Secret of The Heart (MinNa Couple)

Standar

Aku sedang menunggu begitu lama
Untuk datangnya suatu keajaiban
Semua orang mengatakan kepadaku untuk menjadi kuat
Tunggu dan jangan meneteskan air mata

Melalui kegelapan dan waktu yang baik
Aku tahu aku bisa melaluinya
Dan dunia mengira aku memiliki segalanya
Tapi aku sedang menunggumu

Sekarang
Aku melihat cahaya di langit
Oh, hampir membutakanku
Aku tidak percaya
Aku telah tersentuh oleh malaikat dengan cinta

(A New Day has Come – Celine Dion)

 

Minho’s POV

Aku tergeletak lemah tanpa tenaga. Mengingat kembali kejadian beberapa saat yang lalu yang membuatku terdampar disini. Mike menyuruhku untuk melakukan misi. Misi apa? Aku adalah segelintir makhluk yang tidak pernah diketahui oleh manusia dan mungkin oleh makhluk-makhluk lainnya di bumi ini. Aku bukan manusia serigala, bukan juga seorang vampire sang penghisap darah. Aku adalah seorang penghirup cahaya dari makhluk hidup yang biasa disebut aura. Kami menamakan kaum kami adalah valux. Kami hidup dari menghirup aura yang memancar pada tubuh manusia, tetapi tidak menghilangkan aura tersebut. Mencari manusia, tapi tanpa membunuhnya, hanya berada didekat manusia kami bisa hidup. Kami bukan seorang parasit hanya saja membutuhkan manusia sebagai inang untuk hidup. Dilarang keras bagi kami untuk menampakkan diri dihadapan manusia. Jika itu terjadi, maka keinginan untuk menghisap jiwanya akan mendorong naluri kami sebagai pembunuh. Aku adalah putra sang pemimpin bangsa valux. Sebut aku Elias. Aku ditugaskan sang Raja untuk mencari lucens. Lucens adalah semacam cahaya abadi yang bisa melindungi dan menjaga kelangsugan bangsa kami. Tetapi dimana lucens itu berada, aku juga belum mengetahuinya. Dalam bentuk apa, juga tidak ada penjelasan dari sang Raja.

Beberapa waktu lalu terjadi perebutan kekuasaan antara bangsa valux dan bangsa trevas. Pada awalnya kami adalah satu jenis makhluk, namun bangsa trevas membangkang dari ketentuan yang telah disepakati. Mereka para penghisap jiwa. Memang sangat nikmat memangsa korban lalu menghisap jiwanya, akan semakin membuat diri kita menjadi kuat, namun jiwa predator akan semakin sulit dikendalikan. Aku melatih diriku untuk tidak melakukan hal itu. Bangsa trevas, sebelum menghisap jiwa manusia, terlebih dahulu dia bercinta dengan korbannya, itu yang membuatku tidak sejalan dengan keyakinan mereka. Menjerat para korban dengan pesona yang mereka miliki dan menghisap auranya lalu mengambil jiwanya. Itu sangat licik dan bukan perbuatan yang baik mengingat kami -maksudku bangsa kami dan manusia atau sejenisnya- adalah ciptaan Sang Penguasa.

Aku berjalan gontai disepanjang jalan yang aku tidak ketahui aku berada dimana, beberapa pasang mata manusia menatapku aneh. Aku terus berjalan. Kini tubuhku tidak lagi punya sayap, karena aku telah menampakkan diri pada manusia. Aku menghindari tatapan manusia untuk menghindari rasa hausku akan jiwanya. Terus berjalan hingga sampai disebuah bangku kosong. Disana bertebaran sebuah iklan yang berisi penjualan sebuah villa. Aku mangambil kertas itu dan membacanya. Sebuah villa di kaki bukit, membuatku tertarik untuk kujadikan sebagai tempat tinggalku. Jauh dari perkotaan dan tidak akan menyusahkanku jika tiba-tiba aku berubah wujud. Aku mendekati salah satu manusia dan menghirup auranya, meski tidak memulihkan tenagaku, namun setidaknya tenagaku mulai terisi kendati sedikit. Orang itu melihatku heran, mungkin mengira aku orang gila karena mendekati tubuh mereka lalu menghirup aromanya dengan nikmat. Ketampanan adalah salah satu kelebihan bangsa kami, karena kami bukan penghisap jiwa, maka tubuh kami tidak jauh berbeda dengan manusia, hanya saja kulit kami lebih putih, berbeda halnya dengan para penghisap jiwa, mereka terlihat lebih gelap.

“Apa yang kau lakukan?” tanya seseorang yang aku dekati, mungkin mereka ketakutan aku berbuat jahat pada mereka.

“Tidak, maaf. Boleh aku bertanya? Ini ada dimana?” tanyaku pada orang itu, seorang ibu-ibu gendut.

“He? Kau tidak tau ini tempat apa? Ini Seoul, kau darimana? Tidak pernah kesini? Kau terlihat aneh.” tanyanya heran, dia bercerita panjang lebar, namun aku tidak mendengarkan perkataannya, aku sedang menikmati auranya. Aku menggeleng. Dia berlalu meningalkanku dengan raut heran. Aku bertemu lagi dengan seorang pejalan kaki, dia terlihat rapi dengan pakaian hitamnya.

“Maaf, kira-kira ini di daerah mana?” aku menyerahkan selebaran yang aku pungut di jalan tadi.

“Ini? Kau naik bis jalur itu.” Dia menunjuk halte yang ada di seberang jalan. “Lalu naik tanjakan kira-kira 200 meter. Kau berniat membelinya?” tanya aku orang itu mengernyitkan dahi.

“Sepertinya aku tertarik.” Jawabku.

“Kau tidak tau rumor yang beredar mengenai villa itu?” tanya orang itu lagi berbisik.

“Memangnya ada apa?” tanyaku juga heran. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang berirama kencang, aku bisa membaca keadaan orang lain melalui detak jantungnya, rasa takut, rasa bahagia, rasa cinta, rasa benci, rasa bingung dan sebuah rasa keberanian. Aku bisa merasakan detak jantungnya mengalunkan irama ketakutan. Aku tersenyum.

“Pemiliknya dibunuh beberapa waktu yang lalu, sangat mengerikan, orang-orang menyembunyikan kasus ini, konon kabarnya itu adalah ulah vampire yang menghisap habis darahnya.” Orang itu menjelaskan denga hati-hati. Aneh, wajahnya dan penampilannnya terlihat seperti berpendidikan, tapi ternyata dia percaya akan hal-hal yang menurut akal manusia modern itu hanya sebuah lelucon. Aku mempercayai orang ini, tapi tidak ingin menampakkannya.

“Tapi harganya lumayan murah.”

“Kau benar-benar berniat membelinya?” tanyanya tidak percaya. Aku mengangguk.

“Sudahlah, tidak ada gunanya aku memberitahumu, terserah saja, aku sudah memperingatkanmu.” Sahutnya sambil berjalan meninggalkanku.

Aku tidak peduli terus berjalan mengikuti instruksi pemuda yang aku temui tadi. Berjalan kearah halte menunggu bus datang. Memainkan kakiku dengan mengetukkan sepatuku di lantai semen yang aku pijak. Aku memperhatikan tekstur lantai itu, sedikit kasar. Sangat berbeda dengan yang ada di duniaku, semua terbuat dari batu alam yang indah. Kami memang penyuka keindahan. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya bus yang aku tunggu datang juga. Aku segera menaikinya dan mencari tempat duduk. Aku memang sudah pernah melihat hal-hal semacam ini, dalam artian aku pernah ke dunia manusia namun belum pernah menunjukkan wujudku. Jadi aku sudah tidak asing dengan alat transportasi atau apapun yang ada di dunia manusia, mengingat dunia manusia adalah area perburuanku, berburu aura. Aura yang paling nikmat adalah aura anak remaja, sangat manis. Aura orang ingin meninggal adalah aura paling pahit. Aku memperhatikan alam sekitar saat angkutan ini membawaku ke tempat tujuan. Memperhatikannya dan mengingatnya dengan jelas, pemandangan saat siang ternyata lebih indah daripada malam hari. Aku berburu pada malam hari. Sesaat tubuhku limbung ke depan saat supir bus mengerem mobilnya. Sudah tiba di tujuan. Aku turun dari bus berjalan menaiki tanjakan seperti yang pemuda itu bilang. Terus menaiki jalanan tanah merah yang sedikit becek. Sekarang lagi musim hujan.  Aku terus berjalan, dan menemukan rumah itu. Berjalan mengelilingi rumah itu dan berhenti saat seseorang menyapaku.

“Mau mencari siapa?” tanya orang itu menatapku curiga. Aku balas menatap tatapan tajamnya. Lelaki tua yang sudah hampir mati, aku bisa mencium dari auranya. Aura pahit.

“Aku dengar rumah, maksudku villa ini mau dijual. Apa itu benar?” tanyaku.

“Benar sekali.”

“Bisa kau bertemu dengan penjualnya?” tanyaku lagi.

“Sebentar lagi beliau datang, kau silakan masuk. Untuk melihat-lihat.” Ajak orang itu ke dalam, aku mengikutinya. Aku merasakan hawa Trevas disini. Aku melihat ke sekeliling. Benda-benda antik yang ter[ajang di dinding, serta vas-vas bunga antik yang aku rasa itu berasal dari dinasty berbeda.

“Apa beliau menjual rumah beserta isinya?” tanyaku.

“Sepertinya begitu.”

“Apa ada yang menawarnya sebelumnya?” tanyaku.

“Ada beberapa, tapi setelah seminggu tinggal disini sebelum transaksi terjadi karena biasanya Tuan memberikan waktu percobaan selama seminggu sebelum benar-benar membelinya.”

“Oh, begitu.” Aku menghirup dalam udara disini, hawa Trevas begitu lekat tercium diindera penciumanku.

“Kau terbiasa tinggal disini?” tanyaku saat orang itu membukakan pintu salah satu kamar dilantai atas. Kamar yang sangat luas, tempat tidur dengan besi tua, aku rasa umur tempat tidur ini sudah ratusan tahun, terlihat dari tekstur besi dan ukirannya.

“Ini kamar utama.” Jawabnya tanpa menjawab pertanyaanku.

“Apa kau tinggal sendirian?” dia menoleh padaku.

“Ne, saya sendirian.” Jawabnya, hebat, dengan beberapa makhluk yang setiap saat mengancam jiwanya.

“Apa rumor yang aku dengar itu benar?” tanyaku lagi, melirik ke sudut atas, terlihat seseorang sedang duduk diatas lemari. Trevas. Dia menatapku tersenyum, aku membalas senyumnya.

“Sepertinya Tuan sudah datang.” Orang itu mengalihkan pembicaraan. Aku heran dengan orang ini, bagaimana dia tau ada seseorang yang datang? Sedangkan keadaan sunyi senyap seperti ini, tidak ada tanda-tanda ada yang akan datang, setelah beberapa saat berlalu baru terasa aura manusia akan datang, aku menatap padanya tapi dia tidak membalasku.

Rae Na’s POV

Aku benci harus melakukan tugas observasi. Belakangan banyak orang kehilangan orang. Dan aku harus menyelidikinya sebagai tugas semester ini, ck! Menyebalkan sekali, aku memang suka pada sebuah pembunuhan, tapi jika kasus orang hilang? Haruskah aku melakukan observasi? Sudah ada petugas yang mencarinya, untuk apa aku repot dengan hal semacam itu? Aku adalah Park Rae Na, seorang mahasiswi tahun terakhir di fakultas hukum. Aku mengambil skripsi hukum kriminologi. Kesukaanku terhadap film trhiller dan horror mengantarku pada keadaan ini.

