Money, Love and Trouble (Part 14)

Standar

MLT 14

I’m really going crazy
Please stop saying words of comfort that I can’t hear
Don’t say that you can forget love by having a different love
Because it will be a lonelier meet than separation
Don’t say that time heals all
Because each moment will be like death for me
Yes, receiving love doesn’t mean you have it
Covering time doesn’t mean it passes
Breathing doesn’t mean you live
Now I know
(Tomorrow-Taeyang feat. Tablo)

Author’s POV

Beberapa waktu berlalu sejak acara liburan keluarga Park, Eun Kyo nampak gelisah. Antara menunggu kelahiran bayinya dan juga tentang tawaran atau bisa dikatakan ancaman Tae Jun padanya. Beberapa hari ini memang belum ada tanda-tanda Tae Jun akan mengambil Ryu Jin, yang secara biologis adalah anak kandungnya. Anak yang dulunya  tidak dia inginkan dan dia anggap menghambat hidupnya. Eun Kyo duduk di teras rumah sambil memandangi Ryu Jin dengan tatapan kosong. Dia memikirkan anak itu beberapa hari terakhir. Tentang kemungkinan terburuk yanga akan ia terima, dan tentang bagaimana ia menjalani hidup tanpa bocah itu. Yang ada dipikirannya hanya ketakutan yang begitu membuatnya depresi namun ia sembunyikan berpura-pura tidak terjadi apapun dihadapan semua orang. Tapi ada satu orang yang bisa membaca semua kegelisahannya meski dia hanya diam melihat Eun Kyo bertingkah seperti itu. Adalah park Jung Soo yang bisa merasakannya. Dia mengkhawatirkan istriinya lebih dari siapapun.
“Eomma, kalau aku sudah besar, aku akan membawamu kemana saja!” Ryu Jin berteriak sambil mengendarai mobil mininya, yang dibelikan Jung Soo saat mereka berjalan bersama sehabis Jung Soo pulang bekerja. Anak itu nampak antusias dengan mainan barunya, ini pertama kalinya dia memiliki mainan lumayan besar, karena biasanya Eun Kyo lebih suka mainan yang sederhana yang menurutnya, itu lebih aman.

1

“Nde, hati-hati Ryu~ya!” balas Eun Kyo berteriak. Dia masih duduk diteras sambil memperhatikan Ryu Jin, namun tiba-tiba dia dikejutkan oleh dering terlpon beserta getarannya. Dia memandangi layar ponsel tersebut dengan seksama. Tertera nama Tae Jun disana. Eun Kyo bimbang antara mengambilnya lalu menekan tombol ‘answer’ atau ‘reject’.
“Angkat Yeobo, nugu?” Jung Soo mendekat dan mengambil ponsel Eun Kyo dari tangannya. Jung Soo tertegun sejenak melihat nama ‘pemanggil’ yang ada di layar. Dia mengalihkan tatapannya pada Eun Kyo, Eun Kyo menatapnya dangan tatapan kosong. Jung Soo lalu melihat lagi ke layar ponsel yang tidak hentinya berdering. Jarinya lalu menekan tombol ‘answer’.
“Yeoboseyo? Tae Jun~a? Wae gurae?” Jung Soo terus menatap Eun Kyo, matanya tidak lepas dari Eun Kyo selama meladeni Tae Jun bicara.
“Nde, nanti aku hubungi lagi.” Jung Soo menutup telponnya dan terus memandang Eun Kyo. Eun Kyo tidak kuasa membalas tatapannya yang seolah ingin meminta penjelasan darinya. Eun Kyo terus memandangi Ryu Jin untuk menhindari tatapan Jung Soo.
“Kau tidak kembali ke kantor Oppa?” tanya Eun Kyo sambil melambai pada Ryu Jin. “Hati-hati Ryu Jin~a, jangan terlalu kencang.” Eun Kyo berteriak pada Ryu Jin. Hingga saat ini dia tidak pernah mengerti mengapa anak itu begitu berpengaruh pada hidupnya. Mengekang hatinya dengan kuat, hingga tidak bisa berpikir dengan logika lagi. Jung Soo berjongkok menghadap tepat di wajah Eun Kyo, dia menatap lurus tepat di maink matanya, ditahannya kedua pipi Eun Kyo agar tidak bisa menghindar dari tatapannya.
“Kau menyembunyikan sesuatu dariku.” Ujarnya, matanya tidak lepas dari mata istrinya. Eun Kyo terlihat salah tingkah. “Tolong katakan padaku.” Tambahnya lagi semakin memojokkan Eun Kyo. Sebenarnya Jung Soo tidak bermaksud mengintimidasi, namun Eun Kyo terlihat gugup, matanya mengerjap dan memandang mata Jung Soo tidak fokus. “Aku tidak akan marah.” Jung Soo mengusap lembut pipi Eun Kyo dengan ibu jarinya. “Eum?”. Eun Kyo menghembusakan nafasnya, mengenai pipi Jung Soo. Senyuman tipis mengembang tipis dari wajah Jung Soo.
“Oppa. Mianhae.” Eun Kyo mencoba memulai penjelasan dan mengeluarkan sesuatu yang mengganjal dalam hatinya beberapa hari ini. “Tae Jun Oppa..” Eun Kyo tidak meneruskan kalimatnya. Jung Soo melebarkan matanyadan menaikkan alisnya menunggu lanjutan kalimat dari mulut orang yang sangat dia sayangi.
“Tae Jun Oppa, dia… orang tua Ryu Jin.” Jawab Eun Kyo pelan. Ada rasa sakit yang menjalar ke sekujur tubuhnya saat mengatakan itu. Rasa tidak rela yang begitu besar menguasai semua akal sehatnya. Jung Soo tak mampu menjawab. Eun Kyo memejamkan matanya, setetes air mata mengalir membasahi pipinya.
“Appa! Awas!” teriak Ryu Jin. Mobil mini yang dikendarainya sukses menabrak kaki Jung Soo. Jung Soo menoleh pada anak itu. Ryu Jin turun dari mobil dan menghampiri Eun Kyo saat Jung Soo berdiri.
“Kita bicarakan ini nanti, Yeobo.” Jung Soo menyentuh kepala Eun Kyo. Eun Kyo cepat-cepat menghapus airmatanya.
“Ugh, kau menabrak Appa! Sekarang bayar ganti rugi.” Jung Soo mengangkat Ryu Jin dan membawanya ke dalam rumah. Tinggal Eun Kyo ynag masih betah duduk di teras rumah. Jung Soo menyerahkan Ryu Jin pada Min Young lalu kembali pada Eun Kyo. Dia duduk berjongkok menghadap Eun Kyo.
“Bagaimana jika dia mengambilnya Oppa?” tanya Eun Kyo. “Aku tidak bisa, tidak bisa, itu tidak benar.” Eun Kyo menggeleng-gelengkan kepalanya. Jung Soo menahannya.
“Tenangkan pikiranmu, semua pasti berjalan dengan baik. Meski Ryu Jin diambil.” Jung Soo memeluk istrinya. Ada rasa khawatir terbersit dalam jiwanya melihat Eun Kyo seperti ini lagi.
“Andwae!” teriak Eun Kyo putus asa. Hatinya benar-benar tidak bisa kompromi jika seandainya Ryu Jin lepas dari tangannya. Tidak akan ada yang akan mengerti perasaannya. Tidak akan ada yang mengerti bagaimana anak itu mengikatnya.
“Jika dia memang orang tuanya, kita tidak bisa mengubahnya.” Eun Kyo melepaskan pelukan Jung Soo. Dia menatap suaminya tidak percaya.
“Kau bilang, akan membawa orang tuanya tinggal bersama kita.” Jung Soo mencoba menenangkan Eun Kyo yang mulai menangis, mencoba memeluknya namun Eun Kyo menghindarinya dengan mundur selangkah demi selangkah. Jung Soo mengikutinya, Eun Kyo berjalan ke halaman dan Jung Soo dengan cepat menarik tangannya, langkah besar Eun Kyo membuat Jung Soo kewalahan meraihnya.
“Kau mau kemana?” Jung Soo menahan Eun Kyo.
“Aku ingin menenangkan diri sebentar.” Jawab Eun Kyo sambil melepaskan tangan Jung Soo dari lengannya. Lalu berlari kecil membuka pagar dan keluar.
“Biar aku antar.” Dengan cepat Jung Soo berbalik ingin mengambil mobil namun Eun Kyo melarangnya.
“Aku ingin sendiri Oppa.” Jung Soo berhenti dan kembali menatap Eun Kyo. Ada yang tidak beres denga diri Eun Kyo, dia bisa merasakannnya.
“Tidak bisa. Aku akan mengantarmu. Kemanapun kau mau.” Ujar Jung Soo. Tiba-tiba sebuah mobil memasuki halaman rumah mereka. Kaca mobil itu perlahan terbuka dan ada Minho juga Rae Na di dalamnya.
“Mau kemana Noona?” sapa Minho dari dalam mobil. Eun Kyo tidak memperdulikannnya dan terus berjalan. Minho dan Rae Na saling berpandangan.
“Tolong tahan dia, aku mau mengambil mobil.” Jung Soo cepat-cepat mengambil kunci mobilnya di dalam rumah lalu mengemudikan mobilnya menyusul Eun Kyo yang tidak mungkin jauh dari rumah karena dia hanya berjalan kaki. Jung Soo mengikuti Eun Kyo dengan mobilnya. Eun Kyo tidak memperdulikannya, dia terus berjalan tanpa memperdulikan perutnya yang mulai tidak nyaman. Jung Soo menurunkan kaca mobilnya dan mencoba membujuk Eun Kyo.
“Yeobo, Yeobo, tolong jangan seperti ini. Kau membuat orang khawatir.” Ujar Jung Soo dengan nada selembut mungkin agar tidak membuat Eun Kyo emosi. Eun Kyo berhenti dan menatap Jung Soo tajam.
“Aku hanya ingin sendiri.” Eun Kyo berbalik arah menuju rumahnya. Jung Soo keluar dari mobil setelah ia menghentikan mobilnya, dan mencengkram tangan Eun Kyo kuat, membuat Eun Kyo tertahan seketika. Jung Soo meulai emosi menghadapi sikap kekanak-kanakan istrinya. Jika saja Eun Kyo tidal hamil besar, lelaki itu pasti sudah membopongnya dan memaksanya pulang.
“Jangan sentuh aku.” Eun Kyo mencoba melepaskan tangannya sekali lagi, tapi kali ini dia tidak berhasil. Cengkraman Jung Soo lebih kuat.
“Kita pulang.” Ujar Jung Soo dengan nada dingin, membuat Eun Kyo sidikit terkejut, ini kali kedua Jung Soo marah. Jung Soo sedikit menyeretnya ke mobil dan membawanya pulang. Sesampainya dirumah, Eun Kyo langsung membuka pintu dan berlari kecil masuk kedalam rumah tanpa sempat Jung Soo menahannya. Jung Soo menghela nafas berat dan berkacak pinggang. Mungkin kali ini akan lebih sulit menghadapinya.

Eun Kyo berjalan melewati Minho dan Rae Na yang sedang bermain dengan Ryu Jin. Eun Kyo tidak memperdulikan mereka dan terus berjalan menuju kamarnya lalu membanting pintu  dengan keras. Membuka pintu kamar mandi dan mengisi bath-tub dengan air hangat lalu masuk kedalamnya lengkap dengan baju dan cardiagan yang dikenakannya. Eun Kyo mendekap tubuhnya sendiri. Pikirannya kacau, dan dia tidak bisa mengerti dirinya sendiri. Yang dia inginkan hanya Ryu Jin, dan sampai saat ini dia masih tidak bisa memahami dirinya kenapa dia begitu menginginkan Ryu Jin.
“Yeobo, kau di dalam?” Jung Soo mengetuk pintu kamar mandi. Eun Kyo menutup telinganya, airmata terus menetes di kedua pipinya. Jung Soo duduk di depan kamar mandi dan memainkan jarinya di lantai dan menimbulkan suara decitan.
“Aku tau kau takut.” Ujarnya sambil terus memainkan jarinya. “Tapi dengan Tae Jun, mungkin kita bisa bernegosiasi dengannya.” Jung Soo menoleh kearah pintu yang dia sandari, masih tertutup rapat.

Jung Soo’s POV

Aku duduk didepan pintu kamar mandi. Dia tidak menjawab pertanyaanku, juga tidak bersuara sama sekali. Aku semakin bingung begaimana menghadapi Eun Kyo yang mulai diluar kendali, dan penyebabnya tidak lain adalah bocah kecil itu. Aku mencoba mengajaknya bicara tapi dia sama sekali tidak menggubrisku. Hanya bisa berharap dia tidak melakukan hal yang membahayakan bayinya.
“Appa.” Seseorang berseru padaku, aku menoleh kearah suara. Ryu Jin. Anak itu membawa mainan ditangannya, sebulan lalu aku belikan. Saat itu dia sangat senang pergi bersamaku ke toko mainan, hanya kami berdua. Aku bangkit dan menghampirinya.
“Wae?” aku menggendongnya dan merebahkannya di tempat tidur. Tubuhku berada diatasnya, kutahan tubuhku agar tidak menghimpitnya dengan meletakkan sikuku di samping tubuh kecilnya menopang tubuhku. Aku menggelitik perutnya. Gelak tawa menggema ke seluruh kamar.
“Appa, geli.” Dia mencoba menghindari gelitikanku. Anak ini benar-benar luar biasa. Aku menghentikan gelitikanku diperutnya dan memandanginya dengan seksama. Benar-benar luar bias, dan aku tidak habis pikir, bagaimana mungkin Tae Jun meninggalkannya di taman. Lagipula, Tae Jun belum menikah, bagaimana mungkin dia bisa punya anak?
Aku mencium pipi kenyal Ryu Jin berkali-kali. Anak itu terlihat senang namun juga bingung. “Ryu Jin~a, kau mencintaiku? Eoh?” Ryu Jin terlihat bingung dengan pertanyaanku, dia memainkan bajuku dan memilinnya, persis seperti Eun Kyo. Meskipun anak ini bukan anak kami, tapi kebiasaannya, persis sekali seperti Eun Kyo. Anak itu turun dari tempat tidur dan meninggalkanku. Aku menoleh ke kamar mandi. Sampai kapan dia bertahan di dalam sana? Aku berjalan mendekati kamar mandi dan mengetuk pintunya.
“Yeobo, sampai berapa lama lagi?” tidak ada jawaban darinya. Aku kembali mengetuk pintunya dan meraih gagang pintu, lalu membukanya. Tidak terkunci. Aku masuk kedalamnya dan mendapati Eun Kyo tertidur dalam bath-tub yang terisi setengahnya. Aku mendekatinya dan mengangkat tubuh besarnya. Salah-salah ini bisa membunuhnya. Perlahan dia membuka matanya.
“Turunkan aku.” Dia mencoba turun dari gendonganku. Aku tidak ingin memaksanya.
“Ganti bajumu, nanti sakit.” Aku membuka beberapa kancing bajunya, namun dia menahan tanganku. Kutarik kasar tangannya dan membuka bajunya, dia diam saja. Mengeringkannya dengan handuk dan memberinya baju ganti.
“Aku akan kembali ke kantor, kau tolong jangan berbuat macam-macam yang membahayakan dirimu, ara?” aku membelai pipinya lembut tapi tanganku hanya mengambang di udara karena dia langsung menghhindar dan mundur beberapa langkah. Aku melangkah mendekatinya.
“Akan aku bicarakan bersama Tae Jun hari ini.” Kuraih tubuhnya kupeluk erat. Dia tetap terpaku tidak bergeming dari posisinya.
“Kyo~ya, tolong jangan membuatku khawatir.” Aku menjajarkan wajahku tepat didepan wajahnnya. Wanita ini, aku benar-benar tidak ingin kehilangan sosoknya. Melihatnya seperti ini membuatku bingung harus berbuat apa.
“Mianhae Oppa, aku terlalu berlebihan.” Dia menghindari tatapanku dan melangkah keluar kamar mandi. Aku hanya bisa terpaku melihat sikapnya yang seperti ini, ini bukan dirinya, meski itu memang dirinya jika sedang ada masalah, namun aku tidak ingin dia yang seperti ini. Aku mengambil ponselku dan menekan sebuah nama di kontak ponselku.
“Aku ingin bicara denganmu, sekarang. Aku tunggu kau di restoranku, kamar 25.” Tanpa basa basi aku langsung meminta Tae Jun untuk bertemu dan tanpa sempat dia mengiyakan.

***
Aku menunggunya dengan resah, beberapa kali aku berdiri dan berjalan mengitari meja. Belum ada tanda-tanda dia akan datang. Aku melepas jas yang melekat ditubuhku dan meletakkannya di sandaran kursi. Memandang kearah luar jendela kaca dan memandang orang-orang yang sedang berlalu-lalang. Tiba-tiba pintu bergeser dan Tae Jun sudah ada di hadapanku. Aku terpaku sejenak memandangnya, bingung harus mengatakan apa nantinya padanya.
“Silakan duduk.” Aku mempersilakannya duduk dan dia duduk, tersenyum sinis padaku.
“Kau mau pesan apa?”tanyaku berbasa-basi padanya. Tidak menyangka jika semua masalah ini bermuara padanya, orang yang hampir aku lupakan karena dia jarang hadir di acara keluarga.
“Aku tidak ingin pesan apapun.” Wajahnya tidak terlalu ramah seperti beberapa saat ynag lalu, apa yang sedang direncanakannya?
“Mengenai Ryu Jin..” aku menatap matanya, tanganku asik memainkan sendok kecil pengaduk kopi untuk menghilang kegugupannnya. “Benar dia anakmu?” tanyaku hati-hati. Tae Jun tersenyum dan menertawakanku.
“Jika dia benar anakku, memangnya kenapa Hyung?” dia menatap sinis padaku melipat tangannya di dada dan bersandar dikursi. Kaki kanannya bertopang pada kaki kirinya. “Kau takut aku mengambilnya?” lanjut Tae Jun, senyum sinisnya kembali mengembang. “Dia memang anakku, dan aku akan mengambilnya dari kalian, dia membutuhkanku, orang tuanya.” Aku hanya bisa menggenggam erat sendok yang dari tadi aku gunakan untuk mengaduk kopi meski kopinya sudah tidak perlu diaduk.
“Bisa kami saja yang merawatnya?” Tanyaku hati-hati. Tae Jun menatapku dan tertawa. Tae Jun, ini bukan seperti Tae Jun yang aku kenal.
“Hyung, aku tidak akan berbasa-basi denganmu.” Tae Jun mendekatkan wajahnya ke meja, dan menopang wajahnya dengan kedua tangannya. “Kau boleh pilih satu dari dua tawaran yang aku berikan. Tawaran pertama.” Dia bengkit dari duduknya dan berdiri di belakang kursi yang aku duduki. “Aku mengambil Ryu Jin tapi kau akan menerima istrimu mati perlahan.” Aku berdiri, ingin rasanya aku memukulnya namun aku tahan. Tanganku mengepal dan menggenggam dengan erat. “Atau… Kau menyerahkan keduanya padaku, tapi setidaknya kau bisa melihat mereka baik-baik saja.” Aku mencengkram kuat sendok yang dari tadi ada ditanganku, rasanya oksigen tiba-tiba menipis. Apa yang dia katakan? Menyerahkan keduanya? Itu sama saja mengambil hidupku.
“Bagaimana, Hyung?” wajahnya tepat dibahuku.
“Aku tidak bisa.” Kulangkahkan kaki untuk keluar. Meninggalkannya untuk membuang amarahku yang memuncak mendengar semua yang dia bicarakan.
“Ijinkan aku sebentar saja memiliki mereka Hyung.” Perkataan Tae Jun membuatku terhenti. Aku berbalik dan mengepalkan tanganku dan menerjang tubuhnya mendorongnya hingga terhimpit di dinding.
“Apa malsudmu?” tanyaku dingin sambil menatap wajahnya. Dia balas menatapku dengan tajam. Aku mencengkram kuat kerah bajunya.
“Kau mengambilnya dariku.” Ucap Tae Jun. “Dia yang aku inginkan sepuluh tahun terakhir, dan kau dengan mudah mengambilnya. Aku berjuang mendapatkannya, tapi kau dengan mudah membuatnya jatuh cinta. Kau merebutnya dariku!” ujar Tae Jun panjang lebar. Aku melepaskan cengkramanku dan meninggalkannya untuk kedua kalinya.
“Sebulan, sebulan saja, biarkan mereka tinggal bersamaku.” Lanjutnya, kembali aku terdiam, bodohnya aku tidak bisa mengacuhkan semua tawarannya. “Sebulan saja, jika aku bisa membuatnya jatuh cinta padaku, aku akan tetap melepasnya, sebulan saja.” Tawarnya lagi.
“Jika dia tidak mencintaimu?” sebulan? Waktu yang sangat mungkin membunuhku.
“Jika dia tidak mencintaiku dan aku tidak bisa membuatnya mencintaiku, aku akan emnyerahkan keduanya, kalian bisa mengadopsinya.” Ujar Tae Jun. “Aku berjanji.” Aku berbalik padanya.
“Jika Eun Kyo tidak mau?”
“Aku yakin dia pasti mau. Besok aku akan mengambil Ryu Jin, kau suka atau tidak.” Dia meninggalkanku mematung sendirian. Aku duduk dengan lunglai. Sebulan? Apa dengan diam saja, itu artinya aku menyetujui perjanjian konyol itu? Dan sekaang apa yang harus aku lakukan?

***
Berjalan gontai menenteng jas yang aku lepas. Ini sudah malam, merekapasti sudah tidur. Aku rasanya tidak ingin pulang dan mendapati wajah putus asanya lagi. Aku menoleh ke ruang tengah. Rae Na tertidur pulas di sofa. Tumben gadis ini tidur cepat, aku menghampirinya.
“Rae Na~ya. Ireona..” aku menepuk pelan pipinya. Gadis ini mulai membuka matanya. Mengusap matanya.
“Oppa..” suaranya serak, dia bangkit dan duduk disofa.
“Tidur dikamar, jangan disini, dingin.” Dia menurunkan kakinya dan mencoba berdiri, namun kesadarannya masih belum sepenuhnya menghinggapinya.
“Onniemu mana? Ryu Jin?” tanyaku penasaran. Sejak tadi keadaan rumah begitu sepi membuatku sedikit tidak biasa. Biasanya Ryu Jin berlarian menyambutku, Eun Kyo pasti meminta ciumanku, tapi hari ini? Sepi, senyap tak ada suara, hanya suara tv yang terdegar tidak jelas apa yang sedang mereka bicarakan di dalam sana.
Aku membuka kamarku dan Eun Kyo juga Ryu Jin tertidur diatas tempat tidur dengan posisi Ryu Jin memeluk Eun Kyo, meski terlihat kesusahan memeluk tubuh Eun Kyo yang besar di bagian perut, anak itu tetap berusaha memeluknya. Aku melepas kancing bajuku satu  persatu dan pergi ke kamar mandi, mengguyur tubuhku dengan air hangat. Masih terngiang ucapan Tae Jun tadi.
“Oppa, kau di dalam?” suara Eun Kyo, itu suaranya. Dia mengetuk pintu dengan pelan. Aku berjalan membukakan pintu kamar mandi.
“Wae~yo?” aku sudah memakai handuk dan berjalan menuju lemari pakaian.
“Sudah aku pilihkan pakain untukmu.” Dia menyerahkan baju ganti untukku, aku mengambilnya lalu memakainya.
“Kau sudah tidur, kenapa bangun lagi? Aku membangunkanmu?” kupeluk tubuhnya dari belakang dan mendorongya berjalan ke tempat tidur. “Sebentar aku ambil kasur kita.” Bisikku di telinganya, namun dia menahan tanganku agar tetap memeluknya.
“Tidak perlu, aku ingin tidur bersama Ryu Jin saja..” ujarnya lirih. Aku menggurungkan niatku melepaskannya. Kuletakkan daguku di bahunya.
“Sudah minum obatmu?” dia mengangguk. “Susu?” dia mengangguk lagi. “Sekarang tidur saja.” Aku menuntunnya untuk berbaring. Dia penurut kali ini, mungkin sudah lelah dengan keras kepalanya sendiri. Perlahan dia tertidur, dan memeluk tanganku. Nafasnya teratur meski terlihat berat, mungkin karena perutnya yang menekannya. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpanya, bagaimana mungkin aku bisa menyerahkannya padamu Tae Jun~a… tapi aku masih takut menerka bagaimana hidupnya jika kau mengambilnya dari kami Park Tae Jun.

