Park Family : Trust Me, Jebal.. (TeuKyo Focus)

Standar

Trust me,jebal

Sudah larut malam, hari telah berlalu
Aku menutup jendela karena angin dingin
Jadi kamarku menjadi agak tenang
Aku menyalakan lampu yang sangat kecil
Dan aku melihat ke luar, mulai gelap
Dan tiba-tiba aku menjadi begitu sedih

Dalam daftar lagu yang aku dengarkan setiap hari
Setiap lagu seperti kisah kita
Karena semua perpisahan adalah sama
Dengan hati-hati aku berpikir tentang hari-hari bahagia
Dan aku menginginmu, begitu indah
Dan tanpa aku tahu, air mata mulai mengalir

Aku rindu padamu, aku merindukanmu
Karena aku sangat merindukanmu,
Karena aku mendambakanmu
Karena aku tidak ingin melupakanmu
Karena aku tidak bisa melupakanmu
Karena ada begitu banyak hal yang belum aku lakukan untukmu
Aku sangat merindukanmu

Karena aku sangat mencintaimu
Kami berpisah dengan indah
Pada kenyataannya, satu sama lain
Aku tau kita tidak bermaksdu seperti ini
Aku tahu dengan baik melebihi orang lain
Tapi kenapa itu yang membuatku terus menangis?
(I Miss You-Noel)

Author’s POV

Suara ketukan heels sepatu terdengar disepanjang koridor apartemen berlantai batu marmer itu. Seorang wanita menenteng sebuah tas tangan berjalan gontai, suara sepatunya menimbulkan ketukan irama yang terdengar pilu di telinganya. Wanita itu menangis dan terus berjalan, make-up tipisnya luntur karena airmata. Bau nafasnya beraroma alkohol mahal, tidak terlalu menyengat, namun saat ia berbicara, semua orang akan tau dia baru saja minum minuman beralkohol. Matanya menghitam akibat maskara dan eye linernya yang meleleh di pipi, sesekali dia menyeka airmata yang mengalir. Saat sampai di pintu sebuah apartemen mewah di depannya, dia segera menekan bel berkali-kali tanpa henti, seperti airmata yang membuat aliran anak sungai yang bermuara di ujung dagunya. Saat pintu terbuka, seorang wanita dengan piyama lengkap berdiri dihadapannya. Dia terkejut melihat seseorang yang bertamu ke rumahnya malam-malam.
“Eun Kyo~ya, wae gurae? Eoh? Kenapa malam-malam kesini?”. Adalah Eun Kyo wanita yang berjalan penuh airmata menuju apartemen Hyunchan, kaka iparnya. Eun Kyo tersenyum tipis sambil menghapus airmatanya.
“Onnie..” suara seraknya terdengar menyedihkan dengan wajah yang berantakan. Hyunchan menarik tubuh Eun Kyo masuk kedalam dan berkali-kali membersihkan wajah gadis itu yang penuh dengan noda make-up dengan tangannya.
“Wae? Kenapa jadi seperti ini? Kau kenapa?” tidak hentinya ia terus menyapu airmata Eun Kyo yang mengalir deras, Eun Kyo terlihat tidak peduli dengan wajahnya. Dia menggeleng dan terduduk di lantai.
“Wae~yo Onnie?” Eun Kyo terisak, dia meremas gaun selututnya yang tersingkap. Melepas sepatu yang melilit kakinya.
“Ceritakan padaku, kau sebenarnya kenapa? Eum?” disibaknya anak rambut Eun Kyo ke belakang telinganya, meraih dagu yang basah karena airmata.
“Dia hamil Onnie.” Ujar Eun Kyo lirih. Hyunchan menghentikan belaian tangannya di pipi Eun Kyo. Eun Kyo menoleh pada Hyunchan dengan nanar. Kembali airmatanya menyeruak, tapi kali ini tanpa suara. Tatapannya kosong memandang ‘Onnie’ satu-satunya dalam hidupnya, itupun dia dapatkan dengan menikahi seorang lelaki.
“Gadis itu hamil.” Ulangnya. Sejenak dua wanita yang usianya tidak terlalu jauh terpaut ini bertatapan penuh arti, sekali lagi Hyunchan merapikan rambut Eun Kyo yang berantakan, tidak tau harus berbuat apa, tapi pada akhirnya dia hanya mampu memeluk tubuh lunglai Eun Kyo.
“Aku sudah bilang padamu, tidak perlu membawanya ke rumah.” Hyunchan membelai punggung Eun Kyo dengan sayang, hanya itu yang bisa dia lakukan. Meski dalam hatinya meradang, dia mencoba bersikap tenang dan berdiri ditengah-tengah.
“Ini sudah malam, sebaiknya kau tidur.” Hyunchan melepas pelukannya dan memegang kedua bahu Eun   Kyo. Gadis itu hanya menjawab dengan anggukan.
“Tapi kau bau alkohol. Sebaiknya mandi dulu, mau air hangat?” Hyunchan berdiri dan mengambil handuk baru dalam lemarinya. Dia menutup lemari dan menyerahkan handuk itu pada Eun Kyo, mau tidak mau Eun Kyo mengambilnya. Dengan langkah gontai Eun Kyo berjalan menuju kamar mandi Hyunchan.
“Mau aku temani? Aku mandikan?” Eun Kyo langsung menoleh pada Hyunchan, Hyunchan hanya tersenyum sambil mengedipkan matanya.
“Onnie, jangan menggodaku, aku bisa mandi sendiri!” Eun Kyo menampakkan wajah cemberutnya pada Hyunchan. Hyunchan tertawa melihat Eun Kyo, dia senang sekali menggodanya.
“Biasanya kan dimandika Oppa, sekarang yakin bisa mandi sendiri?” godanya lagi, Eun Kyo semakin memanyunkan bibirnya. Menggoda adik kesayangannya adalah hal yang paling menarik Hyunchan lakukan. Hyunchan meraih buku tebal dan mulai membacanya.
“Jangan terlalu lama dikamar mandi Eun Kyo~ya, aku hanya ingin kau membersihkan pikiranmu, bukan membunuhmu dengan dinginnya air.” Ujar Hyunchan saat Eun Kyo hendak menutup pintu kamar mandi.
“Ne Onnie.” Jawab Eun Kyo lirih. Dia bersandar dipintu kamar mandi dan kembali menangis. Masih ingat dalam benaknya gadis kecil itu bergelayut manja dilengan suaminya.  Godam besar seolah menghantamnya dan menguburnya ke dasar bumi serta membakarnya di inti bumi. Eun Kyo menghela nafas dan berjalan menuju bath-tub. Lalu merendam tubuhnya di air hangat.

Setelah selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi dan mengambil tas yang tergeletak di lantai. Dia membuka tas itu dan meraih sebuah ponsel.
“Sudah selesai?” tanya Hyunchan, menghentikan kegiatannya membaca dan menoleh pada Eun Kyo.
“Ne, Onnie.” Jawab Eun Kyo singkat. Dia menyentuh sebuah nama yang ada di ponsel layar sentuhnya. Mengirim sebuah pesan pada suaminya. Setelah itu dia berjalan mendekati Hyunchan lalu berbaring disampingnya dan mencoba untuk tidur.

***
Teuki berjalan dengan pasti menuju apartemennya, dan setelah sampai lalu masuk kedalam, dia mendapati apartemennya sepi, sunyi senyap. Dia melirik jam yang terpasang di dinding, jam 2 malam. Dia mulai berjalan ke kamar, mencari Eun Kyo. Dia bingung, tidak biasanya istrinya tidak dirumah sudah malam seperti ini. Saat membuka pintu kamar, dia tidak juga mendapati Eun Kyo. Teuki semakin bingung, tapi dia dikejutkan oleh sebuah getaran dalam sakunya. Dia meraih saku dan mengeluarkan ponsel yang terdapat di dalamnya.

From : Yeobo
Oppa, aku menginap di tempat Onnie.

Dalam hati Teuki bertanya-tanya, mengapa Eun Kyo tiba-tiba menginap dirumah adiknya? Isi pesannya juga singkat, tidak biasanya. Dia menelpon Hyunchan untuk memastikannya.
“Hyunni~a, Eun Kyo ditempatmu?” tanyanya memastikan, dalam hatinya terbersit ada yang tidak beres dengan Eun Kyo. Tiba-tiba dia menginap ditempat Hyunchan.
“Ne, Oppa, kau jangan khawatir.” Jawab Hyunchan. Teuki menutup telponnya, tapi hatinya masih ragu. Benarkah istrinya baik-baik saja? Dia berjalan ke kamar mandi dan melepas bajunya.

Eun Kyo’s POV

Aku terbangun di tempat tidur yang berbeda dan disampingku terbaring seorang wanita. Dia masih terlelap. Aku tidur tengkurap dan mengerjapkan mataku yang terasa berat. Kepalaku pusing, aku ingat tadi malam aku minum di bar. Hyunchan Onnie. Aku tersenyum melihatnya.
“Onnie~ya, ireona..” kupanggil dia dari mimpi. Pasti memimpikan lelaki aneh pujaan hatinya lagi. Perlahan Onnie membuka matanya dan menoleh padaku.
“Tidurmu nyenyak?” tanyanya, aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya. Nyenyak? Mungkin, tapi di dalam tidurku mimpi buruk menghantui. Bermimpi buruk apa bisa dikatakan nyenyak?
“Eum.” Jawabku.
“Eum? Apa artinya?” tanyanya sambil menyibak selimut dan duduk di tempat tidur. Aku menelentangkan tubuhku. Dia bersandar di pangkal tempat tidurnya.
“Sekarang kau sudah tenang?” tanyanya lagi, dia mengambil air putih dalam gelas disamping tempat tidurnya dan meminumnya.
“Ne.” Aku memeluk guling dan berpikir, apa aku sudah tenang?
“Sekarang ceritakan padaku.” Pintanya tentang masalah tadi malam. “Apa yang membuatmu minum? Dan kau tau? Kau terlihat sangat kacau tadi malam, jika Oppa melihatmu, dia bisa menceraikanmu.” Ujar Onnie sambil memukul pelan kepalaku dan diakhiri dengan belaian.
“Aku ingin cerai dengannya.” Jawabku lirih, lebih kepada diriku sendiri, perkataan itu lebih kepada meyakinkan diriku sendiri.
“Kau jangan bercanda, Kyo~ya.” Onnie terkejut dan menarik tubuhnya, tak lagi bersandar. “Belum tentu itu anak Oppa kan?”
“Tapi gadis itu mengatakan padaku dia mencintai Oppa.” Kembali aku tidak bisa menahan bulir air yang diproduksi mataku.
“Dia mencintai Oppa, tapi belum tentu Oppa mencintainya kan?” Onnie kembali menyentuh pipiku. Ah, andai saja yang dikatakan Onnie benar.
“Tapi mereka berjalan bersama.” Aku tidak bisa menahan isakanku. Menangis lagi.
“Kita harus memastikannya dulu.”
“Tapi kapan? Sampai dia melahirkan? Dia bisa meminta Oppa menikahinya. Lalu aku?” aku menghela nafas berat. Sangat berat hingga mengeluarkan nafas rasanya lebih sulit daripada menghirupnya.
“Kau ini, terlalu berlebihan.” Onnie memukul kepalaku. “Sebaiknya kau pulang dulu, bicarakan baik-baik, jangan bersembunyi seperti ini.” Ujarnya lagi.
“Onnie, kau membela siapa sebenarnya? Aku apa Oppa?” rajukku. Aku butuh seseorang yang ada dipihakku.
“Aku membela perkawinan kalian. Sudah ayo mandi.” Onnie beranjak dari tempat tidur.
“Aku mau kerja, dan hari ini aku ada pekerjaan diluar kota, selama seminggu. Kau tidak keberatan jika sendirian?” tanya Onnie. Ck! Dasar Onnie tidak peka! Aku sedang sedih dan masalahku besar dia malah meninggalkanku!
“Kyo~ya, aku tau apa yang ada dipikiranmu. Bicarakan baik-baik.” Lanjut Onnie lalu mengambil handuk.
“Kau kan saudaranya, tentu saja kau membelanya. Meskipun dia salah!” aku berbalik kasar membelakanginya.
“Aish! Dasar gadis keras kepala, mandi dan bicarakan dengan baik! Demi kebaikanmu juga! Kau mau tersiksa terus seperti ini?! Eoh?!”
“Shireo!” aku memeluk guling dan menutup tubuhku dengan selimut. Lama aku terdiam didalam selimut tanpa mau membukanya.

Aku melihat Hyo Min bolak-balik ke kamar mandi. Gadis kecil yang aku tampung dirumahku seminggu yang lalu aku tampung dirumahku. Aku memperhatikannya bersandar dipintu.
“Kau kenapa Hyo Min~a?” tanyaku. Dia menoleh padaku, lalu muntah lagi. “Kau masuk angin? Sudah beberapa kali aku lihat bolak balik kamar mandi? Kau sudah makan?” dia tidak menjawab. Aku mendekatinya dan memijit bahunya.
“Onnie… mianhae.” Dia melepaskan tanganku dibahunya. Sebenarnya aku sudah kenal sejak lama dengannya, tapi baru seminggu ini aku bawa dia ke rumah karena beberapa hari terakhir dia sering sakit. Dia berjalan mengambil koper yang dia letakkan diatas lemari dan mengemasi barangnya.
“Kau mau kemana?” dia tidak menjawab, sibuk membenahi perabotannya. Meneteskan airmata, aku semakin heran.
“Aku mau pulang saja Onnie.” Ujarnya lirih dan bergetar akibat menangis. Tiba-tiba dia berbicara yang membuatku sulit untuk bernafas. Dia menoleh padaku.
“Onnie, aku mencintai suamimu.” Kata-kata yang keluar dari mulutnya bagai pisau yang mengiris hatiku. Apa yang dia katakan? Mencintai siapa?  Belum sempat aku menerima semua yang dia katakan, dia lanjutkan dengan ucapan yang membuat waktu terasa terhenti bagiku.
“Aku hamil Onnie.” Ujarnya sambil menarik koper besarnya. Aku menghela nafas, rasanya tidak berpijak di bumi. Aku memandangi kepergiannya, tidak mencegahnya sama sekali. Rasanya aku ingin marah, tapi marah pada siapa?

