Money, Love and Trouble (Part 12)

Standar

MLT 12

Berhenti di sana sebelum aku menunjukkan air mata
Berhenti di sana sebelum perpisahan datang
Sehingga kau tidak bisa meninggalkan aku

Dan pergi dari sini

Waktu tolong berhentilah

Mengatakan perpisahan

Bagaimana aku seharusnya?
Bagaimana seharusnya aku mengirimmu pergi sambil tersenyum
 Aku tidak bisa melakukan hal semacam itu

Aku akan berpura-pura tidak mendengarnya
Jangan mengatakan apa-apa dan berhenti di sana
Semua itu hanya kata-kata

Semuanya tidak masuk akal
Bagaimana kau mengucapkan selamat tinggal padaku
Aku tidak mengerti kata-kata itu

Aku akan berpura-pura aku tidak mendengarnya
Kaki yang berjalan pergi

Berhentilah di situ

(Time Please Stop – Davichi)

Jung Soo’s POV

Kedatangan wanita yang mengaku sebagai ibunya Ryu Jin membawa dampak besar dalam kehidupan kami. Meski dia tidak membawa Ryu Jin, hanya melihatnya saja, namun mampu membuat pola makan dan tidur istriku terganggu. Jarang makan aku bisa toleransi, bisa memaksanya makan meski harus dipaksa seperti anak kecil, tapi susah tidur? Aku tidak bisa memaksanya untuk tidur. Aku beranjak dari tempat tidur.

“Mau kemana Oppa?” tanya Eun Kyo sambil membelai rambut Ryu Jin. Aku menoleh padanya dan tersenyum. Dia menanti jawabanku.

“Aku ingin membuat kopi hangat.” Jawabku sambil melangkah dari kamar. Berjalan menuju pintu. Aku melewati ruang tengah dan mendapati Rae Na yang sedang menonton pertandingan bola.

“Oppa, aku satu.” Sapa Rae Na.

“Apa?” tanyaku.

“Kopi hangat, ingat hangat.” Pintanya.

“Em.” Jawabku sambil melangkah gontai menuju dapur. Sampai di dapur aku berhenti sejenak di depan meja. Aku melihat toples susu transparan milik Eun Kyo. Tidak berkurang tetap seperti seminggu yang lalu. Aku menghela nafas. Sedangkan susu Ryu Jin sudah hampir habis. Setan kecil itu kuat sekali minum susu. Tidak mearasakan ibunya cemas berlebih tentangnya. Aku mengambil 3 gelas dan menyeduh 2 gelas kopi dan segelas susu formula ibu hamil untuk Eun Kyo. Memberikan 2 sendok gula pada susu tersebut karena Eun Kyo suka sesuatu yang manis. Setelah selesai membuatnya aku meletakkan gelas kopi di meja yang ada di hadapan Rae Na. Lalu berlalu ke kamar untuk membawakan Eun Kyo susu. Aku yakin dia pasti belum tidur, sekilas aku melirik jam yang tergantung di dinding. Hampir jam 3 pagi.

“Kau tidak tidur Rae Na~ya?” tanyaku berhenti lalu menoleh ke belakang.

“Tanggung Oppa, lagian besok kan hari minggu.” Jawabnya. Benar juga, besok hari minggu. Gadis keras kepala itu kebiasaan jika hari libur, malamnya selalu tidur larut. Aku melanjutkan langkahku ke kamar.

Kubuka hendel pintu hingga berbunyi suara ‘klek’  dan menyembulkan kepalaku. Eun Kyo memandangiku dengan bingung. Aku tersenyum memandangnya. Benar kan? Dia belum tidur. Dia balas tersenyum padaku. Wajah cantiknya kini semakin tirus, tidak seperti kehamilan pertamanya yang membuatnya sedikit lebih berisi. Aku menghela nafas memikirkan semua ini, ikut tertekan dengan keadaannya.

“Aku membuatkan susu untukmu.” Aku menyodorkan segelas susu padanya. Dia berbalik memunggungiku. Aku terdiam sejenak.

“Yeobo, aku mohon sekali ini saja, minumlah, sudah seminggu kau tidak meminumnya. Kau jarang makan, itu yang dikatakan Min Young. Kasian anak itu sudah memasakkan berbagai macam makanan untukmu tapi kau jarang menyentuhnya.” Omelku lembut padanya.

“Tapi aku tidak haus Oppa.” Jawabnya lirih, terdengar memang dia tidak ingin meminumnya.

“Bukan seperti ini caranya kau protes terhadap keadaan.” Aku sudah mulai tidak sabar. Dia terdiam, menggerakkan badannya membenarkan posisinya. Ryu Jin menggeliat. Aku memandangi anak yang tertidur pulas disamping istriku.

“Kau lihat? Ryu Jin tetap disampingmu, dia tetap disini, lalu apa yang kau takutkan? Em?” tanyaku. Dia terdiam, tak menjawab.

“Wanita itu bilang, jika dia sudah punya uang baru dia akan mengambil Ryu Jin.” Jawab Eun Kyo bergetar, bisa kupastikan, bulir airmata menetes dari matanya.

“Ayolah Yeobo~ tidak kasian dengan anakmu yang lain? Eoh? Kau tidak paham jika dia kelaparan? Atau mungkin kehausan? Butuh vitamin butuh makanan untuk berkembang.” Bujukku pada Eun Kyo.

“Aku tidak ingin kehilangan Ryu Jin Oppa.” Dia berbalik menatapku, wajahnya terlihat memprihatinkan. Aku merangkak diatas tubuh Ryu Jin dan mendekati Eun Kyo. Meraih tangannya dan menariknya untuk duduk. Menahan punggungnya agar dia tidak lagi kembali berbaring.

“Dan aku tidak ingin kehilangan bayiku, palliwa, minum.” Aku mendekatkan cangkir susu kemulutnya.

“Hemph! Aku tidak suka baunya, aku tidak suka rasa vanila.” Tolaknya. Dia menutup mulutnya dengan tangan. Aku melepaskan tangannya dengan salah satu tanganku.

“Jangan seperti anak kecil, nanti tumpah Yeobo.” Aku masih berusaha membujuknya dengan lembut. Dia bersikeras menutup mulutnya. Aku mulai hilang kesabaran.

“Minum atau aku paksa.” Ancamku dengan nada dingin. Dia tetap menggelengkan kepalanya. Aku terdiam dan memandangnya tajam.

“Minum sekarang.” Dia mengalihkan wajahnya kesamping masih tetap menutup mulutnya.

“PARK EUN KYO! Kau jangan kekanak-kanakan! Kau bahkan lebih kekanakan dari Ryu Jin! Meminum ini saja tidak akan membuat kau mati atau membuat Ryu Jin pergi!” aku berteriak padanya. Membuat Ryu Jin tersentak dan bangun dari tidurnya. Aku tidak memperdulikannya.

“Appa..” seru Ryu Jin lemah dan mengusap wajahnya.

“Kau membuatnya terbangun.” Jawab Eun Kyo sambil mengusap kepala Ryu Jin.

“Kau yang membangunkannya! Jika kau meminum ini aku tidak akan marah seperti ini!” aku benar-benar kehabisan stok sabar. Dia semakin seperti anak kecil.

“Hiks!” Ryu Jin cemberut dan matanya berkata-kata.

“Eomma..” ucapnya lirih dari bibir mungilnya. Dia terisak sebelum menangis. Menggigit jarinya dan setetes airmata lolos dari matanya.

“Appa tidak marah padamu.” Aku menatap tajam mata Ryu Jin, dia memeluk Eun Kyo. Menangis di dada Eun Kyo.

“Kau membuatnya takut.” Eun Kyo membalas pelukan anak itu.

“Ryu Jin~a! Berhenti menangis! Aku tidak marah padamu, tapi pada Eommamu!” aku melepaskan pelukan Ryu Jin dan menyeka airmatanya.

“Oppa! Dia hanya anak kecil, tidak perlu memarahinya seperti itu! Kalau mau marah, marah saja padaku, jangan bentak anak ini!” Eun Kyo meraih tubuh Ryu Jin dalam dekapannnya. Ryu Jin kembali menangis, Eun Kyo menatapku tajam seolah aku lah yang bersalah atas keadaan ini.

“Shin Min Young!” aku memanggil Min Young dengan keras. Tidak ada jawaban.

“Rae Na~ya, panggilkan Min Young.” Aku menyuruh Rae Na memanggilnya.

“Ye, Oppa.” Sahut Rae Na dari luar. Aku masih menatap Eun Kyo tajam. Baru kali ini aku benar-benar marah padanya, hanya gara-gara hal sepele. Tak berapa lama selang waktu, pintu diketuk seseorang.

“Permisi, ini Min Young.” Jawab suara setelah ketukan pintu. Aku menatap kearah pintu.

“Masuk Min Young~a, pintu tidak dikunci.” Beberapa saat kemudian dia membuka pintu dan masuk dengan ragu ke dalam.

“Bawa Ryu Jin keluar, tidurkan dia bersamamu.” Aku mengambil Ryu Jin dari pangkuan Eun Kyo. Pada awalnya Eun Kyo menolak, tapi aku dengan keras merebutnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa.

“Eomma..” Ryu Jin berkata pelan, sesaat melirikku dan menggapai tangannya kearah Eun Kyo. Aku menghela nafas setelah Ryu Jin dan Min Young keluar dan hanya tinggal kami berdua.

“Puas membuat semua keadaan ini?” tanya Eun Kyo dingin. Aku tidak menjawab.

“Sekarang kau minum, sudah hampir dingin.” Aku mendekatkan lagi gelas susu ke mulutnya. Menatap matanya untuk memaksanya meminum. Dia akhirnya meminumnya susu itu sambil menangis.

Park Eun Kyo, bukan maksudku menyakitimu seperti ini. Aku tau kau takut, aku juga takut bahkan lebih takut darimu. Belum apa-apa kau sudah sekacau ini, bagaimana jika hal yang kami takutkan benar-benar terjadi, aku tidak bisa membayangkannya. Dia menghabiskan susunya dan menyapu airmata di pipinya. Aku mengambil cangkir yang ada di tangannya. Dia menutup mulutnya, seperti ingin memuntahkan apa yang masuk kedalam mulutnya, aku segera mengambil sisa biscuit yang ada di meja disamping tempat tidur. Sisa biscuit Ryu Jin.

“Makan ini.” Dia menggeleng, masih menutup mulutnya, dan airmata masih mengalir dipipinya. Sesekali terisak.

“Biscuit rasa pisang kesukaanmu dan Ryu Jin.” Aku menyuapinya. Dia mengunyahnya, urung untuk memuntahkan susunya. Dia menyibak selimut dan turun dari tempat tidur dan masuk dalam kamar mandi. Aku memandanginya yang menghilang dibalik pintu kamar mandi.

“Hufh, Mianhae Yeobo~ya, aku memang keterlaluan.” Aku mengusap wajahku. Beranjak dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar. Duduk disamping Rae Na, meraih kopi yang tadi aku seduh. Dingin.

“Sudah dingin.” Rae na juga meminum kopinya. Aku menghela nafas.

“Kau sedikit keterlaluan Oppa, tapi Onnie jika tidak begitu dia memang tidak akan berpikir dengan benar.”  Tambah Rae Na.

“Aku membuatnya menangis.” Aku bersandar di sofa.

“Gwaenchana.. dia tidak akan betah marah berlama-lama.” Ujar Rae Na menenangkan.

“Hufh, baru kali ini marah padanya.” Rae Na ikut bersandar.

“Tapi kali ini dia keterlaluan, tidak mau makan, jarang tidur, dan tidak meminum susunya sudah 1 minggu.” Ceritaku padanya.

“Terlalu sedih mungkin.” Rae Na memasukkan keripik kedalam mulutnya.

“Seandainya dia tidak hamil mungkin aku tidak akan memaksanya seperti ini.” Ujarku lirih. Aku tidak ingin kehilangan bayiku lagi. Tidak akan aku biarkan itu terjadi lagi.

“Benar juga.” Sahut Rae Na.

Aku melihat Ryu Jin dan Min Young keluar dari kamar. Min Young menuntun tangan kecil Ryu Jin, aku memandangi Ryu Jin, dia terlihat mengalihkan pandangannya. Bibirnya cemberut. Aku tersenyum padanya. Dia pasti marah padaku.

“Rivalmu ngambek Oppa.” Rea Na tertawa memandangi Ryu Jin.

“Ne, dia marah aku memarahi ibu perinya.” Jawabku. “Mau kemana Min Young~a?” tanyaku pada Min Young.

“Ryu Jin haus.” Jawab Min Young. Dia membawa Ryu Jin ke dapur namun aku meraih tubuh mungilnya dan membawanya ke sofa.

“Ya.. kau marah padaku?” tanyaku sambil tersenyum menggodanya. Menggelitik perutnya. Dia tetap cemberut. Aku terus menggelitiknya, akhirnya senyum mengembang dari wajahnya.

“Kau jangan nakal seperti ibumu, eoh?” aku memandang wajahnya.

“Eomma…” dia menoleh kearah kamar kami.

“Ibumu tidak apa-apa. Dia hanya sedang marah.” Aku mencubit pipinya. Dia mulai tertawa.

“Ayo Ryu Jin~a, ini susunya.” Min Young menyodorkan botol susu pada Ryu Jin.

“Biar dia minum denganku, tapi dia tidur denganmu malam ini.”

“Arasseo, Oppa.” Jawab Min Young. Ryu Jin meminum susunya dipangkuanku. Kali ini dia memainkan kancing bajuku.

“Emm.. eemmmm” dia menggumam sambil menyedot susu dari botol dimulutnya. Aku memperhatikannya.

“Hem.” Dia menunjuk kancing bajuku. Aku menoleh padanya.

“Hem, hem hem.” Dia menghitung dan menunjuk kancing bajuku.

“Aku tidak mengerti bahasa planetmu Ryu Jin~a.”

“Ah.” Dia melepaskan borol susu dari mulutnya dan duduk. “Eomma.” Serunya. Aku tidak memperdulikannya.

“Ryu Jin~a, kenapa selalu saja Eomma yang kau cari? He? Mengapa tidak mencari Appa sekali-sekali?” Ryu Jin tersenyum. Memamerkan deretan gigi kecilnya.

“Appa.” Dia menunjuk dadaku.

“Noo-na.” Dia lalu menunjuk pada Rae Na.

“Aigoo, kau sudah mulai pintar Ryu Jin~a.” Puji Rae Na. Dia kembali melahap susunya yang tidak lebih dari seperempat botol. Sebentar saja dia menghabiskan susu, lalu duduk dengan  cepat.

“Eomma!” serunya sambil berusaha turun dari pangkuanku. Dia akhirnya berhasil turun dan berlari kerah kamar. Aku dengan sigap menangkapnya.

“Ryu Jin~a, kau tidur bersama Mi Young Noona, arasseo?” dia mengerjapkan matanya. Aku menyerahkannya pada Min Young. Dan aku kembali ke kamar.

Tempat tidur bersih, tidak ada siapa-saiapa. Apa Eun Kyo masih di kamar mandi? Tiba-tiba aku merasa panik, jangan katakan dia melakukan hal yang bodoh lagi. Aku membuka pintu kamar mandi. Namun tidak juga mendapatinya disana. Aku keluar dari kamar mandi, kurasakan angin berhembus. Eh? Pintu teras terbuka? Aku menilik ke teras. Dia ada disana. Duduk dilantai mendekap kedua lututnya. Aku perlahan mendekatinya. Menutupi tubuhnya dengan selimut.

“Kenapa disini?” aku berjongkok menghadapnya.

“Ayo ke dalam, disini dingin.” Meraih kedua lengannya dan memaksanya berdiri. Dia masih diam, tatapannya kosong, aku merangkulnya.

“Aku tidak suka susu vanilla.” Ujarnya lirih. Aku berhenti melangkah. Masih kesal gara-gara aku memaksanya minum susu atau dia menyembunyikan ketakutannya dibalik pemaksaanku?

“Aku benci susu vanilla.” Dia menggidikkan bahunya dan melepaskan rangkulanku. Dia menyembunyikan kegelisahannya dibalik sesuatu yang dibencinya.

“Arasseo, arasseo, besok kita beli rasa mocha, ne? Sekarang kita tidur dulu, ini sudah pagi. Kau belum tidur sama sekali.” Dia tetap terpaku tanpa mau aku tuntun.

“Aku tidak mau meminum susu itu lagi!” dia memukul dadaku. Aku membiarkannya menangis. Benar-benar lebih kekanak-kanakan dari Ryu Jin.

“Ne, besok kita membelinya yang baru, dan membuang susu vanillanya,hem?” aku menahan tangannya yang hendak memukulku. Lalu memeluk tubuhnya, tangisnya merebak.

“Oppa, aku tidak mau kehilangan Ryu Jin.” Dia memelukku erat. Aku terdiam.

“Bagaimana, bagaimana jika tiba-tiba ibunya mengambilnya dariku? Eoh? Bagaimana?” dia terlihat panik. Aku memeganginya. Tubuhnya merosot kebawah, aku menahannya.

“Jangan pikirkan itu dulu.” Aku memeganginya kuat.

“Tapi aku tidak mau dia tidak ada disini..” tangisnya kembali keluar. Aku menghela nafas.

“Jika dia ingin mengambil Ryu Jin, aku suruh dia tinggal disini agar Ryu Jin tidak pergi. Eoh?” dia berhenti panik. Menoleh dan menatap mataku.

“Bagaimana?” tanyaku. Wajahnya sedikit berubah, dia membersihkan airmatanya.

“Jeongmal? Kau tidak marah?” tanyanya. Aku membantunya membersihkan airmata. Tersenyum tulus padanya.

“Yakso.” Aku mencubit hidung merahnya.

“Tapi saat itu kau juga berjanji, tapi tidak menepatinya.” Dia berbalik ke teras. Aku menarik pinggangnya.

“Kali ini aku berjanji.” Aku meyakinkannya.

“Aku tidak percaya!” rajuknya sambil cemberut. Aku mengangkat tubuhnya.

“Aku janji bila kau makan yang banyak, minum susumu, tidur yang cukup, aku akan menepatinya.” Tawarku. Dia meronta dari dekapanku.

“Aku tidak percaya, susunya tidak enak!”

“Arasseo, kita beli besok rasa yang aku inginkan, pisang?” dia mengangguk. “Tapi kau tidur dulu.” Aku mengangkat tubuhnya meletakkannya di tempat tidur dan memposisikan diriku disampingnya. Ck! Hari ini bekerja keras setelah dikantor deadline proyek baru dan banyak pesanan. Sekarang ditambah lagi mengurus wanita disampingku ini yang semakin hari semakin manja dan susah diatur.

Rae Na’s POV

Aku mendengar sedikit kegaduhan dari kamar Jung Soo Oppa. Terdengar dia berteriak. Memarahi Onnie? Aku menggelengkan kepalaku, baru kali ini aku mendengar Jung Soo Oppa marah. Ryu Jin masuk ke kamar Min Young. Namun beberapa menit kemudian Ryu Jin keluar berlarian dan berhenti dihadapanku, aku menangkapnya agar tidak terjatuh karena larinya sangat kencang dan menghempaskan tubuhnya padaku.

