Colourfull of Love (#4)

Standar

CL

Bila cinta menyapa keindahan surga terlukis di jiwa
Sehari tak bersua resah dan gelisah tiada terkira
Hanyalah berjumpa jadi penawarnya

Seakan di dunia tiada yang lainnya
Bila cinta menghilang neraka dunia seakan menjelma
Hancur hati merana

Derai air mata membasuhi dunia
Seakan semua tiada berguna

Berkah yang dipunya tiada nilainya

(Sabda Cinta)

 Teuki’s POV

Aku memandanginya yang baru saja beberapa detik lalu keluar dari kamar mandi. Menggunakan kemeja dan handuk di dalamnya. Dia terlihat sangat menarik. Menarik? Sedikit menggairahkan mungkin. Aku lelaki normal tidak mungkin tidak merasakan apapun. Namun getaran itu bukan sebuah hasrat yang hanya sesaat. Ini lebih kepada keinginan untuk mengikatnya dengan sebuah ikatan suci. Entah apa yang ada di otakku hingga aku mengabaikan akal sehatku. Tiba-tiba ingin memilikinya? Secepat ini? Rasanya sudah mengenal jauh sebelum ini. Entahlah. Aku masih memandanginya dengan intens, sekali lagi bukan berhasrat hanya saja dia sedikit terlihat sangat polos dangan tingkahnya yang menurutku lugu. Dengan jarak tidak lebih dari 1 meter, dia juga balas memandangku dengan tersipu, menarik ujung baju yang sejengkal diatas lututnya. Kami berdiri di depan pintu memandangi satu sama lain. Hingga sebuah suara memutuskan kontak mata kami.

“Apa yang kalian lakukan?” aku dan Eun Kyo menoleh kearah asal suara. Eun Kyo kelabakan menutupi bagian bawah tubuhnya dari paha hingga kaki kebawah. Terlihat panik wajahnya berubah pucat, seolah tertangkap basah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.

“Appa?” ucapku sedikit bingung. Bagaimana mungkin dia ada disini? Eun kyo kembali menunduk memberikan salam pada Appa namun dengan ragu. Aku mengerti apa yang dia rasakan.

“Kekasihmu? Mengapa tidak pernah membawanya padaku?” tanya Appa melirik Eun Kyo sambil tersenyum.

“Nde?” jawab Eun Kyo terkejut. Aku menoleh. Ekspresi itu lagi, wajah terkejutnya yang begitu polos yang hampir membuatku tidak ingin mengalihkan pandanganku.

“Park Jung Soo, aku ingin kau membawanya malam minggu ini ke tempatku.” Ujar Appa sambil melangkah keluar kamar. Aku masih terpaku memandang kepergian Appa dari kamarku. Bagaimana mungkin dia ada di rumahku? Setelah sekian lama?

“Apa dia bisa memasak? Aku lapar.” Ujar Appa, aku dan Eun Kyo saling berpandangan.

“Appa, kenapa tidak beli diluar saja.” Teriakku. Dia sudah berlalu dari kamarku.

“Aku ingin merasakan masakanya.” Jawab Appa, aku memandangnya.

“Tapi pakaianku…” ujarnya.

“Aku akan memberimu sweater tebal dan celana, mungkin agak kebesaran.” Ujarku, dia menerimanya setelah itu memakainya. Dia menuju dapur dan memasak tanpa aku suruh, tapi memenuhi keinginan Appa. Setelah selesai memasak dia menyiapkannya di meja makan.

“Mianhae, aku tidak pintar memasak.” Dia membungkuk. Aku melihat semua makanannya, memang semuanya terlihat aneh. Namun Appa tetap mencicipinya. Aku dan Eun Kyo menunggu cemas tentang bagaimana tanggapan Appa.

“Lumayan, lidahku masih bisa menikmatinya meski terlihat aneh.” Komentar Appa. Ketegangan masih menyelimuti wajah Eun Kyo. Aku memandangnya memberikan ketenangan, dia menunduk. Setdelah selesai makan Appa pamit.

Eun Kyo membisu. Wajahnya menjadi pucat. Aku memandangnya khawatir. Kembali ke kamar mandi lalu keluar membawa baju miliknya yang basah.

“Mana mesin cucinya?” tanyanya dengan dingin.

“Biar pembantuku yang mencucinya.” Aku mencoba mengambil pakaian basahnya, namun dia menariknya, tidak membiarkanku mengambilnya.

“Aku bisa mencuci sendiri, tunjukkan aku dimana mesin cucinya.” Dia menatapku tajam.

“Ikuti aku.” Aku menatapnya heran, dia tiba-tiba berubah. Dia mengikutiku di belakang. Aku sesekali meliriknya. Aku berhenti dia juga ikut berhenti.

“Ini mesin cucinya.” Aku menunjukkannya. Dia memasukkan baju kotornya dan mulai menyalakan mesinnya. Dia berdiri disamping mesin cuci tanpa berkata apapun. Aku memperhatikan gerak-geriknya. Kakinya jenjangnya mengetuk lantai menunggu mesin itu berhenti beraktifitas. Tangannya bertumpu pada mesin cuci untuk menahan badannya. Wajahnya menunduk ke bawah, tidak sedikitpun dia melihatku. Entah karena malu atau apa. Namun aku merasa raut wajahnya sedikit berubah.

Masih teringat kepalanya yang bersandar di bahuku. Suaranya terdengar putus asa. Dia mempunyai masalah apa aku tidak begitu mengerti. Mengenai bocah itu? Aku masih berdiri beberapa meter darinya, dan dia tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari lantai.

“Gwaencaha?” tanyaku khawatir.

“Ye.” Jawabnya, masih dengan posisi semula.

“Jeongmal? Kau terlihat tidak sedang baik-baik saja.”

“Nan gwaenchana.” Jawabnya lemah, nyaris tidak terdengar. Aku berjalan ke dapur dan menyeduh coklat hangat untuknya. Terkadang aku meliriknya untuk memastikannya masih berada disini. Sebuah kebetulan bertemu dangannya, selalu saja sebuah kebetulan dan itu seperti membuatku mempunyai ikatan dengannya. Sandiwara konyol itu, dia sendiri yang memulianya, tapi kini aku yang tidak ingin mengakhirinya.

Mesin berhenti berbunyi, dengan cepat ia mengeluarkan bajunya. Aku memperhatikannya, dia berjalan cepat kembali ke kamar. Aku mengekorinya dengan mataku. Aku mengikutinya ke dalam kamar dan meletakkan coklat hangat di sebuah meja di kamarku. Suara pintu kamar mandi terbuka, dia sudah mengenakan baju miliknya sendiri.

“Aku mau pulang.” Ucapnya masih dengan nada dingin. Aku tidak mampu berkata apa-apa kali ini. Tidak bisa memaksanya, karena sepertinya dia hari ini tidak bisa dipaksa.

“Aku akan mengantarmu.” Aku mengambil jaketku dan berjalan mendahuluinya.

“Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri.” Dia mengambil ponselnya dan memencet beberapa nomor. Aku terus memperhatikannya, kali ini dia sangat berbeda. Tangguh dan tak bisa dipaksa. Dia menelepon layanan taksi.

“Terima kasih sudah membantuku.”

“Kau baik-baik saja?” tanyaku masih menatap dirinya.

“Aku baik-baik saja.” Ujarnya. Dia berjalan menuju kepintu utama. Berjalan dengan pasti dan yakin. Aku seperti melihat bukan dirinya, meski aku baru saja mengenalnya namun aku merasa telah benar-benar mengenalnya.

“Dan satu hal Park Jung Soo~ssi.” Dia berhenti dan membalikkan badannya. Aku ikut berhenti dibuatnya.

“Kita tidak perlu bertemu lagi.” Sambungnya, lalu dengan cepat melangkahkan kakinya menuju pintu pagar. Aku mengikutinya dengan cepat. Dia menunggu taksi menjemputnya, sesekali dia menengok ke ujung jalan. Aku mengikutinya menengok, dia menoleh padaku dan memajukan bibirnya dan mendesis. Aku senang menggodanya.

“Apa kira-kira akan dijemput?” tanyaku sengaja membuatnya khawatir. Aku bersandar di depan pagar memperhatikannya. Dia diam saja tidak menjawab. Menundukkan kepalnya dan beberapa kali menghembuskan nafasnya dengan kesal.

“Sebaiknya aku saja yang mengantarmu.” Tawarku lagi.

“Tidak perlu.” Jawabnya cepat.

“Jika taksinya tidak ada?”

“Aku sudah meneleponnya.” Jawabnya. Dia bahkan tidak ingin meminum coklat hangatku. Mengapa dia tiba-tiba berubah?

“Mengenai undangan Appa malam minggu ini.”

“Aku tidak bersedia.” Dia menjawab bertepatan dengan datangnya sebuah taksi dan berhenti di depanya. Dia segera membuka pintu taksi itu, lalu masuk dengan cepat dan menutup pintunya kembali. Sebelum taksi itu benar-benar berlalu dan menghilang, sejenak berhenti di hadapanku. Eun Kyo membuka kaca mobil.

“Terima kasih untuk hari ini, lain kali, aku tidak akan merepotkanmu.” Dia kembali menutup kaca dan tidak menunggu jawabanku. Aku tersenyum memandangi kepergiannya. Sampai dia bernar-benar menghilang di ujung jalan baru aku melangkahkan kakiku memasuki halaman rumah.

Aku duduk di sofa. Memikirkan kembali kejadian beberapa saat tadi. Tidak perlu bertemu dengannya lagi? Bagaimana mungkin, memikirkannya saja sudah membuatku pusing. Tapi tidak mungkin, dia punya perjanjian kerjasama denganku, meski dia tidak ingin bertemu, tapi pasti bertemu. Aku menoleh kearah meja disamping sofa.

“Yeoboseyo?”

“Park Jung Soo, ini aku.” Jawab suara di seberang sana. Appa?

“Ne, Appa, wae~yo?” tanyaku. Aku, tanganku memilin kabel telpon. Dia menelpon pasti ada maunya. Aku sudah hapal dengan kebiasaannya.

“Aku punya undangan perkawinan seminggu lagi, kau bisa mewakiliku? Aku dan Eommamu mau berlibur ke Eropa.”

“Kenapa harus aku?” tanyaku dengan malas.

“Yak! Karena kau anakku!” teriaknya di telingaku, aku menjauhka gagang telpon.

“Kau kan sudah punya pasangan, jadi kau yang harus menggantikanku.” Lanjutnya.

“Memangnya siapa yang akan menikah?” tanyaku. Dia menyuruhku ke pernikahan seseorang tanpa tau siapa yang aku hadiri undangannya.

“Anak relasi temanku, baru kembali ke Korea.”

“Dimana?”

“Luar Negeri.” Jawab Appa santai.
“Appa. Maksudku dimana acaranya di langsungkan?”

“Di Pulau Jeju. Pokoknya kau yang harus menghadirinya, aku tidak mau tau.” Teleponnya langsung terputus, meninggalkanku yang kebingungan sendiri mencerna apa yang dikatakan Appa. Pulau Jeju? Siapa yang menikah?

Donghae’s POV

Semua sibuk mempersiapkan pernikahanku yang tinggal menghitung hari, baju dan semuanya sudah dipersiapkan. Tempat juga sudah mulai di tata. Aku memilih menikah di pulau Jeju, di hotel milik Appa. Sudah beberapa hari aku tidak bertemu dengannya sejak pertemuan kami fitting baju di butik. Ada segelintir rindu yang aku rasakan ketika tak lagi mendapatinya di balik jendela kantorku. Dia mempersiapkan diri menjadi pengantinku mungkin dan tidak masuk bekerja.

“Sungmin~a. Tolong ke ruanganku sebentar.” Aku memencet telpon paralel menghubungi Sungmin. Sungmin, terlalu jahat memang mengambil Jina darinya. Tapi mau apa lagi?

“Ye.” Sahut Sungmin. Beberapa saat kemudian dia masuk dan menghadapku.

“Aku tidak berada di kantor beberapa hari sampai pernikahanku, bisa aku menyerahkan semua pekerjaanku padamu?”

“Ye.” Sahut Sungmin sambil mengangguk yakin. Aku meliriknya, apa dia akan sanggup dan seyakin ini jika tau aku yang akan menikah dengan kekasihnya?

“Kalau begitu kau bisa keluar.”

“Ye.” Dia kembali mengangguk. Aku memandanginya yang keluar dari ruangan kerjaku, tersenyum kecut. Aku memutar kursiku memandangi jendela, lagi. Tidak ada lagi wajah kesalnnya memandangi berkas yang bertumpuk di hadapannya. Aku jadi merindukan wajah itu. Aku mengambi ponsel dan menghubunginya. Saat dia menjawab telponku, aku langsung menanyai keberadaannya.

“Kau dimana? Aku akan menjemputmu.” Setelah dia menyebutkan tempat aku segera mengambil jas dan kunci mobilku

“Kau sudah lama menunggu?” tanyaku saat sampai ditempat kami berjanji, dia menoleh kearahku, aku tersenyum padanya dan menarik kursi yang ada dihadapannya. Dia meminum minumannya.

“Ani, belum terlalu lama.” Jawabnya sambil tersenyum. Senyum yang sangat menawan. Wajah cantiknya kini ada dihadapanku.

“Kau masih masuk bekerja?” tanyaku basa-basi .

“Mau pesan apa Tuan?” tanya seorang pelayan menghampiriku.

“Aku ingin kopi hangat.” Jawabku. Mengenai kopi hangat aku teringat gadis kecil itu. Sikap kepalanya yang lucu. Membuatku tersenyum, sepertinya kehidupan mereka menyenangkan, melakukan apapun tanpa harus memikirkan akan dilarang atau tidak. Setelah ini mungkin aku akan menemuinya.

“Kau mau makan sesuatu?” tanyaku pada gadis yang ada dihadapanku.

“Aku sudah kenyang.” Jawabnya, ini sudah lewat dari makan siang, aku menoleh padanya, menatap matanya sejenak.

“Kau sudah makan?” tanyaku menyelidik. ‘dengan Sungmin?’ lanjutku dalam hati.

“Ani, aku makan bersama Eomma setelah berjalan melihat brosur bulan madu.” Jawabnya lagi.

“Kau mau bulan madu kemana?” aku membuka i-padku memeriksa beberapa email yang masuk. Dia hanya diam, aku menghentikan jariku memainkan benda layar sentuh ditanganku. Aku menatap padanya, menanti jawabannya dengan mengangkat sebelah alisku. Dia tersentak, karena dia melakukan hal yang sama denganku.

“Ne?” jawabnya terkejut karena mendapatiku menatapnya.

“Kau mau bulan madu kemana?” tanyaku.