Aku berjalan menyusuri kawasan padat pertokoan dan beberapa bar. Langkah kakiku rasanya sangat berat, hingga aku tidak sadar aku telah duduk di sebuah bar di depan seorang bartender. Aku menopang daguku, ini pertama kalinya aku menjejakkan kaki di tempat seperti ini. Jika Teuki Oppa tau, aku bisa diseretnya, tapi sekarang aku tidak peduli lagi.
“Mau minum Nona?” seorang bartender yang sejak tadi memperhatikanku. Aku melirik padanya. Dia memberikan senyumnya padaku. Aku mendecak kesal.
“Baru pertama kali kesini?” tanyanya lagi sambil melirikku dengan mata tajamnya. Aku yang tadinya tidak perduli kini menoleh padanya. Dia membersihkan beberapa gelas dengan kain yang dari tadi dia gosokkan ke gelas kaca.
“Mau coba sesuatu?” tanyanya lagi. Mungkin sudah tugasnya untuk berbuat ramah pada pelanggan, tapi bagiku dia sangat berisik.
“Terserah saja.” Aku mengibaskan tanganku di depan wajahku. Aku memutar kursi yang aku duduki menghadap ke orang-orang yang sedang berdansa di lantai dansa.
“Apa setiap hari seperti ini?” aku meringis saat minuman beralkohol itu memasuki tenggorokanku.
“Pelan-pelan Nyonya.” Ujarnya mengajariku. Aku menoleh ke belakang. Tadi dia memanggilku Nona, tapi sekarang berubah jadi Nyonya?
“Cincinmu.” Dia menunjuk pada cincin yang melingkar dijari manisku. Aku melirik pada tanganku yang ditunjuknya. Aku tersenyum sinis.
“Kau ini, aku bisa melepasnya.” Kulepas cincin bukti cinta Opaa, bukti? Aku rasa bukan, yang ada buktinya dia sekarang mengkhianatiku.
Aku tidak tau sudah berapa gelas lelaki dihadapanku ini menuangkan minuman untukku, dan racauan apa yang keluar dari mulutku, hingga tidak terasa bar ini sudah mau tutup.
“Nyonya, maaf, kami sudah mau tutup.” Ujar lelaki tinggi yang mempunyai tatapan mata tajam itu. Aku mencoba bangkit dan kepalaku terasa berat. Lelaki yang berada disampingku itu memapahku.
“Bawa aku ke toilet.” Aku menengadah keatas menatap wajahnya. Dia tersenyum dan mengangguk. Sesampainya di toilet, aku membasuh wajahku dan membenahi make-upku.
“Sudah selesai?” sebuah suara mengejutkanku. Dia bersandar didinding, aku hampir saja kehilangan keseimbangan tubuhku karena terkejut. Dia kembali meraih badanku.
“Aku mau pulang, bisa kau panggilkan taksi?” aku meremas rambutku yang sudah mulai berantakan. Dia memanggil sebuah taksi dan membukakan pintu untukku.
“Hati-hati, Nona.” Dia menutup pintu kembali dan tersenyum lagi-lagi tersenyum, aku membalasnya dengan tersenyum tipis.

“Aku mau berangkat, kau tidak ke panti?” tanya Onnie membuyarkan lamunanku tentang apa yang terjadi semalam dan tadi malam.
“Aku sedang sakit Onnie.” Jawabku, aku ingin menangis tapi aku tahan. Kehamilan anak itu merobek semua cerita yang aku tulis bersama Teuki Oppa. Rasanya benar-benar tercoreng.
“Ya sudah kalau begitu, aku sudah buatkan teh hangat untukmu, aku juga sudah menelpon Oppa, kalian harus bicara.” Aku membuka selimut yang menutupi wajahku dan menatapnya tajam.
“Onnie!” teriakku. Aku tidak ingin bertemu dengannya, tidak untuk saat ini. Belum ada yang ingin aku bicarakan, jika ingin membicarakannnya aku bisa memintanya sendiri.
“Kau tidak bisa menolak, Oppa dalam perjalanan. Oke Honey?’ Hyunchan Onnie mengacak rambutku. “Kau mandi, bau, mau Oppa menceraikanmu? Eoh?” godanya sambil tertawa.
“Onnie! Kau ini! Oppa memang ingin menceraikanku, atau kalau tidak aku yang akan menggugatnya!” teriakku nyaring. Hyunchan Onnie berhenti dan berbalik padaku.
“Tidak baik berbicara seperti itu. Aku tidak yakin Oppa yang melakukannya.” Kembali dia berjalan dan menghilang dibalik pintu. Setelah lama berbaring di ranjang, aku menggerakkan badanku untuk melemaskan tulangku yang terasa patah.
“Ugh!” kuturunkan kakiku menyentuh lantai. Berjalan meraih handuk dan pergi kekamar mandi. Anak-anak pasti sudah menungguku. Daripada aku berdiam diri disini, aku lebih baik ke panti sosial saja.

Teuki’s POV

Aku bangun dari tidurku karena buunyi alam yang nyaring memanggilku. Biasanya Eun Kyo yang membangunkanku, tapi kali ini tidak ada suara manjanya membangunkanku, tidak ada cubitannya yang membangunkanku, tidak ada gigitannya di lenganku untuk membangunkanku. Aku perlahan membuka mataku.
“Yeobo.. bogoshipo.” Ucapku sebelum aku bangkit dan menuju kamar mandi. Sesampainya dikamar mandi aku berkaca. Teringat lagi kejadian kemarin yang membuatku bingung.

“Oppa, aku hamil.” Seorang gadis kecil yang berdiri dihadapanku menangis sesenggukan. Dia menutup mulutnya. Airmatanya mengalir di pipinya. Aku memandangnya bingung. Aku yakin aku tidak pernah melakukannya selain bersama Eun Kyo.
“Oppa.. Aku mencintaimu.” Ujarnya lagi membuatku semakin sakit kepala. Apa maksudnya semua ini?
“Hyo Min~a, aku tidak pernah melakukannya denganmu.” Jawabku, aku bingung, seandainya Eun Kyo yang mengatakan ini, mungkina ku bisa mengekspresikannya. Tapi ini? Anak berumur 17 tahun, mengatakan padaku dia hamil.
“Oppa, aku ingin kau bertanggungjawab.” Aku menoleh padanya. Bertanggungjawab? Atas apa?
“Bertanggungjawab? Hyo Min~a, aku, aku yakin tidak pernah melakukannya denganmu.” Dia memang tinggal bersama kami seminggu terakhir, dan memang sejak dulu dia sering menginap.
“Kau lupa? Saat kau mabuk pulang dari kantor?” tanya anak itu berkaca-kaca. Mabuk? Sehabis meeting yang ditutup dengan acara minum bersama Yesung dan Hyukjae?
“Kau harus bertanggungjawab!” gadis kecil itu memelukku. Ak masih bingung. Aku memang mabuk dan memang bercinta, tapi dengan istriku sendiri. Aku yakin, yakin? Yah, yakin aku melihat istriku meski aku sedikit tidak sadar, tapi saat membuka mataku, aku memang melihat Hyo Min yang ada dikamarku.

Aku sangat yakin yang aku sentuh Eun Kyo, bukan Hyo Min. Aku mengacak rambutku dan berjalan mendekati shower lalu menekan tombol ‘on’. Aku mengguyur tubuhku dengan air hangat, kali ini tidak berendam, karena biasanya Eun Kyo yang menyiapkan air hangat, aku hanya tinggal merendam tubuhku.
Selesai mandi aku memakai pakaianku dengan rapi. Sebelum aku keluar dari rumah, aku berhenti di depan kamar tamu yang ditempati Hyo Min. Aku membuka pintunya, dia juga tidak ada. Aku memasuki kamarnya dan membuka lemarinya. Kosong. Hufh, apa Eun Kyo sudah mengetahui semua ini?

***
Aku berjalan cepat menuju apartemen Hyunchan, dia bilang dia sedang ada pekerjaan diluar kota. Aku rasa sekarang Eun Kyo sendirian di apartemen itu. Aku menekan bel tapi tidak ada yang membukakan pintu. Eun Kyo~ya, jangan katakan kau tidak ingin bertemu denganku. Aku tau pasti terjadi sesuatu padamu. Beberapa lama menunggu di depan pnitu, akhirnya dia membuka pintu untukku. Terlihat dia yang memandangku enggan, sepertinya baru selesai mandi. Rambutnya masih basah, dan handuk masih tersangkut dibahunya. Dia tidak menghiraukanku, setelah membuka pintu, dia berbalik masuk tanpa mempersilakanku masuk.

bh

“Baru selesai mandi?” aku mendekatinya, harum tubuhnya menyeruak di hidungku, aku menghirupnya. Dia tidak menjawab, mengeringkan rambutnya dengan handuk yang ada dibahunya, sesekali dia mengibasnya. Terlihat seksi dimataku.
“Kenapa tiba-tiba menginap disini?” aku semakin mendekatinya dan memeluk punggungnya yang sedang berdiri di depan cermin. Dia tidak menghiraukanku, aku tau, matanya mengacuhkanku. Dia menghela nafas.
“Kau tidak ke kantor?” tanyanya tanpa menjawab pertanyaanku. Aku mengecup lehernya.
“Jawab pertanyaanku dulu.” Kuelus dengan jari telunjuk bekas kecupanku tadi. Dia menggididkkan bahunya, dia sedang marah, aku bisa merasakannnya.
“Oppa, kau melakukan sesuatu?” dia menghentikan tangannya yang sejak tadi menyentuh rambut basahnya. Menatapku di cermin. Aku menoleh pada cermin dan balas menatapnya.
“Melakukan sesuatu? Apa?” tanyaku tidak mengerti. Dia melepaskan pelukanku.
“Oppa, jangan pura-pura tidak mengerti.” Dia menjauh dariku, membuka bajunya dan menggantinya dengan pakaian yang lebih formal.
“Ada jadwal hari ini?” tanyaku. Dia mengangguk. Jadwalnya di panti sosial. Aku menghela nafas.
“Biar kita berangkat bersama.” Aku duduk di sofa dan memandanginya yang sedang mengganti pakaiannya.
“Ani, aku berangkat sendiri saja.” Ujarnya, meletakkan handuk di luar. Saat dia masuk, dia meraih gelas yang ada diatas meja dan meminumnya. Gadis dihadapanku ini meraih tas dan ingin keluar dari apartemen, tapi aku dengan cepat mencengkram tangannya, mengurungkannya keluar.
“Kita harus bicara, ada apa denganmu sebenarnya?” aku mulai emosi dengan sikap acuhnya, bukan seperti dirinya dan aku tidak biasa.
“Denganku? Harusnya aku yang bertanya, ada apa denganmu?!” tanyanya sengit.
“Yeobo, aku tidak ingin bertengkar, tapi tolong jelaskan mengapa kau berubah dalam semalam?” aku menatap tajam matanya, tepat dimatanya.
“Ugh!” dia menghentak tanganku hingga cengkramanku terlepas. Menghela nafas dan menggigit bibirnya. “Apa yang kau lakukan bersama Hyo Min?” tanyanya sedikit emosi, matanya menyiratkan kemarahan.
“Apa maksudmu?” tanyaku bingung, Hyo Min? Aku tidak melakukan apapun bersama Hyo Min.
“Oppa, dia masih anak-anak!” dia memukul dadaku. Aku menghentikannya dengan meraih tangannya. “Dia hamil.” Ujarnya sedikit lebih tenang, tapi ketenangannya berganti dengan uraian airmata. “Dan dia bilang dia… mencintaimu.” Kata ‘mencintaimu’ terdengar lirih dari mulutnya. Aku ingin memeluknya tapi dia menolak dengan mundur beberapa langkah dariku. Dia memejamkan matanya.
“Aku tidak melakukan apapun dengannya, percayalah.” Aku meyakinkan Eun Kyo, karena aku memang benar-benar tidak melakukan apapun. Selama seminggu dia memang berangkat sekolah bersamaku, aku yang mengantarnya, tapi dengan mengantarnya bukan berarti aku melakukan hal yang diluar nalarku.
“Aku ingin pergi, anak-anak pasti sudah menungguku, minggir.” Dia mendorong pelan tubuhku. Aku tidak bergeming dari pintu.
“Ayo kita bicarakan hal ini dengan kepala dingin dan serius.” Aku ingin meraih lengannya tapi dia menghindar. Disekanya airmata yang tadi mengalir dipipinya.
“Aku belum ingin membicarakannya.” Jawabnya dingin. Aku mencoba meraihnya lagi, dan kembali dia menghindar.
“Tapi ini harus diluruskan.” Ujarku, di amendorongku lagi, namun kali ini dorongannya kumanfaatkan untuk memeluk tubuhnya. Dia sedikit memberontak.
“Lepaskan aku!” dia menggerakkan tubuhnya untuk melepaskan pelukanku. “Aku tidak ingin bicara sekarang.” Ujarnya lagi.
“Tapi kita harus secepatnya menyelesaikan ini.” Aku masih tidak ingin melepaskan pelukanku.
“Aku belum siap.”
“Eun Kyo, aku tidak bisa kau acuhkan seperti ini.” Aku mempererat pelukanku.
“Aku belum siap!” dia memukul dadaku. “Aku belum siap kehilanganmu!” dia berhenti memukulku. Tangisnya pecah, kali ini sedikit nyaring.
“Aku tidak akan meninggalkanmu.” Ku belai punggungnya memberinya ketenangan.
“Tapi anak itu hamil Oppa!” teriaknya disela tangis. “Anak kecil itu hamil! Kau harus bertanggungjawab.” Aku melepaskan pelukanku, menatapnya, ini bukan seperti istriku, dia menghindari tatapanku dengan mengalihkan wajahnya kesamping.
“Sudah lah, aku ingin sendiri.” Dia menghentikan tangisnya dan menyapu airmatanya. Jika aku perhatikan, sepertinya dia menangis sejak tadi malam, matanya membengkak.
“Aku tidak ingin membiarkanmu sendiri.” Ujarku, meraih dagunya, ingin mengecup bibirnya tapi dia sekali lagi menghindar.
“Biarkan aku sendiri Oppa, sebelum nantinya aku emosi dan meminta cerai darimu.” Ujarnya menatapku tajam. Park Eun Kyo, tidak akan aku biarkan kau meminta itu. Aku mulai mundur, melangkah mundur. Dia kembali menangis, kubiarkan dia menangis, hatiku menjadi perih dan merasa sesak. Kenapa aku harus seperti ini? Menerima hukuman atas sesuatu yang tidak aku lakukan? Hingga membuat orang yang aku cintai menangis? Aku memandang jemarinya yang menutup mulutnya memperkecil isakannya.
“Mana cincinmu?” tanyaku, aku melihat cincin perkawinan kami tidak ada lagi di jari manisnya. Dia memandangi tangannya.
“Ada di dalam tas.” Jawabnya sambil masih memandangi tangannya.
“Aku ingin kau memakainya.” Pintaku, aku berjalan mengambil tasnya dan mulai merabanya. Dia merebut tasnya dari tanganku.
“Nanti aku akan pakai.” Dia menyampirkan tas dibahunya.
“Aku ingin sekarang.” Paksaku. Aku tidak suka simbol kepemilikanku tidak ada lagi dijari manisnya. Kuambil tas itu dan kembali meraba.
“OPPA!” teriaknya nyaring. “Aku akan memakainya nanti! Sekarang aku sudah terlambat!” dia terlihat  kesal dan sangat marah padaku.
“Kita berangkat bersama.” Aku menarik tangannya membawanya keluar. Dia mengikutiku, kutarik tangannya dan kugenggam erat hingga ke area parkiran.
“Aku berangkat pakai taksi.” Tolaknya. Dia melepaskan genggamanku. Dan menghentikan taksi. Aku hanya bisa memandangi kepergiannya dengan perih. Tidak dipercayai adalah hal yang sangat menyakitkan.

