Money, Love and Trouble (Part 11)

Standar

MLT 11

Aku menyembunyikanmu dalam tatapanku

Memelukmu dalam hatiku

Kau akan selalu ada dalam hatiku

Dalam setiap bahasa yang aku keluarkan

Aku akan memujamu siang dan malam

Tidak akan pernah istirahat sedetikpun

Aku akan memujamu ribuan kali

Hanya kau cintaku selamanya

Aku berlari lebih cepat daripada detak jantungku

Menderap di depan impian

Nafasmu telah membasahi hatiku

Menjalar di  setiap aliran darahku

Sekarang hidupku telah dicuri

Aku mungkin saja meninggalkan dunia ini

Tapi cintaku akan selalu bersamamu

Tak peduli ragaku ada atau tiada

Jung Soo’s POV

Aku memandangi wajah pucatnya yang terbaring di tempat tidur. Meskipun wajahnya terlihat lebih putih dari biasanya aku merasa dia sangat cantik pagi ini. Aku duduk bersimpuh di lantai, meletakkan daguku di tepi tempat tidur sambil menelusuri lekuk wajahnya dengan mataku. Dia tidak bergerak sama sekali. Aku mengecup bibirnya lembut. ‘Terima kasih sudah memberikannya untukku’. Meyentuh perutnya yang masih rata, aku masih belum percaya apa yang dikatakan Dr. Han, hamil? Benar kah? Aku harus memastikannya. Suara pintu terbuka membuatku menoleh dan menatap seseorang yang memasuki areaku. Ryu Jin? Dia yang tadinya demam berbaring di kamar ini, terpaksa aku ungsikan ke kamar Rae Na, takut mengganggu Eun Kyo.

“Kemari.” Aku menyuruh bocah kecil itu dengan lambaian tanganku. Dia perlahan melangkahkan kaki kecilnya, mendekatiku. Wajahnya masih sedikit sayu, bocah kecil ini, bocah kecil ini yang membawa semua kebahagiaan. Aku menarik tubuh kecilnya dalam pangkuanku, kupeluk erat. Dia hanya mengerjap beberapa kali memandangku bingung.

“Wae?” aku menunduk membalas menatap mata indahnya. Dia kembali mengerjap.

“Eomma..” ucapnya lirih mendekati sebuah bisikan.

“Dengarkan aku Ryu Jin~a, Eommamu sekarang lagi sakit, jadi kau jangan rewel, ne? Kau masih demam?” aku memegang dahinya. Dia sudah tidak demam lagi, syukurlah kalau begitu, setidaknya aku tidak perlu mengurus dua orang sakit.

“Kau sudah tidak demam lagi.” Aku mencium pipinya. Dia bangkit dari pangkuanku dan berusaha menaiki tempat tidur, terlihat kesusahan, aku tersenyum melihat tingkahnya, dia benar-benar tidak bisa berada jauh dari istriku. Entah apa yang membuat bocah ini selalu ingin dekat dengan Eun Kyo. Sampai saat ini, aku masih belum menemukan jawabannya.

“Kau temani Eommamu sebentar, ara? Appa ingin minta ijin di kantor.” Anak itu mengangguk setelah berhasil naik ke tempat tidur dan berbaring disamping Eun Kyo.

Aku ke ruangan depan dan menraih gagang telpon.

“Aku tidak masuk hari ini, istriku sedang sakit.” Aku menelepon sekterarisku, setelah mendapat jawaban darinya. Aku menutup telpon dan meletakkan gagang telpon pada tempatnya. Rae Na belum kembali. Aku harus menunggunya. Untuk menjaga Ryu Jin.

Aku kembali ke kamar dan mendapati Eun Kyo sudah sadarkan diri. Aku tersenyum memandangnya, dia juga tersenyum kearahku. Namun tangan kecil Ryu Jin memegang wajahnya memaksanya untuk memandangnya juga. Yak! Setan kecil, jangan katakan kau cemburu padaku.

“Yeobo~ya, kita harus ke Dokter sekarang juga.” Ujarku sambil mendekatinya, duduk di tepi ranjang dan mengangkat Ryu Jin dalam pelukanku. Dia berusaha berontak namun aku memeluknya dengan erat, dia tidak bisa melawan, hanya bisa pasrah dalam dekapanku.

“Kenapa kita harus ke Dokter? Aku baik-baik saja.” Dia mencoba bangkit namun saat duduk dia memegangi kepalanya dan meringis.

“Jangan berdiri dulu, kau pusing kan?” dia mengangguk.

“Ini pasti karena aku tidak makan semalam.” Jawabnya memandang Ryu Jin.

“Kau sudah makan sayang?” tanya Eun Kyo sambil membelai pipinya. Ryu Jin berusaha beringsut dari pangkuanku, namuun tanganku mendekap erat tubuhnya.

“Aaaaa…!!” dia berusaha sekuat tenaga, tangan kecilnya berusaha menggapai Eun Kyo. Aku semakin erat memeluknya hingga dia benar-benar tak berkutik, bahkan bergerakpun tidak bisa. Aku menatapnya penuh kemenangan.

“Oppa, lepaskan dia.” Eun Kyo meraih tangannya. Mencoba menariknya dariku.

“Aaaaaaaaaa….!” teriak bocah ini lagi.

“Katakan kau kalah, baru aku akan melepaskanmu.” Ejekku sambil tertawa menang.

“Oppa! Kau seperti anak kecil!” Eun Kyo protes perlakuanku dengan anaknya.

“Eomma…” Ryu Jin berusaha melepaskan tanganku. Tangan kecilnya menyentuh permukaan kulitku. Aku senang hari ini Ryu Jin~a, kau tau? Semoga apa yang aku dengar benar adanya.

“Eomma..” bulir air matanya hampir keluar. Dia menatapku memohon, aku pura-pura tidak peduli padanya.

“Oppa…” Eun Kyo berusaha melepaskan pelukanku. Aku melepaskannya. Segera beralih ke pangkuan Eun Kyo, Ryu Jin tersenyum. Dia memeluk eratnya erat, meletakkan kepala kecilnya di dada Eun Kyo. Aku memandang mereka berdua. Tersenyum, ebtah kenapa aku hari ini ingin banyak tersenyum.

“Kau kenapa Oppa?” tanya Eun Kyo sambil memandangku.

“Ani.” Lagi-lagi Ryu Jin mengalihkan pandangan Eun Kyo dariku dengan tangan kecilnya. Anak itu berlutut di pangkuan Eun Kyo. Membuat wajahnya sejajar dengan wajah Eun Kyo, mencium bibir Eun Kyo dengan bibir kecilnya.

“Yak! Itu daeraku jangan coba-coba mengambilnya!” aku menutup bibir Eun Kyo dengan tanganku.

“Aaaaaa….” dia mencoba mengalihkan tanganku, aku tetap tidak bergeming. Lama berebut bibir Eun Kyo, aku merasakan gigitan kecil pada jariku.

“AW! Yeobo, sakit…” aku melepaskan tanganku dari mulutnya.

“Kau ini, jangan seperti anak kecil! Apa? Daerahmu? Yak! Sejak kapan? Lagipula kau sendiri yang mengajarinya!” omel Eun Kyo padaku, mengapa dia selalu membela anak itu?

“Mengajarinya? Siapa yang mengajarinya? Aku? Aku tidak  pernah mengajarinya.” Protesku atas tuduhan tak berdasar Eun Kyo.

“Kau kan yang selalu menciumku di depannya? Dia mengikuti tingkahmu!” mata Eun Kyo membelalak memarahiku. Aku memajukan bibirku berpura-pura merajuk padanya.

“Appa minta disayangi, ayo sayangi Appamu Ryu Jina~a.” Dia menengadah pada Eun Kyo, Eun Kyo menundukkan kepalanya mencium bibir Ryu Jin. Bocah itu beranjak dari Eun Kyo dan beralih ke pangkuanku. Dia hanya duduk lalu diam dalam pangkuanku. Mengerjapkan mata indahnya, dan aku juga tidak melakukan apa-apa, membiarkannya memperlakukanku, tapi dia sama sekali tidak bergeming hanya duduk diam. Eun Kyo tersenyum melihatnya.

“Ahahahahaha.” Istriku tertawa lepas. “Ryu Jin~a, aku suruh kau menyayangi Appamu bukan berdiam diri disitu.” Eun Kyo masih tertawa dan Ryu Jin masih terdiam.

“Kau tidak merasakan sesuatu?” tanyaku pada Eun Kyo, menaruk telunjukku di dagunya agar dia menatapku dan berhenti tertawa. Tawanya reda berubah dengan raut wajah bingung.

“Maksudnya apa?” tanyanya mengangkat sebelah alisnya.

“Tidak mearasakan sesuatu sama sekali?” tanyaku. Dia menggelengkan kepalanya pelan namun menunjukkan wajah bingung. Aku mendekat padanya.

“Kau tidak merasa kalau kau hamil?” bisikku padanya.

“Mwo?!” muka terkejutnya membuat aku gila, hari ini dia benar-benar terlihat sangat cantik. Aku tidak menjawab, membiarkannya bergelut dengan kenyataan yang memang belum kami ketahui kebenarannya. Dia menyibak selimut dari badannya. Dan mencoba berdiri.

“Kau mau kemana?” dia tidak menjawab dan turun dari tempat tidur. Mendekat kearah laci meja riasnya, seperti mencari sesuatu. Aku dan Ryu Jin bingung menatapnya, mengekorinya dengan mata kami.

“Kau mencari apa?” aku bertanya padanya tapi tidak diindahkannya. Dia membuka-buka semua laci dan rak ada. Setelah menemukan sesuatu yang dia cari dia langsung melesat ke kamar mandi. Tes kehamilan.

Aku saling berpandangan dengan Ryu Jin, anak ini seolah mengerti kebingunganku. Kedipan matanya benar-benar indah, aku mungkin sedikit menyukai anak ini. Aku mencium pipinya, tapi dia mengusap bekas ciumanku.

“Yak! Kau tidak suka aku cium?” aku menatapnya nakal, mulai mendekati wajahnya dia menjauhkan tubuhnya, aku semakin mendekat hingga tubuh kecilnya terjungkal ke belakang. Aku menahan tubuhnya dengan kedua tanganku. Kemudian aku menciumi tubuhnya sambil menggelitik pinggangnya.

“Ahahahahahahaha…” tawa khasnya menggema di seluruh kamar. Aku semakin senang menggodanya. Kegiatanku terhenti saat pintu kamar mandi terbuka. Tubuh Eun Kyo keluar dari ruangan itu. Aku memandang mukanya dengan raut datar. Tak berani menanyakannya.

“Oppa…” dia menunduk. Aku mengangkat tubuh Ryu Jin dan meletakkannya di ranjang.

“Wae? Bagaimana hasilnya?” dia mengangkat wajahnya dan menengadahkannya menatapku yang sudah ada dihadapannya. Dia tidak menjawab, hanya menatapku penuh arti. Aku menggu jawabannya. Park Eun Kyo, jangan membuatku gila dengan teka-tekimu ini, aku tidak bisa membaca pikiranmu.

“Positif.” Jawabnya lirik terdengar seperti sebuah bisikan seraya menundukkan wajahnya. Aku tidak terlalu jelas mendengarnya.

“Katakan sekali lagi.” Pintaku padanya. Aku meraih dagunya dengan tanganku dan memaksanya menatapku. Rona merah terpancar dari wajahnya. Aigoo.. mengapa kau malu seperti ini? Apa itu memalukan? Bagiku itu adalah sebuah kebahagiaan.

“Katakan sekali lagi.” Aku menempelkan bibirku di bibirnya saat memintanya mengatakan sekali lagi. Dia tersenyum namun sedikit sulit karena bibirku masih membungkam bibirnya. Aku meraih pinggulnya dan mendekatkannya padaku hingga tak ada jarak. Dia mendorongku pelan.

“Coba lihat di belakangmu.” Ujarnya, aku menoleh ke belakang. Bocah kecil itu cemberut melihatku memeluk Eun Kyo. Aku mengacuhkannya namun Eun Kyo mendorongku dan berjalan menuju Ryu Jin dan mengangkatnya.

“Eit, bukan kamu yang harusnya menggendongnya.” Aku mengambil Ryu Jin dari Eun Kyo. Ryu Jin awalnya menolak, tapi aku memaksanya.

“Tolong mandikan dia Oppa, aku mau memasak dulu.” Eun Kyo mendorongku ke kamar mandi. Dia kemudian melangkah ke pintu keluar kamar. Beberapa detik kemudian dia kembali.

“Oppa, kau tidak masuk kerja?” tanyanya.

“Aku sudah ijin, kau kan sakit.” Jawabku sambil berusaha menangkap Ryu Jin yang berlarian dikamar, dia susah sekali diajak mandi, dan aku kewalahan menangkapnya. Menjadi ibu memang sangat berat.

“Aku? Sakit? Aku tidak sakit.” Elaknya.

“Hap! Dapat.” Aku memegang tubuh Ryu Jin, dan membawanya ke kamar mandi.

“Aku hanya ingin membantumu mengurus setan kecil ini.” Teriakku. Aku meletakkan Ryu Jin dalam bak mandi. Membuka seluruh bajunya dan mengguyurnya dengan shower mandi. Tapi saat aku lengah dia berlari keluar kamar mandi.

“Yak! Ryu~ya… kau sudah basah.” Aku sudah lelah mengejarnya dari tadi dan membiarkannya yang naik keatas tempat tidur. Tapi aku lebih pintar Ryu Jin~a.. aku membuat gelembung sabun dan meniupnya keluar kamar mandi, Ryu Jin yang atdinya sibuk mengguling-gulingkan tubuhnya di atas tempat tidur kini berhenti dan menatapku dengan mata bersinar.

“Kesini jika ingin ikut bermain.” Aku meniup gelembung lebih banyak, dia berlari dan masuk kembali ke kamar mandi. Aku mengguyurnya lagi dengan shower membasahi tubuhnya sementara dia asik bermain gelembung sabun.

“Ahahahahahaha.” Tawanya pecah saat dia mengambil gelembung sabun dan pecah ditangannya, dia menghentakkan kakinya sambil tertawa dan aku memandikannya. Aku paling suka mendengarnya menghentakkan kaki dan membuat irama dengan kakinya. Dia mengambil shower dari tanganku dan mengguyur badannya sendiri dengan air.

“Anak pintar.” Pujiku, dia tertawa dan sesekali mengusap wajahnya yang terkena air. Aku memandanginya yang belajar mandi sendiri duduk di wastafel. Jadi teringat saat itu. Aku terkejut saat semburan air mengenai mukaku. Ternyata Ryu Jin yang melakukannya. Dia terus mengarahkan showwer padaku, aku menghalaunya dengan tanganku sambil berdiri dan mendekat padanya.

“Yak! Basah!” aku terus mendekatinya dan merebut showernya. Dia berteriak senang.

“Jika ingin mandi bersama katakan saja.” Memeluk tubuhnya yang basah dan mandi bersama di dalam bathtub. Aku menggosok tubuhnya dengan sabun. Memijat rambutnya dengan shampoo. Lalu mengguyurnya lagi dengan air. Kami melakukannya bersama.

“Sekarang sudah selesai.” Aku melilitkan handuk dibadannya dan mendorongnya untuk keluar kamar mandi sementara aku berganti baju basah yan masih melekat ditubuuhku.

Aku dan Ryu Jin menuju ruang makan untuk membantu Eun Kyo menyiapkan makanan. Membawanya dalam gendonganku. Anak itu segera memeluk Eun Kyo saat aku dan dia ada dibelakangnya.

“Sudah selesai?” tanya Eun Kyo.

“Eum, kau boleh mencium kami.” Aku dan Ryu Jin menyodorkan pipi.

“Tap Eomma belum mandi Ryu Jina~a, aku mandi dulu Oppa.” Eun Kyo melepas celemek di pinggangnya, menyampirkannya ditempat biasanya. Setelah dia selesai mandi, kami makan bersama. Eun Kyo berusaha menyuapi Ryu Jin, tapi anak itu meolak. Dia belajar memakan makanannya sendiri. Noda makanan belepotan disekitar mulutnya. Eun Kyo membersihkan mulut Ryu Jin  ddengan tissue.

“Rae Na mana Oppa?”

“Dia tadi keluar, pagi-pagi sekali, ke taman.”

“Ke taman? Dia tidak kuliah?”

“Entahlah, mungkin masuk siang. Tidak usah mengkhawatirkannya. Dia sudah dewasa.” Jawabku. Eun Kyo terdiam, memandangi Ryu Jin yang belajar makan dan menyuap makanannya sendiri, akupun terpaku melihatnya. Eun Kyo berhenti memasukkan makanannya demi menyaksikan kelakuan Ryu Jin, menopang dagunya dengan kedua tangannya diatas meja.

“Yeobo~ya, kau juga harus memakan makananmu.” Aku meyuapi Eun Kyo namun dia menolak.

“Eumph, aku tidak mau makan.” Ryu Jin berhenti menyuap makanannya dan memperhatikan Eun Kyo. Sejenak terdiam lalu menyodorkan sendok berisi makanan kearahnya. Eun Kyo terdiam, kali ini dia tidak bisa menolak tawaran anak kesayangannya dan menerima sesendok makanan yang disodorkan Ryu Jin. Beberapa kali kunyahan lalu berhenti, dia berlari ke kamar mandi. Muntah lagi?

