Colourfull of Love (End)

Standar

CL

Dari jendela fragmen kenangan memudar
Langit biru yang murni
Bibir kaku menangis
Saat aku berteriak betapa aku merindukanmu
Tali nasib kusut pada perasaan yang masih hidup
Tetap kusut
Dari jendela fragmen kenangan memudar
Aku akan mengikatnya bersama-sama sekali lagi
Kau tidak akan tahu, air mata anak laki-laki yang rusak
Desah lelah berputar-putar di sekitarmu, sehingga kau tidak dapat tahan
Aku akan mengirim kenangan kusut kita
Yang telah mengencang di tenggorokan sengit
Ke langit sedih
(Let You Go-Trax)

Teuki’s POV

“Ayo kita menikah.” Memintanya lagi setelah selesai menyeka airmata yang mengalir di kedua matanya. Aku menatapnya untuk meyakinkannya. Tatapannya nanar, bulir airmata masih ingin menyeruak keluar dari matanya. Dia mengangkat wajahnya keatas menahan airmatanya. Orang menyaksikan kami dengan bingung. Dia menghela nafas dan setetes airmata kembali lolos dari mata indahnya.
“Aku tidak ingin membicarakannya, aku lelah.” Dia mengangkat pergelangan tangannya dan melepaskan tanganku. Dia berbalik dan melangkah meninggalkanku. Aku hanya bisa menatapnya, tidak bisa mencegahnya. Setelah dia menghilang, aku melepaskan pandanganku dari punggungnya dan beralih pada ketiga orang yang menatapku tajam.
“Mianhae mengganggu malam seperti ini.” Aku membungkukkan badanku. Lalu kembali berdiri tegak dan membalikkan badanku bersiap untuk pergi.
“Tunggu Oppa, sepertinya kita perlu bicara.” Suara gadis menghentikan langkahku, aku berbalik perlahan, mendapatinya berwajah tegang.
“Boleh, kita bicara dimana?” aku mendekatinya.
“Apa yang sudah kau lakukan?!” serang lelaki muda tiba-tiba maju selangkah dengan wajah penuh emosi. Aku hanya bisa menunduk dengan pasrah atas tatapan mengadili mereka.
“Biar aku yang bertanya.” Gadis itu menariknya dan maju mendahului langkahnya lalu menarik tanganku.
“Kita bicara dibawah pohon saja biar tidak ada yang mengganggu.” Gadis itu sedikit menyeret tubuhku, meski aku bisa menjajari langkah kecilnya namun tetap terasa dia memaksakku. Dia mendorong tubuhku untuk duduk di kursi satu-satunya di bawah pohon itu. Gadis itu berkacak pinggang berdiri dihadapanku.
“Oppa! Apa yang sudah kau lakukan?!” dia betanya sedikit berteriak, amarah terasa dari tiapa kata yang dia keluarkan dari mulutnya. Aku tidak berani menjawab.
“Apa yang kalian lakukan, eoh?!” desaknya lagi meminta jawabanku.
“Kau tidak mau menjawab?!” lanjutnya lagi. “Bisa kau jelaskan ini?” dia menyerahkan sesuatu padaku, aku tercengang menatap benda itu. Positif.
“Dimana kau mendapatkannya? Ini milik siapa?” aku langsung berdiri dan mengambil benda itu. Mengusap wajahku, bukannya tidak percaya, tapi, benarkah ini? Aku menatap gadis itu dengan penuh harap jawaban darinya.
“Katakan padaku apa yang kalian lakukan?!” nadanya lebih tinggi dariku.
“Itu, aku, dia.. hufh.” Aku menghela nafas untuk menenangkan pikiranku. “Apa itu milik Eun Kyo?” tanyaku padanya. Dia mengangguk dengan wajah lebih emosi yang tadi. Aku mengambil nafas.
“Jadi dia hamil?” tanyaku, dia berdecak kesal.
“Lalu apa?!” marahnya sepertinya sudah memuncak. “Onnie tidak pernah dekat dengan siapapun, apalagi seorang pria.” Dia menatap benda yang ada di tanganku, lalu beralih menatap mataku, meminta penjelasan.
“Kau memaksanya?” tuduhnya padaku. Aku harus menjawab apa? Itu pemaksaan? Melakukannya tanpa perlawanan darinya apa itu sebuah pemaksaan? Melakukannya saat dia tidak bisa menolah apa itu sebuah pemaksaan? Aku menunduk dan tidak berani menjawabnya.
“Jawab aku, Oppa!” dia menarik kerah jasku. “Apa diammu artinya iya?” tegasnya lagi.
“Mianhae.” Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku dengan pelan. Tanpa aku duga sebuah pukulan mendarat diwajahmu.
“Mworago?! Apa yang kau lakukan? Kau orangnya?!” Lelaki muda yang sejak tadi mengawasi pembicaraanku dan Rae Na tiba-tiba saja memukulku. Dia memukul rahang kananku lalu perutku. Rae Na ikut menampar pipi kiriku.
“Kau gila?! Dia tidak pernah dekat dengan lelaki manapun! Dan kau!” Rae Na memukuliku bertubi-tubi begitu juga lelaki muda itu. Aku tidak berani melawan mereka, mungkin ini yang pantas aku terima. Aku tersungkur di tanah. Aku melihat dari sudut mataku Rae Na ditahan oleh seorang lelaki muda.
“Rae Na cukup! Kalian bisa membunuhnya.” Teriak lelaki itu sambil menangkap Rae Na. Rae Na masih  saja menandang kakinya kearahku namun lelaki itu menyeretnya menjauh. Lelaki muda yang satu masih menendangku dengan keras.
“Kau! Berani menyentuhnya sekali lagi maka aku pastikan kau akan mati!” dia menendang perutku keras. Aku tidak mampu lagi mengeluarkan suaraku, hanya bisa meringkuk menahan sakit sekujur tubuhku akibat pukulan dan tendangan mereka.
“Key! Hentikan!” samar aku mendengar suara Eun Kyo berteriak. Aku mencoba mencari sosk matanya dengan memutar tubuhku. Dia berlari kearahku, aku mencoba bangkit dengan bertumpu di kursi. Aku berhasil membuat tubuhku berdiri meski tidak tegak, aku membungkuk menahan rasa sakit yang menjalar diperutku. Lelaki muda yang disebut Eun Kyo dengan nama Key itu bersiap melayangkan tinjunya lagi padaku.
“Key! Cukup!” teriak Eun Kyo labih keras dan menahan tangan Key yang melayang. Dia menahan Key dengan keras. Aku mencoba memberikan senyumku padanya.
“Nan Gwaenchana, Kyo~ya.” Aku susah payang mengeluarkan suaraku yang serasa tertahan ditenggorokan oleh rasa sakit. Eun Kyo memeluk tubuh Key agar tidak memukulku.
“Cuk!” Eun Kyo tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena tubuhnya sudah jatuh ketanah.
“Noona!” pekik Key sambil duduk menghampiri tubuh Eun Kyo yang tidak sadarkan diri. Aku juga mendekatinya dan mencoba menyentuhnya.
“Jangan sentuh dia!” Key mengibas tanganku hingga aku kembali tersungkur di tanah.
“Onnie!” teriak Rae Na sambil berlari. Ya Tuha, aku mengacaukan semuanya. Aku hanya bisa memandangi mereka yang mengankat tubuh Eun Kyo menghilang di balik pintu.

Aku masih duduk di tanah, menumpu tubuhku dengan kedua tanganku. Benar-benar mengacaukannya, aku menghancurkan hidupnya. Meski ini yangaku inginkan, ani, bukan menginginkan seperti ini, tapi aku benar-benar ingin bertanggungjawab dan ingin memilikinya, menjaganya. Airmataku menetes ke tanah. Aku tak kuasa menahan isakanku. Park Eun Kyo, ini semua salahku. Aku menyapu airmataku dan mencoba bangkit dengan susah payah. Saat aku sudah berdiri, kembali rasa sakit itu menderaku, aku tidak memperdulikannya. Aku berjalan menuju rumah mereka dan ketika aku sampai di depan pintu, aku segera menggoyang lonceng yang menempel dipintu.
“Park Eun Kyo! Tolong dengarkan aku, aku ingin bertanggungjawab!” aku berteriak sekeras mungkin, berharap dia mendengarnya, atau siapapun yang mendengarnya, aku ingin tau bahwa aku ingin menjaganya.
“Aku berjanji tidak akan menyakitimu, tolong bukakan pintunya!” aku tidak lagi menggoyang lonceng tapi menggedor pintu rumah mereka yang terbuat dari kayu dan kaca, hingga terdenga suara gaduh.
“Rae Na~ya, apa Eun Kyo sudah sadar? Aku ingin melihatnya!” teriakku lagi. Aku kembali menggedor pintu rumah mereka. Seseorang membukakan pintu dan aku bergegas masuk.
“Hyung, hyung, hyung.” Lelaki muda yang tadi menahan Rae Na juga menahanku kali ini.
“Aku kenal denganmu, kau teman Siwon Hyung, aku Minho, sepupu Siwon Hyung. Dengarkan aku.” Dia mencoba memaksaku menatapnya.
“Eun Kyo Noona baik-baik saja, dia sedang istirahat, tolong jangan ganggu dulu, dan jangan buat keributan lagi Hyung.” Ujarnya menenangkanku. Aku tidak bisa terima semua nasehatnya, yang aku inginkan sekarang adalah melihat wajah Eun Kyo.
“Aku mengerti kau mengkhawatirkannya, tapi tolong pahami keadaan Noona, juga keadaan mereka yang sedang emosi, kau ingin selamanya tidak meliaht Noona? Karena kau sudah tak bernyawa?” aku menggeleng lemah.
“Sebaiknya kau pulang dulu Hyung.” Lelaki muda yang bernama Minho itu membantuku berdiri dan mencoba membawaku berjalan keluar.
“Aku hanya ingin melihatnya sekali saja.” Pintaku padanya dengan muka menyedihkan. Aku benar-benar ingin melihat wajahnya.
“Hyung, bukan saatnya.” Minho membawaku keluar, aku tidak bisa melawannya. Park Eun Kyo, maafkan aku, bbesok aku akan kembali dan aku akan menanggung semuanya, kau harus menikah denganku. Harus, kau tidak bisa menolak lagi.

***
Aku bangun dari tidurku dan merasakan sakit disekujur tubuhku. Aku mencoba bangkit, namun tubuhku begitu lemah dan kembali terkulai ditempat tidur, aku meraba pipiku yang terasa sangat sakit, meraba sudur bibirku dan ada noda darah kering disana.
“Ugh, sakit.” Aku meringis memegangi pipiku. Meski rasa sakit ini menggerogtiku, tapi otakku masih berputar memikirkan Eun Kyo, tadi malam dia jatuh pingsan, benarkan dia baik-baik saja? Eoh? Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi apa-apa padanya. Aku memaksa bangkit dari tempat tidur dan melangkah ke kamar mandi. Aku menekan tombol air panas dalam bak mandi dan duduk ditepi bathtub menunggu airnya penuh. Kembali pikiranku melayang pada Eun Kyo. Malam itu, aku memang menyentuhnya, tapi dia sama sekali tidak melawan, bahkan terlihat menikmatinya. Dia merespon semua sentuhanku. Aku menggelengkan kepalaku menghalau semua kenangan itu. Air dalam bathtub sudah penuh, aku masuk kedalamnya lengkap dengan bajuku. Menenggelamkan seluruh tubuhku tak terkecuali kepalaku.
“Aku harus menemuinya.” Aku keluar dari bathtub dan melepas semua bajuku dan menggantinya dengan setelan jas yang ada dalam lemari bajuku. Berjalan tergesa dengan kemeja tidak terpasanga sempurna. Aku berlari menuju mobilku dan dengan mengemudiaknnya ke rumah itu.
***
Aku menunggu pintu dibuka di teras rumah yang dijadikan kafe itu. Menunggu dengan tidak sabar tapi tak kunjung buka. Aku berjalan bolak balik tidak memperdulikan kakiku yang masih terasa nyeri. Aku harus memastikan dia baik-baik saja. Aku mendengar sura langkah dari dalam rumah, aku menunggu seseorang membukakan pintu dengan cemas.
“Selamat pagi.” Aku menyapa orang yang membukakan pintu. Key. Dia langsung menutup pintu kembali namun aku menahannya dengan tenaga yang tersisa dalam diriku.
“Tolong, sekali saja biarkan aku bicara dengannya.” Key tidak menghiraukanku dan menutu pintu dengan keras, aku masih berusaha menahannya.
“Sekali saja, biarkan sekali saja.” Aku memohon padanya, dia berhenti mendorong pintu dan kelihatan berpikir sejenak.
“Biarkan dia masuk.” Rae Na dibelakangnya tiba-tiba menarik pintu hingga pintu terbuka lebar.
“Hanya 5 menit.” Ujarnya saat aku melintas dengan tergesa dihadapannya. Aku berhenti sejenak menatapnya dan mengangukkan kepalaku. Aku berjalan menuju kamar Eun Kyo yang sebenarnya aku juga tidak tau. Aku menaiki tangga.
“Kamarnya sebelah kanan.” Ujar Rae Na lagi, aku tidak sempat lagi mengiyakannya, kakiku terus melangkah hingga sampai di depan kamarnya. Sebelah kanan, aku mengetuk pintu perlahan tapi tidak ada jawaban. Aku menyentuh hendel pintu dan menekannya kebawah, tidak terkunci, kubuka dengan hati-hati, takut mengganggunya.
“Kau didalam? Boleh aku masuk?” mataku dan matanya tepat bertatapan. Lama saling memandang dalam diam. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari muka tirusnya. Kakiku melangkah kedalam tanpa aba-aba dan duduk disamping tempat tidurnya.
“Kau, kau baik-baik saja?” tanyaku khawatir padanya, jawabannya hanya sebuah hembusan nafas berat.
“Bagaimana keadaanmu?” aku tidak tau harus bertanya apa padanya. Aku harus menanyakan kehamilannya? Begitu? Apa tidak akan menyinggung perasaannya? Park Jung Soo, kau bahkan sudah lebih dari sekedar menyinggung perasaannya.
“Aku akan bertanggungjawab.” Masih menatap matanya memberikan keyakinan padanya.
“Aku belum memikirkannnya.” Dia menarik selimut yang menutupi kakinya dan melipatnya, setelah rapi dia ingin beranjak dari tempat tidur.
“Itu anakku kan?” aku menahan tangannya dan memaksanya duduk disampingku, dia tidak menjawab.
“Katakan itu anakku. Atau bukan?” dia langsung menoleh padaku dengan tatapan tajam.
“Atau itu bukan anakku, kau tidak meminta pertanggugjawaban dariku.” Dia langsung menamparku dengan keras. Ini yang aku inginkan Eun Kyo~ya, reaksimu bukan diammu, meski itu sakit.
“Beraninya kau berkata seperti itu.” Ujarnya serak dengan suara bergetar. Aku sebenarnya tidak tega melihatnya seperti ini, berbanding terbalik dengan yang biasa aku lihat. Wanita yang simpel dan penuh percaya diri juga bertanggungjawab dengan pekerjaan, wanita yang sangat menarik perhatianku, bukan seperti ini, meski tidak mengurangi rasa ketertarikanku, dia jauh berbeda, pandangan sayunya, menarik diri dari pekerjaannya meski tidak mengabaikan tanggungjawabnya terhadap pekerjaan, tapi sekarang dia terlihat sangat menyedihkan dan penyebabnya adalah aku.
“Berarti itu anakku.” Aku menggenggam tangannya lebih erat. Dia hanya menunduk, setetes airmata lolos mengalir di pipinya.
“Dengarkan aku.” Aku menarik wajahnya memaksanya menatapku. “Sebelum terlambat Eun Kyo~ya, kita menikah saja.” Aku menatapnya lembut. “Aku tau kau marah padaku.” Dia menunduk saja, bernafas dengan berat menahan airmatanya.
“Keluarkan semuanya, kau boleh memukulku, mencaci maki, atau apapun yang kau mau.” Dia beranjak meninggalkanku ke kamar mandi, namun sebelumnya berhenti dan berbalik menghadapku.
“Aku sudah tidak punya energi untuk marah.” Ujarnya lalu menghilang kekamar mandi. Aku hanya bisa menatap tubuhnya menghilang dibalik pintu. Park Eun Kyo ternyata tidak semudah itu mengikatmu.

Jina’s POV

Aku sudah menempati rumahku sendiri, tidak lagi tinggal bersama orang tuaku. Dengan kehidupan baruku dengan suami yang tidak bisa aku tebak sikapnya. Kadang dia dingin kadang dia juga hangat namun lebih banyak diam. Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapinya, hanya bisa mengikuti alur sikapnya.
“Kau memasak apa?” dia melingkarkan tangannya di pinggangku. Benar kan? Tadi malam dia sedingin es, dan sekarang sehangat ini.
“Sarapan pagi.” Jawabku singkat. Aku melepas tangannya dari pinggangku dan melangkah mengambil beberapa macam bumbu.
“Jagi, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Aku berbalik menatapnya. Membicarakan sesuatu? Apa maksudnya. Lee Donghae, kita sudah hampir terlambat ke kantor.
“Bisa lain kali saja? Kita sudah hampir terlambat ke kantor.” Potongku. Kekecewaan terpancar dari wajahnya, dia beranjak meninggalkanku. Aku terdiam sejenak, apa aku membuatnya marah? Begitu saja menyinggung perasaannya? Dimana letak kesalahannya? Aku hanya bilang lain kali, bukan tidak ingin berbicara dengannya. Aku menyiapkan sarapan pagi diatas meja. Dia kembali dan mengambil duduk dihadapanku. Kami sarapan dengan diam.
“Kau mau membicarakan apa?” tanyaku mengulangi pembicaraan tadi pagi.
“Nanti saja setelah kita pulang dari kantor, kau tidak lembur hari ini kan?” dia menyuap makanannya ke mulut tanpa memandangku. Aku terdiam sesaat. Selalu seperti jika keinginannya tidak dipenuhi. Aku tidak begitu memperdulikannya saat mobil kami meluncur dijalanan menuju tempat kerja. Aku turun lebih dulu karena gedung kantorku yang lebih dulu dilalui. Aku memasuki ruanganku dengan kesal. Saat sarapan tadi sebenarnya akukesal padanya, tapi diam saja. Aku memeriksa beberapa berkas tapi aku tidak fokus.

