Angel with Love

Standar

AUTHOR : PARK HYUNCHAN

Setiap kali aku mencoba untuk terbang

Aku selalu terjatuh

Tanpa sayap aku merasa begitu kecil

Aku rasa aku membutuhkanmu

Setiap kali aku melihat wajahmu dalam mimpiku

Aku melihatmu

Kau selalu menghantuiku

Aku rasa aku membutuhkanmu

EUNKYO’S POV

“Apa aku bisa melakukannya,waktu yang diberikan ketua malaikat hanya empat belas hari. Bagaimana jika aku gagal?” Aku bertanya pada malaikat disampingku,ia yang menyampaikan tugas dari dewan malaikat untukku.

“Kalau kau melaksanakan pekerjaanmu dengan baik kau tidak akan gagal Eun-kyo~ya. Ingat tujuan awalmu, kau ingin menjadi seorang malaikat bukan? Atau kau ingin selamanya menjadi peri?” tanyanya. Aku sedikit ragu pada diriku. Ia benar, aku tak ingin selamanya menjadi peri.

“Akan kucoba” ucapku berusaha meyakinkan diri sendiri. Ia tersenyum padaku memberiku semangat.

Aku adalah seorang peri. Peri pengasih.pekerjaanku tidak buruk. Aku sering mengunjungi  bumi. Salah satu planet yang ada di tata surya langit. Tempat dimana sebagian orang orangnya haus akan kasih sayang, dan tugasku membagikan rasa itu pada setiap orang yang kehabisan kadar kasih sayang antar sesama. Aku bangga dengan pekerjaanku ini, karena sedikit demi sedikit kebencian diantara para manusia itu sudah berkurang.

Aku punya satu keinginan yaitu menjadi malaikat, jabatan yang sangat pantas untukku apabila kau mengerjakan kewajibanku dengan sukses. Untuk menuju posisi itu aku harus melewati tugas yang akan diberikan langsung oleh dewan  malaikat disini. Jika kau berhasil dalam tugas itu maka kau akan menjadi malaikat sesuai yang kau inginkan. Obsesiku adalah menjadi malaikat cinta dan aku sedang dalam proses itu sekarang. Aku medapatkan tugas dari ketua untuk mengubah seorang manusia.pekerjaan ini sangat berat untukku.bukan dari  jenis pekerjaannya tapi dari orang yang akan aku ubah itu. Jika dia hanya manusia biasa mungkin akan mudah, tapi dia seorang malaikat yang tersesat. Dia lebih memilih menjadi seorang manusia daripada seorang malaikat karena cintanya yang begitu besar pada seorang manusia. Dan tugasku adalah mengembalikannya lagi ke derwolke, membuatnya bersedia menjadi seorang malaikat lagi.

“Kau terlihat ragu.” Entah sejak kapan Jina sudah ada di sampingku, karena dari tadi pikiranku memang tidak fokus.

“Kau benar,selama ini aku selalu yakin saat menerima perintah apapun. Entah kenapa untuk kali ini aku takut kalau aku gagal.” aku menghela nafasku sejenak.

“Kau sudah melihat riwayatnya?” tanyanya.

“Sudah, namanya park jungsoo, dulu ia seorang malaikat yang sangat bijaksana, sekarang ia seorang manusia, manusia berhati malaikat. Ia lebih memilih posisi itu karena wanita yang dicintainya”. sungguh beruntung wanita itu, itulah yang ada dibenakku.

“Sungguh beruntung  jadi gadis itu. Kkapan kau akan memulainya?” tanyanya.

“Besok,aku ingin mempersiapkan mentalku hari ini.” kutarik nafasku lalu kuhembuskan perlahan. Berharap bisa mengurangi sedikit bebanku. Beban jika aku gagal maka kesempatanku untuk menjadi malaikat akan hilang.

“Jalani dulu saja,kau harus yakin pada dirimu sendiri bahwa kau bisa melakukannya, jika kau berhasil kita akan berada dikamar dan ruangan yang sama, dan aku sangat berharap itu terjadi.” Jina memelukku dan memberi ku kekuatan.kemudian ia beranjak pergi.

Jina sudah lebih dulu menjadi malaikat karna ia berhasil menjalankan tugasnya menyelamatkan seorang pria  yang ingin mengakhiri hidupnya dengan putus asa. Dulu ia teman satu kamar denganku saat mejadi peri tapi sekarang aku berpisah darinya karena memang di derwolke  tempat peri dan malaikat itu terpisah.manusia mungkin tak menyadari adanya kami ataupun derwolke. Derwolke, dunia langit, yang menurut manusia adalah dongeng belaka. Tapi sebenarnya adalah nyata. Derwolke adalah surga kecil yang dihuni oleh peri dan malaikat putih. Istana dengan dikelilingi oleh taman bunga yang mengeluarkan bau harum menyegarkan, tempat yang sangat nyaman.

AUTHOR’S POV

Disatu  tempat terlihat seorang pria sedang meandangi  photo seorang wanita yang sedang tersenyum yang  terbingkai apik. Setiap hari  ia memandang photo itu dengan tegar. Mengingat kenangan manis yang pernah mereka ukir sebelum kepergian gadis itu.

“Jeongmal bogoshipo jagiya, apa kau mendengarku, atau melihatku dari atas sana?” air mata terus menetes di pipinya, mengingat kembali bagaimana ia bertemu dengan wanita yang ada dalam photo itu.

FLASH BACK

“Annyeong Elysia ~ssi” seorang pria dengan senyum malaikatnya mendekati Elysia  yang sedang memperhatikan beberapa orang anak bermain dengan riang di taman yang sering ia kunjungi ini.

“Nugu?” Elysia  mengerutkan dahinya,bingung dengan orang yang tidak dikenalnya menyapanya bahkan tau namanya.

“Park Jung Soo imnida, malaikat penyelamat untukmu”

“Mwo?? Hahahahahahahaha” Elysia  tertawa mendengar pernyataan pria itu.benar-benar menggelikan. Ia mengakui  pria itu memang berwajah malaikat, tapi untuk apa ia berkata  seperti itu?

“Kau berniat menggodaku?” tanya Elysia  lagi. Pria itu tidak berhenti tersenyum. Senyum yang menawan karena terdapat  lesung pipi yang menambah nilai plus untuk senyumannya.

“Ani, aku berkata yang sesungguhnya. Aku penyelamat untuk keputus asaanmu atas masalah yang sedang kau hadapi” jelasnya

“Maksudmu?”