Minho’s POV

Aku termenung di tempat tidur. Memikirkan kembali yang terjadi semalam. Rae Na? Dengan Kibum? Apa yang mereka bicarakan? Apa mereka… aaarrggghh, jangan berpikir macam-macam Choi Minho, itu hanya pikiranmu saja. Tapi, Rae Na menyukainya sejak mereka kecil. Aku bukan apa-apa dibandingkan kebersamaan mereka sejak kecil. Aku masih duduk dan tidak melakukan apa-apa. Memperhatikan jam dinding yang menunjukkan pukul 10 pagi. Aku tidak ada kuliah hari ini, seyahuku Rae Na juga masuk lebih siang, jadi tidakada alasan untukku menemuinya. Setiap hari aku bergentayangan di rumah itu, baru sekarang aku tidak enak. Apa yang  harus aku lakukan? Menanyakan keadaannya? Kejadian kemarin membuat Ryu Jin terluka membuatku mmerasa tidak enak berada disana. Aku terdiam sejenak, kembali memandang jam dinding.

“Minho~ya, sebaiknya Eomma pulang, sudah beberapa hari Eomma disini, kasian Appamu.” Tiba-tiba suara Eomma menarikku dari lamunan.

“He? Kau masih memperhatikannya?” aku menyibak selimut dan turun dari tempat tidur.

“Aish! Kau ini, dia kan masih suamiku.” Eomma melirikku lalu tersenyum setelah sebelumnya memukul kepalaku pelan. Aku memeluk tubuhnya.

“Aku ingin istri sepertimu.” Aku mengecup pipinya.

“Kau pasti mendapatkannya. Kau tidak menjemput Rae Na?” aku menatap matanya. Apa aku harus bertemu dengannya setelah kejadian semalam?

“Aku ingin bertemu dengannya sebelum aku pulang.” Eomma menyentuh pipiku, tatapannya seolah memintaku untuk jangan mengatakan tidak.

“Arasseo, aku segera menjemputnya setelah aku mandi.”

“Kau tidak kuliah?” aku menggeleng.

“Rae Na?”

“Dia kuliah siang.” Jawabku malas.

“Kalian bertengkar?” tanya Eomma, aku memandang Eomma dengan bingung.

“Biasanya kau selalu antusias jika menyangkut Rae Na.” Bahkan Eomma saja tau perubahanku, sedangkan dia?

“Ya.. Kau ini, kenapa malah bingung? Cepat sana mandi.” Eomma mendorongku ke kamar mandi.

Aku terdiam sejenak di dalam kamar mandi, mengapa aku enggan kesana? Tidak seperti saat-saat sebelumnya. Aku merendam tubuhku di dalam bathtub. Menenggelamkan kepalaku berharap kejadia yang aku lihat kemarin melebur bersama air dan tidak bersisa di benakku, semakin aku menekan ketakutan itu aku semakin terkurung. Mulai dari pengakuan Rae Na menyukai lelaki itu hingga mereka berbicara serius di ujung jalan. Semua terekam jelas di benakku. Hufh, begitu sulit menghilangkannya, membuat perasaanku semakin cemas. Aku membersihkan tubuhku lalu bersiap untuk pergi ke rumah Rae Na demi mengabulkan permintaan Eomma. Eomma menyiapkan sarapan untukku. Aku memakannya dengan cepat sebelum Eomma membaca perubahanku lagi.

Aku berjalan menuju parkiran dan menyalakan mesin mobil lalu belaju di jalanan. Pikiranku masih tidak tenang. Takut jika Eun Kyo Noona masih marah denganku karena mencelakai Ryu Jin, aku bisa merasakan ketakutanya saat Ryu Jin terluka. Apa menjadi ibu seprotektif itu? Sementara Jung Soo Hyung lebih bijaksana menyikapinya. Tapi aku menyukai sikap Eun Kyo Noona yang lebih jujur menyikapi sesuatu, tidak seperti gadis keras kepala itu. Lagi-lagi aku memikirkannya, tidak bisa dipungkiri dia memang menyita sebagian besar pikiranku. Tanpa terasa aku sudah memasuki halaman rumah dan segera mematikan mesin mobilku. Akuterdiam sejenak sebelum membuka pintu mobil dan memencet bel. Setelah menunggu beberapa detik seseorang membuka pintu.

“Eh? Minho? Kau, silakan masuk.” Jung Soo Hyung membukakan pintu untukku. Aku masuk mengikutinya.

“Kau sudah sarapan?” tanyanya sambil menoleh padaku.

“Sudah.” Jawabku singkat, tidak terlalu gaduh, suasana rumah sedikit sepi.

“Ryu Jin? Dia masih sakit?” tanyanku hati-hati.

“Dia memang masih terluka, tapi tidak menyurutkan semangatnya.” Jawab Jung Soo Hyung. Tak berapa lama, Ryu Jin datang dan menghambur ke pelukanku.

“Ya.. Ryu Jin~a, bagaimana kabarmu hari ini?” aku menggendong tubuh mengilnya. Di terlihat senang. Menunjuk ke arah TV besar.

“Eh? Kau mau apa?” aku bertanya padanya. Dia terus menunjuk TV besar.

“Kau mau bermain itu lagi?” anak itu mengangguk.

“Ryu Jin~a, Minho Hyung tidak bisa bermain denganmu.” Jung Soo Oppa mengambil Ryu Jin dari gendonganku. Dia tetap bersikeras ingin bermain dan terus menunjuk-nunjuk yang dia maksud.

“Noona mana?”

“Kenapa menanyakannya?”

“Hahaha, ani, aku takut dia masih marah padaku.” Aku tertawa garing.

“Bukannya kau kesini mencari Rae Na?” tanyanya dengan senyum meledek.

“Ahahahahaha, ne, Rae Na mana?” tanyaku akhirnya.

“Tuh kan, pasti mencarinya. Terlihat dari mukamu.” Lanjutnya mengejekku.

“Yak, Hyung~a, kau ini.” Aku protes dengan ledekannya.

“Dia tadi aku antar ke ataman, dia bilang ada janji dengan orang. Aku kira dia ada janji denganmu.”

“He? Dia tidak ada janji denganku.” Taman? Taman itu maksudnya? Untuk apa dia kesana? Janji? Janji dengan siapa? Jangan-jangan? Mungkinkah?

“Minho~ya, kau pakai shampoo apa?” suar Eun Kyo Noona mampu mengalihkan pikiranku dan membuatku menoleh padanya. Tidak ada raut kecemasan dan marah seperti semalam.

“Eh?” tanyaku bingung.

“Baunya aku suka.” Jawabnya sambil berlalu meninggalkanku namun sebelumnya mencium rambutku terlebih dahulu. Aku saling berpandangan dengan Jung Soo Hyung. Sama-sama bingung. Ryu Jin turun dari gendongan Jung Soo Hyung dan berlari mengikuti induknya. Meninggalkan kami yang masih dalam kebingungan.

“Hyung, ada apa dengan istrimu?” tanyaku. Aku menyentuh rambutku yang tadi di pegang dan diciumnya. Junng Soo Hyung mengerutkan dahi.

“Entahlah.” Jawabnya sambil memandang istrinya yang sedang asik di dapur bersama Ryu Jin, sepertinya mebuatkan Ryu Jin susu.

“Tapi dia.. sangat aneh?” aku melirik Eun Kyo Noona yang tertawa riang bersama Ryu Jin.

“Mungkin karena dia.. hamil?” jawabnya ragu masih dengan pandangan bingung pada istrinya.

“Hah? Hamil? Dia? Kau?” aku menunjuk Hyung dan Noona bergantian.

“Ah.. Arasseo, chukkae Hyung.” Aku memberinnya selamat. Teringat kembali suara-suara aneh beberapa saat yang lalu. Berhasil?

“Hyung, sepertinya aku harus permisi dulu, Eomma mau pulang.”

“Kau tidak makan siang disini?” tanyanya. Aku berdiri.

“Ani, sebaiknya aku permisi saja. Mengantar Eomma.” Aku beranjak dan kembali men[lajukan mobilku dengan cepat. Terlintas kembali ucapan Jung Soo Hyung, janji? Rae Na? Taman? Dengan siapa? Mobilku berbelok kearah taman. Apa dia masih disana? Aku terlalu penasaran. Aku menghentikan mobilku diujung jalan. Memperhatikan beberapa sudut taman yang bisa aku lihat. Aku menangkap sosok yanga ku kenali. Cardigan hita, jeans senada. Tidak salah lagi, aku masih bisa mengenalinya dengan jarak seperti ini. Rea na dan seseorang. Aku terus memperhatikan mereka. Hufh, tidak salah lagi, itu Kibum. Tiba-tiba pikiranku kalut. Mungkinkah Rae Na menyatakan perasaannya? Tidak biasanya dia mau diajak ke tempat ramai apalagi sampai meminta Oppanya megantar, sepenting itu kah? Ck! Aku merasakan ada yang berkobar dalam dadaku. Nafasku yang berhembus terasa panas. Aku belumm bisa menerimanya, belum bisa menerima seandainya dia memilih Kibum. Tidak bisa tidak bisa, aku yang lebih dulu menyatakan cinta padanya, dia harusnya lebih memilih aku. Tapi, tapi Kibum sudah lebih dulu mengenalnya,aku tidak bisa mengungguli kebersamaan mereka yang memang lebih daripada kebersamaanku, selalu dengankupun itu karena aku yang selalu memaksanya.

Mereka terlihat berdiri dan ingin beranjak dari taman menuju mobil Kibum. Aku memperhatikan mereka. Menyalakan mobilku dan perlahan mengikuti mereka dari jarak yang sedikit jauh agar tidak terlalu kelihatan aku mengikuti mereka. Terus berjalan mengikutinya dan akhirnya mereka berhenti di.. bandara? Aku mengikuti mereka hingga dalam bandara dan memperhatikan mereka dari jauh. Semuaini membuat akal sehatku menghilang, untuk apa aku membuntuti mereka jika pada akhirnya akan menyakitiku? Aku tidak peduli, rasa penasaranku lebih besar. Sayup terdengar bahwa penerbangan Internasional dengan tujuan California. Mungkinkah Kibum akan kembali? Kibum bangkit dari duduknya diikuti oleh Rae Na, mereka berpelukan, dan perlahan Kibum mengecup pipi Rae Na. Seperti tertusuk belati hatiku terasa. Rae Na~ya, sekarang kah saatnya aku melepaskanmu?

Eun Kyo’s POV

Aku sedang asik membuatkan susu untuk Ryu Jin. Anak itu sudah ada dibelakangku dan memeluk kakiku. Aku mengangkatnya dan mendudukkannya di atas meja. Dasar anak kecil tidak mau diam, dia malah mencolek lauk sisa makanan tadi pagi.

“Yak! Sayang, kau belum cuci tangan.” Larangku, tapi dia sudah memasukkan tangan kedalam mulutnya.
“Oppa.. bisa jaga Ryu Jin sebentar?” teriakku. Aku memegang tangan Ryu Jin yang masih berusaha mencolek makanan. Dia semakin dilarang semakin besar keinginan untuk melakukannya. Dia tetawa ceria sambil bercanda denganku.

“Sudah cukup, jangan makan,nanti kau kenyang dan susumu tidak diminum.” Omeluk padanya.

“Oppa….!!” aku berteriak lagi.

“Em, kenapa berteriak-teriak?” dia melingkarkan tangannya di pinggulku. Ryu Jin memandang tangan Oppa yang memelukku. Ada tatapan tidak rela dari matanya. Aku tersenyum melihatnya, kemudian anak itu mengalihkan padangannya dan melihat kearah makanan lagi.

“Bisa kau jaga sebentar anakmu? Jangan biarkan dia makan tanpa cuci tangan, aku mau membuatkan susunya dlu, jika dia makan, nanti dia tidak minum susu.”

“Anakku? Dia anakmu.” Protesnya. “Anakku ada didalam sini.” Dia menyentuh perutku. Aku menatap tajam padanya.

“Anak kita.”

“Sini Ryu Jin~a, Eommamu sedang labil, jangan dekat-dekat dengannya.” Celetuk Oppa sambil memangku Ryu Jin duduk di kursi.

“Yak!” teriakku sambil memasukkan gula dalam botol susu.

“Psssstt.” Dia berbisik pada Ryu Jin dan diikuti gelak tawa Ryu Jin sambil menjauhkan telinganya dari Oppa.

“Ge..li.” sahut Ryu Jin. Aku dan Oppa berhenti sejenak, memandang Ryu Jin.

“Ya.. darimana kau belajar kata itu?” tanyaku. Oppa juga bingugn darimana dia belajar kata itu.

“Siapa yang mengajarkanmu?” tanya Oppa. Dia hanya tertawa. Anak ini banyak belajar, mulai agresif dan bisa menciumku, mungkin belajar dari Oppa, tapi belajar berbicara? Darimana dia belajar? Televisi kah? Entahlah, hanya saja aku tidak ingin dia belajar kata yang tidakpantas. Ryu Jin tidak mengindahkan pertanyaan kami. Aku menyerahkan botol sus padanya yang langsung dilahapnya. Aku memperhatikannya yang minum susu dihadapanku. Aku menopang daguku memperhatikan mereka. Anak itu mendongakkan kepalanya agar bisa dengan nyaman meminum susunya.

“Tumben kalian akur.” Ledekku melihat Oppa yang dengan dengan senang hati memangku Ryu Jin yang biasanya selalu tidak mau. Ryu Jin juga tidak terlalu pemilih hari ini.

“Kami akan menjagamu, iya kan Ryu~ya?” oppa mencium pipi Ryu Jin. Ryu Jin memegang wajah Oppa, menelusuri wajahnya dari mata, hidung hingga mulut. Mulutnya masih asik meminum susu dimulutnya, terkadang dia melepaskan botol minumannya demi mengambil nafas, tapi kembali menghisapnya dengan semangat, tanannya masih tidak lepas dari wajah Oppa. Anak kecil ini, aku tidak mengerti apa maksudnya. Setelah kemain memilin rambutku, sekarang dia menyentuh wajah Oppa.

“Sebaiknya berbaring saja.” Oppa mengangkat tubuh Ryu Jin dan membawanya ke ruang tengah dan meletakkannya di sofa. Kepala Ryu Jin di letakkan di pangkuannya. Hari ini Ryu Jin tidak terlalu cerewet, tidak selalu berebut dengan Oppa. Aku sedikit merasa kehilangan sensasi itu. Aku mendekati Ryu Jin dan menciumi perutnya. Membuatkan menggeliat geli.

“Yeobo, biarkan dia minum sebentar.” Aku berhenti menciumi Ryu Jin. Eh? Oppa bahkan sekarang  berubah membelanya.

“Eh? Sejak kapan membelanya? Bukannya kalian rival?” tanyaku. Dia membelai rambutku.

“Kau tidak suka?” tanyanya.

“Ani, aku senang kalian akur.”

“Tapi?” tanyanya.

“Tapi? Wae?”

“Ani, hanya saja kau seperti kecewa.” Aku duduk disamping Oppa, menyandarkan kepalaku padanya.

“Kau tidak bekerja hari ini demi apa?” tanyaku.

“Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanyanya.

“Ani.” Jawabku sambil memeluk lengannya. Mengapa hari ini aku merasa ingin bermaja? Ryu Jin menerjang tubuhnya dengan kaki dan beralih ke pangkuanku. Dia duduk dipangkuanku dan menghadap kearahmu. Mulutnya menggigit ujung botol susu dan berceloteh tidak jelas. Dia memainkan kancing bajuku. Memelintirnya dan beralih kekancing berikutnya. Anak ini, ada saja yang dia lakukan yang membuatku terkesima dengan tingkahnya. Aku memperhatikan matanya yang fokus dengan kancing bajuku. Apa yang membuatnya menarik? Dia mlepaskan botol minumannya dan menyerahkan botol kosong itu pada Oppa. Oppa meletakkan botol itu diatas meja dan meraih remote TV lalu memncet tombol ‘on’. Televisi menyala dan menayangkan beberapa acara

“Berhenti.” Aku menyuruh Oppa membiarkan salah satu channel, sebelumnya dia memindah beberapa channel.

“Wae?” tanyanya bingung.

“Lihat dn dengarkan.” Aku memperhatikan acara itu. Gosip tentang Jina dan Donghae merebak. Oppa memandangggku. Membuat Ryu Jin memandang kami bergantian. Aku menunduk memandang Ryu Jin lalu menciumnya.

“Sepertinya kasus dan gosip adikmu mulai melebar.” Komentarku tentang berita itu.

“Memang sepertinya begitu.”

“Apa kau merestuinya?” tanyaku mengalihkan pandangan dari Ryu Jin.

“Aku sih tidak mempermasalahkannya selagi mereka senang.”

“Bagaimana dengan keluargamu? Apa mereka akan menyetujuinya?” tanyaku hati-hati mengingat keluarga Jung Soo Oppa tidak sembarangan memasukkan orang ke dalam keluarganya.

“Eomma dan Appa aku rasa tidak masalah, yang dikhawatirkan adalah Halmeoni.”