Aku bersandar di kursi dan memandangi langit-langit. Sudah beberap minggu aku menjadi seorang Nyonya Lee, tapi aku merasa tidak ada perubahan apapun. Tidak ada gambaran rumah tangga harmonis sama sekali. Aku memandang kearah jendela kaca luar ruangan kantorku. Betapa terkejutnya aku ketika aku menemukan sesuatu yang selama ini tidak aku sadari. Kantor Donghae beberapa lantai diatas lantai kantorku dan dia tengah memandangiku sambil menyesap secangkir kopi. Aku bangkit dari dudukku dan merapat ke jendela. Dia melambaikan tangannya. Dia berbalik mengambil sesuatu. Aku memperhatikannya. Dia mengambil selembar kertas dan menuliskan sesuatu disana.
Jam 7 malam jangan lupa
Aku tersenyum melihatnya menuliskan sesuatu. Jam 7? Memangnya ada apa dengan jam 7? Aku juga mengambil selembar kertas dan menuliskan jawabannya.
Ada apa dengan jam 7?
Aku menunggu balasan darinya namundia tidak kunjung beranjak dari tempatnya memandangku, tatapan itu, tatapan itu yang mengalihkan semua perasaanku. Semua kekesalanku padanya menguap begitu saja. Aku terkejut mendengar dering telpon yang berbunyi di mejaku. Aku segera mundur tanpa melepaskan kontak mata darinya, meraih ponselku dan menjawabnya.
“Yeoboseyo?” aku menyapa seseorang yang menelponku.
“Nyonya Lee, malam ini jam 7 tepat kita makan malam.” Jawab suara di seberang sana. Lee Donghae.
“Kalau aku tidak mau?” aku melemparkan senyumku padanya. Dia memang terkadang dingin namun juga bisa hangat tanpa di duga.
“Kau harus mau karena aku akan memaksamu.” Jawabnya sambil mengakhiri telponnya. Aku hanya bisa menatapnya biingugn. Dia kembali ke mejanya dan melanjutkan pekerjaannya. Makan malam? Kenapa tiba-tiba mengajakku makan malam? Aku juga kembali ke mejaku dan melanjutkan pekerjaanku.
***
Aku berjalan menuju rumah makan yang biasa aku kunjungi bersama Sungmin Oppa. Kini aku rasa aku sudah mulai melupakannya dan akhir-akhir ini dia seakan menghilang. Aku memesan makanan yang biasanya aku makan saat makan siang.
“Pesan seperti biasa Nona?’ tanya pelayan padaku. Aku hanya mengangguk. Aku terkejut saat pelayan itu berlalu dari hadapanku kini sudah ada Donghae.
“Kau bilang makan malam.” Aku sekuat tenaga menyambuyikan keterkejutanku. Dia hanya tersenyum dan menarik kursi dihadapanku.
“Aku sudah tidak sabar ingin mengatakannya padamu.” Dia tersenyum penuh misteri. Aku mengerutkan dahiku.
“Eh? Mengatakan apa?”
“Aku ingin kita pindah ke Jepang.” Aku terbelalak mendengar apa yang dia katakan. Ke jepang? Untuk apa ke jepang?
“Eomma yang meminta kita pindah kesana.” Ujarnya. Eomma? Eomoni tidak mengatakan menyuruhku untuk pindah. Dia hanya.. memintaku untuk memberinya seorang cucu.

Donghae’s POV

Aku memintanya untuk datang tepat waktu tapi sekarang aku yang pulang lebih lambat, ini sudah jam 9 malam. Ditambah lagi ada sedikit masalh yang harus aku selesaikan terlebih dahulu agar aku lebih mudah meninggalkannya. Aku memilih untuk pindah ke Jepang agar Jina tidak berhubungan lagi dengan Sungmin. Aku sudah sampai dirumah, membuka pintu dan menemukan Jina tertidur di meja makan. Aku mengangkat tubuhnya dan berniat membawanya ke kamar. Namun saat aku ingin mengangkat tubuhnya dia menggeliat dan membuka matanya.
“Kau sudah pulang?” dia melepas tanganku yang hendak mengangkat tubuhnya.
“Maaf aku yang terlambat.” Aku meminta maaf padany, wajahnya sedikit kecewa, aku tau. Namun dia tetap memberikan senyumannya untukku.
“Gwaenchana, tadi Eomoni kesini.”
“Jinjja? Apa yang beliau katakan?” aku teringat permintaan Eomma padaku, kapan memberikan mereka cucu.
“Dia mencarimu, dan tidak mengatakan menyuruh kita ke Jepang.” Ujarnya sambil membuka penutup makanan.
“Kau sudah makan?” aku menyentuh pinggangnya. Menariknya kearahku. Aku memang selama ini sedikit dingin padanya karena memang aku belum terlalu mengenalnya, tapi aku akui, aku menyukainya sejak pertama kali melihatnya dulu.
“Kau sendiri?” aku menggeleng.
“Kalau begitu ayo kita makan, aku juga belum makan.” Jawabnya melepaskan pelukanku.
“Perlu dipanaskan?” tanyanya padaku.
“Boleh juga, sementara aku mandi.” Aku menuju kamar dan duduk di tepi tempat tidur. Menghela nafasku. Kata-kata Eomma masih terngiang-ngiang di telingaku. Menginginkan cucu? Bagaimana mungkin? Aku belum pernah menyentuhnya sejak kami menikah selain menciumnya saat pengucapan janji. Aku terdiam sejenak dan tersadar saat dia menyapaku.
“Kau sudah mandi?” Jina tiba-tiba muncul di ambang pintu, aku menoleh padanya dan tersenyum lalu berdiri.
“Belum.” Jawabku sambil mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
“Kau ini, jangan lama, nanti makanannya dingin lagi.” Teriak Jina dari luar.
“Ne.” Sahutku. Aku dengan cepat mengguyur tubuhku dengan air mengalir dari shower.  Setelah selesai aku bergegas keluar dan menuju ruang makan.
“Ayo sekarang makan, kita makan tengah malam kalau begini.” Jina seddikit mengomel, aku hany tersenyum menanggapinya. Aku duduk dan memakan makananku yang disiapkan olehnya. Dia diam saja sepanjang makan malam kami.
“Kenapa kau menungguku?” aku membuka pembicaraan setelah lama terdiam. Dia melirikku, aku juga menatapnya.
“Aku bukan menunggumu, hanya tertidur saja.” Elaknya. Park Jina, tidak menungguku? Kau bahkan belum makan kau bilang tidak menungguku? Tidur di depan makanan kau bilang tidak menungguku? Kenapa tidak tidur di kamar saja?
“Tadi Eomma menelponku, dia bilang, kapan kita memberi mereka cucu?” sendok Jina terjatuh saat aku menanyakan itu. Aku langsung menoleh padanya. Wajahnya memerah
“Eo? Eomma, Eomma bilang apa?” dia salah tingkah menatapku.  Aku meletakkan sendok dan garpuku setelah menyelesaikan makanku.
“Eomma mau minta cucu dari anak semata wayangnya.” Ulangku sebelum beranjak meninggalkannya. Aku duduk santai disofa sambil menikmati acara tv.

Jina berjalan melintas di depanku dan duduk disampingku, ikut menyaksikan acara yang aku tonton. “Mengenai pindah ke Jepang, apa ka sudah memikrikannya?” aku menoleh padany, dia balas menatapku.
“Aku sudah menyelesaikan semua urusanku disini, juga sudah minta ijin pada Appamu untuk membawamu ke Jepang.” Aku beralih menatap televisi.
“Appa bilang apa?”
“Dia bilang asal kau mau, boleh saja.” Dia kembali menatapku.
“Mengapa kau ingin kita pindah ke Jepang?” dia mengalihkan pandangannya dan kini berganti aku yang menoleh padanya. ‘Untuk membuatmu jauh dari Sungmin.’ Jawabku dalam hati.
“Aku ingin memulai kehidupan kita disana.” Kini mata kami saling menatap.
“Bukankah kita sudah memulai kehidupan baru.” Aku mendekatkan wajahku padanya dan dia mulai mundur menghindar.
“Yang benar-benar baru.” Aku mengecup bibirnya, dia membeku pada posisi ini saat aku membiarkan bibirku menempel di bibirnya. Dai emndorongku pelan dan melangkah meninggalkanku ke kamar. Aku mengikutinya, dia berdiri di depan tempat tidur dan aku memeluk punggungnya.
“Bagaimana kalau kita memenuhi permintaan Eomma?’ aku berbisik pelan ditelinganya. Tubuhnya mematung dalam pelukanku, aku mengecup tengkuknya. Tubuhnya masih membeku, aku meraih kancing bajunya dan melepasnya satu persatu dengan pelan. Membalik tubuhnya dan mengangkat wajahnya agar menatapku. Perlahan aku mendekatkan wajahku dan kembali menciumnya lembut. Aku melepaskan ciumanku dan melepas bajuku sendiri lalu mendorong tubuhnya pelan ke tempat tidur, tidak ada perlawanan sedikitpun darinya bahkan saat aku meraba kakinya, desahan kecil nan pelan keluar dari mulutnya. Tidak ada salahnya aku teruskan kan Park Jina?

Kyuhyun’s POV

Sudah beberapa hari ini Nanhee tidak begitu fokus dengan pekerjaannya. Dia terkadang melupakan hal penting dan melupakan jadwal Siwon. Aku hanya bisa melihatnya dan memperhatikannya dari jauh. Kadang-kadang mengajaknya makan siang seperti biasa, namun dia sekarang lebih banyak diam setelah kejadian itu, juga tidak terlihat begitu ambisius lagi mengejar Siwon. Apa itu karena kejadian waktu itu? Terkadang aku berpikir aku telah bertindak tidak adil padanya.
“Mau makan bersama?” aku berhenti di depan mejanya dan mengajaknya makan siang bersama seperti biasa. Dia mengangguk dan bangkit dari duduknya. Aku menarik kursi untuknya duduk dan mengambil tempat dihadapannnya.
“Akhir-akhir ini kau sering lupa.” Aku mengajaknya berbicara tentang keanehannya akhir-akhir ini. “Apa karena… waktu itu?” dia menoleh padaku.
“Waktu itu? Kapan?” tanyanya santai, namun tidak mengalihkan pandangannya dariku. Gadis ini, apa ynag ada di otaknya? Peristiwa itu tidak membekas sama sekali? Sedangkan aku dengan bodohnya selalu mengingat kejadian itu.
“Lupakan saja.” Aku mengalihkan pembicaraan dengan mengganti topik dengan Eun Kyo.
“Eun Kyo, bagaimana kabarnya? Sudah dapat kabar darinya?” dia nghentikan makannya dan menatapku.
“Aku belum dapat kabar apapun darinya.” Jwabnya. “Bagaimana denganmu? Kau kan satu tim dengannya?” tanya Nanhee padaku.
“Dia meminta untuk bekerja dirumah dan urusan lapangan aku yang menghandle.” Aku menerangkan padanya.
“Apa kau merasa ada yang janggal? Bagaimana dengan Teuki?”tanyanya lagi.
“Aku jarang bertemu dengannya, tapi beberapa hari yang lalu aku dengar dia sakit.”
“Begitu? Sakit apa?”
“Tidak begitu jelas sakit apa, memangnya kenapa?”
“Ani, hanya bertanya saja.” Jawabnya. Kami melanjutkan makan tanpa berbicara lagi, seolah pembicaraan itu kini telah habis tak bersisa hingga kami betah dalam diam sambil melahap makanan dalam mulut hingga habis.

***
Aku kembali ke tempat kerja dan kembali mengerjakan pekerjaanku. Beberapa saat berkutat dengan beberapa file yang diserahkan Eun Kyo sehari yang lalu, aku mempelajarinya. Bangunan yang dia desain memang bagus, seleranya lumayan.
“Kau masih sibuk?” Siwon Hyung menghampiriku. Aku mendongak padanya.
“Sedikit, wae?” tanyaku mengalihkan pandanganku darinya.
“Appamu menelponku.” Aku segera kembali menoleh padanya saat mendengar kata Appa keluar dari mulutnya. Kata itu membuatku sedikit tertarik.
“Ada apa Hyung?”
“Kau tidak ingin bertemu dengannya sekali saja? Appamu sudah tau aku yang menampungmu disini. Aku rasa dia mengawasimu.”
“Aku tidak ingin membicarakannya Hyung.” Ujarku malas, aku mencoba mengalihkan otakku dari Appa. Tidak ingin mengingatnya lagi, benar-benar tidak ingin.
“Aku rasa kau perlu bicara dengannya, Appamu membutuhkanmu saat ini.” Aku menoleh padanya. Memerlukanku? Setelah dia bilang aku tidak berguna sama sekali?
“Biar bagaimanapun dia tetap Appamu.” Ujarnya.
“Memangnya ada apa dengannya?”
“Dia membutuhkanmu untuk menjalankan semua usahanya.”
“Aku tidak terlalu mengerti tentang marketing.”
“Tapi aku rasa kau sudah belajar banyak disini secara tidak langsung.”
“Kau mengusirku?” tanyaku penuh curiga.
“Aish, kau ini. Appamu membuka usaha di Jepang, dan aku rasa dia ingin kau yang menjalankannya.”
“Untuk?”
“Ya untukmu, bodoh!” dia memukul kepalaku. “Aku rasa tidak ada salahnya kau menerimanya.” Setelah dia menghilang dari hadapanku, aku jadi terusik dan memikirkan tawaran Appa yang secara tidak langsung diucapkan Siwon. Bukankah selama ini aku disini untuk membuktikan bahwa aku juga bisa hidup sendiri tanpanya? Tapi mengapa dia tidak memintanya langsung padaku? Bayangan Nanhee melintak dihadapanku, lamunanku langsung buyar, dia melirik padaku begitu juga denganku. Mengapa jadi tiba-tiba aneh padanya? Perasaan ini kini semakin sulit dikendalikan? Mengapa begitu sulit saat aku merasakan Siwon Hyung mulai menyukainya? Aku berharap instingku salah, bahwa Siwon Hyung sekarang juga mulai menyukainya.
“Kau masih sibuk?” tanya Nanhee menghampiriku. Aku mendongak padanya.
“Ani, wae?” aku mencoba menghindari pandangannya.
“Bisa temani aku ke tempat Eun Kyo?” aku menatap wajah Nanhee yang memandangku penuh harap.
“Sekarang?” tawarku. Dia mengangguk. Aku menutup berkas yang dari tadi aku bolak balik serta mematikan komputerku.
“Pakai mobilku saja.” Aku meraih kunci yang tergeletak disamping komputer, lalu berdiri dan berjalan mengikutinya.

“Memangnya kenapa kau ingin ke tempatnya? Ada masalah?” tanyaku penasaran. Aku menoleh padanya sesekali padanya disela aktifitas menyetirku.
“Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja.” Jawab Nanhee, kekhawatiran terdengar dari suaranya.
“Bisakah kau tidak selalu memikirkannya? Bisakah kau memikirkan dirimu sendiri kali ini? Nasibmu, maksudku kau tidak jauh berbeda dengannya mengenai malam itu, kau tidak mengkhawatirkan dirimu sendiri?!” aku menghentikan mobil dan berkata dengan gusar padanya.
“Apa maksudmu?” tanyanya bingung.
“Kau tidak mengingat apapun tentang kejadian malam itu?”
“Aku hanya tidak ingin mengingatnya.”
“Lee Nanhee, aku menyukaimu.” Dia sontak menoleh padaku saat aku mengatakannya. “Benar-benar menyukaimu dan mungkin aku akan keluar dari perusahaan. Membantu Appaku mengelola perusahaan.” Aku terdiam sejenak, begitu juga dengannya.