***
Terbangun dari mimpi, dan melihat matahari sudah lebih dulu terjaga. Aku memandang sosok yang terbaring disebelahku, dia masih tidur dengan lelap memunggungiku. Aku menopang kepalaku menengoknya dengan tanganku. Yeobo.. Sampai kapanpun aku ingin tetap seperti ini, didekatmu. Nafasnya masih teratur berhembus. Bernafas dalam ruangan yang sama.
“Yeobo.. Saranghae.” Kubisikkan kata yang jarang aku ucapkan, dan diapun sangat jarang mengatakannnya. Tapi aku tau dia mencintaiku, dan aku lebih mencintainya.
“Eungh..” lenguhan Ryu Jin membuatku menoleh padanya. Perlahan anak itu membuka matanya, mengusapnya dengan kedua tangannya.
“Appa..” sapa Ryu Jin dengan suara serak. Dia bangkit dari tidurnya dan menyentuh Eun Kyo, tapi dengan cepat aku menahan tangannya.
“Ssttt, biarkan Eomma tidur, kajja, kita mandi bersama.” Aku mengangkat tubuh kecil Ryu Jin agar tidak membangunkan Eun Kyo.
“Oppa..” tiba-tiba Eun Kyo bangun dan memanggilku, aku dan Ryu Jin yang hendak ke kamar mandi terhenti sejenak dan bersamaan menoleh padanya. “Mau kemana?” tanyanya mencoba mengankat tubuhnya sendiri dengan susah payah.
“Kami mau mandi, mau ikut?” tawarku. Dia tersenyum padaku, juga Ryu Jin. Senyum yang akhir-akhir ini jarang sekali terlihat diwajahnya.
“Aku tidak akan mengganggu acara para lelaki.” Dia berjalan meninggalkan kamar. Aku dan Ryu Jin menggidikkan bahu, lalu meneruskan berjalan menuju kamar mandi.

Eun Kyo’s POV

“Yeobo.. Saranghae.” Aku merasakan suaranya ditelingaku. Aku sudah bangun sejak tadi namun malas membuka mataku. Aku sedikit menarik bibirku membentuk senyuman kecil yang tidak mungkin disadarinya. Dia memperhatikanku, aku bisa merasakannnya dari sudut mataku. ‘Nado Saranghae, Oppa.’ Aku menjawabnya dalam hati. Oppa, hidup bersamamu adalah perubahan besar dalam hidupku. Aku punya keluarga, tidak lagi membanting tulang sendirian. Aku dijaga dengan baik, tidak lagi mengabaikan diriku sendiri. Oppa, dikehidupan selanjutnya dan selanjutnya hingga berkali-kali selanjutnya, aku ingin tetap bersamamu, ingin tetap menjadi orang yang kau cintai sepanjang waktu. Tidak ingin ada yang lain. Dan ingin tetap selalu menjadi istrimu, mendampingimu, dilindungimu.
“Eungh..” Ryu Jin juga bangun dari tidurnya. Aku juag membuka mataku perlahan. “Appa..” dia memanggil Jung Soo Oppa. Dia bangkit dari posisi tidurnya dan menoleh padaku. Ingin menyentuh pipiku namun Jung Soo Oppa menahannya. Aku memejamkan mataku kembali agar Oppa tidak melihatku bahwa aku sudah bangun.
“Ssttt, biarkan Eomma tidur, kajja, kita mandi bersama.” Oppa mengangkat Ryu Jin dengan hati-hati, Ryu Jin masih memandangiku hingga dia menghilang dari mataku dan meninggalkanku.
“Oppa..” aku berbalik dan bangkit mengangkat tubuhnya. Aish! Kepalaku terasa sangat berat, sepertinya aku terlalu banyak menangis akhir-akhir ini. Perutku tiba-tiba terasa sangat lapar. “Mau kemana?” kupandangai ayah dan anak yang ada dihadapanku.
“Kami mau mandi, mau ikut?” aku tersenyum mendengar tawarannya. Entahlah, hari ini aku ingin lebih banyak tersenyum dan makan pastinya, perutku sudah benar-benar tidak bisa kompromi.
“Aku tidak akan mengganggu acara para lelaki.” Aku berjalan menuju pintu dan membukanya lalu melangkah menuju dapur. Bau harum masakan Min Young membuat perutku semakin bergejolak, aku menghampirinya.
“Harum sekali, aku mau makan Min Young~a.” Aku duduk setelah mengambil piring lengkap dengan sendok.
“Kau lapar?” tanya Min Youn menoleh padaku disela acara memasaknya. Aku mengangguk tegas, mengisyaratkan aku memang benar-benar lapar.
“Sepertinya kau sangat lapar Onnie.” Rae Na mengambil minuman dari dalam lemari es dan meminumnya.
“Tentu saja, kau lupa kapan dia terakhir makan, Onnie~ya?” Min Young melirik Rae Na. Rae Na hanya tersenyum mengejekku. Aku menjadi merasa yang paling muda diantara mereka, karena aku tau akhir-akhir ini aku terlalu kekanak-kanakan, aku menyadari hal itu.
“Itu sudah beberapa hari yang lalu.” Jawab Rae na melirikku, lalu dia meninggalkan aku sendiri yang menunggu makananku.
“Makanannya sudah siap Onnie~ya, susumu juga.” Min Young menghidangkan beberapa masakan Jepang kesukaanku. Teriyaki, ebi, yakiniku. Hem, benar-benar menggugah selera makanku. Aku segera menyantap sarapan pagi yang lebih pantas disebut menu makan siang.
“Sudah mau makan?” bisik Oppa pada Min Young, aku berusaha untuk tidak mendengarkannya dan fokus menghabiskan makananku. Samar terdengar mereka membicarakanku.
“Ryu~ya, hari ini kita main apa?” aku mendekati Ryu Jin baru saja ingin menyantap makanannya. Dia menggeser duduknya dariku.
“Yak! Kenapa menjauh dari Eomma?” teriakku, dengan cepat Oppa menenangkanku. “Oppa, wae? Kenapa anak itu menjauhiku?” Jung Soo Oppa hanya tersenyum, menyeka mulutku dengan tissue yang ditariknya dari kotak diatas meja makan.
“Karena kau terlihat seperti monster yang akan menerkamnya, aum!” Oppa mencium bibirku sekilas, menyapu bibirku dengan lidahnya, aku refleks memundurkan tubuhku. Memegang bibirku, rasanya seperti ciuman pertama dengannya.
“Wae? Mau lagi?” dia mendekatka wajahnya dan aku menutup mulutnya dengan tanganku.
“Andwae! Sekarang kau berangkat bekerja saja!” aku mendorong tubuhnya dan memalingkan wajahku.
“Ryu Jin~a, ayo kita main saja.” Aku meraih tangan kecil Ryu Jin dan juga menyambar makanannya membawanya ke ruang tengah. Memberinya makan sambil menonton televisi. Dia berlari kekamar, aku mengikutinya.
“Aku berangkat dulu, Yeobo.” Jung Soo Oppa meraih pinggangku, menahanku untuk berjalan. “Morning kiss sekali lagi.” Tanpa banyak bicara dia langsung menyambar bibirku. Mengecupnya sesaat. Aku terpaku, ciumannnya berbeda, atau aku yang sudah terlalu lama merajuk padanya? Saat dia melepaskan ciumannya, aku masih merasa berbeda, kupegang kembali bibirku. Rasanya memang benar berbeda, bola mataku bergerak perlahan mencari matanya, saat kedua mata kami beradu, rasanya mukaku memanas. Aish! Mengapa jadi seperti anak remaja seperti ini?
“Gwaenchana?” tanya Oppa, ada nada kecemasan terdengar dari gelombang suaranya. Aku menggeleng cepat dan menghembuskan nafasku, mengeluarkan rasa gugup.
“Aku, aku, aku mau, ini, makanan Ryu Jin.” Aku mencoba beranjak darinya meski sangat sulit untuk menyeret kakiku, rasanya ingin selalu didekatnya.
“Chankamman, kau mau sesuatu? Saat makan siang?” tanyanya sambil menyentuh daguku.
“Em… aku mau, mau apa?” aku melirik padanya. Dia menunggu jawabanku. “Mau, terserah saja, yang bisa dimakan.” Ujarku akhirnya, aku juga bingung ingin apa. Ingin disentuh? Aish! Akhir-akhir ini aku memang sangat labil. Kemarin aku masih ingat kemarahannya padaku, aku juga sangat marah tapi tidak tau apa sebabnya, tapi sekarang rasa itu hilang tak berbekas saat aku membuka mataku tadi pagi. Semua itu bagaikan sebuah mimpi yang berlalu dari tidurku, tak berbekas seperti asap yang memudar dimakan ruangan. Seperti itulah kira-kira kemarahanku padanya.
“Arasseo, saat makan siang, aku akan membawakan kau sesuatu.” Aku membenarkan dasinya dan merapikan jasnya. Berjingkit perlahan, meski sulit akhirnya bibirku menyentuh bibirnya. Kulumat perlahan dan melepaskannya.
“Ne, aku akan menunggumu.” Aku berjalan mengantarkannya ke depan pintu sambil memegang mangkuk makanan Ryu Jin.
“Eomma…” suara Ryu Jin berteriak darii dalam kamar terdengar samar. Aku menoleh ke dalam.
“Sepertinya dia sudah lapar.” Oppa masuk kedalam mobil dan menghilang dibalik pagar. Aku masih terpaku memandangi kepergiannya. Saat tersadar, aku cepat-cepat berlari kecil kedalam kamar. Saat aku memasuki kamar, aku kembali terpaku. Anak kesayanganku duduk dengan manis disofa depan jendela sambil memegang cemilan besar.

3

“Kenapa makan itu sayang? Ini makananmu.” Aku menyuapinya tapi mendapat penolakan darinya. Aku menghela nafas.
“Eomma, aku mau makan ini saja.” Dia menengadah memandangku, memelas. Sesaat aku terpaku, aku tidak ingin kehilangan anak ini. Matanya, hidungnya, bibirnya, benar-benar membuatku jatuh cinta.
“Tapi makan ini juga, ne?” awalnya dia menggeleng, namun setelah tidak bisa menghindar, akhirnya dia mau memakannya.
“Anak pintar, Anak Eomma.” Aku duduk disampingnya. Dia menyapu mulutnya dengan punggung tangannya.
“Jangan pakai tangan sayang, ambil tissuenya.” Dia turun dari sofa dan mengambil tissue basah miliknya diatas meja dekat tempat tidur.
“Susu.” Dia mengambil sebotol susu siap minum diatas meja, dan mengarahkannya padaku.
“Minuum saja.” Dia menusuk sedotan pada minumannya lalu meminumnya.

2

“Ayo sini duduk bersama Eomma.” Aku menepuk sofa disampingku. Dia berlari kecil dan naik ke sofa. Aku menyuapinya lagi dengan makanan, dia memakannya.
“Ryu Jin~a, saat aku ditanya siapa Eommamu, kau akan menjawab apa?” aku berbicara tanpa menatapnya. Dia tidak mendengarkanku, sibuk dengan mainannnya kali ini, aku beranjak dari sofa.
“Ryu Jin~a, aku adalah ibumu.” Aku duduk dilantai tepat berhadapan dengannya. “Aku adalah Eommamu, kau mengerti? Jangan percaya jika ada orang lain ynag menyebutmu bukan anakku, ara?!” anak itu mengangguk, entah mengerti atau hanya asal mengangguk. “Aku, Park Eun Kyo, adalah ibumu.” Aku tidak kuasa membendung cairan itu dari mataku, setetes lolos dari pertahananku. “Hanya Park Eun Kyo, tidak ada yang lain Ryu Jin~a, hanya aku.” Suaraku bergetar, dia menoleh padaku, aku menatapnya nanar. Bocah itu menyapu airmata yang mengalir dpipiku dengan jari-jari kecilnya. Aku menangkap tangannya.
“Kau harus ingat, ne? Park Eun Kyo, satu-satunya ibumu.” Anak itu masih sibuk menghapus airmataku yang perlahan turun setes demi setetes.
“Eo, Eomma.” Aku menggenggam tangan kecilnya dan mengecupnya. Dia tersenyum, senyumannnya meberiku energi yang begitu besar. Memilikimu dan Appamu adalah anugrah terbesar dalam hidupku Ryu Jin~a… dan sebentar lagi energiku akan bertambah dengan hadirnya bayi kecil dalam perutku.
“Sekarang peluk Eomma.” Anak itu turun dari sofa dan memelukku. “Ugh, kau sudah besar, sebentar lagi sekolah, ne?” dia mengangguk.
“Sekarang ayo habiskan makananmu, setelah ini baru boleh bermain.” Aku kembali menyuapinya dan dia mengunyahnya. Ryu Jin sudah tidak terlalu rewel lagi.
“Eomma, saranghae.” Ujarnya, aku menoleh padanya.
“A,aigoo, darimana kau belajar semua itu Ryu Jin~a?” tanyaku bingung sambil mengarahkan wajahnya dari mainan dan menatapku.
“Appa.” Jawabnya singkat lalu melanjutkan bermain dengan mainannya. “Ppopo.” Dia mengarahkan bibirnya padaku. Omo, dia benar-benar seperti Oppa! Aku mencium bibirnya dan dia tertawa dalam ciumanku, kami tertawa bersama.

4

***
“Ryu Jin~a… Appa kembali.” Suara teriakan Oppa membangunkan Ryu Jin, dia berhati-hati melewatiku dan berlari kencang setelah turun dari tempat tidur.
“Appa…!” balasnya berteriak. Aku mencoba bangkit, yak, baru satu jam anak itu tertidur. Sekarang sudah harus bangun.
“Lihat apa yang Appa bawa untukmu.” Oppa mengeluarkan sesuatu dari dalam kotak. “Tada..” sebuah robot. Ryu Jin tertawa senang sambil melompat.

robosapien

“Yey yey yey..!” dia masih melompat dan dihentikan oleh Oppa.
“Sini biar Appa ajari.” Mereka asik bermain sedangkan aku hanya memperhatikan mereka duduk disofa sambil memegang kepalaku, masih terasa pusing. Oppa menoleh padaku.
“Kau sakit?” tanyanya menurunkan Ryu Jin dari pangkuannya dan menghampiriku. Aku hanya menggeleng. Rae Na melintas di depan kami tanpa memperdulikanku.
“Rae Na~ya, aku ingin bicara.” Oppa menyapa Rae Na yang duduk disamping Ryu Jin dan mulai merecoki Ryu Jin dan mainannya.
“Noona…” teriak Ryu Jin saat Rae Na mengambil mainan barunya, Ryu Jin berusaha mengambil mainannya dari tangan Rae Na namun dia menjauhkannya dan mengangkatnya keatas tanpa melihat pada Ryu Jin.
“Wae~yo, Oppa? Katakan saja.” Ujar Rae na sambil terus mengangkat mainan itu tinggi-tinggi. Ryu Jin masih berusaha menggapainya.
“Rae Na! Berikan padanya.” Aku menengahinya. Rae Na masih belum menyerahkannya.
“Eomma….” rengek Ryu Jin sambil berlari ke pangkuanku. Aku menghela nafas dan menatap Rae Na tajam.
“Tukang pengadu!” Rae Na menyambar pipi Ryu Jin lalu menyerahkan robot itu pada Ryu Jin. Dia kemudian mengikuti Oppa ke ruang tamu.
“Noona, nappeun!” Ryu Jin melirik tajam pada Rae Na. Bibirnya memberengut, menyandarkan tubuhnya di perut besarku. Aku membelai rambutnya.
“Dia hanya bercanda Ryu Jin~a, jangan marah, kau jelek saat marah!” aku menangkupkan tanganku dikedua pipi kenyalnya. Dia tersenyum.
“Kau memang tukang pengadu.” Sekali lagi Rae Na mendaratkan ciumannya di pipi Ryu Jin. Anak itu menghapusnya dengan menggosokkan tangannya pada pipi bekas ciuman Rae Na.
“Aaaaaaaaa! Noona!” teriak Ryu Jin tidak terima. “Eomma..” dia masih menggosok pipinya. Aku hanya bisa menggeleng melihat tingkah mereka berdua.
Cup!
Aku mencium bekas ciuman Rae Na dipipnya. “Sudah tidak ada lagi bekas ciuman Noonamu.” Dia masih memajukan bibirnya sambil mengutak-atik robot yang yang ada ditangannya.
“Ne, dan juga kau sangat pemarah.” Cup! Saat melintas Rae Na masih saja menggoda Ryu Jin dengan ciumannya.
“Eomma….!” Ryu Jin menggosokkan tangannya lagi di pipinya.
“A, aigoo.. Ryu~ya, kau itulaki-laki, tidak seharusnya merengek seperti ini.” Aku membantunya mengelus pipi. “Sini, biar Eomma cium.” Ryu Jin menunjuk bekas ciuman Rea Na.
“Disini? Disini? Disini?” aku menciumi semua wajahnya dengan gemas.
“Ahahahahaha, Eomm!” protesnya terhenti saat aku mencium sudut bibirinya. “Ma..! geli! Cisisiisisisiss” dia mendesis sat aku cium.
“Ramai sekali disini.” Oppa tiba-tiba menghampiri kami dan bergabung duduk disampingku. Ryu Jin berpindah ke pangkuan Oppa dan kembali memainkan robot itu dengan Appanya. Aku ingin selamannya seperti ini Tuhan.

Rae Na’s POV

Haha, aku senang sekali menggoda Ryu Jin. Anak itu beberap hari terakhir kebanjiran mainan dari Jung Soo Oppa. Hufh, dimanja sekali anak itu akhir-akhir ini. Tapi yang sedikit berubah adalah Onnie. Mentalnya benar-benar labil, tapi aku tidak ingin menyinggungnya, tapi yang kasian adalah Jung Soo Oppa, kewalahan mengurusi bayi besar yang kadang-kadang bertingkah aneh. Aku duduk diasamping Ryu Jin yang sedang bermain dengan sebuah robot, sepertinya mainan baru, aku mengambilnya dan saat dia ingin merebutnya dariku, kuangkat mainan itu keatas.
“Noona..” tubuh kecil Ryu Jin melompat ingin mengambil mainan itu. Tubuh kecilnya lucu sekali menggapai mainan yang ada ditanganku.
“Rae Na~ya, aku ingin bicara.” Jung Soo Oppa berbicara padaku, namun aku masih asik mempermainkan Ryu Jin.
“Noona…!” anak itu mulai protes. Aku masih senang mempermainkannya,  tersenyum mengejeknya.
“Wae~yo, Oppa? Katakan saja.” Ryu Jin berusaha menggapainya dengan melambungkan tubuhnya tinggi-tinggi, tapi tetap sia-sia.
“Rae Na! Berikan padanya.” Onnnie mulai membelanya, tapi aku masih ingin melihat wajah kesalnya, lucu sekali.
“Eomma….” bocah itu mulai merengek pada ibunya, berlari kepangkuan orang yang selalu membelanya.
“Tukang pengadu!” Kucium pipinya dengan cepat. Dia terlihat semakin kesal. Kuserahkan mainan padanya, lalu berjalan mengikuti Oppa ke ruang tamu dan duduk dihadapannya.
“Oppa, kau membuatku takut.” Wajah tegangnya membuatku cemas, lalu dia tertawa keras. “Oppa, jika seperti itu semakin menakutkan.” Aku mulai menjauh.
“Yak, aku belum gila!” protesnya, lalu menghentikan tawanya.
“Memangnya aku menyebutmu gila?” tanyaku, dia menarik rambutku.
“Ini mengenai perusahaan.” Dia bersandar dikursi, aku mengikutinya bersandar.
“Kenapa memangnya dengan perusahaan?” tnyaku penasaran.
“Appa ingin kau membantunya di perusahaan.” Jawab Oppa santai. Eoh? Jadi gosip itu benar? Tapi tunggu, Oppa belum selesai bicara.
“Minimal kau belajar dulu, sebelum nantinya mungkin menggantikan Appa.” Ujarnya lagi, aku semakin terpaku dibuatnya.
“Tapi aku belum lulus.” Jawabku santai. “Wisudaku masih satu bulan lagi, Oppa.”
“Aku bilang kan belajar, tidak harus menunggumu lulus, tapi nanti kita bicarakan bersama Appa, untuk leih jelasnya, aku hanya menyampaikannya, agar nantinya kau sudah tidak terlalu terkejut jika seandainya nanti Halmeoni memaksamu.” Aku bangkit, ingin mengambil minum.
“Mau kemana? Aku belum selesai.” Tanya Oppa menoleh padaku.
“Aku mau mengambil minum.” Maninggalkannya ke ruang tamu, melewatiRyu Jin dan Onnie, anak itu masih kesal saat aku cium tadi, aku tersenyum melihat tingkahnya. Saat aku kembali dari dapur dan melewati mereka lagi, aku kembali menyambar pipi Ryu Jin.
“Kau memang tukang pengadu.” Anak dengan menggosokkan tangannya pada pipinya bekas ciumanku, haha, anak ini, bukankah dia sering dicium orang tuanya? Eoh? Kenapa sekarang bermasalah saat aku menciumnya?
“Aaaaaaaaa! Noona!” teriak Ryu Jin tidak terima. “Eomma..” dia masih menggosok pipinya. Tiba-tiba Onnie mencium bekas ciumanku..
“Sudah tidak ada lagi bekas ciuman Noonamu.” Dia masih memajukan bibirnya sambil mengutak-atik robot yang yang ada ditangannya.
“Ne, dan juga kau sangat pemarah.” Sekali lagi aku menciumnya lalu meninggalkannya membawa minumanku ke ruang tamu, terdengar Ryu Jin masih berteriak tidak terima.
“Kenapa lagi dengan mereka?” tanya Oppa. Dia membawa pulang berkasnya kali ini dan menandatangainya sebagian.
“Ah, kemarin, aku bicara dengan Tuan Choi, menanyakan hubunganmu dengannya.” Aku menoleh pada Oppa. Tuan Choi? Maksudnya Appanya Minho? Untuk apa dia membicarakanku? Dengan Oppa?
“Kau dilamar.” Ujarnya santai tanpa menoleh padaku, dan terus menandatangai berkasnya. Air yang tadinya ingin aku teguk, kini keluar dari mulutku, menetes dikedua sisi bibirku.
“Yak! Rae Na, hati-hati! Ini berkas penting!” teriak Oppa. Aku masih belum bisa mencerna apa yang dia katakan.
“Hahahahaha, ani, kami membicarakan tentang perjanjian kerjasama.” Aku emnoleh padanya. Menatapnya tajam. Aish! Oppa! Kau mempermainkanku! Aku melempar bantal padanya. Dia tertawa keras.
“Oppa! Shikkureo!” aku menutup mulutnya dengan bantal, dia menhindar. Dia masih tertawa keras, aish! Aku tidak bisa membayangkan bagaimana wajahku tadi, pasti sangat memalukan.
“Yak, ahahahahaha, tapi dia memang menanyakanmu, kapan bisa dilamar.” Ujarnya lagi.
“Oppa! Aku memukul kepalanya dengan keras menggunakan bantal. Aku berdiri dan meniinggalkannnya.
“Mau kemana?” tanya Oppa masih dengan tawa mengejeknya.
“Aku mau keluar.” Teriakku, aku menuju halaman, masih denganbaju rumahku, celana jeas belel dan kaos.
“Tapi aku belum mau keluar.” Jawabnya.
“Memangnya aku ikut denganmu?! NO!” terakku lagi dengan kesal.
“Arasseo, kau dijemput Minho.” Jawabnya menggodaku. Saat aku membuka pagar, aku tercengang, mobil yang biasanya menjemputku terparkir dengan manis. Minho? Mau apa dia kesini?
“Eodiga?” tanyanya, aku mendorong tubuhnya. Masih kesal dengan Oppa, dia etrlihat bingung, aku berjalan kaki, seperti Onnie semalam. Haha, whatever, yang pasti aku masih kesal dan tidak ingin kembali kerumah.
“Ya, ya, ya.. kau mau kemana?” Minho menarik tanganku, akumelepaskannya namun dia tidak membiarkanku.
“Mau kemana?” tanyanya lembut. Aku mendengus kasar dan mendecak kesal.
“Aku mau keluar.” Jawabku ketus padanya.
“Iya, tapi mau kemana?” tanyanya lagi.
“Terserah, dirumah menyebalkan.” Aku menarik tanganku, tapi Minho tetap tidak melepaskannnya dan mencengkramnya kuat.
“Arasseo, masuk dalam mobil.” Aku tidak bergeming saat dia mengajakku ke mobil. Dia menoleh padaku.
“Ayo.” Ajaknya, aku masih kesal, benar-benar kesal. Oppa! Bagaimana mungkin dia bisa mempermainkanku seperti itu? Minho mendorong tubuhku dan menekan bahuku menyuruhku masuk kedalam mobil.