“Aish! Ryu Jin~a, ini sudah pagi, kau harus tidur.” Aku menahan bahunya dan memaksanya menatapku.

“Ryu Jin~a, ayo kita tidur..” bujuk Min Young. Aku menoleh pada Min Young yang membawa selimut kecil berwarna pink.

“Akha~hahahahahahaha.” Ryu Jin menerjangku. Dia memelukku.

“Yak, Ryu Jin~a, ini bukan saatnya untuk bermain.” Dia memelukku erat. “ ini sudah jam setengah 5 pagi.”

“Onnie, bagaimana ini? Ryu Jin tidak mau tidur.” Dia mencoba menyelimuti Ryu Jin dengan selimut yang ada ditangannya.

“Yak! Jauhkan benda menjijikkan itu!” aku mengibas selimut Ryu Jin. “Darimana kau dapatkan itu? Setahuku dia hanya punya selimut berwarna ungu, warna kesukaan Onnie, dan warna putih.” Tanyaku padanya.

“Kemarin Onnie menyuruhku membeli selimut lagi untuk Ryu Jin, jadi aku membelinya, dia belum punya warna ini kan?” tanyanya polos.

“Dia anak lelaki bukan anak perempuan, kenapa membelikannya warna pink? Eoh?” tanyaku sengit.

“Tapi tidak ada salahnya kan? Lagipula ini gambarnya sapi, binatang kesukaannya!” balas Min Young. Aku mendengus kesal padanya. Gadis ini, lebih cerewet dari yang aku kira.

“Dia tidur bersamaku saja.” Aku mengangkat Ryu Jin. Min Young mencegahnya.

“Dia harus tidur denganku.” Min Young berusaha merebutnya namun aku menahannya.

“Yak, kau menyakitinya.” Teriakku padanya.

“Lepaskan dia, Ryu Jin~a, sini bersama Noona.”

“Jangan Ryu Jin~a, bersama Rae Na Noona saja, he?” aku menatap Ryu Jin. Ryu Jin kebingungan melihatku lalu beralih melihat Min Young.

“Rae Na Onnie, tadi Jung Soo Oppa menyuruhnya tidur bersamaku.” Ujar Min Young.

“Tapi dia berlari padaku, berarti dia ingin tidur bersamaku.” Balasku, aku melangkah menuju kamarku.

“Andwae!” Min Young merentangkan tangannya mencegahku membawa Ryu Jin.

“Yak, kalian ini apa-apaan?” tiba-tiba Jung Soo Oppa keluar dari kamar. “Kalian berisik sekali.” Lanjutnya. “Apa yang kalian ributkan?”

“Ryu Jin, dia mau tidur denganku, tapi gadis pink ini mencegahnya.” Aku melotot padanya.

“Tapi Oppa kan menyuruhku yang tidur dengan Ryu Jin.” Bela Min Young.

“Tapi dia mau denganku.” Teriakku sengit padanya.

“Tapi dia harus tidur denganku!” balas Min Young.

“A, aigoo.. Ryu Jin~a, mantra apa yang kau gunakan? Eoh? Kau membuat istriku hamppir gila dan sekarang membuat semua gadis perawan disini bertengkar memperebutkanmu, bisa kau ajarkan Appa?” Jung Soo Oppa meraih Ryu Jin dan membawanya.

“Kalian berhenti bertengkar. Onniemu baru saja tertidur.” Jung Soo Oppa menoleh pada kami. Aku menatap tajam pada Min Young.

“Heh!” dia membuang muka dan berlalu ke dapur, meninggalkanku yang kebingungan dengan sikapnya. Yak! Dasar gadis pinky menyebalkan! Beraninya dia membuang muka padaku. Mulutku menganga memperhatikannya yang menghilang ke dapur. Pasti memasak. Aku berlalu ke dalam kamarku dan memejamkan mataku.

Eh? Mengapa badanku terasa sangat berat? Ah, aku masih ingin bermimpi, ini kan hari libur, aku tidak ingin bangun pagi. Aku menggeliatkan tubuhku tapi tidak bisa. Sekali lagi mencobanya namun masih tidak bisa. Aku membuka kedua mataku, menghalau sinar matahari dengan tanganku dan menyibak selimut. Eoh? Ryu Jin? Dalam selimutku? Menindihku? Pantas saja tubuhku tidak bisa bergerak, rupanya setan peliharaan Onnie ini yang menggangguku? Aku tersenyum dan memeluk tubuh mungilnya. Dia mendesis.

“Ryu Jin~a…” suara Jung Soo Oppa terdengar dari luar. Pasti sedang mencari anak kecil ini. Aku memandangnya, dia menengadahkan wajahnya.

“Ssssttt!” aku menaruh telunjukku ke mulut mengisyaratkan agar dia jangan berbicara.

“Cisisihihihihi.” Dia tertawa tertahan, tangan kecilnya menutupi mulutnya.

“Appamu pasti sedang panik mencarimu, kau diam saja.” Aku kembali memejamkan mataku, membiarkan Ryu Jin berbaring diatas tubuhku. Tak berapa lama, sebuah ketukan pintu mengagetkan kami.

“Rae Na, melihat Ryu Jin?” tanya Oppa menyembulkan kepalanya. Aku sudah menutup Ryu Jin dengan selimut. Lalu menggeleng.

“Aneh, dikamar Min Young juga tidak ada.” Wajah Oppa terlihat bingung dan menggumam sendiri.

“Cisisisisisihihihihihi.” Aish! Anak ini kembali mendesis sambil tertawa.

“Eoh? Siapa yang tertawa?” tanya Oppa berbalik. Dia mendekat dan membuka selimut.

“Yhakkahahahahaha.” Tawa Ryu Jin meledak. Antara terkejut dan merasa menang telah mempermainkan Appanya.

“Yak, Ryu Jin~a, aku tidak bisa diajak kerjasama.” Omelku. Oppa mengambilnya dariku.

“Kau harus mandi, agar Eommamu tidak repot.” Ujar Kung Soo Oppa.

“Rajin sekali kau Oppa, satu saja kau kewalahan, apalagi ditambah satu lagi, kurasa kau akan berganti jadi Appa rumah tangga.”

“Jika aku berganti status jadi Appa rumah tangga, lalu kau makan apa? Kuliah pakai apa? Eoh?” tanyanya sedikit kesal.

“Buwahahahaha, aku kan hanya bercanda, kau sensitif sekali.” Aku membalikkan tubuhku.

“Tolong tutup pintunya, aku masih mau tidur.” Memeluk gulingku dan memejamkan mataku.

“Kau ini, sebaiknya mandi.” Teriak Oppa dari luar, aku tidak memperdulikannya.

***

“Onnie~ya..” terdengar suara teriakan dan gedoran pintu dari luar, aku tidak menghiraukannya. Mencoba mencari posisi yang lebih enak.

“Onnie~ya…” terdengar lagi suara pintu di gedor.

“Yak! Min Young~a! Kau ini apa-apan! Aku masih mau tidur!” teriakku.

“Ada yang mencarimu.” Jawab Min Young.

“Katakan aku sedang tidur tidak bisa diganggu.”

“Itu teman Onnie yang kemarin.”

“Yang mana? Minho? Katakan aku sedang tidur.”

“Ani, yang rambutnya aneh dan sedikit urakan.” Jawab Min Young.

“Mwo?” aku terduduk mendengar jawaban Min Young.

“Katakan tunggu sebentar.” Jawabku.

“Ne.” Jawab Min Young. Aku segera turun dari tempat tidur dan masuk kedalam kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri dan berbaju santai aku keluar dari kamar. Yonggun sudah menungguku di ruang tamu.

“Sudah lama menunggu?” tanyaku.

“Ani.” Jawabnya, dia meletakkan cangkir diatas piring.

“Ada apa kesini?” tanyaku.

“Ani, aku hanya ingin memastikan Ryu Jin baik-baik saja.” Jawabnya salah tingkah. Tiba-tiba Ryu Jin menghambur keluar, diikuti Min Young yang juga berlari mengejarnya.

“Sepertinya rumahmu ramai sekali.” Ujar Junhyung sambil memperhatikan Min Young yang berusaha mengejar Ryu Jin.

“Hem, sejak anak itu ada disini, rumah selalu ramai. Dia sangat hiper aktif.”

“Dari mukanya sudah terlihat.” Junhyung memperhatikan Ryu Jin. Kami lama terdiam.

“Minho Appa…..!” teriak Ryu Jin. Aku dan Junhyung menoleh kearah suara bersamaan. Aish! Kenapa orang itu selalu datang disaat seperti ini? Aku melihat Ryu Jin langsung berlari kearah Minho dan Minho menyambutnya.

“Ya… Ryu Jin~a, kau sudah makan?” tanya Minho sembari membawa Ryu Jin masuk ke dalam.

“Fuih, untung kau datang Oppa, aku sudah kewalahan menghadapinya.” Min Young mengikuti Minho dan Ryu Jin. Minho melirik kearahku dan tersenyum, lalu tersenyum kearah Junhyung.

“Kekasihmu sudah normal kembali?” tanya Junhyung.

“Yak, dia bukan kekasihku!” aku memperhatikan Minho yang masuk membawa Ryu Jin.

“Eoh? Minho!” seru Onnie dengan wajah bersinar.

“Kapan kau datang?” Yaish! Sekarang Onnie yang berubah menjijikkan.

“Baru saja Noona.” Jawab Minho, dia mendudukkan Ryu Jin di depan televisi.

“Kebetulan sekali, makanan baru saja masak, kita makan sama-sama.” Ajak Onnie pada Minho, aku jadi memperhatikan apa yang mereka bicarakan, kini tak lagi memperhatikan Junhyung.

“Ah ye, Gamsahamnida, Noona.”

“Ah, kudengar kau kemarin sakit, sudah baikan?”

“Ye, kalau aku masih sakit aku tidak akan disini.”

“Hahaha, benar juga.” Onnie terlihat senang sekali, berbeda halnya dengan tadi malam.

“Kau cemburu?” tanya Junhyung.

“Ne?” aku menoleh padanya.

“Kau bisa main PS?” tanya Minho pada Min Younng. Aku kembali terusik, tidak konsentrasi pada pertanyaan Junhyung. Menoleh kearah suara, Min Young sudah duduk manis bersama Minho dan Ryu Jin.

“Bisa.” Jawab Min Young yakin.

“Jika susah menaklukkan setan kecil ini, bawa saja dia main ini, dia akan duduk manis.” Jawab Minho.

“Ye.” Ujar Min Young, mereka asik bermain bertiga, sesekali salah satu dari mereka berteriak. Aku terus memperhatikan mereka. Aku tidak cemburu, tidak mungkin cemburu. Tapi, mengapa ada yang berbeda dengan hatiku saat mendengar tawa renyah mereka bertiga? Rasa sakitkah ini? Begini rasanya cemburu?

Eun Kyo’s POV

Hari ini aku terbangun lebih siang. Karena tadi malam aku hampir tidak tidur. Bertengkar kecil dengan Oppa, bertengkar kecil? Oke, itu pertengkaran besar pertama kali kami. Mungkin aku yang terlalu berlebihan ketakutan. Hufh, siapa yang tidak takut jika harus terpisah dengan orang yang dicintai? Dan aku mengalaminya. Anak itu hadir membawa angin segar bagiku. Aku selalu ingin tersenyum memandangnya. Berapa besar rasa cintaku padanya aku tidak bisa menjelaskannya. Aku rasa kami memang ditakdirkan bersama. Aku tidak akan bisa hidup tanpanya. Itu keyakinanku beberapa hari yang lalu, namun semenjak kedatangan orang itu, aku merasa terusik, sangat terusik bahkan merasa terancam. Meski dia tidak mengatakan akan mengambil Ryu Jin segera, tapi aku tetap merasa was-was. Masakanku sudah selesai. Aku menatanya di meja makan, ada Minho dan Junhyung kemari. Aku melirik kedepan. Minho asik bermain dengan Min Young dan Ryu Jin. Sedang Rae Na sedang asik berbincang dengan Junhyung, anak aneh itu. Tapi aku rasa sepertinya dia tidak seburuk penampilannya. Aku terkejut saat sebuah tangan melingkar dipinggangku.

“Oppa..” sapaku. Dia mencium leherku dan mencium bibirku sekilas.

“Morning kiss.” Ucapnya sambil mencium leherku dan menghirupnya.

“Mianhae.” Tambahnya lagi.

“Untuk?” tanyaku.

“Yang terjadi tadi pagi.” Jawabnya. Aku memindahkan piring kotor bekas aku memasak ke dalam tempat pencucian piring.

“Oppa, aku susah membersihkannnya.” Aku menggeliat, mencoba melepaskan dekapannya.

“Biar Min Young yang membersihkannya.” Dia melepaskan piring kotor dari tanganku.

“Selalu dia, kasian kan?”

“Biarkan saja, dia digaji untuk itu.” Aku menatapnya tajam.

“Arasseo, arasseo, kau tidak suka dihubung-hubungkan dengan uang.” Aku menghela nafas.

“Panggil mereka. Kita makan.” Aku menyuruh Oppa memanggil mereka untuk makan siang.

“Shireo!” tolak Oppa.

“Aish, ini sudah waktunya makan siang. Baiklah, kita nanti saja makan siangnya.” Aku melepaskan celemekku dan menaruhnya ditempat biasa.

“Eit, kau harus makan.” Serunya, dia menarik tanganku.

“Shireo!” aku menutup mulutku. Dia meraih pinggangku dan menariknya kearahnya.

“Mau mempermainkanku? Eoh?” dia membuka mulutku, mengarahkan wajahnya padaku. Aku menghindar.

“Ehem.” Suara deheman menghentikan aktifitas Oppa. Aku mendorongnya pelan. Minho. Selalu saja dia.

“Aku, aku mau mengambil minum.” Ujarnya terbata.

“Eoh, tolong panggil semuanya. Kita makan.” Aku mendorong Oppa, membiarkanku untuk lewat. Dia tersenyum.

“Kau terlihat seksi saat marah. Apalagi menangis.” Aku berhenti dan berbalik menatapnya.

“Cish…..!!!” aku mendesis. Dia malah tertawa.

“Eomma.” Tiba-tiba kakiku dipeluk Ryu Jin. Aku mengangkatnya. Anak ini semakin hari semakin berat saja.

“A, aigoo… Anak Eomma sudah semakin berat sekarang.” Ryu Jin tersenyum dan mencium kilat bibirku.

“Ppopo.” Ujarnya. Menyodorkan bibirnya lagi. Aku menciumnya. Dia tertawa nyaring.

“Saatnya kita makan.” Aku mendudukkan Ryu Jin dikursinya dan aku menarik kursi disampingnya. Jung Soo Oppa menarik kursi disampingku.

“Ani! Minho! Kau duduk disini.” Aku mendorong Jung Soo Oppa refleks. Semua mata tertuju padaku. Aku menatap mereka satu persatu. Tersenyum kaku.

“Maksudku, aku, aku, Minho. Kau duduk disini saja.” Aku menarik Minho, kembali semua mata memandang padaku, aku tidak memperdulikan mereka. Mereka mengambil tempat duduk masing-masing. Jung Soo Oppa akhirnya duduk disamping Ryu Jin. Min Young, Rae Na dan Junhyung disisi sebelah.

“Mau lagi?” tanyaku pada Minho. Minho memandangku bingung.

“Sudah cukup Noona.” Aku menyuapi Ryu Jin dan sesekali menyuap untukku sendiri. Ryu Jin merebut sendok dari tanganku dan menyuap dengan tangannya sendiri. Aku tersenyum, Ryu Jin berkembang dengan baik. Aku senang di dekat Minho. Aku suka mencium aroma rambutnya. Rasanya sangat, emmmm entahlah, pokoknya aku menyukainya. Aku bisa melihat dari sudut mataku, mereka yang ada dihadapanku menatapku heran. Aku tidak memperdulikannya, tetap memandangi Ryu Jin yang sedang belajar makan sendiri. Setelah makan selesai, semua kembali ke depan. Aku membersihkan sisa makanan.

“Biar aku saja Onnie.” Ujar Min Young, dia mengambil piring kotor dariku.

“Ani, aku bisa  membantumu.” Aku merebut piring itu kembali.

“Ani, Onnie, istirahat saja. Oppa silakan bawa Onnie ke depan saja.” Ujar Min Young, ne? Sejak kapan dia mulai bisa memerintah. Oppa menarikku ke depan.

“Oppa, sejak kapan dia bisa memerintah seperti itu?” aku melirik Min Young sibuk membersihkan sisa makanan.

“Itu ajaran Bibi Kim.” Jawab Oppa.

“Oppa!” aku meneriakinya. Dia membawaku ke teras depan. Minho sedang bertengkar dengan Rae Na yang berebut televisi. Minho ingin main PS bersama sedangkan Rae Na ingin nonton film yang dibawa Junhyung. Oppa menyeretku ke depan dan duduk dikursi. Hufh, aku merasa sangat lelah hari ini.

“Oppa, aku ingin nasi goreng dekat kantor aku bekerja dulu.” Pintaku pada Oppa.

“Tapi ini kan hari minggu, Yeobo.. cafe itu tutup.”

“Tapi aku mau..” rengekku. Aku melihat Ryu Jin sedang bermain air dari selang.

“Sayang, basah, jangan bermain air.” Dia tidak memperdulikanku. Asik bermain air, mengarahkannnya kepada Jung Soo Oppa dan Min Young.

“Ryu Jin~a, Noona basah…” keluh Min Young. Jung Soo Oppa berusaha mengejar Ryu Jin, bukannya dapat, malah membuat seluruh halaman depan basah oleh semburan Ryu Jin.

“Yak, hahahahahahaha.” Anak itu begitu riang bermain. Demi Tuhan aku benar-benar tidak sanggup kehilangannya. Aku mengelus perutku.

“Kau juga tidak ingin kehilangan saudaramu kan sayang?” mengelus perutku beberapa kali. Masih memandangi Ryu Jin yang berlarian dengan membawa selang air.

main air 1

main air 2

“Tidak jadi nasi goreng, aku mau biscuit Ryu Jin saja.” Aku masuk kedalam dan mengambil biscuit Ryu Jin, memandang sekilas dua orang yang masih berebut televisi. Aku kembali ke dapan.

“Ryu Jin~a, kau basah, sini kita ganti bajumu.” Aku memanggil Ryu Jin tapi dia tidak memperdulikanku.

“Oppa, tolong bawa anakmu kesini.” Aku mengacungkan baju pada mereka. “Nanti dia sakit.” Lanjutku. Oppa mengejar Ryu Jin dan menangkapnya. Dia membawanya ke hadapanku. Aku melepaskan bajunya dan menggantinya.

“Min Young, tolong matikan kerannya dan airnya disamping rumah, nanti anak jahil ini bisa membukanya lagi.” Perintahku pada Min Young.

“Ye, Onnie.” Jawab Min Young.