Nanhee’s POV

Sudah beberapa hari ini Eun Kyo tidak masuk kerja, bukan tidak masuk kerja, namun dia meminnta ijin bekerja di tempatnya saja dan Siwon mengijinkannya. Sedang dalam perjalanan menuju rumahnya. Aku harap dia baik-baik saja.
“Memangnya kenapa kau ingin ke tempatnya? Ada masalah?” aku terdiam sejenak.
“Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja.” Aku benar-benar khawatir padanya, dia sama sekali tidak pernah berhubungan lagi denganku, begitu juga dengan Jina, dua kali absen saat acara kumpul minum kopi.
“Bisakah kau tidak selalu memikirkannya? Bisakah kau memikirkan dirimu sendiri kali ini? Nasibmu, maksudku kau tidak jauh berbeda dengannya mengenai malam itu, kau tidak mengkhawatirkan dirimu sendiri?!” Kyuhyun menghentikan mobilnya tiba-tiba dan membuatku terhuyung ke depan. Aku membenarkan dudukku.
“Apa maksudmu?”
“Kau tidak mengingat apapun tentang kejadian malam itu?” dia mengungkit malam itu lagi. Aku tidak ingin berharap lebih padanya, meski aku aku akui aku sedikit menyukainya.
“Aku hanya tidak ingin mengingatnya.” Aku mencoba untuk tidak mengingatnya lebih tepatnya. Anggap saja itu adalah sebuah kencan buta dan tidak berlanjut setelahnya.
“Lee Nanhee, aku menyukaimu.” Aku menoleh padanya dengan terkejut. “Benar-benar menyukaimu dan mungkin aku akan keluar dari perusahaan. Membantu Appaku mengelola perusahaan.” Aku tidak bisa menjawab apa-apa karena aku masih belum bisa mencerna maksud perkataannya.
“Ayo kita ke tempat Eun Kyo saja.” Aku menepuk dahinya dan menghindar dari keadaan tidak enak ini. Benarkah dia menyukaiku? Tapi mengapa selalu membuatku kesal setiap hari, dan dia terkesan mendukung hubunganku dengan Siwon.

***
Kyuhyun langsung membawaku berbalik arah dan kembali ke kantor. Aku tidak mengerti pa yang sebenarnya dia inginkan.
“Kalau begitu aku naik taksi saja.” Tapi urung karena dia dengan keras mencengkram tanganku dan sedikit menyeretku masuk ke dalam gedung.
“Aku ingin bicara.” Ujarnya dingin, aku merasakan auranya yang kuarng begitu baik. Aku terus mengikuti langkahnnya dengan sedikit tergesa.
“Katakan disini saja!” terakku karena sudah kewalahan dengan langkahnya. Aku menghentak tanganku dan melepaskan pegangannya.
“Nanhee, kau ke ruanganku.” Siwon tiba-tiba melintas didepan kami dan menyuruhku untuk ke ruangannya. Aku menatap wajah Kyuhyun, mengatakan bahwa aku harus pergi sekarang. Wajah kyuhyun terlihat tegang. Rahangnya mengatup dengan kuat. Aku perlahan melangkahkan kakiku meninggalkannya dan menuju ruangan kerja Siwon. Aku berdiri di depan pintu ruangan Siwon membuka pintu.
“Kau mencariku?” aku berdiri dihadapannya. Dia menoleh padaku.
“Ye, silakan duduk.” Aku duduk tepat dihadapannya. Dia masih terdiam, aku menjadi kikuk.
“Kau pacaran dengan Kyuhyun?” pertanyaan Siwon membuatku tersentak. Dari mana dia mengambil kesimpulan seperti itu? Aku menggeleng lemah.
“Kalau begitu boleh aku mengajakmu kencan?” pertanyaan kali ini lebih mencengangkan. Apa? Kencan? Denganku maksudnya? Setelah aku mulai menyukai orang lain? Dia menyukaiku? Begitu maksudnya?
Tiba-tiba pintu dibuka dengan paksa. Dan aku melihat Kyuhyun berjalan kearahku dan meraih tanganku dan menggenggamnya erat.
“Hyung, dia bagianku.” Kyuhyun berkata dinngan dan menarikku sedikit kasar hingga aku kesulitan berjalan dengan heelsku.
“Kau ini kenapa?” aku menarik tanganku dari tangannya. Dia berhenti berjalan.
“Apa maksudmu dengan bagian?” dia menatapku tajam.
“Kau milikku Lee Nanhee, kau tidak bisa memungkirinya.” Ujarnya menatapku.  Tanpa menyadarinya sebuah cincin tersemat dijari manisku.

Author’s POV

“Mau sampai kapan kau mengurung dirimu, Onnie~ya?” Rae Na berteriak dari luar kamar Eun Kyo, namun gadis yang berdiam diri di dalam kamar tak kunjung menjawab dan tidak juag membukakan pintu.
“Onnie! Mau membukanya sendiri atau akuyang mendobraknya?!” teriak Rae Na semakin keras. Sesekali dia menendang daun pintu.
“Sekeras apapun kau mencobanya, tidak akan bisa.” Key bersandar di dinding, wajahnya tidak kalah tegang dari Rae Na.
“Tapi ini sudah 2 hari dia tidak makan.” Rae Na masih mencoba membuka pintu kamar Eun Kyo. “Onnie! Onnie~ya!” Rae na menedang keras daun pintu kamar Eun Kyo sebagai usaha terakhirnya. Dia menghela nafas kesal. Tiba-tiba terdengar suara kunci dibuka dua kali berbunyi ‘klik’. Rae Na tertegun, dia tidak jadi melangkah dan berjalan kearah kamar Eun Kyo membukanya.
“Apa yang kau lakukan? Eoh?! Mengurung diri seperti ini menyelesaikan masalah?!” kini amarah Rae Na meluap menemukan muara. Eun Kyo tidak menjawab, hanya mengeratkan pelukan pada guling.
“Kau melakukannya saat itu? Eoh?! Kau bodoh sekali! Kau mengajarkanku untuk menjaga dirimu! Menggelikan sekali.” Rae Na tertawa sinis dipenghujung kalimatnya. Key hanya memperhatikan kedua gadis bersaudara itu berdebat, bukan berdebat, tapi Rae Na yang mengamuk.
“Belum cukup kemarin kau mengamuk Rae Na~ya?” Key mulai gerah melihat pemandangan di depan matanya.
“Belum cukup sampai dia mau bicara! Dia bukan patung!” dia mengguncang tubuh Eun Kyo, dan Eun Kyo tidak bergeming sama sekali.
“Silakan lakukan apapun yang kalian ingin lakukan padaku.” Eun Kyo membuka suara dan membuat Key juga rae Na menoleh padanya. Key mendekat dan duduk di tepi tempat tidur.
“Sebenarnya apa yang ada di otakmu saat itu Park Eun Kyo?” Rae Na memanggilnya tanpa embel-embel Onnie lagi karena emosi. “Aku sudah mengajakmu untuk kembali kekamar kan? Tapi kau! Kau!” Rae Na mengacak rambutnya sendiri.
“Biar aku yang bicara, kau keluar dulu.” Key menyuruh Rae Na untuk keluar. Tanpa aba-aba lagi Rae Na langsung bangkit dan meninggalkan kamar.
“Tolong bawakan makanan. Dia belum makan sama sekali.” Key menyentuh lengan Eun Kyo. Tubuhnya bergetar menahan isak tangis agar tidak bersuara. Beberapa saat kemudian Rae Na kembali dan membawa sebuah nampan makanan.
“Kau mungkin tahan dengan rasa laparmu Onnie~ya, tapi tidak dengan bayimu. Eun Kyo tersentak, badannya membeku saat mendengar kata ‘bayi’ dari mulut Rae Na. Seketika kejadian itu kembali melintas di kepalanya. Airmata yang dia sembunyikan kembali mengalir.
“Mau aku suapi Noona?” tanya Key lembut, berbeda dengan yang Rae Na lakukan tadi. Eun Kyo menggeleng dan masih membelakangi Key. Key kembali menyentuh lengan Eun Kyo.
“Setiap orang pasti pernah bersalah Noona~ya.” Key membelai lembut pundak Eun Kyo, isakan Eun Kyo tidak bisa ia tahan lagi. “Aku juga pernah bersalah.” Lanjut Key. “Aku juga pernah melakukan kesalahan. Mencuri buah dipasar.” Key tersenyum mengingat masa itu.
“Tapi itu kesalahan yang berbeda Kibum~a..” jawab Eun Kyo lirih sembari menyeka air matanya. Dia menarik nafas dalam dan lama untuk memperlebar paru-parunya yang terasa menghimpit.
“Kesalahan tetap kesalahan Noona~ya, dan sekarang, tinggal bagaimana kau menyikapinya. Dengan berdiam diri seperti ini, apa akan membuatmu tenang?” Key berbaring disamping Eun Kyo dan menatap punggung Eun Kyo iba. Dia tidak menyangka ini akan menimpa orang yang sangat dia sayangi.
“Aku merindukan Appa.” Suara Eun Kyo bergetar, tangis dan airmata kembali menyeruak. Key ingin sekali meraih tubuh gadis yang lebih tua darinya ini dalam pelukannya, tapi ia tau itu sangat tidak mungkin. Dia bangkit dan meraih nampan makanan.
“Sekarang kau makan, setelah itu aku temani ke makam Appa.” Key menarik tubuh Eun Kyo yang lung lai dengan sebelah tangannya. Meski Key lebih muda bukan berarti tenaganya lebih kecil dari Eun Kyo. Eun Kyo duduk dan menyibak selimutnya.
“Aku ingin cuci muka dulu.” Dia berjalan ke kamar mandi dan Key memandangnya penuh cemas. Eun Kyo berbalik dan tersenyum getir.
“Aku tidak akan melakukan hal bodoh, kau tenang saja.” Eun Kyo kembali melanjutkan langkahnya ke kamar mandi. Namun sebelum dia menutup pintu, perkataan Key membuatnya urung menutup pintu.
“Aku yang aan bertanggung jawab Noona. Menikahlah denganku.” Tenggorokan Eun Kyo tiba-tiba terasa kering seketika, ia tak mampu menjawab. Menutup pintu dan bersandar sejenak. Lalu dia  mencuci mukanya dan menatap dirinya di cermin.
“Sekarang apa yang harus aku lakukan?” dia bertanya pada pantulan dirinya sendiri di depan cermin, lalu tertawa sinis.
“Sudah cukup kau menyusahkan orang lain Eun Kyo~ya.” Dia masih tertawa, menertawakan dirinya sendiri.
“Noona, kau sudah selesai?” tanya Key dari luar mengetuk pintu kamar mandi.
“Ne, sebentar lagi.” Jawb Eun Kyo, dia bergegas mengambil handuk dan meneringkan wajahnya. Matanya yang sembab terlihat membengkak.
“Sekarang kau makan.” Saat Eun Kyo membuka pintu, Key sudah bersiap menyuapinya, eun Kyo menghindar dan menjauhkan sendok yang ingin menghampiri mulutnya.
“Aku bisa makan sendiri.” Eun Kyo menambil sendok dan mangkuk yang ada di tangan Key. Key tersenyum. Dia bisa bernafas lega, paling tidak dia sudah melihat senyuman di wajah Eun Kyo meski terpaksa. Dia berjalan keluar dari kamar Eun Kyo dan dikejutkan oleh seseorang.
“Oppa, bagaimana keadaan Onnie?” Yui tiba-tiba datang dan hampir menabrak Key yang keluar dari kamar Eun Kyo. “Dia terlihattidak sehat Oppa.” Ujar Yui mengganggam tangan Key, Key mengerutkan dahinya melihat tingnkah gadis aneh yang beberapa waktu lalu dikenalnya.
“Kau sudah mengerjakan pekerjaanmu?” ujar Key menarik Yui menjauh dari kamar Eun Kyo.
“Aku, aku aku ingin melihatnya, dia sudah mau bicara dengan orang lain? Eoh? Aku mau bicara dengannya.” Yui berusaha melepaskan pelukan Key dari pinggangnya yang menyeretnya sedkit kasar menurunni tangga.
“Piring kotor menumpuk, kau harus membersihkannya.” Key tidak memperdulikan rontaan Yui. Wajah gadis kecil itu memberengut saat Key tidak mau melepaskan pelukan dan seretannya.
“Oppa, senang sekali memelukku.” Ujar Yui berhenti meronta dan Key masih melingkarkan kedua tangannya, hal itu membuat Key tersadar, dia langsung melepaskan tangannya dari pinggang Yui.
“Kalian pacaran jangan disini.” Rae Na melintas dihadapan mereka. Key terlihat salah tingkah dan Yui tertawa senang.
“Yak! Siapa yang pacaran?! Aku tidak pacaran!” teriak Key pada Rae Na.
“Memangnya aku bilang kau pacaran, aku haya bilang jangan pacaran disini. Jika kau tidak merasa pacaran, jangan berteriak seperti itu.” Rae Na menoleh dengan tatapan mengejek pada Key, membuat lelaki muda itu gusar dan memasang tampang garang, hal itu membuat Rae Na geli, tersenyum dikulum.
“Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku, aku ingin melihat Onnie.” Teriak Yui sambil berlari dan Key tidak bisa mencegahnya. Sesampainya dikamar Eun Kyo, Yui langsung mengambil duduk disamping Eun Kyo yang masih mencoba menghabiskan makanannya meski perutnya terasa mual saat sedikit saja makanan masuk ke dalam lambungnya.
“Onnie, kemarin Eomma pulang.” Ujar Yui, Eun Kyo terdiam sejenak. Teringat kembali wajah wanita ynag dulu meninggalkannya. Meninggalkan anak dan suaminya.
“Aku tidak ingin membicarakannya.” Ujar Eun Kyo sembari menaru mangkuk makanannya diatas meja tidak jauh dari tempat ia duduk.
“Aku memang tidak ingin membicarakan Eomma, aku tau kau benci. Tapi aku ingin tau keadaanmu, apa terjadi sesuatu yang buruk Onnie~ya?” mata Yui beralih memandang Eun Kyo. Eun Kyo juag menoleh padanya. Mata mereka saling berpandangan.
“Keras kepalamu persis seperti Eomma.” Ujar Yui sambil tersenyum.
“Sudah aku bilang aku tidak ingin membicarakannya.” Eun Kyo berdiri dan bersiap untuk melangkah namun tangan Yui menahannya.
“Sikap pura-pura tegarmupun persis sepertinya.” Tambah Yui, dia menggenggam tangan Eun Kyo. Eun kyo hanya mematung.
“Ah, iya. Dia menitip ini untukmu, dia tau aku bekerja disini.” Eun Kyo masih tidak mereapon apa-apa. Yui menyerahkan sebuah benda yag ada disakunya. Lalu menyerahkannya pada Eun Kyo.
“Itu peninggalan Appa.” Ujar Yui, dia berdiri dan meninggalka Eun Kyo yang masih mematung.
“Seperti yang aku katakan kemarin, kau saudaraku, bisa cerita apapun padaku dan aku bisa..” Yui mengisyaratkan mengunci mulutnya dengan tangannya. Senyuman mengembang dari wajahnya. ‘Masih banyak yang peduli denganmu Kyo~ya, kau yang tidak menyadarinya, terpuruk sendirian tanpa membiarkan orang lain menolongmu.’

***
“Oppa, kau sudah makan?” tanya Yui pada Key yang sedang membersihkan meja karena kafe sudah ttutup. Key tidak menjawab, dia hanya memandang gadis yang ada dihadapannya itu dengan dingin, tidak berniat untuk menjawab pertanyaan gadis yang mengenakan celemek berwarna merah muda. Wajah gadis itu terlihat kecewa dan memajukan bibirnya beberapa cenri.
“Oppa, kapan-kapan kita jalan? Eoh? Bagaimana?” tingkahnya yang sedikit manja membuat Key meliriknya. Mungkin karena Yui anak semata wayang dan tidak pernah ditolak, itulah sebabnya dia terlihat gigih kali ini.
“Aku tidak berminat.” Key meneruskan membersihkan meja dan mengangkat kursi keatas meja. Dia kembali tidak menghiraukan celotehan ynag keluar dari mulut Yui.
“Kau tidak pulang?” Key meletakkan kain pel ke dalam ember dan mencucinya. Yui duduk diatas meja dan memperhatikan Key yang sedang mencuci kain pel.
“Sebentar lagi, tapi sepertinya ingin menginap disini saja.” Yui turun dari meja dan mengikuti kemanapun Key berjalan. Gadis itu memainkan jarinya dan memperhatikan langkah Key, tapi dia kecolongan saat Key berhenti dan Yui berhasil menabraknya. Key berbalik.
“Bisa berhenti mengikutiku?” Key sedikit kesal menghadapi Yui yan semakin cerewet. Yui menggeleng.
“Sebaiknya kau pulang, ini sudah malam.” Eun Kyo tiba-tiba melintas dihadapan mereka. Mata Key dan Yui menatap kearah mana Eun Kyo berjalan.
“Mau kemana Noona?” tanya Key yang tidak tahan untuk tidak melemparkan pertanyaan karena usikan rasa penasaran.
“Aku ingin makan daging asap.” Jawab Eun Kyo tanpa menoleh sedikitpun. Rasa lapar yang meronta perutnya tidak mengijinkannya buyar dari fokusnya untuk mendapatkan makanan.
“Biar aku temani Onnie~ya.” Yui menawarkan diri dan mengikuti Eun Kyo berjalan.
“Tidak perlu, aku dijemput.” Sekali lagi Eun Kyo menjawabnya tanpa menoleh sedikitpun. Key jadi menengok kearah luar, memeriksa siapa yang akan menjemput Eun Kyo. Dia berdecak kesal saat mendapati yang menjemput Eun Kyo adalah orang yang dia pukul beberapa hari yan lalu. Ingin rasanya dia mencegahnya tapi Eun Kyo terlihat tidak ingin dicegah sama sekali, langkah besarnya terus melaju menghampiri mobil putih yang parkir di depan rumah mereka.