Aku duduk dengan tenang disamping Minho, dia mengemudi tanpa mengatakan kata sepatahpun. Aku jug amalas menyapanya. Masih kesal dengan Oppa, cih! Apa dilamar? Dilamar? Aku belum siap untuk menikah.
“Mau kemana?” Minho memecahkan keheningan, dia melirikku ditengah kegiatannya mengemudikan mobil. Aku menghela nafas berat.
“Terserah saja, aku belum ingin pulang.” Jawabku, aku menekan tombol radio di depanku, mendengarkan music mungkin akan membuatku sedikti lebih tenang. Aku mencari beberapa lagu yang terdengar nyaman ditelingaku.
“Mau ke apartemenku?” tawarnya, aku menoleh padanya.
“Terserah saja.” Jawabku asal. Terserah dia saja, ke apartemennya juga tidak masalah, setidaknya aku bisa beristirahat sebentar. Tidak berapa lama, aku sudah sampai di depan pintu apartemen miliknya. Dia membuka pintu. Aku melepaskan sepatu sebelum masuk kedalamnya.
“Sudah lama tidak kesini kan?” serunya sambil masuk kedalam kamar. Aku berbaring di sofa dan menekan remote tv. Menonton tv mungkin bisa menghilangkan rasa kesalku.
“mau minum apa?” Tanya Minho. Aku tidak menjawab, sibuk focus dengan tv di depanku.
“Aku tidak suka diacuhkan.” Dia merebut remote yang ada ditanganku. “Kau mau minum apa?” tanyanya lagi.
“Terserah saja.” Aku tidak menghiraukannya.
“Lemon tea saja.” Dia berbisik ditelingaku, membuatku bingung, ada apa dengannya? Setelah pulang dari liburan, dia semakin aneh, bertidak menjijikkan. Aku tau dia sekarang sudah tidak sibuk lagi dengan tugas akhirnya, begitu juga denganku. Dia kembali dengan dua gelas minuman ditangannya.
“Kalau kita menikah, kita tinggal disini saja, atau dirumah?” dia menoleh padaku.
“Uhuk!” aku menepuk dadaku, rasanya aku tidak bisa menelan apapun, meskipun itu hanya seteguk air.
“Atau tinggal bersama Appa saja?” dia kembali menoleh padaku. Tadi aku tidak bisa menelan seteguk air, sekarang sama sekali tidak bisa menghirup udara.
“Tinggal bersama Onnie saja.” Jawabku asal. Membalikkan tubuhku. Menikah? Menikah? Aku? Yaish! Aku tidak pernah memikirkan itu sama sekali.
“Bersama mereka? Rumah itu sudah penuh, mau ditambah aku lagi?” Tanya Minho tidak percaya.
“Kalau begitu tidak usah menikah saja. Aku belum memikirkannnya.” Aku menutup telingaku dengan bantal sofa. Ternyata setelah lulus kuliah banyak harus dipirkan. Bekerja, aku jadi teringat apa yangdibicarakan Oppa sebelum meledekku tadi. Bekerja di tempat Appa juga menurutku tidak masalah. Tapi menikah? Belum ada dalam list rencanaku kedepan. Sama sekali.

Minho’s POV

Membicarakan menikah dengan Rae Na mempunyai kesenangan tersendiri bagiku. Jawabannya yang meluncur begitu saja dari mulutnya membuatku ingin tertawa.entah apa yang ada dalam benak gadis yang sedang duduk dihadapanku ini.
“Kau menghalangiku Choi Minho, aku ingin menonton tv.” Dia mencoba menyuruhku mengingkir dangan mengibaskan tangannya di depanku. Aku semakin menghalanginya.
“Choi Minho!” teriaknya marah, baru aku beranjak dari hadapannya.
“Kau sedang menstuasi? Eoh? Sejak tadi pemarah sekali!” aku meninggalkannya menuju dapur. Membuka lemari es. Hufh, beberapa hari sibuk sampai tidak bisa memikirkan persediaan makanku, kosong melompong.
“Rae Na~ya, persediaan makanan habis, kau mau makan apa? Pesan diluar saja.” Teriakku dari dapur, dia tidak menjawab. Aku membuang beberapa sayuran yang telah membusuk di dalam lemari es.
“Jagi?” tanyaku lagi dari dalam dapur, tetap tidak ada sahutan dari gadis itu. Aku berjalan menghampirinya, ck! Ternyata dia tertidur, pantas saja. Aku mendekatinya, dia sudah tertidur pulas. Aku duduk di dekat wajahnya, memandanginya dengan seksama. Wajahnya sangat berbeda saat dia tertidur,  tidak ada suaranya yang selalu ketus, begitu tenang. Sepertinya gadis ini kelelahan.
“Mengapa memandangku seperti itu?” suaranya terdengar tapi matanya tetap terpejam. Dia membuka matanya. Aku memberikan senyuman padanya.
“Kalau lelah, tidur di kamar saja.” Ujarku sambil bangkit dari duduk. Sebenarnya aku bangkit untuk menyembunyikan keterkejutanku karena dia bangun tiba-tiba.
“Aku tidur disini saja.” Ujar Rae Na memunggungiku mencoba tidur di sofa. Namun aku mengangkat tubuhnya. Dia sedikit berontak namun aku tetap mengangkat tubuhnya.
“Yak! Choi Minho, kau ini apa-apaan?” Rae Na mencoba turun dari gendonganku namun sia-sia, aku membuka pintu kamar dan menatapnya.
“Kau mau apa?” tanyanya sedikit mengambil sikap antisipasi saat aku meletakkan tubuhnya di tempat tidur. Aku mendekatinya dan merangkak diatas tubuhnya.
“Yak! Choi Minho!” dia mendekap tubuhnya sendiri. Sepertinya dia memang mengantuk hingga melawanpun dia tidak bisa. Aku mengecup bibirnya. Park Rae Na, semakin harri aku semakin ingin memilikimu seutuhnya.
“Tidur disini saja.” Aku bangkit dari tubuhnya dan turun dari tempat tidur, menoleh padanya san tersenyum.
“Kau lapar?” tanyaku padanya, dia tidak menjawab, memunggungiku, lagi. Park Rae Na, saat aku menikahimu, aku tidak akan membiarkan kau sedtikpun berpaling dariku. Tidak akan pernah.
Aku keluar dari kamarnya, lebih tepatnya adalah kamarku sendiri yang nantinya akan jadi kamarnya juga. Meninggalkannya beristirahat. Aku duduk di karpet tebal dan merebahkan tubuhku, menonton televisi. Tidak berapa lama aku mencari-cari channel untuk mengusir bosanku dan menghilangkan pikiran kotorku saat aku berdekatan dengan Rae Na tadi. Tiba-tiba samar terdengar suara dering telepon. Aku mencari-cari sumber suara itu. Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah ponsel yang tergeletak di sofa. Aku mengambilnya, tertera sebuah nama di layar ponsel layar sentuh itu. Aku ragu untuk mengangkatnya. ‘Yonggun’. Begitu namanya tertulis di layar. Junhyung, sampai kapan dia jadi bayang-bayangku? Eoh? Tidak lelahkah dia selalu berjalan dibelakang kami? Meski Rae Na terkadang terlihat senang bersamanya.
“Yeoboseyo?” aku akhirnya mengangkatnya dan mendekatkannya di telingaku.
“Minho?” tanyanya, aku tau dia juga terkejut, sama halnya dengan keterkejutanku saat dia menelpon Rae Na, kuliah sudah usai jadi untuk apa dia menghubungi gadisku lagi?
“Ne, wae? Mencari Rae Na? Dia sedang tidur, dikamarku.” Sengaja aku menyebut ‘kamarku’ biar dia tau Rae Na milikku. Meski terlihat kekanak-kanakan tapi aku hanya ingin di atau jangan sekali-sekali melirik milikku.
“Oh, ye.” Jawab Junhyung dari seberang sana, dia terdengar bingung harus berkata apa.
“Kau ada pesan untuknya?” tawarku. Dala hati terasa sekali kesalnya saat dia menelpon Rae Na. Apa dia sering melakukannnya? Dan Rae Na mengangkatnya?
“Ah, ani. Jika dia sudah bangun, bilang saja padanya aku menelponnya. Aku hanya khawatir, beberapa hari ini dia tidak membalas pesanku.” Jawab Junhyung. Bagus, harusnya kau sadar Junhyung~a, dan menjauhlah darinya!
“Ah, ye, nanti akan aku sampaikan.” Ujarku. Dia menutup telpon dan aku mengembalikan ponsel Rae Na e tempat semula. Sekarang perasaanku campur aduk.
“Dia tidak membalas pesannya? Cah! Yang benar saja!” aku melempar bantal dengan gusar. Ck! Kini aku yang tidak bisa istirahat. Aku berdiri dan berjalan kembali menuju kamar. Aku melihat Rae Na tertidur pulas. Aku duduk disampingnya. Tidak puas dengan duduk memandanginya. Aku berbaring disampingnya dan memandanginya. Mengapa tidak pernah bosan memandangi gadis ini? Semakin hari semkin kecanduan dengannya.
“Kenap aku semakin hari semiakin tidak bisa lepas darimu Rae Na~ya?” gumamku di depan wajahnya yang tertidur pulas. “Kau tau seberapa besar usahaku menekan semua rasa cemburuku? Eoh? Itu hanya sebagian kecil reaksi kecemburuanku Rae Na~ya.” Dia masih tertidur dengan tenang.
“Saranghae~yo Park Rae Na.” Dia membuka matanya dan menatapku. Mata kami tepat saling menatap. Dia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibirku.
“Nado.” Lalu dia berbalik dan membelakangiku. Eoh? Dia menciumku? Aku tidak bermimpi kan? Benar kan? Ini terlalu indah untuk dikatakan sebagai mimpi. Dia menciumku? Aku memegangi bibirku. Memeluknya dari belakang. Dia mendengar apa yang aku ucapkan?

***
“Sudah bangun? Tidurmu nyenyak sekali.” Aku menyapanya saat melihatnya keluar dari kamarku. Wajahnya masih terlihat mengantuk, matanya tidak sempurna terbuka. Dia duduk disampinng.
“Aku merasa lelah sekali.” Ujarnya. Aku merebahkan kepalaku dipangkuannya. Dia melotot padaku, aku menatap matanya.
“Sekarang giliranku istirahat.” Aku memejamkan mataku, mengambil tangannya dan menraruhnya di kepalaku.
“Aku mau mandi.” Dia mencoba mendorong kepalaku dan aku membuka mataku. Memberikan tatapan memelas padanya. Kembali tangannya kuraih dan kuletakkan dikepalaku, memintanya membelaiku, jika dia mengerti. Kupejamkan mataku ketika dia mulai menggerakkan tangannya di kepalaku.
“Tadi Junhyung menelponmu.” Tanpa membuka mataku aku berucap, tidak ingin melihat wajah antusiasnya jika mendengar kata ‘Junhyung’. Nafasnya menerpa wajahku, hembusan nafas kencangnya sangat terasa. Aku membuka mataku, tidak ada wajah yang antusias, datar-datar saja.
“Wae? Kau sepertinya tidak suka?” tanyaku penasaran.
“Ani, wae? Kau ingin aku antusias?” tanyanya balik. Aku mengerutkan dahiku. Tidak juga, aku mala merasa senang, namun aku hanya merasa heran.
“Ani, hanya tidak biasa, tapi aku senang.” Aku memiringkan tubuhku dan memeluknya.
“Dia bilang apa?” tanyanya lagi. Ck! Sekarang aku mulai tidak suka.
“Ani, dia bilang kau tidak membalas pesannya.” Jawabku, aku menatap wajahnya. Dia menoleh padaku.
“Rae Na, kau menginap disini saja.” Pintaku padanya. Dia langsung mendorong tubuhku dan membuatku terjatuh dari sofa. Dia bangkit dan berjalan. Aku mengels pantatku yang sakit karena terjatuh.
“Kau tidak bisa keluar, ini sudah hampir malam Rae Na~ya. Aku akan menelpon Oppamu, kau menginap disini.” Aku meraih gagang telpon, dia terhenti di depan pintu. Tidak mengamuk seperti biasanya.
“Hyung, Rae Na menginap disini, tidak apa-apa kan?” saat aku berbicara dengan Jung Soo Hyung. Rae Na melintas di depanku dan membanting pintu. Terserah dirimu saja Rae Na~ya, ynag penting ka menginap disini.
“Rae Na~ya, aku ingin mandi.” Aku mengetuk pintunya dan dia sama sekali tidak membukakan pintu. “Rae Na, bukakan pintunya.” Suara derap langkah mendekati pintu terdengar di telingaku. Benar sekali, dia membukakan pintu untukku.
“Aku mau mandi.” Aku masuk kedalam kamar dan meraih handuk saat dia membukakan pintu. Melesat ke kamar mandi dan dia sama sekali tidak berbunyi. Saat selesai mandi aku tidak mendapatinya di kamar. Aku rasa dia meninggalkanku karena tidak ingin melihatku setengah telanjang, haha, otakku sudah mulai tidak beres sepertinya. Setelah memakai baju lengkap aku keluar dari dari kamar. Aku mencium bau harum masakan. Aku mengikuti aromannya dan mendapati Rae Na sedang memasak.
“Masakanku memang tidak sesenak Min Young.” Dia tiba-tiba berbicara. Aku mendekatinya memasak. Memang kelihatan aneh, tapi rasa laparku mengalahkan segalanya.
“Gwaenchana, aku pasti suka.” Kupeluk tubuhnya. Dia menyikutku.
“Argh! Appo Rae Na~ya.” Ringisku menahan sikutannya.
“Siapa suruk pegang sembarangan.” Dia kembali ke Rae Na yang sebenarnya. “Ayo makan, aku sudah lapar. Minggir!” serunya ketus sambil menginjak kakiku menyuruhku menjauh. Haha, yang seperti ini yang aku suka. Dia duduk di kursi di depan meja makan dan mulai melahap makanan. “Jika kau tidak mau, aku akan menghabiskannya.” Ujarnya lagi disela makannya. Aku duduk dihadapannya dan mengambil makanan,kami makan bersama.

Selesai makan dia langsung menuju kamar, aku berbelok ke ruang tengah. Dia berhenti di depan pintu.
“Kau tidur dimana?” tanyanya. Aku menoleh padanya. Dia mengangkat alisnya.
“Disini saja.” Ujarku, tumben tidak protes menginap di tempatku, ada apa dengannya. Disela tidurnya tadi juga dia menciumku, apa ada yang tidak beres otaknya?
“Tidak ingin tidur dikamar?” remote tv yang tadi ada ditanganku kini sukses jatuh tergeletak di lantai saat mendengar jawabannya.
“Memangnya boleh?” tanyaku menatapnya penuh harap.
“Boleh, tapi aku tidak jamin kau bisa bangun lagi.” Ujarnya sambil membanting pintu.

***
“Rae Na~ya, ireona.” Aku mengetuk pintu kamarnya, namun dia tidak juga bergeming. Kucoba membuka pintu namun dikunci dari dalam.
“Rae Na~ya..” panggilku lagi. Matahari memang belum terbit, masih jam 3 pagi. Aku mencoba menggedor pintunya, tapi tetap tidak bisa.
“Wae?! Kenapa ribut malam-malam seperti ini? Eoh?” tanyanya dengan mata masih terpejam. Aku meraih tangannyaa dan menariknya. Aku memakakikannya jaket tebal dan mengangkat tubuhnya.
“Yak! Choi Minho! Aku bukan karung beras!” dia memukul-mukul punggungku. Miahnae Rae Na~ya, aku terpaksa seperti ini.
Dia tertidur disampingku saat aku mengemudi. Kulajukan mobilku menuju sebuah tempat, saat sudah sampai tujuan. Aku menepuk pipinya pelan untukmembangunkannya.
“Rae Na..” panggilku pelan. Dia mulai membuka matanya dengan susah payah.
“Dimana ini?”tanyanya pelan.
“Ikut aku.” Aku menarik tubuhnya yang gontai karena masih mengantuk.
“Aku mau tidur.” Dia menepis tanganku. Berbalik ke mobil.
“Sebentar saja, ada yang ingin aku bicarakan.”
“Kenapa tidak dirumah saja? Kenapa harus disini? Dan kenapa harus sekarang?” tanyanya masih mencoba masuk ke dalam mobil.
“Tidak bisa.” Aku menahannya, dia berbalik dan mendengus kesal kearahku.
“Kajja.” Aku meraih pinggangnya dan menyeretnya berjalan.
“Tapi aku masih mengantuk.” Rae Na duduk di jalanan, mendekap lututnya, kepalanya bertumpu pada kedua lututnya. Anak ini, sepertinya memang benar-benar mengantuk.
“Arasseo, kau boleh naik ke punggungku.” Aku membelakanginya dan berjongkok. Menoleh ke belakanng padanya. “Ayo naik.” Perlahan dia berdiri dengan wajah cemberut dan mulai naik ke punggungku. Memeluk leherku dan aku berdiri. Membawanya berjalan.
“Memangnya kita mau kemana?” tanyanya dengan suara ynag menggemaskan, nafasnya mendera leherku, memberikan kehangatan pada tubuhku. Aku berjalan menaiki tangga, kulirik wajahnya ynag tepat berada disampingku, masih tertidur. Setelah menaiki beberapa anak tangga, dan berjalan cukup jauh, hufh, akhirnya sampai juga. Aku menurunkan Rae Na. Dia hampir saja jatuh jika aku tidak menahannya. Aku memeluk pinggangnya, berbisik di telinganya.
“Rae Na~ya, menikahlah denganku.” Berbisik pelan ditelinganya sambil menyematkan sebuah cincin di jari manisnya yang sudah aku pesan beberapa hari yang lalu, dengan bantuan Min Young untuk mengetahui lingkar jari manisnya. Rae Na memandangi jari manisnya. Lalu menatapku bingung. Wajahnya sangat lucu, keterkejutannya begitu mempesona dimataku.
“Diam artinya iya.” Aku menatap matanya lembut. Dia masih terdiam, masih memandangi cincin berlian yang ada di tangannya.

berlian hitam

“Kau melamarku?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari jari manisnya. Aku berjalan ke belakangnya dan memeluknya.
“Menurutmu?” tanyaku balik.
“Darimana kau dapatkan ini?” tanyanya lagi. “Dan apa hubungannya dengan tempat ini?” tanyanya. Aku memandang kesamping dengan kesal. Aku hanya ingin berbuat hal romantis padanya, melamarnya di atas Menara Seoul, seperti pasangan romantis lainnya.
“Tidak penting darimana aku mendapatkannya, kau terima lamaranku?” aku mengecup lehernya. Dia masih tidak bergeming, matanya benar-benar terpaku pada cincin itu.
“Darimana kau tau aku suka hitam? Kenapa tidak membelikanku safir biru saja?” tanyanya. Sejak kapan gadisku jadi cerewet seperti ini?
“Karena kau terlihat seperti batu ini, hitam dan misterius. Tidak bersinar tapi menyerap sinar. Seperti kau menyedot seluruh energi hidupku.” Jelasku padanya dengan berbisik ditelinganya. Dia tidak bergeming sama sekali.
“Lalu apa hubungannya dengan tempat ini?” dia menoleh padaku yang memeluknya.
“Tidak peduli dengan tempatnya!” aku mulai kesal dengan pertanyaannya.
“Kalau tidak ada hubungannnya mengapa membawaku kesini?” tanyanya lagi. Aku mulai lelah, kenap dia berubah bodoh seperti ini?
“Jawabannya iya atau tidak?” tanyaku agar lamaranku tidak melenceng kemana-mana lagi. Kembali matanya memandang batu hitam yang ada ditangannya dan tersenyum.
“Jika aku menjawab ‘iya’ apa aku boleh tidur setelahnya?” tanyanya lagi tanpa merasa bersalah membuat kesal.
“Ne.” Jawabku ketus.
“kalau begitu aku jawab ‘iya’ saja. Ayo kita pulang, aku ingin tidur.” Ingin tidur? Ingin tidur tapi matanya tidak pernah lepas dari tangannya hingga hampir saj menabrak pembatas. Aku menariknya. Park Rae Na! Kau benar-benar membuatku gila!

