Shrimp Kiss (2nd Session)

Standar

Shrimp kiss

AUTHOR : AELDRA KIM

Kau mengatakan kepadaku untuk bertemu seseorang lebih baik

Untuk bertemu seseorang yang akan membuatku bahagia

Kau memberitahu saya di ambang air mata

tenggorokan terkunci sehingga kau tidak bisa mengatakan apa-apa lagi

Kau terus mendorongku keluar dariku

Dan semakin ka melakukannya

Kau akan memenuhi diriku

Aku  takut

Aku tidak apa-apa

Kau tahu bahwa aku tidak punya pilihan selain melakukan hal ini

(Please Don’t Say – F.I.X)

 

Author’s POV

            “Jwaesunghamnida, apakah anda nona Eun Kyo?”, tanya seorang gadis yang tersenyum ramah dengan tangan yang tiba-tiba melingkar di lengan putih Eun Kyo.

            “Ne. Kalau boleh tahu ada apa?”, tanya Eun Kyo dengan tatapan bingung dan waspada.

            “Anda sedang di tunggu di depan lift lantai dua puluh satu.”

            “Saya? Siapa yang menunggu saya di sana?”

            “Leeteuk ssi..”, wajah bahagia sangat kentara terlihat di wajah gadis bergaun hitam itu. Seolah-olah umpan yang disediakannya berhasil disantap oleh mangsanya.

            “Oppa?? Tapi kenapa dia tidak menemuiku di sini saja?”, kali ini Eun Kyo benar-benar merasa ada sesuatu yang mengganjal.

            “Semua orang tau jika nona adalah cinta pertama Leeteuk ssi, dan tentu saja Leeteuk ssi tak akan menemui anda di tempat umum seperti ini. Apalagi di depan orang tua tunangannya. Anda pasti mengerti maksud saya kan?”, jawab gadis itu meyakinkan.

            “Ne. Khamsahamnida. Saya akan segera kesana”, wajah Eun Kyo menjadi sedikit lebih lega mendengar alasan gadis pemberi info itu.

Tak butuh waktu lama setelah gadis di hadapannya berlalu, Eun Kyo memutar badannya dan berjalan menuju lift. Angka 21 ditekannya setelah memasuki lift.

BRAKK.. suara dan getaran yang tak terlalu besar di lift membuat perasaan Eun Kyo mulai merasa takut. Tapi perasaan itu lenyap saat dia mulai berpikir bahwa seseorang yang lebih tepatnya pelitanya sedang menunggu di lantai 21.

Pintu lift terbuka. Dengan anggun Eun Kyo berjalan keluar dan mengitarkan matanya di sekeliling lantai dua puluh satu. Tidak ada siapa-siapa di sana. Jangankan manusia, sepertinya hewan kecilpun tak nampak di tempat ini.

Eun Kyo membuka tasnya dan mengaduk-aduk dalamnya mencari ponsel ungu kesayangannya. Saat ponsel itu berhasil didapat, sebuah tangan kekar membekap bibirnya. Sedangkan tangan lain mendekap bahunya dari belakang dan menyeretnya paksa.

Dengan sekuat tenaga Eun Kyo mencoba memberontak dengan mencakarkan kukunya pada tangan kekar itu bahkan memberatkan kakinya agar tubuhnya tak mudah di seret oleh orang yang sedang menariknya saat ini. Jeritan demi jeritan pun tak henti-hentinya dicobanya, berharap seseorang mendengar dan menyelamatkannya. Tapi semua usaha yang di lakukannya sia-sia. Orang yang sedang membekapnya ini jauh lebih kuat dari dirinya.

Seseorang itu menyeret Eun Kyo menuju sebuah ruang sempit paling ujung di lantai 21. Tanpa bersikap lembut sedikitpun, tangan itu mendorong tubuh Eun Kyo hingga terhempas dan menabrak beberapa benda yang akhirnya menimbulkan sebuah bunyi dentaman yang keras bersamaan dengan jeritan kesakitan dari bibir Eun Kyo.

            “Arrrghhh… Yak!!! Siapa kau? Kenapa membawaku ketempat seperti ini?”,teriakan itu membahana saat seorang pria berbadan besar dan memakai pakaian serba hitam itu berbalik dan memegang knop pintu.

Tanpa peduli teriakan Eun Kyo, pria yang menutup wajahnya dengan masker itupun menutup dan mengunci pintu dari luar. Meninggalkan gadis itu dalam ruang sempit dan gelap.

Sadar bahwa tinggal dirinya yang berada di ruang sempit dan gelap itu, Eun Kyo bangkit dari posisi jatuhnya dan berjalan ke arah pintu. Gelap dan kosong. Eun Kyo berusaha mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali, kedua tangannya digerakkan mencari apapun yang bisa membantunya untuk memperoleh penerangan. Sesekali kaki gadis itu menabrak entah benda apa, membuat jeritan-jeritan ketakutan dari bibirnya setiap benda yang ditabraknya mengeluarkan bunyi atau gesekan.

Eun Kyo mendapati knop pintu di tangan kanannya. Dengan segera gadis itu memukul pintu hingga mengeluarkan bunyi keras. “Buka!!! Cepat buka pintunya!!! Buka!!!”, teriak Eunkyo. Gadis itu tak peduli dengan telapak tangannya yang sakit karena gerakannya yang terlalu kasar. “Buka!!!!Buka pintunya!!! Siapapun tolong aku. Tolong buka pintunya!!! Kumohon…”, teriakan Eun Kyo mulai melemah bersamaan dengan tubuhnya yang gemetar dan rongga dadanya yang terasa sesak. Hentakan tangannya di pintu berubah menjadi ketukan yang semakin lama semakin pelan. “Hiks.. kumohon, hiks.. buka pintunya. Aku takut gelap, kumohon..”,lutut Eun Kyo melemas. Gadis itu ambruk perlahan.

            “Appa… tolong aku..”, isak Eun Kyo menutupi kedua telinganya dengan kedua tangan. “Oppa… aku takut. Oppa.. aku takut..”, Eun Kyo membiarkan kedua pipinya basah dengan cairan bening yang jatuh dari kedua sudut matanya.  Matanya terpejam perlahan. Air mata itu menetes lagi.

            “Tidak perlu takut, ada aku, Eun Kyo~a..”, bayangan Jung Soo kecil muncul di pikirannya. “Jangan takut gelap lagi. Karena Oppa akan selalu menjadi pelita kecilmu..”.

Eun Kyo menggigit bibir bawahnya menahan isak tangis dan perih dalam hatinya. Apakah Oppa akan menjadi pelita kecilku lagi? Apakah Oppa masih mau menjadi pelita kecilku sekarang? Tanya Eun Kyo dalam hati. Tubuh Eun Kyo bergetar seiring dengan tangisnya yang pecah. Ia ingin menyadarkan dirinya bahwa sekarang kenyataan sudah berubah. Tak ada lagi Jung Soo Oppanya, tak ada lagi pelita kecilnya. Tak akan pernah ada lagi..

Sebuah cahaya muncul bersamaan dengan dering dari benda bercahaya itu. Eun Kyo yang sadar bahwa itu adalah suara ponselnya, segera bangkit dan mencarinya. Dengan langkah tertatih akhirnya gadis itu mendapati ponselnya. Nomor asing. Tapi bukan saat yang tepat untuk mengabaikan panggilan ini, pikir Eun Kyo. Dengan sekali tarikan nafas dalam, Eun Kyo menekan tombol hijau di ponselnya. “Op..Oppa.. apa itu kau???”, bibir Eun Kyo tak terkendali melontarkan pertanyaan konyol itu. Dalam hati gadis itu merutuk dirinya sendiri. Mana mungkin Oppa yang menghubungiku, kami bahkan  tidak mengetahui nomor masing-masing batin Eun Kyo.

            “Eun Kyo~a, kau dimana?”, jawaban suara pria di seberang sana membuat kedua mata Eun Kyo meneteskan cairan bening lagi. “Eun Kyo~a.. kau baik-baik saja kan?”

Eun Kyo menarik nafas dalam-dalam. Oksigen seakan kembali mengisi rongga dadanya dengan leluasa. Bibir mungilnya tersenyum tipis. Pelita kecilnya masih ada. Jung Soo Oppanya kembali sekali lagi dan memberi lampu kecil padanya.

            “Eun Kyo~a, jawab aku. Kau baik-baik saja? Sekarang kau di mana? Jebal Eun Kyo~a, jawab aku..” nada khawatir itu membuat air mata Eun Kyo semakin deras membasahi pipinya.

            “Oppa. Aku baik-baik saja”, jawab Eun Kyo lalu menggigit bibir bawahnya berusaha agar isaknya tak terdengar.

            “Sekarang kau di mana? Kenapa sudah malam seperti ini kau belum sampai di rumahmu? Appamu sangat khawatir”

            “Oppa datang ke rumahku?”

            “Oh, yak.. kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?”, jawab suara itu terdengar sedikit gugup.

            “Aku.. aku tidak tau sedang berada di mana. Seseorang menyeretku dan memasukkanku ke dalam sebuah ruangan gelap”

            “Mwo? Oddiga? Arrggghhh… tenanglah dulu, aku akan segera menemukanmu..”, lanjut pria itu mencoba menenangkan Eun Kyo tapi malah getaran suaranyalah yang terdengar tidak tenang.