Eun Kyo’s POV

Aku terdiam sejenak, memikirkan apa yang baru saja Key katakan padaku. Bertanggungjawab? Bertanggungajawab atas apa? Anak ini? Yang sekarang ada dalam diriku. Dasar anak bodoh! Aku tidak akan membiarkannnya melakukan itu. Aku terdiam diatas tempat tidur, duduk di tepi dan menatap lantai. Corak lantai dari kayu menarik perhatianku, lapisan-lapisan kulit kayu yang terukir jelas itu mengingatkanku akan Appa. Semua kekacauan ini karena aku, Key berubah menyukaiku saat Appa meninggal, dan kini keadaanku? Ck! Menyedihkan seperti ini.
“Appa, aku tidak ada bedanya dengan wanita yang kau cintai.” Aku menengadah ke langit-langit, seolah aku bisa mendapatkan jawaban disana.
“Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?” aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya.
“Menerimanya?” kembali aku bergumam pada diriku sendiri. Kepalaku terasa sangat pusing, perutku sering meminta asupan lebih, tapi mulutku menolak untuk mengunyah dan indra pengecapku tidak bisa menerima. Sejak sesuatu bersemayam dalam diriku.
“Apa aku harus menerima Appamu? Aku mengelus perutku yang masih rata, yang aku yakin beberapa bulan kedepan pasti akan kentara perbedaannya dengan hari ini. Aku menghirup nafas dalam entah sudah yang keberapa kalinya.
“Aku benar-benar tidak tau apa yang akan aku lakukan.” Aku memainkan kakiku dilantai, menggerakkannya berputar. Malam itu, aku masih mengingatnya, meski hanya penggalan kejadian ynag aku ingat, tapi itu begitu membekas dan akan selalu teringat seumur hidupku karena benar-benar membekas dan menghasilkan kenangan yang tidak dapat aku bunuh. Aku bunuh? Haruskah aku membunuhnya? Bayi tidak berdosa didalam perutku, haruskah aku membuangnya? Aku menggelengkan kepalaku mengusir semua pikiran jahat di otakku. Tidak mungkin, aku tidak mungkin membunuhnya, dia tidak bersalah sama sekali. Tapi aku harus bagaimana? Menerimanya? Tapi dia tidak memintaku lagi dan aku sudah menolaknya. Lalu, lalu, apa lagi yang harus aku lakukan? Menyesalkah aku? Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba bunyi dering telpon membuatku menoleh dan melihat nama di layar. Teuki.
“Yeoboseyo?” aku mengangkatnya dan dengan susah payah mengeluarkan suara.
“Kau baik-baik saja?” Teuki menanyakan keadaanku. Harusnya dia yang memeriksakan diri ke dokter mengingat wajahnya sudah penuh lebam ulah dari Key dan Rae Na.
“Ne, kau sendiri?” tanyaku sambil memainkan seprei tempat tidur yang sudah kusut karena dari tadi aku berguling kesana kemari.
“Aku baik-baik saja.” Jawabnya. “Kita ke dokter? Tapi ini sudah malam, aku bisa memanggil dokter pribadi.” Suaranya memang terdengar mengkhawatirkanku.
“Aku ingin daging asap.” Aku tidak mengerti mengapa aku mengatakan itu, segera kututup mulutku dengan kedua tanganku, meski aku tau dia tidak melihatku.
“Aku segera kesana.” Dia menutup telponnya dan membuatku bingung. Apa yang baru saja aku lakukan? Apa aku memintanya kesini? Apa menyebutkan keinginanku itu artinya permintaan? Belum selesai aku dengan kebingunganku. Aku mendengar sedikit kegaduhan dibawah. Aku berhenti dianak tangga dan duduk memperhatikan kedua adikku sedang bermain tikus dan kucing. Aku tersenyum memandangi mereka, melupakan sejenak bebanku yang terasa begitu menghimpit. Aku menopang daguku dengan kedua tanganku dan meletakkan sikuku diatas kedua lututku. Aku mendengar suara deru mobil diluar dan bangkit dari dudukku lalu melintas di depan mereka yang sedang entahlah, aku juga tidak mengerti apa ynag mereka bicarakan.
“Mau kemana Noona?” aku tau pasti anak itu akan bertanya kemana aku pergi. Itu yang selalu dia tanyakan bila aku ingin melangkah kaki keluar.
“Aku ingin makan daging asap.” Jawabku sambil terus berjalan memegangi perutku, rasa lapar yang tidak biasa membuat otakku hanya berpikir tentang makanan dan bagaimana aku mendapatkannya dengan cepat.
“Biar aku temani Onnie~ya.” Gadis kecil itu menawarkan diri dan mengikutiku berjalan.
“Tidak perlu, aku dijemput.” Jawabku sambil menatap lurus kedepan, kearah pintu. Aku merasa langkahku begitu berat untuk melewati kayu pembatas itu keluar. Jika perutku sudah membesar hal itu pasti akan lebih sulit. Teuki menghampiriku dan wajahnya masih biru.
“Sekarang?” dia meraih tanganku dan merangkulku seolah aku adalah orang yang paling lemah. Aku menggerakkan tanganku agar rangkulannya terlepas dari lenganku.
“Aku tidak perlu bantuanmu untuk berjalan.” Aku berkata dingin padanya, dia terlihat pasrah namun setelahnya tersenyum dengan tulus. Menggerakkan bibirnya ditengah lebam wajahnya pasti sangat sulit. Dia membukakan pintu mobil untukku. Entah karena mengantuk atau memang konsentrasiku yang akhir-akhir ini menurun, kepalaku terbentur bagian atap mobilnya. Aku memegangi kepalaku dan dia dengan cepat berlari kearahku.
“Sakit?” matanya tertuju kepalaku yang tadi terbentur meniupnnya dan mengelusnya lembut. Ini yang tidak aku inginkan. Rasa bersalah itu, ras abersalah itu yang tidak ingin aku lihat. Aku tidak ingin mengekang seseorang bersamaku dalam sebuah rasa bersalah. Aku menepis tangannya, dia sedikit terkejut namun mundur selangkah dariku.
“aku tidak apa-apa.” Dia kembali ke sisi mobil tempat dia duduk namun matanya masih memandangku. Aku duduk disampingnya dengan tenang, sebelum dia menginjak pedal gas aku melirik kearah rumah. Key dan Yui memandangku terpaku. Aku bisa melihat tatapan Key yang sedikit tidak rela, aku bisa mengartikannya, aku tau itu. Key, aku memang menyayangimu tapi sebagai adikku karena kau memng adikku. Aku melambaikan tanganku pada Yui.
“Onnie, aku menginap disini, boleh kan?” teriak Yui saat kami mulai melaju. Aku membuka pintu kaca dan mengarahkan tanganku membentuk huruf ‘O’ padanya. Aku bisa melihatnya tersenyum.
“Kau mau makan apa?” tanya Teuki akhirnya. Aku meliriknya disampingku. Memperhatikan lebamnya. Pasti sangat sakit.
“Aku ingin daging asap.” Jawabku sambil mengalihkan pandanganku darinya. Aku baru sadar kalau aku ternyata memakai baju rumah. Kaos besar dan celana legging dibawah lutut. Aku meliriknya, dia sedang memperhatikanku. Aish! Rasa lapar ini benar-benar mempermalukanku.
“Setelah itu keita ke dokter, ne?” aku tidak menjawab karena aku tidak tau apa yang harus aku jawab. Meski aku menjawab tidak, dari wajahnya aku tau aku tidak bisa membantah. Setelah sampai di warung pinggiran yang menjual daging asap aku sehera berlari ke tenda dan berdiri sambil menghirup aromanya. Hanya dengan mencium baunya saja aku sudah merasa puas. Tapi perutku tidak akan pernah puas. Aku duduk dikursi, otakku dipenuhi makanan.
“Lapar?” dia bertanya sambil mengacak rambutku. Apa aku sudah gila? Sepertinya memang iya. Seharusnya aku marah padanya, tapi kenapa? Hanya demi rasa lapar ini aku melupakan amarahku. Makan tersedia di depanku dan air liurkusudah tidak bisa ditahan, aku menghabiskan makanan di hadapanku dengan hitungan menit. Teuki hanya memandangiku makan.
“Mau lagi?” aku menggeleng. Setelah rasa laparku terpenuhi oleh makanan. Emosi itu kembali. Aku berdiri dan menyapu mulutku dengan tanganku.
“Terima kasih sudah memberiku makan.” Au melangkah meniggalkannnya namun dengan sigap dia menahan tanganku, tidak sakit namun mampu membuatku tetap tertahan tanpa melangkah, aku yakin dia hati-hati memegangiku. Eun Kyo~ya, ada apa denganmu? Mengapa kau selalu berpikir positif tentangnya? Padahal dia telah berbuat negatif padamu.
“Kita belum ke dokter.” Dia menahanku sambilmeninggalkan beberapa lembar uang dimeja. Dia membawaku dengan lembut, memaksa dengan hati-hati.
“Aku tidak perlu ke dokter.” Aku mencoba melepaskan tangannya dan berjalan dengan cepat, dia mengikutiku sambil membujukku, namun aku tidak memperdulikannya. Aku menutup telingaku dengan kedua tanganku. Aku sudah gila! Aku sudah gila! Tidak masuk akal sama sekali sekarang aku bersamanya!
“Eun Kyo~ya, aku mohon, sekali saja diperiksa, aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja.” Teuki memelas padaku sambil berusaha menjajari langkahku namun aku juga selalu berusaha berjalan selangkah lebih cepat darinya. Dia? Dia siapa maksudnya? Oh Park Eun Kyo! Lihat? Dia mengkhawatirkan bayi ynag ada dalam kandunganmu bukan padamu!
“Eun Kyo, sekali saja aku mohon.” Aku masih tidak ingin memperdulikannya tapi tiba-tiba perutku terasa sakit, aku berhenti seketika dan memegangi perutku. Aku tidak bisa menahan ringisanku karena perutku terasa diremas.
“Kau kenapa? Sakit?” dia ada dihadapanku dengan wajah cemas.
“Aku tidak butuh kasihanmu dan rasa bersalahmu.” Aku menagkis tangannya yang ingin memapahku, namun dia tidak menghiraukan penolakanku, tetap memapah tubuhku berbalik dan membawaku ke mobilnya. Aku masih berusaha menolaknya namun kali ini dia sedikit memaksaku. Aku terdiam terduduk disampingnya dan ida mengemudikan mobilnya dengan cepat. Aku tidak sempat kemana arah jalan dia membawaku, aku melihat wajahnya menegang dan aku merasakan perutku berkontraksi. Setelah sampai pada sebuah rumah, aku tau ini rumah siapa. Dia menggendong tubuhku memasuki rumahnya dan segera menelpon seesorang.

Aku berbaring di tempat tidurnya dan tidak kuasa bergerak. Rasanya perutku seperti diremas-remas dan aku tidak bisa menahan airmataku. Teuki kembali ke kamar dengan sebuah baskom kecil terbuat dari stainless dan menglap kakiku. Apa yang dia lakukan? Beberapa saat kemudian datang seorang wanita memasuki kamar.
“Bisa kau memeriksanya?” Teuki berdiri dan meminta wanita itu untuk memeriksaku. Aku hanya bisa pasrah dan menanti sakit ini mereda.
“Apa keluhanmu?” tanya wanita itu dengan nanda berwibawa.
“Perutku nyeri.” Aku menjawab dengan diiringi ringisan kesakitan.
“Dia sedang hamil.” Wanita itu menoleh pada Teuki. Lalu beralih padaku, seoalh meminta persetujuan dari pernyataan Teuki. Aku mengangguk lemah. Wanita itu segera meraba perutku dan beberapa bagian tubuhku dengan alat ditelinganya. Setelah itu melepasnya.
“Calon istrimu?” tanya wanita itu. Teuki mengangguk.
“Aku rasa ini biasa terjadi. Kau tertekan Nona.” Wanita itu melirikku lalu kembali berbicara dengan Teuki.
“Jangan biarkan dia berpikir terlalu keras. Psikologi mempengaruhi kehamilan. Rasa stres dan tertekan akan menimbulkan kontraksi pada rahim. Itu mungkin faktor ibu, untuk mengetahui faktor janin, sebaiknya dilakukan pemeriksaan lebbih lanjut.” Wanita itu mengemasi barangnya.
“Kau sudah bilang pada Appamu?” tanya wanita itu, Teuki mengeleng.
“Pastikan dia istirahat dan makan dengan teratur.” Wanita itu sekali lagi melirikku dan tersenyum padaku. “Dan pastikan kau segera menikahinya.” Wanita itu menepuk bahu Teuki. Aku rasa mereka dekat, entah ada hubungan apa.
“Aku tidak menginginkannya, aku ingin membuangnya, bisakah kau melakukannya?” wanita itu berhenti, lalu berbalik padaku. Memandangku sejenak.
“Kehidupan itu perkara Tuhan, bukan urusanku. Aku tidak berhak mengambil tugas itu. Dan aku penyelamat kehidupan, bukan penyelamat harga diri.” Dia kembali melanjutkan langkahnya. Airmataku menetes. Aku tidak ingin seperti ini, masih banyak yang belum aku capai. Teuki tiba-tiba memandangku dengan tajam saat dia kembali dari mengantarkan wanita itu keluar.
“Sebentar lagi Appa datang, dan aku akan membucarakan pernikahan kita.” Teuki mengambil baskom ynag berisi kain basah lalu mulai menyapu kakiku lagi dengan air hangat, bukan hagat karena airnya sudah dingin. Appa? Lelaki paruh baya waktu itu?
“Aku ingin pulang saja.” Aku mencoba bangkit dan ingin berdiri namun terhenti meliat sosok yang ada di ambang pintu.
“Appa, maaf mengganggumu malam-malam. Aku hanya ingin memberitahumu sesuatu. Dan sebelumnya aku minta maaf.” Teuki membungkuk sembilan puluh derajat pada lelaki itu. Airmataku kembali menetes.
“Maaf membuatmu malu. Aku menghamilinya.” Aku bisa merasakan emosi yang terpancar dari wajahnya. Dia menatapku, akuhanya bisa menunduk.
“Aku tidak meminta pertanggungjawaban, anda tenang saja.” Aku mencoba berbicara. Teuki menoleh padaku.
“Ani, semua ini aku yang salah, aku yang bertanggungjawab.” Dia menahan Appanya mendekatiku. Aku yang tadinya ingin bangkit, kini urung melakukannya, kembali berbaring. Lelaki itu duduk ditepi tempat tidur dan terdiam lama. Kami membisu, suasana senyap.
“Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?” dia menoleh padaku, dan Teuki menoleh padanya. Aku menatap lelaki itu tidak percaya.
“Mianhae.” Aku mengucapkan kata itu benar-benar menyesal telah berbuat seperti ini. Aku tau dia kecewa. Aku bisa merasakannya dari getaran suaranya.
“Secepatnya Appa, dan maksudku kesini adalah meminta restu. Maaf menyuruhmu kesini, harusnya aku yang mendatangimu. Tapi kondisinya tidak memungkinkan, aku tidak sabar memberitahumu.” Terang Teuki. Benar sekali apa yang dia katakan, jika ingin meminta restunya, harusnya kami yang mendatanginya. Ini semua karena aku, aku yang tidak mau.
“Aku ingin menggugurkannya.” Jawabku lirih. Kedua lelaki yang ada dihadapanku memandangku tidak percaya.
“Andwae! Kau tidak boleh melakukannya. Kalian mungkin sudah melakukan kesalahan, tapi jangan memmperbesar masalah.” Ujar Tuan Park bijak. Aku menghembuskan nafasku pelan.
“Kalau begitu akupulang saja.” Aku mencoba bangkit dan menyibak selimutku.
“Andwae, disini saja.” Tuan Park menahanku. “Aku akan menginap disini dan kupastikan kau akan baik-baik saja.” Dia mengelus rambutku dan memberiku senyuman. Appa. Aku melihat sosok Appa dari pengertiannnya. Dan aku seolah terbius dan menuruti semua yang dia katakan. Aku baru sadar, beberapa minggu ini aku melewatkan banyak hal. Pekerjaanku, orang-orang dirumahku, dan juga teman-temanku. Baru aku menyadari ternyata aku kesepian, ada sebuah ruang hampa mengisi rongga dadaku yang membuatku kehilangan sebuah rasa, kasih sayang. Aku mengabaikan mereka, tidak datang beberapa kali diacara kopi sore kami. Juga tidak mengajak orang-orang rumah untuk bicara. Aku larut dalam kesepian yang aku ciptakan sendiri. Appa… Aku begitu merindukanmu.

***
Aku terduduk tegak diatas tempat tidur dan terbangun sepenuhnya. Bayangan mimpi tadi malam menghilang, memudar dari ingatanku seperti kabut yang menipis ditelan pagi. Aku merasakan kejanggalan dalam perasaanku, perasaan seperti tersesat sendirian di suatu tempat. Aku kembali berbaring dan mencoba meraih mimpi itu lagi, mimpi menyenangkan dimana aku bertemu Appa dan tertawa bersama. Sia-sia, mimpi itu telah berkabut dan terlanjur menghilang dan membawa serta keinginanku untuk tidur. Aku bergerak dibawah selimut tebal yang menghangatkan tubuhku, merunut kembali beberapa peristiwa yang terjadi belakangan ini. Betapa hari-hari terakhir sangat sulit aku lalui. Betapa akhir-akhir ini aku bertingkah seperti orang aneh dan aku seolah tidak mengenal diriku sendiri. Dan betapa kahir-akhir ini aku begitu kesepian. Jenis kesepian yang berbeda dari biasanya, kesepian yang menggerogoti relung jiwaku hingga aku tidak bisa berpikir jernih dan mengabaikan orang-orang aku cintai. Tidak membalas pesan mereka dan juga menolak ajakan mereka.
“Kau sudah bangun?” Teuki mendekatiku dan membawakan segelas susu diatas nampan kecil yang ia bawa dan diletakkannya diatas meja disamping tempat tidur.
“Aku mau pulang.” Aku menendang selimut yang menutupi tubuhku lalu menapakkan kakiku di lantai. Pusing. Rasanya kepalaku berputar namun aku memaksakan diri untuk berpijak. Tanpa aku duga tubhku oleng dan Teuki menagkap tubuhku yang hampir terjatuh.
“Aku sudah memberitahu Siwon kau tidak bisa mengerjakan pekerjaanmu hari karena sakit.” Aku tidak bisa mendengar suaranya lagi. Dan tubuhku lunglai dalam dekapannya.

