh ini mw genre nya selingkuh2an nih? Ah gak rela! Gk boleh! Udah couple masing2 aja #plakk
    Aku dukung teukyojin pkoknya… Udah siwon ama hee rin aj…

    Tp tapi aku suka jalan ceritanya eon… Gmana dong? Tp aku gk mw teukyo pisah #eh aduh kenapa aku jd ngalur ngidul gni dah… Ya udah mending aku lanjut aja dah…

    • iya ga papa mia… ehem, sukses dong tapi UTS nya…

      genrenya apa yah? ga tau juga akunya ini.. gak rela??
      dilema? sama denganku lagi dilema berarti…
      hahahahahahahaha, sono lanjut…

  13. msi bingung jlan critanya siapa selingkuh dgn siapa? mngkin next chap. udh bsa ngikutin alurnya.. but over all was great ^^ daebak bwt viko unn dijdwal yg super sibuk msi da wktu tuk “memuaskan” para reader dgn bacaan bru. viko unn fighting!

  14. Kyaaa crita’a bgus bgd eonni, kya’a bnyak konflik dan bnyak cinta d’sni..*sok tau dah*
    #plaakk
    sya suka apa lg d’sni ad slingkuhan sya noh *lirik key*
    sya jg suka teukppa yg agak yadong,
    jahahaha
    *ktularan virus hyukjae*
    oh ya ampe lupa slam knal ych eonni, sya reader bru yg kesasar d’sni..^^
    Hehehe

    • eit, eit, jangan lirik bocah saya… hahahahaha
      ketauan neh yadong ah, part 2 sepertinya lebih yadong…
      ne, salam kenal juga… nyasar? rata-rata orang disini orang yang nyasar…

  15. Onnie comeback yeiy. Hahahahahaha
    penasaran sm arti judulnya.
    Aaaa ryu jin pengen tak bw pulang.
    Key buat aku aja ya onn.
    Hehehehe

  16. Anyeong..baru pertama bc ff di blog ini,,eh lagsung bc AT..adan aku jth cnta ma nih ff…nih nantinya pd mau selingkuh gtu yah???…aku msh blum dpt gambran jelas alnya..hehe..tp bgus kok ffnya.

  17. Oooh, jd ini yg wktu itu d smsin y?
    Sbnr’y wktu it aq pngen ikutan dftar onn, tpi apa daya slalu ga smpet..:-(
    tpi crita’y bgus kok onn..
    Jd crita’y ini cinta segi brp? Kyk’y rumit ya..

  18. anyeong
    aku reader baru dsni
    trnyta disni rumah TeukYo couple
    aku sring baca ff yulie dsitu couplenya pnya panggilan masing2
    aku pnsran
    taunya dsni yg TeukYo
    org dr masa lalu jungsoo dtang
    beware bgt

  19. Annyeong reader baru eonn tuni imnida 95lines, nemu blog ini dari temen yg ngasih tau aku juga sering baca teukyo couple diblog kyuna🙂 suka bgt sama karakter eunkyo🙂

  20. eoooonnnnnnniiieee i’m baccccccccckkkkk ……..
    Lama sudh aku ga mampr di sini tetnyata ada ff baru . Itu mereka ga bakalan saling seligkuh kan ? Teukyo emang daebak selalu bikin envy ^^ disini nanti ada minna couple ga eon ?

  21. baru sempet bacaaa
    wawawa
    daebak~
    eunkyo punya butik,
    siapa sih yang malsuin tanda tangan oppa?
    Teganya nyakitin oppa saia
    haaa~
    ada ryujin juga,jaga ryujin ya eonn jangan ampe ilang lagi
    hahaha

  22. Akhirnya baru bisa baca hari ini
    aaah ndak pendek kok unni, menurutku ini wis panjang ^^
    hmmm ini mengusung dua pasangan, ada bang wonwon
    menarik keliatannya meskipun konfliknya belom memuncak, tapi tetep aje sukaaaa klo genre married life😀

    • hahahahahahahaha
      km keasikan ngebut baca MLT kan?? akhirnya nyampe jg pada FF yg aku smsin setiap publish…
      iya, 2 couple dengan permasalahan masing2 ynag saling berkaitan…

  23. Huee ada siwon!!! >.<

    Omo disini eun kyo nya sdikit keras ya ma ryu jin, tapi ttep sayang ma ryu jin! suka suka
    ada key juga nih, asiikkk
    Kayaknya konflik nya bakal seru nih, aku lanjut dulu deh eon~

  24. annyeong unn
    hihi aku sering ngeliat unnie komer di ffnya kyuna udh lumayan lama sih pengen nyari wp unni tapi baru sempet sekarang
    ff nya keren,aku suka sama gaya bahsa yg unnie pake jadi pas baca ngalir gitu aja eh gak taunya udh abis aja.alurnya juga keren
    kayaknya bakalan banyak cinta segi hmm berapa ya? empat? lima?
    ampun banget itu key udh tau eunkyo punya suami sama anak masih aja digangguin
    tapi aku suka waktu eunkyo nanya key gk punya pacar eh key jawabnya nunggu eunkyo cerai ckck udh mending key sama aku ajah
    aku lebih setuju bang tabi soalnya dia lebih keliatan cool gimana gitu dengan tatapan matanya yang tajam.jadi kesan dinginnya dapet *emanges?
    pasangan hee rin siwon pasti deh ada yg salah sama mereka yah walaupun nikahnya bukan tanpa cinta tapi kesan cue mereka kebangetan
    tapi secara keseluruhan aku suka🙂