“Em……” dia mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dagu sambil memutar bola matanya. Sekali lagi aku menanti jawabannya.

“Menikah di Pulau Jeju, aku rasa untuk menghemat tenaga juga bulan madu disana saja.” Jawabnya sambil meminum minumannya.

“Begitu? Tidak ingin pergi keluar?” tanyaku. Dia menggeleng dan menghisap sendok minumannya.

“Kalau begitu aku harus bilang pada Appa untuk menyisakan honeymoon room untuk kita.” Kami berdua tersentak, ponsel ditangannya berbunyi.

“Aku permisi dulu.” Dia memundurkan kursi dan bangkit dari duduknya, lalu melangkah menjauh dariku. Aku melirik kepergiannya. Aku tahu betul siapa yang menelponnya. Raut wajahnya berubah seketika. Aku menunggunya dan minumanku datang. Aku menyesap kopiku sesekali meliriknya. Wajahnya terlihat bingung. Setelah dia menutup telponnya dia segera kembali padaku, aku membetulakn posisi dudukku.

“Donghae~ssi, aku harus pergi.” Dia mengambil tasnya.

“Biar aku antar kau.” Aku menawarkan diri.

“Ani, tidak perlu, aku bisa naik taksi.” Aku yang tadinya berdiri kini urung untuk bangkit mendengar penolakannya. Sekali lagi sepertinya aku tau siapa yang akan dia temui. Aku menghela nafas setelah kepergiannya. Kembali membuka i-padku. Sejenak aku teringat gadis itu. Aku meninggalkan beberapa lembar uang kertas dan meninggalkan tempat itu.

Beberapa menit dari tempat aku tadi bertemu dengan Jina, aku sampai di kafe pinggir kota. Memarkir mobilku tepat di depan kafe itu dan mendorong pintunya. Ada beberapa pengunjung yang duduk menikmati menu disana. Aku menghampiri seorang lelaki yang ada di belakang meja kasir.

“Rae Na mana?” tanyaku padanya. Dia menoleh padaku.

“Dia masih kuliah.” Jawabnya.

“Masih lama baru pulang?” tanyaku lagi.

“Mungkin sebentar lagi jika dia tidak ada halangan.” Jawabnya pula.

“Halangan?”

“Em, biasanya dia ke perpustakaan dulu.” Aku dan lelaki itu menoleh ke pintu. Suara pintu dibuka dengan keras menyebabkan bunyi lonceng juga terdengar nyaring. Gadis itu sudah pulang.

“Dia yang kau cari kan?” tanya lelaki di hadapanku.

“Kibum~a, orange juice!” teriak seorang lelaki lagi yang datang bersama Rae Na. Aku melirik Rae Na yang berlalu di hadapanku.

“Hey, bisa kita bicara?” tanyaku langsung, gadis itu ingin menaiki tangga namun menghentikan langkahnya ketika aku menyapanya. Dia menoleh kebelakang, kearahku.

“Hem?” tanyanya bingung.
“Dibawah pohon itu, aku tunggu 15 menit.” Dia ingin protes namun aku meninggalkannya pergi. Dia tidak bisa mengucapkan penolakannya.

Aku menunggunya dibawah pohon, setelah beberapa menit menunggu seseorang duduk disampingku membuatku menoleh padanya. Aku tersenyum mengalihkan wajahku.

“Wae? Kau mau bicara apa?” tanyanya.

“Mengenai Jina, kau mengenalnya?” tanyaku langsung.

“Ne, dia teman Onnieku.” Jawabnya.

“Kau sudah tau dia akan menikah denganku?” dia terdiam sejenak.

“Jadi ini maksud yang tanyakan kemarin? Mengenai menikah dengan orang yang sudah mempunyai kekasih?” dia menoleh padaku. Aku mengalihkan pandanganku lagi. Memandangi daun yang berserakan di sekitar kakiku.

“Aku tau dia menjalin hubungan dengan Sungmin Oppa.”

“Jadi kau juga tau?”  dia mengangguk.

“Menurutmu aku harus bagaimana?” tanyaku.

“Mengapa menanyakan hal itu padaku? Harusnya kau tanya calon istrimu, apa dia bersedia menikah denganmu?”

“Aku tidak terbiasa berkompromi, kau orang yang pertama kali aku ajak berkompromi.” Aku menendang kerikil yang ada di dekat kakiku.

“Jina Onnie orang yang sangat sensitif, terkadang dia bisa terbuka, namun dia juga terkadang sangat tertutup. Tapi dia orang yanng penyayang aku rasa.” Jawabnya.

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Apa dia menolakmu?” tanya Rae Na. Aku menggeleng.

“Tidak ada salahnya menanyakan padanya langsung.” Jawab Rae Na. Aku menghela nafas.

“Rae Na~ya!” seseorang memanggilnya. Rae Na menoleh kearah suara, begitu juga denganku.

“Jadi rencana kita?” tanya seseorang yang memanggilnya, aku menatapnya.

“Mianhae, aku ada janji.” Dia bangkit dari duduknya dan melangkah beberapa langkah lalu berhenti. “Lain kali konsultasi bayar per 15 menit.” Dia kembali melangkah, aku tersenyum mendengarnya. Meninggalkan undangan untuknya di meja kasir lalu pulang.

Jina’s POV

Tinggal menghitung menit aku menjalani hidup lajangku. Rasanya tidak percaya, tidak percaya aku akan meninggalkan orang yang sangat aku sayangi, Sungmin Oppa. Menjalani kehidupan baru dengan orang baru saja aku kenal. Lee Donghae. Disini aku berada di Pulau Jeju menunggu orang mendandaniku.

“Kau terlihat cantik.” Nanhee masuk ke kamarku dan duduk ditepi tempat tidur.

“Disini kau melewatkan malam pertamamu?” tanya Nanhee, aku hanya membalasnya dengan senyuman melalui kaca besar yang ada dihadapanku.

“Eun Kyo mana?” tanyaku padanya.

“Mollasseo, mungkin akan datang sebentar lagi.” Jawabnya.

“Untuk para tamu khusus disediakan kamar untuk menginap. Kau akan menginap kan?” tanyaku penuh harap, menunggu jawaban ‘iya’ dari mulut sahabatku ini.

“Jika aku tidak menginap?” tanyanya menggodaku.

“Aku akan mengurungmu disini.” Jawabku dengan nada mengancam. Suara pintu mengagetkan kami, aku dan Nanhee menoleh ke pintu. Sebuah wajah menyembul dari balik pintiu dengan sebuah senyuman.
“Ini aku.” Ujarnya. Park Eun Kyo.

“Yak, aku kira kau tidak akan datang.” Ujarku sambil melempar bantal padanya. Eun Kyo menghampiri Nanhee dan berbaring di tempat tidur.

“Ah, perjalanan kesini melelahkan juga.” Ujar Eun Kyo mengeluh. “Mengapa kau memilih disini?” tanya Eun Kyo.

“Mana aku tau, ini semua keluarga Lee yang menyiapkan.” Jawabku.

“Begitu?”

“Em, ada kamar khusus untuk undangan khusus. Kalian menginap disini kan?” tanyaku.

“Sepertinya aku menginap disini.” Jawab Eun Kyo.

“Kau Nanhee?”

“Apa boleh buat jika kau memaksa.” Kedua sahabatku tertawa riang.

“Jina~ya, aku melihat ada undangan di tempatku, untuk Rae Na, kau yang mengundangnya?” tanya Eun Kyo. Aku menoleh padanya.
“Ani.” Jawabku heran, aku tidak pernah mengirimkan undangan untuk Rae Na, aku hanya mengirimkan undangan untuk orang yang jauh, untuk Eun Kyo dan orang-orang yang ada dirumahnya aku yakin mereka pasti datang.

“Eh? Siapa yang mengirimnya?” tanya Eun Kyo bingung.

“Hem, beberapa jam lagi kau akan melepas masa lajangmu Jina~ya, apa yang akan kita lakukan untuk terakhir kalinya?” tanya Nanhee padaku.

“Membuat Eun Kyo mempunyai kekasih.” Jawabku sambil tertawa.

“Yak, kalian, tidak ada lelahnya mengganggu privasiku.” Protes Eun Kyo.

“Dia kan sudah punya tunangan Jina~ya.” Jawab Nanhee.

“Aigoo, aku lupa.” Aku bergabung dengan mereka diatas ranjang membaringkan tubuhku.

“Aku akan merindukan saat-saat bersama kalian.”

“Memangnya kau akan kemana?” tanya Eun Kyo.

“Hey, kau siapa pasanganmu?” tanyaku pada Eun Kyo.

“Aku? Aku sendiri saja.” Jawabnya.

“Tunanganmu?”

“Tunanganku? Nugu~ya?” tanyanya bingung.

“Teuki?” tanya Nanhee.

“Ah itu, dia bukan tunanganku.” Jawabku.

“Lalu?” tanyaku dan Nanhee bersamaan. Aku menantikan jawabannya.

“Aku hanya tidak ingin diantar Siwon waktu itu.” Jawab Eun Kyo sambil melirik Nanhee. ”Kalian kan tau aku tidak suka berhadapan dengan orang asing.” Lanjutnya.

“Lalu? Kau berciuman dengannya?” jawab Nanhee.

“Mwo?” tanyaku terkejut.

“Ah, itu, aku hanya terbawa sandiwaraku sendiri.”

“Sandiwaramu sendiri?” tanya Nanhe bangkit dari berbaringnya.

“Aish, kalian itu, intinya aku hanya berpura-pura bertunangan.”

“Untuk apa?” tanyaku. Eun Kyo melirik Nanhee.

“Nanhee~ah, aku hanya tidak ingin membuatmu salah paham antara aku dan Siwon. Jika seandainya dia menyukaiku, itu masalahnya. Tapi jika kau bersikap dingin gara-gara itu, aku jadi bingung sendiri, hingga membuat sandiwara konyol itu.” Terang Eun Kyo. Nanhee mendengarnya dengan baik.

“Lalu kenapa harus Leeteuk?”

“Aku bertemu dengannya bertepatan saat Siwon menawarkan diri untuk mengantarku karena hari itu hujan deras. Saat itu aku mengatakan aku dijemput tunanganku dan aku refleks melambai dan memanggil Leeteuk ‘Yeobo’.”

“Buahahahahahaha.” Tawa Nanhee meledak. Aku juga ikut tertawa namun sedikit aku tahan. Melihat muka Eun Kyo yang cemberut membuatku menahan tawaku.

“Mana aku tau jika mereka saling mengenal.” Ujar Eun Kyo lemah.

“Senjata makan tuan.” Jawabku. “Tapi menurutku dia lumayan tampan.” Ujarku.

“Mwo? Bagaimana kau tau?” Eun Kyo bangkit dan membelalakkan matanya.

“Dia ada dalam daftar tamu mewakili Appanya.” Ujarku sambil tersenyum. “Aku rasa tidak ada salahnya jika kau benar-benar bertunangan dengannya.” Nanhee mengangguk menyetujui pernyataanku. Eun Kyo menimpuk kami berdua dengan bantal.

“Kalian gila.” Ujar Eun Kyo.

“Kyuhyun juga Siwon ada dalam daftar undangan.”

“MWO?!” teriak mereka berdua. Tentu saja, mereka kan relasi Appa.

***

Acara penutupan pernikahanku sudah selesai. Ditutup dengan acara minum-minum, dari acara itu aku mengkhawatirkan kedua sahabatku. Mereka berdua minum banyak malam ini, saat aku tinggalkan, mereka masih belum berhenti minum dan meracau.

“Apa yang kau pikirkan?” sebuah suara mengejutkanku. Aku menoleh padanya. Dia melepas tuxedo putihnya. Aku memperhatikannya. Dia terlihat samngat tampan dengan tuxedo putihya. Melepas dasi kupu-kupu dilehernya.

“A, ani.” Jawabku saat dia balas menatapku.

“Kau lelah?” tanyanya. Aku hanya bisa mengangguk. Bagaimana ini? Saat-saat seperti ini aku harus bagaimana? Aku berjalan ke kamar mandi dan melepaskan bajuku. Saat aku menarik resleting bajuku, aku bingung, resletingnya tersendat, aku tidak bisa melepas bajuku. Sekuat tenaga aku melepasnya tetap tidak bisa.

“Sedang apa kau?” ujar sebuah suara dari luar. Aku bingung harus menjawab apa, lama aku terdiam.

“Gwaenchana?” tanyanya lagi.

“Donghae~ssi, bisa tolong aku?” tanyaku akhirnya. Dia membuka piintu kamar mandi.

“Wae?” tanyanya lagi.

“Aku tidak bisa mambuka bajuku.” Sahutku lemah sambil bergerak membelakanginya. Dia berjalan kearahku dan menyentuh bajuk, mulai membuka perlahan hingga jarinya bersentuhan dengan kulitku. Aku jadi terkesiap dan memandangnya di cermin. Dia memandang punggungku intens, aku memperhatikannya. Tenggorokanku tercekat ketika mendapatinya juga menatapku melalui cermin.

“Sudah selesai.” Ujarnya meninggalkanku sendirian di kamar mandi. Akhirnya aku bisa bernafas dengan lega. Aku menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.

Aku berbaring disampingnya setelah keluar dari kamar mandi. Menarik selimutku untuk menghalau dinginnya angin malam meski aku merasa panas. Aku mencoba memejamkan mataku namun selalu tidak bisa. Detak jantung yang terdengar hingga telingaku, membuatku terganggu, detak jantungku sendiri. Aku berbalik dan betapa terkejutnya aku, wajahnya tepat dihadapanku. Nafasnya menerpa kulit wajahku.

“Kau berniat tidak tidur?” ujarnya sambil masih memejamkan matanya. Tiba-tiba matanya terbuka. Mata kami saling bertatapan. Wajahnya mendekat, aku kebingungan, antara harus tetap pada posisiku atau menghindarinya. Akhirnya bibirnya sampai menyentuh bibirku, menciumku beberapa detik, kemudian melepaskannya.

“Kau pasti lelah, tidurlah.” Dia menyentuh kepalaku lalu memejamkan mata kembali.

Author’s POV

Sementara itu pesta belum selesai bagi segelintir orang. Eun Kyo terlihat sudah sangat mabuk. Terlihat dari air mukanya yang merah, begitu juga dengan Nanhee. Kyuhyun, Siwon, Nanhee, Eun Kyo, Leeteuk juga Rae Na, masih belum menyelesaikan pesta mereka.

“Onnie~ya, aku ingin tidur.” Ujar Rae Na, hanya Rae Na yang terlihat sadar penuh, meski dia minum beberapa gelas.