Rae Na’s POV

Hari ini kuliah padat, dan sejak kejadian pemukulan yang aku lakukan bersama Key beberapa hari yang lalu, Minho dan aku menjadi dekat. Dekat dalam artian dia tidak lagi memaksaku untuk membersihkan rumahnya. Entah karena dia takut amukanku atau apa, entahlah, dia berubah, sedikit lebih hangat namun juga terkadang dingin. Hangat karena terkadang dia menjemputku dengan tak terduga, membuat semua orang mengira kami pacaran, namun dingin karena kadang dia mengacuhkanku, seolah tidak mengenalku. Aku duduk disampingnya yang mengantarku pulang kerumah. Dia tidak berbicara apapun selama perjalanan hingga sampai kerumah. Dia membukakan pintu untukku. Aku turun, namun dia menahan tanganku.
“Besok aku jemput pagi-pagi.” Ujarnya sambil menatapku.
“Tidak bisa, aku tidak bisa membersihkan rumahmu kalau pagi.” Aku melepaskan tangannya.
“Bukan untuk membersihkan rumah, kau kubebaskan dari pekerjaan itu, maafkan aku.” Dia kembali tersenyum. Senyum ynag bisa membuat semua orang mungkin terpana, tak terkecuali aku. Namun aku berusaha untuk tetap berpegang pada logika. Tidak mungkin dia menyukaiku meskipun aku menyukainya.
“Aku akan mengganti laptopmu.” Aku merjalan menyeret tas yang ada ditanganku, hari ini begitu lelah, aku bisa merasakannya hingga ke tulang-tulangku. Pertengkaranku dengan Onnie, hingga tugas-tugas dan bermacam presentasi hari ini.
“Tidak perlu, laptopku baik-baik saja.” Ujarnya, aku langsung menghentikan langkhaku dan berbalik menatapnya. Eh?
“Eh? Baik-baik saja? Apa maksudmu baik-baik saja?” aku mendekatinya, mencium sesuatu yang tidak enak disini.
“Maksudku, laptopku baik-baik saja sejak awal, dan kau tidak perlu lagi membersihkan rumahku.” Dia menendang kerikil yang ada di dekat kakinya.
“Sejak awal? Lalu apa maksudmu menyuruhku membersihkan rumahmu? Eoh?’ aku mengerti sekarang dia memanfaatkanku!
“Mianhae.” Dia menunduk. Aku menjadi geram.
“Mianhae? Hanya itu?! Kau memperalatku kau hanya satu kata itu membayar semua keringatku?! Eoh?!”  aku melempar tasku kewajahnya namun reaksinya lebih cepat, dia menangkap tasku dan menariknya, hingga membuat tubuhku otomatis tertarik kearanya dan sialnya kakiku kehilangan keseimbangan. Aku terjatuh namun tangan itu dengan sigap menangkapku. Sejenak aku terpana. Entah sudah yang keberapa kalinya aku bertatapan dengannya seperti ini. Mata saling beradu untuk jarak yang sangat dekat. Aku bahkan tidak sempat mengerjapkan mataku saat bola matanya tepat berada di depan retinaku. Tangannya beralaih dari kedua lengan atasku ke siku dan membenarkan posisiku. Aku tidak mampu berkata apa-apa lagi dan meninggalkannya tanpa suara.

Aku masuk kedalam rumah dan mendapati Yui serta Key sedang duduk di meja dan kursi pelanggan. Yui, gadis kecil ini yang seering sekali datang kemari dan ikut membantu bahkan tanpa bayaran sedikitpun. Aku rasa dia menyukai Key. Gadis itu selalu berkeliaran di sekitar Key.
“Onnie sudah pulang?” aku meraih minuman yang ada dimeja dan menyeruputnya. Tidak ada jawaban dari mereka. Aku berhenti dan memutar tubuhku.
“Wae? Kenapa diam? Tidak terjadi sesuatu padanya kan?” aku mengernyitkan dahiku dan menatap Key dan juga Yui satu persatu bergantian.
“Onnie sedang keluar.” Jawab Yui pelan.
“Kau darimana saja?” tanya Key, aku beralih menatap Key dan memberikan tatapan tajam padanya.
“Memangnya apa urursanmu?” aku membalik tubuhku dan meninggalkan mereka, namun saat kakiku ingin menaiki anak tangga, aku berhenti dan menoleh pada mereka.
“Kau tidak pulang Yui~ya?” aku menatap Yui bingung. Gadis itu hanya tersenyum.
“Aku menginap disini Onnie, Eun Kyo Onnie mengijinkannya.” Wajahnya terlihat senang, aku tidak memperdulikannya, lalu aku melanjutkan langkahku ke anak tanga pertama, tapi kembali berbalik dan berhenti.
“Jika kalian disini, lalu Onnie pergi dengan siapa?” aku menyeruput minumanku lagi menunggu jawaban mereka. Yui dan Key saling berpandangan.
“Dia pergi dengan ‘Lelaki’ itu.” Jawab Key sambil berdiri dan mengangkat kursi yang bekas ia duduki keatas meja. Yui menghindar dengan memundurkan tubuhnya ke sandaran kursinya. Lelaki itu? Teuki Oppa maksudnya? Sudah baikan?
“Onnie, kalau begitu aku tidur dengan siapa?” tanya Yui dengan wajah bingungnya.
“Itu urusanmu.” Key mendorong kepala Yui pelan denga telunjuknya. “Siapa suruh kau menginap disini?” Key meninggalkannya masuk kedalam kamarnya. Gadis itu mengikutiku.
“Aku tidak suka orang asing mengusik daerah kekuasaanku, kau tidur dikamar Onnie saja.” Yui terlihat senang, dia memasuki kamar Eun Kyo Onnie yang tidak sempat dia kunci mungkin saat dia meninggalkan kamarnya, kebiasaan buruknya. Aku memasuki kamarku dan merebahkan tubuhku di tempat tidur. Tatapan itu, ada getaran lain dalam hatiku. Aku memegang dadaku. Andwae! Aku hanya menyukai Hyung Seung Oppa. Dan lelaki sialan itu mengerjaiku! Ck! Menyebalkan sekali! Bodohnya aku mempercayainya.
“Rae Na bodoh!” aku berteriak sambil memukul tubuhku sendiri dengan bantal. Tidak mungkin, tidak mungkin! Tidak ada dalam sejarah aku dipermalukan seperti ini! Dan oleh seseorang baru aku kenal! Choi Minho, kau akan menerima balasannya cepat atau lambat! Aku meninju guling yang ada disampingku dan juga menendangnya. Teringat kembali kejadian pertama kali bertemu dengannya. Tabrakan tanpa sengaja, membersihkan rumahnya, saat dia sakit dan… ciuman itu! Yak! Itu memalukan sekali! Aku memegang bibirku sendiri dan menghapusnya dengan kasar.
“Ciuman pertamaku!” aku mentap langit-langit dan mencoba memejamkan mataku. Aku ingin tidur dengan tenang, aku mohon Tuhan, tolong hapus ingatanku tentang tatapan matanya beberapa saat lalu. Aku bisa gila!

***
Siang ini Minho mengajakku untuk makan siang bersama. Entah sejak kapan aku mulai akrab dengannya, tapi sekarang mungkin kami berteman meski sebenarnya kebih banyak bertengkar. Aku berjalan menuju kantin tempat kami berjanji untuk makan siang. Tiba-tiba seseorang menarik tanganku, refleks aku ingin melepaskan tangan yang mencengkram lenganku.
“Hyunseung Oppa..” aku memanggil nama orang yang menarikku itu dengan pelan. Dia tersenyum, aku masih menatapnya. Dia merangkulku, aku mengikuti arah langkahnya mau tidak maua karena secara tidak langsung dia memaksaku mengikutinya dengan menyeret tubuhku dengan pelan.
“Temani aku jalan, kau ada kelas hari ini?” aku menggeleng, dia menoleh ke bawah menatapku tanpa melepaskan rangkulannya, dan kembali melemparkan senyumnya itu lagi padaku sambil menyentuh kepalaku dan mengacak rambutku pelan.
“Memangnya mau kemana?” tanyaku padanya sambil mendongakkan kepalaku menatap wajahnya karena memang dia lebih tinggi dariku
“Temani aku makan.” Ujarnya lalu membukakan pintu mobil untukku dan dia sendiri. Aku tidak bisa menolak, selalu tidak bisa menolaknya, bukan karena tidak ada alasan untuk menolaknya tapi hatiku yang mencegah untuk menolaknya. Mobilnya melaju kencang.
“Makan harus serepot ini Oppa.” Dia memang orang yang sedikit pendiam, tidak terlalu banyak bicara, mungkin itu yang disukai kebanyakan wanita darinya. Dan aku, aku juga menyukainya, menyukai sikap pendiamnya yang tidak banyak bicara.
“Bagaimana kuliahmu?” tanyanya padaku, aku menoleh padanya.
“Baik-baik saja Oppa.” Jawabku sambil mengalihkan pandanganku darinya, memandangi jalannan dan kendaraan yang berlalu lalang. Akhirnya kami sampai di pusat perbelanjaan di daerah Namdaemun  Sijang, dan memarkir mobilnya di depan rumah makan. Aku duduk di sebuah meja di dekat jendela, aku pilidh disana agar aku bisa melihat orang yang berlalu lalang.
“Mau makan apa?” tanyanya. “Biar aku ynag pilihkan. Bibimbap dan air mineral.” Dia mengeja makanan yang tertera di menu. “Kau masih menyukainya kan?” dia melirik kearahku. Aku hanya mengangguk. Hyunseung Oppa menyerahkan menu pada seorang pelayan dan kami menunggu makanan kami. Aku terdiam, hufh, berada didekatnya membuat aku sedikit susah bernafas, sikap dinginnya itu yang membuatku sering kali salah tingkah. Beberapa lama kami terdiam, makanan yang kami pesan akhirnya datang. Dia langsung melahap makanannya begitu juga denganku. Kami diam selama menghabiskan makanan kami.
“Mengenai malam itu, dia adalah kekasihku.” Aku yang ingin meminum minumanku, terdiam, mendiamkan botol minuman mineral itu di mulutku. Dia menatapku tajam.
“Memangnya kenapa Oppa?” tanyaku menyembunyikan rasa sakitku. Sakit? Entah mengapa aku merasa sakit, di dadaku, padahal aku tidak ada riwayat penyakit jantung atau semacamnya.
“Ayo kita pulang.” Dia mengajakku pulang dan membukakan pintu untukku, tapi aku dikejutkan oleh sebuah cengkraman keras di lenganku. Aku memandangi tangannya, tangan seorang perempuan. Aku mengangkat kepalaku dan menatap orang yang menahan lenganku.
“Jadi ini orangnya?” Hyunseung Oppa mencoba melepaskan cengkraman gadis itu dari lenganku.
“Lepaskan aku!” gadis itu menolak dijauhkan dariku, dia kembali mendekatiku dan mendorongku hingga aku terhimpit di mobil Hyunseung Oppa.
“Dengarkan aku gadis kecil! Dia milikku, kau! Kuharap kau jauh-jauh darinya jika ingin selamat!” matanya menyiratkan kemarahan, aku bisa merasakan kemarahannya, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa, keterkejutanku belum sempat membuatku tersadar.
“Cukup! Jangan menggangggunya!” teriak Hyunseung Oppa pada gadis itu.
“Maaf, Yeobo, aku mencarimu.” Tiba-tiba seseorang datang dan menarik tanganku. Aku hanya bisa pasrah.
“Maaf Nona, kau salah orang, dia kekasihku, dan kupastikan dia tidak akan mengganggumu.” Minho menatap gadis itu tajam, aku ditariknya dan berjalan mengikutinya. “Dan kekasihmu ini.” Minho melirik Hyunseung Oppa tajam sampai kami benar-benar melalui mereka baru dia melepaskan kontak mata. Minho sedikit mendorongku ke dalam mobilnya. Lalu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia melirikku. Dan memberiku tissue.
“Hapus airmatamu, aku tidak suka melihat wanita menangis.” Matanya masih fokus dengan jalan yang ada di depannya, sesekali dia menyalip mobil yang kecepatannya lebih rendah. Selalu saja airmataku tidak bisa ditahan jika menyangkut masalah Hyunseung Oppa.
“Kau terlihat tegar, tapi ternyata bisa menangis juga.” Ujar Minho sambil tertawa kecil.
“Aku jugamanusia.” Jawabku membela diri. Aku tidak berani menatap atau menoleh bahkan melirik sedikitpun padanya, hanya bisa memandangi orang dan juga kendaraan ynag berlalu lalang. Saat lampu merah menyala mobil Minho un berhenti. Aku masih memperhatikan sekitarku demi menghindari kontak mata dengan Minho. Saat memperhatikan sekitarku, mataku tertuju pada sebuah mobil taksi, aku mengenal sosok yang duduk di dalamnya.
“Eun Kyo Onnie.” Aku menggumam memanggil nama orang yang sedang duduk di dalam taksi itu. Aku merasa Onnie akhir-akhir ini semakin aneh semenjak kehamilannya, dan kali ini, aku merasa dia akan melakukan hal bodoh. Mengingat aku mendapati catatan kecildi dalam kamarnya. Sebuah tulisan yang aku juga tidak mengerti ‘Aku tidak akan membuat kesalahan sepertinya.’

