Please Don’t Break Up!

Standar

TeuKyo

Aku mencintaimu sampai gila

Hanya mencintaimu

Bena-benar mencintaimu hingga aku gila

Hingga bahkan aku tidak menyadari kau tidak ada disisiku

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Hanya mencintaimu

Tidak bisa mengatakan apapun lagi selain kata itu

Bahkan untuk kata yang umum sekalipun

Karena aku sendirian

(A Sad Story than Sadness – Kim Bum Soo)

 

Jung Soo’s POV

Aku memandang surat yang tergelatak diatas meja kerjaku. Mengetuk pena pada meja hingga terdengar bunyi ‘tuk tuk tuk’ berulang dan berirama. Aku merasa bimbang, menandatangani surat itu sama saja dengan menandatangi surat kematianku. Aku tidak mengerti apa yang dia inginkan dari hubungan ini hingga dia memutuskan untuk berpisah dariku. Cemburu? Aku rasa dia bukan tipe gadis yang mengambil keputusan dengan ceroboh meskipun dia melakukan segala hal tanpa perhitungan. Tapi untuk bercerai aku rasa dia tidak mungkin memutuskannya dalam sekejap. Aku masih memandangi kertas yang menentukan kehidupanku. Masih ingat pertemuan pertama kali dengannya di gerbong kereta.

Dia tertidur dengan pulas, aku memperhatikannya dengan seksama, hingga beberapa orang mendekat padanya. Aku menangkap gelagat tidak baik dari beberapa orang itu. Aku aku menghampiri mereka dan berpura-pura menjadi suaminya.

“Jweosonghamnida, Yeobo~ya, aku sudah menyiapkan duduk untukmu, kenapa duduk disini?” aku menarik tangannya, lalu membawanya duduk disampingku. Dia menatapku bingung.

“Daripada kau duduk dekat dengan mereka? Pilih mana?” tanyaku.

“Pilih disini saja.” Jawabnya lemah. Aku tersenyum mendengar jawabannya, jawaban yang polos.

Beberapa lama dalam perjalanan, tidak ada kata yang keluar dari mulutnya, aku juga terdiam. Hari ini aku sebenarnya ada janji dengan klien di Busan, tapi karena penerbangan penuh, aku terpaksa pergi dengan kereta. Aku tersentak, tiba-tiba kepalanya bersandar dibahuku, membuatku terkejut dan menatap wajahnya. Sangat lucu dan cantik apa adanya dengan posisi kepalanya di bahuku dan merosot turun kedadaku hingga akhirnya tangannya memelukku. Aku tersenyum. Gadis ini terlihat unik saat tidur. Tertidur pulas dengan nyaman dengan dadaku sebagai tumpuan. Saat kereta berhanti, dia terbangun. Merapikan rambutnya dan mengucek matanya dengan tingkahnya yang polos. Menatapku sejenak lalu tersenyum, aku balas tersenyum padanya.

“Jweosonghamnida.” Dia mengangguk malu. Aku bisa melihat semburat merah membias di pipinya. Dia terlihat salah tingkah aku memperhatikannya, aku merasa sepertinya aku tertarik dengan gadis yang baru beberapa menit aku kenal ini. Mungkin bagi sebagian orang cinta pada pandangan pertama itu sesuatu yang mustahil terjadi, karena sebagian orang beranggapan jika cinta itu perlu proses, tapi semua itu tidak berlaku padaku. Aku bisa merasakan getaran saat ia tersenyum. Merasakan desiran hangat dalam darahku saat dia menatap mataku. Aku putuskan aku akan mencintainya.

Kereta berhenti di tengah perjalanan, menurunkan  setengah dari penumpang, berganti dengan penumpang yang lain yang tengah menunggu.

“Siapa namamu?” tanyaku, dia menatapku sambil membenarkan rambutnya.

“Eoh?” wajahnya terlihat kaget dengan pertanyaanku.

“Namamu..” ulangku.

“Ah, Eun Kyo, Park Eun Kyo.” Jawabnay singkat.

“Aku Park Jung Soo, marga kita sama.”

Waktu itu dia menjadi suka relawan di panti jompo, sehingga membuatnya sering pulang malam karena harus mengurus beberapa orang tua yang sudah tidak berdaya. Aku senang melihatnya seperti itu, penuh kasih sayang, kadang-kadang dia juga menjadi sukarelawan di panti asuhan.

“Sajangnim, ada yang ingin bertemu dengan anda, boleh?” aku mendengar dari speaker telpon yang ada di hadapanku.

“Nugu~ya?” tanyaku.

“Itu.. maaf Agasshi, aku harus meminta ijin dulu pada Direktur.” Terdengar suara pintu dibuka dengan keras, aku menoleh ke pintu.

“Yak! Oppa! Apa yang kau lakukan?! Eoh?! Kau menyakiti Onnie?! DIA TIDAK ADA DIRUMAH DAN MENINGGALKAN INI!” Sung Jae melemparkan sebuah kertas padaku. Aku memungutnya.

Oppa.. mianhae.. aku pergi tidak memberitahumu. Aku rasa ini jalan yang terbaik untuk kita. Pertengkaran saat itu, aku minta maaf, aku yang salah terlalu cemburu. Tapi salahkah jika aku cemburu? Eoh? Kau lebih banyak menghabiskan waktu dengannya daripada denganku. Dan jangan tanya aku darimana aku tau kalau klienmu itu adalah mantan kekasihmu. Senang bertemu dengannya lagi kan?

Aku bisa mengerti, maka dari itu aku sebaiknya pergi.

 

Aku pulang ke rumah tengah malam. Membuka pintu dengan perlahan. Berjalan pelan-pelan agar tidak membuatnya bangun dari tidur nyenyaknya.

“Darimana saja Oppa? Kau bau alkohol.” Dia menyalakan semua lampu ruangan, aku terpaku.

“Nde?” tanyaku seperti orang bodoh.

“Kau pergi dengan siapa? Aku tidak suka kau datang bau alkohol.” Ujarnya lalu pergi ke dalam kamar, aku hanya diam memandangnya yang menghilang di balik pintu. Hari ini aku pergi bersama Yoon Sa. Mantan kekasihku dulu, aku menjalin kerjasama dengannya, aku akui, aku memang sedikit terlena dengan memori kisah cinta kami.

“Nugu~ya? Yoon Sa lagi? Sampai kapan kau akan terobsesi dengannya? Eoh? Kau sudah memiliki istri yang ada sepanjang hari di rumah untukmu! Tidak seharusnya kau bersama wanita yang meninggalkanmu itu!” omelnya padaku. Dia mendekatiku.

“Apa ini?” dia mengambil surat cerai yang belum aku tanda tangani.

“MWO? SURAT CERAI?! Oppa! Apa yang aad dalam pikiranmu?!”

“Itu surat gugatan darinya.” Sahutku lemah, Park Sung Jae! Aku juga tidak ingin seperti ini, tapi mau bagaimana lagi? Aku harus berbuat apa? Sepertinya kesalahanku tidak bisa dimaafkan.

“Oppa! Jika kau tidak membawanya ke hadapanku, aku akan membunuhmu! Dan cari dia sampai dapat!” Park Sung Jae, adikku yang sedikit tomboy dan terkadang aneh, kini dengan lantang memarahiku dan mengancam akan membunuhku jika tidak membawa kaka ipar kesayangannya itu ke hadapanku. Sung Jae memang sering menggoda Eun Kyo mencarikan istri muda, tapi aku tau itu adalah bentuk rasa cintanya terhadap kaka iparnya, membuat Eun Kyo kelabakan dan menyadari cintanya padaku. Sung Jae membanting pintu. Aku hanya bisa menatap nanar kepergiannnya. Memandangi fotoku bersama di padang rumput dengan kemah di belakangnya.

“Oppa, ini makanannya.” Eun Kyo menyodorkanku daging asap ke mulutku, aku menganga dan memakannya. Ini adalah bulan madu kedua kami, memutuskan untuk berkemah.

“Enak?” dia duduk di pangkuanku, aku mengangguk. Dia menyuapiku lagi. Aku menahan tangannya dan membuat tangannya menyuap ke mulutnya.

“Hem… Masitha..” dia memakan masakannya sendiri sambil mengibaskan tangannya ke mulut. Aku lupa dia tidak bisa memakan makanan yang panas.

“Wae? Panas?” tanyaku, dia mengangguk. Matanya berkaca-kaca.

“Mianhae Jagi~ya, minum.” Dia meneguk air dari tanganku.

“Oppa, kau bahagia hidup denganku? Kita belum mempunyai anak.” Ujarnya. Aku memeluk pinggangnya.

“Aku hanya membutuhkanmmu.” Aku memeluknya erat.

“Jika nanti kau menemukan yang lebih baik?”

“Tidak akan, aku tidak akan menginginkan yang lain lagi.” Aku mencium bibirnya, di bawah sinar rembulan, dia terlihat sangat cantik. Dia melepaskan ciumanku.

“Kau mau punya anak berapa?” tanyanya sambil menyuapiku makanan lagi.

“Em…” aku mengunyah makanan dalam mulutku. “Aku mau tujuh! Biar mereka bekerja sama menggurus perusahaan dan kita bisa santai saat kita tua.” Jawabku, dia tersenyum. Aku sangat suka dengan senyum tulusnya, dirinya apa adanya.

“Hyung, mianhae tidak bisa menghentikan Sung Jae.” Hyukjae tiba-tiba masuk dalam ruanganku. Hyukjae adalah kekasih Sung Jae, aku heran dengan pasangan ini, sama-sama aneh.

“Gwaenchana..” aku berdiri dan meletakkan bingkai foto yang dari tadi aku pandangi. Lalu berjalan ke sofa, duduk disampaing Hyukjae.