“penyakit yang kau derita tak akan membuatmu bertahan lama,dan kau sedang memikirkan siapa yang akan mengurus keluarga pantimu, aku benarkan?”

Elysia  tersentak,bingung bagaimana bisa pria itu tau tentangnya, terlebih lagi tentang isi pikirannya, karena ia memang sedag memikirkan hal yang disebutkan pria itu tadi.

“Bagaimana kau bisa tau? Apa kau mata-mata Appa?” Elysia mulai bergerak menjauh dari pria itu.

“Ani, aku sudah katakan tadi aku adalah malaikat penyelamatmu.kau akan pergi dengan tenang menuju surga.”

“Yaakk,kau mendoakan ku mati secepat itu, jangan -jangan kau malaikat pencabut nyawa

“Apa aku terlihat sekelam itu?” Elysia  menggelengkan kepalanya.

“ Kenalkan aku pada keluarga pantimu”

“Geure,aku akan membawamu kesana”

Elysia dengan tidak sadar ingin menggandeng tangan  Jung Soo saat ia membawa pria itu ke panti sosial yang ia dirikan setahun yang lalu.tempat  dimana ia mendapatkan arti keluarga, karena dirumahnya yang megah ia selalu merasa kesepian, orang tuanya terlalu sibuk bekerja. Pembangunan panti itu sendiri tidak mendapat persetujuan dari Appanya, tapi ia tetap bersikeras membangunnya karena ia ingin membagi dan mendapatkan banyak cinta sebelum ia meninggalkan dunia ini.

Elysia tersentak karena tak dapat meraih tangan jungsoo.

“Kau tak bisa menyentuhku Elysia~ssi, karena kita berbeda” sekarang ia percaya bahwa pria disampingnya itu adalah malaikat utusan Tuhan.

“Ini tempatnya” ujar Elysia. Jung Soo menyapukan pandangannya mengitari bangunan sederhana itu.

“Tempat ini memang sederhana, tapi ada banyak cinta disini” lanjut Elysia sambil tersenyum bahagia. Jungsoo terpaku melihat senyum itu, ada yang bergemuruh di dadanya. Entah apa ia juga tidak mengerti.

“ahjummaaaaaaa.” seorang anak kecil keluar dari rumah itu dan langsung berlari dan memeluk Elysia.Elysia  mengangkat tubuh anak kecil itu.

“Aigoo Ryu Jin~a, Ahjumma sudah sering bilang padamu agar jangan berlari, nanti kau terjatuh” ia mencium gemas pipi anak kecil yang bernama Ryu Jin itu.

“Onnie-ya,kau datang?”tanya seorang gadis yang  juga keluar dari rumah yang sama.

“Ne, Rae Na~ya, aku ingin memperkenalkan kalian pada teman baruku.”

Rae Na  memandang heran pada Elysia.

“Mana temanmu itu Onnie? Kau hanya sendiri.” tanyanya Rae Na

“Ne?” Elysia menatap bingung pada Jung Soo, yang ditatap hanya tersenyum.

“Hanya kau yang bisa melihatku Elysia~ssi!” ucap Jung Soo, dan disadari oleh Elysia

Jung Soo menatap kagum rumah itu, disetiap dindingnya tertempel lukisan karya anak yang ada di panti itu. Mereka semua sedang berkumpul di ruang keluarga di rumah ini, saling bercanda dan tertawa bahagia, apalagi saat melihat Elysia datang. Ia sangat dekat dengan anak- anak di panti itu. Sangat wajar bila Elysia  tak sanggup meninggalkan dunia ini, karena kedekatanya pada anak- anak ini.

FLASH BACK END

“Kau tau jagiya, aku sangat terpesona saat melihatmu tertawa bersama anak itu. Beban yang kau pikul seakan terlepas begitu saja.” Jung Soo mengelus photo itu berulang kali.

“Kau ingat jagiya, perjuanga kita  meyakinkan  orang tuamu bahwa anak- anak yang ada dipanti itu bisa menggantikanmu memberikan kebahagiaan bagi orang tuamu. Hingga mereka yakin akan semuanya saat mendegar bahwa kau tidak akan lama lagi pergi menuju surga.”

“Kau benar jagiya, mereka bahagia sekarang, Eomma dan Appa sudah menemukan cinta yang kau berikan pada mereka. Dulu aku memang malaikat, tapi menurutku kaulah malaikat yang sebenarnya, malaikat tak bersayap.” Jung Soo memejamkan matanya, ingin merasakan sesuatu yang sangat ia rindukan,menghembuskan nafas secara perlahan.

PARK JUNGSOO’S POV

Entah kenapa hari ini aku ingin sekali pergi ke taman tempat pertama kali aku bertemu dengan Elysia. Aku duduk dikursi yang menjadi saksi saat pertama kali aku menyapanya. Terpana melihatnya tertawa karena pengakuanku seorang malaikat. Aku tak bisa lepas darinya, tugas yang ku emban ternyata membuatku ingin mengenalnya dan memilikinya. Sangat mencintainya meski aku tau itu melanggar aturan langit.saat aku dihadapkan pada pilihan yang sulit antara hati dan kewajibanku, aku memilihnya  padahal aku sadar dia  akan meninggalkanku.

Semua kenanganku tentangnya tak akan pernah ada habisnya. Aku tersenyum sediri mengingat semuanya. Hanya sedetik, karena aku merasa seseorang memperhatikanku. Aku menolehkan kepalaku kesamping kiriku., dan aku melihat seorang gadis cantik sedang memperhatikanku dengan ekspresi yang sulit ku artikan.

“Maaf,apa  aku mengenal anda?” tanyaku.Ia tak menjawabku hanya mengerjapkan matanya, aku merasa risih ditatap terus terusan olehnya.

“Maaf Nona, aku tidak suka ditatap olehmu sejak tadi, kau membuatku risih” aku memberi tekanan pada setiap kata kataku. Bukannya mengalihkan pandangannya, ia malah tersenyum menatapku. Aku terpaku pada senyumnya. Seyum itu mengingatkan ku pada seseorang.aku menggelengkan kepala berkali kali, menghilangkan halusinasiku. Mungkin ini efek dari rasa rinduku.