            “Yang jelas aku masih di gedung yang sama dengan tempat pertemuan tadi, Oppa”, jawab Eun Kyo yang membuat orang yang menghubunginya terdengar mengeluarkan nafas lega.

            “Arraseo, aku akan kembali kesana sekarang. Jangan tutup teleponnya, aku tidak ingin kehilangan kontak denganmu. Aku… akan selalu memastikan bahwa kau masih baik-baik saja di sana dan menungguku..”

***

            “Kyo~a, bertahanlah sebentar lagi….”, Leeteuk mengetuk-ngetuk pintu lift dengan jari-jarinya. Melakukan tindakan bodoh dan berharap dengan melakukan itu lift berjalan cepat ke lantai dua puluh satu. “Kyo~a, kau masih dengar aku kan?”

Tidak ada sahutan dari Eun Kyo, mungkin gadis itu sudah terlalu lemah karena terlalu lama berada di tempat sempit dan gelap. Sekali lagi Leeteuk mengetuk-ngetukan jarinya di pintu lift. “Jebal,jebal, jebal, jebal, jebal… ayolah.. lebih cepat lagi…”.

Dentingan suara terdengar bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Dengan cekatan, Leeteuk memacu kakinya berlari keluar lift dan melewati banyak pintu-pintu ruangan yang tertutup rapat. Kepalanya tak henti-hentinya menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari tanda-tanda keberadaan gadis yang dicintainya itu. Ada delapan pintu di sana. Empat di sisi sebelah kanan, dan empat di sisi sebelah kiri. Dan dari semua ruangan itu, Leeteuk benar-benar tidak tahu di mana keberadaan Eun Kyo.

Mata Leeteuk berhenti di pintu ketiga sebelah kanan. Kakinya bergerak begitu saja menuju pintu itu dan berhenti tepat di depannya. Begitu yakin bahwa gadisnya berada di dalam ruangan itu. Tanpa merasa ragu, dengan sekali dobrakan keras, pintu itu berhasil terbuka. Leeteuk nyaris berhenti menarik nafas saat melihat gadisnya terbaring lemah di sudut ruangan.

            “Kyo~a..”, Leeteuk berlari mendekati tubuh lemah itu dan meraihnya ke dalam dekapannya. “Bertahanlah.. kau akan baik-baik saja..” lanjutnya dan langsung menggendong tubuh itu.

***

            “Bagaimana keadaannya, dokter?”, tanya Leeteuk setelah seorang pria yang dipanggilnya dokter itu memeriksa Eun Kyo yang sedang terbaring di atas tempat tidur rumah sakit.

            “Sepertinya dia baik-baik saja. Hanya butuh menenangkan diri dan istirahat.”, jawab lelaki itu lalu menganggukkan kepalanya berpamitan keluar.

Leeteuk berjalan mendekati Eun Kyo. Dibelainya lembut kepala gadis itu. Menyisihkan beberapa helai rambut kebelakang daun telinganya. “Jangan pernah takut lagi. Kau.. akan selalu baik-baik saja”, gumam Leeteuk. Tangannya beralih dari kepala ke pipi Eun Kyo, merasakan lembutnya kulit gadis itu. Dengan sekali tarikan nafas, Leeteuk mendekatkan wajahnya ke wajah Eun Kyo. Menempelkan bibirnya ke bibir gadis itu. Diam. Hanya diam. Melepaskan semua emosi yang dipendamnya selama ini. Hingga beberapa detik kemudian setetes air mendesak keluar dari matanya. Jatuh menetes membasahi pipi Eun Kyo. Haruskah ini shrimp kiss terakhir kita? Tapi aku tidak ingin ini menjadi yang terakhir, Kyo~a, rintih Leeteuk dalam hati.

            “Mianhae.. jeongmal mianhae…”, kata itu terucap saat kudua bibir itu terpisah. “Maafkan Oppa..”, pinta Leeteuk dengan air mata yang tak bisa ditahannya lebih lama di dalam mata.

Tak ingin hatinya semakin perih jika melihat Eun Kyo sadar, dengan segera Leeteuk keluar ruangan. Melangkahkan kakinya cepat ke balik sudut ruang rawat Eun Kyo. Berhenti di sana. Menyandarkan tubuh dan kepalanya di tembok. Menumpahkan semua rasa kesal dan bersalahnya dengan air mata.

Sementara itu. Air mata Eun Kyo menetes begitu saja saat mendengar Leeteuk berjalan ke luar. Gadis itu menggerakkan tangannya ke bibir. Hangat. Bibir Leeteuk seolah masih menyisakan kehangatan di bibirnya. Eun Kyo ingin semua yang baru saja di laluinya itu hanya mimpi. Jadi ketika dia membuka mata, semua akan berlalu begitu saja. Tapi nyatanya tidak, gadis itu tahu bahwa semuanya bukan mimpi. Semua kenyataan. Eun Kyo sadar seratus persen. Dia tidak pingsan maupun tidur. Eun Kyo bahkan bisa merasakan perihnya air mata yang diteteskan Leeteuk.

            “Kenapa kau bodoh Oppa? Kenapa minta maaf padaku?”, gumam Eun Kyo dengan tangisnya. “Tidak ada yang salah, Oppa… tidak ada..”

***

            “Selamat pagi semua..”, sapa Eun Kyo ramah pada karyawan perusahaan yang berada di lobi. Mereka semua menatap Eun Kyo dengan tatapan penuh selidik. Eun Kyo melihat mereka semua satu persatu dengan pandangan menuntut penjelasan. Tapi tak ada satupun dari mereka yang bisa menjelaskan ada apa sebenarnya.

            “Pagi, Eun Kyo~a”, sapa Min Woo. “Wae? Kenapa wajahmu terlihat bingung seperti itu? Ada yang salah dengan pagi ini?”

            “Ani. Tidak ada apa-apa. Oh, aku akan ke ruanganku sekarang”, pamit Eun Kyo lalu berjalan menuju ruangannya.

Eun Kyo membuka pintu ruangannya. Setelah berada di dalam, gadis itu terperangah dengan keadaan ruangannya yang berantakan dan penuh dengan kertas yang berceceran. Dipungutinya kertas-kertas itu dan dibacanya tulisan yang tertera.

Dasar gadis tidak tahu malu! Kau sama seperti Eommamu! Buruk dan suka merebut calon suami orang!

Hey gadis sialan! Untuk apa kau datang kemari hah? Ingin merayu diretur kami? Jangan harap! Kami tidak akan membiarkanmu mendekati direktur kami lagi!

Direrktur kami tidak akan pernah kembali padamu, gadis bodoh! Berkacalah! Putri wanita yang tidak baik tidak akan pernah bisa menyanding direktur kami yang bagai malaikat tanpa sayap. Jangan pernah berharap banyak!

Anak dan Ibu tidak ada bedanya!!! Enyah kau dari tempat kami!

Eun Kyo sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh dari pelupuk matanya. Sesekali gadis itu menghela nafasnya panjang saat membereskan kertas-kertas yang berantakan itu.

            “Hah… Eun Kyo-a, bukankah kau tidak akan menangis hanya untuk hal kecil tidak penting seperti ini?”, gumam Eun Kyo pada dirinya sendiri. Tangannya yang sedang membawa kertas itu dikipaskannya ke wajah. Mencoba mengurangi rasa panas amarah yang tertahan.

TOK..TOK..

            “Masuk..”, jawab Eun Kyo setelah mendengar pintu ruangannya di ketuk.

            “Tolong antarkan file data donatur ke rua..”, kalimat Leeteuk terhenti saat melihat ruangan Eun Kyo yang berantakan. “Ada apa ini?”, tanya Leeteuk memasuki ruangan.

Dengan panik Eun Kyo menyembunyikan kertas yang dipengangnya ke balik tubuh mungilnya. “Ani. Tidak ada apa-apa Oppa, em.. maksudku sajangnim”, jawabnya gugup.

Leeteuk berjalan mendekati Eun Kyo. “Apa yang kau sembunyikan?”, telunjuk Leeteuk mengarah ke balik tubuh Eun Kyo.

            “Tidak ada.”

            “Oh, apa itu?”, seru Leeteuk menunjuk langit yang terlihat dari sebuah jendela kaca besar. Membuat Eun Kyo menoleh ke arah itu seketika. Dengan cepat Leeteuk menarik paksa kertas di tangan Eun Kyo.

            “Oppa!”

            “Apa-apan ini?”, Leeteuk membaca satu persatu isi kertas yang dibawanya. “Siapa yang melakukan ini?”

            “Aku tidak tahu. Sudahlah Op.. Sajangnim. Tidak perlu dipedulikan, biar kubersihkan saja”, kata Eun Kyo menarik kembali kertas-kertas itu.

Tapi sebelum berhasil berpindah tangan, kertas itu dibawa keluar oleh Leeteuk. Tanpa menghiraukan teriakan panggilan Eun Kyo, Leeteuk terus berjalan dan berhenti di lobi. “Kalian semua! Katakan siapa yang kurang ajar berbuat seperti ini di ruangan Eun Kyo?”