Aku berjalan menelusuri koridor kelas yang berjejer. Terus berjalan tanpa ingin berhenti, hari menjelang senja, tugas yang menyita waktuku di perpustakaan mengharuskanku pulang sedikit lebih malam. Ini sangat menyebalkan, karena pada saat malam hari aku sering merasakan hawa yang membuat bulu tubuhku berdiri. Bukannya aku takut, aku hanya tidak nyaman dengan respon tubuhku yang tiba-tiba memanas jika berhadapan dengan makhluk yang kasat mata meski dia tidak menampakkan diri.

Aku menghentikan taksi yang melintas di depanku. “Paradise Building.” Aku menyebutkan sebuah gedung yang tempat tinggalku, sebuah apartemen yang meski tidak bisa dikatakan mewah, namun juga tidak bisa dikatakan kumuh. Aku menelusuri jalanan Seoul dengan gemerlap lampu yang menyinari jalanan. Lampu jalanan berwarna kuning membuat pantulan cahaya yang begitu indah pada setiap benda.

“Sudah sampai Agasshi.” Jawab supir taksi itu menarikku dari lamunan.

“Ah, ye, Gamsahamnida.” Aku menyodorkan beberapa lembar uang padanya. Menarik tasku yang aku letakkan di jok samping, lalu membuka hendel mobil dan melangkahkan kakiku keluar, mulai dari kaki kanan berlanjut dengan kaki kiri. Aku berjalan menyusuri lorong apartemenku. Berdiri di depan pintu masuk lalu membuka kunci manual. Karena aku paling sulit mengingat angka, maka aku putuskan untuk memakai kunci manual.

Aku merebahkan kakiku yang sangat letih saat aku harus bolak-balik untuk mengurus tugasku, dari biro pencarian orang hilang hingga kantor polisi untuk mencari bahan. Ini bukan sebuah observasi biasa, ini bisa dikatakan membantu penyelidikan polisi mengenai orang hilang tersebut. Aku menatap langit-langit kamar dan memperhatikannya dengan lekat. Ingin rasanya aku berlari atau menghilang dari dunia ini. Lelah menghadapi dunia dan kenyataan ini. Lelah terus dibayangi oleh keluarga Park yang terlalu mendikte semua kegiatan dan sikapku. Bukan watakku yang selalu tunduk terhadap perintah orang lain, namun demi Eomma aku mengabaikan semua prinsipku. Demi masa depanku dan demi kebebasanku. Saat aku sudah bisa menopang hidupku sendiri, aku akan membawa Eomma dari rumah itu. Membebaskannya dari kungkungan hukum yang mesti dipatuhi meski itu tidak sesuai dengan hati nurani bahkan terkadang bertentangan.

Aku memandang kearah jam dinding yang menempel di tembok. Sekarang sudah jam 9 malam, aku tertidur sebentar. Melepaskan kemejaku dan berjalan menuju kamar madi, membersihkan penatku, mengguyur lelahku. Aku duduk di lantai bathtub yang dingin, karena ini sudah malam dan udara begitu dingin di musim hujan. Aku memperhatikan langit-langit.

Selesai membersihkan tubuhku aku kembali berbaring sambil membaca runtutan kasus yang menjadi observasiku. Beberapa kehilangan anggota keluarganya, disinyalir perdagangan manusia, tapi mengapa hatiku mengatakan itu bukan karena itu? Entahlah, aku merasa aura kejangalan disini. Aku pemilik indra keenam, aku bisa melihat mereka yang akan meninggal hanya dengan mencium bau dari tubuh mereka, terkadang jika aku banyak konsentrasi, aku bisa melihat caranya meninggal.

Aku tersentak saat bunyi lagu mengalun terdengar di telingaku. Ringtone ponselku. Aku meraih ponsel yang tergeletak di meja samping tempat tidurku. Eomma.

“Yeoboseyo? Eomma?” sapaku.

“Rae Na~ya, kau baik-baik saja?” tanya Eomma terdengar cemas.

“Ne, nan Gwaenchana, wae~yo Eomma?” tanyaku juga ikut khawatir.

“Ani, Eomma hanya khawatir Nyonya Park tadi mengatakan ingin menemuimu.” Jawab Eomma.

“Mau apa lagi dia mencariku? Memintaku jangan menggerogoti suaminya lagi?”

“Rae Na~ya..”

“Wae? Bukan salahku terlahir seperti ini. Aku juga tidak menghendaki.”

“Tapi tetap saja salah.” Ucap Eomma lirih.

“Eomma, cukup, jika hanya membicarakan ini, sebaiknya kau tutup saja telponnya.”

“Ani, aku ingin menanyakan bagaimana kuliahmu?”

“Sebentar lagi lulus, dan sebentar lagi aku akan membawamu dari sana.”

“Syukurlah kalau begitu, tapi aku akan tetap disini.”

“Eomma! Terserah kau saja, tapi aku sudah tidak sabar menanti kebebasanku.” Balasku. “Aku lelah Eomma? Boleh aku istirahat?”

“Ne, silakan. Jalja~yo” Eomma mengakhiri telponnya.

Aku menggeliat di atas tempat tidur. Selimut masih betah menggulung tubuhku. Aku mengerjapkan mata perlahan. Memmuka mataku dan menghirup udara pagi. Aku berjalan menuju jendela dan duduk di jendela, memandangi pemandangan dari atas apartemenku. Melihat beberap orang berjalan di segarnya pagi membuatku merasa sejuk, perlahan angin berhembus menerpa wajahku. Beberapa orang menyapaku, yang mengenalku, aku hanya menganggukkan kepalaku. Tapi aku tertegun melihat seseorang yang menatapku intens sedang duduk di kursi taman di depan apartemenku. Dia menatapku tajam, seolah ingin menjeratku dengan tatapannya. Aku beranjak dari jendela, menuju meja pantry. Menyeduh kopi panas untuk kunikmati dipagi minggu yang dingin. Bel apartemenku berbunyi, aku melangkah menuju pintu. Seseorang aku kenali sedang berdiri dihadapanku.

“Mau apa lagi kau kesini?” tanyaku sedikit sinis.

“Rae Na~ya, kau tidak senang aku disini?” tanya orang itu.

“Ahjusshi, kau membuat hariku menjadi kelabu.”

“Boleh aku masuk?” tanyanya.aku menghela nafas, meski aku melarangnya dia sudah terlanjur masuk.

“Kuliahmu hampir selesai?” tanyanya.

“Em.” Jawabku malas.

“Kau tidak suka aku disini?” tanyanya.

“Kau sudah tau jawabannya.”

“Tapi kau satu-satunya putriku.”

“Tapi aku bukan satu-satunya anakmu.”

“Rae Na~ya.”

“Sekeras apapun kau mencoba untuk membuatku untuk menghormatimu. Aku tidak akn pernah bisa.”

“Aku tidak memintamu menghormatiku, aku hanya ingin kau meneruskan firmaku.”

“Aku tidak ingin berhubungan denganmu lagi.”

“Tapi kau kuliah dengan biayaku.” Belanya.

“Setelah aku selesai dan aku bisa menghasilkan duit sendiri, aku akan membayarnya.”

“Park Rae Na!” aku menatapnya tajam, tak peduli siapa yang sedang berhadapan denganku aku tetap berdiri di depannya dengan sorot mata berani.

“Kau benar-benar keturunanku.” Dia meraih mantelnya dan keluar dari apartemenku. Aku menutup pintu apartemenku denga keras. Memberikan suara dentuman nyaring.

Author’s POV

Seseorang sedang berjalan ditengah malam buta bersama pasangannya. Tanpa mereka sadari ada sesuatu yang mengintai mereka. Sepasang pemuda pemudi itu duduk di kursi taman di sebuah apartemen. Seskali mereka bercengkrama mesra. Sekelebat bayangan melintas di depan mereka tanpa mereka sadari. Dari arah lain terlihat pasangan lainnya bergabung duduk dengan mereka, ikut berkomunikasi dan lama kelamaan, seolah terhipnotis, kedua pasangan itu bertukar dan bercinta di balik pohon.

Keesokan paginya penduduk digegerkan dengan ditemukannya mayat sepasang kekasih yang sudah tidak bernnyawa lagi putih pucat dengan mulut terbuka serta membeku. Suara sirine ambulance membahana memecah keheningan kota.

Minho’s POV

Aku duduk santai menonton acara televisi. Beberapa berita kriminal membuatku tertarik. Sepasang kekasih ditemukan mati membeku tanpa busana. Aku menyesap kopi panas, meniupnya perlahan hingga menimbulkan kepulan asap.

“Itu ulah bangsa kalian?” ujarku tanpa menoleh padanya.

“Bagaimana kau tau?”

“Ada di televisi.” Aku mengangkat daguku kearah televisi.

“Memang benar.” Jawabnya lirih.

“Sebenarnya apa yang kalian cari?”

“Entahlah, bukan aku, aku sekarang sudah bisa mengendalikannya.”

“Jinjja?” tanyaku.

“Kau tidak percaya?” tanyanya cemberut.

“Begitu?” tanyaku.

“Hem.” Dia turun dari tempat berpijaknya dan duduk disampingku.

“Siapa namamu?” tanyaku lagi, sejak aku membeli rumah ini baru kali ini aku berkomunikasi dengannya.

“Taemin, panggil saja aku seperti itu.”

“Hem, Taemin.”

“Kau sendiri?” tanyanya menatapku. Aku menoleh padanya.

“Elias.”

“Mwo? Jadi kau yang dibicarakan itu?”

“Memangnya siapa yang membicarakanku?”

“Ya…. banyak yang membicarakanmu, kau pemegang takdir. Para wanita bahkan wanita dari bangsa trevas banyak yang mengejarmu.” Jawab Taemin.

“Begitu?”
“Eo, mereka bilang kau itu sangat…” Taemin melirikku. “Tapi memang benar.” Taemin menatapku lekat. Dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Bagaimana kau sampai disini?” tanyaku.

“Aku? Aku terlahir dari dua orang tua yang berbeda, Appaku seorang Valux dan Eomma seorang Trevas. Jadi mungkin dari kemampuanku mengendalikan diri aku dapatkan dari Appa.”
“Jadi kau campuran. Tapi jiwa Trevasmu tercium sangat kuat.” Ujarku memberitahunya.

“Itulah sebabnya aku tidak ingin menampakkan diri di depan manusia. Dan aku tidak punya teman.” Ujarnya lirih seperti sebuah bisikan pada dirinya sendiri.

“Tenang saja, sekarang aku temanmu.” Aku menepuk bahunya.

“Besok aku akan masuk kuliah, kau mau ikut?” Taemin menatapku lembut. Matanya benar-benar polos antara antusias dan ketakutan.

“Bagaimana mungkin?” tanyanya bingung.

“Bisa saja, hanya dengan menjentikkan jari saja.”

“Bagimu yang seorang pemegang takdir mudah melakukannya.” Ucap Taemin sambil mengerucutkan bibirnya.

“Kau perlu belajar juga jangan hanya berdiam diri disini.” Aku mengacak rambutnya, dia benar-benar seoran bocah polos.

***

Keesokan paginya aku cepat-cepat untuk bersiap ke Kampus, Kampus terbaik di Seoul. Aku mengambil jurusan hukum, karena umurku sudah tidak terlalu muda lagi, aku memasukkan berkas transfer pada universitas ini. Kubawa Taemin serta. Dia terlihat ketakutan sejak aku bawa ke tengah-tengah lautan manusia. Bibirnya tiba-tiba menghitam.

“Kendalikan dirimu.” Bisikku padanya. Naluri predatornya tercium lekat. Dia mulai mengatur nafas dan mengendalikan diri.

“Good Boy, teruskan seperti itu.” Aku merangkul pundaknya.

“Jika seperti ini aku tidak mungkin meninggalkanmu, kau akan masuk kelasku.” Aku merubah datanya dengan satu jentikan jariku.

“Tapi apa aku akan bisa mengikutinya?” tanyanya ragu.

“Kau anak Julius dan Lucia kan?”