Author’s POV

Eun Kyo sedang berbaring di lantai beralaskan karpet bulu yang beberapa waktu lalu dia beli karena suka memegang bulunya. Hanya karena suka membelai bulu-bulu itu sempat bersitegang sedikit dengan suaminya karena dia ngotot ingin membeli karpet itu. Jung Soo sudah mulai kewalahan memenuhi keinginan Eun Kyo. Malam-malam ingin makan sesuatu atau minta masakkan sesuatu. Belum lagi dia mintasesuatu yang sebenarnya tidak perlu.
“Eomma..” Ryu Jin menggeliat manja disampingnya. “Kartunnya sudah selesai?” Tanya Ryu Jin. Eun Kyo memegang gemas kepala kecil anak itu.
“Kau tertidur Ryu Jin~a.” diciumnya bibir kecil anak itu. Ada rasa lega saat melihat anak itu berkomunikasi dengannya.
“Sudah siang. Kau lapar?” Ryu Jin mengangguk. Min Young pulang selama seminggu mulai hari ini karena ibunya sakit. Jadi untuk makan dan sebagainya harus dikerjakan sendiri.
“Eomma, aku mau pizza.” Ujar Ryu Jin yang memakan biscuit untuk mengganjal perutnya yang lapar.
“Sebentar aku hubungi Appamu dulu.” Eun Kyo mengambil ponselnya dengan susah payah, dia merasa perutnya semakin hari semakin berat dan menyusahkannya untuk bergerak.
“Oppa, kami mau pizza.” Pinta Eun Kyo setelah Jung Soo menerima telponnya. “Lapar Oppa, kau bisa pulang? Eoh?” rengek Eun Kyo manja. Belum sempat Jung Soo menjawab wanita itu tidak berhenti bicara.
“Aku tunggu sekarang juga.” Dia langsung menutup telponnya dan tertawa bersama Ryu Jin.
“Sini, duduk bersama Eomma.” Ryu Jin duduk dipangkuan Eun Kyo. “Ryu Jin~a..” panggil Eun Kyo. “Aku sangat mencintaimu, jangan tinggalkan Eomma, ne?” Eun Kyo memeluk tubuh Ryu Jin kuat. Ryu Jin tidak mengerti, hanya sibuk dengan biscuit ditangannya, menyuapnya kedalam mulutnya.
“Ini pesanan kalian.” Jung Soo yang sudah tiba langsung menghampiri Eun Kyo dan Ryu Jin. Kedua orang yang ada di depan tv itu langsung menoleh pada Jung Soo. Jung Soo menenteng dua buah kantong plastik besar ditangannya.

***
“Bersihkan semua bekas makan kalian.” Eun Kyo bangkit dari duduk setelah dia melahap makanan yang dibawakan Jung Soo. Dia bangkit dan berjalan kedapur mengambil minuman. Saat dia kembali Tae Jun dan seorang yangbersamanya entah siapa sudah duduk di ruang tengah dan memandang Eun Kyo saat Eun Kyo keluar dari dapur. Eun Kyo memandang mereka dengan bingung. Dalam hatinya tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
“Tae, Tae Jun Oppa.” Sapa Eun Kyo lirih. Mereka yang duduk di sofa itu hanya diam saja. Ryu Jin terlihat tidak ada, mata Eun Kyo mewncari-cari Ryu Jin.
“Ryu Jin mana, Oppa?” Tanya Eun Kyo pada Jung Soo. Matanya masih sibuk mencari Ryu Jin.
“Dia ada di dalam kamar.” Jawab Jung Soo. Eun Kyo segera meluncur ke kamar, tapi langkahnya terhenti saat Tae Jun mengatakan sesuatu.
“Aku akan mengambil Ryu Jin.” Tae Jun berdiri menunggu reaksi Eun Kyo. Eun Kyo awalnya terdiam, tak bergerak, lalu perlahan membalikan tubuhnya menghadap Tae Jun.
“Aku akan mengambil Ryu Jin.” Tegas Tae Jun sekali lagi, karena ucapannya yang pertama ia yakin EUn Kyo pasti tidak percaya.
“Dia anakku. Aku yang akan mengasuhnya.” Sambungnya lagi meyakinkan. Eun Kyo tidak menjawab, dia menoleh pada Jung Soo. Mencari kebenaran dari ucapan Tae Jun. Jung Soo menatap Eun Kyo dengan sayu. Eun Kyo langsung berjalan cepat masuk kedalam kamar dan membanting pintu. Dia melihat Ryu Jin sedang berbaring di tempat tidur. Dia langsung merebahkan tubuhnya di samping Ryu Jin.
“Ryu Jin~a..” Eun Kyo memeluk anak itu, airmatanya menggenang tanpa bisa dibendung. “Jangan tinggalkan aku.” Dia semakin erat memeluk Ryu Jin. Pintu kamar dibuka oleh seseorang. Eun Kyo tidak menghiraukannya.
“Yeobo.. aku tau, bukan hanya kau saja yang nantinya akan kehilangan, tapi aku juga. Tapi jika kau diposisi Tae Jun, apa yang akan kau lakukan? Mungkin sama sepertinya.” Jung Soo menyentuh lengan Eun Kyo.
“Jangan sentuh aku.” Eun Kyo menjauhkan tangan Jung Soo dari lengannya. Menggeser sedikit tubuhnya lebih erat memeluk Ryu Jin.
“Kita harus memberinya kesempatan.” Lanjut Jung Soo. Eun Kyo menutup telingan dengan kedua tangannya, tidak ingin mendengarkan apapun yang dikatakan Jung Soo.
“Ryu Jin~a, sini bersama Appa. Biarkan Eommamu tidur.” Ryu Jin menatap Jung Soo ragu, tapi rengkuhan tangan Jung Soo tidak mampu ditolaknya. Anak itu terlihat bingung. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi. Tapi sejak anak itu melihat Tae Jun, dia langsung berlari ke kamar, merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Dia tidak mengerti dengan perasaannya. Rasa takut, rasa takut tidak mampu dia halau dari perasaannya. Anak kecil ini tidak tau apa-apa.
“Appa.” Ryu Jin memeluk Jung Soo. Seolah tidak ingin melepaskannya. Anak itu merasakaa ketakutan yang tidak bisa dibaca oleh siapapun. Para orang dewasa tidak akan pernah mengerti bagaimana rasa takut yang ia rasakan.
“Ryu Jin~a, aku Appamu.” Tae Jun mencoba mengambil Ryu Jin dalam gendongan Jung Soo. Ryu Jin masih tidak mau melepaskan pelukannya. Tae Jun berusaha keras melepaskan pelukan Ryu Jin pada Jung Soo.
“Ayo kita pulang.” Setelah berusaha keras, akhirnya Tae Jun bisa melepaskan pelukan Ryu Jin. Anak itu menatap Jung Soo nanar. Tidak menangis, namun juga tidak ingin bersama Tae Jun.
“Bisakah kau menundanya? mengambilRyu Jin?” Tanya Jung Soo pada Tae Jun. dia mengambil ancang-ang untuk mengambil Ryu Jin kembali. “Aku, aku takut, Eun Kyo..” Jung Soo memandangi kamar yang ada Eun Kyo didalamnya.
“Aku mohon mengertilah Hyung.” Pinta Tae Jun. jung Soo hanya bisa menunduk, ingin rasanya dia mengambil anak itu, tapi kembali lagi Jung Soo memposisikan dirinya jika dia dalam keadaan seperti Tae Jun, hanya bisa pasrah memandangi Ryu Jin hingga menghilang dibalik pintu.
“Ryu Jin!” teriak Eun Kyo tiba-tiba keluar dari kamar dan melihat Tae Jun membawa Ryu Jin menghilang dibalik pintu. Jung Soo segera menahannya. “Oppa! Lepaskan aku! Ryu Jin~a!” Eun Kyo berusaha melepaskan pelukan Jung Soo. Hingga akhirnya Tae Jun membawa Ryu Jin kedalam mobil, Eun Kyo masih berusaha melepaskan pelukan Jung Soo.
“Oppa, ini salah, hasilnya pasti salah. Dia anakku!” Eun Kyo meronta dan tubuhnya semakin lemah hingga akhirnya dia merosot kelantai. Jung Soo mencoba mengangkatnya tapi dia menolak.
“Jangan sentuh aku! Oppa! Kau pembohong!” suara Eun Kyo terdengar serak karena dia sudah mulai menangis. Jung Soo bingung harus berbuat apa, dia merasa terjepit sekarang. Disatu sisi dia ingin memahami Tae Jun yang memang ayah kandung Ryu Jin dan memberi mereka kesempatan untuk bersama, disisi lain dia tidak ingin melihat Eun Kyo seperti ini, ini yang paling dia takutkan, tapi dia juga tidak ingin egois.
“Aku pulang.” Rae Na berteriak dari luar rumah. Hari ini hari pertama dia bekerja di hotel milik keluarg Park. “Op..pa..” Rae Na tercekat melihat adegan dihadapannnya. Berhenti sejenak melihat Jung Soo ynag membujuk Eun Kyo untuk beranjak dari lantai tempatnya duduk. Minho juga menatap bingung di belakan Rae Na. Rae Na mendekati Eun Kyo namun dia tidak bergeming.
“Onnie, wae gurae?” tanya Rae Na bingung menoleh pada Jung Soo. Jung Soo menunduk tidak tahu apa yang harus dijawabnya. Kata-kata yang biasanya meluncur deras dari mulutnya seakan menghilang begitu saja.
“Oppa, ada apa ini?” saat bertanya pada Jung Soo Rae Na melirik pada Eun Kyo yang masih duduk sambil memandangi pintu. “Apa yang terjadi?” Rae Na menarik Jung Soo sedikit menjauh. Sementara Minho mencoba membuat Eun Kyo bangkit.
“Noona, kenapa seperti ini?” Minho meraih lengan Eun Kyo dan mengangkatnya. Eun Kyo masih tidak ingin bergerak.
“Noona, kau membuatku takut, ayo berdiri, setidaknya duduk di sofa, jangan disini. Kajja.” Eun Kyo masih tidak bergeming.
“Noona..” panggil Minho lagi. Eun Kyo menoleh, tatapannya kosong menatap Minho. Tidak ada kata ynag keluar. Minho mencoba memahami Eun Kyo yang memang sering labil akhir-akhir ini.
“Oppa, kenap sebenarnya?” tanya Rae Na setengah berbisik masih terus memandangi Eun Kyo dan Minho yang membujuk Eun Kyo.
“Ryu Jin diambil.” Dengan berat Jung Soo mengatakan itu dan juga sangat pelan agar tidak membuat Eun Kyo kembali tidak tenang.
“Diambil? Siapa? Siapa yang mengambilnya?” tanya Rae Na heran. Jung Soo menatap Rae Na sayu, seolah lelah, sangat lelah dan tidak tau harus berbuat apa. Rae Na mengangkat sebelah alisnya untuk meminta jawaban Jung Soo.
“Tea Jun, Tae Jun adalah orang tua Ryu Jin.” Jawab Jung Soo lirih. Dia menoleh pada Eun Kyo. Minho sudah berhasil membujuknya dan kini dia duduk disofa bersama Minho, namun masih tidak berkata apa-apa dan tidak mengucapkan sepatah katapun, tatapannya kosong. Kini Rae Na yang menoleh pada Eun Kyo. Akhrnya dia mengerti, mengapa saudara satu-satunya seperti itu. Dia menepuk bahu Jung Soo dan mendekati Eun Kyo.
“Onnie, hapus airmatamu!” Rae Na menghapus airmat yang mengalir di pipi Eun Kyo. “Berhenti bersikap lemah seperti ini!” teriak Rae Na. Eun Kyo tidak menjawab. Minho dan Jung Soo terpaku melihat apa yang dilakukan Rae Na.
“Rae Na~ya, sudahlah. Yeobo..” Jung Soo mendekati Eun Kyo, namun tetap saja Eun Kyo tidak bergeming.  Seperti mayat hidup, yang ada dipikirannya hany Ryu Jin, bahkan secara tidak sadar dia telah melupakan janin yang ada didalam perutnya.
“Onnie! Berhenti bertindak seperti orang bodoh!” teriak Rae Na pada Eun Kyo, tetap saja dia tidak menghiraukan teriakan Rae Na. Keadaan menjadi tegang.
“Ryu Jin~a..” panggil Eun Kyo sambil menangis. Semuanya terdiam, tidak tahu apa ynag harus mereka lakukan. Rae Na beranjak dari hadapn Eun Kyo. Dia menatap Jung Soo seoalh mengatakan bahwa Eun Kyo adalah bagiannya.
“Minho~ya, temani aku.” Minho menoleh pada Rae Na, bingung menatapnya. Baru saja mereka tiba kini Rae Na sudah ingin pergi lagi.
“Kajja!” Rae Na menarik Minho, memaksanya untuk bangkit dan menyeretnya menjauh keluar dari rumah. Tanpa pikir panjang Rae Na masuk kedalam mobil, biasanya dia susah sekali untuk diajak masuk kedalam mobil, tapi sekarang dia masuk sendiri. Minho masih bingung, dia mengkhawatirkan Jung Soo dan Eun Kyo.
“Mau kemana memangnya?” tanya Minho tanpa menoleh dan melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah yang sudah setengah tahun ditinggali gadisnya.
“Antarkan aku ketempat Tae Jun, aku mau mengambil Ryu Jin.” Jawab Rae Na penuh emosi, Minho menoleh pada Rae Na, menghembuskan nafas pelan. Dia terus mengemudikan mobilnya dijalanan tanpa tau harus kemana. Rumah Tae Jun? Dia sama sekali tidak tau, hanya sekali bertemu saat liburan, dia tidak sempat menanyakan alamat sama sekali. Rae Na duduk tidak tenang, nafasnya memburu menahan emosi. Dia tidak habis pikir, Tae Jun tega mengambil anak itu.
“Anak Tae Jun Oppa? Cih! Tidak bisa dipercaya sama sekali!” Rae Na mendengus kesal. Dia meremas kertas yang diambilnya dari dasboard mobil Minho.
“Jagi, itu berkasku..” suara Minho pelan, takut Rae Na semakin marah. Rae Na berhenti meremas kertas yang ada ditangannya, menoleh pada Minho, Minho tersenyum hambar.
“Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” tanya Minho mengalihkan emosi Rae Na, dia membelokkan mobilnya menuju apartemennya.
“Kenapa kita kesini?” Rae Na memandangi sekeliling. “Tae Jun Oppa tinggal digedung ini?” tanya Rae Na bingung. Minho tidak menjawab, dia keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Rae Na. Rae Na turun dengan bingung. Tapi dia tetap mengikuti Minho hingga ke lantai 3 tempat apatemen Minho, saat Minho berjalan menuju apartemennya baru Rae Na berhenti.
“Aku bosan ke tempatmu!” dia berbalik meninggalkan Minho namun segera ditahan oleh Minho. Cengkramannya terlepas dan Rae Na berjalan dengan cepat. Minho mengejarnya dan mematahkan langkah Rae Na dengan berdiri di depan gadis itu. Gadis ini tidak mungkin bisa dihentikan dengan mudah, dia tau itu. Dia langsung memaggul Rae Na di pundaknya.
“Yak! Choi Minho! Turunkan aku!” Minho tidak memperdulikannya, tetap membawa Rae Na dibahunya seperti mengangkat sebuah karung beras. Dia berjalan hingga sampai di depan pintu tempat tinggalnya. Ssat membuka pintu dan menguncinya, dia baru menurunkan Rae Na di sofa. Dihempaskannya gadis itu tempat empuk.
“Untuk apa kau membawaku kesini?! Eoh? Aku ingin ketempat Tae Jun dan mengambil Ryu Jin!” teriaknya keras saat berdiri di hadapan Minho. Dia menyebut Tae Jun tanpa embel-embel ‘Oppa’ karena hatinya sudah terlalu dongkol. Rae Na berjalan menuju pintu keluar. Minho menahannya dengan memeluk tubuh gadis itu. Rae Na terus meronta ingin melepaskan pegangan erat Minho pada tubuhnya.
“Agar kau bisa berpikir tenang dan menenangkan dirimu.” Saat Rae Na sudah tidak lagi meronta, dia melepaskan pelukannya. Dia berjalan ke dapur danmembuka lemari es. Mengambil dua gelas air mineral.
“Minum ini, dan tenangkan dirimu.” Rae mengambilnay dari tangan Minho dan meminumnya seteguk. Hanya seteguk saja, karena air yang sangat mudah ditelan itu tidak mampu melalui kerongkongannya. Dia menyerahkan kembali gelas itu pada Minho.
“Tapi aku tidak bisa tenang jika keadaanya seperti ini. Onnie bisa lebih parah dari itu.” Ujar Rae Na geram. Benar-benar tidak percaya jika Tae Jun adalah orang tua Ryu Jin.
“Tae Jun Oppa? Orang tua Ryu Jin? Setahuku dia belum menikah.” Ujar Rae Na bergumam pada dirinya sendiri. “Aku tidak percaya, Ryu Jin harus tetap ebrsama kami.” Rae Na bersikeras ingin mengambil Ryu Jin dan bangkit dari sofa.
“Rae Na, Rae Na, Rae Na..” Minho menahan tangan Rae Na, mencoba menghentikan Rae Na. “Kalian sama keras kepalanya, hanya berbeda aplikasinya.” Minho tersenyum pada Rae Na dan dibalas Rae Na dengan tatapan tajam.
“Apa maksudmu? Eoh?!” Protes Rae Na. Dia mendekati Minho dan mentapanya lebih dekat, tatapan sinis.
“Dengarkan aku.” Minho meraih wajah Rae Na. “Aku tau semua emosi, semua tidak terima. Tapi coba kau pikirkan.” Minho menunjuk pelipis Rae Na. “Bagaimana jika kau ada diposisi Tae Jun? Dia orang tua kandung Ryu Jin, kau pasti akan bersikap sepertinya.” Ujar Minho mendekatkan wajahnya, mata mereka sejajar menatap.
“Tapi Tae Jun Oppa belum menikah.” Protes Rae Na. Minho tersenyum. “Dan kau tidak akan pernah tau hal bodoh apa yang akan dilakukan Onnie.” Rae Na mengalihkan pandangannya dari Minho. Dia merasa risih jika berdekatan dengan lelaki yang ada dihadapannya ini. Selalu merasa risih, jantungnya akan bekerja lebih cepat, dalam situasi apapun jika berdekatan dengan orang yang sedang menatapnya intens.
“Dan jika kau berada diposisi Noona? Apa kau bisa jamin tidak akan bersikap seperti dia?” tanya Minho lagi. Rae Na menatap Minho bingung.
“Aku..” jawab Rae Na ragu. Jika dia ada diposisi Eun Kyo, mungkin dia akan ambil tindakan, mengambil Ryu Jin dan tidak akan membiarkan anak itu, meski Tae Jun adalah benar ayah kandung Ryu Jin.
“Tapi Oppa? Jika tidak ingin Onnie seperti itu, stre, kenapa tidak menahannya? Eoh?!” tanya rae Na lagi seperti anak kecil, tidak mau menerima.
“Kalau itu, aku rasa Hyung mungkin memikirkan bagaimana perasaan Tae Jun sebagai orang tuanya.” Jawab Minho mencoba berpikir bijak.
“Arasseo, kau duduk saja disini dengan tenang.” Minho mendudukkan Rae Na kembali diatas sofa. Kali ini Rae Na sudah sedikit tenang. Dia memikirkan apa yang dikatakan Minho. Minho sepertinya benar juga, semua orang mungkin berpikir Tae Jun jahat, tapi kembali lagi, ada fakta yang tidak bisa diabaikan sama sekali, dia adalah orang tua kandung Ryu Jin.
“Aku haus, ingin minum.” Rae Na bangkit, dia rasa dia tidak bisa lagi mendebat Minho. Untuk pertama kali dia merasa Minho benar. Dia berjalan ke dapur dan mengambil minum. Membuka lemari es yang tingginya melebihi tinggi badannya. Membuka dan terdiam sejenak. Hawa dingin yang tiba-tiba menyeruak dapat mendinginkan kepalanya. Dia tersentak saat sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Minho. Dia meletakkan dagunya di pundak Rae Na.
“Bagaimana kalau kita memasak saja? Aku lapar.” Ujar Minho berbisik ditelinganya. Rae Na menggerakkan badannya, maksudnya untuk melepaskan pelukan Minho, tapi yang ada Minho malah semakin erat memeluk tubuh Rae Na.
“Aku tidak bisa seperti ini sementara keadaan dirumah aku yakin pasti kacau.” Ujar Rae Na. Hatinya benar-benar gamang.
“Tapi jika perutmu tidak diisi juga akan kacau kan?” ujar Minho mendorong Rae Na pelan ke depan kompor gas. Mereka memasak bersama. Sesekali Minho menggelitik Rae Na menggoda gadis itu agar emosinya bisa menguap seiring denga tawa kecil yang keluar dari mulutnya.

***
Eun Kyo terbangun dari tidurnya. Dia meraba posisi kosong yang ada disebelahnya. Hatinya terasa miris, ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Rasa sakit yang tak terperi, tidak bisa digambarkan bagaimana rasa sakit itu menjalar ke seluruh tubuhnya, dari ujung rambut hingga kaki. Rasa sepi menderanya, sepi yanng benar-benar sepi, merasa kosong. Seperti ada sesuatu yang benar-benar lengang dalam dirinya.
“Sudah bangun Yeobo?” Jung Soo mengecup leher istrinya. Wanita yang terbaring disampingnya, sangat berarti baginya. Tidak ingin melihat istrinya putus asa. Tapi kejadian semalam, Jung Soo sangat yakin pasti mengubah Eun Kyo.
“Ya..” Jung Soo membalik tubuh istrinya dengan hati-hati agar menghadap padanya. Dia memandang wajah Eun Kyo dengan detail. Memandangnya penuh cinta, dagu runcingnya, bibirnya hidungnya, matanya.
“Oppa.. aku ingin Ryu Jin.” Suara Eun Kyo serak, seakan tercekat, sulit sekali untuk keluar. Jung Soo mengecup bibir istrinya sekilas, meski dia juga merasa sangat kehhilangan Ryu Jin, tapi melihat Eun Kyo disampingnya utuh tanpa harus berbagi, dia juga merasa sedikit senang, tapi bukan berarti dia rela kehilangan Ryu Jin.
“Bisa mengambilkannya untukku Oppa?” pinta Eun Kyo memelas, matanya berkaca-kaca. “Aku sangat merindukannya, baru sehari dia tidak ada, rasanya sudah sangat lama sekali.” Ini adalah kalimat terpanjang yang keluar dari mulutnya sejak Ryu Jin meninggalkannya. Jung Soo menyelipkan tangannya di kepala Eun Kyo, Eun Kyo mengangkat kepalanya agar tangan Jung Soo bisa memangku kepalanya.
“Ne, nanti. Tapi aku mau melihatmu sehat dan makan dengan baik, baru Ryu Jin akan kembali.” Ujar Jung Soo, wajah Eun Kyo langsung memberengut. Jung Soo membelai wajah Eun Kyo dengan ibu jarinya.
“Dia pasti kembali, aku yakin.”