Semua karyawan yang ada terdiam mendengar pertanyaan yang lebih mirip dengan bentakan itu keluar dari bibir sang direktur.

            “Sudahlah Sajangnim”, bujuk Eun Kyo setengah berbisik.

            “Baiklah kalau kalian tidak mau mengaku. Aku akan menyelidikinya sendiri. Dan jika nanti aku menemukan siapa pelakunya, akan kubuat dia menyesal seumur hidup!”,ancam Leeteuk yang kental dengan nada emosi.

Leeteuk mengurungkan langkah kakinya saat seseorang angkat bicara. “Sajangnim. Se..sebenarnya kami semua yang melakukan itu”, kata gadis receptionist. “Kami hanya terbakar amarah mendengar cerita istri direktur Han..”

            “Mwo?”, Leeteuk seakan tidak percaya nama calon ibu mertuanya itu di sebutkan. “Bersihkan dan rapikan kembali ruangan sekretarisku. Aku yakin sebenarnya kalian bukanlah orang yang tega berbuat hal seperti itu”, Leeteuk mulai menormalkan suaranya kembali. “Setelah ruangan itu bersih, kembalilah pada pekerjaan kalian masing-masing.”

Mendapat anggukan dari karyawannya, Leeteuk menarik tangan Eun Kyo keluar gedung kantornya. Di ajaknya gadis itu ke mobilnya.

            “Kita akan kemana Sajangnim?”, tanya Eun Kyo saat mobil mereka berjalan keluar area parkir.

            “Nanti kau akan tahu”, jawab Leeteuk tanpa mengalihkan konsentrasinya dari jalan.

***

Mobil Leeteuk berhenti di sebuah pantai. “Kajja, kita sudah sampai”, kata Leteuk sembari membukakkan pintu untuk Eun Kyo.

Eun Kyo melihat sekilas laut di depannya. Dengan langkah pelan, gadis itu berjalan mendekati air laut. Rambutnya yang berantakan karena terpaan angin dibiarkannya begitu saja. Dilepaskannya sepatu yang dipakainya. Membiarkan kaki telanjangnya merasakan segarnya air laut.

            “Bermain air. Bukankah itu hal yang sukai?”, ujar Leeteuk mengagetkan Eun Kyo. “Bermainlah air sepuasmu, hanyutkan pikiran-pikiran melelahkanmu bersama air laut.”

Eun Kyo tetap diam menunduk dengan kaki yang sesekali memainkan air laut. Karena tak kunjung mendapati respon baik dari gadis yang dicintainya, Leeteuk pun menciprati Eun Kyo dengan air laut.

            “Yak, Oppa! Apa yang kau lakukan?”, protes Eun Kyo mengusap pipi kirinya yang basah karena air.

Tak peduli protesan Eun Kyo, Leeteuk semakin bersemangat mencipratinya dengan air yang semakin banyak. “Aku tahu pagi tadi kau belum mandi”, ujarnya lalu berlari menjauh.

            “Mwo? Yak  Oppa, kaulah yang belum mandi..!!!”, kejar Eun Kyo dengan sesekali menendang air laut ke arah Leeteuk. “Oppa, jangan lari!”

            “Tangkap aku jika bisa..hahaha..”

            “Yak, aish.. kau meremehkanku Oppa”

Dua manusia itu saling mengejar dan tertawa bersama. Melupakan sejenak kenyataan dan beban pikiran yang ada. Membasahi diri mereka dengan air dan berharap ketika air laut yang membasahi mereka mengering, masalah mereka juga akan mengering. Lalu dengan mudah hilang diterpa angin pantai.

            “Huh.. aku lelah Oppa..”, Eun Kyo duduk di atas pasir dengan nafas terengah. Diamatinya baju yang ia gunakan. Basah seluruhnya. “Bagaimana ini? Tidak mungkin kita bekerja dengan baju yang basah..”

Leeteuk menyusul Eun Kyo dan duduk di sebelah gadis itu. “Hah.. akuh tadih tidak memikirkan hal sejauh inih..hh..”

            “Haruskah kita menjemurkan diri di sini untuk mengeringkan baju?”

            “Hahaha.. kau ini. Ingin menghitamkan kulitmu, eh? Pasti akan lama sekali untuk menunggu baju ini mengering. Yang ada, tubuh kita akan lebih dulu menjadi kering.”

Eun Kyo tersenyum mendengar gurauan Leeteuk. Gadis itu merasa perasaannya jauh lebih baik dari sebelumnya.

            “Ehm. Kau merindukan Eommamu?”, tanya Leeteuk setelah mengamati senyum Eun Kyo.

            “De?”

            “Beliau pasti sangat merindukanmu. Sudah berapa lama tidak bertemu dengan beliau?”

Eun Kyo memeluk lututnya sendiri lalu menunduk. Memainkan pasir dengan tangannya. “Entahlah, Oppa. Aku tidak pernah menghitung berapa lama aku tidak bertemu dengan Eomma..”

            “Temuilah beliau walau hanya satu kali. Aku tahu kau sangat merindukan pelukan kasih sayangnya. Lain kali.. mungkin kita bisa mencari keberadaan beliau sama-sama”, Leeteuk menepuk pundak Eun Kyo pelan. Menahan agar air mata Eun Kyo yang sudah memenuhi matanya tidak jatuh begitu saja.

***

            “Kenapa kalian melakukan hal rendah seperti itu?”, amuk Hyo Ra pada karyawan tunangannya. “Itu sangat memalukan untuk ukuran orang berpendidikan seperti kalian!”

            “Kami.. benar-benar menyesal, agasshi”, jawab seorang karyawan.

            “Lain kali jangan pernah melakukan hal itu lagi. Sekarang, kembalilah bekerja”, perinta Hyo Ra membuat kerumunan orang di depannya membubarkan diri.

            “Aah. Mulia sekali Hyo-Ra-sshi. Aku begitu iri dengan kebaikan hatimu membela sainganmu. Ckckck.. kau membuatku terharu.” Min Woo berkata dengan mata yang masih tertuju pada koran yang dibacanya.

            “Aku bukan gadis pengecut yang membiarkan mantan gadis tunangannya di injak seperti ini..”, jawab Hyo Ra santai.

            “Jincha?”, Min Woo mengangkat kepalanya dari koran. Senyumnya mengembang seolah mendapatkan pembicaraan yang menarik. Dilangkahkannya kakinya mendekati Hyo Ra. “Lalu.. mengancam Leeteuk untuk berada di sisimu itu bukan termasuk tindakan pengecut? Aah, bukan mengancam. Tapi meminta ganti rugi untuk kematian saudaramu..”, tandasnya tajam.

            “Kau! Percuma berbicara dengan orang yang tidak bisa diajak bicara sepertimu!”, Hyo Ra menegakkan alat bantu kakinya lalu berjalan tertatih keluar. “Oh, Oppa. Kenapa pakaian Oppa basah?”, langkah Eun Kyo terhenti melihat Leeteuk dan Eun Kyo masuk.

            “Ini..”, belum sempat Leeteuk menjelaskan, Hyo Ra sudah memotong kalimatnya.

            “Lebih baik kita pulang sekarang. Ganti baju Oppa, aku tidak mau Oppa masuk angin,” Hyo Ra mengajak Leeteuk kembali ke mobilnya, tapi sebelum itu dia bebalik dan menghadap Eun Kyo. “Eun Kyo sshi, maafkan sikap eommaku dan karyawan perusahaan ini”, kata Hyo Ra membungkukkan badannya. “Aku akan memberitahu mereka agar tidak menyakitimu lagi. Aku benar-benar minta maaf atas nama mereka..”

Eun Kyo hanya membalasnya dengan senyum simpul saat Leeteuk dan Hyo Ra berjalan keluar meninggalkannya.

            “Hah, romantis sekali mereka. Membuat mual!”, umpat Min Woo di sebelah Eun Kyo. “Eun Kyo sshi, pakaianmu juga basah. Kajja, kita mencari pakaian untukmu..”, Min Woo menarik lengan Eun Kyo dan membawanya ke mobil tanpa memperdulikan elakkan gadis itu.

***

            “Jangan menekuk wajahmu seperti itu. Aku kan hanya memintamu menemaniku minum kopi..”, kata Min Woo mengaduk kopi di cangkir yang dibawanya.

            “Ini masih jam kerja, tidak seharusnya kita berada di café seperti ini”, jawab Eun Kyo tanpa menyentuh secangkir kopi dihadapannya.

            “Direktur kita sedang tidak ada. Untuk apa kita sibuk-sibuk bekerja. Santai saja Eun Kyo-sshi. Nikmati kopi ini, pasti akan sedikit menghilangkan rasa lelah.”

Eun Kyo melihat wajah pria di depannya itu dengan seksama. Pucat. Seperti kurang tidur. “Apa kau kurang tidur?”

Min Woo tersenyum dingin. “Bukan kurang tidur. Tapi tidak pernah bisa tidur.”

            “Kau insomnia?”

            “Insomnia berkepanjangan. Aku merindukan obat tidurku. Aku ingin tidur tenang dengan obat tidurku..”