“Aku sudah mendengar cerita dari Sungie, tapi belum mendengar cerita darimu, kau bertengkar? Kalau boleh tau, apa karena Yoon Sa?” tanya Hyukjae hati-hati, aku menatapnya sebelum menjawabnya.

“Hufh, sedikit banyaknya karena itu.” Aku mengalihkan pandanganku melirik jam di dinding, sudah waktunya makan siang, biasanya Eun Kyo yang mengantarkan makan siang untukku.

“Ada tamu untuk Anda, Sajangnim.” Aku menghentikan menandatangani berkas yang ada dihadapanku. Meletakkan pena yang ada di tanganku lalu bersandar di kursi. Ah, aku sangat lelah hari ini. Beberapa hari ini selalu pergi bersama Yoon Sa untuk melihat lokasi yang akan kami bangun menjadi real estate. Yoona Sa adalah kekasihku saat SMU, dia melanjutkan kuliah ke luar negeri danbekerja disana, perusahaan Appanya. Saat dia kembali, jujur, itu membuat perasaanku sedikit berbunga. Apalgi saat dia menjalin kerjasama denganku. Aku sering pergi makan malam setelah kerja lapangan dengannya. Itu wajar kan? Toh aku tidak melakukan apa-apa dengannya.

“Suruh dia masuk.” Jawabku setelah tersadar dari lamunan.

“Teuki Oppa.” Sebuah suara mengagetkanku. Yoon Saa, baru saja aku teringat dengannya.

“Ye, wae~yo? Kita kan tidak ada jadwal hari ini?” tanyaku bingung.

“Wae? Jadi aku tidak boleh kesini?” dia cemberut, aku membalasnya dengan tersenyum.

“Ani, maksudku, tumben kau kesini.”

“Ani, aku hanya ingin membawakanmu makanan. Tapi kalau aku tidak boleh kesini, sebaiknya aku pulang saja.” Dia berbalik ingin pergi, namun aku menahannya. Tubuhku dan tubuhnya hanya berjarak beberapa centi, aku terpaku, begitu juga dia. Gadis ini sudah tumbuh menjadi dewasa, penampilannya berbeda dengan penampilannya saat SMU, dia juniorku di sekolah dulu, sangat manja. Tapi saat ini dia tumbuh menjadi wanita yang cantik.

“Maksudku bukan begitu.” Jawabku gugup.

“Kalau begitu kita makan bersama?” tawarnya sambil tersenyum. Aku mengangguk. Aku dan dia makan sambil mengingat masa lalu.

“Kau ingat saat kita pacaran dulu kau suka menjemputku Oppa?”

“Em, aku ingat.” Jawabku sambil menyuap makanan.

“Itu masa yang paling indah dalam hidupku.” Jawabnya. Kebersamaanku dengan Yoon Sa kali ini mampu melupakan sosokk Eun Kyo dari benakku. Aku dan Yoon Sa terlalu asik mengenang masa-masa remaja dulu.

“Oppa, tidak ada orang lain yang bisa menggantikanmu.” Aku menghentikan makanku dan menatapnya. Apa masudnya? Aku terdiam. Yoon Sa mendekat dan menciumku, aku terdiam sejenak lalu dia melepaskan ciumannya.

“Aku masih mencintaimu.” Wajahnya kembali mendekat dan menciumku. Aku sedikit terlena, mungkin karena kami mengenang kembali kenangan masa lalu, aku mulai membalas ciumannya. Mataku menangkap sosk yang aku kenal, tubuhku terkesiap.

“Maaf mengganggu, aku hanya ingin mengantar ini.” Seseorang itu meletakkan rangtang makanan di meja kerjaku tanpa menoleh sedikitpun. Eun Kyo.

Aku meceritakan semuanya pada Hyukjae, satu-satunya orang yang aku percayai untuk masalah rumahtanggaku, karena dia tidak memihak siapapun diantara kami. Aku menghela nafas, aku bisa merasakan bagaimana sakitnya hati Eun Kyo saat itu. Tapi aku melakukannya tidak sengaja dan hanya terbawa suasana. Seandainya aku ada di posisi Eun Kyo, mungkin aku tidak akan bisa sesabar itu. Istriku memang tidak suka ribut di muka umum, jika dia marah, dia akan memendamnya hingga ke rumah, dan berdebat di rumah. Bukan berdebat, dia jarang mengekspresikan marahnya, tidak seperti aku.

“Aku harap kalian akan baik-baik saja, Hyung, Eun Kyo juga pasti akan mengerti jika kau menjelaskan semuanya, kau menjadi renggang dengannya setelah itu kan?” tanya Hyukjae.

“Dia jarang bicara sejak saat itu.” Jawabku.

“Yang kalian perlukan hanya bicara, kau masih mencintainya kan? Maksudku tidak akan berani mengganti posisinya dengan Yoon Sa?” tanya Hyukjae lagi. Aku mengangguk dengan yakin.

“Tidak ada wanita yang seperti dia.” Jawabku. “Aku saat itu hanya terbawa suasana, sekarang aku menyadari, aku tidak bisa hidup tanpa gadis aneh itu.”

“Hem, terang saja kau tidak bisa hidup, jika kau benar-benar meninggalkan Eun Kyo, maka kau akan mati di tangan adikmu sendiri.” Ledek Hyukjae dengan tawa khasnya, aku melempar boneka yang ada di mejaku padanya. Boneka milik Eun Kyo. Ponselku berdering, aku melihat di layar ada nama Sungie tertera disana. Aku menerima panggilannya.

“OPPA! Onnie ada di bandara! Jemput dia atau kau akan mati!”

KLIK! Sambungan terputus, menyisakan kebingunganku. Aku memandang Hyukjae.

“Aku tau itu dari adikmu, suaranya terdengar sampai ke telingaku. Ayo siap-siap, aku antarkan kau sekarang juga.” Aku dan Hyukjae bergegas ke bandara. Apa yang ada dipikiran Eun Kyo? Dia ingin benar-benar meninggalkanku?

Sesampainya di bandara. Aku turun tergesa dari mobil tidak sempat menutup pintu. Aku berlari ke dalam bandara dan mengedarkan pandanganku dan melihat orang-orang yang ada disana, seseklai melihat wajahnya. Tidak ada Eun Kyo. Aku manhan airmataku agar tidak keluar. Aku tidak menyangka akhirnya akan seperti ini, tidak boleh seperti ini.

“Hyung, berpencar saja.” Ujar Hyukjae, aku mengangguk. Aku mencari di setiap sudut, bahkan mencegat seseorang yang menurutku itu Eun Kyo. Sudah semua sudut aku cari tapi tidak menemukannya, lantai dasar dan lantai atas sudah aku susuri, tidak mungkin kan dia di penerbangan luar negeri. Aku mohon Park Eun Kyo, janga meninggalkanku seperti ini. Ponselku berbunyi.

“Hyung, temui aku di loket petugas.” Hyukjae, apa dia sudah menemukan Eun Kyo? Aku segera bergegas menuju Hyukjae.

“Kau sudah menemukannya?” tanyaku terburu-buru, nafasku belum sepenuhnya teratur.

“Dia sudah berangkat 10 menit yang lalu, Busan.” Aku hanya bisa menghela nafas. Setidaknya dia tidak meninggalkanku terlalu jauh, aku sudah berpikiran ke luar negeri. Busan? Kota kenanganku bersamanya, aku yakin kau tidak mungkin sepenuhnya melepaskanku Park Eun Kyo. Aku berlari lagi. Menuju ruangan yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang, tapi aku bersikeras masuk. Memukul beberapa petugas. Setelah masuk, beberapa orang yang bertugas memandangiku, ada beberapa menahanku, tapi akutidak menyerah begitu saja, beberapa kali mereka menerima pukulanku. Aku merebut earphone dari seorang petugas.

“Tolong sambungkan ke pesawat yang tinggal landas 10 menit lalu, tujuan Busan.” Ujarku dingin sambil menatap tajam padanya. Tidak ada yang tidak mengenalku, pengusaha Real Estate termuda di Korea dengan pencapaian yang bisa dikatakan luar biasa untuk orang seumurku. Mereka terpana.

“CEPAT SAMBUNGKAN SEKARANG JUGA!” teriakku tanpa bisa menahan amarah lagi. Mereka memencet beberapa tombol.

“Tes tes, apa disana mendengarku?” aku menyaPilot yang mungkin menerima panggilanku.

“Ye.” Sahutnya singkat.

“Tolong nyalakan speakernya.”

“Jwoesongahae~yo, ini siapa?”

“Tolong sambungkan sekarang juga! Aku ingin bicara dengan istriku!” petugas yang lain mendengarku berteriak dan mengambil earphone dai telingaku.

“Sambungkan saja.” Ujarnya membelaku. Dia kemudian menyerahkan benda itu padaku.

“Eun Kyo, Park Eun Kyo. Aku tau kau di dalam sana. Kau dengar aku kan?” keadaan hening, aku menatap seorang petugas. Dia balas menatapku dengan harap, aku menghela nafas.

“Aku yakin kau mendengarnya dan kau harus mendengarkan aku.” Aku menghela nafasku lagi, dadaku berdegup kencang, tidak menyangka sampai pada titik ini. Aku tidak pernah membayangkan berpisah darinya.

“Yeobo, tolong dengarkan aku, aku tidak ingin berpisah! Sampai kapanpun tidak ingin berpisah, meski kau memaksa ratusan kali, aku akan menolaknya ribuan kali. Mari kita bicarakan lagi masalah ini. Aku akan kesana, menjemputmu.” Aku tidak bisa menahan perasaanku, kulepas earphone dari telingaku dan segera keluar dari ruangan itu, meningglkan mereka yang memandangku dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan.

“Bagaimana?” tanya Hyukjae. Aku menggeleng. Dia merangkulku. Aku berjalan menuju loket penjualan tiket.