“Darimana kau tau?” tanyanya terkejut.

“Kisah cinta orang tuamu menyebar, menjadikannya sebuah dongeng kisah cinta tragis bagi anak-anak untuk menakutinya. Tapi bagiku tidak, itu adalah sebuah perjuangan.” Dia menatapku heran. Kembali jiwa predatornya naik ke permukaan.

“Kau mempunyai orang tua yang hebat Taemin~a, kau tau? Bagaimana hebatnya Lucia mengendalikan diri? Untuk tidak membunuh Appamu? Karena biasanya bangsa Trevas tidak akan betah berlama-lama disamping bangsa Valux.”

“Tapi pada akhirnya dia tetap membunuh Appa.”

“Bukan, bukan dia, Julius dibunuh oleh seseorang yang dijodohkan dengan Lucia.” Taemin mengerjap tidak percaya.

“Kau harus menajamkan kekuatan Lucia yang ada dalam dirimu, Taemin~a.” Aku berbisik padanya.Tanpa terasa aku sudah sampai di depan pintu masuk ruangan rektor.

Beberapa pasang mata memperhatikan kami berdua. Ada yang merasa heran ada juga yang merasa takjub, kebanyakan yang takjub adalah para gadis. Tiba-tiba tiga orang menghampiri dan makan bersama kami. Aku mencium aura bau berbeda dari mereka, dua orang berbangsa Valux, namun satunya lagi aku tidak terlalu bisa mengkategorikannnya. Aku menatap mereka bertiga.

“Kau pasti bingung bagaimana kau harus menyebutnya kan?” dua diantara mereka melirik salah satu.

“Dia campuran manusia dan Trevas.” Jawab seorang yang berwajah dingin.

“Aku Jonghyun.” Orang itu mengulurkan tangannya padaku, aku menyambutnya, menjabat tanganku.

“Aku panggil saja Jinki.”

“Dan aku… Key.” Jawabnya, baunya memang tidak bisa dijelaskan. Tapi aku terpana dengannya, bagaimana mungkin aku bertemu orang-orang luar biasa seperti ini justru di dunia orang lain? Aku tujuan mereka disini?

“Kau pasti bertanya mengapa kami disni kan?” tanya Key. Eh? Dia bisa membaca pikiranku.

“Aku memang bisa membaca pikiranmu.” Jawabnya acuh. Aku memandangnya.

“Kami menunggumu.” Sambungnya lagi. “Menyelesaikan misimu, bukankah bersama lebih baik?” aku menatap heran padanya. Aku memandang ke sekeliling yang tak henti menatap kami. Aku tertegun, tak tau kah mereka betapa tergiurnya kami akan jiwa mereka? Jika tau seperti itu, apa mereka akan tetap menatap kami dengan penuh kekaguman?

Rae Na’s POV

Ck! Sial! Dasar lelaki cabul. Ini yang aku tidak suka jika harus mengerjakan tugas kriminal, meski aku sangat antusias, tapi jika diperlakukan tidak senonoh saat wawancara, aku juga tidak terima. Aku berjalan menuju apartemenku. Mengerjakan semua tugas dikamarku sendiri lebih menyenangkan ketimbang aku harus melakukannya di perpustakaan dan membuatku merinding lagi. Aku terus berjalan menyusuri jalanan yang tertutup awan, lagi lagi mendung.

“Chuan~a, kau dimana?” aku menelpon temanku untuk membantuku mengerjakan tugas.

“Aku ada dirumah Eomma.” Jawabnya. “Wae?”.

“Ani, aku hanya ingin minta bantuanmu, tapi jika kau lagi sibuk biar aku sendiri saja.”

“Mianhae.” Aku mengakhiri telpon dan berjalan kearah halte. Aku terpaku saat kendaraan melaju dengan cepat, dan aku melihat seseorang di depanku berjalan dari arah berlawanan dengan kendaraan itu. Aku menarik tubuhnya saat aku sampai dihadapannya. Sedetik saja aku terlambat, jiwanya akan melayang.

“Lepaskan headsetmu!” aku menarik benda yang menutupi telinganya. Dia menatapku kagum.

“Mwo? Wae?” tanyanya bingung.

“Kau hampir saja mencelakankan dirimu sendiri dengan benda itu!” jawabku.

“Mwo? Apa kau bilang? Mencelakakan diriku sendiri? Tidak mungkin! Aku jiwa yang terjaga!” jawabnya lantang.

“Cis! Percaya diri sekali kau, tahu begini aku tidak akan menolongmu!” dia menatapku sinis. Dasar lelaki aneh! Aku kembali melanjutkan perjalananku. Duduk di kursi halte yang sudah sepi. Mengapa hari ini sepi, orang tidak terlalu banyak berlalu-lalang. Aku tidak memperdulikannya, aku hanya ingin cepat pulang dan cepat beristirahat. Tapi awan tebal menyelimuti kota Seoul, langit hitam dan sepertinya akan runtuh, namun rintik hujan tak jua kunjung turun. Aku memperhatikan di sekitarku, orang-orang bertingkah seperti biasa, namun yang terasa aneh, mereka bergerak lambat. Dan mengapa bus yang aku tunggu tidak juga datang. Aku gelisah, di tengah kegelisahanku, tiba-tiba sekelebat bayangan hitam melesat di hadapanku, orang berjubah hitam dan bersayap tiba-tiba memenuhi pandanganku, aku terpaku. Mereka menghisap orang-orang yang ada di sekitarku dan sungguh membuatku ketakutan. Aku memang penyuka film horror atau apalah genrenya, namun saat itu terjadi di hadapanku, membuatku benar-benar takut. Tangan dan kakiku gemetar. Tubuhku menggigil melihat pembunuhan massal di hadapanku. Namun itu hanya terjadi beberapa menit, saat matahari kembali muncul, bayangan itu menghilang. Aku kembali tertegun, orang-orang yang tadi kehilangan nyawa kini raib tak berbekas.

“Mereka tidak bisa melihatmu.” Seseorang duduk disampingku membuatku tersadar dari fantasiku. Fantasi? Benarkah ini sebuah fantasi? Jika benar, tapi mengapa begitu nyata?

“Apa yang sedang terjadi?” bibirku bergetar menanyakan padanya. Aku menatap pada orang itu, dia hanya menatap lurus kedepan, menghirup udara dengan kuat. Sejenak aku tertegun.

“Auramu terlalu kuat dan itu yang melindungimu.” Jawabnya seraya menoleh padaku.

“Aku bertanya apa yang terjadi?!” tanyaku nyaring. Dia hanya tersenyum dan bangkit dari duduknya, meninggalkanku yang masih kebingungan. Aku menghentikan taksi yang melintas di depanku, demi mencapai tujuan lebih cepat aku menghentikan taksi itu, ingin cepat membersihkan otakku dari kejadian tadi.

Minho’s POV

Aku menemukannya. Aku menemukan orang yang pilihan yang mempunyai aura berbeda. Dengannya aku bisa lebih cepat menemuan lucens. Aku bersiap untuk kuliah, tapi Taemin masih meringkuk di tempat tidur.

“Taemin~a, Ireona!” aku menepuk kakiknya agar dia segera bangun.

“Ne, Hyung.” Dia mengucek matanya dan bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi. Setelah selesai, dia bergabung bersamaku di ruang makan.

“Aku menemukannya. Aku menemukannya Taemin~a.”

“Nugu~ya?”

“Orang pilihan itu.” Taemin menghentikan makannya.

“Benarkah? Bagaimana rupanya?” tanya Taemin.

“Em, dia sangat menarik, membuatku terasa sangat haus tapi berada di dekatnya saja aku sudah merasa puas. Tapi auranya benar-benar tidak bisa disamakan dengan yang lain. Seperti… rasa haus yang terpuaskan namun masih akan terasa haus, ingin selalu di dekatnya.”

“Begitu?” tanya Taemin. Aku mengangguk.

“Kita berangkat, ayo.” Aku menpuk pundak Taemin, dia menghentikan makannya.

“Hyung, aku belum selesai.” Jawab taemin manja.

“Siapa suruh kau bangun terlambat?”

Sesampainya disana aku berpapasan kembali dengan gadis itu. Tanpa sadar, kakiku melangkah mengikutinya. Aku menghirup dalam dalam auranya. Takkan pernah habis, dia akan selalu memancarkan energi yang sangat luar biasa. Gadis itu menoleh padaku.

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya berbalik. Aku refleks menghentikan langkahku. Aku menatap, tepat dimatanya.

“Ani.” Jawabku. Ck! Susah payah aku menekan keinginanku, agar sayapku tidak keluar.  Benar-benar energi yang sangat mengagumkan.

“Kau sedang apa?” tanya Taemin dengan sebuah lollipop  ditangannya. Tiga orang mengikutinya. Jonghyun, Jinki dan Key. Mereka bergabung denganku.

“Dia mahasiswa teladan.” Ujar Jonghyun.

“Saingan Jinki.” Jawab Key.

“Jinjja?” tanyaku pura-pura tidak antusias.

“Jangan dekat-dekat dengannya.” Jawab Key lagi.

“Wae?” tanyaku.

“Dia orang yang tidak suka dengan orang kaya.” Sambung Key. Jinki menyikut Key.

“Wae? Aku mengatakan hal yang benar kan?”

“Dia punya alasan sendiri.”

“Kau tau sekali tentangnya.” Cibir Key pada Jinki, aku hanya tersenyum.

Setiap hari aku mengikutinya dengan semua kegiatannya. Aku bisa melihatnya setiap waktu karena setiap waktu aku ada di dekatnya tanpa dia sadari. Jiwanya membuat jiwaku yang haus terlepas dari dahaga.

Rae Na’s POV

Berguling diatas tempat tidur, melayangkan pikiranku ke beberapa hari yang lalu. Aku memandang koran, berita orang hilang kembali, aku melihat setu persatu foto yang terpampang di koran. Orang-orang ini aku bertemu dengan mereka beberapa hari yang lalu. Kejadian itu kembali berputar di benakku bak sebuah film usang dengan gambar hitam putih yang menyangkan adegan demi adegan, bagaiman orang berlarian di hadapnku dan bagaimana bayangan hitam itu menghisap dan mengambil nyawa mereka serta melenyapkannya tanpa sisa. Sungguh suatu kejatan maha sempurna tergambar jelas di mataku. Kembali bulu kudukku merinding. Tapi anehnya mereka seolah menganggapku tidak ada. Padahal aku jelas-jelas ada disana dan menyaksikannya tanpa terlewat sedikitpun adengan demi adegan.

Dan tentang pemuda yang duduk disampingku mengatakan aku tidak terlihat oleh mereka terngiang di telingaku. Lelaki itu, mengapa dia tiba-tiba ada disana. Dan akhir-akhir ini aku seperti diikuti oleh sesorang. Dan anehnya, aku tidak bisa mencium bau apapun dari tubuhnya. Keadaan saat menatpanya begitu hening, membuatku sungguh penasaran. Beberapa detik dia selalu berada di dekatku dan menghirup dalam udara yang ada disekitarku lalu berlalu begitu saja, begitu setiap harinya. Hingga terkadang aku menantikan kehadirannya.

“Kau melamun saja.” Chuan berbaring disampingku.

“Kau, sejak kapan kau disini?” tanyaku heran, menumpu tubuhku dengan sikudan tiarap menatapnya.

“Pintu apartemenmu terbuka, kau sadar?” tanya Chuan lagi.

“Eh? Terbuka? Benarkah? Parasaan aku tidak pernah membukanya.” Jawabku.

“Tapi pintumu tetap terbuka.” Chuan bersikeras.

“Sudah lah.” Jawabku sambil beranjak dari tempat tidur.

“Kau mengenal sesorang yang baru saja pindah k efakultas kita?” tanya Chuan padaku. Aku berbalik menoleh padanya.