            “Kau ini insomnia kenapa malah meminum kopi?”, Eun Kyo merebut cangkir Min Woo dan meletakkannya di dekat cangkir miliknya. “Mengkonsumsi obat tidur itu tidak baik. Kau hanya perlu merilekskan pikiranmu saja agar bisa tidur dengan baik. Tidak perlu memakai obat tidur..”, omel Eun Kyo seperti seorang kakak pada adiknya.

Min Woo mensendekapkan tangannya di dada. “Benarkah? Tapi aku benar-benar merindukan obat tidurku..”,ujarnya dengan mata kosong menerawang.

            “Merindukan? Apa maksudmu?”

            “Tidak ada. Abata.. Eun Kyo sshi, karena kau telah menemaniku minum kopi, maka aku akan berterimakasih padamu. Ini..”, Min Woo menyodorkan sebuah amplop coklat pada Eun Kyo.

            “Apa ini? Surat tugas penyaluran dana perusahaan untuk biaya anak-anak terlantar di sebuah desa”, tanya Eun Kyo setelah membaca isi kertas dalam amplop.

            “Hm. Sebenarnya itu tugasku. Tapi mengingat di desa itu pemandangannya bagus dan menyenangkan, kurasa kau lebih cocok berada di sana. Anggap saja ucapan terima kasih dariku.”

            “Tapi ini hakmu Min Woo sshi. Sepertinya berada di sana akan membantumu menghilangkan insomnia.”

            “Insomniaku tidak akan sembuh hanya karena ada di tempat menyenangkan. Sudahlah.. untukmu saja. Cara cepat mengurangi intensitas melihat kemesraan Leeteuk dan Hyo Ra untuk beberapa hari.”

***

Surat-surat dan berkas-berkas perlengkapan. Eun Kyo memeriksa kembali barang bawaannya. Semua sudah siap. Hanya menunggu jemputan mobil perusahaan untuk mengantarkannya ke tempat tujuan.

Sebuah mobil hitam berhenti di depannya. Mobil perusahaan. Jendela mobil itu terbuka menampakkan seseorang berwajah heran. “Eun Kyo~a, sedang apa berada di sini?”

            “Oppa? Em, maksudku Sajangnim. Aku menunggu mobil perusahaan yang akan mengantarku ke tempat penyaluran dana bantuan.”

            “Oh, bukankah Min Woo yang akan menemaniku ke tempat itu? Pantas saja dia bilang jika sudah ada yang menggantikan tugasnya. Dasar bocah itu pemalas sekali. Ehm, masuklah, kita berangkat sekarang agar tidak terlalu malam tiba di desa itu.”

Dalam perjalan mereka hanya diam. Terlarut dalam pikiran dan kekikukkan mereka masing-masing. Bahkan mereka tetap tidak saling bicara saat mobil melewati jalan yang di apit dua hutan di pinggirnya. Jalan itu begitu sepi. Apalagi dihari yang mendekati senja seperti ini. Mobil yang mereka gunakan menunjukkan tanda-tanda akan mogok. Benar saja, mobil itu tiba-tiba berhenti dan tidak mau dijalankan lagi.

            “Ada apa dengan mobil ini? Jangan-jangan supir perusahaan lalai mengeceknya lebih dulu..”, kata Leeteuk sibuk menstarter mobil yang dikendarainya.

Eun Kyo melihat ke luar jendela. “Tempat ini sepi. Kemungkinan akan kesulitan meminta bantuan. Hari juga semakin gelap. Kita harus bagaimana? Bahkan sinyalpun tidak ada”, kata Eun Kyo menggoyang-goyangkan ponselnya untuk mencari sinyal.

Leeteuk keluar dan mengamati sekelilingnya. “Sepertinya kita harus mencari pemukiman penduduk untuk sementara. Kita tidak mungkin bermalam di tengah hutan seperti ini..”

Leeteuk dan Eun Kyo berjalan menerobos hutan. Sedikit was-was memang, tapi tidak ada cara lain lagi. Ada suara seperti lolongan srigala yang membuat Eun Kyo dan Leeteuk bergidik dan merapatkan tubuh mereka berdua.

Dua pasang mata mengawasi Leeteuk dan Eun Kyo dari belakang. Mengendap-endap agar Leeteuk dan Eun Kyo tidak menyadari keberadaan mereka. Setelah melihat Leeteuk dan Eun Kyo sedikit lalai, salah satu dari dua orang ini berteriak. “Berhenti kalian berdua!”

Sontak Leeteuk dan Eun Kyo pun berhenti. Tubuh mereka berdua terlihat menegang. Sarat akan ketakukan walaupun tanpa berbalik dan melihat siapa yang menggertak mereka.

            “Kalian berani-beraninya melewati daerah kekuasaan kami!”, kali ini suara seorang gadis yang mengancam mereka.

SREK..SREK.. suara langkah kaki yang beradu dengan daun-daun kering itu membuat Leeteuk spontan menarik pinggang Eun Kyo mendekat kepadanya.

            “Serahkan harta yang kalian miliki pada kami”, perintah seorang lelaki muda setelah sampai di depan Leeteuk dan Eun Kyo.

            “Kalian perampok?”, tanya Leeteuk polos.

            “TENTU SAJA!”, teriak si gadis yang membuat Leeteuk, Eun Kyo, bahkan teman seperampoknya itu tersentak kaget.

            “Kau mengagetkanku, Ael..”, bisik sang perampok laki-laki pada temannya. “Hey, Kenapa kalian hanya diam saja hah?! Cepat serahkan harta milik kalian!!!”. Lelaki itu memandang tajam korban dihadapannya.

            “Kami tidak memiliki apa-apa..”, jawab Leeteuk gugup.

            “Keure?”, perampok laki-laki itu mengamati penampilan Leeteuk dengan senyum jahil. Lalu matanya berhenti di wajah Eun Kyo. “Kurasa.. gadis cantik ini bisa juga diserahkan padaku… aw!”, pria itu meringis mendapatkan pukulan di kepalanya dari si gadis perampok.

            “Dasar play boy!”, umpat gadis itu jengkel. Mata gadis itu lalu kembali melihat Leeteuk dan Eun Kyo. “Dari penampilan kalian, sepertinya kalian orang kaya. Hmm.. seperti pemilik perusahaan besar. Tidak mungkin tidak memiliki benda berharga. Sudah, cepat serahkan apapun yang berharga dari kalian kepada kami sekarang juga!”

            “Tidak akan. Aku tidak akan menyerahkannya pada kalian”, jawab Leeteuk sembari mendorong Eun Kyo agar bersembunyi di belakangnya. “Dia terlalu berharga..”

            “Arrgghhh… maksudku bukan nona ini!”, jawab si gadis frustasi. “Barang. Bukan orang!”

            “Kau bilang, aku harus menyerahkan yang paling berharga dariku. Dia.. Eun Kyo yang paling berharga bagiku..”, jawab Leeteuk.

            “Yak, Oppa. Kita ini berada di situasi gawat. Jangan seperti ini..”, bisik Eun Kyo dari belakang.

            “Hahaha.. romantis sekali..”, tawa si perampok laki-laki. “Jangan banyak mengumbar kemesaraan di depan kami! Cepat serahkan dompet, atau apapun yang sedang kalian bawa!” Kali ini dia bukan hanya sekedar menggertak, tapi sebuah pisau juga sudah diarahkannya ke leher Leeteuk.

            “Te..tenang dulu. Baiklah kami akan memberikan dompet kami pada kalian..”, Leeteuk merogoh saku jasnya dengan tangan gemetar. Dikeluarkannya dompet dan ponsel berwarna putih.

Hal yang sama dilakukan Eun Kyo. Memberikan dompet dan ponsel merah jambunya pada kedua perampok. “Kami.. boleh pergi sekarang kan?”

Dua perampok itu tersenyum memainkan  benda yang ada di tangan mereka.

            “Kita berhasil. Ayo pulang..”, kata perampok laki-laki membalikkan badan berjalan menjauh. Disusul oleh temannya yang perempuan.

Belum terlalu jauh perampok-perampok itu berjalan, mereka kemudian membalikkan badan mereka lagi dan.. “HA! Kalian Tertipu!!!!! Hahahahaha…” teriak mereka bersamaan. Mereka berdua berlari kembali ke tempat Leeteuk dan Eun Kyo berdiri.

            “Ini… maaf menjahili Onnie..”, gadis perampok itu mengembalikan ponsel milik Eun Kyo.

            “Wajah kami yang seperti malaikat ini tidak mungkin cocok jadi perampok..”, ujar si laki-laki tersenyum puas sembari menyerahkan dompet dan ponsel Leeteuk.

            “Aeldra Kim”, gadis itu mengulurkan tangannya pada Eun Kyo. “Maaf membuat Onnie ketakutan..”,lanjutnya dengan senyum manis.

            “Lee Hyukjae”, kata lelaki yang memiliki ‘gummy smile’ menjabat tangan Leeteuk.

            “Leeteuk.. Eun Kyo..”, balas Leeteuk dan Eun Kyo bersamaan.

            “Kalian tersesat? Kenapa di hari yang hampir gelap seperti ini berada di tengah hutan?”, tanya Eunhyuk.

            “Mobil kami mogok di jalan sana. Kami sedang mencari pemukiman peduduk. Kami ingin menumpang untuk semalam saja..”, jawab Leeteuk memasukkan kembali dompet dan ponselnya.

