Back to Me (TeuKyo Couple)

Standar

back to me

Ini sebuah kebohongan

Kita tidak bisa berakhir seperti ini

Kembalilah padaku lagi

Aku mohon kembalilah padaku

Aku tidak bisa percaya pada kenyataan bahwa kau telah meninggalkanku

 

Tidak peduli apa yang aku katakan padamu sekarang

Itu tidak akan memberikan efek apapun

Ini tidak benar, sungguh tidak benar

Aku tidak percaya ini adalah kenyataan

 

Ini semua adalah kebohongan, bukan sebuah kebenaran

Aku tidak bisa mempercayainya lebih lama lagi

Aku akan mengatakan padamu berkali-kali untuk kembali padaku

Ini semua hanya sebuah kebohongan

 

Sekarang kau tidak lagi disampingku

Ini kebenaran dan aku tidak ingin mempercayainya

Kembalilah padaku.

Bahkan jika aku mengatakannya berkali-kali

Semua ini hanya sebuah kebohongan

 

Ini kenyataan

Pikiranku tau, tapi hatiku berkata bahwa aku tidak terbiasa untuk hal itu

Desakan untuk melindungimu datang padaku tanpa aku tau

Tampaknya itu melekat padaku

Situasi ini jatuh diatas kepalaku secara acak

Dan aku tidak bisa menanganinya lebih lama lagi

Aku tidak bisa mengosongkanmu

Aku akan mencoba mengisinya kembali

Aku akan menulis kembali kisah kau dan aku

(The Fact-B2ast)

 

Author’s POV

Seorang lelaki duduk termangu disebuah bangku panjang besi dibawah sebatang pohon rindang. Kakinya bergerak perlahan mengetuk tanah. Otaknya dipenuhi semua kekalutan yang melilit semua energinya. Adalah Park Jung Soo yang dudk termangu dengan hati bimbang mengingat beberapa kalimat yang dituturkan oleh seorang dokter dari sebuah rumah sakit. Kalimat yang begitu mengguncang mentalnya. Melepaskan hidupnya, bukan, bukan hidupnya, tapi semua dunianya. Tidak pernah dia bayangkan seorang yang berbadan tinggi berdiri tegap penuh harapan itu mengatakan ‘itu’.

‘Tidak ada harapan hidup untuknya, semua organnya bisa dikatakan tidak berfungsi. Hanya sebuah keajaiban yang bisa menyembuhkannya.’

Kalimat itu kembali tergiang ditelinganya. Baginya kalimat itu bagai putusan hukuman mati baginya. Jung Soo bangkit dari duduknya dan menghirup udara dengan susah payah. Sudah kering airmatanya, tak ada lagi yang tersisa, yang ada hanya tangisan dalam hati yang menyayat, tanpa seorangpun tau keadaannya. Didalam dia sangat rapuh, meski dia melakukan semua yang dia kerjakan dengan sempurna, sesempurna dia menyembunyikan lara hatinya. Dia mulai melangkah, menuju sebuah gedung tinggi menjulang tempat seseorang tinggal. Kakinya melangkah berat memasuki ruangan demi ruangan, kamar demi kamar yang berjejer. Sebuah gedung rumah sakit yang menyimpan kenangan menyedihkan disetiap jengkal ubin yang tertata rapi dilantai marmer mewah. Dia terus berjalan tanpa memperhatikan orang lain. Hingga dia sampai disebuah ruangan bertuliskan ‘dr. Kim Kyu Min’. Seorang dokter spesialis yang mengangani Eun Kyo, istrinya, yang kini terbaring tak berdaya disebuah sudut ruangan sepi. Jung Soo mengetuk pelan pintu ruangan itu, lalu menyentuh hendel pintu menekannya kebawah, hingga terdengar bunyi ‘clek’. Jung Soo membuka pelan pintu yang ada dihadapannya sambil menunduk memperhatikan langkahnya. Saat pintu terbuka dan memberikan celah untuknya, Jung Soo mengangkat wajahnya. Dia memperhatikan wajah seorang yang mengenakan jas putih sedang duduk mengamati medical record ditangannya. Orang itu tersenyum tipis pada Jung Soo dan mempersilakan Jung Soo masuk dengan tangannya.

“Silakan duduk Tuan Park.” Sekali lagi lelaki itu mempersilakan Jung Soo dengan ucapan yang sopan, khas wibawa seorang dokter.

“Nde.” Jawab Jung Soo pelan. Hatinya masih tidak rela dan masih tersakiti oleh ucapan orang dihadapanya ini. Apa tidak bisa diusahakan? Bisakah semuanya tidak menyerah? Meski Eun Kyo hanya memiliki harapan hidup 0,1 persenpun Jung Soo akan tetap menunggunya. Menunggu bangunnya Eun Kyo dari tidur panjangnya pasca kecelakaan mobil di depan matanya sendiri. Dua tahun yang lalu, kecelakaan itu terjadi.

Jung Soo’s POV

“Oppa, tunggu sebentar. Aku ingin membuang sampah dulu ke bawah. Sebentar saja.” Eun Kyo mengecup pipiku. Kami baru saja pulang dari bulan madu di Tokyo selama seminggu, dan ini baru beberapa hari di apartemen. Dia bangkit dari pangkuanku.

“Nanti saja, itu bisa  ditunda kan?” aku menahan tubuhnya agar tidak bisa berdiri. Dia masih berusaha bangkit, tapi tanganku melingkar dengan kuat di pinggangnya.

“Oppa..” rengeknya. Aku suka jika dia sudah merengak seperti ini, seperti anak kecil yang tidak dipenuhi keinginannya. “Sebentar saja, ne?” dia menjepit hidungku diantara kedua jarinya, telunjuk dan ibu jari. Aku meraih tangannya dan mengambilnya dari hidungku.

“Shireo..” aku balas merengek, dia tersenyum geli.

“Fuih!” dia meniup mataku yang penuh harap menatapnya. Mengambil tanganku dari pinggangnya dan melepaskan pelukanku. “Aku hanya sebentar.” Dia mengecup bibirku kali ini, aku menahannya dengan menekan tengkuknya agar tautannya dibibirku tidak terlepas. Dia memukul dadaku dengan keras, setelah puas menciumnya baru aku melepaskannya.

“Arasseo, sebentar saja.” Dia benar-benar bangkit dan melangkah ke dapur mengambil bungkusan sampah. Aku memperhatikan punggungnya yang menghilang dibalik diinding pemisah dapur. Dia melintas dihadapanku sambil menenteng kantong sampah dikedua tangannya. Aku ingin mengambil sampah itu dari tangannya namun dia mencegahnya.

“Ani Oppa.” Dia menjauhkan kantong itu dariku. “Aku saja, sebentar saja, kau kan baru pulang bekerja.”  Dia berjalan dihadapanku dan menolak ditolong olehku. Apartemen kami terletak di lantai 5. Aku berjalan mengambil botol minuman dari dalam lemari es, lalu menuangkannya pada sebuah gelas. Kuteguk air  dingin itu, mataku tertuju pada sebuah foto berukuran besar pernikahanku dengan Eun Kyo. Dia terlihat sangat cantik mengenakan gaun putih itu. Aku berjalan kearah jendela. Memperhatikannya sedang berjalan dibawah sana. Saat aku mengarahkan cangkir kemulutku, tapi tiba-tiba saja mataku menangkap sesuatu di ujung sana. Aku segera berlari keluar dari apartemen, terus berlari hingga di depan lift, tapi lift itu sedang dipakai. Aku berlari lagi  menuju tangga darurat. Saat aku menuruni anak tangga dengan cepat, sebuah suara dentuman keras terdengar ditelingaku, aku semakin cepat berlari menuruni anak tangga. Terus berlari dengan cepat tanpa memperdulikan orang yang memandangku bingung. Aku sampai di lantai dasar dan segera melanjutkan berlari keluar halaman gedung apartemen. Telambat. Aku sudah melihatnya bersimbah darah. Aku berjalan perlahan menghampirinya, langkahku terasa sangat berat, begitu berat seakan ada beban ratusan kilo menimpa kakiku. Kepalaku terasa pusing, tapi aku harus melanjutkan langkahku. Seiring dengan langkahku menghampirinya, airmataku jatuh tanpa bisa aku tahan. Wajahnya penuh dengan cairan kental berwarna merah pekat. Mulutnya, hidungnya, bahkan telinganya mengeluarkan darah segar. Dengan cepat aku memeluk tubuhnya yang tak sadarkan diri. Sebuah truk besar menghantam tubuhnya.

“Eun Kyo~ya.. ireona..” aku menyibak anak rambutnya yang penuh dengan darah. “Yeobo.. Yeobo….!!” tangisku pecah tanpa bisa aku tahan lagi, aku menangis sekerasnya. Orang berdatangan melihat pemandangan tragis di depan mata. Beberapa orang terlihat ingin membantuku mengangkat Eun Kyo, tapi rasanya aku tidak rela, aku tidak rela dia seperti ini. Suara sirine ambulance terdengar nyaring di telingaku, tapi mataku tidak pernah lepas darinya. Beberapa perawat nampak melakukan tindakan pada tubuh istriku.

“Tuan Park, Anda mendengarkanku?” dokter Kim memandangiku dengan wajah bingung, menanti jawaban dariku.

“Nde?” tanyaku tak kalah bingung. Aku masih mengingat keadaan Eun Kyo waktu itu yang bersimbah darah, ingin rasanya aku menggantikan posisinya pada saat itu. Semua itu salahku, andai saja aku bisa mencegahnya 5 menit saja menahannya, semua itu tidak akan terjadi.

“Kami tidak akan putus harapan, hanya saja, kenyataan kadang tidak sejalan dengan harapan kita.” Ujar dokter itu dengan tenang. Sangat tenang, apa dia sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini? Keadaan melihat hilangnya harapan dari keluarga pasiennya? Saat orang yang dia tangani benar-benar tidak bisa diselamatkan? Kenapa bisa setenang itu? Aku memandangnya dengan nanar. Aku tidak bisa menyembunyikan airmataku, setetes lolos dari mataku.

“Jika anda tidak bisa menyelamatkannya, biar aku yang merawatnya dirumah.” Ujarku dengan getir. Tuhan, adakah jalan lain untuk membuatnya kembali bangun? Kembali memelukku? Kembali merengek padaku? Kembali menciumku? Eoh? Aku bangkit dan meninggalkan ruangan itu dan menuju ruangan Eun Kyo dirawat.  Kubuka perlahan pintu kamar ICU dengan pelan, takut mengganggu istirahat Eun Kyo.

“Yeobo.. ini aku, datang lagi. Kau tidak bosan kan melihatku sepanjang hari mengunjungimu? Eoh?” kuseka airmataku yang mentes di pipi dengan telapak tanganku.

“AH, aku menangis lagi, kau tidak suka melihatku menangis kan?” aku menyapu sisa airmataku. “Aku sangat merindukanmu Yeobo~ya..” kugenggam tangannya yang dipenuhi dengan selang-selang infus, entah apa fungsinya. Alat deteksi detak jantung masih menunjukkan kurva normal naik turun. Aku memandangi wajahnya yang semakin hari semakin pucat.

“Besok kita pulang, ne? Kau suka? Aku yakin kau sudah bosan disini, benar kan?” kubelai pipinya dengan lembut menggunakan ujung jemariku. Aku memutuskan untuk membawanya pulang. Adikku, Park Hyunchan, seorang dokter umum, dia bisa membantuku memnjaga Eun Kyo dirumah, dengan peralatan pastinya. Aku beli langsung dari Jerman, untuk kelangsungan detak jantung Eun Kyo.