“Mereka sangat em… tampan mungkin.” Jawab Chuan sambil tersenyum. Aku melempar sapu tangan padanya.

“Dasar kau!” aku mencibirnya.

“Tapi coba saja kau lihat kau akan tau.”

“Aku tidak berminat.” Jawabku.

“CK! Kau tidak akan berkata seperti itu jika sudah melihatnya. Cepat mandi, satu jam lagi kita masuk.”

Aku berjalan ke kamar mandi dan kembali ingatanku akan kejadian itu melayang di benakku. Mungkinkah ini berhubungan dengan orang-orang yang menghilang beberapa waktu lalu? Aku segera mengeringkan pakaianku dan bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Sesampainya di kampus aku disuruh menghadap dosenku. Apalagi ini?

“Rae Na, masuk.”

“Aku hanya ingin memperkenalkan rekanmu dalam tugasmu.” Lanjutnya lagi.

“EH?” tanyaku bingung.

“Kau akan jadi sebuah tim, bertiga dengan mereka.”

“Nde?” aku menatap kedua orang yang berdiri di depan dosen pembimbingku. Menatap mereka dengan lekat. Lelaki itu. Dia tersenyump adaku, terlebih lagi seseorang yang berdiri disampingya. Melambaikan tangannya padaku, tapi mataku kembali terpaku padanya. Mata kami saling beradau.

“Perkenalkan dia adalah Choi Minho, dan satunya lagi adalah Lee Taemin.”

Aku memandang lekat kedua orang itu. Tidak ada bau apapun yang menjelaskan sebenarnya mereka siapa, terlebih lagi aku bertemu dengannya saat kejadian naas beberapa waktu lalu.

“Kalau begitu kalian bisa membicarakan tugas kalian diluar, aku harap kalian bekerjasama dengan baik.” Dosen pembimbingku mempersilakan kami keluar, aku paling pertama keluar, sejak aku masuk aku tidak berkata apa-apa.

“Baiklah, kita mulai darimana?” tanya orang itu.

“Siapa sebenarnya kalian?” aku bertanya pada mereka tanpa menjawab pertanyaannya.

“Agasshi, saatnya membicarkan tugas.” Dia mengelak dari pertanyaanku. Aku terus terpaku menatapnya seoalh tak bisa lepas darinya.

Minho’s POV

Wajahnya terlihat bingung bercampur kaget saat aku bertemu kambali dengannya. Hem, aku menghirup auranya dengan memejamkan mataku. Menikmati hingga menyentuh setiap rongga dalam tubuhku.

“Siapa sebenarnya kalian?” tanyanya sedikit gusar.

“Agasshi, saatnya kita membicarakan tugas.” Jawabku tak menggubris pertanyaannya. Dia menatapku penuh selidik, dia mungkin begitu penasaran denganku. Aku bertemu dengannya beberapa waktu lalu saat perburuan itu. Kubiarkan saja dia dengan rasa penasarannya yang begitu besar. Namun ada satu hal yang aku tidak bisa lakukan terhadapnya. Aku tidak bisa membaca auranya. Kapan dia akan meniggal, atau berapa lama lagi dia hidup. Dia berjalan mendahuluiku.

“Rae Na~ssi.” Aku memanggil namanya, namun dia tidak mempedulikanku sama sekali. Aku menarik tangannya. Getaran hangat menjalar dari permukaan kulitku menjalar keseluruh tubuhku. Aku terpaku diapun juga terpaku.

“Aku belum selesai bicara.” Sergahku mencegah dia pergi.

“Kau belum menjawab pertanyaan pertamaku, dan aku sebaiknya menghindar darimu.” Jawabnya ketus. Saat kemarahan melanda dirinya, gejolak jiwaku seakan menggelegak ke permukaan, perasaan yang sulit aku definisikan, karena aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Sebuah keinginan untuk menyentuhnya.

“Arasseo. Aku tidak akan mengganggumu hari ini.” Ujarku sambil melepas lengannya dengan berat hati. Dia memperhatikan aku melepas tanganku. Sampai tanganku benar-benar lepas dari lengan baru dia kembali berjalan, aku mengikutinya, dia tidak memperdulikanku. Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya aku menabrak tubuhnya.

“Bisa kau menjauh dariku?” tanyanya sedikit gusar.

“A, aku mau ke perpustakaan.” Jawabku mengelak.

“Perpustakaan kearah sana, ini arah masuk ke kelas.” Ujarnya sambil menunjuk arah purpustakaan.

“Ah, ye.” Jawabku sambil menujuk arah perpustaan yang ada di belakangku. Entah kenapa aku merasakan hawa berbeda jika berada di dekatnya. Sangat nyaman, serasa berada dalm surga mungkin? Nikmat sekali menghirup auranya. Hingga terkadang aku harus mencuri waktu berada didekatnya, membuat diriku tak terlihat agar tidak terlalu terlihat aku membntutinya.

Aku berjalan menyusuri lorong kampus yang penuh dengan mahasiswa, sedang memperhatikanku. Aku sepertinya melupakan sesuatu. Tapi apa? Ck, gadis itu membuat ingatanku tumpul, aku melupakan sesuatu yang penting. Aku melewati beberapa ruang kelas, berjejer rapi, melewati toilet ang lebih gaduh dari biasanya. Membuat rasa penasaranku muncul dan kakiku melangkah memasuki pintu toilet. Seseorang sedang terkunci di dalam kamar mandi.

“Nugu?” tanyaku pada seorang lelaki yang lebih pendek dariku berambut berombak dengan poni menutupi dahinya.

“Ada mahasiswa baru sedang mengunci diri di dalam kamar mandi.” Jawabnya sedikit bingung.

“Siapa?” tanyaku semakin penasaran. Hatiku mendadak tidak nyaman.

“Taemin?” jawab oran itu ragu. Aku langsung refleks menendang pintu kamar mandi saat mendengar nama taemin. Sudah aku duga aku melupakan sesuatu!

“Taemin! Lee Taemin~a!” aku segera meraih tubuhnya yang gemetar. Dingin dan pucat, matanya juga memutih.

“Kau kenapa?” aku mengangkat tubuhnya yang meringkuk disis kolam kamar mandi.

“Bawa aku pulang.” Jawabnya lemah, seperti sebuah bisikan.

“Ne, arasseo.” Aku memapah tubuhnya. Membawanya keluar dari dunia manusia. Aku rasa hasratnya sekarang sedang menguasai. Melewati beberapa ruangan kelas dan akhirnya keluar dari koridor kampus yang sedikit sesak karena beberapa dari mereka baru selesai belajar, sedikit sulit mengeluarkan tubuh Taemin yang benar-benar lemas.

“Kau tidak berburu?” bisikku padanya. Dia menggeleng. Membawanya ke mobil dan meletakkan tubuhnya di jok belakang. Segera menyalakan mesin mobil dan membawanya pulang.

Saat sampai di kediaman kami. Aku membawa tubuhnya dan meletakkannya dikamarnya sendiri. Dia terlihat meringkuk saat aku baru saja meletakkan tubuhnyadiatas tempat tidur.

“Sesakit itu?” tanyaku. Dia mengangguk.

“Biasanya apa yang akan kau lakukan?”

“Biasanya aku malamnya berburu aura sebanyak-banyaknya. Aku melupakannya akhir-akhir ini.” Jawabnya lemah sambih memegang dadanya.

“Bagaimana mungkin jika tubuhmu seperti ini?” dia menatap sayu padaku.

“Aish, kenapa aku harus bertemu denganmu? Eoh?” aku memarahinya. “Bagaimana mungkin kau melupakan acara makanmu? Hah?!” ingin sekali aku mencekik lehernya, jika saja aku tidak melihat kondisinya.

“Apa yang kau lakukan sepanjang hari? Hah?”

“Aku belajar, ternyata dunia manusia menyenangkan.” Pantas saja dia beberapa hari ini jarang terlihat keluar dari kamarnya.

“Nanti aku pikirkan bagaimana caranya kau bisa makan malam ini.” Aku menepuk kakinya sebelum meninggalkannya.

Keluar kamar dan akhirnya keluar rumah, menyeret kakiku ke mobil, lalu melaju ke jalanan Seoul yang mulai padat karena ini jam pulang kantor. Mobilku berhenti di sebuah gedung  di dekat sebuah taman. Aku memasuki gedung itu, seperti ada sesuatu yang menarikku ke tempat itu. Melihat ke sekeliling, ini tempat latihan. Aku memperhatikan seseorang yang menarik perhatianku, aura itu. Dia berlatih pedang dengan menusuk dan memukul lawannya. Gerakannya terlihat tegas dan penuh semangat. Mataku tak pernah lepas darinya. Tangannya yang berayun lihai mengkuti setiap permainan, terkadang dia menyerang namun juga bertahan.

Aku berdiri disamping pintu mengikuti setiap gerakannya. Aku tau itu dia, tau dari aura putihnya yang memancar dari tubuhnya, energinya begitu kuat, aku bisa merasakannya, dan aku menghirupnya kuat-kuat. Hufh, sangat nikmat, tidak bisa aku jabarkan bagaimana energinya masuk ke dalam jiwaku. Dia berhenti latihan. Aku melihatnya membuka penutup kepalanya. Ada getaran lain saat melihat wajahnya penuh keringat seperti ini. Aku mendekatinya. Dia tidak memperdulikanku, namun orang yang diajaknya berbicara menyapaku, menundukkan badannya sejenak, aku membalasnya. Gadis di hadapanku ini menyeka keringat di kedua pelipisnya, dan memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.

“Kau suka latihan disini?” tanyaku padanya, dia tidak menjawab, hanya merapikan barang-barangnya ke dalam tas.

“Kau suka bela diri?” tanyaku lagi, aku bersandar di dinding dan menaruh tangan di dalam saku celanaku. Aku tersenyum sinis menatapnya, sikapnya sedingin wajahnya. Dia mengambil ponsel dari dalam tasnya. Aku merebut ponsel dari tangannya. Wajahnya terlihat penuh amarah.

“Yak! Kembalikan ponselku!” teriaknya tanpa memperdulikan orang lain yang memandang bingung. Aku menarik tanganku saat dia ingin merebut ponselnya dari tanganku, aku memencet beberapa nomor.

“Yak! Kau!” teriaknya lagi. Aku tetap tidak perduli. Aku mengembalikan ponselnya.

“Itu nomorku, jika aku kirim sms, kau harus membalasnya. Jika aku menelepon kau harus mengangkatnya.” Jawabku sambil berlalu dari hadapannya.

“Yak! Kau!” aku kembali padanya dan menyeretnya ke mobilku. Aku memerlukannya untuk Taemin. Mianhada Park Rae Na, aku tidak punya pilihan lain, ini demi Taemin.

***

Sudah beberapa hari aku memaksanya untuk pergi dan pulang bersamaku. Terkadang dia melarikan diri saat aku lengah, namun dimanapun dia berada, dia selalu meninggalkan jejak-jejak yang bisa aku lihat dan aku rasakan. Jadi kemanapun dia lari aku akan tetap menemukannya.

“Mengapa kau selalu mengikutiku? Eoh?!” tanyanya semakin gusar.

“Ada yang ingin aku katakan padamu.” Jawabku.

“Aku tidak ingin mendengarnya, jadi kau enyah saja dariku.” Dia berjalan meninggalkanku. Aku menarik tangannya, dia mencoba melepaskannya namun aku tetap menahannya.

“Kau takdirku, kemanapun kau bersembunyi, akan tetap terlihat olehku.”

“Kau jangan bermimpi dan jangan membuat lelucon. Aku sudah muak melihatmu setiap hari.” Dia menghentakkan tanganku dan berlalu begitu saja. Beberapa detik aku membiarkannya, memandanginya yang mulai menghilang di belokan koridor. Setelah itu aku berjalan dengan cepat menjajari langkahnya, meraih lengannya, memaksanya lagi pulang bersamaku.