“Tangan kananmu Ryu Jin~a.” Aku menyuruh Ryu Jin memasukkan tangannya pada lubang baju tangan kanannya.

“Tangan kiri selanjutnya.” Dia mengikuti instruksiku. Selesai memakaikan bajunya dia tersenyum.

“Gomapseumnida..” dia membungkuk padaku. Aku tertegun melihatnya.

“A, oh, aigoo.. pintar sekali anak Eomma.” Aku menciumnya. Dia berlari ke halaman lagi, memegang selang air dan memutarnya. Namun airnya tidak keluar, mukanya terlihat bingung. Menoleh kearah Oppa, namun Oppa membuang muka pura-pura tidak melihatnya. Dia memutar-mutar keran, tapi tetap saja airnya tidak keluar, akhirnya anak itu menyerah. Dia berlari ke belakang.

“Kemana anak itu Oppa?” tanyaku pada Oppa, dia duduk disampingku, aku menyandarkan kepalaku di pundaknya.

“Molla, seperti tidak tau Ryu Jin saja, anak itu semakin dilarang, dia semakin menjadi-jadi.” Jawab Oppa. Aku memutar jariku menelusuri dadanya. Dia memegang tanganku.

“Jangan membangkitkan hasratku, Park Eun Kyo.”

“Siapa yang bermaksud seperti itu?” tanyaku protes.

“Jangan terlalu banyak menyentuhku.” Jawabnya.

“Jadi aku tidak boleh bermanja dengan suamiku sendiri?” aku berdiri dan ingin menyusul Ryu Jin.

“Ya.. bukan begitu maksudku.” Dia meraih pinggulku dan mendudukkanku dipangkuannya.

“Jangan marah.” Dia memeluk dadaku. Meletakkan dagunya dibahuku. Aku menghela nafas, aku sudah terlanjur kesal. Aku benar-benar tidak bermaksud memancingnya. Aku cemberut.

“Karena jika kau marah, aku jadi fuuhh..” dia berbisik ditelingaku dan meniup telingaku. Aku memegang telingaku.

“Yak, haha, geli Oppa!” aku menggeliatkan tubuhku. Dia semakin erat memelukku.

“Sudah minum susumu?” tanyanya.

“Shireo!” jawabku cepat. “Aku tidak mau minum susu!”

“Tapi kan sayang susunya Yeobo..” jawabnya lembut, aku memiringkan kepalaku dan menatapnya tajam.

“Kau berbohong lagi.” Aku melepaskan pelukannya, tapi dia semakin erat memelukku.

“Lepaskan!” aku meraih tangannya dan mencoba melepaskannya.

“Ara, ara, besok pulang bekerja akan kubelikan.”

“Aku tidak percaya, kenapa tidak beli sekarang saja?”

“Habiskan dulu yang ini..”

“Tapi aku tidak suka! Rasanya menjijikkan!”

“Min Younng~a, tolong buatkan susu untuk Onniemu yang manja ini.” Pinta Oppa pada Min Young.

“Youngie, jangan! Oppa! Aku tidak mau…!!” rengekku.

“Min Young! Jika kau membuatnya, aku akan membunuhmu!” lanjutku.

“Mianhae Onnie, aku tidak bisa membantah Tuang Besar.” Jawab Min Young.

“Yak, siapa Tuan Besarmu? Eoh? Younngie~ya! Jawab aku!” teriakku. Oppa menutup mulutku.

“Sssttt, jangan buang tenagamu, nanti dia lelah.” Oppa mengelus lembut perutku.

“Jangan sentuh, sayang, jangan turuti semua yang diajarkan Appamu, dia pembohong.”

“Yak, Appa berbohong demi Eommamu sayang, jika tidak dibohongi dia tidak akan tidur.”

“Aaaaaa….!” aku menjewer telinga Oppa. Dia meringis kesakitan.

“Onnie~ya, ini susumu.”

“Aku tidak mau.” Tolakku.

“Onnie, ini demi kebaikanmu, kebaikan bayimu juga.” Nasehat Min Young.

“Kau sok tau!”

“Kau sangat seksi kalau marah.”  Oppa memelukku dan mengedipkan matanya pada Min Young, Min Young tersenyum.

“Apa yang kalian tertawakan?!”

“Eoh? Siapa yang tertawa?” kilah Oppa.

“Onnie~ya, kau mau anakmu nantinya lahir tidak sempurna? Tidak mau kan? Itu hanya saat kau hamil meminum itu, setelahnya kau tidak akan meminumnya, nikmatilah kehamilanmu.”

“Apa kau pernah disuruh memakan sesuatu yang tidak kau suka bahkan kau benci? Bagaimana rasanya? Aku rasa rasanya sama seperti itu.”

“Kau mau aku telpon Halmeoni? Biar beliau yang mengurusmu, itu pesannya jika terjadi apa-apa padamu.”

“Apa aku terlihat seperti ada apa-apa?” tanyaku sambil menatap Min Young dan Oppa bergantian.

“Entahlah.” Min Young menggidikkan bahunya dan masuk ke dalam.

“Yak! Shin Min Young! Mana susunya?! Aku hanya akan meminumnya hari ini! Besok kalian berdua harus membelikan yang tidak rasa vanilla!” Jung Soo Oppa tersenyum melihatku menenggak minuman kental berwarna putih itu. Setelah habis meminumnya, aku mengusap bibirku dan rasanya ingin muntah.

“Hek!” aku menutup mulutku, Oppa segera memasukkan biscuit ke dalam mulutku. Aku melihat Ryu Jin terlihat kesusahan membawa kotak besar yang diseretnya.

“Oppa, anakmu.” Aku mengarahkan wajah Oppa melihat Ryu Jin.

“Biarkan dia sendiri.” Aku melihat dia kesusahan menyeretnya, aku ingin bangkit dan membantunya. Tapi Jung Soo Oppa menahannya.

“Biarkan dia belajar sendiri. Menadapatkan sesuatu itu tidak mudah, setelah sampai mengitari kotak itu mencari pembuka tutupnya. Senang sekali rasanya melihatnya aktif seperti itu. Dia membuka penutup kotak tersebut dengan susah payah, setelah terbuka sempurna barulah dia mengeluarkan isinya. Eoh? Peralatan berkebun berurukuran kecil.

“Darimana dia mendapatkan itu?” tanyaku pada Oppa.

“Pasti di gudang belakang, itu punyaku.” Oppa tersenyum. Ryu Jin menuju keran air lagi.

“Min Young~a, tolong isikan air di dalam ember, dan awasi agar Ryu Jin tidak basah lagi.” Ujar Oppa.

“Ye.” Min Young menuju samping dan membawa ember berisi air untuk Ryu Jin. Wajah Ryu Jin terlihat cerah melihat air. Dia mengisi pot penyiram bunganya berukuran kecildengan air, alalu menyiram bunga yang ada dipinggur teras. Anak itu seperti tidak pernah lelah dan kehabisan tenaga. Aku masih duduk dipangkuan Oppa memperhatikan Ryu Jin.

gardening 1

gardening 2

gardening 3

“Dia persis seperti aku waktu kecil, jahil dan tidak mau diam.” Gumam Oppa. Aku tidak terlalu mendengarkannya. Terlalu asik memperhatikan malaikat kecilku sedang mempelajari hal baru.

“Dari mana dia belajar itu?” tanyaku, menoleh pada Oppa.

“Mungkin dari acara televisi anak.” Sahut Oppa. Benar juga, mungkin saja dia mempelajarinya dari televisi. Aku memperhatikannya yang berjongkok menyiram tanaman, sesekali tersenyum riang.

“Jangan banyak-banyak, nanti airnya tumpah.” Anak itu terlalu asik bermain dan tidak mendengarkanku. Bahkan dia tidak sempat memperhatikan kemesraanku bersama Oppa yang biasanya tidak dia terima. Lelah menyirami semua tanaman yang ada di halaman dia kembali kearahku.

“Aaaaaaa…” dia menghentakkan kakinya, menghindari sesuatu.

“Wae?” aku juga ikut panik. Aku berlari menghampirinya. Hufh, ternyata hanya semut.

“Ya.. itu namanya se-mut. Jika kaku menginjaknya dia kan menggigitmu.” Aku membersihkan kakinya dari semut yang mengerubunginya.

gardening 4

gardening 5

“Kajja, kembali ke rumah, kau sudah bekerja keras hari ini.” Dia masih menghentakkan kakinya menaiki teras. Menepuk sisa semut yang ada di sepatunya. Mungkin masih merasakan geli saat semut berjalan dikakinya.

“Ahahahahaha.” Dia menghambur ke pelukan Oppa. Anak ini akhir-akhir ini terlihat akrab dengan Oppa. Baguslah, aku tidak perlu melerai pertengkaran mereka lagi. Aku duduk di pangkuan Oppa, dan Ryu Jin menaikiku duduk di pangkuanku.

“Yak! Kalau begini Appa yang tidak kuat….” keluh Oppa.

“Biarkan saja. Jangan dengarkan Appamu, sayang.” Aku menutup telinga Ryu Jin dan menciumnya.

“Yak, Min Young~a. Tolong angkat Ryu Jin.” Pintaku pad Min Young. Gadis itu segera menghampiri kami. Tapi aku memeluk erat Ryu Jin. Dan Ryu Jin terlihat senang. Anak ini mendatangkan berjuta bahagia dalam hidupku, siapapun, jangan coba merebutnya dariku. Aku menciumnya yang ditarik oleh Min Young, dia terlihat senang, dan Oppa terlihat menderita harus menahan beban yang berat. Itu balasannya membohongiku. Aku tersenyum pada Ryu Jin, mencium pipinya beberapa kali, tidak pernah cukup semua rasa cinta yang aku berikan, akan selalu ada dan ada setiap saat.

Minho’s POV

Aku memperebutkan televisi bersama Rae Na, enak saja dia mau menonton film bersama lelaki itu, aku bersikeras untuk melanjutkan permainanku. Lelaki itu nampak bingung melihat tingkah kami, aku tidak peduli. Tetap tidak memperdulikan omelan Rae Na, tetap memainkan stick PS ditanganku dengan lincah, sayangnya Ryu Jin sedang asik bermain diluar. Aku jadi tidak ada teman bermain. Di belakangku duduk Rae Na dengan muka masamnya duduk bersama Hyunjung. Aku berusaha menekan amarahku melihatnya bersama orang lain, kualihkan rasa cemburu itu dengan bermain PS, memfokuskan pikiranku pada pertandingan.

“Sampai kapan kau memainkan permainan anak-anak itu? Jika ingin bermain kau pulang saja!” teriak Rae Na padaku. Aku tidak menjawabnya.

“Yak! Choi Minho, kau dengar tidak?!” teriaknya lagi. Aku berhenti bermain dan mematikan televisi. Rae na bangkit dan menyalakan DVD player, memasukkan sebuah kaset dan kembali duduk. Aku menoleh kebelakang. Rae Na dan Junghyung terlihat memperhatikan layar televisi. Aku bangkit dan menghampiri mereka. Aku mengambil duduk diantara mereka berdua. Rae Na terlihat kesal meski akhirnya dia menggeser posisi duduknya. Filmnya menarik, tapi melihat orang yang duduk di kedua sisi kanan dan kiriku semua terasa sangat membosankan. Aku merasa waktu begitu lambat berlalu. Saat melihat tulisan ‘The End’ di layar barulah aku bisa bernafas lega. Junhyung bangkit dari duduknya.

“Kalau begitu aku pulang dulu, kapan-kapan kalau aku menemukan film bagus lagi aku pasti kesini. Sampai jumpa besok pagi.” Junhyung pamit dan melirik padaku.

“Besok pagi aku yang menjemput.” Sahutku cepat sebelum Rae na menjawabnya. Rae Na hanya menghela nafas berat.

“Kau, sudah saatnya pulang.” Ujar Rae Na.

“Kau mengusirku?” tanyaku.

“Jika kau tau diri sebaiknya kau pulang sebelum aku benar-benar mengusirmu.” Jawabnya sinis. Gadis ini bisakah dia bersikap manis sekali saja? Eoh? Ck! Semakin hari dia semakin sering membuatku kesal dan semakin hari semakin besar pula aku mencintainya. Aku bangkit, dia memperhatikanku.

“Kalau begitu aku mau bermain bersama Ryu Jin saja.” Aku melangkah meninggalkannya. Menuju teras tempat Ryu Jin bermain bersama kedua orang tuanya. Saat sampai diteras, omo! Jung Soo Oppa memangku Noona dan Ryu Jin? Ap, apa semenderita itu jadi Appa? Dijadikan objek oleh istrinya dan anaknya tertawa cekikikan.

“Ryu Jin~a, sini bersamaku.” Aku merentangkan tangan pada Ryu Jin.

“Minho~ya, angkat dia, ber..rat!”

“Ryu Jin~a, Appamu tidak bisa menahan berat badanmu dan Eommamu, sini, salah satu aku yang memangku.”

“Aku saja!” Sambar Eun Kyo Noona, membuatku menganga lebar.

“Ani, Ryu Jin saja Minho~ya.” Tangan Jung Soo Hyung menahan pinggang Eun Kyo Noona. Aku kadang merasa lucu melihat tingkah sepasang suami istri yang satu ini.

“Katanya berat, jadi biar Oppa memangku Ryu Jin saja.” Jawab Noona. Ryu Jin beralih padaku. Dan bermain bersamaku.

“Minho, jangan membawanya bermain air. Dia sudah berganti baju.”

“Arasseo, Noona.” Aku tidak mengajaknya bermain air, tapi mengajaknya bermain bola. Mengejar bola yang aku tendang dan berebut bola tersebut membuatnya tertawa riang sambil berteriak. Anak ini, memang lain dari yang lain.

***

Aku membuka mataku. Hari masih gelap, tapi aku harus cepat-cepat menjemput Rae Na, nanti preman jalanan itu mencuri startku menjemputnya. Aku merasakan dinginnya air di kulit tubuhku, membuatkau sedikit menggigil. Aku mengambil mantelku dan segera menuju parkiran mobil dibawah apartemen. Saat ingin membuka mobilku, sebuah suara mengejutkanku.

“Kau masih bersikeras memilihnya?” suara itu, aku mengenalnya. Aku terdiam tanpa menoleh padanya beberapa detik, malas menatap matanya.

“Kau sudah tau jawabnya.” Jawabku tanpa menoleh sedikitpun. Terdengar dia menghembuskan nafasnya keras.

“Baiklah, mari membuat kesepakatan. Kau boleh menikah dengannya, tapi kau harus menjalankan perusahaanku.”

“Sepertinya aku juga tidak akan memilih itu. Aku meilih jalanku sendiri.” Jawabku.

“Minho~ya, aku tidak tau bagaimana kau menilaiku hingga kau seperti ini padaku. Aku memang keras kepala memaksamu, tapi, tapi aku melakukan ini semua karenamu, jika kau tidak meneruskan apa yang telah aku capai, lalu untuk apa aku mencapai semua ini?” jelasnya panjang lebar padaku.

“Jika kau tau hanya aku harapanmu, mengapa kau selalu memaksaku?” aku berbalik menatap matanya, wajahnya terlihat lelah.

“Itu semua demi kebaikanmu.” Jawabnya pelan.

“Itu demi kebaikanmu.”

“Arasseo, hentikan perdebatan ini. Aku ingin kau meneruskan perusahaanku, kau boleh menikah dengannya, nanti setelah kau lulus dari kuliahmu.” Dia masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkanku. Aku terdiam sejenak, apa manusia itu salah minum obat? Aku tersenyum sinis, dan membuka pintu mobilku, mengemudikannya menuju rumah Rae Na.

Sesampainya disana, aku memencet bel rumah ini. Lama menunggu sambil menangkupkan tanganku dan menggesekkannya, udara pagi ini sangat dingin. Sesaat kemudian pintu pagar terbuka.

“Rae Na sudah bangun?” tanyaku pada Min Young yang membukakan pintu.

“Belum dia belum bangun.” Jawab Min Young.

“Sudah aku duga.” Aku masuk kedalam dan berdiri di depan kamarnya. Menegtuknya, tidak ada jawaban. Aku mencoba membuka pintunya.

“Tidak dikunci.” Aku menoleh pada Min Young yang melihatku dari tadi. Saat aku masuk kamarnya dia masih tertidur. Aku menarik selimutnya, dia menggeliat dan menarik ujung selimutnya.

“Aku masih ingin tidur.” Dia menahan selimutnya. Aku mendekatinya. Mencondongkan badanku dan mencium bibirnya sekilas. Dia membuka matanya saat bibirku masih menempel dibibirnya.

“Morning kiss.” Ucapku padanya. Dia membelalkkan matanya dan mendorongku hingga aku terjatuh ke lantai.

“Yak! Apa yang kau lakukan dikamarku? Eoh! Siapa yang membiarkanmu masuk kesini?!” omelnya padaku. Aku hanya tersenyum.

“Min Young~a! Kau yang mebiarkannya masuk area terlarangku?!” teriaknya pada Min Young. Min Young segera datang menghampiri kami.

“Kau yang membiarkannya masuk?!” Min Young terlihat bingung.

“Kau sendiri yang tidak mengunci pintumu.” Bela Min Young. Aku hanya tersenyum.

“Tapi mengapa kau tidak mencegahnya? Argh!” dia menendang kakiku, aku membalasnya dengan senyuman.

“Ck! Seperti ini kau menyambut calon suamimu?” godaku padanya dan semakin membuatnya gusar. Aku senang ekspresinya yang seperti ini.

“Kenapa kalian ribut?” tanya Eun Kyo Noona datang menghampiri.

“Tanyakan saja pada adik kesayanganmu itu!” jawab Rae Na sambil masuk ke dalam kamar mandi. Noona menatapku.

“Minho? Sejak kapan ada disini?”

“Baru saja Noona, aku mau menjemput Rae Na.”

“Oh.” Jawab Noona sambil berlalu dari hadapanku.

“Gwaenchana?” tanya Min Young padaku. Aku tertawa, membuatnya semakin bingung.

“Gwaencahana~yo, aku sudah biasa.” Aku berdiri sambil menepuk pantatku.

“Kau makan disini Minho~ya?” tawar Eun Kyo Onnie dari dapur.

“Ada sisa untukku?” tanyaku sambil berjalan menuju dapur.

“Tentu saja ada.” Jawabnya. Tak berapa lama Rae Na dan semua yang ada di rumah ini berkumpul di ruang makan. Makan dengan lahap dipagi hari untuk memulai aktifitas.

“Kami berangkat.” Pamit Rae Na pada Jung Soo Oppa dan Eun Kyo Onnie, sekilas dia mengecup pipi Ryu Jin yang ada di gendongan Min Young.

“Jaga dia baik-baik Gadis Pinky!” Rae Na menatap tajam pada Min Young.

“Tidak usah kau beritau aku juag tau.” Jawab Min Young sambil membawa Ryu Jin masuk ke dalam rumah.

“Yak! Kau!” Rae Na emosi mendengar jawaban Min Young, aku merangkulnya dan memasukkan tubuhnya dengan menekan kepalanya masuk kedalam mobil.