“Jam berapa penerbangan ke Busan?” tanyaku pada seorang petugas.

“Penerbangan hari ini sudah penuh Tuan. Besok mungkin bisa.” Jawabnya.

“Jam berapa?” tanyaku dengan suara lirih.

“Jam 11 pagi.” Jawabnya.

“Aku pesan 1 orang.” Jarku, lalu meninggalkan bandara.

Aku berjalan menyusuri setiap ruangan yang ada di rumah ini. Baru kali ini aku begitu merindukannya. Rasanya ingin segera bertemu dengannya dan memeluknya, meminta maaf padanya, mengatakan bahwa apa yang dia lihat tidak seperti yang dia pikirkan. Aku duduk di depan kamarku bersandar di daun pintu.

“Aku bisa menjelaskannnya Yeobo~ya. Tolong dengarkan aku.” Eun Kyo menutup telinganya, tidak ingin mendengarkan apa yang ingin aku jelaskan.

“Apa yang kau lihat tidak seperti yang kau pikirkan.” Aku menahan tangannya, mencengkram sikunya denga kuat. Dia meringis, aku tidak tega melihatnya kesakitan, lalu aku melepaskannya. Dia masuk ke dalam kamar kami dan menutup pintu. Aku terpaku di depan pintu kamar. Percuma, dia tidak akan mungkin mau mendengarkanku. Aku mengambil selembar kertas, menulis sesuatu dan menyelipkannnya melalui lubang dibawah pintu.

‘Yeobo.. Minahae, ayo kita bicara.’

Lama aku menunggu di depan pintu, tapi dia tidak juga membuka pintu.

Oppa, kau mengecewakanku.’

‘Tidak seperti itu, dia hanya teman lamaku.’

‘Teman lama? Semesra itu? Kenapa tidak bilang itu mantanmu saja Oppa? Kau kira aku tuli? Aku sudah mendengarnya.’

‘Baiklah, dia memang mantanku. Tapi aku tidak mempunyai perasaan apa-apa padanya.’

‘ Tidak ada perasaan tapi kau menciumnya. Jangan-jangan kau juga tidak punya perasaan apapun padaku.’

‘Eun Kyo~ya, jangan begitu, aku hanya mencintaimu.’

‘Aku tidak bisa berpikir jernih Oppa. Mian.’

‘Bukan kau yang harus minta maaf tapi aku.’

‘Sudahlah, aku lelah, ingin tidur. Mian, kau harus tidur diluar.’

Kami berbalas surat melewati lubang dibawah pintu. Kubiarkan dia istirahat besok bisa dibicarakan lagi. Namun, hari demi hari berjalan dengan sepi. Dia tidak mau terlalu banyak bicara denganku. Menyiapkan segela sesuatuku, namun tidak bicara sepatah katapun. Dia melayaniku, itupun hanya karena itu sebuah kewajiban menurutku, karena dia memilih diam. Hingga akhirnya hubungan ini menjadai renggang, dan itu membuatku lebih dekat dengan Yoon Sa. Tapi benar-benar hanya sebatas teman. Aku tidak pernah menganggapnya lebih dari sekedar mantan.

“Eun Kyo~ya, aku sangat mencintaimu.” Berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhku disana. Rasanya aku masih mencium harum tubuhnya di tempat tidur ini. Aku menghirup udara dalam-dalam merasakan auranya yang masih tertinggal disini. Kenangan itu satu persatu berputar layaknya sebuah film dalam benakku.

“Aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu.” Aku merasakan aliran basah yang ditinggalkan setetes airmata di pipiku. Aku mengusapnya dengan punggung tanganku.

“Aku bisa gila jika kau tidak disini Park Eun Kyo.”

Eun Kyo’s POV

Aku berjalan menapaki jalan Busan. Sudah lama aku tidak kesini, sejak menikah dengan Jung Soo Oppa, waktuku hanya tersita untuk melayaninya. Kembali ke rumah Appa. Aku sangat senang bisa bersamanya lagi, tapi kali ini rumah kami pindah ke rumah Halmeoni, sejak dia meninggal. Jalanan ini menyisakan kenanganku bersama orang yang sangat aku cintai. Bahkan sampai saat ini aku bukannya membencinya tapi semakin tidak bisa mengenyahkannya di pikiranku. Jalanan ini memiliki berjuta kenangan.

“Kau suka?” tanya Jung Soo Oppa sambil membersihkan sisa es krim di sudut bibirku. Aku hanya bisa mengangguk dan menggandengnya dengan mesra. Oppa membelai rambutku.

“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Dia menatapku, aku balas menatapnya dan menghentikan langkah kami.

“Wae? Bicarakan saja Oppa.” Aku menarik tangannya agar kami kembali berjalan.

“Tunggu dulu.” Dia menahan langkah kami lagi. Aku menatapnya bingung.

“Aku ingin kita menikah.” Aku terdiam sejenak saat dia mengucapkan itu. Tidak langsung menjawabnya.

“Aku ingin kau ada disisiku setiap saat.” Sambungnya.

“Kau melamarku, Oppa?” tanyaku ragu sambil berbalik dan menatap wajahnya. Dia balas menatapku lembut.

“Aku memintamu menjadi pendampingmu.” Jawabnya. “Kau bersedia?” aku natap matanya mencari kesungguhan di dalamnya.

“Aku tidak bercanda.” Dia membelai pipiku. Aku memegang tangannya dan menjauhkannya dari wajahku.

“Aku sangat senang kau memintaku untuk hidup bersamaku. Tapi kau salah Oppa, kau harusnya meminta pada Appa, karena  kau mengambil putrinya, memisahkannya dari buah hatinya.” Jawabku. Dia mendekatkan wajahnya, aku refleks menghindar.

“Aku sudah memintamu pada Abeoji.” Bisiknya ditelingaku. Dia menatap mataku. “Aku tau kau miliknya.”

“Lalu Appa bilang apa?” tanyaku manja.

“Dia bilang asal aku bisa menjagamu dengan baik.”

“Begitu? Apa kau berjanji padanya?”

“Ye, aku berjanji padanya akan selalu membuatmu tersenyum.” Dia mencubit kedua pipiku. “Jadi kau bersedia?” tanyanya lagi.

“Menurutmu?” tanyaku menggodanya.

“Aku tidak suka di tolak karena aku sudah mempersiapkan semuanya.” Dia memeluk pinggangku dari belakang dan mendorongku untuk berjalan. Bahagia menjalar di setiap aliran darah, meresap hingga ke sel terkecil dalam tubuhku. Menimbulkan reaksi rasa lega yang tak bisa aku gambarkan.

Tanpa terasa airmata mengalir di pipiku. Rasa bahagia itu kini berganti menjadi perasaan haru yang menyakitkan. Aku kembali menapaki jalan ini, jalan dimana dia melamarku dulu. Berjalan sendirian diiringi tangis. Aku harus kuat, aku yang memutuskan ini. Aku duduk di sebuah bangku di pinggir jalan.

“Kau harus kuat Park Eun Kyo! Ini keinginanmu.” Aku meguatkan diriku sendiri. Seberapapun kuatnya aku meyakinkan diriku bahwa semua ini akan baik-baik saja tetap saja rasa sakit menggerogotiku.

“Perlu sapu tangan?” seseorang memberiku sapu tangan. Aku memandangnay dengan bingung.

“Kau jelek jika sedang menangis.”ujarnya. aku memukulnya.

“Oppa…” menyambut sapu tangannya dan menyeka airmataku.

“Kapan kau kembali.” Aku masih sedikit terisak dan sulit mengambil nafas.

“Baru saja, belum juga sampai kerumah.” Aku tersenyum, Min Jun Oppa. Sudah lama aku tidak melihatnya.

“Belum sampai kerumah tapi sudah menangis disini.” Ejeknya. “Biar Ahjussi tidak tau?” Aku kembali memukul lengannya. Min Jun Oppa memang selalu ingin tau apa yang sedang terjadi padaku. Dia adalah saudara jauhku.

“Aku bersedia menjadi tong sampahmu sebelum kau bertemu Ahjussi.” Ujarnya.

“Yak, Oppa, kau ini apa-apaan. Aku tidak apa-apa.” Elakku.

“Lalu mengapa menangis?” dia selalu suka mengorek yang terjadi padaku.

“Aku hanya terharu saat kembali kesini.” Aku mencoba meyakinkannya.

“Kau tidak pandai berbohong.” Dia mengacak rambutku. Yaish! Apa aku sepayah itu?

“Ayo aku antar pulang.” Dia menarik tanganku, mau tidak mau aku harus mengikutinya. Terus berjalan kaki hingga ke rumah. Namun sebelumnya aku melirik kebun stroberi yang ada disamping rumah.

“Aku sangat menyukai jus stroberi.” Jung Soo Oppa berjalan di sepanjang kebun. Terlihat wajahnya sangat senang. Kami baru menikah 2 hari yang lalu.

“Abeoji, boleh aku petik?” teriaknya.

“Ye, ambil yang sudah masak!” balas Appa berteriak. Aku hanya duduk di kursi melihatnya berkeliling memetik buah. Setelah keranjangnya penuh dengan buah, dia duduk disampingku. Aku bersandar dibahunya.

“Disini sangat nyaman, aku ingin saat kita tua, kita pindah kesini, saat sudah ada yang meneruskan perusahaanku.” Dia membelai rambutku dan memakan buah stroberi segar. Aku hanya mengangguk.

“Semga kita sampai pada saat itu.” Sahutku.

“Harus, kita pasti sampai pada saat itu, tidak akan ada yang bisa menghalanginya.” Dia erat merangkulku.