“Aku akan mengemasi barang-barangmu.” Aku berdiri dari kursi dan berbalik, kudapati Hyunchan sudah di ambang pintu. Dia memperhatikanku dengan tatapan iba. Aku benci dia menatapku seperti itu, seolah aku adalah orang paling menyedihkan di dunia.

“Keputusanmu tidak tepat aku rasa Oppa.” Ujarya dengan nada tenang, seperti nada yang dokter Kim katakan. Aku benci perkataan dengan nada seperti itu. Tidak tepat? Lalu apa yang mereka lakukan untuk Eun Kyo itu tepat?!

“Tapi disini dia juga tidak ada perubahan.” Aku memasukkan beberapa pakaianku yang aku tinggal disini kedalam tas.

“Tapi kalau dirumah, tidak steril Oppa. Itu akan lebih membahayakan Eun Kyo, kau mengerti?” nada Hyunchan mulai meninggi.

“Lalu apa yang kalian lakukan? Membiarkannya seperti ini? Eoh? Dan dokter Kim bilang tidak ada harapan.” Jawabku dengan lemah, aku sendiri hampir merasa putus asa, dua tahun dia terbaring disini, tidak ada perubahan sama sekali, tak bergerak, bahkan seujung jaripun dia tidak mampu bergerak.

“Tapi setidaknya dia tetap bernafas. Dan kalau terjadi apa-apa akan lebih mudah ditangani Oppa..” Hynchan mencoba bernego denganku.

“Aku bisa merawatnya sendiri Hyunie~ya.” Aku tidak memperdulikannya apapun yang dia katakan. Dia hanya bisa mendengus pasrah.

“Baiklah kalau itu maumu. Kau mau aku pindah ke apartemenmu?” tawarnya, aku memandang wajahnya, aku tau dia mengkhawatirkan Eun Kyo, tapi aku sudah muak dengan semua yang ada disini, rasanya Eun Kyo tidak bisa bernafas di ruangan 5×5 meter ini.

“Tidak perlu, kau hanya perlu mengajariku bagaimana menggunakan dan mengantisipasi alat-alat yang ada di apartemen.” Aku sudah membeli alat itu dan sudah datang beberapa jam yang lalu. Kembali Hyunchan menghela nafasnya, dia mungkin bisa bernafas dengan nyaman, tapi bagiku 2 tahun ini begitu mencekik leherku, membuatku terasa sulit untuk mengambil nafas. Aku harus terlihat baik-baik saja, bahkan Abeoji menyuruhku untuk meninggalkan Eun Kyo dan menikah lagi. Menikah lagi? Sungguh tidak pernah terbayngkan olehku hidup bersama orang lain selain Eun Kyo.

“Baiklah Oppa, kau pulang saja dulu, aku sudah lepas dinas, kau mandi dan ganti pakaianmu, biar aku yang menjaga Eun Kyo. Kau juga bisa istirahat sebentar.” Hyunchan menyentuh lenganku dan menyuruhku untuk pulang, kali ini aku menurutinya, sepertinya aku perlu mandi dan istirahat sebentar.

“Jangan khawatir, Eun Kyo tidak akan aku tinggalkan, setengah detikpun.” Dia tersenyum tulus padaku. Aku juga tau dia sangat menyayangi kaka ipar sekaligus adik iparnya itu, sebab Eun Kyo lebih muda darinya.

“Sebentar lagi Yesung Oppa akan kemari, aku bisa minta temani dia jika aku bosan.” Dia kembali tersenyum dan kali ini aku membalasnya. Hyunchan menepuk pundakku.

“Aku tau kau tidak terima Oppa, tapi..” aku menyentuh tangannya. Menepuknya tiga kali, mengisyaratkan aku baik-baik saja, aku melangkah keluar dan menghilang dibalik pintu.

Eun Kyo’s POV

Aku memandangi sosoknya yang meneteskan airmata memandangku yang terbaring lemah. Aku bisa melihatnya karena selama ini aku selalu mengikuti langkahnya kemanapun dia pergi. Oppa.. maafkan aku selama ini membuatmu menangis, aku ingin menghapus airmatanya namun aku tidak bisa menyentuhnya. Dia mengatakan semua yang membuatku tersenyum sekaligus menagis. Benar Oppa, aku tidak suka melihatmu menangis, kau terlihat jelek. Aku juga sudah sangat bosan di tempat ini Oppa. Terkungkung ditempat sempit ini, meski aku bisa mengikuti kemanapun kau pergi, tapi aku tidak bisa menyentuhmu, aku kesepian Oppa, sangat kesepian, tidak ada yang bisa aku ajak untuk berbicara seperti yang kita lakukan setiap hari dulunya. Aku merindukan pelukanmu Oppa, aku merindukan ciumanmu, aku merindukan tempat kita, sofa kita. Aku menghela nafas duduk memegangi kedua lututku ditepi tempat tidur. Kupandangi kedua saudara itu berdebat mengenai keadaanku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Terpenjara pada dunia antah berantah ini membuatku sedikit tersiksa, namun sepertinya aku sudah mulai terbiasa, dua tahun seperti ini membuatku seakan terbiasa dengan kesendirian.

Masih terasa hantaman besar itu, membuat tubuhku limbung dan terpental jauh. Aku seketika tak sadarkan diri, namun diriku yang lain bisa melihatnya. Darah segar mengalir dari tiap lubang ditubuhku. Pasti terasa sangat sakit, namun aku tidak merasakan sakit sedikitpun. Seketika hening, keadaan sepi, tadinya aku ingin membuang beberapa kantong sampah keujung jalan, tapi berujung kecelakaan naas yang menimpa diriku.

Aku melihat Jung Soo Oppa berjalan perlahan menghampiriku, wajhnya pucat dan menyiratkan sebuah ketidak percayaan. Dia langsung merengkuh tubuhku dalam pelukannya.

“Eun Kyo~ya.. ireona..” suaranya bergetar bercampur tangis. Aku bingung, aku masih belum mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi.

“Yeobo.. Yeobo..!!” kini dia mulai berteriak memanggilku disela tangisnya, dia menyeka semua permukaan wajahku yang penuh dengan darah. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan aku tidak bisa menangis. Beberapa orang mulai membantu Oppa untuk mengangkatku ke dalam ambulance. Oppa tidak henti menangis dan memandangiku. Aku mencoba meraih wajahnya dan duduk disamping. Aku tidak mengerti sebenarnya yang mana diriku yang sebenarnya? Yang terbaring lemah penuh darah? Atau yang tak terlihat ini? Saat aku ingin menyentuh wajahnya, aku tidak bisa menyentuh apapun. Aku menjadi bingung. Aku mencoba untuk menyentuh diriku sendiri, tapi terasa sangat sakit saat aku menyentuhnya, aneh, aku bisa menyentuh diriku sendiri, dingin dan menusuk, itu yang aku rasakan, saat tanganku bersentuhan, nyerinya hingga ke kepala.

“Oppa.. katakan padaku, apa yang sedang terjadi?” aku berbicara di depan wajahnya, tapi dia sama sekali tidak meresponku, dia bahkan tidak memandang wajahku, hal yang tidak pernah dia lakukan. Beberapa orang menurunkanku dari mobil dan membawaku pada sebuah ruangan, menanganiku, memasang beberapa kabel pada tubuhku.

Aku duduk disampingnya yang sedang menyetir, pulang ke apartemen. Terlihat gurat lelah di diwajahnya. Ingin aku menyentuh wajahnya namun aku tidak bisa. Aku mulai meneteskan airmata. Rasanya percuma aku seperti ini. Membuatnya semakin terpuruk. Tuhan, andai saja aku bisa memutuskan, aku ingin kau mengambil nyawaku saja, daripada terperangkap disini tanpa teman dan menyaksikan orang yang aku cintai tersiksa.

“Oppa, aku ingin kau bahagia. Daripada melihatmu seperti mayat hidup seperti ini, aku ingin kau mencari orang lain Oppa.” Bisikku didekat telinganya, namun dia tetap tidak menghiraukanku. Aku benar-benar putus asa melihatnya seperti ini. Dia terdiam, wajahnya menyiratkan kekhawatiran, aku tidak suka melihat Jung Soo Oppa seperti ini. Tuhan, bisakah aku mati saja? Agar aku tidak ingin melihatnya tersiksa seperti ini lagi.

Dia menepikan mobilnya dihalaman gedung apartemen yang selama ini dia tinggali, ralat, kami tinggali, meskipun aku hanya sesaat menempati apartemen itu. Tapi tanpa dia sadari, aku selalu berada di dekatnya, bersamanya. Aku setiap hari makan bersamanya, tidur bersamanya, melakukan segala sesuatu bersamanya, hanya saja.. aku tak terlihat olehnya, mungkin dia menyadari kaberadaanku, hanya saja mungkin dia tidak ingin mempercayainya. Jung Soo Oppa berjalan mengambil handuk dan ke kamar mandi. Aku berjalan mengelilingi apartemen ini. Tidak ada yang berubah, meja dan kursi masih tetap sama. Foto besar yang terpasang di dinding masih tetap sama. Sofa itu, masih tetap sama, bahkan tidak bergeser se-inchi-pun. Yang berubah adalah lemari foto yang penuh dengan fotoku. Ada beberapa yang diambilnya secara diam-diam, seperti saat aku tidur, menonton tv, dan kadang bermain dengan anak-anak. Suara pintu kamar terbuka, aku menoleh pada suara itu, Jung Soo Oppa sudah selesai mandi. Dia melangkah ke arahku, aku menjadi gugup, meski aku tak terlihat, namun terkadang aku tidak menyadari hal itu. Dia duduk di sofa, aku mendekatinya. Wajah ini, yang dulunya sering tersenyum, tapi jika dirumah, dia seolah menumpahkan semua kesedihannya, tidak ada senyum apalagi tawa. Di dalam sini, sendirian, dia seolah melepas peran sandiwaranya diluar sana. Berpura-pura tegar dan berpura-pura kuat. Ingin rasanya aku memeluknya.

“Oppa… aku masih disini, bersamamu, kau jangan seperti ini.” Kusandarkan kepalaku dibahunya. Demi Tuhan, aku sangat merindukan pelukannya. Sangat merindukan ciumannya. Dia menangis lagi, untuk kesekian kalinya aku melihatnya seperti ini. Menyayat hati, tangisan tanpa suara, sambil memandangi fotoku. Dia menutup wajahnya, isakan kecil keluar dari mulutnya, seolah menahan beban berat yang sulit dia keluarkan.

“Ini semua salahku.” Gumamnya, masih dengan menutup wajahnya. Aku tersentak. Bagaimana mungkin dia menyebut semua ini salahnya?

“Bukan saalhmu Oppa, tapi salahku.” Aku menyangahnya, meski aku tau dia tidak akan mendengarku. Seseorang, tolong sampaikan padanya ini bukan salahnya.

“Jika saja aku bisa menahanmu 5 menit saja, semua ini tidak akan terjadi Eun Kyo~ya..” ujarnya lirih. “Oppa… kau tidak salah sama sekali, semua salahku. Andai saja aku menurutimu, aku tidak akan seperti ini.” Setetes airmata tak sanggup lagi aku bendung, aku tidak ingin seperti ini Tuhan. Apa maksud dari semua ini? Jika ini hukuman untukku karena tidak mematuhi suamiku, ini terlalu berat Tuhan. Lebih baik aku mati saja, tidak perlu melihatnya menderita seperti ini, tidak perlu memberinya harapan. Selama aku terbaring di tempat itu, dia akan selalu berharapa aku kembali sadar. Sebaiknya kau ambil nyawaku Tuhan.