“Sudahlah, kita berangkat saja.” Aku menginjak pedal gas, dan mengemudikan mobilku ke kampus. Ditengah perjalanan aku melihat beberapa orang berkelahi, lebih tepatnya pengeroyokan. Rae Na melihat tanpa berkedip.

“Stop! Hentikan!” Rae Na berteriak. Aku terkejut.

“Minho! Hentikan sekarang juga!” aku refleks menginjak rem dan membuatnya tersungkur ke dashboar mobil. Dia membuka pintu mobil dengan tergesa, dan berlari kearah orang berkelahi itu, aku mengikutinya berlari, sebelum dia bergabung dengan dengan gerombolan itu, aku menrik pinggangnya, dia tertarik ke belakang.

“Hentikan! Yak!” dia berteriak dengan keras. Semua orang menghentikan aktifitasnya. Memandang kearah kami. Gadis ini cari mati.

“Gadis manis, bukankah yang malam itu?” seseorang mendekati kami. Rae Na mematung, tangannya meremas mantelku mendekat ke tubuhku. Dia mencoba meraih wajah Rae Na namun aku menepis tangannya.

“Jangan sentuh dia.” Ujarku menatap matanya tajam. Tidak ada yang boelh menyentuhnya selain aku, jika itu terjadi berarti otang itu cari mati.

“Bocah kecil, sebaiknya kau tidak mencampuri urusan kami.” Ujar lelaki dengan jas merah. Setelah orang-orang itu berpencar sebagian mendekati kami, barulah aku bisa melihat siapa yang dikeroyok oleh mereka. Yong Junhyung, dengan penuh lebam dimukanya serta darah segar. Aku terdiam sejenak, mundur selangkah menarik Rae Na. Tidak mungkin meninggalkannya disini sendirian, gadisku akan semakin kesal padaku.

“Saat aku melawan mereka, kau pergi bawa Junhyung dari sini,  bawa ke rumah sakit, arasseo?”aku berbisik ditelinganya. Dia mengangguk dalam dekapanku, aku menyerahkan kunci mobil padanya. Aku menghela nafas dan mengambil ancang-ancang. Melangkah mendekati Junhyung, orang –orang itu mengikutiku. Mataku waspada memperhatikan gerak-gerik mereka. Aku menarik Junhyung, mereka membiarkannya. Salah satu dari mereka ingin memukulku tapi aku lebih dulu menendangnnya. Mendorong Junhyung kuat, aku bisa melihat Rae Na membawanya dengan mobilku.

***

Aku duduk di kursi sofa di ruang tamuku. Mukaku penuh luka, tidak terasa sakit, hatiku jauh lebih sakit. Dia bisa mengenalinya bahkan saat melintas sekilas. Hufh, aku menghela nafas.

“Kau yang bodoh Choi Minho. Bukan dirimu yang dia inginkan, bukan karenamu dia tersenyum.” Aku merutuki diriku sendiri. Tersenyum pilu. Aku sangat iingin menyangkalnya tapi tidak bisa, aku bisa melihatnya, matanya menatap lelaki itu. Bunyi bel apartemenku berbunyi. Aku berjalan tertatih menuju pintu, membuka pintu dan terdiam, Gadis ini ada disini.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya khawatir, aku bisa melihat dari matanya. Aku tersenyum dan berbalik. Dia mengikutiku.

“Yak! Choi Minho? Kau baik-baik saja?” dia berjalan mendahuluiku menuju lemari dan mengambil kotak P3K.

“Duduk disini, biar aku bersihkan.” Dia menunjuk kearah sofa.
“Aku ambilkan air hangat dulu.” Dia bangkit dan menuju dapur, kembali dengan semangkuk besar air hangat. Dia membasahi handuk kecil dengan air hangat itu dan menyapukannya ke wajahku. Aku memperhatikan wajahnya yang dengan cermat memperhatikan luka diwajahku.

“Sakit?” tanyanya, aku tidak menjawab.

“Mengapa kau bisa sebodoh ini? Eoh? Jangan mengikutiku.” Omelnya. Dia masih memperhatikan lukaku, terkadang aku meringis menahan perih.

“Aku hanya menggertak mereka dan kita bisa lari setelah mereka lengah, begitu juga dengan Junhyung, seperti yang kami lakukan waktu itu.” Dia masih mengoceh. Aku masih terdiam.

“Dan membiarkanmu sendirian?” tanyaku. Dia berhenti menyeka lukaku.

“Tapi jika seperti ini akhirnya aku tidak suka.”

“Wae?”

“Aku, aku, aku hanya tidak ingin repot menjagamu.” Jawabnya terbata.

“Apa aku memintamu menjagaku?” tanyaku tajam. Dia terlihat gugup, aku menghela nafas.

“Aku tidak pernah memintaku menemaniku saat ini kan? Kau temani Junhyung saja, dia lebih parah dari aku.” Aku berdiri. Dia mundur teratur.

“Kau ini, sudah sakit berpura-pura kuat!” teriaknya.

“Lalu kau mau apa?! Eoh?! Bukannya repot menjagaku?!” teriakku tepat didepan mukanya, dia nampak terkejut, namun berusaha menguasai keterkejutannya.

“Tapi kau seperti ini aku yang harus bertanggungjawab!” balasnya berteriak.

“Ahahahahaha, kau salah minum obat?” tanyaku sambil tertawa sinis. Dia mendorongku.

“Aku pulang saja jika kau tidak mau kurawat!” dia berjalan cepat menuju pintu apartemen. Sejenak aku memandang kepergiannya, tapi detik berikutnya aku berlari menyusulnya. Menarik tangannya dan menghempasnya ke dinding. Tanpa pikir panjang, aku mencium bibirnya penuh amarah. Sedikit kasar, dan dia, memukul dadaku dengan tangannya, aku menahan tangannya. Gadis ini, harus berapa kali aku meyakinkannya bahwa aku sangat menginginkannya? saat aku berpikir akan melepasnya mengapa dia seolah mendekat? Tapi saat aku mendekat dia seakan menjauh dan tidak menginginkanku? Aku melumat bibirnya dengan cepat, nafasku memburu. Kali ini aku dalam keadaan sadar, bukan dalam keadaan mabuk seperti waktu itu. Aku menekan tubuhku padanya, membuatnya semakin terdesak, erangan kecil lolos dari mulutnya. Jika dengan cara ini aku bisa memilikimu, aku akan melakukannya. Dengan sedikit cara licik. Setelah lama mencium bibirnya, tangannya yang tadinya memukulku kini berhenti. Bibirnya mulai bergerak mengikuti arah lumatanku. Dia mulai membalasnya, aku meletakkan tangannya ke leherku, tidak ada perlawanan darinya. Harus kah aku melakukannya? Sementara aku bergelut dengan pikiranku sendiri, antara menghentikan atau meneruskan ini ke hal yang lebih jauh, dia membalas ciumanku, nafas halusnya menerpa wajahku, membuat darahku berdesir hangat.

“Hentikan, aku tidak mungkin berpikir sejauh itu.” Aku melepaskan ciumanku dan berbicara dengan nafas berat, menahan gejolak dadaku yang bergemuruh.

“Hentikan atau akan terjadi yang lebih jauh.” Dia menunduk.

“Aku mencintaimu, aku yang akan menjagamu, tidak akan terjadi hal seperti kemarin lagi, aku berjanji.” Dia tidak menjawab, menarik ujung bajuku dan mengalihkan pandangannya.

“Apa kau juga merasakan hal sama?” tanyaku hati-hati, sedetik dia memandangku namun kembali membuang muka.

“Sebaiknya aku pulang saja, kau jaga dirimu baik-baik, aku tidak ingin melihatmu seperti ini lagi.” Jawabnya lemah.

“Apa itu artinya iya?” tanyaku memberanikan menanyakannya. Dia berbalik.

“Apa aku mengatakan seperti itu?” balasnya sengit.

“Karena kau tidak pernah diam, hanya marah, maka jika kau marah, artinya itu iya.”

“Bagaimana mungkin ada penyimpulan seperti itu?!”

“Jadi kau menolakku?” tantangku.

“Eoh?! Aku tidak bilang begitu!” dia menutup mulutnya, setelah sadar apa yang dia ucapkan.

“Jadi?”

“Jadi aku mau pulang!” dia segera berjaan cepat meninggalkanku. Aku tersenyum, sesuatu apapun tidak akan bisa mengalahkan gengsinya.

Jung Soo’s POV

 

Kami berkumpul di ruang makan, dengan formasi lengkap plus Minho. Memandangi beberapa orang yang duduk dihadapanku. Setelah selesai aku kembali ke kamar merapikan bajuku yang berantakan saat amakan. Eun Kyo duduk di tepi ranjang.

“Wae~yo, Yeobo?” aku memandangnya dari cermin. Mulai lagi wajah murungnya. Dia tetap diam hanya menggerakkann kakinya yang menjuntai. Aku menghela nafas, berbalik dan duduk disampingnya.

“Jika kau masih bermuka masam seperti itu, aku tidak jadi pergi ke kantor.”

“Eoh? Siapa yang bermuka masam?” tanyanya tersentak.

“Lalu ini apa?” aku menarik dagunya dan mencubit pipinya.

“Aku mengkhawatirkan Ryu Jin lagi.” Jawabnya pelan. Lagi-lagi mengkhawatirkan anak itu, apa tidak ada hal lain yang dia pikirkan? Bayi kami mungkin?

“Kau sudah minum susumu?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Aku tidak suka susu itu…” dia menatapku sayu.

“Baiklah, hari ini kita membelinya lagi, kau mau ikut atau aku sendiri saja yang membeli? Mocha?” dia mengangguk.

“Ya.. kau terlihat jelek jika sedang sedih seperti ini, tidak ada semangat sama sekali.”

“Ani, aku hanya takut.”

“Kau mau aku jemput ke super market?” tanyaku. Dia mengangguk. Aku menangkupkan taganku dipipinya dan mencium bibirnya.

“Siang waktu istirahat, aku akan menjemputmu. Hanya kita berdua, biar Ryu Jin bersama Min Young, ne?” lagi-lagi dia mengangguk. Aku berdiri dia mengikutiku berdiri. Merapikan dasiku dan matanya serius memandang dasi yang mengikat leherku. Aku tau pikirannya tidak disini sekarang.

“Kau memikirkan Ryu Jin selalu, setiap saat. Tapi apa kau pernah memikirkan bayi kita?” dia berhenti dari gerakannya menyimpul dasi dileharku. Menghembuskan nafasnya.

“Mianhae Oppa, bukan aku menyia-nyiakannya.” Dia memegang kedua sisi jasku. Meletakkan kepalanya di dadaku.

“Ani.. aku tidak bilang kau menyia-nyiakannya.” Aku mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca dan hampir mengeluarkan airmata.

“Tapi aku bukan ibu yang baik.” Dia mengerjapkan matanya dan pertahanannya bobol. Airmata keluar di kedua sudut matanya.

“Siapa yang mengatakan itu, jangan mengatakan hal seperti itu. Kau ibu yang hebat.” Aku memeluknya. Mengusap punggungnya dan tangisnya pecah dalam pelukanku.

“Ssstt, aku tidak suka kau seperti ini.” Aku terus mengusap punggungnya.

“Baiklah, aku akan menemanimu disini.”

“Jangan, kau sudah terlalu sering menemaniku.” Dia mendorongku pelan.

“Sekarang kau berangkat saja.” Dia mendorongku keluar dari kamar. Ryu Jin sedang asik bermain bersama Min Young. Langsung berhenti dari permainannya dan berlari kearah kami.

“Aish! Ryu Jin~a, bagaimana kalau kau dan Eomma ikut Appa bekerja saja?” tawarku, dia menaiki tubuhku dan aku menyambutnya. Anak itu tersenyum menatapku.

“Kalau begitu kalian bersiap.” Aku membawa Ryu Jin ke kamar dan menarik tangan Eun Kyo.

“Hari ini kau jaga rumah Min Young~a, tidak apa-apa kan?” tanyaku pada Min Young.

“Ani, gwaencana Oppa.” Jawab Min Young.

Ryu Jin dan Eun Kyo berpakaian rapi. Aku memutuskan untuk membawa mereka ke kantor agar tidak membuatku cemas. Ryu Jin nampak riang duduk di pangkuan Eun Kyo. Anak itu duduk berhadapan dengan Eun Kyo. Memeluk dada Eun Kyo dan tertawa dan mengoceh tidak jelas.

“Ryu Jin~a, kau senang ikut bersama Appa? Joa?” Ryu Jin tidak menjawabku. Dia asik bermain dengan ibunya.

“Ppopo.” Ryu Jin mencium bibir Eun Kyo.

“Oppa, kita jadi membeli susu hari ini?” tanya Eun Kyo, aku menoleh padanya.

“Em, nanti setelah aku bekerja, jam istirahat.”

“Lama?” tanyanya lagi.

“Wae? Kau mau kemana memangnya?”

“Ani,  aku hanya takut Ryu Jin bosan.” Jawabnya.

“Tidak akan, ada banyak makanan disana.” Tanpa terasa kami sudah sampai di halaman kantor, aku memarkir mobilku di tempat biasa.

“Kajja, kita sudah sampai.” Aku menggendong Ryu Jin menggandeng tangan Eun Kyo memasuki gedung restoran mewah. Menaiki beberapa lantai dan sampai di depan pintu ruanganku.

“Buka pintunya sayang.” Tangan halus Ryu jin mencoba membuka pintu. Kami bertiga masuk ke dalam ruangan itu. Aku mendudukkan Ryu Jin diatas sofa. Dan aku duduk ke kursiku.

“Kau mau makan apa Jagi?”

“Aku belum lapar Oppa.” Eun Kyo kembali bermain dengan Ryu Jin, aku tidak terlalu memperhatikan mereka. Fokus dengan pekerjaanku memeriksa file dan menandatangani berkas. Pintu ruanganku di ketuk.

“Masuk.”

“Jweosonghamnida Sajangnim. Ada beberapa berkas yang harus Anda tanda tangani lagi, mengenai perjanjian kerjasama.” Yeon Ji sekretarisku yang baru masuk dan menyerahkan beberapa berkas.

“Sekretaris baru, Oppa?” tanya Eun Kyo. Aku menatapnya.

“Ye.” Sahutku singkat dan kembali bekerja. Ryu Jin berlari kearahku dan mulai mengambil berkasku.

“Ya.. itu berkas penting Appa Ryu~ya, jangan diambil.” Aku mencegah Ryu Jin menghambur-hamburkan berkasku. Sepertinya bukan penyelesaian yang tepat membawa anak ini kesini.

“Sayang, jangan ganggu Appamu.” Eun Kyo mengangkat tubuh Ryu Jin dan membawanya ke sofa.

“Kau mau bermain apa? Sini Eomma temani bermain.” Ryu Jin mengacuhkan perkataan Eun Kyo dan kembali padaku.

“Arasseo, begini saja. Kau menggambar disini saja. Dengan ini.” Aku menyerahkan beberapa lembar kertas kosong dan pensil padanya.

“Yeon Ji~ya, tolong belikan crayon di mini market depan.” Aku memencet telpon paralel pada Yeon JI.

“Ye, arasseo Sajangnim.” Ryu Jin asik menulis dikertas yang aku berikan. Dia duduk dilantai.

“Sayang, kau jangan duduk dilantai, kotor.” Larang Eun Kyo pada Ryu Jin.

“Biarkan saja dia, kita kan bawa baju gantinya.”

“Oppa, ada tempat untuk istirahat?”

“Wae? Kau sakit?”

“Ani, aku hanya sakit kepala.” Eun Kyo memijit kepalanya, aku segera menghampirinya. Dia menepis tanganku. Aku tetap memaksa memeriksa dahinya.

“Badanmu sedikit panas.” Dia berbaring di sofa.

“Sajangnim, crayonnya sudah ada.” Terdengar dari speaker telpon suara Yeon Ji.

“Ye, nanti aku yang mengambilnya, istriku sedang istirahat.”

“Ye.” Aku melihat wajahnya yang sedikit pucat. Pasti kelelahan karena kurang tidur.

“Kau tidur saja.” Aku mengecup dahinya. Dan keluar mengambil crayon untuk Ryu Jin. Aku menghampiri meja Yeon Ji.

“Jika ada yang mencariku bilang aku tidak bisa diganggu, istriku sedang sakit di dalam, ne?” ujarku pada Yeon Ji. Dia mengangguk. Aku kembali ke ruanganku dan mendapati Eun Kyo masih berbaring. Aku menyerahkan crayon pada Ryu Jin, anak itu menerimanya dengan bingung. Aku sedikit mengajarinya menggambar lalu setelah itu meninggalkannya menghampiri Eun Kyo. Duduk di tepi sofa memandang wajahnya.

“Kau mau makan atau minum sesuatu?” dia menggeleng.

“Jika ingin sesuatu katakan saja.” Aku bangkit dan kembali ke meja kerjaku. Lama aku berkutat denga berkas. Aku tidak terlalu memperhatikan lagi apa yang dilakukan anak dan istriku. Sama tidak menyadarinya saat Eun Kyo tiba-tiba sudah disampingku, menyentuh bahuku. Aku menoleh padanya.

“Wae~yo, Jagi~ya?” dia memajukan bibirnya. Dan menghela nafas, lalu menarik kursiku ke belakang dan duduk dipangkuanku.

“Aku bosan.” Tangannya menuntun tanganku untuk memeluknya. Akhir-akhir ini sikapnya susah di tebak. Kadang dia sangat manja seperti ini, kadang sedih tanpa sebab, bukan tanpa sebab, hanya saja sebab yang kurang tepat.

“Sebentar lagi Jagi, sebentar lagi selesai.” Aku melepaskan tanganku dan meraih penaku, menandatangani beberapa berkas. Eun Kyo mengambil penaku dengan cepat dan memainkannya dijarinya.

“Bisa berhenti bekerja sebentar saja?” dia duduk menghadap kearahku dalam pangkuanku.

“Jagi~ya, sebentar saja, 5 menit saja.” Aku berusaha mengambil pena namun dia menjauhkannya. Aku tetap berusaha menggapai namun tetap dia tidak menyerahkannya. Aku melirik sebentar kearah Ryu Jin, dia masih asik dengan dunia menggambarnya. Aku bisa tenang, sementara hanya menghadapi gadis manja ini.

“Shireo!” EunKyo mulai merajuk dan bertingkah seperti anak kecil, dia melingkarkan tangannya dileherku.

“Apa kau bertemu dengan sekretarismu setiap hari?” tanyanya.

“Memangnya kenapa? Dia kan rekan kerjaku, tentu saja bertemu setiap hari.” Jawabku

“Em…..” mata indahnya mengerjap lalu memutar bola matanya. “Dia cantik.” Lanjutnya, kini tangannya memainkan dasiku. Aku hanya tersenyum.

“Kau selalu berangkat dengannya jika ada rapat?” tanyanya lagi. Aku mengangguk sambil memandang wajahnya yang cemberut.

“Memangnya kenapa?” aku mengecup bibirnya sejenak.