  25. hallo.. salam kenal.. new reader..
    suka ma cerita’a..
    penasaran ma lanjutan’a.. kira2 jadi cinta segi berapa ne??
    ckckckck…

  26. Annyeong oenni, Melisha imnida 90line ^^

    aku bru nemu wp oennie, dan tadaaaaa,,setelah aku simpan ff oenn di hp dan baru skrt 3 ff yg akau baca (amourette 1,2,4 yg 3 dprotek,lum dpt PW),dan aku sukaaaaaaaaaaaaa >..<
    aish pasti imut ga ketulungan tuh Ryu Jin,,kekekeke

    ok sgtu ja dh komen ku,,ntar mw lanjutin di bbrp part amourette yg udh aku baca~~
    Salam Kenal Oennie ^^

  27. annyeong eonnie ^^
    aku reader baru disini..
    kenalin, namaku elfina a.k.a cho kyungsan, 94line.. salam kenal!!

    eonnie, Teukie oppa juga biasku lho ><
    mungkin kyu oppa lebih cakep, hyuk oppa lebih keren, umin oppa lebih imut tapi ga tau kenapa aku lebih suka teukie oppa dan aku cuma liat teukie oppa, ke ke ke~

    eonnie, aku suka ublek ublek (?) cari blog fanfic yang bagus2, dan akhirnya aku nemuin blog ini😀
    senengnyaaa… sekarang fanfic kok aku liatnya kebanyakan yg jadi cast itu kyuhyun oppa, padahal pengen yang teukie oppa😄
    kayaknya aku bakal jadiin blog ini salah satu blog yang aku buka tiap hari..
    aku usahain buat komen di ff yg aku baca disini ^^

    kayaknya kepanjangan ya eon? mian =='

    sekali lagi, salam kenal eon🙂
    selamat bertemu di fanfic2 yg lain ya ^^

  28. wah konfliknya mengarah kperselingkuhan*sok tau* bnr g fika…

    pas baca karakter eunkyo kok hampir mirip ama aq*pede amat ya*…miripnya cuma klu pagi bawel ama sikecil ribut trs tp sayang kok!he…he…he…

    jungsoo giliran jemput anak aja lupa tp klu ama eunkyo lgsg capcus cup..cup..g inget apa msh dbutik, tp aq suka..virus yadong udah merajalela…
    wkwkwk…

  29. wah onnie,ini crtx bgus bgt!
    ttg rmh tangga dan sgl mcm mslhx kn yah?
    wlpn q g sk dg tema “selingkuh”nya,coz bkin deg2n,g trima n sedih pastix!
    tp gp2,anggap ne pncerahan sj!hehe
    tp jg mdh2n aj dua couple ne g ampe cerai!mdh2n happy ending!
    yasud,q mw lngsng lnjt bcx!dh pnasaran bgt soalx onn!^^

  30. Mumpung ospek belum deket (?) mau aktif baca ff lagi hha dan begitu di sms tadi pagi, baru nyadar kalo aku blm ngikutin cerita amourette ini hha pantes begitu buka tadi nggak nyambung blas ama ceritanya -_-

    Bacanya penuh antisipasi nih, jungsoo mencurigakan gitu tiap ama heerin hho
    Lanjut ngebut ya eon :p

  31. Akhirnya selesai juga baca chap 1 ff ini, apalagi ada my boy #digeplak heerin eonnie
    next chap ane baca pelan2 ya eunkyo eonnie, coz perlu nyari2 waktu senggang buat baca, apalagi ff di blog ini loooooooong semua… :*

  32. eoh.. karena selalu sibuk dengan kuliah akhirnya aku punya waktu buat ngubek2 ff eonni *malah curhat* ㅋㅋㅋ
    awal2 bacanya kok kayaknya nih ff kurang menggigit yah… tapi tapi setelah di baca lagi sampe kebawah nih ff tambah lama tambah kece.. dan aku gak sabar buat ke part selanjutnya xD

  33. syukur dah, aku udah selesai uts, banyak waktu luang jadi bisa bayar hutang ke kak vika🙂 hhehe mulai dr sini dulu yang komen di LTD nanti di terusin ya kak.

    belum keliatan konfliknya ya, tapi kok ada feeling ga enak pas pertemuan si heerin sama jungsoo -.- kok nempel2 begitu.
    Apalagi pas tau si heerin ternyata mantan pacarnya -.-‘ckckck

    si ryu jin ini pinter banget, wkwk apalagi pas ‘kata mrs.kim siput yang lambat jalannya bukan makannya’ hhehehe.
    Aku baca ff ini ngebayangin si eunkyo itu si uee AS pas rambutnya pendek. Cakep abisnya keibuan.

  34. kasian leeteuk oppa..
    bnyk bgd mslah yg d’hdapin d’kantor..
    yg sbar n semangat y oppa ngejalanin’a..

    sperti’a seorang anak bisa buat hubungan hee rin sma siwon oppa jdi lebih baik..
    tpii kpan y anak’a dteng..

  35. aigoo
    siapa si itu yg korupsi..
    jadi teuk oppa kn yg bertanggung jawab padahal bukan dy yg ngelakuin..

    hee rin plis jgn ganggu teuk oppa lgi..

  36. Unnie. . .ini ff maried life yg aga berat. . Krena mreka udah punya anak. .tapi seru. . .
    Aku agag gmn gtu sama sikap teuk disini. .ehh tapi seterah unnie yaa mah kasih alur cerita gmn. . .
    Kkk
    ancurin jungsoo jga gag knp2. . Tpi knp harus key?? Pngn tau alsannya. .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s