Eun Kyo’s POV

Aish! Aku lupa menaruh cincin, harus kembali ke bar itu lagi. Tapi bagaimana aku mencarinya? Aku bahkan tidak tau namanya! Aish! Aku bodoh!
“Ahjusshi, tolong berhenti di depan sebentar.” Semoga bar itu buka pagi-pagi begini. Buka? Ck! Apa sudah buka? Sepagi ini? Rasanya tidak mungkin. Aku yang berjalan menuju bar itu kini berbalik kembali ke taksi.
“Kita ke panti sosial saja.” Aku bersandar di jok belakang. Teringat lagi pertengkaran kecil dengan Oppa yan baru saja terjadi sebelum aku melaju bersama taksi ini. Aku mengambil ponselku dari dalam tas. Merabanya, lalu mengetik sms pada Hyunchan Onnie.

To : Hyunchan Onnie
Onnie.. eotthokaji?
Ah.. aku sudah hampir gila sepertinya.

Aku menunggu balasan sms dari Onnie dengan memasang MP3 ke telingaku. Memutar beberapa lagu ynag aku suka. Tidak lama berselang, ponselku bergetar.

From : Hyunchan Onnie
Sudah bicara dengan Oppa?
Jangan terlalu dipikirkan, belum tentu semua itu benar.

Aku menghela nafas membaca balasan dari Onnie. Dia bisa bersikap seperti ini karena tidak dalam posisiku. Aku menaruh kembali ponsel ke dalam tasku, sebelum tertinggal lagi di taksi seperti nasib cincinku yang tertinggal di bar itu. Kembali lagi aku teringat cincin itu. Pasti tertinggal di bar itu saat aku melepasnya, ketika bocah itu menunjuk cincinku. Aku meletakkannya diatas meja. Tak terasa akhirnya aku sampai pada tempat tujuanku. Aku meraba dompetku, di dalam tasku, meniliknya, tidak ada. Yaish! Kenapa aku jadi linglung dan pelupa seperti ini? Eoh? Dimana lagi aku meninggalkan dompetku?
“Sebentar Ahjusshi, aku ambilkan uang dulu, aku lupa membawa dompetku.” Aku berlari masuk ke dalam rumah penampungan anak-anak terlantar tanpa orang tua itu. Aku melihat Rae Na dan Minho juga ada disana.
“Rae Na~ya, pinjamkan aku uang, aku lupa membawa dompetku.” Rae Na menoleh padaku. Memberengutkan wajahnya.
“Penyakit lupamu itu perlu dibawa ke psikiater!” dia mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyerahkannya padaku.
“Minho, aku heran kenapa kau suka dengan gadis pemarah dan pelit sepertinya, pada saudaranya sendiri.” Aku berhenti di hadapan Minho.
“Onnie!” teriak Rae Na, aku segera berjalan cepat sebelum dia mengambil kembali uangnya dari tanganku. Kuserahkan beberapa lembar uang itu untuk membayar biaya perjalananku. Aku berjalan lagi masuk ke dalam panti. Berhenti sebentar di halaman dan duduk di kursi yang ada disana. Panti ini, peninggalan Appa. Mengurus anak-anak yang terlantar, ada beberapa sukarelawan lain selain aku dan Rae Na, yang menyempatkan waktu mengurus anak-anak itu disela kuliahnya.

“Onnie.” Seseorang menyenggolku, ikut duduk bersamaku. Dia menjilat es krim yang ada di tangannya, mendapati aku tidak menjawab sapaannya dia menoleh padaku. “Mau?” dia mendekatkan es krim itu ke mulutku, aku memundurkan badanku beberapa centi sebelum akhirnya ikut menjilat es krim kesukaannya.
“Enak?” tanyanya. Aku mengangguk. “Bicara sesuatu Onnie~ya..” ujarnya kembali menyenggolku. Aku tertawa ringan. Anak ini selalu bisa membuatku tertawa dengan sikap santainya.
“Bagaimana kuliahmu?” tanyaku, menoleh padanya dan mengambil es krim di tangannya tanpa melepaskannya, aku menuntunnya memasukkan es krim itu ke mulutku.
“Em, sebentar lagi selesai, dan sebentar lagi akan membuatku gila.” Ujarnya sambil tertawa. Aku ikut tertawa.
“Kau ini, Hyuk menunggumu lulus.” Aku menggodanya. Dia tersenyum kecut, aku menatap bingung padanya.
“Akhir-akhir ini jadwalnya padat.” Terdengar ada nada kecewa dari jawabannya. “Hingga melupakanku.” Sambungnya lagi. Aku memukul kepalanya. Dia mengelus bekas pukulanku.
“Wae?” tanyaku. Dia menggeleng.
“Mungkin karena dia benar-benar sibuk.” Aku menenangkannya, sementara aku sendiri sedang resah. Aku teringat cincin itu lagi.
“Sungie~ya, temani aku.” Aku menarik Sungie memaksanya untuk berdiri. Dia terlihat enggan karena baru beberaap menit saja dia duduk.
“Kemana Onnie?” aku tidak menjawab pertanyaannya, hanya menarik tangannya. “Kau bawa mobil?” dia mengangguk. “Bagus” aku menyeretnya, mencari dimana dia memarkir mobil sangat mudah, dia selalu memarkir mobilnya di tempat teduh, aku membawanya sampai kemobilnya sendiri.
“Tunggu, sebenarnya kau mau kemana? Buru-buru sekali?” dia melepaskan tanganku yang mencengkramnya. Aku menghela nafas.
“Aku ketinggalan cincin dan dompet, di bar.” Sung jae yang tadinya hendak masuk kedalam tidak jadi masuk, dia menoleh dan menatapku penuh tanda tanya.
“Aku tau kau bingung, tapi tolong bawa saja aku.” Aku masuk lebih dulu kedalam mobil. Melihatnya yang tak kunjung masuk, aku mengerutkan dahiku. Dia masuk kedalam mobil.
“Aku tau pertanyaan apa yang ada di otakmu.” Dia pasti bingung mengapa aku pergi ke tempat seperti itu, tempat yang paling anti aku datangi.
“Apa yang dilakukan Oppa padamu?” dia menoleh padaku. Aku bingung dengan pertanyaannya, meleset dari apa yang aku perkirakan.
“Eoh?” aku menatapnya bingung.
“Apa yang Oppa lakukan sampai kau seperti itu.” Dia menunjuk mataku. Aku semakin bingung. Dia meraih kaca spion di atas kepala kami dan mengarahkannya padaku. Ada lingkaran hitam dan mata yang membengkak di wajahku. Aku tidak menjawab, mengembalikan kaca spion itu ketempat semula.
“Jawab aku Onnie..” pintanya. Aku masih diam tidak menjawab. Kupandangi pemandangan pagi menjelang siang di kota Seoul. “Onnie!” dia memaksaku.
“Hanya masalah kecil. Dan kau masih kecil untuk mengetahuinya.” Aku masih memandangi keadaan diluar kaca mobil.
“Katakan atau aku cari tau dan saat aku mengetahuinya, keadaan akan semakin kacau.” Tambahnya lagi.
“Gadis yang ada dirumahku hamil.” Ujarku lirih. Ada rasa sakit yang menjalar hingga ke kerongkonganku saat aku mengatakan itu. Aku menarik nafas dalam, untuk sekedar menenangkanku.
“Maksudmu? Hamil? Siapa yang menghamilinya?” tanya Sungie menoleh padaku. Aku tidak menjawab, hanya mengerutkan dahiku. Seketika itu juga dia langsung menghentikan mobilnya, menyebabkan aku yang tidak mengantisipasi hal itu terpental ke depan.
“Sungie~ya, hati-hati!” aku mengelus dahiku yang mencium dashboar mobilnya. Anak ini seenak hatinya menghentikan mobil.
“Onnie! Jangan katakan..” dia melanjutkan pernyataannya. Aku mendengus lemah. “YAISH!” dia mendesis marah sambil menghantam setir kemudinya. Menari persneling lalu menginjak gas. Dia diam seribu bahasa.
“Berhenti di depan sana.” Aku menunjuk sebuah yang tadi malam aku datangi. Setelah mobil Sungie benar-benar berhenti, aku membuka pintu dan bergegas masuk ke dalam bar itu.

Author’s POV

Eun Kyo bergegas memasuki bar yang saat pagi berubah menjadi cafe itu. Sejak ia menjejakkan kaki di tempat itu, ia tidak hentinya merutuki kebodohannya. Penyakit lupanya selalu datang disaat ynag tidak tepat. Ia mencari seseorang, seseorang yang tadi malam bersamanya, setidaknya menuangkannya minum dan membantunya ke toiletnya.
“Anda mencari seseorang Nona?” ‘semua orang yang bertemu denganku selalu menyapaku dengan sebutan Nona, apa aku masih pantas disebut Nona?’ tanya Eun Kyo dalam hati. Dia tersenyum.
“Aku mencari seorang lelaki, tinggi, kulitnya sedikit hitam, dan rambut coklat gelap.” Pelayan yang ditanya oleh Eun Kyo terlihat bingung. Eun Kyo kebingungan menjelaskan bagaimana orang itu karena dia sendiri tidak tau siapa namanya.
“Eoh, dia tadi malam ada disini.” Eun Kyo berjalan cepat menunjukkan tempat tadi malam ia minum. “Disini, dia tadi malam ada disini.” Eun Kyo meyakinkan pelayan itu tetapi dia masih bingung.
“Choi Seung Hyun?” tanyanya menyebutkan sebuah nama pada Eun Kyo. Sekarang Eun Kyo yang bergati bingung.
“Dapat Onnie?” tanya Sungie tiba-tiba menghampiri Eun Kyo. Eun Kyo tidak menggubbris pertanyaan Sungie.
“Mungkin, dia tinggi.” Jawab Eun Kyo. “Begini, kau menemukan cincin dan dompet yang tertinggal tadi malam?” ujar Eun Kyo mengubah pertanyaannya. Pelayan itu menggeleng. Sungie menarik lengan Eun Kyo dan berbisik di telinganya.
“Onnie, mana ada orang melewatkan berlian begitu saja? Lengkap bersama dompet.” Sungie berbisik pelan di telinga Eun Kyo. Eun Kyo menepuk dahinya, dia membenarkan perkataan Sungie.
“Tapi itu cincin kawinku Sungie~ya, Oppamu bisa membunuhku jika aku menghilangkannya.” Kembali sungie menarik Eun Kyo.
“Biarkan saja, toh dia juga sudah mengkhianatimu kan? Kita beli yang baru saja nanti.” Eun Kyo sepertinya masih enggan untuk beranjak dari sana, dia masih penasaran dengan cincin, dan sedikit tidak terima kehilangannya, karena itu pengikat cintanya dengan orang yang sangat dia cintai, meski orang itu menyakitinya.
“Tapi aku tetap harus menemukannya.” Sungie sedikit keras menyeretnya hingga Eun Kyo sedikit kewalahan untuk melawan.
“Nanti saja.”
“Tapi dompetku?” tanya Eun Kyo sambil menjajari langkah Sungie.
“Kita bisa lapor polisi, isinya aku bisa ganti, semua kartu penting, kita urus di polisi.” Ujar Sungie santai yang ditanggapi dengan tatapan tidak percaya Eun Kyo.
Mereka berdua keluar dari kafe itu dan menuju mobil. Eun Kyo sontak terkejut mendapati seseorang yang berdiri tidak jauh dari mobil mereka terparkir. Lelaki itu sekilas menatap Eun Kyo namun kemudian mengalihkan pandangannya. Eun Kyo ingin menyapanya namun tenggorokannya tercekat tak mampu mengeluarkan suara.
“Kau mencari ini Nona?” dia mengacungkan dompet pada Eun Kyo. Eun Kyo ingin mengeluarkan suara membenarkan itu memang dompetnya, tapi dia tidak bisa.
“Benar, itu dompet Onnie.” Jawab Sungie. Lelaki itu menoleh pada Sungie beberapa detik, namun kembali menatap Eun Kyo dengan mata tajamnya. Eun Kyo terdiam sejenak.
“Aku tidak bertanya padamu Nona. Benar ini dompetmu?” lelaki itu mendekatkan wajahnya pada Eun Kyo, seolah meminta jawaban darinya. Eun Kyo mengangguk. Sungie meraih dompet itu dari tangan Lelaki muda yang memandangi kaka iparnya dengan intens. Sungie tidak suka tatapannya.
“Gamsahamnida.” Sungie membungkuk hormat, dan menarik Eun Kyo dari tempat itu. Lelaki itu masih tidak mengalihkan  matanya menatap kepergian Eun Kyo, sedang Sungie juga melakukan hal yang sama, hanya saja berbeda objek, dia menatap lelaki yang menatap kaka iparnya dengan tidak senang.
“Park Eun Kyo.” Seru lelaki itu. Eun Kyo menoleh padanya, begitu juga Sungie.
“Naneun Choi Seung Hyun.” Ujarnya lalu berbalik. Lelaki yang bernama Seung Hyun itu terus berjalan.
“Nde?” Eun Kyo terlihat linglung.
“Sudahlah Onnie, kajja, kita pulang.” Kembali Sungie menarik Eun Kyo kedalam mobil. Didalam mobil Sungie dan Eun Kyo terdiam, bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.
“Kau tidak melakukan hal bodoh dengannya kan Onnie?” Sungie melirik Eun Kyo sepintas. Eun Kyo terdiam. Mengangkat kakinya dan mendekapnya di dadanya.
“Onnie!” desak Sungie dengan nada skeptis, memaksa Eun Kyo untuk menjawab.
“Tenang saja, sampai detik ini hanya Oppamu yang pernah menyentuh semua bagian sensitif dari diriku.” Jawab Eun Kyo lemah sambil memeluk tubuhnya erat. Dia menopang dagunya di lutut. Teringat kembali apa yang dikatakan Hyo Min padanya.
“Aku harus bertemu anak itu.” Gumam Eun Kyo.