“Annyeong Jung Soo~ssi, Eun Kyo imnida, Park Eun Kyo.” ia menjulurkan tangannya, mengajakku bersalaman. Aku menyambut uluran tangan itu tapi… kenapa tangannya tak tersentuh. Aku mengalihkan tatapan terkejutku padanya, menatap matanya dalam.

“Kau sebenarnya siapa?” tanyaku . Nadaku sedikit tajam, aku pernah mengalami ini, jangan katakan kalau……

“Aku tau kau tidak bodoh Jung Soo~ssi, kau pernah mengalaminya.” senyum itu hilang dari wajahnya, digantikan tatapan sayunya.

“Apa maksudmu datang kesini untuk….?” aku tak melanjutkan ucapanku. Aku sudah mendapatkan jawaban itu dari ekspresi wajahnya. Aku tak menyangka mereka akan menyuruh seseorang untuk menjemputku.

“Aku seorang peri, aku harus kembali membawamu ke istana langit, kalau aku gagal aku tidak akan menjadi seorang malaikat” para dewan  itu memang pintar. Mereka tau cara meluluhkan hatiku.

“Aku sudah memilih jalanku sendiri, aku tidak akan kembali kesana. Waktumu akan sia- sia.”

“Dan kau membuat aku gagal dalam tugasku, aku tau kau tak sekejam itu Jung So~ ssi” Inilah yang kumaksud.mereka sangat tau kalau aku tak pernah tega menyakiti siapapun.

“Itu bukan urusanku” aku beranjak meninggalkan taman itu, ia mengikutiku.

“Coba pikirkan lagi Jung Soo~ssi, aku tau disudut hatimu kau masih menginginkannya.” Ia masih terus mengikutiku sambil mengoceh, aku tak megubrisnya.

PARK EUNKYO’S POV

Kemana hati malaikatnya itu? Tega ia menolak tawaranku untuk membawanya kembali. Paling tidak ia sedikit saja memikirkan bagaimana perasaanku jika aku gagal membawanya. Mimpiku yang sedikit lagi akan kuraih akan terhempas begitu saja. Apa yang harus kulakukan agar ia bersedia?

Aku terus mengikutinya berjalan hingga sampai di sebuah rumah yang tidak terlalu besar namun cukup asri. Mungkin ini rumahnya. Ia membuka pintu rumahnya, masuk kedalam tanpa menghiraukanku. Aku mengikutinya masuk kedalam rumahnya, tapi terhenti didepan pintu karena ia menutup pintunya dan membuat wajahku mengenai daun pintu. Aku memang tak tersentuh olehnya tapi aku bisa menyentuh benda. Dan ia juga tau akan hal itu.

“Aw! Appeuda…” sungutku. Aku membelai kening dan wajahku yang terbentur pintu, tega sekali dia pada wanita.

“Yak, untuk apa kau mengikutiku?” ternyata ia membuka pintu rumahnya hanya untuk membentakku.

“Untuk membujukmu, aku tak akan menyerah sampai kau bersedia.” Ia berjalan memasuki rumahnya, kali ini ia membiarkan pintunya terbuka, secara tak langsung ia mengijinkan aku masuk kerumahnya. Rumah yang bagus. Semua barang yang ada disini terata apik. Bukan barang mewah tapi penuh dengan keunikan. Diantara beberapa barang yang ada diatas meja hias aku melihat sebingkai photo. Seorang wanita cantik sedang tersenyum diphoto itu. Inikah wanita yang sangat dicintainya itu? Yang membuatnya menanggalkan sayap kebanggaan setiap malaikat.Aku melihatnya keluar dari sebuah kamar dengan pakaian yang rapi. Apa dia ingin pergi?!

“Seperti apapun kau membujukku aku tak akan ikut denganmu, karena aku punya banyak alasan untuk tetap tinggal disini. Dan aku rasa kau harus tau alasanku! Ikut aku.”

Selama perjalanan aku sibuk dengan pikiranku.menebak alasan apa yang akan diberikannya padaku. Tapi apapun alasannya aku tetap pada pendirianku. Mobilnya memasuki halaman sebuah rumah yang sederhana, lebih sederhana dari rumahnya namun sepertinya disini sangat nyaman. Setelah memakirkan mobilnya ia masuk kedalam rumah itu, aku terus mengikutinya.

“Annyeong, yeorobeun.” ia menyapa beberapa anak yang sedang asik bercanda. Anak itu menolehkan kepala mereka.

“Ahjussiiiiiii..” semuanya berdiri dan berlari kedalam pelukannya. Ekspresinya, ekspresi wajahnya membuatku terpaku. Wajah itu begitu bahagia saat bertemu dengan anak-anak ini. Kontras dengan raut kesedihan yang aku lihat saat ditaman. Apa ini salah satu alasan mengapa ia tetap memilih posisinya sekarang.

“Kalian semua sehat?” tanyanya dan dijawab dengan kompak oleh mereka. Ia memang tak memperkenalkanku pada mereka karena hanya dia yang bisa melihatku sekarang. Seorang peri tak bisa dilihat dengan mata biasa.

“Neeee…”

“Kalian bermainlah lagi.” Anak-anak itu kembali pada kegiatan mereka semula.

“Ini salah satu alasanku mengapa aku tak ingin kembali, mereka menjadi bagian hidupku sekarang. Jadi hentikan pemikiranmu untuk membawaku kembali kesana. Karena itu tak akan pernah terjadi” ia berjalan menuju halaman.duduk di bangku yang ada dibawah pohon yang rindang.

“Aku diposisi sulit Jung Soo~ssi,aku bisa membiarkanmu tapi aku juga tak mau kehilangan sesuatu yang selama ini aku impikan, mungkin kau menolak sekarang, tapi aku tidak akan menyerah. Dan aku akan terus mengikutimu sampai kau katakan ‘ya’.” Ia menolehkan pandanganya padaku dan tersenyum.baru kali ini aku melihatnya tersenyum langsung padaku. Senyum yang mempesona karena memamerkan lesung pipinya saat ia tersenyum.

“Aku akan menyambut tantanganmu Eun Kyo~ssi” aku terpaku dengan ucapan sekaligus ekspresi yang ditunjukannya. Apa maksudnya? Mengapa ekspresi wajahnya menyiratkan maksud lain. Jangan menebak Eun Kyo~ya, kalau kau tidak ingin menjadi kacau karena namja itu.