“Wae?” tanyaku.

“Ani, kau tau sendiri Halmeoni susah ditebak.” Jawabnya.

“Benar juga.” Aku embenarkan opininya.

“Ngomong-ngomong soal Halmeoni, kapan kita kesana dan memberitahu kabar baik ini?” aku menatapnya. Aku melupakan itu.

“Kiat perlu pemeriksaan lebih lanjut, untuk meyakinkan.”

“Sekarang?” tanya Jung Soo Oppa tidak sabar.

”Yak, nanti dulu.” Jawabku.

“Ryu Jina~a, kau akan punya adik, kau senang?” tanya Oppa, anak itu tidak menjawab karena tidak mengerti.

“Ya.. kita melakukan apa hari ini untuk mengisi waktu?” tanya Oppa pada Ryu Jin, mengapa dia berbeda hari ini? Apa karena kehamilanku? Aku memperhatikan dua orang lelaki yang hari ini tumben-tumbennya akur tidak bertengkar.

Ryu Jin beranjak dari pangkuanku setelah menghabiskan susunya. Aku masih mengekorinya dengan mataku. Tangannya bergerak dari satu benda ke benda yang lain.

“Ryu Jin~a, kau sudah mandi, jangan menyentuh sesuatu, kotor.” Larangku saat dia menyentuh beberapa foto perkawinanku yang terpajang di sebuah lemari foto. Dia tersenyum menoleh padaku saat aku melarangnya, lalu mulai memasukkan tangannya ke dalam mulut. Aku segera berlari menghampirinya dan segera mencegah anak itu memasukkan tangan kotornya.

“Yak, Eomma sudah bilang jangan memsukkan tanganmu ke dalam mulut sembarangan!” aku mengomelinya. Dia menatapku terkejut, matanya mentapku bingung, kedua matanya berkaca-kaca, aku jadi merasa bersalah memarahinya.

“Ya… aku, aku, aku tidak bermaksud memarahimu.” Bulir airmata turun mengalir dari matanya turun ke kedua sudut bibirnya. Aish! Anak ini, perasaannya halus sekali. Aku memang tidak peprnah memarahinya selama ini, ini kali pertama aku sedikit berbicara keras padanya. Aku memandangnya penuh penyesalan. Jung Soo Oppa tersenyum menatap kami, aku bisa melihatnya dari sudut mataku.

“Jangan mengejekku Oppa.”

“Ani, aku tidak mengejek.” Oppa berjalan menuju kearah kami.

“Hey, anak emas, ternyata kau bisa juga dimarahi Eommamu.” Oppa mengusap kepala Ryu Jin lembut, mengacak rambutnya. Ryu Jin mulai terisak.

“Ssssttt, uljima… Eomma tidak memarahimu, ne? Arasseo, Eomma minta maaf.” Aku memeluknya dan meletakkan kepalanya dibahuku. Dia membenamkan wajahnya di leherku. Sambil menangis terisak. Aigoo.. anak ini, baru aku berbicara keras sedikit saja, sedihnya setengah mati. Aku menepuk punggungnya mencoba meredakan tangisnya.

“Ryu~ya, dengarkan Eomma, ya.. Eomma hanya tidak ingin kau sakit, kau baru saja sembuh kan? Jika kau memegang sesuatu yang kotor dan memasukkannya ke dalam mulutmu nanti kau sakit lagi.” Aku mencoba menenangkan Ryu Jin dengan bujukanku, meski dia tidak terlalu mengerti dengan maksudku. Tangisnnya berubah sesenggukan yang menyebabkan tubuh kecilnya bergetar dengan frekwensi konstan.

“Ssssttt, Eomma sayang padamu, tapi kau jangan membuatku marah, ne? Berjanji tidak melakukan hal itu lagi?” aku berusaha menarik tubuhnya dan menatapnya namun dia memeluk erat leherku. Tidak Jung Soo Oppa, tidak Ryu Jin, senang sekali dengan leherku. Saat dia ingin tidurpun kebiasaan mereka sama. Memelukku dan menelusupkan wajah dan kepala mereka ke sela rambut dan leherku. Aku membiarkannya dan menepuk punggungnya, mencoba mentransfer kasih sayangku melaui sentuhan. Aku membenarkan letak foto yang tadi disentuh Ryu Jin, aku menyadari sesuatu, terang saja dia menjilat tangannya sendiri. Itu adalah foto Jung Soo Oppa memegang sebuah tart di tangannya. Anak ini ingin mencicipinya? Aku tersenyum memandangnya, aku masih menepuk pundaknya, tanpa terasa dia sudah tertidur dalam dekapanku.

 teuki Tart

“Oppa, coba kau lihat, dia tertidur?” tanyaku setengah berbisik pada Jung Soo Oppa. Jung Soo Oppa mengangguk. Aku berjalan membawanya ke kamar tidur dan meletakkannya di atas tempat tidur, menyelimutinya dan berjalan perlahan meninggalkannya dan menutup pintu kamar dengan hati-hati.

“Tertidur pulas?” tanya Jung Soo Oppa di belakangku sambil memelukku.

“Hem. Jangan diganggu.” Jung Soo Oppa sangat senang menjadikanku objek untuk dipeluk.

“Kapan kita ke rumah Halmeoni dan memberitahukan kabar gembira ini?” tanyanya padaku sambil membawaku berjalan kearah ruang tengah.

“Hem? Nanti saat kit asudah ke dokter.” Jawabku, dia mendorong tubuhku pelan dan mendudukkanku di sofa. Lalu merebahkan kepalany di pangkuanku.

“Harusnya aku yang bermanja padamu.” Sergahku sambil cemberut, dia bangkit dan menarik kepalaku agar berbaring di pangkuannya. Aku memperhatikannya wajahnya dari bawah, bibirnya, hidungnya. Aku menlusurinya dengan telunjukku.

“Aku ingin anakku sepertimu.”gumamku sambil terus menelusuri wajahnya.

“Aku tidak ingin anak lelaki, aku ingin anak perempuan.” Jawabnya. Dia menunduk menatapku.

“Wae?” tanyaku sambil memanyunkan bibirku dan mengerutkan dahiku.

“Karena aku tidak ingin bersaing mendapatkan dirimu lagi seperti aku bersaing dengan Ryu Jin, cukup dengan Ryu Jin.” Jawabnya sambil menyentuh bibirku. Aku berusaha menggigit telunjukknnya namun dia sudah menarik tangannya.

“Tapi aku ingin anak lelaki lagi.” Jawabku sambil memiringkan tubuhku memeluknya.

“Aku mengantuk.” Ujarku sambil memejamkan mataku.

“Tidur saja.” Jawab Jung Soo Oppa sambil membelai rambutku.

“Em.” Sahutku. Tanpa terasa aku sudah terlelap.

Aku membuka kedua mataku dengan perlahan. Mengerjapkanya untuk membiasakan dengan cahaya yang masuk. Dimana ini? Aku mengusap mataku. Disampingku tertidur seorang anak kecil dengan pulasnya. Aku memperhatikannya. Nafasnya berhembus dengan teratur. Aku membelai rambutnya. Rambut lembutnya dalam genggamanku, merasakan sensasi menjadi ibu lebih besar dari biasanya. Aku berbaring menghadapnyanya. Tangannya yang membentang di samping kepalanya. Aku menyentuh tangan kecilnya dan mengecupnya. Rasanya tidak pernah cukup waktu aku untuk mengaguminya, anak kecil ini sungguh mencuri hatiku. Entah dia datang dari mana. Dan pertanyaan yang paling benci yang muncul dalam benakku. Anak siapa sebenarnya bocah ini? Pertanyaan yang selalu menghantuiku dan selalu membuatku terkurung dalam ketakutan, jika suatu saat ada yang mengambilnya dariku. Pintu terbuka dan Jung Soo Oppa masuk dalam kamar. Aku sedikit pusing dan memandangnya dengan nanar.

“Makanan sudah aku siapkan.” Jawab Oppa. Aku berusaha bangkit tapi sakit kepalaku membuatku terdiam emmegang kepalaku. Jung Soo Oppa menghampiriku dan membantuku untuk bangkit.

“Masih sakit kepala?” aku mengangguk.

“Jika sehabis berbaring, aku jadi pusing.” Jawabku.

“Kau memasak? Ini jam berapa?” tanyaku.

“Kalian lama sekali tidur, bahkan Ryu Jin belum juga bangun. Ini sudah jam 2 siang.”

“Kau memasak?” tanyaku menhgentikan langkahku. Jung Soo Oppa mengangguk.

“Ai, aigoo.. aku menyusahkanmu? Mengapa tidak membangunkanku?” tanyaku.

“Aku tidak tega membangunkan kalian.” Jawab Jung Soo Oppa, dia mengandengku menuju meja makan. Makanan? Banyak seperti ini?

“Oppa, siapa yang memasak sebanyak ini? Kau?” tanyaku bingung.

“Aku yang memasak.” Jawab seseorang di belakangku. Aku memandangnya. Halmeoni, beliau mengelap tangannya di celemek yang sedikit kotor karena cipratan minyak dan sebagainya.

“Halmeoni?” sapaku sambil melepaskan rangkulan Oppa di lengan pdan pinggangku.

“Mengapa tidak cepat memberitahuku?” tanya Halmeoni sambil mengambil nasi dan meletakkannya di mangkuk. Oppa berusaha mencicipi makanan Halmeoni namun beliau cepat-cepat memukul tangan Oppa dengan sumpit.

“Yak, aku bukan memasakkan ini untukmu, tapi untuk cucu menantuku.” Jawab Halmeoni dengan suara khasnya yang tegas. Wajah Oppa langsung cemberut. Aku tersenyum melihat tingkah kedua orang di hadapanku.

“Aku ingin membuatku susu untuk Ryu Jin.” Aku menggeser tubuhku ke meja tempat aku meletakkan peralatan Ryu Jin. Dan membuatkan susu formula untuknya. Tidak berapa lama aku berdiri di meja itu. Ryu Jin sudah datang dengan muka setengah sadarnya. Dia memegang boneka sapi dalam pelukannya, selimut kecil masih melilit tubuhnya. Aku menghampirinya.

 ryu sleep

“Kau haus?” aku melepaskan jempol tangan yang dihisapnya. Dia mengangguk. Aku menyerahkan botol susu padanya, dia segera menyambarnya dan memeluk tubuhku minta di gendong. Aku meraih tubuh kecilnya, meletakkan kepalanya di pundakku sambil meminum minumannya. Aku membawany duduk di sofa. Kegiatanku bersamanya kebanyakan di sofa. Merebahkan tubuhnya dan memangkunya. Dia terlihat senang dan memegang wajahku dengan lekat. Menyentuh hidungku lalu turun ke mulutku. Aku menggigit pelan jarinya. Dia tertawa riang. Mencoba menlepaskan jarinya dari gigitanku. Dia terus tertawa saat aku tidak mau meleaskannya.

“kau makan dulu.” Sapa Halmeoni.

“Oh? Ah, ye, Halmeoni, sebentar lagi, setelah susunya habis.” Jawabku. Aku mencium pipinya.

“Ayo cepat habiskan, Halmeoni sudah menunggu.”

“E!” dia menunjuk kearah suatu sudut. Aku memandang kearah yang dirunjuknya.

“Mwo?” tanyaku sambil menatap matanya.

“E…!” mulutnya masih tersumpal botol susu saat menujuk sesuatu. Aku meperhatikan arah tangannya. Foto Jung Jung Soo Oppa. Sejenak aku tertegun, apa maksudnya menunjuk foto Oppa sambil meliriknya.

“Apa sayang?” dia masih bersikukuh menunjuk foto itu tanpa aku tau maksudnya. Aku menatapnya dengan bingung.

“Kau? Mau kue itu?” tanyaku. Dia mengangguk.

“Dengarkan Eomma, jika kau ingin sesuatu katakan. Itu namanya tart, coba katakan. Tart.”
“Tart.” Jawabnya sambil masih mengulum botol dimulutnya.

“Susu.” Aku mengambil botol susu dari mulutnya. Dia menggapainya namun aku mengangkatnya dengan tanganku.

“Katakan, su-su.”

“Su-su.” Jawabnya lagi. Sambil mencoba meraohnya sambil berbaring.

“Jika kau haus katakan ha-us. Su-su.” Aku mengajarinya berbicara.

“Ha-us, su-su.” Ulangnya terbata. Aku menyerahkan botol susunya.

“Cepat habiskan, Eomma mau makan.” Aku menepuk pantatnya. Dia segera melahap minumannya lagi yang tersisa sedikit. Lalu menghabiskannya. Dia mengacungkan botol minuman kearahku.

“Anak pintar.” Pujiku padanya. Aku mengangkat tubuhnya tapi buru-buru dicegah Jung Soo Oppa. Dia menggendong Ryu Jin ke ruang makan. Mendudukkannya di kursi yang memang disiapkan untuknya.

“Kau merasa baik-baik saja Kyo~ya?” tanya Halmeoni disela makan kami.

“Ne, Halmeoni.” Jawabku sambil menyuap makanan.

“Apa sebaiknya kalian mencari pengasuh? Atau pembantu?” tanya Halmeoni lagi.

“Ani, Halmeoni, aku bisa mengurus Ryu Jin.” Jawabku.

“Tapi kau harus tetap mencari pengasuh untuk anak hiperaktifmu itu.” Tegasnya. Aku memandang Jung Soo Oppa untuk meminta pembelaan. Namun dia tidak bisa berkata apa-apa.

“Mau aku suruh Bibi Kim kesini?” tawar Halmeoni.

“Ah, tidak perlu Halmeoni.” Tolak Oppa.

“Berarti kau harus mencari pengasuh.” Aku menatap Jung Soo Oppa tajam, dia hanya menatapku pasrah. Aku tau kenapa dia menolak Bibi Kim, karena sejak kecil Jung Soo Oppa bersama Bibi Kim, hanya Bibi Kim yang tidak bisa ia bantah perintahnya. Karena itu dia tidak ingin Bibi Kim mencampuri urusannya. Dan aku yang harus dikorbankan dipisahkan dengan Ryu Jinku.

“Rae Na mana?” sejak tadi Halmeoni selalu bertanya.

“Oh, Rae Na sedang kuliah.” Jawabku. Aku memegang tangan Ryu Jin yang ingin mengaduk makanan dengan sendok. Rae Na? Aku juga bingung mengapa dia tidak menampakkan batang hidung sejak tadi pagi?

Rae Na’s POV

Aku baru saja menerima pernyataan cinta Kibum Oppa. Dia mengatakan menyukaiku sejak kecil? Bagaimana mungkin? Aku ingin tidak percaya karena aku tidak ingin melukai perasaannya. Kibum Oppa, satu-satunya orang yang mengerti aku dan selalu membelaku terlepas aku benar ataupun salah. Dan beberapa detik yang lalu dia menyatakan perasaannya padaku. Tapi, tapi bagaimana bisa aku menerima pernyataan cintanya sementara hatiku telah terisi dengan yang lain. Aku tidak bisa mengabaikan perasaanku sendiri meski aku berusaha untuk menyangkalnya. Semakin aku menolak perasaanku semakin aku terpuruk pada kenyataan bahwa aku juga mencintainya. Mencintai caranya mencintaiku. Mencintai caranya memujaku dan mengesampingkan semua hal yang tidak bersangkutan denganku. Aku mencintai caranya memandangku caranya memperlakukanku. Dan menjeratku dengan semua paksaannya. Seolah aku adalah pusat dunianya dia beredar dalam rotasiku. Selalu ada disekitarku, dialah yang aku cintai. Bukan orang yang ada dihadapanku dan menyatakan cintaku.

“Arasseo, arasseo, aku akan kembali.” Sebuah kata terakhirnya terngiang di telingaku. Saat aku mengantarnya di bandara dia meminta untuk menciumku untuk pertama dan terakhir kali. Aku membiarkannya, tidak apa-apa kan kalau mencium pipiku saja? Dia menyayangiku aku pun menyayanginya. Bukan bukan, dia mencintaiku. Aku sangat berterima kasih padanya.

“Oppa, jangan lupa kembali.” Gumamku.

“Aku pasti kembali, setelah semua study dan urusanku selesai.” Jawabnya. Dia mentapku lama lalu tersenyum. Senyum yang sangat jarang dia umbar. Dia mengacak rambut bertepatan dengan panggilan keberangkatannya. Dia memelukku sekali lagi, erat sebelum dia berlalu.

“Aku akan merindukanmu.” Sahutnya, aku tidak berani menjawab.

“Akan merindukan saat-saat seperti kita kecil.” Sambungnya.

“Nado.” Jawabku. Mengusap punggungku sebelum benar-benar melangkahkan kaki meninggalkanku. Aku menatap kepergiannya dan melambaikan tangan padanya. Setelahddia menghilang dri pandanganku barulah aku berbalik dan meninggalkan bandara. Aku pasti akan merindukannya.

Aku menghentikan taksi yang berlalu di hadapanku, menujuSeoul University. Aku hari ini ada kuliah siang. Dan segera meluncur, meski ini baru jam 11 siang dan aku masuk satu setengah jam lagi, aku ingin sarapan di kampus dan mencari buku untuk bahan skripsiku. Sesampainay di kampus aku langsung menuju kantin karena perutku sudah meronta minta diisi. Aku memesan makanan dan melahapnya dengan cepat. Tiba-tiba seseorang menumpahkan makananku.