***
Eun Kyo berjalan menyusuri koridor kantor suaminya. Beberapa orang berpapasan dengannya terlihat membungkukkan badannya dengan hormat. Eun Kyo membalasnya dengan anggukan kepala. Dia berhenti di depa meja sekretaris Teuki.
“Direkturmu ada didalam?” Sekretaris itu berdiri dan mengangguk.
“Nde.” Jawabnya. Aku mendorong pintu ruangan kerja Teuki Oppa. Dia terkejut dengan kedatangan Eun Kyo. Sejenak dia terdiam namun akhirnya meletakkan pena dan mengalihkan semua berkas yang ada dihadapannya.
“Yeobo..” sapa Teuki lembut. Sudah 2 hari dia tidak melihat wajah istrinya yang bersikeras tinggal di apartemen Hyunchan.
“Aku ingin bicara sekarang.” Ujar Eun Kyo tanpa beranjak dari tempatnya berdiri, tidak berniat untuk duduk. Teuki bangkit dari duduknya dan menarik Eun Kyo untuk duduk, tapi belum sempat dia membuat istrinya duduk, Eun Kyo sudah lebih dulu mencegahnya.
“Aku tidak akan lama, sebaiknya kau menikahinya, sebelum kandungannya membesar.” Teuki belum sempat menjawab pintu ruangannya sudah di buka dengan kasar.
“Oppa! Jika saja kau bukan Oppaku, aku akan membunuhmu!” Sungie segera menampar Teuki. Teuki memegang bekas tamparan adiknya.
“Kau gila? Eoh? Menghamili gadis dibawah umur? Eoh?” setelah tadi menamparnya kini gadis itu menginjak kaki Teuki.
“Cukup Sungie~ya, ini masalahku.” Eun Kyo menarik tangan Sungie yang masih ingin memukul suaminya.
“Tapi dia harus diberi pelajaran Onnie~ya..” Sungie berusaha melepaskan pegangan Eun Kyo. Tapi dengankuat Eun Kyo menahanya.
“Kau keluar dulu, aku ingin bicara dengan Oppamu.” Pinta Eun Kyo. Sungie menatap Eun Kyo, namun akhirnya dia keluar dengan decakan kesal.
“Dia lebih membutuhkanmu, menikahinya adalah keputusan yang tepat.” Ujar Eun Kyo pada Teuki. Teuki nampak terkejut.
“Tapi aku tidak melakukan apapun padanya Yeobo~ya..” ujar Teuki lembut namun juga tegas.
“Tapi dia hamil..”
“Aku bersumpah aku hanya mencintaimu.” Eun Kyo tersenyum sinis.
“Apa itu juag yang kau katakan padanya?” tanya Eun Kyo berjalan mundur. “Sampai dia hamil? Eoh? Aku bilang aku tidak akan lama, aku hanya ingin bilang, mau tidak mau kau harus bertanggungjawab menikahinya.”
“Siapa yang harus menikah? Siapa hamil?” Teuki dan Eun Kyo menolh kearah suara. Rae Na, dengan tatapan tajam. Eun Kyo mundur dan meninggalkan Teuki bersama Rae Na dan Minho. Rae Na memandangi kepergian Eun Kyo, begitu juga dengan Minho dan Teuki. Eun Kyo melintas dihadapan mereka membawa tas yang dari tadi ada ditangannya. Setelah Eun Kyo menghilang, Rae Na menatap tajam pada Teuki.
“Siapa yang harus kau nikahi Oppa?” tanya Rae Na.
“Rae Na, kau tidak kuliah?” Teuki mengalihkan amukan gadis ini, dia membenahi berkas yang ia tinggalkan tadi saat Eun Kyo datang.
“Jangan mengalihkan pembicaraan.” Ujar Rae Na dingin. Teuki melirik pada gadis yang datang secara tiba-tiba ini. “Siapa yang harus kau nikahi? Hamil? Apa yang kau lakukan?” tanya Rae Na. Teuki mengambil nafas dalam.
“Hyo Min.” Ujar Teuki.
“Kau menghamilinya? Eh? Yang tinggal dirumahmu itu beberapa hari yang lalu? Yak! Apa kau gila?” Terika Rae Na sambil mendekati Teuki namun ditarik oleh Minho.
“Aku belum selesai Rae Na~ya. Jika tidak ingin mendengarkan penjelasanku, kalian keluar saja, jangan menambah pusing aku. Sudah cukup aku pusing dengan minggatnya Eun Kyo.” Ujar Teuki terdengar putus asa.
“Cepat katakan!” desak Rae Na. Kembali Teuki mengambil nafas dalam,melirik gadis itu sepintas sebelum memulai penjelasannya.
“Hyo Min, dia hamil, dia mengatakannya padaku. Beberapa hari yang lalu, tapi sepertinya dia juga bilang pada Eun Kyo. Dia bilang dia mencintaiku.” Teuki berhenti untuk sejenak mengumpulkan oksigen yang dirasanya mulai menipis.
“Kau meng!” Rae Na kembali hendak menyela namun mulutnya segera di bekap Minho.
“Teruskan Hyung.” Ujar Minho tanpa melepaskan tangannya dari mulut Rae Na, gadis itu sedikit berontak, namun segera Minho berbisik padanya.
“Tenang atau aku tidak akan melepaskannya.” Tubuh Rae Na yang tadinya menegang kini mulai sedikit lemah.
“Apa kau melakukan se..suatu padanya?” tanya Minho hati-hati. Teuk kini melirik Minho.
“Tidak ada yang percaya padaku.” Teuki terdengar putus asa. Minho menatapnya iba. “Aku bersumpah, akutidak pernah menyentuhnya, sedikitpun. Waktu itu.. aku memang mabuk, tapi aku masih sadar siapa yang aku sentuh, meski saat membuka mata… aku melihat Hyo Min memungut pakaian kotorku.”
“Siapa yang kau sentuh?” sambar Rae Na.
“Istriku sendiri!” jawab Teuki nyaring. Rasanya dia sudah mulai emosi dengan semua yang memojokkannya. Tidak ada yang percaya padanya.
“Jika kalian tidak percaya, silakan keluar, tidakada gunannya aku menceritakannya.” Teuki duduk di kursinya.
“Lalu? Sekarang mana gadis itu?” Tanya Minho.
“Dia sudah pergi.” Jawab Teuki. Mereka bertiga terdiam sejenak, bermain dengan pikiranmereka masing-masing.
“Tidak ada kabar darinya lagi. Juga disekolahnya, dia sudah ijin 3 hari ini.” Ujar Teuki.
“Dia sepertinya menghindari masalah.” Rae Na angkat bicara, ini adalah kalimat pertamanya tanpa emosi.
“Mungkin juga dia takut.” Minho kini yang berbicara.
“Takut? Ayas apa?” tanya Rae Na menoleh pada Minho.
“Aku yakin, dalam seminggu ini dia pasti menghubungimu.” Rae Na bangkit berdiri. “Saat dia menghubungimu, beritahu aku.” Rae Na menarik Minho untuk berdiri. “Sudah saatnya aku kuliah.” Minho mengikuti Rae Na berdiri.
“Beritahu aku, harus!” Rae Na memperingatkan Teuki, Teuki hanya tersenyum. Ada perasaan lega dalam hatinya. Meski Rae Na tidak membelanya, setidaknya gadis itu berpikir logis.

Eun Kyo’s POV

Menyerahkannnya? Apa aku sanggup? Eoh? Aku memukul kepalaku sendiri. Kukemudikan mobilku ke sebuah kafe dan turun dari mobil dengan gontai. Aku ingin makan, makan sebanyak-banyaknya. Aku duduk di meja paling pojok agar tidak terlihat mencolok.
“Mau pesan apa Nona?” tanya seorang pelayan padaku. Aku mengambil buku menu yang tergeletak dimeja. Melihat beberapa menu, menghela nafas melihat beberapa men masakan yang  tertera disana.
“Aku pesan bulgogi spesial.” Aku pesan makanan selagi membuka-buka menu. “Kimchi Jeon Gol.” Lanjutku. Ada masakan Italy juga?
“Pasta.” Aku menoleh pada pelayan itu. “Aku juga ingin setengah porsi jajangmyeon.” Lanjutku. Pelayan itu terdiam sejenak. Mengerjapkan matanya lalu mulai menulis.
“Minumnya Nona?” lanjutnya bertanya. Tidak mungkin aku makan sebanyak itu tanpa minum.
“Minum? Aku mau jus melon dan juga jus stawberry. Jangan lupa air mineralnya.” Aku meletakkan buku menu itu kembali. Pelayan itumasih berdiri disamping kananku. Aku menoleh padanya.
“Apa masih ada yang ingin dipesan? Hari ini menu spesial daging cumi bakar bumbu khas restoran ini.” Ujarnya, aku terdiam sejenak.
“Boleh juga.” Pelayan itu lalu meninggalkanku. Selama menunggu pesananku, aku memandangi kearah luar. Aku melihat seseorag yang aku kenal. Bersama seorang pemuda. Aku ingin menghampirinya, tapi teringat dengan pesananku. Aku mengurungkan niatku. Dia terlihat senang berjalan bersama lelaki itu, aku terus memperhatikan mereka. Tanpa sadar, beberapa pelayan meletakkan beberapa makanan di mejaku.
“Gamsahamnida..” aku mengucapkan terima kasih atas pelayanan mereka.
“Selamat menikmati.” Pelayan-pelayan itu membungkuk. Aku menoleh sejenak ke arah objek yang tadia ku perhatikan. Sudah menghilang.
“Porsi makanmu besar ternyata.” Suara yang terdengar tiba-tiba di dekat telingaku membuatku sedikit terkesiap. Aku menoleh kesamping, dan mendapati.. lelaki ini lagi.
“Boleh aku temani?” dia mengambil duduk dihadapanku tanpa persetujuanku. “Bagaimana makanannya Noona?” aku yang baru saja memasukkan makanan ke dalam mulutku menggunakan sumpit, mendiamkan sumpitku dimulut.
“Kau lebih tua dariku satu tahun.” Ujarnya. Aneh, lelaki dihadapanku ini selalu tau pertanyaan ynag ada dibenakku.
“Lumayan.” Komentarku.
“Lumayan? Lain kali aku akan membuat bumbu ynag lebih enak lagi.” Aku menoleh padanya. Mengerutkan dahiku. “Restoran ini milikku.” Sambungnya. Aku mengangguk mendengar ucapannnya.
“Jadi kau yang sering dibicarakan anak kalangan pengusaha? Seorang wanita yang mampu memikat hati Park Jung Soo atau yang lebih dikenal Leeteuk itu?” dia melirikku tajam. Tubuhnya bersandar pada kursi empuk, kaki menopang satu sama lain. Membuatnya terlihat berbeda dari malam itu, sekarang dia terlihat lebih… rapi dan tampan dengan setelan jas hitam. Yang tidak pernah berubah adalah tatapan tajamnya.
“Memangnya apa yang mereka bicarakan tentangku?” tanyaku sambilmemakan makananku.
“Hem, wanita ynag eruntung, dinikahi seorang pengusaha muda sukses seperti Park Jung Soo.” Aku menghentikan makanku dan meliriknya.
“Itu sebuh pujian atau ejekan?” aku kembali melanjutkan makanku. Mengambil daging bakar dan memasukkannya dalam mulutku.
“Haha.” Tawa beratnya terdengar di telingaku. “Kau terlihat lebih cantik saat di dekati. Pantas saja Leeteuk jarang membawamu ke publik.” Sambungnya.
“Maksudmu?” tanyaku bingung tanpa menghentikan makanku dan tanpa menoleh padanya.
“Jika kau dipublikasikan, mungkin akan banyak kontroversi.” Ujarnya.
“Kontroversi?” ulangku meminta penjelasan dari pernyataannya.
“Bagi para wanita, mungkin kau hanya gadis biasa, akan ada lebih banyak lagi yang membencimu. Itu ancaman bagi Teuki.” Jelasnya tanpa aku mengerti.
“Ancaman?” tanyaku lagi.
“Menurutmu kenapa para wanita iri dan membencimu?” tanyanya balik.
“Molla.” Jawabku acuh.
“Kau memang bodoh, tapi justru itu daya tarikmu.” Dia memukul kepalaku ringan.
“Yak! Berani sekali kau dengan pelanggan.” Teriakku, namun akhirnya aku menutup mulutku karena teriakanku mengundang beberapa pasang mata menoleh padaku.
“Makan saja, aku akan ambilkan minuman penutupmu.” Dia beranjak dari duduknya dan meninggalkanku. Aku meneruskan makanku tanpa memperhatikannn orang lainnn. Dengan susah payah aku akhirnya menghabiskan makananku. Seung Hyun akhirnya datang membawa segelas minuman padaku.

cocktail

“Cocktail spesial untukmu.” Dia juga membawa beberapa buah strowberry. Aku memperhatikannya dengan bingung. Dia membelas buah dtrowbeery itu dengan pelan dan seduktif.
“Kau menggodaku?” tanyaku memandang tatapan matanya yang tajam. Dia tersenyum.
“Kau merasa tergoda?” tanyanya. Aku menggeleng.
“Ani.” Aku meraih gelas yang dia sodorkan padaku dan meminumnya. Ups! Aku lupa, ini minuman beralkohol.
“Pelan-pelan Nona.” Ujarnya. Aku meliriknya. Dia menaruh potongan stowberry itu dalam gelasku. Aku tidak terlalu memperhatikannnya dan meminum cocktail yang disuguhinya itu dengan pelan. Tapi sesuatu dalan gelas itu mengejutkanku.
“OH! Cincinku!” pekikku tertahan, aku menoleh bingung padanya. Aku ingin mengambilnya tapi dia menahan tanganku.
“Habiskan dulu, baru diambil.” Aku dengan cepat menghabiskan minuman itu, tidak peduli dengan aromanya yang kurang aku sukai, aku segera mengambilnya, membersihkannya dengan tissue dan memakainya.
“Masih sayang ternyata, aku kira sudah ingin dibuang.” Perkataannya tidak bisa mengalihkan mataku dari cincin kawin pemberian Teuki Oppa.
“Berapa semua makanan yang aku makan?” aku mengambil dompet dari dalam tasku, tapi sial, lagi-lagi tidak ada.
“Dimana lagi kau meninggalkannya? Sudah, pulang saja. Biar aku antar.” Dia meraih tanganku, aku segera berdiri.
“Aku bawa mobil sendiri.” Tolakku.
“Kalau begitu biar aku antar sampai mobil.” Kuperhatikan lelaki yang yang berjalan didepanku. Kelihatan sangat berkelas. Aku menggelengkan kepalaku, Park Eun Kyo, kau tetap milik Teuki.
“Aku tidak mau makan gratis.” Aku mengambil i-pad yang ada di dalam mobil danmenyerahkannyapadanya.
“Aku bayar dengan ini saja.” Ujarku dengan bodoh. Memang kelihatan sangat bodoh, tapi aku benar-benar tidak ingin berhutang padanya.
“Memangnya sekarang masih ada jula-beli barter?” tanyanya dengannada mengejek.
“Pokoknya aku tidakmau berhutang padamu.” Aku bersikeras membuatnya menerima i-padku. Dia terpaksa menerimanya.
“Baiklah, ini sebagai jaminan, besok saja saat kau menemukan dompetmu, datang padaku.” Ujarnya.
“Hem, baiklah.” Aku masuk ke dalm mobil dan membunyikan mesin mobilku. Kuturunkan kaca mobilki. “Terima kasih untuk hari ini.” Dia menunduk dan mengangguk.
“Nde, berharap bisa makan bersamamu lagi.” Ujarnya. Aku menginjak pedal gas dan meninggalkannya. Hufh, bertemu dengannya lagi? Sepertinya menyenangkan. Aku memandangi cincin yang elingkar dijari manisku, mengangkatnya dan memandanginya. Tidak memakainya sepertinya ada yang kurang.