PARK JUNGSOO’S POV

Gadis yang unik. Senyumnya saat mirip dengan Elysia. Aku tau ia gugup berhadapan denganku tapi ia berusaha menutupinya. Aku sangat menghargai keinginannya. Aku tau ia berbuat seperti ini karena alasan yang tepat. Tapi aku memang tak ada niat untuk kembali pada diriku yang dulu. Aku bahagia dengan hidupku yang sekarang.

“Aku ingin pulang, kau kembalilah”

“ Aku tidak akan kembali ke derwolke  tanpa membawamu  Park Jung So~ ssi.” Dia benar benar gigih rupanya. Aku ikuti permainannya, yang pasti aku tak akan menyerah. Tapi,kalau aku kembali kesana apa aku akan bertemu dengan Elysia.

“Mungkin saja. Kalau kau memintanya pada ketua malaikat mungkin saja ia akan mengijinkannya” sahutnya. Dia membaca pikiranku?

“Kau lancang telah membaca pikiranku Eun Kyo~ssi! Masih berusaha membujukku rupanya.” Sambutku, ia mengerucutkan bibirnya. Mungkin ia kesal karena usahanya yang masih saja gagal. Wajahnya lucu saat sedang memajukan bibirnya,cantik. Mwo??? Astaga apa yang kulakukan. Apa yang terjadi padaku. Baru kali ini aku memuji wanita lain selain Elysia.

“Aku tak perduli kau suka atau tidak, aku akan terus mengikutimu sampai kau bilang ‘iya’. Lihat saja”

“Geure, kita lihat nanti” ucapku.

                                                                                                ****

KLONTANGGGG,,,

“Siapa yang membuat keributan dipagi hari seperti ini, mengganggu tidurku saja.”Aku bangun dari tidurku karena mendengar suara berisik yang berasal dari dapurku. Aku tinggal sendiri dirumah ini, bagaimana bisa ada orang yang mengacaukan dapurku? Aku turun dari tempat tidurku dan berjalan menuju kamar mandi untuk menyegarkan wajahku. Berjalan gontai menuju dapur karena mataku masih sukar untuk dibuka, aku ingin melihat siapa orang yang telah mengganggu tidurku.jangan-jangan seorang pencuri.

“Selamat pagi, apa kau selalu bangun siang disaat liburan.” Aku melihat sorang gadis sedang bereksperimen dengan bumbu dan sayuran didapurku. Berusaha menciptakan maha karya yang disebut masakan atau makanan. Ahh, kenapa aku melupakan gadis penguntit ini, ternyata dia yang membuat kebisingan itu. Dan apa-apaan ini? Mengapa dapurku menjadi kacau balau seperti ini?

“Kau apakan dapurku?!” teriakku.

“Apa kau tidak bisa berkata pelan pada seorang gadis” ujarnya .”Aku hanya berkreasi. Aku sering melihat manusia melakukan ini saat aku menjalankan tugasku, dan aku ingin mencobanya.” Ia tersenyum bangga dengan kemampuannya menghancurkan dapurku seperti kapal perompak yang habis perang. Mataku sakit melihat perabotan dapurku keluar dari tempatnya dan kotor teronggok di tempat penyucian. Sampah sayuran dan bumbu serta kulit telur berserakan dimana-mana. Kenapa ia tidak menggunakan sihirnya saja untuk membuat makanan. Ia tak perlu mengorbankan rumah ataupun dapurku seperti ini. Suasana yang merusak mataku saat bangun tidur.

“Yaak, saat ini posisiku tak bersayap, jadi aku ingin melakukan aktifitas seperti manusia biasa tanpa mengandalkan sihirku” ia membaca pikiranku lagi.

“Kalau begitu kau bersihkan dapurku yang sudah kau kacaukan ini sekarang juga.” Perintahku padanya.

“Apa kau tak punya seseorang yang membersihkannya? Aku tak tau cara membersihkannya, dan aku juga belum pernah melihat manusia melakukannya.” wajah polosnya benar-benar membuatku emosi sekarang. Apa ia tak merasa bersalah telah menghancurkan dapurku?

“Mianhae, aku akan menggunakan sihirku untuk membersihkannya” ia menunjukan wajah bersalahnya padaku. Ia membaca mantra untuk membuat dapurku kembali seperti semula. Sedetik kemudian dapurku terlihat rapi seperti sedia kala. Perabotan yang tadi ada ditempat penyucian kambali ketempatnya semula, sampah-sampah yang berserakan semua hilang dan menjadi bersih.

Ia meyajikan masakan buatannya itu ke meja makan lalu menyuruhku duduk dan mencoba masakannya. Nasi goreng Kimchi yang enak, ia bisa membuat masakan seenak ini. Padahal ini pertama kalinya ia mencobanya. Tidak ada kekurangan dalam rasanya, semuanya pas dilidahku. Aku mengalihkan pandanganku padanya yang sedang menatapku antusias, menunggu komentarku tentang hasil karyanya.

“Kau yakin tidak menggunakan sihir saat memasaknya?” tanyaku yang dijawab anggukan olehnya.

“Aku hanya mengolahnya dengan mengikuti seorang ibu yang aku lihat waktu itu. Apa rasanya enak?” ia bertanya padaku dengan wajah penuh harap. Berharap aku mengatakan iya. Aku menganggukan kepalaku tanda aku membenarkan kalau masakan yag dibuatnya memang enak.

“Jinjja~yo? Ah, senangnya. Tadinya aku khawatir kalau makanan ini akan membuat perutmu sakit” ia tersenyum manis padaku. Menangkupkan tangannya di depan dadanya.

“Kau memasak ini untukku, untung  rasanya enak kalau tidak aku bisa sakit karena memakannya.” marahku. Ia hanya tersenyum menanggapiku.

“Kau tidak berniat menyuapku dengan makanan  ini kan?” tanyaku

“Apa kau pikir aku peri yang seperti itu?” tanyanya dengan bibir mengerucut.

Aku dengan lahap semua yang terhidang di meja ini. Aku memang sedang lapar ketika bangun tidur tadi. Sedikit bersyukur ia melakukan ini semua, setidaknya aku tidak perlu lapar berkepanjangan karena ingin makan harus memasak dulu.

PARK EUNKYO’S POV

“Kau tidak berniat menyuapku dengan makanan  ini kan?” tanyanya denga mata menatapku curiga.aissshh, apa dia pikir aku sepicik itu? Eoh?