“Ne, kau, kau tidur saja.” Jawab Eun Kyo sambil menunjuk-nunjuk Rae Na dengan mata menyipit. Setelah itu dia kembali meminum minumannya.

“Sudah, kau sudah terlalu mabuk.” Siwon mengambil gelas yang ingin di minum Eun Kyo. Melihat itu Nanhee mengarahakn gelasnya pada Kyuhyun tanpa melepaskan tatapannya dari Siwon dan Eun Kyo. Teuki juga demikian, dia menyodorkan gelasnya pada Kyuhyun. Kyuhyun menatap bingung kedua orang yang ada disampingnya. Lalu menuangkan soju untuk mereka berdua.

“Aku juga sudah mengantuk.” Siwon berdiri dan menatap Eun Kyo. “Aku bisa mengantarmu ke kamar Eun Kyo~ssi.” Siwon menawarkan diri. Dua orang yang menatap mereka semakin gila dengan minumannya, bedanya, Nanhee sudah setengah sadar namun Teuki masih sadar meski banyak minum.

“Ani, ani, ani.” Eun Kyo mengibaskan tangannya di depan wajahnya. “Ak, aku, bisa pulang sendiri. Hek!” Eun Kyo menolak untuk diantar.

“Yakin kau bisa kembali ke kamarmu sendiri?” tanya Siwon khawatir.

“Aku yakin!” Eun Kyo mengangguk beberapa kali namun dia sebenarnya dalam keadaan tidak sadar. “Aku bisa kembali sendiri. Kau tanyakan Nanhee saja, mungkin dia sudah mau kembali ke kamar?” Eun Kyo menoleh pada Nanhee dengan tidak fokus.

“Ani, ani, ani, aku masih mau minum.” Ujar Nanhee dengan suara tidak jelas timbul tenggelam. Siwon akhirnya meninggalkan mereka berempat.

Beberapa saat kemudian Eun Kyo dan Nanhee sudah ambruk di kursi. Leeteuk dan Kyuhyun bingung bagaimana menghadapi kedua gadis yang sudah mabuk berat ini.

“Hyung, bagaimana ini?” Kyuhyun bertanya pada Teuki. Teuki memandangi Eun Kyo. Dia berpikir ke saat-saat ia masih berada dirumahnya dulu bersama gadis yang tergeletak dikursi. Tangannya kanannya menjuntai kebawah menyentuh lantai. ‘Benar-benar berantakan’ batin Teuki berkata.

“Kau bawa Nanhee, aku bawa Eun Kyo.” Ujar Teuki kemundian menjawab.

“Tapi aku lupa dimana kamar mereka Hyung, apa tadi mereka mengatakannya?” tanya Kyuhyun lagi. Teuki menatap Kyuhyun lalu menggeleng dengan lemah. Kyuhyun menghela nafas.

“Lalu bagaimana?” tanya Kyuhyun frustasi.

“Kita bawa ke kamar kita saja. Eotthe?” Kyuhyun menatap Teuki tidak percaya.

“Kau, kau enak karena dia tunanganmu, tapi aku?” Kyuhyun menunjuk hidungnya sendiri.

“Tidak ada waktu lagi, ayo angkat mereka.” Teuki menarik kedua tangan Eun Kyo dan meletakkannya dilehernya, mengangkat tubuh Eun Kyo dipunggungnya.

Teuki berjalan beriringan dengan Kyuhyun, lama mereka berjalan melalui koridor hotel, akhirnya mereka sampai pada kamar masing-masing.

Room 159

Teuki membuka kamarnya dengan Eun Kyo, dia mengangkat tubuh Eun Kyo yang lemah tak sadarkan diri, sesekali Eun Kyo meracau dari alam bawah sadarnya. Teuki memandangi gadis itu tanpa berkedip, memandangnya dari kaki hingga wajah. Dia melepaskan sepatu yang masih terpasang di kaki Eun Kyo, lalu meletakkannya di lantai. Eun Kyo terbangun, dia duduk dan menutup mulutnya.

“Wae?” tanya Teuki menatap Eun Kyo khawatir. Eun Kyo mendorong tubuh Teuki dan berlari ke kamar mandi. Dia memuntahkan seluruh isi perutnya. Teuki mengikutinya ke kamar mandi dan memijit pundaknya lembut, setelah selesai memuntahkan isi perutnya Eun Kyo membasuh mulutnya. Dia memutar badannya menghadap Teuki.

“Kepalaku sakit.” Keluh Eun Kyo. Tangan kanannya meremas rambutnya sedang tangan kirinya memegang erat baju Teuki, tubuhnya merosot hampir terjatuh namun Teuki menahannya. Dia mengangkat tubu Eun Kyo dan meletakkannya dengan hati-hati di tempat tidur. Dia menyelimuti tubuh gadis itu. Lalu berbaring disampingnya. Teuki menelusuri wajah Eun Kyo dengan jarinya.

“Mianhae.” Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Eun Kyo dan menciumnya.

***

Eun Kyo membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa berputar akibat dia terlalu banyak minum tadi malam. Dia memijit kepalanya dan meringis. Mengedarkan padangannya ke seluruh ruangan. Matanya tertuju pada lantai dan benda yang tergeletak disana. Baju berserakan. Dia meraba tubuhnya dan memandang seseorang yang ada disampingnya. Masih tertidur dengan telanjang dada. Eun Kyo terpaku seketika. Dia masih tidak bisa mengingat apa yang terjadi hingga tangannya bergerak dan menyentuh tubuh seseorang disampingnya.

“Apa yang sudah terjadi?” tanyanya bergetar menahan tangis. Dadanya berdegup kencang menghadapi kenyataan yang ada padanya.

“Eungh..” seseorang melenguh disampingnya. Teuki membuka matanya dan setengah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Eun Kyo disampingnya memeluk selimut. Teuki menghembuskan nafasnya dan mengusap wajahnya.

“Mianhae.” Ucapnya lemah.

“Apa yang sedang terjadi?” tanya Eun Kyo sambil menekan amarahnya. Teuki berusaha menyentuh Eun Kyo. Tapi Eun Kyo menepis tangan Teuki.

“Jangan sentuh aku.” Ujarnya setengah berteriak. Tangan Teuki melayang di udara. Eun Kyo mengambil kain putih yang ada di ujung kakinya dan melilitkannnya ditubuhnya. Berjalan mengambil baju dan masuk ke dalam kamar mandi. Beberapa saat kemudian Eun Kyo keluar dari kamar mandi. Dia menatap tajam kearah Teuki.

“Anggap semua ini tidak pernah terjadi.” Eun Kyo meraih sepatunya yang ada dipinggir tempat tidur. Teuki langsung mencengkram tangan Eun Kyo, dia juga mengambil kain yang ada diujung kakinya.

“Apa maksudmu dengan anggap semua ini tidak pernah terjadi? Semua ini yang mana maksudmu?” tanya Teuki tajam. Eun Kyo mencoba melepaskan tangannya namun cengkraman Teuki begitu kuat.

“Semua ini, semua yang terjadi disini, saat ini tadi malam, anggap kita hanya sebagai dua orang yang berkencan satu hari saja, setelah itu lupakan. Mari kita menjauh satu sama lain.” Jelas Eun Kyo pada Teuki yang membuat emosi Teuki naik.

“Mworago?! Menjauh satu sama lain? Jika terjadi apa-apa bagaimana?” tanya Teuki sambil menatap Eun Kyo.

“Tidak mungkin, ini biasa terjadi pada siapapun kan? Tidak akan terjadi apa-apa.” Jawab Eun Kyo yakin. Sebenarnya dengan ucapannya itu dia juga meyakinkan dirinya sendiri.

“Biasa terjadi?! Biasa terjadi kau bilang? Lalu ini apa?!” ujar Teuki lantang dan menunjuk kearah tempat tidur. Eun Kyo memandangi apa yang ditunjuk Teuki, tatapannya nanar karena airmata mulai menyeruak keluar dari matanya. Noda di tempat tidur.

“Masih menganggapnya biasa?” Eun Kyo menghentakkan tangannya dan berjalan meninggalkan Teuki. Teuki melompat dari tempat tidur dan segera mengunci kamar.

“Kita menikah saja.” Ujarnya. Eun Kyo mengusap wajahnya.

“Aku tidak butuh lelaki.” Jawabnya. Teuki terdiam, dia memegang erat kunci kamarnya.

“Aku ingin keluar.” Ujarnya lemah.

“Kau, tidak akan kuijinkan keluar hingga kau mengatakan iya.” Jawab Teuki.

“Sebenarnya apa yang kau inginkan?” Eun Kyo menatap mata Teuki.

“Aku menginginkanmu.” Jawab Teuki yakin.

“Tapi kau sudah mendapatkan segalanya, semua yang ada padaku, lalu mau apalagi? Eoh? Sekarang bisa aku keluar?” Eun Kyo mendorong Teuki yang bersandar di pintu sambil memegang hendel pintu kemudia dia mencoba melepaskan tangan Teuki dari pegangan besi itu.

“TIDAK!” teriak Teuki. “Apa kau gila?”.

Kyuhyun’s POV

Aku membawa tubuhnya dalam gendonganku ke kamarku. Aku tidak tahu harus berbuat apa selain membawanya ke kamarku karena aku tidak tau dimana kamarnya. Aku merebahkan tubuhnya di ranjang dan memukul pundakku yang terasa sakit dan pegal menggendongnya hingga ke kamarku.

“Aish, gadis ini berat sekali.” Aku melepas jasku dan melemparnya ke sofa. Melepas dasiku dan melemparnya ke lantai.

“Siwon~ah.” Panggil Nanhee terdengar lemah di telingaku. Aku menoleh padanya. Mendekat melangkah padanya. Duduk di tepi tempat tidur memandanginya.

“Mengapa hanya Siwon saja yang kau pikirkan? Eh?” aku membelai rambutnya. Dia menggeliat, aku memandanginya. Nanhee menarik tanganku saat aku ingin beranjak meninggalkannya.

“Kyuhyun~a..” panggilnya, dia masih memejamkan matanya saat menarik tanganku hingga aku kembali terhempas di tempat tidur. Dia duduk dan mencium bibirku, aku mengikuti permainannnya dan perlahan ikut berbaring.

***

Aku meraba tempat tidur dan membuka mataku perlahan. Kepalaku begitu sakit untuk mengingat apa yang terjadi tadi malam. Terdiam sejenak, mendapati tubuhku hanya tertutup setengah selimut. Pintu kamar mandi dibuka dan membuatku menoleh kearah suara. Lee Nanhee.

“Mianhae, apa aku menyusahkanmu?” tanyanya sambil membenahi bedak dan rambutnya. Aku tidak mampu menjawabnya. Kejadian tadi malam kembali terbayang di benakku. Sentuhan itu.

“Nanhee~ssi, aku.”

“Aku tau, anggap semua ini tidak pernah terjadi.” Jawabnya sambil mengaitkan high heelsnya di kaki. Sedikit kesusahan dan kehilangan keseimbangan namun tangannya sigap bertumpu pada meja. Aku memperhatikan gerak-geriknya. Dia menuju cermin dan merapikan make-upnya. Tersenyum memandangnya.

“Kenapa tersenyum?” tanyanya sambil menoleh padaku.

“Ani, hanya saja..”

“Jangan katakan itu lagi, aku tidak mau membahasnya.”

“Memangnya aku mau membahas apa?” tanyaku menggodanya.

“Kau mau, mau mau mau membahas..” dia panik sendiri dengan ucapannya.

“Apa yang dilakukan Teuki Hyung dan Eun Kyo disebelah sana?” tanyaku padanya membuatnyamengerjapkan matanya mendengar pertanyaanku.

“Memangnya kenapa dengan mereka?” tanyanya dengan wajah bingung.

“Tadi malam Teuki Hyung membawa Eun Kyo ke kamarnya.” Jawabku tersenyum penuh arti.

“Mo, mo, MWO?!” kali ini dia benar-benar terkejut. Dia panik dan mondari – mandir di depanku. Aku memasang bajuku dan menenangkannya.

“Yak, yak, yak, kau tenang dulu.” Aku memegang tangannya. Dia masih ingin mondar-mandir tapi aku menahannya.

“Jangan panik, mereka kan memang bertunangan, sebentar lagi juga mereka akan menikah kan? Jadi apa salahnya?” kali ini reaksinya lebih panik lagi.

“Hey, hey, hey, tenang saja.” Aku menahan tubuhnya.

“Tidak mungkin, Teuki tidak mungkin berbuat macam-macam kan?” tanya Nanhee.

“Aku tidak berani jamin.” Jawabku. Dia menginjak kakiku.

“Yak, kenapa menginjakku? Bagaimana aku bisa tau?” protesku sambil memegang kakiku.

“Kau kan sudah kenal dengannya! Jadi bagaimana dia biasanya dengan wanita?!” teriaknya.

“Memangnya kenapa? Sepertinya Teuki Hyung memang benar-benar menyukainya. Tidak pernah bersikap seperti itu sebelumnya, tidak pernah mengantar gadis manapun apalagi sampai menciumnya.”

“Apa ada kemungkinan terjadi apa-apa?” tanyanya khawatir.

“Aku kan bukan Teuki, tapi mungkin jika aku menjadi dia kemungkinan besar terjadi apa-apa.” Jawabku tanpa berdosa membuatnya kembali panik.

“Yak! Kau jangan main-main, kau cemburu?” tembakku penuh percaya diri.

“Ini bukan masalahku, ini masalah Eun Kyo?”

“Eun Kyo? Memangnya kenapa dengannya.” Tanyaku bingung, terlihat sekali mukanya berubah pias.

“Kita salah paham, kita salah paham.” Dia melepaskan tanganku dan berbalik membelakangiku, lalu berbalik kembali menatapku.

“Mereka tidak pernah bertunangan.” Ujarnya penuh dengan penekanan.

“MWO?!” ujarku terkejut.

“Mereka hanya berpura-pura. Agar aku tidak salah paham pada Eun Kyo, dan Siwon menjauhinya.” Ujar Nanhee.

“Dan, dan, dan jika.. jika tadi malam..” dia menatapku lagi.

“Ugh! Mengapa aku membiarkannya mabuk seperti itu? Eoh?!” teriaknya, aku kembali menahan tubuhnya yang lagi emosi.

“Kau tau Eun Kyo paling tidak suka dengan orang asing?” ujarnya lemah.

“Dan, dan kalau tadi malam terjadi sesuatu..” dia menghela nafas.

“Kita harus berpikir positif, tidak terjadi apa-apa padanya seperti terjadi pada kita.” Nanhee memandangku, mungkin baru menyadari apa yang terjadi tadi malam. Dia melepaskan tanganku dari lengannya.

“Apa, apa maksudmu yang terjadi dengan kita?” tanyanya dengan muka merah.