Teuki’s POV

Aku memandangi beberapa berkas yang menumpuk. Semuanya sia-sia, tender yang baru diputuskan kemaren, kalah telak. Kupandangi replika presentasiku dengan nanar, hufh, ini semua salahku, aku tidak fokus dengan pekerjaanku. Kusandarkan tubuhku untuk meregangkan tulang belakangku yag terasa sakit.
“Yeobo.. bogoshipeo~yo..” gumamku lirih. Aku menghirup udara yang ada diruanganku. Kepalaku rasanya sakit, kehilangan tender jutaan dolar tidak sesakit aku kehilanganmu. Aku duduk tegak saat mendengar seseorang mengtuk pintu ruanganku.
“Masuk.” Aku membenahi pakaianku yang sedikit kusut. Seseorang berjas hitam masuk dalam ruanganku.
“Bagaimana?” aku bertanya padanya.
“Sesuai seperti yang diperintahkan Anda Tuan.” Ujarnya. Dia membungkuk danmenyerahkan padaku sebuah amplop besar. Aku mengambilnya. Kubuka dan kuperhatikan.
“Kau boleh pergi, bayaranmu akan aku transfer secepatnya. Dan ingt, hapus semua memorymu jika kau masih ingin hidup.” Dia berlalu dari hadapanku dan menutup pintu.
Kukeluarkan semua yang ada dalam amplor besar itu. Isinya mampu membuat otakku meradang. Foto Eun Kyo bersama orang lain. Sedang makan bersama. Tertawa bersama. Aku mengusap wajahku dengan kedua tanganku.
“Baiklah kalau ini yang kau inginkan Park Eun Kyo.” Aku berdiri dan meraih kunci mobil, juga meraih mantelku.

***
“Hyo Min~a, ini yang kau inginkan? Jika ini yang kau inginkan, kau sudah berhasil.” Aku menyerahkan foto Eun Kyo bersama lelaki lain. “Tapi kau tau dengan jelas, aku hanya mencintainya.” Aku berdiri, hendak meninggalkannya.
“Mianhae Oppa. Tapi aku..” Hyo Min menahanku. Aku menatap pada gadis kecil ini. Dia masih sangat terlalu  muda, hufh.
“Hyo Min~a, harusnya kau mencari seseorang yang sepantar denganmu. Bukan..” aku mengacak rambutnya. Gadis yang sudah dianggap adik oleh istriku ini terlihat sangat polos, pikirannya masih sangat kekanak-kanakan, meski pikirannya tidak jauh berbeda dari Eun Kyo, tapi tetap dia masih dikatakan anak-anak.
“Bukan mencintaimu? Begitu maksudmu? Eoh?” jawabnya cepat. Aku menjauhkan tubuhnya. “Jadi semua ini salahku?” ujarnya.
“Kalau bukan salahmu, kenapa kau minta maaf? Untuk apa kau minta maaf padaku?” kutatap mata beningnya. Anak ini belum mengerti semuanya. Dia tidak mampu menjawab.
“Aku tidak menyalahkanmu, hanya kami saja yang terlalu emosi.” Aku meninggalakan gadis itu mematung sedirian. Namun tiba-tiba aku teringat sesuatu.
“Hyo Min~a, kau selama ini tidur dimana?” dia tidak menjawab.
“Dia tidak sepenuhnya mencintaimu Oppa, terbukti kan sekarang? Dia bisa tertawa bersama lelaki lain!” aku yang ingin mengajaknya kembali ke rumah, mengurungkan niatku. Dia masih belum dewasa menghadapi masalah seperti ini, aku tidak ingin memperkeruh keadaan.
“Kau benar-benar hamil?” aku mendekat padanya. Dia terlihat gugup. Ck! Sudah aku duga. “Ayo aku temani kau ke dokter, biar aku katakan aku suamimu jika kau malu.” Tambahku sambil meraih tangannya.
“Tidak perlu Oppa, tidak perlu jika kau tidak benar-benar ingin bertanggungjawab.” Dia melepaskan tanganku, aku membiarkannya. “Ya sudah kalau begitu, jika ingin memeriksakan diri ke dokter, hubungi aku. Tapi satu hal yang perlu kau ingat dalam sini.” Aku menujuk dahinya. “Jangan berbuat hal bodoh, kau masih kecil, perjalananmu masih panjang.” Aku mencubit pipinya dan tersenyum.

***
Aku duduk di sofa panjang diruang tengah. Kurebahkan tubuhku, mengusir semua penatku. Aku belum bisa memastikan masalah Hyo Min sudah selesai apa belum. Aku menekan remote radio dan mencari gelombang yang menyuguhkan lagu yang terdengar enak ditelingaki. Tanganku terhenti saat mendengar sebuah lagu yang biasa aku dengarkan bersamanya. Sebenarnya dia yang sangat suka mendengarkannya. Aku sampai bosan mendengarnya, dia sangat suka lagu sendu yang menyentuh hati, hufh. Tapi saat dia tidak ada, lagu itu seperti pengobat rinduku padanya. I Hope is You.

“Oppa, hentikan, itu saja.” Dia ingin meraih remote yang ada ditanganku. Aku dan dia berbaring di sofa bersama, berbagi tempat kecil ini begitu terasa romantis. Badannya menindihku, ingin mengambil remote ynag aku jauhkan dari. “Oppa…” rengeknya manja, dia berusaha menggapai tanganku, aku semakin menjauhkannya. Saat dia ingin menaikkan tubuhnya, kutahan dengan tanganku. Bersamanya, suasana apapun terasa manis, aku baru menyadari.
“Op! Pa..” dia terhenyak saat kakiku kini membelit kakinya, membuatnya benar-benar tidak bisa bergerak. “Aku mau lagu itu..” rengeknya tepat di atas wajahku.
“Ppopo.” Pintaku. Dia memajukan bibirnya memberengut. Namun akhirnya tetap menyentuh bibirku. Aku menahan kepalanya agar bibirnya tetap terpaut padaku.
“Eummph!” dia ingin mengatakan sesuatu namun tertahan.
“Argh!” ck! Dia menggigit bibirku. Diraihnya remote dan segera digantinya channel dan lagunya sudah hampir habis. Dia menatapku tajam, mendengarkan lagu itu dengan baik bagian terakhirnya dan memukul dadaku saat lagu itu berhenti mengalun.
“Oppa..” setelah tenang dan tidak lagi kesal, dia merebahkan kepalanya diatas dadaku. Kupeluk tubuhnya yang berada diatas tubuhku. Jemarinya bermain di dadaku. Membentuk sebuah kalimat.
Saranghae
Aku semakin erat memeluk tubuhnya. Kumainkan jariku dipunggungnya. Sambil tidak melepas pelukanku.
Na do, neomu saranghae
Jeongmal?
Eo, jangan pernah meninggalkanku
Kau yang jangan meninggalkanku
Kau yang lebih berpotensi meninggalkanku
Tapi kau di kelilingi wanita cantik
Tapi bagiku kau yang paling menarik
Gombal!
Dia memukul dadaku akhirnya. Kami tertawa bersama dan diakhiri dengan ciuman. Tubuhnya tetap berada di atasku. Kubelai lehernya, daerah paling sensitif ditubuhnya. Membuatku bergairah hanya dengan melihat leher putihnya.

Aku menghela nafas menginagt semua itu. Semua kenangan manis berputar bagai slide kehidpan di benakku. Aku sangat merindukannya. Demi Tuhan, ini hanya salah paham, aku yakin. Tidak bisa kah dia seperti dulu? Mempercayaiku? Tanpa terasa airmataku menetes mengenai sofa kenanganku. Park Eun Kyo, aku merindukanmu hingga hampir gila. Tidak ada yang aku lakukan dengan benar tanpamu.

Author’s POV

Rae Na dan Sungie nampak gelisah menunggu didalam mobil. Dia melihat dengan teliti ke sekeliling. Mungkin saja mereka melewatkan sesuatu.
“Onnie, apa kira-kira dia akan lewat?” tanya Rae Na khawatir. Sungie yang sedang asik melahap es krim yang dia beli di toko dekat ia dan Rae Na menunggu seseorang. Tidak mendapat tanggapan, Rae Na menoleh pada Sungie.
“Onnie! Kita dalam tugas penting! Kau enak-enakan makan es krim!” teriak Rae Na membuat Sungie sedikit tersentak dan hampir melepaskan es krimnya.
“Yak! Kau hampir menjatuhkannnya!” teriak Sungie membersihkan noda es krim yang menetes dibajunya. Selagi Sungie melakukan itu, Rae Na menyambar es krim yang ada di tangan Sungie. Saat sudah selesai membersihkan itu, Sungie menatap es krimnya yang sudah habis.
“Yak! Kau menghabiskannya!” teriak Sungie kesal. Rae Na hanya diam tanpa dosa. “Aish! Kau ini!” Sungie mentapa tajam Rae Na.
“OH! Onnie, bukankah itu orangnya?” Rae Na menunjuk seseorang. Seorang gadis berpakaina sekolah ynag membawa tas di punggungnya. Rae Na langsung membuka pintu, namun dia tidak bisa membuka.
“Yak! Onnie! Buka pintunya sekarang juga!” teriak Rae Na. Mereka terlihat seperti dua orang detektif yang sedang menjalani kasus besar dan sekarang ingin menangkap mangsanya. Sungie segera membuka kunci dan mereka segera turun. Berjalan cepat menghampiri gadis itu. Hyo Min.
Melihat Rae Na dan Sungie Hyo Min terlihat takut, dia berusaha membelokkan arah berjalannya, namun terlambat. Kedua lengannya sudah dihimpit kedua gadis yang sejak tadi menunggu kedatangannya.
“Ikut kami!” Rae Na dan Sungie menyeret tubuh kecil Hyo Min dengan sedikit kasar.
“Onnie, sakit..” gumam Hyo Min pelan.
“Jangan banyak bicara.” Sungie dan Rae Na membawanya ketempat yang lebih sepi dengan mobil mereka. Mereka menghentikan mobil disebuah taman sepi di dekat komplek perumahan elit.
“Katakan pada kami, kau benar-benar hamil?” tanya Rae Na tidak sabar. Ingin rasanya dia menonjok wajah polos gadis yang ada dihadapannya. Jika saja dia tidak mengingat ini tempat umum. Hyo Min diam saja, tidak tau harus menjawab apa.
“Katakan atau kami bawa kau ke dokter untuk memastikannya!” sambung Sungie, reaksi Hyo Min masih sama. Diam dan kali ini menunduk lebih dalam. Rae Na dan Sungie menunggu jawaban Hyo Min.
“Aku mencintai Oppa..” ujar Hyo Min lirih. Airmatanya kini mengalir.
“Tapi tidak seharusnya kau menghancurkan rumah tangganya!” Rae Na hendak memukul Hyo Min, namun segera dicegah Sungie.
“Yak! Kita bukan kriminal.” Bisik Sungie sambil menoleh ke kiri dan kanan, melihat apakah ada orang yang menyaksikan aksi mereka. “Kita jangan terlihat seperti sedang menindas anak kecil Rae Na~ya..” ujar Sungie lagi. Hyo Min yang mendengar itu semakin menyaringkan suara tangisnya. Rae na dan Sungie jadi panik.
“Onnie bagaimana ini?” tanya Rae Na.
“Ikut kami.” Sungie menarik tangan Hyo Min. “Ayo kit apastikan ke dokter saja.” Ujar Sungie pada Rae Na. Rae Na mengikuti Sungie. Tiba-tiba Hyo Min berontak.
“Shireo! Aku tidak mau ke dokter!” teriak Hyo Min. Rae Na dan Sungie menatap Hyo Min bingung. Hyo Min memanfaatkan itu untuk melepaskan diri. Tapi dengan segera menariknya kembali.
“Katakan kau tidak hamil!” desis Rae Na ditelinga Hyo Min. Hyo Min merasa terdesak.
“Yak! Apa yang kalian lakukan?” seorang lelaki meneriaki mereka. lelaki itu segera melepas sepedanya dan berlari menghampiri mereka.
“Apa yang kalian lakukan? Aish! Tidak seharusnya kalian menindas ynag lebih muda.” Lelaki itu melepaskan cengkraman Rae Na. Rae Na kebingungan dengan kedatanag lelaki misterius ynag tiba-tiba mencampuri urusan mereka.
“Jangan campuri urusan kami.” Rae Na melepaskan pegangan lelaki itu dari Hyo Min.
“Sandeul Oppa..” panggil Hyo Min pelan, membuat lelaki yang diapanngilnya Sandeul itu menoleh padanya.
“Katakan kau tidak hamil karena Oppa, baru kami akan melepaskanmu.” Ujar Sungie. Sandeul menoleh pada Sungie, Sungie tidak memperdulikannya.
“Kau hamil?” tanya Sandeul pada Hyo Min. Hyo Min menggeleng.
“Ne, dia mengaku dihamili Oppa kami, dan sekarang rumah tanggannya sedang dalam masalah.” Ujar Rae Na menjawab. Hyo Min tidak bisa menjawab apa-apa.
“Atau kau mengaku saja gadis kecil!” Rae Na yang sudah memuncak emosinya. ‘Kalau kau hanya ingin menghancurkan rumah tangga orang lain.” Tambah Rae Na sinis.
“Tapi rumah tangga mereka memang sudah retak Eun Kyo Onnie sudah selingkuh, dan Oppa sudah tau!” teriak Hyo Min, membuat Rae Na dan Sungie terkejut, saling berpandangan.
“Tapi intinya kau tidak hamil kan?! Oke, sudah, cukup.” Sungie menarik Rae Na. Tapi Rae Na terlihat masih belum puas dan masih ingin membunuh anak itu.
“Onnie, menurutmu apa benar Eun Kyo Onnie juga selingkuh?” tanya Rae Na. Sungie menoleh dan terlihat gugup. Dia teringat seorang lelaki yang ia dan Eun Kyo temui beberapa hari yang lalu.
“Ah? Eoh? Ah itu tidak mungkin!” Sungie mengibaskan tangannya kearah Rae Na.
“Em, semoga saja dia tidak bertindak bodoh.” Sahut Rae Na. Dalam hati Sungie, dia sebenarnya khawatir.