“Yak! Gadis jadi-jadian, jangan mentang-mentang kau sekarang sudah menjadi adik ipar seorang pengusaha, lalu kau bisa merebut Minho dariku.” Suara ini, yang beberapa waktu jarang aku dengar. Aku tidak ingin menatapnya, meredam amarahku.

“Dan aku, aku sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan dengan Minho.” Lanjutnya.

“Yak, gadistidak punya otak. Bukan urusanku kau menikah dengan siapapun sekalipun dengan Minho, aku tidak peduli. Tapi kau menumpahkan makananku! Itu yang tidak bisa aku terima!” aku menempar meja dan membuatnya tersentak. Terlihat wajahnya sedikit tegang dan tidak menyangka aku akan melakukan ini.

“Aku tidak suka-kau-mengganggu-acara-makanku!” aku mendekatkan wajahku padanya dan menekankan setiap kata yang keluar dari mulutku.

“Dan aku tidak suka kau mengganggu Minhoku.” Balasnya sambil mengibaskan rambutnya.

“Kalau kau ingin Minho, ambil saja. Aku tidak membutuhkannnya.” Aku memungut tasku dan segera pergi dari tempat ini.melihatnya perutku jadi kenyang. Aku duduk dibawah pohon. Seseorang menghampiriku.

“Lollipop?” tawar orang itu. Seorang lalaki, aku tidak pernah melihatnya. Dandanannya, sedikit acak-acakan, dengan kaos oblong, jeans kucel dan rambut bergelombang yang seperti tidak sisiran. Aku memperhatikannya dari ujung kaki hingga kepala. Ransel merah di punggungnya. Sneaker dan jam sporty di tangannya. Membuatku sedikit tertarik, aku suka gayanya.

“Jangan dipikirkan tentangnya.”

“Maksudmu?” tanyaku sambil menjilat lollipop yang dia berikan padaku.

“Gadis mengerikan itu.” Jawabnya.

“Darimana kau tau.” Dia bangkit dari duduknya dan meregangkan badannya.

“Aku pembaca situasi.” Jawabnya sambil melangkah meninggalkanku. Aku memperhatikannya dengan bingung.

“Rae Na~ya, kau ,kelasmu sudah masuk.” Teriakan Eun Cha Onnie menyadarkanku dari lamunan. Aku berjalan sambil menjilat lollipop sambil masih memperhatika lelaki itu yang berjalan berlawanan denganku siapa dia?

***

Aku berjalan gontai meninggalkan area kampus. Hufh, hari ini kuliah padat. Tidak disangka dosen yang beberapa waktu lalu tidak masuk kini meminta waktunya. Mau tidak mau kami harus menerimanya demi absensi.  Terus berjalan ke halte terdekat sambil menendang beberapa kerikil kecil. Aku meraih tali ranselku dan menghembuskan nafasku. Terngiang ditelingaku perkataan Min Ra tadi. Menikah dengan Minho? Benarkah? Tidak mungkin tidak mungkin! Aku menggelengkan kepalaku sendiri. Hingga sampai di depan halte aku duduk dan merasa tidak ingin beranjak. Tubuhku terlalu lelah. Bus telah berlalu dan aku tidak beranjak dari dudukku. Hingga suara dering telepon membuyarkanku. Minho. Aku sebenarnya malas untuk mengangkatnya. Tapi tanganku malah memencet tombol jawab.

“Yeoboseyo?” sahutku tidak semangat.

“Yeoboseyo?” eh? Bukan suara Minho.

“Ini siapa?” tanyaku.

“Rae Na?” tanyanya.

“Iya benar.” Jawabku bingung.

“Jweosonghamnida Agasshi, ini ponsel milik pemuda yang sedang mabuk disini. Kamu bingung harus mengantarnya kemana. Frekwensi dia memanggil anda lebih banyak daripada yang lain. Jadi saya putuskan untuk menghubungi anda.” Terang orang itu.

“Eh? Dimana dia?” tanyaku penasaran, ada segurat kekhawatiran tertoreh dalam benakku.

“Dia ada di Club.” Orang itu menyebutkan sebuah Club di daerah Seoul. Aku menutup flip ponsel dan segera berlari mencari taksi.

Sesampainya ditempat tujuan. Aku segera masuk kedalam Club itu. Meminta pelayan mengantarku pada Minho. Aku tercengang, dia menyewa private room dengan ukuran besar dan botol minuman berserakan di meja yang ada dihadapannya. Aku tertegun melihat yang tergeletak diatas sofa dengan muka merah, sepertinya mabuk berat. Bukan, dia memang sudah mabuk berat.

“Sedang apa kau disini?” tanyaku dingin.

“Park, hik! Rae Na, hek!” dia terbata memanggilku. Dengan tangan sambil menunjukku dan mencoba untuk berdiri dengan susah payah.

“Kau ini apa-apaan Choi Minho?!” aku memarahinya sambil mencoba membantunya berdiri.

“Kau Par Rae Na?” racaunya tidak karuan.

“Ayo kita pulang.” Aku menyeretnya.

“Shireo! Aku tidak mau pulang, aku ingin disini, aku ingin menghabiskan mala disini. Aku ingin melupakanmu Park Rae Na, kau menyakitiku, hek!” dia berbicara yang tidak-tidak, aku tetap menyeretnya pulang. Mengambil kunci mobilnya dan membawanya pulang.

Sesampainya di apartemen, aku tidak menemukan ahjumma. Aku membawanya dengan susah payah memasuki ruangan pribadinya itu. Aku meletakkan tubuhnya yang lemah diatas tempat tidur, melepas sepatu dan kaos kakinya. Aku mengangkat kakinya yang masih menjutai di tepi tempat tidur.

“Aish! Kau bau alkohol!” aku mengibaskan tanganku di depan hidungku menghalau bau yang tercium melalui indra penciumanku.

“Park Rae Na, aku mencintaimu.” Racaunya lagi. “Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu.” Ulangnya berkali-kali. Saat aku berusaha keluar dari kamarnya tiba-tiba pinggangku tertarik kedalam. Aku tersentak. Minho. Dia menghempasku di tempat tidur dan menghimpitku.

“Choi Minho! Kau apa-apaan!” teriakku, dia mengacuhkan teriakanku, tubuhnya terus menekanku hingga aku tidak bisa berkutik.

“Yak! Choi Minho! Kau! Akh! Jangan macam-macam!” dia terus menekanku dan mencoba membuka paksa kemejaku. Aku menahannya.

“Minho! Kau gila!” aku berusaha menendangnya namun sia-sia.

“Aku memang gila! Aku memang gila! Dan kau yang menyebabkan aku gila! Aku tidak bisa melihatmu dengan orang lain, aku tidak suka kau tersenyum untuk orangl lain, aku tidak bisa tanpamu!” nafasnya menderu menyapu leherku.

“Choi Minho, sadarlah!” dia tidak memperdulikanku. Aku menjadi ketakutan, benar-benr ketakutan.

“Choi Minho! Bukan begini, humph!” dia mencium bibirku, melumatnya dengan sedikit kasar. Aku memukul dadanya. Dia melepaskan bibirku.

“Choi Miho! Bukan begini caranya kau mencintaiku!” ujarku cepat berteriak di telinganya. Dia terdiam dan menghentikan perlakuannya terhadapku. Memandangku dengan tatapan yang sulit aku artikan. Jika aku tidak salah mengartikan, dia terkejut dengan perbuatannya sendiri. Aku memanfaatkan itu untuk mendorongnya. Menampar pipinya. Dia memegang pipinya dan aku mengaitkan kancing bajuku yang tadi sempat lepas. Dia memeluk punggungku.

“Mianhae, mianhae. Aku menyakitimu, tapi, tapi, aku, aku, aku tidak bermaksud menyakitimu.” Dia memelukku erat.

“Maafkan aku, aku benci, aku benci dengan diriku sendiri, diriku sendiri yang tidak bisa mengontrol diriku jika berdekatan denganmu. Aku hanya, aku hanya ingin kau mengerti aku menginginkanmu, aku membutuhkanmu. Kau tidak menghirauanku membuatku putus asa. Aku benci, aku benci dengan diriku sendiri yang dengan bodohnya masih saja mengejarmu dan mencintaimu berlebihan. Tapi semua ini karena aku mencintaimu Park Rae Na.” Jelasnya mengenai pembelaan tentang perbuatannya.

“Cinta tidak seperti ini Choi Minho.” Aku melepaskan pelukannya dan meninggalkannya yang mematung sendiri.

Aku berjalan menyusuri jalanan sepi meninggalkan apartemen Minho. Mengapa tidak ada taksi yang lewat? Aku terlalu lelah hari ini. Tiba-tiba aku terkejut dengan segerombolan pemuda yang terlihat sperti preman. Mereka menggodaku, aku berusaha menghindar tapi beberapa dari mereka menahanku.

“Yeobo, kau kucari ternyata disini. Kenapa pulang tidak memberitahuku?” seseorang berkata di belakangku. Aku menoleh padanya. Dia tersenym padaku. Lelaki itu. Tetapi segerombolan preman itu tidak teriam dengan kehadirannya dan mencoba memukulnya.

“Yak! Kau bocah tengik, jangan campuri urusan kami!”

“Urusan kalian, maaf kalian mengganggu gadisku.” Dia menarik tanganku dan tubuhnya dihadiahi tinju dari kawanan preman itu. Dia membalasnya, hingga terjadi perkelahian yang tidak seimbang, saat beberapa dari mereka lengah, dia menarik tanganku.

“Lari!” serunya sambil membawaku lari. Aku terus berlari bersamanya, dia menggenggam tanganku erat. Aku hanya bis amengikutinya. Saat kawanan preman itu tidak terlihat lagi dia menghentikan larinya.

“Ahahahahahahaha, ternyata gadis sepertimu bisa takut juga.” Tawanya meledak melihat mukaku yang pucat. Aku memukul pundaknya.

“Yak, sakit!” protesnya.

“Ayo aku antar pulang.” Dia kembali menarik tanganku. Aku hanya bisa mengikutinya, daripada diganggu orang lain lagi, lebih baik aku menerima tawarannya.

“Siapa namamu?” tanyaku. Dia menoleh padaku sambil menyuguhkan senyumnya.

“Yong Junhyunng.” Jawabnya.

Jung Soo’s POV

Hari ini Halmeoni ada bersama kami, aku menelponnya untuk membantuku menyiapkan makanan, dengan umpan mengatakan Eun Kyo hamil. Secepat kilat dia datang kemari demi mendengar kabar itu. Terpancar kebahagiaan di wajah tegasnya. Aku tersenyum saat Eun Kyo tidak bisa menolak Halmeoni untuk mencari seorang pengasuh untuk Ryu Jin. Berarti tidak akan ada yang mengganggu waktuku lagi bersama Eun Kyo. Aku kembali dari mengantar Halmeoni ke rumah. Memarkir mobilku di depan rumah dan masuk.

“Yeobo~ya…” aku memangilnya. Tidak ada sahutan. Hari menjelang sore, mungkinkah dia tidur lagi? Aku memasuki kamar dan mendapatinya sedang berbaring bersama Ryu Jin.

“Aku panggil kau tidak menyahut.” Protesku sambil merebahkan tubuhku disampingnya. Dengan cepat Ryu Jin menyusup diantaraku. Aish Anak ini, masih saja tidak bisa membiarkanku sedikitpun mendekati Eommany. Aku memeluk Ryu Jin, meletakkan tubuh kecilnya diantara kedua kakiku.

“Aaaaaaaa….!” teriaknya sambil berusaha melepaskan diri. Dia mencoba menendangku namun tenagaku lebih besar.

“Appa!” protesnya. Aku tidak menghiraukannya. Matanya menatap Eun Kyo penuh harap agar menolongnya melepaskan tubuhnya dari genggamanku.

“Yak! Jangan meminta pertolongan dengan ibu perimu.” Aku menutup matanya dengan tanganku.

“Aaaaaaa…….!” teriaknya lagi. Aku sangat senang menggodanya seperti ini, melihatnya tidak berdaya membuatku sangat puas.

“Oppa…” panggil Eun Kyo padaku dengan tatapan menggodanya.

“Hem?” aku semakin erat menghimpit tubuh Ryu Jin, dai menggeliat.

“Oppa, lepaskan dia.” Pinta Eun Kyo lembut. Aku masih tidak mau melepaskannya.

“Oppa…” dia menarik tubuh Ryu Jin. Dan Ryu Jin terlihat sangat senang dengan senyum kemenangan mengembang di wajahnya. Dia memeletkan mulutnya.

“Yak! Kau mengejekku?” teriakku. Dia memeluk Eun Kyo.

“Ah! Oppa, jangan bermain.”

“Oppa, berhenti bercanda. Sakit..”

“Arasseo, Ryu Jin~a, kau tidak boleh menyakiti Eommamu lagi, ara?” matanya hanya mengerjap. Aku membelikan kalian tart. Jung Soo Oppa mengeluarkan kotak kue dalam bungkusan plastik. Ryu Jin segera menghambur padaku. Dia menantikan aku membuka kue itu. Matanya berbinar saat melihat apa yang ada di dalam koyak.

“Ya.. ya..” dia mengoceh senang. Memandang kearah Eun Kyo yang mengelus perutnya.

“Kau kenapa? Sakit?” tanyaku khawatir. Aku biarkan Ryu Jin memakan kuenya sendiri diatas meja. Aku berjalan menghampirir Eun Kyo.

“Sedikit.” Jawabnya sambil menggigit bibir bawahnya.

“Kita ke dokter nanti, ne?” dia mengangguk.

“Ryu~ya,jangan dihabiskan, Eommamu belum memakannya.” Seruku pad Ryu Jin. Mulutnya penuh dengan makanan. Hari sudah mulai malam. Tapi dimana Rae Na?

“Ryu Jin sudah mandi?” tanyaku, Eun Kyo menggeleng.

“Biar aku yang memandikannya.”

“Jangan lupa pakai shampoo.” Dia mengingatkanku.

“Ne. Ryu Jin~a, saatnya mandi.” Aku menggendongnya ke kamar mandi. Dia terlihat tidak ingin mandi, tapi aku memaksanya.

Aku duduk santai sambil menikmati kopi panas di malam ini. Menonton televisi dan melihat tingkah dua orang yang sedang bermain di karpei bulu putih. Mereka tertawa bersama, bersama Ryu Jin membuat Eun Kyo berubah, akankah jika nanti ada pengasuh masih seperti ini, aku jadi khwatir, rasa melindungin dan memiliki diantara keduanya begitu kuat. Aku tersenyum memandangi Ryu Jin yang tertawa lepas memamerkan deretan gigi kecilnya yang rapi. Mereka berbaring di lantai, Ryu Jin telungkup dengan kepala berhadapan dengan Eu Kyo yang berbaring te;entang, sesekali Ryu Jin menyentuh wajah Eun Kyo.

“Ma-ta.” Jar Eun Kyo pada Ryu Jin. Ryu Jin mengikutinya.

“Hi-dung. Bi-bir.” Dia menyodorkan bibirnya dan Ryu Jin menciumnya. Aku bergabung dengan mereka. Berbaring disampng Eun Kyo.

“Eomma.” Ucap Ryu Jin, kedua kakinya diangkat keatas dan diayunkannya.

“Po-po.” Lanjutnya.

“Ya.. kau tau arti ciuman? Yaish!” Eun Kyo mencubit kedua pipinya. Aku juga memposisikan badanku seperti Ryu Jin dan menghadap Eun Kyo. Memejamkan mataku bersiap menciumnya namun tangan kecil menghalangi ciumanku. Hufh, anak in apa-apaan, apa anak kecil memang seperti itu?

“Ryu~ya, ini sudah malam. Kau tidur.” Eun Kyo menelantangkan tubuh Ryu Jin, memeluk dan menguusap punggungnya. Awalnya Ryu Jin menolak, tapi lama-kelamaan, dia akhirnya terlelap.

“Yeobo.” Aku memanggil Eun Kyo memastikan dia tidur apa tidak.

“Hem?” di amenoleh kearahaku.

“Aku kira kau tidur.” Ujarku.

“Ani, Ryu Jin yang tertidur.” Aku melepaskan tangan kecil Ryu Jin yang memeluk Eun Kyo. Menarik tubuhnya dan menghadapkannya kearahku. Aku menelusupkan tanganku di kepalanya. Dia mendekat padaku dan memelukku.

“Kau masih ingat bagaimana kita bertemu?” tanyaku mengingatkannya.

“Bagaimana kita bertemu?” tanyanya.

“Hem, pertama kali kita bertemu, kau memaksaku untuk membawamu, kau kubawa kesini, kuajak menikah tapi kau menolaknya.” Ceritaku. Aku menghela nafasku. Dia memainkan jarinya di dadaku. Aku bisa merasakan irama detak jantungnya yang mengalun.

“Lalu kau memutuskan jalan hidupmu sendiri, lalu kau ternyata, hemph!” dia menutup mulutku dengan tangannya.