“Kita kan tadi malam, hemph!” tangannya langsung menutup mulutku dengan tangannya agar aku tidak mengatakannya. Aku melepas tangannya dan menatapnya dalam.

“Saranghae.” Ujarku dan mampu membuat matanya hampir keluar. Dia dengan cepat berbalik dan ingin membuka pintu namun aku menarik tangannya.

“Aku tau kau mencintai Siwon.” Ujarku pelan, dia menghentikan langkahnya sejenak sebelum melanjutkan meninggalkanku.

***

Aku menunggu Teuki Hyung duduk di sebuah kafe, menikmati mochalatte untuk mengusir bosanku. Aku sebenarnya ada janji dengan Eun Kyo tentang proyek yang sedang kami garap bersama. Tapi Eun Kyo mengatakan dia sedang sakit, hingga aku mengerjakannya sendiri. Ini sudah dua minggu lebih setelah kepulangan kami dari pesta perkawinan Donghae dan Jina yang ternyata juga sahabat Eun Kyo dan Nanhee. Aku terkejut saat seseorang menyentuh bahuku.

“Kau sudah lama menunggu?” tanyanya. Leeteuk.

“Ani, Hyung.” Jawabku berbohong.

“Wae? Kenapa kau mengajakku kesini?” tanyanya sambil tersenyum.

“Ini.. maaf, ini mengenai Eun Kyo.” Dia langsung menatapku.

“Ada apa dengannya?” jawabnya serius. Aku juga menatapnya serius.

“Ani, aku terus didesak Nanhee untuk menanyakannya padamu.” Aku berhenti sebentar, sebelum melanjutkan perkataanku. Hufh, ini memang sedikit keterlaluan, aku mencampuri urusan orang lain. “Apa terjadi sesuatu malam itu?” tanyaku akhirnya. “Ah, aku bukan aku ingin mencampuri urusanmu, Hyung. Hanya saja Nanhee khawatir berlebihan.” Kilahku.

“Aku tidak bertemu dengannya sejak kita kembali dari Pulau Jeju.” Jawabnya lemah setengah frustasi. “Apa dia masih masuk bekerja? Dia seperti menghindariku.” Sambungnya. Tanpa menanyakannya lagi aku sudah bisa menyimpulkan terjadi apa-apa malam itu.

“Begitu? Dia mengeluh sakit hari ini.” Ucapku dan mampu membuatnya lebih khawatir.

“Jinjja? Aish! Kenapa dia tidak bilang padaku?” dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Aku memandanginya. Nanhee tidak boleh tau tentang hal ini.

Nanhee’s POV

Aku menunggu Kyuhyun kembali dari makan siangnya. Eun Kyo hari ini tidak masuk bekerja, namun dia membawa berkas yang harus dikerjakannya. Gadis itu, pasti terjadi sesuatu dengannya. Dia berubah menjadi dingin dan tidak memperhatikan orang lain, hanya fokus dengan pekerjaannya. Membuatku khawatir saja. Aku melihat Kyuhyun menuju kesini. Aku langsung bangkit dan menghampirinya.

“Bagaimana? Yang yang Teuki bilang padamu?” tanyaku tergesa-gesa.

“Hufh, Teuki Hyung juga tidak bertemu dengannya sejak kepulangan kita dari Pulau Jeju.” Jawab Kyuhyun.

 “Nde? Bagaimana mungkin? Mengapa Eun Kyo berubah?” tanyaku sambil menggigit ujung pennsil. Aku mengkhawatirkan Eun Kyo. Ini semua karena aku, karena kecemburuanku.

“Ne, mungkin karena kesibukan Eun Kyo hingga mereka tidak sempat bertemu. Kau kan tau sendiri Eun Kyo sedang deadline proyeknya?” tanya Kyuhyun. Aku mengangguk, semoga saja begitu.

“Kau sudah makan?” tanyanya. Aku kembali menggeleng.

“Mau aku temani makan?” tanyanya. Aku menoleh ke bangku Eun Kyo. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya? Apa berhubungan dengan dengan malam itu? Aish! Semua ini membuatku khawatir. Padahal aku juga terjadi sesuatu saat itu, tapi megapa aku malah mengkhawatirka orang lain?

“Gwaenchana?” tanya Kyuhyun sambil menggoyangkan tangannya di depan wajahku.

“Ah, oh. Ne.” Jawabku cepat.

“Ayo aku temani makan.” Dia menarikku dan membawaku keluar.

“Kau kan sudah makan siang tadi?” tanyaku bingung, dia mengajakku makan dan keluar lagi.

“Ani, aku hanya minum.” Jawabnya, masih tidak melepaskan rangkulannya.

“Tapi kan!” dia menutup mulutku dan menarikku menuju restoran di depan perusahaan.

Dia menarik sebuah kursi setelah masuk ke dalam restoran tersebut. Menekan bahuku untuk membuatku duduk di kursi itu, dia juga menarik kursi di hadapanku.

“Kau mau makan apa?” dia membolak balik daftar menu sambil memilih-milih makanan.

“Seperti biasa saja.” Jawabku.

“Mengenai Eun Kyo…”

“Aku tidak mau mendengar tentang dia, aku hanya ingin mendengar tentang kita.” Ujarnya, matanya masih memperhatikan menu. Merasa aku tidak menjawab, dia melirikku.

“Aku hanya ingin mendengar tentang kita. Menurutmu, apa kita menikah saja?” tanyanya blak-blakan. Mwoya? Apa dia bilang? Apa dia sudah gila?

“Kau sudah gila?” tanyaku dingin.

“Ani, aku tidak bercanda, aku sudah mengambil semuanya darimu. Aku hanya tidak ingin disebut tidak bertanggungjawab.”

“Kau tidak perlu memikirkan itu, aku tidak perlu peryanggungjawabanmu.” Ujarku dingin. Dia menatapku.

“Apa kau gila?” tanyanya mendekatkan wajahnya padaku, aku mundur untuk menghindarinya.

“Aku masih warah, dan ak tidak gila.”

“Kau gadis yang aneh, tidak akan ada yang akan menyukaimu.”

“Lalu mengapa kau mau mengajak gadis aneh ini?” tanyaku tajam.

“Aku hanya kasian padamu.” Jawabnya acuh. Mwoya? Yak! Dasar kurang ajar! Sampai kapanpun aku tidak akan memintanya bertanggungjawab jika terjadi sesuatu padaku, aku bersumpah!

Pelayan datang menghampiri kami dan membawakan beberapa pesanan kami. Aku mengambilnya dengan kasar. Dia memperhatikanku, aku tidak memperdulikannya. Memakan steakku dengan cepat tanpa memperdulikannya sedikitpun.

“Pelan-pelan, apa kau sudah begitu lapar?” tanyanya. Aku tidak menjawabnya. Tanganku meraih gelas minuman dan menenggak minuman itu dengan cepat. Kuletakkan gelas dengan sedikit hentakan dan berdiri meninggalkannnya. Dia juga bangkit dari duduknya, mengejarku.

“Yak, kenapa meninggalkanku?” protesnya menatik tanganku. Aku mengibasnya dan tangan terlepas. Aku berjalan cepat.

“Ya.. kau marah?” tanyanya menjajari langkahku.

“Ani, untuk apa aku marah, kau bukan siapa-siapa.”

“hey,hey, hey, aku hanya bercanda.” Ujarnya masih menjajari langkahku. Aku tidak menjawabnya.

“Saranghae.” Ujarnya, menarik tanganku kuat membuatku terhenti. “Saranghae, dan aku melakukannya karena cinta.” Ucarja memutar tubuhku menghadapnya. Dia menyibak rambutku yang sedikit berantakan karena perlakuannya tadi.

“Aku tidak perduli kau mencintai Siwon, tapi yangaku tau aku menyukaimu, dan setelah malam itu aku menyadari aku memang mencintaimu.” Sambungnya. Aku tidak kuasa menjawabnya, aku belum bisa menjawabnya. Aku masih belum yakin apa aku memang juga menyukainya, atau ini hanya sekedar suka. Tidak aku pungkiri, aku memang sedikit menyukainya, namun jika mencintainya aku belum yakin. Aku rasa aku tidak semudah itu melupakan perasaanku terhadap Siwon.

“Aku tidak memintamu untuk menjawabnya sekarang.” Ujarnay sambil perlahan melepaskan tangannya dari lenganku. Aku terdiam, tidak tau harus berbuat apa.

“Kita kembali ke kantor?” aku mengangguk. “Kajja.” Dia meraih tanganku dan menggenggamnya. Aku memperhatikan tangannya. Tiba-tiba saja aku merasakan getaran lain dalam dadaku ketika tangannya menggenggamku hangat.

***

Ck! Aku terus memperhatikan layar monitor. Terlambat pulang hari ini karena pekerjaanku memerlukan waktu lebih. Aku sedikit pusing, satu persatu orang  pergi meninggalkan aku sendiri.

“Kau masih ada pekerjaan?” tanya Kyuhyun disamping mejaku.

“Ye.” Jawabku.

“Perlu aku temani?”

“Ani, kau pulang saja, aku sebentar lagi selesai.”

“Aku tunggu saja, kita pulang bersama.”

“Ani, kau pulang duluan!” aku melotot padanya. Dia tersenyum.

“Yakin?” tanyanya, aku tidak menjawab dia kemudian berlalu dari hadapanku. Sebenarnya aku ingin mencegahnya namun rasa gengsiku lebih menguasaiku, hingga aku memilih rasa takut daripada menjatuhkan harga diriku. Lama aku berkutat dengan monitior, tiba-tiba seseorang menyapaku.

“Kau belum pulang?” aku menoleh padanya, Siwon.

“Ye, masih ada pekerjaan, tapi sebentar lagi selesai.” Ujarku tanpa melihatnya.

“Temani aku pulang.” Aku terdiam sesaat, kemudian menatapnya perlahan. Dia juga sedang menatapku, saat mendapatinya menatapku aku langsung membuang muka. Tiba-tiba suasana menjadi panas.

“Ye, tapi sebentar lagi.” Ujarku.

“Aku tunggu.” Tidak berapa lama aku menyelesaikan pekerjaanku dan pulang bersamanya.

“Temani aku minum.” Ujarnya dingin. Mendengar kata ‘minum’ aku jadi teringat malam itu. Aku menggelengkan kepalaku agar tidak mengingatnya lagi. Saat sampai di suatu club, dia menyewa sebuah kamar. Aku hanya mengikutinya. Aku duduk denganmanis tanpa ingin menyentuh minuman.

“Kau tidak minum?” tanyanya padaku. Itu sudah botol ketiga yang dia habiskan. Matanya juga tidak terlalu fokus menatapku, aku rasa dia sudah mulai mabuk.

“Siwon~a, sebaiknya kita pulang saja.” Aku membantunya berdiri.

“Apa, apa menurutmu Eun Kyo dan Teuki benar-benar bertunangan? Aku melihat mereka memasuki kamar yang sama malam itu.” Dia bergelayut dalam rangkulanku, menyentuh wajahku.

“Nanhee~a, apa menurutmu itu benar?” aku berhenti memapahnya berjalan, dan memandang matanya. Dia sadar yang dihadapannya ini adalah aku?

“Eun Kyo~ya, aku, aku, aku tidak bisa menerimanya, mengapa harus dia?” dia kembali meracau namun aku tidak memperdulikannya. Dia mulai mendekatkan wajahku, dan menciumku. Aku terkesiap, ketika bibirnya menyentuh bibirku, tiba-tiba saja aku melihat sekelebat bayangan Kyuhyun malam itu. Aku mendorongnya dan meninggalkannya di dalam sendirian. Aish! Aku merutuki diriku sendiri, mengapa saat kesempatan bersama Siwon aku malah mengingat Kyuhyun?

Minho’s POV

Baru saja aku membaringkan tubuhku di tempat tidur, tiba-tiba saja ponselku berdering. Aku menutup telingaku dengan bantal dan tidak ingin diganggu. Ponselku terus berdering. Mau tidak mau aku harus menganggaktnya. Aku melempar bantalku ke lantai, baru saja Rae Na pulang dari sini. Jika dipikir-pikir aku memang keterlaluan padanya. Padahal kerjanya tidak seberapa dengan kerusakan laptopku. Aku meraba ponselku dan mengangkatnya.

“Yeoboseyo?” ujarku sambil meletakkan ponselku di telinga.

“Ya, apa ini Choi Mnho?”

“Ye,  benar sekali.”

“Jweosonghae~yp, anda mengenal Choi Siwon?” tanyanya. Aku langsung duduk mendengar Hyunngku disebut.

“Ye, ada apa dengannya?”

“Dia sedang mabuk di bar kami.”

“Nde? Dimana?” orang itu menyebutkan sebuah Club langgananku dan Hyung saat aku duduk dibangku sekolah. Sebenarnya bukan langganannya, tapi langananku. Aku segera melompat dari tempat tidur dan menyambar kunci mobil. Aish! Aku lupa aku masih memakai piyama. Aku segera mengganti bajuku dengan tergesa lalu menuju parkir apartemen.

Aku melajukan mobilku dengan cepat, Siwon Hyung? Minum? Bukannya dia yang sering menjemputku dan menceramahiku agar jangan pernah mabuklagi? Eoh? Sekarang saat aku sudah berhenti malah dia yang kecanduan. Aku terus menginjak gas dan mobil berjalan lebih cepat. Bunyi decit rem terdengar nyaring saat aku dengan tiba-tiba menghentikan mobilku. Membuka pintu dengan kasar dan menuju kamar yang disebutkan pelayan padaku.

Aku membuka pintu kamar dan melihat Siwon Hyung tergeletak tak berdaya di kursi panjang dengan botol minuman ditangannya. Aku mendekatinya.

“Minho~ya.” Panggilnya lirih. Aku tidak pernah melihatnya seperti ini. Dia tersenym padaku.

“Hyung, wae gurae?” tanyaku sambil berjongkok mengambil botol minuman yang menggelinding setelah dilepas olehnya.

“Park Eun Kyo, dia bersama Teuki Hyung, dan aku sepertinya patah hati.” Jawabnya setengah putus asa.

“Kau ini, wanita bukan hanya dia kan?” dia tertawa garing. Lalu bangkit dari rebahannya.

“Hem, haha, hahahahahahahaha.” Aku menahan kepalanya yang hampir tersungkur ke meja.

“Benar juga.” Jawabnya.

“Lalu kenapa kau seperti ini?”

“Mollasseo.” Jawabnya.

“Kenapa semua wanita menolakku?” dia berusaha memandangku namun tidak fokus, masih. Matanya mengerjap dan sesekali menyipit.