            “Ketempat kami saja. Hmm.. mungkin tempat kami tidak sebagus penginapan. Tapi.. bisa dijadikan tempat untuk bersinggah sementara..”, tawar Aeldra.

            “Benarkah?”, tanya Eun Kyo berbinar-binar. Dengan cepat gadis itu memeluk Aeldra dan melompat-lompat kegirangan. “Aaaaahhhh…. Terima kasih sayang. Onnie menyayangimuuuu…”

***

            “Baju ini pas untukku. Gomawo, sayang. Telah meminjami Onnie bajumu”, Eun Kyo duduk di sebelah Aeldra yang sedang mengupas wortel.

            “Onnie tidak perlu berterima kasih. Justru akulah yang harus berterima kasih pada Onnie karena mau datang ke rumah ini..”

            “Jangan begitu, kau yang terlalu baik membolehkan Onnie singgah di rumahmu. Onnie akan membantumu memasak..”, Eun Kyo mengambil wortel dan mencari pisau.

            “Tidak perlu Onnie-ya. Lebih baik sekarang Onnie istirahat, karena mungkin saja nanti tidak akan bisa tidur dengan tenang..”, Aeldra mencegah tangan Eun Kyo yang sudah menemukan pisau.

            “Tempat ini begitu tenang dan sepi. Pasti mudah sekali untuk tertidur..”

            “Sepi? Onnie tidak tahu saja jika..”

Kalimat Aeldra tertahan dengan sebuah seruan ramai di ruang tamu. “Kami pulaaaaaang..”

Sepuluh anak berumur 7-10 tahunan masuk ke ruang tengah dan memberondong Aedra dengan pelukan.

            “Ini anak-anakmu dengan Hyukjae?”, tanya Eun Kyo kagum.

            “Mwo???? Anakku bersama lelaki itu? Yak, ini bukan anak kami, Onnie! Mereka pemilik rumah ini. Anak-anak, diamlah sebentar. Ada yang ingin berkenalan dengan kalian..”

Anak-anak itu diam lalu melihat Eun Kyo dengan tatapan ‘tertarik’.

Eun Kyo berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan anak-anak itu. “Anyyeong.. Eun Kyo imnida. Malam ini… bolehkah aku menginap di rumah kalian?”

            “Tidak!”,jawab salah satu anak lelaki. “Tidak untuk semalam. Beberapa malampun Noona boleh menginap di tempat ini”, lanjutnya yang disambut dengan sebuah pelukan hangat dari Eun Kyo.

            “Kalau begitu aku juga boleh menginap di tempat ini?”, tanya Leetuk tersenyum sembari berdiri di depan pintu.

Anak-anak itu saling berpandangan bingung. Satu lagi orang asing yang ada di rumah mereka.

            “Itu temanku..”, kata Eun Kyo memberi tahu.

            “Boleh kan?”, Leeteuk memiringkan kepalanya ke kanan. Menunggu sekaligus berharap anak-anak itu mengiyakan permintaannya.

Diam ditempat. Anak-anak pemilik rumah itu enggan menjawab. Membuat Leeteuk menghilangkan senyumannya perlahan. Detik berikutnya, anak-anak itu berlari dan menghambur memeluk Leeteuk. “Tentu saja ahjussi boleh tinggal di sini..”, seru mereka kompak.

            “Mwo? Ahjussi? Kalian memanggil Eun Kyo, Noona dan Onnie. Kenapa memanggiku ahjussi?”, protes Leeteuk dengan tangan sibuk menepuk-nepuk pundak anak-anak itu dalam satu pelukannya.

            “Wajahmu memang mirip ahjussi-ahjussi, Hyung. Hahahaha…”, ejek Hyukjae bangga.

Eun Kyo dan Aeldra ikut tertawa mendengar celetukan Hyukjae pada Leeteuk. “Aeldra-ya, apa maksudmu mereka pemilik rumah ini?”, tanya Eun Kyo ingin tahu.

            “Aku dan Hyukjae Oppa hanya sebagai penjaga mereka saja. Ini rumah mereka, Onnie. Tempat mereka tumbuh, tertawa, dan bahagia bersama..”, jawab Aeldra melihat anak-anak itu dengan mata menerawang.

            “Lalu orang tua mereka siapa?”

            “Mereka anak yatim piatu. Dirawat oleh seorang perempuan tua yang baik dan penyabar. Itulah kenapa mereka dengan mudah menyambut baik siapa saja yang datang kemari.”

Eun Kyo memandang iba anak-anak yang sedang bermain dan bercanda bersama Leeteuk itu. Kali ini dia sangat merasa beruntung karena memiliki Appa dan Eomma yang menyayanginya. “Kau dan Hyukjae..”

            “Kami berdua bertetangga. Dulu saat kami ingin menuju suatu tempat, kami tersesat dan menemukan rumah ini. Min-Jung ahjumma, pemilik rumah ini sekaligus pengasuh anak-anak membolehkan kami menginap di tempat ini. Dari sanalah aku dan Hyukjae Oppa akrab dengan mereka dan sering mampir kemari. Hingga.. Min-Jung ahjumma meninggal. Anak-anak itu tidak mau kami ajak ke kota tempat kami tinggal. Mereka lebih suka berada di rumah ini, dekat dengan tempat Min –Jung ahjumma disemayamkan..”

Eun Kyo mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Aeldra. “Jadi kalian berdua tinggal di sini? Sampai kapan?”

            “Kami berdua bergantian datang kemari. Beseling hari. Karena tidak mungkin kami meniggalkan pekerjaan kami di kota. Hari ini sebenarnya adalah giliran Hyukjae Oppa. Tapi berhubung Onnie dan Leeteuk Oppa menginap di sini, kurasa aku tidak perlu pulang ke rumah..”

***

Plok..plok..plok… “Wow… charanta…”, tepukan tangan dan sorakan terdengar di halaman rumah. Seorang anak baru saja menyanyi dan menari di dekat api unggun. Di tengah sebuah lingkaran teman-temannya.

            “Sekarang, siapa yang mau membakar ubi manis?”, teriak Eun Kyo yang disambut dengan teriakan dari segerombolan anak-anak.

            “Hati-hati, jangan terlalu dekat dengan api. Setelah makan ubi bakar kalian, segera cuci tangan dan kaki lalu berangkat tidur, arachie?”, kata Aeldra membantu Eun Kyo memberikan satu-persatu ubi manis ke anak-anak.

Leeteuk memperhatikan gerak-gerik Eun Kyo dari seberang. Sesekali bibirnya membentuk sebuah senyuman saat melihat Eun Kyo yang sangat bersemangat bermain dengan anak-anak. Gadis itu memang selalu begitu. Ceria, semangat, dan sangat menyukai anak kecil.

            “Kapan akan melamar Eun Kyo?”, pertanyaan Hyukjae membuat Leeteuk  menoleh ke arahnya.

            “Molla. Sepertinya tidak akan pernah terjadi”, jawab Leeteuk dengan suara parau.

            “Wae? Kau sudah beristri? Atau jangan-jangan Eun Kyo itu selingkuhanmu?”

Leeteuk menjitak pelan kepala Hyukjae. Tidak sulit bagi Leeteuk menganggap pria di sampingya ini seperti adiknya sendiri. “Jangan bicara sembarangan. Dia bukan gadis semacam itu.”

            “Lalu?”

Leeteuk menghembuskan nafasnya pelan. “Aku mencintainya. Sangat mencintainya..”, dipandanginya Eun Kyo yang sedang meniup sebuah ubi lalu menyuapkannya pada seorang anak. “Sebuah tindakan bodoh menyebabkanku kehilangan dirinya. Kehilangan semuanya.”

            “Kelihatannya Eun Kyo juga sangat mencintaimu, hyung.”

            “Seorang sepertiku tidak pantas mendapat cintanya. Dia lebih pantas bersama seorang pria yang sempurna. Bukan aku yang memiliki cela dimana-mana.”

            “Apapun batu yang menghalangi kalian pasti akan mudah dilewati. Karena kalian memili satu modal berharga. Saling mencintai. Mungkin, hyung hanya butuh satu tindakan tegas. Dengan begitu, semua akan berakhir sempurna..”, Hyukjae tersenyum dan menepuk pundak Leeteuk pelan. Dialihkannya pandangan matanya keseberang. Menatap Aeldra. “Setidaknya, takdir kalian akan berbeda dengan orang yang hanya bisa berharap. Berharap suatu saat nanti perasaannya bisa dibalas dengan rasa yang sama..”

Eun Kyo menyodorkan sebuah ubi manis yang masih mengepulkan asap pada Aeldra. “Kenapa diam saja dan tidak makan?”

Aeldra tersenyum simpul lalu menggeser duduknya. Memberi tempat Eun Kyo agar bisa duduk di sampingnya. “Aku tidak suka sayur dan sejenisnya. Hanya akan mengingatkanku pada seseorang.”

            “Oh. Mianhae. Mengingatkan pada siapa?”, tanya Eun Kyo sembari meniup ubi bakar di tangannya.

            “Tidak ada”, jawab Aeldra singkat dengan mata memandang jauh entah kemana. “Oh, Onnie. Ceritakan padaku bagaimana Onnie dan Leeteuk Oppa menikah..”, tanya Aeldra mengalihkan pembicaraan.