***
Ryu Jin bangun dari tidurnya ditempat yang sangat asing baginya. Sebenarnya anak itu sudah pernah ketempat ini, namun tidak sampai masuk kedalamnya, karena memang dilarang oleh pemiliknya. Dia langsung bangkit dari tidurnya. Mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Hatinya merasa sedikit gelisah. Anak itu bingung.
“Eomma..” panggilnya lirih. Dia merasa sangat ingin bertemu sosok wanita yang selalu dia lihat setiap pagi membuka mata. Wanita yang selalu tidur bersamanya dan menyayanginya.
“Kau sudah bangun?” sebuah suara memaksanya menoleh ke pintu. Orang itu, orang itu yang selama ini ingin dia hapus dari ingatannya. Sosok menakutkan yang selalu ingin dia hindari dari benaknya. Dia terdiam, tidak bergerak sama sekali. Tubuhnya kaku, seolah ada ancaman dalam hidupnya.
“Kau biasanya makan apa Ryu Jin~a?” Tae Jun melirik Ryu Jin. Anak itu menatapnya dengan tatapan takut. Masih ingat dalam benaknya betapa dia sangat takut di bentak oleh orang dihadapannya ini hampir setahun yang lalu.
“Eommamu biasanya memberimu susu?” Tae Jun duduk di kursi memandangi anak itu. Ryu Jin sama sekali tidak berbunyi, dia hanya memandangi Tae Jun dengan bingung, lebih tepatnya takut.
“Aku Appamu, arasseo?” Tae Jun mendekat dan mengatakannya tepat di depan wajah Ryu Jin. Anak itu refleks memundurkan tubuhnya. Matanya mengerjap takut.
“Ryu Jin~a, bolah aku minta sesuatu padamu? Eoh? Jika kau mengabulkannya, aku berjanji, kau pasti akan bertemu Eommamu.” Ryu Jin berbinar demi mendengar kata ‘Eomma’.
“Bisa panggil Eommamu kesini? Tinggal bersama kita?” pinta Tae Jun. Senyum yang tadinya mengembang dari wajahnya perlahan memudar.
“Aku ingin Appa.” Ujar Ryu Jin. Hal itu membuat Tae Jun gusar. Dia memegang bahu anak itu dengan kedua tangan besarnya. Bahkan mungkin hanya dengan satu tanganpun tidak akan bisa membat Ryu Jin kemana-mana.
“Dengarkan aku, aku Appamu! Bukan Jung Soo!” teriaknya dihadapan anak yang tidak berdosa itu. Bayangan ketakutan itu semakin nyata di benak Ryu Jin, bahkan lebih takut dari beberapa bulan yang lalu ketika dia pertama kali bertemu dengan orang yang pebuh emosi dihadapannya.
“Ryu Jin~a! Tolong jangan membuat rencanaku berantakan. Mari kita membuat kesepakatan Ryu Jin~a, kau boleh tinggal bersama Eun Kyo, asal kau bisa membuatnya berpisah dan membuatnya bersamaku, kita bersama, bagaimana?” Ryu Jin tidak mengerti apa yang dimaksud Tae Jun, jadi dia hanya diam saja. Baginya sosok orang tua yang ada dalam hidupnya adalah Eun Kyo dan Jung Soo, tidak akan ada yang bisa menggantikannya.
“Arasseo, sekarang mandi, aku tunggu di ruang makan.” Ryu Jin menjadi bingung, biasanya dia mandi bersama Jung Soo, dan hal ini membuatnya merindukan lelaki itu. Dia berjalan menuju kamar mandi dan mandi sendiri. Meski dia sudah tau cara mandi ynag benar seperti yang diajarkan Jung Soo, tetap saja dia merasa ada yang kurang.
“Appa..” panggilnya lirih. Dia ingin menangis, tapi dia ingat dengan jelas saat dulu dia menangis, orang itu memarahinya habis-habisan.

Setelah makan bersama, Ryu Jin ditinggalkan Tae Jun sendirian dirumah. Anak itu terlihat bingung, semua pintu rumah dikunci hingga akses untuk keluar baginya sangat kecil kemungkinan ada. Dia berjalan kearah kursi di dekat jendela dan menautkan dagunya disandaran kursi. Dalam benaknya dia memikirkan Eun Kyo.

6

***
“Makan sekarang Ryu Jin~a.” Ujar Tae Jun sambil menyodorkan sebuah kantong plastik berisi makanan yang dia beli di sebuah restoran terkenal. Masih hangat dan terbungkus rapi. Ryu Jin memandang bungkusan itu dengan wajah sedih dan cemberut.
“Wae? Tidak suka?” tanya Tae Jun ketus.  Dai menatap Ryu Jin tajam, tidak ada sedikit cinta dalam hatinya. Dia masih menganggap Ryu Jin sebagai anak haram yang tidak ia inginkan. Namun kali ini dia butuh anak ini demi egonya. Merebut Eun Kyo dari saudaranya sendiri.
“Eomma.” Ujar Ryu Jin berkata lirih. Tae Jun yang berkacak pinggang menatap lurus pada anak itu. Membuat tubh anak itu bergetar karena takut tapi juga tidak bisa menyembunyikan tidak sukanya terhadap irang yang menatapnya.
“Kau ingin Eommamu? Eun Kyo maksudmu? Eoh?!” Tae Jun berjongkok dan tidak melepaskan tatapannya. “Kau harus membawanya kesini, tinggal bersama kita. Itu tugasmu selanjutnya sebagai anakku!” dia mendorong kepala Ryu Jin dengan telunjuknya. “Sekarang makan!” teriak Tae Jun, Ryu Jin mau tidak mau memamakan makanan itu. Dalam hatinya dia merindukan Eun Kyo, sangat.

7

Eun Kyo’s POV

Sudah dua hari Ryu Jin tidak bersamaku, aku benar-benar tidak punya semangat hidup lagi. Aku memandangi hujan yang turun sejak tadi siang tidak berhenti, seolah mewakili perasaanku. Airmataku yang sudah tidak bisa lagi keluar. Rasanya lelah menangis seharian tidak berhenti, tidak akan mengembalikan Ryu Jin. Aku tau aku jarang makan dan semua itu membuat Oppa khawatir, juga membuat suasana dirumah menjadi kaku.
“Yeobo?” sapa Jung Soo Oppa. Dia sudah pulang ternyata. Membawa sesuatu ditangannya. Aku melirik bungkusan itu.
“Jeruk kesukaanmu.” Ujarnya menjawab semua penasaranku. Dia duduk dihadapanku. Sudah dua hari ini aku tidak keluar kamar, dan aku merasa ada ynag tidak beres dengan tubuhku, tapi aku tidak ingin memikirkannya. Aku mengertii aku sangat egois. Tapi saat Ry Jin tidak ada bersamaku, aku merasa sendirian. Oppa mengupas jeruk itu dan menyuapiku. Awalnya aku menolak, tapi dia terus mendekatkan jeruk itu ke mulutku, mau tidak mau aku memakannya.
“Oppa, rasanya aku ingin mati saja.” Jung Soo Oppa menatapku taja. Aku tau perkataanku membuatnya emosi. Matanya tajam menatapku, seakan tidak percaya dengan ynag aku ucapkan.
“Aku benar-benar ingin mati.” Aku bangkit dari dudukku dan dia mengikutiku, lalu memelukku dari belakang.
“Kau jangan bicara seperti itu. Kau ingin bersama Ryu Jin? Baiklah, aku akan mengabulkannya.” Ujarnya, aku langsung berbalik dan senyuman mulai ingin keluar dari bibirku. Ada rasa lega saat dia menjanjikan seperti itu, meski terkadang Jung Soo Oppa berjanji hanya untuk menyenangkanku atau sekedar menenangkanku.
“Jeongmal?” tanyaku antusias, Jung Soo Oppa mengangguk yakin dan mengacak rambutku. “Kau tidak bohong kan Oppa?” tanyaku lagi menegaskan. Dia hanya mengangguk.
“Kemasi barang Ryu Jin, kita bertemu Ryu Jin.” Ujarnya. Aku segera berjalan menuju lemari dan membawa beberapa baju Ryu Jin. Aku sangat senang sekali, Jung Soo Oppa adalah sosok suami yang sangat sempurna dimataku.
“Gomawo~yo Oppa.” Aku mengecup bibirnya. “Kita berangkat sekarang?” tidak sabar rasanya ingin memeluk Ryu Jin. Dia menggoyangkan jari telunjuknya di depan wajahku.
“Hari masih hujan, saat reda aku akan mengantarmu, ne?” jawabnya. Dia memelukku, pelukannnya terasa hangat.
“Aku sudah tidak sabar ingin bertemu Ryu Jin, oppa..” dia mengeratkan pelukannnya padaku dan mengecup leherku.
“Sudah tidak sabar?” tanyanya dengan meletakkan dagunya dibahuku. Aku mengangguk, dia tertawa pelan.
“Eun Kyo~ya, jika harus memilih, antara aku dan Ryu Jin, siapa yang akan kau pilih?” tiba-tiba Oppa bertanya tentang pertanyaan diluar dugaanku. Memilih?
“Aku atau Ryu Jin?” tanyanya sekali lagi. Aku menggerakkan tubuhku untuk melepaskan pelukannya. ‘aku tidak bisa memilih siapapun Oppa. Aku ingin kalian berdua.’.
“Hem?” dia mulai mencium leherku lagi, kali ini lebih lama dan aku yakin, kecupannya pasti meninggalkan bekas.
“Oppa, lepasakan aku, aku jadi susah untuk bernafas.” Aku memilih menghindar dari pertanyannya, tidak ingin menjawab, benar-benar tidak ingin menjawab. Stelah dia melepaskan pelukannya, aku segera berjalan meninggalkannya. Dia menahanku. Aku menunduk menghindari kontak mata dengannya.
“Jawab aku, siapa ynag akan kau pilih.” Dia meraih daguku dan membuatku mentapa matanya, aku tidak mampu berkata-kata.
“Sudah lah, aku sudah tau jawabannya.” Dia tersenyum lalu mencium bibirku. Aku mendorong tubuhnya melepaskan bibirnya dari bibirku.
“Sekali saj Eun Kyo~ya.” Dia berbisik ditelingaku. Sekali saja? Apa maksudnya dengan sekali saja?  Dia mulai melepas kancing bajuku satu persatu. Tubuhku bergetar.
“Aku tidak akan menyakitimu.” Bisiknya lagi.

***
Aku terbangun dari tidurku. Jung Soo Oppa sudah bangun dan  menatapku. Aku teringat Ryu Jin lagi. Entah berapa kali dalam sehari aku mengingatnya.
“Ryu Jin.” Ucapku lirih. Aku menoleh keatas meja. Biscuitnya 4 hari yang lalu masih tergeletak diatas meja tanpa ada yang memakan. Aku mengambilnya dan memasukkannya kedalam mulutku.
“Kau mau bertemu dengannya?” dia memelukku, aku menutupi tubuh bagian depanku dengan selimut lalu mengangguk. Dia memelukku.
“Aku akan mengantarmu padanya.” Ujar Oppa. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara ponsel yang bergetar. Jung Soo Oppa meraihnya dan mengangkatnya.
“Nde Tae Jun~a, wae gurae?” tanyanya. Aku tidak bisa dengar apa ynag yang dia bicarakan. Oppa enoleh padaku, wajahnya menegang, membuatku takut.
“Wae gurae Oppa?” tanyaku khawatir. “Tentang Ryu Jin? Bagaimana dia disana? Baik-baik saja?” tanyaku bertubi-tubi padany. Aku mendekatkan tubuhku padany meminta jawaban. Oppa membelai piipku dengan tangannya.
“Ye, aku mengerti.” Oppa menutup telponnya. Dari Tae Jun, apa lagi kalau bukan tentang Ryu Jin, tidak salah lagi.
“Dia mau mengembalikan Ryu Jin? Eoh? Apa dia merindukanku?” tanyaku lagi.
“Kau mandi dulu, biar aku antarkan ka padanya. Aku akan ijin bekerja hari ini.” Oppa membantuku berdiri dan mengambilkanku sebuah handuk. Aku melilitkan selimut pada tubuhku.

***
Aku mengenal jalan ini. Ini bukan jalan menuju apartemen Tae Jun, bukan sama sekali. Kutolehkan wajahku kearahnya, Oppa sibuk menyetir da tidak memperdulikanku. Sejak aku keluar dari kamar mandi, dia tidak bicara sama sekali. Dia menyuruhku untuk mengemasi barangku.
“Oppa, sebenarnya kita kemana?” aku mengedarkan pandanganku saat dia menghentikan mobilnya. Rumah sakit. Aku kembali menoleh padanya. Untuk apa dia membawaku kemari?
“Oppa..” dia turun dari mobil dan mengitarinya lalu membukakan pintu untukku masih tanpa sepatah katapun. Dia membantuku untuk turun dari mobil, aku mengikutinya meski terasa sulit karena beban dalam tubuhku. Sesekali aku berhenti dan Oppa menuntunku.
“Kita kemana Oppa?” tanyaku lagi, karena dia tidak menjawab, aku menghentikan langkahku dan berbalik, berjalan cepat meninggalkannya. Oppa mengejarku. Aku merasa ada yang tidak beres. Entah apa, tapi aku tau ada yng tidak beres, sejak Tae Jun Oppa menelponnya.
“Eun Kyo~ya..” panggil Oppa lirih.
“Tidak mungkin, aku tidak mau mendengar berita buruk apapun!” aku menutup teligaku dan terus berjalan namun terhenti karena Oppa menahanku.
“Ryu Jin, dia di rumah sakit.” Ucapnya pelan. Aku tidak ingin menoleh padanya, masih menutup telingaku rapat, tapi tetap saja masih mendengarnya. Ryu jin, Ryu Jinku? Ada apa dengannya? Rasa takutku mengalahkan rasa penasaranku. Berharap dia berkata bohong.
“Dia mencarimu tadi malam, saat hujan deras, dan sebuah mobil menabraknya.” Oppa menjelaskan tidak secara detail. Suaranya naik turun di telingaku. Aku rasanya tidak lagi berpijak di lantai. Badanku terasa ringan meski saat ini bobot badanku bertambah berat, karena selain ada janin dalam perutku. Porsi makanku juga meningkat beberapa bulan terakhir. Aku sudah tidak bisa mengingat apa-apa lagi, hanya merasa ringan.

***
Kubuka mataku dan kulihat warna putih mendominasi penglihatanku. Aku memegang kepalaku yang terasa pusing, rasanya pandanganku berputar. Sebuah tangan kecil menyentuh pipiku. Aku membuka mataku danmenoleh padanya.
“Ryu Jin~a..” panggilku lirih. Anak ini, ada rasa rindu yang menyeruak kepermukaan saat melihat wajah pucatnya. Kepalanya di perban, dia ada dalam gendongan Oppa.
“Eomma..” dia menciumku. Airmataku tidak mampu aku bendung lagi.
“Ryu Jin~a, bogoshipo~yo..” aku terisak. Rasanya dadaku sulit untuk bergerak dan mengambil udara. “Jeongmal bogoshipeosso…!” aku mengarahkan tanganku untuk diraihnya.
“Nado Eomma.” Jawabnya kaku, dia lalu melirik Tae Jun, aku mengikuti arah lirikannya. Tae Jun Oppa bersandar dididing kamar rumah sakit.
“Oppa.. tolong kembalikan dia padaku.. aku mohon, aku akan membayar dengan apapun.” Aku memelas padanya. Tae Jun Oppa tidak menjawab, hanya diam.

Jung Soo’s POV

Aku meninggalakn Ryu Jin bersama Eun Kyo di dalam kamar inap Eun Kyo. Berniat memindahkan Ryu Jin bersama Eun Kyo saja agar lebih mudah menjaga mereka.
“Sudah liat? Bagaimana mereka menderita saat berpisah?” tanyaku sinis pada Tae Jun. Dia balas tertawa.
“Aku ingin kau melepaskan Eun Kyo.” Ujarnya dengan dingin. “Biarkan mereka bersamaku.” Ingin sekali aku menonjok wajah orang ini. “Aku tidak akan melepaskan Ryu Jin untuk kalian.” Sambungnya.
“Baiklah, aku beri waktu kau satu bulan untuk membuatnya jatuh cinta.” Aku berlalu dari hadapannya. Meninggalkan anak dan istriku serta calon bayiku bersamanya. Aku tau ini adalah keputusan terbodoh dalam hidupku. Tapi melihat Eun Kyo seperti mayat hidup, tidak terlalu banyak makan dan selalu mengingat anak itu, membuatku benar-benar gamang. Mungkin jika dia tinggal bersamanya, Eun Kyo bisa lebih baik, aku bisa menahan perasaanku aku rasa, asal dia terlihat baik-baik saja, bukan terlihat baik-baik saja, tapi benar-benar baik-baik saja.. aku mengemudikan mobilku ke suatu tempat. Ada janji dengan seseorang.

Aku memarkir mobilku di depan sebuah restoran terkenal di kota Seoul. Sengaja aku tidak memilih restoranku karena aku ingin suasana baru. Aku memasuki ruangan besar yang meja dan kursinya tertata dengan rapi.
“Tuan Choi, sudah lama menunggu?” aku menjabat tangan lelaki setengah baya yang sudah berumur namun masih terlihat kuat dihadapanku. Aku tidak mengerti mengapa dia tiba-tiba memintaku untuk bertemu.
“Ani, aku juga baru sampai, silakan duduk.” Ujarnya membalas jabatan tanganku, dia berdiri dan mempersilakanku untuk duduk. Aku duduk dihadapannya.
“Ah, ye.” Sahutku bingung.
“kau pasti bertanya-tanya kenapa aku mengajakmu bertemu kan?” dia tertawa kecil dengan santai. Aku yang tadinya tegang karena dia memintaku bertemu tiba-tiba, mendengar tawanya, sedikit lebih tenag.
“Kau mau pesan apa?” tanyanya lagi dengan nada santai.
“Ah, lemon tea saja.” Pintaku pada pelayan yang berdiri disampingku. “Lalu ada masalah apa Tuan Choi?” tanyaku penasaran. Aku mengangguk saat pelayan itu mengantarkan minuman untukku, mengaduknya pelan lalu meminumnya. Rasa teh dan lemon yang bercampur, mampu menghilangkan keteganganku. Melupakan sejenak tentangku yang melepaskan Eun Kyo. Bukan melepaskannya, aku tidak akan melepaskannya dalam hidupku, tapi membiarkannya lebih baik.
“Aku ingin melamar Rae Na untuk Minho. Dan ingin membicarakan tanggal pernikahan.” Perkataan lelaki yang juga adalah orang tua Minho ini membuatku mengurungkan niatku untuk meneguk lemon tea lagi.
“Nde?” refleks aku menanyakan itu. Aish! Kenapa aku jadi tidak menangkap perkatannya sama sekali? Kalau aku tidak salah dengar dia melamar Rae Na.
“Aku ingin melamar Rae Na untuk Minho. Aku tidak tau harus kemana membicarakanya, daripada dengan Appamu, aku lebih senang membicarakannya denganmu.” Aku benar-benar tidak bisa menangkap pembicaraan. Disaat aku terpisah dengan istriku, kini Rae Na ingin menikah?
“Apa anda sudah bicara dengan mereka?” tanyaku. Karena memutuskan ini tidak mungkin tidak melibatkan mereka. Aku tau mereka dekat, tapi sedekat apa hubungan mereka, aku tidak berani mereka-reka. Apalagi akutau sifat Rae Na.
“Aku belum membicarakannya secara langsung, tapi aku ingin mereka cepat menikah.” Ujarnya. Eh? Cepat menikah? Rae Na! Jangan bilang kau? Aku memalingkan wajahku darinya.
“Apa kau setuju jika mereka menikah sebulan lagi?” apa yang dikatakannya? Mengapa dia yang mengatur semuanya? Eoh?
“Mianhae Tuan Choi, aku harus membicarakannya dulu dengan Rae Na. Aku tidak bisa memutuskannya sendiri. Dia juga baru lulus kuliah, juga baru belajar bekerja di perusahaan Appa.” Terangku padanya. “Bukannya aku menolak lamaran Anda, hanya saja, alangkah baiknya jika kita berbicara melibatkan mereka.” Sambungku, aku tidak mau menjadi sasaran amukan Rae Na.
“Ah, arasseo. Mungkin seminggu lagi kau bisa membawa Rae Na?” tanyanya. Aku mengangguk. Aku terlalu galau, meninggalkan orang yang aku cintai bersama orang lain.

***
“Oppa, kau minum?” Rae Na mencium bau tubuhku dan menutup hidungnya. “Oppa, Onnie tidak suka bau alkohol.” Ujarnya lagi. Aku tau Rae Na~ya, tapi sekarang Onniemu tidak akan menciumnya. Dan aku tidak bisa melihatnya lagi.
“Onnie mana?” tanyanya, sepertinya dia juga sama sepertiku, baru pulang.
“Dia bersama Tae Jun.” Jawabku sambil berjalan sempoyongan menuju kamarku. Ingin rasanya aku berteriak. Aku orang paling bodoh! Sangat bodoh! Ingin rasanya aku hancur semua ynag ada dirumah ini untuk menghilangkan rasa sakitku.
“Tae Jun? Untuk apa dia disana?” tanya Rae Na lagi. Aku menatap Rae Na tidak fokus.
“Aku membiarkannya tinggal bersama Tae Jun.” Aku tertawa garing, lebih ke putus asa.
“Oppa, kau bercanda kan?” Rae Na menghalangi langkahku yang ingin masuk kedalam kamarku. “Apa maksudmu?” tanyanya sedikit keras.
“Tadi Appa Minho membicarakan tentang pernikahanmu. Seminggu lagi kita akan membicarakannnya bersama.” Kualihkan pembicaraan untu meredakan emosi Rae Na yang mulai naik.
“Aku tidak ingin membicarakan pernikahan. Aku tanya dimana Onnie?” Rae Na mulai mencengkram lenganku untuk mengintimidasiku menjawab pertanyaannya.
“Aku lelah Rae Na~ya, aku mau tidur.” Kudorong tubuh kecilnya dengan pelan. Dia sangat kesal dan kembali ingin berteriak namun tercekat. Aku sudah masuk kedalam kamar dan menutup pintunya. Kamar ini, sangat sepi, biasanya ada suara teriakan Ryu Jin dan Eun Kyo yang menggeliat manja. Aku terdiam bersandar di daun pintu kamarku. Merosot dan akhirnya terduduk. Baru beberapa jam aku meninggalkannya, aku sudah sangat merindukannya. Kudekati tempat tidur dan posisi dimana dia biasa berbaring.
“Yeobo.. aku merindukanmu.” Kurebahkan di tempat biasa dia berbaring. Posisi tengah, tepat diantara aku dan Ryu Jin. “Kau merindukanku? Aku ingin kau ada disini.” Aku tidak terbiasa tanpanya. Aku merasa hambar, seperti cola yang kehilangan sodanya, masih terasa manis tapi tidak menimbulkan sensasi saat meminumnya.
“Yeobo.. jika kemarin saat kau kehilangan, kau merasa ingin mati. Sekaranga ku tau rasanya. Aku ingin mati saja.” Gumamku sambil memeluk bantal yang biasa dia gunakan untuk menyangga kepalanya.
“Kembalilah suatu saat, Yeobo…”

Author’s POV

Sedah 3 hari Jung Soo pulang larut malam. Dan itu membuat Rae Na gusar karena harus bangun untuk membukakan pintu. Kerjaan Jung Soo setelah pulang bekerja selalu menyinggahi warung pinggir jalan dan menenggak beberapa botol soju. Dia berusaha untuk melupakan kesedihannya tapi tetap saja saat ia membuka matanya di pagi hari, perasaannya lebih sakit dari sebelumnya, karena semakin hari dia semakin banyak menemukan tanpa Eun Kyo disisinya.
“Oppa! Bisa berhenti bertindak bodoh seperti in?! Eoh? Jika kau tidak bisa hidup tanpa Onnie, bilang saja padanya. Jangan berpura-pura kuat tanpanya!” teriak Rae Na saat aku seperti biasa berjalan tanpa menghiraukannya.
“Oppa! Dengarkan aku!” Rae Na menarik tanganku, memaksaku untuk menatapnya. “Dengarkan aku!” teriaknya lagi.
“Rae Na, aku bisa mendengarmu, dan aku masih sadar. Masih bisa mendengar dengan baik.” Jawabku, aku memang mabuk, tapi aku masih sadar.
“Kau, kau, kalian sama bodohnya! Dengarkan aku, kau melepaskan bahkan menyerahkan Onnie pada Tae Jun. Itu sangat menggelikan!” aku tertawa kecil.
“Meski kau dan Tae Jun sama saja, menganggap Onnie seperti barang!” aku tersentak rae Na bisa berkata seperti itu. Aku melakukan ini semua demi kebaikan Eun Kyo, kebaikan bayi kami. “Tapi setidaknya pikirkan bagaimana perasaan Onnie, apa dia bahagia kau lepaskan? Eoh?!” perkataan Rae Na benar-benar menohokku. Selama 3 hari aku bergelut dengan kesedihanku, tanpa memastikan apakah Eun Kyo benar-benar baik-baik saj.
“Itu demi kebaikannya. Agar dia tidak tertekan lagi.” Aku berkata lirih, karena sebenarnya aku juga sangsi dengan kebahagiaan Eun Kyo bersama Tae Jun dan Ryu Jin. Bagaimana jika ternyata nantinya jika Eun Kyo jatuh cinta padanya.
“Hufh, kau sangat bodoh Oppa, sangat sangat bodoh!” Rae Na menertawaiku. “Berhentilah berpura-pura kuat, aku tau kau sebenarnya sakit. Biar aku beritahu sesuatu.” Aku menoleh pada Rae Na. Sesuatu? Ada yang aku tidak tau?
“Dulu, Tae Jun Oppa berusaha keras untuk mendapatkan Onnie, tapi sedikitpun Onnie tidak pernah menerima semua perasaan Tae Jun Oppa, meski dia sudah berpuluh-puluh kali meminta Onnie menerimanya.” Aku terpana mendengar apa yang dikatakan Rae Na.
“Jadi sekarang, apa kau yakin dia akan bahagia? Bersama orang yang beberapa kali dia tolak?”Rae Na melirikku. Kata-katanya hinggap diotakku, dan membuatku sadar akan sesuatu.