“Ada apa lagi?” tanyaku. Aku menghela nafas. Dia tidak pernah seperti ini semenjak aku tidak jarang bertemu dengannya. Siwon Hyung orang yang perfeksionis, ingin selalu kelihatan sempurna di depan orang lain, tapi kali ini jauh berbeda. Sangat berbeda.

“Lee Nanhee, kenapa dia akhir-akhir ini dekat dengan Kyuhyun? Dan saat aku mengajaknya kesini, aku, aku, aku.” Dia memukul kepalanya sendiri.

“Kenapa dengannya, bukannya kau bilang kau tidak menyukainya?” aku menahan tangannya. Dia mengangguk beberapa kali sambil tersenyum.

“Kyuhyun menyukainya.” Jawabnya.

“lalu apa yang permasalahkan, memang itu yang kau mau kan?” dia mengayunkan telunjuknya di depan mataku, lalu tersenyum lagi.

“Ani, eopso, aku sekarang tidak hek! Menginginkan itu terjadi.” Jawabnya.

“Wae?” tanyaku bingung.

“Beberapa hari ini aku memperhatikannya. Sejak kepulangan kami dari resepsi pernikahan di Pulau Jeju 3 minggu yang lalu aku memperhatikannya.” Dia meraih botol minuman dan menenggaknya. Aku mengambil botol itu.

“Aku mulai menyukainya.” Jawabnya lirih lagi.

“Aigoo.. Hyung, bagaimana mungkin kau seperti hanya karena wanita? Eoh?” tanyaku sambil membantunya atau lebih tepatnya memaksanya untuk berdiri, aku berniat membawanya pulang.

“Kau belum pernah merasakannya makanya kau tidak mengerti.” Ujarnya sambil menunjuk-nunjuk dadaku. Hufh, aku mengerti, tapi seharusnnya bukan dengan cara ini dia menyelesaikannnya. Aku memapahnya ke mobilku dan membawanya pulang ke rumah.

***

Pagi ini cuaca mendung. Aku memperhatikan seseorang yang tidur pulas disampingku. Dia terlihat sangat menyedihkan. Choi Siwon, lelaki yang banyak dipuja wanita kini sedang patah hati terhadap dua orang wanita yang saling berhubungan. Dia membuka matanya.

“Dimana ini?” tanyanya sambil menghalau cahaya yang menyilaukan matanya.

“Ini dirumahku.” Jawabku.

“Aish! Aku terlambat bekerja hari ini.” Dia bangkit dari tidurnya.

“Hari ini hari minggu, Hyung.” Aku kembali merebahkan tubuhku dan menarik selimut.

“Jinjjayo? Kalau begitu aku amu tidur sebentar lagi saja.” Jawabnya, aku membiarkannya. Lalu aku mengambil ponsel diatas meja dan memncet satu nomor. Nomor yang setiap hari selalu tidak pernah absen dari daftar ‘register’ku.

“Yeoboseyo? Kesini sekarang juga atau kau akan menerima akibatnya!” aku langsung memerintahnya ketika ponsel itu diangkat.

“Kau! Kau, tidak bisa kaha sehari saja membiarkanku istirahat? Eoh? Akan kulaporkan kau pada komisi perlindungan wanita!” teriaknya tak kalah sengit dariku, aku menjauhkan speaker ponselku dari telingaku.

“Silakan saja, tapi jika kau tidak ada disini dalam waktu 30 menit, kau akan mati.” Aku menutup ponselku. Siwon Hyung menatapku heran.

“Dia pembantuku.” Aku memunggunginya.

“Terdengar seperti seorang gadis.” Jawabnya.

“Memang.” Sahutku malas.
“Cantik?”

“Lumayan.”

“Jinjja?” Siwon terdiam, aku menoleh padanya. Dia tersenyum.

“Aku tau kau lagi patah hati, tapi kuingatkan! Dia bagianku!” aku kembali membalik tubuhku membelakanginya.

“Buahahahaha, aku ingin tau seberapa cantik dia.” Aku berbalik menatapnya.

“Sebaiknya kau pulang saja.” Aku mendorong tubuhnya dari tempat tidur.

“Yak, yak, yak! Kau ini kenapa? Eoh? Aku hanya ingin melihatnya, bukan merebutnya.” Ucapnya dengan wajah konyolnya.

“Tidak bisa!”

***

Aku tau dia sudah datang, ke kamarku dan memunguti pakaian kotorku yang berserakan dilantai. Aku meraba orang disampingku. Tidak ada lagi. Berarti dia sudah pulang.

“Jangan lupa buatkan aku sarapan.” Ujarku sambil menyembunyikan senyuman dan rasa senangku. Entah kenapa aku senang membuatnya susah, ada kebahagiaan tersendiri melihatnya tersiksa, membuatnya terlihat lebih tangguh dan sangat menarik.

“Rae Na~ya.” Aku mendengar suara lelaki memanggil namanya.

“Ne?” jawab Rae Na. Mataku tiba-tiba jadi berhenti mengatuk. Aku mendengar Rae Na melangkah meninggalkan kamarku. Aku berbalik menatapnya. Siwon Hyung masih disini?

“Kau sudah bangun pemalas?” wajah Siwon Hyung menyembul dibalik pintu. Aku melempar bantal padanya.

“Yak, untuk apa kau masih disini? Eoh?”

“Aku? Ini kan hari minggu, aku ingin bersantai. Lagipula aku mau numpang makan disini mumpung ada yang membuatkannya.” Dia melirik Rae Na yang lewat disampingnya. Aku memasang muka garang padanya.

“Oppa, makananmu ada di meja makan.” Ujar Rae Na. “Sekarang pekerjaanku sudah selesai, aku mau pulang.” Dia kemudian berlalu dari kamarku.

“Biar aku antar.” Aku langsung melompat dari tempat tidur.

“Aku bisa pulang sendir.” Tolaknya.

“Rae Na~ya, Onniemu masih sakit?” tanya Siwon Hyung pada Rae Na.

“Ye, sedikit kelelahan sepertinya.” Jawab Rae Na. Eh? Siwon Hyung kenal saudara Rae Na?

“Eun Kyo tidak masuk kemaren.” Ah, baru aku mengerti, jadi Onnienya Rae Na?

“Em, dia memang tidak enak badan.” Jawab Rae Na sambil berlalu menuju pintu depan.

“Aku pulang dulu.” Pamitnya pada kami.

“Aku antarkan.” Aku meraih jaket dan kunci mobilku lalu menarik tangannya dengan paksa agar dia tidak menolakku. Aku tersenyum menang saat dia menghentakkan kakinya dengan keras namun tidak bisa menghindar dari cengkramanku.

Rae Na’s POV

Aku menghentakkan kakiku dengan keras sebagai tanda aku tidak suka dipaksa olehnya, namun dasar dia lelaki tidak peka dan egois! Dia selalu melakukan apa yang dia inginkan, tanpa menanyakan apakah orang setuju dengan perkataannya. Menyebalkan sekali! Dan lebih menyebalkan lagi mengapa kakiku malah melangkah mengikutinya. Aku selalu membenci diriku sendiri saat aku bersembunyi darinya aku selalu tidak bisa. Aku membenci diriku yang seperti orang bodoh menuruti permintaannya selama sebulan ini. Hufh, membenci diriku karena sekuat apapun aku menghindar akan selalu terlihat olehnya. Dia memaksaku untuk masuk ke dalam mobilnya.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu sebentar?” ajaknya padaku. Aku hanya diam, hanya menyandarkan kepalaku di kaca mobil, menghmebskan nafasku dan memandangi kaca buram yang berair karena hembusan nafasku.

“Aku ingin pulang.” Tolakku tanpa menoleh padanya.

“Aku ingin membawamu ke suatu tempat.”

“Tapi kau belum mandi.”

“Aku akan mandi setelah kita sampai.” Aku langsung menoleh padanya. Memangnya dia mau membawaku kemana?

“Aku tidak punya waktu, harus mengurus kafe dan lukisanku.” Jawabku ketus. Dia tidak memperdulikannya. Hingga akhirnya kami sampai ke suatu tempat. Dia membuka pntu mobilnya dan berlari kecil untuk membukakan pintu mobilku. Aku menghela nafas.

“Kita sudah sampai.” Dia meraih tanganku dan menarikku untuk masuk. Dari papan nama aku bisa membacanya sekilas. Yayasan Anak tanpa tempat tinggal. Sejenak aku tertegun memandang ke sekeliling.

“Kajja, kita masuk.” Minho nampak menyapa salah satu pengurus yayasan ini, aku tidak terlalu memperhatikan tapi mataku tertuju pada seorang anak kecil yang sedang asik menggambar. Aku menghampirinya.

“Aku juga suka menggambar.” Anak itu menoleh padaku. Menggigit pensilnya lalu kembali menggambar. Aku duduk di lantai bersamanya.

“Siapa namamu?” tanyaku padanya.

“Jung Jun Hwan.” Jawabnya sambil memperhatikan gambarnya. Dia tengkuap di lantai, dan mengangkat kakinya. Sepertinya dia sangat menikmati posisinya.

“Noona, kau suka bunga?” seseorang menyodorkan padaku seikat bunga, setelah aku perhatikan, ini bunga buatan, buatan tangan. Aku menyambutnya.

“Gomapseumnida..” aku menganggukkan kepalamu. Dia tersenyum. Aku memandangi sekeliling. Penuh dengan anakanak kreatif.

“Kau suka disini? Aku jika sedang bosan pasti bermain kesini.” Sebuah suara membuatku menoleh padanya. Minho.

“Em, lumayan, untuk orang yang tidak suka bersosialisasi sepertiku tempat ini lumayan daripada kau membawaku ke tempat ramai.” Ujarku. Beberapa anak tersenyum padaku.

“Begitu?’ tanyanya dengan senyum merekah.

“Aku senang disini.” Seorang anak duduk di pangkuannya.

“Sepertinya aku tidak bisa berlama-lama disini, Onnieku sedang sakit.” Aku bangkit dari duduk dan mengajaknya pulang. Dia membawaku pulang.

***

Aku menaiki tangga menuju kamarku, namun berhenti sejenak saat melihat Key yang sedang sibuk memncuci piring. Aku mendekatinya.

“Hari ini banyak pengunjung?” aku menanyainya.

“Ne, kemana saja kau?” tanyanya balik. Aku menhela nafas dan ikut membantunya membersihkan piring.

“Aku ada urusan.” Jawabku.

“Eun Kyo Noona, dia terlihat aneh.”

“Ne? Aneh? Aneh bagaimana?”

“Hufh, aku tidak bermaksud membuatnya seperti ini.” dia menghentikan mengambil piring kotor dan bersandar di meja.

“Memangnya ada apa?”

“Aku, aku yang bodoh menyatakan cinta padanya beberapa minggu lalu.” Aku berhenti mendengar ceritanya.

“Tidak  menyangka dia akan menjauh seperti itu.”

“Mungkin dia tidak ingin menyakitimu.” Ujarku menenangkannya. Aku rasa bukan itu, dia berubah sejak kembali dari Pulau Jeju. Malam itu dia tidak tidur dikamar. Nanhee Onnie juga tidak kembali ke kamar. Kemana mereka?jangan katakan…

Aku segera berlari kencang menaiki anak tangga. Onnie, aku harap kau tidak melakukan hal bodoh kali ini! Aku menggedor pintu kamarnya.

“Onnie~ya! Buka pintunya.” Aku terus menggedor pintunya. Beberapa saat kemudian dia membukakan pintu untukku. Wajahnya terlihat pucat.

“Kau benar-benar sakit?” tanyaku. Dia tidak menjawab. Aku mengikutinya masuk ke dalam kamar.

“Benar yang dikatakan Key?” dia menoleh padaku.

“Memangnya apa yang dia katakan?”

“Dia bilang dia menyatakan cinta padamu, benar?” dia tersenyum.

“Itu bukan cinta, itu hanya rasa sayang yang berlebihan.”

“Apa karena ini kau jarang keluar kamarmu?”

“Eh? Jarang keluar kamar?”

“Ye, sudah hampir 3 minggu kau mengurung dirimu di kamar, wae?” aku menunggu jawabannya.

“Gwaenchana, aku hanya kelelahan, dan karena pekerjaanku.” Jawabnya berkilah. Aku tau, sangat tau bahwa ada yang tidak beres dengannya.

“Kau, kau waktu itu tidak kembali ke kamar. Kemana?” dia berhenti mengutak-atik laptopnya dan perlahan menoleh padaku. Wajahnya terlihat konyol dengan terkejut seperti itu.

“Wae?” tanyaku.

“Aku tidur.. bersama Nanhee.” Jawabnya tanpa menatapku.

“Benar?” tanyaku meyakinkan. “Aku hanya takut terjadi apa-apa padamu.” Aku berdiri dan meninggalkan kamarnya. Menengok ke jendela dan sepertinya ada sebuah mobil terparkir di depan rumah. Siwon Oppa. Aku segera turun ke bawah dan menghampirinya.

“Wae~yo Oppa?” dia terkejut dan menoleh padaku.

“Ani, aku, aku hanya..” dia tidak bisa menjawab.

“Kafe kami sudah tutup, atau kau ingin bertemu dengan…” aku memancingnya untuk mengatakannya. Aku tau dia ingin bertemu Onnie, dari sikapnya dan gerak geriknya selama 2 hari di Pulau Jeju, aku bisa membacanya, dia perhatian dengan Onnie.

“Eun Kyo, apa dia besok akan… masuk kerja?” tanyanya gugup.

“Molla.” Aku mengangkat bahuku. “Kau tanyakan saja sendiri. Mau aku memanggilkannya?” dia mengangguk sambil menggaruk kepalanya. Aku mempersilakan lelaki itu masuk dan memanggil Onnie.

“Onnie~ya, ada tamu untukmu.” Aku mengetuk pintunya.

“Nugu~ya?” tanyanya dari dalam.

“Seorang lelaki.” Jawabku. Tidak ada jawaban darinya.

“Onnie?”

“Katakan aku tidak ada.”

“Aku sudah mengatakan kau ada.” Enak saja dia menyuruhku berbohong.

“Ck! Kau ini, tau aku sakit bilang aku tidak bisa diganggu.” Dia membuka pintu dan mengomel padaku. Aku mengikutinya dari belakang. Terlihat mereka berbicara di kursi kafe. Terkadang suaranya naik turun terdengar di telingaku.

“Aku.. boleh aku tidak masuk kerja dan mengerjakan pekerjaanku dirumah?’ suara Onnie sedikit terdengar nyaring namun jawaban Siwon Oppa tidak tertangkap oleh telingaku. Sebaiknya aku pergi ke kamar saja daripada menguping pembicaraan mereka.