“Kalau aku melamar jadi sekretarismu saja, bagaimana?” tanyanya lagi. Ada apa dengan istriku? Mengapa tiba-tiba menanyakan hal yang tidak masuk akal?

“Kau pasti tidak mau kan.” Dia menunduk. “Dia kan lebih cantik.” Ucapnya pelan hampir tidak terdengar. Ryu Jin tertawa keras, aku meliriknya, dia menertawakan sesuatu yang sedang digambarnya, imajinasinya masih tak terusik.

“Bukan aku tidak mau, tapi kan sekarang kau lagi hamil, jangan bekerja dulu.” Jawabku sambil memegang hidungnya.

“Kau malu jika aku hamil dan bekerja disini?” kembali bibirnya mengerucut. Aku memeluk pinggangnya.

“Ani, kau ini sensitif sekali.” Aku menggerakkan hidungku di hidungnya.

“Sekretarismu lebih can!” sebelum dia menyelesaikan kalimatnya aku sudah mencium bibirnya, dia mendorongku. Kembali aku melirik Ryu Jin, anak itu terkekeh sambil menutup mulutnya, kini posisinya sudah berubah dari duduk menjadi tengkurap.

“Kau tetap yang paling menarik.” Jawabku.

“Meskipun aku hamil dan perutku membesar?”

“Kau akan tetap cantik dalam keadaan apapun.” Dia tersenyum dikulum. Aigoo, apa yang telah merubahnya menjadi manja seperti ini?

“Kau bohong.”

“Aku tidak bohong, kau sekretaris pribadiku seumur hidup.” Aku mencium bibirnya mesra. Dia hanya tertawa dalam ciumanku. Mendongakkan kepalanya menghindari ciumanku dan bibirku kini mendarat dilehernya, aku menghirupnya.

“Boleh aku setiap hari kesini?”

“Jika kau setiap hari disini aku tidak akan pernah bisa bekerja.”

“Mwo? Aku tidak mengganggu.”

“Lalu ini? Tidak membiarkanku menyelesaikan pekerjaanku.”

“Bilang saja kau tidak ingin diganggu, kau ingin bersama sekretarismu!” dia menatap tajam padaku, aku tidak mengerti mengapa dia tiba-tiba berubah menjadi cemburu seperti ini?

“Kau ingin aku memecatnya sekarang juga? Baiklah aku akan melakukannya.” Aku memencet tombol di telpon. Namun dengan cepat aku mencegahnya.

“Aku tidak menginginkan seperti itu.” Jawabnya.

“Lalu?”

“Aku hanya…” dia mengedarkan pandangan ke beberapa penjuru.

“Cemburu?” tembakku, dia langsung menatapku.

“Ani!” jawabnya cepat.

“Lalu?”

“Lalu apa?”

“Lalu kenapa kau mempermasalahkannya?”

“Ani, biasanya para sekretaris ada affair dengan bosnya.”

“Kau menuduhku seperti itu? Lalu kau sendiri? Ada affair dengan bosmu dulu?” tanyaku.

“Mwo? Aku ini gadis yang setia!”

“Termasuk setia pada… Jung Jin?” tanyaku hati-hati, dia kembali menatapku, lalu mengangguk. Ada sedikit rasa nyeri saat dia mengagguk.

“Kau mencintainya?” dia kembali mengangguk.

“Tapi itu dulu.” Jawabnya cepat setelah menganggukkan kepalanya.

“Dulu?” aku mengernyitkan dahiku menanti jawabannya.

“Ne, sekarang aku mencintai orang lain.”

“Nugu?”

“Ryu Jin.” Dia menunjuk anak kecil yang ada di belakangnya. Aku melirik Ryu Jin, dia tidak bergemin posisinya kini kembali berubak, sekarang tengkurap dan melintang. Aku menghela nafas.

“Dan sangat mencintaimu.” Lanjutnya. Jarang sekali kata itu keluar dari mulutnya. Aku menciumnya lagi. Kali ini sedikit lebih lama.

“Eomma..” panggilan Ryu Jin menghentikan ciumanku, Eun Kyo berbalik menatap Ryu Jin.

“Wae~yo sayang?” tanya Eun Kyo.

“Pi-pis.” Jawabnya polos.

“Eoh? Ayo sini.” Eun Kyo menarik tangan Ryu Jin dan masuk kedalam toilet. Aku tersenyum, hari ini aku memang tidak bisa bekerja, tapi semua itu setimpal dengan kebahagiaanku, besok sepertinya harus bekerja lebih keras untuk menyelesaikan pekerjaanku. Beberapa saat kemudia Eun Kyo dan Ryu Jin keluar dari toilet.

“Sudah? Jadi kita membeli susumu?” tanyaku. Dia langsung mengguk cepat.

“Ayo siap-siap.”

“Tapi kau tidak menyelesaikan pekerjaanmu dulu?”

“Dari tadi kau dipangkuanku bagaimana aku bisa bekerja, jadi tidak selesai kan?”

“Eomma, ha-us, su-su.” Kembali Ryu Jin berceloteh.

“Eoh? Baiklah, Eomma buatkan dulu.” Eun Kyo menyiapkan susu untuk Ryu Jin dan menyeduhnya dengan air panas. Aku memanfaatkanya selagi Eun Kyo menyusui Ryu Jin untuk menyelesaikan beberapa berkasku.

“Kau menggambar apa sayang?” tanya Eun Kyo pada Ryu Jin. Anak itu mengacungkan gambarnya pada Eun Kyo sambil berbaring dipangkuannya. Beberapa lagi aku selesai menandatanganinya. Aku melirik Eun Kyo dan Ryu Jin, anak itu masih menikmati minumannya. Aku tersenyum saat aku menyelesaikan tanda tangan terakhir.

“Kau sudah selesai?” aku mencubit pipinya yang tembem saat dia menghentikan hisapan terakhirnya.

“Sudah siap?” Ryu Jin bangkit dari berbaringnya. Dan menghambur berlari keluar ruangan. Eun Kyo mengejarnya, aku mengambil kunci mobil dan berpamitan sebentar dengan Yeon Ji.

Di super market, anak dan ibu itu sibuk berbelanja, aku hanya mendorong trolly. Eun Kyo membeli banyak sekali susu Ryu Jin. Aku memperhatikannya yang sedikit antusias sekarang.

“Susu untukmu mana?” tanyaku, dari tadi dia hanya membeli peralatan Ryu Jin dan susunya.

“Oh? Aku lupa.” Dia berjalan ke tempat susu ibu hamil, dan mengambilnya beberapa kotak dengan rasa mocha.

“Cukup?” tanyanya. Aku mengangguk. Ryu Jin berlari kearahku membawa sebuah boneka berbentuk sapi, lagi. Aku menuju kasir sambil mendorong trolly. Bertemu seseorang disana.

“Tae Jun~a, kau kembali?” aku menyapa seseorang yang mengantri didepanku. Orang itu berbalik dan balas menyapaku.

“Hyung.” Jawabnya.

“Kapan kau kembali?” tanyaku.

“Beberapa hari yang lalu.” Jawabnya. Park Tae Jun adalah saudara jauhku. Dia mengambil kuliah di Amerika dan membantu bisnis Appanya disana.

“Sudah selesai Oppa?” tanya Eun Kyo sambil menggendong Ryu Jin.

“Yak, Ryu Jin~a, kau sudah besar, bisa jalan sendiri, ayo turun.” Aku menyuruh Ryu Jin turun tapi dia malah memeluk leher Eun Kyo, berpaling dariku dan Tae Jun.

“Eoh? Tae Jun Oppa.” Seru Eun Kyo. Eh? Mereka sudah saling kenal?

“Kau mengenalnya?” tanyaku pada Eun Kyo.

“Ne, Tae Jun Oppa sunbaeku di sekolah menengah.” Jawab Eun Kyo. Tae Jun menatap Eun Kyo dan tersenyum lalu saling menunduk hormat.

“Baguslah jika kalian sudah kenal, dia istriku.”  Aku menatap Tae Jun yang masih menatap Eun Kyo. Sepertinya aku tidak menyukai tatapannya.

“Oppa, bisa pulang sekarang? Ryu Jin mengantuk.”

“Sebentar aku bayar dulu, kau bawa Ryu Jin ke mobil.” Ryu Ji masih memeluk leher Eun Kyo tak mau memandang kami.

“Ye, kalau begitu aku permisi Tae Jun Oppa.” Eun Kyo membawa Ryu Jin ke mobil.

“Anakmu, Hyung?”

“Ye, anak dan istriku.” Aku sudah selesai membayar.

“Kapan-kapan kerumah, aku sekarang di villa.” Aku menepuk bahu Tae Jun dan meninggalkannya.

Tae Jun’s POV

tae jun

 

Aku baru beberapa hari menapakkan kakiku di Seoul. Dan aku berjalan menuju pusat perbelanjaan untuk membeli keperluanku. Setelah berkeliling, aku melihat seseorang yang aku kenal. Gadis itu, sudah 10 tahun lebih aku tidak melihatnya. Tapi apa benar itu dia? Aku memperhatikan gerak-geriknya dari jauh, dia nampak bersama dengan seseorang yang aku kenal, tapi mungkinkah? Aku mengantri untuk membayar belanjaanku.

“Tae Jun~a, kau kembali?” seseorang menyapaku.

“Hyung.” Jawabku, benar, Jung Soo Hyung.

“Kapan kau kembali?”

“Beberapa hari yang lalu.”

“Sudah selesai Oppa?” seorang wanita menghampiri kami dengan menggendong seorang anak kecil. Aku menatap wanita itu tidak percaya, benarkah itu dia?

“Yak, Ryu Jin~a, kau sudah besar, bisa jalan sendiri, ayo turun.” Jung Soo Hyung membalas sapaan wanita itu. Ryu Jin? Anaknya, aku sempat melirik sekilas anak itu.

“Eoh? Tae Jun Oppa.” Panggil wanita itu. Park Eun Kyo. Wanita yang sempat membuatku patah hati saat sekolah dulu.

“Kau mengenalnya?” tanya Jung Soo Hyung pada Eun Kyo.

“Ne, Tae Jun Oppa seniorku di sekolah menengah.” Eun Kyo menunduk hormat padaku, akupun begitu. Sejak dulu kami memang sedikit canggung. Dia yang selalu menghindariku jika aku mendekatinya. Aku memang pernah menembaknya waktu itu, dan dia menolakku. Aku tetap bersikeras mengejarnya, hal itu membut kami semakin berjarak.

“Baguslah jika kalian sudah kenal, dia istriku.”  Ajung Soo Hyung menatapku, aku tak kuasa mengalihkan pandanganku dari wanita yang ada dihadapanku.

“Oppa, bisa pulang sekarang? Ryu Jin mengantuk.” Ajak Eun Kyo. Anak itu memeluk lehernya.

“Sebentar aku bayar dulu, kau bawa Ryu Jin ke mobil.”

“Ye, kalau begitu aku permisi Tae Jun Oppa.” Eun Kyo berpamitan padaku. Aku hanya mengangguk dan memandangi kepergiannya.

“Anakmu, Hyung?” tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku sampai Eun Kyo menghilang dikerumunan orang.

“Ye, anak dan istriku.” Jung Soo Hyung membawa semua belanjaannya. Aku masih tertegun.

“Kapan-kapan kerumah, aku sekarang di villa.” Dia menepuk pundakku membuyarkan lamunanku tentang masa laluku yang tiba-tiba saja datang menghantuiku. Masa-masa penuh warna itu, saat aku beberapa kali menawarkannya untuk mengantarnya pulang dan selalu ditolak olehnya. Masa itu kembali terlintas. Rasa itu kembali menyeruak ke permukaan.

Aku berjalan keparkiran dan mendapati Jung Soo Hyung masih memasukkan belanjaannya ke bagasi. Aku kembali menyapanya dan menatap wanita yang berdiri disampingnya. Sekarang dia terlihat lebih dewasa dan cantik.

“Hyung. Aku pulang lebih dulu.” Aku membunyikan klakson mobilku dan sekilas menatap Eun Kyo dan anak kecil yanga ada di dalam mobil. Sepertinya mereka sangat bahagia.

***

Beberapa kali aku mendatangi villa itu namun hanya berdiri di depannya, tanpa ingin masuk. Aku kembali ke Seoul hanya untuk liburan, bukan untuk hal ini. Park Tae Jun, ingat dia sudah menjadi istri orang lain. Tidak ada celah lagi bagimu untuk masuk diantara mereka dan melakukan apa yang kau lakukan saat remaja.

“Eoh? Kau mencari siapa?” tanya seorang gadis ketika aku berdiri di depan pagar rumah Jung Soo Hyung.

“Nde?” aku menoleh padanya.

“Kau, mengapa berdiri disini?” tanya gadis itu lagi. Sekilas aku melihat gadis ini mirip dengan seseorang yang aku kenal, Rae Na? Sudah sebesar ini? Dulu dia masih kecil.

“A, ani.” Jawabku gugup, seoalh tertangkap basah melakukan kejahatan.

“Lau, mengapa berdiri disini?”

“Aku, aku hanya lewat.” Dia memandangku heran.

“Noona………!!” teriakan anak kecil dari dalam pagar membuat Rae Na mengalihkan pandangannya dariku, aku menatap anak itu. Anak ini..

“Yak, jangan berlari seperti itu, nanti kau jatuh lagi.” Rae Na menggendong anak itu. Beberapa saat kemudian Eun Kyo datang dan menghampiri kami.

“Eh? Tae, Tae Jun Oppa?” sapa Eun Kyo pelan.

“Ye.” Jawabku. Dia mengambil anak kecil dalam gendongan Rae Na.

“Biar aku saja yang membawanya, kau lagi hamil jangan terlalu sering mengangkat karung beras ini.” Rae Na menolak untuk menyerahkan bocah itu. Eun Kyo? Hamil? Secepat itu? Maksudku, begitu banyak yang aku lewatkan dari hidupnya setelah kepindahanku ke Amerika.

“Kau mau masuk Oppa?” tawar Eun Kyo.

“Ani, sebaiknya aku pulang saja.” Aku berbalik namun sebelumnya membungkukkan badanku padanya, melakukan hal yang sama.

“Salam untuk suamimu.”

“Ye.” Sahutnya, lalu membalikkan tubuhnya.

“Park Eun Kyo.” Aku memanggilnya lagi.

“Apa dia anakmu?” tanyaku meyakinkan.

“Ye?” sahutnya dengan wajah heran.

“Ah, dia sangat lucu. Aku akan kembali setelah suamimu dirumah, boleh?”

“Ah, ye.” Jawabnya pelan.

Tidak ada yang berubah darinya. Hanya lebih tinggi dan lebih dewasa. Juga semakin menarik dengan penampilan yang apa adanya. Itu yang membuatku tertarik padanya, dari dulu, dan mungkin hingga sekarang saat aku bertemu kembali dengannya. Park Eun Kyo, kau kembali menghadirkan rasa itu. Dan aku juga tidak mempercayai perasaanku sendiri, tap yang aku rasakan sama seperti yang aku rasakan 11 tahun yang lalu, bedanya sekarang kau telah dimiliki orang lain.

Author’s POV

Rumah kediaman Park Jung Soo terlihat ramai. Beberapa orang berkumpul disana. Ryu Jin yang asik bertanding PS bersama Min Young, Eun Kyo dan Jina sedang asik di halaman belakang. Minho yang berusaha menahan cemburunya lagi saat Rae Na asik berbincang dengan Junhyung. Jinki yang terlihat bingung dengan Eun Cha dengan keramain yang terjadi, serta Jung Soo dan Donghae yang terlibat pembicaraan hangat. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara ketukan pintu dari luar, semua yang ada di ruang tengah saling berpandangan, seakan melempar perintah tentang siapa yang akan membukakan pintu. Jung Soo bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.

“Tae Jun?” Jung Soo tertegun saat melihat orang yang berdiri dihadapannya.

“Ye, aku, aku tadi lewat sini Hyung, aku rasa tidak ada salahnya aku mampir, ini kan hari libur, aku tidak mengganggu kan?”

“Ah, tidak, kami sedang berkumpul, kau silakan masuk.” Jung Soo menepuk lengan Tae Jun.

Eun Kyo nampak sibuk dihalaman belakan memanggang daging, baunya sangat harum menusuk hidung.

“Eum… harum sekali, sudah selesai?” tanya Jung Soo.

“Sebentar lagi Oppa.” Sahut Eun Kyo dari halaman.

“Dia mengidam ingin selalu dikeramaian, selalu mengeluh bosan.” Guman Jung Soo.

“Istrimu hamil?” tanya Tae Jun.

“Eo, trimester pertama.”

“Kapan kau… menikah?” tanya Tae Jun hati-hati.

“Sekitar setengah tahun tahun yang lalu.” Jawab Jung Soo.

“Oh, kau tidak mengundangku.”

“Ya, aku kebingungan harus menggundang siapa lagi, ternyata aku melupakanmu, perasaan aku sudah mengundang semuanya.” Jawab Jung Soo.

“Haha, gwaencaha Hyung.”

“Oppa, sudah selesai, tolong angkat meja panjang di dapur.” Teriak Eun Kyo nyaring.

“Bantu aku mengangkat meja.” Jung Soo mengajak Tae Jun. Donghae, Jinki, Minho dan Junhyung juga ikut bergerak. Semua makanan terhidang di atas meja.

“Minho, kau duduk sini.” Eun Kyo menyediakan kursi untuk Minho, saat dia menarik kursi disamping Rae Na. Dia menatap Rae Na dengan wajah bingung. Eun Kyo menunggu Minho dengan mata penuh harap.

“Kau harum sekali hari ini.” Ucap Eun Kyo disela makan mereka, semua menghentikan gerakan termasuk Minho sendiri yang dengan hati-hati menoleh kearah Eun Kyo. Jung Soo menatap tajam kearah Eun Kyo, sedang yang ditatap menatap bingung tanpa dosa.

“Kalian kenapa? Ayo makan lagi, makanannya tidak enak? Jinki, kau biasanya sangat suka ayam, kau tidak suka kali ini?” tanya Eun Kyo.

“A, ani.” Jawab Jinki sambil memasukkan paha ayam dalam mulutnya. Eun Kyo makan banyak hari ini tanpa tau ada dua orang yang bergejolak menahan perasaan padanya.

Eun Kyo’s POV

Badanku terasa sangat lelah. Tadi siang makan besar, semua ada disini kecuali, Halmoeni, Appa dan Eomma. Aku duduk ditepi tempat tidur memandangi Ryu Jin yang terlelap tidur memeluk boneka sapi barunya. Aku memandangi anak kecil itu dengan intens, mulai dari kaki hingga kepala.

“hari ini melelahkan sekali.” Gumamku mengeluh. Jung Soo Oppa yang baru keluar dari kamar mandi duduk di tepi ranjang, aku menarik tubuhku, mengangkat kakiku yang tadi terjuntai ke lantai dan menyandarkan badanku di kepala tempat tidur.

“Mau aku pijat?” tawar Oppa.

“Ani, tidak perlu.” Aku menarik kakiku, namun Oppa menariknya lagi dan mulai memijat pelan.