***
“Benar yang mereka katakan? Kau hamil?” tanya Sandeul. Hyo Min nampak terlihat salah tingkah, dia tidak menjawab.
“Katakan padaku Hyo~ya.” Ujar Sandeul memegangi kedua bahu Hyo Min.
“Oppa, aku, aku aku..” Hyo Min gelagapan.
“Han Hyo Min..” ujar Sandeul lembut. Hyo Min menundukkan wajahnya, menghindari tatapan Sandeul. tapiSandeul meraih dagunya dan mendekatkan wajah gadis itu ke wajahnya dan sedetik kemudian, dia mengecup bibir kecil gadis ynag ada dihadapannya. Meski hanya beberapa detik namun mampu membekukan perasaanya dan diam-diam menggetarkan hati gadis ynag terkejut dibuatnya.
“Saranghae.” Ujar Sandeul.
“Oppa..” ucap Hyo Min lirih.
“Ssstt.. kau tidak perlu menjawabnya sekarang.” Dia merangkul bahu Hyo Min dan mengantarnya dengan sepeda yang tadi dia tinggalkan.

Eun Kyo’s POV

Aku duduk sendiri mendekap tubuhku di kursi, di apartemen Hyunchan Onnie yang sepi. Ahanya aku yang ada disini. Onnie masih ada diluar kota, tapi dia bilang paling lambat malam ini dia kembali. Aku memandangi pemandangan diluar sana melalui jendela kaca. Aku terkejut saat bel berbunyi. Aku turun dari kursi menuju pintu. Seseorang mengantarkan pesanan untukku.
“Nona Park Eun Kyo?” tanya pengantar pesan itu. Aku mengangguk, dia menyerahkan bungkusan padaku.
“Aku tidak pesan apapun.” Ujarku.
“Ini pesanan untuk anda.” Ujarnya sambil memaksaku untuk menerimanya. “Silakan tanda tangan disini.” Aku hanya bisa menurutinya.
“Arasseo, terima kasih.” Pengantar pesan itu pamit, meninggalkanku yang kebingungan. Aku kembali masuk, kuletakkan bungkusan itu di meja dan segera aku buka. Sebuah makanan. Slurp. Aku meneguk liurku, sepertinya sangat menggiurkan. Belum sempat aku mencicipinya, ponselku berbunyi. Aku membuka pesan yang ada dilayar.

From : Choi Seung Hyun
Eotthe? Enak? Itu menu spesial hari ini

Aku tersenyum membaca pesan yang dikirim Seung Hyun padaku. Aish! Dia mau menggodaku lagi? Aku mengambil makanan itu dengan sumpit. Hem. Memang sangat enak. Aku meraih ponselku dan membalas pesannya.

To : Choi Seung Hyun
Sangat enak!

Aku membalasnya singkat. Lalu menghabiskan makananku dengan cepat, kebetulan sore ini aku sangat lapar. Ponselku kembali berbunyi.

From : Choi Seung Hyun
Kapan makan bersamaku?

Aku tersenyum lagi, anak ini, apa dia sadar sedang berhadapan dengan siapa? Eoh? Aku sudah mempunyai suami. Ponselku kembali berbunyi. Pasti darinya lagi.

From : Choi Seung Hyun
Makan bersama tidak masalah kan? Aku tau kau sudah menikah

Eoh? Kenapa dia selalu tau apa ynag ada dibenakku? Apa dia seorang peramal? Kubalas pesannya dengan singkat.

To : Choi Seung Hyun
Baiklah, 3 hari dari hari ini, aku akan ke tempatmu.

Aku meletakkan ponselku diatas meja. Duduk kembali di kursi yang tadi aku tinggalkan. Aku jadi teringat Oppa. Saat senja seperti ini dia pasti pulang sambil memelukku. Aku merindukan pelukannya. Benar-benar merindukan sentuhannya.
“Oppa..” panggilku lirih. Aku menarik nafas, mengambil banyak-banyak oksigen untuk memenuhi paru-paruku yng kini terasa semakin kecil. Aku terkejut saat suara pintu terbuka. Aku menoleh.
“Onnie..” aku menghampiri Hyunchan Onnie. “Sudah pulang? Katanya malam.” Aku membantunya memasukkan koper. Tapi aku tersentak melihat seseorang yang ada di belakangnya. Yesung Oppa.
“Ah, Oppa.” Seruku terkejut. Dia masuk mengikuti Onnie. Yesung Oppa  tersenyum padaku.
“Onnie, aku mau keluar sebentar.” Aku membiarkan mereka bersama, pasti sudah lama tidak bertemu. Kulangkahkan kaki menyusuri lorong sepi.
“Eun Kyo~ya.” Seru Onnie di pintu. Aku menoleh padanya.
“Ye, Onnie?” aku mengerutkan dahiku melihatnya menyembul di pintu.
“Kau kembali kerumah?” tanyanya. “Maksudku pulang kerumah Oppa?” sambungnya. Aku menggeleng.
“Berarti kau pulang kesini lagi kan?” aku hanya membalasnya dengan menyengir.
“Aku tidak ada pilihan lain.”
“Pilihan lain lebih baik daripada tidak ada sama sekali.” Ujarnya. Aku tersenyum.

Teuki’s POV

Aku kedatangan dua tamu tidak di undang lagi hari ini. Hufh, bukannya aku tidak menghargai mereka, hanya saja, kelakuan mereka terkadang membuatku pusing.
“Oppa! Ternyata Hyo Min tidak hamil.” Seru Rae Na terlihat senang. Dia membawa ransel dibahunya. Begitu juga dengan Sungie, aish! Kedua gadis ini, lebih sering membuatku pusing daripada Eun Kyo.
“Aku sudah tau.” Jawabku malas.
“Eoh? Kau sudah tau?” tanya Sungie. Aku mengangguk. “Tapi kenapa masih membiarkan Onnie tinggan dirumah Hyunchan Onnie?” tananya cerewet. Aku menoleh padanya.
“Aku hanya ingin membiarkannya sedikit lebh tenang.” Jawabku.
“Ah, darimana kau tau kalau Hyo Min tidak hamil?” tanya Rae Na dengan nada penasaran. Aku memejamkan mataku.
“Beberapa hari yang lalu, aku mengajaknya ke dokter tapi dia menolak. Dari sana aku tau dia hanya mengarang cerita.”
“Dan kau hanya diam saja?” tanya Sungie, aku menghentikan menggoreskan penaku di beberapa kertas.
“Aku sudah katakan aku ingin membuat Eun Kyo tenang. Jelas?” aku mulai jengah dengan tingkah kedua gadis ini. Mereka berdua berjalan mengelilingi ruanganku. Memandangi fotoku bersama Eun Kyo dalam berbagai pose. Aku memang membuat kantorku nyaman dengan galery foto kami berdua, hanya kami, agar saat aku merindukannya, aku bisa memandangi wajahnya, meski hanya dalam foto.
“Ah, Oppa! Yang aku dengar sekarang Onnie sedang dekat dengan lelaki.” Suara nyaring Rae Na mengagetkanku. Aku tersentak dan kemudian menenangkan diriku.
“Darimana kau tau?” aku bertanya.
“Ani, aku hanya mendengar saja.” Jawab Rae Na santai. “Apa tanggapanmu?” tanya Sungie. Tanggapanku? Jika aku tidak menahan emosiku, sudah sejak beberapa hari yang lalu aku membunuh lelaki yang tertawa bersama istriku.
“Aku percaya padanya.” Ujarku, sambil menenangkan hatiku saat aku mengatakan itu. Percaya? Aku harus percaya. Aku meyakinkan diriku sendiri.
“Aish! Aku bersumpah akan membunuhmu Onnie~ya, jika kau benar-benar berbuat bodoh.” Umpat Rae Na.
“Oppa, bagaimana kalau kita memberi sedikit saja.” Sungie mengangkat tangannya menunjukkan jarinya. “Pelajaran pada Onnie.” Aku melihat mimik jahil dari mereka berdua.
“Jangan macam-macam, kalian jangan memperparah keadaan.”
“Kau selalu tidak bisa berbicara pada Onnie kan?” aku menoleh pada Rae Na. “Karena dia selalu menolak?” oke, kali ini apa yang dia katakan padanya, selain ingin berbicara dengannya, aku juga sangat merindukannya.
“Apa rencana kalian?” aku berusaha mengacuhkan semua ide gila mereka meski aku sangat penasaran mendengarnya.
“Ikut kami.” Sungie menarikku. Aku hanya mengikuti semua keinginan mereka tanpa bisa menolaknya.

Author’s POV

Eun Kyo menunggu dengan gelisah di sebuah meja yang ada di restoran yang akhir-akhir ini sering dia kunjungi. Dia mengaduk minuman yang sejak tadi dia pesan.
“Sudah lama menunggu?” sebuah suara mengejutkannya. Seung Hyun. Dia tersenyum pada lelaki itu.
“Ani, tidak juga.” Jawab Eun Kyo sambil melepaskan pandangan kearah luar, memandangi pamandangan diluar sana baginya lebih menyenangkan. Seung Hyun memandangi Eun Kyo dengan intens seperti biasa. Dalam hatinya dia tidak pernah berhenti memuji wanita yang duduk didepannya ini. Bukan jenis gadis yang sangat cantik. Tapi mampu membuat dirinya berantakan hampir gila karena menyukai istri orang lain. Mengapa baginya dengan status sebagai istri orang lain membuat wanita itu menjadi semakin seksi dimatanya.
“Aku sudah pesankan makanan untukmu.” Eun Kyo menoleh pada Seung Hyun.
“Ah, ye.” Jawab Eun Kyo singkat, dia kembali menolehkan matanya pada taman yang tidak jauh diluar sana.
“Kenapa? Kau hari ini terlihat tidak senang.” Seung Hyun menuangkan angggur ynag diberikan oleh pelayannya.
“Ani.” Jawab Eun Kyo lagi dengan singkat. Dia memandangi anak-anak yang bermain di taman itu. Dia jadi menggingat Teuki, mereka belum mempunyai anak.eun Kyo tersenyum memandangi tingkah polos anak-anak ynag bermain.
“Eun Kyo, aku tidak bisa kau acuhkan seperti ini.” Ujar Seung Hyun. Eun Kyo segera menoleh pada Seung Hyun dengan cepat. Dia teringat sesuatu dengan perkataan itu. Mengingat suaminya, eun Kyo segera bangkit.
“Kau mau kemana?” tanya Seung Hyun ikut bangkit. Eun Kyo menggeleng.
“Ini tidak benar, aku harus pulang.” Ujar Eun Kyo, tiba-tiba dia merasa dia sudah terlalu lama mengacukan suaminya, saatnya untuk bicara. Dia harus berbicara dengan suaminya. Seung Hyun mencoba mengejar Eun Kyo dan meraih lengannya, tapi ditepis dengan cepat oleh Eun Kyo.
“Aku tau kau bisa membaca pikiranku.” Jawab Eun Kyo menatap Seung Hyun tajam. “Kau tau perasaanku dengan pasti!” lanjutnya. Seung Hyun terdiam, dia tidak bisa lagi menghentikan wanita itu.

***
“Kalian jangan macam-macam.” Ujar Hyunchan kepada kedua gadis ynag cekikikan mereka-reka apa yang akan terjadi jika ide dalam otak mereka berjalan dengan baik.
“Tapi kami hanya ingin Onnie dan Oppa kembali bersama.” Bela Sungie.
“Ne.” Tambah Rae Na. Mereka tertawa bersama.
“Kalian kira aku tidak tau ode gila kalian? Eoh?” Hyunchan memukul pelan kepala kedua adik kesayangannya itu.
“Onnie Appo..” rengek Sungie. Kegiatan mereka bertiga terhenti saat seseorang membuka pintu.
“OH! Onnie!” Rae Na berlari menghampiri Eun Kyo, namun sebelumnya dia meraih amplop besar yang tergeletak diatas meja.
“Onnie, kau sudah dengar gosip terbaru?” tanya Rae Na saat dia sudah sampai dihadapan Eun  Kyo. Belum sempat Eun Kyo meletakkan tasnya. Sungiee menimpali pertakaan Rae Na.
“Ternyata bukan Hyo Min!” pekik Sungie. Eun Kyo terlihat bingung. “Oppa terlihat bersama sekretarisnya, ternyata selama ini kau salah sasaran Onnie. Kemarin aku sudah menyelidiki tentang Hyo Min, dia tidak hamil.” Ujar Sungie. Eun Kyo tertawa, dia tidak bisa mempercayai perkataan Sungie begitu saja.
“Kalian jangan maca-macam.” Sela Hyunchan ditengah acara Sungie dan Rae Na mempengaruhi Eun Kyo. “Jangan mengada-ada.” Lanjutnya.
“Kami tidak mengada-ada, kami punya buktinya!” seru Rae Na. Dia menyerahkan amplop besar yang sejak tadi ditangannya. Eun Kyo meraih amplop itu dengan bingung. Dia membuka amplop itu dan membelalakkan matanya. Isinya adalah foto Teuki bersama sekretarisnya bermesraan. Eun Kyo meremas foto itu dan berbalik.
“Kau mau kemana Kyo~ya?” panggil Hyunchan.
“Aku harus bicara pada Oppa!” teriak Eun Kyo meninggalkan apartemen. Sungie dan Rae Na cekikikan sambil mengedipkan matanya satu sam lain.
“Yaish! Kalian ini!” kembali Hyunchan memukul Rae Na dan Sungie.