***

Pagi tiba, tiba pula untukku memulai aktifitas hari ini. Membersihkan diriku di kamar mandi dan bersiap-siap untuk berangkat jika tidak ingin terlambat. Saat aku menuruni tangga, aku melihat sesosok orang yang aku kenal beberapa waktu lalu.

“Teuki Oppa?” dia menoleh saat aku memanggil namanya. Bangkit dan memberi salam padaku.

“Annyeong.” Dia membungkukkan badan, aku membalasnya dengan kaku. Untuk apa dia datang kesini sepagi ini? Jangan katakan dia ingin bertemu Onnie!

“Onniemu ada?” tanyanya. Aish! Mengapa akhir-akhir ini Onnie banyak sekali yang mencari? Eoh? Seperti gula yang dicari semut.

“Oh, maaf, dia sedang sakit, tidak bisa diganggu.” Aku mencegahnya menemui Onnie karena aku rasa Onnie tidak ingin bertemu dengan siapapun. Dia bahkan mengatakan ingin bekerja di rumah saja tanpa harus pergi ke kantor.

“Begitu? Dia sakit apa?” tanyanya dengan wajah khawatir.

“Ah, mungkinhanya kelelahan. Wajahnya terlihat pucat dan sedikit masalah pencernaan mungkin.”

“Begitu? Apa aku benar-benar tidak bisa menemuinya?” aku menggeleng lemah.

“Arasseo, tapi jika terjadi apa-aap atau kau perlu membawanya ke dokter, bisa hubungi aku?” aku mengangguk lagi dengan wajah heran. Aku menoleh ke arah jalan, sebuah mobil lagi datang. Mobil Siwon Oppa. Aku menjadi pusing.

“Siwon Oppa.” Sapaku. Teuki Oppa menoleh ke belakang.

“Hyung.” Sapa Siwon Oppa. Aku menjadi terjepit dalam suasana seperti ini.

“Eun Kyo masih tidak bisa bekerja?” aku mengangguk

“Aku hanya ingin mengantarkan file ini.” Dia menyerahkan sebuah memori eksternal padaku, ini memang milik Onnie.

“Kalau begitu aku permisi.” Siwon Oppa pamit dan tinggal aku dan Teuki Oppa yang menatapku. Aku jadi bingung harus berbicara apa. Tiba-tiba sebuah mobil lagi datang. Ck! Kali ini aku rasa bukan untuk Onnie.

“Kita berangkat.” Sebuah tangan menarikku. Choi Minho.

“Tidak bisa kah kau menunggu jawabanku dulu?” tanyaku kesal.

“Aku tidak suka ditolak.” Dia menekan kepalaku dan memasukkanku ke dalam mobilnya. Aku menurunkan kaca jendela.

“Teuki Oppa, mian, aku harus segera berangkat.” Ujarku. Minho menjalankan mobilnya meninggalkan Teuki Oppa yang masih terpaku sendiri.

“Jadi itu tunangan Onniemu?” aku menoleh padanya.

“NDE?” tanyaku terkejut. Tunangan? Sejak kapan Onnie bertunangan.

“Dia tunangan Onniemu kan? Hingga dia menolak cinta Siwon Hyung?” aku kembali terkejut. Apa-apaan ini!

Mereka bertunangan? Tidak ada yang bertunangan, dia bahkan belum pernah berpacaran.”

“Nde? Bukannya mereka bersama saat di Pulau Jeju? Tidak mungkin tidak ada hubungan, mereka menginap satu… kamar.” Ujar Minho dan menoleh padaku. Aku ternganga.

“Mwoya?” Park Eun Kyo! Kau berbohong padaku!

Teuki’s POV

Dia tidak ingin bertemu denganku sama sekali. Hanya beberapa meter saja darinya tapi dia tidak ingin menemuiku. Aku memang bersalah, bersalah memanfaatkan keadaan. Tapi aku benar-benar menyukainya. Bukankah memang ditakdirkan bersama? Aku yakin, dimana ada aku disitu ada dia. Aku rasa ini bukan sebuah kebetulan, tapi ini permainan takdir. Maha karya Tuhan. Aku mengemudikan mobilku menuju gedung kantorku. Dia tidak masuk bekerja, aku tidak bisa menemuinya.

“Ada pesan untukku?” tanyaku pada sekretarisku. Dia berdiri.

“Tidak ada Pak.” Dia membungkuk. Aku membuka pintu ruanganku.

Membuka beberapa berkas dan memeriksanya. Aku benar-benar tidak fokus. Aku memikirkannya, sudah 3 minggu aku tidak bertemu dengannya. Merindukannya? Mungkin saja. Rasa ini tidak bisa kutelaah. Aku memikirkan tentang malam itu, bukan seperti ini yang aku inginkan. Aku ingin memilikinya bukannya membuatnya semakin menjauhiku. Saat itu aku bukan melakukannya dengan memaksa, hufh, aku tidak bisa berpikir jernih saat ini. Ke kantor Siwon juga akan sia-sia karena dia juga tidak ada disana. Pintu ruanganku dibuka.

“Oppa..” seorang gadis berdiri didepan pintu. Aku tertegun memandangnya. Song Ahri.

“Aku kembali, kau senang?” dia menghampiriku dan memelukku.

“Kapan kau kembali?” tanyaku sambil melepaskan pelukannya.

“Wae? Kau tidak merindukanku?” tanyanya dengan wajah kecewa. Song Ahri, gadis kecil yang kini beranjak dewasa, dulu dia selalu meminta orang tuanya agar menikahkannya denganku. Aku hanya tertawa saat itu. Aku katakan dia masih terlalu kecil. Dia berjanji akan menjadi seorang wanita jika dia kembali dari Jepang. Dan sekarang dia memang berubah, penampilannya sedikit lebih dewasa, tapi tidak dengan tingkahnya dan perasaanku. Tetap sama seperti dulu.

“Aku selalu merindukanmu adik kecilku, sekarang kau sudah besar.” Aku mengacak rambutnya, gadis kecil itu cemberut.

“Kau sudah makan?” aku bertanya padanya. Dia menggeleng.

“Mau makan bersama?” dia mengangguk. Lalu menarik lenganku keluar dari ruangan.

Aku membawanya ke rumah makan biasa aku makan siang. Dia terlihat sangat senang. Anak ini sangat manja, tidak bisa dibantah.

“Kau sudah mempunyai kekasih?” aku bertanya padanya. Dia menatapku.

“Aku hanya akan menikah denganmu.”

“Kau ini, ada-ada saja.”

“Oppa, aku tidak main-main, aku serius, menikahlah denganku.” Dia menatapku dengan yakin, aku balas menatapnya. Melihatnya seperti ini aku menjadi takut, takut dia benar-benar tidak main-main. Aku hanya menganggapnya sebagai adikku saja.

“Ahri~ya, kau jangan bercanda, Oppa tidak suka.” Aku mengalihkan pandanganku pada makanan dihadapanku.

“Oppa! Kau selalu seperti ini! Selalu menganggapku main-main! Aku serius! Aku sudah dewasa, sekarang aku sudah mulai masuk kuliah!”

“Selesaikan dulu kuliahmu.” aku mengaduk makanan tang ada dihadapanku.”

“Shireo! Kita menikah dulu!” teriaknya. Aku hanya bisa menarik nafasku ketika beberapa orang memandang kami. Saat aku menoleh kearah samping, melalui kaca aku bisa melihat seseorang yang selama ini aku cari. Aku segera bangkit dan mengikutinya.

Aku melihatnya berjalan sendiri dan berhenti di sebuah halte. Aku masih membuntutinya, sampai akhirnya aku tidak sabar dan duduk disampingya. Dia menoleh padaku dan terlihat wajahnya menegang dan terkejut. Aku menahan tangannya sebelum dia lari lagi dariku.

“Kita perlu bicara.” Aku masih menahan tangannya. Dia masih tak bergeming dari duduknya. Aku mengangkat lengannya mengajaknya bicara di tempat lain. Dia mengikutiku.

“Aku tidak ingin membahas apapun.” Dia menatapku, aku membalasnya.

“Aku hanya ingin bertanggung jawab Eun Kyo~ya.”

“Aku tidak butuh tanggungjawab.” Dia menunduk.

“Mana bisa seperti itu.” Aku menariknya yang enggan berjalan.

“Aku tidak butuh siapapun.” Aku berhenti berjalan. Menarik tubuhnya agar dia menghadap padaku.

“Jika terjadi apa-apa denganmu? Memang sudah terjadi apa-apa. Tapi maksudku, apa ada kemungkinan kau… hamil?” aku memelankan suaraku pada kata terakhir dan menunduk mensejajarkan wajahnya dengannya. Dia menggeleng kuat. Aku menghela nafas.

“Lalu kau mau apa?”

“Aku mau kita tidak perlu bertemu lagi agar aku tidak perlu mengingatnya lagi.” Dia melepaskan tanganku dari lengannya. Aku hanya bisa menatapnya bingung.

“Teuki Oppa…” sebuah suara memanggilku. Eun Kyo memiringkan tubuhnya mengintip seseorang yang memanggilku dibalik tubuhku.

“Ada yang mencarimu.” Ujarnya lalu ingin berbalik meninggalkanku. Aku menahan tangannya.

“Oppa, sedang apa kau disini? Siapa dia?” Ahri menarik lenganku dan memandang tanganku yang menggenggam tangan Eun Kyo.

“Kau sudah selesai makan?” tanyaku, Ahri mengangguk.

“Aku carikan taksi, kau bisa pulang sendiri kan?” aku melambai pada sebuah taksi dan menatapnya. Ahri cemberut dan menghentakkan kakinya.

“Shireo! Aku maua diantar!” rajuknya. Aku menatapnya tajam, dia tidak bisa berkutik selain mengikuti perintahku.

“Aku mau malam ini kau menjemputku!” ujar Ahri dengan keras. Aku menutup pintu taksi dan menyuruh untuk segera jalan. Tanganku masih menggenggam tangan Eun Kyo. Dia tidak menatapku.

“Tolong berhenti mencariku, membuatku tertekan.” Dia berkata lemah.

“Tertekan karena apa? Kau aneh.”

“Aku tidak ingin mengingat apapun, dan tolong menjauh dariku.”

“Jika aku tidak mau?” aku menariknya mendekat padaku.

“Aku yang akan menjauh.” Ujarnya lemah. Aku hanya bisa menghembuskan nafasku.

“Baiklah, jika kau tidak ingin aku bertanggungjawab. Bisa aku tau alasannya?” ujarku masih menatap matanya.

“Hufh, aku tidak ingin menikah karena terpaksa. Bukan karena kau harus menikahiku, aku ingin karena cinta.” Ujarnya.

“Mungkin aku trlalu dini menyimpulkan ini, tapi aku memang mencintaimu.” Aku benar-benar mencintainya, itu hal yang paling jujur yang pernah aku rasakan dalam hidup.

“haha.” Dia tertawa sinis. “Park Jung Soo~ssi..” dia mentapku setel tertawanya reda. “Aku bukan anak sekolah yang bisa kau bohongi dengan menyatakan cinta padaku lalu aku percaya begitu saja?” terlihat sekali dari matanya dia tidak mempercayaiku.

“Kau tidak percaya?” aku menariknya ke tempat yang lebih sepi karena orang berlalu-lalang dan menoleh pada kami. Aku menariknya ke sebuah bangku di bawah pohon.

“Kalau aku tidak mencintaimu, untuk apa aku mencarimu? Eoh?” dia menutup telinga.

“Aku ingin kita tidak bertemu lagi. Aku sudah minta ijin pada Siwon aku hanya akan bekerja dirumah dan mengenai lapangan sepenuhnya Kyuhyun yang menangani.” Aku terkejut mendengar pernyatannya. Begitu tidak ingin dia bertemu denganku?

“Park Eun Kyo, kau tidak bisa lari dariku. Aku bisa pastikan itu, kau suka atau tidak.” Ujarku datar. Dia berdiri.

“Terserahmu saja. Jika kau yang tidak mau menjauh dariku, aku yang akan menjauh dari semua.” Aku menarik tangannya, lagi. Dia terhenti.

“Apa maksudmu? Eoh? Kau ini sebenarnya kenapa? Jangan mengkhawatirkan semua orang.”

“Tidak perlu mengkhawatirkan aku, aku memang egois, kau mau apa?”

“Lantas atas dasar apa kau tidak mau menerima tanggung jawabku?” dia menghentak tangannya dan tanganku terlepas darinya.

“Aku tidak butuh lelaki, kau tidak dengar?” dia mendekatkan wajahnya padaku dan menatapku tajam. Park Eun Kyo, kau suka atau tidak, aku tetap akan mengejarmu hingga dapat. Hingga ikatan itu terikat kuat, tanpa ada yang bisa memutusnya.

Author’s POV

Seperti pagi-pagi sebelumnya di sebuah kafe yang terletak di pinggiran kota, sealu diawali dengan sebuah pertengkaran kecil antara Rae Na dan Kibum. Eun Kyo terlihat malas untuk menghentikan pertengkaran mereka dan hanya berdiam diri menghabiskan makanannya.

“Onnie~ya, kau kenapa? Masih sakit? Mukamu masih pucat.” Ujar Rae Na menyapa Eun Kyo yang dari tadi hanya diam. Dia mengaduk makanannya, memakannya dengan enggan.

“Kau tidak suka? Biar aku buatkan lagi.” Ujar Kibum.

“Ani, aku hanya tidak nafsu makan.” Ujar Eun Kyo sambil menatap kedua adiknya. Meyakinkan mereka bahwa dia baik-baik saja. Perutnya pagi ini memang tidak enak karena tadi malam dia tidak makan apapun.

“Kau sakit?” tanya Rae Na khawatir. Eun Kyo menggeleng.

“Kau terlihat tidak sehat Onnie~ya, aku antar ke dokter?” tawar Rae Na.

“Shireo!” jawab Eun Kyo cepat. Rae Na dan Kibum terkejut dan menghentikan makannya.

“Maksudku, maksudku aku tidak apa-apa.” Ujar Eun Kyo cepat melihat dia dipandang aneh oleh kedua adiknya.

“Annyeonghaseyo..” suara dari depan membuat mereka menghentikan acara makan kita. Mereka bertiga saling berpandangan.

“Wae? Nugu~ya? Kafe belum buka.” Ujar Kibum sambil mengomel. Rae Na melihat Kibum mengomel berniat menggodanya.

“Yeoja? Mungkin dia fansmu?” goda Rae Na dengan suara konyolnya. Eun Kyo berdiri dan menuju pintu depan untuk membukakan pintu tamu yang baru saja datang.

“Annyeonghaseyo Onnie~ya.” Gadis itu menyapa Eun Kyo.