Jung Soo Oppa bangkit dari sofa. Aku kembali meperhatikannnya, menghapus airmata yang sejak tadi mengalir, begitu juga dengannya. Mengambil nafas sebanyak-banyak, lalu membuangnya. Dia terdiam sejenak sambil berdiri, lalu melangkah mengambil jaketnya, sekarang musim dingin. Dia membuka pintu apartemen dan aku kembali mengikutinya, dia mengambil mobil dan aku terdiam sejenak, aku tidak ingin mengikutinya kali ini, aku tidak ingin melihatnya meratapi tubuhku, aku tidak ingin melihat wajah-wajah iba yang melihatku terbaring tak berdaya.

Aku kembali ke apartemen dan berbaring di sofa. Kenanganku bersama Oppa kembali terlintas di benakku. Betapa bahagianya awal pernikahan kami, masa-masa bertemu dengannya dulu juga terasa sangat manis. Aku tersenyum sendiri mengenang masa itu.

Aku berjalan tergesa-gesa sambil menarik koperku, mataku menyapu seluruh ruangan luas bandara. Aku mencari sosok orang yang akan menjemputku disini. Aku baru saja kembali dari London menyelesaikan studiku. Aku mencari Appa, kebiasaan, jam karetnya selalu saja menyusahkanku. Aku ingin meninggalkannya tapi takutnya dia mengira aku hilang. Aku meraih ponselku dan ingin menghubunginya. Bukannya dijawab olehnya, tapi malah dijawab operator. Ck! Appa selalu saja seperti ini. Setelah terdengar bunyi dering pesan suara, aku segera memarahinya.

“Appa! Jika sedang sibuk, tidak perlu berjanji padaku untuk menjem!” tiba-tiba ponselku terlepas dari tanganku. Aku tertegun sejenak, seseorang menabrakku, dia terlihat panik. Aku bingung melihatnya, semua berkas yang ada ditangannya berhamburan. Aish! Sudah tidak memperhatikan jalan, dia juga menyusahkanku dengan menghamburkan berkas yang ada di tangannya, tidak bisakah dia menyimpannya saja didalam tas? Bagaimana mungkin ada orang seceroboh dia?Jawabannya hanya satu, aku. Aku juga orang yang sangat ceroboh, demi melihat wajahnya, aku melupakan ponselku.

“Jwesonghamnida Agasshi.” Ujar orang itu terus minta maaf padaku, aku tidak memperhatikan perkataannya, tapi dengan bodohnya aku terus memandangi wajahnya. Orang itu terlihat bingung, namun mata kami saling berpandangan tak mau lepas. Aku menarik koperku, begitu juga dengannya. Saat dia berlalu dari hadapanku, baru aku tersadar. Aku melirik koperku, omo! Ini bukan koperku! Aku berbalik dan meneriakinya, namun sebelumnya, aku meraih ponselku yang tergeletak dilantai terlebih dahulu.

“Chogiyo!” panggilku padanya.  Dia langsung berbalik dan kembali menatapku bingung. Aish! Aku meyukai tekstur wajahnya, kembali aku terpana. “Koper kita.” Ujarku akhirnya mengeluarkan kata, aku menunjuk pada koper yang ditariknya. Dia melirik pada koper yang dari tadi ditariknya. Baru tersadar, koper putihnya ada ditanganku dan koper unguku ada ditangannya.

“AH, jwesonghamnida.” Dia kembali membungkuk. Aku kembali tertegun, dia kembali padaku dan menyerahkan koperku. Aku hanya bisa membalasnya dengan menundukkan kepalaku sejenak. Setelah itu dia berlalu dan kami berpisah.

 

Aku masih duduk di kursi tunggu bandara, menunggu Appa untuk menjemputku. Tiba-tiba ponselku bergetar, aku langsung mengangkatnya.

“Appa! Kenapa lama sekali?!” tanpa aba-aba aku langsung mengangkat dan memarahi lawan bicaraku, tapi yang membuat aku terkejut adalah suara diseberang sana adalah perempuan.

“Yeobose~yo? Oppa?” panggil suara diseberang. Aku terdiam, Oppa? Siapa yang dia panggil Oppa? Eoh? Aku tidak punya saudara perempuan selain Rae Na, dan dia bukan orang yang suka menelpon dan berbasa-basi.

“Ye?” sahutku bingung. Sejenak terdiam, aku tak mampu berkata apa-apa.

“Maaf, bisa kau panggilkan Jung Soo Oppa?” suara perempuan itu kembali berbicara. Jung Soo Oppa? Nugu~ya?

“Mwo? Jung Soo Oppa? Nugu~ya? Ini Eun Kyo, Park Eun Kyo.” Jawabku. Perempuan ini sepertinya salah sambung.

“Mwo? Apa kau kekasih Oppa? Dia tidak penah bercerita padaku sedikitpun tentangmu.” Gumam perempuan itu, aku menjadi semakin bingung.

“Tolong katakan pada Oppa, besok dia harus kembali ke rumah, dan tentunya harus membawamu. Arasseo?”

KLIK!

Telpon itu ditutupnya. Menyisakan pertanyaan dalam benakku, apa maksudnya dengan kembali ke rumah? Kerumah siapa? Aku memang akan kembali kerumahku tanpa harus dia suruh. Tapi siapa dia?

“Eun Kyo~ya.. maafkan aku, tadi ada rapat sebentar.” Aku menoleh pada suara yang memanggilku. Appa. Sejenak aku melupakan kejadian aneh tadi. Aku dan Appa pulang kerumah bersama.

 

***

Hari sudah malam aku sudah membersihkan tubuhku dengan mengguyurnya dengan air hangat, berendam dalam air hangat saat musim dingin seperti ini memang sangat nikmat. Setelah puas berendam, aku keluar dari kamar mandi dan mengeringkan rambutku, tapi aku kembali dikejutkan oleh suara dering telpon, kuangkat tanpa melihat layar, siapa yang yang memanggilku.

“Yeobose~yo?” aku memberikan salam pembuka. Orang diseberang sana terdiam. “Yeobose~yo?” ulangku, tak juga memberikan jawaban. Aku juga terdiam dan menunggunya menjawab.

“Maaf, apa ini ponselku?” tanyanya. Eoh? Hari ini banyak sekali kejadian aneh, mulai dari Appa yang tak kunjung menjemput. Tabrakan dengan seseorang yang mampu membuatku terpana, koperku tertukar, hingga gadis yang menyangka aku kekasih Oppanya, dan sekarang, ada yang menanyakan ponsel yang ada ditangku ini adalah ponselnya.

“Agasshi, aku tidak yakin yang ada padaku adalah ponselmu, tapi tolong lihat dengan jelas, nomor siapa yang menelponmu ini.” Ujarnya lagi semakin membuatku bingung. Aku menjauhkan layar ponsel dari telingaku dan mengikuti instruksinya. Sejenak aku mengeja nomor yang tertera dilayar. Omona! Itu nomorku!

“Omo!” pekikku kembali mendekatkan ponsel itu ke telinga. Lelaki di seberang sana tertawa kecil.

“Apa benar itu nomormu?” tanyanya. Aku mengangguk dengan bodoh! Yak! Park Eun Kyo, bagaimana mungkin dia mengerti jawabanmu hanya dengan mengangguk.

“Yeobose~yo? Agasshi?” panggilnya.

“Oh! Ne, benar sekali.” Jawabku nyaring, kembali sambil mengangguk.

“Untunglah kalau begitu, ponsel kita tertukar, sepertinya kau gadis yang berpapasan denganku di bandara tadi. Sekarang aku lagi di Busan. Besok aku akan pulang, bisa kita menukar ponsel kita?” tanyanya.

“Ah, ye. Jwesonghamnida..”

“Cheonmane~yo. Besok aku hubungi lagi.” Ujarnya.

“Ne.” Sahutku. Dia memutuskan sambungan telponnya. Benar-benar hari yang aneh.

Aku tersentak saat bunyi kode pengaman apartemen ini dibuka. Pintu dibuka dengan perlahan, dan aku melihat Jung Soo Oppa, juga Hyunchan Onnie membawa tubuhku masuk ke dalam. Aku terdiam sejenak, melihat tubuhku terbujur lemah tak berdaya. Bolehkah aku meminta Tuhan? Sadarkan aku atau ambil aku secepatnya.

Jung Soo’s POV

Aku sudah menyiapkan sebuah kamar khusus untuk Eun Kyo nantinya, lengkap dengan peralatan yang sama dengan yang ada di rumah sakit. Aku tidak peduli dengan semua orang yang mencegahku untuk tetap menjaganya. Bagaimana mungkin aku bisa melepaskannya? Eoh? Itu sama saja mengambil nyawaku. Sebaiknya ambil nyawaku saja sekalian. Kubaringkan tubuhnya yang lemah diatas ranjang yang penuh alat yang aku beli untuk menunjang kehidupan Eun Kyo. Aku melihat wajah Hyunchan yang melihatku prihatin. Aku tidak ingin memperdulikannya. Kami mengangkat tubuh Eun Kyo keatas tempat tidur dan Hyunchan memsang beberapa alat ketubuhnya. Aku tidak sanggup melihatnya dan memilih untuk keluar dari kamar. Kurebahkan tubuhku diatas sofa yang biasa aku gunakan bersama Eun Kyo untuk santai. Mataku terpejam, tanpa terasa aku tertidur, tapi telingaku masih bisa mendengar suara Hyunchan sedang berbicara dengan seseorang, pasti Yesung. Aku berusaha untuk tidak menghiraukannya dan menutup pikiranku lebih dalam untuk menuju alam bawah sadarku.

“Oppa..” ditelingaku terdengar sebuah suara memanggilku dengan lirih, suara yang sangat aku kenal. Suara yang sangat aku rindukan, begitu aku rindukan. “Oppa..” sekali lagi aku mendengarnya. Aku mencoba membuka kedua kelopak mataku. Aku mengusapnya, menajamkan penglihatanku, benarkah apa yang aku lihat? Aku melihat wajahnya tepat berada didepan wajahku. Dia berdiri disamping sofa tempat aku berbaring, dicondongkannya badannya hingga wajahnya tepat berada di depan wajahku. Aku mengusap mataku sekali lagi.

“Oppa!” panggilnya dengan senyum mengembang. Senyum cantiknya yang selama ini aku ridukan. Mengenakan baju terusan putih selutut, terlihat sangat cantik.

“Aku senang sudah pulang ke rumah Oppa.” Ujarnya, dia mendaratkan tubuhnya di perutku, membuatku sedikit terhenyak. Aku masih belum mempercayai ini, ini mimpi atau kenyataan?

“Oppa, bogoshipeo..” direbahkannya tubuhnya diatas tubuhku. Aku benar-benar tidak bisa berbuat apapun, tubuhku membeku. Tangannya menyilang didadaku, menumpu dagunya dilipatan tangannya.

“Kau tidak merindukanku?” ujarnya manja dengan wajah yang menggemaskan. Aku terdiam. Kakinya terangkat dan berayun di udara. “Oppa..” panggilnya masih dengan nada manja. Tuhan jangan katakan aku bermimpi.

“Jadi kau tidak merindukanku.” Wajahnya cemberut dan terlihat kecewa, dia menekan dadaku dengan tangannya, bertumpu untuk mengangkat tubuhnya. Segera dia kupeluk tubuhnya dengan erat, membuatnya sedikit berteriak tertahan. Aku mendekapnya dengan erat, airmataku tak dapat aku bendung.

“Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu, begitu merindukanmu. Merindukanmu setiap saat. Benar-benar merindukanmu.” Kupeluk tubuhnya lebih erat, tak peduli dia tidak bisa bernafas, aku hanya ingin dia berada dalam dekapanku selamanya.

“Aku senang kau membawaku kembali ketempat ini.” Ujarnya, mengecup bibirku dengan kilat. Hanya menempel beberapa detik dan dia melepaskannya, padahal aku ingin merasakannya lebih lama. Dia meletakkan wajahnya di dadaku.

“Oppa, aku sangat merindukanmu, tidak ingin berpisah darimu.” Ujarnya lirih terdengar ditelingaku. Aku kembali memeluknya erat.

“Aku tidak akan meninggalkanmu.” Jawabku. Kukecup ujung kepalanya. Kembali aku tidak bisa menahan airmataku. Tenggorokanku terasa sakit, rasanya tidak bisa berkata apa-apa lagi, aku berusaha menahan isakan tangisku. Tapi cairan bening dalam hidungku memaksaku untuk mengeluarkan suara. Dia menengadah menatap wajahku, disapunya airmata yang mengalir dikedua sisi pelipisku.

“Kenapa menangis Oppa? Kau tidak suka bertemu denganku?” wajahnya terlihat kecewa. Gadisku ini begitu menarik, apalagi jika sedang cemberut seperti ini.

“Haha, aku terlalu senang makanya aku menangis.” Aku tertawa akhirnya. Dia memukul dadaku. Aku semakin menertawainya. Dia juga terus memukul dadaku, dan itu terasa sakit.

“Oppa, Oppa!” dadaku terasa sakit, aku merasa seseorang memanggilku, bukan suara Eun Kyo. Tiba-tiba aku tersentak, mataku terbuka dengan paksa. Aku mendapati Hyunchan sedang memukul-mukul dadaku. Aku terdiam memandangnya.

“Oppa, kau kenapa? Menangis sambil tertidur.” Ujarnya, wajahnya terlihat khawatir. Aku masih terdiam. Ternyata ini hanya mimpi, tapi rasanya mimpi itu benar-benar nyata.

“Kau pasti belum makan kan? Ayo kita makan sama.” Ujarnya menarik tanganku. Aku memang belum makan seharian ini. Aku juga merasa, bobot tubuhku turun. Tapi aku benar-benar tidak suka makan saat dia terbaring lemah. Aku tidak suka makan sendirian. Aku ingin dia yang ada dihadapanku, aku ingin dia yang memasak untukku, meski memang makanannya tampak sedikit berantakan, tapi rasanya tak seperti penampilannya. Aku menyukai apapun yang dia masak.

“Aku tidak ingin mendengar jawaban tidak. Ayo bangkit.” Sekuat tenaga adikku mengangkatku hingga memerlukan bantuan Yesung. Akhirnya aku mengalah, aku bangkit sendiri dan menuju meja makan. Aku duduk dihadapan Yesung dan Hyunchan. Kami memang kerap kali makan berempat saat masa pacaran dulu.

“Aku sudah kehilangan satu orang orang, tidak ingin kehilangan yang satu lagi.” Hyunchan menekankan kata ‘yang satu lagi’, dan aku mengerti yang dimaksud ‘yang satu lagi’ itu adalah aku. Aku balas meliriknya.

“Aku mengerti perasaanmu, tapi kau jangan begini Oppa.” Ujar Hyunchan kembali menasehatiku. Aku kembali diam.

“Dia juga pasti tidak akan suka kau seperti ini. Kau bisa bersandiwara di depan orang lain, di depan Appa dan Eomma sekalipun, tapi kau tidak bisa bersandiwara padaku Oppa.” Sambungnya.

“Kau jangan mengatakan mengerti segalanya sebelum kau berada di posisiku.” Kuangkat piring makananku dan meninggalkan mereka. Aku ingin makan bersama istriku. Kulangkahkan kakiku menuju kamar.

“Yeobo, aku ingin makan bersamamu.” Sapaku pada Eun Kyo. Aku kerap kali berkomunikasi dengannya selama 2 tahun ini meskipun itu hanya satu arah, tapi aku yakin dia mendengarnya, hanya saja dia tidak bisa menjawabnya.

“Kau terlihat cantik hari ini.” Kusuap makananku ke dalam mulut. “Setiap waktu kita bisa bersama, tak terbatas dengan waktu kunjungan.” Kuhabiskan makananku dengan cepat dan kuletakkan piring kotor di meja makan lalu kembali bersama Eun Kyo.

“Yeobo, aku tau kau akan baik-baik saja, iya kan? Kau pasti kembali seperti dulu.” Ku genggam tangannya dengan erat yang terpasang selang infus.

“Cepatlah sembuh, aku sangat merindukanmu.” Kuciumi punggung tangannya berganti dengan telapak tangan.

“Oppa, aku akan mengantarimu makan setiap hari, kalu bukan aku, nanti Yesung Oppa yang akan melakukannnya.” Kepala Hyunchan menyembul di daun pintu. Aku meliriknya sebentar lalu mengalihkan kembali pandanganku pada Eun Kyo.

“Tidak perlu repot-repot Hyunie~ya, aku bisa mencari makan sendiri.” Tolakku, aku tidak suka menyusahkan orang lain.

“Ani, aku tidak merasa keberatan.” Sergah Hyunchan.

“Pikirkan saja pasienmu, tidak perlu mengkhawatirkanku. Asal dia tetap bernafas, dan kurva ini tetap bergerak dengan teratur, aku masih akan tetap hidup.” Jawabku sambil menunduk, menyembunyikan airmataku. Aish! Padahal hari ini hari yang membahagiakan. Tapi mengapa jadi penuh airmata dariku?

“Dia juga pasienku.” Hyunchan menunjuk pada Eun Kyo. Aku mengikuti arah telunjuknya. Memandangnya dengan nanar. Aku masih belum bisa percaya yang terbaring lemah ini adalah ‘gadisku’.

“Terserah saja.” Jawabku akhirnya.

“Kalau begitu Hyung, aku pulang dulu.” Yesung menyela pembicaraanku. Aku tersenyum padanya.

“Terima kasih sudah membantu Yesung~a.” Aku mencoba memberikan senyum tertulusku. Kalau bukan dorongan dari mereka, aku tidak bisa bertahan seperti ini.

“Aku juga pulang Oppa.” Hyunchan mengecup pipiku. “Aku harap kau baik-baik saja.” Diraihnya kepalaku dan dipeluknya sejenak sebelum meninggalkanku. Begitu banyak cinta, tapi aku hanya memerlukan satu cinta.

Author’s POV

Tanpa terasa Jung Soo tertidur disamping Eun Kyo. Dia tertidur dalam posisi duduk. Menggenggam tangan istrinya dangan erat. Tanpa dia sadari seseorang memperhatikannya dengan prihatin. Seseorang itu mendekatinya dan membelai rambutnya dengan sayang.

“Oppa, aku tidak ingin kau seperti ini.” Gumam seseorang itu masih membelai rambut Jung Soo. Perlahan Jung Soo menggeliat dan menoleh pada sosok yang berdiri di sampingnya.

“Eun Kyo!” pekik Jung Soo. Dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, hingga saat dia membuka matanya dan melihat sosok yang berada dihadapannnya dia langsung bangkit dan sedetik kemudian, dia langsung memeluk gadis yang ada dihadapannya.

“Aku kira kau meninggalkanku.” Ujar Jung Soo getir.

“Aku tidak meninggalkanmu Oppa, aku selalu ada di dekatmu, setiap saat.” Jawab Eun Kyo, balas memeluk Jung Soo dengan erat. Setelah 2 tahun, baru kali ini mereka bisa kembali berkomunikasi, meski dengan dimensi yang berbeda.

“Oppa, aku kesepian.” Eun Kyo berkata lirih, membuat pelukan Jng Soo mengendur dan melepaskan pelukannya demi melihat wajah Eun Kyo. Jung Soo menarik dagu Eun Kyo dan mengarahkannya ke wajahnya agar mereka bisa saling bertatapan.

“Aku juga merasa kesepian.” Jawab Jung Soo. Dia menatap lembut mata Eun Kyo. “Tapi bagaimana kau bisa seperti ini Yeobo?” Jung Soo menoleh pada tubuh Eun Kyo yang terbaring lemah. Eun Kyo menggeleng.

“Nan Mollasseo Oppa.” Setetes airmata lolos dari pertahanannya. “Tapi Oppa, aku tidak ingin melihatmu menangis lagi, aku ingin kau selalu tertawa, seperti dulu.” Eun Kyo mencubit pipi Jung Soo. “Kau terlihat kurus.” Sambungnya. Jung Soo tersenyum, dia benar-benar bahagia, tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.

“Aku akan bahagia jika kau di dekatku.” Jung Soo kembali memeluk Eun Kyo. “Kapan kau bisa kembali?” tanya Jung Soo seraya melepaskan pelukannya.

“Entahlah Oppa.” Ujar Eun Kyo, dia memeluk Jung Soo. “Oppa, aku sangat merindukanmu. Selama ini aku sendirian, tidak ada yang mengajakku berbicara, aku kesepian.” Wajah Eun Kyo mendongak menatap Jung Soo. Jung Soo menurunkan wajahnya dan mengecup bibir Eun Kyo. Lama dan semakin lama, hingga kecupan hangat itu berubah menjadi lumatan lembut. Mereka menikmatinya, menikmati kebersamaan mereka lagi meski itu adalah hal yang rancu dan ruang dimensi yang berbeda.

Tubuh Jung Soo tersentak. Ia terbangun dari tidurnya dan mendapati Eun Kyo masih terbaring lemah. Dia menoleh pada sebuah alat disampingnya. Masih berjalan. Hatinya begitu khawatir jika alat itu menunjukkan garis lurus, tapi pada kenyataannya kurva masih berjalan naik-turun secara statis.

“Selamat Pagi, Yeobo. Saranghae.” Jung Soo membisikkan kalimat yang selalu dia katakan jika bangun tidur sebelum melesat ke kamar mandi.

Eun Kyo’s POV

Sudah beberapa hari ini aku kembali tinggal di apartemen, senang rasanya kembali ke tempat ini dan tak lagi mencium bau kematian. Di tempat itu aku selalu mencium bau kematian setiap harinya, belum lagi harus melihat mereka menangis di tinggalkan. Kupandangi wajah sedang memperhatikanku duduk di tepi tempat tidur yang aku tempati. Akhir-akhir ini aku sering berkomunikasi dalam tidurnya. Aneh, sekarang, saat dia tidur, aku bisa berbicara dengannya, jadi saat dia terlelap itu adalah waktuku dengannya. Memang tidak masuk akal, namun yang aku tau, aku tak lagi harus kesepian setiap saat. Aku tidak mengerti ini adalah anugrah atau permainan takdir,tapi berkomunikasi dengannya ketika tidur selalu membangkitkan obseseiku untuk benar-benar kembali, namun aku tak tau bagaimana caranya. Apa yang harus aku lakukan?

“Apa yang harus kita lakukan Yeobo? Aku senang akhir-akhir ini kita sering berkomunikasi. Tak ada yang percaya aku bisa bertemu denganmu.” Ujarnya lirih sambil memegangi tanganku.

“Aku juga senang Oppa.” Jawabku sambil bersandar di bahunya, hanya saja dia tidak bisa merasaknnya. Kupeluk tubuhnya dengan erat.

“Aku ingin kau kembali Eun Kyo~ya, tolong buka matamu..” sambungnya lagi.