Eun Kyo batal menyuapkan ubi ke dalam mulutnya. “Menikah? Entah peristiwa itu akan terjadi atau tidak..”, jawabnya pelan.

            “Jadi kalian belum menikah? Kalau begitu, kapan kalian akan menikah? Aku tidak keberatan mendapat undangan pernikahan Onnie..”

Sebuah senyuman pahit ditampakkan Eun Kyo di wajahnya. “Dia tidak akan menikahiku, Aeldra-ya. Mimpi pun, dia tidak akan menikahiku..”

            “Wae? Kalian saling mencintai kan?”

Eun Kyo menggigit bibir bawahnya. Mencoba menahan air mata agar tidak keluar dengan mudah. Kenyataan  yang berusaha dilupakannya hari ini kembali bertengger angkuh dihadapannya. Menamparnya agar tidak jauh terlena.

            “Masih ada waktu. Onnie masih punya kesempatan untuk mengatakan perasaan Onnie pada Leeteuk Oppa dan merubah semuanya..”

            “Jarak kami sudah terlalu jauh, Aeldra-ya. Dia akan dimiliki gadis lain yang jauh lebih baik dariku..”, jawab Eun Kyo yang lebih terdengar seperti gumaman.

            “Dan Onnie akan membiarkan gadis yang terlihat lebih baik itu menemani Leeteuk Oppa selamanya? Mengabaikan rasa saling membutuhkan kalian berdua?”, tanya Aeldra menatap Eun Kyo dengan tajam. “Aku tahu Leeteuk Oppa lebih membutuhkan Onnie daripada gadis itu. Caranya memandang Onnie, seperti… memandang sesuatu yang begitu luar biasa menawan hingga dia tak pernah merasa bosan menghentikan matanya disana.” Aeldra kembali menatap api unggun yang ada di depannya. “Kadang.. keegoisan dibutuhkan. Leeteuk Oppa masih ada. Masih bisa dijangkau. Onnie bisa bersikap egois sebentaaar saja, tarik paksa Leeteuk Oppa dari gadis itu. Karena suatu saat keegoisan tidak akan bisa digunakan saat orang yang kita cintai sudah berbeda semesta dengan kita..”, ada air mata yang menetes di pipi Aeldra.

            “Haaaah..”,Aeldra merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Dirangkulnya Eun Kyo yang sedang menunduk. “Onnie, mengatakan perasaan itu akan membuat kita sedikit lebih lega. Aah, karena sekarang kalian berdua berada di tempat ini, maka nikmati saja kebersamaan kalian berdua. Katakan apa yang ditempat lain tidak bisa kalian katakan..” Aeldra berdiri dan berteriak. “Anak-anak, sudah malam. Ayo bersiap tidur. Yak Oppa, cepat bantu aku..”

            “Iya bawel”, sahut Hyukjae. “Kajja..Kajja..Kajja..”, ajak Hyukjae merangkul anak-anak itu dan membawa mereka masuk bersama Aeldra.

            “Tidak ingin masuk kedalam,hm?”, Leeteuk duduk di sebelah Eun Kyo.

Gadis itu tidak berani mengangkat wajahnya dan memandang Leeteuk dengan mata memerah seperti  saat ini.

            “Hanya dua hari. Mungkin kita berada di tempat ini hanya dua hari. Aku.. ingin melakukan banyak hal bersamamu, Eun Kyo~a.”

            “Aku.. juga ingin melakukan banyak hal yang sempat kita lewatkan beberapa tahun yang lalu, Oppa..”, ujar Eun Kyo dengan suara serak.

Leeteuk menghadapkan tubuh Eun Kyo ke arahnya. Dipandanginya wajah sempurna itu dengan rinci. “Hanya dua hari. Aku ingin kembali menjadi Park Jung Soo, Jung Soo Oppamu..”

Eun Kyo mengangguk. Dibalasnya tatapan Leeteuk tepat di retina mata pria itu. “Oppa, bangunkan aku saat matahari terbit besok, arraseo?”, ucap gadis itu dengan manja. Nada khasnya yang selalu di dengar Jung Soo sejak awal mereka bertemu.

***

Saat ini Leeteuk dan Eun Kyo sedang menjalani hukuman membersihkan semua ruangan rumah. Leeteuk mendapat hukuman dari Hyukjae karena pagi tadi dia melakukan kesalahan saat membantu Hyukjae membersihkan halaman. Bukan rumput yang Leeteuk potong, tapi pohon kecil yang sedang mulai tumbuh yang baru kemarin ditanam Hyukjae. Sedangkan Eun Kyo, gadis itu mendapat hukuman setelah menghancurkan menu sarapan pagi ini. Niat awalnya adalah membantu Aeldra menyiapkan sarapan, tapi hasilnya gadis itu membuat suatu masakan yang rasa pahitnya lebih dominan daripada rasa lezat.

            “Bagus, teruskan kerja kalian..kekeke..”, kata Hyukjae sembari minum orange juicenya. Lelaki itu memakai topi, kaca mata hitam serta menselonjorkan kakinya di sofa. Seakan sekarang dia sedang berada di pantai.

            “Jangan sampai ada yang belum bersih. Itu akan menyebabkan penyakit lebih mudah menyerang kita..”, lanjut Aeldra tak mau kalah. Bergaya persis dengan Hyukjae.

Eun Kyo meniup poninya hingga berantakan, sedangkan Leeteuk mengerucutkan bibirnya sebal. Mereka berdua sangat jengkel dengan kelakuan dua makhluk menyebalkan di hadapannya itu.

            “Appa.. Eomma, kami pulaaang”, anak-anak pemilik rumah masuk dan memeluk Leeteuk dan Eun Kyo.

            “Waaah, yeobo-ya. Anak kita sudah pulang”, seru Leeteuk pada Eun Kyo. Sejak tadi malam, anak-anak itu mengatakan bahwa ingin menjadi anak angkat Leeteuk dan Eun Kyo. Jadilah mulai hari ini mereka memanggil Leeteuk dengan Appa, dan Eun Kyo dengan Eomma.

            “Mwo? Yeobo? Aish, kalian belum menikah Hyung!”, sindir Hyukjae yang membuat Leeteuk dan Eun Kyo salah tingkah.

            “Kalau begitu, Appa dan Eomma menikah saja hari ini..”, kata seorang anak.

            “Benar. Oppa dan Onnie menikah saja. Kajja anak-anak, kita siapkan pesta pernikahan orang tua kalian”, ajak Aeldra tanpa menghiraukan pandangan heran dari  dua orang yang Aeldra maksud.

***

Drama Weddingatau pernikahan sandiwara baru saja dilakukan Leeteuk dan Eun Kyo di taman rumah. Sangat sederhana. Leeteuk hanya mengenakan jas untuk menutupi kaus yang dipakainya. Sedangkan Eun Kyo memakai sebuah wedding veil di kepalanya. Acara pernikahan itupun cukup unik. Di pimpin Hyukjae dan hanya dilihat oleh Aeldra dan anak-anak. Lebih pantas disebut teatrikal, sebenarnya.

            “Bukankah setelah menikah, biasanya pasangan berciuman?”, seorang anak perempuan berceletuk. Membuat wajah Leeteuk dan Eun Kyo merah padam.

            “Yak..yak..yak.. kalian ini masih kecil. Tidak baik menonton adegan seperti itu. Cepat masuk, biar aku yang mewakili kalian menontonnya”, kata Hyukjae santai.

            “Yak! Dasar pria yadong! Anak-anak, serang pria mesum itu…!!!”, perintah Aeldra yang membuat Hyukjae lari kedalam rumah karena kejaran Aeldra dan anak-anak.

Eun Kyo tidak bisa menahan tawanya melihat kelakukan pasangan ‘anjing dan kucing’ itu saling memukul dan menjambak, sedangkan anak-anak di hadapan mereka hanya bersorak dan memberi semangat. Lalu gadis terlonjak kaget saat bibir Leeteuk mendarat singkat di bibirnya.

            “Hanya mendalami peran saja”, kata Leeteuk lembut dengan sebuah senyuman yang memamerkan lesung di bawah sudut bibirnya. Sedetik kemudian pria itu meraih tengkuk Eun Kyo dan menariknya. Menempelkan dan menggerakkan lembut bibirnya di bibir gadis itu.

Aeldra dan Hyukjae tersenyum puas melihat dua orang di halaman rumah itu. “Kurasa tugas kita hari ini selesai dengan baik..”, ujar Aeldra yang dijawab dengan anggukan oleh Hyukjae.

***

Setelah sukses membuat nasi goreng kimchi yang sedikit berantakan untuk Leeteuk, Eun Kyo membacakan sebuah cerita pengantar tidur untuk anak-anak. Sesekali, tangannya membelai lembut kepala salah seorang anak dan mencium pipi anak itu. Diselimutinya anak-anak satu persatu setelah mereka benar-benar dalam keadaan tidur. Bagi Eun Kyo, menyayangi dan disayangi mereka sebagai Eomma angkat adalah satu hal yang menakjubkan. Eun Kyo tahu bagaimana rasanya tidak mendapat kasih sayang seorang ibu dengan sempurna. Tapi dia tidak pernah tahu bagamaina rasanya tidak mendapat kasih sayang dari seorang ayah seperti yang anak-anak ini rasakan. Pasti sangat menyakitkan, bathin Eun Kyo.