“Apa kau pikir aku peri yang seperti itu” sungutku. Aku memang memasak untuknya tadi pagi. Karena aku tau seorang manusia itu pasti akan lapar saat bangun tidur. Ia malah seenaknya menuduhku menyuapnya dengan masakanku. Aku memang tidak akan menyerah untuk membujuknya kembali ke derwolke. Tapi dengan cara yang baik dan tak ada paksaan. Meski aku tau batas waktuku tak lama.a Aku yakin hati malaikatnya itu pasti akan tersentuh.

“Apa kau sudah memikirkan penawaranku?” tanyaku, kegiatan makannya terhenti sejenak. Tapi hanya sedetik  dan langsung dilanjutkannya  kembali.

“Kau sudah tau jawabannya.” aku hanya bisa terdiam mendengar kata-katanya.

“Waktuku  hanya empat belas hari, dan ini sudah dua hari berarti tinggal dua belas hari lagi.” Ia tak menjawab apapun hanya gerakan menghabiskan makannya. Aku diam seribu bahasa, tak tau harus berkata apa lagi padanya.

Kulihat ia sudah rapi dengan setelan jasnya. Sepertinya ia akan berangkat bekerja, aku tau ia bekerja diperusahaan ayah dari gadis yang sangat ia cintai itu. Bekerja karena ia punya tanggung jawab terhadap anak-anak panti yang ia tunjukan padaku semalam. Ia terus melangkah menuju pintu tanpa menghiraukannku. Aku mendegar suara mobilnya yang perlahan semakin jauh dari rumah ini. Entah kenapa aku merasakan sakit ia memperlakukan ku seperti itu. Aku sangat tau ia tidak suka dengan kehadiranku yang sangat mengganggunya. Mengganggu karena memberinya pilihan untuk meninggalkan semua kenangan tentang wanita yang dicintainya. Sedikit iri pada gadis itu karena ada seorang pria yang mencintainya dengan segenap jiwanya. Tidak bisakah pria itu memandangku sedikit saja. Aissshh apa yang kupikirkan? Hal ini tak boleh terjadi, ini dilarang, aku tak boleh menyukai seorang manusia.

****

Hari ini aku berkunjung ke derwolke untuk bertemu Jina, sahabatku.aku ingin mencurahkan keluh kesahku padanya.Aku mencari Jina, menggunakan telepati yang kami punya untuk memberikan sinyal padanya bahwa aku sedang mencarinya. Saat aku membuka pintu kamarnya dan kuliat ia sedang santai dengan buku yang ada ditangannya, aku menghampirinya.

“Jina~ya” panggilku.ia menoleh padaku

“Apa yang terjadi? Tumben kau mencariku saat sedang menjalankan tugasmu. Biasanya kau akan menemuiku saat kau sudah menyelesaikannya” Jina meletakkan buku yang tadi sedang dibacanya, aku duduk di sebelahnya.

“Aku merasa pesimis” aku mamulai curhatku “Entah kenapa aku merasa tugas ini tak akan bisa aku selesaikan dengan baik.” keluhku. Ia menggenggam tanganku. Ia sering melakukannya apabila ingin menenangkanku.

“Kau baru menjalaninya dua hari Kyo~ya,masih tersisa dua belas hari lagi. Kesempatanmu masih ada, kita tidak tau apa yang akan terjadi nantikan, bisa saja ia berubah pikiran” Jina memang selalu bisa menenangkan dan memberiku semangat. Sahabat terbaikku.

“Jangan putus asa, ini bukan dirimu. Eun Kyo yang kukenal adalah peri yang kuat meski hatinya rapuh, arasseo?”

“Ingin menyerah rasanya” keluhku lagi. Sebenarnya aku bukan orang yang suka mengeluh meski keadaanku sagat sulit. Tapi tidak tau kenapa untuk hal ini membuatku hampir putus asa.

“Di bumi sudah malam kyo~ya, kau tidak kembali? Tidak takut dia mencarimu?” tanya Jina.

“Dia akan bersyukur kalau aku tidak ada disana. Aku hanyalah pengganggu baginya. Aku ingin di derwolke malam ini. Aku rindu kamarku.” Kataku pada Jina .

“Mungkin saja itu bisa membuatmu lebih berpikir positive dan optimis”

“Emmhh, semoga. Gomawo Jina~ya. Aku akan kembali kekamarku dulu” aku memeluknya. Dia membalas pelukanku dan tersenyum.

“Aku tau kau bisa melewatinya” ia terus memberi kekuatan.

“Ne,”

AUTHOR’S POV

Jung Soo baru saja pulang dari kantornya, langsung menuju rumahya. Biasanya ia akan mampir ke panti. Hari ini ia lelah karena bekerja lembur, ia membuka pintu rumahnya dan menyapukan pandangannya keseluruh ruangan.mencari seorang gadis yang saat ia tinggalkan sedang duduk di sofa ruang keluarganya. Dia pergi menuju dapur berharap akan menemukan gadis itu disana seperti tadi pagi. Kembali hanya ruang kosong yang ditemukannya.

“Mungkin ia sudah menyerah dan memilih untuk kembali ke derwolke”ia berkata pada dirinya sendiri. Ia langsung beranjak menuju kamarnya.menyegarkan tubuhnya di kamarmandi dan mengganti bajunya dengan piyama tidur, mencoba memejmkan matanya untuk menghilangkan semua lelah yang ada di tubuhnya

PARK JUNGSOO’S POV

Berkali kali aku mencoba memejamkan mataku agar aku tertidur, tapi sangat susah untuk terlelap. Kenapa aku khawatir padanya? Kenapa aku harus menghawatirkan gadis itu? Tidak akan ada yang mengganggunya meskipun ia berkeliaran di bumi ini, karena tak akan satu orangpun yang dapat melihatnya. Tapi bukan itu yang aku khawatirkan. Aku senang ia kembali ke derwolke, itu berarti ia tak akan menggangguku lagi. Tapi justru ada sudut di hati kecilku yang tidak rela ia menyerah begitu saja. Bahkan sepertinya aku masih ingin ia menunjukan kegigihannya untuk menyeretku kembali ke derwolke. Jangan katakan aku mulai meyukainya, tidak, aku hanya menyukai senyum polos yang ia tunjukan padaku. Senyum yang muncul dari hati sucinya. Senang dengan ekspresi kesalnya karena aku selalu  ketus menjawab pertanyaan darinya. Kupikir mungkin aku sudah gila. Sejak kapan aku jadi seperti ini? Mungkin ia menyihirku dengan mantranya hingga aku gila seperti ini.