“Aku juga ingin kembali, tapi bagaimana caranya?” tanyaku lirih. Jung Soo Oppa menoleh pada jam dinding yang terpasang di dinding. Sudah waktunya Jung Soo Oppa bekerja, mentari sudah menyembul dibalik pepohonan. Jung Soo Oppa bangkit dan pergi ke kamar mandi.

***

Jung Soo Oppa sudah berangkat bekerja. Aku tinggal sendirian di apartemen ini. Ku susuri kembali setiap ruangan yang dulu aku tinggali. Tak hentinya aku memperhatikan semua peralatan yang ada di tempat ini. Peralatan makanku masih tersusun rapi. Dia benar-benar menantikanku. Piring dan cangkir yang kami buat bersama. Tapi yang paling menarik perhatianku adalah sepasang boneka kertas yang juga aku buat bersama bersama Jung Soo Oppa.

“Oppa, ayo kita kesini!” aku menarik tangan Jung Soo Oppa agar mengikutiku memasuki sebuah galery kerajinan tangan yang terletak di pinggir kota Busan, saat aku dan Oppa masih bertunangan. Kami liburan bersama ke rumah Halmeoni. Menyusuri jalanan ini begitu menyenangkan. Saat aku menarik tangannya memasuki galery itu. Aku sangat tertarik, saking tertariknya, aku tak hentinya berlarian kesana kemari memperhatikan kerajinan yang ada disini. Galery pembuatan boneka kertas, khas korea. Boneka yang terbuat dari kulit pohon mullberry ini sangat mengagumkan. Aku sangat senang memperhatikan boneka-boneka itu.

203_o

hanji paper doll 3

“Mau mencoba membuatnya sendiri, Agasshi?” tanya seseorang tiba-tiba berdiri disampingku. Seseorang yang ternyata adalah pemilik galery ini. Aku mebungkuk padanya.

“Boleh?” tanyaku dengan antusias, saking antusiasnya aku memegang tangan orang itu. Tangan seorang namja. Jung Soo Oppa melirikku dan berdehem.

“Ehem.” Ujarnya aku tersadar dan melepaskan peganganku. Aku hanya terlalu antusias. Mianhae Oppa..

“Boleh saja. Hari ini aku sedang berbaik hati, dilakukan dengan gratis. Biasanya aku menarif setiap pengunjung yang ingin membuatnya sendiri sebagai uang kursus. Jika kau bisa menyelesaikannya dalam waktu satu hari kau bisa mengambil hasil kerjamu tanpa membayar.” Ujarnya. Aku semakin antusias.

“Yeobo, Halmeoni pasti sudah menunggu kita.” Oppa menarik tanganku. Aku tidak memperdulikannya. Kulepaskan tanganya dan aku menarik tangan lelaki itu.

“Shin Donghae.” Ujarnya. Aku menoleh pada lelaki tinggi bertubuh gembul ini, kukerutkan dahiku menandakan aku sedang bingung dengan apa yang dia ucapkan. “Namaku Shin Donghae. Panggil saja aku Shindong.” Senyumnya merekah. Aigoo, dia terlihat sangat manis jika tersenyum. Dia membawaku ke sebuah ruangan, sepertinya memang ruangan untuk membuat boneka kertas itu. Jung Soo Oppa mau tidak mau mengikutiku.

“Oppa, ayo kita membuatnya sama-sama.” Kubuat dia duduk disampingku di sebuah kursi plastik. Dia terlihat enggan. Aku menoleh padanya dan memberenggutkan wajahku. “Kau tidak suka?” tanyaku sedikit kecewa padanya. Dia tersenyum dan mengeser kursinya ke belakangku. Dipeluknya tubuhku dari belakang dan dagunya mendarat di pundakku.

“Ani, apapun yang kau suka aku pasti akan suka.” Aku tau dia berbohong, dia tidak terlalu antusias.

“Shhindong~ssi, tolong beritahu bagaimana cara membuatnya.” Shindong memperagakan bagaimana langkah-langkah membuat boneka dari kertas itu, aku mengikuti instruksinya dengan cermat. Aku sudah bisa membuat kerangka boneka itu, tinggal menggambarnya dan membuat baju untuknya.

“Bagaimana Oppa? Cantik?” tanyaku. Oppa hanya memperhatikanku tanpa membantu sejak tadi. Aku tersenyum memandang hasil karyaku sendiri.

“Lebih cantik boneka itu daripada dirimu.” Digigitnya telingaku. Aku menggidikkan bahuku.

“Oppa, sakit..” aku cemberut padanya.

“Ayo kau juga harus membuatnya.” Kutarik keduanya melalui sela tubuh dan lenganku. Tubuhnya makin menempel di punggungku.

“Kau saja yang membuatnya.” Ujarnya malas.

“Oppa!” aku menghentak tangannya, tanda aku tidak suka.

“Arasseo, arasseo.” Shindong hanya tersenyum melihat tingkah kami. Aku dan Jung Soo Oppa memandangnya yang sedang menertawakan kami.

“Shindong~ssi, jika mencari jangan mencari wanita yang manja dan pemaksa sepertinya.” Jung Soo Oppa melirikku.

“Apa maksudmu pemaksa dan manja? Eoh? Aku?” protesku. Manja? Aku manja? Aku tidak merasa manja.

“Ani, orang lain.” Kilah Oppa.

“Tapi kau tadi bilang sepertinya. Aku kan?” Kutolehkan wajahku menatap wajahnya yang berada disampingku. Dia langsung mencium bibirku beberapa detik, hanya menempel namun mampu membuat wajahku merah padam. Aku mencubit perutnya.

“Oh! Oh! Oh! Arasseo, arasseo. Shindong~ssi, kau harus mencari istri seperti dia jika ingin menikah.” Ujar Oppa sambil menghalau tanganku.

“OPPA!” protesku lagi sambil terus mencubit lengannya.

“Hahahahahahahaha.” Tawa Shindong pecah dengan keras. Aku memandanginya dan menghentikan aksiku menyiksa Jung Soo Oppa. “Kalian memang pasangan serasi.” Sambungnya sambil terkekeh dan menghapus airmata yang keluar dari matanya karena kebanyakan tertawa.

“Ara, ayo kita selesaikan, lalu setelah itu pulang.” Kembali dia mengecup bibirku. Aku menghapusnya dengan tanganku. Jung Soo Oppa senang sekali menciumku di muka umum, sebenarnya bukan dimuka umum, tapi di depan beberapa orang. Aku dan dia membuat boneka itu dengan serius. Hangga menyelesaikannya. Aku tersenyum lebar, hasil karyaku tidak terlalu jelek.

dolls_two

“Shindong~ssi, benar ini gratis?” tanyaku manja. Shindong hanya tersenyum dan mengangguk

“Khusus untuk wanita cantik yang manja dan pemaksa.” Shindong melirik pada Jung Soo Oppa. Aku mengikuti arah lirikannya. Mereka tersenyum penuh arti dan saling berpandangan. Aku menginjak kaki Jung Soo Oppa dan meninggalkannya.

“Yak, Yeobo, tunggu aku.” Teriak Jng Soo Oppa. Aku sejenak melihat sertifikat yang terpasang di dinding, sebuah penghargaan terhadap Shindong akan dedikasinya terhadap budaya Korea. Ternyata dia lebih tua dariku.

“Yeobo, kau belum berterima kasih.” Teriak Jung Soo Oppa lagi. Aku sudah terlanjur kesal dengannya. Aku terus berjalan dan membuka pintu.

“Shindong Oppa, Gomawo~yo.. kapan-kapan aku akan kesini lagi.” Teriakku tanpa menunggu Jung Soo Oppa yang susah payah mengejarku.

Pintu apartemen terbuka dengan kasar, membuatku tersentak dan detak jantungku tiba-tiba menjadi dua kali lebih cepat. Aku menoleh. Jung Soo Oppa. Sudah kembali? Aku melirik jam dinding, memang sudah waktunya dia pulang. Tapi dia tidak pulang sendirian. Aku melihat sosok paruh baya berjalan mengikutinya dari belakang. Seketika perasaanku berubah menjadi haru. Appa. Sudah lama aku tidak melihatnya. Aku memandangi wajahnya, kerutan wajah yang terlihat jelas menampakkan bahwa dia memang berumur. Aku sangat merindukan pelukan hangatnya.

“Abeonim, aku mohon jangan terus mendesakku seperti ini.” Ujar Jung Soo Oppa berkata dengan tegas namun tidak mengurangi nada hormatnya.

“Tapi ini sudah terlalu lama, kau harus bisa meneruskan hidupmu Jung Soo~ya, jangan berharap terlalu banyak, juga jangan menutup diri.” Nasehat Appa. Apa yang sedang mereka bicarakan? Aku terus memperhatikan mereka. Jung Soo Oppa melepas jas yang melekat dibadannya, begitu juga dengan Appa. Mereka duduk di sofa ruang tengah, aku berdiri di dekat jendela memperhatikan mereka.

“Aku tidak ingin melihatmu seperti ini.” Ujar Appa lirih. Aku memperhatikan mereka yang terdiam, tiba-tiba Jung Soo Oppa bangkit dan mengambil botol minuman serta 2 gelas cangkir. Jung Soo Oppa menuangkannya untuk Appa.

“Aku baik-baik saja Abeonim.” Jawab Jung Soo Oppa meyakinkan.

“Kau, mau aku kenalkan dengan gadis anak temanku?” Appa mengarahkan minuman ke mulutnya dan meneguknya.

“Abeonim…” Jung Soo Oppa menolak, aku tau dia menolak.

“Tapi kau tidak bisa hidup selamanya seperti ini. Kita tidak akan bisa tau kapan Eun Kyo akan bangun. Meski dia tetap bernafas, tapi tetap saja dia sama sekali tak bergerak.” Ujar Appa. “Aku ingin kau menikah lagi dan menjalani hidup dengan bahagia.” Sambung Appa, dia menghabiskan minuman yang ada di gelasnya.

Nde? Menikah lagi? Appa… aku berjalan ke kamar mandi dan duduk di dalam bath-tub yang tidak terisi air. Menikah lagi? Itu artinya dia menggalkanku? Beberapa hari yang lalu aku memang ingin dia melepaskanku, tapi sejak aku berkomunikasi denngannya, aku merasa.. aku merasa tidak rela. Airmataku menggenang di kedua pelupuk mataku dan mengalir deras di kedua pipiku. Permainan apa lagi yang harus aku mainkan?

Jung Soo’s POV

Sudah beberapa hari ini Abeonim memaksaku untuk berkenalan dengan beberapa orang gadis yang ingin dijodohknnya padaku. Aku sebenarnya tidak tertarik, tapi aku juga merasa tidak enak dengannya selalu menolak. Hari ini aku mencoba untuk bertemu dengan seorang gadis. Aku mengendarai mobilku menuju sebuah rumah makan tempat aku dan gadis itu berjanji untuk bertemu. Kutepikan mobilku di parkiran rumah makan itu. Masuk ke dalam rumah makan itu dan mengambil duduk. Aku memesan kopi sementara menunggunya datang. Aku memperhatikan beberapa pasangang yang berjalan di depan membawa anaknya. Hatiku tiba-tiba merasa sakit.

“Jung Soo~ssi. Sudah lama menunggu?” seseorang menyapaku, suara seorang gadis. Aku menoleh padanya. Memberikan senyumku. Cantik.

“Ani, tidak terlalu lama. Silakan duduk.” Dia menarik kursi yang ada dihadapanku. “Kau mau makan apa?” aku membuka-buka buku menu dan seorang pelayan berdiri menungguku memesan. Aku terdiam, tidak tau harus berkata apa. Dia pun juga terdiam.