“Dulu Eomma juga ingin seperti itu, tapi kenyataannya Appa sendirian menghabiskan masa tuanya, bergelut dengan kebun dan tempat penampungan anak dan sekolah seninya.” Dia semakin erat memelukku, aku balas memeluknya.

“Aku berjanji kita pasti menghabiskan masa tua disini.”

“Kenapa melamun?” sebuah sentuhan lembut menyadarkanku. Aku sedikit tersentak saat Min Jun Oppa menyentuhku. Kenanganku buyar, aku tersenyum kecut. ‘kenyataan selalu tak seindah hayalan’.

“Kyo~ya?” aku melihat Appa berdiri di depan rumah sedang membersihkan halamn dengan sapu di tangannya. Aku tersenyum membalas keterkejutannya. Aku berjalan mendekatinya, Appa membuang sapu ditangannya dan menghampiriku lalu memelukku. Aku balas memeluknya, sudah lama aku merindukan pelukan hangat lelaki tua ini. Lelaki lanjut usia yang masih terlihat kuat ini aku begitu merindukannya, terlebih lagi saat keadaan rumah tanggaku sedang dingin.

“Kau sendirian?” aku mengagguk.

“Oppa sedang sibuk, jadi aku pergi kesini sendirian.”

“Jinjja~yo? Padahal beberapa hari lagi panen stroberi.” Ujar Appa sedikit kecewa. Aku menatap wajah kecewanya. Apa jadinya jika aku menceritakan bahwa aku mengajukan gugatan pada menantunya?

“Kan masih ada aku?”

“Hahahahaha, iya masih ada kau.”

“Aku akan membantumu memanennya.” Ujarku, aku melirik Min Jun Oppa, dia hanya tersenyum padaku. Aku tau dia mencium masalah dariku, terlihat dari senyumnya yang penuh arti.

“Ayo masuk, kau pasti lelah kan?” Appa menarikku ke dalam.

“Min Jun~a, ayo masuk.” Appa menoleh pada Min Jun Oppa.

“Ani Ahjussi, aku harus pulang.” Pamit Min Jun Oppa.

Sudah 3 hari aku ada disini. Dengan rutinitas yang berbeda, setiap apgi aku membantu Appa mengurus kebunnya. Lalu membantu Appa mengurus anak-anak tanpa tempat tinggal dan mengajarinya beberapa keterampilan. Appa juga punya usaha galeri seni, kerajinan hasil karya anak-anak asuhannya. Aku yang menjaga galeri itu. Appa punya toko roti yang sangat laris disini. Appa, orang penuh dengan semangat. Ada beberapa pengunjung galeri hari ini.

“Kau sudah makan?” sebuah suara mengejutkanku. Appa, dengan membawa rantang makanan.

“Ayo kita makan sama-sama.” Appa membuka kotak makanannya.

Aku mengetuk pintu ruangan yang ada dihadapanku. Dengan senyuman mengembang diwajahku. ‘Apa ia akan senang aku kesini?’

“Silakan masuk.” Jawab seseorang dari dalam. Dia masih tidak melihatku.

“Sajangnim.” Dia langsung menoleh, dan terpaku sejenak mendapatiku berdiri dihadapannya.

“Aku membawakan makanan untukmu Oppa.” Dia berdiri dan masih tidak percaya. Diam tanpa kata dengan wajah lucunya.

“Wae? Kau tidak suka?” aku berjalan meninggalkan kotak makanan dimejanya.

“Yak! Mau kemana?”

“Kau tidak senang aku disini.” Aku mengerucutkan bibirku, sebenarnya aku tidak benar-bena kecewa, hanya menggodanya.

“Siapa yang bilang tidak suka? Aku tidak bilang tidak suka.” Dia menarik pinggangku dan mendarat duduk di kursi tamunya. Aku terduduk dalam pangkuannya. Menggelitik pinggangku.

“Aku sangat senang kau disini, hanya tidak menyangka.”

“Haha, kau pasti belum makan kan? Ayo kita makan sama-sama.” Aku berusaha bangkit dari pangkuannya, tapi dia menahan tubuhku.

“Biarkan saja, sebentar lagi seperti ini.” Dia memelukku.

“Oppa, ini kantor, bukan kamar.”

“Mereka tidak melihat, lagipula kau istriku, tidak akan menyangka macam-macam, kalaupun menyangka macam-macam, kita suami istri kan?” dia mengecup tengkukku. Aku sedikit menghindar dengan membeungkukkan badanku, dia jua ikut membungkukkan badan meraih leherku.

“Oppa! Kau apa-apaan?” dia tertawa. Aku berusaha melepaskan pelukannnya, tapi tangannya sangat kuat melingkar di pinggangku.

“oppa, aku lapar..” Rengekku padanya, baru dia menghentikan kecupannya.

“Baiklah, kita makan, tapi aku mau kau yang menyuapi.” Ujarnya manja. Aku memukul kepalanya pelan, tertawa bersama.

“Kenapa tidak dimakan?” ujar Appa sambil menyuap makanannya, dia tidak memandang wajahku, itu artinya Appa sedang membaca gelagatku. Aku mengaduk makananku dan menunduk.

“Sebenarnya ada apa denganmu Eun Kyo~ya?” tanya Appa. Aku tidak berani menjawabnya. Apa yang harus aku jawab? Aku ingin bercerai?

“Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan Kyo~ya.” Dia kembali tidak menatapku, dan aku hanya bisa diam.

“Appa..” jawabku ragu, apa aku harus mencertakannya?

“Kau anakku, tidak mungkin aku tidak tau apa yang terjadi dengan anakku sendiri dengan segala perubahan sikapnya, kau sering melamun, dan tidak menjawab telpon bahakan terkadang menonaktifkan ponselmu.” Ujar Appa.

“Aku baik-baik saja Appa.” Appa menoleh padaku dan menghentikan tangannya mengambil makanan. Aku balas menatapnya, Tuhan, aku tidak mungkin mengatakannya.

“Arasseo, itu masalahmu, hakmu untuk tidak mengatakannya. Tapi aku harap kau mau membicarakannnya dengan suamimu. Aku tau seperti apa jika kau marah anakku. Kau akan menghindar sampai suasana hatimu dingin. Itu pilihanmu, kau harus menghadappinya. Aku tidak ingin membela siapapun tapi ada baiknya jika kau membicarakannya. Kau punya alasan untuk marah, tapi dia juga berhak diberi kesempatan untuk menjelaskannya.” Nasehat Appa dari dulu, tapi aku yang keras kepala, aku selalu menghindar dan memilih diam jika aku sedang marah. Persis seperti Appa, namun aku lebih mementingkan hatiku dibandingkan logikaku, itu bedanya aku dengan Appa.

“Jung Soo menelponku tadi malam, dia hanya ingin bertemu denganmu.” Uujar Appa.

“Appa…” aku malas untuk bicara.

“Sebaiknya selesaikan baik-baik, jangan seperti ini. Dia memang tidak menceritakan padaku masalah apa yang terjadi pada kalian, karena itu masalah rumah tangga kalian. Dia hanya bilang kau marah padanya.” Aku menatapnya, sepertinya perkataan Appa ada benarnya juga, tapi egoku masih diatas segalanya.

“Ne, besok aku akan pulang.” Ujarku. Appa mengacak rambutku.

“Itu baru anakku.” Aku tersenyum mendengar perkataan Appa, aku selalu bangga dengan pengakuannya bahwa aku anaknya. Aku masih sangat mencintai menantumu Appa, tapi aku masih be

Jung Soo’s POV

“Nde? Abeoji?” aku mengangkat telpon dari ayah mertuaku. Aku bangga punya mertua sepertinya, yang memandang masalah dengan bijak sepertinya.

“Ye? Dia sudah pulang pagi tadi? Ah ye, aku masih dikantor, lembur, nanti saat pulang aku akan menemuinya.” Aku menutup telpon. Aku berbohong, aku sekarang ada dirumah, dan Eun Kyo tidak pulang ke rumah. Apa yang kau lakukan Yeobo~ya? Aku mohon jangan menyiksaku lebih dalam. Aku mengambil jaketku dan pergi menuju bandara. Untuk kesekian kalinya aku mengacau disini.

“Bisa kau carikan jadwal landing penerbangan dari Busan?”

“Sebentar Tuan, penerbangan terakhir mendarat satu jam yang lalu.” Aku menghela nafasku. Park Eun Kyo, apa lagi yang ingin kau lakukan? Hufh, semua ini salahku, harusnya aku menjemputmu, tapi aku benar-benar tidak bias dengan jadwalku yang begitu padat. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku dengan Yoon Sa agar tidak ada lagi dia diantara kami. Ingin membuktikan bahwa hubungan ini hanya sebatas hubungan kerjasama. Aku berjalan gontai keluar dari area bandara. Apa yang sebenarnya kau ingin? Eoh? Benar-benar ingin berpisah dariku?

Aku menghentikan mobilku disebuah kedai pinggir jalan. Duduk disana tanpa memperdulikan orang lain. Yang ada dipikiranku sekarang hanya Eun Kyo, dimana dia sekarang? Rasanya kepalaku ingin pecah memikirkannya. Dia tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Karena cemburu? Ayolah, aku benar-benar tidak ada hubungan apapun lagi dengannya Eun Kyo~ya.. aku mohon percaya padaku.

“Soju.” Aku memesan minuman beralkohol yang terbuat dari beras itu. Meminumnya dengan cepat beberapa botol, berharap semua masalahku akan segera membaik dan kembali seperti semula.

“Aku beli 10 botol.” Pelayan menyerahkanku bungkusan yang berisi 10 botol soju. Aku meraihnya dankembali ke mobilku. Sesampainya dirumah aku segera menenggaknya kembali hingga kesadaranku mulai turun.

“Park Eun Kyo, aku bisa gila jika kau bersikap seperti ini.” Aku meracau. Mengeluarkan semua yang mengganjal dihatiku.