“Eun Kyo~ssi, apa kau tersinggung dengan sikapku tadi pagi hingga kau pulang ke dunia langitmu?” gumamku.aku terus menerawang langit langit kamarku hingga mataku terpejam denga sendirinya.

                                                                                ****

Sayup sayup aku mendengar suara berisik dirumahku. Aku langsung membuka mataku dan berlari keluar kamar saat menyadari suara itu berasal dari dapurku. Aku tersenyum melihat pemandangan yang ada didepanku.seorang gadis yang membuatku susah memejamkan mata semalam, sekarang sedang mengobrak-abrik dapurku seperti yang dilakukannya tempo hari. Kalau waktu itu aku kaget dan marah, hari ini aku malah tersenyum. Ada luapan kebahagian yang menjalar hangat di hatiku.

“Aku pikir kau tak akan kembali kesini untuk menggangguku. Benar-benar gadis yang punya tekad.” cibirku.

“Apa kau pikir aku akan menyerah begitu saja?”

“Setelah menghilang. Tiba-tiba kau datang menghancurkan dapurku lagi, sebelum ada kau dapurku selalu rapi Nona.” ia menolehkan kepalanya menghadapku. Matanya menyipit.

“Ada apa dengamu? Kenapa kau tiba tiba memanggilku Nona? Apa kepergianku membuatmu merindukanku? Hingga bisa mengubah panggila mu untukku?” selidiknya

“Kalau aku merindukanmu memangnya kenapa? Salahmu karena selalu menguntitku dan selalu berkeliaran di depan mataku.” ujarku.aku tak menyangka pipinya akan merona karena ucapanku. Apa itu artinya…aku tak berani menyimpulkan.

“Aku tak akan terlarut oleh kata-katamu tuan Park”  ia menghidangkan bulgogi yang di masaknya diatas meja.

“Kau makanlah, bukankah kau akan kerja hari ini.”

“Arasseo” aku melahap bulgogi buatannya. “Darimana lagi kau mendapatkan resep bulgogi ini?” tanya ku

“Apa itu namanya bulgogi,aku tidak tau. Aku mendapatkannya dari tetanggamu, aku mengintipnya selagi masak tadi pagi.” polos sekali dia. Tapi aku salut, hanya sekali lihat ia bisa menciptakan masakan enak ini.

                                                                                                ****

Tok..tok..tok

“Siang” aku menengadahkan kepalaku, melihat terkejut ke arah suara yang kudengar.

“Neo? Sejak kapan kau ada disini?” tanyaku. Tentu saja aku kaget melihatnya tiba tiba ada di depanku.

“Aku hanya mengantarkan makan siang ini untukmu, tidak usah terkejut.Seharusnya tidak usah bertanya, kau juga pernah mengalaminya” ia meletakkan bekal yang dibuatnya untukku. “Aku pulang”

“hanya mengantarkan ini saja?”

“Ne, aku tau kau tak pernah makan saat siang hari makanya membuatkan bekal itu untukmu. Kau sudah mengorbankan semuanya untuk menjadi manusia, jadi jagalah kesehatanmu” nasihatnya. Heh? Dia seperti istriku saja, cerewet dengan kesehatanku? Kau mulai  memperhatikan tentang kesehatanku peri Park?

“Arasseo.” Kataku, ia mulai beranjak dari kantorku, tidak membuka pintuku tapi menghilangkan degan menggunakan mantra.

AUTHOR’S POV

Tanpa terasa dua belas hari sudah dilewati Eun Kyo dibumi, hingga saat ini ia belum berhasil membujuk Jung Soo untuk kembali ke derwolke. Bahkan kelihatannya ia menikmati hari-harinya di dunia manusia itu.menyiapkan keperluan Jung Soo setiap harinya, secara tak sadar ia sudah berlakon seperti seorang istri bagi Jung Soo. Setiap pagi menyiapkan sarapan untuk Jung Soo sebelum berangkat ke kantor, menyiapkan dan mengantar bekal makan siang  untuk Jung Soo dan menunggu kepulanagnnya di sore ataupun malam hari. Weekend digunakan mereka untuk bermain di panti bersama anak-anak, walaupun ia tak terlihat tapi ia bisa merasakan kebahagian mereka. Dan ia semakin mengerti mengapa Jung Soo tak ingin kembali ke derwolke, karena disini banyak kebahagiaan yang dirasakan Jung Soo, yang ia juga merasakannya. Dan untuk pertama kalinya ia tak ingin kembali ke derwolke,dunia langitnya.

PARK JUNGSOO’S POV

“Apa yang kau lamunkan?” aku melihat Eun Kyo sedang memandang kedepannya dengan kosong. Aku penasaran dengan apa yan dipikirkannya. Hampir dua minggu ia tinggal denganku, membuatku jadi terbiasa dengan kehadirannya. Dan hatiku mulai beralih padanya. Beberapa hari ini aku mulai menyadari kalau perasaanku padanya sudah melampaui batas kewajaran. Aku jatuh cinta padanya. Ia memiliki sosok yang mirip dengan Elysia, tapi bukan itu yang membuatku jatuh cinta padanya. Kebersamaan yang kurasakan selama ini membuatku banyak memahami sisi lain dari dirinya.dan hal itu yang membuatku jatuh hati. Aku tak pernah berniat mengungkapkan perasaanku padanya, karena aku tau seorang peri tidak boleh jatuh cinta pada seorang manusia. Ia akan kehilangan sayapnya kalau itu terjadi.

“Waktuku hanya tinggal besok Jung Soo~ssi. Aku akan kembali ke derwolke besok” ia tidak mengalihkan pandangannya sama sekali.

“Aku bersedia ikut denganmu.” ucapanku membuatnya terkejut, mungkin ia tak percaya dengan ucapanku.

“Jujur aku tak ingin kembali menjadi makhluk bersayap seperti dulu, aku sanagat bahagia dengan kehidupanku yang sekarang, memiliki  keluarga yang menyayangiku, mencurahkan kasih sayang yang kupunya pada mereka. Tertawa bersama.anak-anak itu, aku tak sanggup meninggalkan mereka, mereka pelipur lara untukku.”

“Lalu kenapa kau bersedia untuk ikut denganku?” Tanyanya penasaran.