Eun Kyo berjalan menuju ruang tengah. Lalu duduk di sebelah Leeteuk dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. “Oppa belum tidur?”

            “Mana mungkin aku bisa tidur setelah memakan sepiring nasi goreng kimchi yang nyaris hangus itu.”

            “Yak, Oppa!”, gadis itu mendaratkan pukulan-pukulan ringan di lengan Leeteuk. Membuat Leeteuk terkekeh geli.

            “Aku hanya bercanda. Aku hanya ingin menunggumu, yeobo. Kata Hyukjae, aku harus menceritakan first night kita padanya besok. Bagaimana?”, seringai Leeteuk jahil.

            “Mwo? A..apa-apan itu?”, gugup Eun Kyo menegakkan kepalanya.

Leeteuk menyandarkan kepala Eun Kyo lagi ke bahunya. “Tenang saja. Aku tidak akan melakukan hal-hal yang tidak- tidak selama kita belum memilki ikatan suci.” Diraihnya tangan kanan Eun Kyo dan digenggamnya erat. “Lampu di ruangan ini tidak terlalu terang apa kau tidak takut berada di sini?”

            “Ani. Aku tidak takut gelap selama Oppa ada di sampingku”, jawab Eun Kyo dengan tangan kiri yang sibuk memainkan jarinya di punggung tangan Leeteuk yang menggenggam tangan kanannya. Gadis itu menggerakkan jarinya membentuk sebuah tulisan ‘TeuKyo’.

Leeteuk tersenyum senang melihat ulah gadis yang dicintainya itu. Dikecupnya lembut puncak kepala Eun Kyo, dan ditempelkannya hidungnya di sana. Menghirup aroma shampoo gadis itu. Harum. Membuatnya betah menarik nafas dari sana. “Eun Kyo~a. Ada yang ingin aku katakan..”

Eun Kyo menarik kepalanya dan menatap Leeteuk dengan serius. “Apa Oppa?”

Leeteuk menatap Eun Kyo lekat-lekat. “Terima kasih. Terima kasih untuk hari-hari yang kau habiskan bersamaku. Kesediaanmu untuk menjadi istriku hari ini.. tidak bisa dibandingkan dengan hal apapun. Kau harus tahu jika selama ini hanya dirimu yang kubutuhkan dalam hidup. Entah nanti aku menjadi seperti apa jika kebutuhan hidupku tidak berada disampingku.”

Leeteuk menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya perlahan. Jauh di dalam tenggorokannya, ada kata yang tertahan. Kata yang seolah mencekiknya dan memaksanya untuk diungkapkan. Selama ini Leeteuk berusaha membiarkan kata itu agar menghilang bersama angin. Melemparnya jauh dan berharap tak bersarang lagi dipikirannya. Tapi usahanya sia-sia. Setiap melihat mata Eun Kyo, kata itu selalu memberontak. Eun Kyo seolah magnet yang memancing kata itu untuk keluar dari tenggorokan Leeteuk.

            “Eun Kyo~a, Saranghae..”, kata itu keluar begitu saja bersamaan dengan helaan nafas panjang Leeteuk. Lega. Itulah yang sekarang dirasakan Leeteuk. Membebaskan kata yang selama ini terpenjara dalam bathin dan pikirannya.

Eun Kyo tersenyum sembari menggigit bibir bawahnya karena merasa terlalu bahagia mendengar kata itu terucap dari bibir Leeteuk. Dengan satu gerakan cepat, Eun Kyo memeluk Leeteuk dan membenamkan kepalanya di dada pria itu. “Nado saranghae, Oppa,” balas Eun Kyo yang kemudian membuat Leeteuk mengeratkan tangannya di tubuh gadis itu.

Dalam pelukan mereka. Ada rasa yang kembali menganggu. Mereka sama-sama menyadari jika jarum jam tidak mau mengalah hanya untuk berhenti sedetik saja. Mereka menyadari bahwa semakin lama, mereka semakin dekat dengan hari esok. Hari dimana semuanya akan kembali seperti semula. Rasa takut menyergap mereka berdua. Takut mengakhiri kebahagiaan singkat ini, dan takut menyambut kenyataan pahit besok.

Mata Leeteuk berkaca-kaca. “Aku tidak tahu bisa mengatakan kata ini lagi atau tidak. Karena hari ini aku memiliki banyak kesempatan, aku akan mengatakannya sebanyak mungkin. Saranghae. Saranghae. Saranghae. Saranghae. Saranghae. Saranghae. Saranghae..”, Leeteuk berhenti untuk menarik nafas sebentar lalu mengulangi kata-katanya sebanyak mungkin. Di setiap ucapannya, pria itu seakan merasakan ada ribuan pisau yang menyayat-nyayat hatinya. Sangat perih.

Eun Kyo yang awalnya hanya menggigit bibir bawahnya agar tidak menangis. Lama-lama tubuh gadis itu bergetar dalam pelukan Leeteuk seiring isakannya yang tertahan. Tubuh gadis semakin bergetar hebat bersama dengan tangisannya yang semakin pecah saat Leeteuk tak kunjung berhenti mengucapkan kata itu. Ada getir ketakutan yang dirasakan Eun Kyo setiap mendengar ucapan Leeteuk. Takut jika kata itu tidak akan pernah di dengarnya lagi setelah melewati malam ini.

Keduanya lalu diam beberapa saat. Dilepaskannya pelukan Leeteuk dari Eun Kyo. Leeteuk merebahkan kepalanya di pangkuan gadis itu dan menempelkan wajahnya di perut Eun Kyo. Menyembunyikan matanya yang sudah merah karena air mata. “Malam ini saja. Biarkan aku seperti ini..”, ujarnya dengan suara serak.

Mereka berdua menggelapkan pandangan mereka dengan pejaman mata. Meneraturkan nafas mereka bersama sunyi malam. Hanya tinggal menunggu hari esok tiba.

TBC

 Note :*tengok kanan kiri, aman* Ige Mwoya!!!!!! Huaaaaah.. Onnie…. Maafkan Al yg udah kurang ajar bikin Onnie gregetan dengan nungguin ff ini yang nggak muncul2. Janji awal januari, molor ke februari karena Al lagi banyak tugas n ujian. Janji februari.. eh molor lagi karena Al lg sableng bad mood nggak sembuh2 gara2 masalah numpuk kayak cucian kotor. Pas nih ff udh jd n tinggal ngirim, Al malah hrs nangkring berminggu-minggu di rumah sakit karena infeksi lambung.

Hmm.. Al tau ff ini bnr2 jauuuuuuuuh dari yg diharapkan. Terlalu banyak typo, dialog2 yang membosankan dan tidak ada penggambaran yang spesifik *jaile bahasanye*, belum lagi alur dan setting yang GJ banget penuh di part ini. Apalagi kemunculan 2 makhluk nggak penting bersama kurcaci2 (?)nya itu, bener-bener bikin mata sakit buat nglanjutin baca nih ff.  Waktu sepanjang itu nggak sebanding dengan apa yang dihasilkan. Ff-nya sang-at-bu-ruk-dan-be-ran-ta-kan! Untuk itu, Al dengan segenap hati, jantung, paru-paru, dan lambung, sungguh mau minta maaf sama Onnie *bow 1800*.

Untuk reader setia fika Onnie. Al juga minta maaf membuat kalian semua sakit mata dengan cerita ancur kayak gini *kalo misalkan ff ini jd dpublish* Jangan protes ke fika Onnie,ya. Protes ke Al aja. Al dengan senang hati menerima protesan berupa kiriman pizza, ayam goreng, susu stroberi, bahkan kebab turki *gubrak*

Khamsahamnida udh mau baca… ^_^

Vikos says : huwaaaaaaaaaa aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, baca awalnya ku deg2an gilaaaaaaa, al km bikin aku jantungan kaya gini. Ada scene india lagi saya inih… ah, al, jangan gitu ah, aku sukaaaaaaaa banget, kamu melengkapi rumahku, karena aku ga pernah bisa bikin TeuKyo sebelum menikah… jadi ini? Perfecto begeto… wahahahahahaha, aku cengo dari tadi, sia-sia aku meneteskana irmata, yaelah, ternyata ada dua makhluk ga jelas juntrungannya hadir, bikin aku ngakak… tapi akhirnya jadi galau, hwaaaaaaaaa kita menikah Oppa, tinggal disini aja selamanya Oppa… ayolah…

Teuki : tuh minta sama Al, jangan sama aku.