“Bagaimana keadaan Eun Kyo?” dia melirikku, aku balas menatapnya. Dia tau tentang Eun Kyo. Aku terdiam. Apa yang harus aku jawab?

“Aku belum memperkenalkan diri. Namaku Song Hye Ra.” Ujarnya sambil tersenyum. “Dan kau pasti bingung kenapa aku tau tentang Eun Kyo, kan? Aku tau, dari Park Ahjussi.” Jelasnya.

“Baguslah, aku tidak perlu mengatakannya lagi padamu.” Ujarku sedikit dingin. Aku rasanya tidak suka dia membicarakan Eun Kyo, seolah dia meremehkan istriku.

“Aku bisa menggantikannya.” Tambahnya lagi dan membuatku tersentak, namun aku menyembunyikan keterkejutanku. Ini yang aku tidak suka jika bertemu atau ingin memulai hidup baru dengan gadis lain,  ini yang aku takutkan. Dia seolah merasa lebih baik dari Eun Kyo, aku tidak suka dia menyebutnya menggantikan posisi Eun Kyo.

“Aku bisa membantumu melupakannya.” Aku terdiam tak ingin menjawabnya. Emosiku tiba-tiba menggelegak, namun aku tahan. Karena dia tidak sepenuhnya salah, tapi aku tidak suka caranya menyampaikan. Eun Kyo memang bisa dikatakan hampir tidak ada harapan, tapi aku tidak suka jika dia menyebutnya melupakan Eun Kyo, siapa bilang aku ingin melupakannya.

“Kau tidak seharusnya terus seperti ini, Oppa.” Aku menatapnya tajam. Mulai jengah dengan pembicaraan ini. “Kau masih muda dan sukses, juga berpenampilan menarik. Kau bisa memilih gadis mana saja untuk menemanimu menjalani hidup, dan aku bersedia. Maaf jika aku terlalu terbuka.” Pelayan datang dan menghidangkan makanan dihadapan kami. Aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Kami makan dalam diam. Hanya dia yang berbicara hingga makanan kami habis.

“Biarkan aku antarkan kau pulang Hye Ra~ssi.” Aku bangkit. Dia mengikutiku. Kubukakan pintu untuknya dan mengantarnya ke apartemennya.

***

Aku kembali ke apartemen. Dan merebahkan tubuhku diatas sofa danmemejamkan mataku. Hari ini aku benar-benar emosi, dan aku ingin cepat-cepat bermimpi, bertemu dengan Eun Kyo danmemeluknya. Akhir-akhir ini aku sering bermimpi tentangnya, dan itu benar-benar seperti nyata.

“Oppa..” seseorang menggeser tubuhku dan dia berbaring miring disampingku. Aku menoleh ke samping. Eun Kyo, dia memeluk lenganku.

“Kau pulang terlambat hari ini.” Ujarnya dengan raut kecewa. Aku menjadi merasa bersalah padanya.

“Mianhae Yeobo~ya, aku tadi ada janji.” Jawabku sekenanya.

“Dengan seorang gadis?” tembaknya langsung membuatku terkejut dan berdebar. Tebakannya benar seratus persen. Aku terdiam.

“Jika kau menyukainya silakan saja Oppa..” dia berkata lirih dan membalik tubuhnya membelakangiku. Aku juga memiringkan tubuhku menghadap punggungnya. Kutarik pinggulnya agar dia mendekat padaku dan menempel pada tubuhku.

“Aku tidak mungkin meninggalkanmu.” Aku berbisik ditelinganya. Meyakinkannya bahwa aku sungguh tidak akan meninggalkannya. Bahunya bergetar, dia menagis.

“Aku yang meninggalkanmu Oppa. Kau tidak pernah meninggalkanku.” Kupeluk tubuhnya dengan erat. Aku mencoba membalik tubuhnya agar menghadapku, tapi dia menolak. Kuangkat tubuhku dan kutumpu pada sebelah sikuku. Aku melihatnya menangis. Kusapu airmatanya.

“Ya.. kenapa menangis? Aku hanya mencintaimu, tidak akan ada yang lain.” Ku kecup pipinya hangat.

“Aku ingin kau hidup dengan normal Oppa.” Wajahnya menoleh padaku, dan menatapku tajam. Matanya berkaca-kaca. Sisa airmata masih ada di kedua matanya. “Tapi aku juga merasa tidak rela.” Tangisnya pecah. Aku memposisikan diriku diatasnya. Dia semakin terisak.

“Uljima.. aku tidak suka melihatmu menangis.” Beberapa kali kusapu airmatanya dan merapikan rambutnya kebelakang telinganya.

“Oppa.. kenapa ini harus terjadi pada kita? Eoh? Apa salahku? Kenapa harus terjadi seperti ini? Jika aku bersalah karena tidak patuh padamu, tapi hukuman ini sangat tidak adil. Aku mulai tidak bisa menerimanya. Aku ingin mengajukan banding, tapi pada siapa?” ujarnya panjang lebar. Rasa yang mengganjal dalam hatinya sepertinya dia keluarkan hari ini. Aku memeluknya erat.

“Kita tidak bisa terus seperti ini Oppa.” Ujarnya lagi disela isak tangisnya. Lama dia menagis, dan selama dia menangis aku memeluknya dengan erat. Setelah beberapa menit, dia mulai tenang, tangisnya mulai reda, dan dia mengambil nafas dalam. Kulepaskan pelukanku dan menatapnya.

“Kita tidak bisa seperti ini Oppa. Aku harus pergi agar kau bisa tenang.” Ujarnya.

“Oppa! Oppa!” seseorang meneriakiku. Aku bangun dengan tiba-tiba. Menyisakan debaran jantung yang begitu cepat. Aku mengucek mataku dengan malas. Hyunchan.

“Oppa, kau lupa mengunci apartemenmu.” Ujarnya sambil menutup semua tirai jendela.

 “Kemana saja kau Oppa?” dia menoleh padaku.

“Abeonim mengenalkanku pada seorang gadis.” Hyunchan berhenti dari aktifitasnya.

“Lalu bagaimana? Cantik?” tanyanya antusias. Aku tidak suka melihat pandangan orang yang sangat antusias jika aku membicarakan gadis.

“Cantik?” tanyanya. Aku mengangguk. “Kau menyukainya?” aku menggeleng. Hyunchan menghela nafas.

“Percuma saja menyuruhku mencari yang lain, selama Eun Kyo masih bernafas, aku tidak akan melepaskannya. Dia pasti kesepian sendirian. Aku teringat dia menangis dalam dekapanku. Aku meraba dadaku. Basah. Aku membeku. Mungkinkah semua ini nyata?

***

Tidur dan bermimpi adalah hal yang paling aku sukai akhir-akhir ini. Karena dalam mimpi dan tertidur, aku bisa menyentuh Eun Kyo. Dia kembali menghampiriku diatas sofa, duduk di dalam pangkuanku. Tatapannya terlihat aneh. Dia terus memandangiku. Aku memegangi wajahnya.

“Kenapa memandangiku seperti itu?” kutarik wajahnya mendekat padaku dan menciumnya. Dia kali ini yang menciumku dalam, saat aku ingin melepaskan bibirnya, dia menahannya dengan menahan kepalaku agar tidak menjauh dari wajahnya. Aku membiarkannya melumat bibirku. Setelah berciuman, dia melingkarkan kedua tanganya dileherku dan memelukku.

“Aku pasti akan sangat merindukanmu Oppa.” Ujarnya. Belum sempat aku menanyakan apa maksud dari pernyataannya, aku kembali terbangun oleh suara bel. Aku terdiam sejenak, lalu bangkit menuju pintu depan. Kubuka pintu depan mendapati sosok gadis cantik tinggi semampai berdiri dihadapanku. Song Hye Ra.

“Annyeong Oppa.” Dia membungkuk. “Aku tadi lewat sini dan berniat mampir kerumahmu.” Ujarnya. Aku sebenarnya tidak ingin melihat wajahnya, tapi apa boleh buat.

“Silakan masuk.” Da mengikutiku masuk kedalam apartemenku dan duduk di kursi ruang tamuku.

“Kau mau minum apa?” tanyaku basa-basi.

“Terserah saja Oppa. Tapi apa kedatanganku mengganggumu?” tanyanya. Aku berjalan kearah lemari es dan mengambil minuman kaleng lalu menyerahkannya padanya.

“Ani, hanya saj a aku ingin istirahat.” Aku duduk di kursi yang ada disampingnya. Dia mengangguk.

“Banyak sekali foto kalian Oppa.” Dia memandangi foto-fotoku bersama Eun Kyo. Aku juga ikut memandanginya. Aku tidak berniat ingin menceritakannya padanya. Lama kami terdiam, hingga akhirnya dia angkat bicara.

“Sepertinya kau lelah Oppa. Sebaiknya aku pulang saja.” Dia bangkit dan aku mengantarnya sampai depan pintu. Setelah dia pergi aku langsung dengan cepat pergi ke kamar Eun Kyo dan berusaha memejamkan mataku, tapi anehnya aku tidak bisa. Aku terjaga sampai pagi disamping Eun Kyo.

***

Beberapa hai ini aku menjadi susah untuk tidur, padahal aku inginn sekali tidur. Aku mencoba tidur dimanapun saat waktu luang dengan bantuan obat tidur. Yang membuatku sedih dan frustasi, saat aku bermimpi, tak pernah sekalipun Eun Kyo kembali hadir dalam mimpiku. Aku merasa kosong. Benar-benar merasa kesepian. Seperti inikah kesepian yang dia rasakan selama 2 tahun ini?

“Oppa, ireona…” seseorang mengguncang tubuhku. Aku membuka mataku, ternyata aku masih dikantor. Rae Na dan Sung Jae berdiri dihadapanku.

“Kau kenapa masih tidur disini Oppa? Kau mau jadi penghuni tempat ini? Untung saja tadi kami mampir kesini, semua karyawanmu sebagian sudah pulang.” Ujar Rae Na. Aku terdiam, aku memikirkan Eun Kyo.

“Aku ingin minum, bisa kalian temani aku?” aku menarik salah satu tangan adik iparku dan juga adikku kiri dan kanan. Kupaksa mereka untuk menemaniku. Kubawa mereka berdua ke sebuah bar di jalanan kota dan kusewa satu box eksklusif agar tidak ada yang menggangguku.

“Kalian berdua tidak boleh minum, hanya aku yang boleh.” Kutuang satu gelas wine ke dalam cangkir lalu menenggaknya dengan satu kali tegukan. Tidak sabar, aku minum langsung dari mulut botolnya. Sung Jae menahan tanganku.

“Sudah cukup Oppa. Kau sudah keterlaluan. Eun Kyo Onnie pasti akan marah jika dia tau.” Nasehat Sungie untuk membuatku berhenti minum.

“Biar saja dia marah, agar dia kembali padaku. Dia meninggalkanku Sungie~ya… dia meninggalkanku…” racauku mulai dikuasai alkohol. Sungie merebut botol wine itu dari tanganku, sementara Rae Na menahan tubuhku.

“Dia tidak ingin lagi bertemu denganku. Dia menghindariku. Aku tidak punya hubungan apapun dengan wanita itu, sungguh!” teriakku. Aku mulai mengamuk. Rasanya aku ingin menghancurkan semuanya, untuk apa aku juga tidak tau. Aku ingin marah, tapi pada siapa?