***
Sementara itu ditempat Tae Jun, keadaan tidak jauh berbeda. Meski Eun Kyo merasa senang dan lega bisa melihat Ryu Jin baik-baik saja. Eun Kyo berbaring disamping Ryu Jin, membelai kepala anak itu yang masih tertidur pulas. Sejak ia menjejakkan kaki ditempat ini, waktu tidurnya menjadi berkurang, dia merasa ada yang kurang, selalu. Eun Kyo tidak habis pikir, mengapa Jung Soo meninggalkannya bersama Tae Jun.
“Oppa..” dia selalu menyebut kata itu sebelum memejamkan matanya. Hingga ia terpejam, yang ada dibenaknya hanya sosok lelaki itu.
Tae Jun memperhatikan Eun Kyo dan Ryu Jini yang teridur pulas diatas tempat tidur. Dia menopang dagunya dengan tangan yang bertumpu di kedua pahanya. Tae Jun tidak habis pikir, dia sekarang medapatkan apa ynag dia inginkantetapi saat detik pertama dia bersama Eun Kyo dirumah ini, dia meraskan Eun Kyo lebih dingin dari salju sekalipun. Tidak pernah menganggapnya ada. Bahkan Tae Jun tau, dalam tidur, Eun Kyo selalu teringat suaminya.
“Oppa.. kakiku sakit..” celotehnya dalam tidur. Biasanya saat dia mengatakan itu, Jung Soo segera bangun dan memijit kakinya. Tapi sekarang Tae Jun yang ada dihadapannya tidak bergeming sama sekali. Hanya meratapi nasibnnya yang benar-benar tidak adil menurutnya. Jika Eun Kyo selau seperti ini dan tetap seperti ini, dalam sebulan dia tidak akan mampu membuat Eun Kyo jatuh cinta padanya. Hingga saat inipun dia masihtidak bisa membuat Eun Ky menatapnya.
“Oppa.. aku mau dipijit.” Pinta Eun Kyo manja, dia menggeliatkan kakinya dan memiringkan tubuhnya menghadap kearah Tae Jun. Perlahan mata Eun Kyo terbuka, dan saat dia mendapati sosok yang ada dihadapannya bukan suaminya. Di amenghela nafas sejenak, lalu memutar badannya membelakangi Tae Jun.
“Biar aku pijit.” Tae jun menyentuh kaki Eun Kyo namun segera disentaknya kakinya menjauh dari tangan Tae Jun.
“Tidak perlu, tiba-tiba sakitnya hilang.” Berganti dengan hatinya ynag kini benar-benar sakit. Eun Kyo meneteskan airmata. Betapapun senangnya dia bisa melihat Ryu Jin disampingnya, tapi tetap terasa tidak sempurna tanpa rival sejati Ryu Jin.
“Kyo~ya, aku mencintaimu.” Ujar Tae Jun, hendak menyentuh pundak Eun Kyo tapi diurungkannya, dia tau, wanita dihadapannya ini pasti tidak sudi disentuh olehnya.
“Aku tau, kau sudah mengatakannya sejak dulu.” Sahut Eun Kyo setelah dia bisa mengatur suaranya agar tidak terdengar bergetar karena dia sekarang sedang menangis.
“Kita bisa bahagia bersama Ryu Jin jika kau bisa membuka diri.” Tae Jun menhela nafas, dia merasa, kali ini mendapatkan Eun Kyo lebih berat berkali-kali lipat dari 10 tahun yang lalu. Eun Kyo hanya diam saja tidak menjawab. “Jung Soo sudah membiarkanmu bersamaku, aku mohon beri aku kesempatan, aku akan menganggap anak yang ada dalam perutmu itu sebagai anakku sediri, aku berjanji.”
“Kau menganggap anakmu sendiri saja seperti orang lain, apalagimenganggap anakku. Anak Park Jung Soo.” Sahut Eun Kyo dengan sinis. Tae Jun menutup wajahnya dengan tangan, merasa benar-benar tidak ada kesempatan.
“Eomma..” Ryu Jin tiba-tiba bangun dan bangkit dari tidurnya. “Aku mau pipis..” ujarnya sambil mengusap matanya dengan tangan, rasa kantuk masih menyerangnya tapi kebiasaannya buang air kecil saat tengah malam tidak pernah ia lewatkan.
“Pipis bersama Ap..” Eun Kyo tidak jadi meneruskan perkataannya. ‘Bersama Appa’, itu yang ingin dia katakan, tapi saat ia sadar bahwa tidak ada Jung Soo disini, dia segera bangkit dengan susah payah. Kandungannya yang berusia kurang lebih 8 bulan menyulikannya untuk berjalan. “Ayo, pipis bersama Eomma.” Eun Kyo menuntun Ryu Jin ke kamar mandi, melewati Tae Jun tanpa menoleh sedikitpun. Hanya Ryu Jin yang melirik takut padanya.

Minho’s POV

Bel apatemenku diluar sana berbunyi, berkali-kali hingga terdenar seperti lolngan anjing ditengah malam. Aish! Siapa yang bertamu malam-malam seperti ini? Tidak sopan sekali. Aku mencoba tidak menghiraukan bunyi panggilanku untuk bangun itu dengan menutup kedua telingaku dengan headset mp3 yang tergeletak dimeja dekat tempat tidurku tanpa menyalakannya dan menutupnya lagi dengan bantal. Tapi bel itu tetap berbunyi. Kulempar bantalku dan aku mendengus kesal. Malam ini panas, tidak seperti malam-malam kemari hujan deras. Aku membuka mataku dan berdecak kesal.
“Ne, ne. Sebnetar algi aku bukakan.” Sebelum aku bangkit aku melirik kearah jam dinding. Masih jam 2 pagi. Apa sekarang bertamu berujam jam? Aku menendang selimutku hingga terjatuh ke lantai. Kulangkahkan kakiku dengan gontai menuju pintu depan dan membukanya. Saat aku membuka pintu, aku langsung membelalakkan mataku, rasa kantuk ynag tadinya luar biasa aku rasakan, kini menguapa entah ditelan apa.
“Aku ingin tidur disini saja.” Rae Na. Dia yang bertamu malam-malam begini dan mengatakan ingin tidur disini? Dia mendorongku masuk agar dia bisa masuk. Menuju kamar, aku mengikutinya.
“Jagi, jagi.” Aku menarik tangannya namun tidak bisa menghentikan langkahnya. “Ada apa sebenarnya? Mengapa tiba-tiba malam-malam kesini?” tanyaku bingung.
“Kau tidak suka aku kesini? Baiklah, kalau begitu aku mencari tempat lain saja.” Rae Na berbalik dan aku tau dia merajuk. Kembali aku meraih tangannya.
“Hey, bukan begitu maksudku.” Kupeluk tubuhnya, dia hnya diam saja. Akhir-akhir ini sikapnya sering berubah, kadang sedikit manja, tapi kadang kembali lagi dengan sikapnya yang sedikit egois. Apa karena dia lelah bekerja hingga sore? Dia kan sekarang mulai bekerja bersama Ayah Jung Soo Hyung.
“Aku sudah tidak tahan.” Ujarnya bergetar. Aku membalik tubuhnya agar menhadap padaku. Dia menunduk, pundaknya bergetar. Dia menangis? Aku mengangkat dagunya, tetesa airmata yang tidak bisa dia sembunyikan kini terlihat jelas. Apa yang membuatnya menangis? Gadis yang anti menangis ini tiba-tiba tidak bisa bersembunyi dari sedihnya? Dia menyapu kasar pipinya, menoleh ke samping menghindari tatapanku.
“Wae? Malam-malam seperti ini?” tanyaku membersihkan sisa airmatanya.
“Aku mau tidur disini saja, aku sudah tidak tahan melihat semua kebodohan yang terjadi dirumah.” Di amendorong pelan tubuhku menjauh darinya.
“Memangnya kenapa dengan rumah?” aku mengikutinya yang berjalan menuju kamar. Eh? Sejak kapan dia menganggap ini seperti apartemennya?
“Kau jarang kesana! Makanya tidak tahu apa-apa!” dia melempar selimut dan bantal padaku, lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
“Eh? Bukannya kau bosan aku kesana setiap hari?” aku balik bertanya.
“Bukan begitu, hanya saja.. keadaan rumah beberapa hari ini sangat kacau.” Dia meraih guling dan mendekapnya. Wajahnya memberengut sambil memainkan ujung guling dengan jarinya.
“Aku bekerja ditempat Appa, Jagi~ya.” Sahutku. Bukan maksudku tidak menghiraukannnya. Sebenarnya sudah sejak lama aku bekerja di tempat Appa, kira-kira 3 bulan yang lalu, tapi tidak memberitahunya.
“Oppa sering mabuk-mabukan.” Ujarnya, terdengar ada nada kesal dalam suaranya. Aku mengambil kursi dan duduk di hadapannya. Menopang kaki kananku diatas kaki kiriku. Menunggunya bercerita.
“Onnie, tinggal bersama Tae Jun. Ryu Jin sakit.” Sambungnya lagi. Dia terdiam. Aku juga terdiam. Beberapa menit hening. Aku rasa mungkin JungSoo Hyung hanya mengalihkan kesedihannya.
“Kalau bigitu wajar Hyung seperti itu.” Aku mencoba memahami kondisi Jung Soo Hyung. “Lalu Noona? Kenapa tidak Ryu Jin saja yang dibawa pulang?” tanyaku pada Rae Na.
“Hufh.” Dia meniup anak rambut yang ada dihahinya. “Itu dia masalahnya, aku bosan membukakan pintunya jika dia pulang larut.” Rae Na berbalik. Aku terdiam.
“Kau bilang kalau menginap disini?” aku menarik badannya menghadapku. Dia menggeleng. “Biar aku telpon Hyung dulu.” Aku berjalan keluar kamar dan memberitahu Jung Soo Hyung bahwa adiknya menginap disini. Dia sudah kehilangan anak istrinya, jangan ditambah pusing dengan menghilangnya gadis keras kepala ini. Setelah memberitahunya aku kembali ke kamar. Berhenti di ambang pintu.
“Aku sudah memberitahunya, dia meminta maaf padamu.” Aku berjalan mendekatinya dan menarik selimut untuknya. “Sekarang kau tidur saja.” Aku menyentuh ujung kepalanya.
“Aku takut Minho~ya.” Ujarnya lirih. “Keadaan sangat kacau, lebih kacau daripada dikejar-kejar para rentenir.” Matanya sayu menatapku. Aku juga bingung harus berbuat apa.
“Bagaimana jika Tae Jun tidak mau memberikan Ryu Jin? Bagaimana Onnie? Bagaimana pernikahan mereka? Bagaimana dengan anak yang ada didalam kandungannya? Onnie tidak boleh tertekan. Aku tidak bisa membayangkannya, apa dia hidup dengan baik? Gadis manja itu apa akan baik-baik saja? Cih! Makan saja harus berpuluh-puluh kali diingatkan Oppa. Apa dia akan baik-baik saja jika mereka berpisah?” tanyanya panjang lebar, aku bahkan tidak bisa mengingat semua pertanyaannya.
“Yaish! Kenapa kau berpikir mereka akan berpisah?” aku mengacak rambutnya. Memberikannya sebuah senyuman untuk menennangkannya.
“Tapi Oppa yang menyerahkan Onnie, bukankah itu secara tidaklangsung melepaskannnya?” dia menggigit ujung guling. Aku menjauhkannnya.
“Semuanya akan baik-baik saja. Aku yakin, mereka pasti bisa melewatinya. Seperti dulu.” Aku mencoba menenangkannya, gadis ini tidak seperti biasanya, dia sedikit serius menghadapi masalah ini.
“Menyakitkan Minho~ya, melihat Oppa setiap malam menangis ditengah kesadarannya menurun. Memanggil Onnie pilu, terkadang aku mendapatinya memandang foto Onnie di dalam kamar.”
“Kau tenang saja.” Kembali aku mencoba menenangkannnya.
“Tenang? Bagaimana aku bisa tenang? Kau tidak menyaksikannya.” Jawab Rae Na. “Kau tidak melihatnya, aku tidak yakin dia baik-baik saja. Bagaiman dia bisa melahirkan dengan baik jika keadaanya seperti ini?!” emosinya mulai naik lagi. Aku menangkupkan kedua tanganku diwajahnya, mencoba meredam semua amarahnya yang mulai merangkak naik. “Kau bisa tenang, tentu saja, karena kau bukan bagian dari mereka. Aku tidak bisa tenang.” Sambungnya. Aku menutup mulutnya dengan telunjukku.
“Ya.. siapa bilang aku bukan bagian dari mereka. Aku juga mengkhawatirkan mereka, menyayangi mereka.  Tapi kita harus berpikir tenang. Jika semua hanya memeikirkan dan mementing siapa yang paling berhak atas Ryu Jin, maka keadaanya akan semakink kacau. Harusnya kau yang menenangkan Hyung, bukannya malah kesini.” Aku menasehatinya.
“Jadi kau tidak suka aku disini?” dia langsung bangkit dan menepis tanganku kasar dari wajahnya. Melempar selimut kelantai. Dia berjalan dengan cepat, aku menangkapnya.
“Ya, ya, ya… berhenti, Rae Na.” Dia berusaha memberontak, tapi aku menahannya. “Aku mengerti perasaanmu.” Kupeluk tubuhnya. Dia kembali menangis.
“Aku sangat menyayangi Onnie, Minho~ya..” tubuhnya melemah dan hampir jatuh jika aku tidak menahannya. “Hanya dia yang aku punya.” Sambungnya putus asa.
“Aku tidak mau kehilangan Onnie, kehilangan Oppa juga tidak mau kehilangan Ryu Jin.” Tangisnya pecah, tidak lagi diam-diam, dia mulai terisak. “Park Tae Jun! Aku akan membunuhmu jika aku bertemu denganmu!” dia berteriak, bukan jenis teriakan marah, tapi lebih kepada sebuah keputus asaan.
“Uljima.. “ aku membalik tubuhnya, dia terus menangis, hal yang jarang sekali dia lakukan, apalagi ddi depan orang lain. Dia memelukku. “Mereka pasti akan baik-baik saja. Besok aku akan coba untuk bicara dengan Hyung dan juga Tae Jun. Ne? Sekarang kau tidur. Besok harus kerja kan? Aku juga.” Dilepaskannya pelukanku dengan tiba-tiba.
“Eoh? Kau bekerja? Sejak kapan?” tanyanya bingung. Aku kembali memeluknya, dia pasti tidak mendengarkan penjelasanku.
“Lepaskan, sejak kapan kau bekerja?!” tanyanya sengit. Dia melepaskan pelukanku untuk yang kedua kalinya.
“Kau kebiasaan, tidak pernah mendengarkan penjelasanku, aku bilang tadi aku juga bekerja di tempat Appa.” Aku menyentuh hidungnya gemas.
“Sejak kapan?” tanyanya lagi sambil melepaskantanganku dari hidungnya.
“Sejak aku tidak terlalu sering lagi ketempatmu.” Jawabku sambil tersenyum.
“Kenapa kau tidak bilang padaku?” tanyanya lagi.
“Karena aku tidak pernah menanyakannya.”
“Tapi kau harus tetap bilang padaku!” teriaknya.
“Memangnya aku harus selalu lapor padamu?”
“Harus!” teriaknya lagi. Aku mencium bibirnya cepat, dia memukul dadaku. Gadis ini benar-benar membuatku gila, tadi tiba-tiba datang dengan, lalu emosi, dan sekaranga malah menyalahkanku.
“Arasseo, aku akan selalu lapor padamu kemanapun aku pergi dan aku lakukan. Kita kan sudah hampir menikah.” Aku mengecup kilat pipinya. Dia menghapusnya dengan tangannya. “Sekarang tidur, Nyonya Choi.” Aku mendorong tubuhnya pelan memasuki kamar. Dia berbalik padaku.
“Tapi besok temani aku untuk mengambil Ryu Jin dan Onnie kembali!” aku menutup mulutnya.
“Ssssttt, berhenti marah-marah, ne. Besok aku akan menemanimu.”

***
“Kau sudah lama menunggu?” aku menoleh ke samping Tae Jun Hyung. Akhirnya dia datang juga. Aku mengajaknya untuk berbicara, empat mata sebelum Rae Na mengamuk padanya.
“Ani, Hyung.” Aku megaduk jus melon yang tad aku pesan.
“Ada apa Minho~ya? Jika menasehatiku tentang Ryu Jin dan Eun Kyo, tidak perlu, akan sia-sia saja. Aku tidak akan melepaskan mereka.” Ujarnya tanpa basa-basi. Matanya menatap tajam padaku, seolah mengatakan ‘kau bukan orang yang pantas mengintimidasiku’.
“Aku tidak ingin menasehatimu, hanya mengajakmu bertukar pikiran.” Kuteguk jus melon yang sudah mulai kehilangan dinginnya.
“Bagaimana keadaan Noona?” tanyaku basa-basi. Dia tersenyum sinis dan memalingkan wajahnya dariku. Jauh dari kata ramah, sangat berbeda saaat aku pertama kali bertemu dengannya.
“Kapan kau akan menikah dengan Rae Na? Kita akan jadi saudara.” Dia tidak menjawab pertanyaanku malah melemparkan pertanyaan padaku.
“Ryu Jin? Bagaimana?” aku tidak memperdulikan pertanyaannya.
“Dalam waktu dekat?” tanyanya lagi mengalihkan pembicaraan, sama sepertiku, dia mengindahkan pertanyaanku. Sepertinya egonya memang tidak bisa dinegosiasi.
“Tae Jun~ssi, aku tidak bermaksud membuatmu atau memaksamu untuk mengembalikan Noona.” Aku sudah mulai kehilangan kesabaranku.
“Aku tidak mengambilnya dan tidak juga menahannya untuk kembali.” Jawabnya santai, memandangku sinis. Seolah aku bocah yang tidak tau apa-apa.
“Tapi aku salut padamu, tahan melihat Noona seperti itu. Aku rasa kau tidak benar-benar mencintainya.” Dia menggebrak meja dengan sendok.
“Jangan menganggap seolah-olah kau bisa meraba perasaanku!” teriaknya geram. Untung saja ini jam kerja, jadi orang tidak terlalu banyak.
“Tapi aku harap kau tahan hidup dengan orang yang tidak mencintaimu. Tidak dipandang sama sekali, tanpa senyuman, tanpa cinta.” Aku berdiri. Berniat meninggalkannya, tapi sebelum aku meninggalkannnya, aku menoleh padanya. Melihat wajah angkuhnya sedikit ragu.
“Tidak ada yang lebih menakutkan dari hidup dengan seorang mummy. Dia bisa berjalan mengikutimu, kemanapun kau mau. Tapi tidak bisa kau sentuh jiwanya. Karena dia tidak mempunyai jiwa.” Bisikku padanya. Aku meninggalkannya dan masuk kedalam mobil. Sebelum aku benar-benar meninggalkannya. Aku kembali menoleh padanya melalui kaca mobilku. Dia terdiam terpaku tanpa bergerak. Aku tersenyum sambil menginjak pedal gas.

Rae Na’s POV

Bodoh! Semua ini benar-benar bodoh! Dan aku terjepit diantaranya. Ingin rasanya aku mencincang tubuh lelaki itu. Aku tidak fokus bekerja. Aku ingin mengambil Ryu Jin dan Onnie kembali hari ini, dan tidak akan menundanya. Tapi kemana? Sialnya aku tidak tahu alamat Tae Jun.
“Sajangnim..” aku menyembulkan kepalaku di sela pintu yang kubuka sedikit.
“Masuklah.” Ujarnya. “Wae? Ada yang tidak kau mengerti?” tanyanya tanpa menoleh padaku. Appa, lebih tepatnya mertua Onnie, tapi sudah menganggapku sebagai anaknya sendiri.
“Ani, aku hanya ingin bertanya sesuatu.” Ujarku mengambil duduk dihadapannya. Dia menoleh padaku dan melepaskan kacamata yang bertengger di hidungnya. Lelaki setengah abad lebih ini pasti tau banyak.
“Sajangnim..” aku ragu untuk bertanya. Apa tepat bertanya padanya? Jika dia menanyakan ynag tidak bisa aku jawab, bagaimana?
“Panggil Appa saja jika didalam ruangan dan tidak ada orang.” Dia kembali dengan beberapa lembar file yang tergeletak dihadapannya.
“Arasseo, Appa. Appa, kau tau dimana alamat Tae Jun Oppa?” tanyaku padanya, dia kembali menoleh padaku, seoalh bingung dengan pertanyaanku.
“Tae Jun?” ulangnya. Aku mengangguk, mereka keluarga jauh, aku yakin dia pasti tau. “Kenapa menanyakan itu?” tanyanya semakin bingung, aku juga bingung dibuatnya.
“Ahahahaha, ani, aku hanya bertanya saja.” Jawabku sambil berdiri. Menanyakannya pada Appa benar-benar bodoh, bisa dikira aku macam-macam dengannya. “aku pergi dulu.” Aku berbalik badan dan memukul pelan kepalaku.
“Di daerah itaewon.” Ujarnya, aku menoleh berbalik lagi padanya. “Hanmi House, 159.” Lanjutnya. Aku tersenyum senang mendengar jawabannya. Assa!
“Ah, ye, gamsahamnida Appa..” aku membungkukkan badanku berterimakasih padanya.
“Katakan padaku apa yang kau lakukan ke tempatnya?” tanyanya dingin .
“Ahahaha, ani, hanya teman lama Appa.” Jawabku berbohong padanya. ‘aku menjemput menantumu Appa’. Sambungku dalam hati.
“ah, geurae.. ah, minggu ini tolong bawa Ryu Jin ke rumah, beritahu orang tuanya.”
“Ah, ye.”