“Kau?” Eun Kyo menunjuk gadis itu.

“Aku mencari Key.” Dia masuk ke dalam mencari Key. Yui.

“Key Oppa, aku membawakan makanan penutup untukmu.” Yui membuka kotak makanannya dan menyerahkannya pada Key. Key terlihat kesal dengan kedatangan Yui.

“Mau apa kau kesini?” tanya Key kesal. Yui tidak memperdulikannya. Eun Kyo dan Rae Na memperhatikannya dengan seksama. Eun Kyo menghela nafas melihat gadis itu. Setelah sekian lama dia tidak pernah bertemu.

“Oppa, kau suka kue buatanku?” tanya Yui selalu mengikuti Key yang sedang mempersiapkan Kafe.

“Rasanya lumayan.” Jawab Key dingin.

“Aku ingin belajar memasak darimu, boleh kan?” Yui menatap Key dengan penuh harap sementara Key menatapnya tanpa ekspresi. Diam tak menjawab.

“Onnie~ya, boleh aku bekerja disin?” teriak Yui pada Eun Kyo. Eun Kyo hanya diam.

“Boleh?” Yui mendekati Eun Kyo.

“Yui~ya, kau kan tau bagaimana keadaan ekonomi kami?” Yui Mengangguk.
“Arasseo.. tapi aku mau tanpa dibayar.” Jawabnya polos.

“Aish! Kau ini.” Eun Kyo memukul pelan kepala Yui. “Tidak ada yang bisa menolak permintaanmu.” Eun Kyo akhirnya naik keatas, mengunci dirinya dikamar. Namun sebelumnya Rae Na mencegatnya.

“Yui? Nugu~ya?” tanya Rae Na penuh selidik. Gadis ini penuh rasa ingin tau terhadap segala hal.

“Dia? Memangnya kenapa?” tanya Eun Kyo balik bertanya.

“Ani, sepertinya kau sudah lama mengenalnya.” Jawab Rae Na.

“Ani, dia anak teman Eomma.”

“Kau? Seakrab itu? Sampai tidak bisa menolaknya?”

“Rae Na~ya, aku tidak ingin membicarakan semua ini, aku lelah.” Eun Kyo memijit kepalanya. Rae Na membiarkannya mengunci diri dikamar.

“Onnie~ya, aku beberapa kali didatangi Teuki Oppa. Apa kalian punya masalah?” tanya Rae Na dengan volume sedikit keras.

“Ani, sebaiknya kau menghindar darinya.” Jawab Eun Kyo. Rae Na semakin penasaran terhadap apa yang terjadi antara Eun Kyo dan Teuki.

***

Didalam mobil Rae Na terlihat kesal dengan Minho disampingnya, karena alasan terlalu malam dia baru menyelesaikan pekerjaannya dirumah Minho, Minho memaksanya untuk yang kesekian kalinya mengantar Rae Na. Ditengah perjalanan menuju rumahnya ponsel Rae Na berdering. Rae na menatap layar ponselnya.

“Key?” gumamnya lalu mengangkat telponnya.

“Mengapa menelponku?’ sambar Rae Na saat dia menekal tombol ‘answer’.

“Yak! Noona menghilang.” Suara Key terdengar panik di seberang sana. Rae Na menjadi bingung.

“Mwo? Apa maksudmu menghilang?” tanya Rae Na heran.

“Dia tidak ada dikamarnya. Dan aku menemukan benda di dalam kamarnya.”

“Benda? Benda apa?” tanya Rae Na cemas.

“Aku.. menemukan tes kehamila di dalam kamar mandinya.” Rae Na tidak bisa menjawab. Mulutnya menganga lebar, tidak percaya dengan apa yang terjadi. Setelah beberapa menit terpaku dia memencet salah satu nomor di ponselnya.

“Yeoboseyo? Oppa? Bisa kita bicara? Onnie, Onnie menghilang, ah mianhae aku lancang, tapi kau bilang jika terjadi sesuatu dengannya aku harus menghubungimu.”

“Mwo? Siapa yang menghilang?” tanya Minho menoleh pada Rae Na. Rae Na menoleh pada Minho dia tidak bisa menjawab.

“Nde.. nde Oppa. Arasseo.” Rae na menutup ponselnya. Dia langsung panik.

“Onnie, dia menghilang. Akhir-akhir ini memang dia terlihat aneh namun aku tidak menyangka jika dia sepengecut itu! Yak! Onnie~ya! Mengapa selalu menyimpan masalahmu sendiri, oeh? Kau kira kau siapa?!” Rae Na memukul dashboar mobil Minho. Minho mengelus dashboar mobilnya.

“Stop!” teriak Rae Na. “Hentikan mobilnya!” teriaknya lagi. Minho segera menginjak pedal rem dan mobil berhenti. Rae Na membuka pintu mobil Minho dan berlari.

“Hyun.. Hyunseung Oppa…” panggilnya lirih. Dia mendapati seseorang yang dipanggilnya Hyunseung bersama seorang gadis.

“Rae Na?” jawab Hyunseung salah tingkah. Rae Na memandang gadis yang dirangkul oleh Hyunseung dan kemudian dia berbalik meninggalkan mereka. Rae Na membuka pintu mobil Minh dengan kasar, dan duduk diam disamping Minho.

“Wae gurae?” tanya Minho. Rae Na tidak menjawab, hanya tetesan airmata tanpa suara yang menjawab pertanyaan Minho.

“Aku mau pulang.” Jawabnya sambil mengusap pipinya dengan punggung tangannya. Melupakan jika hari ini dia kehilangan saudaranya.

 

Eun Kyo’s POV

 

Aku tau mereka pasti mencariku. Aku tidak ingin mengkhawatirkan mereka, namun ternyata aku tau mereka mengkhawatirkanku lebih dari apa yang aku bayangkan. Hari ini aku membeli sebuah tes kehamilan d super market. Aku membelinya karena beberapa hari terakhir aku merasa ada yang beda denganku. Teringat kembali beberapa hari yang lalu percakapanku dengan Rae Na.

“Onnie~ya, kau sudah datang bulan? Biasanya kau datang bulan setelahku, dan membuatku repot dengan nyeri haidmu itu.”

Aku baru sadar jika aku terlambat datang bulan sudah 1 minggu hingga kini  tak kunjung datang. Aku mencobanya dirumah dan hasil benar-benar tidak bisa aku percaya. Aku terus berjalan menyusuri jalanan kota Seoul yang dingin. Bagaimana mungkin, bagaimana mungkin hanya dengan sekali bisa terjadi seperti ini? Aku tidak ingin mempercayainya. Tapi seorang yang ahli dalam hal itu, aku tidak mungkin tidak mempercayainya.

“Selamat, Anda sedang mengandung.”

Kata-kata itu terus terngiang di telingaku. Bagaimana aku bisa seceroboh ini? Eoh? Tidak bisa menjaganya dengan baik. Aku membencinya. Membencinya yang tidak meminta ijin padaku saat menyentuhku. Tapi sekarang aku lebih membenci diriku sendiri yang tidak bisa menolak saat itu. Sama sekali tidak bisa menolak. Masih terasa dikulitku sentuhan itu, meski aku tidak bisa berpikir jernih waktu itu, aku bisa merasakannya. Masih merasakannya sampai saat ini, bahkan saat dingin seperti ini aku masih bisa merasakan sentuhannya di kulitku. Aku mengeratkan pelukanku pada diriku sendiri. Aku merasa jijik dengan tubuhku sendiri. Ciuman itu masih terbayang di benakku, aku tidak bisa mengenyahkannya dari ingatanku. Aku tidak tau berjalan kemana. Dari tadi ponselku berbunyi, entah berapa nama yang ada di daftar registerku. Tapi aku yakin yang paling sering menelponku adalah Key. Aku terus berjalan hingga sampai pada sebuah rumah besar. Aku memandangi rumah itu. Terpaku sendiri berdiri tanpa ingin beranjak.

“Onnie~ya?” seseorang menyapaku dan menyentuh tubuhku, aku refleks menghindar.

“Onnie, ini aku Yui.” Aku menoleh padanya. Benar, yang ada dihadapanku adalah Yui.

“Ayo masuk, mengapa berdiri diluar?” tanya Yui.

“Ani, aku, aku,aku..”

“Ayo kita masuk.” Yui menarikku dengan paksa. Aku berhenti.

“Wae? Eomma tidak ada, kau tau bagaimana kesibukan Eomma.” Dia menarikku lagi, aku melangkah mengikutinya.

“Onnie, kau mau minum apa? Menginap disini saja, ye?” tanya Yui pada Eun Kyo. Eun Kyo menatap Yui ling lung.

“Onnie~ya, kau kenapa? Key mencarimu seperti orang gila. Kau menghilang, tadi kemana saja?” aku masih tidak bisa mencerna perkataan gadis kecil dihadapanku ini.

“Biar aku telpon Key Oppa, biar dia tidak cemas.” Aku menahan tangan Yui yang ingin meraih gagang telpon.

“Andwae, aku hanya sebentar disini.” Ujarku mencegahnya.

“Nde? Onnie, kau baik-baik saja? Eomma tidak ada jika kau tidak ingin bertemu dengannya. Kau tidur disini, ne?” aku mengeleng. Pelayan rumah ini menyuguhiku teh hangat. Aku memegang gelas itu dengan erat untuk menenangkanku.

“Onnie, kau punya masalah? Katakan padaku.” Ujar Yui sambil memegang tanganku. Aku sekali lagi menggeleng. Dia menghela nafasnya.

“Kau terlihat mengkhawatirkan Onnie~ya, kita masih saudara kan? Kita, maksudku kau jangan bersikap seperti orang lain.” Aku memandanginya tanpa ekspresi. Dia menyentuh wajahku. Yui, dia memang saudaraku. Tidak ada yang tau. Aku dan dia adalah saudara tiri.

“Boleh aku menumpang mandi?” aku menadang Yui. dia mengangguk dan membawaku ka dalam kamarnya yang besar.

“Apa Eomma sering tidak pulang?” aku menoleh padanya. Yui hanya tersenyum. “Dia bersikap baik padamu?” tanyaku lagi. Dia juga menjawab dengan senyuman. Aku sudah sampai dikamar mandinya, dia menyerahkan handuk padaku.

Aku mulai membuka bajuku. Membuka bajuku artinya semuanya tak terkecuali. Aku menghindari cermin besar yang ada di kamar mandi itu. Karena melihat tubuhku yang seperti ini membuatku merasa risih. Aku menyalakan shower dan membiarkan titik-titik air membasahi rambutku hingga turun ke tubuhku. Aku terdiam sejenak. Rasanya menyesakkan menerima kenyataan hidupku seperti ini. Aku tidak ada bedanya dengannya, sama sekali tidak ada bedanya. Eomma.

Eomma belum meninggal, dia masih ada dan hidup dengan nyaman. Aku mengatakannnya meninggal kepada Rae Na karena memang dalam hidupku dia sudah meninggal. Aku tidak membencinya namun tidak ingin menganggapnya ada. Dia yang tega meninggalkan suami dan anaknya demi orang lain. Hanya karena dia jatuh cinta dengan orang lain beberapa saat setelah melahirkan Rae Na. Kala itu aku masih kecil, namun pertengkaran demi pertengkaran masih terekam jelas dalam ingatanku. Bagaimana wanita itu pergi dengan lelaki lain di depan mataku, dan bercumbu saat membawaku. Aku bisa melihatnya dengan jelas dan aku saat itu orang yang berpikiran cerdas bertubuh anak-anak. Aku bisa mengerti bagaimana kesakitan Appa, bisa mengerti bagaimana kecewanya Appa. Dan aku, tidak bisa memaafkan diriku saat wanita itu mabuk dan menceritakan semuanya.

“Eun Kyo~ya, kau tau? Betapa aku tersiksa hidup dengan Appamu? Lelaki yang berpenghasilan kecil dan tidak bisa membahagiakan kita. Aku menyesal hidup dengannya. Aku dan dia menikah karena adanya kau, kau yang membuat semua jadi berbeda. Aku menikah karena tanggungjawabnya terhadapku yang tengah mengandung dirimu. Dan kini, kini aku telah menemukan cintaku, apa aku salah jika aku meraih kebahagiaanku?”

Kata-kata itu menghantuiku beberapa tahun lalu. Karena aku semua ini terjadi. Tapi apa mereka tidak memikirkan keadaan kami sedikitpun? Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Dan kini, kini semua itu terjadi padaku. Aish! Apa yang harus aku lakukan? Bersikap seperti Eomma? Namun bagaimana jika aku menemukan seseorang yang aku cintai setelah aku menikah? Apa yang harus aku katakan pada anakku nantinya? Bahwa aku tidak mencintai Appanya? Eoh? Itu sangat menyakitkan. Aku menyabuni tubuhku, tangan, lengan, dada, leher, namun tanganku berhenti di area perut.

“Apa yang harus akulakukan? Menerimanya? Bukan, bukan, bukan kah aku sudah menolaknya? Tidak mungkin dia memintaku kembali.” Aku mengusapnya beberapa kali. Hingga sampai ke kakiku. Setelah itu mengguyur badanku dengan air. Lalu mengeringkan tubuhku dengan handuk.

Aku berpakaian rapi saat keluar dari kamar. Yui sudah menungguiku di luar kamar. Aku menatapnya nanar. Dia balas menatapku dengan iba. Aku benci dikasihani.

“Aku mau pulang Yui~ya.” ucapku serak. Aku berdehem untuk mengembalikan suaraku.

“Biar supir yang mengantar.” Dia menarik tubuhku menuntunku pergi ke depan rumah.

“Onnie~ya, kau benar baik-baik saja?” tanya Yui, kekhawatiran terukir jelas diwajahnya. Aku berusaha menarik bibirku membentuk sebuah senyuman mengusir kecemasan Yui.

Aku duduk di jok belakang dengan diam. Supir Kim juga tidak berusaha mengajakku berbicara, mungkin melihat keadaanku yang sedikit kacau hingga dia memilih diam.

“Sudah sampai Agasshi.” Ujarnya sambil membukakan pintu. Aku menginjakkan kaki ke tanah. Saat aku keluar dari mobil, tiga orang berdiri di depan rumah. Key terlihat sangat cemas, seorang lelaki disampingya terlihat datar, sedang Rae Na, terlihat emosi dimatanya.

“Kau keman saja?” tanya Rae Na cepat.

“Aku lelah mau istirahat.” Aku menghindari mereka. Namun sebuah tangan menarikku. Aku menoleh ke belakang dan kenyataan bahwa aku sudah ternoda kembali terpatri dibenakku melihat wajah yang ada dihadapanku. Kenyataan aku pernah disentuh, tapi sentuhan itu memunculkan rasa takut dan kegelisahan yang amat sangat, membuatku merasa jijik terhadap diriku sendiri karena aku tidak ada bedanya dengan orang yang selama ini ingin aku lupakan.