“Harusnya akuyang memijatmu Oppa.”

“Tidak apa sekali-sekali.” Jawabnya. Aku terdiam memandangi wajahnya, dia balas menatapku.

“Wae?” tanyanya, aku hanya menggeleng dan tersenyum. Aku harus bersyukur Tuhan menyatukan garis hidupku dengan takdirnya. Tidak ada orang yang bisa memperlakukanku seperti dia memujaku kali ini, aku bisa merasakannya.

“Ah, ada yang belum aku tanyakan padamu. Kau mengenal Tae Jun?” tanya Jung Soo Oppa, aku yang tadinya memandangi Ryu Jin kini beralih menatapnya.

“Em, dia sunbaeku di sekolah menengah dulu. Hampir  lebih dari sepuluh tahun aku tidak bertemu dengannya lagi, wae?” tanyaku.

“Apa kau punya hubungan dengannya sebelumnya?” tanya Jung Soo Oppa masih menatapku. Aku terdiam sejenak, apa aku harus menceritakannya? Bahwa Tae Jun Oppa dulu perna menembakku beberapa kali dan selalu aku tolak? Karena aku tidak ingin berurusan dengan gadis yang mendekatinya. Beberapa kali aku dapat surat kaleng, bukannya aku takut, tapi aku hanya tidak suka harus menghadapi masalah jika menerima cintanya. Apa dulu aku mencintainya? Aku rasa tidak, aku hanya senang melihatnya.

“Ani.” Jawabku pelan dan membelai rambut Ryu Jin.

“Katakan padaku yang sebenarnya.” Dia menarik wajahku, memaksa untuk menatapnya. Aku hanya terdiam.

“Benar tidak ada apa-apa?” tanyanya.

“Kau menuduhku mempunyai hubungan dengannya?” tanyak balik.

“Aku hanya bertanya.”

“Jika aku mempunyai hubungan dengannya saat dulu memangnya kenapa?” pancingku.

“Aku sudah menduganya, tatapannya padamu berbeda.”

“Oppa!” teriakku.

“Sssstt, jangan keras-keras nanti anakmu bangun.”

“Kau tidak percaya padaku?” tanyaku. Dia berdiri dan mengalihkan kakiku yng dari tadi berada dipangkuannya dan dipijitnya.

“Aku tidak ada hubungan apapun dengannya.”
“Lalu?”

“Lalu apa?”
“Kenapa dia berkeliaran disekitar sini?”

“Mana aku tau?” aku ikut berdirir di belakangnya. Oppa terdiam, aku memeluknya dari belakang.

“Meragukanku? Jika seandainya aku adaapa-apa dengannya pun itu hanya masa lalu, tapi aku memang hanya sebatas teman saja.” Jelasku padanya, dia berbalik dan menghembuskan nafasnya, terasa sekali dia sangat lelah akhir-akhir ini. Aku memeluknya. Entah mengapa beberapa hari ini perasaanku sedikit tidak stabil. Kadang aku ketakutan, kadang aku merasa sangat senang, namun terkadanga aku juga merasa cemburu tidak beralasan.

“Benar, tapi entahlah, seolah dia datang untukmu.”

“Kau ini ada-ada saja, haha, kau berlebihan Oppa…” aku memukul dadanya. Mendongakkan kepalaku menatapnya. Dia balas memelukku, lalu mengecup bibirku sekilas.

“Arasseo, sekarang kita tidur, besok aku harus bekerja lagi dan kau harus banyak istirahat, demi bayi yang ada dalam kandunganmu.” Bayi dalam kandunganku? Terkadang aku merasa aku tidak dalam keadaan mengandung. Terkadang aku merasa mempunyai Ryu Jin dalam hidup itu saja sudah cukup. Namun aku sadar aku tidak boleh egois, Jung Soo Oppa menginginkan bayi ini.

“Kau sudah minum susumu?” aku mengangguk.

“Arasseo, sekarang saatnya tidur.” Dia mengangkat tubuhku ke tempat tidur. Membaringkanku disamping Ryu Jin dan dia berbaring di sampingku. Aku memiringkan tubuhku menghadapnya. Meraih tangannya dan memeluknya didadaku. Dia mengecup ujung kepalaku. Terima kasih Tuhan telah memberikannya untukku.

***

Aku membuka mataku dan mendapati Jung Soo Oppa sudah siap dengan setelan jasnya yang rapi. Aku mengucek mataku dan memandangnya.

“Sudah siap? Tidak sabaran sekali.” Sapaku padanya. Dia mendekatiku dan mengacak rmbutku.

“Ayo bangun, anakmu sudah bengun dari tadi.” Aku meraba sebelahku, benar sekali Ryu Jin sudah tidak ada disampingku.

“Kemana dia?” tanyaku.

“Dia sudah ada dihalaman depan bersama Tae Jun.”

“Tae Jun Oppa?”

“Ne.” Jawabnya. Tae Jun Oppa? Untuk apa dia kemari? Aku duduk di tempat tidur, tiba-tiba aku merasa pusing.

“Pusing?”  aku memegang kepalaku. Aku mengangguk.

“Sudah minum obatmu?” obat? Ah, aku tidak minum obatku beberapa hari ini. Aku menggeleng.

Sudah aku duga, mulai hari ini minum kembali obatmu.” Dia kembali mengacak rambutku.

“Oppa..” panggilku manja.

“Hem…” jawabnya.

“Hari ini boleh aku ke kantormu lagi?” dia yang sejak tadi menyimpul dasinya sekarang menghentikan kegiatannya dan berbalik padaku. Aku menyibak selimut dan turun dari tempat tidur, memakai sendalku. Aku mendekatinya.

“Tapi aku mau ikut Oppa…” rengekku. Rasanya tidak rela dia harus bertemu dengan gadis itu. Yaish! Aneh sekali, aku merasa cemburu tidak jelas lagi. Wanita itu memang menarik.

“Aku akan pulang lebih cepat. Ne?” bujuk Oppa. Aku melanjutkannya mengikat dasinya. Merapikan jasnya dan sekarang aku berjalan ke kamar mandi dan mencuci mukaku. Kemudian kembali ke ruang depan dan mengantarkan Oppa berangkat bekerja. Aku berjalan melewati Ryu Jin dan Tae Jun Oppa sedang bermain.

“Aku berangkat dulu.” Pamitnya sambil mengecup pipiku.

“Tapi aku mau ikut…” aku mengerucutkan bibirmu.

“Aku tidak akan macam-macam kau percaya saja, kau yang jangan macam-macam.” Aku tambah cemberut, dia menyentil hidungku.

“Tapi kau lebih cantik jika seperti ini.” Dia mengecup bibirku.

“Appa…….!” Ryu Jin berlari menghampiri Jung Soo Oppa. Jung Soo Oppa mengangkat tubuh Ryu Jin.

“Kajja.” Ujar Ryu Jin. Tae Jun Oppa menyusul kami ke depan.

“Eoh? Kau tinggal disini saja sayang. Nanti Appa pulang lebih cepat.” Ryu Jin menggeleng kuat.

“Sayang, Appa mau bekerja.” Eun Kyo mengambil Ryu Jin. Ryu Jin menunduk sambil memainkan jarinya. Aku mencium pipinya.

“Aku pergi dulu.” Oppa mencium pipiku dan mencium Ryu Jin lalu masuk ke dalam mobil dan melaju pergi.

Aku berjalan masuk ke dalam rumah dan membawa Ryu Jin dalam gendonganku. Tae Jun Oppa berjalan mengikuti kami.

“Aku, apa aku mengganggumu?” aku berhenti berjalan.

“Ani Oppa, hanya saja tidak enak saat aku sendirian dirumah, kau ada disini.” Jawabku. Dia tersenyum sambil menunduk.

“Ah, ye, arasseo. Tapi.. aku hanya ingin bertanya.” Dia menatapku, aku menanti pertanyaannya.

“Kau belum hitungan satu tahun menikah dengan Jung Soo Hyung kan?”

“Ye, memangnya kenapa?”

“Ani. Lalu anak ini?” tanyanya hati-hati. “Apa anakmu bersama Jung Soo Oppa?” lanjutnya. Aku menghela nafas.

“Dia anakku, selamanya akan jadi anakku.” Jawabny.

“Arasseo.” Sahutnya lemah. “Kalau begitu aku pulang dulu.” Pamitnya. “Ryu Jin~a, ahjussi pulang dulu, kapan-kapan kita bermain lagi, ne?” dia menyentuh kepala Ryu Jin namun Ryu Jin menampiknya dengantangan halus.

“Ya.. Ryu Jin~a, jangan seperti itu.” Anak ini, sejak kapan dia bisa menunjukkan rasa tidak sukanya pada orang lain?

“Gwaenchana, Kyo~ya, mungkin dia merasa asing denganku.”

“Mianhae Oppa.”

“Gwaenchana~yo. Aku pulang dulu, kapan-kapan aku boleh kesini lagi kan? Saat suamimu ada.” Ujarnya sambil tersenyum. Aku hanya mengangguk.

“Ne.” Sahutku, dia keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil lalu menghilang di balik pagar. Aku memandang Ryu Jin.

“Ryu Jin~a, siapa yang mengajarimu kasar terhadap orang lain? Eo?” tanyaku pada Ryu Jin. Dia mengalihkan pandangannya dariku.

“Ryu Jin~a, Eomma sedang berbicara denganmu.” Dia memeluk leherku dan memnyembunyikan wajahnya di sela rambutku.

“Arasseo. Tapi lain kali kau tidak boleh seperti ini lagi, arasseo?” dia tidak menjawab.

“Arasseo?” tanyaku mengulanginya. Anak itu mengangguk.

“Anak pintar.” Aku mengelus punggungnya. Membawanya ke kamar. Membiarkannya bermain di tempat tidur sementara aku mandi.

Rae Na’s POV

Aku berjalan menyusuri jalanan kampus untuk pulang. Hari ini Minho ada rapat senat di fakultasnya aku terpaksa pulang sendiri. Aku berpapasan dengan Min Ra, gadis yang membuat emosiku meningkat mengingat kelakuannya.

“Yak! Aku ingin bicara denganmu.” Dia menarik lenganku kasar.

“Kau sudah mendapat restu dari orang tua Minho, jangan terlalu percaya diri.” Ujarnya sinis penuh amarah. Apa lagi yang ingin diributkannya? Aku sudah lelah.

“Aku tidak tau tentang hal itu dan aku tidak ingin tau.” Aku melangkah namun ditahannya.

“Malam ini ada acara di kampus, kau akan hadir? Kau pasti tidak akan datang kan? Orang kampungan sepertimu pasti tidak akan datang.liahta saja bajumu.” Dia memandangku dari ujung kaki hingga kepala. Aku baru ingat malam ini adalah malam kesenian Universitas. Banyak acara, pantas saja Minho rapat hari ini.

“Kau tidak mungkin datang hari ini kan? Sayang sekali, mana mungkin gadis setengah lelaki sepertimu bisa datang ke acara itu.” Gadis ini benar-benar meremehkanku ada aku sangat membenci itu.

“Aku akan datang.” Sahutku dingin.

“Mwo? Bagaimana mungkin? Kau mau mempermalukan dirimu sendiri kan? Sebaiknya tidak usah Park Rae Na, biarkan Minho malam ini bersamaku. Kau sudah sering bersamanya, bagaimana kalau kita berbagi Minho bersama?” ucapnya dengannanda menjijikkan, dia mengucapkannya dengan manis namun sangat memuakkan.

“Aku sudah bilang aku akan datang!” kataku tajam menatapnya.

“Owh! Kalau begitu sampai jumpa nanti malam.” Sahutnya sambil melambai manja, dan menghilang dari hadapanku. Aku meniup rponi rambutku.

“Hufh! Yak! Park Rae Na?! Kau gila?! Tidak mungkin kau datang ke pesta malam ini! Kau mau mempermalukan dirimu sendiri?!” aku berjalan dengan kesal dan seseorang merangkul pundakku membuatku tersentak.

“Kenapa wajahmu kusut Jagi~ya?” minho. Aku mendengus kesal.

“Malam ini malam kesenian kampus kan? Aku bingung harus memakai apa.” Jawabku pelan.

“Tidak usah datang saja. Kau istirahat saja. Pasti lelah.” Dia mengacak rambutku. Aku berhenti melangkah.

“Kau juga menganggapku tidak pantas untuk datang ke pesta itu?” tanyaku padanya sambil menatapnya tajam.

“Ya.. bukan seperti itu. Kau pasti tidak menyukainya. Akan ada acara minum-minum setelahnya di warung pinggir jalan.”

“Apa aku terlihat tidak pantas?” tanyaku gusar.

“Aku akan datang!” aku melepaskan tangan Minho dari pundakku. Berjalan cepat meninggalkannya.

“Yongg!” seseorang menutup mulutku saat aku ingin memanggil Junhyung.

“Baiklah, baiklah. Kostumnya hitam atau putih atau perpaduan keduanya. Lelaki memakai pakaian formal, wanita memakai gaun.” Dia kembali menarikku dan membawaku ke mobilnya.

“Yak! Bukannya ini malam kesenian, bebas memakai apa saja!” dia menutup mulutku yang ingin berteriak lebih kencang.

“Peraturan sudah diputuskan.”

***

Malam telah tiba dan aku kebingungan sendiri. Aku tidak punya gaun atau semacamnya. Aish! Paer Rae Na pabo~ya! Mau saja termakan pancingan gadis sialan seperti Min Ra.

“Wae~yo Onnie~ya?” Min Young menyembul di depan pintu. Ck! Satu lagi gadis menyebalkan muncul.

“Kebingungan?” tanyanya.

“Memangnya aku terlihat seperti apa?” tanyaku kesal.

“Kau kelihatan bingung, binggung kenapa?” tanyanya duduk ditepi tempat tidurku. Apa aku harus bercerita padanya.

“Aku harus ke pesta hari ini. Dan aku…” jawabku bingung.

“Kau tidak punya gaun.” Jawabnya sambil memilin ujung sarung bantal. Lalu menatapku. “Benarkan?” lanjutnya bertanya.

“Kajja, aku punya banyak gaun, semigaun atau bukan gauntappi pantas dibawa ke pesta juga ada.” Gadis pinky ini menarikku ke kamarnya.

“Aku tidak mau warna pink!”

“Ya… lihat saja dulu.” Dia membuka lemari pakaiannya. Aku membuka mulutku lebar, semua pakaiannya dominan berwarna pink.

“Em…” dia memainkan telunjuknya di tepi bibirnya. “Aku rasa kau akan cantik memakai ini.” Dia mengambil salah satu baju yang tergantung dilemarinya. Aku memandang bajunya, lumayan. Yang penting tidak pink!

“Ayo pakai.” Dia membuka kancing bajuku.

“Yak! Aku bisa memakainya sendiri!” aku mengibaskan tangannya.

“Mau aku bantu untuk pakai make-up?” tawarnya. Aku menatapnya tajam.

“Arasseo, kau tidak suka memakai make-up.” Jawabnya lemah sambil tersenyum hambar. Aku mencoba baju itu. Hem, lumayan. Aku membuka-buka lagi tumpukan bajunya. Menemukan sebuah kaos longgar dengan kancing di depan. Aku memakainya.

rae Na party

“Neomu yeoppo Onnie~ya.” Ujar Min Young. Aku rasa lumayan, untuk menutupi gaun tanpa lengannya.

“Onnie~ya, sepatunya? Kau mau memakai sneakermu dengan gaun seperti itu?” tanyanya lagi.

“Ani, tidak perlu.” Jawabku.

***

Aku berjalan dengan susah memakai baju ini. Ck! Bodoh! Kenapa aku harus pergi ke tempat ini? Minho tidak bisa menjemputku karena dia panitia malam ini, harus datang lebih dulu. Pergi dengan Junhyung lagi? Apa dia tidak akan marah? Aku menaggil taksi saja.

Sesampainya di kampus, suasana sudah sangat ramai. Tidak ada yang menyapaku, aku merasa sendirian. Seseorang menyapaku.

“Owh, ternyata kau datang juga.” Dia menyenggol bahuku dan berlalu dari hadapanku.

Minho’s POV

Park Rae Na, akhirnya dia datang juga. Namun kesibukanku sebagai panitai tidak memungkinkanku untuk menemuinya. Min Ra juga selalu berada didekatku dengan manja. Park Rae Na, dia terlihat manis dengan baju terusan selutut berwarna hitam dan baju putih sebagai luarannya. Rambutnya seperti biasa digulungnya keatas dengan sedikit berantakan, sepatu sneakernya yang tidak pernah lepas dari kakinya membuatnya semakin cantik. Aku tersenyum melihatnya yang celigukan ditengah keramaian. Aku tau kau tidak terlalu suka disini. Aku sudah memperingatkanmu namun kau tidak mendengarkanku, gadis keras kepala.

“Minho~ya, gadismu terlihat cantik malam ini.” Jinki Hyung menghampiriku dan menyikut lenganku ringan.

“Ye, dia memang cantik setiap hari.” Ujarku membelanya.

“Aish, kau ini. Memangnya dia sudah bersedia menjadi gadismu?” dia menggodaku.

“Aish! Tentu saja iya. Buktinya dia mau datang kesini kan?”

“Haha, atau kau memaksanya.”

“Ani, aku tidak memaksanya, dia yang mau datang sendiri bahkan bersikeras ingin datang kesini.”

“Begitu?” tanya Jinki Hyung sambil berlalu dan tersenyum. Aku berjalan melihat sekeliling, apakah acara berjalan dengan lancar. Namun aku melihat sesuatu yang tidak ingin aku lihat. Junhyung dan Rae Na.

“Apa kau tidak curiga dengan mereka?” tiba-tiba Min Ra sudah berada di sampingku. Aku berusaha menghindar namun tangannya menahanku.

“Kau tidak lihat?” dia mengarahkan daguku melihat Rae Na dan Junghyung. Mereka memang terlihat mesra, namun aku ingin menyangkalnya dengan tidak melihat mereka.

“Tidak mungkin mereka tidak ada hubungan apa-apa.” Ucap Min Ra tanpa dosa. Tanpa tau bagaimana perasaanku terbakar lebih besar, mengobarkan api cemburu. Aku menghela nafas.

“Apa kau masih mau dengan gadis kampungan sepertinya?” aku menatapnya tajam.

“Aku lebih suka gadis murahan sepertinya dari pada memilih gadis tidak tau malu sepertimu.” Aku pergi meninggalkannya.

Aku duduk termenung di ruangan panitia, sendirian. Perkataan Min Ra masih terngiang di telingaku. Kejadian yang aku lihat tadi juga masih terekam jleas dalam memoriku. Mereka makan bersama, duduk di bawah pohon. Berbagi cemilan yang tersedia di stand-stand makanan. Apa benar mereka hanya teman biasa saja?

“Sedang apa kau disini?” aku menoleh kearah suara. Junhyung.

“Kau yang mau apa kemari?” tanyaku.

“Aku ingin mengambil microfon, yang di depan rusak.” Jawabnya. Aku menyerahkan mic kecil padanya.