“Aku tak ingin perjuanganmu sia-sia, dan menjadi malaikat cinta adalah impianmu kan? Agar kau bisa menebar cinta disetiap penjuru bumi ini. Karena itulah aku bersedia” aku tersenyum mengatakan alasanku, tapi sebenarnya bukan itu alasanku. Alasanku yang sebenarnya karena aku mencintaimu Park Eun Kyo. Jika aku menjadi malaikat aku akan tetap bisa bersamamu, meski aku harus meninggalkan orang orang yang kucinta disini.

PARK EUNKYO’S  POV

Aku benar-benar tak percaya dengan alasanya yang bersedia ikut denganku ke derwolke. Aku sangat tau ia tak ingin meninggalkan bumi ini. Tak ingin meninggalkan orang orang yang ia cintai. Apa karena kasihan padaku terus ia bersedia.atau karena terganggu kehadiranku yang selalu merecoki hidupnya hingga mengatakan bersedia agar aku tak lagi mengganggunya?

Sebenarnya yang mengganggu pikiranku bukan tentang ia bersedia atau tidaknya, tapi aku merasa tak sanggup meninggalkan orang-orang yang dicintai Jung Soo dan semua rutinitas yang kulakukan setiap harinya. Aku masih ingin melakukannya.

“Besok aku akan kembali ke derwolke” ucapku, aku langsung beranjak pergi ketempat yang paling ingin kukunjungi untuk terakhir kalinya.

“Kyo~ya,kau mau kemana?”  aku tak menggubris teriakan Jung Soo.

Aku terus berjalan menuju sebuah bangunan yang  sederhana, yang selama hampir dua minggu ini kukunjungi untuk mengusir kebosananku karena sendirian di rumah sementara Jung Soo sedang bekerja, meskipun aku hanya bisa melihat tanpa bisa berinteraksi dengan mereka, hatiku tetap merasakan kehangatan.apalagi saat aku melihat bagaimana asiknya Jung Soo bermain dengan mereka. Aku tertawa berbahagia dengan semua tingkah laku atau ekspresi lucu  yang mereka tunjukan. Anak-anak panti ini juga salah satu alasan yang membuatku merasa berat meninggalkan bumi, disamping rasa cintaku yang besar pada Jung Soo.

Seorang anak kecil melihat ke arahku. Ryu Jin, aku tau namanya. Matanya memandang aneh padaku, anak pintar yang berusia tiga tahun itu berjalan mendekatiku. Eh? pa dia bisa melihatku? Sekarang ia tepat berada didepanku, kepalanya menengadah ke atas melihatku  karena aku terlalu tinggi untuknya. Aku menurunkan badanku sejajar dengannya, ia menatap mataku.tersirat kesedihan di matanya.

“Kau…bisa melihatku Ryu Jin~a?” tanyaku, ia mengangguk Jadi selama ini dia bisa melihatku tapi berpura-pura tidak melihatku.

“Ryu Jin-a,ayo kesini.” Anak-anak yang lain memanggilnya, ia menolehkan kepalanya kebelakang kemudian melihatku kembali.

“Kata Ahjussi, Ahjumma akan pergi besok.” Jadi Jung Soo tau kalau anak ini bisa melihatku? Kenapa ia tak bilang padaku? Aku mengangguk padanya.

“Kembalilah bermain” perintahku, ia menurut dan mulai membelakangiku dan melangkahkan kakinya, tapi aku melihatnya berbalik menatapku.

“Kajima Ahjumma” aku tersentak mendengar perkataannya.anak ini.

Aku pulang kerumah Jung Soo dengan perasaan kalut.tak tau apa yang harus aku lakukan? Aku merasa bingung.

“Kyo~a,kau dari mana saja hingga selarut ini baru pulang?”  Aku tak menghiraukan perkataan Jung Soo, terus melangkahkan kaki kekamar yang sudah dua minggu ini aku tempati.

“Apa yang harus aku lakukan?” aku bicara pada diri sendiri. Jam dua belas malam, akhirnya sampai juga di masa ini. Hari terakhirku mengemban tugas ini.aku sudah memikirkan semuanya semalam, dan aku sudah membuat keputusan. Aku akan memilih jalan ini, kembali ke derwolke tanpa Jung Soo. Meninggalkan semua kenangan tentang orang-orang yang aku sayangi disini.

                                                                                                ****

Aku sudah kembali ke derwolke tanpa berpamitan pada Jung Soo. Dan aku juga sudah mengemukakan alasanku pada ketua malaikat mengapa aku tidak mengikutsertakan pria itu saat aku kembali, dan aku tetap pada posisiku menjadi seorang peri. Hasrat semulaku juga sudah hilang, yang aku inginkan saat ini hanyalah satu.

“Kau sudah mengatakannya pada ketua?” tanya Jina. Seperti biasa Jina selalu tau apa yang kupikirkan.

“Sudah, tapi mereka tak mengabulkannya” kataku. Aku menghela nafasku agar sedikit sesak ini menghilang.

“Mungkin suatu saat mereka akan mengabulkannya.” mungkin, aku juga berharap seperti itu.

PARK JUNGSOO’S POV

Rumah ini terasa sepi, kepergian Eun Kyo sangat terasa dampaknya dikehidupan sehari hariku. Aku sudah terbiasa dengan kehadirannya, masakannya ataupun paksaanya agar aku ikut dengannya. Tapi ternyata dia pergi tanpa memberi tahuku, kalaupun ia tidak ingin membawaku kembali, paling tidak biarkan aku melihat wajahnya sebelum ia pergi.

Pagi ini aku terbangun dengan sebuah halusinasi bahwa aku mendengar suaranya dan suara gaduh dirumahku, aku bangun dari tidurku dan berlari menuju dapur, berharap aku melihatnya. Ternyata hanya hayalanku saja, dapur ataupun rumahku kosong. Tak ada barang yang berserakan di dapur. Tak ada masakannya di meja makanku. Aku mulai gila sepertinya. Dan parahnya ini terjadi sudah sebulan ini, aku kembali ke kamarku untuk membersihkan taubuhku. Aku harus berangkat ke kantor.

Aku mendengar suara ketukan di pintu rumahku, kuhentikan langkahku menuju kamar dan berbalik menuju pintu depan rumahku, kutarik hendel pintu dengan malas. Dan..