***
Suara pintu di dobrak terdengar sangat keras di telinga Teuki. Dia sudah mengantisipasi kejadian ini sebelumnya. Teuki nampak tenang.
“Wae? Kau sudah siap untuk bicara?” tanya Teuki dengan nada acuh. Membuat emosi Eun Kyo semakin memuncak. Nafasnya menderu menahan gejolak amarah didadanya. Dia menarik nafas dalam sebelum berbicara.
“Oppa! Apa maksudnya semua ini?” dia melemparkan foto-foto Teuki bersama seorang wanita. Teuki nampak tenang memperhatikan foto yang berserakan di mejanya diruangan kerjanya di apartemen mereka.
“Wae? Ada apa lagi ini?” tanya Teuki pura-pura tidak tau.
“Kau! Ternyata bukan Hyo Min dan bodohnya aku mengira itu Hyo Min!” dia memukul lengan Teuki, ingin rasanya dia mencakar suaminya dengan sikap tenangnya. Teuki menahan amukan Eun Kyo dengan memegangi kedua tangannya.
“Lalu bisa kau jelaskan ini?” Teuki meraih beberapa lembar foto Eun Kyo bersama Seung Hyun. Eun Kyo nampak terkejut.
“Bisa kau jelaskan Jagi~ya?” Teuki menyusuri leher Eun Kyo untuk mengalihkan amarah Eun Kyo yang semakin menjadi. Dia memandangi leher istrinya dengan intens. Dalam hatinya, dia sangat ingin menyentuh wanita ini lagi. Eun Kyo menepis tangan Teuki.
“Dia hanya teman.” Jawab Eun Kyo.
“Kalau begitu dia hanya relasi kerja.” Jawab Teuki.
“Tapi bisa semesra itu.” Ujar Eun Kyo sengit, sambil mengalihkan tangan Teuki yang tak hentinya menyentuh lehernya. Bagian paling sensitif dari tubuhnya.
“Apa kau juga tidak terlihat mesra?” tanya Teuki balik.
“Tapi aku tidak mencintainya!” jawab Eun Kyo lagi. Akhirnya dia membiarkan jari-jari Teuki menari dilehernya. Menyusuri lehernya dan membuatnya sedikit tergoda, karena tujuan Teuki memang menggodanya.
“Kalau begitu aku juga tidak mencintainya.” Jawab Teuki santai.
“Oppa! Jangan menjiplak jawabanku!” teriak Eun Kyo lagi. Teuki membalasnya dengan ciuman di bibir Eun Kyo. Sejak melihat kilat kemarahan dimata Eun Kyo tadi. Dia bisa merasakan wanita ini masih sangat mencintainya. Dia tersenyum dalam hati. Eun Kyo memukul-mukul dada Teuki untuk melepaskan ciuman lelaki itu. Yang sebenarnya juga dia inginkan. Saat berhasil melepaskan ciuman Teuki, Eun Kyo segera mengambil nafas sebanyak-banyaknya.
“Oppa!” teriak Eun Kyo tertahan, kali ini bukan tertahan karena ciuman Teuki, melainkan tertahan oleh tangan Teuki danmembalik tubuh Eun Kyo pada sebuah layar.
“Coba lihat.” Teuki memeluk Eun Kyo dari belakang. Eun Kyo terlihat bingung tapi kali ini hatinya mengatakan dia harus memberi Teuki kesempatan. Layar itu kini menampilkan sebuah tayangan yang membuat Eun Kyo tercengang.

“Onnie, aku tau sekarang kau pasti sedang marah-marah, iya kan?” wajah Sungie terlihat dilayar. Sambil tertawa cekikikan. “Mianhae Onnie~ya..” kini terlihat Rae Na yang sedang membungkuk.

“Apa-apaan ini Oppa?” tanya Eun Kyo bingung sambil menoleh kesamping menatap Teuki ynag meletakkan wajahnya dipundak Eun Kyo.
“Ssssttt liat saja.”

“Onnie, sebenarnya ini semua rencana kami.” Sungie terlihat merangku Rae Na.
“Habisnya aku gemas melihat kalian berdua bertengkar, pura-pura kuat padahal tidak sama sekali.” Timpal Rae Na, mereka berdua saling bertatapan.
“Foto itu kami yang ambil, dan kami memaksa Sun Hye, hahahahahahaha.” Ujar Sungie tertawa nyaring. “Itu hanya sandiwara, agar kau mau menemui Oppa. Ini benar-benar hanya lelucon.” Tambah Rae Na. Kedua gadis itu nampak kompak dengan berbagai kesamaan.

Eun Kyo menoleh pada teuki yang langsung disambar Teuki dengan kecupan lembut.

“Mengenai Hyo Min, aku rasa ada yang ingin menyampaikan sesuatu.” Ujar Sungie. Rae Na menarik seseorang.
“Onnie~ya, mianhae.” Hyo Min tampak membungkuk dalam rekaman itu. “Aku membuat kalian susah, meski aku sadar aku tidak bisa memisahkan kalian, tapi aku tetap bersikeras.” Ujarnya. “Oppa, mianhae, tendermu lepas karena aku.” Hyo Min melirik Sungie dan Rae Na. “Sebenarnya Oppa hany mencintaimu Onnie~ya, meski aku tidak ingin mengakuinya.” Segera Rae Na dan Sungie mencubit gadis itu.
“Yak! Kalau kau tidak ingin mengakuinya, lalu bagaimana dengan Sandeulmu? Eoh?” serah Rae Na.
“Aku tetap mencintaimu Oppa..” Sungie membekap mulut Hyo Min.
“Yak Onnie! Jangan dengarkan dia!” teriak Sungie.
“Rae Na, kalau begitu kita culik Sandeul!” teriak Sungie.
“Sandeul Oppa! Jangan dengarkan mereka!” teriak Hyo Min.

Teuki segera mematikan layar dan tidak ingin menyaksikan pertengkaran ketiga gadis itu. Dia masih memeluk punggung Eun Kyo, meraih tangannya dan menuliskan sesuatu disana.

Saranghae..

Eun Kyo menoleh pada Teuki dan meraih tangan Teuki juga membalas menuliskan sesuatu ditangannya.

Na do..

Eun Kyo berbalik menghadap Teuki. Melingkarka tangannya di leher Teuki dan tersenyum. Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Teuki dan berbisik sesuatu padanya.
“Touch me, please. Mr. Park.” Bisik Eun Kyo.
“As you wish, Mrs. Park.” Balas Teuki ditelinga Eun Kyo.

FIN

Note : kyaaaaaaaaaaaaaaaa hahahahahahahahahaha, aku merasa sekarang aku benar-benar yadong dan menjijikkan. Wahahahahahahahaha, pengen ketawa mulu ini aku. Sejak kemaren aku sudah dibuat gila dengan ide ff ini. Ini semua hanya hayalan liarku saja, hohohohohoho, tadinya aku mau bikin NC. Tapi pas dipikir-pikir, engga ah menodai ff semanis ini dengan NC… huwaaaaaaaaa pas kemaren saya tergila-gila bikin bagian Eun Kyo sama TOP tapi pas kesininya, feel saya bersama Oppa kembali. Ini gara-gara awalnya denger lagu 7 Years Lovenya Kyuhyun, kepengan bkin yang aga melow, eh pas kesini, aku dengerin lagu IU yang U and I, ga jadi deh sedihnya. Huwaaaaaaa, mungkin ini adalah FF pembuka untuk FF chapter pengganti MLT. Beginilah kira-kira karakternya. Bagi yang suka, silakan ditunggu, bagi yang tidak suka jangan nyolot yah… Onnie~ya, bukankah Top-mu itu sangat keren? Na, Hyungmu benar-benar cool… ah, sudah lah, aku terlalu bersemangat sepertinya. Bagi yang sependapat denganku kalau ff ini romantis silakan komen, wajib! Karena aku benar-benar suka ff ini. Bagian disofa, kyaaaaaaaaaa *dibekap Oppa* oke, cukup, silakan komen… ah sebentar, aku ngasih bonus foto Park Family… semoga suka.. dan juag kalian mengerti kan alurnya? ini seperti ff please don’t break up kemaren…

Park Family

84 responses »

    • Hai hai hai…
      Komen aku yang tadi pasti ga masuk !
      Gagal gagal !
      Eh yeobo, aku mah walopun jadi jahat..tetep aja ya aku kaya malaikat..hahahaha

      omo yeobo, bebi deuli aku switi switi banget sih..
      *ciumciumciumcium*
      ah aku suka banget deh scene aku sama bebi akuu..

      Kamu baru sadar ya kalo kamu yadong??
      Omaygod..ketinggalan jaman ih kamu..
      Kamu kan emang biang yadong..

      Sumpeh deh sayang, ini pendek bangeetttt….
      Pendek pendek pendek !!

      Entar aku sambung..
      Aku masak dulu yah..

      • tetap aja Yeoboku yang satu ini narsis yah… malaikat? ohohohhohohohoho *tendang rheiza*
        jiaaaahhhhh kan tadi yang kamu bilang pengen ciuman sama sandeul??
        yak! aku g seyadong kamu…
        enak aja pendek banget… cape tauuuuuu
        tapi mian bikin kamu jadi begini karakternya *cium Hyo Min*

      • Hihihihihi..
        Udah ibu ibu tetep aja ngambeknya kaya aku yang masih amat sangat muda *lirik eunkyo*

        aku hamil??
        Seandainya iya, Aku juga pasti bingung itu anak siapa..bisa kepin? Mungkin juga sandeul?? Atau mungkin park jungsoo..
        Hyayayayai..

        Eh tunggu, sandeul oppa..?? Hhihihi..aku panggil dia oppa?
        Omaygod bebi, trimakasih tuh sama yeobo aku..

      • diriku emang imut dan lucu,,

        hyomin : hoeksss,,
        saya: hyomin masuk angin ya??*pasang tampang polos*

    • huwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
      sukaaaaaaaaaaaaaaa,,,,,,sukaaaaaaaaaaaa*lari2 keliling kamar*
      saya ketawa terus dari tadi,,suka,,suka suka,,pokoknya sukaaaaaaa

      han hyomin,,dirimu salah mencari masalah dengan keluarga park sayang
      karna kami memiliki 2 bodyguard labil*nunjuk sungie ma raena*

      ceritanya keren fik,,menurut eonn ceritanya mudah di pahami,,
      alurnya passss banget,,
      ada sisi romantisnya,,, yang tulis2 di badan itu,,

      karakter driku sodara2,,,
      fika kok bisa sih menggambarkan diriku yang sama bgt ma aslinya,,
      begitulah seorang indah dimata teman2 saya,,tapi disini terlihat lebih dewasa dari aslinya,,
      karna terkadang saya juga suka bersikap kekanak2 an…
      aku suka karakterkuuuuuuuu,,,,oppaa aku kren kan?? *yeppa ngangguk2*

      yang membuat aku kecewa adalah,
      kenapa namja seksiku jadi mencintai adik iparku,,,
      tabi~yaaaaaa,,,,,kau tak boleh melirik wanita lain,,,
      atau kau tidak akan mendapatkan yang spesial dariku nanti*yeppa melirik curiga*

      raena dan sungie,,,
      duet evil sejati,,bener2 cocok kalo untuk urusan membuat orang menderita,,

      oya saya belum memperkenalkan diri pada adikku,,
      annyeong park sungjae*lambai2 ke arah sungjae*,,
      hyunchan a.k.a. indah imnida…bangapseumnida…^_^🙂

      saya sudah curiga kalau hyomin memang tidak hamil,,
      akhirnya dia menemukan kekasih hatinya sandeul,,

      saya tidah berhenti tersenyum ini,,
      sepertinya bakal tidur dengan nyenyak malam ini,,
      ayo oppa kita masuk kamar*tarik yeppa*,,,

      • ONNNNIIIE !
        Aku takut deh, benerrr..
        Itu park fam premannya~ aigoo…
        Iya, sampe kapanpun aku tetep akan berlabuh pada sandeul a.k.a lee junghwanku terbebi lah *ngaco*
        hahahahaha

      • alhamdulillah yah kalo Onnie sukaaaa *peluk Onnie*
        asal jangan ikutan gila aja kaya fika…
        buahahahahahaha, oonie bisa aja… dua bodyguard? tapi emang bener Onn…
        fika suka banget yang tulis2 ituuuuu
        rasanya deg deg seerrrr gimana gitu… hohohhohohohoho *getok kepala* gila sepertinya saya ini…
        buahahahahahahaha, masa si onn? keren? *goda Onniee*
        mengenai TOP itu salahkan adik ipar angkat kesayananmu onn… dia yang merekomendasikan TOP buat dijadiin selingkuhan… kekekekekekeke

        onnieeeee berhentilah tersenyum *cubit Onnie*

  1. Eonnyaa~…
    Jeez..
    Aku kekiii bacanyaaaa…
    Sapa tuh namanya? Hyomi? Pgn aku santet pake voodoo..
    Kalo eonny mo cere’in Teukie, aku mau kok jd penggantimu eon..
    Huwhahahahhahaa…

    Sini sini eon, aku ciiiuuuummmmm…
    Eonny uda menghiasi malamku yg hujan(?) huahaha..
    Eon, adegannya teukyo kuraanggg…
    Kasiii yadong yg nga terlalu yadong yg banyaaaakkk..
    Oke oke??
    Huahahahaha..

    Gara” Eonny, aku jadi berotak yadong..
    Virusmu menyebarrr uda eob.. Hahaha

    Eon, q mau Shrimp Kiss, MLT, CL yg side story, sama .park Family…!
    Napsuuu deh ama FFmu..
    Kisss lagiii dehh..
    :-* kiseu..

    • kenapa mesti keki?? hahahahaha, apalagi yang bikin…
      astaga… Hyo Min… dia itu Yeobo aku *plak* kekekekekekekeke. tapi sekarang dia lebih berat ke sandeul ko, jangan disantet…
      adegan teukyo? hahahahahaha, biar rata sama yang lain… kan itu ceritanya park family… cuman fokus ke masalah Teukyo, dan juga kan itu aku lagi ngambek….
      eoh? eit, jangan salah… kita ketemunya dimana ayo? di blog yadong *plak*
      lah elah ini anak… semuanya kepengen…

  2. Onnie~! aku juga demen sama ff nya, ah enak ya jadi bagian Park Family, huahaha😄 mantep Onn, ff nya bener deh manis banget, ketauan banget pas Onnie sms aku ngasih tau tentang ff ini kayaknya Onnie nulisnya lagi seneng banget, kyaaa cie Onnie😄 haha setuju sama kata Onnie, yang di sofa scene paling mantap! ah Onnie aku bingung banget mau comment apaan lagi yang jelas ff yang ini bagus banget, aku suka jalan ceritanya yang ga terlalu bertele-tele dan endingnya yang lucu+sweeeeeeeet❤ ohiya Onnie, itu si Seunghyun bener bisa baca pikiran? .-.