Rae Na’s POV

Seperti biasa, bangun pagi sendiri, dan dering telpon yang sama, dari Eomma, menanyakan keadaanku. Masih bersikeras agar aku berbaikan dengan Appa. Untuk apa? Ck, tidak bisa kah dia menyadari semua tersiksa dengan keadaan ini. Rutinitas yang sama. Suara deru mobil dan klakson yang sama, aku mendengus. Menyeduh segelas kopi  hangat untuk menenangkan jiwaku. Bel itu lagi, aku enggan untuk melangkah, namun aku tidak ingin membuat telingaku tuli hanya karena aku tidak membukakan pintu. Kubiarkan dia menunggu sejenak, bel berhenti berbunyi, kurasa dia sudah menyerah. Aku mesuk kedalam kamar mandi dan membersihkan tubuhku lalu bersiap untuk kuliah.

Aku membuka hendel pintu apartemen lalu menguncinya. Dua kali putaran untuk memastikan apartemenku benar-benat terkunci dan aman, berjalan menuruni tangga dan membuka pintu gedung. Aku tersentak, seseorang bersedekap dengan tubuh tersandar di depan pintu mobil.

“Kau lama sekali.” Wajahnya menunduk, setelah mengakhiri kalimatnya dia mendongakkan kepala menatapku. Aku mendengus kesal, pagi-pagi harus kesal seperti ini. Aku masih terpaku berdiri tak jauh darinya.

“Kau setiap hari menjemputku seperti seorang pangeran menjemput seorang putri!” omelku sinis.

“Aku memang pangeran.” Jawabnya santai. Dia membukakan pintu mobil untukku. Sekali lagi aku mendengus, tak tau apa yang harus aku lakukan. Aku memang tersanjung, namun saat aku diperlakukan seolah aku seorang putri yang manja, aku membencinya.

“Asal kau tau, aku bukan seorang putri, bahkan kelahiran yang tidak diharapkan oleh segelintir orang dan berusaha menyingkirkanku.” Kataku sinis, tersenyum. Melintas wajah yang sangat aku benci dalam benakku.

“Tapi kau akan menjadi seorang putri.” Jawabnya lagi. Aku menoleh padanya, menatapanya antara bingung dan aneh.

“Hentikan pembicaraan bodoh ini. Sekarang bagaimana dengan tugas kita? Aku tidak mau berlama-lama dengan tugas ini dan memperlambat kebebasanku.” Dia menoleh padaku, aku tidak memperdulikannya. Memandang kearah luar jendela.

“Akan tiba saatnya.” Jawabnya.

“Maksudmu?”

“Akan tiba saatnya kau mengetahui semuanya.” Kini aku memandangnya lagi, yang fokus dengan jalan dihadapannnya. Mengenai orang-orang yang hilang dan kejadian beberapa waktu silam. Aku yakin dia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

***

Latihanku kini benar-benar melelahkan kali ini, teknik baru yang benar-benar sulit, tsuki. Memang sangat sulit mempelajari teknik ini, membutuhkan konsentrasi dan ketangkasan penuh. Mungkin sebenarnya aku tidak perlu mempelajarinya, namun aku penasaran dengan teknik ini, sedikit demi sedikit mempelajarinya setelah bertahun-tahun mempelajari teknik dasar. Aku menangkap bayangannya, dia lagi, melalui sudut mataku aku bisa melihatnya memperhatikanku. Konsentrasiku selalu buyar jika dia berada di dekatku, jantungku tiba-tiba berlomba dan adrenalinku berpacu cepat, lebih cepat dari ketika aku latihan. Aku lengah dan tidak bisa berkutik saat lenganku dipukul. Aku terdiam.

“Sepertinya kau sudah terlalu lelah.” Pelatih Kim menghentikan permainan, dan melepas penutup kepalanya. Akupun melakukan hal yang sama.

“Kau istirahat saja, kita hentikan latihanmu.”

“Ah, ye.” Aku meregangkan ototku, duduk di lantai dan menenggak sebotol air mineral.

“Kau sepertinya menikmati latihan disini. Benar-benar menakjubkan.” Dia duduk disampingku merebut minumanku dan meminumnya.

“Lumayan untuk menghilangkan stres.” Jawabku.

“Temani aku ke perpustakaan.” Dia menarik tanganku dan memaksaku bangkit. Mau tidak mau aku menurutinya. Aku berjalan gontai mengikutinya.

“Yaish! Petarung sepertimu tidak seharusnya berjalan tanpa semangat seperti itu.” Tidak tau kah dia? Semangatku disedot olehnya? Aku seperti merasa dia selalu mengikutiku dan itu membuatku takut. Takut akan kesehatan jiwaku. Bagaimana mungkin saat dia tidak ada di hadapanku aku merasa dia selalu mengawasiku dan selalu ada? Bukankah itu membahayakan jiwaku? Eoh? Dan mengapa aku selalu ingin marah padanya tanpa sebab? Hanya karena hal bodoh yang dia lakukan selalu menjemputku setiap hari namun disatu sisi aku juga merasa tersanjung? Eoh? Bukankah itu tidak normal? Aku tidak ingin seperti Eomma.

Sampai di perpustakaan, aku mengambil buku-buku tentang hukum dan, beberapa novel sains dan kriminal yang sangat aku gemari. Namun ada sebuah buku yang membuatku sangat tertarik. Sepertinya buku ini tidak pernah disentuh sama sekali, aku mengambilnya dan meniup debu tebal yang ada di permukaannya, tidak ada judulnya. Aku membuka buku tersebut, seketika angin berhembus menerpa wajahku, sejenak aku terhenyak, menatapp sekeliling, tidak ada orang. Mengitari ruangan, tidak ada celah udara sedikitpun.

“Kau menemukan apa?” sebuah suara dekat daun teligaku mengejutkanku. Buku yag ada di tanganku terjatuh dan membuatku sedikit limbung karena terkejut, dia mengakap tubuhku. Minho!

“Yak! Kau mengagetkanku!” aku memegang dadaku. Jantungku serasa jatuh ke lantai.

“Kau menemukan apa?” tanyanya sambil memungut buku yang tadi aku jatuhkan.

“Molla, aku hanya mencari buku referensi tugas dan beberapa novel, wae?”

“Ini apa?” tanyanya sambil membolak-balik buku itu.

“Aneh sekali, tidak ada tulisannya.” Jawabnya. Aku merebut bukunya. Tidak ada tulisannya? Lalu yang aku lihat ini apa? Sebuah tulisan. Aku menaruh buku itu pada tumpukan buku yang akan aku pinjam.

“Kau sudah selesai?” tanyaku pada Minho. Dia menoleh padaku.

“Aku tidak menemukannya.” Jawab Minho, tangannya tidak membawa satu bukupun. Aku menghela nafas , sebenarnya siapa yang menemani siapa?

***

Aku berjalan menuju tempat tidur, namun mataku tertuju pada tumpukan buku yang tadi aku pinjam dari perpustakaan, rasa penasaranku menyeret tanganku untuk meraih buku itu. Buku tanpa judu. Aku membuka buku tersebut dan mulai membacanya. Sepertinya ini cerita dongeng. Aku terus membacanya, merebahkan tubuhku mencari posisis yang enak untuk badanku.

Tentang dua bangsa yang terpecah karena melanggar peraturan. Penghisap aura dan pemakan jiwa. Memperebutkan sesuatu bernama lucens.

“Lucens?” gumamku tentang sesuatu itu. Aku melanjutkan membaca. Membalik tubuhku dan mengangkat kakiku. Mencari sesutu yang akan membuat hidup menjadi abadi dan tidak terkalahkan. Aku terus membacanya. Lucens hanya akan muncul disaat yang tepat, bulan purnama ke seribu. Orang pilihan bisa merasakan dimana dan bagaimana lucens berada. Yang tercampur akan membuat sesuatu menjadi berbeda. Berasal dari ketulusan akan membuatmu merasa tenang dan abadi.

“Eh? Buku ini aneh sekali.” Gumamku lagi. “Tidak ada akhir ceritanya.” Aku menutup buku itu dan memiringkan tubuhku. Bulu kudukku tiba-tiba berdiri. Aku mengambil selimut dan menutupi tubuhku, menenggelamkan jiwaku ke alam bawah sadarku. Terlelap bersama mimpi.

Aku tersentak dan refleks duduk ketika aku membuka mataku. Aku bermimpi. Keringat mengucur membasahi badanku. Aku bermimpi itu lagi, setelah beberapa tahun aku tidak pernah mengalaminya. Pergi ke sebuah tempat yang tidak aku kenal, gelap dan lembab. Menyelamatkan seseorang yang tidak aku kenal sama sekali. Nafasku memburu, aku menyeka keringatku dan menghembuskan nafasku keras melalui mulutku.

”Mimpi itu lagi.” Aku menyibak selimutku dan turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.

Minho’s POV

Aku memperhatikannya yang sedang berbaring di tempat tidur. Memperhatikannya membaca sebuah buku. Eh? Buku yang tadi ada di perpustakaan? Aku duduk di atas meja belajarnya, terus memandangi setiap gerak-geriknya. Gadis yang sangat menarik, tidak pernah aku setertarik ini dengan gadis manapun bahkan dengan manusia.

Lucens?” gumamnya sambil menerawang ke langit-langit kamarnya. Dia kembali membaca. Aku tetap memperhatikannya.

“Eh? Buku ini aneh sekali. Tidak ada akhir ceritanya.” Dia menutup buku itu dan mencoba untuk tidur. Aku bangkit dari meja dan mendekatinya. Dia menoleh padaku dengan bingung, dia tidak bisa melihatku, dan kembali berbalik dan menarik  selimut. Meraih buku tua yang dia pinjam di perpustakaan beberapa jam yang lalu. Membukanya perlahan, membolak balik setiap kertas yang ada dibuku itu. Aku tetap tidak bisa membacanya, hanya kertas kosong yang terlihat oleh mataku.

“Dia bisa membaca ini?” aku memandang buku itu dan memandang wajahnya. Dia sudah tertidur pulas. Aku mendekatinya dan duduk di tepi tempat tidur. Wajahnya yang tenang tak ada kata umpatan, membuatnya terlihat lebih manis dari biasanya. Aku terus memperhatikan wajahnya yang tidak lagi menimbulkan ekspresi, hanya wajah tenang yang terpampang dihadapanku. Aku meletakkan kembali buku itu pada tempatnya agar tidak menimbulkan kecurigaan.

***

Dua hari lagi. Waktuku tinggal dua hari lagi. Jika aku gagal, semua bangsa kami akan lenyap. Aku memandangi Taemin yang sedang tertidur. Tidurnya begitu pulas.

“Kau memandangiku?” tanya Taemin, aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya aku teringat pada Rae Na. Wajah polosnya saat tidur.

“Dua hari lagi Taemin~a.” Gumamku.

“Kita harus menemukannya.” Taemin bangkit dari tidurnya. Lalu duduk diatas tempat tidur. “Kau punya petunjuk?” Taemin dengan wajah polosnya menopang dagu menghadap kearahku yang sedang duduk di tepi jendela.

“Aku tidak yakin itu petunjuk atau bukan, tapi Rae Na menemukan sesuatu, sebuah buku. Aku membuka-buka buku itu, tapi tidak ada tulisan sama sekali. Tapi anehnya, dia bisa membaca buku itu, dan dia…” aku menoleh pada Taemin, lagi-lagi bocah ini menatapku dengan polos, matanya, membuatku ingin tertawa, tapi kali ini aku tidak bisa bercanda karena nasib kami sudah diujung tanduk. “Dia mengatakan Lucens.” Aku menatap Taemin dengan serius. Wajahnya juga sempat menegang.

Lucens? Maksudnya? Di dalam itu tertera kata Lucens?” Taemin bangkit sambil memeluk guling. Aku mengangguk yakin.