“Annyeonghaseyo, Park Eun Kyo imnida” dia? Aku masih tak mempercayai tatapanku, aku terlalu terkejut hingga aku tak menyambut uluran tangannya. Perlahan aku mengangkat tanganku menyambut tangannya. Dan lebih terkejut lagi karena aku bisa menyentuhnya. Dia tersenyum manis padaku, senyum favoritku.

“Neo..”

“Kau tidak suka dengan kehadiranku? Aku bisa pergi sekarang juga” ia berbalik membelakangiku bersiap melangkahkan kakinya. Aku memeluknya dari belakang, menahan langkahnya untuk pergi. Aku tak ingin kehilangannya lagi.

“Saranghae Eun Kyo~ya, sarangahae. Jangan pergi lagi.”  Bisikku di telinganya. Ia melepaskan pelukanku, membalikkan tubuhnya menghadapku. Kulihat tetesan bening mengalir dipipinya.

“Na do Oppa. Na do…aku tak akan pergi lagi” isaknya.

“Kau melepaskan semuanya?” ia mengangguk. “Ternyata pesonaku mampu membuatmu meninggalkan derwolke, hahaha”

“Aisshh, kau merusak suasana Oppa. Percaya dirimu tidak hilang-hilang” sungutnya.

“Aku merindukanmu, sangat..” rona pipinya mulai terlihat, ia benar-benar seorang manusia sekarang. Aku memeluknya lagi  memastikan ini benar benar dirinya.hanya sebentar karena ia langsung melepaskannya.

“ Kau jorok Oppa, belum mandi tapi sudah memelukku. Cepat pergi mandi, aku akan menyiapkan sarapanmu” ia mendorongku menuju kamarku. Sebelum ia berbalik ke dapur aku mencium bibirnya kilat, dan langsung masuk kekamar.

“Yak! Kau belum sikat gigi oppa” aku hanya terkekeh mendengar teriakan nyaringnya. Kebahagianku sudah didepan mata.

FIN

NOTE  : annyeongggg,,para reader fika,,,kembali lagi saya menyampah di blog ipar saya ini.yang penting nyampahnya ga berceceran dimana mana.saya ga tau ni ff fantasy ato bukan,saya hanya menyalurkan isi yang ada dikepala dan maaf kalo banyak typo.kalo mau protes karena ga puas ama isi ceritanya,silahkan ma fika aja protesnya,saya mau ngumpet aja*kabur kebalik punggung bang ncung*,,skian kata penutup dari saya meskipun ga da pembukanya.buat fika maaf ya kalo isinya ga sesuai ma keinginan fika.ide yang keluar Cuma ini fik..kalo fika ga puas biar oppa aja deh yang puasin(?).gomawo buat yang udah baca.buat jina dan raena,maaf ya masukin nama kalian di ff geje ini tanpa ijin.kalo mau marah ke fika aja,saya orangnya sensitif ga kuat kalo ada yang marah.udah dulu ah,,notenya jadi kepanjangan..malah ngelantur.sekali lagi  “GOMAWO” 

 Fika says : huwaaaaaaa tidak bisa berkata apa-apa lagi, Onnie saranghae…..!!! seneng banget ini fika seneng banget…..!!! nanti bikinin lagi yah? *plak* haduh ini padahal kita janjian yah bikin fantasy bedua, lah fika ngadat ditengah jalan… semoga Rae Na ga ngambek… ff fantasy fika malah lebih aneh dari ini…. huweeeeeee dan buat yang nunggu CL, maaf, bersabarlah…

23 responses »

  1. Tiba” trbangun. Dan g bisa tidur.. Pas lia hp. Add sms.. Huaa ajumma kau mnyelamatkan ku dari boring n takut tngah malam…

    Ok komen.a.. Cerita.a simpel tpi brkesan,, konflik.a g trlalu keliatan sh.. Tpi manis.. Huahaha

    ngomongin manis, saya lapuaaaar.. Hahaha pokok.a clu liat teukyo couple it simpel n manis…
    Nb. Manis khusus ajussi ajj y.. Huahahahaha

    ok seperti.a komen saya sdah trlalu gaje…
    Ok bwat author n fika jumma semangat, bikin karya bru.a ya..

    Btw in pertama bkan??

  2. Eonny, maap bru baca, kmrn ketiduran.. Hehe..

    Pdhal aku agak nga suka ama fantasy, tapi yg ini daebaakk~..!
    Harusnya dibikin ampe nikah tuh mreka, *Fika eon psti kesenangan*
    Hoho..

    Pagi” buka HP liat ada email,
    Nggak mengecewakan sama skali..
    Sweeeettt crita’na.. ^^b

  3. OMG!!!! Pas awal menebak2 apakah jungsoo bakalan ikut ke derwolke atau kah tetep jd manusia tp kalo jd manusia lah si eunkyo gmn?
    Ternyata eunkyo nya juga jd manusia..
    Suka sama ceritanya gak belibet Dan Dapet feelnya. Nomu nomu chua😀

  4. fikaaa,,,onn sengaja ga bkin
    kisseu yg mendalam
    ksian oppa tercemar mulu
    nah di ff ini oppa kan ga penggoda jdi kisseunya yang
    asal nempel aja,,,hahaha
    kan mantan malaikat jadi ga bleh genit,,

  5. uwaaa eoni mian, aku bru komen, pdahal aku baca kmaren, maklum aku bru isi pls… Hehe

    Cie, eoni ff fantasinya sederhana tp sweet bgt… Unyu2 gtu… Hehe

    Udah gtu proses percintaannya cepet gtu y… Dalam 2 minggu udah bs saling mencintai…wkwk

    Aku selalu nunggu CL n MLT kok… Hehe

  6. jiaaaaaaa………..co cweeeeeettttttttt^^
    akhir yang manis…

    ah oenni mah gayanya aja ne yang katanya ga suka di peluk-peluk begitu,
    lw di belakang kita aja……….(?)……*ga jadi deng,kekeke

    ceritanya keren oenn
    saiya suka^^

  7. So sweeeeettt….
    Pertama baca aku kira elysa itu eunkyo waktu menjadi manusia trus berubah jd peri ternyata bukan. Manis banget onnie cerita’e ’emangnya gula manis’ hehehe
    romantis deh pokoke

  8. aku kira ksh cinta sesama makaikat, tapi ini??? bner’ keren, malaikat jth cnta ama manusia trus jdi manusia lha si calon malaikat jth cnta ama mantan malaikat ngikutin jejak jadi manusia jga *halah belibet bahasa’a* pokok’a manis bgt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s