***
Aku sudah sampai di gedung yang diberitahu Appa. Sejenak aku memandang gedung yang menjulang tinggi di daerah Itaewon yang terkenal dikalangan para turis. Aku berjalan cepat menyusuri lobby, berbelok kekanan dan menuju lift. Aku menekan tombol yang akan membawaku pada apartemen yang aku tuju.
Ting!
Aku keluar dari lift dan melangkahkan kakiku dengan besar. Aku menoleh pada tiap pintu dan memeriksanya.
“159, 159, 159.” Aku terus menggumamkan nomor itu untuk mengingatnya. Aku berlari kecil saat melihat nomor itu terpasang disamping pintu sebuah apartemen.
“159!” aku segera memencet bel segera setelah sampai di depan pintu. Aku mengarahkan wajahku di kamera.
“Onnie, aku tau kau disana, tolong buka pintunya!” teriakku. “Aku akan menjemputmu. Kau tau? Aku lelah menghadapi sikap Oppa!” teriakku lagi sambil beberapa kali menekan bel tanpa henti.
“Noona!” suara Ryu Jin berteriak. “Noona, bogoshipeo!” teriaknya lagi. Ingin rasanya aku memeluk anak itu, tapi pintu tak kunjung dibuka.
“Ryu Jin~a, panggil Eommamu.” Semua diam, anak itu tidak menyahut lagi. Setelah itu terdengar suara Onnie.
“Wae~yo Rae Na~ya?” suara Onnie serak, aku tau, dia pasti sedih.
“Buka pintunya, kita pulang, kemasi barangmu.” Ujarku dingin.
“Tidak bisa, aku tidak bias meninggalkan Ryu Jin, dia masih sakit.” Jawabnya. Disaat seperti ini dia masih memikirkan Ryu Jin? Lalu rumah tangganya? Seseorang berjalan di belakangku, aku menoleh. Park Tae Jun. Aku berkacak pinggang menunggu dia sampai membukakan pintu. Tidak berniat menyapanya sama sekali. Tae Jun membukan pintu dengan menekan angka kombinasi.
“Onnie, ayo pulang!” saat pintu terbuka aku langsung menarik tangan Eun Kyo Onnie dan sedikit menyeretnya. Dia kesulitan menjajari langkahku.
“Rae Na, Rae Na, aku tidak bisa meninggalkan Ryu Jin.” Dia mencoba melepaskan cengkramanku. Tapi semakin dia berusaha melepaskannya semakin kuat aku menariknya.
“Eomma! Eomma!” Ryu Jin berteriak di depan pintu. Onnie juga berusaha terus lepas dariku. Aku tidak peduli, terus menyeretnya.
“Ryu Jin~a, aku pasti akan menjemputmu! Kau tenang saja!” anak itu terus menangis. Aku sebenarnya tidak tega, tapi kali ini benar-benar harus keras.
“Rae Na kau menyakitiku!” serunya, aku tidak peduli, kuhempas pelan tubuh besarnya ke mobil. Sebelum aku sampai ke mobil, aku sempat melirik Ryu Jin yang mengejar kami tapi dihentikan oleh Tae Jun. Park Tae Jun! Sekeras apapun kau ingin mengambil Ryu Jin dari Onnie, kau tidak akan bisa, pasti tidak akan bisa, karena kemanapun Onnie berada suatu saat anak itu pasti mencarinya.
Onnie duduk bersandar disampingku. Tagihan taksi kali ini pasti membludak, aku tidak memikirkannya, setidaknya satu masalah akan kuselesaikan.
“Apa yang ada dalam pikiranmu?” tanyaku dingin padanya. Dia tidak menjawab, sejak tadi dia sibuk menyeka airmata yang mengalir di pipinya. Memperkecil suara isakannya dengan menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Aku tidak memperdulikannya.

Author’s POV

Sejak tadi Jung Soo hanya memandangi lembaran file ynag bertumpuk di hadapannya. Dia memegang pena, namun tidak ada satupun yang tersentuh tintanya. Dia hanya memegang pena itu dan sesekali memandangi foto istrinya. Teringat lagi dalam benaknya ketika Eun Kyo dan Ryu Jin iukt kemari. Betapa pintarnya Ryu Jin dan betapa manjanya istrinya, dia sangat merindukan suasana seperti itu. Merindukan bersaing dengan Ryu Jin dan merindukan menyentuh Eun Kyo, apalagi sekarang dia hampir melahirkan.
“Yeobo.. bogoshipeosseo..” gumamnya lirih. Dia lalu menggoreskan penanya membentuk sebuah tanda tangan di beberapa lembar kertas. Pikirannay tidak fokus, rasa rindulah yang membuatnya tidak konsentrasi.
“Yeoboseyo?” dia menelpon seseorang. “Bagaimana keadaan Eun Kyo? Dia makan dengan baik? Obatnya? Susunya? Diminum? Ryu Jin bagaimana?” dia memberondong lawan bicaranya diseberang sana dengan pertanyaan. Siapa lagi kalau bukan Tae Jun. Setiap hari dia melakukan itu, menelpon dan menanyakan Eun Kyo juga Ryu Jin.
“Sajangnim? Anda ingin dipesankan makanan?” tanya suara ditelpon paralel.
“Ani, aku makan dirumah.” Jung Soo menjawabnya disela kepembicaraannya dengan Tae Jun. Tanpa memberikan salam dia langsung menutup telponnya. Jung Soo bangkit dan mengambil jas yang tadinya dia gantung digantungan baju.

 Dia menuju rumahnya dan langsung menuju dapur, hari ini Min Young sudah kembali bekerja hari ini jadi Jung Soo yakin dia sudah memasak. Saat dia mengambil minuman Jung Soo mendengar kegaduhan di luar. Min Young sedang menjemur cucian diatas. Jung Soo melirik kearah depan, sumber kegaduhan itu terjadi. Tenggorokannya tercekat. Dia melihat Rae Na membawa Eun Kyo dan sedikit menyeretnya,membawanya kekamar Eun Kyo. Jung Soo berjalan pelan dan berdiri disamping pintu dan masih memegang gelas.
“Onnie, apa yang ada dipikiranmu? Eoh? Kau!” Rae Na masih emosi dan berkata keras di depan wajahnya. Eun Kyo hanya diam tidak menjawab apapun. Mereka masih berdiri. Dan Eun Kyo beberapa kali menyeka airmatanya. Dia tidak mampu menjawab karena dadanya begitu sesak. Terlalu sulit untuk bernafas, apalagi untuk menjawab. Dua saudara ynag sangat berbeda sifat tapi saling melindungi ini terdiam sejenak, tanpa mereka ketahui bahwa Jung Soo mendengarkan pembicaraan mereka.
“Tae Jun memintaku untuk hidup bersamanya.” Setelah lama terdiam dalam hening, akhirnya Eun Kyo berbicara. Ada rasa sakit yang menjalar ke dada Jung Soo saat mendengar Eun Kyo berkata seperti itu.
“Lalu kau jawab apa?” tanya Rae Na. Eun Kyo terdiam. Dalam hati Jung Soo, dia juga menantikan jawaban Eun Kyo, bukan hanya Rae Na.
“Kau mengiyakannya?” tanya Rae Na lagi. “Yak! Park Tae Jun, kau akan kubunuh!” Rae Na mengepalkan tangannya. “Kau jawab apa Onnie~ya?!” tanya Rae Na tidak sabar. Eun Kyo terdiam sejenak.
“Aku tidak ingin kehilangan Ryu Jin..” jawab Eun Kyo setengah berbisik. Rae Na membuka mulutnya lebar, tidak percaya dengan ucapan Eun Kyo. Begitu juga dengan Jung Soo. Tanpa bisa dia tahan aetetes airmata keluar dari matanya.
“Onnie! Bahkan saat rumah tanggamu diujung tanduk! Kau masih saja memikirkan anak itu!” teriak Rae Na sambil memndorong Eun Kyo pelan. Melihat hal itu Jung Soo langsung masuk dan menahan Eun Kyo yang terhunyung.
“Rae Na, cukup.” Seseorang datang tiba-tiba dan menahan Rae Na yeng hendak mendekati Eun Kyo. Jung Soo menjauhkannya dari Rae Na, jika dibiarkan Rae Na bisa membunuh bayinya.
“Kau gila Onnnie~ya, kau orang terbodoh yang pernah aku temui, dan sialnya kau adalah saudaraku!” teriak Rae Na. Minho segera memeluknya dan menyeret tubuh Rae Na keluar dari kamar. Rae Na memberontak.
“Onnie! Kau gila!” teriak Rae Na lagi. Dia kembali ingin mendatangi Eun  Kyo tapi dicgah oleh Jung Soo.
“Cukup Rae Na~ya! Jangan campuri urusan rumah tanggaku! Aku yang lebih tau urusan hatinya!” teriak Jung Soo sambil menatap Rae Na tajam, tapi tidak melepaskan rangkulannya pada Eun Kyo agar wanita itu tidak terjatuh. Selagi Rae Na sibuk berteriak. Minho menyeret tubuhnya dengan sedikit lebih kasar. Hanya Jung Soo yang mengerti perasaan Eun Kyo, dia yakin, jika seandainya nanti mereka berpisah, itu adalah keputusan terbaik, keputusan terbaik untuk Eun Kyo. Asalkan dia bahagia.
“Minho, tolong jauhkan di. Bawa dia dari sini.” Pinta Jung Soo. Dia tidak bisa lagi menahan tubuh Eun Kyo yang kini terduduk dilantai. Menangis sesenggukan.
“Semua ini salahku Oppa.” Euun Kyo meraih tangan Jung Soo dan mendekapnya erat.
“Ssssttt, jangan berkata seperti itu. Bawa Rae Na ke tempatmu.” Teriak Jung Soo lagi saat Minho berhasil membawa Rae Na keluar dari kamarnya.jung Soo mulai menenangkan Eun Kyo. Mencium puncak kepala istrinya dengan sayang.
“Itulah sebabnya aku tidak ingin menikah, aku tidak ingin menjadi bodoh!” teriak Rae Na saat Minho menyeretnya kedalam kamarnya sendiri.
“Cukup! Rae Na cukup! Kau sudah keerlaluan melewati batas!” teriak Minho di depan wajah gadis itu melebihi nyaringnya suara Rae Na tadi berteriak. Minho sudah mulai tersulut emosi sejak menyaksikan Rae Na mendorong Eun Kyo.
“Kau tidak mengerti!” Rae Na menghentak tangan Minho dilengannya. Rae Na ingin keluar dari kamar, namun dengan cepat Minho meraih pintu dan menguncinya.
“Kau tidak mengerti!” Rae Na mulai menangis. Sebenanrnya dia menyadari telah menyakiti Eun Kyo saat mendorongnya, tapi entah kenapa emosi berhasil menguasainya dan dia tidak bisa keluar dari lingkaran amarah itu. Minho memeluk Rae Na, gadis itu memukul-mukul dada Minho, berusaha melepaskannya, tapi usaha Rae Na tidak tidak mengendurkan eratnya pelukan Minho.
“Tenanglah, mereka sudah dewasa, bisa mengatasi masalah mereka sendiri. Beri mereka waktu untuk tenang.” Minho mengelus punggung Rae Na ynag menangis sesenggukan di dada Minho. Sebelah tangan Minho membelai rambut Rae Na, hingga gadis itu sedikit lebih tenang.
“Kita tidur di apartemen saja, ne?” Rae Na menyapu airmatanya dan mengangguk.

Jung Soo’s POV

Aku memeluk tubuhnya yang terduduk di lantai. Dia menangis, menangis tersedu hingga tak mampu bicara. Melihat wajahnya lagi bagaikan minum saat dahaga begitu menyiksa. Rasa lapar yang tadi aku rasakan kini hilang. Dia terus menangis sambil memeluk tanganku. Aku memeluknya dari belakang, berkali-kali aku mengecup kepalanya dan menghirup rambutnya.
“Ini semua salahku, Oppa.” Ujarnya lirih dan terbata saat dia sudah mulai tenang. Tapi setelah mengucapkan itu, kembali tangisnya menyeruak.
“Uljima.. semuanya tidak ada yang salah.” Kubelai lengannya untuk memberinya kekuatan. Eun Kyo terkadang sedikit perasa.
“Sekarang kau istirahat dulu, pasti lelah kan?” aku melihat pergelangan tangannya yang sedikit memerah. Pasti Rae Na berusaha keras membawanya kesini. Dia mengangguk, dan bangkit berdiri dengan bantuanku. Dia merebahkan tubuhnya diatas kasur yang seprainya telah aku ganti semalam dengan warna kesukaannya. Ungu dan merah. Aku berniat mengambilkannya air hangat, namun tanganku ditahan olehnya.
“Oppa, mau kemana?” aku menoleh padanya. Wajah memelasnya memaksaku untuk duduk disampingnya.
“Aku ingin mengambilkanmu minum.” Aku membelai pipinya, dengan lembut. Sentuhan yang sangat aku rindukan. Asanya kembali terisi, demi Tuhan, aku tidak bisa menggambarkan bagaimana bahagianya aku ketika melihat wajahnya kembali.
“Disini saja, aku ingin bersamamu.” Eun Kyo menarik tanganku dan aku merebahkan tubuhku disampingnya, dia sedikit menggeser badannya memberiku ruang lebih luas.
“Bogoshipo.” Dia merapatkan tubuhnya padaku. Kuselipkan tanganku dilehernya dan mendekap kepalanya di dadaku. Meski sedikit sulit memeluknya karena terhalang perut besaranya tapi tidak bisa melepaskan pelukanku pada tubuhnya.
“Aku juga merindukanmu.” Kucium dahinya.
“Kau tidak usah bekerja lagi, eoh?’ pintanya. Kebiasaannya saat meminta sesuatu, pasti memainkan kancing kemejaku.
“Tapi masih benyak yang aku kerjakan.” Aku pura-pura menolaknya. Dia menatapku tajam sambil memberengut.
“Sehari saja!” rajuknya, memukul dadaku pelan membuatku sedikit mengerang. “Kau tidak suka aku disini? Ya sudah, aku ke tempat Ryu Jin saja!” dia duduk dan mengambil ancang-ancang untuk berdiri. Aku juga bangkit dan langsung memeluknya. Rasanya dadaku sulit sekali untuk bernafas beberapa hari ini, tapi  hari ini aku bisa mengambil nafas dengan baik.
“Oppa, saat Ryu Jin tidak ada bersamaku, rasanya aku ingin mati. Tapi saat terpisah darimu. Aku rasa aku sudah mati.” Kueratkan pelukanku padanya adrenalinku berpacu cepat jika berdekatan dengannya. Eun Kyo~ya, aku juga merasakan hal ynag sama. “Jadi, hari ini aku ingin memelukmu selama mungkin.” Sambungnya. Setelah itu dia tidak berkata apa-apa lagi. Hingga sesuatu mengejutkanku.
“Ah! Oppa!” tiba-tiba Eun Kyo melepaskan pelukannya dan meringis memegangi perutnya.

TBC

Note : hufh *kipas-kipas* waduh, aku tau ini ending TBC nya kuarng greget, tapi aku udah mulai geregetan pengen nuntasin… cape nulisnya… ini juga amburadul banget… idenya Rae Na briliannt banget, cuman aku yang sulit nuanginnya, maaf… sebagian besar mungkin hampir semuanya ini idenya si gadis pemarah itu’, setelah berhari-hari bergelut dengan leppi karena kadang feelnya ga dapet, tapi akhirnya selesai juga… haha, terima kasih yang udah menunggu.. aku tidak akan banyak bicara.. klo pprotes, protes ke Oppa aja, jangan ke aku, dan aku sudah sangat tau ini aneh banget.. mian… siapapun yang mampir kesini, silakan tinggalkan komen kalian. Gamsahamnida…

138 responses »

  1. Hufh.. akhir’y. .
    blm baca sie, cm baca note’y ajah, semoga fto’y bs keliatan.. kangen ryujiiiin si saya mah..wkwk

    eonnie, mian jk ide’y aneh, n mian jg jk rada byk konflik n sdkit ngaco, kn na lg dlm msa pms, jd esmochi’y ga trkontrol.. smpet sdkit brmslh sm eonnie,sm pity eon jg.. tp mslh kecil.. bentar aja kelar,wkwk

    mian buat pity eon sm fika eon klo na jd bkin kalian gondok,kekekee
    indah eon jg.. wkwk

    akhir kata,smga saya yg prtma brgentayangan d’sini..

    teukyo minna ryujin bogoshipoo~ ^^

  2. Huhuhuhuhuhu..
    Part ini mengedihkn skali onnie..
    Smuanya mnderita..
    Awalnya aq kira, tae jun bner2 sadar..
    aq pikir dy udah sayang ma ryujin..
    Yach trnyata dy cm manfaatin ryu jin za..
    Smua masalah bersumber pd su tae jun

    Ayok, qt demo d depan rumahnya tae jun #emosijiwa..

  3. oenni……. aigoo kenapa itu eun kyo nyebelin banget sih ingetnya ryu-jin muluuu kasian jungsoo oppa hedeuh itu tae jun apa-apaan ya ganggu rumah tangga orang lain oen

  4. ga kuat untuk berkomentar
    saya lgi nyesek,,
    mau nuntasin pergumulan batin dlu*gaya lo ndah*
    saya pling tidak suka ada orang
    yg sperti taejun,,rasanya pngen aku cakar muka jlekny
    jambak rambut kusamnya
    berani2nya dia bkin oppaku jdi pemabuk.,,
    apaan itu ambil2 ryujin,,
    monuntasin emosi dlu,,,
    baru lanjut komen nanti,,

  5. Part yang menguras esmosi !

    Kesel ma eunkyo yg terkesan egois ga bisa milih salah 1 dri mereka & ga bisa nerima kenyatan kasian kan oppa ! Ia ngerti gimana rasanya jd eunkyo tapi apa eunkyo ngerti gimana perasaan oppa . Whatever lah hufffftt esm0si esm0si hahaha
    agak kesel juga ma minho nahan” raena mulu pasti ujung”nya di bawa ke apartmennya lg (kesemptan dlm ksmpitan BGT )Dukung raena bunuh tae jun . Wkakakakak😀

    OPPA yg sabar ia . . . .tuh dedenya mau keluar kalo da keluar suruh eunkyo milih lagi , milih bayinya pa ryu jin ? Stress stres dah si eunkyo hahaha😀
    Buat Raena like your carakter @ this part 4 thumb for U . . . . . (sama” emosi )

    TAEJUN nyebur kelaut aja de lu ! Ambisius banget . Istrinya saudara gi hamil masih aja doyan , uda ga laku ya bang :p

    • jgn kesel sama aku… *sembunyi dibalik baju Oppa*
      sini aku kipasin, minum minum? eoh? mau minum apa hem?
      orang mau kawin Nen… jadi suka banget ngajakin ke apartemen… *lari dikejar Minho*
      huwaaaaaaaa jangan bikin stres lagi, ntar jadi sad ending, kamu kan suka yg sad sad?? eoh? giliran dibkin sad pada ngamuk semua??? *celingak celinguk*

  6. Eonny…
    Kmrn malem uda baca separo, trs ngantuk bgt
    Jdi aku slesein pagi ini..
    Hohohoh…
    Bru komen deh..

    Aku nangis bacanya eon.. T.T
    Huhuuu..
    Kenapa taejun sekejam ituu?
    Grrr,, emosi..

    Raena eonny sabar yaa..
    Eunkyo eonny emg rada babo kdg”..
    Hahahah.. *lari ama kyu*
    Drpd emosi mnding urusin minho aja eon.. =P

    ending nya bkin gregetan eon.. Ugh..
    Ngelahirin? Kontraksi? Bukaan brp?
    Uwaa.. >.<

    Ryujinnya kasian eon, tersiksa sama Taejun..
    Ugh..
    Aku pgn bantai taejun deh..

    part selanjutnya end eon?
    Kyah.. Ga sabaaarr~..

    *kiss eonny*

    • m, m, mworago?! aku rada babo?? yak!
      beuh yang baru dapat ponakan… udah tau bukaan… *km apa bkn yah yg baru dapat ponakan? lupa*
      iya, part selanjutnya end sayangku…
      suka neh saya kalo dapat ciuman…

      • Huwahahahahahhaha.. Mmg kan eonny aga” babo kdg”..
        Ponakanku uda mo 9bln eon.. Hahahahhahaha
        Aku lbh suka dpt cium dr Kyu.. *cup cup cup muah*
        Eonny bawel, Shrimp kissnya manaa? T.T

      • shrimp kiss nya aku jg lagi nunggu, Al baru selesai ujian, jadi masih proses… masa aku nanyain terus kan ga enak sayang…

        blm 9 bulan… hampir 9 bulan…

  7. syuuuuunggg,,hupph*baru turun dri kyangan critanya,,

    sudah mulai tenang stelah training pagi ini,,
    mau mulai komen,,,

    ehhemm,,part ini sukses bkin darah tinggi kumat,,
    nyesek baca karena napsu pengen bunuh si taejun*hidung ngeluarin asap*
    orang yang udah bkin rusuh rmh tangga ka2 saya,,
    udah bkin oppa ku mbuk2an,,
    trus berani2nya ngambil ryujin,,
    bkannya disayang tapi mlah disakiti,,
    berani2 nya jauhi ipar saya dri suaminya,,kalo kyo ma kehamilannya knp2,,aku bkal tuntut dia,,*mata mulai mrah,rambut mbgembang*

    tapi ada yg aku suka di bagian ini,,kemajuan hubungan raena ma babyku minho*tabur kembang ala india*
    ehem ehem,,ada angin apa ini raena nyium baby trus ngejwab pernyataan cintanya,,
    mudah2an ga da badai stlah ini*baca doa tolak bala breng enchung*
    trus psangan labil ini mo nikah,,
    huhuhuhuhu,,senangnya hatiku,,akhirnya mreka nikah juga,,
    si baby makin dewasa kayanya*acak2 rambut minho*,,
    baguslahhhh,,,aku suka minna
    aku cinta teukyo,,
    aku sayang ryujiiiinnn

    ryujin sayang,,tenang aja yaaahh,,ahjumma akan menyelmatkanmu dri orang gila itu,,
    tunggu kdtangan ahjumma sayang*seret enchung buat bantuin selmatin ryujin**ga lupa bwa celurit,peso,pistol,panci,sendok nasi,,beras,sayur,piring,mangkok*

    • buaduh, mentang menatang si onnie adki kesayangan malaikat yah…
      minum obat onn, nanti sakit kpala loh…
      iya dong, mesti ada perkembangan onn… masa iya berantem mulu? eoh? ga lucu banget kan? iya kan? bagus kan onn cincinnya? kaga ada ynag menyinggung cincinnya inihhhhhh

      Onnie mau liburan Onn bawa alat masak? untunglah ceritanya ga ngaco, perasaan fika rada aneh sedikit fika menuangkannya, sedikit melenceng dari ide Rae Na…

  8. omaigad!!! Eoni justru konfliknya dpt loh aku… Berasa bgt klo aku mah baca yg bagian jungsoo oppa mabok2an, pas kpisah blm lg yg ryujin d marah2in aku ampe berkaca-kaca bacanya…. Sedih bgt…
    Blm lg yg pas rae na bw plng eun kyo aku gk tega sm ryu jin… Huhuhu

    Ah dasar basmi aja tuh si tae jun!! Ngajak ribut bgt!!