  3. Yak jumma knpa bawa” abang tabiku?? Setelah kau memasangkan 2 biasku d.suju, sekarang kau berniat menggoda suamiku??,
    tak cukupkah kau on dengan ajussi berlesung pipi itu? *seret teuki oppa*
    tak kasihankah kau jumma dg ku?? Stelah merelakan donghae n kyuhyun, dan sekarang kau mau menggoda choi seung hyun ku?? #plak

    okay abaikan yg di atas sekarng koment..
    Itu hyomin siapa?? Kau merusak rumah tangga orang aja dan parahnya dy memfitnah suamiku *emosi* *dijitak yg punya nama*

    ini ff.a maenin emosi bgt ya.. Di mulai dari kalimat “dia hamil” .. Sampai yg paling puncak nama choi seung hyunku d.sebut#plak
    g deh.. Sampe hyomin nekat minta d.nikahin.. Rasa.a pengen pites th orang *djmbak yg pnya nama* jumma emang pinter bikin ff yg maenin emosi, slalu bikin terhayut#sungai kale… Walaupun kyak.a panjang *liat memory hp* tapi kayak.a pendek… Tiba” udh “the end” Hehehehe

    suka bnget karakter raena ma seungi, yg bertindak cepet.. N membuahkan hasil .. G kaya oppa malah nyuruh orng bwat jdi mata” jumma, *dijitak teuki oppa*
    it tdk ak bwat jumma kmbali jussi , malah bikin naek darah
    teuki oppa : iya juga ya *anguk” pala*
    dan mwoya tabi?? Kau bilang jumma seksi kau!! Kit. .t . *d.bekep tabi* tabi : sabar chupa sayang… It tntutan skrip.. #plak (abaikan)

    haha it kaya maenan wktu sd.. Tulis” dipunggung… Tapi jumma,, romantis.a malah di situ dpt.a..

    it seungi penggila ice cream.. Huaaaa sama ak juga suka…
    Dan jumma kau minta d.sentuh?? Bru pisah b’brapa hari udh kya gitu apa agy pisah?? Ckckck

    Udah dh koment.a.. Ak kan pendiem yg g bnyak omong jdi sekian ya jumma…
    Ditnggu karya slanjutnya

    *jewer tabi*
    *introgasi di kamar*
    hehehe
    bye bye jumma…

    • huweeeee ternyata aku salah, pilihan aku ke TOP dikirain yang disini itu ELF semuaaaaa
      ternyata aku salah… *bow*
      aku engga menggodaaaaaa dia yang tergodaaaaaaaaa
      aku sudah menghindar…..

      Hyo Min~aaaa sebaiknya kamu sembunyi di kamar aja Yeobo… banyak yang pengen bunuh kamu ini…
      mainin emosi yah? ko aku merasanya manis yah? ngambek, terus diem-dieman, terus teringat lagi, ternyata tidak bisa pisah, itu so sweet bangeeeeeettttt

      menyuruh mata-mata karena si Oppa tu lg sibuk ngurus proyek….
      ini pendek, cuman ada 25 halam word… biasanya kan plg sedikit 30…

      ohohohohohohhoo, tapi manis kan? itu impian saya bersama suami, caraku menggodanya nanti *plak* aku lagi berhayal liar soalnyaaaaaaa

      jarang-jarang Rae Na dan Sungie duet maut…
      iyalah, kan saya sudah seminggu lebih kaga disentuh, jadi kangen… *plak*

  4. wow,,,, ini sangat keren onni,,,,
    Park familiy keyen uey,,,

    oh ya Anyyeong my sister “Indah” aka park hyunchan,,,nie ademu yg evil,,,, “moo”
    onni kyo~ya tahu aja lo Q evil n suka buat org menderita,,, #tos bareng raena#
    abisnya snang bikin org mndrta,,, kepuasan tersndiri,,
    my second angel… istrinya bang yecung,,, kaka ipar keduaku yang aneh bin ajaib,,,
    sama kek Aq yg rada aneh,,, kata tman2ku,,, hahahha

    yak, hyomin,,, kamu masih kecil dah ngarang2 cerita hamil sgl,,,
    nah rasain tuh kita culik tu sandeul *lirik2 raena* gimana???
    makanya jgan cari gara2 ma kita2,,, Park family,,, huh,,

    onni~ya,,,,
    sungei nampar oppa gitu,,, huhuhu aq kan gak tega,,,
    walaupun marah kan aq tetp syg mereka coz they are my angels (park jungsoo N park hyunchan)
    maapkan Q oppa,,, Q hilap,,,, nangis tersedu2,,,

    eh, satu lagi,,,
    hei, hyomin,,, otakmu mmg yadong abis,,,
    masih kecil kok dah cium2 ma sandeul,,,
    bkin otakku yg polos nie jadi terinfeksi,,,
    bgaimana bisa kamu kek gtu,,,
    aQ aja lum,,, hufh,,,
    peluk umming,,, cuekin si unyuk jelek

    akhirnya Q sangat suka cerita nie,,
    onnie,,, kamu daebakkkkkk,,,,
    Saranghaeo my Park Family,,^_^v

  5. Kyaaaaaaaaaaaaaa ONIE ! my lovely TABI
    no no no no
    na na na na #plak2NE1modeon

    honestly ffmu yg ini membuat hatiku painfull😦 uda bacanya malem” liat cameonya Tabi OMG i can’t believe it ! #abaikan

    0nnie awalnya dpt feelnya tapi kenapa past tabi nongol hancur sudah feelnya berasa gimana gitu . . . . U know lah what i means xlo teukie selingkuh aja kelabakan ga bisa mikir positif ! Ia begitu lah perasaanku saat ini sama seperti mu :p

    aku suka ma karakter rae na & sungie ia bener 0nnie mereka harus jail hahaha biar ga sad trus :p
    overall ur imajination still the best sayng ❤

  6. Aaaaaaaaa…
    Onnie, suka suka suka deh…..
    Itu abang tabi tersayang ya? Udh dr awal aku menduga klo pria itu si TOP. Soalnya punya tatapan tajam. Suka bgt deh sm mata elangnya.
    Kok bagian akhirnya cuma gitu? Jiaa… Aku ketahuan yadongnya…
    Hari ini benar2 puas baca 3 ff sekaligus di wp onnie. Makasih ya onnie dan semua author yg udah bikin cerita menarik kayak gini.

    • lah? jangan terima kasih sama aku, aku yang terima kasih udah dibaca…
      beuh hebat yah kamu bisa meramal klo itu TOP. iya tatapannya tajam sangat.
      yak! dasar, silakan bayangin sendiri kami ngapain.. wahahaahahahhahahaha, itu terakhirnya tidur *plak*

  7. Hohohohoo *dtg tengah mlm*
    mianhae eonnie,aku ketiduran,ini bangun utk yg k’2 kali’y,.maklum,cape hbs ujian *pdhl kga bljar* #plakk

    Eonnie,aku suka ff’y.. kami keren kan?? *put my hand’s up bareng sungjae* ahahahaa
    Teukyo ini suka bgt yh slh paham,.ckck tp rohmantis..
    Kyo eon: emang qm ngerti arti romantis?
    Na: sstt *pura2 ngerti ajah* #gubrakk

    Hyomin~aa. . dasar qm yah.. kirain td hamil sm sandeul,tp ga mgkin sandeul bgtu,yg ada’y qm lbh brpotensi ‘memperjakai’ sandeul..wkwk *Lolmodeon*😄

    TBC

  8. Komen part 2 (?) *apaandeeh*

    Choi Hyuuuung~ jgn menatap yeoja lain dg mata elangmu selain aku yaaah. . maldo andwae !! *pukulin Choi Hyung syg*
    Minho: Yak!! jgn mnyentuh namja lain *tarik Na*
    Na: dia Choi Hyungku,kau Choi Saengku.. lgn dmn ada aku sllu ada kamu,ga bosen jd penguntit??
    Minho: Selama’y kau hnya takdirku
    *All:hooeekk* wkwk lebay deh Na. .

    Foto, huaaaaaa. . fto yeppa,astagaa,manis sekali,imut n tampan.. prtma tau suju kirain yeppa adlh magnae #plakk *bongkar aib*hehehee

    I like it !

  9. Kali ini aku dtg utk minta pertanggungjawaban !! #plakk
    Eonnie, aku bangun dr pkl 3 smpe skrg ga bs tidur lg, tanggung jwb !! *kga ada yg mau*

    aku msh jealous dgmu Hyung !! cih.. *buangmuka*
    Choi Hyung: yaa.,jg bgtu syg,. *peluk na* ini hyung kasih permen kapas
    me: Horeee., lain kali jgn lg2 yah,ne?
    Choi Hyung: ga janji
    me: *manyun* *d’cubit hyung* wkwkwk #buagh

    eh,eonnie.. kembaran bang tablo kok ga muncul2., sungie eonnie,mana piaraanmu eoh? wkwk *d’tabok sungie eon*

    d’tunggu ff brkut’y..😉

    • aku gak punya piaraan,,,
      hanya Choi Seung Hyun aja,,, hahhaha,,,

      nie onni d buatin makanan ma abang Choi,,,
      huhuuhu jaadi merana,,, kan Q jg pengen,,,,

      raena~ya,,, mari kita culik Choi Seung Hyun,,,
      jhah,,,, sejak tadi Q pengen nyulik seseorg nie,,

      tpi org pertama yg ingin aq culik adlh Choi Seung Hyun,,,,
      pengen bljr jadi evil kek dy seperti yg d IRIS,,,
      huuueeee, dy keren d situ,,,

      Q kan jg ma kaka ipar kkoma,,,
      nie gak punya temN yg aneh,,,
      jhaaah,,, d tendang indah onn,,,

      • @Sungie eon: knp pen nyulik Choi Hyungku sie ah? jangaan, jangan nyulik sndri mksud’y..wkekekee
        ga takut d’marahin kunyuk eon?
        Belum nemu IRIS #plakk tp tergila2 sm Choi Hyung d’I am Sam.. astagaaa,berandalan bgt diaaaa. . kereeeen #gubrakk

        @fika eon: detective dadakan? muahahahaa detective’y jd sweety2,lucu2 oon dikit jg #plakk *jujur bgt sie* mana ada detective lg operasi rebutan ice cream? lupa buka kunci mobil saat target muncul,trus si eonnie blg jgn trlihat kriminal..whahahaa *ngakak gelindingan*

  10. onniee aku telat,,
    kemaren mau bca ehh pulsaku hbiss..

    kerennnn onniiiee..
    knpa hyomin sukanya dgn teukppa
    knpa ga suka minho aja?? haha
    dari awal udah ketebak hyomin pura-pura hamil dong..
    Teukppa ga mgkin ya, menghianatin onnie..

    Abang Top kuhh ikut ngeksis yah..
    raena dan sungie bner” cocok deh mreka, sering” aja onnie d kerjain..
    sering ngambek sihh..😀

    • engga papa sayang…
      suka sama Minho? aigoo kalo begitu dia cari mati!
      oh tidak mungkin… hahahahaha, padahal sangsi…
      jangan! aku sama Oppa pusing sama orang bedua yang aneh tiada tara ini…

  11. Onnie,,, aq datttaaaaang…
    He2.
    Kemarn aq baru bc za pas mau komen,eh temen’q udh sms nyuruh aq cpet2 rumahnya..😀

    Mmmm, komen apa y?
    Rae na ma seungie kompak bgt ya bwt ngerjain onnie…. Sampe ngrayu sun hye sgala..
    Pertama aq kira hyo min bneran hamil, tp bukan anak. Aq kira dy takut bayinya ga punya ayah teruz minta teukie oppa bwt tanggung jawab.
    Eh, ternyata slah,,
    Onnie jangan slingkuh,,
    seung hyun bwt aq za ya, onnie ma oppa za !! He2..

  12. eoniii aku setuju klo ff ini romantis tis tis apalg kt2 eunkyo eon yg terakhir
    “touch me please Mr. Park”
    Huwaaaaa eunkyo eon jd yadong karena udah lama gd sentuh wkwk

    Biar ff ini romance, tp ttp bkin aku ngakak gra2 ulah sungie n raena + jung soo oppa yg ngerjain eunkyo eon… Wkwk

    Ah pdahal aku cukup kangen sm soft NC buatan eoni loh… Wkwk
    Pkknya aku tungguin soft NC nya y eon #plakk

    Pkknya kerenlah… Hahay
    Dan aku jg nungguin MLT huwaaaa kangen ryujin*ciumin ryujin*

    • setuju kan?? sofa scene mia sofa scene…. *teriak gila*
      yah… soalnya yah si saya emang yadong dr sononya mo gimana coba?

      eh, blm tau yah itu org bedua jailnya minta ampun?? ini skrg saya lagi dijailin Hyunnnie Onn… huweeeeee
      Hyomin~a… yeobo, aku kira yg ngerjain aku lg itu km, ternyata tetua di blog inih!!

      kangen? NC aku?? udah ada si kepengen bikin NC, yg soft, super soft, menggoda gimana gtu, erg! hahahahahaha, tunggu saja, lagimengumpulkan ide…

      MLT? tunggu yah… saya lagi kumpulin informasi tentang persalinan, nanyain temen2 gimana cara ngelahirin, cirinya dan sebagainya, sepertinya aku sudah dianggap gila sama orang2 kantor gegara MLT….

      • waduhhhh,,,,tidak terima saya dibilang tetua,,
        yang tetua itu adalah oppa sodara2,,,saya masih berada dibawahnya,,

        eonn mang paling hobby ngerjain orang kalo punya nomor baru,,
        kalo inget jadi pengen ktawa lagi saya,,,

  13. Bwahahaha..
    Lucuu.. Sumpah, sungie sma raena nya gilaaa…
    Aq sukaa onn..
    Lengkap bgt, smua’y ada.. Sedih, seneng, romantis, galau & lucu… Apalgi y? Yah pkok’y lngkap deh..
    Dan aq suka bgt sma ending’y, manis bgt..

  14. sweetiiiiiiiiiiiiii banget………..

    ampe speachless……….

    onie dirimu ahli bikin karakter suami idaman buat teuki oppa, pengusaha muda, ganteng, protektif, tapi cinta mati sama istri hahahahahaha IIIIIIRRRRRRRRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII

  15. Itu hyukjae kenapa sexy sekali,
    aissh, jungsoo oppa bikin ngiri z, selalu romantis, tapi kenapa dari tadi aku ngerasa otak oppa yadong mulu ya, kekekekeke

  16. hyaaaaaaaaaak
    eonniiiiiiiii aku suka banget ff ini……..

    adakah lanjutan’a eon???
    awal’a ngejenkelin….. tapi makin ke bawah,,,,,
    aigooo eonni kenapa kau bisa berubah menjadi perayu??? hahaha
    tapi ga apa” sama suami sendiri kan#merindukan belaian xixixixixi

    dah ah eonni lanjutan ff ini ya kalo bisa,,, ku tunggu sequel’a

    CAO

  17. bertengkar gara2 salah paham..
    Hyomin koq bs tega gt ya, mau hancurin rumah tangga orang..
    suka ama sifat teuki disini..
    tenang dalam menghadapi masalah..
    gak kayak eunkyo yg belum apa2 uda mencak2 duluan.. wkwkwk..

  18. Kyaaaaaaaaaaaaa…. eonni-ya, sama aku juga suka pas di sofa, trus pas bagian akhir tuh yang peluk eonni dari belakang… huwaaaaaa makin cintong sama teukie…. #dilemparbaoksamaeonni

    selalu hepi ending meski udah sempt nyesek pas mereka berantem di apartemen hyunchan,….
    aigoooo aigoooo manisnya kayak gulali…. hahahaha…. iya dah…. so sweet emang kalian berdua…. iriiiii #pelukKyu *ciumTeukie* kabuuuuuuuuuuuuuuuuurrr

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s