“Dia pasti marah, dia pasti marah padaku.” Pandanganku mulai kabur dan tidak fokus. Aku mencoba bangkit namun sangat sulit, jika saja Sungie dan Rae Na tidak cepat meraih tubuhku aku sudah roboh terjatuh.

“Dia pasti marah karena aku bertemu dengan wanita itu Rae Na~ya…” aku mulai menangis, aku ingin marah. Aku sedih. Tuhan, aku tidak bisa seperti ini. Aku terduduk dan melepaskan cengkraman Sungie dan Rae Na pada kedua tanganku.

“Ini semua salahku, jika saja aku bisa menahannya 5 menit saja, atau bahkan 1 detik saja, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Semua ini salahku. Tuhan! Tolong hukum aku saja! Jangan menghukumnya!” teriakku marah.

“Oppa… jangan menyalahkan diri sendiri. Berhentilah menyalahkan diri sendiri.” Ujar Rae Na. “Aku tau kalian kuat, cinta kalian kuat. Tapi jika kau seperti ini, bagaimana kau dan Onnie bisa bertahan…” sambungnya. Aku menatapnya, mencoba meresapi apa yang dia katakan. Kuusap wajahku dan menunduk. Kujernihkan pikiranku sejenak.

“Bawa aku ke toilet.” Pintaku. Mereka berdua memapahku menuju toilet. Aku pulang bersama Rae Na dan Sungie. Sesampainya di apartemen, aku terkejut, semua orang berkumpul. Appa, Eomma, Abeonim, Halmeoni, Yesung, Hyunchan, Minho, dan juga Hyukjae. Aku memandangi wajah mereka satu persatu. Tiba-tiba rasa cemas menderaku. Mengapa mereka semua berkumpul disini?

“Oppa. Aku ingin bertanya padamu.” Ujar Hyunchan. Dia menarikku masuk ke dalam apartemen. Wajahnya terlihat serius.

“Sejak kapan kau mengkonsumsi ini?” dia mengangkat tangannya, dalam genggamannya ada seotol obat. Itu obat tidurku. Aku mencoba meraihnya namun dia mengangkat tangannya menghindari tangkapanku.

“Kembalikan.” Ujarku dingin. Dia tetap tidak mengembalikannya.

“Kembalikan padaku!” teriakku padanya. Amarahku mulai memuncak, aku tidak suka dia mencampuri urusan pribadiku. “Park Hyunchan!” teriakku tidak tahan. Semua orang menghampiri kami, aku hampir saja memukul wajahnya jika saja Hyukjae tidak menahannya.

“Hyung, kendalikan emosimu.” Minho nampak menjauhkan Hyunie dariku. Keadaan menjadi kaku dan tegang. Hyukjae dan Yesung menarikku ke dalam kamar.

“Kau kenapa Hyung?” tanya Yesung membuka suara. Aku hanya terdiam.

“Kau, sejak kapan kau mengkonsumsi obat-obatan itu? Eoh?” tanya Hyukjae. Aku duduk di tepi tempat tidur sambil menahan amarahku yang masih tersisa. Mereka juga terdiam, menunggu jawabanku. Hyukjae berjalan menuju jendela dan membukanya. Angin malam masuk kedalam kamarku dan menusuk permukaan kulitku.

“Aku ingin tidur.” Aku merebahkan tubuhku. Tidak akan pernah putus asa aku tertidur agar aku bertemu dengannya. Tak peduli meskipun itu tidur selamanya.

“Sebentar Hyung. Jawab pertanyaan kami dulu.” Yesung menahanku untuk berbaring.

“Apa yang harus aku jawab?” tanyaku malas.

“Ada apa denganmu selama ini? Setelah Eun Kyo dibawa pulang kerumah kau terlihat sangat kacau, apa perlu kita kembalikan Eun Kyo ke rumah sakit?” ujar Hyukjae.

“Andwae!” jawabku cepat. “Dia kesepian di rumah sakit.” Sambungku lirih. Mereka menatapku penuh tanda tanya. Aku balas menatap mereka. Menghela nafasku kemudian menghirupnya dalam.

“Kalian boleh percaya atau tidakpun tidak mempercayainya, sejak aku membawa Eun Kyo ke tempat ini, dia selalu hadir dalam mimpiku. Aku bisa menyentuhnya, memeluknya bahkan menciumnya. Dia terlihat nyata, tapi saat aku terbangun di tetap terbaring lemah.” Aku bernafas sejenak. Rasanya dadaku sesak mengingat Eun Kyo beberapa hari tidak pernah menampakkan diri lagi.

“Tapi akhir-akhir ini dia tak pernah lagi menemuiku. Itu sebabnya aku ingin selalu tertidur.” Kutundukkan kepalaku, aku tau apa yang aku lakukan memang gila. Mereka berdua membuang nafas dengan keras.

“Hyung.. kau..” perkataan Hyukjae menggantung. Yesung menepuk bahuku. Kami terdiam. Namun teriakan dari luar.

“Oppa!” pekikan suara Hyuncahan membuatku tersentak. Aku langsung bangkit dan menghampiri mereka. Aku melihat kearah Eun Kyo. Terdengar suara mengerikan yang sangat takut aku dengar selama ini. Bunyi ‘Tiiiitt’ yang panjang. Aku berjalan menghampiri Eun Kyo perlahan. Airmataku jatuh. Saat sampai dihadapannya, aku langsung memeluknya, tangisku pecah dan terdengar nyaring, aku tidak peduli.

“Yeobo… jangan tinggalkan aku. Jangan tinggalkan aku. Aku mohon kembali padaku! Bangung, ayo bangun!” aku mengguncang tubuh lemahnya. Saat mendapatinya tetap tak bergerak, aku kembali memeluknya dengan erat. Sangat erat, aku menangis sejadi-jadinya. Aku ingin protes tapi protes pada siapa? Ini tidak adil sangat tidak adil.

Eun Kyo’s POV

Aku melihatnya sangat kacau dan aku berniat tidak ingin menghancurkannya lebih dalam, aku harus mengambil keputusan. Tuhan, tolong ambil saja jiwaku yang entah berada dimana ini. Aku memejamkan mataku, namun sebelum aku pergi, aku memperhatikan satu-persatu orang yang telah berkumpul disini. Appa.. ingin rasanya aku memeluknya. Cintanya yang tak terhingga, yang selalu mencintaiku selama ini, aku rasanya tidak tega meninggalkannya dimasa tuanya sendirian. Eomoni, sosok wanita paruh baya yang terlihat lembut dan penuh kasih sayang, mampu memberikanku cinta yang berlimpah dan membuatku kembali merasakan kasih sayang Eomma. Halmeoni, sosoknya yang berwibawa adalah panutan kami. Abeoji, dia adalah teman diskusi paling hangat yang pernah aku temui. Hyunchan Onnie, teman curhat yang sangat membantu. Juga cinta Sungie yang selalu membuatku melayang, seolah aku adalah adiknya. Juga Rae Na, dia lawan berdebat yang handal, meski pada akhirnya aku harus mengalah. Minho, Yesung Oppa dan juga Hyukjae, dia teman yang ramah. Aku meneteskan air mata. Tiba-tiba tubuhku terasa sangat sakit. Kakiku, tanganku, tubuhku semuanya menjadi sakit, mataku menutup dan aku tidak bisa lagi melihat apapun karena cahaya putih yan menyilaukan kini menghalauku.

“Yeobo… jangan tinggalkan aku. Jangan tinggalkan aku. Aku mohon kembali padaku! Bangung, ayo bangun!” aku mendengar suara Jung Soo Oppa memanggilku. Badanku masih terasa sakit. Oppa memelukku dengan erat, namun aku tidak bisa membuka mataku, badanku pun tidak bisa aku gerakkan, tapi yang pasti, aku dapat merasakan sakit dan aku, aku sudah kembali pada tubuhku. Semuanya terdengar menangis. Hey, aku masih hidup. Aku masih hidup. Akhirnya setelah berusaha keras, aku bisa menggerakkan jemariku, bagian terkecil dari tubuhku yang bisa aku gerakkan hanya jari. Mereka masih belum menyadari, aku mencoba keras membuka mataku. Namun perlahan aku bisa membuka mataku. Aku bisa melihat mereka satu persatu, tapi mereka sibuk memangis tanpa menyadari kesadaranku.

“Oppa.. aku sudah kembali..” suara serakku akhirnya keluar, meski sangat pelan sekali. Tubuh Jung Soo Oppa memmbeku, dia melepaskan dekapan eratnya dari tubuhku. Dia memandangku bingung. “Aku sudah kembali, jangan menyiksa dirimu sendiri lagi.” Ujarku. Dia masih bingung, namun seulas senyum mengembang dari wajahnya. Dia kembali memelukku.

“Eun Kyo Onnie.” Ujar Sungie dan Rae Na bersamaan. Aku menggerakkan tanganku untuk membalas dekapannya. Kusematkan sepuluh jemariku dirambut halusnya.

“Bogoshipda Oppa.” Ujarku masih dengan suara serak. Akhirnya aku bisa kembali memeluknya. Terima kasih Tuhan. Diujung putus asaku, kau memberikan takdir yang manis sekaligus menakutkan secara bersamaan. Aku harus memulainya dari awal lagi.

FIN

 

Note : ga tau neh aku nulis apaan ini, yang pasti saya lagi aneh. Ini fantasi atau bukan aku juga ga tau, yang pasti ini kurang masuk akal. Mungkin dari kalian banyak yang bilang, ih mirip 49 Days, mau  percaya atau tidak aku belom pernah nonton, tapi pernah dengar ceritanya. Ga papa, mungkin terinspirasi dari sana, meski aku ga membayangkan itu. Abis aku tulis aku baru nyadar, eh kaya cerita 49 Days yang Rae Na ceritain. Tapi aku sebenarnya lebih senang kalau ini terinspirasi dari Humming, meski ga sama ceritanya, tapi temanya yang sama. Yang sebenarnya ini terinspirasi dari lagunya In Heaven-nya JYJ.. hahahahahaha, ribet amat yak saya? Terserah kalian lah yang menilai… kalau sudah baca silakan tinggalkan jejak, karena sekarang saya lagi galau, dan ini buah kegalauan saya, jadi harus tinggalka jejak! *Maksa, emosi tak terkontrol*

69 responses »

  1. Hahaha..
    Baguuuss eon.. =D
    Aku suka haha..

    Aku baca ini malah bayang’in jung il wo.. *pletak*
    Hahahahaa..
    Untung happy ending kalo ga,
    Mgkin aku ga comen.. Hehehehe.. =P

    eon, CL after story’na manaa? Hehe
    Aku menanti looh..
    =P

  2. Huaaa teuki setia bget…
    Tumben… Biasa.a selingkuh mulu #d.jitak teuki

    it cerita.a miris bgt… Pulang honeymoon langsung koma…, jiah it appa eunkyo pengen menantu.a kawin agy?? Malang nasipmu jumma *geleng”*

    aduh pokok.a ini ff galau bgt dah jumma…
    Tapi kok ak seneng ya c’ajussi menderita…#d.tabok
    abis dy suka selingkuh si dari eunkyo jumma..
    Hehehe

  3. kirain ga bkal hidup lgi eunkyo nya,,
    suka scene yg aku cium pipi ma peluk oppa*lompat kgirngan*

    fikaaaa bagus ini,,,
    menyyat hati,,,tdinya mo nangis eh ga jdi krna sunggyu elus2 eonn*dilirik yeppa*
    dan eonn parno jdinya karna “sofa”,,,
    jadi tempat favorit teukyo,,,

    aigooooo,,,saya ga nyangka saya muncul dsini*sujud sukur*
    aku : eh ada yeobo,,*sembunyiin sunggyu*
    yeppa : itu siapa yg di blkangmu yeobo,,
    aku : bukan sapa2 oppa hnya seorang yg membtuhkanku,,
    *sarap mode on*
    ini bgus kok fik.,,,
    bagus,,gus,,guss,,,,
    keren,,ren,,,ren:,,,
    ff eonn lom slesai mlah,,,

  4. Jiaahaaa ..
    akhir’a teukyo couple ada lagi🙂 !
    sumpah, itu klo jadi teukie aq ga kuat tuh, 2 taun ditinggal eunkyo, malah baru nikah juga, wkwk . tpi yg pas nyesek’a wktu teukie’a kenalan sma Song Hye Ra, nyesek bat itu, tpi aku suka cerita’a .. haaa, kesetiaan’a teukie patut diacungkan jempol (?) ! aku suka ff’a eonnie , u,u .. ditunggu ff teukyo lagi yaww

  5. Onnie, mian bru mampir .. Aq lg kesel ni ma dosen’q gara2 dpet C. T.T

    Kyo onnie, aq nangis ni bacanya.. Kasian bgt oppa tanpa onnie.
    Pas eun kyo ga muncul2 lg d mimpinya soo oppa, aq udh nangis gara2 ngira bakalan sad ending.
    Ni aq udh siapin tisu toilet 1 gulung #lebay#.
    Untung happy ending onnie. Aq suka ff yg happy ending. #ga ada yg nanya#.
    Abiz baca ff onnie, aq nontn film korea lama judulnya humming. Ceritanya jg sedih yg cew’nya koma mati otak.. Jdilah aq nangis berkelanjutan.. #plak#.