“Jangan bicarakan hal itu.” Jawabnya. Aku mengalihkan kedua tangannya dari mulutku.

“Lalu ternyata kau tiba-tiba harus melayaniku, hemph!”

“Oppa…!” geramnya sambil menengadahkan kepalanya menatapku.

“Hihihihi, arasseo, aku tidak akan membahasnya.” Dia meletakkan kepalanya di dadaku.

“Kau tau? Sebenarnya sebelum aku bertemu denganmu, aku sudah bertemu dengan Rae Na.” Dia kembali mendongakkan kepalanya memandangku. Mencari kebenaran dalam ucapanku, dia menatapku dengan lekat.

“Bagaimana bisa?” tanyanya.

“Waktu itu mobilku rusak, dan aku menunggu bus yang tidak kunjung datang di halte, disana aku bertemu dengan Rae Na, dan makan bersama dengannya di pinggir jalan.”

“Lalu?” dia kembali memainkan jarinya di dadaku, sesekali menarik kancing piyamaku.

“Lalu dia memintaku untuk menikahimu, bukan bukan, dia menawarkanku untu menikah dengan Onnienya.”

“Jadi kau sudah tau denganku?” aku menggeleng.

“Ani, aku belum tau, terkejut saat Rae Na tiba-tiba ada disni.” Lanjutku, dia menatapku.

“Ternyata takdir memang tidak bisa di ttebak. Permintaan Rae Na terkabul dan sekarangaku bersamamu disini.” Dia memelukku erat.

“Hem, tapi apa benar kau mencintaiku?” tanyanya pelan sambil membenamkan kepalanya di badanku.

“Sangat.” Aku mengecup kepalanya.

“Jinjja~yo? Apa tidak pernah dekat dengan wanita lain selain aku?” tanyanya lagi lemah.

“Ada.” Dia mencubit pinggangku.

“AW!” teriakku.

“Jangan berteriak nanti Ryu Jin bangun.”

“Sakit.”

“Aku dekat dengan Rae Na.” Jawabku. Dia kembali memelukku erat hingga akhirnya tidak bersuara dan tidak lagi bergerak, nafasnya berhembus beraturan. Sudah terlelap.

***

Aku memeriksa beberapa laporan akhir bulan ini. Tidak ada masalah yang serius, hanya sedikit masalha higienis dapur tetapi kurva pengunjung sedikit meningkat. Aku tidak ter lalu konsentrasi mengaerjakan pekerjaanku. Pikiranku melayang pada Eun Kyo yang aku tinggalkan sendiri bersama Ryu Jin. Apa anak itu baik-baik saja? Maksudku tidak menyusahkan Eun Kyo. Sepertinya aku memang harus menerima saran Halmeoni untuk mencari seorang pengasuh. Aku mengambil ponsel dan menelpon Eun Kyo.

“Yeoboseyo? Oppa? Wae~yo?” tanyanya saat mengangkat telpon dariku.

“Ani, aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja.”

“Ah, kami baik-baik saja.”

“Ryu Jin tidak menyusahkanmu?” tanyaku khawatir.

“Ani, dia masih bisa dikendalikan.” Jawabnya.

“Syukurlah kalau begitu.” Aku menutup telpon dan merasa masih tidak tenang meninggalkannya sendirian. Tidak ingin kejadian beberapa waktu yang lalu terulang kembali. Aku memandang ponselku dan memencet nomer rumah.

“Yeoboseyo?” aku memberi salam saat seseorang  mengangkat telpon di seberang sana.

“Bibi Kim? Halmeoni sedang sibuk?” tanyaku.

“Beliau sedang tidur, nyonya ada, anda mau berbicara dengan nyonya?” tanya Bibi Kim.

“Boleh, bicara dengan Eomma saja.” Aku menunggu sejenak Bibi Kim memanggil Eomma.

“yeoboseyo? Jung Soo~ya? Wae~yo?” tanya Eomma.

“Eomma, bisa carikan kami pegasuh? Aku ingin ada yang menjaga Ryu Jin selama Eun Kyo hamil.” Pintaku padanya.

“Hem, Halmoni sudah menyiapkannya untukmu.”  Jawab Eomma.

“Jinjja~yo?” tanyaku tidak percaya, mengingat baru siang kemarin Halmeoni menyuruhku mencari pengasuh. Dan sekarang di asudah menyiapkannya?

“Hem, sepulang dari rumahmu, beliau meminta kerabat Bibi Kim untuk membantumu di rumah.. kau boleh membawanya sekarang juga. Dia ada di rumah.”

“Ah, ye, sebentar aku rundingkan dengan Eun Kyo dulu.”

“Halmeoni-mu tidak suka berkompromi.” Tegas Eomma.

“Ne, aku membujuk Eun Kyo dulu.” Jawabku sambil memutuskan telpon.

Halmeoni sudah menyiapkan pengasuh untuk Ryu Jin? Bagaimana mungkin? Aish! Menyusahkan saja, membuatku terjepit. Aku rasa Eun Kyo pasti menolaknya. Aku pulang dengan perasaan ragu.mungkinkah dia mau mengalah. Aku memasuki rumah yang sangat sepi. Rae Na duduk menonton TV sambil memakan cemilan.

“Sudah pulang kuliah?” tanyaku padanya. Dia mengangguk, konsentrasinya menonton tidak terganggu. Aku melepas dasi yang mengikat leherku.

“Onniemu mana?” aku mencari Eun Kyo dengan mengedarkan padanganku ke segala sudut ruangan.

“Dia dikamar, menidurkan Ryu Jin.”

“Hem begitu. Rae Na~ya, bagaimana menurutmu jika kami mengambil pengasuh?” aku meminta pendapat Rae Na.

“He? Pengasuh? Untuk siapa?”

“Siapa lagi kalau bukan keponakanmu tercinta itu.” Aku menyadarkan tubuh dia sandaran sofa dan merentangkan tanganku.

“Apa istri tercintamu mengijinkannya?” tanyanya sedikit sangsi.

“Itulah masalahnya, Halmeoni sudah meminta jasa pengasuh, dan sekarang dia tinggal dirumah.”

“Kalau aku sih, hem… tidak masalah, tapi tidak tau dengan Onnie.” Jawabnya.

“Asal jangn menyuruhku tidur dengannya.” Lanjut Rae Na cepat. Benar juga, disini hanya ada dua kamar.

“Aku akan memindahkan ruang kerjaku ke tempat lain.” Sahutku.

“Terserah kau saja.” Jawabnya acuh.

“Ya, kau tadi malam pulang diantar siapa? Naik motor? Tidak biasanya, bukan Minho kan?” tanyaku penuh selidik.

“Bukan, dia temanku.” Jawab  Rae Na.

“Ternyata kau punya teman juga.”

“Yak, Oppa! Memangnya aku apa tidak punya teman!” protesnya.

“Oppa, kau sudah pulang?” tanya Eun Kyo menyapaku setelah keluar dari kamar. Aku menghampirinya dan mencium pipinya.

“Yaish!” desis Rae Na. “Kalian menjijikkan.” Aku tidak menghiraukannya.

“Kau mau mandi? Biar aku siapkan air hangat.” Eun Kyo bersiap untuk menyiapkanku air hangat untuk mandi. Aku mengikutinya dari belakang. Di dalam kamar mandi aku memeluk punggungnya, dia terdiam.

“Yeobo.” Bisikku ditelinganya. Dia tidak memperdulikanku.

“Halmeoni sudah menyiapkan pengasuh untuk Ryu Jin. Kita disuruh menjemputnya besok.” Kali ini dia tidak bisa mengacuhkanku.

“Secepat itu?” tanyanya lirih.

“Hem, kau tidak keberatan kan?” tanyaku khawatir.

“Asal jangan membuatku susah, Ryu Jin tidak menyusahkan, dan ingat, kita hanya punya dua kamar kau mau menaruhnya dimana? Aku rasa Rae Na tidak akan sudi berbagi kamar dengan orang lain, aku sangat tau itu.” Dia berbicara sambil berjalan kearah lemari, mengambilkan piyama untukku, pakaian dalam dan selembar handuk.

“Satu hal yang penting, Ryu Jin tetap tidur denganku.” Tegasnya sambil menyerahkan barang-banrang yang disiapkannya untukku.

“Arasseo, itu semua bisa diatur.” Jawabku. Setidaknya satu masalah selesai. Dan aku tidak perlu pusing lagi memikirkannya.

Author’s POV

Dua hari kemudian barulah Jung Soo dan Eun Kyo menjemput pengasuh Ryu Jin. Selama dua hari dia mendapatkan training dari Halmeoni. Eun Kyo merasa sangat gugup saat memasuki rumah yang pernah ia tempati beberapa waktu tersebut.

“Oppa.” Eun Kyo menahan tangan Jung Soo yang sedang menggendong Ryu Jin.

“Gwaenchana.” Jung Soo menenangkan istrinya. Akhirnya mereka memncet bel rumah dan Bibi Kim menyambutnya.

“Ah, Nyonya muda, silakan masuk.” Bibi Kim menggandeng tangan Eun Kyo membawanya masuk.

“Kau pasti ingin bertemu dengan Min Young kan?” tanya Bibi Kim pada Eun Kyo. Enun Kyo menantap kearah Bibi Kim dengan bingung.

“Ah, ye.” Jawab Eun Kyo singkat.

“Annyeong haseyo.” Sapa seorang gadis berpakaian rapi menunduk kearah Eun Kyo, Eun Kyo tertegun memandang gadis itu. ‘Sangat muda sekali’ batinnya berkata. Dia menoleh kearah Jung Soo, Jung Soo hanya membalasnya dengan senyuman.

“Ini yang akan menjadi pengasuh Ryu Jin.” Tiba-tiba Halmeoni keluar dari kamar dan menghampiri Eun Kyo. Eun Kyo mencium pipi Halmeoni.

“Bagaimana kandunganmu?” tanya Halmeoni sambil mengusap perut Eun Kyo.

“Baik-baik saja, halmeoni.” Jawab Eun Kyo.

“Sudah berkenalan dengan pengasuh anakmu?” tanya Halmeoni kepada Eun Kyo yang diijawabnya dengan gelengan kepala.

“Namanya Shin Min Young.” Gadis itu menunduk menghadap Eun Kyo.

“Ah, ye.” Jawab Eun Kyo ragu. Tersirat rasa khawatir dalam benaknya. Mampukah anak ini menjaga Ryu Jin?

***

Mereka pulang dalam keadaan diam. Gadis itu duduk di belakang dengan barang bawannya. Jung Soo menyetir mobil dan Eun Kyo memangku Ryu Jin.

“Umurmu berapa Min Yong~ssi?” tanya Eun Kyo sambil meliriknya di kaca.

“19 tahun, Nyonya.”

“Jangan panggil aku Nyonya, panggil Onnie saja.”

“Ah, ye, Onnie.” Ulang Min Young.

“Kau tidak melanjutkan sekolahmu?” tanya Jung Soo.

“Ani.” Jawab Min Young. Tanpa terasa mereka sampai pada tujuan. Jung Soo keluar dari mobil dan mengangkat barang-barang Min Young. Min Young berusaha membawanya sendiri tapi dicegah oleh Jung Soo.

“Ini kamarmu. Maaf, sedikit lebih kecil dari yang di rumah kan?”

“Ah, tidak apa-apa Tuan.” Jawab Min Young.

“Jangan panggil Tuan, panggil Oppa saja.”

“Ah, ye, Oppa.”

“Satu orang lagi yang belum kau kenal. Dia adalah adiknya Eun Kyo, aku harap kalian bisa berteman dengan baik.”
“Ah, ye.”

Tak berapa lama, Rae Na datang dan langsung bingung menghampiri Jung Soo.

“Oppa, siapa dia?” tanya Rae Na.

“Min Young~a.. kesini sebentar.” Panggil Jung Soo.

“Kenalkan ini Shin Min Young, Min Young, ini Park Rae Na. Yang aku ceritakan tadi.”

“Kau menceritakan apa?” tatap Rae Na tajam.

“Ani, aku tidak bercerita apa-apa.” Elak Jung Soo.

“Oppa, kita makan apa malam ini?” tanya Rae Na.

“Ah, makan? Biar aku yang memasak.”

“ah, tidak perlu.” Cegah Jung Soo.

“Ani, aku senang memasak.” Jawab Min Young.

***

Bel berbuniy dengan nyaring. Min Young segera membuka pintu dengan cepat. Dia tertegun melihat seorang lelaki dengan pakaian sedikit.. berantakan. Pakain kaos oblong dengan jeans penuh dengan robekan. Min Young memperhatikan lelaki itu dengan seksama.

“Dia tamuku.” Sela Rae Na sambil mempersilakan Junghyung masuk.

“Aku bawa beberapa DVD film, mau menonton?”

“Eh? Film apa?” tanya Rae Na

“Film Horror.”

“Sepertinya menarik.” Rae Na menyalakan mesin DVD dan memasukkan DVD tersebut. Eun Kyo melintas di depan mereka.

“Menonton apa?” tanya Eun Kyo.

“Hal yang paling kau benci.” Jawab Rae Na.

“Ryu Jin mana?”

“Dia sepertinya bermain di halaman.”

“Ryu Jin~a…” panggil Eun Kyo.

“Nugu~ya?” tanya Junhyung.

“Dia Onnieku.”

“Lalu Ryu Jin?”

“Anaknya.”

“Dan yang membukakan pintu?”

“Dia Min Young, pengasuh Ryu Jin.”

“Terlihat sangat muda sekali.”

“Kau menyukainya?”

Ani, ani.” Jawab Junhyung sambil memasukkan cemilan dalam mulutnya. Rae Na terlalu fokus dengan apa yang ditontonnya.

“Rae Na~ya, Min Young sedang memasak. Tolong awasi Ryu Jin sebentar. Aku mau mencuci.” Teriak Eun Kyo dari dapur.

“Ne, Onnie.” Jawab Rae Na tanpa mengalihkan matanya dari layar televisi. Junhyung dan Rae Na terlalu asik dengan apa yang mereka lihat tidak menyadari sesuatu terjadi.

Eun Kyo’s POV

Siapa lelaki yang bersama Rae Na, dari dandanannya dia terlihat seperti anak jalanan. Sikapnya yang cuek dan tidak terlalu ramah dengan orang. Aku memperhatikan tingkah mereka dari dalam. Ada suara gaduh dari luar. Aku tersentak.

“Suara apa itu Rae Na~ya?” teriakku memanggil Rae Na.

“Molla Onnie.” Jawab Rae Na.

“Coba kau lihat.” Suruhku.

“Sebentar, lagi tanggung.” Tolak Rae Na.

“Noona!” seseorang memanggilku. Aku tidak terlalu perduli.

“Noona! Ryu Jin!” aku segera berlari ke halaman depan saat seseorang mengatakan nama Ryu Jin. Sesampainya di depan rumah. Kakiku seakan lumpuh, tak bisa berpijak dengan benar. Pandanganku nanar saat Minho menceburkan dirinya ke kolam renang, menyeret Ryu Jin yang sudah tidak sadarkan diri.

“Onnie!” seseorang menyangga tubuhku, sekilas nampak aku bisa melihat Minho sedang memberikan pertolongan pada Ryu Jin. Ryu Jin~a…

“Bawa ke rumah sakit.” Samar-samar aku mendengar suara lelaki itu. Sampai akhirnya aku tidak sadarkan diri.

Aku perlahan mencoba membuka kedua kelopak mataku yang masih terasa sangat berat. Aku menyadari ruangan ini. Ini kamarku. Aku menoleh kesamping, kudapati Jung Soo Oppa tertidur dengan posisi duduk di lantai menungguiku. Aku mengusap rambutnya.

“Oppa…” panggilku lemah. Jung Soo Oppa terbangun dan langsung menanyakan keadaanku.

“Ya, kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu?” Jung Soo Oppa membelai pipiku lembut.

“Aku baik-baik saja.” Jawabku lirih.

“Ryu Jin bagaimana?” tanyaku sangat khawatir dengan keadaan Ryu Jin.

“Dia ada di rumah sakit. Eomma, Halmeoni dan Min Young yang menjaganya.” Jawab Jung Soo Oppa.

“Aku ingin kesana.” Aku mencoba bangkit.

“Kau istirahat saja disini.” Jung Soo Oppa menahan pundakku agar tetap berbaring.

“Ani, dia membutuhkanku.”

“Eun Kyo~ya..” Jung Soo Oppa masih tidak membiarkanku untuk bang\kit, dia duduk di tepi tempat tidur.

“Dia pasti mencariku, dia pasti mencariku.” Aku mengalihkan tangannya yang menahanku.

“Kau disini saj istirahat. Ryu Jin sudah ada yang menjaga.”

“Aku tidak mau, aku mau kesana.” Masih berusaha mencoba untuk bangkit tak peduli Jung Soo Oppa mencegahku.

“Eun Kyo~ya, aku minta kau menurutiku kali ini.” Pinta Oppa.

“Oppa… dia pasti mencariku, dia membutuhkanku.” Mataku nanar menahan airmata.

“Tapi kau tidak mungkin kesana, tubuhmu masih lemah.” Oppa mencoba membujukku lebih lembut.