  9. Akuu nangiss bacanyaa… T_T
    Ga tega liat abang teuki yg dilema n galau.. Hihihi
    Tuhhhh kannn jdii Ga sabar nunggu part 15 nyaa… Bisa2 ikutan galauuu nihh saking penasarannya…
    Semangat terruss eonnie kuu…

    ^^
    Park Eun Kyo

    • satu lagi yang nangis..
      semua pada ga tega sama teuki, apa yang ada kasian sama aku?? eoh? huweeeeeee
      part 15 insya allah secepatnya… yah sayang yah tunggu aja, kirain udah banyak yang lupa sama ff ini, karena udah lama bgt aku g publish…

      bahkan kembaranku sendiri kaga kasian sama aku… *manyun*

  10. aishhh~~~~ jinjja!! Park Tae Jun jahaaaatttt!!!!! benci.benci.benci
    sumpah, part ini bkin darah tinggi aj..park tae jun sialan.!! apa mau.y sihh?!
    jungsoo oppa menderita, eunkyo jga, ryu jin apalagi~ eonni ;(
    MinNa couple udh mau merit, ehh, malah eonni lgi yg b’msalh sm soo oppa
    ckk~ jinjja!
    ryujin gmana dong?? si taejun jelek *?* itu suka bgt marahin dia, kan kasihan anaknya~
    tenang adik manis, mending kamu sma noona aja sini..jauh-jauh dari ayahmu yg gila itu #nunjuk taejun!

    • astaga… satu lagi yang ngamuk… oppaaaaaa tolong….
      minum obat hipertensi kalo tekanan darah naik…
      astaga, dia ga jelek… dia cakep… banget malah…
      tidak bisa tidak bisa… ryu jin akan tetap bersamaku…

  11. Jumma knapa part ini suram bgt…
    Ryujin kasian bgt tinggal sama taejun dpt siksaan batin mulu… Ak kira taejun udh nyesel, ternyata ngga…
    Aduh it teukyo coupel udh kya mayat idup…
    Haaa dtnggu lanjutan.a ya jumma…

  12. Hufh . . Aish !! *cakar2 taejun* Ku cincang kau !! Ku mutilasi sekalian !! Hiiiaaaaaattt *jurus saringgan smbil melayangkan pedang tessaiga*

    Eonnie, aq kasian pdmu, sprti barang.. #plakk
    Tapi Eonnie, mian, aq bnr2 gondok pdmu, ryujin bkn anak kndungmu, kau salah, menelantarkn keluargamu, bhkn kau menelantarkn ponakan kandungku yg ada dlm perutmu n trkesan tdk mnganggap’y ada. .
    kau bs mmbuat beribu-ribu ryujin dg oppa *meski tdk sm sih* #plakk
    Neomu,neomu,neomu.. jeongmal,jeongmal,jeongmal PHABOYA !!

  13. Dan Kau Oppa, kau jg bodoh..!! aku tau kau tulus menyayangi eonnieku, tp kau jg salah brtindak bgtu Oppa: aku bnr Rae Na~ya
    kau tdk brpikir, bagaimana klo taejun mmperkosa istrimu
    Eonnie: Rae Na, aku lg bunting !! aish,anak ini..
    *aku sdh hafal yg akn d’katakn eonnie pemirsa* -_-‘

    semua brsumber dr taejun,maka dia hrus d’lenyapkan !! sprti’y minho trlalu bijak d’part ini, maka harus’y aku mmbunuh taejun brsma yonggun,dia psti bs d’andalkan..hahahaa *ketawa lampir*

  14. Minhooo. . kau melamarku? aish,knp wktu’y d’saat galau bgni?
    tp itu sdkit menguntungknmu krn aku tdk prlu pikir pjg utk mnjwb’y,kau tau sndri kn aku tdk suka wktu tidurku d’ganggu,kau beruntung..whahahaa *blg aja seneng jg,bgt mlah* #plakk
    tp mlht tingkah teukyo mmbuatku brpikir bhwa cinta itu bnr2 konyol !! #plakk
    ryujin~a,bgaimna klo kita kabur sja? *kabur bareng ryu*

    mian mmbuat semua’y esmoni dg ide ff penuh konflik ini,saya esmoni ngajak2,mklum lg PMS (?) maaf jg mmbuat eonnie d’amuk massa XDD

  15. Foto gemas Ryujin mmbuatku ingin mencincang taejun, tega yah sm anak kecil bgtu, sbuas-buas’y singa dia tdk akan menyakiti anak’y sndri.. tp taejun? yaish !! org itu hnya memanfaatkn ryu utk ego’y..
    Minho,kau bnr,kata2mu sungguh keren !! yg hidup sm mummy ituh.,kekekee
    Ketulusanmu akn mngembalikan semua’y Oppa..

    Eh,gomawo cincin’y. . tau bgt klo na suka hitam,kekekee
    tp klo menikah aku ingin cincin couple yg pke nama #lol
    wkwkwk udh ah,mau syuting lg..hehee kbanjiran job skrg saya. .😉😉

    • cincin kopel pake nama? yak! kamu bukan anak kecil lagi, dasar ini anak…
      banyak jalan menuju Roma katanya Tae Jun… wahahahahahahahahaha.
      langka itu berlian hitam, kalo ga salah cuman ada di Brazil, terbatas jugaaaaa

  16. Hoah baru baca ~(‘_’)~ sebenernya udah baca dari kemarin, cuma gabisa ngasih comment -_-
    ah demi apapun aku nangis Onn pas baca bagian Ryu Jin mandi sendiri, sumpah kasian banget itu rasanya pengen narik Jung Soo Oppa terus suruh mandiin Ryu Jin, mana mungkin Onn, anak sekecil itu mandi sendiri? kasian! kalo kepeleset gimana? /plak
    sepertinya couple MinNa baik-baik saja, walaupun orang2 di sekitarnya sedang kacau balau, mantap lah udah itu bunuh aja si Taejun Raena Onnie(?) rasanya baca ini emang pengen cincang2 si Taejun.
    terus kalo buat Teukyo, kalian berdua menyiksa diri sendiri -_- orang gabisa pisah, malah sok2 mau misah, ah gimana sih. akhirnya dua-dua nya stress sendiri kan ~.~ sudahlah cepat singkirkan Taejun dan buat hidup mereka semua damai dan tentram..

    • ryu jin udah pinter… dia anak aku yang palinng pinter… sangat sangat pinter…
      Rae Na pengen menikah, jangan bunuh-bunuh orang, salah-salah kaga jadi nikah…
      menyiksa diri? haha, menyiksa diri yah emangnya itu??? *tanya Oppa*

      mian, kayanya part ini benar-benar bikin orang demo deh…

  17. Hai yeobo,
    maaf pagi2 aku datang tanpa di undang. Aku disini mau nyulik ryu jin..kan bagus tuh jadi adil, kamu menderita,jungsoo frustasi,taejun putus asa..ideku brilian kan? *ada ya penculik ngomong2?*

    yUHUUUuu..ga nyangka ini udar part 14, sumpah.

    Astagaaa, aku udah baca kemaren tp baru komen sekarang *tabok*.
    ONNIE ! *ga ada yeobo2, kan ceritanya lagi kesel* INI APA? KENAPA ? MENGAPA TERJADI CERITA KAYA GINI? Omaygod *Gaya CL*

    Jungsoo oppaku suamiku kekasihku simpananku, kamu menggemaskan. Jujur, aku gemes bgt sama kamu disini. *tepok pantat teuki*
    oppa oneng oneng oneng..
    Kamu juga sama onnie, lebih oneng !
    Taejun juga, super oneng.
    Yang paling bener cuma aku seorang. Hahahahaha

    ecie raena, cium2 simpenan aku..
    Hahaha,
    ada typo loh yeobo, tapi aku lupa dimana dan yang mana..gyahahaha

    eh aku ada ide brilian lagi nih, gimana kalo kamu tinggal sama taejun aja yeobo. Nanti oppa aku yang urus. Raena kan mau nikah.

    Eh itu di akhir kamu mau brojol ya? Iya kan? Cie cie selamet yee..pasti anaknya kaya aku.

    Eh tunggu, aku suka nih part ini..agak panas dan ga adem kaya kemaren2. *tunjuk adegan demi adegan*

    yeobo, aku jarang liat ff kamu yang sad ending. Bener kan?

    Tuh, berarti kamu harus buat ff kaya gitu. Di akhiri dengan aku dan jungsoo hidup bahagia. Kamu ilang aja. Hahahahaha

    • yak! sudah aku bilang jangan tepok2 pantat laki ayeeeeeeeee
      enak aja kamu yang urus! masih ada rae na sama Minho!
      brojol? tau, mau brojol sekarang apa nanti yah? masih 8 bulan lebih dikit, aku ga pernah bikin sad end, yang ada sad story… engga mau! kaga bakalan ada sad ending, kecuali bukan aku yanng bikin… enak aja! *tarin sandeul* ayo de, kita kencan, bagaimana? *elus pipi sandeul*

  18. WAOW!! Suasana semakin panas nih, eonn.. Jung Soo galau ditinggal Eun Kyo, kasihaaan~ huks T.T
    Eun Kyo jangan mau sama Tae Jun, kukira dia udah berubah beneran, tapi ternyata.. ish! SAMA AJA.

  19. aish apa-apaan tuh si taejun org gila seenakx nyiksa ank kecil n manfaatin bwt dptin eunkyo..ckckck..
    apa tdk ada wanita lain selain eunkyo, dia itu dah milik jungsoo oppa jgn ganggu mrka…ayo raena aq setuju u bantai si taejun..
    Pengen bwa golok nech bwt nyincang n mutilasi trus potonganx aq ksh ke buaya ato singa..#evil laugh with kyu..

  20. wah utk raena chukkae ya yg mw nikah…ciecie tumben gak galak ma minho trus bales cinta minho..tapi tak apa-apalah malah aq seneng…hehehe
    itu cincinx aq suka bgt ma desainx pengen beli kyk gt..hehehehe

    ya udah dech cuap-cuap dr saya sekian dan saya tunggu kelanjutanx finalx jgn sad ending ya…

  21. Onnieee..
    Part ini bener” kasiaaann teukpa bgt,,,
    aku sediah oppa kyak gtu..
    Dya menderita dehh..
    Onnie hrus mengerti oppaku jugaaaa..
    Taejun tuh minta d mutilasi kali ya, gemes aku sama dya..
    Raena tumben mau nyosor dluan.. Hahaha
    part bsok endinggg,, nikah nikah dong minho ma raena..

  22. g tw mw koment apa..
    huaaa…ryujin knapa diambil sama taejun?????huhuhuhu…T,T
    part ini sedih bgt..menderita semuanx..onnie knapa ryujin dtinggal??????sharusnya langsung dbawa pulang aja..
    endingx onnie mw melahirkan ya?????*nebak c..hehehe

    • melahirkan ga yah? hahahahaahha, maunya si melahirkan… tp blm tau bayinya udah mau keluar apa enggaaaaa
      knpa ryu jin dtinggal, tanyakan pd rae na, knpa anakku ditinggal…
      sedih yah? waduh, mian yah…

  23. Onnie, tae jun kok jahat amat ya kirain udah sadar kalo punya anak seimut dan seganteng ryujin itu ga boleh disia2kan dan harus disayang.ternyata cuma bohongan buat dapetin eunkyo.

    Suka banget sama cara ngelamarnya minho. Sesuatu banget..”menyedot seluruh energi hidupku.” bermakna sekali.
    Minho mulai kelihatan sikap dewasanya.

    Ahjusi ganteng pasti perasaannya sedih bgt itu. Sabar banget ya..
    Onnie keren bgt deh.
    Part selanjutnya tamat? TIDAKKKKK
    gpp deh. Semangat ya onnie ngelanjutinnya.

    • jahat? engga juga, cinta kadang2 membuat kita seperti orang jahat…
      huwaaaaaa akhirnya ada yang nyinggung cara ngelamarnya *cium carol*
      eum, minho dewasa, siapapun cowonya kalo aku yang bikin aku bikin dewasa mulu *plak* paktor umur kali ya? *sombong…*

      oh jangan salah, dia kalo nangis jelek banget… *plak*
      aku keren?? huwaaaaaa dari sekian banyak yang bilang aku bodoh, cuman kamu yang bilang aku keren *cium carol lagi*
      iya part selanjutnya tamat.
      tapi tenang saja sayang, aku punya cerita berbeda, meski temanya sama ky MLT
      aku bikin oneshoot ini lagi, seperti itulah kira-kira karakter-karakternya, tapi chapter.. pembukanya oneshoot dulu, tapi oneshootnya ga berhubungan sama FF chapter selanjutnya, apaan deh aku ribet banget.

  24. Sumpaaah aku sebel bgt sama tae jun !!!
    Aaaahhhh keseeeellll !!!
    Jungsoo oppa juga kenapa pasrah banget sih
    (˘̩̩̩____˘̩̩̩)
    Aaaahhhhh sebeeeellll
    Aku berasa kayak Rae Na deh,ga sabaran gini

    Tapi teteeep
    Aku paling salut banget ama sikapnya minho🙂

  25. akhirnya selesai juga bacanya *elap keringet* setelah sekian lama, terpotong-potong huaaaaa akhirnya baca ulang lagi biar ngga begitu ngeblank~
    aku dapet banget feel Ryujin~~~ *poppo* ngga tau kenapa disini aktingnya dia yang paling keren~ aku tterharu banget (-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩) tapi maaf Onn aku kurang ngena sama Raena-_- rada terkesan maksa *digampar* tapi beneran deh -3- tapi ini bagus~ Ryujin-nya yang paling bikin bagus~~~~~

  26. Yaak, part ini bner” galau total…
    Kirain taejun udh bner” sadar, trnyata cma mnfaatin ryujin doang.. Jahat bgt dah.. Aq emosi tiap bca bag yg ada taejun’y…
    Tpi aq ska kta” minho ke taejun.. Dalem bgt..
    Dan, pas bagian jungsoo oppa sukses bkin aq nangis.. Ga tega ngliat oppa kyj gtu.. Hiks.. Kyk’y oppa tersiksa bgt..;-( Rasa’y pngen bner” bunuh taejun saat itu jga..:-@
    onnie ya~ lanjuan’y jgn lma”, aq pnasaran tingkat tinggi nih.. Hehe.:-P

    • gahahahahahahalau total? ga ada sisanya??
      nangis? bagian yang mana yah, saya sudah lupa…
      lanjutannya masih digarap, ga selesai2 inih… feel aku naik turun, kerangka ide udah ada, cuman menuangkan yang rada susah… masih bingung cara menceritakannya gimana? akhir2 ini aku kebanyakan tidur… sepertinya minggu depan baru publish…

  27. KOk jadi gini???huhuhu runyam onn…
    kenalan dulu ah..anneyounghaseo…Kang Hyu Ni imnida…reader lama..*sebenernya pmbaca setia MLT* tapi baru sekarang komen…mian ya onn…abis kalo baca di hape…jd susah ngomennya..bahkan ga bisa??baru ini ni…baca di kmputer…hehe
    Ryujin kenapa makin melas yak?kasian…sini sama noona…*tarik Ryu jin*
    ngomong-ngomong uda ada part end …ntar minta PW bole ya onn??

  28. seruuuuuuuuuuuuuuu buangettt gak sadar ternyata part ini puanjang, saking serunya jadi gak sadar sudah jam 3 lebih😀
    hiiii gemes deeeh, tapi untung sadar dia lebih ke jung soo😀

    woow woow woo apakah eun kyo akan melahirkan ntu ??
    tak terasa tinggal 1 part lagi, huwaaaaaa lanjuuuuuuuttttt

  29. annyeong eonnie habrina imnida reader baru
    aku suka banget ma ni ff, ryujin kasian bgt dimanfaatin tae jun, sini sama noona aja🙂
    part ini bikin nangis, apalagi waktu bagian jungsoo oppa
    pokoknya seebeeelll sama taejun!!!

    Btw eon, ada MLT yang diprotect aku boleh minta pw.na ga?

  30. Annyong tasya imnida, reader baru salam kenal.
    Mian sbelumnya baru coment d part ini, gpp kan aq coment borongan? Hmm aq suka sma ini ff walaupun awalnya sempet bingung sma pov nya yang kebanyakan, aq juga sempet nangis waktu baca ni ff pokoknya daebak deh.
    Oh iya aq boleh kan minta pw part 15 nya?

    • annyeong tasya… engga papa daripada g komen sama sekali…
      aku emang suka banyak cast, biar berkembang ceritanya dan g monotn eun kyo aja…
      nangis? wadoh, g sediain tissue loh yah…

  31. Ckck, eonni aku galau gr2 masalah kalian. Aku mau marah sama jung soo oppa yg terlalu bodoh, dan eonni yg terlalu egois. Dan kepda ryu jin yg telalu menghancurkan rmh tangga orang. Yg plg aku inginkan skrang membunuh tae jun *horor*

  32. pada galau, teuki sm eun kyo, rae na, tae jun jg#byk amat ya

    tae jun blum sadar jg th, ms blm rela ngelepasin eun kyo…

    aku br ke ingt, kmana pasangan jinki-eun cha, hae-jina, kg pernh nongol

  33. aku meneteskan airmata, beberapa tetes (?) TT.TT *bukan nangis loh yaa hha*

    ini kenapa malah jadi begini, ryujin diambil, tapi eunkyo ttep aja cuma fokus ke ryujin… ga pernah merhatiin leeteuk ama dd bayi diperutnya😦 pdhal kan itu anak kandungnya sndiri…

    tapitapitapi untung aja raena sifatnya begitu, temperamen gimaana gitu #plak
    jadi bisa maksa eonninya buat pulang biar teukkie nggak gentayangan mulu dibawah alkohol -,-

  34. Konflik nya makin rumit~
    wuahh eonni kasian teuk oppa frustasi berat -,-
    Ryu jin kan bukan anak kandung eun kyo, tapi kenapa eun kyo sampe menderita banget? aigo~
    ga sayang apa ma bayi yang ada di dalem perutnya..Eun kyo bikin geregetan sumpah!
    Rae Na juga kasar banget, kesian kan eun kyo nya ckckck
    Tapi tapi Eon, pokoknya daebak deh! Suka banget ma tulisannya! d^^b

  35. onnie,tanggung jwb!
    kau membuatq menangis!:'(
    q jd ikt2n ky Raena de!
    mang bner kt dy,TeuKyo mang sm2 bodoh!
    tp kasian jg,aplg m Jungso!
    nyesek bgt q bcx onn!
    Pngen bgt rsx q nonjok Tae Jun,bntuin Raena!Argh..><
    itu Kyo mw mlahirkan y onn?
    lngsng bc next partx de!

  36. aish rasanya mau tendang si tae jun saat itu juga.
    menyebalkan sekali sih dia itu.😦
    baca part ini menguras emosi banget eon.
    pangen nangis tapi juga pengen marah.
    aghhh sedih.. huaahhh…hiks..hiks *nangis bareng wookie*

    semakin keren eon,🙂
    semangat baca part selanjutnya!!
    annyeong eonni. *hormat bareng kyuhyun*

  37. Part ini nguras emosi pas baca nya
    Kesel deh liat eunkyo. Lbh sayang sama ryujin drpd suami nya sndri yg uda baik sabar ma dia
    Taejun jahat bgt manfaati ryujin biar dapet eunkyo. Appa yg jahat.
    Eunkyo mau lahiran ya?

  38. bener2 nguras emosi ni part…huft…

    rasanya pengen nonjok si tae jun ngeselin banget tu orang g kasian apa liat eun kyo ama ryu jin…

  39. Huwaaaa…taejun babo…gemes aku sm dy…teganya dirimu teganya teganya teganya ooooooo pd dirinya…ckckck…
    Aaaahhh..pokoknya kyo eon hrus sm teukppa hrus sm ryujin…tdk boleh ada yg memisahkan…

  40. Tae jun jahat bgt de sumpah sebel bgt emosi q udah sama kyk Rae na nih meledak2 rasa y mau cincang Tae jun,,,, hati y ngak tergerak eun kyo y kyl mayat hidup gt……
    q pikir tae jin y bener2 ngiginin Ryu jin sekaligus mau daperin eun kyo tau y dia ngambil Ryu jin cum biar eun kyo ke sisi dia n masa bodo sama anak y,,,, bener2 ngak punya hati….. appa y jungsoo tau kek biar bertindak nanganin Tae jun….

  41. ni part nguras energi ya???
    banyak emosi yang timbul,
    kesel ma Tae Jun
    bukan cinta tapi obsesi untuk memiliki Eun Kyo…
    heheheh
    gitu dong sekali” jujur ma Minho dong Rae na.
    kekekek

  42. ikut2an esmosi kayak Raena nih bacanya..
    Eunkyo koq lemah gt sih..
    kasian banget liat jungsoo.. uda tll banyak berkoban demi eunkyoo..
    tp yg dipikirin eunkyo selalu ryujin…
    itu Taejun keq na jg stress x ya..
    memaksa x mau memiliki milik ora laen..
    jd geregetan deh..

  43. haddduh liat tae jun itu beneran deh , bikin gregetan ><
    Gag bisa ngeliat orang lain bahagia deh .
    Salah sendiri suruh siapa dulu buang ryu jin .

    Oke ayo baca last part

  44. annyoeng eonnie aq raiders bru slam knal^^…udh ngcak2 blog mu,mav ni aq komen nya dstuin d’akhir..
    Sumpeh ni oen sdih bget:'( sking cntanya smpe kya gtu hwaa eeteuk love u…adh syang aq g tw ndingnyd gmna ini jgn smpe sad ndinglah mudh2n teukyo brsatu,,

  45. demi apaaaaaa >.<
    Aku baca yang part ini 3 hari loh dan baca penuh emosi
    Campur aduk mulai dari seneng , sedih, ngakak , marah !! Pokoknya semuaaaaaa
    Great job !! Intinya aku suka banget sama ff iniiiiii

  46. Ia bener rae na eonni,, ayo aku bantu bunuh si tae jun sial itu
    Keseeeell bgt eonni,, part ini bener” menguras air mata,,
    Aku ga terima uri ryu jin di kasarrin gtu sama si tae jun sial itu
    Emosiiiiiiii

  47. gilaaak taejun gilaaak -________- semua gara-gara dia ! tp eunkyo juga menyebalkan ! pdhl jungsoo udh segituu baiknya masih aja…:/ part penuh konflik. yg bikin seneng cm pas tuan choi blg mau ngelamar raena ><

  48. akhir.a aq bisa baca ff lg.. huhhhh dari kmren pngen nerusin baca g sempet mulu..
    aduh geregetan deh sm taejun.. huhhh jahat bgd. dia ambil ryujin hnya ingin memnfaatkan.a.. ah dia tdk mncintai.a sbgai anak kndung.. aq kira dia bkal sadar setelh d peringati minho.. smga cpt sadar deh taejun..

    wahh eunkyo mw melahirkan.. gk part selnjut.a.. hehe

  49. knapa eunkyo kyk’a egois bgt yg ada d pikiran’a cuma ryu jin pdhl dia sendiri sdang hamil dan jg jrang bgt merhatiin calon bayi’a kesan’a dia tdk menginginkan anak dri teuki, knapa fokus’a kyk’a cuma buat ryu jin, jujur eon kesel sendiri jadi’a mian eon aku cuma mau blng yg mengganjal d pikiranq

  50. Ryujin kasian bngt..sedih ngeliat teukyoo..dramati bngt ya..bikin ketawa,senyum,nangis,marah di part ini eonni ok bngt ngebawA alur critanya..ihhggg taejun kurang ajar bngt si tu lelaki..nyebelin bngt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s