“Aku hanya ingin mengatakan padamu. Jangan menyakitinya, karena jika kau menyakitinya dengan gadis kaya itu, aku akan merebutnya darimu. Sepertinya aku mulai menyukainya.” Dia keluar dari ruang panitia. Sial! Aku meninju tembok.

“Apa maksudnya dia sepertinya mulai menyuk! Aish! Aku tidak akan membiarkannya.” Aku keluar dari ruang panitia dan berbaur dengan yang lain. Tidak jauh dari tempat aku berdiri aku mendengar keributan. Aku segera menghampirinya. Seseorang berkelahi, aku menelusup di kerumunan orang yang sedang ribut. Saat aku sampai pada titik tengah aku melihat seorang gadis terlihat sedang menampar seorang gadis yang lain. Sepertinya aku mengenalnya. Gadis berbaju hitam putih dengan sneaker berwarna senada. Park Rae Na!

Aku melerai kedua orang gadis tersebut. Salah satunya ambruk, entah siapa aku juga mengenalnya. Rae Na masih ingin menendangnya.

“Park Rae Na! Hentikan!” aku berteriak pada Rae Na.

“Kau jangan ikut campur!” Rae na tidak terima.

“Cukup Park Rae Na.” Leraiku menurunkan nada suaraku.

“Kau jangan ikut campur.” Dia masih berusaha menendang gadis itu namun aku menahan tubuhnya.

“Hentikan! Kau bisa membunuhnya!” kali ini teriakanku lebih keras dari yang tadi. Rae Na berhenti dan balas menatapku tajam. Nafasnya memburu menahan amarah. Aku mengangkat gadis yang tergeletak pingsan di tanah.

“Dia hanya berpura-pura!” ucap Rae Na.

“Kau tidak melihat dia sudah tidak berdaya?!” senitku membalasnya. Dia ternganga, kilat kemarahan dan tidak terima terpancar jelas dimatanya.

“Dia hanya berpura-pura saja!” protesnya. Aku menyerahkan gadis tidak berdaya itu pada seseorang yang berdiri di dekatku.

“Bawa dia ke ruang kesehatan.”

“Ye.” Jawabnya sambil memapah gadis itu.

“Kau seharusnya tidak disini Park Rae Na.” Ucapku sambil menyeretnya dari kerumunan itu. Membawanya ke tempat sepi.

“Apa maksudmu aku tidak seharusnya ditempat ini?” dia menatapku dan menahan tangannya yang aku genggam, membuatku ikut berhenti.

“Park Rae Na. Tenangkan dirimu.” Aku berkata lembut padanya.

“Apa maksudmu? Aku tidak pantas disni?! Eoh?! Aish! Shin Min Young! Aku akan membunuhmu!” dia mengomel.

“Mengapa kau memukulnya?”

“Dia membuang makananku dan membicarakanku dengan Junhyung.”

“membicarakanmu dengan Junghyung?” aku bersandar di mobilku.

“CK! Aku tidak suka digosipkan.”

“Tapi kau memang terlihat ada apa-apa dengan Junhyung.”

“Tapi aku hanya berteman dengannya!” teriaknya.

“Jangan salah kan orang jika orang lain memnganggapnya lebih.”

“Kau juga tidak percaya padaku?” tanyanya sengit. Aku menatapnya.

“Jika aku tidak percaya kau mau apa?” tanyak. Tiba-tiba dia menginjak kakiku. Aku meringis kesakitan. Berlalu meninggalkanku.

“Yak! Park Rae Na!” aku menhan tangannya membuatnya tertarik kearahku.

“Kau lebih cantik seperti ini.” Aku berbisik di telinganya. Muka bersemu merah. Kau bisa juga merasa malu Park Rae Na?

“Shin Min Young! Aku akan benar-benar membunuhmu!” teriaknya lalu berlari mengikutiku.

“Antar aku pulang!”

“Shireo!” tolakku. Dia menarik tanganku. Aku tersenyum tertahan.

“Kalu begitu aku minta antarkan Yongg!” aku membekap mulutnya dan menariknya ke mobil.

Jung Soo’s POV

Aku duduk di ruang tengah bersama Ryu Jin. Dia duduk di pangkuanku sambil fokus menonton televisi. Aku menggelitiknya untuk mengganggunya. Dia mengalihkan tanganku. Jika sudah menonton kartun kesayangannya dia tidak bisa diganggu. Aku kembali menggelitiknya.

“Appa..” keluhnya. Dia sedikitpun bergeming saat aku mengganggunya.

“Ya.. apa kau tadi bermain dengan Tae Jun Ahjussi?” tanyaku berbisik di telinga Ryu Jin. Dia mengalihkan wajhku tanpa menoleh padaku. Eun Kyo tiba-tiba duduk disampingku.

“Oppa, ayo kita tidur.” Eun Kyo merengek. Menyandarkan kepalanya dipundakku. Aku menoleh padanya.

“Tapi anakmu masih ingin menonton kartun kesayangannya.” Jawabku sambilmengelus pipinya. Dai menghembuskan nafasnya.

“Tapi aku sudah mengantuk..” dia menarik kapalanya dan memandang Ryu Jin.

“Ryu Jin~a, ayo kita tidur.” Dia menutupi mata Ryu Jin dengan tangannya menghalangi Ryu Jin untuk menonton.

“Aaaaaa… Eomma…” Ryu Jin protes Eun Kyo mengganggunya. Dia mengulangi menutup mata Ryu Jin, Ryu Jin menggigit tangan Eun Kyo.

”Yak, Ryu Jin~a, appo..”

“Ryu Jin~a, tidak boleh seperti itu dengan Eommamu.” Ternyata pasangan paling mesra ini juga bisa berkelahi.

“Kau duluan ke kamar, nanti setelah acaranya selesai aku akan menyusul.” Aku mencubit pipinya.

“Aku tidak mau sendirian.” Dia merajuk.

“Arasseo, kalau begitu tidur disini dulu.” Dia berbaring di karpet sampai acara Ryu Jin selesai.

“Kajja, acaranya sudah selesai.” Eun Kyo menarik tanganku. Ryu Jin dan aku menatapnya heran. Aku menggidikkan bahu pada Ryu Jin, dia melakukan hal yang sama.

“Ayo kita tidur, Eommamu sudah sangat mengantuk.” Aku mengangkat tubuh Ryu Jin dan membawanya ke kamar. Membaringkan tubuh mungilnya k atas kasur dan ikut berbaring. Eun Kyo berbaring ditengah diantara aku dan Ryu Jin. Dia menghadap Ryu Jindan memunggungiku.

“Kau sudah minum susumu?” tanaku ditelinga Eun Kyo, ikut memiringkan badan. Dia mengangguk.

“Obatmu?” bisikku lagi. Mata Ryu Jin mulai menutup, Eun Kyo meniup kepalanya.

“Oppa, bukankah Ryu Jin sangat lucu? Aku rasa kita sudah cukup dengan memilikinya.” Mulai lagi, aku tidak suka jika arah pembicaraannya seperti ini. Seolah dia tidak menginginkan bayi kami.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, kau sudah minum obatmu?” ulangku bertanya. Dia mengangguk.

“Tidak bohong?” dia menggeleng.

“Mengenai Tae Jun, melakukan apa saja dia disini?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Mengenai sekretarismu, kalian pergi kemana saja hari ini?” aku tersenyum melihat muka masamnya. Sangat cantik berkali-kali lipat jika dia cemburu seperti ini, jarang-jarang dia menunjukkan cemburunya. Aku rasa Yeon Ji biasa saja, memang dia lebih modis dan suka berdandan, tidak sepertinya yang tampil apa adanya. Tapi justru itu yang membuatku jatuh cinta padanya setiap hari.

“Pejamkan mataku, kau bilang tadi sangat mengantuk.” Rajuknya.

“Shireo! Caeritakan dulu apa yang kau lakukan hari ini?”

“Em… seperti biasa, aku mengerjakan berkasku, lalu ada rapat harian, lalu aku…” aku mengantungkan kalimatku.

“Lalu apa? Apa yang kau lakukan bersama sekretarismu itu?” dia berbalik menghadapku. Aku tersenyum menggodanya.

“Lalu aku… pulang.”

“kau bohong kau pasti makan bersama sekretarismu dan pergi rapat bersamanya, lalu pulang bersama, lalu!” aku mencium bibirnya untuk menghentikan ocehannya yang tidak masuk akal da berlebihan, dia membalasnya. Aku melepaskan ciumanku dan memandangnya.

“Ayo tidur, sudah waktunya tidur.”

***

Aku membuka mataku dan mendapatinya masih tertidur pulas. Aku melihat Ryu Jin sudah tidak ada disamping Eun Kyo. Aku perlahan menyibak selimutku agar tidak membangunkannya. Mencari Ryu Jin, pasti dikamar Rae Na lagi.

“Rae Na~ya, Ryu Jin bersamamu?” aku mengetuk pintu kamarnya.

“Ye.” Sahutnya dari dalam. Aku bisa bernafas lega. Aku kembali ke kamar. Melihat Eun Kyo sudah terjaga dari tidurnya. Dia duduk.

“Oppa, kemanapagi-pagi sudah keluar?” tanyanya penuh selidik. “Kau menelepon seseorang?” tanyanya cepat aku menggeleng.

“Bohong.” Jawabnya cepat.

“Ya.. kau mulai lagi cemburu tidak beralasan.” Sejak dia bertemu dengan Yeon Ji, dia semakin serin cemburu dan menampakkanya.

“Hahahahaha. Aku tidak cemburu beralasan.” Tawa renyah keluar dari mulutnya, diakhiri dengan senyumnya yang sangat menawan. Aku terus memperhatikannya. Rambutnya yang sedikit berantakan tapi masih sangat menarik. Tubuhnya masih dililit selimut, dan senyumnya saat bangun tidur. Itu yang membuatku tidak tahan berjauhan darinya, aktifitasnya saat bangun tidur yang membuatku selalu merindukannya jika ada proyek diluar kota.

eun kyo

“Aku mau mandi dulu.” Aku melangkah ke kamar mandi.

“Mau cepat bertemu dengannya? Eoh?” sambarnya langsung. Mulai lagi kan? Aku masih bisa mendengarnya yang mengoceh diluar sana, hingga aku selesai mandi dia masih bermuka masam.

“Kau mandi Jagi~”

“Shireo!” jawabnya. Diluar sana aku mendengar bel berbunyi beberapa kali. Apa tidak ada yang bangun sudah siang begini? Aku berjalan menuju pintu depan. Membuka pintu dan mendapati serang wanita.

“Sol He~ssi..”

“Jung Soo~ssi. Aku mau bicara tentang Ryu Jin.” Jawabnya.

“Bisa kita bicara nanti? Aku akan meneleponmu, eo? Bagaimana?” aku melihat ke dalam, takut Eun Kyo melihatnya.

“Ye, arasseo. Aku akan menunggumu.” Jawabnya sambil berbalik dan melangkah meninggalkan halaman.

Di sebuah kafe tempat aku berjanji bertemu dengan Sol He, aku menunggunya sedikit khawatir, apa yang ingin dia bicarakan? Aku harap dia tidak mengambil Ryu Jin secepat ini.

“Jung Soo~ssi, maaf membuatmu lama menunggu.” Tiba-tiba dia ada dihadapanku. Duduk dihadapanku.

“kau mau minum apa?” tanyaku berbasa-basi.

“Ani, aku hanya ingin bilang aku ingin membawa Ryu Jin.” Jawabnya datar namun bagiku itu terdengar sangat nyaring hingga aku tidak mampu lagi untuk mendengar yang lain. Dia meneruskan penjelasannya namun telingaku berdengung mendengar kenyataaan dia ingin mengambil Ryu Jin.

“Dia bukan ibunya Ryu Jin! Aku melihatnya berbicara dengan seseorang tentang Ryu Jin dan uang.” Suara seseorang mengejutkanku dan membuatku menoleh padanya.

“Park Tae Jun.” Aku menatap wajahnya yang terlihat emosi.

TBC

 

Note : Annyeong Yeorobeun.. sudah lama menunggu ini? Hahahahaahahahahaha, mian menunggu lama.. karena sudah kujelaskan kan kenapa jadi postingnya lama? Ini juga masih menumpuk kerjaan. Hehehehehe, tapi karena aku merasa sangat merindukan Ryu Jin, makan lahirlah tulisan gaje ini. Heheheheheehe, semoga ada yang menyukainya. Hufh, lebih panjang dari biasanya, semoga dapat mengobati kerinduan kalian *lah elah pede ada yang kangen* saya memasukkan cast baru, ada yang tau? Udah liat dong pict nya? Cakep kan ya? Hahahahahaahahahahaha, pict nya semua spesial yang kangen sama Ryu Jin, terutama Indah Onn. Pas waktu memulai nulis ini lagi awalnya bingung, tapi pas udah beberapa baris nulis, ehem, ternyata ngalir sendiri, dan hasilnya beginilah, kaga jelas.. lama-lama kaya sinetron ya lama banget baru tamat. Berasa ga kepengen tamat arena ga mau kehilangan Ryu Jin. Sepertinya aku sudah kebanyakan ngomong, kalau begitu silakan komen setelah membaca note ini. Seperti yang selalu aku bilang, sampaikanlah walau satu kata, wahahahahahahahahaha. Komen kalian sebagai stimulanku untuk menulis, terserah mau lewat media apa komennya, aku terima ddengan senang hati… asal angan bikin mood aku jadi ilang aja. Dan seperti yang aku bilang, meski kalian tidak komen aku akan tetap berkhayal liar juga. Ini hasilnya menjijikkan begini, berasa pengen bermesraan selalu… hahahahahahahahaha *yadong berlebih muncul* sudahlah, silakan kalian komen. Gamsahamnida sudah mau baca…

106 responses »

  1. Eonny..
    Kyaaa..
    Hwhahahah.. Daebaaakk~..
    Aku ga mau ngapa”in kl uda bca FF’na eonny.. =)

    Baguss eonn~.. Hehehehe..
    Idin ada cowok cakep lagi..
    Tae Jun.. Hehe..
    Tp keliatan’na nyebelin TaeJun’na.. =P

    Eonny knp suka bau rambut’na Minho?
    Bener” deh eonny,
    Cemburuannya.. Ckckckc..
    Manjanya.. Ckckck.. Untuk nga nge’yadong.. >.<
    Kasian ci Teukie.. =P

    Jangan ambil Ryu Jin eon.. T.T
    Ga tau deh gmn jadinya Eunkyu tnpa Ryu Jin.. =c

    Ahahaha..
    Eonny mengakuinya,
    Yadong berlebih.. ∩.∩

    CL donk eon… ^^

  2. aigoooooooo
    eonnie ya typomu betebaran di chapt yg ini .____.
    tapi ya sudahlah eonn sibuk wajar .___.
    emmmm kalo lagi hamil emang labil yah untung teuk oppa gak ikutan labil LOL

    ryu jin~ imut~ sini sama noona ;___;
    eonn boleh nanya .__.? ini mau brapa chap?
    jangan panjang2 yah eonn chapnya aku lagi sibuk juga ;____;

    minho aku padamu komennya dilanjuttin besok yah udah malem ini TT^TT

      • yah……….. gak gitu juga eonn jangan next chap tamat dong TT^TT
        yah 3 ato 4 part lagi mungkin .__.? tergantung dari eonnie juga yang buat alurnya .__. kan saya cuma reader .__.V

        bukan gak bisa nulis eonn tapi kurang inspirasi ato ide mungkin (?)
        yang semangat eonn~ pantengin aja muka teuk oppa mana tau dapet ilham(?)

        saya miss stalker dong kalo eonn miss typo(?) LOL

  3. Hahaha akhir.a kluar jga on..

    Ryujin makin ngegemesin ya..
    It junghyun suka ma raena apa cma manas”in minho duang.,
    haha raena pke semigaun pen liat…

    It masa jumma jdi manja bgt dah ma ajussi

    oh iya 1 agy jumma jaga kndunganmu baek” walau ada ryujin tpi ksian yg d.perut g dprhatiin..

    Oh sgitu ajj komen.a
    bye bye

  4. ehemmmm,,tes tes
    rujiiiiinnnn annyeonggggg
    ahjumma kangeeeennnnn
    aigoooooo mkin pintar aja,,,

    sapa yg berani gebukin adik saya minho*toleh kiri kanan nyari orang*
    liat tuh muka cakep adik saya jdi memar deh*nunjuk muka minho*
    minho yaaaaa,sini noona obatin*tarik minho kepuskesmas*

    fikaaaa,,ternyata ketampanan tae jun msih di bawah si yeobo kalo mnurut onn
    ga da rasa deg2n kaya onn ngeliat yeppa waktu ngliat pikunya taejun,,itu berarti dia tdak tampan,,
    atauuuuu,mata saya yang katarak sodara2,,kudu periksa dlu ini ma*lgsung kabur ke optik*

    duuuhhh yg lgi pngen bermanja2,sini fika onn aja yg manjain kasian oppa capek,,
    mau diapain ma onn???
    dipijat,,disuapin,,didongengin,,
    onn siap,,asal bayarannya cocok,*plak*

    *aaaaaaa,,,omma”ryujin protes eunkyo mengganggunya
    =>akhirnya ponakan saya bisa mrah juga ma emaknya,,wkwkwkwk
    ryjinnn kalo ommanya ganggu lagi kabur ahjumma aja ya,,
    kita nonton kartun breng,,

    fik,,kok onn ga bisa buka gambarnya ryujin ya???

    alhamdululah ya,,.
    orang yg ngaku2 maminya ryujin itu ternyata palsu,,
    awas aja kalo sampai bawa pergi ponakan saya,,tak clurit sampean,,
    tapi siapa yg nyuruh buat ngaku2 jdi ibu ryujin??
    knpa ga nyuruhnya ke saya aja,,
    kan lumyan,dapat ryujin trus dpet uang juga,,
    bisa buat nonton ss4 tuh duit,,
    npntonnya breng ryujin biar ktemu appa nya*mulai ngayal*

    udah ah ngawur,,
    pamit dulu,mo main ma ryujin ma appa nya dlu,,,,,

    • jgn mau de, nanti tambah sakit km mah diobatin sm onnie..
      onnie, kbalik mata? cakepan tae jun… manis si sbnrnya, fotogenik…
      saya kepengen manja kadang suka marah, emosi tidak menentu.

      enak aja ryu jin tetep sama fika onn, apapun yg trjadi..
      knpa ya? pdhl itu fika bisa…
      onnie sarap…