“Aku hanya mencintaimu. Hek!” aku meminum sisa minuman yang ada di dalam botol.

“Aku tidak bisa hidup seperti ini Eun Kyo~ya.” Aku memelas pada angin, berharap berhembus padanya dan dia mendengar semuanya.

“Dia bukan siapa-siapa, hanya sebatas teman.” Aku menangis tanpa aku sadari, sejak kapan aku menangis aku juga tidak menyadarinya.

“Oppa, aku tidak suka kau bau alkohol.”

Kata itu terngiang di telingaku. Aku merasakan dia hadir disini. Aku sangat merindukannya, begitu merindukannya.

“Hahahahaha, jika kau tidak suka aku bau alkohol.” Aku terduduk di lantai dan memandang foto besar yang terpasang di dinding. Aku bangkit dengan susah payah. Memijakkan kakiku dengan benar begitu sulit. Aku berjalan sempoyongan menuju foto.

“Jagi~ya..” aku membelai fotonya. Aku hampir terjatuh danmembenarkan pijakanku.

“Jika kau tidak suka aku bau alkohol..” aku membelai pipinya kembali.

“Jangan membuatku seperti ini, aku mohon kembalilah padaku..” aku berbalik ke meja dan meraih sobotol soju lagi. Rasanya aku ingin menghilang dari sini. Menyakitkan dia tidak ada disisiku.

“Apa kausudah tidak mencintaiku lagi?” racauku lagi. “Eoh?” aku melempar botol itu dan pecah diatas lantai, aku memandangi pecahan kaca itu.

“Hahahahaha, aku tidak akan berbuat hal yang bodoh Jagi~ya, aku akan mencarimu meskipun ke ujung dunia.” Aku duduk dilantai.

“Tapi, hiks!” aku mengusap airmataku. “Dari mana aku harus mencarimu?” aku menopang tubuhku dengan kedua tanganku.

“SESEORANG TOLONG KATAKAN PADAKU! MULAI DARIMANA AKU HARUS MENCARINYA! EOH?!” kulempar lagi botol kaca berwarna hijau itu ke lantai.

“Aku seperti orang bodoh! Harusnya waktu itu aku segera menjemputmu! Aku yang bodoh!” aku memaki diriku sendiri.

“Hyung!” seseorang berseru padaku, aku menoleh padanya dan memandangnya dengan menyipitkan mataku. Aku tersenyum.

“Lee Hyukjae!” aku memanggil namanya.

“Hyung, apa yang kau lakukan?” dia mengangkat tubuhku ke sofa. Dia bersama seseorang?

“Kau membawa Eun Kyo?” tanyaku, dia hanya diam. Aku memperhatikan dengan seksama orang yang ada di belakanh Hyukjae.

“Sungie~ya?” ternyata aku salah. “Hahahaha, bodohnya aku, berharap kau membawa Eun Kyo untukku.”

“Hyukkie Oppa, ayo kita pulang.” Ajak Sung Jae pada Hyukjae. Aku tersenyum lagi, menertawakan diriku sendiri.

“Kau tidak liat keadaan Oppamu?” Hyukjae mencoba mengangkat tubuhku dengan cara merangkulku.

“Lepaskan aku! Kalian pulang saja!:”

“Hyung, kau harus mandi, dan tolong berpikir dengan tenang.”

“Bagaimana aku bisa tenang?” aku menepis tangannya yang ingin membawaku ke kamar mandi.

“Dia menghilang, aku tidak tau dimana dia berada. Abeoji bilang dia sudah pulang beberapa jam lalu.”

“Mungkin dia sedang berkunjunng di tempat lain dulu.” Ujar Hyukjae menenangkanku, aku kembali menepis tangannya yang ingin merangkulku.

“Tidak mungkin, jika dia tidak ingin menghindar dia pasti akan memberitahuku, dia selalu bilang padaku jika ingin pergi.” Aku duduk di lantai. “Tapi ini, dia tidak mengaktifkan ponselnya.” Lanjutku.

“Sudah lah Oppa! Jangan pedulikan dia, dia sendiri yang membuat hidupnya seperti ini, biar dia rasakan, biar dia belajar menghargai apa yang telah dia miliki.” Suara Sung Jae terdengar menyakitkan di telingaku hingga sampai ke hati. Aku melihat Sung Jae menarik Hyukjae, dan Hyukjae memandangku dengan iba. Aku tersenyum padanya.

Adikku memang benar, aku selama ini hanya mementingkan pekerjaanku, berharap dia mengerti dengan semua kesibukanku. Bahkan saat kami bermasalah pun aku menenggelamkan pikiranku dalam kesibukan jadwalku tanpa memperhatikannya. Dia juga selalu diam dan bertingkah seperti biasa, hanya mulutnya yang tertutup. Aku merasa baik-baik saja, meski tidak baik-baik saja, aku merasa ini akan membaik dengan sendirinya, dia pasti akan lelah dengan aksi diamnya. Karena aku tidak merasa bersalah. Aku memang tidak punya hubungan apa-apa dengan Yoon Sa, tidak ada perasaan lagi. Tapi sekarang aku sadar kesalahanku, aku selalu ingin dimengerti tanpa memperhatikan perasaan istriku sendiri.

Eun Kyo’s POV

Aku berbaring diatas tempat tidur. Sudah 2 minggu aku disini. Tanpa memberitahu siapapun. Hanya Sung Jae yang tau keberadaanku. Karena dia yang menjemputku di bandara waktu itu. Dia menelpon dan menanyakan keadaanku, lalu memaksaku untuk dijemput olehnya. Awalnya aku menolak, karena aku belum ingin pulang. Pintu diketuk oleh seseorang, aku membukakan pintu untuknya.

“Sungie~ya?” gadis dihadapanku berdiri dengan menenteng beberapa bungkusan ditangannya.

“Aku membawakan beberapa bekal makanan untukmu.”ujarnya sambil masuk ke dalam. Aku mengikutinya.

“Kau betah disini?” tanyanya, aku mengangguk dengan ragu. Duduk diatas tempat tidur sambil melamun.

“Kau sama saja dengan Oppa, kerjamu hanya melamun.” Dia meletakkan beberapa bungkusan makanan ke dalam kulkas.

“Biar dia tau rasa!” omel Sungie. Aku hanya tersenyum mendengar semua ocehannya.

“Bagaimana dengan skripsimu? Bukan saatnya lagi bermain-main Sungie~ya.”

“Em, sebentar lagi selesai Onnie~ya.” Jawabnya sambil duduk disampingku.

“Kau masih mencintai Oppa?” tanya Sungie padaku aku menoleh padanya dan tersenyum.

“Aku.” Dia langsung menutup mulutku.

“Aku tau jawabannya, tidak perlu kau jawab.” Wajahnya terlihat kesal. Kakinya menendang ke udara sambil di ayunkannya. Dia merebahkan tubuhnya di tempat tidur.

“Sekarang ganti pertanyaannya, mengapa kau mengirim gugatan cerai padanya? Apa kau sudah sanggup hidup tanpanya?” dia duduk dan menatapku tajam. Aku balas menatap, tepat dimatanya.

“Bagaimana jika dia benar-benar menandatanganinya?” tanyanya lagi. Aku bingung harus menjawab yang mana. Terlalu bingung karena sampai saat ini aku masih belum bisa membunuh perasaanku.

“Nan Mollasseo.” Jawabku lirih.

“Kau sama bodohnya dengan Oppa, berpura-pura tegar namun pada kenyataannya kalian tidak bisa hidup tanpa satu sama lain.” Dia mencubit pipiku, aku tersenyum padanya.

“Dia masih mencintaimu Onnie~ya, dan jika hatimu sudah bisa menerimanya kembali, tolong tengok dia, dia sangat berantakan. Mabuk setiap malam.” Sung Jae berdiri dan melangkah.

“Aku pergi dulu, ada janji dengan Hyukkie Oppa.” Ujarnya.

“Hati-hati dijalan.” Jawabku.

“Satu hal lagi Onnie~ya, kau….” dia mendekat padaku menggigit telunjuknya dan menggantungkan pertanyaannya.

“Ah, tidak jadi, mungkin hanya perasaanku saja. Oke Onnie~ya, akupergi dulu.” Dia benar-benar menghilang kini. Aku hanya tersenyum dan memikirkan apa yang ingin dia katakan. Aku berjalan ke kamar mandi dan merendam tubuhku.

Duduk di lantai kamar mandi dan melihat dengan seksama benda yang ada ditanganku. Tidak mungkin, ini tidak mungkin. Aku menatap benda itu dengan nanar. Berusaha menahan perasaanku, aku bingung, apa yang harus aku lakukan? Harus bahagia atau bersedih. Dua garis merah, aku menghela nafasku.

“Mengapa terjadi disaat seperti ini?” gumamku. “Eun Kyo Pabo~ya!” aku memukul kepalaku sendiri.

“Kenapa kau harus hadir disaat aku ingin meninggalkannya?” airmataku jatuh ke lantai. Benar-benar bingung dengan kenyataan ini.

***

Aku berjalan di halaman rumahku yang dulu aku tempati bersama Jung Soo Oppa. Mungkin aku akan menjenguknya sebentar, bukan menjenguknya karena ini jam kerja, dia tidak mungkin ada dirumah. Tidak ada yang berubah, hanya sedikit tidak terawat. Aku berjalan ke depan pintu dan membuka pengaman berkode yang terletak disampingnya. Kodenya masih sama, tanggal lahirku.

Aku berjalan memasuki rumah ini, sedikit bau apek. Apa dia tidak pernah membersihkannya? Saat memasuki ruang tengah aku tertegun, sampah ada dimana-mana. Pecahan kaca berserakan. Aku menendang sebuah botol berwarna hijau, botol kosong itu menggelindinng di lantai. Apa dia benar mabuk setiap malam? Oppa, apa kau hidup dengan baik?