Author’s POV

Rae Na mengikuti taksi yang membawa Eun Kyo bersama Minho. Dia terus mengikuti mobil itu karena merasa ada yang tidak beres mengenai gelagat Onnie satu-satunya itu. Terus mengikutinya hingga taksi itu berhenti disebuah klinik. ‘Klinik?’ batin Rae Na bertanya. Dia segera mengambil ponsel dari tasnya dan menekan nomor seseorang.
“Oppa? Apa kau ada janji dengan Onnie disebuah klinik?” tanpa basa basi Rae Na langsung menanyakan kejanggalan ynag dia rasakan.
“Klinik? Klinik mana?” Rae Na mencari papan nama klinik yang ada di depannya itu.
“Myung Ho Helath Center.” Rae Na mengeja nama yang tertera di papan nama sebuah klinik tersebut. Lalu dia melirik Minho. Minho menggidikkan bahunya.
“Tolong awasi dia sebentar lagi aku akan ada disana.” Teuki mengakhiri pembicaran. Rae na segera turun dari mobil dan mengikuti Eun Kyo. Eun Kyo terlihat memasuki sebuah ruangan, Rae na dan Minho tetap memperhatikannya. Tidak mereka pedulikan tatapan aneh dari orang-orang yang melintas didekat mereka. Akhirnya Eun Kyo keluar dari ruangan tersebut dan memakai baju pasien berwarna merah muda. Rae Na masih tetap memperhatikan Eun Kyo yang duduk di ruang tunggu sebuah ruangan dokter. Aku membaca papan nama itu. Dr. Kim Geum Yong, spesialis kandungan. Rae Na terkesiap membaca papan nama itu. Dia ingin melangkah menghampiri Eun Kyo namun Minho menahannya.
“Lepaskan aku.” Rae Na memberontak namun memelankan suaranya agar tidak terdengar Eun Kyo.
“Kau tau apa yang akan dia lakukan?” tanya Rae Na sedikit geram.
“Memangnya kau tau?” Minho berbicara didekat telinga Rae Na. Rae Na sedikit menjauh.
“Aku rasa dia akan menggugurkan kandunngannnya dan firasatku jarang meleset!” Rae Na menghempas tangan Minho dan ingin menghampiri Eun Kyo.
“Mungkin saja Noona sedang periksa kandungan.” Cegah Minho tidak melepaskan cengkramannya.
“Dimana dia?” Teuki datang dengan nafas tersengal. Teuki habis berlari mencari Rae na dan akhirnya dia temukan. Rae Na sebenarnya masih kesal dengan lelaki yang telah menghamili saudaranya tapi untuk keadaan seperti ini mungkin dia rasa dia membutuhkan Teuki.
“Dia ada…” Rae Na menunjuk kearah Eun Kyo duduk, namun betapa terkejutnya dia ketika Eun Kyo baru saja masuk ruangan bersalin ynag ada diujung rungan tepat di depan mata mereka. Teuki segera berlari ingin mencegah Eun Kyo.
“Firasatku tidak pernah salah!” Rae Na ikut berlari bersama Teuki diiringi Minho. Awalnya petugas mencegah mereka bertiga untuk masuk namun stelah terjadi perdebatan alot dan Teuki berhasil meyakinkan kalau dia adalah suaminya. Baru petugas itu memperbolehkan mereka masuk kedalam meski petugas itu setengah tidak percaya. Ketiga pasang mata mereka terbelalak mendapati Eun Kyo sudah terbaring diatas ranjang bersalin dengan kaki ditopag pada sebuah penyangga kaki dan di depannya ada seorang dokter perempuan sedang menyiapakn sarung tangannya.
“Tunggu.” Teriak Teuki menghentikan ancang-ancang dokter itu dan membuatnya menoleh, dia terlihat bingung. Rae Na menhampiri Eun Kyo, Eun Kyo tidak kalah terkejut, dia langsung menurunkan kakinya dan menyanga tubuhnya dengan kedua sikunya.
“Onnie! Kau gila?! Eoh?!” Rae Na memukul pelan lengan Eun Kyo. Amarah menguasainya. Eun Kyo terbaring pasrah dan menitikkan airmata. Minho mematung ditempat begitu juga dengan Teuki.
“Kau ingin membunuhnya?! Tidak aku sangka sekarang kau berniat menjadi seorang pembunuh!” teriak Rae Na kencang. Dokter yang memandang mereka heran melepaskan masker yang terpadang dihidungnya. Seolah mengerti, dia keluar namun sebelumnya menepuk kaki Eun Kyo dua kali dengan lembut.
“Aku tau kau terbabani! Tapi dengan cara ini kau menyelesaikannya! Ini salah besar! Kau menambah masalh baru Onnie~ya!” rae Na semakin emosi pukulannya kini tidak lagi pelan. Membuat Minho tersadar dan memegangi Rae Na. Memeluk gadis itu dan mencoba menenangkannya.
“Jika bukan karena kau satu-satunya orang yang aku miliki, aku sudah membunuhmu Onnie~ya! Kau selalu seperti ini jikamemiliki masalah!” Eun Kyo menangis terisak semakin kencang, dia menutup wajhnya dengan kedua tangannya.
“Jangan salahkan dia, salahkan saja aku.” Teuki angkat bicara. “Dan aku akan bertanggugnjawab. Aku sudah mempersiapkan pernikahan bersama Appa.” Teuki mendekati Eun Kyo dan mengambil kursi lalu duduk disamping Eun Kyo dambil memegang tangannya memberinya kekuatan.
“Kau tidak sendiran Onnie~ya, berhentilah merasakesepian!” Rae Na mulai menurunkan nada bicaranya meski di penhuju kalimatnya dia kembali sedikit berteriak. Minho masih memeluk erat gadis yang tidak hentinya mengeluarkan umpatan kemarahannay. Takut kalu Rae Na kelepasan dan  memlukai Eun Kyo.
“Menikahlah denganku Park Eun Kyo, jika kau tidak bersedia, aku mohon bersedialah demi anak ini.” Teuki memegang parut Eun Kyo. Eun Kyo masih saja teriak tak mampu mengeluarkan kata-kata.
“Sebaiknya kita pulang.” Minho menyeret Rae Na untuk keluar namun Rae Na bersikeras untuk tetap bertahan disana.
“Aku menyayangimu Onnie~ya, tidak ingin kau berbuat bodoh seperti ini.” Rae Na mulai melemah, dia melepaskan pelukan Minho dan mendekati Eun Kyo.
“Berhentilah menghukum dirimu sendiri dengan rasa bersalahmu. Kau merasa bersalah pada Appa kan? Kau merasa gagal, tidak bisa jadi contoh yang baik? Tidak ada ynag sempurna di dunia ini.semua orang pasti bersalah. Aku marahpadamu, sangat marah! Tapi akan lebih marah lagi jka kau melakukan hal ini, dan aku tidak akan perna memaafkanmu jika seandainya semua ini terjadi!” Rae Na mundur teratur dan akhirnya keluar dari ruangan itu. Memberi waktu pada Eun Kyo dan Teuki untuk bicara.

Teuki mengangkat punggung Eun Kyo dan menuntunnya berdiri. Eun Kyo terlihat lemah namun dengan hati-hati Teuki memapahnya. Sebelumnya mereka masuk kedalam ruangan dokter Kim praktek dan meminta maaf atas semua kejadian ini.
“Mianhae, membuat keadaan kacau seperti ini.” Teuki akhirnya berpamitan dan Eun Kyo tidak mengatakan apapun, wajahnya pucat dan dokter Kim memberinya resep untuk penguat kandungannya. Teuki membawanya kerumahnya. Saat sampai dirumah, Appa dan Eomma Teuki sudah menunggu. Eun Kyo terkejut melihat kedua orang tua Teuki sudah ada dirumah itu. Dia menoleh pada Teuki.
“Mereka sudah tau, dan ingin segera kita menikah.” Teuki membukakan pintu untuk Eun Kyo dan menuntunnya  kembali.
“Kau baik-baik saja?” Ayah Teuki langsung menghampiri Eun Kyo begitu juga dengan ibunya.
“Dia baik-baik saja kan Teuki~ya?” tnya ibunya Teuki khawatir. Dia memukul lengan Teuki.
“Dia butuh istirahat Eomma.” Jawab Teuki, Eun Kyo sama sekali tidak bicara apa-apa, selain karena terkejut denga orang tua Teuki juga karena kejadia tadi benar-benar membuatnya syok.
“Untuk urusan pernikahan biar Eomma ynag tangani, kalian tenang saja. Ah, mianhae Eun Kyo~ya. Teuki membuatmu seperti ini.” Ibunya Teuki membelai rambut Eun Kyo dan merapikannnya. Beliau sangat khawatir denga keadaan calon menantunya yang mirip dengan mayat hidup. Ibu Teuki menuntun Eun Kyo ke dalam.
“Kau menginap disni saja, ne?” tanyanya. Tapi Eun Kyo menjawab dengan gelengan.
“Aku harus pulang,  nanti adikku mencari, Nyonya.” Jawab Eun Kyo sambil membungkukkan badannya.
“Aish, tidak bisa, dan jangan memanggilk Nyonya, panggil aku Eomoni.” Sekali lagi dia membelai rambut Eun Kyo dan merapikan anak rambutnya. Eun Kyo memandang wanita tua yang masih terlihat sangat cantik itu. ‘Andai saja Eomma seperti ini’. Eun Kyo membatin, dia menhela nafas.
“Ne, Eomoni, aku harus pulang.” Jawab Eun Kyo terbata.
“Kau baik-baik saja? Kandunganmu?” Eun Kyo menoleh pada Teuki. Teuki hanya tersenyum.
“Kandungannya baik-baik saja Eomma. “ jawab Teuki.
“Aku bukan membenarkan semua ini, tapi juga tidak ingin memojokkan kalian dengan menyalahkan. Aku harap kalian bisa mengatasi masalah-masalah yang lebih berat nantinya setelah menikah.” Kini giliran ayahnya Teuki yang bicara. Dia mendekati Eun Kyo dan memeluk istrinya dari belakang.
“Aku minta maaf jika ini semua Teuki yang berbuat seperti ini. Dia sudah menjelaskannnya padaku.” Ujar Ibunya Teuki, Eun Kyo menoleh pada Teuki, yang dipandangi hanya diam membisu. “Aku tau bagaimana perasaanmu, karena aku juga wanita.” Lanjutnya sambil memegangi tangan suaminya yang melingkar dipinggangnya.
“Kau tidur disini,kami juga tidur disini, ini sudah malam, biar aku yang mengabari keluargamu.” Ibunya Teuki beranjak mendekati telpon, namun Eun Kyo mencegahnya.
“Tidak perlu Eomoni, aku saja ynag menelponnya.” Eun Kyo mendekati wanita tua itu dan menelpon Rae Na.

***
Sementara di tempat lain Rae Na dengan kesal menendang kursi yang belum dirapikan oleh Key saat dia tiba dirumah. Key terlihat bingung dengan perubahan sikap Rae Na kali ini, dia mungkin sering mendapati Rae Na kesal namun tidak pernah melihatnya mengamuk seperti ini. Minho menangkap Rae Na agar sebelum dia menyakiti dirinya sendiri dan membuat orang lain lelah merapikan hasil karya Rae Na.
“Tenanglah, yang penting sekarang, itu tidak terjadi kan?” Rae Na langsung berbalik menatap Minho dengan tajam dan Minho hanya bisa mematung.
“Tidak terjadi? Bagaimana seandainya jika dia benar-benar melakukannya? Eoh? Nbagaimana jika kita datang? Dan bagaimana jika Teuki Oppa tidak berhasil membujuk petugas itu?!” teriak Rae Na sengit pada Minho, Minho mundur selangkah untuk menghindari kupingnya dari teriakan dan amukan Rae Na yang penuh dengan letupan amarah.
“Rae Na~ya, lihat ke depa, jangan pikirkan ynag telah terjadi.” Key hanya bisa mengerutkan dahinya mendengar dan menyaksikan perdebatan kedua orang dihadapannya. Dalam benaknya dia bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang mereka bicarakan?
“Aku tidak habis pikir dia sebodoh itu!” kali ini Rae Na bertindak lebih kalem dan hanya mendenggus kesal.
“Sebaiknya kau mandi dan tenangkan pikiranmu.” Uajr Minho dan mendorong Rae Na ke tangga. Tiba-tiba ponsel dalam tas Rae Na berdering, dia segera mengambilnya dengan cepat, sejenak Rae na terdiam melihat nomor asing tertera di LCD layang sentuh ponselnya. Namun akhirnya dia mengangkatnya.
“Yeoboseyo?” sebuah suara gadis yang sangat Rae Na hapal terdengar di telinganya. Rae na mendengus marah namun dia tahan mendengar suara lemah dari Eun Kyo.
“Onnie? Kau dimana?” tanya Rae Na dingin, dia menoleh pada Minho, Minho menepuk bahu Rae Na untuk sekedar menenangkannya.
“Aku akan menginap disini.” Sahut Eun Kyo di seberang sana. Rae Na kali ini menoleh pada Key dan Key membalas tatapan Rae Na dengan cemas.
“Menginap? Dimana?” tanya Rae Na lagi.
“Menginap dirumah orang tua Teuki.” Jawab Eun Kyo, jawaban Eun Kyokali ini membuat Rae Na terdiam. “Boleh kan?” tanya Eun Kyo lagi karena merasa tidak ada jawaban dari Rae Na.
“Itu terserah padamu. Tapi setidaknya disana ada orang tua, dan kau tidak akan berbuat bodoh lagi ditengah anak-anak kecil seperti kami.” Rae Na berkata sinis.
“Ne, gomawo.” Eun Kyo menutup telponnya dan Rae Na.
“Noona?” tanya Key. Rae Na mengangguk. “Dia bilang apa?” tanya Key lagi. Rae Na mendengus kesal entah untuk yang keberapa kalinya.
“Dia menginap dirumah orang tua Teuki.” Ujar Rae Na mengurungkan kakinya menaiki tangga.
“Menurutmu, apa mereka akan menikah?” tanya Key lagi. Rae Na melirik Key, tersenyum sinis.
“Memang sehatusnya seperti itu.” Jawab Rae Na lalu meniki tangga.
“Terima kasih untuk hari ini Minho~ya, kau boleh pulang.” Minho tersenyum lalu pergi menuju mobilnya dan pulang ke rumah.

***
Eun Kyo mengajak Jina dan Nanhee untuk bertemu, dia menunggu kedua sahabatnya itu di tempat biasa mereka menghabiskan sore. Sementara dia menunggu dia memesan sebuah minuman, dia menyeruput jus melon yang sejak tadi tidak disentuhnya karena menunggu mereka datang. Merasa kedua sahabatnya itu tidak akan datang cepat, dia meminum minumannya sampai habis.
“Sudah lama menunggu?” tanya Jina yang datang dari arah belakang Eun Kyo. Dia duduk di depan Eun Kyo. “Bagaimana kabarmu?” tanya Jina. Eun Kyo hanya tersenyum mendengar pertanyaan Jina. ‘Kabar? Kabarku benar-benar buruk kali ini Jina~ya.’ Batin Eun Kyo menjawab, namun mulutbnya tidak demikian.
“Aku baik-baik saja, kau sendiri? Sudah?” Eun Kyo berusaha bersikap biasa seperti biasanya, meski ada rasa sakit saat dia menanyakan itu, sudah hamil maksudnya.
“Hufh, ada banyak hal yang kau lewatka Eun Kyo~ya.” Ujar Jina, Eun Kyo masih berusaha tersenyum.
“Aku akan pindah ke Jepang.” Jina menunduk. Eun Kyo mendengar ucapan Jina dan merasa bingung.
“Wae?” tanya Eun Kyo.
“Membuka perusahaan cabang disana.” Jawab Jina, setelah itu mereka terdiam, berkutat dengan pikiran mereka sendiri.
“Maaf, aku terlambat.” Nanhee memandang Eun Kyo. “Kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat.” Sambung Nanhee sambil terus memperhatikan Eun Kyo.
“Aku baik-baik saja.” Jawab Eun Kyo lemah. “Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu.” Lanjut Eun Kyo sambil menatap Jina Nanhee.
“Aku juga ingin mengaakan sesuatu, Kyuhyun memintaku menikah dengannya, dan Siwon mengajakku berkencan.” Ujar Nanhee, mata Jina dan Eun Kyo langsung tertuju padanya.
“Lalu kau bilang apa?” tanya Jina. Eun Kyo hanya diam saja.
“Aku masih bingung.” Jawab Nanhee. Mereka terdiam sejenak.
“Kau apa yang ingin kau sampaikan?” tanya Jina menatap Eun Kyo. Eun Kyo menatap Jina Nanhee bergantian.
“Kyo~ya, kau membuatku takut.” Ujar Nanhee.
“Aku akan menikah, minggu depan.” Ujar Eun Kyo dengan berat.
“MWO?” teriak Nanhee dan Jina bersamaan. “Dengan siapa?” lagi-lagi mereka menggucapkannya bersamaan.
“Teuki Oppa.” Jawab Eun Kyo. Jina dan Nanhee nampak terkejut dan saling berpandangan namun akhirnya mereka tersenyum bersama.
“Akhirnya kau menemukan orang yang tepat.” Jawab Nanhee.
“Tiinggal giliranmu.” Ujar Jina menyenggol Nanhee. Eun Kyo, Jina dan Nanhee tertawa bersama. Akhirnya Eun Kyo bias kembali tersenyum, dengan lega meski tidak sepenuhnya terbebas dari himpitan.

Minho’s POV

Aku bangun dari tidur panjangku, membuka mataku dengan berat duduk dengan mata setengah terbuka. Jam berapa ini? Apa sudah teang? Akhir-akhir ini aku kehilangan waktu tidur karena terseret dalam arus masalah yang seharus tidak ada aku didalamnya, namun aku sudah terlanjur berdiri dimuaranya dan melihat segalanya, mau tidak mau aku tidak bisa diam saja. Lagipula gadis itu selalu mengusikku. Aku seolah tidak bisa lepas darinya meski aku menghindar. Aku menurunkan kakiku ke tepi ranjang hingga terjuntai. Aku menghirup udara segar dipagi hari. Kuliah lagi dengan rutinitas yang sama. Rutinitasku kali ini berbalik, jika kemarin dia membersihkan rumahku, sekarang aku yang menjadi supirnya dengan suka rela. Tiba-tiba saja aku merasa menjadi bagian dari mereka, mungkin karena aku tinggal sendirian disini.
“Kau sudah bangun?” sebuah suara berat mengejutkanku. Siwon Hyung tiba-tiba ada di apartemenku, aku keluar dari tempat tidur.
“Kau lupa mengunci apartemenmu.” Jawabnya santai. Aku memandangi lelaki bertubuh atletis yang ada dihadapanku ini. Mengernyitkan dahiku dan terus memandanginya.
“Kenapa memandangiku?” ujarnya sedikit salah tingkah.
“Ani, tumben kau kemari. Wae? Masalah wanita lagi?” tembakku tepat pada sasaran karena wajahnya kini benar-benar lucu dengan keterkejutannya.
“Aku kembali mencintai orang yang salah.” Swion Hyung meminum kopi yang ia buat sendiri.
“Siapa lagi?” tanyaku, akhir-akhir ini dia sepertinya dipusingkan dengan urusan wanita.
“Setelah kemarin rekan kerjaku, sekarang sekretarisku.” Jawabnya sambil meminggiri permukaan gelasnya dengan telunjuk dan duduk di jendela kamarku.
“Kyuhyun lebih dulu menyukainya,dan aku salah, selama ini aku terlalu sibuk dan tidak memperdulikan orang lain. Namun saat aku peduli, semua sudah terlambat.” Ujarnya, aku hanya bisa menghela nafas.
“Kau hanya belum bertemu dengan orang yang tepat Hyung.” Aku mencoba menenangkan perasaannya.
“Ne.” Jawabnya menunduk.
“Ah, Eun Kyo Noona akan menikah.” Aku memberitahunya tentang pernikahan Noona. Dia menatapku dan tersenyum getir.
“Aku sudah tau.” Jawabnya sambil tertawa. “Teuki Hyung yang memberitahuku. Spertinya mereka bahagia.” Sambungnya sambil menerawang. Bahagia? Mungkin iya bagi Teuki Hyung, tapi bagi Eun Kyo Noona, aku rasa aku meragukannya.
“Kau tidak kuliah?” tanya Siwon Hyung tiba-tiba mengaburkan ingatanku tentang percobaan aborsi Noona.
“Ah, ne. Untung kau mengingatkannya. Aku harus menjemput Rae Na.” Aku melesat ke kamar mandi dan membersihkan tubhku. Saat aku keluar darikamar mandi, Siwon Hyung masih betah duduk di jendela sambilmemandang keluar.
“Kau tidak bekerja?” aku memandanginya yang sudah berpakaian rapi lengkap dengan jas. Dia terkekeh pelan.
“Aku malas bekerja, sekali-sekali aku ingin membolos, tidak apa-apa kan?” ujarnya menoleh padaku.
“Kau mulai nakal Hyung.” Kami tertawa bersama. Sudah lama rasanya aku tidak tetawa bersamanya. Sejak aku dan dia terpisah oleh padatnya pekerjaannya.