“Aku tidak mau, aku tetap harus kesana.” Kali ini Jung Soo Oppa lebih keras padaku, saat aku duduk dan mencoba berdiri, dia menhan tanganku dibelakan punggungku. Aku berusaha keras melepaskan cengkraman tangannya.

“Oppa lepaskan aku, aku harus bertemu dengannya sekarang juga!”

“Park Eun Kyo! Kau bahkan lebih keras kepala dari Rae Na! Jangan kekanak-kanakan!” teriak Jung Soo Oppa sambil memandangku marah. Aku balas memandangnya garang.

“Aku hanya ingin melihatnya.” Ucapku lirih. Dielepaskan cengkramannya dari tanganku dan memelukku. Aku memukul punggungnya pelan.

Aku hanya ingin melihatnya, aku hanya ingin melihat.” Ucapku berulang kali sambil memukul punggungnya.

“Hanya ingin memstikan dia baik-baik saja.” Lanjutku

“Dia baik-baik saja, besok atau lusa dia juga akan pulang.”

“Aku ingin melihatnya, dia pasti mencariku.”

“Kau masih sakit, aku mohon istirahatlah, jangan membuatku semakin cemas. Kau tidak kasian dengannya?” Jung Soo Oppa melepaskan pelukannya dan mengelus lembut perutku.

“Oppa, aku hanya ingin Ryu Jin, tidak ingin yang lain.”

“Yeobo…” oppa mensejajarkan matanya dengan mataku, menatapku lembut.

“Ssssttt, aku tidak suka kau berbicara seperti itu, anak itu anugrah, kau tau?” Oppa menutup mulutku dengan telunjuknya. Aku hanya terdiam.

“Sekarang kau mandi, setelah itu makan Min Young sudah menyiapakan makanan untukmu.”

“Aku tidak mau makan.” Tolakku sambil merebahkan tubuhku kembali.

“Ya, jangan begitu, Min Young susah payah memasakkannya untukmu.”

“Tapi aku tidak lapar.” Aku benar-benar tidak lapar, selera makanku mengupa begitu saja entah kemana. Yang ada dipikiranku sekarang hanya Ryu Jin tidak ada yang lain. Melihatnya lemas terkulai disisi kolam ikan membuat bulu kudukku berdiri.

“Sekarang kau mandi, aku sudah menyiapkan ari hangat untukmu.” Jung Soo Oppa mengangkatku ke kamar mandi.

“Oppa, aku bisa berjalan sendiri.” Aku mencoba menurunkan tubuhku.

“Ani, malam ini aku yang memandikanmu.”

“Oppa!” dia menurunkan tubuhku setelah sampai di dalam kamar mandi.

“Buka bajumu.”

“Mwo?!” belum sempat aku mengakhiri keterkejutanku dia sudah meraih kancing bajuku dan membukanya. Aku berusaha mengancing kembali namun tangannya gesit mencegahku.

“Kau diam saja.”

“Tapi, tapi aku bisa mandi sendiri.” Oppa tetap tidak memperdulikanku dan melilitkan selembar kain di tubuhku, mencoba melepaskan pakaian dalamku, aku yang tadiny terpaku langsung tersentak.

“Aku bias melepasnya sendiri. Setelah melepasnya aku merendam tubuhku dalam air hangat. Jung Soo Oppa menyapu tubuhku dengan sabun, dengan cermat dia membercirkan setiap jengkal tubuhku. Aku terpaku memandangnya. Bukannya aku harus bersyukur mempunyai suami bertanggung jawab sepertinya? Meski terkadanga dia jug amenyebalkan. Aku terus memandang tangannya yang mengusap tubuhku dengan spon yang penuh dengan busa sabun. Tanganku, leherku, punggungku, jariku dan sele-selanya tak luput dati sapuannya. Aku terus memandang perlakuannya. Memandang wajahnya yang menatapku intens.

“Oppa, sudah bersih.” Ujarku.

“Aku senang menyentuh tubuhmu.”

“Iya aku tau, tapi aku kedinginan.” Dia berhenti dan memandangku.

“Arasseo, sudah selesai.” Dia menyiram tubuhku dengan shower. Setelah bersih, dia mencoba melepaskan kain yang menutupi tubuhku.

“Cukup, aku bisa sendiri, kau keluar saja.” Dia menatapku menggoda.

“Oppa!” teriakku. Dia menutup telinganya.

“Kau keluar!” aku mendorongnya. Dia tertawa senang. Setelah mengeringkan tubuhku aku keluar dengan pakaian lengkap.

“Oppa, aku masih ingin ke.” Perkataanku terputus dengan ciumannya.

“Malam ini saja kita tidur tanpa Ryu Jin, besok aku janji akan membawaku ke rumah sakit.” Dia mearapatkan tubuhku kearahnya. Aku cemberut.

“Malam ini saja, ne?” tanyanya. Mau tidak mau aku mengangguk.

“Sekarang kau tidur.” Dia mendorongku pelan ke tempat tidur dan membaringkanku. Aku hanya bisa pasrah. Kurapatkan tubuhku ke tubuhnya. Dia memelukku.

***

Aku terbangun dengan kepala berdenyut. Mulutku terasa sangat kering dan pandanganku kabur. Aku bertumpu pada siku untuk mengangkat tubuhku. Mengedarkan pandanganku, mendapati sosok yang telah berdiri di depan cermin, sudah rapi, dengan setelan jas, Jung Soo Oppa. Dia menyisir rambutnya. Aku memperhatikannya. Dia berhenti menyisir rambutnya dan berbalik menatapku.

“Kau sudah bangun?” tanyanya. Aku mengangguk.

“Aku mau ke kantor dulu. Nanti siang kita ke rumah sakit, hem?” dia mengecup dahiku.

“Sekarang saja.” Aku berusaha bangkit namun kepalaku semakin berdenyut.

“Ya, kau mandi dlu, makan dulu, istirahat, minum vitamin, setelah itu minum susu. Susu untukmu ada di dekat susu Ryu Jin.” Sekali lagi dia mengecup dahiku lalu bibirku.

“Arasseo.” Aku bangkit dari tempat tidur dan mengikutinya. Aku melihat Rae Na sekilas yang ada di ruang makan, menatapnya sekilas. Lalu mengantarkan Oppa hingga depan rumah.

Aku makan di ruang makan dengan Rae na tanpa berbicara apapun. Aku kecewa dengan sikapnya yang tidak bertanggungjawabaku menitipkan Ryu Jin padanya, meski tidak sepenuhnya salahnya, harusnya aku yang lebih menjaga.

“Onnie~ya, mianhae, mian membuat Ryu Jin celaka.” Aku menghentikan makanku dan menatapnya.

“Bukan salahmu.”

“Ani, seandainya saja aku melihatnya, semua ini tidak akan terjadi.”

“Gwaenchana, sekarang Ryu Jin sudah baikan kan?”

“Ye, tadi malam dia sudah sadar.”

“Seandainya Minho tidak ada aku tidak tau apa yang akan terjadi pada Ryu Jin.”

“Mian.” Ujarnya lirih.

Lama menunggu Jung Soo Oppa menjemputku akhirnya dia datang. Dia membawa Min Young pulang untuk beristirahat karena seharian dia menunggui Ryu Kin.

“Siapa yang menunggui Ryu Jin?” tanyaku pada Min Young.

“Ada Nyonya disana.” Jawab Min Young.

“Gomawo Min Yong~a, sudah menjaganya.”

“Gwaenchana Onie~ya, itu memang tugasku.” Jawabnya lagi.

“Baiklah kalau begitu aku mau ke rumah sakit dulu.” Aku berpamitan padanya. Aku pergi dengan Jung Soo Oppa menuju rumah sakit, sesampainya disana, kakiku terasa kelu untuk melangkah. Rumah sakit ini, rumah sakit, aku pernah kehilangan disini. Bayang-bayang kehilangan itu kembali melintas di benakku.

“Gwaenchana?” Jung Soo Oppa menghentikan langkahnya menungguku.

“Ah? Oh, ye.” Aku meneruskan langkahku. Lorong yang sama, bau yang sama, tempat yang sama. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Akhirnya kami sampai pada sebuah kamar. Aku ragu untuk memasukinya. Jung Soo Oppa membuka pintu, perlahan aku melihat wajah itu. Wajah yang semalaman ini sangat aku khawatirkan. Wajahnya ynag pucat memandang kearah pintu. Aku terpaku, selang infus terpasang di tangannya. Malaikat kecilku terbaring lemah. Ini bukan mimpi, ini kenyataan, kejadian mengerikan semalam bukan mimpi.

“Eomma..” oanngilnya lemah. Tangannya menggapai kearahku. Aku mendekatinya, duduk di kursi dan meraih wajahnya. Dia tersenyum, senyum yang miris ditengah ketidka berdayaannya, dahinya memar, seperti bekar terbentur.

“Bo-go-shippo.” Ucapnya, aku mencium tangan kecilnya, tak kuasa aku menahan bendungan airmataku.

“No do Ryu~ya, Eomma juga sangat merindukanmu.” Aku menciumi pipinya. Eomma dan Oppa hanya menghela menatapku.

“Cepat sembuh Ryu~ya..” dia memintaku untuk memangkunya, aku meraihnya dalam pelukanku. Dia memintaku agar bersedia dicium, aku mendekatkan wajahku dan dia menciumnya, lalu menyentuh bekas ciumannnya sambil tertawa. Aku sanggup kehilangan siapapu, asal jangan kehilangannya.

Rae Na’s POV

Aku tidak selera makan hari ini. Menghabiskan makan siangku dengan susah payah, rasa bersalah menggumpal dalam tenggorokanku hingga membuatku sulit untuk menelan. Eun Kyo Onnie sudah menyelesaikan makannya dan meninggalkanku yang sendirian, aku hari ini kuliah sore. Aku memang sudah meminta maaf pada Onnie, tapi tetap saja aku merasa bersalah. Aku tau karakter Onnie, apapun yang dirasakannya dia selalu berkata baik-baik saja. Meski dia terkadang mengeluh, tapi ujungnya dia sendiri yang tidak enak dengan orang lain telah mengeluh. Aku terus melamun tidak menghiraukan Min Young yang membersihkan meja makan.

“Onnie~ya, permisi.” Dia meminta ijin padaku mengambil piring kotor yang ada di hadapanku. Ini lagi manusia aneh yang datang kerumah ini. Sukanya bersih-bersih, memasak dan hal yang paling aku benci, pink! Dia mendekorasi kamar dan peralatannya dengan warna kuning. Bahkan semalam dia membeli sarung tanga untuk Ryu Jin berwarna pink. Yanga benar saja? Ryu Jin itu namja bukan yeoja!

“Minho lama sekali.” Gumamku. Eh? Apa barusan yang aku katakan? Minho? Ada apa dengan otakku? Mengapa tiba-tiba aku menyebut namanya? Park Rae Na jangan katakan kau menunggunya.

“Onie, ada tamu untukmu.” Aku langsung berlari ke depan.

“Yak! Choi Minho, mengapa kau lama sekali! Aku hampir terlambat!” omelku sambil memasang sepatu.

“Rae Na.” Ujar orang itu menyebut namaku. Eh? Bukan suara berat Minho. Aku menengadah padanya. Yong Junhyung.

“Ne? Yonggun~a? Kau?” aku menujuknya.

“Wae? Kau mengira aku Minho?” yanyanya sambil tertawa dan mengusap dagunya.

“Ani, maksudku, aku.”

“Ayo kita berangkat.” dia merangkulku dan membawaku dengan motornya. Sebelum nya dia memakai helm di kepalaku. Kami meluncur menuju kampus.

Sesampainay di kampus aku berlari menuju ruangan kuliahku, namun langkahku terhenti saat menangkap dua sosok yang sangat aku kenal, salah satu menatapku dengan pandangan meremehkan, yang satunya lagi menatapku penuh arti, namun aku tidak mengerti maksud dari tatapannya. Minho dan Min Ra. Minra bergelayut manja di lengan Minho dan Minho tidak melakukan perlawanan seperti biasa.

“Ayo masuk.” Seseorang menepuk bahuku. Yong Junhyung, dia lelaki yang baru saja aku kenal, namun aku merasa sudah mengenalnya. Orang melihatnya mungkin sebagai beransalan, tapi bagiku dia mempunyai karakter yang unik. Wataknya memang terlihat keras, tapi itu hanya diluar saja. Aku mulai dekat dengannya setelah dia menyelamatkanku dari kawanan preman. Dan Minho? Sejak saat itu dia tidak pernah mencoba menghubungiku. Sejak dia menyelamatkan Ryu Jin semalam, hanya itu aku melihatnya, selebihnya tidak melihatnya, dan dia juga tak kunjung ke rumah seperti biasanya.

“Kau cemburu?” tanya Junhyung yang aku panggil Yonggun.

“Cemburu? Pada siapa?” tanyaku pura-pura tidak mengerti pertanyaannya.

“Minho? Bersama gadis itu? “ dia membawaku sambil merangkulku, sedetik dia melirik Minho dan Min Ra.

“Minho? Memangnya apa hubunganku dengannya, dan untuk apa aku cemburu?” tanyaku masih mengelak. Aku mengelak dari perasaanku, tidak bisa dipungkiri, ada letupan api cemburu dalam dadaku, namun aku menekannya sekuat tenaga.

“Kau ini ada-ada saja.” Aku memukul lengannya. Dia tertawa. Entah menertawakan apa.

Aku tidak terlalu memperhatikan materi yang disampaikan di depan. Pikiranku melayang pada kejadian beberapasaat yang lalu. Minho. Pantas saja dia tidak menjemputku. Jadi begitu? Oh, dia sibuk dengan Min Ra higga melupakan jadwal kuliahku? Aku menggelengkan kepelaku, mengapa tiba-tiba aku harus terusik dengan mereka? Eoh? Memangnya mereka siapa? Aku tidak ada hubungannya dengan mereka. Jika mereka menikahpun aku tidak bisa protes kan? Aku tidak ada hubungan apapun dengan Minho. Apa aku cemburu? Seperti yag dikatakan Yonggun? Ah tidak tidak, tidak mungkin aku cemburu.

“Ada pertanyaan Park Rae Na?” semua mata tertuju padaku. Aku tersadar dari lamunan.

“Eoh?” tanyaku bingung. Aku tidak memperhatikan sedikitpun materi itu bagaimana mungkin aku bisa bertanya? Yang ada aku bertanya tentang semua materi yang dia sampaikan.

“Ani.” Jawabku akhirnya menjawab muka menunggunya.

Aku berjalan gontai menyusuri lorong kampus yang mulai sepi. Hari sudah menjelang sepi. Hufh, dan aku tidak terlalu semangat untu k pulang. Entah mengapa. Berjalan menunduk memandangi langkahku.

“Sedang memikirkan apa?” seseorang menyenggol lenganku.

“Tidak ada.” Jawabku.

“Ada yang sedang menunggumu.” Junhyung menunjuk seseorang yang sedang berdiri menatapku di ujung jalan dengan dagunya. Aku menoleh pada orang itu. Minho. Aku berbalik menghindarinya, tapi Junhyung menahanku.

“Masalah itu dihadapi jangan dihindari.” Aku mendengus kesal. Minho mendatangiku.

“Bisa bicara sebentar?” tanyanya dingin menatapku tajam, lalu matanya melirik Junhyung.

“Kita bicara disini saja.” Jawabku.

“Ke apartemenku saja.” Aku melotot padanya.

“Baikllah, disini saja. Tapi hanya empat mata.” Minho menatap kearah Junghyung.

“Baiklah, aku pulang saja, kau bisa mengantarkannay kan?” tanya Junghyung.

“Aku yang selalu mengantarnya.” Jawab Minho.

“Tidak, aku pulang denganmu Yonggun~a, tunggu aku.” Cegahku pada Junhyung yang ingin beranjak pergi.

“Tidak kau pulang denganku.” Minho bersikeras. Junhyung terdiam, mengangkat bahunya.aku cemberut menatapnya. Junhyung mulai melangkah meninggalkan kami. Aku dan Minho duduk di kursi depan sebuah ruangan kuliah.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyaku dingin.

“Pertama, aku ingin bertanya siapa dia?”

“Teman.”

“Teman tapi seakrab itu.”

“Salah aku akrab dengan temanku?”

Ani, hanya janggal saja. Temanmu hanya Jinki dan Eun Cha. Tidak pernah melihatmu dengan yang lain.”

“Lalu aku salah berteman dengannya?! Kau juga bersama Min Ra, sampai lupa menjemputku!”

“Kau cemburu?” tanyanya.

“Cemburu? Untuk apa? Dengarkan aku Choi Minho! Jangan melempar kesalahan padaku! Aku tidak cemburu sama sekali, aku benci, aku benci denganmu yang selalu membuatku merasa bersalah padamu meski aku tidak bersalah. Yang selalu melarangku bersama orang lain seolah-olah aku adalah pengkhianat! Sedangkan kau? Kau bahkan lebih dari itu! Tapi kau memojokkanmu dengan cemburumu yang tidak beralasan! Dan tentang malam itu, mulai sekarang jangan menggangguku.” Aku berbicara panjang lebar. Dia menatapku tidak percaya. Aku bangkit dan mulai melangkah. Dia memelukku.