Baiklah, cukup cuap-cuap saya, aku sudah gemeteran nulisnya ini… bagi yang berkunjung, harus komen…

38 responses »

  1. Eonny-yaa~……
    Beruntung dehh,
    Dpt crita kyk gini bgs’na..
    Huwaa~.. >.<
    Aku sukaaaa~

    Annyeong Al~..
    Kita seumuran.. Yeiyyy~.. *tepok tangaaann!!*
    Sksdnya kumat..
    Aku suka bgtt ini,,
    Tiap aku sms si eonny, aku pst nnya'in ff ini..
    Bnr" bikin penasaran..
    Uhuuy~..
    Critanya ngereget bgtt..
    Aku tunggu kelanjutannya.. ∩.∩

    • Annyeong… *bow*
      Seumuran???? *ikutan tepuk tangan*
      Kalo Al, biasanya sksdnya lbh parah *peluk Michelle*
      Ha? tiap sms fika onnie nanyain ff gila ini??? *shock ala Soimah*
      Al jd terharu… *nangis dpelukan hae*
      yg bikin penasaran emg apanya? perasaan nih ff gampang bgt dtebak..
      gomawo udh mau baca ff amburadul ini..^_^

      • Helloo~..
        *dadah” ala miss indonesia*
        Haha

        Iya kita seumuran.. Yeiyy~..
        Hehehehe..
        Aku sukaa lhoo ffnya,
        Kalo jd eunkyo uda stres..
        Mau rebut Teukie, tp tunangannya baik bgt.. >.<
        Jd serba salah..
        *nangsi peluk kyu*
        Aku tunggu ffnya, jgn lama" yaa.. Hehehehe

        Eonny….
        Mana ff barumu?
        Aku kangen lhooo.. Yg yadong jg gapapa..
        Hahahahahha..
        Maaf eon, akhir" ini aku sibuk, jarang pegang hp..
        sekalinya bisa sms, eh, lupa hp dimana..
        Haha.. Ditunggu pkk'na ff sapa aja d blog ini..
        *marukk* =P

  2. Critanya bikin greget onie……..
    Aku suka konfliknya yang naik turun, mengacak dan mengaduk-aduk emosi,,,

    Autor :
    Ditunggu part selanjutnya….Request : bikin happy end ya hehehehe

    Hahahaha onie, suamimu selingkuh noh ama Hyo Ra….****ditendang

  3. Wah wktu di SMS kyo unnie lngsng deh aku baca cz aq wktu baca shirmp kiss 1 udah dpet feelx..

    Hoou typox bertebaran dimana2. Spasix kbnykan kali y. .

    Penasaran sama orng yg pke jubah hitam yg ngunciin kyo d.lntai 21. Ibux tunangan teuki pa tunangannya sndiri ya? -_- .
    Wah kget pas hyuk muncul jd pncuri.. ” saya mau klo yg jd pncurinya hyukjae cz hyukjae sudah membwa kbur hti sya #PLAK “. . Dimana2 klo castx hyukjae psti pkirannya yadong melulu, , hoo tp bgus Al un ffx. Smoga kelanjutanyya cpt d.publish. . Lam kenal nicky imnida^ bow ^

    • Wah.. mian2 typonya dmn2. Al lngsung kirim tnpa baca lg soalnya *getok diri sndiri*
      Hmm.. penasaran yg itu? Al jg.. siapa yg nyulik ya? *babo kumat*
      Oh.. mau aja hatinya dbawa kabur hyukppa? Waspada.. jgn2 tuh ati djual sama hyukppa..
      yadong sulit dpisahin dari seorang hyukppa *gubrak*

      Gomawo udh suka ff amburadul Al..
      Salam kenal juga, Aeldra imnida *bow*

  4. dikit terlambat sih tapi pengen bil annyeong,,, lam kenal ma thornya,,,

    lum baca smua sih tapi yg bikin q kaget sampe melotot #jiahhh bahasaku#
    i2 si kunyuk jelek sama sapa??? Aeldra,,,,
    omo,,, tega bangat dy pd diriQIU,,,
    hueeeee,,,,, pukul2 kunyuk #cibicibicibi#

    hueeee,,, baiklah lo i2 maumu kunyuk jelek sekali,,,
    #lap airmata lari kepelukan Tabi#

  5. eonni~~ aku gregetan baca.y ini keren bgt eonn,, author.y daebakk
    siapa yg ngunciin eonni *angkat golok!# heheh,,untung ad soo oppa,, woahh~ romantis bener dehh~~ next part.next part ditungguin yah thorr ^^

  6. Huaaaaa suka.,
    sumpah it geregetan bgt ma teukyo,,
    it c’teuki g bisa tegas dh., trz hyora bikin emosi, apa agy emaknya yang sok bgt.. Udh tw c’ajussi cinta metong ma ajumma, masih maksa”, , *cekek th nenek”*..

    Sumpah pas bgian d.hutang ngakak abis,, dari galau ke lucu,, suka bgt.. Apa agy bayangin muka teuki yg sok polos pas d.rampok.. Wkwkwk pengen ngakak ajj…

    It udh kaya snow white ajj ada kurcaci.,

    indah coment.a udh ya.. Bingung mw koment apa agy.,.
    Dah author al
    dah ajumma cantik..
    Muacchhh
    *hahaha saya agy gila*

  7. alll,..akhirnya drimu menelurkan(?) season 2 nya,,,
    kita udah knlan kan ya,,,
    ini mengharukan,,disaat himpitan(?) bathin mreka akhirnya punya waktu berdua,,
    meski nikah2an tpi dlm hati oppaku pasti nganggap itu beneran,,,

    aku : oppa knpa tu nyosor dluan??
    oppa : *muka merah* kan udah nikah saeng,,
    aku : *getok pala oppa* itu nikah boongan oppaaaaaaa,,,
    oppa : *nyengir gaje*

    dan adegan yg eunkyo di kunci itu pling nyesek,,,untung oppa ada keturunan dukun jdi tau no tlp eunkyo dan bisa nyelametin,,*digetok eomma krna blg ktrunan dukun*,,
    itu cwe yg tunangan oppa bneran baik ato cuma pura pura yaahh???
    al : tunggu kelanjutannya
    aku : ya udah deh,,*nunggu di dpan rumah al*

    eheeemmm,,,fika seneng ih udah nikah ma oppa meski boong2an,,,fika nangis baca ini??
    mang sedih sih,,nyesekkk bgt,,
    jrak publish mang lma tpi terbyar ma ceritanya,,,
    keren keren keren*ala upin ipin*,,,,pokoknya like this yoooo,,,

    sekian komen gaje saya.,,
    kalo typo saya no coment,,yg penting isi,,,
    bye bye *lambai ala miss waria*,, ^_^

    • Onnie… maaf publishnya lama tp hasil ffnya mengecewakan..

      Teukppa bukan keturunan dukun, tp kturunan cenayang… *dbakar Park family*
      Si Hyo Ra tuh baik.. *hueks*
      ngapain onnie nunggu di depan rmh Al? masuk aja.. skalian liat2 isi rumah Al..

      Gomawo udh baca ff aneh ini..^_^

  8. Waaahhh kayaknya udh mulai keliatan,min woo itu suka nya sama hyo ra ya eon ? Bukan sama eonni
    Makanya dia galau2 gitu ngeliat hyora sama oppa

    Sedih iihhh sumpah pas oppa trus ngucap2 saranghae buat eonni😦

    Eh tapi Hyo Ra nya baik ya sama eonni ?? Apa blm aja ?
    Eomma nya Hyo ra jahat bgt ih ama eonni😦

    Eon,lanjutanya jgn lama2 yaaaa
    Fighting !!!
    \(^▿^)/

  9. slam kenal buat author
    rere imnida *bow
    sukaaaa ff ini.
    Apalagi kemunculan 2 makhluk gak penting itu.
    Aku kira beneran thu mereka jd rampok eh ternyata cuma bercanda doank. Tp seru jg deh ma munculnya 2 makhluk gak penting itu. Oh y dtnggu part selanjutnya buat authornya. .

  10. hai Kyo Onnie, halo juga author yang membuat cerita ini~
    hah, apapula ini. telat banget baru baca dan comment sekarang. maklum lah abis ulangan -_- /curcol/ kata2 yang bikin nangis ‘Haruskah ini shrimp kiss terakhir kita? Tapi aku tidak ingin ini menjadi yang terakhir, Kyo~a,’ ah mana mungkin! tidak bisa! ini tidak boleh yang terakhir, harus berlanjuuttt DX ah ga rela dah udah kalo ini dua orang putus dan status nya ga jelas gini! udah nikah lah nikah! /plak/ scene terakhir juga bikin nambah nangis, hadeeeuh mantep lah author bikin ceritanya. hah, aku kira cuma sampe part 2, ternyata masih lajut toh. ditunggu deh author ._.

  11. halo jg…
    late better than never *gubrak*
    haduh,untung bacanya hbs ulangan..
    Al jg g rela kalo tuh 2 org selesai bgitu saja.. tp mau gmn lg..
    ha??? nangis??? hahahaha… ini ff g bikin nangis kok.. bikin kesel iya..
    pngennya smpai byk part biar bs nyaingin cinta fitri (?)*dbantai fika onn*

    gomawo udh baca.. ^_^..
    lanjutannya ini masih direbus..

  12. kyaaa.. romantis bgd oenni..
    y wlaupun nikah bohongan tpi s’engga’a mreka udh ngerasain yg nma’a nikah..

    aq curiga sma hyo ra..
    knpa dy bisa baik bgd ma teukyo pdhal dy udh tw msa lalu teukyo..
    mungkin kh hyora punya rencana jahat buat teukyo..
    qta nantikn part slanjut’a..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s