***
Beberapa pasang mata memandangku yang sedang mengantar Rae Na ke kelasnya. Rae Na terlihat santai dan aku juga bersikap demikian meski dalam hatiku aku merasa sangat senang. Entah sejak kapan aku mulai menyukainya, dan selalu ingin menjaganya, aku menoleh pada sepasanga mata ynag mantapku tajam saat aku mengantar Rae Na sampai ambang pintu. Lelaki kemarin. Aku berusaha tidak menghiraukanya namun dia menjajarilangkahku saat aku berbalik meninggalkan kelas Rae Na.
“Aku ingin bicara denganmu.” Dia menjajari langkahku dan merangkulku, mau tidakmau ak mengikuti langkahnya. Aku berusaha bersikap tenang. Dia membawaku ke pojokan sepi yang tidakdilalui oleh mahasiswa.
“Sejak akpan kau berhubungan dengannya?” tanyanya sedikit dingin dan aku menangkap nada tidak suka dari ucapannya.
“Bukan urusanmu.” Aku mendorong tubuhnya dan berniat meninggalkannya. Namun tiba-tiba tangannya menahanku.
“Jangan pernah sakiti dia.” Aku menoleh padanya, dia tidak melihatku sama sekali. “Jika kau melakukannya, aku tidak akan segan membunuhmu.” Dia menatapku tajam. Aku tidak terancam sama sekali dengan ucapannya. Namun terancam dengan tatapannya. Tatapan itu, seolah tidak rela, tidak rela siapaun mendekati Rae Na.
“Dan kau, jauhkan gadismu darinya.” Aku mendekati wajahnya dan balas menatapnya. “Tidak akan kubiarkan kalian menyakitinya, mulai saat ini berhenti berada disekitarnya.” Lanjutku, dia nampak terkejut dengan ucapanku, namun tersenyum sinis. Aku tau dia selama ini mengawasi Rae Na.
“Kau tidak bisa melarangku karena aku lebih dulu mengenalnya, dan kau sama sekali tidak bisa melarangku berhenti menemuinya.” Ujarnya bangga.
“Kau disini?” seorang gadis tiba-tiba menghampiri kami dan bergelayut maja di lengannya. Aku memandang gadis itu dan balas tersenyum sinis. Kau tidak bisa mendekatinya Jang Hyunseung, dan sepertinya dia menyadari hal itu karena kehadiran gadis yang ada disampingnya. Dia tidak memperdulikan pembicaraan gadis itu hanya memandangi kepergianku.

***
Aku mengantar Rae Na yang menemani park Ahjumma untuk memilih gaun pengantin, mereka berjalan dari butik ke butik. Heran, wanita memang selalu pemilih. Rae Na dan Park Ahjumma antusias memilih gaunnya.
“Eomoni, gaun yang ini lebih bagus. Tidak terlalu terbuka.” Rae Na berkomentar. Park Ahjumma hanya mengangguk.
“Bagaimana kalau kita cari dilain dulu?” ajak Park Ahjumma yang sepertinya tidak puas dengan berbagai macam pilihan. Rae Na tersenyum kecut dan melirikku. Aku balas tersenyum dan dan mengangkat alisku.
“Tapi waktunya sudah mepet Eomoni, tinggal 3 hari lagi.” Jawab Rae Na, aku heran dengan kedua wanita yang sedang berdebat di depanku, dua wanita yang remaja di dekade yang berbeda.
“Sekali lagi, satu buah butik lagi, ne?” Park Ahjumma yang terkenal perfeksionis dalam sehala hal meminta Rae Na untuk menemaninya berjalan lagi.
“Aish, kenapa harus aku, kenapa bukan Onnie saja?” desis Rae Na saat dia mengikuti Park Ahjumma yang berjalan lebih dulu. Aku hanya tersenyum.
“Kau tau sendiri, Eun Kyo Noona tidak bisa diajak berjalan sepertimu.” Jawabku sambil tersenyum menertawakannya. Aku tau dia pasti kesal.
“Kenapa tidak sendiri saja?” tanyanya lagi dengan kesal sambil menendang angin.
“Kau kan yang tau selera Onniemu.” Biiskku ditelinganya dan membukakan pintu untuknya.
“Kau lelah?” tanya Park Ahjumma. Rae Na menggeleng. “Satu butik saja, aku janji.” Ujarnya sedikit memelas, Rae Na kembali mengangguk. Aku membawanya menyusuri Myeongdong.
“Berhenti disini Minho~ya.” Park Ahjumma memintaku menghentikan mobil tepat di depan sebuah butik elegan, tepat dan sesuai dengan seleranya.

traditional-korean-costume-hanbook-seoul

Di depannya terdapat etalase yang memajang beberapa wedding dress dan hanbok modifikasi berbagai macam gaun modern dan tradisional. Aku turn dari mobil begitu juga dengan mereka. Aku hanya memeperhatikan mereka ynag masuk dan mulai melihat-lihat beberapa gaun. Rae Na yang kelihatan lelah tidak terlalu semangat.
“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu? Mencari gaun pengantin?” tanya seorang pelayan menghampiri Rae Na dan Park Ahjumma.
“Ne, kami ingin mencari gaun pengantin, tapi kami perlu cepat.” Ujar Park Ahjumma.
“Silakan lihat, silakan lihat album-albumnya.” Pelayang itu menyerahkan beberapa album yang berisi gaun pengantin.

hanbok-lynn-korean-wedding-gowns

Kedua wanita sibuk membolak-balik beberapa foto. “Yang ini sepertinya bagus.” Ujar Park Ahjumma. “Eotte?” tanyanya pad Rae Na, Rae Na melirik foto yang di tunjuk oleh Park Ahjumma.

fusion-hanbok-korean-wedding-fashion

“Tapi itu terlalu terbuka Eomoni.” Jawab Rae Na. “Model yang seperti ini kan tidak akan menekan perutnya.” Komentar Park Ahjumma. Memang benar apa yang dia katakan, mengingat Eun Kyo Noona sekarang sedang hamil.
“Ani, Eomoni. Itu terlalu terbuka.Onnie tidak suka yang terlalu terbuka.” Jawab Rae Na. “Bagaimana dengan ini?” usul Rae Na sambil menunjukkannya pada wanita yang masih terlihat cantik dan elegan.

hanbok-lynn-korean-wedding-dress

“Hem, boleh juga. Aku menelpon Teuki dulu, menyuruhnya membawa Eun Kyo kesini.” Ujar Park Ahjumma. Aku hanya tersenyum dengan kelakuan mereka, Eun Kyo Noona yang inngin menikah tetapi Park Ahjumma yang terlihat sibuk. Tidak berapa lama Teuki Hyung datang bersama Eun Kyo Noona. Wajhnya masih terlihat pucat dan hanya diam dan sesekali tersenyum.
“Setelah ini bawa dia ke dokter dan istirahat yang cukup.” Park Ahjumma membelai lengan Noona dengan lembut. Eun Kyo Noona terlihat mengangguk lemah dan menghembuskan nafas keras.
“Kami akan ke toko perhiasan setelah ini. Besok memeriksa gedung.” Eun Kyo Noona terlihat mencoba baju yang dipilih oleh calon mertuanya. Aku hanya bisa memperhatikan mereka. Dia terlihat sangat cantik memakai itu, namun wajahnya yang sedikit sendu.
“Untuk acara malam? Hanboknya? Kira-kira yang mana?” tanya Park Ahjumma pada Rae Na. “Yang ini?” dia menunjuk salah satu gambar.

korean_wedding_dress

Rae Na memperhatikannya dengan seksama. Menyipitkan matanya. Dia menggeleng pelan. “Itu terlalu ramai Eomoni, penuh warna-warni.” Komentar Rae Na. “Benar juga.” Jawab Park Ahjumma.
“Bagaimana kalau yang ini?” tanya Park Ahjumma lagi. Teuki Hyung melirik padaku, aku mengangkat bahuku dan dia tersenyum. Rae Na mengetukkan telunjuknya di mulut.
“Itu terlalu sederhana, kurang menarik.” Jawab Rae Na.
“Bagaimana kalau yang di depan etalase?” taya Park Ahjumma mulai lelah.
“Itu terlalu mahal Eomoni.” Jawab Rae Na.

hanbok-lynn-korea-wedding-gown

Setelah lama membolak-balik beberapa lembar foto. Aku melihat wajah Rae Na berbinar. “Yang ini saja Eomoni. Elegan tapi sederhana. Juga warna kesukaan Onnie.” Rae Na setengah berteriak dan menghampiri Park Ahjumma lalu menunjukkan baju pilihannya.

121949102380162425_W3IQ3jvu_c

Setelah lelah memilih baju akhirnya kami menuju pada sebuah toko perhiasan untuk memesan cincin perkawinan. Aigoo, beginikah susahnya menikah? Mereka kembali berdebat memilih cincin mana kira-kira yang cocok.
“Yang ini bagaimana?” Park Ahjumma menunjuk salah satu cincin bertahtakan berlian.

tulip-ladies-diamond-ring-1696573001-1000x1000

“Ani, itu terlalu ramai.” Jawab Rae Na. Dia berjalan melihat-lihat contoh cincin kawin yang kira-kira cocok untuk Eun Kyo Noona.
“Yang ini juga bagus.” Aku menunjuk sebuah cincin dengan 3 buah berlian.

Expensive-Diamond-Rings10

“Ani, itu terlalu mahal.” Jawab Rae Na. Aku semakin lelah menghadapi kedua wanita ini. Rae Na terus berjalan dan memperhatikan dengan teliti.
“Yang ini saja lebih bagus.” Rae Na menunjuk sebuah cincin dengan berlian hitam di tengahnya. Aku tertawa melihatnya.
“Itu seleramu, bukan selera Noona.” Aku memukul pelan kepalanya. Dia mengelus kepala yang tadi aku pukul.

BDRG-7C “Coba kesini, sepertinay ini cocok.” Jawab Park Ahjumma meminta kami melihatnya. Aku dan Rae Na mendatanginya, dia menunjukkan sebuah cincin berlian biru.
“Hem, bagus Eomoni, yang ini saja, sepertinya cocok.” Jawab Noona.

PSAG05_082012_1

Teuki’s POV

Aku mempersiapkannya sesempurna mungkin. Pernikahan ini, meski aku memulainya dengan alasan yang tidak sempurna, namun aku ingin mengakhirinya dengan sempurna. Hidup bersamanya, berbagi bersama dan belajar saling mencintai, bukan belajar saling mencintai, tetapi mengajarinya mencintaiku. Besok adalah hari yang paling penting dalam hidupku. Appa dan Eomma sudah mengajariku bagaimana bersikap sebagai suami dan bagaimana memperlakukan istri. Mungkin Appa yang lebih mengerti apa yang aku rasakan. Gugup? Mungkin iya, takut? Sedikit. Dan aku tidak bisa memejamkan mataku malam ini. Terus memandangi langit-langit kamarku. Gadis itu, dia menguburkan semua mimpi dan beberapa keinginannya demi anak ynag dia kandung, yang tidak dia inginkan. Betapa takutnya aku saat beberapa waktu lalu mendapatinya ingin melenyapkan ‘itu’. Jika terlambat sedikit saja, aku mungkin saja kehilangannya. Aku memang egois, memaksakan kehendakku untuk mengikatnya dan membuatnya tidak mempunyai pilihan lain.
“Kau belum tidur?” Appa menghampiriku, aku duduk dari rebahanku dan mengangguk lalu menghirup nafas dalam.
“Gugup?” tanyanya padaku. Aku mengangguk.
“Begitulah rasanya. Tapi sat yang paling menegangkan dalam hidupku adalah saat ibumu melahirkanmu.” Ujarnya. Aku hanya bisa memandangnya, aku rasa mungkin benar. Bukan tegang, tapi takut. Takut kehilangan orang paling dicintai, dan aku merasakannya beberapa hari yang lalu. Entah sejak kapan aku mencintainya, tapi hidupku merasa tidak akan lengkap jika aku tidak melihatnya. Dan kini, mulai besok, aku ingin selalu tidur di dekatnya, dan ingin dialah orang yang terakhir yang aku lihat saat aku menutup mata, dan orang pertama saat aku membuka mataku.
“Begitu mencintainya?” aku mengangguk. “Hem, dia memang menarik, juga pintar.” Sambungnya. “Terlihat dari hasil kerjanya.” Appa melirik padaku.
“Bagaimana kau tau?” tanyaku bingung. Appa tertawa kecil.
“Aku tau kalian bekerjasama dengannya.” Appa mengalihkan wajahnya padaku. “Dia memang menarik, aku mencari tau tentangnya saat aku pertama kali bertemu dengannya.” Appa menepuk bahuku, merangkul lalu meremasnya.
“Sekarang tidurlah.” Appa keluar dari kamarku. Dia berhenti di depan pintu dan berbalik menatapku.
“Janga pernah menyakitinya lagi. Dia sangat cantik.” Appa tersenyum menggodaku. Aku hanya balas tertawa.

***
Pagi telah tiba, dan hari ini aku harus mempersiapkan diriku. Aku bangun dan bersiap-siap ke gereja. Appa dan Eomma sudah lebih dulu kesana karena Eun Kyo tidak memiliki pendamping. Aku pergi ditemani Minho, bocah kecil ynag baru saja aku kenal.
“Kau sudah siap?” tanyanya. Aku mematut diriku di depan cermin. :Kau sudah terlihat tampan.” Goda Minho, aku memukul lengannya.
“Kau mencintainya?” tanya Minho. Aku membalikkan badanku menghadapnya. Terdiam sejenak menatapnya.
“Sangat.” Jawabku yakin.
“Secepat itu?” tanya Minho lagi.
“Tidak akan ada yang bisa menduga bagaimana Tangan Tuhan bekerja membolak-balikkan hati.”
“Begitu?” tanya Minho. Dia mungkin belum mengerti.
“Ayo kita berangkat, nanti terlambat.” Aaku merangkul Minho dan berjalan menuju mobilku. Perasaanku diliputi rasa gugup. Akankah aku bahagia? Jawabannya pasti, pasti bahaia. Tapi sekarang yan aku pikirkan, akankah dia bahagia? Mungkinkah aku bisa membuatnya bahagia? Aku sudah menitikkan noda hitam dalam hidupnya.
“Melamun saja Hyung, kita sudah sampai.” Minho memukul bahuku. Aku menoleh padanya. Aku terlebih dahulu ingin melihat Eun Kyo. Ingin menanyakan apa dia yakin denganku. Tapi saat aku ingin membuka pintu kamar riasnya. Appa mencegahku.
“Kau tidak boleh melihatnya.” Aku sedikit kecewa dengan pencegahan Appa. Dia mendorongku menjauhi kamar rias tempat Eun Kyo berada.
“Kau sudah siap?” tanya Appa. Aku mengangguk. “Tunggu di depan altar, aku akan membawakannya untukmu.” Aku berjalan menuju Altar dan pendeta telah menunggu disana. Saa aku menyusuri beberapa undangan, aku melihat Kyuhyun dan Siwon juga Donghae duduk dengan manis. Aku melirik Siwon. Mianhae Siwon~a, aku tidak merebutnya darimu, hanya menuntunnya menuju padaku. Aku memberikan senyuman pada mereka. Juga terlihat Jina dan Nanhee disana. Mereka terlihat senang. Namun aku yakin mereka tidak pernah mengetahui apa yang terjadi pada sahabat mereka.
Aku menunggu dengan gugup. Semakin bergdegup kencang jantungku mendengar bunyi sepatunya berjalan. Aku menantikannya berdiri disampingku. Aku menyambutnya dari tangan Appa. Tangannya terasa dingin meski sudah dilapisi sarung tangan. Dia menatapku, bukan, dia bukan menatap wajahku, namun menatap bajuku.
“Jaga dia baik-baik.” Pesan Appa padaku. Aku mengangguk. Lalu kami berdua berbalik menghadap pendeta dan mengucapkan janji di hadapan Tuhan. Saat Pendeta bertanya padanya, dia sedikit melamun dan tidak memperhatikan apa yang sedang terjadi. Orang disekitar mengharap cemas. Aku menyentuh tangannya dan dia sedikit tersentak.
“Ah, ye, aku bersedia.” Jawabnya, rasa lega menyeruak di dalam dadaku. Aku dipersilakan untuk mencium mempelai wanitaku. Aku mendekat padanya tapi dia sedikit tegang, bukan sedikit tapi sangat tegang. Aku menggenggam tangannya dan meyakinkannya bahwa ini baik-baik saja. Aku urung untuk mencium bibirnya tapi hanya mencium pipinya. Tubuhnya masih membeku namun aku tersenyum padanya mencairkan keadaan.