“Dia bisa membaca buku itu?” aku menjawab dengan anggukan. “Dan kau tidak bisa membacanya?” sambung Taemin bertanya.

“Sama sekali tidak.” Jawabku yakin.

“Kalau begitu, ada sesuatu dengan dirinya.” Taemin mengetukkan jarinya di dagu seolah berpikir. “Tapi dia siapa Hyung?” tanya Taemin tanpa dosa. Yaish! Itu yang aku pikirkan sejak bertemu dengannya! Auranya begitu kuat dan berbeda, aku yakin dia bukan orang sembarangan, tapi siapa?

“Itu juga yang aku pikirkan, apa dia ada hubungannya dengan semua ini?” aku juga berpikir, menguras otakku sejak tadi, bukan, sejak aku tau dia bisa membaca buku itu.

“Ah, saat kau membawanya untukku, auranya memang berbeda Hyung, aku bisa merasakannya. Dahagaku hilang seketika.” Ujar Taemin.

“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanyaku. Taemin menggeleng lemah sambil menggigit ujung guling yang sejak tadi dia peluk.

***

Sejak aku keluar dari rumah sehabis berdiskusi bersama Taemin, aku selalu mengikuti jejak gadis ini. Jejak cahaya putih yang ditinggalkannya selalu bisa membuatku menemukannya dengan sangat mudah. Dia sedang latihan, dengan tekun dan serius. Aku memperhatikan mimik wajahnya, tentu saja aku tanpa menampakkan diri. Aku tersenyum melihat gadis pantang menyerah ini. Berapa kali dia menyerang dan bertahan secara bersamaan, tangannya gesit penuh kekuatan.

“Minho~ya.” Seseorang menyapaku, dengan sayap putih dibelakang punggungnya.

“Key..” sapaku pelan. Meliriknya beberapa detik kemudian kembali pada sosok gadis yang lihai bermain pedang terbuat dari kayu itu.

“Tinggal menghitung jam lagi.” Ujar Key. Tanpa di beritahupun aku sudah tau, aku sudah merasakannnya. Energiku seolah tiba-tiba merosot turun, hanya gadis itu yang mampu mengisinya hingga aku bisa bertahan hidup di dunia manusia.

“Tadi aku kerumahmu, Taemin sudah menceritakan semuanya.” Ujar Key memainkan jari tangannya. “Dan dia bisa membaca buku keramat itu?” tanya Key menatapku.

“Buku keramat?” tanyaku bingung.

“Kau tidak tau? Odius, menulis buku itu untuk menghancurkan hawa jahat dari bangsa kita. Buku itu petunjuk untuk mendapatkan Lucens. Petunjuk dimana sebenarnya Lucens berada, dan hanya orang terpilih yang bisa membacanya. Kau belum pernah mendengar itu? Bahkan dongeng saat tidurmu? Ck! Yang kau dengarkan hanya dongeng kisah cinta abadi.” Ujar Key, aku tertawa mendengarnya.

“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanyaku bingung.

“Yak! Itu kan tugasmu, aku hanya membantumu, kau bahkan tidak tau apa-apa tentang Odius!” sahut Key kesal.

“Tapi aku benar-benar tidak tau apa-apa!” sahutku tak mau kalah. Untung saja para manusia tidak akan bisa melihat kami, kalau saja seandainya mungkin bisa mendengar suara kami saja, aku jamin mereka akan lari terbirit-birit karena mengira kami hantu. Apalagi jika kami menampakkan diri. Rae Na memandang kearahku. Aku balas memandanginya, apa dia melihatku?

“Sebaiknya kau ambil buku itu dan suruh gadis keras kepala itu membacanya sekarang juga.” Key berlalu dihadapanku melalui jendela, mengepakkan sayap putihnya dan menghilang dibalik pepohonan.

***

Aku berjalan tergesa menjajari langkah Rae Na yang sedang berjalan kearah halte. Kuambil buku yang tergeletak dikamarnya. Dia terlihat bingung dengan kehadiranku.

“Kenapa kau selalu ada disekitarku?” tanyanya kesal. Aku tidak perduli dengan semua kekesalannya, yang penting sekarang adalah kelangsungan bangsaku dan tugasku.

“Kau bisa membaca buku ini kan? Tolong bacakan untukku.” Aku menyerahkan buku yang dia pinjam dari perpustakaan. Dia memandangi buku itu dengan raut heran.

“Ini kan..” dia bingung menatapku dan buku itu bergantian. “Bagaimana kau bisa? Darimana kau dapatkan?” berondong dengan pertanyaan yang tidak bisa aku jawab satupun.

“Jangan banyak tanya, teruskan saja membacanya. Sampai mana? Lucens?” tanyaku tidak sabar. Dia kembali menatapku bingung.

“Darimana kau tau aku membaca ini?”

“Tolonglah, baca saja.” Dia membuka buku itu akhirnya dan membaca dengan seius, kadang dia mengangguk, kadang wajahnya terlihat tegang dan juga tersenyum. Aku menunggunya dengan was-was, apa yang sedang dia baca sebenarnya?

“Sudah selesai?” tanyaku benar-benar tidak sabar. Dia menatapku bingung.

“Apa kau salah satu dari mereka?”

Rae Na’s POV

Aku melanjutkan membaca buku yang membuatku merinding itu. Atas paksaan Minho aku membacanya, tapi lebih karena aku memang penasaran dengan buku, Lucens? Terletak diatas hati yang bersih yang teraniaya dan terlahir tidak sempurna. Apa maksudnya? Dahiku berkerut bingung. Aku meneruskan membaca. Lucens adalah cahaya abadi yang mempunyai energi tak terhingga. Bagi bangsa Trevas dan Valux yang mengisi jiwanya dengan itu maka akan abadi dan tidak terkalahkan, namun sang pelanggar perjanjian yang memiliki hati jiwa yang hitam dipenuhi aura jahat berniat untuk merebutnya juga. Lucens akan muncul saat malam bulan purnama. Itu artinya malam ini. Aku semakin tegang membaca buku itu hingga selesai.

Lucens terletak diatas hati yang bersih yang teraniaya dan terlahir tidak sempurna.” Aku menoleh pada Minho. “Apa maksudnya itu?” tanyaku pelan. Minho menggeleng. “Dan jika salah satu dari bangsa itu tidak menemukannya saat bulan purnama yang keseribu dalam hitungan tahun kalian, maka kalian akan musnah.” Aku berkata dengan getir tanpa melepaskan kontak mataku dengannya. Tidak akan ada Minho lagi? Kenapa hatiku terasa.. terasa, entahlah, apa yang sedang aku rasakan? Merasa tidak rela? Benarkah? Perasaan itu kah yang menderaku?

“Lalu?” tanya Minho dengan mimik khawatir.

“Dan menurut Odius, itu tahun ini purnama kedua tahun ini.” Lanjutku. Dia terlihat lunglai dengan bersandar disandaran kursi.

“Ada dua cara jika kau sudah menemukan Lucens. Odius bilang dia terletak dalam manusia setengah suci.”

“Apa itu?” tanya Minho mencodongkan badannya padaku.

“Bercinta dengan orang itu. Atau… mengorbankannya. Tapi ada alternatif lain tapi Odius bilang dia tidak bisa menjamin itu akan berhasil. Memilikinya secara utuh dan menghancurkan bangsa Trevas.” Sahutku lemah. Minho terlihat pucat. Aku tau, bangsa mereka anti dengan hal itu, karena sangat tidak mungkin, atau meskipun mungkin, sangat kecil kemungkinan jika sudah bercinta dengan manusia tanpa membunuhnya. Itu tertulis dalam buku itu.

“Pilihan yang sulit.” Ujar Minho. Aku membuka-buka kembali buku itu, aku tersentak saat melihat tulisan terakhir disampul buku itu.

“Ah, masih ada tulisannya.” Pekikku tertahan. Minho tak kalah terkejut. Aku terdiam sesaat.

“Bagi kau yang bisa membaca buku ini, bersiaplah. Kau adalah orang pilihan, dan Lucens terletak dalam…” aku menghentikan membaca buku itu lalu menoleh pada Minho, dia menunggu kelanjutan kalimatku. “Dirimu.” Sambungku. Mata Minho membulat mendengar jawaban pelanku tentang keberadaan Lucens. Rasanya aku ingin berhenti bernafas, benarkah kenyataan ini? Aku rasanya tidak ingin menerimanya. Minho menunduk dengan sedih.

“Apa yang harus aku lakukan?” tanyanya padaku.

“Nan mollsseo.” Sahutku pelan. Sekarang aku mulai mengerti, manusia setengah suci? Maksudnya aku? Aku memang terlahir dari perbuatan yang tidak suci, aku seorang anak haram. Tapi benarkah aku memilki hati yang suci?

“Aku tidak mungkin mengorbankanmu Rae Na~ya.” Minho menatapku iba. Aku tidak mengerti arti dari tatapannya yang sangat dalam, aku bisa merasakannya. Sejenak aku terhanyut dalam buaian mata indahnya. “Saranghae.” Lanjutnya pelan, namun aku masih bisa mendengarnya dengan jelas. Dia mencintaiku? Mungkinkah dua makhluk berbeda bisa saling mencintai?

“Aku, aku lelah Minho~ya, bisa antarkan aku pulang?” aku mengambil tasku dan melangkah. Minho menahan tanganku, menggenggamnya dengan erat. Lalu memelukku dengan erat. “Seandainya ada jalan lain.” Dia berbisik ditelingaku.

“Aku ingin pulang.” Aku memukul pelan dadanya yang memelukku dengan erat.

“Arasseo, aku akan mengantarmu pulang.” Dia menggandengku dan aku yang biasanya anti berdekatan dengan lelaki, entah kenapa kali ini rasanya aku  memerlukannya. Aku tak bisa membayangkan nantinya aku diperebutkan oleh dua bangsa yang sedang berseteru. Yang aku tidak tau bagaimana kekuatan mereka. Biasanya aku dengan cepat bisa membaca kekuatan lawan saat bermain Kendo. Tapi ini? Lawanku tak terlihat.

***

Aku duduk ditepi tempat tidur, ditemani Minho. Minho tidak mau meninggalkanku sendirian, dan aku memang tidak ingin ditinggalkannya sendirian. Jalan satu-satunya adalah, ah! Aku tidak bisa membayangkannya, bercinta dengan Minho? Tidak mungkin! Atau aku jadi sasaran bangsa Trevas? Itu lebih mengerikan, yang aku tau bangsa itu adalah pencinta hubungan intim. Aku adalah sasaran empuk mereka.

“Jangan terlalu dipikirkan.” Minho tanpa aku sadari telah duduk disampingku. Langit malam ini terasa sangat pekat. Aura hitamnya membuatku merinding.

“Mereka hampir datang.” Tiba-tiba makhluk bersayap lainnya berdatangan di kamarku. Aku melihat Taemin, Key, Joghyun juga Jinki kini ada dihadapanku.

“Saatnya tiba.” Ujar Key dingin. Apa maksudnya dengan saatnya? Eoh? Aku terkejut saat bayangan hitam melesat, aku menjadi takut.

“Tenang, saat bulan purnama belum menampakkan diri, kau tidak akan terlihat oleh mereka. Tapi jika saatnya tiba, kau akan memancarkan cahaya yang menggiurkan.” Ujar Jonghyun melengkapi ketakutanku.

“Sebaiknnya kau jaga dia Minho~ya.” Ujar Jinki dingin. Mereka melesat pergi. Aku bisa melihat pertarungan mereka yang bisa dibilang mengertikan, bukan lawan yang seimbang, tapi sepertinya mereka tak mengenal putus asa. Aku tertegun dengan perjuangan mereka.

“Boleh aku mencoba alternatif pertama?” tanya Minho di belakangku. Wajahnya begitu dekat dengan tengkukku dan membuatku mampu merasakan deru nafasnya. Aku maju selangkah, diapun melakukan hal yang sama. Tatapannya berubah. Aku seperti tidak mengenalnya.