Aku memungut sampah yang berserakan di lantai, juga mengambil beberapa botol soju yang sudah kosong, kumasukakn ke dalam kantong plastik. Piring kotor juga banyak di dapur. Aku menyalakan air dan mencuci semua piring kotor. Aku meregangkan ototku setelah membersihkan semua piring kotor yang tergeletak bahkan sampai berjamur di dapur. Lalu aku menuju kamarku

Masih tetap sama, seprai yang dia gunakan juga masih tetap sama seperti saat aku tinggalkan dulu, lalu dia tidur dimana selama ini? Oppa, jangan katakan kau tidur di sofa. Aku menghela nafasku kembali.

“Apa kau begitu tersiksa aku tinggalkan?” aku memunguti beberapa baju kotor yang berserakan di lantai dan juga di keranjang pakaian kotor yang tidak kelihatan lagi karena sudah penuh dengan pakaian kotor.

“Oppa, ini bukan dirimu, dulu kau tidak pernah membiarakan pakaian tergeletak tak beraturan, meskipun itu pakaian kotor.” Aku membawanya ke dapur dan memasukkannya di mesin cuci lalu memencet tombo ‘on’. Sementara menunggu cucian, aku mau memasak dulu. Aku berjalan kearah kulkas dan membuka pintu. Kembali aku tercengang. Sayuran busuk, susu yang tumpah dan kulkas penuh dengan botol soju. Aku mengambil kain pel dan membersihkannya. Membuang sayuran yang sudah busuk ke dalam sampah.

“Oppa, kalau begini, apa yang harus aku masak?” gumamku pada diriku sendiri. Aku terdiam, kakiku beranjak pada lemari makanan yang terletak tak jauh dari kulkas. Aku membukanya. Penuh dengan ramen.

“Kau hidup tidak sehat sepertinya akhir-akhir ini Oppa.” Aku mengambil ramen dan memasaknya, lalu mengambil beras dan mencucinya, aku masukkan ke dalam pananak nasi listrik milik kami. Menunggu nasi masak aku memasak ramen denga telur dan beberapa ham yang aku potong-potong. Ada masih tersisa sekaleng ikan tuna, aku memasaknya. Tanpa terasa, makananku sudah matang, aku meletakkanya diatas meja dan memeriksa cucianku. Sudah selesai semua. Aku mengambil cucianku dan menjemurnya diatas atap.

Tubuhku terkesiap saat seseorang memelukku dari belakang. Aku memandang tangannya yang melingkar di pinggangku.

“Aku tau kau akan kembali.” Dia berbisik di telingaku.

Jung soo’s POV

“Park Sung Jae! Sekarang katakan dimana kalian menyembunyikan Eun Kyo?!” teriakku penuh amarah pada adik semata wayangku ini. Dia berdiri dan ingin memukulku. Tapi Hyukjae menahan tubuhya.

“MWO?! Kau menuduh kami menyembunyikannya?! Oppa! Itu salahmu sendiri! Cari sendiri sampai dapat!” balasnya berteriak. Aku tau mereka tau keberadaan Eun Kyo tapi menyembunyikannya dariku. Apa aku sudah tidak pantas untuknya lagi dimata mereka? Tidak ada seorangpun yang membantuku.

“Itu salahmu sendiri membuatnya pergi! Sekarang kau rasakan sendiri akibatnya, masih untung aku tidak membunuhmu!” lanjutnya berteriak. Hyukjae membawanya keluar meninggalkanku sendirian penuh emosi di ruangan kerjaku. Duduk di kursiku dan bersandar. Aku merasa sangat lelah hari ini, entah mengapa aku rasanya ingin cepat-cepat pulang. Dadaku terasa bergetar. Rasanya aku harus pulang sekarang juga.

“Tolong batalkan semua pertemuan hari ini, aku merasa tidak enak badan.” Ujarku pada sekretarisku. Lalu pergi meninggalkannya. Aku mengemudi dengan tidak tenang. Rasanya ingin cepat-cepat sampai ke rumah. Setelah sampai dirumah, aku segera membuka pintu rumah dan ingin sekali berbaring. Saat aku memesuki ruangan depan, aku melihat sepasang sendal wanita. Sepertinya ini sendal Eun Kyo, tapi aku tidak ingin berharap lebih. Aku berjalan ke ruang tamu, lalu ingin melangkah ke kamar. Tapi mataku terpaku melihat ruang tengah yang sudah bersih, tidak ada lagi sampah dan komplotannya. Aku bertanya dalam hati, siapa yang membersihkan semua ini? Apa Eomma mengirimkan seseorang untuk membersihkan ini?

Aku berjalan ke kamar dan kembali tercengang. Pakaian kotor semuanya tidak ada dan kamar bersih. Aku kini berjalan menuju dapur, membuka penutup makanan yang ada dimeja. Makanan, banyak sekali makanan. Aku terduduk di kursi meja makan. Memandangi semua makanan yang ada di meja, aku tiringat Eun Kyo, dia sangat suka daing ham di campur dengan ramen seperti ini. Aku melihat sekelebat bayangan menuju tangga keatas atap. Aku mengikutinya. Dan hatiku bergemuruh melihat siapa yang ada dihadapanku. Dia tidak menyadari kehadiranku, selalu seperti itu jika dia mengerjakan pekerjaan rumah, dia lupa dengan apapun. Aku mengikutinya keatas. Dia menjemur pakaian sambil sesekali menyeka keringatnya. Dia terlihat lebih cantik. Lebih cantik atau ini efek dari kerinduanku? Aku tidak tahan lagi, berjalan mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Tubuhnya membeku.

“Aku tau kau akan kembali.” Suaraku bergetar berbisik ditelinganya. Dia hanya diam, aku semakin erat memeluknya, rasanya lubang dihatiku sudah tertutup demi melihat wajahnya.

“Aku mohon jangan tinggalkan aku lagi.” Pintaku padanya.

“Aku mencintaimu, aku mencintaimu, hanya mencintaimu.” Aku membenamkan wajahku dilehernya. Rasany aku benar-benar lega mendapatinya disini.

“Aku tidak bisa hidup tanpamu, hidupku jadi berantakan.” Ucapku sambil menetaskan airmata.

“Aku berjanji, aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi, akan selalu jujur dan selalu mengatakan padamu kemana aku pergi, dengan siapa aku pergi agar tidak ada lagi kesalahpahaman diantara kita, asalkan kau tetap berada disisiku.” Dia masih diam, aku tidak bisa memaksanya untuk bicara. Dia ingin melepaskan pelukanku namun aku memeluknya lebih erat.

“Aku mohhon jangan tinggalkan aku lagi.” Dia mencoba melangkakan kakinya, namun kakiku menahannya. Aku memotong langkahnya dengan meletakkan kaki kananku di depan kakinya, mengunci setiap gerakannya.

“Oppa, lepaskan aku, kau menyakitiku.” Ucapnya lirih.

“Kau harus berjanji tidak akan meninggalkanku lagi, baru aku akan melepaskanmu.” Tolakku.

“Ne, aku tidak akan kemana-mana.” Ujarnya, aku melepaskan pelukanku.

“Kau sudah memaafkanku? Aku hanya mencintaimu, tidak menjemputmu karena aku ingin menuntaskan pekerjaanku dulu agar tidak ada lagi yang menggangu kita, maksudku pekerjaanku.” Dia menghela nafas.

“Aku tidak ingin ada soju lagi disini.” Ujarnya lirih.

“Arasseo, arasseo, aku berjanji akan membuangnya. Kau akan tinggal disini kan?” tanyaku hati-hati. Dia menghela nafas berat.

“Aku membuang surat gugatanmu, tidak akan pernah menandatanganiya.” Ujarku cepat. Wajahnya yang tadi mengeluarkan air mata kini menyunggingkan senyum manis.

“Aku beri kau kesempatan sekali lagi. Tapi tidak semudah itu aku memaafkanmu.”

“Aku akan melakukan apapun.” Jawabku cepat. Dia mulai tertawa. Rasanya sangat senang melihatnya tertawa seperti ini.

“Kau mau apa? Kita pindah ke Busan? Mengerjakan kebun Abeoji?” jawabku. Dia menggeleng.

“Abeoji bilang sudah panen stroberi.” Dia tersenyum.

“Ne, kau melewatkannya.” Jawabnya. Aku masih tidak merasa yakin, apa dia benar-benar sudah memaafkanku?

“Minggir, aku mau makan.” Dia memukulku dan berjalan ke bawah, aku mengikutinya. Kami makan dengan lahap hari ini. Aku memandanginya yang memasukkan makanan tanpa jeda.

“Kau kelaparan?” dia mengangguk.

“Dimana kau selama ini?” dia tidak menjawab, sibuk memasukkan nasi dan lauk ke dalam mulutnya.

“Yeobo, pelan-pelan, aku tidak akan menghabiskannya, semua ini untukmu.” Aku mendekatkan beberapa makanan di dekatnya, dia tersenyum dengan mulut penuh makanan. Setelah selesai makan, dia mengelus perut.

“Ah, kenyang sekali.” Ujarnya.

“Oppa, kita membeli baju ibu hamil dan perlengkapan bayi sekarang juga.” Aku menganga mendengar perkataannya. Ibu hamil? Bayi? Maksudnya dia hamil?

“Ayo atau aku akan meninggalkanmu!” teriaknya, aku tersadar dari lamunanku dan berlari menyusulnya.

Park Eun Kyo, jadi ini alasannya kau tidak jadi meninggalkanku?

“Oppa, jika kita punya anak, jangan pernah membuat anak kita kesepian, kau harus meninggalkan pekerjaanmu jika anakmu memintanya. Karena hidup dengan satu orang tua itu sangat menyedihkan Oppa.” Dia bersandar di punggungku.