    • jangan minta maaf kalo ga mampir… itu bukan salah kamu…
      alhamdulillah aja, untung bukan D kan??
      jangan menangis… hahahahahhahahaha.

      humming aku suka banget… aku sesenggukan juga nontonnya, keren gila!! apalagi pas bikin lagu. huweeeeeeeeeeeeeeeee
      tidak ada yang percaya kalo cwenya sering datang…
      nyesek banget filmnya…

  6. eonni~~ ini menyedihkan, aku smpe nangis bca.y pas ngira klo eonni gk muncul lgi di mimpi.y oppa,, tpi.tpi akhir.y happyend jga, senenggg~~
    mian eonn, bru smpat komen, aku bnyak ulangan soal.y akhir” ini😀

  7. Hah ok deh onnie. Akhirnya dirimu menetaskan ff baru lagi. Telur kali menetas. Hehehhe.
    Galau.
    2 tahun dan si ahjussi masih mau menanti?
    Betapa dia sungguh mencintaimu onn.
    Keren deh buat menggalau

  8. eoniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii aku ketipu aku pikir bakal mati eun kyo eon…aigoooo….
    miris bgt bacanya…
    sedih + galau bgt ddah…..

    tapi aku suka genre nya sedih sedih tp berakhir bahagiaaaaaa wkwkwkwwk

    kereeeeen dah eon…
    pkknya suka abdi teh…wkwkwkwk

  9. hadeuh hadeuh hadeuh, baru baca nih Onnie ~.~ gila, kecelakaannya dahsyat nih. bisa bikin Onnie… apa ya? koma? .-. selama 2 tahun lamanya, Onnie hebat nih bisa bertahan selama itu :”D ah sudah feeling, tidak mungkin kan Onnie meninggal? Onnie ga bakal tega ninggalin Oppa sendiri! kkkkkk. percaya deh, huauahuahaua😀 /apasih aku/

      • ha? jinjja? Onnie ngeliat kecelakaan secara langsung? terus langsung punya ide untuk buat ff ini? :0 kkkkkk. hebat deh Onn, coba Onn kali2 posisi nya di tuker(?) Oppa yang kecelakaan, Onnie yang menderita(?) /loh/ ahahahaha, iya dooong, nanti kalo ceritanya Onnie ninggalin Oppa, terus Oppa sama cewek lain gimana? bisa2 Onnie di surga mencak2 sendiri😄 ah cie aku di peluk😄 /peluk Onnie balik/

  10. itu untungnya onnie sadar,,,
    coba lo tidak,,,
    saia sdh kumpulin SESUATU buat di seleksi,,,,

    hmm,,, se,, suatu,,,, bangeeetttt,,,,
    #laribareng Tabi#,,,

  11. Spechless..
    Ga tau mw ngomong apa..
    Bner” khilangan kata”..
    Yg jelas ini bner” bikin nyesek..
    Dri awal smpe akhir bca, slalu bkin nyesek n galau..
    Dan flashback’y malah bkin tmbah miris..
    Tpi untung’y happy ending, klo ga kmar q psti banjir airmata.. *lebai*

  12. Happy ending ? Kirain sad ending eonn :p

    kirain eunkyo ga bisa ninggalin dunia karena jung soo ga mau nglpasin eunkyo trus endingnya teuki nglpasin eunkyo hahahaha ternyata SALAH😀

    Eonn bkin yang sad ending dong dong dong🙂

  13. Buahahahahaa #gabruxx
    ga sedih ya na? anuu~ inih, sedih sdkit, tp kok entahlah.. *org aneh dtg mmbwa sejuta k’anehan* aku lucu baca’y eonnie, dr flashback2 itu aku ngakak.. #lol *d’timpok eonnie*

    apalgi ending’y.. aigooo~ bnrn aku jd ingat my girl pas bca kata ‘tiiiiittt’ ahahahaa tp msh hidup.. si eonnie maksa bgt yah? hahaa aku tau eonnie ga mau pisah sm oppa,ckck mengharu biru.. ah, Daebak deh eonnie.. bkin lg, smpe aku nangis eon..wkwk *cerewet*
    mian telat bgt muncul’y.. sibuk saya *sok sibuk*😄

    • sombooooonngggg sok sibuk lu!
      aku malah mau bikin yang benar-benar mati nantinya.
      aku g atau my girl, taunya humming aja, tapi di humming cewenya bener-bener mati. ah suka banget aku… keren sumpah! maksa? mungkin, itu malaikatnya bingung, mau ngasih kesempatan apa dibawa, sempat di bawa, tapi aye balik lagi. iya kan bang angel??

  14. ya knpa comment q gak da ya pdhal dah comment lewat hp…
    ya dah dech mgkin pake hp lagi error jd comment lagi…

    tak kira eunkyo ninggalin jung soo oppa ternyata tidak, ya alhamdulillah dech coz aq lbh suka eunsoo couple…
    aduh jungsoo oppa begitu setiax nungguin eunkyo mekipun dah dipaksain bwt nikah lagi ma ortux, aq salut bgt kykx aq pengen bgt pnya suami kyk dia…heehe
    #mian eonn jgn marah ya…hehehe

  15. Ff ini sukses bikin aku mewek TT_TT

    Daebak. Angst nya kerasa banget. Cinta jungsoo-eunkyo hebat bgt ya . Tetap bertahan dlm penantian yg nyaris tanpa harapan.

    Nice ff =D

  16. Hiks.. hiks… dr sekian banyak ff.. kenapa comment Al yg lancar masuknya cuma ini???
    Onnie.. huweee……this a great ff… Al suka bgt..
    nyesek bgt liat teukppa yg jd seneng tidur gara2 pngen ketemu onnie..

    untung aja akhirnya onnie bangun, kalo gak… teukppa bakalan Al kenalin sama tetangga sebelah..hahahaha..

    Aih.. Dong-Dong Oppa muncul…tp kasian.. cuma bisa ngiri ngeliat kemesaraan teukyo..

  17. oh.. galau gara2 sakit gigi?
    udh ke dokter blm onn?
    jgn bilang g brani ke dokter???
    kalo sakit giginya g terlalu parah, pake cara mudah aja onn buat nyembuhin..
    ehm.. kumur air hangat pake garam coba..
    biasanya kalo ada temen al yg sakit gigi, dia kumur itu.. *cara norak tapi ampuh*

  18. Hii,, i am ur new reader,, ini Ff pertama yg aq baca di wp.qmu,, salam kenal🙂
    err,, sebenernya aq suka ide ceritanya,, suka ma kesetiaan.nya si Jungsoo,, tp yg bikin greget ya pas eunKyo nya bangun ceritanya udah kelar,, pdhal pengen baca abis dia bangun trus ngapain gt,, wkwkwkwk *ga penting*
    okeh good job,, ntar klo aq baca yg laen lagi,, aq komen lagi deh,, ciao!!

  19. puanjang banget,,
    keseluruhan ya cerita dari yang panjang itu sedih,galau semua tapi gak bosen bacanya, setiap paragraf nyatain kesedihan yang berbeda-beda,, bahasanya benar2 mendalami thor…
    sama ama yang lain, kaget pas eunkyo bangun langsung ada kata “FIN”..
    daebak lah thor,,berhasil nyambung gala yang kemaren gue tunda =.=a

  20. sekilas kaya ceritanya drama 49 days.. serupa tapi tak sama ^^ untungnya disini cewe ny hidup lagi… c abang teuk kasian ampe minum obat tidur biar dia bisa ketemu eun kyo… frustasi banget hidupny..
    sini sini bang,,, aku pasti bakalan bisa membuat abanag lupa sm eun kyo😛 *plaaaak #dilempar sendal eoni fika

  21. miris… habis honeymoon langsung koma, bersenang-senang dahulu bersedih sedih kemudian (?)

    aku ngebacanya udah hopeless loh kalo eun kyo bakalan selamat ._. apalagi leeteuk yg nungguin u.u

    tapi ternyata memang mukjizat itu ada #plak/apaini
    untuung happy ending😀

  22. ini emang bikin galau banget#apalagi aku ga bisa nahan airmata#hiks2

    kasian teuki mesti melihat istrinya selama dua tahun kayak gitu, kalau yang cinta.a dangkal mah pasti langsung cari pengganti

  23. Aaaaaaa,pingsan ne gua…puanjang n keren bgt…

    Gila 2thn koma,g ngapa_ngapain..g pegel tu badan…

    Ckckck..gak ad org kyk leeteuk oppa nunggu orang koma ampe 2thn…

  24. kangen teukyo ;(
    aahhh buka buka blog oenni lg dan nemuin ff in..
    Aku nangis serius!!
    Oke aku menjadi alay..tp aku memang merindukan kalian..merindukan cinta kalian yg sangat besar..
    Oenni aku harap kau tidak jd vacum🙂

  25. dri judul’a aq qra mah teukyo itu cerai, trus leeteuk oppa minta balikan.. eh ternyata salah besar..

    oenni udh sukses ngeluarin air mataku hri ini..

  26. aku nangiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiisss…..
    huweeeeee eonni… sungguh teganya teganya teganya…. #dangdutanbarengKyuHae…
    ya ampun beneran deh… teukie oppa gak ada org sepertimu di dunia ini…. kau sukses membuatku menangis….

    aaahhhh…. menunggu kan hal yang paling membosankan. tapi tidak untuk si oppa… nunggu sampe 2 tahun…. omegot…. oppa saranghae *jauhiEonni* #dilemparKyuhyun

    selalu ada yang manis setelah yang pahit… #apasih?

    eonni-ya…. aku semakin mencintai couple ini… ah… pen baca yang lain…😀

  27. kyaaa eonni kau buatq nangis malem’, salut bgt buat teuki yg sbr bgt nunggu eonni bangun dari koma, keren bgt eon feel’nya dpt bgt, tpi ada yg kurang eon part ending’a kyk msh gantung ada sequel’a gag eon? pokok’a bagi byk jempol dah buat eun kyo eonni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s