“Apa yang ingin kau lakukan?” tanyaku mengumpulkan keberanian.

“Bercinta denganmu.” Dia menghimpit tubuhku di dinding. Detak jantungku langsung berpacu. Apa maksudnya? Bercinta? Dia gila.

“Minho!” aku memukul-mukul tubuhnya, namun tak bisa melepaskan cengkramannya. Bibirnya mulai menyapu leherku. Tangannya mengangkat kakiku dan melingkarkannya di pinggangnya sendiri. Aku tidak kuat menahan semua serangannya. Dia seperti dikuasai sesuatu. Suatu kekuatan besar.

“Rae Na~ya, tolong tahan sebisamu. Aku mohon tolak aku.” Ujarnya lemah, namun sedetik kemudian dia kembali berubah bak seorang monster yang siap menerkam mangsanya. Aku memukul tengkuknya dan dia sedikit kesakitan, lalu melepaskan pelukannya dariku.

“Gwaenchana?” tanyaku sambil meraih pedang yang tergantung didinding kamarku.
“Aku, rasanya aku tidak bisa melawan jiwaku yang lain. Ini saatnya Rae Na~ya, bulan purnama tak lagi tertutup awan, kau harus sembunyi. Cari portal menuju tempat persembunyian.” Minho tergeletak lemah. Sebelum akhirnya nafasnya mulai melemah.

Minho’s POV

Aku tidak bisa melawannya. Aku tau saat ini akan tiba. Saat bulan purnama keseribu, jiwa predator yang dulu bersemayam dialam bawah sadarku mulai bangkit dan meraih permukaan akal pikiranku. Aku hampir saja memperkosanya. Gadis yang aku cintai. Tidak mungkin, beruntung penguasaan nafsuku selama ini kuat. Aku kini tergeletak lemah melawan hasrat diriku sendiri.

“Minho~ya, kau kenapa?” Rae Na mendekatiku tanpa melepaskan pedang yang tadi diraihnya didinding. Gadis pintar, aku tau dia akan bersikap seperti ini. Dia tidak akan membiarkan pertahanan dirinya goyah.

“Kau harus bersembunyi secepatnya Rae Na~ya.” Aku mulai bangkit dengan sisa kekuatanku. “Aku harus bergabung dengan mereka.” Aku mencoba mengepakkan sayapku yang terasa sangat sakit.

“Sebaiknya kau. Ah!” aku mendorong tubuhnya dengan keras. Sebaiknya aku tidak berdekatan dengannya lebih lama. Apalagi saat waktu itu tiba. Aku bergabung denga keempat temanku, bertarung bersama mereka. Mereka tidak akan bisa melihat Rae Na. Semoga Rae Na bisa menemukan portal itu dan bersembunyi disana, tapi portal itu juga menghubungkan duniaku dan dunianya. Jika dia menemukan portal itu, maka otomatis Lucens jadi milikku. Tapi aku harus tetap melenyapkan para Trevas untuk kelangsungan hidup kami.

Author’s POV

Rae Na semakin bingung apa yang harus dia lakukan. Portal? Dia memikirkan portal itu, dimana kemungkinan itu berada? Rae Na memutar otaknya memikirkan kemungkinan keberadaan portal itu untuk bersembunyi. Bersembunyi? Sebenarnya kata ‘bersembunyi’ sedikit mengganjal hatinya. Dia menjadi merasa seperti seorang pengecut. Dan tiba-tiba tubuhnya memutih, terangkat dari lantai dan mengambang. Para makhluk diluar sana berhenti sejenak, melihat semburat cahaya dari dalam kamar Rae Na. Segera mereka melesat dengan gesit. Rae Na nampak bingung apa yang harus dia lakukan. Tapi dengan gesit Minho mengangkat tubuhnya dan membawanya terbang.

“Sudah aku bilang kau harus sembunyi!” teriak Minho. Dia sekuat tenaga menahan gejolak yang ada dalam dirinya agar tidak melukai gadis yang sedang dibawanya ini.

“Tapi harus kemana?!” jawab Rae Na protes. “Aku sedang memikirkan dimana kira-kira portal itu tapi tiba-tiba aku sudah melayang dan.. bercahaya.” Ujarnya protes.

“Kira-kira dimana portal itu?” tanya Minho. Dia dengan cepat membawa Rae Na pergi dari gerombolan itu sementara yang lain melindungi mereka.

“Perpustakaan.” Ujar Rae Na. Tiba-tiba saja dia teringat akan tempat pertama kali dia menemukan buku itu. Minho berbalik arah dan menuju perpustakaan besar di Kampus mereka. Minho menurunkan Rae Na tepat di depan jendela perpustakaan yang dia pecahkan kacanya. Minho mengikuti Rae Na. Tapi tiba-tiba tubuhnya melemah, entah kenapa kali ini meski aura Rae Na menggiurkan, tapi dia berusaha menolaknya demi Rae Na, demi kelangsungan hidup Rae Na. Saat mereka berdua sibuk mencari portal itu Rae Na dikejutkan oleh sosok hitam yang berdiri tepat sejajar dengannya disudut sana.

“Park Rae Na, sudah lama kami menantikanmu.” Seringai makhluk itu mengerikan. Rae Na mulai sedikit gentar, rasanya dia merasa tidak mungkin melawan makhluk itu. Minho segera berdiri dihadapan Rae Na.

“Dia milikku.” Ujar Minho dingin, berusaha melindungi gadis itu.

“Hahahahahaha.” Tawa makhluk besar itu menggema diseluruh ruangan. “Kau jangan bercanda bocah kecil, sebaiknya kau minggir.” Makhluk itu berubah wujud jadi sedikit lebih kecil, membentuk tubuh menusia dengan sayap hitam.

“Langkahi dulu mayatku jika kau ingin mengambilnya dariku.” Ujar Minho. Dia mendorong kecil tubuh Rae Na agar sedikit menjauh. Secepat kilat salah satu dari kaum Trevas, Marcius, yang terkenal kuat itu sudah berada dihadapan Minho dan menghempas tubuh Minho hingga Minho terlempar keras ke dinding. Marcius segera mendekati Rae Na dan mencengkram tubuh mungilnya.

“Gadis kecil, kau memang menggiurkan.” Marcius mencoba mendekatkan wajahnya pada Rae Na tapi Rae Na dengan gesit menginjak kakinya dan melepaskan cengkraman Marcius.

“Kau ingin bermain kasar gadis manis? Eoh?” kembali Marcius mendekati Rae Na. Tapi Minho dengan segera memukul Marcius dari belakang, menariknya dan membuangnya hingga Marcius terhempas dilantai.

“Hahahaha. Sepertinya kau tidak bisa diabaikan Elias.” Marcius kembali bangkit. Rae Na mengambil sebuah properti pedang yang tersangkut didinding perpustakaan. Dia mengambil posisi bertahan, melayangkan pedangnya kearah kepala Marcius. Dia mengayunkan pedangnya, namun ditahan oleh Marcius dengan mudah. Beberapa kali Rae Na menyerang tapi tak satupun pukulannya yang mengenai Marcius. Minho bangkit dan berganti menyerang Marcius, tapi sepertinya kekuatan mereka tidak seimbang. Minho bisa dilumpuhkan dengan mudah oleh Marcius.

“Marcius! Tidak akan aku biarkan kau menyentuhnya!” teriak Minho sebelum tubuhnya roboh kelantai.

Rae Na’s POV

Aku sama sekali tidak bisa membaca titik kelemahannya, dia selalu bisa membaca seranganku. Bahkan Minhopun bukan lawan yang sepadan untuknya. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin menyerah, beberapa kali aku menyerangnya dan terakhir kali aku mengenai lehernya, dan dia sepertinya kesakitan. Ah! Aku tau!

Hap! Aku tau titik kelemahannya. Aku bisa melihatnya. Kuayunkan pedangku menuju lehernya, dia tidak bisa menghindar. Sekali pukulan telak dilehernya.

“Tusuk tepat dilehernya Rae Na~ya.” Ujar Minho lirih. Tapi segera Marcius melesat kearah Minho dan menghantamnya dengan keras. Lantai perpustakaan ini penuh dengan retakan. Teknik itu. Aku kembali mengayunkan pedangku kearah lehernya, ck! Meleset! Dia mulai bisa membaca gerakanku. Aku harus cepat kali ini, aku kembali mengangkat pedang, bersiap untuk menyerangnya. Aku melihat Minho bangkit dan menahan tubuh Marcius hingga akhirnya pedangku tepat menancap dileher Marcius. Minho kembali lunglai. Langit menjadi gelap dan semakin pekat.

“Rae Na, portalnya.” Minho menunjuk kesuatu arah. Sebuah vortex bulat terlihat disana. “Cepat kesana, waktunya tinggal sedikit lagi Rae Na~ya, sebelum kami lenyap.” Ujar Minho. Aku berlari. Portal itu sangat pekat. Aku memasukkan sebelah kakiku. Saat aku memasukkan tubuhku seutuhnya, tiba-tiba portal itu menutup dan hanya ada lorong gelap yang terpampang dihadapanku.

“Aku sudah gila, aku pasti sudah gila jika mau melakukan hal terbodoh ini. Tapi kau tidak bisa kembali Rae Na~ya.” Aku merutuki diriku sendiri yang dengan bodohnya menerima keadaan ini. Shit! Benar-benar tidak masuk akal, tubuhku tiba-tiba memancarkan cahaya, dan aku bisa melihat disekitarku. Aku berjalan menyusuri lorong itu, terus berjalan hingga akhirnya sampai pada ujung lorong, ada sebuah pintu, aku membukanya perlahan. Saat aku membuka pintu itu, aku tertegun.

“Choi Minho, Kim Kibum, Taemin..” aku mengabsen satu persatu orang-orang yang ada dihadapanku, Jonghyun serta Jinki.

“Selamat datang jiwa terlindungi.” Ujar Taemin dengan senyum khasnya. Dia menarik tanganku. Aku masih bingung dan masih belum menerima.

“Dimana aku?” tanyaku bodoh.

“Kau ada didunia kami Noona~ya.” Jawab Taemin.

“Sekarang saatnya.” Ujar Jonghyun. Aku menatap Taemin bingung.

“Terimakasih sudah mau bergabung dengan kami Noona~ya.” Taemin memelukku dengan erat, hampir saja dia mencium pipiku tapi segera dicegah oleh Minho.

“Dia milikku Taemin~a.” Ujar Minho. Sebentar, aku masih belum mengerti, bergabung? Apa maksudnya bergabung? Kapan aku mengatakan aku bergabung dengan mereka? Lagipula aku masih manusia, jangan katakan aku sudah mati. Aku menatap Minho dengan heran, dia membelai rambutku yang masih dipeluk Taemin.

“Ini hari pernikahanmu Noona, kau senang?” ujar Taemin. Pernikahan? Apa-apaan lagi ini? Aku masih tidak mengerti.

“Menikah?” dengan susah payah suaraku keluar, akhirnya aku bisa mengucapkan sepatah kata.

“Ne, kau sudah lupa kau baru saja menikah dengan Minho Hyung?” ujar Taemin polos, yaish! Anak ini!

“Eoh? Kapan?” tanyaku semakin pusing.

“Baru saja.” Jawab Taemin.

“Aku? Aku tadi baru saja menyusuri lorong gelap dan aku… kapan aku menikah?” ujarku pada Minho. Dia hanya tersenyum. Apa ini sebenarnya? Apa yang harus aku lakukan? Maksudku, menikah? Menikah? Kapan? Kenapa aku tidak sadar?