Aku tersenyum mengikuti langkah riangnya. ‘Aku tidak akan pernah membiarkan kalian kesepian’

FIN

 

Note : hufh, ditengah kesibukanku, aku masih gila berkhayal. Buahahahahahahha, hari ini pun aku lembur, huweeeeee rasanya ingin menangis, tapi dengan menangis aku tidak akan menyelesaikan pekerjaanku. Maaf ini ff rada pendek, hasil karya kelelahan dan kegalauanku *pasti hasil karya kegalauan* ngerti ga alur ceritanya yeorobeun? Tulisan yang berwarna itu artinya masa lalu, itu ingatan dari Eun Kyo maupun Oppa. Aku terinspirasi membuat ff yang kadang alur mundur ini pas ngeliat film, aku lupa judulnya. Keren ceritanya aku suka, tap g tau nama pemainnya. Ceritanya dia amnesia, terus menyusuri ingatannya dengan mengingat sepotong demi sepotong dengan cara bertanya dengan rekan-rekannya. Terus aku mikir kenapa ga bikin ff dengan gaya sama tapi tema berbeda. Maaf jika kalian ga terlalu ngerti, karena ini memang aneh banget.. heheheheehehehe, feel juga ga terlalu feel, endingnya sedikit maksa yah? Karena kau juga tidak ingin berpisah darinya *selalu*. Ff ini engga aku edit seperti biasanya, dan banyak typonya, maaf… semoga kalian mengerti jalan cerita dan menyukainya..

82 responses »

  1. Eonnyyy.. So sweett~..
    (っ ‾̣̣̣﹏‾̣̣̣)っ

    Kenapa eunkyo ga blg mencitai jungsoo eon?
    Hahaha..
    Jdi balikan krna hamil.. Agh~..

    Aku mau nangis baca tingkah’na teukie kyk org kehilangan arah.. u.u

  2. aduhh, dari judulnya aja aku udah mulai meneka-nerka nih, hehe..
    tapi aku belum baca, tadi sempet lihat sekilas ada kata ‘gugat cerai’ segala, wuah! aku mau baca dulu ya onn, komennya nanti menyusul🙂

      • Aigo, onn, kenapa FF mu ini menyedihkan? Aku sesak bacanya..
        Jung Soo Oppa kacau balau ditinggal Eun Kyo Onnie *rasain* wkwk #digampol..
        Mmh, onn, ff yg ini menurut aku bassic ceritanya hampir sama kayak ff mu yg dulu, aku lupa judulnya. Hehe.
        Tapi kalo nggak salah cast antagonis *?* namanya Evelyn *iya bukan ya?*, pokoknya itu nama barat onnie deh. Iya bukan? Mirip sama kayak ini, tp endingnya beda😀. Hehehe..
        Aih, baby sang penyelamat, datang di waktu yang tepat😀
        Bakalan ada sekuelnya nggak, Onn? Hehehe..

      • msh ingat km ff yg itu? haha, iya, mirip, tema sama, alur mirip, tapi pengemasan yg beda sdkt syg… sm endingnya yg beda…
        ga nyangka msh ada yg inget ff jadul itu…
        ne, my baby penyelamat…
        sequel? engga ada, ini mah nanti beda lagi ceritanya kalo bikin sequel.. kan model ff maju mundur alurnya…

  3. bacanya sambil dengerin lagu galau + ujan-ujan. beh, mantap deh makin dalem deh baca ff-nya(?) lucu ya ketemuan pertamanya di kereta :3 lalu abis itu bagaimana kabarnya Yoon Sa tuh? apa udah ngga pernah deket2 sama Eeteuk Oppa lagi? kalo ngga bagus deh, kalo ngga nanti anaknya yang ada di perut Eunkyo marah2 loh(?) -_-

    • lagu apaan? lagunya kim bum soo asik…. mantap kalo baca ini…
      lucu? hohohohohoho, apa si yg g manis klo teukyo mah manis smua.. *plak*
      krna ini ceritanya flashback dan flashbacknya itu bukan flashback biasa, ceileh, flashbacknya cmn sewaktu2 aja, pas misalnya liat foto, inget kejadian foto itu, liat kebun, inget kejadian di kebun, jd fokusnya ke teukyo aja, kan udah mantan.. yoon sa mah udah alik kali yah ke america… oppa tidak memikirkannya, hanya fokus padaku…

  4. ditengah kesibukan,fika msih bisa bkin ff kren,,,
    eonn suka ceritanyaaaaaaa
    suka bangeeeeettttt
    kerennnnnn,,,
    tapi fika tega amat bkin hidup oppa brantakan gtu,,
    tpi gapapa juga sih,,kalo ga gtu ntar oppa ga tobat ganjennya*plak*

    chukae buat ibu hamiiiilllllll
    itu anaknya pasti ryujiiiinnnn*sotoy*

    lee hyukjaeeeeeee,,,
    bogoshipoyoooooo,,,,,
    aigoooo,,,knpa bukan aku yg jdi kopelmu dsini*dilirik yeppa*

    mo melarikan dri kmn pun eunkyo psti pulangnya
    kepelukan teuki,,,
    jdi mendingan ga usah kabur,,,

    keren fik,,,cakeep dah pokoknya,,,
    mkin suka ame ni kopel,,,

    • anaknya ryu jin? bkn onn, anaknya young jin *plak*
      alhamdulillah onnie suka…
      makasih onnie sayang….
      ih, itu mah oppa onnie sndri yg bikin hidupnya begitu…
      jd jgn salahkan fika dong ah…
      adil kan? oppa tersiksa karena fika, fika tersiksa karena ryu jin… impas!

      onnie mah bagian abang nchung…
      terima kasih onnie sudah suka kopel teukyo…

  5. Cie” yg hamil…
    Huahahaha

    jumma it ak sebel ma jussi pas adegan kisue ma cwe laen.. Pengen jitak rasa.a… Seneng liat jussi g bisa jauh dari jumma, rasakan kau ajussi jelek *dijitak..

    Tumben ajussi g mesum huahahaha…
    On it c’jussi g jdi nyusul k.busan?? …

    Ywdh dtnggu karya slanjut.a ya on..

    • untung g aku bikin nc nduk..
      yak! bilang oomnya sndiri jelek! *jewer*
      engga jadi karena jadwal padat…. ga mesum? yey, suami aye kaga mesum, itu cmn naluri suami yg romantis…
      tunngu kisah selanjutnya…

  6. i2 lucu bangat,,,,
    oppa tidak bisa hidup tanpamu onn,,,

    sungie,,, nama yg bagus,,,, hahahihihoho
    tp i2 adex galak abis,,,,buahahahha #dicekik#
    suka ngerjain onn cariin istri baru buat tueppa,,,, ide bagus,,,,
    tapi yoon sa dtg malah pengen bunuh oppnya,,,, #ngakak guling2#

    truz itu unyuk jelek sejak kapan jadi pribadi yang bijaksana,,,,
    *dicekik unyuk lari kepelukan Yeppa*
    tp ngomong2 dy tambah mempesona akhir2 ini,,,,,

    untungx ada colon ponaan yg bisa jadi pencair suasana #eskalimencair#
    coba aja lo gak ada,,,, onn dah berpaling tu ke Ciwooonnnn ato cumming,,, %dicincangonni%
    lari dikejar Ciwooonnnn N cumming,,,,
    “eh jangan lari kmblikan namaku”

    hahahhahha,,,,
    aku tahu onn,,,, dirimu gak bisa berpaling dari pelukan tueppa,,,
    sok tahu,,,,, and I wanna bluuuuuuuuuuurrrrrrrrrrrrrrrrr,,,,,,,,,,,,,

    • bagus kan? aku bikin manis namamu…
      yak! aku tidak prnh sedikitpun melirik siwon, inin anak mnta dijewer deh ah, ga tau karakter km aku bikin begitu saja… tunggu penyiksaanku selanjutnya moory syg…. *ketawa setan*
      itu kan km bgt, suka cariin istri muda…..!!! *kacak pinggang bw pentungan, org hamill labil*

      • hahahhahha,,,,,,
        namax mmg manis,,, q jd maluuuu,,,,
        jd onni gak mau ciwon??? jgn d jwer onn,,,, sini ciwonnya ma Q aja,,,

        bawaan hamil orgnya mmg suka yg aneh2,,,
        jgn siksa donk onn,,,
        jd takut nih,,,, lari kpelukan Unyuk Jelek,,,

  7. eoniiii aku terhura, oops maksudnya terharu! Y ampun jungsoo oppa maen api rupanya! Wah wah wah!