“Kita menikah saja.” Ujarnya sambil menatapku, aku tau dia memberiku sebuah keyakinan, apa aku harus menerimannya? Aku merasakan aliran airmata yang membasahi pipiku. Setetes airmata lolos dari pertahananku. Aku tidak mengerti apakah ini airmata bahagia atau airmata kekhawatiran. Dia mengusapnya dengan salah satu ibu jarinya, bergantian, kiri dan kanan.

“Ayo kita menikah.” Ulangnya lagi.

TBC

 

Note : sudah lama menunggu? Mian… aku lagi tidak punya ide dan ini semua tentang Teukyo, inti ceritanya kalian bisa menangkapnya kan? Aku menodai diri sendiri, mian, aku tau ini ceritanya ngalor ngidul banget, aku kehilangan feel buat diriku sendiri. Hufh, ga tau neh tulisannya mengecewakan, selalu begitu yah aku yah? Hanya saja memang seperti itu, bukan merendah untuk meninggi bukan… aku memang lagi ga terlalu mood nulis karena sesuatu hal yang tidak bisa aku sebutkan, mungkin hanya Rae Na yang tau karena dia sok tau jadi peramal. Terima kasih sudah ada yang menunggu. Buat Mia, maaf aku lagi belum punya ide sayang buat kamu… terus ini juga semua idenya adalah ide Rae Na. Cuman bagian aku doang yang ide aku sendiri, tidak ingin membebankan semua ide padanya. Gamsahamnida sudah mau membaca oret-oretan aku ini *itu kata Rheiza aka han hyo min. Dan jangan protes aku ga edit ini tulisan…

57 responses »

  1. Eonnnyyyyy~~
    Sukaaaaa.. >¤<

    Btw, banyakin crita ttg Jina ma Donghar donk eon.. =P
    ​​​‎​​​secara mreka nikah krna perjodohan,
    Jdi psti ada tingkah" mreka yg agak aneh.. =DD
    hehe..

    Mungkin 'itu' caranya Teukie biar eonny mau nikah ama dia.. =P
    Hahaha.. Gapaa eon..
    Asik kok crita'na bikin penasaran..
    Ga sabarr akuu nunggu next part.. Kyaahh~..
    Bikin eunkyo cinta mati sama teukieee…
    Hahaha…

    Makin lama makin cinta ma teukie nie aku,
    Smua gr" FF'na eonny.. C=

    • gomawo syg… udah suka…
      ini feelnya kemana2…
      jinhae? nanti yah kalo ada ide…
      ini ceritanya intinya cerita Teukyo…
      tapi g gtu juga kali caranya…
      Teuki : tapi kan km jg suka bebeh..
      aku : *melotot*

      astaga… bertebaran lah pesona teuki di jagad bumi ini biar banyak yg suka… tapi dia hanya cinta mati sama aku…

  2. wahh kalo appanya teukppa ga dtg apa yg akn terjadi?😀
    jina dgn haeppa nikah jga, kasihan sungmin oppa. Sungmin oppa dgn aku aja..
    Akhrnya kyu berani jga nyatain perasaannya kirain bkalan gengsi mulu, nanhee aneh deh hbis ngelakuin itu kok mlah pkiran yg lain ya? Tpi bgus it artinya nanhee bner2 shbat yg syg bnget dgn eunkyo. Nanhee udh mulai mikiran kyu dan nolak wonppa, pesona kyuppa bner2 yah.. Eunkyo ayo mau aja nikah dgn teukppa.

  3. itu anugrah apa musibah ya? kalo ternodanya ma oppa???*plak*
    sepertinya ini pendek,bener ga fik?
    yang nikah jina tapi kenapa yang bulan madu malah teukyo ma kyuhee

    oppaaa berjuang meluluhkan hatinya eunkyo,,,,
    kalo masih ga mau juga langsung tarik aja ke KUA,,kawinin ma penghulunya*plak*

    “aku tidak butuh laki laki,”
    =>eunkyo sok jual mahal deh ahhhh,,padahal mau tergila2 bgt ma oppaa

    nanhee sudah sedikit sadar kalo dia punya rasa ma kyu ya

    sapa lagi tuh hyunseung,yui,song ahri,,,,aigoooo,,
    pusing aku banyak nma,,,mana kaga kenal semua,,

    part kali ini adalah kawin massal,,bener ga fik?*ditendang*
    onn mo dikawinin juga dong ma bang enchung tercinta*nyari bang enchung buat tidur bareng*

    komen dilanjut besok karena saya ngantuk,,
    good night,,,,

    • anugrah onn, anugrah banget…
      pendek? engga ko onn, ini udah 28 halaman, kebanyakan narasi onn, inti cerita ga trlalu fokus…
      mknya terlihat sedikit…
      juga karena 4 couple plus 1 couple baru…
      jadi semua porsi g sama ky MLT…
      enak aja tarik KUA..
      terkadang aku berpikir tidak butuh lelaki onn, suer sumpah…
      si saya lagi galai mknya tulisannya begono…
      hyunseung ga kenal? anak Beast paling inut setelah ucup…
      Yui yang menang kuis onn…
      kalo ahri mah itu hayalan semata, biar lebih berwarna…

      kahahahahahahahhahawin massal? MP massal bener onn…
      jangan onn jangan, jgn nanti aja… onnie nanti aja…

  4. onnie~ya, teukyo couplenya kurang banyak *slapped*
    T_T

    minna nya juga kurang u.u

    eon, kau tega membuat ‘ahjussi’ itu frustasi karena dirimu sendiri eon. Teganya…
    jangan jual mahal gitu eon, tak tahukah kau betapa menderitanya ‘ahjussi’ itu? *dihajar teukppa gara” manggil ahjussi*

    lihat dia makin hari bertambah kurus huffft *hela nafas*

    tapi udah bagus ceritanya😀
    next part, minna+teukyo nya dibanyakin yah? hehehe
    jal jayo

    • masya allah, aku udah keriting khilangan ide…
      next part semoga teukyo sama Minna banyak, spertinya mungkin emang banyak… mungkin, atau mungkin bisa juga ga ada, wahahahahaahhaaha.
      kurus mah salah dia sendiri, banyak duit kaga mau makan…
      iya… next part diusahain teukyo sama minna banyak…

      • aq sbnr’y kasian sm siwon, namja hampir perfect yg sllu d’kejar2 cwe mlah jd begono noh *nunjukin won2 yg mabuk krn patah hati*
        siapa tuh yeoja yg ngebet nikah sm teuki.. sm siwon aja tuh,mmpung dia blm ada psgn..
        dan siapa yeoja yg brsma hyunseung eoh? *jambakin tu yeoja* #lol

        Eonnie,tega kau mmbohongi q klo perempuan itu tdk metong #plakk
        klo raena tau yg sesungguh’y apa yg bkal gadis aneh n ceroboh srta tempramen itu akn lakukan? *ngehinabangetnih* wkwk

  5. Wah teuki ngapain eunkyo???
    It bener” ksempatan dlam ksempitan…

    Wah ada pmain baru nhe…
    Makin bnyak dah konflik.a…
    Part ini seru kok on.. Feel.a dpt kok..

    Dtnggu lanjutan.a ya on

  6. berasa galau bacanya -3- maaf onn baru muncul lagi, aku ngga nyangka bakalan dibuat hamil diluar nikah kaya gini u.u tapi ya onn, yang Kyuhyun juga sama ya? Yang di kamar onn~ di pulau jeju~ haha
    aku geregetan sendiri sama Eunkyo! Susah banget diajak nikah sama Eeteuk~~~ kalo masalah Siwon .. Aku belom bisa nebak jalan ceritanya-_- dia punya part penting di ff ini ngga si onn? –‘a
    baru di ff ini onnie membicarakan tentang keluarga, biasanya engga -.- cuma Eunkyo sama Raena doang~

  7. *speechless*
    owoooooo bener2 colourfull kisah cintanya, baca dari atas sampe bawah bkin gemes >.<
    dan ada apa di pulau jeju? kyaaaa knp kayak tempat favorit buat begitu unn? *polos*
    bnrn ga nyangka bakal di luar nikah si nanhee sama eunkyo
    knp jalan pikiran eun-kyo itu susah banget di tebak si unn? aku dari MLT smpe CL bnrn ga ngerti sm jalan pikiran eun-kyo
    kayak,a yang lumayan itu donghae ya? yah walaupun agak miris nasib umin, tapi mau gimana? mereka sama2 cinta *sotoy*
    kalo minho sama rae-na tau deh mau komen apa, tiap hari berantem mulu, kalo aku jadi minho udah aku seret ke depan altar, bodo deh abis itu mau ngomel juga, toh udah resmi ini, mau dia apain aja juga boleh #plakkk

    • engga ko, pulau jeju bisa untuk apa saja, hanya saja byk yg bikin itu tempat bulan madu…
      aku memang susah ditebak, mood2an sbnrnya tp berusaha perfect dengan ketidakmampuan, wahahahahahahaahahaha, pede, tp aku kdg emang org yg egois…
      minna mah mau kemana jg tetap rae na nya pemarah bnrn mau gimana lagi? *lirik Na*

  8. ga usah perfect kan jungsoo nerima eunkyo apa adanya hahaha
    aku mau nebak ceritya nih takut salah lagu -_- kmrn nebak eomma,a yang dateng ternyata appanya
    aaa aku nunggu part selanjutnya uun, juga nunggu MLT kangen ibu hamil muda yang labil :p

  9. huwaaaa eoni, akhrnya aku sls bacanya jg…

    Aigoo yg nikah hae-jina tp knp yg pada kawin kyuhee n teukyo… Y ampun…

    Dan omo ternyata aku jd adik ipar drimu…huwaaa kisahnya tragis amad dah eunkyo eon n rae na eon..
    Oh itu toh yg bkin eunkyo eon jd cwe dingin… Jd sedih, dan omaigad drmu hamil eon? Huwa chukae dan teuki drmu sgt gantle dh…
    Suka…suka…

    Wah tbc nya d wkt yg tepat dan menambah rasa pnasaranku,..
    Pkknya part 5 d tunggu…

    • bukan… kita mah sodara tiri…
      lah elah saya hamil dikasih selamaaaaaaaattt

      part besok mungkin tamat, maksa bgt yah?
      aku tetlalu puyeng, tapi mungkin gantinya sequel ini dan masalah keluarga lagi, bukan masalah warna-warni cinta, mian… mungkin masalahnya dipersempit dengan masalah keluarga kita…

  10. eonnie trima aja lamaran teuki oppa..hehehe..
    Raena g tw ya klo omma msh hidup???yui suka ya key???
    Waduh,siwon gmna c kmren suka ma eonnie skrg malah suka ma nanhee??untung nanhee malah mikir kyu oppa,gara2 dah…jd mikirx kyuhyun oppa g bsa yg lain,hehehe..
    Suka ma alurx cma agak cepet ya(ngerasanx)..hehehe..

    • iya agak cepet syg, dan mgkn part dpn tamat untuk CL
      aku malah ikut pusing sm konfliknya, mnyerah, mgkn nanti dpersempit konfliknya.
      sequelnya mgkn keluarga park-shin…
      biar aku g pusing, 4 couple membuatku puyeng…

  11. kirain komenku kgak masuk, eh ternyata ada ya..
    Onnie mah nolak mulu di ajak nikah, ntar ujungnya mau jga #plakkk
    partnya hae ma jina dong yg bru nikah kira2 khdupan brunya seperti apa.. Di tnggulah next partnya :*

  12. Nikah aja , biar ga galau trz pikiran’a. . . .unnie ak kira teukyo g bkal ada akur”a lg . .jangan sampe kya gt dhe ya . ,

    rae na ya ampun kasian kerja ksana kmri trz . . . Kasian . . .tp ak nunggu kelanjutan hbngan mereka hehe . .

    Jina donghae kog ga da so sweet”a . . Emmm apa blm ada ? Biasa’a kan pasangan ini beeuhh bgt . . .

    Ak tnggu kelanjtan dr semua kopel . _.

  13. @JinHae.. moga bulan madu’y sukses..

    @KyuHee.. hohohoo malah ngeduluin jinhae..wkwk

    @Teukyo, astagaa.. oppa,kau apakn eonnie q eoh?! #prangdzingzangbrukk *ngamuk*
    eonnie,huwee.. knp hrus sprti ini? hiks.. ;( sabar key,sabar *elusin punggung key* #apaandeh

    @MinNa, ohohoo..mkin hr mkin d’pksa.. senang skli kau melihat q sengsara kodok belo..aish!! *cincang si galah*
    si abang hyunseung udh mncul nih..wkwk kodok,tunggu tgl main’y #lol

    @KeYui, owh.. jd yui mnyukai key,. bukalah hatimu utk’y key..

  14. Jeongmal ? apakh saia terlihat seperti seorang peramal ???

    Klo begitu, ayo NYI RAE NA, kita meramal, khaja *ngambil bola krystal pembaca situasi* minhoakusayangpadamutapikaulebihsayangpadakulebihcintapadakumelebihiakumencintaimu *komat-kamit bca mantra* #cling *bola krytsal brcahaya*
    owh,pemirsa.. bola krystal mngatakn bhwa MinNa is Real.. n ttg TeukKyo.. sdh trsedia rahasia yg indah d’penghujung’y #plak *sotooykumad* tp end’y akn sdkit aneh n sdkit mnyimpang..harap maklum.. #lol

    Bayar !! *nadah tgn*

  15. asik~~~ berarti aku ngga harus penasaran terus~ hahaha #digampar
    onn mau tau ngga~ ? aku sekarang udah bisa bikin ff juga lho~ udah aku post juga di WP sendiri \^o^/

      • engga dong onn~ akukan Kyuhyun biased~~~ aku ngga punya feel kee Siwon, sama sekali hahahaha
        ngga apa-apa onn~ yang penting ada Teukienya :3 :p daripada ngejelimet muter-muter terus, mending langsung ada penyelesaiannya u.u

  16. Aq sukaaa..
    Part teukyo’y bnyak..
    Itu nasib sungmin oppa gmnaa y?
    Sungmin oppa’y sma aq aja dh..😛
    Hyaa, hyunseung itu sapa? Apa hubngan’y sma raena?
    Aah, pnasaran.. Lgsng lnjut k part brikut’y..

  17. bener2 trjd sesuatu tryt#nanhee hamil jg ga th?
    jd itu th alsan.a eun kyo sulit trima teuki, dia takut…..
    key jutek bgt si sm yui?

    kasian bnr abng siwon, gdpt dua2.a

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s