“Mianhae, mianhae. Aku kesini mengajakmu bicara bukan untuk bertengkar.” Dia menghentikan bicaranya.

“Aku mencintaimu Park Rae Na, hingga aku lepas kendali. Aku melihatmu bersama Kibum. Kalian terlihat mesra. Aku terlalu cemburu hingga melupakan akal sehat.” Aku menghela nafasku. Jadi itu sebabnya?

“Choi Minho. Sekarang beri aku waktu dan beri aku ruang gerak.” Dia melepaskan pelukannya dan menatapku.

“Aku, aku, aku tidak bisa.” Aku mulai menjauh.

“Kau menyukainya?” tanyanya sedikit nyaring. Aku menggeleng. Rasa sakitku diperlakukannya malam itu serta sikapnya terhadap Min Ra membuatku sedikit terbawa emosi. Padahal baru beberapa jam yang lalu aku melupan kesalahannya dan menunggunya menjemputku.

Minho’s POV

Aku terduduk di sofa, memikirkan kejadian beberapa jam yang lalu. Penolakannya. Dia tidak ingin bertemu denganku? Mungkinkah aku bisa? Aku sudah sangat kesal dengan pemaksaan Appa untuk menjemput Min Ra ke kampus, sebenarnya aku sudah ingin menjemput Rae Na. Tapi kejadian beberapa malam yang lalu membuatku sedikit gentar untuk menemuinya. Aku menopang daguku dengan tangan. Aku hampir saja menghancurkannya, jika mengingat itu aku merasa orang paling jahat. Kepalaku begitu sakit. Memikirkannya membuatku stres. Bel apartemenku berbunyi. Aku berjalan gontai dan membuka pintu.

“Minho, kau sudah makan?” senyum sumringah mengiringi wajahnya. Min Ra.

“Aku membawakan makanan untukmu.” Dia masuk tanpa aku persilakan. Aku mengikutinya dengan malas.

“Apa kau tidak pernah bersih-bersih? Nanti aku panggilkan pembantu untuk membersihkan tempatm.”

“Tidak perlu, kau hanya perlu pergi dari sini, itu sudah membersihkan pandanganku.” Dia terlihat cemberut dan bergelayut manja padaku. Aku mendorongya pelan.

“Aku ingatkan sekali lagi. Aku tidak pernah mencintaimu dan tidak akan pernah mencitaimu.” Tegasku padanya.

“Lalu yang kau lakukan tadi?”

“Yang mana?”

“Kau menjemputku.”

“Itu atas permintaan Appa.”

“Tapi kau lihat sendiri Rae Na mengkhianatimu, dia sudah bersama orang lain, untuk apa kau mengharapkannya lagi?”

“Mengharapkannya atau tidak, itu urusanku, bukan urusanmu.”

“Lupakan dia dan hidup bersamaku.” Min Ra memelukku. Aku melepaskannya.

“Dengarkan aku sekali lagi Seo Min Ra. Sampai kapanpun aku tidka akan pernah bersamamu, bahkan di kehidupan yang akan datang aku masih akan tetap mengejarnya.” Min Ra menghentakkan kakinya. Lalu pergi dari apartemenku.

Aku memandang makanan yang dibawanya, tidak membuatku berselera sama sekali. Aku kembali duduk di sofa dan melamunkannya lagi. Junhyung siapa dia? Seperti terlihat sangat akrab, padahl dia bilang hanya berteman. Menggandengnya, merangkulnya, meski rae Na terlihat tidak seperti gadis lainnya, dan lelaki itu juga hanya menganggap Rae Na teman biasa, aku tetap tidak bisa menerimanya. Aku memikirnya hingga tidak terasa aku terlelpa di sofa.

***

Aku membuka mataku dengan berat, kepalaku terasa pusing. Aku merasa kedinginan. Apa pemanas ruangan rusak? Atau aku tidak menyalakannya dan malah menyalakan AC? Tapi aku masih ingat, saat aku tiba disini aku menyalakan pemanas ruangan. Kepalaku benar-benar sakit. Aku berjalan sempoyongan ke dalam kamar mandi dan membersihkan mulutku. Sepertinya aku sakit, benar-benar sakit. Aku keluar dari kamar mandi dan meringkuk diatas tempat tidur. Aku memencet nomor Eomma.

“Yeoboseyo?” aku memberi salam saat Eomma mengangkat telponku.

“Ne? Wae Minho~ya?”

“Eomma, sepertinya aku sakit.”

“Sakit? Sudah minum obat?”

“Eomma, bisa kau temani aku disini?”
“Wae Rae Na Mana?”

“Dia sedang sibuk.”

“Kalian tidak sedang bertengkar kan?”

“Ani, dia hanay sibuk, aku tidak ingin mengganggunya.”

“Tapi Eomma sedang ada di Jepang Minho~ya, menemani Appamu.”

“Begitu?”
“Ne, Eottohke?” tanya Eomma.

“Gwaenchana, aku hanya perlu minum obat. Sebentar juga sembuh.” Aku menutup telponnya. Sepertinya aku harus sakit sendirian. Aku membalut tubuhku dengan selimut. Dingin sekali.

Aku mendengar sayup-sayup suara gemerincing di dapur. Siapa gerangan yang datang? Atau aku berhalusinasi? Seseorang mengetuk kamarku. Aku tersentak. Dia membuka pintu. Aku tertegun melihatnya. Lalu tersenyum dengan susah payah, tapi aku ingin tersenyum. Memastikan aku tidak berhalusinasi, aku mencubit pipiku sndiri. Sakit.

“Kau? Apa tidak punya pembantu? Apartemenmu penuh dengan sampah.” Omelnya. Dia meletakkan bubur di meja samping tempat tidurku.

“Kau datang kesini?” tanyaku tidak percaya.

“Memangnya seberapa panas suhu tubuhmu hingga kau meracau seperti itu?” dia meletakkan termometer di dahiku. Menahannya sebentar lalu memandangnya.

“Lumayan.” Jawabnya. Aku terus menatapnya. Dia memungut semua sampah yang berserakan.

“Terima kasih telah datang.”

“Kalau bukan karena ibumu yang menelponmu, jangan harap aku mau kesini.” Jawabnya sedikit frontal.

“Yang penting kau sudah disini aku sudah senang.” Dia menatapku tajam.

“Cepat habiskan buburmu, setelah itu aku akan pulang.”

“Dengan siapa kau kesini? Naik bus?”

“Aku diantar Junhyung.” Jawabnya. Aku menghentiakn makanku. Rasanya slera makanku menguap begitu saja. Aku meletakkan mangkuk bubur diatas meja.

“Kenapa? Cepat habiskanmakanmu biar aku cepat pulang. Hari ini Ryu Jin pulang dari rumah sakit.”

“Bagaimana keadaannya?”

“Dia baik-baik saja.”

“Kau sudah memaafkanku kan?”
“Belum.”

“Bagaimana dengan Eun Kyo Noona?”
“Onnie baik-baik saja, meski 2 hari seperti orang gila menunggui Ryu Jin di rumah sakit.”

“Begitu? Syukurlah.”

“Sudah selesai kan? Aku mau pulang.” Aku beranjak dari tempat tidur dan menahannya dengan memeluknya.

“Sebentar lagi, biarkan sebentar lagi.” Dia menggoyangkan badannya menolak pelukanku.

“Jangan sentuh aku.”

“Aku ingin bersamamu beberapa waktu lagi.”
“Jangan sentuh aku.”

“Sebentar lagi.”

“Choi Minho!” aku melepaskan pelukanku. Menunduk.

“Kendalikan dirimu Choi Minho.”

“Aku tidak bisa, entah mengapa, semakin aku mengendalikan aku semakin terpuruk.”

“Tapi kau harus.”

“Seandainya bisa.”

“Pasti bisa.”

“Aku ingin mendengarmu menyataka perasaanmu.” Ucapku lirih.

“Apa kau memiliki perasaan yang sama?” aku membalik tubuhnya.

“Seperti orang bodoh aku mengikutimu.”

“Kau kira aku tidak seperti orang bodoh?” balasnya.

“He? Apa maksudmu?”

“Sudahlah lupakan saja.” Dia melepaskan peganganku di lengannya.

“Katakan sekali lagi.”

“Aku harus mengatakan apa?” tanyanya bingung.

“Apa kau merasakan hal ynag sama?” tanyaku penuh harap agar dia menjawab ‘iya’. Dia hanya berlalu. Tanpa berlkata apa-apa.

“Jangan lupa minum obatmu dan besok jemput aku kuliah, dan kau berhutang penjelasan padaku tentang gadis sialan itu.” Ujarnya sambil menghilang di balik pintu. Park rae Na, apa itu maksudnya kau mempunyai perasaan yag sama?

Jung Soo’s POV

Aku memandangnya yang mengemas barang-barang Ryu Jin selama 3 hari di rumah sakit. Ryu Jin pulang hari ini. Aku melihat malah Eun Kyo yang terlihat lebih bahagia dari Ryu Jin.  Aku menghampiri Ryu Jin yang masih terbaring di tempat tidur.

“Kau senang hari ini pulang?” tanyaku pada bocah itu. Dia mengangguk. Eomma dan Halmeoni juga terlihat senang.

“Sudah selesai.” Ujar Eun Kyo.

“Mianhae Kyo~ya, kami tidak bisa mengantar Ryu Jin hingga ke rumah. Sampai disini saja.”

‘Gwaenchana Halmeoni.” Jawab Eun Kyo sambil menggandeng Halmeoni.

“Ryu Jin~a, lain kali hati-hati. Min Young~a, kau harus menjaganya dengan baik.” Halmeoni menatap Min Young.

“Bukan salah dia Halmeoni.” Bela Eun Kyo.

“Baiklah, kalau sudah selesai ayo kita pulang.” Ajakku. Aku menarik koper pakaian Ryu Jin dan menggendong Ryu Jin. Dia terlihat senang. Memencet hidungku dan sudah mulai aktif bermain, tangannya yang tidak mau diam selalu ingin menyentuh orang. Eun Kyo dan Min Young mengikutiku dari belakang.

Setelah sampai dirumah, aku disambut oleh Rae na dan Minho yang terlihat pucat. Aku tidak terlalu memperhatikan mereka, aku malah memperhatikan Eun Kyo yang berjalan hati-hati.

“Kau sakit Minho~ya?” tanyaku.

“Ne, sedikit demam.” Jawabnya.

“Kelihatan dari mukamu. Sudah minum obat?” dia mengangguk.

“Min Young~a, berikan dia ginseng hangat.”

“Ne, Oppa.” Jawab Min Young.

“Siapa dia Hyung?”

“Dia? Yang barusan tadi?” Minho mengangguk. “Itu pengasuh Ryu Jin.” Aku meletakkan Ryu Jin diatas karpet bulu berwarna putih yang ada di depan TV. Eun Kyo masuk kedalam kamar. Minho menemani Ryu Jin. Aku menghampiri Eun Kyo.

“Kau mau makan? Dari pagi kau tidak makan.”

“Aku tidak lapar.” Sahutnya manja.

“Tapi kau harus makan.”

“Aku ingin muntah jika sesuatu masuk dalam mulutku.”

“Itu hal biasa, tapi kau harus makan apapun ynag terjadi.”

“Diluar ada Minho?” tanyanya antusias.

“Ne, dia bersama Ryu Jin.” Jawabku, dia segera melesat pergi. Aku mengikutinya. Dia ikut berbaring bersama Minho dan Ryu Jin. Eh? Apa yang dia lakukan? Mencium rambut Minho?

“Aku suka bau rambutmu.” Aku, Minho saling berpandangan tidak mengerti, sedangkan Ryu Jin hanya menatap Eun Kyo aneh.

Aku mendengar suara bel di depan, segera membuka pintu dan bingung dengan oranga sing yang membelakangiku.

“Mencari siap Agasshi?” tanyaku.

“Siapa Oppa?” teriak Eun Kyo. Dia menghampiriku dan menatap bingugn dengan orang yang berhadapan denganku, kami merasa tidak kenal.

“Apa ini benar rumah Park Jung Soo?” tanyanya.

“Ne, benar.” Jawabku, masih dalam kebingungan, aku masih belum bias mengingat dimana aku pernah bertemu dengannya.

“Aku ingin mengambil anakku.”

TBC

Note : wahahahahahahaaha, ini ff najong banget, menjijikkan banget yak? Geli sendiri aku bacanya. Aneh… sekuat tenaga aku menyelesaikannnya demi ynag menunggu ini *ada ga yah yang nunggu?* kekekekekekekeke, pede aku ini. Hufh, buat Na, Indah Onn, Rita, terima kasih telah memberi dukungan padaku yang hampir pingsan karena ideku benar-benar amburadul. Tulisanku kali in tidak terlalu bagaimana yah? Tau ah, najong banget! ah iya, adegan kamar mandi terinspirasi dari keromantisan Junjungan Besar kita, semoga kalian suka. Okel ah aku tidak mau berpanjang kata, aku cape banget garap in dari pagi hingga malam sekarang, otakku lagi gila ff.. entah mengapa ketagihan.. oke my stimulans, silakan lontarkan kegilaan kalian berupa komen agar aku tidak gila sendirian. Meskipun kalo kalian tidak komen aku tetap gila dan berkhayal liar, wahahahahahahaaha, tapi jika kalian meninggalkan cap bibir, setidaknya akutau aku tidak gila sendirian, huweeeeeeeeeeeeeeee. Banyak typo pasti kan yah? Mianhae.. semoga kalian mengerti. 31 halaman semoga membuat kalian puas. Mau tidur bareng Ryu Jin dulu. ah, iya itu kaga tau kue tart ato apa, sepertinya memang kue tart. wahahahahahahaha.

110 responses »

  1. huweee saya kurang cepet TT^TT
    eonnie~ akhirnyaaaaaaa huwaaaa *tebar confetti*
    besok pagi yahhh eonn aku komen ;;) udah malem ini soalnya😦
    AAAAAA >< *girang sendiri saya nya*

    • ……………
      komen apa yak .___.
      emmm mulai dari yg kecil dulu kali yah(?)
      Ryu Jin ;_____; sini sama Noona aja yahhhh gemesin bener tuh anak >< tapi stylenya balik lagi abis tanggal keramat itu -___-"

      balik ke cerita,untuk adegan ayah-anak disini sumpah bikin ngakak,,Ryu Jin ini terlalu polos untuk disodorin perbuatan mesum kayak gitu ahjusshi~ jangan dikasih liat ke Ryu Jin dong xD
      ahhhh moga kali ini sukses Ryu jin dapet adek(?)

      over all emang lumayan typo nya tapi termaafkan kok eonn :') ceritanya sih karena aku udah nunggu jadi terlalu excited sendiri .__.V gak menjijikan kok eonn~

      ehh….. kok gila ngajak2 -____- saya udah gila duluan gara2 nunggu suami saya kagak potong2 itu rambutnya -__- *re: Kyuhyun*

      • ehh……. bentar2 baru nyadar itu komen kenapa kepotong yak -_____-”
        maksudnya itu yang style itu leeteuk bukan Ryu jin huwaaaa napa kepotong gitu jadi komennya OTL
        ituloh eonn kan 11.11.11 teuki ganti style rambut pas sukira bikin aku melotot liatnya astaga hot dahhhh
        tapi abis tanggal keramat itu balik kayak semula lagi -___-”

        gitu maksudnya ._____.
        hahhhh eror yak bisa kepotong gitu komennya

      • tanggal keramat itu eonn ya 11.11.11 .___. kan banyak gitu yang nikah pas tanggal itu(?) *apa hubungannya yak .__.*

        eonnie serem nih gimana ngetik sambil merem .__. ntar ngetik kayak gini lagi –> ejfhsfajdaldjaw
        wkwkwk becanda2 xD

        tbc nya gak juga lah eonn cuma emang nge cut adegannya buat tbc belom pas aja kali(?) tapi gak maksa kok .__.

  2. Eonny….

    Huwahahahah..
    Ngakak saya liat RaeNa kesel ma Min Young..
    Hwahahahah..

    Baguss eon..! Benerr deh..
    Aku suka TeuKyo ma Ryu Jin bercengkrama..
    Bnr” keluarga gitu..
    Feel’na dpttt.. Hwahaha..

    Eonn.. Jangan ambil Ryu Jin..
    (╥﹏╥)
    Akuu mohooohh~..
    Huhuhu..
    Awass ya eon smpe Ryu dikemana’in..
    Hohohoo..