Pesta beralih ke halaman rumahku. Banyak para tamu yang hadir dan memberiku selamat. Aku membungkuk dan mengucapkan terima kasih beberapa kali saat mereka menyalamiku. Kini acara berlanjut ke pelemparan bunga yang sejak tadi digenggammya sengan erat. Aku tau dia terpaksa untuk tersenyum. Dia melemparkan bunga sambil membalikkan badannya. Lalu berbalik lagi untuk melihat siapa yang menangkap bunga itu. Mulutku ternganga lebar saat melihat bunga yang dilempar Eun Kyo jatuh menimpa kepala Kyuhyun. Eun Kyo menutup mulutnya. Beberapa hadirin juga nampak terkejut. Aku mengepalkan tanganku padanya dan mengucapkan ‘hwaiting’ dengan pelan. Kyuhyun tersenyum simpul. Aku melirik Eun Kyo dia juga membalas melirikku. Lalu aku berbisik ditelinganya.
“Kita harus hidup bahagia.”

FIN

Note : akhirnya selesai juga, aku tau endingnya pasti tidak memuaskan. Tapi hanya ini yang bisa aku buat, maaf… terima kasih buat orang-orang yang sudah berpartisipasi disini. Rae Na, Jina dan Nanhee.. terima kasih semuanya, idenya dan kegilaannnya. Maafkan aku, pasti mengecewakan.. aku ga mau banyak bicara karena mood saya lagi ‘down’. Dan itu semua salahkan Indah onn, wahahahahahaha, ff jadi aneh salahkan dia, hohohohohohohohoho, mian onn, becanda… udah sehabis ini mungkin ada lag ff baru yang mirip beginian.

65 responses »

      • onnieeeeeeeeeeeeee
        neil itu bocah fikaaaaaaaaaaaaa
        nieeeeeeelllll milih aku kan neil yah yah yah? astaga onnie, aku suka bgt niel, kaga tau kenapa. suka neil sm itu sung jong infinite…. huwaaaaaaaaa bocah berkilau itu, bibir seksi…

    • akhirnya driku yang pertama,,cihuyyyyyyyyy
      fikaaaaa,,,mianhaeeee,,eonn membuat dirimu bad mood😦
      agak nyesel membahas itu kemaren,,,
      tapi ya sudahlah,,waktu ga bbisa diputar lagi,,

      jadi bingung mo komen apa,,,
      spertinya kegilaanku malam ini hilang,,
      kyuuuuu,,ayo lamar nanhee secepatnya,,sebelum disabet ma siwon
      jinhae,,cepet dapat anak yaaaaa,,,,
      oppa,,aku yakin kau bisa menaklukan dan mendapatkan hati eunkyo,,
      hwaiting oppaaaaaa

      baby minhoku tersayang,,,,
      senyummu melunakkan hatiku,,,yang akur ya ma adik ipar angkat,,

      mo ngilang ngumpulin tenaga dulu,,
      swiiiing*ngilang ke sungai han*

      • engga ko onn, itu pelajaran buat fika, harus mengedepankan logika, tapi menurut fika fika ga bersalah, meski ada salah juga si sedkit bikin orang gondok… tapi aku ga tau sama sekali…

        udah noh kyu udah ngelamar.. si Nanhee aja yang bingung…
        mau milih siapa. aku atau dirinya, jiaaaaaahhhh
        ngumpulin tenanga? eh hari jangan lupa onn yang kita bicarakan tadi malam…
        tar ga bisa….
        besok fika mau liburan…
        sama mami sama dede… jadi gut bay dulu leppi tercinta…

  1. Jiaaah. . menong, apaan itu noona angkat mu komen2 dluan..ck
    Eonnieee~yaa. . .
    Fika eonnie. . . Indah eon. . .
    Aigoo.. knp saia jd panggil2 mereka..?? #lol

    Ya udh.. tinggalin jejak dlu.. mau gentayangan dlu, saia bca’y lelet..wkwk
    C U jagi-yaa~ *lg bljar romantis* wkwk

  2. Eonny..
    Aku suka jalan critanya.. Bener deh,,
    Mulai kebebalan eonny, ketegearan eonny, perasaan Raena,
    Giman Teukie bersika..
    Sumpah smua Keren~!
    Heheh…
    ^^b

    Tapiii kenapa endingnya cm bgitu..?
    Sbnrya ga mslah sih endingnya..
    Cuma aku. Kurang puas~.. =P
    apa eonny bnr” uda cinta ma teukie?
    Hoho.. Penasaraaannn~..

    Bikin afterstory khusus Eunkyo pov..
    Ttg bbrp hari sblm nikah smpe nikah donk eon..
    Yaaa~..
    *reader pemaksa*

    Tapi aku sukaaa kok eon..
    Jdi tenang sajooo~.. =P

    • iya endingnya aku tau terlalu maksa…
      hufh, aku ga tau mesti gimanain lagi soalnya…
      kadang moodku ga banget bikin ff ini, entah kenapa…
      mian…

      after story? itu sudah aku pikirkan…
      after storynya setelah menikah dan punya anak…

  3. Huaa on…
    Akhir.a publis juga CL
    tapi tapi ith knapa eunkyo kya g ada fell ma teuki?? Pdhl d.part sblum.a c’ eunkyo ada fell ma teuki??

  4. eonii~ya nanggung bgt endingnya…
    Jd terkesan terburu2 dh…
    Pdahal bgs bgt ceritanya…
    Y tp pling ngga udah nikah sih teukyo tp msh bnyk bgt yg gantung jinhae couple, kyuhee, minna, dllnya…
    Trus kelanjutan kisah teukyo jg…
    Pkknya aku tunggu sequelnyaaaaa yaaaa eon… Hehe*kedipin mata.
    Fighting eon!

  5. Eonn haruskah aku seneng ? Ataukah kecewa ? I dn’t know !

    Seneng cz eunkyo mau nerima teuki walau hanya setengah hati kau sejukan jiwa ini . , . . . Hahahaha #plaaaak

    kecewa cz endingnya terlalu di paksa’in ma yg nulis (#nglirik fika eonn :p ) jd endingnya kurang klimaks (?)

    btw ada sequelnya kan eonn ?
    Eonn ia tiap pagi slalu ngintip rumah mu ini eonn dan skarang nemuin juga katanya mau ngasih tau aku kalo publish😦 #lie to me

    • mian syg… aku lg g ol fb td malam, habis post, istirahat karena sakit…
      dbikin g klimaks karena memang bakalan ada after storynya..
      aku ini emang ga bisa namatin ff, pasti tuh MLT jg kaga bakalan seru tamatnya…
      iya si dipaksain… karena ideku langsung beralih dari waktu CL.. nanti after storynya maju beberapa tahun…

  6. mian aku telat onnie syg, hihi..

    Akhrnya mau jga d ajak nikah wlaupn msh brat nerima, ujung2nya mah si onnie bkalan cnta stngah mati dgn teukppa.. Aaaa raena ma key jahat deh, kasian teukppa kena pkul gtu. Sini oppa aku obatin*d gampar onnie*

    masih gantung yah onnie endingnya, gmana dgn couple yg lain. After story yah onn, kalo lg ada mood.

  7. aku lum sempat baca nie onnn,,,,
    tapi temanku suruh baca nie,,,,
    tolong ELF baca aja,,,
    Hueeee mewek,,,,,

    hhttp://koreanchingu.wordpress.com/2012/01/05/perlakuantidakadilsmentkesuju/

    mari Kita dukung Mereka,,,,,,

    • moory… km tanggung jawab! si saya malam tadi nagis kaga berenti sampe jam 12, eh tapi bkn karena ketidak adilan SM trhadap Oppadeul, tapi baca surat member ke Gege… huweeeeee meski udah pernah yang macam begituan, dan aku juga ga tau itu bener apa engga, tapi tetap saja nangis bombay… i miss him so much! msh tdk bs merelakan…

  8. Eh, udah tamat, eonn? Nggak sepanjang MLT, ya?
    Eh, ini nggak jelek kok, eonn.. Bagus.. Walaupun typo brtebaran dimana-mana, hehe..
    Eun Kyo kalo punya masalah suka dipendem sndiri ya, ayo dong omongin ke org lain🙂
    Hemm, anaknya itu nanti jadinya Ryu Jin? Wkwkwk😀
    Ending-nya bikin ketawa, tuh bunga knp bisa nyungsep di kepala Kyuhyun?:D *LOL*

    • saya memang seperti itu kali yah, hanya beberapa yg tau masalah saya, dede aku tentunya yg selalu tau… always aku selalu cerita apapaun masalahku…

      ko tau anaknya ryu jin? hahahahaha, udah bisa di tebak, antikan sequelnya setelah MLT tamat….
      tapi endingnya gaje banget… pala kyu kali kaya pot makanya nyasar kesana…

  9. eonnii aku datang hehe, sebenernya udah baca kmrn tp baru bisa komen *sok sibuk*
    heeem mau bilang apa aku ya? bagus? udah pasti. ngegantung? itu BANGET!!!!!
    kyu sm naheee aku masih penasaran bgt, agak kasian sih sm si kuda *toel siwon* knp km sllu datang terlambat oppa? setiap jatuh cinta tp orgnya udah kabur -_-
    nah eun kyo apalagi!!! pas di mau ngegugurin kandungan demi apapun aku pengen bgt nimpuk, klo aku jadi raena bakal aku jambak x *eh*

  10. Onnie, bru nyadar klo ada ff baru. He2..
    Yuhhuuuuh. Akhirnya,eunkyo nikah jg ma,teukie oppa.
    Onnie ayo bikil sequelnya.. Khidupan teukyo pas udh nikah.. Dsni kn blum 100% yakin ma prasaannya k teukie oppa.
    Yey … Bntar lg kyu oppa nyusul.. Ayo kyu bujuk Nanhee biar mau nikah..

  11. Aku penasarann kelanjutannya . . .

    Yah kyo eon sedih gt yakk kan lg nikah . . .

    Kau mencintainya ?
    Sangat
    secepat itu ?
    Hey minppa kau it lihat dirimu,secepat it menyukai na eon ? Pake nanya” ama orang lg.

    Ayolah eon yg cepet bikin kelanjtan’a jgn membuatku mati penasaran , ak penasaran sama pasangan yg biasa’a agak yadong it . .jina eon sama haeppa.

    Hwaiting eon !!😀
    sun sayang untuk semua orang yg hinggap d blog ini *chu*

  12. Huwaaaa saya bingung mau komen apa..#plakk

    jinhae.. nc’y d’skip..hahaa bagus kok eon, saya tau coz yg bkin lg ga mood buat yadong2an..kekekee

    nanhee,d’lmar 2 namja? alamaak..mauuu !! tp saya ttp akan pilih minho !! *kgaadaygnanya* tp nanhee? molla~

    tau rasa kau oppa, siapa suruh nyakitin nae eonnie, jd babak belur kn..hahaa *tos bareng key*
    eonnie, jgn prnh mmbunuh si suci itu,arraseo ?!

    MinNaHyun, siapa yg brtahan? #lol *kgaadaygnanyaincoupleini*whahahahaa

    FIN.. end’y maksa,tp ttp Okelah😉

  13. HUAAA ONNIE AKU LAGI GALAU BANGET TT.TT /curcol/ akhirnya malah baca ff ini dari awal ampe abis, kadang2 sambil buka2 video, eh nangis sendiri. aduh parah banget dah ini Onn galau nya saya TT.TT

    okelah, maap curcol dulu, aku mulai commentnya…
    kayaknya banyak banget ini konflik cinta segitiga, bahkan sampe segiempat, haduh kehidupan yang begitu rumit~ terus itu ngomong2 nasib nya Sungmin gimana? waduh kasian sekali ya, Key sama Siwon juga sepertinya bernasib sama.. ah udah berapa kali aku bilang aku demen banget sama semua kata2 yang diciptakan Onnie untuk menggambarkan saaat namja-nya mengungkapkan kalo yeoja nya itu penting bangeeeeeeeet! so sweet banget kata2nya, tapi itu Raena berarti gatau ya kalau sebenernya dia sama Yui itu bersuadara? walaupun Raena ngga ada hubungan darah sama Yui? hah, konflik keluarga yang juga rumit.Onnie tega ih mau nge gugurin kandungannya, jangan dong Onn, itu kan pemberian Tuhan u,u Onnie kok sedih dan lemah begitu mau nikah ama Teuk Oppa seharusnya seneng dong Onnie, nanti kan ada Ryujin tuh muncul dari perut(?) haha, okelah Onnie panjang banget ya kayaknya, maap Onnie lagi galau sih TT.TT(?)

  14. oennn…aku komentnya langsung dipart ini aja ya,,
    soalnya aku baca lewat hp..
    modem aku masih tewas hehe…

    aku masih penasaran deh si nanhee hamil g oen????
    hehe..

    oia…semalem aku sms oenni berkalikalikalikali tapi g ada yg terkirim..
    eh pas pagi2 baru ada laporan terkirimnya,,,

  15. Jiaahh nie ending’a gntung amat yaa kya cucian blom kering,
    eunkyo eonni kya’a lom spenuh hati mnerima jungsoo oppa, rae na ama key anarkis bgd maen pukul2 aje tp bgus sih s’kali2 teukppa d’hajar…wkwkwk
    wew tuh kmbang knpa hrus nyasar k’kyu cie?!
    Udh deh kyu nikah sm aq aja yuk, nanhee biar ama bang kuda!! ya ya ya?!*sarap*
    *d’tndang nanhee*
    klo kga key aja deh sni sm noona, key!! *kedip2*
    *d’toyor eunkyo eonni*

  16. ini udh ada after story.a blum?
    msh ada yg mengganjal soal.a, kejelasan tentang hbgn mrk smw blm d jelasin, yg udh pasti cm jina-hae, yg lain.a mash d awang2, coz blm ada kepastian.a..
    eun kyo jd.a nnt cinta ga ma teuki?
    nanhee jd.a ntr sm sapa?
    minho-rae na akhr.a jdian ga?
    yui-key?

  17. Onnie,endingx msh ngegantung bgt!
    maap br komen dsni,bisx komen dr par 2 g msk2,ampe xerah q!hiks..
    Ntu Kyo sbnrx cinta g ce m Teuki?
    trus,MinNa jg blm jls!
    kalo Kyu Nanhee ce dh ktauan cwekx jg sk!
    JinHae jg dh berbahagia tu!
    oya,Key jg onn!
    tp q ngerti koq kalo onnie dh g mw nglanjutin crtx!
    saya trima dg lapang dada!hehe

  18. annyeong eonnie-ya..:)
    ku bru buka wp ini lg stelah skian lama tak kunjung dtang#lebbay

    ku suka ff’y banget
    tpi gk pas untuk ending’y gk bingung krna msih gantung…
    eonnie dilihat dri coment sblum’y ktanya mau buat after story’ya?trus apa judul’ya?kapan bikin’ya?stlah mlt end.kan udah end,trus after story’ya apa??*mian bnyak nanya cuma pnaran ma lanjutan ff ini.ywd moga” eon cpet bikin dan cepet publist ya.
    ahh…iya mianhae cuma coment d’part ini,sya bc saat mlam jdi agak buru” bc’y dan gk sempet coment.

  19. eonni mian aku komen’a dipart end’a aja y…
    coz baca’a ngebut waktu mumpung koneksi modem’a bener…

    akhir’a ganatung gini eon??
    bagaimana nasib yg lain’a??? eun kyo eonni dah jelas sama teik oppa trus gimana sama cast yg lain???
    belum dapat ide lagi ya eonn buat lanjutan’a???
    pelan” aja deh ga usah langsung semua couple’a dimunculin satu” aja mungkin,,,
    coz penasaran…. bakal HE semua ga??

  20. HUWAAAA UNNIE~YA.. Kenapa ff mu keren2 semua, mian unn aku ga bisa komen di tiap part aku bacanya ngebut.. Tapi yakks ini keren bgt. Kasian si iteuk, eh tapi eunkyo uda mulai suka ama iteuk kan ya? Hiks aku jadi inget teuki yg lg wamil… Aku dari kemaren ngubek2 blog kamu unnie. Haha ini efek ditinggal leader. -_-
    tp ini end nya masih agak gantung ya, raena belum tau ya kalo ibunya masi idup. Trus kyu ama key gmana nasib mereka? Huwaaaa aku setres mikirinnya.

  21. eonni, jujur awalnya aku sebel sama karakter eun kyo.
    jujur aja ya, kesannya tu cewe manja + lebay banget gitu… hehehe, tapi ffnya bagus kook.
    aku suka alur2nya + aku suka pilihan kata yg eonni tulis.. kesannya alami gitu..
    hehehe, keep fighting eonni!:D

  22. agak megantung oenn..
    terlalu bnyk pertnyaan d’kplaku..
    bagemna nasib kyuhyun n nanhee.
    trus sungmin oppa,
    jina sma donghae oppa ap udh sukses buat cucu’a,
    trus siwon oppa..

    eunkyo juga gx tw tuch dy seneng gx stelah menikah..

  23. kurang eonni…ceritanya gantung dehh..eunkyoo belum tau pasti prrasaan teuki oppa beneran menikah dngnya karna rasa tanggung jawab,iba or mencintai eunkyoo…eunkyoo msih mngira itu rasa tanggung jawab dan iba walaupun teuki selalu bilang menyukai eunkyoo..namhee milih siapa nii..kyuhyun or siwon..jina dan donghae udah nyatain perasaan saling mncintai belum sihh..aduhh eonmi tanggung bngt..lanjutin lagi dunk..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s