  5. hosh.!! selesai baca…(^o^)

    eonni~ya,,seperti biasa…FF eon mampu membiusku *ceileh* untuk tdak melakukan apa-apa selain baca FF eon…hehe~😀

    istilah appa rumah tanggany keren tu eon..:P

    oh y eon,,ada tokoh baru…Tae Jun..apa dia bakal jadi menyebalkan eon..?? huh~ mengganggu hubngan eonni sama Teukioppa aja…:P

    waah eon..endingnya bikin penasaran…XD

    oke…aku rasa cukup…
    aku tunggu part berikutnya y eon…:) *bow*

  6. EONNIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII aku telat baru tau ada MLT part 12 -____- kok tumben ga sms?
    aku lagi jarang baca ff, gtw knp buka nih wp eh ada MLT *kok curhat*
    kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa RYU JIN aku kangen sama kamuuuuuuuuu, ya ampun makin hari makin unyu aja deh :3
    hahaha eun kyo bnr2 deh ya mncerminkan orang hamil bgt, moodnya ga nentu, tp aq sedih unn kok eun kyo kayak ga peduli gitu ya sm bayinya? aish kasian itu yg ada di perutnya, untung appa-nya baik bgt kyk malaikat.
    itu cast barunya boleh juga unn, dari pada ngarepin eun kyo mending sama saya yuk #plakk

  7. onnie:))) daebak banget, sempet bete sih sama Eun Kyo, maunya susah banget -_- reweeeeelnya itu looh. wkwkwk
    RYU JIN ?!! whoaa, makin imut yah:p ngiri banget sama Eun Kyo yang dimanjain, dibuatin susu, dipaksa makan, manis bangeeet :p makasih ya onni:) udah sms. eh eh si Tae Jun boleh juga yaaah, cakep siih wkwkwk *niat selingkuh* ditunggu part selanjutnya on😀

  8. ryujin tmbah kyeopta aja sih..
    It org tua ryujin bneran atau boongan sih, knpa taejun blg kyak gtu. Dya tau drmana cba? Jgn2 jungjin yg nyuruh tu org lagi..
    Teukppa emg suami yg bner2 p’hatian bruntung bgt eunkyo dpat suami kyak teukppa. Eunkyo onnie hrus tetap p’hatiin bayi yg ada d dlam kndunganmu dong, kasian kan teukppa udah buatnya susah2 #plakkk
    bayi yg ada d dlam kndunganmu jga btuh p’hatian onnie.
    Raena udh mulai cmbru dgn minho ni, kasian tuh minho udh hampir ptus asa mau ngejauhin raena. Ok sekian dri sya, di tnggu part slanjutnya ya onnie CL jga :*

  9. huwaaaa finally aku bs sls jg bcanya, karena lg ngurusin satu dan lain halnya *sok sbuk d aye* wkwk
    Dan yg plng parah gara2 aku histeris nonton MAMA smalem, jd bru kelar dh bacanya…wkwk #curcol

    Huwaaa knp eunkyo eon, jd manja dan cemburuan y? Wkwk bener2 brubah 180 drajat, trus teukyo knp jd lbh romantis… Aigoo…
    Dan untuk minna y ampun kpn mereka jd pasangan normal sih? Dan junhyung ya ampun terang2an blg suka sm rae na k minho, ngajak rbut dah…

    Dan omo knp tae jun ckep eon? Msh muda y tuh d poto.,wkwk

    Wah wah ternya solhee itu emak plsu nya ryu jin y? Y ampun eon makin seru, tp mkin bnyak tanda tanya nih? Jd ky lgu mw d bw kemana nih cerita? Wkwk#garing
    Okelah eon aku tunggu klnjutannya… Jg ff lainnya, dan yg pasti CL wkwk
    Okeh fighting eon!!!

  10. Yeoboooo…….
    Ini ga menjijikan !!
    Aku suka !
    Okeh !
    Tau ga?
    Aku bener2 keingetan muka teuki td mlm..aigoo, dia nangis..tapi kenapa di mata aku itu ekspresi mesum??

    Sumpah, ini ff puanjjuaaaaanggg bgt…
    Aku seneng bacanya…walaupun lama keluarnya, tapi pas muncul byk kaya gini…hoho…

    Yeobo, aku suka suka suka..
    Minna ada ‘itu’nya,
    teukyo ada ‘itu’nya,
    jinki mana?

    I love u beib..
    Jeongmal….
    Apa lagi karya oretoretanmu..
    *cipok*

  11. kalo onn sarap brarti oppa juga
    kami kan saudra dikandung,,

    fikaaa suamimu mkin hari mkin ckep aja ya
    kalo bkan oppa sendri onn gaet juga tuh orang
    tpi si yeobo juga ga kalah cakep bin nambah awet muda aja skrang,,
    mkin jatuh cintrong ga karuan ini saya,,
    untuk pertma kalinya aku ga kepkiran selingkuh drimu yeobo,,
    knapa jdi ajang curhat ini komen yaaakk,,

    fik,,onn mo jln2 dlu ma ryujin ma oppa,mo ngrayain kmnangan mreka
    fika jga rumah ya bae2,,,
    jgn nakal,minum susu nya*plak*

    ayo oppaaaaa,,ryujiiiiinnn
    kita brgkat,,,
    daa fikaaaaaa*lambai2 tangan ke fika*

  12. Akhirnya publish juga eonn . . . .😀

    Wew eon part ini part jealous ia ?

    Tae jon cakep eon xlo eon ga mau lempar ke aku ja ga papa hahaha

    itu yang ngaku” ibunya ryujin disuruh ma siapa ?
    Seneng baca part ini troublenya dkit LANJUTKAN eon . . . .:D

  13. aih lama2 aye bs suka ma teukie *oops* sedar2 dia kan oppa ku hehehe
    Aduh teukie feel nya dpt bgt punya baby
    Udah gitu suami teladan juga hehehe emang anak sekolah
    Waq poko.a keren bgt dah teukie oppa

    Ehemmm ehemmm mino makin terbakar cemburu ni kekeke dasar rae na nya aja nakal, deket mulu ma jonghyun di depan mino, untuk ga di tendang ke kutub utara ma mino

    Tae jun siapakah dia ?

    • jangaaaaaaaaaaaannnnn km sm onge aja snaaaaaaaa
      memang keren suami saya.

      klo aku jadi rae na juga bakalan bingung, tp mungkin saya akan memilih junhyung, bukan jonhyung… cause i like bad boy, but i love good man! buahahahahahahahaha. saat remaja sdkit suka bad boy, tapi pas sudah dewasa hate bad man!

  14. eonni..jgn cemburu ma sekretarisx..kan teukie oppa cinta ma eonnie..hehehe..
    Kasian teukie oppa dcuekin kalo da minho krumah..hehehe
    park tae jun,sapa lg??trus sapa yg nyuruh prempuan itu ngambil ryujin??

  15. astaga part kali ini bnyk konflik n castx memang bnr kyk sinetron tapi gpp dech..
    oh ya jgn sampe rae na ma junhyung ato jgn sampe tae jun ngerebut eun kyo ntar aq culik si tae jun biar gak ganggu rumah tangga orang…hehehe
    Part selanjutx aq tunggu..^_^

  16. yeyy, akhirnya di publish juga, awalnya agak bingung, di part 11 kemarin kan endingnya ada orang yang mau ambil anak, kok tiba-tiba kagak dibahas. Yaah, moga-moga aja identitas ibu-ibu itu terungkap😀
    aigo, eun kyo onnie, kamu kenapa kayak nggak menginkan anak yg sedang kamu kandung, jangan buat leeteuk oppa nge-galau dong😀
    aku udah nggak sabar nunggu anak itu lahir, kira-kira namja atau yeoja, onn?

    • aku mau namja lagi, tapi oppa kepengen yeoja..
      kita liat aja entar lahirannya apa yang keluar…
      aku bukannya tidak menginginkan, hanya saja, ryu jin saja rasanya cukup *plak*
      part depan mungkin diceritain emak-emak itu siapa..

  17. Hollaaa~ Na bru muncul.. mian,kelewat telat..

    Teuki oppa,harus sabar mnghadapi eonnie yah.. maklum,org hamud emank bgtu..wkwk *sotoy*

    Eunkyo eonnie,knp kau jd sgt mmperhatikn minho? rambut’y harum? astagaa,kasian oppa eon,dia sgt cemburu dg dongsaeng kesayangnmu itu *nunjuk minho*

    Ryu-ya,tiap pagi hrus k’kmr noona,arra? biar oppa n min young kewalahan nyari qm..jd silakan sembunyi d’kmr noona..wkwk *d’tampolminyoung*

    Min young-a knp kau sgt suka warna pink? #lol

  18. Teuki oppa, jgn cemburu pd eonnie ya.. Tae Jun oppa hnya brtepuk sblh tgn.. sm hal’y dg kibum q #lol tp aq menganggap kibum sbg hyung q n aq menyayangi’y.. brarti itu tdk sma..hahaa
    eonnie jd suka cemburu buta..wkwk

    Minho-ya,kesabaranmu d’uji hbs2an kali ini,tenang.. Rae Na memang bgtu,tp d’hati’y. . Bla,bla,blaa..#plukk
    Apa MinNa bnr2 sdh d’restui? Ayo, Hwaithing MinNa !!
    Min Young,hati2 d’amuk Rae Na yah..hehe
    Yonggun-a,Minho-ya..mian mmbuat klian babak belur.. aq mnyayangi kalian,dg rasa yg brbeda

  19. reader baru nich…. bosen ngubek-ubek WP jalan2 eh nemu blog ini…
    Wuah baca cerita ini aku jadi semakin cinta ma Leeteuk hahaha….
    Ceritanya bagus.wlo agak mendayu-dayu (?)
    salam kenal ya…bener2 komen gk penting nih🙂

    • ne, salam kenal… si saya memang manusia lebay di dunia, wahahahahahahaha, tidak ada komen yang tidak penting, terima kasih udah mampir… terima kasih juga udah semakin cinta sama leeteuk…

  20. Anyeong,,aku reader bru chingu,,nabila imnida..^^
    Bingung nich mau bilang apa..tp inti ny i like this/daebak..crita nya ngena bgt,,ga spti sinetron di tv yg mulek *apa sich lu..wlopun blm bca ff sblumnya tp q udh ngerti..
    ,.q jg benci bgt sama yg ngaku omma ny ryu-jin..ea moga ja nti happy end ja eah,,q tnggu part brikutnya,,FIGHTING chingu,,^^

  21. Annyeong ..aku reader baru di blok ini ..
    Baru comment disini,hbs baca dari awal ..mata saya agak berkunang kunang hahaha lebih dari 4 jam *curcol* ..
    Ceritanya bagussss,suka karakter castnya ..
    Salut ama teuki yg sabar bnget ..
    Di tunggu lanjutannya yaaa :))

  22. Eunkyo nyaaa bandel banget yaaa
    Ampe jungsoo oppa nya marah
    Hehehe

    Huaaaaaaaaaa eonniiii
    Itu ryu jin anak siapa sih sebenernya ??
    Ibu ibu itu siapa ?
    ƪ‎​​‎​(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)ʃ

    Ko makin seru aja sih eon..

  23. FF-nya keren,….konfliknya turun naik *sok tau*…….
    aku suka karakter Leeteuk yang protect bgt sama Eun Kyo, dia juga penyayang dan sabar ama kelakuan istrinya yang manja berat hahaha…..

    Aku tadinya kurang minat baca ff yang aktornya diluar member Suju, tapi pas baca FF ini, lumayan bikin aku minat baca FF lain diluar para member….

    Oh ya,,,salam kenal….aku reader baru
    Puput imnida….89 line….

    • konfliknya naik trun karena feel dan kondisiku juga turun naik sayang…
      berpengaruh sama tulisan aku…

      aku memang super manja pura2 kuat sebenarnya…
      haha, itu atas permintaan Rae Na, tapi klo minho aku memang suka… junhyung lumayan lah…

      salam kenal juga… bangapseumnida…
      aku fika 86 line… 6 sm 9 bisa dibolak balik…
      terima kasih udah baca…
      silakan melanjutkan semoga menikmati sayang…

  24. onie,,,,,
    speechless bgt deh baca ff oen yg ini,,,
    makin mendekati akhir makin seru nih ceritanya🙂

    ngakak deh liat raena ma si pinky berdebat mulu,,,
    si min young perannya jadi pengasuh tapi bisa mencuri perhatian reader nih,lumayan unik karakternya,,,

    siapa lagi nih si tae jun,ada hubungankah sama ryu jin,,,penasarannnnn,,,,
    lanjut lagi next part,,,,
    bye oen!!!!

  25. eonnnni. *lap ingus* #knpa aku jorok??. Eoni aku mau ngomen dipart ini. Tpi *keisak* aku lg galau. Galaunya saat mau buat komen. Aku dpt chat dri teman, trus dia blg laki aku gatel lg. Trus chek, ternyata benarnya. Aku ngeblank semua yg bkal aku keluarin ilang, mianhae eon aku gak tau mau komen apa , aku hanya bsa ningalin jejak dgn curcol gaje aku. Yg aku ingat part ini sbrti biasa DAEBAK!! Mianhae eonni *bow brang etuek oppa* #kabur

    • cup cup… jangan sedih aaaaahhhhhh biasa klo laki gatel… asal jangan cewe aja… *injek kaki oppa*
      iye makasih udah baca… tp jangan ampe ninggalin ingus gtu dong!!
      kirain nangis karena MLT…

  26. Wuah itu komen aku kepotong Eon T.T
    Tambahan dikit doang sih Eon, itu solhe ibu kandungnya Ryu Jin ato bukan? Kayaknya punya niat ga baik:/
    Oke ini membuat saya penasaran tingkat dewa (?)
    Udah gitu aja *eh
    Sebenarnya mau komen apa sih aku? Ga penting banget *abaikan ==”
    Oke deh Eon aku mau lanjut baca dulu kkk~ annyeong~ *lambai2 brg kyu*

  27. Argh,jngn2 tu cwe suruhanx Jungjin!
    Tae jun koq imut bgt ce onn gambrx!
    Tp te2p g bs ngalain imutx Ryujin,h
    sumpah piku2x bkin gemes!
    jd pngen cpt2 nikah trus puxa anak de!
    tp q g sk m Kyo yg lbh meratiin Ryu dr pd kandunganx ndri!kn kasian de2k bayix!
    darah hrusx lbh kntal dr air!hehehe
    Q lnjt bcx ah.!

  28. eonnie ><

    perasaanku campur aduk baca part ini..
    senyum2 kalo semua lagi ngumpul, geregetan kalo minho lagi cemburu, kyaaaaa

    daeeebbaaakkk !!
    fika eonnie, MANSEIII !

  29. Aigoo. . . eunkyo eonni lgi ngidam yak. . . bawaannya cemburuan melulu. . ^^
    lucunya liat kebersamaan ayah sma anak. . ryu jin . . makin hari makin imut za. .><
    itu siapa yg mw ngambil ryu jin ????!!!!

  30. MWO?! jadi yang ngaku jadi ibunya ryu jin itu bukan ibunya ryu jin??
    terus siapa dong ibunya ryu jin eonni??
    seneng deh ngeliat rae na yang udah mulai menerima minho gitu.🙂
    ciee.. eun kyo udah mulai cemburu sama jungsoo oppa. ciee..ciee *colek-colek tangan eun kyo*
    wah semakin seru nih eonni.🙂
    aku baca part selanjutnya ya.
    istri kyuhyun pamit. annyeong eonni. *hormat bareng kyuhyun*

  31. eunkyo nya cemburuan. raena ma minho dah di setujui ma appa minho? bakalan married gak ni
    tae jun kok tiba” nongol gitu aja lagian ryujin kyk gak suka gtu ma taejun nya

  32. Andwaeeee…ryujin anak kyo eon ma teukppa…bukan yg lain…saya tidak rela ryujin diambil…
    Eeeiiiyy…taejun ganteng yah…heheee….eunkyo kagak mau,sayah jg mau ko bang…wkwkwk…
    Aish…sebel sama siapnya raena…mbok kl suka bilang suka napa…gemes kan jdinya…kasian minhonyaaaa…

  33. q dah deg2an baca y pas cwe y mau bawa Ryu jin untung ada Tae jun yg bilang dia bukan eomma y Ryu jin,,, syukur deh klo bener jadi eun kyo y ngak depresi n takut Ryu jin y diambil…..
    tu Rae na y mukulin min young temen kampus y ya??? knp q mikir y dia malah pukul pengasuh y Ryu jin….
    ya junhyung y udah mulai suka ma Rae na,,,, padahal dah lega appa y minjo dah setuju ma hubungan mereka sekarang malah da junhyung,,, berharap junhyung ngak ngerebut Rae na dar minho,,, Rae na y susah bgt ngebuat balesan kata cinta buat minho…..
    eun kyo y jadi manja n cemburuan gt,,,,tapi suka sikap y dari pada yg dulu agak cuek….

  34. ahhaha
    si Rae na punya lawan buat bertarung ya, si Min young itu,,,
    gokil banget dach merka berduka,
    cocok jadi sahabat mskipun sering bertengkar,,,
    wah Tae Jun ganteng bgt ya???
    aku penasaran dia disini selain mantanya Eun Kyo,
    dia sebagai apa sich???

  35. Ya allah , emang ryu jin itu anak siapa ?
    Kok tae jun bilang , sol he bukan ibu kandung , kalau emang ryu jin gag punya orang tua , biar eun kyo yng mengurusnya ,

    Gag tega kalau liat eun kyo berpisah sama ryu jin😥

  36. Wahhh kren2,,itu makny ryu jin bneran apa gak lah???
    wahh smakin pnasrann…..tpi yg 9 10 d protect td,,jd blm bca,,mw pwny dong onn???

  37. aduhhh kenapa bgitu romantis.. gemes bgd sm sikap.a eunkyo yg manja.. bikin melayang cerita.a… serasa itu aq… kkkkk.. part selanjut.a d protect lg y? yah.. harus aq longkap lg cerita.a.. hiks hiks..

  38. agak kesel sih sama eunkyo >< kurang baik apa coba jungsoo oppa tp dia masa lbh milih ryujin.. anaknya sendiri di cuekin. itu taejun smg ga niat jahat o:)

  39. eonni knapa rasa’a eonni tdk perhatian sama anau yg d kndung mu eon? kan kasian gak dpt p’hatian hehehe itu pict tae jun keren gila hehehe rae na knapa u gag ngaku sama minho? ok nanti mau lnjt bca lagi

  40. Aigoo. .aigoo. .masa kehamilan yang manis. . .cemburuan. .kkk
    rae na – minho. .makin gencar aja nihhhh. .
    Sapa lagi tuh. . . Park tae jun seol hi?haduh. . Haduhhhh. .penasaran. . Penasaran. .brb next chap

  41. Aigoo. .aigoo. .masa kehamilan yang manis. . .cemburuan. .kkk
    rae na – minho. .makin gencar aja nihhhh. .
    Sapa lagi tuh. . . Park tae jun seol hi?haduh. . Haduhhhh. .penasaran. . Penasaran. .brb next chap

  42. serius itu ommanya ryujin..kasian eunkyoo blum ditinggal ryujin aj udh kya gitu apalagi klo bneran ditinggal..swoo sweet bngt kbersmaan mereka bertiga,,ihhgg ryujin gemesin bngt..eunkyoo mulai ngidam aneh deeh..moodnya berubah2..sbarya teuki oppa..hahahah..taejun???uhhggg spa lgi tu..apakah org 3 nntinya dikehidupan eunkyoo…ahhgggg menasaran…part selanjutnya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s