  3. ehmm…..ehmm……
    pertama tama q ngucapin selamat dulu ma dirimu oenn,
    “selamat anda sudah berisi kembali”*wkwkwk
    positip ya oenn, cye…*prass baru kemaren, cpet banget(?)*di toyor oenni

    hwaaaaaaaaaa………………………!!!
    ini ngomong-ngomong ryu dah mulai ketularan adjussi ne,
    ati ati oenn nanti ryu jin ikutan jadi mesum kyak appa nya*gyaahaghhagghagghh
    dah tau istilah popo segala,^^

  4. ryujiiiiiiiiiinnnnnnn,,,
    aigoooooo,,ahjumma kangen pdamu sayang,,,
    dah bisa ngomong sdikit2 ya,,
    ayo bilang ah-jum-ma,,

    pngasuh ponakan aye msih 19 thn???? muda amat,,
    pngasuh apa inem playan seksi,,
    kok krjanya bersih2 trus ampe si raena ksel no

    ehmmm,,adegan oppa memandikan eunkyo,,raba2an,,
    ini orang hamil manja amat pke di mandiin segala,,utk kali ini aku tidak memandangnya dri segi yadong ,,tpi kromantisan antra suami istri
    oppa kau bnar2 suami yg baik,,terharu punya oppa yg berhati angel*nangis dpelukan bang ncung*

    ada cast bru,,itu junhyungnya beast bkan fik,,,

    ryujin dah sembuhkan,,jgn main dkat kolam lagi ya ntar nyebur lgi,,untung ada minho yg tlong,,
    mending mainnya dket brankas sayang bnyak duitnya*matre*

    itu si minra kaga kapok2 ye,ude ditolak beribu kali msih aje ngebet ame minho,,,
    sadar neng adik aye kaga demen ame situ,,

    sepertinya komen daku sudah kelwatan porsi nih,,
    satu lgi yg kelewat,,itu yg ngaku2 omma ryujin sapa?? berarti ryujin mo di ambil ya,,
    baiklah sodara2 kita tunggu aja akan sperti fika tanpa anak emasnya itu,,,

    karna saya da janji ma mbum mo nemenin dia yg lgi skit hti ke kalipornia jdi saya mau pamit,,sekian komen ngelantur bin aneh saya,,
    waduhhh pintu pswatnya mo dtutup…….

    • iya onn, juhyung beast..
      huwahahahahahahaha, cuman onnie yang mandang itu romantis semua pada mandang yadong…
      menurut fika si bukan yadong… hem, ada ko orang begitu…

      minho memang penyelamat…
      inem pelayan seksi onn, dia bukan pengasuh ryu Jin tapi pengasuh aku… wahahahahaha

      onnie, hwaiting!! ayo kita belajar bikin fantasy….

  5. Huaa..
    Ryu jin add yg jemput.. Clu ryujin da yg jemput trz nanti minyoung kerja apa??
    It kenapa tbc.a g enak bgt?? PENASARAN

    minho-raena couple bikin geregetan y… Aduh minho yg sabar dh ma raena. Mudah” c’minho g b’paling ma minra.. Ckck

    kibum k’california..
    Ayo oppa kita bwat cerita baru..

    Ntu junghyun sapa? G tw bnyak bb sh…

    Aduh eunkyo gmana clu c’ryujin d.ambil?? Sabar ya smoga bkn ibu.a ryujin.. Moga salah anak…

    Yh udh jumma ak tnggu lanjutan.a ya.. Ak mw ngerjain tugas dulu.. Bye bye..
    *Lempar leetuk ajussi*

  6. aigo onniee, ryujin makin kyeopta sja deh gemes bgt sma tuh ank. Teukppa emg cocok jdi seorang ayah.
    Seneng bgt raena udh mulai mrasa cmbru gtu liat minho dgn minra, untg minho ga kelepasan tuh😀
    It junhyung beast ya onn? Kirain si junhyung bkalan jdi pnghalang cntanya minna lg, stlah kibum prgi. Eh sepertinya si junhyung naksir dgn minyoung, raena rada ga suka gtu ya dgn minyoung. D tnggu part slanjutnya ya onnie*hug+chu*

  7. uwaaa akhrnya dgn perjuangan panjang aku sls jg bacanya, dr mulai ktduran, kuliah, dan hang out brg temen2… Wkwk*curcol

    Pertama untuk teukyo: ttp y pasangan ini mah romantis2an biar ada sdkit ribut2 kecil, dan ryujin makin unyu2 deh, yg mulai blajar ngomong… Dan teuk appa tumben akrab ma ryujin…haha, dan omo bs kcebur gtu dh… Kasiannya baby ryu~
    Minna: ehm couple ini makin complicated deh, yg cemburu, dan hampir2 minho meyadongi raena, omaigad. Dan omo siapa lg yonggun? Pnasaran dh… Cie rae mulai nunjukin dkit2 rasa sukanya k minho, ayo semangat minho!
    Hehe

    Dan omo, eommanya ryujin dtng tuh? Y ampun gmn nasib eunkyo eon?
    Ahh… Jd pnasaran dh…
    Dan masalah typo aku maafkan kok eon, tenang aja… Hehe
    Ditunggu next part…

  8. oenni…….. itu kenapa tiba-tiba ada yang mau ngambil ryu :(((((((((((((((((((((((((((( oenni gimana ini gimana ini oenni gimana ini kasian banget itu T_T T_T oenni yang nc nya tambahin dikit dong oen wkakakakaka

  9. Eonni… hiks.. aku terlambat. aku lg ada project besar n harus deadline semester dpn onn T.T

    Doakan aku ya.. mianhe.. karena itu aku jd g pernah lg baca n komen disini.. jeongmal mianhe onnie.. janjiku banyak yg terbengkalai gara2 ngejar itu tugas -.-

    akunya dimaafin kan onn?? #maksa ^^

  10. Hollaaaa~ *belajar menyapa*
    Tok tok tok *ketuk palu OVJ*
    Saia tdk tau harus komen apa,krna sgt byk yg ingin saia smpaikan n itu mlah mmbuat saia lupa apa yg ingn saia katakan,. *ala dalang* kata2’y ilang bgtu sja sking antusias’y.. #plakk

    @Teukyo, mkin hari mkin rohmantis aja yaaah..ckck Yak,Oppa !! jgn mmpertontonkn hal2 yg tdk blh d’konsumsi anak balita.. itu mmbuatmu mngajarkn’y mnjadi lbh dewasa dr umur’y.
    Apaan itu eonnie d’mandi’in? ga geli eon? aq mah OGAH..d’gerayangin bgtu,hiiiyyy*serem* #lol

  11. Akhrnya publish (?) juga . . . Hehehe
    eon kbiasaan dech tbc’nya ntu bkin H2C . . . .
    Eonn bgimana rasanya di mandi’n ma abang teuki ? Wkwkwk dasar teukyo uda pnya anak jg yadong’nya ga ilang” malu atuh di liat ma anaknya :p
    btw i’ll still waiting for next part eon . . .

  12. yeeee…eonni~ya…
    akhirnya aku selesai baca…(*o*)

    oke…
    Teukkyo couple wuahh..makin hari makin mesra ajaaaa…suit..suiiittt…*siul-siul

    MinNa couple…omona..!!!Minho oppa mau ngapain tu Rae Na eonni…??? ckck~ -_- *geleng-geleng* kenapa nggak d lanjutin aja…???#plakk
    hehe~

    dan Ryu Jin…
    whuaaa…knpa bisa sampe nyebur ke kolam..??><

    part selanjutnya aku tunggu ya eon…
    (^o^) *bow*

  13. aduh,ryujin mempelajari apa yg dlakukan oleh appax..ckckckck..itu tidak baik eonni,hehehehe..
    Raena dah mulai suka ma minho ya??
    O,ya..eonni kq ngidamx nyiumin rmbutx minho??g cembru apa jungsoo oppa??
    Nah..nah yg trkhir itu sapa??ortux ryujin ya??aduh ryujinx jg diambil dunk..

  14. hehe~
    cheon eonni~ya…
    masalah tunggu menunggu bukan masalah eon,,ff eon layak dan sangat layak untuk d tunggu…:D

    nah knpa bsa d bnuh eon..???
    hehe~ *maksa..

  15. Yes ! Akhirnya publish jugaa, alhamdulillah yaa..
    As usual, as usual, FF-mu nggak pernah mengecewakan onnie, yakin dehh..
    Kayaknya semakin dekat ke konflik nih, next part adain konflik serius ya onn? Kayak yg di part 4 dan 5 itu, hehehe😀 *maksa*
    oh iya, pleaseee…. jangan diambil Ryu Jin-nya, nanti Eun Kyo onnie sedih😥 wkwkwk *sok perhatian*

    • alhamdulillah yah tidak mengecewakan…
      next part mungkin sedikt berkonflik… tapi agak lama sepertinya…
      ryu jin?? aku tidak akan melepaskannya, biar aral melintang pohon tumbang, aku teetap bertahan *plak*

    • gomawo udah baca…
      ibunya ryu jin? kita lihat episode selanjutnya

      pemirsa, MLT tidak tayang hari ini, karena ada final sea games, kita bisa menyaksikannya lagi setelah acara usai.. wahahahahahahaha
      aku ga tau km suka apa engga, terima kasih udah mampir.

  16. Ah liat paniknya eun kyo waktu tau anaknya kenapa2. Jadi bisa bayangin mama kalo lagi panik tau anaknya dalam kondisi yang buruk.gitu kali ya. Naluri seorang ibu.
    Aduh sapa lagi itu yang mau ngambil anak?

  17. Hahaha.. Itu ryujin sma jungsoo oppa rebutn bibir eunkyo, lucu bgt dah..:-D
    Oppa, sma aq aja, bibir aq nganggur nih.. Hehehe..:-P
    Aduuh, minra bkin gregetan aja dah..
    Kasian minho mpe sakit gara” mikirin raena..
    Itu bneran org tua kndung’y ryujin ya?
    Ryujin’y jgn d ambil dong. Ntar eunkyo’y depresi lg klo syujin’y d ambil, kan kasian jungsoo oppa klo eunkyo depresi..

  18. hmmmmm…….pemainnya bertambah
    naah loh siapa ntu yang mau mengambil ryu jin ?? orang tuanya kah ? kok kenal dengan jung soo? apakah ada hubungannya dengan jung soo ?? aaaah molla
    unni suwer deh kagak bisa nebah saia😀

    baiklah timbang penasaran lanjuuuuut ^^

  19. omo,,,ryujin ketularan mesum kaya appanya,kkkk
    itu adegan d kamar mandi so sweet bgt sih,,,mau dong oppa aq d mandiin sama oppa*plak* #yadong mode on

    minna couple tarik ulur mulu nih ceritanya,kapan jadiannya???
    dan itu,,,,junhyung!!!!
    junhyung beast kah oen????klo iya,seneng deh,dia bias aq d beast ^_^

    saat”mendebarkan tiba,siapakah orang yg datang k rumah teukyo n mo ngambil anaknya???*ala host sil*et*haha
    mari kita lihat d part selanjutnya,,,,,

  20. minho kasian bget ya, udahmah di gantung ga jelas, rae na.a sikap.a nyakin nolak,apalg ada junhyung….

    aku kira ryu jin, ketabrak atau jatoh, eh tryt nyemplung#bletak, untg minho dtg d saat yg tepat

  21. itu ryujin kecemplung kolam? aigooo untung aja minho dateng…

    huahaha aku ngerasa konyol sendiri pas baca eunkyo ragu ama pembantu barunya, kirain eunkyo takut kalah saing ama tuh pembantu :p tnyata menghawatirkan kepiawaiannya kkkk #babo

    Ryujin dijemput orangtuanya? huaaa apa jadinya dgn eunkyo?😮

  22. onnie,tu bkn ky kue tart,tp ky celengan!hahaha*plak
    aish,Minho m Reana ribet bgt dah idupx!
    Raena ngaku suka aj susah bgt ce ky’x!
    kasian de m Minho!
    tp Minho jg slh,nepsong mulu tiap liat Raena!hahaha
    dy jg tlalu posesif de ky’x,g blh Raena dkt2 m cwo lain dkit aj dh darah tinggi!
    Tp itu ibu2 sp onn?
    jngan blng kalo dy ibu kandungx Ryu!
    argh andwae,jngn pshkn mrk onn!><
    yadah,q mw lnjt dl bcx mumpung lg g ad pasien yg dpriksa!

  23. Holla. . ^^ sya blik lgi buat ngoment. .^^
    sbelumnya mw minta maaf dlu cz g bsa comment d stiap part. . *mianhae*
    ryu jin. . . !!!!!!sini sini sma noona aja. . . ><
    mw donk d mandiin ma jungsoo oppa. . *d tabok eunkyo*
    widiih. . .abang kodok *read:minho* cemburuan bgt. . patah hati nich. .
    ayo . . ayo bkin minho lbih menderita lgi. . !!! aq ska nich klu udh complicatid gni. .
    OMO??!!!! itu siapa yg dtg?? jgn2 emak nya ryu jin lgi???!! ANDWAE!!!!
    haduh. . .
    next part dech. . *tring*

  24. YAA ada junghyun beast.. keren eonni.
    sempet sebel sih sama rae na gara-gara dia ngga perhatiin ryu jin tapi ngga papa soalnya ada minho yang tolongin.
    ahh mau dong ciumin rambutnya minho sama kaya eun kyo. hehehe

    yah..yah..yah itu siapa??
    orang tua ryu jin???
    yah ryu jin jangan di ambil dari eun kyo!! kasian eun kyo nya.

    semakin seru eonni. aku baca part selanjutnya ya.🙂
    istri kyuhyun pamit. annyeong eonni. *hormat bareng kyuhyun*

  25. junhyung siapa? tiba” datang tmbh bikin berantakan. pdhl kan minho raena uda agak bagus hubungan nya
    eonnie itu beneran eomma nya ryujin? jgn diambil dong ryujin nya. kasian eunkyo

  26. Keren banget ffnya. Pertama kali aku suka ff dg cast non Kyuhyun.
    Gaya Bahasa eonnie keren bgt, bener2 penulis berpengalaman. Pembawaan ceritanya aku suka bnget! Ide ceritanya biasa tapi jadi luar biasa, aduh . .aku ga tau mesti komentar apa, aku suka banget ama karyanya eonnie.

  27. oenni makin seru aja ceritanya
    gak bosan bacanya kdg baca ff itu diselain banyak kt2 yg buat malas bacanya tp ini aku gak lewati satupun
    daebak oen…

  28. siapa tu yg dateng,,,, pa eomma y Ryu jin lagi??? klo bener gmn nasib y eun kyo nanti pisah ma Ryu jin…..
    ahhhhh ni pasanagn minho n Rae n kapan sih mereka sampai kata sepakat,,, minho sih ngak bisa ngendaliin Rae ma main sosor sana sini,,, n ngak boleh Rae na punya temen padahal cuma teme ja,,,, n ditambah junhyung dateng dikehidupan mereka yg blm akur….

  29. apa???
    hayo siapa tuch??
    jadi penasaran siapa yang mau ngambil si Ryu Jin,,,,
    wah bang Junhyung jadi salah satu saingannya Minho buat dapetin Rea Na,,
    ahhahahah

  30. siapa itu yg datang??
    mau mengambil anaknya?? Ryujin???
    jangan deh.. Eunkyo bisa jadi mayat idup lg klo keq gt..
    agak kesal liad sifatnya Raena..
    Minho kasian banget deh..
    Uda segitu baeknya masi ngak dihargain jg…

  31. Minho oppa bener2 daebaaak , dia nolongin ryu jin yng hampir tengelam🙂
    Untuk skrang udah baikan ryu jin nya

    Tp itu orang siapa tiba2 muncul dan bilang mau ngambil anaknya ,

  32. Kyaaa….masalah baru…bye bye ryu jin..gmn eunkyo ya?? Tp gpp kan dah da aegy baby ha..
    Btw..yg di foto anak kecil tu sp fika..lucu bgt..cakep,ngegemesin..:)

  33. huwaaaa… siapa itu.. ahhh jangan” orang tua.a ryujin. ahhh andwe.. gmn nanti eunkyo. nanti dia deprisi lg..

    eonni aq blm baca part 10 nih eonni.. mereka ngapain d part itu.. penasaran.. minta pw.a dong eonni… ^_^

  34. Sumpah eonni itu pas TBC,, aku berhenti bernafas sejenak,, DEG,, hahahahha
    Aduh jadi gelisah pgn baca lanjutnya,,
    Oh ia,, kesel eonni sama raena,, masa ada gadis yg gtu,,, lembut dikit napa,, mksudnya kesiaan bgt kan uri minho nya,,, ckckckc
    Ksiksa bgt kayanya,,
    Hahahaha
    Next part ah,,

  35. raena yaampun msh gamau ngaku jg dia😡 smp kapan atuh raena bertahan ga ngaku? omooo tidak sebentar lg mgkn eunkyo bakalan ngamuk ryujin di cariin eomma nya :c

  36. waduh teuki psti jeles eonni ngidam cium rmbt’a minho ada’ sja ngidam’a hehehe cie rae na dah mule jujur nih crita’a, siapa tu yg dtang? ortu kandung’a ryu jin ea? mau baca next part biar gag penasaran

  37. Oh my. . . Dsni bnyak bgt interaksi. . Bkin senyum, bkin ngakak. . Duhhh untung aja ada minho. . Junhyung siapa sihhhh misterius bgt. .
    Minho paboya raena dah kasih kode gtu msh aja tanya2. . Min young, sprtinya bklan ada cerita lain tntang min young ni. . .huwehhhhhhh brp next chap

  38. nugu??? nuguji?? nuguyo?? NUGU??
    jgn bilang dia mau ambil ryujin?? atau itu papahnya minho mau ambil minho biar fitting jas pernikahan dengan minra??
    aduhhh,,, bikin penasaran banget ,,,
    miyoung itu siapa sih?? dia ada aneh2 kah??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s