“Kau tidak akan percaya, tapi apa yang dikatakan Taemin memang benar. Kau tidak menyadarinya. Tapi jika kau tidak percaya, aku bisa menunjukkannya.” Dia mengusap wajahku. Seketika sekelebat bayangan hadir disekelilingku. Aku bisa melihat diriku sendiri, dan lebih mengejutkan, aku memang baru saja menikah dengan Minho, mengucapkan janji itu. Ini benar-benar tidak bisa dipercaya!

“Sebentar, apa maksudnya semua ini? Eoh?”

“Jangan panik.” Minho menenangkanku yang mulai tak terkendali. Aku melepaskan pelukan Taemin dengan kasar, wajah bocah itu terlihat sangat terkejut dengan sikapku.

“Sebaiknya bawa dia ke kamar saja, biar dia mengerti.” Ujar Jonghyun. Aku melotot padanya. Dia tertawa jahil.

“Omo! Memangnya apa hubungannya dengan kamar?” ujar Key dengan wajah usil. Aku mengerti apa yang mereka pikirkan, aku melempar gelas yang ada di dekat tanganku kearah mereka berdua.

“Yak! Jangan berpikiran kotor!” saat aku selesai berteriak, Minho mengangkat tubuhku dengan enteng.

“Yak! Choi Minho!” dia mengangkat tubuhku seperti karung beras. Aku memukul tubuhnya bertubi-tubi. “Lepaskan aku Choi Minho!” teriakku. Sesampainya dikamar, aku tidak tau tepatnya ini kamar siapa, sepertinya kamar lelaki yang tadi membawaku kesini. Nuansa putih terhampar dihadapanku. Aku jadi merinding.

“Untuk apa kau membawaku kesini?” tanyaku waspada.

“Aku hanya ingin kau istirahat dan melindungimu dari ledekan mereka.” Ujar Minho. Dia memberiku sebuah baju berwarna putih.

“Dengan adanya kau disini, maka itu akan menjamin kelangsungan hidup kami.” Dia mendekat padaku.

“Tapi bagaimana dengan kehidupanku?”

“Kau hanya perlu berada didekatku, maka itu akan menjamin duniaku.” Ujarnya. “Kau pasti tidak mengerti, sekarang mandi saja, istirahat dan tidur.” Minho mendorongku kedalam kamar mandi, tidak membiarkanku untuk bertanya lebih lanjut.

***

Aku mendengar sayup-sayup suara memanggilku, ingin rasanya aku membuka mataku, namun rasanya sangat sulit.

“Park Rae Na.” Lagi-lagi suara itu memanggilku, tadinya aku mendengar suara Eomma, tapi berganti dengan Appa. “Hey, sekarang sudah pagi.” Seseorang mencubit pipiku, memaksaku untuk membuka mata. Aku sontak terkejut melihat sebentuk wajah yang tepat berada di hadapanku. Aku ingin mendorongnya tapi tangannya lebih dulu menekan kedua pundakku dan menindihku.

“Yak! Choi Minho! Apa yang kau lakukan? Dimana ini?” aku serasa bermimpi tadi malam, mimpi yang sangat aneh, aku sebut mimpi karena saat ini aku pada kenyataannya sedang terbangun dari tidurku.

“Ini kenyataan, tadi malam juga kenyataan, pernikahan kita juga kenyataan, dan ini di duniamu.” Dia mengecup bibirku tanpa bisa aku cegah.

“Eumph!” aku ingin melepaskannya namun tidak bisa. Kupukul-pukul dadanya pelan, dia bukannya melepaskan ciumannya malah semakin melumat bibirku. Setelah kehabisan nafas, baru dia melepaskan tautan bibirnya.

“Kau milikku, jiwamu adalah takdirku, meski di kehidupanmu, kita tidak mempunyai hubungan, tapi jiwamu tidak akan bisa lari dariku.” Dia mengecup kilat bibirku sebelum melesat pergi melalui jendela kamarku. Aish! Sepertinya aku memang benar-benar gila! Ponselku berdering, aku segera mengangkatnya.

“Jagi~ya, cepat mandi, tugas kita menanti.” Suara itu, Minho! Yak! Kenapa harus selalu ada dia dalam hidupku?! Aku mengacak rambutku sendiri dan melesat pergi ke kamar mandi. Saat aku membuka bajuku, aku melihat di cermin, leherku.

“Yak! Choi Minho! Kau akan mati hari ini!”

FIN

Note : wahahahahahahahah, aku ga tau ini ff apaan, ini ffnya udah basi banget, lama banget ngadat… pasti Rae Na udah lama banget nungguin, udah beberapa bulan. Itu endingnya juga aneh, gaje bin ajaib. Ngalor-ngidul tapi yang penting selesai lah. Ini ff Fantasy pertama aku… agak pendek sih, abisnya aku udah mentok, semoga yang bersangkutan senang *tunjuk Rae Na*. Fantasy atau bukan, itu terserah kalian yang menilainya lah… hahahahahahahaahaha, okelah, bagi yang sudah ngebaca, silakan tinggalkan jejak kalian… aku tau pasti ada yang bilang ini mirip twiglight, iya saya terinspirasi dari itu, cuman yah beda yah sedikit… hahahahahaha, mau belajar bikin fantasi, tapi ternyata susaaaaaaaahhhh banget, aku hampir saja menyerah untuk tidak melanjutkan, tapi sayang udah sepro lebih, jadi aku teruskan dengan keanehanku… mian klo kalian tidak suka… tapi aku harap Rae Na suka.

15 responses »

  1. kek na ada yg seneng tuh,,, *nunjuk2 raena*
    palagi habis di C**M,,, xixiixix

    itu si jonghyun ada,,,
    hueee,,, peluk2 jonghyun,,,

    aku masih belum ngerti,,,, *bingung.com*
    banyak kata2 anehnya #dilempar ONNi#
    tapi ntar liah lagi deh,,,
    sekrng kabur dulu,,,,

  2. DAEBAKK !!
    I Like This Story Because it’s Real !! #lol *org gila dtg*

    Aku sgt suka eonnieee. . . ini trnyata.. udh brpa bulan yah..wkwk tp aku puas, eh belum..ahahahaa mari kita teruskn sendiri SUAMIKU..*nunjuk nae Minho* #lol ;))

    Aku mengerti cerita’y.. mau ku sinopsiskn kah? wkwkwk

    cm..asteko..merinding disko pas d’bisikin pen nyoba alternatif pertama.. smpe nervous,k’kmr kecil,cuci muka trus minum dlu saking takut’y..wkwk
    tp minho pintar,pilih alternatif 3 bonus alternatif 1..Keren ! SEQUEL !!

  3. babyyyyyyyyyy,,,bogoshipoyooo
    huwaaaaaa,,,ada yg udah nikaaaahh
    sunggyu-aaaahh kpan kita nikah,,*digetok oppa*

    fikaaaaaaaa,,ini bagussssss,,,
    tpi knp ga da adegan mlm pertmaaa*mulai yadong*
    itu nma2nya juga bgus,,,

    elias,,,bgus ih,,
    babyku cool bgt,,,
    dedeeeeee,,,coba dede cool juga,,
    pengen baca lgiiii,,,
    tapi tapi tapi kirain ada nc nyaaaa
    ternyta ga*kecewa*

    wah ada taemiiinnn,,,,
    *cium2taeminn*,,
    no coment ahhh,,,sukaaaaaaaa
    pkoknya sukaaaaaaa

    • ngapain onnie ngajak2 sung gyu nikah???
      sejak kpn onnnie jadi yadong, eoh??
      baca lagi? astaga… onnie? kaga bosen? aku mah puyeng onn…
      syukurlah klo onnie suka…
      kita sebenernya janjia yah bikin ini, tapi ternya fika baru kelar…

  4. aku baru sempat bca onnie..
    huaaaaa kerennn aku sukaa..
    beneran deh ini kerenn banget..
    aku sempat kira yg lucens itu orngnya ada lgi, dan dya yg akn b’trung dgn minho dan raena ahhhh ternyata raena sendri..
    aku kira taemin jga bakalan lenyap stidaknya dya kan jga dri bngsa trivas kan..

    minho~yaa aku kira kmu ga bakalan biaa menahannya.. haha
    aku masih ga ngerti knpa tiba” mrka bsa nikah..
    tpi ceritanya sumpahhh kerenn..
    ini ada kisah benerannya ga onnie?

    • yak! mana ada kisah benerannya? ini hanya halanku semata… hahahahahaha, taemin itu kuat…
      lucens kan cahaya abadi…
      mereka menikah batin… ga tau juga aku gimana terjadinya, tapi yang pasti saat rae na memutuskan untuk ke dunia minho, otomatis minho sudah mengikatnya. karena lucens memang untuk minho… untuk itulah sebabnya Minho yang dtunjuk untuk misi itu…

  5. mianhe eonn, bru sempet comment…
    akhirx da another story dr minna couple, aq suka ma pasangan ini stlh teukyo…cerita menarik tapi aq agak bingungx dri pernikahanx knpa bs lgsg dah nikah gt…
    tapi gpp kok yg penting ceritax menarik…
    Aq tunggu ff lainx ya eonn.🙂

  6. fika eonni~.,..
    anyeong..^______________________^
    chie mau cap bibir*kecup fika eon* dulu,,chu~ :3
    chie mau bilang dulu,,
    huwaaaa,,,,eon jgn bikin aku berpaling ke pangeran kodok lagi.,*meronta dari hugnya onew oppa*
    masukan dari chie..
    1.kalo bisa lebih diperhatiin lagi tanda bcanya eon..terutama titik komanya..^^,agak bingung pas mau berhenti atau nerusin kalimatnya..
    2.typonya diminimalisir jg ya eon..^^
    3.ada beberapa kata yg menurut chie gag tepat,,kaya duit..lebih enak kalo pake kata uang,,
    4.beberapa bagian terlalu detail pdhl kalo menurut chie gag perlu takutnya malah bikin bosen,,tapi bagian2 yg harusnya detail malah kurang jelas eon,,
    5.chie masih gag ngerti ma endingnya eon…dimulai dari yg raenanya masuk portal sampe yg dia bangun paginya,,^^
    yg bikin chie teriak2 tengah malem..
    1.ada jinki oppaaa!!*mulai lebehh*
    2.pas minhonya mau “ehem2″ tapi gag jadi yg pas bilang”bagaimana kalau kita coba cara pertama” huuuaaaaaa!!*bayangin abis itu dia nge wink*..meleleh lagi,..
    3.aku suka ide ceritanya,,fantasinya dapet banget eon..^^ sring2 aja bkin fantasi,,
    4.rada ngeri pas mlm bulan purnama yg keseribunya,,dagdigdug duaarrr,,,mpe gigit2 guling saking tegngnya,
    okeeehh,chie bkin rusuh spertinya diblog ini..
    buat reader laen slam kenal ya..^^
    fika eon,,keep writing,,hwaiting!!!*teriak bareng onew oppa*

    • uaduh, suka neh komen begini neh… aku kadang suka terus aja gitu nulis kaga berenti2… kalo masalh typo, itu sudah biasa dan RR disini kayanya udah maklum karena itu tidak dapat dirubah, aku paling males ngedit.
      klo kata, ya karena g aku edit makanya kadang kurang pas…
      kekekekekekekekke, detail tidaknya tergantung mood sayang…
      endingnya emang dibikin kaga negerti biar kaya pelem…
      aku ga akan bikin fantasi lagi, bukan keterampilanku, terlalu berat mikir kalo fantasi…

      • jiahh,,,sayang bgt,,
        pdahal chie sukaa banget ma fantasi,,
        misal nehh,,
        teukk ajusshi bisa jadi penyihir,,*fans HP akut*,,
        abisnya liat ff kbnyakan jadi vampire,,kekeke~
        minho tetep jadi pengeran kodok ajahh,,wkwkw
        emang susah bikin certa2 gini eon..
        makanya ku jadi reader ajjahh,,
        gag mau jadi author,,pdhal ide crta kdng2 nyempil di otak..hehehe~,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s