    Sumpah aku suka gaya hyuk dsini kalem ya…wkwk
    Jg sikap bijaksana eunkyo eon appa…

    Untunglah, kalian baikan kasian bgt dah hdupnya teuki oppa…

    Kisah yg manis dgn konflik yg sederhana tp sering terjadi dkhidupan… Ahh sukaaaaaa

    • hyuk beda kan? aku ini g bisa bikin karakter yadong kunyuk, yg ada dipikiran aku kunyuk itu org yg peduli meski pelit dan jail mnta ampun, tp kan perasaannya halus, gampang nangis. tau ah, bingung jg saya si kunyuk jd dewasa bgtu, jelasnya tanya kunyuk sndri deh *plak*

      konflik sederhana? wahahahaahah, iya si srg trjadi di kehidupan…

  8. Eciee…
    Jadi ini hasil buah pikirmu tadi yeobo ya..
    Ckckck
    yeobo yeobo, ini bener2 simple deh..jujur aku..
    Simple tapi istimewa gmn gtu, bahasa yang kamu pake itu antik..
    Bener2 bahasa indonesia + koreanya dikit*cuma sedikit kan bakornya?* yang baik (?)

    yeobooo..ini agak sedikit melenceng..
    Aku maunya bener bener melenceng tau ! Hahahaha

    itu ko tiba2 hamil ??
    Mana prosesnya yeobo sayang?
    Wakakakakak

    aduh yeobo, lee hyukjae ga sama aku?? Huweee…oppaaa SARANGdongHAE…

    Hmm, apa lagi ya?
    Ah, itu..busan itu dimana ya ?
    Ko aku ga pernah ke daerah itu ya?
    *toeltoeloppa*

    • masa iya org korea pake bahasa gaul? klo dipikiran aku itu g sreg, meski mgkn sbagian org suka bikin bgtu…
      liat aja noh drama korea, dubbernya kan pake bahasa indonesia semi baku *emang ada semi baku* mksdnya kalimatnya rapi…

      proses? noh baca sekali lagi pov teuki kedua… dia “melayaniku” seperti bisa, hanya mulutnya yang diam. itu noh udah prosesnya, km mah bawaaannya pngen tau aja rahasia kamar kami ah.
      ih dasar cintaku satu ini songong… busan ada….. busa autofinance *plak*
      ngeladenin km ini sm gilanya….

  9. Daebak !!
    So Sweet. .
    Mengharukan. .
    n bnr2 sperti film pndek.. #plakk
    alur’y bgni aq jd ingat Cinta Pertama’y BCL..wkwk #lol

    Oppa jg sie yg salah.. aq sebel sm oppa., eonnie q sdh sgt baik knp d’perlakukan begituuuu?!! aish *cakar oppa*
    tp eonnie jg sgt mncintai oppa knp mlah mngirim srt cerai,aq benci dg kata itu !! #bugh knp jd esmochi bgni sie?

    Whahaha Sung jae, kau melakukan hal yg benar, jaga eonnie q n siksa oppamu..wkwk *d’tabok*
    Hyukieee,kau manis skli d’sni,sdkt bjksana n tdk yadong🙂

    • seperti film pendek, bagimu apa si yg ga seperti film na?
      bilang mirip drama korea lah, sung jae setipe dgnmu, tp km lebih pemarah… huweeeeeeee oppa, adik iparmu srg marahin aku tauuuuuuuu *sembunyi di balik Sung jae*
      cinta pertama BCL? aku kaga prnah liat… sunny? jd ingat S**D? *kaga blh sebut GB disini* *lirik Rae Na*
      masa iya kunyuk yadonng mulu pas org lg ada masalah?

  10. Hahahaha bangun tdur langsung bca ff nya eonn bkin melek dach . . . .

    Alurnya bagus eonn flashbacknya juga dapet ia meskpun rada ribet juga hehe mungkin masih ngantuk x :p

    eonn aku suka adegan teukyo yg surat”n dari bawah pintu hahaha tar aku praktekin ah xlo dah nikah terus marahan ma suami wkkkkkk so sweeet😀

    eonn ko ga di kasih part nya eunkyo yg di pesawat wkt mau ke busan . Pengen tau gimana perasaanya pas denger suaranya teukppa . . . .

    Overall ff mu eonn mskipun ngalor ngidul (?) tetep nempel di hatiku❤

    hahaha ngikutin kta"nya eonn wkt di fb "ngalor ngidul"

    • itu FB nya cuman klo ngeliat sesuatu yang mengingatkan mereka berdua… ky foto… atau nama… atau benda apapun atau kejadian…
      apah? wahahahahahahahaha, keren yah? biar ga ada adu mulut, krna aku klo marah itu nangis, g bisa ngomong… jdnya ya oppa paham… iya kan Oppa?

      iya ini mah ngalor ngidul sprti omongan kita…

  11. mian baru bisa baca

    aih eunkyo selalu aja gengsi klo mau blg cinta dan selalu bisa membuat hidup teukie berantakan

    teukyo emang pasangan dunia akhirat tp setelah jinhae hohohoho
    Karna peringkat 1 pasangan dunia akhirat tetap milik jinhae *dikejar teukyo*

    Aduh ka kenapa akhir2 ini km menyakiti diri mu sendiri dg bikin ff sedih terus
    Hihihihihihihi *nangis di pelukan hae* ff nya bikin banjir
    Untung eunkyo hamil, jd kembali ke rmh lg

    Teuk selalu bisa melindungi eunkyo, suka bgt dg pertemuan mrk di kereta

  12. errr..
    Onnie sya telat kmen, dan sya bngung mau kmen apaan #plakk
    Ffnya krenlah so sweet pkoknya..
    Dan intinya teukppa ga bsa hdup tnpa eunkyo onnie, bgtupun jga eukyo onnie yg ga bsa hdup tnpa teukppa😀
    Teukppa jgn smpe t’bwa suasana lg, ntar d cerein sma onnie tnpa harta gono gini..

  13. Oppa kenapa selingkuh2!! Huaaaaaaaa eun kyo eonni jgn sedih, sini biar saeng yg memukul kepala oppa agar segera sadar..
    Lagi pula wanita itu lancang sekali mencium oppa.. –‘
    Aaaaaaaa tpi berakhir happy, apakah yg lahir adalah ryujin?? Kekeke xD
    Semoga selalu bahagia onnie..😀
    saeng dan wonppa akan segera menyusul.. Hahaha xD #plak #ditendangkesungaihan
    Terus berkarya Eonni Fighting!! ^o^

  14. onnie ceritanya bagus…
    mengharukn..
    aq nangis bacanya..
    kasian ma teukie oppa, tp aq jg stuju ma seung jae ” biar teukie oppa tau rasa “#plinplan..# he..
    wah ternyata teuk oppa cinta mati ma eun kyo, mpe kya ggtu klo ditinggal.

    huhu, ryu jin mau nongoll. onnie bikin sequelnya za onnie!! bikinin kisah2 ngidamnya eun kyo…
    he2

  15. Lagi galau aja sebagus ini apa lagi gk oen,,,

    oppa kualat t maen belakang sama mantan seh ditinggalin kan jd nya,,, untung happy end
    hhhaa
    bagus oen ff nya seperti biasa

  16. Aaaahhh so sweet…!!

    Bsok2 klo sya brantem sm eomma, sya mao maen surat2an aja deh,
    #doeenggg
    Eonni~ya sbaik’a km jgn cba2 mninggalkn cie oppa lg, ne?! cz kasian dy jd kya orang gila,
    wkwkwk
    *d’jambak teukppa*
    oppa jngan bnyak2 minum soju’a, kta bang aji ntu Haram tau…
    Jahahaha
    terlalu!!

  17. adiknya leeteuk serem euy… kakakny aja malaikat adeknya hobi banget kata ‘bunuh’ keluar dari mulutnya LOL

    ceritanyaaa kereen, memang anak pembawa rejeki lah, bikin teukyo nggak jadi ceree *yeaaay*

  18. sambil nunggu let this die, ngacak2 ff oneshoot nya yaaa hehe~~
    pilihan pertama jatuh pada ff ini *jengjengjengjeng *abaikan
    huaaaah aku pernah kepikiran buat bikin ff yg alur ceritanya begini >< *berati kita sehati yah hehe
    tp berhubung males ngelanjutin jadi cuma sekedar ide dh hehe
    tp ada sedikit ganjil, pas di bandara kan teuk mesen tiket ke busan, tp ga dateng2 di busan nya? ah tapi namanya jg fiksi apapun bisa terjadi yah hehe😄

  19. Aaaaaaa,gila…gila..gila..nyesek baca awalnya sampe segitu terpruknya leeteuk oppa ditinggalin eunkyo…miris euy…tp tetep happy end bro…

  20. untung happy ending..
    bisa2nya si jungsoo malah kebawa suasana ama mantannya..
    emang pantas dah dikasi pelajaran dulu ama eunkyo..
    tp sungjae koq sadis banget yaa..
    dkit2 mau bunuh orang.. bisa jg hyukjae tahan. wkwkkw

  21. Annyeong eonnii….^^
    huaaa…keren banget ceritanya….
    suka deh sm tingkah oppa yg jd berantakan gara” dtinggal eunkyo..:D
    so sweet bangeett.. :3
    alurnya gampang d mengerti kok soal tulisan yg brwarna itu…
    Daebak deh pokoknya buat TeuKyo jg buat eonni…(9^_^)9

  22. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA….. aku pen nangis bacanya…. sedih bgt teukie oppa kacau balau kek dihempas angin puting beliung *gubrak*…. ditinggal eonni….

    pas surat2 an buat dadaku sesak bacanya….
    tapi akhirnya balikan… karena hamil…

    and, bahasamu rapi eonn mudah dimengerti…. itu aja… sekian…. #elusdadakyu

    next😀

  23. serius FFnya nyentuh banget ih :’)
    awalnya aku pen tabok teuki oppa #plakk
    tp stelah baca sampe akhir, rasanya aku pengen peluk teuki oppa wkwkwkwk xD

    ah so sweet..
    nice FF eonn😀

  24. Sweet bangeeettt,,,🙂
    Ǧ̩̥ɑ̤̥̈̊к̲̣̣̥>:/ sabar nunggu kehadiran Teukie Junior nich, atw Eunkyo Junior??
    Yg mana aja boleh
    ♓Hé² :p.. ♓Hé² :p.. ♓Hé² :p.. ♓Hé²

    ( ´̯ ̮`̯)
    Daebak,,😀

  25. eonniiiiiiiii·········· keren feel dpt bgt, lagi’ teuki t’kenang ama masa lalu’a setuju bgt ama sung jae biar teuki tau rasa dan hargai apa yg sdh dia punya, suka bgt pas sung jae lampiasin marah’a ama teuki, kalo eonni kan cuma diam *sok tau tpi eon ending’a kurang greget hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s